Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Cinta itu indah. Cinta itu suci. Cinta itu putih. Membahagiakan setiap orang. Membahagiakan kehidupan sekitar. Dan membahagiakan alam semesta. Cinta adalah segalanya.

Di sisi lain, cinta bisa saja berlumur dusta. Bahagia menjadi derita. Cinta hanya di bibir saja. Cinta bukan lagi cinta. Karenanya, jadi sumber bencana.

Di bagian ini, kita akan membahas penyelewengan cinta dan kecantikan. Manusia, sebagaimana biasanya, memiliki kemampuan membelokkan segala sesuatu. Termasuk, membelokkan cinta. Cinta, yang seharusnya, sebagai anugerah bagi sesama berubah menjadi senjata untuk eksploitasi umat manusia. Kecantikan menjadi daya pesona yang luar biasa untuk menggelapkan mata. Bagaimana pun, manusia tetap punya kemampuan untuk kembali meluruskan cinta. Membuat cinta kembali putih, kembali bersinar, dan kembali suci.

Nafsu Cinta

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) menyebutkan ada beragam nafsu pada manusia. Dalam Serat Nawaruci, Kalijaga melambangkan empat macam nafsu dengan warna putih, hitam, merah dan kuning. Kita akan membahasnya di bagian ini.

Istilah nafsu adalah kata serapan dari bahasa Arab. Setelah diserap, istilah nafsu lebih sering bermakna negatif. Kita sering menyebut, misalnya, nafsu amarah atau nafsu serakah atau nafsu syahwat. Sementara, pada bahasa Arab, nafsu itu cenderung bersifat netral. Memang ada hawa nafsu yang cenderung negatif. Di sisi lain, ada juga nafsu yang tenang, muthmainah, nafsu yang damai berbahagia.

Sedangkan, istilah cinta sering kita maknai sebagai bersifat positif sebagai mana cinta suci. Begitu kita menggabungkan nafsu dan cinta menjadi nafsu cinta, terasa lebih kuat konotasi negatifnya. Maka kita akan memaknai nafsu cinta sesuai dengan konteks masing-masing sehingga lebih fleksibel.

Putih Hitam Merah Kuning

Dalam kisah Nawaruci, Bima pergi ke samudera untuk mendapatkan kebenaran sejati, air kehidupan. Bima mendapat bimbingan Nawaruci untuk masuk ke dalam tubuh Nawaruci yang berukuran kecil, seukuran jari kelingking. Setelah masuk ke dalam diri, Bima melihat empat warna cahaya.

Cahaya putih adalah cinta suci dalam diri manusia. Cinta yang bersinar dalam diri kita dan selalu menyinari segalanya. Cinta putih adalah jiwa sejati setiap anak manusia. Tetapi cinta cahaya putih ini hanya seorang diri. Sehingga cinta putih sering dikalahkan oleh warna-warna lain. Ada tiga warna utama yang menghalangi: hitam, merah, dan kuning. Masing-masing warna itu bervariasi dalam jumlah yang banyak, dengan kombinasi di antara mereka. Akibatnya, cinta putih tenggelam di antara banyak warna lainnya. Kita, tetap, membutuhkan cinta putih.

Cinta hitam, adalah pembelokan dari cinta. Barangkali tidak bisa lagi disebut sebagai cinta. Bisa kita sebut sebagai nafsu hitam, yaitu nafsu amarah dengan ukuran yang terlalu besar. Nafsu hitam menggelapkan pandangan umat manusia. Nafsu hitam mengajak seseorang menyelamatkan diri dengan cara menyerang orang lain. Merampok adalah contoh nafsu hitam. Merugikan pihak lain demi memperoleh keuntungan sendiri. Korupsi pejabat di kala pandemi, barangkali adalah nafsu hitam yang sangat hitam.

Kita perlu mengalahkan nafsu hitam tersebut untuk kembali mengambil sinar cinta putih. Berbagai macam cara perlu kita kembangkan, baik secara rasional atau etis, untuk mengendalikan nafsu hitam.

Nafsu merah, di sampaing nafsu hitam, merupakan pembelokan dari cinta putih. Hasrat kita untuk makan adalah cinta putih yang mendorong kita untuk menjaga kesehatan. Hasrat makan juga mengajarkan kita agar membantu orang lain yang kelaparan dengan cara berbagi makanan. Nafsu merah mengajak manusia untuk melanjutkan nikmatnya makanan dalam jumlah lebih besar. Akibatnya, seseorang bisa makan dalam jumlah yang lebih besar dari seharusnya. Pada waktunya, orang tersebut menjadi kelebihan berat badan. Ancaman beragam penyakit selalu mengintai: darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan lain-lainnya. Di pihak orang miskin, mereka kekurangan makanan. Karena ada pihak orang kaya yang mengkonsumsi berlebihan.

Sementara, nafsu kuning, lebih licik dari nafsu hitam dan merah, membelokkan cinta putih dengan cara lebih halus. Nafsu kuning bisa membuat pembenaran dari beragam kejahatannya. Kita perlu lebih waspada. Seorang pejabat melakukan korupsi dengan mencuri uang 100 juta rupiah. Lalu dia menggunakan 20 juta dari uang korupsi itu untuk membantu yatim piatu, membangun tempat ibadah, dan sekolah. Pahalanya lebih besar dari 100 juta maka dia lebih banyak pahalanya dari dosanya. Dengan perhitungan itu, nafsu kuning mendorong pejabat untuk terus korupsi dengan cara yang lebih halus. Dan pejabat itu, dengan bangga, merasa telah berjasa kepada yatim piatu, tempat ibadah, dan sekolah.

Pembelokan cinta oleh nafsu hitam, merah, dan kuning adalah bentuk materialisasi cinta. Di mana, cinta putih nan suci dibelokkan untuk mengeruk kepentingan material. Sebagai akibatnya, merugikan lebih banyak pihak lain. Dan pada gilirannya, sejatinya, merugikan pelakunya sendiri.

Kita bisa membuat ilustrasi yang lebih tegas tentang pembelokan cinta demi materi. Nafsu hitam menyuruh pejabat memerintahkan seorang anak buah laki-laki tugas ke luar kota. Dalam perjalanan, karyawan laki-laki itu dibuat kecelakaan transportasi sampai meninggal. Untuk kemudian, pejabat itu menikahi istri cantik dari karyawannya yang sudah meninggal. Sungguh pejabat yang kejam dengan nafsu hitam.

Nafsu merah menjebak manusia untuk berlebihan dalam melampiaskan nafsunya. Pejabat yang sudah beristri main perempuan di sana-sini. Bahkan, bisa jadi, punya istri simpanan yang jumlahnya tidak karuan. Atau dalam pergaulan bebas, beberapa orang berganti-ganti pasangan. Suatu perilaku dalam jebakan nafsu merah, pembelokan cinta. Akibatnya, ancaman beragam penyakit ada di mana-mana termasuk HIV.

Nafsu kuning, lagi-lagi, lebih curang dari nafsu hitam dan nafsu merah dengan cara yang lembut. Seorang bos membuka lowongan kerja khusus bagi pemuda dan pemudi dengan penampilan menarik. Bos merekrut banyak pemuda dan pemudi. Tahap awal bekerja adalah layanan pekerjaan yang wajar. Tahap selanjutnya, pekerjaan mulai bergeser ke layanan pekerjaan cinta. Semua pergeseran kerja itu dilakukan tanpa paksaan dengan kesepakatan semua pihak. Nafsu kuning berhasil meyakinkan bos bahwa bos telah berhasil membuka lapangan kerja dan mengambil keuntungan yang legal, suka sama suka.

Seberapa pun dalamnya seseorang terperangkap dalam nafsu hitam, merah, dan kuning, di saat-saat tertentu, cinta putih akan mengetuk hatinya. Cinta putih mengajak kita untuk kembali ke jalan cinta yang suci. Selanjutnya, pilihan ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk kembali ke jalan cinta putih yang suci. Atau seseorang bisa memilih tetap tenggelam dalam nafsunya. Bagaimana pun, sinar cinta putih akan selalu terpecik dalam jiwa setiap orang, meski kadang redup dalam situasi sulit.

Kekuatan Cinta

Kali ini, kita akan membahas kekuatan cinta secara sosial. Sebelumnya, kita lebih fokus kepada kekuatan cinta secara personal – jiwa seseorang. Secara sosial, pembelokan kekuatan cinta bisa terjadi di mana-mana. Kita akan mengelompokkan kekuatan cinta menjadi tiga: big-power, bio-power, dan bit-power.

Big-power adalah kekuatan cinta yang begitu besar mendorong dan melindungi umat manusia. Cinta mendorong seorang bapak untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Padahal, ketika masih bujangan, bapak itu, tidak punya dorongan untuk bekerja. Seorang ibu bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan anggota keluarga. Seorang tentara siap mengorbankan jiwa demi membela negara. Dan masih banyak contoh besar lainnya tentang kekuatan cinta big-power.

Power Cinta: Big – Bio – Bit

Solusi Personal Sosial

Cantik: Kant dan Ibn Arabi

Lanjut ke Ekonomi Cinta
Kembali ke The Philosphy of Love

Hermeneutics Philosophy: Pecahnya Persatuan

Hermeneutika adalah disiplin filsafat paling canggih di abad 21 ini. Ketika beriring dengan filsafat analitik maka dunia filsafat nyaris meraih titik puncak kematangan. Harapan seperti itu bisa musnah karena yang terjadi bisa sebaliknya. Hermeneutik, yang seharusnya, bisa menyatukan beragam perbedaan justru, bisa ironis, memecah-belah segala yang sudah bersatu.

Bagaimana pun, hermeneutika adalah madzhab filsafat yang luar biasa. Gadamer (1900 – 2002) adalah tokoh paling berpengaruh dalam mengembangkan hermeneutika. Dia belajar langsung dari gurunya, Heidegger (1889 – 1976), yang merupakan tokoh utama membangun fondasi hermeneutik ontologis.

Buku Kebenaran dan Metode (Truth and Method), Pengantar Filsafat  hermeneutika - Hans Georg Gadamer | Lazada Indonesia

Saat ini, abad 21, hermeneutics masih terus berkembang di berbagai belahan dunia. Sebut saja di Kanada ada Charles Taylor, di Itali ada Vattimo, dan di Spanyol ada Zabala. Di Indonesia pun berkembang beragam hermeneutika. Saya sendiri mengembangkan konsep pancajati untuk merespon dinamika kebenaran hermeneutik di era digital.

Tulisan ini akan membahas hermeneutika sebagai “seni interpretasi” berdasar pandangan beberapa tokoh. Kita akan berkenalan dengan konsep hermeneutik dari Heidegger, yang awalnya, adalah untuk “membahas” being sebagai realitas sejati. Heidegger meng-kritik filsafat Barat yang mengaku membahas “being” tetapi justru melupakan “Being” sejak masa Plato sampai Nietzsche. Seni interpretasi dari Heiddegger, yang berkembang jadi hermeneutik, adalah solusi untuk kembali membahas being.

Kemudian, kita akan berkenalan dengan konsep hermeneutik yang matang dari Gadamer, yang menekankan pentingnya bahasa dan proses dialog gaya Socrates. Pemikiran Vattimo, murid dari Gadamer, bisa kita pandang sebagai post-nihilisme. Yaitu langkah afirmasi manusia setelah klaim kebenaran mutlak runtuh oleh nihilisme Nietzsche.

Bagaimana pun, menurut Heidegger, hermeneutik adalah keniscayaan being, khususnya manusia. Manusia selalu melakukan interpretasi. Dan setiap pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi. Sehingga, kita bisa menelusuri proses hermeneutika sampai jauh ribuan tahun ke masa lalu. Karena itu, kita akan mencoba membahas hermeneutika masa lalu, di antaranya, hermeneutika Ghazali (1058 – 1111), Ibnu Arabi (1165 – 1240), dan Sunan Kalijaga (1460 – 1513).

A Kelemahan Hermeneutika
B Hermeneutika Mengacaukan Tatanan
C Realitas Sejati: Hermeneutika Heidegger
D Dinamika Bersejarah: Hermeneutika Gadamer
E Post-Nihilism: Hermeneutika Vattimo
F Al Ghazali: Hermeneutika Manusia Seimbang
G Ibnu Arabi: Hermeneutika Manusia Sempurna
H Sunan Kalijaga: Hermeneutika Seni Beragama
I Hermeneutika Kitab Suci: Vattimo, Abu Zaid, Shahrur
J Persatuan Hermeneutika: Rorty dan Bernstein

A Kelemahan Hermeneutika

Sebagai perkembangan filsafat paling canggih, hermeneutika memiliki kelemahan yang begitu mengerikan. Kelemahan ini berakar, secara tidak adil, kepada konsep pengetahuan dari Heidegger. Setiap pengetahuan manusia melibatkan interpretasi. Ini benar adanya. Maka setiap klaim kebenaran juga, tentu, melibatkan suatu interpretasi. Hal ini juga benar.

Penerapannya bisa salah!

“Covid tidak bahaya karena 99,9% warga aman dari Covid.” Presiden Trump dan pendukungnya dari dulu menyatakan bahwa covid tidak bahaya. Warga aman-aman saja. Trump mengatakan itu berdasarkan data, kurang dari 1% warga US yang terinfeksi covid. Maka Trump menginterpretasikan 99,9% warga US aman terhadap covid. Tentu saja, itu interpretasi yang salah. Dan, banyak bukti menunjukkan klaim Trump memang salah. Sampai September 2021 ini lebih dari 40 juta penduduk US terinfeksi covid – lebih dari 12% penduduk US telah terinfeksi covid. Sedangkan yang meninggal lebih dari 650 ribu orang. Bayangkan ada berapa ratus ribu anak yatim akibat covid di US?

Berikutnya, mari kita cermati kasus isu jabatan presiden 3 periode di Indonesia.

“Saya tidak berminat menjabat 3 periode. Konstitusi mengamanatkan masa jabatan presiden adalah 2 periode, itu yang harus dijaga.” Begitu kira-kira ungkapan Presiden Jokowi.

Kita bisa menginterpretasikan bahwa Jokowi menolak untuk dicalonkan jabatan presiden 3 periode. Sementara, orang lain bisa memilih interpretasi berbeda. Jika konstitusi diamandemen sehingga dibolehkan jabatan presiden 3 periode maka Jokowi akan bersedia.

Interpretasi mana yang benar? Saat ini, kita belum bisa memastikan kebenarannya karena kejadian 3 periode adalah nanti di tahun 2024 – saat ini belum terjadi.

Contoh-contoh di atas, sejatinya, bukanlah hermeneutik. Melainkan, penyalahgunaan dari hermeneutik. Sebagaimana pisau, hermeneutik bisa berguna, di saat yang sama, bisa merugikan. Pisau bisa memudahkan kita memotong sayuran, di saat yang sama, pisau bisa melukai jari kita.

Di bagian bawah akan tampak jelas kesalahan-kesalahan mereka. Dan, kita bisa memanfaatkan hermeneutika dengan baik. Gadamer sendiri mengatakan bahwa hermeneutik bukanlah metode filsafat tetapi kesadaran filsafat itu sendiri. Derrida (1930 – 2004) juga menyatakan hermeneutik-dekonstruksi bukan suatu metode, melainkan suatu kritik.

Mengubah filsafat hermeneutik menjadi suatu metode adalah kesalahan sangat mendasar.

B Hermeneutika Mengacaukan Tatanan

Dampak susulan dari penyalahgunaan hermeneutika adalah mengacaukan tantanan. Anarki bisa terjadi di mana-mana. Karena setiap klaim adalah interpretasi dan manusia memiliki kebebasan ber-interpretasi maka manusia bisa melakukan klaim kebenaran apa saja.

Lagi-lagi, itu bukan hermeneutika.

Hermeneutika mengakui klaim kebenaran dengan jelas sesuai horison, atau cakrawala, masing-masing. Dan, kita bisa memastikan kesalahan dari suatu pernyataan.

“Pandemi covid telah menginfeksi lebih dari 40 juta penduduk US” adalah pernyataan benar berdasarkan laporan badan kesehatan yang berwenang – cakrawala praktis.

“Penduduk US 99,9% aman terhadap serangan covid” adalah pernyataan yang salah berdasar laporan resmi badan kesehatan.

“Setiap elektron bermuatan listrik negatif” adalah pernyataan benar berdasar cakrawala sains.

“Soekarno adalah presiden ketiga RI” adalah pernyataan salah berdasar cakrawala sejarah.

Dengan cakrawala yang konsisten kita bisa mempertahankan, atau menciptakan, tatanan yang konsisten. Hermeneutika tidak merusak tatanan. Tetapi penyalah-gunaan hermeneutika, memang, bisa merusak tatanan.

Berikutnya, kita akan membahas hermeneutika secara positif. Dengan pembahasan positif ini, kita berharap mampu memahami hermeneutik dengan baik. Serta, kita bisa terhindar dari penyalah-gunaan hermeneutika.

C Realitas Sejati: Hermeneutika Heidegger

Memahami filsafat Heidegger, terutama buku Being and Time, adalah dasar utama dari hermeneutika. Barang siapa memahami filsafat Heidegger maka akan menghargai pentingnya hermeneutika. Masalahnya adalah sulit sekali untuk memahami filsafat Heidegger. Jangankan orang biasa, orang sekaliber Bertrand Russell (1872 – 1970) saja sulit memahami filsafat Heidegger. Padahal mereka, Russell dan Heidegger, sama-sama mendalami filsafat di rentang waktu bersamaan. Russell hanya berkomentar bahwa filsafat Heidegger adalah filsafat yang aneh.

Di bagian ini, kita akan membahas filsafat Heidegger secara ringkas, khususnya yang berhubungan dengan hermeneutika.

Destruksi Metafisika

Sesuai judulnya, Being and Time, memang fokus kepada being dan time itu sendiri. Dalam membahas “being,” Heidegger menyerang dengan keras tradisi filsafat Barat, yang justru, melupakan “Being.” Proyek filsafat Heidegger adalah mengembalikan filsafat untuk membahas “Being” dengan benar. Tetapi ini adalah proyek yang besar dan sulit. Maka Heidegger mengusulkan proyek yang lebih spesifik, yaitu, destruksi metafisika.

Nyatanya, kita tidak bisa meninggalkan metafisika. Kita akan berhadapan dengan metafisika di mana-mana. Yang bisa kita lakukan hanyalah “membelokkan” metafisika menjadi lebih fokus kepada ontologi saja.

Barangkali, kita akan lebih mudah membandingkan metafisika dengan ontologi melalui contoh klaim kebenaran.

Contoh klaim metafisika;

“Atom adalah partikel terkecil penyusun materi.” Dari mana kita tahu? Kita tahu dari eksperimen dan perhitungan matematika yang teliti. Lengkap dengan metode ilmiah yang terpercaya. Dari mana kita tahu metode ilmiah adalah terpercaya? Karena metode ilmiah adalah metode yang paling terpercaya.

Contoh di atas adalah klaim metafisika di mana, pada akhirnya, kita meyakini kebenaran dengan keyakinan yang pasti. Bandingkan dengan klaim ontologi berikut.

Contoh klaim ontologi;

“Atom adalah partikel terkecil penyusun materi.” Dari mana kita tahu? Kita tahu dari eksperimen dan perhitungan matematika yang teliti. Lengkap dengan metode ilmiah yang terpercaya. Dari mana kita tahu metode ilmiah adalah terpercaya? Sejauh ini, dengan beragam keterbatasan manusia, metode ilmiah adalah metode yang paling kita percaya. Barangkali besok atau tahun depan akan ada metode yang lebih baik atau hasil penelitian yang lebih baik.

Contoh yang terakhir adalah contoh klaim ontologi. Di mana, pada akhirnya, kita masih membuka peluang adanya hasil penelitian yang lebih bagus dan berbeda dari klaim ontologi kita yang semula.

Klaim metafisika yakin kepada kebenaran akhir. Sementara, klaim ontologi yakin adanya pertumbuhan kebenaran.

Para ilmuwan, nyatanya, tidak pernah melakukan klaim metafisika. Mereka, para ilmuwan, justru melakukan klaim ontologi. Mereka yakin kebenaran sains adalah kebenaran yang bersifat sementara. Ada peluang pertumbuhan sains yang makin lama makin bagus, sebagai revisi, berbeda dengan sains yang sudah ada.

Tetapi para ahli metafisika bisa saja melakukan klaim metafisika. Mereka meyakini klaim kebenaran yang bersifat sempurna dan abadi.

Sementara, Heidegger mengajak kita melakukan klaim ontologi. Membelokkan fokus kita dari metafisika menuju ontologi. Dan, ini adalah dasar dari hermeneutika.

Kemampuan Interpretasi

Mengapa kita hanya bisa klaim ontologi? Karena, itu adalah karakter dari being, realitas sejati. Kita hadir dalam dunia sebagai being-in-the-world. Kita tidak hadir dalam kehampaan. Maka tugas kita, dan kemampuan kita sebagai being-in-the-world, adalah menginterpretasikan dunia ini. Sehingga, kita tidak punya keyakinan penuh untuk klaim metafisika. Kita hanya bisa melakukan klaim ontologis, melalui interpretasi itu.

Mari kita bandingkan dengan cogito dari Descartes (1596 – 1650): Aku berpikir maka aku ada. Pada masanya, formula cogito ini menyelesaikan banyak masalah. Memberikan pencerahan kemajuan pemikiran. Pada masa sekarang, kita perlu bersikap kritis terhadap cogito itu.

“Aku berpikir maka aku ada” adalah klaim metafisika yang diyakini kebenarannya secara pasti, waktu itu. Saat ini, kita hanya bisa klaim ontologis. Subyek “aku” yang berpikir itu apakah statis atau dinamis, bisa berubah dengan satu dan lain cara? Kita, barangkali, bisa refleksi diri kita masing-masing. Tentu, kita saat ini berbeda dengan diri kita 10 tahun yang lalu. Beda dari sisi pengalaman, wawasan, dan usia tentunya. Meski, tetap ada beberapa hal yang tetap sama dari yang dulu dan sekarang. Maka secara totalitas, subyek “aku” yang berpikir, mengalami perubahan secara dinamis.

Demikian juga aktivitas “berpikir” apakah tetap sama dari jaman dulu sampai sekarang? Tentu saja ada perbedaan. Selanjutnya, subyek “aku” mengarahkan perhatian ke alam sekitar. “Aku” melihat ada pohon, batu, meja, kursi, dan lain-lain. Maka “aku” berhasil membuktikan ada eksistensi di dunia luar, ada suatu dunia fisik. Dengan demikian subyek “aku” berhasil membuktikan ada dua macam substansi yang berbeda. Pertama, substansi jiwa, atau substansi mental, yaitu sang subyek “aku.” Dan, kedua, substansi materi yang mandiri dari subyek, yaitu substansi dunia luar. (Selanjutnya, Descartes membuktikan eksistensi substansi ketiga yaitu substansi Tuhan yang mandiri dari jiwa dan materi ).

Dengan analisis yang sama, seperti sebelumnya, kita bisa mengklaim formula cogito di atas adalah sebentuk interpretasi oleh subyek “aku” terhadap fenomena yang ada. Heidegger, tampak, tidak setuju dengan alur cogito seperti itu. Heidegger lebih memilih konsep being-in-the-world. Subyek “aku” selalu berada dalam dunia, sejak lahir sampai mati. Sehingga, subyek “aku” tidak harus membuktikan eksistensi dirinya mau pun eksistensi dunia luar. Tugas subyek “aku” adalah melakukan interpretasi terhadap seluruh dunia, yang memang sudah ada.

Pengetahuan Ontic dan Ontologi

Wajar bila kita, sampai di sini, bertanya-tanya tentang status pengetahuan. Jika pengetahuan manusia “hanya” sebentuk interpretasi maka pengetahuan semacam itu, rasanya, tidak meyakinkan. Kita memerlukan pengetahuan dengan status yang lebih meyakinkan.

Hermeneutik akan memberikan jawaban yang meyakinkan tentang status pengetahuan yang sepenuhnya meyakinkan.

Immanuel Kant (1724 – 1804) membedakan antara fenomena dan noumena. Semua pengetahuan kita adalah pengetahuan tentang fenomena. Ketika kita melihat meja, misalnya, maka yang kita lihat adalah fenomena meja. Kita melihat warna meja, bentuk meja, ukuran meja, bahan meja, atau kita bisa menimbang berat (massa) dari meja. Semua pengetahuan kita tentang meja adalah sekedar fenomena dari meja, penampakan dari meja. Tetapi, apa sejatinya meja, noumena dari meja masih tersembunyi dari pengetahuan kita.

Apakah kita bisa mengetahui noumena meja? Apakah kita bisa mengetahui meja sejati? Tidak bisa.

Barangkali kita bisa meneliti meja itu dengan ketelitian yang lebih canggih dengan melibatkan ahli fisika, ahli kimia, dan ahli meja – tentunya. Analisis ilmiah paling detil, saat ini, menunjukkan bahwa meja terdiri dari partikel-partikel atom dan sub-atomik. Apakah partikel sub-atomik itu adalah noumena dari meja? Apakah itu meja sejati? Bukan. Partikel-partikel itu, masih tetap, merupakan penampakan dari meja. Jadi, hakikat dari meja sejati itu masih tetap tersembunyi.

Kali ini, mari kita berandai-andai bahwa suatu saat kita bisa mengetahui meja sejati, kita berhasil mengetahui noumena dari meja. Pengetahuan kita tentang noumena meja itu bisa kita sebut sebagai pengetahuan-ontic. Jadi, pengetahuan-ontic ini adalah jawaban dari pertanyaan “apa” hakikat dari meja sejati.

Kita masih bisa bertanya, apakah pengetahuan-ontic seperti itu merupakan pengetahuan tentang realitas meja itu?

Ya, dalam arti realitas esensial meja. Tetapi pengetahuan-ontic tetap tidak berhasil memotret realitas meja sepenuhnya. Pengetahuan-ontic hanya mampu menjawab pertanyaan “apa” sejatinya meja. Sementara, pertanyaan “mengapa” ada meja masih tidak bisa dijawab oleh pengetahuan-ontic. Dan, beberapa pertanyaan ontologis lainnya juga tidak bisa dijawab oleh pengetahuan-ontic: “untuk apa” ada meja? “bagaimana” ada meja? “siapakah” meja itu?

Sampai di sini, kita bisa membedakan lebih jauh lagi antara realitas-ontic dan realitas-ontologis. Realitas-ontic adalah realitas meja sejati. Sementara realitas-ontologis adalah realitas meja sebagai being-in-the-world, sebagai being-with-other. Realitas-ontic barangkali bisa dinyatakan dalam rumusan atau definisi tertentu – meski pun memunculkan beragam paradox. Sementara, realitas-ontologis tidak bisa dibatasi dengan suatu definisi. Kita hanya bisa melakukan interpretasi kepada realitas-ontologis dan merevisi terus-menerus interpretasi itu untuk lebih mendekati kebenaran.

Hermeneutik membuka peluang bagi kita mengelompokkan beberapa jenis pengetahuan dengan lebih meyakinkan. Pertama, pengetahuan-fenomena yaitu pengetahuan tentang penampakan-penampakan. Pengetahuan-fenomena ini penting bagi kita untuk merespon beragam fenomena yang terjadi di masyarakat. Misal, kita jadi mengetahui bagaimana fenomena perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi covid.

Kedua, pengetahuan-ontic yaitu pengetahuan esensial terhadap hakikat segala sesuatu. Untuk mendapatkan pengetahuan-ontic kita perlu kajian dan penelitian yang mendalam terhadap suatu fenomena sampai menembus ke noumena. Misalnya, kita perlu mempelajari strutur sel virus covid di laboratorium dengan peralatan yang canggih. Pengetahuan-ontic tentang virus ini membantu para peneliti untuk mendesain vaksin, misalnya. Makin kita mendalami pengetauan-ontic maka makin berkembang pengetahuan manusia. Pengetahuan-ontic umat manusia, meski tampaknya bisa dibatasi, nyatanya terus bertumbuh tanpa batas. Kajian sains menunjukkan pertumbuhan pengetahuan-ontic yang dinamis.

Ketiga, pengetahuan-ontologis yaitu pengetahuan tentang realitas. Di mana, kita bisa mengembangkan pengetahuan-ontologis dengan terus-menerus merevisi interpretasi demi interpretasi. Kemajuan pengetahuan-ontologis mengantarkan kita lebih dekat ke realitas kebenaran ontologis. Sementara, kebenaran ontologis itu sendiri terus bergerak dinamis. Dengan demikian, kita perlu secara terus-menerus memperbaiki, menyempurnakan, pengetahuan kita tanpa pernah berhenti.

Selalu ada perbedaan antara realitas-ontic dan realitas-ontologis. Perbedaan tersebut adalah perbedaan ontologis – ontological difference.

Kontribusi Heidegger

Mari kita ringkas kontribusi Heidegger terhadap “fondasi” hermeneutik. Sampai di sini, kita merasakan bahwa istilah “fondasi” tidak begitu tepat disematkan kepada hermeneutik dengan cara seperti biasanya. Hermeneutik justru menggali fondasi demi fondasi tanpa henti. Dengan demikian, tampak jelas, Heidegger memberikan pijakan awal bagi hermeneutik untuk lebih berkembang.

Pertama, destruksi metafisika. Kita perlu “membelokkan” fokus dari metafisika ke arah ontologi. Kita perlu menghindari klaim metafisika yang memandang klaim tersebut sebagai kebenaran sempurna dan abadi. Sebaliknya, kita perlu menyadari bahwa klaim kita adalah klaim ontologis yang perlu secara terus-menerus diuji dan direvisi.

Kedua, interpretasi. Segala pengetahuan kita selalu melibatkan interpretasi dengan satu dan lain cara. Karena keterbatasan interpretasi maka, lagi-lagi, kita perlu terus menguji dan merevisi interpretasi kita. Bahkan pengetahuan tentang fakta, yang diklaim obyektif pun, perlu untuk terus kita cermati.

Ketiga, ontological difference. Selalu ada perbedaan antara realitas-ontologis dengan realitas-ontic. Hal ini menjamin dinamika di seluruh semesta. Jika alam semesta, senantiasa, bersifat dinamis maka wajar saja bila kita juga bersikap dinamis. Hermeneutika memang dinamis.

Dengan memahami kontribusi Heidegger terhadap hermeneutika, seharusnya, orang-orang tidak menyalah-gunakan hermeneutika sebagai sembarangan melakukan interpretasi. Hermeneutika adalah, memang, seni berinterpretasi. Hermeneutika bukan metode. Hermeneutika adalah kesadaran berfilsafat. Hermeneutika adalah kritik berfilsafat.

D Dinamika Bersejarah: Hermeneutika Gadamer

Gadamer, sebagai murid dari Heidegger, melanjutkan proyek pengembangan hermeneutika hingga mencapai puncak kematangan. Di satu sisi, bersama Gadamer, kita lebih mudah memahami hermeneutik. Di sisi lain, hermeneutik menjadi lebih mudah disalahpahami, disalahgunakan, dan disalah-salahkan. Untuk memahami Heidegger, kita perlu kecakapan berpikir yang luar biasa. Sementara, untuk memahami Gadamer, kita perlu menambah kadar kedewasaan yang, juga, luar biasa.

Sesuai judul buku Gadamer yaitu Truth and Method, kita mudah memahami hermenetika sebagai suatu kebenaran dan suatu metode. Sementara, Gadamer sendiri menyatakan bahwa kebenaran dan metode itu saling berlawanan. Ketika kita mengutamakan kebenaran maka kita akan kehilangan metode. Sebaliknya, ketika kita mengutamakan metode maka kita akan makin berjarak dengan kebenaran. Dan, pertanyaannya, lebih utama mana antara kebenaran dengan metode? Jawabannya: lebih mudah metode! Selanjutnya, kensekuensi-konsekuensi logis terjadi sebagaimana harusnya.

Gadamer berhasil memperluas dan memperdalam konsep hermeneutika. Lebih hebat lagi, di tangan Gadamer, hermeneutika memiliki konsekuensi praktis. Sehingga, hermeneutika bisa langsung membahas ekonomi, etika, politik, dan – tentu saja – agama. Serta, lengkap dengan penyalahgunaannya.

Prasangka Sejarah Bahasa

Kita tidak bisa melepaskan diri dari prasangka atau praduga. Selalu ada prasangka dalam setiap pengetahuan manusia. Prasangka tidak selalu bersifat negatif. Justru, prasangka bersifat positif sebagai titik awal mengembangkan pengetahuan. Kita hanya perlu menempatkan prasangka sebagai hipotesis, yang perlu diuji dan disempurnakan.

Sikap yang wajar bagi kita: ketika hipotesis terbukti salah maka kita tolak atau kita revisi, sedangkan ketika hipotesis terbukti benar, maka kita terima sebagai pengetahuan. Hanya saja, hermeneutika tidak berhenti kepada pengetahuan yang terbukti benar itu. Hermeneutika menyarankan kita untuk memandang pengetahuan itu sebagai hipotesis yang baru, yang perlu diuji lagi. Dengan demikian, tidak ada titik henti bagi pegetahuan manusia. Kita perlu terus menguji pengetahuan kita untuk mendapat pengetahuan yang lebih baik lagi.

Kita juga bisa bergerak ke arah sebaliknya terhadap prasangka. Dari mana datangnya prasangka itu? Mengapa kita punya prasangka tertentu? Ada faktor apa saja yang mendorong kita berprasangka seperti itu?

Kita bisa melihat bahwa prasangka kita dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan kita. Pengalaman itu dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya, dan seterusnya. Singkatnya, kita dipengaruhi oleh sejarah budaya kita. Pengetahuan kita terikat oleh sejarah dan budaya kita. Sekali lagi, itu bukan suatu kesalahan. Itu adalah situasi yang melingkupi kita. Siatuasi yang harus kita terima. Untuk kemudian kita menyikapi dengan lebih bijak.

Dari beragam budaya dan sejarah, faktor bahasa adalah yang paling besar mempengaruhi kita. Kita berpartisipasi dalam bahasa, yang sejatinya bahasa itu sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu. Kita dibentuk oleh bahasa dalam satu dan lain cara. Meski kita merasa bisa membentuk bahasa, yang lebih banyak terjadi adalah sebaliknya, kita yang dibentuk oleh bahasa.

Sedikit ilustrasi barangkali lebih menarik. Teman-teman kita yang tinggal di Madura, umumnya, tidak membedakan secara bahasa antara warna biru dan hijau. Mereka menyebut dua warna itu sebagai sama yaitu biru. Lalu, kita bisa eksperimen. Di balik kartu yang berwarna biru kita beri tanda B. Sedangkan di balik kartu hijau kita beri tanda H. Kemudian kita menunjukkan kartu itu kepada teman kita yang dari kecil tinggal di Madura. Setelah melihatnya, kita minta teman kita menebak huruf di balik kartu sesuai warnanya. Kita menunjukkan kartu secara terpisah. Apa yang hasilnya?

Bagi kita mudah saja. Warna biru maka huruf B dan warna hijau maka huruf H. Bagi teman kita, ternyata tidak mudah menebaknya. Mereka menganggap semua kartu berwarna biru. Jadi tebakan mereka kadang benar, kadang salah. Bukankah warna biru berbeda dengan hijau? Benar, bagi kita yang terbiasa dengan bahasa biru dan bahasa hijau. Sementara, bagi teman kita yang tidak membedakan secara bahasa antara biru dan hijau, nyatanya, dua warna itu dianggap sama. Tentu saja, setelah latihan beberapa kali, teman kita akan mampu membedakan warna biru dan hijau. Itulah peran bahasa.

Barangkali ilustrasi yang berhubungan dengan kendaraan paling populer di Indonesia adalah mobil Kijang. Orang tua kita, orang yang lahir sebelum 1960, cenderung menganggap sama antara mobil Kijang dan Panther. Semua mobil seperti itu mereka sebut sebagai mobil Kijang – secara bahasa. Lalu kita bisa eksperimen dengan meminta orang tua kita untuk menentukan satu mobil apakah Kijang atau Panther? Mereka akan menjawab mobil Kijang sebagai Kijang dan mobil Panther sebagai Kijang juga. Lagi-lagi ada peran penting bahasa dalam kasus ini.

Hermeneutika menempatkan bahasa pada peran utama dalam membentuk pengetahuan manusia. Pengetahuan kita mengandung unsur prasangka – yang dipengaruhi oleh bahasa, sejarah, dan budaya. Tugas kita adalah meng-interpretasikan dengan sebaik-baiknya segala pengetahuan – dan realitas. Hermeneutika adalah tugas kemanusiaan.

Gadamer memperluas konsep manusia dari Heidegger, being-in-the-world, menjadi manusia dalam bahasa, budaya, dan sejarah. Meski seorang manusia bisa membentuk bahasa, budaya, dan sejarah, proses sebaliknya lebih mudah terjadi.

Pengetahuan Paling Utama

Kemajuan sains dan teknologi begitu mempesona akhir-akhir ini. Makin mengagumkan dengan teknologi digital, lengkap dengan media sosial, yang membentuk budaya manusia kontemporer. Bila, dulu, manusia adalah binatang yang berpikir maka, sekarang, manusia adalah binatang digital. Khususnya di kota besar, dan negara maju, kehidupan manusia makin banyak di dunia digital.

Dunia digital menjadikan manusia lebih mudah mengakses informasi sampai pengetahuan, bisa kapan saja dan di mana saja. Ironisnya, makin banyak informasi tidak menjamin makin banyak pengetahuan manusia. Karena di antara informasi itu, atau sebagian besarnya, berupa hoax. Informasi palsu. Bagaimana kita bisa memperoleh pengetahuan di era digital seperti sekarang ini?

Hermeneutika dan ilmuwan sepakat dalam hal kita memperoleh pengetahuan melalu hipotesa yang kemudian diuji dan direvisi untuk mendapatkan pengetahuan yang berkualitas lebih baik. Hoax pasti lenyap dalam proses pengujian dan revisi itu. Tetapi mereka, ilmuwan dan hermeneutik, berbeda dalam hal bagaimana cara kita mengetahui. Ilmuwan, saintis, meneliti suatu obyek dengan fokus, terbatas, dan obyektif. Sementara, hermeneutika mengatakan cara ilmuwan seperti itu tidak pernah memadai.

Metode ilmiah yang dikembangkan ilmuwan itu akan menghasilkan pengetahuan obyektif yang merupakan pengetahuan-ontik. Hermeneutik menerima pengetahuan-ontik ini dengan baik. Hermeneutik menuntut pengetahuan lebih luas lagi yaitu pengetahuan-ontologis. Di mana pengetahuan-ontologis ini kita peroleh dengan melakukan interpretasi terhadap pengetahuan-ontik dengan mempertimbangkan subyek, budaya, sejarah, dan bahasa.

