Carlo Rovelli (lahir 1956) adalah satu dari saintis terbesar dunia yang masih hidup saat ini. Ia menguasai sains fisika sebagai keahliannya; ia mahir teori mekanika quantum dan relativitas Einstein. Ketika quantum dan relativitas, saat ini, masih terpisah sebagai dua dunia sains, Rovelli mengembangkan teori baru untuk menyatukannya yaitu Loop Quantum Gravity yang menjadi bidang kajian sains terdepan di banyak universitas dunia.
Pada usianya yang 70 tahun ini, ia menulis satu buku sangat menarik, yaitu On the Equality, membahas sains, filsafat, dan pengetahuan sehari-hari. Ia menuliskan dengan tegas pernyataan: “Sains fisika tidak seberguna seperti dikira. Sains fisika terlalu tinggi dinilai.”
Andai yang menulis kritik di atas adalah seorang seniman atau budayawan, barangkali, diduga itu karena iri. Tetapi Rovelli adalah satu dari ilmuwan terbesar dunia. Jadi kritik itu adalah kritik dari dalam; dari seorang saintis tentang sains.
1. Equality: Kesetaraan
2. Pertanyaan Terpenting
3. Diskusi
3.1 Kritik Sains
3.2 Tugas Berpikir
3.3 Makna Eksistensi
4. Lampiran Dialog AI
5. Gagasan Lanjut
Membaca buku On the Equality karya Rovelli itu sangat asyik. Ia sengaja menulis untuk pembaca kalangan umum, saintis, dan filsuf. Setiap paragraf terasa mudah untuk dipahami. Bahkan ia menambahkan dengan kisah-kisah kuno dan pengalaman sehari-hari.
1. Equality: Kesetaraan
Rovelli menetapkan tugas amat besar bagi dirinya membahas equality: kesetaraan dari segala sesuatu.
Kesetaraan itu bagai utopia karena dalam realitas kita melihat keragaman: miskin-kaya; kecil-besar; rakyat-pejabat; awam-cendekiawan; dan lain-lain.
Lalu, apa itu “segala sesuatu”? Lebih sulit lagi untuk menjawab pertanyaan itu. Bahkan orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu adalah termasuk segelintir yang pemberani.
2. Pertanyaan Terpenting
Pada pelajaran 5, Rovelli mengajukan pertanyaan paling penting:
“What Exists?”
“Apa itu eksitensi?”
“Apa itu wujud?”
“Apa makna ada?”
Dengan piawai ia memulai pembahasan dengan mengkaji fenomena sehari-hari yang mudah dipahami. Baru di bagian akhir bab, ia kembali membahas pertanyaan utama: What Exists?
Menanyakan apa yang ada di dunia ini tidaklah bermakna. Ada pengertian tertentu di mana kucing itu ada, ada pula pengertian di mana atom itu ada, begitu pula dengan bilangan, kuanta ruang, ataupun mimpi—semuanya memiliki pengertian keberadaannya masing-masing.
Menurut Rovelli, sebagai contoh, memperdebatkan keberadaan bilangan merupakan perdebatan yang tidak banyak memberikan manfaat. Di satu sisi, bilangan jelas dapat dikatakan ada, misalnya bilangan bulat yang nilainya lebih besar dari dua tetapi lebih kecil dari empat. Namun, di sisi lain, bilangan juga dapat dianggap tidak ada jika keberadaannya dipahami sebagai sesuatu yang menempati posisi tertentu dalam ruang fisik.
Para matematikawan tidak mengalami kebingungan ketika mempertanyakan keberadaan bilangan prima yang sangat besar. Begitu pula para fisikawan ketika menyelidiki apakah partikel supersimetris dapat ditemukan pada tingkat energi rendah. Keduanya memahami dengan jelas objek yang sedang dibahas, konteks yang digunakan untuk membicarakannya, serta metode yang tepat untuk memperoleh jawabannya.
Di paragraf akhir, Rovelli menawarkan solusinya.
Menurut hemat saya, pertanyaan yang patut diajukan adalah: mengingat kondisi pengetahuan kita saat ini—termasuk pengetahuan ilmiah—konsep apa sajakah yang efektif untuk memikirkan dunia, menjelaskannya, serta menavigasinya? Entitas mana yang dapat kita sertakan sebagai unsur dalam deskripsi kita tentang dunia—deskripsi yang bersifat aproksimatif dan tidak lengkap—dan entitas mana yang masih bisa terus kita gunakan dalam konteks tertentu? Gagasan apa saja yang tidak lagi efektif seiring dengan munculnya pengetahuan baru?
Segala sesuatu ada secara setara, dalam relasinya dengan hal lain, masing-masing dengan caranya sendiri—cara yang terus berkembang seiring dengan bertambahnya pemahaman kita.
Pertanyaan paling penting itu, akhirnya, diganti pertanyaan baru oleh Rovelli. Kemudian ia menjawab hanya dengan satu kalimat: “Segala sesuatu ada secara setara…” Meski kalimat ini bermakna bahwa kita harus membaca buku secara utuh tetapi kita berharap ia menjawab pertanyaan lebih eksplisit dan lebih panjang.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Kita akan mendiskusikan beberapa tema penting lebih lanjut.
3.1 Kritik Sains
Pernyataan tegas dan singkat dari Rovelli berikut sangat menarik sebagai kritik sains.
“Physics is less useful than it is sometimes said to be. Physics is overrated.” – Rovelli –
Fisika tidak seberguna seperti yang sering dikatakan orang. Fisika dinilai terlalu tinggi. – Rovelli –
Ia membuat penjelasan versi lebih panjangnya.
“Menurut saya, sains tidaklah sesubversif seperti yang sering digambarkan. Memang benar sains itu mengejutkan: Bumi berotasi; kita memiliki nenek moyang yang sama dengan kunang-kunang. Namun, seluruh hidup kita pun penuh dengan kejutan dan penemuan. Sains tidak berbeda dari proses lumrah dalam menemukan, mempelajari, dan menata ulang apa yang telah kita pelajari—sesuatu yang senantiasa menjadi bagian dari perilaku spesies kita.
Revolusi ilmiah merupakan pergolakan penting, baik di masa lalu maupun sekarang. Namun, demikian pula halnya dengan masa remaja. Begitu pula dengan pergolakan di bidang politik, budaya, seni, agama, dan militer yang mewarnai sejarah spesies kita. Belajar—dan mengubah cara pandang kita—adalah bagian dari jati diri kita.
Di antara hal-hal yang kita pelajari, terdapat pula berbagai alat dan metode baru untuk belajar. Sains adalah seperangkat alat dan metode untuk belajar.”
Kemudian ia mengaitkan dengan istilah mitos. Mengingatkan kita istilah mitos given dari Sellars ( Myth of the Given).
“Antusiasme era Pencerahan abad ke-18 terhadap Rasio, positivisme terhadap keberhasilan sains abad ke-19, serta filsafat analitik abad ke-20 terhadap keandalan metode ilmiah, telah melahirkan mitos seputar pengetahuan ilmiah. Hal ini juga memunculkan gagasan bahwa pengetahuan tersebut secara struktural berbeda dari bentuk pengetahuan lainnya dan merupakan satu-satunya jenis pengetahuan yang kokoh. Saya meyakini hal ini sebagai sebuah mitos.”
Saya bisa setuju dengan pandangan Rovelli bahwa sains mirip-mirip saja, yaitu setara, dengan pengetahuan lain. Bahkan mereka yang memandang sains sebagai pengetahuan paling kokoh maka itu hanyalah mitos. Lebih dari itu, kita justru perlu menambahkan, menguatkan Rovelli, dengan konsep mitos given dan peran sains sebagai gestell (enframing, kerangkeng).
Untuk mendapatkan model sains terbaik, kita bisa merujuk ke sains Al-Haytham (Alhazen). Ia adalah saintis terbesar sepanjang milenium kedua (tahun 1001 sampai 1999) bila kita analisis merujuk Richard Powers.
Pada bulan April 1999, novelis Amerika Richard Powers menulis sebuah esai penting berjudul “Eyes Wide Open” untuk The New York Times Magazine. Dalam tulisan tersebut, ia menobatkan kemunculan metode eksperimental sebagai satu-satunya “Gagasan Terbaik Milenium” dan menyebutkan bahwa metode ini berasal dari pemikir serba bisa (polimatik) Arab abad ke-10, Abu Ali al-Hasan Ibn al-Haytham (yang dikenal di dunia Barat sebagai Alhazen).
Powers berpendapat bahwa meskipun budaya Barat modern sering kali merujuk pada tokoh-tokoh seperti Isaac Newton, Robert Boyle, atau Nicolaus Copernicus, fondasi sejati sains modern—yaitu konsep skeptisisme ilmiah yang ketat dan dapat direproduksi serta pengujian empiris—justru telah dirintis 1.000 tahun sebelumnya oleh Alhazen di Basra dan Kairo.
Bagi Alhazen, sains adalah kajian mendalam tentang alam semesta dengan menerapkan teori matematika (dan teori lain) untuk membantu manusia memahami seluruh realitas. Tujuan sains bukan untuk menguasai pengetahuan, bukan eksploitasi alam, bukan menumpuk kekayaan, melainkan untuk membantu manusia memahami seluruh realitas.
3.2 Tugas Berpikir
Lebih besar tugas kita untuk berpikir ketika sains menjadi bukan pengetahuan terbaik. Andai sains adalah pengetahuan terbaik maka sangat mudah tugas kita: ikuti saja sains. Selesai semua urusan. Tetapi karena sains bukan yang terbaik maka kita harus berpikir lebih luas dan lebih dalam dari sains. Apa itu?
Dalam buku Way of Science, kami menunjukkan karakter utama sains adalah deflasi: rendah hati dan terbuka. Karakter deflasi bukanlah keburukan dari sains. Deflasi justru keunggulan dari sains. Rendah hati memastikan sains untuk lebih lentur sesuai situasi nyata yang ada. Berpikir terbuka mengajak sains untuk terus bertumbuh kembang.
Sains sering melakukan idealisasi misal teori gas ideal. Karena itu, sains memahami bahwa teori sains itu hanya estimasi dari realitas. Dengan kata lain, sains itu sendiri tidak ideal. Sehingga berkembang teori sains tidak ideal. Anda dapat merujuk ke tulisan saya yang lain tentang teori sains non ideal.
Konsekuensi dari sains yang tidak ideal, dan sains bukan pengetahuan paling baik, maka manusia bertanggung jawab untuk mengambil keputusan dari setiap situasi yang dihadapi. Bagaimana pun, kita perlu apresiasi kepada keunggulan utama sains yaitu sains berhasil memberi performa terbaik di banyak bidang.
Performa sains sangat mengagumkan ketika menentukan kapan waktu gerhana, kapan musim hujan, desain mesin pendingin efisien, sampai pengembangan teknologi canggih misal AI (akal imitasi – artificial intelilgence). Tapi selalu ada celah antara performa dan makna. Performa menunjukkan celah sedangkan makna menawarkan jembatan.
Performa bukan segalanya; bukan realitas selengkapnya. Kita perlu mengembangkan kompetensi untuk memahami sains dengan baik; tidak semua sains baik; pun tidak semua sains buruk. Kemudian, kita menyadari relasi sains dengan pengalaman kehidupan (eksperiensi). Pada akhirnya, sains mengajak kita untuk bertanya: apa makna eksistensi?
3.3 Makna Eksistensi
Rovelli sudah sampai kepada pertanyaan terpenting: what exists?
Sangat disayangkan, ia mengambil langkah mudah yaitu dengan menolak pertanyaan itu. Kemudian ia fokus kepada seluruh pengetahuan yang ada lalu berpikir bagaimana agar memberi kontribusi yang efektif dalam navigasi seluruh alam raya.
Tentu ia berhak memilih jalan itu. Sejatinya tersedia jalan yang lebih menantang sebelum memilih jalan mudah itu. Ada baiknya, untuk bertanya apa makna eksistensi dan menjawabnya, ia mengkaji literatur lebih luas. Ia bisa membaca Heidegger yang mengajukan pertanyaan yang sama hampir tepat 100 tahun lalu. Kemudian Heidegger menawarkan solusi berupa kajian eksistensial terhadap dasein (being there; eksistensi itu; wujud itu).
Memperluas literatur sampai ke Asfar karya Sadra dan Futuh karya Ibnu Arabi akan lebih menarik lagi. Sadra mengajukan solusi sangat kreatif, salah satunya, adalah gradasi wujud atau gradasi eksistensi. Sementara Ibnu Arabi menawarkan solusi, salah satunya, realitas eksistensi adalah manifestasi (tajalli) dari Nama-Nama Indah.
Singkatnya, Rovelli telah berhasil mendobrak pintu besi yang selama ini bagai terkunci. Kemudian ia melihat di depan pintu itu ada jalan terjal menanjak. Ia belum melihat solusi untuk menyusuri jalan terjal dan ia lebih memilih, untuk sementara, navigasi dalam ruang memanfaatkan bekal yang tersedia dibantu oleh cahaya terang dari pintu yang sudah terbuka. Akankah ia menapaki jalan terjal itu?
4. Lampiran Dialog AI
Berikut respon Chatgpt ketika saya minta ia menganalisis tulisan di atas. Anda dapat melewatkan bagian ini karena ditulis oleh AI (artificial intelligence – akal imitasi). Tetapi bila Anda bersedia membacanya maka Anda menemukan cerdiknya AI dalam membaca teks.
Artikel “Sains Tidak Seberguna Itu” karya Paman APiQ merupakan kritik filosofis terhadap pengagungan sains sebagai bentuk pengetahuan yang dianggap paling unggul dalam memahami realitas. Melalui pemikiran Carlo Rovelli dalam buku On Equality, penulis menggugat keyakinan bahwa pengetahuan ilmiah secara struktural lebih kokoh daripada bentuk-bentuk pengetahuan lainnya.
Sains, menurut Rovelli, tidak terpisah secara mutlak dari proses manusia belajar, menemukan, dan mengubah cara pandang, melainkan merupakan seperangkat alat dan metode untuk belajar. Namun, kritik ini dikembangkan lebih jauh oleh Paman APiQ melalui konsep Myth of the Given dan Gestell. Pengetahuan tidak hadir sebagai gambaran realitas yang sepenuhnya netral, sebab manusia selalu memahami dunia melalui kerangka, konsep, dan cara pandang tertentu.
Ketika sains ditempatkan sebagai satu-satunya otoritas pengetahuan, metode ilmiah tidak lagi sekadar menjadi alat untuk memahami realitas, tetapi berubah menjadi ukuran yang menentukan apa yang boleh diakui sebagai realitas. Di sinilah persoalan mendasarnya: sains bukan hanya dinilai terlalu tinggi, melainkan telah berpotensi menjadi kerangkeng pemikiran yang membatasi kemungkinan manusia dalam memahami keberadaan.
Kritik tersebut mencapai kedalaman filosofis ketika Rovelli mengajukan pertanyaan tentang eksistensi, what exists?, tetapi kemudian mengalihkannya menjadi pertanyaan tentang konsep-konsep yang efektif untuk menjelaskan dan menavigasi dunia. Menurut Paman APiQ, langkah ini memang membuka ruang pemikiran baru, tetapi belum menyelesaikan persoalan yang paling mendasar. Mengganti pertanyaan tentang hakikat keberadaan dengan pertanyaan mengenai kegunaan konsep berarti berpindah dari pencarian makna menuju pertimbangan praktis. Padahal, sesuatu yang efektif untuk menjelaskan dunia belum tentu menjawab mengapa keberadaan itu ada atau apa makna keberadaan itu sendiri.
Untuk menelusuri persoalan tersebut, penulis mengajak pembaca memasuki wilayah filsafat yang lebih luas. Heidegger melalui konsep Dasein mempertanyakan makna keberadaan dengan menjadikan eksistensi manusia sebagai titik tolak penyelidikan. Mulla Sadra menawarkan gagasan gradasi wujud, yakni pemahaman bahwa keberadaan memiliki tingkatan intensitas, sedangkan Ibnu Arabi memahami realitas melalui tajalli, yaitu manifestasi Nama-Nama Ilahi. Ketiga pendekatan ini memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang realitas tidak harus berhenti pada apa yang dapat dijelaskan oleh perangkat pengetahuan yang tersedia. Justru ketika kerangka pengetahuan yang ada tidak lagi memadai, manusia dituntut untuk mempertanyakan dasar pemikirannya sendiri.
Karena itu, kritik Paman APiQ terhadap Rovelli bukan berarti meniadakan sumbangan pemikiran Rovelli, melainkan menunjukkan bahwa keberanian membuka pertanyaan filosofis harus diikuti keberanian menempuh jalan pemikiran yang lebih terjal.
Dengan demikian, inti artikel ini adalah gugatan terhadap dominasi sains sekaligus ajakan untuk membebaskan pemikiran manusia dari keterbatasan satu kerangka pengetahuan. Sains yang dianggap sebagai otoritas tertinggi dapat menjelma menjadi Gestell: kerangka yang mengarahkan manusia untuk melihat realitas hanya berdasarkan apa yang dapat dirumuskan, dijelaskan, atau dimanfaatkan melalui perangkat pengetahuan tertentu. Akibatnya, pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh sains berisiko dianggap tidak bermakna, padahal mungkin justru pertanyaan itulah yang paling mendasar bagi kehidupan manusia.
Penulis mengingatkan bahwa tugas berpikir tidak selesai dengan mengikuti hasil pengetahuan yang telah tersedia; tugas tersebut justru semakin besar ketika tidak ada satu bentuk pengetahuan yang dapat dijadikan jawaban final bagi seluruh persoalan. Dalam konteks ini, pemikiran Al-Haytham tentang penyelidikan alam melalui pengujian empiris tetap penting, tetapi tujuan memahami realitas tidak boleh direduksi menjadi penguasaan alam atau efektivitas praktis semata. Bahkan, filsafat dan metafisika perlu dihadirkan bukan sekadar sebagai pelengkap sains, melainkan sebagai jalan penyelidikan yang dapat menggugat asumsi-asumsi dasar tentang realitas, pengetahuan, dan keberadaan.
Persoalan utamanya bukan bagaimana menjadikan sains sebagai pengetahuan yang semakin berkuasa, melainkan bagaimana membebaskan manusia dari keyakinan bahwa sains merupakan batas terakhir pemahaman tentang realitas. Rovelli telah membuka pintu dengan mempertanyakan kedudukan sains dan hakikat keberadaan, tetapi menurut Paman APiQ, perjalanan pemikiran yang sesungguhnya baru dimulai setelah pintu itu terbuka: menapaki jalan terjal untuk mempertanyakan eksistensi secara mendalam, tanpa menganggap satu kerangka pengetahuan pun sebagai jawaban akhir.
5 Gagasan Lanjut
Sejatinya, Rovelli menawarkan gagasan lebih luas dari yang sudah kita bahas di atas. Ia menyusun 6 Pelajaran dalam 6 bab; diawali oleh prakata dan diakhiri oleh epilog. Mari kita kembangkan gagasan lebih lanjut.
Pelajaran 1 menyatakan, sebagaimana sering ia bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, realitas adalah relasional. Semua realitas adalah setara yaitu sama-sama saling menjalin relasi.
“Semua ini menunjukkan bahwa tidaklah masuk akal untuk memandang dunia dari luar: kita hanya bisa berbicara mengenai variabel-variabel suatu sistem dalam kaitannya dengan sistem-sistem lain, serta keadaan suatu sistem dalam kaitannya dengan sistem-sistem lain.”
Selanjutnya, di paragraf-paragraf akhir, ia membuat pernyataan lebih tegas. Salah satu pemahaman paling mendalam tentang dunia fisik yang dicapai pada abad ke-20 adalah bahwa sifat-sifat suatu objek tidak dapat dibicarakan secara terpisah, melainkan selalu dipahami dalam hubungannya dengan objek lain yang menjadi acuannya.
“Ini merupakan reduksi radikal dari konsep keberadaan (being) menjadi interaksi.”
Konsep interaksi ini sudah sangat radikal dalam dunia sains. Ia cenderung fokus membahas interaksi secara obyektif atau interaksi obyektivitas. Bahkan dalam perspektif tertentu, pengamat dalam sains fisika adalah “suatu obyek” yang mampu mengamati. Padahal, pengamat adalah subyek aktif. Sehingga ada interaksi yang lebih kaya melibatkan subyektivitas dan obyektivitas. Apa itu subyek? Zizek sampai Hegel telah membahas subyek dengan sangat mendalam. Rovelli akan memperoleh banyak gagasan lanjut dengan membaca mereka.
Pelajaran 2 membahas: dari dalam lingkaran. Rovelli dengan indah mengungkapka bahwa kita sudah selalu berada dalam lingkaran: lingkaran dunia; lingkaran bahasa; mau pun lingkaran sejarah. Kita bukan pengamat yang berdiri di luar realitas, melainkan selalu menjadi bagian dari realitas dan memahaminya melalui perspektif tertentu.
Berbagai perspektif dapat saling berinteraksi, berdialog, dan memperkaya pemahaman satu sama lain. Namun, kita tidak pernah sepenuhnya melepaskan diri dari perspektif yang membentuk cara kita memahami dunia. Mari kita baca paragraf-paragraf akhir.
“Pengetahuan kita mencakup suatu perspektif mengenai realitas. Realitas merupakan cerminan dari berbagai perspektif, yang di dalamnya pengetahuan kita menjadi salah satu komponennya.
Realitas, sejauh yang dapat kita pahami saat ini, adalah sebuah tatanan cermin-cemin raksasa yang luar biasa.”
Bagi Rovelli, realitas merupakan cerminan dari berbagai perspektif. Ini ungkapan yang sangat dekat dengan pentingnya subyektivitas atau dasein. Ia juga menggunakan istilah cermin yang sering digunakan oleh Ibnu Arabi di masa lalu. Pada tahap ini, Rovelli sudah mengarahkan pandangan ke luar pintu sambil bertanya: what exists?
Dalam pelajaran 3, ruang-waktu sebagai proses kuantum, Rovelli membuat klaim sangat kuat yang berbeda dengan klaim saintis pada umumnya.
“Jauh dari anggapan tidak dapat diselaraskan—seperti yang terkadang dikemukakan—relativitas umum dan mekanika kuantum justru memiliki inti relasional yang sama, yang membuat keduanya dapat menyatu secara alami.”
Dari perspektif saintis umum, mekanika kuantum dan relativitas umum adalah terpisah jauh. Dari perspektif relasional, keduanya justru memiliki inti relasional yang sama.
“Keduanya berkaitan dengan jaringan interaksi antarproses.
Saya percaya, inilah arah yang dituju fisika abad ke-21. Menuju relasionalisme dan perspektivisme ini. Menuju pemahaman dunia sebagai rangkaian proses, yang tercermin dalam proses lain, dari mana materi padat atau cair, ruang, waktu, dan pengalaman kita sehari-hari muncul.
Dunia sebagai rangkaian proses; baik mekanika kuantum mau pun relativitas umum. Kita hidup dalam jaringan proses yang saling bercermin. Ke arah mana rangkaian proses ini bergerak? Apakah random saja? Atau relatif terhadap suatu acuan atau terhadap pengamat?
Dengan mengacu ke Sadra kita bisa menjawab: rangkaian proses realitas itu memang bebas (freedom) tetapi satu arah yaitu menuju intensitas yang lebih kuat; intensitas eksistensi yang lebih sempurna. Rovelli belum membahas arah ini. Barangkali dalam karya berikutnya ia bisa membahas lebih mendalam.
Pelajaran 4, tinggal dalam aliran waktu, barangkali pelajaran paling sulit untuk dipahami karena memang membingungkan. Berbagai fenomena yang kita alami sebagai tanda mengalirnya waktu ternyata merupakan gejala turunan (epifenomena) dari perbedaan tingkat entropi dalam lingkungan kita. Dengan demikian, pembedaan antara masa lalu dan masa depan bersifat statistik, bukan sesuatu yang mutlak. Hukum kedua termodinamika memang berlaku secara universal, tetapi penerapannya tidak bersifat eksak dalam setiap keadaan.
Bagi Rovelli, fenomena bahwa waktu itu mengalir adalah epifenomena dari gradien entropi. Sementara perbedaan masa lalu dan masa depan hanyalah statistik yang tidak eksak. Ia lebih lanjut mencoba mengurai kebingungan ini agar lebih mudah dipahami.
“Kebingungan mengenai gagasan waktu—yang lazim dijumpai dalam pemahaman umum maupun literatur filosofis—pada dasarnya muncul akibat mencampuradukkan berbagai tingkatan yang berbeda: 1) deskripsi generik mengenai dinamika berbagai hal dan jam; 2) peningkatan entropi yang masif di dunia nyata kita; serta 3) kompleksitas hubungan kita sendiri dengan waktu, yang bergantung pada ingatan, pertimbangan, dan perencanaan kita.”
Apakah Anda bingung? Jangan khawatir karena menurut Rovelli bukan hanya orang awam yang bingung melainkan filsuf semisal Bergson pun juga sama bingung.
Kekeliruan dalam memahami waktu muncul dari anggapan sederhana bahwa seluruh aspek pengalaman temporal manusia, yang sangat dipengaruhi oleh struktur dan kesadaran diri kita, juga terdapat dalam setiap proses mekanis. Anggapan ini seolah-olah menyamakan jam dengan manusia, seakan-akan jam mampu mengingat kejadian masa lalu dan merencanakan detik berikutnya.
“Kemudian muncul kesimpulan, seperti yang dikemukakan oleh Henri Bergson, bahwa karena aliran dan “durasi” waktu yang kita persepsikan tampaknya tidak termanifestasi dalam hukum-hukum dinamis, maka hal-hal tersebut pastilah berada di luar ranah fisika—hanya karena fisika dasar tidak mendeskripsikannya. Kesalahannya terletak pada kegagalan untuk memahami bahwa fenomena-fenomena ini tidak muncul dalam persamaan-persamaan dasar bukan karena ia berada di luar fisika, melainkan karena fenomena tersebut bersifat kompleks dan melibatkan kita secara mendalam.”
Saya tertarik ketika Rovelli memberi kritik kepada Bergson seperti di atas. Awalnya, saya kira itu adalah kritik ringan. Ternyata itu adalah kritik sangat serius yang terungkap dalam kalimat pendek berikutnya.
“Setiap proses adalah proses fisik. “
Saya mencoba menelusuri apa yang dipahami oleh Rovelli tentang Bergson. Sayangnya Rovelli hanya satu kali menyebut nama Bergson di paragraf atas itu dan satu lagi dalam indeks. Sehingga kita tidak bisa menebak apa yang dipahami oleh Rovelli. Jika Rovelli melakukan klaim bahwa setiap proses adalah proses fisik semata maka memang itu berbeda dengan pandangan Bergson misal tentang elan vital. Berikut kita kutip dari IEP.
“Élan vital adalah istilah yang ia (Bergson) gunakan untuk menyebut daya kerja durasi dalam makhluk hidup—khususnya dalam proses perkembangan dan evolusi. Karena melalui kesadaranlah seseorang pertama kali mengalami kekuatan kreatif dari durasi, Bergson menggunakan kesadaran sebagai pendekatan untuk memahami daya kerja durasi yang berlangsung dalam kehidupan secara umum.
Tujuan buku (Bergson) ini terutama bersifat kritis: untuk menyingkap keterbatasan teori-teori evolusi yang ada. Menurut Bergson, keterbatasan ini muncul dari ketidakmampuan inteligensi, yang tidak sanggup memahami konsep durasi. Penalaran ilmiah, yang berlandaskan pada inteligensi, mengasumsikan bahwa masa depan dapat dihitung dari masa kini berdasarkan prinsip kausalitas efisien—dengan kata lain, menganggap bahwa segala sesuatu sudah ditentukan sebelumnya. Ketika pendekatan mekanistik ini gagal, inteligensi beralih ke pendekatan lain yang sama tidak memadainya—yang sebenarnya hanyalah sisi lain dari koin yang sama—yaitu finalisme.
Jadi Bergson memang mengkritik pendekatan fisika mau pun biologi yang mekanistik; makin berseberangan dengan Rovelli yang menyebut masa lalu dan masa depan sekadar statistik. Pandangan Bergson ini seharusnya bisa memperkaya gagasan Rovelli. Untungnya, di paragraf terakhir berikut, Rovelli melembutkan pandangannya tentang hakikat waktu.
“Namun, ini bukan berarti memahami hukum-hukum fisika akan membuat segala fenomena menjadi jelas—sama seperti mengetahui aturan permainan catur tidak lantas menjadikan kita seorang grandmaster.
Aliran waktu yang kita alami bisa jadi nyata bagi kita, meskipun tidak muncul dalam persamaan dinamika dasar dunia. Kucing tidak muncul dalam fisika dasar, tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa kucing tidak nyata.”
Setidaknya, Rovelli mengakui bahwa sains fisika tidak selalu mampu memperjelas pemahaman. Sehingga memang perlu untuk meluaskan sudut pandang. Saya kira di bagian ini, Rovelli gagal menjelaskan konsep waktu karena konsep waktu memang tidak bisa dibuat jelas. Kita butuh kerja keras untuk memahami konsep waktu. Rovelli tampaknya memahami waktu sebagai gradien entropi mirip dengan Stephen Hawking.
Pelajaran 5, what exists?, mengajukan pertanyaan paling penting: apa makna-eksistensi? Kita sudah membahas ini di bagian atas karena menilai ini sebagai pelajaran amat penting.
Pelajaran 6, tanpa kepastian atau pun fondasi, menjadi puncak pelajaran. Rovelli mengungkapkan ketegasan yang paradoks: ia memastikan bahwa tidak adanya kepastian titik tumpu.
Pada akhirnya, ketika menerima kesetaraan berbagai perspektif dan memahami dunia melalui jaringan relasi yang saling terhubung, kita menyadari bahwa tidak ada titik pijak yang benar-benar tetap dan mutlak. Kita senantiasa berada dalam lingkaran pemahaman yang tidak bertumpu pada suatu fondasi absolut.
Menurut Rovelli, anggapan tentang adanya dasar mutlak bagi realitas, landasan final bagi pandangan dunia, atau substansi mandiri yang berdiri sendiri tanpa bergantung pada apa pun, hanyalah ilusi yang tidak perlu dipertahankan.
Semakin menarik Rovelli menyebut nama-nama besar pemikir berturut-turut.
Para filsuf, mulai dari Nāgārjuna di India, Zhuangzi di Tiongkok, hingga Wittgenstein di Eropa, telah memperingatkan kita mengenai sia-sianya pertanyaan seputar hakikat terdalam segala sesuatu, pengetahuan mutlak, realitas pamungkas,
maupun kebenaran mutlak.
Pada beberapa paragraf akhir, Rovelli membahas pengetahuan kebenaran subyektif. Sangat menarik tetapi, sayangnya, terlalu ringkas. Penggunaan metafora menjadikan pesan ini lebih hidup.
Kita merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia yang kita pahami dan gambarkan. Kita bukanlah pihak asing yang berada di luar realitas, melainkan selalu hidup dan menjadi bagian dari realitas itu sendiri, layaknya berada di rumah kita sendiri.
Perspektif subjektif bukanlah sesuatu yang terpisah dari fisika. Justru, perspektif tersebut menjadi pendekatan yang diperlukan untuk memahami dunia secara konsisten dengan perkembangan sains masa kini, terutama dengan mengakui bahwa realitas terbentuk melalui hubungan dan interaksi antarsesuatunya.
“Pada akhirnya, kebenaran bersifat subjektif.
Itulah sebabnya kita harus menyikapi dunia sebagaimana kita menyikapi saudara-saudara kita. Bagian lain dari dunia ini serupa dengan kita: sebuah sistem fisik. Dunia adalah saudara sedarah kita. Setiap bagian berinteraksi dengan bagian lainnya, persis seperti cara kita berinteraksi dengan sesama dan dengan bagian dunia lainnya.
Kita menghadapi dunia bukan sebagai “aku” yang berhadapan dengan “sesuatu,” melainkan sebagai “diriku” yang berhadapan dengan “engkau.” Kita berada di dalam dunia. Kita ada di sini. Dan kita berada di rumah.”
Di atas adalah paragraf-paragraf terakhir dari buku Rovelli yang sangat indah. Penggunaan istilah berhadapan dengan “engkau” seolah resonansi dengan Martin Buber.
Apa gagasan lanjut yang bisa kita kembangkan? Di epilog, Rovelli menegaskan bahwa sains fisika tidak seberguna seperti dikira. Sains ketika dianggap sebagai kebenaran paling utama berubah menjadi sekadar mitos. Pelajaran 1 sampai 4 adalah refleksi mendalam dari seorang saintis senior terhadap sains itu sendiri: quantum, relativitas, LQG, dan gradien entropi.
Pelajaran 5 mengajukan pertanyaan paling penting: what exists? Pelajaran 6 menjadi puncak: tidak ada kepastian fondasi. Zhuangzi dan Nagarjuna adalah tokoh protagonis sepanjang perjalanan dan sekilas Wittgenstein. Sedangkan Kant dan Bergson sebagai tokoh antagonis meski dibahas hanya sekilas. Menurut saya tidak ada masalah dengan protagonis. Bagaimana bila kita, bersama Rovelli, membaca tokoh antagonis lebih lanjut secara mendalam?
Kita perlu membedakan protagonis dengan antagonis. Interpretasi kita terhadap protagonis adalah mendukung. Sehingga, andai interpretasi itu berbeda dengan maksud pemikir protagonis maka kita telah melakukan perluasan makna. Hal ini bisa dipandang sebagai suatu inovasi. Rovelli tampak sukses untuk pemikir protagonis ini.
Tokoh antagonis berbeda jauh. Kita memberi kritik ke mereka. Jika kritik kita mengarah ke interpretasi yang salah maka itu adalah kita mengkritik karikatur yang kita buat sendiri. Tidak adil ketika kritik ke karikatur diarahkan ke pemikir antagonis. Di sinilah, kita bersama Rovelli perlu melakukan kajian lanjut. Rovelli telah berhasil membuka pintu besi yang terkunci. Tugas kita bersama melanjutkan perjalanan meski tampak ada jalan terjal di depan. Kemudian pulang kembali dengan membawa oleh-oleh intelektual untuk kemajuan riset sains demi kebaikan bersama.