Tetap Bahagia Meski Utang

Banyak orang jatuh miskin terlilit hutang. Negara pun bisa bangkrut karena beban hutang. Tetapi, teman yang satu ini justru makin sukses dan bahagia karena utang. Bagaimana bisa?

Utang memang bahaya, membebani, dan bisa menghancurkan. Itu adalah utang buruk. Beda dengan utang baik.

Utang baik, justru, mendorong orang lebih sukses. Usaha menjadi lebih produktif. Bahkan negara, dan masyarakat, makin maju karena terbantu oleh utang baik.

1. Utang Eksistensi
2. Utang Struktural
3. Manfaat Utang

Pertama, kita memang tidak bisa menghindar dari utang yaitu utang eksistensi. Kita berutang kepada ibu dan bapak kita. Ibu telah mengandung 9 bulan lebih dengan beragam kesulitan. Demi anak tercinta, yaitu diri kita, bisa lahir eksis di dunia ini. Utang eksistensi ini tidak pernah bisa kita bayar dengan lunas. Bagaimana pun kita tetap wajib membayar utang kepada ibu dan bapak.

Kedua, utang struktural. Khususnya utang struktural yang buruk memiskinkan rakyat. Kita perlu waspada.

Ketiga, manfaat utang terbuka luas. Kita perlu mencermati manfaat dan resiko utang dengan baik. Sulitnya, utang baik bisa berubah jadi utang buruk dan sebaliknya. Atau, utang buruk mencitrakan diri sebagai utang baik. Kenali utang dengan baik, lalu, manfaatkan dengan lebih baik.

1. Utang Eksistensi
2. Utang Struktural
3. Manfaat Utang

Iklan

Apa Waktu Sejati?

Apa sebenarnya waktu? Apa waktu benar-benar ada? Apa makna sebenarnya dari waktu?

Waktu adalah apa yang ditunjukkan oleh jarum jam. Waktu adalah hasil pengukuran jam atau stop watch atau alat ukur waktu. Waktu adalah yang kita rasakan ketika terus berubah. Pandangan umum tentang waktu, barangkali, seperti di atas. Tetapi, apa sebenarnya waktu secara filosofis?

Untuk membahas waktu secara tuntas, andai bisa tuntas, saya rekomendasikan tiga tulisan berikut ini.

1. Waktu (Tidak) Bisa Mundur

Dalam tulisan tersebut, saya membahas waktu sejati sebagai bentangan futuristik, yaitu, waktu membentang dari future menuju past dan menyusuri present. Sehingga, waktu adalah kesatuan dalam bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini.

Saya juga membahas waktu secara sains seperti dikaji oleh Newton, Einstein, dan Feynman. Sementara, pandangan filosofis waktu sebagai derivasi dari wujud juga kita bahas. Waktu adalah ukuran gerak substansial menurut Sadra. Bandingkan dengan Aristo, juga Hegel, yang menilai waktu sebagai living-now yang terus bergulir.

Saya kira tulisan saya, di tautan atas, memadai sebagai pengantar membahas konsep true-time secara filosofis.

2. Waktu adalah Binuko: Disclosing & Opening

Waktu adalah horizon transenden bagi being. Waktu adalah binuko. Waktu adalah “sebab” bagi being, bagi wujud, untuk membuka diri. Di saat yang sama, waktu menyembunyikan being.

Waktu adalah keterbukaan. Waktu adalah temporalisasi.

Tulisan pada tautan ini bersumber dari Heidgger yang disusun oleh Thomas Sheehan. Menurut saya, pembahasan Sheehan bagus dan padat.

3. Waktu adalah Apropriasi: Pengkhidmatan

Waktu sejati adalah apropriasi: pengkhidmatan. Waktu berkhidmat kepada being dengan cara memberi waktu kepada being. Being berkhidmat dengan menerima khidmat dari waktu. Apropriasi dari waktu dan being adalah dasar dari segalanya tetapi bukan metafisika. Maksudnya, waktu mau pun being bukan anggota dari apropriasi. Waktu dan being bukan ada lebih awal lalu dihubungkan dengan apropriasi. Bukan pula, apropriasi sudah ada lalu muncul waktu dan being. Mereka setara.

Tautan ketiga ini memang abstrak dalam pembahasannya. Dengan kesabaran, saya yakin Anda akan berhasil menemukan poin-poin penting tentang waktu sejati, true-time. Tulisan saya yang ini belum selesai, masih on progress. Saya berencana melengkapi dengan tema tataluma, serta Urip Iku Urup dari Sunan Kalijaga.

Semoga bermanfaat…!

Bahagia Hidup Mengalir Bagai Air

Teman saya hidup bahagia dengan cara menjalani hidup mengalir bagai air. Dengan wajah ceria, dia cerita, “Hidup bahagia itu sederhana saja. Cukup jalani hidup mengalir bagai air.”

Air mengalir itu memang hebat. Dari dataran tinggi menuju tempat lebih rendah, sampai ke tujuan dengan selamat. Selama perjalanan, air memberi kesegaran kepada alam sekitar. Air menghijaukan, dan memberi kehidupan, alam semesta.

Ketika ada halangan, air berhenti sejenak. Lalu, dengan lentur air belok untuk tetap sampai tujuannya. Kadang, air dengan lembut merembes ke celah-celah kecil penghalang itu. Kadang juga, air hanya menunggu sampai teman-temannya datang. Kemudian, tinggi air cukup tinggi untuk melampaui penghalang itu. Air menghadapi halangan tanpa merusaknya. Air fleksibel dengan ragam situasi.

Bukankah sangat mudah hidup bahagia hanya dengan meniru air? Mengapa manusia gagal menjadi bahagia? Mengapa manusia gagal mencapai tujuannya?

1. Rahasia Air Mengalir
2. Cara Ular Licik Berbisa
3. Cara Manusia

Pertama kita akan membahas rahasia hidup bahagia sesuai air mengalir. Tetapi, perlu waspada. Sewaktu-waktu, air bisa mengakibatkan bencana banjir, longsor, sampai gelombang sunami. Kedua, kita akan mencermati cara hidup ular yang, sering dipandang sebagai, licik. Menariknya, ular tidak pernah berdosa. Hebat juga! Ketiga, kita akan mempertimbangkan cara hidup manusia.

1. Rahasia Air Mengalir

Manusia yang berhasil menjalani hidup bagai air mengalir memang akan hidup bahagia. Apa rahasianya? Apakah bisa gagal untuk bahagia padahal manusia sudah mengalir bagai air? Apa resiko meniru aliran air?

Rahasia pertama adalah air memiliki tujuan pasti. Yaitu, air mengalir menuju pusat gravitasi bumi. Manusia juga bisa bahagia ketika memiliki tujuan yang pasti yaitu akhir yang baik, husnul khatimah, kematian yang baik. Air selalu menuju ke tujuan akhirnya. Apa pun halangan, atau gangguan, yang ada tetap mengarahkan air mendekat ke tujuan. Manusia akan bahagia bila tetap menghadap ke husnul khatimah.

Rahasia kedua, air fleksibel dalam proses. Air mudah berbelok arah bila ada halangan. Itu pun, tetap, untuk mencapai tujuannya. Tak pernah lupa dengan tujuan akhir. Manusia akan bahagia ketika fleksibel dalam menjalani proses. Kadang ke kiri, ke kanan, ke bawah, ke atas, atau sejenak berhenti adalah hal yang wajar untuk meraih bahagia sejati. Bahkan, manusia kadang perlu menetapkan tujuan-tujuan kecil agar memudahkan untuk mencapai tujuan besar dengan cara fleksibel.

Rahasia ketiga adalah konsisten. Air, dengan konsisten, siang dan malam, tetap bergerak untuk mencapai tujuan akhir. Kadang air terserap ke perut bumi, makin dekat ke tujuan pusat gravitasi. Kadang, air harus mengalir ke sungai sampai laut. Kena sinar matahari menguap. Terbang tinggi menjauhi bumi. Air tetap sabar, “Aku akan kembali menuju pusat gravitasi bumi.” Uap air jadi awan lalu turun hujan. Makin dekat ke tujuan akhir lagi. Air bersikap terbuka dengan segala yang ada. Manusia juga akan bahagia ketika tetap konsisten dan sabar untuk mencapai tujuan akhir terbaiknya.

Apakah manusia tetap bisa gagal bahagia padahal sudah mengalir bagai air? Bisa. Hanya mengalir justru menjadikan manusia gagal bahagia. Karena, untuk berhasil, manusia perlu mengalir dengan tujuan pasti, fleksibel, komitmen dan terbuka terhadap semua yang ada.

Apa ada resiko lebih besar? Tentu, karena air bisa berdampak banjir dan sunami. Demikian juga, manusia yang mengalir bisa juga mengakibatkan bencana. Sehingga, manusia, sambil mengalir tetap perlu berpikir dan bersyair.

2. Cara Ular Licik Berbisa

Ular bebas hidup dengan licik memangsa apa saja yang disukainya. Tetapi, ular tetap tidak berdosa meski licik dan berbisa. Bagaimana jika manusia meniru cara hidup ular? Manusia pasti pernah berlumur dosa. Sehingga, manusia tidak boleh meniru hidup ular yang licik memangsa.

Lebih parah lagi, manusia bisa lebih kejam dari ular berbisa. Manusia bisa korupsi uang rakyat atas nama negara. Manusia bisa berperang hanya karena amarah sampai melayang ribuan jiwa. Manusia bisa menipu atas nama fatwa agama. Manusia resiko berlumur dosa. Manusia perlu menjaga dan bertobat dari dosa. Jadi, manusia tidak boleh licik bagai ular berbisa.

Lebih sulit lagi, dosa parah manusia yang kadang tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Ular mencari mangsa hanya ketika dia lapar. Ular piton, misalnya, hanya makan satu kali dalam satu bulan. Jadi, setelah makan, ular piton tidak mau lagi makan. Meski ada mangsa, ayam, di depannya maka piton tidak akan menyerangnya. Dalam satu bulan, piton berpuasa.

Beda dengan manusia. Meski sudah kenyang, manusia masih bisa makan lagi. Pagi makan, siang makan, malam makan lagi. Begitulah manusia. Lebih repot lagi, manusia bisa mengumpulkan harta tanpa ada rasa kenyang. Hari ini cari uang. Besok cari uang lebih banyak lagi. Kadang, sampai ada yang korupsi. Manusia banyak dosa. Ular berbisa tidak punya dosa. Manusia tidak boleh meniru cara hidup ular yang licik.

3. Cara Manusia

Manusia, kita, boleh meniru cara air yang terus mengalir sampai tujuan dengan bahagia. Tetapi, manusia tidak boleh meniru cara hidup binatang. Tidak boleh, misalnya, meniru cara hidup ular berbisa.

Mengapa manusia berdosa ketika licik? Sedangkan, ular tidak berdosa? Lebih enak jadi binatang dong, tanpa dosa?

Manusia berdosa karena manusia punya akal dan pikiran. Sehingga, manusia bisa mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi, seandainya, manusia punya akal dan, di saat yang sama, tidak dituntut atas dosa, bukankah lebih memudahkan manusia?

Maksudnya, manusia punya akal seperti sekarang tetapi tidak berdosa melakukan apa pun, bukahkah itu indah sekali?

Tidak indah. Dan, tidak bisa. Bahkan, ketika ada dosa dan hukuman saja, banyak manusia yang masih berbuat jahat, menipu, serta melukai orang lain. Pemimpin dunia sering mengobarkan perang dengan senjata pembunuh massal nuklir. Tanpa ada beban dosa, dan hukuman, maka manusia akan makin celaka dan saling mencelakai di dunia.

Lebih dari itu, dosa memiliki peran positif yang penting bagi manusia.

Pertama, dosa memunculkan rasa gelisah akibat dosa kesalahan. Gelisah dialami manusia juga ketika kehilangan orang yang dicintainya, ketika menghadapi nasib tak menentu, ketika menghadapi kesulitan besar. Dengan rasa gelisah, manusia kemudian mengambil sikap yang terbaik. Manusia memilih tindakan baik untuk mengatasi rasa gelisah – dan bertobat dari dosa.

Kedua, dosa memberi makna pilihan amal kebaikan. Ketika seseorang bisa memilih, secara bebas, antara dosa atau amal, maka pilihan amal menjadi penuh makna. Tetapi, jika tidak ada pilihan dosa maka jadi hampa. Semua pilihan adalah kebaikan amal-1, amal-2, dan seterusnya. Tanpa berpikir apa pun pilihan manusia adalah amal – yang hampa makna.

Ketiga, dosa mengajak manusia untuk bertobat memperbaiki diri. Manusia mengakui dirinya tak sempurna masih banyak dosa. Kemudian, komitmen meraih masa depan terbaik, dengan belajar dari dosa masa lalu, dan bertanggung jawab memilih respon terbaik di masa kini.

Sebagai penutup, manusia memang benar bisa hidup bahagia dengan mengalir bagai air. Lebih dari itu, manusia memiliki pikiran dan nurani yang membimbing ke masa depan. Berpikir-terbuka: binuko. Ketika aliran air beresiko mengakibatkan banjir, maka, manusia bisa mengatur arah aliran air agar memberi kebaikan kepada umat manusia dan menebarkan kebaikan bagi sesama.

Bagaimana menurut Anda?

Problem Politik Indonesia dan Dunia

Apakah, selamanya, politik itu kejam? Maling teriak maling? Memperkosa hak-hak sewajarnya?

Benar, politik memang kejam. Mengapa banyak orang berpolitik? Justru, orang-orang terbaik, mereka berpolitik? Bahkan, Anda tertarik politik?

Politik adalah solusi dari beragam masalah. Di saat yang sama, politik adalah problem itu sendiri. Atau, sumber dari segala problem. Kita akan membahas beberapa masalah penting dari politik secara bertahap.

1. Problem Politik
2. Hak Kewajiban
3. Bebas Adil

Pertama, kita akan menjawab apa hakikat politik? Hakikat politik adalah perebutan kekuasaan. Sehingga, wajar, bila ada yang ingin berkuasa sampai 3 periode. Putin meluaskan kekuasaan dari Rusia sampai Ukraina. Donald Trump ingin kembali berkuasa di USA. Apakah memang hanya perebutan kekuasaan makna dari politik?

Kedua, apakah politik mengutamakan hak atau kewajiban. Di Indonesia, setiap warga wajib saling menghormati. Lebih-lebih, rakyat wajib menghormati anggota dewan yang terhormat yaitu para politikus. Tetapi, bukankah para politikus itu hanya wakil rakyat? Sehingga, rakyat berhak menuntut laporan kerja dari politikus? Kita akan menyelidiki mana yang lebih utama antara hak dan kewajiban.

Ketiga, politik itu harus adil dan bebas. Mana yang harus diutamakan antara adil dan bebas? Demi keadilan, kebebasan bisa dikalahkan. Atau, demi kebebasan, keadilan bisa dilanggar? Tentu, kita memilih keduanya adil dan bebas. Tetapi, politik lebih mengutamakan adil atau bebas?

Badefisika: Metafisika Sampai Fisika

Kita semua sudah akrab dengan fisika yang merupakan inti dari sains. Sementara, metafisika kadang-kadang agak samar berupa sesuatu yang melebihi dari fisika. Lalu, apa itu badefisika?

“Metaphysics is the branch of philosophy that studies the fundamental nature of reality, the first principles of being, identity and change, space and time, causality, necessity, and possibility.” Wikipedia

Metafisika adalah cabang dari filosofi yang mengkaji pengetahuan prinsip pertama – memang melebihi sains fisika – meliputi realitas, wujud, ruang, waktu, kausalitas, dan lain-lain. Segala tema yang tidak sanggup dikaji oleh sains fisika, maka, dikaji oleh metafisika. Di satu sisi, metafisika tampak lebih hebat dari fisika. Di sisi lain, beberapa orang meragukan apakah metafisika ada gunanya.

Badefisika adalah konsep baru yang melengkapi fisika mau pun metafisika. Badefisika adalah masa depan dari fisika dan metafisika. Di saat yang sama, badefisika memanfaatkan kajian sains fisika dan metafisika sebagai bagian kajian utama. Sehingga, meski badefisika adalah masa depan, tetap saja bersatu dengan masa kini dan masa lalu yaitu fisika dan metafisika.

1. Sains Fisika
2. Metafisika
3. Badefisika

Matematika Itu Paradoks

Matematika itu bertabur kontradiksi. Logika itu bertabur paradoks. Pernyataan obyektif itu disusupi subyektif. Setiap denotasi didasarkan pada konotasi. Pernyataan deskriptif, pada analisis akhir, didasarkan pernyataan normatif.

1. Paradoks Godel
2. Paradoks Meta Teori
3. Banyak Paradoks
4. Anti Paradoks
5. Solusi Paradoks: Meraih Masa Depan

Paradoks sudah muncul sejak awal peradaban manusia. Paradoks Zeno sudah berumur lebih dari 2000 tahun. Tetap diperdebatkan sampai sekarang. Paradoks Godel, yang muncul 1930an, adalah tonggak paradoks paling kuat. Godel menunjukkan paradoks dalam setiap sistem formal, misal sistem matematika, yaitu selalu tidak lengkap atau tidak konsisten.

Awalnya, hanya satu paradoks dalam satu sistem. Selanjutnya, kita bisa identifikasi ada beberapa paradoks. Pada akhirnya, setiap sistem mengandung banyak paradoks. Atau, lebih tegas lagi, setiap proposisi didasarkan pada paradoks.

Beberapa ungkapan yang setara dengan paradoks di antaranya kontradiksi, inkonsistensi, dialetik, dialeteik, dan antinomi. Paradoks terjadi ketika suatu proposisi bernilai benar, sekaligus, bernilai salah.

Dari arah berlawanan, kita perlu mempertimbangkan anti-paradoks, yaitu proposisi yang tidak benar, sekaligus, tidak salah. Underdetermined. Agnotisisme. Tak tentu.

Di bagian akhir, saya mengusulkan solusi bagi paradoks adalah meta-teori, meta-perspektif, dan futuristik.

1. Paradoks Godel

Teorema Godel berbeda, jauh, dengan paradoks-paradoks sebelumnya. Umumnya, kita bisa menelusuri paradoks bersumber dari penggunaan aturan bahasa yang salah. Apakah tuhan yang maha kuasa mampu menciptakan batu sangat besar, sedemikian hingga, tuhan tak kuasa mengangkatnya? Tentukan bilangan ganjil yang merupakan kelipatan 6. Harga komputer ini mahal tetapi tidak mahal. Begitu, ya, begitu tetapi jangan begitu.

Paradoks Godel terbebas dari permainan interpretasi bahasa seperti itu. Godel hanya menganalisis sistem formal, sistem aksiomatik matematika, murni dengan matematika itu sendiri. Terbukti, setiap sistem adalah paradoks, tidak konsisten atau tidak lengkap.

2. Paradoks Meta Teori

Godel, dengan rendah hati, mengakui bahwa teorema Godel hanya berlaku untuk sistem formal. Tetapi, banyak orang tergoda untuk menerapkan Godel lebih luas. Apakah bisa?

Saya pikir bisa. Sistem formal adalah sub-sistem dari sistem lain pada umumnya. Atau, dengan kata lain, kita bisa menemukan sub-sistem dari setiap sistem, di mana, sub-sistem tersebut adalah sistem formal. Karena sub-sistem adalah paradoks maka sistem yang lebih besar pasti paradoks, dalam arti, memuat suatu paradoks. Hipotesis ini diperkuat oleh teorema Godel yang menyatakan bahwa paradoks bisa diselesaikan dengan menambahkan aksioma baru, yang pada gilirannya, menghasilkan paradoks baru yang berbeda.

Pada tahun 2022, Weber secara eksplisit memperluas paradoks pada seluruh sistem, teori, atau bahasa.

“… when you meet your friend at “noonish,” when you buy something that is just a little too expensive, when you remark that nothing your uncle says is true. . . . [The domain of inconsistent phenomena] is everywhere.” (NDPR). 

Validitas suatu bahasa hanya bisa dipastikan oleh bahasa. Paradoks. Bahasa me-validasi bahasa.

Alternatifnya, kita bisa me-validasi bahasa dengan meta-bahasa. Pada gilirannya, meta-bahasa itu sendiri perlu validasi. Dan, meta-bahasa adalah bahasa itu sendiri. Jadi, bahasa memang paradoks.

Alternatif lainnya adalah validasi bahasa dengan referensi, atau korespondensi, terhadap realitas alam raya. Barangkali, untuk bahasa sederhana misal penamaan meja, kursi, dan rumah bisa dengan referensi ke realitas. Tetapi, struktur bahasa – gramatikal, semantik, dan interpretasi – jauh lebih kaya dari sekedar penamaan realitas. Pendekatan referensi, atau korespondensi, tetap berhadapan dengan paradoks.

Demikian juga, untuk validasi setiap teori, kita membutuhkan meta-teori. Pada gilirannya, meta-teori itu sendiri perlu validasi. Dan, meta-teori adalah teori juga. Sehingga, setiap teori berhadapan dengan paradoks.

3. Banyak Paradoks

Untuk mengkaji sistem, atau mendesain sistem, kita perlu menjamin sistem tersebut konsisten dan lengkap – sampai kadar tertentu.

Lengkap. Pelajari secara lengkap setiap proposisi P atau (-P), negasi P.

Konsisten. Pastikan dalam sistem hanya salah satu P atau (-P) saja.

Alamiah. Tidak ada cara pasti untuk memastikan apakah P atau (-P) yang harus berlaku dalam sistem. Kita hanya bisa menentukan pilihan secara normatif. Jadi, sistem memang paradoks.

Pada awalnya, hanya ada satu proposisi paradoks, misal G. Memang, teorema Godel membuktikan eksistensi paradoks dari G ini secara teoritis. Tetapi, untuk menemukan G hanya bisa dilakukan secara mekanis, membutuhkan waktu dan energi yang besar. Sehingga, untuk membuktikan bahwa setiap sistem formal adalah paradoks, kita cukup menunjukkan dengan sebuah G saja. Apakah memang hanya ada satu paradoks yaitu G?

“… take almost any object; it is a borderline case of some vague predicate. Any red thing is a borderline case of some subcollection within the red things—e.g., the set of “red but also a bit yellowish orange” things. So the collection of objects that are φ and not φ for some closely related predicate is the entire total.” (NDPR). 

Hampir setiap obyek, setiap proposisi, setiap sistem adalah paradoks. Kita, umat manusia, bisa bersikap seakan-akan tidak ada paradoks. Atau, paradoks itu tidak signifikan atau tidak relevan.

Pada awalnya, matematika parakonsisten menerima satu paradoks, misal G. Kemudian, menjaga agar paradoks itu tidak “meledak”, agar tidak terjadi ECQ: Ex Contradictio Quotlibet, dari kontradiksi maka apa saja boleh. Syarat untuk inferensi adalah argumen harus relevan dengan kesimpulan. Karena itu, matematika parakonsisten dikenal juga sebagai matematika relevan. Dan, memang berhasil menjaga paradoks tidak “meledak”.

Tetapi, analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa paradoks itu tidak hanya satu, tidak hanya G saja. Di mana-mana banyak paradoks. Proposisi demi proposisi berpijak kepada paradoks. Kita memerlukan solusi lebih dari sekedar “lokalisasi” satu paradoks.

Sebelum sampai ke solusi, kita akan membahas dulu kebalikan dari paradoks: anti-paradoks.

4. Anti Paradoks

Paradoks adalah menerima eksistensi kontradiksi atau antinomi. Yaitu, menerima G sebagai benar dan (-G) negasi juga benar. Anti paradoks kebalikan dari paradoks, yaitu G sebagai tidak benar dan (-G) negasi G juga tidak benar.

Contoh anti paradoks,

G: Ada alien cerdas di Pluto.
(-G): Tidak ada alien cerdas di Pluto.

Ada “gap” pada G. Kita tidak bisa memastikan G sebagai benar. Bisa jadi G tidak benar. Demikian juga ada gap pada (-G). Bisa jadi (-G) tidak benar juga. Kita tidak bisa memastikan. Klaim kebenaran apa pun tidak ada masalah. Karena selalu ada gap. Memang anti paradoks.

Anti paradoks memberi seberkas solusi kepada paradoks.

5. Solusi Paradoks: Meraih Masa Depan

Tiba saatnya, kita untuk merumuskan solusi terhadap paradoks. Saya tuliskan ulang masalah yang kita hadapi sebagai konsekuensi dari paradoks.

Matematika itu bertabur kontradiksi. Logika itu bertabur paradoks. Pernyataan obyektif itu disusupi subyektif. Setiap denotasi didasarkan pada konotasi. Pernyataan deskriptif, pada analisis akhir, didasarkan pernyataan normatif.

Meski tulisan ini hanya membahas sebagian dari problem di atas, masing-masing dari kita bisa mengembangkan lebih jauh sesuai kebutuhan. Kita akan melompat ke arah beberapa alternatif solusi.

Solusi Meta Teori

Solusi meta-teori menyarankan agar kita menerima paradoks apa adanya. Setiap teori perlu validasi oleh meta-teori. Sedangkan, meta-teori itu sendiri juga teori. Paradoks sudah pasti terjadi maka kita terima apa adanya.

Dalam banyak kasus, paradoks hanya terdiri pada teori itu sendiri. Sementara, beragam proposisi dalam teori tidak paradoks. Sehingga, kita bisa bekerja dari proposisi ke proposisi. Paradoks ter-lokalisasi hanya pada proposisi tertentu. Paradoks pada teori tidak signifikan pada tataran operasional.

Saya menyebut solusi meta-teori ini sebagai berpijak kepada masa lalu, past.

Solusi Meta Perspektif

Solusi kedua adalah dengan meta-perspektif. Paradoks terjadi pada satu perspektif. Dengan meluaskan perspektif, kita bisa mengatasi paradoks tersebut. Hanya saja, kita perlu waspada bahwa kita terbatas dalam meluaskan perspektif. Maksudnya, tidak mungkin bagi kita untuk melihat teori lengkap dari seluruh perspektif. Pun, tidak mungkin bagi kita melihat teori tanpa perspektif.

Dengan memahami perspektif, kita terbuka terhadap dinamika keragaman perspektif.

Saya menyebut solusi meta-perspektif sebagai berpijak ke masa kini, present.

Solusi Futuristik

Sesuai namanya, solusi futuristik memberi peran besar ke future, masa depan. Paradoks terjadi akibat teori dan perspektif yang terbatas – memang terbatas. Solusi meta-teori dan meta-perspektif telah memberi jalan keluar namun tetap berhadapan dengan paradoks jenis baru. Solusi futuristik menerima solusi meta-teori mau pun meta-perspektif, untuk kemudian, dikembangkan untuk menyongsong masa depan. Atau, lebih tepat, sebaliknya. Future, masa depan, memberi arah bagi meta-teori untuk bergerak maju dan memberi meta-perspektif pilihan yang paling tepat. Mereka – masa lalu dan masa kini – bersatu membentang sampai masa depan. Sehingga, istilah yang lebih tepat bagi solusi futuristik adalah solusi ekstatik. Bagaimana pun, istilah futuristik memiliki kekuatan tersendiri.

Karakter dari futuristik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Futuristik membuka posibilitas baru, peluang baru, untuk mengembangkan teori-teori lebih maju atau penerapan-penerapan baru dari beragam teori. Futuristik memberi freedom kepada teori, atau saintis, untuk memilih arah pengembangan lebih lanjut. Dan, futuristik menuntut komitmen semua pihak guna mencapai perkembangan masa depan.

Meta-teori dan meta-perspektif adalah “penuh” sehingga memuat paradoks, ada G dan (-G). Sementara, futuristik adalah gap menuju masa depan sehingga anti-paradoks. Gap ini bisa kita sebut sebagai posibilitas.

Kita ambil contoh teori bilangan bulat positif dengan operasi dasar penjumlahan, mirip Peano Arithmetic (PA). Meta-teori, misal teorema Godel, menunjukkan bahwa PA memuat paradoks G. Meta-perspektif, misal teorema Cantor, menunjukkan bahwa PA mengandung padadoks H. Di mana (H): N < 2N dengan N adalah bilangan infinity pertama. Apa solusi futuristik?

Futuristik bertanya,” Ke arah mana kita akan mengembangkan teori?” Misal, kita akan mengembangkan teori informasi (matematika digital) maka futuristik fokus membuka posibilitas teori informasi dengan tetap mewaspadai G. Sehingga, teori informasi bisa terus berkembang dengan tetap terbuka adanya sandungan paradoks G atau konsekuensi dari G. Demikian juga, ketika kita hendak mengembangkan kalkulus (bilangan real), maka teori kalkulus bisa terus maju dan tetap waspada dengan resiko paradoks perspektif bilangan real terhadap bilangan bulat.

Untuk teori lebih umum, bukan sekedar matematika, kita bisa mengembangkan solusi futuristik dengan tetap mempertimbangkan meta-teori dan meta-perspektif.

Jadi, posibilitas baru apa yang terbuka untuk Anda?

Problem Filsafat Sains

Sains mencapai puncak kejayaan di jaman sekarang ini. Sains yang merambah ke teknologi, ekonomi, dan politik makin mengokohkan dominasinya. Apakah sains adalah solusi, atau problem, bagi kemanusiaan dan semesta?

Tentu saja, orang mudah mengira sains adalah solusi dari beragam problem. Di saat yang sama, sains memunculkan problem besar yang pelik. Apa solusi dari problem besar itu? Lebih awal, apa problem besar itu?

Dari beragam problem besar sains, yang berakar pada problem filsafat sains, saya memilih problem ontologika. Pertama, problem ontologi sains. Apa sejatinya sains? Sains adalah pengetahuan yang tidak otentik. Kedua, prinsip logika sains. Sains tidak bisa berpikir. Sains tidak bisa berpikir mendalam. Ketiga, aspek praktis sains. Sains tidak memiliki etika. Sains, bahkan, sering melanggar etika. Apakah serangan-serangan terhadap sains, seperti di atas, bisa dibenarkan?

1. Problem Ontologi
1.1 Sains Tidak Otentik
1.2 Mengapa Tidak Otentik
1.3 Entitas vs Being
1.4 Sains Eksistensial
2. Prinsip Logika
2.1 Konsep Kebenaran
2.2 Logika Klasik
2.3 Kausalitas
3. Aspek Praktis
3.1 Posibilitas
3.2 Freedom
3.3 Komitmen

Sains adalah segalanya. Sains adalah hakim dari segala perselisihan. Pandangan ini meng-klaim sains sebagai realitas paling fundamental secara ontologis. Klaim semacam ini memunculkan problem besar. Beberapa orang melakukan klaim eksplisit, misal, positivisme. Beberapa yang lain hanya klaim implisit. Kita perlu mengurai dengan jelas problem besar ini, untuk kemudian, mengusulkan beberapa solusi alternatif.

Prinsip logika sains tampak sudah jelas dengan sendirinya. Maksudnya, apa yang dinyatakan benar secara saintifik maka diterima sebagai kebenaran sejati. Lagi, klaim logika ini memunculkan banyak problem besar. Kita perlu mengurainya guna menemukan beragam solusi yang mungkin, terutama, dari perspektif filsafat sains.

Terakhir, apakah praktek sains sesuai dengan harapan? Kita terlibat dalam kajian etika di sini. Tetapi, kita hanya akan membatasi praktek sains yang lebih dekat ke filsafat sains saja. Sementara, dampak sains secara luas, kita akan kaji di tulisan yang berbeda.

1. Problem Ontologi

Ketika Newton (1643 – 1727) menulis Principia, dia menyebutnya sebagai filsafat-alam. Di jaman modern, saat ini, Principia adalah buku pegangan sains fisika dan matematika. Jadi, pada mulanya, sains adalah filsafat-alam. Sehingga, problem ontologis bisa ditangani oleh sains dari sudut pandang filsafat-alam. (Newton, 1)

Einstein (1879 – 1955) adalah saintis besar dunia yang merangkap sebagai filsuf sains. Dalam otobiografi Living-Philosopher, Einstein menjelaskan tantangan sains secara filosofis. Lagi, tidak ada problem ontologis serius bagi sains di saat itu. (Einstein, 2)

Situasi berubah pada pertengahan abad 20. Para saintis tampak tidak terlalu berminat mengkaji filsafat. Sains mulai menjaga jarak terhadap filsafat. Akibatnya, sains tidak mampu, dan tidak mau, membahas problem ontologis. Feyerabend (1924 – 1994) menengarai bahwa saintis saat itu tidak kalah cerdas dari Einstein mau pun Newton. Hanya saja, para saintis kurang mengkaji filsafat.

Dari sisi filsuf sendiri tidak mudah untuk bisa menembus, dan memahami, ontologi sains yang makin canggih. Sains bercabang menjadi ratusan cabang, dan ranting, yang masing-masing mengembangkan disiplin sains secara spesialis. Tidak akan ada seorang filsuf yang mampu mengkaji sains seluas dan sedalam itu.

Problem ontologis sains membesar, makin serius, dan makin parah. Apa ontologi sains? Mengapa sains hanya berstatus sebagai pengetahuan yang tidak otentik? Mengapa sains hanya mampu mendekati pengetahuan-ontic dan tidak mampu mengkaji pengetahuan ontologis?

Tidak ada saintis yang mampu, atau mau, membahas problem ontologi di atas secara mendalam. Kita akan mencoba mengkajinya, meski hanya sampai kedalaman tertentu, dan berharap akan ada kajian yang lebih dalam lagi.

1.1 Sains Tidak Otentik

Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf besar yang terang-terangan menuduh sains sebagai tidak otentik (rajeru). Lalu, jenis pengetahuan macam apa yang otentik (jeru)? Pengetahuan otentik adalah pengetahuan ontologis yang mengkaji question-of-being. Heidegger menetapkan dirinya sendiri untuk mengembangkan pengetahuan otentik dan, kemudian, menyebarkannya. (Heidegger, 3)

Memang tidak mudah untuk merespon tuduhan Heiddegger di atas. Sudah terkenal, tulisan Heidegger adalah kriptik, sulit sekali dipahami. Russell (1872 – 1970) tidak berani menanggapi Heidegger secara panjang lebar. Bahkan, ketika Russell menulis Histori Filosofi di tahun 1940an, Russell sama sekali tidak membahas Heidegger. Di kesempatan lain, Russell menyebut bahwa Heidegger adalah filsuf yang aneh, yang, memanfaatkan rasa gelisah untuk filsafat. Heidegger menanggapi bahwa ada filsuf yang malas berpikir.

Mario Bunge (1919 – 2020) menyebut bahwa filosofi Heidegger tidak berguna bagi sains. Atau, sains tidak bisa mengambil manfaat dari filosofi Heidegger. Carlo Rovelli (1956 – ) menyerukan untuk meninggalkan filosofi Heidegger. Sains perlu filosofi, tetapi, bukan filosofi Heidegger. Rovelli menyarankan sains untuk mengkaji filosofi Aristo atau Hegel.

Jadi, ketika, sains dituduh sebagai tidak otentik, apa respon saintis atau filsuf sains? Saya tidak menemukan respon memadai. Baru, pada abad 21, mulai ada respon yang memadai untuk memahami serangan Heidegger dan, kemudian, membela sains dalam perspektif tertentu.

1.2 Mengapa Tidak Otentik

Tentu saja, pernyataan bahwa “sains tidak otentik” adalah pernyataan negatif bahkan kasar. Tetapi, apakah Heidegger bermaksud kasar kepada sains dan teknologi? Bisa jadi. Atau, tidak otentik merupakan ungkapan netral saja?

Ungkapan yang netral, barangkali, adalah ontic: sains adalah pengetahuan-ontic. Sedangkan, pengetahuan otentik yang menjawab question-of-being adalah pengetahuan-ontologis. Dengan demikian, kita memiliki dua mode pengetahuan: ontic dan ontologis.

Dengan cara sedikit berbeda, kita bisa menyusun model persamaan pengetahuan.

sains = pengetahuan-ontic = tidak-otentik

ontologis = otentik = pengetahuan-ontic + question-of-being

Dari model di atas, sains adalah pengetahuan penting untuk meraih pengetahuan-otentik.

otentik = sains + question-of-being

Jadi, kita membutuhkan sains untuk menjadi otentik. Atau, lebih tepatnya, sains menjadi otentik dengan menambahkan question-of-being. Karena terbuka jalan lain, selain sains, untuk menjadi otentik. Misal seni, politik, agama, dan filsafat itu sendiri.

Mengapa sains tidak otentik? Karena tidak bertanya question-of-being. Jika saintis bertanya tentang question-of-being, maka, sains menjadi otentik. Sehingga, label tidak otentik, sekaligus, menunjukkan cara untuk menjadi otentik. Bukankah itu kontribusi penting filsafat?

“… Heidegger made significant contributions to philosophical understanding of the sciences, but that philosophy of science was at the center of his project and its development throughout his career.” (Rouse, 4).

Lalu, apa itu question-of-being?

1.3 Entitas vs Being

Kita menganggap segala sesuatu yang ada sebagai entitas: meja, pohon, komputer, elektron, bahkan jiwa kita. Entitas-entitas itu ada di alam raya. Apa makna-ada itu sendiri? Apakah makna-ada juga merupakan entitas? Kita tidak berhak berasumsi makna-ada sebagai entitas sebagai mana entitas lain. Kita perlu mengkaji question-of-being ini dengan cermat.

Sains menjadi pengetahuan-ontic, yang tidak otentik, lantaran hanya mengkaji entitas. Bahkan, sains itu sendiri merupakan entitas, yaitu entitas pengetahuan-ontic. Dengan mencermati asumsi-asumsi ini, kita akan menggeser sains menuju pengetahuan otentik.

“Heidegger thought that there are unexamined, erroneous presuppositions underlying any such conception of knowers as a special kind of entity (mind, consciousness, language-speaker, or rational agent), and of knowledge as a relation between entities, insisting that ‘‘we have no right to resort to dogmatic constructions and to apply just any idea of being and actuality to this entity [that we ourselves are], no matter how ‘self-evident’ that idea may be’’ (1953: 16). In posing the question of being (of what it means to be, or of the intelligibility of entities as entities), Heidegger sought to circumvent these unexamined assumptions about knowledge or consciousness, and engage in a more radical philosophical questioning. The ‘‘being’’ of an entity is its intelligibility as the entity it is. Heidegger’s point is that we should avoid assuming that the intelligibility of entities is itself an entity (such as a meaning, an appearance, a concept, or a thought).” (Rouse, 4).

Ke arah mana pun sains membuat kajian, sains akan berhadapan dengan entitas. Demikian juga, dalam pengamatan sehari-hari, kita menemui entitas-entitas belaka. Bagaimana kita bisa menemukan solusi terhadap question-of-being? Kita bisa menjawabnya dengan mengkaji dasein, yaitu, being yang mempertanyakan eksistensinya sendiri. Dasein adalah being yang care sebagai being-in-the-world.

“[Dasein] never finds itself otherwise than in the things themselves, and in fact in those things that daily surround it. It finds itself primarily and constantly in things because, tending them, distressed by them, it always in some way or other rests in things. Each one of us is what he pursues and cares for.” (Heidegger, 3).

Kita agar bisa mengetahui meja, di alam eksternal, perlu pengetahuan-awal wujud-meja, pengetahuan-awal tentang being-meja. Sehingga, pemahaman akan wujud-meja mendahului pengetahuan kita akan meja konkret yang ada di alam eksternal.

“Heidegger’s central claim in Being and Time was that any such understanding of entities presupposes an understanding of being. John Haugeland (1998) offers a useful analogy to unpack this seemingly obscure claim. One cannot encounter a rook as such without some grasp of the game of chess. In Heidegger’s terms, the ‘‘discovery’’ of chess entities (pieces, positions, moves, or situations) presupposes a prior ‘‘disclosure’’ of chess as the context in which they could make sense.” (Rouse, 4).

Barangkali, analogi permainan catur akan lebih mudah memahami pentingnya pengetahuan-awal being. Kita bisa mengetahui benteng-catur jika, di awal, kita sudah memahami aturan main catur. Catur dimainkan dalam bidang tersusun 64 persegi hitam putih. Benteng-catur bisa bergerak lurus vertikal atau horisontal dan sebagainya. Ketika, seekor kelelawar melihat benteng-catur, maka, kelelawar tersebut tidak akan memahami benteng-catur. Karena, kelelawar tidak memiliki pengetahuan-awal berupa aturan main catur. Begitu juga orang, misal bayi, yang tidak memahami pengetahuan-awal aturan main catur, maka, tidak akan bisa memahami benteng-catur.

Lalu, muncul pertanyaan di pikiran kita, “Bukankah pengetahuan-awal itu memerlukan pengetahuan-awal lain yang lebih awal lagi tanpa henti?”

Pertanyaan itu valid. Dan, itu termasuk question-of-being. Ketika sains bertanya, “Pengetahuan-awal apa yang diperlukan oleh sains?” maka sains bergerak menuju ke pengetahuan otentik. Dan, kita menduga setiap jawaban bagi pengetahuan-awal sains akan membutuhkan pengetahuan-awal yang lebih awal lagi. Bukankah memang seperti itu realitasnya? Pintu pengetahuan otentik sudah ada di depan sains. Kita perlu berpikir-terbuka untuk melanjutkan kajian.

Di kehidupan sehari-hari, dan sains, kita mampu memahami entitas dengan mudah saja. Kita tidak bertanya lebih jauh mengapa aturan catur dibuat seperti itu. Kita, justru, memanfaatkan aturan main catur itu untuk bermain catur. Demikian juga dalam sains. Kita tidak bertanya mengapa aturan sains seperti itu. Kita, justru, memanfaatkan aturan sains untuk mengkaji sains. Dalam hal ini, kita lebih mengutamakan manfaat entitas dari esensi entitas tersebut.

” What understanding, as an existentiale [an essential structure of our way of being], is competent over is not a ‘‘what,’’ but being as existing . . . . Dasein is not something occurrent which possesses its competence as an add-on; it is primarily being-possible. (Heidegger, 3).

Dengan mengkaji aturan sains dan manfaat sains, kita bergerak menuju sains otentik. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Sains hanya mengkaji entitas sains belaka. Sains membatasi diri hanya mengkaji sains obyektif, pengetahuan ontic. Mereka mengira, dari sains obyektif ini, kemudian, siapa saja bisa menambahkan nilai manfaat dan nilai subyektif sesuai konteks. Tidak bisa terjadi seperti itu. Akibatnya, kita menemukannya pada saat ini, sains menjadi tidak otentik.

1.4 Sains Eksistensial

Untuk menjadi sains otentik, kita perlu kajian eksistensial. Karakter dasar eksistensi sains adalah futural – menuju masa depan. Klaim sains sebagai menemukan fakta obyektif, yang eksis di masa kini dan masa lalu, adalah klaim tidak otentik. Klaim otentik perlu lebih kuat aspek futural. Meski pun, analisis lebih mendalam menunjukkan, karakter ekstase lebih tepat untuk menggambarkan sains otentik.

“An ‘‘existential’’ conception of science was called for because ‘‘sciences, as human comportments, have [Dasein’s] way of being’’ (1953: 11). Dasein’s way of being is future-oriented; it ‘‘presses forward into [its] possibilities,’’ and does so out of concern for its own being. Dasein’s most basic relation to itself is not self-consciousness, but care: Dasein is ‘‘the entity whose own being is at issue for it’’ (1953: 42), such that everything it does is understood in response to that issue.” (Rouse, 4).

Karena sains adalah futural maka sains adalah possibilitas – peluang terbuka. Sains membuka peluang baru untuk meraih masa depan yang lebih baik dengan memodifikasi masa kini dan memanfaatkan fakta masa lalu. Sains adalah freedom, kebebasan. Sains membebaskan umat manusia untuk memilih masa depan sesuai cita-cita terbaik mereka. Sains membebaskan alam raya untuk bergerak maju. Sains adalah komitmen. Sains menuntut, dan hasil dari, komitmen umat manusia terhadap masa depan.

Bukankah sains memang futural seperti itu? Tidak. Sebagian besar sains didominasi oleh metafisika present. Sains meng-klaim sebagai kebenaran masa kini, present. Dan klaim bahwa hanya sains yang membuka peluang masa depan. Mereka yang berbeda dengan sains tidak punya masa depan. Dengan cara ini, sains menjadi tidak otentik. Karena seluruh alam, sains dan bukan sains, sejatinya terbuka terhadap masa depan. Semua memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan dengan possibilitas yang sama.

Metafisika present juga bisa menekan kebebasan pihak lain. Apalagi ketika sains muncul dalam bentuk teknologi, kekuatan sains menyisihkan pihak-pihak lain. Mereka yang tidak tunduk kepada teknologi terpinggirkan. Mereka yang tunduk kepada teknologi, sama saja, dikendalikan oleh teknologi. Sains, dan teknologi, berhasil menaklukkan freedom.

Sains, yang didominasi metafisika present, juga tidak berkomitmen. Karena sains sudah benar, saat ini, buat apa komitmen? Padahal, sains tetap perlu komitmen dan sikap tanggung jawab terhadap masa depan.

Mari kita ringkas problem ontologi sains. Pertama, sains menjadi tidak otentik karena membatasi kajian hanya kepada pengetahuan ontic. Sains berfokus kepada kajian fakta obyektif masa lalu dan masa kini. Sains tidak akan berhasil meraih fakta masa lalu. Karena sains selalu terjebak di masa kini.

Kedua, sains bisa menjadi otentik dengan menambahkan kajian question-of-being yang bersikap terbuka terhadap masa depan – futural. Sains otentik terbuka kepada masa depan dengan membuka possibilitas baru, mengutamakan freedom, dan memegang komitmen.

Ketiga, sains, yang tidak otentik, tidak berhasil membuktikan klaim validitas mereka berdasar fakta masa lalu dan masa kini. Sebaliknya, sains otentik berpeluang berhasil membuktikan klaim validitasnya dengan fokus merujuk masa depan, dengan tetap mempertimbangkan masa lalu dan masa kini. Klaim validitas kebenaran ini menjadi kajian kita berikutnya: apakah sains bisa berpikir?

2. Prinsip Logika

Tugas utama logika adalah menentukan suatu proposisi sebagai benar atau salah. Mudah saja. Proses penentuan itu adalah proses berpikir. Tetapi, sains tidak bisa berpikir. Akibatnya, sains tidak logis. Apakah tuduhan semacam itu bisa dibenarkan?

Tuduhan bahwa sains tidak bisa berpikir adalah benar adanya, sejauh ini. Sains tidak berpikir karena sains hanya menerapkan prosedur berpikir atau prosedur kebenaran. Sementara, sains tidak menyelidiki apa itu berpikir dan apa itu klaim kebenaran. Sains menerima begitu saja asumsi bahwa sains sudah berpikir dan sudah benar.

Apakah sains, pada waktunya, akan bisa berpikir? Tentu saja. Kita akan membahasnya di bagian ini. Pertama, kita akan membahas konsep kebenaran. Sains mengasumsikan bahwa kebenaran bisa ditentukan dengan konsep korespondensi dan koherensi. Kita akan tunjukkan, sains memerlukan konsep kebenaran lebih dari itu agar bisa berpikir.

Kedua, kita akan membahas prinsip logika. Sains menerima prinsip logika identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara begitu saja. Agar sains bisa berpikir, sains perlu mempertimbangkan prinsip logika alternatif: difference, kontradiksi, dan konstruksi.

Ketiga, kita membahas hukum kausalitas. Segala sesuatu membutuhkan sebab. Segala sebab akan berdampak pada akibat. Sains menerima begitu saja prinsip kausalitas. Agar bisa berpikir, sains perlu mengajukan pertanyaan apa makna-kausalitas.

2.1 Konsep Kebenaran

Apa itu benar? Apa itu kebenaran? Bagaimana cara membuktikan kebenaran?

Korespondensi adalah konsep kebenaran paling mudah kita pahami. Suatu proposisi, atau kalimat, bernilai benar jika berkorespondensi dengan fakta empiris tertentu. “Molekul air adalah H2O” bernilai benar jika memang kita menemukan fakta empiris seperti itu. Sains menunjukkan terbukti benar bahwa molekul air memang H20. Sains menerima apa adanya konsep korespondensi ini, just given.

Popper (1902 – 1994) mengajukan konsep falsifikasi. Seribu verifikasi tidak mampu membuktikan bahwa suatu proposisi sains bernilai benar. Tetapi, hanya satu kali penolakan sudah cukup untuk menggugurkan suatu proposisi sains, falsifikasi sains.

Jika P maka E.

Jika proposisi P benar maka kita akan menemukan fakta empiris E yang berkorespondensi.

P: Molekul air adalah H2O.
E: Ditemukan fakta empiris bahwa molekul air adalah H2O.

Tetapi, kita tidak akan pernah berhasil membuktikan validitas klaim korespondensi di atas. Ketika kita menemukan E, maka, masih belum bisa memastikan P sebagai benar. Karena, di kesempatan lain, bisa saja E gagal. Justru, jika kita menemukan negasi E maka kita memastikan P sebagai salah.

Dengan demikian, kita tidak bisa membangun logika sains berdasarkan korespondensi. Bagaimana pun, konsep korespondensi tetap berguna dan penting. Terutama, untuk kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, koherensi adalah konsep kebenaran yang didasarkan pada konsistensi suatu proposisi. Suatu proposisi dinyatakan benar jika koheren, atau konsisten, dengan proposisi lain yang sudah diterima sebagai benar. Teori matematika dan bahasa banyak memanfaatkan konsep koherensi ini.

P: Bilangan 6 adalah genap.

Karena 6 : 2 = 3 maka P koheren dengan aksioma dasar, sehingga, P bernilai benar.

Q: Kecepatan benda yang jatuh bebas setelah 2 detik adalah 20 satuan.

Pernyataan Q bernilai benar karena koheren dengan teori Newton. Kecepatan adalah hasil kali percepatan gravitasi dengan waktu = g x t = 10 x 2 = 20 satuan.

Kita bisa mengajukan keberatan terhadap koherensi. Mengapa teori Newton dianggap benar? Karena terbukti secara matematis. Mengapa dianggap benar? Karena dari teori matematis terbukti secara empiris. Mengapa dianggap benar? Kita akan sampai pada suatu titik, di mana, tidak ada lagi acuan yang kuat sebagai dasar jawaban. Konsep koherensi untuk sains patut diragukan.

Pukulan keras terhadap konsep koherensi adalah teorema Godel di awal abad 20. Godel berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal pasti tidak konsisten atau tidak lengkap. Padahal, sains membutuhkan keduanya: konsisten dan lengkap.

Lalu, apa alternatif yang tersedia? Ketika kita mengajukan pertanyaan tersebut, tentang konsep kebenaran, kita sedang mengajak sains untuk berpikir. Jadi, sains bisa berpikir. Benar. Sains memang bisa berpikir dengan mengajukan pertanyaan apa makna-kebenaran.

Orang bisa berdalih bahwa sains tidak bisa berpikir tetapi saintis yang bisa berpikir. Tentu saja, dalih semacam itu boleh-boleh saja. Tetapi, maksud sains tidak bisa berpikir adalah termasuk saintis tidak bisa berpikir. Ketika saintis hanya menerapkan prosedur berpikir, maka, saintis tersebut memang tidak bisa berpikir. Sebaliknya, ketika saintis mengajukan pertanyaan apa makna-kebenaran maka saintis bisa berpikir. Konsekuensinya, sains juga bisa berpikir.

Alternatif Korespondensi Koherensi

Jadi, apa makna-kebenaran? Apa alternatif dari korespondensi dan koherensi?

Alternatif yang umum adalah konvensi, konsensus, demokrasi, voting, dissensus, dan pragmatis.

Konvensi adalah kebenaran didasarkan pada kesepakatan. Dissensus adalah kebenaran yang menerima perbedaan pendapat masing-masing pihak. Sementara, voting menyelesaikan perbedaan pendapat dengan memilih suara terbanyak. Terakhir, pragmatis menetapkan kriteria kebenaran adalah manfaat pragmatis dari suatu proposisi.

Pada analisis akhir, semua alternatif di atas akan kembali kepada korespondensi dan kohorensi. Bagaimana pun, semua proses berpikir ini sudah berhasil mengajak sains untuk berpikir. Adakah proses berpikir yang lebih radikal? Memang ada.

Konsep kebenaran sebagai disclosedness, opening, alethia, keterbukaan, ketersingkapan, atau binuka. Semua istilah ini bermakna sama atau mirip. Kebenaran adalah keterbukaan atau binuka.

Binuka: benar adalah terbukanya makna-being.

Untuk memahami binuka, kita perlu mengacu makna-being berkarakter futural – meski lebih tepat sebagai ekstase future, past, dan present. Kriteria kebenaran adalah masa depan. Fakta obyektif masa lalu dan masa kini adalah modal untuk menentukan masa depan. Atau, sebaliknya lebih tepat. Masa depan adalah penentu kebenaran. Dari visi masa depan, sains mengumpulkan fakta obyektif masa lalu dan memodifikasi masa kini. Dengan proses ini, sains mampu berpikir dan menemukan kebenaran otentik.

Bagaimana cara menentukan kebenaran masa depan? Dengan cara berpikir. Masa depan tidak bisa ditentukan oleh apa pun. Masa depan adalah possibilitas. Masa depan adalah freedom. Masa depan adalah komitmen. Jadi, kita hanya bisa menentukan masa depan dengan berpikir. Sains hanya bisa menetapkan masa depan dengan berpikir. Lebih tepatnya, dengan berpikir-terbuka. Tujuan kita, memang, mengajak sains untuk berpikir terbuka.

2.2 Logika Klasik

Sains menerima tiga prinsip logika klasik: identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara. Jika sains hanya menerima logika-klasik ini maka sains tidak bisa berpikir. Karena, sains hanya menjalani prosedur berpikir. Sebaliknya, agar sains bisa berpikir, sains perlu memikirkan logika alternatif yang saya sebut sebagai logika dinamik: difference, kontradiksi, dan konstruksi.

Identitas vs Difference

Prinsip identitas menyatakan bahwa A adalah A. Misal, meja adalah meja. Proposisi, atau inferensi, dinyatakan benar jika memenuhi prinsip identitas.

P = 2 + 3
Q = 1 + 4

Kita bisa menyatakan bahwa P adalah Q karena, pada analisis akhir, P = 5 dan Q = 5. Memenuhi prinsip identitas. Barangkali Anda ingat ketika belajar identitas trigonometri? Beragam pernyataan yang berbeda, kemudian, diolah sampai akhirnya semua pernyataan adalah identik.

Prinsip difference berkebalikan dengan prinsip identitas. Meja adalah kebalikan dari seluruh yang bukan meja. Perhatikan ada meja, kursi, lantai, dan atap. Meja adalah yang bukan kursi, bukan lantai, dan bukan atap. Dengan demikian, bukankah sama saja? Antara prinsip difference dengan prinsip identitas? Sangat berbeda.

Prinsip identitas hanya membutuhkan meja untuk mengatakan meja adalah meja. Sedangkan, prinsip difference membutuhkan kursi, lantai, dan atap untuk menyatakan bahwa meja bukan kursi, bukan lantai, dan bukan atap. Prinsip identitas menyatakan bahwa dirinya sendiri sudah cukup menyatakan logika kebenaran. Prinsip difference membutuhkan pihak lain, lebih banyak pihak lain, untuk menyatakan logika kebenaran.

Sains bisa saja mengatakan bahwa sains adalah benar berdasarkan sains. Selaras dengan prinsip identitas. Tetapi, prinsip difference menolak klaim sains di atas. Sains tidak bisa klaim kebenaran hanya berdasar internal sains. Sains perlu mempertimbangkan yang bukan sains, misal seni, filsafat, agama, dan lain-lain. Paling bagus, klaim sains hanya bisa menyatakan bahwa sains berbeda dengan yang bukan sains. Sains berbeda dengan seni, berbeda dengan filsafat, dan berbeda dengan agama. Sehingga, sains perlu berpikir-terbuka.

Lalu, mana yang lebih benar antara prinsip identitas atau difference? Anda perlu berpikir untuk memutuskannya. Dan, sains memang bisa berpikir ketika mempertimbangkan keduanya.

Non-Kontradiksi

Prinsip kedua dari logika klasik adalah non-kontradiksi. Tidak mungkin ada kontradiksi. Atau, kontradiksi harus ditolak. Sementara, prinsip logika dinamik justru terbuka terhadap kontradiksi.

Kita ambil contoh tentang bilangan asli yang terdiri dari bilangan genap dan ganjil. Bilangan 3 adalah ganjil. Tidak mungkin 3 sebagai genap. Jika ada pernyataan “Bilangan 3 adalah genap” maka kontradiksi dan harus ditolak. Prinsip non-kontradiksi ini tampak jelas dengan sendirinya. Lalu, mengapa kita perlu mempertimbangkan kontradiksi bisa terjadi?

Prinsip non-kontradiksi memandang obyek sebagai obyek asbtrak misal bilangan 3. Obyek abstrak, misal bilangan 3, seakan-akan konstan. Tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Di mana pun, kapan pun, bilangan 3 tetap bilangan 3, tidak berubah. Atau, obyek abstrak berada di luar ruang dan waktu. Tetapi, apakah ada obyek abstrak seperti itu?

Hegel (1770 – 1831) dalah pemikir besar pertama yang mengokohkan prinsip kontradiksi, melawan non-kontradiksi. Ketika kita menyatakan bilangan 3, maka, kita merujuk eksistensi bilangan 3 apa adanya. Sesaat kemudian, esensi bilangan 3 akan langsung berkontradiksi dengan eksistensi bilangan 3. Terjadi proses dialektika, akibat dari kontradiksi eksistensi dengan esensi, menghasilkan becoming bilangan 3. Dan, proses dialektika kontradiksi ini berlangsung terus-menerus. Karena, becoming adalah eksistensi dalam status yang baru. Pada gilirannya, berkontradiksi dengan esensi.

Sartre (1905 – 1980) mengembangkan prinsip kontradiksi lebih jauh lagi. Being-in-itself memang menolak kontradiksi dengan kembali kepada identitas: meja adalah meja. Sedangkan, being-for-itself justru selalu berkontradiksi dengan dirinya sendiri, misal kesadaran manusia. “Saya bukanlah saya yang seperti ini.” “Saya bukan karyawan yang seperti ini.” Ketika saya berubah menjadi karyawan dengan status baru, kesadaran sadar lagi, “Saya bukan karyawan yang seperti ini.” Orang bisa saja menerima identitas, “Saya adalah seperti ini.” Keyakinan seperti itu adalah bad-faith, mengubah kesadaran bagaikan “meja”. Manusia sejati, terus-menerus, berubah karena kontradiksi, “Saya bukan seperti ini.”

Dalam realitas selalu terjadi kontradiksi antara eksistensi dan esensi. Dalam pikiran, bukan realitas konkret, kita bisa membayangkan hanya ada esensi, misal obyek abstrak bilangan 3, sehingga non-kontradiksi. Lalu, sains harus memilih kontradiksi atau non-kontradiksi? Atau, kombinasi di antara keduanya? Hanya proses berpikir-terbuka yang akan memutuskannya. Sains, memang, perlu berpikir-terbuka. Terbukti, sains bisa berpikir-terbuka.

Antara vs Konstruksi

Hukum-antara adalah prinsip ketiga dari logika klasik. Hanya ada satu pilihan antara benar atau tidak-benar. Tidak ada pilihan ketiga. Atau, pernyataan “P atau negasi P” pasti bernilai benar.

Dalam contoh bilangan asli, “Genap atau tidak genap” pasti bernilai benar. Bilangan 3 adalah tidak genap maka pernyataan benar. Bilangan 6 adalah genap maka pernyataan benar.

Prinsip konstruksi berbeda dengan hukum-antara dalam prinsip. Pernyataan “P atau negasi P” tidak bisa dipastikan nilai kebenarannya. Kita hanya bisa memastikan nilai kebenaran jika berhasil mengkonstruksi, empiris atau konseptual, salah satu di antara “P” atau “negasi P”.

Mari kita ambil contoh agar lebih mudah memahami. Pernyataan L: Lampu lalu lintas antara menyala atau tidak menyala. Bagi hukum-antara, pernyataan L selalu benar. Tampak masuk akal karena lampu bisa menyala atau tidak menyala. Bagi prinsip-konstruksi, kita masih belum bisa memastikan nilai kebenaran. Karena, bisa saja lampu lalu lintas sudah tidak ada lagi – misal dicuri oleh pencuri. Sehingga, tidak relevan lagi antara menyala atau tidak.

M: Ada makhluk cerdas atau tidak ada makhluk cerdas di planet Mars.

Bagi hukum-antara, M selalu benar. Bagi prinsip-konstruksi, kita perlu memastikan dulu untuk mengujinya. Prinsip-konstruksi memang membatasi sains hanya kepada pernyataan-pernyataan yang relevan. Tetapi, ada kalanya, kita perlu lebih berani berpikir spekulasi.

Jadi, sampai di sini, apakah sains tidak bisa berpikir? Apakah sains tidak logis? Sains memang tidak bisa berpikir, tidak logis, jika sains membatasi diri hanya menerapkan logika-klasik. Sains hanya akan menjalankan prosedur berpikir. Tetapi, sains jelas bisa berpikir ketika mempertimbangkan logika-klasik dan logika dinamik. Sains berpikir-terbuka dengan mimilih pada konteks mana saja menerapkan logika klasik dan pada konteks yang lain menerapkan logika-dinamik.

2.3 Kausalitas

Sains menjadi tidak bisa berpikir ketika memastikan hukum kausalitas berlaku apa adanya. Sains menjadi bisa berpikir ketika bertanya apa makna-kausalitas.

Hume (1711 – 1776) pemikir besar pertama yang berhasil menggoyahkan konsep kausalitas. Apakah kausalitas memang ada? Apakah kita bisa membuktikan kausalitas? Jika tidak ada kausalitas, maka, apa alternatifnya?

Pertama, mari kita coba jawab apa alternatif dari kausalitas. (1) Atomisme alam raya. Seluruh alam raya ini terdiri dari sistem atom-atom yang diskrit secara waktu. Misal detik-1 bersesuaian dengan frame-1 alam raya dan detik-2 bersesuaian dengan frame-2. Karena berurutan, kita mengira frame-1 adalah sebab bagi frame-2. Tetapi, sesuai atomisme, tidak ada kausalitas. Frame-1 dan frame-2 saling mandiri. Jeda waktu antar frame bisa dibuat mendekati 0 sehingga terkesan kontinyu.

(2) Spontan. Terjadi beberapa kejadian spontan tanpa ada sebab. Misal, pikiran manusia bisa memikirkan sesuatu di luar dugaan tanpa sebab. Atau, sistem chaos bisa memunculkan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya. Atau, seniman tiba-tiba muncul inspirasi. Kejadian spontan ini tanpa sebab apa pun. Jika kejadian spontan ini digabungkan dengan sistem deterministik kompleks maka kausalitas menjadi sirna.

(3) Kausalitas tanpa konsistensi. Gaya gravitasi menjadi sebab buah jambu jatuh menuju bumi di malam kemarin. Tetapi, beberapa tahun ke depan, beberapa abad ke depan, beberapa milenium ke depan, apakah gaya gravitasi tetap konsisten menjadi sebab buah jambu jatuh ke bumi? Bisa jadi, tidak ada lagi gaya gravitasi, misalnya. Ditambah lagi, tidak ada sebab yang menjadikan gravitasi tetap konsisten. Atau, tidak ada jaminan bahwa gravitasi tetap konsisten di masa depan.

Kedua, seandainya tiga alternatif di atas atau alternatif lainnya benar, sehingga kausalitas gugur, tetap saja, pikiran manusia membutuhkan konsep kausalitas. Terlepas status ontologis hukum kausalitas, pikiran kita tetap membutuhkan kausalitas.

Apakah kausalitas bisa dibuktikan? Sulit sekali. Karena setiap pembuktian memerlukan konsep kausalitas. Apakah kausalitas bisa dibuktikan sebagai tidak ada? Sulit sekali. Karena, seandainya ada bukti bahwa kausalitas tidak eksis maka justru bukti itu menunjukkan kausalitas eksis.

Ketiga, penting bagi kita untuk bertanya, “Apa makna-kausalitas?”

Jika sains memaknai kausalitas dengan suatu makna, maka, apakah ada makna yang lain? Jika ada lebih dari satu makna-kausalitas, maka, sains memilih makna yang mana? Atau, sains bisa mengkombinasikan beragam makna? Pertanyaan terhadap makna-kausalitas ini mendorong sains bisa berpikir. Sains, memang, bisa berpikir secara mendalam.

Makna umum kausalitas adalah masa lalu menjadi sebab bagi masa kini. Dan, masa kini menjadi sebab bagi masa depan. Karena sains bisa mengklaim mengetahui masa lalu maka sains paling berhak menentukan masa kini. Pada gilirannya, karena sains paling mengetahui masa kini maka sains yang paling mengetahui masa depan. Sejarah masa lalu, sejak terjadi big bang sampai masa depan alam raya hancur, sains memiliki pengetahuan itu semua. Makna kausalitas seperti itu berasumsi kausalitas sebagai determinisme.

Makna alternatif dari kausalitas menerima adanya ketidak-pastian. Ada aspek probabilitas dan in-determinisme dalam kausalitas. Fisika quantum, dan relativitas, mengakui beberapa aspek tidak-pasti dari sains. Sementara, sains sosial humaniora lebih leluasa menerima aspek tidak-pasti dari suatu pengetahuan. Dengan makna kausalitas yang lebih lentur seperti ini, mendorong sains lebih terbuka dalam berpikir dan bersikap.

Makna alternatif kausalitas yang lebih radikal adalah memandang future menjadi sebab bagi present dan past. Kita sudah membahas, di atas, bahwa makna-being berkarakter futural – masa depan. Future adalah sebab bagi semua gerak perubahan. Future menarik masa lalu dan masa kini untuk menuju masa depan. Jadi, sains masa depan yang menyebabkan sains masa lalu dan sains masa kini bergerak lebih maju.

Apa itu sains masa depan? Sains masa depan adalah possibilitas yang terbuka luas. Ada banyak sains masa depan dalam jumlah tak terbatas. Kita akan memilih yang mana? Untuk menjawabnya, kita berhadapan dengan problem etika yang menjadi pembahasan selanjutnya.

3. Aspek Praktis

Sains tidak bermoral. Sains tidak beretika. Karena, sains mengklaim sebagai pengetahuan obyektif, justru, berakibat tidak bermoral.

Jika sains adalah obyektif, maka, bukankah sains menjadi netral? Dari aspek praktis, sains tidak bisa netral. Atau, sulit sekali untuk netral. Klaim sains sebagai netral hanya bisa dilakukan berdasar data masa kini dan data masa lalu. Sementara, kita tidak akan bisa memperoleh data lengkap dari masa kini dan masa lalu.

Data masa lalu terbatas oleh kemampuan kita untuk akses mundur ke belakang. Sementara, setiap data masa lalu perlu didukung oleh data yang lebih awal tanpa henti. Sedangkan untuk melengkapi data masa kini, kita terbatas oleh perspektif. Kita hanya mampu akses data dengan perspektif terbatas. Tidak mungkin, kita bisa akses dari seluruh perspektif. Sebaliknya juga tidak bisa. Kita tidak bisa akses data tanpa perspektif.

Alternatif yang tersisa adalah melihat sains masa depan. Semua penilaian kita terhadap sains didasarkan pada data di masa depan. Demikian juga, penilaian kita tentang moralitas sains perlu didasarkan pada aspek masa depan. Kosekuensisinya, sains menjadi berpikir-terbuka. Tidak ada klaim dogmatis terhadap sains masa depan. Sains masa depan adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Tentu, pilihan masa depan tidak bisa netral. Karena, masa depan bukanlah fakta obyektif yang netral.

Masa depan mana yang akan kita jadikan referensi sains?

3.1 Posibilitas

Sains masa depan adalah posibilitas, peluang, terbukanya sains-sains baru penuh harapan. Secara etika, sains juga perlu memberi peluang kepada pihak lain untuk tumbuh berkembang, memberi posibilitas.

Teori relativitas Einstein, misalnya, membuka posibilitas baru dengan kemampuan mengubah massa materi menjadi energi. Di masa depan, pengembangan energi ini akan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Sehingga, pengembangan teori relativitas di masa kini mendapat justifikasi. Ditambah dengan data penemuan-penemuan sains masa lalu, maka, menjadi lebih lengkap.

Di sisi lain, orang berniat membuat senjata pembunuh massal untuk beberapa tahun ke depan. Pengembangan sains saat ini, untuk mendukung senjata pembunuh massal menyalahi etika. Kita perlu menolaknya. Para saintis perlu menolaknya.

Tentu saja, di banyak kasus, pengembangan sains masa depan akan terjadi pro-kontra. Alternatif mana yang akan kita pilih? Sains perlu berpikir-terbuka untuk memilih alternatif yang etis. Yaitu, pilihan yang membuka posibilitas luas bagi umat manusia dan semesta. Sains memang ber-etika.

3.2 Freedom

Sains menjadi etis dengan mengembangkan freedom, kebebasan, bagi umat manusia mau pun alam raya. Hakikat ilmu adalah kebebasan dan membebaskan. Demikian juga, hakikat sains adalah freedom.

Sains masa depan menjadi bermoral ketika membebaskan wong cilik dari kebodohan dan kemiskinan. Sains, masa kini, menjadi etis ketika bertujuan membebaskan umat dan alam raya.

Dan, seperti biasa, orang bisa meragukan apakah sains benar-benar akan membebaskan umat di masa depan? Bisa diperdebatkan. Kita memang perlu berpikir-terbuka dan komitmen kuat untuk memilih keputusan tepat.

3.3 Komitmen

Masa depan adalah komitmen. Sains masa depan adalah komitmen itu sendiri.

Ketika sains sudah menetapkan posibilitas dan freedom, selanjutnya, diperlukan komitmen. Pengalaman menunjukkan, freedom tidak datang begitu saja. Kita perlu berjuang untuk meraih freedom – memperjuangkan kemerdekaan. Komitmen adalah segalanya.

Sains menjadi etis dengan komitmen yang kuat terhadap posibilitas dan freedom.

Catatan Penutup

Di bagian penutup ini, saya mencatat tiga poin penting terkait probem filsafat sains: konfirmasi, koreksi, dan komitmen.

Pertama, konfirmasi. Benar adanya bahwa sains tidak otentik. Sains tidak bisa berpikir. Dan, sains tidak etis. Meski demikian, karakter-karakter di atas bukanlah karakter asli dari sains. Sehingga, sejatinya, sains bisa berubah menjadi lebih baik.

Kedua, koreksi. Sains mampu mengoreksi diri. Sains bisa berubah dari tidak otentik menjadi otentik dengan cara bertanya question-of-being. Sains berubah dari tidak bisa berpikir menjadi bisa berpikir dengan bertanya makna-kebenaran, mempertimbangkan logika-klasik dan logika dinamik, serta bertanya tentang makna-kausalitas.

Ketiga, komitmen. Sains menjadi bermoral dengan komitmen tinggi kepada posibilitas dan freedom bagi umat manusia dan alam raya.

Referensi

1) Newton, Isaac. 1846. Mathematical Principal of Natural Philosophy. New York, Dadiel Adee 45 Liberty Street.

2) Einstein, Albert. 1949. Philosopher-Scientist. Evanston, Library of Living Philosophers.

3) Heidegger, Martin. 1962. Being and Time. Oxford, Blackwell Publisher.

4) Rouse, Joseph. 2005. Continental Philosophy of Science. UK, Blackwell Publisher.

5) Suhrawardi, Shihab Al-Din. 2000. Philosophy of Illumination. Brigham Young University.

6) Shadra, Mulla. 2001. Kearifan Puncak. Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset.

7) Russell, Bertrand. 1912. The Problems of Philosophy. New York, Henry Holt and Company.

8) Arabi, Ibn and Chittick, William. 1998. The Self-disclosure of God. State University of New York Press.

9) Arabi, Ibnu. 2018. Al-Futuhat Al-Makkiyyah. Yogyakarta, Darul Futuhat.

10) Mahzar, Armahedi. 2004. Revolusi Integralisme Islam. Bandung, Mizan.

11) Mahayana, Dimitri. 1999. Menjemput Masa Depan. Bandung, PT Remaja Rosdakarya.

12) Derrida, Jacques. 2016. Heidegger: The Question of Being & History. The University of Chicago Press.

13) Nggermanto, Agus. 2001. Quantum Quotient. Bandung, Nuansa Cendekia.

14) Hegel, Georg. 1873. The Logic of Hegel. Oxford, The Clarendon Press.

15) Rovelli, Carlo. 2018. Reality is Not What it Seem. Riverhead Books.

Ontologi Matematika Fiksional

Matematika adalah ontologi fundamental. Dengan nilai kebenaran yang eksak, matematika sebagai ontologi memberi kepastian filosofi. Sehingga, kita menilai kebenaran suatu pernyataan atau teori dengan meyakinkan. Benarkah demikian?

Kita bisa bertanya, “Apa, sejatinya, obyek dari matematika?” Misal, bilangan atau angka 3, sejatinya apa itu angka 3? Meski pun, kita bisa memastikan nilai kebenaran operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3, tetapi, tidak mudah untuk memahami apa makna angka 3 itu sendiri.

1. Ontologi
2. Platonisme
3. Fiksionalisme

Pertama, kita akan mengkaji klaim bahwa matematika adalah ontologi dan, sebaliknya, ontologi adalah matematika. Selanjutnya, kedua dan ketiga, kita akan membandingkan Platonisme dan fiksionalisme dalam filosofi matematika. Platonisme meyakini bahwa obyek matematika, misal angka 3, sebagai benar-benar ada. Sehingga, Platonisme adalah realisme matematika. Sebaliknya, fiksionalisme memandang bahwa obyek matematika, misal angka 3, hanya fiksional atau tidak nyata.

1. Ontologi

Badiou (1937) meng-klaim bahwa ontologi adalah matematika dan matematika adalah ontologi. Atau, matematika adalah ontologi fundamental. Dengan demikian, matematika adalah fundamental dari seluruh eksistensi, esensi, realitas, dan kebenaran itu sendiri. Meski pun klaim matematika sebagai ontologi bisa kita runut mundur sampai era Plato, Pythagoras, bahkan Thales, tetapi baru Badiou melakukan klaim secara eksplisit di akhir abad 20.


2. Platonisme
3. Fiksionalisme

Krisis Sains Metafisika

Sains, pada analisis akhir, adalah narasi. Tetapi, sains meng-klaim dirinya adalah meta-narasi. Sebuah narasi yang paling kuat di antara narasi-narasi lainnya. Sehingga, sains dianggap sebagai penentu akhir nilai kebenaran. Lyotard (1924 – 1998) menolak meta-narasi: runtuhkan meta-narasi! Hanya ada narasi-narasi kecil.

Di sisi lain, Feynman (1918 – 1988) menyatakan bahwa filsafat tidak penting, metafisika tidak penting. “Kebutuhan sains kepada filsafat seperti kebutuhan seekor burung terhadap ilmu perburungan.” Lebih jauh, Hawking (1942 – 2018) menyatakan, “Filsafat sudah mati.”

Memang ada masalah besar antara sains dengan filsafat metafisika. Ada krisis antara sains dengan metafisika. Selamanya, akan selalu ada masalah, sejauh, manusia terus berpikir. Bagaimana solusi dari masalah-masalah itu?

1. Sains Obyektif
2. Narasi Sains
3. Metafora Metafisika
4. Nothing
5. Question of Being
6. Analisis Akhir

Question of Being: Apa Makna Ada?

Apa makna dari being? Apa makna dari ada? Maksud dari ada itu apa?

Mungkin pertanyaan makna-being adalah sangat abstrak. Tapi, justru, bisa sebaliknya. Makna-being adalah paling konkret, paling nyata. Karena segala sesuatu harus ada agar punya makna. Segala sesuatu adalah being itu sendiri.

Pertanyaan adalah segalanya. Meski, kita mencari jawaban dari suatu pertanyaan, tetapi, pertanyaan baru selalu bisa datang lagi. Justru, pertanyaan itu perlu.

1. Pertanyaan Makna-Ada
2. Destruksi Metafisika
3. Rekonstruksi Tanpa Henti
3.1 Histori
3.2 Bahasa
3.3 Politik Bahasa
3.4 Cerita
3.5 Irreducible
4. Metafora Fisika: Metafisika
4.1 Bahasa Being
4.2 Bentukan Manusia
4.3 Krono-Logika
4.4 Awal Bahasa
4.5 Revisi Dugaan Awal
4.6 Being Lebih Original
4.7 Bahasa Metafora
4.8 Pra Bahasa
4.9 Peran Penting Metafisika
5. Hakikat Manusia Dasein
5.1 Mengapa Dasein
5.2 Being History
5.3 Sejarah Hegel
5.4 Sejarah Husserl
5.5 Being Seutuhnya
5.6 Dominasi Present
5.7 Metafisika Present
5.8 Kehabisan Nafas
5.9 Sikap Otentik
5.10 Meruntuhkan Sejarah
5.11 Dasein Lalu Subyek
5.12 Oto-Transmisi
5.13 Histori Otentik
5.14 Keteguhan
5.15 Freedom
5.16 Teknologi Modifikasi
5.17 Repetisi
5.18 Enigma
5.19 Etika
5.20 Sejarah Dunia
5.21 Sejarah Sains
5.22 Being Melebihi Dasein
5.23 Time and Being
5.24 Being Secara Umum
5.25 Time
5.26 Determinasi Dia
5.27 Appropriation
5.28 Metafisika Lagi
5.29 Tataluma
5.30 Urip Iku Urup
5.31 Relativitas Einstein
6. Metafisika Infinity Absolut
6.1 Rumah-Being: Bahasa Matematika
6.2 Infinity Infinity
6.3 Void Absolut
7. Aktualisasi Being
7.1 Wong Jawani: Binatang Vs Malaikat
7.2 Nama-Nama
7.3 Aktualisasi
7.4 Evolusi
7.5 Sejarah Masa Depan

Pertama yang harus dilakukan adalah destruksi metafisika agar seseorang bisa bertanya apa makna-ada. Karena, metafisika meng-klaim memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Metafisika bisa berupa ajaran filsafat atau ajaran agama atau ajaran tradisi. Kedua, dengan destruksi, kita jadi tahu apa yang harus ditanyakan dan bagaimana proses menemukan jawaban. Ketiga, jika Anda merasa tidak perlu untuk “bertanya makna-ada” maka, sebaiknya, Anda berusaha membangkitkan hasrat untuk bertanya tersebut.

Pertanyaan dan jawaban adalah milik masing-masing orang. Tentu saja, manusia bekerja sama untuk saling belajar dan mengajar. Manusia adalah makhluk natural, sosial, dan political. Di saat yang sama, masing-masing manusia terus bertumbuh. Sehingga, setiap masa dan setiap ruang memiliki pertanyaan dan jawabannya sendiri. Meski demikian, pertanyaan makna-ada, question-of-being akan menuntut kajian ontologi fundamental. Kita akan membahasnya secara bertahap.

1. Pertanyaan Makna-Ada

Pertanyaan apa makna-ada, apa makna-being, bukanlah pertanyaan ontologi seperti biasa. Bukan pula pertanyaan metafisika. Istilah ontologi tidak memadai di sini.

“I, Derrida, say: the question of Being and not ontology, because the word ontology is going to appear more and more inadequate, as we follow Heidegger’s tracks, to designate what is in question in his work when the question is that of being. Not only is Heidegger not here undertaking the foundation of an ontology, not even of a new ontology, nor even of an ontology in a radically new sense, not even, in fact, the foundation of anything at all, in any sense at all — what is at issue here is rather a Destruction of ontology.”

Tugas kita, di sini, justru destruksi-ontologi. Merobohkan ontologi. Meruntuhkan ontologi beserta histori ontologi. Tidak menggantinya dengan ontologi-baru. Tidak juga menggantinya dengan ontologi yang lebih radikal. Lalu, untuk apa?

Agar kita bisa bertanya apa makna-ada. Kita perlu hati-hati. Kata “apa” dalam “apa makna-ada” bisa salah arah. Karena “apa” biasa merujuk ke suatu obyek tertentu. Sementara, makna-ada belum bisa kita pastikan merujuk ke suatu obyek tertentu. Sehingga, kita bisa saja mengganti pertanyaan makna-ada menjadi: “Siapa makna-ada?” “Mengapa makna-ada?” “Bagaimana makna-ada?” atau lainnya.

Demikian juga dengan kata “makna” dalam kata “makna-ada” bisa salah arah. Seakan-akan, “ada” memiliki “makna” tertentu yang berbeda dengan penampakan yang “ada”. Kita belum bisa memastikan, sampai di sini, apakah ada “makna” seperti itu. Kita, justru, sedang menanyakan, “Apa makna-ada?”

Pemilihan kata dan kalimat tanya, seperti di atas, adalah sekedar alat bantu untuk mengarahkan penyelidikan filosofis kita. Bagaimana pun, pemilihan kata ini menimbulkan kerumitan tersendiri. Kita perlu menanganinya sepanjang kajian.

Bagaimana pun, pertanyaan makna-ada, atau question-of-being lebih fundamental dari ontologi.

2. Destruksi Metafisika

Saya lebih cocok menggunakan istilah destruksi metafisika. Tetapi, Derrida dan Heidegger menggunakan istilah destruksi ontologi. Sehingga, kita akan menggunakan istilah destruksi ontologi di berbagai tempat.

“We understand this task as the destruction of the traditional content of ancient ontology which is to be carried out along the guidelines of the question of being [literally: taking the question of being as guiding thread : am Leitfaden der Seinsfrage]. This destruction is based upon the original experiences in which the first, and subsequently guiding, determinations of being were gained.” (Heidegger)

Kita perlu memberi beberapa catatan tentang destruksi.

Pertama, destruksi bukan pembuangan, bukan penolakan, dan bukan pembungkaman. Bahkan, destruksi bukan merupakan suatu persaingan dengan mengalahkan yang lain. Destruksi, sama sekali bukan penolakan.

Kedua, destruksi bukan refutasi, bukan penolakan ontologi. Karena, refutasi ontologi sama artinya dengan memenangkan ontologi yang lain. Justru, tugas destruksi adalah meruntuhkan semua ontologi itu.

Ketiga, destruksi bukan dialektika atau sintesa. Tesis berlawanan dengan anti-tesis kemudian menghasilkan sintesis. Destruksi bukan sintesis seperti itu.

Keempat, destruksi bukan kritik. Destruksi tidak mengoreksi berbagai kesalahan ontologi, untuk kemudian, memunculkan ontologi yang lebih benar.

Kelima, destruksi bukan metode. Karena, metode justru termasuk obyek destruksi itu sendiri. Tidak ada metode baku untuk bisa melakukan destruksi.

“It is a destruction — that is, a deconstruction, a destructuration, the shaking that is necessary to bring out the structures, the strata, the system of deposits. As Heidegger said in the passage from a moment ago, sedimentations of the ontological tradition — sedimentations that have, according to a certain necessity, always covered over the naked question of being — covered over a nudity that in fact never unveiled itself as such.” (Derrida).

Destruksi adalah dekonstruksi. Sebuah gempa dahsyat, goyangan besar, yang menyingkapkan struktur tersembunyi, strata tersembunyi, dan sistem pegumpulan kekayaan yang keji.

Tradisi sepanjang sejarah telah menumpuk beragam konstruksi sosial dan natural yang menyembunyikan beragam pertanyaan paling penting, “Apa makna semua yang ada?” Destruksi mengungkap kembali, “Apa makna kamu jadi pejabat?” Apakah agar kamu bisa mengumpulkan kekayaan? Apakah agar kamu bisa berbuat semena-mena? Apakah agar kamu bisa foya-foya menikmati dunia? Atau, apakah, dengan menjadi pejabat membuat kamu bisa lebih berkhidmat kepada rakyat?

Destruksi memunculkan pertanyaan,”Apa makna kamu jadi pemimpin agama?” Apakah agar dihormati umat? Apakah agar bisa mengumpulkan dana umat? Apakah agar kamu bisa menindas umat? Ataukah, sebagai pemimpin agama, menjadikan kamu lebih bisa berkhidmat kepada umat?

