Kasihan nasib kambing hitam. Ia disalahkan, dituduh, lalu dikorbankan. Padahal kambing hitam itu tidak bersalah. Hanya saja, banyak orang menuduh kambing hitam sebagai salah. Kemudian orang-orang itu besekongkol menghukum kambing hitam.
Orang yang salah adalah orang yang bersekongkol itu. Karena sudah ada kambing hitam yang jadi korban, orang yang bersekongkol itu merasa tidak lagi bersalah, tidak lagi berdosa. Padahal mereka tetap bersalah dan tetap berdosa. Jadi harus bagaimana?
1. Teori Jahat Kambing Hitam
2. Praktek Jahat Kambing Hitam
3. Tokoh-Tokoh Penting
4. Diskusi
4.1 Dialog AI
4.2 Deskripsi Kompetisi
4.3 Solusi Pengorbanan
4.4 Berpikir Lembut
4.5 Osilasi Tanpa Henti
5. Ringkasan
Kita perlu menekankan kata “jahat” terhadap pelaku kambing hitam; yang jahat adalah pelaku kambing hitam; korban kambing hitam bisa baik-baik saja. Meski teori kambing hitam bisa saja benar sebagai teori; tetapi kambing hitam salah dan jahat sebagai realitas; yang seharusnya ditolak.
Rene Girard (1923 – 2015) adalah pemikir Prancis yang berhasil mengembangkan teori jahat kambing hitam. Sayangnya, banyak orang salah paham terhadap Girard karena ia terlalu terus-terang menjelaskan proses kambing hitam dalam bentuk pengorbanan. Ia menjelaskan kambing hitam itu sebagai realitas apa adanya. Karena itu, demi kebaikan bersama, kita akan sering menempelkan kata jahat: teori jahat kambing hitam atau praktek jahat kambing hitam.
1. Teori Jahat Kambing Hitam
Proses jahat kambing hitam memang rumit dan remang-remang. Girard menunjukkan awalnya adalah ingin meniru, mimetic desire, hasrat mencontoh. Tetangga baru beli baju bagus; kita jadi ingin baju bagus; karena hasrat meniru. Tetangga punya motor baru, sepatu baru, atau rumah baru; kita juga ingin meniru.
Problem makin serius ketika yang ditiru adalah sama; identik; karena hanya ada satu itu. Pada akhirnya, menurut Girard, orang-orang memang akan menginginkan satu hal yang sama itu.
Anak tetangga ingin ranking 1; anak Anda juga ingin ranking 1. Tetapi hanya ada satu orang ranking 1 maka terjadi persaingan untuk berebut ranking 1 itu.
(a) hasrat meniru; (b) bersaing; (c) bertanding – kompetisi; (d) kacau; kekerasan; perang.
Berawal dari sekadar ingin meniru; berakhir dengan perang yang kacau. Para pemimpin adat atau masyarakat ingin menemukan solusi. Tiga tahap awal adalah wajar dalam batas-batas tertentu: meniru, bersaing, dan bertanding. Tetapi tahap akhir, kekerasan atau kacau, harus dicegah.
Solusi yang mereka pilih tidak ada yang mudah. Mereka memilih solusi jahat kambing hitam. Mereka bersekongkol menunjuk ada pihak tertentu sebagai penyebab kekacauan yaitu kambing hitam. Kemudian, agar kekacauan itu bisa selesai, atau dicegah, maka kambing hitam harus dikorbankan. Di sinilah nilai penting ritual persembahan pengorbanan: untuk mencegah atau menyelesaikan kekacauan.
Girard menunjukkan bahwa korban kambing hitam tidak berdosa dan tidak bersalah. Tetapi pelaku praktek jahat kambing hitam adalah jahat meski tujuannya bisa baik: menyelesaikan kekacauan.
2. Praktek Jahat Kambing Hitam
Kita menyaksikan banyak praktek jahat kambing hitam.
Trump menyerang Iran dengan dalih jahat kambing hitam; ia menuduh Iran membunuh warganya sendiri. Serangan usa, dengan Trump sebagai presiden, kepada Iran yang berdaulat adalah pelanggaran hukum internasional. Tentu saja Trump punya banyak dalih pembelaan; terutama dalih jahat kambing hitam.
Bukannya Iran sendiri menjadikan Amerika sebagai kambing hitam secara jahat? Kita bisa membaca di media bahwa Iran menuduh usa sebagai setan besar dan Israel sebagai setan kecil; setan adalah penyebab kerusakan di dunia ini. Jadi memang rumit karena saling memanfaatkan teori jahat kambing hitam.
Di Indonesia juga banyak teori jahat kambing hitam: antek-antek asing, cebong, kampret, dan lain-lain.
3. Tokoh-Tokoh Penting
Girard adalah tokoh utama yang menjelaskan teori jahat kambing hitam. Berikutnya, Peter Thiel, Alex Karp, dan JD Vance perlu kita cermati karena mereka membaca Girard; minimal secara tidak langsung; dan rumit. Akhirnya, kita membahas Vattimo yang berdebat penuh hormat dengan Girard.
Girard menjelaskan proses munculnya praktek jahat kambing hitam seperti kita bahas di atas. Ia memberi solusi dengan kembali ke ajaran agama yang mengajarkan kebenaran cinta, tulusnya kasih, dan saling menjaga. Dengan ajaran agama ini, menurut Girard, praktek jahat kambing hitam bisa ditinggalkan.
Thiel (lahir 1967) adalah murid Girard. Ia dikenal sebagai investor sukses dengan mendirikan Paypal, investasi di Facebook, dan Palantir; menjadi salah satu orang terkaya di dunia; terkenal dengan gagasan Zero to One.
Kompetisi adalah titik kritis penyebab munculnya praktek jahat kambing hitam. Karena itu Thiel menyarankan agar kita menghindari kompetisi dengan menciptakan inovasi baru tanpa kompetitor; karena benar-benar baru; itulah Zero to One. Ia mengajarkan itu secara teori dan menjalaninya dengan sukses dalam bisnis.
Tetapi, Anda bisa menduga, seiring waktu, inovasi baru itu akan ditiru pihak lain dengan cara tertentu. Sehingga akan terjadi kompetisi lagi yang mengundang terjadi praktek kambing hitam. Dugaan ini, bahwa akan muncul kompetisi baru, sering terjadi secara nyata. Bahkan kompetisi sudah terjadi di awal ketika proses untuk menciptakan inovasi baru itu sendiri. Tampaknya, Thiel sadar ia gagal untuk menghindari praktek jahat kambing hitam.
Pasti akan ada kambing hitam. Dan, kita adalah korbannya. Thiel, Karp, dan Vance sepakat itu. Mereka adalah korban dijadikan sebagai kambing hitam. Pelaku jahatnya adalah Timur Tengah, Rusia, Cina, dan lain-lain. Sebagai korban, mereka, menuntut balas untuk menyerang para pelaku jahat itu.
Dari perspektif itu, kita bisa memahami mengapa mereka mendukung serangan kepada Iran, kepada Rusia, dan kepada Cina terutama serangan bisnis. Karp memimpin Palantir yang melengkapi armada militer dengan AIP (artificial intelligence platform). Vance, sebagai wakil presiden usa, memimpin delegasi untuk menekan Iran dalam diplomasi.
Adakah solusi? Girard, sebagai mahaguru teori jahat kambing hitam, sudah menyediakan solusi: kembali kepada ajaran agama yang menebarkan kebenaran cinta kasih. Apakah solusi itu mencukupi?
Girard berdebat panjang dengan filsuf Itali Gianni Vattimo (1936 – 2023) di akhir abad 20 sampai awal abad 21 tentang solusi terbaik. Mereka berbeda pandangan dengan penuh respek dan ada banyak titik temu. Vattimo sepakat dengan teori jahat kambing hitam dan solusi untuk kembali kepada ajaran kebenaran cinta kasih agama. Bahkan Vattimo mengakui teori Girard yang memantapkannya untuk kembali kepada ajaran agama; yaitu ajaran agama Katolik bagi mereka.
Tetapi Vattimo menyatakan bahwa teori jahat kambing hitam tidak cukup. Bahkan berpegang kepada ajaran kebenaran cinta kasih juga belum cukup. Kita butuh melanjutkan ke “weak thought” menurut Vattimo. Yaitu berpikir lembut, berpikir halus, berpikir lemah, berpikir fleksibel, berpikir terbuka dan begitu juga bersikap.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Kita akan membahas debat Girard-Vattimo itu. Sebelumnya, kita akan mendiskusikan tema teori jahat kambing hitam yang lebih mudah dulu; serta diskusi dengan AI (akal imitasi – artificial intelligence).
4.1 Dialog AI (Artificial Intelligence)
Dari konsep tulisan saya yang belum selesai itu, Chatgpt mengajukan pertanyaan sangat bagus:
Ada semacam pertanyaan besar yang sedang muncul: bagaimana manusia bisa kuat tanpa menjadi keras, mampu menolak tanpa membenci, dan mampu menembus realitas tanpa harus mengorbankan orang lain?
Lalu saya persilakan Claude menjawabnya:
Pertanyaan itu sebenarnya sudah punya jawaban yang tersirat di dalam kerangka Bapak (paman APiQ) sendiri — Girard dan Vattimo hanya memberi dua ujung tongkat; jawaban penuhnya ada di ruang antara tata dan luma, dan di gerak panarko-kopanarko yang sudah dikembangkan.
Kuat tanpa keras — ini soal membedakan kekuatan struktural dari kekerasan simbolik. Girard menunjukkan bahwa kekerasan (violence) muncul justru dari kegagalan menahan kompetisi mimetik pada tahap “bertanding” sebelum jatuh ke “kacau”.
Kekuatan yang keras adalah kekuatan yang sudah kehabisan bentuk, sehingga harus memaksa. Kekuatan yang tidak keras adalah kekuatan yang masih punya bentuk — dan bentuk itu, dalam bahasa tataluma, adalah tata: prosedur, batas, aturan main yang tetap dihormati sekalipun sedang menang. Wong jawani yang kuat bukan yang menghancurkan ΔL orang lain, tapi yang menembus ΔL-nya sendiri tanpa merusak jembatan (B_j) orang lain. Kekuatan tanpa kekerasan itu punya arah, bukan sekadar daya.
Menolak tanpa membenci — ini titik paling Girardian sekaligus paling Vattimian. Girard menaruh solusinya di ajaran cinta kasih (yang menolaknya jangan sampai jatuh menjadi kambing hitam baru). Vattimo menambahkan weak thought: kelembutan berpikir yang membuat penolakan tidak perlu berubah jadi pengafiran (dis-legitimasi total pihak lain).
Dalam kerangka Paman APiQ, ini persis pemetaan luma — kedermawanan, kelapangan hati — yang menahan tata agar tidak mengeras menjadi hukuman. Menolak sebuah gagasan atau tindakan tetap sah dan perlu; yang tidak boleh adalah menjadikan penolakan itu ritual pengorbanan terhadap pribadi yang menolaknya. Benci selalu butuh tubuh untuk disalahkan; penolakan yang matang cukup menyalahkan strukturnya.
Menembus realitas tanpa mengorbankan orang lain — ini yang paling dekat dengan formula daya tembus T Paman APiQ. “Menembus” secara harfiah adalah terobos — dan Paman APiQ sudah punya rumus untuk itu: T = 1/(N+B).
Yang menarik, jalan menembus yang Girardian (scapegoating) sebenarnya adalah jalan pintas untuk menurunkan barrier B secara curang — bukan dengan menghilangkan tembok/celah/jembatan rusak (B_t, B_c, B_j) itu sendiri, melainkan dengan memindahkan beban kekacauan ke pihak lain yang tak bersalah. Itu bukan T sejati, itu T palsu — permeabilitas, atau daya tembus, semu yang dibeli dengan darah pihak ketiga.
Menembus realitas tanpa mengorbankan orang lain berarti menaikkan T (daya tembus) dengan menurunkan barrier B secara struktural (kopanarko: jaringan informasi, agunan sosial, jembatan yang diperbaiki) — bukan dengan memindahkan B ke pundak orang lain.
Kalau ketiganya digabung: manusia yang dicari GPT itu adalah manusia yang hidup dalam osilasi panarko-kopanarko — pusat sementara yang kuat karena berbentuk (tata), lembut karena berbelas (luma), dan menembus karena menaikkan T struktural, bukan karena menemukan kambing hitam baru. Singkatnya: kekuatan Girardian selalu (tampak) butuh korban; kekuatan tataluma tidak — karena ia menembus lewat perbaikan permeabilitas, bukan lewat pengorbanan.
Panarko adalah serba-pemimpin; kopanarko adalah sesama panarko saling kerja sama. Terbentuk osilasi dinamis panarko-kopanarko tanpa henti.
4.2 Deskripsi Kompetisi
Membaca karya Girard, kita akan menemukan peran penting kompetisi yang mendahului praktek jahat kambing hitam. Ia menggambarkan kompetisi dengan sangat baik. Tetapi saya mengalami kesulitan membaca karya Girard karena terlalu panjang porsi deskripsi dan terlalu sedikit preskripsi; terlalu sedikit saran keharusan.
Terutama dalam karya awal, misal Violence and The Sacred, hampir tidak ditemukan preskripsi sama sekali. Sementara deskripsi kompetisi, kekerasan, dan pengorbanan berlimpah di setiap lembar tulisan. Di karya akhir, terutama debatnya dengan Vattimo, memang kita bisa menemukan beberapa preskripsi yang lebih jelas: berpegang kepada ajaran agama menebarkan kebenaran cinta kasih.
IEP menjelaskan:
Namun, menurut Girard, sebagian besar pemikiran yang dicurahkan untuk membahas imitasi kurang memberikan perhatian pada kenyataan bahwa kita juga meniru keinginan orang lain, dan bergantung pada bagaimana hal tersebut terjadi, imitasi dapat menimbulkan konflik dan persaingan. Jika orang saling meniru keinginan satu sama lain, mereka pada akhirnya mungkin menginginkan hal-hal yang persis sama; dan jika mereka menginginkan hal yang sama, mereka dapat dengan mudah menjadi rival ketika mereka berusaha mendapatkan objek yang sama.
Girard biasanya membedakan istilah imitation (imitasi) dari mimesis. Istilah yang pertama biasanya dipahami sebagai aspek positif dari tindakan mereproduksi perilaku orang lain, sedangkan istilah yang kedua biasanya mengandung aspek negatif berupa persaingan atau rivalitas. Perlu juga disebutkan bahwa karena istilah imitation biasanya dipahami sebagai tindakan meniru atau memimik perilaku orang lain, Girard mengusulkan istilah mimesis untuk merujuk pada respons yang lebih mendalam dan bersifat instingtif yang dimiliki manusia terhadap satu sama lain.
Meniru (mimesis), pada akhirnya, berebut obyek yang sama sehingga manusia bersaing sampai bertanding. Kekerasan konflik menjadi mudah meledak pada situasi ini.
Iran ingin menguasai wilayah Iran; Trump juga meniru ingin menguasai wilayah Iran; terjadi konflik kekerasan berupa serangan ke wilayah Iran dan balasan serangan dari Iran.
Ukraina ingin menguasai wilayah Ukraina; Putin ingin menguasai Ukraina; mimesis ini pecah menjadi perang Rusia – Ukraina berkepanjangan.
Kakak ingin mewarisi tahta kerajaan dari ayahnya sang raja. Adik juga ingin mewarisi tahta kerajaan yang sama dari ayah yang sama. Pertikaian keluarga kerajaan sering berlangsung secara sadis. Dalam skala personal bisa juga terjadi pertikaian rebutan warisan yang sama antara kakak dan adik.
Apa solusinya? Kambing hitam jawaban Girard. Kita ikuti IEP lagi.
Dalam psikologi Girard, mediasi internal dan hasrat metafisis pada akhirnya mengarah pada persaingan dan kekerasan. Imitasi pada akhirnya menghapus perbedaan di antara manusia, dan sejauh manusia menjadi semakin mirip satu sama lain, mereka menginginkan hal-hal yang sama. Hal ini kemudian mengarah pada persaingan dan perang Hobbesian “semua melawan semua”. Persaingan-persaingan tersebut segera berpotensi mengancam keberadaan komunitas itu sendiri. Karena itu, Girard mengajukan pertanyaan: bagaimana mungkin komunitas mengatasi konflik internal mereka?
Sementara para filsuf abad ke-18 mungkin akan sepakat bahwa kekerasan komunal berakhir karena adanya kontrak sosial, Girard berpendapat bahwa, secara paradoks, persoalan kekerasan sering kali diselesaikan dengan dosis kekerasan yang lebih kecil.
Ketika persaingan mimetik semakin menumpuk, ketegangan pun terus meningkat. Namun, pada akhirnya ketegangan tersebut mencapai titik puncaknya. Ketika kekerasan sudah berada pada tahap yang mengancam keberadaan komunitas, sangat sering muncul suatu mekanisme psikososial yang ganjil: kekerasan komunal tiba-tiba diproyeksikan kepada satu individu. Dengan demikian, orang-orang yang sebelumnya saling bertikai kini menyatukan kekuatan untuk melawan seseorang yang dipilih sebagai kambing hitam. Para musuh yang sebelumnya saling berhadapan kini menjadi kawan, karena mereka bersama-sama melakukan kekerasan terhadap seorang musuh yang telah ditentukan.
Girard menyebut proses ini sebagai scapegoating (mekanisme kambing hitam), sebuah istilah yang merujuk pada ritual keagamaan kuno ketika dosa-dosa komunitas secara metaforis dibebankan kepada seekor kambing jantan, dan hewan tersebut kemudian ditinggalkan di padang gurun atau dikorbankan kepada para dewa (dalam Alkitab Ibrani, hal ini secara khusus ditetapkan dalam Imamat 16).
Dalam pengertian ini, orang yang menerima kekerasan komunal tersebut menjadi “kambing hitam”: kematian atau pengusirannya berguna untuk memulihkan kedamaian komunal dan memulihkan kembali hubungan-hubungan di dalam komunitas.
Solusi berupa praktek jahat kambing hitam adalah keburukan; harus ditinggalkan. Di sini kita menguatkan preskripsi yaitu tinggalkan praktek jahat kambing hitam. Tetapi praktek jahat kambing hitam itu bisa menyelinap dengan lembut melalui ritual adat atau agama.
Deskripsi kita tentang teori Girard di atas adalah sangat ringkas dibanding aslinya tetapi sudah terasa sangat panjang. Sehingga membaca Girard haruslah kita secara sadar menggali preskripsinya; jangan terjebak dalam deskripsi.
4.3 Solusi Pengorbanan
Bagi Girard, ajaran agama Kristen telah membongkar tuntas kejahatan praktek kambing hitam. Kemudian memberi solusi jelas: menebarkan kebenaran cinta kasih.
Apologetika Kristen Girard berangkat dari perbandingan antara mitos dan Alkitab. Menurut Girard, sementara mitos terperangkap dalam dinamika mekanisme kambing hitam karena menceritakan kisah-kisah pendiriannya dari sudut pandang para pelaku pengkambinghitaman, Alkitab memuat banyak kisah yang menceritakan peristiwa dari sudut pandang para korban.
Dalam mitos, mereka yang dieksekusi secara kolektif digambarkan sebagai pelaku kejahatan yang mengerikan dan layak dihukum. Sebaliknya, dalam Alkitab, mereka yang dieksekusi secara kolektif digambarkan sebagai korban yang tidak bersalah, yang dituduh secara tidak adil dan mengalami penganiayaan. Dengan demikian, Girard menghidupkan kembali tradisi apologetika Kristen lama yang menekankan keunikan Alkitab. Namun, alih-alih menekankan popularitas Alkitab, penggenapan nubuat, atau konsistensinya, Girard berpandangan bahwa keunikan Alkitab terletak pada pembelaannya terhadap para korban.
Solusi dari kekerasan adalah menciptakan praktek jahat kambing hitam. Orang-orang yang bersekongkol menjadi damai karena sudah membunuh korban kambing hitam; yang dituduh sebagai sumber konflik. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa korban itu tidak berdosa; korban itu tidak bersalah. Alkitab telah membongkar konspirasi mekanisme teori jahat kambing hitam. Praktek jahat kambing hitam harus ditinggalkan dan diganti dengan praktek agama menebarkan kebenaran cinta kasih.
Bagaimana jika solusi Girard diterapkan untuk konflik kekerasan di abad 21 ini? Teori Girard membantu kita memahami rumitnya fenomena konflik abad 21. Sementara, untuk solusinya, kita masih jauh harus berjalan.
4.4 Berpikir Lembut
Vattimo datang tepat waktu berdebat dan berdialog dengan Girard dengan mengusulkan berpikir lembut: weak thought. Vattimo dan Girard sama-sama mengutamakan ajaran agama dan mewarisi pemikiran Nietzsche mau pun Heidegger.
Mari kita kutip lagi IEP.
Antropologi teologis René Girard berfokus pada pentingnya kematian dan kebangkitan Kristus dalam mengungkap mekanisme yang menopang masyarakat. Menurut pandangan Girard, agama-agama alamiah didirikan di atas kebutuhan untuk menciptakan korban demi mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Dorongan mimetik dalam diri manusia untuk menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain meningkat hingga kekerasan mengancam untuk menghancurkan masyarakat. Seorang kambing hitam yang dikorbankan kemudian dibunuh untuk mencegah kehancuran masyarakat. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi semakin terikat pada ritual dan memperoleh karakter sakral serta ilahi.
Girard memandang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai teks-teks yang dimaksudkan untuk mengungkap mekanisme yang berpusat pada korban ini. Tujuan Yesus bukanlah, sebagaimana diajarkan oleh teologi Kristen, untuk menjadi kurban yang sempurna bagi Bapa-Nya. Sebaliknya, Girard berpandangan bahwa Yesus disalibkan karena Ia menyingkapkan mekanisme tersebut.
Vattimo, yang juga memandang yang sakral (pengorbanan) sebagai sesuatu yang melibatkan kekerasan, melihat adanya kemungkinan untuk mengadaptasi gagasan Girard mengenai yang sakral alamiah. Berbeda dengan Girard, Vattimo tidak melihat Yesus sebagai pengungkap suatu kebenaran antropologis (yakni mekanisme yang berpusat pada korban). Sebaliknya, Vattimo melihat Yesus sebagai penggerak proses pelembutan – pelemahan yang mendesakralisasi, yang mencapai hasilnya dalam modernitas. Pelemahan (pelembutan) ini berlangsung melalui penyingkapan kecenderungan agama-agama untuk bersifat otoriter dan penuh kekerasan, khususnya dalam tuntutan untuk melakukan pengorbanan.
Vattimo memandang filsafat Heidegger “sebagai suatu … penyingkapan aktif atas mekanisme korban yang sama yang Girard membantu kita temukan dalam Kitab Suci Yahudi-Kristen” (Vattimo, 2010: 80). Vattimo berpendapat bahwa filsafat Heidegger merupakan suatu transkripsi dari wahyu Yahudi-Kristen, khususnya sebagaimana wahyu tersebut ditafsirkan oleh Girard.
Bagi Girard, hal ini merupakan “struktur korban yang mendasar dari seluruh kebudayaan manusia; bagi Heidegger, hal ini menyingkap ‘rahasia’ metafisika, yaitu pelupaan terhadap Ada (Being) dan identifikasi Ada dengan yang-ada (beings), objektivitas, dan sebagainya” (Vattimo, 2010: 81).
Makna sejarah bagi Girard dan Heidegger, sebagaimana dibaca oleh Vattimo, adalah emansipasi dari kekerasan. Vattimo melihat dalam pemikiran Girard adanya kaitan antara Allah metafisika yang “keras” dan kekerasan yang ia lihat dalam metafisika, yang secara luas mengikuti pemahaman Heidegger mengenai metafisika. Gagasan tentang Allah yang dimaksud di sini adalah konsep Allah onto-teologis yang dimaksimalkan, yang mengandung atribut kemahakuasaan, kemahatahuan, dan penghakiman.
Dalam pengantarnya untuk buku Christianity, Truth and Weakening Faith karya Vattimo dan Girard, Pierpaolo Antonello memperjelas hubungan antara Girard dan Vattimo:
Pemutusan lingkaran pengorbanan, yang dicapai melalui wahyu Yahudi-Kristen (dalam istilah Girard) atau melalui kenosis Allah dalam inkarnasi (dalam istilah Vattimo), meluncurkan suatu perkembangan historis yang mencapai puncaknya pada zaman sekarang (Antonello, 2010: 9).
Bagi Girard, puncak tersebut adalah zaman sekarang, ketika manusia dihadapkan pada keputusan untuk melanjutkan persaingan mimetik dan pengorbanan kambing hitam, bahkan ketika mekanisme tersebut telah tersingkap sepenuhnya. Penyingkapan ini telah berlangsung pada tingkat apokaliptik, yakni pada ambang bencana nuklir global, serta melalui seruan Yesus untuk mengasihi sesama. Bagi Vattimo, puncaknya adalah terwujudnya proses sekularisasi dalam hermeneutika.
Prinsip kenosis, dalam Al Kitab, menjadi sangat penting bagi Vattimo. Kenosis yang selaras dengan hermeneutika memang menghasilkan keragaman interpretasi; tapi lebih dari beragam itu, setiap interpretasi adalah lembut.
Vattimo menggunakan gagasan tentang “inkarnasi” dalam berbagai cara, terutama melalui gagasan yang berkaitan erat dengannya, yaitu kenosis, suatu istilah yang sering digunakan dalam Alkitab untuk merujuk pada “pengosongan diri” Kristus (Filipi 2:7). Sejalan dengan hubungan ini, Vattimo merujuk pada berbagai bagian Alkitab untuk mendukung pemahamannya mengenai kenosis. Ia mengutip Ibrani 1:1–2 dalam Beyond Interpretation, salah satu tulisan panjang yang muncul pada periode awal kembalinya ia pada agama. Dalam teks tersebut, Vattimo menggunakan kenosis untuk merujuk pada arketipe pluralitas hermeneutis di Barat, dengan membandingkan dan mempertentangkannya dengan kandidat-kandidat lain yang kurang sesuai (yakni, menurut pandangan Vattimo, bersifat metafisis), seperti pernyataan Aristoteles bahwa “Ada dikatakan dalam banyak cara.”
Bagi Vattimo, pendirian Aristoteles tersebut tetap merupakan suatu pernyataan metafisis, dan karena itu kurang sesuai dibandingkan dengan alternatif “profetis” Paulus dalam Surat Ibrani. Menurut Vattimo, yang terakhir ini merupakan suatu pernyataan mengenai pelembutan-pelemahan (weakening) dan mengenai pesan yang dinyatakan melalui inkarnasi Anak Allah.
Kebenaran cinta kasih itu beragam dan setiap keragaman itu lembut, selalu merangkul seluruh umat manusia, dan alam raya.
4.5 Osilasi Tanpa Henti
Puncak prestasi adalah perjalanan itu sendiri tanpa henti. Diskusi kita sudah mengantar ke puncak yang bukan sebuah titik melainkan osilasi tanpa henti. Kita akan mengkristalkan lagi alternatif solusi dan penguatan preskripsi.
Praktek Jahat
Praktek jahat kambing hitam terjadi di banyak tempat untuk mendapatkan solusi palsu dari konflik yang mereka hadapi; konflik internal mau pun eksternal.
Kakak dan adik yang berebut warisan yang sama menghadapi konflik. Kemudian, mereka menunjuk satu orang (pihak) sebagai kambing hitam yang menyebabkan konflik. Kakak dan adik setuju bahwa kambing hitam itu adalah penyebab segala masalah. Kemudian, mereka sepakat untuk menghukum kambing hitam.
Mereka kompak karena menghadapi musuh yang sama sehingga tidak ada lagi konflik antara kakak dan adik. Kambing hitam cukup lemah untuk dikorbankan tetapi cukup berjarak untuk langsung diekskusi. Perlu usaha untuk eksekusi justru penting; untuk mematangkan pemahaman bahwa kambing hitam adalah pihak salah. Interval waktu yang dibutuhkan ini juga memberi kesempatan perdamaian bagi mereka yang berkonflik; meski perdamaian palsu.
Taruhan praktek jahat kambing hitam itu sebanding dengan besar konflik perebutan warisan: warisan rumah biasa, rumah mewah, perusahaan keluarga, atau warisan seluruh kerajaan.
Praktek jahat kambing hitam menjadi lebih efektif ketika evolusi menjadi bentuk ritual. Karena ritual pengorbanan kambing hitam bisa dianggap sebagai kebaikan tradisi, adat, atau agama. Dalam tahap lanjut, ritual ini bisa benar-benar berupa “ritual” belaka yang sangat efektif meski palsu.
Ritual itu berupa pernyataan dalam doa bahwa “aliran saya ada di jalan yang benar, paling benar, dan satu-satunya yang benar.” Konsekuensi dari ritual itu adalah: orang lain, atau aliran lain, adalah sesat dan kafir; mereka adalah kambing hitam. Dalam skenario ini, pelaku ritual adalah pelaku yang menciptakan praktek jahat kambing hitam; pihak lain (aliran lain) adalah sebagai korban kambing hitam yang bisa jadi tidak berdosa.
Ritual pengorbanan kambing hitam di atas bisa bernuansa: (a) sebatas pernyataan doa; meski pernyataan ini bisa saja palsu tetapi dampaknya bagi para pelaku ritual bisa sangat efektif memberi ketenangan dari konflik batin; sementara dampak kepada korban kambing hitam bisa hanya terbatas; (b) terjadi eksekusi pengorbanan kepada kambing hitam; eksekusi itu berbahaya bagi korban dan sangat merugikan; karena korban adalah pihak lemah maka mereka tidak bisa memberi perlawanan yang efektif.
Batas Kambing Hitam
Praktek jahat kambing hitam terbatas ketika korban adalah pihak yang sama kuat dengan para pelaku.
Agama besar A menuduh agama besar B sebagai sesat dan penyebab kekacauan dunia. Sebaliknya juga terjadi sama: agama besar B menuduh agama besar A sebagai sesat dan penyebab kekacauan dunia. Karena kekuatan mereka seimbang maka mereka tidak bisa eksekusi korban kambing hitam; praktek jahat kambing hitam hanya sebatas pernyataan atau doa belaka.
USA menuduh Iran sebagai penyebab kekacauan tatanan dunia. Iran menuduh USA sebagai penyebab kekacauan tatanan dunia. Tetapi kekuatan mereka “cukup imbang” sehingga tidak bisa melakukan eksekusi korban kambing hitam secara efektif. Bagaimana pun saling serang di podium dan di media cukup efektif menghibur diri di pihak masing-masing.
Solusi Kebenaran Kasih
Kambing hitam adalah solusi palsu berupa jalan pintas menyelesaikan konflik. Solusi yang lebih baik adalah sesuai ajaran agama: menebarkan kebenaran cinta kasih. Kakak dan adik yang berkonflik berebut warisan dapat diselesaikan ketika mereka mengutamakan kebenaran cinta kasih. Konflik antar agama, atau antar aliran, bisa diselesaikan bila setiap agama mengutamakan kebenaran cinta kasih; baik kepada sesama penganut ajaran agama yang sama atau pun ke agama lain.
Konflik politik-militer USA-Iran atau Rusia-Ukraina juga bisa diselesaikan ketika mereka semua mengutamakan kebenaran cinta kasih.
Tetapi mengapa realitasnya konflik itu semua tidak bisa diselesaikan? Karena terjadi penilaian asimetri; tidak konsisten antara penilaian internal dengan eksternal. Pihak P menilai dirinya menjalankan kebenaran cinta kasih; dan menilai pihak Q sebagai melanggar kebenaran cinta kasih. Arah sebaliknya juga sama: pihak Q menilai dirinya menjalankan kebenaran cinta kasih dan menilai pihak P sebagai melanggar kebenaran cinta kasih. Hasil akhir: konflik tetap memanas.
Solusi Berpikir Lembut
Kita perlu melanjutkan dengan berpikir lembut. Pihak P menilai dirinya sebagai menjalankan kebenaran cinta kasih dan menilai Q melanggar kebenaran cinta kasih. Tetapi itu bukan penilain keras melainkan penilaian lembut. Yaitu P melakukan refleksi bahwa dirinya bisa jadi tidak benar-benar menjalankan kebenaran cinta kasih. Karena itu, P siap mengoreksi diri agar bisa lebih dekat menjalankan kebenaran cinta kasih secara lembut; P membuka diri untuk dialog dengan tulus.
Demikian juga ketika P menilai Q sebagai melanggar kebenaran cinta kasih adalah secara lembut. Yaitu bisa jadi Q tidak benar-benar melanggar kebenaran cinta kasih. Dengan demikian, P terbuka untuk dialog dengan tulus.
Dari arah Q juga sama berpikir lembut; tidak berpikir keras. Hasil akhir: terjadi dialog tulus antara P dan Q karena mereka sama-sama berpikir lembut; konflik bisa ditangani lebih baik. Potensi konflik akan selalu ada tetapi ada proses menanganinya dengan baik melalui berpikir lembut. Itu adalah solusi sejati bukan solusi palsu.
Tetapi realitasnya mengapa masih banyak konflik di dunia? Karena tidak terjadi proses berpikir lembut seperti di atas. Mengapa tidak terjadi proses berpikir lembut? Di satu sisi, berpikir lembut itu membutuhkan perjuangan, investasi, dan waktu; di sisi lain, berpikir keras menjanjikan keuntungan cepat meski palsu. Barangkali akan selalu ada orang yang mampu berpikir lembut meski lebih mudah berpikir keras bagi kebanyakan orang.
Osilasi
Solusi puncak adalah osilasi dinamis tanpa henti panarko-kopanarko.
Panarko (serba-pemimpin) berpikir lembut bahwa dirinya adalah seorang pemimpin sejati; di saat yang sama, orang lain adalah pemimpin sejati juga. Meski ada banyak orang yang tidak menjadi pemimpin tetapi mereka semua memiliki posibilitas nyata untuk menjadi pemimpin; mereka sedang dalam jalur menjadi pemimpin. Panarko, termasuk diri kita, menolak dijadikan korban kambing hitam; dan menolak menjadi pelaku kambing hitam. Setiap panarko menghormati seluruh orang lain sebagai panarko yang sama.
Selanjutnya, beberapa panarko saling kerja sama membentuk kopanarko. Dalam kerja sama kopanarko inilah aturan mulai disepakati secara eksplisit yang dijiwai oleh nilai-nilai moral tinggi para panarko. Kerja sama kopanarko bukanlah puncak tertinggi melainkan osilasi dinamis panarko-kopanarko tanpa henti; mengantar pada ayunan berirama panarko-kopanarko; meniupkan ayunan mengalun panarko-kopanarko.
Apa pentingnya ayunan panarko-kopanarko? Ayunan menjadi penting karena alternatifnya adalah siklus melelahkan: chaos – arko – anarko. Manusia lelah dalam siklus sejarah tanpa henti pun tanpa kemajuan berarti. Chaos adalah situasi kacau yang tidak diharapkan. Kemudian muncul arko (pemimpin kuat) yang menyelesaikan kekacauan hanya untuk kemudian ia menjadi dominasi. Perlawanan muncul di sana-sini. Arko mengalami krisis lalu runtuh dan terjadilah anarko; situasi anarkis tanpa pemimpin. Putaran selanjutnya adalah kembali ke chaos atau arko tanpa henti yang melelahkan.
Solusinya adalah umat manusia perlu melompat dari siklus chaos-arko-anarko menuju panarko. Bagaimana pun situasi panarko selalu dalam risiko untuk jatuh lagi dalam siklus chaos-arko-panarko. Pilihan yang lebih baik adalah panarko menjalin gerak dinamis berupa ayunan panarko-kopanarko. Bukan berarti ayunan panarko-kopanarko terbebas dari ancaman jatuh dalam siklus; melainkan ayunan memiliki posibilitas besar untuk tetap menghembuskan alunan harmonis panarko-kopanarko.
5. Ringkasan
Pesan tegas: tinggalkan praktek jahat kambing hitam. Jangan pernah menjadi pelaku yang menciptakan kambing hitam. Jaga diri dan lingkungan agar tidak menjadi korban dari praktek jahat kambing hitam.
Girard memberi solusi agar kita kembali kepada ajaran agama yang menebarkan kebenaran cinta kasih. Vattimo memberi solusi lanjut weak-thought: melembutkan pikiran, melembutkan hati, dan melembutkan sikap.
Kajian kita memberi prospek solusi yaitu menjadi panarko: serba-pemimpin. Jadikan diri Anda sebagai panarko yang mampu menembus segala rintangan dan mampu menolak godaan jalan pintas yang palsu. Ketika Anda menjadi panarko (serba-pemimpin) maka Anda memandang orang lain juga sebagai panarko. Di antara para panarko ini saling kerja sama membentuk kopanarko. Terjadi osilasi dinamis panarko-kopanarko tanpa henti. Anda bisa merujuk ke tulisan saya lainnya untuk membahas tema panarko lebih mendalam.