Pancajati: Berani Perang Suci

Bagi beberapa orang tidak masuk akal. Mengapa seseorang berani mengorbankan hidupnya? Bahkan juga menyebabkan jatuh korban terhadap orang lain?

Sulit, bagi kebanyakan orang, untuk memahami. Tetapi kita bisa berusaha untuk memahami. Dan berharap bisa menemukan suatu solusi. Demi kebaikan seluruh penghuni bumi.

Ciri Sahabat Sejati menurut Imam al-Ghazali

Pancajati

Saya merumuskan pancajati yang merupakan lima karakter dari kebenaran sejati. Kali ini, kita akan menerapkan analisis pancajati untuk memahami dan mengkritisi fenomena perang suci yang dikaitkan dengan ajaran agama tertentu. Sebagai pembanding, kita akan menganalisis fenomena lain yang lebih akrab bagi kita: kopi terasa nikmat, berat emas adalah 1 kg, dan rumus matematika 12 + 1 = 13.

Konsep dasar pancajati sudah saya uraikan pada tulisan saya terdahulu: Kebenaran Sejati. Dalam tulisan tersebut saya juga membahas beberapa contoh dinamika konsep eksak formula matematika.

Lima karakter kebenaran adalah, pertama, dinamis yaitu selalu bergerak atau berubah secara dinamis. Kedua, verifikasi yaitu kebenaran merupakan hasil dari proses verifikasi tertentu. Ketiga, cakrawala yaitu kebenaran berlaku pada cakrawala tertentu dan bisa tidak berlaku pada cakrawala berbeda. Keempat dan kelima, interpretasi dan pengalaman, yaitu kebenaran adalah terkait dengan suatu interpretasi dan pengalaman.

Dinamika Perang Suci

Kita bisa melihat dinamika perang dalam sejarah, masa lalu, dan masa kini. Barangkali juga akan menjadi tanda tanya untuk dinamika di masa depan.

A: Perang suci adalah perintah agama

Dengan asumsi bahwa perintah perang suci adalah valid ajaran suatu agama maka perintah tersebut bersifat dinamis. Barangkali perang diperintahkan di masa lalu. Dan saat ini, bisa jadi tidak perlu perang lagi. Atau bisa berubah dinamis sesuai situasi kondisi.

B: Kopi rasanya nikmat

Kopi nikmat bernilai benar saat ini, misal. Dua bulan ke depan, kopi yang sama, bisa saja sudah tidak nikmat, barangkali kadaluarsa atau busuk. Atau sebaliknya, kopi yang saat ini nikmat, dua bulan ke depan, justru makin nikmat karena makin matang. Kebenaran ini bersifat dinamis, bisa berubah.

C. Berat emas adalah 1 kg

Berat emas yang kita timbang saat ini adalah 1 kg bisa berubah dalam 2 tahun ke depan. Apalagi jika Anda menitipkan emas tersebut ke pegadaian maka berat emas tersebut akan berkurang – meski sedikit. Petugas gadai akan menggosok emas Anda sehingga beberapa butir terkelupas untuk diteliti oleh mereka. Kebenaran emas bersifat dinamis. (Untuk yang berminat lebih dalam bisa mempertimbangkan ketidakpastian Heisenberg dan kesetimbangan massa-energi.)

Verifikasi Perang Suci

Perintah perang suci dapat ditelusuri bersumber dari beberapa “kutipan” ajaran agama. Hasil verifikasi ini bisa sah berdasar sumber-sumber agama yang dipilih. Tetapi sumber agama yang sama, misal kitab suci, mengajarkan untuk hidup berdamai dengan sesama manusia. Hasil verifikasi ini menunjukkan justru perang suci itu tidak perlu di saat ini. Dengan meluaskan proses verifikasi dapat dikatakan bahwa perintah perang suci tidak meyakinkan.

Perbedaan verifikasi ini, yang menghasilkan dissensus, mendorong berkembangnya ragam mikrologi-mikrologi. Beberapa mikrologi menguatkan perintah perang suci sedangkan mikrologi lainnya melarang terjadinya perang suci itu. Maka dialog antar mikrologi menjadi penting di sini.

Untuk verifikasi “kopi nikmat rasanya” maka kita bisa langsung mencicipi kopi tersebut. Bisa kita tebak, makin banyak orang yang mencicipi makin beragam hasil verifikasinya. Ada yang setuju nikmat, ada yang menolak, dan ada yang biasa-biasa saja. Kebenaran memang terkait dengan proses dan hasil verifikasi.

“Emas beratnya 1 kg” bisa kita verifikasi dengan neraca digital. Hasil verifikasi menunjukkan hasil timbangan memang benar 1 kg. Tetapi jika proses penimbangan ini dilakukan di atas pesawat terbang, di angkasa, maka hasil pengukuran akan menunjukkan berat emas sekitar 0,999 kg bukan 1 kg lagi. Verifikasi ini berbeda proses dan berbeda hasil. Berat emas terkait dengan gravitasi bumi. Bahkan jika kita sempat menimbang emas yang sama di bulan maka beratnya hanya 0,16 kg. Sekali lagi, kebenaran terkait proses dan hasil verifikasi.

Cakrawala Perang Suci

Kebenaran perintah perang suci barangkali benar dengan satu sudut pandang, dengan satu jenis cakrawala tertentu. Kita bisa membandingkan dengan cakrawala “kemanusian”. Tentu saja tidak boleh memerangi orang lain hanya karena berbeda keyakinan agama. Dari cakrawala kemanusia, manusia dilarang berperang.

Bahkan, masih dalam ajaran agama yang sama, terdapat berbagai macam cakrawala. Misalnya cakrawala NU dan Muhammadiyah melarang terjadinya perang suci di saat ini.

