Agama Cinta

Agama berpengaruh besar dalam kehidupan umat manusia. Bahkan, agama makin berpengaruh besar saat manusia sudah mati. Agama, memang, berpengaruh dalam hidup dan mati.

Agama sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lampau. Sehingga wajar, bila saat ini, sudah terbentuk sistem agama yang baku dalam satu dan lain bentuk. Beberapa orang memandang agama sebagai sistem formal yang mengatur tata cara ibadah, menjalani hidup, dan hidup bermasyarakat. Agama berisi, dengan, beragam aturan baku demi kebaikan umat manusia.

Di sisi lain, beberapa orang memandang agama sebagai spirit kemajuan manusia. Agama, terus-menerus, memercikkan inspirasi kepada umat manusia dengan ide-ide segar. Agama selalu hidup. Agama bertabur cinta. Agama adalah dinamika.

1. Agama Formal
1.1 Identitas
1.2 Ritual
1.3 Legal
2. Spirit Agama
2.1 Cinta
2.2 Pencerahan
2.3 Sekular
3. Masa Depan Agama
3.1 Haus Dogma
3.2 Pembebasan
3.3 Simbol Dinamika
4. Diskusi
4.1 Ringkasan
4.2 Filosofi Roda Tiga
4.3 Agama Cinta Absolut

Kita akan membahas dua sudut pandang di atas, agama formal vs spirit agama, yang saling melengkapi. Tentu saja, kita akan menambahkan peran cinta dalam beragama. Pada bagian akhir, kita akan mengembangkan hipotesis tentang masa depan agama atau agama masa depan. Agama masa depan adalah agama yang bernuansa dinamika. Sehingga, agama selaras dengan filosofi roda tiga yang senantiasa berputar.

1. Agama Formal

Yang paling jelas dari agama adalah jaminan hidup yang sempurna. Hidup sempurna di masa kini dan di masa depan, misal kehidupan bahagia di akhirat berupa surga. Karena itu, komitmen seseorang terhadap agama, umumnya, adalah komitmen yang sangat kuat. Ketika seseorang meyakini agama A maka dia akan menjalani hidup sepenuhnya sesuai tuntunan agama A. Bahkan, orang tersebut rela berkorban apa saja demi agama A, sampai korban jiwa raga. Bagi mereka, agama adalah agama formal yang paling sempurna.

1.1 Identitas

Sistem agama formal makin kuat dengan klaim identitas. Saya adalah orang beragama A. Karena itu, saya berbeda dengan orang yang bukan beragama A. Saya identik dengan orang-orang yang beragama A. Semua ajaran agama A adalah kebenaran. Yang berbeda dengan ajaran agama A adalah kesesatan atau, minimal, sia-sia.

1.2 Ritual

Kehidupan di era digital, kita membutuhkan lebih banyak ritual. Sayangnya, banyak orang kurang ritual. Mereka terjebak dalam kehidupan ekonomi yang menuntut efisiensi. Karena teknologi digital makin canggih, maka, mereka bisa bekerja kapan saja, di mana saja. Hidup makin hampa saja. Mereka butuh “healing” tapi tidak memadai. Solusinya: kita perlu ritual. Dan, agama memberi tuntunan ritual yang terbaik.

1.3 Legal

Agama mengatur sistem legal sebagai suatu sistem yang sakral. Dengan demikian, orang-orang yang mengikuti sistem legal agama merasa hidup lebih tenteram. Berbeda dengan sistem legal manusiawi, yang, masih ada cacat di sana sini.

2. Spirit Agama

2.1 Cinta

Cinta selalu hadir dalam setiap agama, meski, tidak selalu hadir dalam hati umat beragama. Cinta, dalam agama, menyinari hati-hati umat manusia dalam rangkulan Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Cinta dari Tuhan tidak pernah ada habisnya. Cinta kepada Tuhan juga tidak pernah ada habisnya. Agama adalah sumber cinta bagi seluruh semesta.

2.2 Pencerahan

Agama memberi pencerahan menyinari bumi dan seluruh alam semesta ini. Agama adalah sumber inspirasi. Setiap orang berhak memuaskan dahaga hati, melalui pencerahan agama.

2.3 Sekular

Agama dan sekular adalah sesuatu yang berbeda. Mereka bisa saling bertentangan. Pun mereka, agama dan sekular, bisa seiring sejalan. Sekular bisa menerima pandangan agama sejauh bisa dikomunikasikan dengan baik. Sekular juga menghormati kebebasan umat agama untuk ibadah.

Tentu saja, pandangan sekular terhadap agama tidak seragam. Mungkin saja ada sekular yang memusuhi agama. Maka, perlu sikap saling memahami dari berbagai pihak.

Dari sisi agama pun, agama memberi kebebasan kepada umat manusia. Agama membebaskan umat manusia untuk memilih jalan kebaikan masing-masing. Tentu, agama memberi petunjuk cara hidup yang benar bagi umat manusia. Dan, agama tetap menghormati perbedaan sikap masing-masing individu.

3. Masa Depan Agama

Agama masa depan adalah agama pembebasan, bernuansa dinamika, dan senantiasa berputar.

3.1 Haus Dogma

Agama tetap diperlukan sampai hari ini. Agama tetap berperan penting di masa depan. Agama tetap menjadi harapan di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Beberapa pemikir mengira bahwa orang-orang akan meninggalkan agama karena ilmu pengetahuan dan teknologi makin maju. Dengan sains, semua misteri alam raya bisa diungkap. Akibatnya, manusia tidak perlu lagi mitologi. Dan, manusia juga tidak perlu lagi agama. Tetapi, benarkah seperti itu yang ada?

Di beberapa tempat, ada orang yang meninggalkan agama atau dari kecil memang tidak beragama. Di beberapa tempat lainnya, justru, orang berbondong-bondong memeluk agama. Agama, masih, terus tumbuh.

Kita adalah subyek. Saya adalah kulo. Anda adalah subyek. Subyek kulo tidak pernah puas hanya dengan sains dan teknologi. Kulo membutuhkan yang lebih tinggi. Kulo butuh doktrin atau dogma. Barangkali, bentuk dogma bisa berbeda-beda seiring waktu berjalan. Bagaimana pun, manusia membutuhkannya, dalam satu dan lain variasi. Manusia haus dogma. Singkatnya, di masa depan, manusia tetap butuh agama.

3.2 Pembebasan

Agama, di awal kehadirannya, adalah gerakan pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari kebohongan, dan pembebasan dari penindasan. Dalam perkembangannya, agama bisa menempuh jalan aneka ragam. Di masa kini dan masa depan, agama tetap bisa menjadi gerakan pembebasan bagi umat manusia.

3.3 Simbol Dinamika

Agama kaya akan simbol, atau perlambang. Karenanya, masing-masing orang bisa memperoleh inspirasi tiada henti dari ajaran agama. Tentu saja, agama juga mengajarkan tentang fakta. Bagaimana pun, fakta-fakta di masa lalu yang penuh makna itu, menjadi sumber inspirasi dinamis di masa kini.

4. Diskusi

Menimbang begitu penting peran agama bagi umat manusia, sepantasnya, kita membahas agama cinta dengan diskusi yang lebih mendalam di bagian ini.

4.1 Ringkasan

Kita bisa memandang agama sebagai urutan 123: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan. Sebaliknya, kita bisa juga memandang agama sebagai urutan 321: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal. Kedua urutan di atas sama baiknya, tetapi, berbeda dalam kadar resiko.

(1) agama formal(2) spirit agama(3) pembebasan

Urutan 123 atau 321 sama baik karena sama-sama bergerak lengkap. Resiko muncul ketika gerakan hanya berhenti di langkah tertentu saja. Misal ketika 123 hanya berhenti di (1) saja, maka, agama berubah menjadi formalisme belaka. Agama menjadi sekedar identitas diri, di mana, orang yang beragama lain bisa dianggap sebagai orang berbeda atau bahkan sebagai orang yang sesat. Cara pandang seperti ini, beresiko, memunculkan kerusuhan dalam masyarakat.

Agama bisa juga direduksi menjadi hanya ritual ibadah dan legalitas dalam beberapa aspek. Bahkan, dalam identitas satu agama yang sama, bisa saja terjadi pertikaian saling menyesatkan karena perbedaan sudut pandang terhadap ritual, misal penetapan kalender hari raya. Bisa juga, aspek legal agama digunakan untuk mengeruk keuntungan bagi pihak tertentu dan menindas pihak yang lemah.

Padahal, urutan 123 tetap sempurna ketika kita berlanjut sampai (2) spirit agama dan (3) pembebasan.

Resiko urutan 321 juga sama besar ketika, misal, berhenti hanya di (3) pembebasan. Agama direduksi hanya urusan pemahaman dan hati belaka. Mereka bebas menjalani agama, yang penting, bersumber dari suatu penafsiran tertentu. Mereka, bebas, tidak harus melakukan ritual-ritual ibadah. Mereka, bebas, tidak harus menghormati situs-situs agama masa lalu. Apa yang terjadi kemudian?

Mereka menemukan hidup yang hampa. Kebebasan tanpa pijakan yang kuat menjadikan mereka hanya melayang-layang di semesta. Mereka terlunta-lunta dalam kembara belantara pikirannya. Kebebasan tetap membutuhkan spirit agama dan ritual agama.

Kita, umat manusia, membutuhkan agama cinta. Agama yang sempurna formal, spirit, dan pembebasan.

4.2 Filosofi Roda Tiga

Kita akan mengingat kembali konsep filosofi siklis roda tiga. Pemahaman kita bersifat siklis. Bagai roda berputar 123, lanjut 123, dan seterusnya 123. Arah putaran bisa saja sebaliknya, 321 lanjut 321, dan seterusnya.

Agama masa depan adalah agama cinta, agama pembebasan, dan agama dinamika.

Kehidupan agama kita berputar dinamis: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan, (1) agama formal, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Alternatif arah putaran sebaliknya, sama-sama sah: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal, (3) pembebasan, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Sejak awal, agama adalah pembebasan. Di masa kini, agama adalah pembebasan. Di masa depan, agama adalah pembebasan. Agama adalah pembebasan dinamis yang berputar sempurna.

4.3 Agama Cinta Absolut

Nilai kebenaran agama adalah benar absolut, sudah kita bahas di bagian sebelumnya, karena merupakan kebenaran aksiomatik. Dengan konsisten mengikuti aturan logika, maka nilai kebenaran ajaran-ajaran agama adalah benar absolut. Ketika agama Islam, misalnya, mengajarkan pemeluknya untuk sholat tiap hari maka itu adalah ajaran yang benar absolut.

Yang unik dari kebenaran absolut agama adalah, di saat yang sama, bersifat dinamis. Jadi, ajaran agama bernilai benar mutlak dan dinamis. Karakter seperti ini selaras dengan karakter cinta yang kreatif. Cinta selalu benar dan dinamis. Agama memang agama cinta.

Pertama, agama benar absolut atau benar mutlak karena agama sebagai sistem aksiomatik. Perintah sholat tiap hari, misalnya, didasarkan pada kitab suci dan riwayat. Dari teks kitab suci, dan sejarah, para ahli agama menyimpulkan bahwa sholat adalah kewajiban tiap hari. Demikian juga, misalnya, menolong orang lemah adalah kewajiban bagi setiap orang beragama berdasar teks kitab suci. Dalam sistem aksiomatik seperti itu, perintah sholat dan perintah menolong orang lemah adalah selalu sah.

Kedua, agama selalu dinamis karena sistem aksiomatik agama dibangun berdasar “interpretasi” terhadap teks kitab suci dan sejarah. Kita tahu bahwa karakter interpretasi selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Dengan demikian, agama selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Ditambah lagi, ajaran agama bisa saja bersifat umum, sehingga pada tataran praktis, perlu penyesuaian di sana-sini yang dinamis.

Usaha untuk membuat interpretasi yang baku terhadap ajaran agama, tentu saja, bisa dilakukan. Standarisasi ajaran baku ini, jika berhasil, akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang, relatif, pendek. Sebaliknya, dalam jangka panjang, pasti, kita perlu melakukan beragam revisi karena situasi dan kondisi yang sudah berubah. Kita perlu revisi terhadap setiap standar yang ada.

Ketiga, agama selalu dinamis karena agama mampu mengantisipasi masa depan dengan bahasa lambang. Agama mampu meramalkan masa depan umat manusia. Agama mampu meramalkan masa depan alam semesta. Tentu saja, semua ramalan ini berupa bahasa-bahasa lambang atau simbol. Meski, kadang menggunakan ungkapan konkret, tetap saja, ungkapan tersebut bisa dipandang sebagai lambang.

Dengan bahasa lambang, umat manusia mampu mereguk aliran air inspirasi tiada henti dari teks kitab suci dan ajaran agama secara umum. Inspirasi demi inspirasi mendorong agama bergerak lebih dinamis lagi.

Saatnya, umat manusia untuk jatuh cinta, lagi, kepada agama yang suci. Agama yang selalu dinamis. Agama yang menebarkan cinta untuk seluruh semesta raya.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: