Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Realitas Kebenaran Sejati Terbukti

Apa realitas kebenaran sejati? Tuhan adalah kebenaran sejati. Begitu, kira-kira, jawaban dari perspektif agama. Sementara, orang-orang yang materialis, orang yang memandang realitas adalah materi, maka realitas kebenaran sejati adalah partikel-partikel fundamental pembentuk materi alam raya. Benarkah begitu? Masih ada banyak alternatif jawaban.

Whizolosophy | The Illusion Of Time; Does Time Exist In Fundamental Reality?

Realitas sejati hanyalah ilusi. Di dunia ini tidak ada apa-apa. Yang tampak di luar seperti meja, pohon, mobil, dan lain-lain adalah ilusi dari pikiran kita. Realitas adalah ilusi pikiran manusia. Dan, manusia, kita sendiri, juga merupakan ilusi. Demikian, kira-kira, pandangan skeptis-idealis.

Realitas sejati di alam raya adalah simulasi komputer super canggih. Kita adalah karakter-karakter pelaku dalam game simulasi kehidupan. Karakter dalam game berjuang untuk memenangkan petualangan. Demikian juga, kita, merasa berjuang untuk meraih mimpi, cita-cita tertinggi. Kita tidak sadar bahwa, sebenarnya, kita hanya ada dalam simulasi game belaka. Begitu, kira-kira, pandangan skeptis-simulasi.

Dunia adalah cinta. Dunia hanya milik kita berdua. Begitu kata mereka yang sedang jatuh cinta. Realitas sejati adalah cinta. Cinta yang menerangi seluruh semesta. Cinta yang membahagiakan, menarik, dan mendorong setiap gerak dunia. Begitu, kira-kira, pandangan romantis.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas satu demi satu pandangan di atas. Saya, justru, akan fokus dengan satu solusi untuk menjawab pertanyaan realitas fundamental sejati. Realitas sejati adalah dinamis.

Karakter Dinamis

Karakter realitas sejati adalah dinamis. Setiap kita membuat konsep tentang realitas kebenaran maka realitas itu sendiri sudah bergerak dengan dinamis. Umumnya, kita memandang gerak sebagai perpindahan suatu substansi dalam ruang dan waktu. Gerak semacam itu adalah gerak aksidental, gerak permukaan belaka. Sejatinya, kita bisa lebih dalam melacak gerak sampai kepada gerak substansial dan gerak eksistensial.

Kita bisa menggunakan rumusan “pancajati” untuk mempelajari realitas yang dinamis ini. 1) realitas kebenaran selalu dinamis, 2&3) kebenaran adalah hasil verifikasi berdasar cakrawala tertentu, 4&5) kebenaran cakrawala dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi. Lebih lengkap tentang formula pancajati silakan merujuk ke tulisan saya terdahulu. (Kebenaran Sejati Ada Di Sini)

Hana Maga Bataga

Realitas fundamental kebenaran sejati: hana. Karakter kebenaran yang terus-menerus dinamis adalah: maga. Dan, gerak dinamis dari hana ini menghasilkan kebenaran akhir: bataga.

Karena hana adalah realitas paling fundamental maka kita tidak bisa mendefinisikan hana. Justru setiap definisi membutuhkan dukungan dari hana. Maka kita akan memaknai hana – menginterpretasikan hana. Agar hana menjadi lebih nyata, bagi kita, maka kita bisa memandang hana sebagai manusia sejati. Hana adalah manusia sejati yang senantiasa bergerak dinamis.

Kita tahu bahwa manusia sejati, sebagai hana, selalu bergerak maju. Manusia selalu punya cita-cita. Setelah, satu cita-cita berhasil diraih, maka hana menetapkan cita-cita baru. Bahkan, sebelum cita-cita diraih, hana bisa saja menciptakan cita-cita yang lebih banyak. Manusia sejati tidak pernah berhenti. Mengejar cita-cita yang makin tinggi.

Gerak manusia sejati itu adalah maga. Maga adalah gerak sejati, gerak eksistensial, gerak substansial. Maga menggerakkan, mengubah, manusia kanak-kanak menjadi manusia remaja lalu dewasa. Maga mengubah manusia cengeng menjadi manusia gagah perkasa. Maga mengantarkan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa menjadi sarjana bijaksana. Maga bergerak dalam jangka waktu bertahun-tahun. Maga juga bergerak tiap detik, tiap saat. Maga menciptakan ruang untuk bergerak. Maga menciptakan waktu untuk bergerak.

Bataga adalah hasil akhir dari hana yang bergerak sebagai maga. Bataga menampung hana dan seluruh hasil gerak maga. Seorang sarjana bijaksana menampung seluruh memori perjalanan dia dari kanak-kanak, remaja, sampai dewasa saat ini. Bataga ini unik. Setiap orang memiliki bataga yang berbeda-beda. Karena masing-masing orang memiliki kisah hidup yang beragam maka totalitas kisah hidupnya itu berkumpul menjadi bataga yang beragam, unik bagi masing-masing individu.

Apa sejatinya bataga itu? Bataga adalah hana yang baru. Yaitu, hana yang sudah melakukan gerak maga maka menjadi bataga. Karena bataga, sejatinya adalah hana, maka bataga itu juga selalu dinamis tidak pernah berhenti. Sehingga, ketika kita membahas hana, sejatinya, kita juga sedang membahas bataga.

Konten Cinta

Terdiri dari apakah realitas fundamental hana itu?

Kita bisa menginterpretasikan pertanyaan ini seperti seorang ilmuwan hendak menjawab pertanyaan terdiri dari apakah benda-benda, materi, di dunia ini. Dalton menjawab setiap materi terdiri dari bagian terkecil berupa atom. Kelak, ilmuwan menemukan bahwa atom bukanlah partikel terkecil. Atom tersusun oleh proton, neutron, dan elektron yang lebih sederhana. Selanjutnya, fisika quantum menemukan bahwa proton itu juga tersusun oleh partikel elementer seperti quark, boson, lepton, dan lain-lain. Apakah partikel elementer ini akan terus bisa digali, dianalisis, menghasilkan partikel yang lebih elementer lagi?

Teori string, lanjutan dari fisika quantum, menetapkan titik henti. Semua partikel elementer tersusun oleh string – partikel yang paling elementer. Quark dan kawan-kawan itu, pada analisis akhir, tersusun oleh string. Tersusun oleh apakah string itu? String adalah tersusun oleh string itu sendiri. String adalah titik henti. Dalam dirinya sendiri, string tidak punya kekuatan apa-apa. Tetapi ketika beberapa string berkumpul, berinteraksi, maka akan menghasilkan beragam partikel fundamental elementer.

Jadi, tersusun oleh apakah hana itu? Hana tersusun oleh string. Tentu saja, string yang berbeda dengan fisika elementer. String dari hana adalah string cinta.

Hana adalah cinta. Hana selalu jatuh cinta. Hana bergerak karena cinta menuju cinta. Hana memang cinta. Manusia sejati, hana, adalah cinta.

Ketika Anda jatuh cinta, Anda sedang jadi hana, manusia sejati. Memang, Anda adalah hana. Jatuh cinta kepada kekasih adalah manifestasi hana. Cinta kepada anak adalah hana. Cinta kepada tumbuhan adalah hana. Cinta kepada karya sastra adalah hana. Alam raya adalah hana.

Bagaimana dengan orang yang tidak pernah jatuh cinta? Mereka sedang tidak beruntung. Mereka sedang berhenti menjadi hana. Mereka sedang berhenti jadi diri sejati. Maka kita perlu terus untuk jatuh cinta, merawat cinta. Cinta kepada sesama dan cinta kepada seluruh yang ada.

Bagaimana dengan orang yang mengumbar cinta di mana-mana? Apakah mereka adalah hana yang lebih jaya? Cinta sejati adalah suci. Tetapi, manusia bisa membelokkan cinta menjadi nafsu semata. Mengumbar nafsu adalah membelokkan cinta menjadi derita. Kita perlu kembali meluruskan cinta. Meniti jalannya yang suci.

Kita bisa berimajinasi, membayangkan, bahwa hana terdiri dari titik-titik kecil. Di mana, titik-titik kecil itu adalah string cinta. String cinta dalam jumlah yang banyak membentuk kekuatan-kekuatan cinta pada diri manusia. Masing-masing orang, meski terdiri dari string cinta yang sama, berbeda dalam jumlah dan susunan string cinta. Sehingga, kekuatan cinta bisa berbeda-beda. Bagaimana pun, meski berbeda, tetap sama-sama cinta yang mempesona.

Apa saja bentuk kekuatan cinta?

Bentuk Tridaya

Ada dua bentuk cinta sejati dan satu bentuk yang tidak imbang. Total menjadi tiga bentuk maka kita sebut sebagai tridaya: tiga kekuatan cinta.

Kita, juga, bisa kembali ke konsep hana. Manusia sejati, hana, terdiri dari string-string cinta dalam jumlah yang sangat besar dan terus bertambah, terus bergerak, maga. String-string cinta ini membentuk 3 kekuatan utama: 1)adil, 2)baik, dan 3)derita.

Sesuai namanya, bentuk cinta sejati hanya dua: adil dan baik. Sedangkan derita adalah pembelokan dari cinta, pembelokan dari hana.

Hana, dengan cinta, bebas bergerak. Hanya ada dua pilihan bentuk gerak cinta. Pertama, adil adalah manifestasi cinta yang sesuai dengan ukuran. Anda memberikan cinta kepada anak pertama sesuai dengan haknya adalah adil. Anda memberikan cinta kepada anak kedua sesuai haknya adalah adil. Begitu juga, Anda membantu tetangga sesuai haknya maka itu adalah adil.

Kedua, baik adalah manifestasi cinta yang lebih dari ukurannya. Baik adalah lanjutan dari adil. Jika adil adalah memberi sesuai haknya maka baik adalah memberi lebih dari haknya. Memberikan pendidikan kepada anak pertama adalah manifestasi cinta sesuai haknya, itu adalah adil. Memberikan pendidikan dengan kualitas tinggi, penuh perhatian, kepada anak pertama adalah lebih tinggi dari hak, itu adalah baik. Manifestasi cinta dari hana.

Menyelesaikan tugas sebagai kepala negara selama lima tahun sesuai tugas dan kewajiban adalah adil, manifestasi cinta dari seorang kepala negara. Membangun negeri selama 5 tahun, kebijakan-kebijakan strategis yang menyejahterakan rakyat kecil, menetapkan undang-undang yang memajukan seluruh masyarakat adalah lebih tinggi dari hak rakyat. Kepala negara seperti itu sudah berbuat baik, sebagai manifestasi cinta.

Ketiga, derita adalah bukan bentuk pilihan cinta. Derita terjadi ketika cinta berbelok arah, atau berbelok ukuran. Manusia bisa salah mengambil langkah sehingga mengakibatkan derita bagi dirinya atau pun orang lain.

Sejatinya, bentuk dari hana, bentuk dari string-string cinta hanya ada dua: adil dan baik. Mari kita terus merawat cinta, hidup bahagia, dengan manifestasi nyata adil dan baik.

Daya Manusia

Hana, yang terdiri dari string-string cinta itu, bisa membentuk kekuatan dalam jumlah tak terbatas. Sebagai manusia sejati, kita memiliki daya intelektual utama: imajinasi, daya pemahaman, dan akal. Ki Hajar Dewantara menyebut dengan istilah daya cipta, daya rasa, dan daya karsa. Semua daya kekuatan itu adalah bentukan dari string-string cinta, secara langsung atau tidak.

Daya imajinasi, daya citra, adalah kemampuan manusia untuk menciptakan citra dalam pikirannya. Citra inilah yang kita lihat, dalam kasus penglihatan. Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka cahaya-cahaya dari pohon mengenai mata kita. Kemudian, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran kita, yang bisa kita lihat.

Imajinasi juga bisa menciptakan citra tanpa melihat obyek pohon. Imajinasi bisa saja menciptakan citra dengan mengacu memori atau daya kreativitasnya.

Daya pemahaman, faham, adalah kemampuan manusia memahami suatu konsep. Ketika, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran, imajinasi tidak paham bahwa itu pohon. Imajinasi hanya menciptakan citra. Kemudian tugas daya-pemahaman untuk memahami bahwa citra itu adalah pohon. Daya-pemahaman pula yang memutuskan sesuatu sebagai benar atau salah berdasar konsep pemahaman.

Imajinasi menciptakan citra berdasarkan pengalaman data-data indera dan kombinasi-kombinasi darinya. Sementara, daya-pemahaman mampu menciptakan konsep-konsep melampaui pengalaman indera. Misal, imajinasi dapat menciptakan citra-citra gambar kreatif sejauh dalam ruang dimensi 3. Tetapi, daya pemahaman bisa menciptakan konsep gambar dalam ruang dimensi 5. Tak bisa dibayangkan oleh imajinasi, bisa dibuatkan konsep oleh daya-faham.

Dalam fisika quantum, misalnya, ada konsep multiverse yang menyatakan bahwa ada banyak alam paralel. Ada Indonesia di alam kita, di sini. Dan, ada Indonesia di alam paralel yang lain. Ada Anda di alam ini, dan ada Anda versi lain di alam paralel yang lain. Daya-faham bisa memahami konsep multiverse. Tapi, imajinasi kita tidak bisa membayangkannya. Jika ada alam paralel lain, kata imajinasi, pasti alam paralel itu ada di ruang sekitar sini juga, hanya saja, bisa jauh atau dekat.

Daya-faham mampu memahami konsep lebih luas dari imajinasi. Sementara, imajinasi bisa menggambarkan citra lebih jelas dari daya-faham. Imajinasi bekerja sama dengan daya-faham dalam diri manusia.

Daya-nalar, akal, adalah kemampuan kita menciptakan idea-idea baru. Akal mengolah citra dari imajinasi dan konsep dari daya-faham untuk kemudian menghasilkan gagasan-gagasan segar. Apa yang tak terbayangkan oleh imajinasi, dan apa yang tak terpikirkan oleh daya-faham, bisa menjadi ide segar bagi akal.

Akal bisa meng-akali setiap kesulitan untuk kemudian menemukan inovasi baru. Akal, juga, bisa meng-akali pihak lain sampai rugi, demi kepentingan pribadi. Akal memang banyak akal. Akal adalah daya aktif manusia yang bernilai tinggi. Manusia wajib menjaga akalnya demi kebaikan bersama.

Uniknya dari akal adalah kemampuannya bernalar secara asosiasi bebas. Akal mampu membaca suatu obyek sebagai simbol untuk kemudian menciptakan idea segar dari obyek, yang tidak nyambung dengan obyek itu sendiri. Misal, ketika saya melihat anak kecil senang bermain dengan kubus-kubus kecil maka akal saya memunculkan idea bagaimana menciptakan media permainan untuk belajar matematika. Dan, kemudian, akal bekerja sama dengan daya-faham menciptakan konsep, meminta bantuan imajinasi untuk membuat gambaran jelas maka terwujudlah game “dadu milenium.” Sebuah game matematika yang memudahkan anak-anak belajar matematika. Asyik…!

Ketika melihat kebun teh hijau membentang, akal memunculkan ide bahwa itu adalah simbol dari kebahagiaan manusia. Manusia bahagia dengan pemandangan yang begitu sejuk. Kebun teh dan bahagia, sejatinya tidak ada hubungan pasti. Akal kita menciptakan hubungan itu, menghubungkan sesuatu yang, tampaknya, tidak ada hubungan.

Ketiga daya di atas (imajinasi, daya-faham, dan akal) adalah daya aktif. Kombinasi dari string cinta memungkinkan terbentuknya daya-daya lain yang unik. Termasuk di antaranya daya pasif yaitu daya-data, daya-hasrat, dan daya-rasa.

Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka mata mengirimkan sinyal-sinyal cahaya ke mata, dan sistem syaraf. Kemudian, secara reflek, daya-data akan memunculkan intuisi pohon masih samar-samar berdasar data yang diterimanya. Selanjutnya, daya-aktif mengambil alih tugas. Imajinasi menciptakan citra yang lebih jelas dari intuisi pohon dan daya-faham menerapkan konsep-konsep sampai bisa memutuskan bahwa citra dari obyek itu adalah pohon.

Di saat daya-data menerima sinyal dari pohon, daya-hasrat secara intuitif (reflek) memberi respon awal apakah berminat atau tidak terhadap pohon tersebut. Selanjutnya, daya-aktif mengolah sinyal minat itu. Dari imajinasi dan daya-faham, kita sudah tahu bahwa obyek tersebut adalah pohon. Akal, kemudian, mengembangkan idea: perlu direspon bagaimanakah pohon itu? Barangkali, respon akal adalah: biarkan saja pohon seperti itu, apa adanya.

Jika obyek pohon kita ganti dengan makanan-lezat, apa respon akal? Apakah makanan-lezat itu dibiarkan saja? Atau disantap lebih nikmat? Atau jika obyek itu adalah gadis cantik, maka apa respon akal? Untuk menjawabnya, kita perlu membahas daya-rasa.

Daya-rasa, merasakan berbagai macam realitas. Daya-rasa mempunyai karakter pasif dan aktif. Daya-rasa pasif bersifat refleks intuitif, secara langsung, meneruskan sinyal yang diterimanya kepada subyek, kepada kita. Sedangkan, daya-rasa aktif menjadi sangat penting bagi kita. Daya-rasa aktif bisa memberikan rasa yang lebih kuat kepada kita.

Obyek di depan kita, misalkan, makanan lezat. Daya-rasa pasif menerima sinyal makanan-lezat, secara langsung, meneruskan ke daya-aktif. Imajinasi dan daya-faham dengan cepat memastikan bahwa obyek itu adalah makanan-lezat. Dilihat dari tampilan dan aromanya, makanan itu tampaknya benar-benar lezat. Tugas akal, pada akhirnya, harus memutuskan sikap selanjutnya, apakah makanan perlu disantap?

Akal berulang kali berkomunikasi dengan imajinasi dan daya-faham untuk mengambil keputusan. Imajinasi memunculkan citra diri bahwa kita pada kondisi sedang lapar atau kenyang. Daya-faham memastikan sekarang adalah waktu makan yang tepat atau tidak. Dan seterusnya. Akhirnya, akal memutuskan: makan saja itu makanan lezat, misalnya.

Yang menarik, di sini, daya-rasa aktif sebenarnya tidak ada. Akal, bukan daya-rasa, yang memutuskan makan saja. Sementara, daya-rasa pasif memang ada secara mandiri. Daya-rasa pasif ini dibentuk oleh string-string cinta dalam jumlah tertentu. Sedangkan, daya-rasa aktif dibentuk oleh interaksi harmonis imajinasi, daya-faham, dan akal. Meski pun mereka (imajinasi, faham, dan akal) dibentuk oleh string-string cinta, daya-rasa aktif tidak demikian. Akibatnya, daya-rasa aktif memang besifat estetik, bukan logika linear. Interaksi harmonis berbagai macam daya-aktif menghasilkan rasa estetik.

Bukti Nyata Tuhan ADA

Membuktikan bahwa Tuhan ada adalah tugas paling mudah, di saat yang sama, paling sulit. Paling mudah karena bukti Tuhan sudah ada secara apriori, secara fitri, dalam setiap diri manusia. Sehingga, sejatinya, setiap manusia punya keyakinan akan eksistensi Tuhan. Kita, sebagai orang tua misalnya, cukup mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka anak kita akan meyakininya.

Tidak Ada Bukti bahwa Tuhan Ada atau Tidak – danioyo

Pembuktian ini menjadi tugas yang paling sulit juga. Lantaran, semua bukti bukanlah murni bukti rasional. Sehingga, ketika seseorang menolak bukti tersebut secara rasional maka penolakan tersebut mempunyai argumen tersendiri. Sedangkan, bukti argumen rasional tetap bisa membuktikan bahwa Tuhan memang ada, bagi orang yang bersedia membuka akal dan hatinya.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saya tentang bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti-bukti ini meliputi argumen rasional, argumen moral, sampai argumen spesial. Bila kita pelajari dengan cermat dan secara utuh maka bukti-bukti ini bernilai sangat kuat.

Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1 Ada wujud.
2 Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3 Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4 Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5 Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6 Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7 Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti.

Critical Philosophy: Berpikir Kritis Produktif

Immanuel Kant (1720 – 1804) menulis trilogi kritik dengan sukses luar biasa. Saya ingin membuat catatan tentang trilogi kritik itu. Untungnya, Deleuze (1920 – 1995) sudah membuatkan catatan itu untuk kita.

Kant's Critical Philosophy: The Doctrine of the Faculties by Gilles Deleuze

Berpikir kritis tentu berbeda dengan berpikir praktis. Jika dengan berpikir praktis kita berharap mendapat hasil terbaik dari suatu “pemikiran” maka berpikir kritis, justru, kita fokus mencermati batas-batas dari suatu “pemikiran”. Kita menegaskan keterbatasan suatu sistem filsafat dan, di saat yang sama, memastikan cakupannya. Meski filsafat kritis, atau kritik filsafat, tampak seperti melemahkan kekuatan filsafat, sejatinya, kritik filsafat justru mendorong inovasi dan kreativitas.

Dengan sadar sepenuhnya tentang cakupan dan batas-batas dari suatu konsep maka kita dengan sengaja mengembangkan konsep baru yang lebih luas, tajam, dan tepat. Sehingga, Deleuze mendefinisikan filsafat sebagai penciptaan konsep-konsep baru – yang kreatif dan inovatif. Dengan berpikir kritis, kita makin produktif.

Prolog: Realitas Kebenaran Sejati

1 Kritik Akal Murni
1.1 Kebenaran Universal
1.2 Sintesa Dialektik
1.3 Sains, Teknologi, Bisnis, Moral, Agama

2 Kritik Akal Praktis
2.1 Kehendak Bebas
2.2 Manusia Moral
2.3 Tuhan

3 Kritik Daya Nilai
3.1 Cantik Sublim
3.2 Teleologi
3.3 Akhir Semesta

4 Kritik Ekonomi Digital
4.1 Manusia Satu Dimensi
4.2 Ekonomi Serakah
4.3 Manusia Digital

5 Kritik Agama Sekular
5.1 Agama Pencerah
5.2 Sekularisasi
5.3 Dinamika

Tidak Ada Metode

Kritik tidak memiliki metode. Karena, justru metode itu yang hendak kita kritisi. Lalu, bagaimana cara meng-kritisi? Tidak ada cara baku. Tidak ada metode baku apa pun. Bagaimana pun, kita bisa saja belajar dari banyak pengalaman orang terdahulu dalam melakukan kritik. Untuk kemudian kita pakai, dan tentu, kita kritisi juga. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita pertimbangkan.

Dekonstruksi Derrida melihat segala sesuatu dari sisi berbeda. Kita bisa mencoba dekonstruksi untuk menerapkan kritik filsafat. Dekonstruksi mencoba mencermati oposisi biner kemudian memunculkan sisi berbeda. Misalnya, Kant memberi posisi begitu kuat kepada akal manusia (reason). Bagaimana jika tidak begitu? Bagaimana jika akal, ternyata, tidak mempunyai kekuatan? Bagaimana jika makhluk-tidak-berakal mendominasi dunia?

Hermeneutika Gadamer menguatkan pandangan Heidegger bahwa pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi yang terikat pada budaya dan sejarah masing-masing. Karena itu, akan selalu ada interpretasi baru, sesuai budaya, menghasilkan pengetahuan baru. Misalnya, Kant menguatkan pentingnya sintesa pengetahuan dari data-indera dengan konsep apriori pemahaman akal. Bisakah interpretasi sintesa seperti itu diterapkan pada mesin cerdas, semisal artificial intelligent? Jika AI mampu melakukan sintesa seperti itu, atau bahkan mampu ber-interpretasi, apa konsekuensinya?

Konsep Baru Deleuze mendorong kita untuk memunculkan konsep filosofis yang orisinal. Saya amati, Deleuze melahirkan ide baru dengan membalik atau modifikasi terhadap konsep-konsep yang sudah ada. Misalnya, Deleuze membalik keutamaan prinsip-identitas dari Aristoteles, sehingga, menjadi yang paling utama adalah prinsip-different. Deleuze menerima konsep monisme dari Spinoza kemudian memodifikasi dengan membuang substansinya. Deleuze meyakini adanya realitas aktual dan realitas virtual. Bagaimana jika kita modifikasi dengan adanya realitas super-aktual dan realitas super-virtual?

Sekali lagi, tidak ada metode kritik. Contoh-contoh di atas bukanlah metode, sekedar pembanding dan pemicu ide bagi kita untuk melakukan kritik. Karena itu, kita bebas berkreasi!

Kritik Digital

Tidak sulit untuk melakukan kritik kepada Kant (dan Deleuze) yaitu dengan kritik digital. Ketika Kant menulis trilogi kritik, dunia digital belum berkembang sehebat sekarang. Apakah filsafat Kant tetap berlaku di era digital? Apa saja yang perlu dimodifikasi? Apakah pengetahuan apriori yang bernilai universal tetap ada di era digital? Bisa kita duga bahwa akan ada sintesa baru dengan dunia digital.

Kritik Sejarah

Peluang kritik terbuka luas dengan meluaskan perspektif sejarah filsafat. Di jaman Kant, tidak mudah menemukan tulisan-tulisan asli dari sumber pertama. Misal, Kant meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Sementara, beberapa sarjana meragukan, apakah Kant pernah membaca tulisan Berkeley secara langsung? Saat itu, tidak tersedia buku Berkeley dalam bahasa Jerman. Kant sendiri tidak menunjukkan bahwa dirinya fasih dalam bahasa Inggris.

Kita bisa meng-kritik pandangan Kant terhadap Berkeley dengan cara menyandingkan sudut pandang Berkeley yang asli, atau sudut pandang para pendukung Berkeley pasca-Kant.

Lebih jauh, saya tidak menemukan tanda-tanda bahwa Kant merujuk ke pemikir-pemikir Timur. Sehingga, menyandingkan Kant dengan pemikir Timur akan menghasilkan ide-ide yang segar. Misal, Iqbal memandang bahwa Kant berhasil mengantarkan filsafat dari bumi menembus pintu langit. Kemudian, Kant mondar-mandir dari bumi ke pintu langit. Berbeda dengan pemikir Timur, misal Ghazali, yang berhasil menembus pintu langit untuk kemudian mengajak umat manusia tamasya di taman langit.

Saya kira akan menarik bila kita sandingkan secara dialektis Kant dengan Sadra. Kant respek terhadap antinomi, paradox. Sementara, Sadra mengusulkan konsep “tasykik” atau ambiguitas. Realitas itu bersifat ambigu. Di saat yang sama hanya ada satu realitas dan banyak realitas. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia adalah penampakan dari dunia fenomena. Sedangkan, Sadra merumuskan konsep identitas antara yang-mengetahui dan yang-diketahui.

Menarik lagi, menyandingkan Kant dengan Ibn Arabi. Kant menyatakan pentingnya penilaian-estetik untuk kecantikan, sublim, dan teleologis. Sedangkan Ibn Arabi mengembangkan konsep manusia sempurna, insan kamil, yang kemampuan estetikanya berkembang sempurna. Misal, Kant membedakan antara cantik dan sublim. Sementara, bagi Ibn Arabi, kedua hal di atas, cantik dan sublim, adalah sama-sama cantik. Sedangkan sublim sejati, tetap, tersembunyi dari alam raya ini. Cantik adalah cantik-dari-sang-cantik. Dan sublim adalah sublim-dari-sang-cantik. Pertanyaan tentang sublim-dari-sang-sublim, akan selalu, menjadi misteri abadi.

Berbagai macam kritik filsafat ini akan kita bahas bertahap. Semoga berkah!

Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik

Bagian 2 ini hanya terdiri dari 3 bab. Namun, tiap-tiap bab secara lebih mendalam membahas masing-masing tema dengan tajam. Bab “14. Batas-batas” merupakan batas sekaligus penghubung antara epistemologi cinta dengan ontologi cinta. Kita bertanya di manakah batas-batas dari kajian filsafat.

Russell berargumen bahwa batas dari filsafat adalah sains. Maksudnya, ketika sains membahas suatu masalah secara ilmiah maka filsafat berhenti membahasnya. Kajian kita menunjukkan bahwa sains itu sendiri tanpa batas. Setiap kajian sains yang mendalam, misal teori quantum, membutuhkan filsafat. Dengan demikian, pada akhirnya, filsafat jadi tidak punya batas – dengan menyandarkan batas kepada sains.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

14. Batas-Batas
15. Manfaat Filsafat Cinta
16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Selanjutnya, kita mempertimbangkan ide destruksi metafisika dari Heidegger. Sekilas, destruksi ini tampak meruntuhkan bangunan filsafat. Nyatanya, keping-keping reruntuhan filsafat menjadi bertebaran di mana-mana. Masing-masing kepingan itu, sewaktu-waktu, bisa runtuh lagi dan lagi. Sehingga, filsafat makin tidak punya batas. Batas-batas dari filsafat adalah tidak ada batas.

Bab “15. Manfaat Filsafat Cinta” sesuai judulnya membahas manfaat filsafat. Salah satunya, manfaat filsafat, adalah akrab dengan ketidakpastian. Ketika banyak orang mencari kepastian yang makin sulit ditemukan, di sisi berbeda, para pengkaji filsafat justru mencari ketidakpastian. Ketidakpastian adalah yang membuat alam raya menjadi penuh warna. Ketidakpastian – dan ketidakterbatasan – adalah yang membuat hidup dan mati lebih bermakna.

Manfaat filsafat, berikutnya, adalah dengan tidak memberi jawaban. Filsafat menjadi lebih bermanfaat karena memberikan pertanyaan kepada kita – dan tanpa jawaban. Bukan pertanyaan yang biasa-biasa. Pertanyaan filsafat adalah pertanyaan besar – dan biasanya sulit dijawab. Umat manusia menjadi besar, jiwa dan spiritualnya, dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar itu.

Masih di bab yang sama, Manfaat Filsafat Cinta, kita mengkaji secara mendalam ontologi cinta. Kita bisa memandang bahwa semua kajian kita sebelum ini adalah pengantar untuk membahas ontologi cinta. Sehingga, ontologi cinta adalah inti dari buku ini.

Kita meminjam analisis rasional dari Immanuel Kant untuk membahas ontologi cinta. Kemudian, kita melangkah dengan konsep keyakinan dari Kierkegaard. Dan puncaknya, kita membahas cinta suci dari Ibnu Arabi.

Cinta adalah realitas paling fundamental. Akibatnya, kita tidak bisa menjawab pertanyaan apa itu cinta. Karena semua jawaban justru membutuhkan sinar cinta. Meski demikian, kita bisa mengungkapkan cinta, merasakan cinta, memaknai cinta, dan berpartisipasi menjadi sinar cinta.

Bab “16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan” merupakan bab terakhir dari bagian 2 ini. Sesuai judulnya, bab ini membahas pembelokan cinta dari jalur sucinya. Akibatnya, cinta suci berbelok menjadi nafsu hitam yang kejam. Di saat yang sama, cinta mendominasi dunia dengan kekuatannya yang luar biasa: bit-power.

Bagaimana pun, kita optimis bisa kembali meluruskan cinta ke jalan suci. Saya mengusulkan solusinya secara sirkular yaitu pendekatan personal dan pendekatan sosial. Di mana, solusi personal membutuhkan solusi sosial, dan sebaliknya. Sehingga membentuk lingkaran masalah yang, diharapkan, berubah menjadi lingkaran solusi.

Di bab ini juga kita masuk ke ontologi kecantikan. Wajah cantik, yang sejatinya, adalah anugerah bisa berubah menjadi sumber masalah penggugah hasrat serakah. Tidak ada yang salah dengan menjadi cantik. Maka, di bagian ini, kita membahas secara mendalam ontologi cantik. Pembahasan ini mengantar kita kepada pembuktian eksistensi Tuhan yang Maha Cantik.

Cantik adalah manifestasi dari Sang Maha Cinta. Cantik adalah realitas paling nyata. Kita, umat manusia, perlu menjadi cantik. Baik cantik jasmani mau pun cantik ruhani sampai cantik dalam hidup dan mati.

Lanjut ke Dinamika Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

Anthrocosmos Ethic & Politic Philosophy

Kita bisa membedakan filsafat menjadi dua: mengutamakan metafisika atau mengutamakan moral. Filsafat Barat, misal Yunani Kuno – Aristoteles, Plato, dan Socrates – tampak lebih mengutamakan metafisika. Sementara filsafat Timur lebih dominan mengutamakan moral semisal Gautama, Konghucu, Empu Gandring, dan para Nabi.

Filsafat Timur vs Filsafat Barat - YouTube

Moral dan metafisika, pada akhirnya, bertemu juga. Timur dan Barat sama-sama alam semesta. Mereka adalah kita juga. Mereka saling berjumpa. Di Barat, filsafat moral menjadi utama. Di Timur, filsafat metafisika menjadi dominan juga.

Kali ini, saya akan mencatat filsafat moral dalam istilah anthrocosmos, macrocosmos, dan microcosmos. Di jaman sekarang yang tengah dihantam pandemi, kita benar-benar membutuhkan filsafat moral atau etik. Di berbagai negara terjadi korupsi dana bantuan untuk korban dampak covid. Sementara, distribusi vaksin di dunia sulit untuk dikatakan adil merata.

Etika Makrokosmos – Macrocosmos Ethics

Mudah bagi kita untuk melihat bahwa di luar sana ada roti, ada daging, ada anggur, ada uang, ada sapi, dan ada orang lain. Kebiasaan kita melihat ada sesuatu di luar sana adalah hasil bentukan etika makrokosmos. Kita meyakini ada obyek yang obyektif di luar sana.

Etika Mikrokosmos – Microcosmos Ethics

Etika mikrokosmos mengajarkan ke kita bahwa semua yang ada di luar sana, sejatinya, ada dalam diri kita sendiri. Pisang yang ada di kebun itu, sejatinya, pisang yang ada dalam diri kita. Orang miskin yang ada di pinggir jalan itu, sejatinya, adalah orang miskin yang ada dalam diri kita. Pencuri yang membobol bank itu, sejatinya, pencuri yang ada dalam diri kita. Semua yang terjadi di luar sana, sejatinya, terjadi dalam diri kita sendiri.

Etika Antrokosmos – Anthrocosmos Ethics

Etika antrokosmos merupakan perpaduan. Sepiring nasi yang ada di luar sana, benar-benar nyata, ada di luar sana. Di saat yang sama, sepiring nasi itu memang ada di dalam diri kita. Seorang pahlawan yang harum namanya itu, benar-benar, ada di luar sana. Di saat yang sama, pahlawan yang harum namanya itu memang ada dalam diri kita. Koruptor yang merusak negeri ini ada di luar sana. Di saat yang sama, koruptor yang merusak negeri ini memang ada dalam diri kita. Mereka ada dalam diri kita. Dan diri kita ada dalam diri mereka.

(Bersambung)

Bagian 1: Epistemologi Cinta

Di bagian ini, kita akan menyelidiki apa itu cinta sejati. Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

Penyelidikan lebih lanjut, menunjukkan bahwa kita juga perlu mengetahui apa saja penyusun dari suatu obyek cantik, misal wajah yang cantik. Mata bening, pipi lembut, dan alis hitam adalah beberapa materi penyusun wajah cantik. Maka kita perlu menyelidiki pula espistemologi materi, sebagai penyusun obyek cantik, di alam semesta ini.

Pendekatan kita kepada epistemologi cinta, mengantarkan kita untuk meyelidiki epistemologi cantik. Pada gilirannya, mengantar kita ke epistemologi materi alam semesta.

Dengan pertimbangan bahwa materi tampak lebih jelas dari cinta yang lembut maka kita akan membahas espistemologi dengan fokus awal kepada epistemologi materi alam raya, disusul epistemologi cantik, dan terakhir epistemologi cinta. Dalam penyelidikan ini, kita mempertimbangkan perkembangan sains terkini (dan teknologi), filsafat masa lalu (dan masa kini), serta karya seni atau pun pendekatan spiritual.

Pembahasan epistemologi menjadi bagian terbesar dari tulisan ini – dibanding dengan ontologi cinta dan dinamika cinta. Hal ini bersesuaian dengan pandangan Bertrand Russell bahwa problem terbesar dari filsafat adalah epistemologi. Solusi yang memadai untuk epistemologi akan memudahkan kita membahas metafisika (ontologi) dan aksiologi.

Pendekatan kritik filsafat, misal trilogi kritik dari Immanuel Kant, juga memberi porsi besar kepada tema epistemologi. Meski merujuk ke kritik filsafat, saya sendiri lebih cenderung menggunakan pendekatan eklektik, di mana, saya menampilkan berbagai macam sudut pandang para filosof, untuk kemudian, menyusunnya menjadi argumen yang padu. Saya jarang meng-kritik pandangan para filosof secara langsung. Anda bisa memahaminya secara tidak langsung dengan alur tulisan secara utuh.

  1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
  2. Eksistensi Cinta
  3. Cantik Alami
  4. Idealisme
  5. Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi (+Lampiran Hoax)
  6. Induksi: Cantik Keturunan
  7. Pengetahuan Prinsip Umum
  8. Pengetahuan A Priori
  9. Dunia Universal
  10. Pengetahuan Tentang Universal
  11. Pengetahuan dan Intuisi Cinta
  12. Kebenaran dan Kesesatan
  13. Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Di bagian awal kita langsung mencoba untuk mengetahui apa itu cinta sejati. Tidak mudah untuk melakukan itu. Kita berhadapan dengan dua jenis cinta yaitu cinta sejati dan cinta penampakan. Bahkan untuk mengetahui cinta-penampakan saja, kita perlu penyelidikan yang mendalam tentang cantik-penampakan dan materi-penampakan.

Dengan “halangan” dunia-penampakan maka kita tidak berhasil mengakses cinta-sejati. Begitu juga cantik-sejati dan materi-sejati masih tersembunyi. Di sisi lain, kita berhasil membuktikan bahwa cinta itu ada, cinta sejati itu ada. Hanya saja, kita tidak bisa langsung mengetahuinya.

Semua pengetahuan kita tentang dunia adalah, sekedar, pengetahuan tentang dunia penampakan. Russell membagi dunia menjadi dunia penampakan dan dunia sejati, tampaknya, mengikuti Immanuel Kant yang membagi dunia menjadi dunia fenomena dan dunia noumena. Dunia fenomena hadir dalam pengetahuan kita sebagai penampakan. Sedangkan dunia noumena tatap tersembunyi dalam dirinya sendiri.

Di bab 4, kita membahas tema idealisme. Menurut Russell, idealisme adalah pandangan yang diremehkan oleh kebanyakan orang. Karena idealisme memandang bahwa alam di dunia luar adalah tidak nyata. Semua yang ada di dunia luar, sejatinya, hanya pikiran kita belaka. Sementara, bagi pengkaji filsafat, idealisme perlu dibahas dengan tuntas. Russell meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Bagaimana pun, Russell mengakui bahwa idealisme dogmatis tidak mudah dibantah.

Bab 5, 6, dan 7 membahas karakter dari pengetahuan manusia. Kita mempertimbangkan pengetahuan pengenalan langsung dan pengetahuan deskripsi. Di jaman digital ini, pegetahuan deskripsi berkembang begitu cepat. Sayangnya, pengetahuan deskripsi mudah disusupi oleh informasi hoax. Sehingga kita perlu membekali diri, dan masyarakat, untuk lebih bijak menyikapi hoax.

Dengan beragam keterbatasannya, perkembangan pengetahuan melalui induksi tetap menjadi metode paling utama. Kita perlu mempertimbangkan konsep falsifikasi dari Popper sehingga tetap waspada dengan ragam batas-batas ilmu pengetahuan. Pengembangan pengetahuan melalui induksi menjadi lebih kuat dengan pendekatan matematis sehingga konsisten dengan beragam prinsip umum: identitas, non-kontradiksi, kausalitas, dan lain-lain.

Bab 8, 9, dan 10 membahas pengetahuan apriori dan pengetahuan universal. Russell membela para filosof rasionalis yang meyakini validitas pengetahuan apriori. Bahkan, setiap pengetahuan empiris induktif, agar valid secara universal, perlu bersandar kepada pengetahuan apriori. Pengetahuan universal memberi priotitas lebih utama kepada pengetahuan tentang cinta dan cantik dibanding pengetahuan materi obyektif. Sehingga, pada bab-bab ini, kita mulai kembali mengutamakan epistemologi cinta.

Bagian akhir dari epistemologi cinta, kita membahas nilai kebenaran dari suatu pengetahuan pada bab 11, 12, dan 13. Tentu saja, pengetahuan bisa saja bernilai benar, dan pengetahuan lain bisa bernilai salah. Menariknya, pengetahuan atau intuisi cinta justru selalu bernilai benar. Sementara, bila dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, implikasi dari cinta bisa saja bernilai salah.

Pembahasan secara epistemologis selesai sampai di sini. Tetapi masih tersisa banyak pertanyaan tentang cinta, cantik, dan materi alam raya. Kita akan membahasnya lebih mendalam ke tema ontologis: ontologi cinta dan cantik.

Lanjut ke Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik
Kembali ke Philosophy of Love

Ekonomi Cinta

Setiap sisi kehidupan manusia adalah cinta. Setiap butir debu adalah debu cinta. Setiap hembusan nafas adalah nafas cinta. Ekonomi adalah ekonomi cinta.

Saya memberi uang kepada Rara yang cantik adalah ungkapan cinta. Saya mengasuh Rara sejak bayi adalah manifestasi cinta. Saya cinta Rara adalah ungkapan cinta. Rara telah menyemai cinta di hatiku bahkan ketika dia masih dalam kandungan istriku. Rara telah memberiku cinta dan aku membalasnya dengan cinta pula.

Semua transaksi adalah transaksi cinta.

Kita bisa menduga ekonomi cinta, bisa berbelok, menjadi ekonomi dusta. Menjadi ekonomi nafsu semata. Menjadi ekonomi serakah. Menjadi ekonomi mewah. Pada bagian ini, kita akan membahas ekonomi cinta yang dibelokkan menjadi ekonomi nafsu. Untuk kemudian, kita mencoba merumuskan beberapa solusi meluruskan kembali agar menjadi ekonomi cinta.

Ekonomi Libido Serakah

Lanjut ke Politisasi Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

The Death of God other than God: Nietzsche Philosophy

Anakku bertanya tentang Nietzsche. Lalu aku jawab, “Dia adalah pemikir jenius yang sulit dipahami tapi mudah disalahpahami.” Saya setuju dengan Iqbal (1877 – 1938) yang menempatkan Nietzsche sebagai pemikir tingkat tinggi. Iqbal mengetahui itu dari pembimbingnya yaitu Rumi.

“This is the German genius whose place is between these two worlds…his words are fearless, his thoughts sublime,
the Westerners are struck asunder by the sword of his speech.”

Kita akan membahas lima ide penting dari Nietzsche (1844 – 1900). Pertama, “the death of god other than God.” Tentu saja, ide kematian-tuhan mengguncang dunia. Umat beragama merespon dengan menolak ide itu. Kita akan mengkaji lebih dalam dari sekedar potongan kalimat kematian-tuhan. Umat beragama juga ada yang menggunakan term mirip itu seribu tahun sebelumnya. “There is no god but God.”

Kedua, konsep nihilisme dan penciptaan nilai. Nietzsche sering dikenal sebagai tokoh nihilisme. Memang, dia sendiri memprediksi dalam dua abad ke depan adalah jaman yang dipenuhi oleh nihilisme. Lalu apa jika memang nihilisme? Pertanyaan ini yang perlu kita bahas. Setelah hampanya segala nilai maka selanjutnya manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai secara kreatif.

Ketiga, overman. Manusia sempurna adalah overman atau sering disebut juga sebagai superman. Dia adalah manusia sempurna yang punya kekuatan mengatasi segala kesulitan. Dia adalah manusia yang tidak pernah menyerah. Dia adalah manusia yang berani berbeda dari sekawanan orang biasa.

Keempat, will-to-power. Kehendak untuk berkuasa, will-to-power adalah realitas fundamental dari alam semesta. Dari butiran debu, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, sampai seluruh galaksi memiliki will-to-power untuk menampilkan diri secara gagah berani.

Kelima, pengulangan-abadi-yang -sama. Nietzsche sendiri menekankan bahwa konsep pengulangan-abadi adalah ide paling sentral dari filsafatnya. Sementara, kita sulit memahami dengan pasti apa maksud dari pengulangan-abadi. Beberapa sarjana membacanya sebagai konsep kosmologi bahwa alam semesta akan terus-menerus berulang dengan cara yang sama. Saya sendiri membacanya, konsep pengulangan-abadi, sebagai proses kreatif yang berlangsung terus-menerus secara abadi.

Ragam Interpretasi

Seperti kita sebut di awal, Nietzsche mudah disalahpahami dan sulit dipahami. Maka interpretasi kita, di sini, bisa jadi bertentangan dengan interpretasi orang lain. Wajar saja itu terjadi. Karya Nietzsche tampak seperti gabungan antara tulisan filosofis dengan puisi. Sehingga banyak pesan yang tersurat dan tersirat.

Vattimo (1936 – ) adalah pemikir Itali yang mengapresiasi Nietzsce. Menurutnya, Nietzsche telah membuka jalan kebebasan manusia dan menyiapkan landasan masyarakat demokratis. Deleuze (1920 – 1995) adalah pemikir Prancis yang menilai karya Nietzsche sebagai sangat kreatif dan menghormati beragam macam perbedaan. Heidegger (1989 – 1974) adalah pemikir Jerman yang menyatakan bahwa Nietzsche berhasil memotret dengan tepat kondisi mutakhir dari masyarakat modern lengkap dengan beragam masalah yang dihadapi. Russell (1872 – 1970) adalah pemikir Inggris yang mengkritik keras Nietzsche. Menurutnya, Nietzsche mengijinkan perilaku kekerasan. Dan banyak tokoh agama yang mengutuk Nietzsche lantaran dinilai sebagai menyebarkan ajaran atheisme.

Tulisan ini akan membaca Nietzsche dari sudut pandang filsafat dinamis. Maka kita akan menemukan sisi-sisi dinamis dari pemikiran Nietzsche. Karena dinamis maka tidak ada titik akhir dari suatu ide. Selamanya, ide bisa terus berkembang secara dinamis.

A. The Death of God other than God

Tentu saja, ide kematian-tuhan adalah ide yang provokatif dan sensitif. Barangkali, Nietzsche sengaja melontarkan ide kematian-tuhan untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjangnya. Umat beragama kaget. “Ajaran macam apa yang menyatakan kematian-tuhan?” Mereka, umat beragama, menolak konsep kematian-tuhan.

Di pihak lain, pada masa akhir abad 19 sampai sekarang, orang-orang atheis merasa mendapat dukungan segar. Mereka penuh semangat mendukung ide kematian-tuhan. Bila kita menakar keberhasilan konsep kematian-tuhan dari banyaknya respon, maka kita bisa sepakat, Nietzsche sudah berhasil mendapat respon dari dua kubu – dan masih banyak kubu lainnya.

”Well! Take heart! ye higher men! Now only travaileth the mountain of the human future. God hath died: now do we desire – the Superman to live.” (Study.com)

Lebih dari sekedar respon, ide kematian-tuhan memang menyimpan konsep kreatif yang bisa kita gali terus-menerus. Untuk memahaminya, saya berharap, kita memotong frasenya sedikit lebih panjang. Menjadi seperti berikut ini,

the-death-of-god-other-than-God = kematian-tuhan-selain-Tuhan

Dengan frasa yang lebih panjang di atas, kita bisa memahami bahwa hanya tuhan-tuhan tertentu yang mati. Untuk selanjutnya, hadir Tuhan-sejati. Tugas kita menjadi lebih menantang: Tuhan-sejati itu seperti apa? Nietzsche sendiri mengambil tokoh Zaratusta untuk menjelaskan itu. Zaratusta harus turun gunung untuk mejelaskan kepada masyarakat yang sibuk bisnis di pasar. Hasilnya, orang-orang yang sibuk di pasar itu, memang tetap, tidak paham kata-kata Zarastuta – yang penuh dengan kebenaran itu. Nasib yang sama menimpa Nietzsche sendiri – orang-orang tidak memahaminya.

Kepada umat beragama, seakan-akan, Nietzsche menyerukan, “Dogma-dogma ketuhanan kalian sudah mati. Ayo, menghidupkan ketuhanan yang sejati.”

Agama, pada awalnya, bersifat kreatif dinamis. Agama membersihkan dogma-dogma yang menjerat masyarakat. Dogma itu sudah menjadi berhala. Dogma itu sudah menjadi tuhan-tuhan bagi mereka. Dan tentu saja, ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari dogma-dogma itu. Di saat yang sama, dengan dogma itu, penguasa meng-eksploitasi orang-orang miskin yang lemah. Agama, sejatinya, datang untuk menghancurkan dogma-dogma itu.

Agama berhasil membawa manusia menuju pencerahan. Tidak lama dari itu, ada pihak-pihak tertentu yang mengubah agama menjadi dogma baru. Dogma yang sama seperti dulu yang pernah ada. Dan dogma dari agama itu menjadi tuhan mereka. Dogma yang menjadi tuhan itulah yang harus mati. Umat manusia perlu kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang atheist, sama saja, mereka terjebak dalam dogmanya. Atheisme, yang awalnya, mengaku sebagai pembebasan, nyatanya, menjadi dogma juga. Tanpa bukti kuat, mereka menolak Tuhan. Tanpa nalar yang konsisten, orang atheis menolak berbagai macam hal yang tidak sanggup mereka pahami. Dogma atheisme telah menjadi tuhan bagi mereka. Tuhan semacam itu sudah mati. Sudah tiba waktunya, umat manusia kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang agnostik juga terjebak dalam dogma ketidaktahuannya. Orang agnostik menganggap eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan. Di saat yang sama, orang agnostik, meyakini bahwa pernyataan yang menolak eksistensi Tuhan juga tidak bisa dibuktikan. Orang agnostik berimbang antara tidak bisa membuktikan adanya Tuhan dan tidak ada bukti menolak eksistensi Tuhan. Dogma agnostik seperti itu juga menjad dogma yang dipertuhankan. Tuhan dogma agnostik sudah mati. Saatnya kembali ke Tuhan-sejati.

B. Nihilisme dan Penciptaan Nilai

“What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. . . . ” (IEP)

Nietzsche memprediksi, dalam 2 abad ke depan, yaitu abad 20 dan 21, nihilisme akan mendominasi dunia. Prediksi ini menunjukkan banyak tanda-tanda kebenarannya, terutama, di Barat. Tetapi apa yang dimaksud dengan nihilisme?

“affirmation of life, even in its strangest and sternest problems, the will to life rejoicing in its own inexhaustibility through the sacrifice of its highest types—that is what I called Dionysian….beyond [Aristotelian] pity and terror, to realize in oneself the eternal joy of becoming—that joy which also encompasses joy in destruction (“What I Owe the Ancients” 5).” (IEP)

Pertama, nihilisme adalah runtuhnya nilai tertinggi. Dalam filsafat, nilai tertinggi adalah klaim kebenaran metafisika yang dijamin kebenarannya. Misalnya alam ideal Plato dianggap paling bernilai tinggi. Atau kesempurnaan intelektual Aristoteles dianggap sebagai paling bernilai. Semua runtuh di hadapan nihilisme. Semua nihil. Semua setara. Semua horisontal. Seseorang, justru, harus menikmati proses menjadi diri sendiri terbebas dari ikatan metafisika.

Bagi umat beragama, nihilisme ini seakan konsekuensi dari kematian-tuhan. Sejatinya, nihilisme adalah kematian dogma-dogma agama yang dipertuhankan itu. Umat beragama, seharusnya, bisa menikmati proses menjalankan agama sebagai manusia-sejati. Terbebas dari dogma-dogma yang mengaku sebagai tuhan.

Bagi manusia modern, manusia ekonomi, nihilisme mengatakan bahwa profit itu hampa. Keuntungan ekonomi, yang dulu dikejar sebagai paling bernilai, itu tidak berguna. Itu semua sia-sia. Manusia ekonomi, seharusnya, menikmati proses dalam menjalankan roda ekonominya.

Kedua, nihilisme adalah runtuhnya tujuan. Nihilisme menghapus tujuan. Orang bisa saja menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Saat ini, dengan nihilisme, tujuan sudah sirna. Karena tidak ada tujuan maka tugas manusia adalah menciptakan tujuannya sendiri. Tugas manusia adalah menciptakan nilainya sendiri.

Dengan runtuhnya tujuan dan runtuhnya nilai tertinggi maka manusia benar-benar menjadi bebas. Manusia bebas terbang, menikmati hidupnya, menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Untuk menikmati kebebasan ini, manusia rela mengorbankan segala yang perlu dikorbankan. Manusia tidak pernah berhenti menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai tertingginya sendiri. Semua proses penciptaan ini berlangsung dengan penuh bahagia.

Ketiga, nihilisme adalah tidak adanya jawaban untuk pertanyaan “mengapa.” Orang bisa saja mengaku sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa.” Itu hanya klaim belaka. Nihilisme meruntuhkan jawaban yang bersifat pasti seperti itu. Tidak pernah ada jawaban sekuat itu. Manusia, justru, yang harus menjawab pertanyaan “mengapa.” Pada gilirannya, setiap jawaban akan berhadapan dengan pertanyaan “mengapa” yang lebih baru. Proses ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. Manusia, lagi-lagi, menikmati penuh bahagia semua proses ini.

Dengan makna konsep nihilisme seperti di atas maka tidak ada sikap pesimis dalam manusia. Nihilisme, justru, mengajak manusia untuk bersikap aktif dan menikmati seluruh proses menghancurkan dogma-dogma yang ada, kemudian, menciptakan nilai-nilai baru yang paling tinggi.

Siapa orang yang sanggup melakukan itu? Bukan orang biasa-biasa saja. Bukan sekedar gerombolan. Dia memang orang yang luar biasa. Dia adalah overman.

C. Overman

Konsep ketiga paling penting, yang kita bahas, adalah overman atau superman atau superhuman yaitu manusia teladan. Overman adalah manusia yang tidak pernah kehabisan energi terus berkreasi. Mampu mengatasi segala rintangan. Rela mengorbankan apa saja. Dan, menikmati penuh bahagia semua proses yang ada.

“1. the higher species is lacking, i.e., those whose inexhaustible fertility and power keep up the faith in man….[and] 2. the lower species (‘herd,’ ‘mass,’ ‘society,’) unlearns modesty and blows up its needs into cosmic and metaphysical values.” (IEP)

Overman adalah spesies langka. Hanya segelintir orang yang berhasil menjadi overman. Sebagian besar orang menyerah, untuk kemudian, menjadi manusia biasa-biasa saja. Mereka tenggelam dalam hembusan debu kosmik. Mereka lahir, kemudian tertiup angin, akhirnya menuju kuburannya sendiri. Overman berbeda dari itu semua. Overman berani menantang semua rintangan. Overman menguasai dunia.

Siapakah contoh nyata overman? Tampaknya, Nietzsche hanya samar-samar memberi contoh. Kita bisa memahaminya. Karena overman tidak bisa dicontoh. Justru, overman adalah dia yang menciptakan contoh. Overman adalah contoh original yang kreatif. Tidak ada dua orang overman yang identik. Setiap overman adalah unik. Seseorang tidak bisa menjadi overman dengan cara meniru overman.

Dalam samar-samar contoh nyata, kita bisa mendekati beberapa tokoh sebagai kandidat overman. Pertama, Zaratusta, adalah pemikir orisinal yang berani tampil beda. Zaratusta sudah hidup nyaman di pertapaan lengkap dengan petualangan intelektual – dan spiritual. Zaratusta meninggalkan kenyamanannya, turun ke pasar, mengajak masyarakat untuk melepaskan diri dari jeratan hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang perlu menjadi manusia kuat, overman. Resiko sudah jelas. Orang-orang biasa itu tidak paham kata-kata dari Zaratusta. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang paham.

Kedua, Napoleon adalah jenderal perang yang cerdik dan kuat. Napoleon tampak cocok sebagai contoh overman. Napoleon berhasil menaklukkan hampir seluruh daratan Eropa. Napoleon memimpin pasukan perang melewati medan perang yang sangat berbahaya. Napoleon, dengan pasukannya, gagah perkasa mengalahkan semua halangan.

Ketiga, Mr Nietzsche adalah pemikir orisinal yang berbeda dengan semua pemikir lainnya. Semua pemikiran, masa itu, terjerat oleh metafisika Plato-Aristoteles. Mr Nietzsche adalah overman yang mengatasi jeratan metafisika. Dia meruntuhkan pemikiran rasional gaya Apollo. Untuk kemudian membangkitkan gaya berpikir kreatif ala Dionysian. Mr Nietzsche membebaskan pemikiran manusia untuk terbang tinggi mencapai overman.

Bila kita mempertimbangkan tiga contoh overman di atas – Zaratusta, Napoleon, dan Mr Nietzsche – maka kita bisa menambahkan lebih banyak contoh lagi. Barangkali orang-orang jenius di bidang masing-masing bisa kita masukkan sebagai overman. Di antaranya jenius sains, seni, olahraga, bisnis, politik, spiritual, dan lain-lain. Overman, meskipun sulit dicapai, bukanlah sosok ideal yang fantastis. Overman adalah manusia nyata yang hidup di dunia nyata ini. Yang menjadi istimewa pada overman, tidak dimiliki orang biasa, adalah overman mengembangkan will-to-power terus-menerus.

D. Will-to-Power

Will-to-power adalah realitas fundamental semesta. Orang mengira will-to-power adalah kehendak yang ada pada manusia saja. Sejatinya, will-to-power ada pada semua alam raya dari elektron, atom, molekul, debu, angin, pasir, air, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, dan seluruh galaksi. Mereka semua adalah will-to-power yang saling bertabrakan untuk menjadi pemenang.

“What is good?—All that heightens the feeling of power, the will to power, power itself in man. What is bad?—All that proceeds from weakness.  What is happiness?—The feeling that power increases—that a resistance is overcome.” (IEP)

Pertama, memang benar, bahwa will-to-power ada dalam diri manusia. Will-to-power adalah yang menentukan sesuatu menjadi baik atau buruk. Sesuatu yang baik adalah yang meningkatkan perasaan berkuasa, will-to-power. Sementara, sesuatu yang buruk adalah sesuatu yang melemah. Sedangkan bahagia adalah perasaan berkembangnya will-to-power.

Kedua, will-to-power adalah seluruh realitas alam semesta. Maka alam semesta, juga, ingin mengembangkan kekuatannya. Misal, virus covid mempunyai will-to-power untuk berkembang ke seluruh dunia. Debu-debu kosmik, juga, ingin memenuhi alam raya dengan kekuatannya. Will-to-power ingin eksis di alam raya dan alam raya itu sendiri adalah will-to-power.

Ketiga, mengembangkan will-to-power adalah mengembangkan alam semesta, itulah, kebaikan. Meruntuhkan will-to-power adalah meruntuhkan alam semesta, itulah, keburukan. Apakah manusia ingin bahagia? Maka kembangkanlah will-to-power, kembangkanlah alam semesta. Perasaan berkembangnya will-to-power, berkembangnya alam semesta, itulah kebahagiaan.

Manusia paling bahagia adalah overman. Dia menaklukkan semua halangan. Dia mengembangkan will-to-power terus menerus tanpa henti. Dia mengembangkan alam semesta tiada henti. Overman berbahagia tanpa henti.

Apa yang terjadi jika seseorang tidak mau jadi overman? Dia hanya menjadi manusia biasa-biasa saja. Dia tidak mengembangkan will-to-power. Dia tidak mengembangkan alam semesta. Maka orang biasa-biasa saja seperti itu terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Manusia hanya bisa selamat dari jebakan itu dengan menjadi overman yang melampaui pengulangan-abadi.

E. Pengulangan-Abadi-yang-Sama

Nietzsche sendiri menekankan konsep pengulangan-abadi adalah konsep paling penting dalam filsafatnya. Sekilas, konsep pengulangan-abadi adalah tema kosmologi. Sementara, konsep will-to-power adalah konsep psikologi. Tampaknya, pembacaan lebih lanjut menunjukkan tidak adanya pembatasan sempit seperti itu. Pengulangan-abadi bukan hanya kosmologi. Begitu juga, will-to-power bukan hanya psikologi.

“… and everything unutterably small or great in your life will have to return to you, all in the same succession and sequence—even this spider and this moonlight between the trees, and even this moment and I myself. The eternal hourglass of existence is turned upside down again and again, and you with it, speck of dust!” (IEP)

Pertama, secara kosmologi, pengulangan-abadi adalah sejenis reinkarnasi dari alam semesta beserta isinya. Barangkali kita bisa meminjam teori kosmologi dari sains fisika. Alam semesta berawal dari big-bang beberapa milyard tahun yang lalu. Kemudian alam mengembang. Tercipta tata surya, salah satunya ada planet bumi. Muncul kehidupan di bumi sampai lahir umat manusia. Beberapa milyard tahun ke depan, alam semesta berhenti mengembang. Justru, berbalik arah, alam semesta mengecil. Makin lama, alam semesta makin kecil, lebih kecil dari kelereng. Tentu saja, seluruh gedung-gedung sudah runtuh dalam himpitan alam seukuran kelereng. Umat manusia juga ikut hancur. Hancur lebur semua menjadi satu titik saja, lalu, hilang dalam kehampaan.

Setelah kehampaan alam semesta, terjadi big-bang lagi sebagai pengulangan-abadi. Alam semesta mengembang, muncul manusia yang sama persis dengan manusia-manusia masa lalu. Lalu alam menyempit lagi sampai jadi satu titik. Hancur, lenyap dalam kehampaan. Dan, terus berulang secara abadi seperti itu.

Kedua, pengulangan-abadi adalah terjadi di sini, saat ini, termasuk secara psikologis. Orang-orang gerombolan yang biasa-biasa saja berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap menjadi orang-orang biasa. Orang yang malas dan lemah berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap jadi orang malas dan lemah.

Sementara, overman, orang yang kuat, terlepas dari jebakan pengulangan-abadi. Ketika overman akan diulang dengan cara yang sama, overman itu sudah berubah, overman sudah lebih berkembang will-to-power-nya. Lagi, ketika akan diulang dengan cara yang sama, overman sudah berubah juga. Will-to-power sudah jauh berkembang.

Sehingga tidak ada pengulangan-abadi-yang-sama terhadap overman. Yang terjadi adalah pengulangan-perbedaan terhadap overman. Ketika diulang, overman sudah jauh berkembang. Bukan eternal-recurrence-of-the-same terhadap overman. Melainkan, eternal-recurrence-of-the-difference dari overman.

Ketiga, pilihan ada di tangan Anda sebagai manusia. Seseorang bisa menyerah kalah menjadi orang biasa-biasa saja. Untuk kemudian, dia terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Tetap menjadi orang yang kalah. Atau Anda bisa memilih menjadi overman. Menjadi orang yang pantang menyerah. Rela menghadapi berbagai kesulitan. Mampu mengatasi segala rintangan. Anda lolos dari jebakan. Anda masuk ke pengulangan-perbedaan yang abadi. Will-to-power Anda selalu berbeda, selalu berkembang.

Demokrasi Nihilisme

Bagaimana overman menghadapi demokrasi?

Tampaknya, Nietzsche tidak banyak membahas filsafat politik. Dia lebih fokus ke filsafat fundamental metafisika atau ontologi. Hasil sampingannya berupa filsafat kemanusiaan sebagai individu, overman. Sehingga, untuk membahas demokrasi overman, kita perlu mengembangkan beragam alternatif pemikiran.

Pertama, demokrasi otoriter. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa overman akan mendorong demokrasi otoriter. Atau, bahkan tidak ada demokrasi. Otoritas politik hanya ada di tangan satu orang yaitu overman, satu manusia kuat.

Apa masalahnya dengan demokrasi otoriter?

Tidak ada masalah dengan demokrasi otoriter, sejauh pemegang kekuasaan adalah overman, manusia sempurna. Overman memimpin masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur. Tidak ada korupsi, tidak ada kejahatan, tidak ada penindasan. Masalah justru muncul ketika penguasa politik, yang otoriter itu, ternyata, bukan overman. Dia memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Demokrasi otoriter, dalam hal ini, benar-benar bermasalah.

Kedua, demokrasi aristokrasi. Apa masalah dari aristokrasi? Tidak ada masalah dengan aristokrasi sejauh para aristokratnya, bangsawan, adalah overman. Para aristokrat, yang overman itu, memanfaatkan seluruh kekuatan politik untuk kebaikan bersama. Masalah muncul, mirip sebelumnya, bila para aristokrat itu, ternyata, bukan overman. Mereka hanya bangsawan yang memanfaatkan gelar bangsawan untuk kepentingan pribadi dan kaumnya belaka. Demokrasi aristokrasi, dalam kasus ini, benar-benar bermasalah.

Ketiga, demokrasi overman. Barangkali cita-cita politik ideal masa kini adalah demokrasi overman. Demokrasi, di mana rakyat adalah pemegang kekuasaan politik, di saat yang sama, rakyat adalah para overman. Atau, sebagian besar dari rakyat adalah overman, manusia sempurna. Dengan demikian rakyat overman itu saling bersaing dan bekerja sama dalam kehidupan politik yang adil dan makmur.

Masalah tetap bisa muncul. Ketika rakyat bukan overman. Maka suara rakyat bisa dibeli oleh partai politik. Untuk kemudian, partai politik dan penguasa politik mengeksploitasi sumber daya dan rakyat untuk kepentingan segelintir orang. Sehingga, tugas terpenting bagi kemanusiaan adalah mendorong rakyat untuk menjadi overman, manusia sempurna.

Dengan kemajuan teknologi digital yang makin melejit, terbuka peluang besar bagi kita untuk menciptakan demokrasi sejati. Demokrasi oleh rakyat overman, dari rakyat overman, dan untuk rakyat overman. Selalu ada dinamika dalam diri overman. Selalu ada dinamika dalam demokrasi.

Nihilisme membuka jalan untuk overman, untuk kemudian, membangun demokrasi overman.

Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Cinta itu indah. Cinta itu suci. Cinta itu putih. Membahagiakan setiap orang. Membahagiakan kehidupan sekitar. Dan membahagiakan alam semesta. Cinta adalah segalanya.

Di sisi lain, cinta bisa saja berlumur dusta. Bahagia menjadi derita. Cinta hanya di bibir saja. Cinta bukan lagi cinta. Karenanya, jadi sumber bencana.

Di bagian ini, kita akan membahas penyelewengan cinta dan kecantikan. Manusia, sebagaimana biasanya, memiliki kemampuan membelokkan segala sesuatu. Termasuk, membelokkan cinta. Cinta, yang seharusnya, sebagai anugerah bagi sesama berubah menjadi senjata untuk eksploitasi umat manusia. Kecantikan menjadi daya pesona yang luar biasa untuk menggelapkan mata. Bagaimana pun, manusia tetap punya kemampuan untuk kembali meluruskan cinta. Membuat cinta kembali putih, kembali bersinar, dan kembali suci.

