Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!
Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .
Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .
Mana mungkin 2 + 2 = 5? Bukankah 4? Dan masih banyak trik menarik lainnya.
Apakah rasionalitas bisa dibuktikan oleh rasionalitas? Tidak bisa. Andai bisa maka melingkar; falasi logika; atau rasionalitas angkuh: rasionalitas benar karena rasionalitas.
Apakah logika bisa dibuktikan oleh logika? Apakah sains bisa dijustifikasi oleh sains? Apakah akal bisa dibenarkan oleh akal? Tidak bisa. Kecuali berupa keangkuhan. Padahal kita tidak butuh sikap angkuh; kita butuh sikap rendah hati yang terbuka.
Jika sains tidak bisa justifikasi sains; logika tidak bisa justifikasi logika; rasionalitas tidak bisa justifikasi rasionalitas; maka dengan apa kita justifikasi itu semua?
Menurut saya, jawaban terbaik adalah dalam buku “The Culmination” karya Pippin terbit akhir 2024. Saya membahasnya dalam buku kami “Komunikasi Empatik.” Untuk itu, saya salinkan sebagian bab 19 yang membahasnya berikut ini.
Rasionalitas mudah terpeleset berlebihan klaim diri sebagai kulminasi seperti diingatkan oleh Pippin. Media social, yang diperkuat oleh AI, memiliki rasionalitas yang kuat dari para pendukungnya. Tetapi rasionalitas semacam itu adalah jebakan bagi umat manusia. Kita perlu berpikir puitis dan sikap deflasi. Kita akan mengembangkan beragam solusi rasionalitas yang dibutuhkan.
19.1 Rasionalitas Tiga Dimensi
Harapan solusi adalah berupa penguatan rasionalitas di media digital yang menari bersama empati. Untuk kemudahan kita akan memetakan rasionalitas menjadi tiga dimensi: universal, ideal, dan eksistensial.
Rasionalitas Universal
Rasionalitas universal merupakan bentuk penalaran yang berlaku umum dan bersifat objektif, tanpa bergantung pada waktu, tempat, atau kondisi tertentu. Contohnya dapat dilihat dalam hukum matematika, seperti 2 + 1 = 3, yang akan selalu benar di mana pun dan kapan pun untuk bilangan asli. Rasionalitas ini menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan, logika, dan sains yang mengutamakan konsistensi serta kepastian berpikir.
Namun, rasionalitas universal juga memiliki batas. Ia sering kali tidak cukup untuk menjelaskan pengalaman hidup manusia yang kompleks, karena hanya berfokus pada kebenaran logis dan formal. Dalam situasi tertentu, seseorang membutuhkan pertimbangan nilai, tujuan, dan konteks yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui logika universal. Oleh karena itu, rasionalitas universal dapat dipandang sebagai landasan dasar berpikir rasional, tetapi belum mencakup keseluruhan dimensi kehidupan manusia.
Rasionalitas ini menuntut objektivitas tinggi dan menjadi pondasi bagi kemajuan teknologi serta kecerdasan buatan. Meski begitu, penerapannya perlu dilengkapi dengan bentuk rasionalitas lain agar keputusan yang diambil tidak bersifat kaku atau terlepas dari kenyataan hidup.
Rasionalitas Ideal
Rasionalitas ideal berkaitan dengan kemampuan berpikir rasional yang berkembang secara optimal ketika seseorang berada dalam lingkungan dan kondisi yang mendukung secara sosial mau pun natural. Misalnya, pendidikan yang baik, bimbingan intelektual, serta situasi sosial yang terbuka dapat membentuk seseorang menjadi pribadi dengan rasionalitas ideal. Dalam kondisi demikian, kemampuan berpikir tidak hanya benar secara logis, tetapi juga matang, terarah, dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.
Rasionalitas ini menekankan pentingnya proses pembelajaran dan pengembangan diri. Seseorang yang tumbuh tanpa kesempatan belajar yang memadai mungkin belum mencapai bentuk rasionalitas ideal, meskipun tetap memiliki potensi rasional secara alamiah. Dengan demikian, rasionalitas ideal merupakan tahap pengaktifan potensi akal secara maksimal dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan intelektual.
Pada konteks kecerdasan buatan, bentuk rasionalitas ini masih sulit dicapai karena sistem digital belum memiliki lingkungan nilai, pengalaman hidup, dan tujuan manusiawi yang kompleks. Rasionalitas ideal menunjukkan bahwa berpikir rasional tidak cukup hanya benar, tetapi juga perlu dikembangkan secara menyeluruh dan berorientasi pada kesempurnaan kemampuan berpikir.
Rasionalitas Eksistensial
Rasionalitas eksistensial adalah bentuk penalaran yang berakar pada keberadaan dan pengalaman hidup nyata. Dalam bentuk ini, seseorang tidak hanya menimbang kebenaran logis, tetapi juga mempertimbangkan nilai, tujuan, makna, dan konsekuensi nyata dari setiap keputusan. Rasionalitas ini memperhatikan siapa yang berpikir, dalam situasi apa ia berpikir, serta untuk apa pemikirannya digunakan.
Jenis rasionalitas ini bersifat kontekstual dan reflektif. Ia membantu manusia memahami permasalahan secara utuh, bukan hanya dari sisi logika, tetapi juga dari sisi kemanusiaan dan moral. Dengan mempertimbangkan aspek tujuan dan makna, rasionalitas eksistensial menjadi landasan untuk mengambil keputusan yang rasional sekaligus manusiawi.
Rasionalitas eksistensial mencakup dua jenis rasionalitas sebelumnya—universal dan ideal—namun melangkah lebih jauh karena melibatkan kesadaran diri dan tanggung jawab terhadap realitas. Inilah bentuk rasionalitas yang paling menyeluruh, karena menggabungkan kebenaran logis, kematangan berpikir, dan relevansi eksistensial dalam kehidupan nyata.
Perbandingan Tiga Dimensi Rasionalitas
Aspek
Rasionalitas Universal
Rasionalitas Ideal
Rasionalitas Eksistensial
Hakikat
Penalaran umum dan objektif
Penalaran yang berkembang dalam kondisi optimal
Penalaran yang berpijak pada realitas dan makna kehidupan
Fokus Utama
Kebenaran logis dan konsistensi
Pengembangan kemampuan berpikir rasional secara penuh
Keterkaitan antara rasio, nilai, dan pengalaman konkret
Sifat
Abstrak dan formal
Terbentuk melalui pendidikan dan pengalaman
Kontekstual dan reflektif
Kelebihan
Menjamin objektivitas dan kepastian
Menghasilkan kemampuan berpikir matang dan fleksibel
Mewujudkan keputusan yang rasional sekaligus bermakna
Keterbatasan
Kurang memperhatikan konteks dan nilai
Bergantung pada kondisi dan lingkungan yang mendukung
Sulit diukur secara pasti dan bersifat sangat personal
Contoh Penerapan
Matematika, logika formal, sains
Pendidikan, pelatihan, pengembangan intelektual
Etika, filsafat hidup, pengambilan keputusan bermakna
Hubungan Universal, Ideal, dan Eksistensial
Hubungan antar dimensi bisa digambarkan semacam piramida atau kerucut. Rasionalitas universal berada di puncak, rasionalitas ideal di tengah, dan rasionalitas eksistensial di dasar. Hubungan ini tampak ambigu. Universal di puncak tampak paling tinggi tetapi paling rawan karena butuh dukungan tengah (ideal) dan dasar (eksistensial). Eksistensial tampak paling mendasar sebagai fundamental tetapi paling tersembunyi.
Hubungan ambigu ini penting untuk dielaborasi dengan kekayaan makna. Hubungan ambigu ini tidak bisa direduksi menjadi hubungan tegas yang formal. Jika hubungan ambigu menjadi formal maka tiga dimensi itu runtuh menjadi dimensi universal belaka. Justru ambiguitas menuntut manusia untuk melakukan interpretasi tanpa henti.
19.2 Penerapan Rasionalitas di Ruang Digital
Mari kita berlatih menerapkan rasionalitas berdimensi tiga dengan contoh kasus. Di media social tersebar beberapa kabar berikut untuk kita respon secara rasional dan empatik.
(A): “Karena 2 + 1 > 2 maka A + 1 > A”.
(B): “Pertumbuhan ekonomi 9% akan menyelesaikan masalah pengangguran.”
(C): “Investasi emas batangan tidak akan pernah rugi.”
Pernyataan (A) tampak rasional secara universal bila A + 1 maka hasilnya akan lebih besar dari A semula. Kita bisa mengambil banyak contoh: 2 + 1 = 3; atau 20 + 1 = 21; atau 100 + 1 = 101. Hasil akhir selalu lebih besar dari A semula. Bagaimana dari dimensi ideal dan eksistensial?
Apa yang dimaksud dengan A? Jika A adalah bilangan asli maka benar hasilnya menjadi lebih besar ketika ditambah 1. Tetapi bila A = N yaitu bilangan asli terbesar maka N + 1 = N; hasilnya tetap sama besar; atau tetap sama besar kardinalitasnya.
Jika A adalah kekayaan Anda di rekening tabungan senilai 20 juta rupiah kemudian ditambah 1 peser rupiah maka penambahan 1 peser rupiah sama sekali tidak punya arti. Ataukah, secara eksistensial, penambahan bermakna kenaikan jabatan? Ketika seseorang naik pangkat maka pangkat yang baru lebih baik dari pangkat yang lama. Apakah penambahan bermakna penambahan tanggung jawab? Ketika semula punya 1 istri, seorang suami hidup bahagia. Kemudian bertambah menjadi 2 istri, apakah suami makin bahagia? Atau suami makin terbebani?
Lebih rumit lagi kasus penjudi online (judol). Taruhan 2 kali, dia menang. Terpikir bila taruhan judol 1 kali lagi maka akan menang lebih besar. Taruhan ke 3, dia kalah. Barangkai hanya karena nasib buruk. Dia penasaran menambah taruhan lagi dan lagi. Terjadilah dia terjebak dalam kecanduan (adiksi) judol.
Singkatnya, secara universal, penambahan seakan-akan bermakna bertambah lebih baik karena lebih besar. Secara ideal dan eksistensial, kita perlu lebih jauh dan lebih mendalam berpikir rasional seperti di atas. Ketika kita membaca kabar di media social tentang suatu “penambahan” maka kita perlu mempertimbangkan rasionalitas universal, ideal, dan eksistensial. Kemudian kita menemaninya dengan sikap empati. Tarian empati bersama rasionalitas dunia digital inilah yang sedang kita butuhkan.
Kasus (B) tentang pertumbuhan ekonomi 9% jelas bukan sekadar klaim universal matematika. Kita secara spontan, umumnya, langsung bertanya siapa yang mengatakan itu? Seorang pejabat. Dari mana sumber beritanya? Dari beragam media nasional; lebih dari 5 media nasional yang terpercaya memberitakan itu. Secara ideal, kita yakin bahwa berita itu sah atau bukan hoaks. Kemudian, kita berpikir apakah isi berita itu sendiri valid secara rasional?
Secara universal, pertumbuhan 9% adalah sangat bagus dan wajar bila akan berhasil menyelesaikan masalah pengangguran. Bagaimana secara eksistensial konkret?
Mari kita cermati beberapa berita sebagai pembanding. “Berdasarkan proyeksi OECD, pertumbuhan Amerika Serikat akan melemah ke 1,8 persen pada 2025 dan 1,5 persen pada 2026 akibat dampak tarif, melambatnya imigrasi bersih, serta pemangkasan tenaga kerja federal.
China diproyeksikan tumbuh 4,9 persen pada 2025 dan melambat ke 4,4 persen pada 2026, seiring meredanya efek front-loading, mulai berlaku tarif, dan berkurangnya dukungan fiskal.
Sementara itu, Indonesia diperkirakan tumbuh 4,9 persen pada 2025 dan tetap 4,9 persen pada 2026. Proyeksi ini didukung rebound investasi yang memberi dorongan jangka pendek.” [45]
OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5%. Sementara, pejabat kita, dengan yakin akan mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 7% misal 8% atau sampai 9%. Kemudian, keyakinan akan pertumbuhan ekonomi itu bergulir menjadi suatu narasi yang indah. Salah satunya, akan berhasil mengurangi pengangguran, membuka banyak lapangan kerja, dan mencegah demonstrasi massal.
“Tingkat pertumbuhan umumnya dihitung sebagai laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil, laju pertumbuhan PDB riil per kapita, atau pertumbuhan pendapatan nasional bruto (PNB) per kapita.” [46]
Sayangnya, tingkat pertumbuhan diukur berdasar PDB. Meski ditambahkan kata riil menjadi PDB riil tetapi PDB dihitung secara total seluruh Negara atau sebagai rata-rata. Akibatnya, PDB tidak berhasil memotret situasi konkret pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam analisis rasionalitas eksistensial, pertumbuhan ekonomi tidak menjamin akan menyelesaikan masalah pengangguran mau pun masalah kesulitan ekonomi Indonesia.
Ilustrasi ekstrem: 10% orang terkaya di suatu Negara menyumbang kenaikan PDB 2 kali lipat dari tahun sebelumnya bisa jadi sudah berhasil menjadikan pertumbuhan ekonomi 9%. Karena porsi kelas orang terkaya adalah amat besar terhadap PDB. Sementara, kelas menengah dan kelas miskin bisa saja tidak mengalami pertumbuhan ekonomi sama sekali; atau justru mengalami penurunan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi, dari analisis di atas, bisa valid secara rasionalitas universal dan ideal tetapi tidak mencukupi untuk analisis eksistensial. Agar valid secara eksistensial, kita perlu melengkapi dengan kajian konkret misal: indeks Gini, kemiskinan ekstrem, dan mobilitas sosial. Dengan demikian, kita bisa memberi respon yang memadai terhadap kabar (B) tentang pertumbuhan ekonomi dan bersikap empati.
Lanjut ke berita (C) tentang investasi emas batangan tidak pernah rugi. Harga emas batangan atau logam mulia berfluktuasi seiring waktu. Bila kita memperhatikan rentang waktu cukup lama, misal 1 tahun atau 3 tahun, maka kita bisa menemukan harga logam mulia selalu naik; dengan kata lain, investasi emas batangan tidak pernah rugi karena selalu naik harganya.
Analisis rasional seperti di atas memang sangat menggoda. Analisis yang sama bisa diterapkan terhadap uang emas, uang perak, atau uang nyata lainnya atau bahkan uang kripto semacam bitcoin; dianggap selalu naik nilainya. Makin menggoda karena analisis rasional di atas didasarkan pada data historis sehingga ada kesan valid secara rasionalitas eksistensial. Bila memang valid selalu menguntungkan maka mengapa tidak semua orang investasi logam mulia? Akan selesai semua problem ekonomi? Tampak meragukan?
Fichte, pemikir abad 18 – 19 dari Jerman, pernah mengkritik perdagangan bebas yang hanya mengejar keuntungan investasi. Pada awal abad 19, cerita Fichte versi sederhana, tiga kapal Belanda berisi penuh rempah-rempah berlayar dari Indonesia menuju Eropa. Untuk kemudahan, anggap masing-masing kapal bernilai 1 trilyun rupiah harga rempah-rempahnya. Negara-negara Eropa semangat menunggu kedatangan kapal-kapal Belanda itu. Inggris, Prancis, Jerman, Itali, dan lain-lain siap membeli rempah-rempah itu bila nanti tiba di Eropa; total rempah-rempah tiga kapal senilai 3 trilyun. Belanda berpikir keras untuk mendapat keuntungan lebih besar. Satu buah kapal, muatan rempah-rempahnya mereka buang ke laut. Sisa dua kapal maka tidak cukup untuk kebutuhan Eropa. Negara-negara Eropa berebut untuk mendapatkan sisa rempah yang masih tersedia. Belanda menaikkan harga karena rempah menjadi langka. Pembeli tetap berebut. Satu kapal senilai 2 trilyun rupiah kali dua kapal; total 4 trilyun rupiah. Belanda memperoleh untung lebih besar, dalam investasi dan dagang, dengan cara membuang rempah yang satu kapal itu.
Bagaimana dengan investasi logam mulia atau emas batangan? Dengan membatasi persediaan logam mulia maka harga logam mulia bisa melonjak tinggi. Proses pembatasan bisa saja terang-terangan, misal dengan diumumkannya telah habis cadangan emas di bumi; atau bisa cara sembunyi-sembunyi dengan manipulasi tingkat tinggi.
Analisis rasional universal kabar (C) bahwa investasi logam mulia tidak pernah rugi adalah valid karena harga emas memang makin meninggi. Analisis ideal juga setuju bahwa investasi logam mulia / emas batangan adalah menguntungkan. Analisis eksistensial mengingatkan: apakah itu semua adalah keuntungan yang nyata? Bayangkan, 3 tahun lalu, Anda membeli logam mulia harga 3 juta rupiah. Kemudian, Anda jual hari ini dengan harga naik menjadi 9 juta rupiah. Apakah secara nyata Anda untung?
Tidak untung; secara nyata. Karena uang 9 juta itu bila Anda belikan logam mulia lagi maka akan mendapat logam mulia yang sama. Jadi angka 9 juta rupiah itu merujuk kepada logam mulia yang sama. Anda tidak untung; bahkan Anda rugi biaya transaksi, pajak, dan biaya jasa perdagangan. Dengan kesadaran akan rasionalitas eksistensial ini, kita berharap bisa merespon beragam kabar di media sosial, yang diperkuat AI, dengan lebih bijak dan diiringi sikap empati.
Terasa berat sekali jika kita harus mempertimbangkan rasionalitas universal, ideal, dan eksistensial di media sosial. Apakah lebih baik kita menutup akun media sosial saja? Barangkali Lanier akan setuju dengan ide itu. Rogers mengingatkan bahwa media sosial membutuhkan teladan-teladan empati. Jika orang-orang yang berempati meninggalkan media sosial maka teladan apa yang tersisa? Han menunjukkan bahwa problem media sosial adalah krisis narasi. Rasionalitas tiga dimensi (universal, ideal, eksistensial) adalah narasi itu sendiri. Kita perlu menuturkan rasionalitas di ruang digital mau pun ruang fisikal sebagai narasi.
19.3 Rasionalitas dalam Histori
Rasionalitas berperan penting dalam setiap sejarah. Tetapi, kita sulit sekali memaknai rasionalitas dalam setiap sejarah karena makna rasionalitas bisa berbeda tajam; sesuai konteks sejarah masing-masing. Secara umum, rasionalitas berpegang kepada prinsip-prinsip logika yang sudah matang sejak jaman Aristoteles (384 – 322 SM). Tiga prinsip logika paling utama adalah: (i) prinsip identitas; B = B; pernyataan benar adalah benar; (ii) prinsip non-kontradiksi; tidak mungkin suatu pernyataan benar dan sekaligus salah; (iii) prinsip tidak ada nilai tengah; law of excluded the middle; suatu pernyataan pasti salah satu antara benar atau salah.
Rasionalitas berkembang ke berbagai penjuru dunia. Salah satunya berkembang di tangan Ibnu Sina – Avicena (980 – 1037). Ibnu Sina melanjutkan logika Aristoteles dan mengembangkan rasionalitas teoritis serta rasionalitas praktis. Ibnu Rusyd – Averrous (1126 – 1198) berhasil membangun rasionalitas yang kokoh dan harmonis antara ilmu, filsafat, dan spiritualitas agama secara luas.
Problem membaca sejarah rasionalitas menjadi sulit bagi kita, saat ini, karena terjadi perkembangan rasionalitas yang menghentak di tangan Descartes (1596 – 1650) dengan formula dualism antara materi dan jiwa. Umumnya, rasionalitas dipandang sebagai kajian logis tentang jiwa yang terpisah dari materi; atau rasionalitas terbebas dari alam materi. Dampaknya, kita cenderung membaca rasionalitas terbatas sebagai rasionalitas universal. Sementara, rasionalitas ideal dan eksistensial, sedikit atau banyak, ditinggalkan. Akan tetapi kajian kita menunjukkan bahwa kita membutuhkan narasi rasionalitas meliputi tiga dimensi: universal, ideal, dan eksistensial.
Immanuel Kant (1724 – 1804) menjadi titik temu beragam kajian termasuk kajian rasionalitas sebagai tokoh utama era pencerahan. Kant mengklaim bahwa logika sudah berkembang sempurna sejak era Aristoteles. Kant bermaksud hanya menyusun ulang agar lebih sistematis: (i) logika umum murni; logika formal; pure general logic; dan (ii) logika transcendental.
“Logika formal bersifat umum sejauh ia mengabaikan isi pemikiran kita serta perbedaan antara objek-objek. Logika ini hanya berurusan dengan bentuk serta kaidah-kaidah umum dari proses berpikir, dan karenanya hanya dapat berfungsi sebagai tolok ukur untuk menilai ketepatan suatu pemikiran. Logika formal juga bersifat murni karena tidak memedulikan kondisi-kondisi empiris psikologis yang menyertai proses berpikir manusia dan yang dapat memengaruhi pemikiran tersebut.” [47]
Selanjutnya, sangat menarik, bahwa Kant memberi peran penting terhadap penilaian (judgement): “Menurut Kant, aspek-aspek dan jenis-jenis kesatuan representasi dalam suatu penilaian dapat dijelaskan secara menyeluruh dan sistematis, serta dapat diklasifikasikan ke dalam empat “judul” utama, yaitu: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas.”
Tentang penilaian untuk menarik kesimpulan, Kant membedakan dua macam: “(a) Melalui analisis formal terhadap suatu penilaian yang telah diberikan (dasar atau premis), tanpa bantuan penilaian tambahan apa pun—penarikan kesimpulan semacam ini, yang secara tradisional dikenal sebagai konsekuensi langsung (immediate consequence), oleh Kant disebut sebagai penarikan kesimpulan dari pemahaman (Verstandesschluß, B 360).
(b) Melalui subsumsi di bawah suatu penilaian yang telah diterima sebelumnya (premis mayor) dengan bantuan suatu penilaian perantara (premis tambahan atau minor)—ini merupakan penarikan kesimpulan dari akal budi (Vernunftschluß), yaitu suatu silogisme (B 360; bandingkan, misalnya, Refl. XVI, 3195, 3196, 3198, 3201).”
Satu lagi poin penting dari Kant tentang logika formal: “Kesatuan sintetis apersepsi merupakan titik tertinggi yang harus dijadikan landasan bagi seluruh penggunaan akal budi, bahkan bagi keseluruhan logika, dan sesudahnya, filsafat transendental; sesungguhnya, daya ini tidak lain adalah akal budi itu sendiri.” [47] Apersepsi merupakan titik tertinggi dari rasionalitas yang merupakan titik tertinggi dari akal budi. Apersepsi adalah kesadaran diri yang menyertai semua representasi atau pengalaman kita. AI (artificial intelligence) tidak menunjukkan apersepsi. Dengan demikian, AI gagal untuk mengembangkan logika formal. Selaras dengan istilah kita, pada analisis akhir, AI gagal mengembangkan rasionalitas universal.
Selanjutnya, kita akan membahas (ii) logika transcendental; berbeda dengan yang baru kita bahas di atas adalah (i) logika formal.
Logika transendental Kant merupakan suatu sistem prinsip-prinsip a priori yang mengatur pengalaman kita terhadap objek-objek, dan berbeda dari logika umum yang hanya mempelajari bentuk pemikiran semata. Logika ini berfokus pada isi dari pengetahuan dengan menelaah kondisi-kondisi a priori dalam pikiran yang diperlukan bagi setiap kemungkinan pengalaman tentang objek. Kondisi-kondisi tersebut mencakup bentuk-bentuk murni intuisi (ruang dan waktu) sebagaimana dijelaskan dalam Aestetika Transendental, serta kategori-kategori akal budi yang menata dan memberikan makna pada data indrawi kita.
Secara rasional, agar seseorang mampu mengenali suatu obyek melalui pengalaman maka dia membutuhkan intuisi murni (ruang dan waktu) dan 12 jenis kategori yang bersifat a priori yaitu universal dan abstrak. Manusia memiliki intuisi dan kategori sehingga berhasil mengalami mengenali suatu obyek. Sementara AI tidak menunjukkan memiliki intuisi mau pun kategori sehingga AI gagal mengembangkan logika transcendental; AI gagal mengalami untuk mengenali obyek.
Logika transcendental versi Kant di atas tampak bersifat personal; dalam arti, seseorang mampu memahami suatu obyek secara personal. Kelak di abad 20, Habermas (lahir 1929) mengembangkan logika transcendental mirip Kant tetapi melalui proses tindakan komunikasi dalam sistem sosial. Jadi pemahaman rasional tercipta melalui interaksi sistem sosial. Pandangan ini selaras dengan konsep rasionalitas ideal yang kita bahas.
Generasi pasca Kant mengembangkan konsep rasionalitas lebih jauh lagi. Teori Kant tentang logika formal dan logika transcendental bukannya menyelesaikan problem logika tetapi justru menumbuhkan lebih banyak perkembangan logika baru. Di antaranya, post-Kantian dan neo-Kantian.
“Pasca-Kantian” merujuk pada filsafat dan para filsuf idealis yang mengikuti Immanuel Kant dan mengembangkan ide-idenya, seperti Fichte (1762 – 1814), Schelling (1775 – 1854), dan Hegel (1770 – 1831). Istilah ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan seluruh filsafat Barat yang dipengaruhi oleh Kant, terutama idealisme transendentalnya, serta perdebatan kontemporer dalam bidang etika, epistemologi, dan filsafat pemikiran yang terkait dengan karya Kant.
Pasca-Kantian mengembangkan logika transcendental lebih jauh dari ide awal Kant. Mengapa manusia memiliki intuisi? Mengapa memiliki kategori? Atau, siapakah aku? Perkembangan pemikiran pasca-Kantian dikenal sebagai sangat rumit dan spekulatif. Untuk kajian rasionalitas kita, kita bisa focus bahwa pasca-Kantian mengajukan dialektika sebagai solusi puncak rasionalitas secara ideal. Setiap realitas atau pernyataan adalah tesis. Pernyataan tesis ini selalu dilawan oleh anti-tesis. Keduanya, tesis dan anti-tesis, berdialektika menghasilkan sintesis. Pada gilirannya, sintesis ini adalah tesis versi baru. Sehingga terjadi dialektika lagi tanpa henti.
Neo-Kantian mengembangkan logika transcendental justru dengan menolak dialektika. Neo-Kantian berbeda tajam dengan pasca-Kantian. “Dalam filsafat modern akhir, neo-Kantianisme (Jerman: Neukantianismus) merupakan kebangkitan kembali filsafat abad ke-18 karya Immanuel Kant. Para penganut neo-Kantianisme berupaya mengembangkan dan memperjelas teori-teori Kant, terutama konsep benda pada dirinya sendiri (thing-in-itself) serta filsafat moralnya. Sekolah-sekolah neo-Kantian cenderung menekankan pembacaan Kant secara ilmiah, sering kali mengurangi peran intuisi demi konsep-konsep. Namun, aspek etis dari pemikiran neo-Kantian kerap menjadikan mereka terkait dengan lingkup sosialisme.” [48]
Rasionalitas post-Kantian selaras dengan rasionalitas ideal. Sedangkan rasionalitas neo-Kantian lebih selaras dengan rasionalitas universal.
Rasionalitas universal berkembang lebih luas di abad 20 dan abad 21, dengan sering disebut, sebagai filsafat analitik; dengan tokoh awal Frege (1848 – 1925) dan Russell (1872 – 1970). Frege mengembangkan logika formal dengan mengembangkan simbol-simbol logika yang presisi; sampai saat ini, simbol-simbol ini terus dipakai dan makin berkembang. Frege menolak logika transcendental. Sementara, generasi terbaru dari filsafat analitik tampak tidak tertarik membahas logika transcendental dan lebih focus ke logika formal.
Dari arah berbeda terjadi percabangan sejarah pemikiran. “Pada 17 Maret hingga 6 April 1929, kota Davos, Swiss, menjadi tuan rumah Kursus Universitas Internasional yang bertujuan mempertemukan para filsuf terbaik di Eropa. Pembicara utama sekaligus pemimpin diskusi terkenal tersebut adalah Martin Heidegger, penulis Being and Time, dan Ernst Cassirer, penulis Philosophy of Symbolic Forms.
Kontribusi Heidegger terletak pada interpretasinya terhadap Kant, yang menurutnya terutama berfokus pada upaya mendasarkan spekulasi metafisik melalui apa yang disebutnya sebagai imajinasi transendental melalui akal manusia yang terbatas secara temporal. Cassirer menanggapi dengan menunjukkan bahwa formulasi Heidegger mengenai imajinasi tersebut, secara tidak semestinya, menerima unsur non-rasional.
Meskipun menyetujui bahwa kemajuan filsafat Kant harus mengakui keterbatasan hidup manusia, sebagaimana yang dikemukakan Heidegger, Cassirer menekankan bahwa di luar itu filsafat harus tetap mempertahankan semangat penyelidikan kritis, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan alam, serta kejernihan argumentasi rasional yang menjadi ciri Kant sebagai filsuf besar, bukan sekadar visioner intuitif.” [49]
Kelak, Heidegger sukses dikenal sebagai pemikir besar aliran eksistensialisme yang dikembangkan lebih lanjut oleh Sartre, Marleau-Ponty, sampai Derrida. Sementara itu, Charles Taylor (lahir 1931) dan Michael Sandel (lahir 1953) mengembangkan konsep komunitarianisme; rasionalitas berkembang seiring dengan realitas eksistensi konkret suatu komunitas. Rasionalitas ini selaras dengan rasionalitas eksistensial yang kita bahas.
Sekilas rasionalitas dalam sejarah, yang kita bahas di atas, barangkali cukup untuk pengantar memahami rasionalitas dalam tiga dimensi: universal, ideal, dan eksistensial. Bagi yang berminat mendalami bisa merujuk ke berbagai sumber yang tersedia versi cetak mau pun digital. Pada analisis akhir, rasionalitas tiga dimensi akan selalu bergandeng tangan dengan sikap empati. Dunia digital menantang umat manusia untuk menari serasi bersama rasionalitas dan empati.
Buku ini bukan sekadar catatan teori, melainkan kelanjutan dari kemitraan panjang para penulis yang unik. Indra Utoyo, pelopor program transformasi digital di Telkom hingga BRI, bersinergi dengan Dimitri Mahayana, pemikir visioner teknologi informasi dari ITB, dan diperkaya analisis mendalam oleh Agus Nggermanto, pemikir logika futuristik. Sinergi ini membuahkan buku sebagai sebuah Manifesto — sebuah peta navigasi agar AI (kecerdasan artifisial) tetap menjadi pelayan bagi kemajuan manusia, bukan tuan yang menciptakan ketergantungan yang melumpuhkan manusia.
Perjalanan buku ini dimulai dengan Prolog, yang membedah realitas pahit tentang matinya model bisnis lama (Business as Usual) dampak kemajuan AI; berlanjut mengkaji titik balik situasi, dilema dan disrupsi, sampai strategi transformasi; dan ditutup dengan Epilog, sebuah seruan moral bagi kita semua untuk memilih masa depan yang diinginkan—sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari kecerdasan mesin AI haruslah untuk kemuliaan martabat manusia. Sepanjang perjalanan, kita akan diajak mengarungi samudera AI yang penuh badai gelombang. Optmisme, skeptisme, dan kewaspadaan nurani akan selalu menemani.
Masa depan yang bermakna, bagi manusia dan semesta, tidak lahir dari kepatuhan pada sistem atau algoritma, melainkan dari kesediaan manusia untuk tetap berpikir dan bertanggung jawab. Karena itu mari kita pastikan bahwa di era kecerdasan mesin ini, nurani dan martabat kemanusiaanlah yang tetap memegang kemudi.
TENTANG PENULIS
Indra Utoyo (lahir 17 Pebruari 1962) merupakan sosok praktisi senior yang berhasil membawa perusahaan-perusahan besar sukses transformasi digital; dari perusahaan telekomunikasi sampai perusahaan finansial skala nasional. Indra menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung (1985), pendidikan master di bidang Communication & Signal Processing di Imperial College London, UK (1995), dan meraih dengan gelar Doktor di bidang Manajemen Strategik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia pada tahun 2019. Perpaduan teknis dan strategis, yang ia miliki, ini membentuk kepemimpinannya yang tajam, adaptif, dan visioner di era digital. Di mana ia terakhir menjabat sebagai Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk. hingga Juli 2025.
Sebelum menakhodai bank digital tersebut, Indra menjabat sebagai Direktur Digital dan TI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (2017-2022). Di BRI, ia berhasil melakukan transformasi digital serta memodernisasi infrastruktur teknologi menjadi sistem yang tangguh dan aman, serta membangun ekosistem Open Banking yang inklusif. Dedikasinya terhadap dunia teknologi berakar kuat sejak masa pengabdiannya di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk selama 31 tahun. Di antaranya sebagai Direktur Digital & Strategic Portfolio (2012-2017) serta Direktur IT Solution & Supply (2007-2012), ia memprakarsai lahirnya ekosistem startup nasional melalui program INDIGO Creative Nation dan pembangunan Digital Valley di berbagai kota, menegaskan perannya sebagai motor inovasi, penggerak transformasi, dan pembangun jembatan antara teknologi, bisnis, dan masa depan ekonomi digital Indonesia.
Keahliannya ini diakui secara luas melalui berbagai penghargaan prestisius, seperti Banker of the Year 2024 dari Infobank, Digital Lifetime Achievement pada tahun 2022 dari iTech, IDC Indonesia CIO of the Year 2021, hingga penghargaan Satya Lencana Wira Karya (2007) dari Presiden Republik Indonesia. Kontribusinya tidak hanya terbatas pada dunia korporasi; ia juga aktif dalam berbagai organisasi profesi dan kebijakan publik sebagai anggota Dewan TIK Nasional (WANTIKNAS) serta pendiri KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri AI Indonesia). Sebagai seorang pemikir dan praktisi, Indra cukup produktif dalam membagikan ilmunya melalui berbagai publikasi, termasuk di antaranya Making the Giant Dance (2023), yang mendokumentasikan transformasi digital di BRI, Hybrid Company Model (2020), serta buku Silicon Valley Mindset (2016).
Dimitri Mahayana adalah penulis yang aktif dalam beberapa dekade terakhir. Mahayana, lahir 9 Agustus 1968, aktif sebagai dosen di ITB dan mengembangkan riset dalam bidang data driven control and intelligence system, AI, data sains, dan teknologi di berbagai bidang. Sosok yang satu ini memang lekat dengan dunia teknologi informasi (TI), AI, data sains, probability & control, serta filsafat sains. Beliau adalah founder PT Sharing Vision Indonesia, salah satu penyedia layanan AI, big data, open source, serta talenta digital dan IT consulting terkemuka di Indonesia yang sudah meraih banyak penghargaan.
Sampai sekarang Mahayana aktif mengajarkan Filsafat Sains, Probabilitas dan Statistika, Pengantar AI for Enterprise, Sinyal dan Sistem, Kendali Optimal dan Robust, serta Sistem Kendali Nonlinier di ITB. Mahayana meraih beragam penghargaan di antaranya: Satyalancana karya Satya 30 tahun Pengabdian, Pemenang INDIGO Digital Academic Award, Telkom-Warta Ekonomi 2010, dan telah menulis 60 lebih buku, puluhan publikasi, artikel di media nasional, jurnal Scopus Q1, dan konferensi. Di antara tulisan-tulisan terakhirnya yang menarik adalah Filsafat Sains: Dari Newton, Einstein hingga Sains Data, 19 Narasi Besar Akal Imitasi (Bersama Agus Ngermanto), Apakah Silikon Bisa Menangis? (Bersama Agus Ngermanto, Budi Rahardjo, Budi Sulistyo, dan Widyawardana Adiprawita), dan Probabilitas et Realitas (Bersama Agus Nggermanto).
Agus Nggermanto dikenal sebagai Paman APIQ di media sosial, adalah pendidik dan penulis yang produktif. Awal tahun 2000-an, dia menulis buku Kecerdasan Quantum yang menjadi best seller di Indonesia. Kemudian, menulis puluhan buku matematika kreatif. Di YouTube, dia sudah berbagi lebih dari 7.000 video belajar matematika asyik dan kajian filosofis.
Agus menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tulungagung, Jawa Timur, dan melanjutkan kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia mengajar beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan kreativitas, inovasi, filsafat sains, teknologi, dan informasi di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI ITB), Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM ITB), dan STT Telkom (sekarang Telkom University). Sejak pandemi, dia menulis buku trilogi futuristik: (1) Logika Futuristik (terbit 2023); (2) Pintu Anugerah Futuristik (terbit 2024); (3) Visi Futuristik (terbit 2025). Bersama rekan-rekan di ITB menulis beberapa buku menarik di antaranya: 19 Narasi Besar Akal Imitasi (Bersama Dimitri Mahayana);
Politik adalah sangat penting. Sayangnya, Donald Trump gagal dalam politik. Serangan Trump, melalui kerja sama US-Israel, terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menjadi tanda kegagalan total politik Trump. Lebih gagal lagi, sampai akhir Maret 26 ini, Trump hanya berteriak agar Iran menyerah; atau akan diserang lebih besar lagi.
Adakah solusi bagi kegagalan politik Trump? Kegagalan Trump adalah kegagalan umat manusia; termasuk kegagalan kita; termasuk kegagalan Anda yang sedang membaca tulisan ini. Ya, benar, kita ikut berdosa dalam kadar tertentu karena mendukung politik Trump yang biadab itu. Kita membeli produk Amerika berupa kopi, makanan, baju, sepatu, teknologi dan lain-lain. Anda, dan saya, adalah pengguna internet yang keuntungan dari teknologi internet ini digunakan oleh Trump untuk menyerang Iran, menyerang Palestina, menyerang Venezuela, dan rencana akan menyerang Kuba. Kita memang terpercik dosa itu.
Solusi yang mudah terbayang adalah menyerang balik Trump misal dengan kekuatan militer yang lebih besar. Apakah itu solusi yang baik? Solusi yang lebih baik adalah memakzulkan Trump (impeachment). Warga Amerika perlu protes turun ke jalan mendukung pemakzulan (pelengseran); lanjut proses di House dan Konggres. Sementara warga dunia mendukung pemakzulan dengan memberi kritik keras terhadap Trump melalui media sosial dan beragam media lainnya.
1. Perang Dunia III 2. Solusi Aturan Hukum 3. Melampaui Aturan Hukum 4. Diskusi
Risiko dari eskalasi serangan militer adalah mengarah pada perang dunia ketiga: sangat mengerikan. Berbagai pihak telah menyerukan de-eskalasi yaitu menurunkan ketegangan militer.
1. Perang Dunia III
Cina adalah negara adidaya dengan kekuatan senjata nuklir, AI (artificial intelligence), dan hak veto di PBB. Rusia juga negara adidaya dunia yang memiliki hak veto. Bila Cina dan Rusia bergabung Iran untuk melawan Amerika secara militer maka akan pecah semacam perang dunia 3. Tentu saja, Amerika bersama NATO akan menguatkan barisan sekutu mereka.
Pihak mana yang akan menang perang antara CRI (Cina, Rusia, Iran) melawan Sekutu Amerika? Indonesia akan bergabung ke CRI atau Sekutu? Karena Indonesia sudah bergabung BoP (Board of Peace, Dewan Perdamaian) maka Indonesia lebih dekat dengan Sekutu; tentu saja situasi bisa berubah.
a) CRI Menang Perang
Skenario pertama adalah CRI (Cina Rusia Iran) menang perang lawan Sekutu Amerika. Dengan demikian, CRI berhasil mengalahkan Trump. CRI adalah solusi bagi kegagalan politik Trump.
b) CRI Kalah Perang
Bisa saja, Sekutu Amerika justru menang dan CRI yang kalah. Bila Sekutu menang maka kekuatan Trump makin dominan menguasai dunia. Dalam skenario ini, CRI gagal menjadi solusi.
c) Perang Panjang Tak Ada yang Menang
Bisa jadi perang tanpa akhir; tanpa pemenang; semua pihak sama-sama mengalami kerugian besar; rugi jiwa, ekonomi, politik, dan lain-lain. CRI gagal mejadi solusi.
Secara umum, perang memang gagal menjadi solusi.
Andai CRI menang perang (seperti skenario a) maka tetap saja itu bukan solusi terhadap kegagalan politik Trump. Karena CRI hanya menggantikan posisi Trump sebagai adidaya dunia yang semena-mena; secara nyata atau secara prinsipnya; tidak ada jaminan CRI lebih baik dari Trump. Kita membutuhkan solusi yang lebih baik dari sekadar solusi militer itu.
2. Solusi Aturan Hukum
Menghormati aturan hukum adalah solusi terbaik; tetapi sangat sulit. Kegagalan utama politik Trump adalah ia gagal menghormati aturan hukum. Menghormati aturan hukum itu berbeda dengan taat kepada hukum; dan lebih beda lagi dengan melanggar hukum.
Setiap manusia perlu menghormati aturan hukum; lebih-lebih mereka yang menjadi pemimpin negara atau pemimpin dunia. Gagal menghormati hukum, mereka terjerumus menjadi bagian mafia aturan hukum.
Trump gagal menghormati aturan hukum internasional dan gagal pula menghormati aturan hukum dalam negeri mereka sendiri. Solusi terhadap kegagalan Trump ini adalah dengan menegakkan aturan hukum itu sendiri.
(a) Rakyat Amerika Memakzulkan Trump
Melalui aturan hukum dalam negeri Amerika, warga dapat memakzulkan Trump dari kursi presiden Amerika. Aturan hukum menyediakan tata cara pemakzulan Trump melalui House, Konggres, dan lain-lain.
Ketika Trump lengser dari kursi presiden maka kegagalan politik Trump tidak lagi berpengaruh ke Iran, Venezuela, Kuba, dan lain-lain. Presiden Amerika yang baru, pengganti Trump, belajar dari kegagalan Trump. Solusi sesuai aturan hukum ini tampak mudah meski akan menghadapi beragam kesulitan.
(b) Boikot oleh Warga Dunia
Sebagai warga dunia, kita semua bisa melakukan boikot terhadap Trump; boikot terhadap produk Sekutu Amerika; boikot terhadap teknologi AI, internet, media sosial; boikot terhadap apa pun yang menguntungkan Trump. Boikot adalah hak setiap warga dunia. Dengan boikot, Trump lumpuh dan kegagalan politik Trump tidak berdampak lagi.
(c) Warga Dunia Mendorong Pemakzulan
Di berbagai belahan dunia, warga mendorong agar Amerika memakzulkan Trump; melengserkan Trump dari kursi presiden. Dorongan pemakzulan ini bisa berupa protes di jalanan, kajian seminar, tulisan di media, dan lain-lain.
Solusi sesuai aturan hukum tampak indah tetapi tidak selalu mudah.
3. Melampaui Aturan Hukum
Aturan hukum bisa buntu karena Trump bisa memainkan aturan hukum; baik hukum internasional mau pun hukum lokal federal. Solusi melampaui aturan hukum menjadi pilihan.
Batman adalah ilustrasi seorang pahlawan bertopeng yang menyelesaikan masalah dengan melampaui aturan hukum. Raden Syahid (Sunan Kalijaga waktu muda) menyelesaikan problem kemiskinan dengan melampaui aturan hukum. Syahid memakai topeng mencuri harta orang-orang kaya kemudian membaginya kepada fakir miskin. Sosok Nabi Khidir mengajari Nabi Musa untuk melubangi perahu warga miskin; ini melampaui aturan hukum. Bahkan Khidir membunuh seorang bocah di depan Musa; yang membuat Musa sulit memahami.
Batman bisa saja datang kepada Trump dengan memberi ancaman kepada Trump kecuali Trump mengubah perilaku politik dan kekuasaannya. Bila Trump tidak mengubah perilaku jadi lebih baik maka Batman bisa bertindak lebih keras kepada Trump. Selesai sudah masalah dengan Trump.
Tetapi siapa itu Batman? Tentu saja tidak ada yang tahu siapa Batman karena ia terlindung oleh topeng.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Trump adalah penyakit kemanusiaan yang perlu diobati atau amputasi.
Solusi paling mudah dibayangkan adalah membalas Trump dengan serangan militer yang lebih kuat. Tetapi solusi lebih baik adalah kembali menghormati aturan hukum. Pendekatan diplomasi merupakan gabungan kekuatan militer dan menghormati aturan hukum.
Solusi melampaui aturan hukum tampak sulit diterima pandangan umum meski tampak seru membayangkan Batman bertarung melawan Trump. Batman akan menang lawan Trump; karena hanya Joker yang bisa jadi lawan sepadan.
Solusi Demokrasi
Demokrasi menjadi solusi. Tetapi demokrasi sudah kehilangan gigi sehingga kehilangan kemampuan untuk beraksi. Demokrasi direduksi menjadi hanya angka pemilu. Trump menang pemilu, secara demokratis, kemudian ia bebas melakukan apa saja sebagai presiden. Tidakkah itu absurd? Jelas absurd!
“Demokrasi harus menjawab kita!” “Democracy must answer to us!”
Demokrasi dan kita harus saling menjawab. Tidak sah menjawab: karena suara terbanyak. Jawaban demokrasi harus mencerminkan “kemanusiaan yang adil dan beradab.”
a) Mengapa Trump Menyerang Iran?
Karena Trump adalah presiden yang terpilih secara demokrasi: jawaban tidak sah. Karena Iran menyerang Amerika; tidak, Iran tidak menyerang Amerika; jawaban juga tidak sah.
Karena Trump tidak bisa memberi jawaban yang mencerminkan “kemanusiaan yang adil dan beradab” maka Trump dipersilakan mundur demi demokrasi.
b) Konggres tidak Bisa Memakzulkan
House dan Konggres butuh proses panjang untuk melengserkan Trump; itu pun bisa gagal di setiap langkahnya. Protes, unjuk rasa, demonstrasi, dan lain-lain bisa mendorong pemakzulan.
c) Solidaritas
Demokrasi menuntut warga untuk solider, setia kawan, kepada semua warga. Kita perlu solider kepada warga negara, kepada tetangga, kepada teman, kepada warga Palestina, kepada warga Iran, dan kepada semua orang lemah.
Dunia berduka menumpahkan air mata dan darah. Pagi-pagi 28 Februari, Isra3ll-US mem-bom sekolah putri di Teheran menewaskan tidak kurang 165 siswa, pendidik, dan warga sekitar; menyebabkan pemimpin tertinggi Iran mati syahid di usia 86 tahun Ayatullah Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan misil balistik dan drone sehingga terjadi saling serang sampai 8 Maret 2026 ini; mungkin masih berlanjut saling serang dalam beberapa pekan ini.
Tidak manusiawi dan tidak ada justifikasi bagi Hahu dan Trump untuk menyerang negara berdaulat Iran. Hahu dan Trump memang biadab. Mereka adalah penyakit dunia ini; perlu diobati atau amputasi.
Untuk kemudahan analisis kita bisa membuat matrik manusiawi vs justifikasi: (00) tidak manusiawi dan tidak ada justifikasi; (01) tidak manusiawi tapi ada justifikasi; (10) manusiawi tapi tidak ada justifikasi; (11) manusiawi dan justifikasi.
1. Kemanusiaan
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah dasar dari kemanusiaan. Tindakan manusiawi adalah tindakan yang baik. Anda menolong fakir miskin adalah manusiawi. Orang yang membentak anak yatim adalah tidak manusiawi.
Anda mengobati orang sakit adalah manusiawi. Orang yang melukai orang lain adalah tidak manusiawi. Orang menge-bom sekolah adalah tidak manusiawi. Perilaku manusiawi adalah beradab; tidak manusiawi adalah biadab.
2. Justifikasi – Pembenaran
Justifikasi adalah pembenaran atau argumen yang bisa diterima akal sehat. Anda makan nasi Padang nikmat adalah bisa dijustifikasi karena Anda sudah membelinya nasi Padang itu di warung sebelah. Orang diam-diam mencuri nasi Padang untuk dimakan adalah tidak bisa dijustifikasi; pencurian adalah tidak bisa dijustifikasi.
(11) manusiawi dan justifikasi
Anda bersedekah nasi Padang untuk tetangga yang miskin adalah manusiawi dan justifikasi. Manusiawi karena nasi Padang membantu fakir miskin dari derita kelaparan. Dijustifikasi karena Anda membeli nasi Padang itu menggunakan uang hasil kerja halal Anda.
Pengeboman oleh Isra3ll-US adalah tidak manusiawi dan tidak justifikasi.
(10) manusiawi tapi tidak justikasi
Raden Sahid dan Robinhood adalah contoh pahlawan manusiawi tapi tidak ada justifikasi. Sahid (Sunan Kalijaga muda) memakai topeng mencuri beras, bahan makanan, dan uang dari orang-orang kaya. Kemudian, ia membagikan beras itu kepada fakir miskin yang lebih membutuhkan.
Tindakan Sahid ini adalah manusiawi yaitu membantu fakir miskin. Tetapi caranya, mencuri dari orang kaya, adalah tidak bisa dijustifikasi secara aturan hukum.
Batman adalah pahlawan fiksi pembela kebenaran dan rela berkorban tetapi sering melanggar aturan hukum; karena, aturan hukum justru sering tidak mampu menangkap para penjahat; penjahat itu adalah mafia hukum yang memainkan hukum.
Dalam kitab suci, dikisahkan Nabi Khidir mengajari Nabi Musa. Khidir melakukan tindakan manusiawi yaitu menyelamatkan perahu nelayan lemah; dengan cara yang tidak bisa dijustifikasi yaitu dengan melubangi perahu itu sehingga cacat. Nabi Musa bertanya: apa justifikasi melubangi perahu nelayan lemah? Saat itu, tidak ada justifikasi.
(01) Tidak manusiawi tapi ada justifikasi
Apakah ada? Ada. Seorang nenek mengambil kayu bakar di hutan. Nenek itu manusiawi; sudah hidup 70 tahun lebih dan mengambil kayu bakar dari hutan warisan turun-temurun para leluhur. Tetapi jaman telah berubah; hutan itu kini dikuasai oleh korporasi raksasa. Nenek ditangkap oleh satpam korporasi lalu diajukan ke pengadilan. Berdasar aturan hukum, hakim memberi vonis kurungan penjara 2 tahun terhadap nenek itu.
Vonis penjara 2 tahun adalah bisa dijustifikasi secara hukum tetapi tidak manusiawi. Problem besar manusia di jaman sekarang adalah mereka mengandalkan justifikasi hukum formal belaka; sementara, sisi manusiawi sering dilupakan.
(00) tidak manusiawi dan tidak ada justifikasi
Jelas harus ditolak: tidak manusiawi dan tidak ada justifikasi. Serangan bom terhadap Iran oleh Trump dan Hahu adalah tidak manusiawi dan tidak ada justifikasi.
Tidak manusiawi karena serangan bom itu menewaskan ratusan orang yang tidak berdosa. Tidak ada justifikasi karena hukum internasional melarang serangan bom kepada negara berdaulat; Trump dan Hahu, mereka melanggar aturan hukum internasional.
3. Solusi
Apa solusi yang tersedia? Solusinya: Trump dan Hahu perlu diobati andai bisa. Kadang perlu amputasi di beberapa bagian.
Bagaimana menurut Anda?
Trump berjuang membangun opini untuk justifikasi; berusaha menggeser dari (00) tidak manusiawi dan tidak ada justifikasi agar menjadi (01) tidak manusiawi tetapi ada justifikasi. Andai berhasil, Trump tetap tidak manusiawi; sehingga tetap perlu ditolak. Barangkali justifikasi akan bertambah berupa dukungan dari negara sekutu mereka. Hanya saja, justifikasi tidak bisa mengubah yang biadab agar menjadi beradab.
Yang paling utama adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil dulu, beradab dulu, baru kemudian memikirkan justifikasi.
Mari kita coba memahami justifikasi oleh Trump dan Hahu. Mereka menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan ini tidak terbukti. Sehingga justifikasi Trump gagal.
Tuduhan lain adalah Iran sebagai dalang terosis; tetapi tidak terbukti juga sehingga bisa ditolak.
Tuduhan terbaru adalah Iran mengembangkan misil balistik dan akan menyerang Isra3ll dan usa. Tuduhan ini campur aduk. Memang benar, Iran mengembangkan misil balistik tetapi mengembangkan misil balistik adalah hak masing-masing negara. Jadi Iran tidak salah dalam hal misil balistik untuk pertahanan mereka.
Iran akan menyerang Isra3ll dan usa adalah tuduhan yang mengada-ada. Iran tidak pernah memulai serangan balistik dalam kasus ini. Jadi justifikasi Trump Hahu gagal lagi.
Tetapi kita bisa memahami justifikasi dari psikologi Trump. Jika Trump menjadi presiden Iran atau pemimpin tertinggi maka apa yang akan dilakukan dengan misil balistik oleh Trump? Dugaannya: Trump akan menyerang Isra3ll dengan balistik itu. Dengan ilusi cermin psikologi diri ini Trump yakin bahwa Iran akan menyerang.
Kita tahu, kebenarannya, pemimpin Iran bukanlah Trump; bukan pula Hahu. Jadi, pemimpin Iran dalam realitas tidak pernah menyerang Isra3ll atau negara lain.
PBB diharapkan bisa mengobati Trump dan Hahu. Tampaknya, harapan itu sangat kecil karena veto milik usa. Harapan besar adalah pada hati nurani warga usa untuk memakzulkan Trump. Sulit tetapi bisa.
Harus diganti: pandangan bahwa revolusi itu ngeri. Karena revolusi itu bisa saja sangat berarti dan menyenangkan hati yaitu revolusi sunyi. Kita, di Indonesia, pernah mengalami revolusi yang indah di hati; pun Indonesia pernah revolusi pertumpahan darah; berjatuhan korban yang sangat ngeri. Solusi bagi Indonesia dan dunia yang sedang mabuk, saat ini, adalah revolusi sunyi.
Saya baru membaca 2 buku yang sangat menarik: Escape from Capitalism dan The Doom Loop. Kedua buku meyakini bahwa sistem sosial kita saat ini sedang mabuk sempoyongan dan akan jatuh berkeping-keping.
Jika Anda saat ini merasa hidup adalah sulit maka beberapa tahun ke depan, diramalkan, hidup akan lebih sulit. Saat ini, dunia masih mabuk sempoyongan. Beberapa waktu ke depan, tidak lama lagi, dunia akan ambruk tanpa kasur empuk.
Apa solusi yang tersedia? Revolusi sunyi.
1. Makna Revolusi 2. Proses Revolusi 3. Diskusi
Kita akan mencoba memahami secara bertahap. Batas antara revolusi sunyi dengan revolusi ngeri itu adalah amat tipis. Sehingga, ada risiko ketika berniat revolusi sunyi tetapi terpeleset menjadi revolusi ngeri; perlu ekstra hati-hati.
1. Makna Revolusi
Secara umum, ada dua makna revolusi: (1) luas; (2) sempit.
“Pertama, pengertian yang luas, yang mencakup “setiap dan semua peristiwa di mana suatu negara atau rezim politik digulingkan dan dengan demikian diubah oleh sebuah gerakan rakyat melalui cara-cara yang tidak teratur, di luar konstitusi, atau dengan kekerasan.”
Kedua, pengertian yang sempit, di mana “revolusi tidak hanya mencakup mobilisasi massa dan perubahan rezim, tetapi juga perubahan sosial, ekonomi, atau budaya yang bersifat cepat dan mendasar, yang terjadi selama atau segera setelah perjuangan untuk merebut kekuasaan negara.” (Wikipedia).
Sementara, menurut Thomas S. Kuhn, revolusi bermakna (3) perubahan paradigma yang bersifat mendasar dalam ilmu pengetahuan.
Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions, Kuhn menjelaskan bahwa revolusi terjadi ketika paradigma lama tidak lagi mampu menjelaskan berbagai anomali, lalu digantikan oleh paradigma baru yang menawarkan cara pandang berbeda dan lebih mampu menjelaskan kenyataan.
Kita akan modifikasi menjadi makna revolusi (4) adalah perubahan dari tatanan sosial lama menjadi tatanan sosial baru karena ada persaingan tatanan sosial itu. Persaingan ini bisa berlangsung sunyi meski bisa juga ngeri. Revolusi sunyi terjadi ketika persaingan tatanan sosial berlangsung secara sunyi karena lebih mendalam terjadi transformasi ruhani. Revolusi sunyi ini yang perlu kita sirami sejak pagi sampai malam turun ke bumi.
“Langkah pertama menuju perubahan adalah mengungkap dengan jelas bahwa apa yang dianggap sebagai kegagalan sosial sama sekali bukan kegagalan menurut logika kapital. Untuk melawan logika yang tidak manusiawi ini—yang mengorganisasi masyarakat kita—kita harus meninggalkan bahasa ekonomi neoklasik yang mengaburkan, dan beralih ke penjelasan sederhana namun mendalam tentang sistem ekonomi kita, yang mampu mengguncang keyakinan kita dan mendorong kita untuk bertindak.” (Escape from Capitalism).
Tatanan dunia sekarang ini menjadi brutal. Orde lama telah sirna, orde baru telah berlalu, orde reformasi bagai bayangan mimpi. Yang tersisa adalah orde kapital: segala sesuatu dihitung berdasar angka kapital, angka uang, baik uang kertas atau pun digital.
Kemiskinan yang makin menjadi-jadi, penindasan di sana-sini, mau pun korupsi tiap hari; itu semua bukan kegagalan orde kapital; itu semua adalah sikap nyata orde kapital.
Justru karena ada kemiskinan di mana-mana maka tercipta segelintir orang yang super kaya; baik pengusaha atau pun penguasa. Jika tidak ada orang miskin; maksudnya jutaan orang miskin itu andai naik kekuatan menjadi kelas menengah secara ekonomi; maka tidak ada orang super kaya. Tetapi hanya ada orang kaya dan orang menengah yang hidup bersama dengan baik dan adil; saling peduli dan membantu. Bagaimana untuk mencapai itu? Revolusi sunyi.
2. Proses Revolusi
Perubahan revolusi tampak mendadak dan besar-besaran dalam waktu singkat; tetapi perubahan yang nyata terjadi perlahan-lahan butuh waktu yang lama. Ketika tiba waktunya, barulah, terjadi ledakan revolusi sunyi itu.
2.1 Kekuatan politik.
Di tahap awal, kita perlu membangunkan kepedulian bahwa setiap orang memiliki kekuatan politik. Satu orang diri kita berpengaruh secara politik. Jika masing-masing satu orang mendukung Trump maka Trump menjadi kuat. Sebaliknya, jika masing-masing satu orang menolak Trump maka Trump turun tahta tanpa kuasa. Demikian halnya seluruh penguasa di dunia bisa turun tahta pada waktunya.
“Setiap dari kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mempolitisasi kehidupan kita. Dan yang saya maksud dengan “mempolitisasi” adalah berpartisipasi dalam transformasi realitas material dan sosial di sekitar kita. Langkah-langkah itu bisa sesederhana menjalin hubungan dengan para tetangga untuk membangun komunitas. Bagaimanapun, saling mengenal dengan tetangga biasanya merupakan langkah pertama dalam memulai inisiatif untuk memperjuangkan sumber daya dasar, seperti organisasi penyewa untuk melindungi hak-hak penyewa atau program pangan berbasis komunitas.” (Kutipan di bagian ini bersumber dari Escape from Capitalism kecuali disebut lain).
(a) setiap manusia adalah bios yaitu makhluk politik lebih dari sekadar zoe atau badan hewan; Anda memiliki kekuatan politik meski seorang diri; tetangga Anda juga memiliki kekuatan politik. Kekuatan politik ini adalah kepedulian yang perlu untuk terus kita jaga. (b) mulailah mengenal tetangga Anda dan rekan kerja Anda secara konkret; berusahalah membantu mereka. Revolusi sunyi dimulai dengan membantu orang terdekat Anda secara nyata; kemudian, di saat yang sama, meluas ke ukuran negara. (c) membantu tetangga itu bisa berupa materi, moral, gagasan, atau lainnya.
2.2 Hindari Jebakan Cetak Biru.
Hindari anggapan bahwa sudah ada solusi jelas yang kemudian hanya perlu dijalani; solusi cetak biru seperti itu tidak pernah ada. Yang sebenarnya ada adalah solusi itu harus kita ciptakan bersama, kita jalani bersama, dan kita revisi bersama. Tentu saja, kita harus terbuka untuk belajar dari seluruh sejarah yang ada.
“Mari kita membebaskan diri dari jebakan-jebakan mental ini.
Perubahan historis tidak terjadi berdasarkan cetak biru; alternatif berkembang (1) melalui partisipasi aktif masyarakat, dan hanya jika kita (2) memiliki perangkat konseptual untuk memahami dunia secara berbeda, kita dapat (3) bertindak secara berbeda pula. Saya menghargai intuisi Antonio Gramsci bahwa perpaduan pengetahuan yang sekaligus bersifat teoretis dan praktis dapat menuntun kita menuju cakrawala baru, asalkan kita terlibat secara personal dan konkret.
Seperti dikatakan sejarawan radikal Robin Kelley, “Mimpi-mimpi revolusioner meletus dari (4) keterlibatan politik; (5) gerakan sosial kolektif adalah (6) inkubator bagi pengetahuan baru.” Pengetahuan baru meniscayakan transformasi diri secara kolektif.”
(1) Partisipasi aktif masyarakat. Langkah awal adalah setiap diri kita mengambil tindakan konkret membantu masyarakat terdekat; membantu tetangga; membantu teman kerja; dan membantu saudara. Partisipasi aktif ini seiring dengan kesadaran politik: kita sedang memupuk tatanan sosial yang lebih baik melalui revolusi sunyi; bagaimana pun, revolusi sunyi ini sudah terjadi, dan sedang terjadi, ketika Anda berpartisipasi aktif menolong tetangga Anda. Untuk bisa menolong orang terdekat, tentu, kita perlu mampu menolong diri sendiri; yaitu, diri kita harus menjadi orang kuat; kita bukan menjadi beban masyarakat. Realitas adalah timbal balik: dengan menolong tetangga dekat maka akan menjadikan Anda lebih kuat.
Kita perlu menolak candu: janji kehidupan yang lebih nikmat tetapi jauh di masa depan. Kita menolak candu: “Kerja keras hari ini, peras keringat hari ini, dari pagi sampai malam; gaji bulanan tak seberapa; tagihan listrik dan kuota makin menggila; harga beras dan tabung gas bikin emosi ikut ngegas. Sementara, para bos besar tertawa terbahak-bahak; mereka para penguasa atau pengusaha besar; hanya omong-omong dan tanda tangan kontrak, mereka meraup untung besar; mereka tinggal di hotel mewah; pesiar tamasya ke luar negeri dengan pesawat pribadi. Apalagi korupsi; mereka makin ngeri.” Tolak candu-candu dan janji-janji palsu itu.
Candu itu memberi janji: dengan kerja keras, nanti setelah bertahun-tahun, Anda akan menjadi orang sukses; Anda akan menjadi penguasa atau pengusaha besar itu; Anda menikmati seluruh kenikmatan hidup; sewaktu-waktu, Anda bisa korupsi apa yang dimau. Tolak keras janji palsu itu! Hidup mewah seperti itu hanya candu.
Kembali ke masa kini: mengapa ketimpangan itu bisa terjadi? Anda yang kerja keras malah menderita. Bos yang hanya bicara malah hidup mewah tiada tara. Ketimpangan terjadi karena sistem sosial yang bejat; sistem politik yang tidak adil. Perlu revolusi sebagai solusi. Tetapi ingat: bukan revolusi keras; bukan revolusi ngeri; kita butuh revolusi sunyi.
(2) Memiliki perangkat konseptual yang berbeda. Kita bisa hidup sebagai masyarakat yang adil makmur; saling tolong-menolong; saling hormat penuh martabat.
Orde kapital yang sedang berkuasa, saat ini, bisa diganti dengan tatanan sosial yang berbeda berupa tatanan adil makmur. Perangkat konseptual yang adil makmur bisa kita kembangkan, misal, dengan mengambil inspirasi dari kampung Ciptagelar (Jawa Barat) dan Nordic (Eropa Utara).
“Di Kampung Adat Ciptagelar, hidup berjalan lebih pelan – mengikuti musim, tanah, dan suara angin dari hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tidak melihat alam sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai ibu yang harus dihormati. Di bawah tuntunan Abah Ugi, mereka menjaga adat seperti menjaga napas sendiri. Padi ditanam dengan doa, dipanen dengan syukur, lalu disimpan di leuit sebagai persiapan hari esok. Bahkan ketika gagal panen datang, mereka tidak panik – karena lumbung telah lebih dulu mengajarkan arti sabar dan berjaga-jaga.
Setiap tahun, melalui ritual Seren Taun, ribuan orang berkumpul, membawa hasil bumi dan harapan. Tangis haru dan doa menyatu dengan suara alam. Di sana, makna hidup tidak dicari di layar, tetapi dirasakan di tanah yang diinjak dan di padi yang digenggam. Mereka memang mengenal listrik dari turbin air dan secukupnya teknologi, tetapi tidak membiarkannya menguasai hidup. Ciptagelar mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: ketika manusia berhenti serakah dan kembali mendengar alam, hidup terasa cukup – dan dalam kecukupan itu, ada ketenangan yang jarang ditemukan di dunia yang berisik.”
Kampung Ciptagelar dibangun dan berkembang sejak tahun 1368 dan makin sejahtera di abad 21 ini. Berikutnya, kita akan belajar dari Nordik Eropa Utara.
“Masyarakat Nordik – di Denmark, Sweden, Norway, Finland, dan Iceland – menjalani kehidupan dengan filosofi slow living, yaitu hidup yang dijalani secara sadar, sederhana, dan seimbang. Bagi mereka, hidup lambat bukan berarti malas atau tidak produktif, tetapi memberi ruang lebih besar bagi hal-hal yang benar-benar bermakna. Mereka menghargai momen kecil: jeda minum kopi, berjalan di alam terbuka, duduk bersama keluarga, atau menikmati keheningan tanpa gangguan. Kualitas lebih penting daripada kuantitas, dan keseimbangan lebih utama daripada ambisi berlebihan.
Nilai friluftsliv, yang berarti “hidup di ruang terbuka,” membentuk kedekatan mereka dengan alam. Berjalan di hutan, mendaki gunung, atau sekadar menghirup udara segar menjadi cara menjaga kesehatan mental dan kejernihan pikiran. Konsep hygge dari Denmark menekankan kenyamanan dalam kesederhanaan – menyalakan lilin, membaca buku, menikmati kopi hangat, dan menciptakan suasana akrab tanpa tekanan. Sementara itu, prinsip lagom dari Swedia mengajarkan moderasi: tidak berlebihan, tidak kekurangan, cukup dan seimbang dalam bekerja, mengonsumsi, maupun bersosialisasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai ini membuat masyarakat Nordik cenderung tidak terjebak dalam budaya serba cepat dan kompetisi tanpa henti. Mereka mengatur ritme hidup dengan sadar, memberi waktu untuk istirahat, refleksi, dan relasi yang bermakna. Di tengah dunia yang sibuk dan bising, filosofi ini menjadi cara untuk tetap waras, hadir sepenuhnya, dan menikmati hidup apa adanya – perlahan, tetapi penuh makna.”
Kehebatan Nordik di kancah internasional sangat mengagumkan. Nokia perusahaan teknologi telekomunikasi terbesar dunia sejak abad 20 sampai abad 21 ini berasal dari Finland. Denmark menjadi juara Euro pada 1990an. Anda pernah berkunjung ke toko besar IKEA? IKEA berkembang dari Swedia. Survey kehidupan paling bahagia di dunia dimenangkan oleh Nordik bertahun-tahun. Pendidikan literasi dan numerasi? Nordik adalah papan atas.
(3) Bertindak secara berbeda. Selanjutnya, kita bertindak berbeda secara nyata. Kita bekerja adalah untuk memberi manfaat kebaikan; bukan untuk mengumpulkan uang. Bekerja adalah untuk membantu orang lain, misal tetangga atau kawan, agar mereka makin tumbuh berkembang; bukan untuk mempersulit mereka.
(4) Keterlibatan politik. Setiap sisi hidup kita selalu melibatkan politik. Kita bisa memilih terlibat politik praktis melalui partai politik dan jabatan politik; kita juga bisa memilh politik non-praktis dengan mendukung gerakan kemajuan sistem politik; memberi kritik terhadap politik; memberi suara kepada politikus yang membela masyarakat kecil untuk adil dan makmur.
(5) Gerakan sosial. Aktif di bidang ekonomi atau gerakan sosial yang lebih luas.
(6) Inkubator pengetahuan.
2.3 Strategi Ruhani Radikal
“Karena itulah strategi-strategi radikal juga dibutuhkan. Kita harus merebut kembali kemampuan untuk secara kolektif menentukan apa dan berapa banyak yang ingin kita produksi, sumber energi apa yang akan kita andalkan, serta bagaimana relasi kekuasaan di tempat kerja harus diatur. Kita harus mengambil kembali kendali atas proses produksi dan hubungan kita dengan alam, serta membuat keputusan dengan mempertimbangkan kesejahteraan generasi mendatang.”
Dalam Boston Review, Asef Bayat menyatakan:
“Yang saya uraikan di sini hanyalah sebuah strategi besar yang masih perlu diperinci—mengidentifikasi hambatan dan menemukan solusi yang praktis. Namun, izinkan saya menjawab satu pertanyaan yang sering muncul. Orang-orang kerap bertanya mengapa sebuah pemerintahan mau terlibat dalam perundingan yang bisa berujung pada kehancuran pemerintah itu sendiri. Itu pertanyaan yang wajar: tidak ada rezim yang dengan sukarela menyerahkan kekuasaan, kecuali jika dipaksa.
Para penguasa apartheid di Afrika Selatan, rezim komunis di Polandia, atau pemerintahan Pinochet di Cile juga tidak ingin melepaskan kekuasaan, tetapi pada akhirnya mereka tidak punya pilihan. Revolusi yang dinegosiasikan berarti mempersiapkan momen semacam itu—sebuah momen yang dimulai dengan kerja intelektual, membangun wacana yang bermakna dan dipahami secara luas tentang transisi demokrasi, dan berpuncak pada gerakan massal ketika sistem yang mapan mulai runtuh.”
Pengalaman Indonesia tahun 1998 menunjukkan rezim Orde Baru bersedia berunding dengan gerakan rakyat. Presiden Soeharto bersedia turun dari kursi presiden dan berakhir masa Orba itu. Sayangnya tidak terjadi revolusi sunyi di Indonesia; hanya terjadi reformasi yang tampak setengah hati.
2.4 Menantang Penindasan Kapitalisme
“Menantang himpitan kapitalisme berarti memilih menentang dan memprotes pemotongan program kesehatan publik dan sekolah, serta penggunaan uang pajak kita untuk membiayai perang yang tak berkesudahan. Ini juga berarti bersikap ofensif: menekan para politisi agar mengenakan pajak pada kaum kaya dan memberlakukan program-program publik yang radikal—seperti perumahan sosial dan dukungan pemerintah bagi koperasi pekerja—yang menantang logika laba dan pertumbuhan.”
2.5 Alernatif Investasi
“Alternatif terhadap investasi swasta memang ada, mulai dari kepemilikan kolektif oleh pekerja hingga investasi publik. Faktanya, investasi publik secara historis telah menjadi inti dari kemajuan teknologi besar, dan investasi publik dapat dibuat agar bertanggung jawab di bawah kontrol demokratis. Pemerintah yang berani keluar dari logika kapitalisme dapat memberdayakan inisiatif-inisiatif pekerja.”
2.6 Menentang Genosida
“Di Palestina, tindakan kekerasan untuk menekan upaya paling dasar dalam melindungi hak asasi manusia—termasuk penahanan dan penyiksaan terhadap para peserta aksi damai yang berharap membuka blokade pangan di Gaza, serta serangan terhadap Freedom Flotilla yang dipimpin Greta Thunberg yang membawa bantuan kemanusiaan—menunjukkan kekuatan gerakan internasional yang semakin besar untuk pembebasan Palestina. Gerakan ini mengancam justru karena menghubungkan titik-titik penting: untuk terlepas dari genosida, kita juga harus terlepas dari kapitalisme. Kita semua hanya bisa merasakan kebebasan ketika mereka yang paling tertekan telah bebas.” (Escape from Capitalism).
AI sangat mengagumkan. Tahun 1997, AI (akal imitasi / artificial intelligence) berhasil mengalahkan juara dunia catur yaitu Kasparov. Padahal permainan catur adalah permainan yang melibatkan kecerdasan tingkat tinggi manusia. Jadi, AI lebih cerdas dari manusia?
Untuk main catur, barangkali, AI lebih hebat dari manusia. Bagaimana untuk lomba renang? Apakah AI bisa menang lomba renang melawan manusia? Tahun 2026 ini, AI sudah menyusup hampir di seluruh kehidupan manusia. Terutama sejak sukses peluncuran ChatGPT di akhir 2022 kala itu. Sebelum era ChatGPT, AI adalah urusan para pakar AI. Hari ini, AI adalah urusan semua orang setiap hari.
1. Jebakan Catur 2. Tantangan Renang 3. Diskusi
Kesulitan utama adalah manusia sering menilai catur lebih cerdas dari renang. Bagi komputer, dan AI, catur lebih sederhana dari renang. Catur bersifat universal; sementara renang bersifat eksistensial. Apalagi ketika renang di sungai atau laut bebas.
1. Jebakan Catur
Catur adalah permainan rasional universal. Setiap manusia rasional akan bisa main catur sampai tingkat tertentu ketika mau belajar. Universal karena catur bisa berupa bahan dari kayu, plastik, logam, atau bahkan digital. Dalam kondisi ekstrem, bisa saja catur hanya terjadi dalam imajinasi di dua kepala anak manusia; tidak perlu bahan papan catur sama sekali. Jadi, catur bersifat universal karena tidak dibatasi oleh bahan, ruang, atau waktu.
Gabungan rasional dan universal itu tampak seperti menjadi simbol kecerdasan ideal manusia. Sehingga Kasparov yang juara dunia catur itu adalah manusia paling cerdas di dunia. Andai kasparov mau belajar matematika, misalnya, maka kecerdasannya akan mengantarkan dia menjadi jago matematika tingkat dunia juga. Begitu juga Andai Kasparov mau belajar sejarah maka ia akan menjadi jago sejarah dunia. Benarkah seperti itu?
AI lebih hebat dari Kasparov dalam catur kala itu. Lebih luas lagi, AI (akal imitasi / artificial intelligence) memang belajar matematika, sejarah, politik, filsafat, seni, dan lain-lain. Jadi AI benar-benar paling cerdas sedunia? Manusia telah terjebak dalam percaturan AI.
2. Tantangan Renang
Juara renang tingkat dunia masih manusia. AI belum ada yang mengalahkan manusia dalam lomba renang. Ikan dan buaya juga belum mengalahkan manusia; karena ikan dan buaya tidak ikut lomba renang.
Tantangan renang, apalagi di sungai atau laut bebas, adalah tantangan eksistensial berbeda dengan tantangan universal.
Kehidupan manusia adalah kehidupan eksistensial bukan hanya hidup universal. Sehingga membahas kemampuan AI akan lebih tepat bila kita bahas dengan analogi lomba renang; bukan lomba catur.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Seluruh bukti, dari sepanjang sejarah beragam teknologi, menunjukkan bahwa dampak buruk AI cenderung mempertajam — bukan meratakan — arena persaingan, baik di dalam negeri maupun antarnegara.
Terdapat 5 cara memperbaiki Indonesia. Anda tinggal memilihnya: (1) revisi; (2) reformasi; (3) revolusi; (4) demokrasi; (5) kokreasi.
Proses itu tidak selalu mudah karena bisa saja penguasa menilai semua baik-baik saja. Buat apa diperbaiki?
“Pada waktu saya ditanya, mengapa MBG penting? Apakah MBG (makan bergizi gratis) itu penting? Penting sekali. Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” ujarnya dalam acara Prasasti Economic Forum di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).” Dia adalah menteri PPN/Bappenas. (detik.com)
Nasib rakyat beda dengan penguasa; nasib warga miskin beda dengan kaya raya; manusia perlu memperbaiki diri sepanjang masa.
1. Revisi
Paling mudah adalah revisi; memperbaiki apa yang ada. Setiap manusia yang sehat tentu ingin revisi diri; memperbaiki diri dan alam sekitar.
MBG telah berjalan di beberapa tempat mengakibatkan keracunan; maka perlu revisi agar MBG tidak meracuni siswa.
Jika ada orang yang tidak mau revisi; dia tetap bersikukuh klaim sebagai sudah benar, sudah baik, sudah tepat; maka wajar orang itu dikira sebagai tidak sehat.
2. Reformasi
Reformasi adalah perubahan besar-besaran; atau perubahan akibat peristiwa besar-besaran. Bisa saja akibat dari krisis ekonomi misal 1998; pemerintahan Soeharto (mertua Prabowo) lengser, diganti Habibie sebagai transisi, dan terpilih Gusdur sebagai presiden pasca reformasi.
Reformasi berdampak kepada pergantian pemerintahan; pergantian presiden sampai perbaikan konstitusi misal amandemen UUD. Apakah era sekarang ini akan terjadi reformasi?
3. Revolusi
Revolusi adalah perubahan besar-besaran dalam waktu singkat akibat dari persaingan kekuatan.
Tahun 1965-1966 terjadi revolusi di Indonesia. Presiden Soekarno bersaing dengan Jederal Soeharto yang menguasai militer dan beberapa pendukungnya. Akhirnya, Soeharto menang menduduki kursi presiden sampai 32 tahun masa orde baru.
Apakah jaman sekarang bisa terjadi revolusi di Indonesia? Mungkin saja. Tapi siapa yang bisa tahu?
Jabar memiliki gubernur seru yaitu KDM (Kang Dedi Mulyadi); Jogja memiliki gubernur yang melindungi rakyat yaitu Sultan Hamengkubuwono.
Rakyat bisa saja berbondong-bondong mendukung seorang gubernur yang mereka cintai; hanya misalnya. Kemudian, tokoh masyarakat mendukung gubernur itu juga; pejabat sipil mendukung gubernur itu; militer mendukung gubernur itu; mahasiswa mendukung gubernur itu. Maka revolusi bisa saja terjadi.
Revolusi bisa saja berbahaya; reformasi bisa sama berbahaya; revisi barangkali tidak berbahaya. Tetapi, revolusi bisa saja berlangsung damai. Beberapa analis menilai tahun 2001 terjadi revolusi damai di Indonesia; bahkan revolusi senyap. Pemerintahan Gusdur disaingi oleh kekuatan Mega. Lalu, MPR meninggalkan Gusdur justru mendukung Mega. Akhirnya, Mega menjadi presiden menggantikan Gusdur; revolusi damai dan teratur.
4. Demokrasi
Masalah dari tiga perubahan di atas (revisi, reformasi, revolusi) adalah tidak ada jaminan bahwa hasil akhir lebih baik dari yang awal. Kadang hasil reformasi bisa lebih buruk dari yang semula.
Demokrasi adalah pilihan yang lebih baik.
Proses demokrasi, musyawarah hikmah kebijaksanaan, adalah lebih baik dari revisi, reformasi, mau pun revolusi.
Dari riset internasional, demokrasi Indonesia adalah cacat. Solusi terbaik adalah memperbaiki proses demokrasi itu. Meski proses demokrasi adalah lebih baik tetapi hasil demokrasi bisa saja tidak lebih baik.
Proses demokrasi Indonesia lebih baik dari Singapura yang lebih cacat. Tetapi pembangunan Singapura, termasuk pendidikan, lebih baik dari Indonesia. Bagaimana pun, dalam jangka panjang, proses demokrasi yang baik akan mengarah kepada hasil yang lebih baik. Bagaimana agar demokrasi Indonesia saat ini menjadi lebih baik?
Proses demokrasi ini bisa saja seiring, atau bersamaan, dengan revolusi mau pun reformasi
5. Kokreasi
Kokreasi adalah perbaikan yang lebih baik dari sisi proses mau pun hasilnya. Panarko adalah salah satu contoh proses kokreasi yang sudah saya bahas di banyak tulisan saya.
Bagaimana menurut Anda? Proses perbaikan mana yang lebih Anda dukung untuk Indonesia saat ini? Untuk situasi dunia saat ini?
Dalam buku yang sedang proses penerbitan, saya menemukan dua kisah terindah yaitu Tarzan dan Arka. Buku ini rencana akan terbit awal atau tengah 2026 dengan tema tentang Tuhan, AI, dan manusia.
Dari Tarzan, kita akan belajar membedakan antara mendengar dengan mendengarkan. Sementara dari Arka, kita akan belajar menjadi serba pemimpin atau panarko. Kemudian, kita akan diskusi beberapa ide lanjutan.
1. Tarzan Mendengar Alam 2. Arka Memandang Senja 3. Diskusi
Cerita itu berjuta makna. Demikianlah adanya. Ada satu makna yang perlu diikat bersama. Meski ribuan makna lainnya akan selalu bermunculan di sana.
1. Tarzan Mendengar Alam
Pertama Tarzan mendengar suara itu. Kedua, Tarzan mendengarkan.
Mari kita perjelas dengan ilustrasi Tarzan. Bayangkan Tarzan berada di tengah hutan lebat. Suara-suara hutan mengelilinginya: ranting patah, burung berkicau, aliran sungai, dan suara langkah hewan lain.
Mendengar – Hearing (entendre):
Tarzan mendengar suara-suara itu dengan cepat mengenali maknanya. Ia mendengar ranting patah dan langsung memahami bahwa mungkin ada hewan atau manusia yang lewat. Ia mendengar kicauan burung dan tahu arah datangnya hujan atau waktu siang. Dalam hal ini, Tarzan “memahami” suara-suara itu sebagai tanda atau objek yang sudah dikenalnya. Mendengar di sini adalah upaya Tarzan menafsirkan dunia secepat mungkin agar bisa bertindak—mendengar untuk mengetahui, mengantisipasi, dan mengendalikan situasi.
Mendengarkan – Listening (écouter):
Sekarang bayangkan Tarzan duduk diam di atas pohon, menutup sebagian pikirannya terhadap penilaian cepat, dan membiarkan telinganya terbuka sepenuhnya. Ia mendengar suara hutan, tapi tidak langsung mencoba menafsirkan atau mengklasifikasikannya. Ia mendengarkan arus kehidupan hutan, ritme daun jatuh, suara angin, dan bahkan keheningan di antara suara-suara itu. Tarzan merasakan “makna” yang lebih dalam dari suara-suara itu—arah, pergerakan, suasana hutan—tanpa terburu-buru menamai atau mengendalikannya. Mendengarkan di sini adalah terbuka terhadap ketidakpastian dan menerima sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dipahami.
…
Cukup jelas perbedaan mendengar dengan mendengarkan; perbedaan hearing dengan listening. Seberapa sering kita mendengar suara hati yang merintih? Seberapa sering kita mendengarkan? Seberapa sering kita mendengarkan suara mereka yang tak bersuara dalam derita?
2. Arka Memandang Senja
Kisah Arka bertemu denga Pak Daru menawarkan solusi sederhana dari gagasan panarko: serba-pemimpin.
Kita adalah Panarko. Di tengah hiruk pikuk kota yang pucat, Arka melangkah menyusuri trotoar seperti seseorang yang kehilangan bayangannya sendiri. Media sosial di ponselnya terus memuntahkan kabar bencana, perpecahan, adu opini yang saling memangsa—semuanya memekakkan hati. Di dunia nyata dan maya, chaos merayap seperti kabut pekat yang menutup harapan. Ia sering berdoa dalam hening: “Semoga ada arko, seorang pemimpin kuat yang datang merapikan semuanya…”
Namun ia tahu betul, zaman telah berkali-kali menunjukkan bahwa arko—pemimpin tunggal yang diagung-agungkan—sering berubah menjadi pusat kekuasaan yang menekan. Terlalu banyak orang yang buta oleh pesona pemimpin, lalu kecewa oleh kenyataan. Dan media sosial dengan akal imitasi-nya (termasuk AI: artificial intelligence) terus menyalakan ilusi: semua orang mengikuti figur yang sedang populer, menirukan amarah, menelan opini tanpa periksa. Arka pulang kampung, berharap kampungnya lebih tenang, tapi di sana pun kegelisahan berakar dalam.
Di sudut-sudut desa, sekumpulan pemuda berkumpul sambil membicarakan anarko, terpesona oleh kebebasan mutlak yang sering viral di platform mereka. Tanpa menyaring, mereka meniru gaya bicara dan keberanian palsu para influencer. Gagasan itu terdengar gagah, namun dalam kenyataan tanpa kompas, kebebasan tak membawa cahaya—melainkan bayang-bayang baru yang menakutkan. Warga makin renggang, percakapan makin dingin.
Suatu pagi yang sederhana, Arka melihat Pak Daru memaku pagar mushola sendirian. Cahaya matahari jatuh lembut di punggung lelaki tua itu, seolah mengingatkan Arka bahwa selalu ada orang yang bekerja diam-diam tanpa perlu disorot kamera. Dengan spontan ia ikut membantu. Dalam denting palu, Arka mencurahkan kerinduannya pada pemimpin besar yang tak kunjung datang. Pak Daru menatapnya lembut: “Nak, menunggu arko hanya memperpanjang masa suram. Cobalah memimpin langkahmu sendiri.”
Kata itu tak menggema keras, namun jatuh ke dalam hati Arka seperti tetes embun pada tanah tandus. Memimpin langkah sendiri. Mengapa itu terdengar lebih jujur daripada semua slogan di media sosial? Malam itu Arka merenung, dan perlahan ia mulai memahami makna panarko—bahwa setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum memimpin orang lain.
Keesokan hari, Arka memulai sesuatu yang kecil. Ia mengajar anak-anak berhitung, membersihkan selokan yang berbau, membantu tetangga memperbaiki atap bocor. Tindakannya tak masuk trending, tak ada yang menekan tombol “like”, tapi dalam keheningan itu Arka justru merasa lebih hidup. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah panggung, melainkan kerja hati yang tak perlu ditonton.
Perlahan, tindakannya yang sederhana menarik perhatian pemuda lain. Dio—yang selama ini hanya meniru gaya influencer desain di media sosial—menemukan jati diri lewat menggambar poster kegiatan kampung. Rani memanfaatkan ilmunya untuk membuat program makanan sehat. Bima membangun aplikasi kecil untuk koordinasi warga, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang viral. Tanpa arko, tanpa perintah, mereka mulai memimpin sebisa mereka masing-masing.
Dari sinergi itu, lahirlah kopanarko—sebuah suara lembut yang tumbuh dari banyak panarko yang bekerja bersama. Kepemimpinan seakan terurai menjadi butiran cahaya yang jatuh ke setiap tangan yang mau mengambil peran. Pasar sayur hidup kembali, anak-anak tertawa lebih nyaring, jalan-jalan disapu dengan cinta yang ringan. Kampung berubah seperti lukisan lama yang kembali dipulihkan warnanya.
Media sosial masih gaduh, dunia luar masih sering dipenuhi provokasi dan imitasi buta, namun kampung kecil itu telah menemukan ritme baru. Di sini, orang-orang lebih mempercayai tindakan nyata daripada unggahan. Arka menyadari bahwa untuk melawan chaos, manusia tidak membutuhkan satu arko, dan tidak pula perlu melompat ke jurang anarko. Mereka butuh keberanian untuk berhenti meniru—untuk kembali mendengarkan hati sendiri.
Sore itu, di bawah langit jingga yang meneteskan cahaya lembut, Arka duduk di tepi lapangan bersama Pak Daru. Anak-anak berlari sambil tertawa, seperti puisi yang hidup. “Pak,” kata Arka, “ternyata keselamatan bukan datang dari satu arko, atau dari bebas tanpa batas seperti anarko. Ia lahir ketika panarko saling menggenggam, berubah menjadi kopanarko.” Pak Daru tersenyum bangga. Dan Arka pun tahu, dunia yang pernah terasa gelap kini perlahan disinari oleh langkah-langkah kecil yang tak lagi meniru siapa pun—kecuali kebaikan yang tumbuh tulus dari hati.
Renungan Panarko: Arka menyadari bahwa perubahan sejati tidak lahir dari sorotan media sosial atau ketenaran sesaat. Dunia maya menawarkan kepalsuan yang manis—like, komentar, dan tren yang menyesatkan, membuat banyak orang terjebak dalam akal imitasi, meniru tanpa memahami. Namun di kampungnya, Arka belajar bahwa kepemimpinan lahir dari tindakan nyata, dari keberanian untuk memulai langkah kecil, dan dari konsistensi yang diam-diam menyalakan inspirasi.
Panarko adalah pilihan sadar, bukan sekadar reaksi terhadap hiruk-pikuk eksternal. Ia juga memahami bahwa meski arko tampak menggoda dan anarko terdengar merdeka, keduanya tidak menjawab kebutuhan hakiki manusia: keterhubungan dan tanggung jawab. Kekacauan (chaos) tidak akan lenyap dengan satu tokoh tunggal atau dengan menolak kepemimpinan sama sekali. Yang menyembuhkan adalah keberanian banyak panarko untuk memimpin diri sendiri, lalu merangkai tindakan mereka menjadi gerakan kolektif, menciptakan kopanarko—jaringan kepemimpinan yang nyata, organik, dan berkelanjutan.
Akhirnya, Arka menutup matanya sejenak, merasakan denyut kampung yang kini bernafas dengan ritme baru. Ia menyadari bahwa setiap langkah kecilnya, setiap keputusan yang ia ambil dengan hati, telah menumbuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Perubahan bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana banyak orang memilih untuk memimpin, menolak imitasi kosong, dan memilih untuk menyinari dunia yang pernah tenggelam dalam chaos. Di situlah kekuatan sejati kopanarko—perlahan, diam-diam, namun tak terbendung.
Siapakah dosanya paling besar di antara para pemimpin besar? Trump, Prabowo, atau Muti?
Mengapa membahas dosa orang lain? Mengapa tidak membahas amal kebaikan mereka? Bukannya lebih baik saling motivasi demi kebaikan?
Kita membahas mereka karena mereka adalah pemimpin besar yang hidup dari uang rakyat; yang bertanggung jawab kepada rakyat; yang mengelola sumber daya rakyat; yang merelakan waktu dan tenaga mereka demi kebaikan rakyat.
Muti adalah menteri pendidikan dasar menengah sejak era presiden Prabowo 2024. Karena Muti adalah aktivis Muhammadiyah yang banyak amal sholeh maka Muti bukan dosa besar di antara para tokoh. Jadi, hanya tersisa pilihan antara Trump dan Prabowo mana yang dosanya lebih besar atau paling besar?
1. Dosa Jelas 2. Merah 3. Hitam 4. Kuning 5. Diskusi
Jenis-jenis dosa adalah beragam. Kali ini kita akan membedakan jenis dosa menjadi warna-warni (yaitu merah, hitam, kuning) berdasar ajaran Sunan Kalijaga.
1. Dosa Jelas
Beberapa dosa bersifat jelas; beberapa dosa yang lain tampak samar-samar. Seorang pemuda mabuk lalu mencuri beberapa sepatu di asrama mahasiswa. Esok harinya, para mahasiswa dan pengurus RT mendatangi pemuda itu dan menuntut sepatu curian dikembalikan ke mahasiswa. Pemuda itu mengaku salah dan mengaku berdosa lalu minta maaf. Mahasiswa memaafkan pemuda dan urusan selesai.
Dosa Trump dan Prabowo tidak sejelas dosa pencuri sepatu itu. Karena para pemimpin berdalih sedang menjalankan tugas mulia. Trump mengatakan sedang “mewujudkan” perdamaian Palestina. Prabowo sedang “menyehatkan” anak bangsa dengan progam MBG (makan bergizi gratis). Muti sedang meningkatkan kualitas pendidikan dengan TKA (tes kemampuan akademik).
Kita perlu lebih jeli membaca dosa-dosa para pemimpin.
2. Merah
Dosa merah adalah dosa besar bagai berdarah-darah. Sunan Kalijaga menjelaskan jenis dosa ini berdasar ajaran Nabi Khidir dalam Suluk Linglung dan berdasar ajaran Dewa Ruci dalam kisah pewayangan Serat Dewa Ruci.
Dosa merah adalah ketika manusia berperilaku seperti binatang serakah. Babi adalah contoh binatang serakah yang makan apa saja (nasi, sayur, buah, telor, ikan dll) dengan serakah tanpa mempertimbangkan pihak lain dengan baik-baik. Orang yang memperoleh uang besar adalah serakah karena tanpa mempertimbangkan pihak lain; orang seperti itu seperti babi; sehingga orang itu kena dosa merah. Tetapi, babi sendiri tidak berdosa dengan sikap “serakah” karena alamiah. Sedangkan manusia berdosa karena serakah.
Bill Gates adalah contoh dosa serakah dengan monopoli industri software waktu itu; Gates adalah dosa merah karena mengeruk keuntungan besar sementara pihak lain telantar; pengembang sofware kecil tersisih; juru ketik dipecat.
Google menyindir dosa merah Gates ini dengan moto: jangan jadi jahat! Google bermaksud mengatakan bahwa kita bisa sukses tanpa harus jadi jahat seperti jahatnya Gates itu. Pada gilirannya, Google menjadi jahat dengan dosa merah juga. Industri koran dan televisi bangkrut gara-gara orang memilih google.
Tepat dugaan Anda: mereka semua berdalih sedang membuat kemajuan teknologi!
Dosa merah memang tidak mudah dikenali. Selalu ada dalih membela diri. Berbeda dengan pencuri sepatu yang mudah mengaku.
Bagaimana dengan Trump dan Prabowo? Tentu mereka punya dalih berlimpah-limpah.
3. Hitam
Dosa hitam lebih kejam; lebih bahaya dari dosa merah yang serakah. Dosa hitam adalah seperti binatang buas singa yang menerkam. Dalam terkaman singa itu rusa mati tanpa daya. Manusia yang buas seperti singa adalah dosa hitam. Tetapi, singa sendiri tidak dosa “berbuat buas” karena singa alamiah.
Dalam kasus dosa hitam tampaknya Trump paling kelam. Bertahun-tahun Trump mendukung Isra3l menyerang Palestina. Ribuan jiwa bahkan lebih dari puluhan ribu jiwa warga Palestina meninggal dunia akibat serangan mereka; terutama banyak warga Gaza jadi korban aksi hitam mereka. Pertengahan tahun 2025, Trump memerintahkan usa menyerang Iran. Dan awal, 2026 ini Trump menculik Maduro sang presiden Venezuela.
Dosa-dosa hitam itu makin kelam karena ada dalih yang menjadikan mereka, yaitu Trump dan kawannya, terseret dosa lebih besar yaitu dosa kuning.
4. Kuning
Dosa kuning adalah dosa paling besar; lebih besar dari dosa merah atau pun hitam. Dosa kuning adalah dosa yang selalu punya dalih pembenaran. Dosa kuning lolos dari jeratan hukum karena dosa kuning lebih “licik” dari aturan hukum; lebih “licik” dari hukum adat, hukum nasional, mau pun hukum internasional. Tidak ada permisalan dosa kuning yang dilakukan oleh binatang. Barangkali Iblis adalah contoh dosa kuning dari kisah kitab suci.
Mengapa Trump mendukung serangan Isra3l ke Palestina? Karena, kata Trump, Isra3l punya hak mempertahankan diri. Tentu itu hanya dalih. Semua tokoh di dunia menolak dalih itu. Tokoh-tokoh dunia mau bertindak menentang Trump tapi usa punya hak veto di PBB untuk menghentikan semua tindakan dunia. Jadi dosa kuning, dosa paling besar, adalah berupa eksploitasi aturan hukum hak veto di PBB oleh Trump dan kawannya.
Mengapa menyerang Iran? Trump berdalih ada pengembangan senjata nuklir di Iran. Mengapa menyerang Venezuela? Karena ada dalih bisnis narkoba. Bukankah Trump melanggar aturan internasional? Aturan internasional bisa diatur ulang oleh Trump. Itulah prinsip dasar dosa kuning; dosa terbesar; mengatur ulang aturan agar menguntungkan pihaknya dan tentu merugikan pihak lain.
5. Diskusi
Bagaimana menurut Anda: siapa pemimpin paling besar dosanya?
Lalu, apa solusinya? Pertama, solusi pribadi berupa mencegah diri dari beragam jenis dosa. Hindari dosa. Bila terlanjur dosa maka segera tobat. Kedua, perbanyak amal kebaikan. Amal besar mau pun kecil. Amal besar ada risiko terjebak dalam dosa kuning yang berbahaya; amal kecil yang mendalam dan penuh makna menjadi pilihan bijaksana.
Ketiga solusi sosial yang sangat sulit tetapi perlu ditempuh. Manusia adalah bios (atau biopolitik) yaitu makhluk yang menjadi sempurna hanya dengan terlibat politik (praktis atau pun non-praktis). Bios beda dengan zoo karena binatang zoo hanya hidup di lingkungan alamiah. Sementara, manusia adalah bios yang hidup di dunia sosial politik.
Dari analisis di atas, dosa terbesar dimenangkan oleh Trump.
Solusi terhadap dosa kuning lebih dominan bersifat sosial politik dan membutuhkan solusi pribadi sebagai syaratnya; maksudnya, tanpa solusi pribadi, solusi politik akan kembali terjebak dosa kuning. US, dalam histori, pernah melakukan pelengseran presiden atau pemakzulan (impeachment). “Proses pemakzulan (impeachment) di AS melibatkan House of Representatives (DPR) untuk mendakwa, dan Senat sebagai pengadilan untuk memutuskan pencopotan.”
Jadi solusi pertama terhadap dosa kuning Trump adalah pemakzulan sesuai konstitusi. Solusi yang lain adalah alternatif dari konstitusi. Andai Trump dimakzulkan, orang berharap, akan diganti presiden yang lebih baik. Negara-negara lain juga bisa memakzulkan pemimpin mereka masing-masing yang dosa kuning.
Alternatif lain adalah melawan Trump dengan kekuatan. Misal Cina, Russia, Iran, Indonesia, Jerman, dan lain-lain bisa sengaja melawan dominasi Trump dengan kekuatan militer dan ekonomi. Barangkali Trump akan berpikir ulang untuk main-main aturan internasional.
Imajinasi fiksi bisa saja berkembang lebih jauh. Ketika kekuatan licik, dosa kuning, begitu kuat maka pahlawan seperti Batman perlu muncul. Kadang dalam bentuk semacam Robin Hood. Lebih awal dari itu, di Jawa Timur terkenal solusi dari kisah Raden Syahid yaitu masa muda dari Sunan Kalijaga itu sendiri.
Bagaimana pikiran berhubungan dengan badan kita? Problem mind-body ini sudah berlangsung ratusan tahun. Tetapi belum ada solusi yang memadai sampai hari ini. Pada tulisan ini, kita akan memberikan solusi secara tuntas.
Problem mind-body ini mencuat ketika Descartes merumuskan dualisme pikiran dan badan. Pikiran adalah res cogitan yang terpisah dengan badan yang res extensa. Jika terpisah lalu bagaimana pikiran bisa memengaruhi badan dan badan memengaruhi pikiran?
1. Tidak Ada Masalah di Era Kuno 2. Masalah Tak Selesai 3. Solusi Etihad 3.1 Ittisal-Etihad 3.2 Vorhanden-Zuhanden 3.3 Fermion_Boson 3.4 Solusi Mind Body 3.5 Problem Etihad 4. Diskusi 4.1 Mengkaji Etihad 4.2 Mengkaji Makna 4.3 Makna Mind Body 5. Ringkasan
Sains modern dan filsafat modern memang menghadapi problem itu secara serius. Tetapi, sains filsafat kuno tidak menghadapi problem seperti itu.
1. Tidak Ada Masalah di Era Kuno
Plato dan Aristo tidak ada masalah dengan pikiran dan badan. Bagi mereka, pikiran dan badan adalah satu kesatuan yang utuh. Ajaran agama-agama besar di dunia juga tidak ada masalah. Bagi agama, pikiran dan badan adalah satu kesatuan tak terpisahkan.
Pemikir besar Timur semisal Aljabar, Ibnu Sina, Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnu Khaldun, dan lain-lain juga tidak menghadapi masalah mind-bodi itu. Masalah baru muncul di era Descartes sekitar abad 17an.
2. Masalah Tak Selesai
Descartes menyelesaikan satu masalah tetapi memunculkan masalah baru yang tidak bisa diselesaikannya. Waktu itu, kekuatan gereja sangat besar. Karena setiap materi (badan) bersatu dengan pikiran (jiwa) maka semua sains harus sejalan dengan ajaran gereja. Padahal penemuan sains banyak yang berbeda dengan ajaran agama, misal heliosentris dari sains yang meyakini bumi berputar mengelilingi matahari.
Descartes berhasil memisahkan badan dengan jiwa melalui teori dualisme. Konsekuensinya, ilmuwan bebas mengkaji badan, materi, dan lain-lain; sedangkan, nasib jiwa tetap ada di ajaran agama. Descartes berhasil membebaskan kajian sains; menyelesaikan satu masalah. Gereja tidak perlu lagi “menghakimi” teori sains.
Masalah baru muncul: bagaimana jiwa terhubung dengan badan? Jika jiwa dan badan saling terpisah maka bagaimana mereka bisa saling memengaruhi?
Banyak solusi yang ditawarkan tetapi masih gagal. (1) materialis yang menganggap yang ada hanya badan; jiwa sekadar ilusi; (2) idealisme yang menganggap segalanya adalah pikiran; materi adalah sekadar endapan pikiran; (3) dualisme paralel; jiwa dan badan sama-sama nyata terpisah tetapi paralel; apa yang terjadi pada badan paralel dengan yang terjadi pada jiwa; dan sebaliknya. Serta masih banyak solusi lain lebih beragam; umumnya variasi dari 3 solusi di atas. Masalah tak selesai.
3. Solusi Etihad
Etihad adalah solusi yang kita butuhkan.
Kita mengajukan solusi melalui 3 pendekatan: (1) ittisal-etihad; (2) vorhanden-zuhanden; (3) fermion-boson.
3.1 Ittisal – Etihad
Mulla Sadra (1572 – 1640) mengenalkan konsep ittisal dan etihad sebagai mode wujud atau mode eksistensi yang berbeda.
Ittisal adalah mode eksistensi yang merupakan gabungan dari bagian-bagian secara tersambung. Misal telinga kanan Anda terhubung dengan mata kanan Anda oleh pelipis; sementara telinga terhubung dengan pelipis melalui tulang dan daging; dan seterusnya.
Karakter dari ittisal adalah saling terhubung tetapi selalu bisa dipisahkan. Telinga dan mata dipisahkan oleh pelipis; peran pelipis adalah pemisah sekaligus penghubung.
Etihad adalah mode eksistensi yang merupakan satu kesatuan utuh tanpa ada penyambung; tanpa ada pemisah; berbeda dengan mode ittisal. Anda mendengar suara Ebiet bernyanyi dan melihat Ebiet yang memetik gitar; dan sambil Anda menikmati kopi. Anda, yaitu diri Anda, adalah satu kesatuan utuh sebagai etihad. Diri Anda bukan merupakan gabungan suara, penglihatan, dan perasa itu; melainkan diri Anda adalah yang mendengar, melihat, dan merasa itu sebagai Anda yang utuh tak terpisahkan.
Karakter etihad adalah satu kesatuan utuh; tanpa bagian; tanpa penghubung; tanpa pemisah. Etihad ini yang akan menjadi solusi dualisme badan dan jiwa.
3.2 Vorhanden-Zuhanden
Heidegger (1889 -1976) mengenalkan analisis vorhanden-zuhanden. Heidegger memang menolak dualisme jiwa dan badan versi Descartes. Vorhanden atau present-at-hand adalah mode analisis sebagai konsep abstrak; sedangkan zuhanden atau ready-at-hand adalah mode analisis sebagai eksistensi yang ada dalam dunia.
Vorhanden menganalisis konsep bagian demi bagian kemudian menyambungkan mereka. “Anda melihat pohon jambu itu.” Ada konsep “Anda” sebagai subyek pengamat dan ada konsep “pohon” sebagai obyek pengamatan. Melalui prosedur terntentu, misal melalui gelombang cahaya dan mata, konsep “Anda” terhubung dengan konsep “pohon”. Meski mode vorhanden ini valid tetapi tidak otentik. Sementara, zuhanden adalah otentik.
Zuhanden adalah mode eksistensi yang berada dalam dunia. “Anda melihat pohon jambu itu” adalah sebuah proyek dalam eksistensi Anda-dalam-dunia. Barangkali karena Anda ingin merawat pohon jambu itu; atau karena pohon jambu itu ada yang aneh sehingga menarik perhatian Anda. Proyek Anda-dalam-dunia adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan; tanpa perlu dihubungkan karena sudah utuh. Mode zuhanden ini adalah otentik; berbeda dengan vorhanden yang hanya derivatif.
3.3 Fermion-Boson
Paul Dirac (1902 – 1984) merumuskan konsep fermion dan boson di waktu hampir bersamaan ketika Heidegger merumuskan vorhanden-zuhanden. Fermion adalah partikel elementer yang selalu bisa dibedakan dengan fermion lainnya. Sedangkan boson adalah pembawa gaya interaksi yang merupakan satu kesatuan utuh. Mereka, yaitu fermion dan boson, adalah eksitasi dari medan kuantum.
Fermion adalah partikel terkecil yang bisa kita pikirkan semisal elektron atau quark. Elektron A selalu bisa dihubungkan dengan elektron B tetapi, di saat yang sama, juga selalu bisa dipisahkan.
Boson, misal gravitasi bulan yang menyebabkan pasang naik di pantai utara Jawa, selalu terhubung meski “tampak terpisah” jarak ribuan kilometer dari rembulan sampai bumi. Gravitasi, sebagai contoh boson, adalah satu kesatuan utuh yang tidak perlu disambungkan dan tidak perlu dipisahkan.
3.4 Solusi Mind Body
Kini, kita pada posisi untuk menyelesaikan problem mind-body secara tuntas. Mode eksistensi etihad adalah solusi tuntas bagi problem mind-body.
Sains modern, neurosains, dan filsafat pikiran hanya fokus ke mode ittisal yang berakibat mereka gagal menghadapi mind-body problem. Andai mereka bersedia menambah perspektif mode etihad maka problem mind-bodi selesai; dan mereka menghadapi problem baru yang lebih bernilai.
“Saya mendengar lagu Ebiet itu.”
Sains membuat konsep-saya yang terhubung dengan konsep-lagu melalui proses konsep mendengar; ini adalah mode ittisal; selalu bisa dipisahkan.
Bagaimana konsep-saya terhubung dengan konsep-mendengar? Konsep-saya terhubung melalui konsep-syaraf. Bagaimana konsep-saya terhubung dengan konsep-syaraf? Pertanyaan ini mengantar kita kepada hard-problem dari Chalmers: bagaimana dari syaraf itu bisa muncul kesadaran saya sebagai subyek yang mendengar?
Seperti diketahui, sampai 2026 ini tidak ada solusi bagi hard-problem; karena mereka memakai mode ittisal.
Misal, dari syaraf melalui A maka muncul kesadaran subyek saya. Pertanyaan berikutnya: bagaimana dari A bisa muncul kesadaran? Jawab dari B, misalnya. Tetapi, kita bisa mengajukan pertanyaan lanjutan tanpa henti sehingga tidak ada solusi dari mode ittisal.
Solusinya adalah menambah perspektif etihad maka selesai dengan tuntas.
3.5 Problem Etihad
Mode etihad menyelesaikan problem mind-bodi dengan tuntas tetapi memunculkan problem baru yang tidak pernah tuntas.
“Saya mendengar lagu Ebiet itu” adalah mode etihad sebagai realitas nyata yang utuh; tidak bisa dipisah-pisahkan; tidak bisa disambungkan; karena memang sudah utuh sebagai realitas konkret. Mengapa?
Jika Anda bertanya “mengapa” maka itu adalah pertanyaan yang bagus dalam mode etihad.
Mengapa? Karena lagu Ebiet menyentuh hati Anda sehingga Anda menghargai alam semesta dan menghargai setiap orang. Pada gilirannya, Anda berbuat baik kepada mereka.
Tetapi, mengapa saya bisa mendengar lagu Ebiet? Mengapa lagu Ebiet itu bisa terdengar oleh saya? Mengapa lagu Ebiet itu terhubung dengan saya? Karena Anda menerima anugerah pendengaran dari Sang Pemberi Anugerah. Mengapa saya menerima anugerah pendengaran? Mengapa Dia memberi anugerah ke saya?
Pertanyaan demi pertanyaan makin menarik dan berbobot. Tetapi tidakkah itu menggeser dari pertanyaan sains menjadi pertanyaan etika? Dari pertanyaan obyektif menjadi subyektif?
Tentu saja mode ittisal akan memisahkan sains dengan etika; memisahkan obyek dengan subyek. Kemudian, mode ittisal kesulitan untuk menghubungkan sains dengan etika maupun obyek dengan subyek. Justru mode etihad adalah solusi yang menyatukan sains dengan etika; menyatukan obyek dengan subyek; sebagai kesatuan utuh tanpa penghubung; tanpa pemisah.
Kita perlu mencatat bahwa mode ittisal tetap valid sesuai kapasitasnya; kajian sains tetap valid sesuai porsinya. Bagaimana pun, mode ittisal adalah tidak cukup; sains adalah tidak memadai. Kita perlu meluaskan dan memperdalam dengan mode etihad.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda? Apa manfaat etihad? Apa kontribusi nyata dari mode etihad?
Kontribusi nyata etihad adalah sangat besar dan sangat banyak.
4.1 Mengkaji Etihad
Bagaimana cara mengkaji etihad?
Cara mengkaji etihad adalah melalui pemaknaan; membuka makna terhadap seluruh posibilitas yang luas; menyelidiki makna setiap posibilitas.
Mengkaji sains obyektif saja, dalam mode ittisal, sangat sulit. Bila ditambah dengan kajian makna, mode etihad, bukankah sains menjadi lebih rumit? Benar, sains menjadi rumit bila perspektifnya seperti itu. Tetapi, jika perspektifnya dimulai dari mode etihad maka kajian sains bisa lebih bermakna. Awalnya, saintis menyadari tugasnya untuk mengkaji sains dalam mode etihad; kesadaran diri yang utuh bersama masyarakat dan alam raya. Kemudian, saintis itu mendalami sains secara spesialisasi sesuai keahliannya; mode ittisal. Sehingga, seorang saintis dalam situasi dinamis etihad dan ittisal.
4.2 Mengkaji Makna
Apa makna-eksistensi? Apa makna-realitas? Apa makna-being?
Beberapa istilah kunci untuk mengkaji makna, dan mengkaji etihad, di antaranya adalah: tafsir, takwil, semantik, hermeneutik, puisi, narasi, histori, dan lain-lain. Sains memang jarang mengkaji makna melainkan lebih sering mengkaji definisi. Kita membutuhkan keduanya: definisi dan makna.
4.3 Makna Mind Body
Apa makna mind? Makna body?
Dalam konteks manusia, body adalah badan kita sebagai manusia; badan adalah posibilitas paling dasar bagi manusia. Mind atau pikiran atau jiwa adalah diferensia dari badan; jiwa adalah forma kesempurnaan dari badan.
5. Ringkasan
Kita berhasil menyelesaikan problem mind-body dengan pendekatan mode etihad: pikiran dan badan adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan; dan tidak bisa dihubungkan karena sudah utuh. Kemudian, dari mode etihad ini kita bisa mengembangkan kajian lebih luas dan mendalam.
Sementara, solusi dari perspektif mode ittisal akan selalu gagal menghadapi problem mind-body atau pun variasinya berupa hard-problem tentang kesadaran. Meski kajian mode ittisal adalah valid, dan berpotensi untuk terus berkembang secara saintifik, tetapi kita membutuhkan kajian mode etihad lebih kuat.