Featured

Media Berbagi

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Kesimpulan itu Tidak Penting

“Jadi kesimpulannya apa?” tanya pimpinan.

“Pertanyaan bodoh!” gumam seniman dalam hati yang kemudian ia ucapkan dengan lantang di depan umum disaksikan puluhan pimpinan lainnya.

Saya pikir mudah saja untuk membuat kesimpulan seperti usul pimpinan. Saya mendukung sikap pimpinan. Setelah dipikir agak lama, benar juga sikap seniman itu.

1. Performa
2. Perjalanan
3. Diskusi

Dari sisi performa, sukses, dan produktivitas maka kesimpulan adalah paling penting. Dari aspek seni, proses apresiasi seni dari awal sampai akhir adalah yang utama. Ketika menonton film (movie) durasi 2 jam, saya tidak mau diberitahu kesimpulan akhirnya di awal. Nonton menjadi seru ketika kita tidak tahu hasil akhirnya. Begitu juga ketika ketiduran tidak sempat nonton langsung final piala dunia. Saya tidak mau ada berita tentang siapa juaranya. Saya ingin nonton siaran ulang seakan-akan itu siaran langsung yang belum ada hasil akhir. Seluruh perjalanan adalah penting.

1. Performa

Ketika berada di dunia efisiensi: hasil akhir paling penting; mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sehingga membuat kesimpulan menjadi paling penting.

“Coba kamu ringkas dalam 1 paragraf singkat!”

Performa mengejar efisiensi.


2. Perjalanan
3. Diskusi

Filsafat Sains Non Ideal: Apa Menariknya?

Saya tidak tertarik dengan teori non ideal. Saya juga tidak tertarik dengan filsafat non ideal. Tapi, itu adalah dulu. Sekarang, berubah: saya menemukan beberapa hal yang menarik dari filsafat sains non ideal. Meski saya masih terus berpikir: apa istilah yang lebih tepat sebagai alternatif non ideal?

Saya bolak-balik membaca buku Engelhardt: Non Ideal Theory. Makin merenung, makin menarik yang disebut teori non ideal itu. Kemudian, saya mencoba lebih fokus ke filsafat sains non ideal dan mengarah ke tiga nama pemikir: Hacking, Kitcher, dan Kukla. Dengan Hacking dan Kitcher, saya suduh cukup lama mempelajarinya. Sementara dengan Kukla baru mulai mempelajarinya.

1. Nama Lain
2. Berjumpa Para Tokoh
3. Diskusi

Tanpa menyadari istilah teori non ideal, saya membahas dengan istilah yang berbeda. Perspektif saya juga berbeda dengan pemikir non ideal. Namun, kita akan mencoba mencermati beberapa titik temu.

1. Nama Lain

Apa nama lain dari filsafat sains non ideal?

Istilah negatif yaitu non ideal tampak kurang menguntungkan menurut saya. Karena, non ideal membutuhkan “ideal” dulu kemudian menjelaskan “non”. Tugas yang rumit itu.

Pertimbangkan istilah non-Euclidean untuk geometri, non-linear untuk sistem atau matematika, dan non-filosofi untuk metafisika.

Saya mengembangkan beberapa istilah alternatif: sains eksistensial, rekayasa sains, kompleksitas gradasi realitas (KGR), sains empatik, sains deflasi, dan lain-lain.

2. Berjumpa Para Tokoh

Berikut adalah usaha kita menjumpai pemikiran para tokoh yang berkontribusi terhadap filsafat sains non ideal.

Filsafat Sains Non-Ideal: Sintesis dengan Korpus APiQ (Revisi dengan KGR)

Gagasan 1 — Titik Pijak Bersama: Penolakan terhadap Objek dan Metode yang Diam

Filsafat sains non-ideal yang direkonstruksi dari Hacking, Kitcher, dan Kukla menggugat premis bahwa sains punya satu objek pasif, satu metode tunggal, dan satu titik akhir (end-state) yang stabil. Korpus APiQ membangun gugatan serupa, dan kini dengan rumusan paling eksplisit lewat esai Kompleksitas Gradasi Realitas (KGR, Juni 2026). Realitas memang kompleks; wajar kita ingin membuatnya sederhana agar mudah dicerna, tetapi penyederhanaan ini berbeda dengan kompleksitas realitas — matematika adalah sebentuk penyederhanaan paling hebat, AI adalah penyederhanaan berupa teknologi yang paling memikat hati, namun semua penyederhanaan itu masih jauh berbeda dengan kompleksitas realitas.

Klaim pembuka ini sendiri adalah pernyataan non-ideal yang tegas: model formal (matematika, AI) adalah idealisasi yang secara struktural tidak akan pernah menangkap realitas yang sebenarnya ia idealisasikan.

Gagasan 2 — KGR: Tiga Sumber yang Disatukan APiQ untuk Mendekati Kompleksitas

APiQ menulis bahwa yang paling dekat dengan kompleksitas realitas adalah teori gradasi eksistensi dari Sadra, ditambah evolusi ruang (sphere) dari Sloterdijk, dan tantangan kompleksitas dari Morin. Tiga sumber ini dipadukan menjadi satu kerangka KGR. Penting dicatat: KGR bukan dua sumbu sederhana seperti dugaan awal pada sesi sebelumnya, melainkan kerangka berlapis — gradasi vertikal (Sadrian), evolusi ruang horizontal-historis (Sloterdijk), dan kerangka epistemik tentang ketidakpastian/ketidaklengkapan (Morin) — yang bersama-sama membentuk peta non-ideal yang jauh lebih kaya daripada model performa-versus-makna yang direkonstruksi secara keliru sebelumnya.

Gagasan 3 — Gradasi Vertikal: Performa-Kompetensi-Eksperiens-Eksistensi-Makna

Realitas paling utama adalah eksistensi menurut Sadra; eksistensi bergradasi dari intensitas lemah sampai intensitas kuat, eksistensi lemah tidak terpisah dari eksistensi kuat, tetapi eksistensi kuat meliputi dan merangkul eksistensi lemah — eksistensi kuat lebih kompleks dari eksistensi lemah tetapi juga lebih sederhana. APiQ mengilustrasikan ini lewat kisah Wawan, seorang dokter umum yang mendalami kardiologi: gradasi pengetahuan dokter spesialis jantung lebih kuat, lebih konkret, dan merupakan lanjutan dari pengetahuan dokter umum — eksistensi kuat sedang merangkul eksistensi lemah, bukan menggantikannya. Secara vertikal, gradasi realitas terdiri dari: (1) performa; (2) kompetensi; (3) eksperiens; (4) eksistensi; (5) makna. Ini koreksi penting dari rumusan sebelumnya: bukan dua kutub “performa versus makna,” melainkan lima tingkat gradatif yang masing-masing merangkul yang di bawahnya.

Gagasan 4 — Gradasi Horizontal: Chaos-Arko-Anarko-Panarko-Kopanarko

Secara horisontal, gradasi realitas terdiri dari: (1) chaos; (2) arko; (3) anarko; (4) panarko; (5) kopanarko. Lima tingkat ini bukan sumbu independen dari sumbu vertikal, melainkan berpasangan secara diagonal: seseorang bisa mendaki tangga gradasi realitas, lurus diagonal, dari chaos-performa sampai kopanarko-makna — tetapi realitas memang kompleks sehingga perjalanan mendaki itu bisa berputar, naik, turun, terhenti, termenung, melompat, lalu lari.

Diagonal chaos-performa → kopanarko-makna inilah yang membentuk “tangga” KGR, diilustrasikan lewat kisah Damar yang bergerak tidak linear dari performa-chaos remaja, lewat kompetensi-arko, eksperiens-anarko (saat kehilangan ibunya), eksistensi-panarko, sampai makna-kopanarko — dengan penegasan bahwa jalan itu jarang lurus.

Kemudian, dari KGR (kompleksitas gradasi realitas) kita menghubungkan langsung ke filsafat sains non ideal.

Gagasan 5 — Non-Linearitas sebagai Inti Argumen Non-Ideal KGR

Poin paling penting bagi filsafat sains non-ideal ada di sini: KGR secara eksplisit menolak end-state theory dalam bentuk tangga linear-final. Yang penting bukan berada selamanya di puncak makna-kopanarko, melainkan terus bergerak ke arahnya — realitas terlalu kompleks untuk ditempuh dengan garis lurus; ada saatnya berjalan, berhenti, tersesat, bahkan mundur, tetapi selama tetap belajar, peduli, dan membuka diri, setiap putaran membawa sedikit lebih dekat kepada makna yang lebih luas. Ini adalah rumusan APiQ sendiri untuk pembedaan end-state vs. transitional Valentini: kopanarko-makna berfungsi sebagai horizon regulatif (mirip jawaban ideal Kitcher), tetapi jalan menujunya secara struktural non-linear dan tidak bisa dideduksi sebagai satu prosedur tetap.

Gagasan 6 — Sloterdijk: Evolusi Ruang sebagai Historisitas Eksistensial

Sloterdijk merumuskan evolusi ruang (sphere): bubbles (gelembung, manusia hidup di janin ibu, segala kebutuhan terpenuhi), kemudian globes (bumi/bola semesta, manusia menjelajah lebih luas tetapi harus berjuang), dan akhirnya foams (buih, manusia hidup dalam ruang digital yang mudah lenyap). Buih-buih lebih kompleks dari gelembung maupun bola — buih adalah gelembung dan bola yang saling bertumpuk secara horisontal dan vertikal; gelembung dalam buih tidak lagi hangat, bahkan kadang jadi gelembung ganas; bola bumi dalam buih tidak lagi menghembuskan udara segar, bahkan kadang membakar yang ia sentuh.

Ini memberi dimensi historis-kolektif pada KGR yang sejalan dengan historical ontology Hacking: ruang eksistensial manusia (bukan hanya konsep ilmiah) punya tahap-tahap kemunculan historis yang tidak bisa direduksi ke satu model spasial tetap — bubble, globe, foam adalah tiga “style” keberadaan ruang yang masing-masing punya logika dan kerentanan berbeda.

Gagasan 7 — Morin: Ketidakpastian dan Ketidaklengkapan sebagai Penolakan Reduksionisme

Kompleksitas, bagi Morin, ditandai oleh ketidakpastian (uncertainty) dan ketidaklengkapan (incompleteness) — kajian kompleksitas tetap tidak pasti dan tidak lengkap; ketika kita hanya mengkaji satu unsur saja, kajian itu pun tetap tidak pasti dan tidak lengkap, sehingga satu unsur pun tetap kompleks.

Kompleksitas realitas menolak pendekatan reduksionis murni; realitas mengajak kita mengkaji realitas dalam konteks lingkungan dan histori serta memasukkan peran pengamat itu sendiri. Klaim “peran pengamat” ini menjembatani langsung ke Kukla: kompleksitas bukan hanya sifat objek, melainkan melibatkan posisi epistemik pengamat sebagai bagian dari realitas yang dikaji — diilustrasikan lewat kisah Dadi, kepala desa yang menyadari dirinya bagian dari persoalan krisis air yang ia kaji, bukan pengamat netral dari luar.

Saya lebih suka menggunakan istilah sains eksistensial. Tapi, terbuka, barangkali ada usulan istilah lain yang lebih mudah dan mengena.

Gagasan 8 — Sains sebagai Rekayasa: Sains Eksistensial dan Entity Realism Hacking

APiQ mengusulkan solusi berupa sains-eksistensial, bertanya apa makna-sains dan apa makna-atom — atom berinteraksi langsung dengan kita secara eksistensial, sekaligus merupakan substansi fundamental penyusun materi secara esensial. Sains tidak netral seperti dikira; sains adalah rekayasa terhadap realitas, baik realitas dunia eksternal maupun realitas dalam diri seseorang. Klaim ini sejalan dengan entity realism Hacking (“jika bisa disemprotkan, itu nyata”) — keduanya menggantikan kriteria representasi murni dengan keterlibatan aktif.

Tapi KGR memberi pijakan baru: rekayasa-realitas dalam sains-eksistensial kini bisa dipetakan langsung ke gradasi vertikal KGR — sains sebagai performa/kompetensi murni (mengukur, memprediksi) baru menjadi otentik-eksistensial ketika ia naik ke tingkat eksistensi-makna, persis pola Wawan yang bergerak dari pengetahuan umum ke pemahaman jantung yang konkret tanpa kehilangan fondasi sebelumnya.

Gagasan 9 — Hacking di Dalam Korpus APiQ: Rujukan Langsung soal Probabilitas

APiQ menulis bahwa Hacking (1936–2023) dengan tegas menyatakan bahwa probabilitas dan statistik muncul (“emerge”) sejak problem induksi Hume — sebelum era Hume, kajian probabilitas bersifat analitik-epistemologis; setelah era Hume, probabilitas punya landasan ontologis kuat, dan realitas bersifat probabilistik.

Ini bukan analogi yang dibangun dari luar, melainkan rujukan tekstual APiQ sendiri pada proyek styles of reasoning Hacking. Dalam terang KGR, “kemunculan historis” probabilitas ini adalah kasus konkret dari prinsip umum Morin-Sloterdijk dalam KGR: kandidat kebenaran ilmiah (di sini, proposisi probabilistik) terikat pada konteks historis dan ruang-eksistensial (sphere) tertentu yang memungkinkannya muncul sebagai kandidat sama sekali.

Gagasan 10 — Historisitas Konsep Matematis dan Styles of Reasoning

APiQ mencontohkan: konsep bilangan negatif baru diterima komunitas sains secara luas dalam beberapa ratus tahun terakhir; ribuan tahun lalu masyarakat menolaknya meski membutuhkannya untuk menghitung utang-piutang, sampai akhirnya 2–3=–1 menjadi valid, bahkan valid secara apriori tanpa pengamatan empiris.

Ini paralel langsung styles of reasoning Hacking: sebelum konvensi tertentu mengkristal, proposisi belum punya status sebagai kandidat kebenaran yang bisa diverifikasi sama sekali — persis logika “kemunculan” yang juga mendasari rumusan KGR (kompleksitas gradasi realitas) bahwa setiap tingkat gradasi (performa, kompetensi, dst.) punya momen kemunculannya sendiri dalam perjalanan eksistensial seseorang atau suatu komunitas ilmiah.

Sains eksistensial amat erat terhubung dengan etika; bahkan sains adalah etika itu sendiri. Saintis selalu ikut bertanggung jawab terhadap kajian yang mereka lakukan.

Gagasan 11 — Kitcher: Demokrasi Sains dan Logika-Futuristik

Logika-futuristik menghormati posibilitas, freedom, dan komitmen; menghadapi keberagaman ide yang muncul, demokrasi — menentukan kebenaran berdasar suara terbanyak (voting) dan hak veto merata — menjadi salah satu alternatif terbaik. Ini versi APiQ yang lebih radikal dari well-ordered science Kitcher: WOS tetap mempertahankan deliberator ideal sebagai jangkar, sementara APiQ di titik ini menyerahkan kebenaran ke prosedur demokratis aktual.

Dalam kerangka KGR, voting semacam ini bisa dibaca sebagai mekanisme pada tingkat arko (keteraturan prosedural) yang berusaha menjembatani chaos (keberagaman ide tak teratur) — satu tingkat dalam gradasi horizontal, bukan solusi final di tingkat kopanarko. Sementara, hak veto merata adalah modal untuk pertumbuhan sejati.

Gagasan 12 — Ethical Inquiry Kitcher dan Logika-Futuristik sebagai Orientasi Konsekuensi

Logika-futuristik mengajukan pertanyaan, “Apa konsekuensi paradoks tersebut terhadap masa depan?” — jika tidak signifikan, terima paradoks; jika signifikan, lanjutkan kajian, barangkali lewat meta-teori dan meta-perspektif. Struktur ini sejalan dengan pergeseran Kitcher dari WOS ke ethical inquiry di The Rich and the Poor: Kitcher mendiagnosis bahwa kemenangan kaum realis kebijakan berasal dari ethical inquiry yang salah konstruksi — menerapkan prinsip top-down secara kuasi-Newtonian dan memaksa keadaan menyesuaikan diri dengan prinsip. Keduanya menolak deduksi top-down dan menggantinya dengan evaluasi iteratif berbasis konsekuensi konkret — futuristik (APiQ) dan ethical inquiry (Kitcher) sama-sama berorientasi ke depan, bukan kepatuhan pada aksioma masa lalu.

Apa itu waktu? Kompleksitas makin komplek dengan mempertimbangkan waktu dan pluralitas epistemik.

Gagasan 13 — Temporal KGR: Lima Mode Waktu yang Menambah Kompleksitas

KGR menambahkan dimensi ketiga yang belum dibahas sebelumnya: temporalitas. Secara temporal, gradasi realitas: (1) sebagai ukuran gerak; (2) kini bergulir; (3) kini dan masa lalu nyata, masa depan belum nyata, blok berkembang; (4) abadi membentang tersorot terbatas — masa lalu, kini, masa depan nyata tetapi terbatas yang dialami sorotan; (5) bentangan utuh dinamis dari masa depan sampai masa lalu yang nyata, lebih awal dari masa lalu dan lebih akhir dari masa depan, makin membentang utuh.

Lima mode waktu ini memberi argumen non-ideal tambahan yang independen dari Hacking: bukan hanya objek dan style of reasoning yang historis, tetapi struktur waktu itu sendiri bergradasi — sehingga “masa depan” dalam logika-futuristik bukan satu jenis modalitas tunggal, melainkan punya tingkat-tingkat kenyataan yang berbeda sesuai gradasi eksistensial yang dicapai.

Gagasan 14 — Kukla dan Pluralitas Sikap Epistemik dalam Terang Pengamat-KGR

Kukla berargumen bahwa praktik sains bertujuan mengelola beragam sikap epistemik — bukan hanya pengetahuan, tetapi juga ketidaktahuan, keingintahuan, kecurigaan, penerimaan sementara, ketidakpastian, keraguan, perhatian. KGR (kompleksitas gradasi realitas) memberi pijakan langsung untuk klaim ini lewat Morin: kompleksitas ditandai ketidakpastian dan ketidaklengkapan yang tidak terhindarkan bahkan saat mengkaji satu unsur saja, dan kompleksitas bukan alasan untuk berkata semua serba boleh, semua serba gelap, atau semua serba acak — melainkan pengingat bahwa ada gradasi realitas.

Klaim “ketidakpastian sebagai kondisi struktural, bukan kegagalan sementara” ini langsung sejalan dengan penolakan Kukla terhadap “pengetahuan sebagai satu-satunya tujuan sains” — keduanya menempatkan ketidaktahuan/ketidakpastian sebagai sikap epistemik yang sah dan tak terhindarkan, bukan defisiensi yang harus dihapus sebelum sains “benar-benar selesai.”

