Andalan

Media Berbagi

Klik gambar untuk lebih detil

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Pengetahuan Prinsip Umum

Rara cantik. Rara memang cantik. Karena cantik maka Rara pasti tidak jelek. Karena kita tahu bahwa Rara tidak jelek maka Rara pasti cantik. Mengapa kata-kata sejelas itu harus diulang berkali-kali?

Cantik itu tidak jelek. Jelas itu. Itulah pengetahuan prinsip umum yang sudah jelas. Tetapi karena jelasnya kita bisa saja melupakannya. Seharusnya kita bisa membahasnya, pengetahuan prinsip umum, dengan mudah saja.

Prinsip umum sudah dirumuskan dengan baik oleh Aristoteles sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Russell menegaskan kembali prinsip umum ini pada abad ke 20 sampai menjelang abad 21 ini. Tetapi para filsuf posmodernis, dianggap, sering melanggar prinsip umum pikiran ini. Maka kita menjadi sulit sekali memahami teori posmodern, menurut saya salah satunya, karena melanggar prinsip umum di beberapa bagiannya.

Bagaimana mungkin tokoh posmo yang menguasai filsafat kuno sampai filsafat modern bisa melanggar prinsip umum? Saya kira sulit menjelaskan ini. Karena teori posmodern sendiri tidak satu suara. Mereka berbeda-beda. Saya sendiri ragu-ragu bila filsuf posmo benar-benar melanggar prinsip umum pikiran. Karena sejatinya prinsip umum pikiran tidak bisa dilanggar.

Tiga Prinsip Umum

Menurut Russell, mengacu kepada Aristoteles, hanya ada tiga prinsip umum. Pertama, hukum identitas. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu benar. Wah, apa maksudnya? Bukankah itu jelas sekali?

Kedua, hukum non-kontradiksi. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu tidak salah. Atau, jika sesuatu itu salah maka sesuatu itu tidak benar. Atau, tidak mungkin sesuatu itu benar dan salah, bersamaan. Itu kontradiksi. Tidak mungkin terjadi kontradiksi.

Ketiga, hukum antara. Sesuatu pasti salah satu antara benar atau salah. Tidak bisa tidak kedua-duanya. Tidak bisa juga jika tidak kedua-duanya. Tidak ada pilihan lain selain dua itu: benar atau salah saja.

Ketiga prinsip umum di atas benar, jelas dengan sendirinya. Tidak perlu pembuktian untuk prinsip umum. Justru segala bukti perlu memenuhi ketiga prinsip umum di atas. Prinsip umum ini, menurut Russell, sejatinya bukan hukum pikiran. Tetapi hukum realitas. Artinya, seluruh realitas memenuhi prinsip umum itu. Jika kita berpikir sesuai prinsip umum ini maka kita berpikir benar sesuai realitas.

Hukum Identitas

Jika Rara cantik maka kesimpulannya Rara memang cantik. Hukum identitas yang jelas. Dalam rumus matematika lebih jelas.

A = A
B = B
5 = 5

Meski ini prinsip umum yang jelas dengan sendirinya, tampaknya, untuk bisa memahaminya perlu proses pengamatan, perlu pengalaman. Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat sebuah mobil maka kita tahu itu adalah mobil. Ketika kita melihat meja maka itu adalah meja. Dari pengalaman ini kita menyadari prinsip identitas.

Kita bisa mengantisipasi jauh ke depan. Jika 10 tahun ke depan ada batu di Bandung maka itu pasti batu di Bandung. Jika ada makhluk hidup di Mars maka itu adalah makhluk hidup di Mars. Kita yakin itu semua benar. Berlaku umum. Tanpa kita harus mengalaminya secara langsung.

Namun demikian, kita tidak bisa yakin bahwa bayi yang baru lahir memahami prinsip umum ini. Bayi akan mengamati alam sekitarnya untuk kemudian memahami prinsip umum ini – meski tidak harus diformulasikan dalam bentuk bahasa. Ketika bayi melihat ibunya maka itu adalah ibunya. Ketika bayi melihat susu itu adalah susu.

Meski prinsip umum ini selalu benar tetapi penerapan pada kasus yang kompleks bisa lebih menantang. Rara cantik maka tidak jelek. Dari sudut pandang lain, cantik adalah jelek.

Misal hanya ada dua jenis penilaian: cantik atau jelek. Atau S = {cantik, jelek}.

Jika Rara cantik maka Rara memang cantik, dan pasti Rara tidak jelek. Jelas dan pasti itu. Tetapi orang dapat mengatakan bahwa Rara cantik dilihat dari wajahnya. Tapi Rara jelek dilihat dari warna bajunya. Maka cantik = jelek. Tentu saja kita mudah melihat kesalahan berpikir dengan cara ini.

Induksi: Cantik Keturunan

Rara memang cantik. Ibunya Rara juga cantik. Bahkan neneknya pun cantik. Maka bila Rara nanti punya anak perempuan maka pasti cantik juga. Dilanjutkan lagi, bila punya cucu perempuan pasti juga cantik. Apakah bisa kita berpikir seperti itu?

Tentu saja bisa. Cara berpikir yang lebih luas seperti di atas dikenal sebagai metode berpikir induktif yang mendorong pengetahuan berkembang maju pesat. Kita akan membahas lebih detil berpikir induktif pada bagian ini.

Kita mudah menduga bahwa berpikir induktif bisa benar, bisa juga salah. Tepat sekali. Dengan metode yang hati-hati, kita bisa menjamin bahwa berpikir induksi mendekati kebenaran 100%. Russell menunjukkan caranya, dengan mengungkap suatu hubungan sebab-akibat yang mendukung berpikir induksi tersebut. Misal, asumsikan, bahwa penyebab cantik adalah sutau “gen c” yang selalu diturunkan dari ibu ke anak perempuannya. Dan kita menemukan terdapat gen c pada Rara maka kita sah menyimpulkan bahwa anak perempuan Rara pasti cantik juga.

Sementara, Karl Popper mengingatkan bahwa, kebenaran berpikir induksi ini, perlu difalsifikasi. Sehingga kita menemukan letak kesalahan yang mungkin dan mengembangkan pengetahuan yang lebih kokoh.

Terbit Matahari

Apakah besok matahari akan bersinar? Apakah besok matahari akan terbit lagi? Apakah besok masih ada air di bumi?

Jawabannya positif. Ya, benar semua!

Kita tahu bahwa besok matahari akan bersinar. Tetapi tidak ada jaminan itu benar. Bisa saja nanti malam berpendar. Dan besok tidak lagi matahari bersinar.

Berpikir induksi akan menjawab ini semua dengan jelas.

Pertama, kemarin matahari bersinar. Kemarin lusa matahari bersinar. Pekan lalu matahari bersinar. Bulan lalu matahari bersinar. Dan sepanjang sejarah manusia, matahari tetap bersinar. Maka kita menyimpulkan bahwa besok matahari bersinar.

Meski kesimpulan di atas benar tetapi tidak meyakinkan.

Kedua, kita bisa menyelidiki mengapa matahari bersinar. Di matahari terjadi reaksi nuklir yang menghasil energi, salah satunya, berupa cahaya matahari. Sinar matahari, sebagai gelombang elektromagnetik, merambat sampai ke bumi, yang kita amati. Dari penelitian, diperkirakan umur matahari, masih sampai lebih dari 5 milyard tahun ke depan. Masih ada reaksi nuklir terus-menerus sepanjang milyardan tahun di matahari. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda istimewa akan terjadi perubahan mendadak reaksi nuklir matahari di atas. Maka kita menyimpulkan matahari akan bersinar esok hari.

Dengan cara analisis yang kedua maka kita makin yakin validitas berpikir induktif. Kita tidak hanya mengamati kasus permukaan bahwa matahari bersinar atau tidak. Tetapi kita melangkah lebih jauh dengan mencermati hukum sebab akibat yang terkait pada proses sinar matahari.

Bandingkan dengan berpikir induksi pada kasus yang berbeda. Di pagi hari Senin, Rara membuka pintu rumahnya. Pagi hari Selasa, Rara juga membuka pintu rumahnya. Begitu seterusnya kejadian sampai 99 kali. Pertanyaannya: apakah besok pagi Rara akan membuka pintu rumahnya? Sehingga lengkap sampai 100 kali?

Analisis sederhana menunjukkan bahwa penyebab Rara membuka pintu adalah keputusan Rara itu sendiri. Jika Rara mengambil keputusan untuk membuka pintu maka besok pagi ia akan membuka pintu. Jika Rara memutuskan sebaliknya maka yang terjadi bisa sebaliknya. Berpikir induksi dalam kasus Rara membuka pintu hanya berupa dugaan semata. Meski sudah pernah terjadi peristiwa membuka pintu 99 kali atau seribu kali, atau bahkan sejuta kali maka tetap tidak ada jaminan besok akan terjadi lagi.

Ketiga, dalam kasus apakah matahari besok bersinar, kita dapat meneliti gerak-gerak benda di langit. Termasuk gerak matahari, planet-planet, dan bintang-bintang lain. Gerak jagad raya dapat dihitung dengan hukum gravitasi dan mekanika Newton. Dari perhitungan itu kita peroleh bahwa bumi akan tetap berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari. Dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hukum gravitasi akan berhenti bekerja. Sehingga kita, sah, menyimpulkan bahwa besok matahari akan bersinar.

Memang bisa saja, misalnya, nanti malam bumi bertabrakan dengan planet Mars. Di saat yang sama, malam nanti, matahari bertabrakan dengan bintang yang lebih besar sampai hancur lebur. Atau orang menyebut sebagai terjadi kehancuran alam semesta. Maka besok matahari TIDAK bersinar. Meski hal ini bisa terjadi tetapi kita tidak melihat ada tanda-tanda yang menunjukkan hal itu bisa terjadi.

Perkembangan Pengetahuan

Induksi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan konsep generalisasi, yang dipakai dalam berpikir induksi, dari pengetahuan yang sedikit kita bisa menyimpulkan yang lebih luas. Dilengkapi dengan metode ilmiah maka kita bisa melakukan banyak eksperimen, hanya di laboratorium, tetapi hasil kesimpulan berlaku luas ke seluruh alam semesta.

Di laboratorium, penelitian menemukan bahwa arus listrik (I) yang mengalir berbanding terbalik dengan nilai hambatan (R). Meski hanya ditemukan di laboratorium tetapi para insinyur yakin bahwa perilaku arus listrik seperti di atas berlaku umum. Maka insinyur dapat mendesain teknologi berdasar perilaku arus listrik di atas (dan aturan-aturan lain yang ditemukan di lab). Dan hasil desain teknologi itu berupa smartphone yang kita pakai, layar monitor yang kita lihat, dan komputer yang memudahkan kerja manusia.

Tentu saja, para peneliti tidak perlu tahu bahwa smartphone akan bisa beroperasi di rumah masing-masing pengguna. Peneliti hanya perlu sudah menguji di lab. Lalu berpikir induksi. Dan benar saja smartphone bisa kita pakai di mana saja. Kadang-kadang kita menemukan cacat pada produk baru smartphone, misal layar yang pecah. Sehingga smartphone tidak beroperasi. Dengan mudah kita bisa mengatakan bahwa itu hanya kejadian khusus saja. Mungkin karena smartphone jatuh atau lainnya. Yang jelas, secara umum, berpikir induktif adalah valid.

Induksi Paling Kuat

Berpikir induksi yang paling meyakinkan adalah induksi matematika untuk bilangan bulat. Barangkali dengan contoh akan lebih mudah. Perhatikan deret bilangan ganjil positif berikut ini.

1 + 3 + 5 + 7 + … … …

Kita mudah menebak bahwa jumlah dari deret di atas adalah kuadrat atau perkalian banyaknya angka (bilangan).

1 + 3 = 2 x 2 = 4

1 + 3 + 5 = 3 x 3 = 9

Apakah kita bisa berpikir induksi? Apakah bila ada 100 angka maka jumlahnya adalah 100 x 100? Yaitu 10 000. Ternyata benar. (Saya menyebut angka meski yang dimaksud bilangan).

Apakah juga berlaku bila ada 1000 angka maka jumlahnya 1 000 x 1 000 = 1 000 000. Ternyata benar juga.

Matematika punya cara untuk membuktikan validnya berpikir induktif ini dengan keyakinan 100% benar.

Asumsikan bahwa itu berlaku untuk banyak angka n maka jumlah seluruhnya,

S = n x n

Maka kita perlu menunjukkan bila ditambah 1 angka lagi tetap benar. Maksudnya bila 2 angka benar bahwa 2 x 2 = 4 maka harus benar juga,

2 x 2 + (5) = 4 + (5) = 9 = 3 x 3 (Benar)

Bilangan ganjil berikutnya dibentuk dengan rumus (2n + 1).

Maka

n x n + (2n + 1) harus sama dengan (n + 1) x (n + 1)

Dan memang benar,

(n + 1) x (n + 1) = n x n + 2n + 1 (Terbukti).

Kesimpulan bahwa jumlahnya adalah kuadrat selalu benar 100% secara matematika. Tidak ada keraguan dalam induksi matematika ini. Beda dengan induksi alam semesta yang masih menyisakan sedikit banyak keraguan. Dengan falsifikasi Karl Popper kita bisa menyisihkan keraguan, yang tersisa itu, guna membentuk pengetahuan yang lebih kokoh.

Barangkali ada yang penasaran bagaimana induksi matematika di atas terbukti dengan kuat tanpa keraguan?

Pertama, kita menduga bahwa kuadrat itu berlaku untuk n angka. Dan ini bisa kita coba untuk n yang kecil misal n = 2 ternyata benar. Kedua, kita membuktikan bahwa kuadrat itu berlaku untuk (n + 1) maka berlaku semua n berapa pun.

Misal mengapa berlaku untuk n = 100? Karena berlaku untuk 2 angka maka berlaku juga untuk 3 angka. Dan seterusnya maka berlaku untuk 99 angka, sampai berlaku juga untuk 100 angka. Jadi berapa pun nilai n yang kita pilih maka kesimpulan kita akan dijamin benar berdasar induksi matematika.

Mengapa Induksi Pasti Benar

Mengapai induksi matematika pasti benar? Sedangkan mengapa induksi sains alam dan sosial masih ada kemungkinan salah, meski umumnya benar?

Matematika selalu benar karena didasarkan pada pengetahuan a priori. Sedangkan sains ada kemungkinan salah karena mempertimbangkan pengetahuan a posteriori. Lebih lengkap tentang a priori dan a posteriori kita bahas lengkap di bab khusus tulisan ini. Kita akan membahas bagian terpentingnya di saat ini.

Untuk induksi matematika kita punya kemewahan mendefinisikan kasus demi kasus sesuai keingingan kita, a priori. Misal deret bilangan ganjil,

1 + 3 + 5 … … …

Kita bisa memastikan hanya terdiri dari bilangan ganjil yang urut. Bila ada angka 6 akan dimasukkan ke deret maka kita boleh menolaknya. Bahkan bila semua bilangan ganjil tapi susunan acak-acakan maka kita boleh menyusun ulang sesuai aturan yang kita pakai.

Dengan kemewahan ini, kita kemudian berpikir induktif sesuai logika matematika. Maka hasil induksi matematika ini terjamin benar 100%.

Sains bernasib beda. Sains tidak punya kemewahan untuk mendefinisikan fenomena alam. Meski sains sudah berusaha membatasi kajian dengan definisi yang ketat masih ada peluang ada hal-hal yang di luar dugaan.

Lagi pula induksi matematika hanya merupakan satu cara menemukan bukti kebenaran. Ada cara lain, yang lebih pasti, yaitu berpikir deduktif dalam matematika. Tampaknya sains juga tidak memiliki kemewahan menerapkan berpikir deduktif sekuat matematika.

Berpikir Deduktif Lebih Pasti

Berpikir induktif matematika bernilai pasti benar. Berpikir deduktif juga selalu benar. Baik untuk bidang matematika atau bidang lainnya. Tetap selalu benar.

“Setiap presiden Amerika adalah orang pilihan.”
“Biden adalah presiden Amerika.”
Kesimpulan:
“Biden adalah orang pilihan”

Cara berpikir di atas adalah deduktif. Dijamin pasti bernilai benar, kesimpulannya. Dalam matematika kita akan menemukan banyak cara berpikir deduktif ini.

“Setiap segitiga memiliki 3 sudut.”
“ABC adalah segitiga.”
Kesimpulan: “ABC memiliki 3 sudut.”

Yang menarik adalah, induksi matematika seperti contoh kita di atas dapat kita buktikan secara deduksi sehingga bernilai benar 100%. Mari kita perhatikan kembali deret bilangan ganjil positif.

1 + 3 + 5 + … … … + (2n -1)

Jumlah deret aritmetika di atas bisa kita hitung dengan menjumlah suku pertama dengan suku terakhir lalu dikalikan banyaknya pasangan yaitu n/2. Kita peroleh,

S = (1 + (2n – 1)) x (n/2)
= 2n x (n/2)
= n x n

Jadi terbukti, secara deduktif, bahwa jumlahnya adalah n x n. Sama persis dengan pembuktian induksi. Maka dengan cara ini, kita makin yakin, bahwa induksi matematika bernilai benar 100% karena sepadan dengan deduksi.

Untuk sains – eksak dan sosial – tidak seberuntung matematika. Sains hanya bisa deduksi dengan batasan yang lebih ketat. Misalnya kita bisa bertanya, “Apakah matahari bersinar pada tahun 2010?”

“Matahari bersinar dari tahun 2000 sampai 2020”
“Tahun 2010 terletak di antara 2000 dampai 2020”
Kesimpulan: “Matahari bersinar pada tahun 2010.”

Kesimpulan deduksi kita di atas sah dan bernilai benar 100%, meski pun ini sains bukan matematika. Mudah kita lihat bahwa deduksi ini hanya berlaku untuk periode masa lalu, terbatas. Bila kita dihadapkan pada pertanyaan apakah matahari bersinar pada tahun 2050 maka sains akan menggunakan cara induksi lagi.

Sedikit kembali, kepada induksi matematika yang terjamin benar 100% di atas. Sejatinya, ketika kita memisalkan bilangan bulat positif n maka bilangan n ini bersifat universal. Berlaku untuk seluruh bilangan bulat. Tidak sekedar partikular. Maka masuk akal bila kesimpulan induksi matematika juga bersifat universal, selalu benar.

Anomali adalah Pengetahuan

Dalam mengembangkan pengetahuan, anomali bisa menjadi petunjuk arah baru pengetahuan. Anak-anak tidak suka belajar matematika, misalnya. Seharusnya, mendapat ilmu anak pasti suka. Anomali ini menjadi petunjuk bagi saya mengembangkan metode belajar matematika APIQ yang disukai oleh banyak anak-anak.

Einstein berhasil mengembangkan teori fisika modern karena ada anomali dari fisika klasik Newton. Teori mekanika quantum juga berkembang dari anomali mekanika klasik.

Karl Popper menyatakan bahwa teori sains tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Hanya bisa dibuktikan kesalahannya atau falsifikasi. Dengan cara ini kita bisa memilih teori sains yang lebih bagus atau memodifikasi teori sains yang ada menjadi lebih tepat.

Mari kita ambil contoh sains fisika Newton. Misal kita naik kereta api dengan kecepatan tetap 40 km/jam. Lalu di dalam kereta api saya berjalan ke depan dengan kecepatan 1 km/jam. Maka kecepatan total saya,

k = 40 + 1 = 41 km/jam.

Rumusan mekanika klasik ini terbukti benar untuk semua eksperimen yang pernah dikaji. Bila ada anomali bahkan dicari-cari ada salahnya di mana. Lalu dikoreksi. Sehingga mekanika klasik tetap benar.

Einstein melihat suatu anomali. Misal kita naik kereta dengan kecepatan 0,7 c. Lalu di atas kereta saya lari ke depan dengan kecepatan 0,5 c. Maka kecepatan total saya adalah,

k = 0,7 + 0,5 = 1,2 c

Anomali…!!! Tidak mungkin bisa lebih besar dari c, kecepatan cahaya. Dari anomali ini, Einstein berhasil menyusun teori relativitas khusus, yang sangat berguna untuk pengembangan teknologi nuklir.

Cantik Turunan

Nah, kita kembali membahas cantiknya Rara akankah diwariskan kepada anak-anak perempuan Rara? Artinya apakah bisa dipastikan bahwa anak-anak perempuan Rara akan cantik semua?

Pertama, jika kita hanya memperhatikan fenomena cantiknya Rara, ibunya, dan nenek moyangnya maka kita hanya bisa menduga bahwa anak perempuan Rara akan cantik. Dugaan ini tidak bernilai ilmu pengetahuan, hanya sebatas dugaan.

Kedua, jika kita mengkaji lebih dalam hukum sebab-akibat bagaimana seorang ibu menurunkan sifat cantik kepada putrinya maka ini bernilai ilmu pengetahuan. Misalnya benar, setelah kajian mendalam, bahwa cantiknya Rara akan diturunkan kepada putri-putrinya maka tetap ada batasan kebenarannya. Artinya, putri Rara akan cantik selama hukum-hukum sains terpenuhi. Dan dalam banyak kejadian hukum-hukum sains berlaku sehingga putri-putri Rara memang cantik. Namun adakalanya anomali. Tidak masalah dengan anomali karena menunjukkan arah teori baru atau memperbaiki teori yang sudah ada.

Ketiga, kita berharap bisa menemukan pengetahuan yang bernilai mutlak benar. Dalam pembahasan di atas kita sudah menemukan kebenaran mutlak pada pernyataan matematis. Sedangkan pengetahuan yang melibatkan materi di alam semesta ada juga yang mendekati mutlak benar. Misalnya, “Setiap orang mati pada waktunya.” Kita akan menyelidiki pengetahuan yang berlaku mutlak seperti ini pada bab selanjutnya.

Diskusi

Cara berpikir induktif merupakan cara berpikir yang alamiah. Bila kita mengembangkan metode yang tepat maka berpikir induktif ini memudahkan pengembangan ilmu pengetahuan. Eksperimen-eksperimen ilmiah banyak memanfaatkan berpikir induktif. Dengan mengamati fenomena-fenomena terbatas berhasil membuat kesimpulan yang berlaku luas.

Lanjut ke Pengetahuan Prinsip Umum
Kembali ke Philosophy of Love

Megawati Minta Nadiem Luruskan Sejarah

Tugas yang berat. Meluruskan sejarah merupakan suatu tugas yang tampaknya tidak mudah dilakukan oleh pendiri Gojek, Mas Menteri Nadiem Makarim. Meski berat Mas Nadiem, saya kira, akan bisa menyelesaikan dengan baik. Diberitakan, Megawati meminta agar Mas Menteri meluruskan sejarah 1965.

Maka bisa muncul pertanyaan: apakah sejarah Indonesia saat ini tidak lurus sehingga perlu diluruskan?

Saya setuju dengan Lyotard yang mengatakan bahwa kita tidak akan memperoleh pengetahuan definitif tentang sejarah dan politik. Di mana perbedaan pandangan akan selalu ada. Lyotard menyebutnya sebagai dissensus. Maka perlu respek kepada pihak lain. Sementara Habermas lebih bersikap positif dengan menyatakan bahwa sejarah adalah catatan “learning process” kolektif dari peradaban manusia.

Harapan saya, dan barangkali kita bersama, semoga proses meluruskan sejarah ini menjadi pembelajaran agar kita lebih bagus lagi. Bukan mencari siapa yang menang, siapa yang kalah. Bukan mencari pembenaran dengan mencari kesalahan yang lain. Kita mencari pembelajaran terbaik apa yang bisa kita peroleh dari sejarah 1965 dan sepanjang waktu.

Sedikit mengingatkan bahwa kejadian yang baru terjadi saja kita bisa beda pendapat misal penurunan baliho HRS oleh TNI, banyak pro dan kontra. Pemenang pilpres 2014 apakah Jokowi atau Prabowo pun beda pendapat di mana-mana. Di Amerika beda pendapat pemenangnya Biden atau Trump beberapa waktu lalu.

Sikap positif dalam memandang sejarah perlu kita tekankan di sini. Tentu saja sikap kritis bisa dikembangkan di kalangan terbatas yang sudah menyiapkan segala sesuatu.

Semoga kita mampu membaca sejarah sebagai proses belajar untuk lebih maju memperbaiki negeri ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tupoksi TNI Vs Baliho HRS

Pangdam Jaya memerintahkan untuk menurunkan Baliho Habib Rizieq Shihab di Jakarta. Melalui video yang tersebar, Pangdam Jaya mengkonfirmasi. Bahkan bila perlu bubarkan FPI, dari viedo yang sama.

Pro-kontra langsung muncul merespon TNI yang turun tangan menurunkan baliho HRS.

Kontra TNI

Bagi yang kontra, di antaranya anggota DPR, mengingatkan agar TNI kembali kepada tupoksi. Tugas pokok dan fungsi TNI tentu saja melindungi kedaulatan NKRI. Dan menurunkan baliho HRS tidak tercantum sebagai tugas TNI sesuai undang-undang tahun 2004 yang berlaku sampai sekarang juga, 2020.

PRO TNI

Kita amati bahwa salah satu tugas TNI sesuai undang-undang adalah “membantu tugas pemerintah di daerah”. DKI adalah daerah khusus ibukota. Maka sudah tepat langkah TNI menurunkan baliho sebagai perwujudan membantu pemda. Tentu itu versi yang mendukung Pangdam Jaya.

Tupoksi TNI sesuai UU

Apa yang Benar

Menurut Derrida, tokoh posmo, bahwa selalu ada peluang mendekonstruksi. Maka yang pro TNI akan selalu menemukan cara untuk mendukung TNI. Sedangkan yang kontra TNI akan selalu menemukan cara menyalahkan TNI. Derrida mengingatkan kita untuk tetap mempertimbangkan “yang lain” atau “the others”. Maka sikap respek dari semua pihak menjadi penting di sini.

Derrida Dibujo.jpg
Derrida

Sementara, Focault, tokoh posmo juga, menyoroti hubungan dekat antara pengetahuan (informasi) dengan kekuasaan. Di mana kekuasaan cenderung menguasai informasi, mengendalikan, dan memanipulasinya. Maka kita perlu waspada kepada pihak-pihak yang berkuasa. Dalam kasus penurunan baliho HRS maka siapakah yang berkuasa mengendalikan informasi? Meski tentu saja penguasa bisa saja jujur.

Sejatinya kita bisa menganalisis dengan pendekatan analytic Russell yang sekarang dikembangkan Searle. Metode ini akan mengantarkan kita kepada hasil yang lebih benar – probabilitasnya lebih besar. Masalahnya, probabilitas besar tidak ada jaminan itu benar. Sedangkan probabilitas kecil juga tidak dijamin salah. Maka saran saya perlu dikembangkan “komunikasi rasional” gaya Habermas. Dan tetap respek terhadap dissensus seperti Lyotard. Di saat yang sama mari kita pastikan kita berjuang demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi

Rara gadis cantik itu masih ada di hadapan saya. Pakai baju putih dengan rok warna abu. Matanya bening, alis hitam tebal. Pipinya lembut, bulu mata lentik, dan rambut hitam lebat.

Pengetahuan saya tentang Rara adalah jenis pengetahuan pengenalan, yaitu saya mengetahui Rara langsung dengan melihatnya. Saya langsung mengetahui Rara, obyek eksternal, melalui indera saya. Meski saya melihat langsung, sejatinya, saya hanya mengenali Rara melalui data-indera yang dihubungkan dengan Rara. Saya tetap tidak tahu hakikat Rara. Yang saya ketahui adalah penampakan Rara. Itulah pengetahuan pengenalan oleh manusia.

Tetapi pengetahuan Anda tentang Rara, melalui uraian saya di atas, adalah pengetahuan deskripsi. Anda tidak mengenal Rara. Melalui tulisan saya, Anda jadi mengetahui deskripsi tentang Rara. Pengetahuan deskripsi ini melibatkan suatu kebenaran. Maksudnya pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara bisa benar tapi bisa juga salah. Jika saya menguraikan gambaran tentang Rara dengan benar maka boleh jadi pengetahuan deskripsi Anda juga benar. Sementara, jika saya berbohong tentang gambaran Rara, saya edit beberapa bagian tentang Rara, maka pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara adalah salah atau sesat.

Sekilas, membandingkan pengetahuan pengenalan dengan pengetahuan deskripsi, tampaknya, kita lebih percaya kepada pengetahuan pengenalan. Karena pengetahuan pengenalan adalah langsung dan dijamin selalu benar – sejauh data-indera yang dipertimbangkan. Tetapi sejatinya, ilmu pengetahuan manusia berkembang pesat justru melalui pengetahuan deskripsi, yang bersifat tidak langsung. Kita menambah ilmu hampir seluruhnya melalui membaca, mengikuti pelajaran, menonton video, dan lainnya yang merupakan deskripsi. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kuat kepada pengetahuan deskripsi.

Pengetahuan Pengenalan Selalu Benar

Dua faktor utama yang membuat pengetahuan pengenalan lebih unggul adalah selalu benar dan sangat mengesankan. Dalam bahasa sehari-hari, pengetahuan pengenalan adalah melihat dengan mata dan kepala sendiri. Dalam proses belajar sains, siswa sering perlu melakukan praktikum agar dapat mengamati secara langsung fenomena alam. Agar memperoleh pengetahuan pengenalan. Saya sendiri membuat permainan berupa benda-benda konkret seperti kubus dan bola, untuk melatih anak-anak belajar berhitung dasar. Anak-anak mengenali secara langsung bahwa 2 bola ditambah 3 bola adalah 5 bola. Hasilnya sangat mengesankan.

Pengetahuan pengenalan, yang diyakini selalu benar, dimanfaatkan oleh persidangan kasus hukum. Mereka biasa memanggil saksi mata agar bersaksi di bawah sumpah. Apa yang disampaikan oleh saksi mata diyakini selalu benar karena dianggap sebagai pengetahuan pengenalan.

Dokter juga sering menanyakan ke pasien apa keluhan yang dirasakan. Pasien bisa menceritakan sakit kaki dan pinggang. Pasien merasakan langsung sakitnya. Itu adalah pengetahuan pengenalan yang diyakini selalu benar. Untuk kemudian dokter melengkapi dengan diagnosa, menambah pengetahuan pengenalan dari prespektif dokter.

Russel juga memasukkan pengetahuan tentang diri, pengenalan tentang kesadaran diri, dalam pengetahuan pengenalan yang diyakini kebenarannya.

Dalam kehidupan sehari-hari orang sering mengatakan, “Saya hanya percaya bila sudah melihat dengan mata dan kepala sendiri.” Menguatkan keyakinan bahwa pengetahuan melalui pengenalan adalah selalu benar.

Namun kita tidak boleh gegabah. Pengetahuan pengenalan adalah selalu benar sejauh data-indera yang diperhatikan. Sedangkan bila kita menyelidiki hakikat obyek, pohon misalnya, pengetahuan pengenalan bisa saja salah. Pohon yang tingginya 2 meter tampak begitu tinggi bila kita melihatnya dari jarak dekat, sedepa misalnya. Tapi bila kita menjauh pada jarak 3000 meter, maka pohon yang sejatinya 2 meter itu tampak hanya setinggi lutut kaki. Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih hakiki kita perlu melangkah melampaui sekedar data-indera.

