Tuhan dan AI Menjawab

Berdoalah kepada Tuhan maka niscaya Tuhan menjawab setiap doa. Bertanyalah kepada AI maka AI menjawab setiap prompt Anda. Apakah AI sehebat itu: mampu menjawab setiap pertanyaan manusia?

Bagi yang optimis maka yakin banget bahwa AI (akal imitasi / artificial intelligence) memang hebat. Beberapa tahun ke depan justru akan hadir super AI yang mampu menyelesaikan semua masalah sebelum masalah itu muncul. Bencana Sumatera 2025 akan diselesaikan AI sebelum terjadi bencana itu.

Sementara, pandangan kritis meragukan kemampuan yang seperti itu. Tanggung jawab manusia tetap sangat besar untuk mengarahkan dan membatasi perkembangan AI. Bencana Sumatera 2025 tetap menjadi tanggung jawab umat manusia; terutama mereka yaitu penguasa dan pengusaha; tidak cukup hanya AI belaka.

1. Optimis
2. Kritis
3. Kreatif
4. Ringkasan
5. Diskusi

Untuk membahas lebih sistematis, saya mengusulkan kerangka OK2 (dibaca oke kuadrat; mirip rumus Einstein mc kuadrat).

OK2 = OKK = Optimis Kritis Kreatif.

Terdapat tiga kelas narasi besar yaitu optimis, kritis, dan kreatif. Narasi optimis memandang AI akan berhasil menjadi super AI sehingga terjadi singularits. Narasi kritis mengajukan kritik tajam terhadap optimisme mau pun realitas AI. Sedangkan narasi kreatif melanjutkan dengan mangajukan beragam solusi kreatif.

Tiga kelas narasi tersebut membentuk pertumbuhan spiral OK2: Optimis-Kritis-Kreatif untuk AI. Anda dapat membaca lebih lengkap pembahasannya dalam buku kami yang telah terbit: 19 Narasi Besar Akal Imitasi oleh Penerbit ITB.

Di bawah ini, kita membahas secara ringkas kemudian lanjut untuk diskusi.

1. Optimis

Kurzweil optimis akan terjadi singularitas di tahun 2045 di mana AI bersatu dengan manusia menguasai dunia; AI menjawab semua masalah Anda. Bostrom mengajukan Deep Utopia yaitu akan datang pos instrumen di mana semua pekerjaan bisa dilakukan oleh AI. Manusia bagai di surga tidak perlu kerja lagi. Bila manusia kerja maka kualitas akan turun, mending biarkan AI mengerjakan semuanya.

Dua orang bernama mirip: Anderson mengajukan utamakan data dan teknopoli. Data menunjukkan AI menambah efisiensi dan profit. Teknologi awalnya dicurigai tetapi, pada akhirnya, teknologi adalah solusi.

Banyak kritik terhadap pandangan optimis di atas.

2. Kritis

Narasi kritis pertama dari bapak AI dunia yaitu Hinton: AI adalah bom kemanusiaan yang lebih bahaya dari bom atom. Daya pikat AI penuh pesona sehingga mulai ada orang yang jatuh cinta sampai menikah dengan AI; tentu sangat bahaya. AI membentuk kempompong digital yang menjadikan manusia rabun politik menurut Harari. Akibatnya, politik sejati menjadi mati. Singkatnya, pemakaian AI perlu dikritisi secara tajam karena bahayanya sangat besar menghujam

3. Kreatif

Apa solusi yang tersedia? Narasi kreatif mengajukan beragam solusi alternatif yang kreatif. Chomsky mengajukan solusi dengan menilai AI sekadar sebagai mesin autofill atau auto-complete belaka; AI tidak ada cerdasnya. Stiegler mengajukan solusi narasi farmakon: AI adalah obat yang menyembuhkan tetapi kadar racun jauh lebih besar. Konsekuensinya, AI hanya bisa diterapkan secara terbatas dan pengawasan ketat.

4. Ringkasan

Secara ringkas, kita membutuhkan spiral yang terus bertumbuh OK2: optimis kritis kreatif.

OK2 bukan untuk menghambat optimisme tetapi untuk menyelamatkan manusia dari risiko AI dan menempatkan AI pada posisi yang paling tepat. Sehingga, kerangka berpikir kita adalah pertumbuhan spiral OK2 (oke kuadrat).

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Berikut beberapa pertanyaan diskusi dari AI.

5.1 Apakah AI benar-benar ‘menjawab’ atau hanya menirukan jawaban?
Apakah istilah menjawab pantas dipakai bagi entitas non­sadar? (Ini menyentuh filsafat pikiran dan semiotik.)

Bagi optimis adalah tepat AI bisa menjawab sebagaimana manusia menjawab soal; atau Tuhan menjawab doa; alam raya menjawab krisis iklim.

Bagi kritis atau kreatif, istilah menjawab adalah tidak tepat. Karena, secara hermeneutika atau seni interpretasi, AI tidak mampu melakukan interpretasi dalam arti sebenarnya. Sehingga jawaban AI bukanlah jawaban seperti manusia menjawab pertanyaan. Lebih tepat, AI hanya sekadar merespon secara alamiah.

Jadi judul tulisan “Tuhan dan AI Menjawab” adalah bermakna ambigu.

5.2 Apa yang dimaksud dengan jawaban bermakna?
Apakah AI bisa memberikan jawaban bermakna atau hanya output simbol?

5.3 Bagaimana kita membedakan jawaban yang bersifat normatif (nilai) dengan jawaban yang bersifat deskriptif (data)?
Ini membuka diskusi etika dan epistemologi.

Bagi optimis, data adalah utama sedangkan nilai hanya turunan atau kadang dianggap ilusi. Biarkan semua data yang bicara; jadi jawaban AI adalah data sebagai fakta.

Bagi kritis, data selalu terkait dengan nilai. Klaim data bisa bicara; atau data adalah fakta; merupakan klaim yang bermuatan nilai; yaitu memberi nilai tinggi kepada data; mereka melemahkan pengalaman manusiawi, seni, emosi, dan lain-lain. Jadi harus direvisi klaim data sebagai utama; menjadi data hanya sebagai salah satu yang utama.

5.4 Apakah AI bisa memiliki tanggung jawab moral?
Jika tidak, apa implikasinya pada penggunaan AI dalam pengambilan keputusan penting?

Tidak bisa.

Atau, bagi optimis tanggung jawab moral tidak relevan karena AI mampu menentukan pilihan terbaik. Jadi, AI tidak bisa ditanya tentang moral. Justru sebaliknya: yang sesuai AI adalah bernilai moral; yang menentang AI adalah pelanggaran moral.

Para kritis tentu keberatan. AI tidak bisa bertanggung jawab moral tetapi manusia yang harus bertanggung jawab.

Jadi bagaimana?

5.5 Analisis Rasional Logika Formal

OK2 bisa kita pandang sebagai kerangka formal analisis logika rasional untuk AI. Pengembangan dan pemanfaatan AI mengikuti iterasi OK2: optimis – kritis- kreatif – optimis dan seterusnya tanpa henti.

Langkah pertama, optimis bahwa AI akan memberi manfaat besar kemanusiaan dan alam semesta; menjadikan proses bisnis lebih efisien dan cepat; serta meningkatkan profit setiap lembaga.

Langkah kedua menganalisis secara kritis dampak negatif apa saja dari pengembangan dan penerapan AI; serta hambatan apa saja yang mungkin terjadi. Dari analisis kritis ini, kita mengembangkan pendekatan yang lebih baik dalam paradigma yang sama dengan semula atau mengarah kepada paradigma alternatif.

Langkah ketiga mengembangkan solusi kreatif dengan beragam alternatif. Solusi kreatif yang utopia adalah mengembangkan AI lebih besar, lebih cepat, dan lebih efisien. Tetapi analisis kreatif mungkin saja membuka pilihan justru mengembangkan AI yang lebih ramah lingkungan, ramah rakyat kecil, dan ramah keadilan sosial; dengan konsekuensi memperlambat pengembangan AI di berbagai bidang.

Langkah berikutnya adalah kembali kepada optimis, kritis, kreatif, tanpa henti sebagai iterasi OK2.

ILUSTRASI KISAH KONKRET — “Kota Arunika dan Spiral OK²”

Di kota Arunika, pemerintah setempat ingin menggunakan AI untuk mengelola distribusi air bersih. Mereka memulai dengan optimisme besar:
AI akan memprediksi kebutuhan air setiap wilayah, mengatur buka-tutup kanal otomatis, dan menghemat anggaran kota. Mereka membayangkan masa depan yang efisien: tidak ada lagi keluhan kekeringan atau pemborosan. Bahkan walikota berkata, “Ini era baru bagi Arunika.”

Namun setelah enam bulan berjalan, muncul fase kritis.
Warga miskin di pinggiran kota melaporkan bahwa distribusi air mereka malah berkurang. Mereka tak punya riwayat penggunaan air digital yang lengkap, sehingga algoritma menganggap mereka “kebutuhan rendah”. Selain itu, perangkat pompa otomatis memakai energi besar sehingga tagihan listrik kota meningkat. Dari analis teknis muncul pertanyaan: apakah AI ini benar-benar adil? Apakah efisiensi mengorbankan kemanusiaan?

Tim pun melakukan audit etis dan menemukan beberapa “bias struktural” pada data historis. AI tidak salah—tetapi data yang ia pelajari sudah memihak sejak awal.

Memasuki fase kreatif, tim mencari jalan keluar.
Ada dua suara besar:

  1. Suara utopis: “Tingkatkan AI: tambah data, tambah server, tambah kecepatan.”
  2. Suara reflektif: “Bagaimana kalau kita justru membuat AI yang lebih lambat, tetapi memaksa fairness? Misalnya dengan parameter keadilan sosial, aturan keberpihakan pada kelompok rentan, dan pembatasan konsumsi energi?”

Akhirnya mereka memilih jalur kedua:
AI dirancang ulang agar memprioritaskan wilayah yang selama ini terpinggirkan, sekaligus membatasi energi sehingga sistem tidak bekerja secara agresif tapi stabil.
Hasilnya mengejutkan: distribusi air membaik, keluhan menurun, dan biaya energi turun 30%.

Keberhasilan ini memicu fase optimis baru.
Sekarang mereka percaya AI ramah-rakyat mungkin diwujudkan. Mereka merencanakan perluasan sistem ke sektor transportasi dan kesehatan. Tapi karena sudah mengalami spiral OK² sekali, mereka tidak lagi optimis naif; optimisme mereka kini bertingkat—lebih dewasa.

Dan benar, saat memperluas sistem, muncul lagi kritik baru: data kesehatan sangat sensitif, potensi penyalahgunaan tinggi.
Lalu muncul lagi kreativitas baru: mereka membangun AI kesehatan berbasis privasi federatif.

Lalu muncul lagi optimisme lanjutan, lebih matang dari sebelumnya.

Begitu seterusnya.
Kota Arunika bergerak dalam spiral OK² tanpa henti, setiap putaran meningkatkan kedewasaan moral, teknis, dan sosial mereka.

5.6 Analisis Eksitensial Konkret

OK2 bisa kita maknai sebagai gerak eksistensial konkret. Lebih dari iterasi rasional, OK2 adalah gerak kesadaran, kepedulian, dan sejarah umat manusia bersama alam semesta.

ILUSTRASI EKSISTENSIAL KONKRET — “Ziarah AI di Dalam Diri Manusia”

Ketika Rehan—seorang guru di desa kecil—pertama kali mengenal AI, ia merasakan optimisme yang hampir spiritual. Ia melihat murid-muridnya yang kekurangan buku kini bisa bertanya apa saja; dunia pengetahuan yang dulu jauh kini terbuka. Dalam hatinya muncul rasa syukur: “Mungkin ini cara Tuhan membuka jalan.” Optimisme itu bukan hanya teknologis, tetapi rasa harapan manusia bahwa hidup bisa menjadi lebih baik.

Namun setelah beberapa bulan, datang fase kritis—bukan sekadar analisis rasional, tetapi kegelisahan batin.

Rehan menyadari murid-muridnya mulai bertanya lebih sedikit pada diri sendiri. Mereka tidak lagi merenung; semua pertanyaan dilemparkan kepada AI. Ia melihat tatapan kosong saat murid menerima jawaban cepat yang tidak mereka pahami. Ia bertanya dalam hati, “Apakah aku sedang membunuh rasa ingin tahu mereka?” 

Kritik ini bukan sekadar risiko teknis, tapi jeritan eksistensial: takut kehilangan kemanusiaan.

Fase kreatif muncul bukan sebagai ide teknis, tetapi sebagai kebutuhan batin untuk merawat jiwa murid-muridnya.

Rehan menciptakan “Kelas Sunyi”—setiap Senin pagi, sebelum boleh bertanya pada AI, murid harus menuliskan pertanyaan paling jujur dari dalam diri mereka: pertanyaan tentang hidup, tentang alam, tentang keinginan hati. AI boleh dipakai, tapi hanya setelah dialog dengan diri sendiri dan sesama teman.

Solusi ini melambatkan penggunaan AI, membuat proses belajar tidak seefisien sebelumnya. Tetapi ada kehangatan baru: murid-murid itu mulai kembali bertanya bukan hanya apa jawabannya, tetapi mengapa mereka bertanya.

Ini adalah kreativitas eksistensial—bukan peningkatan teknologi, melainkan peningkatan kemanusiaan.

Keberhasilan “Kelas Sunyi” melahirkan optimisme baru—optimisme yang berbeda dari yang pertama.

Jika optimisme awal adalah harapan buta, kini optimisme ini adalah harapan matang, hasil dari luka, refleksi, dan keberanian.

Rehan mulai percaya bahwa AI dan kemanusiaan bukan musuh. Yang menentukan bukan seberapa canggih AI, tetapi seberapa utuh manusia merawat kesadarannya sendiri. Renungan lebih mendalam menunjukkan bahwa AI yang sekarang adalah produk sejarah sejak masa lalu. Sementara, sejarah itu telah menorehkan berbagai luka parah. Jadi AI itu sendiri perlu tobat atas luka-luka yang ia goreskan

Dan perjalanan itu terus berulang: Setiap kali muncul alat baru, muncul harapan baru, kegelisahan baru, dan kreativitas baru.

Itulah OK² sebagai gerak eksistensial—gerak naik dan berputar dari kesadaran manusia, bukan dari logika mesin. Gerak itu terjadi dalam sejarah, dalam pengalaman, dalam hubungan manusia dengan alam dan dengan Tuhan.

Kembali ke pertanyaan awal: apakah AI bisa menjawab prompt? Tidak bisa. Secara eksistensial konkret, AI tidak bisa. Sementara, Tuhan memang menjawab doa manusia.

Kita meniti pertumbuhan spiral OK2 bersama AI baik secara rasional mau pun eksistensial.

Jamu Sehat Medsos AI: Parresia

Sudah banyak jatuh korban dampak media sosial dan AI (akal imitasi – artificial intelligence). Apa obat sehat, atau jamu penyembuh, terhadap AI? Parresia adalah jamu sehat yang kita butuhkan.

Parresia adalah berani-benar seperti bendera Indonesia merah-putih; berani karena benar; berani adalah benar. Dengan sikap berani-benar maka beragam problem di dunia digital bisa ditangani secara baik.

1. Berani Benar vs Retorika
2. Berani Benar vs Opini Gerombolan
3. Peduli Diri vs Narsis
4. Ringkasan
5. Diskusi

Kita bisa belajar parresia dari leluhur nusantara misal dari Gajah Mada atau Kalijaga. Kita juga bisa belajar dari sejarah Yunani misal dari Sokrates dan Diogenes.

1. Berani Benar vs Retorika Topeng Digital

Problem utama dari medsos, yang dikuatkan AI, adalah pencitraan; serba diedit; serba dimanipulasi; serba sok-bahagia; sok-sempurna. Semua adalah topeng-topeng digital belaka.

Seorang bapak-bapak, usia 40 atau 50an tahun, menyesal melihat foto teman SMP nya dulu di media sosial saat ini; sekarang cewek itu tambah cantik, bersih, dan awet muda. Bapak itu menyesal kenapa dulu pas SMP kok tidak naksir ke cewek itu. Tetapi, waktu SMP, cewek itu tampak biasa-biasa saja.

Ketika mereka bertemu darat di usia yang tak lagi muda itu, si bapak itu kaget lagi karena cewek teman SMP itu beda dengan foto di media sosial; dia tidak begitu cantik, tampak garis keriput di wajah, dan memang sudah tua. Media sosial adalah topeng digital. Tidak ada kejujuran di media sosial. Meski Anda berusaha jujur maka Anda akan gagal karena foto Anda sudah diedit otomatis oleh media sosial; dimanipulasi otomatis.

Topeng digital tampak sederhana tapi berbahaya karena mengandung ribuan racun. Obatnya adalah berani-benar di media sosial: parresia.

Anda hanya berbagi kebenaran saja. Tentu saja, untuk bisa berbagi kebenaran, kita perlu lebih awal menemukan kebenaran. Bagaimana caranya?

2. Berani Benar vs Opini Gerombolan

Berani-benar menjadi jamu pahit di dunia politik Indonesia. Karena semua pihak politik tampak koalisi dengan pemerintah; di pusat atau di daerah. Dampaknya, tidak ada politikus yang berani-benar; tidak ada parresia. Mereka semua sama-sama mencari kursi; tidak ada oposisi. Mereka adalah kelompok yang seragam dalam opini; meski beragam dalam gaya dan aksi.

Apa obatnya? Obatnya adalah berani-benar: parresia.

Berani-benar memang beda dengan menuduh-salah ke para gerombolan. Berani-benar adalah menunjukkan kebenaran sehingga para gerombolan memahami mana yang benar; kemudian, sebagian dari gerombolan berubah diri menuju yang benar. Sebaliknya, menuduh-salah adalah mudah. Karena cukup dengan prasangka, siapa saja bisa menuduh-salah ke pihak sebelah. Kita tidak terlalu butuh menuduh-salah; yang kita butuh adalah berani-benar; sesuai bendera kita sang merah putih.

3. Peduli Diri vs Narsis

Apa yang paling indah dari seluruh realitas yang eksis? Berani-benar adalah eksistensi terindah: parresia.

Saya sering bercerita tentang Diogenes yang lebih hebat dari kaisar Aleksander yang agung. Diogenes adalah gelandangan yang bijak; atau orang bijak yang memilih jadi gelandangan; tanpa rumah, tanpa kekayaan. Tetapi, Diogenes memiliki eksistensi terindah yaitu berani-benar atau parresia.

Di pagi yang cerah, Diogenes menikmati hari dengan santai bermandi cahaya matahari dekat tong besar tempat ia tidur malam. Kaisar Aleksander pelan-pelan mendekati dengan hati-hati agar tidak mengagetkan Diogenes.

Kaisar: Apakah Anda Diogenes? Saya adalah kaisar Aleksander agung.
Diogenes (sedikit melirik): Benar, saya Diogenes.
Kaisar: Katakan kepada saya apa yang Anda butuhkan maka saya akan memberikannya untuk Anda.
Diogenes: Tolong bergeser sedikit agar Anda tidak menghalangi cahaya matahari.

Kaisar kaget dengan jawaban Diogenes itu; kita juga kaget. Biasanya, orang yang dapat tawaran dari kaisar seperti itu akan merespon: (a) kaget karena tak percaya; gemetar; bahkan takut sampai pingsan; (b) gembira tiada tara; lalu minta harta; atau minta jabatan; atau minta kenikmatan lainnya. Diogenes tidak melakukan itu semua.

Diogenes justru menunjukkan kesalahan kaisar yaitu menghalangi cahaya matahari. Kemudian, ia menunjukkan cara memperbaiki kesalahan itu dengan sedikit bergeser.

Kaisar Aleksander, benar saja, bergeser sedikit agar Diogenes tetap bisa melanjutkan menikmati matahari pagi.

Kaisar: Anda memang aneh.
Diogenes: Saya tidak aneh. Yang aneh itu kamu, mengejar-ngejar kekuasaan dan kekayaan di seluruh dunia agar bahagia. Tetapi kamu tidak bahagia; tidak pula menjadi penguasa dunia.
Kaisar: Bagaimana dengan kamu?
Diogenes: Aku lebih berkuasa dari kamu, hai Aleksander. Lihatlah, untuk datang ke sini kamu butuh puluhan pengawal itu; aku tidak butuh pengawal. Untuk bisa makan nikmat, kamu butuh pelayan dan istana yang megah; aku tidak butuh semua itu untuk menikmati makanan.

Kaisar: Aku memiliki seluruh kekayaan dan kekuasaan dunia. Kamu tidak memiliki apa pun.
Diogenes: Tuhan adalah paling sempurna. Tuhan tidak membutuhkan apa pun. Orang yang paling sempurna adalah yang paling dekat meniru Tuhan yaitu orang yang paling sedikit dalam membutuhkan apa pun.

Setelah dialog berlanjut cukup panjang,

Kaisar: Andai aku terlahir tidak sebagai Aleksander maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.
Diogenes: Andai aku terlahir tidak sebagai Diogenes maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.

Diogenes memiliki parresia: berani-benar. Diogenes berani berkata benar kepada kaisar karena ia tidak takut kehilangan apa pun; tidak takut kehilangan jabatan; tidak takut kehilangan kekayaan; atau apa pun.

Dio = Tuhan; genes = gen, benih, atau pewaris. Makna kata “diogenes” adalah “pewaris Tuhan.” Ajaran Diogenes dikenal sebagai Kinis yang berbeda dengan Sinis modern. Saya terpikir ide menyebut ajaran Diogenes sebagai Diogis yaitu pewaris ajaran bersumber ke Tuhan.

Apa realitas paling indah? Apa eksistensi paling indah? Diogenes menjawab: yang paling indah adalah parresia; berani-benar.

Dua estetika eksistensi terindah:

a) courage to slowly transform oneself, to maintain style in a moving existence, to last and to persist; sabar memperbaiki diri tanpa henti.

b) a more prompt and more intense courage of provocation, to bring out by action, truths which everyone knows but no one says; provokasi ke arah kebaikan yang nyata / makruf.

Bukankah sikap Diogenes seperti itu adalah narsis? Bukan narsis. Diogenes adalah peduli-diri. Ia peduli kepada seluruh umat manusia; peduli kepada alam raya; peduli kepada Tuhan Maha Esa. Dari peduli itu, Diogenes berpikir, meditasi, dan memilih jalan hidup terbaik: hidup sederhana dan parresia.

(a) Sabar tanpa henti memperbaiki diri. Diogenes tidak narsis; Diogenes sudah mempelajari kisah kematian pemuda bernama Narsisus itu. Diogenes belajar hikmah dari Sokrates melalui Antisthenes. Perenungan terhadap hikmah Sokrates ini mengantar Diogenes memilih hidup sederhana; bahkan, menurut pandangan Epictetus sang guru Stoic, cara hidup Diogenes terlampau sederhana.

Hidup sederhana atau zuhud atau asketis ini mengantar Diogenes terbebas dari nafsu harta dan tahta; nafsu terhadap wanita masih tetap ada sebagai seorang pria. Kebebasan itu, mengantarnya bebas berbicara dengan berani: parresia. Perlu kita catat: ia berbicara setelah banyak mendengar, banyak merenung, dan banyak berpikir.

(b) Provokasi menuju ke arah yang benar dengan menunjukkan diri yang salah: satire atau kadang sarkas. Di siang bolong yang cerah, Diogenes membawa lentera yang menyala ke pasar. Orang-orang tertawa, “Sedang cari apa kamu, Diogenes?” “Aku sedang mencari manusia!” jawab Diogenes.

“Aku sudah mencari ke mana-mana tidak aku temukan satu pun manusia!” lanjut Diogenes.

Satire atau sarkas ini mengena ke hati umat manusia. Tetapi satire tidak menunjuk hidung salah seorang anak manusia sebagai salah. Mereka sadar bahwa mereka tidak menjalani hidup sebagai manusia sejatinya. Sebagian dari mereka, juga dari kita, mengubah hidup untuk menjadi manusia lebih sempurna.

Bukankah Diogenes mengolok-olek Aleksander? Tidak. Diogenes hanya memberi nasehat kepada Aleksader. Karena Aleksander datang kepada Diogenes maka ia berpikir bahwa Aleksander sudah siap mendapat nasehat darinya. Kemudian ia memberi nasehat yang tepat sasaran untuk Aleksander.

4. Ringkasan

Jamu sehat untuk kehidupan yang sehat di dunia digital bersama AI adalah: parresia yaitu berani-benar. Buang topeng-topeng digital Anda dan jalani hidup Anda dengan berani-benar.

Dua langkah sangat indah untuk berani-benar atau parresia adalah:

(a) sabar memperbaiki diri tanpa henti;
(b) provokasi untuk menuju kebaikan nyata.

5. Diskusi

Solusi parresia tampak bersifat personal maka apakah bisa menjadi solusi bagi lembaga sosial politik?

Bisa. Parresia atau berani-benar memang tampak kuat peran personal. Sejatinya, parresia berdimensi sosial politik secara langsung.

(a) Parresia adalah berani-benar bukan ingin-benar. Matematika, sains, dan teknologi ingin-benar dengan meraih kebenaran obyektif. Sehingga sains tutup telinga terhadap dimensi sosial politik. Tetapi saintis yang berani-benar maka dia akan mengungkap dimensi sosial politik dari sains. Parresia mendobrak telinga, mata, dan hati para saintis untuk berani mengungkap kebenaran.

(b) Parresia adalah berani-benar menjadi saksi kebenaran bukan menyaksikan kebenaran; peduli mengendalikan diri sebagai teladan sesama bukan menindas orang lain.

(c) Provokasi menuju kebenaran adalah satire menertawakan diri sendiri dengan menyadarkan kesalahan banyak pihak lain.

Bagaimana menurut Anda?

Penghalang Berpikir ke Simpulan

Apakah ijasah itu palsu? Atau ijazah asli? Atau asli palsu?

Rosu, seorang pemuda yang semangat, melakukan penelitan ilmiah. Hasil penelitian mengarah ke simpulan: ijasah itu palsu. Apakah benar simpulan ijasah palsu itu? Meski didukung oleh data dan kajian ilmiah serta teknologi paling canggih?

Sayangnya, banyak penghalang bagi Rosu untuk mengambil simpulan yang pasti bahwa ijasah itu palsu. Kita akan membahas 5 penghalang berpikir ke simpulan pasti itu.

1. Partikular ke Universal
2. Masa Lalu ke Masa Depan
3. Realitas ke Ideal
4. Nyata ke Seharusnya
5. Kontekstual ke Transendental
6. Ringkasan
7. Diskusi

Meski banyak sekali penghalang berpikir, kita hanya fokus kepada 5 penghalang saja. Halangan ini memaksa kita, atau dengan sukarela, bersikap deflasi: rendah hati menerapkan ilmu padi; makin merunduk makin berisi. Rendah hati karena berisi. Makin berisi karena rendah hati. Deflasi makin berisi.

1. Partikular ke Universal

Penghalang pertama sangat tekenal: tidak valid dari data partikular kemudian menarik kesimpulan universal.

Setiap hari, selama ini, matahari selalu bersinar. (partikular)
Kesimpulan: matahari selalu bersinar selamanya. (universal tetapi tidak sah).

Karena bisa saja besok matahari hancur sehingga tidak bersinar. Atau, bisa saja 5 milyar tahun lagi, matahari tidak bersinar.

Kasus Ijasah.
Kajian ilmiah menunjukkan ijasah itu bersifat xyz seperti ini. (partikular).
Kesimpulan: setiap xyz adalah ijasah palsu. (universal tapi tidak valid).

Jadi kesimpulan Rosu yang mengatakan ijasah itu palsu adalah kesimpulan tidak valid.

Jadi ijasah itu asli? Tidak bisa juga membuktikan sebagai asli. Untuk membuktikan asli perlu kajian lanjutan.

2. Masa Lalu ke Masa Depan

Penghalang kedua untuk berpikir ke simpulan adalah: tidak valid dari data masa lalu mengambil kesimpulan masa depan.

Setiap hari, selama hidupnya 6 bulan, ayam mendapat makan pagi dari peternak. (masa lalu).

Besok pagi, ayam akan mendapat makan pagi. (masa depan tapi tidak sah). Karena besok pagi, ternyata, peternak itu menyembelih ayamnya.

Kasus Ijasah. Selama ini, ijasah yang xyz adalah palsu semua. (masa lalu). Ijasah Dodo adalah xyz maka, besok, ijasah Dodo adalah palsu. (masa depan tetapi tidak valid).

3. Realitas ke Ideal

Penghalang ketiga untuk menarik ke simpulan adalah relasi antara realitas nyata dengan pikiran ideal: tidak valid menganggap realitas sebagai sama persis dengan ideal.

Ideal: jika bilangan asli maka 2 + 1 = 3 (valid).

Realitas: 2 kg beras ditambah 1 kg beras belum pasti hasilnya 3 kg beras.

4. Nyata ke Seharusnya

Penghalang keempat adalah tidak valid menarik ke simpulan “seharusnya” dari kenyataan apa adanya.

Tanah Indonesia adalah subur (kenyataan) maka seharusnya adil makmur.

Sedikit ilustrasi barangkali lebih memudahkan. Nesia lahir di sebuah negeri yang subur: sawah menguning, sungai berliku jernih, dan hutan lebat yang menyimpan buah-buah dan kayu. Dari kecil, Nesia belajar bahwa tanah ini bisa memberi kehidupan yang cukup untuk semua, bahkan melimpah. Tapi sesuatu terasa aneh: meski tanahnya kaya, banyak orang di sekitarnya hidup miskin, lapar, dan kelelahan.

Nesia melihat para pejabat dan pengusaha kaya menguasai sawah dan sungai. Mereka mengatakan, “Yang bekerja keras akan mendapat lebih,” atau, “Ini meritokrasi: siapa yang pintar dan rajin, dialah yang berhak.” Tapi Nesia tahu, banyak orang rajin bekerja, tapi mereka tetap miskin karena sistemnya curang—ada monopoli, favoritisme, dan warisan kekuasaan. Anak-anak petani yang cerdas tetap tak punya akses ke sekolah karena biaya mahal. Petani yang sakit atau tua tak mendapat perlindungan.

Setiap hari Nesia melihat sesuatu yang tak masuk akal: tanah negeri yang subur, tetapi rakyatnya tidak adil makmur. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana bisa bumi memberi cukup untuk semua, tapi manusia tetap menderita?”

Suatu hari, Nesia menanam pohon buah di tanah kecil warisan keluarganya. Ia membagikan hasilnya ke tetangga tanpa mengukur siapa lebih pantas atau siapa lebih berhak. Tetangga yang tadinya iri mulai tersenyum dan ikut menanam. Lama-lama, kebun itu tumbuh menjadi komunitas: semua ikut merawat, semua mendapat hasil. Nesia menyadari sesuatu: kesejahteraan tidak harus ditentukan oleh siapa lebih berhak, tapi oleh bagaimana manusia berkolaborasi untuk saling menopang.

Meski negeri masih tidak adil secara luas, Nesia mulai merasakan bahwa di sekitarnya, keadilan dan kemakmuran bisa diciptakan bukan dengan kompetisi yang ketat, tapi dengan perhatian pada sesama dan kerjasama. Suburnya tanah menjadi simbol harapan: bumi cukup memberi untuk semua, jika manusia bersedia berbagi, bukan bersaing mati-matian.

Tanah yang subur seharusnya menjadikan rakyat adil makmur. Nesia kecil berjuang untuk adil makmur. Indonesia adalah negara besar; yang berjuang menjadi adil makmur bersama merah putih berkibar.

5. Kontekstual ke Transendental

Penghalang kelima adalah tidak valid menarik kesimpulan dari suatu konteks menjadi transenden.

Para siswa keracunan (konteks) setelah makan siang tetapi itu karena siswa itu perutnya tidak terbiasa makan bergizi (transenden). Tidak valid.

Kesimpulan transenden tidak sah berupa “perut siswa tidak terbiasa”. Kita wajib mengkaji konteks berupa setelah makan siang kemudian siswa keracunan. Barangkali menu makan siang memang mengandung racun; atau minuman mengandung racung; atau piring serta peralatan tidak bersih.

6. Ringkasan

Untuk ringkasan, kita akan menggunakan istilah barriers dari Gillian Russell.

(i) You can’t get an ought from an is. (Hume).
(ii) The particular/universal barrier: no universal claims from particular ones. (Bertrand Russell).
(iii) The past/future barrier: no claims about the future from claims about the past. (Hume 2).
(iv) The is/must barrier: no claims about how things must be from claims about how things are. (Kant).
(v) The indexical barrier: no indexical claims from claims which are not indexical. (Russell).

Dalam bahasa Indonesia, 5 penghalang berpikir menarik ke simpulan adalah berikut.

(i) “Anda tidak dapat menyimpulkan suatu ‘seharusnya’ dari suatu ‘adanya’.” (Hume).

(ii) Penghalang partikular–universal: tidak ada klaim universal yang dapat disimpulkan dari klaim partikular. (Bertrand Russell).

(iii) Penghalang masa lalu–masa depan: tidak ada klaim tentang masa depan yang dapat disimpulkan dari klaim tentang masa lalu. (Hume, versi kedua).

(iv) Penghalang is–must: tidak ada klaim mengenai bagaimana sesuatu harus ada yang dapat diturunkan dari klaim mengenai bagaimana sesuatu ada. (Kant).

(v) Penghalang indeksikal: tidak ada klaim indeksikal yang dapat diturunkan dari klaim yang tidak bersifat indeksikal. (Russell).

7. Diskusi

Apa solusi dari semua penghalang? Solusi adalah deflasi: menerapkan ilmu padi; makin berisi makin merunduk; karena merunduk maka makin berisi; rendah hati karena berisi; rendah hati sejati adalah memang rendah hati.

Bagaimana menurut Anda?

Madi: Hari Filosofi Menuju Deflasi

Hari ini adalah hari filosofi dunia: Kamis, 20 November 2025. PBB (Unicef) menetapkan hari filosofi dunia jatuh pada setiap Kamis ketiga bulan November. Leluhur kita mengajarkan filosofi amat luhur yaitu ilmu padi: makin berisi makin merunduk.

Ilmu padi ini perlu kita angkat menjadi filosofi dunia. Proses dan orang yang menjalani ilmu padi kita sebut sebagai madi: menjadi berilmu padi. Madi berjalan dalam dua arah: (a) makin berisi makin merunduk; makin kita berilmu banyak maka kita makin rendah hati; dan (b) makin kita rendah hati maka makin banyak ilmu mengalir ke kita; kita makin berisi; ilmu bagai air yang mengalir menuju tempat lebih rendah. Sehingga, madi adalah proses melingkar tanpa henti.

1. Menuju Deflasi
2. Kulminasi Teknologi
3. Diskusi

Madi selaras dengan filosofi menuju deflasi yaitu menuju rendah hati. Inflasi adalah melambung tinggi atau tinggi hati. Kita perlu mencegah inflasi dengan cara madi: menuju deflasi. Teknologi memberi tantangan tersendiri karena selalu ada inovasi yang menyeret manusia ke arah inflasi. Bagaimana pun, kita perlu merespon teknologi dengan madi.

1. Menuju Deflasi

Problem utama manusia, sejak jaman purba, adalah sikap dogmatis yang angkuh sampai sombong yaitu inflasi. Kita perlu mengganti inflasi dengan deflasi berupa madi.

Sains makin berkembang menuju deflasi. Setiap teori sains, pada akhirnya, akan terbukti salah dan diganti dengan teori sains yang baru. Teknologi juga deflasi: setiap teknologi, pada akhirnya, ketinggalan jaman dan diganti dengan teknologi lebih baru.

Filosofi sejak awal adalah deflasi. Sokrates, filsuf terbesar sepanjang sejarah, mengaku, “Yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa.” Karena itu, Sokrates banyak bertanya kepada orang lain melalui dialog tanpa menggurui.

2. Kulminasi Teknologi

Teknologi ingin memenangkan kompetisi. Produsen mobil listrik bersaing ingin menjadi pemenang. Produsen handphone sama saja: bersaing untuk menjadi pemenang. Untuk menang, mereka butuh inovasi sampai inflasi.

Inflasi teknologi adalah ilusi. Yang benar, setiap teknologi adalah deflasi; diganti dengan teknologi lebih baru.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Selamat dari Amarah Dunia Digital

Saat ini, amarah sedang melanda dunia; baik dunia nyata mau pun dunia digital. Bagaimana agar kita selamat dari amarah dunia jasmani dan ruhani? Kita akan membahasnya dengan mencatat beberapa ide dari Peter Sloterdijk dalam buku Rage and Time.

1. Penuh Amarah
2. Berpikir Retributif Berlebihan
3. Kebajikan Memberi
4. Pendidikan Lawan Megalomania
5. Diskusi

Sloterdijk yakin bahwa dunia kita sedang dipenuhi amarah. Ledakan amarah berbahaya dengan berwujud perang, pembunuhan, korupsi, dan lain-lain. Tetapi bila amarah ditangani dengan baik maka amarah itu justru amat penting.

1. Penuh Amarah

“On the contrary, rage (together with its thymotic siblings, pride, the need for recognition, and resentment) is a basic force in the ecosystem of affects, whether interpersonal, political, or cultural.” (227)

“Berbanding terbalik, kemarahan (bersama saudara-saudaranya dalam ranah thymos, yakni kebanggaan, kebutuhan akan pengakuan, dan rasa tersinggung) merupakan kekuatan dasar dalam ekosistem afek, baik dalam hubungan antarmanusia, ranah politik, maupun budaya.”

Setiap hubungan antar manusia melibatkan amarah dalam bentuk nyata atau tersembunyi. Bagaimana dengan hubungan manusia-alam, manusia-Tuhan, Tuhan-alam? Salah satu sifat Tuhan monoteis adalah Maha Marah; dan tentu Maha Bijak.

Amarah dan bijak adalah sikap penting bagi setiap manusia. Orang tidak marah menjadi lemah; orang yang mudah marah menjadi tidak bijak. Kita memerlukan amarah dengan cara yang bijak. Bagaimana itu?

2. Berpikir Retributif Berlebihan

“What has truly reached an end is the psychohistorical constellation of religiously and politically inflated retributive thinking that was characteristic of the Christian, socialist, and Communist courtrooms. Nietzsche found the right concept to characterize its essence when—with an eye to Paul and his invention of “Christianity”—he diagnosed that resentment could become a mark of genius.”

“Yang sesungguhnya telah berakhir adalah konstelasi psikohistoris berupa pola pikir retributif yang dibesar-besarkan secara religius dan politis, yang dahulu menjadi ciri ruang-ruang peradilan Kristen, sosialis, dan Komunis. Nietzsche menemukan konsep yang tepat untuk menggambarkan esensinya ketika—dengan menyoroti Paulus dan “penemuan” atas apa yang disebutnya sebagai “Kristen”—ia mendiagnosis bahwa rasa geram dapat menjadi sebuah tanda kejeniusaan.”

Pola pikir retributif yang dibesar-besarkan oleh sosialis dan agamis menimbulkan masaralah serius. Justru kita perlu mengikuti Nietzsche bahwa rasa “geram” adalah tanda jenius. Kita geram terhadap media sosial yang bobrok lalu mencari cara membuat konten edukasi. Kita geram terhadap sistem ekonomi politik yang bangkrut akibat korupsi lalu kita mengembangkan solusi. Rasa geram adalah cabang dari amarah yang bisa kita kendalikan untuk kebaikan.

“Anyone insisting that democratic politics and forms of life could be universal should consider the cultures of counseling, the practices of discussion, and the traditions of criticisin of “the others” as regional sources of democracy.”

“Siapa pun yang bersikukuh bahwa politik dan bentuk-bentuk kehidupan demokratis dapat bersifat universal seharusnya mempertimbangkan budaya konseling, praktik diskusi, serta tradisi mengkritik “pihak lain” sebagai sumber-sumber regional bagi demokrasi.”

Praktik diskusi yang semangat, karena sambil geram, adalah sumber demokrasi. Musyawarah adalah anugerah; boleh mencapai mufakat; boleh juga tidak sepakat; meski selalu saling hormat.

“The following insight needs to be asserted like an axiom: under condi
tions of globalization no politics of balancing suffering on the large scale is possible that is built on holding past injustices against someone, no matter if it is codified by redemptive, social-messianic, or democratic-messianic ideologies.”

“Wawasan berikut perlu ditegaskan layaknya sebuah aksioma: dalam kondisi globalisasi, tidak mungkin ada politik penyeimbangan penderitaan dalam skala besar yang dibangun atas dasar menuntut pertanggungjawaban atas ketidakadilan masa lalu, sekalipun hal tersebut dilembagakan melalui ideologi-ideologi penebusan, sosial-mesianistik, atau demokratis-mesianistik.”

Penjahat memang perlu bertanggung-jawab atas dosa-dosa sejarah masa lalu. Tetapi, tuntutan semacam itu tidak memadai bagi korban untuk berkembang. Korban membutuhkan panggilan moral yang lebih besar. Amarah dan rasa geram bisa diarahkan ke sasaran yang tepat. Locke menyarakan hak hidup, freedom, dan properti.

3. Kebajikan Memberi

“The goal is a meritocracy, which balances, in an intercultural and transcultural way, an antiauthoritarian relaxed morality, on the one hand, and a distinctive normative consciousness and respect for inalienable personal rights, on the other. The adventure of morality takes place through the parallel program of elitist and egalitarian forces. Only within these parameters can a change of accent away from acquisition drives and toward giving virtues be conceived.”

“Tujuannya adalah suatu tatanan berbasis merit, yang (1) secara interkultural dan transkultural mampu menyeimbangkan, di satu sisi, moralitas antiautoritarian yang rileks, dan di sisi lain, (2) kesadaran normatif yang kuat serta penghormatan terhadap hak-hak pribadi yang tak dapat dicabut. Petualangan moralitas berlangsung melalui program paralel antara kekuatan elitis dan egalitarian. Hanya dalam parameter-parameter inilah pergeseran penekanan dari dorongan memperoleh menuju kebajikan memberi dapat dipikirkan.”

Mengutamakan kebajikan-memberi (giving-virtue) adalah fondasi kehidupan politik dan personal. Sloterdijk menggunakan istilah meritokrasi; tampak kurang tepat karena sudah ada konotasi lebih awal. Bagaimana pun ide kebajikan-memberi atau giving-virtue adalah tepat sasaran.

4. Pendidikan Lawan Megalomania

Solusinya adalah pendidikan: meski dengan biaya yang amat besar.

“The investment costs for this education program are high. What is at
stake in it is the creation of a code of conduct for multicivilizational complexes. Such a schema needs to be strong enough to cope with the fact that the condensed or globalized world remains, for the time being at least, structured in a multi-megalomaniac and inter-paranoid way. It is not possible to integrate a universe out of energetic, thymotic, irritable actors through ideal syntheses from the top. It is only possible to keep it at a balance through power relationships. Great politics proceeds only by balancing acts. To stay in balance means not evading any necessary fights and not provoking unnecessary ones.”

“Biaya investasi bagi program pendidikan ini sangat besar. Yang dipertaruhkan di dalamnya adalah penciptaan suatu kode etik bagi kompleks-kompleks multiperadaban. Skema semacam ini harus cukup kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa dunia yang memadat atau terglobalisasi tetap—setidaknya untuk sementara waktu—tersusun dalam pola multi-megalomania dan saling-paranoia. Tidak mungkin mengintegrasikan sebuah jagat yang terdiri atas aktor-aktor energetik, thymotik, dan mudah tersulut hanya melalui sintesis ideal dari atas. Jagat semacam itu hanya dapat dijaga keseimbangannya melalui relasi-relasi kekuasaan. Politik agung hanya dapat berlangsung melalui tindakan menyeimbangkan. Bertahan dalam keseimbangan berarti tidak menghindari pertarungan yang perlu dan tidak memicu pertarungan yang tidak perlu.”

Dunia saat ini dipenuhi penguasa megalomania dan paranoid. Sangat sulit melawan mereka. Skema pendidikan tidak bisa ditetapkan dari atas saja; tetapi harus berimbang dan mampu menahan megalomania itu. Kadang terpaksa harus menghadapi pertempuran; meski tidak perlu memicu pertempuran.

5. Diskusi

Sloterdijk menutup bukunya dengan paragraf yang paradoks: dibutuhkan tindakan darurat untuk mencegah terjadinya darurat.

“The term “transition” should not mislead us into ignoring the fact that
one always exercises under conditions of emergency in order to prevent
emergency from happening wherever possible. Mistakes are not permitted and yet are likely. If the exercises go well, it might be the case that a set of interculturally binding disciplines emerge that could, for the first time, rightly be referred to with an expression that, until now, has been used prematurely: world culture.”

“Istilah “transisi” jangan sampai menyesatkan kita hingga mengabaikan kenyataan bahwa latihan selalu dilakukan dalam kondisi darurat untuk mencegah keadaan darurat terjadi sejauh mungkin. Kesalahan tidak diperbolehkan, namun tetap mungkin terjadi. Jika latihan-latihan itu berjalan baik, dapat saja muncul seperangkat disiplin yang mengikat secara interkultural yang, untuk pertama kalinya, layak disebut dengan suatu ungkapan yang hingga kini telah digunakan secara prematur: kebudayaan dunia.”

Bagaimana menurut Anda?

Bias Berbahaya AI dan Media Sosial

Media sosial yang diperkuat AI memunculkan tiga bias sangat bahaya: (i) bias positif; (ii) bias transparan; (iii) bias dominasi.

Byung-Cul Han membahas dua bias pertama, positif dan transparan, kemudian kita menambahkan bias ketiga yaitu dominasi sampai hegemoni. Pemikiran yang bias menjadi bahaya karena berbelok dari kebaikan kemudian menguatkan pembelokan itu sendiri. Sejatinya, setiap pemikiran pasti berbelok. Hanya saja, pikiran yang baik akan mengoreksi pembelokan itu. Sementara, bias justru mempertajam pembelokan itu.

1. Bias Positif
2. Bias Transparan
3. Bias Dominasi
4. Diskusi

Tiga bias di atas sangat bahaya karena bias memberi keuntungan bagi pelaku dan merugikan pihak lain. Akibatnya, pelaku akan mengulangi bias berkali-kali.

1. Bias Positif

Bias positif adalah pikiran yang berbelok karena sukses; karena positif.

Didi, mirip dengan Deddy Corbuzier, sukses di media sosial. Awalnya, Didi sukses di media tv nasional dengan bikin acara sepekan sekali semacam Hitam Putih. Kemudian, Didi makin sukses dengan podcast di media sosial 2 kali dalam sepekan; makin sukses dengan 7 kali podcast dalam sepekan. Didi adalah contoh sukses positif; bias positif. Didi makin terjebak dalam media sosial karena dia makin sukses. Bias positif ini menuntut Didi untuk kerja keras tanpa henti. Didi lelah, letih hati dan pikiran, karena sukses.

Risiko mulai terjadi. Didi cerai dengan istrinya. Menjadi duda keren bertahun-tahun. Kemudian menikah dengan istri baru. Berselang 1 atau 2 tahun cerai lagi. Hidup Didi berantakan bukan karena gagal tetapi karena sukses. Bias positif.

2. Bias Transparan

Bias transparan adalah segala sesuatu menjadi jelas karena media sosial; karena media digital.

“MBG adalah berbahaya karena meracuni siswa,” sebuah cuitan di media sosial.

“Ratusan trilyun rupiah uang yang mengendap di bank dan BI disalurkan ke masyarakat sampai pertumbuhan ekonomi menembus 8%,” sebuah info di media sosial.

Tampak transparan dan jelas kabar di media sosial di atas. Ditambah dengan bumbu-bumbu AI (artificial inteligence / akal imitasi / alat imitasi) maka menjadi makin seru. Tetapi itu semua adalah bias transparan. Sejatinya tidak jelas.

MBG belum tentu bahaya; MBG belum tentu meracuni siswa di sekolah dekat rumah Anda. Ratusan trilyun uang di bank belum tentu disalurkan. Apalagi pertumbuhan ekonomi? Tidak ada jaminan ekonomi tumbuh 8%. Hanya karena bias transparan, kita merasa yakin apa yang kita lihat di media sosial sebagai benar 100%.

3. Bias Dominasi

Seorang teman cerita, “Tidak usah repot-repot memikirkan solusi untuk semua masalah itu. Cukup pakai AI maka semua solusi tersedia.”

Teman saya di atas menunjukkan dominasi AI; tepatnya, bias dominasi yang berbahaya. Mereka menganggap AI bisa menyelesaikan semua masalah; padahal AI tidak bisa. Mereka mengira AI bisa jadi pimpinan perusahaan; AI bisa menjadi menteri; AI bisa menjadi presiden. Itu semua hanya jebakan bias dominasi.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Sangat rumitkan? Apa solusi yang tersedia?

Ketika Didi sukses dengan podcast maka dia ingin lebih sukses lagi; Didi menyediakan studio untuk artis-artis lain podcast; Didi ingin subscriber dan followernya bertambah 10 juta; dan impian lain tanpa henti 24/7.

“Didi cobalah kamu berhenti!” seru kawannya.
“Tidak bisa. Bila berhenti maka orang lain akan menyalip,” Didi makin keras dan makin terjebak dalam positivitas.

Tetapi, bias positif ini komplikasi. Penjudi yang kalah dalam judol (judi online) makin ketagihan meski dia sudah kalah sampai bangkrut. Dia merasa sukses yaitu sukses bertaruh di judol. Demikian juga banyak orang merasa sukses di pasar saham, valas, atau bisnis lainnya. Padahal mereka telah menghancurkan dirinya serta orang-orang terdekat dengan terjebak dalam bias positif.

Solusi: kita membutuhkan negativitas. Kita butuh gagal. Kita butuh batas-batas yang tegas.

Apa solusi bagi bias transparan? “Ijasah Jokowi sudah jelas-jelas palsu” bagi para pendukung ijasah palsu. Mereka yakin transparan itu. Mereka menuntut Jokowi untuk diadili sampai dihukum berat. “Ijasah Jokowi sudah terbukti asli” bagi para pendukung ijasah asli. UGM sudah konfirmasi ijasah asli; KPU dan Polri juga sudah konfirmasi asli. Mereka yakin transparan itu. Mereka menuntut para penyebar hoaks dan pencemar nama itu diadili.

Tetap terjadi debat di media sosial apakah ijasah itu asli atau palsu. Masing-masing menganggap diri benar secara transparan. Tidak ada solusi di media sosial; karena masing-masing pihak mengira transparan tapi saling bertentangan.

Solusi: selalu ada misteri. Yakinlah bahwa media sosial, meski diperkuat AI, tidak pernah transparan. Selalu ada yang tersembunyi. Kita butuh membuka hati. Bahkan pengetahuan kita sehari-hari, termasuk sains, juga tidak pernah transparan; selalu ada misteri. Tuhan telah melimpahkan anugerah nyata, yaitu facticity, yang mengundang perenungan misteri tanpa henti.

Apa solusi bagi bias dominasi? Solusinya adalah panarko; pan-arko; serba-arko; setiap orang adalah pemimpin sejati yaitu arko. Termasuk diri kita adalah arko.

Sains Deflasi Membuka Sains Inflasi

Telah tiba saatnya kita menuju sains deflasi dan menjadikan kenangan indah sains inflasi masa lalu. Kemajuan demi kemajuan mengajak kita berpegang ke sains deflasi. Apa itu sains deflasi mau pun inflasi?

1. Puncak Sains Positif
2. Falsifikasi dan Paradigma
3. Interpretasi Posmo dan Pragmatis
4. Matematika Pasti Tidak Pasti
5. Penutup

Dulu, kita terkesima dengan perkembangan sains. Kemudian, manusia memanfaatkan sains untuk menguasai alam raya mau pun sesama. Krisis iklim, pemanasan global, pencemaran, kemiskinan ekstrem, sakit mental, dan banyak problem lagi dampak dari sains dan teknologi. Apa tersedia solusi?

1. Puncak Sains Positif

Sains inflasi adalah sains yang terus berkembang menjadi makin besar kepala. Dalam sejarah, positivisme mewakili jenis sains inflasi; yang perlu kita jadikan sebagai kenangan indah dalam sejarah.

Positivisme meyakini hanya ada dua jenis kebenaran: (1) kebenaran empiris yang dibuktikan oleh sains secara induksi; (2) kebenaran analisis yaitu kebenaran yang didasarkan pada analisis logika yang, akhirnya, berujung kepada definisi. Selain dua jenis kebenaran di atas, menurut positivisme, adalah tidak bermakna. Banyak hal menjadi tidak bermakna: sastra, puisi, etika, spiritualitas, dan lain-lain. Atau, agar bernilai benar, sastra misalnya harus sesuai sains. Terjadi konflik besar waktu itu.

2. Falsifikasi dan Paradigma

Popper (1902 – 1994) memberi kritik keras terhadap positivisme: (1) induksi tidak bisa dijustifikasi untuk sains; (2) analisis logika tetap perlu mempertimbangkan kajian sains empiris. Popper mengusulkan falsifikasi sebagai solusi. Teori sains hanya bisa dibuktikan sebagai salah; atau untuk sementara, terkoroborasi (dikukuhkan).

Falsifikasi berhasil membuka pintu sains deflasi yaitu sains yang rendah hati dan terbuka untuk selalu revisi. Sains deflasi lebih ramah untuk saling diskusi dan keragaman wacana.

Kuhn (1922 – 1996) berhasil menggulirkan revolusi sains berupa pergeseran paradigma. Setiap teori dan klaim sains didasarkan pada konteks suatu paradigma. Kita bisa menerima klaim sains sebagai benar berdasar paradigma tertentu. Bila paradigma berganti, atau bergeser, maka klaim sains itu bisa salah; dan perlu diganti dengan teori sains lain yang berbeda.

Sains deflasi menjadi lebih rendah hati dengan bersikap terbuka terhadap keragaman paradigma sesuai konteks masing-masing sejarah.

3. Interpretasi Posmo dan Pragmatis

Sains adalah sebentuk satu interpretasi oleh manusia terhadap realitas. Interpretasi selalu terhubung dengan perspektif dan sejarah. Karena itu sains bersikap terbuka terhadap keragaman perspektif; itulah sains deflasi.

Pertengahan abad 20 berkembang seni interpretasi yaitu hermeneutika misal oleh Gadamer. Awalnya, hermeneutika adalah seni interpretasi untuk kitab suci kemudian berkembang menjadi seni interpretasi untuk seluruh realitas; baik nyata mau pun maya. Sains adalah salah satu bentuk interpretasi terhadap realitas oleh manusia. Karakter interpretasi adalah melingkar: untuk memahami detil, kita butuh memahami global; untuk memahami global, kita butuh memahami detil; interpretasi bisa terus-menerus direvisi. Dengan demikian, makin kuat menjadi sains deflasi yang rendah hati.

Banyak tokoh posmo terkenal misal Lyotard dan Derrida. Lyotard (akhir abad 20) menolak narasi-besar sains. Yang valid adalah narasi-narasi kecil sesuai situasi lingkungan masyarakat tertentu. Sains tidak bisa klaim sebagai benar universal. Sains adalah mikro-narasi yang perlu menyesuaikan situasi lokal maka terbentuklah sains deflasi.

Derrida mengembangkan dekonstruksi termasuk terhadap sains. Setiap klaim bisa didekonstruksi untuk menunjukkan ada pihak dominan dan pihak lemah; bukan hanya sains yang mendominasi. Kita perlu mempertimbangkan pihak lemah untuk dibela. Sains perlu revisi mempertimbangkan pihak lemah itu; terbentuklah sains deflasi yang rendah hati.

4. Matematika Pasti Tidak Pasti

Tetapi bukankah matematika bersifat pasti eksak? Sehingga, bila sains didasarkan kepada matematika maka sains bersifat pasti eksak? Matematika bersifat pasti eksak bila dibatasi dengan syarat-syarat tertentu. Bila syarat-syarat diperluas maka matematika akan menjadi matematika deflasi selaras dengan sains deflasi.

Peralihan abad 19 ke abad 20 ditandai dengan perkembangan matematika fondasional yang progresif. Salah satunya, matematika menjadi sistem formal paling logis dan kokoh. Wajar saja, sains dan teknologi mengandalkan seluruh teorinya kepada matematika.

Awal 1930an, Godel membuktikan bahwa setiap sistem matematika, yang cukup serius, pasti antara tidak lengkap atau tidak konsisten. Dampaknya, matematika perlu terus-menerus revisi untuk melengkapi teori. Akibatnya, sains juga perlu terus-menerus merevisi setiap teori maka terbentuklah sains deflasi yang rendah hati.

Sampai sekarang, abad 21 ini, matematika fondasional masih terus melengkapi teorinya misal dengan “large cardinal number” atau kardinal besar. Makin dalam matematika mengkaji kardinal besar maka makin terbuka betapa luasnya matematika bagai tak bertepi. Sains dan matematika memang perlu menjadi deflasi yang rendah hati dan terbuka untuk selalu revisi. Ketika membuka hati kita sadar: matematika pasti tidak pasti; yang lebih pasti kita perlu rendah hati.

5. Penutup

Sudah terbukti bahwa sains adalah deflasi yaitu rendah hati yang terbuka untuk selalu revisi. Sayangnya ada beberapa saintis, atau orang awam, yang angkuh. Mereka yakin bahwa sains adalah paling benar. Sehingga segala sesuatu harus dikaji berdasar sains menurut mereka: seni harus berdasar sains; olahraga harus berdasar sains; agama harus berdasar sains; jatuh cinta harus berdasar sains; politik harus berdasar sains. Tidak benar sikap saintis yang angkuh seperti itu.

Karena sains adalah sains deflasi maka sains membuka diri: sains belajar dari seni; belajar dari olahraga; belajar dari agama; belajar dari politik; belajar dari cinta; dan lain-lain. Atau lebih tepat: kita semua adalah deflasi yang rendah hati. Sehingga kita perlu saling belajar untuk instropeksi diri.

Bagaimana menurut Anda?

Pikun Total Bersama AI

Apa yang akan terjadi jika ada anak muda yang pikun total kemudian dia mengisi otaknya dengan AI (artificial intelligence / akal imitasi)?

Pito adalah remaja yang mengalami pikun total; bukan nama sebenarnya. Untuk hidup sehari-hari, Pito mengandalkan bantuan orang-orang terdekat. Secara fisik, Pito sehat sebagaimana remaja usia 20an. Orang tua terpikir menanamkan AI di kepala Pito. Perkembangan teknologi AI memungkinkan menanamkan mikrochip AI ke dalam kepala Pito secara aman. Perlu biaya besar. Tetapi tidak masalah. Karena perusahaan AI setuju membiayai seluruhnya; sekaligus sebagai media promosi.

1. Superhuman
2. Manusia Normal
3. Bukan Manusia
4. Super AI jadi Manusia
5. Diskusi

Apa yang akan terjadi terhadap Pito dalam kisah rekaan di atas? Apakah Pito akan menjadi manusia normal karena AI menyembuhkan pikun dan membekali memori? Atau, Pito justru menjadi superhuman karena dengan AI mampu berpikir serba cepat?

1. Superhuman

Hipotesis pertama adalah Pito berhasil menjadi superhuman. Barangkali mirip Superman atau Ironman. Pito semula pikun total, kini ia percaya kepada AI yang tersimpan di otaknya. Ia ingat seluruh memori masa lalu berdasar data AI. Bahkan Pito bisa prediksi ke masa depan secara detil sampai puluhan tahun.

Tugas awal Pito adalah melihat dirinya sendiri yang saat ini masih lemah; tanpa sumber daya ekonomi mau pun politik. Pito akses ke AI untuk ambil tindakan paling tepat. Ia pinjam sejumlah kecil uang ke saudara; lalu dia pakai judi online sebentar menjadi bertambah banyak uangnya; meski tidak terlalu banyak. Pito membayar lunas uang pinjaman saudaranya. Kemudian, Pito investasi di valas (valuta asing); untung besar dalam hitungan beberapa hari.

Hanya dalam beberapa bulan, Pito menjadi salah satu orang terkaya di provinsinya. Ia mulai mengembangkan pengaruh ke dunia politik. Tidak ada jalan mudah masuk politik. Pito menguasai politik dengan membangun jaringan beberapa walikota, bupati, dan gubernur.

Butuh waktu cukup lama bagi Pito untuk menciptakan baju robot mirip Ironman. Tidak lebih dari 1 tahun, Pito berhasil menciptakan baju robot. Sehingga, kali ini, Pito sudah amat mirip dengan Ironman; ia bisa terbang cepat menuju lokasi yang diinginkan.

Menariknya, AI memberi tahu Pito bahwa kerja sama, khususnya dengan politikus, lebih efisien menggunakan ancaman ketimbang hadiah. Pito menguasai seluruh data, berbekal AI, kejahatan para pejabat. Data kejahatan ini menjadi senjata bagi Pito untuk menekan seorang pejabat. Tapi AI memberi tahu tidak boleh terlalu sering seperti itu karena pejabat bisa menyerang balik dengan lebih kejam.

Apakah hipotesis superhuman bagi Pito bisa menjadi kenyataan?


2. Manusia Normal
3. Bukan Manusia
4. Super AI jadi Manusia
5. Diskusi

Rasionalitas AI: Posibilitas Luas dan Batas

Manusia adalah makhluk rasional; mampu berpikir logis; berpikir berdasar proses dan bukti yang tepat. Apakah AI mampu berpikir rasional? Bagaimana kemungkinan AI (akal imitasi / artificial intelligence) berpikir rasional? Apakah luas atau sangat terbatas?

Rationality is the quality of being guided by or based on reason. In this regard, a person acts rationally if they have a good reason for what they do, or a belief is rational if it is based on strong evidence.” (Wikipedia).

“Rasionalitas adalah kualitas untuk dibimbing oleh atau didasarkan pada nalar (reason). Dalam konteks ini, seseorang bertindak secara rasional jika ia memiliki alasan yang baik atas apa yang ia lakukan, atau suatu keyakinan dikatakan rasional apabila didasarkan pada bukti yang kuat.”

Definisi rasionalitas oleh Wiki di atas bisa kita jadikan sebagai pijakan awal. Selanjutnya, kita perlu mengkaji lebih dalam dan luas.

1. Rasionalitas Universal
2. Rasionalitas Ideal
3. Rasionalitas Eksistensial
4. Diskusi
4.1 Solusi Rasional Universal
4.2 Solusi Rasional Ideal
4.3 Solusi Rasional Eksistensial
4.4 Eksperimen Kucing Schrodinger
4.5 Paradoks Lanjutan
5. Ringkasan

Kita akan membahas rasionalitas dari tiga dimensi. (1) Rasionalitas universal adalah berlaku secara umum, global, dan luas. Misal dalam operasi bilangan asli 2 + 1 = 3 adalah rasional universal; selalu benar kapan pun dan di mana pun. (2) Rasionalitas ideal adalah rasionalitas yang berkembang secara ideal; terjadi situasi dan kondisi yang mendukung berkembangnya rasionalitas dengan baik. Misal, anak remaja mampu menjawab pertanyaan: siapa proklamator Indonesia? Soekarno. Remaja tersebut rasional tetapi remaja yang tidak mendapat pendidikan memadai maka tidak akan mampu menjawab secara rasional. (3) Rasionalitas eksistensial yaitu rasionalitas yang berkembang dalam realitas eksistensi konkret.

Sejauh mana perkembangan dimensi rasionalitas AI?

1. Rasionalitas Universal

Secara umum, setiap orang mengakui rasionalitas universal, semacam rasionalitas matematika bahwa 2 + 1 hasilnya adalah 3 untuk bilangan asli. Masalahnya adalah: apakah rasionalitas universal itu memadai? Atau perlu dimensi rasionalitas lain? Atau memang itu satu-satunya rasional hakiki?

AI tampak memiliki rasionalitas universal ini. AI bisa dengan mudah menyelesaikan soal matematika. Awalnya, AI versi LLM, sering salah jawab untuk matematika. Seiring waktu, LLM makin sering menjawab matematika dengan benar. Di masa depan, kita bisa berharap, AI akan selalu berhasil menjawab dengan benar. Bila demikian, AI memiliki rasionalitas universal.

2. Rasionalitas Ideal

Bayangkan bayi Tarzan yang diasuh oleh gorila sejak kecil. Ketika remaja, Tarzan tidak bisa berhitung tingkat tinggi misal 21 x 3 hasilnya berapa. Tarzan tidak memiliki rasionalitas ideal. Kelak, Tarzan bertemu dengan manusia lain. Kemudian, Tarzan belajar banyak hal dari peradaban manusia. Akhirnya, Tarzan mampu berhitung tinggat tinggi misal 21 x 3 hasilnya adalah 63 untuk bilangan asli.

Rasionalitas ideal meyakini bahwa rasionalitas hanya bisa berkembang dalam lingkungan ideal baik lingkungan sosial mau pun lingkungan natural. Tarzan kecil gagal memperoleh lingkungan ideal sehingga tidak memiliki rasional ideal. Sementara, Tarzan dewasa berada dalam lingkungan ideal untuk rasionalitas. Program pendidikan strata-1 (S1) di universitas merupakan contoh pengembangan rasionalitas ideal. Seorang remaja yang baru lulus SMA, misalnya, kemudian ia menempuh program S1. Setelah 4 tahun, ia lulus sebagai seorang sarjana. Dalam contoh ini, ia telah sukses mengembangkan rasionalitas ideal dengan standar sarjana.

Apakah AI memiliki rasionalitas ideal? Tidak. AI tampak tidak memiliki rasionalitas ideal. Jadi, andai AI memiliki rasionalitas maka terbatas pada rasionalitas universal belaka; tanpa mencapai rasionalitas ideal.

3. Rasionalitas Eksistensial

Rasionalitas eksistensial adalah rasionalitas yang mempertimbangkan realitas eksistensi secara konkret; baik realitas masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Rasionalitas eksistensial dipengaruhi oleh tujuan, nilai, dan situasi yang ada.

Apakah AI memiliki rasionalitas eksistensial? Tidak. AI tampak tidak memiliki rasionalitas eksistensial. Jadi, andai AI memiliki rasionalitas maka terbatas kepada rasionalitas universal; tanpa rasionalitas eksistensial mau pun rasionalitas ideal.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Andai AI memiliki rasionalitas universal maka bagaimana batas-batasnya? Atau tanpa batas?

Secara umum, rasionalitas universal berpegang kepada 3 prinsip logika: (1) identitas; B = B; pernyataan benar adalah benar; (2) prinsip non-kotradiksi; tidak mungkin kontradiksi; pernyataan benar tidak mungkin salah; (3) aturan tidak ada nilai tengah; law of excluded the middle; suatu pernyataan pasti antara benar atau salah. Mengapa 3 prinsip di atas valid sebagai rasional? Tidak ada yang bisa menjawab secara rasional universal. Karena setiap jawaban membutuhkan 3 prinsip di atas. Russell menjawab karena 3 prinsip di atas adalah prinsip realitas itu sendiri. Mengapa? Russell tidak bisa menjawab. Kita bisa menjawab karena ada rasionalitas ideal dan eksistensial.

Matematika adalah disiplin kajian paling rasional di antara semua kajian rasionalitas universal. Matematika lebih rasional universal ketimbang sains lain. Bahkan, sains lain tampak ingin mendekat ke rasionalitas universal mirip matematika.

Kita akan melakukan eksperimen Lampu Merah Hijau (ekperimen LMH) yang menantang rasionalitas dan universalitas matematika. Eksperimen LMH bisa mengambil 3 bentuk eksperimen: eksperimen pikiran, eksperimen digital, maupun eksperimen fisikal.

“Sebuah lampu menyala dengan warna bergantian merah atau hijau sesuai aturan:

4 menit merah + 2 menit hijau + 1 menit merah + (1/2) menit hijau + …

Sejak 8 menit menyala, dan seterusnya, maka warna lampu adalah selalu stabil antara merah atau hijau atau lainnya. Apa warna nyala lampu di menit ke 9?”

Matematika tidak bisa menjawab LMH di atas secara meyakinkan. Padahal secara fisikal, kita tinggal nyalakan lampu dalam 9 menit dan melihat warnanya, misal merah. Kita yakin jawaban merah itu benar. Tetapi, bila lampu dimatikan lalu dinyalakan ulang apakah akan tetap merah pada menit 9? Sains eksperimen tidak bisa menjawab dengan pasti. Barangkali eksperimen digital akan menjawab dengan baik; barangkali AI bisa menuliskan kode (coding) untuk ini. Lalu jalankan kode itu; misal jawabnya merah. Apakah benar akan tetap merah bila diulang? AI tidak bisa menjawab dengan pasti.

Secara teoritis, seharusnya, matematika mampu menjawab secara pasti seperti 2 + 1 jawabannya pasti 3 untuk bilangan asli. Dalam kasus LMH (lampu merah hijau), matematika hanya yakin menjawab sebagai tidak-tentu, tidak-terdefinisi, random, acak, atau sejenisnya. Tentu saja jawaban semacam ini tidak memuaskan bagi yang berpikir rasional.

Barangkali kita bisa merancang, atau membuat definisi, lampu L2 dan Lampu L3 sebagai kontrol atau pembanding.

L2 = lampu yang menyala dengan warna stabil selalu merah.
L3 = lampu yang menyala dengan warna stabil selalu hijau.

Pertanyaan: “Apa warna lampu pada menit ke 9?”
L2 = merah;
L3 = hijau;
LMH: masih perlu kajian lanjutan.

4.1 Solusi Rasionalitas Universal

Mari kita susun solusi berdasar matematika yang rasional universal.

Jumlah waktu = W = 4 + 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + 1/8 + … = 8

Siswa SMA sudah belajar deret atau limit untuk menghitung secara pasti bahwa W = 8. Sehingga valid, setelah 8 menit warna lampu stabil antara merah atau hijau. Tetapi merah atau hijau tepatnya?

Di sini matematika tidak bisa memastikan. Kerena bila dijawab merah maka seseorang bisa membantah masih ada waktu untuk berubah jadi hijau. Demikian juga bila dijawab hijau maka masih bisa berubah merah.

Kita bisa tulis ulang:

W = 7,999… + e = 8

dengan e adalah error merupakan bilangan tertentu yang amat kecil sesuai situasi kondisi. Dengan adanya e, sejatinya, kita tidak pernah mencapai W tepat 8. Tetapi, karena W itu adalah waktu yang mengalir kontinyu maka pasti akan mencapai menit 8 bahkan berlanjut menit 9 dan seterusnya.

Barangkali matematika hanya bisa menebak:

W = 7,999 maka merah
W = 7,9999 maka hijau
W = 7,99999 maka merah

Atau bila jumlah nyala

ganjil maka merah
genap maka hijau

Untuk lebih meyakinkan problem LMH mari kita definisikan warna nyala lampu sebagai fungsi kontinyu f(t) untuk t bilangan real positif.

Maka f(9) = f(8);

f(8) = limit kiri f(8).

Jadi warna LMH sudah jelas dari limit kiri f(8). Tetapi, limit kiri f(8) adalah bergantian antara merah atau hijau. Sehingga matematika tidak bisa menjawab secara pasti.

Kesimpulan akhir: matematika tidak mampu menjawab pertanyaan rasional universal yaitu pertanyaan matematika itu sendiri. Tentu saja, matematika masih bisa menjawab pertanyaan yang lain secara pasti misal operasi penjumlahan bilangan asli dan lain-lain. Tetapi matematika tidak bisa menjawab apakah yang valid CH (continuum hypotheses) atau negasi CH. Matematika membutuhkan bimbingan rasionalitas dengan dimensi lebih tinggi.

4.2 Solusi Rasional Ideal

Solusi dengan eksperimen fisikal, sesuai alat dan teknologi yang tersedia, dengan mudah menjawab LMH; misal, setelah 8 menit lampu menyala stabil merah; jawaban sah adalah merah.

Mengapa?

Jika sekarang kita akan mengulang eksperimen maka apa warna lampu akan sama merah? Tidak pasti. Sains menjawab secara tidak pasti. Karena seluruh analisis sains klasik, quantum, mau pun relativitas tidak sanggup menjawab LMH dengan meyakinkan.

Alternatif solusi ideal adalah memanfaatkan probabilitas statistik. Kita bisa melakukan pengamatan berulang misal 100 kali. Diperoleh hasil misal 90 merah dan 10 hijau. Sehingga yakin 90% merah. Sayangnya, eksperimen statistik ini bisa diulang dan hasil berubah, misal 20 merah dan 80 hijau. Kita harus memihak hasil yang mana?

Lebih rumit lagi bila hasil statistik yang lebih canggih menunjukkan hasil 50% merah dan 50% hijau. Hasil akhir ini bisa kita yakini kebenarannya tetapi kehilangan arti. Karena anak TK yang belum belajar matematika juga bisa menebak 50% merah dan 50% hijau.

Dari perspektif statistik, eksperimen LMH (lampu merah hijau) selalu berhasil memberi data. Misal lampu rusak pada menit w = 7,9xyzabc maka kita bisa menghitung apakah w berada pada selang merah atau hijau. Bila w berada dalam selang ganjil maka LMH memberi jawaban merah; bila selang genap maka jawaban hijau. [Asumsikan lampu rusak pada waktu t = w; maka f(w) adalah limit kiri dari f(8)]

Asumsikan waktu Planck = p adalah durasi waktu terkecil yang signifikan maka kita perlu eksperimen untuk menyimpulkan efeknya. Misal setelah langkah genap 2k tersisa waktu 1/2 p untuk mencapai W = 8 menit maka apakah:

(a) 1/2 p tidak signifikan sehingga warna akhir adalah genap yaitu hijau; atau
(b) sisa 1/2 p menunjukkan bahwa siklus genap sudah lengkap sehingga warna akhir adalah bergeser ke ganjil yaitu merah.

Perlu dicatat juga bahwa nilai waktu Planck = p adalah sebuah estimasi. Sementara, estimasi yang amat kecil sangat berarti bagi eksperimen LMH ini. Barangkali justru kita bisa memanfaatkan LMH untuk menentukan besaran p, durasi minimum, sebagai waktu yang masih signifikan.

Singkatnya, rasionalitas ideal melangkah lebih maju dari rasionalitas universal untuk eksperimen LMH (lampu merah hijau). Kita membutuhkan rasionalitas dengan dimensi lebih tinggi.

4.3 Solusi Rasional Eksistensial

Solusi rasionalitas eksistensial merupakan solusi paling rumit karena merangkul universal dan ideal. Berbeda halnya dengan rasional universal matematika. Karena rasional universal klaim bisa melepaskan diri dari rasional ideal mau pun rasional eksistensial. Rasional ideal adalah tengah-tengah karena merangkul rasional universal meski kadang klaim melepaskan diri dari rasional eksistensial.

Jadi, apa jawaban rasional eksistensial terhadap eksperimen LMH?

Jawaban rasional eksistensial akan mempertimbangkan universal dan ideal; menyadari jawaban mereka tidak memadai. Kemudian memikirkan apa tujuan LMH? Apa nilai-nilai yang utama? Apa situasi konkret yang ada? Matematika dan sains eksperimental tidak mengajukan pertanyaan semacam itu. Tetapi, secara eksistensial, kita perlu mengajukan pertanyaan itu untuk mengarahkan ke jawaban yang valid.

Solusi eksistensial mencermati LMH: apa tujuan warna merah atau hijau? Merah adalah bermakna malam nanti tiba purnama. Hijau bermakna malam nanti bukan purnama.

Bagi Aljabar Alkhawarizmi, tokoh besar matematika abad 8, waktu purnama adalah penting tetapi tidak kritis. Artinya, purnama boleh saja malam ini atau malam lainnya. Dalam situasi ini, ia mengutamakan nilai kerukunan antar umat manusia. Jika umat berharap malam ini purnama maka Alkhawarizmi akan setuju bahwa eksperimen LMH berwarna merah.

Apa nilai paling utama? Kerukunan atau ketepatan? Jika merah bermakna besok adalah hari Raya Idul Fitri sedangkan hijau adalah besok puasa maka Alkhawarizmi mengutamakan ketepatan. Artinya, jauh hari sebelumnya, Alkhawarizmi akan menentukan dengan ketepatan tinggi eksperimen LMH (lampu merah hijau). Misal hasil analisis ketepatan tinggi adalah merah maka ia mendukung merah; bila hasil hijau maka ia mendukung hijau.

Bukankah solusi Alkhawarizmi di atas tetap paradoks? Memang masih ada paradoks tetapi diselesaikan secara bijak: mengkaji situasi konkret; mempertimbangkan nilai-nilai dan tujuan; memanfaatkan pandangan umum ideal; dan memanfaatkan rasionalitas universal. Sekali lagi, rasionalitas eksistensial adalah lebih berat dari rasionalitas universal karena eksistensial meliputi universal.

Bagaimana bila ada seseorang yang bersikukuh hanya mau menggunakan rasionalitas universal saja tanpa ideal mau pun eksistensial? Tentu itu adalah hak dia. Sikap dia itu bisa kita analisis: (1) menetapkan tujuan hanya memanfaatkan universal (tujuan adalah rasionalitas eksistensial); (2) barangkali dia dipengaruhi oleh buku yang dibaca atau lingkungan tempat ia belajar (rasionalitas ideal); (3) pernyataan afirmasi terhadap rasionalitas (universal). Jadi, meski pun, secara eksplisit, ia menyatakan hanya percaya rasionalitas universal tetapi, secara implisit, ia menerapkan rasionalitas ideal dan eksistensial.

4.4 Eksperimen Kucing Schrodinger

Eksperimen LMH (lampu merah hijau) bisa kita sandingkan dengan eksperimen kucing Schrodinger (KS) dalam hal memicu paradoks.

Schrodinger membuat eksperimen KS untuk menunjukkan paradoks absurd dari interpretasi teori kuantum: (versi sederhana)

Di dalam kotak terdapat kucing; hidup atau mati? Sebelum eksperimen, kucing adalah hidup lalu kotak ditutup. Di dalam kotak terdapat racun yang membunuh kucing dengan probabilitas 50% sesuai peluruhan radioaktif secara kuantum.

Jawaban teori klasik: kucing pasti sudah mati atau pasti masih hidup. Kapan saja, nanti atau besok, kita bisa mengamati untuk memastikannya.

Jawaban teori kuantum adalah paradoks: kucing antara hidup dan mati; superposisi hidup dan mati; setengah hidup dan setengah mati. Sampai kapan pun, tetap superposisi hidup dan mati; tetap paradoks. Kecuali ada pihak yang mengganggu misal seseorang membuka kotak untuk mengamatinya; maka situasi kucing akan roboh ke salah satu misal pasti hidup.

Jadi KS paradoks sampai terjadi pengamatan. Demikian juga LMH paradoks sampai terjadi pengamatan di menit 8. Persamaannya, KS dan LMH sama-sama eksperimen pikiran yang tidak bisa diselesaikan oleh rasional universal.

Perbedaan: KS tidak bisa dibuat eksperimen fisikal (sejauh sampai hari ini); LMH bisa dibuat eksperimen fisikal dengan membuat lampu secara fisik. Dengan demikian, LMH (lampu merah hijau) terbuka terhadap solusi praktis. Meski pemenang Nobel Fisika 2025 berhasil merancang superkonduktor yang mampu simulasi beberapa pasang elektron sebagai unison tetapi belum mampu eksperimen KS (kucing Schrodinger).

Menarik untuk diamati, secara fisikal, apakah LMH akan menghasilkan warna merah dan hijau bergantian; atau superposisi merah dan hijau yaitu berupa warna kuning; atau selang-seling di antara merah, hijau, dan kuning (mirip lampu lalulintas). Seru juga bila LMH bervariasi menjadi lebih banyak warna bergantian misal mejikuhibiniu: merah jingga kuning hijau biru nila ungu.

4 (me) + 2 (ji) + 1 (ku) + 1/2 (hi) + 1/4 (bi) + 1/8 (ni) + 1/16 (u) …

KS tidak bisa dibuat eksperimen digital; LMH bisa dibuat eksperimen digital. Kita bisa menulis kode (coding) untuk simulasi LMH. Meski eksperimen digital, dan eksperimen fisikal, mampu menjawab LMH tetapi paradoks tetap eksis seperti telah kita bahas di atas.

4.5 Paradoks Lanjutan

Paradoks lebih rumit justru dari eksperimen digital dan terhubung langsung dengan rasionalitas AI. Terbuka beragam skenario digital untuk LMH (lampu merah hijau): (i) solusi tak-terdefinisi; (ii) solusi tertentu; (iii) solusi tersembunyi.

(i) solusi tak-terdefinisi adalah koding eksperimen digital yang sempurna secara logika rasional. Kode ini, ketika dijalankan, bisa menghasilkan LMH merah atau hijau tak-tentu. Barangkali warna LMH dipengaruhi oleh perangkat keras, situasi lingkungan, atau kejadian-kejadian tidak diketahui.

(ii) solusi tertentu adalah solusi LMH berwarna tertentu untuk suatu syarat tertentu; misal LMH berwarna merah untuk jenis perangkat A dan LMH berwarna hijau untuk perangkat B. Meski solusi ini sudah “ditentukan” oleh kode digital tetapi tetap bisa disamarkan dengan penampilan mirip random.

(iii) solusi tersembunyi yang disamarkan dengan (ii) solusi tertentu. Misal ketika kode dijalankan maka pada urutan bilangan ganjil berwarna merah; urutan bilangan bukan ganjil berwarna hijau. Maksud “urutan bilangan ganjil” adalah bilangan yang ada di belakang koma dari bilangan irasional akar 7, misalnya. Sebagaimana diketahui akar 7 adalah acak, tatanan ganjil genapnya, meski eksak nilainya. Solusi ini disembunyikan dari pandangan umum tetapi bisa dibaca oleh pihak tertentu.

Judi online (judol) bisa memanfaatkan solusi (iii) tersembunyi dan tertentu. Andai ada judol yang fair, yang adil, maka harus pakai solusi (i) tak-tentu karena tak-terdefinisi. Hanya saja, solusi (i) tak-terdefinisi ada risiko bandar kalah. Sehingga solusi (iii) tersembunyi adalah paling rasional bagi bandar judi; bandar pasti menang; sementara penjudi pasti kalah dalam durasi cukup panjang. Tentu, tersedia taktik bahwa penjudi pernah menang agar penasaran sampai kecanduan judi online. AI (akal imitasi – artificial intelligence) bisa membuat program agar penjudi menjadi kecanduan judol.

AI adalah kode dalam jumlah sangat besar sesuai namanya LLM: large language model; model bahasa raksasa. Wajar, AI akan menghadapi paradoks dalam jumlah sangat besar. Bagaimana AI akan menyelesaikan paradoks-paradoks dalam jumlah raksasa itu? Tentu, AI bisa membiarkan solusi (i) tak-terdefinisi. Tetapi, kita tahu AI tidak bisa menyelesaikan problem rasionalitas universal ini dan, akhirnya, manusia membantu menyelesaikannya dengan rasionalitas ideal atau eksistensial berupa fine-tuning, salah satunya. Pilihan wajar: AI menyelesaikan problem rasionalitas universal dengan mengarah solusi (iii) tersembunyi; atau dalam istilah umum berupa solusi black-box.

Kita mencermati ada problem serius tentang rasionalitas AI. Solusi untuk pengembangan AI ke depan, barangkali, bisa memilih: (i) melengkapi rasionalitas AI dengan rasionalitas ideal dan eksistensial; konsekuensinya, AI akan memiliki rasionalitas universal yang valid. Perkembangan AI multimodal membuka prospek bahwa AI akan mampu belajar dari situasi lingkungan sekitar; prospek AI memahami situasi konkret dan barangkali AI agentic akan menetapkan tujuannya sendiri setelah mempertimbangkan beragam situasi.

Solusi (ii) mendampingi pengembangan dan penerapan AI dengan rasionalitas ideal dan eksistensial. Dengan solusi ini, manusia bertanggung jawab mengarahkan AI untuk berkembang secara etis dan membawa kebaikan bersama.

5. Ringkasan

Secara ringkas, rasionalitas universal semacam matematika dan sains adalah tidak memadai. Kita membutuhkan dimensi rasionalitas yang lebih tinggi meliputi rasionalitas eksistensial, rasionalitas ideal, dan rasionalitas universal.

AI (akal imitasi / artificial intelligence) tampak memiliki rasionalitas universal; mirip sains dan matematika universal. Tetapi karena AI tidak memiliki rasionalitas eksistensial dan ideal maka rasionalitas universal AI menjadi tidak valid. Dengan demikian, AI hanya tampak seperti memiliki rasionalitas. Posibilitas solusi terbuka untuk: (i) mengembangkan AI agar memiliki kapabilitas rasional ideal dan eksistensial; pada gilirannya AI sukses mengembangkan rasional universal; atau (ii) dalam keterbatasan kapabilitas AI, umat manusia mendampingi pengembangan dan penerapan AI dengan pertimbangan rasionalitas ideal dan eksistensial. Pilihan pertama (i) menarik dan menantang tetapi memunculkan problem moral. Pilihan kedua (ii) bagus dan praktis tetapi apakah cukup menarik untuk menjadi pilihan?

Definisi rasionalitas perlu bergerak ke arah makna yang lebih luas karena rasionalitas selalu berhadapan dengan paradoks. Makna rasionalitas lebih luas meliputi dimensi universal, ideal, dan eksistensial. Makna rasionalitas ini masih perlu untuk terus dikembangkan dan revisi; barangkali revisi tanpa henti.

Hubungan antar dimensi bisa digambarkan semacam piramida atau kerucut. Rasionalitas universal berada di puncak, rasionalitas ideal di tengah, dan rasionalitas eksistensial di dasar. Hubungan ini tampak ambigu. Universal di puncak tampak paling tinggi tetapi paling rawan karena butuh dukungan tengah (ideal) dan dasar (eksistensial). Eksistensial tampak paling mendasar sebagai fundamental tetapi paling tersembunyi.

Kajian lanjutan perlu untuk memperjelas hubungan ambigu di atas; atau setidaknya memperjelas dinamika antar dimensi itu; serta menguatkan petunjuk arah pengembangan AI ke depan.

Bagaimana menurut Anda?

Jalan Raya Menuju Surga: Pilihan atau Anugerah?

Anda bebas untuk memilih melanjutkan membaca atau berhenti dari membaca tulisan ini. Terserah Anda karena Anda bebas untuk lanjut atau berhenti. Benarkah Anda bebas seperti itu?

Demikian juga jalan raya menuju surga. Apakah kita bebas untuk memilih jalan raya menuju surga? Ataukah jalan raya itu sudah takdir bagi orang tertentu dan bukan untuk orang lain?

Jawaban saya mudah saja. Perhatikan siapa yang sedang bertanya. Jika yang bertanya adalah anak muda maka jawablah: jalan raya itu sesuai dengan pilihan bebas kamu. Dengan demikian, anak muda itu lebih semangat untuk memilih jalan raya kebaikan agar bisa masuk surga. Jika yang bertanya orang dewasa sudah tua maka jawablah: jalan raya itu adalah anugerah terbaik dari Tuhan Maha Bijaksana. Sehingga orang dewasa lebih ikhlas menerima realitas.

Tetapi, apa jawabannya sebenarnya? Bila Anda berlanjut betanya seperti itu maka Anda mirip dengan saya yaitu sama-sama keras kepala. Silakan lanjut baca saja.

1. Pilihan Bebas Menuju Tak-Terjangkau
2. Pilihan Tak-Terhindari
3. Anugerah Bisa-Diukur
4. Hampir Absolut
5. Diskusi

Kali ini, kita akan membahas dengan mengambil inspirasi teori matematika paling canggih: large cardinal numbers.

1. Pilihan Bebas Menuju Tak-Terjangkau

Di dalam matematika terkenal aksioma pilihan – axiom of choice (AC): kita bisa memilih sesuatu dengan baik.

Bayangkan di alam raya yang besar ini terdapat banyak jalan raya; sangat banyak yaitu tak terhingga. Masing-masing jalan raya itu, panjangnya tak hingga. Kita bisa menyusuri jalan raya itu tapi tak pernah sampai ujung akhir. Anda pernah naik pesawat terbang super cepat? Atau kereta cepat Jakarta Bandung semisal Whoosh? Kita bisa naik mobil balap atau pesawat dengan kecepatan cahaya. Tetap saja, kita tidak bisa menjangkau ujung akhir jalan raya itu. Bagaimana pun kita masih bisa memilih untuk menyusuri jalan raya itu.

Jalan raya di atas disebut sebagai tak-terjangkau (inaccessible); sebuah bilangan kardinal besar pertama; yaitu kardinal paling kecil; masih banyak kardinal yang lebih besar. Kita bisa menetapkan bahwa bilangan tak-terjangkau itu memang ada; ujung akhir jalan raya yang tak-terjangkau itu memang ada.

“Thus, the existence of a regular limit cardinal must be postulated as a new axiom. Such a cardinal is called weakly inaccessible. If, in addition κ is a strong limit, i.e., 2^λ < κ, for every cardinal λ < κ, then κ is called strongly inaccessible. ” (SEP).

“Oleh karena itu, keberadaan suatu kardinal limit yang reguler harus dipostulatkan sebagai sebuah aksioma baru. Kardinal semacam ini disebut lemah takterjangkau (weakly inaccessible cardinal). Jika selain itu κ juga merupakan kardinal limit kuat, yaitu memenuhi 2^λ < κ untuk setiap kardinal λ<κ, maka κ disebut sebagai sangat takterjangkau (strongly inaccessible cardinal).”

Apakah, bagi kita, jalan raya menuju surga itu pilihan atau anugerah? Pilihan. Sampai tahap ini, jawaban kita adalah: pilihan bebas. Meski jalan raya itu sendiri adalah anugerah tetapi penentu akhir adalah pilihan manusia; pilihan kita; seseorang mau memilih menyusuri jalan raya atau tidak.

Anda akan memilih menyusuri jalan raya menuju surga? Atau memilih jalan lain? Anda bebas untuk memilihnya sampai tahap ini. Tentu memilih jalan surga adalah pilihan terbaik bagi kita untuk menyusuri sajadah panjang ini.

2. Pilihan Tak-Terhindari

Mahlo kita sebut sebagai kardinal besar tak-terhindari; jauh lebih besar dari tak-terjangkau.

“Also, a subset S of κ is called stationary if it intersects every closed unbounded subset of κ … A regular cardinal κ is called Mahlo if the set of strongly inaccessible cardinals smaller than κ is stationary.”  (SEP).

“Sebuah himpunan bagian S dari κ disebut stasioner apabila S beririsan dengan setiap himpunan takterbatas tertutup (closed unbounded set) dalam κ. Sebuah kardinal reguler κ disebut Mahlo apabila himpunan kardinal sangat takterjangkau yang lebih kecil dari κ merupakan himpunan stasioner.”

Bayangkan jalan raya super besar yang tak-terjangkau. Bila kita memilih menyusuri jalan raya itu cukup jauh maka tak terhindarkan kita akan menemui banyak lampu lalu lintas (traffic light). Jalan raya lengkap dengan lampu itulah tak-terhindari. Lampu lalu lintas ini mengatur persimpangan yang banyaknya jalan raya adalah tak hingga; seluruh jalan raya akan bertemu di persimpangan stasioner lampu lalu lintas itu.

Apakah, bagi kita, jalan raya menuju surga adalah pilihan bebas? Pilihan. Jawabannya, sampai tahap ini, adalah pilihan bebas. Manusia bisa memilih untuk menyusuri jalan raya itu lebih jauh sampai menemukan lampu; dan melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi.

Lebih jauh ke mana? Pokoknya lebih jauh. Kita, sebagai manusia, hanya bisa memilih untuk berjalan lebih jauh; menuju surga, menyusuri surga. Tetapi tidak tahu bagaimana dan ke mana. Hanya saja, Anda pasti akan mencapai persimpangan stasioner yang ada lampu lalulintas ini, yaitu menuju Mahlo, setelah jauh melampaui jalan raya tak-terjangkau (inaccessible).

3. Anugerah Bisa-Diukur

Sejatinya masih ada lebih banyak kardinal besar lagi menuju surga. Tetapi, kita fokus ke bagian paling pentingnya: kardinal besar bisa-diukur atau measurable.

“It turns out that a cardinal κ is measurable if and only if there exists an elementary embedding j:V→M, with M transitive, so that κ is the first ordinal moved by j, i.e., the first ordinal such that j(κ)≠κ. We say that κ is the critical point of j, and write crit(j)=κ. The embedding j is definable from a κ-complete non-principal measure on κ, using the so-called ultrapower construction.” (SEP).

“Ternyata, sebuah kardinal κ bersifat terukur (measurable) jika dan hanya jika terdapat suatu pemetaan elementer j:V→M, dengan M transitif, sedemikian sehingga κ merupakan ordinal pertama yang dipindahkan oleh j, yaitu ordinal pertama yang memenuhi j(κ)≠κ. Dalam hal ini, dikatakan bahwa κ adalah titik kritis dari j, dan ditulis sebagai crit(j)=κ. Pemetaan j ini dapat didefinisikan dari suatu ukuran tak-prinsipal (non-principal measure) dan κ-lengkap, dengan menggunakan konstruksi yang disebut ultrapower.”

Setelah menyusuri jalan raya raksasa dan menemui lampu lalu lintas (traffic light) maka, berikutnya, kita menemukan kardinal besar measurable (dapat-diukur). Apa yang dapat-diukur itu? Yang dapat-diukur adalah anugerah Tuhan yang lebih besar dari tak-terhindari mau pun tak-terjangkau. Anugerah ini benar-benar besar karena memang dapat-diukur. Kita hanya bisa mengukur anugerah itu ketika ikhlas menerima anugerah. Bila seseorang memaksakan pilihannya atau kemauannya atau keinginannya maka paling banter ia sampai tak-terhindari atau tak-terjangkau; sangat sulit untuk mencapai dapat-diukur. Pada tahap measurable memang perlu sikap ikhlas yang luas.

Apakah jalan raya menuju surga merupakan pilihan atau anugerah? Anugerah. Jawabannya, sampai tahap ini, jalan menuju surga adalah anugerah sangat besar dari Tuhan Maha Baik. Kita tidak bisa memilih lagi; atau ketika seseorang memilih maka pilihannya akan menjatuhkan dia ke jalan raya yang lebih bawah. Hanya ikhlas yang bisa mengantarkan sampai jalan raya bisa diukur ini.

Axiom of choice (AC) – aksioma pilihan – berlaku untuk bilangan asli; berlaku untuk kehidupan alami sehari-hari. AC tetap berlaku untuk kardinal besar tahap awal; kita bisa memilih menyusuri jalan raya tak- terjangkau sampai menemukan lampu (tak-terhindari). AC mulai melemah; aksioma pilihan mulai tidak berlaku untuk measurable; mulai tidak berlaku untuk anugerah besar yang dapat-diukur oleh anugerah besar itu sendiri; meski AC masih bisa berlaku dalam kadar tertentu. Orang dewasa mulai mengutamakan sikap ikhlas terhadap segala anugerah realitas.

4. Hampir Absolut

Perjalanan kita mengantar kepada hampir-absolut; mirip dengan absolut tetapi ada jarak yang tidak memisahkan.

Kardinal besar paling kuat sejauh ini adalah rank-into-rank; tingkat ke tingkat; maqom ke maqom; atau sejenisnya.

Axiom I1: There is a nontrivial elementary embedding of V(λ+1) into itself.
Axiom I0: There is a nontrivial elementary embedding of L(V(λ+1))  into itself with critical point below λ.

These are essentially the strongest known large cardinal axioms not known to be inconsistent in ZFC; the axiom for Reinhardt cardinals is stronger, but is not consistent with the axiom of choice.” (Wikipedia).

Aksioma I1: Terdapat pemetaan elementer non-trivial dari V(λ+1)​ ke dirinya sendiri.

Aksioma I0: Terdapat pemetaan elementer non-trivial dari L(V(λ+1)) ke dirinya sendiri dengan titik kritis di bawah λ.

Aksioma-aksioma ini pada dasarnya merupakan aksioma kardinal besar (large cardinal axioms) terkuat yang diketahui dan belum terbukti inkonsisten dalam kerangka ZFC. Aksioma untuk kardinal Reinhardt lebih kuat, namun tidak konsisten dengan aksioma pilihan (axiom of choice).”

Aksioma pilihan makin melemah atau pudar ketika rank makin kuat. Sementara itu anugerah makin besar dan sikap ikhlas makin jelas. Kita lebih besar mengandalkan ikhlas ketimbang pilihan bebas.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Perlu kita catat bahwa kardinal besar di atas adalah lebih besar dari infinity; lebih besar dari tak-hingga. Ketika kita belajar kalkulus Newton atau Leibniz, maksud infinity atau tak-hingga adalah N yaitu kardinalitas bilangan asli; yaitu bilangan asli terbesar yang lebih besar dari semua bilangan asli. Atau, tak-hingga adalah kardinalitas bilangan real R = 2^N.

Kardinal besar pertama, yang kita bahas di atas, adalah inaccessible (tak-terjangkau) yang jauh lebih besar dari R. Bahkan, kita tidak bisa menghitung inaccessible dengan mengolah R; mengalikan, memangkatkan, pangkat atas pangkat dan semuanya tidak akan menjangkau yang tak-terjangkau.

Singkatnya, kardinal besar adalah jauh lebih besar dari infinity yang dibahas Newton atau Leibniz. Masih banyak mutiara hikmah dari kardinal besar yang perlu kita jelajahi lebih lanjut. Apakah umat manusia akan siap?