Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Iklan

Krisis Sains Metafisika

Sains, pada analisis akhir, adalah narasi. Tetapi, sains meng-klaim dirinya adalah meta-narasi. Sebuah narasi yang paling kuat di antara narasi-narasi lainnya. Sehingga, sains dianggap sebagai penentu akhir nilai kebenaran. Lyotard (1924 – 1998) menolak meta-narasi: runtuhkan meta-narasi! Hanya ada narasi-narasi kecil.

Di sisi lain, Feynman (1918 – 1988) menyatakan bahwa filsafat tidak penting, metafisika tidak penting. “Kebutuhan sains kepada filsafat seperti kebutuhan seekor burung terhadap ilmu perburungan.” Lebih jauh, Hawking (1942 – 2018) menyatakan, “Filsafat sudah mati.”

Memang ada masalah besar antara sains dengan filsafat metafisika. Ada krisis antara sains dengan metafisika. Selamanya, akan selalu ada masalah, sejauh, manusia terus berpikir. Bagaimana solusi dari masalah-masalah itu?

1. Sains Obyektif
2. Narasi Sains
3. Metafora Metafisika
4. Nothing
5. Question of Being
6. Analisis Akhir

Question of Being: Apa Makna Ada?

Apa makna dari being? Apa makna dari ada? Maksud dari ada itu apa?

Mungkin pertanyaan makna-being adalah sangat abstrak. Tapi, justru, bisa sebaliknya. Makna-being adalah paling konkret, paling nyata. Karena segala sesuatu harus ada agar punya makna. Segala sesuatu adalah being itu sendiri.

Pertanyaan adalah segalanya. Meski, kita mencari jawaban dari suatu pertanyaan, tetapi, pertanyaan baru selalu bisa datang lagi. Justru, pertanyaan itu perlu.

1. Pertanyaan Makna-Ada
2. Destruksi Metafisika
3. Rekonstruksi Tanpa Henti

Pertama yang harus dilakukan adalah destruksi metafisika agar seseorang bisa bertanya apa makna-ada. Karena, metafisika meng-klaim memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Metafisika bisa berupa ajaran filsafat atau ajaran agama atau ajaran tradisi. Kedua, dengan destruksi, kita jadi tahu apa yang harus ditanyakan dan bagaimana proses menemukan jawaban. Ketiga, jika Anda merasa tidak perlu untuk “bertanya makna-ada” maka, sebaiknya, Anda berusaha membangkitkan hasrat untuk bertanya tersebut.

Pertanyaan dan jawaban adalah milik masing-masing orang. Tentu saja, manusia bekerja sama untuk saling belajar dan mengajar. Manusia adalah makhluk natural, sosial, dan political. Di saat yang sama, masing-masing manusia terus bertumbuh. Sehingga, setiap masa dan setiap ruang memiliki pertanyaan dan jawabannya sendiri.

1. Pertanyaan Makna-Ada

Pertanyaan apa makna-ada, apa makna-being, bukanlah pertanyaan ontologi seperti biasa. Bukan pula pertanyaan metafisika. Istilah ontologi tidak memadai di sini.

“I, Derrida, say: the question of Being and not ontology, because the word ontology is going to appear more and more inadequate, as we follow Heidegger’s tracks, to designate what is in question in his work when the question is that of being. Not only is Heidegger not here undertaking the foundation of an ontology, not even of a new ontology, nor even of an ontology in a radically new sense, not even, in fact, the foundation of anything at all, in any sense at all — what is at issue here is rather a Destruction of ontology.”

Tugas kita, di sini, justru destruksi-ontologi. Merobohkan ontologi. Meruntuhkan ontologi beserta histori ontologi. Tidak menggantinya dengan ontologi-baru. Tidak juga menggantinya dengan ontologi yang lebih radikal. Lalu, untuk apa?

Agar kita bisa bertanya apa makna-ada. Kita perlu hati-hati. Kata “apa” dalam “apa makna-ada” bisa salah arah. Karena “apa” biasa merujuk ke suatu obyek tertentu. Sementara, makna-ada belum bisa kita pastikan merujuk ke suatu obyek tertentu. Sehingga, kita bisa saja mengganti pertanyaan makna-ada menjadi: “Siapa makna-ada?” “Mengapa makna-ada?” “Bagaimana makna-ada?” atau lainnya.

Demikian juga dengan kata “makna” dalam kata “makna-ada” bisa salah arah. Seakan-akan, “ada” memiliki “makna” tertentu yang berbeda dengan penampakan yang “ada”. Kita belum bisa memastikan, sampai di sini, apakah ada “makna” seperti itu. Kita, justru, sedang menanyakan, “Apa makna-ada?”

Pemilihan kata dan kalimat tanya, seperti di atas, adalah sekedar alat bantu untuk mengarahkan penyelidikan filosofis kita. Bagaimana pun, pemilihan kata ini menimbulkan kerumitan tersendiri. Kita perlu menanganinya sepanjang kajian.

Bagaimana pun, pertanyaan makna-ada, atau question-of-being lebih fundamental dari ontologi.

2. Destruksi Metafisika

Saya lebih cocok menggunakan istilah destruksi metafisika. Tetapi, Derrida dan Heidegger menggunakan istilah destruksi ontologi. Sehingga, kita akan menggunakan istilah destruksi ontologi di berbagai tempat.

“We understand this task as the destruction of the traditional content of ancient ontology which is to be carried out along the guidelines of the question of being [literally: taking the question of being as guiding thread : am Leitfaden der Seinsfrage]. This destruction is based upon the original experiences in which the first, and subsequently guiding, determinations of being were gained.” (Heidegger)

Kita perlu memberi beberapa catatan tentang destruksi.

Pertama, destruksi bukan pembuangan, bukan penolakan, dan bukan pembungkaman. Bahkan, destruksi bukan merupakan suatu persaingan dengan mengalahkan yang lain. Destruksi, sama sekali bukan penolakan.

Kedua, destruksi bukan refutasi, bukan penolakan ontologi. Karena, refutasi ontologi sama artinya dengan memenangkan ontologi yang lain. Justru, tugas destruksi adalah meruntuhkan semua ontologi itu.

Ketiga, destruksi bukan dialektika atau sintesa. Tesis berlawanan dengan anti-tesis kemudian menghasilkan sintesis. Destruksi bukan sintesis seperti itu.

Keempat, destruksi bukan kritik. Destruksi tidak mengoreksi berbagai kesalahan ontologi, untuk kemudian, memunculkan ontologi yang lebih benar.

Kelima, destruksi bukan metode. Karena, metode justru termasuk obyek destruksi itu sendiri. Tidak ada metode baku untuk bisa melakukan destruksi.

“It is a destruction — that is, a deconstruction, a destructuration, the shaking that is necessary to bring out the structures, the strata, the system of deposits. As Heidegger said in the passage from a moment ago, sedimentations of the ontological tradition — sedimentations that have, according to a certain necessity, always covered over the naked question of being — covered over a nudity that in fact never unveiled itself as such.” (Derrida).

Destruksi adalah dekonstruksi. Sebuah gempa dahsyat, goyangan besar, yang menyingkapkan struktur tersembunyi, strata tersembunyi, dan sistem pegumpulan kekayaan yang keji.

Tradisi sepanjang sejarah telah menumpuk beragam konstruksi sosial dan natural yang menyembunyikan beragam pertanyaan paling penting, “Apa makna semua yang ada?” Destruksi mengungkap kembali, “Apa makna kamu jadi pejabat?” Apakah agar kamu bisa mengumpulkan kekayaan? Apakah agar kamu bisa berbuat semena-mena? Apakah agar kamu bisa foya-foya menikmati dunia? Atau, apakah, dengan menjadi pejabat membuat kamu bisa lebih berkhidmat kepada rakyat?

Destruksi memunculkan pertanyaan,”Apa makna kamu jadi pemimpin agama?” Apakah agar dihormati umat? Apakah agar bisa mengumpulkan dana umat? Apakah agar kamu bisa menindas umat? Ataukah, sebagai pemimpin agama, menjadikan kamu lebih bisa berkhidmat kepada umat?

Destruksi bertanya,”Apa makna semua pencitraan ini?” Apakah agar kamu terlihat seperti orang yang baik, bermoral, sempurna? Apakah untuk memikat hati rakyat agar memilihmu ketika pemilu? Ataukah untuk menipu diri sendiri?

Destruksi adalah sebuah gempa dahysat, goyangan besar, untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar. Lalu, apa solusinya? Pertanyaan tentang solusi, seperti itu, adalah pertanyaan besar.

Destruksi seiring sejalan dengan pertanyaan “apa makna-ada?” atau “the question of being.” Pertanyaan ontologi ini lebih fundamental dari ontologi itu sendiri. Sehingga, kita bisa menyebutnya sebagai ontologi fundamental: apa makna-ada?

Berikut, tiga pertimbangan mengapa pertanyaan lebih fundamental dari ontologi.

Ontologi regional dan ontic. Masing-masing regional memiliki ontologinya sendiri. Fisika mengasumsikan materi fisik dalam ruang waktu yang menjadi kajiannya. Biologi mengasumsikan adanya makhluk hidup sebagai kajian utama. Filsafat fokus kepada metafisika misalnya. Ekonomi mengasumsikan kehidupan sosial saling jual-beli sebagai kajian. Agama mengasumsikan nara sumber suci sebagai pegangan ontologi. Psikologi mengasumsikan jiwa manusia bisa dikaji.

Kita perhatikan ontologi regional, seperti di atas, memiliki batasannya masing-masing. Kita memerlukan question-of-being yang meliputi semua tetapi bukan gabungan abstrak dari mereka. Lagi pula, ontologi regional beresiko menjadi timbunan pengetahuan-ontic, yaitu, klaim kebenaran hanya berdasar asumsi internal saja. Kita membutuhkan ontologi-fundamental, “Apa makna-ada?”

Berpikir-terbuka bukan konsep. Berpikir tentang being, berpikir tentang-ada, bukanlah berpikir tentang konsep being. Berpikir adalah berpikir-terbuka yang merupakan being itu sendiri. Berpikir-terbuka mengijinkan being membuka diri, mengijin alam raya membuka diri, dan mengijinkan diri manusia membuka diri. “Apa makna semua yang ada?”

Esensi Eksistensi. Sejak era Aristoteles, kita membedakan antara esensi dan eksistensi. Perdebatan filosofis di Timur maupun di Barat terjadi. Mana lebih utama antara esensi dan eksistensi? Tetapi, ontologi fundamental bergerak lebih fundamental dengan mengajukan pertanyaan, ketika, being belum bercabang dua sebagai esensi dan eksistensi: “Apa makna ada?”

Question-of-being memandu kita untuk berpikir truth-of-being atau being-sejati. Berpegang kepada ontologi, tidak lagi memadai.

“It tries to reach back into the essential ground from
which thought concerning the truth of being emerges. By initiating another inquiry this thinking is already removed from the “ontology” [in quotes] of metaphysics (even that of Kant). “Ontology” itself, however, whether transcendental or precritical, is subject to critique, not because it thinks the being of beings and in so doing reduces being to a concept, but because it does not think the truth of being and so fails to recognize that there is a thinking more rigorous than conceptual thinking.” (Heidegger).

Berpikir being-sejati telah dihapus dari ontologi metafisika. Kita perlu berpikir kembali being-sejati itu sebagai fundamental ontologi. Dalam dirinya sendiri, ontologi transendental mau pun precritical adalah subyek dari kritik. Bukan saja karena ontologi membahas being-of-being sebagai konsep. Tetapi, karena ontologi tidak berpikir being-sejati yaitu tidak berpikir yang lebih kokoh.

3. Rekonstruksi Tanpa Henti

Bagaimana pun kita perlu konstruksi. Sehingga, setelah destruksi, kita perlu rekonstruksi. Bagi Derrida, dia memilih dekonstruksi yang di dalamnya tercermin proses destruksi sekaligus rekonstruksi.

Being meng-konstruksi sejarah. Dan, sejarah meng-konstruksi being. Ada hubungan timbal balik antara being dan histori. Adakah yang lebih dominan dari keduanya? Hubungan seperti apa antara keduanya? Apakah kita bisa membahas keduanya secara mandiri?

Destruksi meruntuhkan ontologi dengan question-of-being. Selanjutnya, setelah runtuh, kita perlu membangun kembali, rekonstruksi being dan histori. Kita mengkaji histori, di sini, sebagai upaya awal rekonstruksi yang tiada henti.

Histori

“Humanism, subjectivity and metaphysics are indissociable, as Heidegger will show later, and ultimately, on this view, Marx, in his concept of labor, however profound the penetration of historicity allowed by it, remained an inheritor of Hegelian metaphysics, in the form of the subjectivizing voluntarism we were speaking of last time, and ultimately of a humanist anthropologism. To free oneself from it and truly think labor (and therefore history) outside the horizon of Hegelian metaphysics, it would have been necessary to think the essence of technology sheltered and hidden in this notion of labor.” (Derrida).

Marx mengira bahwa tenaga kerja, buruh, adalah penentu arahnya sejarah. Buruh, sebagai subyek yang bebas, menggalang kekuatan mengukir sejarah. Dengan sudut pandang ini, Marx merupakan pewaris dari metafisika Hegel. Akibatnya, corak pemikiran mereka adalah humanist antropologist. Untuk bisa membebaskan diri dari metafisika Hegel, seseorang perlu berpikir esensi teknologi, yang, menunggangi dan bersembunyi pada ide buruh.

Kita mengakui peran teknologi begitu besar di abad 20 dan, apa lagi, abad 21 yang serba digital. Apakah di jaman kuno, teknologi juga berperan? Apakah di jaman Plato, teknologi itu penting? Apakah di jaman Ibn Sina, masyarakat perlu teknologi? Tentu saja, mereka tidak membutuhkan teknologi digital seperti yang ada sekarang. Apakah teknologi digital, yang sekarang merebak di mana-mana, bisa diganti dengan teknologi baru di masa depan? Misal, oleh teknologi quantum? Meski teknologi berubah, tetapi esensinya sama. Esensi teknologi tetap berperan besar di seluruh sejarah umat manusia. Esensi teknologi, bukan teknologi itu sendiri.

Esensi teknologi adalah enframing. Teknologi mengendalikan being. Teknologi menyembunyikan being tertentu, dan, memunculkan being yang lain. Teknologi adalah truth-of-being itu sendiri yang, esensinya, justru dilupakan banyak orang. Agar Marx bisa memikirkan histori dengan lebih radikal maka perlu bergeser dari fokus buruh ke fokus teknologi. Lebih tepatnya, fokus ke esensi teknologi sebagai enframing.

Tetapi, benarkah teknologi paling menentukan arahnya sejarah? Bukankah hingar-bingar politik lebih berpengaruh terhadap sejarah? Bukankah kerakusan ekonomi sebagai sumber goncangan sejarah? Dan, bukankah semua itu dipengaruhi oleh bahasa?

Meskipun teknologi mengarahkan arah sejarah, kita akan mencermati peran bahasa lebih awal, di bagian ini.

Bahasa

Dari mana kita akan mulai kajian?

Tidak mungkin dari titik nol. Karena, titik nol memang tidak akan ke mana-mana. Memang problematis.

Descartes terkenal dengan cogito, yaitu, dengan meragukan segalanya. Sampai akhirnya, dia yakin, “Aku berpikir maka aku ada.” Bagaimana pun, Descartes mengalami kesulitan untuk membuktikan eksistensi alam eksternal. Tersedia banyak argumen untuk membuktikannya. Di saat yang sama, selalu tersedia argumen tandingan yang seimbang.

Husserl terkenal dengan fenomenologi yang mengijinkan obyek hadir apa adanya dalam kesadaran manusia. Sementara, segala prasangka yang ada kita tunda sejenak agar kita bisa mencermati obyek apa adanya. Fenomenologi membuka banyak cakrawala baru secara filosofis, termasuk, berkembangnya eksistensialisme. Dalam fenomenologi, peran subyek-transendent begitu kuat. Sehingga, fenomenologi lebih dekat ke humanis antropologis.

Tentu saja, seseorang bisa mulai kajian dengan klaim otoritas metafisika. Ada kebenaran mutlak yang jadi pegangan mereka. Cara ini tidak bisa dibenarkan karena metafisika sudah runtuh dengan destruksi metafisika. Demikian juga, ontologi runtuh dengan destruksi ontologi. Kita, saat ini, hendak rekonstruksi.

Heidegger mengusulkan dasein sebagai being-in-the-world. Being sudah selalu hadir dalam dunia. Tidak ada being sendirian di ruang hampa. Tidak ada, misal, muncul satu manusia sendiri di ruang hampa, tanpa udara, tanpa cahaya, tanpa semesta. Jadi, being niscaya dalam dunia. Pengertian dunia bisa saja beragam: dunia fisik, dunia kerja, dunia olah raga, dunia seni, dunia bahasa, dan sebagainya.

Manusia adalah anggota dunia sebagai mana semesta lainnya. Manusia dan dunia setara, termasuk semesta. Meski demikian, masing-masing being memiliki keunikan tersendiri. Manusia, misalnya, adalah dasein yaitu being yang mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri.

Selanjutnya, tugas manusia di dalam dunia adalah menginterpretasikan dunia. Pertama, melakukan destruksi terhadap dunia berbekal interpretasi awal. Kedua, melakukan rekonstruksi terhadap dunia dengan interpretasi baru.

Dengan mempertimbangkan dasein sebagai being-in-the-world maka peran bahasa sangat besar. Dunia bahasa adalah yang paling berpengaruh terhadap sejarah dan being. Sehingga, manusia, diri kita, perlu men-dekonstruksi bahasa. Bahasa adalah rumah being. Rumah di mana kita bisa menemukan being. Di saat yang sama, rumah bisa menyembunyikan isi dalam rumahnya. Dekonstruksi mengantarkan kita ke truth-of-being.

Politik Bahasa

Makin menarik bila kita mengkaji dunia politik dihubungkan dengan dunia bahasa. Keduanya saling berpengaruh dengan kuat. Pada akhirnya, atau sejak awal, menciptakan sejarah.

Cerita

Setiap orang mudah memahami cerita. Sehingga, question-of-being menjadi lebih mudah dipahami dalam bentuk cerita. Kita tahu, banyak penulis mengungkapkan ide-ide dalam bentuk cerita. Apakah cerita menjadikan makna-being lebih jelas? Atau, membuat lebih kabur makna-being?

“Now, what is it to tell stories? To tell stories is to ignore this difference and confuse the Gefragtes and the Befragtes, it is to ignore the Erfragtes, it is to assimilate being and beings, that is, to determine the origin of beings qua beings on the basis of another being. It is to reply to the question “what is the being of beings?” by appealing to another being supposed to be its cause or origin. It is to close the opening and to suppress the question of the meaning of being. Which does not mean that every ontic explication in itself comes down to telling stories; when the sciences determine causalities, legalities that order the relations between beings, when theology explains the totality of beings on the basis of creation or the ordering brought about by a supreme being, they are not necessarily telling stories. They “tell stories” when they want to pass their discourse off as the reply to the question of the meaning of being or when, incidentally, they refuse this question all seriousness. When the sciences or theology or metaphysics say, “We’re dealing with beings, with the beings in this region or beings in their totality or beingness without needing to pose the question of the truth of being,” then these discourses are content to tell stories, and those who speak them refuse to pose the question of knowing what they are talking about and to make explicit the meaning of their language.” (Derrida).

Pertama, cerita atau metafora memang mengaburkan makna-being. Dalam cerita, kita tidak bisa membedakan inti-cerita-ontic dengan inti-cerita-ontologi. Ontic adalah konsep jelas yang terkandung dari suatu cerita. Ontic bukan makna-being yang kita selidiki. Kita, sejatinya, sedang menyelidiki makna-ontologi. Suatu cerita bisa mengklaim sebagai gabungan ontic dan ontologi.

Kedua, cerita adalah cara efektif untuk mengantarkan penyelidikan question-of-being. Ketika makna-ontic datang pertama kali, maka, ijinkan makna-being lebih dalam membuka diri. Makna-being ini, yang lebih mendalam, adalah makna-ontologi yang sedang kita selidiki. Makna-ontic bisa kita tetapkan di awal, tetapi, makna-ontologi membuka diri dengan caranya sendiri yang kreatif.

Ketiga, cerita yang kita maksud di atas bisa berupa metafisika, mitologi, agama, sains, ideologi, dan lain-lain.

Irreducible

Sampai di sini, kita berhadapan dengan fakta “irreducible” atau tak-tereduksi. Antara being, histori, dan bahasa tidak bisa saling mereduksi. Being tidak bisa mereduksi histori agar menjadi bagian being. Histori tidak bisa mereduksi bahasa agar menjadi bagiannya. Sebaliknya, juga tidak bisa.

Sehingga, kita memiliki tanggung jawab untuk rekonstruksi ketika melakukan reduksi. Karena, jelas, reduksi tidak adil terhadap banyak pihak. Dan, kita perlu senantiasa berpikir-terbuka untuk membuka segalanya.

Question-of-being mengarahkan kita melakukan kajian melalui dekonstruksi. Untuk bisa “bertanya” maka kita perlu sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan. Kita perlu pengetahuan-awal, untuk kemudian, bisa mengajukan pertanyaan. Orang bisa berargumen bahwa pengetahuan-awal itu sendiri membutuhkan pengetahuan-lebih-awal tanpa henti. Meski, hal tersebut bisa terjadi, kita tetap bisa berhenti pada pengetahuan-awal tertentu, untuk kemudian, mengajukan question-of-being. Lalu, terjadi dekonstruksi.

Mari kita ringkas apa yang kita diskusikan sejauh ini.

1) Question-of-being menjadi panduan untuk mengkaji being lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terbuka. Ontologi fundamental.

2) Destruksi merupakan suatu keharusan untuk mengungkapkan struktur horisontal berbagai pihak. Karena itu, saya kadang menyebut destruksi sebagai horisontalisasi atau horisoni.

3) Rekonstruksi adalah tanggung jawab. Tersedia beberapa pilihan rekonstruksi being: histori, bahasa, dan teknologi.

Secara bertahap kita akan membahas lebih detil.

4. Metafora Fisika: Analisis Lanjutan

Question-of-being, yang paling penting, menjamin dua hal.

1) Pengetahuan-awal atau faktum. Untuk bisa bertanya, kita harus memiliki faktum. Dan, setiap orang selalu memiliki faktum. Lebih jauh, faktum ini pun dalam rupa bahasa.

2) Pertanyaan itu sendiri adalah “kita”. Jadi, kita bertanya tentang kita. Manusia adalah being yang mempertanyakan being dirinya sendiri: dasein. Dan, pertanyaan oleh dasein tentang dasein itu juga dalam rupa bahasa.

Faktum adalah pengetahuan-ontic. Sementara, kita sedang menyelidiki pengetahuan-ontologis. Karena itu, question-of-being mengarahkan kita dari ontic ke ontologis. Tetapi, selalu terdapat perbedaan antara ontic dan ontologis: ontological-difference. Perbedaan ini menjamin selalu ada posibility untuk bergerak mendekati.

Sedangkan dasein, akan menjadi pembahasan utama kita kali ini. Dasein tinggal di rumah being yaitu bahasa.

Bahasa Being

Kita perlu membedakan bahasa menjadi dua: bahasa-formal dan bahasa-being.

1) Bahasa-formal adalah bahasa yang seperti biasa kita gunakan. Bahasa-formal memiliki struktur formal sehingga kita bisa memahami maksud dari suatu bahasa. Dalam bahasa-formal, kita bisa melakukan penyelidikan logika. Dan, bahasa formal merujuk realitas-ontic tertentu.

2) Bahasa-being adalah bahasa yang merupakan rumah-being. Bahasa-being adalah tempat manusia-ontologis lahir dan bertumbuh. Bahasa-being yang mendorong munculnya formula question-of-being, misal, “Siapakah saya?”

“No, we are not just dealing with such a formal logical schema. But to pass beyond logical and discursive formality here, we have to take into consideration the fact that we are dealing with the question of being and that this question of being is not a question among others, a question coming, as an example, to illustrate the general formal structure of the question in general.” (Derrida)

Kita perlu melangkah lebih jauh dari bahasa-formal menuju bahasa-being. Kesulitan muncul karena bahasa-being memang bahasa-formal itu sendiri dalam rupa peran yang unik. Sementara, semua pemahaman kita tentang bahasa, umumnya, adalah bahasa-formal. Jika kita bermaksud mendefinisikan bahasa-being maka kita akan mengubah bahasa-being menjadi bahasa-formal.

Ketika ada orang keberatan dengan eksistensi bahasa-being, kemudian, mereka meminta penjelasan tentang bahasa-being secara gamblang, maka, mereka hanya bisa menemukan bahasa-formal belaka. Seseorang perlu berpikir-terbuka untuk mengenali eksistensi bahasa-being, dengan mengenali question-of-being, dan berakibat horisoni ontologi.

“But from the moment that the question of being is recognized and one sees that it is no longer a sample among others of this formal structure of the question in general, then everything changes.” (Derrida).

Momen ketika bahasa-being itu hadir menjadikan segalanya berubah. Dalam momen ini, kajian question-of-being menjadi terbuka. Sebuah momen unik yang hanya dialami oleh manusia-ontologis, wong jawani.

Kita bisa mencermati binatang, misal srigala. Mereka memanfaatkan bahasa-formal untuk koordinasi berburu mangsa. Srigala menggunakan bahasa-formal untuk menggiring anak-anaknya makan dan bermain. Mereka juga menggunakan bahasa-formal untuk saling merayu.

Tetapi, kita tidak menemukan tanda-tanda bahwa srigala menggunakan bahasa-being. Kita tidak menemukan srigala bertanya tentang question-of-being.

Demikian juga, kita bisa mencermati masa kanak-kanak anak manusia. Mereka menggunakan bahasa-formal dengan kreatif. Anak-anak mampu merangkai kata-kata baru, bahkan, tanpa contoh sebelumnya. Anak-anak juga mampu memahami kata-kata baru hanya dari penggunaannya saja. Tanpa harus ada definisi di awal. Anak-anak benar-benar kreatif menggunakan bahasa-formal. Bagaimana pun bahasa anak-anak adalah bahasa-formal belum menggunakan bahasa-being.

Anak-anak beranjak remaja, beranjak dewasa. Di antara mereka ada yang mengajukan pertanyaan, “Siapakah saya?” Question-of-being mengundang anak remaja itu menjadi manusia sejati, wong jawani, dasein otentik. Beberapa di antara anak-anak itu, kemudian, menjalani hidup sebagai manusia ontologis. Sebagian anak-anak yang lain menutup pintu question-of-being itu dengan tumpukan besar metafisika. Pintu tertutup rapat. Tidak ada lagi pertanyaan ontologis. Semua jawaban telah tersedia dengan jelas dan tegas. Semua jawaban dijamin oleh metafisika.

Sewaktu-waktu, setiap anak manusia, tetap bisa mengajukan question-of-being. Dan, membuka lagi pintu rumah-ontologi, rumah-being.

Bentukan Manusia

Kita bisa menduga bahwa manusia “menciptakan” bahasa untuk komunikasi. Bahasa adalah bentukan oleh manusia. Untuk bahasa-formal, barangkali, memang bentukan oleh manusia. Bagaimana dengan bahasa-being?

Bahasa adalah yang “membentuk” manusia. Anda dibentuk oleh bahasa. Anda dipoles oleh bahasa. Anda menjadi manusia karena bahasa. Manusia diciptakan oleh bahasa melalui proses sejarah. Justru, dengan demikian, manusia terbebas dari ikatan alam-ontic. Manusia terbebas dari tanah, darah, dan daging. Manusia eksis dan tinggal di rumah-being bahasa.

Memang badan kita terdiri oleh tulang, daging, dan kulit. Setiap hari, kita makan tumbuhan atau daging. Setiap saat, kita menghela nafas, menghirup udara oksigen, nitrogen, carbon dioksida, dan lain-lain. Tetapi, manusia terbebas dari itu semua. Manusia transenden dari alam-ontic itu. Manusia menjadi manusia karena hembusan bahasa.

“The nearness [ . . . ] este as language itself. But language is not mere speech, insofar as we represent the latter at best as the unity of phoneme (or written character), melody, rhythm, and meaning (or sense). We think of the phoneme and written character as a verbal body for language (Wortleib), of melody and rhythm as its soul, and whatever has to do with meaning as its spirit. We usually think of language as corresponding to the essence of the human being represented as [Husserl] animal rationale, that is, as the unity of body- soul- spirit. But just as ek- sistence — and through it the relation of the truth of being to the human being — remains veiled in the humanitas of homo animalis, so does the metaphysical- animal explanation of language cover up the seinsgeschichtliches Wesen, the essence of language in the history of being. (Pathmarks, 273– 74) (Heidegger)

Bahasa adalah rumah being. Tentu saja maksud bahasa di sini bukanlah bahasa yang terdiri dari suara, nada, dan makna. Umumnya, bahasa dipandang sebagai karakter spesial manusia. Pasangan selarasnya suara adalah badan, nada adalah jiwa, dan makna adalah ruh. Manusia adalah makhluk yang berbahasa. Tetapi, jika eksistensi manusia tetap tersembunyi, maka demikian juga, penjelasan metafisika bahasa masih menyembunyikan hakikat bahasa sebagai sejarah being.

“According to this essence [historico- ontological], language is the house of being, which is propriated by being and pervaded by being. And so it is proper to think the essence of language from its correspondence to being and indeed as this correspondence, that is, as the Behausung [shelter, habitation] of the human being’s essence. But the human being is not only a living creature who possesses language along with other capacities. Rather, language is the house of being in which the human being ek- sists (ek- sistiert) by dwelling, in that he belongs to the truth of being, guarding it. (Pathmarks, 254) (Heidegger).

Hakikat manusia tinggal di rumah-being bahasa. Manusia eksis sebagai truth-of-being dengan menjaga dan dijaga oleh bahasa, rumah-being. Tentu saja, manusia bukan hanya bahasa. Manusia tetap merupakan struktur kompleks unsur natural, kultural, dan spiritual, yang memiliki rumah-being yaitu bahasa.

Krono-Logika

Sudah sewajarnya, kita berpikir secara kronologis dan logis. Sementara, pembahasan kita mengenai being, bahasa, dan manusia adalah lebih fundamental dari logika itu sendiri. Bagaimana pun, di bagian ini, saya akan memberi ilustrasi logis, yang sejatinya, tidak benar. Ilustrasi logis ini, meski salah, barangkali bisa memudahkan pemahaman.

(1) Being ===> (2) Bahasa ===> (3) Manusia

Manusia adalah urutan terakhir. Manusia adalah kondisi-posible untuk terciptanya bahasa. Maksudnya, hanya manusia yang memungkinkan bahasa menjadi eksis. Tentu saja, sebelum seorang anak bisa berbahasa, bahasa sudah eksis sejak era nenek moyangnya.

Kita bisa mundur ke jaman manusia pertama hadir dunia ini. Bahasa sudah hadir lebih awal dalam bentuk simbol-simbol alam raya. Burung-burung bernyanyi dengan nada-nada simbolis. Orangutan berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Selanjutnya, manusia pertama di dunia memandang alam sekitar. Terpapar oleh beragam simbol, bahasa-bahasa formal. Manusia mencoba menerapkan bahasa dalam hidupnya. Dan, dimulailah, kehidupan manusia bersama bahasa.

Bahasa adalah posisi tengah. Bahasa adalah kondisi-posible bagi being untuk eksis. Hanya bahasa yang memungkinkan being eksis, aktual, sebagai being. Tanpa bahasa, being tidak bisa dibedakan dengan “a being” mau pun “beings”.

Being posisi paling awal. Being adalah yang paling dekat dengan dirinya. Di saat yang sama, being adalah yang paling jauh dari dirinya. Demikian juga bahasa. Bahasa adalah yang paling dekat dan sekaligus paling jauh dengan bahasa itu sendiri. Karena, bahasa adalah manifestasi aktual dari being.

Secara kronologis, berdasar uraian di atas, being adalah paling awal sebagai basis bahasa. Kemudian, bahasa adalah basis dari manusia.

Tetapi, orang bisa menyusun kronologi dengan urutan sebaliknya. Manusia adalah yang paling utama. Kemudian, manusia berkomunikasi dengan menciptakan bahasa. Pada akhirnya, komunikasi antar manusia menghasilkan budaya berupa being-being baru: rumah, mobil, komputer, dan lain-lain.

Dua skenario kronologis di atas, membantu kita memahami peran penting being, bahasa, dan manusia. Seperti sudah kita sebutkan, analisis logis di atas adalah tidak sah. Karena, kita sedang mengkaji ontologi fundamental yaitu question-of-being, di mana, logika baru bisa dibahas lebih akhir.

Bahasa adalah rumah-being merupakan metafora untuk mendeskripsikan ontologi fundamental – tidak secara kronologis. Being tinggal di rumah-being yaitu bahasa. Dengan bahasa, being membedakan diri dengan “a being” mau pun “being”. Sehingga, tercipta ruang ontological-difference. Tanpa bahasa, ontological-difference runtuh.

Manusia-sejati tinggal di rumah-being, bahasa, dengan menjaga dan dijaga olehnya. Manusia menemukan being-sejati, truth-of-being, di rumahnya. Bahasa bersifat historal. Demikian juga manusia dan being, sama-sama, historal.

Di mana “posisi” Tuhan dalam kajian di atas. Tuhan-sejati meliputi segalanya. Tetapi, tuhan-metafisika memang tidak ada dalam kajian di atas. Sejak awal, metafisika sudah runtuh. Dan, kita sedang rekonstruksi truth-of-being atau being sejati.

Awal Bahasa

Bagaimana proses awal terbentuknya bahasa? Dugaan kita, pertama, bahasa adalah tanda-tanda. Yaitu, manusia menandai beragam benda dengan nama-nama tertentu. Kedua, tata-bahasa, yaitu dari beragam nama-nama tersusun struktur bahasa tertentu yang menghasilkan makna khusus. Struktur tata-bahasa ini sendiri tidak ada di alam materi. Struktur bahasa ada dalam pikiran manusia. Ketiga, abstraksi, mengembangkan bahasa-bahasa abstrak yang murni terbebas dari alam materi itu sendiri. Benarkah demikian? Kita akan mengkaji lebih dalam.

Di sini, kita akan mengikuti Derrida yang mengacu ke Renan.

“(1) At its birth language was as complete as the human thought it then represented, which means that there is no pre- cession of thought over language; language is not an instrument that adapts itself more or less well by running after a thought that is already formed.”

Sejak awal, bahasa sudah lengkap sebagaimana pikiran manusia. Sehingga, tidak ada pikiran yang mendahului bahasa. Bahasa bukan hasil dari pikiran.

” (2) “Sound psychology” guiding “the state of languages” attributes a major role to sensation in the origin of language. Which means that the primitive language knew nothing of abstraction, and whereas the grammatical system of ancient language contains, says Renan, “the highest metaphysics,” one sees everywhere in its words a material conception become the symbol of an idea. There is here a first alienation that Renan describes by citing Maine de Biran and Leibniz.”

Peran suara-psikologis cukup besar dalam bahasa primitif. Yaitu, bahasa primitif berkaitan erat dengan sensasi indera manusia. Secara bertahap, peran tata-bahasa menjadi penting. Metafisika mulai disadari: orang memandang bahasa sebagai simbol dari ide. Alienasi mulai terjadi.

“(3) But precisely, Renan makes a clear distinction between grammar and lexicology. Only grammar is purely human and rational; it alone is not subjected to sensibility, and the logicity of language is the purely grammatical.”

Tepat, tata-bahasa beda dengan kata. Tata-bahasa adalah murni logika dari bahasa. Dengan demikian, tata-bahasa terbebas dari material kata-kata. Pada tingkat lanjut, tata-bahasa mampu menghasilkan kata-kata yang murni abstrak. Posisi metafisika, yaitu metafora, makin kuat pada tahap ini.

Yang menarik, Renan menganggap proses abstraksi bahasa adalah proses pembebasan bahasa. Dengan asbtraksi, bahasa terbebas dari rujukan dunia eksternal. Logika bahasa menjadi lengkap dalam bahasa itu sendiri.

Kita bisa mengambil contoh bahasa-matematika yang menyatakan operasi bilangan bulat “2 + 1 = 3” bernilai mutlak benar. Kebenaran matematika semacam itu tidak perlu dibuktikan dengan eksistensi alam eksternal, misal, ada 2 jeruk ditambah 1 jeruk menghasilkan 3 jeruk. Justru sebaliknya, penjumlahan jeruk menjadi benar bila sesuai dengan bahasa-matematika. Sementara, bahasa-matematika itu sendiri murni abstrak.

Nietzsche berpandangan berbeda dengan Renan. Abstraksi tetaplah sebuah metafisika, sebuah metafora. Tidak ada metafora di atas metafora. Akibatnya, dari metafora, tetap tidak ada logika. Tidak ada logika yang bisa meng-klaim sebagai universal.

Teorema Godel membuktikan bahwa tidak ada sistem formal yang lengkap dan sekaligus konsisten. Pasti ada yang tidak konsisten. Contoh kita tentang bahasa-matematika operasi bilangan bulat, di atas, terbukti tidak lengkap atau tidak konsisten. Demikianlah bahasa, metafora, dan metafisika.

Revisi Dugaan Awal

Sampai di sini, kita perlu merevisi dugaan awal kita. Yaitu, dugaan awal bahwa ada pikiran yang mendahului bahasa. Hasil revisi adalah pikiran tidak mendahului bahasa. Apakah bisa sebaliknya? Bahasa mendahului pikiran? Kita akan mengkajinya. Sementara, kita akan klarifikasi dulu bahwa pikiran tidak mendahului bahasa.

Ketika orang manca negara datang ke Indonesia bertanya, “Apa ini?” Lalu, kita jawab, “Ini adalah meja.”

Orang manca itu bukan punya konsep-meja dalam pikiran kemudian belum punya kata atau bahasa. Orang manca itu, sejatinya, sudah punya bahasa-meja dan konsep-meja. Hanya saja, orang manca itu tidak tahu istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia. Jadi, konsep-pikiran tidak mendahului bahasa.

Demikian juga, ketika, seorang bocah kanak-kanak yang hendak belajar kata “meja”. Bocah itu menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah meja. Lalu, orang dewasa menyebut, “Meja.” Bocah itu menirukan, “Meja.” Bocah itu sudah punya konsep-pikiran dan bahasa-meja dalam dirinya. Hanya saja, bocah itu belum tahu apa kata yang tepat digunakan oleh orang-orang untuk menyebut meja.

Tentu saja, pemilihan kata “meja” merupakan proses lanjutan secara sosial. Kita tidak bisa mengganti “meja” menjadi “jame” misalnya, secara pribadi. Kita hanya bisa mengganti dengan “jame” atau “emaj” atau lainnya melalui proses sosial juga. Meski demikian, konsep-pikiran tidak mendahului bahasa. Konsep-pikiran hanya bisa mendahului konvensi bahasa.

Being Lebih Original

Kita sudah membahas bahwa hubungan bahasa dengan obyek eksternal adalah metafora. Yaitu, ada kedekatan dan jarak.

Kata-meja terhubung dengan obyek-meja secara metafora. Hubungan itu tidak pernah sempurna. Selalu ada kedekatan dan jarak. Bahkan bahasa sains, tetap, ada jarak. Termasuk bahasa matematika.

Tetapi kata “being”, kata “wujud”, atau kata “ada” memiliki hubungan original dengan maknanya.

“From this it follows that ultimately, in the word “Being” and its inflections, and in everything that lies in the domain of this word, the word and its signification are bound more originally to what is meant by them — but also vice versa. Being itself relies on the word in a totally different and more essential sense than any being does.

The word “Being,” in every one of its inflections, relates to the Being itself that is said, in a way that is essentially different from the relation of all other nouns and verbs in language to the beings that are said in them. (Introduction to Metaphysics, 92– 93) (Heidegger).

Kata “Being”, dan segala bentukannya, berbeda dengan kata lainnya. Atau, hubungan “Being” dengan bahasa bukan hubungan metafora, bukan metafisika, bukan seperti biasa. Hubungan “Being” dengan bahasa adalah original, yang, akan menjadi pembahasan sepanjang kajian kita. Intinya, seperti kita bahas di atas, bahasa adalah rumah-being.

Bahasa Metafora

Pada analisis akhir, setiap bahasa adalah metafora yaitu metafisika, bahasa-formal. Ada kedekatan dan jarak antara bahasa dengan realitas. Tidak mungkin jarak ini menjadi nol. Tidak mungkin error bisa hilang. Inti metafisika adalah metafora: ada jarak.

Sains bisa mengkaji fisika. Meski sains berusaha menghindari metafisika, bagaimana pun, fisika tetap akan menggunakan basis metafisika. Seluruh sains membutuhkan metafisika yaitu metafora.

Wajar, banyak pihak tidak suka dengan ungkapan bahwa sains didasarkan pada metafora. Bagaimana pun, kita sulit menolak ungkapan tersebut. Di tulisan yang lain, saya menunjukkan bahwa setiap konsep sains memerlukan konsep lain sebagai fondasinya. Pada akhirnya, akan ada konsep yang tidak memiliki fondasi. Konsep terakhir ini berlandaskan kepada metafora.

Sains empiris, barangkali, bisa menggunakan fondasi berupa pengukuran, bukan konsep sains. Kita bisa mengukur tinggi meja, secara sains misal, hasilnya 1 meter. Atas dasar apa kita percaya tinggi meja 1 meter? Berdasar pengukuran dengan mistar. Mengapa mistar dipercaya? Karena diproduksi oleh pabrik dengan standar ketat. Mengapa standar dipercaya? Karena mengacu standar internasional. Mengapa dipercaya? Karena berdasar kesepakatan para ahli setelah mempertimbangkan banyak fakta sains. Mengapa kesepakatan dipercaya? Dan, seterusnya, kita menemukan metafora pada ujung akhir.

Alternatif empiris bisa saja mengukur tinggi meja adalah T yaitu tinggi meja tersebut. Tanpa ada alat ukur sebagai pembanding. Tinggi meja T adalah tinggi meja apa adanya secara obyektif. Kita tetap bisa menerapkan cara analisis yang sama.

Apakah tinggi T adalah konsep? Jika konsep maka perlu fondasi, yang pada analisis akhir adalah, metafora.

Jika T bukan konsep, tetapi, pengukuran fisika maka memerlukan eksistensi ruang atau materi. Sebut saja, T terdiri dari tumpukan materi penyusun meja berupa molekul, atom, atau elektron. Teori quantum menunjukkan bahwa eksistensi elektron tidak bisa dipastikan secara epistemologi mau pun ontologi. Lalu, jika tinggi T tidak bisa dipastikan maka mengapa dipercaya? Kita akan tetap membutuhkah metafora atau metafisika dalam sains.

Apakah, dengan demikian, kita harus menolak sains? Tidak. Kita tidak harus menolak sains. Kita hanya perlu sikap berpikir-terbuka. Barangkali pendekatan sains pihak lain lebih baik. Atau, barangkali pendekatan psikologi, pendekatan agama, atau pendekatan sosial lebih baik. Atau, barangkali sinergi dari beragam pendekatan menjadi lebih baik. Kita perlu sikap berpikir-terbuka untuk mendapatkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik.

Pra Bahasa

Mengapa kita tidak bergerak lebih radikal dari sekedar bahasa? Bukankah ada realitas yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata? Bukankah realitas seperti itu lebih fundamental?

Realitas alam eksternal meja, kursi, pohon dan lain-lain adalah nyata. Lebih dari sekedar bahasa. Alunan musik yang merdu adalah nyata menyentuh kalbu. Lebih dari sekedar bahasa. Hati remaja yang berbunga-bunga karena jatuh cinta. Lebih dari sekedar bahasa. Bukankah itu semua lebih fundamental dari bahasa? Realitas pra bahasa.

Kita perlu membahas bahasa sebagai rumah-being dan hakikat manusia. Argumen-argumen bisa kita baca di pembahasan atas. Barangkali, di bagian ini, kita akan cukup membahas secara ringkas.

Pertama, sudah banyak sains regional yang membahas realitas sesuai disiplin masing-masing: fisika, biologi, ekonomi, politik, dan lain-lain. Dalam kajiannya, mereka membutuhkan logika bahasa-formal. Pada gilirannya, bahasa-formal akan dihadapkan pada bahasa-being. Sehingga, kita tetap perlu membahas bahasa sebagai rumah-being dan hakikat manusia.

Kedua, membahas realitas apa adanya adalah realitas yang hadir. Realitas tersebut terbatas oleh ruang dan waktu. Kita perlu membahas realitas yang hadir mau pun yang tidak hadir, yang di sini mau pun yang di sana, yang sekarang mau pun masa yang beda. Untuk menyelidiki itu semua kita perlu mengkaji ontologi fundamental. Kita perlu melampaui bahasa-formal menuju bahasa-being.

Ketiga, kita sedang bertanya question-of-being. Sedangkan, realitas adalah solusi dari suatu pertanyaan. Realitas bukanlah pertanyaan. Pertanyaan adalah dalam bentuk bahasa. Baik bahasa-formal atau pun bahasa-being. Jadi, apa pembahasan selanjutnya?

Bagaimana pun, kita berada dalam dunia kompleks. Meski, pembahasan ontologi fundamental memerlukan kajian bahasa being, tetapi kajian di bidang-bidang lain tetap dibutuhkan oleh umat manusia. Horisoni adalah guncangan besar untuk meruntuhkan struktur agar terlihat jelas apa yang tersembunyi. Horisoni tidak menolak bidang lain. Horisoni hanya mengungkapkan, mengkaji, apa yang masih tersembunyi.

5. Hakekat Manusia Dasein

Bagian ini menjadi paling penting karena kita, secara sah, bisa menjawab pertanyaan question-of-being, “Apa makna-ada?”

Makna-ada, makna-being, adalah dasein. Lalu, apa itu dasein? Dasein adalah being yang mempertanyakan being dirinya sendiri. Jawaban ini seperti mendorong kita masuk perangkap lingkaran setan. Tetapi, tidak. Kita tidak terperangkap dalam lingkaran setan. Kita menemukan jawaban dari pertanyaan ontologi fundamental yaitu dasein.

Memang, interpretasi terhadap dasein bukan interpretasi kaku. Interpretasi dasein, justru, interpretasi yang penuh dinamika. Kita akan membahasnya lebih detil.

Mengapa Dasein

Mengapa memulai kajian dari dasein? Kita memiliki beragam pilihan untuk mengkaji question-of-being. Memulai kajian dari dasein adalah alternatif terbaik. Beberapa alternatif lain bisa kita pertimbangkan.

Mulai kajian dari a-being, dari wujud-tertentu. Misal mulai dari being-materi maka berkembang sains fisika. Dari being-manusia berkembang antropologi. Dari being-sosial berkembang ekonomi. Kajian-kajian sejenis ini menghasilkan ontologi regional.

Mulai kajian dari beings, dari wujud-total. Misal berkembang kosmologi, teologi, metafisika. Kita bisa menyebutnya sebagai sistem metafisika global.

Mulai kajian dari eksistensi, dari “is”, dari keberadaan. Berkembang filosofi eksistensialisme yang begitu progresif di berbagai wilayah.

Secara umum, ada dua masalah besar yang dihadapi oleh masing-masing alternatif: hermeneutic circle dan jarak. Hermeneutic circle, atau kita sebut lingkaran, menyatakan ada problem yaitu untuk memahami suatu bagian, kita perlu memahami keseluruhan lebih dulu. Sebaliknya juga bermasalah. Untuk memahami keseluruhan, kita perlu memahami detil bagian-bagian lebih dulu. Problem lingkaran ini tidak bisa diputus bagai lingkaran setan.

Problem “jarak” yang memaksa kita untuk menerapkan metafora, metafisika. Obyek kajian apa pun yang kita pilih – a being, beings, atau eksistensi – selalu ada jarak antara subyek dan obyek.

Dasein berhasil menangani dua problem di atas dengan baik. Dasein menjadi pilihan tepat untuk memulai kajian question-of-being. Dasein adalah being-there, wujud-konkret, yang bertanya tentang being-there. Dasein menjadi dasein karena bertanya tentang dasein. Struktur fundamental dasein adalah peduli sebagai being-in-the-world. Dasein adalah manusia-ontologis yang bertanya tentang eksistensi manusia. Setiap jawaban akan mengantar dasein untuk bertanya lebih lanjut question-of-being.

Meski dasein berhasil dengan baik sebagai awal kajian, tetapi, dasein tidak menjamin berhasil tuntas sampai akhir kajian. Heidegger, di bagian akhir Being and Time, mengakui dasein sebagai awal kajian. Sementara untuk bergerak lebih luas, dari dasein ke sein, Heidegger yakin hal tersebut bisa dilakukan. Tetapi, sekitar 50 tahun sisa hidupnya, Heidegger tidak pernah melakukan kajian tersebut. Heidegger, justru, berhasil meluaskan kajian question-of-being ke bidang sosial, politik, dan teknologi.

Di tempat lain, Derrida meyakini keunggulan dasein sebagai kajian awal. Sampai 40 tahun sisa hidupnya, Derrida juga tidak meluaskan kajian dasein. Derrida, justru, berhasil menerapkan kajian question-of-being ke text, secara luas, dengan dekonstruksi. Meski berhadapan dengan beragam kontroversi, Derrida berhasil menggulirkan tema dekonstruksi dengan baik.

