Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi

Rara gadis cantik itu masih ada di hadapan saya. Pakai baju putih dengan rok warna abu. Matanya bening, alis hitam tebal. Pipinya lembut, bulu mata lentik, dan rambut hitam lebat.

Pengetahuan saya tentang Rara adalah jenis pengetahuan pengenalan, yaitu saya mengetahui Rara langsung dengan melihatnya. Saya langsung mengetahui Rara, obyek eksternal, melalui indera saya. Meski saya melihat langsung, sejatinya, saya hanya mengenali Rara melalui data-indera yang dihubungkan dengan Rara. Saya tetap tidak tahu hakikat Rara. Yang saya ketahui adalah penampakan Rara. Itulah pengetahuan pengenalan oleh manusia.

Tetapi pengetahuan Anda tentang Rara, melalui uraian saya di atas, adalah pengetahuan deskripsi. Anda tidak mengenal Rara. Melalui tulisan saya, Anda jadi mengetahui deskripsi tentang Rara. Pengetahuan deskripsi ini melibatkan suatu kebenaran. Maksudnya pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara bisa benar tapi bisa juga salah. Jika saya menguraikan gambaran tentang Rara dengan benar maka boleh jadi pengetahuan deskripsi Anda juga benar. Sementara, jika saya berbohong tentang gambaran Rara, saya edit beberapa bagian tentang Rara, maka pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara adalah salah atau sesat.

Sekilas, membandingkan pengetahuan pengenalan dengan pengetahuan deskripsi, tampaknya, kita lebih percaya kepada pengetahuan pengenalan. Karena pengetahuan pengenalan adalah langsung dan dijamin selalu benar – sejauh data-indera yang dipertimbangkan. Tetapi sejatinya, ilmu pengetahuan manusia berkembang pesat justru melalui pengetahuan deskripsi, yang bersifat tidak langsung. Kita menambah ilmu hampir seluruhnya melalui membaca, mengikuti pelajaran, menonton video, dan lainnya yang merupakan deskripsi. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kuat kepada pengetahuan deskripsi.

Pengetahuan Pengenalan Selalu Benar

Dua faktor utama yang membuat pengetahuan pengenalan lebih unggul adalah selalu benar dan sangat mengesankan. Dalam bahasa sehari-hari, pengetahuan pengenalan adalah melihat dengan mata dan kepala sendiri. Dalam proses belajar sains, siswa sering perlu melakukan praktikum agar dapat mengamati secara langsung fenomena alam. Agar memperoleh pengetahuan pengenalan. Saya sendiri membuat permainan berupa benda-benda konkret seperti kubus dan bola, untuk melatih anak-anak belajar berhitung dasar. Anak-anak mengenali secara langsung bahwa 2 bola ditambah 3 bola adalah 5 bola. Hasilnya sangat mengesankan.

Pengetahuan pengenalan, yang diyakini selalu benar, dimanfaatkan oleh persidangan kasus hukum. Mereka biasa memanggil saksi mata agar bersaksi di bawah sumpah. Apa yang disampaikan oleh saksi mata diyakini selalu benar karena dianggap sebagai pengetahuan pengenalan.

Dokter juga sering menanyakan ke pasien apa keluhan yang dirasakan. Pasien bisa menceritakan sakit kaki dan pinggang. Pasien merasakan langsung sakitnya. Itu adalah pengetahuan pengenalan yang diyakini selalu benar. Untuk kemudian dokter melengkapi dengan diagnosa, menambah pengetahuan pengenalan dari prespektif dokter.

Russel juga memasukkan pengetahuan tentang diri, pengenalan tentang kesadaran diri, dalam pengetahuan pengenalan yang diyakini kebenarannya.

Dalam kehidupan sehari-hari orang sering mengatakan, “Saya hanya percaya bila sudah melihat dengan mata dan kepala sendiri.” Menguatkan keyakinan bahwa pengetahuan melalui pengenalan adalah selalu benar.

Namun kita tidak boleh gegabah. Pengetahuan pengenalan adalah selalu benar sejauh data-indera yang diperhatikan. Sedangkan bila kita menyelidiki hakikat obyek, pohon misalnya, pengetahuan pengenalan bisa saja salah. Pohon yang tingginya 2 meter tampak begitu tinggi bila kita melihatnya dari jarak dekat, sedepa misalnya. Tapi bila kita menjauh pada jarak 3000 meter, maka pohon yang sejatinya 2 meter itu tampak hanya setinggi lutut kaki. Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih hakiki kita perlu melangkah melampaui sekedar data-indera.

Fatamorgana: Ilusi Indera

Barangkali kita sudah sangat akrab dengan ungkapan fatamorgana. Mata kita melihat seperti ada air atau gas yang meliuk-liuk ketika cuaca panas terik di jalanan beraspal. Padahal sama sekali tidak ada air di jalan beraspal tersebut. Fatamorgana menunjukkan bahwa pengetahuan pengenalan dari indera kita tidak bisa begitu saja dipercaya. Pengetahuan indera mata bisa salah.

Contoh lain yang lebih mudah kita ulang dengan eksperimen adalah memasukkan sebatang sendok ke gelas yang berisi air setengah penuh. Maka kita bisa melihat sendok dari atas atau samping tampaknya sendok tersebut patah. Ketika sendok kita ambil terlihat sendok tidak patah. Mata kita tertipu oleh pembiasan atau pembelokan cahaya sendok.

Pesulap barangkali memberi contoh yang lebih serius. Dia menunjukkan hanya ada satu bola pingpong di dalam topinya. Lalu mengambil satu-satunya bola itu, melempar ke penonton. Kemudian pesulap itu mengambil satu lagi bola dari topinya, dilemparkan lagi ke penonton. Berulang-ulang pesulap melakukan itu. Kita yakin bahwa yang dilihat mata indera kita adalah ilusi. Kita sedang menghibur diri bersama pesulap. Mana mungkin satu bola bisa diambil berkali-kali? Ada kebenaran yang tersembunyi di balik mata indera kita.

Tugas selanjutnya adalah kita perlu mengungkap kebenaran di balik pengetahuan pengenalan oleh indera. Untuk itu kita perlu memanfaatkan analisis rasional berdasar pengetahuan a priori yang bersifat universal. Misal pesulap yang mengambil satu-satunya bola di dalam topi, pengetahuan a priori memberi tahu pasti tidak ada lagi bola di dalam topi. Bila, ternyata, ada bola lagi maka pasti ada penambahan bola baru dengan satu dan lain cara. Atau pesulap sejatinya tidak mengambil bola sama sekali dari dalam topi. Ia mengambil bola dari tempat lain. Dengan penyelidikan maka kita akan menemukan rahasia tukang sulap dan berhasil mengungkap kebenaran.

Pembahasan lebih detil tentang pengetahuan a priori yang bersifat universal ini akan kita bahas pada bab khusus selanjutnya. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18 – 19 dari Jerman, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

Pengetahuan Deskripsi Tersebar Luas

Seperti tidak masuk akal bahwa ilmu pengetahuan bisa tersebar luas oleh pengetahuan deskriptif, yang bisa bernilai benar atau sesat. Sedangkan pengetahuan pengenalan, yang dijamin selalu benar, justru lambat berkembang. Namun kehebatan penyebaran pengetahuan deskripsi, yang revolusioner ini, memerlukan sumber ilmu dari pengetahuan pengenalan juga.

Revolusi pengetahuan pertama adalah ketika ditemukan teknologi membuat kertas yang baik oleh Cai Lun (Ts’ai Lun) pada abad pertama di negeri Cina. Sebelum jaman Cai Lun, orang sangat sulit untuk membuat catatan karena belum tersedia kertas. Orang harus mengukir di batu, memahat kayu, atau menggores di kulit sapi. Sukses Cai Lun memproduksi kertas memudahkan ilmu dicatat dan disebarkan ke berbagai penjuru.

Revolusi pengetahuan kedua adalah pada abad ke 15 setelah Gutenberg berhasil menemukan mesin cetak yang efektif di Eropa. Bila sebelumnya, orang harus menulis dengan tangan untuk membuat buku, maka setelah ada mesin Gutenberg, buku bisa dicetak dan diperbanyak lebih mudah. Pengetahuan makin melompat tersebar ke seluruh dunia.

Revolusi pengetahuan ketiga terjadi di milenium ketiga, saat ini, di mana teknologi digital sudah tersebar ke sebagian besar penduduk dunia. Pengetahuan mudah dicatat, diproduksi, dan disebarkan hanya dalam hitungan detik. Dengan kekuatan media sosial, penyebaran informasi bagai tidak ada batas lagi. Setiap orang bisa memproduksi pengetahuan di saat yang sama bisa langsung menyebarkannya ke seluruh dunia. Pengetahuan yang diproduksi bisa berupa multimedia, tidak hanya tulisan saja.

Contoh pengetahuan deskripsi adalah, “Kelas APIQ adalah tempat belajar matematika di kota Bandung.” Pengetahuan ini bisa kita uji nilai kebenarannya. Bila di Bandung memang ada kelas APIQ sebagai tempat belajar matematika maka pengetahuan deskripsi di atas bernilai benar. Sedangkan, jika tidak ada kelas APIQ di Bandung maka pengetahuan deskriptif di atas bernilai sesat atau salah.

Seperti contoh di atas, pengetahuan deskripsi, pada analisis akhir, didasarkan pada pengetahuan pengenalan. Saya mengetahui bahwa ada kelas APIQ di Bandung. Ini adalah pengetahuan pengenalan oleh saya. Lalu saya tuliskan pengetahuan pengenalan saya itu di buku atau di internet. Maka menjadi pengetahuan deskripsi bagi banyak orang. Semula hanya satu orang, saya saja, yang mengetahui. Berubah menjadi banyak orang yang mengetahui, melalui pengetahuan deskripsi.

Pengetahuan Deskripsi vs Hoax

Jaman sekarang kita dibanjiri hoax. Sehingga sulit membedakan mana yang pengetahuan dan mana yang kesesatan. Di jaman dulu tidak ada hoax seperti jaman sekarang. Bayangkan masa sebelum Cai Lun menemukan kertas. Betapa sulitnya menulis satu halaman buku. Apa lagi menulis 120 halaman buku? Dengan kesulitan semacam itu maka orang-orang hanya akan menuliskan pengetahuan yang benar-benar bernilai tinggi.

Beda dengan jaman digital sekarang. Orang bisa menulis apa pun di media sosial dan langsung tersebar ke seluruh dunia, saat ini, dalam hitungan detik. Maka tulisan di jaman sekarang bisa saja bernilai tinggi, bisa bernilai rendah, bahkan bisa sesat. Kita terjebak dalam paradoks: terlalu banyak informasi sama artinya tidak ada informasi. Lebih parah lagi, tumpukan informasi bisa jadi bercampur dengan informasi sesat.

Di jaman kuno, dulu, memang mungkin saja membuat pengetahuan sesat atau hoax. Tetapi penyebaran cukup sulit. Sehingga hoax ini, paling bisanya, disebarkan melalui cerita dari mulut ke mulut. Karena sulit itu maka hoax harus menguntungkan pihak tertentu dengan cara merugikan pihak lain. Misalnya hoax seorang raja yang menceritakan bahwa dirinya adalah raja yang adil bijaksana. Agar seluruh warga tunduk hormat kepadanya. Atau hoax seorang raja menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan reputasi pesaingnya.

Di jaman milenial, hoax bisa saja sekedar iseng. Hanya untuk seru-seruan saja. Toh, nyaris tidak ada biaya untuk menyebarkan hoax. Namun, hoax tetap bisa juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengambil keuntungan sepihak dan merugikan pihak lain. Maka kita perlu membentengi diri, dan masyarakat, dari ancaman hoax.

Sejatinya ada ilmu khusus menangani hoax atau memanfaatkan hoax. Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan penandaan. Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai teori tentang dusta. Apa saja yang bisa dipakai untuk berdusta dan apa saja yang bisa melindungi kita dari dusta, lengkap dipelajari dalam semiotika.

Di sini, di bagian lampiran, kita akan sedikit membahas cara sederhana untuk melindungi diri dari hoax dengan memanfaatkan literasi media. Paling utama adalah kenali lalu bedakan bagian fakta dan opini dari suatu pengetahuan, informasi, atau berita.

Berpikir Cepat

Sampai di sini kita sudah mengenal ada dua jenis pengetahuan. Yaitu, pertama, pengetahuan pengenalan yang selalu bersifat benar. Pengetahuan yang bersumber dari melihat dengan mata kepala sendiri. Kedua, pengetahuan deskripsi di mana kita mengetahui sesuatu tidak secara langsung misal melalui buku. Pengetahuan deskripsi bisa saja bernilai benar tapi bisa bernilai salah atau sesat.

Namun dua jenis pengetahuan di atas masih perlu berkembang lebih cepat lagi. Ada cara berpikir yang fleksibel sehingga pengetahuan lebih cepat berkembang yaitu dengan berpikir induktif yang akan menjadi pembahasan utama kita pada bab berikutnya.

Lanjut ke Induksi: Cantik Keturunan
Kembali ke Philosphy of Love

Lampiran: Manajemen Hoax

Hoax menjadi penting untuk kita tangani saat ini karena, setidaknya, dua hal. Pertama melindungi diri jangan sampai jadi korban hoax. Dan kedua, melindungi diri dan orang-orang sekitar agar tidak menjadi produsen atau distributor hoax. Ketiga, bagi yang berminat, memanfaatkan hoax untuk kepentingan tertentu.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: