Memaksa Indonesia Adil Makmur: Forcing Cohen

Bisakah kita memaksa Indonesia menjadi adil makmur? Bisa! Caranya adalah kita perlu memahami proses memaksa adil makmur dengan metode forcing dari Cohen (pendekatan matematika).

“A non-empty subset G of P is called a filter if (i) every two elements of G are compatible, and (ii) if p ∈ G and p ≤ q, then also q ∈ G. Finally, a subset D of P is called dense if for every p ∈ P there is d ∈ D such that d ≤ p.” (SEP, modification).

Tetapi kita juga bisa memaksa Indonesia menjadi kacau balau; baik sengaja atau tidak.

1. Model Indonesia
2. Pengembangan Indonesia
3. Memaksa Siapa
4. Diskusi

Teori himpunan adalah fondasi dari matematika; pada gilirannya menjadi fondasi bagi seluruh sains. Sementara, yang bukan sains bisa mengambil inspirasi dari matematika lebih dari sains.

1. Model Indonesia

Langkah pertama adalah kita membuat model Indonesia misal M. Kemudian, kita mengembangkan menjadi Indonesia adil makmur yaitu M[G].

Dalam teori himpunan, paling mendasar adalah aksioma ZFC. Semua teori matematika, secara prinsip, bisa dibuatkan model M sesuai aksioma ZFC. Model M ini baru memotret situasi Indonesia saat ini apa adanya. Jadi, M bisa saja belum menunjukkan adil makmur. Sementara, semua bekal untuk adil makmur sudah tersedia di Indonesia itu sendiri. Sumber alam tersedia; sumber daya manusia tersedia plus bonus demografi; APBN tersedia.

2. Pengembangan Indonesia

Tugas selanjutnya, kita menemukan komponen adil makmur yaitu G. Bila kita gabungkan dengan situasi Indonesia M maka akan menghasilkan Indonesia adil makmur yaitu M[G].

Tugas besar bagi warga Indonesia.

Lebih mudah, kita menemukan poset P yaitu tanda-tanda yang kita duga sebagai adil makmur; beragam kondisi tetapi masih samar-samar. Kita membutuhkan filter untuk menyaring sebagian P agar lebih jelas menunjukkan kondisi adil makmur.

(i) setiap dua elemen G kompatibel, dan
(ii) jika p ∈ G dan p ≤ q, maka q ∈ G; juga kompatibel;
(iii) Akhirnya, himpunan bagian D dari P disebut padat jika untuk setiap p ∈ P ada d ∈ D sedemikian rupa sehingga d ≤ p.

Tiga syarat di atas akan memaksa Indonesia menjadi adil makmur; atau memaksa Indonesia ke arah tertentu. Tanpa paksaan ini, maka, tidak jelas apakah Indonesia menuju adil makmur atau menuju arah berbeda.

(i) Temukan unsur-unsur (kondisi-kondisi) yang kompatibel, bersesuaian, untuk makin dekat ke adil makmur. Kondisi pendidikan kualitas tinggi, gratis, dan merata untuk seluruh warga, misal.

(ii) Unsur-unsur kompatibel saling menguatkan. Untuk adil makmur, perlu pendidikan sarjana universitas gratis; maka pendidikan SMA gratis harus dijamin juga; demikian juga pendidikan SMP dan SD.

(iii) Temukan unsur paling padat “dense” yaitu misal sikap “bijak”. Sikap bijak ini, sejatinya, benih-benihnya sudah ada pada seluruh warga Indonesia hanya perlu tumbuh dikuatkan.

Tiga unsur atau kondisi di atas (kompatibel, menguatkan, padat) menjamin eksistensi G yaitu filter generik yang menjamin Indonesia adil makmur. Bagaimana pun, G ini tidak terlihat dari kondisi Indonesia saat ini M. Kita perlu memaksa forcing G kepada M sehingga tercipta pengembangan M[G] yaitu masyarakat Indonesia adil makmur.

Rumitnya, forcing G yang adil makmur bisa diganti oleh forcing K yang korupsi hancur lebur. Maksudnya, M bisa dikembangkan menjadi M[K] yaitu masyarakat korup yang hancur lebur. Makin rumit lagi, kapitalisme global yang menyedot sumber daya negara berdampak ke arah M[K]. Jadi, bila warga Indonesia diam maka M akan berubah menjadi M[K] serta menjauh dari M[G]; terjadi korup hancur lebur dan cita-cita adil makmur entah ke mana kabur.

3. Memaksa Siapa

Agar Indonesia adil makmur maka siapa yang memaksa siapa?

Secara matematika adalah kita yang memaksa Indonesia. Terbukti forcing ini yang terjadi; M menjadi M[G]. Tanpa forcing hanya akan tetap abu-abu, samar-samar, M yaitu potret Indonesia tetap seperti apa adanya di saat ini.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Beberapa langkah praktis yang kita perlukan untuk mengembangkan Indonesia adil makmur adalah sebagai berikut.

M: memotret sikon Indonesia dengan baik sebagai model M.
P: merumuskan beberapa pikiran awal Indonesia adil makmur.
G: merumuskan dengan tepat adil makmur dengan bekal yang ada.
(i) kompatibel: menetapkan unsur-unsur adil makmur yang sesuai.
(ii) menguatkan: mengatur unsur-unsur saling menguatkan.
(iii) padat: memastikan unsur paling menentukan yang ada.

Berikutnya mengembangkan M menjadi ekstensi M[G] dengan forcing Cohen; memaksa Indonesia menjadi adil makmur. Setuju?

Lagu Muhammad

Lihatlah mata air dari batu,
Bersinar cerah penuh sukacita,
Seperti tatapan bintang dari langit.
Di atas awan,
Roh-roh baik merawat masa mudanya,
Di antara semak dan tebing curam.

Segar bagai pemuda,
Ia menari turun dari awan,
Menimpa batu pualam,
Lalu bersorak kembali
Ke arah langit.

Melintasi puncak-puncak gunung,
Ia mengejar kerikil warna-warni,
Dengan langkah pemimpin yang tangkas,
Ia menggiring mata air saudaranya
Mengalir bersamanya.

Di lembah yang dalam,
Di bawah jejak kakinya tumbuh bunga,
Dan padang rumput
Menghirup napas kehidupannya.

Namun, tak satu pun lembah bayangan,
Tak satu pun bunga
Yang memeluk lututnya dengan cinta,
Mampu menahannya.
Ia terus mengalir ke dataran,
Berliku bagai ular.

Anak-anak sungai mendekat,
Bersatu dalam keakraban. Kini ia
Masuki dataran, bersinar perak,
Dan dataran pun bersinar bersamanya.
Sungai-sungai dari dataran,
Anak-anak air dari gunung,
Bersorak padanya: “Saudara!
Bawalah kami bersamamu,
Menuju ayah tua kita,
Kepada Samudra yang abadi,
Yang dengan tangan terbuka
Telah lama menanti kita.”

“Sia-sialah tangan terulur,
Menantikan para perindu,
Namun kami ditelan gurun yang haus,
Diseruput mentari di atas sana,
Dihambat bukit ke kolam yang sia-sia!
Saudara! bawalah kami bersamamu,
Anak-anak dari gunung dan dataran,
Bawalah kami kepada Bapa!”

“Mari kalian semua!”
Kini ia membesar,
Mulia dalam gelora.
Satu bangsa mengangkat rajanya tinggi!
Dalam arak-arakan yang menggulung,
Ia memberi nama pada negeri,
Kota-kota tumbuh di bawah langkahnya.

Ia terus mengalir, tak tertahan,
Meninggalkan menara yang berpuncak api,
Istana marmer — pahatan
Dari limpahan jiwanya.

Atlas memanggul rumah-rumah cedar
Di pundak raksasanya;
Seribu bendera berkibar di atas kepalanya,
Menari di langit,
Saksi-saksi keagungannya.

Dan demikianlah ia membawa
Saudara-saudaranya, pusaka, dan anak-anaknya,
Dengan sorak sukacita,
Ke pelukan sang Pencipta yang menanti.