Kita bisa meringkas bahwa dasein berhasil dengan baik sebagai kajian awal. Sementara, untuk kajian yang tuntas, kita memerlukan kajian yang lebih luas. Heidegger mengidentifikasi eksistensi kekuatan-transenden pada dasein dalam karya seni. Heidegger mengatakan kekuatan-transenden tersebut adalah bahasa. Tetapi, kita bisa menganalisis bahwa bahasa tidak tepat disebut sebagai kekuatan-transenden yang dimaksud. Beberapa orang meyakini kekuatan-transenden tersebut adalah kekuatan-spiritual. Dalam suatu wawancara, Heidegger mengatakan, “Only a God can save us.”

Jadi, mari semangat membahas dasein!

Being History

Dasein memiliki karakter historal, bersejarah, historicity. Ketika kita bertanya, “Apa makna-ada?” maka kita melangkah ke masa lalu. Kita menyadari ada faktum, masa lalu, untuk ditanyakan secara ontologis. Dalam hal ini, dasein berpikir retrospektif. Di saat yang sama, dasein juga bertanya nasib eksistensi masa depannya secara antisipatif, “Bagaimana nasib eksistensiku selanjutnya?” Lengkaplah, dasein adalah historal.

“‘Circular reasoning’ does not occur in the question of the meaning of being. Rather, there is a notable “Rück oder Vorbezogenheit,” a retro- or pre- reference [pre- ference][a retrospective or anticipatory reference] of what is asked about Gefragten to asking as a mode of being of a being. The way what is questioned essentially engages our questioning belongs to the innermost meaning of the question of being. But this only means that the being that has the Charakter of Dasein has a relation to the question of being itself, perhaps even a distinctive one. (Being and Time, 7– 8)” (Heidegger).

Tidak terjadi logika melingkar di sini. Yang terjadi adalah berpikir retrospektif dan antisipatif. Question-of-being ini yang menjadikan manusia sebagai dasein. Sehingga, ada relasi antara dasein dengan dirinya sendiri. Dasein adalah yang paling dekat dengan dirinya secara ontic. Tetapi, justru paling jauh secara ontologis.

Gerak retrospektif dan antisipatif dari dasein mengungkap karakter temporality dengan horison waktu. Beberapa pemikir mengidentifikasi question-of-being sama artinya dengan question-of-time. Derrida menganggap dasein sebagai temporality adalah fragment paling esensial. Temporality adalah being-of-being yang memahami being.

“Now the most essential “fragment” is here the explication of the meaning of the being of the being named being- there as temporality. The explication of being- there as temporality does not suffice to provide a response to the principal question, that of the meaning of being in general, but it is an ontological point of departure to this response. If, precisely, being- there is a pre- ontological being — that is, a being that has as its being to understand being and to be able to pose the question of being — an important step will have been taken if one shows, as Heidegger intends to show in Sein und Zeit, that that on the basis of which, the horizon on the basis of which being- there pre- comprehends being is what is called time.” (Derrida).

Bagi dasein, waktu terbatas dari lahir sampai mati. Hanya dasein yang memahami batas waktu lahir sampai mati, yang, memiliki posibility sebagai being seutuhnya. Masa lalu bukanlah sesuatu yang sudah tidak ada. Masa depan bukanlah sesuatu yang belum datang. Masa lalu tetap eksis pada dasein berlanjut ke masa depan. Masa lalu dan masa depan terhubung secara kontinyu bersama dasein.

Karakter dasein yang temporal dan historal ini memungkinkan dikembangkannya sains sejarah. Sejauh ini, para ahli sejarah, umumnya, mengasumsikan bahwa sains sejarah adalah posible. Mereka tidak menyelidiki mengapa sains sejarah bisa posible. Sains sejarah posible karena dasein adalah historal.

Sejarah Hegel

Sejenak, mari kita membandingkan kajian sejarah versi Hegel dengan versi Heidegger. Mereka sepakat bahwa dasein yang historal adalah basis dari sains sejarah. Tetapi, mereka berbeda dalam memberi bobot dasein terhadap sejarah. Bagi Hegel, sejarah hanya bisa tercipta jika umat manusia membentuk negara. Sementara, keluarga, kelompok masyarakat, kelompok agama, dan lain-lain tidak bisa membentuk sejarah – selama tidak ada negara.

It is obvious to anyone who begins to be familiar with the treasures of Indian literature that this country, so rich in spiritual achievements of a truly profound quality, nevertheless has no history. In this respect, it at once stands out in stark contrast to China, an empire that possesses a most remarkable and detailed historical narrative going back to the earliest times. India has not only ancient religious books and splendid works of poetry but also ancient books of law, something already mentioned as a prerequisite for the formation of history, and yet it has no history. But in this country the original organization that created social distinctions immediately became set in stone as natural determinations (the castes), so that, although the laws concern the civil code of rights, they make these rights dependent on distinctions imposed by nature, and they specify, above all, the position (in terms of injustices more than of rights) of these classes toward one another, i.e., only of the higher vis- à- vis the lower. The ethical element (Sittlichkeit) is thereby excluded from the splendor of Indian life and its realms.

Given this bondage to an order based firmly and permanently on nature, all social relations involve a wild arbitrariness, ephemeral impulses, or rather frenzies, without any purposeful progress and development. Thus, no thoughtful memory, no object for Mnemosyne presents itself, and a deep but desolate fantasy drifts over a region that ought to have had a fixed purpose — a purpose rooted in actuality and in subjective yet substantial (i.e., implicitly rational) freedom [ . . . ] (Hegel)

Hegel memberi contoh bahwa Cina kuno memiliki sejarah. Sementara, India kuno tidak memiliki sejarah. Seharusnya, India kuno memiliki sejarah lantaran banyak fakta-sejarah yang tersedia. Kita bisa menemukan beragam bangunan sejarah di India. Kita bisa menemukan buku ajaran agama, sastra, dan bahkan kitab hukum. Tetapi, karena semua fakta-sejarah itu tidak terorganisir sebagai negara maka India kuno tetap tidak memiliki sejarah.

Kehidupan India kuno tidak diatur oleh negara. Kehidupan diatur oleh kasta. Karena kasta ini bersifat natural, menurut Hegel, maka tidak ada sejarah bagi India kuno. Sementara, Cina kuno memiliki sejarah karena ada negara. Rakyat Cina memiliki cita-cita bersama untuk diraih, dicatat, diceritakan sampai membentuk sejarah.

Heidegger berbeda dengan Hegel. Bagi Heidegger, basis sejarah adalah dasein yang berkarakter sejarah. Sehingga, India kuno tetap memiliki sejarah. Meski, barangkali, sejarah India kuno memiliki kadar yang lemah relatif terhadap sejarah Cina kuno.

Sejarah Husserl

Baik Husserl mau pun Hegel, juga Heidegger, menolak historisisme yaitu paham yang menyatakan bahwa kebenaran memiliki konteks sejarahnya sendiri. Sehingga, tidak ada kebenaran universal, tidak ada makna universal. Yang ada hanya kebenaran relatif sesuai fakta-fakta empiris sejarah. Mereka menolak historisisme seperti itu. Kebenaran universal tetap ada meski pun tetap mempertimbangkan konteks.

“This resonance would appear still more clearly if one were to note that, like Hegel and like Heidegger later, Husserl refuses (1) historicism — that is, the reduction of meaning and truth to their empirical becoming — (2) the historian any privilege in determining the meaning of historicity and the origin of the historical truth about which he is speaking.” (Derrida).

Kedua, setelah menolak historisisme, mereka menolak bahwa ahli sejarah memiliki hak khusus menentukan makna dan kebenaran sejarah. Setiap orang yang berpikir memiliki hak untuk menentukan makna dan kebenaran sejarah. Tentu saja, ahli sejarah memiliki keunggulan dalam hal sains sejarah, data-data sejarah, dan catatan sejarah. Dalam hal menentukan makna sejarah, terbuka bagi seluruh umat manusia untuk memikirkannya.

Husserl merumuskan tiga tahap sejarah.

Tahap pertama sejarah adalah ketika manusia sudah mulai berbahasa, bercerita, dan berbudaya. Tahap ini bersifat universal. Setiap umat manusia memiliki budaya maka mereka juga memiliki sejarah. Bagaimana pun, tahap pertama ini memiliki beragam keterbatasan.

“The second level is marked by the emergence of philosophy or science and of the humanity capable of the idea of philosophy or science, and thus of the project of the infinite task.” (Derrida).

Tahap kedua sejarah ditandai dengan munculnya filosofi dan sains. Tersedia kajian dan dokumentasi secara sistematis tentang sejarah. Dengan demikian, sejarah menjadi tanpa batas. Dengan filosofi dan sains, manusia mampu memaknai dan mengkaji sejarah makin mendalam dan makin meluas.

Tahap ketiga sejarah adalah fenomenologi. Tentu, fenomenologi adalah khas formula Husserl. Wajar saja, Husserl menempatkan fenomenologi sebagai puncak sejarah. Yaitu, ketika, filosofi dan sains mampu mengungkapkan kebenaran sejarah sejati, apa adanya, berdasar fenomenologi.

Fenomenologi adalah kajian filosofis yang mengijinkan obyek kajian hadir apa adanya dalam kesadaran subyek pengkaji. Dalam hal ini, obyek kajian adalah sejarah. Subyek pengkaji adalah kita yang berpikir tentang sejarah. Agar obyek bisa hadir apa adanya maka subyek perlu “membungkus” beragam prasangka dirinya untuk sementara waktu. Ketika obyek terbebas dari prasangka subyektif maka obyek sejati hadir apa adanya. Tentu saja, untuk memahami obyek sejati, pada gilirannya, subyek harus melakukan tindakan berpikir dan lain-lain. Sehingga, pada analisis akhir, fenomenologi bertumpu kepada peran besar subyek itu sendiri. Lagi pula, subyek ini bersifat transenden dari dunia. Fenomenologi, dengan demikian, masih mewarisi metafisika.

Heidegger, murid Husserl, sejak awal mencanangkan proyek destruksi metafisika. Sehingga, fenomenologi juga menjadi target destruksi.

Bagaimana subyek transenden itu hadir ke dunia ini? Subyek itu hadir tanpa sejarah, ahistorical. Demikian juga, spirit dari Hegel adalah tanpa sejarah, ahistorical. Dengan landasan subyek, atau spirit, atau kesadaran, yang tanpa sejarah maka konsep sejarah runtuh. Baik konsep sejarah Husserl mau pun Hegel. Kita perlu rekonstruksi sejarah dengan memadai.

Solusi kita mengarah kepada dasein, being-there, yang historal berkarakter sejarah. Dasein lahir di rumah-being, yaitu bahasa. Dasein hidup di rumah-being dengan dijaga dan menjaga bahasa. Dasein meraih keutuhan sejarah dengan menjemput kematian, sejak kelahirannya. Dasein, kita, menciptakan makna sejarah dengan kebebasan yang terbentang sejak lahir sampai mati. Lahir dan mati adalah satu kesatuan kontinyu dari sejarah dasein.

Akal kita, tetap bertanya, “Ada apa sebelum dasein lahir?” “Ada apa setelah dasein mati?” “Ada apa di luar dasein?”

Kajian kita masih akan terus berlanjut. Yang jelas, ketika dasein adalah historal maka sejarah dunia menjadi posible, menjadi mungkin untuk terjadi. Sejarah versi Hegel dan Husserl menjadi bisa dikembangkan.

Game Matematika Orisinal

Setiap orang suka game. Anda suka permainan. Anak-anak pasti suka game. Game matematika orisinal sangat menyenangkan.

Game orisinal APIQ beda dengan game lain. Game APIQ, dengan memainkannya, anak-anak jadi jago matematika. Game APIQ bukan selingan. Game APIQ adalah media untuk belajar matematika asli melalui permainan.

Silakan bergabung APIQ WA 0818 22 0898.

Manusia Masa Depan: Hari Filosofi Dunia 2022

Hari ini, 17 November 2022, adalah hari filosofi dunia. Unesco menetapkan tema “Manusia Masa Depan” sebagai tema utama.

Bagaimana dengan Anda? Apa masa depan Anda? Bagaimana masa depan alam raya?

Filsafat mengajak kita untuk merenungi masa depan, masa lalu, dan masa kini. Filsafat mengajak kita peduli kepada diri sendiri, lingkungan, dan alam raya.

Kamu adalah manusia. Kamu adalah pemikir. Kamu adalah filsuf. Demikian juga aku.

Generasi Jago Matematika

Ingin anak Anda sukses? Jadikan mereka jago matematika.
Ingin keluarga Anda sukses? Jadikan keluarga jago matematika.
Ingin negara Anda sukses? Jadikan negara jago matematika.

Bagaimana cara jadi jago matematika? Anda bisa bergabung dengan program APIQ matematika kreatif melalui WA 0818 22 0898.

Mari kita sama-sama mendorong terciptanya generasi jago matematika.

Guru Matematika Masuk Surga

Pak Ruslan adalah guru SD saya sejak kelas 1. Saya yakin, beliau masuk surga. Pak Ruslan mengajar siswa-siswa dengan tulus ikhlas. Apa pun yang terjadi di kelas, siswa nakal atau lainnya, Pak Ruslan selalu senyum dalam mengajar. Rasa ikhlas beliau lebih besar dari semua tantangan.

Saya kagum dengan cara Pak Ruslan mengajar matematika. Penjumlahan dasar, untuk kelas 1 SD, Pak Ruslan mencontohkan dengan cara gambar-gambar himpunan. Siswa-siswa terbantu lebih mudah memahami matematika. Lebih uniknya lagi, Pak Ruslan mengijinkan para siswa saling membantu. Saya, yang sejak kecil cepat dalam berhitung, membantu teman-teman berhitung. Sementara Husnul, teman kelas 1 saya, pandai menggambar. Husnul membantu teman-teman membuat gambar nanas, pisang, dan lain-lain yang memudahkan berhitung.

Kelak, puluhan tahun kemudian, saya mengembangkan onde milenium membantu siswa lebih mudah belajar matematika. Saya mengembangkan trik 7 detik matematik APIQ membantu guru mudah mengajarkan matematika. Saya menyelenggarakan program pelatihan guru profesional untuk TK, SD, SMP, dan SMA. Selamat bergabung… WA 0818 22 0898.

Makin besar jasa guru mencerdaskan bangsa. Makin banyak guru yang masuk surga.

Einstein: Salah Paham Filsafat Sains

Einstein adalah orang paling jenius abad 20. Tapi, di abad 21, peraih Nobel Fisika 2022 berhasil membuktikan bahwa Einstein salah. Lebih tepatnya, mereka berhasil menunjukkan bahwa teorema EPR, Einstein-Podolsky-Rosen, sebagai salah. Benarkah terbukti seperti itu?

1. Filsafat Sains
1.1 Histori Filosofi
1.2 Holisme
1.3 Pilihan Teori
1.4 Kejelasan Teori
1.5 Realisme
1.6 Prinsip vs Konstruksi
1.7 Hermeneutika
2. Sains Newton
3. Elektromagnetik Interpretasi Maxwell
4. Postulat Relativitas Khusus
5. Relativitas Umum
6. Medan Gravitasi
7. Teori Medan Quantum

Dalam tulisan ini, kita akan membahas filsafat sains dari Einstein. Bukan hanya sains. Dengan filsafat, kita lebih bebas melakukan beragam analisis, interpretasi, dan menerobos cakrawala imajinasi. Saya setuju bahwa Einstein salah paham terhadap interpretasi mekanika quantum. Di sisi lain, para ilmuwan justru salah paham terhadap filsafat sains, yang orisinal, dari Einstein. Khususnya, filsafat medan gravitasi.

1. Filsafat Sains

Problem mendasar dari filsafat sains adalah menentukan apa batas sesuatu sebagai irreducible? Sebagai basit?

Einstein memandang “medan” atau “field” sebagai basit – paling fundamental. Tidak ada yang lebih mendasar dari medan. Segala sesuatu, pada analisis akhir, bisa kita jelaskan berdasar teori medan. Karena itu, teori quantum akan bisa dijelaskan secara pasti berdasar teori medan, harapan Einstein. Tidak ada lagi paradoks dalam quantum. Semua menjadi pasti berdasar teori medan.

Di sisi lain, teori quantum menolak klaim Einstein. Foton atau elektron adalah basit menurut teori quantum saat ini. Karena itu, foton tidak bisa dijelaskan oleh apa pun. Termasuk, teori medan tidak bisa menjelaskan foton yang basit itu. Foton hanya bisa dipahami secara statistik-probabilistik sesuai teori quantum mechanic (QM). Misal, foton polarisasi vertikal (V) 50% dan polarisasi horisontal (H) 50%, maka, kita tidak bisa memastikan V atau H. Foton bebas memilih V atau H karena foton basit. Einstein berharap bisa memastikan V atau H ini berdasar teori medan.

Kita, sejatinya, bisa bertanya lebih lanjut kepada Einstein, “Asumsikan bahwa medan adalah basit, maka, bagaimana karakter dari medan tersebut?” Apakah medan bebas menentukan sikapnya sendiri? Atau, medan secara pasti memilih sesuatu? Jika medan “pasti” memilih sesuatu, maka, apa yang dimaksud dengan “pasti” tersebut? Bukankah “pasti” menjadi lebih basit dari medan? Tetapi, jika medan adalah bebas, maka, mirip dengan QM yang bersifat statistik-probabilistik.

Kita akan mencoba mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan di atas secara bertahap.

1.1 Histori Filosofi

Einstein menyebut histori filosofi sebagai sangat penting. Einstein mempelajari Plato, Aristoteles, Kant, Hegel, sampai Bergson. Pada usia belasan, dikabarkan, Einstein sudah membaca tuntas trilogi Kritik dari Kant. Kemudian lanjut, membaca Schopenhauer yang mempengaruhi konsep filosofi teori relativitas.

Pada tahun 1921, Einstein menghadiri debat besar menghadapi Henri Bergson yang merupakan filsuf besar pada masa itu di Paris. Einstein mempertahankan konsep waktu-obyektif. Sementara, Bergson menunjukkan konsep waktu-durasi. Debat saintis terbesar melawan filsuf terbesar hanya terjadi kala itu saja. Sampai saat ini, debat Einstein-Bergson tetap menjadi kajian yang menarik.

Einstein mengatakan jangan sampai kita terhalang oleh seribu pohon untuk melihat hutan. Histori filosofi membantu kita untuk bisa melihat hutan dengan jelas.

1.2 Holisme

Einstein meyakini holisme. Dia ingin menemukan satu hukum umum yang berlaku bagi seluruh semesta. Teori relativitas-khusus berlaku lebih luas dari mekanika Newton klasik. Karena relativitas-khusus tetap valid untuk kecepatan mendekati cahaya. Tetapi, relativitas-khusus hanya berlaku bagi kerangka acuan tanpa percepatan. Einstein tidak puas dengan batasan itu.

Selanjutnya, teori relativitas-umum benar-benar lebih umum. Relativitas umum berlaku untuk semua semesta kerangka acuan.

Tetapi, apa yang dimaksud “berlaku umum” untuk seluruh semesta?

Meski, relativitas-umum berlaku untuk semua tetapi tidak signifikan terhadap quantum. Maksudnya, quantum-mechanic (QM) tidak peduli terhadap relativitas umum. QM tidak membutuhkan relativitas-umum. QM mandiri terhadap relativitas umum.

Bagi Einstein, ada yang lebih mengganggu pikiran dari QM. Yaitu, QM menolak determinisme. QM hanya meyakini statistik-probabilistik. Einstein menghabiskan waktu 30 tahun terakhir masa hidupnya untuk menyatukan relativitas-umum dengan QM. Einstein, mengembangkan unified-field-theory yang merupakan cikal bakal theory-of-everything. Tampaknya, Einstein tidak memberi QM posisi utama dalam teorinya.

1.3 Pilihan Teori

Einstein sadar betul bahwa tersedia lebih dari satu teori bisa digunakan untuk menjelaskan satu fenomena yang sama. Karena itu, kita bebas memilih teori yang akan kita gunakan ketika hendak mengkaji suatu fenomena. Sikap bebas ini, kadang, dipandang sebagai oportunis dalam filosofi.

Sikap realis. Einstein setuju dengan realis bahwa alam eksternal itu benar-benar ada dan bisa kita selidiki. Sikap idealis. Einstein setuju dengan idealis bahwa segala teori adalah hasil ciptaan pikiran kita. Sikap platonis. Einstein setuju dengan platonis dengan membuat idealisasi beragam realitas sehingga mudah kita pahami. Sikap pragmatis. Einstein setuju dengan pragmatis bahwa kita perlu memilih teori yang paling efektif menjelaskan segala sesuatu.

Jadi, memang perlu oportunis.

1.4 Kejelasan Teori

Apa pun teori yang Anda pilih maka Anda perlu menyatakan dengan jelas teori Anda. Teori tersebut tidak ambigu. Teori tersebut memberi batas dengan tegas.

Kita bisa menduga teori paling jelas adalah teori yang diungkapkan dapam peryataan matematis. Benar saja. Dan, Einstein berhasil dengan baik mengungkapkan teori-teorinya secara matematis. Pada tahap awal, Einstein meminjam teori-teori matematika dari para pendahulu: Maxwell, Planck, Poincare, Lorenz, dan lain-lain. Pada tahap akhir, mengembangkan teori matematika orisinal dalam relativitas-umum berupa persamaan-medan-Einstein atau Einstein Equation (EE).

Tentu saja, EE sangat jelas karena berupa persamaan matematika. Tetapi, ternyata tidak bisa sejelas yang diharapkan.

Pertama, EE adalah suatu persamaan yang belum ada solusinya. Sampai akhir hayat, Einstein berjuang untuk menemukan solusinya. Belum diperoleh solusi. Bahkan, sampai sekarang, para ilmuwan belum menemukan solusi meski dibantu dengan komputer.

Kedua, apa interpretasi dari EE? Memang jelas EE menyatakan hubungan energi, materi, ruang, waktu, dan gaya di seluruh semesta. Tapi apa makna itu semua? Einstein sendiri menyatakan bahwa EE memang persamaan tentang medan. Dan, medan paling fundamental adalah medan gravitasi. Sehingga, banyak orang memandang EE sebagai formulasi medan gravitasi.

Ketiga, saya melihat Einstein menggunakan istilah medan gravitasi berbeda dengan para sainstis pada umumnya ketika membahas EE. Einstein bermaksud menyatakan medan sebagai realitas basit. Sementara, para saintis memahami medan sebagaimana medan dalam teori sains fisika. Ini adalah salah paham terbesar dalam filsafat sains.

1.5 Realisme

Einstein adalah realis. Tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa filsuf memandang Einstein sebagai positivis. Bukan sekedar realis biasa. Einstein mengakui dirinya realis tetapi menolak disebut sebagai positivis. Dua postulat Einstein untuk relativitas-khusus sudah cukup membuktikan realisme Einstein dan penolakan positivisme.

Eksistensi dunia eksternal adalah nyata. Perbedaan lokasi antara meja dan kursi menunjukkan masing-masing dari mereka adalah nyata. Realitas alam eksternal memadai sebagai kajian saintifik.

Tentu saja pandangan realisme naif, seperti di atas, mudah mendapat kritik dari idealis, semisal idealisme Berkeley. Sepanjang sejarah filsafat, tidak mudah mematahkan argumen skeptis terhadap realisme. Einstein menyadari itu. Solusinya mudah. Pertama, kita meyakini bahwa alam eksternal adalah nyata. Atau, kedua, postulatkan bahwa alam eksternal adalah nyata.

Einstein merupakan ilmuwan filosofis yang dengan tegas menerapkan postulat secara eksplisit. Menurut saya, postulat ini berhasil menyelesaikan beragam kerumitan. Dan, tentu saja, kita berhak mengkaji dengan kritis setiap postulat yang ada.

1.6 Prinsip vs Konstruksi

Secara teoritis, Einstein membedakan prinsip dengan konstruksi. Prinsip adalah teori yang berlaku umum, abstrak, dan memberikan batasan dengan jelas. Hukum termodinamika tentang entropi adalah contoh teori-prinsip. Konstruksi adalah suatu teori yang berlaku pada kasus tertentu berdasar batasan-batasan prinsip. Teori efek fotolistrik adalah contoh teori-konstruksi.

Kegagalan pengembangan teori, umumnya, karena kurang jelasnya batasan-batasan dari teori prinsip. Dengan memahami teori-prinsip secara eksplisit, kita bisa menerapkannya dengan baik pada kasus khusus sehingga tercipta teori-konstruksi. Atau, dengan sengaja kita merevisi teori-prinsip tersebut untuk menghasilkan teori-prinsip yang baru.

Teori efek fotolistrik adalah teori-konstruksi dari Einstein yang mengantarkannya memenangkan Nobel Fisika. Saat itu, fenomena fotolistrik tidak bisa dijelaskan dengan teori sains yang ada. Einstein menerapkan teori-prinsip termodinamika statistik Boltzmann. Fotolistrik bisa dijelaskan, berdasar termodinamika, bila pelepasan foton berupa satuan-satuan diskrit seperti quanta sesuai Planck. Terbukti, teori efek fotolistrik berhasil menjadi teori-konstruksi. Kelak, menjadi salah satu pilar QM.

Sementara, teori relativitas-khusus merupakan teori-prinsip yang hadir dari teori elektromagnetik Maxwell, Lorenzt, dan Poincare memodifikasi teori-prinsip mekanika klasik Newton.

Bagaimana nilai kebenaran teori-prinsip dan teori-konstruksi? Jelas, teori-konstruksi bernilai benar hanya pada kasus-kasus terbatas. Sementara, teori-prinsip berlaku umum tetapi tetap terbuka peluang untuk modifikasi. Bagaimana pun, kita akan tetap dihadapkan pada kasus “underdetermined” di mana kita tidak bisa memastikan klaim kebenaran. Dalam hal ini, kita perlu memilih interpretasi yang melibatkan hermeneutika.

1.7 Hermeneutik

Einstein adalah imuwan yang mahir memanfaatkan interpretasi hermeneutika. Di saat yang sama, Einstein sadar bahwa para pemikir-pemikir masa lalu merumuskan teori juga “hanya” berdasar interpretasi belaka.

Aristoteles menyatakan bahwa benda yang bergerak bila dibiarkan, pada akhirnya, akan berhenti. Aristo menafsirkan alam raya ini berisi beragam benda. Tidak ada ruang hampa. Setiap ruang akan diisi oleh suatu benda, minimal diisi oleh udara. Sehingga, benda yang bergerak akan menabrak benda-benda lain, dan pada akhirnya, akan berhenti. Itulah interpetasi Aristo.

Newton membuat interpretasi berbeda. Di alam raya ini, terdapat ruang hampa bebas hambatan. Benda yang bergerak, dengan kecepatan tetap, akan tetap bergerak selamanya bila tidak ada yang mengganggu. Tetapi, bukankah bola yang menggelinding, pada akhirnya, akan berhenti sendiri?

Tentu saja. Karena bola tersebut mengalami gangguan misal gesekan udara atau gesekan bidang tanahnya. Bila kita buatkan bidang tanahnya lebih licin, mengurangi gangguan, maka bola akan lebih lama bergerak tidak berhenti. Jika kita bisa membuat licin sempurna tanpa gangguan sama sekali maka bola akan bergerak selamanya.

Interpretasi Newton, dilengkapi dengan kalkulus, terbukti mendorong sains dan teknologi berkembang sampai puncak kejayaan.

Einstein membuat interpretasi yang berbeda dengan Newton. Tidak ada ruang hampa seperti itu. Setiap ruang ada isinya yaitu materi. Atau, lebih tepatnya, ruang dan materi-energi saling berhubungan. Materi dapat melengkungkan ruang. Ruang mengarahkan gerak materi. Materi menciptakan ruang dan ruang menciptakan materi. Ruang dan materi adalah satu kesatuan. Dari interpretasi Einstein ini terciptalah teori relativitas-umum yang fenomenal itu.

Beberapa saintis, barangkali, merasa tidak nyaman bahwa sains menjadi sebentuk interpretasi. Karena, sains adalah ilmu pasti yang bersifat obyektif terbebas dari interpretasi subyektif. Klaim bahwa sains bersifat obyektif, tentu saja, bisa kita pahami. Bahkan, kita selalu berusaha menjunjung sikap obyektif dalam sains. Meski demikian, seperti kita lihat di atas, peran interpretasi tetap besar dalam sains. Sehingga, kita perlu mempertimbangkan hermeneutika dalam banyak hal.

Kiranya perlu kita catat bahwa, dalam filsafat sains, Einstein mengutamakan “kejelasan”. Sehingga, formula matematika menjadi pilihan utama. Dan, Einstein bersemangat untuk mengejar realitas paling fundamental atau realitas basit.

2. Sains Newton

Keunggulan filsafat Einstein adalah dengan tegas menyatakan suatu postulat. Yaitu, sesuatu yang diterima sebagai pasti benar. Misal, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah c yang merupakan kecepatan maksimal.

Sementara filsafat sains klasik, misal mekanika Newton, tidak menyebut adanya postulat secara eksplisit. Akibatnya, kita mengira sains Newton sebagai bersifat pasti benar, atau, pasti lengkap. Padahal, tidak seperti itu realitasnya. Sains Newton, sains klasik, menetapkan postulat, di antaranya,

a) Ada ruang-hampa yang diam dan datar halus.
b) Ada waktu yang bergerak linear mutlak.
c) Materi fisik adalah realitas basit paling fundamental.

Kita akan mencoba mengkaji secara eksplisit postulat-postulat sains klasik secara bertahap. Postulat Newton dilengkapi dengan matematika melahirkan kalkulus untuk ilmu alam. Newton berhasil dengan gemilang menyatukan matematika dengan sains empiris. Kepler, Copernicus, dan Galileo telah membuka jalan bagi Newton beberapa tahun lebih awal.

2.1 Ruang Hampa

Postulat adanya ruang hampa yang halus, datar, dan tenang tampak masuk akal. Kita bisa membayangkan, awalnya, hanya ada ruang hampa. Kemudian, dalam ruang hampa itu, ditempatkan matahari, bumi, bulan, dan lain-lain.

Di dalam ruang hampa ini, Newton menetapkan hukum pertama tentang inersia.

“Benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak dengan kecepatan tetap akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap bila tidak ada gaya yang bekerja padanya.”

Hukum inersia Newton ini merevisi pandangan orang awam dan rumusan Aristoteles. “Benda yang bergerak, bagi orang awam, akan berhenti pada akhirnya bila tidak ada yang mendorong.” Orang awam menganggap benda akan berhenti karena orang awam tidak membuat postulat eksistensi ruang hampa yang bebas hambatan. Newton lebih benar dari orang awam karena ada postulat ruang hampa, kelak, bisa dibuat model matematika yang sempurna.

Hukum kedua Newton merupakan formula lebih umum dari hukum pertama bahwa gaya berbanding lurus dengan percepatan. Sementara, hukum ketiga, tentang aksi-reaksi, memastikan bahwa benda diam adalah memiliki percepatan nol.

2.2 Waktu Mutlak

Postulat kedua menyatakan eksistensi waktu obyektif yang mutlak bagi semua pihak. Lagi-lagi, ini adalah postulat yang masuk akal. Setiap orang bisa mengukur waktu 1 jam pakai arloji, misalnya. Orang-orang yang berbeda akan sepakat dengan hasil pengukuran teman-temannya. Perubahan waktu ini bersifat stabil 1 jam, 2 jam, 3 jam, dan seterusnya.

Dengan dua postulat, ruang hampa dan waktu mutlak, Newton berhasil menerapkan kalkulus terhadap fenomena sains alam. Apel yang jatuh dari atas pohon itu, bisa dihitung kecepatan dan posisi setiap saatnya. Termasuk, gerak matahari dan planet-planet bisa dihitung dengan presisi tinggi.

Misal, ketika apel jatuh, 1 detik kemudian, menempuh jarak 5 meter. Maka kecepatan apel, saat 1 detik itu, adalah 10 m/s. Dan, nasib apel selanjutnya sudah bisa dihitung dengan pasti. Kecepatan, saat detik ke 2, adalah 20 m/s dan sudah menempuh jarak 20 meter. Determinisme ilmiah terbentuk saat itu.

Tetapi, bukankah bentuk dan ukuran apel berbeda-beda? Demikian juga bentuk rembulan berbeda dengan matahari. Apakah nasib mereka bisa ditentukan oleh hukum Newton yang sama?

Terdapat beberapa cara solusinya. Kita bisa mengembangkan teori Newton dengan mempertimbangkan bentuk benda. Tentu menjadi lebih rumit meski bisa dilakukan. Cara kedua, kita bisa menganggap benda-benda yang dikaji sebagai suatu titik ideal. Cara ini lebih praktis. Kemudian, kita melengkapinya dengan toleransi dan statistik.

2.3 Eksistensi Materi

Postulat ketiga adalah eksistensi materi sebagai realitas fundamental. Materi adalah realitas basit. Postulat materi ini, tampak, begitu jelas bahkan bagi orang awam.

Dari mana materi itu hadir? Kita tidak perlu bertanya seperti itu. Karena, materi adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sains. Materi adalah realitas basit yang menghubungkan gaya dengan percepatan. Lebih tepatnya, perbandingan gaya dengan percepatan adalah massa dari materi. Tepat, sesuai hukum Newton. Massa materi seperti ini disebut sebagai massa inersia.

Dari sudut pandang gravitasi, besar gaya gravitasi berbanding lurus dengan kedua massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak mereka. Dalam kasus ini, adalah massa gravitasi.

Sejarah mencatat bahwa fisika Newton sukses luar biasa. Bahkan sains di bidang lain berminat mengadopsi pendekatan sains fisika Newton. Apakah, dengan demikian, fisika Newton bernilai benar? Apakah postulat-postulat Newton bernilai benar? Kita tahu, postulat adalah sebentuk interpretasi. Kelak, Einstein merevisi postulat Newton dari dasar-dasarnya.

Mengapa harus merevisi fisika Newton? Karena, gelombang elektromagnetik tidak mau patuh kepada fisika Newton. Tampaknya, Einstein lebih percaya kepada gelombang elektromagnetik Maxwell. Maka, Einstein memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk merevisi fisika klasik Newton.

3. Elektromagnetik Interpretasi Maxwell

Maxwell berhasil menyatukan dinamika elektro dan magnet membentuk gelombang elektromagnetik pada akhir abad 19. Berbeda dengan gelombang biasa, misal gelombang air, membutuhkan medium untuk menjalar yaitu air. Gelombang elektromagnetik bisa menjalar tanpa media, bisa menjalar di ruang hampa. Bahkan, kecepatan menjalar adalah tetap sama dengan c tidak dipengaruhi gerak sumber atau pun gerak pengamat.

Di tempat lain, para peneliti menemukan bahwa kecepatan rambat gelombang cahaya adalah c. Mereka tidak paham apa sejatinya gelombang cahaya tersebut. Maxwell mengambil langkah dengan membuat interpretasi yang berani: gelombang cahaya adalah gelombang elektromagnetik.

Poincare menduga bahwa sains perlu menetapkan batas maksimal kecepatan. Poincare menduga kecepatan cahaya c adalah batas maksimal. Bagi Poincare, batas maksimal adalah penting layaknya batas minimal suhu mutlak adalah nol.

Pada awal abad 20, Einstein siap tampil di panggung filsafat sains dengan menetapkan beragam interpretasi di atas menjadi postulat teori “Relativitas Khusus” yang revolusioner itu.

Jadi, apa saja hebatnya interpretasi elektromagnetik? Pertama, Maxwell berhasil membuat interpretasi tegas hasil eksperimen sains menjadi teori matematis-aksiomatis gelombang elektromagnetik. Kedua, Maxwell menginterpretasikan cahaya sebagai gelombang elektromagnetik. Ketiga, Poincare menginterpretasikan c sebagai kecepatan maksimum.

4. Postulat Relativitas Khusus

Einstein mengajukan dua postulat untuk teori “Relativitas Khusus.”

(1) Hukum sains bersifat simetris, tetap sama, dipandang dari beragam kerangka acuan yang berbeda.

(2) Kecepatan maksimum adalah kecepatan cahaya di ruang hampa yaitu konstanta c.

Dua postulat, di atas, merombak fisika Newton dari landasan paling fundamental. Lagi pula, Einstein menyebut keduanya sebagai postulat secara eksplisit. Di satu sisi, kita menjadi paham bahwa postulat itu perlu diterima sebagai kebenaran. Di sisi lain, kita tidak terbebani untuk membuktikan keabsahan dari postulat itu. Tetapi, apakah postulat itu memang bernilai benar? Tetap menjadi pertanyaan terbuka.

Dalam suatu seminar, pembawa acara mengenalkan Einstein kepada pendengar sebagai saintis raksasa yang berdiri di pundak saintis raksasa lainnya. Einstein berdiri di pundak Newton kata pembawa acara. Buru-buru, Einstein meralat peryataan itu, “Saya beridiri di pundak Maxwell.” Tampaknya, Einstein memandang Maxwell sebagai sumber inspirasi, sedangkan, Newton sebagai obyek inspirasi.

4.1 Postulat Simetri

Tentu saja, kita bisa sepakat dengan postulat simetri. Hukum sains perlu bersifat sama, atau simetris, dipandang dari beragam kerangka acuan. Apa masalahnya? Bukankah memang seperti itu? Bukankah mekanika Newton juga seperti itu?

Mekanika Newton tidak memenuhi postulat simetri. Mekanika Newton akan menghasilkan formula berbeda dilihat oleh orang yang diam dibanding dengan orang yang bergerak. Begitu kah? Mekanika klasik tidak demokratis, membeda-bedakan pengamat. Sementara, relativitas memandang semua pengamat sebagai setara, demokratis.

Kita perlu ilustrasi untuk memahami postulat ini.

Bayangkan Anda sedang berada tepat di tengah-tengah (T) kereta yang panjang. Ujung depan kereta adalah A dan ujung belakang adalah B. Jelas, jarak AT sama dengan BT. Secara serentak, dari A dan B dilemparkan bola ke arah T dengan kecepatan tetap yang sama besar. Maka bola sampai ke titik T serentak, bersamaan.

Berikutnya, skenario berbeda, kereta bergerak ke depan. Karena kereta mendekat ke arah A maka bola A akan lebih cepat sampai T. Sementara, bola B akan lebih lambat karena T menjauh dari B.

Masalah muncul, kita tidak tahu apakah kereta itu sedang diam atau sedang bergerak dengan kecepatan tetap. Karena sama-sama tidak ada percepatan maka tidak ada perbedaan. Tetapi, mekanika Newton tidak demokratis, tidak simetris, membeda-bedakan antara pengamat diam dengan pengamat bergerak.

Situasi sebenarnya lebih ekstrem. Dari A dan B bukan dilemparkan bola tetapi ditembakkan cahaya. Apakah cahaya A datang lebih awal atau serentak?

4.2 Postulat Kecepatan Cahaya

Kecepatan cahaya adalah c yang merupakan konstanta kecepatan maksimum. Cahaya A dan cahaya B serentak tiba di T bersama-sama. Tetapi, kita tidak tahu apakah kereta sedang diam atau bergerak? Tidak masalah. Kereta sedang diam atau bergerak maka kecepatan cahaya tetap sama c. Karena jarak AT = BT maka waktu tempuh juga sama. Sehingga, cahaya A dan cahaya B tiba serentak di T.

Relativitas berhasil menunjukkan sifat simetris demokratis. Kereta bergerak atau diam maka sama saja cahaya tiba di T serentak. Bagaimana bisa begitu?

Bisa terjadi karena yang mutlak adalah kecepatan cahaya c. Ruang hampa tidak mutlak. Gerak waktu juga tidak mutlak.

Ketika kereta bergerak, bagi pengamat yang ikut kereta di titik T, tidak ada perbedaan dengan kereta diam. Tetapi, bagi pengamat diam yang ada di stasiun ada perbedaan. Meski demikian, kecepatan cahaya c tetap konstan bagi pengamat diam itu. Sementara, jarak AT = BT menjadi lebih pendek dibanding ketika diam. Demikian juga, waktu tempuh AT = BT lebih pendek dibanding ketika diam. Dan, cahaya tiba di T tetap serentak.

4.3 Revisi Postulat

Postulat Einstein merevisi postulat Newton. Ruang hampa tidak mutlak. Jarak tidak mutlak. Besar atau kecil ukuran jarak relatif terhadap kerangka acuan. Demikian juga ukuran waktu tidak mutlak. Besar atau kecil durasi waktu relatif terhadap kerangka acuan. Hasilnya, semua hukum sains bersifat simetris terhadap kerangka acuan masing-masing. Setiap kerangka acuan memiliki kedudukan yang setara, demokratis.

Konsekuensi terpenting dari revisi postulat ini adalah hukum kesetaraan massa dan energi yang sangat terkenal itu.

E = mc^2

Hanya dengan secuil massa radioaktif, kita bisa menghasilkan energi nuklir yang besar luar biasa.

Bagaimana Einstein bisa melakukan revisi postulat seperti itu? Di satu sisi, Einstein memang jenius dengan fokus hanya pada dua postulat. Di sisi lain, semua bahan sudah tersedia. Einstein hanya merangkai formula dari saintis-saintis sebelumnya.

Kebutuhan hukum sains yang simetris sudah menjadi kebutuhan umum bagi para saintis. Kecepatan cahaya sebagai konstanta sudah dirumuskan oleh Maxwell. Kecepatan cahaya sebagai kecepatan maksimum sudah ditetapkan oleh Poincare. Sedangkan, kesetaraan massa dan energi sudah dirumuskan oleh beberapa ilmuwan.

Barangkali, transformasi Lorentz menjadi alat paling penting bagi Einstein untuk postulat simetri. Jika semua formula sudah ditemukan oleh para ilmuwan sebelumnya, lalu, apa penemuan orisinal dari Einstein? Relativitas-khusus dan relativitas-umum.

5. Relativitas Umum

Tahun 1905 adalah tahun produktif bagi Einstein. Teori efek fotolistrik, teori gerak Brown, dan teori relativitas-khusus terbit dalam waktu yang hampir serentak. Dengan sukses besar itu, Einstein masih penasaran. Pada tahun 1915, Einstein menerbitkan teori relativitas-umum yang fundamental itu.

Barangkali, kita bisa menyebut teori relativitas-umum adalah teori-prinsip paling orisinal sepanjang sejarah umat manusia.

Einstein Equation (EE) bisa kita tuliskan dalam ragam bentuk. Demi kesederhanaan, kita tulis sebagai,

R + A = T

Sebelah kiri, R menyatakan curvature dan A adalah konstanta kosmologi. Gabungan R dan A ini, sederhananya, menggambarkan bentuk ruang dan waktu dari semesta.

Sebelah kanan, T menyatakan tensor tekanan-energi yang menggambarkan materi dan energi di alam raya.

Secara keseluruhan, bentuk ruang-waktu di sebelah kiri setara dengan materi-energi di kanan. Eksistensi ruang-waktu berkaitan erat dengan eksistensi materi-energi. Tidak ada ruang-waktu hampa. Karena, setiap ada ruang-waktu maka setara dengan ada massa-energi. Sebaliknya, juga terjadi. Einstein menyebut EE sebagai persamaan “medan”. Lebih tepatnya, persamaan medan gravitasi. Einstein meyakini medan sebagai realitas basit.

Lalu, apa sulitnya? Bukankah itu semua masuk akal?

Memang masuk akal tetapi sulit sekali EE di atas. Dengan beragam penyederhanaan, EE akan berubah menjadi persamaan gravitasi Newton. Dengan penyederhanaan lain, EE menjadi teori relativitas khusus. EE sendiri adalah relativitas umum.

Sebelum membahas hebatnya relativitas umum, mari kita pertimbangkan dulu alasan mengapa kita perlu relativitas umum?

5.1 Postulat Klasik

Kita sudah bahas di atas, postulat klasik mengasumsikan eksistensi ruang hampa dan waktu mutlak. Postulat ini tidak bisa dipertahankan. Mengapa atau bagaimana ada ruang hampa yang istimewa? Waktu-mutlak mengakibatkan tidak konsisten di berbagai tempat. Proses spontan, perubahan dengan waktu 0, menyebabkan kekacauan struktur alam semesta.

Poincare menunjukkan bahwa persepsi ruang hampa datar, sesuai Euclid, adalah interpretasi manusia belaka. Kita bisa membuat interpretasi yang berbeda dari interpretasi Euclidean. Misal, ruang melengkung. Dan, pada waktunya, berkembang geometri non-Euclidean. Tentu saja, Einstein memanfaatkan geometri non-Euclidean.

Dengan menolak waktu-mutlak dan membatasi kecepatan maksimum adalah c, maka, segala proses membutuhkan waktu. Tidak ada proses spontan. Tidak ada proses yang tidak membutuhkan waktu. Dan, proses ini pun bersifat lokal. Yaitu, lokal dibatasi oleh jarak tempuh cahaya. Kita mengenal istilah corong-cahaya.

Semua problem mekanika klasik di atas, bisa diselesaikan oleh relativitas-khusus. Bagaimana pun, relativitas-khusus tetap berlaku secara khusus.

5.2 Batasan Relativitas Khusus

Einstein sendiri mengungkapkan keterbatasan dari relativitas-khusus. Yaitu, hanya berlaku untuk kerangka acuan diam atau bergerak dengan kecepatan tetap. Memang, di lama raya ini, ada kerangka acuan yang diam? Ada kerangka acuan dengan kecepatan tetap?

Bila kita mempertimbangkan kecepatan sebagai vektor, yang punya besar dan arah, apakah ada vektor kecepatan yang tetap arahnya?

Ringkasnya, meski relativitas-khusus berhasil mengatasi problem mekanika klasik, relativitas-khusus tidak berhasil menjelaskan banyak fenomena alam. Kita memerlukan relativitas-umum untuk mengatasi beragam batasan itu.

Di sisi lain, relativitas-khusus mengasumsikan eksistensi ruang, waktu, dan materi sudah ada begitu saja. Dari mana, dan bagaimana, mereka bisa eksis? Hanya relativitas-umum yang akan mampu menjawabnya.

5.3 Statistik Quantum

Tahun 1915, ketika relativitas-umum terbit, mekanika quantum masih dalam tahap awal pengembangan. Pertama, Planck menyatakan bahwa radiasi benda hitam berupa paket-paket quanta – bukan kontinu. Bagi Planck, quanta adalah sekedar trik menghitung realitas radiasi bukan radiasi itu sendiri. Kedua, Einstein menyatakan bahwa energi pada efek fotolistrik juga berupa paket quanta sesuai Planck. Dalam kasus fotolistrik, quanta adalah realitas ontic, bukan sekedar trik menghitung. Ketiga, Bohr menyatakan bahwa elektron mengitari inti atom hanya pada lintasan tertentu saja. Tidak bisa sebarang lintasan.

Perkembangan teori quantum, di masa awal itu, sudah cukup menyulitkan mekanika klasik. Pada tahun 1920an, prinsip ketidak-pastian Heisenberg memastikan fisika quantum berbeda dengan fisika klasik. Fisika quantum bersifat probabilistik-statistik atau tidak pasti.

Einstein mengantisipasi perkembangan teori quantum ini dan menolaknya. Quantum bersifat statistik karena tidak lengkap, menurut Einstein. Jika teori quantum merupakan teori yang lengkap maka akan mampu memberi prediksi secara pasti dari sudut sains. Relativitas-umum adalah solusi dari ketidak-pastian quantum tersebut.

5.4 Solusi Relativitas Umum

Sangat besar tugas relativitas-umum untuk menyelesaikan beragam problem sains. Einstein, tampaknya, memang menempatkan target yang sangat tinggi. Akankah Einstein berhasil meraihnya?

Ujian penentuan bagi kehebatan teori relativitas-umum terjadi tahun 1919. Massa dan ruang saling bersatu. Massa yang besar, misal matahari, mampu membelokkan ruang di dekatnya. Ketika cahaya melewati dekat matahari maka cahaya akan ikut dibelokkan karena ruang berbelok. Apakah benar?

Tentu, kita tidak bisa melihat pembelokan cahaya di dekat matahari karena cahaya matahari sendiri terlalu kuat. Kita perlu menunggu gerhana matahari yang akan terjadi pada tahun 1919, waktu itu. Teori relativitas-umum sedang dipertaruhkan.

Hasil pengamatan ketika terjadi gerhana matahari menunjukkan bahwa sinar dibelokkan oleh matahari. Teori relativitas-umum terkonfirmasi benar. Nama Einstein dan teorinya makin diterima masyarakat luas.


6. Medan Gravitasi
7. Teori Medan Quantum

Perang Bintang Secara Matematika

Pasti seru: perang bintang. Anak-anak suka perang bintang. Remaja juga senang perang bintang. Kabarnya, polisi ikut juga perang bintang.

Matematika perang bintang menjadikan siswa bisa berhitung matematika cepat trik 7 detik dengan jurus bintang. Metode belajar matematika yang asyik dan menantang, persembahan APIQ, untuk Anda.

Silakan bergabung WA: 0818 22 0898.

Masalah KPK Beres 7 Detik

Masalah KPK memang menyulitkan banyak pihak. Dengan trik 7 detik APIQ, kita bisa menyelesaikan masalah KPK dengan cepat dan mudah. Memang, trik mudah ini mengandalkan solusi FPB. Atau, sebagai bonus, kita memperoleh solusi FPB dalam proses menyelesaikan masalah KPK

Silakan gabung WA 0818 22 0898

Beberapa contoh solusi praktis bisa kita ikuti melalui canel youtube http://www.youtube.com/pamanapiq

Sukses selalu…!