Pengakuan di media sosial problematis; lebih tepatnya memang bermasalah. AI (artificial intelligence – akal imitasi) lebih bermasalah lagi. Masalah dari pengakuan ini adalah serius karena ambivalen secara nyata, bias, dan melanggar etika.
Lepold dalam paragraf terakhir Ambivalent Recognition menyatakan:
“Namun, dengan menunjukkan bahwa pengakuan dapat berkontribusi pada pelanggengan tatanan sosial yang bermasalah, hal ini memberikan dasar penting untuk memahami bagaimana tatanan tersebut dilanggengkan dari waktu ke waktu, dan dengan demikian pada akhirnya, untuk mengkritiknya.”
1. Identitas
2. Pengakuan
3. Diskusi
3.1 Mengakui Pengakuan Bermasalah
3.2 Rekayasa Identitas
4. Kritik Tatanan Sosial
5. Solusi Panarko
Tatanan sosial yang bermasalah ini berkaitan dengan identitas dan pengakuan. Solusi dari masalah ini, langkah awalnya, mengidentifikasi sumber masalah, kemudian mengenali masalah lebih tegas, dan akhirnya merumuskan solusi.
1. Identitas
Identitas tidak jelas di media sosial; seseorang bisa mengaku sebagai laki atau perempuan; sebagai pengusaha, pejabat, polisi, tentara, atau siapa saja. Dengan bantuan AI, identitas makin tidak jelas; karena bisa saja itu semua hanya robot. Ketika identitas di alam nyata yang cukup jelas saja berdampak melanggengkan masalah tatanan sosial; maka bagaimana dampak media sosial?
- Tatanan sosial terbentuk berakar pada identitas dalam konteks partisipasi dalam praktik sosial. (Dengan demikian, terdapat hubungan faktual antara identitas dan tatanan sosial yang lebih besar.)
Seorang selebgram atau youtuber dengan follower 5 juta orang mengunggah 1 video langsung ditonton 100 ribu tayangan dalam 1 jam. Apa yang ia katakan didengar ribuan orang lalu ditiru. Lebih dari itu, ia mengeruk keuntungan rupiah dari medsos itu dan dari iklan.
Bandingkan dengan ketika Anda orang biasa, identitas Anda bukan selebgram, mengunggah video maka tidak ada orang orang yang menonton. Tidakkah itu bermasalah?
Beda identitas maka beda perlakuan sosial; termasuk Anda sendiri berbeda perilaku dibanding selebgram. Masalah ini bukan sekedar masalah pribadi melainkan masalah tatanan sosial.
2. Identitas mengarahkan tindakan orang ke arah tertentu. Hal ini terutama berlaku ketika identitas dinaturalisasi. (Dengan demikian, terdapat hubungan sebab-akibat antara identitas dan tindakan.)
Masalah makin rumit karena dianggap natural, alamiah, memang seperti itu: alamiah selegram dapat uang banyak dan ditiru; wajar juga orang yang bukan selegram tidak ditonton videonya.
3. Oleh karena itu, identitas dapat terlibat secara tidak sengaja dalam pelestarian tatanan sosial.
4. Tatanan sosial berskala besar lebih mungkin bermasalah.
Makin besar skala tatanan sosial maka makin besar pula masalahnya. Indonesia, dengan penduduk hampir 300 juta jiwa, lebih rumit masalahnya dibanding Singapura yang hanya sekitar 6 juta jiwa penduduknya.
5. Oleh karena itu, identitas dapat terlibat dalam melestarikan tatanan sosial yang bermasalah (Thesis_Identity).
Terbukti identitas menjadi terlibat dalam melestarikan tatanan sosial yang bermasalah. Apa solusi yang tersedia? Bagaimana dengan identitas politik? Identitas agama?
2. Pengakuan
Dari problem identitas kita bergeser ke masalah pengakuan (rekognisi); yang sama-sama terlibat melestarikan tatanan sosial bermasalah.
Seorang pejabat membeli buzzer sebanyak 10 ribu akun agar ia diakui sebagai pejabat yang memahami kemajuan teknologi.
6. Dengan demikian, pengakuan dapat memberikan kontribusi spesifik—yaitu, motivasional dan epistemik—pada pelestarian tatanan sosial yang bermasalah (Thesis_Recognition).
Selanjutnya, pejabat itu merasa dirinya sebagai selebgram. Karena ia memiliki anggaran besar maka ia membeli buzzer lebih besar lagi.
7. Pengakuan dapat memotivasi pembentukan identitas dalam konteks praktik sosial.
8. Identitas sering kali dinaturalisasi, dan pengakuan secara aktif berkontribusi pada naturalisasi identitas.
Lagi-lagi, itu semua dianggap alamiah – natural: memang begitulah pejabat. Jika Anda jadi pejabat maka Anda akan seperti itu juga.
Seorang pejabat mengatakan, “Kalian jangan terlalu mengkritik orang kaya! Saya pernah miskin seperti kalian; waktu itu, saya berpikir seperti kalian. Sekarang saya jadi orang kaya. Memang beginilah cara hidup orang kaya. Jika kalian jadi orang kaya maka kalian akan seperti saya juga perilakunya.”
Anda tidak korupsi karena Anda bukan pejabat. Mereka korupsi karena mereka pejabat. Jika Anda jadi pejabat maka Anda akan korupsi juga. Benarkah seperti itu? Tatanan sosial, di kita, memang sedang bermasalah dengan adanya korupsi di mana-mana. Pengakuan, dan identitas, terlibat dalam melestarikan masalah tatanan sosial ini.
Bagaimana pun, Lepold sadar bahwa banyak pemikir merumuskan peran positif dari pengakuan. “Pandangan positif tentang pengakuan yang dikemukakan Honneth dan Taylor, berdasarkan intuisi sehari-hari bahwa pengakuan pada prinsipnya adalah solusi; sementara ketidakhadirannya adalah masalah, banyak dianut dalam diskusi filosofis kontemporer.”
Dalam pandangan Taylor justru tidak adanya pengakuan adalah sumber masalah itu sendiri. Taylor menyatakan dengan jelas: “Pengabaian atau pengakuan yang salah dapat menimbulkan kerugian, dapat menjadi bentuk penindasan, memenjarakan seseorang dalam cara hidup yang salah, terdistorsi, dan tereduksi.”
Singkatnya, kita menghadapi tiga jenis masalah pengakuan: (a) nonrecognition; tanpa pengakuan; (b) misrecognition; salah pengakuan; (c) recognition; pengakuan.
(a) nonrecognition; tanpa pengakuan.
Jelas saja: tanpa pengakuan adalah sumber masalah. Anda sudah bekerja dengan baik 1 bulan penuh sesuai standar; kemudian tidak diakui; akhirnya Anda tidak mendapat gaji bulan itu; memang masalah. Orang-orang desa tidak diakui sebagai terdampak oleh mahalnya dolar; jadi masalah. Orang suku dari luar pulau tidak diakui sebagai mampu menjadi presiden; ini juga masalah.
(b) misrecognition; salah pengakuan.
Anda adalah pejuang pembela rakyat; tapi diakui sebagai pengejar jabatan; salah pengakuan ini adalah masalah. Anda adalah penyanyi profesional tapi dianggap pengamen pinggir jalan. Anda adalah menteri pendidikan yang memajukan sekolah melalui teknologi; tetapi didakwa korupsi. Beragam salah pengakuan, atau pengakuan yang keliru, memang sumber masalah.
(c) recognition; pengakuan
Bahkan pengakuan itu sendiri adalah masalah; ketika pengakuan itu dianggap sudah tepat maka tetap bermasalah; ambivalen. Justru ini perlu kita waspadai.
Apakah kita benar-benar bisa mengakui secara benar? Pengakuan akan selalu keliru, dalam banyak aspek, jika pengakuan bersifat substansial; karena substansi manusia selalu berubah. Pengakuan berpotensi benar ketika bersifat eksistensial; nyata, konkret, dinamis. Meski andai benar, pengakuan itu tetap bermasalah dalam tatanan sosial.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Lepold mengenali masalahnya: pengakuan ==> identitas ==> tatanan.
Masalah awal adalah pengakuan yang kemudian membentuk identitas seseorang; akhirnya berdampak tatanan sosial bermasalah. Bagaimana pun, proses ini dua arah timbal balik; tidak linear; tatanan menguatkan identitas; akhirnya menguatkan tuntutan pengakuan.
Sehingga solusi yang kita butuhkan adalah dari seluruh arah.
3.1 Mengakui Pengakuan Bermasalah
Langkah awal adalah mengakui setiap pengakuan bermasalah. Sehingga kita perlu bersikap kritis dan berpikir terbuka ketika menerima atau memberi pengakuan. “Andi adalah pimpinan kami!” perlu sikap hati-hati dalam mengakui ini.
Ketika masyarakat sekitar mengakui Andi sebagai pemimpin meski dengan suara sedikit di atas 50% maka, selanjutnya, Andi berperilaku sebagai pemimpin. Ia menetapkan aturan yang menguntungkan pendukungnya dengan dalih memberi makan rakyat secara gratis. Rakyat merasa wajib mengikuti aturan dari Andi; dengan berbaik sangka kata mereka.
Mengakui identitas Andi sebagai pemimpin menjadi masalah dalam tatanan sosial; tetapi setiap tatanan sosial membutuhkan beberapa pengakuan identitas misal identitas pemimpin. Yang lebih penting, kita harus sadar bahwa ada masalah di sana. Ketika Andi menetapkan aturan “makan gratis”, misalnya, maka seluruh warga perlu menyikapi dengan kritis; Andi sendiri, sebagai pemimpin, wajib kritis terhadap aturannya sendiri. Apakah “makan gratis” itu memang berdampak baik bagi seluruh warga? Siapa yang berpotensi dirugikan? Apa kompensasi terbaik bagi yang berdampak rugi? Apakah benar-benar berdampak baik bagi kemajuan sosial secara utuh?
Dari sikap kritis itu, sambil berpikir terbuka, kita berharap akan berhasil menangani masalah tatanan sosial dampak dari pengakuan kepada identitas.
3.2 Rekayasa Identitas
Identitas bisa berubah secara cair seiring pengakuan. Akibatnya, kita bisa rekayasa identitas. Dengan bantuan AI dan media sosial, posibilitas rekayasa identitas nyaris luas tanpa batas.
“Macan Asia” adalah identitas. Begitu juga “negara berkembang” berbeda dengan “negara adidaya” sebagai identitas. Apa identitas terbaik bagi diri Anda? Bagi kelompok Anda? Bagi negara Anda?
Rekayasa Identitas di Tingkat Individu
Seorang pemuda dari kampung di Jawa Tengah membuka akun TikTok dengan nama “Rafi Digital Nomad” (bukan nama sebenarnya). Ia merekam dirinya bekerja di kafe dengan laptop, memakai kemeja rapi, berbicara campuran Inggris-Indonesia. Dalam tiga bulan, ia punya 80 ribu pengikut. Orang-orang di desanya mulai memanggilnya “anak sukses,” padahal penghasilannya belum stabil.
AI merekomendasikan videonya ke audiens yang tepat, algoritma memperkuat citra itu, dan pengakuan digital mengalir deras—mendahului kenyataan. Identitas “digital nomad” sukses bukan sekadar label; ia menjadi kenyataan sosial yang nyata karena cukup banyak orang yang mengakuinya. Di sinilah rekayasa identitas bekerja paling halus: bukan kebohongan, bukan juga kebenaran penuh, melainkan sebuah proyeksi yang diakui lebih dulu sebelum ia benar-benar terwujud; barangkali memang tidak pernah terwujud.
Rekayasa Identitas di Tingkat Kelompok
Sebuah komunitas petani di Jawa Barat mendeklarasikan diri sebagai “Agripreneur Nusantara” (bukan nama sebenarnya) di media sosial. Mereka mengunggah foto sawah dengan drone, memberi label produk dengan desain minimalis, dan menggunakan AI untuk membuat konten berbahasa Inggris yang menjangkau buyer internasional. Identitas lama mereka—”petani kecil,” “buruh tani”—yang selama ini mempersempit akses ke pasar dan modal, perlahan digantikan oleh narasi baru yang lebih berkuasa.
Pengakuan dari pasar ekspor dan investor muda memperkuat identitas baru itu hingga anggota komunitas sendiri mulai berpikir dan bertindak berbeda: lebih percaya diri dalam negosiasi harga, lebih berani menolak tengkulak. Rekayasa identitas kolektif ini bukan manipulasi kosong—ia adalah strategi bertahan hidup yang menggunakan pengakuan sebagai sumber daya nyata untuk mengubah posisi sosial yang selama ini tidak adil.
Rekayasa Identitas di Tingkat Negara
Indonesia pernah dijuluki “negara berkembang” selama puluhan tahun—sebuah identitas yang secara halus menempatkan bangsa ini dalam posisi penerima bantuan, pengikut standar global, dan objek kebijakan luar negeri negara-negara besar. Kini, dengan narasi “ekonomi terbesar keempat dunia 2045,” pemerintah sedang merekayasa identitas nasional secara sistematis—melalui kampanye digital, branding internasional, hingga penggunaan AI untuk memperkuat citra Indonesia di forum global.
Identitas “Macan Asia” bukan sekadar impian; ia adalah konstruksi yang sedang aktif dibangun melalui pengakuan yang dicari, dibentuk, dan diperjuangkan. Pertanyaannya bukan apakah rekayasa ini boleh dilakukan, melainkan: siapa yang menentukan identitas apa yang direkayasa, untuk kepentingan siapa, dan kelompok mana yang justru tersisih dari narasi baru itu? Rekayasa identitas negara tanpa kritik dari dalam bisa dengan mudah bergeser dari pemberdayaan menjadi propaganda.
4. Kritik Tatanan Sosial
Dengan mengenali problem dari pengakuan dan identitas, selanjutnya, kita bisa mengkaji secara kritis tatanan sosial. Beberapa tatanan sosial yang perlu kita kritisi di antaranya: kapitalisme, komunisme, dan teokrasi.
Teokrasi telah sukses di masa lalu lengkap dengan pahit manisnya nasib kemanusiaan beriring dengan monarki – teokrasi. Kapitalisme, yang sering klaim beriring dengan demokrasi, tampak sebagai mayoritas di abad 21 ini. Sementara komunisme, atau beragam sosialisme, menjadi alternatif yang menantang kapitalisme.
Tatanan sosial kapitalisme makin kuat mencengkeram dunia dengan bantuan AI (artificial intelligence – akal imitasi). Kritik terhadap kapitalisme adalah: (a) berlebihan mengakui kapital sebagai paling utama dan penentu identitas; (b) zero-sum game menjadi sistem operasi; disadari atau tidak; (c) mengikis pengakuan martabat manusia di hadapan kapital; (d) merusak demokrasi; (e) mengancam peradaban atau kelestarian alam, setidaknya, dalam jangka panjang.
Kapital sebagai Penentu Identitas: Ketika Nilai Manusia Diukur dengan Saldo
Di era AI, kapitalisme tidak lagi sekadar mengatur cara orang bekerja—ia mengatur cara orang dinilai. Seorang guru SD di pelosok Kalimantan dengan dedikasi tiga puluh tahun tidak memiliki credit score yang menarik, tidak punya aset yang bisa dijadikan jaminan, dan tidak punya pengikut di media sosial. Sementara seorang influencer berusia dua puluh tiga tahun dengan portofolio saham dan endorsement brand premium secara otomatis mendapat akses ke pinjaman bank, undangan forum bergengsi, dan kolom opini di media nasional.
AI mempercepat proses itu: algoritma kredit, sistem rekrutmen otomatis, dan platform rekomendasi semuanya membaca kapital—uang, jaringan, aset digital—sebagai proksi utama dari “siapa seseorang.” Identitas bukan lagi soal karakter, kontribusi, atau kebijaksanaan; ia menjadi angka yang bisa dibaca mesin. Ketika kapital menjadi bahasa utama identitas, mereka yang tidak fasih dalam bahasa itu—orang miskin, lansia tanpa aset digital, komunitas adat—bukan hanya tertinggal secara ekonomi, melainkan secara harfiah tidak terbaca oleh sistem.
Zero-Sum Game: Kemenangan Seseorang adalah Kekalahan Orang Lain
Kapitalisme yang ditenagai AI bekerja dengan logika sederhana namun brutal: sumber daya terbatas, dan siapa cepat dia dapat. Ketika sebuah perusahaan teknologi besar mengotomasi layanan pelanggannya dengan chatbot AI, ribuan pekerja call center kehilangan pekerjaan—bukan karena mereka tidak kompeten, melainkan karena mereka kalah “efisien” dibanding mesin.
Keuntungan perusahaan naik, harga saham melonjak, dan pemegang saham bersorak. Di sisi lain, bekas pekerja itu masuk ke pasar kerja yang semakin sempit, bersaing dengan sesama manusia yang juga tersingkir oleh otomasi. Inilah zero-sum game yang bekerja secara sistemik: setiap efisiensi di satu sisi adalah pengorbanan di sisi lain, hanya saja pengorbanan itu tidak pernah muncul dalam laporan keuangan.
Yang lebih berbahaya, zero-sum game ini sering tidak disadari karena dikemas dalam narasi “kemajuan,” “inovasi,” dan “transformasi digital”—kata-kata yang terdengar baik untuk semua pihak, padahal menyembunyikan distribusi keuntungan yang sangat tidak merata. AI menjadi mesin percepat permainan ini: lebih cepat, lebih luas, lebih tak terlihat.
Erosi Martabat: Manusia sebagai Beban, Bukan Tujuan
Kapitalisme klasik setidaknya masih membutuhkan tenaga manusia—sehingga manusia punya posisi tawar. Kapitalisme yang diperkuat AI mulai menggeser posisi itu secara mendasar. Ketika sebuah gudang logistik menggunakan robot untuk memilah paket, manusia yang tersisa hanya bertugas mengawasi mesin—dengan upah minimum, tanpa tunjangan kesehatan yang layak, dan dengan kontrak harian yang bisa diputus kapan saja.
Martabat dalam konteks ini bukan soal filosofi abstrak; ia soal apakah seseorang diperlakukan sebagai tujuan atau sebagai biaya. Dalam neraca kapitalisme, manusia yang tidak produktif adalah liabilitas—dan AI semakin efisien dalam mengidentifikasi, mengukur, lalu mengeliminasi “liabilitas” itu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana proses ini dinormalisasi: orang yang di-PHK karena otomasi sering dinarasikan sebagai yang “tidak mau berkembang” atau “gagal beradaptasi”—sehingga tanggung jawab sistemik digeser menjadi kegagalan pribadi. Pengakuan atas martabat manusia, yang seharusnya menjadi fondasi tatanan sosial, perlahan tergantikan oleh pengakuan atas produktivitas manusia—dua hal yang berbeda jauh namun sering diperlakukan seolah sama.
Demokrasi yang Digerogoti dari Dalam
Demokrasi membutuhkan warga yang berpikir merdeka, informasi yang terbuka, dan ruang debat yang jujur. Kapitalisme yang bersandar pada AI mengancam ketiga fondasi itu sekaligus. Platform media sosial—yang secara teknis gratis namun secara bisnis menjual perhatian pengguna kepada pengiklan—tidak dirancang untuk memperkuat nalar publik, melainkan untuk memaksimalkan waktu layar. Algoritma AI belajar bahwa konten yang memancing amarah, ketakutan, dan kecemasan menghasilkan lebih banyak klik daripada konten yang mendorong refleksi. Hasilnya adalah ruang publik digital yang secara struktural mendistorsi realitas: hoaks menyebar lebih cepat dari fakta, kandidat politik yang pandai bermain emosi lebih viral daripada yang punya program substansial, dan warga terus-menerus disuguhi cermin yang memantulkan prasangka mereka sendiri.
Di sisi lain, korporasi teknologi yang menjalankan infrastruktur demokrasi digital ini tidak dipilih oleh rakyat, tidak tunduk pada mekanisme akuntabilitas publik yang memadai, namun memiliki kekuatan untuk menentukan informasi apa yang dilihat miliaran orang. Ketika kapital memiliki kendali atas arsitektur informasi, demokrasi tidak perlu dihancurkan dari luar—ia cukup digerogoti dari dalam, perlahan, sambil tetap memakai wajah kebebasan.
Ancaman Peradaban: Bumi yang Tidak Masuk dalam Neraca Laba-Rugi
Kritik paling fundamental terhadap kapitalisme yang diperkuat AI adalah yang paling sulit dilihat karena berskala paling besar: ia beroperasi dengan asumsi bahwa alam adalah sumber daya tak berbatas yang bisa dieksploitasi demi pertumbuhan tak berbatas—padahal keduanya adalah ilusi.
Pusat data yang menjalankan model-model AI raksasa mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah yang mengejutkan; sebuah sesi pelatihan model AI besar bisa memancarkan karbon setara perjalanan udara lintas benua ratusan kali. Namun biaya lingkungan ini tidak pernah muncul dalam harga layanan AI yang ditawarkan kepada pengguna, karena kapitalisme secara sistemik mengeksternalisasi biaya yang tidak menguntungkan—membebankannya kepada alam, kepada generasi mendatang, dan kepada komunitas yang paling rentan.
Yang paling ironis, AI kini digunakan oleh industri-industri ekstraktif untuk semakin efisien dalam menguras sumber daya alam: menemukan deposit mineral lebih cepat, mengoptimalkan jalur penebangan hutan, memprediksi cuaca untuk memaksimalkan hasil tangkap ikan sebelum stok habis. Kapitalisme dengan AI tidak hanya mengancam tatanan sosial—ia sedang meminjam waktu dari masa depan peradaban, dan tagihan itu, cepat atau lambat, akan jatuh tempo.
Kritik terhadap komunisme di antaranya: (a) terlalu kuat memandang konflik; perjuangan kelas atau perlawanan terhadap borjuis; (b) risiko menjadi tatanan diktator atau otoriter; (c) ancaman pelanggaran hak asasi manusia; berdampak pada krisis pengakuan dan identitas.
Obsesi Konflik: Ketika Perjuangan Kelas Menjadi Penjara Cara Pandang
Komunisme lahir dari kemarahan yang sah—melihat buruh diperas, tanah dirampas, dan martabat manusia dilelang di pasar modal. Namun kemarahan yang sah, ketika dijadikan satu-satunya lensa untuk membaca seluruh realitas sosial, bisa berubah menjadi dogma yang menyempitkan. Ketika setiap hubungan sosial dibaca semata sebagai relasi kelas—guru dan murid, petani dan pedagang, bahkan sesama buruh yang berbeda suku—maka ruang untuk solidaritas yang tulus, untuk pengakuan yang melampaui kepentingan kelas, menjadi sangat sempit.
Di negara-negara yang pernah menjalankan komunisme secara ketat, seniman yang melukis keindahan tanpa pesan perjuangan dituduh kontrarevoluioner; ilmuwan yang meneliti bidang yang dianggap “tidak berguna bagi rakyat” disingkirkan; bahkan persahabatan antara orang dari latar belakang berbeda dicurigai sebagai pengkhianatan ideologis.
AI dan media sosial hari ini justru bisa menghidupkan kembali logika serupa dalam wajah baru: algoritma yang terus mempertemukan seseorang hanya dengan konten yang mengonfirmasi posisi kelasnya, memperdalam parit antara “kita” dan “mereka,” dan mengubah setiap percakapan publik menjadi medan pertempuran identitas. Komunisme mengajarkan bahwa konflik kelas adalah motor sejarah—dan itu ada benarnya—tetapi menjadikan konflik sebagai satu-satunya motor berarti membuang bahan bakar lain yang sama pentingnya: kepercayaan, rekonsiliasi, dan pengakuan lintas batas.
Godaan Kuasa: Dari Revolusi Rakyat Menuju Takhta Diktator
Paradoks terbesar komunisme bukan pada cita-citanya, melainkan pada jalannya: sebuah ideologi yang lahir untuk membebaskan manusia dari penindasan berulang kali berakhir menciptakan penindasan dalam bentuk baru. Mekanismenya hampir selalu serupa—revolusi membutuhkan kepemimpinan terpusat untuk menghadapi musuh, kepemimpinan terpusat membutuhkan loyalitas absolut untuk bertahan, loyalitas absolut membutuhkan pembungkaman perbedaan pendapat, dan pembungkaman perbedaan pendapat membutuhkan aparatus kekerasan yang semakin besar.
Uni Soviet, Kamboja di bawah Khmer Merah, Korea Utara—semuanya memulai dengan narasi pembebasan rakyat dan berakhir dengan rakyat yang tidak boleh berbicara, berpindah tempat, atau bahkan berpikir di luar garis yang ditetapkan partai.
Dalam konteks AI, risiko ini mengambil dimensi baru yang lebih halus dan lebih berbahaya: sebuah negara dengan sistem komunis yang menggunakan AI untuk pengawasan warga—mengenali wajah, memantau percakapan, menilai “skor sosial”—tidak perlu lagi mengirim tentara ke setiap sudut kota untuk mengendalikan rakyatnya. Teknologi melakukan itu lebih efisien, lebih diam, dan lebih sulit dilawan. Di sini komunisme dan kapitalisme bertemu pada satu titik gelap yang sama: keduanya, ketika berkuasa penuh tanpa rem, cenderung menggunakan teknologi bukan untuk membebaskan manusia melainkan untuk mengamankan kekuasaan yang sudah ada.
Krisis Pengakuan: Ketika Identitas Dilebur Paksa demi Keseragaman Ideologi
Salah satu kebutuhan paling mendasar manusia adalah diakui—sebagai individu yang unik, dengan sejarah, keyakinan, dan identitas yang tidak bisa begitu saja dilebur ke dalam kolektivitas. Komunisme, dalam praktik historisnya, sering gagal memenuhi kebutuhan ini karena ideologi mensyaratkan keseragaman: satu partai, satu kebenaran, satu identitas kolektif yang benar.
Kelompok etnis minoritas di Tiongkok dipaksa meninggalkan bahasa dan tradisinya demi identitas nasional yang tunggal; kaum beragama di Uni Soviet diperlakukan sebagai ancaman ideologis karena loyalitas mereka kepada Tuhan dianggap bersaing dengan loyalitas kepada negara; intelektual yang berpikir berbeda diasingkan ke kamp kerja paksa bukan karena tindakan kriminal, melainkan karena identitas pikiran yang tidak sesuai garis partai.
Pengakuan—dalam arti yang dibicarakan Lepold—bukan hanya soal diakui keberadaannya, melainkan diakui dalam keunikan dan perbedaannya. Komunisme yang otoriter secara sistemik menghancurkan dimensi kedua itu: boleh ada, asal sama. Krisis pengakuan ini tidak hanya melukai individu; ia merusak tatanan sosial secara dalam, karena masyarakat yang tidak boleh berbeda adalah masyarakat yang kehilangan kemampuan untuk belajar dari dirinya sendiri, untuk bernegosiasi secara jujur, dan pada akhirnya, untuk bertumbuh menjadi lebih adil.
5. Solusi Panarko
Apa alternatif tatanan sosial yang tersedia? Saya mengusulkan tatanan panarko atau kopanarko. Konsep panarko ini masih perlu untuk terus dikembangkan dan dikritisi karena masih baru. Panarko terdiri dari dua kata: pan (semua) dan arko (pemimpin). Secara harfiah, panarko bermakna semua pemimpin atau serba pemimpin.
Untuk memudahkan pemahaman barangkali kita bisa mengembangkan kisah panarko dengan tokoh Arka dan Pak Daru.
Ilustrasi Kisah Arka Daru
Kita adalah Panarko. Di tengah hiruk pikuk kota yang pucat, Arka melangkah menyusuri trotoar seperti seseorang yang kehilangan bayangannya sendiri. Media sosial di ponselnya terus memuntahkan kabar bencana, perpecahan, adu opini yang saling memangsa—semuanya memekakkan hati. Di dunia nyata dan maya, chaos merayap seperti kabut pekat yang menutup harapan. Ia sering berdoa dalam hening: “Semoga ada arko, seorang pemimpin kuat yang datang merapikan semuanya…”
Namun ia tahu betul, zaman telah berkali-kali menunjukkan bahwa arko—pemimpin tunggal yang diagung-agungkan—sering berubah menjadi pusat kekuasaan yang menekan. Terlalu banyak orang yang buta oleh pesona pemimpin, lalu kecewa oleh kenyataan. Dan media sosial dengan akal imitasi-nya (termasuk AI: artificial intelligence) terus menyalakan ilusi: semua orang mengikuti figur yang sedang populer, menirukan amarah, menelan opini tanpa periksa. Arka pulang kampung, berharap kampungnya lebih tenang, tapi di sana pun kegelisahan berakar dalam.
Di sudut-sudut desa, sekumpulan pemuda berkumpul sambil membicarakan anarko, terpesona oleh kebebasan mutlak yang sering viral di platform mereka. Tanpa menyaring, mereka meniru gaya bicara dan keberanian palsu para influencer. Gagasan itu terdengar gagah, namun dalam kenyataan tanpa kompas, kebebasan tak membawa cahaya—melainkan bayang-bayang baru yang menakutkan. Warga makin renggang, percakapan makin dingin.
Suatu pagi yang sederhana, Arka melihat Pak Daru memaku pagar mushola sendirian. Cahaya matahari jatuh lembut di punggung lelaki tua itu, seolah mengingatkan Arka bahwa selalu ada orang yang bekerja diam-diam tanpa perlu disorot kamera. Dengan spontan ia ikut membantu. Dalam denting palu, Arka mencurahkan kerinduannya pada pemimpin besar yang tak kunjung datang. Pak Daru menatapnya lembut: “Nak, menunggu arko hanya memperpanjang masa suram. Cobalah memimpin langkahmu sendiri.”
Kata itu tak menggema keras, namun jatuh ke dalam hati Arka seperti tetes embun pada tanah tandus. Memimpin langkah sendiri. Mengapa itu terdengar lebih jujur daripada semua slogan di media sosial? Malam itu Arka merenung, dan perlahan ia mulai memahami makna panarko—bahwa setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum memimpin orang lain.
Keesokan hari, Arka memulai sesuatu yang kecil. Ia mengajar anak-anak berhitung, membersihkan selokan yang berbau, membantu tetangga memperbaiki atap bocor. Tindakannya tak masuk trending, tak ada yang menekan tombol “like”, tapi dalam keheningan itu Arka justru merasa lebih hidup. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah panggung, melainkan kerja hati yang tak perlu ditonton.
Perlahan, tindakannya yang sederhana menarik perhatian pemuda lain. Dio—yang selama ini hanya meniru gaya influencer desain di media sosial—menemukan jati diri lewat menggambar poster kegiatan kampung. Rani memanfaatkan ilmunya untuk membuat program makanan sehat. Bima membangun aplikasi kecil untuk koordinasi warga, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang viral. Tanpa arko, tanpa perintah, mereka mulai memimpin sebisa mereka masing-masing.
Dari sinergi itu, lahirlah kopanarko—sebuah suara lembut yang tumbuh dari banyak panarko yang bekerja bersama. Kepemimpinan seakan terurai menjadi butiran cahaya yang jatuh ke setiap tangan yang mau mengambil peran. Pasar sayur hidup kembali, anak-anak tertawa lebih nyaring, jalan-jalan disapu dengan cinta yang ringan. Kampung berubah seperti lukisan lama yang kembali dipulihkan warnanya.
Media sosial masih gaduh, dunia luar masih sering dipenuhi provokasi dan imitasi buta, namun kampung kecil itu telah menemukan ritme baru. Di sini, orang-orang lebih mempercayai tindakan nyata daripada unggahan. Arka menyadari bahwa untuk melawan chaos, manusia tidak membutuhkan satu arko, dan tidak pula perlu melompat ke jurang anarko. Mereka butuh keberanian untuk berhenti meniru—untuk kembali mendengarkan hati sendiri.
Sore itu, di bawah langit jingga yang meneteskan cahaya lembut, Arka duduk di tepi lapangan bersama Pak Daru. Anak-anak berlari sambil tertawa, seperti puisi yang hidup. “Pak,” kata Arka, “ternyata keselamatan bukan datang dari satu arko, atau dari bebas tanpa batas seperti anarko. Ia lahir ketika panarko saling menggenggam, berubah menjadi kopanarko.” Pak Daru tersenyum bangga. Dan Arka pun tahu, dunia yang pernah terasa gelap kini perlahan disinari oleh langkah-langkah kecil yang tak lagi meniru siapa pun—kecuali kebaikan yang tumbuh tulus dari hati.
Renungan Panarko: Arka menyadari bahwa perubahan sejati tidak lahir dari sorotan media sosial atau ketenaran sesaat. Dunia maya menawarkan kepalsuan yang manis—like, komentar, dan tren yang menyesatkan, membuat banyak orang terjebak dalam akal imitasi, meniru tanpa memahami. Namun di kampungnya, Arka belajar bahwa kepemimpinan lahir dari tindakan nyata, dari keberanian untuk memulai langkah kecil, dan dari konsistensi yang diam-diam menyalakan inspirasi.
Panarko adalah pilihan sadar, bukan sekadar reaksi terhadap hiruk-pikuk eksternal. Ia juga memahami bahwa meski arko tampak menggoda dan anarko terdengar merdeka, keduanya tidak menjawab kebutuhan hakiki manusia: keterhubungan dan tanggung jawab. Kekacauan (chaos) tidak akan lenyap dengan satu tokoh tunggal atau dengan menolak kepemimpinan sama sekali. Yang menyembuhkan adalah keberanian banyak panarko untuk memimpin diri sendiri, lalu merangkai tindakan mereka menjadi gerakan kolektif, menciptakan kopanarko—jaringan kepemimpinan yang nyata, organik, dan berkelanjutan.
Akhirnya, Arka menutup matanya sejenak, merasakan denyut kampung yang kini bernafas dengan ritme baru. Ia menyadari bahwa setiap langkah kecilnya, setiap keputusan yang ia ambil dengan hati, telah menumbuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Perubahan bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana banyak orang memilih untuk memimpin, menolak imitasi kosong, dan memilih untuk menyinari dunia yang pernah tenggelam dalam chaos. Di situlah kekuatan sejati kopanarko—perlahan, diam-diam, namun tak terbendung.
Tatanan sosial panarko ini tampak indah tapi bagai utopia. Bagaimana cara mewujudkan panarko dalam satu kampung? Dalam satu kota? Dalam satu negara? Itu adalah tantangan kita bersama untuk membangunnya sekaligus mengkritiknya. Sebagai sumber inspirasi panarko barangkali kita bisa belajar dari tatanan sosial di kampung adat Cipta Gelar Jawa Barat dan masyarakat Nordic di Eropa Utara.
Solusi panarko untuk tatanan sosial bersifat utopia konkret. Utopia karena panarko terasa terlalu ideal, terlalu bagus, untuk menjadi nyata. Tetapi memang konkret sebagai kenyataan karena panarko mengambil inspirasi dari tatanan sosial konkret Ciptagelar dan Nordic. Serta panarko menerima realitas sosial yang ada sebagai modal awal, bukan mulai dari nol, untuk menuju tatanan sosial yang lebih baik. Kita menerima, misal, situasi sosial Indonesia yang ada saat ini untuk kemudian kita ubah menuju cita-cita panarko sebagai negeri yang adil, beradab, dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Panarko memiliki daya tarik karena setiap orang bisa menjadi pemimpin bagi diri dan masyarakat sekitar; menjadi pemenang mirip kapitalis. Tetapi panarko tidak mengijinkan keserakahan berlebihan. Kapitalis bisa saja mengeksploitasi karyawan demi keuntungan perusahaan sejauh legal. Panarko bisa kerja sama produktif dengan setiap karyawan tanpa eksploitasi; karena semua orang bermartabat sebagai pemimpin yang tidak boleh dieksploitasi.
Panarko ada miripnya dengan sosialis, atau komunitas, karena menganggap setiap orang sama; sama-sama sebagai pemimpin. Lebih dari itu, panarko berbeda karena mendorong setiap orang untuk menjadi pemimpin yang unik sesuai dengan diri dan situasi masing-masing. Keragaman adalah kekuatan bagi panarko.
Pandangan pertama, panarko merupakan solusi budaya bagi tatanan sosial; memang ada benarnya. Untuk berani menjadi pemimpin, seorang panarko, kita membutuhkan pertumbuhan budaya. Kita bisa belajar kekuatan budaya dari Ciptagelar salah satunya. Pandangan kedua, panarko adalah solusi politik. Ketika Anda menjadi pemimpin kuat, seorang panarko, Anda menjadi ancaman serius bagi kekuatan politik status quo. Anda sendiri terancam menjadi korban politik atau Anda harus siap bermain politik dengan cantik. Kita bisa belajar politik dari Nordic salah satunya.
Pandangan selanjutnya, panarko adalah dinamika budaya, politik, cita ideal, kehidupan konkret, teknologi, pengakuan, identitas, dan tatanan sosial secara luas.
Ringkasan
Tatanan sosial memang bermasalah; terkait dengan pengakuan dan identitas yang bermasalah; mereka saling pengaruh. Kemudian media sosial dan AI (akal imitasi – artificial intelligence) memperparah semua masalah. Meski AI memiliki kemampuan menyelesaikan beragam masalah tetapi potensi memperparah masalah tampak begitu besar.
Solusi dari semua masalah itu adalah kita mengakui memang ada masalah; ia adalah pengingat bagi kita semua. Kemudian, kita memberi kritik dari beragam sudut serta mengajukan beragam solusi; yang akan tetap mengandung masalah. Solusi terbaik adalah panarko (serba pemimpin) yang bergerak menuju kopanarko (bersama menjadi panarko).
Tatanan sosial panarko – kopanarko tidak memiliki fondasi layaknya arsitektur rumah. Untuk membangun rumah, kita menguatkan fondasi dulu, lalu kerangka yang kokoh, dinding, kemudian atap dan hiasan-hiasan. Panarko tidak memiliki fondasi seperti itu. Panarko mirip dengan alunan musik orkes(tra) tanpa fondasi. Gitar mengalun indah bersama seruling diiringi suara biduan yang merdu. Hanya ada gitar sebagai panarko, seruling sebagai panarko, dan biduan sebagai panarko. Gitar bisa saja dipetik sendiri, seruling bisa ditiup sendiri, serta biduan bisa bernyanyi sendiri. Mereka bukan fondasi. Tetapi mereka bersatu dalam alunan indah orkes(tra) kopanarko tanpa fondasi.
Masing-masing panarko adalah pemimpin yang berkontribusi untuk kemajuan masa depan. Mereka bukan fondasi melainkan pusat-pusat sementara atau simpul-simpul kontribusi. Panarko melihat ada masalah untuk bersama-sama kita menjelajah.
Bagaimana menurut Anda?