Setiap anak adalah filsuf, pemikir, dan ilmuwan. Ia bertanya tentang apa itu langit, dari mana ia dilahirkan, mengapa ada dunia ini yang ditempati manusia, ke mana kakek nenek pergi setelah mati, dan sebagainya. Pertanyaan filosofi dari anak-anak ini benar-benar indah. Lalu mengapa kemudian, setelah dewasa, mereka takut dengan filsafat? Kita perlu kembali bersama anak-anak berpetualang di semesta filsafat.
Berikut saya mengembangkan 40 pertanyaan plus untuk membangkitkan lagi minat filsafat bagi anak dan dewasa berdasar buku Philosophy for Kids karya White. Anda dapat memanfaatkannya dalam diskusi santai mau pun dalam kelas.
1. Ilustrasi: Saat piket kelas, kamu melihat dua temanmu bertengkar karena berebut siapa yang harus membersihkan papan tulis. Salah satunya sahabat dekatmu, satunya lagi bukan siapa-siapa bagimu.
Apakah kamu orang yang adil dan jujur?
a) Aku selalu berusaha adil, bahkan ke orang yang tidak kusukai
b) Aku adil pada teman, tapi kadang lupa pada orang asing
c) Aku tidak yakin apa sebenarnya arti “adil” itu
d) Aku lebih mementingkan menang daripada adil
2. Ilustrasi: Ada teman yang selalu mengajakmu bermain dan tertawa bersama, tapi menghilang saat kamu sedih. Ada teman lain yang jarang mengajak main, tapi selalu berkata jujur — bahkan saat itu menyakitkan.
Bagaimana kamu tahu siapa temanmu?
a) Teman adalah yang selalu menyenangkan saat bersamaku
b) Teman adalah yang berani jujur meski itu menyakitkan
c) Teman adalah yang menerimaku apa adanya
d) Aku tidak yakin bisa benar-benar tahu siapa teman sejati
3. Ilustrasi (media sosial): Kamu menghabiskan berjam-jam mengedit video untuk diunggah ke media sosial, tapi hanya mendapat sedikit like. Sementara itu, video temanmu yang dibuat asal-asalan dalam lima menit malah ditonton jutaan orang.
Haruskah kamu diberi hadiah untuk usahamu di sekolah?
a) Ya, usaha keras layak dihargai apa pun hasilnya
b) Tidak, usaha adalah tanggung jawabku sendiri
c) Hanya jika hasilnya juga baik
d) Kepuasan dari dalam diri lebih penting daripada hadiah dari luar
4. Ilustrasi: Temanmu meminjam pensil warnamu dan mengembalikannya dalam keadaan sedikit patah. Bukan hal besar, tapi kamu kesal sepanjang hari memikirkannya.
Haruskah kamu membiarkan hal-hal kecil mengganggumu?
a) Tidak, hal kecil tidak layak menghabiskan energiku
b) Kadang boleh — itu tanda aku peduli pada sesuatu
c) Tergantung apakah hal itu terus berulang atau tidak
d) Aku sering tidak bisa mengendalikannya, meski ingin
5. Ilustrasi: Sekolahmu mengadakan penggalangan dana untuk korban banjir. Kamu punya uang jajan yang sudah lama kamu tabung untuk membeli mainan yang kamu inginkan.
Apakah berbagi ke amal adalah kewajibanmu?
a) Ya, karena aku punya lebih dari yang kubutuhkan
b) Itu pilihan baik, tapi bukan kewajiban
c) Kewajiban sesungguhnya adalah membantu orang terdekat dulu
d) Aku belum yakin apa yang membuat sesuatu menjadi “kewajiban”
Sedikit melompat ke bagian agak akhir dan tingkat lebih mendalam.
Ilustrasi: Sebuah gagasan yang awalnya hanya dipercaya oleh segelintir orang — misalnya bahwa perbudakan itu salah — pada akhirnya diterima oleh mayoritas masyarakat setelah bertahun-tahun perjuangan panjang.
36.2. Jika kebenaran moral pada akhirnya bisa diterima secara luas meski awalnya hanya dipercaya sedikit orang, apakah itu membuktikan bahwa kebenaran moral juga “nyata” seperti fakta ilmiah?
a) Ya, kalau kebenaran moral bisa “ditemukan” seiring waktu, itu menunjukkan ia memang nyata di luar diri kita
b) Tidak, perubahan itu hanya menunjukkan pergeseran nilai masyarakat, bukan penemuan kebenaran objektif
c) Bisa jadi keduanya — sebagian nilai moral memang semakin dipahami lebih baik, sebagian lain hanya berubah sesuai zaman
d) Aku tidak yakin filsafat sudah punya jawaban pasti tentang status kebenaran moral seperti ini
6. Ilustrasi (media sosial): Kamu berencana belajar untuk ulangan besok, tapi begitu membuka aplikasi video pendek untuk “lihat sebentar saja”, kamu malah keasyikan menonton video demi video sampai lupa waktu.
Akankah bersenang-senang membuatmu lebih bahagia daripada belajar? a) Ya, kesenangan sesaat itu penting b) Tidak, belajar memberi kebahagiaan yang lebih tahan lama c) Keduanya bisa membuatku bahagia dengan cara yang berbeda d) Bahagia bukan cuma soal senang atau belajar
7. Ilustrasi: Ibumu memasak makanan baru dan bertanya apakah kamu suka. Rasanya sebenarnya kurang enak menurutmu, tapi kamu tahu ibu sudah bersusah payah memasaknya sejak pagi.
Haruskah kamu pernah berbohong? a) Tidak pernah — kejujuran harus dijaga apa pun risikonya b) Boleh, jika itu melindungi perasaan orang lain c) Boleh, jika itu untuk melindungi diriku dari bahaya d) Tergantung siapa yang akan terkena dampaknya
8. Ilustrasi: Kamu melihat seorang anak yang lebih besar sedang mendorong dan mengambil bekal adikmu di kantin. Adikmu menangis dan tidak berani melawan.
Adakah waktu ketika kamu boleh bersikap kasar/melakukan kekerasan? a) Tidak pernah — kekerasan selalu salah b) Hanya untuk membela diri c) Hanya untuk melindungi orang lain yang lemah d) Aku tidak yakin ada alasan yang benar-benar membenarkan kekerasan
9. Ilustrasi (media sosial): Kamu masuk ke grup chat kelas baru yang sudah lama berisi banyak stiker dan candaan. Kamu ikut membaca tapi merasa canggung dan tidak tahu harus membalas apa, seolah tidak nyambung dengan yang lain.
Do kamu kadang merasa aneh/canggung saat bersama orang lain? a) Ya, sering — terutama di tempat atau situasi baru b) Kadang, tapi aku sedang belajar menerimanya c) Jarang, aku cukup nyaman dengan diriku d) Aku tidak yakin bisa membedakan “aneh” dari sekadar gugup
10. Ilustrasi (media sosial): Kamu berjanji hanya membuka media sosial 10 menit untuk cek notifikasi, tapi begitu mulai men-scroll, tanpa sadar satu jam sudah berlalu karena video demi video terus muncul otomatis.
Apakah kita yang mengendalikan teknologi, atau teknologi yang mengendalikan kita? a) Kita masih pegang kendali, asal sadar cara menggunakannya b) Teknologi sudah mulai mengendalikan cara kita berpikir dan bertindak c) Tergantung siapa penggunanya dan bagaimana caranya d) Keduanya saling memengaruhi — tak ada yang benar-benar berkuasa
11. Ilustrasi: Kamu melihat mobil melaju di jalan, lalu memejamkan mata sebentar. Saat membuka mata, mobil itu sudah di tempat berbeda — kamu hanya melihat dua “potret”, bukan gerakannya itu sendiri.
Bagaimana kamu tahu secara pasti bahwa benda-benda bergerak? a) Aku melihatnya bergerak, jadi itu sudah cukup jadi bukti b) Aku tidak benar-benar melihat gerakan, hanya posisi yang berubah-ubah c) Aku merasakannya lewat sentuhan dan keseimbangan tubuh, bukan cuma mata d) Aku tidak yakin “bergerak” bisa dibuktikan secara pasti sama sekali
12. Ilustrasi: Kamu bilang ke temanmu, “Aku suka hujan.” Bagimu itu benar karena kamu memang senang saat hujan turun. Tapi bagaimana temanmu tahu itu bukan sekadar kamu asal bicara?
Apa yang membuat sesuatu yang kamu katakan itu benar? a) Sesuatu itu benar kalau sesuai dengan kenyataan di luar diriku b) Sesuatu itu benar kalau aku sungguh-sungguh meyakininya c) Sesuatu itu benar kalau orang lain juga bisa membuktikannya d) Aku tidak yakin ada cara pasti untuk mengetahui sesuatu itu benar
13. Ilustrasi: Malam hari kamu bermimpi bermain di pantai, dan semuanya terasa nyata. Lalu kamu terbangun dan bertanya-tanya: bagaimana kalau hidupmu sekarang ini juga cuma mimpi?
Bisakah kamu meragukan bahwa dirimu benar-benar ada? a) Tidak, karena aku bisa merasakan dan berpikir sekarang juga b) Aku bisa meragukan segalanya, tapi keraguan itu sendiri membuktikan aku ada c) Ya, mungkin saja aku hanya bagian dari mimpi atau ilusi d) Aku tidak pernah memikirkannya sampai sedalam itu
14. Ilustrasi: Di hutan yang sangat sepi, sebatang pohon besar tumbang tanpa ada manusia, hewan, maupun alat perekam di sekitarnya.
Apakah pohon itu tetap mengeluarkan bunyi meski tak ada yang mendengarnya? a) Ya, karena getaran udara tetap terjadi meski tidak ada yang mendengar b) Tidak, karena bunyi hanya ada kalau ada telinga yang menangkapnya c) Ada getaran, tapi “bunyi” itu sendiri baru muncul saat didengar d) Aku tidak yakin bisa dijawab pasti karena tidak ada yang menyaksikannya
15. Ilustrasi: Setiap kali kamu melempar bola ke atas, bola itu selalu jatuh kembali ke tanah. Ini terjadi berulang kali, setiap hari, di mana pun kamu mencobanya.
Apakah kamu yakin bahwa hukum gravitasi benar-benar sebuah “hukum”? a) Ya, karena selalu terbukti benar setiap kali diuji b) Itu baru pola yang selalu berhasil sejauh ini, bukan jaminan selamanya c) Aku percaya karena ilmuwan sudah membuktikannya dengan rumus d) Aku tidak pernah berpikir untuk meragukannya sama sekali
16. Ilustrasi: Kamu yakin sekali ibu kota suatu negara adalah kota tertentu, lalu ternyata setelah dicek kamu salah. Kamu tadinya merasa “tahu”, padahal sebenarnya tidak.
Bagaimana kamu bisa membedakan kapan kamu benar-benar tahu sesuatu? a) Aku tahu sesuatu kalau aku bisa membuktikannya dengan alasan atau fakta b) Aku tahu sesuatu kalau aku merasa sangat yakin tentangnya c) Aku tahu sesuatu kalau orang lain yang kupercaya membenarkannya d) Aku tidak yakin ada cara pasti membedakan “tahu” dari “sekadar merasa tahu”
17. Ilustrasi (AI): Kamu curhat tentang harimu yang berat kepada chatbot AI di ponselmu, dan chatbot itu membalas, “Aku mengerti perasaanmu.” Tapi chatbot itu tidak punya tubuh dan tidak pernah benar-benar bersedih.
Bisakah orang lain benar-benar memahami perasaanmu? a) Ya, kalau mereka pernah mengalami hal serupa b) Tidak, karena perasaan hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri c) Mereka bisa memahami sebagian, lewat cerita dan empati d) Aku tidak yakin siapa pun (atau apa pun) bisa benar-benar masuk ke dalam perasaan orang lain
18. Ilustrasi: Kamu lupa mengerjakan PR dan terus meyakinkan diri sendiri bahwa gurumu pasti akan memberi kelonggaran, padahal jauh di dalam hati kamu tahu itu salahmu sendiri.
Bisakah kamu berbohong pada diri sendiri? a) Ya, aku sering meyakinkan diri sendiri akan hal yang sebenarnya tidak kupercaya b) Tidak, karena aku pasti tahu kebenarannya di dalam pikiranku sendiri c) Aku bisa mengabaikan kebenaran, tapi itu beda dengan berbohong d) Aku tidak yakin bisa membedakan antara berbohong dan sekadar berharap
19. Ilustrasi: Dua orang melihat langit sore yang sama — satu bilang warnanya oranye cerah, satunya bilang lebih ke merah muda. Kamu sendiri melihat pensil yang tercelup air tampak seperti patah, padahal kamu tahu pensil itu lurus.
Apakah kamu melihat sesuatu sebagaimana adanya, atau hanya sebagaimana tampaknya? a) Aku melihat sesuatu apa adanya, mataku bisa dipercaya b) Aku hanya melihat bagaimana sesuatu tampak bagiku, bukan kenyataan sepenuhnya c) Tergantung situasinya — kadang akurat, kadang menipu d) Aku tidak yakin bisa membedakan mana yang “apa adanya” dan mana yang “tampaknya”
20. Ilustrasi (AI): Sebuah program AI bisa menjawab pertanyaan, bermain catur, bahkan menulis cerita — semuanya tampak seperti hasil “pikiran”. Tapi program itu hanya menjalankan kode yang ditulis manusia.
Bisakah komputer benar-benar berpikir? a) Ya, kalau ia bisa memproses informasi dan memberi jawaban cerdas b) Tidak, karena ia hanya mengikuti instruksi tanpa benar-benar memahami c) Mungkin suatu saat nanti, kalau teknologinya cukup canggih d) Aku tidak yakin kita punya cara pasti untuk mengetahuinya
21. Ilustrasi: Gurumu berkata, “Coba jangan pikirkan apa pun selama satu menit.” Kamu duduk diam mencoba mengosongkan pikiran — tapi tiba-tiba sadar sedang memikirkan tentang “tidak memikirkan apa-apa”.
Bisakah kamu memikirkan sesuatu yang benar-benar kosong, tanpa apa pun di dalamnya? a) Ya, aku bisa membuat pikiranku benar-benar kosong kalau berlatih b) Tidak, karena begitu aku mencoba, aku sudah memikirkan “kekosongan” itu sendiri c) Aku bisa berhenti memikirkan kata-kata, tapi tetap merasakan sesuatu d) Aku tidak yakin “pikiran kosong” itu benar-benar mungkin ada
22. Ilustrasi: Kamu menjatuhkan pensil dan ia menggelinding tepat ke bawah kursi temanmu, membuat kalian tertawa. Tapi gurumu bilang pensil itu bergerak sesuai hukum fisika yang pasti.
Apakah ada hal yang benar-benar terjadi secara kebetulan? a) Ya, banyak hal terjadi begitu saja tanpa sebab yang jelas b) Tidak, semua hal punya sebab, hanya saja kita tidak selalu tahu sebabnya c) “Kebetulan” hanyalah nama untuk sesuatu yang belum kita pahami d) Aku tidak yakin bisa membedakan kebetulan dari sebab yang tersembunyi
23. Ilustrasi: Angka 7 tertulis di papan tulis, lalu papan itu dihapus. Angka 7 sendiri sepertinya tidak hilang — kamu masih bisa memikirkannya atau menulisnya lagi kapan saja.
