Covid Tidak Masalah Tapi Pandemi

Covid-19 tidak masalah. Virus, sejatinya, memang tidak masalah. Sedangkan pandemi memang masalah – bahkan masalah besar bagi umat manusia.

Virus covid sudah ada puluhan tahun yang lalu. Di tubuh binatang. Kelelawar dan trenggiling. Mereka baik-baik saja. Memang baik-baik saja.

Begitu covid berpindah ke tubuh manusia maka mutasinya jadi bahaya. Parahnya, sampai sekarang, kita tidak tahu bagaimana covid bisa masuk ke tubuh manusia. Dugaan kuat, karena manusia memangsa kelelawar maka covid masuk ke tubuh manusia. Ada pula yang menduga dari rekayasa laboratorium yang bocor ke tubuh manusia.

Covid-19: Mengapa virus corona sangat mematikan? - BBC News Indonesia

Di dalam tubuh manusia, covid dengan cepat mereplikasi diri menjadi ribuan bahkan jutaan. Lebih dari itu, covid bermutasi lagi sehingga lebih cerdik terhadap segala halangan.

Covid Tidak Masalah

Saya kembali menekankah bahwa covid itu sendiri tidak masalah. Mereka, virus corona, adalah penghuni alam – sebagaimana kita manusia.

Awal corona, covid-19, menyebar di Wuhan Cina, mereka bisa mengendalikan pandemi dalam 2 sampai 3 bulan saja. Dengan sabar, umat manusia di dunia, seharusnya juga bisa mengendalikan corona ini dalam 2 sampai 3 bulan saja. Nyatanya, manusia tidak sabar, pandemi tetap bergejolak bahkan sampai sekarang – setahun lebih.

Covid mengingatkan manusia untuk lebih sabar. Agar mengurangi bepergian. Mengurangi pemborosan energi yang memuntahkan karbon dioksida dan zat-zat beracun ke alam. Agar manusia menjaga jarak satu sama lain. Agar umat manusia lebih mendekat dengan keluarga inti masing-masing. Bukankah itu peringatan yang bagus?

Lebih dari itu, covid melindungi manusia dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, dan perubahan iklim. Gaya hidup manusia yang normal, seperti sekarang ini, akan menghancurkan bumi dalam 20 atau 30 tahun ke depan. Jika iklim sudah rusak, manusia tidak akan mampu memperbaikinya. Kita tidak bisa kembali ke masa-masa bumi yang indah. Corona mengirim pesan begitu kuat demi umat manusia. Tetapi bisakah manusia bersabar?

Tampaknya manusia tetap ingin hidup normal – yang membahayakan umat manusia dan alam semesta. Corona tetap sabar, tetap memberi peringatan dengan caranya sendiri.

Dengan mengubah perilaku kita jadi lebih ramah lingkungan, dekat dengan keluarga, konsumsi sekedarnya saja, maka kita akan mampu mengatasi pandemi ini – dan mencegah kerusakan alam semesta.

Vaksin Berjasa

Kemajuan sains teknologi memang luar biasa. Hanya dalam beberapa bulan, umat manusia berhasil menciptakan vaksin untuk covid. Biasanya, diperlukan waktu 2 tahun untuk bisa menciptakan vaksin baru.

Saya membuat model untuk mengendalikan pandemi covid. Dalam model ini, ada dua cara mengendalikan pandemi: manajemen perilaku dan mempercepat kesembuhan. Vaksin terbukti berjasa terhadap dua cara di atas. Vaksin memperkuat perilaku manusia menjadi lebih kuat terhadap serangan corona. Di saat yang sama, vaksin juga mempercepat kesembuhan bagi yang terinfeksi – gejala lebih ringan dan lebih cepat sembuh.

Jangkauan vaksin tampak menjadi masalah. Negara kaya, misal US, sudah vaksinasi hampir 200 juta penduduknya. Sementara negara berkembang, misal Indonesia, baru bisa vaksinasi sekitar 5% dari jumlah penduduk. Negara miskin, apa lagi yang sedang terjadi perang, tampak kesulitan sekali untuk vaksinasi. Padahal, vaksinasi hanya efektif jika seluruh penduduk dunia, target sekitar 70%, tervaksin sepenuhnya. Jika ada sebagian penduduk dunia yang tidak tervaksin maka pandemi mudah, sewaktu-waktu, meledak lagi.

Vaksin Paling Hebat

Vaksin covid memberi pelajaran penting bagi umat manusia secara khusus – beda dengan vaksin-vaksin yang lain.

Pertama, vaksin covid tidak menjadikan manusia kebal. Mereka yang sudah vaksinasi tetap bisa terserang covid. Kita bisa mengkonfirmasi sejak dalam tahap pengujian mau pun realitas di lapangan banyak orang sudah vaksin, dua kali atau satu kali, tetap terinfeksi corona. Maka, meski sudah vaksinasi, setiap orang tetap harus ketat menjaga prokes.

Kedua, vaksin covid tidak menjamin serangan covid menjadi ringan – nyatanya banyak orang yang sudah vaksinasi lalu terinfeksi corona dan meninggal dunia, di antaranya para nakes. Sehingga, kita perlu memandang vaksin hanya sebagai perlindungan tambahan. Sementara sikap taat prokes harus selalu dijaga.

Pelajaran terhebat dari vaksin covid ini, dua hal di atas, mengajarkan manusia untuk tetap hidup penuh rasa sabar. Ramah terhadap alam sekitar. Manusia menjaga alam dan alam menjaga manusia. Hidup lebih hemat energi. Tidak hura-hura. Konsumsi hanya sekedarnya – penuh respek dan tanggung jawab. Dan, tentu saja, lebih dengan dengan keluarga inti.

Apa lagi yang bisa kita harapkan dari covid?

Buku Paling Sulit

“Bikin hidup lebih hidup dan mati lebih berarti.”

Buku apa yang paling sulit Anda pahami?

Saya punya banyak pengalaman sulit memahami isi dari suatu buku. Berikut ini adalah beberapa buku, yang saya ingat, paling sulit saya pahami pada awal-awal membacanya. Untuk di jaman sekarang, buku bisa saja berupa ebook atau konten digital.

7 Habits

Sejak SMA saya suka membaca buku-buku motivasi. Karya Dale Carnegie dan seterusnya menjadi santapan menambah motivasi. Ketika membaca buku “The 7 Habits of Highly Effective People” karya almarhum Covey, cara pandang saya berbeda jauh.

Buku Import The 7 Habits of Highly Effective People (Original & New)

Pertama, saya tahu buku 7 Habits ini bagus. Kedua, saya tidak bisa memahami isi buku ketika membacanya. Ketiga, saya pantang menyerah untuk berusaha memahaminya.

7 Habits memang berbeda paradigma dengan buku motivasi pada umumnya. Covey, tampak, lebih menguatkan etika karakter yang jauh beda dengan penulis lain. Sampai pada waktu berikutnya saya sulit melepaskan diri dari pengaruh Covey dalam leadership, manajemen, paradigma, karakter, komunikasi, dan lain-lain.

Keadilan Ilahi

Masih SMA saya membaca buku karya Syariati. Sulit, akhirnya bisa dipahami. Membaca buku Cak Nur juga sulit, akhirnya bisa paham. Buku karya Muthahhari, sulit akhirnya bisa juga.

KEADILAN ILAHI MURTADHA MUTHAHHARI | Shopee Indonesia

Ketika kuliah membaca buku “Keadilan Ilahi” karya Muthahhari mengapa sulit sekali untuk mengerti?

Padahal “Keadilan Ilahi” membahas tema paling penting, keadilan, secara rasional dan religius. Tampaknya, saya perlu membacanya berulang-ulang kali. Dan akhirnya, benar-benar mengakui buku “Keadilan Ilahi” memang luar biasa. Bersyukur bisa memahami “Keadilan Ilahi” dalam segala situasi.

Sarh Manzuma

Menjelang tahun 2000 saya berminat mendalami metafisika. Ingin kenal lebih mendalam pemikiran Plato, Aristoteles, Al Ghazali, Averous, Descartes, Einstein, Hawking dan lain-lain. Dan saya fokus kepada karya terbesar eksistensialis Timur: Mulla Sadra – yang merupakan sintesa besar dari sebelum Plato sampai Ibnu Arabi dan Rumi.

Mulla-hadi-sabziwari-4.jpg
Sabzivari

Beruntung saya membaca buku “Manzuma” karya Sabzivari yang membahas dengan rinci pemikiran Sadra. Luar biasa, buku ini benar-benar sulit aku pahami. Perlu berulang-ulang untuk membaca – dan diiringi doa. Saya kira karya Sadra, dan buku Manzuma, benar-benar karya yang luasnya tanpa batas. Kadang-kadang saya, tergoda, berpikir bahwa karya-karya pemikir besar berikutnya – Timur dan Barat – adalah catatan kaki dari karya Sadra.

Tidak sesederhana itu. Banyak karya orisinal di Timur dan Barat dan seluruh penjuru bumi. Semua perlu kita apresiasi.

Being and Time

Masa pandemi memberi banyak kesempatan untuk membaca buku. Beberapa karya besar yang, sebelumnya, saya baca dari summary para pemikir hebat, saya coba untuk membaca dari karya aslinya. Pemikir eksistensialis terbesar di era modern (atau postmodern) adalah Martin Heidegger dari Jerman.

Benar apa yang saya duga: buku “Being and Time” sangat sulit untuk dipahami. Saya perlu mengembangkan beragam cara untuk bisa memahaminya. Untung saja tersedia banyak summary secara online. Sehingga memudahkan bagi saya untuk membandingkan dengan buku aslinya.

Semula, saya menduga kesulitan ini karena saya membaca buku dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dari aslinya bahasa Jerman. Tampaknya bukan karena itu. Heidegger sengaja men-destruksi bangunan metafisika dari jaman Plato sampai Nietzsche. Sehingga bangunan pemikiran metafisika selama ini memang luluh-lantak untuk membuka bangunan ontologi yang baru.

Postmodern dan Weak Thought

Saya tentu saja sulit memahami buku-buku postmodern. Mereka memang bersifat pluralis – kadang relativis – dan dekonstruktif – atau destruktif. Derrida sulit. Baudrillard sulit. Lyotard agak lumayan. Sementara Habermas tidak terlalu sulit karena, menurut saya, Habermas lebih kuat ke modernitas dari postmodernitas itu sendiri.

Weak Thought by Gianni Vattimo

Beruntung, pada akhirnya, ada karya postmodern yang lebih sederhana. Buku “Weak Thought” merupakan buah terindah dari pemikir postmo – menurutku. Tentu saja buku, karya Vattimo dkk, ini sulit dipahami. Vattimo mengembangkan ontologi hermeneutik lebih matang melanjutkan gurunya, Gadamer, dan kakek gurunya, Heidegger.

Lebih seru lagi, karya Vattimo, dikembangkan terus oleh pemikir muda Santiago Zabala, usia 45 tahun tinggal di Spanyol. Mereka terus berkarya melalui beragam tulisan. Vattimo saat ini berusia 86 tahun tinggal di Itali.

Untuk Apa?

Wajar muncul pertanyaan: untuk apa membaca buku dan pemikiran yang sulit-sulit?

Jawaban saya: bikin hidup lebih hidup dan mati lebih berarti.

Misteri alam semesta dan yang melebihinya terbentang di cakrawala dan dalam diri manusia. Singkapkan misteri yang nyata untuk menemui misteri lagi yang lebih tinggi. Tiada henti.

Bagaimana menurut Anda?

Catatan

Apakah buku matematika tidak sulit untuk dipajami? Tentu saja sulit. Tetapi bagi saya, buku matematika, meski sulit dipahami tetap jelas batas-batas pembahasannya. Matematika modern, matematika abstrak, fisika modern, mekanika quantum, relativitas, dan lain-lain adalah buku-buku yang sulit dipahami. Termasuk buku-buku filsafat analitik juga merupakan buku sulit.

Akhir Kemiskinan Dunia dan Indonesia

Para pemimpin dunia, saat ini, mengakui bahwa kemiskinan adalah masalah nomor 1 dunia. Sehingga mereka menempatkan “pengentasan kemiskinan” – no poverty – sebagai tujuan nomor 1 – urutan pertama dalam SDGs.

Apa itu kemiskinan dan bagaimana cara mengukurnya?

Bukan pertanyaan yang mudah untuk kita jawab.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba menampilkan ukuran kemiskinan versi Indonesia (BPS) dan versi internasional (SDG Report). Kemudian saya akan menghitung ulang angka kemiskinan tersebut dengan memanfaatkan nilai ketimpangan (dan rasio Gini). Analisis ini menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Data BPS cenderung optimis relatif terhadap data SDG Report yang pesimis. Pada bagian akhir saya akan mendiskusikan beberapa starategi mengakhiri kemiskinan.

Angka Kemiskinan BPS

Sejatinya, angka kemiskinan Indonesia konsisten turun, membaik, dalam beberapa tahun terakhir. Dengan adanya pandemi covid-19, wajar kiranya angka kemiskinan Indonesia memburuk.

Dengan garis kemiskinan sebesar Rp 458 947 per bulan, terdapat 27,55 juta jiwa penduduk Indonesia yang miskin – setara dengan 10,19% dari penduduk Indonesia.

Angka Kemiskinan Internasional

SDG Report menetapkan pengeluaran $ 3,2 per hari (PPP) sebagai garis kemiskinan. Dengan mempertimbangkan daya beli dolar di Indonesia sekitar 3 kali lipat dari US maka 3,2 dolar setara dengan 15 000 rupiah per hari. Dalam sebulan sekitar 450 000 rupiah. Mirip dengan garis kemiskinan BPS yang 458 947 rupiah itu.

Terdapat 19,94 % penduduk miskin – kita bulatkan menjadi 20%. Setara dengan 54 juta jiwa orang miskin di Indonesia. Angka sebanyak ini hampir 2 kali lipat dari angka resmi BPS.

Saya akan mencoba menganalisis dengan mempertimbangkan income per capita Indonesia adalah Rp 57 000 000 per tahun (dibulatkan).

Nilai Ketimpangan n

Nilai ketimpangan n kita hitung dari kurva Lorenz. Sayangnya, tidak mudah bagi kita untuk memperoleh kurva Lorenz – kurva kumulatif pendapatan. Kita beruntung mendapatkan rasio Gini G yang bisa kita konversi menjadi nilai ketimpangan n.

Data BPS: rasio Gini G = 38,5 maka n = 2,25
Data SDG: rasio Gini G = 50,48 maka n = 3,04

SDG menghasilkan nilai ketimpangan n = 3,04 – lebih buruk dari BPS – karena melakukan koreksi untuk kelas kaya.

Polinomial Eksponensial

Secara umum saya lebih suka menggunakan nilai ketimpangan dengan model polinomial. Meski begitu, kita bisa mengembangkan model eksponensial – lebih tepatnya konvolusi polinomial eksponensial.

Baik polinomial mau pun eksponensial merupakan summary dari kurva Lorenz, layaknya Gini. Lebih dari itu, nilai ketimpangan, memberi informasi distribusi kekayaan sebagai estimasi Lorenz. Khusus untuk polinomial bersifat intuitif dan sederhana.

Sekilas, grafik polinomial dan eksponensial seperti sama persis. Mereka, padahal, identik hanya di tiga titik: awal, akhir, dan tengah.

Dengan kombinasi – konvolusi – polinom dan eksponen maka kita bisa memproduksi jumlah tak terbatas grafik. Tetapi karena kurva Lorenz mensyaratkan monoton naik dan turunan kedua tidak negatif maka semua grafik tersebut akan menghasilkan karakteristik yang mirip-mirip.

Grafik Skeptis

Grafik polinom cenderung lebih skeptis untuk kelas bawah sampai menengah. Sedangkan grafik eksponen cenderung lebih skeptis untuk kelas menengah sampai atas.

Grafik polinom pada posisi di bawah yang bermakna lebih skeptis untuk kelas bawah sampai menengah. Sedangkan pada kelas menengah sampai atas, grafik eksponen pada posisi bawah, yang bermakna lebih skeptis.

Estimasi Angka Kemiskinan

Kita akan memanfaatkan nilai ketimpangan n = 2,25 – dari BPS – untuk mengestimasi angka kemiskinan di Indonesia. BPS menyebut 10,19% penduduk di bawah garis kemiskinan.

Menghasilkan garis kemiskinan di 273 471 rupiah per bulan. Sehingga data 10.19% penduduk miskin adalah data yang optimis. Hitungan kita menunjukkan akan ada lebih banyak orang miskin jika garis kemiskinan 458 947 rupiah per bulan.

Dengan garis kemiskinan 458 947 maka kita peroleh penduduk miskin sebanyak 15,419%. Setara dengan 41 juta jiwa.

Berikutnya kita analisis data internasional dari SDG Report yang menyatakan 20% penduduk miskin dengan n = 3,04.

Menghasilkan garis kemiskinan 178 154 rupiah per bulan – jauh di bawah 450 000. Sehingga data SDG ini bisa kita anggap sebagai terlalu optimis.

Jika ditetapkan garis kemiskinan = 450 000 rupiah maka kita peroleh 31,49% penduduk berada di bawah garis kemiskinan.

Perlu kita catat bahwa semua analisis angka kemiskinan adalah sebuah estimasi. Angka pasti dari angka kemiskinan tidak pernah diketahui. Maka kita perlu menguji beragam metodologi untuk memperoleh hasil terbaik yang konsisten.

Rekayasa Angka Kemiskinan

Saya menduga angka kemiskinan memang di atas 10% tetapi tidak akan melebihi 20% – semoga. Sedangkan G = 38,5 tampaknya terlalu optimis. Jika kita mempertimbangkan koreksi SDG menghasilkan G = 50,48, tampaknya, terlalu tinggi.

Mari kita coba G = 45,00 setara dengan n = 2,64.

Terdapat 24% penduduk miskin. Terasa sangat tinggi. Lebih tinggi dari SDG Report.

Kita coba G = 40,00 setara dengan n = 2,33.

Terdapat 17,25% penduduk miskin. Masih terasa tinggi. Tetapi karena kita mempertimbangkan koreksi nilai ketimpangan maka wajar terjadi. Kiranya, untuk sementara ini, kita bisa berasumsi bahwa angka kemiskinan di Indonesia adalah 17,25% yang setara dengan 46,5 juta jiwa. Tentu, ini adalah tugas berat bagi kita semua untuk mengentaskan kemiskinan – no poverty.

Akhiri Kemiskinan

Tiga bidang utama bisa menjadi fokus kita untuk mengentaskan kemiskinan: pendidikan, struktur adil, dan revolusi digital.

Pendidikan

Barangkali semua sepakat bahwa pendidikan penting bagi kemajuan umat manusia. Indonesia sudah cukup bagus dalam cakupan sebaran pendidikan, meski masih perlu ditingkatkan. Angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah mendekati 100%. Belum 100% dan perlu dikejar sampai 100%. Begitu juga dengan literasi dasar, bisa membaca dan menulis, juga mendekati 100%.

SDG Report mengapresiasi kebijakan pendidikan Indonesia yang melaksanakan pendidikan dasar menengah, selama 12 tahun, secara gratis. Mereka mengacu data UNESCO. Kabar baik bagi kita semua.

Sebagai warga negara yang hidup di Indonesia kita boleh ragu: di mana ada pendidikan gratis 12 tahun?

Anak saya memperoleh beasiswa berupa gratis belajar di SMA 3 Bandung karena prestasi meraih medali dalam olimpiade sains nasional. Tetapi, beasiswa gratis ini dibatalkan untuk tahun terakhir karena kepala sekolahnya diganti dengan kepala sekolah yang baru. Dan, tentu saja, sebagian besar siswa yang lain memang tidak gratis bersekolah di SMA.

Padahal peraturan gubernur Jabar, setahu saya, sejak masa gubernur Aher, menyatakan dengan tegas bahwa pendidikan di Jabar gratis sampai lulus SMA. Kondisi di lapangan tampak banyak perbedaan. Sekolah tidak gratis, ada di berbagai macam tempat.

Saya kita pemerintah hanya perlu menambahkan kontrol yang baik. Sehingga kebijakan yang baik itu bisa diimplementasikan di lapangan dengan baik pula. KIP, Kartu Indonesia Pintar, misalnya, tampak bagus dalam meringankan beban rakyat miskin. Implementasinya, banyak orang miskin yang kesulitan untuk mendapatkan fasilitas KIP ini. Kita menunggu gebrakan berikutnya dari Mas Nadiem dan Pak Jokowi demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Kondisi lebih sulit adalah kualitas pendidikan Indonesia. Sudah bertahun-tahun, Indonesia menduduki kelas paling bawah dalam survey kualiatas pendidikan dunia, misal PISA dan TIMSS.

Mas Nadiem, awalnya, punya rencana bagus dengan fokus kepada kualitas literasi dan numerasi. Pandemi covid keburu datang tidak lama Mas Nadiem menduduki jabatan menteri. Program asesmen kompetensi terpaksa ditunda. Padahal, justru, kita perlu program asesmen kompetensi ini untuk mengetahui potret pendidikan nasional setiap waktu.

Dan masih banyak lagi problem besar dalam kualitas pendidikan – dan pemerataan ke seluruh penjuru negeri. Saya sendiri, paman APIQ, berkomitmen mengembangkan kualitas pendidikan dengan inovasi pendidikan matematika kreatif untuk siswa dan guru. Inovasi berupa program pendidikan tatap muka mau pun digital online.

SDG Report memberi warna kuning untuk pendidikan Indonesia: masih ada tantangan nyata. Panah hijau menunjukkan arah perbaikan signifikan. Kita berharap benar-benar berhasil mencapai pendidikan berkualitas paling lambat di 2030. Butuh kerja sama semua pihak.

Struktur Adil

Mengutamakan sistem sosial yang adil atau ekonomi yang makmur?

Dengan sistem sosial yang adil, kita pasti berhasil mengentaskan kemiskinan. Kita berhasil memakmurkan seluruh rakyat. Semudah itu cara menyelesaikan kemiskinan di dunia: menciptakan sistem sosial yang adil.

Masalah muncul ketika kita bertanya bagaimana cara menciptakan sistem sosial yang adil. Caranya adalah dengan meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain, sistem sosial yang adil bisa tercipta bila tidak ada kemiskinan. Sementara untuk menghapus kemiskinan kita perlu sistem yang adil. Kita terjebak dalam lingkaran setan.

Meski demikian tetap ada harapan untuk memutus lingkaran setan dengan berkomitmen menciptakan sistem struktur sosial yang adil.

Demokrasi yang transparan. Rakyat, khususnya rakyat miskin, dapat menyuarakan ketidakadilan atau masalah apa pun dengan mudah. Pemimpin, atau pejabat publik, bisa secara langsung mendengar keluhan rakyat sebagai feedback untuk memperbaiki sistem yang lebih adil. Cara ini mudah kita lakukan dengan tersedianya media sosial.

Bagian sulitnya adalah ketika pejabat tidak mau mendengar jeritan rakyat. Karena, mendengarkan jeritan rakyat susah, tidak menguntungkan secara politis dan ekonomi bagi seorang pejabat. Bisa juga kesulitan muncul ketika ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menipu pejabat untuk kepentingan pihak tertentu. Semua kesulitan ini bisa kita atasi dengan tersedianya teknologi digital.

Hak dan kewajiban rakyat. Rakyat perlu mengetahui dengan jelas hak dan kewajiban. Dengan pengetahuan ini, kita berharap rakyat bisa saling membantu untuk memenuhi kewajibannya dan mendapatkan haknya. Ketika ada rakyat yang melanggar aturan maka ada temannya yang bisa membantu menegur. Sehingga anggaran negara tidak terkuras untuk menjaga keamanan. Demikian juga bila ada pejabat yang melanggar maka rakyat bisa membantu menegurnya dengan baik.

Contoh hak rakyat miskin adalah beasiswa dan Program Indonesia Pintar (PIP). Rakyat miskin banyak yang tidak tahu tersedianya PIP. Jika mereka pernah mendengar PIP, tetap saja mereka tidak bisa mengajukan diri bergabung dengan PIP. Akibatnya, banyak rakyat miskin tidak bisa sekolah dengan biaya murah. Mereka makin miskin karena beban sekolah yang mahal.

Termasuk hak rakyat adalah pendidikan 12 tahun gratis, SD-SMP-SMA, sebagaimana laporan UNESCO. Karena rakyat tidak tahu akan hak ini maka mereka harus membayar mahal biaya sekolah misal untuk setingkat SMA. Semua program pemerintah yang baik perlu kita dukung bersama.

Masih banyak yang bisa kita kembangkan untuk membangun sistem yang adil di Indonesia. Termasuk di dalamnya, kita bisa membahas sistem politik, sistem perpajakan, sistem hukum, pemberantasan korupsi, ekonomi, dan lain-lain. Ringkasnya, kita bisa menyelesaikan banyak persoalan dengan komitmen untuk menciptakan sistem sosial yang adil.

Kesempatan Terbuka. Paling sederhana, struktur adil perlu menjamin bahwa bagi setiap warga yang sungguh-sungguh mencari kerja maka akan mendapat pekerjaan yang layak. Atau lebih mudah lagi, bagi setiap warga yang sungguh-sungguh berwira-usaha maka mendapat kesempatan berwira-usaha secara terbuka. Di Indonesia, menurut saya, kesempatan berwira-usaha makin terbuka luas. Lebih-lebih ketika revolusi digital melalui media sosial dan market place berkembang. Saya kira, pemerintah perlu memberi dukungan lebih besar lagi untuk pengusaha-pengusaha pemula ini.

Revolusi Digital

Revolusi digital menjanjikan masa depan cerah bagi rakyat Indonesia. Bahkan ketika pandemi menerpa, bisnis digital tetap sukses melambung tinggi. Perhatikan salah satu peristiwa merger Gojek dan Tokopedia beberapa waktu lalu. Dengan Goto, gabungan Gojek Tokopedia, maka kekayaan Nadiem berlipat lebih 300 kali menjadi lebih dari 4 Trilyun rupiah. Sementara, kekayaan William berlipat lebih dari 500 kali sehingga menjadi hampir 5 Trilyun rupiah.

Bagi rakyat, masyarakat bawah, revolusi digital memberi banyak peluang baru. Bukalapak, Tanihub, Grab, facebook, youtube, WA, dan lain-lain memudahkan rakyat biasa untuk berwira-usaha. Beberapa rakyat miskin berhasil terangkat dari kemiskinan memanfaatkan media digital itu.

Tetap saja, revolusi digital adalah sekedar wahana. Di satu sisi, revolusi digital menjanjikan mengentaskan kemiskinan. Di sisi lain, revolusi digital bisa juga justru mempercuram kemiskinan. Resiko itu harus kita cegah. Revolusi digital memudahkan orang cepat kaya. Maka yang kaya makin kaya. Sedangkan yang miskin tetap sekedar sebagai pasar, makin miskin. Hanya menonton, menghabiskan pulsa dan waktu. Atau kondisi terbaik, sebagai distributor produk-produk impor, makin melebarkan kesenjangan.

Banyak cara untuk memastikan revolusi digital berdampak positif bagi masyarakat luas. Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa media digital mendukung berkembangnya produsen, fokus utama adalah produsen, konsumen dan distributor tentu ikut maju bila produsen maju.

Alibaba, perusahaan digital terbesar di Cina, menjadi sukses luar biasa dengan mengembangkan produsen-produsen lokal. Sehingga produk-produk Cina lebih mudah dibeli oleh pembeli dalam negeri atau pun luar negeri. Alibaba fokus mengembangkan produk dalam negeri untuk pasar dalam dan luar negeri.

Di Indonesia, Gojek dan Tanihub, menurut saya, sudah pada arah yang tepat. Gojek menguatkan produsen jasa – driver – dan produsen makanan – warung melalui gofood. Tanihub sudah jelas fokus dengan mengembangkan produsen pertanian. Mereka berpeluang mengentaskan kemiskinan para driver, penjual warung, dan petani. Dan masih banyak revolusi digital yang bisa untuk terus kita kembangkan demi mempercepat pengentasan kemiskinan.

Ukuran Kemiskinan Realtime

Sampai di sini, makin kita sadari pentingnya ukuran kemiskinan. Kita perlu tahu, dengan pasti, apakah angka kemiskinan sedang naik atau turun. Apakah suatu program berhasil mengurangi kemiskinan? Atau kemiskinan justru semakin parah?

Garis kemiskinan sebesar 3,2 dolar (PPP) per hari secara umum bisa kita terima. Angka kimiskinan ini mirip dengan garis kemiskinan versi BPS yang sekitar 450 ribu rupiah per bulan.

Masalah yang muncul adalah berkenaan dengan metodologi menghitung kemiskinan. Saya mengusulkan menghitung kemiskinan dengan memanfaatkan nilai ketimpangan n. Kemudian kita estimasi grafik Lorenz untuk menentukan persentase jumlah penduduk miskin. Metodologi ini konsisten dengan beragam metodologi lain: Gini dan Palma. Sehingga kita bisa saling menguji hasil perhitungannya.

Kita juga bisa mengembangkan ukuran kemiskinan secara realtime – misalnya bulanan. Sehingga kita memperoleh feedback dengan cepat. Data bulan-demi-bulan (month-on-month) barangkali terlalu sensitif terhadap perubahan. Maka kita mempertimbangkan koreksi data kemiskinan tahun-demi-tahun, year-on-year, yang diukur tiap bulannya.

Bagaimana menurut Anda?

Pandemi Segera Usai: Kampanye MBDK

Di tengah lonjakan covid di Indonesia yang lebih dari 20 ribu kasus baru per satu hari kemarin, kita bisa menyelesaikan pandemi ini dalam 270 hari ke depan. Kita perlu bertindak segera, terarah, dan konsisten.

270 hari sama artinya dengan 9 bulan – terlalu lama. Mana bisa kita konsisten selama itu?

Saya menghitung pandemi selesai dalam 270 hari itu pun dengan asumsi bila kita bisa menurunkan R = 0,80 dengan konsisten. Nyatanya, hari ini R = 1,288, terlalu besar, untuk bisa usai. Bagaimana pun, kita, manusia selalu punya cara menghadapi setiap bencana. Satu tambahan fokus solusi corona adalah: kampanye MBDK!

MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras

Manusia Bermutasi

Kita sudah mendengar bahwa virus bermutasi sampai delta yang lebih ganas dalam penularan. Yang terbaru, bahkan sudah mutasi delta plus.

Kapan manusia juga bermutasi?

Manusia tidak bisa bermutasi secepat virus. Manusia jauh lebih besar. Terdiri dari jutaan sel. Beranak-cucu perlu waktu puluhan tahun. Sementara virus hanya terdiri dari 1 sel, bahkan hanya setengah sel. Mereka beranak-pinak, reproduksi, bisa dalam tiap detik. Hanya karena panas dan dingin, sedikit tertiup angin, virus barangkali bisa bermutasi.

Tetapi manusia lebih hebat dalam mutasi dengan bentuk berbeda: adaptasi.

Kita tambahkan lagi kemampuan komunikasi, komputasi, dan strategi maka manusia menjadi paling cerdas di muka bumi. Tetap saja ada manusia yang tidak beradaptasi. Mereka juga tidak mutasi. Mereka tidak punya strategi. Mereka beresiko mati oleh pandemi.

Mari kita beradaptasi mengatasi pandemi. Giatkan terus kampanye MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Dan, tentu saja, konsisten prokes. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

COVID-19 Bukan Masalah

Covid sendiri, aslinya, bukan masalah. Covid sudah ada puluhan tahun, atau ratusan tahun, dalam tubuh binatang. Baik-baik saja. Ulah perilaku manusia yang bisa memunculkan masalah. Mereka memburu binatang-binatang tersebut sehingga memindahkan covid dari binatang ke tubuh manusia. Bisa dengan cara tanpa sadar, dengan cara memangsa binatang tersebut. Atau, diduga, bisa secara sadar dengan rekayasa laboratorium.

Yang jelas, covid bukan masalah. Perilaku manusia yang jadi masalah.

Mari kembali perbaiki perilaku manusia dengan kampanye MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Dengan pandemi ini bahkan udara di dunia makin sejuk. Pemandangan tanpa polusi makin indah. Semilir angin begitu ramah tanpa suara mesin pecah.

Mari kembali hidup bersama alam. Manusia menjaga alam. Alam menjaga manusia.

Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK

Berikut ini beberapa tulisan saya yang lalu tentang kampanye MBDK.

  1. Kampanye MBDK Basmi Covid
  2. Kampanye MBDK Lagi
  3. Kampanye MBDK

Miskin Karena Covid: Klasifikasi Ketimpangan Paman

Pandemi covid telah meluluh-lantakkan optimisme umat manusia. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi terjadi. Hanya kontraksi ekonomi di berbagai penjuru negeri. Kondisi ekonomi, makin terpuruk, lebih ngeri.

Yang miskin makin miskin, tapi seperti pepatah, yang kaya makin kaya.

Orang-orang super kaya makin super kaya. Terutama mereka yang berkuasa di bidang digital, kekayaan mereka makin melonjak, dengan melonjaknya corona.

Ketimpangan Yang Tepat

Pandemi ini menjadi momentum paling tepat untuk mengatasi kesenjangan ekonomi. Negara miskin sulit untuk mendapatkan vaksin. Meski negara kaya sepenuhnya bisa vaksinasi, sewaktu-waktu, pandemi bisa datang lagi ke negara kaya.

Ketimpangan sosial dan ekonomi perlu kita atasi. Salah-satu instrumen penting, untuk mengatasi kesenjangan, adalah ukuran kesenjangan itu sendiri. Dengan ukuran kesenjangan yang tepat, kita bisa mencermati situasi setiap saat. Kita juga bisa mencoba beragam solusi untuk kemudian memilih yang paling efektif.

Klasifikasi Paman

Saya mengembangkan ukuran kesenjangan berupa nilai ketimpangan n – sudah saya uraikan dalam tulisan sebelumnya. Kali ini kita akan membuat klasifikasi ketimpangan berdasar nilai ketimpangan n. Saya membagi populasi menjadi 5 kelas seperti pada gambar di atas.

Masing-masing kelas kita bedakan berdasar porsi 25% populasi termiskin dibanding dengan mean. Kelas 25% termiskin bisa kita hitung berdasar nilai ketimpangan n. Sementara, nilai mean kita peroleh dari data resmi income per capita.

Misal untuk Indonesia: nilai ketimpangan n = 2,25 dan income per capita = 4 750 000 rupiah per bulan. Untuk US nilai ketimpangan n = 2,85 dan income per capita = 77 juta rupiah per bulan.

Kelas Sangat Buruk

Kelas sangat buruk terjadi ketika nilai ketimpangan n di atas 3 (atau G di atas 0,5). Konsekuensinya: orang termiskin mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% terhadap rata-rata, income per kapita.

Indonesia dan US tidak berada dalam kelas sangat buruk.

Seandainya Indonesia berada dalam kelas sangat buruk maka 25% penduduk (65 juta orang) mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% x 4 750 000 rupiah per bulan = 294 500 per bulan.

Jika US dalam kelas sangat buruk maka 25% penduduk (82 juta orang) mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% x 77 juta rupiah per bulan = 4,8 juta rupiah per bulan.

Kelas Buruk

Terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 19% terhadap rata-rata income per capita. Terjadi ketika nilai ketimpangan n lebih dari 2,2 (setara G = 0,375).

Indonesia ada dalam kelas buruk ini. Begitu juga US ada dalam kelas buruk ini.

Indonesia n = 2,25 maka terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang 840 000 rupiah per bulan. Atau ada 65 juta orang, penduduk Indonesia, dengan penghasilan kurang dari 28 ribu per hari.

US, Amerika, n = 2,85 maka terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 6 juta rupiah per bulan atau kurang dari 200 ribu rupiah per hari. Tetapi harga barang dan jasa di US lebih mahal 3 kali lipat dari Indonesia. Sehingga penghasilan 6 juta rupiah per bulan itu setara dengan 2 juta rupiah per bulan di Indonesia.

Penghasilan 2 juta per bulan tampak kecil. Karena dihitung per jiwa bukan per keluarga. Bila kita anggap setiap keluarga punya 2 anak maka ada 4 anggota keluarga. Sehingga penghasilan keluarga tersebut adalah 8 juta rupiah (nilai rupiah Indonesia). Masih di atas UMR tertinggi di negeri ini.

Kelas Sedang

Kelas “sedang” nilai ketimpangan n = 1,8 (setara G = 0,3). Terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 33% pendapatan rata-rata income per capita.

Bila Indonesia bisa masuk ke kelas “sedang” maka itu adalah kabar baik. Terdapat 65 juta orang Indonesia dengan penghasilan 33% x 4 750 000 rupiah per bulan = 1 500 000 atau 1,5 juta per bulan.

1,5 juta tampak kecil karena kita hitung per jiwa. Jika satu keluarga terdiri dari 4 orang maka 4 x 1,5 juta = 6 juta rupiah per bulan. Tidak terlalu besar untuk ukuran Indonesia. Tidak terlalu kecil juga. Memang sedang-sedang saja.

Kelas Baik

Kelas “baik” ketika nilai ketimpangan n = 1,5 sehingga 25% penduduk penghasilan kurang dari 50% dari rata-rata income per kapita.

Jika Indonesia masuk kelas “baik” maka benar-benar kabar baik di Indonesia. Terdapat 65 juta penduduk Indonesia termiskin dengan penghasilan 50% x 4 750 000 rupiah per bulan = 2 400 000 per bulan (dibulatkan ke atas).

Penghasilan menjadi tampak besar bila kita hitung per keluarga terdiri dari 4 orang maka 4 x 2,4 juta = 9,6 juta rupiah per bulan. Orang-orang termiskin di Indonesia berpenghasilan hampir 10 juta rupiah tiap bulan. Membayangkan saja sudah bisa bikin bahagia. Apalagi menjadi kenyataan.

Perhitungan di atas tidak mengubah kondisi ekonomi Indonesia. Hanya mengubah kesenjangan, mengubah nilai ketimpangan, maka Indonesia bisa menjadi lebih baik. Tentu saja meningkatkan income per capita juga baik.

Dengan penghasilan keluarga termiskin di Indonesia mendekati 10 juta rupiah per bulan maka apa dampaknya dengan penghasilan 10% orang terkaya?

Orang terkaya berpenghasilan sekitar 7 juta rupiah per bulan. Bila satu keluarga terdiri 4 orang maka penghasilan keluarga kaya sekitar 28 juta rupiah per bulan. Mestinya angka ini tidak terlalu besar, pun tidak terlalu kecil. Karena income di sini bisa ditambah dengan pertumbuhan aset dan investasi.

Mari kita ringkas lagi bila Indonesia masuk kelas “baik” dengan kondisi ekonomi yang sama, income per capita yang sama.

25% penduduk (65 juta orang) termiskin berpenghasilan 10 juta rupiah per bulan per keluarga.

10% penduduk (27 juta orang) terkaya berpenghasilan 28 juta rupiah per bulan per keluarga.

Sebuah cita-cita yang bisa kita raih.

Kelas Sangat Baik

Nilai ketimpangan n di bawah 1,5 maka mengantarkan masyarakat masuk ke kelas “sangat baik.”

Dengan cara yang sama, kita bisa menganalisa kondisi kelas “sangat baik.” Tentu saja, hasilnya lebih baik dari kelas “baik.”

Pertumbuhan Ekonomi

Berapakah nilai ketimpangan n terbaik untuk menjamin pertumbuhan ekonomi suatu negara? Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Beberapa kajian menunjukkan nilai ketimpangan n di dalam kelas “sedang” dan “baik” adalah yang paling efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sedangkan untuk kelas “sangat baik,” kita tidak bisa mengkaji secara empiris. Karena sampai saat ini tidak ada negara yang masuk kelas “sangat baik.” Hanya komunitas kecil, lebih kecil dari negara, yang bisa mencapai nilai ketimpangan di bawah n = 1,5 (setara G = 0,20).

Ada beberapa dalih yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya: ketimpangan adalah keniscayaan dari pertumbuhan ekonomi. Yang bisa kita buktikan justru sebaliknya. Kita bisa menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik justru memperbaiki nilai ketimpangan. Kita bisa membuktikan secara teoritis dan empiris.

Pandemi covid juga menguatkan kesimpulan kita dari arah berbeda. Kegagalan pertumbuhan ekonomi menyebabkan ketimpangan yang memburuk.

Selama pandemi terjadi kontraksi ekonomi, pertumbuhan ekonomi negatif.

Pendapatan orang kaya turun 10%.

Pendapatan orang menengah turun 15%.

Pendapatan orang miskin turun 25%.

Maka jelas nilai ketimpangan makin buruk. Cara menghitung memburuknya nilai ketimpangan ini sudah saya bahas pada tulisan yang lain.

Terbuka dua jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat kita. Pertama, dengan meningkatkan produktivitas sehingga meningkatkan income per capita. Kedua, dengan memperbaiki nilai ketimpangan sehingga kekuatan produksi terdistribusi dengan adil. Semua jalan solusi di atas membutuhkan kualitas pendidikan yang baik dan merata terbuka untuk seluruh warga.

Bagaimana menurut Anda?

Mengurangi Kesenjangan: Lorenz, Gini, Palma, dan Paman

Tujuan paling penting ke-10 di seluruh dunia adalah: mengurangi kesenjangan. SDG, sustainable development goals, ke-10 adalah reduced inequality – mengurangi ketimpangan. Meski secara urutan menempati posisi 10, mengurangi kesenjangan, adalah prioritas pertama. Seluruh kemajuan peradaban manusia menjadi berarti bila dibarengi dengan pengurangan ketimpangan.

Sekilas, bisa kita lihat pada peta di atas bahwa warna merah mendominasi dunia lalu disusul warna kuning. Dunia berada dalam masalah besar “major challenges” menghadapi ketimpangan. Kita perlu solusi efektif untuk mengatasi ketimpangan ini.

Pada tulisan ini, saya akan membahas ukuran ketimpangan. Di mana, dengan ukuran yang tepat, kita bisa lebih fokus untuk mengimplementasikan strategi besar mengurangi kesenjangan.

Kita akan mulai dari kurva Lorentz – yang dengan baik menampilkan grafik kurva kumulatif sebaran pendapatan atau kekayaan dari suatu populasi. Dari kurva Lorenz kita bisa melihat gambaran ketimpangan di suatu masyarakat. Kemudian rasio Gini melengkapi kurva Lorentz dengan suatu angka unik – summary – yang mencerminkan nilai kesenjangan. Dan Palma melangkah lebih jauh dengan fokus membandingan pendapatan kelas terkaya dengan kelas termiskin di masyarakat. Saya sendiri, Paman APIQ, mengenalkan “nilai ketimpangan” yang merupakan “summary” dari Lorenz, Gini, dan Palma serta memberikan informasi ketimpangan secara intuitif.

Kurva Lorenz

Max Lorenz, pada 1905, menyusun kurva distribusi kekayaan yang kemudian kita kenal sebagai kurva Lorenz.

Kurva Lorenz ini menjadi informasi yang sangat berguna menggambarkan ketimpangan. Pertama kita perlu menyusun data kekayaan, atau pendapatan, dari terkecil sampai terbesar. Selanjutnya kita menyusun kurva kumulatif. Agar lebih mudah dibaca maka kita normalisasi sehingga angka-angka pada kurva Lorenz hanya pada rentang 0 sampai dengan 100%.

Rasio Gini

Pada tahun 1912, Corrdano Gini mengusulkan suatu angka yang merupakan summary dari kurva Lorenz, kelak kita kenal sebagai rasio Gini, atau koefisien, atau indeks Gini. Rasio Gini menunjukkan derajat ketimpangan pendapatan, atau kekayaan, dari suatu populasi.

Nilai rasio Gini dalam rentang 0 – 100%. Nilai 0 menyatakan tidak ada ketimpangan sama sekali, kekayaan setiap orang sama besar. Sedangkan 100% atau 1 menunjukkan ketimpangan ekstrem di mana kekayaan terkumpul hanya kepada 1 orang saja.

Misal, sebagai contoh, rasio Gini Indonesia adalah G = 0,385.

Mengacu kurva Lorenz di atas, rasio Gini kita hitung sebagai perbandingan,

G = A/(A + B) = 2A

Keunggulan Gini adalah kita bisa dengan mudah membandingkan Gini suatu negara dengan negara lain. Misal US lebih timpang dari Indonesia karena di US nilai G = 0,480. Bahkan, kita bisa menghitung nilai Gini tanpa harus menggambar kurva Lorenz. Cukup dengan rumus matematika saja.

Sebagai summary, Gini kehilangan makna kurva Lorenz. Dua jenis kurva yang berbeda bisa menghasilkan satu rasio Gini yang sama. Sehingga, ketika kita punya G = 0,385 di Indonesia maka kita tidak bisa menggambarkan kurva Lorenz sebaran pendapatan rakyat Indonesia. (Nilai ketimpangan yang saya kembangkan dapat mengatasi kelemahan ini.)

Rasio Palma

Jose Palma, tahun 2013, mengembangkan rasio 10% orang terkaya terhadap 40% orang termiskin. Kelak, kita kenal sebagai rasio Palma. Pertimbangan Palma adalah 50% kelas menengah cenderung tidak timpang. Sehingga kita perlu fokus kepada sisanya: 10% orang terkaya dan 40% orang termiskin.

Rasio Palma di bawah 1 dianggap sebagai ketimpangan yang baik. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan 10% orang terkaya adalah 4 kali lipat dari pendapatan orang termiskin – mean dari 40% orang termiskin. Berpenghasilan 4 kali lipat tampak, memang, tidak terlalu timpang.

Keunggulan Palma adalah memberi informasi ketimpangan intuitif kepada kita dan fokus kepada kelas terkaya-termiskin. Kesulitannya adalah data kelas terkaya tidak selalu mudah tersedia – orang kaya bisa menyembunyikan kekayaan. Dan Palma tidak memberikan informasi umum untuk seluruh populasi. (Kelemahan ini akan kita atasi dengan formula nilai ketimpangan.)

Nilai Ketimpangan Paman

Saya, Paman APIQ, pada tahun 2020, merumuskan nilai ketimpangan sebagai summary dari Lorenz, Gini, dan Palma serta menampilkan nilai ketimpangan yang intuitif.

Nilai ketimpangan n bernilai lebih besar dari 1. Nilai n ini merupakan estimasi dari pangkat n pada kurva Lorenz. Nilai n = 1 maka kurva linear di mana, bermakna, tidak ada ketimpangan sama sekali. Nilai n = 2 maka terjadi ketimpangan kuadrat di mana kurva Lorenz mengikuti kurva kuadrat. Nilai n = 3 maka terjadi ketimpangan kubik. Secara teori, nilai n bisa besar tak terbatas. Secara praktis, nilai n = 20 adalah sangat timpang sekali – yang sulit terjadi untuk kasus pendapatan atau pengeluaran.

Cara Menghitung Nilai Ketimpangan

Pertama, kita estimasi luas daerah di bawah kurva Lorenz, bisa menggunakan jumlah deret Riemann. Kemudian, luas ini kita bandingkan dengan hasil integral polinom pangkat n. Maka kita peroleh nilai ketimpangan n.

Misal untuk Indonesia, nilai ketimpangan,

n = 2,25

Di mana, ketimpangan di Indonesia lebih timpang dari ketimpangan kuadrat.

Error untuk nilai ketimpangan bisa kita hitung dengan mengestimasi error jumlah Riemann. Secara umum berbanding terbalik dengan banyak data dan berbanding lurus polinomial dengan kecilnya kelas.

Nilai Ketimpangan dan Gini

Bagi Anda yang sudah akrab dengan Gini maka dengan mudah bisa mengkonversi Gini G ke nilai ketimpangan n.

n = (1 + G)/(1 – G)

Dengan demikian, bisa kita katakan, n adalah summary dari G – dan summary dari Lorenz.

Misal untuk US dengan G = 0,48 kita peroleh,

n = (1 + 0,48)/(1 – 0,48) = 2,85

Nilai Ketimpangan dan Palma

10% orang terkaya = K = 10^n – 9^n

40% orang termiskin = M = 4^n

Maka rasio Palma P kita dapatkan dengan menyelesaikan persamaan,

P = K/M

Untuk contoh US dengan n = 2,85 maka kita peroleh,

P = 3,5

Nilai P di atas 1 menunjukkan adanya ketimpangan di US.

Saling Terhubung

Nilai ketimpangan n meyakinkan kita bahwa Lorenz, Gini, dan Palma adalah saling terhubung. Ketika kita memiliki salah satu data dari data-data tersebut maka kita bisa menghitung data lainnya secara tepat.

Saling keterhubungan ini bisa kita manfaatkan untuk menguji konsistensi beragam metode statistik untuk membaca, dan mengurangi, ketimpangan di dunia. SDG Report memanfaatkan Gini dan Palma, yang sejatinya, merupakan satu kesatuan. Hal ini sah-sah saja, menunjukkan SDG Report memberi bobot besar terhadap ukuran ketimpangan ini. Bahkan SDG Report juga bisa menambahkan nilai ketimpangan n sebagai indikator.

Kita berharap kesenjangan di dunia lebih mudah kita baca dengan ukuran yang mudah dan tepat. Untuk kemudian kita bersama-sama mengurangi kesenjangan dunia ini.

Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK Basmi Covid

Saat ini kita menghadapi, lagi, lonjakan pandemi. Hari kemarin, penambahan kasus baru melebihi 13 000 orang sakit. Menjadi yang tertinggi sejak Februari 2021 ini.

Apa solusinya?

Kampanye MBDK untuk membasmi pandemi covid.

MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras

Nilai Reproduksi R

Saya meneliti nilai R, reproduksi, covid-19. Nilai R tidak pernah konsisten di bawah 1. Artinya, virus corona masih terus menyebar dan melonjak. Bahkan nilai R sejak awal Juni sampai akhir Juni 2021 ini terus menanjak. Mencapai R = 1,25 yang sangat tinggi. Waspada.

Nilai magnitude M = 260 hari menunjukkan bahwa kita perlu waktu 260 hari untuk meredakan pandemi – dengan catatan konsisten mereda. Hampir 9 bulan waktu yang kita butuhkan. Waktu yang terlalu lama untuk bisa konsisten. Maka saya menduga pandemi ini sulit mereda dalam waktu 1 atau 2 tahun ke depan. Kita perlu beradaptasi. MBDK bisa kita kampanyekan – ditambah prokes tentunya.

Vaksinasi terus berjalan. Saat ini kisaran 12 juta orang yang telah divaksin. Dengan kecepatan seperti sekarang ini, barangkali perlu waktu 5 tahun untuk meyelesaikan vaksin di Indonesia. Perlu inovasi serius. Sementara, penularan virus disertasi mutasi terus melaju.

Mengapa MBDK?

Kampanye MBDK menjadi andalan kita. Tugas sederhana tapi tidak mudah – MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Seperti saya tulis pada tulisan saya sebelumnya bahwa makan bersama melanggar semua prokes. Di saat yang sama, makan bersama, sangat bahaya terjadi penularan virus corona. Droplet virus corona bertebaran di mana-mana.

Pertama, makan bersama pasti tidak pakai masker. Melanggar prokes untuk pakai masker.

Kedua, makan bersama tidak menjaga jarak. Mereka berdekatan akrab. Melanggar prokes jaga jarak.

Ketiga, makan bersama tidak cuci tangan berulang kali. Sebelum makan bisa saja cuci tangan. Tetapi ketika makan satu sendok bisa saja droplet berhamburan. Sendokan kedua dan seterusnya tidak cuci tangan. Maka melanggar prokes cuci tangan.

Singkatnya, makan bersama harus dihindari. Makan bersama adalah kejadian “tipping point” yang membuka lonjakan kasus di mana-mana.

Beberapa hari lalu saya baca berita. Di jatim, Madiun, ada hajatan nikahan yang menerapkan prokes. Harus pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, bahkan semua dicek dengan termo gun – cek suhu badan. Tetapi apa artinya bila ada makan bersama di hajatan nikahan itu?

Dari 240 orang yang hadir di hajatan itu 60 orang di antaranya dinyatakan positif covid-19. Beberapa hari kemudian, yang positif masih bisa bertambah lagi.

Mari kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras!

Bagaimana menurut Anda?

Ketimpangan Ekonomi: Gini Sampai Palma

Masalah ketimpangan ekonomi dan ketimpangan sosial terjadi di berbagai belahan dunia – termasuk di Indonesia. Solusinya sudah jelas: peningkatan kualitas pendidikan dan pemerataan pendidikan yang terbuka, gratis, untuk seluruh warga. Meski solusi ini tampak jelas, nyatanya, banyak negara gagal menyelesaikan ketimpangan ekonomi – dan sosial.

Laporan SDR di atas menunjukkan bahwa peta dunia didominasi warna merah – terdapat masalah besar. Disusul warna kuning dan jingga – terdapat masalah nyata. Dan hanya sedikit yang berwarna hijau – berhasil menekan ketimpangan.

Indeks Rasio Gini

Ketimpangan ekonomi sering kita nyatakan dalam rasio Gini = G. Di mana makin besar G menunjukkan ketimpangan makin besar. Nilai G berkisar dari 0 sampai 100%. Untuk Indonesia indeks G = 50,48 – sesuai SDR di atas. Sementara BPS, statistik resmi dalam negeri Indonesia, menyatakan G = 38,5.

Perbedaan di atas karena SDR menerapkan koreksi untuk 10% orang terkaya. Akibatnya, indek G Indonesia melonjak setelah dilakukan koreksi.

Saya sendiri mengembangkan nilai ketimpangan = n untuk mengukur ketimpangan. Nilai n bisa kita hitung langsung dari data mentah misal kurva Lorentz. Kita bisa juga langsung menghitung dengan konversi dari indeks G.

G = 38,5 setara n = 2,25
G = 50,48 setara n = 3,04

Makna nilai n = 2,25 di Indonesia adalah grafik kurva pendapatan rakyat Indonesia mirip dengan grafik polinom pangkat n = 2,25 (kurva Lorentz). Maka kurva ini bermakna bahwa ketimpangan di Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kuadrat. Lebih buruk dari kuadrat – pangkat n = 2.

Sementara bila kita mempertimbangkan koreksi dari SDR maka n = 3,04. Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kubik. Lebih buruk dari ketimpangan pangkat 3.

Benar-benar tugas besar yang harus kita temukan solusi terbaiknya. Menjadi tugas lebih besar lagi bila kita mempertimbangkan jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 20 % (pendapatan di bawah 15 000 rupiah per hari).

Rasio Palma

Palma membandingkan pendapatan 10% orang terkaya dengan 40% orang termiskin. Makin kecil rasio Palma maka makin bagus. Kita bisa mengatakan bila rasio Palma P di bawah 1 maka cukup baik. Sementara SDR menetapkan P = 0,9 sebagai target warna hijau.

Kita bisa menghitung Palma langsung dengan nilai ketimpangan n yang kita peroleh di atas.

Dengan P = 1,6 tentu saja itu ketimpangan yang buruk. Bila kita mempertimbangkan koreksi SDR maka memberikan hasil lebih buruk dengan P = 4,4. Makin memprihatinkan.

Nilai n memudahkan kita untuk menghitung rasio Palma 1% terkaya dibanding dengan 4% termiskin. Kita sebut P(1/4). Bisa juga 0,1% terkaya dibanding dengan 0,4% termiskin P(0,1/0,4).

P(1/4) kita peroleh:

Nilai P = 534,779 yang, jauh di atas 1 ini, sulit kita lukiskan maknanya dengna kata-kata. Lebih ekstrem lagi, nilai P(0,1/0,4) berikut ini.

Untuk menghibur diri, kita bisa menghitung Palma perbandingan 20% orang terkaya dengan 80% orang termiskin. P(20/80) memberi hasil di bawah 1 meski masih di atas 0,9 standar SDR.

Kita bisa membacanya sebagai kelas menengah Indonesia ternyata tidak terlalu kaya. Yang benar-benar kaya adalah kelas super kaya saja.

Tugas Siapa

Sesulit apa pun masalah ketimpangan ekonomi ini maka tugas kita untuk menemukan solusinya sebagai manusia beradab. Tugas pemimpin untuk mengarahkan rakyat meraih keadilan sosial. Tugas rakyat untuk taat kepada pemimpin demi maslahat. Tugas cendekiawan untuk menerawang masa depan di masa sekarang.

Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK Lagi

Lonjakan pandemi covid kembali mengancam Indonesia. Beberapa hari terakhir peningkatan kasus positif baru sangat tinggi. Mendekati 10 ribu kasus baru dalam sehari.

Saya mengusulkan lagi “Kampanye MBDK” untuk meredakan pandemi. MBDK adalah Makan Bersama Dilarang Keras.

Melanggar MBDK adalah melanggar semua protokol kesehatan. Dampaknya, resiko penyebaran corona menjadi menggila. Mari kampanyekan MBDK, prokes, dan meningkatkan imunitas.

Kita perlu mempertimbangkan resiko yang bisa terjadi seperti di India misalnya. Satu hari, waktu itu, penambahan kasus baru bisa melebihi 400 ribu orang. Tentu rumah sakit tidak cukup. Dokter tidak memadai. Layanan kesehatan gagal jalan. Korban meninggal ribuan nyawa melayang. Kita tidak ingin pandemi yang ngeri terjadi.

Perhatikan juga negara tetangga kita, Malaysia. Saat ini, mereka terpaksa lock down total. Pandemi mengamuk tak terkendali. Malaysia benar-benar bersebelahan dengan kita, Indonesia.

Ayo lindungi diri, lindungi keluarga, dan lindungi negara dari pandemi. Ayo kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Solusi Pandemi

Solusi pandemi ada 3 fokus – seperti pernah saya tulis setahun yang lalu. Solusi ini tampak mudah saja tapi, nyatanya, tidak semudah yang dikira.

A. Manajemen Perilaku

Solusi manajemen perilaku adalah solusi terbaik. Semua orang bisa melakukan manajemen perilaku bagi dirinya sendiri dan membantu orang terdekatnya. Pemerintah sudah meng-kampanyekan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Atau lebih lengkap kita perlu taat sesuai prosedur kesehatan – prokes.

Kampanye MBDK adalah kampanye prokes sesuai anjuran pemerintah dan para pakar. Melanggar MBDK berdampak melanggar prokes dengan resiko tertular corona sangat besar.

Orang yang makan bersama, tentu, melanggar prokes maka harus dilarang keras.

Pertama, tidak memakai masker. Orang yang makan bersama melepas maskernya ketika makan.

Kedua, tidak menjaga jarak. Orang yang makan bersama ingin akrab dengan berdekat-dekatan.

Ketiga, tidak mencuci tangan secara berulang. Sebelum makan, mereka bisa cuci tangan. Tapi ketika makan bersama, droplet bertebaran ke mana-mana. Mereka tidak cuci tangan. Berulang-ulang suapan, mereka tidak cuci tangan.

Patuhi MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

B Inovasi Percepatan Kesembuhan

Para ahli kesehatan – dan terapis – bisa mengembangkan inovasi untuk mempercepat kesembuhan para pasien yang terinfeksi covid. Berbagai jenis obat, terapi, dan vaksin terus dikembangkan.

Vaksin mempunyai peran ganda. Di satu sisi menguatkan perilaku masyarakat untuk tidak mudah tertular covid. Di sisi lain, diharapkan, bisa menyembuhkan orang yang sakit. Setidaknya, meringankan gejala bagi mereka yang terinfeksi.

C Kepemimpinan Efektif

Pandemi bukan sekedar urusan pribadi. Pandemi adalah tanggung jawab sosial. Maka kita perlu pemimpin yang efektif. Di saat yang sama, kita perlu rakyat yang bersikap patuh kepada pemimpin. Kita perlu kepemimpinan yang efektif.

Pandemi tidak bisa diselesaikan oleh seorang diri. Bahkan superman tidak akan mampu menyelesaikan pandemi. Meski pun dibantu batman, ironman, sampai spiderman tidak akan bisa menyelesaikan pandemi. Kita perlu bergerak selangkah seirama dalam kepemimpinan yang efektif untuk membasmi pandemi.

Dan solusi sederhana bagi kita: mari kampanyekan MBDK lagi!

Bagaimana menurut Anda?

Solusi Kemiskinan dengan Cepat Kaya

Kemiskinan adalah masalah utama di dunia ini. Di Indonesia kemiskinan makin memburuk. Di seluruh belahan dunia juga, kemiskinan, tampak memburuk. Barangkali keterpurukan rakyat miskin ini merupakan dampak dari pandemi covid yang berkepanjangan.

Di sisi lain, banyak orang-orang kaya yang melonjak menjadi super kaya. Apakah bisa, cara melipatgandakan kekayaan orang-orang kaya itu, diterapkan untuk mengentaskan kemiskinan dunia?

“Hanya” dengan merger, bergabung, Gojek dan Tokopedia kekayaan Nadiem berlipat sampai 321 kali lebih besar menjadi 4 Trilyun rupiah lebih. Sedangkan kekayaan William berlipat 500 kali lipat lebih besar menjadi mendekati 5 Trilyun rupiah. Sepertinya, tidak sulit meningkatkan kekayaan orang kaya menjadi super kaya seperti kisah di atas. Pertanyaan masih di depan kita, apakah ada cara yang mirip untuk mengentaskan kemiskinan sedikit membaik menjadi kelompok orang menengah?

Kemiskinan Dunia

Sebelum pandemi, kita optimis akan mampu mengatasi kemiskinan. Data global, dunia, menunjukkan jumlah orang miskin makin mengecil.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'The estimated number of poor spiked globally due to the pandemic Historical data and projections of the number of people living in poverty from 2015 to 2021, in millions. Historical Pre-pandemic projection 741 740 Pandemic projection More severe projection 700 752 660 689 731 620 645 580 2015 '16 '17 '18 588 '19 '20 Source: World Bank 2021 Note: Extreme poverty is measured as the number of people living on less than $1.90 per day. 2017 is the last year with official global poverty estimates. NICK MOURTOUPALAS/THE WASHINGTON POST'

Tahun 2015 jumlah orang miskin 741 juta jiwa, turun menjadi 689 juta jiwa, dan akan turun terus tinggal 645 juta jiwa, proyeksi 2019. Kabar baik ini terhempas dengan pandemi covid-19. Proyeksi optimis bahwa 2021 turun menjadi 588 juta jiwa tidak bisa menjadi nyata. Justru, estimasi 2021 kemiskinan melonjak menjadi 731 juta jiwa. Bahkan bisa melonjak menjadi 751 juta jiwa, yang lebih buruk dari tahun 2015 itu.

Kemiskinan di Indonesia

Kondisi kemiskinan di Indonesia tampaknya tidak jauh beda dengan kondisi global. Sebelum pandemi kita optimis akan berhasil menangani kemiskinan. Ketika pandemi datang, harapan melayang.

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan teks yang menyatakan 'PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2020 Berita Resmi Statistik No. 16/02/Th. XXIV, 15 Februari 2021 Jumlah (Juta Orang) dan Persentase Penduduk Miskin 28,17 28,60 28,28 28,59 27,73 28,51 28,01 27,76 27,77 11,36% 11,46% 26,58 25,95 25,67 11,25% 10.96% 11.22% 25,14 27.55 26,42 24,79 11,13% 10.86% 10.70% 10.64% 10.12% 9.82% 9,66% 0.19% 9,78% 9.41% 9.22% Maret 2013 Sept 2013 Maret 2014 Sept Maret 2014 2015 Sept 2015 Maret 2016 Sept 2016 Maret 2017 Sept 2017 Maret 2018 Sept 2018 Maret 2019 Sept 2019 Maret 2020 Sept 2020'

Pada tahun 2020 ada lebih dari 27 juta jiwa penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan Indonesia di kisaran 550 ribu rupiah. Atau ada lebih dari 27 juta orang di Indonesia yang penghasilannya kurang dari 550 ribu rupiah per bulan. Setara dengan penghasilan kurang dari 20 ribu rupiah per hari. Berapa biaya kamar kost di kota kecil, kota kabupaten? Di kisaran 550 ribu juga per bulan. Penghasilan mereka hanya cukup untuk sewa kost 1 kamar.

Analisis internasional memberikan hasil yang berbeda. Dengan batas kemiskinan 1,9 dolar maka hanya ada 2,42% penduduk Indonesia yang miskin. Tetapi batas ini terlalu ekstrem miskinnya. Kita bisa mempertimbangkan batas kemiskinan di 3,20 dolar per hari. Maka ada hampir 20% penduduk Indonesia yang miskin. Lebih dari 50 juta jiwa di Indonesia adalah miskin.

Mari kita cermati makna 3,2 dolar per hari.

Asumsikan 1 dolar setara 14 000 rupiah. Daya beli dolar di Indonesia (PPP) sekitar 3 kali lipat dari US.

Maka 3,2 dolar bermakna bagi orang Indonesia sebagai:

3,2 x 14 000 x (1/3) = 14 933 rupiah = 15 000 rupiah

Makna 15 000 rupiah ini tidak jauh beda dengan analisis dalam negeri yang sekitar 18 000 rupiah. Namun hasil akhir jumlah orang miskin beda dengan signifikan. Analisis dalam negeri menunjukkan ada 10% orang miskin (setara 27 juta jiwa). Sedangkan analisis internasional menunjukkan hampir 20% penduduk miskin (setara sekitar 50 juta jiwa). Barangkali perlu kajian lebih mendalam untuk mengungkap perbedaan di atas. Bisa saja ada asumsi yang beda.

Solusi Kemiskinan

Mari fokus kepada solusi kemiskinan. Cara cepat kaya yang berhasil mengantar Nadiem dan William melonjak kekayaannya sampai 500 kali lipat seperti di atas, tampaknya, sulit sebagai solusi mengentaskan kemiskinan. Karena kekayaan orang super kaya itu bisa melonjak lantaran disumbang oleh orang-orang miskin – dan menengah. Jutaan orang pengguna Gojek dan Tokopedia adalah yang menyumbang valuasi saham jadi melonjak.

Chomsky, pemikir US usia 92 tahun, menyebut fenomena semacam itu sebagai “transfer” kekayaan dari orang miskin ke orang kaya – secara legal formal tentunya. Kadang Chomsky menyebutnya sebagai “perampokan” kepada orang miskin oleh orang kaya. Barangkali istilah “transfer” lebih lembut.

Maka kita perlu merumuskan beragam cara mengentaskan kemiskinan. Berikut ini beberapa ide dari saya.

  1. Kualitas pendidikan yang merata. Apalagi Mas Nadiem saat ini sebagai mendikbudristek. Maka Nadiem punya kesempatan besar untuk mengentaskan kemiskinan dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas pendidikan. Saya sendiri lebih fokus kepada inovasi pendidikan matematika.
  2. Pemerataan kekayaan dan pekerjaan. Ketimpangan ekonomi di Indonesia makin menjadi-jadi dengan rasio Gini = 0,385 – yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Saya sendiri mengembangkan cara menghitung nilai ketimpangan n = 2,25 yang menggambarkan ketimpangan penghasilan orang Indonesia mengikuti kurva pangkat n = 2,25. Lebih buruk dari ketimpangan kuadrat. Sementara ketimpangan kekayaan sampai n = 10. Program pemerataan bisa dengan sistem pajak yang fokus substansi, koherensi, dan transparansi. Termasuk inovasi program amal.
  3. Revolusi digital. Kita baru memasuki era digital maka perlu memanfaatkan revolusi digital untuk mengentaskan kemiskinan – bukan menambah kemiskinan. Peluang besar terbuka luas di hadapan kita. Secara personal, kita, dan generasi muda, perlu belajar banyak untuk mencontoh sukses pengalaman Mas Nadiem, William Tanujaya, Ahmad Zaky, dan para enterpreneur digital lainnya. Secara sistem, kita perlu menjamin bahwa revolusi digital meningkatkan keadilan bagi seluruh rakyat. Majulah Indonesia.

    Bagaimana menurut Anda?