Palestina Israel: Konflik (Tidak) Berakhir

Kita berduka. Umat manusia menderita. Palestina terluka. Israel juga terluka.

Kapan konflik Palestina Israel akan berakhir? Seperti apa bentuk akhir itu? Bisa jadi konflik ini tidak akan pernah berakhir. Konflik hanya bisa berakhir bila umat manusia berkomitmen untuk mengakhirinya. Komitmen umat manusia ini tidak mudah dipastikan. Namun demikian, tetap ada cara-cara bermartabat untuk mengakhiri konflik atau minimal meredam konflik. Kita perlu meraihnya.

Begini peta palestina dari jaman ke jaman

Matinya Sejarah

Kita mengenal teori “matinya sejarah.” Yang intinya adalah sejarah itu tidak tunggal. Sejarah, bisa kita baca dari ragam sudut pandang. Yang bahkan di antara sudut pandang yang berbeda itu, benar-benar, menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang.

Sanggupkah kita menghargai keragaman sejarah? Perbedaan sejarah? Kontradiksi dalam sejarah?

Misalnya, dari sudut pandang sejarah Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat – bahkan Tel Aviv dan seluruh wilayah Israel – adalah tanah air milik warga Palestina. Hanya saja, sejak 1948, Israel menjajah wilayah itu dengan paksa tanpa sah. Perhatikan sejarah sebelum 1948 atau bahkan sebelum abad 20 maka tidak ada negara Israel sama sekali di sana. Hanya ada Palestina yang sudah turun-temurun hidup damai di negeri Palestina ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu.

Sementara, dari sudut pandang sejarah Israel tentu beda. Israel yakin bahwa mereka secara legal, dan de facto, mendirikan negara Israel pada tahun 1948. Kemudian disusul perang pada tahun yang sama, menguatkan eksistensi negara Israel. Lebih-lebih perang pada tahun 1967 makin meluaskan wilayah dan eksistensi negara Israel. Banyak negara di dunia mengakui negara Israel secara sah.

Dua sudut pandang sejarah menghasilkan konflik yang nyata. Masing-masing meng-klaim kebenaran. Wajar saja, mereka klaim sesuai sejarah masing-masing.

Mengintip Masa Lalu Songsong Masa Depan

Kita perlu mempelajari sejarah dunia, termasuk sejarah Palestina dan Israel. Di saat yang sama, mengkaji sejarah, sambil menyiapkan diri menyongsong masa depan demi kebaikan bersama, seluruh umat manusia. Klaim sejarah masa lalu adalah, sekedar, modal untuk menata kehidupan bersama di masa depan sejak masa kini.

Solusi Kemanusiaan dan Agama

Banyak mata menyaksikan pelanggaran kemanusiaan pada konflik Palestina Israel di Mei 2021. Ratusan jiwa warga Palestina, yang tidak berdosa, melayang. Begitu juga puluhan jiwa warga Israel juga menjadi korban.

Dalam banyak kasus, warga Palestina adalah sebagai korban. Sementara Israel adalah penguasa.

Konflik ini melanggar nilai universal kemanusiaan dan bercampur dengan konflik agama. Tokoh agama dari masing-masing kubu perlu merumuskan solusi yang elegan bagi semua. Sementara konflik kemanusiaan menuntut seluruh warga dunia untuk ikut menemukan solusi terbaik sesuai kapasitas masing-masing.

PBB tampak berniat untuk memberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang berkonflik. Karena Amerika mempunyai hak veto, rencana teguran keras ini batal oleh veto Amerika. Tampaknya Amerika lebih mengandalkan diplomasi bilateral. Sulit bagi banyak orang memahami sikap Amerika ini. Bukankah teguran dari PBB sejalan dengan diplomasi bilateral?

Berikut ini beberapa solusi yang berkembang untuk menyelesaikan konflik Palestina Israel.

Dua-Negara atau Two-States

Biden, presiden USA, meyakini bahwa dua-negara adalah solusi terbaik untuk Palestina dan Israel. Dan tampaknya, saat ini, solusi dua-negara adalah yang sedang terjadi. Solusi dua-negara mengakui adanya dua negara yang sama-sama berdaulat: Palestina dan Israel.

Biden berjanji akan membantu membangun kembali Gaza karena kerusakan serangan udara oleh Israel. Dengan syarat Palestina mengakui secara resmi eksistensi Israel. Di sisi lain, orang bisa saja bertanya apakah USA dan Israel juga mengakui kedaulatan Palestina? Atau hanya sekedar membangun Gaza?