Nafsu Cinta

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) menyebutkan ada beragam nafsu pada manusia. Dalam Serat Nawaruci, Kalijaga melambangkan empat macam nafsu dengan warna putih, hitam, merah dan kuning. Kita akan membahasnya di bagian ini.

Istilah nafsu adalah kata serapan dari bahasa Arab. Setelah diserap, istilah nafsu lebih sering bermakna negatif. Kita sering menyebut, misalnya, nafsu amarah atau nafsu serakah atau nafsu syahwat. Sementara, dalam bahasa Arab, nafsu itu cenderung bersifat netral. Memang ada hawa nafsu yang cenderung negatif. Di sisi lain, ada juga nafsu yang tenang, muthmainah, nafsu yang damai berbahagia.

Sedangkan, istilah cinta sering kita maknai sebagai bersifat positif sebagai mana cinta suci. Begitu kita menggabungkan nafsu dan cinta menjadi nafsu cinta, terasa lebih kuat konotasi negatifnya. Maka kita akan memaknai nafsu cinta sesuai dengan konteks masing-masing sehingga lebih fleksibel.

Putih Hitam Merah Kuning

Dalam kisah Nawaruci, Bima pergi ke samudera untuk mendapatkan kebenaran sejati, air kehidupan. Bima mendapat bimbingan Nawaruci untuk masuk ke dalam tubuh Nawaruci yang berukuran kecil, seukuran jari kelingking. Setelah masuk ke dalam diri, Bima melihat empat warna cahaya.

Cahaya putih adalah cinta suci dalam diri manusia. Cinta yang bersinar dalam diri kita dan selalu menyinari segalanya. Cinta putih adalah jiwa sejati setiap anak manusia. Tetapi cinta cahaya putih ini hanya seorang diri. Sehingga cinta putih sering dikalahkan oleh warna-warna lain. Ada tiga warna utama yang menghalangi: hitam, merah, dan kuning. Masing-masing warna itu bervariasi dalam jumlah yang banyak, dengan kombinasi di antara mereka. Akibatnya, cinta putih tenggelam di antara banyak warna lainnya. Kita, tetap, membutuhkan cinta putih.

Cinta hitam, adalah pembelokan dari cinta. Barangkali tidak bisa lagi disebut sebagai cinta. Bisa kita sebut sebagai nafsu hitam, yaitu nafsu amarah dengan ukuran yang terlalu besar. Nafsu hitam menggelapkan pandangan umat manusia. Nafsu hitam mengajak seseorang menyelamatkan diri dengan cara menyerang orang lain. Merampok adalah contoh nafsu hitam. Merugikan pihak lain demi memperoleh keuntungan sendiri. Korupsi pejabat di kala pandemi, barangkali adalah nafsu hitam yang sangat hitam.

Kita perlu mengalahkan nafsu hitam tersebut untuk kembali mengambil sinar cinta putih. Berbagai macam cara perlu kita kembangkan, baik secara rasional atau etis, untuk mengendalikan nafsu hitam.

Nafsu merah, di samping nafsu hitam, merupakan pembelokan dari cinta putih. Hasrat kita untuk makan adalah cinta putih yang mendorong kita untuk menjaga kesehatan. Hasrat makan juga mengajarkan kita agar membantu orang lain yang kelaparan dengan cara berbagi makanan. Nafsu merah mengajak manusia untuk melanjutkan nikmatnya makanan dalam jumlah lebih besar. Akibatnya, seseorang bisa makan dalam jumlah yang lebih besar dari seharusnya. Pada waktunya, orang tersebut menjadi kelebihan berat badan. Ancaman beragam penyakit selalu mengintai: darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan lain-lainnya. Di pihak orang miskin, mereka kekurangan makanan. Karena ada pihak orang kaya yang mengkonsumsi berlebihan.

Sementara, nafsu kuning, lebih licik dari nafsu hitam dan merah, membelokkan cinta putih dengan cara lebih halus. Nafsu kuning bisa membuat pembenaran dari beragam kejahatannya. Kita perlu lebih waspada. Seorang pejabat melakukan korupsi dengan mencuri uang 100 juta rupiah. Lalu dia menggunakan 20 juta dari uang korupsi itu untuk membantu yatim piatu, membangun tempat ibadah, dan sekolah. Pahalanya lebih besar dari 100 juta maka dia lebih banyak pahalanya dari dosanya. Dengan perhitungan itu, nafsu kuning mendorong pejabat untuk terus korupsi dengan cara yang lebih halus. Dan pejabat itu, dengan bangga, merasa telah berjasa kepada yatim piatu, tempat ibadah, dan sekolah.

Pembelokan cinta oleh nafsu hitam, merah, dan kuning adalah bentuk materialisasi cinta. Di mana, cinta putih nan suci dibelokkan untuk mengeruk kepentingan material. Sebagai akibatnya, merugikan lebih banyak pihak lain. Dan pada gilirannya, sejatinya, merugikan pelakunya sendiri.

Kita bisa membuat ilustrasi yang lebih tegas tentang pembelokan cinta demi materi. Nafsu hitam menyuruh pejabat memerintahkan seorang anak buah laki-laki tugas ke luar kota. Dalam perjalanan, karyawan laki-laki itu dibuat kecelakaan transportasi sampai meninggal. Untuk kemudian, pejabat itu menikahi istri cantik dari karyawannya yang sudah meninggal. Sungguh pejabat yang kejam dengan nafsu hitam.

Nafsu merah menjebak manusia untuk berlebihan dalam melampiaskan nafsunya. Pejabat yang sudah beristri main perempuan di sana-sini. Bahkan, bisa jadi, punya istri simpanan yang jumlahnya tidak karuan. Atau dalam pergaulan bebas, beberapa orang berganti-ganti pasangan. Suatu perilaku dalam jebakan nafsu merah, pembelokan cinta. Akibatnya, ancaman beragam penyakit ada di mana-mana termasuk HIV.

Nafsu kuning, lagi-lagi, lebih curang dari nafsu hitam dan nafsu merah dengan cara yang lembut. Seorang bos membuka lowongan kerja khusus bagi pemuda dan pemudi dengan penampilan menarik. Bos merekrut banyak pemuda dan pemudi. Tahap awal bekerja adalah layanan pekerjaan yang wajar. Tahap selanjutnya, pekerjaan mulai bergeser ke layanan pekerjaan cinta. Semua pergeseran kerja itu dilakukan tanpa paksaan dengan kesepakatan semua pihak. Nafsu kuning berhasil meyakinkan bos bahwa bos telah berhasil membuka lapangan kerja dan mengambil keuntungan yang legal, suka sama suka.

Seberapa pun dalamnya seseorang terperangkap dalam nafsu hitam, merah, dan kuning, di saat-saat tertentu, cinta putih akan mengetuk hatinya. Cinta putih mengajak kita untuk kembali ke jalan cinta yang suci. Selanjutnya, pilihan ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk kembali ke jalan cinta putih yang suci. Atau seseorang bisa memilih tetap tenggelam dalam nafsunya. Bagaimana pun, sinar cinta putih akan selalu terpecik dalam jiwa setiap orang, meski kadang redup dalam situasi sulit.

Kekuatan Cinta

Kali ini, kita akan membahas kekuatan cinta secara sosial. Sebelumnya, kita lebih fokus kepada kekuatan cinta secara personal – jiwa seseorang. Secara sosial, pembelokan kekuatan cinta bisa terjadi di mana-mana. Kita akan mengelompokkan kekuatan cinta menjadi tiga: big-power, bio-power, dan bit-power.

Big-power adalah kekuatan cinta yang begitu besar mendorong dan melindungi umat manusia. Cinta mendorong seorang bapak untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Padahal, ketika masih bujangan, bapak itu, tidak punya dorongan untuk bekerja. Seorang ibu bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan anggota keluarga. Seorang tentara siap mengorbankan jiwa demi membela negara. Dan masih banyak contoh besar lainnya tentang kekuatan cinta big-power.

Seperti biasa, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta yang besar ini, big-power, ke arah yang suram. Negara-negara Eropa memanfaatkan big-power untuk menjajah berbagai wilayah di dunia. Mereka memanfaatkan senjata dan kemajuan teknologi untuk mengeksploitasi orang lain. Senjata adalah big-power. Sejatinya, senjata, membantu manusia untuk menebang pohon, membangun jalan, atau melindungi diri dari ancaman bahaya. Teknologi juga big-power, yang sejatinya, untuk memudahkan kehidupan manusia. Lagi-lagi, teknologi, apalagi digital, bisa dimanfaatkan untuk eksploitasi kemanusiaan.

Tragedi big-power paling mengerikan dalam sejarah, barangkali, adalah bom nuklir yang meledak di Jepang. Saat perang dunia, big-power benar-benar dieksploitasi untuk melanggar kemanusiaan. Tetapi daya rusak bom nuklir melebihi imajinasi paling ngeri umat manusia. Saat ini pun, eksploitasi big-power masih ada di mana-mana. Kita bisa lihat kasus di Palestina, Uighur, Afghanistan, dan lain-lain.

Bio-power adalah kekuatan cinta yang lebih dahsyat dari big-power. Big-power merupakan kekuatan yang bekerja dari luar kemudian mengenai manusia, sementara, bio-power merupakan kekuatan yang bekerja dari dalam diri manusia kemudian menyebar ke segala penjuru. Lebih hebat lagi, bio-power tidak menghantam big-power. Bio-power hanya mengendalikan big-power sehingga kekuatan mereka makin besar.

Barangkali masih segar di ingatan kita tentang program KB, keluarga berencana, di Indonesia? Pada masa orde baru, program KB dijalankan dengan big-power. Rakyat dipaksa untuk melakukan KB. Rakyat disuruh untuk punya anak maksimal dua orang saja. Bahkan pegawai negeri lebih ketat lagi. Pemerintah mengucurkan dana dan sumber daya yang besar untuk menggulirkan program KB – pendekatan big-power. Pemerintah melarang rakyat punya anak lebih dari dua, dengan cara tertentu.

Hal yang berbeda bisa kita amati setelah tahun 2000 ini. Orang di Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia, sudah berpikir secara ekonomis. Anak adalah liabilitas. Anak adalah beban ekonomi yang berat. Butuh biaya besar untuk merawat anak dan, lebih-lebih, biaya pendidikan terus meroket. Pasangan muda, suami-istri, yang hidup setelah tahun 2000 dengan penuh kesadaran membatasi beban ekonomi. Sebagai konsekuensinya, mereka membatasi jumlah anak. Sebagian hanya ingin punya anak 2 atau 1 atau bahkan tidak punya anak sama sekali. Kekuatan cinta bio-power telah bersemi di jiwa pasangan muda. Terbukti, nyaris tidak ada pasangan muda yang punya anak lebih dari 2 orang. Program KB lebih berhasil dengan pendekatan bio-power.

Di negara Cina, tahun 2021 ini, lebih menarik lagi. Di sana, orang-orang sudah sadar untuk punya anak hanya 1 saja atau tidak sama sekali, bio-power tertanam kuat. Sementara, kajian pemerintah menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan populasi Cina bisa berbahaya. Sehingga, pemerintah kembali kampanye agar penduduk punya anak lebih dari 1 orang – pendekatan big-power. Rakyat, tetap, bersikukuh tidak mau menambah jumlah anak. Beban ekonomi terlalu berat. Rakyat hanya ingin punya anak 1 saja atau tidak sama sekali.

Kekuatan bio-power makin menyebar ke seluruh bidang kehidupan. Terutama, bio-power, masuk dari sisi perhitungan ekonomis setiap orang. Tentu saja, resiko kehancuran sosial mengancam umat manusia. Akibat dari pertimbangan ekonomi yang mendominasi kehidupan umat manusia. Orang-orang berpikir untuk selalu mendapat keuntungan ekonomi. Kehidupan berubah menjadi hitung-hitungan ekonomi belaka. Dampaknya, bisa kita duga. Anak-anak dari kecil diarahkan untuk sekolah dengan baik, lalu lulus dengan nilai bagus. Berkarir di perusahaan besar dengan gaji besar. Hidup berkecukupan, tua, dan akhirnya mati.

Jebakan bio-power begitu kuat. Tentu saja, tidak salah dengan cita-cita mendapat pekerjaan yang layak dengan kompensasi yang bagus. Masalahnya adalah berlebihan dalam mengejar keuntungan ekonomi itu. Lebih parah lagi, banyak orang bercita-cita seperti itu. Seperti kita lihat saat ini, dampaknya, konsumsi bahan bakar membubung tinggi. Pencemaran lingkungan di mana-mana. Penggundulan hutan terjadi di berbagai belahan dunia. Dan, krisis iklim mengancam dunia.

Bakat-bakat anak muda yang luar biasa itu berhasil mengantarkan dirinya jadi orang kaya, secara ekonomi. Nyatanya, mereka hanya sebagai salah satu alat bagi orang super kaya untuk menambah kekayaan menjadi lebih super kaya lagi. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi memang terjadi. Orang kecil yang kalah bersaing, atau tidak sempat bersaing, tersingkir. Orang miskin makin miskin. Terpojok di ujung kehidupan.

Bio-power, yang sejatinya, adalah kekuatan cinta sebagai pendorong kemajuan manusia dari dalam diri telah berbelok menghancurkan manusia. Bagaimana pun, kita, sebagai manusia, tetap punya kekuatan untuk meluruskan kembali bio-power agar kembali memajukan kemanusiaan di seluruh dunia. Dengan bio-power juga kita bisa menjaga alam semesta, merawat alam semesta.

Bit-power, dari arah yang baru, melangkah lebih hebat dari bio-power dan big-power. Bit-power adalah kekuatan cinta yang diperkuat oleh kekuatan digital. Lagi-lagi, bit-power menjadi lebih hebat dengan cara tidak melawan bio-power dan big-power. Bit-power hanya mengendalikan mereka.

Bit-power menyebarkan cinta ke seluruh dunia. Dengan bantuan teknologi digital, bit-power menebarkan ilmu ke seluruh penjuru. Setiap orang menjadi mudah mendapat informasi hanya dengan mengetukkan jari. Kemajuan pengetahuan menyebar ke seluruh bumi. Di saat yang sama, kerja sama antara penduduk di seluruh dunia mudah menjadi nyata. Kehidupan yang adil merata tampak di depan mata. Umat manusia berhasil meraih cita-cita yang sempurna.

Lagi-lagi, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta bit-power. Harapan untuk menyebarkan ilmu dengan teknologi digital online bisa sirna. Memang benar, informasi tersebar luas di seluruh dunia. Nyatanya, bisa sebalikya yang terjadi, media digital menjadi media mengumpulkan kekayaan oleh segelintir orang. Media digital adalah media sempurna untuk marketing, mencuci otak, dan menciptakan ketergantungan. Teknologi digital mencengkeram umat manusia demi keuntungan segelintir orang super kaya. Dengan media sosial, orang merasa bebas menyuarakan pendapat dan aspirasinya. Tentu saja, memang bebas, sejauh itu semua menguntungkan pihak-pihak super kaya.

Lebih hebat lagi, bit-power memanfaatkan teknologi cerdas seperti artificial intelligence AI. Dengan AI, media digital mampu bekerja cerdas secara otomatis. Anda yang suka politik maka oleh AI akan disuguhi berita politik sesuai minat Anda. Lambat laun, Anda terjerat karena semua berita politik itu begitu menarik. Begitu juga Anda yang suka berita olah raga, disuguhi berita olah raga oleh AI. Anda makin terpikat. Orang-orang tidak sadar bahwa itu jeratan. Yang, pada akhirnya, menguntungkan pihak tertentu saja.

AI yang begitu cerdas tidak bekerja sendiri. AI bekerja sama dengan orang-orang khusus yang punya kepentingan khusus, terutama kepentingan ekonomi. Jadi, ketika kita menghadapi media sosial, kita tidak sedang berhadapan dengan AI yang cerdas. Kita sedang berhadapan dengan AI yang cerdas didukung oleh orang-orang yang cerdas, dengan dukungan kapital nyaris tanpa batas. Bisakah seorang individu menang terhadap media sosial? Sulit sekali. Bagaimana caranya? Tetap ada cara.

Bitcoin merupakan salah satu gebrakan dari dunia digital, kekuatan bit-power. Akankah Bitcoin, dan uang kripto lainnya, menghancurkan sistem keuangan yang ada sekarang? Bisnis digital sudah terbukti meruntuhkan bisnis konvensional seperti percetakan koran, televisi, transportasi, dan lain-lain. Wajar saja, kita menduga Bitcoin, dengan teknologi blockchain, akan meruntuhkan sistem keuangan konvensional. Jika terjadi maka siapa yang dirugikan? Dan siapa yang diuntungkan?

Pertanyaan terhadap perkembangan bit-power masih bisa terus berlanjut. Bagaimana jika kecerdasan AI melampaui kecerdasan manusia? Atau bagaimana jika AI mempunyai kesadaran diri sehingga bisa mengambil keputusan secara mandiri layaknya manusia? Bagaimana jika AI mendominasi manusia? Saat ini, AI baru sekedar komputer dengan program yang sangat cerdas. Sehingga, AI menuruti perintah manusia. AI bekerja sama dengan manusia layaknya sebuah mesin. Lompatan teknologi saat ini, dan masa depan, bisa mengubah segalanya.

Mari kita ringkaskan kekuatan bit-power yang begitu luar biasa. Pertama, bit-power menguasai big-power. Senjata militer, saat ini, dikendalikan oleh sistem komputer. Ketika seorang presiden memerintahkan serangan besar, misalnya, semua perintah itu dikendalikan oleh sistem komputer, bit-power. Komunikasi para jenderal pun menggunakan jaringan komunikasi digital, bit-power. Dan semua sistem big-power di dunia, saat ini, dikendalikan oleh komputer.

Kedua, bit-power menguasai bio-power. Semua perkembangan pengetahuan dan informasi manusia, saat ini, memerlukan sistem informasi yang dikendalikan oleh bit-power. Cita-cita masa depan anak millenial, sama halnya dengan prasangka dogmatis orang tua, ditentukan oleh informasi yang lalu-lalang di media digital. Semua pemahaman kita ditentukan, dalam kadar terntentu, oleh media digital, bit-power. Manusia dikendalikan oleh bit-power.

Ketiga, bit-power bisa saja mengendalikan manusia di saat ini, atau di masa depan. Lompatan teknologi yang begitu cepat memungkinkan bit-power memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan manusia. AI, yang semula, alat bagi manusia, di masa depan bisa terbalik. Manusia bisa jadi sebagai alat bagi AI.

Bagaimana pun, sampai saat ini, manusia telah membelokkan bit-power menjadi merugikan manusia. Pada waktunya nanti, manusia bisa kembali meluruskan bit-power agar bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi seluruh semesta. Bukan tugas kecil untuk meluruskan bit-power, benar-benar, tugas yang sangat besar.

Selanjutnya, kita akan membahas beberapa ide solusi. Kita akan mempertimbangan solusi personal yaitu mengembangkan cinta putih dan mengendalikan nafsu hitam, merah, dan kuning. Serta solusi sosial dengan mengendalikan big-power, bio-power, dan bit-power. Kenyataannya, solusi personal dan sosial saling berjalin kelindan.

Solusi Personal Sosial

Solusinya tampak mudah. Agar setiap orang berbuat baik. Saling menghormati satu sama lain. Tidak mengganggu satu dengan lain. Maka kehidupan menjadi baik. Secara individu, masing-masing orang menjadi baik. Dan secara sosial, kehidupan juga menjadi baik. Beres semua urusan. Mengapa tidak dilakukan cara semudah itu?

Karena solusi yang mudah seperti itu memang tidak bisa dilakukan. Atau, setidaknya, sulit dilakukan.

Berharap bahwa masing-masing orang akan berbuat baik adalah harapan hampa. Masing-masing orang punya rasa cinta putih yang sewaktu-waktu bebas belok menjadi nafsu hitam. Dari ribuan orang, atau jutaan orang, maka hampir bisa dapastikan pembelokan cinta menjadi nafsu hitam akan terjadi. Sehingga kita perlu mengembangkan solusi sosial, sebagai pelengkap solusi personal, untuk mendukung warga terus mengembangkan cinta putih, dan di saat yang sama, mempersulit pembelokan menjadi nafsu hitam. Tetapi, agar solusi sosial ini sukses, perlu solusi personal berjalan dengan baik. Kita terjebak dalam lingkaran masalah. Agar solusi sosial berjalan lancar diperlukan solusi personal. Sementara, agar solusi personal berjalan lancar diperlukan solusi sosial. Sehingga tidak ada solusi eksak dalam hal ini. Semua solusi adalah solusi yang melibatkan dinamika cinta.

Berikut ini, kita akan mendiskusikan beberapa alternatif dinamika solusi.

Solusi Personal

Solusi personal satu. Kita, dan setiap orang, merawat cinta putih untuk tetap tumbuh setiap hari. Untuk merawat cinta putih, kita bisa memanfaatkan beragam sumber pegangan. Di antaranya, kita bisa merujuk ajaran agama, ajaran spiritual, puisi cinta, karya seni cinta, dan buku-buku berkualitas. Setiap hari, khususnya di pagi hari, bacalah sumber pegangan itu walau hanya satu paragraf. Renungi maknanya dan biarkan cinta putih bersemi di hari ini.

Solusi personal dua. Kita perlu mengawali hidup dengan tindakan cinta putih yang nyata. Di pagi hari, lakukan suatu kegiatan positif sebagai ungkapan cinta, meski hanya kegiatan kecil. Senyum manis kepada pasangan di tiap pagi bisa jadi pertimbangan. Membantu anggota keluarga membereskan rumah dengan riang gembira bisa jadi pilihan. Atau, barangkali dengan sengaja, Anda mengirimkan makanan ringan buat tetangga yang membutuhkan. Dan, masih banyak pilihan tindakan nyata lainnya, meski kecil, sebagai ungkapan cinta Anda. Selanjutnya, ijinkan dampak susulan berupa kehidupan yang penuh cinta di hari itu.

Solusi personal tiga. Tetapkan dua atau tiga proyek cinta jangka panjang. Misalnya, secara bertahap, Anda mengumpulkan dana untuk membantu yatim piatu. Atau, secara bertahap juga, Anda mengembangkan pendidikan untuk masyarakat sekitar. Barangkali proyek ini bisa Anda lakukan secara personal atau bersama teman-teman Anda. Perlu diingat bahwa proyek ini adalah proyek cinta yang bersifat memberi kasih sayang – bukan proyek untuk keuntungan finansial. Dengan demikian, sepanjang waktu, pikiran kita mempunyai kesibukan positif untuk menebarkan cinta. Jika satu proyek cinta selesai maka buatlah proyek cinta baru sebagai gantinya.

Solusi personal empat. Bersikaplah terbuka, setiap saat, untuk berbuat baik sebagai tindakan nyata cinta. Pada waktu tertentu, barangkali ada teman Anda yang membutuhkan pertolongan maka sambutlah dengan membantunya. Tentu saja perlu hati-hati terhadap kasus penipuan di dunia digital saat ini. Bantuan kita kepada teman, tentu saja, perlu kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Begitulah cinta: universal dan unik sesuai kondisi.

Solusi personal lima. Pastikan proyek utama Anda adalah proyek cinta dalam satu dan lain cara. Proyek utama bisa berupa pekerjaan, usaha, karya, dan sebagainya. Di mana proyek utama ini, biasanya, juga berdampak signifikan terhadap penghasilan finansial kita. Meski proyek utama mengutamakan “profit” dalam berbagai bentuk, kita perlu menjamin proyek utama ini adalah, sejatinya, proyek cinta. Misalnya Anda bekerja sebagai sopir. Pastikan bahwa Anda, sebagai sopir, sedang membantu banyak orang untuk berbuat baik. Jika mobil Anda digunakan untuk mengirim barang haram maka sebaiknya Anda, mempertimbangkan, pindah kerja. Karena proyek utama ini, sopir barang haram, bukan proyek cinta. Begitu juga bila Anda seorang pegawai (PNS), di mana, divisi Anda dimanfaatkan untuk tindakan korupsi tersembunyi maka sebaiknya Anda pindah kerja. Kerja, bisnis, karya, atau aktivitas utama Anda pastikan itu adalah proyek cinta.

Solusi personal enam. Waspadai nafsu hitam. Sewaktu-waktu, nafsu hitam bisa membelokkan cinta. Kita perlu hati-hati setiap hari. Hentikan nafsu hitam dan kembali ke jalan cinta suci. Apakah Anda merugikan orang lain? Langsung atau tak langsung? Apakah Anda mengganggu orang lain? Apakah Anda merugikan alam semesta? Apakah ada resiko pencemaran lingkungan? Apakah membahayakan generasi masa depan?

Saya sekedar menjalankan tugas tidak bisa jadi pembenaran. Beberapa orang melakukan suatu pekerjaan, sesuai tugas dari kantornya, yang bisa merugikan alam sekitar. Lalu orang itu berargumen, “saya sekedar bekerja. Saya sekedar mencari penghidupan. Saya sekedar menjalankan tugas.” Meski pun, argumen itu sah secara legal maka tidak mengubah nafsu hitam menjadi benar. Suara suci dari dalam hati akan tetap menyinari. Tinggalkan nafsu hitam. Mari meniti jalan cinta yang suci.

Solusi personal tujuh. Hentikan nafsu merah. Nafsu merah tidak salah tetapi parah. Secara legal, nafsu merah adalah sah. Sementara secara substansi, nafsu merah menjadikan segalanya parah. Kata-kata bijak “Berhenti makan sebelum kenyang” adalah solusi terbaik untuk menghentikan nafsu merah. Anda bisa saja terus makan meski kenyang. Makanan sudah Anda miliki. Secara sah sudah Anda beli. Karena gairah, meski kenyang, Anda bisa terus saja makan. Akibatnya, penyakit obesitas mengancam Anda. Di sisi lain, orang miskin kelaparan. Berhentilah makan sebelum kenyang.

Dalam bidang olah raga bisa juga parah. Pernahkan Anda mendengar orang mati karena kebanyakan olah raga? Orang mati ketika futsal? Orang mati ketika badminton? Orang mati ketika gowes? Tujuan olah raga adalah untuk menjadikan tubuh kita sehat, bugar, dan bahagia. Tetapi, nafsu merah menjebak seseorang olah raga dalam ukuran berlebih. Bukan sehat hasilnya, justru bahaya yang ada.

Solusi untuk mengembalikan, membelokkan, nafsu merah menjadi cinta yang suci adalah dengan menetapkan batas-batas yang jelas. Memang, kita harus ikhlas, berhenti sebelum titik maksimal. Makan hanya sekedarnya, minum sekedarnya, tidur sekedarnya, olah raga sekedarnya, binis sekedarnya, dan beragam kegiatan lain hanya sekedarnya – sesuai batas-batas. Kita perlu berlatih mengendalikan diri terhadap hal-hal yang halal, dan sah. Beberapa orang melakukannya dengan hidup tirakat dan puasa. Kita perlu terus ingat, “Berhenti makan sebelum kenyang. Dan makan hanya ketika lapar.” Ingat batas!

Solusi personal delapan. Atasi nafsu kuning. Nafsu kuning menjadi paling sulit diatasi lantaran nafsu kuning pandai berdalih. Nafsu hitam dan merah bisa dipahami sebagai sesuatu yang salah. Sementara, nafsu kuning mengelabui kita bahwa kita punya pembenaran. Politikus mudah ditipu nafsu kuning. Politikus merasa menegakkan keadilan, membela rakyat miskin, dan membangun seluruh negeri. Nyatanya, itu semua sekedar dalih untuk memperkaya diri. Pejabat, terutama pejabat pengadilan semisal hakim-jaksa-pengacara-polisi, beresiko ditipu oleh nafsu kuning. Pejabat bisa merasa bahwa dirinya adalah penjaga hukum, penegak undang-undang, sebenarnya, mereka adalah mafia hukum. Mereka adalah perusak hukum itu sendiri.

Apa solusi untuk nafsu kuning yang begitu licik dan cerdik?

Solusinya adalah seseorang harus menjalankan semua solusi di atas ditambah dengan refleksi diri tingkat tinggi. Kita harus menghidupkan cinta putih yang suci. Di saat yang sama, menghentikan nafsu hitam yang sering merugikan. Ditambah lagi, menolak nafsu merah yang sering berlebihan meski sah. Kemudian kita lanjutkan dengan refelksi diri tingkat tinggi. Adakah kesalahan di sana-sini? Tentu ada. Maka kita perlu memperbaiki. Adakah kekeliruan? Pasti ada. Maka kita koreksi. Adakah kekurangan? Memang ada. Maka kita lengkapi.

Godaan nafsu kuning bisa menyelinap setiap saat. Baik melalui diri sendiri atau pun orang lain, termasuk keluarga dekat. Bisa jadi seseorang berhasil mengendalikan nafsu kuning bagi dirinya. Tetapi anaknya tidak bisa diterima di sekolah yang diidamkan. Demi kebaikan anak sendiri, nafsu kuning menunjukkan jalan mudah untuk memasukkan anak ke sekolah idaman – melalui jalur khusus yang dibenarkan oleh nafsu kuning. Tentu saja kepentingan anak, istri, saudara, tetangga dan sebagainya tersebar luas di bidang pendidikan, ekonomi, seni, dan lain-lain. Nafsu kuning siap menjebak siapa saja dan menjamin bahwa cara itu adalah cara yang benar.

Mempertimbangkan liciknya nafsu kuning, kita perlu waspada bahwa solusi personal bisa saja gagal. Maka kita, memang, perlu mengembangkan solusi sosial. Sehingga solusi personal dan sosial ini bisa saling menguatkan – meski melingkar.

Solusi Sosial

Solusi sosial satu. Yang paling awal, secara sosial, adalah kekuatan politis. Siapa yang paling berkuasa? Siapa yang paling berhak menentukan kebenaran? Siapa yang jadi panutan bersama?

Umumnya, saat ini, kekuatan politis paling tinggi adalah konstitusi. Pertanyaan masih berlanjut. Siapa yang menetapkan konstitusi? Siapa yang berhak menafsirkan konstitusi? Siapa dan bagaimana menentukan interpretasi yang paling sah?

Sehingga, solusi sosial paling dasar adalah menetapkan konstitusi yang menjamin sumber daya masyarakat, big-power, dimanfaatkan untuk kebaikan bersama seluruh masyarakat. Pada tahap ini, penyusunan konstitusi, umumnya bisa berjalan dengan baik. Masyarakat berhasil menyusun konstitusi dengan baik. Pertanyaan penting berikutnya: bagaimana menjalankan konstitusi?

Solusi sosial kedua adalah menjalankan dan merevisi konstitusi. Tidak ada konstitusi yang sempurna. Karena itu, konstitusi perlu terus direvisi untuk kebaikan masyarakat luas. Bahkan, ketika konstitusi dianggap sudah sempurna untuk jangka waktu tertentu, maka penafsiran dari konstitusi itu bisa berujung konflik. Big-power bisa membelokkan konstitusi untuk kepentingan kroni.

Solusi sosial ketiga adalah kebebasan berpendapat sebagai kontrol oleh masyarakat. Konstitusi, dan peraturan turunannya, perlu menjamin kebebasan pendapat dari warga. Kebebasan ini memastikan agar big-power, benar-benar, dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Umumnya, setiap konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Masalahnya, kebebasan itu sering dibenturkan oleh konstitusi itu sendiri dengan suatu batasan, misalnya, pencemaran nama baik. Jika konstitusi pencemaran-nama-baik lebih kuat dari kebebasan-berpendapat maka itu sama artinya dengan tidak adanya kebebasan berpendapat. Kita, memang, harus menemukan titik keseimbangan. Masyarakat membutuhkan kebebasan berpendapat.

Solusi sosial keempat adalah menjamin berkembangnya bio-power. Konstitusi bisa dengan tegas mengatur big-power. Bagaimana pun, dengan beragam kompleksitasnya, konstitusi juga perlu mengatur bio-power dan bit-power. Konstitusi perlu menjamin kehidupan yang layak, dengan standar tertentu, bagi seluruh warga. Dengan standar ini, warga mampu untuk terus belajar sepanjang hidup. Sehingga, setiap warga mampu mengembangkan bio-power dengan baik.

Solusi sosial kelima adalah masyarakat mengembangkan diri lebih dari standar legal. Masyarakat dengan kreatif bekerja sama dan bersaing mengembangkan bisnis, seni, olahraga, agama, penelitian, dan lain-lain melebihi dari sekedar tuntutan kewajiban. Masyarakat berkembang sesuai dinamika dan kreativitas yang ada.

Solusi sosial keenam adalah masyarakat dan pemerintah bekerja sama mengembangkan bit-power. Dinamika dunia digital berkembang jauh lebih cepat dari segala aturan. Akibatnya, setiap aturan akan segera ketinggalan jaman oleh kemajuan teknologi digital. Karena itu, masyarakat dan pemerintah perlu membangun kerja sama untuk bisa mengendalikan bit-power agar bermanfaat bagi kebaikan bersama.

Solusi sosial ketujuh adalah bersiap mengantisipasi lompatan kecerdasan buatan, artificial intelligent, AI. Kita, umat manusia, baru mengalami lompatan permukaan AI. Kita tidak tahu, sampai saat ini, potensi tersembunyi yang lebih mendalam dari AI. Apakah AI, selamanya, akan menjadi suatu teknologi yang dimanfaatkan manusia? Ataukah suatu saat AI akan berkembang lebih cerdas dari manusia? Bisakah, suatu saat nanti, AI memiliki kesadaran sehingga bisa mengambil keputusan kreatif secara mandiri? Kita tidak tahu jawaban pasti tentang pertanyaan bit-power AI yang begitu penting. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap-siap mengantisipasinya.

Solusi Sirkular

Tidak ada solusi sempurna untuk tetap bisa meniti hidup di jalan cinta suci. Semua solusi hanya solusi parsial. Bahkan solusi itu terhubung secara melingkar, solusi sirkular. Solusi sosial tidak bisa berjalan baik kecuali didukung oleh individu-individu yang baik, yaitu solusi personal. Dengan kata lain, solusi sosial bergantung kepada solusi personal. Sementara itu, solusi personal juga tidak bisa berjalan dengan baik kecuali dengan dukungan solusi sosial. Sehingga terbentuk solusi sirkular. Solusi yang selalu ada dinamika.

Mengapa cinta suci yang putih itu bisa berbelok menjadi nafsu yang mengundang bencana? Pasti karena ada pemicu yang menyebabkan meledaknya nafsu. Pemicu itu adalah berbagai hal yang menarik nafsu syahwat. Pemicu itu adalah sesuatu yang cantik. Pemicu itu adalah sesuatu yang menggoda. Mengapa cantik dan mempesona menjadi disalahkan sebagai pemicu? Apa salah menjadi cantik dan mempesona? Berikut ini, kita akan membahas tema cantik lebih mendalam.

Filsafat Kecantikan

Untuk membahas filsafat kecantikan kita akan merujuk ke pemikir-pemikir jaman dahulu sampai kontemporer. Secara khusus, kita akan banyak merujuk konsep kecantikan dari Immanuel Kant (1724 – 1804) dan Ibnu Arabi (1165 – 1240). Kant membahas kecantikan dalam kritik ketiganya yang menyandingkan kecantikan, sublim, dan teleologi. Sementara, Ibnu Arabi membahas kecantikan dalam magnum opusnya, Futuhaat, dengan memasangkan cantik dan agung sebagai karakter dari cinta.

Apakah cantik itu obyektif atau subyektif?

Rara gadis cantik, benar-benar cantik, secara obyektif. Pipinya, alisnya, matanya, dan rambutnya secara obyektif menjadikan Rara sebagai gadis cantik. Di sisi lain, orang bisa mengatakan bahwa cantiknya Rara itu subyektif, tergantung siapa yang menilainya. Seekor kambing, misalnya, barangkali tidak menilai Rara sebagai gadis cantik.

Solusi paling mudah adalah kita menilai cantik itu bersifat obyektif dan subyektif sekaligus. Kita perlu mengkajinya lebih dalam. Di bagian mana obyektif dan dari sisi mana subyektif.

Cantik Subyektif

Cantik sebagai realitas subyektif bisa diterima oleh banyak orang. Bahkan para pemikir besar juga mengakui cantik itu subyektif. David Hume (1711 – 1776) meyakini bahwa cantik itu subyektif tergantung kita yang melihatnya. Lebih dari itu, Hume menilai hukum kausalitas (sebab-akibat) juga bersifat subyektif. Maksudnya, sebab-akibat itu hanya ada dalam pikiran kita. Sedangkan, di dunia luar hanya ada urutan. Ketika kita, misalnya, merebus air kemudian air mendidih, itu bukan proses sebab akibat. Proses merebus bukan menjadi sebab bagi air yang mendidih. Kejadian itu hanya urutan belaka. Berdasar pengalaman, setelah air direbus, urutan berikutnya, air mendidih. Hanya saja pikiran kita, secara subyektif, menilainya ada hubungan sebab-akibat. Demikian juga, ketika kita melihat gadis cantik maka urutan berikutnya adalah kita menilai gadis itu sebagai cantik. Penilaian cantik seperti itu hanya subyektif.

Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebut cantik itu relatif. Barangkali relatif terhadap obyek cantik lainnya – yang lebih cantik atau kurang cantik. Atau, bisa juga relatif terhadap pengamat yang memberi penilaian, bisa cantik atau bisa tidak cantik.

Nietzsche (1844 – 1900) menilai cantik juga sebagai subyektif. Barangkali, kita mengenal Nietzsche sebagai tokoh nihilisme. Sesuai konsep nihilisme, tidak ada nilai obyektif. Semua nilai runtuh. Kita, manusia sebagai subyek, adalah yang bertanggung jawab untuk menciptakan nilainya sendiri. Sehingga cantik, sebagai sebuah nilai yang runtuh, adalah ciptaan subyektif oleh masing-masing subyek. Cantik, dalam pandangan nihilisme, adalah subyektif belaka yang merupakan ciptaan manusia.

Jika cantik hanya subyektif maka mengapa Nietzsche menulis sastra yang begitu cantik? Mengapa tidak menulis acak-acakan saja? Mengapa susunan kalimatnya begitu indah?

Kita perlu mempertimbangkan bahwa cantik itu obyektif – setelah memahami sudut pandang subyektif.

Cantik Obyektif

Pemikiran bahwa cantik itu sebagai realitas obyektif sudah terekam sejak 2500 tahun yang lalu. Plato (428 – 348 SM) menyatakan bahwa cantik itu benar-benar nyata sebagai realitas obyektif. Bahkan, cantik ini berada di alam idea yang sempurna, abadi, dan tak lapuk oleh waktu. Kita, sebagai manusia, bertugas untuk jatuh cinta kepada sang cantik sejati yang abadi itu. Jatuh cinta kepada sang cantik sejati adalah kebahagiaan hakiki umat manusia.

Sementara itu, wanita cantik memang cantik secara obyektif. Cantiknya seorang wanita hanyalah pantulan dari sang cantik sejati yang ada di alam idea. Begitu juga bunga yang cantik, puisi yang cantik, pemandangan yang cantik, dan semua yang cantik adalah cantik secara obyektif dan merupakan citra dari sang cantik sejati. Kita bisa jatuh cinta kepada wanita cantik. Kita bisa jatuh cinta kepada lukisan yang cantik. Kita juga bisa jatuh cinta kepada pemandangan yang cantik. Jatuh cinta semacam itu adalah hal-hal yang membahagiakan manusia. Hanya saja, kebahagiaan sejati adalah jatuh cinta kepada sang cantik sejati yang abadi di alam idea.

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah murid Plato yang juga menyatakan bahwa cantik merupakan realitas obyektif. Meski sama-sama obyektif, menurut Aristoteles, cantik tidak berada di alam idea. Cantik justru melekat kepada obyek secara obyektif. Wanita cantik memang ada karakter cantik pada wanita itu. Pemandangan alam yang cantik memang ada kualitas cantik pada alam itu. Begitu juga puisi yang cantik memang, benar-benar, cantik ada pada pusisi itu.

Cantik adalah komposisi, tekstur, struktur, dan sebagainya dari suatu obyek yang pada akhirnya menghasilkan karakter bernilai cantik. Rara gadis cantik itu karena komposisi matanya yang bening, pipinya yang lembut, bibirnya yang manis, rambutnya yang hitam, dan sebagainya yang menghasilkan karakter cantik. Pemandangan alam yang cantik itu karena daunnya yang hijau, luasnya alam yang bak tanpa batas, hembusan angin yang sejuk, dan sebagainya menghasilkan karakter cantik. Singkatnya, cantik ada pada obyek secara obyektif.

Cantik Dialektik

Cantik itu dialektik. Cantik obyektif berdialektif dengan cantik subyektif menghasilkan sintesa cantik yang baru yaitu cantik dialektif.

Selanjutnya, kita akan membahas konsep cantik dengan meminjam konsep cantik Immanuel Kant (1724 – 1804). Proyek besar filsafat dari Kant adalah untuk menyatukan, sintesa, semua pandangan filsafat yang ada sampai pada masanya. Dengan proyek sintesa besar ini, Kant menemui keharusan proses dialektif dari ragam sudut pandang yang sering saling kontradiksi. Kant berhasil menjalankan proyek besar itu dengan menghasilkan maha karya trilogi kritik.

Cantik adalah klaim subyektif yang bernilai obyektif.

Untuk memudahkan, kita akan membandingkan klaim penilaian cantik ini dengan klaim persetujuan dan klaim kebaikan. Klaim-persetujuan adalah klaim subyektif yang kita berharap orang lain akan setuju atau tidak setuju.

“Kopi ini nikmat,” adalah contoh klaim-persetujuan. Bagi saya, benar bahwa kopi ini nikmat. Saya bisa berharap bahwa orang lain akan setuju bahwa kopi ini nikmat. Di saat yang sama, saya tahu bahwa ada juga orang yang tidak setuju. Wajar saja bila ada orang meng-klaim bahwa kopi itu tidak nikmat. Klaim-persetujuan adalah penilaian subyektif, yang kita sadari, bernilai subyektif dan bisa inter-subyektif.

“Rara adalah cantik,” merupakan klaim-cantik. Cantik ini klaim subyektif saya pribadi. Tetapi bernilai obyektif universal. Semua orang seharusnya setuju bahwa Rara adalah cantik. Sehingga ungkapan “Rara adalah cantik” tidak memerlukan relasi terhadap subyek. Saya tidak perlu mengatakan, “Rara adalah cantik bagi saya.” Begitu juga seseorang tidak perlu mengatakan, “Pemandangan itu indah bagi penduduk desa.” Pemandangan indah, atau pemandangan cantik, itu berlaku universal secara obyektif. Pemandangan indah adalah universal bagi seluruh umat manusia.

Klaim-kebaikan juga berlaku universal bagi orang berakal.

“Menghormati ibu adalah kebaikan,” merupakan contoh klaim-kebaikan yang bersifat universal. Kekuatan klaim-kebaikan ini sekuat klaim kebenaran matematika seperti 1 + 2 sudah pasti menghasilkan 3. “Menghormati ibu” adalah kebaikan bagi semua umat manusia. Semua orang berakal “harus” menerima klaim-kebaikan semacam itu. Bukan hanya “seharusnya” menerima tapi memang “harus” menerima kebenaran klaim-kebaikan.

Memang ada perbedaan antara klaim matematika 1 + 2 = 3, dengan klaim-kebaikan yang bersifat moral, dalam hal analisis rasional. Klaim matematika bisa kita analisis secara rasional sedemikian hingga kita bisa memastikan nilai kebenarannya. Sementara klaim-kebenaran moral tidak bisa kita analisis secara raional belaka. Kita perlu mempertimbangkan sisi moral. Ada semacam “ketidakpastian” dalam analisis moral. Bagaimana pun, hasil analisis moral bersifat pasti nilai kebenarannya. “Korupsi merupakan kejahatan,” merupakan analisis moral yang bersifat pasti.

Klaim-cantik merupakan penilaian yang ada di tengah-tengah antara klaim-persetujuan dan klaim-kebaikan. Penilaian cantik dilakukan secara subyektif dengan klaim kebenarannya bersifat universal obyektif.

Proses Cantik

Bagaimana mungkin proses penilaian cantik yang bersifat subyektif menghasilkan klaim yang bernilai universal?

Kita perlu mengkaji prosesnya lebih detil untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Dan, di bagian ini, kita mendefinisikan cantik adalah penilaian estetika yang menghasilkan rasa bahagia.

Proses pertama, penilaian cantik didasarkan pada perasaan tanpa kepentingan. Sebuah perasaan khusus yaitu perasaan bahagia. Dengan demikian, penilaian perasaan ini berbeda dengan penilaian kognisi (pikiran), misalnya, warna hijau adalah penilaian kognisi berdasar persepsi. Penilaian cantik tanpa kepentingan sehingga tidak punya tujuan tertentu, bagi subyek. Dengan ini, maka membedakan dengan (1) penilaian-persetujuan, kopi ini nikmat, bertujuan setuju atau tidak. Dan (2) berbeda dengan penilaian-kebaikan moral, misalnya, hormat kepada ibu, bertujuan untuk disetujui sebagai kebaikan universal.

Proses kedua, hasil penilaian cantik berlaku secara universal tanpa konsep. Ketika saya menilai “Rara adalah cantik” maka setiap orang yang melihat Rara akan menilai sebagai cantik. Tetapi karakter universal ini tidak didasarkan kepada konsep. Ketika seseorang menilai “kopi ini nikmat” maka rasa nikmat ini masuk dalam konsep nikmat. Di mana beragam kriteria dan ukuran nikmat bisa disepakati. Atau, ada pihak lain yang tidak sepakat.

Sementara, penilaian cantik tidak bisa dimasukkan kepada konsep apa pun. Meski kita bisa saja membuat konsep cantik, misalnya, cantik adalah ketika mata kiri dan mata kanan punya Rara harmonis. Jarak mata dan alis adalah 1,7 cm dan lain-lain. Maka konsep cantik seperti itu bukanlah penilaian-cantik. Konsep tersebut hanya karakter, yang dinilai, sering muncul pada obyek yang bersifat cantik. Cantik itu sendiri bukan konsep. Cantik adalah penilaian oleh perasaan langsung yang bersifat universal.

Dengan program komputer, coding, kita bisa membuat aplikasi untuk menentukan suatu kopi nikmat atau tidak. Lengkap dengan AI, kita bisa mempercayai akurasi aplikasi kita. Sementara, untuk menentukan cantik, penilaian-cantik, kita tidak bisa membuat aplikasi, program komputer, meski dengan AI. Dengan kata lain, program komputer AI tidak akan merasa bahagia ketika melihat gadis cantik.(Bagaimana dengan AI di masa depan?). Jika cantik akan kita buatkan suatu konsep maka konsep cantik tersebut adalah konsep-ketidakpastian.

Proses ketiga, penilaian cantik adalah rasa bahagia tanpa tujuan lain, tanpa maksud akhir. Atau, tujuan penilaian cantik bersifat terbuka, tidak pasti. Berbeda dengan penilaian-persetujuan, misalnya, kopi ini nikmat. Kenikmatan itu harus memenuhi kriteria tertentu sebagai tujuan akhirnya. Begitu juga, penilaian-kebaikan moral, misalnya, hormat kepada ibu, harus memenuhi kriteria tertentu untuk dipenuhi. Sementara, cantik tidak ada tujuan tertentu seperti itu.

Proses keempat, penilaian cantik bersifat niscaya bagi subyek dan terbuka muncul antinomi. Ketika saya menilai “Rara adalah cantik” karena muncul rasa bahagia dalam diri saya ketika melihat Rara, maka, orang lain juga akan merasa kebahagiaan yang sama ketika melihat Rara. Kenyataannya, mungkin saja, orang tidak merasa bahagia ketika melihat Rara. Sehingga orang tersebut gagal menilai “Rara adalah cantik.” Seharusnya, setiap orang akan merasa bahagia ketika melihat Rara yang cantik. Kejadiaan semacam ini, perbedaan penilaian cantik, adalah antinomi atau paradox. Tidak ada cara untuk menyelesaikan antinomi ini. Sehingga tidak bisa dilakukan penyeragaman terhadap penilaian cantik.

Mari kita ringkas empat proses penilaian cantik di atas: (1) perasaan tanpa kepentingan, (2) universal tanpa konsep, (3) bahagia tanpa akhir, dan (4) niscaya tanpa seragam.

Cantik Tidak Cantik

Kali ini, kita akan coba mencermati beberapa kasus cantik tapi tidak cantik. Suatu klaim yang menyatakan cantik tapi tidak memenuhi salah satu, atau beberapa, dari empat proses penilaian cantik di atas.

“Gadis ini cantik.” Karena saya akan menikahinya. Klaim ini tidak memenuhi kriteria proses (1) karena saya berkepentingan akan menikahinya. Sehingga penilaian cantik itu bisa tidak jujur. Meski pun, ada kemungkinan untuk jujur.

“Kebun ini cantik.” Karena dengan cantik saya akan bisa menjual kebun ini dengan harga lebih tinggi. Klaim ini melanggar kriteria proses (1) yang, seharusnya, bebas dari kepentingan.

“Gadis ini cantik karena tingginya 165 cm dan berat badan 50 kg.” Penilaian cantik ini memasukkan cantik dalam konsep (kriteria) tinggi dan berat badan. Sehingga tidak sah melanggar kriteria proses (2) bahwa, seharusnya, cantik adalah universal tanpa konsep.

“Kebun ini cantik karena luasnya lebih dari 3 hektar dan ketinggian lebih dari 3 km di atas permukaan laut.” Lagi, penilaian cantik ini tidak sah karena memasukkan cantik dalam konsep, atau kriteria, luas dan ketinggian.

“Gadis ini cantik karena bisa menarik puluhan pelanggan.” Klaim cantik ini juga tidak sah karena terikat pada tujuan lain, tujuan akhir, yaitu menarik puluhan pelanggan. Sehingga melanggar kriteria proses (3) yang, seharusnya, terbebas dari tujuan akhir atau maksud lainnya.

“Kebun ini cantik karena bisa sebagai persyaratan pendanaan dari pemerintah.” Lagi, klaim cantik ini tidak sah karena melanggar kriteria proses (3).

“Gadis ini cantik.” Saya benar-benar merasakannya. Tapi orang lain, dengan jujur, mengatakan sebaliknya. Jika saya dan orang tersebut sama-sama jujur maka terjadi antinomi atau paradox. Hal semacam itu mungkin saja terjadi. Seandainya kemudian diundi dengan melempar dadu, misalnya, untuk menyeragamkan penilaian saya dan orang lain itu, maka justru penyeragaman ini melanggar kritieria proses (4) yang, seharusnya, niscaya dan terbuka dengan antinomi.

“Kebun ini cantik.” Saya benar-benar merasakannya. Sementara, orang lain, dengan jujur, mengatakan sebaliknya. Maka, dalam kasus ini, terjadi antinomi sesuai kriteria proses (4).

Kriteria proses (4) yang mengakui antinomi ini, apakah bisa diselesaikan dengan jalan konsensus? Tidak bisa. Karena penilaian-cantik yang jujur memang tidak bisa dipaksakan. Kita bisa mengembangkan sikap saling menghormati di antara pihak-pihak yang saling berbeda dalam penilaian. Kerja sama berbagai pihak tetap bisa dijalankan meski ada perbedaan, dengan tetap mengedepankan rasa saling hormat.

Sublim dan Teleologi

Masih banyak yang bisa kita kaji mengenai tema cantik. Sementara, kali ini, kita akan beralih membahas tema yang menarik juga yaitu tentang sublim dan teleologi, masih berhubungan dengan penilaian cantik. Keduanya, penilaian sublim dan teleologi, menurut hemat saya, sama-sama merupakan penilaian estetik seperti halnya penilaian cantik. Sehingga penilaian ini di dasarkan kepada perasaan.

Sublim adalah sesuatu yang sangat besar, lebih besar dari kemampuan imajinasi kita. Sedangkan teleologi adalah tujuan yang jauh ke depan, lebih jauh dari imajinasi kita.

Sublim ada dua macam yaitu matematis dan dinamis. Sublim matematis adalah sesuatu yang sangat besar secara matematis, secara ukuran. Sehingga, imajinasi kita tidak mampu untuk membayangkan ukuran yang sangat besar itu. Misalnya adalah kita tidak mampu membayangkan bilangan ganjil terbesar yang ditemukan saat ini. Sementara, pikiran kita bisa memahami bila bilangan ganjil terbesar itu ditambah 1 maka hasilnya adalah bilangan genap yang lebih besar dari bilangan ganjil terbesar.

Pertama, kita sadar kelemahan imajinasi manusia. Kita tidak mampu membayangkan bilangan ganjil terbesar itu. Kedua, kita bisa merasa bahagia bahwa pemahaman kita lebih hebat dari imajinasi kita. Ketika imajinasi gagal menggambarkan tentang bilangan ganjil terbesar, di saat yang sama, pemahaman kita bisa memahaminya dengan baik. Bahkan pemahaman bisa mengolah bilangan ganjil itu: menambah, mengurangi, membagi, mengali, atau operasi lainnya. Dari dua perasaan ekstrem ini, lemah dan unggul, maka muncul perasaan sublim, perasaaan bahagia tak terlukis dengan kata-kata.

Tentu saja, para ilmuwan bisa lebih banyak mengalami jatuh cinta dengan perasaan sublim ini. Perasaan bahagia menemukan inovasi-inovasi matematis di berbagai bidang. Yang bukan ilmuwan juga bisa merasakan jatuh cinta sublim dengan merenungkan obyek-obyek dalam ukuran sangat besar. Barangkali merenungkan laut luas, gunung menjulang tinggi, atau hutan lebat nan hijau.

Sublim dinamis, sublim jenis kedua di samping matematis, adalah sublim ketika kita berhadapan dengan dinamika alam semesta. Misal ketika kita berhadapan dengan ledakan gunung berapi, banjir bandang super besar, halilintar, angin topan, badai tsunami, dan lain-lainnya. Muncul perasaan sublim ketika kita menghadapi sublim dinamis ini. Pertama, kita sadar bahwa tubuh kita lemah dibandingkan kekuatan alam yang super besar itu. Kedua, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari tubuh kita. Bahkan, kita sadar, kita punya jiwa yang lebih besar dari fenomena alam semesta itu. Dari dua perasaan ekstrem ini, merasa lemah dan merasa besar, maka muncul perasaan bahagia sublim. Perasaan bahagia yang istimewa sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Perasaan bahagia sublim ini didasarkan pada penilaian estetik bukan penilaian pikiran rasional. Sehingga, perasaan sublim lebih mirip dengan perasaan bahagia ketika melihat yang cantik. Meski demikian, ada beberapa keistimewaan perasaan sublim.

Pertama, obyek sublim, misal tsunami, seperti tanpa tujuan. Sementara, kita, sebagai subyek yang menghadapi obyek sublim, merasa punya tujuan. Dibanding penilaian-cantik, penilaian sublim berbeda dalam: (1) tujuan bukan ada pada obyek tetapi ada pada subyek, (2) dan hadirnya tujuan ini bukan pada imajinasi kita tetapi tujuan hadir pada pemahaman kita atau pada jiwa manusia.

Kedua, klaim universal sublim tidak terletak pada kondisi kognisi atau imajinasi. Klaim universal sublim adalah klaim perasaan moral.

Ketiga, kita bisa menyebut suatu obyek sebagai obyek yang cantik. Tidak demikian dengan sublim. Sublim tidak terletak pada obyeknya. Sublim ada pada jiwa kita, ada pada pemahaman kita sebagai subyek.

Keempat, penilaian-cantik melibatkan dinamika hubungan antara imajinasi dan pemahaman kita. Sementara, penilaian sublim melibatkan imajinasi dan akal kita.

Dengan demikian, secara langsung, sublim mengarahkan manusia untuk memikirkan aspek moral. Sementara, kecantikan mengarahkan moral manusia secara tidak langsung. Dan, teleologi mengajak kita untuk lebih jauh mendalami sisi moral dalam diri kita.

Teleologi Alam Raya

Apa tujuan akhir dalam seluruh alam raya? Apa tujuan dari semua yang ada? Apa tujuan hidup manusia?

Pertanyaan tentang tujuan akhir adalah pertanyaan teleologi.

Manusia, kita, mempunyai sikap apriori menganggap segala sesuatu memiliki tujuan. Ada mobil diparkir di tengah jalan. Apa maksudnya? Apa tujuannya? Ada sungai dibendung airnya. Apa tujuannya? Matahari terbit di pagi hari. Apa tujuannya? Ada toko online memberi diskon besar-besaran. Apa tujuannya? Anda membaca tulisan ini. Apa tujuannya? Selalu menganggap ada tujuan adalah sikap apriori manusia.

Kita bisa membedakan tujuan menjadi dua: ekstrinsik dan instrinsik. Tujuan ekstrinsik adalah tujuan yang ada di luar dirinya. Membangun bendungan air tujuannya adalah agar ketika kemarau tetap bisa mengairi sawah-sawah di sekitar. Tujuan dari makan adalah agar kenyang. Tujuan dari belajar adalah agar pintar.

Sedangkan tujuan instrinsik adalah tujuan yang ada pada dirinya sendiri. Tujuan dari bernyanyi adalah bernyanyi itu sendiri. Tujuan dari gowes bersepeda adalah gowes itu sendiri. Tujuan dari berdoa adalah berdoa itu sendiri.

Ketika tujuan ada di luar aktivitas maka aktivitas menjadi alat atau sarana. Jika tujuan makan adalah untuk kenyang maka makan adalah sarana untuk mencapai kenyang. Sementara, ketika instrinsik maka tujuan dan sarana menjadi satu. Tujuan instrinsik memiliki derajat yang lebih tinggi. Tujuan dari bernyanyi adalah, memang, bernyanyi itu sendiri.

Organisme, makhluk hidup, adalah makhluk yang punya tujuan dalam dirinya sendiri. Virus covid bertujuan untuk menjadi covid itu sendiri. Lebih dari itu, organisme mempunyai tujuan untuk mengembangkan diri sendiri. Tujuan virus covid adalah menjadi virus covid yang lebih banyak lagi. Bila perlu, covid bermutasi agar tetap menjadi covid.

Lalu, apa tujuan akhirnya?

Tujuan Manusia

Tujuan akhir dari organisme adalah untuk menjadi manusia – organisme yang mampu berpikir. Menariknya adalah teori evolusi sains menunjukkan hasil yang sama. Sains paling mutakhir, saat ini, menunjukkan bahwa hasil evolusi paling sempurna adalah menjadi manusia. Manusia adalah tujuan dari alam raya. Sebagai tujuan akhir, manusia juga sebagai kebaikan tertinggi di alam ini.

Mari kita selidiki beberapa skenario.

Skenario (1) alam berevolusi tanpa menghasilkan manusia. Alam raya terus bergerak makin sempurna – tanpa menghasilkan manusia di dalamnya. Alam semesta ini bergerak dengan teratur sesuai segala aturan. Tidak ada pembangunan gedung-gedung tinggi. Tidak ada media sosial. Pun, tidak ada kerusuhan massal atau korupsi. Apakah itu tujuan tertinggi? Tidak. Alam seperti itu adalah alam yang berjalan apa adanya. Sesuai aturan saja. Alam raya berjalan bagaikan mesin saja. Tujuan alam seperti itu adalah menaati aturan yang ada. Jadi bukan tujuan instrinsik. Sehingga bukan tujuan tertinggi.

Skenario (2) alam berevolusi menghasilkan manusia yang cerdas tapi tanpa kebebasan. Dalam skenario ini, alam berkembang makin canggih karena ada manusia yang cerdas. Di dalamnya, kita melihat pembangungan gedung pencakar langit, produksi mesin-mesin pabrik, dan berkembang teknologi digital super canggih. Semua berjalan dengan lancar. Apakah skenario semacam itu adalah tujuan tertinggi? Tidak. Skenario semacam itu hanya berjalan seperti mesin belaka. Meski pun, sudah menjadi mesin yang cerdas. Lagi-lagi, alam seperti itu punya tujuan untuk menaati aturan yang ada. Sehingga bukan tujuan pada dirinya, bukan tujuan tertinggi.

Skenario (3) alam berevolusi menghasilkan manusia yang cerdas plus kebebasan. Dalam skenario ini, alam raya sama berkembangnya seperti skenario sebelumnya. Pembangunan gedung pencakar langit ada di mana-mana. Teknologi digital tersebar ke mana-mana. Di saat yang sama, terjadi pencurian, penipuan, korupsi, dan segala macam kejahatan. Karena manusia cerdas dan bebas maka mereka bebas untuk berbuat baik atau memilih berbuat buruk. Apakah itu tujuan tertinggi? Ya, benar. Itu adalah tujuan tertinggi. Tujuan menjadi manusia yang baik, manusia bermoral, adalah tujuan tertinggi. Karena tujuan itu diciptakan oleh manusia sendiri. Tujuan itu ada dalam dirinya sendiri.

Tujuan akhir tertinggi adalah ketika manusia berhasil memilih berbuat baik meski pun dia sebenarnya bisa memilih berbuat jahat. Manusia berhasil memenangkan prinsip moral melebihi sekedar hasrat hawa nafsu saja. Alam raya berkembang dengan dinamika tinggi ketika hadir orang-orang bermoral di antara orang-orang lain yang tidak bermoral. Orang jahat diperlukan kehadirannya, kadang kala, untuk memicu munculnya orang bermoral. Dan, orang jahat itu, pada waktunya, bisa bertobat untuk kembali menjadi manusia bermoral.

Jadi, tujuan akhir tertinggi, alam raya, secara teleologis, adalah hadirnya manusia-manusia bermoral.

Kita masih boleh bertanya, “Apa tujuan akhir dari manusia bermoral itu?”

Tujuan dari manusia bermoral adalah menggapai kebaikan tertinggi sejati yaitu Tuhan. Kita akan membahas tema Tuhan ini langsung di bagian bawah ini. Sementara, mari kita ringkaskan dulu pembahasan kita mengenai penilaian estetika sejauh ini. Sekaligus, sebagai pengantar pembahasan tentang Tuhan.

Pertama, penilaian estetik tentang obyek yang cantik menghasilkan perasaan bahagia sejati dalam diri kita. Penilaian estetik ini, tentu didasarkan rasa, mengantar kita kepada ajaran moral untuk ikut serta dalam kebaikan, dalam kecantikan. Hal ini mengarahkan kita untuk merenungkan kebaikan yang Maha Baik, yaitu Tuhan.

Kedua, penilaian estetik tentang yang sublim menghasilkan perasaan kagum kepada kebesaran alam raya dan alam manusia. Perasaan sublim mengajak kita untuk merenungkan nilai moral yang lebih tinggi. Perasaan sublim mengajak kita merenungkan kebaikan dari yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Ketiga, penilaian teleologis mengantar kita kepada tujuan akhir dari alam semesta. Tujuan akhir tersebut adalah hadirnya manusia, atau mahkluk-makhluk, yang bermoral. Mereka memilih menjalankan prinsip-prinsip moral yang luhur meski pun ada halangan dan godaan di mana-mana. Prinsip moral yang luhur mengantar kita untuk merenungkan yang Maha Luhur, yaitu Tuhan.

Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1 Ada wujud.
2 Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3 Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4 Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5 Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6 Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7 Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti.

Cantik: Kant dan Ibn Arabi

Lanjut ke Ekonomi Cinta
Kembali ke The Philosphy of Love

Hermeneutics Philosophy: Pecahnya Persatuan

Hermeneutika adalah disiplin filsafat paling canggih di abad 21 ini. Ketika beriring dengan filsafat analitik maka dunia filsafat nyaris meraih titik puncak kematangan. Harapan seperti itu bisa musnah karena yang terjadi bisa sebaliknya. Hermeneutik, yang seharusnya, bisa menyatukan beragam perbedaan justru, bisa ironis, memecah-belah segala yang sudah bersatu.

Bagaimana pun, hermeneutika adalah madzhab filsafat yang luar biasa. Gadamer (1900 – 2002) adalah tokoh paling berpengaruh dalam mengembangkan hermeneutika. Dia belajar langsung dari gurunya, Heidegger (1889 – 1976), yang merupakan tokoh utama membangun fondasi hermeneutik ontologis.

Buku Kebenaran dan Metode (Truth and Method), Pengantar Filsafat  hermeneutika - Hans Georg Gadamer | Lazada Indonesia

Saat ini, abad 21, hermeneutics masih terus berkembang di berbagai belahan dunia. Sebut saja di Kanada ada Charles Taylor, di Itali ada Vattimo, dan di Spanyol ada Zabala. Di Indonesia pun berkembang beragam hermeneutika. Saya sendiri mengembangkan konsep pancajati untuk merespon dinamika kebenaran hermeneutik di era digital.

Tulisan ini akan membahas hermeneutika sebagai “seni interpretasi” berdasar pandangan beberapa tokoh. Kita akan berkenalan dengan konsep hermeneutik dari Heidegger, yang awalnya, adalah untuk “membahas” being sebagai realitas sejati. Heidegger meng-kritik filsafat Barat yang mengaku membahas “being” tetapi justru melupakan “Being” sejak masa Plato sampai Nietzsche. Seni interpretasi dari Heiddegger, yang berkembang jadi hermeneutik, adalah solusi untuk kembali membahas being.

Kemudian, kita akan berkenalan dengan konsep hermeneutik yang matang dari Gadamer, yang menekankan pentingnya bahasa dan proses dialog gaya Socrates. Pemikiran Vattimo, murid dari Gadamer, bisa kita pandang sebagai post-nihilisme. Yaitu langkah afirmasi manusia setelah klaim kebenaran mutlak runtuh oleh nihilisme Nietzsche.

Bagaimana pun, menurut Heidegger, hermeneutik adalah keniscayaan being, khususnya manusia. Manusia selalu melakukan interpretasi. Dan setiap pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi. Sehingga, kita bisa menelusuri proses hermeneutika sampai jauh ribuan tahun ke masa lalu. Karena itu, kita akan mencoba membahas hermeneutika masa lalu, di antaranya, hermeneutika Ghazali (1058 – 1111), Ibnu Arabi (1165 – 1240), dan Sunan Kalijaga (1460 – 1513).

A Kelemahan Hermeneutika
B Hermeneutika Mengacaukan Tatanan
C Realitas Sejati: Hermeneutika Heidegger
D Dinamika Bersejarah: Hermeneutika Gadamer
E Post-Nihilism: Hermeneutika Vattimo
F Al Ghazali: Hermeneutika Manusia Seimbang
G Ibnu Arabi: Hermeneutika Manusia Sempurna
H Sunan Kalijaga: Hermeneutika Seni Beragama
I Hermeneutika Kitab Suci: Vattimo, Abu Zaid, Shahrur
J Persatuan Hermeneutika: Rorty dan Bernstein

A Kelemahan Hermeneutika

Sebagai perkembangan filsafat paling canggih, hermeneutika memiliki kelemahan yang begitu mengerikan. Kelemahan ini berakar, secara tidak adil, kepada konsep pengetahuan dari Heidegger. Setiap pengetahuan manusia melibatkan interpretasi. Ini benar adanya. Maka setiap klaim kebenaran juga, tentu, melibatkan suatu interpretasi. Hal ini juga benar.

Penerapannya bisa salah!

“Covid tidak bahaya karena 99,9% warga aman dari Covid.” Presiden Trump dan pendukungnya dari dulu menyatakan bahwa covid tidak bahaya. Warga aman-aman saja. Trump mengatakan itu berdasarkan data, kurang dari 1% warga US yang terinfeksi covid. Maka Trump menginterpretasikan 99,9% warga US aman terhadap covid. Tentu saja, itu interpretasi yang salah. Dan, banyak bukti menunjukkan klaim Trump memang salah. Sampai September 2021 ini lebih dari 40 juta penduduk US terinfeksi covid – lebih dari 12% penduduk US telah terinfeksi covid. Sedangkan yang meninggal lebih dari 650 ribu orang. Bayangkan ada berapa ratus ribu anak yatim akibat covid di US?

Berikutnya, mari kita cermati kasus isu jabatan presiden 3 periode di Indonesia.

“Saya tidak berminat menjabat 3 periode. Konstitusi mengamanatkan masa jabatan presiden adalah 2 periode, itu yang harus dijaga.” Begitu kira-kira ungkapan Presiden Jokowi.

Kita bisa menginterpretasikan bahwa Jokowi menolak untuk dicalonkan jabatan presiden 3 periode. Sementara, orang lain bisa memilih interpretasi berbeda. Jika konstitusi diamandemen sehingga dibolehkan jabatan presiden 3 periode maka Jokowi akan bersedia.

Interpretasi mana yang benar? Saat ini, kita belum bisa memastikan kebenarannya karena kejadian 3 periode adalah nanti di tahun 2024 – saat ini belum terjadi.

Contoh-contoh di atas, sejatinya, bukanlah hermeneutik. Melainkan, penyalahgunaan dari hermeneutik. Sebagaimana pisau, hermeneutik bisa berguna, di saat yang sama, bisa merugikan. Pisau bisa memudahkan kita memotong sayuran, di saat yang sama, pisau bisa melukai jari kita.

Di bagian bawah akan tampak jelas kesalahan-kesalahan mereka. Dan, kita bisa memanfaatkan hermeneutika dengan baik. Gadamer sendiri mengatakan bahwa hermeneutik bukanlah metode filsafat tetapi kesadaran filsafat itu sendiri. Derrida (1930 – 2004) juga menyatakan hermeneutik-dekonstruksi bukan suatu metode, melainkan suatu kritik.

Mengubah filsafat hermeneutik menjadi suatu metode adalah kesalahan sangat mendasar.

B Hermeneutika Mengacaukan Tatanan

Dampak susulan dari penyalahgunaan hermeneutika adalah mengacaukan tantanan. Anarki bisa terjadi di mana-mana. Karena setiap klaim adalah interpretasi dan manusia memiliki kebebasan ber-interpretasi maka manusia bisa melakukan klaim kebenaran apa saja.

Lagi-lagi, itu bukan hermeneutika.

Hermeneutika mengakui klaim kebenaran dengan jelas sesuai horison, atau cakrawala, masing-masing. Dan, kita bisa memastikan kesalahan dari suatu pernyataan.

“Pandemi covid telah menginfeksi lebih dari 40 juta penduduk US” adalah pernyataan benar berdasarkan laporan badan kesehatan yang berwenang – cakrawala praktis.

“Penduduk US 99,9% aman terhadap serangan covid” adalah pernyataan yang salah berdasar laporan resmi badan kesehatan.

“Setiap elektron bermuatan listrik negatif” adalah pernyataan benar berdasar cakrawala sains.

“Soekarno adalah presiden ketiga RI” adalah pernyataan salah berdasar cakrawala sejarah.

Dengan cakrawala yang konsisten kita bisa mempertahankan, atau menciptakan, tatanan yang konsisten. Hermeneutika tidak merusak tatanan. Tetapi penyalah-gunaan hermeneutika, memang, bisa merusak tatanan.

Berikutnya, kita akan membahas hermeneutika secara positif. Dengan pembahasan positif ini, kita berharap mampu memahami hermeneutik dengan baik. Serta, kita bisa terhindar dari penyalah-gunaan hermeneutika.

C Realitas Sejati: Hermeneutika Heidegger

Memahami filsafat Heidegger, terutama buku Being and Time, adalah dasar utama dari hermeneutika. Barang siapa memahami filsafat Heidegger maka akan menghargai pentingnya hermeneutika. Masalahnya adalah sulit sekali untuk memahami filsafat Heidegger. Jangankan orang biasa, orang sekaliber Bertrand Russell (1872 – 1970) saja sulit memahami filsafat Heidegger. Padahal mereka, Russell dan Heidegger, sama-sama mendalami filsafat di rentang waktu bersamaan. Russell hanya berkomentar bahwa filsafat Heidegger adalah filsafat yang aneh.

Di bagian ini, kita akan membahas filsafat Heidegger secara ringkas, khususnya yang berhubungan dengan hermeneutika.

Destruksi Metafisika

Sesuai judulnya, Being and Time, memang fokus kepada being dan time itu sendiri. Dalam membahas “being,” Heidegger menyerang dengan keras tradisi filsafat Barat, yang justru, melupakan “Being.” Proyek filsafat Heidegger adalah mengembalikan filsafat untuk membahas “Being” dengan benar. Tetapi ini adalah proyek yang besar dan sulit. Maka Heidegger mengusulkan proyek yang lebih spesifik, yaitu, destruksi metafisika.

Nyatanya, kita tidak bisa meninggalkan metafisika. Kita akan berhadapan dengan metafisika di mana-mana. Yang bisa kita lakukan hanyalah “membelokkan” metafisika menjadi lebih fokus kepada ontologi saja.

Barangkali, kita akan lebih mudah membandingkan metafisika dengan ontologi melalui contoh klaim kebenaran.

Contoh klaim metafisika;

“Atom adalah partikel terkecil penyusun materi.” Dari mana kita tahu? Kita tahu dari eksperimen dan perhitungan matematika yang teliti. Lengkap dengan metode ilmiah yang terpercaya. Dari mana kita tahu metode ilmiah adalah terpercaya? Karena metode ilmiah adalah metode yang paling terpercaya.

Contoh di atas adalah klaim metafisika di mana, pada akhirnya, kita meyakini kebenaran dengan keyakinan yang pasti. Bandingkan dengan klaim ontologi berikut.

Contoh klaim ontologi;

“Atom adalah partikel terkecil penyusun materi.” Dari mana kita tahu? Kita tahu dari eksperimen dan perhitungan matematika yang teliti. Lengkap dengan metode ilmiah yang terpercaya. Dari mana kita tahu metode ilmiah adalah terpercaya? Sejauh ini, dengan beragam keterbatasan manusia, metode ilmiah adalah metode yang paling kita percaya. Barangkali besok atau tahun depan akan ada metode yang lebih baik atau hasil penelitian yang lebih baik.

Contoh yang terakhir adalah contoh klaim ontologi. Di mana, pada akhirnya, kita masih membuka peluang adanya hasil penelitian yang lebih bagus dan berbeda dari klaim ontologi kita yang semula.

Klaim metafisika yakin kepada kebenaran akhir. Sementara, klaim ontologi yakin adanya pertumbuhan kebenaran.

Para ilmuwan, nyatanya, tidak pernah melakukan klaim metafisika. Mereka, para ilmuwan, justru melakukan klaim ontologi. Mereka yakin kebenaran sains adalah kebenaran yang bersifat sementara. Ada peluang pertumbuhan sains yang makin lama makin bagus, sebagai revisi, berbeda dengan sains yang sudah ada.

Tetapi para ahli metafisika bisa saja melakukan klaim metafisika. Mereka meyakini klaim kebenaran yang bersifat sempurna dan abadi.

Sementara, Heidegger mengajak kita melakukan klaim ontologi. Membelokkan fokus kita dari metafisika menuju ontologi. Dan, ini adalah dasar dari hermeneutika.

Kemampuan Interpretasi

Mengapa kita hanya bisa klaim ontologi? Karena, itu adalah karakter dari being, realitas sejati. Kita hadir dalam dunia sebagai being-in-the-world. Kita tidak hadir dalam kehampaan. Maka tugas kita, dan kemampuan kita sebagai being-in-the-world, adalah menginterpretasikan dunia ini. Sehingga, kita tidak punya keyakinan penuh untuk klaim metafisika. Kita hanya bisa melakukan klaim ontologis, melalui interpretasi itu.

Mari kita bandingkan dengan cogito dari Descartes (1596 – 1650): Aku berpikir maka aku ada. Pada masanya, formula cogito ini menyelesaikan banyak masalah. Memberikan pencerahan kemajuan pemikiran. Pada masa sekarang, kita perlu bersikap kritis terhadap cogito itu.

“Aku berpikir maka aku ada” adalah klaim metafisika yang diyakini kebenarannya secara pasti, waktu itu. Saat ini, kita hanya bisa klaim ontologis. Subyek “aku” yang berpikir itu apakah statis atau dinamis, bisa berubah dengan satu dan lain cara? Kita, barangkali, bisa refleksi diri kita masing-masing. Tentu, kita saat ini berbeda dengan diri kita 10 tahun yang lalu. Beda dari sisi pengalaman, wawasan, dan usia tentunya. Meski, tetap ada beberapa hal yang tetap sama dari yang dulu dan sekarang. Maka secara totalitas, subyek “aku” yang berpikir, mengalami perubahan secara dinamis.

Demikian juga aktivitas “berpikir” apakah tetap sama dari jaman dulu sampai sekarang? Tentu saja ada perbedaan. Selanjutnya, subyek “aku” mengarahkan perhatian ke alam sekitar. “Aku” melihat ada pohon, batu, meja, kursi, dan lain-lain. Maka “aku” berhasil membuktikan ada eksistensi di dunia luar, ada suatu dunia fisik. Dengan demikian subyek “aku” berhasil membuktikan ada dua macam substansi yang berbeda. Pertama, substansi jiwa, atau substansi mental, yaitu sang subyek “aku.” Dan, kedua, substansi materi yang mandiri dari subyek, yaitu substansi dunia luar. (Selanjutnya, Descartes membuktikan eksistensi substansi ketiga yaitu substansi Tuhan yang mandiri dari jiwa dan materi ).

Dengan analisis yang sama, seperti sebelumnya, kita bisa mengklaim formula cogito di atas adalah sebentuk interpretasi oleh subyek “aku” terhadap fenomena yang ada. Heidegger, tampak, tidak setuju dengan alur cogito seperti itu. Heidegger lebih memilih konsep being-in-the-world. Subyek “aku” selalu berada dalam dunia, sejak lahir sampai mati. Sehingga, subyek “aku” tidak harus membuktikan eksistensi dirinya mau pun eksistensi dunia luar. Tugas subyek “aku” adalah melakukan interpretasi terhadap seluruh dunia, yang memang sudah ada.

Pengetahuan Ontic dan Ontologi

Wajar bila kita, sampai di sini, bertanya-tanya tentang status pengetahuan. Jika pengetahuan manusia “hanya” sebentuk interpretasi maka pengetahuan semacam itu, rasanya, tidak meyakinkan. Kita memerlukan pengetahuan dengan status yang lebih meyakinkan.

Hermeneutik akan memberikan jawaban yang meyakinkan tentang status pengetahuan yang sepenuhnya meyakinkan.

Immanuel Kant (1724 – 1804) membedakan antara fenomena dan noumena. Semua pengetahuan kita adalah pengetahuan tentang fenomena. Ketika kita melihat meja, misalnya, maka yang kita lihat adalah fenomena meja. Kita melihat warna meja, bentuk meja, ukuran meja, bahan meja, atau kita bisa menimbang berat (massa) dari meja. Semua pengetahuan kita tentang meja adalah sekedar fenomena dari meja, penampakan dari meja. Tetapi, apa sejatinya meja, noumena dari meja masih tersembunyi dari pengetahuan kita.

Apakah kita bisa mengetahui noumena meja? Apakah kita bisa mengetahui meja sejati? Tidak bisa.

Barangkali kita bisa meneliti meja itu dengan ketelitian yang lebih canggih dengan melibatkan ahli fisika, ahli kimia, dan ahli meja – tentunya. Analisis ilmiah paling detil, saat ini, menunjukkan bahwa meja terdiri dari partikel-partikel atom dan sub-atomik. Apakah partikel sub-atomik itu adalah noumena dari meja? Apakah itu meja sejati? Bukan. Partikel-partikel itu, masih tetap, merupakan penampakan dari meja. Jadi, hakikat dari meja sejati itu masih tetap tersembunyi.

Kali ini, mari kita berandai-andai bahwa suatu saat kita bisa mengetahui meja sejati, kita berhasil mengetahui noumena dari meja. Pengetahuan kita tentang noumena meja itu bisa kita sebut sebagai pengetahuan-ontic. Jadi, pengetahuan-ontic ini adalah jawaban dari pertanyaan “apa” hakikat dari meja sejati.

Kita masih bisa bertanya, apakah pengetahuan-ontic seperti itu merupakan pengetahuan tentang realitas meja itu?

Ya, dalam arti realitas esensial meja. Tetapi pengetahuan-ontic tetap tidak berhasil memotret realitas meja sepenuhnya. Pengetahuan-ontic hanya mampu menjawab pertanyaan “apa” sejatinya meja. Sementara, pertanyaan “mengapa” ada meja masih tidak bisa dijawab oleh pengetahuan-ontic. Dan, beberapa pertanyaan ontologis lainnya juga tidak bisa dijawab oleh pengetahuan-ontic: “untuk apa” ada meja? “bagaimana” ada meja? “siapakah” meja itu?

Sampai di sini, kita bisa membedakan lebih jauh lagi antara realitas-ontic dan realitas-ontologis. Realitas-ontic adalah realitas meja sejati. Sementara realitas-ontologis adalah realitas meja sebagai being-in-the-world, sebagai being-with-other. Realitas-ontic barangkali bisa dinyatakan dalam rumusan atau definisi tertentu – meski pun memunculkan beragam paradox. Sementara, realitas-ontologis tidak bisa dibatasi dengan suatu definisi. Kita hanya bisa melakukan interpretasi kepada realitas-ontologis dan merevisi terus-menerus interpretasi itu untuk lebih mendekati kebenaran.

Hermeneutik membuka peluang bagi kita mengelompokkan beberapa jenis pengetahuan dengan lebih meyakinkan. Pertama, pengetahuan-fenomena yaitu pengetahuan tentang penampakan-penampakan. Pengetahuan-fenomena ini penting bagi kita untuk merespon beragam fenomena yang terjadi di masyarakat. Misal, kita jadi mengetahui bagaimana fenomena perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi covid.

Kedua, pengetahuan-ontic yaitu pengetahuan esensial terhadap hakikat segala sesuatu. Untuk mendapatkan pengetahuan-ontic kita perlu kajian dan penelitian yang mendalam terhadap suatu fenomena sampai menembus ke noumena. Misalnya, kita perlu mempelajari strutur sel virus covid di laboratorium dengan peralatan yang canggih. Pengetahuan-ontic tentang virus ini membantu para peneliti untuk mendesain vaksin, misalnya. Makin kita mendalami pengetauan-ontic maka makin berkembang pengetahuan manusia. Pengetahuan-ontic umat manusia, meski tampaknya bisa dibatasi, nyatanya terus bertumbuh tanpa batas. Kajian sains menunjukkan pertumbuhan pengetahuan-ontic yang dinamis.

Ketiga, pengetahuan-ontologis yaitu pengetahuan tentang realitas. Di mana, kita bisa mengembangkan pengetahuan-ontologis dengan terus-menerus merevisi interpretasi demi interpretasi. Kemajuan pengetahuan-ontologis mengantarkan kita lebih dekat ke realitas kebenaran ontologis. Sementara, kebenaran ontologis itu sendiri terus bergerak dinamis. Dengan demikian, kita perlu secara terus-menerus memperbaiki, menyempurnakan, pengetahuan kita tanpa pernah berhenti.

Selalu ada perbedaan antara realitas-ontic dan realitas-ontologis. Perbedaan tersebut adalah perbedaan ontologis – ontological difference.

Kontribusi Heidegger

Mari kita ringkas kontribusi Heidegger terhadap “fondasi” hermeneutik. Sampai di sini, kita merasakan bahwa istilah “fondasi” tidak begitu tepat disematkan kepada hermeneutik dengan cara seperti biasanya. Hermeneutik justru menggali fondasi demi fondasi tanpa henti. Dengan demikian, tampak jelas, Heidegger memberikan pijakan awal bagi hermeneutik untuk lebih berkembang.

Pertama, destruksi metafisika. Kita perlu “membelokkan” fokus dari metafisika ke arah ontologi. Kita perlu menghindari klaim metafisika yang memandang klaim tersebut sebagai kebenaran sempurna dan abadi. Sebaliknya, kita perlu menyadari bahwa klaim kita adalah klaim ontologis yang perlu secara terus-menerus diuji dan direvisi.

Kedua, interpretasi. Segala pengetahuan kita selalu melibatkan interpretasi dengan satu dan lain cara. Karena keterbatasan interpretasi maka, lagi-lagi, kita perlu terus menguji dan merevisi interpretasi kita. Bahkan pengetahuan tentang fakta, yang diklaim obyektif pun, perlu untuk terus kita cermati.

Ketiga, ontological difference. Selalu ada perbedaan antara realitas-ontologis dengan realitas-ontic. Hal ini menjamin dinamika di seluruh semesta. Jika alam semesta, senantiasa, bersifat dinamis maka wajar saja bila kita juga bersikap dinamis. Hermeneutika memang dinamis.

Dengan memahami kontribusi Heidegger terhadap hermeneutika, seharusnya, orang-orang tidak menyalah-gunakan hermeneutika sebagai sembarangan melakukan interpretasi. Hermeneutika adalah, memang, seni berinterpretasi. Hermeneutika bukan metode. Hermeneutika adalah kesadaran berfilsafat. Hermeneutika adalah kritik berfilsafat.

D Dinamika Bersejarah: Hermeneutika Gadamer

Gadamer, sebagai murid dari Heidegger, melanjutkan proyek pengembangan hermeneutika hingga mencapai puncak kematangan. Di satu sisi, bersama Gadamer, kita lebih mudah memahami hermeneutik. Di sisi lain, hermeneutik menjadi lebih mudah disalahpahami, disalahgunakan, dan disalah-salahkan. Untuk memahami Heidegger, kita perlu kecakapan berpikir yang luar biasa. Sementara, untuk memahami Gadamer, kita perlu menambah kadar kedewasaan yang, juga, luar biasa.

Sesuai judul buku Gadamer yaitu Truth and Method, kita mudah memahami hermenetika sebagai suatu kebenaran dan suatu metode. Sementara, Gadamer sendiri menyatakan bahwa kebenaran dan metode itu saling berlawanan. Ketika kita mengutamakan kebenaran maka kita akan kehilangan metode. Sebaliknya, ketika kita mengutamakan metode maka kita akan makin berjarak dengan kebenaran. Dan, pertanyaannya, lebih utama mana antara kebenaran dengan metode? Jawabannya: lebih mudah metode! Selanjutnya, kensekuensi-konsekuensi logis terjadi sebagaimana harusnya.

Gadamer berhasil memperluas dan memperdalam konsep hermeneutika. Lebih hebat lagi, di tangan Gadamer, hermeneutika memiliki konsekuensi praktis. Sehingga, hermeneutika bisa langsung membahas ekonomi, etika, politik, dan – tentu saja – agama. Serta, lengkap dengan penyalahgunaannya.

Prasangka Sejarah Bahasa

Kita tidak bisa melepaskan diri dari prasangka atau praduga. Selalu ada prasangka dalam setiap pengetahuan manusia. Prasangka tidak selalu bersifat negatif. Justru, prasangka bersifat positif sebagai titik awal mengembangkan pengetahuan. Kita hanya perlu menempatkan prasangka sebagai hipotesis, yang perlu diuji dan disempurnakan.

Sikap yang wajar bagi kita: ketika hipotesis terbukti salah maka kita tolak atau kita revisi, sedangkan ketika hipotesis terbukti benar, maka kita terima sebagai pengetahuan. Hanya saja, hermeneutika tidak berhenti kepada pengetahuan yang terbukti benar itu. Hermeneutika menyarankan kita untuk memandang pengetahuan itu sebagai hipotesis yang baru, yang perlu diuji lagi. Dengan demikian, tidak ada titik henti bagi pegetahuan manusia. Kita perlu terus menguji pengetahuan kita untuk mendapat pengetahuan yang lebih baik lagi.

Kita juga bisa bergerak ke arah sebaliknya terhadap prasangka. Dari mana datangnya prasangka itu? Mengapa kita punya prasangka tertentu? Ada faktor apa saja yang mendorong kita berprasangka seperti itu?

Kita bisa melihat bahwa prasangka kita dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan kita. Pengalaman itu dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya, dan seterusnya. Singkatnya, kita dipengaruhi oleh sejarah budaya kita. Pengetahuan kita terikat oleh sejarah dan budaya kita. Sekali lagi, itu bukan suatu kesalahan. Itu adalah situasi yang melingkupi kita. Siatuasi yang harus kita terima. Untuk kemudian kita menyikapi dengan lebih bijak.

Dari beragam budaya dan sejarah, faktor bahasa adalah yang paling besar mempengaruhi kita. Kita berpartisipasi dalam bahasa, yang sejatinya bahasa itu sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu. Kita dibentuk oleh bahasa dalam satu dan lain cara. Meski kita merasa bisa membentuk bahasa, yang lebih banyak terjadi adalah sebaliknya, kita yang dibentuk oleh bahasa.

Sedikit ilustrasi barangkali lebih menarik. Teman-teman kita yang tinggal di Madura, umumnya, tidak membedakan secara bahasa antara warna biru dan hijau. Mereka menyebut dua warna itu sebagai sama yaitu biru. Lalu, kita bisa eksperimen. Di balik kartu yang berwarna biru kita beri tanda B. Sedangkan di balik kartu hijau kita beri tanda H. Kemudian kita menunjukkan kartu itu kepada teman kita yang dari kecil tinggal di Madura. Setelah melihatnya, kita minta teman kita menebak huruf di balik kartu sesuai warnanya. Kita menunjukkan kartu secara terpisah. Apa yang hasilnya?

Bagi kita mudah saja. Warna biru maka huruf B dan warna hijau maka huruf H. Bagi teman kita, ternyata tidak mudah menebaknya. Mereka menganggap semua kartu berwarna biru. Jadi tebakan mereka kadang benar, kadang salah. Bukankah warna biru berbeda dengan hijau? Benar, bagi kita yang terbiasa dengan bahasa biru dan bahasa hijau. Sementara, bagi teman kita yang tidak membedakan secara bahasa antara biru dan hijau, nyatanya, dua warna itu dianggap sama. Tentu saja, setelah latihan beberapa kali, teman kita akan mampu membedakan warna biru dan hijau. Itulah peran bahasa.

Barangkali ilustrasi yang berhubungan dengan kendaraan paling populer di Indonesia adalah mobil Kijang. Orang tua kita, orang yang lahir sebelum 1960, cenderung menganggap sama antara mobil Kijang dan Panther. Semua mobil seperti itu mereka sebut sebagai mobil Kijang – secara bahasa. Lalu kita bisa eksperimen dengan meminta orang tua kita untuk menentukan satu mobil apakah Kijang atau Panther? Mereka akan menjawab mobil Kijang sebagai Kijang dan mobil Panther sebagai Kijang juga. Lagi-lagi ada peran penting bahasa dalam kasus ini.

Hermeneutika menempatkan bahasa pada peran utama dalam membentuk pengetahuan manusia. Pengetahuan kita mengandung unsur prasangka – yang dipengaruhi oleh bahasa, sejarah, dan budaya. Tugas kita adalah meng-interpretasikan dengan sebaik-baiknya segala pengetahuan – dan realitas. Hermeneutika adalah tugas kemanusiaan.

Gadamer memperluas konsep manusia dari Heidegger, being-in-the-world, menjadi manusia dalam bahasa, budaya, dan sejarah. Meski seorang manusia bisa membentuk bahasa, budaya, dan sejarah, proses sebaliknya lebih mudah terjadi.

Pengetahuan Paling Utama

Kemajuan sains dan teknologi begitu mempesona akhir-akhir ini. Makin mengagumkan dengan teknologi digital, lengkap dengan media sosial, yang membentuk budaya manusia kontemporer. Bila, dulu, manusia adalah binatang yang berpikir maka, sekarang, manusia adalah binatang digital. Khususnya di kota besar, dan negara maju, kehidupan manusia makin banyak di dunia digital.

Dunia digital menjadikan manusia lebih mudah mengakses informasi sampai pengetahuan, bisa kapan saja dan di mana saja. Ironisnya, makin banyak informasi tidak menjamin makin banyak pengetahuan manusia. Karena di antara informasi itu, atau sebagian besarnya, berupa hoax. Informasi palsu. Bagaimana kita bisa memperoleh pengetahuan di era digital seperti sekarang ini?

Hermeneutika dan ilmuwan sepakat dalam hal kita memperoleh pengetahuan melalu hipotesa yang kemudian diuji dan direvisi untuk mendapatkan pengetahuan yang berkualitas lebih baik. Hoax pasti lenyap dalam proses pengujian dan revisi itu. Tetapi mereka, ilmuwan dan hermeneutik, berbeda dalam hal bagaimana cara kita mengetahui. Ilmuwan, saintis, meneliti suatu obyek dengan fokus, terbatas, dan obyektif. Sementara, hermeneutika mengatakan cara ilmuwan seperti itu tidak pernah memadai.

Metode ilmiah yang dikembangkan ilmuwan itu akan menghasilkan pengetahuan obyektif yang merupakan pengetahuan-ontik. Hermeneutik menerima pengetahuan-ontik ini dengan baik. Hermeneutik menuntut pengetahuan lebih luas lagi yaitu pengetahuan-ontologis. Di mana pengetahuan-ontologis ini kita peroleh dengan melakukan interpretasi terhadap pengetahuan-ontik dengan mempertimbangkan subyek, budaya, sejarah, dan bahasa.

Gadamer meyakini, pada analisis akhir, pengetahuan tidak bisa direduksi menjadi suatu kriteria obyektif tertentu.

Seperti kita bahas di bagian sebelumnya, hermeneutik mengakui beragam bentuk pengetahuan: pengetahuan-fenomena, pengetahuan-ontik, dan pengetahuan-ontologis. Mereduksi pengetahuan menjadi hanya pengetahuan-ontik yang obyektif adalah kesalahan fatal beberapa pihak.

Kita mengakui pengetahuan matematika merupakan pengetahuan ideal yang nilai kebenarannya terjamin valid. Matematikawan, baik realisme atau anti-realisme, mampu membuat formula matematika untuk kemudian menarik kesimpulan yang valid. Hermeneutik mengakui pengetahuan-ontik dari matematika seperti itu. Hanya saja, kita perlu lebih dari sekedar pengetahuan-ontik seperti itu.

Fisika modern, barangkali, bidang kajian paling ideal. Di satu sisi, fisika menerapkan teori matematika paling canggih. Di sisi lain, fisika mempertimbangkan eksperimen fisik. Saat ini, ada dua cabang fisika paling maju: quantum dan relativitas. Fisika quantum mengkaji fenomena sub-atomik dan menghasilkan teori quantum yang kokoh. Sementara, relativitas mengkaji fenomena alam semesta dan menghasilkan teori relativitas – khusus dan umum – yang teruji sepanjang waktu. Anehnya, teori quantum dan relativitas tidak bisa disatukan. Mereka berlaku, sejauh ini, pada bidang masing-masing, meski pun sama-sama bidang fisika.

Para fisikawan, masa kini, sedang berusaha menyatukan quantum dan relativitas menjadi teori gravitasi quantum. Salah satu kandidat teori gravitasi quantum adalah teori string – yang bersaing dengan teori loop (Loop Quantum Gravity). Mari kita sedikit mendiskusikan teori string – yang masih terus dikembangkan sampai kini.

Segala sesuatu yang ada di alam ini, baik partikel atau gelombang, tersusun oleh string. Dengan demikian, string menyelesaikan masalah dualisme partikel dengan gelombang. Karena keduanya, partikel dan gelobang itu, sama-sama tersusun oleh string. Lalu string itu sendiri apa? String adalah mirip-titik berdimensi satu yang memiliki tegangan. Sehingga string bisa berosilasi – bergetar. String dalam jumlah tertentu, dengan cara tertentu, menyatu membentuk partikel elementer semisal elektron atau foton. Pada gilirannya, partikel elementer ini membentuk proton, neutron, atom, molekul, dan seluruh materi alam semesta – dan gelombang elektromagnetik serta gravitasi. Dengan demikian, seluruh misteri alam semesta dapat kita jelaskan dengan teori string. Teori string berhasil menjadi theory-of-everything.

Dengan teori string yang sempurna seperti itu apakah kita jadi bisa mengetahui semua realitas? Tidak. Sekali lagi tidak bisa. Karena, sehebat apa pun teori string maka pengetahuan kita akan tetap terbatas kepada pengetahuan-ontic. Teori string tetap tidak bisa menjawab beragam pertanyaan: Apa tujuan ada string? Dari mana munculnya string? Mengapa ada manusia? Bagaimana manusia bisa punya imajinasi? Dan lain-lain.

Lebih mendasar lagi, teori string dikembangkan dengan asumsi adanya latar berupa ruang-waktu. Sehingga, teori string tidak akan mampu menjawab pertanyaan: apa itu ruang dan waktu?

Kita perlu tegaskan bahwa teori string, dan sains pada umumnya, adalah pengetahuan-ontic yang bermanfaat dan diperlukan oleh manusia. Lebih dari itu, kita tetap memerlukan pengetahuan-ontologis dengan cara interpretasi yang terus-menerus direvisi. Kita, sebagai manusia memang, membutuhkan hermeneutika.

Dialektika Dialog

Sejak jaman Plato (Sokrates), pengetahuan manusia berkembang melalui dialektika, proses dialog. Hermeneutika memandang penting proses dialektika ini. Proses dialog bisa terjadi antara satu orang dengan orang lain. Bisa juga, proses dialog terjadi antara pembaca dengan suatu tulisan. Proses dialog ini tentu mengandung resiko: hasil dialog tidak seperti harapan awal.

Melalui dialog, hermeneutika menuntut kita menjalankan filsafat politik dan filsafat moral dengan adab yang luhur. Masyarakat yang berdialog terbuka untuk memajukan kehidupan bersama akan mampu membangun kehidupan yang demokratis. Masyarakat jadi menghargai perbedaan pendapat, dan perbedaan dalam banyak hal, untuk kemudian duduk bersama lalu berdialog.

Dialog dengan semangat hermeneutika meyakini bahwa pengetahuan kita, dan pengetahuan setiap orang, adalah pengetahuan yang bisa direvisi terus-menerus. Dengan demikian, dialog adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih valid, dan sekaligus, menjadi cara mengembangkan pengetahuan.

Dialog bukan sekedar saling bicara, bukan pula hanya saling mendengar. Dialog menuntut keyakinan bahwa pihak lain mungkin saja lebih benar dari kita. Gadamer bukan hanya mengajarkan dialog seperti itu. Gadamer, benar-benar, menjalankan dialog hermeneutik dengan baik.

Dialektika melalui dialog meski tampak mudah dilakukan, nyatanya, itu adalah tugas besar manusia. Berikut ini beberapa poin yant perlu kita pertimbangkan dalam dialog.

Pertama, berusahalah untuk mengerti pihak lain. Kita berusaha untuk mendapatkan kebenaran dari teman dialog. Tentu dengan mendengarkan penuh rasa hormat. Selanjutnya, ungkapkan kebenaran yang kita yakini dengan jelas. Dari dua sudut pandang ini, atau lebih banyak sudut pandang, kita bangun dialog untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Dialog, barangkali menghasilkan kesepakatan atau konsensus bersama. Dengan hasil ini, para pihak meyakini dan menyetujui kebenaran bersama. Tampaknya, konsensus adalah hasil yang paling diharapkan banyak orang. Ada kalanya, dialog tidak menghasilkan konsensus. Yang terjadi justru dissensus – tidak ada kesepakatan. Meski kedua pihak sama-sama saling memahami, tetap saja, mereka bisa tidak sepakat. Maka sikap saling hormat dari semua pihak perlu dikembangkan. Mengingat hermeneutik meyakini keragaman budaya, bahasa, dan subyektivitas maka hasil dialog bisa saja juga beragam.

Kedua, dialog bisa terjadi antara seseorang dengan suatu teks. Ketika kita membaca suatu buku, sebenarnya, kita sedang berdialog dengan teks atau tulisan. Seorang penulis, barangkali, menulis buku dalam rentang waktu sepuluh tahun yang lalu. Sementara, kita membaca buku tersebut saat ini. Terbayang perbedaan waktu, situasi, latar budaya, bahasa, dan lain-lain antara penulis asli dengan diri kita. Maka, kita perlu mempertimbangkan sudut pandang penulis, cakrawala penulis. Di saat yang sama, kita pasti membawa sudut pandang kita, cakrawala pembaca. Dengan demikian terjadi penggabungan antara cakrawala penulis dan pembaca. Terjadi dialog pembaca dan penulis. Dialog semacam ini bersifat kritis, menurut Gadamer, bisa menghasilkan ide-ide baru di luar dugaan.

Pertimbangkan ketika kita membaca kitab suci. Di mana kitab suci, barangkali, dituliskan sudah 1000 tahun yang lalu atau lebih. Sedangkan kita membaca saat ini. Tentu terdapat perbedaan budaya yang jauh. Paling menonjol adalah perbedaan teknologi jaman digital ini dengan jaman 1000 tahun yang lalu. Begitu juga perbedaan budaya masyarakat dunia, yang saat ini, sudah bersifat global. Maka dalam membaca kitab suci akan terjadi dialog-dialog yang bersifat kritis. Perlu sikap arif, dari seluruh pihak, dalam hal ini.

Ketiga, dialog dengan alam raya. Dialog hermeneutika adalah dialog “being”. Dialog ini tidak terbatas hanya dengan kata-kata. Kita bisa berdialog dengan alam semesta. Bagi umat beragama, bahkan bisa berdialog dengan Tuhan. Seseorang bisa berdoa kepada Tuhan. Kita bisa berdialog dengan realitas sistem ekonomi, sistem politik, bahkan dengan tokoh imajiner. Singkatnya, kita bisa berdialog dengan siapa saja, dengan apa saja.

Dalam dialog dengan alam raya, kita melibatkan penilaian pribadi. Kita, dalam dialog dengan alam raya, dituntut untuk mengambil kesimpulan. Tentu saja, perlu kita sadari bahwa kesimpulan kita adalah hasil interpretasi hermeneutik. Sehingga kesimpulan kita bisa saja salah. Dengan demikian, kita perlu melanjutkan dengan proses refleksi agar kesimpulan – interpretasi – kita lebih mendekati kebenaran.

Kritik Debat Gadamer

Sebagai seorang filsul, Gadamer menjalankan prinsip-prinsip filosofisnya dalam kehidupan nyata. Meski demikian, kritik terhadap Gadamer bertebaran di mana-mana. Dalam beberapa kesempatan, bahkan Gadamer sempat melakukan debat filosofis. Seperti kita sebut, dalam proses debat itu, Gadamer menjalankan prinsip-prinsip hermeneutika dengan baik. Berikut ini, kita akan membahas beberapa kritik terhadap Gadamer.

Pertama, menyebabkan hermeneutik mudah disalahgunakan. Berbeda dengan Heidegger yang menulis filsafat dengan bahasa sulit dipahami, Gadamer menulis filsafat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh banyak kalangan. Bahkan, karya Gadamer bisa dianggap sebagai “metode praktis” hermeneutik. Sebuah interpretasi yang sering ditolak oleh Gadamer. Akibat interpretasi mereka itu, hermeneutik sering disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengelabui pihak lain. Dan, sampai kadar tertentu, hermeneutik direndahkan sebagai metode sembarangan yang terjebak dalam relativisme.

Tentu saja, penyalahgunaan hermeneutik bukan tanggung jawab Gadamer. Mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri. Gadamer telah menulis buku dengan baik. Gadamer telah merumuskan filsafat hermeneutik dengan baik. Tidak ada masalah dengan Gadamer.

Kedua, hermeneutik mengubah sains menjadi pengetahuan subyektif. Khususnya ilmu sosial, menjadi teori yang bersifat subyektif. Karena semua teori sosial dipengaruhi oleh subyek pengamat, latar budaya, bahasa, dan interpretasi dari masing-masing ilmuwan. Gadamer menolak penilaian semacam itu. Konsep hermeneutik Gadamer, sekali lagi, bukanlah metode. Konsep hermeneutik Gadamer bersifat deskripsi, menggambarkan apa sejatinya yang terjadi ketika seorang ilmuwan merumuskan suatu teori sosial, misalnya. Bahwa dalam proses tersebut dipengaruhi oleh interpretasi subyektif ilmuwan, memang, seperti itu yang terjadi. Namun demikian, proses interpretasi semacam itu tidak serta-merta menjadi subyektif. Dalam cakrawala tertentu, horison tertentu, teori sosial tetap bisa bersifat obyektif.

Ketika ahli ekonomi menyusun teori ekonomi, tentu saja, dia dipengaruhi pengalaman pribadi, budaya, dan bahasanya. Sejauh ahli ekonomi itu menerapkan kaidah-kaidah ilmiah sesuai cakrawalanya maka teori ekonominya tetap bisa bersifat obyektif. Apa lagi, jika ahli ekonomi itu kemudian dialog dengan komunitasnya untuk merevisi teori ekonomi tersebut maka karakter obyektif makin kuat. Dengan demikian, hermeneutik tetap menjaga pengetahuan bisa bersifat obyektif sesuai cakrawala masing-masing.

Ketiga, hermeneutik tidak mampu mendeteksi ideologi yang mengendalikan masyarakat. Habermas (1929 – ) melontarkan kritik tersebut di tahun 1970an. Sejatinya, Habermas dan Gadamer lebih banyak titik temunya dan hanya ada sedikit beda pandangan – seperti masalah ideologi di atas. Habermas sendiri, tampaknya, sengaja memancing debat dengan para filsuf lain untuk mengangkat isu filosofis penting tertentu. Terbukti, debat Habermas dengan Gadamer ini, mengantar konsep hermeneutik lebih dikenal di seluruh dunia.

Karena hermeneutik, menurut Habermas, berpegang kepada tradisi, budaya, dan sejarah maka hermeneutik tidak mampu membebaskan diri dari jeratan ideologi yang ada dalam masyarakat tersebut. Hermeneutik perlu bersikap kritis dan membebaskan diri dari itu semua agar mampu melepaskan diri dari kungkungan ideologi. Tentu saja, kita tahu, Gadamer mengijinkan hermeneutik untuk bersikap kritis terhadap semua ideologi. Namun melepaskan diri dari sejarah, untuk kemudian meng-klaim diri sebagai obyektif, justru merupakan dogma yang kaku – yang perlu kita hindari. Dengan demikian, hermeneutik tetap mampu mengenali konsep ideologi.

Keempat, kritik terhadap kebenaran absolut hermeneutik. Derrida (1930 – 2004) melontarkan kritik ini tepat pada jantung hermeneutik. Sejatinya, Derrida dan Gadamer, keduanya adalah sama-sama penerus dari Heidegger. Derrida mengembangkan proyek destruksi metafisika, dari Heidegger, menjadi dekonstruksi filosofis. Sementara, Gadamer mengembangkan karakter pengetahuan interpretatif, dari Heidegger, menjadi hermeneutika filosofis.

Derrida menolak ide Gadamer yang menyatakan bahwa proses revisi interpretasi terus-menerus dari hermeneutik akan mengantarkan kita kepada kebenaran sejati. Menurut Derrida, kebenaran sejati seperti itu tidak pernah diraih, dengan cara apa pun. Baik, hermeneutik mau pun dekonstruksi, sama-sama tidak akan berhasil meraih kebenaran sejati. Derrida berpegang pada konsep differance yang bermakna ganda: makna berbeda dengan tanda dan makna selalu tertunda.

Bagian pertama yang menyatakan bahwa makna berbeda dengan tanda bisa kita pahami dengan mudah. Sementara, bagian kedua, menyatakan bahwa makna selalu tertunda, bisa kita bahas lebih detil. Suatu tanda akan menunjuk ke suatu makna. Nyatanya, makna itu sendiri merupakan suatu tanda pula, tanda yang baru. Pada gilirannya, tanda ini akan menunjuk ke makna lagi, makna yang baru. Dan begitu seterusnya tidak pernah berhenti. Sehingga makna akhir tidak pernah kita raih. Makna selalu tertunda. Demikian juga, kebenaran sejati selalu tertunda.

Kritik dari Derrida ini, tampaknya, memang harus diterima. Gadamer sendiri bersikap terbuka terhadap kritik ini dan kritik-kritik lainnya. Kita bisa memahami maksud Gadamer dengan kebenaran sejati adalah kebenaran maksimal yang bisa kita raih dengan hermeneutik, dengan revisi terus-menerus. Kebenaran ini bersifat temporal dan dinamis. Sehingga, klaim kebenaran ini adalah kebenaran-ontologis bukan kebenaran-metafisis. Dengan demikian, hermeneutik seiring sejalan dengan konsep differance dari Derrida.

Kelima, penyebaran framing informasi digital. Di akhir abad 20, ketika Gadamer mengembangkan hermeneutik, barangkali orang-orang tidak berpikir akan datangnya suatu era digital, di mana informasi bisa menyebar begitu cepatnya dalam hitungan detik. Hermeneutik, disalahgunakan, untuk me-framing informasi sesuatu kepentingan pihak tertentu. Informasi palsu, informasi hoax, bertebaran di dunia digital, di abad 21 ini.

Lebih parah lagi, framing dunia digital tidak hanya melibatkan kemampuan pikiran manusia. Framing digital juga memanfaatkan kekuatan jaringan komputer raksasa di seluruh dunia dengan kecerdasan buatan, artificial intelligence. Kombinasi otak manusia yang serakah dan kecerdasan buatan sangat ampuh untuk mencuci otak umat manusia di seluruh dunia.

Memang benar, hermeneutika bisa disalahgunakan untuk memproduksi framing informasi hoax. Namun kita tahu, itu bukan salah hermeneutika, bukan pula salah Gadamer. Justru, dengan kesadaran hermeneutika, kita mampu merevisi berita-berita hoax itu melalui pengujian-pengujian dan revisi. Sehingga, di era digital, kita makin membutuhkan masyarakat yang berkesadaran hermeneutik.

Kontribusi Gadamer

Banyak sekali kontribusi Gadamer dalam mengembangkan hermeneutika filosofis. Barangkali kita akan menekankan kembali tiga kontribusi utama Gadamer. Pertama, Gadamer memperluas faktor-faktor yang mempengaruhi interpretasi seseorang sampai ke sejarah, budaya, dan bahasa. Sehingga kita perlu melakukan beragam pengujian ulang terhadap setiap interpretasi kita.

Kedua, pengetahuan manusia melebihi dari sekedar pengetahuan-ontic. Dengan tegas, Gadamer menerima keabsahan pengetahuan-ontic yang bersifat obyektif. Di saat yang sama, kita perlu terus mengkaji ulang pengetahuan obyektif itu. Karena, pada analisis akhir, pengetahuan tidak bisa dibatasi hanya dengan suatu kriteria tertentu.

Ketiga, manusia berkembang dialektis melalui proses dialog. Perbedaan dari banyak pihak adalah modal utama untuk melakukan dialog demi kemajuan bersama. Hermeneutik menilai penting proses dialog secara luas. Baik dialog antar manusia, dialog bersama teks, dan dialog bersama alam raya. Tentu saja, dialog bersama Tuhan.

E Post-Nihilism: Hermeneutika Vattimo

Vattimo (1936 – ) mengantarkan hermeneutika ke babak baru. Saat ini, Vattimo berusia 86 tahun. Karena itu, Vattimo mengembangkan hermeneutika di era digital yang serba global ini. Kita berharap mendapatkan ide-ide hermeneutik yang kekinian dari Vattimo. Dan, memang begitulah adanya. Vattimo belajar hermeneutika langsung dari Gadamer.

Akhir Sejarah


F Al Ghazali: Hermeneutika Manusia Seimbang
G Ibnu Arabi: Hermeneutika Manusia Sempurna
H Sunan Kalijaga: Hermeneutika Seni Beragama
I Hermeneutika Kitab Suci: Vattimo, Abu Zaid, Shahrur
J Persatuan Hermeneutika: Rorty dan Bernstein