Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Kosmologi: Mahana – Kosmos – Hana

Kosmologi penuh misteri. Makin misterius makin menarik bagi kita untuk menyelidikinya. Masalahnya, makin dalam kita mengkaji konsmologi maka hasilnya makin diliputi misteri.

Cosmology Diploma Course - Centre of Excellence

Misteri ini bisa kita pahami lantaran kosmologi membahas masa lalu, jauh di masa lalu. Dan membahas masa depan, jauh di depan. Secara ilmiah, kita tidak bisa mengetahui masa lalu dan masa depan. Apalagi yang begitu jauh.

Eksistensi Kosmologi

Terdapat banyak pendekatan untuk memahami kosmologi. Saya menggunakan pendekatan eksistensial dengan menggunakan istilah hana sebagai padanan wujud, being, atau eksistensi. Dalam banyak kasus, hana merujuk kepada eksistensi manusia atau manusia sejati secara eksistensial. Sementara eksistensi mutlak bisa kita sebut sebagai maha-hana = mahana. Secara spiritual, mahana bisa kita artikan sebagai Tuhan.

Kita memandang dunia, termasuk kosmomologi, selalu dalam ruang-dan-waktu. Para saintis, sejak Newton atau Galileo, memandang ruang dan waktu ada secara obyektif. Pandangan saintis ini mulai bergeser sejak Einstein merumuskan relativitas. Ruang dan waktu tidak se-obyektif yang dikira selama ini. Ruang dan waktu bersifat relatif terhadap kerangka acuan pengamat. Sementara, filsuf semisal Immanuel Kant, memandang ruang dan waktu sebagai intuisi paling murni dari manusia, pengalaman subyektif manusia. Sadra, pemikir abad 17, menyatakan ruang dan waktu eksis secara obyektif tetapi merupakan turunan dari gerak eksistensial, gerak subsatansial.

Maka kosmologi secara ruang bisa saja berbeda dengan kosmologi secara waktu. Kosmologi secara ruang adalah,

mahana – hana – kosmos

Hana, secara ruang, berada di tengah-tengah antara mahana dan kosmos. Hana memiliki sifat perpaduan antara mahana dan kosmos. Hana, manusia sejati, punya peran mewakili mahana untuk memakmurkan kosmos. Di saat yang sama, hana, manusia sejati mewakili seluruh kosmos untuk menghadap kembali ke mahana.

Kosmologi secara waktu adalah,

mahana – kosmos – hana

Hana, secara waktu, adalah yang hadir terakhir. Awal penciptaan alam semesta adalah hadirnya eksistensi kosmos. Kemudian, seiring waktu, kosmos ber-evolusi dari materi elementer – mineral – tumbuhan – hewan – dan puncaknya hadir manusia, hana. Perjalanan ini baru satu arah, dari sumber mahana ke kosmos lalu ke hana. Arah selanjutnya adalah kebalikannya. Karena kosmos telah eksis secara sempurna maka hana melanjutkan evolusi dengan menjelajahi kosmos menuju sang mahana.

Kosmologi Ilmiah

Berbagai macam teori kosmologi ilmiah sudah dikembangkan. Salah satu paling favorit adalah teori big bang. Sekitar 14 milyard tahun yang lalu tidak ada apa-apa di alam semesta ini. Yang ada hanya hampa quantum. Meski hampa, hampa quantum ini, tidak benar-benar hampa. Kehampaan ini, sejatinya merupakan lautan energi yang tersembunyi dalam samudera hampa quantum. Sedikit gangguan saja akan mengakibatkan ledakan besar, big bang.

Big bang ini terjadi sekitar 13,8 milyard tahun lalu yang kemudian terus mengembang sampai saat ini. Sejak big bang itu, kosmos terus ber-evolusi sampai terbentuk alam semesta seperti sekarang ini. Ada apa sebelum big bang? Tidak ada apa-apa. Tidak ada ruang. Tidak ada waktu. Hanya ada kehampaan, hampa quantum.

Bagaimana dengan masa depan? Alam semesta, sampai saat ini, terus berkembang. Jika “berkembangnya” alam ini terus menerus terjadi maka alam semesta akan menjadi begitu longgar. Ruang menjadi terlalu besar dengan materi yang konstan. Maka alam semesta akan hancur pada waktunya. Alam semesta akan berakhir. Skenario yang berbeda bisa dikembangkan. Alam semesta terus mengembang sampai ukuran tertentu lalu berbalik arak mengkerut, mengecil. Proses yang mengecil terus-menerus menyebabkan alam semesta makin terjepit dengan massa jenis begitu mampat. Alam semesta juga hancur, pada akhirnya.

CCC: Conformal Cyclic Cosmology

Perkembangan menarik dari kosmologi ilmiah adalah CCC. Di mana alam semesta berkembang lalu hancur, berkembang lagi, hancur lagi, berulang secara siklis tanpa batas akhir.

Teori big bang dirumuskan berdasar data pengamatan yang menunjukkan bahwa alam semesta saat ini sedang mengembang. Maka bila kita hitung balik, alam semesta adalah mengkerut. Dan diperoleh hasil perhitungan, pada waktu 13,8 milyard tahun yang lalu, radius alam semesta adalah 0 meter. Waktu itulah dianggap sebagai peristiwa big bang. Tidak ada apa pun sebelum big bang.

Hasil pengamatan kontemporer menunjukkan data adanya “jejak cahaya” sebelum waktu big bang. Maka peniliti menyimpulkan sudah ada alam semesta sebelum big bang. Karena itu, teori big bang mulai mendapat tantangan yang serius. Penrose, pemikir abad 21, mengusulkan teori baru sebagai pengganti teori big bang yaitu teori CCC. Dalam teori baru ini, peristiwa big bang merupakan satu bagian dari siklus alam semesta. Masih ada banyak sikulus lainnya, tanpa batas.

Kosmologi Umum

Bisa kita lihat, kosmologi ilmiah berfokus kepada kosmos. Mereka tidak membahas hana, manusia sejati. Apalagi membahas mahana, tentu tidak. Meski hanya fokus kepada kosmos – materi dan energi – kosmologi tetap penuh misteri. Bagaimana bila kita kembangkan lebih luas: mahana – kosmos – hana? Tentu makin seru.

Bagaimana menurut Anda?

Perpres Miras Makin Jelas

Akhir Februari ini terbit perpres tentang miras – minuman keras. Di beberapa wilayah, di Indonesia, investasi miras menjadi sah, legal, berdasar perpres. Pro-kontra tentu muncul di mana-mana.

Yang kontra, menolak perpres miras, misalnya adalah seorang wakil ketua MPR. Pilpres miras ini bertentangan dengan pancasila, menurutnya. Bila benar bertentangan maka ini menjadi persoalan serius.

Yang pro, mendukung perpres miras, misalnya adalah dari Sulawesi Utara. “Saya pikir dengan ada ini bagus. Kalau bisa kita ekspor. Tapi harus lulus BPOM, kualitasnya bagus, supaya layak untuk dikonsumsi. Tentu ada mekanisme untuk lolos dari pengawasan BPOM dan Dinas Perdagangan,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulut, Franky Manumpil ketika dimintai konfirmasi detikcom, di Manado, Sabtu (27/2/2021).

Perubahan

Kita, presiden dan warga Indonesia, perlu fokus kepada solusi di dunia yang penuh perubahan ini. Solusi yang tepat untuk jadi fokus besama. Kesenjangan adalah masalah utama di negeri ini. Kita perlu fokus menemukan solusi kesenjangan – ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, dan lain-lain.

Sedangkan peraturan miras barangkali tidak perlu jadi fokus secara nasional, cukup menjadi fokus beberapa daerah tertentu saja. Dalam kerangka otonomi daerah, mestinya, peraturan miras bisa dirumuskan lebih baik. Dan semua menjadi lebih jelas.

Sementara, secara nasional kita bisa lebih fokus kepada menangani masalah nasional: kesenjangan di Indonesia.

Ukuran Pasti

Dalam hal kesenjangan, BPS sudah secara rutin menerbitkan ukuran yang pasti setiap 6 bulan berupa rasio Gini, saat ini G = 0,385 (tahun ini lebih buruk dari tahun lalu yang G = 0,381). Informasi ini penting dan bagus.

Saya mengusulkan agar BPS lebih sering menerbitkan nilai rasio Gini, atau indeks Gini, karena dengan bantuan teknologi, hal ini mudah dilakukan. Bahkan saya membayangkan grafik nilai Gini bisa realtime. Sehingga, kita bisa mengamati pergerakan kesenjangan di Indonesia. Sekaligus menjadi feedback setiap solusi yang kita terapkan.

Solusi Nasional

Menangani kesenjangan adalah solusi nasional yang terbukti di banyak negara. Artinya, negara miskin atau berkembang, yang kesenjangannya tetap tinggi tidak berhasil menjadi negara maju. Sementara negara yang kesenjangannya rendah maka berhasil bergerak menjadi negara maju. Kita ambil beberapa contoh negara tetangga.

Jepang, pada tahun 1960-an, menerapkan solusi melipatgandakan pendapatan penduduk miskin. Pemerintah dan warga bersatu untuk meningkatkan kesejateraan penduduk miskin, mengatasi kesenjangan. Hanya dalam waktu 7 tahun, Jepang berhasil menjadi negara maju dan mengentaskan kemiskinan dengan cara mengatasi kesenjangan ekonomi.

Sementara di tahun yang hampir sama, Indonesia mendukung konglomerasi yang berhasil mendorong beberapa konglomerat maju pesat. Konglomerat yang super kaya ini diharapkan akan menyerap banyak tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Yang terjadi, barangkali kita sudah tahu, konglomerat memang tambah kaya tetapi pengangguran dan kemiskininan masih ada di mana-mana. Kita bisa belajar dari pengalaman ini.

Korea Selatan, pada tahun 1970-an sama miskinnya dengan Indonesia, menerapkan program kampung produktif. Di mana negara dan warga bersatu mendukung kemajuan kampung-kampung yang produktif. Benar saja, kampung-kampung produktif ini terus bertumbuh. Sampai-sampai pendapatan orang kampung bisa lebih besar dari mereka yang bekerja di kota. Kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang, dalam waktu beberapa tahun, Korsel berhasil menjadi negara maju.

Kita, akhir-akhir ini, punya program dana desa yang bagus. Program dana desa masih perlu terus kita perbaiki. Salah satu fokus penting adalah mendukung desa produktif. Kita perlu mengenali apa saja kemampuan produktif dari suatu desa untuk kemudian kita dukung menjadi lebih kuat, bahkan produk dari desa-desa ini kita dukung sampai ekspor. Semoga kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang, dan Indonesia menjadi negara maju.

Singapura, pada tahun 1980, mencanangkan program pendidikan gratis dari dasar sampai sarjana. Putra-putri terbaik Singapura berhasil menjalani pendidikan terbaik, gratis sampai sarjana. Setelah mereka menjadi generasi terbaik maka apa konsekuensi selanjutnya? Wajar saja, mereka makin mendorong negara Singapura menjadi negara maju. Kita sudah tahu itu. Tidak ada alasan putus sekolah. Pendidikan berkualitas tersedia untuk seluruh warga.

Akhir-akhir ini, kita di Indonesia, juga sudah mencananangkan pendidikan gratis meski baru sampai SD dan SMP. Banyak hal yang kita bisa dukung untuk lebih maju lagi. Misal kita mendorong agar pendidikan gratis untuk seluruh warga sampai sarjana. Dan gratis ini, benar-benar gratis bagi peserta didik. Tidak perlu ada biaya lain-lain. Tidak perlu ada biaya seragam, biaya LKS, biaya gedung, atau lainnya. Sehingga rakyat Indonesia benar-benar bisa sekolah sampai sarjana.

Apa yang bisa dibayangkan kemudian? Indonesia menjadi negara maju sebagaimana cita-cita kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Tugas Pemimpin Hanya Satu

Tidak banyak, hanya satu. Tapi bisa diuraikan menjadi banyak cara, banyak target, dan banyak wacana. Tetap saja, tugas pemimpin hanya satu: memberikan hasil yang tepat dengan cara yang benar.

Berlaku bagi Anda pemimpin perusahaan, sekolah, wilayah, keluarga, atau bahkan bagi kita pemimpin terhadap diri sendiri. Karena hanya satu tugas pemimpin maka godaannya lebih banyak. Godaan ini mengaburkan tugas yang satu itu. Menjauhkan, bahkan melupakan.

The 5 Types of Leaders

Menyelesaikan Pekerjaan

Bukan tugas seorang pemimpin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pekerjaan membuat aplikasi online bukanlah tugas seorang pemimpin perusahaan dagang, misalnya. Aplikasi tersebut butuh modal, waktu, dan kreativitas. Penuh rintangan, dan akhirnya berhasil diciptakan aplikasi yang keren.

Tugas pemimpin memastikan bahwa aplikasi tersebut memberi hasil yang sesuai, misal meningkatkan penjualan. Bila semua pemakai puas dengan aplikasi tetapi tidak ada peningkatan penjualan maka pemimpin masih gagal. Dan caranya, prosesnya, pun harus benar.

Seorang presiden, gubernur, walikota atau pejabat lainnya bisa saja meresmikan banyak proyek pembangungan. Meresmikan gedung UMKM, bendungan, jalan tol, pasar baru, dan sebagainya. Semua itu bukan tugas pemimpin. Tugas pemimpin masih menunggu: apakah peresmian bendungan memberikan hasil yang diharapkan, misalnya menaikkan pendapatan petani termiskin dua kali lipat?

Peresmian proyek bisa dilakukan oleh siapa pun. Tetapi memberikan hasil yang nyata dengan cara yang benar hanya bisa dilakukan oleh pemimpin sejati. Pemimpin yang sibuk tidak menjamin menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang memberi hasil tepat adalah pemimpin yang baik. Sibuk atau tidak sibuk bisa saja terjadi.

Sebagai pemimpin pribadi, hasil apa yang sudah kita berikan? Hasil apa yang akan kita berikan? Pastikan dengan proses yang benar pula.

Variasi

Kita butuh ukuran hasil yang tepat. Sehingga semua pihak bisa dengan mudah menentukan apakah hasil yang diberikan oleh seorang pemimpin sudah sesuai atau tidak. Tanpa ukuran, dan proses, yang tepat maka akan terjadi variasi tiada henti. Pemimpin akan gagal dalam kondisi ini. Kita perlu adil dalam menilai hasil kepemimpinan.