Meski solusi dua-negara tampak bagus, banyak orang meragukan akan berhasil. Israel adalah negara dengan kekuatan militer yang besar, lobi politik dunia yang luas, serta dukungan dana yang kuat. Sementara, Palestina adalah negara yang masih dalam “perjuangan.” Sehingga mengakui dua-negara terkesan hanya ungkapan semata. Yang terjadi bisa hanya ada satu negara kuat, yaitu Israel, yang berperilaku tidak adil terhadap negara kedua, yang masih lemah, yaitu Palestina.

Agar solusi dua-negara ini bisa berjalan dengan baik maka perlu diciptakan dua-negara yang sama-sama berdaulat. Untuk Israel sudah jelas berdaulat. Selanjutnya, masyarakat internasional, melalui PBB, perlu dengan segera mendorong agar Palestina benar-benar menjadi negara berdaulat dengan wilayah yang pasti. Dua-negara berdaulat ini diharapkan kemudian bisa menciptakan perdamaian bersama.

Tampaknya tidak mudahkan? Lebih rumit lagi bila masing-masing pihak meng-klaim dirinya paling benar.

Satu-Negara atau One-State

Solusi satu-negara tampak ideal meski tidak mudah juga. Solusi satu-negara kembali menjadi pertimbangan karena banyak yang melihat solusi dua-negara menemui jalan buntu, sejauh ini.

Solusi satu-negara adalah melebur Palestina dan Israel menjadi satu negara, misal negara serikat bernama UPI – United of Palestine Israel. UPI sebagai pusat, federal, memiliki beberapa negara bagian, state, misal Tel Aviv, Yerussalem, Gaza, Tepi Barat, dan lain-lain. Semua warga Palestina dan Israel adalah setara, tidak ada pembedaan. Mereka adalah sama-sama warga negara UPI yang adil dan makmur. Dengan demikian, tercapailah perdamaian untuk Palestina dan Israel.

Tidak semudah itu. Banyak persoalan yang muncul. Salah satu keberatan adalah dari sayap kanan Israel. Tujuan utama mendirikan negara Israel adalah agar warga Yahudi memiliki negara sendiri yang aman dari ancaman luar. Bila terbentuk UPI maka terjadi pencampuran Yahudi dan Palestina (Arab-Islam). Meski saat ini populasi Israel sekitar 10 juta jiwa sedangkan populasi Palestina sekitar 5 juta jiwa, tapi pertumbuhan penduduk Palestina lebih cepat. Sehingga dalam beberapa tahun ke depan, penduduk UPI akan didominasi oleh keturunan Palestina. Dan warga Yahudi kembali menjadi minoritas. Hal semacam itu tidak boleh terjadi, menurut sayap kanan Israel.

Barangkali solusi dari keberatan itu bisa dengan menciptakan 1 negara bagian, state, yang khusus untuk warga Yahudi saja – yang bisa jadi penduduknya. Selain Yahudi hanya bisa sebagai tamu. Atau bisa juga lebih kecil dari state. Misal menetapkan satu kawasan adalah kota suci khusus bagi warga Yahudi.

Meski solusi satu-negara kembali hangat, tampaknya dukungan ke arah solusi ini masih relatif kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, mayoritas penduduk Palestina dan Israel adalah bayi-bayi yang terlahir di sana, lahir setelah tahun 1948, bukan imigran, maka solusi satu-negara akan menjadi makin mudah diwujudkan.

Tiga-Negara atau 3-States

Solusi tiga-negara barangkali mudah diterima oleh Israel tapi sulit diterima bagi Palestina. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan solusi ini.

Solusi tiga-negara mengakui negara Israel saat ini, dan menggabungkan Gaza ke Mesir, serta menggabungkan Tepi Barat ke Jordan.

Bagi warga Gaza, bergabung ke Mesir barangkali bagus. Mereka sama-sama muslim. Begitu juga warga Tepi Barat bergabung ke Jordan juga sama-sama muslim. Secara geografis juga menguntungkan. Bagi Israel, menjalin diplomasi dengan Mesir dan Jordan tentunya lebih memudahkan untuk menciptakan perdamaian.

Tentu saja tidak semudah itu. Solusi tiga-negara berdampak menghilangnya negara Palestina dari dunia ini. Tentu tidak mudah bagi pejuang Palestina untuk menerima kepunahan ini. Mereka telah berjuang puluhan tahun demi Palestina.

Sejauh ini, solusi tiga-negara juga tidak banyak mendapat dukungan.

Solusi Perdamaian

Bagaimana pun tugas kita sebagai manusia adalah untuk menciptakan perdamaian yang dilandasi keadilan. Maka menciptakan perdamaian di Palestina dan Israel adalah tugas kemanusiaan. Memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan keikhlasan dari berbagai pihak.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

  1. Palestina dulu mendukung Indonesia merdeka dan saatnya kita balik mendukung Palestina merdeka

    Suka

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: