Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

POWER: Bicara Efektif

Saya mendapat silver play button dari Youtube Amerika, beberapa tahun lalu, sebagai tanda canel youtube saya sudah meraih 100 ribu subscriber lebih. Ketika anak-anak muda berebut menjadi youtuber terkenal, di saat yang sama, saya menerapkan jurus “trik 7 detik” sebagai youtuber. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat silver button dari youtube untuk canel yang kedua. Lengkap, saat ini, saya mendapat dua silver play button youtube. Dengan total subscriber lebih dari 700 ribu orang.

Bagaimana caranya untuk sukses di youtube? Kunci paling penting adalah “POWER: Bicara Efektif.”

POWER adalah Punch, Oneness, Window, Ear, Retention. Dengan fokus hanya ke POWER, kita menjadi mudah untuk berbicara efektif. Tentu saja, kita bisa memanfaatkan POWER secara luas: untuk mengajar, berbicara di seminar, atau untuk konsultasi.

1. Punch

Awali pembicaraan Anda dengan punch, sesuatu yang paling menarik, sesuatu yang paling mengagetkan pendengar. Waktu 8 sampai 32 detik pertama, pendengar sedang memperhatikan Anda sebagai pembicara. Begitu Anda memulai dengan punch, sesuatu yang menarik, maka pendengar akan sepenuhnya memberi perhatian kepada Anda.

Sebaliknya, jika dalam 30 detik pertama tidak ada suatu pembicaraan yang menarik, maka, pendengar akan pesimis atau malas untuk mendengarkan. Tidak mudah bagi pembicara untuk menarik perhatian setelah terjadi kebosanan beberapa menit. Langkah lebih efektif adalah berikan punch, sejak awal, untuk menarik perhatian pendengar. Kemudian kita bisa melakukan beragam improvisasi di waktu selanjutnya.

Contoh punch adalah: pengalaman pribadi yang menarik, pengalaman membaca buku spesial, kutipan dari orang terkenal, kisah singkat, atau kadang humor ringan. Tentu saja, konten dari punch perlu punya hubungan relevan dengan tema pembicaran, baik secara langsung atau tidak.

2. Oneness

Kesatuan tema, atau oneness, menjadi penting agar pesan kita dipahami secara utuh. Oneness memberi pendengar panduan memahami alur pembicaraan kita secara bertahap. Selesai berbicara dengan kita, pendengar dengan mudah bisa mengingat tema utama pembicaraan kita melalui oneness. Meski, untuk data lebih detil, barangkali, kita perlu melihat data dan catatan.

Contoh onenes: jembatan keledai POWER, bagan, mind map, pembagian 3 babak, dan sebagainya.

3. Window

Beri kesempatan pendengar untuk memahami tema dengan membuka beragam jendela pemahaman: window. Barangkali inti pembicaraan kita sudah lengkap dengan oneness. Tetapi, pendengar perlu informasi lebih detil agar mampu memahami tema yang kita sampaikan. Window adalah beragam jendela pemahaman yang memudahkan bagi pendengar kita.

Beberapa window yang bisa kita manfaatkan: contoh nyata, studi kasus, ilustrasi, simulasi, cerita, humor, grafik, tabel, wawancara, dialog, praktikum, dan lain-lain.

Secara umum, window adalah yang menjadikan suatu pembicaraan lebih menarik dan mudah dipahami. Sementara, oneness mengikat erat seluruh tema pembicaraan menjadi satu kesatuan. Kita perlu menghabiskan waktu lebih banyak membahas window dan hanya sedikit untuk oneness.

4. Ear

Kita perlu sadar bahwa kita sedang berbicara kepada orang-orang bukan kepada mesin. Maka, kita perlu menggunakan bahasa yang mudah didengar oleh telinga pendegar: ear. Secara umum, gunakan bahasa sehari-hari. Dan, batasi penggunaan istilah-istilah kompleks yang membingungkan pendengar.

Cara mudah menggunakan bahasa sehari-hari, atau ear, adalah mengungkapkan ide dalam bentuk percakapan.

“Berapa diskon belanja online yang pernah kamu dapatkan?” tanya Ani.
“Diskon 100%,” jawab Budi.
“Gratis dong kalau begitu?”
“Benar. Aku beli bakso online 200 ribu rupiah diskon 100%, gratis. Lalu, baksonya aku bagi-bagi ke teman kos.”
“Lha, kamu kok tidak kasih aku baksonya?”
“Untuk kamu, tidak cukup bakso. Untuk kamu adalah hatiku 100%.”

5. Retention

Pesan kita perlu menempel di pikiran, dan ingatan, pendengar sampai dalam waktu yang lama: retention. Dengan demikian, kita berhasil memastikan pembicaraan kita berhasil sebagai efektif karena pesan diingat terus dalam jangka panjang.

Beberapa cara retention bisa kita kembangkan. Saran saya adalah kombinasi oneness disusul dengan punch yang baru sebagai penutup. Oneness mengingatkan pendengar kesatuan tema terpenting. Dan punch versi baru memberi kesan akhir yang kuat bagi pendengar.

6. Bonus STIKER

Berikut adalah tips bonus yang akan menjadikan pembicaraan kita menarik dan menempel kuat di benak para pendengar bagai stiker: STIKER.

STIKER adalah: Sederhana, Tak terduga, Ilmu, Konkret, Emosi, Roman.

Sederhana

Pilih bahasa yang sederhana. Cara mudah memilih bahasa sederhana adalah dengan cara mengungkapkan ide dalam bahasa percakapan atau cerita.

Tak Terduga

Pastikan ada unsur tak terduga dalam ide anda. Jika semua ide Anda sesuai dugaan, maka, buat apa didengarkan? Siapkan beberapa kejutan yang membuat penasaran.

Ilmu

Kita mempercayai suatu pesan bila pesan tersebut dijamin benar. Hasil penelitan ilmiah, rujukan narasumber, atau analisis keilmuan memberi kekuatan kepada setiap orang untuk percaya.

Emosi

Libatkan emosi, atau suatu perasaan, dalam pesan Anda. Maka, pesan menjadi lebih hidup dan mudah melekat erat ke pikiran dan hati.

Roman

Siapa yang tidak suka kisah roman? Semua orang suka terhadap kisah-kisah inspiratif. Bumbui, atau rangkailah, ide-ide Anda dalam bentuk kisah. Tentu saja, kisah cinta adalah abadi.

Bagaimana menurut Anda?

Epilog: Wacana Cinta

Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta menembus setiap batas. Cinta mengetuk hati-hati yang gelisah, monoton, mau pun yang berbunga-bunga. Cinta datang pada pandangan pertama. Datang lagi pada pandangan kedua atau datang sampai mata tak bisa memandang.

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan cinta. Tapi, cinta memang perlu kata-kata. Tak ada kisah yang bisa menuturkan cinta. Tapi, cinta memang perlu dikisahkan. Tak ada ilmu yang cukup untuk mengkaji cinta. Tapi, cinta memang perlu dikaji.

Pada epilog ini, kita akan mengkaji cinta dalam lima wacana.

A. Wacana Eksistensi.

B. Wacana Pengetahuan

C. Wacana Kebenaran

D. Wacana Ontologi

E. Wacana Aksiologi

Apa lagi yang diperlukan? Kamu, ya kamu! Kamu adalah cinta. Kamu adalah cahaya cinta. Saatnya telah tiba, lebih bersinar bersama cinta. Saatnya, lebih dalam mendalami cahaya cinta dalam relung hati. Saatnya, untuk beraksi menebarkan cahaya cinta ke seluruh penjuru semesta.

Agama Cinta

Agama berpengaruh besar dalam kehidupan umat manusia. Bahkan, agama makin berpengaruh besar saat manusia sudah mati. Agama, memang, berpengaruh dalam hidup dan mati.

Agama sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lampau. Sehingga wajar, bila saat ini, sudah terbentuk sistem agama yang baku dalam satu dan lain bentuk. Beberapa orang memandang agama sebagai sistem formal yang mengatur tata cara ibadah, menjalani hidup, dan hidup bermasyarakat. Agama berisi, dengan, beragam aturan baku demi kebaikan umat manusia.

Di sisi lain, beberapa orang memandang agama sebagai spirit kemajuan manusia. Agama, terus-menerus, memercikkan inspirasi kepada umat manusia dengan ide-ide segar. Agama selalu hidup. Agama bertabur cinta. Agama adalah dinamika.

1. Agama Formal
1.1 Identitas
1.2 Ritual
1.3 Legal
2. Spirit Agama
2.1 Cinta
2.2 Pencerahan
2.3 Sekular
3. Masa Depan Agama
3.1 Haus Dogma
3.2 Pembebasan
3.3 Simbol Dinamika
4. Diskusi
4.1 Ringkasan
4.2 Filosofi Roda Tiga
4.3 Agama Cinta Absolut

Kita akan membahas dua sudut pandang di atas, agama formal vs spirit agama, yang saling melengkapi. Tentu saja, kita akan menambahkan peran cinta dalam beragama. Pada bagian akhir, kita akan mengembangkan hipotesis tentang masa depan agama atau agama masa depan. Agama masa depan adalah agama yang bernuansa dinamika. Sehingga, agama selaras dengan filosofi roda tiga yang senantiasa berputar.

1. Agama Formal

Yang paling jelas dari agama adalah jaminan hidup yang sempurna. Hidup sempurna di masa kini dan di masa depan, misal kehidupan bahagia di akhirat berupa surga. Karena itu, komitmen seseorang terhadap agama, umumnya, adalah komitmen yang sangat kuat. Ketika seseorang meyakini agama A maka dia akan menjalani hidup sepenuhnya sesuai tuntunan agama A. Bahkan, orang tersebut rela berkorban apa saja demi agama A, sampai korban jiwa raga. Bagi mereka, agama adalah agama formal yang paling sempurna.

1.1 Identitas

Sistem agama formal makin kuat dengan klaim identitas. Saya adalah orang beragama A. Karena itu, saya berbeda dengan orang yang bukan beragama A. Saya identik dengan orang-orang yang beragama A. Semua ajaran agama A adalah kebenaran. Yang berbeda dengan ajaran agama A adalah kesesatan atau, minimal, sia-sia.

1.2 Ritual

Kehidupan di era digital, kita membutuhkan lebih banyak ritual. Sayangnya, banyak orang kurang ritual. Mereka terjebak dalam kehidupan ekonomi yang menuntut efisiensi. Karena teknologi digital makin canggih, maka, mereka bisa bekerja kapan saja, di mana saja. Hidup makin hampa saja. Mereka butuh “healing” tapi tidak memadai. Solusinya: kita perlu ritual. Dan, agama memberi tuntunan ritual yang terbaik.

1.3 Legal

Agama mengatur sistem legal sebagai suatu sistem yang sakral. Dengan demikian, orang-orang yang mengikuti sistem legal agama merasa hidup lebih tenteram. Berbeda dengan sistem legal manusiawi, yang, masih ada cacat di sana sini.

2. Spirit Agama

2.1 Cinta

Cinta selalu hadir dalam setiap agama, meski, tidak selalu hadir dalam hati umat beragama. Cinta, dalam agama, menyinari hati-hati umat manusia dalam rangkulan Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Cinta dari Tuhan tidak pernah ada habisnya. Cinta kepada Tuhan juga tidak pernah ada habisnya. Agama adalah sumber cinta bagi seluruh semesta.

2.2 Pencerahan

Agama memberi pencerahan menyinari bumi dan seluruh alam semesta ini. Agama adalah sumber inspirasi. Setiap orang berhak memuaskan dahaga hati, melalui pencerahan agama.

2.3 Sekular

Agama dan sekular adalah sesuatu yang berbeda. Mereka bisa saling bertentangan. Pun mereka, agama dan sekular, bisa seiring sejalan. Sekular bisa menerima pandangan agama sejauh bisa dikomunikasikan dengan baik. Sekular juga menghormati kebebasan umat agama untuk ibadah.

Tentu saja, pandangan sekular terhadap agama tidak seragam. Mungkin saja ada sekular yang memusuhi agama. Maka, perlu sikap saling memahami dari berbagai pihak.

Dari sisi agama pun, agama memberi kebebasan kepada umat manusia. Agama membebaskan umat manusia untuk memilih jalan kebaikan masing-masing. Tentu, agama memberi petunjuk cara hidup yang benar bagi umat manusia. Dan, agama tetap menghormati perbedaan sikap masing-masing individu.

3. Masa Depan Agama

Agama masa depan adalah agama pembebasan, bernuansa dinamika, dan senantiasa berputar.

3.1 Haus Dogma

Agama tetap diperlukan sampai hari ini. Agama tetap berperan penting di masa depan. Agama tetap menjadi harapan di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Beberapa pemikir mengira bahwa orang-orang akan meninggalkan agama karena ilmu pengetahuan dan teknologi makin maju. Dengan sains, semua misteri alam raya bisa diungkap. Akibatnya, manusia tidak perlu lagi mitologi. Dan, manusia juga tidak perlu lagi agama. Tetapi, benarkah seperti itu yang ada?

Di beberapa tempat, ada orang yang meninggalkan agama atau dari kecil memang tidak beragama. Di beberapa tempat lainnya, justru, orang berbondong-bondong memeluk agama. Agama, masih, terus tumbuh.

Kita adalah subyek. Saya adalah kulo. Anda adalah subyek. Subyek kulo tidak pernah puas hanya dengan sains dan teknologi. Kulo membutuhkan yang lebih tinggi. Kulo butuh doktrin atau dogma. Barangkali, bentuk dogma bisa berbeda-beda seiring waktu berjalan. Bagaimana pun, manusia membutuhkannya, dalam satu dan lain variasi. Manusia haus dogma. Singkatnya, di masa depan, manusia tetap butuh agama.

3.2 Pembebasan

Agama, di awal kehadirannya, adalah gerakan pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari kebohongan, dan pembebasan dari penindasan. Dalam perkembangannya, agama bisa menempuh jalan aneka ragam. Di masa kini dan masa depan, agama tetap bisa menjadi gerakan pembebasan bagi umat manusia.

3.3 Simbol Dinamika

Agama kaya akan simbol, atau perlambang. Karenanya, masing-masing orang bisa memperoleh inspirasi tiada henti dari ajaran agama. Tentu saja, agama juga mengajarkan tentang fakta. Bagaimana pun, fakta-fakta di masa lalu yang penuh makna itu, menjadi sumber inspirasi dinamis di masa kini.

4. Diskusi

Menimbang begitu penting peran agama bagi umat manusia, sepantasnya, kita membahas agama cinta dengan diskusi yang lebih mendalam di bagian ini.

4.1 Ringkasan

Kita bisa memandang agama sebagai urutan 123: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan. Sebaliknya, kita bisa juga memandang agama sebagai urutan 321: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal. Kedua urutan di atas sama baiknya, tetapi, berbeda dalam kadar resiko.

(1) agama formal(2) spirit agama(3) pembebasan

Urutan 123 atau 321 sama baik karena sama-sama bergerak lengkap. Resiko muncul ketika gerakan hanya berhenti di langkah tertentu saja. Misal ketika 123 hanya berhenti di (1) saja, maka, agama berubah menjadi formalisme belaka. Agama menjadi sekedar identitas diri, di mana, orang yang beragama lain bisa dianggap sebagai orang berbeda atau bahkan sebagai orang yang sesat. Cara pandang seperti ini, beresiko, memunculkan kerusuhan dalam masyarakat.

Agama bisa juga direduksi menjadi hanya ritual ibadah dan legalitas dalam beberapa aspek. Bahkan, dalam identitas satu agama yang sama, bisa saja terjadi pertikaian saling menyesatkan karena perbedaan sudut pandang terhadap ritual, misal penetapan kalender hari raya. Bisa juga, aspek legal agama digunakan untuk mengeruk keuntungan bagi pihak tertentu dan menindas pihak yang lemah.

Padahal, urutan 123 tetap sempurna ketika kita berlanjut sampai (2) spirit agama dan (3) pembebasan.

Resiko urutan 321 juga sama besar ketika, misal, berhenti hanya di (3) pembebasan. Agama direduksi hanya urusan pemahaman dan hati belaka. Mereka bebas menjalani agama, yang penting, bersumber dari suatu penafsiran tertentu. Mereka, bebas, tidak harus melakukan ritual-ritual ibadah. Mereka, bebas, tidak harus menghormati situs-situs agama masa lalu. Apa yang terjadi kemudian?

Mereka menemukan hidup yang hampa. Kebebasan tanpa pijakan yang kuat menjadikan mereka hanya melayang-layang di semesta. Mereka terlunta-lunta dalam kembara belantara pikirannya. Kebebasan tetap membutuhkan spirit agama dan ritual agama.

Kita, umat manusia, membutuhkan agama cinta. Agama yang sempurna formal, spirit, dan pembebasan.

4.2 Filosofi Roda Tiga

Kita akan mengingat kembali konsep filosofi siklis roda tiga. Pemahaman kita bersifat siklis. Bagai roda berputar 123, lanjut 123, dan seterusnya 123. Arah putaran bisa saja sebaliknya, 321 lanjut 321, dan seterusnya.

Agama masa depan adalah agama cinta, agama pembebasan, dan agama dinamika.

Kehidupan agama kita berputar dinamis: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan, (1) agama formal, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Alternatif arah putaran sebaliknya, sama-sama sah: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal, (3) pembebasan, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Sejak awal, agama adalah pembebasan. Di masa kini, agama adalah pembebasan. Di masa depan, agama adalah pembebasan. Agama adalah pembebasan dinamis yang berputar sempurna.

4.3 Agama Cinta Absolut

Nilai kebenaran agama adalah benar absolut, sudah kita bahas di bagian sebelumnya, karena merupakan kebenaran aksiomatik. Dengan konsisten mengikuti aturan logika, maka nilai kebenaran ajaran-ajaran agama adalah benar absolut. Ketika agama Islam, misalnya, mengajarkan pemeluknya untuk sholat tiap hari maka itu adalah ajaran yang benar absolut.

Yang unik dari kebenaran absolut agama adalah, di saat yang sama, bersifat dinamis. Jadi, ajaran agama bernilai benar mutlak dan dinamis. Karakter seperti ini selaras dengan karakter cinta yang kreatif. Cinta selalu benar dan dinamis. Agama memang agama cinta.

Pertama, agama benar absolut atau benar mutlak karena agama sebagai sistem aksiomatik. Perintah sholat tiap hari, misalnya, didasarkan pada kitab suci dan riwayat. Dari teks kitab suci, dan sejarah, para ahli agama menyimpulkan bahwa sholat adalah kewajiban tiap hari. Demikian juga, misalnya, menolong orang lemah adalah kewajiban bagi setiap orang beragama berdasar teks kitab suci. Dalam sistem aksiomatik seperti itu, perintah sholat dan perintah menolong orang lemah adalah selalu sah.

Kedua, agama selalu dinamis karena sistem aksiomatik agama dibangun berdasar “interpretasi” terhadap teks kitab suci dan sejarah. Kita tahu bahwa karakter interpretasi selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Dengan demikian, agama selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Ditambah lagi, ajaran agama bisa saja bersifat umum, sehingga pada tataran praktis, perlu penyesuaian di sana-sini yang dinamis.

Usaha untuk membuat interpretasi yang baku terhadap ajaran agama, tentu saja, bisa dilakukan. Standarisasi ajaran baku ini, jika berhasil, akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang, relatif, pendek. Sebaliknya, dalam jangka panjang, pasti, kita perlu melakukan beragam revisi karena situasi dan kondisi yang sudah berubah. Kita perlu revisi terhadap setiap standar yang ada.

Ketiga, agama selalu dinamis karena agama mampu mengantisipasi masa depan dengan bahasa lambang. Agama mampu meramalkan masa depan umat manusia. Agama mampu meramalkan masa depan alam semesta. Tentu saja, semua ramalan ini berupa bahasa-bahasa lambang atau simbol. Meski, kadang menggunakan ungkapan konkret, tetap saja, ungkapan tersebut bisa dipandang sebagai lambang.

Dengan bahasa lambang, umat manusia mampu mereguk aliran air inspirasi tiada henti dari teks kitab suci dan ajaran agama secara umum. Inspirasi demi inspirasi mendorong agama bergerak lebih dinamis lagi.

Saatnya, umat manusia untuk jatuh cinta, lagi, kepada agama yang suci. Agama yang selalu dinamis. Agama yang menebarkan cinta untuk seluruh semesta raya.

Politisasi Cinta

Politik adalah segalanya. Tidak ada sisi kehidupan yang terlepas dari politik. Kehidupan pribadi perlu politik. Kehidupan rumah tangga, kantor, negara, dan bahkan internasional, semuanya melibatkan politik. Politik adalah universal.

Tetapi, cinta adalah segalanya. Hanya cinta, yang menjadikan segala menjadi bermakna. Seluruh alam raya, termasuk jiwa terdalam manusia, adalah manifestasi cinta. Apakah dengan demikian, politik sama dengan cinta? Setidaknya, politik mengikat erat cinta? Kita akan membahas politisasi cinta di bagian ini.

1. Politik Universal
1.1 Luma
1.2 Tata
2. Subyek
3. Politik Cinta
3.1 Pandemi Cinta
3.2 Ledakan Kesenjangan
3.3 Solusi Tataluma
4. Sistem Kekuasaan
4.1 Kerajaan
4.2 Demokrasi
4.3 Digitalisasi
5. Transformasi
5.1 Konservatif
5.2 Progresif
5.3 Median
6. Ideologi
6.1 Teokrasi
6.2 Sosial
6.3 Liberal
7. Keadilan
7.1 Kebebasan
7.2 Kesenjangan
7.3 Kemajuan
8. Diskusi

Politik itu kejam. Bahkan, lebih kejam dari perang. Karena, perang bisa selesai dengan damai. Politik tidak bisa selesai dengan damai: harus ada yang kalah agar ada yang menang. Dalam politik, ketika terjadi koalisi pun, semua pihak harus kalah kecuali yang terpilih jadi presiden, sebagai pemenang tunggal.

Politik adalah kompetisi menang-kalah. Agar seseorang bisa jadi bupati, maka orang lain harus kalah, orang lain tidak boleh jadi bupati. Jika ada bupati tandingan maka masuk kategori makar yang harus ditumpas, harus dikalahkan. Politik adalah merebut kekuasaan untuk mengalahkan semua lawan. Cara pandang politik seperti itu hanyalah satu sudut pandang belaka. Ada banyak sudut pandang yang berbeda.

Politik adalah cahaya. Bahkan, politik adalah cahaya yang sangat kuat menerangi alam raya. Politik mengajak umat manusia menuju cahaya, secara bersama-sama mau pun personal. Cahaya politik menembus setiap lubang semesta, menebarkan percik-percik sinar harapan. Politik adalah matahari kehidupan, yang menghangatkan hati-hati yang beku, meruntuhkan setiap belenggu. Politik adalah kudu.

Kita akan mengawali kajian dengan membahas ontologi politik universal, di mana, politik memang ada di mana-mana. Sambil jalan, pembahasan kita akan bertabur dengan tema cinta. Di bagian akhir, kita membahas yang paling penting dari politik: keadilan. Meski, hampir setiap orang paham bahwa adil adalah yang paling penting, nyatanya, keadilan bagai hanya sebuah impian di kancah politik. Kita merumuskan beberapa solusi untuk meraih politik yang adil.

1. Politik Universal

Politik bersifat universal, dalam arti, politik ada di mana-mana dan kapan saja. Karena politik, sejatinya, adalah tataluma: bersatunya antara karakter luma dan tata. Karakter “luma ” selalu bersifat “meledak” memenuhi segala yang ada. Sementara, karakter “tata” selalu bersifat menata segala yang ada.

1.1 Luma

Realitas ontologi paling fundamental adalah “luma” yang karakter utamanya adalah “selalu memberi.” Tentu saja, kita tidak bisa mendefinisikan luma dengan kata-kata. Kita hanya bisa memaknai “luma.” Luma selalu memberi tanpa henti. Jika luma berhenti memberi maka runtuhlah alam raya ini, runtuhlah segalanya. Segala yang ada bersandar kepada luma. Logika tidak bisa membatasi luma, sebaliknya, logika justru perlu bersandar kepada luma.

Politik adalah pancaran utama dari luma. Tanpa politik, umat manusia hancur. Tanpa politik, peradaban luluh lantak. Seperti dalam luma, dalam politik, logika bisa lumpuh. Logika justru perlu bersandar kepada politik. Politik seperti apakah, yang bisa, menjadi sandaran logika? Politik yang luma.

Dalam realitas politik, luma nyaris tidak pernah terbentuk dengan sempurna. Politik membelokkan luma sehingga politik menjadi bahaya. Secara ontologis, luma bersatu dengan tata, sedemikian hingga, sinaran politik selalu menabur cinta untuk seluruh semesta. Ketika politik memisahkan tata dari luma, maka, politik, yang sejatinya adalah cahaya bening, berubah menjadi hitam atau merah atau kuning.

Hitam adalah politik yang mendominasi pihak lain, menindas pihak lemah, dan mengksploitasi alam raya sampai hancur. Merah adalah politik hitam hanya saja sedikit tampak lebih lembut, yaitu, menindas pihak lain tetapi tidak sampai menghancurkannya. Pihak lemah tidak perlu hancur agar, bisa terus, diperas tenaganya. Sementara, kuning adalah politik tingkat tinggi paling licik. Mereka sejatinya hitam dan merah tetapi punya cara menutupi politik kejamnya dengan satu dan lain cara. Sehingga, kuning mengaku dirinya adalah politik yang suci nan bening bersinar. Bahkan, kuning mampu menipu diri, merasa dirinya adalah yang paling benar.

Kita perlu menyatukan kembali tata dan luma agar politik kembali menjadi bening – tidak hitam, merah, atau kuning. Sarana untuk menyatukan tata dan luna adalah politik itu sendiri. Mana mungkin politik bisa memperbaiki politik? Apakah mungkin manusia bisa memperbaiki manusia? Apakah mungkin kejahatan bisa memperbaiki kejahatan? Dunia ini adalah dunia kemungkinan. Bahkan, melebihi segala kemungkinan.

1.2 Tata

Tata adalah realitas ontologis paling fundamental. Tata adalah luma yang kita kaji dari sudut pandang berbeda. Karakter tata adalah selalu menata untuk mencapai sakina – keseimbangan dinamis. Dalam realitas fundamental, luma dan tata adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Luma selalu memberi dan tata selalu menata.

Dalam politik, luma dan tata sering terpisah. Tanpa tata, politik menjadi kacau karena kebanyakan luma, atau kekurangan luma. Politik menjadi hanya mendominasi pihak lain. Politik menjadi lupa bahwa dia harus meraih sakina bersama tata. Sehingga, tugas kita dalam politik adalah untuk kembali menyatukan luma dan tata sehingga tercipta politik sakina. Tentu, itu adalah tugas yang sulit. Barangkali, mustahil untuk berhasil?

Karena poliik adalah luma, politik adalah tata, maka politik selalu ada di mana saja.

2. Subyek

Siapa saya? Saya adalah subyek yang bertanya. Saya adalah kulo. Dalam politik, kulo hanya sekedar sumber daya yang memberi suara dalam pemilu, kemudian, dilupakan oleh pejabat pemenang. Kulo yang seharusnya jadi subyek berubah menjadi obyek, bahkan obyek penderita.

Bagaimana pun, kulo adalah subyek. Sehingga, ketika kulo dijadikan obyek, dalam beberapa kesempatan, pasti ada perlawanan. Kulo adalah perlawanan politik. Bahkan, ketika kulo dipastikan menjadi subyek, tetap saja, kulo akan melakukan perlawanan. Kulo adalah kulo. Kulo bukan subyek seperti itu. Lebih-lebih, kulo bukanlah obyek.

Hanya saja, kadang kulo terlalu kuat karakter luma. Sehingga kulo mendominasi pihak lain. Atau, sebaliknya, kulo justru sembunyi dari hiruk-pikuk politik. Kulo perlu tata agar sakina dalam semesta politik. Kulo perlu luma dan tata.

3. Politik Cinta

Politik adalah manifestasi cinta. Politik adalah bersatunya kembali luma dan tata. Sehingga, politik adalah tataluma.

3.1 Pandemi Cinta

Saat ini, kita memasuki era pasca pandemi. Politik cinta, sebagai tataluma, menjadi lebih penting lagi. Jika tidak, politik bisa menghancurkan bumi lebih ngeri dari sekedar pandemi. Kita berada pada era pandemi cinta yang akan disusul dengan kemakmuran cinta.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah krisis, misal setelah pandemi, akan disusul masa-masa kemakmuran umat manusia. Akan lahir inovasi-inovasi baru. Akan lahir kekuatan-kekuatan politik baru. Akan lahir kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kabar buruknya, ketimpangan sosial makin menganga. Kaum miskin makin tertindas. Wong cilik makin terpinggirkan.

Bagaimana bisa begitu? Kemakmuran meningkat tapi kemiskinan meluas? Mengapa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin?

Sistem politik dan ekonomi, saat ini, mendukung situasi seperti itu. Maka, kita perlu mengarahkan kembali politik cinta ke jalur tataluma.

3.2 Ledakan Kesenjangan

Dengan sedikit ilustrasi, kita lebih mudah memahami situasi. Sebelum pandemi, atau sebelum krisis, misal rakyat miskin menguasai 20% kekayaan dan rakyat kaya menguasai 80% kekayaan sisanya. Tentu saja, rakyat miskin dipenuhi oleh jutaan jiwa. Sementara, rakyat kaya hanya terdiri segelintir orang saja. Ketika terjadi pandemi, semua tatanan kacau. Kemudian, akan terbentuk tatanan baru, politik dan ekonomi.

Yang jelas terjadi, harga-harga melambung tinggi. Angka inflasi ikut melambung tinggi. Bagaimana pun, angka inflasi akan terkendali pada akhirnya. Pertama, angka inflasi dihitung berdasar berbagai macam parameter kompkles. Sehigga, rakyat tidak mudah menguji keandalan angka inflasi. Kedua, angka inflasi adalah pertumbuhan. Akibatnya, pikiran rakyat, dan politikus, mudah tertipu. Ketiga, ada pihak yang diuntungkan dengan kompleksitas angka inflasi.

20202021Inflasi
50100100%

Harga-harga di tahun 2020 adalah 50 rupiah. Kemudian naik menjadi 100 rupiah di tahun 2021. Maka angka inflasi adalah (100 – 50)/50 = 100%. Angka inflasi setinggi itu tentu bahaya. Semua pihak akan mencari cara untuk menanganinya. Tapi, perhatikan apa yang terjadi di tahun 2022? Semua solusi sudah tersedia.

20212022Inflasi
1001022%

Tahun 2022, harga naik lagi menjadi 102 rupiah dari, yang tahun 2021 adalah, 100 rupiah. Angka inflasi (102 – 100)/100 = 2%. Wow… angka inflasi sudah selesai. Inflasi 2% adalah angka inflasi terbaik untuk sistem ekonomi.

Di sisi rakyat kecil, menjerit penuh derita. Harga-harga melonjak tinggi dari 50 menjadi 102. Ongkos buruh kerja, bagi rakyat kecil, sulit sekali untuk naik. Penghasilan bahkan turun drastis akibat pandemi. Bukankah total uang beredar tetap sama? Bahkan, uang beredar bisa bertambah karena mencetak uang baru? Di mana mereka – uang yang berlimpah itu?

Tentu saja, ilustrasi di atas adalah sangat sederhana. Realitasnya, akan berupa angka-angka yang kompleks. Tetapi, kiranya cukup, memberi ilustrasi bagi kita bagaimana sistem politik dan ekonomi mengarahkan pemahaman kita ke arah yang salah. Tidak selalu salah, kadang benar, bahkan sejatinya memang benar, parameter-parameter yang ada itu. Justru, karena ada campur aduk antara benar dan salah, maka, tugas kita memang tidak mudah.

Mari kita lanjut skenario pasca pandemi. Sebelum pandemi, rakyat miskin menguasai 20% kekayaan, dan rakyat kaya menguasai 80% kekayaan. Setelah pandemi, gaji rakyat miskin, dan penghasilan petani peternak, naik dari 20 menjadi 30 rupiah. Rakyat miskin gembira, penghasilan mereka naik. Tetapi rakyat miskin menangis karena harga-harga naik lebih tinggi.

Ukuran ekonomi melonjak pasca pandemi dari 100 menjadi 200. Sementara, rakyat miskin ikut naik penghasilan mereka dari 20 menjadi 30. Dengan proporsi yang sama, aset juga bisa kita estimasi. Bagaimana dengan penghasilan rakyat kaya? Penghasilan rakyat kaya hanya meningkat sisanya. Yaitu, 200 dikurangi porsi rakyat miskin 30 maka sisa 170. Penghasilan rakyat kaya berlipat dari 80 sebelum pandemi menjadi 170 setelah pandemi. Kabar gembira!

Porsi EkonomiSebelumPasca Pandemi
Miskin2030
Kaya80170

Secara absolut, pertumbuhan ekonomi memang bagus dari 100 menjadi 200, pasca pandemi. Secara nyata, bisa berbeda.

Rakyat miskin, nilai ekonomi, tumbuh dari 20 menjadi 30. Secara proporsi turun dari 20% = 20/100 menjadi 15% = 30/200. Lebih rumit lagi daya beli orang miskin. Karena harga-harga naik berlipat 2 kali, meski inflasi terkendali pada akhir pandemi, daya beli juga turun dari 20% menjadi sekitar hanya 15%.

Rakyat kaya tumbuh dari 80 menjadi 170, pasca pandemi. Secara proporsi juga naik menjadi 85%. Lebih bagus lagi, daya beli juga naik dari 80% menjadi 85%.

3.3 Solusi Tataluma

Solusi apa yang kita perlukan? Solusi politik cinta yaitu tataluma. Tidak ada yang salah dari parameter ekonomi dan politik seperti ilustrasi di atas. Hanya saja, kita perlu melangkah lebih jauh agar, pasca pandemi, poilitik ekonomi tumbuh lebih adil makmur. Yang miskin tambah kaya, dan yang kaya boleh makin kaya. Yang lemah makin berdaya, dan yang kuat boleh lebih berdaya.

Luma, karakter politik yang terus meledak, memang akan mendorong umat manusia bergerak maju. Di saat yang sama, tata perlu menjadi lebih kuat menata sistem politik agar merata seluruh daya.

Langkah pertama paling penting adalah menguatkan posisi politik rakyat kecil. Mereka perlu sadar bahwa mereka adalah umat manusia yang berharga. Setiap jiwa rakyat miskin sama berharganya dengan jiwa orang kaya. Pendidikan bagi rakyat kecil menjadi utama. Mereka, rakyat kecil, mampu berkontribusi tinggi bagi umat manusia sebagai mana rakyat kaya juga bisa berkontribusi nyata. Rakyat kecil memiliki daya tawar yang kuat sebagai mana rakyat kaya. Rakyat kecil adalah orang merdeka, begitu juga orang kaya. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas beragam solusi yang terbuka. Solusi kita akan bergerak di sekitar ide politik tataluma.

4. Sistem Kekuasaan

Banyak sistem kekuasaan, baik secara teori mau pun realitas yang beragam. Kita akan mendiskusikan tiga sistem kekuasaan yang paling penting. Sistem kekuasaan ini, bisa saja saling terkait.

4.1 Kerajaan

Sistem kekuasaan kerajaan, barangkali, paling sederhana. Di mana, seorang raja berkuasa dan orang lainnya adalah rakyat atau pegawai kerajaan. Orang, pada umumnya, menganggap sistem kerajaan adalah alamiah. Raja, yang paling berkuasa, mendapat hak sebagai raja karena warisan dari leluhur. Dan, warisan kekuasaan turun-temurun sudah berlangsung ratusan tahun. Hal yang sama berlaku kepada rakyat. Seorang anak mewarisi rumah dari orang tuanya.

Kekuasaan raja bisa jatuh akibat diserang oleh raja lain yang lebih kuat atau dikudeta oleh pihak-pihak tertentu dalam kerajaan itu sendiri. Perpindahan kekuasaan semacam itu kadang diwarnai pertumpahan darah yang mengerikan. Meski demikian, banyak orang memandang kudeta atau perang sebagai hal yang wajar.

Dalam banyak hal, raja perlu menguatkan klaim kekuasaannya. Meski tahta warisan atau kudeta, sudah sah, menjadikan raja sebagai pemegang kekuasaan penuh, tetapi raja perlu respek rakyat yang lebih dari itu. Raja bisa meng-klaim diri sebagai keturunan dewa atau sudah dipilih oleh tuhan untuk menjadi raja.

Dengan klaim transenden seperti itu, menjadikan raja sebagai pribadi istimewa. Kemudian, para cendekiawan bisa mencipta legenda tentang raja. Sehingga, rakyat makin hormat kepada raja sebagai manusia luar biasa.

Bagaimana pun, saat ini, berkembang sistem kerajaan modern yang bisa sejalan dengan demokrasi dan konstistusi. Sistem kerajaan mengalami evolusi menjadi lebih canggih.

Dari analisis politik tataluma, raja yang berkuasa penuh memiliki resiko besar terlalu berkuasa. Sehingga, ada peluang penyelewengan kekuasaan. Kerajaan perlu menguatkan sistem tata, sedemikian hingga, kekuasan penuh oleh raja itu bisa diarahkan untuk kebaikan rakyat semesta. Di sisi lain, raja dengan otoritas penuh bisa memobilasi seluruh kekuatan negara untuk membangun negeri. Ketika raja adalah orang yang bijaksana, maka, sistem kerajaan barangkali menjadi sistem paling efisien. Jika raja adalah seorang manusia yang berjiwa cinta, maka, seluruh kerajaan bertabur cahaya cinta bagi umat semesta.

4.2 Demokrasi

Saat ini, hampir seluruh umat manusia lebih percaya kepada demokrasi dibanding sistem lainnya. Demokrasi menempatkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Biasanya, melalui pemilihan umum, referendum, konsultasi publik, dan, tentu saja, penyusunan konstitusi.

Ide dasar demokrasi sederhana saja. Setiap orang adalah manusia bebas dan mampu menentukan jalan terbaik bagi dirinya dan sekitarnya. Karena itu, demokrasi memberi kesempatan kepada setiap orang berpartisipasi dalam kekuasaan politik. Kabar baiknya, di berbagai belahan dunia, demokrasi berhasil menjadi sistem kekuasaan yang terbaik. Di belahan dunia lain, sistem demokrasi bisa saja berlumuran korupsi.

Seiring kemajuan pendidikan umat manusia di seluruh dunia, ide demokrasi memang pantas menjadi pilihan utama. Karena setiap orang makin terdidik maka mereka mampu menentukan sikap terbaik. Salah satunya, rakyat mampu memilih pemimpin negara terbaik melalui pemilihan umum. Dengan proses pemilu, jabatan penguasa, misal presiden atau perdana menteri, terbatas pada periode tertentu. Untuk kemudian, akan dilakukan pemilihan kembali oleh rakyat. Dan, setiap rakyat berhak mencalonkan diri sebagai presiden atau jabatan penting lainnya.

Keunggulan demokrasi adalah mulusnya suksesi kekuasaan. Presiden mundur dari jabatannya secara otomatis karena masa jabatannya sudah habis. Tidak perlu upaya khusus untuk melengserkan presiden. Waktu, yang berjalan, akan melengserkan setiap presiden. Bandingkan dengan raja, misalnya. Bagaimana jika raja tidak mati sampai tua? Apa yang bisa melengserkan jabatan raja? Haruskah terjadi pembunuhan atau kudeta? Bukankah itu resiko yang ngeri?

Di sisi demokrasi, suksesi adalah wajar. Tidak perlu pertumpahan darah atau kudeta untuk suksesi. Banyak nyawa selamat dari resiko tragedi. Dalam kondisi khusus, demokrasi menyediakan kesempatan referendum atau impeachment untuk melengserkan pejabat, lebih awal dari periode yang seharusnya, karena terlibat korupsi atau kejahatan tertentu. Bila kita melihat keunggulan demokrasi dari sisi ini saja, mencegah pertumpahan darah dalam suksesi, maka wajar bagi kita untuk mengunggulkan demokrasi dari sistem lainnya.

Mari kita ringkas keunggulan utama demokrasi dari perspektif politik tataluma. Pertama, demokrasi mencegah pertumpahan darah dalam suksesi kekuasaan. Karakter ini sesuai dengan karakter tata dalam politik tataluma.

Kedua, demokrasi menghormati setiap individu sebagai subyek yang bebas. Hal ini juga selaras dengan politik tataluma yang menempatkan setiap manusia pada posisi terhormat.

Ketiga, demokrasi menyepakati konstitusi untuk pegangan bersama dalam kehidupan politik. Karakter ini juga selaras dengan penguatan karakter tata dalam politik tataluma.

Dengan demikian, apakah demokrasi pasti menjadi pilihan yang terbaik?

Hampir pasti. Tetapi tidak bisa 100%. Karena, pada kondisi tertentu, demokrasi bisa menjebak diri sendiri dalam korupsi. Maka, selamanya, kita perlu mempertimbangkan alternatif-alternatif politik yang lebih baik. Di era digital seperti sekarang, demokrasi bisa saja terjebak dalam penjara keserakahan segelintir orang.

4.3 Digitalisasi

Satu abad yang lalu, tidak ada orang yang berpikir bahwa kekuatan digital akan menguasai dunia. Lebih dari itu, kekuatan digital, atau digitalisasi, berhasil menguasai dunia sampai menembus ke pikiran terdalam umat manusia. Media digital mengendalikan pikiran dan hasrat manusia. Pada gilirannya, kekuatan digital mengendalikan sistem politik dunia.

Kita akan menggunakan term big power, bio power, dan bit power – untuk menjelaskan kekuatan politik dari digitalisasi.

Big power adalah kekuatan besar yang mendominasi banyak pihak. Kekuatan politik mengerahkan militer untuk menyerang pihak lain kemudian menindas pihak lemah dengan satu dan lain cara. Dalam makna positif, big power adalah kekuatan yang membantu manusia untuk mengelola alam raya. Pisau membantu manusia untuk memotong pohon misalnya.

Bio power adalah kekuatan yang lebih kuat dari big power dengan cara mengendalikan big power, bukan melawan big power. Big power menindas manusia dari luar, misal melalui mesin atau senjata. Sementara, bio power menguasai manusia dari dalam dirinya. Orang-orang berlomba mengejar uang. Kemudian, berlomba-lomba menghabiskan uang. Tidak ada pihak luar yang menyuruh orang untuk mengejar uang dan berfoya-foya. Mereka berhasrat dari dalam dirinya. Pada gilirannya, mereka, orang-orang itu, adalah onderdil kecil dari sistem politik ekonomi kapitalisme yang lebih besar.

Bit power melangkah lebih jauh dengan mengendalikan big power dan bio power. Bayangkan kekuatan internet dengan mesin digital yang sangat besar. Orang mengira punya freedom untuk memilih calon presiden nomor 1. Nyatanya, dia memilih nomor 1 karena dikendalikan oleh media sosial yang super cerdas. Orang, mengira, berhasrat membeli mobil mewah sebagai ekspresi jiwanya. Nyatanya, hasrat itu muncul karena kekuatan bit power internet. Semua kehidupan manusia, politik mau pun ekonomi, dalam genggaman bit power.

Hentakan besar terjadi di awal abad 21 ini. Teknologi blockchain yang canggih bermanifestasi dalam bentuk crypto currency misal bitcoin. Awal kehadirannya, bitcoin sepeti produk digital lainnya. Bahkan banyak orang pesimis terhadap bitcoin. Tetapi di tahun 2020an ini, bitcoin melonjak menjadi aset yang sangat berharga. Kekayaan Anda bisa saja berlipat 1000 kali dibanding 8 tahun lalu bila dalam bentuk bitcoin. Selanjutnya, berkembang pesaing bitcoin. Saat ini, ada sekitar 10 ribu uang kripto di pasaran dengan trend jumlah yang terus bertambah.

Kita perlu lebih waspada mencermati bitcoin dan dobrakan bit power, secara umum, karena beberapa alasan. Pertama, jelas kehidupan manusia makin besar bergantung kepada bit power. Keperluan belanja makanan sehari-hari sampai komunikasi pejabat tinggi, semuanya, melalui bit power. Sehingga, bit power mendominasi bentuk sistem politik ekonomi masa kini.

Kedua, bit power bekerja dari dalam pikiran manusia, lebih lembut dari bio power. Kita tidak sadar bahwa bacaan, tontonan, dan jadwal kita, setiap hari, didiktekan oleh bit power. Kita bisa saja merasa sebagai manusia bebas – freedom. Nyatanya, otak kita sudah dicuci oleh bit power. Lebih kompleks lagi, kekuatan bit power yang mencuci otak itu bukan murni bit power. Di balik bit power, di ujung yang jauh, memang ada orang-orang tertentu yang berhasrat memperoleh keuntungan. Mereka adalah orang yang cerdas dengan dukungan bit power yang besar. Bisakah Anda membayangkan, betapa besar, kekuatan yang dihasilkan oleh kombinasi orang-orang cerdas dengan bit power?

Ketiga, fenomena bitcoin bisa menjadi pelajaran penting. Revolusi teknologi yang canggih ini melompat maju jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Jika dulu, diasumsikan hanya orang-orang berpendidikan tinggi yang mampu mengadopsi teknologi canggih, maka, hari ini, siapa pun orangnya mampu mengadopsinya. Siapa pun bisa transaksi dengan bitcoin. Dan, bahkan contoh kasus di Indonesia, banyak orang yang awalnya tidak pernah akses komputer, langsung mahir sebagai driver gojek atau pun pedagang di marketplace dengan memanfaatkan teknologi digital versi terbaru.

Khusus untuk bitcoin, dan blockchain, memiliki karakter freedom, nyaris, tanpa batas. Bitcoin bisa diproduksi tanpa bank sentral, tanpa penjamin, dan tanpa mediator. Sehingga, pemilik bitcoin bebas menggunakan bitcoin sesuai freedom tanpa dibatasi atau diawasi siapa pun. Bebas tanpa batas ini, tentu, bisa membalikkan sistem politik dan ekonomi yang sudah ada.

Analisis kita, sejauh ini, tentang digitalisasi menunjukkan bahwa banyak resiko yang akan dihadapi oleh sistem politik ekonomi. Di bagian bawah, kita akan membahas beberapa solusi untuk antisipasi terhadap resiko digitalisasi, sekaligus, kita akan mencermati beragam prospek yang ada.

5. Transformasi

Sistem politik, secara dinamis, terus bertransformasi. Karena, luma selalu mendorong perubahan bahkan secara radikal. Sementara, tata akan melengkapi perubahan itu menjadi tertata.

5.1 Konservatif

Pendekatan konservatif melakukan perubahan dengan lebih fokus pada keamanan, stabilitas, dan tertata. Konservatif menjalankan perubahan secara bertahap dan berencana. Sehingga, pendekatan konservatif adalah pendekatan yang cocok bagi pihak yang besar atau berkuasa.

5.2 Progresif

Progresif melakukan pendekatan perubahan yang revoluioner. Untuk melakukan transformasi yang efektif, sistem politik perlu berubah secara signifikan dengan kecepatan tinggi. Sehingga, pendekatan progresif cenderung cocok untuk para pembaharu.

5.3 Median

Poros tengah atau median mengambil jalan tengah untuk melakukan perubahan politik. Posisi median bisa sangat mudah, di saat yang sama, bisa sangat susah. Posisi median bisa saja menerima segala yang ada sebagai jalan tengah. Tetapi, menerima segala yang ada, bisa berkonsekuensi kepada konflik yang mengakibatkan kemunduran bagi semua.

6. Ideologi

Ideologi adalah kerangka berpikir atau sudut pandang yang diyakini sebagai benar. Dengan ideologi, kita menafsirkan segala sesuatu. Fakta obyektif, bisa saja, tidak bermakna. Ideologi yang akan memberi makna kepada fakta.

6.1 Teokrasi

Teokrasi adalah ideologi atau pandangan yang meyakini kekuasaan politik tertinggi adalah di tangan tuhan. Karena itu, pemegang kekuasaan tertinggi adalah dia yang dipilih oleh tuhan, bisa seorang raja, presiden, imam, ketua, atau lainnya.

Teokrasi melengkapi konstitusi yang juga bersumber kepada tuhan. Baik firman tuhan secara langsung atau fatwa dari pemimpin yang sudah ditunjuk oleh tuhan.

Dengan pandangan bahwa segala kekuasaan politik bersumber dari tuhan, maka, politik teokrasi cenderung memiliki kekuatan yang besar untuk menerapkan power kepada masyarakat. Rakyat perlu mematuhi, atau setidaknya menyesuaikan, terhadap keputusan penguasa atau konstitusi.

6.2 Sosial

Ideologi sosial memandang bahwa seluruh manusia adalah sama, atau setara. Sehingga, idealnya, setiap orang memiliki posisi politik ekonomi yang sama. Ideologi sosial sangat menarik bagi pihak-pihak yang tinggi kesadaran sosialnya. Karena saat ini, terjadi banyak kesenjangan sosial di dunia, maka, ideologi sosial cenderung dekat dengan karakter progresif.

6.3 Liberal

Pandangan liberal memberi kebebasan yang tinggi kepada masing-masing individu. Liberal percaya bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri. Di saat yang sama, manusia memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kebebasannya demi kebaikan dirinya. Dengan demikian, manusia bebas memilih apa pun dengan syarat tidak melanggar kebebebasan pihak lain. Atau, setiap manusia punya hak, bebas, melakukan apa pun dengan kewajiban tidak melanggar hak pihak lain.

7. Keadilan
7.1 Kebebasan

Politik adalah kebebasan dan kebebasan adalah politik. Subyek kulo ada subyek yang selalu bebas. Kulo tidak bisa diikat. Setiap yang terikat adalah bukan kulo. Atau, setidaknya bukan kulo sejati. Pantas bagi kita menetapkan bahwa kebebasan adalah parameter utama dari politik yang adil.

Beberapa parameter bisa kita kembangkan: kebebasan berpartisipasi dalam politik, kebebasan berpartisipasi melalui jalur politik “tidak-normal”, kebebasan berpendapat, kebebasan ekonomi, kebebasan agama, dan lain-lain.

7.2 Kesenjangan

Kesenjangan politik ada di mana-mana. Perbedaan ideologi ada di mana-mana. Perbedaan, memang, realitas alam raya ini. Kita perlu menghormati beragam perbedaan. Sementara, kesenjangan merupakan perbedaan yang terlalu tajam, sehingga, perlu ditolak. Lebih-lebih kesenjangan politik, perlu ditangani dengan serius.

Kita bisa mengembangkan parameter untuk mengukur tingkat kesenjangan politik, kemudian, mengurangi kadar kesenjangan tersebut. Parameter kesenjangan ekonomi, yang kita kembangkan di bagian sebelumnya, bisa kita adaptasi untuk mengukur kesenjangan politik: rasion Gini, rasio Palma, dan rasio Paman.

7.3 Kemajuan

Belajar dari sejarah, kita menemukan bahwa pihak-pihak lemah adalah yang paling sulit untuk bergerak maju secara politik. Secara khusus, kita perlu mengembangkan strategi agar kelompok lemah mampu bergerak maju secara politik. Pada gilirannya, gerak maju kelompok lemah ini akan mendorong kelompok menengah dan kelompok atas untuk lebih maju. Secara keseluruhan, masyarakat bergerak maju.

Aspek paling mendasar adalah membangunkan kesadaran masyarakat. Siapa pun mereka, lebih-lebih kelompok lemah, memiliki hak untuk menjadi orang maju, sukses, dan berkuasa. Mereka perlu memanfaatkan beragam hak yang mereka miliki untuk membela diri dan bahkan melejitkan diri. Beberapa hak paling penting adalah hak untuk berpendapat, hak memperoleh fasilitas kesehatan, hak memperoleh pendidikan berkualitas, dan hak berpartisipasi dalam sistem politik ekonomi. Tentu saja, masyarakat perlu sadar akan kewajiban mereka – demikian juga para pejabat.

Beberapa parameter bisa kita kembangkan. Berapa banyak dari kelompok lemah, absolut dan relatif, yang berhasil menjadi pejabat publik – bupati, gubernur, presiden? Berapa banyak yang menjadi pejabat partai politik? Berapa banyak yang menjadi anggota dewan? Berapa banyak yang menjadi pegawai sipil atau militer? Berapa banyak yang jadi pengusaha menengah dan besar?

8. Diskusi

Di bagian ini, kita akan meringkas seluruh pembahasan kita, kemudian, melakukan diskusi lebih jauh serta merumuskan beberapa prospek dan solusi politik tataluma.

Politik Tataluma Selalu Meledak

Secara ontologis, politik adalah perpaduan dan perpisahan antara tata dan luma, maka, akan selalu ada ledakan politik sewaktu-waktu sampai kapan pun.

Politik CintaLuma = Selalu MemberiTata = Selalu Menata

Masalah utama politik adalah terlalu kuatnya karakter luma dan lemahnya karakter tata, sehingga terjadi ketidakadilan di mana-mana. Tugas utama politik adalah menyatukan kembali luma dan tata sehingga menjadi politik cinta dengan sarana politik itu sendiri.

Alternatif Jalur Politik

Berdasar sistem kekuasaan, transformasi, dan ideologi, kita bisa menyusun beragam alternatif solusi politik tataluma.

1. Kerajaan1. Konservatif1. Teokrasi
2. Demokrasi2. Progresif2. Sosial
3. Digitalisasi3. Median3. Liberal

Total, kita memiliki 27 alternatif jalur dari 3 x 3 x 3 = 27. Dengan mempertimbangkan keragaman gradasi di antara mereka, maka, tersedia lebih banyak lagi laternatif jalur politik.

Jalur 111 = kerajaan – konservatif – teokrasi adalah jalur politik paling efisien dan stabil. Sedangkan, jalur 323 = digitalisasi – progresif – liberal adalah alternatif paling dinamis bahkan chaos. Jalur yang lain, tampaknya, berada di antara mereka. Antara stabil dan chaos.

Studi Kasus

Indonesia 233
Amerika 333
Cina 212
Palestina 123
Brunei 111

Parameter Keadilan

Politik tataluma perlu menyusun parameter keadilan yang komprehensif, di saat yang sama, layak untuk dicapai di masa kini.

KebebasanKesetaraanKemajuan

Prolog: Filosofi Cinta

Filosofi adalah cinta kebenaran. Cinta pengetahuan. Cinta kebijaksanaan. Hikmah adalah kebijaksanaan luhur. Hikmah adalah bijaksana dalam pengetahuan, bijaksana dalam hidup, dan bahkan, bijaksana dalam kematian. Filosofi dan hikmah selangkah seirama. Saling melengkapi. Kadang, kita menganggap sama antara filosofi dan hikmah itu sendiri. Boleh-boleh saja.

Di sisi lain, filosofi sering disalah-pahami. Filsafat sempat dituduh sesat. Sudah banyak pandangan negatif. Saatnya kita membahas dari sisi positif, berguna, dan jelas. Masalah-masalah filsafat akan kita tinjau dengan fokus ke cinta, kecantikan, dan tentu saja materi. Tidak ada cara sederhana untuk membahasnya. Kita berusaha untuk memilih cara-cara paling sederhana.

Masalah paling dasar manusia adalah pengetahuan tentang materi alam sekitar. Pembahasan ini bisa menarik tapi bisa terlalu teknis. Maka saya akan mengambil contoh fenomena kecantikan yang tentunya lebih hidup. Meski lebih kompleks dari materi, kecantikan, tetap punya daya tarik. Kemudian kita melangkah lebih jauh ke tema cinta. Banyak orang yang menilai cinta sebagai subyektif, tapi kita akan melihat peran besar cinta dalam membimbing manusia menuju hakikat kebenaran.

Secara garis besar tulisan ini mengadaptasi karya Bertrand Russel, The Problems of Philosophy. Kita akan menemukan bagian yang diringkas. Namun banyak bagian yang diperluas karena kemajuan jaman. Dan tentu saja karena cinta dan kecantikan itu sendiri.

Kemajuan sains dengan mekanika quantum, relativitas Einstein, dan masyarakat digital tentu akan mengubah banyak hal yang kita hadapi. Kebenaran filosofis, yang dulu berhadapan dengan fenomena nyata, kini harus menghadapi fenomena maya belantara tanpa lentera.

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian: epistemologi cinta, ontologi cinta, dan dinamika cinta.

Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik. Tentu, juga membahas epistemologi materi.

Ontologi cinta hanya terdiri dari tiga bab. Bab awal akan membahas “batas-batas filsafat,” yang sekaligus, menjadi penghubung antara epistemologi cinta dan ontologi cinta. Kita menyelidiki apa saja yang menjadi batas kajian filsafat. Meskipun, kita bisa membuat batas bagi filsafat, tetapi, batas tersebut selalu dinamis berubah-ubah. Pembahasan kita lanjut ke “manfaat filsafat” dan diakhiri dengan pembahasan “materialisasi cinta dan kecantikan.”

Dinamika cinta membahas aksiologi dan realitas alam raya yang dinamis. Kita hanya fokus kepada tiga tema: ekonomi cinta, politisasi cinta, dan agama cinta. Dari tema-tema yang kita pilih di atas, sudah terbayang betapa dinamisnya pembahasan cinta di bagian ini.

Sepanjang pembahasan, saya merujuk ke beberapa pemikir masa lalu dan masa kini. Barangkali, nama-nama pemikir ini akan bisa memudahkan kita memahami aliran pemikiran filosofi cinta.

Bertrand Russell (1872 – 1870) adalah filsuf besar Inggris yang ikut membidani lahirnya filsafat analytic di awal abad 20. Seperti disebut di atas, saya memakai kerangka berpikir Russell di bagian epistemologi. Sebagian besar, saya setuju dengan pemikiran Russell. Di bagian yang lain, saya tidak setuju. Saya melengkapinya dengan pemikiran yang berbeda atau pemikiran baru. Keunggulan Russell adalah pembahasannya jelas, logis, rasional, dan terbuka terhadap beragam sudut pandang. Termasuk, Russell terbuka terhadap kajian metafisika.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) adalah pemikir dan penyair besar dari masa kejayaan Arab beberapa abad yang lalu. Pemikiran Ibnu Arabi sangat indah. Tetapi, terkenal sangat sulit dipahami. Kadang-kadang terasa tidak logis dari perspektif umum. Dengan karakter seperti itu, saya sering menempatkan pemikiran Ibnu Arabi di akhir suatu pembahasan.

Immanuel Kant (1720 – 1804) adalah pemikir terbesar Jerman yang mengawali konsep idealisme transendental. Kant, dengan gemilang, membuat sintesa terhadap aliran filsafat-filsafat besar sampai pada jamannya. Sehingga wajar, bagi banyak orang membagi era filosofis sebagai pre-Kant dan pasca-Kant. Trilogi kritik dari Kant berhasil menggeser karakter filsafat yang dulunya dogmatis menjadi lebih kritis, terbuka, dan dinamis. Tetapi, Kant tidak mengakhiri sistem filsafatnya dengan kesimpulan yang kokoh. Justru, Kant mengakhiri dengan paradoks: antinomi.

Living-philosopher adalah pemikir yang masih hidup di masa kini. Membaca pemikiran para living-philosopher tentu menarik. Karena, mereka ikut hidup di jaman digital yang sangat dinamis ini. Habermas (lahir 1929) merupakan pemikir yang aktif berdialog dengan pemikir besar kontemporer. Konsep komunikasi aktif untuk meraih konsensus di kalangan masyarakat menjadi tema utama Habermas.

Vattimo (lahir 1936) terkenal dengan konsep weak-thought dalam hermeneutika. Weak-thougt menyadarkan kita bahwa setiap pemikiran adalah lemah, tidak sempurna. Kita memerlukan proses terbuka untuk terus memperbaiki pemikiran kita dengan respek terhadap pemikiran pihak-pihak lain. Zabala (lahir 1975) adalah murid dari Vattimo yang mengembangkan pemikiran gurunya lebih luas dan mendalam.

Chalmers (lahir 1966) adalah pemikir analytic terbesar yang mengenalkan konsep “hard problem of consciousnes.” Meski sudah 20 tahun lebih, hard-problem ini belum mendapatkan solusi yang memuaskan. Barangkali memang tidak akan pernah ada solusi memuaskan. Chalmers cenderung berpandangan optimis terhadap perkembangan sains dan teknologi. Termasuk, dia mendukung perkembangan virtual reality.

Taylor (lahir 1931) adalah pemikir unik asal Kanada. Di era yang tampaknya makin kuat pertumbuhan sekularisme, Taylor membahas sekularisme dengan nada mendukung peran penting agama. Bagi Taylor, sikap sekular hanyalah sebuah pilihan sikap yang wajar di masa kini. Sementara, peran agama tetap besar di sepanjang masa.

Zizek (lahir 1949) adalah pemikir paling kontroversial. Sebagai pendukung kontradiksi Hegelian, dia, Zizek kerap melontarkan pernyataan kontradiktif. Meski banyak kritikus yang menilai Zizek sebagai tidak konsisten, tetapi, Zizek mengembangkan filosofi politik yang sangat dinamis dan kajian ontologi yang mendalam serta pemberani.

Soroush (lahir 1945) adalah pemikir Iran yang mencetuskan banyak ide progresif dalam filosofi sosial. Soroush banyak menghabiskan masa tuanya di luar negeri dengan berbagi pikiran yang berakar pada situasi kontemporer di Timur. Dengan latar pemikiran Timur yang kuat dan penguasaan pemikiran Barat mutakhir, menjadikan Soroush sebagai pemikir unik.

Di dalam negeri, saya kerap berdiskusi dengan Armahedi Mazhar (filosofi sains), Dimitri Mahayana (filosofi wujud), dan Muhammad Zuhri (filosofi sufi). Sunan Kalijaga merupakan tokoh dalam negeri paling mempesona sepanjang masa. Melalui karya “Serat Dewa Ruci,” Kalijaga berhasil menunjukkan peran penting karya filosofi fiksi yang sangat dinamis – karena berkembang melalui media oral. Sedangkan “Serat Linglung” menunjukkan peran penting karya filosofi sastra.

Meski masih banyak pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dalam filosofi cinta ini, kiranya, beberapa nama pemikir di atas sudah cukup menunjukkan karakter dinamis dari filosofi cinta. Selamat membaca! Selamat jatuh cinta! Selamat terpesona oleh cinta!

Lanjut ke Bagian 1: Epistemologi Cinta.
Kembali ke Philosophy of Love

Wacana 2.2: STRUKTUR CAHAYA

Filosofi Visi Iluminasi

Wacana 2.2: Struktur Cahaya. Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas.

(C0) adalah Cahaya Segala Cahaya.

(C1) adalah Cahaya Pertama memancar langsung dari (C0) Cahaya Segala Cahaya.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan.

Prospek Usaha Ketika Pandemi Sirna

Kita patut bersyukur pandemi sirna. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah terjadi pandemi akan diikuti lompatan kemajuan peradaban manusia. Kita segera bangkit lebih maju dari yang sebelum-sebelumnya.

Apakah Anda siap?

Siap tidak siap kita harus siap. Menyongsong masa depan cerah mulai saat ini, berbekal pengalaman – termasuk pengalaman pandemi. Berikut ini beberapa solusi dan prospek masa depan yang bisa kita kembangkan.

1. Meningkatkan Konsumsi

Teori ekonomi, yang saat ini banyak dipakai, menyarankan untuk meningkatkan konsumsi. Ketika konsumsi meningkat maka produksi didorong untuk meningkat pula. Barang-barang produksi dan jasa laris manis. Selanjutnya, roda ekonomi berputar.

Barangkali solusi meningkatkan konsumsi lebih tepat dijalankan oleh pemerintah dengan anggaran belanjanya dan perusahaan-perusahaan besar untuk mendorong dinamika.

2. Produksi Strategis

Prospek yang lebih terbuka lebar adalah produk strategis. Di mana, kita bisa mem-produksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, di saat yang sama, aman dari ancaman covid. Misal warung atau restoran yang menerapkan jaga jarak dan prokes. Berdagang secara online membuka banyak prospek baru. Dan masih banyak prospek lainnya.

3. Pendidikan Kreatif

Selama pandemi, barangkali, bidang pendidikan adalah yang paling banyak dikalahkan. Hal semacam itu wajar saja. Karena, kita paham bahwa pendidikan itu penting tetapi tidak kritis. Maksudnya, pendidikan bisa ditunda untuk sekian waktu. Dan, ketika saat ini pandemi usai, maka pendidikan perlu bangkit kembali dengan cara yang kreatif.

Apakah pandemi benar-benar sudah usai? Benar, pandemi telah selesai. Bukan karena tidak ada ancaman covid lagi, tetapi, karena kita sudah 2 tahun lebih hidup bersama covid. Karena itu, kita sudah sanggup hidup bersama covid atau tanpa covid, termasuk adaptasi dengan prosedur kesehatan. Jadi, secara efektif, pandemi telah usai.

Kebangkitan pendidikan kreatif mengambil beragam bentuk: pendidikan formal, informal, dan non-formal.

3.1 Prospek Kursus Matematika

Kursus bahasa, kursus matematika, dan beragam bentuk kursus lainnya menjadi bidang penting untuk kemajuan generasi masa kini. Saya sendiri menyediakan program kerja sama afiliasi APIQ yang membantu Anda membuka kursus matematika dengan mudah. APIQ sudah menyediakan bahan ajar matematika kreatif dengan standar APIQ. Selanjutnya, Anda bisa membuka kursus matematika APIQ di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: program afiliasi APIQ.

3.2 Prospek Pelatihan Guru Kreatif

Para guru memerlukan keahlian baru karena tuntutan jaman, berupa kemajuan teknologi, dan perubahan kurikulum yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Guru perlu membekali diri dengan kemampuan kreatif dan memanfaatkan teknologi dengan canggih. APIQ menyelenggarakan program pelatihan kreatif secara rutin bulanan dan bisa diselenggarakan di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: training kreatif APIQ.

3.3 Edukasi Konten Digital

Kita sudah memasuki era digital. Dunia pendidikan juga masuk dunia digital. Tetapi, masa pandemi sudah menunjukkan bahwa program pendidikan melalui media digital online murni adalah gagal. Siswa tidak bisa belajar hanya melalui media online (kelas daring). Siswa tetap membutuhkan kelas tatap muka (kelas luring).

Kita perlu bersikap bijak terhadap media digital. Cukup sekedarnya saja, memanfaat media digital, untuk pendidikan. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Dengan ukuran yang tepat dan metode yang tepat, edukasi konten digital akan memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda. Saya membuat beragam konten edukasi matematika melalui canel Paman APIQ.

Sukses selalu untuk kita semua. Bagaimana menurut Anda?

Matematika Ceria: Bahagia Sempurna

Cita adalah siswa kelas 3 SD di kota Bandung. Senyumnya lebar bahagia dengan belajar matematika. Kok bisa?

Di sekolah Cita, disediakan program ekskul, siang, setelah jam sekolah. Anak-anak bebas memilih program olah raga, robotika, menggambar, matematika, dan lain-lainnya. Pilihan siswa paling banyak adalah program matematika bersama APIQ.

“Mengapa kamu memilih matematika?”
“Karena matematika itu seru! Belajarnya lebih asyik dari robotika,” jawab Cita dan teman-temannya.

Matematika APIQ mengajak anak-anak gembira belajar matematika dengan game permainan orisinal (game ori). Mengapa namanya game ori? Karena game ini memang asli matematika bukan selingan belaka. Berbeda dengan game lainnya. Umumnya, game lain adalah selingan ketika anak-anak capek belajar matematika maka main game dulu. Sementara, game ori adalah asli. Dengan anak-anak bermain game ori maka, di saat yang sama, anak-anak jadi mahir matematika. Dalam game ori, sudah terselip petualangan matematika.

Anda bisa bergabung dengan program APIQ, saat ini, melalui WA 0818 22 0898 atau pelatihan terdekat silakan klik: Pelatihan APIQ.

Kita membutuhkan inovasi-inovasi yang menghadirkan matematika dengan riang gembira. Karena, matematika itu sendiri memang mengantarkan umat manusia untuk meraih bahagia sempurna. Disayangkan, saat ini, matematika sering menyulitkan para siswa, guru, dan orang tua.

Siapa pun, usia berapa pun, bisa belajar matematika kreatif APIQ yang asyik. Kakek Badar, saat itu usia 60 tahun, ikut program pelatihan matematika APIQ.

“Apa pertimbangan Pak Badar ikut training matematika APIQ?”
“Saya ini sudah tua,” lanjut Pak Badar,” maka perlu menjaga kesehatan. Dengan belajar matematika asyik, pikiran saya jadi terus aktif sehingga menjadi lebih sehat. Lagi pula, saya bisa mengajarkan matematika APIQ ini ke cucu-cucu saya. Jadi lebih akrab dengan semua keluarga besar.”

Program Matematika APIQ berguna untuk anak usia dini, TK, SD, SMP, SMA, guru, profesional, dan masyarakat luas.

Mari bergembira bersama-sama, membangun generasi muda dengan matematika!

Bagaimana menurut Anda?



Pendahuluan Oleh Suhrawardi

Suhrawardi mengaku menuliskan buku ini bukan dari hasil pemikiran diskursif, tetapi, dari pengalaman langsung. Baru, kemudian, dia mencari cari pembuktian rasional. Seandainya, tidak ditemukan bukti rasional pun, hal tersebut, tidak mengubah kesahihan buku ini. Nyatanya, buku ini menghadirkan bukti rasional yang kreatif.

Filosofi Visi Iluminasi – Hikmah Isyraq

Filosofi Visi, karya Suhrawardi (1154 – 1191), hanya terdiri dari dua bagian. Bagian satu membahas tentang logika, kritik, dan gagasan solusi. Bagian dua membahas ontologi cahaya sebagai solusi tuntas dari filosofi visi.

Pendahuluan oleh Suhrawardi

Bagian 1: Logika
Wacana 1.1: Semiotika
Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme
Wacana 1.3: Kritik Logika

Bagian 2: Ontologi Cahaya
Wacana 2.1 Ontologi Cahaya Sejati
Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Wacana 2.5 Cahaya Masa Depan

Wasiat oleh Suhrawardi

Bagian 1: Logika: makna proposisi, silogisme formal, dan kritik logika

Wacana 1.1: Semiotika. Suhrawardi dengan cerdik menyatakan bahwa makna dari suatu ungkapan bahasa bisa beragam: sesuai yang diharapkan, berbeda dengan yang diharapkan, atau bahkan berlawanan dari yang diharapkan. Pengetahuan ada dua jenis: pengetahuan fitri (bawaan) dan pengetahuan non-fitri (bukan-bawaan). Pada analisis akhir, semua pengetahuan didasarkan pada pengetahuan fitri. Bagian akhir dari wacana ini, mengungkapkan kritik Suhrawardi terhadap teori “definisi esensialis” dari Aristoteles yang dikembangkan oleh Ibnu Sina.

Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme. Luar biasa! Di abad 12, Suhrawardi berhasil menyederhanakan beragam bentuk silogisme menjadi satu bentuk tunggal yang bersifat: niscaya, universal, dan afirmatif. Kelak, di abad 20, kita mengenal metode Karnaugh Map untuk menyederhanakan sistem digital yang rumit menjadi paling sederhana, dan hemat. Suhrawardi sudah mengantisipasi proses “penyederhanaan” logika 8 abad lebih awal. Dengan kemahiran Suhrawardi ini, maka dia berhak melakukan kritik terhadap logika silogisme, khususnya, pada bagian fondasinya: definisi esensial.

Wacana 1.3: Kritik Logika. Dengan cukup panjang, di bagian ini, Suhrawardi melancarkan kritik keras terhadap logika Aristoteles (Ibnu Sina) dilengkapi dengan alternatif solusi. Di bagian awal, kritik diarahkan pada kesalahan formal dalam menyusun silogisme dan kesalahan semantik itu sendiri. Bagian selanjutnya, Suhrawardi meng-kritik definisi esensial Aristoteles Ibnu Sina.

Definisi esensial tidak akan pernah berhasil “menjadi” pengetahuan. Definisi esensial dibentuk dengan menggabungkan genus dan diferensia. Orang yang tidak paham akan genus atau diferensia, maka, dia tidak akan paham definisi esensial. Sementara, orang yang sudah tahu genus dan diferensia yang dimaksud, maka, sudah paham apa yang akan didefinisikan tanpa perlu definisi esensial. Sehingga, definisi esensial tetap tidak berhasil baik bagi orang yang sudah paham mau pun yang belum paham.

Suhrawardi memberi solusi lengkap terhadap masalah logika ini yang melibatkan epistemologi. Bagian dua, bagian selanjutnya, membahas tuntas solusi Suhrawardi. Dan, sebagai konsekuensi, terbentuklah sistem filsafat lengkap: filosofi visi iluminasi.

Bagian 2: Ontologi Cahaya: cahaya sejati, struktur cahaya, dinamika cahaya, realisasi cahaya, dan cahaya masa depan.

Wacana 2.1 Ontologi Cahaya Sejati. Suhrawardi menyelesaikan problem filosofis melalui prinsip paling dasar: ontologi cahaya. Sejak awal, Suhrawardi mendefinisikan bahwa cahaya adalah realitas yang paling jelas dengan dirinya sendiri. Segala sesuatu yang lain, yang bukan cahaya, membutuhkan cahaya agar menjadi jelas, agar dapat didefinisikan.

Cahaya ini memenuhi dua syarat utama untuk mendefinisikan yang lain: lebih jelas dan lebih awal diketahui. Meski kita bisa memikirkan cahaya secara fisika, tetapi, kita perlu melangkah lebih jauh untuk membahas cahaya sejati sampai Cahaya Segala Cahaya yang bersifat incorporeal.

Wacana 2.2: Struktur Cahaya. Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan.

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya. Setiap cahaya memiliki dua karakter: dominating-light dan managing-light. Dominating-light memancarkan sinar ke segala arah dengan kekuatan penuh. Sementara, managing-light mengatur agar arah tepat, ukuran tepat, waktu tepat, dan segala sesuatu dengan tepat. Dua karakter utama dari cahaya ini, yang merupakan satu kesatuan, menjamin bahwa ontologi cahaya bersifat dinamis dan harmonis.

Dari perspektif cahaya-lebih-rendah, cahaya memiliki dua karakter: terlindungi dan cinta. Cahaya-lebih-rendah merasa dilindungi oleh cahaya-lebih-tinggi, di saat yang sama, merasa cinta dan rindu untuk menggapainya.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya. Selanjutnya, Suhrawardi membahas lebih detil ontologi cahaya yang bermanifestasi dalam dunia materi fisik: realisasi. Suhrawardi mengenalkan beragam sifat “barzakh” (perantara, penghalang, jembatan) atau badan fisik. Transparan adalah barzakh yang bersifat meneruskan cahaya seutuhnya. Translusen meneruskan sebagian cahaya. Dan, ada pula yang buram. Di bagian ini, kita bisa belajar banyak hal-hal praktis dan nyata dari ontologi cahaya.

Wacana 2.5 Cahaya Masa Depan. Kita bisa belajar banyak filosofi moral dan etika pada bagian ini. Suhrawardi membuktikan bahwa jiwa manusia tidak sirna akibat kematian badan, immortal. Setiap kebaikan berbalas kebaikan berlimpah. Kejahatan mendapat balasan secara adil.

Lebih dari itu, manusia memiliki potensi untuk mendapat informasi masa depan melalui wahyu, ilham, dan mimpi. Karena ontologi cahaya dinamis maka masa depan, memang, benar-benar dinamis. Selanjutnya, mari kita nikmati dinamika semesta raya!

###

Berikut adalah terjemah Kitab Hikmah Al Isyraq karya Suhrawardi bagian 2 wacana ke 1 atau (2.1).

BAGIAN DUA

###Terjemah dari English ke Indonesia

Tentang Cahaya Sejati, Cahaya dari Cahaya, dan Dasar dan Tatanan dari Eksistensi, dalam Lima Wacana

Wacana Pertama

Tentang cahaya dan realitasnya, Cahaya dari Cahaya, dan apa yang pertama dihasilkan-Nya, dalam sembilan topik dan aturan

Topik [satu]

[Petunjuk bahwa cahaya tidak membutuhkan bukti]

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Karena tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, tidak ada yang kurang dalam membutuhkan definisi.

Topik [dua]

[Definisi tentang mandiri]

(108) Jika bukan esensi atau bukan kesempurnaan dari sesuatu terletak pada yang lain, dia adalah “mandiri.” Jika esensinya atau suatu kesempurnaannya terletak pada yang lain, dia adalah “tidak mandiri.”

###Terjemah dari Arab ke Indonesia

Tentang Cahaya Sejati, Cahaya dari Cahaya, dan Dasar dan Tatanan dari Eksistensi, dalam Lima Wacana

Wacana Pertama

Tentang cahaya dan realitasnya, Cahaya dari Cahaya, dan apa yang pertama dihasilkan-Nya, dalam sembilan topik dan aturan

Topik [satu]

[Tentang: Sesungguhnya cahaya tidak memerlukan definisi]

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Dan tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, maka tidak ada yang lebih sempurna dari cahaya tentang definisi.

Topik [dua]

[Definisi tentang mandiri]

(108) “Mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya bukan pada yang lainnya. “Tidak mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya terletak pada yang lainnya.

BAGIAN DUA

Melompat ke paragraf (155) tentang dua kelas cahaya: domimating-light dan managing-light.