Jangan Berpikir

“Jangan bertindak! Cukup berpikir saja.”

Dalam situasi sulit, seperti sekarang ini, semua tindakan bisa saja salah. Semua perbuatan, bisa saja, memperparah situasi. Maka yang kita butuhkan adalah berpikir. Jangan bertindak apa pun.

“Jangan berpikir, tapi perhatikan!”

Bahkan, berpikir pun bisa salah. Pikiran kita tidak obyektif, tidak jujur, tidak lurus seperti dikira. Pikiran kita banyak dibelokkan oleh prasangka, dugaan-dugaan. Ketika kita menghapus satu prasangka maka kita akan berhadapan dengan prasangka lainnya. Jangan berpikir. Tapi, perhatikan baik-baik. Terima realitas dengan ikhlas.

Urutan yang tepat adalah: (1) terima realitas dengan ikhlas, (2) berpikir dengan cerdas, dan (3) bertindak dengan bijak. Kemudian proses itu kita lanjutkan secara dinamis: ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, dan seterusnya. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya secara bertahap.

1. Ikhlas Menerima Realitas

“Jangan diperhatikan, ikhlaskan saja!”

Cara untuk menjadi ikhlas sangat mudah, meski, banyak orang mengira bahwa sulit sekali untuk menjadi ikhlas. Cara menjadi ikhlas cukup hanya dengan, “Ikhlaskan saja.” Maka kita jadi ikhlas. Tuntas.

Orang masih bisa bertanya lagi, “Bagaimana cara ikhlaskan saja itu?”

Ikhlas atau tidak ikhlas adalah sikap dasar dari manusia sejati. Sehingga, tidak ada sebab bagi seseorang untuk menjadi ikhlas atau pun menjadi tidak ikhlas. Mereka bebas memilih untuk ikhlas atau sebaliknya. Jika Anda memilih ikhlas maka Anda jadi ikhlas.

Realitas menjadi tidak jelas karena kita, manusia, berinteraksi dengan lingkungan sosial dan sejarah masa lalu – atau masa depan.

Seseorang bisa ikhlas ketika mendapat uang dalam jumlah besar. Orang lain, bisa saja, tidak ikhlas ketika mendapat uang dalam jumlah yang sama besar. Bahkan, ada orang yang sampai korupsi dan mencuri meski dia sudah memperoleh uang yang besar. Ada orang yang ikhlas menerima berbagai macam cobaan. Sementara, ada orang lain yang tidak ikhlas menerima sebagian cobaan.

Karena tidak ada sebab pasti seseorang bisa menjadi ikhlas, atau segala sesuatu justru bisa menjadi sebab bagi seseorang menjadi ikhlas, maka cara paling mudah untuk ikhlas adalah, “Ikhlaskan saja!”

Terbukti kita semua bisa ikhlas. Ketika kita lahir, sebagai bayi, kita ikhlas. Digendong ibu, kita ikhlas. Disusuin ibu, kita ikhlas. Apa pun yang terjadi, kita ikhlas. Kita perlu belajar kembali ke masa lalu kita, masa bayi kita, yang setiap hari selalu ikhlas.

Bagaimana pun, karakter manusia memang dinamis. Maka sikap ikhlas ini dengan mudah berubah menjadi tidak ikhlas. Karena itu, sebagai orang dewasa, kita perlu berusaha untuk konsisten bersikap ikhlas. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita coba untuk mencapai ikhlas: membuka diri, dialog Tuhan, dan menata diri.

1.1 Membuka Diri

Alam raya terus menerus membuka diri. Matahari terbit membuka pagi, menebar kehangatan. Benih tumbuh menjadi pohon yang semerbak membuka kelopak bunga. Bayi-bayi kucing berlari-lari membuka mata dan telinga. Bayi-bayi manusia membuka diri terhadap semua yang ada.

Apakah manusia dewasa bisa membuka diri sebagai mana dia bayi dulu? Alam raya membuka diri kepada manusia. Sebaliknya, manusia juga membuka diri kepada alam raya. Tetapi, manusia dewasa memiliki pilihan bebas: akankah membuka diri atau menutup diri?

Manusia dewasa, sampai kapan pun, selalu bisa membuka diri dengan cara membuka hati. Barangkali, makin tua seseorang maka badannya tidak mampu lagi belajar olah raga dengan beban berat. Sementara, hati orang yang sudah tua tetap bisa terbuka terhadap segala yang ada. Ikhlas dengan semua: duka atau bahagia. Dalam ikhlas, semua sama saja, sama-sama penuh makna.

Bayi manusia, ketika lahir, tidak punya apa-apa. Bayi manusia sangat lemah. Bayi manusia adalah kosong. Beda dengan bayi harimau, misalnya. Ketika lahir, bayi harimau punya badan yang kuat. Kuku-kukunya tajam siap untuk menerkam. Taringnya tajam. Bayi harimau dilengkapi dengan insting yang tajam untuk menyerang mangsa.

Bayi manusia tidak punya apa-apa. Manusia, memang, tidak punya apa-apa.

Tetapi bayi manusia punya yang paling berharga: kemampuan membuka diri. Bayi belajar dari segala yang ada. Bayi belajar dari ibu dan bapak. Ketika remaja, mereka sekolah. Ketika dewasa, mereka bisa menjadi apa saja. Mereka bisa jadi tentara yang senjatanya lebih kuat dari kuku harimau. Bisa menjadi pilot yang terbang lebih tinggi dari elang. Bisa menjadi nahkoda yang menyelami samudera lebih dalam dari ikan-ikan di lautan. Bisa menjadi ilmuwan yang mengungkap misteri alam raya. Manusia bisa menjadi apa saja.

Saatnya, kini, kita kembali membuka diri terhadap semua yang ada. Buka mata, buka telinga, dan buka hati Anda. Siap menerima segala yang ada. Ikhlas kapan saja, di mana saja.

1.2 Dialog Tuhan

Umat beragama memiliki keuntungan besar yaitu bisa berdialog dengan Tuhan. Jika kita ikhlas maka kita bisa berdialog dengan Tuhan. Sebaliknya juga benar, jika kita sedang berdialog dengan Tuhan maka kita ikhlas.

Ada banyak cara berdialog dengan Tuhan. Barangkali, cara paling jelas adalah dialog melalui Utusan Tuhan misal melalui malaikat Jibril. Tampaknya, hanya orang-orang tertentu yang berhasil dialog dengan Jibril. Lebih besar terbuka peluang, dialog dengan cara berbeda, dialog melalui Nabi Khidir. Sampai saat ini, diyakini, Khidir sering menemui manusia-manusia pilihan. Dan sayangnya, banyak orang, merasa tidak pernah bertemu dengan Nabi Khidir.

Kita punya pilihan, cara paling umum dialog dengan Tuhan adalah melalui mimpi.

Tuhan menyapa manusia melalui mimpi. Kita ikhlas merima pesan itu. Baik pesan itu berupa kabar baik, anugerah dariNya, atau pun kadang, berupa kabar akan datangnya suatu musibah. Dengan mengetahui pesan musibah lebih awal, misal akan datangnya musim paceklik, maka kita bisa melakukan berbagai macam persiapan untuk antisipasi.

Sayangnya, banyak orang lupa akan mimpinya semalam. Mereka lupa telah dialog bersama Tuhan. Mimpi itu menjadi bermakna ketika kita mengingatnya dan merenunginya, serta, berusaha memahami pesan yang ada. Setiap malam, kita tidur. Setiap saat, kita berdialog dengan Tuhan. Setiap saat, kita bisa ikhlas. Mari kita belajar merenungi mimpi.

Cara berdialog dengan Tuhan, yang lebih terbuka luas, adalah melalui alam. Alam raya ini adalah media yang menyimpan, dan menyampaikan, pesan Tuhan. Diri kita sendiri adalah bagian dari alam raya. Sehingga, diri kita selalu membawa pesan dari Tuhan. Setiap saat, kita berhadapan dengan alam raya maka kita sedang berdialog dengan Tuhan. Wajar, kita ikhlas. Setiap saat, kita berhadapan dengan diri kita sendiri maka kita sedang berdialog dengan Tuhan. Wajar, kita ikhlas kapan saja, di mana saja.

Bagi Anda yang punya pasangan, suami atau istri, maka dia adalah pembawa pesan Tuhan. Istri yang berdialog dengan suaminya, sejatinya, dia berdialog dengan Tuhan. Suami yang berdialog dengan istrinya, sejatinya, dia berdialog dengan Tuhan. Demikian juga ketika dialog bersama guru, bersama siswa, bersama tetangga, sejatinya, kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ikhlas adalah sikap yang paling pantas.

1.3 Menata Diri

Bagaimana pun, sikap ikhlas adalah sikap hati. Sehingga, tidak ada yang bisa memaksa hati untuk ikhlas. Pun, tidak ada yang bisa memaksa sebaliknya. Untuk bisa ikhlas, kita perlu menata diri. Anda bisa ikhlas dalam segala situasi. Sikap hati, bagaimana pun begitu mudah setiap saat, berubah dari ikhlas menjadi tidak ikhlas dan bolak-balik.

Al Ghazali (1058 – 1111) mengilustrasikan hati memiliki pasukan pembela yang menjaga hati untuk tetap ikhlas. Di saat yang sama, hati memiliki gerombolan musuh yang merusak sikap ikhlas hati. Situasinya, gerombolan musuh itu, jumlahnya lebih banyak dari pasukan pembela hati. Sehingga, hati begitu mudah terjatuh kepada sikap tidak ikhlas. Karena itu, kita perlu menata diri agar pasukan pembela selalu siaga menjaga hati tetap ikhlas.

Pasukan pembela hati menjadi siaga dengan cara hidup sederhana dan waspada. Makan hanya sedikit saja, lebih banyak memberi makan untuk orang yang membutuhkan. Harta sekedarnya saja, lebih banyak sedekah dengan yang dimilikinya. Kekuasaan secuil saja, lebih banyak menggunakan kekuatan untuk menguatkan kekuatan masyarakat. Pembela hati menjadi waspada dengan banyak puasa: puasa makanan, puasa harta, puasa politik, dan puasa jiwa.

Immanuel Kant (1720 – 1804) merumuskan bahwa penilaian estetika keindahan, kecantikan, dan sublim merupakan kerja harmonis antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Dengan cara yang sama, kita bisa merumuskan sikap hati ikhlas merupakan kerja harmonis antara akal, pemahaman, imajinasi, badan, dan alam raya. Karena itu, akal saja tidak bisa memastikan hati menjadi ikhlas. Demikian juga, badan saja tidak bisa memastikan hati menjadi ikhlas. Butuh kerja sama banyak faktor untuk bisa menjadi ikhlas.

Sikap ikhlas, karena terdiri banyak faktor, maka banyak situasi berbeda mengantarkan kita jadi ikhlas. Demikian juga, banyak situasi lain yang mengantar seseorang menjadi tidak ikhlas. Baik ikhlas atau tidak, sama-sama tidak tunggal melainkan beragam. Sehingga, kita benar-benar perlu menata diri untuk bisa meraih ikhlas.

1.4 Perhatian

Selanjutnya, setelah ikhlas menerima segala realitas, kita perlu memperhatikan sesaksama segala yang ada. Kita memperhatikan alam sekitar, memperhatikan kehidupan sosial, memperhatikan “misteri diri sendiri”, dan memperhatikan pesan Tuhan. Perhatian yang tulus ini akan membuka alam raya untuk tumbuh berkembang, membuka diri untuk lebih sempurna, dan membuka segala yang ada.

Tugas memperhatikan segalanya dengan tulus, tidak mudah dilakukan. Karena, sikap ikhlas bersifat tidak stabil. Sewaktu-waktu, sikap hati tergelincir tidak ikhlas. Padahal perhatian orang yang tidak ikhlas, justru, bisa merusak banyak hal. Sikap perhatian perlu dilandasi sikap ikhlas, di saat yang sama, perlu ditunjang dengan berpikir cerdas. Karakter berpikir cerdas lebih stabil dari sikap ikhlas.

Misal, seseorang yang memahami operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3 akan stabil meyakininya dengan pikirannya. Apakah dia sedang lapar, sedang kenyang, sedang marah, atau sedang ceria tetap saja yakin bahwa 2 + 1 = 3. Berbeda dengan orang yang bersikap ikhlas terhadap gaji 3 juta rupiah. Ketika dia membutuhkan jumlah uang yang lebih banyak, bisa saja, berubah menjadi tidak ikhlas terhadap gaji 3 juta.

Sampai di sini, kita menyadari keterkaitan antara ikhlas, perhatian, dan berpikir cerdas. Ikhlas adalah landasan dari segalanya. Perhatian menjadi sarana untuk memahami. Sedangkan berpikir cerdas adalah proses untuk mengkaji dengan teliti segala yang terjadi. Pada gilirannya, berpikir cerdas menguatkan landasannya sendiri: ikhlas dan perhatian. Dan, berpikir cerdas adalah landasan untuk bertindak bijak. Berikutnya, kita akan membahas berpikir cerdas.

2. Berpikir Cerdas

Kita mengawali berpikir cerdas dengan cara berpikir idealis. Pada gilirannya, kita sadar bahwa berpikir idealis tidak memadai. Kita perlu berpikir realistis. Berbeda dengan idealis, berpikir realistis menuntut kita untuk bersikap dinamis.

Secara idealis, kita tahu bahwa 2 + 1 = 3. Secara realistis, 2 kg beras ditambah 1 kg beras bisa saja tidak tepat 3 kg beras. Barangkali ada kebocoran di sana-sini. Atau, ada salah ukur di beberapa tempat. Bagaimana pun, kita menghadapi realitas yang dinamis seperti itu.

Lebih serius lagi, dalam berpikir cerdas, kita akan menghadapi paradoks atau kontradiksi. Secerdas apa pun pikiran kita maka akan menghadapi jalan buntu paradoks. Selalu ada pikiran lain yang berbeda dengan pikiran kita, di saat yang sama, tidak ada cara menghakimi pikiran mana yang lebih benar. Tentu saja, seseorang bisa saja keras kepala dengan menyatakan bahwa pikirannya adalah yang paling benar. Cara seperti itu, justru, menunjukkan bahwa dia berpikir tidak cerdas.

Di bagian ini, kita akan membahas berpikir cerdas bertahap dari berpikir idealis, realistis, paradoks, bahkan sampai retroaktif. Kemampuan retroaktif adalah kemampuan kita berpikir dengan perenungan refleksi mendalam. Di mana perenungan mendalam ini adalah yang membentuk pikiran kita. Sehingga, sejatinya, kita selalu punya kesempatan untuk membentuk pikiran, secara positif, melalui kemampuan retroaktif. Sebuah kesempatan yang perlu kita manfaatkan dengan baik.

2.1 Berpikir Idealis

Berpikir idealis menjadi penting karena sifatnya yang ideal. Meski dunia realitas tidak selalu sesuai dengan ukuran ideal, kita memerlukan ukuran ideal sebagai salah satu petunjuk dan pertimbangan penting. Berpikir idealis adalah berpikir secara simbol – yang bersifat ideal.

Matematika dasar adalah contoh berpikir idealis paling jelas. Dalam operasi bilangan bulat, kita yakin 12 + 1 = 13 berlaku secara ideal kapan saja, di mana saja. Luas persegi yang sisinya 100 meter x 100 meter adalah 10 000 meter persegi atau 1 hektar. Benar secara mutlak.

Aristoteles (384 – 322 SM) mengembangkan sistem logika ideal yang kita kenal dengan silogisme. Logika ideal ini menjadi sarana bagi kita untuk menarik kesimpulan yang valid.

A: Setiap pejabat adalah orang baik.
B: Budi adalah seorang pejabat.

Berdasar logika ideal, kita menyimpulkan secara sah bahwa,

K: Budi adalah orang baik.

Kebalikan dari silogisme logika ideal di atas bernilai belum tentu benar – atau tidak sah. Dengan asumsi premis (A) bernilai benar dan,

C: Catur bukan pejabat.

Kesimpulan (L) berikut adalah tidak sah, bisa bernilai salah atau benar,

L: Catur bukan orang baik. (Tidak sah)

Tetapi, logika kontra posisi bernilai sah setara dengan silogisme.

D: Tuan PQR bukan orang baik.

Maka kesimpulan (M) bernilai benar.

M: Tuan PQR bukan pejabat.

Saya membahas lebih lengkap tema logika ini pada tulisan saya yang satunya: Logika Seberapa Logis.

Perlu sedikit saya tambahkan bahwa “kesepakatan” adalah logika ideal berdasar konsensus. Misal disepakati, “Masa jabatan dibatasi maksimal dua periode.” Jika seorang pejabat sampai menjabat tiga periode maka pejabat tersebut, jelas, melanggar “kesepakatan”.

Demikian juga berpikir berdasar aturan moral, aturan agama, kearifan lokal, hukum positif, dan sejenisnya adalah termasuk berpikir idealis. Maka, kita perlu mencermati dan menghormati berbagai macam aturan yang ada.

Dalam banyak hal, berpikir ideal berhasil membimbing umat manusia. Sedangkan dalam banyak hal lain, berpikir ideal sulit diterapkan karena realitas kehidupan lebih kompleks. Salah satu alternatif yang baik adalah berpikir berdasar manfaat: berpikir praktis.

2.2 Berpikir Praktis

Paham utilitarianisme memberikan solusi sederhana: berpikir praktis berdasar manfaat. Di Indonesia, kita mengenal asas manfaat. “Di antara banyak pilihan yang ada maka pilihlah yang paling besar memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang.”

Asas manfaat selaras dengan prinsip, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat kepada manusia.”

Asas manfaat begitu mudah kita pahami. Sebenarnya, cukup mudah juga bagi umat manusia untuk menerapkannya. Hanya saja, kadang, ada godaan yang membelokkan manusia dari asas manfaat. Misal, seorang pejabat bisa saja tergoda untuk korupsi dengan mencuri uang rakyat. Jabatannya menjadi tidak bermanfaat, malah, membahayakan umat.

Bentham (1748 – 1832) adalah pemikir pertama yang merumuskan dengan tegas, “Memberikan manfaat terbesar kepada sebanyak-banyaknya orang adalah ukuran sesuatu sebagai benar atau salah.” Selanjutnya, Bentham mengembangkan beragam cara untuk menghitung dan mengukur suatu manfaat. Dengan demikian, kita menjadi lebih fokus dengan meningkatkan manfaat yang lebih besar banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita punya perasaan bahwa sesuatu itu bermanfaat atau tidak. Jika bermanfaat maka lakukan. Jika tidak bermanfaat maka tinggalkan. Berpikir praktis dengan asas manfaat memang praktis.

John Mill (1806 – 1873) adalah murid dari Bentham yang mengembangkan konsep asas manfaat lebih jauh lagi. Menurut Mill, ukuran suatu manfaat tidak sesederhana yang dipikirkan oleh Bentham. Manfaat, sudah tentu, bisa diukur secara ekonomi, misal kenaikan pendapatan. Atau, kita memberi uang kepada orang miskin, jelas, bermanfaat. Sesuatu yang lebih abstrak, misal membahagiakan orang lain, juga termasuk manfaat. Begitu juga mencerdaskan masyarakat dengan membekali mereka keterampilan kerja juga bernilai manfaat tinggi. Singkatnya, ukuran manfaat menjadi lebih luas lagi.

Karl Popper (1902 – 1994) mendukung konsep asas manfaat negatif. Apa yang kita bahas di atas adalah asas manfaat positif. Yaitu, memberikan manfaat positif kepada masyarakat: meningkatkan pendapatan, memberi ilmu, membuka lapangan kerja. Asas manfaat negatif, lebih penting lagi, yaitu mencegah kerugian atau kejahatan. Contoh mencegah korupsi, mencegah kecelakaan, mencegah penindasan, menghapus kecurangan, melawan kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Bagi negara sangat penting mengutamakan asas manfaat negatif. Bagi kita, secara personal, juga penting. Ketika kecurangan dan kejahatan sudah dihapus, maka, dengan sendirinya umat manusia akan mengembangkan asas manfaat positif.

Sekali lagi, berpikir praktis ini bagi kita, sebenarnya memang praktis. Kita hanya perlu meningkatkan manfaat dan mencegah kejahatan. Itu saja. “Tebarkan manfaat dan cegah kerusakan.” “Mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan.”

Benarkah semudah itu? Masih ada tantangan berikutnya. Apa itu manfaat? Apa itu kejahatan? Siapa yang menentukan sesuatu sebagai bermanfaat atau jahat? Kita, memang, bisa menentukan manfaat secara idealis saklek. Nyatanya, realitas tidak selalu seindah alam ideal. Maka kita perlu berpikir realistis. Bagian berikutnya, kita akan membahas berpikir realistis.

2.3 Berpikir Realistis

Berpikir realistis itu mudah saja, yaitu, berpikir apa adanya. Tidak kurang, tidak lebih, cukup berpikir apa adanya. Itulah berpikir realistis yang terbaik.

Dengan berpikir realistis, nyaris kita berpikir dengan sempurna. Ditambah dengan berpikir praktis ( mencari cara memberi manfaat dan mencegah bahaya) serta berpikir idealis (memikirkan skenario-skenario ideal) maka kita siap menghadapi segala tantangan yang Anda. Tantangan realitas ini menjadi makin menarik lantaran sifatnya yang dinamis.

Realitas dinamis. Realitas selalu berubah, selalu bergerak. Pikiran orang yang statis, yang kaku, yang saklek, tentu tidak sesuai dengan realitas. Berpikir yang sesuai dengan realitas adalah berpikir yang dinamis. Berpikir yang menyesuaikan beragam perubahan. Apa artinya suatu pemikiran, suatu teori, jika terus-menerus berubah?

Tentu saja, teori pemikiran itu sangat penting. Teori, umumnya, bersifat tetap dan tidak berubah. Karena, teori mengasumsikan kondisi ideal. Sehingga, teori termasuk kategori berpikir ideal. Dengan demikian, teori bermanfaat untuk menjadi panduan. Dalam prakteknya, di dunia realitas, kita perlu fleksibel untuk menerapkan suatu teori.

Strategi Six Sigma, sebagai contoh, adalah konsep manajemen yang berdasarkan teori statistik. Six Sigma memberikan beragam standar, sedemikian hingga, suatu produk berkualitas tinggi sesuai standar. Seketat apa pun standar ini, nyatanya, Six Sigma tetap memberikan kelonggaran terhadap simpangan. Diijinkan ada 3 atau 4 produk cacat dari 1 juta produk yang dihasilkan. Tentu saja, itu prestasi yang luar biasa. Six Sigma sendiri mengijinkan adanya revisi, improvement berkelanjutan. Sehebat apa pun, teori Six Sigma tetap mengijinkan adanya perubahan.

Ketika teori tidak sesuai dengan realitas, maka, apa yang harus direvisi?

Jawaban singkatnya: teori yang harus direvisi. Karena teori yang harus sesuai dengan realitas. Itulah berpikir realistis. Tetapi, kita harus hati-hati dalam hal ini. Bisa saja, hanya terjadi salah menilai realitas. Sejatinya, teorinya tetap benar sesuai realitas.

Dalam kehidupan personal sehari-hari, kita perlu lebih fleksibel untuk merevisi teori. Sehingga, sifat dari teori adalah dinamis berdasar realitas sehari-hari. Sikap berpikir fleksibel ini akan memudahkan kita menemukan beragam solusi dari setiap situasi. Sementara, sikap keras kepala berpegang pada teori lama yang tidak sesuai realita, justru bisa menimbulkan banyak petaka.

Dulu, kita pakai sms untuk komunikasi. Perkembangan jaman, sms tidak realistis lagi, diganti blackberry (BB). Kemudian, BB tidak realistis lagi, diganti WA. Barangkali beberapa waktu ke depan, WA tidak realistis lagi, maka perlu diganti dengan yang baru. Begitulah realitas, selalu dinamis. Pikiran kita, juga, perlu dinamis.

Heidegger (1889 – 1976) menyatakan bahwa manusia selalu berada dalam situasi dunia tertentu. Kita tidak bisa lepas dari dunia ini. Jika kita lari dari dunia ini maka kita akan berada dalam situasi berbeda, yang nyatanya, dunia lagi. Realitas dari dunia, senantiasa terus-menerus, berubah membuka diri. Tugas kita adalah untuk berusaha memahami dunia, dan memahami diri sendiri, untuk kemudian tumbuh seiring seirama manusia dan dunia.

Ketika kita berpikir realistis apa adanya, maka, apa yang dimaksud dengan “apa adanya” itu?

Pertanyaan sederhana yang kaya akan jawaban. Bahkan, jawaban untuk pertanyaan di atas, tidak ada habis-habisnya. Serta, kita perlu memohon kepada Tuhan agar ditunjukkan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.

Jawaban tentang “apa adanya” adalah sebagai berikut.

Pertama, realitas sosial yang dinamis selalu berubah. Kehidupan Anda bersama keluarga selalu berubah. Kehidupan Anda bermasyarakat, termasuk sosial politik, selalu berubah. Bila ada kehidupan politik yang tidak berubah maka justru itu aneh. Maksudnya, pasti ada sesuatu yang berubah di bidang politik, tetapi ditampilkan seakan-akan tidak berubah. Harga minyak goreng hari ini pasti berubah, bisa naik atau turun. Gaji Anda bulan ini pun, bagi yang gajian, pasti berubah. Jika tidak berubah, itu karena, ada yang mengubahnya sedemikian hingga gaji Anda seperti tidak berubah.

Dengan perubahan kehidupan sosial yang begitu nyata, maka sikap berpikir realistis paling tepat adalah merespon perubahan sebaik-baiknya. Berpikir fleksibel terhadap perubahan, serta menikmati perubahan. Hidup bahagia bersama perubahan. Berpikir “apa adanya” adalah fleksibel berubah.

Kedua, kehidupan pribadi kita, secara psikologis, senantiasa juga berubah. Meski Anda menikmati kopi pagi yang nikmat hari ini seperti nikmatnya hari kemarin, nyatanya, nikmatnya kopi itu berubah. Bisa lebih nikmat. Jika tidak berubah, justru itu yang aneh. Pikiran terhadap kehidupan, dan terhadap kematian, pasti berubah. Waktu kecil, kita berpikir hidup mengalir saja dengan main-main. Ketika muda, hidup lebih serius mengejar cita-cita. Saat sudah tua, hidup adalah persiapan diri menghadapi keabadian. Sejatinya, perubahan pikiran kita terhadap kehidupan terjadi setiap saat – tidak harus perlu waktu bertahun-tahun.

Sungguh aneh, orang yang mengira dirinya tidak berubah. Dia mengira dirinya memang sudah begitu adanya. Padahal, diri kita selalu berubah setiap saat. Maka, berpikir realistis adalah mengarahkan perubahan diri kita menjadi lebih baik. Di saat yang sama, kita menikmati segala perubahan dengan bahagia. Ayo berubah, memang, pasti berubah. Berpikir “apa adanya” adalah diri kita yang fleksibel berubah.

Ketiga, sains juga berubah setiap saat. Sains dianggap sebagai ilmu pasti – yang tidak berubah. Nyatanya, setiap hari ada penemuan sains baru. Jadi, sains berubah setiap saat. Matematika adalah ilmu pasti yang paling pasti. Sehingga, matematika dianggap tidak berubah. Nyatanya, matematika selalu berubah. Ada penemuan teori matematika baru. Ada revisi teori matematika yang lama menjadi baru. Matematika berubah setiap saat. Tidak ada yang tidak berubah. Bahkan perubahan itu sendiri juga berubah – makin cepat dan menghentak.

Singkatnya, berpikir realistis adalah berpikir siap berubah. Berpikir apa adanya.

Jika realitas selalu berubah maka realitas mana yang benar? Atau, apa yang benar-benar Nyata? Apa itu Real Sejati? Pertanyaan ini sulit dijawab dengan satu sudut pandang. Maka kita perlu melihatnya dengan beragam sudut pandang.

Pandangan pertama, Tuhan adalah yang paling Nyata. Tuhan adalah Sang Maha Nyata. “Tuhan ada di sini, di dalam hati ini,” begitu potongan sebuah syair. Kita bisa melihat pohon di samping rumah karena ada terang sinar matahari. Dalam gelap gulita malam, kita tidak bisa melihat pohon itu. Sinar matahari yang menjadikan kita bisa melihat pohon. Meski demikian, mata kita justru tidak mampu melihat matahari, secara langsung, karena saking terangnya. Silau matahari bisa membuat mata buta.

Tuhan adalah Sang Maha Nyata. Segala alam raya menjadi nyata ada berkah karunia Tuhan. Tetapi, mata kita tidak akan mampu menatap Sang Maha Nyata karena begitu terangnya cahaya. Hati, yang bersih, yang akan mampu memandang Tuhan. Maka untuk bisa melihat apa yang benar-benar nyata, kita perlu mendengarkan suara hati, membuka mata hati, dan membersihkan hati. Berpikir realistis adalah berpikir bersama hati bersih.

Pandangan kedua, realisme materialisme menganggap yang paling nyata adalah materi di alam raya.

Interpretasi

2.4 Kreatif: Inovatif – Disruptif
2.5 Paradoks Kontradiksi
2.6 Self-Reference Pikiran
2.7 Retroaktif


3. Bertindak Bijak

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: