Evolusi Tiada Henti: Manusia vs Kera

Teori evolusi Darwin langsung mendapat sambutan hangat, bahkan panas. Manusia modern, jaman sekarang, berasal dari kera, kera yang mirip manusia. Thomas Huxley memberi banyak argumen membela teori evolusi Darwin yang seperti itu. Tentu saja banyak yang menolak. Terutama umat beragama meyakini bahwa manusia pertama adalah Adam. Maka tidak mungkin manusia punya nenek moyang berupa kera.

What is Evolutionary Creation? - Common-questions - BioLogos

Sebagian orang mengambil jalan tengah. Mereka menganggap teori evolusi tidak bisa menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Itu kesimpulan yang salah. Teori evolusi hanya bisa menyimpulkan bahwa manusia dan kera memiliki nenek moyang yang sama. Jadi, nenek moyang manusia adalah manusia. Sedangkan nenek moyang kera adalah kera juga. Tapi berbentuk apakah nenek moyang yang sama, yang sama-sama nenek moyang manusia dan kera?

Pada tulisan ini saya akan membahas teori evolusi dari berbagai macam sudut pandang. Yang paling dominan, saat ini, adalah sudut pandang ilmiah yang reduksionis. Memandang segala sesuatu, cenderung, terbatas fenomena materialistis. Kita akan melangkah lebih jauh, dalam pembahasan ini, tidak hanya materialistis tetapi mempertimbangkan dengan baik argumen rasional, agama, dan lain-lain.

Bohong Besar vs Jujur Sedikit

“Kebohongan terbesar di negeri ini adalah kemenangan Jokowi di pilpres. Kecurangan terjadi di mana-mana. Hasil pemilu presiden harus dibatalkan.”

Begitulah cuitan yang beredar di media sosial, sebelum dan sesudah, KPU menetapkan hasil pilpres. Kita tahu keputusan KPU pun harus bergerak ke MK. Secara sah diputuskan hasil KPU benar!

Jokowi, Prabowo, dan 'Kacamata' Media Internasional - Kabar24 Bisnis.com
Prabowo dan Jokowi

Meski demikian, masih banyak orang yang tidak percaya pada keputusan KPU pada tahun 2014. Mereka masih menganggap banyak pihak yang bohong. Yang benar, menurut mereka, yang menang jadi Presiden 2014 seharusnya adalah Prabowo.

Pemilu presiden 2019 berulang lagi. Keputusan KPU harus maju ke sidang MK. Hasil pilpres 2019 dianggap banyak bohongnya juga. Tetapi hasil pilpres 2019 bernasib baik. Prabowo masuk kabinet Jokowi. Sehingga tidak ada yang bisa mengatakan, “Seharusnya yang jadi presiden adalah Prabowo.” Maka hasil pilpres 2019 tidak bohong.

Bohong besar akan menjadi benar. Begitu keyakinan sebagian orator. Bila Anda bohong satu kali maka Anda adalah pembohong. Tetapi bila Anda bohong seribu kali maka Anda adalah visioner.

Saat ini tersedia disiplin ilmu baru: semiotika yaitu ilmu tentang dusta. Ditambah lagi dengan kekuatan simulacra memproduksi pencitraan penuh dusta maka makin sempurna. Masyarakat tinggal copas dari copas… dari copas.

Bertrand Russel mencermati proses ingatan manusia. Dari sini lah kita bisa mengamati mengapa bohong besar itu akan menang dari bohong kecil. Bohong besar juga menindas kejujuran kecil. Bohong besar hanya bisa dilawan dengan kebenaran besar. Meski, bisa saja bohong besar yang menang.

Misal kita eksperimen dengan diri kita masing-masing. Setiap pagi kita mengatakan, “UU Ciptaker adalah merugikan.”

Pada hari kesatu, pikiran kita akan mencari bukti. Apakah UU Ciptaker benar-benar merugikan? Mana mungkin presiden dan DPR merugikan rakyat? Tetapi mahasiswa demo. Demo mahasiswa adalah murni karena UU Ciptaker merugikan rakyat. Para buruh dan berbagai komponen masyarakat juga demo menolak UU Ciptaker.

Maka pada hari kesatu ini kita masih ragu-ragu, UU Ciptaker adalah merugikan. Anggap saja keyakinan kita 50%.

Pada hari kedua kita mengulangi ucapan yang sama. Keyakinan kita masih sama 50%. Tetapi kita yakin 100% bahwa kemarin kita mengatakan, “UU Ciptaker adalah merugikan.”

Total keyakinan kita mulai goyah, tidak lagi 50%. Campuran antara 50% dan 100%, barangkali naik jadi 60% atau 75%.

Pada hari ketiga, keyakinan kita makin naik. Dan begitu seterusnya.

Pada hari kesepuluh, kita yakin 100% bahwa kemarin mengucapkan, “UU Ciptaker adalah merugikan.” Dan yakin 100% terjadi pada hari sebelumnya. Dan sudah mulai “melupakan” keyakinan yang 50% pada hari pertama. Jadinya, kita yakin 100% bahwa UU Ciptaker adalah merugikan.

Bila kita merenung sejenak, kita tahu bahwa keyakinan kita bisa salah. Tetapi kebohongan besar yang kita ciptakan selama 10 hari sudah berhasil membuat diri kita terkelabui. Apalagi bila banyak orang lain yang meyakini seperti diri kita. Maka kita makin yakin. Dan sayangnya keyakinan ini sering tidak berhubungan dengan kebenaran.

Mari kita merenung semoga senantiasa memperoleh kebenaran sejati.

Bagaimana menurut Anda?

Percaya Jokowi atau Matahari

Pertanyaan sederhana bagaimana jawaban Anda: lebih percaya janji Jokowi atau matahari akan bersinar esok hari?

Orang-orang tampaknya dengan mudah yakin bahwa besok matahari akan bersinar lagi. Tetapi terhadap janji Jokowi, barangkali, berbeda-beda keyakinan. Kedua hal di atas sama-sama belum terjadi. Sehingga bisa saja benar terjadi pada waktunya. Tapi bisa saja tidak terjadi. Namun, secara intuitif, kita lebih yakin salah satunya.

Russel& Children

Saya yakin Russell adalah seorang filosof yang berhasil menjelaskan peran berpikir induktif dalam ilmu pengetahuan. Kita melihat masa lalu Jokowi dan matahari lalu berusaha menyimpulkan apa yang akan terjadi besok. Apakah Jokowi akan menepati janji atau apakah matahari akan bersinar lagi. Itu salah satu contoh berpikir induktif.

Berpikir induktif yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat pula, derajat keyakinan tinggi. Cara berpikir ini dipegang oleh para filsuf analytic yang dipelopori Bertrand Russel di atas. Sayangnya, para filsuf continental, yang lebih dikenal sebagai filsuf pormodern, terlalu longgar menerapkan berpikir induktif.

Kita perlu, kembali ke contoh, melangkah lebih dalam apa yang menyebabkan matahari masih bersinar esok hari. Ilmu pengetahuan memberi banyak informasi. Bahwa umur matahari diperkirakan masih bersinar sampai 5 milyard tahun ke depan. Hukum gravitasi memastikan matahari dan bumi tetap pada posisi dinamis yang stabil. Dengan kondisi seperti itu maka dipastikan matahari akan bersinar esok hari, mendekati 100 persen.

Tentu saja matahari bisa gagal bersinar esok hari bila terjadi hal-hal di luar kebiasaan. Misal terjadi ledakan besar-besaran sehingga matahari hancur. Atau bumi bertabrakan dengan mars sehingga tata surya bubar. Berdasar hukum gravitasi dan teori ledakan inti di matahari, kejadian luar biasa seperti di atas tidak akan terjadi. Maka masih valid bila kita yakin besok matahari masih bersinar.

Untuk janji Jokowi, kita juga bisa menganalisis sistem sebab akibat yang terjadi di belakangnya. Jokowi adalah presiden RI yang dipilih secara demokratis. Didukung kekuatan politis, kabinet, DPR, dan lain-lain secara demokratis. Ketika presiden berjanji dalam situasi demokratis maka janji-janjinya akan dipenuhi. Maka kita bisa percaya bahwa Jokowi akan menepati janji.

Pasti, keyakinan kita kepada Jokowi bisa salah. Bila, ternyata, sistem demokrasi tidak jalan. Terjadi korupsi di legislatif. Korupsi di yudikatif. Maka janji politikus tidak akan ditepati. Tetapi kondisi demokrasi yang baik akan memastikan presiden bisa memenuhi janji.

Berikutnya kita akan melihat contoh berpikir induktif yang tidak sah. Misal seorang petani tiap pagi memberi rumput, sebagai makanan, untuk kambing ternaknya. Pagi ini memberi rumput, kemarin juga, dan sudah terjadi ratusan kali. Bisakah, kambing menyimpulkan bahwa besok pagi petani akan memberi rumput lagi?

Karena sudah terjadi ratusan kali, maka wajar kita berharap hal itu terjadi lagi besok pagi. Ternyata besok pagi, petani menyembelih kambingnya untuk dijual dagingnya. Contoh berpikir induktif yang tidak sah.

Kita analisis sedikit lebih mendalam apa yang menyebabkan petani memberi rumput adalah pilihan sikap petani itu sendiri. Petani bebas besok pagi akan memberi rumput atau menyembelih kambingnya. Dengan kondisi seperti itu maka kita tidak bisa menerapkan logika berpikir induktif.

Sistem demokrasi yang baik memastikan presiden menepati janji. Hukum gravitasi memastikan tata surya tetap rapi. Teori ledakan inti menjamin matahari bersinar lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Konsep Omnibus Law

Apa konsep utama omnibus law? Memudahkan usaha di Indonesia. Sehingga wirausaha berkembang, menyerap 4,5 juta tenaga kerja baru tiap tahunnya. Dan masih banyak lagi.

Tetapi analisis ahli ekonomi menyatakan bahwa jumlah investasi di Indonesia sudah cukup besar dan bagus. Bahkan lebih bagus dari negara-negara tetangga. Masalahnya adalah biaya ekonomi di Indonesia lebih mahal. Maksudnya untuk memproduksi sepatu di negara tetangga misal 1 dolar maka di Indonesia bisa hampir 2 dolar.

Jadi UU Ciptaker itu salah konsep, dari sudut pandang itu. Harusnya memangkas biaya ekonomi yang mahal bukan memudahkan investasi. Toh, meski pun hasil survei terbaru menyatakan bahwa di Indonesia paling sulit berinvestasi, tetap saja banyak yang investasi.

Gilles Deleuze.jpg
Deleuze

Dari sudut pandang posmo, pemerintah sudah mengambil langkah bagus: menciptakan konsep baru dengan UU Ciptaker. Deleuze, tokoh posmo, mengatakan bahwa tugas filsafat adalah menemukan, merajut, dan menciptakan konsep.

Konsep baru, iklim usaha baru, perilaku konsumen baru, tentu makin menggairahkan dunia usaha Indonesia.

Pertanyaan masih mengganjal, “Apakah, secara konseptual, UU Ciptaker akan menyejahterakan rakyat Indonesia?”

Sang filsuf yang penuh pertimbangan sekelas Bertrand Russell pun tidak akan bisa menjawab dengan pasti. Terlalu banyak yang harus dianalisis dari UU Ciptaker itu. Maka di satu sisi kita boleh optimis bahwa UU Ciptaker akan membawa kebaikan. Di sisi lain kita bisa pesimis, jangan-jangan ada potensi merusah negeri ini.

Maka dialog terbuka demokratis perlu terus dikembangkan untuk memastikan UU Ciptaker berdampak positif – termasuk prospek ditangguhkannya.

Bagaimana menurut Anda?

Omnibus Law Jadi NOL Besar

Harapan besar kepasa UU Ciptaker. Harapan omnibus law jadi NOL besar. Omnibus law yang mengantar rakyat Indonesia adil dan makmur. Apakah bisa?

Khwarizmi Amirkabir University of Technology.png
Al Khawarizmi

Aljabar Al Khawarizmi adalah tokoh matematika pertama yang mengenalkan angka 0 menjadi sangat berguna. Kita berhutang besar kepada Al Khawarizmi atas jasanya. Sebelumnya, kita tidak mengenal penggunaan angka 0 maka angka yang ada mirip dengan angka Romawi.

Coba hitung,

CCLIV dikali M = ?

Bandingkan,

254 x 1000 = 254 000

Selesai.

Selanjutnya teknologi komputer, informasi, dan digital mengembangkan lebih jauh manfaat angka 0 dengan aljabar Boolean.

Filosofi Angka 0

Angka 0 juga memiliki filosofi yang menarik. Semoga omnibus law bisa mengambil filosofi terbaik dari angka 0.

Kehadiran angka 0 tidak mengganggu siapa pun. Penjumlahan dengan angka 0 tidak merubah apa pun. Misal 5 + 0 = 5 atau 3 + 0 = 3. Begitu pula kehadiran UU Ciptaker semoga tidak mengganggu siapa pun. Kita pun sebagai manusia juga sebaiknya tidak mengganggu siapa pun.

Penempatan angka 0 yang tepat sangat bernilai. Jika angka 5 lalu ditempatkan angka 0 di belakangnya maka jadi 50. Nilai berlipat ganda. Jika angka 7 di belakangnya di tempat tiga buah angka 0 maka 7000 yang luar biasa besar.

Penempatan omnibus law yang tepat, adil, harmonis dapat melipatgandakan kemakmuran negeri ini. Semoga bisa…!

Angka nol menetralisir perbedaan, merangkul kemajemukan. Perhatikan misal angka negatif tiga (-3) dan positif tiga (+3) bisa dirangkul jadi 0 yaitu (-3) + (+3) = 0.

Kita berharap omnibus law dapat merangkul segala perbedaan untuk kemajuan Indonesia. Melalui dialog terbuka, dari hati ke hati, yang pro dan kontra UU Ciptaker, semoga bisa ketemu titik sepakat untuk Indonesia makin sejahtera.

UU Ciptaker tidak cukup menjadi 0 kecil bagi Indonesia. Omnibus law harus jadi NOL BESAR untuk Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Konstanta Evolusi vs Fisika

Mengapa tidak ada konstanta biologi? Atau saya belum tahu.

Konstanta fisika muncul sampai lebih dari 100 buah. Dari konstanta gravitasi Newton, konstanta gaya Coulomb, sampai konstanta kecepatan cahaya di ruang hampa C.

Konstanta fisika ini mentukan evolusi jagad raya sejak big bang sampai ada kehidupan di bumi. Akhirnya, akibat dari konstanta itu, muncul manusia yang berhasil mengungkapkan konstanta-konstanta tersebut. Seandainya konstanta itu berbeda sedikit saja nilainya maka evolusi jagad raya akan berbeda arah. Tidak pernah muncul manusia seperti kita.

Charles Darwin

Begitu pentingnya peran konstanta. Saya berpikir kita bisa juga menetapkan konstanta evolusi untuk lebih mudah memahami proses evolusi sampai terbentuk manusia yang sadar ini.

Asumsikan evolusi Darwin benar bahwa manusia berasal dari kera, bahkan berasal dari makhluk hidup sel tunggal. Maka kita akan menghitung beberapa konstanta evolusi yang mungkin. Dan berharap bisa diverifikasi secara empiris. Falsifiable.

Misal kita menghitung waktu evolusi dimulai dari big bang sebagai titik 0, sekitar 5 milyard tahun lalu. Atau bisa mengacu awal muncul kehidupan 4 milyard tahun lalu. Manusia muncul di muka bumi sekitar 5 juta tahun lalu sebagai homini. Sedangkan homo sapiens, manusia modern saat ini, muncul 200 ribu tahun yang lalu. Kera muncul 10 juta tahun yang lalu.

homo sapiens (manusia modern) = 0,2 juta tahun lalu
kera pertama = 10 juta tahun lalu

Waktu yang diperlukan makhluk hidup pertama sampai muncul kera,

4 milyar – 10 juta = k

Waktu yang diperlukan sampai muncul manusia,

4 milyar – 0,2 juta = m

Maka perbandingan manusia terhadap kera adalah,

m/k = 1,002

Bila perbandingan ini kita buat estimasi kapan kera jaman sekarang akan berevolusi menjadi homo sapiens, manusia modern,

(m/k – 1)*4 milyard tahun = 9, 824 juta tahun => 10 juta tahun.

Kesimpulan: dalam waktu 10 juta tahun ke depan akan ada evolusi kera, ape, jaman sekarang yang berubah menjadi manusia, homo sapiens. Tetapi waktu 10 juta tahun terlalu lama untuk verifikasi.

Barangkali kita mencoba membandingkan kera, ape, dengan gorila.

waktu yang diperlukan sampai muncul gorila adalah,

4 milyard – 9 juta = g

Perbandingan gorila dengan kera,

(g/k – 1) * 4 milyard tahun = 1, 003 juta tahun => 1 juta tahun

Kesimpulan: dalam waktu 1 juta tahun ke depan akan ada kera, ape, yang berevolusi menjadi gorila.

Jika 1juta tahun terlalu lama maka bisa dicari waktu yang lebih pendek. Misal ketika Darwin mengajukan teori evolusi, sekitar 150 tahun yang lalu, barangkali sudah ada data genetika tentang kera. Apakah keturunan kera di masa Darwin itu sudah menunjukkan evolusi menuju gorila di masa sekarang?

Bagaimana menurut Anda?

Omnibus Law Jadi Apa?

Akhirnya UU Ciptaker jadi apa?

Jadi bencana. Maka harus dicegah dengan demo besar-besaran. Itu adalah pandangan yang kontra terhadap omnibus law.

Bagi yang pro, UU Ciptaker adalah sarana untuk menyejahterakan rakyat. Tiap tahun membuka 4,5 juta lapangan kerja baru. Pengusaha lebih mudah mengembangkan usaha.

Baik yang pro atau pun yang kontra sama-sama belum punya bukti. Kata filosof analytic, semisal Bertrand Russel, tidak bisa dibuktikan keduanya. Tetapi kata Jean Paul Sartre, sang eksistensialis, justru kedua-duanya bisa benar-benar terjadi.

Simone dan Sartre

Kata Sartre, eksistensi manusia mendahului esensinya. Terbalik dengan barang misalnya cangkir. Untuk cangkir justru esensi mendahului eksistensi. Maksudnya, ketika cangkir akan dibuat maka esensi cangkir dibuat dulu. Cangkir bisa menampung air 200 ml, tahan panas, berwarna hitam, dan lain-lain. Setelah esensi terdefinisi maka selanjutkan dibuat cangkirnya, jadilah cangkir punya eksistensi.

Manusia berbeda dengan cangkir. Manusia berbeda dengan yang bukan manusia. Manusia eksis dulu lalu esensi bebas menyusul kemudian.

Pertama, seorang manusia ada – tanpa ada esensinya apa, hanya eksistensi saja. Kemudian, kedua, manusia bisa jadi dokter, sebagai esensinya. Manusia bisa jadi presiden, esensinya. Bisa juga jadi wakil rakyat. Boleh juga jadi pendemo. Semua bebas. Itulah manusia.

Maka benar saja UU Ciptaker bisa jadi apa saja. Maksudnya UU Ciptaker bisa jadi instrumen manusia untuk hidup sejahtera. Dan bisa juga UU Ciptaker jadi instrumen untuk merugikan manusia tertentu. Instrumen tetap instrumen. Tujuan pragmatis menjadi lebih penting, meminjam pandangan tokoh pragmatisme semisal Bernstein.

Ayo kawal UU Ciptaker agar menjadikan manusia Indonesia lebih sejahtera!

Bagaimana menurut Anda?

Dilema Ibu-Ibu Vs Kodok

Awalnya, ini hanya paradoks ibu-ibu tetapi berkembang sebagai paradoks kodok. Bisa juga paradoks lainnya.

Jelas bahwa setiap ibu punya ibu. Bahkan setiap orang juga punya ibu. Tetapi siapakah ibu pertama? Yang merupakan ibu dari hampir seluruh umat manusia?

Secara umum kita menjawab ibu pertama adalah Bunda Hawa. Muncul dilema atau paradoks di sini.

Pertama, siapakah ibu dari Bunda Hawa? Jika Bunda Hawa punya ibu maka Bunda Hawa bukan ibu pertama, kontradiksi. Padahal Bunda Hawa diyakini sebagai ibu pertama.

Kedua, bagaimana Bunda Hawa diciptakan? Umumnya kita meyakini Bunda Hawa tidak dilahirkan. Karena beliau adalah ibu pertama. Tetapi pertanyaannya bagaimana beliau tercipta? Apakah tercipta langsung dari tulang rusuk Adam? Atau tercipta melalui evolusi?

Kodok kulit beracun

Formulasi paradoks bisa beragam. Misal paradoks kodok berikut ini.

Setiap kodok berasal dari kodok sebelumnya maka berasal dari apakah kodok pertama?

Kodok pertama tercipta begitu saja. Bagaimana proses terciptanya? Bila direkam dengan gerak lambat seperti apa penampakkannya? Barangkali dimulai dari 1 sel?

Ataukah kodok pertama merupakan evolusi dari makhluk lain yang lebih sederhana? Bila demikian maka makhluk yang lebih sederhana itu juga berasal dari evolusi sebelumnya. Bagaimana evolusi semacam itu bisa terjadi?

Saya ingin mencatat beberapa hal menarik di sini.

Pertama, pikiran manusia itu begitu hebat. Bisa berpikir jauh ke belakang sampai asal mula segala sesuatu. Juga bisa berpikir ke depan sampai masa akhir jaman.

Kedua, pikiran manusia itu fleksibel. Di satu sisi tegas dengan aturan logika. Di sisi lain bisa dengan mudah menerima adanya kontradiksi, paradoks, dilema, dan lain-lain.

Ketiga, pengecualian adalah hal lumrah. Misal Bunda Hawa tidak punya ibu adalah pengecualian. Padahal semua ibu yang lain selalu punya ibu. Ketika hampir setiap orang berebut cari rejeki bisa saja ada orang tertentu yang justru bagi-bagi rejeki.

Hebat sekali kan manusia itu?

Bagaimana menurut Anda?

Misteri Free Will vs Determinisme

Apakah manusia punya kebebasan memilih? Bebas berkehendak. Bisa menginginkan apa saja. Jika jawabannya positif, benar, maka kita menganut kebebasan berkehendak atau free will.

Akibatnya, manusia harus semangat menentukan jalan hidupnya sendiri. Manusia bertanggung jawab atas sukses masa depan. Manusia perlu terus menciptakan kemajuan demi kemajuan. Pandangan seperti ini telah banyak mendorong kemajuan ekonomi, pengetahuan, teknologi dan lain-lain.

Free Will, the Libet Experiments and the War on Terror - Areo

Sebaliknya ada yang berpandangan manusia tidak punya kebebasan, determinisme. Kehidupan manusia sudah ditentukan sebelumnya. Manusia tinggal menjalani garis hidup dengan sebaik-baiknya. Sukses manusia sudah ada yang mengatur. Maka kita bisa menjalani hidup dengan ringan dan bahagia. Itu adalah pandangan determinisme.

Bila seperti dua pandangan di atas, maka tidak masalah dengan free will atau determinisme bukan? Benar, tidak masalah. Free will menjadikan orang bertanggung jawab dan determinisme menjadikan orang hidup dengan tenang.

Tetapi yang sebaliknya juga bisa terjadi. Kehendak bebas, free will, menjadikan orang terbebani karena harus bertanggung jawab atas hidupnya. Sedangkan determinisme menjadikan orang malas lantaran semua akan terjadi dengan sendirinya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Realitas alam semesta, tempat manusia berada, yang sebenarnya apakah free will atau determinis?

Jawabannya panjang. Bahkan kian hari kian seru. Diawali oleh filosof Yunani Kuno, sampai sekarang, cenderung meyakini bahwa manusia punya kehendak bebas, free will. Ilmuwan jaman dahulu juga meyakini manusia punya kehendak bebas. Manusia bertanggung jawab atas nasibnya sendiri.

Posisi berseberangan, meyakini determinisme, biasanya dipegang para teolog atau tokoh agama. Pandangan mereka umumnya menyatakan bahwa Tuhan Maha Kuasa. Jika manusia berkehendak bebas maka kebebasan manusia ini bisa melanggar ke-Maha Kuasa-an Tuhan. Sehingga manusia harus tidak punya kuasa yaitu sudah ditentukan nasibnya oleh Tuhan.

Sikap ilmuwan berubah seiring jaman. Jaman pertengahan dan sebelumnya, para ilmuwan percaya manusia punya kehendak bebas. Mirip pandangan filosof. Sedangkan menjelang masuk jaman modern, abad 18, ilmuwan mulai meyakini bahwa manusia tidak punya kehendak bebas. Makin tersingkapnya sain menunjukkan makin jelasnya hubungan sebab akibat di alam raya material.

Semua tindakan manusia ada sebabnya. Sedangkan sebab-sebab ini sudah terkait dengan kejadian-kejadian di alam semesta. Maka tindakan manusia adalah hanya akibat dari alam semesta lainya. Ini adalah determinisme ilmiah. Berbeda dengan determinisme agamis tetapi tetap determinis.

Masuk abad ke 20 ditemukan teori mekanika kuantum. Di mana terdapat fenomena tidak determinis pada perilaku partikel-partikel sub atom. Ilmuwan bersikap terbelah. Sebagian ada yang yakin determinisme tapi sebagian lain percaya tidak determinisme, yang berarti kehendak bebas.

Sementara para seniman dari dulu sampai sekarang sebagian besar cenderung mengakui bahwa manusia punya kehendak bebas. Wajar saja karena seniman seringkali memanfaatkan kreativitas yang sangat dekat dengan kebebasan.

Masyarakat pada umumnya juga cenderung meyakini bahwa manusia punya kehendak bebas. Karena pengalaman sehari-hari, manusia memang bebas memilih tindakan. Tidak dipaksa oleh pihak lain. Tapi masyarakat yang dekat dengan agama bisa terpengaruh oleh tokoh agama yang cenderung determinis.

Pandangan sehari-hari: free will

Jelas dalam kehidupan sehari-hari kita mempunyai kehendak bebas – free will. Di restoran misalnya, Anda bebas pesan minum dulu atau bebas pesan makanan dulu. Sekarang pun Anda bebas akan melanjutkan membaca tulisan ini atau bebas jeda dulu.

Meski kita tahu bahwa manusia tidak bebas bertindak misal melanggar hukum, maka akan dicegah oleh yang berwenang. Manusia juga tidak bebas berbuat terbang tinggi seperti seekor burung. Batasan bebas seperti di atas adalah batasan alami untuk tindakan manusia. Meski demikian manusia tetap bebas berkehendak, hanya dalam hati misalnya, ingin terbang seperti burung. Maka pandangan seperti di atas tetap termasuk meyakini free will.

Pandangan agama: determinisme

Sebagian tokoh agama meyakini determinisme. Bahwa nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan. Atau taqdir manusia sudah ditetapkan oleh Tuhan jauh hari sebelum manusia hadir ke bumi – dan tidak bisa diubah.

Ajaran agama memang sering menyatakan bahwa rejeki adalah Tuhan yang mengatur. Jodoh pun rahasia Tuhan. Juga ajal manusia adalah taqdir Tuhan. Determinisme dari Tuhan. Paham determinisme juga sering disebut sebagai paham jabariyah.

Selain itu teolog, ahli agama, juga khawatir bahwa sikap Maha Kuasa Tuhan ternodai bila manusia punya kehendak bebas. Misal manusia berkendak memanjat pohon. Lalu manusia benar-benar berhasil memanjat pohon itu dengan kemampuan manusia itu sendiri. Dalam kasus ini kemampuan manusia bersaing dengan kekuasaan Tuhan.

Dengan kata lain, ketika manusia tersebut berhasil memanjat pohon maka Tuhan, dalam pandangan teolog, terpaksa dikendalikan oleh kekuatan manusia. Tuhan jadi, dalam pandangan mereka, tidak maha kuasa lagi. Tentu saja teolog menolak kesimpulan seperti ini. Maka para teolog menjaga kesucian Tuhan dengan menyatakan bahwa manusisa tidak punya kehendak bebas. Hanya Tuhan yang Maha Kuasa.

Tentu saja tidak semua ahli agama meyakini determinisme, atau jabariyah ini. Ada juga yang meyakini manusia tetap punya kehendak bebas, free will, dan di saat yang sama Tuhan tetap Maha Kuasa.

Pandangan Filosof dan Ilmuwan: free will

Filosof dan ilmuwan (pra modern) umumnya meyakini manusia punya free will – kehendak bebas. Logika sederhana menunjukkan bahwa manusia punya kebebasan dalam memilih setiap hari. Logika lebih mendalam, dilengkapi dengan beberapa penyelidikan, menunjukkan bahwa orang-orang yang memilih bekerja dengan cerdas, disiplin, dan kreatif berhasil meraih sukses. Hal ini menunjukkan bahwa manusia punya pilihan bebas bahkan punya kekuasaan untuk mewujudkan kehendaknya.

Penyelidikan lebih mendalam tentang hukum-hukum alam, misalnya arah angin, menunjukkan hukum sebab akibat yang pasti. Manusia bisa memilih berlayar sesuai arah angin sehingga lebih ringan untuk mencapai tujuan. Atau manusia bisa melawan arah angin dengan mengatur layar dan strategi tertentu untuk mencapai tujuannya.

Manusia juga mampu mengendalikan kuda untuk menggerakkan delman atau melarang kuda sehingga berhenti. Makin banyak hukum-hukum alam yang terungkap maka makin tersibak hukum sebab akibat. Dan manusia bebas memanfaatkan hukum-hukum alam itu sesuai pilihannya.

Di era milenial, ilmuwan bahkan berpadu dengan insinyur, bebas berkreasi menciptakan teknologi. Manusia bebas memproduksi mobil. Makin bebas bergerak ke semua lokasi. Manusia bebas memproduksi smartphone maka makin bebas memperoleh informasi. Bahkan manusia kini bebas memproduksi program-program komputer cerdas semacam kecerdasan buatan.

Singkatnya, manusia punya free will.

Ilmuwan modern: determinisme

Sesuatu yang aneh terjadi pada dunia ilmu modern. Yang semula percaya free will beralih ke determinisme. Perkembangan ilmu yang makin luas menyingkapkan hukum sebab akibat yang makin luas. Pada gilirannnya, pilihan manusia juga tunduk pada hukum sebab akibat ini. Pilihan bebas manusia hanya ilusi. Tampak seperti bebas tetapi pilihan itu sebenarnya akibat pasti dari sebab-sebab lain. Maka determinisme.

Sains modern meyakini bahwa pilihan manusia dimulai dari dalam pikiran. Tetapi pikiran ini muncul karena kerja cerdas dari sistem otak manusia. Sedang otak manusia, yang terdiri dari 100 milyard neuron, adalah benda fisik biasa yang tunduk terhadap hukum alam. Sehingga otak manusia ditentukan, dipengaruhi, oleh sebab-sebab alami tertentu. Otak manusia tidak bebas.

Pada gilirannya, otak manusia yang tidak bebas ini, membentuk pikiran manusia yang tentu juga tidak bebas. Maka manusia merasa bebas memilih itu hanyalah ilusi semata. Karena pilihan yang ditentukan pikiran itu sejatinya tidak bebas.

Beberapa percobaan sains modern mendukung pandangan determinisme itu.

Ilmuwan mekanika quantum: free will

Memasuki abad ke 20, ilmu fisika menemukan terobosan besar yang dikenal dengan mekanika quantum. Cabang dari sains fisika yang mempelajari fenomena sub atomik. Mekanika klasik, yang dikembangkan dengan baik sejak Newton, tidak lagi memadai untuk menjelaskan fenomena sub atomik.

Salah satu rumusan mekanika quantum yang paling mendasar adalah fungsi gelombang oleh Erwin Schrodinger. Singkatnya, fungsi gelombang menunjukkan posisi suatu partikel, misalnya elektron, pada waktu tertentu. Tetapi fungsi gelombang ini tidak bisa memberikan lokasi elektron dengan pasti. Fungsi gelombang hanya memberikan nilai probabilitas, nilai peluangnya saja. Maka tidak determinisme.

Selanjutnya, masih di bidang mekanika quantum, ditemukan ketidakpastian Heisenberg. Sesuai namanya pasti tidak determinisme. Heisenberg membuktikan bahwa tidak mungkin bisa mengukur posisi partikel di saat yang sama juga mengukur momentum partikel dengan tepat. Pasti ada ketidakpastian.

Ditambah lagi dengan teori Godel di matematika dan teori Turing di bidang komputer maka makin banyak teori sains untuk menolak determinisme.

Teori sains paling mutakhir berhasil menunjukkan bahwa manusia mempunyai free will. Tetapi ilmuwan tidak sepakat bulat. Sebagian meyakini free will dan sebagian yang lain tetap determinisme. Argumen masing-masing pendukung akan kita bahas di bagian bawah.

Sintesa free will dan determinisme

Masuk akal bila kita mencari titik temu antara free will dan determinisme. Pandangan yang menerima keduanya secara serentak sering disebut sebagai compatibilist.

Sintesa ini pun beragam. Kelompok pertama, sintesa permukaan, mengakui sintesa tetapi setelah dianalisis lebih mendalam ternyata mereka memilih salah satu saja antara free will atau determinisme. Kelompok kedua, sintesa mendalam, di mana secara nyata mengakui keduanya, free will dan determinisme serentak.

Sintesa Permukaan

Beberapa teolog mengakui jalan tengah sebagai sintesa. Manusia memiliki pilihan berbuat bebas. Meski pun di sisi lain, Tuhan menetapkan nasib bagi setiap manusia.

Sintesa ini menyatakan bahwa manusia punya pilihan untuk berkehendak, berbuat, baik atau buruk. Karena manusia ini punya pilihan maka dia bertanggung jawab atas tindakannya di depan hukum di dunia, atau bahkan di akhirat.

Tapi pilihan akhir dari manusia, masuk surga atau neraka, adalah deterministik ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Keberatan muncul: Jika hasil akhir, masuk surga dan neraka, ditentukan oleh Tuhan maka itu artinya adalah deterministik murni.

Jawabannya adalah sistesa. Meski sudah ditetapkan oleh Tuhan tetapi manusia punya pilihan berbuat baik atau buruk. Tuhan juga sudah menjelaskan apa saja yang termasuk perbuatan baik dan buruk. Orang yang masuk surga sudah ada ciri-cirinya yaitu konsisten berbuat baik di dunia sampai akhir hayatnya. Dia memilih berbuat baik. Meninggal dalam kondisi berbuat baik. Maka itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadi Tuhan yang menetapkan dan manusia yang memilih ciri-cirinya.

Bisa kita lihat jawaban di atas tampak seperti sintesa tetapi hakikatnya adalah determinisme. Bagaimana pun secara moral tetap berdampak positif karena manusia harus memilih ciri-ciri perbuatan positif.

Sintesa Tata Krama

Sintesa dari kalangan ahli agama ada yang kreatif dengan fokus kepada tata krama. Secara prinsip, teolog meyakini bahwa manusia punya kehendak bebas selama tidak berhadapan dengan Tuhan. Tetapi ketika berhadapan Tuhan Maha Kuasa, maka manusia harus menjaga tata krama. Manusia merendah di hadapan Tuhan. Manusia makhluk lemah di hadapan Tuhan. Manusia tidak punya kehendak di hadapan Tuhan.

Sintesa tata krama ini menyatakan manusia punya kehendak bebas berhadapan dengan seluruh dunia. Tetapi manusia di hadapan Tuhan adalah deterministik.

Sintesa ini menjadi solusi yang menarik. Karena manusia punya free will maka manusia bertanggung jawab atas seluruh tindakannya. Tetapi di saat yang sama manusia merasa hidup damai. Di hadapan Tuhan, ketika berdoa misalnya, ada Tuhan yang Maha Kuasa. Manusia bisa memohon perlindungan kepada Tuhan yang Maha Melindungi. Manusia bisa “menyerahkan” semua masalah nya kepada Tuhan, mohon petunjuk dan kekuatan.

Kita analisis lebih dalam, sintesa tata krama bisa masuk deterministik tapi bisa juga masuk free will.

Sintesa tata krama adalah, hakikatnya, free will bila orang yang bersangkutan menyakini bahwa dirinya punya free will untuk segala urusan. Sedangkan ketika berdoa dia harus bertata krama justru karena kehendak bebas dirinya memilih itu. Dan itu pun karena tujuannya adalah agar doanya terkabul. Di samping ketentuan agama memberi petunjuk demikian.

Dari sudut pandang lain, tata krama bisa juga dipandang deterministik. Jika seseorang meyakini bahwa Tuhan telah menentukan semuanya, seperti dia ucapkan ketika berdoa. Sedangkan pilihan menghadapi dunia, pilihan berbuat baik, sekedar mengemban tugas dari Tuhan. Sekedar menjalankan amanah Tuhan. Kemampuan bertindak pada diri manusia pun anugerah Tuhan. Juga kehendak memilih pada manusia, hakikatnya, adalah titipan Tuhan.

Bagaimana pun, sintesa tata krama ini tetap berdampak positif secara moral dan menyarankan manusia bertanggung jawab untuk memilih berbuat baik.

Sintesa mendalam

Sintesa mendalam benar-benar mengakui kedua-duanya serentak: free will dan determinisme. Bandingkan dengan sintesa tata krama yang mengakui secara tidak serentak. Saat tertentu free will dan di saat yang lain determinisme.

Sintesa ini dikembangkan oleh sebagian ilmuwan, filosof, dan teolog. Bagi yang tidak mengakui keberadaan Tuhan maka dibatasi pembahasannya hanya sampai alam semesta. Sedangkan yang mengakui Tuhan maka pembahasan bisa diperluas.

Pertama, sintesa mendalam mengakui free will dimiliki oleh manusia, di saat yang sama, free will dipengaruhi oleh faktor luar. Analisis akan lebih mudah bila kita agak memperlunak pengertian kehendak bebas mencakup bertindak bebas. Hal ini memudahkan peran determinisme untuk dimengerti.

Kedua, sintesa mendalam menganalisis hukum sebab akibat dengan lebih luas. Umumnya orang memahami sebab hanya tunggal yaitu sebab efisien. Padahal kita mengenal setidaknya ada empat sebab, sejak masa Aristoteles.

Sebab material, sebab formal, sebab efisien, dan sebab final.

Mari kita ambil contoh seorang Tukang hendak membuat kursi. Maka keinginan Tukang itu, proses pembuatan oleh Tukang, dan pekerjaan Tukang itu adalah sebab efisien terciptanya kursi. Tukang memang yang paling bertanggung jawab.

Tetapi Tukang itu tidak bisa membuat kursi bila tidak ada bahannya. Semisal kayu, paku, cat, dan lain-lain. Kayu adalah sebab material dari kursi.

Kemudian kayu-kayu tersusun membentuk sebuah kursi. Itu adalah sebab formal, sebab bentuk. Kita bisa menganalisis lebih mendalam sebab formal ini barangkali hukum-hukum alam yang bisa mempertahankan bentuk kursi tersebut. Seandainya hukum alam berubah, misal kaki kursi tidak mau menempel ke bagian lainnya, maka tidak akan terbentuk kursi. Jadi ada hukum-hukum tertentu yang menyebabkan kursi stabil berbentuk kursi.

Sebab keempat adalah sebab final atau sebab terakhir. Orang beragama dengan mudah menyebut sebab terakhir adalah Tuhan. Segala sesuatu akan kembali kepada Tuhan pada waktunya.

Sedangkan bila kita memperhatikan alam semesta, barangkali, sebab final adalah sejenis hukum alam terakhir. Misal hukum alam tentang entropi yang terus berkembang. Kursi itu merespon pekerjaan Tukang dan lain-lain tetap mencari jalan untuk menuju akhir, entropi yang bertambah.

Sekarang kita bisa bertanya apakah Tukang di atas punya free will dalam membuat kursi?

Benar, Tukang punya free will. Positif. Tukang bebas memilih akan membuat kursi atau tidak. Misalnya Tukang memilih membuat kursi.

Apakah Tukang punya kebebasan untuk membuat kursi?

Tidak. Tukang tidak punya kebebasan. Determinisme. Di situasi ini Tukang dibatasi oleh ketersediaan bahan kayu. Dibatasi oleh hukum alam – terpaksa harus menyesuaikan dengan hukum alam. Dan dibatasi hukum entropi – Tukang terpaksa harus mematuhi.

Dalam contoh di atas terjadi sintesa mendalam free will dan determinisme. Tukang benar-benar punya free will dan di saat yang sama, ketika Tukang menjalankan free will nya, dibatasi oleh determinisme hukum alam.

Pandangan sintesa mendalam ini memiliki beragam dampak positif. Di satu sisi, manusia jadi semangat bertanggung jawab atas seluruh hidupnya. Di sisi lain, manusia mengakui keterbatasan diri dan peran besar dari alam semesta. Jika manusia sukses maka ia bersyukur. Pun jadi tidak sombong karena suksesnya juga atas peran alam semesta dan banyak pihak lain. Pada kondisi gagal maka manusia tidak harus frustasi. Karena ia tetap bisa berusaha tetapi situasi barangkali sedang tidak kondusif. Maka manusia bisa terus bersemangat untuk usaha maksimal.

Analisis mendalam sintesa mendalam

Dalam contoh Tukang membuat kursi di atas, kita melakukan analisis yang masih kurang mendalam. Determinisme berlaku pada tindakan Tukang kayu. Kali ini kita akan menganalisis, lebih mendalam, apakah determinisme juga terjadi pada kehendak Tukang kayu?

Pertama, kita mengakui bahwa Tukang memiliki free will untuk memilih membuat kursi. Kedua, apakah pilihan Tukang ini benar-benar free will atau di saat yang sama dipengaruhi hal lain? Sehingga tidak bebas lagi berubah jadi deterministik.

Tukang bisa saja membuat kayu bukan karena pilihan bebasnya. Tukang disuruh oleh orang lain lalu berniat membuat kursi tersebut. Meski demikian, keputusan terakhir masih terletak pada kehendak Tukang, apakah ingin membuat kursi atau tidak. Maka Tukang punya free will. Dengan demikian, sintesa mendalam jatuh ke free will murni. Yang deterministik hanya tindakan Tukang. Sedangkan “will” benar-benar free atau bebas. Mari kita cermati lebih mendalam lagi.

Sains menunjukkan bahwa Tukang mengambil keputusan didasarkan pada kerja otak yang menghasilkan pikiran. Bila otak fisik, sebagai organ manusia, dipengaruhi oleh sebab-sebab fisik di luar maka kerja otak deterministik. Pada gilirannya pikiran deterministik, dan kehendak juga deterministik. Sehingga tidak ada free will pada diri Tukang. Bila ini benar maka sintesa jatuh kepada deterministik murni. Kita perlu elaborasi lagi.

Anggap benar bahwa otak dipengaruhi oleh sebab-sebab luar. Sehingga kerja otak, dan pikiran, dipengaruhi sebab-sebab luar. Meski demikian, Tukang masih punya “kekuatan” merespon pengaruh sebab-sebab itu. Dengan demikian Tukang tetap punya free will di saat yang sama dipengaruhi sistem deterministik dari luar. Hal ini menunjukkan sintesa mendalam ini benar-benar sintesa.

Contoh-contoh sintesa mendalam

Contoh pertama paling jelas adalah, seperti di atas, Tukang disuruh orang lain untuk membuat kursi. Meski orang lain dan sistem di alam bersifat deterministik, Tukang tetap punya kehendak bebas memilih keputusan. Sintesa sah.

Contoh kedua, Tukang disuntik bius sehingga tidak sadar. Dalam kondisi terbius ini, Tukang tidak bisa merespon apa pun. Sistem deterministik begitu kuat mengalahkan free will yang dimiliki Tukang. Maka seluruh sistem menjadi deterministik, dari sudut pandang Tukang. (Sintesa gagal).Tetapi kita tidak sedang membahas kondisi di mana manusia sedang terbius total. Meski demikian, kita menjadi yakin bahwa free will Tukang dapat dipengaruhi oleh sebab deterministik luar semisal bius.

Contoh ketiga, Tukang di bawah pengaruh minuman alkohol, setengah mabuk. Pada kondisi ini Tukang sulit sekali mengendalikan kesadarannya. Tukang sulit berkehendak bebas. Tetapi sesulit apa pun, Tukang masih bisa memilih. Tukang masih punya free will dalam tekanan lingkungan yang deterministik. Sintesa sah.

Contoh keempat, Tukang dihipnotis untuk transfer uang melalui ATM. Tukang tidak punya pilihan untuk menolak transfer uang. Kesadaran Tukang dalam pengaruh hipnotis. Tukang tidak punya free will. Situasi jatuh pada deterministik murni. Tetapi dalam beberapa kejadian, Tukang bisa kembali mengendalikan kesadaran. Terjaga dari hipnotis. Tidak mau transfer uang. Maka Tukang punya free will meski dalam kondisi deterministik. Sintesa sah.

Contoh kelima, Tukang tertidur pulas dengan mimpi indah. Jelas Tukang tidak punya pilihan bebas dalam kondisi ini. Sistem jatuh pada kondisi deterministik murni. Tetapi situasi tidur pulas adalah di luar kajian kita. Sehingga tidak ada masalah.

Sejauh ini kita berhasil menunjukkan bahwa sintesa mendalam free will dan determinisme adalah valid.

Pada bagian lampiran kita akan membahas lebih detil argumen dan analisis. Bagian pertama kita akan membahas argumen ilmiah di mana menyatakan situasi deterministik berdasarkan mekanika klasik Newtonian dan berbagai macam eksperimen psikologi. Namun mekanika quantum berbalik mendukung free will, setidaknya versi sebagian pendukungnya.

Bagian kedua kita akan membahas argumen-argumen keagamaan. Kita akan analisis beberapa dalil, agama islam, dari sudut pandang free will dan determinisme.

Lampiran: Argumen dan Analisis

Argumen dan analisis di sini makin menarik bila Anda berminat lebih dalam. Tetapi Anda juga bisa melewati bagian ini karena intinya sudah kita bahas di atas.

Argumen dan Analisis Ilmiah

Salah satu pembahasan terbaik secara ilmiah adalah bukunya Sam Harris yang berhasil menunjukkan bahwa free will adalah ilusi. Maka yang benar adalah determinisme. Tetapi paper ilmiah model Bohm – Penrose – Hameroff oleh Manuel Gallego berhasil membuktikan free will itu yang benar berdasarkan mekanika quantum. Saya sendiri mencoba melihat dari sisi sintesa mendalam di bagian analisis ini.

Mari kita mulai dari kesimpulan Harris berikut ini. “Secara umum, argumen yang menyatakan bahwa pengalaman kita memiliki free will, memunculkan misteri: di satu sisi, tidak masuk akal secara ilmiah, di sisi lain, kita merasa sebagai pencipta pikiran dan tindakan kita. Bagaimana pun, saya pikir, misteri ini adalah sekedar tanda dari kebingungan kita. Ini bukan sekedar free will adalah ilusi – pengalaman kita tidak hanya memberi tahu realitas terdistorsi. Malahan kita salah paham terhadap pengalaman kita. Bukan hanya kita tidak sebebas kita berpikir tentang diri kita – kita tidak bebas merasa, tidak sebebas yang kita pikir tentang kita. Perasaan bebas kita dihasilkan karena kita kurang perhatian mendalam, kepada kesadaran kita. Saat kita penuh perhatian, maka mungkin saja kita bisa melihat tidak adanya free will, dan pengalaman ini sesuai dengan kebenaran. Pikiran dan niat berkembang di pikiran kita secara sederhana, begitu saja. Apalagi yang bisa dilakukan? Kebenaran tentang kita lebih aneh dari beberapa pernyataan: Ilusi free will adalah ilusi itu sendiri.

Masalahnya bukan hanya free will tidak masuk akal secara obyektif (yakni ketika pikiran dan tindakan kita dilihat dari sudut pandang orang ketiga); tapi tidak masuk akal pula secara subyektif. Ini bisa kita lakukan dengan instropeksi. Sekarang, saya akan melakukan eksperimen free will agar bisa dilihat kita semua: saya akan menulis apa pun sesuka saya untuk lanjutan tulisan buku ini. Apapun yang akan aku tulis, tentu saja, yang aku pilih untuk aku tulis. Tak seorang pun memaksaku untuk menulis. Tak seorang pun mengarahkan topik atau menyuruh kata-kata tertentu untuk ditulis. Aku bisa menulis acak-acakan, kalau mau. Dan saya bisa menulis kelinci di kalimat ini. Tentu saja saya bebas.

Mari coba kita perhatikan lebih dalam. Bahkan kata kelinci itu muncul tidak terlalu aneh. Dari mana kata kelinci itu muncul? Kenapa tidak gajah? Saya tidak tahu. Saya bebas mengubah kata “kelinci” menjadi kata “gajah”. Tapi jika saya melakukannya, bagaimana saya bisa menjelaskannya? Tidak mungkin bagi saya untuk mengetahui sebab mau pun pilihan itu. Apakah karena hukum alam atau kebetulan saja. Tapi tampaknya, rasanya, seperti bebas. Kelinci atau gajah? Apakah saya bebas memilih gajah ketika saya tidak tahu bahwa gajah adalah kata yang lebih baik? Apakah saya bebas mengubah pikiran saya? Tentu saja tidak. Itu hanya bisa mengubah saya.

Apa yang membawa saya bebas mengakhiri buku ini? Buku ini pasti berakhir suatu waktu – dan saya merasa perlu makan. Apakah saya bebas menahan rasa lapar ini? Baik, ya, tentu saja tidak ada orang yang memaksa saya untuk makan polpen ini. Tapi bisakah saya menahan lapar saya lebih lama? Ya, tentu saja – dan untuk sejumlah kejadian yang tidak deterministik lainnya. Tapi saya tidak tahu mengapa melakukan ini dan tidak memilih lainnya. Dan kapan saya tepatnya berhenti melakukan ini? Dan saya benar-benar merasa saatnya sekarang saya harus selesai. Saya lapar, ya, dan saya rasa saya sudah cukup menyampaikan maksud saya. Nyatanya, saya tidak bisa lagi berpikir untuk masalah ini. Jadi di mana letak free will?”

Selesai. Harris menutup bukunya dengan pernyataan deterministik – dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Harris menyimpulkan bahwa free will hanya ilusi – yang nyata adalah determinisme.

Argumen Harris ini sudah kita bahas di bagian atas. Dia tidak membedakan free will dengan kebebasan bertindak. Sudah kita tunjukkan bahwa kita tidak bebas bertindak – ada hukum alam dan empat macam sebab. Jika Harris memasukkan kehendak manusia dalam jaringan sebab akibat tersebut maka wajar saja dia menyimpulkan determinisme. Padahal bila dia mengkaji lebih mendalam, membedakan free will dan kebebasan bertindak, maka ada peluang dia menemukan sintesa.

Peran hebat Harris bukan hanya pada kesimpulan di atas. Dia berhasil menyusun argumen-argumen yang lengkap. Argumen ilmiah inilah yang akan kita analisis lebih mendalam.

Sedikit Kesadaran

Sains hanya tahu sedikit kesadaran. Atau kita lebih banyak tidak tahu tentang kesadaran. Apa, bagaimana, dan mengapa manusia punya kesadaran? Penelitian ilmiah hanya sedikit menemui titik terang. Bagaimana pun, sains, menduga pusat kesadaran manusia terletak di otak. Maka sains mengarahkan penelitian tentang otak. (Bedakan dengan metafisika, mistisisme, sufi, dan lain-lain yang membahas secara mendalam tentang kesadaran).

Harris, merujuk hasil penelitian Benjamin Libet menggunakan EEG yang sudah dikenal luas, menunjukkan bahwa otak pengendali gerak manusia sudah mendeteksi sesuatu 300 milidetik sebelum orang itu menyadari untuk bergerak. Penelitan lanjutan menggunakan fMRI memberi petunjuk yang mirip: bagian otak manusia merespon lebih awal 7 sampai 10 detik sebelum orang tersebut menyadarinya.

Karena kesadaran terlambat dari respon otak, Harris berargumen bahwa kesadaran manusia tidak punya free will. Otak fisik manusia dipengaruhi lingkungan, yang deterministik, kemudian mempengaruhi kesadaran. Akibatnya, kesadaran manusia adalah deterministik – free will adalah ilusi.

Pertama, kita bisa menganalisis keterlambatan kesadaran. Pada percobaan EEG terlambat 300 milidetik tetapi pada percobaan fMRI terlambat 7 detik. Bila ada percobaan lebih baru mungkinkah terlambat hanya 1 milidetik? Atau bahkan kesadaran tidak terlambat lagi? Kita belum menemukan penelitian itu. Tapi kita tidak punya bukti bahwa itu mustahil terjadi. Maka fenomena keterlambatan kesadaran tidak meyakinkan untuk menyimpulkan adanya ilusi free will. (Sebagai catatan: Libet sendiri, peneliti aslinya, menyimpulkan adanya free will beda dengan Harris yang mengutipnya).

Kedua, kita memiliki memori atau ingatan, juga gerak reflek. Misalnya atlet terlatih bisa membuat gerakan tanpa disadari, pada awalnya, yang memberikan dia kemenangan. Pemain sepak bola bisa menendang bola ke arah yang tidak dia sadari dan mencetak gol. Dia baru menyadari beberapa detik kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh manusia juga bekerja melalui memori, yang sudah terlatih profesional. Bukannya pemain sepak bola itu tidak punya free will. Tetapi justru dia sudah memilih untuk mencetak gol dari awal sampai akhir berdasarkan pilihan bebas kesadarannya. Selanjutnya kesadaran dan memori dia bekerja untuk mewujudkan kehendak bebasnya itu. Pemain sepak bola punya free will.

Ketiga, fisika quantum menunjukkan kemungkinan waktu berjalan mundur. Penelitian fenomena sub atomik, mekanika quantum, sering memunculkan hasil-hasil di luar dugaan. Misalnya Feynman berhasil menunjukkan bahwa elektron bisa bergerak mundur dalam waktu. Akibat dari perilaku suatu elektron dideteksi saat ini tetapi penyebabnya sendiri muncul beberapa ratus milidetik, terlambat, kemudian. Fenomena ini terjadi hanya pada skala mikroskopis. Sementara kerja otak manusia dan kesadaran melibatkan interaksi skala mikrokospis. Jadi kesadaran yang punya free will itu mengendalikan otak tetapi disadari terlambat beberapa ratus milidetik kemudian. Hameroff, ahli biologi Amerika, mengelaborasi peran mekanika quantum pada otak. Manusia memang punya free will.

Di sini, saya tidak hendak menolak determinisme. Saya lebih mengarah ke sintesa mendalam. Peran sistem deterministik tetap terjadi di otak dan kesadaran manusia. Di saat yang sama, manusia tetap punya free will – pilihan bebas.

Mengubah subyek

Saya sangat menyukai bagian mengubah subyek ini. Karena Harris bercerita tentang perdebatannya dengan Daniel Dennett, temannya di Amerika, pendukung evolusi Darwin. Dennett percaya dengan free will. Atau setidaknya Dennett percaya free will dan determinisme, bersama-sama, sehingga masuk compatibilist. Sementara Harris tetap bersikukuh dengan determinisme.

Hakikat compatibilist adalah tetap determinisme, kata Harris. Sementara, Dennett berargumen, meski kita berpikir dan bertindak dipengaruhi unconscious – tak sadar, maka itu tetap jadi pikiran dan tindakan kita sesuai free will kita. Sepenuhnya itu semua adalah pilihan bebas kita.

Harris tetap menolak Dennett. Dan mengatakan bahwa Dennett telah mengubah subyek. Kesadaran manusia yang merupakan fakta psikologi, hasil interaksi materi badan manusia, diubah menjadi pemahaman konseptual diri kita tentang persona kita. Padahal kebenaran psikologi, diri kita adalah kesadaran pikiran kita. Sementara Dennett menganggap ada diri kita yang lebih dari itu, sadar atau tidak sadar. Itu tidak benar. Mengubah subyek dengan tidak benar, kata Harris.

Tampaknya Dennet sedikit menyinggung kesadaran yang bersifat non material. Tentu saja, Harris membawa kembali ke fenomena materi. Meskipun Harris menolak bila dirinya dianggap monisme materialist. Dia mengklaim hanya berdasar fakta dan kebenaran realitas. Nyatanya, Harris hanya menggunakan argumen materialist dan logika rasional.

Seandainya, sedikit terbuka, menerima eksistensi kesadaran yang lebih tinggi maka kita akan menemukan jalan terang free will seperti pandangan Dennett. Tetapi karena kita terbatas pada dalil-dalil empiris materialist maka kita bisa meminjam model Bohm-Penrose-Hameroff, BPH, yang dikembangkang Manuel Gallego.

Model BPH mengkaji fenomena kesadaran yang terjadi di otak manusia dengan pendekatan mekanika quantum. Kesadaran muncul ketika sel-sel otak, jaringan neuron, mengintegrasikan diri sesuai teori Bohm. Agen paling penting di neuron, yang mengendalikan kesadaran dan pikiran, adalah microtubules yang bekerja di dua sistem fisika. Yaitu secara makrokospis sesuai sistem mekanika klasik Newton, yang deterministik, dan secara mikrokospis sesuai sistem mekanika quantum, yang indeterministik.

Batas antara deterministik dan indeterministik itulah, dengan integrasi bohmian pada sistem neuron, yang memunculkan kesadaran. Tidak disangkal ada aspek deterministik, sesuai harapan Harris. Di saat yang sama ada aspek indeterministik, sesuai kaidah quantum Heisenberg dan Schrodinger. Sistem quantum ini masih setimbang maka perlu suatu agen untuk merobohkan kepada state tertentu. Di sinilah kesadaran, dengan free will, berperan memutuskan state tertentu yang dipilih secara quantum. Jadi, free will ada di fenomena otak manusia.

Model BPH di atas menjembatani pandangan Dennetts dan Harris. Sehingga Dennetts tidak mengganti subyek, tapi menemukan subyek yang lebih sesuai dengan mekanika quantum. Dari sini terbuka sintesa kreatif.

Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah sintesa, dibanding compatibilist. Saya membayangkan ada proses dialogis, dialektika, antara free will dan sistem deterministik sehingga menghasilkan sintesa. Meski saya tidak secara langsung mengacu ke dialektika Hegel, tampaknya ada beberapa kemiripan.

Sebab Akibat

Saya kira di bagian ini, Harris menemukan kesulitan terbesar. Dia terpaksa harus menghadapi kontradiksi diri sendiri. Hukum sebab akibat sudah diterima secara luas. Tetapi mekanika quantum memunculkan fenomena indeterministik dalam otak manusia yang menyisakan tanda tanya.

Martin Heisenberg, ahli biologi, meneliti proses dalam otak manusia secara mikrokospis. Misal proses pembukaan dan penutupan jalur pertukaran ion, di otak, terjadi secara random. Tidak bisa dipastikan oleh sebab dari luar apa pun sehingga sistemnya adalah indeterministik. Sistem seperti ini yang memunculkan free will pada manusia. Harris berusaha menolak Martin Heisenberg ini.

Proses indeterministik seperti mekanika quantum itu tidak bisa memunculkan free will pada otak manusia, kata Harris. Justru karena random maka manusia tidak punya pilihan. Manusia hanya menuruti saja. Manusia adalah deterministik.

Di sinilah kontradiksi terjadi pada Harris, indeterministik adalah deterministik. Tentu saja akal sehat sulit menerima ini. Paling banter, seharusnya, Harris hanya bisa mengatakan bahwa indeterministik itu bersifat kebetulan. Tetapi Harris, secara tidak valid, menyimpulkan bahwa indeterministik sebagai deterministik.

Kita bisa menganalisis dengan meminjam model BPH. Benar saja indeterministik tidak bisa serta merta kita simpulkan free will. Tetapi perbatasan, indeterministik dan deterministik, itu yang memunculkan kesadaran free will. Karena sifatnya yang tengah-tengah, memampukan free will untuk mengatur diri dan beradaptasi. Itulah, karakter kesadaran manusia memiliki free will.

Beberapa peneliti neuro sains menyatakan bahwa otak kita bagaikan komputer quantum yang indeterministik. Harris berargumen, dengan cara yang sama, bahwa otak komputer quantum yang indeterministik tidak menyadari apa yang akan terjadi, tidak punya pilihan. Maka komputer quantum yang tidak deterministik adalah deterministik. Harris menghadapi kontradiksi lagi.

Di sisi lain, Searle, peneliti kesadaran, berhasil membuktikan bahwa otak manusia tidak deterministik. Otak manusia punya kesadaran yang bersikap free will. Searle meminjam bukti dari Penrose, peraih Nobel Fisika 2020, tentang teori Godel dan mesin Turing.

Singkatnya, teori Godel Turing ini menunjukkan bahwa ada sikap free will pada manusia yang tidak bisa dibuat oleh program komputer. Bukti ini melibatkan analisis matematika Godel dan komputer ideal mesin Turing. Artinya, ketika suatu saat nanti manusia berhasil membuat komputer paling canggih semisal strong AI maka tetap saja komputer tidak bisa sehebat manusia yang memiliki kesadaran free will.

Dalam diri manusia selalu ada hubungan sebab akibat yang tidak deterministik. Pada analisis yang lebih mendalam, sebab akibat indeterministik, menunjukkan adanya free will

Pilihan, Usaha, Niat

Saya rasa sampai di sini kita sudah cukup jelas dengan pemikiran Harris yang menyatakan free will adalah ilusi. Pertama, free will yang diletakkan pada rantai sebab akibat menjamin kondisi determinisme, tidak ada lagi free will. Kedua, ketidaksadaran atau ketidaktahuan diri kita bermakna sebagai tidak ada pilihan sehingga tidak ada free will juga. Sudah kita tunjukkan kesalahan itu semua. Kesadaran manusia tetap punya free will meski dalam situasi kondisi seperti disebut di atas.

“If you pay attention to your inner life, you will see that the
emergence of choices, efforts, and intentions is a fundamentally
mysterious process.” Lagi, Harris di sini memanfaatkan argumen ketidaktahuan, misteri dari pilihan, usaha, dan niat berimplikasi hilangnya free will. Cara berpikir induktif seperti ini sulit dibuktikan kebenarannya. Bahkan kita dengan mudah bisa meragukan induksi yang tidak matang tersebut.

A: Karena kita tidak paham munculnya niat maka setiap niat adalah deterministik.

B: Karena kita tidak paham munculnya niat maka setiap niat adalah free will.

Kita perhatikan kedua pernyataan A dan B sama-sama sulit dipertanggungjawabkan. Ketidak-pahaman kita seharusnya tidak menjadi premis untuk menarik kesimpulan lebih jauh. Baik kesimpulan deterministik mau pun free will. Justru kita perlu mencari suatu pemahaman agar bisa menarik kesimpulan yang lebih kuat. Model BPH sudah memadai untuk menjelaskan munculnya niat dan berimplikasi free will.

Bagian yang terbaik di sini adalah Harris membedakan determinisme dengan fatalisme. Meskipun Harris yakin determinisme, dia menolak fatalisme. Jadi manusia tetap harus memilih tindakan yang baik. Manusia tetap harus berusaha mencapai cita-cita. Manusia tetap harus punya niat yang tulus.

Saya setuju dengan implikasinya agar manusia selalu bermoral luhur. Tetapi, tentu saja, ada yang lucu dalam bangunan logika ini. Sudah jelas determinisme tetap saja harus berjuang keras. Yang paling serasi, tentunya, karena manusia punya free will maka berjuang keras itu menjadi penuh makna.

Untuk bagian selanjutnya, Harris memberi himbauan agar manusia tetap taat legal, aktif berpartisipasi politik, dan kegiatan positif lainnya. Tampak di sini, Harris khawatir keyakinan determinisme dapat berimplikasi buruk. Namun determinisme tetap berimplikasi baik dalam hal manusia bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, bahagia, dan ikhlas – karena semua sudah ditentukan, deterministik.

Kesimpulan Ilmiah

Harris behasil menunjukkan aspek-aspek deterministik dari manusia. Di saat yang sama kita juga berhasil menunjukkan aspek-aspek free will dari manusia. Bahkan kita bisa mengkajinya lebih mendalam dengan meminjam teori mekanika quantum. Sampai di sini, sebagai kesimpulan ilmiah, kita makin yakin dengan konsep sintesa determinisme dan free will.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas argumen dan analisis dari sudut pandang agama di mana dalil-dalilnya, tentu saja, berbeda dengan dalil-dalil ilmiah. Atau lebih tepatnya tidak terbatas hanya pada dalil ilmiah. Dampak sudut pandang agama ke masyarakat bisa saja lebih besar dari sudut pandang ilmiah.

Argumen dan Analisis Agama

Barangkali kita bisa menyejajarkan konsep free will dengan konsep qadariyah dan konsep determinisme dengan konsep jabariyah. Selanjutnya kita bisa saling menukarkan kedua pasang term di atas untuk memudahkan pembahasan.

Saya membatasi hanya membahas dalil agama Islam sebagai contoh. Sedangkan agama yang lain barangkali ada kemiripan dan tentu saja ada banyak bedanya.

Teolog, ahli agama, umumnya meyakini determinisme dengan argumen konsep atomisme. Sedangkan filsuf muslim, umumnya meyakini free will dengan argumen konsep sebab akibat. Di jaman modern, kedua konsep, atomisme dan sebab akibat, mengantar ke keyakinan determinisme. Jadi tidak adakah free will dari sudut pandang agama?

Dalil Kitab Suci

Kitab suci Alquran adalah dalil paling kuat secara agama. Baik dari struktur formal legal maupun otentisitasnya. Pertama, kita akan mengambil beberapa ayat Alquran yang sering dipakai sebagai dalil determinisme.

“…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (Alquran Surah Al-Anfal ayat 17)

Dalil di atas dianggap jelas mendukung determinisme. Bahwa tindakan manusia “melempar” hakikatnya bukan tindakan manusia. Tetapi, sejatinya, Allah yang “melempar”. Manusia tidak punya kuasa sedikitpun. Manusia tidak punya free will. Tetapi kekuasaan hanya punya Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka yang berlaku adalah sistem deterministik.

“…Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS Albaqarah Ayat 20)

Bahkan Allah Maha Berkuasa, seandainya, melenyapkan pendengaran manusia, penglihatan manusia. Manusia tidak ada daya upaya di hadapan Tuhan. Determinisme murni. Dan dikuatkan lagi bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu. Maka tidak ada free will lagi.

Selanjutnya, kita akan mengambil beberapa dalil yang sering dipakai untuk menguatkan free will. Sama-sama dalil dari AlQuran.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).

Sangat jelas bahwa manusia punya kemampuan mengubah dirinya dengan free will. Bahkan Tuhan akan mengikuti free will manusia itu. Bahkan kaum kafir yang berargumen tidak punya free will maka ditolak oleh Tuhan argumen mereka.

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (QS Al Anam 148)

Argumen determinisme, dengan menyandarkan keputusan kepada Tuhan, jelas-jelas ditolak oleh Tuhan. Maka yang sah adalah keyakinan free will. Manusia bertanggung jawab atas pilihan bebas masing-masing.

Begitu jelasnya dalil determinisme dan free will dalam kitab suci. Determinisme harus diterima dan free will juga harus diterima. Maka wajar saja bila kita hendak menyusun konsep sintesa. Baik sintesa ini bersifat permukaan atau pun mendalam yang contoh-contohnya sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Selanjutnya kita menganalisis lebih mendalam.

Jabariyah: Konsep Determinisme

Kitab suci tidak merinci bagaimana proses detil determinisme atau jabariyah ini. Maka umat beragama perlu merumuskannya sendiri dengan teliti. Dan mengatasi keberatan-keberatan yang mungkin.

Keberatan pertama, bagaimana menjelaskan ayat-ayat kitab suci yang jelas-jelas menunjukkan adanya free will pada manusia? Kedua, karena deterministik maka bagaimana fenomena sebab akibat bisa terjadi di alam semesta? Tentu saja, kaum jabariyah menolak hukum sebab akibat yang biasanya disandarkan kepada filsuf besar Aristoteles. Ketiga, apa arti amal manusia untuk menentukan masuk surga atau neraka? Bukankah semua ditentukan oleh Tuhan?

Kaum jabariyah berhasil menangani dengan baik semua keberatan di atas. Bahkan jika ada keberatan-keberatan lain pun bisa ditangani oleh kaum jabariyah secara koheren dan memuaskan.

Saya kira benar pernyataan Bertrand Russell, filsuf analytic terbesar abad 20, bahwa ada lebih dari satu sistem metafisika yang koheren. Bahkan kita tidak bisa meruntuhkan suatu sistem metafisika yang koheren tersebut lantaran harus masuk ke dalam sistem untuk bisa membangun pijakan logis pertama.

Benar saja, kaum jabariyah bisa memanfaatkan logika analytic yang kelak dikembangkan Russell. Bahkan interpretasi jabariyah makin sahih dengan meminjam language game Wittgenstein, sang murid Russell.

Interpretasi dari free will ke determinisme

Kitab suci, yang menyatakan bahwa Tuhan TIDAK akan mengubah nasib kaum hingga mereka mengubah dirinya, bisa dipahami secara filsafat analytic, yang menghasilkan makna deterministik.

Perhatikan bahwa tidak ada term “Tuhan akan mengubah”. Tetapi yang ada adalah term “Tuhan TIDAK akan mengubah”. Maka ayat ini hanya mengkonfrimasi “Tuhan TIDAK akan mengubah”.

A: Jika mereka TIDAK mengubah diri MAKA Tuhan TIDAK mengubah nasibnya.

Pernyataan A di atas benar. Ini bersesuaian dengan kehendak Tuhan, determinasi Tuhan, yang TIDAK mengubah nasib. Jadi ayat ini menunjukkan sistem deterministik. Jabariyah sah.

B: Jika mereka mengubah diri MAKA Tuhan TIDAK mengubah nasibnya.

Pernyataan B ini bisa bernilai salah bisa bernilai benar. Meski masing-masing premis diambil dari kitab suci tetapi tidak ada susunan logis seperti itu dalam kitab suci. Sehingga kita tidak bisa menarik kesimpulan dari pernyataan B. (Meski pun pendukung free will akan menyatakan pernyataan B harus bernilai salah).

C: Jika mereka TIDAK mengubah diri MAKA Tuhan mengubah nasibnya.

D. Jika mereka mengubah diri MAKA Tuhan mengubah nasibnya.

Pernyataan C dan D tidak bisa ditentukan nilai kebenarannya, berdasar ayat kitab suci, karena ayat tersebut tidak membahas tindakan positif Tuhan. Ayat tersebut membahas tindakan negatif yaitu Tuhan TIDAK mengubah.

Maka hanya pernyataan A saja yang sah. Justru menguatkan tindakan determinasi Tuhan. Jika mereka TIDAK mengubah diri maka Tuhan TIDAK mengubah nasibnya. Determinisme atau jabariyah.

Tetapi jika mereka mengubah diri maka Tuhan bebas bertindak. Tuhan bebas mengubah nasibnya, pun bebas TIDAK mengubah nasibnya. Semua terserah Tuhan. Manusia berada pada posisi deterministik.

Selanjutnya, ayat kedua, yang kita maknai menolak determinisme bisa dianalisis lebih mendalam. Barangkali maknanya yang akan kita perhatikan sebagai berikut,

“Jika Tuhan menghendaki niscaya kami Tidak menyekutukanNya… … … orang-orang kafir itu hanya berprasangka dan berdusta.”

Makna ayat di atas tidak mendukung free will dan tidak menolak determinisme secara langsung. Tetapi ayat di atas menolak prasangka dan dusta. Ayat di atas menuntut pentingnya ilmu pengetahuan yang benar.

Jadi determinisme selamat dari interpretasi ayat-ayat di atas. Determinisme tetap valid.

Atomisme menghapus sebab akibat

Keberatan kedua terhadap determinisme adalah karena bertentangan dengan hukum sebab-akibat yang sudah diterima luas. Teori atomisme mengatasi semua keberatan ini. Dengan atomisme maka hukum sebab akibat tidak lagi diperlukan. Di saat yang sama memperkuat pemahaman akan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Paham atomisme, islam, pertama kali dikembangkan oleh kelompok Mutazilah. Kemudian dielaborasi lebih jauh oleh kelompok Asariyah. Yang puncaknya, kita kenal nama besar Imam Al Ghazali sampai sekarang.

Istilah atom sendiri berasal dari Yunani yang sudah berubah jauh menjadi konsep atomisme di tangan para teolog. Kita lebih mudah memahami atomisme ini seperti rekaman video jaman sekarang untuk menggambarkan kejadian alam semesta, tanpa ada hukum sebab akibat.

Video, gambar bergerak, jaman sekarang kita pahami seperti video beneran. Dengan gambar orang melompat detik demi detik. Kita bisa merekam air hujan turun butir demi butir dari momen ke momen. Tidak ada gerak dalam gambar video kita, sejatinya. Itu hanya ilusi belaka. Persepsi kita menangkap ada gerak air hujan menetes. Padahal hanya gambar diam yang terus berganti.

Video kita misal 60 frame per sekon. Berarti setiap sekon (detik) ada 60 gambar (frame) yang berganti urut. Gerak air menetes itu terdiri dari 60 gambar air yang posisinya dari atas bertahap turun dalam waktu 1 detik. Karena ada 60 gambar kita mengira ada gerak halus dari tetesan air itu. Makin banyak gambar tiap detiknya maka makin halus gerak air itu. Bila gambar sedikit misal cuma 5 gambar per detik maka mata kita menatap gerak video yang patah-patah.

Begitu juga alam semesta ini, sebenarnya, terdiri dari ribuan frame tiap detiknya. Begitu halusnya perpindahan satu frame ke frame berikutnya sampai kita merasa ada gerak nyata di alam ini. Padahal tidak ada gerak. Yang ada hanya pergantian frame saja. Masing-masing frame ini terdiri dari atom-atom yang mandiri.

Misal pada frame 1 ada tetes air hujan pada jarak 1 mm di bawah daun, di pohon. Pada frame 2 jarak 2 mm. Dan seterusnya pada frame 1000 jarak tetes air adalah 1000 mm sama dengan 1 meter. Kita mengira ada gerak tetes air jatuh sejauh 1 meter. Tetapi, sejatinya, tidak ada gerak sama sekali. Bila pergantian 1000 frame itu berlangusng 1 detik maka mata kita benar-benar melihat, ilusi, gerak air yang halus.

Para ilmuwan mengira gerak tetes air itu karena gaya gravitasi bumi. Tidak. Tidak ada sebab akibat di sini. Gerak air jatuh itu hanya pergantian frame. Bahkan kita bisa menyusun frame dengan urutan terbalik, maka gerak air seperti dari bawah ke atas, mundur.

Semua frame, yang berisi ribuan atom lebih, diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada gaya gravitasi, tidak ada hukum listrik, tidak ada persamaan matematika atau lainnya. Tuhan berkuasa menciptakan susunan atom sesuai kehendakNya Yang Maha Bijaksana, Adil, Berilmu, Pengasih, dan Penyayang.

Bila tidak ada hukum yang pasti, mengapa air hujan selalu bergerak ke bawah? Mengapa air hujan tidak dari bawah ke atas, misalnya bergantian? Jawabannya karena Tuhan menetapkan seperti itu. Tuhan bebas menetapkan apa saja. Tuhan Maha Baik. Tuhan menetapkan yang terbaik untuk seluruh alam semesta. Semua terserah determinasi Tuhan.

Bila determinisme murni, kuasa hanya ada pada Tuhan, mengapa orang sakit harus minum obat? Karena Tuhan menghendaki begitu. Orang sakit agar minum obat, orang bodoh agar belajar, orang miskin agar berkerja, semua orang agar saling tolong-menolong.

Tidak ada sebab akibat di alam raya. Hanya ada sebab tunggal yaitu Tuhan. Bila demikian mengapa ada surga neraka? Kita akan bahas pada bagian selanjutnya.

Surga Neraka Bukan Karena Amal

Atomisme sudah berhasil menyingkirkan prinsip sebab akibat. Maka orang masuk surga bukan karena amalnya? Memang bukan. Masuk surga karena kebaikan Tuhan. Kalau orang masuk neraka karena apa?

Keberatan semacam ini bisa ditangani oleh kaum jabariyah, determinis, dengan baik. Karena Tuhan Maha Baik maka menciptakan sunnatullah, aturan-aturan Tuhan. Orang yang makan maka akan kenyang. Orang yang belajar maka akan pintar. Sunnatullah itu berjalan dengan pasti di bawah pengawasan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sewaktu-waktu, Tuhan bebas mengganti sunnatullah.

Semua problem terselesaikan dengan atomisme ini. Tapi mengapa ada penderitaan, kejahatan, dan neraka? Bagaimana konsep keadilan? Jawabannya adalah Tuhan Maha Adil, Maha Baik, Maha Tahu. Bagaimana manusia yang ilmunya terbatas, kemampuan terbatas, umur terbatas, akan mengevaluasi keadilan dan kebaikan Tuhan yang tidak terbatas? Maka yang diperlukan manusia adalah berbuat baik sesuai dengan tuntunan Tuhan maka Tuhan pasti memberi yang terbaik untuk hambaNya.

Sintesa Kreatif Al Ghazali

Meski atomisme bisa menjawab dengan baik semua keberatan. Tetapi, keberatan ketiga, mengapa ada neraka? Masih menyisakan masalah pelik. Senada dengan keberatan ketiga ini adalah mengapa ada korupsi, ada kejahatan, ada penderitaan, dan lain-lain.

Semua jawaban kaum atomis memunculkan masalah lanjutan yang parah. Karena Tuhan Yang Maha Baik adalah yang menciptakan segala sesuatu, deterministik, maka siapa yang menciptakan kejahatan?

Tujuan kaum atomis untuk menunjukkan bahwa Tuhan Maha Baik menemui dilema. Apakah kaum atomis bisa menjawab bahwa Tuhan yang menciptakan itu semua?

Imam Al Ghazali hadir dengan jawaban sintesa kreatif: atomisme dan sebab-akibat bersamaan. Pantas saja Al Ghazali mendapat gelar kehormatan hujjatul islam: pembela islam. Solusi kreatif Al Ghazali ini bahkan masih dipegang sampai sekarang, sekitar 1000 tahun berlalu.

Sintesa kreatif ini dalam bentuk konsep adah/adat/kebiasaan. Atomisme dan kausalitas (sebab-akibat) bersatu dalam adah. Tetes air hujan jatuh benar-benar disebabkan oleh gravitasi bumi. Di saat yang sama, jatuhnya air itu dalam konsep atomisme.

Sebab efisien, gaya gravitasi menarik tetes air untuk jatuh. Sebab material, hidrogen dioksida, menerima tarikan gaya gravitasi. Sebab formal, berupa interaksi beragam hukum alam, bersiap mendukung proses titik air jatuh. Dan sebab final, semua akan kembali kepada Tuhan, menarik titik air ke arah kembali. Lengkap sudah sistem kausalitas ini dan titik air jatuh.

Jatuhnya titik air ini maujud di alam sesuai konsep atomisme. Dalam istilah kita, frame demi frame, diciptakan langsung oleh Tuhan Yang Maha Kuasa terdiri ribuan atau jutaan atom.

Kita, sekarang, bisa menganalisa perbuatan jahat oleh seseorang. Sebab efisien, si penjahat, berniat melakukan kejahatan. Sebab-sebab lain tersedia. Maka penjahat itu melakukan kejahatan. Di saat yang sama, Tuhan mengijinkan meski tidak ridho, dengan menyediakan frame-frame yang sesuai dengan proses kejahatan itu.

Penjahat bertanggung jawab atas perilaku kejahatannya dan setimpal dengan siksa neraka. Tuhan, sewaktu-waktu, bisa mengintervensi bila menghendaki. Secara umum Tuhan akan memberi ijin adah (kebiasaan) terjadi sesuai hukum sebab akibat. Hanya pada kondisi tertentu Tuhan melakukan intervensi, sesuai kehendak bebasNya. Misal pada kejadian mukjizat, api tidak membakar Nabi Ibrahim, atau tongkat Nabi Musa bisa membelah lautan. Mudah saja bagi Tuhan melakukan intervensi bila menghendaki.

Sintesa Al Ghazali berhasil menyelesaikan masalah dengan tuntas. Pendukung determinisme puas karena Tuhan Maha Kuasa tetap terjaga. Kaum filsuf muslim terakomodasi konsep kausalitasnya diterima. Manusia bertanggung jawab atas perbuatan baik dan buruknya. Surga dan neraka jadi penuh makna.

Meski demikian, barangkali, masih ada sedikit pertanyaan yang belum terjawab. Sejauh ini kita sampai kepada sintesa Al Ghazali dengan jalur awal determinisme teologi Asyariah. Barangkali kita akan melengkapi, di bagian berikutnya, perjalanan pendukung free will (kaum qadariyah) sampai ke sintesa kreatif.

Qadariyah: Free Will dalam Agama

Ada beberapa keberatan yang harus ditangani kaum qadariyah. Pertama, bagaimana menafsirkan dalil-dalil kitab suci yang jelas-jelas deterministik? Kedua, ketika jaringan sebab-akibat berlaku maka bagaimana kehendak bisa tetap bebas? Bukankah kehendak pasti disebabkan oleh yang lain dan menjadi tidak bebas? Ketiga, ketika manusia punya kehendak bebas bagaimana Tuhan tetap Maha Kuasa? Dan ketika Tuhan Maha Tahu, pengetahuanNya melintasi waktu, bagaimana manusia bisa bebas dari “catatan pengetahuan” Tuhan yang sudah ditulis ribuan tahun sebelumnya?

Jawaban pertama bisa dengan cara menafsirkan ayat suci secara lebih mendalam. “… bukan kamu yang melempar tapi Tuhan yang melempar…” ini bersesuaian dengan konsep qodariyah – free will.

Manusia yang berniat melempar dengan kehendak bebasnya. Lalu Tuhan yang “melaksanakan” melempar tersebut. Banyak pihak terlibat pada proses pelemparan ini. Ketersediaan batu yang akan dilempar, kemampuan tangan untuk melempar, adanya kesempatan untuk melempar, dan lain-lain. Free will manusia, niatnya, untuk melempar adalah hanya sedikit aspek dari proses pelemparan. Sedangkan aspek lain, dalam jumlah yang lebih besar, ada di arahan kekuasaan Tuhan.

Jadi, benar bahwa yang “melempar” hakikatnya adalah Tuhan bukan kamu. Di mana proses pelemparan itu diawali oleh free will, niat, manusia. Kesimpulannya, ayat di atas, menegaskan adanya free will pada manusia.

Sebab Akibat pada Free Will

Keberatan kedua, tentang hukum sebab-akibat. Keberatan ini mirip dengan keberatan ilmiah di jaman modern. Sehingga jawaban kita di bagian argumen ilmiah dapat kita pakai lagi di sini. Singkatnya, meski pun jaringan sebab-akibat di dunia tersusun secara deterministik, skala makrokospis, tetapi kesadaran manusia tetap ada aspek indeterministik, quantum mikrokospis, yang menghasilkan free will.

Dari sudut pandang agama kita bisa lebih mudah menangani keberatan sebab-akibat ini. Karena jiwa manusia adalah karunia Tuhan yang bersifat ruhani. Sebab-sebab materi, jasmani, di dunia luar terhubung saling deterministik, sesuai hukum alam jasmani. Tetapi jiwa manusia, yang bersifat ruhani, bisa bebas dari pengaruh jasmani sampai taraf tertentu. Jadi, jiwa manusia, punya sifat free will.

Free Will di Hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa

Keberatan ketiga adalah keberatan terbesar yang dihadapi paham qadariyah – free will. Kaum jabariyah sangat perhatian dengan keberatan ini. Jika manusia punya kehendak bebas maka Tuhan, terpaksa, harus menuruti kehendak manusia. Hal ini tidak mungkin terjadi. Atau rumusan sebaliknya. Jika Tuhan Maha Kuasa maka tidak ada pihak lain yang punya kuasa. Maka manusia tidak punya kuasa berkehendak bebas.

Jawaban, pertama, kehendak bebas manusia sama sekali tidak mengganggu Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia bebas berkehendak apa saja – free will. Manusia bebas ingin apa saja. Di saat yang sama Tuhan tetap Maha Kuasa. Sama sekali tidak ada masalah dengan free will.

Barangkali masalah akan timbul bila manusia punya kekuatan bebas untuk menciptakan mesin misalnya. Kekuatan manusia mencipta mesin ini, bisa dianggap, mengganggu kekuasaan Tuhan. Ketika manusia memproduksi mesin maka Tuhan “terpaksa” harus mengikuti kekuatan manusia itu. Tentu saja hal ini salah. Tuhan tetap Maha Kuasa.

Jawaban kedua, masalah penciptaan mesin sudah menggeser masalah “kehendak manusia” ke “kekuatan manusia”. Dalam hal kehendak, manusia bebas. Dalam hal kekuatan, manusia terbatas. Misal kekuatan memproduksi mesin terbatas oleh ketersedian bahan, kesempatan, waktu, dan lain-lain. Kekuatan yang tak terbatas khusus milik Tuhan. Jadi dalam masalah ini, penciptaan mesin, manusia tetap sah memiliki free will.

Sejak awal, kaum qadariyah, tidak pernah menolak bahwa Tuhan Maha Kuasa. Sehingga kaum qadariyah, hampir selalu, mengambil sikap sintesa free will dan determisme. Hal ini berbeda dengan pandangan free will ilmiah yang kadang tidak membahas peran Tuhan. Jadi bagi umat beragama hanya ada dua pilihan: determinisme murni atau sintesa free will. Tidak ada free will murni, khususnya, bila dikaitkan dengan alam raya.

Tuhan Maha Tahu

Masalah free will di hadapan Tuhan Yang Maha Tahu cukup rumit untuk diselesaikan. Khususnya kaum qadariyah harus mampu menyelesaikannya dengan baik.

Tuhan Maha Tahu dan telah menuliskan ilmuNya di lembaran-lembaran suci yang terjaga. Semua kejadian dari masa lalu, masa kini, dan masa depan sudah tertulis dengan baik di lembaran-lembaran suci. Nasib manusia pun sudah tertulis dengan lengkap sejak jaman dahulu. Bagaimana manusia bisa punya free will ketika nasibnya sudah dituliskan?

Kaum jabariyah, determinisme, tidak perlu menjawab masalah di atas. Mereka mengatakan itulah bukti determinisme, bahkan pre-determinisme. Kaum ilmiah, yang mengakui free will, juga merasa tidak perlu membahas tentang Tuhan. Mereka sudah merasa cukup dengan keyakinan free will nya.

Sebenarnya kaum qadariyah juga bisa menghindari masalah ini dengan mengatakan bahwa pembahasan ilmu Tuhan berbeda dengan pembahasan free will. Tetapi kaum jabariyah bisa saja mengajukan keberatan masalah ilmu Tuhan yang sudah tercatat pada lembaran ini.

Jawaban pertama, ilmu Tuhan adalah sempurna. Sehingga tidak ada kesalahan sama sekali. Meski pun manusia memiliki free will, bebas memilih tindakan apa saja, Tuhan tetap bisa tahu dengan tepat. Bahkan untuk pengetahuan yang random, indeterministik pun Tuhan tetap Maha Tahu. Ini adalah pandangan Muthahhari.

Keberatan: jika Tuhan tahu masa depan dan sudah menuliskan nasib manusia maka manusia tidak punya pilihan untuk mengubah nasib itu, maka itu adalah determinisme. Jawaban Muthahhari kembali kepada sempurnanya ilmu Tuhan.

Justru ilmu Tuhan itu sempurna bisa tahu perilaku manusia meski manusia bebas memilih. Jika, misal ilmu Tuhan, prediksinya, berbeda dengan perilaku manusia, lalu Tuhan memaksa manusia agar berperilaku sesuai dengan ilmu yang sudah terlanjur ditulis, maka itu bukan ilmu yang sebenarnya. Tetapi, yang sebenarnya, ilmu Tuhan tetap benar bahkan ketika manusia bisa mengubah-ubah pilihan sesuai free will, itulah ilmu sejati.

Barangkali dengan sedikit contoh akan lebih jelas. Saya, misalnya, seorang guru. Dengan ilmu saya, yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun, menulis bahwa tahun depan Andi akan diterima kuliah di ITB dan Bowo akan diterima di UI.

Waktu berlalu sampai ke tahun depan. Benar saja Andi diterima di ITB dan Bowo diterima di UI. Apakah saya memaksa Andi dan Bowo? Tidak. Andi dan Bowo, dengan pilihan bebasnya, mendaftar dan diterima di ITB dan UI, berturut-turut. Begitulah ilmu saya tidak memaksa Andi dan Bowo. Sedangkan ilmu Tuhan lebih sempurna, tidak memaksa manusia, dan tetap memberi free will kepada manusia.

Situasi berbeda bisa terjadi. Andi ternyata tidak diterima di ITB. Maka catatan ilmu saya salah. Jadi saya tidak punya ilmu. Tapi saya bodoh. Agar ilmu saya benar maka saya mencari cara, satu dan lain hal, agar Andi diterima di ITB. Akhirnya, benar juga, Andi diterima di ITB, barangkali dengan prosedur tidak legal. Sekali lagi itu menunjukkan kebodohan saya. Bukan pengetahuan saya. Sampai-sampai saya memaksa agar Andi diterima ITB.

Tetapi ilmu Tuhan sempurna benar. Maka Tuhan tidak perlu memaksa siapa pun agar ilmuNya benar. Justru ilmu Tuhan selalu benar walau ada randomness, indeterministik, free will, dan lain-lainnya.

Misal dalam kasus Andi di atas. Tuhan Yang Maha Tahu menuliskan bahwa Andi, akan, diterima di ITB. Dan, pada waktunya, benar bahwa Andi diterima di ITB. Ilmu Tuhan terbukti benar dan Andi diterima ITB berdasar free will dan usaha kerasnya belajar.

Sintesa Ambigu Kompleks

Sampai di sini kita sudah berhasil meyakinkan bahwa benar ada determinisme dan free will. Sehingga rumusan yang lengkap adalah sintesa free will dan determinisme. Tetapi beberapa pertanyaan lanjutan barangkali masih tersisa.

Di sini kita akan mencoba analisis dengan konsep ambigu kompleks dan sistematis.

Banyak hal ambigu di dunia ini. Tampak sederhana di saat yang sama kompleks, memuat banyak hal. Bahkan menyatukan hal-hal yang saling kontradiksi dari satu sudut tapi tidak kontradiksi dari sudut yang lebih tinggi.

Contoh sederhana adalah angka 0 (bilangan 0). Angka 0 adalah positif dan sekaligus negatif. Tapi bisa juga angka 0 itu tidak positif, juga tidak negatif. Angka 0 itu sederhana, juga kompleks mengandung positif dan negatif.

Yang lebih nyata lagi barangkali adalah cangkir yang berisi air. Dilihat dari dalam, cangkir adalah basah. Dilihat dari luar, cangkir adalah kering. Kita bisa berimajinasi membuat cangkir yang sangat tipis. Sampai paling tipis, tembus pandang, barangkali tebalnya setebal diameter atom oksigen (penyusun senyawa air adalah hidrogen dioksida). Kemudian kita perhatikan lagi cangkir ini benar-benar bersifat kering dan basah sekaligus.

Kasus agak beda perhatikan lambang bilangan:

9

Angka berapakah yang tertulis di atas? Kita yakin itu angka 9. Tetapi dengan mudah orang bisa membaca itu adalah angka 6 yaitu ketika dia melihat dari atas. Pengetahuan yang lengkap bisa menyatukan pemahaman bahwa di atas adalah angka sembilan sekaligus bukan 9. Kontradiksi sekaligus bukan kontradiksi dari sudut pandang yang lain.

Dalam mekanika quantum awal abad 20 kita menemukan perilaku aneh dari elektron. Sebelumnya, elektron dikenal sebagai sebuah partikel yang mengelilingi atom. Secara quantum, elektron bisa berubah jadi gelombang, bukan partikel. Sehingga dikenal dualisme partikel gelombang. Kontradiksi partikel dan gelombang menyatu dalam elektron secara mekanika quantum.

Dalam fenomena alam, kita melihat berbagai macam kontradiksi yang disatukan dalam tingkat lebih tinggi: ambigu kompleks. Dalam penyatuan ini tetap memelihara karakteristik masing-masing anggota. Elektron tetap bisa bersifat partikel dan juga bersifat gelombang. Demikian juga angka 9 tetap bisa kita baca sebagai angka 9, sekaligus bisa kita baca sebagai angka 6 yang terbalik.

Determinisme dan free will juga bisa kita satukan dalam sintesa kompleks. Di mana sintesa ini tetap mengakui free will dan di saat yang sama mengakui determinisme dalam kesadaran manusia. Barangkali kita bisa mengacu lagi model kesadaran quantum yang merupakan sintesa dari deterministik (mekanika Newton klasik) dan indeterministik (mekanikan quantum). Kesadaran quantum inilah yang merangkul semuanya: free will, deterministik, dan indeterministik.

Kita juga bisa menganalisis ilmu Tuhan sebagai sintesa ambigu kompleks. Ilmu Tuhan yang sempurna, jelas, dan lengkap. Di dalamnya tetap memelihara karakter free will, deterministik, indeterministik, dan lain-lain. Semua kontradiksi-kontradiksi bersatu selaras dalam ilmu Tuhan.

Saya akan mencoba eksperimen untuk menguji sintesa ambigu kompleks ini. Kita eksperimen berhitung kepada anak-anak kecil.

3 – 2 = ?

Anak kecil, yang terlatih. bisa menjawab 3 – 2 = 1.

Tetapi bila pertanyaan kita balik,

2 – 3 = ?

Anak kecil itu menjawab tidak bisa.

Wajar saja angka 2, yang kecil, tidak mungkin bisa dikurangi oleh angka yang lebih besar yaitu 3. Kita sadar barangkali anak kecil ini baru memahami konsep bilangan asli atau bilangan cacah. Dia belum mengenal bilangan negatif.

Bilangan cacah = {0, 1, 2, 3, 4, 5, …}

Bagaimana bila soal kita buat lebih rumit seperti berikut ini?

5 + 2 – 3 = ?

Anak kecil, yang sama, akan berpikir dan menemukan jawabannya adalah 4. Dia berpikir 5 + 2 = 7. Kemudian 7 – 3 = 4. Selesai. Bisa.

Tetapi kenapa soal yang lebih mudah, 2 – 3, dia tidak bisa? Karena dia belum paham bilangan negatif. Kita, orang dewasa, mudah menjawab 2 – 3 = -1, karena kita sudah paham bilangan negatif.

Bilangan negatif berkontradiksi dengan bilangan positif membentuk sintesa bilangan bulat.

Mengenai ilmu Tuhan yang sempurna tampak membingungkan bagi orang yang memandang hanya dari satu sisi. Orang itu, seperti anak kecil, hanya melihat bilangan positif. Padahal orang dewasa, yang mengenal bilangan negatif, lebih mudah paham. Begitu juga orang yang memandang ilmu Tuhan dari berbagai sudut pandang, positif dan negatif, lebih mudah memahami sifat ilmu Tuhan yang sempurna merangkul free will.

Kebetulan versus Pengetahuan

Kali ini kita eksperimen lagi dengan mempertimbangkan ilmu dan peristiwa kebetulan. Bayangkan dadu seimbang yang bertuliskan angka 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Dadu akan dilemparkan oleh pelempar bebas terdiri dari 3 orang atau lebih, untuk menjamin random indeterministik.

Beberapa anak akan menebak dengan menuliskan angka di kertas tertutup. Kemudian dadu dilemparkan. Misalkan dadu dilemparkan 6 kali dan masing-masing anak-anak sudah menuliskan tebakannya.

Eko, dari enam tebakan itu benar satu. Hasil Eko ini wajar. Sesuai perhitungan ilmu probabilitas, dan statistik, peluang benar adalah 1/6. Karena menebak sebanyak 6 kali pelemparan maka 6 x 1/6 = 1. Benar 1 kali.

Apakah tebakan Eko memaksa tim pelempar agar memunculkan benar 1 kali? Tentu saja tidak. Tidak ada paksaan. Tim pelempar bebas melempar dengan cara apa saja. Dan tim pelempar, ketika melempar, tidak diberi tahu apa tebakan Eko.

Dwi, dari enam tebakan itu benar dua. Hasil Dwi lebih besar dari harapan, yang seharusnya satu kali benar. Barangkali karena kebetulan saja. Begitulah kita biasa berpikir. Sesuatu yang diluar dugaan, di luar harapan, adalah kebetulan belaka. Tetapi kebetulan memang bisa terjadi.

Ketika kita tanya Dwi, dia menjawab bukan hanya kebetulan. Dia melakukan perhitungan sesuai dengan hukum gerak mekanika Newton. Ditambah lagi dia sudah mempelajari data-data pelemparan dadu ribuan pelemparan sebelumnya. Lumayan, dia benar 2 tebakan dan masih salah 4 tebakan. Hasil ini lebih bagus dari Eko dan orang-orang pada umumnya.

Di sini, kita perlu memastikan ilmu Dwi sama sekali tidak memaksa tim pelempar dadu untuk melakukan sesuatu. Tim pelempar tetep bebas memanfaatkan free will untuk melempar.

Satya, dari enam tebakan benar enam. Di luar dugaan. Sulit dipercaya. Tetapi bisa terjadi. Satya menebak 6 kali dan tebakannya benar semua. Hal semacam ini bisa terjadi karena kebetulan, keberuntungan, tidak sengaja, atau lain-lainnya.

Tetapi ketika kita bertanya ke Satya, dia bilang tidak kebetulan semata. Dia mencermati seluruh situasi. Menghitung segala kemungkinan. Memanfaat teori probabilitas dan statistik. Menerapkan mekanika Newton bahkan mekanika quantum. Satya juga memanfaatkan program komputer, artifial intelligence, untuk melakukan beragam simulasi. Untuk kemudian menebak hasilnya. Dan semua tebakan benar.

Apakah tebakan, tulisan Satya, memaksa tim pelempar melakukan sesuatu? Tentu tidak. Tim pelempar tetap bebas. Pengetahuan Satya yang “hampir sempurna” mengantar dia bisa menebak benar 100%.

Bagaimana pun, hasil sempurna yang diraih Satya, dengan pelempar bebas bisa kita analisis dengan tiga kemungkinan.

A. Kebetulan saja. Peluangnya kecil hanya 1/6 untuk sekali pelemparan. Dan makin kecil bila diulang-ulang. Meski kecil ini bisa terjadi, benar 100%, berdasar teori probabilitas.

B. Pengetahuan. Hal ini wajar terjadi. Bila Satya punya informasi lengkap, mengolah dengan metodologi lengkap, dibantu simulasi komputer dan lain-lain maka dia bisa benar 100%.

C. Kombinasi Pengetahuan dan Kebetulan. Satya punya ilmu lengkap tetapi barangkali masih menyisakan sedikit error. Dibantu oleh kebetulan maka Satya berhasil meraih nilai sempurna 100%.

Kita perlu garis bawahi di sini, pengetahuan Satya bisa benar 100%, di saat yang sama pelempar tetap memiliki free will untuk melemparnya.

Apakah ilmu Tuhan bisa sehebat Satya? Tentu saja. Tuhan Maha Tahu segalanya. Tuhan tahu semua ilmunya Satya dan masih banyak lagi yang lainnya. Jika seandainya ilmu Tuhan digunakan untuk menebak maka hasilnya juga pasti benar. Seperti tebakan Satya yang sempurna 100%. Di saat yang sama tim pelempar tetap bebas menggunakan free will mereka.

Jadi, ilmu Tuhan sempurna selalu benar dan di saat yang sama meliputi free will manusia.

Lentur Berpikir

Kita sudah cukup jelas membahas hubungan ilmu Tuhan dengan free will. Tetapi bagi beberapa orang barangkali masih menyisakan sedikit banyak paradoks, kontradiksi, atau lainnya. Di sini, saya mengusulkan sikap berpikir yang lentur, fleksibel.

Bagi yang meyakini determinisme maka tidak ada masalah. Catatan ilmu Tuhan adalah catatan determinisme sejati. Sementara yang meyakini free will, atau sintesa, maka perlu bersikap fleksibel.

Roger Penrose, dinyatakan dalam bukunya Searle, berhasil membuktikan paradoks Godel Turing. Bukti ini meyakinkan bahwa komputer ideal tidak akan mampu “memahami” pengetahuan manusia secara sempurna. Ada pengetahuan manusia yang non algoritmik.

Dengan cara yang sama, kita bisa membuktikan bahwa pengetahuan manusia tidak akan mampu “memahami” pengetahuan Tuhan secara sempurna. Misalnya, Tuhan mengetahui kejadian 1 juta tahun lalu secara lengkap. Manusia tidak akan mampu mengetahui kejadian 1 juta tahun lalu secara lengkap. Sedangkan ilmu Tuhan lebih jauh dari sekedar 1 juta tahun yang lalu.

A. Saya yakin 100% free will benar. Tapi saya tidak yakin bahwa ilmu Tuhan akan bisa menjaga free will tetap ada. Atau saya yakin 50% bahwa ilmu Tuhan menyebabkan free will hilang.

B. Saya yakin 100% free will benar. Dan hanya yakin 50% bahwa ilmu Tuhan tetap menjaga free will manusia.

C. Saya yakin 100% free will benar. Dan yakin 100% bahwa ilmu Tuhan tetap menjaga free will manusia.

Tentu saja, bila Anda sudah yakin 100% ilmu Tuhan tetap menjaga free will maka bersikaplah seperti pilihan C. Tetapi jika belum yakin tentang ilmu Tuhan, Anda bisa bersikap A atau B. Karena A akan berujung ke kontradiksi diri maka saya menyarankan Anda agar fleksibel memilih B.

Pilihan B adalah wajar dan benar. Catatan ilmu Tuhan tetap memelihara free will manusia. Dan kita sebagai manusia terus berjuang untuk menyingkapkan misteri semesta. Terbentang luas tanpa batas.

Penutup: Iman atau Ilmu

Pertanyaan sederhana: kita harus mendahulukan iman atau ilmu? Mendahulukan keyakinan atau pengetahuan. Jawaban atas prioritas ini barangkali akan menjadi solusi terbaik kita.

Jawaban pertama, adalah iman dan ilmu sama-sama penting maka kita tidak perlu memisahkan keduanya. Kita tidak perlu mempertentangkan iman lawan ilmu. Barangkali ini jawaban yang bagus. Tetapi tidak menjawab pertanyaan. Malah menghapus pertanyaan itu sendiri.

Jawaban kedua, adalah iman dan ilmu adalah landasan yang penting. Tetapi yang lebih penting adalah buahnya: moral yang luhur. Iman boleh diutamakan asalkan moralnya bagus. Ilmu juga boleh diutamakan dengan syarat bermoral tinggi. Lagi, ini jawaban bagus dengan cara menghapus pertanyaan itu sendiri.

Jawaban ketiga, adalah ilmu lebih utama. Menurut saya ini jawaban bagus. Dengan ilmu semua tercerahkan. Sehingga iman tidak buta. Iman menjadi kuat dengan berpijak ilmu. Meski demikian, ternyata, ilmu manusia terbatas. Abad 17 kita bangga dengan mekanika Newton. Abad 20 kita harus ikhlas mengganti mekanika Newton dengan mekanika quantum untuk fenomena subatomik dan lahirlah ilmu-ilmu baru.

Jawaban keempat, iman lebih utama. Menurut saya ini juga jawaban bagus. Iman akan membimbing manusia ke jalan yang lurus. Dengan, kemudian, dibantu ilmu maka perjalanan menuju akhir yang benar jadi lebih terang-benderang. Tetapi ada resiko bahwa iman, tanpa dasar ilmu yang tepat, bisa membutakan mata. Maka iman meski paling utama harus terus-menerus didukung oleh ilmu.

Dalam analisis terakhir, ilmu “selalu” tidak memadai untuk mengambil kesimpulan pasti. Maka kita perlu menempatkan iman pada posisi terdepan. Misal, dalam contoh kasus, elektron apakah partikel atau gelombang? Dengan ilmu quantum saat ini, kita tidak bisa memastikan. Kesadaran “pengamat” yang akan memastikan elektron bisa jadi materi. Pada kondisi yang lain elektron menjadi gelombang.

Demikian juga dalam analisis terakhir tentang free will dan determinisme. Semua ilmu kita tidak mencukupi untuk mengambil satu kesimpulan 100% pasti. Maka di sini kita perlu mengedepankan “iman” atau “keyakinan” untuk mengambil keputusan. Seperti pada tulisan saya di atas, saya menyarankan agar kita meyakini manusia memiliki free will – kehendak bebas. Di saat yang sama, manusia berada pada lingkungan determinisme. Jadi kita menyimpulkan bahwa manusia berada pada kondisi sintesa: free will dan determinisme.

Kertas Kosong Vs Omnibus Law

Beredar kabar tentang kerta kosong omnibus law atau UU Ciptaker. Orang-orang berpikir yang disahkan DPR, dan pemerintah, itu adalah kertas kosong. Meski berisi 900 halaman tetapi kosong semua.

Dari sudut pandang posmodern tidak ada yang salah dengan pikiran di atas. Begitulah jaman posmo. Semua serba bebas. Tidak ada lagi metanarasi. Yang ada hanya mikrologi. Yaitu logika-logika mandiri yang bebas, begitu kata Lyotard, sang tokoh posmo.

Jean-Francois Lyotard cropped.jpg
Lyotard

Lagi pula ungkapan kertas kosong UU Ciptaker adalah metaforis. Kita perlu membacanya dengan hermeneutika jaman ini yang terbuka. Ditambah lagi cara mengambil kesimpulan yang heuristik, serba cepat, makin lengkap sudah.

“Selama ini, publik sendiri tak bisa mengakses atau membuka isi dari isi UU Cipta Kerja yang sudah disahkan DPR. Kondisi ini menimbulkan banyak penafsiran masyarakat yang berbeda-beda atas draf RUU Cipta Kerja yang sudah beredar luas.” (Kompas.com)

Dari sisi pemerintah dan DPR barangkali mereka telah melakukan semua tugas sesua prosedur. Tidak ada kewajiban, berdasar legal, untuk mempublikasikan naskah UU Ciptaker yang sah dalam waktu singkat.

Seandainya UU Ciptaker yang sah dipublikasikan maka akan tetap ada kritik terhadapnya.

Prinsip Pengecualian atau Ketidaksempurnaan

“Segala sesuatu selalu ada pengecualian.”

Pengecualian ini menunjukkan adanya sesuatu yang tidak konsisten, adanya sesuatu yang tidak sempurna. Berkaitan UU Ciptaker pasti ada yang tidak konsisten. Pasti ada yang tidak sempurna. Maka kita perlu dialog terbuka untuk mengatasi yang tidak sempurna itu.

Saya mencontohkan prinsip pengecualian ini dengan misal ada hp yang selalu hidup, beroperasi dengan baik. Di hp, yang tentunya smartphone, itu ada aplikasi yang mendeteksi bila ada kerusakan hp. Bila hp rusak maka akan menampilkan tulisan “HP RUSAK”.

Suatu ketika ada tampilan “HP RUSAK”. Benar saja hp itu memang rusak kecuali satu hal yang tidak rusak. Yaitu ada bagian hp tidak rusak dan bisa menampilkan tulisan “HP RUSAK”.

Contoh lagi: setiap manusia yang di bumi pernah punya ibu. Tentu saja benar. Karena untuk jadi manusia di bumi harus punya ibu, dilahirkan oleh ibunya.

Anda tahu, ada pengecualian di sana?

Anda dilahirkan oleh ibu, ibu dilahirkan oleh nenek, nenek dilahirkan oleh buyut dan seterusnya. Sampai pada suatu saat ada seorang ibu yang tidak dilahirkan oleh ibunya. Dalam keyakinan kita, dialah ibu HAWA.

Kembali kepada UU Ciptaker yang ada kekurangan maka itu wajar. Selalu ada pengecualian. Dialog terbuka akan berhasil menemukan solusi terbaik. Bahkan solusi terbaik itu juga pasti ada kekurangan. Yang perlu terus kita perbaiki lagi.

Dengan kompak dan saling percaya kita bangun Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?