Gadamer meyakini, pada analisis akhir, pengetahuan tidak bisa direduksi menjadi suatu kriteria obyektif tertentu.

Seperti kita bahas di bagian sebelumnya, hermeneutik mengakui beragam bentuk pengetahuan: pengetahuan-fenomena, pengetahuan-ontik, dan pengetahuan-ontologis. Mereduksi pengetahuan menjadi hanya pengetahuan-ontik yang obyektif adalah kesalahan fatal beberapa pihak.

Kita mengakui pengetahuan matematika merupakan pengetahuan ideal yang nilai kebenarannya terjamin valid. Matematikawan, baik realisme atau anti-realisme, mampu membuat formula matematika untuk kemudian menarik kesimpulan yang valid. Hermeneutik mengakui pengetahuan-ontik dari matematika seperti itu. Hanya saja, kita perlu lebih dari sekedar pengetahuan-ontik seperti itu.

Fisika modern, barangkali, bidang kajian paling ideal. Di satu sisi, fisika menerapkan teori matematika paling canggih. Di sisi lain, fisika mempertimbangkan eksperimen fisik. Saat ini, ada dua cabang fisika paling maju: quantum dan relativitas. Fisika quantum mengkaji fenomena sub-atomik dan menghasilkan teori quantum yang kokoh. Sementara, relativitas mengkaji fenomena alam semesta dan menghasilkan teori relativitas – khusus dan umum – yang teruji sepanjang waktu. Anehnya, teori quantum dan relativitas tidak bisa disatukan. Mereka berlaku, sejauh ini, pada bidang masing-masing, meski pun sama-sama bidang fisika.

Para fisikawan, masa kini, sedang berusaha menyatukan quantum dan relativitas menjadi teori gravitasi quantum. Salah satu kandidat teori gravitasi quantum adalah teori string – yang bersaing dengan teori loop (Loop Quantum Gravity). Mari kita sedikit mendiskusikan teori string – yang masih terus dikembangkan sampai kini.

Segala sesuatu yang ada di alam ini, baik partikel atau gelombang, tersusun oleh string. Dengan demikian, string menyelesaikan masalah dualisme partikel dengan gelombang. Karena keduanya, partikel dan gelobang itu, sama-sama tersusun oleh string. Lalu string itu sendiri apa? String adalah mirip-titik berdimensi satu yang memiliki tegangan. Sehingga string bisa berosilasi – bergetar. String dalam jumlah tertentu, dengan cara tertentu, menyatu membentuk partikel elementer semisal elektron atau foton. Pada gilirannya, partikel elementer ini membentuk proton, neutron, atom, molekul, dan seluruh materi alam semesta – dan gelombang elektromagnetik serta gravitasi. Dengan demikian, seluruh misteri alam semesta dapat kita jelaskan dengan teori string. Teori string berhasil menjadi theory-of-everything.

Dengan teori string yang sempurna seperti itu apakah kita jadi bisa mengetahui semua realitas? Tidak. Sekali lagi tidak bisa. Karena, sehebat apa pun teori string maka pengetahuan kita akan tetap terbatas kepada pengetahuan-ontic. Teori string tetap tidak bisa menjawab beragam pertanyaan: Apa tujuan ada string? Dari mana munculnya string? Mengapa ada manusia? Bagaimana manusia bisa punya imajinasi? Dan lain-lain.

Lebih mendasar lagi, teori string dikembangkan dengan asumsi adanya latar berupa ruang-waktu. Sehingga, teori string tidak akan mampu menjawab pertanyaan: apa itu ruang dan waktu?

Kita perlu tegaskan bahwa teori string, dan sains pada umumnya, adalah pengetahuan-ontic yang bermanfaat dan diperlukan oleh manusia. Lebih dari itu, kita tetap memerlukan pengetahuan-ontologis dengan cara interpretasi yang terus-menerus direvisi. Kita, sebagai manusia memang, membutuhkan hermeneutika.

Dialektika Dialog

Sejak jaman Plato (Sokrates), pengetahuan manusia berkembang melalui dialektika, proses dialog. Hermeneutika memandang penting proses dialektika ini. Proses dialog bisa terjadi antara satu orang dengan orang lain. Bisa juga, proses dialog terjadi antara pembaca dengan suatu tulisan. Proses dialog ini tentu mengandung resiko: hasil dialog tidak seperti harapan awal.

Melalui dialog, hermeneutika menuntut kita menjalankan filsafat politik dan filsafat moral dengan adab yang luhur. Masyarakat yang berdialog terbuka untuk memajukan kehidupan bersama akan mampu membangun kehidupan yang demokratis. Masyarakat jadi menghargai perbedaan pendapat, dan perbedaan dalam banyak hal, untuk kemudian duduk bersama lalu berdialog.

Dialog dengan semangat hermeneutika meyakini bahwa pengetahuan kita, dan pengetahuan setiap orang, adalah pengetahuan yang bisa direvisi terus-menerus. Dengan demikian, dialog adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih valid, dan sekaligus, menjadi cara mengembangkan pengetahuan.

Dialog bukan sekedar saling bicara, bukan pula hanya saling mendengar. Dialog menuntut keyakinan bahwa pihak lain mungkin saja lebih benar dari kita. Gadamer bukan hanya mengajarkan dialog seperti itu. Gadamer, benar-benar, menjalankan dialog hermeneutik dengan baik.

Dialektika melalui dialog meski tampak mudah dilakukan, nyatanya, itu adalah tugas besar manusia. Berikut ini beberapa poin yant perlu kita pertimbangkan dalam dialog.

Pertama, berusahalah untuk mengerti pihak lain. Kita berusaha untuk mendapatkan kebenaran dari teman dialog. Tentu dengan mendengarkan penuh rasa hormat. Selanjutnya, ungkapkan kebenaran yang kita yakini dengan jelas. Dari dua sudut pandang ini, atau lebih banyak sudut pandang, kita bangun dialog untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Dialog, barangkali menghasilkan kesepakatan atau konsensus bersama. Dengan hasil ini, para pihak meyakini dan menyetujui kebenaran bersama. Tampaknya, konsensus adalah hasil yang paling diharapkan banyak orang. Ada kalanya, dialog tidak menghasilkan konsensus. Yang terjadi justru dissensus – tidak ada kesepakatan. Meski kedua pihak sama-sama saling memahami, tetap saja, mereka bisa tidak sepakat. Maka sikap saling hormat dari semua pihak perlu dikembangkan. Mengingat hermeneutik meyakini keragaman budaya, bahasa, dan subyektivitas maka hasil dialog bisa saja juga beragam.

Kedua, dialog bisa terjadi antara seseorang dengan suatu teks. Ketika kita membaca suatu buku, sebenarnya, kita sedang berdialog dengan teks atau tulisan. Seorang penulis, barangkali, menulis buku dalam rentang waktu sepuluh tahun yang lalu. Sementara, kita membaca buku tersebut saat ini. Terbayang perbedaan waktu, situasi, latar budaya, bahasa, dan lain-lain antara penulis asli dengan diri kita. Maka, kita perlu mempertimbangkan sudut pandang penulis, cakrawala penulis. Di saat yang sama, kita pasti membawa sudut pandang kita, cakrawala pembaca. Dengan demikian terjadi penggabungan antara cakrawala penulis dan pembaca. Terjadi dialog pembaca dan penulis. Dialog semacam ini bersifat kritis, menurut Gadamer, bisa menghasilkan ide-ide baru di luar dugaan.

Pertimbangkan ketika kita membaca kitab suci. Di mana kitab suci, barangkali, dituliskan sudah 1000 tahun yang lalu atau lebih. Sedangkan kita membaca saat ini. Tentu terdapat perbedaan budaya yang jauh. Paling menonjol adalah perbedaan teknologi jaman digital ini dengan jaman 1000 tahun yang lalu. Begitu juga perbedaan budaya masyarakat dunia, yang saat ini, sudah bersifat global. Maka dalam membaca kitab suci akan terjadi dialog-dialog yang bersifat kritis. Perlu sikap arif, dari seluruh pihak, dalam hal ini.

Ketiga, dialog dengan alam raya. Dialog hermeneutika adalah dialog “being”. Dialog ini tidak terbatas hanya dengan kata-kata. Kita bisa berdialog dengan alam semesta. Bagi umat beragama, bahkan bisa berdialog dengan Tuhan. Seseorang bisa berdoa kepada Tuhan. Kita bisa berdialog dengan realitas sistem ekonomi, sistem politik, bahkan dengan tokoh imajiner. Singkatnya, kita bisa berdialog dengan siapa saja, dengan apa saja.

Dalam dialog dengan alam raya, kita melibatkan penilaian pribadi. Kita, dalam dialog dengan alam raya, dituntut untuk mengambil kesimpulan. Tentu saja, perlu kita sadari bahwa kesimpulan kita adalah hasil interpretasi hermeneutik. Sehingga kesimpulan kita bisa saja salah. Dengan demikian, kita perlu melanjutkan dengan proses refleksi agar kesimpulan – interpretasi – kita lebih mendekati kebenaran.

Kritik Debat Gadamer

Sebagai seorang filsul, Gadamer menjalankan prinsip-prinsip filosofisnya dalam kehidupan nyata. Meski demikian, kritik terhadap Gadamer bertebaran di mana-mana. Dalam beberapa kesempatan, bahkan Gadamer sempat melakukan debat filosofis. Seperti kita sebut, dalam proses debat itu, Gadamer menjalankan prinsip-prinsip hermeneutika dengan baik. Berikut ini, kita akan membahas beberapa kritik terhadap Gadamer.

Pertama, menyebabkan hermeneutik mudah disalahgunakan. Berbeda dengan Heidegger yang menulis filsafat dengan bahasa sulit dipahami, Gadamer menulis filsafat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh banyak kalangan. Bahkan, karya Gadamer bisa dianggap sebagai “metode praktis” hermeneutik. Sebuah interpretasi yang sering ditolak oleh Gadamer. Akibat interpretasi mereka itu, hermeneutik sering disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengelabui pihak lain. Dan, sampai kadar tertentu, hermeneutik direndahkan sebagai metode sembarangan yang terjebak dalam relativisme.

Tentu saja, penyalahgunaan hermeneutik bukan tanggung jawab Gadamer. Mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri. Gadamer telah menulis buku dengan baik. Gadamer telah merumuskan filsafat hermeneutik dengan baik. Tidak ada masalah dengan Gadamer.

Kedua, hermeneutik mengubah sains menjadi pengetahuan subyektif. Khususnya ilmu sosial, menjadi teori yang bersifat subyektif. Karena semua teori sosial dipengaruhi oleh subyek pengamat, latar budaya, bahasa, dan interpretasi dari masing-masing ilmuwan. Gadamer menolak penilaian semacam itu. Konsep hermeneutik Gadamer, sekali lagi, bukanlah metode. Konsep hermeneutik Gadamer bersifat deskripsi, menggambarkan apa sejatinya yang terjadi ketika seorang ilmuwan merumuskan suatu teori sosial, misalnya. Bahwa dalam proses tersebut dipengaruhi oleh interpretasi subyektif ilmuwan, memang, seperti itu yang terjadi. Namun demikian, proses interpretasi semacam itu tidak serta-merta menjadi subyektif. Dalam cakrawala tertentu, horison tertentu, teori sosial tetap bisa bersifat obyektif.

Ketika ahli ekonomi menyusun teori ekonomi, tentu saja, dia dipengaruhi pengalaman pribadi, budaya, dan bahasanya. Sejauh ahli ekonomi itu menerapkan kaidah-kaidah ilmiah sesuai cakrawalanya maka teori ekonominya tetap bisa bersifat obyektif. Apa lagi, jika ahli ekonomi itu kemudian dialog dengan komunitasnya untuk merevisi teori ekonomi tersebut maka karakter obyektif makin kuat. Dengan demikian, hermeneutik tetap menjaga pengetahuan bisa bersifat obyektif sesuai cakrawala masing-masing.

Ketiga, hermeneutik tidak mampu mendeteksi ideologi yang mengendalikan masyarakat. Habermas (1929 – ) melontarkan kritik tersebut di tahun 1970an. Sejatinya, Habermas dan Gadamer lebih banyak titik temunya dan hanya ada sedikit beda pandangan – seperti masalah ideologi di atas. Habermas sendiri, tampaknya, sengaja memancing debat dengan para filsuf lain untuk mengangkat isu filosofis penting tertentu. Terbukti, debat Habermas dengan Gadamer ini, mengantar konsep hermeneutik lebih dikenal di seluruh dunia.

Karena hermeneutik, menurut Habermas, berpegang kepada tradisi, budaya, dan sejarah maka hermeneutik tidak mampu membebaskan diri dari jeratan ideologi yang ada dalam masyarakat tersebut. Hermeneutik perlu bersikap kritis dan membebaskan diri dari itu semua agar mampu melepaskan diri dari kungkungan ideologi. Tentu saja, kita tahu, Gadamer mengijinkan hermeneutik untuk bersikap kritis terhadap semua ideologi. Namun melepaskan diri dari sejarah, untuk kemudian meng-klaim diri sebagai obyektif, justru merupakan dogma yang kaku – yang perlu kita hindari. Dengan demikian, hermeneutik tetap mampu mengenali konsep ideologi.

Keempat, kritik terhadap kebenaran absolut hermeneutik. Derrida (1930 – 2004) melontarkan kritik ini tepat pada jantung hermeneutik. Sejatinya, Derrida dan Gadamer, keduanya adalah sama-sama penerus dari Heidegger. Derrida mengembangkan proyek destruksi metafisika, dari Heidegger, menjadi dekonstruksi filosofis. Sementara, Gadamer mengembangkan karakter pengetahuan interpretatif, dari Heidegger, menjadi hermeneutika filosofis.

Derrida menolak ide Gadamer yang menyatakan bahwa proses revisi interpretasi terus-menerus dari hermeneutik akan mengantarkan kita kepada kebenaran sejati. Menurut Derrida, kebenaran sejati seperti itu tidak pernah diraih, dengan cara apa pun. Baik, hermeneutik mau pun dekonstruksi, sama-sama tidak akan berhasil meraih kebenaran sejati. Derrida berpegang pada konsep differance yang bermakna ganda: makna berbeda dengan tanda dan makna selalu tertunda.

Bagian pertama yang menyatakan bahwa makna berbeda dengan tanda bisa kita pahami dengan mudah. Sementara, bagian kedua, menyatakan bahwa makna selalu tertunda, bisa kita bahas lebih detil. Suatu tanda akan menunjuk ke suatu makna. Nyatanya, makna itu sendiri merupakan suatu tanda pula, tanda yang baru. Pada gilirannya, tanda ini akan menunjuk ke makna lagi, makna yang baru. Dan begitu seterusnya tidak pernah berhenti. Sehingga makna akhir tidak pernah kita raih. Makna selalu tertunda. Demikian juga, kebenaran sejati selalu tertunda.

Kritik dari Derrida ini, tampaknya, memang harus diterima. Gadamer sendiri bersikap terbuka terhadap kritik ini dan kritik-kritik lainnya. Kita bisa memahami maksud Gadamer dengan kebenaran sejati adalah kebenaran maksimal yang bisa kita raih dengan hermeneutik, dengan revisi terus-menerus. Kebenaran ini bersifat temporal dan dinamis. Sehingga, klaim kebenaran ini adalah kebenaran-ontologis bukan kebenaran-metafisis. Dengan demikian, hermeneutik seiring sejalan dengan konsep differance dari Derrida.

Kelima, penyebaran framing informasi digital. Di akhir abad 20, ketika Gadamer mengembangkan hermeneutik, barangkali orang-orang tidak berpikir akan datangnya suatu era digital, di mana informasi bisa menyebar begitu cepatnya dalam hitungan detik. Hermeneutik, disalahgunakan, untuk me-framing informasi sesuatu kepentingan pihak tertentu. Informasi palsu, informasi hoax, bertebaran di dunia digital, di abad 21 ini.

Lebih parah lagi, framing dunia digital tidak hanya melibatkan kemampuan pikiran manusia. Framing digital juga memanfaatkan kekuatan jaringan komputer raksasa di seluruh dunia dengan kecerdasan buatan, artificial intelligence. Kombinasi otak manusia yang serakah dan kecerdasan buatan sangat ampuh untuk mencuci otak umat manusia di seluruh dunia.

Memang benar, hermeneutika bisa disalahgunakan untuk memproduksi framing informasi hoax. Namun kita tahu, itu bukan salah hermeneutika, bukan pula salah Gadamer. Justru, dengan kesadaran hermeneutika, kita mampu merevisi berita-berita hoax itu melalui pengujian-pengujian dan revisi. Sehingga, di era digital, kita makin membutuhkan masyarakat yang berkesadaran hermeneutik.

Kontribusi Gadamer

Banyak sekali kontribusi Gadamer dalam mengembangkan hermeneutika filosofis. Barangkali kita akan menekankan kembali tiga kontribusi utama Gadamer. Pertama, Gadamer memperluas faktor-faktor yang mempengaruhi interpretasi seseorang sampai ke sejarah, budaya, dan bahasa. Sehingga kita perlu melakukan beragam pengujian ulang terhadap setiap interpretasi kita.

Kedua, pengetahuan manusia melebihi dari sekedar pengetahuan-ontic. Dengan tegas, Gadamer menerima keabsahan pengetahuan-ontic yang bersifat obyektif. Di saat yang sama, kita perlu terus mengkaji ulang pengetahuan obyektif itu. Karena, pada analisis akhir, pengetahuan tidak bisa dibatasi hanya dengan suatu kriteria tertentu.

Ketiga, manusia berkembang dialektis melalui proses dialog. Perbedaan dari banyak pihak adalah modal utama untuk melakukan dialog demi kemajuan bersama. Hermeneutik menilai penting proses dialog secara luas. Baik dialog antar manusia, dialog bersama teks, dan dialog bersama alam raya. Tentu saja, dialog bersama Tuhan.

E Post-Nihilism: Hermeneutika Vattimo

Vattimo (1936 – ) mengantarkan hermeneutika ke babak baru. Saat ini, Vattimo berusia 86 tahun. Karena itu, Vattimo mengembangkan hermeneutika di era digital yang serba global ini. Kita berharap mendapatkan ide-ide hermeneutik yang kekinian dari Vattimo. Dan, memang begitulah adanya. Vattimo belajar hermeneutika langsung dari Gadamer.

Akhir Sejarah


F Al Ghazali: Hermeneutika Manusia Seimbang
G Ibnu Arabi: Hermeneutika Manusia Sempurna
H Sunan Kalijaga: Hermeneutika Seni Beragama
I Hermeneutika Kitab Suci: Vattimo, Abu Zaid, Shahrur
J Persatuan Hermeneutika: Rorty dan Bernstein

Political Philosophy: Indonesia Cermin Dunia

Setiap kehidupan bersifat politis. Memperebutkan kekuasaan. Mempraktekkan kekuasaan. Membatasi kekuasaan. Dan mengendalikan kekuasaan.

Setiap kehidupan adalah filosofis. Setiap sisi punya fondasi. Setiap saat ada hasrat. Setiap tempat perlu kiblat. Setiap manusia adalah alat dan tujuan itu sendiri.

Setiap kerhidupan adalah cinta. Bahkan kematian adalah cinta. Hidup untuk cinta. Mati untuk cinta. Politik untuk cinta. Filsafat untuk cinta. Cinta untuk Sang Maha Cinta, dari Sang Maha Cinta, oleh Sang Maha Cinta.

Berikut ini adalah beberapa catatan politik Indonesia cermin dunia dan dunia cermin Indonesia.

1 Adil Makmur: Politik Ekonomi Indonesia
2 Lebih Kejam dari Politik: Bitpower
3 Presiden 3 Periode dan Amandemen UUD

Presiden 3 Periode dan Amandemen UUD

Amandemen UUD 1945 menunjukkan dinamika dalam sistem pemerintahan Indonesia. Dinamika seperti itu, wajar, kita pandang sebagai kemajuan positif. Setelah reformasi, amandemen terbaik, menurut beberapa kalangan, adalah pembatasan masa jabatan presiden dan wakil menjadi hanya 10 tahun atau 2 periode.

featured

Tahun 2021, muncul ide kembali untuk amandemen UUD 45. Sejatinya, wajar saja. Menjadi lebih heboh lantaran dalam rencana amandemen itu adalah mengesahkan masa jabatan presiden menjadi 3 periode. Kosekuensinya, bila amandemen terjadi, Presiden Jokowi bisa mencalonkan kembali pada 2024.

Atau logikanya bisa dibalik. Beberapa pihak mengharapkan presiden Jokowi untuk menjabat 3 periode. Agar sah secara konstitusional maka diperlukan amandemen. Dan, lebih menarik lagi, koalisi pemerintah di MPR sangat besar sehingga memungkinkan dilakukan amandemen.

Presiden Jokowi Menolak

Dalam berbagai macam media, Jokowi menolak ide masa jabatan presiden 3 periode.

“Saya tegaskan, saya tidak ada niat, tidak ada juga berminat menjadi presiden tiga periode. Konstitusi mengamanatkan dua periode, itu yang harus kita jaga bersama-sama.” (Sumber: asumsi.co)

Secara sekilas, tampak jelas, dari pernyataan di atas bahwa Jokowi menolak masa jabatan 3 periode. Sementara bagi pendukung masa jabatan 3 periode, pernyataan presiden di atas bukanlah penolakan nyata. Jika konstitusi mengijinkan, misal dengan amandemen, maka presiden bisa saja bersedia.

Untuk mengurangi kekuatan oposisi, bahkan pendukung jabatan 3 periode, memasangkan Jokowi dan Prabowo di 2024.

Presiden Lebih Tegas

Tentu saja, presiden bisa membuat pernyataan lebih tegas, sesuai sikap dirinya.

a. Saya menolak masa jabatan 3 periode
b. Saya memerintahkan, atau mengajak, anggota DPR untuk menolak amandemen UUD 45 berkenaan dengan masa jabatan presiden.
c. Jika karena satu dan lain hal terjadi amandemen yang mengijinkan masa jabatan presiden menjadi 3 kali maka saya dengan tegas menolak dicalonkan untuk masa jabatan ke 3. Saya cukup menjabat 2 periode saja.

Debat Masa Jabatan

Dalam suasana demokrasi yang sehat, debat publik masa jabatan presiden 3 periode mesti dapat tempat yang memadai. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mendiskusikan beberapa sudut pandang filosofis.

Plato dan Aristoteles

Para pemikir kuno semisal Plato dan Aristoteles, tampaknya, tidak terlalu mendukung pemerintahan demokrasi. Plato lebih mendukung pemerintahan yang dipimpin oleh raja yang adil dan cerdas – King Philosopher. Sehingga, jika kita telah mendapatkan king-philosopher itu maka seharusnya kita mendukungnya untuk masa jabatan 3 periode atau lebih.

Pandangan pemerintahan king-philosopher seperti itu, saat ini, sulit mendapat dukungan. Kemajuan peradaban manusia justru mendukung pemerintahan demokrasi.

Al Farabi (870 – 950)

Al Farabi melanjutkan pemikiran Plato dengan menyempurnakan king-philosopher dengan keharusan mendapat pencerahan Tuhan demi mencapai kebaikan masyarakat luas.

Berbeda dengan Plato, Al Farabi hidup hampir 1000 tahun setelah masehi. Sehingga, kitab suci sudah dibukukan dengan baik. King-philosopher harus mampu membaca kitab suci untuk kemudian menafsirkan dengan cerdas demi kebaikan seluruh masyarakat.

Barangkali, ide Al Farabi ini pernah sukses di masa lalu. Tetapi di masa sekarang, tampaknya masyarakat lebih mendukung demokrasi. Meski demikian, beberapa pemikir mencoba menggabungkan ide Al Farabi ini dengan demokrasi.

Ibnu Khaldun (1332 – 1406)

Ibnu Khaldun adalah pemikir ilmu sosial pertama di dunia. Khaldun mengenalkan konsep empiris untuk menguji teori sosial. Sehingga, bila kita bertanya kepada Ibnu Khaldun tentang presiden 3 periode maka jawabannya: belajarlah dari pengalaman empiris.

Pertama, kita bisa menguji suksesi era SBY yang menjabat 2 periode, total 10 tahun. Lalu digantikan oleh Jokowi berjalan dengan lancar dan demokratis.

Kedua, kita bisa menguji suksesi bagi presiden yang menjabat lebih dari 10 tahun. Kita punya presiden Soeharto dan Soekarno. Kita mengagumi kedua presiden hebat itu. Tetapi, kita tahu, suksesi mereka berjalan secara tidak normal – darurat. Tentu banyak resiko.

Ketiga, berdasar pengalaman empiris, sesuai pendapat Ibnu Khaldun, kita bisa menarik kesimpulan. Batasan masa jabatan presiden 10 tahun teruji secara demokratis dalam suksesi, pergantian presiden berjalan dengan baik. Sedangkan masa jabatan presiden lebih dari 10 tahun, atau 3 periode, beresiko terjadi krisis demokrasi dalam suksesi.

Immanuel Kant (1724 – 1804)

Kita bisa mempelajari pemikiran Kant melalui buku-bukunya yang luas dan mendalam. Khususnya buku trilogi-kritik memberikan wawasan yang amat berguna untuk kita semua.

Masa jabatan presiden 3 periode bisa kita analisis dengan kategorial-imperatif atau kewajiban moral versi Immanuel Kant.

Jika 3 periode itu memang baik maka harus dilakukan. Jika 3 periode itu buruk maka harus ditinggalkan. Pertanyaannya, bagaimana kita menentukan 3 periode itu baik atau buruk, sesuai kategorial-imperatif?

Kant percaya kepada kemampuan manusia berakal untuk menentukan baik dan buruknya sesuatu, termasuk 3 periode. Dalam hal ini, Kant mendukung demokrasi umat manusia untuk menentukan sikap masing-masing sesuai akal sehat. Berikut ini, empat kriteria yang menyatakan bahwa 3 periode masa jabatan presiden itu baik atau buruk.

Pertama, disetujui semua orang. Syarat ini sulit dipenuhi. Karena, sekarang pun, sudah banyak yang menolak masa jabatan 3 periode itu.

Kedua, bisa dilakukan oleh semua orang. Syarat ini bisa dipenuhi. Setiap orang yang memenuhi syarat bisa saja mencalonkan diri sebagai presiden 3 periode.

Ketiga, bisa dilakukan kapan saja. Syarat ini juga bisa dipenuhi. Jika konstitusi mengijinkan maka bisa kapan saja diterapkan masa jabatan 3 periode.

Keempat, bisa dilakukan di mana saja. Syarat ini juga bisa dipenuhi. Jika berbagai negara di dunia menyepakati 3 periode maka mereka bisa menerapkan di mana saja.

Dari empat kriteria di atas, hanya satu kriteria yang belum terpenuhi. Sehingga masa jabatan presiden 3 periode tidak bisa disebut sebagai kewajiban moral. Akibatnya, boleh ditolak.

Tetapi, apakah ada kewajiban moral yang memenuhi empat kriteria di atas? Tentu ada. “Menghormati ibu,” “Jangan korupsi,” “Jangan membunuh,” adalah contoh kewajiban moral yang memenuhi empat kriteria di atas.

John Rawls (1921 – 2002)

Rawls adalah pemikir politik yang fenomenal. Dengan bukunya A Theory of Justice, Rawls berhasil menggeser perdebatan etika politik yang bersifat normatif menjadi etika politik yang aplikatif – bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat secara nyata.

Rawls melanjutkan konsep masyarakat adil dengan pendekatan kontraktarianisme seperti Kant. Pertama, prinsip kesamaan dalam kebebasan. Ide masa jabatan presiden 3 periode harus terbuka secara umum bagi seluruh warga. Prinsip ini bisa dipenuhi.

Kedua, prinsip perbedaan. Setiap perbedaan harus memberikan akibat terbaik bagi masyarakat lemah. Masa jabatan presiden 3 periode, yang berbeda dengan semula 2 periode, apakah memberi manfaat terbaik bagi masyarakat lemah?

Sulit untuk menjawab afirmasi pertanyaan kedua. Sulit bagi kita untuk meyakinkan bahwa presiden 3 periode akan berdampak positif bagi masyarakat lemah. Siapa pun presidennya, masa jabatan 3 periode justru membuka peluang ke arah kolusi dan korupsi yang lebih berbahaya.

Dengan demikian, amandemen UUD untuk menetapkan periode jabatan presiden 3 periode layak ditolak.

Habermas (lahir 1929)

Habermas sejalan dengan Rawls melanjutkan konsep kontraktarianisme dari Kant. Habermas juga percaya bahwa masing-masing orang punya akal yang mampu menentukan sesuatu bersifat baik atau buruk. Habermas melangkah lebih jauh dengan menetapkan komunikasi aktif adalah sarana paling tepat untuk dialog mencapai konsensus bersama.

Ruang publik adalah ruang terbuka, secara fisik atau digital, bagi masyarakat untuk bisa saling diskusi dengan bebas. Siapa pun bebas memulai tema diskusi di ruang publik. Masing-masing pihak menanggapi pro-kontra secara rasional. Begitulah demokrasi.

Isu presiden 3 periode perlu dibahas di ruang publik secara terbuka.

Philosophy of Science: Paradox Filsafat Ilmu

Saat ini, ilmu pengetahuan makin maju, manusia makin makmur. Sementara, penderitaan ada di mana-mana. Teknologi makin menjangkau ke seluruh penjuru dunia. Manusia makin terjebak dalam sengsara. Ceramah agama bisa online kapan saja. Krisis moral tidak tampak mereda. Teknologi kedokteran makin canggih. Pandemi covid datang, tak ada yang sanggup menghadang.

Paradox filsafat ilmu. Makin maju, makin keliru. Ada masalah apa sebenarnya?

Pada tulisan ini, kita akan membahas paradox filsafat ilmu. Pertama, kita akan membahas filsafat ilmu dari beragam sudut pandang. Kedua, kita akan mengkaji sisi-sisi paradox dari filsafat ilmu itu. Dan, ketiga, kita akan mengusulkan beberapa alternatif sudut pandang untuk mengatasi paradox. Tentu saja, dengan resiko, muncul paradox yang lebih baru.

1) Paradox Ilmu
1.1 Fisika Quantum: Ketidakpastian Heisenberg
1.2 Relativitas Einstein: Ruang dan Waktu
1.3 Covid-19: Virus Kecil yang Mendunia
1.4 Ekonomi Serakah: Mengapa Harus Boros
1.5 Ekonomi Tak Berakal: Dynamic Stochastic General Equilibrium
1.6 Kepastian Hukum yang Tidak Pasti: Hermeneutika
1.7 Keyakinan Agama: Landasan yang Digoyang

2) Epistemologi Ontologi

2.1 Metafisika ke Ontologi
2.2 Metafisika Different
2.3 Enframing Genealogi

3) Madzhab Filsafat Ilmu

3.1 Positivisme Ilmu Alam
3.2 Communitarian Ilmu Sosial
3.3 Rasionalisme Matematika

4. Spesialisasi Filsafat Ilmu

4.1 Filsafat Fisika
4.2 Filsafat Matematika
4.3 Filsafat Sosial
4.4 Filsafat Teknologi
4.5 Filsafat Agama

5) Solusi Paradox Filsafat Ilmu

5.1 Paradox Godel: Ilmu Pasti
5.2 Jarak Ontologis: Ilmu Sosial
5.3 Paradox Praktis: Mukjizat Hari ini

Philosophy of Mathematics: Mengapa Belajar Matematika?

Pertanyaan sering muncul ke kita: mengapa belajar matematika? Yang lebih penting, justru, pertanyaan sebaliknya: mengapa tidak belajar matematika?

Motivasi untuk belajar matematika sudah jelas: sukses pendidikan, sukses ekonomi, sukses kehidupan, dan lain-lain. Tetapi, memilih untuk tidak belajar matematika harus punya alasan yang jelas dan kuat. Salah memilih alasan, untuk tidak belajar matematika, bisa mengakibatkan kerugian besar – rugi materi mau pun kesempatan.

Why is Math important? Interesting Facts for Students - EduBirdie.com

Pertanyaan sederhana tentang mengapa-matematika, sejatinya, adalah pertanyaan filosofis. Maka kita akan membahas filsafat matematika pada kesempatan ini. Ada tiga bagian utama dari filsafat matematika. Pertama, aksiologi matematika meliputi etika matematika, ekonomi matematika, politik matematika, dan termasuk mengapa-matematika.

Kedua, ontologi matematika atau meta-matematika atau metafisika matematika. Kita akan menyelidiki apa sejatinya matematika. Meski nilai-kebenaran dari matematika begitu jelas, pasti, dan meyakinkan di satu sisi, sedangkan, di sisi lain, apa sejatinya matematika tidak mudah kita jawab. Plato menyatakan bahwa matematika adalah realitas di alam ideal – yang sangat tinggi. Sementara, Russell menyatakan matematika adalah sistem logika. Bahkan, di era kontemporer ini, ada yang menyatakan bahwa matematika adalah fiksi.

Ketiga, epistemologi matematika. Bagaimana kita bisa mengetahui matematika dan menguji kebenaran pengetahuan matematika. Plato menyarankan agar umat manusia memurnikan pengetahuan agar mampu mengetahui ide-ide matematika. Sementara, Aristoteles menyarankan, justru, kita perlu menyelidiki fenomena alam semesta untuk mengembangkan pengetahuan matematika. Aljabar menyarankan untuk mengembangkan matematika dengan menerapkan dan menguji dalam kehidupan manusia. Dan, di jaman sekarang, kita bisa mengetahui matematika melalui komputer.

  1. Aksiologi Matematika
    A. Mengapa Matematika
    B. Etika Matematika
    C. Ekonomi Matematika
    D. Politik Matematika
    E. Pendidikan Matematika
  2. Ontologi Matematika
    A. Realisme: Plato, Aristoteles, Aljabar, Russell, Godel
    B. Anti-realisme: psikologi, formalisme, fiksionalisme
    C. Super-realisme: mathematical-universe
    D. Dari Ontic ke Ontologi
    E. Metafisika Different
    F. Dinamika Virtual Aktual
  3. Epistemologi
    A. Plato: Merenungi Matematika Ideal
    B. Aristoteles: Meneliti Matematika di Bumi
    C. Aljabar: Menguji Matematika Langit dan Bumi
    D. George Boole: Menguji Matematika Digital
    E. Alan Turing: Matematika Komputer
    F. Google: Matematika oleh Semesta
    G. Gojek: Rakyat Jelata Bermatematika
  4. Lebih dalam Aksiologi
    A. Demokrasi Matematika: Persamaan Pertidaksamaan
    B. Pertumbuhan Ekonomi Manusia
    C. Krisis Iklim Bumi
    D. Inovasi Perkembangan Matematika
    E. Bitpower dalam Universe Matematika

1) Aksiologi Matematika

1.1 Mengapa Matematika

Seperti kita baca di atas, alasan mengapa belajar matematika begitu banyak. Yang paling jelas, mengapa kita perlu belajar matematika, adalah agar kita lulus sekolah. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian, mendapat pekerjaan yang keren dan hidup bahagia selamanya.

Di Indonesia, misalnya, berkarir sebagai PNS adalah idaman banyak orang. Mereka yang belajar dan menguasai matematika maka akan lulus tes CPNS dan kemudian karirnya cemerlang.

Pertanyaan masih bisa berlanjut: tetapi, ketika sudah kerja, matematika tidak ada gunanya kan?

Pertanyaan, sekali lagi, bisa kita balik: pekerjaan apa yang tidak membutuhkan matematika? Semua pekerjaan membutuhkan matematika untuk sukses, berguna, dan berkembang.

PNS jelas membutuhkan matematika. PNS perlu menghitung berapa gaji mereka. Berapa kebutuhan kehidupan tiap bulan. Lalu, mempertimbangkan bonus pendapatan yang diharapkan. Serta memikirkan jenjang kenaikan karir lengkap dengan kerangka perhitungan waktunya. Jika ada PNS tanpa matematika maka mereka termasuk PNS paling merugi.

Pengusaha, lebih-lebih, membutuhkan matematika dengan porsi yang lebih besar lagi. Sejak awal akan usaha, pengusaha menghitung berapa modal yang dibutuhkan. Berapa ukurang ruang usaha, jumlah karyawan, dan kapan mulai balik modal. Pengusaha tanpa matematika adalah pengusaha paling rugi di muka bumi.

Zukerberg tidak menyelesaikan sekolahnya – tidak mau belajar matematika. Nyatanya, Zukerberg sukses luar biasa dengan facebook-nya. Steve Jobs juga tidak mau melanjutkan sekolah – tidak mau belajar matematika. Lagi-lagi, Jobs sukses luar biasa dengan apple-nya.

Nah, kita, kali ini, punya alasan untuk tidak belajar matematika. Mengapa kita tidak perlu belajar matematika? Kita tidak perlu belajar matematika bila pasti bisa mendirikan perusahaan sekelas facebook dan apple, sebagai mana Zukerberg dan Jobs. Jika ada orang tidak mau belajar matematika dan tidak mampu sukses seperti facebook maka dia orang yang merugi.

Tunggu dulu! Jobs memang tidak melanjutkan belajar matematika di universitas. Jobs mendirikan Apple. Saat mengembangkan Apple, Jobs justru mengembangkan matematika bisnis tingkat tinggi. Jobs menghitung kemampuan produksi Apple, ukuran market Apple, dan tentu profit Apple. Jobs bisa menghindar dari matematika universitas hanya untuk, pada gilirannya, menghadapi matematika di dunia bisnis.

Manusia bisa menghindari matematika untuk kemudian dia menyadari tetap menghadapi matematika dalam satu dan lain bentuk.

1.2 Etika Matematika

Satu dan menyatu antara etika dan matematika. Etika adalah ukuran yang tepat, matematika yang tepat, dari perilaku manusia. Etika adalah matematika yang tepat untuk menentukan volume eksplorasi bumi. Etika adalah matematika yang tepat menentukan konsumsi minyak bumi. Etika adalah matematika yang tepat menentukan porsi makanan yang kita konsumsi. Singkatnya, etika adalah matematika.

Terlalu banyak makan maka tidak etis. Terlalu banyak eksplorasi bumi maka merusak lingkungan, tidak etis. Terlalu sedikit beramal maka pelit, tidak etis. Tanpa ukuran yang tepat, tanpa matematika maka menjadi kehilangan etika.

Dengan matematika kita bisa menghitung. Kita bisa mengukur. Kita bisa mengatur. Agar semua berjalan sebagai yang terbaik untuk semua. Itulah etika. Itulah matematika.

1.3 Ekonomi Matematika

Tampak jelas, matematika sangat berguna untuk ekonomi. Baik ekonomi sebagai pribadi mau pun ekonomi secara sosial. Semua perlu matematika.

Sebagai individu, sebagai kepala keluarga, kita berpikir berapa besar kebutuhan ekonomi kita. Lalu kita menghitung berapa besar nilai ekonomi dari berbagai sumber. Baik nilai ekonomi yang bersumber dari dari pekerjaan, dari suatu usaha, atau dari investasi. Kadang-kadang, kita juga mendapat keuntungan ekonomi dari faktor keberuntungan atau dari hal-hal yang terduga. Semua perlu kita hitung, kita olah, kita salurkan untuk kepentingan ekonomi keluarga.

Secara sosial, kita juga perlu menghitung kebutuhan ekonomi masyarakat luas. Mendata apa saja sumber ekonomi yang tersedia. Merancang sistem ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dalam jumlah memadai. Menghitung pengangguran serta membuat program untuk menanganinya. Termasuk menjaga fluktuasi nilai tukar mata uang. Bisakah itu semua tanpa matematika? Semua adalah matematika.

1.4 Politik Matematika

Politik, jelas-jelas, adalah matematika. Satu suara, bisa saja, memenangkan calon terpilih jadi presiden. Capres wajib berhitung jumlah suara agar dia terpilih jadi presiden. Jumlah suara adalah matematika politik.

Untuk mendapat jumlah suara yang banyak, para kontestan perlu mencermati jumlah pendukung tiap hari. Memperhatikan pengaruh suatu kampanye terhadap kenaikan suara pendukung. Bahkan, politik uang pun perlu mempertimbangkan matematika. Berapa besar biaya untuk membeli suatu suara?

Setelah terpilih jadi presiden – atau gubernur atau pejabat – maka peran matematika makin besar. Berapa besar sumber daya yang tersedia dan berapa besar tanggung jawab yang dipegang sebagai presiden terpilih. Kewajiban presiden, di antaranya, mengentaskan kemiskinan yang lebih dari 50 juta orang, meningkatkan pendidikan bagi lebih dari 50 juta orang, menciptakan lapangan kerja untuk puluhan juta pengangguran, dan lain-lain. Semua tanggung jawab presiden melibatkan matematika. Jika ada presiden yang tidak mempelajari matematika maka di adalah presiden yang merugi.

1.5 Pendidikan Matematika

Pendidikan, lagi-lagi, bersatu padu dengan matematika. Jumlah siswa, jumlah guru, jumlah sekolah, semuanya adalah matematika.

Di dalam pendidikan sendiri, dipenuhi dengan matematika. Berapa persen kurikulum yang sudah berjalan dengan baik. Berapa siswa yang berhasil meningkatkan kualitas literasi. Berapa guru yang berperan aktif dalam pengajaran digital. Dan, semua ukuran pendidikan berkenaan dengan matematika.

Lebih dalam lagi, pendidikan perlu mengajarkan matematika. Pendidikan perlu menyusun kurikulum matematika yang paling tepat untuk seluruh peserta didik. Matematika yang terlalu rendah adalah ketinggalan jaman. Sedangkan matematika yang terlalu tinggi maka tidak akan bisa diserap siapa pun, sia-sia belaka. Kita perlu berkreasi menciptakan matematika yang tepat guna.

2) Ontologi Matematika

Membahas ontologi matematika, barangkali, adalah tema paling penting dalam tulisan ini. Kita akan menjawab pertanyaan paling mendasar: apa sejatinya matematika itu? Pertanyaan semacam ini mudah terlewatkan lantaran ada peran matematika yang begitu besar dalam kehidupan. Karena matematika begitu penting dalam segala hal maka kita tidak perlu menanyakan apa hakikat dari matematika. Di sini, kita akan membangkitkan lagi tema ontologi matematika.

Kita akan membahas ontologi dengan mengikuti tiga garis besar ontologi matematika. Pertama, adalah realisme matematika yang menyatakan bahwa matematika benar-benar ada dalam realitas. Bahkan status realitas matematika bisa lebih kuat dari realitas benda-benda fisik. Kita mengenal banyak tokoh besar mendukung realisme matematika di antaranya: Plato, Pythagoras, Aristoteles, Aljabar, Russell, dan Godel.

Kedua, anti-realisme matematika yang menyatakan bahwa matematika tidak memiliki realitas secara mandiri. Realitas matematika tergantung kepada realitas yang lain. Misalnya, matematika hanya sebentuk pikiran manusia. Matematika adalah sekedar realitas psikologis, logika, dan formalisme dari manusia. Matematika juga bisa dipandang sebagai abstraksi dari benda-benda di alam raya – nominalisme.

Ketiga, super-realisme matematika yang menyatakan bahwa realitas segala sesuatu, pada hakikatnya, adalah matematika. Semua benda-benda di dunia, dari partikel atom sampai planet-planet adalah perwujudan dari realitas matematika. Atom adalah formula matematika yang menampakkan diri dalam wujud atom. Planet-planet adalah wujud dari formula matematika. Demikian juga, manusia adalah wujud dari formula matematika. Ketika kita meneliti segala sesuatu, lalu kita menemukan formula matematika pada fenomena tersebut, maka hal itu dikarenakan, segala fenomena adalah sejatinya matematika itu sendiri.

Asumsikan kita berhasil merumuskan realitas entitas abstrak di dunia idea Platonis, atau anti-realisme atau fictionalisme, hal semacam itu, belum menyentuh realitas ontologi matematika. Menurut Heidegger, realitas idea Platonis itu baru sekedar realitas ontic. Sementara realitas ontologis belum kita temukan. Agar berhasil mendekati realitas ontologi kita perlu menjawab mengapa ada realitas matematika? Bagaimana bisa ada realitas matematika? Untuk apa ada realitas matematika? Dan, bisakah kita menjawabnya dengan formula matematika? Atau kita perlu formula lain, semisal bahasa?

Sementara, jawaban terhadap pertanyaan apa sejatinya realitas matematika, hanya mengantar kita kepada realitas ontic. Bagaimana pun, selalu ada perbedaan ontologis – dengan realitas ontic.

Barangkali, untuk membahas realitas ontologis matematika, kita bisa mempertimbangkan metafisika different dari Deleuze. Apakah kita bisa membuat formula matematika untuk konsep different dari Deleuze? Sementara, kita tahu Deleuze sendiri mendapat inspirasi dari matematika kalkulus.

Hubungan dinamis dunia virtual dan aktual, tampaknya, perlu kita perhatikan secara khusus. Deleuze menyatakan bahwa singularitas yang memiliki intensitas tinggi, di dunia virtual, akan muncul “teraktualisasi” di dunia aktual. Baik dunia virtual mau pun aktual, keduanya, sama-sama real atau nyata. Mereka hanya berbeda dalam intensitas saja. Kita akan menyelidiki apa yang terjadi bila intensitas di dunia aktual sudah terlalu tinggi, terlalu kuat?

2.1 Realisme: Plato, Aristoteles, Aljabar, Russell, Godel

Plato adalah tokoh besar pertama yang merumuskan matematika sebagai realitas murni di dunia idea atau dunia universal. Meskipun Pythagoras, beberapa tahun sebelum Plato, juga sudah menempatkan matematika sebagai suatu realitas yang sangat mulia.

Ontologi Matematika
A. Realisme: Plato, Aristoteles, Aljabar, Russell, Godel
B. Anti-realisme: psikologi, formalisme, fiksionalisme
C. Super-realisme: mathematical-universe

Epistemologi
A. Plato: Merenungi Matematika Ideal
B. Aristoteles: Meneliti Matematika di Bumi
C. Aljabar: Menguji Matematika Langit dan Bumi
D. George Boole: Menguji Matematika Digital
E. Alan Turing: Matematika Komputer
F. Google: Matematika oleh Semesta
G. Gojek: Rakyat Jelata Bermatematika

Quantum Quotient: IQ, EQ, dan SQ Harmonis

Begitu cepat waktu berlalu. Sudah 20 tahun yang lalu, saya menulis buku Quantum Quotient. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang menyambut hangat buku Quantum Quotient saya itu.

Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum) - Agus Nggermanto | Shopee Indonesia

Sebagian besar tulisan buku Quantum Quotient, saya tulis di tahun 2000 dan 2001. Buku tersebut terbit pada tahun 2001. Menjadi best seller di berbagai toko buku, menjadi koleksi di berbagai perpustakaan, dan menjadi pegangan beragam lembaga pendidikan. Sampai saat ini, tahun 2021, Quantum Quotient cetak ulang beberapa kali dengan modifikasi desain sampul buku.

Saya bermaksud menulis ulang buku Quantum Quotient dengan pengayaan beragam sudut pandang yang baru. Pertama, saya akan meringkas dan menegaskan kembali konsep dasar Quantum Quotient. Dan kedua, saya akan mempedalam kajian filosofis buku Quantum Quotient. Bagaimana pun, saya akan mempertahankan karakter praktis Quantum Quotient agar lebih mudah menjangkau beragam pembaca. Ketiga, saya akan memperluas penerapan Quantum Quotient. Bila edisi pertama Quantum Quotient fokus kepada pengembangan “IQ, EQ, dan SQ yang Harmonis” secara personal maka edisi 2021 akan meluas ke bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan sebagainya.

Yang unik dari tahun 2021 adalah dunia digital dan pandemi covid. Maka kita akan membahas Quantum Quotient dengan mempertimbangkan kekuatan digital yang sudah menyusup ke dalam jiwa umat manusia. Di saat yang sama, kita mengalami pandemi covid yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Nyaris seluruh dunia, kocar-kacir berhadapan dengan covid. Quantum Quotient akan memberikan beragam saran dialogis umat manusia menghadapi covid.

Prolog: Siapa Manusia Sejati?

Bagian 1: Quantum Quotient Asli

Konsep dasar Quantum Quotient yang asli, yang saya tuliskan di tahun 2000, adalah cara praktis melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang harmonis. IQ, atau intelligence quotient, sudah banyak dikenal orang sebagai ukuran kecerdasan. Sedang EQ, atau awalnya emotional intelligence, merupakan konsep kecerdasan emosi yang baru muncul pada akhir abad 20. Sedangkan SQ, atau awalnya intelligence spiritual, merupakan kecerdasan spiritual yang makin kuat pada abad 21.

11. Kecerdasan Manusia: IQ Tanpa Batas
12. Dinamika Manusia: Hidup untuk Belajar
13. Cinta Lebih Cerdas dari IQ: Hadirnya EQ
14. Batas-Batas Quantum Tanpa Batas: Menyentuh SQ
15. Quantum Quotient Digital

Bagian 2: Quantum Quotient Lebih Dalam

Berawal dari sudut pandang praktis, kemudian, kita akan melanjutkan kajian yang lebih dalam, dengan pendekatan filosofis.

21. Quantum dalam Fisika Modern
22. Interpretasi Quantum
23. Teori Kecerdasan dan Multi Cerdas
24. Manusia Digital: Cerdas Tanpa Batas
25. Dialog Sains dan Filsafat
26. Enigma Quantum
27. Differential Ontologis
28. Karakter Manuisa: Plasticity Cinta

Bagian 3: Quantum Quotient Lebih Luas

Sejatinya, kita, umat manusia senantiasa hidup bersama orang lain, bersama benda-benda, bersama cerita-cerita, dan bersama seluruh semesta. Selanjutnya, kita akan membahas Quantum Quotient meluas ke seluruh semesta.

31. Quantum Sosial
32. Quantum Universal
33. Quantum Business
34. Quantum Instruktur
35. Dominasi Ekonomi
36. Kekuatan Politik
37. Pasca Nihilisme
38. Dialog Semesta: Pandemi Digital
39. Quantum Dinamis

Epilog: Awal Manusia Sejati

Lebih Kejam dari Politik: Bitpower

Barangkali kita sudah akrab dengan ungkapan politik itu kejam. Bitpower lebih kejam dari politik. Apa itu bitpower?

Bitpower adalah kekuatan yang luar biasa dahsyat. Kita akan membandingkan dengan istilah bigpower dan biopower agar lebih jelas makna bitpower. Tentu saja bitpower punya dua sisi. Positif dan negatif.

Biopower will continue to thrive in France, says GlobalData

Sisi negatif bitpower lebih kejam dari politik itu sendiri. Sedangkan sisi positif bitpower lebih indah dari imajinasi terindah. Maka wajar bagi kita untuk memperjuangkan bitpower. Kita juga bisa membayangkan bahwa salah satu bentuk bitpower adalah bitcoin – cryptocurrency yang menerapkan teknologi blockchain.

Bigpower: Kekuatan Besar

Bigpower adalah kekuatan besar yang selama ini mudah kita kenali. Kekuatan tentara menyerbu musuh adalah contoh bigpower. Jaman kuno, bigpower adalah kekuatan yang paling besar. Penjajah menguasai wilayah jajahan dengan menggunakan senjata bigpower.

Penduduk asli yang melawan penjajah diancam dengan senjata api. Penduduk asli terpaksa menuruti kemauan penjajah itu.

Dalam kehidupan sehari-hari bigpower masih sering dipakai. Pejabat mengendalikan bawahan dengan bigpower. Bawahan yang tidak menuruti kemauan bos, bisa dipecat. Bawahan, terpaksa, menuruti kehendak bos.

Dunia pendidikan, sering menerapkan bigpower. Guru atau dosen bisa mengancam siswanya. Siswa yang tidak mengerjakan tugas dari guru, diancam dengan nilai buruk. Bahkan, guru bisa mengancam siswanya tidak lulus. Siswa terpaksa mengikuti perintah gurunya.

Suami bisa saja menggunakan bigpower ke istrinya. Seorang istri yang tidak menurut kemauan suami diancam siksa neraka. Di dunia, istri bisa diancam dengan kekerasan fisik pula.

Ancaman politik, ancaman hukum, ancaman kerugian ekonomi, dan berbagai ancaman lainnya juga merupakan bentuk bigpower.

Tentu saja, bigpower bisa bersifat positif. Bonus, gaji besar, kursi jabatan, kemewahan, dan lain-lain juga merupakan bigpower – dalam sifat positif.

Meski bigpower memiliki kekuatan besar, tetapi di jaman modern, mulai dikalahkan oleh biopower. Yang pada gilirannya, bitpower adalah yang paling dahsyat.

Biopower: Kekuatan Diri

Biopower lebih kuat dari bigpower. Jika big-power mengendalikan manusia dari luar, berbeda halnya, bio-power mengendalikan manusia dari dalam dirinya sendiri. Pada gilirannya, biopower ini yang akan mengendalikan bigpower itu.

Nihilisme: Antara Aku, Kau, dan Dia

Nihilisme mewabah dunia. Nietzsche memprediksi bahwa abad 20 dan abad 21 akan penuh nihilisme. Sedangkan Heidegger menilai nihilisme sebagai puncak pemahaman kemanusiaan. Lyotard menolak total meta-narasi. Lyotard dianggap, oleh banyak orang, sebagai pelopor nihilisme era postmodern.

Fana': Sufism's Notion of Self-Annihilation, or How Rumi Can Explain Why  Nirvana is Samsara in Mahayana Buddhism | Networkologies

Nihilisme sendiri beragam, tidak tunggal. Ada nihilisme pesimis ekstrim yang menyatakan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada makna. Bahkan, sebenarnya, justru hanya ada kehampaan. Sementara, di sisi lain, ada ninilisme optimis yang menyatakan bahwa hampanya alam semesta memberi kebebasan penuh kepada manusia. Manusia bebas menentukan aturan sendiri. Manusia bebas menetapkan standar moral sendiri. Manusia bebas menentukan sistem politik sendiri. Manusia adalah kebebasan itu sendiri, kata Sartre.

Pengaruh nihilisme merambah ke berbagai bidang. Nihilisme moral mengatakan bahwa tidak adanya nilai moral. Nihilisme eksistensial mengatakan hampanya eksistensi – tidak adanya realitas. Nihilisme politik menyatakan tidak adanya politik – hanya anarkis. Nihilisme postmodern menyatakan penolakan total terhadap meta-narasi, hanya ada mikrologi.

Kita bisa memandang nihilisme sebagai proses penyempurnaan kemanusiaan. Catatan sejarah mengajarkan kita bahwa ketika manusia berproses menuju kesempurnaan maka, suatu saat, manusia akan berada dalam kondisi fana – kondisi hilang – kondisi hampa – kondisi nihil. Kondisi fana ini, atau nihil, bukanlah akhir perjalanan. Masih terbentang luas perjalanan manusia ke depan, ke atas, ke kiri, ke kanan, ke segala arah. Maka pembahasan nihilisme, seharusnya, tidak berhenti di nihilisme. Kita perlu pembahasan postnihilisme. Ada apa setelah nihilisme?

Ada kehampaan? Ada pencerahan? Ada spiritualitas?

Berikut beberapa tulisan saya tentang nihilisme dan postnihilisme. Kata ganti diri Aku, Kau, dan Dia, menjadi penting dalam postnihilisme.

  1. Weak Thought vs Strong Value
  2. Ada Bersama Siapa: Aku, Kau, dan Dia
  3. Pancajati: Berani Perang Suci
  4. Kebenaran Sejati Ada di Sini
  5. Filsafat Islam: Tikungan Inovasi Quantum

Weak Thought Vs Strong Value

Apa saja yang kita pikirkan bisa saja salah. Karena pikiran memang lemah. Tetapi, apa saja yang kita pikirkan pasti bernilai. Karena nilai memang kuat, bahkan sangat kuat.

Pikiran kita tentang baju adat Badui, presiden Jokowi, perang Afganistan, Taliban, US, dan lain-lain bisa saja salah. Meski salah, tetap saja itu bernilai. Apalagi, jika pikiran itu benar, maka benar-benar bernilai tinggi.

Cara 2 Rekayasa Ulang Proses Bisnis : Value Added Assessment

Kali ini, kita akan membahas dua topik utama: weak-thought dan strong-value. Weak-thought adalah konsep yang menyatakan bahwa pikiran kita bersifat lemah. Dalam arti, pikiran kita bisa benar, dan kadang salah. Sedangkan pikiran orang lain, mungkin saja benar, dan bisa juga salah. Dengan demikian, sikap respek antar sesama perlu terus kita kembangkan.

Konsep strong-value menyatakan bahwa segala sesuatu punya nilai. Di mana, nilai segala sesuatu, sejatinya, sangat besar. Hanya saja kemampuan manusia, kemampuan kita, untuk memahami nilai bisa saja terbatas. Bagi orang yang tidak paham, bisa saja, menganggap suatu kejadian sebagai tidak bernilai. Padahal, bagi orang yang paham, kejadian tersebut sangat kuat bernilai tinggi.

Weak Thought Vattimo

Pemikir Itali Vattimo, usia 86 tahun, barangkali adalah orang pertama yang mengenalkan konsep weak-thought pada akhir abad 20. Weak-thought mempertimbangkan realitas pikiran manusia yang terus berkembang, berubah, sepanjang waktu. Dan, mencermati perbedaan antara banyak orang di banyak tempat berbeda. Ditambah lagi, kekuatan media digital yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, maka masing-masing orang bisa membingkai pikiran sendiri – yang berbeda dan berubah-ubah.

Dengan situasi seperti itu, dinamis dan beragam, maka wajar bila kita menganggap pikiran kita bersifat lemah – bisa benar atau salah.

Lalu, bagaimana kita bisa menentukan suatu kebenaran?

Saya merumuskan pancajati untuk menentukan suatu kebenaran. Sesuai namanya, ada lima karakter dari kebenaran.

Pertama adalah karakter dinamis. Kebenaran bersifat dinamis. Bisa benar di suatu waktu tetapi bisa berbeda di waktu lain. Begitu juga, bisa benar di suatu tempat tetapi berbeda di tempat lain. Maka kita perlu mempertimbangkan syarat dan ketentuan berlaku.

Kedua dan ketiga, karakter kebenaran, adalah tergantung hasil verifikasi dan cakrawala. Kebenaran tidak berdiri secara mandiri. Kebenaran itu tergantung hasil verifikasi. Jika hasil verifikasi positif maka kebenaran bisa diterima. Bila negatif maka kebenaran tersebut bisa ditolak. Dan sistem verifikasi bergantung kepada cakrawala. Cakrawala sains, tentu, berbeda dengan cakrawala bahasa. Cakrawala ekonomi juga berbeda dengan cakrawala ilmu sejarah.

Keempat dan kelima, kebenaran bergantung interpretasi dan pengalaman. Cakrawala kita, misal sains, bergantung kepada pengalaman dan interpretasi. Hasil eksperimen, sebagai pengalaman, akan membentuk cakrawala sains. Kita, secara pribadi, memahami sains juga melibatkan pengalaman kita. Dan, semua eksperimen sains memerlukan interpretasi. Eksperimen menjadi lebih jelas, dan bermakna, dengan interpretasi. Secara pribadi, kita juga selalu melakukan interpretasi terhadap beragam pengalaman pribadi.

Dengan formula pancajati, kita bisa menyikapi kebenaran sebagai dinamis. Karena itu kita perlu terbuka dengan beragam pemikiran, yang mungkin saja, berbeda dengan pikiran kita. Dengan sikap terbuka maka kita bisa saling respek untuk kemudian merumuskan kebenaran yang lebih baik bagi semua.

Misalnya, kita bisa berpikir tentang presiden Jokowi yang mengenakan baju adat Badui sebagai inspirasi bagi banyak orang agar menghadapi pandemi dengan belajar dari pengalaman adat Badui. Di mana, suku Badui adalah yang terbaik dalam hal menghadapi pandemi. Bahkan kasus covid bisa nihil di masyarakat Badui.

Di pihak lain, bisa saja orang berpikir sinis terhadap presiden yang mengenakan baju adat seperti itu. Begitulah realitas pikiran. Beragam, berbeda-beda, dan lemah.

Strong-Value dari Nihilisme

Menjelang abad 20, Nietzsche mewarnai pemikiran dunia dengan konsep nihilisme.

“Nihilism is the belief that all values are baseless and that nothing can be known or communicated. It is often associated with extreme pessimism and a radical skepticism that condemns existence. A true nihilist would believe in nothing, have no loyalties, and no purpose other than, perhaps, an impulse to destroy.” (IEP)

Hampir semua pemikir dunia terpengaruh konsep nihilisme tersebut. Meski ada yang menolak nihilisme, tampaknya, tidak begitu berarti. Kita akan membahas dari beberapa sudut pandang.

Pertama, nihilisme menganggap hampanya value, nilai, dari segala sesuatu. Value hanya sesuatu yang diciptakan oleh manusia, sejatinya hampa. Implikasinya, manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai itu sendiri. Justru, di situlah, menciptakan value, adalah strong-value dari nihilisme. Ketika nihilisme menolak nilai maka nihilisme justru menciptakan value baru, bahkan strong-value.

Kita bisa pertimbangkan ujung akhir filsafat nihilisme dari Nietzsche adalah will-to-power, kehendak-untuk-berkuasa. Karena semua nilai adalah hampa, maka manusia paling hebat adalah dia yang paling kuat dalam will-to-power, yang paling dominan dari semuanya. Jelas di sini, nihilisme mendorong will-to-power, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk terus maju. Jadi, nihilisme punya nilai, strong-value-of-nihilism.

Kedua, nihilisme memandang bahwa nilai hanya hasil rekayasa pikiran manusia saja. Tidak ada nilai obyektif. Di sini, sekali lagi, kemampuan manusia menciptakan nilai adalah strong-value dari manusia. Jika manusia tidak mampu menciptakan nilai, misal seperti batu yang hanya diam, maka value dari manusia tersebut berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai nilai, yang bisa bertambah atau berkurang.

Ketiga, segala sesuatu punya nilai bahkan strong-value. Tampaknya, nihilisme lebih fokus terhadap penciptaan value oleh manusia. Kita bisa mencoba geser fokus ke batu misalnya. Batu bernilai untuk membangun rumah. Batu bernilai untuk mengeraskan jalan. Batu bernilai untuk bahan peralatan dapur. Dan, segala yang ada di alam semesta memiliki nilai instrinsik masing-masing.

Tentu saja, manusia bisa menolak nilai dari batu. Dalam dirinya sendiri, batu tetap punya nilai. Manusia bisa saja menolak nilai dari cahaya matahari. Dalam dirinya sendiri, cahaya matahari tetap punya nilai. Manusia bisa saja menolak nilai dari seluruh eksistensi. Dalam dirinya sendiri, seluruh eksistensi tetap bernilai. Dan, kita bisa menguatkan nilai lebih tinggi dari biasanya. Batu secara material bernilai sebagai bahan bangunan. Batu secara psikologis bernilai estetis ketika menjadi karya seni patung batu misalnya. Batu bernilai secara spiritual ketika ayat-ayat suci dipahatkan padanya.

Tantangan kita, sebagai manusia, adalah menciptakan, atau meresapi, nilai yang semakin kuat, semakin tinggi.

Kombinasi Weak-Thought Strong-Value

Kita memerlukan keduanya: weak-thought dan strong-value. Terhadap pikiran kita, atau terhadap pikiran orang lain, kita perlu bersikap lemah. Dalam arti, kita membuka peluang bahwa setiap pikiran bisa saja benar dan bisa saja salah. Dengan cara ini, pemikiran kita terus bergerak maju dinamis untuk menemukan pemikiran terbaik.

Sedangkan terhadap nilai segala sesuatu, maka kita perlu memperkuatnya, strong-value. Dalam arti, kita menguatkan nilai positif dari segala sesuatu.

Misal, tentang perang Afganistan atau Taliban. Barangkali ada yang salah dengan perang. Tetap saja kita bisa menciptakan nilai positif dari pengalaman perang. Nilai positifnya adalah kita perlu untuk terus mencegah perang, menghindari perang. Jika perang masih terjadi maka perlu berbagai upaya untuk mengakhiri.

Kepedihan, sakit hati, dan pandemi – bahkan tragedi – sama-sama mempunyai nilai positif bagi manusia dan semesta. Tugas kita untuk menemukannya.

Bagaimana menurut Anda?