Destruksi bertanya,”Apa makna semua pencitraan ini?” Apakah agar kamu terlihat seperti orang yang baik, bermoral, sempurna? Apakah untuk memikat hati rakyat agar memilihmu ketika pemilu? Ataukah untuk menipu diri sendiri?

Destruksi adalah sebuah gempa dahysat, goyangan besar, untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar. Lalu, apa solusinya? Pertanyaan tentang solusi, seperti itu, adalah pertanyaan besar.

Destruksi seiring sejalan dengan pertanyaan “apa makna-ada?” atau “the question of being.” Pertanyaan ontologi ini lebih fundamental dari ontologi itu sendiri. Sehingga, kita bisa menyebutnya sebagai ontologi fundamental: apa makna-ada?

Berikut, tiga pertimbangan mengapa pertanyaan lebih fundamental dari ontologi.

Ontologi regional dan ontic. Masing-masing regional memiliki ontologinya sendiri. Fisika mengasumsikan materi fisik dalam ruang waktu yang menjadi kajiannya. Biologi mengasumsikan adanya makhluk hidup sebagai kajian utama. Filsafat fokus kepada metafisika misalnya. Ekonomi mengasumsikan kehidupan sosial saling jual-beli sebagai kajian. Agama mengasumsikan nara sumber suci sebagai pegangan ontologi. Psikologi mengasumsikan jiwa manusia bisa dikaji.

Kita perhatikan ontologi regional, seperti di atas, memiliki batasannya masing-masing. Kita memerlukan question-of-being yang meliputi semua tetapi bukan gabungan abstrak dari mereka. Lagi pula, ontologi regional beresiko menjadi timbunan pengetahuan-ontic, yaitu, klaim kebenaran hanya berdasar asumsi internal saja. Kita membutuhkan ontologi-fundamental, “Apa makna-ada?”

Berpikir-terbuka bukan konsep. Berpikir tentang being, berpikir tentang-ada, bukanlah berpikir tentang konsep being. Berpikir adalah berpikir-terbuka yang merupakan being itu sendiri. Berpikir-terbuka mengijinkan being membuka diri, mengijinkan alam raya membuka diri, dan mengijinkan diri manusia membuka diri. “Apa makna semua yang ada?”

Esensi Eksistensi. Sejak era Aristoteles, kita membedakan antara esensi dan eksistensi. Perdebatan filosofis di Timur maupun di Barat terjadi. Mana lebih utama antara esensi dan eksistensi? Tetapi, ontologi fundamental bergerak lebih fundamental dengan mengajukan pertanyaan, ketika, being belum bercabang dua sebagai esensi dan eksistensi: “Apa makna-ada?”

Question-of-being memandu kita untuk berpikir truth-of-being atau being-sejati. Berpegang kepada ontologi, tidak lagi memadai.

“It tries to reach back into the essential ground from
which thought concerning the truth of being emerges. By initiating another inquiry this thinking is already removed from the “ontology” [in quotes] of metaphysics (even that of Kant). “Ontology” itself, however, whether transcendental or precritical, is subject to critique, not because it thinks the being of beings and in so doing reduces being to a concept, but because it does not think the truth of being and so fails to recognize that there is a thinking more rigorous than conceptual thinking.” (Heidegger).

Berpikir being-sejati telah dihapus dari ontologi metafisika. Kita perlu berpikir kembali being-sejati itu sebagai fundamental ontologi. Dalam dirinya sendiri, ontologi transendental mau pun precritical adalah subyek dari kritik. Bukan saja karena ontologi membahas being-of-being sebagai konsep. Tetapi, karena ontologi tidak berpikir being-sejati yaitu tidak berpikir yang lebih kokoh.

3. Rekonstruksi Tanpa Henti

Bagaimana pun kita perlu konstruksi. Sehingga, setelah destruksi, kita perlu rekonstruksi. Bagi Derrida, dia memilih dekonstruksi yang di dalamnya tercermin proses destruksi sekaligus rekonstruksi.

Being meng-konstruksi sejarah. Dan, sejarah meng-konstruksi being. Ada hubungan timbal balik antara being dan histori. Adakah yang lebih dominan dari keduanya? Hubungan seperti apa antara keduanya? Apakah kita bisa membahas keduanya secara mandiri?

Destruksi meruntuhkan ontologi dengan question-of-being. Selanjutnya, setelah runtuh, kita perlu membangun kembali, rekonstruksi being dan histori. Kita mengkaji histori, di sini, sebagai upaya awal rekonstruksi yang tiada henti.

3.1 Histori

“Humanism, subjectivity and metaphysics are indissociable, as Heidegger will show later, and ultimately, on this view, Marx, in his concept of labor, however profound the penetration of historicity allowed by it, remained an inheritor of Hegelian metaphysics, in the form of the subjectivizing voluntarism we were speaking of last time, and ultimately of a humanist anthropologism. To free oneself from it and truly think labor (and therefore history) outside the horizon of Hegelian metaphysics, it would have been necessary to think the essence of technology sheltered and hidden in this notion of labor.” (Derrida).

Marx mengira bahwa tenaga kerja, buruh, adalah penentu arahnya sejarah. Buruh, sebagai subyek yang bebas, menggalang kekuatan mengukir sejarah. Dengan sudut pandang ini, Marx merupakan pewaris dari metafisika Hegel. Akibatnya, corak pemikiran mereka adalah humanist antropologist. Untuk bisa membebaskan diri dari metafisika Hegel, seseorang perlu berpikir esensi teknologi, yang, menunggangi dan bersembunyi pada ide buruh.

Kita mengakui peran teknologi begitu besar di abad 20 dan, apa lagi, abad 21 yang serba digital. Apakah di jaman kuno, teknologi juga berperan? Apakah di jaman Plato, teknologi itu penting? Apakah di jaman Ibn Sina, masyarakat perlu teknologi? Tentu saja, mereka tidak membutuhkan teknologi digital seperti yang ada sekarang. Apakah teknologi digital, yang sekarang merebak di mana-mana, bisa diganti dengan teknologi baru di masa depan? Misal, oleh teknologi quantum? Meski teknologi berubah, tetapi esensinya sama. Esensi teknologi tetap berperan besar di seluruh sejarah umat manusia. Esensi teknologi, bukan teknologi itu sendiri.

Esensi teknologi adalah enframing. Teknologi mengendalikan being. Teknologi menyembunyikan being tertentu, dan, memunculkan being yang lain. Teknologi adalah truth-of-being itu sendiri yang, esensinya, justru dilupakan banyak orang. Agar Marx bisa memikirkan histori dengan lebih radikal maka perlu bergeser dari fokus buruh ke fokus teknologi. Lebih tepatnya, fokus ke esensi teknologi sebagai enframing.

Tetapi, benarkah teknologi paling menentukan arahnya sejarah? Bukankah hingar-bingar politik lebih berpengaruh terhadap sejarah? Bukankah kerakusan ekonomi sebagai sumber goncangan sejarah? Dan, bukankah semua itu dipengaruhi oleh bahasa?

Meskipun teknologi mengarahkan arah sejarah, kita akan mencermati peran bahasa lebih awal, di bagian ini. Karena, peran bahasa bisa lebih besar dari lainnya.

3.2 Bahasa

Dari mana kita akan mulai kajian?

Tidak mungkin dari titik nol. Karena, titik nol memang tidak akan ke mana-mana. Memang problematis.

Descartes terkenal dengan cogito, yaitu, dengan meragukan segalanya. Sampai akhirnya, dia yakin, “Aku berpikir maka aku ada.” Bagaimana pun, Descartes mengalami kesulitan untuk membuktikan eksistensi alam eksternal. Tersedia banyak argumen untuk membuktikannya. Di saat yang sama, selalu tersedia argumen tandingan yang seimbang.

Husserl terkenal dengan fenomenologi yang mengijinkan obyek hadir apa adanya dalam kesadaran manusia. Sementara, segala prasangka yang ada kita tunda sejenak agar kita bisa mencermati obyek apa adanya. Fenomenologi membuka banyak cakrawala baru secara filosofis, termasuk, berkembangnya eksistensialisme. Dalam fenomenologi, peran subyek-transendent begitu kuat. Sehingga, fenomenologi lebih dekat ke humanis antropologis.

Tentu saja, seseorang bisa mulai kajian dengan klaim otoritas metafisika. Ada kebenaran mutlak yang jadi pegangan mereka. Cara ini tidak bisa dibenarkan karena metafisika sudah runtuh dengan destruksi metafisika. Demikian juga, ontologi runtuh dengan destruksi ontologi. Kita, saat ini, hendak rekonstruksi. Kita sudah menyebutkan di atas, destruksi adalah goncangan dashyat yang meruntuhkan struktur, sedemikian hingga, kebenaran yang tersembunyi bisa menampilkan diri.

Heidegger mengusulkan dasein sebagai being-in-the-world. Being sudah selalu hadir dalam dunia. Tidak ada being sendirian di ruang hampa. Tidak ada, misal, muncul satu manusia sendiri di ruang hampa, tanpa udara, tanpa cahaya, tanpa semesta. Jadi, being niscaya dalam dunia. Pengertian dunia bisa saja beragam: dunia fisik, dunia kerja, dunia olah raga, dunia seni, dunia bahasa, dan sebagainya.

Manusia adalah anggota dunia sebagai mana semesta lainnya. Manusia dan dunia setara, termasuk semesta. Meski demikian, masing-masing being memiliki keunikan tersendiri. Manusia, misalnya, adalah dasein yaitu being yang mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri.

Selanjutnya, tugas manusia di dalam dunia adalah menginterpretasikan dunia. Pertama, melakukan destruksi terhadap dunia berbekal interpretasi awal. Kedua, melakukan rekonstruksi terhadap dunia dengan interpretasi baru.

Dengan mempertimbangkan dasein sebagai being-in-the-world maka peran bahasa sangat besar. Dunia bahasa adalah yang paling berpengaruh terhadap sejarah dan being. Sehingga, manusia, diri kita, perlu men-dekonstruksi bahasa. Bahasa adalah rumah being. Rumah di mana kita bisa menemukan being. Di saat yang sama, rumah bisa menyembunyikan isi dalam rumahnya. Dekonstruksi mengantarkan kita ke truth-of-being.

3.3 Politik Bahasa

Makin menarik bila kita mengkaji dunia politik dihubungkan dengan dunia bahasa. Keduanya saling berpengaruh dengan kuat. Pada akhirnya, atau sejak awal, menciptakan sejarah.

Sedikit kita ambil contoh di tahun 2022, ketika saya menulis tulisan ini. Beberapa pejabat Indonesia menyatakan bahwa tahun 2023 akan terjadi krisis ekonomi dunia. Akibatnya, akan terjadi krisis pula di Indonesia.

Bahasa politik jenis apakah yang seperti itu?

Pertama, bahasa politik seperti di atas bersifat futural, masa depan. Sehingga, kita bisa melakukan antisipasi dengan bahasa futural. Barangkali, kita bisa bersama-sama mencegah agar tidak terjadi krisis di tahun 2023. Atau, setidaknya, kita bisa menyiapkan mitigasi, seandainya, tetap terjadi krisis.

Kedua, bagi pejabat, bahasa politik di atas bisa dijadikan dalih faith-accompli. Maksudnya, krisis di Indonesia pada tahun 2023 itu pasti terjadi. Meski pun para pejabat sudah melakukan antisipasi, tetap saja, krisis terjadi. Jika pejabat tidak melakukan antisipasi, juga sama, krisis tetap terjadi. Pejabat tidak bisa disalahkan. Krisis terjadi akibat dari krisis dunia 2023, yang, di luar tanggung jawab kita.

Ketiga, pandangan kritis Faisal Basri perlu kita cermati. Faisal tampaknya setuju saja bahwa 2023 akan terjadi krisis ekonomi dunia. Tetapi, berdasar pengalaman masa lalu, pengaruh krisis dunia relatif kecil terhadap Indonesia, misal krisis 2008. Sehingga, Indonesia tetap bertanggung jawab terhadap terjadi krisis atau tidak di tahun 2023. Kita tidak bisa menyalahkan krisis dunia 2023. Apalagi, menjadikan mereka sebagai biang keladi krisis Indonesia. Kita perhatikan, begitu besar pengaruh bahasa politik. Bila ditambahkan bumbu “cerita” maka akan makin mempesona.

3.4 Cerita

Setiap orang mudah memahami cerita. Sehingga, question-of-being menjadi lebih mudah dipahami dalam bentuk cerita. Kita tahu, banyak penulis mengungkapkan ide-ide dalam bentuk cerita. Apakah cerita menjadikan makna-being lebih jelas? Atau, membuat lebih kabur makna-being?

“Now, what is it to tell stories? To tell stories is to ignore this difference and confuse the Gefragtes and the Befragtes, it is to ignore the Erfragtes, it is to assimilate being and beings, that is, to determine the origin of beings qua beings on the basis of another being. It is to reply to the question “what is the being of beings?” by appealing to another being supposed to be its cause or origin. It is to close the opening and to suppress the question of the meaning of being. Which does not mean that every ontic explication in itself comes down to telling stories; when the sciences determine causalities, legalities that order the relations between beings, when theology explains the totality of beings on the basis of creation or the ordering brought about by a supreme being, they are not necessarily telling stories. They “tell stories” when they want to pass their discourse off as the reply to the question of the meaning of being or when, incidentally, they refuse this question all seriousness. When the sciences or theology or metaphysics say, “We’re dealing with beings, with the beings in this region or beings in their totality or beingness without needing to pose the question of the truth of being,” then these discourses are content to tell stories, and those who speak them refuse to pose the question of knowing what they are talking about and to make explicit the meaning of their language.” (Derrida).

Pertama, cerita atau metafora memang mengaburkan makna-being. Dalam cerita, kita tidak bisa membedakan inti-cerita-ontic dengan inti-cerita-ontologi. Ontic adalah konsep jelas yang terkandung dari suatu cerita. Ontic bukan makna-being yang kita selidiki. Kita, sejatinya, sedang menyelidiki makna-ontologi. Suatu cerita bisa mengklaim sebagai gabungan ontic dan ontologi.

Kedua, cerita adalah cara efektif untuk mengantarkan penyelidikan question-of-being. Ketika makna-ontic datang pertama kali, maka, ijinkan makna-being lebih dalam membuka diri. Makna-being ini, yang lebih mendalam, adalah makna-ontologi yang sedang kita selidiki. Makna-ontic bisa kita tetapkan di awal, tetapi, makna-ontologi membuka diri dengan caranya sendiri yang kreatif.

Ketiga, cerita yang kita maksud di atas bisa berupa metafisika, mitologi, agama, sains, ideologi, dan lain-lain.

3.5 Irreducible

Sampai di sini, kita berhadapan dengan fakta “irreducible” atau tak-tereduksi. Antara being, histori, dan bahasa tidak bisa saling mereduksi. Being tidak bisa mereduksi histori agar menjadi bagian being. Histori tidak bisa mereduksi bahasa agar menjadi bagiannya. Sebaliknya, juga tidak bisa.

Sehingga, kita memiliki tanggung jawab untuk rekonstruksi ketika melakukan reduksi. Karena, jelas, reduksi tidak adil terhadap banyak pihak. Dan, kita perlu senantiasa berpikir-terbuka untuk membuka segalanya.

Question-of-being mengarahkan kita melakukan kajian melalui dekonstruksi. Untuk bisa “bertanya” maka kita perlu sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan. Kita perlu pengetahuan-awal, untuk kemudian, bisa mengajukan pertanyaan. Orang bisa berargumen bahwa pengetahuan-awal itu sendiri membutuhkan pengetahuan-lebih-awal tanpa henti. Meski, hal tersebut bisa terjadi, kita tetap bisa berhenti pada pengetahuan-awal tertentu, untuk kemudian, mengajukan question-of-being. Lalu, terjadi dekonstruksi.

Mari kita ringkas apa yang kita diskusikan sejauh ini.

1) Question-of-being menjadi panduan untuk mengkaji being lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terbuka. Ontologi fundamental.

2) Destruksi merupakan suatu keharusan untuk mengungkapkan struktur horisontal berbagai pihak. Karena itu, saya kadang menyebut destruksi sebagai horisontalisasi atau horisoni.

3) Rekonstruksi adalah tanggung jawab. Tersedia beberapa pilihan rekonstruksi being: histori, bahasa, dan teknologi.

Secara bertahap kita akan membahas lebih detil.

4. Metafora Fisika: Metafisika

Question-of-being, yang paling penting, menjamin dua hal.

1) Pengetahuan-awal atau faktum. Untuk bisa bertanya, kita harus memiliki faktum. Dan, setiap orang selalu memiliki faktum. Lebih jauh, faktum ini pun dalam rupa bahasa.

2) Pertanyaan itu sendiri adalah “kita”. Jadi, kita bertanya tentang kita. Manusia adalah being yang mempertanyakan being dirinya sendiri: dasein. Dan, pertanyaan oleh dasein tentang dasein itu juga dalam rupa bahasa.

Faktum adalah pengetahuan-ontic. Sementara, kita sedang menyelidiki pengetahuan-ontologis. Karena itu, question-of-being mengarahkan kita dari ontic ke ontologis. Tetapi, selalu terdapat perbedaan antara ontic dan ontologis: ontological-difference. Perbedaan ini menjamin selalu ada posibility untuk bergerak mendekati.

Sedangkan dasein, akan menjadi pembahasan utama kita kali ini. Dasein tinggal di rumah being yaitu bahasa.

4.1 Bahasa Being

Kita perlu membedakan bahasa menjadi dua: bahasa-formal dan bahasa-being.

1) Bahasa-formal adalah bahasa yang seperti biasa kita gunakan. Bahasa-formal memiliki struktur formal sehingga kita bisa memahami maksud dari suatu bahasa. Dalam bahasa-formal, kita bisa melakukan penyelidikan logika. Dan, bahasa formal merujuk realitas-ontic tertentu.

2) Bahasa-being adalah bahasa yang merupakan rumah-being. Bahasa-being adalah tempat manusia-ontologis lahir dan bertumbuh. Bahasa-being yang mendorong munculnya formula question-of-being, misal, “Siapakah saya?”

“No, we are not just dealing with such a formal logical schema. But to pass beyond logical and discursive formality here, we have to take into consideration the fact that we are dealing with the question of being and that this question of being is not a question among others, a question coming, as an example, to illustrate the general formal structure of the question in general.” (Derrida)

Kita perlu melangkah lebih jauh dari bahasa-formal menuju bahasa-being. Kesulitan muncul karena bahasa-being memang bahasa-formal itu sendiri dalam rupa peran yang unik. Sementara, semua pemahaman kita tentang bahasa, umumnya, adalah bahasa-formal. Jika kita bermaksud mendefinisikan bahasa-being maka kita akan mengubah bahasa-being menjadi bahasa-formal.

Ketika ada orang keberatan dengan eksistensi bahasa-being, kemudian, mereka meminta penjelasan tentang bahasa-being secara gamblang, maka, mereka hanya bisa menemukan bahasa-formal belaka. Seseorang perlu berpikir-terbuka untuk mengenali eksistensi bahasa-being, dengan mengenali question-of-being, dan berakibat horisoni ontologi.

“But from the moment that the question of being is recognized and one sees that it is no longer a sample among others of this formal structure of the question in general, then everything changes.” (Derrida).

Momen ketika bahasa-being itu hadir menjadikan segalanya berubah. Dalam momen ini, kajian question-of-being menjadi terbuka. Sebuah momen unik yang hanya dialami oleh manusia-ontologis, wong jawani.

Kita bisa mencermati binatang, misal srigala. Mereka memanfaatkan bahasa-formal untuk koordinasi berburu mangsa. Srigala menggunakan bahasa-formal untuk menggiring anak-anaknya makan dan bermain. Mereka juga menggunakan bahasa-formal untuk saling merayu.

Tetapi, kita tidak menemukan tanda-tanda bahwa srigala menggunakan bahasa-being. Kita tidak menemukan srigala bertanya tentang question-of-being.

Demikian juga, kita bisa mencermati masa kanak-kanak anak manusia. Mereka menggunakan bahasa-formal dengan kreatif. Anak-anak mampu merangkai kata-kata baru, bahkan, tanpa contoh sebelumnya. Anak-anak juga mampu memahami kata-kata baru hanya dari penggunaannya saja. Tanpa harus ada definisi di awal. Anak-anak benar-benar kreatif menggunakan bahasa-formal. Bagaimana pun bahasa anak-anak adalah bahasa-formal belum menggunakan bahasa-being.

Anak-anak beranjak remaja, beranjak dewasa. Di antara mereka ada yang mengajukan pertanyaan, “Siapakah saya?” Question-of-being mengundang anak remaja itu menjadi manusia sejati, wong jawani, dasein otentik. Beberapa di antara anak-anak itu, kemudian, menjalani hidup sebagai manusia ontologis. Sebagian anak-anak yang lain menutup pintu question-of-being itu dengan tumpukan besar metafisika. Pintu tertutup rapat. Tidak ada lagi pertanyaan ontologis. Semua jawaban telah tersedia dengan jelas dan tegas. Semua jawaban dijamin oleh metafisika.

Sewaktu-waktu, setiap anak manusia, tetap bisa mengajukan question-of-being. Dan, membuka lagi pintu rumah-ontologi, rumah-being.

4.2 Bentukan Manusia

Kita bisa menduga bahwa manusia “menciptakan” bahasa untuk komunikasi. Bahasa adalah bentukan oleh manusia. Untuk bahasa-formal, barangkali, memang bentukan oleh manusia. Bagaimana dengan bahasa-being?

Bahasa adalah yang “membentuk” manusia. Anda dibentuk oleh bahasa. Anda dipoles oleh bahasa. Anda menjadi manusia karena bahasa. Manusia diciptakan oleh bahasa melalui proses sejarah. Justru, dengan demikian, manusia terbebas dari ikatan alam-ontic. Manusia terbebas dari tanah, darah, dan daging. Manusia eksis dan tinggal di rumah-being bahasa.

Memang badan kita terdiri oleh tulang, daging, dan kulit. Setiap hari, kita makan tumbuhan atau daging. Setiap saat, kita menghela nafas, menghirup udara oksigen, nitrogen, carbon dioksida, dan lain-lain. Tetapi, manusia terbebas dari itu semua. Manusia transenden dari alam-ontic itu. Manusia menjadi manusia karena hembusan bahasa.

“The nearness [ . . . ] este as language itself. But language is not mere speech, insofar as we represent the latter at best as the unity of phoneme (or written character), melody, rhythm, and meaning (or sense). We think of the phoneme and written character as a verbal body for language (Wortleib), of melody and rhythm as its soul, and whatever has to do with meaning as its spirit. We usually think of language as corresponding to the essence of the human being represented as [Husserl] animal rationale, that is, as the unity of body- soul- spirit. But just as ek- sistence — and through it the relation of the truth of being to the human being — remains veiled in the humanitas of homo animalis, so does the metaphysical- animal explanation of language cover up the seinsgeschichtliches Wesen, the essence of language in the history of being. (Pathmarks, 273– 74) (Heidegger)

Bahasa adalah rumah being. Tentu saja maksud bahasa di sini bukanlah bahasa yang terdiri dari suara, nada, dan makna. Umumnya, bahasa dipandang sebagai karakter spesial manusia. Pasangan selarasnya suara adalah badan, nada adalah jiwa, dan makna adalah ruh. Manusia adalah makhluk yang berbahasa. Tetapi, jika eksistensi manusia tetap tersembunyi, maka demikian juga, penjelasan metafisika bahasa masih menyembunyikan hakikat bahasa sebagai sejarah being.

“According to this essence [historico- ontological], language is the house of being, which is propriated by being and pervaded by being. And so it is proper to think the essence of language from its correspondence to being and indeed as this correspondence, that is, as the Behausung [shelter, habitation] of the human being’s essence. But the human being is not only a living creature who possesses language along with other capacities. Rather, language is the house of being in which the human being ek- sists (ek- sistiert) by dwelling, in that he belongs to the truth of being, guarding it. (Pathmarks, 254) (Heidegger).

Hakikat manusia tinggal di rumah-being bahasa. Manusia eksis sebagai truth-of-being dengan menjaga dan dijaga oleh bahasa, rumah-being. Tentu saja, manusia bukan hanya bahasa. Manusia tetap merupakan struktur kompleks unsur natural, kultural, dan spiritual, yang memiliki rumah-being yaitu bahasa.

4.3 Krono-Logika

Sudah sewajarnya, kita berpikir secara kronologis dan logis. Sementara, pembahasan kita mengenai being, bahasa, dan manusia adalah lebih fundamental dari logika itu sendiri. Bagaimana pun, di bagian ini, saya akan memberi ilustrasi logis yang, sejatinya, tidak benar. Ilustrasi logis ini, meski salah, barangkali bisa memudahkan pemahaman.

(1) Being ===> (2) Bahasa ===> (3) Manusia

Manusia adalah urutan terakhir. Manusia adalah kondisi-posible untuk terciptanya bahasa. Maksudnya, hanya manusia yang memungkinkan bahasa menjadi eksis. Tentu saja, sebelum seorang anak bisa berbahasa, bahasa sudah eksis sejak era nenek moyangnya.

Kita bisa mundur ke jaman manusia pertama hadir di dunia ini. Bahasa sudah hadir lebih awal dalam bentuk simbol-simbol alam raya. Burung-burung bernyanyi dengan nada-nada simbolis. Orangutan berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Selanjutnya, manusia pertama di dunia memandang alam sekitar. Terpapar oleh beragam simbol, bahasa-bahasa formal. Manusia mencoba menerapkan bahasa dalam hidupnya. Dan, dimulailah, kehidupan manusia bersama bahasa.

Bahasa adalah posisi tengah. Bahasa adalah kondisi-posible bagi being untuk eksis. Hanya bahasa yang memungkinkan being eksis, aktual, sebagai being. Tanpa bahasa, being tidak bisa dibedakan dengan “a being” mau pun “beings”.

Being posisi paling awal. Being adalah yang paling dekat dengan dirinya. Di saat yang sama, being adalah yang paling jauh dari dirinya. Demikian juga bahasa. Bahasa adalah yang paling dekat dan sekaligus paling jauh dengan bahasa itu sendiri. Karena, bahasa adalah manifestasi aktual dari being.

Secara kronologis, berdasar uraian di atas, being adalah paling awal sebagai basis bahasa. Kemudian, bahasa adalah basis dari manusia.

Tetapi, orang bisa menyusun kronologi dengan urutan sebaliknya. Manusia adalah yang paling utama. Kemudian, manusia berkomunikasi dengan menciptakan bahasa. Pada akhirnya, komunikasi antar manusia menghasilkan budaya berupa being-being baru: rumah, mobil, komputer, dan lain-lain.

Dua skenario kronologis di atas, membantu kita memahami peran penting being, bahasa, dan manusia. Seperti sudah kita sebutkan, analisis logis di atas adalah tidak sah. Karena, kita sedang mengkaji ontologi fundamental yaitu question-of-being, di mana, logika baru bisa dibahas, setelah itu, lebih akhir.

Bahasa adalah rumah-being merupakan metafora untuk mendeskripsikan ontologi fundamental – tidak secara kronologis. Being tinggal di rumah-being yaitu bahasa. Dengan bahasa, being membedakan diri dengan “a being” mau pun “being”. Sehingga, tercipta ruang ontological-difference. Tanpa bahasa, ontological-difference runtuh.

Manusia-sejati tinggal di rumah-being, bahasa, dengan menjaga dan dijaga olehnya. Manusia menemukan being-sejati, truth-of-being, di rumahnya. Bahasa bersifat historal. Demikian juga manusia dan being, sama-sama, historal.

Di mana “posisi” Tuhan dalam kajian di atas. Tuhan-sejati meliputi segalanya. Tetapi, tuhan-metafisika memang tidak ada dalam kajian di atas. Sejak awal, metafisika sudah runtuh. Dan, kita sedang rekonstruksi truth-of-being atau being sejati.

4.4 Awal Bahasa

Bagaimana proses awal terbentuknya bahasa? Dugaan kita, pertama, bahasa adalah tanda-tanda. Yaitu, manusia menandai beragam benda dengan nama-nama tertentu. Kedua, tata-bahasa, yaitu dari beragam nama-nama tersusun struktur bahasa tertentu yang menghasilkan makna khusus. Struktur tata-bahasa ini sendiri tidak ada di alam materi. Struktur bahasa ada dalam pikiran manusia. Ketiga, abstraksi, mengembangkan bahasa-bahasa abstrak yang murni terbebas dari alam materi itu sendiri. Benarkah demikian? Kita akan mengkaji lebih dalam.

Di sini, kita akan mengikuti Derrida yang mengacu ke Renan.

“(1) At its birth language was as complete as the human thought it then represented, which means that there is no pre- cession of thought over language; language is not an instrument that adapts itself more or less well by running after a thought that is already formed.”

Sejak awal, bahasa sudah lengkap sebagaimana pikiran manusia. Sehingga, tidak ada pikiran yang mendahului bahasa. Bahasa bukan hasil dari pikiran.

” (2) “Sound psychology” guiding “the state of languages” attributes a major role to sensation in the origin of language. Which means that the primitive language knew nothing of abstraction, and whereas the grammatical system of ancient language contains, says Renan, “the highest metaphysics,” one sees everywhere in its words a material conception become the symbol of an idea. There is here a first alienation that Renan describes by citing Maine de Biran and Leibniz.”

Peran suara-psikologis cukup besar dalam bahasa primitif. Yaitu, bahasa primitif berkaitan erat dengan sensasi indera manusia. Secara bertahap, peran tata-bahasa menjadi penting. Metafisika mulai disadari: orang memandang bahasa sebagai simbol dari ide. Alienasi mulai terjadi.

“(3) But precisely, Renan makes a clear distinction between grammar and lexicology. Only grammar is purely human and rational; it alone is not subjected to sensibility, and the logicity of language is the purely grammatical.”

Tepat, tata-bahasa beda dengan kata. Tata-bahasa adalah murni logika dari bahasa. Dengan demikian, tata-bahasa terbebas dari material kata-kata. Pada tingkat lanjut, tata-bahasa mampu menghasilkan kata-kata yang murni abstrak. Posisi metafisika, yaitu metafora, makin kuat pada tahap ini.

Yang menarik, Renan menganggap proses abstraksi bahasa adalah proses pembebasan bahasa. Dengan asbtraksi, bahasa terbebas dari rujukan dunia eksternal. Logika bahasa menjadi lengkap dalam bahasa itu sendiri.

Kita bisa mengambil contoh bahasa-matematika yang menyatakan operasi bilangan bulat “2 + 1 = 3” bernilai mutlak benar. Kebenaran matematika semacam itu tidak perlu dibuktikan dengan eksistensi alam eksternal, misal, ada 2 jeruk ditambah 1 jeruk menghasilkan 3 jeruk. Justru sebaliknya, penjumlahan jeruk menjadi benar bila sesuai dengan bahasa-matematika. Sementara, bahasa-matematika itu sendiri murni abstrak.

Nietzsche berpandangan berbeda dengan Renan. Abstraksi tetaplah sebuah metafisika, sebuah metafora. Tidak ada metafora di atas metafora. Akibatnya, dari metafora, tetap tidak ada logika. Tidak ada logika yang bisa meng-klaim sebagai universal.

Teorema Godel membuktikan bahwa tidak ada sistem formal yang lengkap dan sekaligus konsisten. Pasti ada yang tidak konsisten. Contoh kita tentang bahasa-matematika operasi bilangan bulat, di atas, terbukti tidak lengkap atau tidak konsisten. Demikianlah bahasa, metafora, dan metafisika.

4.5 Revisi Dugaan Awal

Sampai di sini, kita perlu merevisi dugaan awal kita. Yaitu, dugaan awal bahwa ada pikiran yang mendahului bahasa. Hasil revisi adalah pikiran tidak mendahului bahasa. Apakah bisa sebaliknya? Bahasa mendahului pikiran? Kita akan mengkajinya. Sementara, kita akan klarifikasi dulu bahwa pikiran tidak mendahului bahasa.

Ketika orang manca negara datang ke Indonesia bertanya, “Apa ini?” Lalu, kita jawab, “Ini adalah meja.”

Orang manca itu bukan punya konsep-meja dalam pikiran kemudian belum punya kata atau bahasa. Orang manca itu, sejatinya, sudah punya bahasa-meja dan konsep-meja. Hanya saja, orang manca itu tidak tahu istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia. Jadi, konsep-pikiran tidak mendahului bahasa.

Demikian juga, ketika, seorang bocah kanak-kanak yang hendak belajar kata “meja”. Bocah itu menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah meja. Lalu, orang dewasa menyebut, “Meja.” Bocah itu menirukan, “Meja.” Bocah itu sudah punya konsep-pikiran dan bahasa-meja dalam dirinya. Hanya saja, bocah itu belum tahu apa kata yang tepat digunakan oleh orang-orang untuk menyebut meja.

Tentu saja, pemilihan kata “meja” merupakan proses lanjutan secara sosial. Kita tidak bisa mengganti “meja” menjadi “jame” misalnya, secara pribadi. Kita hanya bisa mengganti dengan “jame” atau “ajem” atau lainnya melalui proses sosial juga. Meski demikian, konsep-pikiran tidak mendahului bahasa. Konsep-pikiran hanya bisa mendahului konvensi bahasa.

4.6 Being Lebih Original

Kita sudah membahas bahwa hubungan bahasa dengan obyek eksternal adalah metafora. Yaitu, ada kedekatan dan jarak.

Kata-meja terhubung dengan obyek-meja secara metafora. Hubungan itu tidak pernah sempurna. Selalu ada kedekatan dan jarak. Bahkan bahasa sains, tetap, ada jarak. Termasuk bahasa matematika.

Tetapi kata “being”, kata “wujud”, atau kata “ada” memiliki hubungan original dengan maknanya.

“From this it follows that ultimately, in the word “Being” and its inflections, and in everything that lies in the domain of this word, the word and its signification are bound more originally to what is meant by them — but also vice versa. Being itself relies on the word in a totally different and more essential sense than any being does.

The word “Being,” in every one of its inflections, relates to the Being itself that is said, in a way that is essentially different from the relation of all other nouns and verbs in language to the beings that are said in them. (Introduction to Metaphysics, 92– 93) (Heidegger).

Kata “Being”, dan segala bentukannya, berbeda dengan kata lainnya. Atau, hubungan “Being” dengan bahasa bukan hubungan metafora, bukan metafisika, bukan seperti biasa. Hubungan “Being” dengan bahasa adalah original, yang, akan menjadi pembahasan sepanjang kajian kita. Intinya, seperti kita bahas di atas, bahasa adalah rumah-being.

4.7 Bahasa Metafora

Pada analisis akhir, setiap bahasa adalah metafora yaitu metafisika, bahasa-formal. Ada kedekatan dan jarak antara bahasa dengan realitas. Tidak mungkin jarak ini menjadi nol. Tidak mungkin error bisa hilang. Inti metafisika adalah metafora: ada jarak.

Sains bisa mengkaji fisika. Meski sains berusaha menghindari metafisika, bagaimana pun, fisika tetap akan menggunakan basis metafisika. Seluruh sains membutuhkan metafisika yaitu metafora.

Wajar, banyak pihak tidak suka dengan ungkapan bahwa sains didasarkan pada metafora. Bagaimana pun, kita sulit menolak ungkapan tersebut. Di tulisan yang lain, saya menunjukkan bahwa setiap konsep sains memerlukan konsep lain sebagai fondasinya. Pada akhirnya, akan ada konsep yang tidak memiliki fondasi. Konsep terakhir ini berlandaskan kepada metafora.

Sains empiris, barangkali, bisa menggunakan fondasi berupa pengukuran, bukan konsep sains. Kita bisa mengukur tinggi meja, secara sains misal, hasilnya 1 meter. Atas dasar apa kita percaya tinggi meja 1 meter? Berdasar pengukuran dengan mistar. Mengapa mistar dipercaya? Karena diproduksi oleh pabrik dengan standar ketat. Mengapa standar dipercaya? Karena mengacu standar internasional. Mengapa dipercaya? Karena berdasar kesepakatan para ahli setelah mempertimbangkan banyak fakta sains. Mengapa kesepakatan dipercaya? Dan, seterusnya, kita menemukan metafora pada ujung akhir.

Alternatif empiris bisa saja mengukur tinggi meja adalah T yaitu tinggi meja tersebut. Tanpa ada alat ukur sebagai pembanding. Tinggi meja T adalah tinggi meja apa adanya secara obyektif. Kita tetap bisa menerapkan cara analisis yang sama.

Apakah tinggi T adalah konsep? Jika konsep maka perlu fondasi, yang pada analisis akhir adalah, metafora.

Jika T bukan konsep, tetapi, pengukuran fisika maka memerlukan eksistensi ruang atau materi. Sebut saja, T terdiri dari tumpukan materi penyusun meja berupa molekul, atom, atau elektron. Teori quantum menunjukkan bahwa eksistensi elektron tidak bisa dipastikan secara epistemologi mau pun ontologi. Lalu, jika tinggi T tidak bisa dipastikan maka mengapa dipercaya? Kita akan tetap membutuhkah metafora atau metafisika dalam sains.

Apakah, dengan demikian, kita harus menolak sains? Tidak. Kita tidak harus menolak sains. Kita hanya perlu sikap berpikir-terbuka. Barangkali pendekatan sains pihak lain lebih baik. Atau, barangkali pendekatan psikologi, pendekatan agama, atau pendekatan sosial lebih baik. Atau, barangkali sinergi dari beragam pendekatan menjadi lebih baik. Kita perlu sikap berpikir-terbuka untuk mendapatkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik.

4.8 Pra Bahasa

Mengapa kita tidak bergerak lebih radikal dari sekedar bahasa? Bukankah ada realitas yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata? Bukankah realitas seperti itu lebih fundamental?

Realitas alam eksternal meja, kursi, pohon dan lain-lain adalah nyata. Lebih dari sekedar bahasa. Alunan musik yang merdu adalah nyata menyentuh kalbu. Lebih dari sekedar bahasa. Hati remaja yang berbunga-bunga karena jatuh cinta. Lebih dari sekedar bahasa. Bukankah itu semua lebih fundamental dari bahasa? Realitas pra bahasa.

Kita perlu membahas bahasa sebagai rumah-being dan hakikat manusia. Argumen-argumen bisa kita baca di pembahasan atas. Barangkali, di bagian ini, kita akan cukup membahas secara ringkas.

Pertama, sudah banyak sains regional yang membahas realitas sesuai disiplin masing-masing: fisika, biologi, ekonomi, politik, dan lain-lain. Dalam kajiannya, mereka membutuhkan logika bahasa-formal. Pada gilirannya, bahasa-formal akan dihadapkan pada bahasa-being. Sehingga, kita tetap perlu membahas bahasa sebagai rumah-being dan hakikat manusia.

Kedua, membahas realitas apa adanya adalah realitas yang hadir. Realitas tersebut terbatas oleh ruang dan waktu. Kita perlu membahas realitas yang hadir mau pun yang tidak hadir, yang di sini mau pun yang di sana, yang sekarang mau pun masa yang beda. Untuk menyelidiki itu semua kita perlu mengkaji ontologi fundamental. Kita perlu melampaui bahasa-formal menuju bahasa-being.

Ketiga, kita sedang bertanya question-of-being. Sedangkan, realitas adalah solusi dari suatu pertanyaan. Realitas bukanlah pertanyaan. Pertanyaan adalah dalam bentuk bahasa. Baik bahasa-formal atau pun bahasa-being. Jadi, apa pembahasan selanjutnya?

Bagaimana pun, kita berada dalam dunia kompleks. Meski, pembahasan ontologi fundamental memerlukan kajian bahasa being, tetapi kajian di bidang-bidang lain tetap dibutuhkan oleh umat manusia. Horisoni adalah guncangan besar untuk meruntuhkan struktur agar terlihat jelas apa yang tersembunyi. Horisoni tidak menolak bidang lain. Horisoni hanya mengungkapkan, mengkaji, apa yang masih tersembunyi.

4.9 Peran Penting Metafisika

Metafisika adalah jarak dan kedekatan. Metafisika adalah nothing itu sendiri. Ketika, kita berani menghadapi nothing, maka, terbuka bagi kita untuk menghadapi being. Sehingga, metafisika mengantar kita untuk menemukan solusi question-of-being. Destruksi metafisika menggoyang struktur dengan gempa dahsyat, untuk kemudian, mengungkapkan kebenaran tersembunyi. Pada gilirannya, rekonstruksi.

5. Hakekat Manusia Dasein

Bagian ini menjadi paling penting karena kita, secara sah, bisa menjawab pertanyaan question-of-being, “Apa makna-ada?”

Makna-ada, makna-being, adalah dasein. Lalu, apa itu dasein? Dasein adalah being yang mempertanyakan being dirinya sendiri. Jawaban ini seperti mendorong kita masuk perangkap lingkaran setan. Tetapi, tidak. Kita tidak terperangkap dalam lingkaran setan. Kita menemukan jawaban dari pertanyaan ontologi fundamental yaitu dasein.

Memang, interpretasi terhadap dasein bukan interpretasi kaku. Interpretasi dasein, justru, interpretasi yang penuh dinamika. Kita akan membahasnya lebih detil.

5.1 Mengapa Dasein

Mengapa memulai kajian dari dasein? Kita memiliki beragam pilihan untuk mengkaji question-of-being. Memulai kajian dari dasein adalah alternatif terbaik. Beberapa alternatif lain bisa kita pertimbangkan.

Mulai kajian dari a-being, dari wujud-tertentu. Misal mulai dari being-materi maka berkembang sains fisika. Dari being-manusia berkembang antropologi. Dari being-sosial berkembang ekonomi. Kajian-kajian sejenis ini menghasilkan ontologi regional.

Mulai kajian dari beings, dari wujud-total. Misal berkembang kosmologi, teologi, metafisika. Kita bisa menyebutnya sebagai sistem metafisika global.

Mulai kajian dari eksistensi, dari “is”, dari keberadaan. Berkembang filosofi eksistensialisme yang begitu progresif di berbagai wilayah.

Secara umum, ada dua masalah besar yang dihadapi oleh masing-masing alternatif: hermeneutic circle dan jarak. Hermeneutic circle, atau kita sebut lingkaran, menyatakan ada problem yaitu untuk memahami suatu bagian, kita perlu memahami keseluruhan lebih dulu. Sebaliknya juga bermasalah. Untuk memahami keseluruhan, kita perlu memahami detil bagian-bagian lebih dulu. Problem lingkaran ini tidak bisa diputus bagai lingkaran setan.

Problem “jarak” yang memaksa kita untuk menerapkan metafora, adalah metafisika. Obyek kajian apa pun yang kita pilih – a being, beings, atau eksistensi – selalu ada jarak antara subyek dan obyek.

Dasein berhasil menangani dua problem di atas dengan baik. Dasein menjadi pilihan tepat untuk memulai kajian question-of-being. Dasein adalah being-there, wujud-konkret, yang bertanya tentang being-there. Dasein menjadi dasein karena bertanya tentang dasein. Struktur fundamental dasein adalah peduli sebagai being-in-the-world. Dasein adalah manusia-ontologis yang bertanya tentang eksistensi manusia. Setiap jawaban akan mengantar dasein untuk bertanya lebih lanjut question-of-being.

Meski dasein berhasil dengan baik sebagai awal kajian, tetapi, dasein tidak menjamin berhasil tuntas sampai akhir kajian. Heidegger, di bagian akhir Being and Time, mengakui dasein sebagai awal kajian. Sementara untuk bergerak lebih luas, dari dasein ke sein, Heidegger yakin hal tersebut bisa dilakukan. Tetapi, sekitar 50 tahun sisa hidupnya, Heidegger tidak pernah melakukan kajian tersebut. Heidegger, justru, berhasil meluaskan kajian question-of-being ke bidang sosial, politik, dan teknologi.

Di tempat lain, Derrida meyakini keunggulan dasein sebagai kajian awal. Sampai 40 tahun sisa hidupnya, Derrida juga tidak meluaskan kajian dasein. Derrida, justru, berhasil menerapkan kajian question-of-being ke text, secara luas, dengan dekonstruksi. Meski berhadapan dengan beragam kontroversi, Derrida berhasil menggulirkan tema dekonstruksi dengan baik.

Kita bisa meringkas bahwa dasein berhasil dengan baik sebagai kajian awal. Sementara, untuk kajian yang tuntas, kita memerlukan kajian yang lebih luas. Heidegger mengidentifikasi eksistensi kekuatan-transenden pada dasein dalam karya seni. Heidegger mengatakan kekuatan-transenden tersebut adalah bahasa. Tetapi, kita bisa menganalisis bahwa bahasa tidak tepat disebut sebagai kekuatan-transenden yang dimaksud. Beberapa orang meyakini kekuatan-transenden tersebut adalah kekuatan-spiritual. Dalam suatu wawancara, Heidegger mengatakan, “Only a God can save us.”

Jadi, mari semangat membahas dasein!

5.2 Being History

Dasein memiliki karakter historal, bersejarah, historicity. Ketika kita bertanya, “Apa makna-ada?” maka kita melangkah ke masa lalu. Kita menyadari ada faktum, masa lalu, untuk ditanyakan secara ontologis. Dalam hal ini, dasein berpikir retrospektif. Di saat yang sama, dasein juga bertanya nasib eksistensi masa depannya secara antisipatif, “Bagaimana nasib eksistensiku selanjutnya?” Lengkaplah, dasein adalah historal.

“‘Circular reasoning’ does not occur in the question of the meaning of being. Rather, there is a notable “Rück oder Vorbezogenheit,” a retro- or pre- reference [pre- ference][a retrospective or anticipatory reference] of what is asked about Gefragten to asking as a mode of being of a being. The way what is questioned essentially engages our questioning belongs to the innermost meaning of the question of being. But this only means that the being that has the Charakter of Dasein has a relation to the question of being itself, perhaps even a distinctive one. (Being and Time, 7– 8)” (Heidegger).

Tidak terjadi logika melingkar di sini. Yang terjadi adalah berpikir retrospektif dan antisipatif. Question-of-being ini yang menjadikan manusia sebagai dasein. Sehingga, ada relasi antara dasein dengan dirinya sendiri. Dasein adalah yang paling dekat dengan dirinya secara ontic. Tetapi, justru paling jauh secara ontologis.

Gerak retrospektif dan antisipatif dari dasein mengungkap karakter temporality dengan horison waktu. Beberapa pemikir mengidentifikasi question-of-being sama artinya dengan question-of-time. Derrida menganggap dasein sebagai temporality adalah fragment paling esensial. Temporality adalah being-of-being yang memahami being.

“Now the most essential “fragment” is here the explication of the meaning of the being of the being named being- there as temporality. The explication of being- there as temporality does not suffice to provide a response to the principal question, that of the meaning of being in general, but it is an ontological point of departure to this response. If, precisely, being- there is a pre- ontological being — that is, a being that has as its being to understand being and to be able to pose the question of being — an important step will have been taken if one shows, as Heidegger intends to show in Sein und Zeit, that that on the basis of which, the horizon on the basis of which being- there pre- comprehends being is what is called time.” (Derrida).

Bagi dasein, waktu terbatas dari lahir sampai mati. Hanya dasein yang memahami batas waktu lahir sampai mati, yang, memiliki posibility sebagai being seutuhnya. Masa lalu bukanlah sesuatu yang sudah tidak ada. Masa depan bukanlah sesuatu yang belum datang. Masa lalu tetap eksis pada dasein berlanjut ke masa depan. Masa lalu dan masa depan terhubung secara kontinyu bersama dasein.

Karakter dasein yang temporal dan historal ini memungkinkan dikembangkannya sains sejarah. Sejauh ini, para ahli sejarah, umumnya, mengasumsikan bahwa sains sejarah adalah posible. Mereka tidak menyelidiki mengapa sains sejarah bisa posible. Sains sejarah posible karena dasein adalah historal.

Mengapa karakter historal dari dasein itu penting? Di satu sisi, historal adalah konsekuensi logis dari karakter temporal dasein. Di sisi lain, tanpa historal, dasein menjadi tidak masuk akal. Dari mana asal mula manusia bila tidak dari sejarah? Apakah manusia tiba-tiba turun dari langit tanpa sejarah? Apakah manusia tiba-tiba muncul dari kehampaan tanpa sejarah? Manusia hanya bisa hadir di dunia ini melalui sejarah. Karena itu, kita perlu mengkaji sejarah lebih mendalam lagi.

5.3 Sejarah Hegel

Sejenak, mari kita membandingkan kajian sejarah versi Hegel dengan versi Heidegger. Mereka sepakat bahwa dasein yang historal adalah basis dari sains sejarah. Tetapi, mereka berbeda dalam memberi bobot dasein terhadap sejarah. Bagi Hegel, sejarah hanya bisa tercipta jika umat manusia membentuk negara. Sementara, keluarga, kelompok masyarakat, kelompok agama, dan lain-lain tidak bisa membentuk sejarah – selama tidak ada negara.

It is obvious to anyone who begins to be familiar with the treasures of Indian literature that this country, so rich in spiritual achievements of a truly profound quality, nevertheless has no history. In this respect, it at once stands out in stark contrast to China, an empire that possesses a most remarkable and detailed historical narrative going back to the earliest times. India has not only ancient religious books and splendid works of poetry but also ancient books of law, something already mentioned as a prerequisite for the formation of history, and yet it has no history. But in this country the original organization that created social distinctions immediately became set in stone as natural determinations (the castes), so that, although the laws concern the civil code of rights, they make these rights dependent on distinctions imposed by nature, and they specify, above all, the position (in terms of injustices more than of rights) of these classes toward one another, i.e., only of the higher vis- à- vis the lower. The ethical element (Sittlichkeit) is thereby excluded from the splendor of Indian life and its realms.

Given this bondage to an order based firmly and permanently on nature, all social relations involve a wild arbitrariness, ephemeral impulses, or rather frenzies, without any purposeful progress and development. Thus, no thoughtful memory, no object for Mnemosyne presents itself, and a deep but desolate fantasy drifts over a region that ought to have had a fixed purpose — a purpose rooted in actuality and in subjective yet substantial (i.e., implicitly rational) freedom [ . . . ] (Hegel)

Hegel memberi contoh bahwa Cina kuno memiliki sejarah. Sementara, India kuno tidak memiliki sejarah. Seharusnya, India kuno memiliki sejarah lantaran banyak fakta-sejarah yang tersedia. Kita bisa menemukan beragam bangunan sejarah di India. Kita bisa menemukan buku ajaran agama, sastra, dan bahkan kitab hukum. Tetapi, karena semua fakta-sejarah itu tidak terorganisir sebagai negara maka India kuno tetap tidak memiliki sejarah.

Kehidupan India kuno tidak diatur oleh negara. Kehidupan diatur oleh kasta. Karena kasta ini bersifat natural, menurut Hegel, maka tidak ada sejarah bagi India kuno. Sementara, Cina kuno memiliki sejarah karena ada negara. Rakyat Cina memiliki cita-cita bersama untuk diraih, dicatat, diceritakan sampai membentuk sejarah.

Heidegger berbeda dengan Hegel. Bagi Heidegger, basis sejarah adalah dasein yang berkarakter sejarah. Sehingga, India kuno tetap memiliki sejarah. Meski, barangkali, sejarah India kuno memiliki kadar yang lemah dibanding, relatif terhadap, sejarah Cina kuno.

5.4 Sejarah Husserl

Baik Husserl mau pun Hegel, juga Heidegger, menolak historisisme yaitu paham yang menyatakan bahwa kebenaran memiliki konteks sejarahnya sendiri. Sehingga, tidak ada kebenaran universal, tidak ada makna universal. Yang ada hanya kebenaran relatif sesuai fakta-fakta empiris sejarah. Mereka menolak historisisme seperti itu. Kebenaran universal tetap ada meski pun tetap mempertimbangkan konteks.

“This resonance would appear still more clearly if one were to note that, like Hegel and like Heidegger later, Husserl refuses (1) historicism — that is, the reduction of meaning and truth to their empirical becoming — (2) the historian any privilege in determining the meaning of historicity and the origin of the historical truth about which he is speaking.” (Derrida).

Kedua, setelah menolak historisisme, mereka menolak bahwa ahli sejarah memiliki hak khusus menentukan makna dan kebenaran sejarah. Setiap orang yang berpikir memiliki hak untuk menentukan makna dan kebenaran sejarah. Tentu saja, ahli sejarah memiliki keunggulan dalam hal sains sejarah, data-data sejarah, dan catatan sejarah. Dalam hal menentukan makna sejarah, terbuka bagi seluruh umat manusia untuk memikirkannya.

Husserl merumuskan tiga tahap sejarah.

Tahap pertama sejarah adalah ketika manusia sudah mulai berbahasa, bercerita, dan berbudaya. Tahap ini bersifat universal. Setiap umat manusia memiliki budaya maka mereka juga memiliki sejarah. Bagaimana pun, tahap pertama ini memiliki beragam keterbatasan.

“The second level is marked by the emergence of philosophy or science and of the humanity capable of the idea of philosophy or science, and thus of the project of the infinite task.” (Derrida).

Tahap kedua sejarah ditandai dengan munculnya filosofi dan sains. Tersedia kajian dan dokumentasi secara sistematis tentang sejarah. Dengan demikian, sejarah menjadi tanpa batas. Dengan filosofi dan sains, manusia mampu memaknai dan mengkaji sejarah makin mendalam dan makin meluas.

Tahap ketiga sejarah adalah fenomenologi. Tentu, fenomenologi adalah khas formula Husserl. Wajar saja, Husserl menempatkan fenomenologi sebagai puncak sejarah. Yaitu, ketika, filosofi dan sains mampu mengungkapkan kebenaran sejarah sejati, apa adanya, berdasar fenomenologi.

Fenomenologi adalah kajian filosofis yang mengijinkan obyek kajian hadir apa adanya dalam kesadaran subyek pengkaji. Dalam hal ini, obyek kajian adalah sejarah. Subyek pengkaji adalah kita yang berpikir tentang sejarah. Agar obyek bisa hadir apa adanya maka subyek perlu “membungkus” beragam prasangka dirinya untuk sementara waktu. Ketika obyek terbebas dari prasangka subyektif maka obyek sejati hadir apa adanya. Tentu saja, untuk memahami obyek sejati, pada gilirannya, subyek harus melakukan tindakan berpikir dan lain-lain. Sehingga, pada analisis akhir, fenomenologi bertumpu kepada peran besar subyek itu sendiri. Lagi pula, subyek ini bersifat transenden dari dunia. Fenomenologi, dengan demikian, masih mewarisi metafisika.

Heidegger, murid Husserl, sejak awal mencanangkan proyek destruksi metafisika. Sehingga, fenomenologi juga menjadi target destruksi.

Bagaimana subyek transenden itu hadir ke dunia ini? Subyek itu hadir tanpa sejarah, ahistorical. Demikian juga, spirit dari Hegel adalah tanpa sejarah, ahistorical. Dengan landasan subyek, atau spirit, atau kesadaran, yang tanpa sejarah maka konsep sejarah runtuh. Baik konsep sejarah Husserl mau pun Hegel. Kita perlu rekonstruksi sejarah dengan memadai.

Solusi kita mengarah kepada dasein, being-there, yang historal berkarakter sejarah. Dasein lahir di rumah-being, yaitu bahasa. Dasein hidup di rumah-being dengan dijaga dan menjaga bahasa. Dasein meraih keutuhan sejarah dengan menjemput kematian, sejak kelahirannya. Dasein, kita, menciptakan makna sejarah dengan kebebasan yang terbentang sejak lahir sampai mati. Lahir dan mati adalah satu kesatuan kontinyu dari sejarah dasein.

Akal kita, tetap bertanya, “Ada apa sebelum dasein lahir?” “Ada apa setelah dasein mati?” “Ada apa di luar dasein?”

Kajian kita masih akan terus berlanjut. Yang jelas, ketika dasein adalah historal maka sejarah dunia menjadi posible, menjadi mungkin untuk terjadi. Sejarah versi Hegel dan Husserl menjadi bisa dikembangkan.

5.5 Being Seutuhnya

Beberapa catatan terhadap sejarah Husserl bisa kita rangkum sebagai berikut.

“(1) Husserl’s teleology of historicity is a transcendental idealism organized around a concept of subjectity that Heidegger shows is both foreign to the world (i.e., non- historical) and intra- worldly (i.e., thought according to the model of a Vorhandenheit, of the object subsisting in the world), which is another way of missing any history that is not empirical.” (Derrida).

Pertama, teleologi histori dari Husserl adalah idealisme transendental di sekitar subyektivitas. Sehingga, kurang empiris. Perlu kita ingat juga bahwa istilah subyek, kesadaran, dan spirit adalah istilah yang tidak memadai untuk mewakili dasein. Karenanya, tidak akan memadai juga sebagai pusat kajian sejarah.

“(2) Husserl’s teleology remains a humanism.
(3) The content of this teleology is recognized on the basis of the idea of science (historicity = absence of the past).” (Derrida).

Kedua, cukup jelas teleologi Husserl adalah humanisme. Padahal, kita perlu kajian histori yang lebih luas dari humanisme. Ketiga, teleologi ini didasarkan pada ide sains. Di mana, sejarah sains lebih kuat karakter empiris data sains, sehingga, lemah dalam kajian masa lalu dan masa depan. Kita sedang mengkaji ontologi fundamental yang menempatkan data empiris hanya sebagai salah satu pertimbangan penting.

“(4) The other form of the same closure on which I shall not linger is, this time even if one stays within the descriptions of the Lebenswelt, the slightly precipitate opposition, of uncertain origins, between nature and culture — not that this opposition is useless, but it is so derivative, so laden with historical and metaphysical alluvia that one cannot seriously claim to discover the originary historicity of Da- sein by using these tools.” (Derrida).

Keempat, deskripsi Lebenswelt sangat dekat dengan dasein, sehingga, kita berharap bisa mengungkap histori dengan baik. Bagaimana pun, konsep Lebenswelt, lingkungan-yang-hidup, masih dilingkupi oleh metafisika. Kita perlu fokus mengkaji dasein.

“(5) Finally — and here I think we are getting to what is most important and most difficult — Husserl’s thematics of historicity remains, to put it bluntly, a worldview. The accusation is serious and it has a meaning that does not immediately betray itself. What does it mean? To understand the gravity and the scope of the accusation, one must keep clearly in mind the whole Husserlian critique of the idea of worldview, of Dilthey’s theory of Weltanschauung.” (Derrida).

Kelima, terakhir, yang paling penting dan lembut, pandangan histori Husserl mengandung worlview – pandangan dunia. Tentu saja, semua pandangan akan melibatkan worldview. Justru itu masalahnya. Ontologi fundamental, dalam hal ini kajian histori, sedang menyelidiki worldview itu sendiri. Sejatinya, Husserl sudah meng-kritik worldview dari Dilthey. Pada gilirannya, Husserl juga terikat dengan worldview yang lain.

Question-of-being mengarahkan kita ke destruksi histori. Kemudian, beragam alternatif rekonstruksi histori, kita kaji. Dari Hegel dan Husserl, kita memperoleh banyak informasi – yang perlu dekonstruksi. Salah satunya, untuk memahami being seutuhnya, kita perlu me-dekonstruksi struktur metafisika-present. Kita perlu, kembali, fokus mengkaji karakter histori dari dasein.

5.6 Dominasi Present

Pandangan intuitif sehari-hari menunjukkan bahwa waktu bergerak dari kemarin, sekarang, dan besok. Kita, seakan-akan, bisa kembali ke masa kemarin atau bisa melompat ke hari besok. Pandangan lebih mendalam menunjukkan bahwa melompat ke masa lalu, atau ke masa depan, tidak bisa dilakukan. Kita tidak bisa melompat ke masa depan. Yang terjadi adalah “masa kini” atau “present” yang terus bergulir dari masa lalu sampai kapan pun. Semua pengalaman kita adalah pengalaman present, pengalaman masa-kini. Benarkah demikian?

Jika yang ada sejati adalah masa-kini, atau present, maka tidak ada sejarah. Karena, tidak ada masa lalu dan tidak ada masa depan. Kita berhadapan dengan masalah serius di sini. Jika masa lalu memang ada, maka, bagaimana cara menunjukkanya? Bagaimana juga dengan masa depan?

Masa lalu adalah masa-kini yang sudah berlalu. Dan, masa depan adalah masa-kini yang belum datang. Cara pandang seperti ini menempatkan masa-kini sebagai yang paling dominan. Kita perlu lebih mendalam untuk mengkaji.

“So we encounter again here the necessity of thinking the continuity of life, the Erstreckung or the synthesis that makes of the time of Dasein a history, the necessity of thinking this synthesis without rushing toward the horizon of a consciousness or a cogito — or conversely, of an un- conscious or a force simply borrowed from the model of Vorhandenheit.

We are now touching on, we are now brushing up against, the Root of the problem. Everything — everything: that is, not only this or that gesture of the destruction of Metaphysics but the totality of the destruction and the meaning that directs it as a whole — everything is played out around the meaning of the Present and the privilege accorded by the whole of philosophy to the present. Philosophy, what Heidegger wants to transgress, is in its entirety a philosophy of the Present, privileges the Present.” (Derrida).

Tentu, bisa saja, orang-orang menganggap remeh masalah dominasi the-present. Mereka menganggap memang begitulah adanya – just given. Mengapa repot-repot?

Problem teoritis dan praktis muncul akibat dominasi the-present. Pertama, the-present meruntuhkan posibilitas histori. Karena yang nyata hanya masa-kini, the-present, maka histori adalah hanya ilusi. Kedua, the-present menyembunyikan, atau mengaburkan, masa lalu mau pun masa depan. Atau, lebih tegas lagi, the-present menghapus masa-lalu dan menolak masa-depan.

Problem praktis sama sulitnya. Pertama, mengapa harus tanggung jawab? Karena yang ada hanya the-present yang mengalir maka seseorang, wajar saja, menjalani hidup dengan mengalir. Kedua, bagaimana memperbaiki masa-lalu? Ketiga, bagaimana menyiapkan masa-depan?

“To take them too lightly is just as much to refuse the problem on the pretext that we are dealing with something trivially self- evident — what is better known than that: the continuity of life, the passage from life to death, and so on? It is thus just as much to refuse the problem as to pose it in empiricist terms — an appeal to what people think they know under the name memory, habit, the social frameworks of memory and all the other notions that govern empirical geneses while presupposing the given self- evidence of the very thing for which they are to account.” (Derrida).

Konsep waktu dari Husserl, selaras dengan konsep Hegel, adalah living-now atau living-present. Yaitu, present atau masa kini yang terus bergulir. Konsep living-now tampak sudah terbukti dengan sendirinya.

“(1) [t]he past is lived as past only if it refers us to a Present past that the Past comprises in its very signification since it was present.

(2) The future is lived — anticipated — as what it is (i.e., future) only if one knows, only if one experiences a priori that what is anticipated is a future Present; there would be no anticipation if the very thing anticipated were not a present to come…

(3) It must not be forgotten that not only do the two modifying openings that open onto the past and the future open onto a past present and a future present, but that the opening itself, what opens onto the other presents, is already a Present. The Present is thus form, and the form of all experience and all self- evidence.” (Derrida).

Historal hanya mungkin jika temporality terbatas. Dasein terbatas oleh kematian. Sehingga, dasein adalah historal.

“One sees why the analytic of historicity comes in Sein und Zeit after that of temporality and why the being- toward- death structure of Dasein was the first chapter of the second division, devoted to Dasein und Zeitlichkeit. One cannot gain access to authentic temporalization outside the horizon of death and of freedom- for- death; that is, one can gain access to authentic temporalization only in the horizon of finitude, and one gains access to authentic historicity only on the basis of a finite temporality. There is no history if temporality is not finite. Hegel and Husserl were in a certain way saying the opposite. So one might be tempted to say — and this is the path Heidegger will take — that the philosophy of the Presence of the Present misses history. The immense difficulty here is that the philosophies of the Present, philosophy itself, can very well and with very good reasons claim for itself access to historicity.” (Derrida).

Metafisika tidak bisa diakhiri. Metafisika tidak bisa mati. Metafisika tidak bisa dilampaui. Kita hanya bisa membelokkan metafisika. Kita hanya bisa mengarahkan metafisika.

5.7 Metafisika Present

“But the constitutional totality of care has the possible ground of its unity in temporality. The ontological clarification of the “Lebenszusammenhang,” that is, of the specific way of stretching along, movedness (Bewegtheit), and per- sistence of Dasein, must accordingly be approached in the horizon of the temporal constitution of this being. The movedness (Bewegtheit) of existence is not the movement (Bewegung) of a Vorhandenen [of something present].
It is determined from the stretching along of Dasein. The specific movedness of the erstreckten Sicherstrecken, stretched out stretching itself along [the self- constituting extension, the path that constitutes itself: method . . .], we call the Geschehen of Dasein: the historicity of Dasein. The question of the “Zusammenhang” of Dasein is the ontological problem of its Geschehen. To expose the structure of Geschehen and the existential and temporal conditions
of its possibility means to gain an ontological understanding of historicity. (Being and Time, 357– 58) (Heidegger).

Catatan penting.

“My first point will then be the following: never forget what we said at the outset about the concept and operation of destruction. Destruction is neither a refutation nor an annihilation. The destruction of metaphysics, here the destruction of the privilege of the Present, could never erase them. There is an unsurpassable necessity in the dissimulation of the meaning of being in presence and thus in the phenomenality of consciousness…

Second: let me point out the attempt made by Levinas, claiming to go
against Heidegger but in many respects still in his wake, to destroy this privilege of phenomenality and the Present. I do not want to get into this here. But let me point out that the latest stage of this enterprise — which otherwise remains caught in a traditional conceptuality that too often weighs it down unbeknownst to it — consists in elaborating a thematic of the Trace, as opposed to the Sign…

Third: every time one tries today, in the style of Nietzsche, Marx, Freud, and so on (I’m not trying to assimilate them) to solicit the privilege of consciousness, to denounce consciousness as dissimulation and misrecognition, and so forth, it is obvious that, whatever fruitful and concrete results may be reached in empirical practice, the only chance of escaping the legitimate accusation of irresponsible empiricism coming from philosophy, and especially from a rigorous transcendental idealism, the only chance of escaping it is, from the outset, by making a theme of the signification of the Present and the Presence of the Present as the fundamental determination of being by metaphysics, making a theme of this dissimulation of the meaning of being in Pre- sence, making a theme of this dissimulation as history and therefore making a theme of the history of that dissimulation, especially of the move from a Greek form of dissimulation to the post- Cartesian form in which presence becomes consciousness and re- presentational consciousness, and so forth. (Derrida).

5.8 Kehabisan Nafas

Heidegger tampak terengah-engah, kehabisan nafas, di bagian akhir buku Being and Time. Bahkan, rencana awal, Heidegger akan menulis 3 buku untuk membahas fundamental ontologi. Sampai 50 tahun berlalu hanya buku Being and Time saja yang berhasil diterbitkan. Tentu saja, Heidegger menulis banyak buku lainnya tetapi bukan lanjutan dari Being and Time.

“The first sign is, as we shall verify in a moment, that Heidegger never
goes beyond the critical phase of the analysis. He operates a sort of ground clearing; he clears the space to bring out the proper place for an analysis of the historicity of Dasein.” (Derrida).

“The second sign of running out of breath is the basically quite remarkable fact that the chapter entitled “Temporality and Historicity” is, with the exception of one chapter, the last chapter of the only part of Sein und Zeit to have seen the light of day. It is between the structural determination of the ontological place of historicity and the descriptive, intuitive filling out of this structure that the impossibility of an entirely continuous progress in fact showed up, whatever the signification of this fact may ultimately be. I say “entirely continuous progress”: entirely continuous — that is, going beyond the stage of the analytic of Dasein . . . ; “beyond” here meaning toward a problematic of a History of Being liberated from what was still ontic and metaphysical in Sein und Zeit and that I pointed out last time; going beyond without a certain discontinuity was in fact impossible . . . .” (Derrida).

5.9 Sikap Otentik

Dasein, kita, bisa bersikap otentik atau tidak otentik. Keduanya, otentik dan tidak otentik, sama-sama kita perlukan. Kita perlu kata yang lebih tepat untuk deskripsi otentisitas ini. Saya memilih otentik = jeru dan tidak otentik = rajeru.

“(1) By rights one should begin from originary temporality to gain access to authentic historicity and from derived or inauthentic temporality (intra-temporality) to gain access to the vulgar interpretation of historicity. So everything demands that we defer totally the analysis of historicity and in order to that of temporality…

(2) As historicity in the vulgar sense is understood on the basis of intra-temporality or else is co- originary with it, one can start from this historicity in the vulgar sense, in order then to return to its true motif: intra- temporality…

(3) But as inauthenticity is not an accident, as it has its structural necessity, the vulgar conception of historicity has its legitimacy since inauthentic historicity exists, as intra- temporality exists.” (Derrida).

5.10 Meruntuhkan Sejarah

Berikut, empat cara pandang sejarah yang perlu diruntuhkan, untuk kemudian, dikonstruksi ulang.

“(1) Vergangenheit, “being past,” “pastness.” In common discourse, one calls historical what belongs to the past. <“>Here ‘past’ means on the one hand no longer present (nicht mehr vorhanden: present or available), or else indeed still present, but without effect (Wirkung) on the present…

2) The second signification, which goes hand in hand with the first, determines Vergangenheit not simply as a relation to Vorhandenheit, but as origin, provenance (Herkunft). <“>Whatever ‘has a history’ is in the Zusammenhang [nexus] of a becoming…

(3) Third signification: history signifies beyond this the totality of beings that change “in time” (in der Zeit). Here, history does not embrace what we call nature, but only culture, the Geschehen of that region of beings that distinguish themselves from nature by existence and “spirit” (quote- marks).

(4) Finally, fourth signification. One calls historical in everyday language what is transmitted, tradition as such, whether it be recognized as such by historical science or remain hidden in its provenance.” (Derrida).

5.11 Dasein lalu Subyek

Subyek “aku” memang datang, terlambat, setelah pengalaman dasein yang historal. Jadi, dasein dulu, kemudian hadir pengalaman sebagai subyek. Tetapi, subyektivitas tidak terlambat dari non-historal yang absolut terhadapnya, misal, substansi. Sehingga, perlu kita catat bahwa dasein bukanlah ego, bukan subyektivitas, bukan spirit, dan bukan kesadaran. Subyek adalah ungkapan yang tidak pernah memadai untuk menyatakan dasein. Subyektivitas adalah petualangan historal oleh dasein. Sedangkan, dasein adalah being-there.

“The fact remains that for Heidegger subjectivity does not supervene upon a non- historical absolute that awakens to it (Substance, Present). It supervenes upon an experience or an ek- sistence that is already historical. It is an adventure that happens to history [une histoire qui arrive à l’histoire].” (Derrida).

Kita bisa membedakan dua macam histori. Histori primer adalah histori yang merupakan eksistensi dasein sebagai being-in-the-world. Sedangkan, histori sekunder adalah histori dari “zuhandenes” atau ready-at-hand yang disebut sebagai nature. Histori sekunder ini yang umumnya dikaji oleh sains sejarah. Di mana, data-data sejarah dikumpulkan, untuk kemudian, dikembangkan interpretasi berdasar perspektif masa lalu. Sebesar apa pun data-data sejarah, zuhandenes akan tetap menjadi histori sekunder.

“You know that at the end of §73 Heidegger makes a distinction between what he calls primary historicity, the historicity of the ek- sistence of Dasein as being- in- the- world, and secondary historicity, what is encountered in the world and that does not have the form of being of Da- sein but of the Zuhandenes, and even of what is called nature as the ground of historical culture. In other words, primary is the historicity of In- der- Welt- sein in the form of Dasein with the precise sense we have recognized in the in of in- der- Welt. Secondary would be the historicity of beings that are in the world in the banal sense of the word in.” (Derrida).

5.12 Oto-transmisi

Oto-transmisi adalah gerak sintesis protensi dan retensi, melindungi dan menyimpan, sesuai konsep Husserl. Dengan protensi dan retensi, oto-transmisi menjamin karakter akumulatif dari time dan being. Semua kejadian masa lalu terjaga dan tersimpan sampai masa kini, bahkan, sampai masa depan.

Oto-transmisi terjadi pada being, sehingga, berbeda dengan konsep awal Husserl. (1) Oto-transmisi bukan lagi masalah gerak kesadaran belaka, tetapi, sebuah eksistensi. (2) Bentuk absolut transmisi adalah ekstasis, keluar dari diri dan hadir diri. Present, masa kini, adalah sekedar modifikasi dari protensi dan retensi. Present bukan lagi yang paling dominan.

“This Sichüberlieferung — auto- transmission — is analogous to the synthetic movement of protentions and retentions described by Husserl, only with these two decisive differences: (1) that here it is no longer a matter of the movement of a consciousness, but of an ek- sistence that is not determined at the outset as consciousness; (2) that the absolute form of transmission is ekstasis, going outside oneself and not Present, self- presence (present going outside itself in itself), a present only modified and originarily and ceaselessly modified by protentions and retentions.” (Derrida).

Sejarah, waktu, dan diri manusia senantiasa melakukan oto-transmisi, yaitu melindungi dan menyimpan. Sejak lahir sampai mati, kita selalu melindungi dan menjaga semua perilaku kita. Maksudnya, apa yang eksis sejak lahir, terus-menerus, kita bawa sampai sekarang dan sampai mati. Seluruh kebaikan, atau amal apa pun, tetap kita bawa sampai mati. Dan ini, terjadi secara oto-tranmisi, yaitu secara otomatis. Oto-transmisi adalah karakter diri kita, karakter setiap being.

Karakter oto-transmisi ini mirip dengan karakter waktu, waktu sejati. Oto-transmisi berbeda dengan konsep waktu yang living-now, waktu sebagai now yang terus bergulir. Oto-transmisi adalah future bertransmisi ke masa lalu, menarik masa lalu menuju future, dengan tetap merangkul future dan masa lalu itu. Jadi, time membentang dari future sampai masa lalu. Masa kini, atau present, adalah masa lalu dari future. Kita memodifikasi present sesuai dengan future.

Waktu adalah murni, nothing, sehingga tidak bisa mempengaruhi sesuatu yang lain, anything. Waktu hanya bisa mempengaruhi waktu itu sendiri. Waktu adalah gerak murni temporalisasi. Pada analisis akhir, waktu atau time saling berkhidmat dengan being. Time dan being saling appropriasi. Time memberi waktu kepada being. Dan, being memberi anugerah. Mereka saling berkhidmat.

“To clarify what he calls Kant’s “obscure assertion” that “time affects a concept, in particular, the concept of the representations of objects” (Kant and the Problem of Metaphysics, 133), Heidegger shows what time as pure intuition must signify: originarily, it can in no way signify affection of something by something, affection of a being by another being, affection of an existing subject by something outside it: because time is nothing, as such it cannot affect anything. It is affection of self by self. Auto- affection, a concept that is as incomprehensible as is, in truth, the movement of temporalization.” (Derrida).

“According to its essence, time is pure affection of itself. Furthermore it is precisely what in general forms [aiming: intuition, the way] seeing which, setting off from itself, heads for . . . [which translates so etwas wie das, “Vonsich- aus- hin- auf- zu”] something like the “from- out- itself- toward- there . . . ,” so that the upon- which looks back and into the previously named toward there. (Kant and the Problem of Metaphysics, 132).” (Heidegger).

Esensi dari waktu adalah kasih-sayang itu sendiri. Tepatnya, dari dirinya sendiri, waktu menatap jauh ke masa depan. Sehingga, dari masa depan menatap balik ke dirinya sendiri – masa kini dan masa lalu. Mereka oto-transmisi saling menatap: masa depan, masa lalu, dan masa kini. Mereka adalah saling kasih sayang, saling memberi dan saling menerima. Waktu adalah kesatuan ekstase future, past, dan present. Karena itu menjadi posible bagi kita untuk meraih sejarah yang otentik.

Kita tidak akan berhasil meraih sejarah secara otentik jika waktu adalah living-now. Karena hanya ada masa sekarang yang terus bergulir, maka, kita tidak akan bisa mengakses sejarah masa lalu mau pun sejarah masa depan. Tetapi dengan karakter oto-transmisi, maka, terbuka untuk akses histori secara otentik.

5.13 Histori Otentik

Sampai di sini, kita bisa membahas histori secara otentik (jeru). Karena waktu terbentang dari future ke past dan kita bisa akses mereka, akses future dan past, maka histori menjadi punya arti.

Mari kita cermati kembali beberapa premis.

(1) Dasein memiliki histori bukan karena histori merangkul dasein (manusia). Tetapi, histori adalah karakter sejati dari dasein itu sendiri.

(2) Being-of-dasein, makna dasein, adalah peduli atau care yang hanya bisa dipahami sebagai gerak temporal, gerak dari waktu sejati.

(3) Jadi, interpretasi dari dasein yang historal adalah, menjadi lebih konkret, dengan elaborasi makna temporal waktu sejati.

Mengkaji sejarah otentik sama artinya dengan mengkaji waktu sejati. Sehingga, pemahaman kita tentang waktu sejati menjadi landasan untuk memahami sejarah otentik. Berbeda dengan pandangan umum yang mengira sejarah adalah kejadian masa lalu yang kemudian data-datanya kita temukan di masa kini, sejarah otentik adalah sejarah futuristik. Yaitu, sejarah masa depan yang kita temukan tanda-tandanya di masa kini dan dari masa lalu.

“You see that here authentic historicity is described in the same terms as authentic temporality and that its authenticity depends on the authenticity of what is translated as decision or resolute anticipation: Entschlossenheit. What does this mean?

First, let’s recall the premises of this analysis.

  1. Dasein has its history not because history befalls it but because it is historical in its very being.
  2. The being of Dasein has been recognized as Care, in the rigorous sense of this term, which can be thought only on the basis of its grounding in the movement of temporality.
  3. “Thus, the interpretation of the historicity of Dasein is,” says Heidegger, “basically just a more concrete elaboration of the interpretation of temporality” (Being and Time, 364).” (Derrida).

Mari kita sandingkan sejarah otentik, sejarah futuristik, dengan sejarah masa lalu dan sejarah masa kini. Saya menyebut sejarah masa lalu adalah meta-teori dan sejarah masa kini adalah meta-perspektif.

Meta-teori membaca data sejarah yang tersedia dengan menghubungkan ke data-data masa lalu. Selanjutnya, data masa lalu itu memerlukan data masa lalu yang lebih awal lagi. Sehingga, teori sejarah yang terbentuk membutuhkan teori yang lebih awal untuk mendukungnya yaitu meta-teori. Pada gilirannya, meta-teori itu akan membutuhkan dukungan meta-teori lain yang lebih awal lagi tanpa pernah berhenti. Jadi, sejarah masa lalu berhadapan dengan paradoks meta-teori tanpa henti.

Meta-perspektif melengkapi sudut pandang sejarah dari beragam perspektif. Sehingga, kita membaca sejarah dari perspektif yang lebih lengkap. Tetapi, kita tahu bahwa perspektif kita tidak akan lengkap. Selalu ada perspektif yang terlewat. Tidak mungkin bagi kita melihat sejarah dari seluruh perspektif. Demikian juga, tidak meungkin bagi kita melihat sejarah tanpa perspektif. Masalah juga muncul ketika kita menambah perspektif satu dengan perspektif dua. Dengan apa kita bisa menggabungkan kedua perspektif? Barangkali dengan perspektif tiga. Lalu, dengan apa kita menggabungkan perspektif tiga? Dan seterusnya, kita tidak akan berhasil melengkapi perspektif. Jadi, membaca sejarah dengan meta-perspektif akan berhadapan dengan paradoks.

Sejarah futuristik adalah solusi untuk membaca sejarah. Sejarah futuristik menerima meta-teori dan meta-perspektif. Karena time bersifat oto-transmisi maka futuristik juga oto-transmisi dengan meta-teori dan meta-perspektif. Sehingga, barangkali, istilah lebih tepatnya adalah sejarah ekstatik bukan futuristik. Kita membutuhkan istilah futuristik untuk menekankan nilai penting dari masa depan.

Sejarah futuristik membaca data sejarah yang ada dengan mengacu ke sejarah masa depan. Kita bisa memaknai, interpretasi, semua data karena mengacu ke masa depan. Atau lebih tepatnya, masa depan memberi makna terhadap semua data sejarah masa kini dan masa lalu. Masa depan mana yang bisa kita jadikan acuan? Pertanyaan yang menarik.

Sejarah masa depan adalah sejarah yang diwarnai oleh posibilitas, freedom, dan komitmen. Masa depan adalah terbukanya beragam posibilitas. Ada beragam peluang untuk meraih masa depan. Kita bebas untuk memilih masa depan itu, freedom. Masa depan adalah bebas dan membebaskan. Dengan demikian, ada banyak cara membaca sejarah? Tepat sekali. Karena itu, kita perlu berpikir terbuka untuk membaca sejarah. Semua klaim sejarah tetap terbuka dengan posibilitas dan freedom.

Akibatnya, kita terikat oleh sejarah itu sendiri yang menuntut komitmen dan keteguhan umat manusia. Berbeda dengan klaim sejarah masa lalu. Mereka bisa klaim bahwa sejarah masa lalu benar, valid, berdasar data masa lalu. Sehingga, mereka berlepas dari komitmen lanjutan. Karena masa lalu sudah final, maka, mereka bisa memaksa semua pihak menerima kebenaran sejarah masa lalu itu. Demikian juga, sejarah meta-perspektif bisa klaim sebagai sejarah paling benar. Mereka klaim memiliki perspektif lengkap, atau, paling lengkap. Semua pihak harus menerima klaim meta-perspektif. Kita tahu, klaim seperti itu mustahil. Kita perlu komitmen.

Sejarah futuristik terbuka terhadap masa depan. Akibatnya, kita perlu komitmen untuk meraih masa depan itu. Di saat yang sama, kita perlu tetap bersikap terbuka dengan alternatif masa depan.

5.14 Keteguhan

Dasein, kita, memahami diri kita selalu berada di jalan menuju kematian, di mana, kematian ini sepenuhnya memberi kesempurnaan bagi dasein. Seluruh perjalanan hidup kita hanya bisa dimaknai ketika ajal telah tiba. Sebelum ajal tiba, setiap makna, dan setiap interpretasi, bisa berubah secara radikal. Keteguhan hati untuk menerima fakta bahwa kita pasti mati berimplikasi, di saat yang sama, kita bersikap untuk mengambil keputusan dalam setiap situasi. Kapan ajal tiba?

Mati adalah yang memberi arti hidup kita di hari ini. Mati adalah yang memberi arti perjalan kita sejauh ini. Mati adalah yang paling berarti. Tetapi, mati seperti apa yang Anda perjuangkan sampai mati?

“Dasein understands itself with regard to its potentiality- of- being in a way that confronts death [literally unter die Augen, under its eyes] in order to take over completely the being that it itself is in the Geworfenheit of its throwness. Resolutely taking over one’s own factical “Da” “implies” at the same time decision (Entschluss) in the situation. (Being and Time, 364)” (Heidegger).

5.15 Freedom

Keteguhan menerima semua fakta dan eksistensi adalah, simultan dan setara, dengan mengambil keputusan dalam-situasi. Sikap menerima fakta bukanlah berarti menyerah dan bukan pula frustasi. Teguh menerima fakta adalah kebebasan sejati, freedom. Menerima fakta dan freedom adalah satu kesatuan tak terpisahkan, meski, tampak berlawanan.

Keduanya, menerima fakta dan freedom, hanya eksis jika serentak. Maksudnya, bukan ada fakta dan freedom, kemudian, digabungkan. Yang benar adalah jika menerima fakta maka ada freedom. Dan, jika ada freedom maka pasti menerima fakta. Seseorang tidak bisa hanya memilih salah satu dan menolak lainnya. Mereka selalu berpasangan: menerima fakta dan freedom.

“So, the taking up of the factical Da, the resolute taking charge of the factical conditions of the Da and of ek- sistence, will be simultaneously the decision of the situation, which means that the taking up will be neither conformist acceptance nor fatalistic resignation but decision in the situation. The freedom of the decision and the taking up of the facticity of ek- sistence will be one and the same thing, and they constitute and unite with each other through this double limitation that they seem to oppose to each other. In fact, they do not each exist authentically before their mutual opposition. There is not, strictly speaking, a mutual opposition — for that would suppose the prior existence of separated terms — but the freedom and the taking up of the situation constitute each other in and by the other, before having to oppose each other or come to an agreement in the form of paradox, as in the degraded form that these themes took in the heroic voluntarism which, in the early Sartre, was externally associated with a kind of mechanism of contingency. Cartesian regression of Heideggerian themes.” (Derrida).

Kadang orang salah mengira, mereka menganggap, freedom bertentangan dengan menerima fakta. Mereka mengira freedom adalah melampaui segala batasan fakta, melampaui warisan masa lalu, dan melampaui batasan masa kini. Sehingga, menurut mereka, pahlawan kebebasan adalah orang yang mampu lepas dari segala kekangan situasi. Derrida menilai Sartre sebagai terjebak dalam pemikiran seperti itu. Dasein Heidegerrian ditarik mundur sebagai subyek Cartesian.

Freedom, kebebasan, adalah posibilitas masa depan yang terbuka luas dengan cara menerima fakta masa lalu dan memodifikasi situasi masa kini.

Sementara, kematian adalah fakta yang pasti terjadi pada setiap orang. Mati adalah fakta sejati. Sehingga, menerima kematian adalah freedom sejati. Manusia menjadi bebas sempurna dengan menerima fakta bahwa dirinya adalah mati.

“As he says elsewhere, the point is not to speculate on death or on what is beyond death, nothingness or survival; the point is not to resign oneself to one’s mortality as though to a castration that is a relief for the master or the disciple, but to constitute the present as the past of a future: that is, to live the present not as the origin and absolute form of lived experience (of ek- sistence), but as the product, as what is constituted, derived, constituted in return on the basis of the horizon of the future and the ek- stasis of the future, this latter being able to be authentically anticipated as such only as finite to- come, that is, on the basis of the insuperability of possible death, death not being simply at the end like a contingent event befalling at the far end of a line of life, but determining at every — let’s say moment — the opening of the future in which is constituted as past what we call the present and which never appears as such.” (Derrida).

Masalahnya bukan spekulasi apakah setelah mati manusia jadi sirna atau ada kehidupan baru setelah kematian. Poinnya bukan pula akan ada siksa kubur, nikmat kubur, atau tidak ada sama sekali. Poin pentingnya adalah menjadikan masa kini (present) sebagai masa lalunya dari masa depan, past-of-future. Sehingga, kita menjalani hidup masa kini bukan sebagai “origin”, masa kini bukan sebagai bentuk absolut eksistensi. Tetapi, masa kini adalah hasil dari, dibentuk oleh, diturunkan dari, masa depan (future). Masa depan yang pasti adalah mati.

Mati bukanlah sesuatu yang akan terjadi nanti. Tetapi, mati adalah selalu terjadi setiap saat. Mati adalah pembuka masa depan. Mati menjadikan masa kini sebagai past-of-future. Mati adalah yang membentuk masa kini menjadi ada arti.

5.16 Teknologi Modifikasi

Teknologi berperan besar dalam memodifikasi being, memodifikasi question-of-being, dan memodifikasi ontologi fundamental. Orang mengira bahwa teknologi adalah sekedar alat untuk mencapai tujuan akhir melalui aktivitas tertentu. Tidak sesederhana itu, esensi teknologi adalah enframing: membingkai being, membingkai realitas, memanipulasi realitas.

“(1) Technology is the very movement that transforms activity in general into labor.

(2) The description of technology and of the relation of equipmentality and of putting to work is inseparable, in Sein und Zeit, from the structure of Mitsein that is co- originary with it.” (Derrida).

Teknologi mengubah aktivitas manusia menjadi tenaga kerja. Sehingga, manusia bisa dihitung dengan harga tenaga kerja. Manusia bisa dihitung dengan uang. Tetapi, hubungan teknologi dan manusia lebih dari sekedar nilai ekonomi. Teknologi mampu mendominasi manusia. Teknologi tidak bisa dipisahkan dari manusia dan manusia tidak bisa dipisahkan dari teknologi.

“Rather, the threat is the essence because ‘the rule of enframing threatens man with the possibility that it could be denied to him to enter into a more original revealing and hence to experience the call of a more primal truth’ “. (Wiki, Heidegger).

Ancaman dari teknologi adalah teknologi bisa memanipulasi manusia. Akibatnya, manusia menjalani hidup hampa makna karena dikendalikan oleh teknologi. Perkembangan teknologi digital lebih mengerikan lagi. Bukan hanya teknologi digital mampu memanipulasi kehidupan rakyat, tetapi, di ujung sana, ada segelintir orang yang memanfaatkan teknologi digital untuk memanipulasi rakyat.

Sama saja, orang yang didominasi teknologi hampa hidupnya. Begitu juga, orang yang mendominasi teknologi hampa hidupnya. Awalnya, orang tersebut mengira sedang mendominasi teknologi. Kenyataanya, pada akhirnya, teknologi yang mendominasi orang tersebut.

Jadi, harus bagaimana menyikapi teknologi? Modifikasi apa yang diperlukan? Bagaimana bisa harmonis dengan teknologi?

Teknologi tidak bisa berpikir. Kita, manusia, bisa berpikir. Sehingga, kita bertanggung jawab untuk memodifikasi teknologi, sedemikian hingga, teknologi membantu manusia untuk bisa berpikir-terbuka.

Ambil contoh sederhana kalkulator sebagai mesin hitung. Dengan adanya kalkulator, anak-anak malas belajar berhitung. Orang dewasa juga malas berpikir untuk menghitung harga dagangan. Jadi, teknologi kalkulator membuat manusia tidak bisa berpikir. Padahal, seharusnya, kalkulator justru membantu manusia untuk berpikir terbuka. Manusia bisa berpikir tugas hitungan tertentu diserahkan kepada kalkulator. Sementara, tugas berhitung lainnya, yang lebih penting, tetap dipikirkan oleh manusia.

Komputer cerdas, misal artificial intelligence AI, tampak lebih menakutkan. AI mampu menghafal seluruh pengetahuan umum di dunia. AI mampu berhitung cepat. AI mampu coding. AI mampu menyelesaikan semua problem matematika. Semua diselesaikan super cepat kurang dari 1 detik. Semua masalah bisa dipikirkan oleh AI. Manusia jadi malas berpikir. Manusia hanya mau mengikuti hasil pikiran AI. Ujungnya, manusia kehilangan arti.

Padahal, manusia bisa menempatkan AI sebagai partner untuk berpikir-terbuka. Beberapa masalah, suruh AI untuk memikirkannya. Kemudian, manusia memikirkan lebih lanjut hasil dari AI dengan mempertimbangkan posibilitas baru, freedom untuk semua, dan penuh komitmen.

Jadi, meski pun teknologi menimbulkan masalah, sejatinya, masalah utama ada pada manusia, ada pada dasein. Manusia menjadi malas berpikir. Manusia didominasi teknologi. Dan, manusia kehilangan arti. Tugas manusia untuk mengarahkan teknologi kembali ke jalur alami.

5.17 Repetisi

Anda bisa mengulang atau repetisi secara bebas. Anda, sebagai dasein, juga bisa memilih tidak repetisi. Ketika terjadi repetisi, maka, bisa secara otentik (jeru) atau bisa juga tidak otentik (rajeru). Repetisi jeru berbeda dengan sekedar mengulang masa lalu.

” The concept of repetition, if one remembers what has already been said, implies that repetition is something quite other than a becoming- present again, than a restoration of the past of what has been left behind. We are dealing with the very opposite of a traditionalism or a philosophy of repetition as immobile recommencement or the return to the origin like a falling back into childhood. This is why repetition has its origin in the future; and as repetition is the possibility of an authentic history, history has its possibility in the future and in death as the possibility of the impossible.” (Derrida).

Konsep repetisi berbeda dengan konsep tradisionalis atau filosofi pada umumnya. Mereka mengira bahwa repetisi adalah mengulang masa lalu, kembali kepada leluhur, atau kembali kepada masa kanak-kanak. Repetisi mereka adalah repetisi rajeru, tidak otentik.

Sementara, konsep repetisi yang benar, repetisi otentik, adalah repetisi yang berakar ke masa depan, future. Dari future menatap balik ke present, untuk kemudian, memodifikasi present agar terjadi repetisi future. Demikian juga, sejarah adalah berakar ke future. Sejarah otentik adalah repetisi dari future. Bagi kita, dasein, future yang paling pasti adalah death yang mengantar kita menjadi dasein sepenuhnya.

5.18 Enigma

Pertanyaan menjadi penting karena mendorong munculnya solusi. Pada gilirannya, setiap solusi mendorong munculnya pertanyaan baru. Mengapa begitu? Karena, memang begitu. Enigma makin enigmatic.

” This is why the end of §74, in particular, does not present itself in any way as an answer or a solution, but as a deepening of the enigma. What in particular is meant by a historicity and a privileging of the past as rooted in the future? The enigma is again that of temporalization and of that condition of the present as the past of a future.” (Derrida).

Solusi dari semua enigma adalah future. Enigma tentang ontologi fundamental, dasein, temporality, sains, dan teknologi, memiliki solusi yang berakar pada future. Di saat yang sama, future adalah enigma itu sendiri. Future adalah posibilitas meluas, freedom untuk semua, dan komitmen.

5.19 Etika

Pembahasan ontologi fundamental secara tidak langsung berhubungan dengan etika. Sehingga, teori etika masih perlu dirumuskan sebagai lanjutan question-of-being.

“(1) With the proposition according to which the hidden ethics (“ethics” in scare- quotes) that was putting Heidegger’s discourse into motion here was none other than the one that put into motion discourses which, like those of the Marxist, Nietzschean and Freudian type, could not refer to a motivation whose concept was borrowed from the philosophy they were destroying. Simply, Heidegger makes a theme of this motivation which is elsewhere a driving force.

(2) With the concept of repetition (Wiederholung), which is doubtless the only concept that is truly original and proper to a thematic of historicity in Sein und Zeit. It still had to be understood appropriately and without misunderstanding. It still had to be understood as authentic transmission — that is, as we saw, deepening the enigma of temporality and historicity, and of the privilege of a past that is not a past present.” (Derrida).

Pertama, kita tidak bisa meminjam etika dari konsep etika masa lalu yang sudah di-destruksi. Kita hanya bisa belajar dari konsep etika masa lalu. Untuk kemudian, konstruksi ulang sistem etika yang baru.

Kedua, konsep repetisi dan oto-transmisi menjadi konsep dasar bagi kita dalam konstruksi ulang sistem etika.

Repetisi adalah repetisi dari masa depan. Masa kini adalah repetisi dari future. Secara etika, setiap orang bebas menentukan masa depannya. Sehingga, masa kini juga menjadi freedom sebagai repetisi dari freedom masa depan.

Berbeda dengan repetisi masa lalu. Jika repetisi adalah repetisi masa lalu maka masa kini tidak bebas, karena, masa kini sudah dipastikan oleh masa lalu. Sebaliknya, sejatinya, manusia bebas memilih masa depan. Akibatnya, repetisi masa depan adalah dorongan semangat untuk bergerak maju dengan pegangan etika.

Konsep oto-transmisi memastikan bahwa repetisi itu sudah terjadi, akan terjadi, dan selalu terjadi. Future yang Anda pilih langsung bertransmisi ke masa kini Anda dengan bekal masa lalu. Cita-cita Anda di masa depan mendorong Anda membaca tulisan ini, saat ini, dengan didukung beragam fakta masa lalu.

Oto-transmisi memberi freedom kepada manusia untuk menjalani hidup etis berdasar past, present, atau future.

Hidup etis berdasar past, masa lalu, cocok bagi Anda yang mendapat warisan melimpah dari leluhur Anda. Barangkali leluhur Anda adalah bangsawan atau orang kaya raya. Anda memanfaatkan warisan masa lalu dengan etis. Menjalani hidup dengan baik serta berpikir-terbuka terhadap lingkungan dan beragam peluang yang ada. Hidup etis berdasar past menjadi valid karena oto-transmisi: realitas adalah bentangan future, past, dan present sebagai kesatuan.

Hidup etis berdasar present, masa kini, adalah hidup mengalir bagai air. Barangkali, ini adalah ide yang sangat menarik. Kita menjalani hidup dengan terbuka menerima apa yang ada saat ini. Menikmati berkah hidup hari ini – apa pun yang terjadi – dengan penuh syukur. Karena memang oto-transmisi future, past, dan present, maka, hidup etis berdasar present adalah valid.

Hidup etis berdasar future, masa depan, adalah hidup paling otentik dengan resiko stress berlebihan. Future adalah pilihan terbaik bagi dasein. Hidup etis adalah hidup otentik sebagai dasein futuristik. Masa depan adalah paling utama. Masa depan lebih baik bagimu dari masa lalu.

Masa depan adalah ajal kematian.

Prestasi etis apa yang ingin Anda raih ketika ajal tiba? Kebaikan apa yang hendak Anda wariskan ke generasi masa depan? Sejarah unik apa yang akan Anda tuliskan untuk dibaca umat masa depan?

5.20 Sejarah Dunia bersama Dasein

Sejarah dunia hanya bisa terjadi karena dasein, being-in-the-world, bersifat historal. Sejarah dunia bukanlah urutan dari suatu kejadian obyek disusul oleh kejadian obyek berikutnya. Sejarah dunia adalah “keterhubungan” antara obyek dengan subyek. Dalam hal ini, dasein berperan sebagai subyek. Karena dasein historal maka “keterhubungan” dengan obyek menjadi historal. Demikian juga, dunia menjadi historal.

“History is not and cannot be historical linkage, Zusammenhang, cannot link modifications of objects or sequences, Folgen, of subjective experiences. History has its place in the linking, Verkettung, of subject and object. But as this linking can be originary only if it does not link in a secondary manner an object and an already- constituted and therefore ahistorical subject, this linking is the very origin of the two terms it links.” (Derrida).

Hubungan antara subyek dan obyek adalah hubungan primordial. Bukan hubungan sekunder, yang baru ditambahkan, antara subyek dan obyek. Subyek dan obyek tidak eksis mendahului “hubungan” mereka. Mereka – subyek, obyek, dan hubungan – eksis secara bersama-sama. Mereka adalah dasein yang peduli sebagai being-in-the-world. “Hubungan” bersifat historal sebagaimana dasein juga historal. Mereka adalah histori otentik.

“But nature, insofar as its meaning as nature is constituted on the basis of the ek- sistence of Dasein, its nature- meaning as landscape, as field of cultivation, place of worship, field of battle or conquest, raw material, and so on. To this extent nature is historical (no life). So the totality of the world is historical, whether one designate by “world” the world of nature or the world of culture; the world is historical; that means that the world is not, but worlds in the ek- static transcendence of Dasein, in the historialization of Dasein.” (Derrida).

Alam bisa bermakna sebagai medan eksistensi bagi dasein. Alam adalah medan petualangan bagi dasein. Alam, dalam makna tersebut, adalah historal tanpa kehidupan. Sampai di sini, kita bisa bertanya, apa ada dasein selain manusia? Mengapa tidak ada? Jika ada, maka, siapakah dasein itu?

Secara total, dunia adalah historal. Baik, yang dimaksud dunia adalah budaya manusia mau pun alam. Dengan demikian, terbuka bagi kita mengembangkan sains sejarah secara otentik.

5.21 Sejarah Sains

Sains bersifat historal. Sains memiliki sejarah. Dan, ilmu sejarah itu sendiri historal.

“(1) Historical science is historical: it has a history. It is not; it historizes itself and its object is historical. And it can have an object only if Geschichte precedes it, as it were. As Hegel said, the twin possibilities of history and Geschichte are of a piece, but, says Heidegger, history is in its essence belated with respect to Geschichte. It is constituted as this belatedness itself.

Sejarah sains memang historal – punya sejarah. Tetapi sejarah sains tidak bisa membuat sejarahnya sendiri. Geschichte, narasi, mendahului sejarah sains. Jadi, sejarah sains itu terlambat. Dari narasi, kemudian, kita baru bisa menyusun sejarah sains.

Sehingga, secara ontologis, kita tidak bisa menyandarkan sejarah sains hanya kepada klaim fakta sejarah. Pertama, sejarah sains berdasar fakta sejarah tidak menunjukkan bagian mana sejarah otentik. Kedua, penilaian sejarah sains berdasar fakta sejarah adalah sebuah idea, yaitu, idea tentang sejarah otentik.

Dengan demikian, meski fakta obyektif sejarah itu sangat penting, tetap saja, karakter pentingnya sekunder. Tetapi, sekunder terhadap apa?

(2) The guiding thread for this ontological genesis of historical science cannot be borrowed from existing history, such as it is practiced in fact by historians. And this for de jure reasons. First because nothing tells us that the practice of historians corresponds to what an authentic historical science should be. And in truth to judge what the de facto practice of historical science is worth I have to refer to the Idea (in the sense of the Idea of authentic history).

(3) The problems that are called problems of historical objects and objectivity, however important and decisive, are secondary. Secondary with regard to what?” (Derrida).

“It follows that the value of a historical science, if such is its origin, depends primarily on the authenticity of the historical repetition that — before seeking or finding “positive facts” (Tatsachen), “a positive presence” (Being and Time, 375) resuscitated — will place itself in relation with the silent force of the possible without which there would be no Dasein and no Gewesenheit. This possible, if one understands it correctly and not as indeterminacy, freedom, individual potential, and so on (metaphysical determinations), is the true theme of history. It is in this direction that one must seek the “positive,” the authentic Tatsächliches. It is on the basis of the future that the historian must repeat, and he must repeat toward a past that was also an opening toward the future, which never was a present and positive fact.” (Derrida).

Nilai penting dari sejarah sains adalah ketika sejarah didasarkan kepada repetisi-histori yang otentik. Kemudian, sejarah sains membaca fakta sejarah berdasar repetisi-histori tersebut. Repetisi-histori otentik adalah repetisi dari future, bukan repetisi dari masa lalu. Sehingga, repetisi adalah mengungkap posibilitas yang luas. Posibilitas yang beriringan dengan freedom dan komitmen adalah tema sejati dari kajian sejarah sains. Dalam konteks ini – posibilitas, freedom, dan komitmen -, fakta sejarah menjadi penting dan sains sejarah menjadi lebih penting lagi.

Landasan dari ilmu sejarah adalah kesatuan ekstase temporal masa depan, masa lalu, dan masa kini dari dasein.

“Dasein exists as futural authentically in the resolute disclosure of a chosen possibility. Resolutely coming back to itself, it is open, in repetition, for the “monumental” possibilities of human existence. The historiography (Historie) arising from this historicity (Geschichtlichkeit) is “monumental.” As having- been (gewesendes), Dasein is delivered over to its thrownness. In appropriating the possible in repetition, there is pre- scribed at the same time the possibility of reverently preserving (Bewahrung) the existence that has been- there, in which the possibility taken up became manifest. As monumental, authentic historiography (Histoire) is thus “antiquarian” (antiquarisch). Dasein temporalizes itself in the unity of future and the having- been as the present. The present, as the Moment, discloses the today authentically. But insofar as the today is interpreted on the basis of the futurally repetitive
understanding (zukünftig- wiederholenden Verstehen) of a possibility taken up from existence, authentic historiography (Historie) is de- presentification of the today (Entgegenwärtigung des Heute); that is, it becomes the painful way of detaching itself (Sichlösen) from the entangled publicness of the today [a precise concept for Heidegger]. As authentic, monumental- antiquarian historiography is necessarily a critique of the “present.” (Being and Time, 376– 77) (Heidegger).

Dasein otentik adalah manusia futuristik yang menerapkan freedom untuk mengungkap posibilitas luas dengan penuh komitmen. Komitmen itu kembali pada dirinya sendiri, keterbukaan, posibilitas “monumental” bagi eksistensi manusia. “Monumental” adalah tonggak sejarah sains.

Dasein selalu sudah berada dalam situasi, being-in-the-world, yang sudah menjadi fakta. Situasi tersebut memberi posibilitas baru untuk berubah, di saat yang sama, memberi posibilitas untuk tetap menjaga yang sudah ada. Dasein bertemporalisasi dengan membentangkan future ke past sampai hadir sebagai present. Present, sebagai momen, mengungkap masa kini secara otentik. Sejauh, present sebagai repetisi dari future. Sehingga, sejarah otentik adalah de-presentification dari masa kini. Jadi, sejarah adalah kritik terhadap “present” agar lebih kuat menatap future.

5.22 Being Melebihi Dasein

Bagaimana dengan being secara umum? Bukan sekedar being-there atau dasein?

Kajian kita di atas membahas question-of-being melalui question-of-being-there. Pertanyaan being-general, being secara umum, tetap muncul di hadapan kita. Apakah kajian yang sama akan valid untuk mengkaji being secara umum?

“Something like ‘Being’ has been disclosed in the understanding-of-Being which belongs to existent Dasein as a way in which it understands. Being has been disclosed in a preliminary way, though non-conceptually; and this makes it possible for Dasein as existent Being-in-the-world to comport itself towards entities-towards those which it encounters within-the-world as well as towards itself as existent. How is this disclosive understanding of Being at all possible for Dasein? Can this question be answered by going back to the primordial constitution-of-Being of that Dasein by which Being is understood ? The existential-ontological constitution of Dasein’s totality is grounded in temporality. Hence the ecstatical projection of Being must be made possible by some primordial way in which ecstatical temporality temporalizes. How is this mode of the temporalizing of temporality to be Interpreted ? Is there a way which leads from primordial time to the meaning of Being ? Does time itself manifest itself as the horizon of Being?” (Heidegger).

Tampaknya, Heidegger optimis bahwa kita akan berhasil menjawab question-of-being secara umum dengan pendekatan kajian yang mirip. Tak semudah yang dibayangkan. Setelah mengkaji dasein, beberapa tahun kemudian, Heidegger justru menghadapi “putaran” kajian filosofis. Heidegger mengkaji bahasa, histori, teknologi, sampai karya seni. Sehingga, beberapa orang menduga bahwa “putaran” ini menandakan kajian dasein menemui jalan buntu.

Baru pada tahun 1962, Heidegger berusia 73 tahun, terbit tulisan dan kuliah “Time and Being.” Di satu sisi, kita bisa memandang “Time and Being” merupakan lanjutan kajian dasein menuju being secara umum. Di sisi lain, terpisah jarak dan waktu 35 tahun dari terbitnya “Being and Time”, tampak sulit untuk mengklaim mereka sebagai satu kesatuan. Ditambah lagi, “Time and Being” hanya terdiri dari 25 halaman. Berbeda dengan “Being and Time” yang terdiri sekitar 500 halaman. Bagaimana pun kita akan mengkaji “Time and Being” secara memadai.

“During the last three decades of his life, from the mid 1940s to the mid 1970s, Heidegger wrote and published much, but in comparison to earlier decades, there was no significant change in his philosophy. In his insightful essays and lectures, such as “What are Poets for?” (1946), “Letter on Humanism” (1947), “The Question Concerning Technology” (1953), “The Way to Language” (1959), “Time and Being” (1962), and “The End of Philosophy and the Task of Thinking” (1964), he addressed different issues concerning modernity, labored on his original philosophy of history—the history of being—and attempted to clarify his way of thinking after “the turn”.” (IEP).

Kita bisa mengatakan bahwa “Time and Being” adalah karya Heidegger paling matang. Tetapi, saya tidak menemukan bukti bahwa Derrida membaca karya ini. Sehingga, kita akan mengkaji dari beragam sumber yang berbeda.

5.23 Time and Being

“Time and Being” tampak hanya kebalikan dari “Being and Time.” Jika hanya pembalikan maka itu sekedar permainan kata murahan. Sejatinya, tersimpan sesuatu yang sangat mendalam di “Time and Being”. Bahkan, Heidegger sendiri mengingatkan bahwa kajian yang mendalam ini sangat sulit dimengerti. Sehingga, bila hanya sedikit pembaca yang memahaminya maka wajar saja. Anda juga beresiko menghadapi kesulitan yang sama.

Mengapa kajian ini menjadi sulit? Tidak bisakah dibuat lebih mudah?

1) Karena kajian fundamental. Sehingga, pengalaman sehari-hari tidak selalu memadai untuk dijadikan contoh. Demikian juga bahasa sehari-hari, sering tidak memadai. Bahasa sehari-hari yang merupakan bahasa-formal perlu kita geser menjadi bahasa-being.

2) Sebelum logika. Kajian ini adalah kajian pra-logika atau sebelum logika. Kita tidak bisa menerapkan aturan logika dengan ketat di sini. Karena, kita justru sedang menyelidiki fundamental dari prinsip-prinsip logika.

3) Perlu pengalaman dan perenungan. Untuk bisa memahami, masing-masing dari kita perlu merenungkan dan, sampai taraf tertentu, perlu mengalami berpikir problem fundamental filosofi. Dan, penting bagi kita sadar bahwa ada problem fundamental “Time and Being” yang menuntut solusi.

Bagi seseorang yang menganggap time adalah waktu yang diukur oleh jam, dan Being adalah segala sesuatu yang bisa dipersepsi, maka, kajian “Time and Being” tidak ada gunanya. Ditambah lagi, kajian ini tidak akan pernah bisa dipahami dengan anggapan semacam itu. Jadi, kita perlu berpikir-terbuka dengan mengikuti alunan iramanya.

“Let me give a little hint on how to listen. The point is not to listen to a series of propositions, but rather to follow the movement of showing.” (Time and Being, Heidegger)

5.24 Being Secara Umum

Kita bisa menduga, Heidegger lebih fokus kepada kajian Being dari pada dasein. Tentu saja, ini langkah maju yang harus ditempuh Heidegger. Dan, “time” mendapat posisi istimewa dalam kajian. Bahkan, “time” bisa kita pandang lebih “istimewa” dari Being itu sendiri.

“Being is not a thing, thus nothing temporal, and yet it is determined by time as presence.

Time is not a thing, thus nothing which is, and yet it remains
constant in its passing away without being something temporal like the beings in time.

Being and time determine each other reciprocally, but in such a manner that neither can the former -Being- be addressed as something temporal nor can the latter -time- be addressed as a being.” (Time and Being, Heidegger).

Being mau pun time, sama-sama, bukan sesuatu, not-a-thing, nothing. Being adalah nothing yang temporal, ditentukan oleh waktu sebagai presence.

Time adalah nothing yang niscaya terus berlalu, tanpa menjadi sesuatu yang temporal, tanpa menjadi being di dalam waktu.

Being dan time saling mempengaruhi tanpa ada yang menjadi prioritas. Being dan time adalah setara. Mereka saling menghormati. Kita perlu berpikir dengan waspada dalam hal ini. Kontradiksi bisa terjadi di berbagai tempat.

Being adalah masalah bagi yang berpikir. Being adalah matter bagi yang berpikir. Tetapi, Being bukan sebuah being. Demikian juga time adalah masalah bagi yang berpikir. Tetapi, matter yang nothing temporal.

“Being-a matter, but not a being.
Time-a matter, but nothing temporal.” (Time and Being, Heidegger).

Being, sepanjang sejarah, bertransformasi dalam berbagai istilah. Transformasi ini bagai sejarah Being itu sendiri. Tetapi, sejarah Being berbeda dengan sejarah kota, misalnya. Karena sejarah Being ditentukan oleh Being itu sendiri. Di antara beberapa transformasi presencing adalah logos, Esa, Meliputi segala, idea, energeia, substansi, obyektivitas, will, cinta, spirit, power, akal, dan lain-lain.

“However, we can also note historically the abundance of transformations of presencing by pointing out that presencing shows itself as the hen, the unifying unique One, as the logos, the gathering that preserves the All, as idea, ousia. energeia, substantia, actualitas, perceptio, monad, as objectivity, as the being posited of self-positing in the sense of the will of reason, of love, of the spirit, of power, as the will to will in the eternal recurrence of the same. Whatever can be noted historically can be found within history. The development of the abundance of transformations of Being looks at first like a history of Being.” (Time and Being, Heidegger).

Dengan beragam transformasi Being sepanjang sejarah itu, Being masih tetap bersembunyi. Being hadir sebagai anugerah, presencing, di saat yang sama, anugerah itu menutupi Being. Kita perlu memilih bahasa yang tepat, sedemikian hingga, membantu menyiapkan pikiran kita berpikir-terbuka berhadapan dengan Being.

“When Plato represents Being as idea and as the koinonia of the Ideas, when Aristotle represents it as energeia, Kant as position, Hegel as the absolute concept, Nietzsche as the will to power, these are not doctrines advanced by chance, but rather words of Being as answers to a claim which speaks in the sending concealing itself, in the “there is, It gives, Being.” Always retained in the withdrawing sending, Being is unconcealed for thinking with its epochal abundance of transmutations. Thinking remains bound to the tradition of the epochs of the destiny of Being, even when and especially when it recalls in what way and from what source Being itself receives its appropriate determination, from the “there is, It gives Being.” The giving showed itself as sending.

Pilihan kata yang tepat untuk Being adalah “there is Being” atau “ada Being”. Atau “It gives Being” atau “Dia memberi Being.”

Ketika Plato menyatakan Being sebagai idea, Aristoteles sebagai energeia, Kant sebagai posisi, Hegel sebagai konsep absolut, Nietzsche sebagai will to power, doktrin-doktrin ini bukan sembarangan. Doktrin-doktrin ini sebagai respon terhadap kata Being yang hadir sekaligus menyembunyikan diri.

Ketika kita menyatakan “It gives Being” atau “Dia memberi Being”, maka, “It” atau “Dia” berperan besar dalam menentukan Being. Apa atau bagaimana maksud dari “It”?

But how is the “It” which gives Being to be thought? The opening remark about the combination of “Time and Being” pointed out that Being as presence, as the present in a still undetermined sense, is characterized by a time-character and thus by time. This gives rise to the supposition that the It which gives Being, which determines Being as presencing and allowing-to-presence, might be found in what is called “time” in the title Time and Being.” (Heidegger).

Kita menduga bahwa yang dimaksud dengan “It” adalah time. Dugaan ini, meski baru dugaan awal, mengantar kita untuk mengkaji time disandingkan dengan Being. Sehingga, kita berharap mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

5.25 Time

Time yang kita maksud, kali ini, bukanlah waktu yang diukur dengan jam. Time bukan hasil pengukuran mau pun perhitungan. Karena time bukanlah sesuatu. Time is not a thing.

Tentu saja bayangan paling umum tentang waktu adalah perjalanan waktu dari masa lalu, masa kini, menuju masa depan. Dalam sains, kita bisa menggambarkan sumbu waktu seperti itu berupa garis lurus. Atau, jika kita mempertimbangkan teori relativitas bahwa materi bisa melengkungkan waktu, maka, kita bisa menggambar garis waktu yang melengkung. Sekali lagi, kita tidak sedang membahas waktu secara ontic seperti itu. Pada kesempatan kali ini, kita membahas waktu atau time secara ontologi fundamental.

“But the combination of time and Being contains the directive to explain time in its peculiarity in the light of what was said of Being. Being means: presencing, letting-be present: presence. Thus we might read somewhere the notice: “The celebration took place in the presence of many guests.” The sentence could be formulated just as well: “with many guests being present.”

The present – as soon as we have named it by itself, we are already thinking of the past and the future, the earlier and the later as distinct from the now. But the present understood in terms of the now is not at all identical with the present in the sense in which the guests are present.” (Time and Being, Heidegger).

Kombinasi time dan Being memberi arah lebih jelas kajian kita. Being bermakna “presencing” atau menghadirkan di saat ini. Makna dari saat ini berimplikasi ada saat yang lain yaitu saat yang lalu dan saat yang akan datang. Makin jelas, di sini, hubungan time dan Being.

Hegel setuju dengan Aristoteles bahwa waktu sejati adalah sekarang atau now. Masa lalu adalah now yang sudah berlalu. Masa depan adalah now yang belum datang. Sementara, Kant menyatakan bahwa waktu berdimensi satu. Kita masih perlu mengkaji lebih jauh tentang time ini.

Tetapi, apa itu waktu? Di mana waktu bertempat? Jelas, waktu bukanlah tiada. Kita justru mengatakan “ada waktu”. Bagaimana kita bisa menemukan waktu?

Siapa kita? Kita adalah manusia. Lagi, kita perlu hati-hati di sini. Karena, kita terlibat dalam kajian yang sedang kita kaji: time dan Being.

Bagaimana kita menentukan time yang hadir ke kita?

“How are we to determine this giving of presencing that prevails in the present, in the past, in the future? Does this giving lie in this, that it reaches us, or does it reach us because it is in itself a reaching? The latter. Approaching, being not yet present, at the same time gives and brings about what is no longer present, the past, and conversely what has been offers future to itself.

The reciprocal relation of both at the same time gives and brings about the: present. We say “at the same time,” and thus ascribe a time character to the mutual giving to one another of future, past and present, that is, to their own unity.” (Time and Being, Heidegger).

Bagaimana kita bisa meraih masa kini (present), masa lalu (past), dan masa depan (future)? Apakah karena mereka dalam diri mereka sendiri – present, past, dan future – saling meraih? Benar, mereka saling meraih. Future meraih past dan present. Past memberi future dan present. Present adalah masa lalu dari future. Future memberi, dan meraih, dirinya sendiri yaitu present dan past. Mereka, di saat yang sama, adalah kesatuan.

Future memberi arah gerak bagi present. Future menarik, dan mendorong, present. Present memodifikasi diri dengan antisipasi future dan bermodal fakta past. Mereka adalah tiga dimensi time yang saling interaksi: future, present, dan past. Kesatuan ekstase time ini menciptakan proses “extending” pada time. Lengkap, waktu sejati memiliki empat dimensi. Extending adalah dimensi keempat.

Tetapi, apa yang mereka saling berikan? Saling raih? Tidak ada yang lain selain diri mereka sendiri. Mereka – future, present, dan past – saling menghadirkan diri. Mereka self-extending sehingga membuka ruang time-space baru. Pembukaan yang mendekatkan – dan menjauhkan – antara future, present, dan past.

“But what do they offer to one another? Nothing other than themselves-which means: the presencing that is given in them. With this presencing, there opens up what we call time-space. But with the word “time” we no longer mean the succession of a sequence of nows. Accordingly, time-space no longer means merely the distance between two now-points of calculated time, such as we have in mind when we note, (or instance: this or that occurred within a time-span of fifty years). Time-space now is the name for the openness which opens up in the mutual self-extending of futural approach, past and present.” (Time and Being, Heidengger).

Lalu, di mana itu semua terjadi? Di mana, tempat, time saling memberi? Di mana, tempat, proses extending itu berlangsung? Kita belum bisa bertanya tentang tempat. Bahkan, kita juga belum bisa bertanya tentang waktu kapan – dalam pengertian waktu yang diukur oleh jam atau alat ukur lainnya. Kita tidak bisa bertanya di bagian mata kiri atau kanan, tempat, letak kepala manusia. Proses extending adalah proses yang memungkinkan terbukanya ruang dan waktu dalam pengertian sehari-hari.

Pertanyaan kita masih sama, “Bagaimana kita bisa menemukan waktu?” Jawabannya: kita pasti sudah menemukan waktu. Dari lahir sampai mati, manusia selalu bersama waktu. Manusia selalu punya waktu. Karena, Dia memberi waktu kepada manusia. “It gives time. It gives Being.”

“True time is the nearness of presencing out of present, past and future-the nearness that unifies time’s threefold opening extending. It has already reached man as such so that he can be man only by standing within the threefold extending, perduring the denying, and withholding nearness which determines that extending. Time is not the product of man, man is not the product of time. There is no production here. There is only giving in the sense of extending which opens up time-space.” (Time and Being, Heidegger).

5.26 Determinasi Dia

Kita perlu klarifikasi, determinasi, apa yang dimaksud dengan “Dia” dalam ungkapan “Dia memberi waktu” dan “Dia memberi Being”. Tanpa determinasi maka kita berada dalam bahaya keburaman. “It gives time.” “It gives Being.”

“The giving in “It gives Being” proved to be a sending and
a destiny of presence in its epochal transmutations.

The giving in “It gives time” proved to be an extending, opening up the four-dimensional realm.

Insofar as there is manifest in Being as presence such a thing as time, the supposition mentioned earlier grows stronger that true time, the fourfold extending of the open, could be discovered as the “It” that gives Being, i.e., gives presence. The supposition appears to be fully confirmed when we note that absence, too, manifests itself as a mode of presence. What has-been which, by refusing the present, lets that become present which is no longer present; and the coming toward us of what is to come which, by withholding the present, lets that be present which is not yet present-both made manifest the manner of an extending opening up which gives all presencing into the open.” (Time and Being, Heidegger).

Makna “giving” dalam “It gives Being” adalah “a sending dan a destiny” dari suatu kehadiran dalam suatu perubahan. Sedangkan makna “It” adalah time sejati.

Makna “giving” dalam “It gives time” adalah “extending” yang merupakan interaksi dari total 4 dimensi waktu: future, present, past, dan extending itu sendiri. Sementara, makna “It” masih perlu kita kaji.

5.27 Appropriation

Sampai di sini, kita bisa mengkaji interaksi antara time dan Being. Bagaimana mereka, time dan Being, saling mempengaruhi?

“What determines both, time and Being, in their own, that
is, in their belonging together, we shall call: Ereignis, the event of Appropriation. Ereignis will be translated as Appropriation or event of Appropriation. One should bear in mind, however, that “event” is not simply an occurrence, but that which makes any occurrence possible. What this word names can be thought now only in the light of what becomes manifest in our looking ahead toward Being and toward time as destiny and as extending, to which time and Being belong. We have called both – Being and time – “matters.” The “and” between them left their relation to each other indeterminate.” (Time and Being, Heidegger).

Appropriation. Appropriasi. Penghomatan. Pengkhidmatan. Kita bisa memaknai “It” sebagai appropriasi dalam “It gives Being” dan “It gives time.” Kita perlu hati-hati memaknai appropriasi – bukan sebagai proses seperti biasa. Appropriasi adalah yang memungkinkan terjadinya semua proses. Lebih hati-hati lagi, appropriasi bukanlah genus, sedemikian hingga, time dan Being menjadi aggota genus tersebut. Bukan seperti itu.

Bukan pula time sudah eksis, dan Being sudah eksis, kemudian mereka melakukan interaksi berupa appropriasi. Bukan begitu. Tetapi, Being menjadi Being, dan time menjadi time, ketika mereka saling appropriasi. Time dan Being saling berkhidmat.

Selanjutnya, pertanyaan yang wajar, “Apa itu appropriasi?”

“Our seemingly innocent question, What is Appropriation? demands information about the Being of Appropriation. But if Being itself proves to be such that it belongs to Appropriation and from there receives its determination as presence, then the question we have advanced takes us back to what first of all demands its own determination: Being in terms of time. This determination showed itself as we looked ahead to the “It” that gives, looked through the interjoined modes of giving: sending and extending. Sending of Being lies in the extending, opening and concealing of manifold presence into the open realm of time-space. Extending, however, lies in one and the same with sending, in Appropriating. This, that is, the peculiar property of Appropriation, determines also the sense of what is here called ‘lying.'” (Time and Being, Heidegger).

Pertanyaan terhadap esensi, atau Being, dari appropriasi membawa kita kembali membahas Being. Di mana, sudah kita bahas, sending dan extending saling menentukan dalam interaksi Being dan time. Demikianlah, menariknya appropriasi. Determinasi appropriasi masih tetap terbuka terhadap freedom. Determinasi yang terlalu kuat akan mengubah kajian ontologi fundamental menjadi kajian ontic. Sementara, kita perlu komitmen terhadap kajian ontologi fundamental kali ini. Di bagian bawah, saya akan mencoba komparasi dengan mengkaji teori Relativitas Umum dari Einstein sebagai kajian ontic.

5.28 Metafisika Lagi

Kita akan tetap berhadapan dengan masalah metafisika, lagi. Meski, kita sudah melakukan destruksi metafisika, tetap saja, kita perlu rekonstruksi metafisika. Sehingga, kita perlu bersikap bijak terhadap metafisika. Destruksi adalah sikap yang bijak. Destruksi bukan menolak metafisika. Destruksi adalah meruntuhkan metafisika, untuk kemudian, mengungkap dengan jelas apa yang semula bersembunyi di balik tabir metafisika. Appropriasi, pada gilirannya, akan berhadapan dengan metafisika.

“Formerly, philosophy thought Being in terms of beings as idea, energeia, actualitas, will and now, one might think, as Appropriation. Understood in this way, ”Appropriation” means a transformed interpretation of Being which, if it is correct, represents a continuation of metaphysics. In this case, the “as” signifies: Appropriation as a species of Being, subordinated to Being which represents the leading concept that is retained. But if we do what was attempted, and think Being in the sense of the presencing and allowing-to-presence that are there in destiny-which in turn lies in the extending of true time which opens and conceals-then Being belongs into Appropriating. Giving and its gift receive their determination from Appropriating. In that case, Being would be a species of Appropriation, and not the
other way around.

To take refuge in such an inversion would be too cheap.” (Time and Being, Heidegger).

Dalam sistem metafisika, Being adalah paling universal. Sehingga, kita bisa menganggap appropriasi sebagai anggota atau spesies dari Being. Tetapi, kita sudah membahas, appropriasi sebagai “sending dan extending” adalah lebih prior dari Being. Akibatnya, Being adalah spesies dari appropriasi. Pembalikan sistem metafisika seperti itu, seandainya valid, terlalu murahan. Kita perlu kajian yang lebih mendalam.

“Because Being and time are there only in Appropriating, Appropriating has the peculiar property of bringing .man into his own as the being who perceives Being.by standing within true time. Thus Appropriated, man belongs to Appropriation.

This belonging lies in the assimilation that distinguishes Appropriation. By virtue of this assimilation, man is admitted to the Appropriation. This is why we can never place Appropriation in front of us, neither as something opposite us nor as something all encompassing. This is why thinking which represents and gives account corresponds to Appropriation as little as does the saying that merely states.” (Time and Being, Heidegger).

Appropriasi adalah pengkhidmatan. Being berkhidmat kepada time. Dan, time berkhidmat kepada Being. Being dan time saling berkhidmat. Demikian juga, manusia adalah pengkhidmatan, appropriasi. Manusia respek kepada Being, respek kepada time. Karena, manusia sejati adalah respek itu sendiri, pengkhidmatan itu sendiri yaitu appropriasi.

“But do we by this road arrive at anything else than a mere thought-construct? Behind this suspicion there lurks the view that Appropriation must after all “be” something. However: Appropriation neither is, nor is Appropriation there. To say the one or to say the other is equally a distortion of the matter, just as if we wanted to derive the source from the river.” (Time and Being, Heidegger).

Tetapi, jangan-jangan, appropriasi hanya sistem metafisika hasil konstruksi pikiran? Tidak. Pikiran tidak bisa meng-konstruksi appropriasi. Kita hanya bisa berpikir-terbuka menghadapi appropriasi. Appropriasi tidak bisa dinyatakan sebagai “adalah”. Tidak juga bisa dinyatakan sebagai “yaitu”. Kita hanya bisa mendeskripsikan appropriasi dengan berpikir-terbuka.

“The task or our thinking has been to trace Being to its own from Appropriation – by way of looking through true time without regard to the relation of Being to beings. To think Being without beings means: to think Being without regard to metaphysics.

Yet a regard for metaphysics still prevails even in the intention to overcome metaphysics. Therefore, our task is to cease all overcoming, and leave metaphysics to itself.

If overcoming remains necessary, it concerns that thinking that explicitly enters Appropriation in order to say It in terms of It about It.” (Time and Being, Heidegger).

Appropriasi bukan konsep metafisika, sehingga, tidak perlu membangun sistem metafisika untuk appropriasi. Metafisika adalah mengkaji Being melalui Being-of-being. Sementara, kajian appropriasi tidak melakukan itu. Kajian appropriasi mengikuti alur berpikir-terbuka dengan mengkaji waktu-sejati atau true-time. Karakter ekstase future, present, dan past dari true-time serta extending megantarkan berpikir-terbuka sampai ke appropriasi.

Saya yakin, Heidegger bahagia sekali dengan keberhasilannya menjawab question-of-being, ontologi fundamental, dengan terlepas dari metafisika di usianya yang 73 tahun. Disusul, dua tahun kemudian, dia menuliskan “Akhir dari Filsafat dan Tugas Berpikir.”

Bagaimana pun, ketika kita membahas appropriasi maka kita menggunakan bahasa. Di satu sisi, bahasa-formal adalah metafisika itu sendiri. Di sisi lain, bahasa-being adalah rumah-being yang mengantar berpikir-terbuka mencapai sikap ontentik. Ketika metafisika tidak bisa dilampaui, maka, biarkan saja. Sementara, kajian ontologi fundamental akan menemukan jalannya sendiri.

5.29 Tataluma

Tata adalah segala sesuatu menjadi nyata karena ter-tata. Nyata secara fisik, konsep, atau spiritual perlu tata. Bahkan, sesuatu yang tampaknya tidak tertata, pada analisis mendalam, mereka selalu tertata.

Luma adalah selalu memberi tiada henti. Memberi kebaikan, memberi energi, memberi materi, dan memberi segalanya. Hanya karena ada pemberian luma maka segalanya, kemudian, bisa ditata.

Tata dan luma adalah satu kesatuan dari tataluma.

5.30 Urip Urup

Urip iku urup. Hidup itu menyala. Being adalah hidup bermakna, urip. Tata adalah urip. Sedangkan, waktu adalah urup dengan menyala dari masa depan. Luma memberi nyala dari urup masa depan.

5.31 Relativitas Einstein

Teori Relativitas Einstein adalah teori sains paling fenomenal sepanjang sejarah – setidaknya, sejak awal abad 20 sampai abad 21 ini. Teori Relativitas Khusus merevisi teori mekanika klasik Newton dengan cara menetapkan postulat bahwa kecepatan cahaya adalah kecepatan maksimum. Tidak ada kecepatan yang lebih besar dari kecepatan cahaya – di ruang hampa. Konsekuensinya, ukuran kecepatan itu terbatas. Tidak bisa sebarang besar. Tidak bisa melebihi kecepatan cahaya. Karena ukuran kecepatan ada batas maksimal, maka, teori sains fisika perlu revisi besar-besaran.

Apa pentingnya membahas teori Relativitas?

Pertama, teori sains – termasuk Relativitas – adalah penting bagi umat manusia. Sains adalah pengetahuan-ontic yang sama penting dengan pengetahuan-ontologis. Kita memang perlu destruksi terhadap sains, dengan goncangan besar, agar meruntuhkan struktur-struktur tersembunyi, untuk kemudian, mengungkap kebenaran. Dasein, kita, juga membutuhkan sains sebagai faktum untuk mengembangkan question-of-being.

Problem muncul ketika Heidegger mengatakan bahwa sains adalah mode pengetahuan yang tidak-ontentik. Sementara, question-of-being adalah mode otentik. Beberapa orang mengira pernyataan Heidegger seperti di atas sebagai peremehan kepada sains. Tidak. Pembedaan di atas hanya sebagai pembedaan mode belaka. Keduanya, sains dan question-of-being, sama-sama penting bagi umat manusia.

Bahkan, dalam intro kuliah Time and Being, Heidegger menyebut kemajuan penting sains yang dikembangkan oleh Heisenberg. Saking canggihnya sains fisika maka hanya sedikit orang yang mampu memahaminya. Demikian juga kuliah Time and Being, hanya akan ada sedikit orang yang memahaminya.

Kedua, Relativitas Einstein membahas problem fundamental sains yaitu ruang dan waktu. Selaras dengan kajian ontologi fundamental yaitu Being dan time. Kita bisa mempelajari bagaimana teori Relativitas menyelesaikan problem fundamental tersebut.

Teori sains, biasanya, sudah menerima eksistensi ruang dan waktu apa adanya, just given. Misal, fisika menerima eksistensi materi dan energi dalam ruang dan waktu. Fisika tidak perlu menyelidiki apa itu ruang dan waktu. Teori Quantum mengkaji partikel sub-atomik yang eksis dalam ruang dan waktu. Termasuk, Relativitas Khusus dari Einstein juga mengkaji fenomena gelombang elektromagnetik dalam ruang dan waktu.

Relativitas Umum berbeda dengan teori sains lainnya. Relativitas Umum mengkaji, merumuskan, bagaimana bisa muncul ruang dan waktu. Secara filosofis, Einstein tidak menerima eksistensi ruang hampa yang mandiri. Einstein meyakini ruang eksis karena ada materi atau energi.

Ketiga, solusi Relativitas adalah memberi fomula hubungan time dengan materi. Solusi ini mirip dengan solusi ontologi fundamental yang menghubungkan time dan Being. Dengan satu sudut pandang, kita bisa membaca formula persamaan Relativitas Einstein menyatakan hubungan time, di sebelah kiri, dan energi, di sebelah kanan.

Time, ruang dan waktu, bisa dilengkungkan oleh energi, atau massa materi. Atau, sebaliknya. Time, ruang dan waktu, menentukan eksistensi energi, massa materi.

Bagaimana time dan energi bisa saling mempengaruhi? Einstein mengkaji masalah ini sampai puluhan tahun di akhir masa hidupnya. Einstein meyakini bahwa time dan energi dihubungkan, ditentukan, didasarkan kepada medan. Lebih jauh, Einstein menyebut yang dimaksud medan adalah medan gravitasi.

Saya membaca, maksud medan gravitasi adalah medan secara ontologis. Tetapi, saintis generasi berikutnya memahami medan secara ontic. Sehingga, perkembangan teori Relativitas selanjutnya konsisten merupakan kajian ontic. Di antaranya, berkembang Loop Quantum Gravity dan Teori String.

Jika kita mengkaji medan gravitasi secara ontologis maka kita mengajukan pertanyaan bagaimana time saling mempengaruhi dengan energi? Pertanyaan ini, senada dengan bagaimana time saling mempengaruhi dengan Being? Kita sudah menjawab pertanyaan terakhir ini, jawabannya, adalah appropriasi. Sedangkan jawaban untuk pertanyaan pertama adalah gravitasi. Jika benar, maka, kajian sains kontemporer perlu meneliti hubungan energi, gravitasi, dan time. Dengan menempatkan gravitasi sebagai fundamental atau sebagai relasi antara energi dan time.

6. Metafisika Infinity Absolut

6.1 Rumah-Being: Bahasa Matematika

6.2 Infinity-Infinity

6.3 Void Absolut

7. Aktualisasi Being: Berpikir Terbuka

Segalanya adalah real dan aktual. Hanya ada yang aktual. Sehingga, aktualisasi Being menjadi paling penting. Pengertian aktual, di sini, bukan lawan dari potensial, bukan lawan dari kemungkinan. Aktual adalah benar-benar aktualisasi dari hakikat Being yang terus-menerus beraksi dan appropriasi.

Being yang berakar pada time-sejati, pada luma, terus-menerus bersifat futural, menerobos masa depan. Luma melimpahkan kebaikan aktual. Tidak ada pembatasan pada luma. Batas dari luma adalah tidak ada batas. Luma adalah aktual tanpa batas, absolut.

Sementara, Being yang berakar pada tata senantiasa menjadi alunan harmoni. Semua yang aktual adalah harmonis, selaras bersama tata. Hanya yang tertata yang ada.

Dari sisi kita sebagai manusia, bagaimana bisa menjadi manusia yang aktual? Tentu saja dengan cara aktualisasi melalui berpikir-terbuka. Membersihkan beragam halangan. Membersihkan beragam kotoran. Berpikir-terbuka menerima segala yang ada dengan ikhlas. Berpikir-terbuka memberi makna kepada yang tersembunyi, di masa lalu atau masa depan, menjadi aktual. Berpikir terbuka menjalani hidup hari ini penuh arti. Urip iku urup.

Berpikir-terbuka mengantar kita untuk menjadi manusia paripurna: wong jawani.

7.1 Wong Jawani: Binatang vs Malaikat

Manusia adalah dasein yang bisa bersikap otentik ataupun tidak-otentik. Yang sering, manusia bersikap kombinasi antara otentik dan tidak-otentik. Dari sudut moral, agama, dan legal manusia bisa menjadi orang jahat, dan, yang paling diharapkan adalah menjadi manusia sempurna atau wong jawani: husnul khatimah.

Di sisi lain, binatang adalah dasein dengan kualitas tanpa bahasa-being. Binatang bisa menggunakan bahasa-formal sampai batas tertentu. Mereka berkomunikasi, berkoordinasi, untuk berburu mangsa bersama-sama misal pada kawanan singa. Kucing jantan berkomunikasi, penuh rayuan, kepada kucing betina. Induk ayam berkomunikasi dengan anak-anaknya agar makan.

Karena binatang tidak menggunakan bahasa-being, maka, binatang tidak memahami konsep dosa. Akibatnya, binatang tidak memiliki freedom sejati, konsekuensi, binatang tidak perlu bertanggung jawab. Binatang tidak pernah salah. Binatang tidak pernah berdosa. Bagaimana pun, binatang tetap memiliki freedom dalam kadar tertentu. Sementara, manusia bisa salah dan dosa. Pun, manusia bisa bertobat karenanya dan menjaga untuk tidak mengulanginya.

Di sisi lain lagi, malaikat adalah dasein dengan kecerdasan tinggi dan menguasai ragam bahasa. Hanya saja, malaikat tidak memiliki kemampuan, atau freedom, untuk berbuat dosa. Karenanya, malaikat selalu berbuat baik. Malaikat tidak pernah berdosa. Mengapa malaikat tidak pernah berdosa? Itu pertanyaan menarik. Tetapi, kita akan menjawab pertanyaan itu di tempat lain. Di bagian ini, kita hanya perlu membandingkan tiga kelompok dasein: manusia, binatang, dan malaikat.

Manusia, sebagai dasein, bisa bersikap seperti binatang. Dalam hal ini, manusia gagal mencapai sikap otentik dengan kualitas tinggi. Manusia justru terjatuh dalam jebakan dunia. Tetapi, binatang yang bersikap seperti binatang, mereka tidak gagal. Binatang adalah binatang.

Alternatifnya, manusia bisa bersikap seperti malaikat, yaitu, selalu bersikap baik. Dalam hal ini, manusia berhasil menjadi dasein otentik dengan memilih perilaku bermoral. Tetapi, bukankah dengan selalu bersikap baik, mengubah manusia menjadi robot? Robot cerdas bisa diprogram untuk selalu berbuat baik sesuai standar produksi robot. Bukankah, dari manusia menjadi robot, adalah kemerosotan? Tidak. Manusia tidak akan pernah menjadi robot. Manusia, ketika berkomitmen untuk selalu berbuat baik, tetap memiliki freedom untuk memilih dosa kapan saja. Hanya saja, komitmen mereka lebih kuat. Bahkan, mereka rela berkorban demi kebaikan bersama.

7.2 Nama-Nama

7.3 Aktualisasi

7.4 Evolusi

Teori evolusi sangat menarik karena mempertemukan – bahkan mempertentangkan – filsafat, sains, teologi, dan pandangan umum. Secara langsung, teori evolusi mempengaruhi hidup kita. Umat manusia adalah hasil dari evolusi. Apakah benar nenek moyang manusia adalah monyet? Pertanyaan sederhana yang problematis.

Being ==> Being + Dasein ==>Being + Dasein + Jawani

Kita sederhanakan:

Being ==> Dasein ==> Jawani

Apakah ada dasein selain manusia? Apakah binatang bisa disebut sebagai dasein dalam kadar rendah? Apakah malaikat bisa disebut sebagai dasein tanpa materi?

7.5 Sejarah Masa Depan

Masa depan adalah freedom, kebebasan. Sehingga, kita tidak bisa memastikan arah sejarah masa depan yang jauh. Tetapi, kita bisa mempelajari, dan mengantisipasi, sejarah masa depan.