Di atas adalah terjemahan dari karya Goethe (1749 – 1832) penyair besar asal Jerman berjudul “Nyanyian Muhammad”.

Mahomets Gesang

Seht den Felsenquell,
Freudehell
Wie ein Sternenblick.
Über Wolken
Nährten seine Jugend
Gute Geister
Zwischen Klippen im Gebüsch.

Jünglingfrisch
Tanzt er aus der Wolke
Auf die Marmorfelsen nieder,
Jauchzet wieder
Nach dem Himmel.

Durch die Gipfelgänge
Jagt er bunten Kieseln nach,
Und mit frühem Führertritt
Reißt er seine Bruderquellen
Mit sich fort.

Drunten in dem Tal
Unter seinem Fußtritt werden Blumen,
Und die Wiese
Lebt von seinem Hauch.

Doch ihn hält kein Schattental,
Keine Blumen,
Die ihm seine Knie umschlingen,
Ihm mit Liebes-Augen schmeicheln:
Nach der Ebne dringt sein Lauf
Schlangenwandelnd.

Bäche schmiegen
Sich gesellig an. Nun tritt er
In die Ebne silberprangend,
Und die Ebne prangt mit ihm.
Und die Flüsse von der Ebne
Und die Bäche von den Bergen,
Jauchzen ihm und rufen: Bruder,
Bruder, nimm die Brüder mit,
Mit zu deinem alten Vater,
Zu dem ewgen Ocean,
Der mit ausgespannten Armen
Unser wartet,
Die sich ach! vergebens öffnen,
Seine Sehnenden zu fassen;
Denn uns frißt in öder Wüste
Gier’ger Sand; die Sonne droben
Saugt an unserm Blut; ein Hügel
Hemmet uns zum Teiche! Bruder,
Nimm die Brüder von der Ebne,
Nimm die Brüder von den Bergen
Mit, zu deinem Vater mit!

Kommt ihr alle! –
Und nun schwillt er
Herrlicher; ein ganz Geschlechte
Trägt den Fürsten hoch empor!
Und im rollenden Triumphe
Gibt er Ländern Namen, Städte
Werden unter seinem Fuß.

Unaufhaltsam rauscht er weiter,
Läßt der Türme Flammengipfel,
Marmorhäuser, eine Schöpfung
Seiner Fülle, hinter sich.

Cedernhäuser trägt der Atlas
Auf den Riesenschultern; sausend
Wehen über seinem Haupte
Tausend Flaggen durch die Lüfte,
Zeugen seiner Herrlichkeit.

Und so trägt er seine Brüder,
Seine Schätze, seine Kinder,
Dem erwartenden Erzeuger
Freudebrausend an das Herz.

Diwan Barat Timur

Sebagaimana dahulu kata memiliki kuasa,
Dan menggugah hati karena ia disuarakan —
Di tempat para gembala biasa berlalu,
Di sanalah aku ingin terlihat,
Beristirahat di padang oasis yang hijau.

Ketika aku berkelana bersama kafilah,
Dengan syal, kopi, dan kesturi —
Barang dagangan si penjual keliling —
Takkan kulewatkan satu jalur pun
Dari gurun menuju kota terang.

Naik-turun di jalan bebatuan terjal,
Penghiburku, Hafiz, adalah syair-syairmu.
Ketika pemandu, dari atas pelana,
Menyanyi penuh pesona,
Menggugah bintang-bintang, atau menakutkan
Para penyamun di sarangnya.

Di pemandian, atau di penginapan sederhana,
Pikiranku, Hafiz, tetap tertuju padamu;
Atau saat sang kekasih membuka cadarnya,
Menguak rambut amber beraroma,
Ya, bisikan cinta bernyala penyair —
Hingga membuat bidadari pun mendamba!

Jika kau iri akan bahagiaku ini,
Atau ingin mencela nikmat yang kurasakan —
Ingatlah: kata-kata para penyair
Melayang hingga gerbang surga,
Berkeliling, mengetuk perlahan,
Memohon hidup abadi yang diberkahi.

Versi English

Song about Mohammed

Look at this spring emerging from the cliff,
Bright with joy,
Like the twinkling of stars;
Above the clouds
His youth was nourished by
Good spirits
Amongst rocks in the undergrowth.

Fresh with youth
He dances out of the cloud
Down onto the marble cliffs and
Rejoices again
Rising back up to the sky.

Through the pathways amongst the peaks
He chases after bright pebbles,
And stepping ahead in front like a leader
He carries off his brother springs
Along with him.

Further down in the valley appear
Flowers under his footprint,
And the meadow
Lives on the breath of the spring.

But no shady valley can hold on to him,
No flowers
Clinging around his knees
Flattering him with loving eyes:
His course is set for the plains,
Twisting like a snake.

Brooks snuggle
Up gregariously. Now he steps
Onto the plain, resplendent with silver,
And the plain shares his splendour,
And the rivers of the plain
And the brooks from the mountains
Cheer him on and call: Brother!
Brother, take your brothers with you,
Along with you to your old father,
To the eternal ocean,
Who, with outstretched arms,
Is waiting for us,
Who, alas, has opened them in vain,
In order to take hold of those who are longing for him;
For in the barren deserts we are devoured by
Greedy sand; the sun up above
Sucks at our blood; a hill
Hems us in to form a pond! Brother,
Take your brothers from the plain,
Take your brothers from the mountains
Along with you to your father!

Come along, all of you! –
And now he swells up,
More majestic; a whole race
Lifts its prince high up!
And in rolling triumph
He gives names to countries, towns
Emerge under his feet.

Unstoppably he roars onwards,
He leaves behind burning pinnacles of towers,
Marble halls, a creation
Of his bounty, this is his bequest.

This Atlas carries cedar-wood houses
On his giant shoulders; roaring
Above his head and buffetted by
The wind are a thousand flags,
Bearing witness to his majesty.

And thus he carries his brothers,
His treasures, his children,
To the waiting begetter
Thundering with joy at his heart.

DPR, Menteri, Presiden: Tumbal Politik

Beberapa rumah anggota DPR disatroni oleh demo massa beberapa waktu lalu. Apakah anggota DPR menjadi tumbal politik? Kemudian, beberapa hari lalu, sejumlah menteri dicopot dari jabatan mereka. Apakah jadi tumbal politik? Ataukah presiden Prabowo itu sendiri adalah tumbal politik bagi pihak tertentu? Atau justru rakyat yang jadi tumbal politik?

“Apa itu namanya? Orang yang dikorbankan agar ada yang menjadi kaya raya?” saya tanya karena lupa istilahnya.
“Yang gimana sih itu?” anak saya malah balik tanya.
“Ada orang ingin kaya lalu mencari pesugihan. Orang kaya itu mengorbankan anaknya sendiri agar dia jadi kaya.”
“Oh… tumbal itu!”

Saya jadi ingat lagi istilah tumbal itu. Tumbal adalah ujian amat penting bagi seseorang untuk bisa menjadi kaya; baik kaya harta mau pun kaya kuasa di dunia politik.

1. Tumbal Pesugihan
2. Mahar Politik
3. Demokrasi
4. Diskusi

Mari kita menengok KBBI sejenak:

tumbal/tum·bal/ Jw n 1 sesuatu yang dipakai untuk menolak (penyakit dan sebagainya); tolak bala: putra raja Sibayak mengembara di kampung-kampung, sebab dibuang keluarganya sebagai –; 2 kurban (persembahan dan sebagainya) untuk memperoleh sesuatu (yang lebih baik): mereka yang gugur itu merupakan — negara dan — bangsa.

mahar/ma·har/n pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah; maskawin;

— misil Isl maskawin yang tidak ditentukan jumlahnya (kadarnya) pada waktu melakukan akad nikah;
— musama Isl maskawin yang ditentukan jumlahnya pada waktu melakukan akad nikah”

1. Tumbal Pesugihan

Pesugihan adalah cara tertentu untuk memperoleh kekayaan yang amat besar. Pesugihan adalah jalan sesat karena, salah satunya, membutuhkan tumbal. Jadi konotasi tumbal adalah negatif. Meski di tempat lain bisa saja positif.