Apa yang terjadi pada angka-angka ketika kamu tidak sedang menggunakannya? a) Angka-angka tetap ada di suatu tempat, menunggu untuk dipikirkan lagi b) Angka hanya ada di dalam pikiran manusia, jadi ia “hilang” saat tak dipikirkan c) Angka hanya simbol yang kita ciptakan, jadi pertanyaannya tidak berlaku d) Aku tidak yakin angka punya “keberadaan” seperti benda pada umumnya
24. Ilustrasi (AI): Kamu punya teman virtual berupa AI di aplikasi ponsel yang selalu membalas pesanmu dengan ramah dan seolah mengenalmu. Tapi kamu tahu itu hanya program komputer, berbeda dengan sahabatmu yang punya tubuh dan bisa memelukmu.
Apakah angka dan manusia sama-sama nyata? a) Ya, keduanya nyata, hanya dengan cara keberadaan yang berbeda b) Tidak, hanya manusia yang benar-benar nyata karena punya tubuh c) Angka justru lebih nyata karena tidak berubah-ubah seperti manusia d) Aku tidak yakin bagaimana mengukur “nyata” untuk membandingkan keduanya
25. Ilustrasi: Kamu melihat jarum jam bergerak dari angka 12 ke angka 1. Tapi saat ditanya “apa itu sebenarnya waktu?”, kamu sadar jam hanyalah alat yang menunjukkan angka — bukan waktu itu sendiri.
Apakah waktu adalah apa yang kamu lihat saat melihat jam? a) Ya, jam adalah cara paling tepat untuk mengetahui apa itu waktu b) Tidak, jam hanya mengukur waktu, bukan menunjukkan wujud waktu itu sendiri c) Waktu adalah perubahan yang kurasakan, jam hanya alat bantu menghitungnya d) Aku tidak yakin bisa menjelaskan apa itu waktu sama sekali
26. Ilustrasi: Ilmuwan menjelaskan bahwa alam semesta bermula dari sebuah ledakan besar bernama Big Bang, miliaran tahun lalu. Kamu bertanya-tanya: sebelum ledakan itu terjadi, apa yang ada di sana?
Jika alam semesta berasal dari Big Bang, dari mana asalnya Big Bang itu sendiri? a) Pasti ada sesuatu sebelumnya yang menyebabkannya, hanya kita belum tahu b) Mungkin tidak ada “sebelum”, karena waktu sendiri baru dimulai saat itu c) Aku percaya ada sesuatu yang lebih besar yang menciptakannya d) Aku tidak yakin manusia akan pernah bisa menjawab pertanyaan ini
27. Ilustrasi (media sosial): Kamu membuka kembali foto dan status yang kamu unggah di media sosial lima tahun lalu. Gaya bicaramu, hal yang kamu sukai, bahkan caramu berpikir terasa sangat berbeda dari sekarang.
Apakah kamu orang yang sama dengan dirimu lima tahun lalu? a) Ya, karena ingatan dan namaku tetap sama sejak dulu b) Tidak, karena hampir semua tentang diriku sudah berubah c) Aku sama dalam beberapa hal, tapi berbeda dalam hal lainnya d) Aku tidak yakin apa yang sebenarnya membuat seseorang “tetap sama”
28. Ilustrasi: Saat memilih antara makan cokelat atau buah, kamu merasa itu murni keputusanmu sendiri. Tapi ilmuwan bilang otakmu sebenarnya sudah “memutuskan” beberapa detik sebelum kamu menyadarinya.
Apakah kamu memiliki kehendak bebas? a) Ya, aku bebas memilih apa pun yang kuinginkan b) Tidak, semua pilihanku sebenarnya sudah ditentukan oleh otak dan pengalamanku c) Aku bebas dalam batas-batas tertentu, dipengaruhi tapi tidak sepenuhnya dikendalikan d) Aku tidak yakin bisa membuktikan apakah aku benar-benar bebas atau tidak
29. Ilustrasi: Seekor kupu-kupu mengepakkan sayap di satu tempat, dan menurut sebuah teori terkenal, itu bisa memengaruhi cuaca di tempat sangat jauh berhari-hari kemudian.
Apakah segala sesuatu bergantung pada segala sesuatu yang lain? a) Ya, semuanya di alam semesta saling terhubung dan memengaruhi b) Tidak, banyak hal terjadi sendiri-sendiri tanpa saling memengaruhi c) Beberapa hal saling terhubung, tapi tidak semuanya d) Aku tidak yakin bisa mengetahui seberapa jauh segala sesuatu saling bergantung
30. Ilustrasi: Orang dulu percaya mustahil manusia bisa terbang atau berbicara dengan orang di benua lain secara langsung. Sekarang kedua hal itu biasa saja berkat pesawat dan telepon.
Apakah hal-hal yang mustahil bisa menjadi mungkin? a) Ya, banyak hal yang dulu dianggap mustahil kini menjadi kenyataan b) Tidak, yang benar-benar mustahil akan selalu mustahil, kita hanya salah menyebutnya begitu c) Tergantung apakah “mustahil” itu soal ilmu pengetahuan atau soal logika d) Aku tidak yakin ada cara pasti membedakan yang benar-benar mustahil dari yang belum ditemukan caranya
31. Ilustrasi (media sosial): Kamu mengetik pesan buru-buru di grup kelas tanpa tanda baca dan penuh singkatan, lalu teman-temanmu salah paham dan mengira kamu marah — padahal maksudmu bercanda.
Apakah penting untuk berbicara dan menulis dengan cara yang bisa dipahami orang lain? a) Ya, karena kesalahpahaman bisa merusak hubungan dan menimbulkan konflik b) Tidak terlalu, yang penting aku mengungkapkan apa yang kupikirkan c) Penting, tapi orang lain juga harus berusaha memahami maksudku d) Aku tidak yakin bisa selalu dipahami dengan sempurna, apa pun caraku bicara
32. Ilustrasi: Saat rapat kelas menentukan tema pentas seni, hampir semua temanmu memilih tema yang menurutmu kurang menarik, sementara hanya kamu dan satu temanmu memilih tema lain.
Haruskah kamu selalu mendengarkan pendapat orang lain? a) Ya, semakin banyak yang berpendapat sama, semakin itu layak dipercaya b) Tidak, jumlah orang yang berpendapat tidak menentukan apakah pendapat itu benar c) Aku dengarkan, tapi tetap kupikirkan sendiri mana yang masuk akal d) Aku tidak yakin bagaimana memilah pendapat mana yang layak didengar
33. Ilustrasi: Dalam diskusi kelas, temanmu menyampaikan pendapat yang menurutmu keliru tentang sebuah topik sejarah. Kamu bisa menanggapi argumennya secara langsung, atau malah mengejeknya sebagai orang yang tidak pintar.
Haruskah kamu mengkritik orangnya atau pendapatnya? a) Kritik orangnya, karena pendapat buruk mencerminkan orang yang buruk b) Kritik pendapatnya saja, karena orang bisa berubah pikiran tanpa direndahkan c) Keduanya boleh dikritik, asal dengan cara yang sopan d) Aku tidak yakin di mana batas antara mengkritik pendapat dan menyerang orangnya
34. Ilustrasi (AI): Sebuah aplikasi AI menjawab pertanyaanmu dengan sangat yakin, tapi tidak pernah menjelaskan “karena apa” jawaban itu benar — kamu jadi bingung apakah harus percaya begitu saja.
Mengapa kata “karena” begitu penting? a) Karena itu menunjukkan alasan di balik sebuah klaim, bukan sekadar klaim kosong b) Karena tanpa “karena”, sebuah pernyataan sulit dipercaya kebenarannya c) Karena itu membantu kita membedakan opini dari penjelasan yang masuk akal d) Aku tidak yakin “karena” selalu diperlukan untuk membuat sesuatu masuk akal
35. Ilustrasi: Tanaman di pot dekat jendela kelas tiba-tiba layu. Ada yang bilang karena kurang disiram, ada yang bilang karena terlalu banyak sinar matahari, ada juga yang bilang karena hama di akarnya.
Apakah selalu mudah mengetahui apa penyebab sesuatu terjadi? a) Ya, kalau kita amati dengan cermat, penyebabnya biasanya jelas b) Tidak, banyak hal punya beberapa penyebab yang saling terkait dan sulit dipisah c) Kadang mudah, kadang sangat sulit, tergantung seberapa rumit kejadiannya d) Aku tidak yakin kita pernah benar-benar tahu penyebab sesungguhnya
36. Ilustrasi (media sosial): Sebuah informasi keliru tentang kesehatan tersebar luas di media sosial dan dipercaya jutaan orang, dibagikan ribuan kali — padahal ilmuwan sudah membuktikan itu salah.
Jika banyak orang berpikir sesuatu itu benar, apakah itu berarti benar? a) Ya, kalau banyak orang sepakat, kemungkinan besar itu benar b) Tidak, kebenaran tidak ditentukan oleh berapa banyak orang mempercayainya c) Itu membuatnya layak dipertimbangkan, tapi tetap perlu dibuktikan d) Aku tidak yakin bagaimana mengukur kebenaran selain dengan bukti nyata
37. Ilustrasi: Temanmu mencoret bukumu tanpa sengaja. Sebagai balasan kamu sengaja mencoret bukunya juga, supaya kalian “impas”.
Apakah dua kesalahan bisa saling meniadakan dan membuat sebuah tindakan menjadi benar? a) Ya, itu adil karena mereka mendapat balasan setimpal b) Tidak, dua kesalahan tetap dua kesalahan, bukan satu kebenaran c) Tergantung apakah balasannya sebanding dengan kesalahan awal d) Aku tidak yakin “membalas” pernah benar-benar menyelesaikan masalah
38. Ilustrasi: Di secarik kertas yang tertempel di papan pengumuman kelas tertulis: “Kalimat ini sedang berbohong.” Kamu mencoba memikirkan apakah kalimat itu benar atau salah, tapi keduanya sepertinya mustahil.
“Aku sedang berbohong.” — Benar atau salah? a) Benar, karena kalimat itu mengaku berbohong secara jujur b) Salah, karena kalau ia berbohong, berarti pernyataan itu tidak benar c) Kalimat ini sebenarnya tidak bisa disebut benar atau salah, ia berputar-putar d) Aku tidak yakin kalimat seperti ini bisa dijawab dengan logika biasa
39. Ilustrasi (AI): Sebuah argumen dari AI terdengar sangat logis langkah demi langkah, tapi kesimpulannya aneh dan tidak sesuai dengan yang kamu rasakan benar di dunia nyata.
Bisakah sesuatu yang logis ternyata tidak masuk akal? a) Tidak, kalau logikanya benar, hasilnya pasti masuk akal b) Ya, logika yang benar secara bentuk bisa menghasilkan kesimpulan aneh kalau titik awalnya salah c) Bisa, karena logika dan “masuk akal” menurut perasaan kita tidak selalu sama d) Aku tidak yakin bagaimana logika bisa dipisahkan dari akal sehat
40. Ilustrasi: Kamu diminta menjelaskan apa itu “teman” untuk tugas sekolah, tapi bingung apakah tetangga yang hanya menyapa setiap pagi termasuk “teman” atau bukan.
“Aku bertanya-tanya…” apa sebenarnya arti mendefinisikan sesuatu? a) Mendefinisikan berarti memberi batasan yang jelas tentang apa yang termasuk dan tidak b) Mendefinisikan berarti menjelaskan makna sesuatu berdasarkan pengalaman kita sendiri c) Definisi bisa berubah tergantung konteks dan zaman, tidak pernah benar-benar tetap d) Aku tidak yakin semua hal bisa didefinisikan dengan sempurna