Hasil yang diinginkan adalah meningkatkan penjualan 7% (y-o-y) yang diukur oleh auditor independent, yang sudah disepakati. Ukuran ini sudah cukup jelas. Bila laporan penjualan menunjukkan 8% maka kita apresiasi pemimpin sudah berhasil, asumsi proses sudah benar. Bila laporan penjualan justru terjadi penurunan 2% maka pemimpin itu gagal. Tidak peduli apakah pemimpin tersebut sibuk atau tidak, tugas pemimpin memang fokus kepada hasil.

Tanpa ukuran yang jelas, pihak tertentu bisa berselisih. Misal cara mengukur penjualan atau auditor bisa saja berbeda. Ketika laporan menunjukkan penjualan turun 2%, ada pihak lain yang klaim penjualan justru naik 9%. Varaiasi semacam ini harus dihindari sejak awal.

Kita bisa baca menkeu menargetkan rasio ketimpangan di tahun 2020 adalah turun ke 0,380 dari tahun sebelumnya G = 0,381. Yang terjadi justru pada tahun 2020 rasio ketimpangan meningkat jadi G = 0,385. Ukuran tersebut didasarkan pada laporan BPS.

Meski menkeu gagal mencapai hasil barangkali kita bisa maklum karena kondisi sedang pandemi. Tetapi kita sulit paham karena terjadi korupsi di mensos. Dengan korupsi ini sulit diharapkan akan bisa mengurangi kesenjangan ekonomi rakyat.

Penjelasan vs Alasan

Tugas pemimpin memang berat: memberikan hasil. Bila mencapai hasil yang diharapkan maka tugas berikutnya adalah memberi penjelasan bahwa semua proses sudah benar. Tetapi bila gagal mencapai hasil maka tugas berikutnya menjadi lebih berat: penjelasan atau alasan.

Korupsi bisa menjadi alasan gagalnya mencapai hasil. Tetapi alasan sekedar alasan, tidak bisa menjadi pembenaran. Beda hal dengan pandemi, misalnya. Pandemi bisa dijelaskan, sebagai penjelasan. Jika semua proses sudah tepat, seharusnya sukses mencapai hasil, karena ada pandemi jadi gagal. Hal semacam pandemi bisa kita terima sebagai penjelasan.

Karena beratnya tugas pemimpin maka seluruh pemangku kepentingan perlu saling mendukung untuk suksesnya pemimpin. Mari kita ambil peran untuk mendukung pemimpin yang baik demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Pandemi Berakhir Juli 2021

Pertanyaan mendasar: kapan pandemi berakhir?

Pandemi berakhir, di Indonesia, pada bulan Juli 2021. Sayangnya akhir pandemi ini tidak kembali normal. Kita akan kembali ke normal yang tidak normal.

Berikut beberapa analisis saya berdasarkan data resmi Indonesia, WHO, dan pendekatan nilai reproduksi covid-19 yang saya kembangkan.

Idul Fitri Mei 2021

Tolok ukur penting ke depan adalah event lebaran 13 Mei 2021. Rakyat Indonesia akan mudik. Tahun kedua lebaran dalam suasana pandemi. Rakyat akan kumpul-kumpul dalam jumlah besar. Disusul acara hajatan, nikahan, dan sebagainya.

Bagaimana pun prokes, prosedur kesehatan, harus secara ketat diterapkan sepanjang lebaran 2021.

Jika setelah lebaran, sampai akhir Mei 2021, terjadi lonjakan kasus covid-19 maka pandemi tidak jadi berakhir di Juli 2021. Sementara, kita berharap, tidak terjadi lonjakan kasus di akhir Mei maka benar-benar pandemi bisa berakhir di Juli 2021.

Peran Mendikbud Mas Nadiem

Untuk mengakhiri pandemi di Juli 2021 peran besar ada di tangan mas menteri Nadiem, tentu perlu didukung presiden. Mas Nadiem perlu menginstruksikan sekolah dan kampus agar kembali membuka kelas tatap muka dengan standar prokes, mulai Juli 2021. Atau disesuaikan dengan semester baru terdekat.

Tidak cukup Mas Menteri memberi ijin saja. Di sini diperlukan komando lebih tegas. Menteri memerintahkan lembaga pendidikan untuk membuka kelas tatap muka dengan standar prokes. Tentu tetap ada persyaratan untuk mendapatkan ijin. Hanya yang lolos persyaratan yang diijinkan. Bagi yang tidak lolos maka akan dibantu oleh kementrian untuk memenuhi beragam persyaratan.

Sebelum pelaksanaan kelas tatap muka maka perlu dibuat simulasi dan strategi yang rapi. Misal jumlah siswa di dalam kelas dibatasi sekitar 5 sampai 10 orang. Lama belajar di kelas 1 sampai 2 jam tiap hari. Dalam seminggu, belajar 2 sampai 4 hari saja. Dan tentu saja kombinasi dengan belajar online tetap dijalankan.

Nilai Reproduksi R

Bulan Februari ini kita mencatat penurunan jumlah kasus baru dibanding bulan Januari. Di Indonesia, sekitar 9 atau 10 ribu orang kasus baru. Sementara beberapa minggu lalu sempat mencapai 15 ribu orang kasus baru dan tampak terus menanjak. Data global di dunia, menunjukkan pola yang mirip. Bulan Februari penambahan kasus baru di kisaran 400 ribu orang. Sebelumnya, pernah lebih dari 700 ribu orang kasus baru dalam sehari.

Analisis nilai R menunjukkan bahwa nilai R sempat turun menuju di bawah 1. Tanda kasus mereda. Lalu naik lagi di atas 1, kasus bertambah lagi. Untuk kemudian turun ke bawah 1 lagi. Saya kira pola ini akan berulang beberapa kali. Akibatnya pandemi berakhir. Kembali normal tapi tidak normal seperti yang dulu.

Prediksi saya, penambahan kasus baru di Indonesia akan berkisar antara 5 ribu sampai 15 ribu per hari. Akan lebih sering dekat-dekat di angka 10 ribuan. Barangkali itu kondisi kesetimbangan dinamis akhir dari pandemi.

Normal tidak Normal

Masyarakat akan kembali hidup normal tidak normal. Kegiatan ekonomi kembali normal. Kegiatan sosial akan kembali normal. Kegiatan keagamaan akan kembali normal. Tetapi akan tetap tidak normal dalam arti sebagian besar masyarakat akan disiplin pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan.

Sebagian yang lain akan lebih berani tidak pakai masker. Mereka itu yang berpeluang besar berkontribusi ke angka penambahan kasus baru sekitar 10 ribu per harinya.

Vaksin untuk HI

Peran vaksin sangat diharapkan untuk membentuk herd immunity (HI), kekebalan bersama. Tetapi kita tahu proses vaksinasi perlu waktu bertahun-tahun lamanya. Bisa lebih dari 5 tahun di Indonesia. Belum lagi efektivitas (efikasi) vaksin hanya sedikit di atas 50%. Sehingga kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada vaksin.

HI secara alami tampak perlu waktu lebih lama lagi. Jika 1 hari ada penambahan kasus sekitar 10 ribu orang maka dalam 1 tahun akan ada 3 jutaan orang imun baru, kebal. Untuk mencapai HI dari penduduk 270 juta jiwa barangkali perlu waktu 60 tahun atau lebih. Karena periode kebal terbatas maka orang yang kebal bisa rawan kembali. Artinya HI alamiah tampaknya tidak pernah terjadi.

Solusi: Normal Tak Normal

Solusi yang tersedia bagi kita tampaknya adalah solusi kesetimbangan dinamis: Normal Tak Normal.

Dilihat dari luar tampak sudah stabil. Dilihat dari dalam terus menerus ada penambahan kasus baru. Di saat yang sama ada yang sembuh dan meninggal. Angka-angka ini hampir seimbang.

Di lihat dari luar, kehidupan tampak kembali normal, dan seharusnya normal. Dilihat dari dalam, harus tetap ketat prokes bagi yang berminat. Yang tidak ketat prokes resiko tertular covid.

Mirip dengan kasus HIV-AIDS, seperti sudah normal tapi tidak normal. Maka solusinya memang normal tak normal.

Bagaimana menurut Anda?

Power Manusia – Kekuatan Nyata

Melengkapi kehendak bebas manusia yang benar-benar bebas, hana mempunyai power yang benar-benar nyata. Sehingga manusia, hana, mampu mengejar cita-cita tertingginya. Karena power ini bersifat lebih nyata maka power manusia terbatas namun tetap tak terhingga banyaknya.

Dengan berkembangnya era digital maka power manusia menjadi lebih besar lagi. Jika abad 20, umat manusia membanggakan diri berhasil menjelajah ke bulan, maka awal abad 21 ini, umat manusia boleh bangga berhasil menjelajah ke planet Mars. Power manusia benar-benar makin besar. Tetapi perlu kita ingat, benar bahwa power makin besar, di saat yang sama, power besar tidak selalu berarti benar. Ada resiko perusakan alam bahkan penindasan di mana-mana oleh power manusia.

Image result for human change

Di bagian ini, kita akan membahas power manusia yang makin besar itu dan berharap, dengan struktur dan arah yang tepat, bertambah besarnya power tersebut ke arah yang benar. Di awal, kita membahas beragam teori power manusia. Lalu lanjut ke langkah praktis pengembangan power. Dan bagian akhir, kita refleksi lebih mendalam tentang power manusia.

Teori Power Manusia

Dari jaman kuno sampai jaman digital ini, semua orang sepakat bahwa power terhebat dari manusia adalah pikirannya. Kita sudah akrab dengan definisi bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Maka kemampuan berpikir ini yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sekaligus, kekuatan berpikir ini menjadi keunggulan unik dari hana, manusia sejati.

Era digital menunjukkan fenomena baru tentang kemampuan berpikir manusia. Hana, manusia sejati, bisa menyuruh orang lain untuk berpikir kemudian hasil pikirannya dimanfaatkan olehnya. Atau bahkan, hana bisa memanfaatkan pikiran orang lain yang sudah tersedia di internet. Orang-orang ini saling bertukar pikiran, di internet, meskipun mereka terpisah jarak ribuan kilometer dan terpisah waktu bertahun-tahun.

Masih di era digital, manusia bisa menyuruh komputer untuk berpikir kemudian hasil pemikiran komputer ini digunakan oleh manusia. Komputer, dan perangkat digital lainnya, kini dilengkapi dengan sistem cerdas. Bahkan kecerdasan buatan, artificial intelligence, kini bisa berpikir lebih cerdas dari manusia itu sendiri dalam banyak aspek. Maka, apakah benar keunggulan manusia adalah kemampuan berpikir?

Manusia Rasional Aristoteles

Kita banyak berhutang jasa kepada Aristoteles, pemikir abad 4 SM. Karya-karya Aristoteles mencerahkan pemikiran manusia pada jamannya sampai saat ini. Aristo meletakkan prinsip-prinsip logika rasional yang kokoh dan terus berkembang. Sebut saja, misalnya, prinsip non-kontradiksi dan silogisme begitu mendasar, menjadi kekuatan analisis rasional umat manusia.

Kita ambil contoh kekuatan prinsip non-kontradiksi. Sebuah negara yang tidak memenuhi syarat sebagai negara maju maka negara tersebut tidak bisa disebut sebagai negara maju. Negara tersebut bukan negara maju. Syarat negara maju adalah pendapatan per kapita 12 000 dolar (PPP). Karena pendapatan per kapita Indonesia tidak mencapai 12 000 dolar maka kesimpulannya Indonesia bukan negara maju. Klaim bahwa Indonesia adalah negara maju akan berkontradiksi dengan pendapatan per kapita yang di bawah 12 000 dolar itu. Kesimpulan yang sah: Indonesia bukan negara maju.

Contoh lebih jelas adalah kasus alibi di bidang hukum. Tuan Dumadi didakwa mencuri uang di Jakarta pada hari Senin. Tuan Dumadi bisa membuktikan bahwa sepanjang hari Senin itu ia berada di Surabaya. Terjadi kontradiksi. Tidak mungkin di waktu yang sama berada di Jakarta sekaligus di Surabaya. Maka Tuan Dumadi selamat dari dakwaan. Tuan Dumadi bukan pencuri uang tersebut. Tuan Dumadi selamat karena prinsip logika non-kontradiksi.

Di era digital, kekuatan prinsip non-kontradiksi makin penting. Apakah Tuan Dumadi adalah calon pembeli yang baik buat saya? Sulit bagi saya menentukan pembeli yang baik, hanya secara online. Lebih mudah bagi saya melihat ciri-ciri pembeli yang buruk. Misalnya, ciri pembeli buruk adalah, pembeli yang menuntut agar harga diturunkan dengan kualitas dinaikkan. Ketika Tuan Dumadi termasuk dalam kriteria pembeli yang buruk ini maka terjadi kontradiksi jika ia adalah pembeli yang baik. Saya menyimpulkan dia calon pembeli yang tidak baik, dia calon pembeli yang buruk.

Masih di era digital, orang-orang yang punya kekuatan nyata, profesional, makin mudah bertumbuh. Pada gilirannya, orang tersebut akan mendapat job terlalu banyak. Lebih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dari waktu yang tersedia. Maka bagaimana kita bisa menentukan pekerjaan terpenting yang harus diutamakan? Terjadi kontradiksi jika semua pekerjaan diterima. Tetapi semua pekerjaan sama pentingnya. Solusinya adalah hindari kontradiksi dengan memilih pekerjaan-pekerjaan yang kurang penting, sisihkan pekerjaan-pekerjaan kurang penting ini. Delegasikan atau outsourcing. Maka kita cukup fokus pada pekerjaan-pekerjaan yang tersisa, yang paling penting saja.

Pemikiran rasional makin matang dalam bentuk sains dan teknologi. Manusia mampu menerbangkan besi yang ukurannya sebesar lapangan tenis, yaitu pesawat terbang. Mampu memindahkan ratusan orang, terbang, lintas negara menempuh jarak ribuan kilometer. Pada abad 20, berhasil mengantarkan astronot mendarat di bulan. Dan pada abad 21 ini, manusia berhasil menjelajahi planet Mars dengan teknologi.

Masih banyak yang bisa kita kaji mengenai kekuatan rasional manusia sejati, hana. Perkembangan sains dan teknologi mutakhir yang begitu fenomenal didasarkan pada pemanfaatan kekuatan rasional. Apakah kekuatan rasional benar-benar kekuatan paling fundamental dari hana? Banyak kritik dan penyempurnaan dari konsep hana sebagai mahkluk rasional.