Tetapi, tumbal bukan sekadar syarat bagi pesugihan. Tumbal adalah konstitutif atau pembentuk pesugihan itu sendiri. Apa maksudnya?

Rama adalah seorang ayah yang mencari pesugihan; bukan nama sebenarnya; punya anak bernama Lanang. Rama datang ke gunung bertemu dukun. Dukun itu meminta Rama agar menjadikan Lanang sebagai tumbal; dikorbankan oleh Rama agar menjadi kaya.

Awalnya, Rama masih ragu kemudian dia yakin karena bila kaya maka dia bisa punya anak lagi pengganti Lanang; bahkan dia bisa punya istri simpanan lebih banyak dan punya anak lebih banyak. Singkat cerita, Lanang bocah kecil tanpa dosa itu mati secara tiba-tiba sebagai tumbal.

Benar saja, secara bertahap, Rama bertambah kaya.

Kala itu cabe sedang panen raya. Rama sebagai tengkulak bisa menekan harga cabe sampai murah satu bulan di musim panen. Petani cabe terpaksa menerima harga cabe yang murah dibeli oleh Rama. Masing-masing petani menanggung rugi kisaran 1 juta rupiah; dan ada 1000 petani. Total ada kerugian petani 1 milyar rupiah dan, sebaliknya, Rama untung 1 milyar rupiah. Rama sudah berada satu langkah di tangga menuju kaya.

Mengapa Rama tega merugikan para petani? Jangankan hanya petani yang rugi 1 juta rupiah, anaknya sendiri saja dikorbankan jadi tumbal oleh Rama. Tumbal berupa seorang bocah itu adalah konstitutif atau pembentuk pesugihan itu sendiri.

Bagaimana andai Rama menolak untuk mengorbangkan anaknya Lanang jadi tumbal? Ketika ada kesempatan merugikan petani 1 milyar maka Rama tidak akan tega; pesugihan tidak terbentuk. Pesugihan menjadi gagal dalam situasi ini; ketika Rama tidak mengorbankan tumbal.

Tetapi karena Rama sudah mengorbankan anaknya jadi tumbal maka ketika ada kesempatan “sogokan” ke pemerintah pusat maka dia dengan semangat melakukannya. Keuntungan 10 milyar masuk kantong Rama dan, sebaliknya, rakyat menanggung kerugian besar sebagai akibatnya.

2. Mahar Politik

Mahar berupa maskawin adalah syarat sah pernikahan. Sementara, mahar politik bergeser menjadi konstitutif atau pembentuk politik itu sendiri. Dalan kasus rekrutmen anggota (misal pegawai, PNS, polisi, TNI, mahasiswa, siswa), mahar mulai bergeser menjadi konstitutif.

Ema adalah seorang emak-emak; bukan nama sebenarnya, bercerita. Agar anaknya jadi anggota perlu membayar 300 juta rupiah sebagai mahar. Bagi Ema, 300 juta adalah mahar yang murah dibanding di tempat lain; atau dibanding dengan hasil yang akan diperoleh. Mahar seperti ini setara dengan tumbal yang membentuk sistem politik; sebagai konstitutif. Dampaknya, terjadi kekacauan.

Mengapa Ema bersedia membayar 300 juta untuk mahar atau tumbal? Ema yakin akan balik modal. Dari gaji bulanan seorang anggota yang hanya 3 jutaan tampak sulit untuk balik modal tetapi dari rekrut anggota baru akan lebih cepat. Setiap ada anggota baru maka mereka harus membayar mahar 300 juta itu. Anak Ema mendapat bagian dari 300 juta. Hanya dalam 1 atau 2 tahun, anak Ema akan balik modal. Tahun berikutnya tinggal mengeruk keuntungan. Bukankah itu sistem yang kacau?

3. Demokrasi

Tumbal mempersulit situasi demokrasi. Karena demokrasi membutuhkan warga ikhlas mengurbankan diri demi kebaikan bersama. Sementara, tumbal justru mengorbankan orang lain untuk nafsu diri seseorang. Secara prinsip, tumbal berkebalikan dengan asas demokrasi. Realitasnya, tumbal atau berupa mahar justru mewarnai demokrasi.

Seorang mantan ketua partai politik bercerita akhir-akhir ini bahwa diperlukan tumbal kisaran 5 – 15 milyar untuk bisa lolos ke Senayan sebagai anggota DPR. Sementara, mereka yang membayar tumbal kurang dari 5 milyar, gagal untuk lolos ke Senayan. Tentu saja hasil pengamatan ini berupa probabilistik. Tetapi, tumbal kisaran 5 – 15 milyar adalah angka yang sangat besar. Bagaimana caranya agar balik modal? Pertanyaan lebih sulit adalah: bagaimana membangun sistem politik tanpa tumbal?

4. Diskusi

Di tulisan yang lain saya mengusulkan solusi berupa lottokrasi atau arisan politik diperkuat dengan program panarko. Arisan politik adalah kocok arisan bagi setiap warga negara dewasa. Mereka yang namanya keluar dari kocok arisan maka berhak lolos ke Senayan menjadi anggota DPR; atau menjadi anggota lembaga tertentu (PNS, polisi, TNI, mahasiswa, siswa, dll).

Banyak orang mengajukan keberatan: bagaimana dengan kualitas mereka? Kualitas mereka terjamin dengan program panarko: serba-pemimpin; setiap orang adalah pemimpin.

Bagaimana menurut Anda?

Metafisika adalah Teknologi, Uang, dan Sains

Apa itu metafisika? Metafisika adalah onto-teo-logi; yaitu, secara konkret, metafisika adalah teknologi, uang, dan sains.

Bagaimana bisa begitu? Onto-teo-logi adalah metafisika dalam versi abstrak universal; tekno-uang-sains adalah metafisika dalam versi nyata konkret.

Apakah metafisika itu penting? Penting. Bahkan lebih penting dari uang; lebih penting dari teknologi; dan lebih penting dari sains. Karena metafisika menggabungkan tekno-uang-sains dengan cara yang amat canggih. Metafisika adalah sinergi dari ontologi, teologi, dan sains-logi yang amat memesona.

Tetapi, metafisika amat bahaya. Karena metafisika mudah berubah menjadi penjara. Teknologi-uang-sains adalah penjara bagi banyak orang. Padahal, metafisika sejatinya adalah rumah kita; yaitu rumah bagi umat manusia. Sehingga, tugas kita adalah untuk mendobrak jeruji-jeruji penjara itu agar metafisika kembali menjadi rumah kita yang indah. Seiring, kita membuka pintu pikiran seluas-luasnya.

1. Onto-Teo-Logi
2. Tekno-Uang-Sains
3. Mendobrak Jeruji Penjara
4. Diskusi

Kita akan membahas secara bertahap.

1. Onto-Teo-Logi

Metafisika adalah onto-teo-logi. Apa yang paling utama? Yang paling utama; yang paling fundamental; yang paling mendasar adalah onto. Yang paling mendasar adalah Being, Wujud, atau Onto. Being menjadi dasar dari segala sesuatu; menjadi dasar dari segala realitas.

Apa yang paling bermakna? Apa yang paling bernilai? Apa yang paling luhur? Yang paling luhur adalah Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan Maha Tinggi.

Apa yang paling benar? Yang paling benar adalah logika. Segala yang tidak tepat menurut logika maka salah. Segala yang benar harus sesuai dengan logika.

2. Tekno-Uang-Sains

Metafisika adalah tekno-uang-sains. Apa yang paling utama? Yang paling mendasar? Yang paling mendasar adalah teknologi seperti mobil, pesawat, dan AI (artificial intelligence – akal imitasi). Dengan mobil, kita bisa pergi ke banyak tempat dengan cepat; dengan pesawat keliling dunia; dengan AI bisa menguasai segalanya.

Apa yang paling bernilai tinggi? Uang adalah yang paling bernilai. Uang bisa membeli teknologi bahkan uang bisa membeli kekuasaan politik. Dengan uang, seseorang bisa menikmati apa saja.

Apa yang paling benar? Yang paling benar adalah sains. Sudah terbukti sains lebih benar dari lainnya; sesuai pandangan umum. Tes DNA bisa membuktikan bocah kecil ini anak seorang pejabat atau anak seorang penjahat dengan tepat; meski emaknya mengaku bocah itu anak pejabat; tetapi emaknya berhubungan badan juga dengan orang lain. Tes DNA secara sains akan membutktikan bocah itu anak pejabat atau anak penjahat. Dengan sains, orang-orang mudah sepakat.

3. Mendobrak Jeruji Penjara

Metafisika itu hebat banget karena metafisika adalah tekno-uang-sains dan onto-teo-logi. Apa masalahnya? Masalahnya metafisika tiba-tiba menjadi penjara. Bagaimana cara mendobraknya?

4. Diskusi

Masalah utama dari metafisika adalah mengarahkan semua kepada nothing yang berujung nihilisme; hampa belaka.

Uang adalah metafisika yang menguasai segalanya; uang bisa membeli apa saja; hegemoni. Orang yang mengejar uang, pada akhirnya, akan merasa hampa sebagai nihilisme; bukan penuh bahagia; bukan penuh makna. Hampa nihilisme adalah penjara yang perlu kita dobrak jeruji-jerujinya.

Demikian juga teknologi dan sains akan mengantar kepada hampanya penjara nihilisme.

Heidegger menutup What is Metaphysic dengan dua paragraf penting:

“Human existence can relate to beings only by projecting itself into nothingness. Transcending beings occurs within the very essence of Dasein—and this act of going beyond is metaphysics itself. This means that metaphysics belongs to the “nature of man.” It is neither a subdivision of academic philosophy nor a domain of arbitrary ideas. Metaphysics is the fundamental event of Dasein; indeed, it is Dasein itself. Because the truth of metaphysics dwells in this groundless ground, it stands in closest proximity to the ever-present possibility of profound error. For this reason, no degree of scientific rigor can equal the seriousness of metaphysics. Philosophy can never be measured by the standards of scientific methodology.

If the question of nothingness developed here has truly questioned us, then we have not merely placed metaphysics before ourselves externally, nor have we simply been “transported” into it. We cannot be transported there at all, because insofar as we exist, we are already there. “For by nature, my friend, the human mind dwells in philosophy” (Plato, Phaedrus, 279a). As long as human beings exist, some form of philosophizing takes place. Philosophy—what we call philosophy—is metaphysics in motion, in which philosophy comes into its own and takes up its explicit tasks. Philosophy begins only through a distinctive insertion of our own existence into the fundamental possibilities of Dasein as a whole. For this insertion, it is crucial first that we make room for beings as a whole; second, that we let ourselves be released into nothingness—that is, free ourselves from the idols everyone possesses and to which we tend to cling; and finally, that we allow the sweep of our suspense to run its full course, so that it swings back into the fundamental question of metaphysics that nothingness itself demands:

“Why are there beings at all, and why not rather nothing?”


Terjemahan Bahasa Indonesia

Eksistensi manusia hanya dapat berhubungan dengan keberadaan (beings) sejauh ia memproyeksikan dirinya ke dalam ketiadaan (nothingness). Melampaui keberadaan terjadi dalam hakikat Dasein—dan tindakan melampaui ini adalah metafisika itu sendiri. Ini berarti bahwa metafisika merupakan bagian dari “hakikat manusia.” Metafisika bukanlah cabang dari filsafat akademik, dan bukan pula ranah gagasan-gagasan sewenang-wenang. Metafisika adalah peristiwa dasar dari Dasein; bahkan, ia adalah Dasein itu sendiri.

Karena kebenaran metafisika berdiam dalam landasan yang tanpa dasar ini, metafisika berada dalam kedekatan paling intim dengan kemungkinan kekeliruan terdalam yang selalu mengintai. Oleh sebab itu, tidak ada ketelitian ilmiah apa pun yang dapat menyamai keseriusan metafisika. Filsafat tidak dapat diukur dengan standar gagasan tentang ilmu pengetahuan (sains).

Jika pertanyaan mengenai ketiadaan yang dikembangkan di sini benar-benar telah mempertanyakan diri kita, maka kita tidak sekadar menghadirkan metafisika secara lahiriah, dan kita pun tidak sekadar “dipindahkan” kepadanya. Kita sama sekali tidak dapat dipindahkan ke sana, karena sejauh kita eksis, kita sudah berada di sana.

“Sebab secara kodrati, sahabatku, akal budi manusia berdiam dalam filsafat” (Plato, Phaedrus, 279a).

Selama manusia ada, suatu bentuk pemikiran filosofis akan selalu berlangsung. Filsafat—apa yang kita sebut filsafat—adalah metafisika yang mulai bergerak, tempat filsafat menemukan dirinya sendiri dan tugas-tugasnya yang eksplisit. Filsafat hanya dapat dimulai melalui suatu penyisipan khas dari eksistensi kita ke dalam kemungkinan-kemungkinan fundamental Dasein secara keseluruhan. Untuk penyisipan ini, sangat penting pertama-tama (1) bahwa kita memberi ruang bagi keberadaan sebagai keseluruhan; kedua, (2) bahwa kita melepaskan diri ke dalam ketiadaan—yakni membebaskan diri dari berhala-berhala yang dimiliki setiap orang dan yang cenderung ia junjung; dan akhirnya, (3) bahwa kita membiarkan hembusan ketegangan kita mencapai keseluruhannya, sehingga ia berayun kembali pada pertanyaan dasar metafisika yang dituntut oleh ketiadaan itu sendiri:

“Mengapa terdapat keberadaan semua, dan mengapa tidak sebaliknya: ketiadaan?”


Kita selalu berhadapan dengan metafisika; tugas kita adalah melampauinya.

Bagaimana menurut Anda?

Demokrasi Penuh Empati

Prolog
Bagian 1: Empati di Ruang Publik
Bagian 2: Empati di Ruang Digital
Bagian 3: Kulminasi Empati
Epilog

… … …

Prolog

Bagian 1: Empati di Ruang Publik

1. Ruang Publik (Inspirasi Habermas)
2. Aksi Komunikasi (Inspirasi Habermas)
3. Kecerdasan Emosi (Inspirasi Goleman)
4. Peradaban Empati (Inspirasi Rifkin)
5. Komunikasi Tanpa Kekerasan (Inspirasi Rosenberg)

Bagian 2: Empati di Ruang Digital

6. Hapus Akun Media Sosial Anda (Inspirasi Lanier)
7. Kepompong Digital (Inspirasi Harari)
8. Dialog Antar Kelompok (Inspirasi Rogers)

Bagian 3: Kulminasi Empati

9. Kota Peradaban (Inspirasi Aurelius – Farabi – Ibnu Khaldun – Taylor)
10. Dari Polarisasi Menuju Empati (Inspirasi Almagro)
11. Neurosains Berempati (Inspirasi Noe)
12. Kulminasi Empati Ideal (Inspirasi Hegel – Heidegger – Pippin)

Epilog

Aksi Protes Hak Veto PBB

Hak veto PBB hanya dimiliki oleh 5 negara adidaya dunia. Tentu saja, hak veto ini melanggar asas dasar demokrasi yaitu kesetaraan atau equality atau egalitar. Pada awalnya, barangkali veto berguna untuk memudahkan membatalkan suatu problem rumit. Pada akhirnya, terutama saat ini, veto menjadi problem yang rumit.

Aljazeera melaporkan pada 10 September 2025: “In just three days, Israel has carried out strikes in Palestine, Lebanon, Syria, Tunisia, Qatar and Yemen.

“Hanya dalam waktu tiga hari, Israel telah melakukan serangan di wilayah Palestina, Lebanon, Suriah, Tunisia, Qatar, dan Yaman.”

