Pengetahuan Intuisi Cinta

Cinta hadir begitu saja. Kita tidak sadar mengapa cinta hadir. Tiba-tiba saja ada cinta. Barangkali cinta ke pasangan hidup, sedikit banyak, bisa kita cari alasannya. Karena dia cantik, baik hati, pengertian, lalu muncul cinta di antara mereka.

Tapi cinta saya kepada Rara, muncul begitu saja. Ketika Rara tumbuh jadi gadis remaja, aku cinta dia. Ketika Rara masih kanak-kanak, lucu dan imut, saya sudah cinta. Bahkan ketika Rara, masih berada dalam kandungan istriku, aku sudah cinta kepada Rara. Misteri cinta akan menjadi lebih jelas setelah kita bahas di bagian ini, atau malah makin misterius.

1. Sumber Pengetahuan
2. Penilaian Pengetahuan Intuitif
3. Imajinasi Transendental Kant
4. Cantik dan Cinta Transendental
4.1 Penilaian Persetujuan
4.2 Penilaian tanpa Persetujuan
4.3 Penilaian Cantik Sublim
4.4 Penilaian Spesial
5. Kebenaran Intuitif
5.1 Selalu Benar
5.2 Kadang Benar
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Skemata Kant
7.2 Hard Problem
7.3 Cahaya Ontologi

Kita membahas pengetahuan, di bagian ini, dengan kerangka pengetahuan intuitif, termasuk pengetahuan cinta.

1. Sumber Pengetahuan

Sampai di sini, sudah tepat kiranya bila kita membahas sumber pengetahuan manusia. Pengetahuan bisa kita bagi menjadi dua: pengetahuan tentang realitas dan pengetahuan tentang kebenaran. Mengikuti cara Russell dan beberapa modifikasi, saya tampilkan seperti tabel di bawah.

RealitasPengetahuan LangsungPengetahuan InderaPengetahuan Partikular
Pengetahuan universalia
Pengetahuan DeskripsiPengetahuan PrinsipPengetahuan yang Benar
Pengetahuan yang Sesat
KebenaranPengetahuan LangsungPengetahuan IntuitifPenilaian Indera
Penilaian Transendental
Pengetahuan DerivatifPrinsip DeduksiPenilaian Aksiomatik
Induksi – FalsifikasiPenilaian Probabilistik

Untuk mudahnya kita bisa memperhatikan 8 kelompok pengetahuan di bagian paling kanan tabel. Meskipun di antaranya bisa saja saling berbaur tapi kita akan membahasnya masing-masing terpisah.

Pertama, pengetahuan partikular dari indera manusia dianggap selalu benar, sejauh data indera yang diperhatikan. Misalnya, saya sedang melihat sesuatu mirip bola, adalah pasti benar. Meski pun ternyata yang dilihat itu adalah telur tetapi “melihat sesuatu mirip bola” adalah bernilai benar. Yang ada kemungkinan salah adalah “penilaian” dari data-indera. Sementara pengalaman melihat sesuatu selalu dianggap benar.

Kedua, pengetahuan universal dari indera manusia dianggap benar. Misal,”saya melihat persegi” selalu dianggap benar. Pengalaman saya melihat universalia persegi bernilai benar. Meskipun bisa saja ternyata bentuknya tidak persegi, agak melengkung. Penilaian saya di atas bisa salah tetapi pengalaman saya selalu benar.

Dua jenis pengetahuan di atas bersifat segera, atau langsung dari pengalaman kita. Sehingga dijamin benar.

Ketiga, pengetahuan yang benar. Misal, “Paman APIQ adalah guru matematika,” adalah pengetahuan yang benar. Pernyataan di atas sesuai dengan realitas bahwa Paman APIQ memang guru matematika. Kita bisa verifikasi melalui canel youtube paman APIQ yang mengajarkan matematika. Atau kita bisa saja berkunjung ke Bandung untuk melihat langsung Paman APIQ mengajar matematika.

Keempat, pengetahuan yang salah. Misal, “Paman APIQ adalah bukan guru matematika,” adalah salah. Tentu saja dengan mudah kita tahu itu pernyataan salah. Dengan melihat canel youtube paman APIQ kita tahu bahwa Paman APIQ mengajar matematika. Paman APIQ adalah guru matematika.

Jenis pengetahuan ketiga dan keempat, di atas, adalah pengetahuan derivatif melalui deskripsi maka mungkin saja bernilai salah, dan mungkin bernilai benar. Seluruhnya, pengetahuan pertama sampai keempat, adalah pengetahuan tentang realitas atau pengetahuan tentang impresi indera. Sedangkan jenis pengetahuan kelima sampai kedelapan adalah pengetahuan tentang kebenaran atau penilaian terhadap impresi.

Kelima, penilaian indera yang bersifat langsung. Penilaian ini bisa saja salah, dan bisa benar. Maka, di sini, saya menggunakan istilah “penilaian”. Misal, “Saya melihat mobil warna biru.” Bisa bernilai salah bila ternyata warna mobil tersebut adalah hijau. Dan tentu bernilai benar bila warna mobil tersebut adalah, ternyata, biru.

Keenam, penilaian transendental yang bersifat langsung. Misal rasa cinta, rindu, takut, cemas, gelisah, dan lain-lain. Penilaian intuitif langsung ini akan kita bahas lebih detil, di bab ini, baik penilaian transendental mau pun penilaian indera.

Ketujuh, pengetahuan aksiomatik, seharusnya selalu benar. Misal, “setiap persegi memiliki 4 sisi.” Ada kemungkinan salah ketika kita mengambil kesimpulan dengan proses yang salah. Namun dengan ketelitian, kesalahan dapat ditemukan untuk, kemudian, dikoreksi.

Kedelapan, pengetahuan probabilistik, yang kemungkinan besar bernilai benar. Sebagian besar pengetahuan kita tentang kehidupan praktis adalah masuk kelompok pengetahuan probabilistik. Pengetahuan ketujuh dan kedelapan ini akan menjadi bahasan utama pada bab selanjutnya.

Dari pengelompokan di atas, kita lihat sumber pengetahuan adalah langsung atau tidak langsung. Pengetahuan langsung bisa berupa dari pengamatan indera atau langsung dari intuisi. Sedangkan pengetahuan tidak-langsung bisa berupa proposisi sederhana atau proposisi tidak sederhana – termasuk menarik kesimpulan dari beragam data. Dari pengetahuan-pengetahuan sederhana ini, kita bisa mengembangkan sistem ilmu pengetahuan yang lebih kompleks. Bagaimana pun, kita tetap terbuka dengan alternatif pengelompokan sumber pengetahuan yang berbeda-beda.

2. Penilaian Pengetahuan Intuitif

Proses penilaian intuitif kita tampaknya terjadi seketika begitu saja. “Saya melihat pohon.” “Saya melihat pohon lebat.” “Saya melihat pohon lebat dan tinggi.”

Ketika saya mengarahkan pandangan ke pohon di siang hari maka saya dengan segera melihat pohon itu. “Saya melihat pohon.” Proses melihat pohon ini sudah dijelaskan oleh sains – fisika, biologi, dan lain-lain – secara tuntas.

Pohon menerima sinar dari berbagai arah. Sebagian sinar diserap dan sebagian yang lain dipantulkan dengan cara tertentu. Sinar yang dipantulkan pohon ini mengenai mata saya, lalu sinar ini diolah oleh mata menjadi sinyal-sinyal yang bersesuain dikirim ke otak saya melalui sistem syaraf yang komplek. Otak mengolah sinyal-sinyal dan akhirnya pikiran saya memahami bahwa yang di depan saya adalah pohon. Dalam kata-kata, bisa saya katakan, “Saya melihat pohon.”

Mudah kita cermati bahwa penilaian saya tentang “pohon” bisa saja salah. Jika kita ingin lebih yakin barangkali kita bisa mendekati pohon, melihatnya, merabanya, dan menggoyang-goyankan untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar pohon sesuai penilaian kita. Bisa saja setelah didekati ternyata itu bukan pohon melainkan cuma hiasan yang mirip pohon.

Pertanyaan yang bersifat filosofis adalah bagaimana gambaran pohon itu bisa muncul secara intuitif di pikiran saya?

Sains menjawab, itu adalah proses refleks sistem tubuh manusia yang dilengkapi dengan sistem indera, sistem syaraf, dan sistem otak. Jawaban ini sudah jelas bagi sains. Bahkan sains bergerak lebih maju dengan menciptakan teknologi tiruan semisal kamera. Dengan prinsip-prinsip yang sama dengan mata, kamera, bisa melihat seperti mata manusia. Kamera bisa melihat dalam bentuk gambar mau pun video bergerak.

Meski sains dan teknologi sudah punya jawaban yang memuaskan, filsafat masih bertanya lebih jauh. Bagaimana proses refleks pada pikiran manusia itu bisa memunculkan gambaran pohon?

Menurut Russell, proses munculnya gambar pohon di otak atau pikiran manusia itu berlangsung secara intuitif dengan seketika. Proses intuitif terbentuk berdasar pengalaman manusia. Tanpa pengalaman maka manusia tidak akan bisa melakukan penilaian apa pun. Sejak kecil manusia belajar melihat alam sekitar. Melakukan penilaian secara intuitif atas berbagai hal. Dan pada masa tertentu kita memiliki kemampuan intuitif ini secara matang. Tidak ada yang misterius dalam kasus ini. Pengalaman empiris sudah menjelaskan semuanya.

Di sisi lain, masih banyak filsuf yang penasaran. Mereka ingin tahu lebih detil bagaimana proses intuitif munculnya gambar pohon dalam pikiran manusia. Salah satunya, pada akhir abad 20, filsuf David Chalmers memunculkan “Hard problem of consciousness.” Salah satu dari problem ini bisa kita nyatakan, “Bagaimana beberapa organisme, misal manusia, menjadi subyek dari suatu pengalaman?” Dalam versi ringannya, adalah seperti yang sedang kita bicarakan, “Bagaimana gambar pohon muncul dalam pikiran manusia?”

Hard problem sudah muncul lebih dari 20 tahunan, sampai kini, belum ada solusi yang memuaskan. Bahkan problem yang ringan pun juga belum ada solusi memuaskan yang disepakati para filsuf dan saintis. John Searle, filsuf abad 21, ikut aktif untuk memecahkan hard problem sejak akhir abad 20. Sampai sekarang juga belum menemukan solusinya.

3. Imajinasi Transendental Kant

Barangkali kita bisa merujuk Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang menjelaskan penilaian intuitif manusia melalui skema. Pikiran manusia memiliki pengetahuan a priori murni, kategori, yang terbebas dari kebutuhan pengalaman empiris. Pengetahuan a priori ini sudah tertanam dalam pikiran manusia sejak awal. Sedangkan data-indera diperoleh manusia sesuai pengalaman empiris manusia.

Data-indera, yang berupa sinar-sinar dari pohon, tidak punya arti apa-apa bila menyentuh dinding. Data-indera ini berpeluang dipahami bila menyentuh mata manusia, lalu diolah dikirim ke otak. Terjadi proses dialektika antara data-indera dengan pengetahuan a priori manusia. Sehingga terbentuk sintesa berupa pemahaman oleh pikiran tentang “pohon” melalui kekuatan imajinasi intuitif.

Proses terbentuk sintesa ini dikenal sebagai skema. Lebih lengkap kita bahas di bagian diskusi, di bawah. Pengetahuan a priori murni manusia terdiri dari 4 kelompok: kuantitas, kualitas, relasi, dan modus. Masing-masing 4 kelompok tersebut mempunyai 3 jenis. Sehingga total 4 x 3 = 12 kategori, menurut Immanuel Kant.

Mari kita ambil contoh lagi proses munculnya gambar pohon di pikiran manusia. Ketika data-indera diterima maka secara intuitif pengetahuan a priori bekerja. Pertama, menentukan kuantitas data indera berupa ukuran, panjang, lebar, tinggi, dan lain-lain. Kedua, menentukan kualitas misal daun hijau, batang coklat, kayu padat, dan lain-lain. Ketiga, menentukan relasi, apakah data-indra tersebut substansi-aksiden, sebab-akibat, dan kain-lain. Keempat, menentukan apakah pasti, mustahil, atau mungkin. Ditambah lagi sensasi murni berupa waktu dan ruang maka terbentuklah imajinasi gambar “pohon” sesuai fenomena di alam eksternal.

Menurut saya, uraian Kant ini cukup jelas. Masih ada satu pertanyaan, bagaimana imajinasi gambar “pohon” itu terbentuk? Kant menjawab bahwa gambar pohon itu terbentuk dengan kekuatan imajinasi transendental pikiran manusia.

Proses yang cukup panjang bila diuraikan dengan kata-kata di atas, sejatinya, berlangsung seketika dan intuitif. Kant memastikan kita bisa mengetahui kebenaran penilaian intuitif ini, yang merupakan sintesa data empiris (pengetahuan a posteriori) dan pengetahuan a priori. Maksudnya, dengan cara-cara tertentu, manusia mampu menentukan bahwa apakah yang dilihat itu benar atau salah, berupa pohon. Dengan cara ini sains yang mengandalkan penelitian empiris mendapatkan justifikasi filosofis.

Pengetahuan yang tidak dilengkapi data empiris masih bisa sah dengan mengandalkan sintesa analitik. Misal pengetahuan matematika bahwa 2 + 1 = 3 adalah sintesa analitik yang dapat diakui nilai kebenarannya. Yaitu melibatkan proses pengetahuan a priori “2” dan “1” serta definisi penjumlahan maka menghasilkan sintesa bernilai “3”.

Tetapi pada kasus pengetahuan umum yang tidak dilengkapi dengan data empiris maka tidak akan bisa dibuat sintesa yang memuaskan. Situasi seperti ini menghasilkan paradoks atau yang disebut dengan antinomy. Misalnya,

tesis: terdapat hukum alam yang pasti sehingga segala yang ada di alam sudah ditentukan, determinisme.

anti tesis: setiap manusia memiliki kehendak bebas, free will.

Antara tesis dan anti tesis di atas saling bertentangan. Dan tidak ada sintesa untuk mempertemukan keduanya. Secara empiris kita tidak bisa menjamin kebenaran tesis mau pun anti tesis. Secara apriori kita juga tidak bisa membuktikannya. Maka Kant membiarkan eksistensi keduanya, sebagai antinomy. Beberapa usulan solusi untuk ini saya sertakan di lampiran, di bagian diskusi bawah. Di antaranya dialektika Hegel, keutamaan kehendak Schopenhauer, keutamaan emosi Kierkeegaard, fenomenologi Husserl, keutamaan being Heidegger, dan keutamaan wujud Sadra. Serta dissensus dari Lyotard. Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan psikoanalisa Freud, strukturalisme Saussure, alam al-mitsal Al Ghazali, dan jalan cinta Rumi dan Ibnu Arabi.

Kita bisa meringkas, untuk penilaian intuitif indera, sebagai berikut. Proses ini terjadi intuitif dari pikiran manusia. Penilaian makin matang sesuai dengan pengalaman empiris kita, mengacu pendapat Russell. Sedangkan Kant menjelaskan bahwa penilaian intuitif ini melibatkan sintesa data empiris dan pengetahuan a priori manusia. Dalam proses sintesa ini melibatkan kekuatan imajinasi transendental.

4. Cantik dan Cinta Transendental

Mari kembali memikirkan cantik dan cinta. Saya bisa membayangkan cantiknya Rara. Anda membayangkan cantiknya siapa saja. Sudah kita bahas bahwa cantik adalah universal. Cantik ada di dunia unversalia yang sempurna. Meski demikian, di sini, kita perlu membahas bagaimana penilaian cantik dan cinta.

Kant memberikan ide yang menarik berkaitan dengan penilaian estetika – berhubungan dengan rasa. Saya akan meminjam ide-ide dari Kant di bagian ini. Proses penilaian ini melibatkan data empiris (pengetahuan a posteriori), pengetahuan a priori, dan imajinasi transendental.

4.1 Penilaian Persetujuan

Pertama, penilaian yang diharapkan ada persetujuan. Contoh, saya menilai bahwa rambut Rara adalah lebat. Penilaian saya ini, bisa diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Artinya, orang-orang yang mencermati rambut Rara akan setuju bahwa lebat. Bila ada orang yang tidak setuju maka bisa didiskusikan dan diharapkan akan sepakat pada akhirnya.

Hari ini, sinar matahari terasa panas. Penilaian panas ini juga diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Bahkan, sains dan teknologi, menciptakan alat ukur untuk mengukur panas misal termometer. Dari pada saya menilai “panas” maka bisa saya ukur temperatur hari ini misalnya 32 derajat celcius. Penilaian termometer ini lebih terjamin obyektivitasnya. Dengan resiko mengurangi peran saya sebagai subyek yang merasa panas itu.

Rara adalah gadis cantik, adalah penilaian yang diharapkan akan disetujui orang. Saya belum tahu apakah sains dan teknologi sudah membuat alat untuk mengukur kecantikan. Misal ada derajat kecantikan seperti termometer. Barangkali seru juga?

4.2 Penilaian tanpa Persetujuan

Kedua, penilaian yang bisa tidak ada persetujuan. Misal, sayur masakan ibu adalah yang paling nikmat. Ketika pernyataan ini saya sampaikan ke kakak-kakak dan adik-adik saya, mereka setuju. Sementara bila saya sampaikan kepada orang luar kota yang tidak saya kenal, mereka bisa saja tidak setuju. Dan saya sendiri tidak bisa berharap bahwa orang luar kota itu akan selalu setuju dengan saya.

Iwan Fals adalah penyanyi dengan suara paling merdu. Saya kira penggemar Bang Iwan akan setuju dengan saya. Tapi akan banyak orang yang tidak setuju. Mereka, barangkali, punya pilihan berbeda untuk penyanyi yang memiliki suara paling merdu. Kita tidak perlu berharap kata sepakat untuk jenis penilaian intuitif semacam ini.

Ilmu statistik mempunyai cara tertentu untuk mengukur penilaian ini misal dengan sensus atau survey. Dari seribu orang yang disurvey memilih Iwan Fals sebanyak 45%. Sedangkan 4 penyanyi lain rata-rata dapat dukungan sekitar 10% – 20%. Maka kita bisa menobatkan Iwan Fals sebagai penyanyi dengan suara paling merdu. Sah. Dengan resiko suara mayoritas bisa mendominasi suara minoritas.

4.3 Penilaian Cantik Sublim

Ketiga, penilaian yang bersifat sublim atau suci – termasuk penilaian cantik. Saya terharu melihat perjuangan seorang guru ngaji di kampung. Guru ngaji mengajar dengan tulus setiap sore sampai malam. Dilanjutkan pagi hari setelah subuh. Siswa-siswa tidak membayar apa pun kepada guru ngaji. Bahkan guru ngaji sering memberi buku dan alat tulis kepada siswa-siswanya. Guru ngaji itu juga bukan orang kaya. Dia hidup sederhana dengan bertani di sawahnya yang hanya sepetak.

Saya terharu adalah jenis penilaian intuitif bersifat sublim. Rasa cinta saya kepada Rara adalah sublim, suci. Anda barangkali terpesona oleh indahnya alam pegunungan, adalah perasaan sublim intuitif. Ada juga yang mengagumi deburan ombak menghantam tepian pantai tiada henti.

Banyak sekali momen intuitif sublim, suci, dalam hidup ini. Anda mendengar rintihan bocah kecil dipinggir jalan, hati Anda tersentuh adalah sublim. Lantunan lagu sedih yang menyayat hati Anda adalah sublim. Lukisan tangan seniman yang dipamerkan, meggoreskan rasa mendalam ke hati Anda, adalah sublim. Bacaan kitab suci yang menembus ke dalam hati sanubari, mengajak insyaf diri, adalah sublim. Anda jatuh cinta adalah sublim.

4.4 Penilaian Spesial

Keempat, penilaian yang bersifat spesial. Pada situasi-situasi tertentu dimungkinkan munculnya penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Saya pernah membaca buku yang bercerita tentang pengalaman hidup Bertrand Russell. Waktu masih remaja, Russell mengalami kebosanan dalam hidup. Lalu ia memanfaatkan waktu bosan itu untuk mempelajari matematika. Tiba-tiba muncul dalam pikiran Russell bahwa dia punya tugas untuk menyebarkan ilmu dan matematika ke seluruh alam semesta. Rasa bosan dalam hidup berubah menjadi rasa bahagia sepanjang hayat. Munculnya pesan khusus bagi Russell adalah proses penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Fuller, diceritakan, menjalani hidup yang datar-datar saja. Tidak ada semangat dalam hidup ini. Kemudian Fuller pergi ke pantai menyusun strategi cerdik berenang ke laut. Meski dengan resiko dia bisa saja tidak akan selamat. Ketika akan menjalankan rencananya, muncul suara di dalam diri Fuller yang mengatakan, “Kamu diciptakan di dunia ini bukan untuk dirimu.” Fuller memahami pesan itu sebagai adanya tugas khusus dia di dunia ini. Jalan hidup Fuller berubah total sejak itu menjadi lebih semangat mengabdikan diri untuk sesama.

Seorang pemuda sedang jalan menuju rumahnya pulang dari kampus. Dalam perjalanan santai itu, dia memikirkan sebuah ungkapan, “Tidak pantas bila setiap orang terjun ke dunia praktis. Harus ada sebagian kecil yang mendalami ilmu, teoritis dan praktis, untuk kemudian mengajarkan kepada sesama.” Pemuda itu tersentuh bahwa pesan itu ditujukan khusus untuknya. Kemudian ia lebih semangat mendalami ilmu dan menyebarkan ke seluruh penjuru. Baik melalui media pengajaran langsung tatap muka, menerbitkan buku, mau pun media digital. Momen tersentuhnya jiwa pemuda dengan pesan khusus merupakan penilaian intuitif transendental.

Saat ini, banyak dikembangkan metode-metode khusus untuk mendapatkan momen intuitif transendental. Misalnya dengan berdoa di malam hari ketika sepi. Ada juga dengan menyendiri di goa. Ada lagi dengan cara meditasi.

Mari kembali kita cermati empat macam penilaian intuitif transendental di atas. Meski kita membedakan ada empat macam, sejatinya, pembedaan ini hanya bersifat memudahkan meski pun nyata juga. Karena beberapa penilaian bisa saja masuk ke seluruh empat kelompok di atas. Misalnya penilaian bahwa alam pegunungan Tangkuban Parahu adalah indah. Penilaian ini bisa diharapkan untuk disepakati, mungkin saja tidak ada kata sepakat, bisa juga keindahan pegunungan bersifat sublim. Bagi orang-orang tertentu, indahnya pegunungan Tangkuban Parahu bisa saja memberikan momen transendental yang spesial. Demikian juga dengan penilaian cantik dan cinta, melibatkan keempat penilaian intuitif transendental di atas.

5. Kebenaran Intuitif

Tiba saatnya, kita menyelidiki nilai kebenaran dari pengetahuan intuitif. Di satu sisi kita berharap menemukan nilai kebenaran pengetahuan, di sisi lain, penilaian ini berdampak secara moral. Bahkan dalam arti luas berdampak terhadap nasib peradaban manusia.

5.1 Selalu Benar

Pertama, penilaian intuitif selalu benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ungkapan “saya melihat pohon” selalu bernilai benar. Dalam arti “saya melihat sesuatu”. Bahwa sesuatu itu bisa benar-benar pohon, bisa juga bukan pohon, masih perlu kita cek dengan langkah selanjutnya.

“Rara adalah cantik” selalu bernilai benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ketika saya melihat Rara dan menilainya sebagai cantik maka itu selalu benar. Dalam ungkapan sehari-hari, persepsi saya selalu dianggap benar. Persepsi saya tentang cantik dan pohon sama-sama bernilai benar. Apakah orang lain akan sepakat bahwa Rara memang cantik? Maka hal itu perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

“Saya cinta Rara” juga selalu benar sejauh data-terdekat yang diperhatikan. Artinya saya merasakan cinta untuk Rara adalah benar adanya. Fakta bahwa saya adalah ayahnya Rara makin menguatkan kebenaran cinta saya kepada Rara. Persepsi saya tentang cinta saya selalu benar. Sementara, orang lain ada cinta yang penuh dusta maka perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

Bisa kita ringkas, penilaian intuitif kita selalu bersifat benar sejauh data-terdekat yang kita perhatikan. Penilaian intuitif adalah penilaian yang muncul begitu saja, refleks. Bahkan ketika, kita mengalami mimpi atau halusinasi maka persepsi kita, tetap, bernilai benar. Tetapi, persepsi intuitif ini bisa bernilai salah ketika dibandingkan dengan realitas yang lebih jauh, kita bahas di bagian kedua berikut.

5.2 Kadang Benar

Kedua, penilaian intuitif bisa bernilai benar atau salah ketika dibandingkan dengan realitas luar. “Saya melihat pohon” bernilai benar bila, setelah dicek dengan berbagai macam cara, ternyata benar-benar pohon. Tetapi bernilai salah bila ternyata yang saya lihat itu bukan pohon, misalnya gambar pohon. Cara cek kebenaran intuisi indera ini relatif mudah misal dengan mengamati lebih dekat pohon itu, memegangnya, menggoyang-goyangkannya dan lain-lain.

“Hari ini panas” bisa bernilai benar atau salah. Karena persepsi orang-orang terhadap panas bisa saja berbeda-beda maka perlu dicari titik temu. Sains dan teknologi menciptakan termometer untuk memudahkan kita menyepakati. Misal pernyataan diubah menjadi “Hari ini temperatur 32 derajat celcius.” Dengan melihat termometer maka kita bisa memastikan bahwa penyataan itu benar (atau salah).

Bisa kita lihat di kasus ini, sains membantu untuk memudahkan kesepakatan 32 derajat celcius. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa 32 derajat celcius itu bisa dipersepsi panas bagi orang tertentu dan dipersepsi tidak panas oleh orang lain. Maka di sini perlu sikap untuk saling respek kepada perbedaan yang mungkin.

“Rara adalah cantik” bisa bernilai benar atau salah. Karena pengertian “cantik” masing-masing orang bisa berbeda maka kesimpulan akhir bisa beda. Sekali lagi kita perlu respek terhadap perbedaan ini.

Sedangkan penilaian intuitif tentang cinta selalu benar. “Saya cinta Rara” adalah selalu benar. Karena, cinta saya, tidak perlu dibandingkan dengan realitas luar. Justru, cinta saya adalah realitas diri saya. Sehingga, selama saya jujur, cinta saya kepada Rara adalah selalu benar. Tetapi orang bisa berbohong tentang cinta. Karena tidak ada realitas obyektif untuk menentukan cinta maka dusta dengan cinta mudah dilakukan. Misal ungkapan “Saya cinta Sasa” bisa salah jika saya berbohong. Sejatinya saya tidak cinta tapi hanya di bibir saja bilang cinta.

Mirip dengan intuisi cinta, intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu bernilai benar.

6. Ringkasan

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa intuisi cinta selalu bernilai benar. Demikian juga intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu benar. Sedangkan intuisi indera selalu benar sejauh data-indera yang diperhatikan. Penilaian intuisi indera bisa salah (atau benar) bila dibanding dengan realitas luar. Penilaian intuisi estetika, yang melibatkan rasa, bisa saja disepakati dan di kasus lain tidak ada kesepakatan. Perlu sikap saling respek dalam perbedaan.

7. Diskusi

Bagian diskusi ini akan membahas lebih detil tentang pengetahuan intuitif. Anda yang berminat dapat mendalami diskusi ini. Sementara yang berminat melompati dan langsung ke bab berikutnya tidak masalah.

7.1 Skemata Kant

Skemata adalah bagian paling sulit dari Kritik Akal Murni Kant. Para pembaca, di era Kant, banyak yang mengeluhkannya. Kant sendiri, dikabarkan, minta maaf atas kesulitan yang diakibatkan oleh skemata. Kesulitan ini muncul karena skemata bersifat teknis. Sehingga, skemata mirip dengan tugas mengalikan bilangan besar acak 4 angka dengan 5 angka. Meski, kita paham cara mengalikan, tetapi, tetap butuh usaha keras untuk menghitungnya.

Sementara, bagi pemikir yang ingin memahami secara detil, skemata justru memberi penjelasan paling jelas dari proses pemahaman manusia. Baik pemahaman konsep pikiran mau pun pemahaman hadirnya “impresi indera” tentang obyek eksternal.

Skemata adalah pendekatan sintesa antara data empiris dan deduksi transendental. Sehingga kategori dalam skemata juga bersifat sintesa. Seluruhnya ada 12 kategori. Karena, masing-masing ada tesis, antitesis, dan sintesis maka bisa menjadi 4 kelas saja: kualitas, kuantitas, relasi, dan modalitas. Proses judgement (penilaian) mengikuti skema kategori yang sama.

Data empiris, misal ada bola di depan kita, berupa cahaya-cahaya yang memancar dari bola mengenai mata – kita sebut sebagai data-indera. Kemudian, data-indera ini diolah oleh sistem indera lengkap dengan sistem syaraf menghasilkan sinyal-indera. Sampai sinyal-indera, kita belum memahami ada bola di depan kita.

Proses di atas adalah proses terhadap data empiris. Validitas data empiris mengikuti perkembangan sains. Maksudnya, jika ada perubahan teori dalam sains empiris maka kita mengikuti perubahan tersebut.

Langkah berikutnya adalah proses sintesa data empiris dengan kategori transendental yaitu proses judgement (penilaian). Proses penilaian ini adalah tugas filsafat karena melibatkan argumen transendental.

Sinyal-indera bertemu dengan kategori maka terjadi proses penilaian menghasilkan impresi-indera berupa gambar bola dalam pikiran kita.

Lebih lengkap proses penilaian adalah sebagai berikut.

A) Sinyal-indera berhadapan dengan kategori

B) Terjadi proses penilaian

B.1 Kuantitas: apakah bola tersebut universal atau partikular menghasilkan bola singular.
B.2 Kualitas: apakah bola itu ter-afirmasi atau ter-negasi menghasilkan infinite (batas-batas tak tentu).
B.3 Relasi: bagian bola mana yang substansi atau aksiden, atau, sebab atau akibat, menghasilkan interaksi-disjungsi dinamis.
B.4 Modalitas: apakah mungkin ada bola seperti itu atau itu bola apa adanya menghasilkan kepastian bola tertentu.

C) Muncul impresi-indera berupa gambar bola di pikiran kita.

Semua proses di atas berlangsung secara refleks intuitif nyaris tidak perlu waktu, tidak perlu ruang. Data-indera dan sinyal-indera bersifat empiris. Sedangkan, impresi-indera berupa gambar bola dalam pikiran bersifat transendental.

