Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Putnam, Badiou, dan Armahedi: Simpul Filosofi

Apakah seluruh ilmu pengetahuan bisa disatukan? Atau, justru harus dibeda-bedakan agar tercipta spesialis? Atau, harus kedua-duanya sebagai spesialis dan generalis?

Pada tulisan ini, kita akan mencermati pengetauan secara filosofis. Sebuah cara yang mencoba mempertimbangkan seluruh sudut pandang – berpikir spekulatif.

Saya akan mengambil tiga tokoh pemikir yang menjadi tumpuan analisis kita: Putnam, Badiou, dan Armahedi. Kemudian, saya akan lebih fokus kepada pemikiran Putnam (1926 – 2016). Sementara, pemikiran Badiou (1937 – ) dan Armahedi (1943 – ) sebagai konteks serta pembanding.

1. Konteks
2. Math
3. Sains
4. Ontologi
5. Etika

Pertama, kita akan mengkaji konteks pemikiran saat ini. Pemikiran filosofis analitis berkembang mendominasi dunia yang berbahas Inggris – sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sementara, pemikiran filosofis yang lebih spekulatif berkembang sebagai filosofi kontinental yang, umumnya, bersumber dari negara berbahasa Jerman dan Perancis. Putnam mewakili tradisi filosofi analitis, Badiou mewakili tradisi filosofi kontinental, dan Armahedi mewakili filosofi timur serta Indonesia.

Kedua, kita akan membahas filosofi math. Bagi Putnam, kebenaran matematika adalah kebenaran paling kuat karena merupakan kebenaran-konseptual. Saya sering menyebut matematika sebagai kebenaran sistem aksiomatik. Bahkan, kebenaran matematika tetap terjamin kuat meski obyek matematika masih dipertanyakan apakah nyata, real, atau hanya fiksional. Selanjutnya, Putnam membuktikan bahwa obyek matematika adalah nyata dengan argumen tak-tergantikan (IAQP).

Ketiga, barangkali paling menarik, kita membahas sains lengkap dengan bayangannya yaitu pseudo-sains atau sains-palsu. Debat filosofis realisme/anti-realisme tetap mewarnai filosofi sains – barangkali sampai kapan pun. Putnam mendukung realisme sains dengan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” yang dia kuatkan dengan eksternalisme bahasa “Twin Earth.” Meski sains bersifat obyektif, terdapat banya teori untuk mendekati realitas yang sama validnya. Sains-palsu merupakan eksploitasi sains-buruk atau sains-eror dengan melanggar etika.

Keempat, membahas ontologi. Putnam mengusulkan perlunya “meluaskan” ontologi filosofi analitis sehingga berkontribusi secara sosial budaya yang lebih luas. Konsep internalism-realism menjamin pembahasan ontologi tetap fokus. Tidak melompat tinggi sebagai inflatory. Dan tidak reduksionis atau eliminatif sebagai deflatory. Saya menyebut pembahasan ontologi yang fokus ini sebagai noflatory. Di saat yang sama, Putnam menjaga pluralisme ontologi. Lebih rumit lagi, secara ontologis, ketika pikiran manusia mampu merekayasa alam semesta secara aktif. Kita, misalnya, menyaksikan perkembangan media sosial digital yang bertabur rekayasa.

Kelima, terakhir, kita membahas etika. Putnam menyatakan, “Etika tanpa ontologi.” Sebuah klaim yang sangat kuat. Saya memahami tanpa-ontologi adalah tanpa-ontologi eksternal. Sehingga, ontologi dari etika adalah kajian etika secara internal. Dan, nilai kebenaran etika sama kuatnya dengan kebenaran matematika karena sama-sama kebenaran-konseptual. Bagaimana pun, Putnam tetap konsisten dengan pluralisme termasuk dalam etika. Putnam menegaskan kembali karakter obyektif dari etika – meski dengan atau tanpa obyek.

1. Konteks

Apakah kita membutuh pemikir spesialis atau generalis? Sekilas, Putnam menyatakan bahwa pemikir spesialis tidak memadai untuk perkembangan sosial budaya umat manusia. Sehingga, kita membutuhkan pemikir generalis. Berapa proporsi generalis terhadap spesialis? Bagaimana dengan kedalaman pemikiran? Bagaimana dengan tantangan masa depan, misal, ledakan media sosial digital?

Kita akan mencoba membahasnya secara kontekstual di bagian ini.

Kita akan mulai dengan mengkaji konteks pemikiran saat ini. Pemikiran filosofis analitis berkembang mendominasi dunia yang berbahas Inggris – sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sementara, pemikiran filosofis yang lebih spekulatif berkembang sebagai filosofi kontinental yang, umumnya, bersumber dari negara berbahasa Jerman dan Prancis. Putnam mewakili tradisi filosofi analitis, Badiou mewakili tradisi filosofi kontinental, dan Armahedi mewakili filosofi timur serta Indonesia.

Badiou meluaskan matematika sebagai ontologi atau filosofi. Matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Dulu, sebelum abad 19, matematika belum berkembang. Sehingga, pembahasan ontologi menggunakan bahasa sehari-hari. Tentu saja, bahasa sehari-hari tidak memadai untuk membahas ontologi. Saat ini, matematika sudah berkembang pesat. Khususnya teori himpunan Cantor memudahkan kita membahas infinity tanpa batas sampai ke Absolut. Dengan demikian, matematika adalah ontologi itu sendiri.

Matematika, atau filosofi, adalah kajian tentang truth, atau kebenaran, secara ontologis. Hanya filosofi yang mengkaji truth sebagai truth itu sendiri. Sedangkan, bidang-bidang lain mengkaji truth sebagai prosedur truth. Badiou meng-klaim ada empat prosedur truth: sains, seni, cinta, dan politik. Banyak pihak mengusulkan agar Badiou memasukkan agama sebagai salah satu prosedur truth. Sejauh ini, Badiou masih bersikukuh hanya ada empat prosedur truth di atas.

Masing-masing prosedur truth memiliki prosedur yang mandiri. Meski demikian, di antara prosedur truth yang berbeda bisa saja saling berbaur. Realitas justru sebagai perpaduan dari beragam prosedur truth, termasuk, perpaduan dengan filosofi.


2. Math

Kita akan membahas filosofi math. Bagi Putnam, kebenaran matematika adalah kebenaran paling kuat karena merupakan kebenaran-konseptual. Saya sering menyebut matematika sebagai kebenaran sistem aksiomatik. Bahkan, kebenaran matematika tetap terjamin kuat meski obyek matematika masih dipertanyakan apakah nyata, real, atau hanya fiksional. Selanjutnya, Putnam membuktikan bahwa obyek matematika adalah nyata dengan argumen tak-tergantikan (IAQP).

3. Sains

Kita membahas sains lengkap dengan bayangannya yaitu pseudo-sains atau sains-palsu. Debat filosofis realisme/anti-realisme tetap mewarnai filosofi sains – barangkali sampai kapan pun. Putnam mendukung realisme sains dengan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” yang dia kuatkan dengan eksternalisme bahasa “Twin Earth.” Meski sains bersifat obyektif, terdapat banya teori untuk mendekati realitas yang sama validnya. Sains-palsu merupakan eksploitasi sains-buruk atau sains-eror dengan melanggar etika.

4. Ontologi

Putnam mengusulkan perlunya “meluaskan” ontologi filosofi analitis sehingga berkontribusi secara sosial budaya yang lebih luas. Konsep internalism-realism menjamin pembahasan ontologi tetap fokus. Tidak melompat tinggi sebagai inflatory. Dan tidak reduksionis atau eliminatif sebagai deflatory. Saya menyebut pembahasan ontologi yang fokus ini sebagai noflatory. Di saat yang sama, Putnam menjaga pluralisme ontologi. Lebih rumit lagi, secara ontologis, ketika pikiran manusia mampu merekayasa alam semesta secara aktif. Kita, misalnya, menyaksikan perkembangan media sosial digital yang bertabur rekayasa.

5. Etika

Putnam menyatakan, “Etika tanpa ontologi.” Sebuah klaim yang sangat kuat. Saya memahami tanpa-ontologi adalah tanpa-ontologi eksternal. Sehingga, ontologi dari etika adalah kajian etika secara internal. Dan, nilai kebenaran etika sama kuatnya dengan kebenaran matematika karena sama-sama kebenaran-konseptual. Bagaimana pun, Putnam tetap konsisten dengan pluralisme termasuk dalam etika. Putnam menegaskan kembali karakter obyektif dari etika – meski dengan atau tanpa obyek.

Meta Filosofi Indonesia

Meta Filosofi adalah cara memahami filsafat dari sudut pandang yang luas. Sehingga, dengan meta filosofi, kita bisa memahami struktur filsafat dengan lebih jelas. Bagai mata elang, yang terbang tinggi, bisa mengamati seluruh wilayah yang luas dengan jelas. Demikian juga, Einstein mengembangkan konsep relativitas. Einstein bagai terbang tinggi ke langit. Kemudian, mengamati bumi, bulan, matahari, galaksi dan seluruh semesta raya. Akhirnya, Einstein menemukan teori relativitas khusus dan umum. Semesta alam raya, yang begitu luas, seluruhnya, berada dalam kajian teori relativitas.

Saya menyebut cara pandang seperti Einstein, yang luas, adalah cara pandang elang-gravitasi. Sementara, cara pandang teori mekanika quantum adalah cara pandang semut-quantum. Di mana, semut-quantum justru mengamati fenomena partikel-partikel sangat kecil. Sejumlah elektron, misalnya, diisolasi dalam ruang penelitian tertutup. Dengan situasi yang terbatas seperti itu, semut-quantum mengamati perilaku elektron secara mendalam. Dan, kita menyaksikan perkembangkan hebat teori quantum.

Kita membutuhkan keduanya: elang-gravitasi dan semut-quantum. Nyatanya, sampai saat ini, elang-gravitasi tidak mampu mencermati fenomena quantum. Demikian juga, semut-quantum tidak mampu mencermati fenomena gravitasi.

Di bidang filosofi, kita memerlukan kajian meta filosofi yang mirip dengan elang gravitasi. Kemudian, bagi yang berminat bisa mendalami masing-masing filosofi dengan pendekatan semut-quantum. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas meta filosofi dari sudut pandang Indonesia.

1. Analytic
2. Continental
3. Timur
4. Indonesia
5. Living Philospher

Secara umum, filosofi terbagi menjadi dua: analytic dan continental. Saya menambahkan filosofi Timur dan Indonesia. Sebagai bonus, saya mengambil beberapa contoh living-philosopher yaitu filsuf yang masih hidup sampai saat ini. Untuk memahami itu semua, kita perlu terbang tinggi. Membuka mata dan hati. Berpikir terbuka terhadap semua yang ada.

1. Analytic

Tradisi filosofi analytic merupakan tradisi filsafat yang sangat kaya. Ide-ide segar berkembang dengan subur dalam tradisi analytic. Berkembang pada masa peralihan ke abad 20, dipelopori oleh Russell bersama muridnya, Wittgenstein, dan kolega Moore. Russell menolak metafisika Hegel dan merangkul logika Frege.

Wittgenstein-muda melengkapi dengan logika bahasa atomis yang mengukuhkan nilai kebenaran proposisi secara atomis – layaknya sistem periodik atom sains kimia. Selanjutnya, Wittgenstein-dewasa mengembangkan Investigation yang tidak berhasil memberi solusi kepada masalah filosofi. Tetapi, justru menjadikan satu masalah filosofi berbuah lebih banyak masalah lagi.

Ketegangan Wittgenstein-muda lawan Wittgenstein-dewasa, justru, menjadikan filsafat analytic lebih produktif.

2. Continental

Filsafat Continental mengkaji filsafat secara luas, mendalam, dan sulit masuk akal. Continental membahas realitas tidak seperti apa adanya. Awalnya, Continental memang membahas realitas apa adanya. Lanjut, ada apanya. Dan, tanpa akhir, ada apa saja?

Husserl tampak menerima pembagian dunia oleh Kant: fenomena dan noumena. Kemudian, Husserl fokus kepada fenomenologi, yaitu, memahami segala sesuatu apa adanya sesuai yang hadir dalam kesadaran manusia. Heidegger melanjutkan dengan fenomenologi-eksistensial sehingga berkembang eksistensialisme oleh Sartre dan dekonstruksi oleh Derrida.

Orang yang akrab dengan analytic bisa kesulitan untuk memahami continental karena memang jauh berbeda. Sebaliknya, orang yang akrab dengan continental bisa sulit memahami analytic karena analytic cenderung lebih spesifik.

3. Timur

Filsafat Timur memiliki sejarah panjang dan kaya akan kreativitas. Pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas beberapa pemikiran tokoh besar dari Timur Tengah. Suhrawardi berhasil merumuskan ulang logika menjadi satu bentuk silogisme paling sederhana. Kemudian, Suhrawardi mengembangkan ontologi-cahaya sebagai pengetahuan sejati, otentik.

Ibnu Arabi, sejaman dengan Suhrawardi tetapi tampaknya tidak saling terhubung, mengembangkan konsep kesatuan paling canggih dengan berpuncak ke insan-kamil, manusia sempurna. Manusia adalah ruh bagi alam semesta. Dan, alam semesta adalah badan bagi manusia. Insan-kamil adalah wujud sempurna yang merangkul segala yang ada.

Sadra merumuskan prioritas-wujud yang dinamis berupa gerak-substansial. Sadra berhasil membuat sintesa kreatif dari semua ajaran filosofis yang berkembang sampai saat itu. Pada abad 20, Iqbal mengkaji metafisika Persia dengan dukungan Universitas di Jerman. Dengan demikian, Iqbal berhasil memotrel filsafat Timur dan filsafat Barat secara serentak. Untuk kemudian, Iqbal mengembangkan filsafat proses yang penuh dinamika.

4. Indonesia

Indonesia kaya akan karya filsafat. Karena, saya tinggal di Indonesia, maka, mengkaji filsafat Indonesia menjadi spesial. Di sini, saya hanya akan mengambil sebagian saja yang paling penting. Sunan Kalijaga adalah tokoh penting yang mengajarkan filsafat hidup melalui budaya.

Armahedi mengembangkan filsafat Integralisme yang berusaha menyatukan unsur-unsur penting filsafat, sains, seni, agama, moral, dan lain-lain. Yasraf mengembangkan konsep “Dunia yang Dilipat” sebagai metafor realitas digital yang tumpang tindih tanpa batas-batas. Sementara, Bambang menilai problem utama postmodern adalah dalam bahasa yang menyimpan ketegangan makna denotasi dengan metafora.


5. Living Philospher

Filsafat terus berkembang sampai saat ini. Kita akan mengkaji beberapa pemikiran living-philosopher sebagai contoh filsafat kontemporer.

Kita akan mengkaji pemikiran living-philosopher dari analytic, continental, dan Indonesia.

Akhir Sains, Agama, dan Filosofi

Akhirnya, segala sesuatu harus sampai pada akhir. Dari satu sisi, akhir adalah benar-benar akhir. Dari sisi lain, akhir adalah awal yang baru.

Akhir dari sains sudah tampak jelas. Akhir dari agama juga jelas. Akhir dari filosofi sama jelasnya. Akhir dari segalanya adalah ajakan untuk berpikir terbuka. Dengan demikian, setiap akhir adalah awal yang baru, pemikiran yang baru. Meski saya memilih kata “berpikir terbuka,” maksudnya, lebih luas dari sekedar berpikir biasa. Berpikir terbuka adalah menjadi diri yang terbuka, hati yang terbuka, dan menjadi realitas yang terbuka.

1. Akhir Sains
1.1 Histori
1.2 Debat
1.3 Konsep
1.4 Fisika
1.5 Matematika

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi
3.1 Metafisika
3.2 Destruksi
3.3 Keterbukaan

1. Akhir Sains

Sains berkembang sejak awal perkembangan peradaban manusia. Tetapi, sains modern bisa kita lacak berawal dari teori Newton yang menerapkan matematika untuk kajian empiris, sekitar 5 abad yang lalu. Dengan pendekatan matematika ideal, sains berkembang pesat sampai melahirkan teknologi digital. Apakah itu kabar baik bagi peradaban? Tentu saja, banyak perdebatan.

Di masa kini, sains fisika mencapai titik kematangan sebagai interpretasi terhadap fenomena. Kita mengenal interpretasi teori quantum, interpretasi relativitas umum, interpretasi theory-of-everything. Dari bidang matematika, kita sudah berjalan dari sistem formal aksiomatik sampai realisme matematika. Di ujung akhir, muncul challenge dari matematika fiksional: apakah obyek matematika itu benar-benar ada? Obyek matematika, misal bilangan prima, adalah abstrakta yang bersifat fiksional. Tentu saja, banyak ahli yang tidak setuju. Dan, berkembanglah pluralisme dalam matematika.

1.1 Histori

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sains sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Kita mengenal Mesir Kuno, Cina Kuno, Yunani Kuno, dan sebagainya. Thales (sekitar abad 7 SM) adalah ilmuwan kuno yang teorinya bisa kita pelajari sampai sekarang, misal teori perbandingan segitiga. Thales memerintahkan murid-muridnya untuk belajar ke Mesir karena di Mesir sudah berkembang sains yang lebih maju.

Khawarizmi (780 – 850) mengembangkan teori aljabar yang metodis sebagai inovasi besar bidang matematika. Selanjutnya, matematika makin berkembang pesat hampir ke seluruh penjuru. Newton (1643 – 1727) adalah ilmuwan paling sukses menerapkan teori matematika ke sains empiris. Sains modern makin kokoh dengan pendekatan matematis. Pada gilirannya, sains mendorong lahirnya teknologi, termasuk, teknologi digital yang mewabah di dunia saat ini.

Sukses sains empiris fisika dalam menerapkan matematika memicu sains di bidang lain menerapkan metode yang sama. Keunggulan sains empiris matematis adalah, pertama, bersifat jelas. Karena proposisi dalam bentuk formula matematika maka setiap ilmuwan dapat memahami dengan jelas dan tegas. Kedua, bersifat kokoh. Karena kebenaran matematika bersifat aksiomatik yang kokoh maka sains mengikuti keunggulan aksiomatik yang sama. Ketiga, mudah direkayasa. Lagi, karena berupa formula matematika, ilmuwan mudah mereka-yasa formula. Ilmuwan tidak harus berhubungan dengan obyek empiris konkret. Cukup mengkaji formula matematika saja – dalam banyak kasus. Lebih-lebih dengan berkembangnya simulasi komputer, maka, rekayasa makin digdaya.

Nasib Manusia

Kehebatan sains modern begitu mempesona, sekaligus, sangat berbahaya. Bagaimana nasib manusia jika semua bisa direkayasa? Bagaimana masa depan alam raya?

Laplace (1749 – 1827) saintis Newtonian pernah mengatakan, “Jika kita mendapat informasi yang lengkap maka kita bisa memastikan nasib masa depan alam semesta.” Dengan berbekal analisis model matematika yang canggih, kita bisa memastikan kapan terjadi gerhana, kapan terjadi musim hujan, dan seberapa deras hujan itu sampai lengkap dengan dampaknya. Dengan demikian, nasib alam raya dapat dipastikan dengan pendekatan sains. Optimisme semacam itu, tampak, masuk akal. Benarkah?

Immanuel Kant (1720 – 1804) mengantisipasi salah arah perkembangan sains dan filsafat melaui trilogi kritik. Kant berhasil menunjukkan cakupan sains, filsafat, dan teologi dengan batas-batas yang jelas. Dengan kritik, Kant menunjukkan secara sistematis keungulan sains empiris dan, sekaligus, kelemahannya. Kelemahan utama sains empiris adalah tidak pernah berhasil melakukan klaim kebenaran universal. Klaim empiris selalu bersifat partikular, terbatas. Dengan demikian, optimisme Laplace sudah melampaui batas kemampuan sains.

Popper (1902 – 1994) meyakini bahwa kita tidak akan pernah mampu meramalkan sejarah masa depan. Mengapa? Perkembangan peradaban dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan manusia. Sementara, pengembangan pengetahuan manusia sering memunculkan inovasi tanpa henti. Berbagai macam inovasi sains tak terprediksi sebelumnya. Akibatnya, kita juga tidak akan pernah berhasil memprediksi masa depan umat manusia serta alam raya.

Poincare (1854 – 1912) berhasil menunjukkan bahwa teori sains, semisal teori Newton, adalah interpretasi dari fakta. Bukan fakta itu sendiri. Quine (1908 – 2000) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kita tidak bisa membedakan dengan pasti antara fakta dengan konvensi. Karena itu, setiap teori sains terbuka terhadap revisi. Einstein (1879 – 1955) berhasil menyusun teori fisika yang berbeda dengan, dan merevisi, teori Newton. Dengan demikian, Einstein berhasil mengkonstruksi interpretasi sains yang lebih baik dari Newton. Bagaimana pun, dalam penerapan sains sampai saat ini, teori Newton lebih praktis dan sudah mencukupi. Jadi, lebih bagus mana interpretasi Newton atau Einstein?

Paradigma Sains

Thomas Kuhn (1922 – 1996) mengguncang dunia sains dengan megumumkan bahwa kebenaran sains tergantung kepada paradigma. Sehingga, klaim kebenaran sains bisa saja relatif terhadap paradigma dan konteks yang ada. Di satu sisi, penyataan tentang peran paradigma dalam sains bagai kritik tajam kepada sains. Di sisi lain, dengan mencermati paradigma, sains justru mampu melompat tinggi dalam inovasi.

Kuhn menyarankan agar kita mempelajari histori untuk bisa memahami sains dengan baik. Dari histori, kita bisa memetakan beragam paradigma yang berkembang di masyarakat serta konteks yang ada. Selanjutnya, kita bisa memastikan klaim sains di masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, sains membutuhkan histori. Sains tidak bisa lepas dari histori.

Imre Lakatos (1922 – 1974) menyambut ide Kuhn bahwa sains memerlukan histori. Lakatos, yang akrab dengan dialektika Hegel, melihat dari arah sebaliknya. Bukan hanya sains yang membutuhkan histori. Tetapi, histori juga membutuhkan sains. Sehingga, sains dan histori secara terus-menerus berdialektika.

Feyerabend (1924 – 1994) melanjutkan dialektika Lakatos. Ketika sains dan histori saling mempengaruhi, maka, bagaimana kita menetapkan klaim validitas sains? Apakah dari sains, kemudian, kita bisa memahami histori? Atau, sebaliknya, dari histori, kemudian kita bisa memahami sains? Dari beragam kriteria yang ada, Feyerabend menyimpulkan bahwa tidak ada prosedur universal untuk klaim kebenaran sains mau pun histori.

Barangkali, kita bisa bergerak ke perkembangan teori matematika yang lebih murni. Dengan harapan, kita akan berhasil menemukan kriteria universal untuk klaim kebenaran sains. Di bagian bawah, kita akan membahas secara khusus tentang filosofi matematika. Di bagian ini, cukuplah kiranya kita membahas singkat saja.

Frege (1848 – 1925), Hilbert (1862 – 1943), dan Russell (1872 – 1970) adalah beberapa nama besar yang mengembangkan filosofi matematika sampai level tertinggi di masanya. Matematika adalah sistem aksiomatik sederhana yang nilai kebenarannya bersifat universal; terbebas dari data empiris, terbebas dari histori, dan terbebas dari sains. Kemudian, sistem aksiomatik ini diterapkan ke sains secara luas. Sehingga, diharapkan, sains memiliki klaim kebenaran yang bersifat universal sebagai mana matematika.

Tidak perlu waktu lama, bahkan Russell sendiri, menemukan paradoks pada sistem formal aksiomatik itu. Meski, kemudian, Russell berhasil menemukan solusi untuk paradoks itu. Tetapi, paradoks terbesar dirumuskan oleh Godel (1906 – 1978), kelak, dikenal sebagai paradoks Godel. Sampai sekarang, paradoks Godel terbukti valid. Maksudnya, setiap sistem formal, pasti, memiliki paradoks yang menjadikannya tidak lengkap.

Para ilmuwan menyikapi paradoks Godel dengan beragam. Pada akhirnya, matematika sampai kepada sistem matematika yang plural. Tidak ada sistem matematika yang bisa mengklaim kebenaran tunggal secara universal. Beragam sistem matematika yang berbeda-beda, bisa, saling melengkapi.

Ontologi

Ontologi mengkaji being-qua-being atau apa sejatinya yang ada. Pertanyaan ontologis sudah menjadi kajian utama sejak awal sejarah. Misal, kita mengenal ada 4 unsur utama pembentuk alam raya: air, api, tanah, dan udara. Ditambah satu lagi unsur yang lebih lembut yaitu ether.

Demokritus (460 – 370 SM) adalah pemikir pertama yang mengenalkan konsep atom. Seluruh alam semesta terdiri dari partikel-patikel terkecil berupa atom. Russell memuji teori atom dari Demokritus ini sebagai teori paling ilmiah pada jamannya – dua ribu tahun yang lampau. Kelak, benar saja, teori atom ini berkembang secara ilmiah.

Di era modern, kita mengenal teori atom Dalton, Rutherford, Bohr, dan, tentu saja, teori mekanika quantum. Jadi, benarkah alam raya ini memang tersusun oleh atom-atom?

Di abad 21 ini, seharusnya, kita bisa menjawab dengan tegas. Memang benar, secara makrokospis, alam raya ini terdiri dari partikel-partikel kecil berupa atom. Kita memiliki sistem periodik unsur-unsur kimia yang diupdate setiap saat. Tetapi, secara mikrokospis, mekanika quantum meragukan pandangan realisme ilmiah semacam itu.

Di satu sisi, mekanika quantum berhasil mengkaji realitas partikel paling tersembunyi, partikel subatomik. Di sisi lain, mekanika quantum hanya berhasil sebagai interpretasi terhadap realitas. Mekanika quantum bukan realitas itu sendiri tetapi interpretasi terhadap realitas. Dan, salah satu interpretasi terkuat adalah pandangan yang menyatakan tidak ada realisme ilmiah pada tataran mikrokospis. Maksudnya, tidak ada realitas obyektif di dunia luar sana. Realitas obyektif itu baru tercipta ketika ada pengaruh dari pengamat subyektif.

Secara ontologis, kita bisa mengkaji realitas dari arah yang berbeda.

Parmenides (515 – 460 SM) meyakini hanya ada satu realitas tunggal yaitu being atau wujud. Selain being adalah tidak ada atau nothing. Karena nothing adalah tidak ada maka kita tidak bisa membahas nothing. Kita hanya bisa membahas being semata. Kelak, pandangan Parmenides ini memicu beragam kajian yang panjang.

Ibn Arabi (1165 – 1240) dan Sadra (1570 – 1640) mengembangkan teori being atau teori wujud secara sistematis dan dinamis. Realitas yang ada adalah wujud saja. Di satu sisi, wujud adalah tunggal. Di saat yang sama, wujud adalah beragam, berbeda-beda secara gradasi intensitas. Wujud, secara terus-menerus, bergerak dinamis menuju wujud yang lebih sempurna. Dengan demikian, kajian sains apa pun, selama berhubungan dengan realitas, maka akan selalu mengalami perubahan secara dinamis.

Heidegger (1889 – 1976), justru, mengajukan pertanyaan lebih mendasar, “Apa makna being?”

Ada pohon, ada elektron, ada sains, ada teknologi, dan ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada itu sendiri? Apa makna-being? Apa makna-wujud?

Kita meyakini makna-ada sudah jelas di mana saja, terbukti dengan sendirinya, dan tidak bisa didefinisikan. Tetapi, apakah keyakinan seperti itu menjadikan makna-ada lebih jelas? Heidegger mengajukan pertanyaan ontologis ini sejak tahun 1926 ketika menulis buku Being and Time. Dan, mendedikasikan seluruh sisa hidupnya, selama 50 tahun sampai 1976, untuk menjawab pertanyaan makna-ada. Jawaban Heidegger, makna-ada adalah bersifat temporal dan historal.

Karena sains adalah being, sains adalah ada, maka sains bersifat temporal. Maksudnya, sains akan selalu berubah seiring waktu. Sains akan senantiasa mengalami revisi setiap hari. Sains juga bersifat historal, yaitu, sains diciptakan oleh sejarah dan menciptakan sejarah. Dan, yang sangat penting, karakter fundamental dari being adalah care atau peduli. Sikap peduli adalah yang menjadikan being berkualitas tinggi – termasuk kualitas sains.

Derrida (1930 – 2004) menyambut baik kajian ontologis yang mempertanyakan makna-ada. Untuk mengungkapkan makna-ada lebih jelas, Derrida mengembangkan program dekonstruksi – yang merupakan saduran dari kata destruksi Heidegger.

Dekonstruksi adalah “operasi” mengungkapkan being yang tersembunyi agar menjadi lebih jelas. Awalnya adalah benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Akhirnya, menjadi pohon yang rindang dan berbuah. Itu adalah contoh dekonstruksi pada benih. Sehingga menjadi jelas ada akar, batang, dan daun. Tetapi, benih dan pohon adalah realitas fisik yang bersifat terpisah-pisah.

Kita bisa mengambil contoh pengetahuan geometri. Awalnya geometri. Kemudian, ada bidang datar. Lalu, ada segitiga siku-siku. Berlaku teorema Pythagoras. Dan, formula teorema segitiga ganjil. Dalam contoh dekonstruksi geometri ini terjadi “pengungkapan” being menjadi lebih jelas. Being yang lebih matang, yang lebih akhir, adalah lebih konkret dan, di saat yang sama, meliputi being yang lebih general.

Pergerakan dekonstruksi adalah dari general menuju konkret atau dari genus menuju diferensia.

Teorema Pythagoras adalah lebih konkret dari geometri. Sehingga, Pythagoras meliputi geometri. Analisisnya bisa sebagai berikut. Pythagoras meliputi segitiga siku-siku. Maksudnya, Pythagoras berlaku pada segitiga siku-siku. Sehingga, Pythagoras meniscayakan “ada” segitiga siku-siku. Selanjutnya, segitiga siku-siku meniscayakan bangun datar dan geometri. Dengan demikian, Pythagoras meliputi seluruh genus yang lebih general – dari segitiga sampai geometri.

Selanjutnya, saya mengembangkan formula segitiga ganjil yang berlaku pada teorema Pythagoras. Dengan analisis yang sama, kita bisa menyatakan bahwa formula segitiga ganjil meliputi seluruh genus yang lebih general – Phytagoras, bangun datar, sampai geometri.

Dalam ranah sains, dan teknologi, operasi dekonstruksi adalah suatu keharusan. Maksudnya, sains niscaya bergerak dari genus yang general menuju diferensia yang konkret.

Dinamika

Kiranya, sampai di sini, cukup valid, kita menyatakan bahwa sains dan teknologi senantiasa berubah secara dinamis. Apakah perubahan ini ke arah yang lebih baik? Atau, tidak bisa dipastikan?

Arah dinamika sains bisa dipastikan ke arah yang lebih sempurna dan lebih konkret. Tetapi, tidak bisa dipastikan sebagai lebih baik. Kadang lebih baik, dan tidak jarang, lebih buruk. Ledakan bom nuklir, mesin pembunuh massal, penipuan bisnis digital, dan lain-lain adalah contoh perkembangan yang tidak baik. Sementara, secara umum, perkembangan sains dan teknologi bisa memperbaiki kehidupan umat manusia. Belajar dari sejarah menjadi pilihan utama.

1.2 Debat

Sampai saat ini, debat sains dan filsafat masih terus berlangsung. Khsusunya, dari sisi filsafat, perdebatan merupakan suatu keharusan. Di bagian ini, kita akan mengkaji beberapa perdebatan berhubungan dengan empirisme, eksplanasi, realisme, dan value.

Empirisme

Sains modern tampak identik dengan empirisme. Atau, empirisme menjadi paling utama di antara pandangan non-empirisme. Tentu saja, dengan mudah kita mengamati bahwa empirisme terlalu ketat membatasi wilayah. Sains dan filsafat lebih luas dari empirisme. Realitas lebih dari sekedar fakta empiris.

Eksplanasi

Realisme

Value

1.3 Konsep

Kausalitas

Idealisasi

Probabilitas

Pseudosains

Unifikasi

1.4 Fisika

Newton

Einstein

Quantum

1.5 Matematika

Teori Himpunan

Teori Kategori

Matematika Plural

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi

Wong Jawani: 5 Kunci Menjadi Manusia Sejarah

Kita mengenal banyak orang-orang hebat mengukir sejarah. Hart menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, waktu itu, sampai abad 20.

Nabi Muhammad adalah tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Nabi membimbing umat manusia menelusuri jalan cahaya terang benderang. Berikutnya, Isaac Newton menerangi sains dunia dengan pendekatan formula matematis. Dengan cara ini, kekuatan sains makin kokoh. Dan, Nabi Isa membimbing jutaan sampai milyaran umat manusia mendalami kehidupan spiritual. Masih banyak contoh-contoh manusia hebat lainnya.

Mereka manusia sejarah. Mereka mengukir sejarah. Sejatinya, Anda juga manusia sejarah. Anda bisa mengukir sejarah. Anda pasti mengukir sejarah. Kita, memang manusia bersejarah.

Pertanyaannya: apa sejarah yang akan Anda ukir?

Tulisan ini akan membahas manusia sejarah. Saya memilih istilah “wong jawani” atau “jawani” untuk menggambarkan manusia sejarah yang mampu memilih dengan bebas arah sejarah yang hendak dia tulis. Sementara, orang pada umumnya, akan tetap mengukir sejarah – baik dengan pilihan bebas atau tidak.

1. Luma dan Tata
2. Dinamika
3. Salah dan Koreksi
4. Waktu Sejarah
5. Sejarah Baru

Secara istilah, wong jawani berasal dari bahasa Jawa. Wong adalah manusia. Lebih tepatnya, wong adalah manusia ontologis yang berpadanan dengan “dasein” dari Heidegger. Sedangkan, jawani adalah peduli secara otentik atau peduli sejati. Sehingga gabungan wong jawani bermakna dasein otentik. Jika dasein adalah genus dan jawani adalah diferensia, maka, jawani adalah diferensia akhir atau diferensia real sesuai konsep Mulla Sadra. Akibatnya, term jawani sudah meliputi makna wong itu sendiri dengan basit.

1. Luma dan Tata

Kunci ke-1 adalah kita perlu mengalami sebagai “luma.” Yaitu, diri kita adalah anugerah yang luar biasa besar, berlimpah. Alam sekitar kita begitu luas tanpa batas. Orang-orang di sekitar kita adalah manusia-manusia pilihan untuk bersama-sama tumbuh kembang melampaui segala rintangan. Kita adalah luma yang terus-menerus mendobrak semua realitas.

Di saat yang sama, kita adalah “tata.” Kita menjadi realita karena ter-tata. Badan kita tertata dengan baik. Mata, telinga, paru-paru, jantung, dan seluruh organ tubuh kita tertata dengan baik. Alam semesta – matahari, bumi, bulan, dan seluruh galaksi – tertata dengan rapi berputar setiap hari. Semua menjadi nyata karena tertata.

Diri kita dan alam raya adalah luma dan tata.

Luma dan tata, kita singkat sebagai tataluma, selalu menjadi realita. Pilihan ada di tangan kita. Apakah menjadi tataluma sekedarnya saja? Yaitu tataluma rajawa, tidak otentik. Atau, Anda memilih tataluma jawani? Yaitu tataluma otentik.

2. Dinamika

Kunci ke-2 adalah dinamika. Segala sesuatu bergerak. Jiwa kita selalu berubah. Semuanya bergerak penuh dinamika. Tidak ada yang tidak bergerak di alam raya ini.

Bahkan, gerak dinamika ini bukan hanya gerak permukaan aksidental. Gerak dinamika ini adalah gerakan substansial – gerak hakiki. Karena itu, wong jawani selalu bergerak secara hakiki. Gerak jasmani dan ruhani.

Gerak hakiki adalah gerak perubahan menuju yang lebih sempurna. Sejatinya, semua gerak selalu menuju lebih sempurna. Tetapi, kadang ada gerak ke arah yang salah, atau pada ukuran yang salah. Pada kunci ke-2 ini, kita akan mengkaji gerak sejati. Kunci ke-1, luma dan tata, adalah landasan untuk menjadi jawani. Sedangkan kunci ke-2 adalah proses wong jawani untuk mengukir, dan diukir oleh, sejarah.

3. Salah dan Koreksi

Wong jawani mengakui dirinya bersalah – baik secara teori mau pun praktis. Karenanya, jawani melanjutkan dengan tindakan koreksi. Orang yang merasa tidak pernah bersalah, justru, dia tidak jawani. Akibatnya, dia tidak perlu melakukan koreksi diri. Kunci ke-3 untuk menjadi jawani adalah menyadari salah diri, untuk kemudian, melakukan koreksi.

4. Waktu Sejarah

Waktu adalah segalanya. Kunci ke-4 adalah waktu sejarah. Secara umum, waktu, kita pahami sebagai sesuatu yang temporal. Yaitu, ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan demikian, ada perubahan di setiap saat. Pun, kita bisa mengukur suatu waktu yang dibutuhkan.

Selanjutnya, kita bisa mengukur waktu untuk terus-menerus ditambahkan. Misal, 1 jam ditambah menjadi 2 jam. Atau, 3 tahun ditambah menjadi 4 tahun. Dengan demikian kita memiliki durasi waktu. Uniknya, setiap durasi adalah berbeda.

Totalitas waktu temporal dan durasi membentuk waktu historal atau waktu sejarah. Wong jawani memanfaatkan dengan baik sifat waktu sejarah yang unik akumulatif ini. Jawani secara dinamis menyongsong masa-depan dengan mewarisi masa-lalu dan menggerakkan masa kini. Pada waktunya, jawani adalah sejarah itu sendiri.

5. Sejarah Baru

Setiap sejarah adalah sejarah baru. Meski, orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang, tetapi, jawani mengulang sejarah dengan gagah berani menjadi sejarah yang diperbarui. Kunci ke-5 adalah sejarah baru.

RUU Sisdiknas 2022: Kritik Transenden

Kabar baik! RUU Sisdiknas meningkatkan kesejahteraan para guru. Menambah semangat baru untuk memajukan pendidikan nasional.

Tentu saja, kita ingin memajukan pendidikan nasional. Salah satu faktor penting adalah meningkatkan kesejahteraan guru dan semua insan pendidikan. Tetapi, perlu hati-hati karena proses pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk mencari keuntungan uang, kesejahteraan, atau kekuasaan. Sebaliknya, sistem pendidikan adalah wahana untuk pengabdian.

Saya akan menulis hanya satu kritik saja terhadap RUU Sisdiknas, pada kesempatan ini.

“Penilaian guru, siswa, dan sistem pendidikan perlu bersifat transenden.”

1. Nilai Siswa Transenden

Penilaian raport siswa atau nilai ujian kelulusan siswa perlu bersifat transenden. Maksudnya, transenden adalah penilaian ini mandiri dari siswa, guru, atau sekolah bersangkutan.

Di RUU Sisdiknas 2022, penilaian tidak bersifat transenden.

Dengan contoh, barangkali akan lebih mudah memahami. Sejak masa lalu, nilai siswa ditentukan oleh guru. Misal nilai matematika siswa ditentukan oleh guru matematika bersangkutan. Penilaian seperti ini tidak transenden.

Siswa bisa mempengaruhi guru untuk menaikkan nilai, misalnya, dengan memberi hadiah kepada guru. Orang tua siswa juga bisa memberi fasilitas khusus kepada guru sehingga guru cenderung bersikap lebih baik dalam menilai siswa bersangkutan. Atau, guru itu sendiri memang “senang” terhadap siswa sehingga obral nilai.

Dalam arah negatif bisa saja terjadi. Guru “marah” kepada siswa sehingga memberi nilai buruk kepada siswa bersangkutan.

Usulan solusi: menciptakan sistem transenden untuk penilaian siswa. Misal, penilaian siswa ditentukan oleh fakultas pendidikan matematika dari universitas terdekat. Sistem ini bersifat transenden dalam arti siswa, guru, orang tua, kepala sekolah, dan lain-lain tidak bisa mencampuri urusan penilaian.

Dengan sistem transenden seperti di atas, maka, siswa dan guru adalah satu tim untuk mencapai tujuan bersama: meraih kualitas pendidikan terbaik. Salah satunya adalah meraih nilai terbaik. Meski, kita tahu, makna pendidikan lebih luas dari sekedar nilai.

Dengan sistem transenden, guru tidak bisa mengancam siswa dengan ancaman nilai yang buruk bila tidak nurut ke guru. Sebaliknya, guru juga tidak bisa dikendalikan oleh siswa dan orang tua.

Kita semua adalah satu tim untuk menciptakan pendidikan dengan kualitas tertinggi. Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat luas bersatu padu untuk maju.

Tentu saja, guru tetap berhak membuat nilai raport sebagai laporan. Nilai raport adalah catatan dari guru untuk menunjukkan kemajuan proses belajar siswa. Dengan raport, semua pihak bisa berkomunikasi. Bagian mana saja, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan. Nilai raport bukan suatu prestasi, juga, bukan suatu hukuman bagi siswa.

2. Karir dan Tunjangan Guru Transenden

Kita perlu menciptakan sistem transenden untuk menilai guru yang berdampak kepada karir dan tunjangan kesejahteraan.

Dengan sistem transenden, guru hanya fokus untuk meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada siswa dan masyarakat. Guru tidak perlu “tersenyum” ke sana ke mari agar karir cemerlang. Dengan kualitas pengabdian yang tinggi, guru terjamin makin sukses.

Tentu saja, siswa dan masyarakat luas bisa memberi masukan kepada guru melalui “kotak saran digital”. Lagi, saran semacam itu adalah media komunikasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan ancaman dan bukan penilaian.

3. Penilaian Kualitas Sekolah Transenden

Sejatinya, saat ini, penilaian kualitas sekolah sudah bersifat transenden dari sekolah. Tetapi, tidak transenden terhadap universitas tertentu. Sehingga, kita perlu solusi sistem transenden lagi.

Dampaknya, saat ini, terbentuk citra sekolah favorit. Bukan sekedar citra, tetapi benar-benar nyata favorit. Sehingga, sekolah favorit ini menyalahi tujuan pemerataan kualitas pendidikan.

Ambil contoh, SMA 3 Bandung adalah favorit karena tiap tahun puluhan siswa atau ratusan siswa diterima masuk ITB tanpa tes. Sementara, SMA lain yang berjarak hanya sekitar 50 km dari SMA 3 adalah tidak favorit karena tidak ada siswa yang bisa diterima di ITB melalui jalur tanpa tes.

Penilaian kualitas sekolah ini sudah transenden terhadap SMA tapi tidak transenden terhadap ITB atau beberapa universitas. Dampak susulannya, bisa memperparah proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri – di samping terjadi ketimpangan sekolah favorit seperti di atas. Seperti kita tahu, ada rektor universitas di Sumatera yang ditangkap KPK akibat kasus korupsi.

Kita perlu membangun sistem penilaian yang transenden. Orang bisa menilai sistem transenden sebagai sistem penilaian yang bersifat obyektif, jujur, dan adil. Ditambah lagi, sistem penilaian transenden bersifat transparan bagi publik, karena pendidikan memang kepentingan publik, maka makin besar peluang kualitas pendidikan nasional melompat tinggi.

Semoga Presiden, Menteri, para pejabat, dan masyarakat luas bisa saling membantu untuk memajukan pendidikan nasional.

Bagaimana menurut Anda?

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level C)

Salam

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level Z)

Salam

Cahaya Cinta: dalam Lima Wacana

Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta menembus setiap batas. Cinta mengetuk hati-hati yang gelisah, monoton, mau pun yang berbunga-bunga. Cinta datang pada pandangan pertama. Datang lagi pada pandangan kedua atau, datang lagi, sampai mata tak bisa memandang.

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan cinta. Tapi, cinta memang perlu kata-kata. Tak ada kisah yang bisa menuturkan cinta. Tapi, cinta memang perlu dikisahkan. Tak ada ilmu yang cukup untuk mengkaji cinta. Tapi, cinta memang perlu dikaji.

Cinta hanya bisa menjadi. Cinta menjadi hidup kita masa kini, masa lalu, dan masa depan. Meski, kita tidak akan mampu membahas cinta dalam bentuk kata-kata, kita akan mencobanya membahas cinta dalam lima wacana.

A. Wacana Eksistensi.

B. Wacana Pengetahuan

C. Wacana Kebenaran

D. Wacana Ontologi

E. Wacana Aksiologi

Apa lagi yang diperlukan? Kamu, ya kamu! Kamu adalah cinta. Kamu adalah cahaya cinta. Saatnya telah tiba, lebih bersinar bersama cinta. Saatnya, lebih dalam mendalami cahaya cinta dalam relung hati. Saatnya, untuk beraksi menebarkan cahaya cinta ke seluruh penjuru semesta.