Israel melanggar aturan internasional dengan menyerang negara lain. PBB, atau lembaga internasional lain, tidak bisa menegur Israel. Karena setiap teguran akan kena veto oleh Amerika; usa selalu membela Israel selama ini. Jadi, veto adalah masalah rumit itu sendiri. Solusinya adalah hilangkan hak veto atau rombak total sistem hak veto.

1. Aksi Protes Hak Veto
2. Tanpa Veto
3. Veto Bergilir
4. Diskusi

PBB tidak bisa membatalkan veto atau mengubah veto; karena usaha seperti itu akan kena veto duluan. Solusinya adalah melalui aksi protes.

1. Aksi Protes Hak Veto

Aksi demo protes adalah sah dalam dunia demokrasi. Sehingga aksi protes adalah sah terhadap hak veto PBB.

Tahun 1998, Soeharto adalah presiden sah secara demokratis. Semua proses demokrasi mendukung Soeharto; tidak ada cara demokrasi untuk melengserkan Soeharto. Aksi massa, demonstrasi 98, berhasil melengserkan Soeharto dari kursi presiden dengan cara yang elegan.

Demikian halnya, tidak ada prosedur untuk mengubah hak veto di PBB; karena semua usaha mengubah veto bisa kena veto duluan. Tetapi aksi protes, demonstrasi damai anggota PBB, bisa menekan agar aturan hak veto diubah demi kebaikan seluruh dunia.

2. Tanpa Veto

Perubahan ekstrem dari aturan veto adalah membuang hak veto sepenuhnya. Tanpa veto, PBB menghadapi risiko diplomasi deadlock; terkunci tanpa henti.

Kita perlu memikirkan sistem veto yang lebih baik misal veto bergilir.

3. Veto Bergilir

Veto bergilir adalah membatasi hak veto aktif hanya dimiliki oleh 2 negara tertentu dalam rentang 1 tahun tertentu, misalnya. Karena ada 5 negara pemiliki veto maka kombinasi 2 negara akan terbentuk 10 pasangan negara. Penentuan pasangan negara yang aktif hak vetonya bisa melalui kocok-arisan atau lotere lempar dadu.

  1. Amerika-Inggris
  2. Amerika-Prancis
  3. Amerika-Rusia
  4. Amerika-Cina
  5. Cina-Inggris
  6. Cina-Prancis
  7. Cina-Rusia
  8. Rusia-Prancis
  9. Rusia-Inggris
  10. Inggris-Prancis

Misal untuk memberi teguran keras kepada Israel bisa dilakukan ketika veto aktif dimiliki oleh Cina-Rusia; atau ketika Amerika tidak aktif. Teguran keras PBB ini akan membuat Israel untuk hidup damai bersama negara tetangga.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Bisa saja pemilik veto aktif ditambah dengan 1 negara anggota PBB yang lain; selain 5 negara adidaya sebagai mana biasanya. Dengan demikian, total ada 3 negara pemiliki veto aktif dalam satu tahun tertentu dan bergilir kepada negara lain untuk tahun berikutnya.

Pemilik veto aktif perlu dibatasi hanya sedikit negara, misal 3 negara, agar jarang terjadi veto.

Solusi Tunjangan DPR Indonesia: Lottocracy

Tunjangan DPR yang 50 juta rupiah per bulan, dana aspirasi, dana reses, dan uang-uang lainnya telah memicu aksi demo Agustus 2025. Ketika rakyat sulit untuk sekadar bertahan hidup, sulit kerja dan sulit dapat uang, DPR justru berlimpah dana tambahan. Kesenjangan sosial ini tampak makin tajam menambah luka para warga. Tetapi problem keuntungan DPR terjadi baik di Indonesia mau pun di negara lain juga misal usa. Apa solusi terbaik untuk DPR? Salah satu solusi terbaik adalah: lottocracy.

Di halaman depan web lottocracy menampilkan:

Demokrasi sedang menghadapi masalah serius.
Sistem yang ada saat ini tidak berjalan dengan baik. Ketimpangan semakin meningkat, banyak orang hidup dalam kesulitan, sementara segelintir elit menguasai lembaga-lembaga politik kita. Bumi—satu-satunya tempat tinggal kita—semakin memanas dari tahun ke tahun. Masyarakat pun semakin terpecah, dan kita kesulitan bekerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada.

Apakah mungkin justru sistem pemilu itu sendiri yang menjadi masalah?

Buku Lottocracy mengajukan argumen bahwa demokrasi perwakilan berbasis pemilu—meskipun merupakan bentuk pemerintahan terbaik yang pernah dicoba—mengalami hambatan besar di dunia modern.

Namun, ini bukanlah pesan keputusasaan. Sebaliknya, Lottocracy menawarkan visi yang jelas dan terperinci tentang bentuk baru demokrasi: sebuah sistem yang menggunakan undian (lotre), bukan pemilu, untuk memilih wakil-wakil politik kita.”

1. Masalah Demokrasi Indonesia
2. Arisan Politik
3. Solusi Panarko
4. Diskusi

Indonesia menghadapi masalah besar demokrasi; baik masalah pemilu presiden, pemilu legislatif DPR, kesenjangan ekonomi, judi online dan kecanduan AI (artificial intelligence / akal imitasi) yang mahir produksi hoaks. Solusi lottocracy adalah mirip arisan politik yang memerlukan dukungan pendidikan sampai pembentukan panarko-kopanarko.

1. Masalah Demokrasi Indonesia

Sejak awal, demokrasi memang bermasalah. Begitu demokrasi datang ke Indonesia, masalahnya makin membesar. Awal demokrasi dalam sejarah terjadi di Yunani Kuno yang memakan korban Sokrates: orang paling bijak di dunia. Sokrates dihukum mati akibat suara terbanyak oleh demokrasi. Padahal, Sokrates tidak salah. Sokrates hanya menjadi korban fitnah.

Bagaimana dengan demokrasi Indonesia?

Anggota dewan, anggota DPR, penuh sesak oleh artis-artis yang mahir fleksing yaitu pamer kekayaan. Tentu saja, fleksing menjadikan anggota DPR tidak peka terhadap penderitaan rakyat yang parah. Itu adalah masalah besar.

2. Arisan Politik

Mengapa artis-artis yang suka fleksing itu memenuhi gedung DPR di Senayan? Karena tersedia jalur istimewa bagi artis untuk jadi anggota dewan. Dikenal luas sebagai artis merupakan salah satu jalur istimewa itu sendiri.

Sementara keluarga istana, keluarga pejabat, keluarga pengusaha, dan keluarga politikus memiliki jalur istimewa tersendiri. Dampaknya, mereka wajar investasi besar di jalur istimewa ini dan berharap akan panen bila nanti terpilih jadi anggota DPR. Apa solusinya? Jalur istimewa perlu dihapus. Lottocracy menawarkan solusi: arisan politik.

Anggota dewan, anggota DPR, dipilih berdasar arisan; dikocok nama seluruh warga Indonesia yang sudah dewasa; nama warga yang keluar dari kocok arisan ini terpilih sebagai anggora DPR. Arisan politik ini berhasil menghapus jalur istimewa untuk menjadi anggota DPR.

Siapa pun Anda, setiap warga Indonesia, berpeluang untuk menjadi anggota dewan DPR. Sekitar ada 200 juta jiwa orang dewasa yang layak menjadi calon anggota dewan DPR. Jika dipilih 400 orang maka akan terpilih 2 orang DPR dari setiap 1 juta penduduk. Kecil sekali peluangnya; dengan metode arisan politik ini. Sehingga jalur istimewa akan hilang.

3. Solusi Panarko

Karena setiap warga berpeluang menjadi anggota DPR maka ratusan juta orang Indonesia perlu memiliki kemampuan yang memadai sebagai seorang leader, seorang pemimpin, seorang arko. Pembentukan panarko, serba-pemimpin, menjadi penting.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Ruang Demokrasi Digital: Habermas, Lanier, dan Harari

Demokrasi 2025 di Indonesia sedang bersuara. Dari hati terdalam, suara rakyat bergema. Jejaring digital merawat ruang publik tumbuh berdemokrasi; dari pojok negeri sampai ujung bumi.