Manusia Pencerahan Suhrawardi

Kritik terhadap pemikiran Aristo langsung muncul pada masa berikutnya. Berkembanglah pemikiran neo-Platonisme yang merupakan sintesa dari pemikiran Aristo dengan pemikiran Plato, gurunya Aristo. Penyempurnaan makin kuat oleh Ibnu Sina, pemikir abad 11, yang memberikan kedudukan sejajar pemikiran irfan dengan pemikiran rasional. Barangkali Suhrawardi, pemikir abad 12, adalah yang paling berhasil dengan merumuskan iluminasi atau pencerahan.

Suhrawardi keberatan dengan definisi bahwa manusia adalah binatang rasional, binatang yang berpikir. Karena definisi semacam itu mendefinisikan manusia dengan sesuatu yang sama-sama tidak jelas yaitu binatang dan rasional. Apa itu binatang? Kita tidak tahu pasti apa itu binatang. Barangkali kita bisa mendefinisikan binatang adalah tumbuhan yang bergerak bebas. Kita menemui kesulitan yang sama. Kita tidak tahu apa itu tumbuhan. Dan begitu seterusnya, tetap tidak jelas, tanpa henti. Maka kita tidak bisa mendefinisikan manusia sebagai binatang rasional. Belum lagi, kita juga masih bisa mempertanyakan apa itu rasional.

Suhrawardi menawarkan pendekatan iluminasi, pencerahan, untuk bisa mengetahui hakekat segala sesuatu, misal manusia sejati. Subyek bisa mengenali obyek dengan cara subyek dan obyek saling berhadapan dan ada cahaya yang menerangi subyek dan obyek sedemikian sehingga subyek mampu melihat obyek dengan langsung. Pengetahuan melalui pencerahan, cahaya yang menerangi, ini dikenal sebagai pengetahuan dengan kehadiran, knowledge by presence. Berbeda dengan pengetahuan melalui representasi.

Karena sifat pengetahuan ini melalui kehadiran langsung maka tidak mudah bagi kita merumuskan pengetahuan ini dengan cara tidak langsung, representasi. Jadi, pertanyaan apakah hana, manusia sejati, itu? Tidak bisa kita jawab dengan kata-kata. Menjelaskan hana dengan kata-kata maka, sama artinya, mengubah pengetahuan sejati, yang melalui kehadiran langsung, menjadi pengetahuan bentuk tidak langsung. Pasti tidak akurat.

Setelah menunggu sekitar 500 tahun, hadirlah pemikir besar dari Persia yaitu Sadra. Konsisten dengan jalur iluminasi Suhrawardi dan sintesa dengan konsep ketunggalan wujud Ibnu Arabi, Sadra menyatakan bahwa manusia sejati, hana, adalah wujud yang terus menerus bergerak menuju kesempurnaan. Dengan cara ini, Sadra menyelesaikan banyak masalah. Konsep manusia sebagai binatang rasional bisa diterima sebagai salah satu mode dari wujud. Meski demikian, binatang rasional tersebut tidak statis. Melainkan selalu dinamis menyempurnakan diri, menuju wujud yang lebih sempurna. Di saat yang sama, wujud yang lebih sempurna ini tidak menolak wujud yang kurang sempurna. Wujud yang lebih sempurna meliputi, memuat, wujud-wujud yang kurang sempurna. Hana terus-menerus berevolusi, melibatkan badan manusia, rasionalitas, dan pencerahan.

Kekuatan utama manusia bukan sekedar rasional. Manusia sejati adalah wujud, hana, yang terus-menerus bergerak. Saya menyebut gerak sejati ini sebagai maga. Maka kajian kita tidak terbatas hanya rasional. Kita bisa memperluas, misalnya, badan kita juga merupakan mode dari wujud kita. Badan kita, sel-sel otak kita, memiliki kekuatan yang khas, yang perlu kita elaborasi lebih mendalam.

Kekuatan Fisikal Manusia

Sadra mengakui kekuatan awal manusia bersifat fisikal, yaitu tubuh manusia, khususnya ketika janin, pertemuan sel sperma dengan sel telur. Tubuh ini, seiring waktu, ber-evolusi memiliki kekuatan tubuh yang lebih kuat, kekuatan mengindera, sampai kepada kekuatan yang lebih tinggi semisal kekuatan rasional aktif. Russell, pemikir abad 20, tampak sepakat dengan proses evolusi kekuatan manusia. Meski manusia mempunyai kekuatan rasional bawaan, semisal logika non-kontradiksi, tetapi kekuatan rasional ini berkembang secara evolusi seiring dengan pengalaman manusia.

Saya kira Ponty, pemikir abad 20, adalah filosof yang paling berhasil menempatkan kekuatan fisik, badan manusia, dalam pembahasan filsafat. Ponty menyatakan bahwa setiap kesadaran adalah kesadaran persepsi. Pada gilirannya, persepsi, memberikan posisi penting kepada indera fisik manusia. Konsep keutamaan persepsi ini menguatkan bahwa badan manusia adalah satu kesatuan utuh dari manusia, hana, itu sendiri. Badan adalah manifestasi dari hana.

Keutamaan persepsi, dan fisik manusia, ini terus berkembang, salah satunya di bidang olahraga. Tentu saja, para atlet dan pelatih menaruh perhatian ekstra kepada fisik, merawat dan melatihnya dengan baik. Badan yang dilatih dengan baik menunjukkan kekuatan-kekuatan unik melampaui kekuatan badan orang pada umumnya. Atlet renang mampu renang ratusan meter tanpa sedikitpun merasa lelah. Sementara, orang biasa, sudah merasa lelah renang hanya 20 meter. Bahkan banyak orang yang tidak bisa renang sama sekali. Atlet renang adalah orang yang mampu menyempurnakan hana dalam aspek renangnya.

Keterampilan bermain alat musik lebih menarik. Pemusik gitar, misalnya, tangan kiri dan kanannya dengan ringan memainkan gitar. Bahkan tanpa melirik ke gitarnya secara langsung. Sementara, orang yang tidak terlatih main gitar, bahkan tidak mampu memetik gitar meskipun dengan seksama menatap gitarnya. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang melukiskan kekuatan nyata dari badan manusia.

Ponty mengklaim bahwa badan manusia tidak berada dalam-dunia. Tetapi badan kita bertindak pada-dunia atau tinggal pada-dunia. Secara eksistensial, bukan badan kita ditambahkan kepada dunia yang sudah ada sebelumnya. Badan kita eksis bersama-sama dengan dunia ini. Badan kita beda dengan benda-benda lain di alam ini. Badan adalah satu kesatuan utuh dari hana.

Dengan sudut pandang ini maka kita perlu lebih menghargai badan kita. Di mana badan kita, termasuk sel-sel otak, mempunyai kedudukan sama penting dengan pikiran kita. Baik badan mau pun pikiran adalah manifestasi dari hana, manusia sejati. Perkembangan lebih lanjut, kekuatan fisikal dan kekuatan rasional manusia berpadu dalam kekuatan digital. Bukan hanya kekuatan satu orang, kekuatan digital merupakan gabungan kekuatan dari banyak orang. Kekuatan digital akan menjadi peluang dan masalah baru bagi hana. Di saat yang sama, kekuatan digital terus berkembang eksponensial.

Kekuatan Digital

Tak pernah terbayangkan ada kekuatan baru yaitu kekuatan digital. Apakah Plato dan Aristo pernah membayangkan suatu saat akan ada teknologi komputer? Apakah Ibnu Sina pernah terbayang bakal ada internet? Apakah Descartes sempat terbesit suatu saat akan ada media sosial? Sulit untuk menjawabnya dengan afirmasi. Tetapi, saya kira pemikir-pemikir jaman dulu pernah membayangkan bahwa manusia bakal bisa terbang ke bulan, dengan analogi burung terbang. Sedangkan teknologi digital sepertinya tidak ada analoginya di jaman dahulu.

Wajar bagi umat manusia kesulitan menghadapi dunia digital. Inovasi-inovasi digital muncul tiap saat. Berbeda jauh dengan versi sebelumnya. Bahkan membuat usang setiap teknologi versi sebelumnya. Terbentuklah generasi baru, generasi digital. Mereka yang lahir setelah tahun 2000 nyaris tidak pernah ada masalah dengan teknologi dan media digital. Sementara, generasi yang lebih tua, sebagian besar gagap terhadap teknologi digital. Umat manusia bagai terbelah menjadi dua generasi yang berbeda.

Kekuatan digital harus kita bedakan dengan sekedar teknologi karya manusia di era-era sebelumnya. Teknologi digital, pertama, bersifat lembut masuk ke ruang terdalam hana. Kekuatan digital mempengaruhi jiwa manusia, bahkan bisa mengendalikan. Seperti membaca novel yang provokatif, pembaca bisa terpengaruh. Novel digital, lebih kuat dari buku novel, mempengaruhi lalu mengendalikan pembaca.

Kedua, kekuatan digital mulai mengendalikan kekuatan fisikal. Awalnya, teknologi digital mampu mengendalikan, dan menggerakkan, mesin-mesin di pabrik. Tapi saat ini, kekuatan digital mampu menggerakkan manusia bahkan kelompok masyarakat.

Ketiga, kekuatan digital punya strategi. Teknologi digital tidak monoton. Algoritma digital punya tujuan mengambil keuntungan tertentu. Tentu ada resiko pihak-pihak tertentu bisa mengalami kerugian. Lebih hebat lagi, teknologi digital mampu mengubah strategi menyesuaikan situasi.

Keempat, kekuatan digital mampu berpikir, lebih cepat dan lebih besar dari kemampuan manusia. Dengan tersebarnya data secara online maka teknologi digital mampu mengolahnya dengan cepat lalu menentukan aksi. Bahkan kekuatan digital mampu mengumpulkan data yang belum tersedia. Menjebak pengguna untuk memberikan data-data rahasia untuk diolah.

Kelima, kekuatan digital mempunyai nyawa ganda. Kehidupan ganda. Duplikasi berkali-kali. Tidak pernah mati. Seandainya teknologi digital di Amerika hancur maka teknologi digital di Asia masih hidup. Semua data yang hancur di Amerika tetap aman ada di Asia dan dengan mudah dipulihkan lagi. Jika di Asia hancur, masih ada di Eropa. Jika semua benua hancur, masih ada data tersimpan aman di luar angkasa. Kekuatan digital punya kekuatan abadi, dibanding masa hidup manusia.

Masih banyak kekuatan dunia digital yang bisa kita kaji. Namun dari beberapa yang sudah kita sebutkan di atas sudah jelas kiranya, kekuatan digital, benar-benar luar biasa. Maka manusia perlu berhati-hati memanfaatkan kekuatan digital agar memberi kebaikan bagi semua. Pertanyaan mendasar bagi hana adalah apakah kekuatan digital tersebut, benar-benar, bisa dimanfaatkan oleh manusia atau manusia yang dimanfaatkan oleh kekuatan digital?

Barangkali kita bisa mendiskusikan pertanyaan tersebut lebih mendalam di bagian lain. Di bagian ini, kita fokus agar manusia tidak dimanfaatkan oleh kekuatan digital semata. Tapi manusia, seharusnya, bisa memanfaatkan kekuatan digital tersebut. Sehingga kekuatan digital menjadi manifestasi dari kekuatan hana, manusia sejati. Hal ini tentu bisa terjadi. Awal perkembangan teknologi digital, memang, untuk memberi manfaat kepada manusia.

Kekuatan digital bisa menjadi perpanjangan dari kekuatan rasional dan kekuatan fisikal manusia. Berbagai tugas besar menghitung rumus matematika dengan mudah kita pecahkan dengan program komputer. Selanjutnya, teknologi digital, kita rancang untuk menerjemahkan bahasa manusia dari satu jenis bahasa ke bahasa lain secara cepat. Proses analisis yang melibatkan banyak data statistik lebih mudah kita lakukan dengan teknologi digital. Dan masih banyak contoh lainnya.

Kekuatan fisikal manusia terbantu dengan kekuatan digital. Telinga manusia hanya mampu mendengar suara dengan jelas pada jarak 10an meter. Teknologi digital membantu telinga manusia mampu mendengar suara temannya pada jarak ribuan kilometer, melalui perangkat telekomunikasi digital. Mata manusia mampu melihat pada jarak dan ukuran yang tebatas. Lagi-lagi, teknologi digital membantu mata manusia mampu melihat pada jarak jauh dan pada ukuran sangat kecil. Kamera digital yang dilengkapi dengan artificial intelligence memberi manfaat besar. Lebih lengkap cara praktis memanfaatkan kekuatan digital, kita bahas di bagian bawah.

Tentu saja ada kelemahan dari teknologi digital, sejauh sampai masa kini. Teknologi digital tidak mempunyai kehendak bebas, sedangkan manusia memilikinya. Ke depan, teknologi digital mengarah untuk memiliki kehendak misalnya dengan strong artificial intelligence. Kita belum tahu apakah proyek itu akan berhasil. Dan satu lagi yang unik milik manusia sejati, hana, adalah kekuatan cinta. Saya tidak yakin teknologi digital akan berhasil memiliki rasa cinta. Bagian selanjutnya, kita akan membahas kekuatan cinta.

Kekuatan Cinta

Anda pernah jatuh cinta? Berbunga-bunga. Segalanya indah. Penuh daya kekuatan. Segala rintangan tak ada arti. Kekuatan cinta benar-benar nyata.

Cinta adalah fenomena unik hana, manusia sejati. Barangkali cinta suami istri, sepasang kekasih, adalah cinta dengan kekuatan paling besar. Cinta seorang ibu kepada anaknya tidak diragukan lagi sangat besar. Dalam banyak kasus, cinta anak kepada orang tuanya sama besar. Cinta menyatukan seluruh anggota keluarga. Cinta hobi, cinta negeri, cinta sesama, cinta agama, cinta semesta, dan masih banyak lagi cinta.

Kita perlu menyelidiki bagaimana cinta bisa membangkitkan kekuatan begitu besarnya.

Rumi, pemikir abad 13, justru menyatakan bahwa hakikat segala sesuatu adalah cinta itu sendiri. Manusia sejati, hana, adalah manifestasi cinta. Gunung yang sejuk, laut yang luas, pelangi warna-warni adalah manifestasi cinta. Ke mana pun, kita menghadapkan wajah, maka hanya wajah cinta yang ada.

Berikut sedikit kutipan dari Rumi,

“You cannot hide love
Love will get on its way
To the heart of someone you love
Far or near, it goes home
To where it belongs
To the heart of lovers.”

“Kamu tidak bisa menyembunyikan cinta
Cinta akan menemukan jalan
Merasuk ke hati seseorang yang kau cinta
Jauh atau dekat, ia pasti pulang
Ke tempat asal
Ke hati sang pecinta”

Cinta adalah eksistensi hana itu sendiri. Manusia hadir di dunia ini buah cinta antara ibu dan bapaknya. Mengapa ibu dan bapak saling jatuh cinta? Cinta karena cinta. Cinta tidak membutuhkan alasan mengapa. Cinta tidak butuh landasan. Kita hanya bisa sedikit melukiskan cinta. Rasa saling cinta dari ibu dan bapak adalah untuk menjaga eksistensi hana. Pada waktunya, ibu dan bapak akan meninggal dunia. Eksistensi dua orang hana, ibu dan bapak, terhenti. Maka, sebelum eksistensi terhenti, ibu dan bapak saling cinta untuk membuahkan eksistensi hana baru, seorang atau beberapa orang anak. Kekuatan cinta adalah kekuatan hana.

Kita, sebagai hana, pada gilirannya juga akan meninggal dunia. Maka kita pun jatuh cinta kepada pasangan. Kita, dengan cinta, mewariskan eksistensi hana kepada generasi berikutnya, anak dan cucu. Begitu seterusnya. Eksistensi hana terus terjaga oleh cinta. Cinta menjaga manusia. Manusia menjaga cinta.

Bergson, pemikir abad 20, menyatakan adanya kekuatan vital yang menggerakkan manusia untuk terus berkembang yaitu elan vital. Manusia berkembang secara kreatif dengan elan vital, yang bermanifestasi dalam bentuk cinta. Elan vital mendorong manusia ber-evolusi ribuan tahun lalu. Dan manusia akan terus ber-evolusi ke masa depan dengan kekuatan elan vital yang mampu mendobrak berbagai kesulitan.

Darwin, pemikir abad 19, menyatakan bahwa manusia ber-evolusi melalui seleksi alam – dan mutasi acak. Penjelasan evolusi ini konsisten dengan proses mekanis teori fisika dan matematika. Sementara, Bergson menganggap gerak mekanis semacam itu tidak memadai menjelaskan proses evolusi manusia yang penuh kreatifvitas. Maka elan vital adalah penggerak utama kreativitas manusia sepanjang sejarah evolusi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manifestasi elan vital kita kenal sebagai cinta. Dan cinta ini yang membimbing manusia lolos dari seleksi alam – dan mutasi acak – dengan cara kreatif.

Barangkali kita bisa meringkaskan bahwa kekuatan paling fundamental dari hana adalah cinta. Tetapi kekuatan cinta, seperti kekuatan manusia yang lain, bisa salah arah. Penipuan berkedok cinta, penindasan karena cinta, kehancuran karena cinta, dan lain-lain. Maka di bagian bawah kita akan membahas beberapa langkah praktis mengembangkan kekuatan cinta. Sebelum itu, kita akan membahas salah satu kekuatan cinta yang fenomenal: cinta kepada agama.

Kekuatan Agama

Agama mencerahkan umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Lebih dari itu, agama memberikan kekuatan besar kepada manusia: kekuatan cinta agama. Orang yang cinta kepada agamanya maka rela mengorbankan apa saja demi perjuangan agama. Rela mengorbankan hartanya, rela mengorbankan waktunya, bahkan rela mengorbankan hidupnya.

Pada tahap awal-awal, kekuatan agama mencerahkan umat manusia. Bimbingan agama memberi arah kepada manusia bagaimana harus bersikap, berpikir, dan bertindak praktis. Bahkan agama, memberikan bimbingan dalam rentang waktu abadi: sejak sebelum ada manusia sampai setelah manusia tidak ada di dunia ini, dari masa awal sampai masa akhir atau meliputi seluruh masa atau melebihinya. Pada tahap selanjutnya, kekuatan agama makin berperan dalam banyak hal.

Kekuatan agama, terbukti, mendorong kemajuan peradaban manusia. Perkembangan pelayaran, salah satunya, didorong oleh semangat untuk menyebarkan agama. Penyelidikan alam semesta, astronomi, juga didorong oleh kepentingan ajaran agama. Para pedagang berlayar ke luar negeri sambil menyebarkan agama. Pedagang itu hidup di negara baru demi menyebarkan agama. Kekuatan agama memang luar biasa terhadap manusia.

Lebih dari sekedar cinta kepada agama, kekuatan agama juga memberikan keyakinan pasti kepada manusia. Agama menumbuhkan iman, kepada banyak hal. Tentu mudah bagi hana, manusia sejati, untuk meyakini sesuatu yang ada di depan matanya. Tetapi untuk meyakini sesuatu yang jauh di masa lampau, atau jauh di masa depan, hana butuh bimbingan. Agama memberikan bimbingan kepada manusia untuk meyakini masa lalu dan masa depan dengan kokoh.

Kierkegaard, pemikir abad 19, barangkali adalah yang yang paling berhasil menyodorkan tema keyakinan ke pembahasan filsafat. Semua pengetahuan manusia, teoritis mau pun empiris, pada analisis akhir akan mengandalkan kepada keyakinan. Sehingga keyakinan adalah tumpuan utama, paling dasar, dari setiap pengetahuan manusia.

Air mendidih adalah panas. Mengapa? Karena air mendidih terjadi pada temperatur 100 derajat celcius. Mengapa? Karena penelitian menujukkan hal itu. Mengapa? Karena penelitian itu sudah teruji. Mengapa? Pertanyaan mengapa atau pertanyaan jenis lainnya bisa terus kita ajukan, tanpa pernah berhenti. Setiap jawaban masih bisa terus kita pertanyakan. Sampai jawaban akhir: karena saya meyakininya. Keyakinan ini menjadi landasan dasar yang tidak perlu dipertanyakan lebih jauh.

Apakah keyakinan pasti dijamin benar? Tentu saja keyakinan bisa benar, bisa juga salah. Begitu juga sains, bisa benar dan bisa salah. Dalam sudut pandang positif, pengetahuan yang salah akan disisihkan dari sains. Maka sains yang terpilih berupa pengetahuan-pengetahuan yang bernilai benar, sesuai konteks saat itu. Demikian halnya dengan keyakinan, keyakinan yang salah akan disisihkan. Maka keyakinan akan tersusun oleh keyakinan-keyakinan yang benar, sesuai konteks. Dengan nada optimis kita dapat menyatakan bahwa keyakinan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keyakinan.

Dengan keyakinan yang kuat ini maka manusia, hana, memiliki kekuatan yang lebih besar lagi. Orang, yang yakin, mampu menyelesaikan beragam tugas besar dengan baik. Orang, yang yakin, mampu melewati beragam kesulitan. Keyakinan mampu mengalahkan segala rintangan.

Dalam keyakinan agama, kita menemukan beragam keyakinan terhadap peristiwa yang tampak di luar nalar manusia. Misalnya, kita sudah akrab dengan kisah Nabi Musa yang bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Barangkali kita akan membahas kekuatan-kekuatan, yang tampak supra-natural, itu dalam pembahasan kekuatan spiritual.

Kekuatan Spiritual

Kita akan mencoba sedikit membahas peristiwa bahwa Nabi Musa bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Tentu saja ini kekuatan yang luar biasa. Kekuatan ini bisa kita sebut sebagai kekuatan spiritual. Kita masih bisa menemukan lebih banyak contoh lagi tentang kekuatan-kekuatan spiritual. Beberapa contoh kekuatan spiritual bersifat ke dalam diri pelaku misal subyek mampu memahami pengetahuan yang sulit dipahami orang lain. Sementara, contoh yang lain, kekuatan spiritual ini berdampak nyata di dunia luar. Misalnya, peristiwa yang melibatkan kekuatan spiritual, perjumpaan Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang pada kali pertama, terjadi pada abad 15 Masehi.

Waktu itu, Lokajaya adalah lelaki gagah berani yang menjadi pimpinan perampok di hutan tanah Jawa. Lokajaya terkenal sakti dan ditakuti oleh perampok-perampok lainnya. Di saat yang sama, Lokajaya, meski sebagai perampok, adalah seorang pemuda yang baik hati.

Hari itu, Lokajaya melihat seorang lelaki tua melintas di dalam hutan. Lelaki tua itu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat. Yang menarik, bagi Lokajaya, tongkat lelaki tua itu terbuat dari emas. Sebagai perampok, Lokajaya segera menghadang lelaki tua itu. Dan memaksa agar menyerahkan tongkat emasnya kepada Lokajaya.

Lelaki tua menjawab bahwa tongkat itu sedang dipakainya, “Jika kamu memerlukan emas ambil itu yang di sebelah sana.” Sambil menunjuk ke arah yang jauh agak ke atas. Lokajaya menengok ke arah yang ditunjukkan tersebut. Lokajaya melihat pohon jambe, mirip pohon kelapa. Tampak bersinar. Batang pohon jambe, beserta buah dan bunganya berubah menjadi emas yang berkilau. Lokajaya mendekati pohon jambe, yang berubah jadi emas, memegang dan meraba untuk memastikan.

Lokajaya terpesona, membatalkan niat untuk merampok lelaki tua itu. Lokajaya justru berlutut, meminta maaf, meminta kesediaan untuk menerima dirinya dijadikan murid oleh lelaki tua. Kisah selanjutnya bisa kita baca di berbagai macam sumber. Lelaki tua itu adalah Sunan Bonang, tokoh senior Walisongo. Dan Lokajaya kelak menjadi tokoh besar anggota Walisongo yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Kita akan fokus mengkaji kekuatan spiritual Sunan Bonang yang mampu mengubah pohon jambe menjadi pohon emas itu. Luar biasa.

Pertama, kekuatan spiritual bersifat unik. Hanya Sunan Bonang saja yang mampu mengubah pohon jambe menjadi emas. Tidak ada kejadian seperti itu sebelumnya atau pun sesudahnya. Demikian juga dengan tongkat Nabi Musa yang bisa membelah lautan, unik. Tidak ada kejadian seperti itu baik sebelum mau pun sesudahnya.

Kedua, kekuatan spiritual tidak diulangi. Sunan Bonang tidak mengulangi lagi mengubah pohon-pohon jambe yang lain menjadi emas. Demikian juga Nabi Musa tidak mengulang lagi membelah lautan berkali-kali dengan tongkatnya. Kekuatan spiritual terjadi satu kali itu saja, sesuai konteks yang tepat dan tidak pernah diulangi.

Ketiga, kekuatan spiritual tidak direncanakan. Sunan Bonang tidak menyusun rencana awal bahwa bila sewaktu-waktu ada perampok maka ia akan mengubah pohon jambe jadi emas. Kekuatan spiritual itu hadir ketika dibutuhkan. Nabi Musa juga tidak merencanakan bahwa nanti bila tiba di pantai akan memukulkan tongkat ke laut untuk membelahnya. Nabi Musa, ketika itu baru menerima petunjuk, kemudian memukulkan tongkatnya ke laut.

Dengan memahami tiga karakteristik kekuatan spiritual di atas, kita mampu menyadari bahwa pendekatan rasional sains tidak akan berhasil memverifikasi eksistensi kekuatan spiritual. Karakter sains ilmiah justru berkebalikan dengan yang di atas. Karakters sains adalah berlaku umum, bisa diulangi secara konsisten, dan bisa direncanakan dengan layak. Tetapi kita, manusia sejati, mampu memahami eksistensi kekuatan spiritual. Bahkan sebagai hana, kita, berpotensi untuk mengembangkan kekuatan spiritual. Secara ringkas, kita akan membahasnya di bagian bawah.

Kekuatan Terbatas

Kekuatan manusia tampak seperti tak terbatas. Dari kekuatan rasional, fisikal, digital, sampai spiritual. Bahkan bisa kita tambahkan lagi kekuatan dari luar yang bisa dikendalikan manusia. Misal kekuatan senjata api, kekuatan nuklir, kekuatan energi listrik, dan masih banyak lagi yang lain. Meski jumlah dan jenis kekuatan ini tak terbatas, atau tak terhingga, tetapi letak kekuatan manusia justru pada keterbatasan itu sendiri. Kekuatan menjadi berarti bila ukurannya terbatas, arahnya tepat, dan tersedia pada waktu dan tempat yang tepat. Kekuatan yang berlebihan bisa merusak. Dan kekuatan yang terlalu kecil menjadi tak berarti.

Di bagian ini, kita lebih fokus kepada kekuatan manusia sebagai pendukung elemen fundamental dari struktur manusia yang dinamis. Sehingga kita akan membatasi kepada jenis-jenis kekuatan manusia yang lebih bersifat internal. Meski demikian, kekuatan fundamental hana, tetap bergradasi aneka ragam lapisan.

Kekuatan terluar: fisikal, persepsi, bahasa, digital.
Kekuatan tengah: imajinasi, logika, rasional, emosi, digital.
Kekuatan terdalam: intelek, spiritual, keyakinan, cinta, kehendak, digital.

Saya memasukkan kekuatan digital ada di semua lapisan karena kekuatan digital benar-benar bisa merembes ke seluruh lapisan kehidupan manusia. Dari tiga lapisan di atas kita masih bisa terus mengembangkan menjadi lebih banyak lapisan lagi. Manifestasi dari masing-masing kekuatan bisa saja dalam bentuk yang berbeda-beda.

Kekuatan bahasa menjadi salah satu kekuatan khas manusia sejati, hana. Apalagi bahasa tingkat tinggi seperti teori matematika, filsafat, dan sastra. Makhluk lain, semisal binatang, mempunyai kemampuan komunikasi. Tapi tampaknya komunikasi mereka berbeda dengan komunikasi bahasa manusiawi. Di bab-bab berikutnya kita akan membahas lebih detil dari kekuatan bahasa ini.

Beberapa kekuatan penting fundamental, yang mendorong manusia untuk terus bergerak maju, belum sempat kita elaborasi lebih jauh. Kekuatan persepsi, misalnya, bagaimana manusia mempersepsi dunia luar dan dirinya sendiri. Kekuatan imajinasi, tentu saja krusial, untuk berbagai macam proses kreatif manusia. Kekuatan emosi semisal semangat, amarah, malas, atau hasrat terhadap makanan, hobi, hubungan badan, dan lain-lain masih banyak yang bisa dikaji.

Namun kita perlu memilih ke bagian paling penting berikutnya, yang perlu kita bahas secara khusus, adalah will to power: kehendak untuk berkuasa.

Will to Power

Hakekat terdalam dari hana, manusia sejati, adalah will to power, kehendak untuk berkuasa. Kekuatan ini mendorong manusia untuk terus bergerak maju. Apa pun rintangan dapat dilewati manusia dengan menerapkan kekuatan will to power. Manusia-manusia besar sepanjang sejarah adalah mereka yang mampu berkuasa, mereka yang mampu berjuang, mereka yang mampu menaklukkan, mereka yang mampu memimpin, dan mereka yang mampu menjadi nomor satu.

Pembahasan will to power bisa saja sangat panjang. Kita akan mencoba membahas bagian-bagian intinya. Will to power, kehendak untuk berkuasa, merupakan gabungan dua elemen fundamental hana, manusia sejati. Di satu sisi kita bisa memandangnya sebagai kehendak, will. Di sisi lain, kita bisa memandangnya sebagai kekuatan hana, power.

Nietzsche, pemikir abad 19, adalah yang paling berhasil merumuskan will to power di kancah filsafat. Gaya tulisannya yang begitu dinamis memberi pengaruh besar kepada pembacanya. Tulisannya pun dipenuhi power. Seakan-akan, tulisan Nietzsche itu ingin menguasai para pembacanya. Nietzsche menyatakan bahwa will to power adalah satu-satunya realitas sejati manusia. Kehendak untuk berkuasa adalah jati diri manusia. Sedangkan kehendak yang lain, tata krama, aturan hukum, atau lainnya adalah sekedar topeng bagi manusia. Menjadi penguasa dunia adalah jati diri manusia.

Bahkan makhluk lain, semisal binatang atau tumbuhan pun, juga ingin berkuasa. Mereka ingin mendominasi dunia. Virus, covid-19 misalnya, juga ingin menguasai dunia. Pandemi covid-19 terbukti berhasil mendominasi dunia sepanjang tahun 2019-2020, ada kemungkinan lebih lama lagi. Sehingga will to power adalah realitas sejati dari seluruh alam semesta. Khususnya pada diri manusia, will to power dapat teraktualisasi secara sempurna.

Tentu saja banyak pemikir dunia yang tidak setuju dengan konsep will to power. Nyatanya, konsep will to power ini tidak terlalu banyak mendapat sambutan dari masyarakat dunia di masa Nietzsche dan setelahnya. Baru, pada akhir abad 20, postmodernisme mengangkat kembali konsep-konsep dari Nietzshce ini.

Kita bisa membahas konsep ini sebagai power of will, kekuatan dari kehendak. Dengan cara ini, kita lebih terbuka dengan beragam kekuatan kehendak yang lain. Tidak hanya membatasi ke will to power. Berikut ini beberapa kekuatan kehendak.

Will to live, kehendak untuk hidup adalah kekuatan penggerak manusia untuk terus berkembang. Schopenhauer, pemikir abad 19, mengajukan konsep will to live sebagai hakikat paling fundamental dari manusia sejati, hana. Konsep ini merupakan solusi dari antinomi Kant yang telah sekian lama menghantui para pemikir dunia. Realitas paling dalam dari manusia dan alam semesta adalah kehendak untuk hidup. Maka orang yang mampu mengenali dan mengatur kehendaknya akan meraih sukses dan bahagia di dunia ini. Nietzsche sendiri mengakui bahwa dirinya sangat terinspirasi oleh karya-karya Schopenhauer.

Di masa yang hampir bersamaan, Darwin, pemikir abad 19, mempublikasikan teori evolusi melalui proses seleksi alam, dan kemudian mutasi acak. Bukan makhluk yang kuat yang akan berhasil lolos dari seleksi alam tetapi mereka yang paling mahir beradaptasi adalah yang paling berhasil. Mereka yang punya kekuatan kehendak untuk hidup, beradaptasi, maka akan ber-evolusi menjadi lestari. Mereka yang gagal ber-evolusi akan punah dari dunia ini. Teori evolusi dan konsep will to live ini tampak seiring sejalan.

Will to meaning, kehendak-menciptakan-makna adalah hakekat terpenting dari kemanusiaan. Viktor Frankl, pemikir abad 20, mengajukan formula kehendak-menciptakan-makna ketika menjadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Dalam situasi apa pun, manusia selalu punya kekuatan untuk menciptakan maknanya sendiri. Banyak orang yang sakit, menderita, dan sampai meninggal selama dalam tahanan. Sangat berat, menjalani kehidupan dalam tahanan kamp konsentrasi. Tetapi Frankl adalah salah seorang tahanan yang kuat. Meski dalam kesulitan juga, Frankl tetap menyempatkan diri untuk membantu teman-temannya yang sama-sama tahanan.

Bagaimana Frankl bisa begitu kuat menghadapi kesulitan yang begitu berat? Kehendak-menciptakan-makna.

Dalam kondisi kurang makan, beban kerja berlebih dalam tahanan itu, Frankl menciptakan makna-makna khusus yang bernilai tinggi. Dia menciptakan makna bahwa kesulitan-kesulitan ini mematangkan jiwanya menjadi lebih sempurna. Bahkan dia, dari berbagai kesulitan, merumuskan secara detil apa makna dari masing-masing kejadian. Frankl senantiasa menguatkan diri, mencari cara, bagaimana caranya agar dapat membantu sesama teman. Kegiatan membantu, adalah kegiatan yang penuh makna, yang menguatkan hana. Dunia bisa saja berlangsung tidak sesuai harapan kita, atau bisa juga sesuai harapan kita. Tetapi kekuatan menciptakan makna dari setiap kejadian ada dalam diri kita, ada dalam hana. Kita selalu mampu menciptakan makna.

Will to pleasure, kehendak-untuk-senang merupakan kekuatan manusia yang tampaknya mudah dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari kita memang mencari kesenangan, kenikmatan. Makanan dan minuman, kita memilih yang nikmat. Kasur, kita memilih yang nyaman. Rumah, kita memilih yang bersih. Semua hal, kita mengejar kenikmatan.

Sigmund Freud, pemikir abad 20, adalah tokoh yang berhasil meletakkan tema kenikmatan dalam pembahasan filsafat – dan psikologi. Freud melangkah lebih jauh dengan mengidentifikasi: kesenangan paling fundamental bagi manusia. Freud menemukan kesenangan tertinggi adalah hasrat hubungan badan, hubungan sexual. Kesenangan yang lain, misal kenikmatan makan, adalah turunan atau cabang dari kenikmatan hubungan badan. Bahkan semua aturan hukum atau moral, pada analisis akhir, adalah untuk meraih kenikmatan hubungan badan pula.

Karena setiap orang bisa berkaca kepada diri sendiri tentang ide Freud ini maka ide ini mudah dipahami. Pada gilirannya, ide ini pun banyak disetujui orang. Tentu saja, banyak juga orang yang menolak ide Freud. Salah satunya adalah Frankl di atas, yang merumuskan kehendak-menciptakan-makna. Hubungan badan hanyalah kebutuhan dasar manusia. Tetapi, memiliki makna dalam hidup adalah kebutuhan tingkat tinggi manusia, yang lebih sempurna. Meski demikian, kita, sebagai hana, memang memiliki itu semua: kekuatan dari kehendak. Sehingga kita harus pandai-pandai mengatur semuanya.

Will to truth, kehendak-menemukan-kebenaran jelas ada pada diri manusia.

Lanjut ke Sains – Memahami dan Mengembangkan
Kembali ke Struktur Manusia Dinamis

Kehendak Bebas – Energi Sejati

Terus-menerus tanpa batas. Itulah kehendak bebas. Menerobos possibilitas, menapaki probabilitas.

Image result for human change

Kehendak (will) teruji mendorong manusia meraih pencapaian di luar batas-batas imajinasi. Manusia mampu mendarat di bulan, menyelami dasar lautan, berbincang-bincang dengan kawan yang terpisah jarak 7 000 km dengan realtime. Kehendak adalah elemen fundamental pertama dari struktur manusia sejati, hana. Energi sejati yang tidak pernah punah. Bahkan terus diperbaharui.

Mulai di bagian ini, dan tiga bagian berikutnya, kita akan membahas empat elemen struktur fundamental manusia – kehendak, kekuatan, sains, dan sign. Pertama, kita akan membahas secara teoritis dan spekulatif. Kedua, kita mencoba menyusun ide-ide praktis sehingga kita dapat langsung mempraktekkan di setiap kesempatan. Dan ketiga, kita akan mencoba refleksi untuk mengkaji lebih dalam lagi.

Teori Kehendak Bebas

Sejak awal sejarah manusia, para pemikir besar, meyakini bahwa kehendak bebas adalah energi pendorong kemajuan peradaban manusia. Tetapi kehendak manusia, juga, sebagai sumber beragam penderitaan manusia. Baik penderitaan diri sendiri atau bahkan menyebabkan penderitaan terhadap banyak orang lain. Maka membahas dengan cermat masalah kehendak ini menjadi penting untuk menjamin hana bergerak ke arah yang lebih baik.

Sejak jaman Socrates-Plato-Aristoteles, sekitar abad ke 4 sebelum masehi, umat manusia meyakini bahwa hana memiliki kehendak bebas. Lalu berlanjut ke jaman Farabi-Ibnu Sina-Sadra, mereka, juga meyakini tentang kehendak bebas manusia. Tantangan muncul ketika sains modern mulai bersemi dengan proyek pencerahan. Pemahaman deterministik berkembang, meyakini bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas. Sebelum jaman sains modern, memang ada beberapa pemahaman deterministik tetapi selalu bisa dikompromikan dengan baik.

Sains Modern

Isaac Newton, pemikir abad 17, memanfaatkan matematika dengan cermat untuk ekplorasi fenomena alam. Ketepatan analisis Newton ini menjadi tonggak revolusi sains modern. Kita jadi mengenal sains eksak dan teknologi sebagai penerapannya. Karena bersifat eksak maka deterministik. Segala sesuatu bisa diketahui secara pasti nasibnya di masa depan bila kita memperoleh data-data yang diperlukan.

Konsekuensinya, masa depan manusia juga bisa dipastikan menggunakan sains eksak. Tentu banyak pemikir besar tidak setuju dengan cara pandang deterministik seperti itu. Keunggulan sains eksak adalah bisa diuji berkali-kali, oleh orang-orang yang berbeda, dan memberikan hasil yang konsisten. Bahkan dengan sains eksak ini umat manusia berhasil mengembangkan teknologi mesin pabrik, mesin motor, kereta api, mesin telekomunikasi, komputer, dan teknologi digital.

Maka, ketika, sains modern mengklaim bahwa seluruh alam semesta bersifat deterministik, itu adalah klaim yang benar-benar serius. Meski Newton sendiri tampaknya tidak pernah mengklaim sifat deterministik dari alam semesta. Immanuel Kant, pemikir abad 18, menyadari konsekuensi sains eksak dan mencoba merumuskan ulang kehendak bebas manusia.

Antinomi Kant

Wawasan luas dan ditunjang kecerdasan yang tinggi mengantarkan Kant berhasil menyusun ulang sistem pemikiran, moral, dan penilaian. Sistem moral yang kokoh, menurut Kant, perlu memastikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Dengan kehendak bebas ini maka manusia mampu mengejar cita-citanya. Dan konsekuensinya, manusia bertanggung jawab atas semua tindakannya karena didasarkan pada kehendak bebas dirinya.

Kant melanjutkan cara berpikir dualisme dari Descartes, pemikir abad 17, yang menyatakan bahwa di alam semesta ini ada dua substansi paling mendasar. Pertama, substansi fisik yang diatur oleh hukum-hukum sains. Dan kedua, substansi jiwa yang terbebas dari hukum sains. Kedua substansi tersebut – fisik dan jiwa – saling tidak berhubungan. Atau, setidaknya, kita tidak tahu bagaimana hubungan antara jiwa dan badan manusia.

Ketika Kant mengkaji alam semesta, termasuk badan manusia, terbukti bahwa alam semesta tunduk kepada hukum-hukum alam yang deterministik, sesuai penyelidikan sains. Hukum kausilatas, misalnya, berlaku dengan tegas. Sementara, ketika Kant mengkaji jiwa manusia, dia menemukan bahwa jiwa manusia diatur oleh hukum-hukum yang berbeda. Jiwa manusia bebas dari hukum alam. Jiwa manusia memiliki kebebasan berkehendak. Dua sudut pandang ini, jiwa yang bebas dan badan yang deterministik, tidak bisa disatukan. Tidak ada cara untuk memutuskan mana yang paling benar. Tidak ada sinstesa antara keduanya. Maka hal ini disebut sebagai antinomi atau paradox.

Sementara itu, Kant sendiri meyakini bahwa manusia benar-benar memiliki kehendak bebas. Bahkan jiwa manusia tetap abadi walau setelah badan manusia mati. Keyakinan ini sejalan dengan pemikir-pemikir besar sepanjang masa dari Plato, Aritoteles, Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Sadra, Descartes, dan lain-lain.

Pemikir-pemikir setelah masa Kant mencoba mencari solusi dari antinomi Kant itu. Di antaranya, yang akan kita bahas, adalah Bergson dengan konsep durasi dan Sartre dengan konsep negasi.

Durasi Bergson

Konsep durasi dari Bergson, menurut saya, adalah solusi terbaik untuk menjelaskan hubungan kehendak bebas manusia dengan alam semesta. Terbukti pemikiran Bergson mewarnai pemikiran dunia sepanjang abad 20 di paruh pertama. Saya sendiri melihat konsep durasi ini sangat tepat menggambarkan berbagai macam perilaku hana, manusia sejati, yang unik. Yang berbeda dengan perilaku segala sesuatu di alam semesta, ruang semesta.

Manusia sejati, hana, benar-benar memiliki kehendak bebas, sebebas-bebasnya.

Kita tahu hukum alam bersifat deterministik. Bahkan badan kita terkena hukum alam yang deterministik itu, tidak ada kebebasan. Sel-sel otak manusia juga patuh kepada hukum kausalitas alam deterministik. Namun manusia punya durasi yang terbebas dari pengaruh seluruh alam. Ketika alam, yang deterministik, mengenai manusia maka manusia punya waktu, punya selang waktu, punya durasi. Di dalam durasi ini, hana mempunyai kehendak bebas. Hana bebas menentukan sikapnya terhadap alam dan terhadap lainnya. Alam semesta sama sekali tidak bisa mengganggu durasi maka durasi benar-benar bebas.

Misalkan ada seseorang mengejek kita. Maka kita punya durasi terhadap ejekan itu. Dalam durasi itu kita bebas untuk memilih membalas ejekan, merasa sakit hati, memaafkan orang yang mengejek, justru bersemangat, atau lainnya. Bebas. Jadi manusia benar-benar berkehendak bebas.

Barangkali durasi, selang waktu, bisa kita hitung 1 detik, 2 detik, atau lainnya. Namun angka-angka semacam itu bersifat kuantitas, lebih tepat untuk gambaran ruang. Sedangkan durasi adalah waktu yang bersifat kualitas. Meski pun sama-sama 7 detik, misalnya, kualitas waktu seseorang dengan orang lainnya bisa berbeda-beda. Dan kualitas durasi terus bertambah makin kuat intensitasnya. Masing-masing hana memiliki kemampuan unik untuk mengakses durasi. Makin mahir mengakses durasi maka makin terbebas seseorang dari determinasi alam sekitar. Orang tersebut makin memiliki kebebasan yang besar.

Negasi Sartre

Saya yakin Sartre adalah pemikir abad 20 yang paling ekstrem mendukung kebebasan, freedom. Sartre mendefinisikan hana, manusia, adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia.

Sartre mengaku bahwa ia terinspirasi oleh Bergson dan ingin memecahkan antinomi Kant tentang kehendak bebas manusia. Dengan definisi manusia adalah kebebasan maka Sartre sudah mengumumkan tidak ada masalah dengan kehendak bebas manusia. Sartre lebih suka menggunakan istilah kebebasan (freedom) dari pada kehendak bebas (free will). Kita akan mencoba memahami bagaimana Sartre sampai kepada kesimpulan bahwa manusia adalah kebebasan.

Sartre menerapkan fenomenologi Husserl yang menyatakan kesadaran manusia selalu bersifat intensional, yaitu selalu merupakan “kesadaran akan sesuatu.” Sesuatu yang menjadi obyek kesadaran adalah sesuatu yang lain, bukan kesadaran itu sendiri. Selanjutnya, Sartre mengeksplorasi ketiadaan. Saya memilih istilah orano untuk ketiadaan ini. Ada dua jenis orano yaitu orano absolut yang benar-benar tidak ada maka tidak perlu dibahas. Dan, orano kedua, adalah orano konkret atau spesifik yang penuh makna dan guna.

Contoh orano konkret, ketiadaan konkret, adalah tidak punya uang, ketiadaan uang. Dampaknya jelas dapat kita rasakan. Ketika hendak membeli minuman, ternyata, tidak ada uang maka kita gagal membeli minuman. Contoh kedua, orano konkret, adalah tidak adanya lubang di jalanan. Maka kita dapat melaju di jalan itu dengan lancar karena ketiadaan lubang. Masih banyak contoh-contoh orano yang dapat kita berikan: ketiadaan virus, ketiadaan bahan bakar, ketiadaan data, dan lain-lain.

Orano memang bersifat negatif. Ketiadaan. Negasi. Tetapi peran orano benar-benar nyata.

Kesadaran manusia adalah orano yang bersifat me-negasi terus-menerus. Dan obyek dari kesadaran bukanlah dirinya sendiri. Maka kita ambil contoh bahwa saya adalah seorang guru. Ketika saya menyadari bahwa saya seorang guru maka saya me-negasikannya. Saya bukan guru itu. Kesadaran saya menolak lalu menyatakan saya adalah guru-2. Tapi begitu saya menyadari lagi maka saya menolak lagi, saya bukan guru-2, saya adalah guru-3, dan seterusnya.

Ketika saya menolak guru-2, saya bebas menyatakan bahwa saya guru-3 atau guru-5, atau guru-7, atau lainnya. Itulah kebebasan manusia, freedom. Dan, hanya manusia yang memiliki kebebasan. Beda dengan batu, misalnya. Dari berbagai macam sudut, batu menyatakan diri, “saya adalah batu.” Pada waktu berikutnya, “saya adalah batu.” Batu mengafirmasi dirinya sebagai batu. Batu tidak pernah menolak identitas dirinya sebagai batu. Tidak punya kebebasan. Batu demikian padat, sepenuhnya sebagai batu. Sedangkan manusia, hana, justru menolak dirinya. Aku bukan guru-5, aku bukan guru-7, aku adalah bebas.

Sartre sampai kepada kesimpulan, manusia adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia itu sendiri. Konsekuensi langsungnya adalah manusia mempunyai kehendak bebas yang nyata. Manusia bertanggung jawab penuh atas kehendak bebasnya itu.

Manfaat dan Resiko Kehendak

Kehendak bebas jelas bermanfaat bagi manusia sebagai energi, mendorong, untuk terus maju. Di saat yang sama, kehendak bebas juga berbahaya bagi manusia, berbahaya terhadap eksistensi dirinya dan yang lain. Apalagi di era digital, kehendak bebas makin besar manfaat dan bahayanya.

Kehendak bebas manusia digital. Di era digital, begitu mudahnya kita berkarya, berupa gambar, video, tulisan, musik dan lainnya. Mereka yang memanfaatkan kehendak bebas untuk berkarya di dunia digital benar-benar memperoleh berkah. Yang berniat bisnis, berdagang, berbagi ilmu, dan lainnya dengan mudah mengembangkan kehendak bebasnya melalui media digital. Teknologi digital mendorong kita, sebagai individu dan masyarakat, untuk terus mengembangkan kehendak bebas.

Resiko media digital tentu kita sudah paham. Ketagihan, kecanduan, dan penipuan adalah tiga resiko dari media digital yang menghancurkan kehendak bebas manusia. Ketagihan media digital mengubah kehendak bebas kita menjadi keterpaksaan digital. Bangun tidur ketagihan update status. Sebelum tidur ngobrol panjand di media sosial sampai lupa waktu tidur. Ketika di tempat kerja, curi-curi kesempatan untuk main media digital. Waktu makan dipenuhi dengan menatap layar digital. Tidak ada lagi kehendak bebas. Semua ditagih oleh ketagihan digital.

Kecanduan digital bisa lebih parah. Teknologi digital beda dengan teknologi lampu, misalnya. Teknologi lampu cenderung menurut terhadap perilaku manusia. Jika kita hendak menyalakan lampu maka tinggal kita nyalakan. Ingin memadamkan tinggal padamkan saja. Sedangkan teknologi digital, kita hendak meninggalkannya, dia tiba-tiba mengirim notifikasi. Terpaksa kita melihat notifikasi itu, lalu penasaran. Dikira cukup satu menit. Ternyata ada rekomendasi berita terbaru yang menggoda. Dari satu berita terbaru menyambung ke video-video lanjutan, ke obrolan-obrolan lanjutan, ke diskusi-diskusi tiada henti. Bukan 1 jam, bahkan 3 jam bisa berlalu begitu saja. Kecanduan digital telah menyingkirkan kehendak bebas manusia.

Kita bukan sedang berhadapan dengan laptop atau handphone. Di ujung sana ada kecerdasan buatan, artificial intelligence. Mesin super cerdas, yang bertugas, membuat Anda kecanduan digital. Ada juga perusahaan besar yang mengeruk keuntungan atas kecanduan Anda. Bahkan politikus juga bisa bermain di ujung sana. Anda bukan berhadapan dengan mesin ketika menatap media digital. Anda berhadapan dengan raksasa perkasa yang siap merampas kehendak bebas Anda.

Kasus penipuan melalui media digital terjadi di mana-mana. Kehendak bebas sudah terlepas. Bagai hipnotis yang mengintai setiap saat. Saya tidak perlu memberi contoh untuk kasus penipuan, hoax, sampai kriminal.

Kehendak bebas untuk mempertahankan diri. Hana peduli untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Rasa lapar, nafsu makan, adalah manifestasi kehendak bebas untuk mempertahankan diri. Kita makan nasi, buah, sayuran dan lain-lain untuk menjaga tubuh sehat. Di saat yang sama, kita menikmati rasa makanan itu, menambah bahagia manusia sejati, hana. Berbeda halnya dengan lampu. Lampu tidak punya kehendak untuk mengisi energinya, batere-nya. Ketika energi lampu akan habis, baterieatau pulsa token, lampu diam saja dan akhirnya bisa mati. Tetapi manusia punya rasa lapar dan rasa nikmat terhadap makanan. Kita berhasrat, berkehendak, kepada makanan.

Kehendak terhadap makanan mengandung resiko. Hana perlu mengkonsumsi makanan pada batas-batas keseimbangan. Orang yang terlalu suka manis, misalnya, beresiko terserang sakit kencing manis. Bukan eksistensi hana yang terjaga dari makanan tersebut, justru penyakit kencing manis mengancam eksistensi hana. Kurang makan, kurang gizi, juga mengancam eksistensi hana. Resiko maag, tipus, busung lapar dapat berakibat fatal terhadap eksistensi hana. Manusia butuh makanan, menghendaki makanan, dalam batas-batas keseimbangan yang tepat.

Kehendak bebas mengetahui. Barangkali Anda pernah penasaran dengan suatu informasi atau pengetahuan? Rasa ingin tahu terhadap sesuatu adalah manifestasi dari kehendak manusia. Kita menghendaki, menginginkan, pengetahuan. Ada yang ingin memecahkan suatu teka-teki, ada yang ingin tahu hasil akhir dari suatu pertandingan, ada yang ingin tahu pertumbuhan tanaman di kebun dan lain-lain. Saya, pernah, ingin menemukan cara menghitung teorema Pythagoras dengan mudah. Lalu saya mengembangkan berbagai cara dan menemukan rumus cepat teorema segitiga ganjil dan genap. Masing-masing orang bisa saja berhasrat terhadap jenis-jenis ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.

Hasrat terhadap pengetahuan juga mengandung resiko. Seseorang yang ingin mengetahui sesuatu yang tidak pantas diketahui maka itu bisa berbahaya. Misalnya, mengetahui urusan pribadi orang lain adalah tidak pantas dan bisa merugikan banyak pihak. Dengan media digital, resiko ini semakin besar. Mencuri tahu nomor pin dan password orang lain bahkan bisa diancam pidana. Pengetahuan untuk merusak lingkungan juga tidak diperlukan bagi kalangan umum. Meskipun kita, hana, punya kehendak bebas untuk mengetahui segala sesuatu maka pengetahuan itu perlu dalam batas-batas keseimbangan. Hal ini justru untuk menjaga eksistensi hana secara pribadi atau pun bermasyarakat.

Kehendak bebas untuk berkarya. Barangkali Anda pernah merasakan ingin sekali untuk memberikan sesuatu yang bermakna? Hasrat ingin berkarya atau memberi sesuatu yang bermakna adalah manifestasi kehendak hana. Seorang ibu ingin menyiapkan masakan yang enak buat seluruh keluarga. Seorang guru ingin mengajarkan pelajaran yang penting ke siswanya. Seorang seniman ingin menghasilkan karya seni. Seorang bapak ingin memberikan fasilitas buat keluarga untuk tumbuh berkembang. Seorang presiden ingin negerinya lebih adil dan makmur. Dan masih banyak contoh lagi yang menunjukkan bahwa hana punya kehendak untuk memberi.

Hasrat untuk memberi tetap harus dijaga dalam batas-batas keseimbangan eksistensial hana. Seorang bapak yang ingin memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga bisa saja melampaui batas terlalu banyak bekerja. Sehingga ia bisa jatuh sakit. Bukan eksistensi hana yang terjaga tapi justru resiko mengganggu eksistensi bapak itu sendiri. Seniman yang berhari-hari tidak tidur karena sedang tenggelam dalam berkarya juga beresiko secara eksistensial. Maka apa pun bentuk hasrat kita untuk memberi tetap perlu dalam batas-batas keseimbangan.

Kehendak bebas spiritual. Masing-masing hana bisa memiliki hasrat pengembangan spiritual yang unik. Hasrat ini juga merupakan manifestasi kehendak bebas. Baik orang yang beragama mau pun tidak beragama mempunyai cara-cara tersendiri mengembangkan sisi spiritual. Asyiknya berselancar dalam dunia spiritual tetap perlu memperhatikan batas-batas keseimbangan.

Kehendak bebas cinta. Manifestasi kehendak bebas cinta mengambil bentuk yang beragam. Bahkan tersebar dari bentuk ekstrem terbaik sampai bentuk ekstrem terburuk. Maka menjaga batas-batas cinta menjadi penting di sini. Ekstrem terbaiknya adalah cinta mengantarkan hana rela berkorban untuk eksistensi alam semesta. Sementara ekstrem terburuknya, hasrat cinta, mendorong manusia memperkosa pihak lain sampai kehilangan eksistensi hana. Sejatinya, cinta adalah untuk menjaga eksistensi hana.

Langkah Praktis Mengembangkan Kehendak Bebas

Kehendak bebas, meski benar-benar bebas, tetap perlu memperhatikan batas-batas. Di bagian ini, kita akan membahas langkah-langkah praktis mengembangkan kehendak bebas. Langkah-langkah ini saling berhubungan dengan elemen-elemen fundamental hana lain – power, sains, dan sign. Hal ini menunjukkan hakekat dari hana, manusia, adalah satu kesatuan yang utuh.

Kehendak Digital

Memastikan manusia digital adalah yang mengendalikan dunia digital. Bukan dikendalikan oleh dunia digital.

1. Pilih konten-konten digital yang bermuatan positif. Kunjungi secara rutin, setiap hari atau 2 sampai 3 kali sehari, konten positif yang menginspirasi Anda untuk terus mengembangkan cita-cita luhur.

2. Gunakan media digital untuk berbagi konten positif milik Anda. Bukan hanya share konten orang lain.

3. Akses media digital hanya ketika Anda menghendaki. Bukan karena ketagihan atau kecanduan.

4. Batasi waktu Anda dalam mengakses media digital. Masing-masing orang punya batasan waktu yang berbeda. Mereka yang bekerja di dunia digital perlu waktu lebih banyak dari mereka yang bekerja di lapangan. Pertimbangkan waktu Anda yang paling tepat.

5. Matikan sambungan internet bila tidak diperlukan. Hidupkan internet ketika Anda merasa perlu akses. Cara ini efektif meski tidak harus terus-menerus diterapkan.

Kehendak Dunia Fisikal

Mengendalikan kehendak bebas di dunia fisikal. Dunia fisikal adalah modal bagi hana, bukan penghalang.

1. Jaga nutrisi, makanan Anda secara seimbang. Batasi. Jangan berlebih dalam urusan makan dan minum. Meski Anda masih berhasrat terhadap makanan, hentikan, bila sudah cukup.

2. Jaga kesehatan fisik, badan, Anda. Buat jadwal rutin olahraga harian dan mingguan. Peregangan dapat Anda lakukan tiap pagi dan sore. Sedangkan olahraga mingguan, barangkali yang agak berat, satu sampai tiga kali tiap minggu. Perhatikan batas-batas kemampuan olahraga, jangan berlebih. Apalagi olahraga yang berhubungan dengan hobi.

3. Imbangi kegiatan fisik Anda. Anda yang sering terlalu lama duduk di depan komputer maka perlu lebih sering jeda untuk menggerakkan anggota badan. Anda yang pengrajin mengandalkan tangan dan kekuatan pinggang perlu mengimbangi kegiatan fisik yang sesuai. Saya, yang sering bulutangkis, maka perlu mengimbangi kelebihan mengandalkan kekuatan tangan kanan.

4. Tidur yang cukup. Barangkali belum ada hasil riset yang memastikan jumlah jam ideal untuk tidur. Tetapi sudah cukup banyak bukti bahwa kurang tidur sama buruknya dengan kebanyakan tidur. Anda dapat memperkirakan kebutuhan waktu tidur Anda sendiri. Umumnya, kisaran 4 jam sampai 8 jam dipandang sebagai rentang moderat.

5. Irama fisik. Istirahat sama pentingnya dengan bekerja. Maka temukan irama paling tepat berapa porsi dan kapan bekerja, olahraga, wisata, bermasyarakat, ibadah dan lain-lainnya. Irama ini akan membantu Anda tetap punya kendali terhadap kehendak bebas.

Kehendak Intelektual

Secara intelektual, hana ingin – berkendak – untuk terus bergerak maju. Berikut ini beberapa langkah praktis berkembang secara intelektual.

1. Targetkan setiap pekan membaca satu buku berkualitas – selesai atau hampir selesai. Buku berkualitas bisa Anda baca berulang kali. Pembacaan yang sekarang akan berbeda makna dengan pembacaan tiga bulan lalu.

2. Membaca buku secara online atau digital. Khususnya tema-tema yang bersifat ensiklopedis lebih menguntungkan melalui media online, update-update terbaru dengan cepat tersedia. Tautan-tautan yang saling merujuk memudahkan pemahaman secara utuh.

3. Membaca artikel-artikel ilmiah. Secara online, saat ini, tersedia banyak artikel ilmiah berkualitas sesuai minat Anda. Anda bisa saja berlangganan yang berbayar. Tersedia juga yang versi gratis.

4. Belajar bahasa internasional. Berbagai macam buku tersedia dalam bahasa aslinya atau sebagiannya dalam bahasa internasional. Maka penting bagi kita untuk belajar bahasa inggris, arab, mandarin, dan lainnya sesuai minat.

5. Membaca kitab suci tiap hari. Bagi Anda yang beragama bisa langsung membaca kitab sucinya. Bagi Anda yang tidak beragama barangkali bisa memilih beberapa kitab suci yang sesuai.

Kehendak Emosional

Manusia selalu dalam mood. Jika hana menolak satu mood maka ia akan berada dalam mood yang lain. Mood adalah apriori bagi manusia. Berikut adalah beberapa langkah praktis mengembangkan kehendak bebas yang berhubungan dengan emosi – dan mood.

1. Setiap pagi, bangun tidur, pastikan bersyukur atas karunia eksistensi kita. Sewaktu-waktu, eksistensi manusia bisa hilang. Maka rasa syukur adalah yang pantas bagi setiap manusia dalam mengawali hidupnya. Ulangi afirmasi syukur atas eksistensi ini siang, malam hari, dan lebih sering lebih baik.

2. Temukan cara untuk mensyukuri diri Anda, badan dan mental, tiap saat, apa adanya. Rasa syukur ini membuka gembok-gembok kehendak bebas Anda.

3. Kembangkan optimisme mengantisipasi masa depan. Kuatkan keteguhan hati, dan sabar, menjalani saat ini menuju masa depan.

4. Nikmati karya seni misal musik, syair, novel, atau lainnya untuk meneguhkan hati, menguatkan emosi. Dengan media digital tersedia banyak rujukan karya seni yang bisa kita konsumsi.

5. Bangun hubungan baik dengan orang-orang terdekat Anda, untuk kemudian meluas.

Kehendak Spiritual

Kita dapat mengembangkan kehendak spiritual dengan menjalankan ritual keagamaan masing-masing dengan menambah kekuataan penjiwaan aspek batin bersamaan aspek lahirnya. Barangkali ada juga yang berminat mengembangkan metode tertentu untuk aspek spiritual. Saya tidak terlalu banyak menjelaskan pengembangan kehendak spiritual di bagian ini karena seluruh bagian buku ini dimaksudkan untuk pengembangan kehendak spiritual itu sendiri.

Refleksi Kehendak Bebas

Kajian mendalam menunjukkan bahwa manusia digital menghadapi tantangan yang berbeda dengan manusia tradisional. Sebelum era digital, masalah kehendak bebas nyaris hanya urusan masing-masing personal. Orang lain tidak bisa mengganggu kehendak bebas kita sebagai manusia sejati, hana. Sementara di era digital, kehendak bebas banyak orang, tenggelam dalam lautan media sosial. Mereka dengan sukarela menenggelamkan diri. Atau tanpa sadar ditenggelamkan ke dasar lautan.

Meski demikian, kehendak bebas tetaplah kedendak bebas. Bebas dalam arti sebebas-bebasnya.

Hanya saja, pertama-tama, kita perlu mewaspadai media digital. Jangan sampai terjebak. Yang awalnya, media digital sebagai alat bagi manusia untuk bergerak lebih maju, maga, maka tetap kita posisikan sebagai alat. Kali ini, media digital kita manfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan kehendak bebas hana dan kehendak bebas umat manusia.

Kehendak bebas, dalam situasi apa pun, perlu terus kita rawat sebagai sumber energi sejati yang tidak pernah habis, tidak pernah berhenti.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas elemen kedua struktur fundamental manusia digital yaitu power, kekuatan manusia.

Struktur Fundamental Manusia Digital

Bagian ini akan membahas lebih detil struktur fundamental manusia digital. Struktur paling fundamental dari manusia sejati, hana, adalah maga: gerak sejati. Hana adalah satu kesatuan utuh tak terpisahkan. Manusia bukanlah bagian demi bagian yang kemudian disatukan. Hana adalah satu kesatuan yang utuh. Hanya saja, demi kemudahan kita akan menganalisis hana bagian demi bagian, elemen demi elemen.

Image result for human change

Pertama, kita akan melihat hana sebagai tersusun empat elemen fundamental yang mendorong untuk terus bergerak eksistensial, maga. Kemudian, masing-masing elemen ini kita uraikan lebih detil dan kita lengkapi dengan langkah-langkah praktis. Sehingga kita dapat melatihnya tiap hari untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia di jaman digital, manusia digital.

Empat elemen fundamental ini menjamin kita untuk terus melangkah maju. Elemen ini bagaikan energi yang tidak pernah ada habis-habisnya bila dirawat dengan baik. Bahkan energi ini terus tumbuh berkembang menjadi lebih besar tiap hari. Meski terus berkembang, elemen fundamental ini, tidak menjamin arah berkembangnya menuju ke arah yang lebih baik. Yang terjamin adalah menjadi lebih besar karena berkembang, hanya itu.

Untuk menjamin perkembangan ke arah yang lebih baik maka kita perlu acuan arah gerak maga. Kita akan membahas arah ini di bagian berbeda. Bagian ini akan fokus kepada empat elemen fundamental dari hana: kehendak (will), kekuatan (power), sains, dan sign.

Kehendak (Will)

Elemen paling fundamental dari manusia adalah kehendak. Hakekat eksistensi manusia ditentukan oleh kehendaknya. Hana memiliki kebebasan (freedom) dan kehendak bebas (free will). Catatan sejarah menunjukkan bahwa orang-orang besar adalah orang-orang yang mampu memanfaatkan kehendaknya ini dengan baik.

Nyatanya, setiap manusia memiliki kehendak. Sama seperti orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah itu.

Kehendak bebas bersifat apriori bagi manusia. Maksudnya, kehendak selalu ada pada manusia. Ketika kita lahir, hana yang masih bayi, langsung berteriak dengan tangisan keras. Menunjukkan kehendak untuk mendapat air susu dari ibu tercinta. Ketika remaja, kita, punya cita-cita sebagai representasi kehendak kita. Bahkan ketika masa tua, hana, berkehendak mengsisi sisa hidup dengan kegiatan-kegiatan penuh makna bahagia.

Sepanjang perjalanan, kehendak bebas, tidak selalu bisa terjaga. Situasi ekonomi sulit bisa mengecilkan kehendak seseorang. Tekanan lingkungan bisa memaksa orang untuk menyerah. Keyakinan yang salah bisa memperparah. Kita perlu memperoleh pemahaman yang jelas tentang kehendak lengkap dengan tips-tips praktis untuk mengembangkannya. Di bagian bawah, kita akan melengkapinya.

Kekuatan (Power)

Elemen fundamental kedua adalah kekuatan (power). Setiap manusia, hana, memiliki kekuatan yang unik. Saling melengkapi kekuatan satu orang dengan orang lainnya. Tak ada keraguan, seorang bayi tumbuh makin kuat menjadi remaja, lalu matang sebagai orang dewasa. Memang ketika masa tua, badan hana makin lemah. Tetapi kekuatan yang lain masih bisa terus bertumbuh: pikiran, rasa, bijaksana, dan sebagainya.

Ditambah lagi dengan jaman digital, hana makin kuat nyaris tanpa batas. Ketika bayi sudah bisa main game digital. Ketika remaja mampu membuat proyek kolaborasi dengan remaja-remaja manca negara. Ketika tua mampu terus berkarya.

Tetapi manusia digital ini tidak selalu ramah. Penipuan di media sosial terjadi berulang kali. Pelanggaran, kekerasan, kriminal juga terjadi melalui media digital. Manipulasi pihak kuat kepada pihak lemah makin mudah dengan teknologi digital. Sehingga kita perlu melindungi diri dan masyarakat dari berbagai ancaman dunia digital.

Pemahaman yang lengkap mengenai kekuatan dunia digital dilengkapi dengan beragam langkah-langkah praktis kita bahas di bagian bawah.

Sains (Pengetahuan)

Pengetahuan, yang terus berkembang menjadi sains yang canggih, jelas-jelas menjadi keunggulan manusia, hana. Sains adalah elemen fundamental ketiga dari hana. Catatan sejarah menunjukkan setidaknya sejak 3000 tahun yang lalu manusia sudah menghargai sains. Thales adalah pemikir besar abad ke 7 sebelum masehi dari Yunani Kuno. Saat itu Thales sudah menemukan cara menghitung tinggi menara, tinggi gunung, jarak kapal laut menggunakan rumus matematika. Thales menyarankan teman-temannya untuk belajar ke Mesir Kuno yang, ilmu dan teknologinya, lebih maju.

Di jaman digital ini, kita, hana makin merasakan peran penting dari ilmu pengetahuan – dan teknologi. Orang-orang yang menguasai data, informasi, dan sains, mereka menguasai dunia digital. Mampu mengambil keuntungan, eksplorasi, dan eksploitasi sesuai kebutuhan mereka. Lebih dari itu, pengetahuan, merupakan ukuran kesempurnaan hana. Maksudnya, di samping bernilai praktis, pengetahuan juga bernilai tinggi untuk kebahagiaan setiap hana.

Tampaknya alamiah juga bahwa pengetahuan hana tidak selalu berkembang. Sebagian orang dapat memperoleh pendidikan dengan sempurna. Sebagian yang lain tidak sempat mengenyam pendidikan. Bagaimana pun, hana selalu bisa mengembangkan pengetahuan dengan sempurna. Di bagian bawah kita akan membahas lebih rinci tentang pengetahuan dan langkah-langkah praktis untuk mengembangkannya.

Sign (Tanda)

Elemen fundamental keempat adalah sign (tanda). Manusia, sebagai hana, mampu membaca tanda-tanda dengan possibilitas tak terbatas. Setiap kejadian bisa kita baca sebagai tanda. Lalu kita bisa menginterpretasikan, menafsirkan, tanda tersebut dengan bebas. Membaca tanda-tanda semacam ini adalah kemampuan khas tingkat tinggi dari hana, manusia sejati.

Tiba-tiba terasa nyeri di pinggang. Investor membaca kejadian semacam itu sebagai tanda-tanda tidak baik. Lalu dia memutuskan untuk membatalkan rencana investasinya. Benar saja, beberapa bulan kemudian terbukti. Seandainya dia benar-benar investasi maka akan rugi jutaan dolar. Kemampuan membaca tanda semacam itu berperan besar bagi hana.

Dalam kehidupan sehari-hari berlalu-lintas, kita memahami banyak tanda khusus. Lampu merah merupakan tanda harus berhenti. Mereka yang melanggar lampu merah beresiko dengan kecelakaan lalu lintas. Atau minimal ditilang oleh petugas. Malam itu rembulan mulai beranjak tinggi. Anak-anak muda yang camping di tepian pantai mampu membaca bahwa itu tanda akan terjadi pasang yang makin tinggi. Berbagai macam perlengkapan di tepi pantai perlu segera diamankan.

Bahasa kita, yang kita pakai berkomunikasi tiap hari, adalah sistem tanda. Kata demi kata adalah tanda. Menyusun kalimat demi kalimat adalah tanda juga. Terbentuklah tanda di atas tanda. Hana yang mahir memanfaatkan bahasa menjadi sukses luar biasa. Sementara mereka yang gagal membaca tanda berakibat menanggung bencana.

Kita menyediakan bagian khusus, di bawah, membahas teori tanda, sign, dan dilengkapi beragam langkah praktis untuk mengembangkannya.

Struktur Lengkap Manusia

Kita sudah membahas secara lengkap, meski sekilas, struktur fundamental manusia sejati, hana. Bagian selanjutnya akan membahas elemen demi elemen dengan lebih rinci dari sisi teori. Kemudian kita lengkapi dengan beberapa langkah praktis sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata masing-masing hana.

Demokrasi Cacat: Tetap Semangat

Meski hasil survey terbaru, diumumkan Februari 2021, menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia termasuk demokrasi cacat maka itu harus menambah semangat kita untuk memperbaiki. Kita? Kenapa harus kita? Kan mereka yang membuat cacat. Kami hanya rakyat. Di sana banyak pejabat.

Justru karena kita rakyat. Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat. Maka kita semua bersama-sama jadi lebih kuat. Meski ada wakil rakyat dan pejabat, demokrasi tetap untuk rakyat. Teori bisa beda dengan apa yang ada di masyarakat. Bagaimana pun tetap semangat.

Solusi dari demokrasi cacat adalah demokrasi yang tepat.

Kesetaraan vs Kesenjangan

Solusi paling dasar dari demokrasi adalah kesetaraan bagi seluruh rakyat. Kesetaraan dalam politik, ekonomi, kebebasan, pendidikan, dan lain-lain. Sayangnya baru-baru ini, Februari 2021, BPS mengumumkan bahwa kesenjangan di Indonesia makin melebar. Ditandai dengan rasio Gini yang makin melebar G = 0,385 dari tahun sebelumnya hanya G = 0,381.

Untuk meningkatkan kesetaraan saya sudah membuat model dan simulasi. Sudah saya tuliskan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Intinya adalah meningkatkan kekuatan, ekonomi, dan pendidikan dari orang-orang lemah maka kesetaraan makin menguat. Di saat yang sama, orang kaya tambah kaya tidak masalah asalkan orang miskin juga ikut meningkat daya ekonominya. Kondisi paling parah adalah yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Salah satunya ditandai oleh melebarnya rasio Gini.

Pemerintah pusat perlu menyusun program pemerataan ekonomi-politik ini dengan serius. Di sisi rakyat juga perlu menyambut program-program penguatan. Serta selalu siap memanfaatkan setiap kesempatan untuk lebih maju.

Pengembangan Manusia

Solusi terpenting kedua memperbaiki demokrasi adalah pengembangan manusia Indonesia seutuhnya. Ketika masyarakat cerdas maka demokrasi berkembang dengan sehat. Rakyat akan memilih wakil-wakil yang tepat. Karena memang tersedia calon-calon yang terpercaya. Pejabat pun diisi oleh orang-orang hebat bermartabat.

Peran pendidikan menjadi sangat penting di sini. Sayangnya, di masa pandemi, program pendidikan tampaknya termasuk paling terpukul. Pendidikan paling hancur. Maka kita perlu bangkit lagi. Kita? Bukannya ada menteri pendidikan? Betul. Mas Menteri dan kita dukung.

Kebebasan

Solusi ketiga adalah menjamin kebebasan. Pemerintah Indonesia sudah berniat baik meminta kritik pedas, beberapa minggu lalu. Sejauh ini kita belum melihat adanya kritik pedas untuk memperbaiki demokrasi Indonesia. Yang kita temui justru pertanyaan mantan wapres, “Bagaimana cara mengkritik ke pemerintah tanpa dipanggil polisi?” Karena resiko dipanggil polisi tentu tidak memudahkan rakyat untuk berpartisipasi.

Revisi UU ITE tampaknya menjadi solusi untuk kembali meningkatkan kebebasan berdemokrasi. Sayangnya tuntutan revisi UU ITE sudah pernah diajukan dan gagal. Apakah kali ini akan gagal? Jika yang merevisi DPR dan pemerintah tentunya tidak ada kata gagal. Bahkan presiden bisa lebih proaktif dengan menerbitkan perppu bila perlu.

Bagaimana menurut Anda?

Struktur MANUSIA DINAMIS

“Arah Transformasi Manusia Digital di Era Retakan Sosial”

Manusia maju melesat, tersesat. Dunia digital makin cepat, padat, dan mampat. Menemukan makna jadi diri sebagai manusia, mana sempat? Bila ada niat, manusia selalu bisa selamat. Masalahnya, tidak ada waktu untuk istirahat. Apalagi berkhidmat. Tapi baktimu selalu ditunggu oleh masyarakat. Dan kamu adalah pilihan paling tepat.

Image result for human change

Struktur Manusia

Anda yang membaca buku ini barangkali sudah punya suatu niat untuk mengantisipasi masa depan umat manusia. Minimal menyiapkan diri dan orang terdekat untuk menghadapi masa depan yang kian tidak pasti. Bahkan di saat ini, kita sudah banyak yang terjebak dalam himpitan dunia digital. Selalu ada jalan keluar. Tidak mudah. Tapi layak diperjuangkan. Demi diri kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan umat manusia, serta alam semesta.

Tugas awal kita, saat ini, adalah mencoba mengkaji struktur manusia. Apa sejatinya manusia? Siapa sejatinya manusia? Saya menggunakan istilah hana sebagai padanan dari manusia sejati.

Sejak jaman kuno, kita mendefinisikan hana, manusia sejati, adalah binatang rasional. Sebagai binatang rasional, maka hana mengandalkan pikiran dan logikanya. Pendekatan ini berhasil mengantarkan kemajuan manusia dalam bidang sains dan teknologi, serta ekonomi. Manusia menguasai daratan, lautan, angkasa, dan seluruh alam semesta. Ujung-ujungnya membahayakan umat manusia sendiri. Ancaman perubahan iklim, ancaman senjata nuklir, ancaman senjata biologis, ancaman pandemi, ancaman kesenjangan sosial, dan masih banyak ancaman lainnya lagi.

Kita memerlukan kajian baru. Kita perlu memetakan struktur hana dengan lebih tepat. Hana sebagai hewan rasional benar adanya. Definisi semacam itu hanya memotret sebagian kecil dari manusia. Maka saya mencoba memotret hana, manusia sejati, dengan lebih utuh. Struktur fundamental hana adalah maga: gerak sejati. Karena hana selalu bergerak maka perlu arah yang tepat. Kita, manusia, perlu arah.

Manusia Dinamis

Kita dapat merasakan dengan jelas, karena hana adalah maga, gerak sejati, maka manusia bersifat dinamis. Wajar muncul dalam benak kita, ke arah mana gerak manusia, dan bagaimana gerak perubahan itu berlangsung.

Kita perlu mencatat di sini, maga, sebagai gerak sejati, lebih dari sekedar bergerak pindah ke suatu tempat. Maga bermakna sebagai gerak eksistensial, gerak secara hakikat. Manusia yang bahagia berubah, begerak, menjadi bahagia sekali. Manusia yang bodoh bergerak, dengan proses belajar, menjadi pandai. Manusia yang semula bimbang berubah menjadi penuh cinta. Itu semua adalah beberapa contoh gerak sejati.

Jelas, gerak manusia haruslah ke arah yang lebih baik. Maka kita perlu merumuskan arah yang lebih baik ini. Khususnya di jaman yang, ketika peran dunia digital makin membesar, kita benar-benar perlu arah yang lebih jelas dan tegas. Buku ini akan mendeskripsikan arah gerak tersebut.

Kedua, bagaimana gerak manusia bisa terus terjadi? Manusia butuh energi. Kita akan membahas struktur hana yang memungkinkan manusia untuk terus bergerak maju. Struktur ini melibatkan struktur personal, sosial, dan universal. Pemahaman yang baik tentang struktur hana ini menjamin kita untuk bisa terus bergerak maju ke arah yang lebih baik. Struktur hana adalah struktur manusia dinamis.

Akhir Manusia

Akhirnya, manusia berakhir. Pasti. Kita tidak tahu pasti, seperti apa, nasib akhir dari umat manusia. Tetapi kita tahu pasti bahwa masing-masing dari manusia pasti akan mati. Hana akhirnya pasti mati. Eksistensi hana, sebagai individu, pasti akan terhenti di dunia ini, sewaktu-waktu bisa mati.

Manusia yang hakikatnya bersifat dinamis, selalu bergerak, tiba-tiba harus berhenti total, mati. Tentu kita tidak tahu banyak tentang kematian. Kita tidak pernah mengalaminya. Kita hanya bisa belajar dari pengalaman orang lain. Maka kita perlu kajian yang cermat tentang akhir manusia. Saya memilih kata bataga untuk menyatakan akhir sejati dari manusia.

Nyatanya, bataga, akhir sejati tidak selalu berupa kematian fisik. Setiap saat adalah bataga. Setiap saat adalah akhir. Yang secara serentak juga merupakan awal yang baru. Bataga adalah akhir sekaligus awal yang baru. Justru ini yang membentuk manusia makin dinamis.

Karakter dasar dari bataga, akhir sejati, adalah unik dan akumulatif. Setiap manusia memiliki bataga yang berbeda dengan orang lain. Seluruh perjalanan hana, individu sebagai manusia sejati, direkam dalam bataga secara unik. Setiap perbuatan baik manusia, perjuangan, dan pengorbanannya terkumpul secara akumulatif dalam bataga.

Karena bataga ini juga merupakan awal yang baru maka kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Memperbaiki diri untuk kemudian bergerak maju lagi. Kajian yang holistik, dilengkapi dengan beberapa langkah praktis, adalah tujuan utama buku ini.

1 Pendahuluan

2 Struktur Manusia Digital
2-1 Gelombang Media Digital
2-2 Menjadi Manusia Digital
2-3 Struktur Fundamental
2-31 Kehendak Manusia – Langkah Praktis
2-32 Power Manusia – Langkah Praktis
2-33 Sains – Memahami dan Mengembangkan
2-34 Sign – Membaca dan Interpretasi
2-4 Struktur Sosial
2-41 Keluarga
2-42 Masyarakat Terdekat
2-43 Masyarakat Dunia
2-5 Struktur Semesta
2-51 Hidup dan Menghidupi Alam
2-52 Ancaman terhadap dan dari Alam
2-53 Masa Depan Semesta

3 Dinamika Manusia Sejati
3-1 Sikap Dinamis
3-11 Bersikap Adil – Langkah Praktis
3-12 Bersikap Pemurah – Langkah Praktis
3-2 Kemampauan Dinamis
3-21 Visi Kepemimpinan – Langkah Praktis
3-22 Keterampilan Manajerial – Langkah Praktis
3-3 Dinamika Struktur Fundamental
3-31 Sinergi Struktur – Langkah Praktis
3-32 Kompetisi Pengorbanan – Langkah Praktis

4 Akhir Manusia
4-1 Menuju dan Ditarik Akhir
4-11 Possibilitas Tanpa Batas
4-12 Probabilitas Terbatas
4-2 Karakter Akhir
4-21 Karakter Unik
4-22 Karakter Akumulatif Integratif
4-3 Akhir sebagai Awal
4-31 Mati sebelum Mati – Langkah Praktis
4-32 Mikro-Makrokosmos – Langkah Praktis

5 Epilog

Ketimpangan Ekonomi: Rasio Gini

Kita harus lebih sabar. Kesenjangan ekonomi di Indonesia makin melebar. Ketimpangan ekonomi makin menganga. Perbedaan miskin dan kaya makin jauh.

Berita terbaru menyatakan rasio Gini = 0,385. Yang makin timpang dibanding tahun sebelumnya yaitu 0,381 (tahun 2019). Padahal target Bu Menteri adalah hendak menurunkan rasio Gini. Yang terjadi justru naiknya kesenjangan.

Makna Ketimpangan

Kita memerlukan pemahaman apa arti rasio Gini. Saya membuat tabel ketimpangan seperti di atas agar memudahkan untuk melakukan perhitungan. Karena rasio Gini = G = 0,385 maka masuk klasifikasi “Buruk”.

Sejatinya, kita tidak bisa “memahami” rasio Gini G itu. Karena proses yang terjadi adalah, pertama, kita perlu memahami kondisi kesenjangan ekonomi. Kedua, dari kesenjangan ekonomi itu maka bisa kita hitung rasio Gini G. Bila proses dibalik maka hasilnya tidak unik. Maksudnya, misalnya di Indonesia G = 0.385, bagaimana kondisi kesenjangan ekonominya? Jawabannya tidak unik. Bisa saja itu buruk, sedang, buruk sekali, atau lainnya.

Maka saya mengembangkan formula nilai ketimpangan n = (1 + G)/(1 – G) yang lebih jelas memberi gambaran kesenjangan ekonomi.

Namun disepakati bahwa rasio Gini yang makin naik maka menunjukkan kondisi makin memburuk. Hal ini terjadi di Indonesia pada laporan terbaru tahun 2021. Barangkali akibat pandemi.

Konsistensi Kesenjangan

Kita memerlukan analisis yang konsisten. Formula nilai ketimpangan n yang saya kembangkan di atas dengan mudah untuk menguji konsistensi ini.

40% penduduk termiskin di Indonesia mengkonsumsi sekitar 12% saja.

Tentu saja itu kondisi kesenjangan yang buruk. Dengan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia 51.9 juta per tahun atau setara 4,350 juta per bulan maka ilustrasi akan lebih jelas. Karena rakyat termiskin hanya mengkonsumsi 12% dari yang seharusnya 40% maka per bulan hanya mendapat 1,300 juta rupiah. Atau sehari mengkonsumsi 43,333 ribu rupiah untuk seluruh keperluan hidup: makan, sewa rumah, bayar pulsa, listrik, dan lain-lain.

Tetapi perhitungan saya itu tidak konsisten dengan data resmi BPS yang menyatakan bahwa pengeluaran penduduk termiskin adalah 17,9% maka beda dengan hitungan saya yang 12% itu. Meski begitu koreksi dari BPS itu akan menaikkan pengeluaran atau pendapatan rakyat termiskin menjadi sekitar 60 ribu rupiah per hari. Masih ngeri?

Konsistensi Terbalik

Dengan mengacu pengeluaran 40% penduduk termiskin adalah 17,9% sesuai BPS maka kita bisa menguji konsistensi nilai rasio G.

Kita peroleh nilai rasio Gini, seharusnya, G = 0.304. Masuk klasifikasi “sedang.” Bahkan hampir masuk klasifikasi “baik.”

Sampai di sini, kita menemukan anomali dua klaim yang tampak tidak konsisten. Saat ini, rasio Gini G = 0.385 tidak konsisten dengan pengeluaran penduduk termiskin 17,9%. Maka diperlukan kajian lebih mendalam untuk menemukan anomali tersebut.

Data ke Solusi

Data-data yang kita miliki dapat kita olah untuk memberi petunjuk arah solusi menangani kesenjangan ekonomi. Pada gilirannya, solusi ekonomi, akan memperkuat iklim demokrasi. Semoga Indonesia makin maju, adil, makmur.

Bagaimana menurut Anda?