Fatamorgana: Ilusi Indera

Barangkali kita sudah sangat akrab dengan ungkapan fatamorgana. Mata kita melihat seperti ada air atau gas yang meliuk-liuk ketika cuaca panas terik di jalanan beraspal. Padahal sama sekali tidak ada air di jalan beraspal tersebut. Fatamorgana menunjukkan bahwa pengetahuan pengenalan dari indera kita tidak bisa begitu saja dipercaya. Pengetahuan indera mata bisa salah.

Contoh lain yang lebih mudah kita ulang dengan eksperimen adalah memasukkan sebatang sendok ke gelas yang berisi air setengah penuh. Maka kita bisa melihat sendok dari atas atau samping tampaknya sendok tersebut patah. Ketika sendok kita ambil terlihat sendok tidak patah. Mata kita tertipu oleh pembiasan atau pembelokan cahaya sendok.

Pesulap barangkali memberi contoh yang lebih serius. Dia menunjukkan hanya ada satu bola pingpong di dalam topinya. Lalu mengambil satu-satunya bola itu, melempar ke penonton. Kemudian pesulap itu mengambil satu lagi bola dari topinya, dilemparkan lagi ke penonton. Berulang-ulang pesulap melakukan itu. Kita yakin bahwa yang dilihat mata indera kita adalah ilusi. Kita sedang menghibur diri bersama pesulap. Mana mungkin satu bola bisa diambil berkali-kali? Ada kebenaran yang tersembunyi di balik mata indera kita.

Tugas selanjutnya adalah kita perlu mengungkap kebenaran di balik pengetahuan pengenalan oleh indera. Untuk itu kita perlu memanfaatkan analisis rasional berdasar pengetahuan a priori yang bersifat universal. Misal pesulap yang mengambil satu-satunya bola di dalam topi, pengetahuan a priori memberi tahu pasti tidak ada lagi bola di dalam topi. Bila, ternyata, ada bola lagi maka pasti ada penambahan bola baru dengan satu dan lain cara. Atau pesulap sejatinya tidak mengambil bola sama sekali dari dalam topi. Ia mengambil bola dari tempat lain. Dengan penyelidikan maka kita akan menemukan rahasia tukang sulap dan berhasil mengungkap kebenaran.

Pembahasan lebih detil tentang pengetahuan a priori yang bersifat universal ini akan kita bahas pada bab khusus selanjutnya. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18 – 19 dari Jerman, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

Pengetahuan Deskripsi Tersebar Luas

Seperti tidak masuk akal bahwa ilmu pengetahuan bisa tersebar luas oleh pengetahuan deskriptif, yang bisa bernilai benar atau sesat. Sedangkan pengetahuan pengenalan, yang dijamin selalu benar, justru lambat berkembang. Namun kehebatan penyebaran pengetahuan deskripsi, yang revolusioner ini, memerlukan sumber ilmu dari pengetahuan pengenalan juga.

Revolusi pengetahuan pertama adalah ketika ditemukan teknologi membuat kertas yang baik oleh Cai Lun (Ts’ai Lun) pada abad pertama di negeri Cina. Sebelum jaman Cai Lun, orang sangat sulit untuk membuat catatan karena belum tersedia kertas. Orang harus mengukir di batu, memahat kayu, atau menggores di kulit sapi. Sukses Cai Lun memproduksi kertas memudahkan ilmu dicatat dan disebarkan ke berbagai penjuru.

Revolusi pengetahuan kedua adalah pada abad ke 15 setelah Gutenberg berhasil menemukan mesin cetak yang efektif di Eropa. Bila sebelumnya, orang harus menulis dengan tangan untuk membuat buku, maka setelah ada mesin Gutenberg, buku bisa dicetak dan diperbanyak lebih mudah. Pengetahuan makin melompat tersebar ke seluruh dunia.

Revolusi pengetahuan ketiga terjadi di milenium ketiga, saat ini, di mana teknologi digital sudah tersebar ke sebagian besar penduduk dunia. Pengetahuan mudah dicatat, diproduksi, dan disebarkan hanya dalam hitungan detik. Dengan kekuatan media sosial, penyebaran informasi bagai tidak ada batas lagi. Setiap orang bisa memproduksi pengetahuan di saat yang sama bisa langsung menyebarkannya ke seluruh dunia. Pengetahuan yang diproduksi bisa berupa multimedia, tidak hanya tulisan saja.

Contoh pengetahuan deskripsi adalah, “Kelas APIQ adalah tempat belajar matematika di kota Bandung.” Pengetahuan ini bisa kita uji nilai kebenarannya. Bila di Bandung memang ada kelas APIQ sebagai tempat belajar matematika maka pengetahuan deskripsi di atas bernilai benar. Sedangkan, jika tidak ada kelas APIQ di Bandung maka pengetahuan deskriptif di atas bernilai sesat atau salah.

Seperti contoh di atas, pengetahuan deskripsi, pada analisis akhir, didasarkan pada pengetahuan pengenalan. Saya mengetahui bahwa ada kelas APIQ di Bandung. Ini adalah pengetahuan pengenalan oleh saya. Lalu saya tuliskan pengetahuan pengenalan saya itu di buku atau di internet. Maka menjadi pengetahuan deskripsi bagi banyak orang. Semula hanya satu orang, saya saja, yang mengetahui. Berubah menjadi banyak orang yang mengetahui, melalui pengetahuan deskripsi.

Pengetahuan Deskripsi vs Hoax

Jaman sekarang kita dibanjiri hoax. Sehingga sulit membedakan mana yang pengetahuan dan mana yang kesesatan. Di jaman dulu tidak ada hoax seperti jaman sekarang. Bayangkan masa sebelum Cai Lun menemukan kertas. Betapa sulitnya menulis satu halaman buku. Apa lagi menulis 120 halaman buku? Dengan kesulitan semacam itu maka orang-orang hanya akan menuliskan pengetahuan yang benar-benar bernilai tinggi.

Beda dengan jaman digital sekarang. Orang bisa menulis apa pun di media sosial dan langsung tersebar ke seluruh dunia, saat ini, dalam hitungan detik. Maka tulisan di jaman sekarang bisa saja bernilai tinggi, bisa bernilai rendah, bahkan bisa sesat. Kita terjebak dalam paradoks: terlalu banyak informasi sama artinya tidak ada informasi. Lebih parah lagi, tumpukan informasi bisa jadi bercampur dengan informasi sesat.

Di jaman kuno, dulu, memang mungkin saja membuat pengetahuan sesat atau hoax. Tetapi penyebaran cukup sulit. Sehingga hoax ini, paling bisanya, disebarkan melalui cerita dari mulut ke mulut. Karena sulit itu maka hoax harus menguntungkan pihak tertentu dengan cara merugikan pihak lain. Misalnya hoax seorang raja yang menceritakan bahwa dirinya adalah raja yang adil bijaksana. Agar seluruh warga tunduk hormat kepadanya. Atau hoax seorang raja menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan reputasi pesaingnya.

Di jaman milenial, hoax bisa saja sekedar iseng. Hanya untuk seru-seruan saja. Toh, nyaris tidak ada biaya untuk menyebarkan hoax. Namun, hoax tetap bisa juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengambil keuntungan sepihak dan merugikan pihak lain. Maka kita perlu membentengi diri, dan masyarakat, dari ancaman hoax.

Sejatinya ada ilmu khusus menangani hoax atau memanfaatkan hoax. Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan penandaan. Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai teori tentang dusta. Apa saja yang bisa dipakai untuk berdusta dan apa saja yang bisa melindungi kita dari dusta, lengkap dipelajari dalam semiotika.

Di sini kita akan sedikit membahas cara sederhana untuk melindungi diri dari hoax dengan memanfaatkan literasi media. Paling utama adalah kenali lalu bedakan bagian fakta dan opini dari suatu pengetahuan, informasi, atau berita.

Lanjut ke Induksi: Cantik Keturunan
Kembali ke Philosphy of Love

Idealisme

Cinta ideal menjadi idaman setiap manusia. Keluarga ideal tampak begitu bahagia. Negara ideal sempurna tiada tara.

Sementara, di tempat lain, mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang menuntut kebenaran. Mahasiswa idealis kadang tidak peduli dengan nilai kuliahnya, yang penting ia idealis, selalu membela kebenaran. Cowok idealis adalah mereka yang pilih-pilih calon istri dengan kriteria super ketat. Akibatnya, cowok idealis tidak menemukan istri. Bahkan pacar pun dia tidak punya. Cewek idealis bisa bernasib sama.

Tetapi ide idealisme adalah sesuatu yang jauh berbeda dari ideal mau pun idealis di atas. Bertrand Russell mencatat begitu beragamnya penggunaan istilah idealisme. Satu sama lain bisa saja saling bertentangan. Maka di bagian ini saya akan mengacu definisi idealisme dari Russell.

Doktrin Idealisme

Russell memahami idealisme sebagai suatu doktrin yang menyatakan bahwa apa pun yang eksis, atau yang bisa diketahui akan eksis, pasti dalam pengertian tertentu adalah bersifat mental. Dengan bahasa yang lebih sederhana, idealisme menyatakan bahwa dunia luar, alam eksternal, sejatinya tidak ada. Apa yang kita ketahui tentang meja, pohon, Rara yang cantik, dan lain-lain sejatinya adalah hanya pikiran kita – bersifat mental belaka.

Pandangan idealisme itu tampak absurd bagi kita orang awam. Seperti tidak masuk akal. Tetapi secara filosofis, idealisme, dianut secara luas dan punya pengaruh besar. Maka sebelum melangkah lebih lanjut kita, di bagian ini, perlu membahas dengan tuntas idealisme ini.

Pada bagian awal bukunya, Russell menyatakan bahwa idealisme, bagaimana pun, bisa menjadi sebuah sistem filsafat yang koheren. Di bagian selanjutnya, Russell menunjukkan sesatnya idealisme. Argumen Russell, menurut saya, sah di berbagai bagian tetapi perlu hati-hati di bagian lainnya.

Bantahan Argumen Idealisme

Idealisme, umumnya, bersandar kepada epistemologi. Di mana, menurut mereka, manusia diragukan mampu mengetahui dunia alam eksternal. Akibat keraguan ini maka mereka melangkah lebih jauh dengan menyatakan dunia alam eksternal, sejatinya, tidak ada. Yang ada hanya pikiran kita yang bersifat mental. Russell berhasil menunjukkan cara berpikir idealisme ini adalah sesat.

Berkeley, filsuf pendukung idealisme, menyatakan bahwa data-indera kita tidak akan bisa memiliki esksistensi yang mandiri. Artinya data-indera pasti akan hancur jika kita tidak sedang berpikir, melihat, mendengar, merasa, atau menginderanya. Maka data-indera bersifat mental – sebagian atau seluruhnya. Dan tidak ada yang bisa kita ketahui tentang dunia luar kecuali hanya data-indera yang bersifat mental, yang berupa ide kita sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak kita pikirkan, misal sebatang pohon, itu pasti karena sedang dipikirkan oleh orang lain, itu adalah ide orang lain. Dalam versi yang lain, benda yang tidak sedang saya pikirkan tapi realitasnya ada dunia luar misal sebatang pohon, itu karena dipikirkan oleh Tuhan – idenya Tuhan.

Argumen Berkeley di atas ada bagian yang valid dan ada yang sesat. Berkeley benar ketika mengatakan bahwa apa yang kita lihat adalah data-indera belaka bukan benda apa adanya, bukan pohon sejati misalnya. Tetapi Berkeley tersesat ketika menyimpulkan tidak pernah ada pohon sejati di alam luar. Dan Berkeley sendiri ragu ketika mengatakan ada pohon lain di luar sana, meskipun buru-buru dia tambahkan itu pasti ada dalam pikiran orang lain.

Keraguan Berkeley dapat kita perluas. Misalnya perhatikan bagian belakang rembulan, yang tidak pernah terlihat dari bumi, karena yang kita lihat selalu bagian depan rembulan. Tetapi bagian belakang rembulan pasti ada meski kita tidak melihatnya dan kita tidak memikirkannya. Berkeley buru-buru menambahkan bahwa bagian belakang rembulan ada karena dipikirkan oleh Tuhan. Sudah cukup kiranya, kita bisa menolak argumen idealisme Berkeley.

Untuk membuktikan bahwa eksistensi pohon benar-benar ada di alam eksternal bisa kita lakukan dengan beragam cara seperti yang sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Misal kita mengajak orang lain mengamati pohon bergantian. Pohon tetap ada ketika kita tidak memikirkannya. Jadi pohon tidak berada dalam pikiran kita. Bisa juga kita memasang kamera yang merekam pohon itu lalu kita tinggalkan. Kemudian kita cek kamera, rekamannya, menunjukkan pohon benar-benar ada. Baik ketika kita sedang memikirkannya atau tidak.

Rancunya Istilah Ide

Russell mencatat ada kerancuan ketika Berkeley menggunakan istilah “ide”. Sehingga Berkeley jadi ragu-ragu.

Pertama, ketika kita melihat pohon di depan rumah maka akan muncul “gambaran” pohon dalam pikiran kita. Berkeley menggunakan istilah “ide” untuk “gambaran” pohon dalam pikiran manusia.

Kedua, ketika kita mengatakan dua pohon ditambah tiga pohon sama dengan lima pohon maka kita memikirkan konsep umum tentang pohon. Bukan pohon tertentu yang ada dalam realitas dunia eksternal. Konsep umum ini juga disebut “ide” oleh Berkeley. Dan benar adanya bahwa ide pohon untuk kasus ini hanya ada dalam pikiran manusia.

Ketiga, karena terbukti pada kasus kedua bahwa ide pohon hanya ada di pikiran manusia maka pada kasus pertama ide pohon juga ada di pikiran manusia. Kesimpulan ini juga valid. Selanjutnya, kesimpulan yang salah, Berkeley meyakini ide pohon hanya ada dalam pikiran dan tidak ada pohon sejati di alam eksternal.

Berkeley boleh menggunakan ide pohon pada kasus kedua dan hanya ada dalam pikiran. Seharusnya, untuk kasus pertama, Berkeley menggunakan istilah lain misal data-indera. Di sini kita sepakat data-indera memang ada dalam pikiran manusia. Tetapi di saat yang sama, data-indera membuktikan, bersesuaian, adanya realitas pohon sejati di alam eksternal – seperti sudah kita tunjukkan di atas.

Ketelitian

Tampaknya Russell begitu bersemangat menolak idealisme, semisal pandangan Berkeley. Menurut saya, Russell melangkah terlalu optimis menyatakan bahwa manusia benar-benar bisa melihat pohon di alam eksternal. Sejatinya kita hanya bisa melihat pohon di alam eksternal hanya dengan estimasi saja. Jadi, kita hanya bisa ada di posisi tengah antara dua ekstrem.

Ekstrem satu adalah pandangan idealisme yang menyatakan tidak ada realitas pohon sejati di alam eksternal karena kita sama sekali tidak bisa melihat alam eksternal. Dan ekstrem kedua adalah pandangan yang menyatakan bahwa kita benar-benar bisa melihat pohon yang ada di alam eksternal. Posisi di tengah, lebih hati-hati dan teliti, adalah kita bisa melihat alam eksternal hanya sebagai pendekatan atau estimasi belaka.

Saya kira, Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang berhasil meyakinkan bahwa yang kita lihat adalah sekedar penampakan atau fenomena dari hakikat alam. Filsuf selanjutnya menguatkan pandangan Kant tersebut semisal Schopenhauer, Husserl, sampai Sartre. Bahkan sebelum Kant, Sadra filsuf abad 17, lebih tegas dengan menegaskan identitas “yang melihat” dengan “yang dilihat”.

Semua filsuf yang kita sebut di atas menolak idealisme, semisal Barkeley. Meski pengetahuan manusia memiliki batasan tertentu untuk mengenali alam eksternal, mereka dan kita, yakin bahwa alam eksternal eksis secara obyektif. Sifat-sifat lebih detil dari pengetahuan manusia ini akan menjadi bahasan kita di bagian selanjutnya. Di antaranya pengetahuan melalui pengenalan dan pengetahuan melalui deskripsi.

Lanjut ke Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi
Kembali ke Philosophy of Love

Membaca Paradox AlQuran

AlQuran adalah kitab suci yang luar biasa. Menjadi sumber inspirasi yang tiada habis-habisnya. Menjadi petunjuk untuk hidup bahagia hakiki di dunia ini dan akhirat nanti.

Namun demikian, logika manusia, menemukan beragam paradox dalam logika kitab suci. Barangkali bahkan ada yang mengira ada kontradiksi-kontradiksi dalam sudut pandang tertentu. Maka manusia perlu terus meluaskan cakrawala berpikir sepanjang masa.

Menumbangkan Akal

Paradox pertama adalah ketika kita membaca kitab dengan urutan dari awal. Setelah pembukaan, pada ayat pertama, AlQuran menyatakan, “Alif Lam Mim” di mana tidak ada satu orang pun yang tahu pasti artinya. Disusul dengan klaim, “Ini adalah kitab yang tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.”

Bakat dan Minat dalam Al Quran - Kompasiana.com

Pembaca “dipaksa” untuk meyakini Quran bahkan ketika baru saja ia menyatakan sesuatu yang tidak diketahui maknanya yaitu Alif Lam Mim. Orang yang mengandalkan analisis rasional bisa tumbang di sini. Bagaimana bisa tidak ada keraguan? Baru saja menyatakan sesuatu yang tidak diketahui artinya kan?

Paradox ini hanya terjadi bagi mereka yang terlalu mengandalkan analisis rasio. Dalam kehidupan ini kita butuh lebih dari sekedar akal rasio. Kita butuh tindakan moral, butuh keyakinan, butuh pengorbanan, dan lainnya.

Perhatikan, selanjutnya, ALQuran justru menumbangkan akal rasio yang berlebihan. AlQuran menyatakan diri sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Jika Anda bertakwa maka Anda akan mendapat petunjuk, hidayah, dari AlQuran. Sementara orang yang tidak bertakwa, bisa jadi, tidak mendapat petunjuk meski baca AlQuran. Tentu saja ini klaim yang serius.

Namun AlQuran, selanjutnya, merinci orang-orang yang termasuk bertakwa: orang yang beriman dengan yang ghaib, mendirikan sholat, menginfaqkan hartanya, beriman kepada apa saja yang diturunkan kepadamu (Muhammad SAW) dan apa saja yang sebelummu, dan yakin kepada akhirat. Mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Singkatnya, AlQuran, berhasil menumbangkan akal rasio sejak awal-awal. Menuntut sikap beriman dan bertindak sesuai nilai moral yang tinggi.

Bagi Anda yang masih penasaran dengan paradox ini dan ingin meneliti bagaimana AlQuran memposisikan akal bisa meneliti paradox kedua, membaca dari urutan waktu: ayat pertama yang turun.

Menantang Akal

Ayat pertama AlQuran yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Bacalah!”

Perintah untuk membaca adalah yang pertama dari AlQuran. Tentu saja ini paradox di masanya, di mana, kegiatan membaca dan menulis adalah minim sekali. Dan perintah ini cocok sekali bagi orang-orang yang mengandalkan kekuatan rasio. Sesuai untuk orang-orang yang berpikir ilmiah. Membaca adalah kegiatan mengenali sesuatu yang diikuti oleh penyelidikan akal. Beda dengan sekedar membaca tulisan.

AlQuran memilih kata “iqra” bukan “tilawah” yang akar katanya sama-sama membaca. Seperti kita tahu, tilawah adalah kegiatan membaca teks dengan melantunkannya. Di Indonesia juga diselenggarakan lomba tilawah nasional di mana yang dinilai adalah suara dan nada bacaan AlQuran.

Sementara iqra adalah perintah membaca alam semesta disertai penyelidikan akal sehat. Buru-buru AlQuran tidak membiarkan perintah membaca, dan menyelidiki, secara serampangan. AlQuran menegaskan, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan!” Ketika kita membaca, dan meneliti, sambil diiringi rasa kagum akan Maha Bijaknya Sang Pencipta. Dengan demikian penelitian kita punya arah untuk mengabdi kepada Tuhan, dan pasti bernilai kemanusiaan.

Cara baca holistik, seperti di atas, menjamin proses dan hasil bacaan bernilai baik. Beda dengan cara baca materialis yang mungkin saja tersesat mengumpulkan harta, menindas wong cilik, melayani nafsu serakah, dan resiko lainnya.

Masih dalam rangkaian ayat yang pertama turun, “(Tuhan) Yang mengajar dengan penulisan (qolam).” Barangkali tokoh posmo semaca Derrida akan senang sekali membaca ayat ini. Derrida mengklaim bahwa tulisan lebih utama dari ucapan – atau setidaknya imbang. Orang-orang pada umumnya menilai bahwa bahasa manusia yang asli adalah ucapan. Sedangkan tulisan hanya turunan, hanya perkembangan, dari bahasa ucapan itu, logosentris. Derrida mendobrak pandangan itu dan ingin membalik logosentrisme itu.

Tampaknya, ide Derrida mengutamakan tulisan lebih dari ucapan ini sejalan dengan AlQuran. Dalam bahasa Arab, tulisan (pena) adalah qolam yang mirip dengan ucapan yaitu kalam. Seandainya AlQuran memilih kalam maka itu akan cukup konsisten tetapi AlQuran memilih qolam, tulisan, sebagai cara Tuhan mengajar. Nyatanya sejarah Islam justru memilih “Kalam” sebagai disiplin berpikir teologis. Mengapa tidak memilih “Qolam”?

Jadi perlu kita catat di sini bahwa susunan kitab AlQuran yang terdiri dari bagian 1 sampai bagian 30, Juz 1 sampai dengan Juz 30, berbeda dengan urutan turunnya wahyu AlQuran itu sendiri. Maka bagi yang berminat berpikir analytic bisa membaca sesuai urutan turun wahyu. Sedangkan yang berminat berpikir kreatif otak kanan dapat membaca dari bagian 1, Juz 1. Bagi yang lebih praktis dapat membaca dari Juz terakhir. Itulah paradox ketiga.

Memicu Akal Praktis

Dalam tataran praktis, masyarakat muslim justru sering membaca AlQuran dari bagian terakhir yaitu Juz 30, inilah paradox ketiga menurut saya. Khususnya ketika anak-anak muslim mulai belajar membaca maka mereka akan diarahkan mulai dari bagian terakhir, bagian 30, Juz 30.

Saya menduga ini adalah perkembangan akal praktis dari masyarakat muslim. Di mana membaca Juz 30 adalah lebih praktis dan efisien. Ayat-ayat pada Juz 30 pendek, rima-nya unik, dan mudah dipahami bahkan mudah dihafalkan. Urutan membacanya pun bisa dimulai dari surat pertama (Annaba) atau bisa dari surat terakhir (Annas). Sehingga cara berpikir otak kiri, yang analyitic, dan cara berpikir otak kanan, yang kreatif, berpadu pada tataran praktis.

Saya membayangkan betapa senangnya Derrida, tokoh posmo itu, seandainya mengetahui komunitas muslim menerapkan “language game”-nya Wittgenstein dengan kreatif. Bahkan teori strukturalisme bahasa Saussure pun berhasil memunculkan inovasi baru dengan munculnya wacana kitab “turutan” dan kitab “iqra” yang berguna bagi pemula untuk membaca AlQuran.

Diskusi

Memperhatikan tiga paradox di atas saya menyimpulkan bahwa AlQuran sangat kuat menekankan peran keyakinan dan moral sejak bagian pertama AlQuran, Juz 1. Tetapi sejarah turunnya AlQuran justru mengangkat pentingnya peran akal analytic dengan perintah tegas membaca, “iqra.” Bagaimana pun masyarakat muslim berhasil melahirkan inovasi dengan membaca AlQuran dimulai dari bagian terakhir, Juz 30, bagi pemula.

Bagaimana menurut Anda?

Modernisme yang Gagal

Sudah terbukti gagal tapi banyak yang suka. Modernisme terbukti gagal mewujudkan janji keadilan bagi umat manusia. Janji meningkatkan kesejahteraan terbukti benar hanya untuk golongan elit. Janji menghargai demokrasi ternyata hanya yang kuat yang mendominasi.

Apakah ada solusi?

Modernisme yang diawali era pencerahan dengan tokoh besar semisal Descartes, mengungkapkan kekuatan rasional manusia, berbelok jadi penjara manusia. Yang sukses bergelimang harta hidup hampa di dunia, entah gimana akhiratnya. “Yang lain” tersisih di perumahan miskin, negara kumuh, tanpa berpendidikan memadai.

René Descartes - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Descartes

Kritik Agama

Para tokoh agama sejak awal sudah mengkritisi program modernisme akan gagal. Manusia tidak akan berhasil mengandalkan kekuatan pikiran. Maka mari bersama-sama kembali ke pangkuan agama. Bahagia dunia dan akhirat.

Tentu saja ajakan kembali ke agama tidak mudah diterima oleh kalangan modernis. Gerakan modernisme justru lahir hendak melepaskan diri dari cengkeraman agama dengan konsep sekularnya. Tetapi perlu diingat, di banyak tempat, berpegang teguh kepada agama berhasil mengantarkan umat manusia sukses di dunia – dan akhirat, semoga.

Kritik Habermas

Madzhab Frankfurt sejak awal sudah mengkritisi proyek modernisme. Misal Adorno menolak prime philosophy, seni massal, dan dominasi totaliter dari modernisme. Critical Theory, yang dikembangkan madzhab Frankfurt, terus berkembang dengan konsep yang matang. Generasi kedua, di tangan Habermas, mengusulkan pentingnya komunikasi aktif.

Semua pihak termasuk kaum yang terpinggirkan, menurut Habermas, perlu didengarkan suaranya. Diakomodasi aspirasinya. Lalu bersama-sama membangun kemanusiaan yang adil dan beradab.

Barangkali pendekatan komunikasi aktif Habermas ini terbukti sukses dengan fenomena media sosial dan start up. Misal youtube membebaskan semua orang, bahkan orang yang tidak lulus SD, untuk membuat video di youtube. Kita tahu dengan youtube banyak anak kampung yang tiba-tiba berhasil meraih ratusan juta rupiah hanya dengan membuat video iseng-iseng saja.

Dengan start up, pedagang nasi goreng atau cakue bisa tiba-tiba sukses luar biasa.

Tampaknya dunia digital mendukung konsep Habermas dalam hal komunikasi aktif. Semua pihak boleh bicara, saling mendengarkan, untuk kemudian maju bersama.

Kritik Lyotard

Sebagai tokoh posmo, tentu saja, Lyotard dengan lantang mengkritik modernisme. Menolak narasi besar dari modernisme. Tidak perlu ada konsensus lagi. Posmo hanya mengakui dissensus.

Lyotard beda dengan Habermas. Jika Habermas masih percaya dengan kritik ke modernisme lalu diperbaiki maka Lyotard sudah tidak percaya. Modernisme harus dihentikan. Digantikan dengan posmodern. Tapi apa itu posmodern?

Posmo dicirikan dengan dissensus, fragmented, simulacra, relativisme, pluralisme, paralogi, dekonstruksi, dan lain-lain. Maka mendefiniskan posmo hakikatnya adalah mengingkari posmo itu sendiri. Singkatnya, posmo hanya bisa dijelaskan tapi tidak bisa didefinisikan.

Mengenai media sosial barangkali sesuai dengan ciri-ciri posmo: dissensus, paralogi, fragmented, dan lain-lain. Di medsos kita bebas beda pendapat. Segala sesuatu dinilai relatif sesuai penilai. Medsos terpecah-pecah sesuai minat masing-masing.

Sayangnya, Lyotard tidak sempat menyaksikan fenomena medsos. Lyotard wafat 1998 – sementara Habermas berusia 91 tahun pada 2020 ini. Namun kita tetap bisa memanfaatkan kritik Lyotard terhadap medsos.

Lyotard menolak dominasi dalam bentuk apa pun. Dominasi adalah narasi besar dari modernisme yang perlu disingkirkan. Facebook, misalnya, sudah berhasil menyingkirkan dominasi surat kabar dalam menyebarkan berita. Masing-masing orang bebas menyebarkan berita melalui facebook – atau media sosial lain. Hal ini sesuai dengan ajaran posmo.

Tetapi kita tahu tahun 2016 kemenangan pilpres Trump ada kaitannya dengan facebook. Kita mendengar kasus Cambrige Analytic. Singkatnya, medsos berhasil menggulingkan dominasi surat kabar. Kemudian medsos mendominasi yang lainnya. Posmo gagal lagi di sini.

Dari sudut pandang Lyotard maka kita perlu mewaspadai dominasi medsos, start up, dan bentuk industri lainnya. Awalnya berhasil menghancurkan dominasi modernisme. Lalu terjebak lagi jadi dominan.

Bagaimana menurut Anda?

Membangunkan Manusia

Sejarah panjang manusia menunjukkan aneka ragam sukses dan kehancuran. Saat ini manusia sedang dalam puncak sukses materi tapi dalam ancaman degradasi kemanusiaan. Orang stress tak terhitung jumlahnya padahal kaya. Orang bunuh diri di penjuru dunia padahal artis ternama. Orang muak pesta pora padahal ada kelaparan di tetangga.

Kita perlu bangun kembali. Kita perlu terjaga. Sesaat bersama kesadaran.

Manusia terperosok dalam skizofrenia massal. Berputar-putar di dunia maya. Pusing dengan status. Ditambah debat-debat tanpa akhir di grup. Atau kepo tiada batas. Tak ada beda yang asli atau palsu. Semangat tetap ada untuk copas dari copas. Share dari grup sebelah.

Pagi datang. Fajar segera bersinar. Sudah siapkah kembali sadar?

Saya mengusulkan proyek bersama: polisakral. Di mana kita bersama-sama, di berbagai bidang, membangunkan kembali jiwa suci. Baik Anda yang bos besar, pegawai kecil, petani, buruh, militer, sipil, pengusaha, guru, siswa, dan lain-lain bisa berperan membangunkan kembali jiwa suci: polisakralisasi – polysacralization.

Seyyed Hossein Nasr - Wikipedia
Nasr

Nasr mempromosikan proyek sakralisasi sejak akhir abad 20 sampai sekarang. Proyek ambisius ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tetapi dunia yang sedang didominasi oleh kapitalisme tidak mudah menerima itu semua. Belum lagi banyak manusia yang masih terlelap tidur dalam simulacra media sosial. Ide sakralisasi ini saya dukung untuk lebih menyebar ke polisakralisasi.

Pencerahan

Renaisans atau pencerahan di Eropa merupakan sejarah besar manusia yang benar-benar mencerahkan. Kita bisa banyak belajar dari pencerahan untuk mendapatkan pencerahan. Perlu kita sadari bahwa puncak keemasan peradaban manusia juga pernah terjadi di masa-masa sebelumnya. Peradaban Mesir kuno, Cina, India, Yunani, Romawi, Arab, dan disusul pencerahan Eropa yang luar biasa itu.

Mari kita coba sedikit fokus ke Descartes, pemikir pecerahan. Konsep paling penting adalah cogito, “Aku berpikir maka ada.” Sangat jelas eksistensi manusia ditentukan oleh kemampuan berpikir. Manusia yang tidak berpikir, yang tidak rasional, diragukan eksistensinya. Tentu saja ini konsep revolusioner.

Umat manusia tidak lagi terkungkung oleh takhayul. Manusia bebas berpikir. Dan sejarah mencatat, sukses Descartes disusul dengan suksesnya fisika Newton, mesin uap James Watt, listrik Edison, dan lain-lain. Manusia berkembang pesat dengan menguasai sains teknologi. Dan kapitalisme menguasai dunia – lengkap dengan plus minusnya.

Teknologi digital melesat di paruh akhir abad 20. Bill Gates menjadi orang terkaya dengan mendominasi industri software – yang semula gratis menjadi berbayar. Steve Jobs konsisten dengan produk-produk Apple yang berkualitas super untuk orang punya uang. Google mendorong internet menjadi lebih cerdas di seluruh jagat raya. Zukerberg memastikan industri media sosial melingkupi seluruh bidang kehidupan manusia.

Dan kita tahu, seperti kita sebut di awal, sukses umat manusia itu berujung menjadi jebakan bagi umat manusia itu sendiri.

Dualisme: Pisau Tajam Peradaban

Konsep berpikir rasional Descartes itu berhasil membuktikan adanya dunia material, badan manusia, alam sekitar, dan lain sebagainya. Cara berpikir yang sama juga berhasil membuktikan eksistensi jiwa manusia, ruh, dan Tuhan. Tetapi Descartes gagal mencari hubungan antara jiwa dan badan manusia. Berbagai macam cara rasional untuk menemukan hubungan itu selalu menemukan jalan buntu. Maka berpikir Descartes ini berujung pada konsep dualisme: jiwa lawan badan.

Gagalnya Descartes menyatukan jiwa dan badan itu justru jadi berkah peradaban manusia menurut Jhon Searle, pemikir asal Amerika aliran analytic. Karena tidak bisa disatukan maka dua bidang itu diatur oleh aturan yang berbeda. Badan, dan materi, diselidiki dan diatur oleh sains, matematika, dan teknologi. Sementara, jiwa dan ruh, diatur dan dipelajari oleh agama dan metafisika.

Dengan demikian umat manusia jadi bebas berpikir di bidang sains tanpa takut berbenturan dengan doktrin agama. Sebelum masa pencerahan, beberapa ilmuwan divonis bersalah karena penemuan sains nya dianggap melanggar agama. Sains sulit berkembang. Tetapi sejak jaman Descartes, ilmuwan bebas berkreasi. Sains dan teknologi membubung tinggi.

Bisa kita duga kisah selanjutnya. Sains dan teknologi mengabdi kepada kepentingan manusia. Hanya segelintir manasuia tepatnya. Mereka yang menguasai sains teknologi berkuasa. Bebas melakukan apa saja. Mengeruk kekayaan di seluruh penjuru dunia. Mendominasi segala yang ada. Kerusakan alam jadi dampaknya. Tetapi mereka tetap punya sains dan teknologi yang digdaya. Terus berkembang bertambah kuasa.

Di sisi lain, lebih banyak orang menderita. Miskin harta bahkan jiwa. Kekayaan alam mengalir ke kota, baik di negara yang sama atau manca. Pendidikan yang diharapkan menjadi pembela. Masih jauh dari sempurna.

Nyatanya yang kaya atau papa sama-sama menderita. Yang papa memang kurang sarana. Yang kaya kehilangan makna. Semua ini adalah masalah bersama, kita semua umat manusia. Perlu menemukan satu dan lain cara. Kembali membangun budaya bersama. Menuju bahagia jiwa raga.

Saya mencatat kekuatan sains teknologi ini, yang didasarkan dualisme raga terpisah dari jiwa, benar-benar bagai pisau bermata dua. Di satu sisi memajukan umat manusia. Di sisi lain menciptakan kesenjangan menganga. Sudah tiba saatnya kita menemukan solusi yang lebih tinggi: polisakralisasi.

Dominasi Narasi Teknologi

Jebakan manusia adalah terkungkung dalam cara pandangnya sendiri. Ketika sains teknologi membubung tinggi maka yang lainnya boleh pergi. Semua yang sesuai sains adalah ilmiah. Semua yang sesuai teknologi terkini adalah kemajuan. Yang berbeda dengan sains boleh dicurigai. Bisa penipuan atau ilusi. Minimal psudo sains atau ilmu palsu. Yang tidak pakai teknologi adalah kuno ketinggalan jaman.

Itu adalah narasi. Bahkan metanarasi.

###

Immanuel Kant, pemikir besar Jerman berikutnya, berhasil menyusun teori yang komprehensif mengenai fisika, sains, dan etika. Sedangkan untuk bidang metafisika (dan agama), Kant berhasil membuktikan adanya paradox untuk sintesa a priori. Konsekuensinya akan ada perbedaan-perbedaan keyakinan berkaitan agama dan metafisika. Di masa postmodern, tema ini diolah dengan penuh semangat oleh Lyotard menjadi dissensus.

Cantik Alami

Gadis desa cantik alami jadi idaman setiap pria. Cantiknya asli. Kepribadiannya murni. Gaya hidup bersahaja. Simbol hidup bahagia.

Di bagian ini kita akan membahas apa itu cantik alami, hakikat cinta, dan hakikat materi itu sendiri. Kembali kita akan menganalisis Rara, gadis cantik yang setia menemani diskusi kita. Kita akan mulai mencermati apa hakikat materi penyusun pipi Rara.

Di bagian sebelumnya, kita sudah menerima, untuk sementara, materi penyususun pipi Rara adalah atom-atom dan partikel lebih fundamental. Tugas sains fisika tuntas sampai di situ. Dan bisa dilanjutkan lebih detil. Tetapi tugas filsafat justru mempertanyakan hasil akhir dari sains fisika itu. Bukan untuk menjatuhkan fisika. Justru untuk membuka jalan baru menemukan kebenaran-kebenaran tersembunyi.

Hakikat Materi

Sains fisika adalah yang paling berhak menentukan apa hakikat dari suatu materi. Tentu itu dari sudut ilmiah. Dari sudut filsafat kita bisa melihat lebih luas. Keunggulan sains adalah setiap teori, preposisi, bisa diuji secara obyektif dengan eksperimen berulang-ulang.

Jhon Dalton adalah ilmuwan yang berhasil membuktikan bahwa setiap materi tersusun oleh partikel-partikel terkecil yaitu atom, yang hanya bisa diamati dengan mikroskop dan rumus ilmiah. Maka terbentuklah teori atom Dalton. Ilmuwan lain dapat menguji kebenaran teori atom ini. Sesuai teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa pipi Rara tersusun oleh partikel-partikel atom. Memang atom penyusun pipi Rara berbeda dengan atom penyusun meja sehingga pipi Rara lebih lembut dari meja. Ada beragam atom di alam semesta.

Sifat obyektif teori atom membuka peluang bagi ilmuwan lain melakukan penelitian lanjutan. Benar saja teori atom Dalton direvisi berkali-kali. Tetapi kita tetap bisa menyatakan prinsip yang mirip dengan teori atom Dalton bahwa hakikat alam semesta adalah tersusun dari partikel-partikel terkecil.

Sekilas, kita perhatikan, perkembangan teori atom direvisi oleh Rutherford yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti dan elektron yang mengelilingi inti atom tersebut – jadi atom bukanlah materi terkecil. Tetapi elektron yang mengelilingi inti akan segera kehabisan energi lalu menempel ke inti, akibat gaya tarik muatan listrik mereka. Bohr menyempurnakan dengan teori bahwa elektron mengelilingi inti dengan lintasan tertentu sehingga tidak kehabisan energi dan berhasil mempertahankan struktur atom. Dan seterusnya teori atom ini berkembang sampai ke mekanika quantum.

Di jaman sekarang ini, seperti saya nyatakan di awal, teori sains fisika ini adalah yang paling dipercaya oleh umat manusia.

Atom Filosifis

Jauh hari, dua ribu tahun, sebelum Dalton menyusun teori atom ilmiah, Demokritus sudah menyusun teori atom filosofis. Demokritus menyatakan bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom. Yaitu partikel terkecil materi yang tidak bisa dibagi lagi. Maka atom Demokritus ini berbeda dengan atom Dalton. Meskipun Dalton, pada awalnya, mengira bahwa atom yang dia temukan adalah atom yang dimaksud oleh Demokritus. Nyatanya bukan.

Persoalan muncul dengan atom filosofis tersebut bentuk geometrinya seperti apa. Aristoteles termasuk yang awal-awal menyadari kesulitan tersebut. Sekilas atom akan lebih mudah berbentuk bulat seperti bola kecil. Tetapi bila atom bulat maka di antara ribuan atom akan banyak ruang kosong. Kita bayangkan di antara ribuan bola bertumpuk pasti banyak rongga kosongnya. Maka para filosof memikirkan bentuk atom haruslah sedemikian hingga dapat mengisi ruangan dengan rapat. Salah satunya adalah bentuk kubus atau bentuk semacam batu bata. Dan masih banyak bentuk lainnya yang mungkin.

Kesulitan filosofis tetap muncul mengenai atom ini. Mengapa atom tidak bisa dibagi lagi? Sehingga menjadi partikel terkecil. Bukankah bila kita membayangkan bentuk atom seperti bola atau kubus maka kita tetap bisa membaginya menjadi dua bagian? Tampaknya sains fisika masa kini, mekanika quantum, mendukung teori atom yang tidak terbagi lagi tersebut. Ada partikel elementer, misal elektron, yang tidak bisa dibagi lagi. Meski pun partikel elementernya bisa beragam sesuai penemuan ilmiah tetapi sifat tidak bisa dibagi lagi memang benar adanya terbukti secara ilmiah, sejauh ini.

Bukan hanya materi yang tersusun oleh partikel terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Awal abad 20, Einstein menyatakan bahwa energi pun tersusun oleh paket-paket energi terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Paket terkecil ini dikenal sebagai quanta – kelak menjadi istilah quantum. Energi yang semula dipandang seperti lembut mengalir ternyata juga terbentuk oleh paket-paket kecil. Tentu saja banyak ilmuwan yang menolak pandangan Einstein. Termasuk Planck, yang teorinya dipakai oleh Einstein, justru menolaknya. Seiring berjalannya waktu teori paket-paket energi terkecil ini terbukti benar.

Sampai di sini kita bisa melihat bahwa benda-benda yang paling haluspun sejatinya tersusun oleh partikel-partikel yang tidak solid satu sama lain. Misal, pipi Rara yang lembut itu, sejatinya tersusun oleh partikel-partikel, fragmented, berdempetan.

Materi Filosofis

Filsafat masih berhak bertanya apakah benar bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom-atom? Apakah benar kita bisa mengetahui atom-atom tersebut, seandainya ada?

Sains menjawab dengan yakin bahwa materi tersusun oleh partikel-partikel elementer. Kita bisa mengetahuinya dengan berbagai macam eksperimen dan rumusan ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang konsisten sepanjang sejarah. Jadi, benar adanya bahwa materi tersusun dari partikel elementer.

Tetapi jawaban sains ini mudah diragukan. Bagaimana sains bisa tahu itu semua? Sains hanya bisa mengamati fenomena alam semesta. Sains hanya mengungkap penampakan dari materi. Bukan materi dalam dirinya sendiri. Hakikat materi tetap tersembunyi. Jadi yang diungkapkan sains dengan teori atom, lengkap dengan mekanika quantum, adalah sekedar penampakan dari materi. Dan sains tetap dipersilakan terus maju mengembangkan teori-teori lanjutan. Namun untuk mengungkap hakikat materi, hakikat alam semesta, ijinkan filsafat kembali mengambil peran.

Atom filosofis. Pandangan filsafat ini, seperti telah diungkapkan di atas, dinyatakan oleh Demokritus. Pandangan atom filosofis sejalan dengan pandangan sains fisika yang terus-menerus mengalami revisi.

Atam nonmateri. Filsafat memiliki cakupan lebih luas dari sains. Salah satunya, filsafat bisa mengkaji sesuatu yang nonmateri. Ghazali, filsuf abad 12, mengusulkan pandangan teori atom nonmateri. Yaitu alam materi tersusun oleh atom-atom yang substansinya bukan materi, nonmateri. Ketika atom nonmateri ini berkumpul dalam jumlah besar, dalam jumlah tertentu, maka terbentuklah materi dari yang paling elementer.

Atom nonmateri ini menyelesaikan beberapa persoalan. Atom nonmateri bersifat lentur sehingga bebas mengambil bentuk geometri apa pun. Atom nonmateri ini pun menjawab mengapa dia tidak bisa dibagi lagi karena atom memang nonmateri. Sedangkan materi elementer, semisal elektron, tetap masih bisa dibagi – setidaknya dalam pikiran. Untuk kemudian elektron bisa dianalisis tersusun oleh substansi nonmateri.

Atom nonmateri ini juga memberi jalan hubungan antara dunia materi dengan dunia nonmateri. Misal jiwa manusia, bersifat nonmateri, bisa menggerakkan atom-atom nonmateri tersebut untuk kemudian menggerakkan badan manusia sesuai perintah kehendak jiwa manusia. Lebih jauh pembahasan tentang ketuhanan juga terbuka dengan atom nonmateri.

Modus Wujud. Sadra, filsuf besar abad 17, menyatakan bahwa materi adalah modus wujud. Materi adalah manifestasi dari wujud. Masih ada modus wujud lainnya misal jiwa dan akal manusia. Materi sendiri merupakan modus wujud paling lemah. Sehingga bila kita menganalisa materi dengan lebih mendalam maka akan mengantar ke modus wujud yang lebih tinggi. Misal mekanika quantum mengantarkan manusia kepada fenomena elektron yang indeterministik – lebih mendekati ke sifat jiwa. Padahal materi dalam skala makrokospik bersifat deterministik sesuai mekanika klasik Newton.

Substansi. Spinoza, filsuf abad 17, menyatakan bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah substansi Tuhan. Materi alam eksternal yang kita lihat semisal meja, kursi, pohon, dan lainnya adalah bayang-bayang dari substansi Tuhan. Mereka hanya dipinjami substansi oleh Tuhan. Pandangan Spinoza, yang menganggap segala sesuatu hakikatnya adalah substansi Tuhan, dikenal sebagai pandangan monisme.

Pikiran. Leibniz, filsuf abad 17 dan 18, menyatakan hakikat alam semesta adalah pikiran. Misalnya mengapa ada pohon di depan rumah, itu karena kita memikirkan pohon itu. Orang lain memikirkan pohon itu. Tetapi ketika tidak ada orang memikirkan pohon mengapa masih ada pohon? Karena Tuhan memikirkan pohon tersebut. Jadi, alam semesta adalah pikiran Tuhan. Dan semakin nyata karena makin banyak manusia ikut berpartisipasi memikirkannya.

Kehendak. Schopenhauer, filsuf abad 19, menyatakan hakikat alam semesta adalah kehendak, will. Tentu saja manusia punya kehendak, dan kehendak itulah hakikat jati diri manusia. Sedangkan alam luar, misal batu, juga punya kehendak meski kehendaknya tidak sekuat kehendak manusia.

Radikal Empiris. William James, filsuf abad 20, meyakini bahwa meteri dan pikiran manusia saling menguatkan. Alam eksternal, misal meja, memang ada. Lalu pikiran manusia memikirkan meja itu maka meja akan, sedikit, berubah sesuai pikiran manusia. Meja yang baru mempengaruhi pikiran manusia lagi, mengubah pikiran manusia. Selanjutnya pikiran manusia mempengaruhi meja dan seterusnya. Sehingga realitas alam semesta saling mempengaruhi dengan pikiran manusia.

Gelombang. Schrodinger, ilmuwan abad 20, merumuskan gelombang quantum untuk menjelaskan fenomena quantum. Tetapi gelombang quantum ini membuka cakrawala baru sehingga orang bisa berpikir bahwa alam semesta hakikatnya adalah susunan-susunan gelombang. Nyatanya, partikel elementer elektron terbukti bisa dipandang sebagai gelombang. Sehingga alam makrokospis, sejatinya, terdiri dari tumpukan banyak gelombang.

Equa. Gelombang Schrodinger memunculkan banyak kemungkinan teori baru. Saya menggagas equa. Hakikat alam materi adalah equa, yaitu realitas alam yang bisa didekati, salah satunya, dengan persamaan gelombang quantum. Tetapi equa bukan persamaan itu sendiri melainkan hakikat realitas. Sehingga materi, alam eksternal, adalah manifestasi dari equa. Di satu sisi equa bersifat material dan di sisi lain bersifat nonmaterial.

Ringkasan. Dari berbagai macam pandangan tentang materi tampaknya cara pandang sains adalah yang paling banyak diterima. Yaitu materi alam semesta terdiri dari atom-atom (dan partikel elementer) sesuai dengan hasil penelitian terbaru. Tetapi pandangan materialis seperti ini membatasi cara pandang hanya sebatas materi. Fenomena yang lebih beragam tidak mendapat panggung utama. Maka kita perlu meluaskan cakrawala dengan mempertimbangkan ragam alternatif seperti kita baca di atas.

Cantik Alami

Kita kembali membahas cantik alaminya Rara, setelah panjang lebar mendiskusikan hakikat penyusun pipi Rara dari atom sampai pikiran. Hakikat cantiknya Rara adalah cantik alami itu sendiri.

Seperti kita pernah bahas sebelumnya, hakikat cantik adalah struktur, susunan, hubungan, yang harmonis dari berbagai unsur penyusunnya. Struktur cantik itu sendiri tidak bersifat material melainkan bersifat universal yang hakikatnya ada di alam idea. Ini adalah sintesa pandangan Aristoteles dan Plato.

Sementara Ibnu Arabi menyatakan bahwa cantiknya Rara itu adalah manifestasi dari sifat Tuhan yang Maha Indah, Maha Baik, Maha Kreatif, dan lain-lain.

Kant menyatakan ada dua macam cantik. Pertama adalah cantik bebas. Yaitu cantik dan indah meski sepertinya tidak ada aturan pasti. Misal karya seni abstrak, coretan-coretan bebas yang tampaknya seperti tidak punya aturan. Bisa juga menatap awan senja yang begitu cantik dengan tatanan warni-warni.

Kedua, cantik bertujuan. Yaitu cantik yang punya tujuan tertentu. Misal cantiknya Rara punya tujuan mendukung kehidupan Rara. Mata Rara untuk melihat, alis melindungi mata dari tetesan air, bulu mata melindungi dari debu dan lainnya. Rumus matematika juga cantik dengan tujuan memecahkan suatu masalah tertentu.

Apa hakikat dari cantik alami itu?

Kita akan membahas pada bab-bab berikutnya. Kita masih perlu membahas bab universalia sebagai pendahuluan. Di bagian ini, kita hanya bisa kembali menyatakan bahwa cantik alami itu bersifat universal berada dalam alam idea.

Hakikat Cinta

Hakikat cinta akan tetap menjadi tanda tanya sampai akhir buku ini. Cinta bertanya ke arah mana sumber cinta. Cinta bertanya kepada siapa mencurahkan cinta. Cinta ada di mana-mana.

Filsafat tentu saja gagal mendefinisikan cinta. Definisi adalah membatasi. Cinta itu tak terbatas dan tidak bisa dibatasi. Hakikat cinta tetap tersembunyi. Bukan karena kecil, cinta bisa tersembunyi. Justru karena besar, ada di mana-mana, mata tak sanggup menatapnya. Bagai matahari, begitu terangnya, mata tak sanggup menatapnya. Cukup kiranya berkas-berkas sinar matahari menerangi.

Meski hakikat cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kita bisa merasakan ada, sekedar percikan cinta. Cinta saya kepada Rara adalah nyata, cinta seorang ayah kepada anaknya. Cinta seorang anak kepada ibunya juga nyata. Cinta istri kepada suami dan cinta suami kepada istri nyata bahkan menjaga kelangsungan sejarah umat manusia.

Diskusi

Pertanyaan tentang hakikat segala sesuatu memang sudah menyusahkan para pemikir sepanjang jaman. Filsafat menjawab dengan beragam sudut pandang. Bahkan yang paling meyakikan, secara filosofis, kita hanya bisa mengetahui penampakan segala sesuatu bukan segala sesuatu itu sendiri.

Tetapi sains berhasil melangkah dengan pasti, dilengkapi dengan ilmu pasti yang obyektif. Mengungkap hakikat materi adalah tersusun oleh atom-atom dan partikel elementer sesuai teori quantum. Bila kita coba cermati lebih hati-hati, pendekatan sains ini membatasi diri hanya kepada fenomena materi. Hal itu bagus-bagus saja. Sejatinya kita, manusia, bukan sekedar materi. Maka paradigma sains tidak memadai untuk mewakili seluruh realitas manusia, dan alam sekitar, serta Tuhan.

Di bagian selanjutnya kita akan membahas itu semua, melampaui materi, dengan lebih detil di antaranya pengetahuan universalia, pengetahuan apriori, berpikir induksi, dan sebagainya. Sebelum melangkah ke sana kita akan membahas isu penting dalam filsafat, meski sering diabaikan orang awam, yaitu idealisme.

Lanjut ke Idealisme
Kembali ke Philosophy of Love