Featured

Media Berbagi

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Youtuber Tidak Butuh Dolar Lagi Karena 2 Hal

Sombong banget youtuber ngaku tidak butuh uang.

Sementara banyak orang mencari uang. Mencoba membuat canel youtube agar dapat uang. Dolar kecil tetap dikumpulkan agar jadi besar. Di sisi lain, youtuber terkenal bilang tidak butuh uang dari youtube.

Apa yang terjadi?

Saya lebih dari 10 tahun mengelola beberapa canel youtube. Dari pengamatan dan pengalaman saya menunjukkan ada 3 tahap youtuber. Dua di antaranya memang tidak butuh uang. Tidak butuh dolar.

  1. Tahap awal di mana penghasilan dari youtube terlalu kecil. Di tahap ini youtuber mengatakan saya berbagi video tidak karena uang. Saya tidak peduli dengan uang dolar dari youtube. Saya hanya niat berbagi saja.

    Misal penghasilan tiap bulan 1 dolar atau 10 dolar. Setara 10 ribu rupiah sampai 200 ribu rupiah. Angka ini terlalu kecil. Bahkan dolar sekecil itu tidak bisa dicairkan. Karena minimum pencairan youtube 100 dolar. Maka wajar saja youtuber tahap ini mengatakan, “Saya tidak butuh dolar dari youtube.”

  2. Tahap menengah di mana penghasilan lumayan. Misal seorang youtuber tinggal di kabupaten di mana upah minimum regional adalah 2 juta rupiah per bulan. Sedangkan penghasilan dia dari youtube lumayan sekitar 2 juta maka youtuber tahap ini akan peduli banget dengan dolar youtube.

    Bahkan youtuber menengah itu kadang-kadang rela keluar dari tempat kerja. Lalu menekuni youtuber sehingga penghasilan dari youtuber makin meningkat. Saya punya teman youtuber pada level ini dan dia keluar dari jabatan karyawan bank nasional.

    Youtuber tahap menengah ini sangat butuh dolar bahkan ingin terus meningkat.

  3. Tahap tinggi di mana penghasilan lebih tinggi dari kerja. Youtuber tahap ini juga mengatakan saya tidak butuh dolar dari youtube. Saya hanya berbagi video saja. Karena kebutuhan uang dia sudah tercukupi.

    Misal contoh youtuber yang upah minimum 2 juta. Penghasilan dari youtube dia tiap bulan 10 juta atau 20 juta. Maka jumlah ini lebih dari cukup. Sehingga dia bisa mengatakan saya tidak butuh lagi dolar. Bukan karena dia tidak mau dapat dolar tapi karena dolar yang masuk sudah lebih dari cukup.

    Belum lagi pemasukan lain misal dari iklan luar atau endorse produk di canelnya. Maka total pendapat bisa saja di atas 30 juta per bulan.

    Mereka memang tidak butuh dolar!

Bagaimana menurut Anda?

Anda Sudah Tua? Bersiaplah Teknologi ini Akan Menambah Tua

Gebrakan teknologi di era digital membuat kaget banyak orang. Awalnya kita tidak percaya tapi memang nyata.

Dulu hanya orang-orang cerdas dan kaya yang mampu menggunakan teknologi tercanggih. Sekarang pedagang pinggir jalan jualan baju melalui aplikasi paling update. Sopir ojek yang dulu gagap teknologi kini mahir menerima transaksi uang digital. Anak balita menguasai hp lebih mahir dari orang tuanya.

Saya di akhir tahun seperti sekarang biasanya beli kalender besar ke pasar Sukajadi. Kalender besar ini nyaman untuk dipasang di dinding dan dicoret-coret. Mudah untuk diskusi mengatur waktu bersama teman-teman. Harga sekitar 5 ribu rupiah 5 tahun lalu per kalender.

Bertahap harga naik, wajar saja. Masih murah 15 ribu per kalender tahun lalu. Tapi akhir 2019 ini ada rekayasa lalu lintas Sukajadi. Sehingga saya susah menuju pasar Sukajadi. Maka saya coba beli kalender online. Treng…teng…! Dapat harga kalender 3 ribuan sudah dikirim ke rumah. Wow…!

Kabar sedih: pedagang kelender Sukajadi sudah banyak yang gulung tikar.

Apakah Anda merasa sudah tua? Gagap teknologi? Maka teknologi menjadikan Anda makin tua. Tapi bila Anda terbuka dengan teknologi baru maka tekologi justru membuat Anda makin muda.

Satu pengalaman saya lagi. Saya suka kopi. Setiap pulang kampung ke Jatim maka saya sempatkan beli kopi asli dari kampung. Oktober kemarin saya pulang kampung tapi terlewat tidak belanja kopi. November ini persedian kopi menipis. Harus pulang kampung lagi?

Aha… coba kopi kampung di pasar online! Dapat harga beli 20 500 padahal beli di kampung harga 21 000. Dan lagi, belanja online gratis ongkir. Wow…!

Apakah Anda akan menua karena teknologi? Atau makin muda? Pilihan ada di tangan Anda!

Bagaimana menurut Anda?

Karena ini Kurikulum 2013 Harus Dirombak Secepatnya

Mengapa buru-buru? Mengapa direformasi besar-besaran?

Saya melakukan survey online melalui canel youtube.com/pamanapiq yang memiliki subscriber 345 ribu orang. Berhasil mendapat respon dari sekitar 2 000 orang. Maka kita bisa mempelajari hasil survey dan mendalami alasan di baliknya.

Ada 84% responden atau sekitar 1700 orang menginginkan kurikulum segera diganti. Bahkan ingin secepatnya atau tahun 2020 sudah diganti.

Alasan mengapa kurikulum 2013 perlu segera diganti:

1) terlalu membebani siswa
2) membebani guru
3) banyak materi tapi dangkal
4) tidak selaras dengan ujian
5) bahan ajar tidak memadai

Sebagian besar siswa merasa sulit menguasai kurikulum 2013. Dari sisi guru juga mengalami kesulitan menjalankan kurikulum. Materi ajar terasa begitu banyak tapi dangkal. Tidak cukup waktu dan kemampuan untuk mendalami masing-masing materi. Bahkan ketika ujian akhir, kurikulum 2013 tidak menguntungkan siswa. Buku ajar terbatas jumlahnya dan kualitas masih seadanya.

Di sisi lain, responden juga meningatkan gonta-ganti kurikulum bisa saja merugikan siswa: bagai kelinci percobaan. Saya sudah menulis beragam saran agar tidak terjadi kelinci percobaan di tulisan sebelumnya.

Bagaimana menurut Anda?

7 Juta 50 Ribu Orang Indonesia Nganggur – Tanggung Jawab Siapa?

Wow… jumlah yang sangat besar sekali. Lebih dari 7 juta orang Indonesia menganggur!

Siapa harus bertanggung jawab?

Presiden Jokowi tentunya. Apakah presiden bersalah dalam hal ini? Belum tentu. Presiden barangkali sudah berusaha tapi hasil tidak maksimal. Saling terkait banyak hal.

Apa yang bisa kita lakukan? Ikut memperbaiki situasi ini.

Foto: Fuad Hasim
sumber: detik.com

Pemerintah bertanggung jawab menciptakan lapangan kerja dengan menciptakan sistem ekonomi dan investasi yang positif. Sehingga membuka banyak lapangan kerja. Tetapi membuka lapangan kerja konvensional tidak akan menyelesaikan masalah karena pertambahan angkatan kerja lebih besar – mengakibatkan pertambahan pengangguran lagi.

Kita perlu menciptakan lapangan kerja baru – digital dan fisikal. Dan setiap orang mempunyai peluang besar untuk sukses dengan kerja bidang digital – dan fisikal. Tidak mempersyaratkan ijasah, pengalaman, modal, atau lainnya.

Siapa yang tidak kenal Atta Halilintar? Dia berhasil menjadi orang berpenghasilan terbesar di dunia melalui youtube. Anda pasti kenal mendikbud kita!? Melalui aplikasi gojek, Nadiem, berhasil menciptakan ribuan lapangan kerja baru.

Anda kenal paman APIQ? Ya, saya paman APIQ. Dengan bantuan teknologi digital berhasil membuka lapangan kerja baru di beberapa penjuru negeri. Yang menariknya, paman apiq membuka lapangan baru, misal di luar pulau Jawa, tanpa pernah perjumpaan fisikal antara paman apiq dengan orang yang bekerja. Semua dapat terlaksana dengan bantuan media digital.

Saat ini pun saya mengembangkan ide “Edutuber Nasional” yang akan menyerap 500 ribu tenaga kerja baru. Edutuber membuka lapangan kerja digital yang diperkuat dengan kerja nyata fisikal. Semoga program ini ikut memajukan Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Logika, Di Mana Kau Berada – Kasus Pertidaksamaan

Ketika saya muda bersemangat dengan logika pertidaksamaan. Mengapa?

Karena logika ini menuntut kita sedikit berpikir tetapi hasilnya efektif, teliti, dan bermanfaat luar biasa.

Perjalanan waktu mengajari saya sesuatu yang lain. Tidak banyak orang yang mau menggunakan logika. Kebanyakan orang lebih suka menggunakan mesin otomatis. Logika serahkan kepada orang yang mau berpikir. Biar mereka menciptakan mesin atau komputer atau hp atau produk apa pun. Lalu kami tinggal mengoperasikannya saja secara otomatis.

Padahal kita memerlukan kemampuan berpikir logis tersebar luas di masyarakat agar negara kita makin maju.

Saya sadar kita punya tanggung jawab besar untuk secara bertahap mencerdaskan generasi muda kita. Maka tetaplah semangat ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berikut ini adalah contoh soal pertidaksamaan yang menuntut beragam logika – ditambah beberapa pemahaman konsep aljabar.

Tes logika:

x = 10 adalah salah karena 6 – 10 = -4 tidak boleh akar dari bilangan negatif maka A salah.

x = 0 salah karena – akar 6 > 0 maka C salah dan E salah.

x = -10 salah karena -10 – 4 > 0 maka B salah.

Kesimpulan: jawaban yang benar adalah D.

Alternatif penyelesaian bertahap:

Pindahkan bentuk akar lalu kuadratkan kedua ruas:

x^2 > 6 – x
x^2 + x – 6 > 0
(x + 3)(x – 2)
x = -3 atau x = 2

Maka
x < -3 atau x > 2

Tetapi ada syarat
i) 6 – x > 0 maka x < 6
ii) x > 0

Jawaban yang memenuhi syarat adalah

{2 < x < 6} (Jawaban D)

Bagaimana menurut Anda?

*Catatan: saya tidak menuliskan tanda sama dengan untuk memudahkan penulisan saja.

Presiden Jokowi Merombak Kurikulum (3) dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Kita perlu melakukan beragam percobaan untuk menghasilkan perbaikan. Tapi jadi kelinci percobaan siapa yang mau? Apa lagi siswa jadi kelinci percobaan?

Tampaknya kita akan menghadapi perombakan kurikulum besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan. Presiden Jokowi telah memberi perintah perombakan kepada mendikbud Nadiem. Maka kita berharap perombakan ini benar-benar menjadikan siswa-siswa dan guru-guru di Indonesia menjadi lebih baik.

Siswa jangan sampai jadi kelinci percobaan.

Istilah percobaan sendiri berkonotasi positif untuk kemajuan. Bahkan kita juga punya sekolah percobaan di berbagai daerah dengan hasil yang baik dan konotasi positif. Ada juga beberapa sekolah percontohan.

Tetapi itu tidak cukup untuk perombakan kurikulum besar-besaran. Perlu tapi tidak mencukupi.

Di kelas kuliah, saya sering meminta mahasiswa untuk melakukan percobaan dengan user ekstrem – ekstrem mahir dan ekstrem tidak mahir.

Kali ini saya juga megusulkan agar mendikbud melakukan percobaan kurikulum kepada pengguna ekstrem. Baik guru ekstrem mau pun siswa ekstrem.

Kita membutuhkan siswa ekstrem.

Sebagai contoh, mendikbud bisa saja memilih materi kurikulum matematika untuk diujicobakan kepada siswa ekstrem. Siswa ekstrem mahir misalnya dipilih dari 30 siswa pemenang olimpiade matematika OSN. Sedangkan siswa ekstrem lawan dipilih 30 siswa dari daerah terpencil di Jatim. Kita meminta bantuan guru untuk memilih siswa yang paling sulit menguasai matematika selama ini.

Dua kelompok siswa ekstrem itu akan diajarkan materi soal cerita, “Geo ke perpustakaan 8 hari sekali dan Meti ke perpustakaan 6 hari sekali. Jika pada 20 Desember mereka bersama-sama ke perpustakaan maka tanggal berapa mereka akan bersama-sama ke perpustakaan lagi?”

Tebakan saya akan terjadi hal berikut.

Siswa ekstrem mahir tanpa diajar pun bisa menguasai materi berkunjung perpustakaan di atas. Bahkan kita bisa memberi soal tambahan yang jauh lebih rumit mereka langsung bisa menguasai dengan baik. Siswa ekstrem mahir bahkan dapat menjawab soal seperti di atas kurang dari 7 detik. Proses pembelajaran pun berlangsung dengan lancar.

Apa yang akan terjadi kepada kelompok siswa ekstrem lawan? Mereka akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud soal. Mereka berpikir rumus apa yang perlu digunakan. Tapi tidak menemukan rumus itu. Bahkan jika mereka diberi tahu rumusnya maka mereka tidak bisa menggunakan rumus itu.

Guru berusaha membantu dengan mengajar mereka bertahap. Tapi mereka sulit memahami maksud gurunya. Guru mengulangi materinya agar siswa paham. Hasilnya siswa makin tidak paham.

Guru dengan penuh sabar dan ikhlas mendampingi siswa ekstrem lawan ini. Setelah beberapa hari ada 5 siswa yang mulai paham maksud soalnya. Dua hari kemudian 5 siswa ini lupa lagi yang sudah mereka pelajari.

Dua kelompok siswa ekstrem di atas hanya khayalan saya. Bukan sekedar khayalan kosong. Saya keliling Indonesia sering berhadapan dengan siswa ekstrem saling berlawanan. Juga guru ekstrem.

Perombakan kurikulum perlu mempertimbangkan siswa ekstrem, guru ekstrem, dan seluruh pengguna ekstrem.

Semoga Indonesia makin maju.

Bagaimana menurut Anda?

3 Aplikasi Wajib Youtuber Pemula Tapi Penghasilan Ribuan Dolar

Wow senang sekali dapat dolar dari youtube langsung masuk rekening kamu.

Bagaimana caranya?

Upload video ke youtube, monetize, dan biarkan dolar mengalir ke rekening.

Berikut ini adalah 3 aplikasi gratis yang wajib untuk membuat video mudah hanya pakai hp saja.

Jika ingin aplikasi tambahan jadi 5 aplikasi silakan saksikan video gratis berikut ini.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Jokowi Merombak Kurikulum (2) dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Siapa yang mau jadi kelinci percobaan?

Tidak mau. Tentu saja tidak ada siswa yang mau jadi kelinci percobaan. Saya berpikir tidak akan ada siswa yang akan jadi kelinci percobaan. Tapi saya terhenyak dengar cerita seorang siswa yang mengalaminya.

Tahun tahun 2007 saya masuk SD saat itu baru diberlakukan kurikulum 2006. Guru hiruk pikuk dengan kurikulum baru. Tahun 2013 saya masuk SMP dan ramai lagi kurikulum baru 2013. Pada tahun 2019 saya lulus SMA dan mau masuk universitas bertepatan saat itu baru petama kali perubahan dari SBMPTN menjadi UTBK dengan nilai UTBK diumumkan sebelum SBMPTN.

“Seluruh tingkat sekolah aku jadi kelinci percobaan”.
“Itu bukan kelinci percobaan. Semua perubahan adalah untuk kebaikan,” saya menghibur.
“Tapi mengapa di semua tingkat sekolahku? Dan aku tidak bisa memutar waktu kembali.”

Bagaimana pun presiden Jokowi telah memerintahkan ke mendikbud untuk merombak kurikulum besar-besaran. Merombak kurikulum saja dampaknya pasti sudah besar. Apalagi kali ini merombak besar-besaran!

Saya mengusulkan beberapa ide agar perombakan kurikulum ini menjadi lebih baik.

1) Utamakan siswa. Subyek pendidikan adalah siswa. Pendidikan ingin mencetak siswa yang ideal: berilmu, takwa, dan patriotis. Maka jangan jadikan siswa sebagai kelinci percobaan. Mendikbud (dan presiden) perlu mendalami dengan sedalam-dalamnya tentang siswa: bagaimana siswa milenial, apa yang siswa pedulikan, apa yang siswa butuhkan, dan lain-lain.

2) Pengaman siswa. Ketika kurikulum berubah maka perubahan ini bisa membawa kebaikan tapi bisa juga berdampak buruk – meski tidak diinginkan buruk. Maka perlu program pengaman bagi siswa jika terjadi keburukan dari perubahan ini misal: program penyelamat berupa program khusus atau kembali ke kurikulum sebelumnya. Saya pikir kita paham bahwa asuransi diperlukan untuk beberapa hal penting – demikian juga siswa adalah paling penting untuk masa depan bangsa.

3) Guru adalah kurikulum. Apa pun bentuk kurikulumnya maka guru adalah yang lansung bersentuhan kepada siswa untuk menjalankan kurikulum. Maka tidak berlebihan bila Profesor saya menyatakan,” Guru adalah kurikulum”. Bila pemerintah menetapkan kurikulum A sedangkan guru punya kurikulum B maka siswa akan menerima kurikulum B. Perlu perhatian khusus kepada seluruh guru yang memang pahlawan tanpa tanda jasa.

Apa yang saya sampaikan di atas adalah hal-hal yang telah biasa dilakukan oleh presiden di peride I dan oleh mendikbud ketika membangun gojek. Jadi besar harapan saya Indonesia makin maju. Ide-ide lanjutan akan saya tuliskan di kesempatan berikutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Jokowi Merombak Kurikulum dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Apa yang akan terjadi jika Presiden Jokowi merubah kurikulum secara besar-besaran? Dan mendikbud termuda, Nadiem, akan memimpin perombakan ini?

Telah diberitakan di berbagai media.

“Selain kurikulum, Presiden juga ingin agar ada perbaikan kualitas guru melalui sebuah aplikasi atau sistem yang cepat sehingga peningkatan pemerataan kualitas pendidikan benar-benar bisa dirasakan para pelajar di tanah air.”

Saya sepakat kita perlu kurikulum yang tepat dan kualitas guru yang hebat.

Tapi di sisi siswa atau orang tua apakah sepakat kurikulum dirombak? Apakah siswa dan guru tidak bingung dengan kurikulum yang berubah?

Siswa dijadikan kelinci percobaan dalam perubahan kurikulum. Itu celoteh yang sering kita dengar.

Kita bisa maklum dari sudut siswa. Kurikulum 2013 belum terasa matang sudah mau diganti. Bahkan dulu kurikulum 2006 pun hanya berlaku sebentar lalu diganti. Siswa yang tes masuk perguruan tinggi tahun 2017 pakai sistem minus, tahun 2018 pakai toeri respon butir, tahun 2019 pakai UTBK dengan nilai diumumkan awal.

Jadi, apakah saat ini adalah tepat merombak kurikulum? Seperti apa kurikulum yang tepat? Bagaimana membantu siswa dan orang tua agar memperoleh manfaat terbaik dengan kurikulum baru?

Bagaimana menurut Anda?