Habermas (lahir 1929) meyakini bahwa ruang publik adalah paling penting bagi demokrasi. Bukan sekedar memilih presiden atau wakil rakyat, demokrasi adalah aksi komunikatif (atau komunikasi aktif) di ruang publik bagi seluruh warga. Ruang publik meluas dari ruang alamiah sampai ruang digital. Ketika ruang publik tersumbat maka ledakan akan mencuat setiap saat. Aksi damai 2025 di Indonesia berkembang menjadi aksi di seluruh dunia yang menghangat. Terutama setelah gugur putra pertiwi Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, pada 28 Agustus 2025 silam. Akankah aksi 2025 ini mengantar Indonesia adil makmur? Ataukah akan ditumpangi provokator menjadi kerusuhan? Ataukah akan biasa-biasa saja sebagai bunga demokrasi?

Jaron Lanier (lahir 1960) menyerukan untuk menghapus akun media sosial Anda sekarang juga; baik untuk sementara atau selamanya. Media sosial yang diharapkan menjadi ruang publik demokrasi justru membungkam demokrasi itu sendiri. Media sosial membanjiri pikiran kita dengan potongan-potongan informasi menggunung. Tumpukan informasi itu menghapus seluruh makna komunikasi; menghapus ruang publik demokrasi; bahkan menghapus jati diri kita sebagai manusia. Gunungan informasi tidak menghasilkan makna apa-apa. Hapus akun media sosial Anda. Setelah menghapus akun media sosial, Anda boleh berkomunikasi lagi; baik di ruang hati mau pun ruang digital yang merdeka.

Harari (lahir 1976) mencermati jejaring digital yang semula mengembangkan sarang laba-laba saling terhubung seluruh penjuru dunia telah berubah; menjadi kepompong-kepompong digital yang saling membungkus diri. Kepompong digital saling terbelah; saling tidak mengenal; saling tidak mengerti. Meski saling tidak mengenal, anggota kepompong digital yakin: kepompong lain adalah jahat; atau minimal mereka tersesat. Tidak ada lagi ruang publik untuk komunikasi dalam demokrasi seperti ini. Bisakah kita menerobos itu semua untuk membangun demokratis sejati? Politik dengan moral tinggi? Pribadi-pribadi penuh arti?

1. Ruang Publik Demokrasi (Inspirasi Habermas)
2. Reruntuhan Ruang Digital (Inspirasi Lanier)
3. Amarah Kepompong Digital (Inspirasi Harari)

Pada kesempatan ini, kita akan membahas demokrasi dengan meminjam kerangka pikir tiga tokoh di atas: Habermas, Lanier, dan Harari. Tentu saja, kita juga akan menganalisis pemikiran tokoh-tokoh lain. Serta, kita berkaca mencermati situasi Indonesia, dan dunia, akhir-akhir ini. Kita berharap menemukan percik-percik cahaya Indonesia Emas 2045 dan terang masa depan umat manusia.

1. Ruang Publik Demokrasi (Inspirasi Habermas)

Habermas mengkaji pentingnya ruang publik bagi demokrasi secara historis. SEP meringkasnya dengan menarik:

“Pendekatan Habermas dalam karya awalnya ini dapat digambarkan sebagai rekonstruksi historis untuk kepentingan kritik internal. Ia membangun kembali sebuah “tipe ideal” dari ruang publik borjuis, dengan tujuan untuk mengkritik ruang publik yang benar-benar ada dalam demokrasi modern.

Transformasi struktural yang menandai awal dari runtuhnya ruang publik borjuis ditandai dengan perubahan dalam batas antara ranah publik dan privat. Dalam konteks “demokrasi massa negara kesejahteraan” pada pertengahan abad ke-20, negara dan masyarakat menjadi semakin saling terkait, seiring dengan diterapkannya kebijakan ekonomi yang intervensif dan perluasan program kesejahteraan oleh pemerintah. Pada saat yang sama, aktor-aktor non-negara seperti kelompok kepentingan, korporasi, dan partai politik memainkan peran yang semakin besar dalam proses pemerintahan. Habermas menyebut proses ini sebagai “refeodalisasi”.

Habermas melihat bahwa ruang publik modern, dalam banyak hal, menjadi korban dari keberhasilannya sendiri. Ketika ruang publik ini meluas jauh melampaui basis awalnya—yaitu laki-laki berpendidikan dan memiliki properti—ketimpangan material tidak lagi bisa diabaikan, melainkan justru menjadi bahan perdebatan publik. Namun, perdebatan ini tidak lagi berbentuk analisis rasional dan kritis terhadap tindakan negara oleh masyarakat umum, melainkan berubah menjadi negosiasi antar kelompok kepentingan yang melewati nalar publik. Alih-alih mendekati tipe ideal yang diharapkan, yang muncul justru adalah ruang publik semu yang miskin, kehilangan kemampuan diskursus rasional-kritisnya, dan mudah dimanipulasi oleh negara, korporasi, serta kelompok kepentingan melalui teknik-teknik “hubungan masyarakat” (public relations). Peran ruang publik ini kini, seperti pada era feodal, hanyalah untuk memberikan legitimasi terhadap keputusan-keputusan yang sudah dibuat sebelumnya.”

Awalnya, ruang publik adalah modal utama untuk menegakkan demokrasi adil makmur. Akhirnya, di masa kini, ruang publik sudah didominasi oleh pemerintah dan korporasi. Akibatnya, ruang publik menjadi media bagi pihak dominan untuk menancapkan dominasi mereka. Kita perlu berjuang untuk mengembalikan ruang publik sebagai ruang aksi komunikasi lagi dari hati ke hati.

1.1 Ruang Publik Politik

Politik demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Sehingga, tema politik adalah paling penting untuk aksi komunikasi di ruang publik. Aksi 2025, misalnya, menuntut transparansi politik khususnya DPR. Semua rapat DPR perlu transparan di ruang publik. Sehingga, seluruh warga yang minat bisa berpartisipasi aktif. Bila transparansi ini bisa terjadi maka akan menjadi kemajuan besar kehidupan politik Indonesia.

Teknologi digital memudahkan transparansi: DPR bisa menyiarkan setiap rapat mereka secara live; dan terbuka terhadap partisipasi warga. Proses cek dan penyeimbangan terjadi.

1.2 Pusat Ruang Publik

Habermas tampak mendukung terjadinya konsensus dari masyarakat luas. Sementara Lyotard (1920 – 1995) lebih mengutamakan dissensus sebagaimana para posmodernis. Konsensus nasional, kesepakatan nasional, tampak memudahkan program pembangunan. Bagaimana cara mencapai konsensus?

Konsensus dicapai melalui aksi komunikasi di ruang publik secara rasional kritis. Pada tahap akhir, bisakah dicapai konsensus global? Seluruh dunia sepakat?

1.3 Keragaman Ruang Publik

Ruang publik itu beragam: nasional, provinsi, kota, dan daerah. Lebih kuat lagi, ruang publik bergerak dari komunikasi konkret masing-masing lokal (individu, rumah tangga, dan desa) menuju komunikasi nasional. Demikian juga tersedia ruang publik formal, informal, mau pun nonformal. Tentu saja, di tahun 2025 ini, ruang digital adalah utama.

1.9 Konsensus untuk Koordinasi

Lyotard bersikeras menolak konsensus; dan tetap mengutamakan dissensus, keragaman sikap dan pikiran. Pada dasarnya, setiap orang adalah berbeda secara unik. Jika harus seragam melalui konsensus maka risiko besar terjadi manipulasi; secara kasar atau pun lembut.

Konsensus diperlukan sekadar untuk koordinasi. Kita di Indonesia berkendara di jalur kiri adalah konsensus. Dengan mengutamakan jalur kiri maka berkendara menjadi lancar dan nyaman. Bila ada orang berkendara di jalur kanan maka risiko kecelakaan lalu lintas; atau menimbulkan kekacauan.

Ketika Anda berkendara di jalur kiri maka Anda bebas melaju dengan kecepatan sedang atau agak lambat; cara berkendara adalah dissensus. Bagi mereka yang buru-buru barangkali tarik gas agar cepat sampai tujuan. Bagi mereka yang santai barangkali berkendara kecepatan sedang sambil menikmati perjalanan.

2. Reruntuhan Ruang Digital (Inspirasi Lanier)

Hapuslah akun media sosial Anda sekarang juga. Pada argumen 9, Lanier menjelaskan:

“Cara bagaimana seorang kandidat “seniman bencana” (disaster artist) dapat diuntungkan oleh Facebook sebenarnya sudah cukup dikenal, meskipun detail pastinya tetap tidak transparan. Ketika seorang kandidat—atau pelanggan lain—membeli akses ke perhatian pengguna melalui Facebook, jumlah akses yang diperoleh tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar dana yang dikeluarkan, tetapi juga oleh seberapa besar algoritma Facebook menilai bahwa pelanggan tersebut turut mempromosikan dan meningkatkan penggunaan platform Facebook itu sendiri.

Orang-orang yang terlibat dalam strategi media sosial kampanye Trump mengklaim bahwa Trump memperoleh akses ratusan kali lebih besar untuk jumlah pengeluaran yang sama dibandingkan kampanye Clinton. Namun, pihak Facebook membantah hal ini tanpa memberikan informasi yang cukup untuk membuat situasinya menjadi jelas. Jika benar ada semacam pengganda (multiplier), kemungkinan hal ini juga berlaku untuk para aktor Rusia dan pihak lain yang mendukung Trump dan membeli akses di Facebook, tidak hanya untuk kampanye Trump secara langsung. Algoritma Facebook sendiri bersifat netral—mereka tidak bisa dan tidak peduli dengan siapa yang membeli.

Satu fakta menarik yang terungkap setahun setelah pemilu adalah bahwa Facebook sebenarnya menawarkan tim internal kepada kedua kampanye—Trump dan Clinton—untuk membantu memaksimalkan penggunaan platform mereka. Namun, hanya kampanye Trump yang menerima tawaran tersebut. Mungkin, jika Clinton menerima kehadiran karyawan Facebook di kantor kampanyenya, hasil pemilu bisa saja berbeda. Karena hasilnya sangat tipis, hal kecil apa pun yang bisa menggeser suara sedikit saja ke arah Clinton, bisa saja mengubah hasil akhir.

Facebook dan perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya (sering disebut sebagai BUMMER—“Behaviors of Users Modified, and Made into an Empire for Rent”) semakin menyerupai bentuk ransomware bagi perhatian manusia. Mereka menguasai begitu banyak waktu dan perhatian dari begitu banyak orang setiap harinya, sehingga kini menjadi penjaga gerbang terhadap pikiran manusia.

Situasi ini mengingatkan pada praktik indulgensi di Abad Pertengahan, ketika Gereja Katolik saat itu kadang meminta uang agar jiwa seseorang bisa masuk surga. Praktik indulgensi inilah yang menjadi salah satu pemicu utama munculnya Reformasi Protestan. Kini, seolah-olah Facebook berkata: “Bayar kami, atau kamu tidak akan terlihat.” Mereka mulai berperan seperti mafia eksistensial—mengatur siapa yang dapat “ada” dalam ruang publik digital.”

Ruang digital tampak seperti ruang bebas ekspresi untuk komunikasi. Tetapi, ruang digital sudah terbukti meruntuhkan ruang demokrasi. Politik yang sehat menjadi tidak bisa lagi di media sosial. Karena siapa yang mampu membayar maka mereka akan lebih bersinar. Apakah menghapus akun media sosial Anda merupakan satu-satunya solusi?

3. Amarah Kepompong Digital (Inspirasi Harari)

Harari bertanya apakah demokrasi bisa bertahan di era digital? Ketika kepompong digital saling terkucil di masing-masing ujung dunia maka tampak sulit untuk membangun saling pengertian antar umat manusia. Dengan gaya bahasa indah dibumbui skeptisme dan optimisme, Harari mengungkapkan:

“Menjelang akhir abad ke-20, menjadi jelas bahwa imperialisme, totalitarianisme, dan militerisme bukanlah cara ideal untuk membangun masyarakat industri. Meskipun memiliki banyak kelemahan, demokrasi liberal menawarkan jalan yang lebih baik. Kelebihan utama dari demokrasi liberal adalah adanya mekanisme koreksi diri yang kuat, yang dapat membatasi fanatisme dan menjaga kemampuan masyarakat untuk mengenali kesalahan serta mencoba jalur kebijakan yang berbeda.

Karena kita tidak dapat memprediksi bagaimana jaringan komputer baru akan berkembang, harapan terbaik kita untuk menghindari bencana di abad ini adalah dengan mempertahankan mekanisme koreksi diri dalam sistem demokrasi. Mekanisme ini memungkinkan kita mengenali dan memperbaiki kesalahan seiring waktu.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah demokrasi liberal itu sendiri dapat bertahan di abad ke-21? Pertanyaan ini bukan hanya soal kondisi demokrasi di negara-negara tertentu yang mungkin terancam oleh perkembangan lokal, melainkan tentang apakah demokrasi masih cocok dengan struktur jaringan informasi abad ke-21. Dalam bab 5 telah dijelaskan bahwa demokrasi bergantung pada teknologi informasi, dan sepanjang sebagian besar sejarah manusia, demokrasi dalam skala besar tidak mungkin diwujudkan. Apakah teknologi informasi yang muncul di abad ke-21 akan kembali membuat demokrasi menjadi tidak mungkin dijalankan?

Salah satu ancaman yang potensial adalah bahwa jaringan komputer yang semakin canggih bisa menghancurkan privasi kita, serta menghukum atau memberi imbalan tidak hanya atas apa yang kita lakukan dan katakan, tetapi juga atas apa yang kita pikirkan dan rasakan. Apakah demokrasi bisa bertahan dalam kondisi seperti itu?

Jika pemerintah—atau korporasi—lebih mengetahui diri kita daripada kita sendiri, dan mampu mengatur secara rinci segala tindakan dan pikiran kita, maka kekuasaan totalitarian atas masyarakat akan terbentuk. Pemilu mungkin masih tetap diadakan secara rutin, tetapi hanya menjadi ritual simbolis tanpa kekuatan nyata untuk mengontrol pemerintah. Pemerintah dapat menggunakan kekuatan pengawasan yang luas dan pengetahuan mendalam tentang setiap warga untuk memanipulasi opini publik dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Demokrasi adil makmur menjadi solusi yang kita harapkan. Di saat yang sama, dengan berkembangnya teknologi digital, demokrasi menjadi mudah untuk dimanipulasi.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Catatan:

1. Ruang Publik Demokrasi (Inspirasi Habermas)
1.1 Ruang Publik Politik
1.2 Ruang Publik Terpusat
1.3 Keragaman Ruang Publik
1.4 Sains Tidak Cukup: Perlu Refleksi dan Wacana
1.5 Rekayasa Tidak Cukup: Perlu Empati Emansipasi
1.6 Institusi Pertumbuhan
1.7 Krisis Legitimasi
1.8

1.9 Konsensus untuk Koordinasi
2. Reruntuhan Ruang Digital (Inspirasi Lanier)

3. Amarah Kepompong Digital (Inspirasi Harari)

Kisah Semesta

Bintang-bintang saling mengejar
Langit membentangkan sayap
Kisah indah sedang menunggu

Pembawa berita itu
Turun ke bumi
Menjadi anugerah
Sunyi kini berpuisi

Langit dan bumi di sana
Puisi hati merangkul semua
Kisah dunia dan akhirat
Ringan berat sama nikmat

Wahai pujaan hati
Terima kasih telah menyapa kami
Yang tercenung
Di sudut pertiwi

Pembawa berita itu
Turun ke bumi
Menjadi anugerah
Sunyi kini berpuisi

Engkau teladan cahaya
Bagi kami menyusuri bumi
Merindu langit biru bertemu

Hakimi Penjarah Rumah Sahroni

Massa menjarah rumah Sahroni, Eko, Uya, dan Sri. Apakah para penjarah ini melanggar hukum pidana? Apakah mereka bertindak kriminal? Apakah mereka perlu dihukum penjara?

Kita butuh hakim yang bijak untuk menghakimi mereka: sebagian massa yang menjarah rumah Sahroni. Tidak cukup hanya KUHP atau undang-undang belaka. Bila cukup dengan undang-undang maka masukkan undang-undang ke AI kemudian AI akan memutuskan apakah pelaku itu bersalah. Tidak bisa seperti itu. Kita membutuhkan manusia yang bijak untuk menghakimi kasus ini.

1. Mengikuti Aturan Wittgenstein
2. Berpikir Aturan Heidegger
3. Kejahatan Banal Arendt
4. Diskusi

Hakim Frank Caprio adalah hakim bijak yang manusiawi telah meninggal dunia sepekan sebelum terjadi demo besar 2025 di Jakarta dan Indonesia. Hakim Caprio menampilkan suasana sidang yang haru dan, bahkan, lucu. Kita terhibur dan tertawa oleh bijaknya seorang hakim Caprio.

Salah satu kasus adalah seorang kakek mengemudi mobil melanggar lampu merah lalu lintas. Lampu menyala merah tetapi kakek itu terus menerobos. Kakek kena tilang dan menghadapi pengadilan oleh hakim Caprio.

“Jelaskan siapa diri Anda dan kejadiannya,” perintah hakim Caprio.
“Saya seorang laki-laki usia 96 tahun yang tidak mengendarai mobil kecuali terpaksa. Saya berkendara selalu dengan pelan-pelan.”
“Mengapa Anda menerobos lampu merah?” tanya Caprio.
“Saya buru-buru mengantar anak saya untuk perawatan cek darah ke rumah sakit. Anak saya mengidap kanker sejak kecil.”
“Berapa usia anak Anda?”
“Usia 63 tahun.”
“Anda merawat anak sampai sekarang?”
“Benar.”
“Kita membutuhkan banyak orang yang tetap menjaga anak-anaknya sampai kapan pun. Anda dibebaskan dari segala tuntutan,” hakim Caprio memutuskan.

Secara aturan tertulis, kakek melanggar aturan lampu merah. Secara bijak, hakim Caprio membebaskan kakek dari segala tuntutan; dengan mempertimbangkan konteks dan situasi apa yang terjadi. Bagaimana dengan para pelaku satroni rumah Sahroni?

1. Mengikuti Aturan Wittgenstein

Wittgenstein (1889 – 1953) adalah pemikir jenius abad 20. Bahkan bisa lebih jenius dari Einstein. Wittgenstein mengajukan pertanyaan paradoks, “Apakah manusia bisa mengikuti aturan?” Sampai sekarang tetap paradoks.

(a) Manusia bisa mengikuti aturan; tetapi manusia sejatinya hanya mengikuti pikiran dan hati mereka sendiri; bukan mengikuti aturan.

(b) Manusia tidak bisa mengikuti aturan; tetapi manusia selalu bisa menyatakan bahwa dia telah mengikuti aturan tertentu; aturan yang telah ada atau pun aturan yang baru dibuat.

2. Berpikir Aturan Heidegger

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir terbesar abad 20. Heidegger menyatakan bahwa tugas manusia bukan untuk mengikuti atau melanggar aturan. Tugas manusia adalah untuk menghormati aturan karena setiap aturan sejatinya adalah aturan dari Tuhan. Apa maksud menghormati aturan?

Menghormati aturan adalah berpikir untuk memahami aturan kemudian memutuskan untuk: (a) mengikuti aturan; (b) tidak mengikuti aturan; atau (c) membuat aturan baru. Tindakan menghormati aturan adalah tindakan besar yang menuntut manusia berpikir secara mendalam.

3. Kejahatan Banal Arendt

Hannah Arendt (1906 – 1975) adalah filsuf politik terhebat abad 20. Arendt mengejutkan dunia dengan melaporkan kejahatan banal yang dilakukan oleh Eichmann seorang pegawai Nazi. Eichmann telah menyebabkan ratusan atau ribuan Yahudi dihukum mati dalam kamp konsentrasi Nazi. Arendt bertugas meliput sidang tuntutan terhadap Eichmann di pengadilan Israel. Sebagai seorang Yahudi, Arendt diharapkan akan mengungkap kejahatan terbesar di dunia yang telah dilakukan oleh Eichmann.

Arendt melaporkan bahwa Eichmann telah melakukan kejahatan besar yaitu kejahatan banal; kejahatan yang tampak biasa-biasa saja tetapi dampaknya luar biasa. Kejahatan banal Eichmann adalah kamuflase “Saya sekadar menjalankan aturan.”

Eichmann, waktu itu sekitar perang dunia 2, mendapat tugas untuk mendaftar nama-nama orang Yahudi. Kemudian, Eichmann menyerahkan daftar nama itu ke tentara Nazi. Hari demi hari, Eichmann bekerja sesuai aturan yaitu menjalankan tugas. Laporan Arendt menunjukkan itulah kejahatan banal: sekadar menjalankan aturan; sekadar menjalankan tugas.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Hakim adalah seorang yang bijak; yang berlimpah hikmah. Hakim tidak sekadar menjalankan aturan; hakim tidak sekadar menjalankan tugas. Hakim berpikir mendalam: apakah vonis hukuman atau membebaskan; atau mengajukan aturan baru. Hakim memang menghadapi paradoks.

Mempertimbangkan pandangan Arendt, Heidegger, Wittgenstein, Caprio, dan lainnya maka apakah para pelaku satroni Sahroni perlu dihukum? Atau perlu dibebaskan?

Anda tentu pernah dengar cerita tentang Abu Nawas yang cerdik itu. Bagaimana jika Abu Nawas menjadi hakim? Ayah dari Abu Nawas adalah seorang hakim yang bijak. Ketika sang ayah makin tua, masyarakat mendorong Abu Nawas agar jadi hakim menggantikan ayahnya. Di satu sisi, Abu Nawas lebih cerdik. Di sisi lain, Abu Nawas mewarisi sikap bijak dari ayah.

Beberapa tahun kemudian, ayah yang hakim bijak itu meninggal dunia. Abu Nawas berbakti dengan melaksanakan pemakaman ayahnya dengan khidmat. Abu Nawas mencium ayahnya untuk terakhir kali. Tercium aroma wangi dari telinga kanan ayah. Tetapi, tercium bau busuk dari telinga kiri ayah. Selesai upacara pemakaman, dukungan masyarakat makin kuat agar Abu Nawas menjadi hakim tertinggi menggantikan almarhum ayahnya.

Abu Nawas tidak bisa menolak dukungan warga. Tapi, Abu Nawas merasa keberatan untuk jadi hakim. Abu Nawas menemukan solusi: ia menjadi gila. Warga tidak bisa komunikasi dengan Abu Nawas yang gila itu: ia selalu ngelantur kemana-mana dalam bicara. Abu Nawas tidak pantas lagi untuk menjadi hakim. Warga kemudian sepakat memilih orang lain sebagai hakim di sana.

Setelah terpilih hakim itu, Abu Nawas sembuh dari gilanya. Warga bertanya, “Mengapa Abu Nawas pura-pura gila?”

“Ayahku yang amat bijak itu saja sebelah telinganya berbau busuk karena menjadi hakim. Bagaimana bila saya jadi hakim? Bukan hanya telinga yang busuk. Mata, hidung, dan mulutku bisa menjadi busuk karena menjadi hakim,” terang Abu Nawas.

Tugas menjadi hakim adalah sangat berat. Berpikirlah yang panjang dan mendalam sebelum menghakimi apa pun itu.