Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Philosophy of Love & Beauty

Sudah banyak pandangan negatif. Saatnya kita membahas dari sisi positif, berguna, dan jelas. Masalah-masalah filsafat akan kita tinjau dengan fokus ke cinta, kecantikan, dan tentu saja materi. Tidak ada cara sederhana untuk membahasnya. Kita berusaha untuk memilih cara-cara paling sederhana.

Masalah paling dasar manusia adalah pengetahuan tentang materi alam sekitar. Pembahasan ini bisa menarik tapi bisa terlalu teknis. Maka saya akan mengambil contoh fenomena kecantikan yang tentunya lebih hidup. Meski lebih kompleks dari materi, kecantikan, tetap punya daya tarik. Kemudian kita melangkah lebih jauh ke tema cinta. Banyak orang yang menilai cinta sebagai subyektif, tapi kita akan melihat peran besar cinta dalam membimbing manusia menuju hakikat kebenaran.

Secara garis besar tulisan ini mengadaptasi karya Bertrand Russel, The Problems of Philosophy. Kita akan menemukan bagian yang diringkas. Namun banyak bagian yang diperluas karena kemajuan jaman. Dan tentu saja karena cinta dan kecantikan itu sendiri.

Kemajuan sains dengan mekanika quantum, relativitas Einstein, dan masyarakat digital tentu akan mengubah banyak hal yang kita hadapi. Kebenaran filosofis, yang dulu berhadapan dengan fenomena nyata, kini harus menghadapi fenomena maya belantara tanpa lentera.

Bagaimana menurut Anda?

  1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
  2. Eksistensi Cinta
  3. Cantik Alami
  4. Idealisme
  5. Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi
  6. Induksi: Cantik Keturunan
  7. Pengetahuan Prinsip Umum
  8. Pengetahuan A Priori
  9. Dunia Universal
  10. Pengetahuan Tentang Universal
  11. Pengetahuan dan Intuisi Cinta
  12. Kebenaran dan Kesesatan
  13. Pengetahuan, Kesalahan, dan Opini
  14. Batas-Batas
  15. Manfaat Filsafat
  16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan
  17. Ekonomi Cinta
  18. Politisasi Cinta
  19. Agama Cinta

Iman Dulu atau Ilmu

Jokowi adalah presiden terbaik Indonesia? Donald Trump adalah presiden yang baik?

Coba kita fokus ke Trump apakah presiden yang baik atau buruk. Data dari media tersebar luas di seluruh dunia. Bahkan saat ini Trump sedang bertarung lawan Biden untuk kursi presiden baru. Inilah kesimpulan dari banyak data itu,

Trump adalah presiden yang buruk.

Jokowi Undang Donald Trump ke Indonesia

Analisis nytimes, washingtonpos, nbc, dan lain-lain menunjukkan Trump adalah presiden yang buruk. Tapi tidak selalu begitu!

Bagi pendukung Trump, justru Trump adalah presiden yang baik. Mereka juga membaca nytimes, washingtpos, nbc, dan lain-lain itu. Kesimpulannya jelas: Trump adalah presiden yang baik.

Survey baru-baru ini dilakukan setelah Trump debat melawan Biden dalam kampanye calon presiden Amerika. Siapa pemenang debat itu?

Pemenangnya adalah Trump, menurut pendukung Trump. Pemenangnya adalah Biden, menurut pendukung Biden. Mereka jelas-jelas menonton debat capres yang sama. Data sama tapi kesimpulan berbeda. Kejadian yang mirip adalah ketika debat capres Jokowi lawan Prabowo. Pemenangnya adalah sesuai masing-masing pendukung.

Kesimpulan lebih besar dipengaruhi oleh keyakinan dari pengetahuan.

Jadi, iman lebih menentukan dari ilmu.

Meski kita perlu kedua-duanya, iman dan ilmu, pengalaman menguatkan hipotesis bahwa iman lebih besar pengaruhnya. Keyakinan lebih besar pengaruhnya dari pengetahuan.

Kita bisa menganalisis lebih jauh bahwa setiap data, atau pengetahuan, membutuhkan data pendukung. Pada gilirannya data pendukung akan membutuhkan pendukung yang lebih awal lagi. Yang pada akhirnya, kita akan berhenti pada data tertentu. Data paling dasar tersebut tidak lagi didukung oleh data pendukung. Data paling dasar tersebut hanya didukung oleh keyakinan saja.

Dengan asumsi tidak ada bias setiap menganalisis data, kita pasti sampai kepada data dasar terakhir yang tanpa didukung data lagi. Bila ditambah ada kemungkinan bias dalam menganalisis dan memilih data maka makin sulit lagi mempertahankan keabsahan suatu kesimpulan.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah Jokowi presiden terbaik Indonesia?

Maka keyakinan kita akan lebih banyak menentukan jawaban di atas dibanding data-data yang ada.

Apakah ini bermakna segala sesuatu adalah relatif? Seperti yang terus didengung-dengungkan para posmodernis? Dari Derrida, Lyotard, Baudrillard, dan lain-lainnya yang sudah mengumandangkan kematian makna?

Saya kira bukan relatif. Tetapi ada keterbatasan kita untuk mengetahui sesuatu secara hakiki. Kita hanya mengetahui beberapa persen. Dan seharusnya kita yakin tidak sampai seratus persen. Masih menyediakan ruang kemungkinan untuk pengetahuan yang berbeda.

Saya lebih setuju menggunakan istilah ketidakpastian. Pengetahuan kita tidak 100% pasti. Sesuai konsep ketidakpastian Heisenberg dan gelombang Schrodinger. Meskipun, Einstein yakin bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu tapi kita tidak tahu pasti apa yang sedang dimainkan.

Kita wajib terus belajar. Menambah ilmu. Agar makin dekat dengan kepastian – yang selalu terselip ketidakpastian. Dan iman akan menguatkan ilmu dan saat yang sama ilmu menerangi iman.

Bagaimana menurut Anda?

Evolusi Tiada Henti: Manusia vs Kera

Teori evolusi Darwin langsung mendapat sambutan hangat, bahkan panas. Manusia modern, jaman sekarang, berasal dari kera, kera yang mirip manusia. Thomas Huxley memberi banyak argumen membela teori evolusi Darwin yang seperti itu. Tentu saja banyak yang menolak. Terutama umat beragama meyakini bahwa manusia pertama adalah Adam. Maka tidak mungkin manusia punya nenek moyang berupa kera.

What is Evolutionary Creation? - Common-questions - BioLogos

Sebagian orang mengambil jalan tengah. Mereka menganggap teori evolusi tidak bisa menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Itu kesimpulan yang salah. Teori evolusi hanya bisa menyimpulkan bahwa manusia dan kera memiliki nenek moyang yang sama. Jadi, nenek moyang manusia adalah manusia. Sedangkan nenek moyang kera adalah kera juga. Tapi berbentuk apakah nenek moyang yang sama, yang sama-sama nenek moyang manusia dan kera?

Pada tulisan ini saya akan membahas teori evolusi dari berbagai macam sudut pandang. Yang paling dominan, saat ini, adalah sudut pandang ilmiah yang reduksionis. Memandang segala sesuatu, cenderung, terbatas fenomena materialistis. Kita akan melangkah lebih jauh, dalam pembahasan ini, tidak hanya materialistis tetapi mempertimbangkan dengan baik argumen rasional, agama, dan lain-lain.

Bohong Besar vs Jujur Sedikit

“Kebohongan terbesar di negeri ini adalah kemenangan Jokowi di pilpres. Kecurangan terjadi di mana-mana. Hasil pemilu presiden harus dibatalkan.”

Begitulah cuitan yang beredar di media sosial, sebelum dan sesudah, KPU menetapkan hasil pilpres. Kita tahu keputusan KPU pun harus bergerak ke MK. Secara sah diputuskan hasil KPU benar!

Jokowi, Prabowo, dan 'Kacamata' Media Internasional - Kabar24 Bisnis.com
Prabowo dan Jokowi

Meski demikian, masih banyak orang yang tidak percaya pada keputusan KPU pada tahun 2014. Mereka masih menganggap banyak pihak yang bohong. Yang benar, menurut mereka, yang menang jadi Presiden 2014 seharusnya adalah Prabowo.

Pemilu presiden 2019 berulang lagi. Keputusan KPU harus maju ke sidang MK. Hasil pilpres 2019 dianggap banyak bohongnya juga. Tetapi hasil pilpres 2019 bernasib baik. Prabowo masuk kabinet Jokowi. Sehingga tidak ada yang bisa mengatakan, “Seharusnya yang jadi presiden adalah Prabowo.” Maka hasil pilpres 2019 tidak bohong.

Bohong besar akan menjadi benar. Begitu keyakinan sebagian orator. Bila Anda bohong satu kali maka Anda adalah pembohong. Tetapi bila Anda bohong seribu kali maka Anda adalah visioner.

Saat ini tersedia disiplin ilmu baru: semiotika yaitu ilmu tentang dusta. Ditambah lagi dengan kekuatan simulacra memproduksi pencitraan penuh dusta maka makin sempurna. Masyarakat tinggal copas dari copas… dari copas.

Bertrand Russel mencermati proses ingatan manusia. Dari sini lah kita bisa mengamati mengapa bohong besar itu akan menang dari bohong kecil. Bohong besar juga menindas kejujuran kecil. Bohong besar hanya bisa dilawan dengan kebenaran besar. Meski, bisa saja bohong besar yang menang.

Misal kita eksperimen dengan diri kita masing-masing. Setiap pagi kita mengatakan, “UU Ciptaker adalah merugikan.”

Pada hari kesatu, pikiran kita akan mencari bukti. Apakah UU Ciptaker benar-benar merugikan? Mana mungkin presiden dan DPR merugikan rakyat? Tetapi mahasiswa demo. Demo mahasiswa adalah murni karena UU Ciptaker merugikan rakyat. Para buruh dan berbagai komponen masyarakat juga demo menolak UU Ciptaker.

Maka pada hari kesatu ini kita masih ragu-ragu, UU Ciptaker adalah merugikan. Anggap saja keyakinan kita 50%.

Pada hari kedua kita mengulangi ucapan yang sama. Keyakinan kita masih sama 50%. Tetapi kita yakin 100% bahwa kemarin kita mengatakan, “UU Ciptaker adalah merugikan.”

Total keyakinan kita mulai goyah, tidak lagi 50%. Campuran antara 50% dan 100%, barangkali naik jadi 60% atau 75%.

Pada hari ketiga, keyakinan kita makin naik. Dan begitu seterusnya.

Pada hari kesepuluh, kita yakin 100% bahwa kemarin mengucapkan, “UU Ciptaker adalah merugikan.” Dan yakin 100% terjadi pada hari sebelumnya. Dan sudah mulai “melupakan” keyakinan yang 50% pada hari pertama. Jadinya, kita yakin 100% bahwa UU Ciptaker adalah merugikan.

Bila kita merenung sejenak, kita tahu bahwa keyakinan kita bisa salah. Tetapi kebohongan besar yang kita ciptakan selama 10 hari sudah berhasil membuat diri kita terkelabui. Apalagi bila banyak orang lain yang meyakini seperti diri kita. Maka kita makin yakin. Dan sayangnya keyakinan ini sering tidak berhubungan dengan kebenaran.

Mari kita merenung semoga senantiasa memperoleh kebenaran sejati.

Bagaimana menurut Anda?

Percaya Jokowi atau Matahari

Pertanyaan sederhana bagaimana jawaban Anda: lebih percaya janji Jokowi atau matahari akan bersinar esok hari?

Orang-orang tampaknya dengan mudah yakin bahwa besok matahari akan bersinar lagi. Tetapi terhadap janji Jokowi, barangkali, berbeda-beda keyakinan. Kedua hal di atas sama-sama belum terjadi. Sehingga bisa saja benar terjadi pada waktunya. Tapi bisa saja tidak terjadi. Namun, secara intuitif, kita lebih yakin salah satunya.

Russel& Children

Saya yakin Russell adalah seorang filosof yang berhasil menjelaskan peran berpikir induktif dalam ilmu pengetahuan. Kita melihat masa lalu Jokowi dan matahari lalu berusaha menyimpulkan apa yang akan terjadi besok. Apakah Jokowi akan menepati janji atau apakah matahari akan bersinar lagi. Itu salah satu contoh berpikir induktif.

Berpikir induktif yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat pula, derajat keyakinan tinggi. Cara berpikir ini dipegang oleh para filsuf analytic yang dipelopori Bertrand Russel di atas. Sayangnya, para filsuf continental, yang lebih dikenal sebagai filsuf pormodern, terlalu longgar menerapkan berpikir induktif.

Kita perlu, kembali ke contoh, melangkah lebih dalam apa yang menyebabkan matahari masih bersinar esok hari. Ilmu pengetahuan memberi banyak informasi. Bahwa umur matahari diperkirakan masih bersinar sampai 5 milyard tahun ke depan. Hukum gravitasi memastikan matahari dan bumi tetap pada posisi dinamis yang stabil. Dengan kondisi seperti itu maka dipastikan matahari akan bersinar esok hari, mendekati 100 persen.

Tentu saja matahari bisa gagal bersinar esok hari bila terjadi hal-hal di luar kebiasaan. Misal terjadi ledakan besar-besaran sehingga matahari hancur. Atau bumi bertabrakan dengan mars sehingga tata surya bubar. Berdasar hukum gravitasi dan teori ledakan inti di matahari, kejadian luar biasa seperti di atas tidak akan terjadi. Maka masih valid bila kita yakin besok matahari masih bersinar.

Untuk janji Jokowi, kita juga bisa menganalisis sistem sebab akibat yang terjadi di belakangnya. Jokowi adalah presiden RI yang dipilih secara demokratis. Didukung kekuatan politis, kabinet, DPR, dan lain-lain secara demokratis. Ketika presiden berjanji dalam situasi demokratis maka janji-janjinya akan dipenuhi. Maka kita bisa percaya bahwa Jokowi akan menepati janji.

Pasti, keyakinan kita kepada Jokowi bisa salah. Bila, ternyata, sistem demokrasi tidak jalan. Terjadi korupsi di legislatif. Korupsi di yudikatif. Maka janji politikus tidak akan ditepati. Tetapi kondisi demokrasi yang baik akan memastikan presiden bisa memenuhi janji.

Berikutnya kita akan melihat contoh berpikir induktif yang tidak sah. Misal seorang petani tiap pagi memberi rumput, sebagai makanan, untuk kambing ternaknya. Pagi ini memberi rumput, kemarin juga, dan sudah terjadi ratusan kali. Bisakah, kambing menyimpulkan bahwa besok pagi petani akan memberi rumput lagi?

Karena sudah terjadi ratusan kali, maka wajar kita berharap hal itu terjadi lagi besok pagi. Ternyata besok pagi, petani menyembelih kambingnya untuk dijual dagingnya. Contoh berpikir induktif yang tidak sah.

Kita analisis sedikit lebih mendalam apa yang menyebabkan petani memberi rumput adalah pilihan sikap petani itu sendiri. Petani bebas besok pagi akan memberi rumput atau menyembelih kambingnya. Dengan kondisi seperti itu maka kita tidak bisa menerapkan logika berpikir induktif.

Sistem demokrasi yang baik memastikan presiden menepati janji. Hukum gravitasi memastikan tata surya tetap rapi. Teori ledakan inti menjamin matahari bersinar lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Konsep Omnibus Law

Apa konsep utama omnibus law? Memudahkan usaha di Indonesia. Sehingga wirausaha berkembang, menyerap 4,5 juta tenaga kerja baru tiap tahunnya. Dan masih banyak lagi.

Tetapi analisis ahli ekonomi menyatakan bahwa jumlah investasi di Indonesia sudah cukup besar dan bagus. Bahkan lebih bagus dari negara-negara tetangga. Masalahnya adalah biaya ekonomi di Indonesia lebih mahal. Maksudnya untuk memproduksi sepatu di negara tetangga misal 1 dolar maka di Indonesia bisa hampir 2 dolar.

Jadi UU Ciptaker itu salah konsep, dari sudut pandang itu. Harusnya memangkas biaya ekonomi yang mahal bukan memudahkan investasi. Toh, meski pun hasil survei terbaru menyatakan bahwa di Indonesia paling sulit berinvestasi, tetap saja banyak yang investasi.

Gilles Deleuze.jpg
Deleuze

Dari sudut pandang posmo, pemerintah sudah mengambil langkah bagus: menciptakan konsep baru dengan UU Ciptaker. Deleuze, tokoh posmo, mengatakan bahwa tugas filsafat adalah menemukan, merajut, dan menciptakan konsep.

Konsep baru, iklim usaha baru, perilaku konsumen baru, tentu makin menggairahkan dunia usaha Indonesia.

Pertanyaan masih mengganjal, “Apakah, secara konseptual, UU Ciptaker akan menyejahterakan rakyat Indonesia?”

Sang filsuf yang penuh pertimbangan sekelas Bertrand Russell pun tidak akan bisa menjawab dengan pasti. Terlalu banyak yang harus dianalisis dari UU Ciptaker itu. Maka di satu sisi kita boleh optimis bahwa UU Ciptaker akan membawa kebaikan. Di sisi lain kita bisa pesimis, jangan-jangan ada potensi merusah negeri ini.

Maka dialog terbuka demokratis perlu terus dikembangkan untuk memastikan UU Ciptaker berdampak positif – termasuk prospek ditangguhkannya.

Bagaimana menurut Anda?

Omnibus Law Jadi NOL Besar

Harapan besar kepasa UU Ciptaker. Harapan omnibus law jadi NOL besar. Omnibus law yang mengantar rakyat Indonesia adil dan makmur. Apakah bisa?

Khwarizmi Amirkabir University of Technology.png
Al Khawarizmi

Aljabar Al Khawarizmi adalah tokoh matematika pertama yang mengenalkan angka 0 menjadi sangat berguna. Kita berhutang besar kepada Al Khawarizmi atas jasanya. Sebelumnya, kita tidak mengenal penggunaan angka 0 maka angka yang ada mirip dengan angka Romawi.

Coba hitung,

CCLIV dikali M = ?

Bandingkan,

254 x 1000 = 254 000

Selesai.

Selanjutnya teknologi komputer, informasi, dan digital mengembangkan lebih jauh manfaat angka 0 dengan aljabar Boolean.

Filosofi Angka 0

Angka 0 juga memiliki filosofi yang menarik. Semoga omnibus law bisa mengambil filosofi terbaik dari angka 0.

Kehadiran angka 0 tidak mengganggu siapa pun. Penjumlahan dengan angka 0 tidak merubah apa pun. Misal 5 + 0 = 5 atau 3 + 0 = 3. Begitu pula kehadiran UU Ciptaker semoga tidak mengganggu siapa pun. Kita pun sebagai manusia juga sebaiknya tidak mengganggu siapa pun.

Penempatan angka 0 yang tepat sangat bernilai. Jika angka 5 lalu ditempatkan angka 0 di belakangnya maka jadi 50. Nilai berlipat ganda. Jika angka 7 di belakangnya di tempat tiga buah angka 0 maka 7000 yang luar biasa besar.

Penempatan omnibus law yang tepat, adil, harmonis dapat melipatgandakan kemakmuran negeri ini. Semoga bisa…!

Angka nol menetralisir perbedaan, merangkul kemajemukan. Perhatikan misal angka negatif tiga (-3) dan positif tiga (+3) bisa dirangkul jadi 0 yaitu (-3) + (+3) = 0.

Kita berharap omnibus law dapat merangkul segala perbedaan untuk kemajuan Indonesia. Melalui dialog terbuka, dari hati ke hati, yang pro dan kontra UU Ciptaker, semoga bisa ketemu titik sepakat untuk Indonesia makin sejahtera.

UU Ciptaker tidak cukup menjadi 0 kecil bagi Indonesia. Omnibus law harus jadi NOL BESAR untuk Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Konstanta Evolusi vs Fisika

Mengapa tidak ada konstanta biologi? Atau saya belum tahu.

Konstanta fisika muncul sampai lebih dari 100 buah. Dari konstanta gravitasi Newton, konstanta gaya Coulomb, sampai konstanta kecepatan cahaya di ruang hampa C.

Konstanta fisika ini mentukan evolusi jagad raya sejak big bang sampai ada kehidupan di bumi. Akhirnya, akibat dari konstanta itu, muncul manusia yang berhasil mengungkapkan konstanta-konstanta tersebut. Seandainya konstanta itu berbeda sedikit saja nilainya maka evolusi jagad raya akan berbeda arah. Tidak pernah muncul manusia seperti kita.

Charles Darwin

Begitu pentingnya peran konstanta. Saya berpikir kita bisa juga menetapkan konstanta evolusi untuk lebih mudah memahami proses evolusi sampai terbentuk manusia yang sadar ini.

Asumsikan evolusi Darwin benar bahwa manusia berasal dari kera, bahkan berasal dari makhluk hidup sel tunggal. Maka kita akan menghitung beberapa konstanta evolusi yang mungkin. Dan berharap bisa diverifikasi secara empiris. Falsifiable.

Misal kita menghitung waktu evolusi dimulai dari big bang sebagai titik 0, sekitar 5 milyard tahun lalu. Atau bisa mengacu awal muncul kehidupan 4 milyard tahun lalu. Manusia muncul di muka bumi sekitar 5 juta tahun lalu sebagai homini. Sedangkan homo sapiens, manusia modern saat ini, muncul 200 ribu tahun yang lalu. Kera muncul 10 juta tahun yang lalu.

homo sapiens (manusia modern) = 0,2 juta tahun lalu
kera pertama = 10 juta tahun lalu

Waktu yang diperlukan makhluk hidup pertama sampai muncul kera,

4 milyar – 10 juta = k

Waktu yang diperlukan sampai muncul manusia,

4 milyar – 0,2 juta = m

Maka perbandingan manusia terhadap kera adalah,

m/k = 1,002

Bila perbandingan ini kita buat estimasi kapan kera jaman sekarang akan berevolusi menjadi homo sapiens, manusia modern,

(m/k – 1)*4 milyard tahun = 9, 824 juta tahun => 10 juta tahun.

Kesimpulan: dalam waktu 10 juta tahun ke depan akan ada evolusi kera, ape, jaman sekarang yang berubah menjadi manusia, homo sapiens. Tetapi waktu 10 juta tahun terlalu lama untuk verifikasi.

Barangkali kita mencoba membandingkan kera, ape, dengan gorila.

waktu yang diperlukan sampai muncul gorila adalah,

4 milyard – 9 juta = g

Perbandingan gorila dengan kera,

(g/k – 1) * 4 milyard tahun = 1, 003 juta tahun => 1 juta tahun

Kesimpulan: dalam waktu 1 juta tahun ke depan akan ada kera, ape, yang berevolusi menjadi gorila.

Jika 1juta tahun terlalu lama maka bisa dicari waktu yang lebih pendek. Misal ketika Darwin mengajukan teori evolusi, sekitar 150 tahun yang lalu, barangkali sudah ada data genetika tentang kera. Apakah keturunan kera di masa Darwin itu sudah menunjukkan evolusi menuju gorila di masa sekarang?

Bagaimana menurut Anda?

Omnibus Law Jadi Apa?

Akhirnya UU Ciptaker jadi apa?

Jadi bencana. Maka harus dicegah dengan demo besar-besaran. Itu adalah pandangan yang kontra terhadap omnibus law.

Bagi yang pro, UU Ciptaker adalah sarana untuk menyejahterakan rakyat. Tiap tahun membuka 4,5 juta lapangan kerja baru. Pengusaha lebih mudah mengembangkan usaha.

Baik yang pro atau pun yang kontra sama-sama belum punya bukti. Kata filosof analytic, semisal Bertrand Russel, tidak bisa dibuktikan keduanya. Tetapi kata Jean Paul Sartre, sang eksistensialis, justru kedua-duanya bisa benar-benar terjadi.

Simone dan Sartre

Kata Sartre, eksistensi manusia mendahului esensinya. Terbalik dengan barang misalnya cangkir. Untuk cangkir justru esensi mendahului eksistensi. Maksudnya, ketika cangkir akan dibuat maka esensi cangkir dibuat dulu. Cangkir bisa menampung air 200 ml, tahan panas, berwarna hitam, dan lain-lain. Setelah esensi terdefinisi maka selanjutkan dibuat cangkirnya, jadilah cangkir punya eksistensi.

Manusia berbeda dengan cangkir. Manusia berbeda dengan yang bukan manusia. Manusia eksis dulu lalu esensi bebas menyusul kemudian.

Pertama, seorang manusia ada – tanpa ada esensinya apa, hanya eksistensi saja. Kemudian, kedua, manusia bisa jadi dokter, sebagai esensinya. Manusia bisa jadi presiden, esensinya. Bisa juga jadi wakil rakyat. Boleh juga jadi pendemo. Semua bebas. Itulah manusia.

Maka benar saja UU Ciptaker bisa jadi apa saja. Maksudnya UU Ciptaker bisa jadi instrumen manusia untuk hidup sejahtera. Dan bisa juga UU Ciptaker jadi instrumen untuk merugikan manusia tertentu. Instrumen tetap instrumen. Tujuan pragmatis menjadi lebih penting, meminjam pandangan tokoh pragmatisme semisal Bernstein.

Ayo kawal UU Ciptaker agar menjadikan manusia Indonesia lebih sejahtera!

Bagaimana menurut Anda?

Dilema Ibu-Ibu Vs Kodok

Awalnya, ini hanya paradoks ibu-ibu tetapi berkembang sebagai paradoks kodok. Bisa juga paradoks lainnya.

Jelas bahwa setiap ibu punya ibu. Bahkan setiap orang juga punya ibu. Tetapi siapakah ibu pertama? Yang merupakan ibu dari hampir seluruh umat manusia?

Secara umum kita menjawab ibu pertama adalah Bunda Hawa. Muncul dilema atau paradoks di sini.

Pertama, siapakah ibu dari Bunda Hawa? Jika Bunda Hawa punya ibu maka Bunda Hawa bukan ibu pertama, kontradiksi. Padahal Bunda Hawa diyakini sebagai ibu pertama.

Kedua, bagaimana Bunda Hawa diciptakan? Umumnya kita meyakini Bunda Hawa tidak dilahirkan. Karena beliau adalah ibu pertama. Tetapi pertanyaannya bagaimana beliau tercipta? Apakah tercipta langsung dari tulang rusuk Adam? Atau tercipta melalui evolusi?

Kodok kulit beracun

Formulasi paradoks bisa beragam. Misal paradoks kodok berikut ini.

Setiap kodok berasal dari kodok sebelumnya maka berasal dari apakah kodok pertama?

Kodok pertama tercipta begitu saja. Bagaimana proses terciptanya? Bila direkam dengan gerak lambat seperti apa penampakkannya? Barangkali dimulai dari 1 sel?

Ataukah kodok pertama merupakan evolusi dari makhluk lain yang lebih sederhana? Bila demikian maka makhluk yang lebih sederhana itu juga berasal dari evolusi sebelumnya. Bagaimana evolusi semacam itu bisa terjadi?

Saya ingin mencatat beberapa hal menarik di sini.

Pertama, pikiran manusia itu begitu hebat. Bisa berpikir jauh ke belakang sampai asal mula segala sesuatu. Juga bisa berpikir ke depan sampai masa akhir jaman.

Kedua, pikiran manusia itu fleksibel. Di satu sisi tegas dengan aturan logika. Di sisi lain bisa dengan mudah menerima adanya kontradiksi, paradoks, dilema, dan lain-lain.

Ketiga, pengecualian adalah hal lumrah. Misal Bunda Hawa tidak punya ibu adalah pengecualian. Padahal semua ibu yang lain selalu punya ibu. Ketika hampir setiap orang berebut cari rejeki bisa saja ada orang tertentu yang justru bagi-bagi rejeki.

Hebat sekali kan manusia itu?

Bagaimana menurut Anda?