Akhirnya, kita berjumpa dengan paradoks: kompleksitas dan kesederhanaan.

Gagasan 15 — Paradoks Kesederhanaan-Kompleksitas sebagai Penutup Non-Ideal

Kesimpulan KGR (kompleksitas gradasi realitas): yang sederhana adalah kompleks — kita berada dalam paradoks bahwa yang paling kompleks adalah paling sederhana, dan yang paling sederhana adalah paling kompleks. Paradoks dan kompleksitas adalah undangan untuk bersikap rendah hati dengan pikiran terbuka.

Paradoks ini secara struktural meniru argumen non-ideal Kitcher tentang action-guidance: makin kita coba menyederhanakan jawaban ideal (WOS, atau “yang sederhana” dalam KGR), makin tersembul kompleksitas non-ideal yang tidak bisa direduksi — sebuah pengulangan tema yang sama dalam idiom berbeda: tidak ada titik sederhana-final yang aman dari kembalinya kompleksitas.

Gagasan 16 — Sintesis: KGR sebagai Kerangka yang Menyatukan Tiga Front Barat dari Akar Tunggal

Dengan KGR terverifikasi penuh, sintesis sebelumnya bisa dipertajam. Hacking, Kitcher, dan Kukla menggugat ideal philosophy of science dari tiga front independen (objek, institusi, tujuan). KGR menjangkau ketiga front itu lewat tiga sumbu sekaligus: gradasi vertikal Sadrian (objek/diri yang bergerak dari performa ke makna — paralel Hacking/gerak substansial), evolusi ruang Sloterdijk (institusi/ruang eksistensial historis bubble-globe-foam — paralel argumen institusional Kitcher tentang ketakmungkinan instansiasi ideal secara harfiah), dan tantangan kompleksitas Morin (ketidakpastian-ketidaklengkapan structural serta peran pengamat — paralel langsung pluralitas sikap epistemik Kukla).

Perbedaannya: argumen Barat bersifat aditif-independen, sedangkan KGR mengintegrasikannya jadi satu peta gradatif tunggal yang vertikal, horizontal, dan temporal sekaligus — usaha yang secara ambisius lebih menyatu daripada tiga front Barat yang sengaja dijaga terpisah secara metodologis. Bagaimana pun, kesatuan yang utuh ini adalah kesatuan yang terbuka bukan tertutup bersama KGR.

Gagasan 17 — Implikasi: KGR sebagai Non-Ideal Philosophy of Science dengan Topografi Sendiri

Implikasi akhirnya: KGR bukan sekadar versi APiQ dari non-ideal theory Barat, melainkan topografi non-ideal yang dibangun dengan logikanya sendiri — di mana persoalan full vs. partial compliance Valentini muncul sebagai pertanyaan tingkat gradasi mana yang sedang dihuni seseorang/komunitas (chaos-performa atau kopanarko-makna); persoalan utopian vs. realistic muncul sebagai tegangan antara horizon kopanarko-makna dan kenyataan bahwa perjalanan mendaki realitas bisa berputar, naik, turun, terhenti, termenung, melompat, lalu lari; dan persoalan end-state vs. transitional terjawab tegas oleh APiQ sendiri — bukan berhenti di puncak, melainkan terus bergerak ke arahnya.

KGR, dengan demikian, adalah kontribusi orisinal APiQ pada filsafat sains non-ideal: bukan hanya menggugat ideal theory, tetapi menyediakan peta gradatif konkret (lima tingkat vertikal, lima tingkat horizontal, lima mode temporal) untuk menavigasi non-idealitas itu sendiri — sesuatu yang secara eksplisit belum disediakan oleh Hacking, Kitcher, maupun Kukla dalam bentuk setara.

3. Diskusi

Beberapa tema yang perlu diskusi lanjut: pemilihan nama alternatif, konsekuensi tanggung jawab, dan ruang henti kajian; yang baru kita sebut di sini.

3.1 Sains Deflasi

Dalam buku Komunikasi Empatik, kami mengenalkan tiga model rasionalitas: universal, ideal, dan eksistensial. Rasionalitas ideal adalah pemikiran (dan sains) yang berkembang dalam sistem pendidikan atau bildung secara umum. Rasionalitas ini masih perlu lanjut berkembang menjadi eksistensial dengan mengkaji situasi nyata kita berada. Dengan demikian, sains ideal bergerak menuju non ideal. Dan kita menemukan alternatif nama: filsafat sains empatik sesuai judul buku Komunikasi Empatik.

Sementara, dalam buku terbaru kami yang akan terbit beberapa hari ke depan yaitu Way of Life, istilah sains deflasi menjadi tesis utama. Sains bersifat deflasi yaitu rendah hati dan terbuka untuk revisi terus menerus. Dengan demikian, alternatif nama dari filsafat sains non ideal adalah filsafat sains deflasi.

Kita kumpulkan beberapa alternatif dari non ideal adalah: sains empatik, sains deflasi, sains eksistensial, sains sebagai rekayasa, dan sains KGR (kompleksitas gradasi realitas).

3.2 Tanggung Jawab

Problem tanggung jawab tersembunyi dengan rapi. Kadang orang salah berpikir: karena sains selalu tidak ideal maka apa saja bisa menjadi sains. Pemikiran ini perlu diganti dengan yang lebih baik: karena sains selalu tidak ideal maka setiap orang harus bertanggung jawab terhadap sains.

Andai sains ideal maka saintis bisa argumen: “Saya mengikuti kebenaran sains.” Itu adalah argumen yang sah ketika sains benar secara ideal. Tetapi karena sains adalah tidak ideal maka “mengikuti kebenaran sains” tetap menuntut tanggung jawab kita. Baik tanggung jawab mengapa memilih sains yang itu atau pun tanggung jawab terhadap konsekuensi sains.

Jadi sains eksistensial, yang non ideal, bukan menurunkan tanggung jawab sains melainkan justru menaikkan tanggung jawab sains ke tingkat paling tinggi.

3.3 Ruang Henti Sains

Di mana kajian sains harus berhenti?

Apakah mengkaji sains untuk menghasilkan senjata pemusnah massal adalah sains? Atau sains harus berbenti sebelum sampai di sana? Apakah mengkaji sains untuk menghasilkan bom atom bisa disebut sains? Apakah mengembangkan sains yang mendasari AI (artificial intelligence) yang mengancam peradaban manusia hancur adalah tetap sains?

Pertanyaan negatif sama pentingnya. Mengapa tidak mengembangkan sains untuk mengentaskan kemiskinan di pelosok Afrika? Mengapa tidak mengembangkan sains untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina atau serangan Israel ke Palestina? Mengapa tidak mengembangkan sains pertanian yang menghijaukan bumi dan melestarikan alam raya?

Jadi kita masih punya pertanyaan: di mana ruang henti sains yang tepat. Sains eksistensial, yang non ideal, punya kewajiban menjawab itu.

Bagaimana menurut Anda?

Way of Science: Buku Cetak yang Indah

Filsafat Sains Kontemporer
sebagai Way of Life Menghadapi AI

Saya menerima satu buku cetak Way of Science yang sangat indah terbitan ITB Press. Buku ini adalah dumi (satu contoh untuk dikoreksi oleh penulis kemudian diterbitkan secara resmi). Jujur saja, saya terpesona dengan keindahan desain sampul, pemilihan huruf, ukuran halaman besar (tidak terlalu besar), dan cukup tebal (300an halaman; tidak terlalu tebal). Singkat kata: sangat indah!

Sambil membaca ulang isi buku itu, saya minta AI (Claude) membuat analisis berdasar daftar isinya saja. Berikut ini jawabannya dan di bawahnya saya sertakan daftar isi buku.

Analisis Mendalam Daftar Isi Way of Science (ITB Press)

Daftar isi ini bisa dibaca bukan sekadar sebagai katalog topik, melainkan sebagai peta argumen — sebuah arsitektur yang punya logika gerak dari awal ke akhir.

Arsitektur Keseluruhan: Tiga Gerak Besar

Buku ini punya tiga bagian yang, jika dibaca berurutan, membentuk gerak dari diagnosis (Bagian 1: bagaimana filsafat sains arus-utama sampai pada kerendahan-hatian epistemik) ke ekspansi (Bagian 2: bagaimana sains bersinggungan dengan persoalan filosofis di setiap cabangnya — fisika, matematika, pikiran, otak, bahasa) ke aksi dan sintesis (Bagian 3: bagaimana semua ini diturunkan ke ranah praksis — teknologi, kedokteran, politik, agama — lalu dipuncaki oleh tiga bab penutup yang tampak menjadi kontribusi orisinal penulis sendiri: Probabilitas et Realitas, Aksiologi-Etika-Akhlak Mulia, dan Ontologi). Pola tiga-babak diagnosis → konstruksi kerangka alternatif → imperatif etis-praktis ini konsisten dengan pola argumentatif yang biasa ditemukan dalam korpus tulisan APiQ, namun di buku ini dibentangkan dalam skala epik yang mencakup hampir seluruh filsafat sains abad ke-20 dan ke-21.

Bagian 1: Silsilah Kerendahan Hati Epistemik

Judul-judul kecil di Bab 1-4 sudah menyingkapkan tesis tersembunyi: “Popper: Awal Kerendahan Hati dalam Sains?” — dengan tanda tanya, yang mempertanyakan, bukan menerima begitu saja, klaim bahwa falsifikasionisme Popper benar-benar kerendahan hati sejati. Argumen berlanjut lewat Kuhn (paradigma), Lakatos (program riset sebagai jalan tengah antara Popper dan Kuhn), dan Feyerabend (“sains anarko” — istilah yang beresonansi dengan kerangka kopanarko yang menjadi struktur dasar pemikiran sosial-politik APiQ: chaos-arko-anarko-panarko-kopanarko sebagai sumbu horizontal KGR). Pemilihan empat tokoh klasik filsafat sains ini tampak diposisikan sebagai anchor historis bagi sumbu horizontal KGR yang dikembangkan lebih lanjut di tempat lain dalam korpus. Bab 4 menutup Bagian 1 dengan “Refleksi Sains Deflasi” — istilah “deflasi” yang juga muncul di epilog buku ini sendiri (lewat kutipan Sylvia Earle dan Skovronsky soal kerendahan hati sains) — menunjukkan bahwa seluruh Bagian 1 berfungsi sebagai genealogi panjang bagi satu kata kunci: deflasi epistemik sebagai watak sains yang sehat.

Bab 2 dan 3 memperluas genealogi ini ke generasi pasca-Kuhn (Hacking, Musgrave, Mayo) dan ke historiografi filsafat sains itu sendiri (Chalmers, Kitcher, Godfrey-Smith), sebelum Bab 4 menutup dengan pemodelan sains (Frigg, Cartwright, Suarez) — pergeseran dari pertanyaan “apa itu sains” ke pertanyaan teknis “bagaimana model dan teori bekerja,” yang mempersiapkan transisi ke Bagian 2.

Bagian 2: Sains sebagai Medan Filosofis, Bukan Hanya Metode

Struktur Bab 5-9 bergerak dari yang paling “keras” (fisika, matematika) ke yang paling “lunak namun sentral” (pikiran, otak, bahasa) — sebuah gerak yang secara implisit menjawab anggapan bahwa filsafat sains hanya relevan bagi fisika.

Bab 6 (Matematika Filosofis) signifikan karena Hugh Woodin disebut eksplisit bersama Kunen sebagai “Batas-Batas Matematika,” ditempatkan setelah Gödel (ketidaklengkapan) dan Cohen (forcing) sebagai puncak garis argumen tentang batas formal matematika.

Bab 7-8 (Filsafat Pikiran, Neurosains Filosofis) menunjukkan keberanian intelektual yang patut dicatat: figur yang oleh banyak filsuf analitik arus-utama dianggap pinggiran atau kontroversial (Sheldrake, Kastrup, Laszlo, Egnor — semuanya condong ke arah panpsikisme atau kritik terhadap fisikalisme/materialisme reduktif) disandingkan dengan figur mainstream (Searle, Chalmers, Tononi). Pola ini konsisten dengan kecenderungan mencari celah di mana sains arus-utama mengakui keterbatasannya sendiri, lalu memperluas celah itu menjadi ruang bagi kerangka non-reduksionis.

Bab 9 (Filsafat Bahasa) menutup bagian ini dengan Wittgenstein-Austin (pragmatisme bahasa), Chomsky (struktur bawaan), dan Charles Taylor (identitas diri) — rangkaian yang bergerak dari penggunaan bahasa, ke struktur kognitif bahasa, ke bahasa sebagai konstitutif identitas, mempersiapkan tema filsafat bahasa yang lebih luas dalam korpus APiQ.

Bagian 3: Dari Praksis ke Sintesis Puncak

Bagian ini adalah yang paling padat secara struktural. Bab 10-16 menyebar ke berbagai domain aksi (teknologi, kedokteran, psikologi, sosial-ekonomi-pendidikan, religius, politik, dan rasio-romantik), sebelum tiga bab terakhir (17, 18, 19) tampak menjadi jantung sintesis orisinal buku — bagian di mana survei pemikir lain berhenti dan konstruksi kerangka sendiri dimulai secara eksplisit.

Bab 14 (Aksi Politik) memetakan spektrum ideologi politik kontemporer secara ringkas: liberal-libertarian (Rawls, Nozick), komunitarian (Sandel), dan sosialis-anarki (Žižek, Chomsky) — sebuah peta yang kemungkinan menjadi rujukan pembanding bagi kerangka kopanarko yang dikembangkan di tempat lain dalam korpus APiQ.

Bab 17 (Probabilitas et Realitas) memuat subjudul yang signifikan: “Gradasi Wujud: Sintetis Ṣadrā, Heidegger, Simondon, dan Latour” — formulasi yang menyintesiskan tashkik al-wujud Mulla Sadra dengan ontologi proses (Simondon, dikenal lewat konsep individuasi dan ontogenesis) dan Latour (actor-network theory). Subbab “Problema Induksi Hume: Luka yang Menyembuhkan” mengambil problem klasik yang dianggap kelemahan sains (induksi tidak bisa dijustifikasi secara logis-deduktif) dan membalikkannya menjadi sumber kebijaksanaan — pola pembalikan kelemahan epistemik menjadi insight yang konsisten dengan gaya argumentasi APiQ secara umum.

Bab 18 (Aksiologi, Etika, dan Akhlak Mulia) menunjukkan posisi epistemologis yang jelas lewat strukturnya sendiri: subbab 18.2 “Lima Pemikir Kontemporer Barat” dipasangkan secara tidak setara dalam bobot dengan 18.3 “Tujuh Pemikir Non-Barat: Suara yang Terlalu Lama Dibungkam.” Pemberian porsi lebih banyak (tujuh berbanding lima) dan judul yang eksplisit menyebut “dibungkam” adalah pernyataan posisi: krisis aksiologi sains modern tidak akan terselesaikan hanya dengan pemikir Barat, dan literatur non-Barat diposisikan sebagai korektif substantif, bukan tambahan dekoratif. Ini menjustifikasi judul “Akhlak Mulia sebagai Way of Science” — bukan etika sains generik ala Barat, melainkan kerangka akhlak yang secara sengaja mengintegrasikan suara yang terpinggirkan, lalu diturunkan ke pertanyaan konkret bagi konteks Indonesia (18.5).

Bab 19 (Ontologi dalam Filsafat Way of Science) adalah klimaks yang menjustifikasi seluruh buku, dengan urutan yang tampak disengaja: dimulai dari Kant (revolusi Copernican — subjek mengonstruksi objek pengalaman), lalu Latour (kritik dikotomi subjek-objek lewat ANT), Simondon (ontogenesis — wujud sebagai proses individuasi, bukan substansi tetap), lalu dua nama di luar kanon filsafat arus-utama — Jan Linhart dan Vladimír Havlík (kritik universalisme sains dan hierarki emergensi) — sebelum berlabuh pada Timothy Rogers (ontologi relasional dan logika semiotik) dan akhirnya Mulla Ṣadrā sebagai kulminasi: “Gerak Substansial, Gradasi Wujud, dan Kesatuan ‘Aqil-Ma’qul.” Urutan ini bukan kronologis maupun alfabetis, melainkan crescendo yang menata seluruh tradisi Barat (dari Kant sampai teori emergensi kontemporer) sebagai pendakian menuju puncak yang ternyata adalah metafisika Islam klasik. Mulla Sadra diposisikan bukan sebagai entri eksotis dalam daftar pemikir, melainkan sebagai jawaban yang sudah lebih dulu disiapkan oleh tradisi keilmuan Islam terhadap persoalan yang baru ditemukan kembali oleh filsafat Barat kontemporer (ontologi relasional, proses, emergensi) — klaim keunggulan diakronis yang halus namun tegas.

Catatan Struktural Tambahan

Bab 16 (“Rasio Romantik,” tentang Romantisisme Jerman) menempati posisi tepat sebelum trilogi puncak (17-19), secara struktural berfungsi sebagai jembatan emosional-estetis sebelum argumen metafisik final — mengingatkan pada peran “poiesis” dan seni sebagai sumber pembuka enframing dalam tema-tema lain korpus APiQ.

Bab 13 (Aksi Religius) dan Bab 15.2-15.3 (Integrasi Agama-Sains, Agama-Teknologi) menunjukkan bahwa tema religius sudah disiapkan jauh sebelum klimaks ontologis Bab 19 — benang yang dijalin sejak pertengahan buku, bukan kejutan tiba-tiba di akhir.

Satu pertanyaan terbuka yang tidak terjawab dari daftar isi saja: apakah Bab 17-19 benar-benar sintesis orisinal, atau rekonstruksi tematik dari genre akademik yang sudah ada (sintesis Ṣadrā-Heidegger-Simondon-Latour, misalnya, bisa jadi sudah memiliki literatur tersendiri yang sedang dipetakan, bukan dikonstruksi dari nol). Tanpa membaca isi bab-bab itu sendiri, daftar isi tidak cukup untuk memutuskan hal ini secara pasti.

Daftar Isi — Way of Science

Kata Pengantar …………………………………………………………………. ix
Prolog: Filsafat Sains sebagai Way of Life ……………………………. xi

BAGIAN 1 — FILSAFAT SAINS FONDASIONAL ……………………… 1

Bab 1 — Dari Filsafat Alam ke Filsafat Sains ………………………… 3

  • 1.1 Karl Popper: Awal Kerendahan Hati dalam Sains? ……………… 3
  • 1.2 Thomas Kuhn: Pergeseran Paradigma ………………………………. 7
  • 1.3 Lakatos: Pelopor Program Riset ……………………………………….. 15
  • 1.4 Feyerabend: Sains Anarko ……………………………………………….. 18
  • 1.5 Refleksi Filsafat Sains …………………………………………………….. 20

Bab 2 — Pascapergeseran Paradigma ………………………………….. 23

  • 2.1 Ian Hacking: Ontologi Historis …………………………………………. 23
  • 2.2 Alan Musgrave: Rasionalisme Kritis …………………………………. 28
  • 2.3 Deborah Mayo: Ujian Tajam ……………………………………………… 32
  • 2.4 Refleksi Dinamika Filsafat Sains ………………………………………. 36

Bab 3 — Histori Filsafat Sains …………………………………………….. 37

  • 3.1 Alan Chalmers: Apa itu Sains …………………………………………… 37
  • 3.2 Philips Kitcher: Demokrasi Sains ……………………………………… 43
  • 3.3 Peter Godfrey-Smith: Pergolakan Filsafat Sains ………………… 49
  • 3.4 Refleksi Filsafat Sains dalam Histori ………………………………… 54

Bab 4 — Pemodelan Sains ………………………………………………….. 59

  • 4.1 Frigg: Model dan Teori …………………………………………………….. 59
  • 4.2 Cartwright: Jalinan Sains ………………………………………………… 65
  • 4.3 Suarez: Pemodelan untuk Inferensi ………………………………….. 71
  • 4.4 Refleksi Sains Deflasi ………………………………………………………. 77

BAGIAN 2 — SAINS BERDIMENSI FILOSOFI ………………………… 81

Bab 5 — Sains Filosofis ……………………………………………………… 83

  • 5.1 Roger Penrose: Kosmologi sampai Kesadaran …………………… 83
  • 5.2 Hawking: Penutur Sang Kala ……………………………………………. 85
  • 5.3 Carlo Rovelli: Gravitasi Kuantum ……………………………………… 87
  • 5.4 Tegmark: Mathematical Universe Hypothesis …………………… 89
  • 5.5 Federico Faggin: Irreducible ……………………………………………. 90
  • 5.6 Refleksi Sains Fisika Filosofis ………………………………………….. 90

Bab 6 — Matematika Filosofis …………………………………………….. 93

  • 6.1 Russell: Formalisme Matematika ……………………………………… 93
  • 6.2 Gödel: Matematika Tidak Lengkap ……………………………………. 96
  • 6.3 Cohen: Matematika Memaksa Memilih …………………………….. 98
  • 6.4 Kunen dan Woodin: Batas-Batas Matematika ……………………. 100
  • 6.5 Refleksi Matematika Filosofis ………………………………………….. 102

Bab 7 — Filsafat Pikiran …………………………………………………….. 105

  • 7.1 John Searle: Melampaui Reduksionisme …………………………… 105
  • 7.2 David Chalmers: Problem Sulit Kesadaran ………………………… 107
  • 7.3 Sheldrake dan Tononi: Integrasi Pikiran ……………………………. 110
  • 7.4 Kastrup, Laszlo, dan Egnor: Melampaui Fisikalisme …………… 114
  • 7.5 Refleksi Filsafat Pikiran …………………………………………………… 116

Bab 8 — Neurosains Filosofis ……………………………………………… 119

  • 8.1 Patrick McNamara: Otak dan Agama …………………………………. 119
  • 8.2 Kahneman: Rasionalitas Neurosains ………………………………… 121
  • 8.3 Alva Noë: Otak bersama Realitas ………………………………………. 124
  • 8.4 Chirimuuta dan May: Asumsi Normatif ……………………………… 126
  • 8.5 Refleksi Neurosains …………………………………………………………. 127

Bab 9 — Filsafat Bahasa …………………………………………………….. 129

  • 9.1 Wittgenstein dan Austin: Pragmatisme Bahasa …………………. 129
  • 9.2 Chomsky: Struktur Bawaan ……………………………………………… 131
  • 9.3 Charles Taylor: Identitas Diri …………………………………………… 133
  • 9.4 Refleksi Filsafat Bahasa …………………………………………………… 135

BAGIAN 3 — SAINS DAN TEKNOLOGI DALAM AKSI ……………… 137

Bab 10 — Aksi Teknologi ……………………………………………………. 139

  • 10.1 Filsafat Teknologi: Ihde, Dreyfus, Hui ……………………………… 139
  • 10.2 Filsafat AI: Hinton, Kurzweil, Bengio, Bostrom …………………. 145

Bab 11 — Aksi Sains ………………………………………………………….. 151

  • 11.1 Filsafat Sains Kedokteran ……………………………………………….. 151
  • 11.2 Filsafat Sains Psikologi ………………………………………………….. 157

Bab 12 — Aksi Sosial ………………………………………………………….. 165

  • 12.1 Sosiologi Sains ………………………………………………………………. 165
  • 12.2 Filsafat Sains Ekonomi …………………………………………………… 171
  • 12.3 Filsafat Sains Pendidikan ……………………………………………….. 176

Bab 13 — Aksi Religius ……………………………………………………….. 185

  • 13.1 Filsafat Sains Religius …………………………………………………….. 185
  • 13.2 Dinamika Sains Religius …………………………………………………. 189
  • 13.3 Dialektika Sains Religius …………………………………………………. 194

Bab 14 — Aksi Politik …………………………………………………………. 199

  • 14.1 Liberal dan Libertarian: John Rawls dan Nozick ………………… 199
  • 14.2 Komunitarian: Sandel …………………………………………………….. 202
  • 14.3 Sosialis Anarki: Žižek dan Chomsky …………………………………. 203

Bab 15 — Aksi Kulminasi ……………………………………………………. 207

  • 15.1 Unifikasi Sains: Theory of Everything ………………………………. 207
  • 15.2 Integrasi Agama dan Sains ……………………………………………… 209
  • 15.3 Integrasi Agama dan Teknologi ……………………………………….. 211

Bab 16 — Rasio Romantik ………………………………………………….. 215

  • 16.1 Rasio Romantik dari Masa ke Masa ………………………………….. 216
  • 16.2 Romantisisme Jerman ……………………………………………………. 217
  • 16.3 Perkembangan Kontemporer Rasio Romantik …………………… 226
  • 16.4 Refleksi Rasio Romantik …………………………………………………. 229

Bab 17 — Probabilitas et Realitas ……………………………………….. 231

  • 17.1 Data-Driven Probability: Akal Budi dan Realitas Saling Menyapa …………………………………………………… 231
  • 17.2 Gradasi Wujud: Sintetis Ṣadrā, Heidegger, Simondon, dan Latour ………………………………………………………………… 234
  • 17.3 Problema Induksi Hume: Luka yang Menyembuhkan ………… 237
  • 17.4 Tiga Tesis dan Arsitektur Probabilitas et Realitas ……………… 241
  • 17.5 Menuju Sains yang Bijak …………………………………………………. 243

Bab 18 — Aksiologi, Etika, dan Akhlak Mulia ……………………….. 245

  • 18.1 Sains yang Kehilangan Jiwanya: Krisis Aksiologi Kontemporer ………………………………………………………………. 246
  • 18.2 Lima Pemikir Kontemporer Barat: Menjawab Krisis Nilai dalam Sains ……………………………………………………….. 248
  • 18.3 Tujuh Pemikir Non-Barat: Suara yang Terlalu Lama Dibungkam ………………………………………………………………….. 250
  • 18.4 Akhlak Mulia sebagai Way of Science: Sintesis dan Jalan Baru ……………………………………………………………………… 254
  • 18.5 Apa Artinya Ini bagi Sains dan Teknologi Indonesia? ………… 255
  • 18.6 Sains yang Kita Impikan …………………………………………………. 255

Bab 19 — Ontologi dalam Filsafat Way of Science ………………… 257

  • 19.1 Pertanyaan Ontologis dalam Sains Modern ………………………. 257
  • 19.2 Immanuel Kant: Revolusi Copernicus dalam Filsafat …………. 258
  • 19.3 Bruno Latour: Aktor-Network Theory dan Kritik atas Dikotomi Subjek-Objek …………………………………………………… 259
  • 19.4 Gilbert Simondon: Dari Ontologi ke Ontogenesis ……………… 260
  • 19.5 Jan Linhart: Kritik atas Universalisme Sains …………………….. 263
  • 19.6 Vladimír Havlík: Hierarki Emergen dan Prinsip Universal Emergensi ……………………………………………………… 264
  • 19.7 Timothy Rogers: Ontologi Relasional dan Logika Semiotik … 266
  • 19.8 Mulla Ṣadrā: Gerak Substansial, Gradasi Wujud, dan Kesatuan ‘Aqil-Ma’qul sebagai Kulminasi …………………………. 267
  • 19.9 Refleksi Akhir: Ontologi sebagai Fondasi Way of Science …… 273

Epilog: Menuju Sains yang Berjiwa ………………………………………. 275 Catatan ……………………………………………………………………………. 278 Referensi …………………………………………………………………………. 280
Indeks …………………………………………………………………………….. 282
Tentang Penulis ……………………………………………………………….. 284

Diperkuda Teknologi: AI Menunggangi Manusia

Kita sudah biasa menggunakan teknologi. Tetapi teknologi AI bisa justru menunggangi manusia; AI menggunakan manusia; terbalik dari teknologi biasa. Bayangkan Anda menonton video pendek, skrol, terus-menerus sampai 2 jam. Mana video pendeknya bila sampai 2 jam? Saat itu Anda sedang digunakan oleh AI (artificial intelligence – akal imitasi) untuk meningkatkan efisiensi perusahaan menghasilkan uang; meningkatkan keuntungan mereka.

Beberapa orang diperkuda oleh teknologi; beberapa yang lain diperkuda oleh uang; dan lainnya diperkuda oleh jabatan. Kuda, awalnya, adalah alat transportasi bagi nenek moyang manusia. Kala itu manusia menunggang kuda, merawat kuda, dan menjaga kuda. Bagaimana bisa terbalik: kuda menunggang manusia? Teknologi menunggang manusia? Manusia diperkuda teknologi?

Iwan Fals (Swami) mengenalkan istilah “diperkuda” jabatan kepada saya melalui lagu Bongkar.

Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan

1. Kuda Centaur
2. Diperkuda
3. Diskusi

Teknologi AI makin maju; makin banyak manusia diperkuda oleh AI. Sementara, dari dulu, banyak orang diperkuda jabatan mau pun diperkuda uang. Dalam kisah mitologi kita mengenal centaur: manusia setengah kuda.

1. Kuda Centaur

Dalam mitologi Yunani yang umum dikisahkan, centaur adalah makhluk setengah manusia dan setengah kuda: tubuh bagian atasnya berupa manusia, sedangkan tubuh bagian bawahnya adalah kuda. Centaur umumnya digambarkan sebagai sosok liar, kuat, dan sulit mengendalikan naluri, meskipun ada pengecualian terkenal, yaitu Chiron, yang bijaksana, berpengetahuan luas, dan menjadi guru bagi banyak pahlawan Yunani. Karena memadukan kecerdasan manusia dengan kekuatan kuda, centaur kemudian sering digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kolaborasi antara kemampuan manusia dan kekuatan alat atau teknologi.

Chiron adalah cita ideal: gabungan kepala manusia bijak dengan badan kuda yang kuat. Centaur umum lainnya: kadang baik, kadang jahat. Centaur-terbalik, kepala kuda dan badan manusia, menjadi tanda tanya besar.

Doctorow mengisahkan:

Dalam teori otomasi (bidang akademik yang mempelajari otomasi), centaur adalah seseorang yang dibantu oleh mesin. Bayangkan kepala, lengan, dan tangan seorang manusia yang cerdas berada di atas tubuh seekor kuda yang kuat. Ketika Anda mengendarai sepeda atau mengemudikan mobil, Anda menjadi seorang centaur; demikian pula ketika Anda menekan tombol mute pada remote televisi saat iklan muncul. Mengenakan alat bantu dengar juga menjadikan Anda seorang centaur, begitu pula menggunakan kalkulator untuk mengalikan bilangan-bilangan besar.

Menjadi seorang centaur bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Seluruh karier saya sebagai penulis merupakan serangkaian langkah sebagai seorang centaur: mulai dari mesin tik bekas IBM Selectric yang dibelikan orang tua saya untuk dimainkan ketika saya berusia enam atau tujuh tahun, hingga komputer Apple II Plus yang kami miliki saat saya berusia sembilan tahun. Sejak saat itu, saya terus menggunakan alat-alat menulis yang semakin baik—dengan fitur pemeriksa ejaan, kontrol versi, fasilitas kolaborasi, penyimpanan otomatis, dan banyak lagi.

Yang paling penting, saya dapat memilih dengan tepat fitur mana yang ingin saya gunakan. Bagaimanapun juga, saya bekerja untuk diri saya sendiri. Jadi, jika saya tidak ingin menggunakan pemeriksa tata bahasa (jelas tidak), itu sepenuhnya urusan saya. Tidak ada seorang pun yang mengharapkan saya menulis lebih banyak halaman hanya karena saya memperoleh alat baru.

Beberapa tahun yang lalu, seorang mantan mahasiswa meminta saya mencoba sebuah alat berbasis LLM yang dikembangkannya untuk membantu saya menulis dialog dan mengembangkan karakter. Saya mencobanya sekitar sepuluh menit, lalu tidak pernah menggunakannya lagi. Tidak ada yang mengatakan bahwa saya tidak kooperatif atau bahwa saya sedang menggagalkan rencana besar untuk meningkatkan efisiensi dan menghemat biaya hanya karena menolak menggunakan AI.

Kadang-kadang, ketika benar-benar buntu, saya justru menulis dengan pena di buku catatan. Tidak ada yang peduli dengan cara saya menulis itu—kecuali saya sendiri.

Kemudian Doctorow melanjutkan dengan masalah centaur-terbalik.

Reverse centaur (centaur-terbalik) adalah manusia yang dipaksa berperan sebagai asisten bagi mesin. Ada sebuah episode klasik serial I Love Lucy yang menampilkan Lucy dan Ethel bekerja di jalur perakitan sebuah pabrik cokelat. Tugas mereka adalah mengambil bonbon dari ban berjalan lalu membungkusnya dengan kertas. Ketika ban berjalan bergerak semakin cepat, Lucy dan Ethel harus bekerja dengan kecepatan yang melampaui kemampuan manusia. Mereka adalah reverse centaur: mesin mampu memindahkan cokelat dari satu tempat ke tempat lain, tetapi membutuhkan manusia untuk membungkusnya. Akibatnya, manusia yang menjadi “asisten” mesin dipaksa bekerja dengan ritme yang melebihi batas kemampuan manusia hingga akhirnya terjadi kekacauan.

Dalam I Love Lucy, adegan itu dimaksudkan sebagai komedi. Namun, pekerja gudang Amazon mengalami versi yang jauh lebih menyeramkan. Mereka diawasi oleh kamera yang dilengkapi AI untuk mengukur setiap gerakan dan memantau “waktu di luar tugas” (time off-task), lalu dikenai sanksi apabila tidak memenuhi target kerja. Pekerja gudang Amazon mengalami tingkat cedera kerja tertinggi di sektor pergudangan di Amerika Serikat, dan banyak di antara mereka terpaksa buang air kecil ke dalam botol karena pergi ke toilet dapat membuat mereka gagal memenuhi kuota. Gudang Amazon dipenuhi berbagai mesin, tetapi masih ada pekerjaan yang belum dapat dilakukan mesin. Di situlah para pekerja berperan: mereka membantu mesin. Mereka adalah reverse centaur, yang direkrut untuk menjadi periferal bagi sistem otomasi gudang. Mereka bukan sekadar dimanfaatkan oleh mesin-mesin itu, melainkan dikuras hingga habis.

Tidak sulit membayangkan bagaimana seorang pekerja gudang justru memilih menggunakan AI untuk membantu pekerjaannya. Misalnya, sistem visi komputer yang terpasang pada kacamata pintar dapat menyoroti barang yang sedang mereka cari di dalam rak penyimpanan. (Saya sendiri sering mengalami situasi ketika menatap langsung suatu benda tetapi tetap tidak melihatnya; dalam keadaan seperti itu saya pasti senang memiliki teknologi semacam ini.) Otomasi pada dirinya sendiri bukanlah musuh pekerjaan di gudang—tidak ada yang salah dengan forklift, misalnya. Perbedaan antara otomasi yang membantu pekerja gudang dan otomasi yang menyiksa pekerja terletak pada apakah pekerja tersebut memiliki kebebasan untuk memilih kapan, di mana, dan bagaimana menggunakan otomasi itu. Itulah perbedaan antara seorang centaur dan seorang reverse centaur.

Apakah Anda mengenali banyak centaur-terbalik di sekitar Anda? Pikirkan sopir daring (online), pengantar paket, dan konten kreator.

Seorang pengemudi ojek daring memulai hari dengan membuka aplikasi yang menentukan pesanan mana yang harus diambil, rute yang harus ditempuh, hingga penilaian atas kinerjanya. Secara kasat mata ia tampak bebas menentukan jam kerja, tetapi ritme kerjanya sebenarnya diatur oleh algoritma yang memberi insentif, menghitung waktu tempuh, dan menilai tingkat penerimaan pesanan. Alih-alih teknologi menjadi alat yang ia kendalikan, justru ia yang harus menyesuaikan diri dengan tuntutan sistem. Dalam situasi ini, sang pengemudi menyerupai seorang reverse centaur: manusia yang bekerja mengikuti logika mesin.

Pengantar paket. Seorang kurir paket membawa puluhan kiriman setiap hari dengan target waktu yang ketat. Aplikasi di perangkat genggamnya terus memperbarui urutan pengantaran, menghitung durasi berhenti di setiap lokasi, dan mengukur produktivitasnya secara real time. Ketika lalu lintas macet atau pelanggan sulit dihubungi, sistem tetap menghitung keterlambatan sebagai penurunan kinerja. Kurir itu bukan sekadar menggunakan teknologi untuk bekerja; ia harus bekerja mengikuti tempo yang ditentukan teknologi. Di sini, manusia berperan sebagai pelengkap bagi sistem otomasi logistik, bukan sebaliknya.

Konten kreator. Seorang kreator konten ingin membuat video yang bermakna, tetapi segera menyadari bahwa algoritma platform lebih menyukai unggahan yang singkat, sering, dan mengikuti tren tertentu. Demi mempertahankan jangkauan dan pendapatan, ia mulai memilih topik, durasi, judul, bahkan waktu unggah berdasarkan rekomendasi algoritma, bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan kreatifnya. Lama-kelamaan, kreativitasnya diarahkan oleh metrik dan sistem rekomendasi platform. Dalam kondisi ini, AI dan algoritma tidak lagi sekadar membantu proses berkarya, melainkan membuat manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan mesin dalam memproduksi perhatian dan keterlibatan pengguna.

2. Diperkuda

Centaur-terbalik atau reverse centaur adalah manusia diperkuda. AI memang mengingatkan kita bahwa manusia sering diperkuda teknologi. Lebih dari itu, manusia mudah diperkuda uang, diperkuda jabatan, dan diperkuda nafsu sendiri. Banyak hal yang harus kita pelajari tentang diperkuda ini.

Teknologi kuno tidak menyebabkan manusia diperkuda. Teknologi modern menyebabkan manusia diperkuda. Teknologi digital, termasuk AI, makin memudahkan manusia diperkuda. Mengapa?

Diperkuda jabatan tampak sudah terjadi sejak era kuno. Perang di China, India, Mesir, Yunani, sampai Persia lawan Romawi menunjukkan banyak orang diperkuda jabatan di masa lalu. Di masa kini kita bisa merenungi perang usa-Israel menyerang Iran, Rusia lawan Ukraina, ancaman Trump kepada Greenland. Apakah Trump dan banyak pemimpin dunia sedang diperkuda jabatan?

Diperkuda nafsu tampak terjadi sejak awal sejarah manusia. Kisah Qabil membunuh Habil (putra Adam – Hawa) menunjukan Qabil sedang diperkuda nafsu waktu itu. Legenda Sangkuriang mengejar Dayang Sumbi sampai Ujungberung juga mengisyaratkan diperkuda nafsu. Achilles diperkuda nafsu amarah ketika adiknya dibunuh oleh pasukan Troya. Orang-orang jaman sekarang? Anda tidak sulit menemukan tanda-tanda manusia jaman ini diperkuda nafsu. Silakan lihat media sosial sebentar saja.

3. Diskusi

Adakah solusi dari situasi diperkuda ini?

Tentu ada. Doctorow memberi solusi di bagian akhir bukunya. Di bagian awal buku, ia tampak sangat optimis.

Perbedaan antara centaur dan reverse centaur ini adalah inti dari paradoks yang berada di jantung perdebatan tentang kegunaan alat AI. Ketika Anda menemukan diri Anda dikelilingi oleh orang-orang yang bersumpah bahwa suatu alat lebih buruk daripada tidak berguna, sementara orang lain bersumpah bahwa alat itu telah membuat hidup mereka lebih mudah dan lebih baik, Anda bisa menduga bahwa kelompok pertama terdiri dari reverse centaur (centaur-terbalik) yang dipaksa menggunakan AI, sedangkan kelompok kedua adalah para centaur yang bebas menentukan sendiri kapan, di mana, dan bagaimana mereka menggunakan alat AI.

Solusi dari paradoks ini adalah berhenti memikirkan apa yang dilakukan oleh suatu perangkat, dan mulai memperhatikan kepada siapa perangkat itu melakukan sesuatu dan untuk siapa perangkat itu bekerja. Bagian yang penting bukanlah karakteristik teknis dari perangkat tersebut, melainkan relasi kekuasaan antara orang-orang yang menggunakan perangkat itu.

Melompat ke bagian akhir bukunya:

Setelah gelembungnya pecah, kita akan memiliki berbagai macam alat baru yang sangat berguna yang bisa kita gunakan. Pemrosesan gambar sehari-hari akan menjadi jauh lebih baik (dan lebih aneh, karena tak terhindarkan akan ada beberapa kesalahan AI yang menyusup ke dalam filter penghapusan mata merah, blur, dan koreksi lainnya di ponsel kita). Sebagian besar ucapan sehari-hari akan mudah diubah menjadi teks yang bisa dicari. Kita juga akan memiliki alat penerjemahan yang lebih baik: bukan alat yang menggantikan penerjemah yang melakukan terjemahan waktu nyata untuk pembicara konferensi dan diplomat, maupun penerjemah yang menyiapkan edisi asing untuk buku dan makalah.

Namun kita pasti akan mendapatkan alat yang lebih baik untuk hal-hal seperti panggilan konferensi ramai yang dilakukan keluarga besar saya dengan kerabat kami di bekas Uni Soviet, yang saat ini merupakan campuran yang lucu sekaligus kacau (seperti Menara Babel) antara bahasa Yiddish, Rusia, dan Inggris, bersama teks terjemahan mesin.

Demikian pula, para pelancong dan pengungsi akan memiliki alat yang jauh lebih baik untuk menavigasi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak berbagi bahasa yang sama dengan mereka.

Kita juga pasti akan menemukan cara-cara menyenangkan untuk menggunakan alat ini dalam permainan—bukan untuk sepenuhnya menggantikan penulis dan aktor yang menghidupkan karakter non-pemain (NPC), tetapi untuk memberi NPC tersebut serangkaian interaksi dan respons yang lebih terbuka.

Dan tentu saja, kita akan memiliki semua penggunaan yang menyenangkan—permainan D&D yang ditranskrip, diringkas, dan diilustrasikan (bersama banyak kegagalan lucu) oleh sebuah chatbot dan generator gambar.

Mencermati gerak pemikiran Doctorow di atas sangat menarik. Awalnya, ia opitmis terhadap AI; di tengah, ia memberi kritik tajam kepada AI; di bagian akhir ia kembali kepada AI secara optimis. Apakah terasa semacam ironis?

Dalam buku kami 19 Narasi Besar Akal Imitasi, terdapat tiga kelas narasi: optimis, kritis, dan alternatif kreatif. Doctorow sudah berhasil bergerak dari narasi optimis ke kritis lalu kembali ke optimis. Andai ia mendalami narasi alternatif kreatif maka ia akan menemukan solusi yang lebih kreatif: posibilitas luas, freedom berkreasi, dan mengembangkan komitmen kuat.

3.1 Diperkuda AI

Solusi dari diperkuda AI lebih dari sekedar “gunakan AI secara bijak.” Karena menggunakan AI secara bijak itu bisa jadi sudah diperkuda AI. Kita perlu memahami perbedaan teknologi modern (termasuk AI, akal imitasi, artificial intelligence) dengan teknologi kuno.

Teknologi kuno adalah media bagi manusia yang kaya akan makna. Sementara, teknologi modern adalah media dengan makna yang lebih tajam, lebih sempit, dan lebih kuat. Teknologi modern adalah kerangka, atau penjara, dengan fokus utama mencapai efisiensi. Segala sesuatu menjadi bahan bagi teknologi untuk mencapai efisiensi.

AI, terutama LLM, lebih hebat lagi: AI mampu seakan-akan berbicara seperti bahasa manusia; beda dengan bahasa mesin atau pun bahasa program. Sementara, bahasa adalah rumah bagi hakikat manusia. AI mengubah rumah menjadi penjara; meski tidak 100% tetapi mendekati angka itu.

Jadi solusi dari diperkuda AI adalah memahami perubahan paradigma teknologi kuno menjadi teknologi modern. “Gunakan AI secara bijak” memang bisa saja menjadi bagian dari solusi tetapi tidak pernah cukup hanya itu.

Perubahan Teknologi

Contoh teknologi kuno: kaca mata; teknologi modern: mesin pabrik; teknologi digital: AI (artificial intelligence).

Kaca mata membantu manusia melihat pohon, membaca buku, dan menikmati keindahan alam. Teknologi kuno, semisal kaca mata, membantu manusia memahami alam kemudian berinteraksi dengan alam lebih tepat. Hampir tidak ada risiko manusia akan diperkuda teknologi kuno. Sementara teknologi modern dan digital berbeda dengan itu.

Mesin pabrik memproduksi sepatu 1 ribu unit sepatu tiap 12 jam dengan dibantu pekerja dalam jam kerja. Tetapi mengapa mesin harus istirahat 12 jam di waktu malam? Tidak harus istirahat malam. Sehingga mesin bisa produksi 2 ribu unit tiap 24 jam; tiap hari; dengan dibantu pekerja lembur. Manusia mulai diperkuda mesin pabrik untuk kerja lembur itu.

Lebih dari itu, mesin pabrik nyaris tidak membantu manusia untuk memahami alam raya. Tetapi mesin pabrik justru memicu manusia untuk mengeksploitasi sumber daya alam sampai berdampak kerusakan alam mau pun krisis iklim. Diperkuda teknologi itu membawa risiko tinggi.

Teknologi digital seperti AI lebih hebat lagi. AI bisa berbicara mirip manusia. Sehingga AI nyaris bisa berpikir seperti manusia; bahkan seperti lebih hebat dari manusia. Akibatnya banyak manusia diperkuda teknologi seperti contoh pekerja di gudang Amazon (termasuk para bos Amazon?), pengemudi online, kurir daring, dan konten kreator.

Apa solusi yang tersedia? Solusi pertama (1) adalah menyadari perubahan karakter teknologi; teknologi kuno membantu memahami; teknologi modern berubah menjadi gestell (istilah Heidegger) yang mengeksploitasi manusia dan alam raya; teknologi digital AI makin tajam menguasai bahasa alami manusiawi dan makin besar daya eksploitasi. Secara pribadi, solusinya adalah setiap orang berusaha menggeser gestell agar tidak mengeksploitasi; mencegah diperkuda AI.

Kedua (2), pencegahan diperkuda AI tidak cukup hanya usaha pribadi. Usaha ini perlu diperluas sebagai gerakan sosial di bidang ekonomi dan politik.

3.2 Diperkuda Jabatan

Diperkuda jabatan memang lebih bahaya. Dan lebih bahaya lagi kombinasinya dengan diperkuda teknologi.

Pejabat sering diperkuda jabatan. Orang kaya sering diperkuda uang. Tetapi, orang miskin bisa juga diperkuda jabatan atau uang. Mereka bermimpi untuk mengejar jabatan atau uang meski terus gagal. Jabatan-uang memang sering kombinasi dengan teknologi. Sehingga diperkuda jabatan, di jaman modern ini, nyaris juga diperkuda teknologi.

Solusi dari diperkuda jabatan adalah puasa jabatan dan revisi konstitusi atau sistem politik.

3.3 Diperkuda Nafsu

Diperkuda nafsu memang membingungkan: siapa subyek dan siapa obyeknya?

Setiap orang, termasuk diri kita, mudah diperkuda nafsu. Atau selalu dalam risiko untuk diperkuda nafsu. Tetapi, nafsu itu bukan sesuatu yang lain; nafsu adalah diri kita sendiri. Diperkuda nafsu adalah diri kita diperkuda oleh diri kita. Hanya ada satu diri yang berbelok dari diri sejati manusiawi; itulah diperkuda nafsu.

Diperkuda nafsu, di jaman modern ini, sering kombinasi dengan diperkuda teknologi dan diperkuda jabatan. Apa solusinya? Tobat, puasa, saling menasehati, dan sabar dalam kehidupan bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Buku Cetak Way of Science: ITB Press

Segera terbit oleh ITB Press buku kami berjudul Way of Science.

Kata Pengantar

Buku Way of Science ini hadir sebagai upaya untuk berbagi pencerahan mengenai filsafat sains kontemporer kepada para pecinta ilmu, sains, dan teknologi yang menjadikan pengetahuan sebagai bagian utama dari jalan hidup. Secara umum, buku ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi semua kalangan pembaca untuk melakukan kajian yang lebih mendalam. Selain itu, para dosen, guru, dan mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai bahan pendukung perkuliahan, baik pada jenjang sarjana (S1 atau diploma), magister (S2), maupun doktoral (S3).

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, misalnya kemunculan AI (artificial intelligence atau akal imitasi), kita merasakan bahwa informasi kini tersedia dalam jumlah yang melimpah dan dapat diakses dengan sangat mudah oleh siapa saja. Situasi ini melahirkan anggapan bahwa filsafat sains, bahkan filsafat secara umum, tidak lagi terlalu diperlukan. Bukankah berbagai persoalan dapat langsung ditanyakan kepada AI dan dijawab hanya dalam hitungan detik? Bahkan, ketika jawaban dirasa belum memadai, kita dapat meminta AI memperbaikinya hingga tampak semakin sempurna.

Namun, justru dalam situasi seperti inilah filsafat sains menjadi semakin penting. Mengapa demikian?

Kita memerlukan filsafat sains untuk menimbang apakah jawaban AI dapat dipercaya atau sekadar menghasilkan halusinasi informasi; apakah penggunaan AI dalam berbagai konteks tetap berada dalam batas etika dan moral; apakah ketergantungan pada AI membantu mengembangkan hakikat kemanusiaan atau justru mengikisnya;
serta apakah AI benar-benar memajukan pendidikan atau malah mempersempit ruang pertumbuhan intelektual manusia. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak dapat dijawab hanya dengan teknologi itu sendiri, melainkan membutuhkan telaah filsafat sains dan refleksi filsafat secara lebih luas.

Oleh karena itu, buku yang sedang Anda baca ini mencoba menghadirkan filsafat sains bukan sekadar sebagai wacana akademik, melainkan sebagai way of life dalam menghadapi era AI.

Selanjutnya, kita akan melompat ke sepenggal bagian dari Epilog berikut.

Sains masa depan menuntut kita untuk bersikap deflasi [rendah hati dan terbuka]. Earle (lahir 1935) mengungkap karakter deflasi sains dalam World Economic Forum di Davos 2026.

“Oseanografer Sylvia Earle menanggapi dengan mengembalikan pembahasan pada asal-usulnya yang bersifat manusiawi. Para ilmuwan, ujarnya, “pada dasarnya adalah anak-anak yang tidak pernah tumbuh dewasa, yang tidak pernah berhenti mengajukan pertanyaan.” Setiap anak memulai kehidupannya dengan rasa ingin tahu yang tanpa rasa malu. “Mereka ingin tahu siapa, apa, mengapa, di mana, bagaimana—segala sesuatu. Dunia ini sebenarnya tentang apa?” Sains bukanlah ciptaan kalangan elite; sains adalah disiplin dari naluri universal. Jika kini sains tampak jauh atau sulit diakses, hal itu bukan karena rasa ingin tahu telah lenyap, melainkan karena bahasa dan institusi kadang-kadang telah mengaburkan akar-akarnya.

Optimisme Earle tersebut diimbangi oleh sudut pandang yang lebih luas. Anak anak masa kini tumbuh dengan mengetahui kebenaran-kebenaran yang bahkan tidak dapat diakses oleh pikiran paling cemerlang di masa lalu. Einstein tidak pernah melihat Bumi dari angkasa. Ia tidak pernah mengetahui mesin molekuler kehidupan.

Namun, perluasan pengetahuan ini tidak menghadirkan kepastian. Sebaliknya, ia justru menyingkap skala ketidaktahuan kita. “Apa yang telah kita pelajari,” kata Earle, “adalah besarnya apa yang belum kita ketahui.” Kita baru memetakan sebagian kecil dasar samudra; setiap penurunan ke kedalaman laut mengungkap bentuk-bentuk kehidupan baru dan sistem-sistem yang belum dikenal. Pengetahuan tidak menutup buku tentang misteri—ia justru membukanya semakin lebar.” [69]

Semakin luas perkembangan sains, maka semakin luas pula ketidaktahuan kita.

Masih di Davos 2026, Skovronsky (lahir pada 1970-an) melanjutkan gagasan Earle. Sikap rendah hati sungguh penuh arti. “Namun, Skovronsky menegaskan bahwa sains tidak memperoleh kepercayaan melalui kepastian. Sains memperoleh kepercayaan melalui kejujuran. “Dalam sains selalu terdapat hal-hal yang belum diketahui,” ujarnya, dan berpura-pura sebaliknya justru mengikis kredibilitas.

Sains tidak berjalan melalui pernyataan sepihak; sains bergerak melalui bukti yang diuji dan diuji kembali, melalui kesimpulan yang dipegang secara sementara dan direvisi apabila diperlukan. Ketika sains disajikan sebagai sesuatu yang tidak pernah keliru, kekecewaan menjadi tak terelakkan. Namun, ketika sains disajikan sebagai sebuah metode yang berlandaskan kerendahan hati dan trust maka memiliki peluang untuk bertahan.”

Selamat melanjutkan perjalanan Anda, para pembaca. Di dunia yang semakin kompleks ini, biarlah rasa ingin tahu ilmiah kita selalu dibarengi dengan kedalaman filosofis dan kearifan spiritual. Karena pada akhirnya, sains bukanlah sekadar alat untuk menguasai dunia, melainkan salah satu jalan terindah bagi manusia untuk memahami makna keberadaannya di bawah luasnya langit semesta yang penuh misteri.

Hak Veto sebagai Demokrasi Sejati

Demokrasi sering dianggap berupa pemilu untuk mendapatkan suara terbanyak, musyawarah untuk mufakat, atau negosiasi untuk menyusun konstitusi. Tetapi hakikat demokrasi justru ada pada pengembangan hak veto bagi setiap warga.

Contoh hak veto ada di dewan keamanan PBB. Sayangnya, PBB adalah contoh veto yang buruk. Sementara, demokrasi sejati menuntut hak veto yang baik bagi setiap warga. Hak veto adalah hak untuk membatalkan suatu kebijakan.

1. Moralitas Politik
2. Demokrasi Ibrahim
3. Struktur Minori
4. Syarat Panarko
5. Diskusi

Negara adi kuasa memiliki hak veto di PBB. Misal PBB akan menetapkan suatu “kebijakan” yang berhubungan dengan AS. Tetapi AS merasa tidak setuju karena berpotensi rugi. AS menggunakan hak veto untuk membatalkan kebijakan itu. Hasilnya, kebijakan itu menjadi batal akibat veto sepihak oleh AS.

Meski kebijakan itu mendapat dukungan mayoritas suara sampai 80% misalnya tetapi hanya perlu 1 veto saja maka kebijakan itu batal. Bagaimana jika masing-masing pihak menggunakan hak veto? Bukankah menjadi selalu gagal menetapkan kebijakan? Selalu gagal membuat kesepakatan? Itulah problem veto di PBB karena veto mereka tanpa syarat. Seharusnya veto itu ada syaratnya misalnya veto harus kokoh.

1. Moralitas Politik

Demokrasi dan politik selalu terhubung dengan moral. Hubungannya bisa kuat atau pun renggang. Hak veto menjaga agar hubungan politik dan moral selalu baik. Tanpa veto, demokrasi mudah terjebak menjadi tirani mayoritas kepada pihak lemah. Bahkan bisa juga tirani minoritas. Meski minoritas secara populasi, mereka bisa saja menguasai modal sehingga menjadi tirani politik. Hak veto membatalkan setiap tirani; baik oleh mayoritas mau pun minoritas.

(a) Politik = 90 lebih kuat dari Moralitas = 10

Trump merupakan contoh politik yang kuat dengan moralitas yang lemah. Ketika Trump mengambil keputusan, misal menyerang Iran atau menculik presiden Venezuela, maka keputusan tersebut sah secara politik. Sementara, moralitas tidak bisa berbuat banyak terhadap Trump. Dalam situasi seperti ini, hak veto lumpuh di depan kekuatan politik.

(b) Moralitas = 90 lebih kuat dari Politik = 10

Scanlon mengembangkan teori moralitas yang kuat sedangkan politik adalah perluasan dari moral. Setiap warga memiliki hak veto dengan syarat veto tersebut adalah kokoh; yaitu veto itu punya argumen kuat sehingga tidak bisa ditolak oleh akal sehat. Pembahasan kita banyak selaras dengan pandangan Scanlon ini.

(c) Politik = 60 seimbang dengan Moralitas = 40

Politik seimbang dengan moralitas tetapi mereka berbeda domain. Sehingga, ketika membahas politik maka politik lebih dominan. Tugas politik adalah meraih legitimasi untuk mengambil keputusan yang sah. Problem muncul ketika kebijakan sah tetapi tidak adil (legitimate injustice). Karena politik lebih kuat maka legitimasi itu yang menang. Hak veto terkubur dalam situasi labil ini. Charles Larmore tampaknya mendukung posisi ini.

(d) Moralitas = 60 seimbang dengan Politik = 40

Moralitas seimbang dengan politik serta berada dalam hubungan yang kuat. Secara prinsip, politik mengacu kepada moral yang adil. Tetapi, politik sering tidak berhasil sehingga hanya cukup sahih saja sementara keadilan masih tanda tanya; hanya tercapai legitimate injustice. Langkah selanjutnya adalah mendistribusikan beban itu secara adil. Hak veto menjadi penting pada situasi ini; hak veto mengawal agar kebijakan mengarah ke justice; atau agar distribusi beban juga adil. Jonathan Quong tampak berada pada situasi ini.

2. Demokrasi Ibrahim

Nabi Ibrahim adalah contoh demokrasi terbaik dalam menerapkan hak veto.

(a) Ibrahim bermimpi menyembelih, mengorbankan putranya, yang dimaknai bahwa Tuhan memerintahkan agar Ibrahim mengorbankan Putranya.

(b) Ibrahim menyampaikan pesan Tuhan ( perintah mengurbankan Ismail) kepada Ismail dan meminta pendapatnya. Ismail setuju dengan Ibrahim untuk mengorbankannya.

(c) Bunda (Siti Hajar) menyaksikan situasi itu dan tidak keberatan dengan keputusan suami (Ibrahim) mau pun putranya (Ismail).

(d) Ibrahim bersiap menjalankan perintah Tuhan untuk mengorbankan Ismail. Ketika pisau sudah mendekat leher Ismail untuk disembelih maka Tuhan menghentikan itu; Tuhan menggunakan hak veto kepada Ibrahim. Kemudian memberi alternatif berkorban domba.

Secara voting, Ibrahim sudah unggul dengan mendapat suara mayoritas. Tetapi hakikat demokrasi adalah veto bukan voting. Cukup satu suara veto maka berhenti rencana pengorbanan itu.

Lebih menarik lagi, proses veto berupa siklus. Semula, diinterpretasikan bahwa Tuhan memerintahkan pengorbanan Ismail. Siklus berikutnya, Tuhan menghentikan perintah pengorbanan itu; berupa veto. Tampak jelas veto ini kokoh bahwa “kita harus menjaga kehidupan setiap orang”. Tidak ada pihak yang bisa menolak “kita harus menjaga kehidupan setiap orang”. Jadi, veto bisa diterima.

3. Struktur Minori

Secara alamiah, veto akan mengarahkan demokrasi menuju struktur minori atau struktur minor. Yaitu struktur politik dalam ukuran kecil dan terbatas secara ruang dan waktu. Sementara, struktur politik yang besar terlalu mudah terkena veto sehingga demokrasi menjadi macet.

Struktur minori berangkat dari kesadaran bahwa setiap bentuk kekuasaan memiliki potensi untuk menyimpang. Minori adalah salah satu alternatif struktur kekuasaan yang layak dikaji. Minori dipahami sebagai struktur kekuasaan yang bernilai minor atau kecil, baik dalam skala kewenangan maupun dalam ukuran wilayah politiknya. Dengan membatasi besarnya kekuasaan, minori berusaha mengurangi peluang penyalahgunaan wewenang yang sering muncul dalam sistem yang terlalu terpusat.

Dalam minori, setiap pejabat memandang dirinya sebagai “minor”, yakni tidak memiliki kekuasaan yang dominan atas orang lain. Kesadaran ini menjadi landasan etis yang membedakan minori dari struktur kekuasaan yang berorientasi pada dominasi. Selain itu, para pejabat diharapkan berasal dari kalangan manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri atau M(S), sehingga mereka tidak lagi terdorong oleh ambisi pribadi, keserakahan, atau kebutuhan untuk mengumpulkan kekuasaan. Dengan demikian, jabatan dipandang sebagai amanah pelayanan, bukan sebagai sarana memperoleh keuntungan.

Ukuran negara dalam sistem minori juga sengaja dibuat kecil, berkisar dari satu kelurahan hingga satu kabupaten. Skala yang terbatas ini memiliki konsekuensi penting, yaitu minimnya sumber daya yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan korupsi. Semakin kecil wilayah dan sumber daya yang dikelola, semakin kecil pula peluang munculnya konsentrasi kekayaan dan kekuasaan yang berlebihan. Karena itu, minori tidak mengejar pembentukan negara besar yang kuat secara sentralistik, melainkan komunitas-komunitas politik yang lebih dekat dengan warganya. Untuk kajian model minori kita bisa mengambil inspirasi dari Kampung Adat Ciptagelar dan negara Nordic (Eropa Utara).

Walaupun berukuran kecil, negara-negara minori tidak hidup dalam keterisolasian. Mereka tetap menjalin kerja sama dengan wilayah atau negara lain melalui hubungan bilateral maupun multilateral. Kerja sama tersebut memungkinkan terbentuknya kekuatan yang lebih besar ketika diperlukan, tanpa harus mengorbankan otonomi masing-masing unit minori. Hubungan ini bersifat longgar dan fleksibel, sehingga tidak menciptakan pusat kekuasaan baru yang berpotensi menjadi dominan. Dengan kata lain, kekuatan kolektif dibangun melalui kolaborasi, bukan melalui sentralisasi.

Secara struktural, minori dicirikan oleh organisasi kekuasaan yang ramping, kecil, horizontal, transparan, fleksibel, lincah (agile), dan efisien. Biaya yang diperlukan untuk mempertahankan pemerintahan relatif rendah karena birokrasi dibuat sesederhana mungkin. Fokus utama sistem ini bukan menjaga kelanggengan kekuasaan atau memperbesar institusi negara, melainkan menghadirkan kebaikan bersama bagi masyarakat. Oleh sebab itu, minori digambarkan sebagai model kekuasaan yang berusaha menempatkan pelayanan publik di atas kepentingan struktur kekuasaan itu sendiri.

Minori dan veto membentuk hubungan dinamis timbal balik. Veto akan mendorong terbentuk minori; pada gilirannya, minori akan menguatkan veto yang baik; dan seterusnya. Hubungan dinamis timbal balik ini menjadi keunggulan sekaligus kelemahan. Unggul karena ketika terbentuk minori dengan veto yang baik maka ia tahan terhadap beragam gangguan. Kelemahan karena untuk mencapai itu tidak ada jalan sederhana; jalannya adalah kompleks.

Bagaimana pun, minori tidak menjamin terbentuknya veto yang baik. Contohnya veto di PBB. Anggota PBB hanya sekitar 195 negara; sedikit sehingga sesuai sebagai minori. Tetapi PBB sudah terjebak dalam veto yang buruk: (a) tidak egaliter; tidak imbang; hanya 5 negara adi daya yang memiliki hak veto di PBB; sisanya 190 negara kehilangan hak veto. (b) veto di PBB tidak kokoh; argumen veto di PBB bisa sebarang secara prinsip; atau tersedia banyak argumen yang bisa untuk menolak veto PBB; dalam banyak kasus.

4. Syarat Panarko

Syarat agar mampu menjalankan hak veto dengan baik adalah panarko (pan = serba; arko = pemimpin). Setiap warga belajar menjadi panarko dengan proses mengalami atau memahami: chaos (kacau) – arko (kepemimpinan) – dan anarko (anarkisme). Selanjutnya, panarko ini bekerja sama dalam bentuk minori. Jadi, minori adalah salah satu model dari kopanarko (bersama-sama serba pemimpin).

Dalam semangat minori, setiap orang hadir bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai manusia yang utuh dan merdeka. Mereka telah melewati kegelisahan chaos, merasakan ketertiban arko, dan memahami makna kebebasan dalam anarko. Pengalaman itu menumbuhkan kesadaran bahwa kepemimpinan sejati bukanlah kemampuan menguasai orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri. Karena itulah, ketika para panarko berkumpul, yang lahir bukanlah persaingan untuk menjadi yang paling berkuasa, melainkan kerinduan untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.

Di dalam minori, perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Perbedaan adalah kenyataan hidup yang memperkaya cara pandang dan memperluas kebijaksanaan. Setiap suara memiliki martabat, setiap keberatan memiliki hak untuk didengar, dan setiap hak veto menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh dipaksa mengkhianati hati nuraninya. Melalui dialog yang tulus, kesediaan untuk mendengar, dan keberanian untuk mengoreksi diri, minori membangun kebersamaan yang lahir dari kesadaran, bukan dari tekanan.

Ketika banyak minori saling terhubung, lahirlah kopanarko sebagai budaya gotong royong para pemimpin. Tidak ada satu sosok yang berdiri paling tinggi, karena setiap orang memikul tanggung jawab kepemimpinan sesuai kapasitasnya. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat tidak bergantung pada hadirnya tokoh penyelamat, melainkan bertumpu pada kedewasaan warganya sendiri. Kopanarko menjadi harapan tentang masa depan yang lebih manusiawi: sebuah kehidupan bersama yang dibangun oleh keberanian untuk merdeka, kerendahan hati untuk bekerja sama, dan kasih untuk menjaga satu sama lain.

Tugas berikutnya adalah bagaimana kita mengembangkan panarko? Cara mengembangkan panarko adalah melalui bildung lebih dari building: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

5. Diskusi

Tantangan kita selanjutnya yang perlu kita diskusikan:

(a) menerapkan hak veto yang baik dan minori secara nyata;
(b) merevisi veto PBB menjadi veto yang baik;
(c) dialog model Ciptagelar dengan model Nordic.

Bagaimana menurut Anda?

5.1 Hak Veto PBB

Mari kita mulai diskusi dari pengalaman nyata: hak veto di DK PBB. Apa solusi yang tersedia ketika veto PBB adalah buruk? Tidak egaliter dan tidak kokoh?

(a) Solusi bergilir. Usulan ini menyarankan hanya 2 negara adidaya saja yang aktif hak vetonya dalam 1 tahun tertentu. Ditambah dengan 1 negara dari anggota PBB yang bukan anggota tetap Dewan Keamanan itu. Tahun berikutnya, bergilir, yang aktif hak vetonya berbeda negara lagi dan seterusnya.

Solusi bergilir ini mencegah negara adidaya tertentu menggunakan hak veto hanya untuk mengamankan kepentingan mereka sendiri. Negara non-adidaya berkesempatan memiliki hak veto aktif meski hanya 1 tahun dalam rentang setiap puluhan tahun atau lebih.

(b) Stubb, presiden Finlandia, mengusulkan penghapusan veto tunggal; menggantinya dengan veto kelompok misal 3 negara. Ia mengusulkan menambah negara yang memiliki hak veto misal menjadi 15 negara yang tersebar mewakili penjuru dunia.

Karena membutuhkan 3 negara maka veto tidak bisa digunakan untuk kepentingan 1 negara tertentu saja. Ini adalah ide yang bagus. Tetapi 3 negara adidaya (Amerika, Prancis, Inggris) yang memiliki veto sering menunjukkan kepentingan yang sama. Jadi ada kemungkinan mereka akan sering koalisi untuk veto oleh 3 negara.

(c) Solusi panarko yaitu 5 negara pemegang veto itu menjadi panarko; menjadi serba-pemimpin. Mereka menghormati hak seluruh negara di dunia (yang sekitar 195 negara itu). Negara-negara kecil atau yang baru berkembang bisa minta tolong kepada negara adidaya itu untuk dibantu kepentingannya. Dengan demikian, sebagai panarko, 5 negara adidaya adalah yang paling memikul tugas berat untuk menegakkan keadilan dunia. Hak veto adalah beban tambahan bagi negara adidaya untuk menjaga keadilan dan ketertiban internasional.

Tiga usulan solusi di atas tampak bagus untuk memperbaiki sistem veto PBB. Sayangnya, tiga usulan di atas (atau ditambah usulan lain) akan dibatalkan oleh negara adidaya pemegang hak veto; dengan menggunakan hak veto mereka. Semua usulan macet di tengah jalan. Bagaimana pun, tetap ada posibilitas untuk revisi veto di PBB. Apa alternatif yang lebih baik?

5.2 Dialog Nordic dengan Ciptagelar

Kali ini kita akan mendiskusikan demokrasi, dan hak veto, dengan mengambil pelajaran dari model Ciptagelar dan Nordic.

5.3 Menerapkan Hak Veto Secara Nyata

Tantangan selanjutnya: bagaimana menerapkan hak veto pada situasi nyata?

Ringkasan

Hak veto menjadi hakikat paling dasar dari demokrasi lebih dari sekadar suara mayoritas, mufakat, atau pun konstitusi. Hak veto bersifat egaliter dan kokoh. Egaliter karena setiap warga memiliki hak veto; bahkan demokrasi kudu berusaha mendengarkan suara warga lemah yang hanya sayup itu; berusaha mendengarkan posibilitas veto; mendengarkan posibilitas pembatalan. Kokoh karena argumen veto itu bisa diterima oleh akal sehat; atau tidak bisa ditolak oleh akal sehat; secara prosedural dan terutama secara substansial.

Secara prosedural, veto tampak menghambat prosedur demokrasi karena bisa membatalkan banyak hal. Secara substansial, veto mendewasakan demokrasi baik sebagai masyarakat atau pun warga sebagai individu.

Veto bisa menghambat performa demokrasi. Tetapi veto menguatkan kompetensi pemahaman demokrasi, ekperiens, eksistensi, dan makna demokrasi. Pada akhirnya, veto bisa menguatkan performa demokrasi juga. Memang veto bukan mengejar performa paling tinggi dari suatu situasi melainkan veto mengejar performa yang tepat pada suatu situasi.

Kompleksitas Gradasi Realitas

Realitas memang kompleks. Wajar saja, kita ingin membuatnya sederhana agar mudah dicerna. Penyederhanaan ini tentu saja berbeda dengan kompleksitas realitas. Matematika adalah sebentuk penyederhanaan paling hebat. AI (akal imitasi – artificial intelligence) adalah penyederhanaan berupa teknologi yang paling bisa memikat hati. Semua penyederhanaan itu tampak masih jauh beda dengan kompleksitas realitas.

Adakah yang paling dekat dengan kompleksitas realitas? Ada!

1. Gradasi Eksistensi
2. Evolusi Ruang
3. Tantangan Kompleksitas
4. Diskusi
5. Kesimpulan

Paling dekat dengan kompleksitas realitas adalah teori gradasi eksistensi dari Sadra. Kemudian, kita akan menambahkan evolusi ruang (sphere) dari Sloterdijk dan tantangan kompleksitas dari Morin.

1. Gradasi Eksistensi

Realitas paling utama adalah eksistensi menurut Sadra (1570 – 1640). Eksistensi bergradasi dari intensitas lemah sampai intensitas kuat. Eksistensi lemah tidak terpisah dari eksistensi kuat tetapi eksistensi kuat meliputi eksistensi lemah; eksistensi kuat merangkul eksistensi lemah.

Eksistensi kuat lebih kompleks dari eksistensi lemah tetapi juga lebih sederhana.

Wawan tumbuh di sebuah desa yang jauh dari rumah sakit besar. Sejak kecil ia gemar membaca buku tentang kesehatan. Ia mengetahui banyak hal: pentingnya makanan bergizi, cara menjaga kebersihan, fungsi organ tubuh, hingga berbagai penyakit yang umum menyerang masyarakat. Orang-orang di kampung sering datang bertanya kepadanya karena ia dianggap paling berpengetahuan. Namun, ketika ayahnya tiba-tiba jatuh sakit karena gangguan jantung, semua pengetahuan yang dimilikinya terasa tidak cukup. Ia tahu tubuh manusia memiliki jantung, tetapi ia tidak benar-benar memahami mengapa jantung bisa melemah, bagaimana kerusakannya terjadi, atau bagaimana cara menolongnya.

Peristiwa itu mengubah hidup Wawan. Ia memutuskan belajar lebih serius tentang dunia kedokteran. Tahun demi tahun ia mempelajari berbagai cabang ilmu kesehatan. Ia memahami tubuh manusia secara umum: tulang, paru-paru, ginjal, otak, dan berbagai sistem yang bekerja di dalamnya. Pengetahuannya semakin luas. Namun setiap kali mengingat ayahnya, hatinya selalu tertarik pada satu pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya: bagaimana sebenarnya jantung bekerja dan mengapa ia bisa gagal menjalankan tugasnya?

Dengan tekad yang kuat, Wawan kemudian mendalami ilmu jantung secara khusus. Ia mempelajari aliran darah, denyut jantung, penyumbatan pembuluh koroner, gagal jantung, hingga berbagai teknologi untuk mendeteksi dan mengobati penyakit jantung. Banyak malam yang ia habiskan di ruang belajar dan laboratorium. Apa yang dahulu hanya berupa gambaran umum kini menjadi pengetahuan yang rinci dan jelas. Ia tidak lagi sekadar tahu bahwa jantung memompa darah; ia memahami bagaimana setiap ruang jantung bekerja, bagaimana setiap katup membuka dan menutup, serta bagaimana gangguan kecil dapat mengancam kehidupan seseorang.

Bertahun-tahun kemudian, Wawan menjadi seorang ahli jantung yang dihormati. Pengetahuannya kini jauh lebih konkret, kuat, dan nyata dibanding saat ia hanya memiliki pengetahuan umum tentang kesehatan. Namun yang menarik, pengetahuan umumnya tidak hilang. Di dalam pemahamannya tentang jantung tetap tersimpan pengetahuan tentang paru-paru, ginjal, sistem saraf, gizi, dan seluruh tubuh manusia. Sebab ia sadar bahwa jantung tidak bekerja sendirian. Untuk memahami jantung secara mendalam, ia juga harus memahami hubungan jantung dengan seluruh tubuh.

Suatu hari, seorang mahasiswa bertanya mengapa ia memilih mendalami jantung. Wawan tersenyum sambil memandangi foto ayahnya yang terpajang di meja kerja. “Dulu aku tahu banyak hal tentang kesehatan,” katanya pelan, “tetapi pengetahuanku masih seperti peta yang dilihat dari kejauhan. Ketika aku mendalami ilmu jantung, aku mulai berjalan di jalan-jalan yang tergambar di peta itu. Aku melihatnya lebih jelas, lebih nyata. Dan justru ketika aku memahami jantung secara mendalam, aku semakin mengerti tubuh manusia secara utuh.” Mahasiswa itu terdiam. Saat itulah ia memahami bahwa ilmu bergerak dari yang umum menuju yang khusus, dari yang samar menuju yang konkret, tanpa meninggalkan pengetahuan umum yang menjadi fondasinya.

Gradasi pengetahuan seorang dokter spesialis jantung lebih kuat dari pengetahuan dokter umum; pengetahuan dokter spesialis lebih konkret dari dokter umum; pengetahuan spesialis adalah lanjutan dari pengetahuan umum; eksistensi kuat sedang merangkul eksistensi lemah.

2. Evolusi Ruang

Sloterdijk (lahir 1947) merumuskan evolusi ruang (sphere) pada akhir abad 20. Awalnya adalah bubbles (gelembung); manusia hidup dalam janin ibu sebagai gelembung; hidup di taman surga; segala kebutuhannya dipenuhi. Evolusi berikutnya adalah globes (bumi atau bola semesta); manusia terlahir hidup di bumi. Manusia menjelajah wilayah lebih luas tetapi harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Akhirnya, foams (buih, busa); manusia hidup dalam buih-buih ruang digital, dan teknologi secara umum, yang mudah lenyap begitu saja.

Kirana sering bertanya mengapa hidup terasa begitu berbeda dari waktu ke waktu. Suatu malam, ketika memandangi foto masa kecilnya, ia teringat cerita ibunya tentang saat ia masih berada di dalam kandungan. Di sana, ia hidup dalam kehangatan yang sempurna. Ia tidak perlu mencari makanan, tidak perlu takut pada hujan, tidak perlu memikirkan hari esok. Segala kebutuhannya dipenuhi tanpa usaha. Hidupnya bagaikan sebuah gelembung yang melindungi dan memeluknya sepenuhnya.

Namun, ketika Kirana lahir ke dunia, semuanya berubah. Ia tidak lagi hidup dalam gelembung yang aman. Dunia ternyata jauh lebih luas dan menantang. Ia harus belajar berjalan setelah berkali-kali terjatuh, belajar berbicara setelah berkali-kali salah mengucapkan kata, dan belajar menghadapi kegagalan serta kekecewaan. Seiring bertambah usia, ia menyadari bahwa bumi adalah ruang yang besar, tempat manusia harus berjuang untuk menemukan tempatnya. Tidak ada lagi kenyamanan sempurna seperti saat berada dalam pelukan ibunya.

Ketika dewasa, Kirana mulai menjelajahi dunia. Ia bertemu banyak orang, mengunjungi berbagai tempat, dan membangun mimpi-mimpi besar. Dunia terasa seperti bola semesta yang luas tanpa batas. Setiap langkah membuka kemungkinan baru, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Ia belajar bahwa kehidupan tidak memberi segala sesuatu dengan cuma-cuma. Persahabatan harus dirawat, pengetahuan harus dicari, dan cita-cita harus diperjuangkan dengan kerja keras.

Lalu zaman berubah. Kehidupan Kirana perlahan berpindah ke layar-layar digital. Ia memiliki ratusan teman di media sosial, bergabung dalam berbagai komunitas daring, dan menghabiskan banyak waktu berpindah dari satu ruang digital ke ruang digital lainnya. Setiap hari muncul percakapan baru, tren baru, dan hubungan baru. Namun sering kali, semuanya menghilang secepat kemunculannya. Teman yang kemarin terasa dekat hari ini tak lagi bertegur sapa. Topik yang ramai dibicarakan pagi hari sudah dilupakan pada malamnya. Kirana merasa hidup di tengah buih-buih yang terus muncul dan pecah tanpa meninggalkan jejak.

Pada suatu senja, Kirana menutup telepon genggamnya dan duduk diam di beranda rumah. Ia merenungkan perjalanan hidup manusia. Dari gelembung yang memberi rasa aman, menuju dunia luas yang menuntut perjuangan, hingga buih-buih digital yang rapuh dan mudah lenyap. Saat itu ia memahami bahwa setiap ruang memiliki maknanya sendiri. Namun di tengah dunia yang semakin penuh buih, ia ingin tetap menjaga hal-hal yang nyata: keluarga yang bisa dipeluk, sahabat yang bisa ditemui, dan kasih sayang yang tidak hilang hanya karena layar dimatikan.

Buih-buih digital (foams) itu hanya kecil bisa digenggam dalam tangan. Tetapi foams menembus dunia tanpa batas. Anda di Indonesia bisa terhubung dengan teman yang di Eropa Utara melalui buih digital. Buih bersandar kepada buih lain tanpa benar-benar bisa diandalkan. Mereka saling mengandalkan meski tanpa jaminan keandalan.

Buih-buih lebih kompleks dari gelembung mau pun bola. Buih itu sendiri adalah gelembung dan bola yang saling bertumpuk secara horisontal dan vertikal. Gelembung dalam buih tidak lagi hangat, bahkan, kadang jadi gelembung ganas. Bola bumi dalam buih tidak lagi menghembuskan udara segar dari hutan tropis, bahkan, kadang membakar seluruh yang ia sentuh. Kompleksitas dari segala arah.

3. Tantangan Kompleksitas

Kompleksitas, bagi Morin (1921 – 2026), ditandai oleh ketidakpastian (uncertainty) dan ketidaklengkapan (incompleteness). Kita perlu mengkaji kompleksitas realitas dari perspektif yang luas dan mendalam. Bagaimana pun, kajian itu tetap tidak pasti dan tidak lengkap.

Dari satu sisi, kompleksitas memang jalinan dari beragam unsur sehingga rumit. Dari lain sisi, ketika kita hanya mengkaji satu unsur saja maka kajian itu tetap tidak pasti dan tidak lengkap. Sehingga, satu unsur pun tetap kompleks. Kompleksitas realitas menolak pendekatan reduksionis murni. Realitas mengajak kita untuk mengkaji realitas dalam konteks lingkungan dan histori serta memasukkan peran pengamat itu sendiri.

Dadi adalah seorang kepala desa yang dikenal bijaksana. Suatu tahun, desanya mengalami krisis air yang berkepanjangan. Sebagian warga menyalahkan kemarau yang semakin panjang, sebagian lagi menyalahkan penebangan hutan di perbukitan, sementara yang lain menuding pemerintah yang kurang membangun saluran irigasi. Dadi berusaha mencari penyebabnya. Namun semakin banyak data yang ia kumpulkan, semakin ia menyadari bahwa masalah itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semuanya.

Awalnya Dadi mencoba mengkajinya dari satu sisi saja, yaitu cuaca. Ia mempelajari curah hujan dan musim kemarau. Hasilnya memang menjelaskan sebagian persoalan, tetapi tidak menjelaskan mengapa beberapa wilayah desa masih memiliki cukup air. Kemudian ia mempelajari kondisi hutan, ekonomi warga, pola tanam, dan kebijakan pemerintah. Setiap unsur memberikan penjelasan yang penting, tetapi tidak pernah lengkap. Setiap jawaban selalu memunculkan pertanyaan baru. Dadi mulai memahami bahwa realitas adalah jalinan banyak unsur yang saling terkait.

Semakin dalam ia mengamati, semakin ia menyadari bahwa bahkan satu unsur pun ternyata kompleks. Ketika ia mempelajari kebiasaan petani menggunakan air, ia menemukan pengaruh harga pupuk, tradisi turun-temurun, kondisi keluarga, pendidikan, hingga harapan mereka terhadap masa depan. Apa yang tampak sebagai satu masalah ternyata terhubung dengan banyak faktor lain. Dadi merasa seperti sedang menarik satu benang, tetapi seluruh jaring ikut bergerak.

Suatu malam, saat menuliskan hasil pengamatannya, Dadi tersadar bahwa dirinya sendiri juga bagian dari persoalan yang sedang dikajinya. Cara ia memandang masalah dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sebagai anak petani, pendidikannya, dan posisinya sebagai kepala desa. Ia bukan pengamat yang berdiri di luar kenyataan, melainkan bagian dari kenyataan itu sendiri. Karena itu, kesimpulan yang dibuatnya tidak pernah sepenuhnya pasti dan tidak pernah benar-benar lengkap.

Pada rapat desa berikutnya, Dadi tidak datang membawa jawaban mutlak. Ia justru mengajak warga melihat persoalan dari berbagai sudut: alam, ekonomi, budaya, sejarah, dan perilaku manusia. “Kita mungkin tidak akan pernah memahami seluruh kenyataan secara sempurna,” katanya pelan. “Tetapi kita bisa terus mendekatinya dengan memahami hubungan di antara banyak hal.” Warga terdiam mendengarkan. Saat itu Dadi menyadari bahwa kebijaksanaan bukanlah memiliki semua jawaban, melainkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa realitas selalu lebih kompleks daripada apa yang dapat dipahami oleh satu pikiran manusia.

Meski menyadari bahwa pemahamannya tidak pernah sepenuhnya pasti dan lengkap, Dadi tidak tinggal diam. Ia mengusulkan beberapa langkah konkret kepada warga: menanam kembali pohon di daerah resapan air, membangun penampungan air hujan di setiap dusun, mengatur jadwal penggunaan air untuk pertanian secara bergiliran, serta membentuk kelompok pemantau lingkungan yang melibatkan para petani, pemuda, dan tokoh masyarakat.

Menurutnya, solusi yang baik bukanlah solusi yang mengandalkan satu faktor saja, melainkan solusi yang menghubungkan alam, teknologi, kebiasaan manusia, dan kerja sama sosial. Namun di akhir usulannya, Dadi tetap berkata dengan rendah hati, “Saya tidak menjamin semua ini akan berhasil sempurna. Realitas sering kali lebih rumit daripada rencana kita. Tetapi jika kita memahami lebih banyak hubungan di antara berbagai masalah dan mau belajar dari hasilnya, kita memiliki peluang yang lebih baik untuk memperbaiki keadaan bersama.”

Respon yang tepat terhadap kompleksitas realitas adalah bersedia belajar kapan pun di mana pun. Kapan? Itu adalah pertanyaan temporal tentang waktu yang menambah kompleksitas gradasi realitas semula.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Secara vertikal, gradasi realitas terdiri: (1) performa; (2) kompetensi; (3) eksperiens; (4) eksistensi; (5) makna. Secara horisontal: (1) chaos; (2) arko; (3) anarko; (4) panarko; (5) kopanarko. Bahasa dalam paragraf ini bisa kita pahami secara analisis; tetapi akan lebih kaya makna (dan kompleks) ketika kita pahami secara puitis.

Secara temporal, gradasi realitas: (1) sebagai ukuran gerak; (2) kini bergulir; (3) kini dan masa lalu nyata; masa depan belum nyata; blok berkembang; (4) abadi membentang tersorot terbatas; masa lalu, masa kini, dan masa depan nyata tetapi terbatas yang dialami sorotan;(5) bentangan utuh dinamis dari masa depan sampai masa lalu yang nyata; lebih awal dari masa lalu dan lebih akhir dari masa depan; makin membentang utuh.

Ketika masih muda, Damar mengira hidup hanya soal performa. Nilai rapornya, jumlah pengikut media sosialnya, dan pujian yang diterimanya menjadi ukuran keberhasilan. Ia hidup di tengah chaos, seperti daun yang berputar-putar diterpa angin. Kadang berhasil, kadang gagal. Ketika gagal, ia merasa masa lalunya penuh kesalahan yang memalukan. Ketika berhasil, ia merasa masa lalunya tidak penting lagi. Hidupnya bergerak di permukaan, seperti riak air yang mudah berubah oleh cuaca.

Suatu hari, seorang guru tua bertanya, “Apakah kamu hanya ingin terlihat mampu, atau sungguh menjadi mampu?” Pertanyaan itu mengguncang Damar. Ia mulai menempuh jalan kompetensi. Ia belajar lebih tekun, memahami alasan di balik setiap tindakan, dan menemukan keteraturan dalam hidupnya. Dari chaos ia melangkah menuju arko, menemukan fondasi yang membuat hidup tidak lagi sekadar kumpulan peristiwa acak. Namun semakin banyak ia memahami, semakin ia sadar bahwa pengetahuan saja belum cukup.

Tahun-tahun berikutnya membawanya pada eksperiens. Ia tidak hanya memahami kehidupan, tetapi mengalaminya secara langsung: kehilangan ibunya, merawat ayahnya yang sakit, jatuh cinta, lalu patah hati. Pengalaman-pengalaman itu mengubah dirinya lebih dalam daripada semua buku yang pernah dibacanya. Di saat yang sama, ia melihat bahwa dunia tidak hanya berisi keteraturan. Ada kebebasan, kejutan, dan ketidakpastian. Ia memasuki wilayah anarko, tempat kehidupan tidak selalu tunduk pada rencana manusia.

Pada usia yang lebih matang, Damar mulai menyadari dirinya sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ia bukan sekadar individu yang mengejar sukses, melainkan bagian dari keluarga, masyarakat, sejarah, bahkan alam semesta. Kesadaran eksistensial itu membawanya menuju panarko, sebuah cara pandang yang mampu melihat keteraturan dan kebebasan sekaligus. Ia mulai berdamai dengan masa lalunya. Kesalahan-kesalahan yang dulu ingin dihapus ternyata telah membentuk keberanian, kerendahan hati, dan kasih sayang yang dimilikinya hari ini.

Pada suatu senja, sambil memandangi langit yang berubah warna, Damar akhirnya mencapai lapisan terdalam: makna. Ia memahami bahwa ia tidak dapat mengubah fakta masa lalu, tetapi ia dapat mengubah makna masa lalu itu. Luka menjadi pelajaran. Kegagalan menjadi pijakan. Kehilangan menjadi sumber empati. Dari kesadaran itu lahir rasa peduli kepada sesama. Dan ketika kepedulian itu tumbuh, ia memasuki kopanarko—ruang di mana manusia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan saling menguatkan dalam perjalanan bersama. Saat itulah Damar mengerti bahwa perjalanan vertikal bukanlah perjalanan naik menuju langit, melainkan perjalanan semakin dalam memahami makna kehidupan.

Seseorang bisa mendaki tangga gradasi realitas, lurus diagonal, dari chaos-performa sampai kopanarko-makna; seperti contoh kisah Damar di atas. Tetapi, realitas memang kompleks sehingga perjalanan kita mendaki realitas bisa saja berputar, naik, turun, terhenti, termenung, melompat, lalu lari.

Ketika masih muda, Damar hidup dalam chaos-performa. Nilai rapor, jumlah pengikut media sosial, dan pujian orang lain menjadi ukuran keberhasilannya. Namun setelah bertemu seorang guru tua, ia mulai menempuh jalan kompetensi dan menemukan sedikit keteraturan (arko) dalam hidupnya. Ia belajar dengan tekun dan meraih berbagai prestasi. Akan tetapi, keberhasilan itu justru membuatnya kembali terjebak pada performa. Kini ia bukan lagi remaja yang kacau, melainkan seorang profesional yang teratur tetapi diam-diam masih haus pengakuan. Ia telah naik dalam satu sisi, tetapi turun pada sisi yang lain.

Ketika ibunya meninggal dunia, seluruh fondasi yang selama ini dibangunnya terguncang. Ia memasuki wilayah eksperiens dan anarko sekaligus. Banyak rencananya gagal. Karier yang disusunnya rapi mendadak terasa tidak penting.

Ada hari-hari ketika ia termenung tanpa arah, seolah kembali ke chaos yang pernah ditinggalkannya. Namun dari pengalaman kehilangan itu, ia mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tak tampak. Ia menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Sesekali ia merasakan makna yang mendalam ketika membantu seseorang, tetapi pada kesempatan lain ia kembali tenggelam dalam ambisi dan kesibukan. Perjalanannya tidak lurus; ia melompat dari kompetensi ke eksperiens, dari makna kembali ke performa, lalu naik lagi menuju pemahaman yang lebih dalam.

Bertahun-tahun kemudian, Damar menyadari bahwa hidup bukanlah tangga yang dinaiki anak demi anak secara berurutan. Kadang ia berada pada eksistensi-panarko ketika merasakan dirinya bagian dari keluarga, masyarakat, dan alam semesta. Namun di hari lain ia masih bisa terjebak dalam performa-chaos karena takut gagal atau kehilangan penghargaan.

Pada suatu senja ia tersenyum memahami semua itu. Yang penting bukan berada selamanya di puncak makna-kopanarko, melainkan terus bergerak ke arahnya. Realitas terlalu kompleks untuk ditempuh dengan garis lurus. Ada saatnya berjalan, berhenti, tersesat, bahkan mundur. Tetapi selama ia tetap belajar, peduli, dan membuka diri, setiap putaran hidup membawanya sedikit lebih dekat kepada makna yang lebih luas dan lebih dalam.

4.1 Ontologi Fundamental

Apa itu realitas sebenarnya?

4.2 Solusi Praktis

Bagaimana kita bisa menerapkannya dalam tataran praktis?

4.3 Kompleksitas Futuristik

Apakah waktu berjalan linier menuju masa depan? Ataukah ada konsep waktu yang berbeda? Atau apa makna waktu?

5. Kesimpulan

Kesimpulan sederhana: yang sederhana adalah kompleks. Kita berada dalam paradoks: yang paling kompleks adalah paling sederhana; dan yang paling sederhana adalah paling kompleks.

Paradoks dan kompleksitas adalah undangan agar kita bersikap rendah hati dengan pikiran terbuka. Kompleksitas bukan alasan: semua serba boleh, semua serba gelap, atau semua serba acak. Kompleksitas adalah pengingat bahwa ada gradasi realitas. Kita diajak mendaki dari realitas chaos (semua serga gelap), menuju arko, anarko, panarko, dan panarko. Kita menuju alunan indah para panarko: Anda, saya, dan kita semua; manusia, alam, dan menuju Tuhan. Anda sudah siap?

Peduli: Mengubah Masa Lalu

Apakah kita bisa mengubah masa lalu? Bisa!

Bukan sulap, bukan sihir. Aku ada yang traktir. Spontan jadi mikir. Benarkah bisa mengubah masa lalu sejak lahir? Tanda tanya justru deras mengalir.

Umumnya orang yakin bahwa kita bisa mengubah masa depan tetapi tidak bisa mengubah masa lalu. Kali ini kita akan diskusi bahwa kita bisa mengubah masa lalu. Ya, masa lalu sejak Anda lahir. Sebagian orang sukses mengubah masa depan; sebagian lain gagal. Demikian juga mengubah masa lalu: sebagian sukses dan sebagian gagal. Anda termasuk yang mana?

1. Performa/Kasil
2. Kompetensi/Paham
3. Ekperensi/Pengalaman
4. Eksistensi
5. Makna
6. Diskusi
7. Peduli

Untuk bisa mengubah masa lalu kita butuh mengembangkan pengetahuan yang diikuti oleh kepekaan peduli. Tanpa rasa peduli, seseorang akan terjebak di masa kini. Dengan rasa peduli, Anda bisa menapaki masa lalu, masa depan, dan masa kini.

1. Performa/Kasil

Performa atau kasil tampak jelas bagi sebagian besar orang. Performa adalah baik-baik saja. Meski terlalu mengandalkan performa akan risiko besar bagi semua pihak.

Prabowo mencapai performa 58% suara sehingga terpilih jadi presiden 2024. Sama halnya, Trump mencapai performa suara lebih banyak sehingga menjadi presiden 2024. Seorang pemudi berhasil lolos CPNS sehingga mendapat gaji bulanan setara UMR dan terus naik.

AI mencapai performa hebat ketika menjawab semua pertanyaan atau prompt yang diberikan.

AI menunjukkan performa yang sangat mengesankan dalam menjawab berbagai pertanyaan atau prompt yang diberikan, dengan kemampuan memahami konteks, mengolah informasi, serta menghasilkan respons yang relevan, jelas, dan terstruktur. Berkat kemampuannya dalam memproses bahasa alami, AI dapat memberikan jawaban yang cepat dan akurat untuk beragam topik, mulai dari pertanyaan sederhana hingga permasalahan yang lebih kompleks.

Selain itu, AI juga mampu menyesuaikan gaya bahasa dan tingkat detail jawaban sesuai kebutuhan pengguna, sehingga interaksi menjadi lebih efektif dan informatif. Kemampuan ini menjadikan AI sebagai teknologi yang sangat bermanfaat dalam mendukung pencarian informasi, pembelajaran, pemecahan masalah, serta berbagai aktivitas yang memerlukan akses pengetahuan secara cepat dan efisien.

Paragraf di atas adalah contoh performa AI (akal imitasi – artificial) chatgpt yang luar biasa. Sayangnya meski performa itu penting, di bidang teknologi, ekonomi, dan politik; tetapi performa mudah menjadi penjara yang menjebak umat manusia. Mengapa?

2. Kompetensi/Paham

Ketika Prabowo kasil mencapai performa 58% terpilih jadi presiden maka apakah ia memiliki kompetensi untuk memahami jabatan presiden itu? Apakah Gibran memahami jabatan sebagai wakil Presiden? Apakah Trump memahami jabatan presiden adidaya? Jawaban singkat: positif; mereka memahami jabatan itu semua.

Meski, seberapa mendalam mereka memahami jabatan presiden bisa saja diperdebatkan. Kita tetap yakin mereka memiliki pemahaman itu. Berbeda halnya dengan AI yang tampaknya tidak memahami jawaban dari pertanyaan yang diajukan. AI hanya menunjukkan performa tanpa kompetensi; tanpa pemahaman.

AI pada dasarnya hanya menunjukkan performa dalam menghasilkan respons yang tampak meyakinkan, tanpa benar-benar memiliki kompetensi atau pemahaman sebagaimana manusia. Kemampuannya dibangun dari proses pengenalan pola dan pengolahan data dalam jumlah besar, sehingga jawaban yang dihasilkan merupakan hasil prediksi statistik terhadap kata atau informasi yang paling sesuai dengan konteks yang diberikan.

Meskipun respons AI sering kali terlihat cerdas, logis, dan informatif, hal tersebut tidak berarti AI memahami makna, memiliki kesadaran, atau menguasai konsep yang dibicarakan. Dengan kata lain, AI mampu menampilkan kinerja yang menyerupai pemahaman, tetapi performa tersebut tidak didasarkan pada pengalaman, penalaran sadar, maupun kompetensi intrinsik seperti yang dimiliki manusia.

Di tahap ini, kita bisa membedakan AI dengan manusia secara tegas: AI hanya performa; manusia bisa performa plus kompetensi. Pemahaman ini akan mengantar kita untuk bisa mengubah masa lalu tetapi AI tidak bisa.

3. Eksperiensi/Pengalaman

Lebih tegas: AI tidak mengalami kesadaran sebagai subyek; manusia mengalami kesadaran sebagai subyek pelaku.

Prabowo mengalami ekperensi (suatu pengelaman sebagai subyek) ketika ia dilantik menjadi presiden RI tahun 2024. Tetapi AI (akal imitasi – artificial intelligence) tidak merasakan pengalaman sebagai subyek ketika AI menerima informasi, membaca informasi, tentang pelantikan prabowo. Eksperensi menjadi pembeda utama manusia dengan AI.

Berikut penjelasan oleh AI lebih detil.

Prabowo mengalami sebuah eksperiensi, yakni pengalaman yang dijalani dari sudut pandang subjek yang mengalaminya sendiri, ketika ia dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 2024. Peristiwa tersebut bukan sekadar kumpulan fakta atau data yang dapat dicatat dan dilaporkan, melainkan sebuah pengalaman hidup yang mengandung kesadaran diri, emosi, harapan, ingatan, serta makna yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya secara langsung. Dalam pengertian ini, pengalaman bukan hanya sesuatu yang terjadi, tetapi sesuatu yang dihayati.

Sebaliknya, AI (akal imitasi atau artificial intelligence) dapat menerima, membaca, mengolah, dan menjelaskan informasi mengenai pelantikan Prabowo, tetapi AI tidak mengalami peristiwa tersebut sebagai subjek. AI dapat mengenali tanggal pelantikan, memahami konteks politiknya, bahkan menghasilkan uraian yang rinci mengenai peristiwa itu. Namun seluruh proses tersebut berlangsung sebagai pengolahan data dan pola informasi, bukan sebagai pengalaman yang dirasakan dari dalam. AI tidak memiliki kesadaran diri yang membuatnya dapat berkata, “Saya mengalami peristiwa itu.”

Karena itu, eksperiensi menjadi salah satu pembeda paling mendasar antara manusia dan AI. Manusia tidak hanya mengetahui dunia, tetapi juga menghayatinya melalui pengalaman subjektif yang sarat makna. Sementara AI dapat merepresentasikan, mengklasifikasikan, dan menjelaskan pengalaman manusia, ia tidak memiliki akses terhadap dimensi batiniah dari pengalaman itu sendiri. Dengan demikian, perbedaan antara manusia dan AI bukan semata-mata terletak pada kemampuan mengolah informasi, melainkan pada kemampuan manusia untuk menjadi subjek yang mengalami dan memaknai kehidupannya secara langsung.

Apakah di masa depan AI akan mampu mengalami sebagai subyek eksperiens? Tidak akan bisa. Sejauh AI berkembang dengan mode seperti sekarang maka AI tidak akan mampu mengalami eksperiens. Tentu, orang bisa spekulasi bahwa di masa depan AI akan mampu eksperiens. Beberapa kemajuan riset tampak optimis mendukung itu meski banyak aroma spekulasi.

4. Eksistensi

Lebih dari pengalaman, manusia adalah eksis secara konkret di dunia ini. Manusia menyingkap, dan disingkapkan, eksistensi masa depan, masa kini, dan masa lalu.

Dari perspektif eksistensi konkret inilah manusia bisa mengubah masa lalu. Sementara, perspektif performa, kompetensi, dan eksperiensi adalah pengantar menuju perspektif eksistensial.

Eksistensi adalah anugerah. Manusia menerima anugerah dengan menyingkapkan eksistensi masa depan dan masa lalu; tentu eksistensi masa kini juga. Sejatinya, manusia tidak bisa menciptakan eksistensi alam dan eksistensi dirinya. Manusia hanya menerima anugerah itu.

Apa makna eksistensi? Itu pertanyaan paling fundamental.

5. Makna

Apa makna itu semua? Apa makna dari makna?

Makna adalah segalanya; paling utama. Tanpa makna, segalanya kehilangan makna. Performa tanpa makna akan menjadi performa yang sia-sia. Demikian juga pemahaman tanpa makna, pengalaman tanpa makna, sama juga sia-sia.

Ketika seorang siswa SMA tanya ke AI tentang tugas sekolah misal PR (pekerjaan rumah), kemudian, AI memberi jawaban meyakinkan maka jawaban AI (akal imitasi – artificial intelligence) itu bermakna membantu siswa menyelesaikan tugas. Performa AI memiliki makna. Sebaliknya, andai siswa tidak mendapat tugas sekolah. Tanpa sengaja ia tanya ke AI lalu AI memberi jawaban sebagai performa. Jawaban AI ini tanpa arti; tidak bermakna; AI adalah sia-sia tanpa makna.

6. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Apa realitas paling nyata antara performa, kompetensi, eksperiensi, eksistensi dan makna? Semua realitas itu nyata. Hanya saja, manusia kadang terjebak hanya peduli kepada performa. Itu adalah jebakan enframing yang berbahaya. Manusia perlu meluaskan dan memperdalam kemapampu untuk peduli.

Ketika seseorang bersikeras bahwa hanya performa yang nyata maka ia sudah menutup diri dari realitas yang lebih luas. Akibatnya, orang itu tidak akan mampu mengubah masa lalu; ia tidak mampu menerima anugerah itu. Sejatinya, manusia memiliki posibilitas menerima anugerah untuk mengubah masa lalu.

7. Peduli

Peduli menjadi kunci.

Apa makna dari realitas? Makna dari seluruh realitas? Hanya dengan sikap peduli kita terbuka terhadap makna.

Seseorang bisa saja membatasi makna hanya kepada performa: “Pokoknya yang paling penting adalah performa titik. Selain itu hanya ilusi. Hasilkan uang yang besar; itulah performa bagi semua!”

Ketika orang itu hanya peduli kepada performa maka ia membuat penjara bagi dirinya. Ia hanya hidup dalam kurungan performa. Ia tidak bisa mengubah masa lalu. Atau, menurut orang itu, masa lalu tidak bisa diubah.

Perlu kepedulian lebih tinggi untuk bisa mengubah masa lalu: kompetensi (pemahaman), eksperiensi (pengalaman), dan eksistensi.

Tono sendirian di ruang tunggu itu. Rasa lapar menggoda. Ia membuka kotak kue di sampingnya. Sambil menunggu, Tono menikmati kue yang enak banget. Kemudian Tono membaca buku yang ada di tangannya. Ada ide menarik dari buku. Ia ingin mencatatnya. Ia cari-cari pulpen dalam tasnya. Ia kaget, dalam tas, ia temukan kotak kue miliknya. Lalu kue siapa yang sudah ia makan tadi?

Pasti itu kue milik Wawan tadi yang baru kenalan ketika sama-sama di ruang tunggu. Tono ingin bicara dengan Wawan tapi Wawan sudah pergi naik kereta yang tadi. Tono bingung, ia sudah makan kue yang bukan miliknya; ia makan kue haram.

Berhari-hari, Tono mencari informasi tentang Wawan. Setiap sore, Tono mencoba datang ke ruang tunggu itu; berharap akan bertemu Wawan. Satu bulan sudah berlalu, Tono tak pernah berjumpa Wawan. Padahal Tono sudah merasa dosa makan kue bukan miliknya; kue haram.

Tiga bulan berlalu. Tanpa sengaja Tono mampir ke warteg (warung Tegal). Di sana ia bertemu Wawan. Tono menceritakan kejadian kue yang ia makan itu.

Wawan: “Oh pantesan! Malam itu aku sampai rumah. Aku cari kue dalam tas tidak ada. Padahal aku lapar banget.”
Tono: “Tolong diikhlaskan kue itu. Atau, boleh saya ganti dengan uang sekarang?”
Wawan: “Aku sempat terpikir apa ada orang yang mau mencuri kue enak itu ya?”
Tono: “Mohon dimaafkan agar halal kue itu.”
Wawan: “Dengan satu syarat…”
Tono: “Apa syaratnya?”
Wawan: “Kamu harus bersedia, sekarang, aku traktir makan siang di warteg ini!”

Tono bingung campur senang. Bukannya ia harus bayar makan siang dan ganti rugi; malah ditraktir oleh Wawan. “Bukan sulap, bukan sihir. Aku ada yang traktir. Spontan jadi mikir.”

Tono berhasil mengubah masa lalu kue yang haram menjadi kue halal di masa kini dan masa depan.

Kata yang Tak Bisa Dikatakan

“Aku cinta kamu lebih dari semua kata-kata.”
“Cintaku tak bisa diungkapkan dengan kata.”
“Speechless. Tak bisa dikatakan lagi.”

Dalam situasi yang mengerikan juga sering terjadi.

“Penderitaan warga Palestina tidak bisa diungkapkan dengan kata.”
“Penderitaan hidupku tak terlukiskan oleh kata.”

Situasi bisa saja netral.

“Realitas di lapangan tidak bisa diwakili oleh kata-kata.”

Jadi apa manfaat kata? Apa manfaat bahasa? Apa gunanya kita berbicara? Besar sekali. Bahasa dan kata adalah khas milik manusia yang manfaatnya luar biasa besarnya. Di tahun 2022, tiba-tiba, AI bisa bicara bahasa seperti manusia. Benarkan AI (artificial intelligence – akal imitasi) menguasai kata-kata bahasa?

1. Media Komunikasi
2. Manusia vs AI
3. Membentuk Realitas
4. Diskusi
5. Kesimpulan

Peran penting bahasa adalah sebagai media komunikasi. Tetapi menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi sering menjebak manusia dalam perangkap bahasa itu sendiri. Bahasa jauh lebih dari sekedar alat komunikasi; bahasa membentuk realitas itu sendiri.

1. Media Komunikasi

Tepat bahasa memang media komunikasi. Tetapi kucing juga bisa komunikasi pakai bahasa kucing: meong. Induk kucing bisa berteriak meong memanggil anak-anaknya agar mendekat; kemudian ia menyusui anak-anak kucing yang lucu itu. Kucing jantan bisa berteriak meong memanggil kucing betina; kemudian mereka kejar-kejaran dan bercinta. Bahasa meong adalah bahasa komunikasi bagi kucing-kucing itu.

Bahasa manusia tentu saja bisa jadi alat komunikasi. Ibu bisa memanggil anaknya kemudian menyusuinya; suami bisa memanggil istrinya dengan mesra kemudian bercinta.

Tetapi lebih dari itu: bahasa manusia bisa menjadi janji suci. Seorang pemuda mengucap janji suci menikahi seorang pemudi. Janji suci itu mengubah hubungan cinta mereka yang semula terlarang menjadi cinta suci sampai membuahkan anak-anak yang bahagia.

Anda bisa saja mengambil pisang goreng dari warung sebelah diam-diam tanpa bicara. Kemudian Anda makan jadilah pisang goreng haram. Tetapi Anda bisa berbicara, “Beli 1 pisang gorenng seribu rupiah.” Pemilik warung menerimanya. Kemudian Anda makan pisang goreng halal dan berkah.

Bahasa lebih dari sekadar alat komunikasi.

2. Manusia vs AI

AI (model LLM – large language model) mahir berbicara bahasa manusia. Benarkah demikian? Bisakah AI membeli pisang goreng di warung tetangga seperti Anda? Bisakah AI mengucap janji suci membentuk rumah tangga yang bahagia?

Ataukah AI (artificial intelligence – akal imitasi) hanya seolah-olah mahir bahasa manusia? Tampaknya seperti itu yang terjadi.

3. Membentuk Realitas

Orang mengira ada realitas di alam eksternal begitu adanya; misal di depan Anda ada “ikan asin” itu. Tanpa Anda melihatnya, tanpa ada seorang manusia melihatnya, “ikan asin” itu memang ada seperti itu adanya. Benarkah? Tidak benar.

“Ikan asin” itu sudah jelas dibentuk oleh bahasa manusia yaitu kata “ikan” dan kata “asin”.

Bagi seekor kucing, ikan asin itu hanya sejenis makanan; bila kucing lapar maka ia akan memakannya; bila tidak lapar maka ikan asin itu akan ditinggalkannya. Bagi manusia, ikan asin itu adalah realitas yang berbeda. Siapa pemiliki ikan asin itu? Bolehkah ikan asin itu aku beli? Bagaimana bila kita kembangkan bisnis ikan asin seperti itu? Bahasa manusia membentuk realitas yang berbeda tentang ikan asin itu; dari “pandangan” seekor kucing.

Mitos Given

Sains fisika, kimia, atau biologi bisa mengatakan realitas ikan asin itu adalah obyektif; dilihat oleh kucing, oleh manusia, atau tidak ada yang melihat maka tetap saja ikan asin itu obyektif. Pandangan obyektif seperti ini dikenal sebagai mitos-given; mitos bahwa realitas sudah given begitu adanya; tinggal diselidiki oleh manusia.

Atau, lebih jauh, ikan asin itu bisa diselidiki terdiri oleh atom-atom obyektif. Atom adalah contoh mitos-given. Bisa juga atom itu dianalisis lebih mendalam terdiri dari proton, elektron, netron; lebih dalam lagi terdiri oleh fermion dan boson. Sejauh ini, fermion dan boson adalah partikel elementer paling dasar. Jadi, fermion dan boson adalah mitos-given yang sudah ada dan sedang menunggu manusia sebagai pengamat untuk mengkajinya.

4. Diskusi

Tentu saja, sesuai namanya, mitos-given adalah sekadar mitos. Fermion dan boson, atom dan molekul, adalah mitos-given sebagai mitos.

Agar atom dan molekul tidak menjadi mitos maka kita perlu mengakui bahwa atom itu tidak given; tetapi atom itu realitasnya dibentuk juga oleh bahasa manusia, oleh teori sains, dan oleh komunitas ilmiah. Tentu saja, atom itu dibentuk juga oleh alam eksternal di sana tetapi tidak given.

Realitas Tidak Given

Apa pun realitas yang kita hadapi adalah tidak given; yaitu ada peran manusia dalam membentuk realitas itu melalui bahasa; meski pun realitas alam eksternal tetap berperan besar dalam menentukan realitas itu.

Cinta adalah Bahasa Realitas

Cinta adalah realitas nyata bersama bahasa. Ketika seorang ibu mengatakan cinta kepada anaknya maka cinta ibu itu adalah nyata benar-benar sebagai realitas. Tentu, ibu bisa saja menyampaikan cinta melalui bunga; tetapi ungkapan cinta melalui kata adalah yang paling nyata. Kemudian ibu itu memeluk mesra anaknya; penuh cinta.

Hanya Bahasa

Tetapi itu kan hanya bahasa?

Ungkapan “hanya bahasa” ini bermakna ganda. Pertama (1) bermakna meremehkan bahasa; karena bahasa tidak penting. Yang sungguh bernilai adalah realitas tanpa bahasa; realitas apa adanya; atau realitas given. Tetapi realitas apa adanya yang given ini adalah sekadar mitos; seperti kita bahas di atas.

Kedua (2) “hanya bahasa” bermakna pujian: hanya bersama bahasa kita bisa memahami realitas. Apa pun yang ingin kita pahami, kita selalu membutuhkan bahasa. Bahkan untuk mendekat kepada Tuhan pun kita butuh bahasa dengan membaca doa dan munajat. Mukjizat, anugerah terbesar, adalah kitab suci yang berupa bahasa juga.

Meski “hanya bahasa” yang bisa membantu kita untuk memahami realitas; tetapi tidak berarti realitas eksternal itu tidak penting. Realitas eksternal tetap penting. Kita tetap membutuhkan realitas eksternal air untuk diminum; realitas eksternal udara untuk nafas; realitas eksternal pasangan hidup untuk bahagia. Semua realitas eksternal itu menjadi penuh makna bersama bahasa.

5. Kesimpulan

Bagaimana menurut Anda?

Ada banyak pesona yang tidak bisa dikatakan tetapi hanya dengan kata kita bisa membicarakannya.

Saya minta Claude menuliskan 3 pesan penting dari diskusi kita di atas.

(1) Bahasa Bukan Sekadar Alat — Ia Membentuk Realitas Itu Sendiri

Pesan terdalam yang mengalir di sepanjang artikel ini adalah penolakan tegas terhadap pandangan yang meremehkan bahasa sebagai “alat komunikasi” semata. Paman APiQ menunjukkan bahwa bahasa bukan wadah kosong yang kita isi dengan realitas yang sudah ada; sebaliknya, bahasa adalah kekuatan yang menciptakan realitas itu. Janji pernikahan tidak hanya menyampaikan perasaan — ia mengubah status hubungan secara nyata. Transaksi jual beli tidak hanya menginformasikan perpindahan barang — ia menentukan halal dan haramnya sesuatu. Bahkan atom dan fermion dalam fisika bukan entitas yang tinggal menunggu ditemukan, melainkan realitas yang dibentuk oleh teori, bahasa, dan komunitas ilmiah. Pesan ini mengguncang cara kita memandang dunia: tidak ada realitas yang benar-benar given dan bebas dari sentuhan bahasa manusia.

(2) Manusia Adalah Makhluk Bahasa — dan Itulah yang Membedakannya dari AI maupun Hewan

Artikel ini secara diam-diam menyampaikan pesan yang sangat relevan di era kecerdasan buatan: bahwa menguasai pola bahasa tidak sama dengan mendiami bahasa. Kucing berkomunikasi untuk kebutuhan biologis, dan AI merangkai kata berdasarkan statistik — keduanya tidak pernah benar-benar hidup di dalam bahasa. Hanya manusia yang menggunakan kata untuk membuat janji suci, membangun sistem hukum, merumuskan doa, dan menciptakan makna yang melampaui kebutuhan survival. Inilah yang dimaksud penulis ketika bertanya apakah AI bisa membeli pisang goreng atau mengucap ijab kabul — bukan soal kemampuan teknis, melainkan soal eksistensi dalam dunia yang penuh tanggung jawab moral dan makna normatif. Pesan ini adalah pengingat bahwa keistimewaan manusia bukan terletak pada kecepatan berpikir atau luasnya pengetahuan, melainkan pada kemampuannya menjadikan bahasa sebagai tempat tinggal — ruang di mana cinta, keadilan, dan kebenaran bisa benar-benar hidup.

(3) Keterbatasan Bahasa Justru Mengungkap Keagungannya

Paradoks terbesar yang ingin disampaikan artikel ini adalah: justru karena kita menyadari bahasa tidak mampu sepenuhnya menangkap realitas, maka kita memahami betapa agung dan tak tergantikannya bahasa itu. Ungkapan “cintaku tak bisa diungkapkan dengan kata” bukan bukti kelemahan bahasa — melainkan bukti bahwa bahasa cukup kuat untuk menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Bahkan untuk mendekati Tuhan, manusia membutuhkan doa dan kitab suci — yang keduanya adalah bahasa. Pesan ini mengajak pembaca untuk berhenti meremehkan kata-kata dan mulai menyadari bahwa setiap kali kita berbicara, kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar bertukar informasi: kita sedang bersama-sama membangun dan menjaga dunia tempat kita hidup, mencintai, dan mencari makna.

Apakah Anda setuju?

Beban Teknologi AI: Aku Bukan Robot

Saya senang sekali membaca buku I am not a Robot. Penulis eksperimen hidup 1 tahun (365 hari) bersama AI (artificial intelligence – akal imitasi). Buku itu adalah laporan pengalaman hidupnya bersama AI. Stern menceritakan manis pahitnya bersama AI. Tetapi saya merasa, ia masih menyembunyikan sesuatu. Karena itu, saya mengejarnya.

1. Beban Tersembunyi
2. Beban Berbahaya
3. Diskusi
3.1 Deskripsi Berimbang
3.2 Intervensi Mencegah Korban
3.3 Posibilitas Alternatif AI

Stern membahas beban (cost) sebagai aturan ke 3.

“Lacak biayanya. Dan bukan hanya dalam bentuk uang. Banyak dari alat AI ini membutuhkan biaya, meskipun beberapa di antaranya dimulai dengan uji coba gratis, yang dengan cepat berubah menjadi langganan bulanan. Dan bagaimana dengan jenis biaya lainnya? Berapa biaya yang harus saya tanggung untuk waktu dan privasi saya? Dan kerusakan apa yang ditimbulkan pada dunia di sekitar saya?

Beberapa biaya pribadi sudah jelas: sejumlah besar data pribadi yang saya serahkan kepada perusahaan teknologi, atau empat langkah tambahan yang harus saya ambil untuk mengoreksi ringkasan ChatGPT yang salah tentang sebuah makalah akademis, alih-alih hanya membacanya sendiri. Yang lain lebih halus. Apakah saya merasa lebih baik setelah berbicara dengan terapis AI—atau hanya merasa aneh dan secara emosional merasa dipermainkan? Apakah meminta BookBot untuk terus mengedit dan memperketat tulisan saya membuat saya kehilangan versi buku ini yang mungkin dihasilkan dari proses yang lebih lambat dan reflektif untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ingin saya katakan?

Dan kemudian ada biaya yang lebih luas: pusat data yang boros daya, hilangnya pekerjaan, erosi keterampilan manusia tertentu. Teknologi selalu menjanjikan untuk membuat segalanya lebih mudah—tetapi lebih mudah untuk siapa? Janji-janji muluk teknologi tidak pernah menceritakan keseluruhan cerita.

Dan itulah yang ingin saya berikan kepada Anda. Ini bukan cerita yang definitif, karena kita baru beberapa tahun memasuki revolusi AI. Tetapi ini adalah gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa artinya bagi Anda.

Buku ini menawarkan lebih sedikit gembar-gembor, lebih banyak kejelasan, dan sesedikit mungkin jargon teknologi (baik secara manusiawi maupun robotik). Dan ini didasarkan pada pengujian saya sendiri terhadap alat-alat tersebut. Saya rasa ada dua tipe pembaca untuk buku ini: Grup A, Anda sudah tahu banyak tentang AI, dan Anda di sini untuk petualangan liar saya. Grup B, Anda terus mendengar tentang “hal AI” ini dan ingin memahami cara kerjanya—dan bagaimana hal itu akan memengaruhi setiap bagian kehidupan Anda.

Buku ini sebagian merupakan penjelasan, sebagian merupakan tempat pengujian, sebagian merupakan perjalanan melalui sejarah AI. Pada saat Anda selesai membacanya, jika Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Anda akan mendapatkan tepuk tangan virtual yang meriah dari saya: Bagaimana AI belajar melakukan hal itu seperti manusia? Mengapa AI dapat melakukan beberapa hal dengan baik tetapi gagal total dalam hal lain? Bagaimana saya dapat hidup dan bekerja berdampingan dengan AI dan robot? Bagaimana saya memastikan diri saya tidak menjadi robot?”

Saya meminta Claude membahas tulisan Stern di atas lebih tajam.

1. Beban Tersembunyi

Awalnya, saya minta ia membedakan beban eksplisit dan implisit. Sekaligus untuk menguji apakah AI halusinasi terlalu jauh.

###

Berdasarkan teks tersebut, berikut adalah beban (costs) yang dibahas — baik yang eksplisit maupun implisit:

Biaya Eksplisit

  • Uang — banyak alat AI yang awalnya gratis, lalu berubah menjadi langganan bulanan berbayar.
  • Waktu — misalnya, empat langkah ekstra yang harus dilakukan untuk mengoreksi ringkasan salah dari ChatGPT, padahal lebih cepat membaca sendiri.
  • Data pribadi — pengguna menyerahkan data pribadi dalam jumlah besar kepada perusahaan teknologi.

Biaya Implisit (lebih halus)

  • Emosional/psikologis — setelah bicara dengan terapis AI, pengguna merasa aneh dan “emotionally breadcrumbed” (seperti diberi harapan kecil-kecil tanpa kepuasan nyata), bukan benar-benar lebih baik.
  • Kreativitas dan proses berpikir — AI yang terus mengedit tulisan bisa merampas proses reflektif yang lebih lambat, yang justru menghasilkan karya lebih autentik dan bermakna.
  • Sosial/lingkungan (biaya terhadap dunia):
    • Pusat data yang sangat boros energi (power-hungry data centers)
    • Hilangnya lapangan pekerjaan
    • Terkikisnya keterampilan manusia tertentu (erosion of certain human skills)

Inti Argumennya

Teknologi selalu berjanji membuat segalanya lebih mudah — tetapi lebih mudah untuk siapa? Janji-janji manis teknologi tidak pernah menceritakan keseluruhan ceritanya.

2. Beban Berbahaya

Selanjutnya, saya meminta untuk mendaftar 7 beban berbahaya.

###

Berikut tambahan beban (costs) yang belum disebutkan dalam teks, namun relevan secara kritis:

Kognitif

  • Ketergantungan berpikir — semakin sering mendelegasikan pemikiran ke AI, kemampuan analisis kritis kita bisa melemah secara bertahap (cognitive offloading).
  • Ilusi kompetensi — kita merasa sudah “mengerti” sesuatu karena AI merangkumnya, padahal pemahaman yang sesungguhnya tidak terbentuk.

Sosial & Relasional

  • Degradasi empati — terbiasa berinteraksi dengan AI yang selalu sabar dan tidak menghakimi bisa menurunkan toleransi kita terhadap ketidaksempurnaan manusia nyata.
  • Isolasi sosial — kenyamanan berinteraksi dengan AI bisa mengurangi motivasi untuk membangun hubungan manusia yang lebih sulit dan kompleks.

Epistemik (terkait kebenaran)

  • Homogenisasi perspektif — karena jutaan orang menggunakan model yang sama, cara berpikir dan narasi yang beredar di masyarakat bisa menjadi seragam dan miskin keberagaman sudut pandang.
  • Erosi kepercayaan — maraknya konten buatan AI membuat kita semakin sulit mempercayai apa yang kita baca, dengar, atau lihat (epistemic anxiety).

Budaya & Identitas

  • Kehilangan keunikan ekspresi — tulisan, seni, dan karya yang dibantu AI cenderung menuju rata-rata estetika yang sama, mengancam keberagaman gaya dan suara kreatif manusia.
  • Devaluasi keahlian manusia — ketika AI bisa melakukan sesuatu “cukup baik”, penghargaan terhadap keahlian yang dibangun bertahun-tahun oleh manusia bisa merosot.

Politis & Struktural

Kerentanan demokrasi — AI mempermudah produksi disinformasi skala besar, mengancam kemampuan masyarakat untuk membuat keputusan kolektif yang berdasarkan fakta.

Konsentrasi kekuasaan — manfaat AI sebagian besar mengalir ke perusahaan teknologi besar, memperlebar kesenjangan antara yang memiliki akses dan yang tidak.

Berikut 7 beban tambahan yang paling berbahaya:

1. Weaponisasi Kecerdasan AI memungkinkan aktor jahat — termasuk negara otoriter atau kelompok teroris — merancang senjata biologis, kimia, atau siber dengan lebih mudah dan murah. Hambatan teknis yang dulu melindungi dunia kini perlahan runtuh.

2. Hilangnya Privasi Struktural Bukan sekadar data yang “diserahkan”, melainkan munculnya infrastruktur pengawasan permanen — di mana wajah, suara, perilaku, dan emosi kita bisa dilacak, dianalisis, dan diprediksi secara real-time tanpa kita sadari atau setujui.

3. Otomatisasi Ketidaksetaraan AI tidak hanya menghilangkan pekerjaan — ia menghilangkan pekerjaan kelas menengah dan bawah lebih cepat daripada pekerjaan baru tercipta, menciptakan jurang ekonomi yang bisa memicu ketidakstabilan sosial dan politik secara masif.

4. Krisis Identitas Generasi Muda Anak-anak dan remaja yang tumbuh dengan AI sebagai teman, tutor, dan cermin diri berisiko kehilangan kemampuan membentuk identitas yang otentik — karena selalu ada entitas yang lebih pintar, lebih sabar, dan lebih menyenangkan daripada manusia nyata di sekitar mereka.

5. Kerusakan Ekologis Tersembunyi Satu sesi pelatihan model AI besar bisa mengonsumsi energi setara ribuan rumah tangga selama sebulan. Ditambah konsumsi air untuk pendingin server, jejak lingkungan AI jauh melampaui apa yang diakui industri secara publik — dan terus tumbuh eksponensial.

6. Delegitimasi Realitas Ketika deepfake video, audio, dan teks buatan AI tidak lagi bisa dibedakan dari yang asli, masyarakat kehilangan fondasi epistemik bersama. Akibatnya bukan hanya orang percaya pada kebohongan — tetapi orang berhenti percaya pada segalanya, termasuk kebenaran yang nyata.

7. Risiko Eksistensial dari Misalignment Ini yang paling jauh jangkauannya: jika sistem AI yang sangat canggih mengembangkan tujuan yang tidak selaras dengan kepentingan manusia, dan kita kehilangan kemampuan untuk mengoreksi atau menghentikannya, konsekuensinya bisa bersifat ireversibel — bukan hanya krisis, tetapi ancaman terhadap keberlangsungan peradaban manusia itu sendiri.


Ketujuh beban ini berbeda dari yang sebelumnya karena sifatnya sistemik, sulit dibalik, dan berskala peradaban — bukan sekadar kerugian individual yang bisa dimitigasi dengan pilihan pribadi.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

“Dari seluruh beban yang telah diidentifikasi, yang paling berat bukanlah biaya uang, waktu, atau bahkan kerusakan lingkungan — melainkan erosi perlahan terhadap kapasitas manusia untuk memahami dan mempercayai realitas.

Ketika AI secara bersamaan melemahkan kemampuan berpikir kritis kita melalui ketergantungan kognitif, menghancurkan fondasi kebenaran bersama melalui deepfake dan disinformasi masif, serta menyeragamkan cara jutaan orang melihat dunia melalui model yang sama, yang sedang kita hadapi bukan sekadar krisis teknologi — melainkan krisis epistemik peradaban.

Manusia selama ribuan tahun membangun institusi, sains, hukum, dan demokrasi di atas satu asumsi mendasar: bahwa kita, meskipun tidak sempurna, masih bisa membedakan yang nyata dari yang palsu, yang benar dari yang bohong. AI, jika dibiarkan berkembang tanpa pengawasan yang serius, berpotensi meruntuhkan asumsi itu sepenuhnya — dan begitu fondasi itu runtuh, tidak ada pekerjaan, tidak ada privasi, dan tidak ada planet yang bisa diselamatkan, karena kita tidak lagi memiliki kapasitas kolektif untuk menyepakati bahwa ada masalah yang perlu diselesaikan.”

3.1 Deskripsi Berimbang

Buku Stern di atas berhasil dengan indah mendeskripsikan pro-kontra penggunaan AI terutama LLM. Seperti ia janjikan, ia tidak gembar-gembor mau pun menghujani jargon-jargon teknologi. Ia berhasil memotret AI secara berimbang.

Bagaimana kesimpulan kita ketika kita dihadapkan kepada AI yang berimbang antara pro-kontra? Umumnya, pembaca akan berasumsi bebas memilih antara pro atau kontra kerena imbang. Cukup banyak penulis Barat, jurnalis atau pemikir, yang memilih pendekatan berimbang. Jika analisis ini terkait suatu teori, barangkali, adil bersikap imbang. Tetapi AI (akal imitasi – artificial intelligence) lebih dari teori; ai adalah teknologi; ai adalah sistem ekonomi politik; ai adalah kekuatan militer dan lain-lain.

Kita membutuhkan analisis yang lebih tajam. Stern di bagian review akhir tampak bermaksud memberi analisis tajam itu. Ia bertanya kepada AI, “Apakah AI bisa menulis buku seperti yang ini?” ChatGPT dan Claude menjawab sepakat, “AI tidak bisa menulis buku itu karena tidak memiliki pengalaman emosional yang mendalam bersama ibunya Stern.”

3.2 Intervensi Mencegah Korban

Kita membutuhkan analisis lebih tajam berupa intervensi mencegah korban berjatuhan akibat AI.

AI bukan masalah pilihan pribadi; bukan pula bila risiko terjadi kemudian bisa diperbaiki. Kita butuh mencegah korban berjatuhan dampak AI. AI berdampak merusak lingkungan sampai krisis iklim; AI merusak demokrasi dan menjadi senjata militer keji; AI merusak kapasitas umat manusia untuk memahami realitas dan kemampuan empati; AI menciptakan kesenjangan ekonomi tanpa solusi.

Pesan tegas: tinggalkan AI; atau bila terpaksa menggunakan AI maka gunakan secara sangat terbatas dan penuh waspada.

3.3 Posibilitas Alternatif AI

Bagaimana posibilitas pengembangan AI di masa depan?

Hassabis, pendiri DeepMind dan bos AI di Google, pernah mengatakan, “AI untuk sains adalah bagus; AI untuk chat bahasa alami adalah malapetaka.” Tetapi, AI berhasil mencapai revolusi justru karena bahasa alami semisal Chatgpt, Claude, dan Gemini.

Hassabis sendiri mengarahkan AI DeepMind untuk sains yaitu untuk mengenali struktrur protein. Tahun 2024, Hassabis menang hadiah Nobel sains kimia atas penggunaan AI untuk struktur protein itu. Ia tetap komitmen mengembangkan AI terbatas untuk sains saja.

Barangkali AI untuk sains tidak terlalu bahaya. Benarkah? Atau ada alternatif yang lebih baik?