Sedangkan cakrawala nikmatnya kopi bisa benar ketika yang mencicipi kopi adalah penggemar kopi. Sementara cakrawala anak-anak TK mengatakan bahwa kopi adalah pahit, tidak nikmat. Lebih tegas lagi, cakrawala harimau akan menolak minum kopi – tidak nikmat.

Berat emas yang 1 kg itu hanya benar bagi kita, orang-orang pada umumnya. Sedangkan cakrawala alien yang berasal dari luar angkasa mengukur berat emas dengan sistem dan acuan yang berbeda. Alien yang membawa emas ke luar angkasa, yang terbebas dari gravitasi, maka berat emas adalah 0 kg. Tanpa gravitasi maka tidak ada berat.

Kebenaran memiliki cakrawala masing-masing.

Meski demikian, kebenaran tidak bersifat relatif. Tidak ada relativisme di sini. Ketika kita memilih satu cakrawala, lengkap dengan sistem proses verifikasi, maka kebenaran dapat dipastikan – atau estimasi atau probabilitasnya. Dan tentu saja, kebenaran itu bersifat dinamis, seiring waktu.

Interpretasi dan Pengalaman Perang Suci

Perintah perang suci adalah interpretasi terkait dengan pengalaman tertentu – bukan pengalaman obyektif yang independent. Interpretasi dan pengalaman yang berbeda menyatakan bahwa umat manusia dilarang untuk berperang, termasuk dilarang melakukan perang suci. Umat manusia justru harus bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia yang penuh dinamika.

Mari kita coba kaji lebih dalam bahwa ini semua adalah tergantung kepada interpretasi dan pengalaman sejak masa-masa awal ajaran agama. Misalkan seorang tokoh agama mendapat wahyu untuk melakukan perang suci, atau mendapat pencerahan, atau mendapat ide. Selanjutnya tokoh tersebut menyuruh muridnya untuk menuliskan perintah perang suci tersebut ke dalam kitab suci. Bukankah itu merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengalaman sang tokoh?

Pertama, sang tokoh mengalami pengalaman menerima wahyu, atau pencerahan. Lalu pengalaman ini diinterpretasikan dalam bahasa tertentu. Atau pengalaman itu sudah langsung berupa suatu bahasa tertentu. Selanjutnya, para murid menginterpretasikan ungkapan bahasa dari sang tokoh. Murid mendengarkan, mencoba memahami, lalu mencatatnya. Ini adalah proses interpretasi dari murid pertama. Hasil interpretasi murid pertama ini barangkali berupa kitab atau lembaran-lembaran.

Pada masa selanjutnya, pengalaman dan interpretasi dari murid pertama itu akan sampai kepada murid generasi kedua, ketiga, dan seterusnya sampai generasi sekarang. Barangkali sudah berjarak seribu tahun atau dua ribu tahun yang lalu antara murid pertama dengan kita saat ini. Sudah terjadi banyak pengalaman dan interpretasi ulang dari setiap generasi. Meski inti dari ajaran agama adalah abadi dan asli, tetapi proses dan dinamika sampai ke jaman kita, diperkaya oleh pengalaman dan interpretasi setiap generasi.

Sekarang, kita sendiri, tentu berhadapan dengan tugas meng-interpretasi dan mengalami pengalaman. Ketika kita membaca suatu kitab suci maka kita akan melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman – dalam arti luas mencakup pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengalaman bermasyarakat, kajian keilmuan, pengalaman ruhani, dan lain-lain. Atau jika kita, saat ini, mendengar langsung nasehat dari orang paling suci maka, tetap saja, kita harus mendengarnya dengan baik, lalu melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan pengalaman kita secara luas.

Interpretasi dan pengalaman bukanlah merupakan cacat hidup kita. Justru interpretasi dan pengalaman adalah hakikat hidup setiap manusia. Manusia yang hidup senantiasa melakukan interpretasi dan mengalami pengalaman.

Sampai di sini, cukup jelas kiranya bahwa interpretasi dan pengalaman berperan besar dalam menentukan kebenaran. Kembali kepada ajaran perang suci maka itu terkait terhadap interpretasi dan pengalaman masing-masing orang. Pada gilirannya, interpretasi dan pengalaman ini terkait dengan cakrawala yang terkait langsung dengan budaya dan sejarah. Di mana, budaya dan sejarah pun, dipengaruhi oleh interpretasi dan pengalaman. Sekali lagi, penting bagi kita semua untuk konsisten meluaskan cakrawala.

Dalam cakrawala yang luas, sangat jelas, tugas umat manusia adalah menjaga perdamaian untuk seluruh umat manusia. Mencegah perang dalam bentuk apa pun. Berusaha mendamaikan antar sesama.

Diskusi Perang Suci

Ajaran perang suci, saat ini, tidak bisa dibenarkan. Meski demikian, kita tetap memerlukan solusi yang tepat. Menjaga keamanan oleh aparat didukung seluruh rakyat. Membuka dialog antar budaya, antar cakrawala, antar semesta. Menghormati beragam beda pendapat. Menjamin hidup bermartabat dan selamat.

Doktrin perang suci hanya bisa terjadi dalam cakrawala khusus yang sempit. Karena hakikat manusia selalu melakukan interpretasi, meskipun cakrawala tersebut sempit, maka tetap saja bisa dieksploitasi.

Cara hidup damai, saling menghormati dalam keragaman, tenggang rasa, perlu terus kita dorong menjadi budaya bersama. Kekerasan bukanlah jalan keluar. Kekerasan adalah jalan buntu. Hidup adil, saling mengasihi, adalah solusi sejati. Jalan lurus yang pantas kita kejar.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: