Cerita tentang Diogenes selalu menarik. Kaisar Aleksander Agung tertarik ingin hidup seperti Diogenes yang bijak, cerdas, dan sederhana. Diogenes bijak dalam arti sesungguhnya; dia penerus dari Sokrates. Diogenes cerdas dalam arti sebenarnya; dia menang debat dalam beragam cara. Diogenes merdeka dalam makna sebenarnya; dia hidup sederhana tak tergoda harta mau pun kuasa.

Berikut kita akan cerita tentang Diogenes berhadapan dengan orang kaya, penguasa, dan profesor ternama.
1. Hadiah Aleksander
2. Ludah Orang Kaya
3. Akademi Plato
Diogenes (412 – 323 SM) hidup sejaman dengan Plato dan Aristoteles; mereka sama-sama mengaku pewaris Sokrates. Tetapi mereka mengambil pelajaran yang berbeda dari Sokrates; manusia paling bijak di dunia. Diogenes menerapkan ajaran Sokrates dalam kehidupan nyata. Diogenes berguru kepada Antisthenes yang berguru kepada Sokrates. Diogenes punya murid Crates yang punya murid Zeno sang pendiri Stoic. Diogenes adalah pendiri filosofi Kinisme.
1. Hadiah Aleksander
Aleksander Agung adalah kaisar penguasa dunia waktu itu; Aleksander merupakan murid dari Aristo (filsuf terbesar sepanjang sejarah). Wajar, Aleksander terpesona ketika mendengar cerita tentang Diogenes yang bijaksana. Aleksander ingin bertemu langsung dengan Diogenes yang hidupnya sederhana di pinggir jalan, di mana saja.
Pagi itu, Diogenes sedang tiduran di pinggir jalan sambil menikmati hangatnya cahaya matahari. Aleksander menyuruh pengawalnya untuk diam; dan agar membiarkan hanya Aleksander yang mendekat ke Diogenes. Khawatir mengagetkan Diogenes, Aleksander melangkah dengan lembut.
“Benarkah Anda adalah Diogenes yang bijak itu?” Aleksander bertanya dengan sopan.
Diogenes tetap tidur.
“Saya adalah Aleksander; ijinkan saya berbicara sebentar dengan Anda wahai Diogenes,” lanjut Aleksander.
Diogenes membuka sebelah mata sedikit. Lalu, tidur lagi.
“Katakan apa yang Anda butuhkan agar saya bisa memberi hadiah untuk Anda,” Aleksander menawarkan hadiah ke Diogenes.
Diogenes membuka mata lebih lebar sambil berucap,
“Tolong Anda bergeser sedikit ke kanan agar tidak menghalangi hangatnya cahaya matahari untuk saya.”
Aleksander sedikit bergeser dan makin penasaran,
“Kiranya, Anda berkenan menyebutkan sesuatu agar saya bisa membantu?”
Diogenes menikmati hangatnya matahari dengan tetap tenang; tampak tidak terganggu dengan kehadiran Kaisar Aleksander. Kemudian, Aleksander membuat kesimpulan,
“Andai aku terlahir di dunia ini tidak sebagai Aleksander maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.”
Diogenes menanggapi,
“Andai aku terlahir di dunia ini tidak sebagai Diogenes maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.”
Bahagia itu sederhana.
2. Ludah Orang Kaya
Nama Diogenes makin terkenal seantero Athena, Yunani, dan belahan dunia. Orang-orang kaya tidak setuju dengan ajaran Diogenes yang hidup miskin itu. Orang kaya merasa bangga dengan kekayaannya.
Kata orang kaya, “Jika saya mau hidup miskin seperti Diogenes maka mudah saja. Tinggal membuang semua kekayaan. Tetapi, jika Diogenes ingin hidup kaya seperti saya maka Diogenes tidak akan bisa.”
Diogenes menjawab, “Seluruh harta kekayaanmu tidak akan mampu membeli milikku: rasa ikhlas dalam setiap keadaan.”
Yaka adalah salah satu orang terkaya (bukan nama sebenarnya). Yaka sadar tidak akan menang debat melawan Diogenes. Yaka ingin mengalahkan Diogenes dengan menunjukkan bukti nyata: hebatnya harta kekayaan.
Yaka investasi untuk membangun gedung mewah lengkap dengan taman indah yang luasnya lebih dari 3 kali lapangan sepak bola. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Yaka untuk menyelesaikan proyek super mewah itu. Lantai mewah, karpet mewah, dinding mewah, perabotan mewah, dan semua super mewah.
Setelah selesai membangun gedung mewah itu, Yaka mengundang Diogenes untuk melihat-lihat kemewahan yang menakjubkan.
Diogenes berjalan di dalam gedung yang benar-benar super mewah itu. Yaka dengan bangga menceritakan kepada Diogenes beragam perabot mewah yang berasal dari luar negeri. Gedung super mewah dari seluruh sisi.
Tiba-tiba, Diogenes meludahi wajah Yaka.
Pengawal langsung teriak,
“Mengapa Anda meludahi wajah Tuan Yaka?”
Diogenes menjawab,
“Saya tidak menemukan tempat yang lebih pantas untuk meludah.”
Diogenes menjawab tantangan nyata dengan tindakan nyata.
3. Akademi Plato
Plato adalah maha guru filsafat. Plato adalah guru dari para profesor dan sarjana filsafat. Whitehead (1861 – 1947) menyebut, “Seluruh filsafat Barat adalah catatan kaki dari karya Plato.” Diogenes kadang datang ke Akademi Plato dan mengganggu kuliah-kuliah yang dilaksanakan oleh Plato.
Plato sendiri tetap hormat kepada Diogenes. Plato melihat “gangguan-gangguan” Diogenes itu ada benarnya sesuai dengan ajaran hikmah Sokrates.
Bagi Diogenes, cara mengajarkan hikmah melalui kelas Akademi seperti Plato adalah terlalu abstrak. Seharusnya, kita belajar filsafat dalam kehidupan nyata. Filsafat adalah way-of-life yang mengalir dalam hidup dan mati.
Diogenes meng-klaim bahwa dirinya adalah pewaris sejati dari Sokrates; bukan Plato yang mewarisi Sokrates. Plato setuju saja bahwa Diogenes adalah pewaris Sokrates tetapi Sokrates gila. Aristo tampak setuju dengan Plato bahwa Diogenes adalah Sokrates versi gila.
Bagaimana pun makna “gila” jaman dulu beda dengan jaman sekarang. Ketika ada orang yang sangat kreatif, kita sering menyebut pikiran kreatif itu sebagai pikiran gila. Seperti itulah makna gila pada jaman dahulu.
Foucault (1926 – 1984) menyebut pergeseran makna gila baru terjadi sekitar abad 18. Sebelum abad 18, makna gila adalah kreatif otentik yang jarang terjadi. Setelah abad 18, makna gila adalah penyakit gangguan jiwa. Sehingga, masa kini, orang gila perlu dipenjara di rumah sakit jiwa; perlu minum obat penenang; perlu terapi dan lain-lain.
Apakah Anda termasuk gila?

Tinggalkan komentar