Proses skemata di atas bisa kita terapkan kepada obyek eksternal mau pun obyek logika semisal pernyataan matematika 2 + 1 = 3 atau proposisi “Jakarta ibu kota Indonesia.”

Ketika kita melihat “angka 2” atau mendengar “ucapan 2” maka data-indera kita terima, lalu, diolah oleh indera dan sistem syaraf menghasilkan sinyal indera untuk berhadapan dengan kategori transendental. Terjadi proses penilaian seperti di atas, akhirnya, menghasilkan impresi-indera 2.

Yang menarik, anak kecil bisa melihat “2 + 1” tetapi tidak bisa menyimpulkan hasilnya 3. Kita, orang dewasa, bisa menyimpulkan bahwa hasil operasi “2 + 1” adalah “3”. Mengapa bisa begitu?

Ruang dan Waktu

Ruang dan waktu adalah sensasi paling murni dari intuisi transendental. Sehingga, seluruh kategori dan proses skemata selalu berada dalam ruang dan waktu. Sensasi ruang membuat kita mampu menyusun obyek-obyek berdampingan secara halus, homogen. Kita mampu menyusun dalam imajinasi bahwa di bawah bola ada meja, di bawah meja ada lantai, di samping meja ada kursi, dan lainnya secara halus tanpa terputus. Sensasi ruang bersifat halus homogen.

Begitu juga, sensasi waktu membuat kita mampu menyusun proses kejadian berurutan secara halus tanpa terputus, homogen. Detik 1, bola di depan kita; detik 2, bola kita pegang; detik 3, bola dilempar. Detik demi detik berlangsung secara halus tanpa terputus.

Dengan sudut pandang bahwa ruang dan waktu adalah sensasi paling murni, maka, seluruh obyek imajinasi selalu berada dalam sensasi ruang dan waktu. Tetapi, ruang dan waktu itu sendiri tidak eksis secara mandiri dalam realitas. Ruang dan waktu eksis disebabkan sensasi intuitif imajinasi kita. Tentu saja, banyak pemikir yang berbeda pendapat tentang konsep ruang dan waktu.

Apakah konsep ruang dan waktu benar-benar bersifat halus, homogen, kontinu? Atau, ruang dan waktu justru diskrit, terputus-putus? Seperti teori atom quantum yang berupa paket-paket dalam ukuran quantum, atau ukuran quanta. Tema yang menarik ini akan kita bahas pada tempatnya yang tepat.

Akal, rasa, pemikiran, dan lain-lain bersifat lebih “luas” dari sensasi imajinasi. Sehingga, mereka bisa terbebas dari ruang dan waktu. Misal, konsep “rumus Phytagoras” terbebas dari ruang dan waktu. Di mana pun, kapan pun, rumus Phytagoras adalah valid. Meski demikian, untuk memahami rumus Phytagoras, kita perlu ruang dan waktu. Kita perlu membuat gambar segitiga. Kemudian, perlu waktu untuk mem-proses perhitungan. Tetapi, rumus Phytagoras sendiri tidak perlu ruang dan waktu.

Demikian juga, rasa jatuh cinta tidak perlu ruang dan waktu. Meski pun, kejadian jatuh cinta perlu ruang, misal pertemuan antara dua orang. Dan perlu waktu, ada proses saling mengenal dan memahami. Tetapi, cinta itu sendiri terbebas dari ruang dan waktu.

Memori dan Imajinasi

Bagaimana kita bisa membayangkan ada bola berwarna putih hitam? Padahal, tidak ada bola di depan kita. Kita membayangkan bola tersebut dengan imajinasi. Dari mana asal imajinasi bola itu? Berasal dari memori atau kombinasi beberapa memori atau bukan dari memori.

Dalam kasus imajinasi bola ini, kita menghadapkan skemata tanpa data empiris, tanpa ada bola di depan mata.

Secara refleks intuitif muncul sesuatu – yang nanti, kita kenal dengan imajinasi bola putih hitam. Sesuatu itu berhadapan dengan kategori transendental untuk proses sintesa melaui penilaian.

Dalam seluruh penilaian – kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas – mirip dengan penilaian bola sebagai obyek eksternal. Kecuali dalam penilaian kualitas, sintesa antara afirmasi dan negasi menghasilkan infinite yang lebih dekat ke negasi, sehingga, hasil akhir berupa bola hitam putih imajinatif. Bukan bola hitam putih yang nyata sebagai obyek eksternal. Beberapa orang tertentu, ada yang, mengalami kelemahan dalam penilaian kualitas. Akibatnya, mereka sulit membedakan obyek imajinatif dengan obyek eksternal nyata.

Sementara, ada orang-orang tertentu yang imajinasinya sangat kreatif. Kita mengenal mereka sebagai jenius. Imajinasi mereka tidak terbatas pada memori. Imajinasi mereka lebih dari memori. Bahkan, imajinasi mereka lebih kreatif dari seluruh kombinasi memori. Mereka memang jenius kreatif.

Hasil pemikiran kreatif ini tidak ada bentuk nyatanya dalam dunia eksternal. Mereka benar-benar hanya berupa pikiran imajinatif. Untuk mengungkapkan diri menjadi nyata di dunia eksternal, mereka memanfaatkan beragam media. Ibnu Arabi mengungkapkan karya kreatifnya dalam bentuk buku “Futuhat,” Newton dalam buku “Principia,” dan Heidegger dalam buku “Being and Time.” Bentuk ekspresi bisa beragam. Rumi dalam bentuk “tarian sufi,” Rendra dalam bentuk “puisi Rajawali,” dan Iwan Fals dalam bentuk “Nyanyian Jiwa.”

Heidegger (1989 – 1976) menemukan sesuatu yang menarik ketika mengkaji karya seni kreatif. Heidegger meyakini bahwa realitas paling fundamental adalah being, khususnya, being-there atau dasein atau manusia sejati. Dasein selalu berada dalam mode being-in-the-world, manusia selalu ada dalam dunia. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa manusia “transendental” terhadap dunia. Maksudnya, manusia bukan bagian dari dunia dan dunia bukan bagian dari manusia, meski, mereka selalu terhubung.

Dari mana muncul karya seni yang kreatif? Bisa dari dasein – manusia sejati – atau dari dunia. Jika karya seni itu berasal dari dunia maka, untuk menjadi karya, masih memerlukan peran manusia. Sehingga, karya seni itu pasti berasal dari manusia sejati yang memiliki kreativitas super. Kajian lebih lanjut terhadap dasein, memang menunjukkan bahwa karya seni bersumber dari dasein. Tetapi, selalu ada yang aneh, di mana, ada hal-hal tertentu yang mendorong dasein untuk menghasilkan karya seni. Sesuatu itu bukan dasein. Sesuatu itu transendental terhadap dasein mau pun dunia. Bahkan, sesuatu itu transenden, bukan hanya transendental.

Komitmen Heidegger terhadap ontologi – dan menghindari metafisika – mencegahnya untuk menilai dorongan karya seni adalah sesuatu yang transenden. Heidegger mencari jawaban yang bersifat imanen – nyata di dunia ini. Apa jawabannya?

Pemikir empiris-materialis akan mencari jawabannya dari fenomena materi. Mereka menemukan cara kerja otak yang kreatif membuat beragam kombinasi dalam jumlah tak hingga. Perlu diingat bahwa jaringan neuron di otak manusia, jumlahnya, lebih banyak dari bintang-bintang di seluruh alam semesta. Ditambah, otak manusia bersifat plastis yaitu lentur lebih lentur dari segala yang lentur. Sehingga, otak manusia bisa berkembang menjadi apa saja. Salah satunya, otak manusia mampu menghasilkan maha karya seni super kreatif.

Pemikir ontologis, semisal Heidegger, tidak mau berhenti hanya pada jawaban empiris. Manusia itu, dasein, transendental terhadap dunia – termasuk transendental terhadap materi. Sehingga, dasein transendental terhadap kerja otak yang bersifat materi. Kita memerlukan jawaban yang bukan hanya “hasil kerja otak.” Heidegger meyakini sumber karya seni adalah bahasa. Lebih tepatnya, sistem-bahasa. Karena, bahasa adalah rumah-dari-being. Termasuk, dasein tinggal di rumah-bahasa. Bahasa adalah tempat being mengungkapkan diri, menyingkapkan diri, openness.

Dasein tinggal di rumah-bahasa, diasuh dan dibesarkan oleh bahasa. Bahasa di sini terhubung dengan bahasa di sana. Bahasa saat ini terhubung dengan bahasa masa lalu dan bahasa masa depan. Dasein bersembunyi di rumah bahasa, pun, mengungkapkan diri di rumah bahasa. Sistem bahasa yang kompleks itu mendorong dasein yang kreatif untuk menerima ilham karya seni. Kemudian, dasein mengungkapkan ilham seni menjadi karya seni yang nyata di dunia eksternal. Maka, lahirlah sebuah maha karya seni.

Pemikir teologis memiliki jawaban yang mudah dan meyakinkan. Sumber ilham seni adalah ilham dari Tuhan. Jawaban ini benar dan meyakinkan. Sekuat apa pun keyakinan terhadap ilham Tuhan ini, beberapa pemikir yang semangat tetap bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Pilihannya, ilham seni dari Tuhan ini muncul melalui kerja otak manusia, sehingga, selaras dengan jawaban empiris. Atau, ilham itu muncul melalui sistem bahasa, sehingga, selaras dengan jawaban ontologis.

Pembahasan kita tentang imajinasi kreatif ini, tampaknya, sudah melangkah jauh dari skemata. Kita perlu kembali membahas skemata.

Konsistensi dan Koherensi

Kriteria paling umum suatu pernyataan bernilai benar adalah konsisten dan koheren. Bagaimana pikiran kita bisa menguji konsistensi? Dan, lebih dasar, bagaimana pikiran bisa menetapkan konsistensi menjadi penting? Atau, sejatinya, kita tidak butuh konsistensi mau pun koherensi? Atau bisa juga kita melangkah mundur dengan bertanya, “Bagaimana kategori skemata itu bisa terbentuk?”

Tampaknya, kita bisa meminjam konsep dialektika Hegel untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas. Hegel menulis buku berjudul “Fenomenologi Spirit” yang menjadi landasan sistem filsafatnya.

Awalnya, spirit hanya sadar dirinya sendiri adalah spirit. Kemudian, spirit berhadapan dengan sesuatu yang bukan spirit, atau non-spirit. Proses dialektika mulai terjadi antara spirit dan non-spirit maka menghasilkan spirit-baru.

Spirit-baru ini lebih matang dari spirit yang semula. Spirit-baru sadar ada saya yaitu kulo. Dan, ada yang lain yaitu non-spirit. Kesadaran ini mengantarkan spirit memahami kuantitas: universal, partikular, dan singular. Dengan demikian, spirit berhasil membentuk tiga kategori dalam kelompok kuantitas.

Dengan analisis yang sama, spirit berhasil membentuk kelompok kategori lain: kualitas, relasi, dan modalitas. Bahkan, spirit punya kesempatan untuk membentuk lebih banyak kategori lagi. Sampai di sini, spirit telah berhasil membentuk kategori secara lengkap.

Kiranya perlu kita ingat di sini bahwa spirit berhasil membentuk kategori secara retroaktif atau analisis mundur. Setelah spirit berdialektika dengan non-spirit, kemudian, spirit-baru melakukan refleksi diri menghasilkan skema kategori. Spirit tidak bisa melakukan antisipasi, ke depan, di waktu itu. Karena, spirit tidak punya pengalaman apa pun.

Proses dialektika akan terjadi lagi tanpa henti. Spirit-baru berhadapan dengan non-spirit menghasilkan spirit-baru-2. Yang terakhir, spirit-baru-2, jauh lebih matang dari spirit-spirit sebelumnya. Karena, spirit-baru-2 sudah mengalami dua kali proses dialektika: dialektika-pertama dan dialektika-kedua.

Dari dialektika-kedua, spirit menyadari ada sesuatu yang konsisten dan koheren, yaitu, skema kategori. Di saat yang sama, spirit juga sadar ada sesuatu yang berbeda, suatu different: lebih kuat, lebih besar, lebih matang, dan lain sebagainya. Karena proses dialektika ini terjadi berulang kali, maka, spirit makin kuat menyadari ada sesuatu yang konsisten dan ada sesuatu yang different.

Sampai taraf tertentu, spirit sadar bahwa “12 + 1” akan menghasilkan, secara konsisten dan koheren, angka “13.” Spirit dari orang dewasa, umumnya, bisa menyadari bahwa “12 + 1” adalah “13.” Tetapi, spirit dari anak usia dini, barangkali, belum bisa memahami perhitungan di atas. Spirit dari anak usia dini belum cukup banyak berdialektika untuk memahaminya. Di sinilah, kita sadar betapa pentingnya suatu pendidikan.

Lagi, kita perlu catat di sini, spirit sadar bahwa “12 + 1” menghasilkan “13” adalah berdasar retroaktif – refleksi diri mundur terhadap pengalaman masa lalu. Tentu saja, meski retroaktif, spirit memiliki karakter kreatif untuk meng-kombinasikan beragam memori dengan satu dan lain cara.

Apakah mungkin spirit meyakini bahwa “12 + 1” tidak menghasilkan “13”? Atau, apakah mungkin spirit meyakini eksistensi dari suatu kontradiksi?

Kontradiksi Wittgenstein

Wittgenstein (1889 -1951) memunculkan pertanyaan kontradiksi yang menarik. Mengapa kita yakin bahwa “12 + 1 = 1” adalah SALAH? Atau, mengapa kita yakin bahwa pernyataan yang berkontradiksi dengan “12 + 1 = 13” adalah tidak mungkin eksis sebagai kebenaran?

Sementara, mengapa kita tidak menolak pernyataan ” kuda berkaki 8″? Atau, mengapa kita yakin “kuda berkaki 8” bisa saja eksis sebagai kebenaran?

Padahal, baik “12 + 1 = 1” mau pun “kuda berkaki 8” sama-sama tidak ada di alam nyata. Apa yang membedakan keduanya?

Perbedaannya adalah: “12 + 1 = 1” didasarkan kepada konsistensi, sedangkan, “kuda berkaki 8” didasarkan kepada different.

12 + 1 = 1

Matematika adalah disiplin ilmu paling konsisten dan koheren. Sebagai disiplin ilmu murni, matematika bekerja dalam sistem aksiomatik yang ideal. Skemata sangat tepat diterapkan untuk sistem aksiomatik seperti matematika.

(A) 12 + 1 = 13

Pernyataan matematika (A) selalu benar. Secara retroaktif, kita sudah pernah melakukan perhitungan bahwa 12 + 1 memang menghasilkan 13. Mengapa benar? Pertama, kita sudah pernah melakukannya. Kedua, kita bisa melakukan idealisasi terhadap sistem bilangan asli. Ketiga, bahkan, kita bisa generalisasi misal 34 + 1 = 35.

Dengan keyakinan itu, kita bisa memastikan bahwa pernyataan (S) bernilai SALAH.

(S) 12 + 1 = 1

Atau, (S) berkontradiksi terhadap (A). Karena itu, (S) tidak mungkin eksis di dunia nyata. Benarkah begitu? Benar bahwa (S) tidak akan pernah eksis dalam sistem aksiomatik bilangan asli. Sistem aksiomatik ini sudah ternanam kuat prinsip identitas dalam pemahaman kita.

Bagaimana jika tidak dalam sistem aksiomatik bilangan asli, seperti umumnya selama ini?

(S) 12 + 1 = 1 bisa bernilai BENAR dalam sistem aksiomatik bilangan jam dinding.

Dalam sistem jam dinding, yang ada di rumah saya misalnya, tidak ada angka 13. Maka setelah jam 12 kembali ke jam 1. Sehingga “12 + 1 = 1” bernilai BENAR. Jadi, (S) terbukti bernilai BENAR.

Kesimpulan kita, (S): 12 + 1 = 1 adalah mungkin BENAR. Tidak mustahil untuk menjadi benar. Memang kesimpulan ini berbeda “different” dari cara pikir kita pada umumnya.

Kuda Berkaki 8

Meski, kita yakin mungkin saja benar, peryataan

(K): Kuda berkaki 8,

tetapi realitasnya, kita tidak pernah menemui kuda berkaki 8. Setiap kuda yang kita temui selalu berkaki 4. Bisakah pernyataan (K) bernilai mutlak mustahil? Sehingga, kita benar-benar menolak validitas (K).

Tentu saja, (K) bisa bernilai mutlak mustahil. Dengan cara, kita menetapkan sistem aksiomatik retroaktif. Yaitu, kita mendefinisikan kuda adalah seluruh kuda yang pernah saya lihat. Dan terbukti bahwa seluruh kuda yang pernah saya lihat adalah berkaki 4.

Kesimpulan kita, (K): kuda berkaki 8 adalah mutlak mustahil. Tidak mungkin bernilai benar dalam sistem aksiomatik yang saya definisikan.

Bagaimana pun, cara berpikir aksiomatik terhadap kuda, seperti di atas, adalah tidak lazim. Karena, ketika kita berpikir tentang realitas kuda, kita cenderung berpikir “different.” Selalu ada peluang perbedaan dalam pengamatan berikutnya.

Jadi, apa yang membedakan pernyataan (K): kuda berkaki 8 dengan pernyataan (S): 12 + 1 = 1?

Perbedaannya adalah pilihan sikap kita sendiri. Umumnya, kita menyikapi (S) dengan prinsip identitas yaitu (S) mutlak salah. Sedangkan, kita menyikapi (K) dengan prinsip “different” yaitu mungkin saja ada hasil pengamatan yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, kita bisa menyikapi (S) dan (K) dengan cara yang sama. Keduanya mutlak mustahil bila kita menerapkan prinsip identitas. Dan, keduanya sama-sama mungkin ketika kita menerapkan prinsip different.

Apa yang kita bahas sejauh ini adalah “masalah mudah” atau “easy problem” yaitu bagaimana impresi-indera, misal gambar bola, muncul dalam pikiran kita. Bagian berikutnya akan mendiskusikan “hard problem.”

7.2 Hard Problem

“Hard Problem” menanyakan, “Bagaimana dan mengapa kita mengalami kesadaran sebagai subyek saya, subyek kulo?”

Di sini, saya menggunakan istilah hard-problem sedikit berbeda dari Chalmers, yang memunculkannya pada tahun 1995. Meski hard-problem sudah menjadi kajian lebih dari 27 tahun, solusinya masih tidak memuaskan sampai saat ini.

Mengacu kepada Chalmers, easy-problem menanyakan bagaimana manusia bisa menerima data-indera, kemudian mengolahnya bersama sistem syaraf dan sistem tubuh, sampai menghasilkan sensasi impresi-indera. Problem ini dianggap mudah karena kajian sains empiris akan menjawabnya dengan jelas seiring berjalannya waktu. Ternyata, tidak semudah yang dikira.

Hard-problem melanjutkan, “Mengapa itu semua – proses pengolahan data-indera – bisa diiringi oleh suatu pengalaman, suatu experience?” Dengan kata lain, mengapa kita merasa lapar? Padahal, kondisi fisik orang tidak makan bisa saja tidak merasa lapar. Mengapa kita merasa takut kepada harimau? Padahal kondisi fisik seseorang yang melihat harimau, bisa saja, tidak merasa takut. Mengapa kita mengalami lapar, takut, dan bahagia?

Saya menambahkan ke hard-problem, “Mengapa kita mengalami, sadar, sebagai subyek atau sebagai kulo?” Sehingga, hard-problem berubah menjadi very-hard-problem.

Solusi Empiris – Materialis

Semua kesadaran kita, termasuk kesadaran sebagai subyek kulo, adalah hasil kerja dari jaringan otak manusia – dan seluruh anggota tubuh. Sehingga, dengan meneliti cara kerja otak maka kita akan menemukan bagaimana kesaradan itu muncul dari sel-sel otak manusia. Penelitan sains menunjukkan kemajuan signifikan di bidang neurologi dan sistem syaraf.

Sampai saat ini, penelitan sains belum berhasil mengungkap kemunculan kesadaran manusia ini. Dengan mempertimbangkan kemajuan teknologi, lebih-lebih teknologi digital bidang medis dan pengolahan citra, maka kita bisa optims sains dan tekonologi akan memberi solusi terbaik. Bagaimana pun, kita masih membutuhkan pemikiran spekulatif untuk melengkapi sains dan teknologi.

Quantum Neuron

Hipotesa quantum-neuron merupakan salah satu hipotesa paling menarik dalam menjelaskan kemunculan kesadaran. Kita mencermati kerja sel otak, neuron, sampai level quantum. Sebagaimana kita tahu, teori mekanika quantum menghadirkan wawasan baru di bidang fisika sub-atomik. Kejutannya, teori quantum sering tidak sesuai dengan logika umum atau tidak masuk akal. Teori quantum sering tidak konsisten. Bagaimana pun, teori quantum tetap valid secara ilmiah. Fisika klasik, atau fisika Newton, bersifat deterministik. Sementara, fisika quantum bersifat indetermenistik, tidak deterministik.

Dengan karakter quantum yang indeterministik, terbuka luas bagi kita untuk mengembangkan pemikiran spekulatif. Dan, saat ini, berkembang beragam interpretasi terhadap fenomena quantum.

Quantum-neuron mencermati cara kerja sel otak, neuron, ke level quantum yang indeterministik. Karena jumlah neuron pada otak manusia ada 100 milyard dan masing-masing tersusun dari jutaan sub-atom, maka, kita memiliki sistem quantum-neuron dalam ukuran super besar. Neuron menerima sinyal-sinyal dari indera dan memori. Kemudian, neuron mengolah sinyal-sinyal ini dengan sistem quantum-neuron yang menghasilkan kesadaran manusia.

Cara kesadaran muncul dari neuron adalah melalui proses lompatan-quantum. Sebagaimana elektron, berpindah dari orbit 1 ke orbit 2 melalui lompatan diskrit, bukan dari gerak halus kontinyu, begitu juga proses munculnya kesadaran dari neuron. Elektron yang melompat dari orbit lebih tinggi ke orbit rendah, seketika, melepaskan cahaya. Begitu juga, proses gerak quantum-neuron dari satu state ke state yang lain “melepaskan” cahaya kesadaran seketika.

Perlu kita catat bahwa lompatan quantum yang “memancarkan” cahaya kesadaran ini terjadi dari interaksi milyaran atau trilyunan quantum-neuron. Interaksi kompleks quantum-neuron ini, pada tahap kematangan tertentu, menghadirkan kesadaran diri sebagai subyek kulo.

Struktur Quantum Neuron

Masih banyak alternatif hipotesa yang bisa kita kembangkan berdasar sudut pandang empiris materialis seperti di atas. Kita bisa memandang kesadaran muncul bukan dari sekedar proses quantum-neuron sederhana, tetapi, dari proses struktur-quantum-neuron. Dari milyaran sub-atomik neuron, mereka tidak bekerja sendiri-sendiri. Sebaliknya, mereka bekerja sama membentuk struktur khusus. Dari struktur kompleks inilah, hadir kesadaran pada diri manusia.

Pandangan strukturalis ini membuka variasi yang lebih luas. Dua otak yang memiliki quantum-neuron mirip, bisa saja, memiliki struktur yang jauh beda. Sehingga, dua orang kembar identik, bisa saja, memiliki materi quantum-neuron yang sama. Tetapi, mereka bisa memiliki kepribadian, kesadaran, yang berbeda karena mereka memiliki struktur-quantum-neuron yang beda.

Peran penting dari struktur bisa kita bandingkan dengan struktur game catur, misalnya. Raja-catur berhadapan dengan kuda-catur. Dari materi raja dan kuda, kita tidak bisa menentukan apakah raja yang berhak menyerang kuda atau sebaliknya. Tetapi, dari struktur aturan main game catur, kita bisa menentukan bahwa raja berhak menyerang kuda. Bahkan, kita bisa tahu pihak mana yang, akhirnya, memenangkan permainan catur. Bukan dari materi penyusun raja-catur atau pun kuda-catur. Kita mengetahuinya dari struktur aturan main game catur. Dalam situasi ekstrem, kadang, kita tidak memerlukan materi apa pun, misal, catur online atau catur bayangan.

Struktur-quantum-neuron memandang struktur kompleks lebih utama dalam menentukan kesadaran manusia. Karena, dari beberapa struktur, bisa menyusun supra-struktur maka otak memiliki kebebasan menyusun aneka supra-struktur tanpa batas. Dari supra-struktur inilah muncul free will, kehendak bebas, manusia. Free will manusia tidak bisa, secara langsung, kita temukan dari materi penyusun badan manusia. Kita menemukan free will dari struktur-quantum-neuron yang bebas – dalam sistem organisasi diri yang kompleks. Ditambah karakter quantum yang indeterministik, supra-struktur menghasilkan karakter manusia yang dinamis.

Lebih jauh, kita memperhatikan perkembangan struktur-quantum-neuron berkembang seiring waktu dan ruang. Maksudnya, struktur otak kita berinteraksi dan berevolusi dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Di saat yang sama, struktur otak kita berinteraksi dengan struktur otak orang lain dan struktur budaya secara luas. Dengan demikian, meski fenomena kesadaran diri, kita rasakan secara pribadi, tetapi, proses kesadaran itu sendiri melibatkan struktur masyarakat secara luas. Kesadaran diri pribadi menentukan, dan ditentukan oleh, kesadaran masyarakat luas secara dinamis.

Dualisme

Pandangan dualisme meyakini ada dua substansi yang saling mandiri: substansi materi dan substansi non-materi. Kesadaran termasuk dalam substansi non-materi atau substansi jiwa. Bagi dualis, tidak ada masalah dari mana munculnya kesadaran. Karena, kesadaran exist apa adanya terbebas dari materi. Sehingga, tidak ada pertanyaan dari bagian otak yang mana kesadaran itu muncul.

Solusi dualis ini, sebenarnya, berhasil menyelesaikan masalah hard-problem. Tetapi, banyak pihak tidak puas dengan solusi dualis. Karena dualis tidak menyelesaikan problem, melainkan, menghapus problem. Dualis menerima begitu saja munculnya kesadaran. Sementara, hard-problem justru bertanya bagaimana munculnya kesadaran.

Eliminis

Kita bisa melangkah lebih jauh dengan pendekatan elimatif atau eliminis. Elimis memandang realitas adalah materi saja. Selain materi, tidak ada apa-apa. Ketika kita merasa punya kesadaran, itu hanya ilusi belaka. Karena yang ada hanya materi dengan ragam interaksi dan hukum materi. Kesadaran hanya ilusi.

Dari sudut pandang eliminis, hard-problem itu tidak ada. Karena, kesadaran memang tidak ada. Problem selesai.

Elimis juga bisa bergerak dari arah sebaliknya, bergerak dari arah idealis. Realitas sejati adalah kesadaran manusia. Materi fisik, sejatinya, tidak ada. Semua yang ada adalah kesadaran manusia. Meja dan kursi yang ada di depan kita, sejatinya, adalah kesadaran pikiran kita sendiri. Kesadaran kita yang menciptakan seakan-akan ada materi di alam eksternal.

Bagi elimis idealis, hard-problem itu tidak ada. Karena yang ada hanyalah kesadaran itu sendiri. Jadi, hard-problem sudah selesai bagi eliminis idealis. Tentu saja, banyak pihak yang keberatan dengan solusi eliminis ini. Lagi, karena eliminis tidak menjawab problem tetapi membuang problem itu sendiri.

Solusi Dialektik

Kita pernah membahas solusi dialektika, di bagian awal munculnya kategori skemata, dengan pendekatan fenomenologi spirit. Perlu kita tambahkan di sini bahwa Immanuel Kant menolak pendekatan dialektika karena dialektika adalah kesalahan berpikir. Sementara, Hegel justru menerima dialektika sebagai proses paling fundamental dalam logika berpikir. Sehingga wajar, sampai sekarang, terjadi perbedaan tajam dalam merespon dialektika.

Awalnya hanya ada spirit sederhana yang hanya sadar akan dirinya sendiri. Kemudian spirit sadar ada yang lain, selain dirinya, yaitu non-spirit. Terjadi proses dialektika antara spirit dan non-spirit terciptalah spirit-baru yang merangkul spirit dan non-spirit. Pada gilirannya, spirit-baru juga sadar bahwa ada sesuatu selain dirinya, yaitu, non-spirit. Terjadi dialektika lagi antara spirit-baru dengan non-spirit maka terciptalah spirit-baru-2. Dan seterusnya, sampai tercipta spirit dewasa.

Spirit dewasa ini adalah kesadaran diri kita yang sadar akan diri kita sendiri dan sadar ada alam eksternal di sekitar kita.

Jadi, bagaimana solusi dialektika terhadap hard-problem? Dari mana asal mula munculnya kesadaran manusia? Jawaban dialektika adalah: yang paling awal eksis adalah spirit-sederhana yaitu kesadaran diri kita yang hanya sadar tentang dirinya sendiri. Kemudian, terus berproses dialektika menghasilkan kesadaran spirit dewasa.

Kita bisa mengembangkan hipotesis skenario-dini. Ketika baru lahir, bayi hanya memiliki kesadaran spirit sederhana yang hanya sadar terhadap dirinya sendiri. Kemudian, spirit sederhana ini berdialektika dengan non-spirit misal dengan alam sekitar atau, bahkan, dengan badannya sendiri. Bayi menangis sebagai simbol terbentuknya spirit yang lebih matang. Bayi mendapat asupan air susu ibu, non-spirit, maka spirit bayi terus tumbuh sampai akhirnya menjadi spirit dewasa.

Dengan skenario-dini, kesadaran mulai muncul ketika bayi lahir berupa spirit-sederhana yang, seiring waktu, berkembang menjadi spirit dewasa dengan kesadaran yang matang. Dalam proses perkembangan dialektika itu, spirit menguatkan kesadaran diri dan kesadaran akan eksistensi alam eksternal.

Bagaimana atau dari mana spirit-sederhana itu bisa muncul pada bayi?

Kita bisa mengembangkan hipotesis skenario-janin. Dalam skenario-janin, spirit bayi yang lahir dianggap sudah terbentuk cukup kompleks, bukan spirit-sederhana. Awalnya, ada sel sperma dan sel telur, yang masing-masing memiliki setengah-spirit-jantan dan setengah-spirit-betina. Masing-masing dari mereka bukanlah spirit. Jika mereka tidak berdialektika, tidak bertemu, maka tidak akan hadir spirit. Mereka akan sama-sama mati. Tetapi, jika setengah-spirit-jantan bertemu dengan setengah-spirit-betina maka mereka berdialektika. Terjadi proses saling memberi dan saling menerima. Sampai proses ini cukup matang, pada akhirnya, setengah-spirit-jantan ditambah setengah-spirit-betina menghasilkan satu utuh spirit-sederhana.

Kisah selanjutnya adalah proses dialektika fenomenologi spirit seperti yang kita bahas di atas. Janin, awalnya, hanya memiliki spirit-sederhana. Kemudian, berdialektika dengan non-spirit menghasilkan spirit yang lebih matang. Dan, proses dialektika ini berlangsung terus-menerus sampai akhirnya menghasilkan spirit-bayi dan spirit dewasa yang sadar akan dirinya sendiri dan sadar akan alam eksternal.

Tentu saja, kesadaran yang dimiliki oleh spirit-janin berbeda dengan kesadaran yang dimiliki oleh spirit dewasa. Bagaimana pun, mereka sama-sama spirit dan sama-sama kesadaran.

Solusi Teologis

Sudut pandang teologis selalu mampu memberi solusi yang meyakinkan, termasuk, solusi terhadap hard-problem. Dari mana hadirnya kesadaran? Kesadaran adalah anugerah dari Tuhan. Jika Tuhan berkehendak memberi kesadaran kepada manusia, maka, manusia jadi memiliki kesadaran.

Pertanyaan masih bisa berlanjut: bagaimana proses anugerah kesadaran tersebut? Lebih detil proses anugerah ini, kita bisa mengadaptasi beberapa solusi yang sudah kita jelaskan di atas.

Solusi Monisme

Pandangan monisme mengarahkan solusi ke monisme netral, yaitu, adanya realitas fundamental yang memiliki karakter ganda: materi dan kesadaran. Dengan demikian, materi adalah mode-realitas dan kesadaran juga mode-realitas. Materi tidak bisa direduksi ke kesadaran. Sebaliknya, kesadaran tidak bisa direduksi ke materi.

Saya pikir monisme netral ini merupakan ide yang sangat menarik. Tetapi, apa yang dimaksud sebagai realitas fundamental dari monisme netral? Pertanyaan ini, sejauh yang saya tahu, belum mendapat perhatian serius dari para pemikir dunia. Untuk menjawabnya, barangkali, kita bisa mengkaji sejarah filosofi tentang monisme.

Mempertimbangkan situasi abad 20 dan abad 21 ini, tampaknya trend monisme paling kuat adalah materialisme. Di mana, materi adalah realitas paling fundamental. Dengan sudut pandang ini, monisme netral jatuh menjadi materialisme. Jika kita mengamati Russell, misalnya sebagai salah seorang penggagas monisme netral, maka kita menemukan bahwa monisme muncul justru akibat dari kebuntuan materialisme. Sehingga, monisme materialistis bukanlah solusi yang diharapkan.

Chalmers terus mengkaji untuk menemukan realitas fundamental itu. Berada dalam konteks materialisme, Chalmers berharap akan menemukan realitas fundamental, atau prinsip fundamental, yang barangkali bukan materialis. Sejauh ini, saya belum menemukan hipotesis darinya.

Mari kita mundur lebih jauh ke sejarah filsafat. Parmenides adalah pemikir pra-Socrates yang menyatakan monisme-eksistensi. Realitas fundamental adalah tunggal yaitu eksistensi. Tetapi, kita tidak bisa mendapatkan info lebih detil tentang monisme-eksistensi Parmenides ini karena tidak banyak teks yang tersedia tentangnya.

Suhrawardi (1154 – 1191) menggagas monisme-cahaya. Realitas paling fundamental adalah cahaya-sejati. Kemudian, Suhrawardi menyusun ontologi-cahaya yang kokoh. Saya pikir ontologi-cahaya adalah konsep monisme paling jelas dan kuat sampai saat ini. Di bagian bawah, kita akan membahas khusus tema ontologi cahaya ini.

Ibn Arabi (1165 – 1240), hidup pernah sejaman dengan Suhrawardi, mengembangkan monisme-wujud. Ibn Arabi mengembangkan sistem metafisika, dan ontologi, yang canggih di ratusan buku karyanya. Sehingga tidak mudah, bagi para pengkaji, untuk menarik kesimpulan pendek atas konsep monisme-wujud Ibn Arabi. Kesulitan ini bukan akibat monisme-wujud yang tidak jelas, tetapi, akibat dari karya Ibn Arabi yang kaya akan interpretasi.

Sadra (1571 – 1640) mengembangkan monisme-wujud melanjutkan konsep Ibn Arabi dengan pengembangan yang lebih canggih dan filosofis. Karya Sadra yang terstruktur filosofis memudahkan bagi kita untuk mengkajinya. Bagaimana pun, tetap banyak kesulitan yang kita hadapi lantaran banyak istilah yang memiliki konotasi berbeda antara jaman Sadra dengan jaman sekarang.

Spinoza (1632 – 1677) adalah pemikir Barat pertama yang paling terkenal dengan konsep monisme. Spinoza menyatakan realitas fundamental adalah substansi-Tuhan. Realitas yang lain, hanyalah substansi yang mendapat pinjaman dari substansi-Tuhan. Meski konsep monisme Spinoza ini tampak jelas relijius, pemikir berikutnya, menafsirkan monisme Spinoza dengan netral saja.

Leibniz (1646 – 1716) mengembangkan monisme-monad. Realitas paling fundamental adalah sistem monad yang memenuhi seluruh alam raya. Diceritakan, Leibniz pernah membuat Newton kebingungan, “Jika gravitasi bulan mempengaruhi air laut pasang surut, maka, dengan cara apa gravitasi dari bulan sampai ke bumi?” Teori gravitasi Newton tidak mampu memberikan solusi di masa itu. Sistem monad adalah solusi dari Leibniz.

Heidegger (1889 – 1976) mengembangkan monisme-being. Konsep being dari Heidegger ini, sangat jelas, tertuang dalam bukunya “Being and Time.” Tetapi, karena Heidegger memulai kajiannya dari dasein, being-there, yang dimaknai sebagai manusia sejati, akibatnya, banyak orang mengira sistem filsafat Heidegger adalah sejenis psikologi. Bahkan Husserl, mentor dari Heidegger sendiri, merasa bahwa Heidegger membelokkan filsafat menjadi antropologi.

Dengan sejarah panjang monisme-netral seperti di atas, terbuka peluang bagi monisme untuk menjadi solusi terbaik bagi hard-problem. Kita masih menantikan akankah ada kajian lebih serius tentang monisme-netral?

Keberatan

Bagaimana pun, kita masih bisa mengajukan keberatan kepada masing-masing solusi di atas: sains, dialektika, mau pun teologis.

Keberatan terhadap materialis. Sudut pandang materialis mengharuskan kajian sampai ke teori quantum, misal hipotesis quantum-neuron. Keberatannya adalah teori quantum itu sendiri “belum matang”. Tidak ada kesimpulan akhir tentang teori quantum. Yang ada, saat ini, sekedar interpretasi quantum. Dengan demikian, solusi materialis juga sekedar bersifat interpretasi yang beragam.

Asumsikan, suatu saat, berkembang teori quantum yang sudah matang sehingga solusi quantum-neuron terhadap hard-problem juga sudah matang. Sehingga, kita bisa memastika bahwa kesadaran hadir dari lompatan-quantum. Bagaimana proses lompatan-quantum itu? Bagaimana proses lompatan-kesadaran itu terjadi? Bukankah itu justru pertanyaan dasar hard-problem?

Pendekatan strukturalis materialisme juga menghadapi keberatan yang sama. Bagaimana proses “melompat” dari materi fisik menjadi struktur yang menghasilkan “lompatan” kesadaran itu? Kita terjebak dalam begging-the-question atau petitio-principii.

Bagaimana pun, solusi materialis ini sudah berhasil maju dalam mengembangkan pengetahuan. Keberatan-keberatan, atau pertanyaan-pertanyaan, yang muncul adalah masalah baru yang levelnya lebih tinggi dari pertanyaan semula. Sehingga, kajian materialis ini memberi kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan.

Keberatan terhadap dialektika adalah bagaimana cara kita agar bisa untuk verifikasi. Spirit-sederhana, kemudian, berdialektika menjadi spirit-matang hingga mampu menyadari diri sendiri dan eksistensi alam eksternal. Bagaimana kita tahu spirit seperti itu? Kita mengetahui spirit-matang dengan cara refleksi diri. Tetapi, bagaimana kita bisa mengetahui eksistensi spirit-sederhana yang terbentuk ketika janin dalam kandungan? Refleksi diri tidak akan mampu mengantarkan kita ingat masa-masa dalam kandungan. Paling jauh, umunya, refleksi diri mengantarkan kita ingat akan kesadaran masa kanak-kanak. Lebih awal dari masa kanak-kanak sulit untuk diingat.

Barangkali, kita bisa berperan sebagai pengamat dengan mengkaji kesadaran para bayi. Asumsikan, melalui penelitian empiris, kita berhasil mempelajari spirit-sederhana pada bayi, sedemikian hingga, bayi sadar diri dan alam eksternal. Pertanyaan berlanjut, “Dari mana asal mula spirit-sederhana pada bayi?” Untuk menjawabnya, kita perlu mengkaji spirit-sederhana pada janin – yang berperan sebagai sumber spirit-sederhana pada bayi. Asumsikan, lagi, kita berhasil mengkaji spirit-sederhana pada janin. Pertanyaan masih valid, “Bagaimana spirit-sederhana itu hadir pada janin?”

Kita bisa menjawab: setelah sel sperma berinteraksi dengan sel telur secara memadai, maka, terciptalah spirit-sederhana pada janin. Bagaimana itu bisa terjadi? Seperti apa prosesnya? Kita menghadapi petitio-pricipii lagi. Kita menghadapi tantangan hard-problem yang lebih tinggi lagi.

Bagaimana pun, meski dialektika gagal memberi solusi yang tuntas, dialektika berhasil mengantar kita ke pemahaman kesadaran lebih dalam dan luas. Bila kita melengkapi dengan kajian verifikasi empiris maka dialektika akan mampu menghadirkan wawasan baru yang segar.

Keberatan terhadap solusi teologis adalah pada sisi detilasinya. Sementara, keberatan terhadap eliminis adalah karena eliminis tidak menjawab problem. Tetapi, eliminis membuang problem itu sendiri dan menganggap kasus selesai.

Keberatan terhadap solusi monisme adalah belum adanya kajian monisme yang memadai untuk menjawab hard-problem. Bagaimana pun, monisme-netral, tampak, menjanjikan solusi yang prospektif. Bagian berikutnya, kita akan membahas ontologi-cahaya, yang bisa kita pandang, sebagai salah satu pendekatan monisme-netral.

7.3 Ontologi Cahaya

Cahaya adalah realitas paling jelas dalam dirinya sendiri. Cahaya tidak perlu dijelaskan. Bahkan, segala sesuatu bisa menjadi jelas karena ada cahaya. Cahaya adalah realitas paling fundamental. Tentu saja, maksud cahaya, di sini, adalah cahaya ontologis. Meski demikian, cahaya biasa bisa menjadi simbol untuk membantu pemahaman kita.

Cahaya adalah tunggal, yaitu, cahaya itu sendiri. Tetapi, cahaya beragam dalam kadar kekuatan intensitas, beragam bentuk, beragam frekuensi, dan lain-lain. Sehingga, cahaya adalah beragam, di saat yang sama, cahaya adalah tunggal.

Karakter utama cahaya adalah selalu bersinar, selalu dinamis, dan selalu memancar. Setiap ada “ruang” maka ada cahaya. Setiap ada “waktu” maka ada cahaya. Ruang tanpa cahaya maka menjadi hampa. Waktu tanpa cahaya maka menjadi hampa. Sejatinya, justru, cahaya adalah yang menciptakan ruang dan waktu.

Selain cahaya adalah gelap, hampa, atau void. Dalam dirinya sendiri, void adalah kehampaan murni. Void adalah tidak ada sama sekali. Void adalah kehampaan itu sendiri. Meski demikian, void membantu pikiran kita untuk memahami beragam masalah yang ada.

Cahaya tidak punya batas. Atau, batas dari cahaya adalah tidak ada. Batas dari cahaya adalah void. Batas pertemuan antara cahaya dan void adalah barzakh, atau barza.

Kita bisa membayangkan sedang di tengah tanah lapang yang disinari cahaya matahari. Kemudian, kita mengeluarkan buku bentuk persegi, sedemikian hingga, tercipta bayangan persegi di sebagian tanah lapang itu. Garis tepi bayangan persegi itu adalah barza. Daerah dalam persegi, yang gelap, adalah void – hampa cahaya. Sedangkan, tanah lapang yang mandi sinar matahari adalah cahaya.

Mari, kita perhatikan barza yang berupa garis tepi persegi. Barza, memang, merupakan pertemuan antara cahaya dan void. Tetapi, void sejatinya tidak ada. Sehingga, barza menjadi ada karena cahaya itu sendiri. Tanpa cahaya, menjadi, gelap semua.

Intuisi Pengetahuan

Berikutnya, kita akan menyusun solusi berdasar ontologi cahaya. Bagaimana impresi-indera, misal gambar bola, bisa muncul dalam pikiran kita? Bagaimana kita bisa merasakan ada obyek “cantik” ketika memandang wajah gadis remaja? Bagaimana kita bisa merasa yakin sepenuhnya “cinta” kepada ibu?

Bola yang ada di depan kita adalah barza: pertemuan antara cahaya dan void. Sehingga, jika dari barza-bola kita menghadap ke void maka kita hanya menatap gelap. Kita tidak memperoleh “pengetahuan” yang signifikan. Sebaliknya, jika dari barza-bola kita menghadap ke cahaya maka kita akan memperoleh “pengetahuan” yang bermakna.

Di atas, kita sudah sebutkan bahwa cahaya bergradasi kadar kekuatan intensitasnya. Demikian juga, barza ikut bergradasi karena barza mengikuti cahaya itu sendiri. Bola fisik di depan kita adalah barza dengan kadar lemah relatif terhadap barza kesadaran diri kita sebagai subyek kulo. Cahaya yang lemah membutuhkan cahaya yang kuat. Cahaya yang lemah tidak bisa “menjelaskan” cahaya yang kuat. Sebaliknya yang terjadi. Cahaya yang kuat bisa “menjelaskan” cahaya yang lemah.

Misal cahaya(9) adalah lebih kuat dari cahaya(5). Cahaya(9) bisa menjelaskan cahaya(5) dengan cara memisahkan cahaya(5) dan cahaya(4). Sebaliknya tidak bisa terjadi. Cahaya(5) tidak akan bisa menjelaskan cahaya(9). Cahaya(5) hanya akan mampu menjelaskan cahaya(9) dengan cara menjadi cahaya yang lebih kuat intensitasnya.

Kembali ke impresi-indera bola yang muncul dalam pikiran manusia. Bola di alam eksternal tidak akan mampu menjelaskan hadirnya impresi-indera bola pada kesadaran manusia. Karena, barza-bola lebih lemah dari barza-kesadaran. Justru, sebaliknya yang bisa terjadi. Yaitu, barza-kesadaran yang mampu menjelaskan eksistensi barza-bola di alam eksternal.

Sehingga, analisis kita terbalik dari pendekatan sains empiris pada umumnya. Sains menyelidiki dari eksistensi bola eksternal, bagaimana akhirnya, muncul impresi-indera berupa gambar bola dalam kesadaran manusia. Ontologi cahaya, justru, menyelidiki dari arah sebaliknya. Bagaimana dari kesadaran akan bola, kemudian, memastikan apakah bola tersebut eksis di alam eksternal atau hanya imajinatif saja.

Dalam kasus yang kita analisis, kesadaran kita sudah merupakan spirit-dewasa, bukan spirit-sederhana sebagaimana janin dalam kandungan ibu. Sehingga, umumnya, kesadaran sudah mahir memastikan bahwa impresi-indera berupa gambar bola adalah bukti memang ada bola di alam eksternal. Sementara, ketika kita melamun tentang bola, maka, kita sadar bahwa bayangan bola tersebut adalah bola imajinatif.

Metodologi sains menjadi sangat penting karena obyek eksternal bukan hanya obyek sederhana semisal bola. Obyek eksternal bisa berupa sains itu sendiri, teknologi, sistem ekonomi, sistem politik, dan sistem sosial secara umum. Metodologi sains yang menerapkan prinsip induksi, prinsip falsifikasi, dan sistem aksiomatik berhasil membuktikan klaim mana saja yang sesuai realitas dan klaim mana saja yang bersifat imajinatif belaka. Sehingga, masyarakat memang perlu mengembangkan kemampuan berpikir saintifik.

Proses munculnya impresi-indera berupa gambar bola pada kesadaran, kemudian, kita melakukan verifikasi alam eksternal adalah proses yang wajar terjadi terhadap setiap orang yang sehat. Sementara, di sisi lain, rasa “cinta” yang hadir dalam kesadaran seseorang hanya terjadi pada orang tertentu saja. Maksudnya, seseorang bisa jatuh cinta kepada kekasih, tetapi, orang lain bisa saja tidak jatuh cinta.

Cahaya Cinta

Kali ini, kita bergeser mengkaji hadirnya intuisi cinta dan penilaian “rasa” cantik dari sisi ontologi cahaya.

Penilaian-cantik melibatkan proses kesadaran yang lebih kompleks. Impresi-indera, begitu hadir dalam kesadaran, kita hanya perlu verifikasi alam eksternal. Sementara, penilaian cantik melibatkan proses dinamis antara kesadaran dan alam eksternal. Dari sisi kesadaran pun, terjadi interaksi dinamis antara beragam fakultas: imajinasi, pemahaman, akal, dan beragam indera-internal. Secara singkat, pemikir Timur menyebutnya sebagai dinamika-hati.

Ketika saya melihat kebun teh di pegunungan Bandung, saya merasa bergetar dalam hati. Saya merasa kebun teh adalah pemandangan yang indah, pemandangan yang cantik. Saya yakin, orang lain akan mengalami rasa indah atau rasa cantik yang sama ketika memandang kebun teh di pegunungan Bandung. Meski demikian, sentuhan hati, getaran hati ini tetap bersifat kompleks. Ada peluang keragaman respon terhadap indahnya kebun teh. Bisa saja, orang lain tidak merasakan indahnya kebun teh.

Rasa cinta lebih lembut lagi dari penilaian-cantik. Rasa cinta melibatkan dinamika-hati yang lebih tinggi dan bahkan melibatkan sumber cahaya yang diselimuti misteri. Bagaimana pun, cinta adalah realitas cahaya suci itu sendiri.

Ketika menghadapi realitas yang sama, masing-masing orang bisa menghasilkan respon penilaian-cantik dan cinta yang berbeda.

Melihat kebun teh yang indah, seseorang bisa berpikir untuk menguasainya. Ketika melihat tambang emas berlimpah, seseorang bisa berpikir untuk eksploitasi. Ketika melihat gadis cantik, seseorang bisa berpikir untuk memperkosanya.

Tetapi, orang lain bisa merespon dengan lebih baik. Melihat kebun teh yang indah, dia berpikir untuk menjaga alam semesta. Melihat tambang emas, dia berpikir untuk mensejahterakan masyarakat sekitar. Melihat gadis cantik, dia berpikir mendukungnya dengan memfasilitasi edukasi terbaik.

Mengapa bisa jauh berbeda?

Ontologi cahaya menunjukkan pentingnya etika untuk mengembangkan pengetahuan dan intuisi. Kita hanya bisa meraih cahaya yang lebih tinggi, cahaya yang lebih kuat, melalui perilaku etis yang layak. Pertama, etika ekonomi. Kita perlu melatih diri hidup sederhana. Mengejar kebutuhan ekonomi hanya sekedarnya saja. Lebih banyak memanfaatkan sumber ekonomi untuk membantu kehidupan sesama dan alam raya.

Kedua, etika politik. Kita hanya perlu memanfaatkan kekuatan politik sekedarnya saja. Tidak perlu sombong, tidak perlu merasa paling mampu menguasai alam raya. Kita memanfaatkan kekuatan politik untuk membangun kekuatan rakyat. Sehingga, setiap orang mampu berkembang meraih bakat-bakat terbaik mereka. Pada gilirannya, kita bersama masyarakat membangun alam raya dengan segala kekuatan, dan kelemahan, yang ada.

Ketiga, etika berpikir terbuka. Kita perlu membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri. Cahaya yang tinggi hanya datang kepada mereka yang membuka hati. Bagaimana cahaya akan masuk jika pintu hati kau tutup rapat-rapat? Mari bersikap terbuka terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat sekitar, terhadap alam raya, dan paling penting, terbuka kepada Cahaya Tertinggi.

Lanjut ke Benar Vs Salah
Kembali ke Philosophy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: