Kebaikan Berlimpah

“Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS 97 : 2-3)

Allah yang maha baik melimpahkan kebaikan untuk seluruh alam semesta. Siapa pun Anda selalu mendapat curahan kasih sayang dari Allah. Apakah Anda menyadari atau tidak, Allah tetap menjaga Anda, melindungi Anda, dan menolong Anda.

Malam 1000 bulan, malam qadar, lailatul qadar, adalah malam spesial yang kebaikannya lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan yang Anda lakukan di saat itu, nilainya, dilipatgandakan lebih dari seribu bulan.

Asal-usul Terjadinya Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan

Kebaikan 1000 bulan itu lebih besar dari sepanjang hayat orang pada umumnya. Seribu bulan setara dengan 83 tahun. Sementara, harapan hidup manusia umumnya di bawah 83 tahun. Apalagi bila dipotong masa kanak-kanak dan remaja yang kira-kira 20 tahun sendiri, main-main belaka. Barangkali, kita menjalani hidup secara serius hanya 40an tahun. Namun, dari 40 tahun itu kita banyak tidur dan bersenda-gurau. Sehingga, paling banter, kita hanya memanfaatkan waktu selama hidup efektif 20an tahun. Lebih baik, mari kita kejar malam qadar yang kebaikannya lebih dari 83 tahun!

Wakil Tuhan

Malam kemuliaan itu mengetuk diri kita, dari pintu yang paling dalam. Memeluk kembali jiwa kita. Menghidupkan kembali jiwa kita. Kita adalah wakil Tuhan di semesta ini. Kapan pun kita bertindak, kekuatannya dilipatkan oleh Tuhan seribu bulan. Kebaikan yang berlimpah dari Sang Maha Baik. Maukah kamu?

Kita, manusia, sudah menerima amanah dari Tuhan untuk menjalankan takwa, sebagai wakil Tuhan. Tapi manusia, sejatinya, adalah makluk yang lemah dan bodoh.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh. ” (QS 33 : 72)

Maka mari kita sambut lagi uluran Tuhan di malam lailatul qadar ini.

Kembali Ke Diri

Meski kita lemah, Tuhan selalu mencurahkan kebaikan kepada kita. Allah memastikan bahwa orang-orang yang bertakwa selalu mendapat jalan keluar dari arah yang tak disangka. Sedangkan orang yang bertawakkal selalu memperoleh kecukupan.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS 62 : 2-3)

Takwa dan tawakkal berawal dan kembali kepada diri kita. Takwa adalah diri kita yang menerima amanah Tuhan, menjadi wakil Tuhan, untuk memakmurkan semesta, dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan. Dalam menghadapi alam semesta, termasuk interaksi sosial, kita menemui beragam masalah. Maka kita perlu memanfaatkan segala daya yang kita miliki, yang merupakan anugerah Tuhan. Kita perlu mencurahkan seluruh pikiran, semangat, dan kekuatan fisik untuk mentransformasikan alam semesta menjadi lebih baik.

Saat ini, kita sedang dalam pandemi. Betapa sulitnya kita menangani pandemi covid. Sebenarnya, kita sudah mengenal cara kerja covid. Seharusnya kita sudah bisa mengatasi pandemi covid dengan segala riset dan teknologi. Secara teori sudah ada solusi. Tetapi perilaku manusia tidak mudah dicegah. Covid terus mewabah. Gara-gara manusia yang terus-menerus tumpah-ruah. Berkumpul di sudut sawah sampai gedung-gedung mewah. Memang parah.

Memang sesama manusia, kita harus saling menghormati. Kita sama-sama wakil Tuhan di bumi. Kita perlu musyawarah dan diskusi. Semua aturan perlu ditaati.

Samudera Digital

Era digital bisa menggambarkan malam lailatul qadar dengan lebih jelas. Satu kebaikan yang Anda lakukan, misal membuat konten edukasi yang bermanfaat, bisa disebarkan, ditonton 1000 orang. Bahkan bisa ditonton oleh masing-masing orang 1000 kali. Dan konten ini abadi, 1000 hari, sampai benar-benar 1000 bulan.

Wow, sehebat itukah media digital? Bisa jadi sarana meraih malam lailatul qadar? Tentu saja bisa. Sejauh kita bisa memanfaatkan media digital sebagai media takwa dan tawakkal. Sebaliknya bisa terjadi. Media digital berubah menjadi samudera digital. Menenggelamkan semua kapal. Umat manusia terjungkal. Barangkali iblis tertawa terpingkal-pingkal.

Kita perlu kembali menyelami diri. Temukan ruh ilahi. Yang ada dalam nurani. Pancarkan ke seluruh bumi. Dengan berbagi manfaat duniawi dan ukhrawi. Anggap media digital sebagai teknologi. Yang menjembatani ribuan hati. Untuk kembali ke hadirat ilahi. Seberapa jauh kita menggerakkan jari? Melangkahkan kaki? Dengan tujuan untuk mengabdi?

“Dan tidak Aku ciptakan jin manusia kecuali untuk mengabdi (ke Ilahi).”

Amal Jariyah

Pahala kebaikan terus mengalir kepada orang yang beramal jariyah. Yaitu amal yang bermanfaat dalam jangka panjang. Meskipun kita sudah meninggal dunia, pahala tetap mengalir untuk kita.

Misalnya, perhatikan kitab tafisr karya Ibnu Katsir. Meski beliau sudah wafat ratusan tahun yang lalu, kitab tafsirnya tetap kita pelajari sampai sekarang. Terus menebarkan manfaat. Pahala kebaikan terus mengalir sampai ratusan tahun kepada beliau. Dan akan terus mengalir sampai bertahun-tahun di masa depan. Bagaimana dengan karya Anda? Manfaatkan malam lailatul qadar, detik ini, dengan memberi prestasi bagi penduduk bumi.

“Barangsiapa beramal kebaikan maka untuk dirinya. Dan barang siapa berbuat buruk, demikian pula terhadapnya.”

Beberapa orang takut dengan dosa jariyah. Yaitu dosa yang siksanya tetap mengalir meski pun pelakunya sudah meninggal. Jika pandangan ini mencegah seseorang dari berbuat dosa maka boleh juga diyakini. Meski pun, saya sendiri tidak menemukan dalil adanya dosa jariyah. Allah Maha Baik, melipatgandakan kebaikan. Tidak melipatgandakan keburukan. Pelaku dosa hanya memperoleh keadilan, yang tentunya sangat pedih, tak terbayangkan. KasihNya mendahuli murkaNya.

Kombinasi amal jariyah, lailatul qadar, dan teknologi digital benar-benar menjadi kesempatan manusia menebus semua kesalahan, menggantinya dengan amal-amal kebaikan.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Bagaimana menurut Anda?

Framing Ayat Suci

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS 25 : 1)

Keunggulan manusia adalah bisa memaknai berbagai macam fenomena dengan bebas. Dulu, orang mengira bahwa gerhana bulan adalah sedang terjadi proses penghancuran bulan oleh raksasa. Maka mereka memainkan beragam musik agar raksasa membatalkan menghancurkan bulan tersebut. Kemudian, sains mengungkap bahwa gerhana bulan adalah fenomena khusus di mana bayangan bumi sedang menutupi bulan.

Perbedaan Gerhana Bulan dan Matahari

Seorang ilmuwan memaknai gerhana bulan sebagai bukti kebenaran hukum gerak gravitasi alam semesta. Seorang seniman memaknai gerhana bulan sebagai peristiwa menyentuh hati, mengingatkan nostalgia dengan kekasih yang telah lama pergi. Seorang agamawan memaknai bulan sebagai peristiwa yang mengingatkan hamba untuk lebih mendekat kepada tuhan. Berbagai macam makna, dari satu obyek yang sama, bisa saja sama-sama sah.

Dalam beberapa situasi, bisa jadi makna tidak sah. Makna bisa dibelokkan oleh orang-orang tertentu demi kepentingan mereka. Di era digital, pembelokan makna bisa kita anggap sebagai framing. Proses ini kian mudah karena makin canggihnya teknologi digital, murah, dan bisa diakses di mana-mana. Informasi hoax mudah berkembang biak.

Pembeda

AlQuran adalah kitab suci yang membedakan berbagai macam hal yang benar dengan hal yang salah. Maka AlQuran disebut juga sebagai AlFurqan, Sang Pembeda. Dengan mengkaji AlQuran kita akan mendapat petunjuk yang jelas tentang jalan lurus yang harus diikuti, dan jalan salah yang harus dihindari.

Ayat AlQuran yang jumlah lebih dari 6 ribu ayat cukup besar sebagai penuntun hidup umat manusia. Beberapa ulama mengelompokkan ayat-ayat AlQuran agar lebih jelas perbedaan-perbedaanya. Menurut al-Bantani, bilangan ayat Al-Qur’an itu 6666 ayat, yaitu 1000 ayat di dalamnya tentang perintah, 1000 ayat tentang larangan, 1000 ayat tentang janji, 1000 tentang ancaman, 1000 ayat tentang kisah-kisah dan kabar-kabar, 1000 ayat tentang ‘ibrah dan tamsil, 500 ayat tentang halal dan haram, 100 tentang nasikh dan mansukh, dan 66 ayat tentang du’a, istighfar dan dzikir. Sedangkan bila kita memperhatikan beberapa (himpunan) irisan ayat AlQuran maka kita akan memperoleh angka 6236 – salah satu versi.

Di bagian awal surat AlBaqoroh ditegaskan bahwa “(AlQuran) ini adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk untuk orang-orang yang bertakwa.”

Keunggulan AlQuran juga terletak dalam bahasa Arab yang dipilih Allah agar kalian memikirkannya. Bahasa Arab diakui oleh para ahli memiliki keunikan, struktur bahasa yang jelas, pembentukan istilah yang dinamis, dan kaya dengan makna. Berbeda dengan bahasa Indonesia, misalnya, yang tampak lebih sederhana. Misal dalam bahasa Arab dikenal istilah fiil mudhorik yaitu kata kerja yang menunjukkan sedang terjadi dan akan terjadi.

Ketika Tuhan menghendaki sesuatu maka berfirman, “Kun fa yakun.” Artinya, “Jadilah maka terjadilah.”

Dalam bahasa Indonesia ungkapan “terjadi” tidak menunjukkan waktu sama sekali. Sehingga, dalam bahasa Indonesia, makna “terjadi” seakan-akan terjadi dengan spontan, seketika. Sedangkan dalam bahasa Arab, ungkapan “yakun” berbentuk fiil mudhorik yang bermakna sedang terjadi dan akan terus terjadi. Sehingga bahasa Arab menunjukkan proses yang lebih dinamis dalam contoh di atas.

Meski AlQuran demikian hebatnya, tetap saja manusia punya pilihan bebasnya. Salah satu pilihan manusia adalah membuat framing tentang ayat-ayat suci. Dari jaman awal-awal pun sudah ada orang yang membuat framing bahwa ayat-ayat suci adalah sihir belaka. Bahkan ada yang menyerang Nabi sebagai orang gila. Di jaman sekarang, tentu saja framing kepada ayat suci makin banyak variasi.

Di jaman para sahabat pun pernah terjadi framing untuk memecah belah umat. Mereka menggunakan dalil ayat untuk menyatakan pihak lain sebagai sesat. Kemudian menyerang pihak lain dengan memicu perang.

Dunia Digital

Tidak bisa menghindar. Kita berada di era digital yang dipenuhi oleh framing. Apa pun informasi yang kita terima dipastikan itu adalah informasi yang sudah dalam framing. Tidak ada informasi yang benar-benar murni. Dengan demikian, ayat-ayat suci yang kita baca di media tentu juga berada dalam suatu framing. Maka kita perlu lebih hati-hati. Untungnya, Tuhan sudah menganugerahi kita hati nurani. Cahaya dalam setiap diri.

Pertama, kita harus berusaha menjadi orang-orang yang bertakwa. Dengan cara ini, framing yang mengurung setiap informasi kita kaji, lalu kita letakkan kembali dengan framing takwa. Kita ingat kembali bahwa perintah puasa adalah bertujuan untuk menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang berprestasi di jalan ilahi, sebagai wakil Tuhan.

AlQuran sendiri adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. Sementara orang yang tidak bertakwa tidak terjamin akan bisa memperoleh petunjuk. Maka strategi kita adalah menjadikan diri sebagai orang yang bertakwa itu. Yaitu orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, berinfak dengan hartanya, beriman kepada wahyu Nabi dan yang sebelumnya, dan yakin kepada hari akhirat.

Kedua, kita mempelajari lebih dalam tentang dunia digital. Yang perlu kita cermati: bagaimana cara kita verifikasi suatu informasi? Yang paling dasar adalah kita perlu membedakan antara fakta dan opini. Misal cerita tentang babi ngepet. Jelas itu cerita tentang fakta babi dan opini tentang ngepet.

Fakta tentang babi bisa diverifikasi dengan melihat langsung ke lokasi. Benar saja, ditemukan adanya babi di sana sebagai fakta. Tetapi jangan buru-buru itu dianggap sebagai bukti ngepet. Masih perlu verifikasi apakah itu benar-benar ngepet. Kriteria dasar dari babi ngepet adalah babi tersebut sebenarnya berasal dari manusia, yang berubah jadi babi. Penyelidikan polisi menunjukkan tidak adanya perubahan dari manusia menjadi babi. Yang ada hanya babi didatangkan dari kota lain, yang benar-benar babi saja.

Terbukti cerita babi ngepet adalah hoax belaka.

Ketiga, gunakan hati nurani untuk mengambil kesimpulan. Hati adalah tempat bersinarnya cahaya Tuhan. Setelah kita berusaha dengan segala kemampuan kita untuk memperoleh kebenaran, diringin doa mohon bimbingan dari Allah, maka selanjutnya giliran diri kita mengambil tanggung jawab. Semua keputusan kita, pilihan kita, adalah tanggung jawab kita. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah, Tuhan semesta alam.

Hakekat Teknologi

Heidegger menyatakan bahwa hakekat teknologi adalah enframing, framing itu sendiri dengan kemampuan kendali yang makin besar. Sementara Deleuze mengakui bahwa karakter sains memang reduktif dengan mengubah realita yang bersifat chaos menjadi fungtif yang lebih terkendali berdasar berbagai fungsi sains.

Tantangan manusia makin berat. Kita membutuhkan sains dan teknologi. Sedangkan hakikat teknologi dan sains itu memang framing dan reduktif. Lebih dari itu, sifat enframing dari teknologi cenderung untuk mengendalikan kehidupan manusia. Manusia, dipaksa oleh teknologi, agar menjadi robot-robot hidup saja. Teknologi tidak bekerja sendirian untuk itu. Teknologi bekerja sama dengan orang-orang yang mencoba mengeksploitasi alam semesta. Kerja sama ini menghasilkan kekuatan super dahsyat. Siapa yang mampu menghadapinya?

Secara sosial, umat manusia perlu menyusun suatu aturan untuk membatasi teknologi agar tidak disalah-gunakan untuk membahayakan kehidupan manusia dan alam semesta. Tentu saja ini tugas yang sulit. Karena semua pihak bisa menyusun framing agar terkesan menyelamatkan umat manusia, padahal menghancurkan alam semesta.

Secara personal, kita perlu memperkuat diri kita dengan karakter takwa. Sebuah karakter, yang konsisten mendengarkan suara nurani, untuk mengukir prestasi sebagai wakil Tuhan di bumi.

Bagaimana menurut Anda?

Pernikahan Langit

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya (sakinah), dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS 30 : 21)

Pernikahan adalah prinsip dasar alam semesta. Manusia bertumbuh kembang melalui pernikahan. Penciptaan alam semesta paling awal adalah pena (qolam) yang, kemudian, menikah dengan lembaran (lauhul mahfudz) dan melahirkan seluruh alam raya. Atom hidrogen menikah dengan atom oksigen melahirkan senyawa air (H2O).

Hampir Samai Tingkat Pernikahan di Jepang yang Rendah, Masyarakat Korea  Selatan Makin Ogah Nikah, Kenapa? - Semua Halaman - Hype

Realitas Semesta

Hakikat alam semesta adalah selalu bergerak menuju kesempurnaan. Sadra merumuskannya sebagai gerak substansial. Hegel terkenal dengan gerak dialektika. Sedangkan Deleuze lebih menekankan gerak abadi sebagai repetisi dari differensial. Dan, barangkali yang paling terkenal, gerak sistem dinamis kalkulus dari Newton dan Leibniz.

Gerak bisa terjadi karena adanya pasangan dari suatu perbedaan. Listrik mengalir dari positif ke negatif karena adanya pasangan perbedaan potensial. Air mengalir dari dataran tinggi ke yang lebih rendah karena adanya pasangan beda tinggi atau beda energi potensial. Laki-laki mendekati wanita karena adanya pasangan yang berbeda jenis, saling merindukan antara keduanya.

Realitas alam semesta, jelas, menunjukkan adanya pasangan-pasangan perbedaan. Maka mengakui perbedaan adalah prinsip paling dasar. Kemudian mengelola perbedaan untuk pertumbuhan yang lebih baik, menciptakan dinamika sosial, dan dinamika alam raya.

Barangkali, semua yang ada di alam berpasangan secara alamiah. Benang sari membuahi putik pada bunga sehingga terjadi pembuahan, menghasilkan biji, dan melahirkan tumbuhan baru. Kucing jantan mengejar-ngejar kucing betina, perkelahian di sana-sini, terjadi perkawinan, menghasilkan generasi penerus spesies kucing. Tidak demikian sederhana dengan manusia.

Jikalau kucing berkelahi saling mencakar ketika hendak kawin, itu adalah alamiah untuk menghasilkan generasi penerus terbaik. Sementara jika manusia harus berkelahi sebelum perkawinan maka itu akan menjadi petaka. Manusia berkelahi tidak hanya menyerang dengan cakar. Manusia punya pisau, panah, senapan, sampai bom nuklir. Peradaban manusia bisa hancur karenanya. Bukan perkelahian yang dibutuhkan umat manusia. Tetapi manusia membutuhkan kematangan, kedewasaan, dan pengertian dari setiap warganya.

Perjanjian Langit

Ketika sepasang kekasih, dua manusia yang saling jatuh cinta, mengikatkan diri dalam pernikahan suci, itu adalah perjanjian yang dicatat di langit. Memang benar pernikahan itu dicatatkan di catatan sipil secara legal. Masing-masing suami dan istri terikat dalam hak dan kewajiban. Tetapi lebih dari itu, sejatinya, catatan yang lebih kuat ada pada singgasana Tuhan yang Maha Agung. Catatan pernikahan di langit adalah perjanjian agung manusia untuk melanjutkan tugasnya sebagai wakil Tuhan di bumi dari generasi ke generasi.

Saking agungnya perjanjian pernikahan ini sampai-sampai ada yang mengharamkan perceraian. Secara umum, Islam memandang perceraian masih dibolehkan pada kondisi khusus. Sehingga perceraian sering disebut sebagai perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah. Perceraian begitu mengerikan sampai menggoncang arsy, singgasana langit.

Jika pernikahan adalah perjanjian yang agung dan perceraian adalah paling dibenci Allah, lalu, mengapa banyak ustadz yang cerai?

Tidak mudah menjawab itu.

Tugas kita adalah menjaga perjanjian yang agung itu. Mendidik generasi penerus yang kuat. Generasi yang membanggakan sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini.

Perbedaan Hakiki

Kunci membangun rumah tangga bahagia adalah menghormati perbedaan: perbedaan antara suami istri dan perbedaan dengan masing-masing anggota keluarga. Sepasang kekasih, ketika dimabuk cinta, melihat setiap perbedaan begitu indah. Dan, secara hakiki, perbedaan itu memang indah.

Di awal-awal pernikahan, suami yang suka makanan pedas, sedang istri tidak suka makanan pedas terasa saling melengkapi. Begitulah cinta. Mengapa setelah menikah sepuluh tahun atau tiga puluh tahun menjadi berubah? Masakan pedas yang disukai suami menjadi merepotkan istri. Masakan tidak pedas yang dihidangkan istri menjadi membosankan bagi suami. Perbedaan kecil yang dulu menumbuhkan rasa cinta mengapa berubah menjadi sumber pertengkaran?

Di situlah perlunya sepasang suami istri terus-menerus merawat cinta kasih dalam setiap perbedaan.

Sakinah Mawaddah Rahmah

Tiga kata paling umum kita kenal dalam doa pernikahan: sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kata yang penuh bobot bersumber langsung dari AlQuran. Pasangan suami istri yang berpegang kepada tiga konsep ini, insya Allah, pernikahannya bahagia dunia dan akhirat.

Sakinah adalah konsep paling dasar dalam kebahagiaan rumah tangga. Sakinah sering dimaknai sebagai tenteram, damai, suka, cenderung, ingin, rukun, dan sebagainya. Redaksi asli sakinah adalah kata kerja litaskunuu – agar kalian bertindak sakinah. Bukan kata benda atau kata sifat.

Sehingga kita bisa memaknai sakinah adalah perintah Tuhan kepada pasangan suami istri agar menciptakan kedamaian dalam rumah tangga. Sakinah ini bisa tercipta dengan menghidupkan rasa cinta setiap saat bagi suami istri. Memandang perbedaan sebagai sumber cinta. Memandang kekompakan sebagai penyatuan cinta. Segalanya adalah cinta yang memenuhi seluruh sudut rumah tangga.

Ketika pasangan suami istri bertindak sakinah, kemudian, Allah menganugerahi mereka mawaddah dan rahmah.

Mawaddah bisa kita maknai sebagai “cinta yang nyata” atau “kasih sayang nyata” dan sebagainya. Meski mawaddah pada intinya adalah cinta, tapi, penekanannya adalah bersifat nyata.

Rahmah bisa kita maknai sebagai “cinta yang tulus” atau “kasih sayang yang tulus” dan sebagainya. Rahmah juga bermakna cinta dan kasih dengan penekanan pada sifatnya yang tulus.

Mawaddah adalah cinta nyata yang terungkap. Suami mengucapkan cinta kepada istri tiap pagi dan malam. Suami mengungkapkan cinta dengan memberi nafkah. Suami mengungkapkan cinta dengan mendengarkan curhatan isteri. Begitu juga istri mengungkapkan ucapan cinta tiap pagi dan malam. Isteri mengungkapkan cinta dengan menghidangkan masakan paling lezat. Isteri mengungkapkan cinta dengan setia mendampingi suami.

Rahmah adalah cinta dan kasih sayang yang tulus. Suami tetap mencintai istri meski istrinya cerewet. Suami makin cinta kepada istri meski istri makin tua. Suami makin sayang kepada istri meski istrinya, lama-lama, menjadi nenek-nenek. Istri tetap mencintai suami meski suami dalam kesulitan finansial. Istri tetap mencintai suami meski suami makin lemah. Istri tetap mencintai suami meski suaminya, lama-lama, menjadi kakek-kakek.

Lengkap sudah cara membangun keluarga bahagia dunia akhirat. Sakinah: sepasang suami istri terus-menerus merawat cinta kasih dalam setiap perbedaan. Kemudian Allah menganugerahkan mawaddah dan rahmah yang perlu perlu terus dirawat. Mawaddah: suami istri mengungkapkan rasa cinta dalam wujud yang nyata. Rahmah: suami istri makin cinta walau kondisi apa pun yang terjadi.

Semoga kebahagian selalu tercurah untuk kita semua.

Bagaimana menurut Anda?

Bakti Anak Ibu Bapak

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66 : 6).

Tidak setiap orang punya anak. Tetapi setiap dari kita pasti punya ibu dan bapak. Kita jauh lebih membutuhkan ibu dan bapak, dibanding kebutuhan mereka kepada kita. Kita berhutang budi, berhutang kebaikan, dan berhutang eksistensi kepada ibu dan bapak. Sebuah hutang yang tak pernah bisa kita lunasi. Pun kebaikan mereka selalu menyinari hati.

Puisi Ibu Dan Ayah - Jagad.id

Pintu Surga

Tidak perlu repot-repot di mana menemukan pintu surga. Berbakti kepada ibu dan bapak adalah jalan pasti menuju surga, pintu surga yang terbuka lebar bagi setiap orang. Anda yang masih punya orang tua, yang masih hidup, manfaatkan baik-baik kesempatan untuk berbakti kepadanya, birrul walidain. Sedangkan bagi Anda yang orang tuanya sudah meninggal bisa senantiasa mendoakan mereka. Mengamalkan semua ilmu, nasehat baik, dari kedua orang tua. Melanjutkan berbagai macam amal baik orang tua.

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS 17 : 23)

Ibu merawat kita penuh cinta. Ketika kita nangis, waktu bayi, ibu memeluk dan mencurahkan kasih sayangnya. Semua yang kita butuhkan, ibu dan bapak memberikan sepenuh jiwa. Tiba gilirannya, kita merawat orang tua yang sudah usia senja. Berikan semua cinta kita, yang dianugerahkan oleh Allah melalui orang tua kita juga.

Jangan pernah mengeluh, sekalipun hanya ucapan “ah”. Jangan pula membentaknya. Kita hadir di dunia ini atas cinta dari kedua orang tua. Kita kembali ke akhirat, menuju surga, pun atas ridha kedua orang tua. Kita membutuhkan orang tua untuk hadir ke dunia dan kembali ke akhirat. Ucapkanlah perkataan, hanya, yang baik-baik saja. Hanya cinta yang ada.

Pendidikan

Pendidikan paling dasar, yang kita peroleh, adalah melalui orang tua. Pendidikan yang berupa contoh atau pun bahasa – yang penuh makna. Pada gilirannya, kita dewasa, sebagai orang tua, perlu mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya.

  1. Teladan. Anak-anak mudah belajar dari kita melalui contoh-contoh nyata. Anak-anak merekam dan menirukan semua yang dilakukan orang tuanya. Maka mari kita memberikan contoh hanya akhlak-akhlak yang mulia.
  2. Ibu dan Bapak sudah pasti adalah pendidik bagi anak-anaknya. Tentu saja bisa berupa pendidikan non-formal: belajar mendengar, mengamati, memahami, dan lain-lain. Dan yang paling penting adalah pendidikan agama. Orang tua mengenalkan kita tentang Maha Baik nya Tuhan. Orang tua mengajak kita beribadah bersama-sama. Sungguh pendidikan yang luar biasa.
  3. Kehendak bebas memilih. Salah satu pelajaran penting adalah kita perlu mendidik anak-anak untuk memilih kebaikan relatif terhadap pilihan lainnya. Dan anak-anak bertanggung jawab atas semua pilihan itu.

Perjanjian Agung

“Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS 4 : 21)

Suami-istri membangun rumah tangga dalam ikatan suci: perjanjian agung. Islam memandang ikatan keluarga sebagai sendi dasar membangun kehidupan sosial yang adil dan beradab. Sepanjang sejarah, umat manusia juga menyepakati peran penting keluarga dalam membina generasi penerus. Rumahku adalah surgaku.

Kompleks Oedipus

Tentu timbul beberapa anomali di sana-sini. Sigmund Freud adalah seorang ahli psikologi yang berhasil merumuskan sumber utama dari masalah manusia adalah kompleks Oedipus, di mana terjadi kecemburuan antara anak, ibu, dan bapak dalam suatu keluarga. Kompleks ini merasuk ke pikiran tak sadar manusia.

Deleuze dan Guattari mengoreksi pemikiran Freud dengan merumuskan Anti Oedipus. Deleuze menunjukkan bahwa yang lebih banyak jadi sumber masalah bagi manusia bukan seperti dirumuskan Freud, tetapi skizofrenia. Yaitu kompleks kehidupan sosial yang lebih luas. Deleuze memunculkan istilah hasrat-produksi yang merupakan titik temu Freud dan Marx.

Dari analisis di atas, kita bisa lebih yakin bahwa keluarga adalah benteng untuk melindungi krisis sosial. Di saat yang sama, keluarga adalah sumber dari kekuatan sosial itu sendiri. Keluarga yang harmonis adalah tumpuan kehidupan sosial yang sejahtera.

Pasangan Karir

Alam semesta itu berdiri tegak dengan berpasang-pasangan. Kita perlu menjaga keseimbangan alam dalam segala bidang.

Karir dan keluarga adalah pasangan yang seimbang bagi umat manusia. Manusia tidak bisa meraih salah satunya dengan cara mengorbankan yang lain. Kita perlu meniti karir maksimal dan, di saat yang sama, menjalani kehidupan keluarga yang bahagia. Begitulah, sejatinya, kehidupan manusia.

Guru ngaji saya sering mengingatkan, “Jangan sampai salah memanjat pohon.” Sudah puluhan tahun mengejar karir, sukses luar biasa, menyesal ketika pensiun tiba. Anak dan istri hidup berantakan, broken home. Tidak ada kebahagiaan yang tersisa.

Pilih dulu pohonnya. Lihat ujung akhirnya. Harmonis dalam karir dan keluarga. Jalani kehidupan detik demi detik diri Anda.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Berpasangan

“Dan dari segala sesuatu, Kami ciptakan berpasang-pasangan, agar kamu semua merenung.” (QS 51 : 49)

Udin, laki-laki biasa yang bertubuh pendek dan kulit gelap, duduk santai di teras rumah sore itu bersama istrinya, yang cantik sekali, kembang desa. Sambil menikmati suasana Bandung yang begitu indah, Udin memandangi istrinya berulang kali.

“Kenapa sih Mas, memandangi Neng seperti itu?” tanya sang istri.
“Mas ini sangat bahagia, punya istri Neng,” jawab Udin.
“Memang kenapa?”
“Neng dari hari ke hari kok makin cantik aja.”
“Kita berdua, nanti, juga masuk surga kok Mas.”
“Kok Neng yakin?”
“Ya, Mas masuk surga karena bersyukur dapat istri saya. Dan saya masuk surga karena bersabar dapat suami Mas.”

Pasangan Jiwa (Soulmate)

Sabar dan Syukur

Alam semesta ini diciptakan Tuhan dalam bentuk berpasang-pasang. Ada laki dan perempuan. Ada siang dan malam. Ada besar dan kecil. Ada bahagia dan derita. Ada kaya dan miskin. Agar kita merenungi itu semua. Berpikir, berdzikir.

Imam Al Ghazali adalah tokoh besar yang berhasil merumuskan pasangan-pasangan karakter manusia dengan baik untuk mencapai kesempurnaan. Di era kontemporer ini, abad 20 dan abad 21, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menyadarkan kita bahwa realitas memang berpasang-pasangan. Derrida mengembangkan konsep dekonstruksi yang senantiasa menuntut kita untuk menghormati “yang lain.”

Berbicara tentang karakter manusia, sabar adalah karakter paling penting. Sabar adalah tetap konsisten, kuat, teguh dalam menjalani proses sampai mencapai tujuan. Tugas yang berat, dengan hasil yang hebat.

Meski kita tahu sabar adalah kunci sukses, itu semua hanya mudah diucapkan, sulit dijalankan. Karena kita hanya bertumpu kepada satu kaki: sabar saja. Kita perlu menemukan pasangan dari sabar yaitu syukur. Jika kita umpamakan sabar adalah kaki kanan maka syukur adalah kaki kirinya. Betapa indahnya kita bisa bertumpu dengan dua kaki. Berjalan lebih mudah dengan dua kaki. Bahkan kita bisa berlari dengan dua kaki.

Sabar terasa berat karena kita membayangkan cobaan demi cobaan yang selalu datang. Sekarang, di saat yang sama, bersyukurlah, betapa banyak karunia Allah yang sudah kita terima. Betapa indahnya kehidupan ini. Betapa besar pahala orang yang bersyukur dan bersabar.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar.”
“Sungguh bila kamu bersyukur, maka Kami tambahkan nikmat kepadamu.”

Zuhud dan Fakir

Zuhud sering dimaknai sebagai hidup sederhana, tidak tertarik kepada kenikmatan dunia. Tentu sulit sekali menjalani hidup di jaman ini bila harus bersikap zuhud. Konsumerisme terus dipromosikan. Kehidupan mewah penuh daya pesona. Hasrat untuk komsumsi tak pernah bisa berhenti. Makin banyak konsumsi, makin ketagihan untuk konsumsi lagi. Bahkan ada yang nekat sampai korupsi. Ya, Allah, lindungi kami.

Lagi-lagi, bersikap zuhud memang berat, bila kita hanya bertumpu kepada satu kaki. Kita perlu menemukan pasangannya yang tepat yaitu fakir, sebagai kaki kedua. Namun kita perlu, lebih dulu, mendefinisikan atau memaknai apa itu zuhud dan fakir.

Zuhud adalah sikap seseorang yang tidak terpikat oleh dunia. Dengan pengetian ini, sejatinya, zuhud tidak berhubungan dengan kaya-miskin. Orang yang kaya bisa zuhud asalkan dia tidak terpikat, tidak terikat, oleh kekayaannya itu. Sulit. Orang miskin bisa juga tidak zuhud bila dia terus-menerus mengejar harta, terpikat oleh harta. Sebaliknya, kaya atau miskin, sama-sama bisa zuhud asalkan mereka tidak terikat oleh harta sama sekali.

Fakir adalah sikap seseorang yang sangat membutuhkan. Umumnya, orang fakir adalah orang yang membutuhkan makanan, tempat tinggal layak, sarana kesehatan, dan bantuan pendidikan. Orang kaya raya yang merasa masih membutuhkan tambahan harta maka, sejatinya, dia adalah fakir. Sementara, orang miskin yang merasa cukup, tidak membutuhkan tambahan harta, dia malah tidak fakir terhadap harta.

Untuk menjalani hidup yang unggul kita perlu mengarahkan zuhud dan fakir dengan tepat. Zuhud kepada dunia. Kita sama sekali tidak terikat oleh dunia. Fakir kepada Allah semata. Kita hanya membutuhkan Allah saja. Jangan dibalik arahnya. Zuhud kepada Allah, tidak terikat kepada Allah, tentu salah. Fakir kepada dunia, merasa membutuhkan kepada dunia, tentu salah juga.

Mari kita mantapkan zuhud kepada dunia, tidak terikat kepada dunia. Dunia adalah sekedar fasilitas bagi kita untuk beramal sholeh. Dunia adalah fasilitas bagi kita untuk saling tolong-menolong. Jangan penuhi hati dengan dunia. Cukup tempatkan dunia seisinya di salah satu sudut hati saja. Gunakan dia ketika kita hendak membantu sesama.

Fakir kepada Allah, membutuhkan 100% Allah semata. Kita membutuhkan pertolongan Allah. Kita membutuhkan rahmat dan berkah dari Allah.

Takwa dan Tawakkal

Takwa adalah proses kita, sebagai wakil Tuhan, mengelola alam semesta ini agar menjadi lebih baik. Tentu dengan menjaga dari beragam kerusakan dan menjalankan perintah Allah. Tugas yang sangat berat kan? Tentu, takwa adalah tugas kemanusiaan yang perlu kita jalankan dengan profesionalisme.

Tawakkal adalah sikap kita mempercayakan sepenuhnya kepada Allah, berserah diri. Allah Maha Kuasa. Allah Maha Berilmu. Allah Maha Bijaksana. Allah pasti memutuskan, mengatur, dan memberikan yang terbaik kepada seluruh alam semesta.

Pasangan yang sangat tepat: takwa dan tawakkal. Kepada alam semesta, kita memandangnya sebagai media untuk bertakwa. Kepada Allah, kita sepenuhnya berserah diri.

Fisikal dan Digital

Kita masuk ke era digital. Banyak orang terjebak dalam dunia digital. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam tiap hari menatap layar digital. Hidupnya terkungkung dalam matriks teknologi digital yang serba online. Di sisi lain, dunia digital sangat berguna untuk memajukan kemanusiaan. Kita bisa berdagang, bisnis, dan belajar di dunia digital. Kita butuh pengimbang dunia digital, yaitu dunia fisikal yang nyata ada di depan kita.

Kita perlu menjaga keseimbangan yang sehat dengan memanfaatkan dunia digital dan dunia fisikal dengan bijak.

Bagaimana menurut Anda?

Orang-Orang Unggul

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang khusuk dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhi hal-hal tak berguna.” (QS 23 : 1-3)

Orang-orang unggul mendorong peradaban terus maju menjadi unggul. Orang-orang unggul adalah agen perubahan paling menentukan pergerakan sosial. Orang-orang unggul bisa di mana saja, muncul. Tak ada halangan alam, modal, atau kesempatan yang bisa menghentikan seseorang menjadi manusia unggul.

Orang-orang yang beriman sejati, mukmin, adalah orang-orang yang unggul. Mereka adalah orang paling sukses. Mereka, di antaranya, memiliki karakter khusuk dalam sholat, menjauhi hal-hal tak berguna, memberi zakat, menjaga syahwat, menjaga amanah dan janji, dan menjaga sholatnya.

Tidak Lemah

Orang beriman, mukmin, selalu kuat, tidak pernah lemah. Mereka memijakkan kaki di bumi dan berpegang teguh kepada langit, iman yang kuat, yakin, kepada Allah, hari akhir, rosul, dan kepada keghaiban.

Dalam keseharian, orang biasa bisa jatuh menjadi lemah. Tidak semangat berusaha karena tidak ada modal. Tidak bisa bekerja karena tidak ada lowongan pekerjaan. Tidak bisa berkarya karena tidak cukup pendidikan. Tidak bisa bisnis online karena tidak tersedia kuota. Tidak bisa berbuat positif karena selalu ada alasan untuk jatuh lemah ke sisi negatif.

Allah menegaskan dalam AlQuran,

“Janganlah kamu lemah, janganlah bersedih, karena kamu adalah orang yang unggul, jika kamu beriman sejati.” (QS 3 : 139)

Jika kita benar-benar beriman, sejati, maka kita adalah orang-orang yang unggul. Tidak perlu lemah, tidak perlu bersedih. Segala kesulitan membuka pintu-pintu kemudahan yang lebih tinggi. Puasa adalah sebuah proses untuk meningkatkan derajat orang beriman, pada kondisi awal, menjadi orang beriman sejati yang unggul. Dengan cara melatih diri menjaga dari hal-hal yang halal, makan dan minum, dan pasti menjauhi hal-hal yang haram. Kemudian, membuktikan diri menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi.

Profesional

Siapakah contoh orang beriman yang paling unggul?

Banyak. Kita akan mengambil salah satu contoh orang beriman paling unggul dan profesional. Orang ini, kisahnya, diabadikan secara khusus dalam AlQuran. Bahkan Allah menyatakan, “Ini adalah kisah paling indah!” Yaitu mega kisah Nabi Yusuf a.s.

Barangkali kita sudah tahu bahwa Nabi Yusuf adalah seorang Nabi yang memiliki kelebihan yaitu mampu menafsirkan makna mimpi dengan tepat. Bukan sekedar makna, tetapi Nabi Yusuf mampu menjalankan pesan mimpi itu dengan profesional.

Ketika Raja Mesir mendapat mimpi yang aneh, tidak ada seorang ahli tafsir mimpi yang mampu menjelaskan maknanya. Hanya Nabi Yusuf yang mampu menafsirkan mimpi raja yang begitu penuh makna.

“Dalam 7 tahun ke depan, Mesir akan berlimpah panen raya. Disusul 7 tahun kemudian, Mesir akan mengalami paceklik panjang.”

Apa respon terhadap tafsir mimpi itu? Banyak orang tidak percaya. Lagi pula, saat ini, Mesir sedang kaya. Dan 7 tahun kemudian, Mesir makin kaya. Mengapa harus percaya akan ada paceklik?

Saran Nabi Yusuf kepada Raja jelas, “Berhemat dan menabung di masa 7 tahun panen raya untuk jaga-jaga menghadapi 7 tahun berikutnya yang paceklik itu.”

Apa respon menteri ekonomi dan menteri keuangan Mesir waktu itu?

Jika kita membaca dengan teori ekonomi saat ini, justru masyarakat perlu mendorong ekonomi lebih maju dengan meningkatkan belanja, meningkatkan konsumsi. Konsumsi yang terus meningkat akan menaikkan pertumbuhan ekonomi. Teori ekonomi sejenis ini dipegang oleh banyak ekonom saat ini. Maka saran “berhemat” akan ditolak. Mengurangi konsumsi justru menjadikan ekonomi lesu.

Untungnya, Raja Mesir lebih percaya kepada Nabi Yusuf. Raja Mesir telah mengambil keputusan tepat. Raja Mesir menolak usulan dari para Menteri dan pembesar istana yang bersikukuh untuk tetap hidup mewah, meningkatkan konsumsi, demi memajukan ekonomi. Lebih dari itu, Raja Mesir mengangkat Nabi Yusuf sebagai ketua pelaksana, dengan tugas, untuk menyelamatkan mengamankan Mesir dari paceklik. Barangkali, Nabi Yusuf mendapat jabatan setara dengan perdana menteri atau menteri.

Beberapa tugas berat menanti Nabi Yusuf. Dan terbukti, Nabi Yusuf adalah orang beriman paling unggul dan profesional.

  1. Kampanye, komunikasi untuk meyakinkan bahwa akan terjadi panen raya yang disusul paceklik. Nabi Yusuf memiliki tim khusus untuk ini. Barangkali belum ada buzzer waktu itu. Dengan strategi yang tepat, Nabi Yusuf memperoleh banyak dukungan, dan tentu banyak juga pihak oposisi.
  2. Memastikan rakyat, khususnya petani, berhemat di masa panen 7 tahun, dan menyetorkan sebagian besar panennya untuk dikelola negara. Lagi-lagi bukan tugas yang mudah meminta rakyat untuk hidup sederhana padahal sedang kaya-raya. (Sulit sekali membayangkan bisa hidup sederhana di jaman sekarang ini. Justru yang terjadi banyak pamer kemewahan). Nabi Yusuf, bersama tim, berhasil menjalankan tugas ini dengan profesional. Tentu saja ada pembangkang di sana-sini.
  3. Menyimpan hasil panen agar awet sampai 7 tahun atau lebih. Sains dan teknologi perlu dikembangkan dengan teliti. Belum ada teknologi yang mampu menyimpan hasil panen sampai 7 tahun waktu itu. Apalagi dalam jumlah besar, se-negara Mesir. Nabi Yusuf berhasil dengan profesional. Luar biasa! Padahal ada upaya sabotase dari para pembangkang.
  4. Mengeluarkan hasil panen yang disimpan dengan konsep FIFO (first in first out). Hasil panen pada tahun ke 1 harus dikeluarkan pada tahun ke 8 untuk dikonsumsi. Bila salah urutan, misal dikonsumsi pada tahun ke 14 maka makanan tersebut sudah busuk. Nabi Yusuf berhasil membuat manajemen yang tepat, secara profesional.
  5. Distribusi di masa paceklik yang adil merata. Tidak mudah. Pejabat dan orang kaya menuntut agar mereka dapat bagian lebih besar dari rakyat miskin. Karena orang kaya juga menyetor bahan makanan yang lebih besar pada masa panen raya dibanding orang miskin yang kadang tidak bisa menyetor sama sekali. Tidak bisa. Di masa paceklik masing-masing orang hanya dapat jatah makanan untuk sekedar bertahan hidup. Tidak ada kemewahan. Tidak ada pemborosan. Betapa sulitnya tugas ini. Nabi Yusuf berhasil secara profesional.

Sejatinya, masih banyak contoh betapa profesionalnya Nabi Yusuf sebagai seorang beriman yang unggul. Beberapa contoh di atas, kiranya cukup, menunjukkan bahwa orang-orang beriman menjadi unggul dengan sikapnya yang profesional. Bagaimana dengan orang-orang beriman di masa kini?

Fokus

Sebagai perdana menteri, Nabi Yusuf adalah orang paling sukses di Mesir. Nabi Yusuf adalah kepercayaan utama dari sang Raja. Meski demikian, Nabi Yusuf tetap fokus menangani masalah paceklik di Mesir. Pada tahun ke 8 atau ke 9 sudah tampak jelas strategi Nabi Yusuf berjalan dengan baik. Di tahun itu, harusnya Nabi Yusuf bisa mudik dulu untuk menemui sang Ayah, Nabi Yakub, yang berduka berpuluh-puluh tahun berpisah dengan putra tercinta. Bahkan dikabarkan putranya sudah meninggal dunia. Nabi Yusuf juga memendam rindu yang begitu mendalam kepada Ayahanda.

Nabi Yusuf tetap fokus, menolak untuk mudik. Dan menolak untuk mengirim utusan, guna menjemput Ayahanda di kampung, agar memboyong Ayahanda ke istana Mesir.

Dunia Digital

Saat ini, kita berada di dunia digital. Apakah orang-orang beriman sudah unggul di dunia digital?

Orang-orang beriman pasti unggul selama mereka beriman dengan benar. Mari tingkatkan keimanan, ketakwaan, dan keislaman kita.

Bagaimana menurut Anda?

Ekonomi Serakah

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu ingkar kepada Tuhannya.” (QS 17:27)

Pandemi telah meluluh-lantakkan ekonomi nasional, bahkan ekonomi dunia. Solusi untuk memperbaiki ekonomi belum ditemukan sampai saat ini. Lebih sulit lagi, umat manusia belum menemukan solusi untuk pandemi. Sehingga harapan perbaikan ekonomi, tampak, sulit digapai.

Saya sendirinya merumuskan solusinya adalah puasa: manusia mengendalikan diri, untuk kemudian menjadi orang bertakwa meraih prestasi.

BI Revisi Keatas Pertumbuhan Ekonomi Global di 2020 jadi -3,8% |  Infobanknews

Ekonomi Konsumsi

Bu Menteri, beberapa hari lalu, menyerukan agar masyarakat lebih banyak berbelanja. Masyarakat perlu meningkatkan konsumsi. Pada gilirannya, konsumsi yang tinggi akan menggerakkan roda ekonomi nasional. Di sisi lain, pertanyaan dari rakyat, “Untuk belanja pakai uang apa?” Pertanyaan sederhana, sulit jawabannya! Jika rakyat kecil tidak punya uang untuk belanja, maka, bagaimana bisa meningkatkan belanja.

Tetapi, saya kira, Bu Menteri benar dengan sarannya. Teori ekonomi saat ini, diukur pertumbuhannya, berdasar tingkat konsumsi. Makin besar konsumsi maka makin sehat ekonomi nasional suatu negara. Lagi pula, lebih mudah mengukur nilai konsumsi, dibanding mengukur nilai produksi, misalnya.

Sementara itu, pertanyaan wong cilik yang menyatakan tidak bisa belanja karena tidak punya uang juga benar adanya. Pemerintah sudah mencoba bagi-bagi uang berupa bantuan langsung tunai dan sebagainya. Tentu saja, hanya sebagian kecil wong cilik yang menerima bantuan ini. Akibatnya, tidak cukup untuk menggerakkan roda ekonomi.

Sulit bagi saya, pada awalnya, memahami bagaimana konsumsi menjadi andalan untuk meningkatkan ekonomi nasional. Dari kecil kita menerima ajaran, “Hemat pangkal kaya.” Sebaliknya berlaku, “Boros pangkal miskin.” Bagaimana pun, ekonom aliran Keynesian mempercayai peningkatan konsumsi adalah solusi ekonomi makro. Saya, akhirnya, bisa memahami argumen Keynesian, yang sudah berhasil menyelamatkan ekonomi Barat sejak krisis ekonomi 1930an. Dan berhasil memantapkan dominasi ekonomi Barat atas ekonomi dunia sampai akhir-akhir ini. Apakah itu semua kabar baik?

Mubazir

Meningkatkan konsumsi, tentu saja, mudah terjebak kepada perilaku mubazir, boros. Konsumsi makanan berlebih, konsumsi kuota terlalu banyak, konsumsi energi tingkat tinggi, dan lain sebagainya.

Lagi pula, kitab suci mengecam perilaku boros sebagai saudaranya setan yang ingkar kepada Tuhan. Kecaman yang sangat keras kepada pihak-pihak mubazir.

“Bermegah-megahan telah membuat kalian lalai. Hingga kalian masuk liang kubur.”

Dampak susulan dari boros, berlebihan, lebih parah lagi: lalai. Manusia lalai, terlena, dengan kenikmatan dunia. Lupa bahwa dunia ini hanya sementara. Ada kehidupan yang lebih hakiki. “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari yang awal (dunia).”

Resiko-resiko, selanjutnya, hidup hedonis: mengejar kenikmatan nafsu badani. Tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat kecil. Korupsi, demi kenikmatan duniawi, terjadi di kalangan pejabat-konglomerat. Bahkan, korupsi, sampai menular ke petugas KPK segala. Ada kasus pencurian emas, barang bukti, sampai suap dari pejabat terkait.

Kita perlu kembali kepada puasa: menahan diri dari hal-hal yang halal. Makan, minum, dan berbagai hal yang halal dijauhi oleh orang yang berpuasa. Apalagi hal-hal haram maka pasti dijauhi lebih tegas lagi. Sikap mengendalikan diri ini bertujuan untuk membangun hidup bersama yang bermartabat, membangun masyarakat yang bertakwa, masyarakat yang meraih prestasi. Hidup jauh dari serakah, hidup penuh berkah.

Mikro Global

Teori ekonomi Keynesian, yang mengutamakan konsumsi atau agregat permintaan, sudah mendapat kritik sejak awal. Salah satunya dari para pendukung “Real Business Cycle”. Di mana, ekonomi perlu mempertimbangkan kasus real dari perputaran suatu usaha.

Pada akhirnya berkembang teori ekonomi “dynamic stochastic general equilibrium” yang mempertimbangkan segala aspek ekonomi. Termasuk di dalamnya mempertimbangkan kepentingan bisnis real, tingkat konsumsi, bahkan menggunakan model dinamis serta pendekatan stokastik. Juga mengkaji hubungan ekonomi mikro dengan makro. Intinya, ini adalah model ekonomi paling lengkap nan canggih. Kita bisa mengembangkan model dinamis-stokastik ini dengan bantuan komputer – dan matematika.

Semua berharap, teori ekonomi dinamis yang canggih ini akan bisa menyelesaikan masalah. Nyatanya tidak begitu. Banyak kegagalan di sana-sini. Salah satunya, pendekatan ini terlalu “kaku” karena menggunakan komputer dan matematika. Maka para ekonom lebih suka menggunakan pendekatan “spekulatif” para pakar ekonomi. Di sisi yang paling sulit, bagi teori dinamis, adalah tidak mampu memprediksi perilaku manusia. Secara teori, kita memprediksi bahwa manusia akan memilih profit yang lebih besar. Nyatanya, manusia kadang meninggalkan profit demi suatu kenikmatan. Manusiawi kan? Benar-benar sulit diprediksi.

Jalan Takwa

Solusi takwa, kembali, menjadi harapan kita bersama. Puasa mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, sudah pasti menjauhi yang haram, apalagi korupsi. Fokus memberi kontribusi, mengukir prestasi, itulah makna takwa sejati. Kita memulai dari masing-masing pribadi, lanjut saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, kemudian menyusun, atau memperbaiki, struktur sosial yang adil dan transparan.

Bagaimana menurut Anda?

Persimpangan Takwa

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29 : 45)

Takwa memang ada di persimpangan. Titik temu. Sholat, salah satu bentuk takwa, adalah titik temu alam semesta dan Sang Pencipta. Petemuan horisontal dengan vertikal. Ada dalam diri manusia.

Di Persimpangan Jalan ~ Sebuah Tulisan

Seorang manusia, dan komunitas, menghadap kepada Sang Khalik. Menengadahkan tangan dan hati ke atas, vertikal. Kita, seharian, mengitari bumi, pengembaraan horisontal, sejenak, terbang ke langit. Melapor dan mengadu. Mohon bimbingan dan pertolongan.

Mencegah Mungkar

Pasti. Sholat itu mencegah dari tindakan keji dan mungkar. Sholat yang benar. Bila tidak begitu, artinya ada yang salah dalam sholat orang tersebut.

Kita, manusia, adalah mahkluk yang unik, paling sempurna. Manusia tercipta dari tanah – semua unsur horisontal. Di saat yang sama, manusia menerima tiupan Ruh Allah – unsur vertikal. Dalam sholat, kita kembali mempertemukan horisontal dan vertikal itu dalam satu titik temu: jiwa manusia.

Manusia jatuh bangun mengukir prestasi dengan takwa. Berbagai kesulitan terus kita tembus. Demi membangun bumi ini. Kesulitan ekonomi kita cari solusi. Kesenjangan sosial kita rumuskan. Lalu kita pecahkan. Ketimpangan politik, ketidakadilan, penindasan, kita perangi dengan membangun sistem yang adil. Kebodohan kita terangi dengan sistem pendidikan yang mencerdaskan otak dan hati nurani. Sungguh besar tugas untuk bertakwa ini.

Tugas bertakwa makin kompleks dengan datangnya era digital serba online. Teknologi canggih ini berpeluang untuk meningkatkan keadilan. Nyatanya, hanya segelintir orang meraup berjuta keuntungan dari medsos. Sementara berjuta orang lainnya hanya jadi penonton. Penonton yang mebayar mahal dengan waktu dan kuotanya – serta hidupnya. Orang bertakwa bertugas mengarahkan kembali dunia digital ke jalan yang lurus. Bukan tugas yang mulus. Tapi harus.

Dalam menjalani tugas yang berat itu, manusia mendapat jalan kekuatan khusus dari Allah yaitu sholat. Manusia menghadap Allah dalam sholat. Melaporkan semua tugas menjalankan takwa yang begitu besar – alam semesta horisontal. Dengan menegaskan kembali komitmen vertikal, mengabdi kepada Allah.

“Kepada Mu kami mengabdi dan kepada Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS 1 : 4-5)

Selama umat manusia menjalani sholat dengan baik maka mendapat bimbingan langsung dari Allah, lengkap dengan pertolonganNya. Dalam mengejar prestasi, manusia mengalami beragam cobaan. Serakah, jalan pintas, main belakang dan lainnya. Semua godaan bisa mengarah ke tindakan keji dan mungkar. Dengan sholat, maka perjuangan umat manusia terjaga dari perbuatan keji dan mungkar.

Kita mengawali sholat dengan mengakui keagungan Allah, Allah Maha Besar, memperkuat komitmen vertikal. Dan mengakhiri sholat dengan salam, menebarkan damai keselamatan ke seluruh pelosok alam semesta, komitmen horisontal yang dijiwai komitmen vertikal.

Sekular Vs Takwa

Dunia Barat mengalami kemajuan pesat – ekonomi, politik, sains teknologi – dengan program sekularisasi. Salah satu bentuknya adalah memisahkan klaim ajaran agama dari kepentingan umum. Beberapa negara lain, di berbagai belahan dunia, mencoba untuk menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, tidak ada program sekularisasi yang berhasil di negara-negara Islam. Konsep dasar Islam adalah bertakwa – dan tawakkal. Program kemajuan peradaban manusia yang dijiwai nilai-nilai luhur spiritual.

Di Indonesia, ide sekularisasi pernah hangat pada tahun 1970an dan memunculkan polemik yang memanas. Cak Nur sendiri mengkaji bahwa ide sekularisasi di Indonesia terlalu mahal ongkos sosialnya. Sebaiknya kita tidak mengembangkan program sekularisasi di Indonesia.

Saya sendiri mengajukan program Indonesia Bertakwa. Indonesia berkomitmen mengejar prestasi dalam arti luas. Bertanggung jawab sesama umat manusia. Semua program takwa bisa dipertanggung-jawabkan dengan komunikasi rasional. Semua klaim takwa bisa kita diskusikan dengan cakrawala kemanusiaan yang beragam. Takwa mengajarkan umat manusia untuk menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, dan menjadikan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

Puasa Tawakkal

Guru ngaji saya menceritakan perbedaan takwa dan tawakkal. Takwa adalah program transformasi eksternal. Program mengolah seluruh alam semesta menjadi lebih baik demi kebaikan seluruh umat manusia dan alam semesta. Kita menjalani takwa dengan menjalani peran sebagai wakil Tuhan dalam mengelola alam. Semua ini tanggung jawab manusia, hakikat kemanusiaan.

Sementara tawakkal, masih menurut guru ngaji, adalah program menggarap sisi dalam, sisi diri internal kemanusiaan. Banyak rahasia diri dan Tuhan dalam petualangan tawakkal, berserah diri kepada Allah. Semua kebaikan, semua prestasi adalah milik Allah semata.

Kita perlu menerapkan konsep takwa dan tawakkal dengan tepat. Takwa adalah tanggung jawab kemanusiaan. Sementara tawakkal adalah rahasia bersama Tuhan.

Puasa adalah jalan bagi orang beriman untuk meningkatkan takwa dalam situasi yang sangat mendukung untuk tawakkal.

Bagaimana menurut Anda?

Terbakar Amal

Q.S 24:39
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ

“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Puasa adalah proses mengendalikan diri agar bisa menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Kebalikannya bisa terjadi. Orang-orang mengira sudah melakukan kebaikan, ternyata itu adalah tipuan, itu adalah fatamorgana. Amalnya terbakar. Hangus. Tanpa sisa.

Iri dengki dan berkata kotor dapat menghanguskan segala amal. Niat seseorang juga sangat menentukan. Apakah niat ikhlas untuk bertakwa? Atau hanya mencari muka?

Inilah Tujuh Jenis Sakit Hati yang Sukar Sembuh

Ikhlas Ridha Allah

Segala amal bergantung pada niatnya. Hanya diri kita sendiri, dan Allah, yang tahu pasti akan niat hati. Niat ikhlas untuk mencari ridha Allah semata mengantarkan orang-orang beriman berperilaku takwa sejati, meraih prestasi penuh arti.

Ketika kita akan bertindak, misal membuat konten digital, maka niatkan itu semua untuk mendapat ridha Allah. Dengan harapan konten digital itu bermanfaat bagi seluruh umat. Berbagi ilmu melalui media sosial. Pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Anak-anak menjadi lebih semangat penuh motivasi belajar online dan offline.

Bila ada komen negatif, nyinyir kepada konten kita maka itu menjadi masukan bagi kita. Tujuan kita bukan mencari pujian, bukan mencari komen dukungan, bukan mencari like yang banyak. Tujuan kita adalah berbagi ilmu, demi meraih ridha Allah. Saya, paman apiq, sudah menerima ratusan atau ribuan komen negatif. Anggap saja itu sebagai masukan, gratis, untuk memperbaiki diri. Apalagi komen positif dan doa-doa yang baik juga berlimpah dari netizen.

Berkata Kasar

Disebutkan dalam berbagai riwayat ada orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Salah satu penyebabnya adalah mereka masih berkata kasar, kotor, atau menyakiti orang lain. Di era digital ini, mudah sekali untuk berkata kasar. Komen kasar dapat dilakukan oleh setiap orang. Bahkan dengan menggunakan nama akun palsu, mereka mengumbar kata-kata kotor, merasa aman tidak ada yang tahu. Sayang sekali itu semua menghapus kebaikan amal puasa. Tebakar tanpa sisa.

Inti ibadah puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, apalagi haram. Makan, minum, hubungan badan adalah hal-hal yang halal. Orang puasa tidak melakukan hal-hal halal itu dari pagi sampai maghrib. Maka kata-kata kasar, yang hukumnya haram, harus lebih jauh ditinggalkan oleh orang-orang yang berpuasa. Selanjutnya orang-orang berpuasa fokus kepada bertakwa, meraih prestasi, dengan memberi kontribusi. Termasuk kontribusi positif melalui media digital. Tentu kita bisa.

Sedekah, berbagi makanan atau uang, adalah sebentuk tindakan takwa yang berdampak sosial positif. Tapi bila diikuti dengan kata kasar, atau mengungkit-ungkitnya, atau pamer, pahala sedekah itu bisa pudar tanpa sisa. Bagai fatamorgana yang menipu orang kehausan.

Dengki

Iri dengki, hasad, merupakan penyakit hati yang berbahaya. Menghancurkan kemanusiaan. Kita perlu berlindung dari bahaya iri dengki.

“Dan dari keburukan orang-orang dengki ketika mendengki.”

Pertama, iri dengki bisa mencelakai orang lain sebagai korbannya. Karena iri bisa berlanjut kepada tindakan menyebarkan keburukan orang lain, fitnah, dan lain-lain. Tentu saja hal ini merugikan orang lain. Bahkan dalam kehidupan politik, iri dengki, bisa berbentuk menjatuhkan jabatan politik pihak lain dangan beragam cara, termasuk dengan cara-cara yang keji. Padahal mereka yang berperilaku iri dengki, tetapi masyarakat yang menanggung rugi. Semoga kita terlindung dari orang-orang dengki.

Kedua, iri dengki menghancurkan pelakunya itu sendiri. Orang yang iri hanya fokus untuk memusuhi orang lain. Tidak ada pikiran darinya untuk mendorong kemajuan bersama. Orang yang iri, demi mencapai nafsu amarahnya, bisa melampaui batas dengan melanggar beragam aturan hukum. Pada gilirannya, resiko pidana bisa menimpa dirinya.

Kendali Takwa

Takwa menjadi solusi dengan cara mengendalikan diri, dengan latihan puasa. Dengan kesungguhan hati menjalankan puasa, memperbanyak amal kebajikan, memperbanyak mengkaji kitab suci, dan menghiasi dengan amalan-amalan hati semoga kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Tangan-Tangan Takwa

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS 2 : 3)

Sebagai orang beriman kita dituntut untuk berbagi sebagian dari rejeki yang Allah berikan kepada kita. Karena kita di era digital, maka berbagi rejeki digital sama pentingnya, bahkan bisa lebih penting.

TANGAN DI ATAS LEBIH BAIK DARI PADA TANGAN DI BAWAH – Minhajussunnah

Untuk bisa berbagi, pertama, kita harus berjuang dengan jalan takwa agar Allah melimpahkan rejeki kepada kita. Allah sudah berjanji dalam AlQuran bahwa Allah memberikan jalan keluar dan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa.

Kedua, kita berbagi rejeki itu, yang merupakan karunia Allah, dengan jalan takwa pula. Dengan strategi dan proses terbaik. Membaca situasi lingkungan sekitar, memutuskan apa yang paling dibutuhkan masyarakat, dan menyalurkan dengan proses yang aman.

Tangan di Atas

Barangkali kita sudah sudah akrab dengan ungkapan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Hal ini benar secara jasmani dan ruhani. Orang-orang yang bersemangat memberi, tangan di atas, selalu punya terobosan untuk mencari rejeki. Pikirannya luas, wawasannya makin luas, dan kreatif. Secara jasmani, semangat memberi ini, menghasilkan energi yang begitu kuat bagi kita untuk terus maju.

Posisi tangan di atas lebih banyak manfaatnya bagi kita.

Maka kita perlu mengajak agar lebih banyak orang memposisikan diri sebagai pemberi, tangan di atas. Masyarakat kita menjadi lebih bahagia dengan tangan di atas. Masyarakat juga lebih produktif dengan tangan di atas. Lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Dimulai dengan mencipta lapangan kerja untuk diri dan orang terdekat dan terus berkembang.

Tetapi, tangan di bawah tidak lebih buruk.

Barangkali, ada yang mengira bahwa tangan di bawah itu lebih buruk. Tidak. Tidak ada penilaian semacam itu. Kita tidak punya hak menilai orang lain, yang tangannya di bawah, yang menerima uluran tangan adalah lebih buruk. Mereka justru telah berjasa kepada kita, memberi kesempatan bagi kita untuk berperan sebagai orang dengan tangan di atas. Saling membantu sesama teman, saudara, atau kenalan adalah hal yang baik.

Saya pernah bertanya kepada guru ngaji, “Apakah sebaiknya kita memberi sedekah kepada pengemis?”

“Tergantung, pengemis itu datang ke kita lebih dari arah kiri atau kanan?”
“Kalau arah kanan?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa rejeki Allah itu amat luas.”
“Kalau dari arah kiri?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa ampunan Allah itu luas.”

Sedekah Digital

Ada dua sedekah digital yang perlu kita bahas di sini. Pertama adalah pengumpulan dan penyaluran dana secara digital. Yang kedua adalah sedekah yang merupakan konten digital.

Pengumpulan dana melalui media digital memang cepat, mudah, dan murah. Tetapi resiko penipuan bisa terjadi melalui media digital.

  1. Percayalah hanya kepada pihak, panitia, yang Anda sudah pernah bertemu di alam nyata. Hati-hati dengan pihak yang hanya kenal di media sosial belaka.
  2. Pertimbangkan apakah uang sedekah Anda akan disalurkan ke fakir miskin atau digunakan oleh panitia untuk membayar iklan di media sosial? Membayar selebriti digital, youtuber, selebgram, influencer, atau lainnya?
  3. Jika Anda jadi panitia pengumpul sedekah melalui media digital sebaiknya fokus ke calon donatur yang sudah saling kenal di dunia nyata. Hindari menggunakan iklan digital untuk pengumpulan dana. Banyak resiko penyalahgunaan atau penipuan.

Sedangkan sedekah digital yang berupa konten digital adalah tanggung jawab sosial kita sebagai warga dunia digital.

Pernah saya ceritakan bahwa sedekah konten digital yang berupa konten edukatif memang sulit tapi harus dilakukan. Para youtuber besar di Indonesia, dan dunia, perlu komitmen satu kali atau beberapa kali memproduksi konten edukasi untuk penggemar mereka. Kita bisa membayangkan betapa besar manfaatnya bila youtuber dengan subscriber 20 juta orang berbagi konten edukasi. Kita juga memimpikan trending media sosial beberapa kali didominasi oleh konten-konten edukasi. Berapa besar dampak positifnya?

Mari manfaatkan media digital untuk kemajuan bersama!

Pengemis dan Pengamen

Pemerintah beberapa kali meluncurkan program untuk memberantas pengemis. Tampaknya, lebih banyak gagalnya dari berhasilnya. Kita benar-benar perlu menemukan strategi untuk menyelesaikan masalah pengemis dan pengamen ini. Salah satunya, pemerintah perlu mengajak dengan baik keterlibatan aktif segenap warga. Tidak cukup hanya melarang warga bersedekah kepada pengemis.

Dengan asumsi bahwa banyak warga yang ingin bersedekah kepada fakir miskin, pengemis, dan pengamen maka program yang baik dari pemerintah pasti akan didukung oleh warga.

Kesenjangan Ekonomi

Masalah besar bagi negara berkembang adalah kesenjangan ekonomi, termasuk di Indonesia. Lebih-lebih pada kondisi pandemi maka kesenjangan makin melebar, makin bahaya. Sebenarnya, di negara maju juga terjadi kesenjangan ekonomi. Tetapi karena pendapatan orang termiskin di negara maju adalah relatif besar maka kesenjangan ini, dampaknya, tidak separah di negara miskin.

Kemiskinan bisa disebabkan oleh faktor personal, orangnya memang malas, tetapi lebih banyak karena faktor struktural, sistem ekonomi yang tidak adil, terjadi korupsi oleh pejabat dan konglomerat.

Solusi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi ini sudah saya bahas di beberapa tulisan saya terdahulu. Di antaranya: meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan ke seluruh penjuru, penyediaan beasiswa untuk seluruh siswa, penyediaan fasilitas kesehatan, dukungan kepada sektor riil, pembersihan mafia pengadilan, pembersihan korupsi, dan lain-lain.

Dari beragam masalah di atas, tangan di atas, sebagai pemberi adalah salah satu solusi yang bisa kita kembangkan untuk memajukan kehidupan bersama sebagai wujud takwa kita.

Bagaimana menurut Anda?