Manfaat Filsafat

Aku cinta Rara. Apa manfaat cinta? Tampaknya, cinta tidak bermanfaat. Justru karena saya cinta Rara maka saya banyak berkorban untuk Rara. Saya mengalami banyak kesulitan, rela menanggung derita, demi cinta untuk Rara.

Pertanyaan manfaat adalah pertanyaan filosofis. Aliran utilitarian menempatkan manfaat menjadi paling utama. Sementara, aliran contractarian menempatkan kewajiban sebagai lebih utama. Kita akan membahas manfaat filsafat dengan tuntas di bagian ini.

Manfaat Praktis

Sains dan teknologi bermanfaat memudahkan hidup kita. Mobil mempercepat jarak tempuh dari Jakarta ke Surabaya. Apalagi, pesawat terbang mempercepat jarak tempuh ke luar negeri, yang dulu perlu waktu berbulan-bulan, menjadi hanya 8 jam saja. Internet mempercepat pengiriman informasi ke seluruh dunia hanya dalam beberapa detik saja.

Apakah filsafat bisa bermanfaat secara praktis?

Tampaknya, filsafat tidak membahas hal-hal praktis. Filsafat banyak membahas hal-hal yang bersifat abtrak, universal, dan berputar-putar. Nyatanya, filsafat bermanfaat dalam kehidupan praktis. Lebih besar manfaatnya dari yang dikira orang. Semua teknologi, yang memudahkan hidup kita, dan semua pengetahuan berasal dari filsafat. Ilmu alam berasal dari filsafat alam. Matematika berasal dari filsafat matematika. Ilmu sosial berasal dari filsafat sosial. Dan teknologi berasal dari filsafat teknologi.

Semua kehidupan praktis kita berakar kepada filsafat.

Memang, saat ini, banyak cabang ilmu yang melupakan filsafat. Seakan-akan ilmu tersebut tidak membutuhkan filsafat. Ketika kita belajar matematika, kita sering melupakan filsafat matematika. Kita hanya mempelajari matematika belaka. Begitu juga ketika kita belajar ilmu ekonomi, kita sering melupakan filsafat ekonomi itu sendiri. Akibatnya, kita melupakan manfaat filsafat yang begitu luas.

Ilmu pengetahuan, dan segala kehidupan kita, tetap membutuhkan filsafat. Tanpa filsafat, kita menjadi kehilangan batas-batas. Ilmu ekonomi yang melupakan filsafat terjebak dalam gelimang kekayaan ekonomi, di saat yang sama, hidup mereka tetap hampa. Pertumbuhan ekonomi pun membahayakan alam semesta. Terjadi perusakan lingkungan, krisis iklim, pandemi covid, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan ancaman lainnya akibat ekonomi serakah yang lupa akan filsafat.

Teknologi yang lupa filsafat bisa sangat bahaya. Teknologi nuklir mengancam seluruh bumi dengan ledakan senjata nuklir sewaktu-waktu. Senjata pemusnah massal kimia bisa menghancurkan bumi hanya dalam hitungan hari. Senjata biologis, dibanding covid jauh lebih sadis, mengancam nyawa setiap manusia. Teknologi digital online mengendalikan pikiran orang di seluruh dunia dengan program propaganda halus, setiap rumah ditembus. Teknologi perlu untuk kembali merangkul filsafat.

Dan, kita masih bisa menyebutkan ratusan manfaat filsafat dalam kehidupan praktis.

Barangkali kita perlu sedikit menyebutkan manfaat filsafat dalam kehidupan personal. Saat pandemi ini, banyak orang frustasi gara-gara situasi yang begitu berat. Diri kita memerlukan filsafat yang mendalam untuk menghadapi hidup yang sedang sulit. Filsafat menerangi pikiran kita untuk hidup bahagia bersama alam semesta. Pandemi covid, secara filosofis, adalah sebuah tanda dari alam raya agar kita merenung. Covid mengingatkan kita untuk mengurangi pemborosan energi sehingga bumi tetap nyaman dihuni. Covid mengajak kita untuk kembali lebih dekat kepada keluarga inti, sepenuh hati, bertabur cinta setiap hari. Filsafat perlu menjadi hidangan pagi setiap hari.

Ketidakpastian

Masalah dari filsafat adalah sifatnya yang tidak jelas, tidak pasti, dan tidak mudah dimengerti. Bagaimana kita bisa memanfaatkan filsafat jika untuk dimengerti saja begitu sulit?

Russell mengakui bahwa filsafat memang membahas ketidakpastian. Bahkan jika suatu pengetahuan menjadi bersifat pasti maka filsafat akan berhenti untuk membahasnya. Bidang kajian tersebut akan menjadi kajian sains, misalnya. Sementara, filsafat akan bergerak ke batas-batas ketidakpastian lagi.

Bagi beberapa orang, karakter filsafat yang tidak pasti ini justru makin menantang. Sementara, bagi sebagian orang yang lain, sifat tidak pasti ini, justru merepotkan. Tidak masalah dengan konsekuensi seperti itu. Apakah kita merasa direpotkan atau merasa tertantang, sampai batas tertentu, kita tetap perlu mengkaji filsafat.

Kita bisa mencoba mencermati sejarah. Ketika Newton menulis buku Principia Mathematica pada abad 17, dia menyebutnya sebagai filsafat ilmu alam. Sementara saat ini, teori Newton menjadi pelajaran ilmu pasti bagi anak-anak di sekolah menengah. Pertama, ketika Newton menulis bukunya, pengetahuan tentang teori gravitasi dipenuhi ketidakpastian. Dan, karena gravitasi adalah fenomena alam maka disebutnya sebagai filsafat ilmu alam – philosopiae naturalis.

Kedua, Newton mengenalkan konsep baru yaitu penerapan matematika untuk ilmu alam. Tentu saja konsep baru ini, pada saat itu, juga bersifat tidak pasti. Sehingga, disebut sebagai filsafat matematika. Konsep matematika yang berkembang itu, kemudian kita kenal sebagai kalkulus. Di mana, Newton berhak sebagai tokoh penemu kalkulus. Di jaman sekarang, kalkulus sudah menjadi ilmu pasti, bagian dari matematika, yang diajarkan kepada anak-anak sejak sekolah menengah.

Ketiga, nyaris semua karya Newton itu yang dulu termasuk kajian filsafat, sekarang, sudah bergeser menjadi kajian sains. Seperti kita sebut sebelumnya, filsafat ilmu alam bergerak ke kajian-kajian baru yang masih menyimpan ketidakpastian. Untuk bidang fisika, lanjutan karya Newton, saat ini berkembang teori quantum dan teori relativitas. Masih ada ketidakpastian dalam menggabungkan teori quantum dan teori relativitas menjadi satu yaitu menjadi teori gravitasi quantum. Sehingga, saat ini, filsafat fisika banyak mengkaji teori gravitasi quantum, yang masih dipenuhi ketidakpastian. Dan seandainya, suatu saat nanti, teori gravitasi quantum sudah bersifat pasti maka akan menjadi kajian sains. Sementara, filsafat akan mengkaji yang lebih jauh lagi.

Filsafat di bidang-bidang lain mengalami pergeseran yang sama. Kajian filsafat manusia berubah menjadi sains psikologi. Kajian filsafat makhluk hidup berubah menjadi biologi. Kajian filsafat tentang benda-benda langit berubah menjadi sains astronomi. Dan masih banyak contoh lainnya. Filsafat, sekali lagi, meninggalkan kajian sains, kemudian bergerak ke wilayah yang dipenuhi ketidakpastian.

Whitehead dan Russell menyebut bahwa filsafat menuntut kita untuk berpikir spekulatif. Yaitu, berpikir yang mempertimbangkan segala sesuatu. Berpikir yang batasan cakupannya tidak ada batas. Mempertimbangkan sesuatu yang sudah bersifat pasti dan mempertimbang sesuatu yang bersifat tidak pasti. Maka secara totalitas akan menghasilkan pemikiran yang, ada sifat, tidak pasti.

Lebih-lebih pada abad 20 dan awal abad 21 ini, filsafat mendapat serangan begitu kuat. Sehingga ketidakpastian dunia filsafat makin terlihat. Pertama, serangan destruksi filsafat dari Heidegger, yang kemudian diperhalus, menjadi destruksi metafisika. Serangan ini menemukan formula matang dalam dekonstruksi Derrida. Bagaimana pun, menjadi begitu jelas sifat tidak pasti dari filsafat.

Kedua, sebelum Heidegger, Nietzsche menghantam filsafat dengan konsep nihilisme. Nietzsche menulis dengan bahasa yang kuat sehingga membawa pengaruh besar kepada bangunan filsafat, makin tidak pasti. Dalam formula matang, nihilisme berkembang menjadi lebih optimis di tangan Vattimo berupa nihilisme hermeneutik. Bagaimana pun, makin banyak ketidakpastian di sini.

Ketiga, pada tahun 1970an, Deleuze mempertahankan filsafat, lebih tepatnya, membela metafisika. Deleuze berhasil membangun sistem metafisika baru yang kokoh di era postmodern. Deleuze menempatkan prinsip metafisika different sebagai paling prioritas. Sementara, prinsip identitas, yang sudah dipegang teguh sejak masa Aristoteles, tergeser ke bawah. Dengan prinsip different, prinsip perbedaan, maka makin banyak perbedaan dalam filsafat. Konsekuensinya, makin banyak ketidakpastian.

Sampai di sini, jelas bagi kita, bahwa ketidakpastian adalah karakter utama dari filsafat itu sendiri. Hal ini bukan merupakan cacat. Justru, manfaat filsafat, adalah membekali kita mampu membahas ketidakpastian secara komprehensif.

Dengan filsafat, kita menyadari ada sesuatu yang tidak pasti, ada sesuatu yang tidak diketahui. Wajar, kesadaran ini, menuntut kita untuk menghilangkan paham dogmatis, paham yang kaku. Selalu ada pengetahuan baru dan yang lebih baru. Kita, terus-menerus, menjaga rasa ingin tahu. Kita menjaga rasa penasaran. Kita bersiap terpesona – selalu ada hal-hal tak terduga.

Obyek Agung

Manfaat praktis, bernilai untuk kehidupan sehari-hari, adalah wajar menjadi pertimbangan kita dalam mengkaji filsafat. Banyak orang bekerja, dari subuh sampai malam hari, demi untuk memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri. Bahkan malam hari, kadang lembur sampai pagi lagi. Tentu, kegiatan seperti itu memang perlu. Apakah manusia memang seperti itu? Adakah alternatif lain? Atau, apakah keperluan hidup sehari-hari adalah secuil episode manusia?

Filsafat, kadang, memikirkan masalah kehidupan sehari-hari. Di lain waktu, filsafat mengkaji sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Filsafat bebas memikirkan apa saja. Filsafat bebas mengajak kita berkontemplasi tentang apa saja. Filsafat menembus semua batas-batas yang ada. Filsafat mengajak kita memikirkan sesuatu yang besar, yang lebih besar dari alam semesta, melintasi seluruh ruang dan waktu. Bahkan filsafat mengajak kita menyelidiki ada apa sebelum waktu, ada apa setelah waktu, ada apa di luar ruang alam raya.

Filsafat menjadi besar bukan karena menemukan semua jawaban atas beragam pertanyaan. Filsafat jadi besar karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang besar. Suatu pertanyaan yang makin membesar. Badan manusia memang terbatas, bahkan berukuran kecil. Tetapi pikiran manusia bisa menjadi besar dengan memikirkan obyek-obyek yang besar. Manusia, dengan kontemplasi pikirannya, membesar di alam raya. Manusia menjadi bebas dengan merenungkan obyek-obyek yang bebas.

Filsafat bukan apa-apa. Filsafat hanya filsafat. Filsafat menjadi agung karena, orang-orangnya yang, memikirkan tema-tema yang agung. Russell meyakini keagungan filsafat lantaran obyek filsafat yang agung.

Cinta adalah tema agung sepanjang masa.

Manfaat Cinta

Orang, kadang, tidak perlu bertanya tentang manfaat cinta. Karena cinta sudah begitu nyata di depan mata. Tidak ada perlunya lagi membahas cinta. Benarkah begitu? Bila cinta datang menyapa, seluruh dunia berganti rupa, menjadi penuh warna. Sedikit saja, kita mengkaji cinta maka akan lebih banyak tanda tanya dari jawaban yang tersedia.

Di bagian ini, kita akan membahas cinta lebih mendalam. Manfaat cinta, secara langsung atau samar, ikut kita bahas. Pertama, kita akan membahas cinta secara rasional. Kita membahas cinta versi akal, terutama, merujuk kepada konsep cinta dari Immanuel Kant. Cinta memegang peran penting untuk kehidupan bermasyarakat.

Kedua, kita membahas cinta berdasar keyakinan. Dengan lompatan keyakinan, cinta menguatkan manusia untuk menjalankan tugas-tugas yang besar. Bahkan, manusia rela berkorban demi cinta. Kita mengkaji cinta versi keyakinan ini dengan merujuk konsep cinta dari Kierkegaard.

Ketiga, kita membahas cinta suci nan agung. Semua cinta adalah cinta suci. Yang perlu kita waspadai, ada jebakan di sana-sini. Karena itu, kita perlu membahas cinta suci ke inti sari, yang berhias ragam misteri. Dalam membahas cinta suci, kita akan banyak merujuk konsep cinta dari Ibnu Arabi.

Cinta Akal

Russell adalah tokoh pendiri filsafat analitik. Tentu saja, dia orang yang sangat rasional, mengandalkan akal. Russell pernah ditanya tentang jatuh cinta. “Cinta adalah yang paling indah. Aku bersedia menukar hidupku bertahun-tahun dengan hidup satu hari saja yang dipenuhi cinta,” jawab Russell. Sementara, pemikir-pemikir kontinental, tentu, lebih kuat lagi dalam menghargai romantisme terutama cinta.

Untuk memulai analisis cinta rasional, cinta yang masuk akal, kita akan bertamasya ke konsep cinta dari Immanuel Kant. Secara umum, cinta kita kelompokkan menjadi dua yaitu: cinta-memberi dan cinta-menerima. Sesuai namanya, cinta-memberi adalah cinta yang membahagiakan karena seseorang telah memberikan kebaikan kepada yang lain. Seorang bapak memberikan makanan untuk anaknya yang tersayang adalah contoh cinta-memberi. Dengan memberi, kehilangan makanan, bapak itu justru bahagia karena cinta. Sedangkan cinta-menerima adalah arah sebaliknya: bahagia karena menerima sesuatu. Saya cinta bunga mawar, misalnya. Saya menjadi bahagia dengan memiliki bunga mawar. Saya menerima kecantikan dari bunga mawar.

Secara relasi, cinta bisa kita kelompokan menjadi tiga: cinta-natural, cinta-moral, dan cinta-Tuhan. Cinta-natural adalah cinta yang muncul secara alamiah. Saya cinta jeruk. Anda cinta kopi. Tanpa usaha apa pun, cinta itu muncul alamiah begitu saja. Sedangkan cinta-moral adalah cinta yang bernilai moral etis. Barangkali cinta-moral ini perlu dilatih agar muncul. Misal cinta kepada fakir miskin lalu memberi mereka makanan yang dibutuhkan. Dan, cinta-Tuhan adalah cinta kepada Tuhan atau cinta oleh Tuhan kepada manusia.

Dengan pembagian cinta seperti di atas, memberi-menerima dan natural-moral-Tuhan, maka kita bisa menganalisis cinta. Untuk kemudian memetakan cinta kepada diri kita dan masyarakat untuk kebaikan bersama. Kant berargumen bahwa cinta-Tuhan adalah landasan paling penting dari semua moralitas. Sedangkan cinta-moral dan cinta-memberi adalah cinta yang perlu terus kita hidupkan dalam bermasyarakat. Sementara, cinta-menerima dan cinta-natural, umumnya bisa berkembang di masyarakat dengan sendirinya.

Cinta-moral paling penting di masyarakat adalah cinta kepada hukum. Masyarakat bersama-sama menyepakati hukum terbaik – konstitusi. Untuk kemudian, masyarakat cinta kepada hukum, menjalankan hukum demi kebaikan masyarakat luas. Hukum sendiri, dalam masyarakat, bersifat dinamis. Sehingga masyarakat, dengan penuh cinta, merevisi hukum yang berlaku.

Di saat-saat tertentu, kita membutuhkan cinta yang lebih tinggi dari cinta hukum. Kita membutuhkan pengorbanan – melampaui ketentuan hukum. Maka kita perlu membahas cinta dengan lompatan keyakinan.

Cinta Keyakinan

Semua cinta butuh keyakinan – dan pengorbanan. Kita perlu melompat dari cinta rasional ke cinta keyakinan. Benar-benar suatu lompatan.

Lompatan keyakinan mendorong cinta untuk dinamis. Sehubungan dengan dinamika cinta, kita bisa mengelompokkan menjadi tiga: cinta-damai, cinta-nyata, dan cinta-segala. Pertama, cinta-damai adalah cinta yang menciptakan rasa damai bagi semuanya. Kita menyadari, dalam masyarakat atau keluarga, terdapat banyak perbedaan. Bahkan perbedaan ini sering mengantar kepada pertentangan. Cinta memberi kita keyakinan bahwa semua pertentangan ini akan bisa kita lalui dengan baik bersama cinta. Dan, sebagai hasilnya, kedamaian untuk kita bersama.

Kedua, cinta-nyata adalah cinta yang terungkap dengan jelas. Cinta kepada negara dibuktikan dengan membela negara dengan segala pengorbanan. Cinta kepada istri diungkapkan dengan rayuan romantis. Cinta kepada suami diungkapkan dengan senyum manis ketika menghidangkan kopi spesial. Cinta kepada anak diungkapkan dengan apresiasi dan memberikan pendidikan terbaik. Cinta-nyata bukan sekedar cinta yang tersimpan dalam hati. Cinta-nyata adalah cinta yang terungkap nyata, bisa dilihat oleh semua mata. Dampak dari cinta-nyata adalah balasan cinta-nyata yang setara dari pasangan. Saling berbalas cinta-nyata memastikan dinamika dalam cinta.

Ketiga, cinta-segala adalah cinta kepada segala yang ada. Untuk bisa cinta-segala, kita benar-benar memerlukan lompatan keyakinan. Sebuah keyakinan yang meyakini bahwa semua yang ada pantas mendapat cinta dari diri kita. Orang baik, kita beri mereka cinta. Orang jahat, kita beri juga mereka cinta. Meski, tentu, bentuk cinta kepada orang baik berbeda dengan bentuk cinta kepada orang jahat. Orang kaya mendapat cinta kita. Orang miskin mendapat cinta kita. Semua manusia mendapat cinta kita. Binatang mendapat cinta kita. Bunga mendapat cinta kita. Bahkan sebutir pasir pun, mendapat cinta kita. Dalam diri kita ada cinta yaitu cinta-segala.

Kierkegaard (1813 – 1855) menekankan pentingnya lompatan keyakinan dalam cinta. Akal saja, tidak memadai untuk memahami cinta. Kita perlu melompat ke keyakinan. Sebuah keyakinan yang sekilas, kadang, tidak masuk akal. Dari analisis akal, cinta-memberi menjadikan sang pemberi-cinta adalah pihak yang berjasa dan penerima-cinta sebagai pihak yang berhutang budi. Kiekergaard meyakini posisi yang berbeda. Sang penerima-cinta telah berjasa kepada kita, dengan menghadirkan cinta dalam diri kita. Jadi, kita justru yang berhutang budi kepada mereka.

Nabi Ibrahim adalah contoh satria-keyakinan, satria-cinta-keyakinan, idola ideal dari Kierkegaard. Sejak muda, Ibrahim cinta kepada umat manusia. Ibrahim berbuat baik untuk tetangganya. Ibrahim mengajak umatnya untuk saling berbuat baik. Mereka yang menyambut ajakan Ibrahim, mendapat cinta dari Ibrahim. Mereka yang menentang Ibrahim, tetap mendapat cinta Ibrahim. Ibrahim, penuh cinta dan keyakinan, berbuat baik kepada seluruh orang. Ibrahim mengorbankan seluruh hidupnya demi kebaikan sesama. Tetangga, dan umat dari Nabi Ibrahim, telah memunculkan cinta dalam diri Nabi Ibrahim.

Ibrahim mencintai istrinya, Sarah, yang muda dan cantik. Cinta Ibrahim teruji sepanjang waktu. Ketika, Sarah makin tua sampai usia 80 tahun, Ibrahim tetap mencintainya. Meski sampai usia tua seperti itu, Sarah tidak melahirkan seorang anak pun, Ibrahim tetap mencintainya. Bahkan, Ibrahim makin cinta kepada Sarah. Sarah, benar-benar, telah menghadirkan cinta dalam diri Ibrahim.

Di usia tua, di atas usia 80 tahun, akhirnya, Ibrahim mendapat anugerah yang luar biasa: dua orang anak laki-laki yang tampan dan baik hati, Ismail dan Ishak. Bisa kita duga, Ibrahim mencintai anaknya luar biasa. Anak menghadirkan cinta yang tiada tara. Lebih dari itu, anak memberi harapan masa depan bersinar terang. Anak adalah penerus cita-cita Ibrahim yang mulia. Ismail adalah putra Ibrahim dari Hajar dan Ishak adalah putra Ibrahim dari Sarah.

Ujian cinta selalu ada.

Dalam tidurnya, Ibrahim bermimpi. Tuhan memerintahkannya untuk mengorbankan putra tercintanya. Tuhan mencintai Ibrahim dan Ibrahim mencintai Tuhan. Ibrahim telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Kali ini, Tuhan meminta pengorbanan lebih dari Ibrahim: mengorbankan anak tercinta.

Apa yang harus dilakukan oleh Ibrahim?

Di siang hari, Ibrahim merenungi makna mimpinya. Begitu jelas, Tuhan memerintahkan dirinya untuk mengorbankan sang Putra. Ibrahim tidak cerita kepada siapa-siapa tentang mimpinya itu. Malam berikutnya, mimpi yang sama kembali hadir: Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan sang Putra. Mimpi Ibrahim itu berulang makin jelas sampai tiga kali.

Cinta Ibrahim kepada Tuhan di atas segalanya. Meski berat untuk mengorbankan sang Putra tercinta, yang baik hati dan tampan, Ibrahim berniat memenuhi perintah Tuhan. Bagi Ibrahim, mengorbankan diri tidak jadi masalah. Tetapi kali ini, ia berurusan dengan mengorbankan nyawa orang lain, nyawa putra tercintanya sendiri. Maka Ibrahim menawarkan maksud pengorbanan itu.

“Putraku, aku diperintahkan oleh Tuhan, melalui mimpi, untuk mengorbankan dirimu. Bagaimana pendapatmu?” tanya Ibrahim.

Apa yang terlintas dalam pikiran sang Putra? Ayahnya yang dikenal baik itu, pembela kaum lemah, pecinta kemanusiaan, kali ini berniat membunuh putranya sendiri. Dan, untuk membenarkan tindakan itu, ayah berargumen bahwa itu adalah perintah Tuhan melalui mimpi yang jelas. Sang Putra dalam posisi sulit, jawabannya akan menentukan hidup dan matinya.

“Jika itu memang perintah Tuhan maka laksanakanlah. Ayah akan mendapati bahwa saya termasuk orang yang sabar,” jawab anaknya.

Kisah selanjutnya sudah menjadi kisah klasik yang sering kita baca dari beragam media. Ibrahim melaksanakan proses pengorbanan putranya. Dengan beragam perasaan tak menentu, sang Putra mengikuti langkah ayahnya menuju tempat pengorbanan dirinya. Ibrahim bersiap menyembelih putranya. Sangat berat rasanya, bagi Ibrahim. Perintah Tuhan, demi cinta Tuhan, harus ditunaikan.

Sesaat, ketika Ibrahim menghunuskan pedang ke leher sang Putra, Tuhan mengirim perintah ke Ibrahim agar menghentikan niatnya itu. Tuhan melarang Ibrahim yang hendak mengorbankan sang Putra. Tuhan memerintahkan Ibrahim agar menyembelih domba sebagai persembahan untuk kemudian dagingnya dibagikan ke masyarakat yang membutuhkan.

Tuhan mencintai manusia maka Tuhan memerintahkan manusia untuk menjaga kehidupan. Tuhan melarang manusia mengorbankan manusia lainnya, melarang manusia mengorbankan anaknya. Manusia, justru, diperintahkan untuk berkorban demi orang lain. Ibrahim adalah contoh ideal manusia yang rela berkorban apa saja demi kebaikan manusia. Ibrahim adalah contoh kesatria yang cintanya kepada Tuhan penuh keyakinan. Cinta mendorong terjadinya lompatan keyakinan.

Mari kita melompat, dari jaman Ibrahim, ke jaman sekarang yang sedang dilanda pandemi. Beberapa pemikir menilai bahwa cinta sekular, yang memperhitungkan untung rugi, tidak sanggup mendorong umat manusia untuk melakukan pengorbanan demi menyelesaikan pandemi. Negara kaya, dan orang kaya, mendominasi fasilitas kesehatan. Sementara, orang miskin telantar tanpa penanganan. Negara kaya mulai melaksanakan suntik vaksin booster untuk ketiga kalinya. Sementara, negara miskin untuk suntik vaksin satu kali saja betapa sulitnya.

Cinta dalam konteks sekular perlu lompatan keyakinan sehingga pengorbanan satu orang kaya dalam menghemat fasilitas kesehatan, obat atau vaksin, bisa disalurkan untuk digunakan orang miskin. Lompatan keyakinan memang sebuah lompatan. Dalam arti, orang yang tidak mau melompat maka tidak bisa diwajibkan untuk melompat. Orang kaya bisa berdalih mereka membeli obat dan vaksin dengan uang mereka sendiri secara sah dan legal. Mereka menjalankan semua proses tanpa melanggar aturan apa pun. Sementara, orang miskin adalah urusan orang lain. Kita, saat ini, benar-benar membutuhkan satria-cinta, satria-cinta-keyakinan, yang rela berkorban demi kebaikan umat manusia di masa pandemi.

Di sisi lain, cinta-keyakinan bisa dibelokkan oleh orang-orang tertentu mejadi suatu teror. Anak-anak muda yang resah dicuci otaknya. Mereka menjadi cinta berdasar keyakinan buta. Mereka rela mati, berkorban, demi cinta kepada agamanya. Bom bunuh diri terjadi di berbagai negara. Kita perlu solusi untuk menyelamatkan mereka dan orang-orang yang tidak berdosa.

Cinta-keyakinan tidak bisa berdiri sendiri. Cinta-keyakinan tetap perlu bersanding dengan cinta-rasional. Lompatan keyakinan memberi kekuatan kepada manusia untuk melakukan sesuatu di luar batas-batas kebiasaan. Sementara, akal rasional memastikan bahwa yang dilakukan manusia itu bernilai positif bagi kemanusiaan dan alam semesta. Bagaimana kita bisa menyandingkan cinta-keyakinan dan cinta-rasional? Kita memerlukan cinta-suci yang menjadi pembahasan berikut ini.

Cinta Suci

Cinta itu suci, pasti. Di sini hanya ada cinta, di sana juga sama. Di mana-mana hanya ada cinta. Bahagianya cahaya cinta untuk semua manusia dan alam semesta. Cinta suci adalah solusi. Cinta suci adalah realitas sejati.

Manusia menjadi sempurna dengan cinta. Bahkan, manusia adalah cinta. Manusia datang dari cinta, menjalani cinta, dan menuju cinta. Cinta adalah segala. Manusia sempurna adalah manusia cinta. Tuhan adalah Maha Cinta.

Untuk membahas cinta-suci kita akan merujuk ke konsep cinta dari Ibnu Arabi (1165 – 1240) dan Sadra (1572 – 1640). Kita akan mencermati cinta sampai ke metafisika dan ontologi. Bagi teman-teman yang hanya ingin membaca sekilas boleh-boleh saja. Sementara, bagi yang berminat mendalami argumen-argumen lebih detil, kita bahas di sini.

Pertama, kita akan membahas metafisika wujud. Kedua, cinta adalah wujud dengan obyek cinta adalah non-existent. Ketiga, cinta manusia adalah anugerah wujud. Keempat, gradasi cinta adalah gradasi wujud. Kelima, manifestasi cinta adalah manifestasi wujud.

(1) Cinta adalah wujud. Cinta sejati adalah wujud sejati. Selain wujud adalah bukan wujud. Karena bukan wujud adalah tidak wujud maka tidak ada atau non-existent. Sehingga yang ada hanya wujud. Yang ada hanya cinta.

(2) Cinta mencintai dia. Cinta mencintai obyek cinta. Tetapi, selain cinta adalah non-existent. Maka obyek dari cinta adalah non-existent. Obyek dari cinta adalah tidak ada. Yang ada hanya cinta. Non-existent memang tidak ada.

(3) Manusia adalah anugerah cinta. Manusia adalah anugerah wujud. Manusia adalah manifestasi cinta. Manusia adalah intensitas cinta. Cinta manusia adalah wujud cinta. Obyek cinta dari manusia bisa dua hal: wujud atau non-existent. Karena non-existent adalah tidak ada maka obyek cinta adalah wujud itu sendiri, cinta itu sendiri, manifestasi cinta.

(4) Cinta itu cahaya. Wujud itu cahaya. Cinta itu mencerahkan. Cahaya tampak ada yang terang benderang, intensitas kuat. Cahaya ada yang redup, intensitas lemah. Terang benderang atau redup, cahaya tetaplah cahaya. Kuat atau lemah, cinta tetaplah cinta. Dalam segala situasi, cahaya tetap bersinar. Dalam segala situasi, cinta tetap membara. Cinta, dalam dirinya, hanya satu yaitu cinta. Cinta, dalam manifestasinya, beragam gradasi, beragam intensitas. Manusia sempurna adalah manusia cinta. Cahaya yang terang benderang meliputi segala cahaya.

(5) Yang ada hanya cinta dan manifestasi cinta. Selain cinta adalah non-existent, tidak ada. Manusia menjadi sempurna dengan sempurnanya cinta. Manusia hadir di semesta raya untuk menyerap cinta, mengolah cinta, dan menebarkan cinta. Manusia menapaki tangga cinta menuju instensitas cinta sempurna. Manusia ditarik cinta, didorong cinta, dan berjalan bersama cinta.

Cinta begitu mempesona. Cinta itu memabukkan – mabuk cinta. Jiwa manusia selalu rindu, rindu kepada cinta. Jiwa manusia itu sendiri adalah cinta. Cinta rindu kepada cinta.

Dari mabuk cinta, kita perlu kembali terjaga bersama cinta. Kali ini kita akan mendiskusi metafisika-ontologi cinta.

Secara metafisika, cinta adalah realitas paling fundamental. Sehingga segala realitas lainnya disusun oleh cinta. Kita bisa menjelaskan segala realitas yang ada dengan bantuan cinta. Sebaliknya, tidak bisa. Kita tidak bisa mendefinisikan cinta dengan sesuatu yang lain. Karena, sesuatu yang lain itu, justru membutuhkan cinta. Sehingga cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak bisa dengan apa pun. Kita hanya bisa memaknai cinta. Kita hanya bisa meng-interpretasikan cinta. Makna itu sendiri juga manifestasi cinta. Nyatanya, kita hidup dan mati bersama cinta.

Sebagai realitas fundamental, cinta bisa kita bandingkan dengan idea dari Plato, substansi dari Aristoteles – Ibnu Rusyd – Descartes, wujud dari Ibnu Arabi – Sadra, monad dari Leibniz, materi dari Marx, being dari Heidegger, dan will to power dari Nietzsche. Cinta adalah realitas paling fundamental yang paling sederhana, di saat yang sama, meliputi segala yang ada.

Untuk memaknai cinta, kita bisa mendekati dengan dua cara: mata semut-quantum dan mata elang-gravitasi. Semut-quantum, sesuai ukurannya yang kecil, memandang segala sesuatu dengan detil. Partikel demi partikel, atom demi atom, dan elemen demi elemen. Keunggulan semut-quantum adalah semua fenomena yang ditemui, sekecil apa pun, masuk dalam pengamatannya. Wajar, semut-quantum merasa mempunyai pengetahuan paling lengkap. Tetapi semut-quantum terlewat sesuatu. Ada sesuatu yang jauh jaraknya – di luar pengamatannya. Yaitu gravitasi. Dari jarak yang jauh, melintas angkasa luar, gravitasi tetap mempengaruhi.

Kita perlu mata elang-gravitasi. Rembulan mengelilingi bumi. Purnama memanfaatkan gravitasi untuk menarik air laut sampai pasang naik tinggi. Bumi dan planet-planet mengelilingi matahari di tata surya. Seharusnya, planet-planet itu telah terlempar ke mana-mana. Gaya gravitasi menjaga planet-planet agar tetap beredar di orbitnya. Elang-gravitasi mengembangkan pengetahuannya melintas seluruh jagad raya. Wajar, elang-gravitasi merasa dialah yang paling tahu segalanya. Nyatanya, elang-gravitasi tidak tahu atom. Elang-gravitasi terlewatkan pengetahuan tentang elektron, foton, boson, dan lain-lain. Sekali lagi, kita butuh mata elang-gravitasi dan mata semut-quantum.

Semut-quantum dan elang-gravitasi saling menlengkapi dalam memaknai cinta. Cinta suci hadir dalam situasi unik, mata-semut-quantum. Ketika melihat anak kecil kelaparan di pinggir jalan. Hati kita tersentuh. Cinta kasih tumbuh. Kita menolong anak kecil yang kelaparan itu, penuh cinta kasih. Melihat tetangga kesulitan belajar matematika, kita ulurkan tangan membantunya. Cinta sesama tumbuh dalam situasi konteks yang spesifik. Kita berada dalam sistem sosial terbatas. Kita memandang cinta dari mata semut-quantum. Ingatkah ketika jatuh cinta pada pandangan pertama?

Dari sisi yang lain, mata elang-gravitasi menjaga cinta kita agar berdampak positif kepada sesama secara luas. Anak kecil yang kelaparan itu memang anak orang miskin. Dengan bantuan makanan dari kita, anak miskin itu, tertolong untuk kemudian melanjutkan hidupnya yang sulit. Tetangga yang kita bantu belajar matematika melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Beberapa tahun kemudian menghasilkan kerja nyata. Mata elang-gravitasi juga menjaga diri kita, menjamin bahwa sumber daya yang kita bagi kepada anak miskin dan tetangga itu adalah sumber daya yang sah, halal.

Apa yang terjadi jika kita hanya menggunakan mata semut-quantum? Bisa berbahaya!

Anak-anak muda yang gelisah dicuci otaknya agar jatuh cinta kepada ajaran agama. Lengkap dengan doktrin-doktrin mengorbankan jiwa adalah jaminan surga, menyerang pihak lain adalah perjuangan suci, semua ini adalah panggilan ilahi. Hanya berbekal cinta hasil pandangan mata semut-quantum yang terbatas, anak-anak muda itu, bergerak menyerang berbagai tempat. Korban nyawa dan luka di mana-mana. Dirinya sendiri, anak muda itu, juga tewas di sana. Jatuh cinta hanya dengan pandangan mata semut-quantum, memang, tidak memadai.

Apa yang terjadi jika kita hanya menggunakan mata elang-gravitasi? Bahaya juga!

Kita mencintai kemanusiaan universal, mencintai dunia adil makmur, dan mencintai alam raya yang luas tiada tara. Tapi, cinta universal ini tidak menggerakkan seseorang untuk bekerja keras. Tidak menggerakkan seseorang untuk menemukan solusi unik terhadap masalah kecil. Tidak menggerakkan seseorang memberikan karya nyata. Dia berpikir universal. Sementara, anaknya kelaparan, sekolah tidak terurus, kesehatan tak peduli. Dia mencintai alam semesta. Sementara, istrinya banting tulang untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Dia hanya terbang di awang-awang dengan mata elang-gravitasi. Dia suka berdebat. Bahkan selalu bisa memenangkan setiap perdebatan. Untuk menguatkan posisinya agar tetap di awang-awang.

Kita adalah manusia cinta, yang membutuhkan dua mata, mata semut-quantum dan mata elang-gravitasi. Bergerak cepat dengan solusi unik di masyarakat terdekat. Memandang jauh ke depan menembus seluruh alam raya. Meraih cinta di alam raya, menebar cinta di alam raya.

Apakah dengan pandangan mata semut-quantum dan mata elang-gravitasi maka pengetahuan kita tentang cinta menjadi sempurna? Tidak. Pengetahuan kita tentang cinta tidak pernah sempurna.

Memang, mata semut-quantum saling melengkapi dengan mata elang-gravitasi. Meski begitu, pegetahuan cinta tidak pernah lengkap. Barangkali kita bisa memanfaatkan mata hati, mata jiwa, mata ruhani, dan semua mata untuk melengkapi pengetahuan tentang cinta? Tetap tidak bisa. Pengetahuan cinta tetap tidak bisa lengkap. Meski, seseorang bisa saja mabuk cinta dengan sempurna. Mata semut dan mata elang hanya bisa saling menyempurnakan tanpa henti.

Bahkan proses menyempurnakan ini bersifat sirkular, atau melingkar. Kita terjebak dalam lingkaran cinta yang lebih bermakna dari cinta segitiga.

Lingkaran Cinta

Secara rasional, lingkaran cinta itu rumit. Sedangkan secara makna, lingkaran cinta itu indah. Lingkaran cinta adalah makna cinta secara hermeneutika filosofis.

Mata semut-quantum menghadirkan cinta unik yang bersifat lokal, terbatas, cinta pada pandangan pertama. Mari kita sebut sebagai pengetahuan cinta-lokal. Sedangkan, mata elang-gravitasi menghadirkan cinta yang bersifat umum, misal cinta kemanusiaan, cinta keadilan, cinta keindahan. Mari kita sebut sebagai pengetahuan cinta-global.

Pengetahuan kita tentang cinta-lokal tidak sempurna karena terbatas. Kita perlu pandangan yang lebih luas. Maka kita perlu cinta-global.

Pengetahuan cinta-global kita gunakan untuk menyempurnakan cinta-lokal. Tetapi cinta-global itu tidak sempurna. Karena bersifat umum. Maka kita perlu pengetahuan lebih detil. Untuk menyempurnakan cinta-global kita membutuhkan bantuan cinta-lokal.

Demikian seterusnya membentuk lingkaran cinta. Di mana cinta-lokal membutuhkan cinta-global. Di saat yang sama, cinta-global membutuhkan cinta-lokal. Mereka tidak bisa, sama-sama, sempurna. Mereka hanya saling menyempurnakan, terus-menerus. Maka kita tidak akan pernah menemukan cinta yang berhenti. Tidak ada cinta sempurna. Tidak ada cinta mati. Yang ada cinta hidup, dinamika cinta.

Lebih seru lagi bila lingkaran cinta ini kita terapkan dalam kehidupan sosial – sejauh ini, kita baru membahas cinta personal. Misal cinta antara suami istri yang baik adalah lingkaran cinta. Mengapa suami cinta ke istri? Karena istri cinta ke suami. Mengapa istri cinta ke suami? Karena suami cinta ke istri. Lingkaran cinta ini makin lama makin kuat dengan diiringi dinamika kehidupan nyata.

Lingkaran cinta adalah keunggulan cinta. Sementara, lingkaran rasional, berargumen melingkar memang tidak direkomendasikan banyak orang. Kita bisa menebak bahwa orang yang bercinta dengan pertimbangan rasional akan menemukan banyak kebingungan. Pusing tujuh keliling. Karena cinta, memang, mengajak kita menelusuri lingkaran cinta. Suka-duka dalam sinaran cinta.

Obyek Cinta

Obyek cinta adalah tidak ada. Yang ada adalah subyek cinta, sang pelaku cinta. Untuk membahas ini, kita akan membagi menjadi tiga bagian. Pertama, obyek cinta dari Sang Maha Cinta adalah non-existent atau ketiadaan itu sendiri. Kedua, obyek cinta dari manusia adalah manifestasi cinta. Ketiga, manusia berpartisipasi dalam menifestasi cinta.

Pertama, Sang Maha Cinta mencintai non-existent. Sehingga obyek cinta, yaitu non-existent, adalah tidak ada. Cinta dari Sang Maha Cinta menyinari non-exixstent. Akibatnya, non-existent tersinari menuju eksistensi. Sinar-sinar cinta ini yang menjadi manifestasi cinta. Bagaimana pun, non-existent adalah ketiadaan itu sendiri. Sementara, manifestasi cinta berasal dari cinta Sang Maha Cinta.

Lalu, apa itu Sang Maha Cinta? Hakikat Sang Maha Cinta adalah rahasia yang tak terjangkau oleh akal manusia. Tetapi manusia bisa menjangkau Sang Maha Cinta dengan mengenal karakter, sifat-sifat, Sang Maha Cinta dan tindakan Sang Maha Cinta. Alam raya, dan diri manusia sendiri, merupakan manifestasi sifat dan tindakan Sang Maha Cinta.

Kedua, obyek cinta dari manusia adalah manifestasi cinta. Manusia adalah manifestasi cinta yang, kemudian, bisa jatuh cinta. Ketika mencintai, manusia bisa memilih apa saja yang dia cintai. Dia bisa memilih obyek alam semesta atau non-existent. Karena non-existent memang tidak ada maka sebagai obyek cinta, non-existent, adalah tidak ada. Sehingga obyek cinta yang ada adalah alam semesta. Di mana alam semesta adalah manifestasi cinta. Manusia mencintai manifestasi cinta.

Beberapa orang barangkali mengklaim mencintai Tuhan. Klaim semacam itu bisa diterima secara manusiawi. Dari sudut pandang lain, Tuhan tidak terjangkau kata-kata, maka manusia hanya bisa mencintai manifestasi Tuhan. Manusia, terus-menerus, mendekati Tuhan dengan makin dekat dan lebih dekat.

Alam raya, termasuk manusia, adalah manifestasi cinta dengan gradasi intensitas cinta yang berbeda-beda. Sehingga obyek cinta, dari satu sisi, adalah sama semua yaitu manifestasi cinta. Dari sisi lain, obyek cinta adalah berbeda-beda, yaitu berbeda dalam gradasi intensitas.

Ketiga, dengan jatuh cinta, manusia berpartisipasi dalam menifestasi cinta. Berpatisipasi dalam cinta begitu indah. Jatuh cinta, memang indah, tiada tara. Mabuk cinta sungguh mempesona.

Mengapa kita perlu jatuh cinta? Karena manusia adalah cinta. Manusia menjalani hidup dengan cinta, menuju cinta, dan berasal dari cinta.

Apa yang terjadi jika manusia tidak jatuh cinta? Dia tidak lagi jadi manusia. Dia berhenti menjadi manusia. Dia berhenti menjadi manifestasi cinta. Maka mari sirami cinta tiap hari. Biarkan benih-benih cinta tumbuh tiap pagi. Biarkan bunga-bunga cinta mekar sepanjang hari.

Mari kita analisis secara rasional lagi: obyek cinta. Seperti kita sebut di atas, obyek cinta dari manusia adalah alam raya, termasuk manusia, yang merupakan manifestasi cinta. Tetapi, apa sejatinya manifestasi cinta itu? Yang ada secara nyata adalah Sang Maha Cinta. Sementara, manifestasi cinta adalah sekedar percikan sinar dari Sang Maha Cinta. Dengan demikian, obyek cinta, sejatinya adalah tidak ada.

Maka kita perlu fokus ke cinta itu sendiri bukan ke obyek cinta, yang sejatinya tidak ada. Ketika kita jatuh cinta maka kita sedang menciptakan cinta. Ketika kekasih mencintai pasangannya, kekasih itu sedang menciptakan cinta. Ketika kita mencintai orang miskin, dengan memberinya bantuan, kita sedang menciptakan cinta. Kita sedang menjadi manifestasi cinta. Sebuah manifestasi cinta yang intensitasnya lebih kuat dari sebelumnya. Manifestasi cinta yang terus menyempurna.

Orang yang tidak mencintai orang miskin maka dia tidak menciptakan cinta. Dia berhenti menjadi manifestasi cinta, yang seharusnya terus-menerus menebar cinta. Orang yang tidak mencintai tetangganya, maka dia juga berhenti jadi manifestasi cinta. Tetapi, manusia tidak bisa sepenuhnya berhenti jadi manifestasi cinta. Karena, manusia adalah buah cinta dari manusia-manusia sebelumnya, terutama buah cinta ibu dan bapaknya. Sehingga, berhenti menjadi manifestasi cinta adalah bermakna berhenti menebarkan cinta.

Apa yang terjadi jika cinta kebablasan? Orang cinta makanan, terlalu banyak makan sehingga terserang darah tinggi. Orang yang cinta harta, terlalu banyak mengumpulkan harta dengan cara korupsi atau mencuri sehingga terkunci di balik jeruji. Orang yang terlalu cinta politik, mencalonkan diri sebagai pejabat dengan cara menghalalkan perilaku curang. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang kebablasan.

Cinta itu indah. Cinta itu cantik. Cinta itu adil. Maka siapa saja yang kebablasan, mereka bukanlah cinta. Meski awalnya seperti cinta, itu hanya penampakan belaka. Mereka terjebak dalam tipuan atas nama cinta. Sekali lagi, kita perlu waspada meski jatuh cinta. Gunakan mata-semut-quantum dan mata-elang-gravitasi. Pada bab selanjutnya, kita akan membahas penyelewengan atas nama cinta.

Bagaimana pun, kita adalah manusia cinta. Hidup bersama cinta, menuju cinta, dan berasal dari cinta.

Ringkasan Manfaat

Berikut ini, mari kita ringkas manfaat dari filsafat.

(1) Manfaat praktis. Filsafat bermanfaat dalam kehidupan praktis sehari-hari umat manusia. Dengan filsafat, kita bisa menjalani kehidupan dengan pandangan yang lebih luas dan mendalam. Sehingga, kita, sebagai individu atau masyarakat, bisa menjalani hidup dengan lebih baik.

(2) Filsafat bermanfaat bagi kita untuk menghadapi segalanya yang makin bersifat serba tidak pasti. Filsafat membekali kita wawasan untuk menangani ketidakpastian secara komprehensif.

(3) Filsafat membantu kita menjadi berjiwa besar – berjiwa agung. Kita bisa melepaskan diri, untuk sejenak, dari kesibukan sehari-hari yang beraroma ekonomi. Filsafat mengajak kita bertamasya memikirkan masa lalu, masa depan, dan tentu masa sekarang. Filsafat mengajak kira merenungkan apa yang terjadi sebelum ada jagad raya, sebelum manusia ada, dan setelah manusia meninggal dunia. Filsafat tidak meng-klaim berhasil menjawab semua pertanyaan besar ini. Tetapi, kita menjadi berjiwa besar karena merenungkan pertanyaan besar ini.

Dan, terakhir, filsafat mengundang kita untuk berpartisipasi dalam cinta. Umat manusia hidup bersama cinta, menuju cinta, dan berasal dari cinta.

Lanjut ke Materialisasi Cinta dan Kecantikan
Kembali ke Philosophy of Love

Batas-Batas

Aku cinta Rara, tanpa batas. Di mana batas-batas cinta? Cinta memang tidak punya batas. Cinta sejati tanpa batas. Demikian juga, cantik tidak punya batas.

Apakah alam semesta punya batas?

Mari kita berandai-andai menyusuri garis lurus ke utara. Sampai akhirnya ke kutub utara. Lanjutkan ke utara – bukan memutar ke selatan. Ke utara dari kutub utara, barangkali, kita bisa melakukannya dengan terbang. Terbang ke utara terus, tampaknya tanpa batas.

Kita juga bisa berandai-andai berjalan sesuai garis lurus ke selatan, sampai kutub selatan. Lanjut lagi ke selatan dengan terbang. Tampaknya, kita juga tidak akan menemui batas dunia. Dengan eksperimen pikiran ini, kita merasa bahwa alam semesta juga tidak terbatas.

Pada bagian ini kita akan mendiskusikan tentang batas-batas itu. Batas-batas pengetahuan dan batas-batas filsafat. Kita akan mengikuti gaya berpikirnya Russell dengan mempertimbangkan dialektika Hegel dan kritik dari Immanuel Kant. Kita, selanjutnya, akan melengkapi dengan fenomenologi eksistensial Heidegger, hermeneutika Vattimo, dan formula Pancajati. Barangkali, kita perlu mempertimbangkan metafisika different oleh Deleuze.

Dan, tentu saja, kita akan menyelidiki batas-batas cinta dan cantik.

Dialektika Hegel

Kita barangkali sering mendengar istilah dialektika, sebuah proses menyempurna yang menuju kesempurnaan absolut. Hegel, dan kawan-kawan, menyusun proses dialektika ini melalui pertemuan tesis dan anti-tesis sehingga membentuk sintesis baru. Proses dialektika, menurut Hegel, terjadi pada ide kita dan alam semesta.

Pengetahuan manusia, terutama pengetahuan nyata, selalu bersifat fragmentaris, tidak utuh, kita sebut sebagai tesis. Jika pengetahuan ini kita teliti lebih jauh maka kita akan menemukan beragam kontradiksi – karena fragmentaris tersebut. Kontradiksi ini kita sebut sebagai anti-tesis. Selanjutnya tesis berproses dengan anti-tesis maka lahirlah sintesis baru.

Mari kita ambil contoh agar lebih nyata. Misal kita mengetahui jari kita sendiri.

tesis: jari
anti-tesis: bukan jari
sintesis: tangan

Awalnya, kita yakin bahwa kita melihat jari (tesis). Pengamatan lebih lanjut, kita melihat bukan jari (anti-tesis). Termasuk bukan jari adalah telapak, pergelangan dan lain-lain. Maka terpikirlah oleh kita pengetahuan baru, sinstesis, yaitu tangan, misalnya.

Pengetahuan, kita tentang tangan ini, lebih sempurna dari pengetahuan kita tentang jari. Demikianlah hasil dari gerak dialektika. Pada gilirannya, pengetahuan kita tentang tangan itu sendiri menjadi tesis yang baru.

tesis: tangan
anti-tesis: bukan tangan
sintesis: badan

Bukan tangan, sebagai anti-tesis, misalnya kaki, dada, kepala, dan lain-lain. Dialektika antara tangan dan bukan tangan, tesis dan anti-tesis, menghasilkan pengetahuan baru: badan, sebagai sintesis. Dan begitu seterusnya, sampai manusia mencapai pengetahuan mutlak “spirit absolut.”

Di dunia ini, saat ini, tidak ada pengetahuan absolut. Maka semua pengetahuan terus-menerus berproses. Spirit berproses ini banyak mengilhami para murid Hegel. Memang, dialektika memotivasi kita untuk terus bergerak maju. Salah satunya adalah Karl Marx yang menerapkan konsep dialektika untuk sejarah. Kapitalisme, menurut Marx, akan menciptakan kelas kaya para borjuis, sebagai tesis. Maka akan melahirkan anti-tesis yaitu kelas pekerja proletar. Selanjutnya kelas borjuis berdialektika dengan kelas proletar menghasilkan sintesis baru: masyarakat sosial tanpa kelas.

Tentu saja, banyak orang yang tidak setuju dengan ide dialektika Hegel. Salah satunya Bertrand Russell. Pengetahuan kita tentang suatu obyek, sebagai tesis, menurut Russell, tidak mengharuskan pengetahuan tentang yang lain. Pengetahuan kita tentang tesis tidak mengharuskan pengetahuan tentang anti-tesis, menurut Russell.

Kita ambil contoh, pengetahuan kita tentang sakit gigi kita. Sama sekali tidak memerlukan pengetahuan yang lain. Kita merasa sakit secara langsung. Intuisi kita memberitahu kita bahwa kita merasakan sakit gigi itu. Kita juga tidak memerlukan suatu formula tentang sakit gigi. Bahkan dokter gigi, atau orang lain, hanya tahu tentang sakit gigi kita bila kita memberi tahu mereka. Kita mengetahui sakit gigi kita dengan sempurna.

Pengetahuan kita menjadi lebih sempurna, justru, dengan makin telitinya kita meneliti, memeriksa, dan mengkaji obyek tersebut. Dokter gigi bisa memeriksa kondisi gigi yang sakit. Menemukan penyebab sakitnya. Dan menuliskan resep untuk obat sakit gigi itu.

Russell menilai konsep dialektika Hegel tidak bisa dipertahankan. Hegel merumuskan dialektika berdasar pengetahuan a priori yang bersifat metafisika. Pengetahuan a priori ini perlu diuji dengan penelitian di lapangan bila memungkinkan. Dengan contoh sakit gigi, menurut Russell, kita bisa menolak konsep dialektika. Sementara, yang lebih kuat adalah, pengetahuan a priori yang lulus dengan pengujian empiris.

Tampaknya, Russell ingin mengatakan bahwa batas-batas filsafat – dan metafisika – adalah pengujian empiris. Dengan demikian, filsafat dan sains berjalan seiring seirama. Tentu saja, Russell juga sadar ada berbagai macam proposisi metafisika yang tidak dapat diuji secara empiris. Maka di sini, peran filsafat tetap besar, yaitu kajian kritik. Pendekatan Russell ini, selarasnya filsafat dan sains, melahirkan aliran baru dalam filsafat yaitu filsafat analytic.

Kritik Immanuel Kant

Sains terbukti mendorong kemajuan manusia. Di saat yang sama, sains juga sering membuat teori yang ternyata, terbukti, salah. Maka berpikir kritis tetap diperlukan. Di sinilah peran filsafat menjadi dominan.

Whitehead, seniornya Russell, mengatakan tugas filsafat adalah berpikir spekulatif. Yaitu berpikir yang mempertimbangkan segala sesuatunya. Dengan pertimbangan yang luas ini, wajar, bagi filsafat untuk terus mengembangkan tradisi berpikir kritis.

Karya terbesar berpikir kritis sepanjang sejarah adalah, barangkali, trilogi kritik oleh Immanuel Kant. Kritik terhadap akal murni, kritik terhadap akal praktis, dan puncaknya kritik terhadap penilaian. Kritik akal murni dari Kant berhasil mengkritik mereka yang berpegang kepada, hanya, pengetahuan a priori, yaitu para idealis. Di saat yang sama, Kant mengkritik mereka yang hanya berpegang kepada pengetahuan empiris. Solusi dari Kant adalah sintesa antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan empiris. Russell setuju dengan pemikiran Kant ini.

Sedangkan kritik terhadap akal praktis menghasilkan berbagai macam pemikiran moral. Kant, setelah mengkritik berbagai macam pemikiran moral, mengajukan kewajiban moral adalah kebajikan yang disetujui oleh setiap orang yang berakal, dapat dilakukan kapan saja, dapat dilakukan di mana saja, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Contohnya, “Jangan mencuri.” Tentu saja, ada kebajikan moral yang hanya memenuhi sebagian dari empat kriteria di atas. Misalnya, “Bantulah orang miskin.” Hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu.

Russell tampaknya tidak sepakat dengan Kant. Russell lebih condong ke moral asas manfaat (utilitarian). Kebajikan moral adalah kebajikan yang memberi manfaat terbesar bagi seluruh umat. Sementara, pemikiran Kant lebih dekat ke kontraktual.

Terakhir, kritik terhadap penilaian menghasilkan ragam penilaian estetik dan teleologis. Kita sudah membahas ini pada tulisan saya yang sebelumnya berkenaan dengan intuisi cinta. Yang menarik, hasil akhir kritik penilaian (dan trilogi kritik) adalah antinomi atau paradoks. “Saya cinta Rara.” Tapi, “Panca tidak cinta Rara.” Mana yang benar? Saya atau Panca? Cinta atau tidak cinta? Dua penilaian tentang cinta di atas adalah paradoks, atau antinomi, yang tidak bisa disintesiskan.

Lyotard memuji-muji pemikiran antinomi dari Kant ini. Lyotard mengembangkan pemikiran disensus – perbedaan pendapat. Awalnya, Lyotard mengkaji kondisi penduduk asli di Kanada dengan menggunakan pendekatan “language game” dari Wittgenstein. Language game menyatakan bahwa bahasa hanya bisa dipahami, dengan tepat, dalam konteks pemakaiannya (game). Sehingga, menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain pasti ada bagian yang tidak akurat, tidak tepat. Lyotard menyebut perbedaan antara beragam bahasa itu sebagai “different” yang merupakan bentuk dari antinomi. Perbedaan semacam itu tidak akan pernah bisa diseragamkan, tidak pernah ada konsensus, hanya ada dissensus.

Ringkasan Batas-Batas

Mari kita ringkas, untuk sementara, batas-batas filsafat. Pertama, Hegel menyatakan bahwa batas filsafat adalah tidak ada. Karena pengetahuan manusia, termasuk filsafat, terus menerus bergerak menuju “pengetahuan absolut.” Kedua, Russell menyatakan batas-batas filsafat adalah uji empiris. Meski demikian, filsafat tetap punya peran besar dengan melakukan kajian kritik. Ketiga, Kant menerapkan kajian kritik yang menemui batas-batas filsafat berupa antinomi atau paradoks. Dengan demikian, kita masih tidak menemukan kata sepakat tentang batas-batas filsafat.

Heidegger melangkah lebih jauh untuk mengatasi antinomi dari Kant dengan cara mendestruksi filsafat, khususnya metafisika. Pendekatan Heidegger adalah fenomenologi eksistensial, yang sampai sekarang, berkembang menjadi pendekatan hermeneutika.

Fenomenologi Eksistensial Heidegger

Heidegger meng-kritik filsafat Barat yang berniat membahas “being” tapi dengan melupakan “being.” Sejak jaman Plato sampai Nietzsche, menurut Heidegger, filsafat telah melupakan being. Filsafat harus kembali membahas being (atau wujud).

Heidegger membedakan being (atau wujud) menjadi dua. Pertama, wujud ontical yang merupakan wujud yang hadir apa adanya. Dan kedua, wujud ontological yang merupakan wujud sejati apa adanya, bagaimana suatu wujud hadir, dan wujud yang menjadi sumber. Kita bisa memikirkan wujud ontical. Sementara, wujud ontological, kita hanya bisa memaknai dan mendekatinya. Selalu ada perbedaan antara wujud ontological dengan wujud ontical. Heidegger menyebut perbedaan ini sebagai “perbedaan ontologis.”

Heidegger memulai analisis fenomenologi eksistensial dengan menciptakan istilah wujud manusia sejati sebagai “dasein.” Manusia sebagai dasein selalu menemukan dirinya sebagai being-in-the-world atau wujud-dalam-dunia. Ke arah mana pun dasein menghadap, dia, selalu berada dalam dunia. Dasein tidak bisa memisahkan diri dari dunia. Percuma saja, kita mengasumsikan, bahwa kita bisa hidup tanpa dunia. Sama percumanya, kita menganalisis dunia yang terpisah dengan dasein (dan dunia lainnya).

Manusia bebas berpikir apa pun. Namun pikiran kita selalu terbatas ada dalam dunia. Sehingga pikiran manusia sejatinya adalah “memaknai” dunia. Semua pikiran manusia selalu melibatkan satu dan lain cara yang merupakan “memaknai” sesuatu. Tidak ada pemikiran yang benar-benar terbebas dari “memaknai.” Fenomenologi yang mengakui adanya ikatan (pikiran) manusia dan dunia ini selanjutnya kita kenal sebagai fenomenologi eksistensial.

Istilah dunia di atas pelu kita maknai secara luas. Dunia bermakna dunia fisik, dunia kerja, dunia komputer, dunia digital, dunia imajinasi, dan dunia lain-lainnya.

Dengan demikian batas-batas filsafat, menurut Heidegger, adalah kemampuan “memaknai” yang tidak terbatas. Dalam memaknai, Heidegger mencatat pentingnya rasa gelisah. Manusia adalah wujud yang senantiasa gelisah dengan masa depan wujudnya. Manusia selalu mengantisipasi masa depan – dengan rasa gelisah. Gelisah untuk memastikan masa depan yang lebih baik. Gelisah memikirkan nasib umat manusia. Gelisah memikirkan ancaman perusakan iklim. Gelisah memikirkan korupsi yang makin menjadi-jadi. Gelisah bermakna negatif dan positif.

Begitu besarnya peran “memaknai” atau interpretasi dalam filsafat pasca Heidegger maka mendorong lahirnya hermeneutika. Sebuah filsafat yang mendalami seluk-beluk interpretasi.

Russell tidak banyak komentar terhadap Heidegger. Padahal mereka hidup sejaman sampai akhir abad 20. Russell hanya sedikit komentar bahwa Heidegger adalah filsuf yang aneh. Filsuf yang mengandalkan analisis terhadap rasa gelisah. Heidegger menimpali dengan menyindir adanya filsuf yang malas untuk berpikir.

Yang menarik dari filsafat adalah mereka bebas saling kritik, bahkan sampai kritik yang sangat pedas, seperti kasus saling sindir Russell dan Heidegger. Tetap saja, filsafat generasi berikutnya bisa mengambil pelajaran dari saling kritik mereka.

Sejak jaman Heidegger menerbitkan bukunya di 1927, filsafat mulai bergerak dari fokus metafisika menjadi ontologi. Pergeseran ini mendapat dukungan angin segar dari pemikir postmodern, khususnya Derrida. Metafisika makin terpojok di ruang sempit samar-samar dunia filsafat.

Dunia mendapat kejutan besar ketika salah satu tokoh postmodern, yaitu Deleuze (1925 – 1995), mengatakan, “Saya adalah metafisikawan murni. Apa asyiknya filsafat tanpa metafisika?” Tiba-tiba, metafisika menjadi kuat lagi di jantungnya filsafat.

Filsafat Difference Deleuze

Deleuze sangat kreatif. Kemampuannya membaca sejarah filsafat begitu mempesona. Kemudian, Deleuze memodifikasi sejarah filsafat menjadi sistem filsafat yang baru dan orisinal. Deleuze mendefinisikan filsafat sebagai menciptakan konsep-konsep baru. Dan konsep-konsep baru ini, dalam contoh kasus Deleuze, bisa kita peroleh dengan cara membalik konsep-konsep yang sudah ada dalam sejarah filsafat.

Deleuze membalik prioritas “identitas” terhadap “difference.” Sejak awal sejarah, khususnya sejak era Aristoteles, identitas mendapat posisi paling utama. Deleuze membaliknya menjadi difference adalah yang utama, lalu diikuti oleh identitas.

Meja adalah meja. Kursi adalah kursi. Meja memiliki identitas sebagai meja. Sedangkan kursi mempunyai identitas sebagai kursi. Identitas meja, atau kursi, adalah yang paling utama. Karena ada identitas, kemudian, kita menciptakan konsep difference: meja berbeda dengan kursi. Dalam contoh ini, difference muncul karena ada identitas.

Deleuze membalik konsep seperti itu. Yang benar justru karena ada difference maka muncul identitas. Jadi, difference lebih utama dari identitas.

Meja adalah totalitas dari seluruh difference yang bukan meja. Meja adalah totalitas bukan kursi, bukan lantai, bukan dinding, dan bukan lain-lainnya. Seluruh difference inilah yang paling utama, yang kemudian, membentuk identitas meja.

Deleuze lebih memilih simbol difference x adalah dx, bukan negasi x, bukan -x. Sehingga totalitas dari difference adalah, dalam rumus matematika, integral kalkulus dari dx. Dan, proses integrasi ini adalah difference-in-itself atau perbedaan-dalam-diri.

Konsep difference ini, menurut saya, mempunyai beberapa keunggulan dibanding identitas. Pertama, eksistensi bergantung kepada eksistensi yang lain. Kedua, dinamika bersama yang lain menjadi penting. Ketiga, dengan difference ini, sepatutnya kita tidak bersikap egois. Segala yang ada saling terhubung.

Selanjutnya, Deleuze membahas konsep waktu. Pertama, adalah waktu sirkular. Bulan berputar mengelilingi bumi, setiap hari. Matahari terbit kembali, setiap pagi. Waktu berjalan, lalu, kembali seperti ke titik awal lagi. Kedua, konsep waktu sebagai imajinasi. Waktu sejatinya tidak ada. Waktu adalah imajinasi yang diciptakan oleh manusia. Dan, terakhir, konsep waktu yang kreatif. Yaitu, waktu adalah pengulangan dari difference secara abadi. Deleuze menyebutnya sebagai repetition-for-itself atau pengulangan-untuk-diri.

Sampai di sini, kita bisa bertanya di mana batas-batas filsafat? Karena filsafat adalah proses kreatif menciptakan konsep-konsep baru yang berbeda-beda maka batas-batas filsafat adalah tidak ada. Selama ada konsep baru maka selalu ada filsafat. Selama manusia berpikir kreatif maka manusia menghidupkan kembali filsafat.

Heidegger, dan murid-muridnya, yang menggaungkan proyek destruksi metafisika, tidak berhasil menggusur metafisika difference dari Deleuze ini. Karena proyek destruksi itu berdasar pada konsep difference ontological. Sementara, konsep difference dari Deleuze, justru, selaras dengan difference ontological itu. Jadi, metafisika masih tetap berjaya.

Vattimo mengusulkan konsep “weak thought” yang bisa menjadi solusi untuk semua itu.

Weak Thought Vattimo

Pada akhir abad 20, Vattimo menggulirkan konsep “weak-thought” (pikiran-lemah). Apa pun hasil pikiran kita, apa pun konsep kita, apa pun hasil kontemplasi kita tetap ada sisi lemahnya. Meski demikian, sisi lemah ini bukanlah suatu kelemahan. Justru, karena kita yakin ada sisi lemah maka kita akan berjuang untuk terus memperbaiki diri. Sehingga sisi lemah ini, sejatinya, justru menjadi kekuatan dari konsep itu sendiri.

Charles Taylor, pada awal abad 21, mengenalkan konsep struktur-dunia tertutup versus struktur-dunia terbuka. Konsep weak-thought dari Vattimo, tampak, selaras dengan struktur-dunia terbuka. Yaitu struktur dunia yang terbuka dengan konsep-konsep baru. Baik konsep baru tersebut bersifat imanen atau transenden. Dengan demikian, struktur-dunia terbuka mampu untuk terus bergerak maju.

Sementara, struktur-dunia tertutup sudah merasa konsepnya kuat dan sempurna. Sehinga tidak perlu ada dinamika. Masalah makin rumit ketika struktur-dunia tertutup ini berbenturan dengan ragam perbedaan. Resiko terjadi kekerasan menjadi besar.

Vattimo menyusun weak-thought berangkat dari dialektika Hegel dan dialektika-reason Sartre. Ditambah lagi dengan difference ontological dari Heidegger dan dekonstruksi dari Derrida maka wajar saja kita harus menerima konsep weak-thought. Semua pengetahuan kita, konsep kita, tidak pernah berdiri mandiri secara mutlak. Nilai kebenaran dari pengetahuan kita tergantung dari sistem verifikasi. Sedangkan sistem verifikasi kita dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi kita. Maka suatu pengetahuan dinyatakan benar karena hasil verifikasinya benar. Jika kita menerapkan sistem verifikasi yang berbeda maka, mungkin saja, hasil verifikasinya ikut berbeda. Tentu saja, tugas kita adalah menyempurnakan pengetahuan secara terus-menerus.

Dengan konsep weak-thought maka di mana batas-batas filsafat? Tidak ada batas bagi filsafat. Setiap konsep filsafat adalah weak-thought sehingga masih ada peluang untuk disempurnakan. Dan, ketika, konsep itu sudah sempurna, sejatinya juga merupakan weak-thought. Maka proses penyempurnaan terus berlangsung tanpa henti, tanpa batas.

Dengan karakter konsep filsafat yang dinamis ini saya merumuskan konsep pancajati yang menempatkan karakter dinamis sebagai yang paling utama.

Konsep Pancajati

Lima karakter kebenaran sejati, saya rangkum, menjadi pancajati. Pertama, karakter kebenaran adalah dinamis. Kebenaran konsep filsafat, misalnya, bersifat dinamis. Konsep yang benar untuk hari ini, di tempat ini, bisa berubah berdasar ruang dan waktu. Begitu juga kebenaran sains terus berubah secara dinamis. Klaim kebenaran dogmatis perlu terus diselidiki.

Kedua dan ketiga, karakter kebenaran adalah merupakan hasil verifikasi berdasar cakrawala tertentu. Klaim terhadap suatu kebenaran perlu diverifikasi. Misal kebenaran pernyataan rasional perlu diverifikasi berdasar aturan yang berlaku dalam cakrawala rasional. Begitu juga kebenaran empiris perlu diverifikasi secara empiris dengan standar yang berlaku pada cakrawala sains misalnya.

Tentu saja, hasil verifikasi bisa saja afirmasi atau negatif. Verifikasi dengan standar cakrawala yang berbeda, berpeluang, memberikan hasil yang berbeda. Pernyataan bahwa matahari terbenam setiap 24 jam benar untuk penduduk di bumi. Sedangkan bagi orang yang berada di bulan atau Mars, misalnya, akan memberikan hasil verifikasi yang salah. Hal ini disebabkan oleh konteks cakrawala pembahasan yang berbeda.

Keempat dan kelima, karakter kebenaran bergantung kepada interpretasi dan pengalaman. Verifikasi kebenaran suatu konsep tergantung kepada cakrawala. Sementara, cakrawala itu sendiri berkembang dari pengalaman dan interpretasi masing-masing individu. Karena pengalaman setiap orang adalah dinamis maka kebenaran itu juga dinamis.

Apa jawaban pancajati terhadap pertanyaan batas-batas filsafat? Batas-batas filsafat adalah dinamika itu sendiri. Dengan demikian, batas-batas filsafat adalah tidak ada. Selama manusia terus bergerak dinamis maka filsafat juga ikut dinamis.

Kesimpulan Batas Filsafat

Sebagian besar pembahasan kita tentang batas filsafat menguatkan bahwa batas-batas filsafat adalah tidak ada. Sedikit berbeda adalah Russell. Di satu sisi, Russell setuju bahwa filsafat tidak ada batas dengan melakukan kajian kritik, di sisi lain, filsafat dibatasi oleh penemuan sains yang sudah terkonfirmasi dengan baik.

Russell sendiri adalah pendiri aliran filsafat terbesar di dunia yaitu filsafat analytic yang banyak berkembang di US, UK, Austria, Australia, dan lain-lain. Sehingga, keyakinan bahwa filsafat, di satu sisi, dibatasi oleh empirisme ilmiah, diyakini secara luas. Di era kontemporer ini, filsafat analytic mengembangkan banyak pemikiran spekulatif berdasar hasil riset empiris terbaru. Dengan fakta ini, bahkan kita bisa mengatakan bahwa batas-batas filsafat adalah empirisme sebagai titik berangkat dan sekaligus sebagai titik akhir.

Sains empiris paling maju saat ini, salah satunya, adalah fisika. Mari kita coba mengkaji, salah satu, penemuan paling hebat yaitu fisika quantum atau mekanika quantum. Fisika quantum secara khusus mendalami penelitian tentang partikel-partikel subatomik semisal elektron, kuark, foton, dan lain-lain. Fisika quantum berbeda dengan pendahulunya yaitu fisika klasik Newton. Dalam pandangan fisika klasik, alam semesta ini diatur oleh aturan yang determiistik, semisal hukum Newton. Sementara, fisika quantum justru menyatakan bahwa alam semesta, terutama subatomik, bersifat tidak deterministik.

Sifat tidak deterministik ini membingungkan para peneliti. Terjadi beragam interpretasi terhadap quantum, dan alam semesta. Pertama, interpretasi Copenhagen menyatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa memastikan alam quantum. Kita hanya bisa estimasi secara probabilistik – karena benar-benar tidak deterministik.

Kedua, interpretasi hidden-variable, yang didukung Einstein, menyatakan bahwa kita tidak bisa memprediksi quantum secara pasti karena masih ada yang tersembunyi, saat ini. Suatu saat nanti, jika hidden-variable itu sudah terungkap maka kita akan bisa memprediksi quantum dengan tepat. Akhir abad 20, teorema Bell berhasil membuktikan bahwa interpretasi hidden-variable adalah salah. Tetapi, para pendukungnya, tampaknya, masih tetap bersikeras hendak menemukan hidden-variabel itu.

Ketiga, interpretasi multi-world yang menyatakan bahwa sifat tidak deterministik itu hanya karena kita melihatnya di satu dunia ini. Sejatinya, semua prediksi quantum itu terjadi seluruhnya secara deterministik di banyak dunia, multi-world. Hanya saja, bagian mana yang terjadi dunia ini, dan bagian mana yang terjadi di dunia lain tampak tidak deterministik. Jika kita melihat dari seluruh dunia yang ada maka kejadian itu adalah deterministik. Interpretasi multi-world ini tampak menarik. Hanya saja kita sulit verifikasi keabsahannya.

Keempat, interpretasi runtuh-spontan yang menyatakan bahwa terjadi keruntuhan secara spontan. Sehingga, bila kita memprediksi dalam rentang waktu yang cukup lama akan tampak tidak deterministik. Sedangkan bila kita mengetahui kondisi sesaat sebelum “kolaps” maka kita akan bisa memastikan arah “kolaps” tersebut. Karena kolaps itu terjadi spontan maka tidak cukup waktu bagi kita untuk mengamati – apalagi memprediksinya. Bagi para peneliti, dan pengamat, akan tetap tampak tidak deterministik.

Dari uraian di atas, tampak bahwa sains empiris, semisal fisika, tidak punya batas deterministik. Batas penelitian fisika quantum adalah tidak ada batas, tidak deterministik. Apa lagi penelitian sains sosial, lebih luas, dan lebih tidak deterministik lagi.

Sehingga, meski pun Russell membatasi filsafat dengan empirisme, hasil akhirnya, tetap saja, batas-batas filsafat adalah tidak ada. Sekali lagi, kita bisa menyimpulkan bahwa batas-batas filsafat adalah tidak ada.

Lalu, apa manfaatnya kita mengkaji filsafat yang tanpa batas itu? Manfaat filsafat akan kita bahas di bagian berikutnya.

Batas Cinta dan Cantik

Setelah kita menyelidiki batas filsafat, kini gilirannya, kita membahas batas cinta dan cantik.

Kita bisa mengira batas dari cinta adalah benci, tidak adanya cinta. Wajar kita berpikir begitu. Sayangnya, dalam sejarah, sedikit sekali para pemikir dunia mengkaji tentang benci. Para pemikir dunia justru lebih banyak membahas tentang cinta itu sendiri.

Ada apa dengan benci?

Tidak apa-apa dengan benci. Karena benci, sejatinya, adalah tidak ada. Benci adalah tidak adanya cinta. Karena semua realitas yang ada adalah cinta atau manifestasi dari cinta maka benci itu tidak ada. Dengan demikian, pernyataan bahwa batas dari cinta adalah benci sama maknanya dengan batas dari cinta adalah tidak ada. Pada bab berikutnya, kita membahas cinta dengan lebih mendalam.

Sedangkan batas dari cantik, kita mengira, adalah tidak cantik. Tetapi manifestasi dari cinta adalah selalu cantik. Sehingga semua yang ada selalu cantik. Dengan demikian, pernyataan bahwa batas dari cantik adalah tidak cantik sama artinya dengan batas dari cantik adalah tidak ada. Dalam dua bab berikutnya, kita akan membahas tentang cantik dengan lebih mendalam.

Kita bisa menyimpulkan: batas cinta dan cantik adalah tidak ada. Cinta dan cantik, sama-sama, tidak punya batas.

Lanjut ke Manfaat Filsafat
Kembali ke Philosphy of Love

Blended Learning: Optimisme Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan berjalan dengan memikul beban teramat berat akibat pandemi. Sejatinya, semua sisi kehidupan umat manusia, saat ini, sama-sama terimbas dampak pandemi. Dunia pendidikan adalah salah satu bidang yang amat berat kesulitannya. Untungnya, teknologi digital, saat ini sudah berkembang pesat. Maka kita punya harapan besar untuk bisa membangun kembali dunia pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital dan teknologi online secara bijak. Blended learning menjadi salah satu harapan di dunia pendidikan.

Berikut ini saya sajikan, dalam bentuk tanya-jawab wawancara, beberapa ide tentang blended learning.

Tanya (T): Di saat pandemi ini, banyak siswa dan sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran secara daring (online). Paman APIQ sendiri sudah merintis model pembelajaran online lebih dari 20 tahun. Bagaimana tanggapan paman dengan situasi seperti ini? Dan, apakah itu bisa kita sebut sebagai blended learning?

Jawab (J): Benar, saat ini, kita berada dalam situasi sulit pandemi. Di satu sisi, benar-benar menyulitkan bagi siswa, guru, orang tua, sekolah, dan negara. Di sisi lain, kesulitan ini, justru menjadi peluang besar bagi kita untuk melejitkan dunia pendidikan Indonesia.

Saya akan sedikit cerita pengalaman saya bereksperimen dalam blended learning di tahun 2000. Saat itu, internet masih susah. Di sekolah belum ada internet. Di kampus hanya ada internet di tempat-tempat khusus, misal lab komputer. Di dunia bisnis, hanya perusahaan tertentu yang terhubung dengan internet. Dan, tentu saja, handphone (mobile phone) masih terbatas dan mahal.

Dengan keterbatasan teknologi semacam itu, saya mencoba blended learning dengan menggabungkan proses pembelajaran konvensional dan proses pembelajaran memanfaatkan teknologi internet.

Saat itu, saya hanya memanfaatkan email (surel) dan web untuk pembelajaran. Di luar dugaan, siswa begitu antusias bisa belajar melalui internet. Saya perhatikan siswa begitu senang dengan hanya mempunyai akun email. Dan, lebih gembira lagi, email itu bisa mereka manfaatkan untuk belajar.

Situasi berbeda dengan saat ini. Beberapa anak justru ada yang terbebani karena beratnya belajar secara online. Mereka bosan dan lelah. Hasil pembelajaran tidak maksimal. Kita perlu solusi yang tepat untuk situasi ini. Padahal teknologi justru makin canggih dan mudah di masa kini.

T: Dengan pengalaman Paman seperti itu maka apakah blended learning di masa lalu berbeda dengan blended learning di jaman sekarang?

J: Tapat, selalu berbeda antara blended learning masa lalu dan masa kini. Selalu ada dinamika. Bahkan untuk masa depan, blended learning, saya yakin, beda juga. Secara umum, blended learning adalah proses pembelajaran yang menggabungkan proses pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis teknologi digital online. Karena terjadi lompatan “disrupsi” teknologi maka juga akan ada lompatan bentuk model blended learning.

T: Kita menyaksikan perubahan teknologi dan perubahan perilaku para siswa, terutama gen milenial. Bagaimana Paman melihat perkembangan blended learning?

J: Pengamatan yang bagus itu: perubahan perilaku siswa. Dalam menentukan pilihan model blended learning, kita perlu menempatkan siswa sebagai yang paling utama. Kemudian, kita mempertimbangkan berbagai pilihan teknologi mutakhir yang tersedia. Dan, tentu saja, kita perlu mendesain kurikulum yang tepat, khususnya di masa pandemi ini. Saya mengusulkan kurikulum yang “sedikit tapi menggigit.”

Perkembangan blended learning, saat ini, menurut saya, kita belum menemukan model yang paling tepat. Perlu kajian lebih mendalam.

Pada tahun 2008an saya mencoba blended learning berbasis video, misal melalui youtube. Meski kita bisa mengakses youtube ternyata kecepatan internet di Indonesia belum memadai waktu itu. Saya bergeser ke web. Dan, tahun 2008, akses web di Indonesia, tepatnya Bandung, sudah bagus. Saya mengajar mahasiswa melalui tatap muka di kelas, dengan bantuan media elektronik tentunya. Mahasiswa berdiskusi dengan saya dan mahasiswa lainnya secara langsung. Mereka, para mahasiswa, presentasi di depan kelas.

Di saat yang sama, saya meminta para mahasiswa mengirimkan semua portofolio mereka ke web saya. Semua tugas kuliah, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester, saya minta untuk dikirimkan ke web. Semua berjalan dengan lancar. Saya memberi kemudahan kepada mahasiswa, mereka, bisa memperbaharui (update) tugas-tugas mereka kapan saja. Bagi saya, sebagai dosen, memudahkan untuk mengevaluasi hasil belajar para mahasiswa. Tambahan lagi, hasil belajar mahasiswa ini bisa dibaca oleh seluruh civitas akademika ITB, bahkan oleh siapa pun.

Baru pada tahun 2012, saya perhatikan akses internet untuk media video menjadi mudah diakses di Indonesia, khususnya Bandung.

T: Apakah model blended learning yang sukses di satu tempat bisa diterapkan untuk tempat lain?

J: Saya kira tidak bisa. Misalnya, tahun 2012, di Bandung sudah mudah untuk akses video melalui internet. Sementara, di desa, barangkali masih sulit. Bahkan di tahun ini, 2021, akses internet di desa berbeda jauh dengan akses di kota. Saya pernah mengkaji nilai ketimpangan berbagai wilayah di Indonesia dalam akses internet.

T: Dengan perbedaan setajam itu dalam akses teknologi, bisa disebut sebagai ketimpangan, bagaimana kita bisa menerapkan blended learning dengan sukses dalam skala nasional?

J: Sulit, tapi kita bisa. Saya optimis. Dunia pendidikan Indonesia akan makin maju dengan menerapkan blended learning yang tepat. Ditambah lagi, kita punya menteri pendidikan, Mas Nadiem, yang sangat kuat dalam teknologi digital.

Model-Model Blended Learning

T: Apakah ada model blended learning yang paling tepat untuk Indonesia?

J: Ada banyak model blended learning. Tampaknya, tidak ada kepastian model mana yang paling cocok untuk Indonesia. Agar berhasil, menerapkan blended learning, kita perlu mengkajinya, menyusun strategi, menerapkan, dan kemudian melakukan koreksi secara dinamis.

T: Menurut Paman, model yang mana paling tepat bagi Indonesia?

J: Model yang paling tepat adalah yang paling memberikan hasil terbaik tergantung dengan kondisi siswa, tenaga pendidik, dan sosial budaya. Untuk Indonesia, saya kira, kita perlu membagi Indonesia menjadi 3 wilayah atau lebih. Misal, wilayah A adalah wilayah yang di desa, di mana, sulit akses internet, bahkan mungkin saja sulit mendapat akses energi listrik. Bisa jadi di wilayah tersebut lebih kuat bahasa daerah dari bahasa Indonesia, apa lagi, bahasa Inggris.

Wilayah B adalah wilayah semacam kota kecil semisal kota, kabupaten, atau kecamatan. Umumnya, wilayah B sudah tersedia akses internet. Akses listrik terjamin. Namun masih ada beragam kendala teknis di wilayah B ini.

Sementara wilayah C adalah wilayah kota besar semisal Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan lainnya. Akses internet sudah mudah dan tersedia banyak layanan. Sumber-sumber pembelajaran juga tersedia dalam jumlah berlimpah di kota besar. Namun, tentu saja, ada masalah khas bagi orang-orang di kota.

Masing-masing dari wilayah di atas akan membutuhkan model blended learning yang bisa saja berbeda-beda.

T: Nah, seperti apa itu lebih detilnya, Paman?

J: Mudahnya, secara prinsip, ada dua model blended learning: utamakan tatap muka (face-to-face-driver) dan utamakan online (online-driver).

Hipotesis awal kita adalah wilayah A, sekolah yang di desa, akan lebih tepat menerapkan model utamakan-tatap-muka. Pembelajaran secara umum, sebagian besar berlangsung tatap muka. Sedangkan hanya sebagian kecil yang belajar melalui online atau media digital.

Sementara wilayah C, kota besar, akan lebih tepat dengan model utamakan-online.

T: Tetapi, sekarang, sedang pandemi, apakah bisa mengutamakan tatap muka?

J: Betul. Pandemi harus menjadi pertimbangan utama. Kita seperti dipaksa untuk menerapkan model utamakan-online. Apakah harus seperti itu? Saya kira tidak. Memang butuh kajian mendalam untuk menjawab lebih tepatnya.

Sebelum itu, mari kita diskusikan dulu beberapa alternatif model blended learning. Rotation (rotasi) di mana siswa berganti jadwal secara periodik antara kelas tatap muka dengan kelas online.

Flex (lentur) di mana sebagian besar dari kurikulum disampaikan secara online dan guru siap sedia bila sewaktu-waktu diperlukan untuk tatap muka atau memberi dukungan tertentu.

Labs di mana sebagian besar kurikulum disampaikan secara online atau digital di ruang laboratorium atau ruang khusus. Biasanya tetap dilaksanakan kelas tatap muka di waktu yang terjadwal.

Self-blend (mandiri) di mana siswa memilih sendiri kebutuhan belajar secara online sesuai tingkat dan kemajuan masing-masing.

Kita bisa juga membuat kombinasi dari model-model di atas sehingga membentuk model yang baru. Bahkan kita juga bisa berkreasi mendesain model blended learning yang baru, yang unik, yang khas dengan wilayah kita sendiri.

Saya sendiri meyakini bahwa konsep blended learning ini bersifat terbuka. Artinya, penggunaan teknologi bisa saja berubah sesuai perkembangan jaman. Termasuk, bila wilayah sekolah dekat dengan hutan, barangkali bisa saja belajar itu di-blend dengan pembelajaran di hutan, pembelajaran di sungai, di sawah, atau lainnya.

Kembali kepada situasi pandemi, apakah kita dipaksa untuk sepenuhnya belajar secara online? Saya melihatnya, kita dipaksa untuk menerapkan blended learning. Dari pengalaman blended learning, yang terpaksa karena pandemi ini, kita memperoleh banyak pelajaran dan pengalaman yang menarik.

T: Pelajaran penting apa saja yang kita peroleh selama menerapkan blended learning di masa pandemi?

J: Pertama, kita jadi tahu bahwa penyebaran teknologi di negara kita memang timpang. Di wilayah kota besar, tersedia hampir semua teknologi yang diperlukan. Sementara, di desa-desa pelosok, sangat terbatas kemampuan akses teknologi. Kedua, teknologi saja tidak cukup menjadi solusi. Ambil contoh di kota, yang teknologinya memadai, proses dan hasil belajar secara online masih banyak masalah. Kita perlu pertimbangan dan strategi yang lebih luas.

Ketiga, budaya digital menjadi modal utama untuk maju. Guru dan orang dewasa banyak yang gagap dengan teknologi digital yang baru. Sementara, anak-anak milenial cenderung lebih mudah beradaptasi. Bagaimana pun ada resiko-resiko baru di dunia digital termasuk penipuan dan bulying. Keempat, kita perlu komitmen kuat untuk menjalankan blended learning. Terutama komitmen anggaran untuk kegiatan belajar mengajar yang masih baru ini. Kelima, kita perlu merenungkan kembali apa makna hakiki dari pendidikan sejati.

Teknologi Blended Learning

T: Barangkali kita fokus, untuk kali ini, ke masalah teknologi. Apa teknologi terbaik untuk blended learning?

J: Semua teknologi adalah baik untuk blended learning dan semua teknologi adalah buruk untuk blended learning. Dalam hal ini, teknologi bagai pedang bermata dua, bisa membantu, di saat yang sama, bisa membuat luka. Sehingga yang terpenting adalah bagai mana kita memanfaatkannya.

T: Bisakah disebutkan teknologi tertentu sebagai contohnya?

J: Kita bisa membagi teknologi menjadi sinkron dan asinkron (tidak sinkron). Sinkron adalah teknologi yang memfasilitas kegiatan belajar mengajar secara sinkron yaitu waktu guru mengajar, harus secara bersamaan, siswa belajar dengan mendengar dan melihatnya. Misal Zoom, Meet, video call termasuk sinkron. Sedangkan asinkron justru waktu guru mengajar tidak serentak dengan waktu belajar siswa. Misal guru membuat rekaman mengajar untuk kemudian di-share ke siswa.

Belajar secara konvensional, tatap muka di kelas, adalah belajar secara sinkron. Maka ketika pandemi, belajar secara online, banyak yang menerapkan secara sinkron juga. Hal ini berdampak kelelahan yang luar biasa. Belajar di kelas selama 2 jam tatap muka terasa baik-baik saja bagi siswa. Sementara, belajar online 2 jam, dengan menatap layar hp, tentu sangat melelahkan.

Kita perlu lebih mendayagunakan kekuatan belajar asinkron. Guru bisa membuat materi lebih awal. untuk kemudian, siswa bisa belajar dengan rentang waktu yang lebih fleksibel.

T: Apakah sekolah, atau kementrian, perlu menciptakan teknologi khusus untuk blended learning?

J: Ide menarik itu. Saya kita perlu kajian khusus untuk menjawabnya. Dugaan saya, kementrian perlu menciptakan teknologi khusus untuk sebagian kecil blended learning. Sementara, sebagian besar blended learning memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia secara umum.

Budaya Digital

T: Ketika teknologi saja tidak memadai sebagai solusi maka apa saja yang harus kita siapkan untuk suksesnya blended learning?

J: Salah satu yang paling penting adalah budaya belajar mengajar di dunia digital. Para siswa, anak-anak milenial, terlahir dalam dunia digital. Sehingga para siswa dengan cepat bisa beradaptasi dengan blended learning. Sementara para guru, terutama yang senior, bisa saja tergagap oleh teknologi baru.

T: Jika anak-anak milenial bisa beradaptasi dengan teknologi, bagaimana mereka bisa bosan dalam belajar online?

J: Pengamatan yang bagus. Kesalahan bukan pada siswa. Tetapi kepada model belajar online itu sendiri. Banyak kejadian, yang menganggap belajar online itu hanya memindahkan model belajar konvensional ke media online digital. Tentu saja itu akan gagal. Kita butuh budaya digital dalam blended learning.

T: Seperti apa budaya digital itu?

J: Pertama, kita, sebagai guru, perlu punya rencana dan strategi untuk suksesnya blended learning. Misal, kita menetapkan, berdasar beberapa kajian, berapa porsi proses belajar sinkron dan asinkron. Perkiraan saya, seharusnya, lebih banyak asinkron. Dengan demikian siswa punya pilihan belajar lebih fleksibel.

Kedua, bagaimana kita bisa mengajar dengan efektif. Bukan hanya memberi pertanyaan atau memberi tugas ke siswa. Banyak yang terjadi adalah guru hanya memberi pertanyaan dan tugas ke siswa. Tentu saja siswa, dan orang tua, merasa terbebani.

Ketiga, bagaimana kita bisa memastikan siswa berhasil mengakses proses pembelajaran. Dan “program promosi” apa yang bisa kita lakukan untuk terus menjaga minat siswa agar aktif dengan pembelajaran online.

Dan masih banyak yang bisa perbaiki. Salah satu yang penting adalah membuka saluran feedback dari siswa dan orang tua – serta masyarakat umum. Dengan feedback ini, kita bisa terus memperbaiki blended learning.

Komitmen Anggaran

T: Mempertimbangkan perlunya proses transformasi budaya dan pengembangan teknologi maka berapa besar anggaran untuk blended learning?

J: Untuk skala lokal atau nasional?

T: Kedua-duanya, lokal dan nasional.

J: Baik, mudah saja untuk menjawab itu. Anggaran yang kita perlukan adalah perlu kajian dulu.

Saya kira, anggarannya memang cukup besar. Bila kita berhasil menerapkan blended learning maka anggaran besar itu tidak masalah. Karena hasil dari blended learning adalah mengantarkan generasi muda ke masa depan cerah. Jauh lebih bernilai dari anggaran yang dikeluarkan.

Lagi pula, blended learning akan berhasil menghemat banyak hal dan memberikan efisiensi yang tinggi. Beberapa lembaga bisnis sudah mecoba menerapkan blended learning dengan baik dan menguntungkan. Memang, untuk layanan umum pendidikan kita perlu lebih cermat lagi. Saya yakin, kita bisa.

Ada Bersama Siapa: Aku, Kau, dan Dia

Bersama siapa Anda hidup? Menentukan kualitas hidup Anda – dan kualitas mati Anda.

Kita, selalu hidup bersama alam semesta, bersama yang lain, bersama masalah, bersama Tuhan, dan bersama dunia digital. Sikap kita, cara pandang kita, dalam hidup bersama akan menentukan kualitas akhir kita. Kabar baiknya, kita bisa memilih cara pandang itu.

Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali

Hidup Bersama Harta

Tampak jelas, hidup dalam kecukupan harta adalah suatu kebahagiaan. Benarkah begitu?

Ketika masih anak-anak, rajinlah sekolah. Lanjut kuliah, lulus dengan nilai terbaik. Bekerja di kantor dengan gaji tinggi. Hidup bahagia bersama harta. Bukankah itu cita-cita mulia? Dan, apalagi, seluruh hidup kita jalani dengan taat kepada hukum yang berlaku. Bahagialah hidupmu.

Nyatanya, hidup bersama harta – dan jabatan – tidak selalu mudah. Kita sering membaca berita orang kaya ditangkap polisi karena narkoba – cantik pula dia. Bahkan sepasang pangeran dan putri Inggris ada yang dengan sengaja mengundurkan diri sebagai anggota kerajaan. Padahal, pangeran dan putri itu, tiap tahun dijamin seluruh kebutuhannya. Sekitar 30 milyard rupiah per tahun. Atau hampir 3 milyard per bulan mereka terima. Tetapi hidup bersama harta tidak dijamin bahagia. Mereka memilih bekerja sebagai warga biasa, mendapat uang dari jerih payahnya, lebih bermakna.

Bagaimana pun ada keunggulan hidup sebagai orang kaya. Sebagai pangeran, Anda bisa sewaktu-waktu, melepas gelar pangeran itu. Kemudian menjadi warga biasa. Sementara rakyat biasa, tidak bisa tiba-tiba mau jadi pangeran. Begitu juga orang kaya, bisa sewaktu-waktu, menghibahkan hartanya 2 T. Lalu menjalani hidup sebagai warga biasa. Sedangkan, orang miskin, tidak bisa sewaktu-waktu menjadi orang kaya.

Baik orang kaya atau pun orang tidak berpunya harta, mereka sama-sama, bisa hidup bahagia. Bisa juga, karena harta, menjadi sengsara.

Hidup Bersama Cinta

Anda yang sedang jatuh cinta barangkali sepakat dan percaya: hidup bersama cinta adalah yang paling bahagia.

Benar. Cinta menjadikan hidup lebih bahagia. Tiap detik menjadi penuh makna, bertabur cinta. Ke mana pun arah mata memandang, hanya ada cinta. Betapa bahagianya.

Dalam kadar yang lebih lembut, cinta menampakkan diri dalam bentuk hobi. Berbahagialah Anda yang bekerja sesuai hobi. Setiap hari, melakukan hobi digaji tinggi. Tampaknya, ideal sekali.

Orang yang hobi sepak bola, bekerja sebagai pemain bola. Nikmat luar biasa. Tapi, kita bisa membaca pengalaman bagaimana kisah akhir para atlet tingkat dunia? Ada yang terjerat narkoba. Ada yang terlibat kriminal. Dan ada macam-macam kesulitan.

Cinta dalam asmara barangkali lebih bahagia. Kita, juga, sering mendengar adanya cinta segitiga. Ada sang pendusta. Ada pengkhianat cinta. Yang awalnya, cinta, menjadikan hidup bahagia, berubah menjadi petaka. Hidup merana tidak ada obatnya.

Cinta bagai pedang bermata dua. Bisa bikin bahagia atau petaka. Bagaimana pun, setiap orang berhak hidup bahagia bersama cinta.

Hidup Bersama Tuhan

Hidup bersama Tuhan adalah cita-cita tertinggi bagi umat beragama. Sementara, mereka yang tidak beragama, harus merumuskan sendiri konsep hidup bersama tuhan.

Manusia yang mendaki jalan menuju hidup bersama Tuhan akan berhasil meraih puncaknya. Dalam kebersamaan Tuhan, tenggelam dalam cinta, hanyut dalam cinta, berenang dalam cinta.

Muncul kesadaran tertinggi. Akulah Tuhan. Akulah Kebenaran. Tingkat kesadaran tertinggi kedua muncul. Dialah Tuhan. Dialah Kebenaran. Dan, terakhir, tingkat kesadaran tertinggi sejati muncul. Engkaulah Tuhan. Engkaulah Kebenaran.

Al Ghazali dalam “Singgasana Bijaksana” menyatakan: “Maka dengan-Ku mendengar, dan dengan-Ku melihat… maka tiada lagi dualisme. Maka jika saja pijakan Anda kuat dengan rahasia yang mantap, sehingga dapat menundukkan “mabuk” Anda, Anda akan berkata, “Huwa” (Dia). Dan ketika kondisi ektase telah menguasai dan melampaui batas ketetapan, Anda akan berkata, “Anta” (Engkau).”

Akulah Kebenaran

Orang-orang suci berkata jujur ketika mengatakan, “Akulah Kebenaran.” Tidak masalah dengan orang suci itu. Tidak ada masalah pula dengan murid-murid terbaiknya.

Masalah muncul ketika orang awam mengatakan, “Akulah kebenaran.” Klaim sepihak yang bisa membawa bencana bagi masyarakat. Karena aku benar maka pihak lain adalah salah. Pihak lain adalah kafir, pihak lain adalah sesat. Semua yang berbeda dengan aku, pihak yang tidak sepaham denganku, adalah salah. Mereka harus diluruskan. Jika tidak bisa diluruskan maka dipatahkan saja.

Untung saja ada aturan dan undang-undang untuk menjaga kehidupan bersama. Meski mereka mengklaim yang paling benar, mereka harus tetap taat kepada aturan dan undang-undang. Tetapi mereka meng-klaim bahwa aturan dan undang-undang itu sendiri batil, tidak sah. Maka mereka tetap berusaha menegakkan klaim kebenaran mereka dengan beragam cara. Bahkan mereka rela mengorbankan apa saja, termasuk nyawa orang lain dan dirinya, demi klaim kebenaran sepihak itu.

Kita perlu lebih cermat menghadapi problem klaim kebenaran ini.

Dialah Kebenaran

Dia telah memberikan petunjuk melalui kitab dan alam semesta. Dia bermanifestasi di seluruh jagad raya. Tanda-tanda kemuliaanNya ada di seluh penjuru semesta. Ke mana pun kita menghadap hanya ada kebenaranNya.

Alangkah indahnya, segala sesuatu adalah manifestasiNya.

Masalah bisa saja muncul ketika ada mereka yang berbeda. Mereka yang seharusnya adalah manifestasiNya, bergeser menjadi sesuatu yang berbeda. Mereka adalah sekawanan babi. Mereka adalah sekawanan anjing. Mereka adalah najis. Mereka, mengapa jadi bukan manifestasi? Mereka adalah orang kafir. Mereka adalah orang sesat. Sebuah klaim kebenaran yang berbahaya.

Mereka yang tidak sepaham dengan – interpretasi – kitab saya adalah sesat. Mereka harus diluruskan.

Sekali lagi, kita beruntung sudah ada aturan dan undang-undang untuk menjaga kedamaian hidup bersama. Saling respek, saling hormat antara sesama perlu terus kita masyarakatkan. Dan, mereka adalah manifestasiNya.

Engkaulah Kebenaran

Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau.

Engkau selalu hadir di depan mata. Ke mana pun aku melangkah, selalu berlimpah anugerahMu. Kitab suci adalah petunjukMu. Alam raya adalah manifestasiMu. Masyarakat luas adalah pancaran cahayaMu.

Indahnya, selalu menatap karuniaMu. Bahagianya selalu dialog bersamaMu. Asyiknya selalu berteman denganMu.

Ketika covid datang, itu adalah petunjuk dariMu. Pesan apa yang hendak Engkau sampaikan melalui pandemi? Engkau selalu menyapa dan membimbingku. Pandemi adalah ajakanMu untuk dialog selalu.

Koruptor ada di negeri ini, berulang kali. Pesan apa yang Engkau kirimkan? Koruptur itu adalah makhlukMu. Aku adalah hambaMu. Engkau mengajakku untuk membangun sistem sosial yang adil makmur. Yang mencegah koruptor masuk kantor. Di negeri Indonesia yang tercinta. “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang lemah.”

Kesehatan adalah anugerahMu. Kebahagian adalah karuniaMu. Hidupku dan matiku adalah untukMu.

Gini Ratio Indonesia 2021

Rasio Gini atau indeks Gini merupakan satu angka yang menggambarkan ketimpangan dalam suatu masyarakat. Makin besar angka rasio Gini G maka makin timpang, makin terjadi kesenjangan di masyarakat tersebut, makin buruk. Publikasi terbaru BPS, pada bulan Juli 2021, menyatakan rasio Gini Indonesia adalah G = 0,384.

Angka G = 0,384 itu baik atau buruk?

Angka 0,384 ini adalah lebih buruk dari Maret 2020, dan lebih buruk lagi dari tahun 2019. Angka tersebut sama persis dengan September 2018, dan lebih baik dari September 2020 yang G = 0,385.

Batas Baik Buruk Rasio Gini

Wajar bagi kita bertanya, “Berapa batas rasio Gini bisa dikatakan baik atau buruk?”

Ada macam-macam jawaban untuk pertanyaan itu. Namun, semua jawaban itu didasarkan pada argumen yang tidak langsung. Maksudnya, baik dan buruknya nilai rasio Gini didasarkan pada interpretasi masing-masing pengamat. Bukan berdasar nilai Gini itu sendiri.

Misalnya, SDG Report memberi batas bahwa nilai G di bawah 0,27 adalah bagus. Maka nilai G di atas 0.27 bisa dikatakan buruk. Sedangkan Indonesia G = 0.384 adalah di atas 0,270. Tentu, kita tidak bisa mengatakan bahwa Indonesia baik-baik saja.

Baik Secara Langsung

Saya merumuskan nilai ketimpangan yang bisa kita interpretasikan secara langsung: apakah suatu ketimpangan itu baik atau buruk. Nilai ketimpangan n merupakan pangkat (power) dari polinom yang merupakan estimasi dari kurva Lorenz.

Buruk adalah n di atas 2,2 yang bermakna 25% penduduk termiskin berpendapatan kurang dari 19% rata-rata pendapatan penduduk (pendapatan perkapita). Misal, pada waktu tertentu, pendapatan perkapita Indonesia adalah 4,5 juta rupiah per bulan. Maka orang miskin di Indonesia berpenghasilan kurang dari 19% x 4,5 juta = 855 ribu rupiah per bulan. Atau per hari 28 ribu rupiah. Memang buruk kan?

Baik adalah n di bawah 1,8 yang bermakna 25% penduduk termiskin berpenghasilan lebih dari 33% pendapatan perkapita. Untuk contoh, pendapatan perkapita 4,5 juta, maka pendapatan orang miskin adalah 33% x 4,5 juta = 1,5 juta rupiah per bulan. Atau setara dengan 50 ribu rupiah per hari. Masih belum bagus? Tapi tidak terlalu buruk kan?

Jika suatu keluarga terdiri dari 4 orang maka penghasilan mereka 1,5 juta x 4 = 6 juta rupiah per bulan. Patut untuk kita kejar.

Menghapus Ketimpangan

Ada banyak cara menghapus ketimpangan. Saya mengusulkan tiga paling utama: pemerataan pendidikan berkualitas tinggi ke seluruh penjuru, dukungan kuat subtansial ke pengusaha kecil, dan penciptaan struktur yang adil secara politik dan ekonomi.

Sementara, argumen untuk menghapus ketimpangan adalah beragam. Karena penyebab ketimpangan juga beragam dan berbeda-beda. Maka kita perlu mengkaji masing-masing kasus dengan teliti dan merumuskan solusi. Saya rasa John Rawls sudah merumuskan prinsip dan praktek sistem yang adil melalui bukunya “A Theory of Justice.” Sementara, T M Scanlon melanjutkan kajian untuk menghapus ketimpangan.

Setidaknya, ada 6 alasan mengapa ketimpangan perlu dihapus.

  1. Melanggar Kesetaraan

Daerah sekitar rumah saya berhak mendapat lampu penerangan jalan raya dari pemerintah. Sementara, daerah sebelah desa saya juga berhak. Namun, hanya daerah sekitar rumah saya saja yang mendapat lampu penerangan jalan raya. Sementara, daerah sebelah desa tidak mendapatkan penerangan. Tentu saja, ketimpangan dan pembedaan semacam itu tidak bisa diterima – dan harus ditolak.

Mengapa daerah dekat rumah saya mendapat lampu penerangan jalan? Karena di daerah saya ada yang tinggal seorang pejabat tinggi. Tentu, hal tersebut tidak bisa dibenarkan sebagai dalih pembedaan.

Pemerintah berkewajiban memberikan penerangan jalan raya secara merata kepada seluruh wilayah tanpa pembedaan. Seandainya kemampuan melaksanakan itu terbatas maka perlu disusun strategi bertahap yang berlaku adil bagi seluruh warga. Bukan mempertimbangkan karena lokasi tertentu adalah tempat tinggal seorang pejabat.

Kewajiban yang sama, bagi pemerintah misalnya, memberikan layanan pendidikan dan kesehatan ke seluruh warga.

2. Merendahkan Status

Ketimpangan atau pembedaan bisa merendahkan status tertentu. Misalkan tindakan rasis harus dihapus, harus ditolak. Rasis, membedakan seseorang berdasar ras. Jabatan tertentu hanya bisa diisi oleh orang dari suku tertentu. Sementara warga dari suku lain tidak boleh menduduki jabatan tersebut.

Di luar negeri, barangkali masih banyak perlakuan rasis. Kulit putih mendapat gaji lebih tinggi dari mereka yang berkulit berwarna. Tentu tidak bisa diterima.

Di Indonesia, barangkali ada juga yang mengalami bahwa gajinya lebih rendah dari orang bule. Padahal mereka menyelesaikan pekerjaan yang sama. Bahkan yang warga Indonesia lulusan dari universitas manca yang sama persis dari orang bule itu. Ironisnya, warga Indonesia lulusan S 3 sementara yang bule hanya lulusan S 1. Bagaimana hanya karena mereka bule mendapat gaji lebih tinggi?

Ketimpangan status semacam ini bisa terjadi secara tidak langsung. Tetap saja, harus ditolak. Misalnya merekrut pegawai negeri atau mahasiswa baru berdasar prestasi “ritual ibadah agama A.” Orang yang beragama A punya peluang untuk mendaftar sebagai calon pegawai atau calon mahasiswa. Sementara, orang yang tidak beragama A, tentu saja, tidak layak berprestasi dalam ritual agama A, sehingga tidak layak mendaftar sebagai calon pegawai atau mahasiswa.

3. Orang Kaya Mengendalikan

Orang kaya, dengan kekayaannya, bisa mengendalikan hidup orang miskin. Menjadi lebih parah bila kejadian ini sudah berlangsung turun-temurun. Sehingga bagi orang kaya mau pun orang miskin menganggap dominasi tersebut sebagai hal yang wajar. Padahal, mengendalikan kehidupan orang lain, tentu saja, tidak bisa diterima.

Misal orang super kaya yang mempekerjakan banyak pekerja untuk menjaga rumah orang super kaya tersebut. Orang kaya itu adalah keturunan dari orang tua yang kaya. Sedangkan pekerja itu adalah keturunan dari orang miskin yang dulunya juga pekerja di rumah yang sama. Orang miskin itu mengira bahwa mendapat pekerjaan menjaga rumah orang kaya adalah keberuntungan. Apa lagi orang kaya itu kadang memberi tips dan kebaikan kepada si miskin.

Bahkan si kaya bersedia menyekolahkan anak si miskin dengan syarat mengambil jurusan sesuai arahan si kaya. Si kaya akan membiayai kuliah dari anak si miskin bila mengambil jurusan manajemen. Padahal anak si miskin tidak berminat ke manajemen, dia berminat kuliah di bidang seni. Karena tidak ada biaya kuliah dengan uang sendiri maka si miskin, terpaksa, menerima kuliah di jurusan manajemen.

Tampaknya, perbuatan si kaya adalah baik dengan membiayai kuliah di jurusan manajemen. Benar, itu memang baik. Hanya saja, dari sisi anak miskin, sebagian hidupnya dikendalikan oleh orang lain. Dia berminat seni tapi tidak bisa dilakukan.

Tentu saja, contoh saya di atas adalah contoh yang bernuansa positif – membiayai sekolah anak miskin. Contoh nuansa negatif barangkali bisa kita baca di berita-berita berbagai media. Orang kaya menyuruh orang miskin melakukan pekerjaan yang tidak layak. Si miskin, terpaksa, harus melakukan pekerjaan tidak layak itu. Jika si miskin menolak maka ia akan dipecat. Sementara, sulit sekali mencari kerja di tempat lain.

Ketimpangan perlu ditolak, dihapus, dengan beragam cara.

4. Kompetisi Ekonomi tidak Imbang

Ketimpangan menyebabkan kompetisi di bidang ekonomi menjadi tidak berimbang, menjadi tidak adil. Padahal, kita memerlukan kompetisi yang adil untuk semua warga. Mereka yang bersungguh-sungguh, punya bakat terbaik, dan berjuang keras adalah yang paling berpeluang besar memenangkan kompetisi di bidang ekonomi.

Ilustrasi sederhana dapat memudahkan kita. Mas Adi adalah pemuda kreatif yang berjuang sebagai wirausaha di bidang catering. Menerima pesanan beragam bentuk makanan. Termasuk menerima layanan catering untuk pernikahan dan berbagai macam bentuk pesta. Sedangkan, Mas Catur adalah orang yang sama mirip dengan Mas Adi. Mereka bersaing ketat dalam bisnis catering.

Kadang, Mas Adi menang dalam kompetisi bisnis itu. Tidak jarang, yang menang justru Mas Catur. Mereka bersaing dan tetap berteman.

Peta persaingan berubah ketika bapaknya Mas Catur, yaitu Pak Toni, terpilih menjadi walikota di sana. Orang-orang yang dulu berlangganan ke Mas Adi mulai pindah jadi berlangganan ke Mas Catur. Lebih drastis lagi, beberapa tahun kemudian, Pak Toni terpilih jadi gubernur. Mas Catur memenangkan kompetisi bisnis catering sejak bapaknya terpilih menjadi walikota dan, kemudian, gubernur.

Bagi pelanggan, wajar saja berlangganan ke anak gubernur. Di satu sisi, layanan cateringya memang besaing, dan di sisi lain, jadi lebih dekat dengan pejabat.

Berbagai macam strategi perlu kita kembangkan untuk mengatasi kompetisi ekonomi yang tidak berimbang semacam itu.

5. Kompetisi Politik tidak Imbang

Kompetisi politik, juga, menjadi tidak berimbang disebabkan oleh ketimpangan. Orang super jaya dapat dengan mudah mengendalikan suara politik. Mereka mempengaruhi masyarakat luas untuk memilih sikap politik tertentu. Bahkan, pengaruh orang kaya ini, bisa saja, berupa pengaruh positif. Orang kaya yang sering berbagi kebutuhan pokok kepada orang miskin, pilihan politiknya, lebih mudah mendapat dukungan. Sementara pilihan politik orang miskin nyaris tidak terdengar.

Lebih-lebih, bila orang kaya itu menguasai media sosial dan media konvensional. Mereka bahkan bisa mengendalikan, atau setidaknya mempengaruhi, opini publik. Cara menguasai media sosial mudah saja. Media sosial menerima iklan. Maka dengan uang, orang kaya, bisa membanjiri media sosial dengan iklan politiknya. Tentu saja, iklan politik bisa bersifat jelas, berupa ajakan politik secara langsung. Bisa juga, iklan politik bersifat halus. Seperti bukan iklan politik tetapi mempengaruhi sikap politik. Karena halus, dan lembut, iklan politik ini bisa tayang di media sosial kapan saja meski bukan musim kampanye.

Barangkali kita bisa mencermati salah satu contoh kasus Cambridge Analytic yang menimpa pemlihan presiden US 2016.

Kemampuan teknologi canggih, data sains atau artificial intelligence, memudahkan iklan politik masuk ke dalam hati netizen. Lalu mengendalikan sikap politik netizen. Semua berlangsung seperti wajar-wajar saja. Netizen merasa dirinya punya pilihan bebas dalam politik. Padahal ada kekuatan besar yang mengendalikan sistem politik di dunia digital.

Ketika orang kaya, atau yang didukung oleh orang kaya, memenangkan kursi jabatan politik maka berikutnya, wajar saja, mereka mencari cara untuk mengembalikan biaya politiknya. Akibatnya, kebijakan oleh para pejabat itu akan cenderung menguntungkan pihak-pihak tertentu – melanggar prinsip keadilan.

Kita perlu menemukan strategi untuk mengatasi ketimpangan politik ini.

6. Akibat dari Sistem yang tidak Adil

Dalam banyak argumen, kita bisa menolak ketimpangan karena ketimpangan menyebabkan keburukan – dampak yang tidak adil bagi masyarakat. Sementara itu, argumen kali ini, kita tidak menolak ketimpangan berdasar akibatnya. Kita menolak ketimpangan berdasar pada sebabnya. Kita menolak ketimpangan karena ketimpangan disebabkan oleh sistem yang tidak adil.

Barangkali dengan ilustrasi akan memudahkan kita. Seorang calo menawarkan pekerjaan kepada tukang bangunan dengan gaji harian 100 ribu rupiah per hari. Sementara, calo itu mengambil untung 50 ribu rupiah per hari untuk setiap tukang. Sejatinya, calo itu menerima uang 150 ribu dari kontraktor. Yang 100 ribu dibayarkan untuk tukang dan yang 50 ribu masuk kantong calo itu.

Ada 100 orang tukang yang bekerja di proyek bangunan itu. Tentu saja, ini adalah ilustrasi ketimpangan yang tidak adil. Calo mendapat penghasilan 50 ribu x 100 tukang = 5 juta rupiah per hari. Dalam sebulan, calo memperoleh penghasilan 150 juta rupiah. Sangat timpang dengan penghasilan tukang, 100 ribu x 30 hari, yang hanya 3 juta per bulan.

Kita perhatikan di sini ada penyebab ketimpangan yang harus ditolak. Atas dasar apa calo mengambil uang 50 ribu rupiah kepada setiap orang dari 100 orang tukang? Barangkali, seharusnya, tukang menolak pekerjaan itu. Bisa saja tukang menolak pekerjaan itu. Nyatanya, masih banyak tukang lainnya yang mau menerima pekerjaan dengan gaji 100 ribu itu. Sementara, tukang yang menolak justru sulit mencari pekerjaan di tempat lain.

Mengapa kontraktor harus membayar tukang melalui calo, bukankah, seharusnya, kontraktor bisa membayar langsung kepada tukang? Ada “aturan tidak tertulis” yang tidak bisa dilanggar. Di tempat itu, setiap pekerjaan harus melalui calo. Mereka yang tidak melalui calo akan menanggung akibat buruk tak terhindari. Hal ini, justru menunjukkan adanya sistem yang tidak adil. Maka ketimpangan harus ditolak.

Banyak contoh atau ilustrasi di dunia nyata. Ada seorang hakim senior sebagai pejabat berprestasi. Dia meninggal dunia, pada usia tua, dengan mewariskan hanya sepetak rumah luasnya 60 meter persegi. Dia memang hidup sederhana bersama istrinya. Sementara di tempar lain, di ibu kota, ada banyak hakim muda yang prestasinya masih di bawah hakim senior itu. Hakim muda itu memiliki banyak rumah dengan luas puluhan hektar. Ditambah dengan memiliki banyak mobil mewah. Jelas terjadi ketimpangan, yang harus ditolak. Ketimpangan ini disebabkan oleh sistem yang tidak adil.

Bagaimana pun, menolak ketimpangan harus disertai dengan solusi menawarkan sistem yang adil. Tugas besar, bagi kita semua, untuk merancang sistem yang adil.

Sistem Adil: Kesetaraan dan Perbedaan

Membangun sistem yang adil secara praktis menjadi tugas utama setiap komunitas atau masyarakat. Dalam banyak hal, negara mempunyai tanggung jawab paling besar. Tentu saja, masing-masing warga perlu berpartisipasi aktif sesuai kapasitas masing-masing.

Prinsip kesetaraan: setiap warga negara memiliki kebebasan yang sama. Negara menjamin kebebasan warga untuk berpikir, berpendapat, dan berkumpul. Sementara, setiap warga, ikut aktif menjaga kebebasan warga lainnya. Kebebasan ini bisa saja terus berkembang meliputi bebas memilih pekerjaan, bebas memilih sekolah, bebas beragama, dan lain-lain.

Prinsip perbedaan: perbedaan diijinkan sejauh memberi dampak terbaik bagi pihak yang lemah. Atau perbedaan diijinkan sejauh sebagai konsekuensi kebebasan dalam memilih.

Orang kaya boleh menjadi lebih kaya dengan catatan bertambahnya kekayaan ini mengakibatkan pihak lemah menjadi lebih baik. Misalnya, bos perusahaan aplikasi boleh saja makin kaya dengan kemajuan perusahaannya. Di saat yang sama, kemajuan perusahaan ini, menyebabkan seluruh karyawan kecil naik pernghasilannya, dan masyarakat kecil makin diuntungkan dengannya. Sebaliknya, kenaikan kekayaan bos tidak bisa diterima bila mengakibatkan karyawan kecil makin sulit, dan merugikan masyarakat bawah.

Masalah abadi akan selalu ada untuk menerapkan prinsip kesetaraan dan prinsip perbedaan di atas. Warga dan negara perlu untuk terus bersikap dinamis mewujudkan masyarakat yang adil makmur.

Ukuran Adil

Kita bisa memulai dengan menetapkan ukuran adil makmur, misalnya, mengacu kepada SDG Report. Secara bertahap, negara menuju pencapaian ukuran itu dan kemudian melampauinya.

Pertama, garis kemiskinan adalah $ 3,2 (PPP) per hari atau setara 15 ribu rupiah per orang. Dengan asumsi ada 4 anggota keluarga maka setara 4 orang x 15 ribu x 30 hari = 1,8 juta rupiah per bulan. Estimasi SDG Report masih ada sekitar 50 juta orang Indonesia di bawah garis kemiskinan itu. Benar-benar, menjadi tugas besar bagi kita untuk mengentaskan kemiskinan itu.

Kedua, nilai ketimpangan n ada di bawah n = 1,7 (atau G = 0,27). Saat ini, Indonesia, nilai ketimpangan n = 2,25. Kita masih perlu usaha serius, strategi substantif, untuk menurunkan nilai ketimpangan ini.

Ketiga, indeks demokrasi. Indonesia masih masuk dalam kelompok “demokrasi cacat”. Salah satunya, kebebasan berpendapat di Indonesia beresiko ditekan dengan adanya pasal elastis tentang pencemaran nama baik. Padahal kebebasan berpendapat menjadi pilar utama kehidupan demokratis. Kita perlu memberi jaminan lebih luas dalam kebebasan berpendapat.

Dengan kajian mendalam, strategi cerdik, dan komitmen tinggi dalam penerapan maka kita berharap Indonesia menjadi negara adil makmur.

Bagaimana menurut Anda?

Setelah Dunia Dilipat, Revolusi Madi – Review Buku

Mengagumkan! Satu kata paling tepat untuk buku “Setelah Dunia Dilipat.” Memang setelah itu apa? Setelah dunia dilipat maka lahir revolusi Madi. Revolusi yang penuh harapan. Di saat yang saya, revolusi Madi, juga penuh ancaman.

Pustaka – Masjid Salman ITB

Buku “Setelah Dunia Dilipat” karya Prof Yasraf, terdiri sekitar 450 halaman, mengajak kita tamasya di dunia paling kontemporer saat ini – modern, posmodern, dan plastisis – dengan berkaca dari jaman kuno sejak Plato, Aristoteles, Ibnu Khaldun, Sadra, Descartes, Hegel, Heidegger, Derrida, Deleuze, dan Malabou. Dan masih banyak tokoh-tokoh dunia lainnya yang kita ajak dialog dalam buku ini. Kita memulai tamasya dari realitas kehidupan sehari-hari dalam “dunia yang dilipat” menuju dunia politik, dunia ekonomi, sampai dunia metafisika.

Konsep plastisitas merupakan konsep paling optimis dalam buku ini. Dilanjutkan dengan sisi parasit manusia yang lebih kelam. Dan sisi animalitas manusia yang menjadikan kita lebih waspada, atau pesimis. Dari sisi volume, buku ini lebih banyak menggambarkan sisi hitam manusia – parasit dan animalitas. Yang menarik, buku ini mengusulkan beberapa ide solusi – yang kadang melampaui filsafat itu sendiri. Seni dan agama perlu kita pertimbangkan sebagai bagian dari solusi.

Optimisme Filsafat

Bagian pertama, setelah prolog tentang dunia yang dilipat, kita membahas plastisitas filosofis. Istilah plastisitas, pada akhir abad 19, digunakan oleh William James untuk menjelaskan sifat otak manusia yang bisa berkembang dengan luwes – super fleksibel. Di awal abad 21, Malabou meluaskan makna plastisitas ke kancah filosofis – yang diawali dengan kajian neurosains. Plastisitas adalah kemampuan otak – atau realitas lebih umum – untuk menerima bentuk, memberi bentuk, dan bahkan menghilangkan bentuk.

Dengan demikian, plastisitas, lebih fleksibel dari fleksibilitas. Dan tentu saja, melampaui rigiditas – kekakuan.

Malabao mengembangkan plastisitas dengan menyempurnakan dekonstruksi Derrida – guru dari Malabao. Dekonstruksi Derrida menjadi lebih lentur dengan karakter plastis ini. Lebih dari itu, konsep “trace” dari Derrida mendapat kritik tajam dari Malabao. Konsep plastis melangkah lebih jauh dengan merujuk ke dialektika Hegel. Seperti kita tahu, dialektika Hegel merupakan gerak menyempurna menuju sintesis sampai ke Spirit Absolut. Pada masa Hegel, bahkan sampai Nietzsche, metafisika berdiri kokoh di jantung kajian filsafat. Gerak dialektika Hegel adalah gerak optimisme filsafat. Dan kita bisa merasakan optimisme filsafat ini pada pembahasan plastisitas buku ini.

Filsafat mendapat serangan besar dari Heidegger, khususnya bagian metafisika. Proyek destruksi terhadap metafisika ini bergulir efektif sejak 1930-an. Dari Heidegger mendapat sambutan hangat bersama Sartre, Ponty, Strukturalis, Post-strukturalis, dan lebih umum kita mengenal sebagai Postmodernis. Derrida, sebagai pelopor Postmodernis, melanjutkan proyek destruksi menjadi dekonstruksi yang sedikit lebih optimis – meski pun masih tetap pesimis.

Sampai akhir abad 20 dan awal abad 21, nyaris, metafisika menyingkir dari pembahasan filsafat digantikan dengan ontologi yang memang makin produktif, termasuk dengan berkembangnya hermeneutika.

Pak Yasraf, melalui buku “Setelah Dunia Dilipat,” kembali meniupkan angin segar optimisme filsafat, khususnya metafisika, dengan mengedepankan plastisitas. Bahkan, Pak Yasraf mengusulkan era setelah Postmodern kita sebut sebagai Plastisisme.

Untuk menguatkan plastisitas, Pak Yasraf, menyapa konsep different dari Deleuze (dan Guatari). Deleuze, pada paruh akhir abad 20, adalah pemikir Postmodern yang produktif. Dia mengejutkan khalayak dengan pernyataannya, “Saya adalah metafisikawan murni.” Apa serunya filsafat tanpa metafisika? Justru, filsafat menjadi indah dengan metafisika. Deleuze mengembangkan konsep intensitas dari intensitas waktunya Bergson. Dengan paduan tepat konsep repetisi abadi dari Nietzsche. Berbeda dengan Nietzsche yang menganggap repetisi adalah repeitisi yang sama, Deleuze, menyatakan repetisi abadi adalah repetisi dari different.

Deleuze, bahkan, mundur lebih jauh ke era sebelum Immanuel Kant. Deleuze merujuk ke monisme Spinoza dan monad Leibniz. Spinoza menyatakan realitas hanya terdiri dari satu substansi sejati dan lautan bayangan substansi yang ada di alam raya ini. Deleuze mengambil konsep monisme ini dengan menghilangkan substansi tunggalnya. Sehingga realitas adalah lautan bayang-bayang dari substansi. Sementara, Leibniz menyatakan bahwa realitas ini adalah lautan monad – atau lautan subtansi. Deleuze mengambil lautan monad ini dengan membuang subtansi pada monad. Lengkap sudah filsafat different dari Deleuze yang benar-benar merupakan metafisika – bukan sekedar ontologi.

Seharusnya, Derrida menolak metafisika Deleuze – mereka berteman, sama-sama pemikir Prancis. Tetapi, saya duga, Derrida tidak bisa menolak metafisika different dari Deleuze itu. Yang bisa dilakukan Derrida, hanya menyandingkan proyek ontologi different-nya dengan metafisika different Deleuze. Kita masih perlu menunggu sampai era Gianni Vattimo dengan konsep “weak thought” nya untuk bisa menyandingkan metafisika dan ontologi dengan harmonis. Dengan ungkapan Umberto Eco, rekan Vattimo, “Realitas bagaikan ensiklopedi, yang menerima segala, bukan seperti kamus, yang menentukan kebenaran berdasar sudut pandangnya saja.”

Pak Yasraf mundur lebih jauh dari yang dilakukan Deleuze. Dia bertamasya ke masa sebelum Spinoza atau Leibniz. Pak Yasraf menyapa pemikir besar Timur Tengah Sadra, beberapa puluh tahun sebelum era Descartes. Sadra merumuskan “gerak substansial” (harakah al jauhariyah). Realitas terus-menerus bergerak menuju kesempurnaan. Sebuah tujuan yang pasti. Dan sebuah asal yang pasti. Realitas sempurna – Wujud Sejati.

Dengan tamasya sejauh itu, plastisitas mendapat pijakan yang kokoh dari filsafat sepanjang sejarah. Pak Yasraf menilai, plastisitas lebih cocok dengan filsafat Sadra yang optimis bergerak menuju kesempurnaan dengan gerak substansialnya. Dibanding dengan filsafat different Deleuze yang melakukan gerak repetisi abadi dari different tanpa tahu arah tujuan dengan pasti.

Perkembangan filsafat yang dinamis itu memicu saya untuk merumuskan filsafat dinamis dengan pendekatan manusia dinamis. Ada apa setelah dunia dilipat? Ada revolusi Madi: manusia dinamis. Ada revolusi Madi: manusia digital.

Masa Suram Manusia

Tamasya kita ke dunia filsafat yang indah hanya mendapat 100 sampai 150 halaman buku “Setelah Duniia Dilipat.” Sisanya, lebih dari 300 halaman, kita akan tamasya ke dunia suram peradaban manusia, seiring dengan masa kelam filsafat. Manusia parasit dan animalitas adalah sisi kelam manusia. Gelap dan menggelapkan peradaban.

Berawal dari pemikiran anthroposentris dan dualisme Cartesian, berbagai ancaman kemanusiaan terus berkembang. Ditambah plastisitas, lebih-lebih dengan ledakan dunia digital, manusia benar-benar bisa menghancurkan diri sendiri dan alam raya. Anthroposentris menilai segala sesuatu berdasar sudut pandang manusia. Baik-buruk atau benar-salah adalah manusia yang menentukan. Sementara dualisme, pemisahan materi dan jiwa, menjustifikasi eksplorasi alam raya tanpa batas, tidak perlu tanggung jawab moral lagi.

Parasit adalah hubungan dua pihak, atau beberapa pihak, di mana ada pihak yang mengeruk keuntungan. Sementara pihak lain hanya dirugikan. Seharusnya, manusia, malu jadi benalu. Sementara, benalu, tidak perlu malu jadi benalu. Tugas dia memang jadi benalu.

Kuman, bakteri, virus covid, kecoak, dan tikus adalah beberapa contoh parasit di sekitar manusia. Covid, misalnya, hanya mengeruk keuntungan dari sistem pernafasan manusia. Covid me-replikasi diri, berkembang biak, dalam badan manusia. Covid mengeruk keuntungan dari manusia. Tanpa memberi keuntungan apa pun bagi manusia. Covid hanya merugikan manusia. Covid adalah parasit. Covid menyebabkan pandemi global. Hampir 200 juta orang terserang sakit karena covid. Lebih dari 3 juta orang meninggal dunia, di seluruh penjuru dunia, karena virus covid sang parasit.

Lebih jauh, kita bisa berpikir, manusia adalah parasit bagi alam semesta. Manusia mengeruk keuntungan dari alam raya. Manusia merusak alam raya. Dengan dalih mengembangkan kemajuan, manusia makin pongah menjajah seluruh penjuru alam. Manusia tidak memberi keuntungan bagi alam. Manusia adalah parasit sejati. Bahkan manusia adalah parasit bagi alam sekaligus parasit sesama manusia.

Sang parasit adalah tamu yang cerdas mengelabui tuan rumah. Sang parasit memanfaatkan kegaduhan – noise – untuk melancarkan aksi parasit dengan leluasa.

Tikus, salah satu contoh parasit, memanfaatkan kegaduhan hujan deras untuk melancarkan operasi parasit. Ketika hujan deras, tuan rumah sibuk menangani kebocoran rumah di sana-sini. Tikus menggerogoti makanan di gudang tuan rumah, aman, tidak ada yang memperhatikan. Politikus tentu lebih cerdas dari tikus. Masyarakat sibuk dengan kegaduhan politik di suatu negara maka politikus bebas melancarkan aksi parasitnya. Beberapa politikus bahkan tega memanfaatkan kegaduhan pandemi covid untuk melancarkan aksi korupsi. Sungguh mengerikan. Korupsi dana sosial, yang peruntukannya untuk menanggulangi dampak pandemi covid, apakah masuk akal?

Parasit bisa juga berupa parasit psikologi menurut Mihaly Csikszentmihalyi. Mereka menguras sumber daya psikologi Anda. Merusak psikologi Anda. Demi keuntungan para parasit itu. Dunia digital, dunia yang dilipat, lebih memudahkan praktek parasit psikologi ini. Berapa juta orang tersedot perhatiannya untuk menonton media sosial? Berapa juta jam, tiap hari, rakyat Indonesia menghabiskan waktu bermain media sosial? Berapa juta gigabyte kuota internet dihabiskan, tiap hari, untuk kegaduhan politik di media sosial? Sementara itu, sang parasit mengeruk keuntungan dari rakyat jelata di Indonesia – dan seluruh dunia.

Parasit ekonomi dan parasit politik berbeda dengan tikus parasit. Tikus, sebagai parasit, hanya mengambil makanan sesuai yang dia butuhkan. Tikus berhenti makan ketika kenyang. Sementara parasit politik dan parasit ekonomi tidak pernah kenyang. Mereka terus menyerang tanpa bisa dihadang.

Animalitas Manusia

Dalam dunia digital, dunia yang dilipat, unsur-unsur jiwa kebinatangan manusia berkembang. Binatang memangsa binatang lainnya sebagai makanan. Memang demikianlah siklus kehidupan. Tidak ada masalah, dan tidak ada yang salah, ketika binatang menjalani daur kehidupan. Sementara, manusia, tega memangsa sesama manusia. Dan, tentu saja, manusia doyan memangsa binatang dan alam semesta. Itulah animalitas manusia: kebinatangan manusia.

Heidegger menyadari resiko perilaku manusia. Ketika Heidegger menyerang metafisika, dia juga mengusulkan solusinya: ontologi eksistensialis. Dia menamai manusia eksistensial sebagai dasein dengan karakter eksistensial yang non-Cartesian. Dasein selalu hidup di dalam dunia (being-in-the-world) dan hidup bersama yang lain (being-with-other). Manusia bukan subyek yang bisa dipisahkan dari alam semesta. Sebaliknya, manusia, adalah subyek yang selalu menyatu dengan alam semesta. Sehingga, dengan pandangan eksistensialis ini, manusia perlu menjaga kelestarian alam semesta, yang merupakan rumah dirinya. Di mana pun manusia berada, di situlah rumahnya, yang selalu perlu dijaga. Manusia menjaga rumah dan rumah menjaga manusia.

Adil Makmur: Politik Ekonomi Indonesia

Kita sudah akrab dengan cita-cita luhur: adil makmur. Pertanyaan muncul, apakah kita bisa meraih adil makmur dan kapan. Data terbaru dari BPS menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih di atas 10%.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba membahas keluhuran dari cita-cita adil makmur dan kemudian mencoba menyusun landasan filosofis untuk mencapai adil makmur. Saya membatasi hanya fokus kepada diskusi filosofis dan metematis.

Kata-kata Belaka

Wajar saja bila ada orang yang skeptis mengatakan bahwa adil makmur hanya bagus sebagai slogan belaka, hanya kata-kata. Saya sendiri memandang, adil makmur, sebagai cita-cita luhur. Karenanya kita layak memperjuangkan meski hanya berhasil mendekatinya, tanpa pernah secara sempurna mencapainya.

Dengan adanya penduduk miskin lebih dari 27 juta orang (laporan BPS 2021) atau lebih dari 50 juta orang (SDG Report 2021) maka sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa Indonesia sudah berhasil mecapai adil makmur. Ditambah lagi, nilai ketimpangan pendapatan n = 2,25 (setara indeks Gini G = 0,384) makin jelas kesenjangan yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Terpaan pandemi covid makin memperparah ketimpangan di mana kekayaan orang-orang super kaya justru berlipat ganda (laporan Credit Suisse 2021).

Secara filosofis, Plato (pemikir abad ke 5 SM), merumuskan adil adalah kondisi harmonis dalam pertumbuhan menuju kesempurnaan. Selanjutnya, Aristoteles (murid Plato), merumuskan adil sebagai pembagian yang sesuai dengan hak masing-masing dan tebusan untuk memperbaiki kesalahan yang setara (distributif dan retributif). Pada masa peralihan milenium kedua, para pemikir Timur Tengah, semisal Ibnu Sina (abad 10) dan Al Ghzali (abad 11), menambahkan dimensi relijius keadilan sesuai ajaran agama dan mempromosikan hidup sederhana.

Barangkali, rumusan moral terbesar adalah karya Immanuel Kant (abad 18) dalam kritik akal praktis. Kebajikan, termasuk adil makmur, adalah kewajiban moral bagi setiap orang berakal untuk mencapainya. Bukan hanya berupa kewajiban moral, Kant, mengkaji dengan lengkap secara rasional dan praktis.

Bagaimana pun, sampai pertengahan abad 20, masyarakat tetap tidak punya pegangan kuat dalam meraih adil makmur secara sosial. Semua rumusan filosofis, bagi masyarakat, masih dirasakan sebagai normatif. Sementara, di sisi lain, sains dan teknologi makin berkembang. Sehingga konsep adil makmur, bertambah, selain normatif, menjadi matematis dilengkapi dengan kajian statistik. Baik normatif atau pun statistik masih belum cukup menggerakkan masyarakat untuk mengejar adil makmur.

Perubahan besar terjadi pada tahun 1971, John Rawls (pemikir US), menerbitkan buku A Theory of Justice. Landasan filosofis yang normatif dan kajian statistik yang matematis menjadi memiliki daya gerak mendorong masyarakat untuk menuju adil makmur secara politik dan ekonomi. Selanjutnya, kita akan mencoba mencermati pemikiran adil makmur dari Rawls ini.

Kebebasan Umat Manusia

Rawls menyusun dua prinsip paling mendasar. Pertama adalah prinsip kesetaraan yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan yang sama, yang setara.

“Each person is to have an equal right to the most extensive total system of equal basic liberties compatible with a similar system of liberty for all”.

Kedua, prinsip tentang perbedaan. Tampak, Rawls mengakui realitas alam semesta ini dipenuhi dengan beragam perbedaan – meskipun prinsip pertama merupakan prinsip kesamaan. Untuk itu, Rawls menyusun dua prinsip perbedaan, prinsip 2a dan prinsip 2b.

 “Social and economic inequalities are to be arranged so that they are both:

(a) to the greatest benefit of the least advantaged, consistent with the just savings principle, and
(b) attached to offices and positions open to all under conditions of fair equality of opportunity.”

Termasuk kebebasan yang setara, prinsip 1 tentang kesamaan, adalah negara menjamin kebebasan setiap warga untuk bebas berpikir, bebas menentukan pilihan politik, bebas berpendapat, bebas berserikat, bebas memilih pekerjaan, dan kebebasan lain yang ditetapkan oleh negara.

Di sini, tampak jelas, prinsip dari Rawls bisa kita terapkan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga filsafat moral dan filsafat politik tidak hanya berhenti sebagai normatif. Filsafat politik bisa menjadi pegangan nyata dalam kehidupan politik.

Bercermin ke situasi Indonesia saat ini, barangkali, kita bisa menilai bahwa warga negara Indonesia sudah memiliki kebebasan dalam berpolitik, berserikat, memilih pekerjaan, dan lain-lain. Tentu itu adalah kabar baik. Khusus untuk kebebasan berpendapat, tampaknya, menjadi masalah besar bagi Indonesia dan dunia.

Kebebasan berpendapat menjadi masalah dunia dengan sering terjadinya “penghapusan” akun media sosial yang menyatakan pendapat berbeda dengan kekuatan politik tertentu. Misal akun medsos yang mengkritik presiden atau perdana menteri lalu dihapus oleh medsos. Atau akun medsos yang menyuarakan penderitaan orang-orang tertindas semisal Palestina, Kulit Hitam, Suku Asli, dan lain-lain juga terancam untuk diblokir.

Di Indonesia, ancaman pencemaran nama baik bisa lebih besar lagi. Bukan hanya akun medsos yang dihapus, tetapi sampai kepada kurungan pidana bertahun-tahun. Ancaman bagi kebebasan umat manusia. Ancaman bagi keadilan – adil makmur.

UU ITE

Salah satu paling kontroversial adalah UU ITE – informasi dan transaksi elektronik. UU ITE ini berhasil menjadi landasan untuk transaksi secara elektronik. Sehingga pertumbuhan bisnis digital di Indonesa berhasil melejit dengan lahirnya banyak unicorn dan tranformasi bisnis konvensional menjadi bisnis digital.

Salah satu pasal UU ITE mengatur tentang pencemaran nama baik. Bisa diduga, term pencemaran nama baik akan bisa ditafsirkan ke dalam banyak arah. Resikonya, kebebasan berpendapat bisa menjadi dilanggar. Padahal, negara membutuhkan banyak kritik dari warga, dengan bebas berpendapat, untuk menjalankan fungsi kenegaraan dengan baik.

Petani Tebu

Mari kita mecoba dengan eksperimen pikiran.

“Agus Manto merugikan saya sebesar 500 juta rupiah karena dia mengijinkan impor gula. Sehingga tanaman tebu saya tidak dibeli oleh pabrik gula lokal. Saya menderita kerugian 500 juta karena pejabat pusat bernama Agus Manto itu.”

Apakah unggahan media sosial oleh petani tebu di atas mencemarkan nama baik Agus Manto?

Tentu saja, Agus Manto melaporkan unggahan petani tebu di atas ke pihak berwenang untuk diproses secara hukum. Dan, pihak aparat bertugas untuk menindaklanjuti laporan dari masyarakat. Termasuk laporan dari pejabat bernama Agus Manto itu.

Di sini kita perlu menguji, unggahan petani tebu itu, bagian mana yang bersifat fakta dan bagian mana yang bersifat pendapat – opini.

a. Agus Manto menetapkan ijin impor gula. (Fakta dan benar).
b. Tebu petani tidak dibeli pabrik lokal sehingga rugi 500 juta. (Fakta dan benar).
c. Agus Manto merugikan petani tebu. (Opini dan bisa benar atau salah).

Dengan analisis di atas, seharusnya, petani tebu terbebas dari tuntutan pencemaran nama baik. Karena fakta a dan b adalah benar. Sedangkan opini c, pendapat pribadi, dijamin kebebasannya oleh undang-undang – bisa bernilai salah, bisa juga bernilai benar.

Eksperimen pikiran kedua.

“Pejabar Agus Manto merugikan saya 500 juta rupiah. Dia membeli panen tebu saya seharga 500 juta. Tebu sudah saya kirimkan dan diterima. Tetapi pembayaran tidak pernah dilakukan oleh Agus Manto.”

Pertanyaannya sama, apakah unggahan petani tebu itu mencemarkan nama baik Agus Manto?

a. Agus Manto membeli panen tebu harga 500 juta. (Fakta dan benar).
b. Tebu sudah dikirimkan dan diterima. (Fakta dan benar).
c. Pembayaran tidak dilakukan Agus Manto. (Fakta tetapi salah. Karena Agus Manto sudah melakukan pembayaran secara sah.)

Dalam kasus ini, petani tebu layak mendapat hukuman telah mencemarkan nama baik. Karena dia telah menyebarkan berita bohong. Agus Manto sudah membayar sesuai transaksi. Tetapi petani tebu itu menyebarkan fitnah – seakan-akan Agus Manto ngemplang.

Negara perlu menjamin kebebasan setiap warga untuk berpendapat. Tentu saja, negara tidak melindungi orang yang menyebar fitnah – mencemarkan nama baik orang lain. Sebaliknya, negara justru melindungi nama baik warganya.

Kembali kita cermati Prinsip 1 dari Rawls tentang kesamaan dalam kebebasan ini, benar-benar, bisa diterapkan dalam kehidupan bernegara secara praktis. Semakin luas negara menjamin kebebasan dan kesamaan setiap warga negara maka negara itu makin adil terhadap warganya. Pada gilirannya, negara dan warga, bersama-sama membangun kehidupan sosial.

Prinsip Perbedaan

Kita melihat banyak perbedaan di masyarakat. Bahkan, perbedaan adalah karakter utama dari realitas. Rawls melengkapi teori keadilan dengan prinsip kedua, yaitu prinsip perbedaan. Perbedaan akan tetap adil jika dijaga memenuhi prinsip 2a dan prinsip 2b.

“Social and economic inequalities are to be arranged so that they are both:

(2a) to the greatest benefit of the least advantaged, consistent with the just savings principle, and

(2b) attached to offices and positions open to all under conditions of fair equality of opportunity.” (Wikipedia)

Prinsip 2b menyatakan bahwa perbedaan boleh terjadi sebagai akibat dari terbukanya kesempatan memilih yang fair – adil. Adi berbeda dengan Budi karena Adi memilih menjadi pegawai di kementrian keuangan, sedangkan, Budi memilih menjadi pegawai di kementrian pertanian. Perbedaan minat Adi dan Budi mengakibatkan perbedaan tempat kerja mereka. Sejauh mereka memperoleh kesempatan yang fair maka perbedaan seperti itu bisa diterima.

Demikian juga, Catur memilih jadi pengusaha, dan, Didi memilih menjadi penyanyi. Justru jika perbedaan minat dan bakat pada mereka harus diseragamkan, maka, penyeragaman seperti itu tidak adil.

Perbedaan, berkembang, menjadi rumit bila Adi bisa bekerja di kementrian keuangan, sedangkan, Eni tidak bisa. Sebenarnya, Eni berminat melamar untuk bekerja di kementrian keuangan. Karena orang tua Eni adalah orang miskin, Eni tidak bisa sekolah sampai sarjana. Akibatnya, Eni tidak memenuhi syarat untuk melamar bekerja di kementrian keuangan. Dalam kasus ini, negera berkewajiban menyediakan kesempatan yang fair bagi Eni. Barangkali negara menyediakan program beasiswa sehingga Eni dapat menyelesaikan pendidikan sarjana – meski orang tuanya miskin. Untuk kemudian, Eni bersaing dengan Adi secara fair melamar ke kementrian keuangan.

Kita perlu mempertimbangkan prinsip 2a yang menyatakan bahwa perbedaan bisa diterima sejauh memberi keuntungan terbesar bagi pihak yang lemah. Di sini, tampak, tidak adanya kesetaraan. Negera berpihak kepada pihak yang lemah. Dengan asumsi, pihak yang lemah terbatas dalam akses sumber daya dan keuntungan politis, maka kondisi perbedaan perlu menjamin pihak lemah mendapat keuntungan.

Kita justru lebih mudah melihat situasi sebaliknya – yaitu melanggar prinsip 2a. Perbedaan terjadi karena pihak yang kuat mengambil keuntungan besar dari pihak lemah yang dirugikan.

Misalnya, kita melihat pembangunan pabrik di suatu kampung. Para bos besar mendapat keuntungan besar dari pabrik tersebut. Di sisi lain, ribuan petani kecil menjadi miskin lantaran sawahnya tidak lagi ada air mengalir setelah ada pabrik di daerah itu. Gagal panen terjadi berkali-kali, bahkan gagal tanam. Petani kecil bisa mengatasi masalah itu dengan cara menggali sumur, membeli mesin penyedot air, dan membeli solar. Biaya itu semua lebih besar dari hasil panen, yang kadangkala, bahkan gagal panen.

Contoh lain, sebuah perusahaan menetapkan sistem kerja baru sedemikian hingga para bos mendapat bonus yang lebih besar. Sementara, para buruh di perusahaan itu justru penghasilannya turun. Jika buruh bekerja 8 jam sehari dia memperoleh gaji 70 ribu seharinya – turun dari 80 ribu pada sistem kerja yang lama. Buruh bisa menaikkan gaji dengan jam kerja 10 jam sehari dengan memperoleh gaji 90 ribu per harinya.

Keuntungan bagi pihak yang kuat dan kerugian bagi pihak yang lemah adalah melanggar prinsip 2a. Secara sengaja, negara perlu menangani kasus semacam itu.

Prinsip Dinamika

Masyarakat perlu terus untuk bergerak maju. Negara perlu menjaga dinamika. Saya menambahkan prinsip dinamika sebagai prinsip ke 3 dari keadilan.

(3a) Masyarakat kelompok bawah perlu dijamin untuk terus dinamis menjadi lebih baik. Ukuran dinamika pertumbuhan, bagi kelompok bawah, dipastikan mencapai target tertentu.

(3b) Ukuran dinamika, minimal, mencakup dua parameter yang saling bertentangan.

(3c) Pertumbuhan kelas atas perlu berkontribusi kepada pertumbuhan kelas bawah.

Kita ambil contoh kasus di Indonesia. Berdasar SDG Report 2021, ada sekitar 50 juta orang Indonesia di bawah garis kemiskinan (Rp 450 ribu per bulan setara $ 3,2 US – PPP). Berdasar prinsip dinamika 3a, kelompok 50 juta orang paling miskin ini perlu kita jamin bertumbuh dinamis. Ukuran pertumbuhan bisa banyak hal. Misal dari pendapatan atau pengeluaran mereka meningkat jadi 600 ribu rupiah per bulan pada tahun berikutnya. Bisa juga, jumlah penduduk miskin yang berkurang menjadi di bawah 40 juta orang.

Dalam waktu lima tahun ke depan, diharapkan, 50 juta orang miskin di atas berpenghasilan lebih dari 2 juta rupiah per bulan per kapita (setara 8 juta rupiah per bulan per keluarga tediri 4 orang). Atau, dalam 5 tahun ke depan, dari 50 juta orang miskin itu, tidak ada lagi yang berada di bawah garis kemiskinan.

Prinsip 3b memastikan ukuran dinamika lebih dari dua dimensi – yang bertentangan. Misal ukuran kerja yang layak. Orang miskin di atas, meski penghasilan menjadi 8 juta rupiah per bulan, menjadi tidak berarti bila mereka wajib bekerja 20 jam sehari. Jam kerja sebanyak itu tidak layak, tidak manusiawi. Sehingga ukuran kerja yang layak, dalam hal ini batasan jam kerja, menjadi kontrol terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini, kita berharap pertumbuhan ini bersifat harmonis.

Tentu saja, banyak alternatif parameter bisa kita kembangkan. Di antaranya kesehatan lingkungan, persepsi kebahagiaan, keanekaragaman hayati, konservasi lingkungan, dan sebagainya. Dari beragam parameteri ini, prinsip 3b, menyarankan agar kita fokus kepada dua parameter – bertentangan – yang paling penting.

Kelompok kelas atas, kelas kaya, mendapat dukungan untuk dinamis dengan prinsip 3c. Secara umum, kelas kaya mampu bertumbuh lebih dinamis dari kelas lainnya. Dan pertumbuhan kelas kaya ini, diharapkan, mendorong pertumbuhan ekonomi sosial secara umum. Dinamika pertumbuhan kelas kaya, harus, dipastikan berdampak positif terhadap dinamika kelas miskin.

Tahun 2021 ini, kita melihat pertumbuhan kekayaan orang kaya Indonesia yang luar biasa. Misal, Mas Nadiem, sebagai founder Gojek, kekayaannya bertumbuh 400 kali lipat dari semula menjadi lebih dari 4 trilyun rupiah. Demikian juga dengan William, founder Tokopedia. Yang terbaru, Zaki, founder Bukalapak, melejit kekayaannya dengan suksesnya IPO Bukalapak. Semua pertumbuhan orang-orang kaya itu sah dan baik, sejauh berdampak positif kepada orang-orang kelas bawah. Driver gojek penghasilan naik. Penjual di Tokopedia makin laris. Dan pelapak di Bukalapak makin untung.

Dinamika pertumbuhan adil makmur seperti itulah yang kita harapkan. Apakah itu yang terjadi di Indonesia?

Praktek Politik Adil Makmur

Kita kembali ke pertanyaan utama: bagaimana menciptakan adil makmur di Indonesia?

Efektivitas Vaksin Covid-19 Vs Efikasi

Ketika pandemi covid makin mengamuk di Indonesia, sempat menjadi yang tertinggi di dunia dalam penambahan kasus baru per hari, ada kabar-kabar optimis tentang efektivitas vaksin covid di Indonesia menacapai lebih dari 94%. Dengan efektivitas yang setinggi itu, di atas 94%, kita bisa berharap vaksinasi bisa menjadi solusi ampuh mengakhiri pandemi.

Sebelumnya, kita sudah tahu bahwa efikasi vaksin di Indonesia adalah 65% – untuk sinovac. Efikasi, bisa kita katakan sebagai, efektivitas vaksin dalam uji klinis. Para ahli menyatakan bahwa nilai efikasi lebih besar dari efektivitas vaksin di lapangan. Kerena efikasi dilakukan uji klinis dengan kondisi mendekati ideal. Sementara efektivitas diukur pada kondisi lapangan nyata – tentu saja ada kendala transportasi pengiriman, penyimpanan dan lain sebagainya.

Bagaimana mungkin efektivitas bisa 94% dengan efikasi yang hanya 65%? Perlu kajian mendalam untuk menjawab paradoks ini. Saya akan mencoba mencermati secara matematika yaitu ukuran sampel penelitian yang barangkali menyebabkan bias atau kesalahan dalam mengambil kesimpulan.

Uji Klinis Efikasi yang Imbang

Nilai efikasi bisa kita pandang sebagai angka ideal untuk uji klinis. Dalam tahap uji klinis kita bisa membagi sampel dengan imbang: 50% responden disuntik dengan vaksin sedangkan 50% sisanya disuntik plasebo (bukan vaksin).

Misal untuk uji klinis di Bandung tahun 2020, terdapat sekitar 1600 peserta, maka sekitar 800 orang disuntik dengan vaksin sebenarnya. Sedangkan sisanya, hampir 800 juga disuntik dengan plasebo.

Misal, dari yand disuntik plasebo,
P = 80 orang positif terinfeksi virus.

Dari yang disuntik vaksin,
V = 20 orang positif terinfeksi virus.

Maka efikasi vaksin, atau kemanjuran vaksin mudah kita hitung,

80 – 20 = 60 orang.

Kita memerlukan angka dalam bentuk persen sehingga angka kemanjuran 60 orang itu bermakna lebih luas. Kita bisa normalisasi dengan membagi 80 orang, banyak orang yang terserang virus karena hanya plasebo.

efikasi = 60/80 = 3/4 = 75%

WHO menetapkan efikasi perlu di atas 50% agar vaksin bisa disuntikkan untuk masyarakat. Karena 75% adalah di atas 50% maka vaksin tersebut lolos uji klinis. (Angka-angka di atas hanya ilustrasi untuk memudahkan perhitungan).

Tantangan Plasebo

Kita bisa melihat pentingnya angka plasebo seperti perhitungan efikasi di atas. Dengan asumsi efek vaksin adalah tetap, misal 20 orang terserang virus, tetapi jika angka plasebo berubah maka efikasi akan berubah total.

A. Asumsi angka plasebo 100 orang

Efikasi = 100 orang – 20 orang = 80 orang
Efikasi Normalisasi = 80/100 = 80%

B. Asumsi angka plasebo = 30 orang

Efikasi = 30 orang – 20 orang = 10 orang
Efikasi Normalisasi = 10/30 = 33%

Untuk efikasi 80% maka vaksisn lolos uji klinis. Sedangkan dengan efikasi 33% maka tidak lolos uji klinis karena di bawah 50%.

Seperti kita ketahui, plasebo adalah hanya “pura-pura”, bukan vaksin. Maka saya mengusulkan pengukuran angka plasebo ini bisa dilakukan dengan transparan. Misal terbuka bagi universitas atau lembaga kajian untuk mengukur angka plasebo secara independent dengan proses yang disepakati. Sehingga angka akhir efikasi bisa lolos dari berbagai challenges.

Normalisasi di Awal

Dalam realitas uji klinis kadang kita tidak bisa mendapatkan angka sempurna perbandingan 800 responden vaksin dengan 800 responden angka plasebo. Untuk memudahkan perhitungan maka kita bisa melakukan normalisasi di awal. Perhitungan ini tetap valid sejauh ukuran sampel responden mendekati sama.

Misal, angka plasebo 100 orang,
Normalisasi plasebo = 100/800

Angka vaksin 20 orang,
Normalisasi vaksin = 20/800

Efikasi = 100/800 – 20/800 = 80/800
Efikasi normalisasi = (80/100) : (100/800) = 80%

Hasilnya tetap sama, konsisten. Proses normalisasi di awal ini, tampaknya, lebih sering dipakai secara luas. Ada resiko bias, tidak disadari, ketika ukuran sampel tidak berimbang. Ukuran sampel yang tidak mendekati 50% : 50%.

Efektivitas yang Dipertanyakan

Mengapa angka efektivitas vaksin, di lapangan, bisa lebih tinggi dari efikasi uji klinis? Tentu saja hasil seperti itu tidak valid.

Kita akan menunjukkan adanya bias pada ukuran sampel.


Efektivitas vaksin dosis 2 (lengkap) adalah 94%, lebih tinggi dari efikasi uji klinis yang 65%. Tentu hasil seperti ini tidak konsisten. Kita perhatikan ukuran sampel, subyek penelitian, untuk yang divaksinasi dosis 2 adalah n = 91 777, setara 77%. Sedangkan ukuran sampel yang belum divaksinasi adalah n = 28 055, setara 23%.

Proporsi subyek, ukuran sampel yang tidak berimbang ini, jauh dari 50:50, berpotensi menyebabkan bias, salah dalam analisis. Makin besar sampel yang sudah divaksinasi akan cenderung bias menghasilkan angka efktivitas terlalu tinggi.

Sementara, ukuran sampel yang sudah divaksin terlalu kecil, akan menyebabkan bias, angka efektivitas terlalu rendah dari yang seharusnya.

Mari kita perhatikan ukuran sampel yang divaksinasi dosis 1 adalah n = 8 458 orang, setara 23%. Sementara yang belum divaksin n = 28 055 orang, setara 77%. Dan efektivitas vaksin menjadi hanya 13%. Jauh di bawah efikasi yang 65%. Tentu saja, hasil ini juga tidak konsisten.

Solusi Desain Penelitian

Tampak jelas bagi kita, bahwa solusinya adalah desain penelitian yang menjamin ukuran sampel berimbang mendekati 50:50. Hal ini sudah dilakukan ketika uji klinis, menghitung efikasi. Hal yang sama perlu dilakukan ketika menghitung efektivitas vaksin di lapangan.

Barangkali ukuran sampel yang berimbang bisa terjadi ketika jumlah orang yang disuntik vaksin adalah 50% dari total sampel. Meski hal ini menjamin 50:50 tetapi tidak memenuhi kriteria randomness. Di antara 50% orang yang tidak disuntik vaksin barangkali terdapat orang-orang yang tidak diijinkan suntik karena resiko tinggi, komorbid, dan lain-lain. (Perhitungan lebih rumit lagi karena suntik vaksin dilakukan 2 kali.)

Solusi yang lebih tepat dan diimbangi kecermatan akan menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.

A. Ketika ada 100 orang divaksin maka kita akan mencermati mereka sebagai kelompok A, sudah divaksin.

B. Di saat yang sama, kita juga memilih 100 orang lainnya yang belum divaksin, sebagai kelompok B, yang profil kesehatannya mirip dengan kelompok A.

Kita bisa menghitung efektivitas vaksin dari kelompok A dan kelompok B di atas. Dengan solusi di atas kita berharap berhasil meng-estimasi angka efektivitas yang valid.

Ukuran sampel kelompok A dan kelompok B di atas dapat terus kita pantau dengan perkembangan orang yang divaksin menjadi 200 orang, 300 orang, dan seterusnya. Tentunya, dengan tetap menjaga proporsional mendekati 50:50.

Dengan beragam usaha yang kita kembangkan, semoga kita semua berhasil menghadapi pandemi dengan baik.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Islam: Tikungan Inovasi Quantum

Filsafat Islam mengalami lompatan paling kreatif sejak jaman Imam Al Ghazali. Wajar saja, bila beliau, Ghazali mendapat gelar Hujjatul Islam – Sang Pembela Islam, Bukti Kebenaran Islam.

Meski banyak orang menilai bahwa filsafat Islam mati sejak serangan Ghazali dalam karyanya “Kesesatan Para Filsuf,” saya justru melihat sebaliknya. Filsafat Islam meraih kecemerlangan sejak serangan Ghazali itu.

Mengenal Imam Al-Ghazali sebagai Mufasir - Alif.ID

Ghazali (1058 – 1111 M) mewarisi gaya berpikir filosofis Islam terkemuka dari karya besar Ibnu Sina (980 – 1037 M). Ibnu Sina mengembangkan filsafat Islam dengan kreasi unik memadukan filsafat Yunani (Aristoteles dan Neo Platonik) dan ajaran-ajaran Islam (Al Kindi dan Al Farabi). Sehingga, dengan mempelajari filsafat Ibnu Sina, Ghazali menguasai semua perdebatan aliran filsafat dengan fasih pada jamannya.

Arah Inovasi Divergen

Dengan modal karya besar Tahafut, Kesesatan Para Filsuf, Ghazali mengembangkan bangunan filsafat baru yang lebih kokoh: Ihya Ullumuddin – Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. Sebagai kitab filsafat, Ihya merupakan inovasi yang jauh berbeda dengan kitab-kitab filsafat sebelumnya. Sehingga, kita bisa memaklumi bila para pemikir menggolongkan Ihya sebagai karya non-filosofis. Untuk bisa memahami Ihya sebagai karya filosofis, dunia perlu berkembang sampai era postmodern dan hermeneutika seperti abad 21 ini.

Inovasi filosofis berikutnya ada di tangan para filosof Islam kreatif pada generasi setelah Ghazali.

Ibnu Rusyd (Averrous, 1126 – 1198) mengembangkan kembali filsafat Islam dengan pendekatan rasional. Ibnu Rusyd menanggapi Ghazali dengan karya besarnya: Tahafut Altahafut. Filsafat Ibnu Rusyd tumbuh subur sampai ke dunia Barat. Pengaruh Ibnu Rusyd sampai ke Descartes dan Leibnitz. Filsafat rasional mencapai puncaknya di era Immanuel Kant (1724 – 1804). Kelak, Kant juga mendorong inovasi besar-besaran filsafat Barat.

Syihabuddin Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan filsafat pencerahan – filsafat iluminasi. Suhrawardi, melalui visinya, berdiskusi dengan Aristoteles yang menyarankan untuk kembali ke dalam diri. Filsafat iluminasi ini sangat kreatif dan berbeda jauh dengan filsafat sebelumnya. Pengetahuan hanya bisa diyakini kebenarannya melalui kehadiran langsung, ilmu hudhuri, knowlegde by present. Kelak filsafat Suhrawardi ini mencapai puncaknya di tangan filsuf besar Mulla Sadra (1572 – 1635).

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengembangkan filsafat wujud dengan kreatif dan orisinal. Filsafat wujud Ibnu Arabi ini begitu canggih dan kompleks sehingga tidak mudah bagi para pemikir untuk memahaminya. Ibnu Arabi pernah bertemu langsung dengan Ibnu Rusyd. Sehingga bagi Ibnu Arabi, filsafat gaya Ibnu Rusyd dan Ghazali adalah bekal untuk proses dialektis. Ibnu Arabi mengkaji filsafat dengan sumber-sumber ajaran Islam dan pendekatan hermeneutika tingkat tinggi. Dengan berkembangnya filsafat hermeneutik di Barat, akhir-akhir ini, karya Ibnu Arabi makin digemari.

Mulla Sadra (1572 – 1635) barangkali bisa kita sebut sebagai filsuf terbesar Islam sepanjang masa. Sadra mengembangkan filsafat teosofi transenden (hikmah mutaaliyah) yang merupakan sintesa terbesar dari semua aliran filsafat sampai pada masa itu. Bukan sekedar sintesa, teosofi transenden merupakan karya besar filsafat yang terpadu, canggih, dan kompleks. Sadra membuktikan keunggulan wujud sesuai dengan ajaran Ibnu Arabi. Melengkapinya dengan sifat wujud yang tasykik – kompleks, ambigu, dan dinamis. Dari Suhrawardi, Sadra menguatkan teori pengetahuan iluminasi (ilmu hudhuri) dan simbolisasi cahaya untuk menjelaskan intensitas wujud – tingkat kuat dan lemahnya. Dan, tentu saja, Sadra mendasarkan semua filsafat teosodi transenden kepada ajaran-ajaran Islam.

Karya Sadra yang begitu mengagumkan membuat saya sering tergoda untuk menilai karya filsuf lain berikutnya adalah catatan kaki dari karya Sadra. Ketika membaca karya Immanuel Kant, Hegel, Nietzsche, Heidegger, sampai Derrida terasa begitu selaras dengan karya-karya Sadra. Tetapi, saya ingat pesan Fazlur Rahman, kritikus Sadra pada abad 20, bahwa kita tidak bisa membandingkan karya-karya mereka. Masing-masing pemikir memiliki konteks tersendiri. Dan, memang benar, meski selaras mereka adalah unik.

Murid-murid Sadra terus mengembangkan filsafat transenden ini sampai sekarang. Kita mengenal Hadi Sabzivari sampai Alamah Tabathabai di abad ke 20. Muthahhari, salah satu murid Tabathabai, berhasil mengembangkan konsep Sadra menjadi pemikiran-pemikiran dinamis dan kontekstual di masa revolusi Iran menjelang akhir abad 20. Sampai sekarang, kampus-kampus di Iran terus mengajarkan filsafat Sadra.

Sekilas, dari uraian di atas, filsafat Islam tidak mati setelah serangan Ghazali. Sebaliknya justru tumbuh subur, bahkan melahirkan karya filsafat Islam yang orisinal. Madzhab filsafat yang divergen. Ghazali membangun filsafat sufistik yang kemudian dilanjutkan, dalam kadar tertentu, oleh Ibnu Arabi. Sementara Ibnu Rusyd melanjutkan filsafat rasional sebagaimana Ibnu Sina (Aristoteles – Neo Platonik). Suhrawardi menciptakan pendekatan baru filsafat dengan iluminasi. Semua gaya filsafat Islam itu, pada abad 17, menyatu dalam filsafat teosofi transenden Mulla Sadra (Hikmah Mutaaliyah).

Filsafat Islam Indonesia

Indonesia menjadi negara terbesar dalam jumlah penduduk yang beragama Islam. Tentu ada perkembangan filsafat Islam di Indonesia. Salah satu paling menarik adalah peran Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia melalui proses damai. Kalijaga (1460 – 1513), salah satu anggota Wali Songo termuda, mengajarkan filsafat Islam melalui budaya semisal sastra dan wayang. Di tangan Wali Songo, filsafat menjadi begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.

Kisah Dewa Ruci, misalnya, mengajarkan konsep filsafat hubungan dekat antara manusia, Tuhan, dan seluruh alam semesta. Yang menakjubkan, kisah Dewa Ruci ini diterima oleh masyarakat luas, tidak terbatas hanya untuk kaum intelektual. Bila kita cermati filsafat Sunan Kalijaga ini lebih dekat dengan Ghazali dan Ibnu Arabi (dan Rumi). Filsafat Ghazali, sampai saat ini, terus diajarkan di berbagai pesantren. Filsafat wujud Ibn Arabi bisa kita temukan dalam berbagai naskah sejarah.

Barangkali kisah paling seru, kontroversial, adalah kisah Sheikh Siti Jenar berdialog dengan Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga. Siti Jenar berpendapat bahwa filsafat wujud perlu dibuka kepada masyarakat dengan ungkapan yang lebih jelas. Sementara, Kalijaga berpegang bahwa kita hanya bisa mengungkapkan ke masyarakat melalui simbol-simbol. Dan, akhirnya, kita hanya mengetahui kisah ini melalui simbol-simbol yang halus. Di mana, Siti Jenar tampak mengalah, menyetujui pendekatan Wali Songo.

Suatu ketika, Walo Songo mengirim utusan untuk mengundang Siti Jenar untuk hadir dalam dialog.

“Sheikh Siti Jenar, dengan hormat, diundang untuk hadir,” kata utusan.
“Siti Jenar tidak ada di sini. Yang ada hanya Allah,” jawab Siti Jenar.

Utusan kembali ke Wali Songo dengan tangan hampa. Wali Songo mengutus kembali utusan itu dengan redaksi berbeda.

“Dengan hormat, Allah diundang untuk hadir,” kata utusan ke Siti Jenar.
“Tidak ada di sini. Yang ada hanya Siti Jenar,” jawab Siti Jenar.

Utusan kembali ke Wali Songo tetap dengan tangan hampa. Wali Songo mengutus lagi dengan redaksi berbeda.

“Dengan hormat, baik Sheikh Siti Jenar mau pun Allah diundang untuk hadir,” kata utusan.

Utusan itu berhasil menghadirkan Siti Jenar untuk dialog bersama. Bila kita perhatikan, tampak, Siti Jenar begitu dekat dengan ajaran filsafat wujud dari Ibnu Arabi.

Indonesia Modern dan Postmodern

Sejenak mari melompat ke Indonesia di jaman modern atau post modern – saat ini. Banyak pemikiran filsafat Islam berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah filsafat Islam sosial oleh Cak Nur, Nurcholis Madjid, (1939 – 2005). Filsafat Cak Nur lebih banyak fokus ke keislaman, keindonesiaan, kemodernan, kemanusiaan, dan peradaban.

Yang menarik dari Cak Nur adalah beliau sangat kuat mendukung demokrasi, keadilan, dan keragaman. Barangkali ada hubungannya dengan pemikir sosiolog Robert Bellah dan Max Weber yang sering dirujuk Cak Nur. Dukungan yang kuat kepada demokrasi ini, jelas tertuang, dalam ide sekularisasi dan jargon “Islam Yes, Partai Islam No.” Tentu saja, hal ini mengundang kontroversi besar.

Dari sisi keislaman, Cak Nur ini, bagi saya, lebih menarik lagi. Beliau lebih banyak merujuk ke Ibn Taymiyyah (1263 – 1328), yang begitu berlimpah menggunakan dalil langsung berupa kutipan AlQuran. Dengan tegas, Cak Nur mengutip AlQuran untuk mendukung ide-ide demokrasinya. Dari tahun 1960an sampai masuk abad 21, Cak Nur tetap konsisten mendukung demokrasi dan keislaman.

Menjelang akhir abad 20, Cak Nur melengkapi rujukan pemikiran Islam dengan lebih kuat ke filsafat Ibnu Arabi. Dengan demikian, lebih dekat juga dengan filsafat Ghazali. Pemikiran demokrasi keindonesiaan menjadi lebih kuat dengan nilai-nilai spirtualitas.

Di rentang waktu beriringan, saya, di tahun 2000, mengundang tiga orang pemikir unik di Bandung. Pertama, Armahedi Mahzar (lahir 1943) adalah filsuf yang menggagas Revolusi Integralisme Islam. Saya banyak belajar kepada Bang Armahedi di Masjid Salman ITB. Beliau juga dosen saya mata kuliah Fisika Dasar (TPB). Konsep integralisme, filsafat Armahedi, merupakan proyek besar bangunan filsafat. Sesuai namanya, integralisme, mengintegrasikan beragam aliran filsafat dunia. Termasuk filsafat kuno, filsafat Islam, filsafat analytic, mau pun filsafat kontinental. Masih banyak yang bisa kita kembangkan dari filsafat Integralisme Islam ini.

Kedua, Dimitri Mahayana (lahir 1967), waktu itu baru berusian 33 tahun, adalah pemikir besar dalam bidang filsafat dan teknologi. Pak Dim, sapaan Dimitri, adalah pakar teknologi informasi di ITB. Saya mengambil beberapa mata kuliah di bawah bimbingan Pak Dim, di Jurusan Teknik Elektro ITB. Sebagai pakar TI, Pak Dim mendalami teknologi secara teori dan praktis, penerapan di dunia nyata. Dimitri menulis beberapa buku tentang teknologi futuristik. Akrab dengan sains dan teknologi, memudahkannya untuk mengkaji filsafat sains, filsafat analytic. Barangkali, Dimitri adalah salah satu dari sedikit orang yang mengembangkan filsafat Sadra di Indonesia. Dimitri mengkaji, menerjemahkan, dan menerbitkan filsafat Sadra atau karya Sadra.

Ketiga, Muhammad Zuhri (1939 – 2011) adalah filsuf sufi tulen Indonesia. Pak Muh, sapaan Muhammad Zuhri, membimbing murid-murid di Bandung, Jakarta, Jateng, yang berasal dari seluruh penjuru negeri – dan manca negara. Yang unik dari Pak Muh, berbeda dengan umumnya pemikir lain, menjalani kehidupan sufi sehari-hari, di abad 21 ini. Pak Muh akrab dengan filsafat Ghazali dan Ibnu Arabi. Bukan hanya secara kajian teoritis tetapi, juga, secara realitas kehidupan nyata. Dan tentu saja, akrab dengan Rumi, Athar, Nifari, Rabiah, dan lain-lainnya.

Dalam membaca Ghazali, saya rasa, Pak Muh melampaui Ihya. Cara unik memposisikan seorang hamba di hadapan Tuhan, lebih selaras dengan kitab Raudhah Ghazali, pasca Ihya. Sufi yang mencapai puncak pertemuan dengan Tuhan menyapanya sebagai Aku, kemudian menyapanya sebagai Dia, dan, terakhir, menyapanya sebagai Engkau. Manusia adalah teman dialogis.

Pak Muh sering merujuk filsuf kontinental semisal Bergson, Heidegger, Sartre dan lain-lain. Tentu saja, Pak Muh akrab dengan karya filsuf sang penyair dari Pakistan: Muhammad Iqbal. Bahkan, beberapa buku karya Pak Muh berupa untaian syair puitis: Kasidah Cinta.

Saya senang sekali dapat mengikuti diskusi bersama tiga tokoh besar Indonesia itu – Armahedi Mahzar, Dimitri Mahayana, dan Muhammad Zuhri. Saya merasa optimis dunia intelektual Indonesia akan mengalami kemajuan besar dalam beberapa tahun ke depan. Apa lagi masih banyak pemikir-pemikir besar Indonesia yang lainnya. Di sini, saya hanya hendak menunjukkan bahwa pengaruh Filsafat Ghazali (dan Ibnu Arabi) exist di Indonesia bahkan sampai masa kini.

Filsafat Ghazali itu canggih, kompleks, dan sulit. Tetapi, uniknya, jika kita membaca secara sederhana, kita juga bisa memahami filsafat Ghazali – secara umum. Hal ini berbeda dengan karya Ibnu Arabi, misalnya. Membaca berulang-ulang karya Ibnu Arabi, sang pembaca, bisa saja tidak paham sama sekali. Diulangi lagi, tetap tidak paham. Umumnya karya filsafat memang begitu.

Kita bisa membaca Ghazali lebih dalam bila kita mempertimbangkan filsafat hermeneutik yang dikembangkan di Eropa pada abad 20 dan 21 ini. Dan lebih menarik lagi, dalam membaca Ghazali, bila kita mempertimbangkan mekanika quantum – fisika modern. Kita bisa menemukan ide paralel antara Ghazali dengan fisika quantum. Sementara itu, fisika quantum telah memusingkan para ahli fisika itu sendiri. “Barang siapa mengaku paham fisika quantum maka dia tidak paham quantum.”

Tikungan Quantum

Fisika quantum atau quantum mechanic, kita sebut saja sebagai quantum, menumbangkan gaya berpikir sains model Newton (Cartesian). Kebenaran sains yang bersifat pasti, berdasar Newton, menjadi goyah sejak landasan paling dasar. Bagaimana pun, quantum tetaplah sains itu sendiri. Namun, interpretasi terhadap quantum menjadi tanda tanya besar.

Berikut ini, kita akan membahas beberapa tikungan quantum dan mencoba membaca Ghazali melalui tikungan quantum itu.

Pertama, ketidakpastian Heisenberg. Kita tidak pernah mengetahui suatu obyek dengan pasti. Selalu ada ketidakpastian dalam setiap pengetahuan. Dalam quantum, misalnya, kita ingin mengukur keadaan suatu elektron yaitu berupa posisi dan momentum (kecepatan). Hasil pengukuran ini pasti mengandung ketidakpastian. Jika kita ingin mengukur posisi lebih presisi maka mengakibatkan momentumnya makin tidak pasti. Sebaliknya, jika ingin momentum lebih pasti maka posisi menjadi tidak pasti. Hasilnya, kedua-duanya, posisi dan momentum dari elektron, sama-sama tidak pasti.

Sementara, Ghazali berulang kali menyatakan bahwa pengetahuan itu terbatas, selalu ada ketidakpastian. Pengetahuan sejati selalu berupa “rahasia”. Jika kita mengungkap pengetahuan tentang “rahasia” ini dengan kata-kata maka kata-kata tidak mampu mewakilinya. Kata-kata, formula, angka-angka, simbol, dan lain-lain tidak pernah secara pasti mengungkapkan “rahasia.” Bahkan masih ada “rahasia” dari “rahasia.”

Kedua, tikungan quantum, adalah quantum state yang tidak bisa diprediksi arah robohnya. Dalam fisika klasik, kita bisa menduga arah robohnya suatu state. Misal, kita bisa memprediksi suatu mesin akan rusak dalam 1 bulan ke depan dengan mengetahui secara lengkap kondisi atau state mesin itu. Dalam quantum, kita tidak bisa memprediksi seperti itu.

Barangkali, kita mengenal eksperimen Kucing Schrodinger. Kucing itu berada dalam kotak bersama partikel quantum yang bisa meluruh. Jika partikel quantum meluruh maka mengaktifkan racun dalam kotak dan kucing jadi mati. Sementara, jika partikel tidak meluruh maka racun tidak aktif dan kucing tetap hidup. Pertanyaannya, apakah saat ini, sebelum kotak dibuka, kucing itu hidup atau mati?

Analisis fisika klasik gaya Newton mengatakan mungkin saja kucing itu sudah mati atau masih hidup. Keadaan itu sudah pasti. Hanya saja kita belum tahu karena belum membuka kotak tersebut. Sementara, analisis quantum menyatakan berbeda. Kucing tersebut berada dalam quantun state hidup dan mati secara bersamaan. Saat ini, sebelum kotak dibuka, kucing itu sekaligus hidup dan mati. Belum ada satu kepastian. Quantum state belum roboh ke arah mati atau ke arah hidup.

Quantum state memang aneh kan? Kucing tersebut dalam keadaan hidup dan mati bersamaan, selama kotak belum dibuka. Ketika kita membuka kotak maka quantum state baru akan roboh (kolaps) ke satu arah, misal kucing mati.

Keadaan kucing itu hidup atau mati seakan-akan “menunggu” kita. Bila kita tidak membuka kotak maka keadaan kucing tetap “menunggu” terus-menerus. Dan saat kita membuka maka quantum state roboh ke salah satu arah hidup atau mati – yang tidak bisa kita prediksi juga.

Membaca Ghazali dengan tikungan quantum itu makin menarik. Ghazali menggunakan kata atom sebagai penyusun – terkecil – materi seluruh alam semesta. State dari jutaan atom tidak bisa diprediksi. Karena Tuhan menciptakan state atom dari satu saat ke saat berikutnya secara langsung dan baru. Sehingga, menurut Ghazali, pengetahuan kita tentang state atom saat ini, hakikatnya, sama sekali tidak bisa untuk memprediksi state atom saat berikutnya. Kucing Schrodinger itu hidup atau mati tidak bisa kita prediksi dari informasi saat ini dan masa lalu. Pandangan Ghazali selaras dengan quantum state.

Keadaan kucing yang “menunggu” hidup atau mati, menurut Ghazali, memang menunggu keputusan Tuhan. Terserah Tuhan akan memutuskan kucing itu hidup atau lainnya, ketika kita membuka kotak itu. Tapi Ghazali melangkah lebih jauh. Ketika kita belum membuka kotak, bisa saja kucing itu hidup, mati, atau seimbang serentak hidup dan mati. Dalam hasl ini, Ghazali mengakomodasi quantum state – dan lebih radikal.

Ketiga, tikungan quantum adalah prinsip non-lokalitas. Secara umum, sains meyakini prinsip lokalitas – dan menolak non-lokalitas. Sementara, quantum justru menunjukkan fenomena non-lokalitas.

Saya merebus air di kota Bandung sampai berhasil mendidih atau tidak ditentukan oleh faktor-faktor lokal. Di antaranya, suhu udara, panas kompor, ukuran air, dan panci yang saya pakai. Semua faktor penentu itu ada di dekat saya, di Bandung. Maka keberhasilan saya merebus air sampai mendidih sesuai dengan prinsip lokalitas. Quantum menunjukkan ada kejadian sebaliknya.

Pertimbangkan situasi mirip dengan sedikit berbeda. Ketika saya merebus air di Bandung ada teman di saya di Surabaya sedang berniat menanam jagung. Jika teman saya, di Surabaya, jadi menanam jagung maka air saya, di Bandung, berhasil mendidih. Tapi, jika teman saya tidak jadi menanam jagung maka air saya di Bandung tidak jadi mendidih. Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Dalam quantum, hal tersebut sesuai dengan prinsip non-lokalitas.

Bahkan peristiwa non-lokalitas berlangsung dengan instan – tanpa waktu jeda. Tentu saja, eksperimen dilakukan terhadap partikel-partikel subatomik. Contoh saya tentang merebus air adalah sekedar ilustrasi untuk memudahkan memahami prinsip non-lokalitas.

Konsep sains fisika klasik sulit memahami prinsip non-lokalitas dari quantum. Sementara, kita bisa membaca konsep atom Ghazali mampu mengakomodasi prinsip non-lokalitas quantum. Konsep atom Ghazali seiring dengan konsep okasional bahwa jutaan atom selalu diciptakan baru setiap saat secara langsung.

Model Epistemik Quantum

Pada tahun 2012, teorema PBR berhasil menolak quantum sebagai model-ontic. Maka teori quantum hanya sebagai model-epistemik yang memberikan informasi tentang realitas ontic.

“In conclusion, we have presented a no-go theorem, which – modulo assumptions – shows that models in which the quantum state is interpreted as mere information about an objective physical state of a system cannot reproduce the predictions of quantum theory. The result is in the same spirit as Bell’s theorem, which states that no local theory can reproduce the predictions of quantum theory.— Matthew F. Pusey, Jonathan Barrett, and Terry Rudolph, “On the reality of the quantum state”, Nature Physics8, 475-478 (2012)”

Barangkali beberapa orang kecewa karena teori quantum hanya sebagai model-epistemik. Saya justru menilai hal tersebut sebagai kesimpulan yang menarik. Bahkan saya menduga: penelitian yang lebih canggih akan menemukan dirinya sebagai model-epistemik, tidak akan berhenti sebagai model-ontic.

Andai suatu saat nanti, teori quantum berhasil menjadi model-ontic maka kajian sains serupa akan menghasilkan model-epistemik baru yang lebih canggih. Model-epistemik ini mengantarkan kita untuk mempertimbangkan filsafat hermeneutik.

Filsafat Hermeneutik

Jebakan Sistem Merit Vs Meritokrasi

Dalam debat 2019, capres Jokowi hendak menerapkan sistem merit di Indonesia. Setelah terpilih, maka porgram sistem merit mulai digulirkan. Sementara di dunia internasional, sistem merit sedang menghadapi krisis besar. Bahkan, perkembangannya sebagai konsep meritokrasi, lebih luas lagi bahayanya.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas singkat asal mula sistem merit, dan meritokrasi, kemudian mencermati resiko jebakan-jebakannya. Dan, mencoba merumuskan beberapa solusi yang mungkin.

Solusi jadi Masalah

Pada tahun 1883 terjadi pembunuhan presiden Amerika. Pembunuh merasa kesal ke presiden karena presiden tidak mengangkat dirinya sebagai pejabat. Padahal dia, pembunuh itu, merasa banyak berjasa dalam kampanye pemenangan pemilihan presiden. Dia merasa berhak mendapat jabatan tinggi.

Untuk mencegah insiden semacam itu maka ditetapkanlah sistem merit. Semua calon pejabat, dan aparatur negara atau pegawai negeri, akan menghadapi seleksi yang berupa sistem merit itu. Jaman itu, sistem merit berupa tes tertulis untuk menentukan calon pejabat apakah layak untuk menduduki jabatan tertentu sesuai kompetensi masing-masing. Sistem merit terbukti efektif untuk seleksi. Dan menjadi solusi yang tepat.

Di Indonesia, seleksi CPNS tampaknya sudah menerapkan sistem merit di mana tes CPNS terpusat dan komputerisasi. Sehingga CPNS yang tidak layak akan tersingkir otomatis berdasar hasil tes komputer itu. Sangat efisien. Selanjutnya sistem merit dikembangkan untuk karir ASN.

TWK KPK bisa kita pandang sebagai sistem merit. Seperti diberitakan, 75 pegawai KPK tidak lolos TWK – Tes Wawasan Kebangsaan. Maka 75 pegawai KPK ini bisa saja dipecat berdasar sistem merit. Sangat efisien.

Apakah itu solusi yang tepat? Apakah sistem merit itu bagus?

Di US, sistem merit mengalami krisis besar. Yang awalnya, jadi solusi, kini menjadi masalah. Bahkan sumber dari beragam masalah.

Di Indonesia, sistem merit yang berupa TWK KPK jelas-jelas memunculkan kontroversi. Banyak pihak menduga bahwa TWK tidak obyektif. Dan wajar bahwa sistem merit memang tidak obyektif. Sistem merit mengalami krisis. Sistem merit diragukan secara teori mau pun praktis.

Meritokrasi

Dari sistem merit berkembang lebih luas menjadi meritokrasi. Tahun 1958, Michael Young menerbitkan novel satire tentang meritokrasi. Sejak itu, istilah meritokrasi menjadi begitu populer di kalangan pakar ilmu sosial. Meski Young membahas meritokrasi dengan mengkritik dan menolaknya, tetapi penjelasan Young tentang meritokrasi begitu kuat.

Sejatinya, di waktu hampir bersamaan, Alan Fox sudah lebih awal menulis artikel yang mengkritik meritokrasi secara langsung.

Baik Young mau pun Fox, tampak, sudah menyadari bahwa meritokrasi sudah berkembang di waktu itu. Dan, meritokrasi akan makin kuat mendominasi kehidupan sosial menuju akhir abad 20 sampai melintas ke abad 21. Meritokrasi mendorong suasana kompetisi berlebihan. Kehidupan menjadi pacuan dari umat manusia. Yang kalah, dalam meritokrasi, jelas kalah. Bahkan yang menang pun juga kalah. Jurang ketimpangan orang super kaya dengan orang miskin tidak bisa dijembatani. Ketimpangan sosial, dan ekonomi, menjadi masalah besar. Kemiskinan makin menjalar. Maka meritokrasi harus diakhiri.

Sejak awal, istilah meritokrasi berkonotasi negatif. Istilah meritokrasi dimunculkan sebagai potret sosial waktu itu, tahun 1950an, untuk dikritisi, dihindari, dan diakhiri.

Putar Balik Meritokrasi

Jalannya sejarah bisa saja berbeda. Young memunculkan istilah meritokrasi untuk dikritik karena memang konotasinya negatif. Masyarakat umum tidak mendengarkan kritik dari Young. Masyarakat justru sepakat dengan Young ketika Young menjelaskan keunggulan meritokrasi. Masyarakat menganggap bahwa meritokrasi adalah positif. Bahkan meritokrasi harus dikejar.

Meritokrasi memberikan kekayaan, dan jabatan, kepada siapa saja yang berjuang dan memenangkan kompetisi. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian, misal UTBK atau SAT, mereka yang berhak diterima di universitas. Pengusaha yang mampu menjual produknya dengan laris maka mereka berhak mendapat keuntungan dari penjualan itu. Karyawan yang paling berprestasi maka mereka berhak mendapat promosi jabatan. Meritokrasi adalah sistem yang adil dan positif.

Merit = IQ + Usaha

Rumusan “merit” sebagai perpaduan nilai IQ tinggi ditambah usaha kerja keras, dari Young, diterima masyarakat luas. Masyarakat sepakat dengan rumusan Young itu – dan melupakan kritiknya.

Pada tahun 1972, Daniel Bell menulis karya tentang meritokrasi dengan konotasi positif. Meritokrasi adalah cita-cita ideal dari bangunan sosial yang adil. Siapa pun Anda, latar belakang apa saja, asalkan Anda adalah orang yang cerdas dan kerja keras maka Anda dijamin sukses. Masyarakat setuju teori Bell: meritokrasi adalah positif.

Resmi, meritokrasi berputar balik: dari yang semula negatif menjadi positif.

Selanjutnya, di tangan para politikus, tema meritokrasi yang positif ini makin menguat. Presiden Amerika, dari Reagan sampai Clinton, dan Perdana Menteri Inggris, dari Thatcher sampai Blair, secara terbuka mendukung meritokrasi. Obama menguatkan meritokrasi, “Di mana pun kalian lahir maka kalian bisa sukses.” Trump mendukung meritokrasi,”Menciptakan medan laga yang setara antara perusahaan dan pekerja.” Dan di Indonesia, capres Jokowi mencanangkan sistem merit untuk pemerintahan masa jabatan kedua.

Menangkan kompetisi maka Anda berhak mendapatkan hasilnya.

Masalah Meritokrasi

Meritokrasi punya beberapa masalah serius. Sedangkan masalah teknis, dan permukaan, dari meritokrasi tidak terlalu signifikan. Karena itu kita perlu mencermati masalah meritokrasi dengan lebih teliti.

Demikian juga, alternatif meritokrasi bukanlah menolak meritokrasi. Lawan meritokrasi adalah nepotisme – atau aristokrasi. Justru lebih berbahaya dari meritokrasi. Tidak mungkin, kita memilih nepotisme dari meritokrasi. Alternatif dari meritokrasi adalah post-meritokrasi: melampaui meritokrasi. Misalnya kolabokrasi yang mengutamakan proses kolaborasi, di saat yang sama, menerapkan bagian-bagian tertentu yang baik dari meritokrasi. Kita akan membahas di bagian berikut ini, diawali dengan masalah-masalah meritokrasi.

  1. Ada yang tertinggal karena ada yang di depan

Prinsip dasar meritokrasi adalah kompetisi, persaingan. Siapa yang menang maka merekalah yang berhak atas posisi, harta, atau hadiah yang ada. Hanya satu orang yang menang, sisanya, jauh lebih banyak orang, adalah pecundang. Mereka yang menang adalah yang paling merit yaitu mereka yang punya IQ tinggi dan usaha keras.

Konsekuensinya, selalu ada yang tertinggal. Selalu ada yang kalah dalam suatu kompetisi. Bahkan dalam jumlah yang lebih besar, mereka yang kalah. Meritokrasi menghadapi kesulitan nyata seperti ini. Lebih parah lagi, yang menang mau pun yang kalah, sama-sama ada pembenaran. Mereka yang kalah lantaran salahnya sendiri, mereka tidak mau kerja keras. Sebuah pembenaran yang masuk akal.

Sejatinya, masalahnya bukan karena orang kalah tersebut malas. Tetapi, seandainya, orang yang malas tersebut jadi rajin berusaha keras maka dia akan jadi menang. Akibatnya, jadi, orang lain yang akan kalah. Sehingga selalu ada yang kalah. Masalah ini ada bukan lantaran kesalahan personal tetapi memang kesalahan inheren dalam sistem meritokrasi.

2. Ada bakat yang tidak sempat diasah

Asumsi bahwa setiap orang berbakat dan punya IQ memadai, tampaknya, sulit diterima. Sementara, dalam sistem meritokrasi, kita mengasumsikan bahwa masing-masing anggota masyarakat punya IQ yang memadai agar bisa terasa adil.

Mudah kita lihat, persaingan berdasar IQ menjadi tidak adil. Lantaran banyak orang yang IQ-nya tidak sempat dikembangkan. Jumlah sekolah tidak memadai untuk menampung siswa. Sehingga ada anak yang bisa sekolah, IQ diasah lebih baik. Dan ada anak yang tidak bisa sekolah, IQ tidak diasah. Makin tinggi sekolah maka makin terbatas daya tampungnya. Misal untuk universitas maka lebih banyak pemuda yang tidak kuliah dari yang bisa kuliah – apa lagi di negara miskin.

Seandainya, kapasitas sekolah mampu menampung semua anak yang berusia sekolah, maka, tetap saja, kualitas masing-masing sekolah berbeda. Maka hasil akhir pengembangan bakat, dan IQ, masing-masing sekolah juga berbeda. Sekali lagi, persaingan berdasar IQ memang tidak pernah adil. Lebih jauh lagi pengembangan IQ, nyatanya, tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Lingkungan lebih luas berpengaruh besar terhadap IQ, dan bakat, setiap anak. Termasuk lingkungan keluarga, fasilitas olah raga, instrumen musik, dan sebagainya. Meritokrasi menghadapi masalah pelik dalam hal ini.

Meritokrasi, lebih sulit lagi, dalam menghadapi orang-orang yang tidak beruntung, misal lahir dalam keadaan cacat atau kebutuhan khusus. Meritokrasi memang tidak adil terhadap mereka – dan terhadap banyak orang.

3. Beberapa tanjakan lebih terjal

Dengan asumsi semua orang punya bakat dan IQ yang adil pun, meritokrasi, masih menghadapi kesulitan pelik. Tidak semua tanjakan sama terjal. Ada beberapa orang yang dengan mudah meraih prestasi. Sementara, beberapa orang lain, sangat sulit untuk meraih prestasi yang sama itu.

Misalkan dua anak, yang satu anak orang kaya raya dan satunya lagi anak orang miskin, sama-sama diterima di universitas favorit. Untuk lolos seleksi ke universitas, anak orang kaya melengkapi diri dengan fasilitas belajar, buku, bimbingan, uang, dan sebagainya. Sementara, anak orang miskin tidak punya fasilitas yang berarti. Dia harus berjuang ekstra keras dengan keadaannya. Jelas, ketimpangan antara mereka. Meritokrasi memang tidak adil. Seandainya memiliki IQ yang saya, anak miskin menghadapi kesulitan lebih besar dari anak orang kaya.

Ketika kuliah, ketimpangan terjadi lagi. Anak orang kaya dilengkapi dengan beragam fasilitas, kenal baik dengan profesor dan administrasi kampus, dan kehidupan mahasiswa yang mewah. Sementara anak orang miskin, sulit untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, bayar kos bulanan tidak ada uang, tidak ada relasi khusus dengan profesor, dan sebagainya. Meski mereka sama-sama sebagai mahasiwa unversitas, tanjakan mereka berbeda. Meritokrasi memang tidak memadai.

4. Tidak ada ukuran obyektif, hanya interpretasi

Kita tidak pernah bisa mengukur dengan pasti apa itu merit. Yang ada hanya asumsi, atau interpretasi, atau yang terbaik adalah estimasi.

Merit = IQ + Usaha

Pertama, kita tidak bisa mengukur IQ. Kita hanya bisa meng-estimasi IQ seseorang dengan beragam instrumen pengukuran. Di lain pihak, IQ seseorang berubah-ubah setiap saat. Sehingga, apa pun hasil pengukuran IQ bisa diragukan validitasnya.

Kedua, kita lebih sulit lagi mengukur usaha. Ukuran usaha sesuai teori fisika sebagai hasil perkalian gaya dan perpindahan, jelas, tidak tepat di sini. Ukuran usaha yang lain makin tidak bisa disepakati. Sementara, masing-masing orang mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Maka mereka akan mengerahkan usaha yang berbeda-beda pula. Makin sulit lagi, bagi kita, untuk mengukur usaha seseorang untuk kemudian dibandingkan.

Ketiga, sebagai akibat dari IQ dan usaha yang tidak bisa diukur, maka merit juga tidak bisa diukur. Lalu bagaimana kita bisa menerapkan meritokrasi ketika merit tidak bisa diukur? Tentu saja, validitas meritokrasi benar-benar diragukan.

Contoh kasus TWK KPK. Apakah wawasan kebangsaan bisa diukur? Tentu tidak bisa. Tetapi kita bisa mengukurnya, sekedar sebagai estimasi, dengan instrumen TWK – Tes Wawasan Kebangsaan. Sehingga, pemecatan anggota KPK, berdasar hasil TWK, sangat sulit dibuktikan validitasnya. Bagaimana pun, hasil TWK ini tetap bisa kita gunakan sebagai bahan dialog. Sistem merit, memang, tidak memadai dalam kasus ini.

5. Ada yang tidak bisa dibeli

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Jika uangnya lebih besar maka akan mampu membeli kebahagiaan. Dan, jika uangnya lebih besar lagi, akan bisa membeli apa saja. Begitulah, ketika ideologi meritokrasi telah mengakar generasi demi generasi. Uang adalah salah satu ukuran merit paling jelas.

Pandemi covid-19 memutarbalikkan kekuatan uang. Jutaan orang telah meninggal karena covid. Uang tidak bisa membeli nyawa mereka. Uang tidak bisa menyelamat saudara-saudara kita dari bahaya pandemi. Uang tidak bisa membelikan anak yatim, setelah bapaknya meninggal karena covid, ayah baru sebagai pengganti. Rasakan, dengan empati, sedihnya ribuan anak yatim akibat pandemi ini.

Uang bukan apa-apa. Uang adalah alat tukar semata yang memudahkan kehidupan sosial kita. Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli oleh uang. Meritokrasi menghadapi masalah pelik berkaitan dengan uang.

Dengan lima masalah mendasar dari meritokrasi seperti kita bahas di atas, maka meritokrasi tidak layak menjadi sistem di tatanan sosial kita. Kita harus meninggalkan meritokrasi. Tetapi kita tidak bisa melawan meritokrasi. Yang bisa kita lakukan adalah melampaui meritokrasi. Untuk itu, saya menyusun peta evolusi meritokrasi terdiri dari 5 level. Meritokrasi berada pada level 3. Untuk mengakhiri meritokrasi, kita tidak bisa kembali ke level 1 (dominasi) atau pun level 2 (aristokrasi). Kita justru perlu naik ke level 4 (kolabokrasi) dan level 5 (dinamokrasi).

Evolusi Meritokrasi

Konsep meritokrasi dinamis berubah-ubah. Baik berubah dari sisi maknanya atau pun masyarakat berubah dari suatu meritokrasi ke bentuk lainnya. Meritokrasi sendiri bisa bersanding dengan sistem-sistem lainya, misal bersanding dengan demokrasi.

Berikut ini adalah evolusi meritokrasi dalam arti seleksi memilih siapa saja yang berhak atas suatu posisi.

  1. Dominasi. Pihak yang kuat, menang, dan mendominasi maka mereka yang berkuasa. Praktek dominasi banyak kita jumpai di masa kolonialisme dan imperialisme. Sekarang, seharusnya, sudah tidak ada praktik dominasi. Nyatanya, masih ada saja praktek dominasi ini. Misalnya, di dunia bisnis, terjadi praktek monopoli. Sehingga hanya ada satu pihak saja yang menguasai dan tentu saja dia yang menang.

    Dalam dunia politik, kita juga bisa melihat dominasi Israel atas Palestina sejak 1967 sampai sekarang. Israel menduduki Tepi Barat (Palestina) dan mengurung Jalur Gaza (Palestina). Tampaknya, sejauh ini, dunia internasional belum bisa berbuat banyak untuk menghentikan praktek dominasi ini. Barangkali dalam beberapa waktu ke depan akan ada perbaikan situasi.

  2. Aristokrasi. Pihak yang berkuasa adalah keturunan dari penguasa sebelumnya, misal kerajaan. Kita masih bisa menemukan praktek aristokrasi, kekuasaan turun-temurun, sampai saat ini. Umumnya, aristokrasi di jaman ini, dilengkapi dengan konstitusi sehingga praktek kekuasaan ada batas-batas yang jelas. Misal Inggris, Belanda, Yogyakarta, dan lain-lain.

    Meski demikian, ada juga kerajaan yang kekuasaan rajanya nyaris mutlak. Konstitusi pun, dengan cara tertentu, dapat diubah sesuai kepentingan para aristokrat. Di dunia bisnis, barangkali hal ini bisa terjadi pada perusahaan keluarga yang turun-temurun.

  3. Meritokrasi. Pihak yang lolos berdasar uji sistem merit maka mereka yang berhak mengklaim posisi, misal dalam kompetisi. Pemenang, penguasa, atau pemimpin ditentukan oleh nilai merit = IQ + Usaha. Kompetisi terbuka dan dianggap adil menjadi norma utama. Level meritokrasi ini lah yang perlu kita lampaui menuju level-level berikutnya.

  4. Kolabokrasi. Pihak-pihak berkolaborasi memilih pemimpin untuk suatu bidang dengan bidang lainnya untuk mencapai tujuan bersama. Sesuai dengan namanya, pemimpin atau pemenang, berkolaborasi dengan anggota untuk menciptakan kemajuan bersama. Pemimpin bukan berhak mengklaim mendapat gaji yang paling besar. Tetapi pemimpin adalah orang yang mendapat wewenang, dan tanggung jawab terbesar, memimpin kesatuan komunitas untuk mencapai cita-citanya.

    Pemilihan pemimpin dapat dilakukan secara demokratis, mirip dengan konsep meritokrasi, tetapi melampauinya. Di satu sisi, kolabokrasi membuka kompetisi yang adil. Di sisi lain, kolabokrasi tidak berlebihan dalam berkompetisi. Kompetisi hanya sekedar pemanis dari kolaborasi. Yang utama adalah kolaborasi.

    Kolabokrasi memegang tiga prinsip dasar. Pertama, manusia dan alam merupakan kesatuan integral. Kedua, pemimpin adalah orang yang memimpin manusia dan alam mencapai cita-cita tertinggi – bukan demi kekayaan pribadi. Ketiga, seluruh hidup manusia adalah untuk kebaikan manusia dan alam semesta. Kompetisi, meski ada, tidak termasuk dalam tiga prinsip utama. Masing-masing prinsip kolabokrasi saya bahas di bagian bawah.

  5. Dinamokrasi. Pihak-pihak bergerak dinamis dalam memilih pemimpin dengan mempertimbangkan kadar kolaborasi dan kompetisi. Sifat dasar dari manusia adalah dinamis. Maka tidak ada kisah akhir dari manusia. Manusia selalu mempunyai kisah-kisah baru yang unik. Maka demikian juga dengan tatanan sosial, tidak ada tatanan sosial yang bersifat final. Selalu ada dinamika.

    Meski Fukuyama menyatakan The End of History bahwa sejarah manusia sudah berakhir, tatanan sosial manusia mencapai akhir yaitu demokrasi, tetapi Fukuyama tidak bisa mengklaim seperti apa bentuk akhir dari demokrasi itu sendiri. Sehingga demokrasi tetap mengalami perubahan dinamis.

    Dinamokrasi adalah tatanan sosial yang dinamis. Bergerak dari satu kadar kolaborasi ke kadar kompetisi yang berbeda-beda. Pada saat tertentu, masyarakat perlu nyaris hampir secara totalitas kolaborasi. Di saat yang lain, barangkali masyarakat perlu menambah kadar kekuatan bumbu kompetisi. Tidak ada rumus baku dalam hal ini. Manusia dan alam benar-benar dinamis.

Solusi Meritokrasi

Bukan menolak meritokrasi tetapi melampaui meritokrasi, itu solusi yang kita butuhkan. Bagian yang buruk ditinggalkan, bagian yang baik dijaga. Maka solusi dari meritokrasi adalah kolabokrasi (level 4) dan dinamokrasi (level 5).

Berikut ini, kita akan mendiskusikan tiga prinsip dasar kolabokrasi.

Prinsip 1: Kesatuan; Manusia dan alam adalah satu kesatuan integral yang utuh.
Prinsip 2: Kepemimpinan; Pemimpin adalah orang yang memimpin manusia dan alam mencapai cita-cita tertinggi.
Prinsip 3: Tujuan; Seluruh hidup manusia bertujuan untuk kebaikan manusia dan alam yang beragam.

Manusia dan alam adalah satu kesatuan

Manusia, kita, bisa eksis hanya karena ada alam semesta. Tanpa alam, manusia tidak bisa eksis. Seandainya, manusia bisa eksis tanpa alam maka manusia juga tidak akan bermakna apa-apa. Manusia tanpa oksigen tidak bisa hidup. Manusia tanpa makanan tidak bisa hidup. Manusia sepenuhnya menyatu dengan alam.

Sebaliknya, alam hanya bisa bermakna karena manusia. Barangkali kita bisa membayangkan alam semesta ini eksis tanpa manusia. Bumi, lautan, gunung, matahari, dan galaksi berjalan sesuai hukum alam. Tetapi apa makna itu semua tanpa manusia? Alam bergerak sesuai tatanan. Tidak ada teknologi digital, tidak ada internet, tidak ada pesawat, dan yang tragis, tidak ada kisah cinta yang begitu indah. Alam semesta menjadi bermakna hanya karena ada manusia.

Manusia butuh alam semesta, dan alam semesta butuh manusia. Manusia dan alam semesta adalah satu kesatuan integral yang utuh. Konsekuensinya, manusia adalah milik alam semesta, dan alam semesta adalah milik umat manusia.

Manusia berkolaborasi dengan alam semesta untuk menjalani misteri waktu. Di antara umat manusia, tak satu orang pun bisa mengklaim dirinya sebagai orang paling berhak memiliki alam – sumber daya misalnya. Karena, alam adalah milik bersama. Ketika seseorang memiliki sawah atau mobil, misalnya, maka sawah itu bukan eksklusif milik orang tersebut. Pemilik sawah tidak berhak merusak sawah miliknya. Pemilik mobil juga tidak berhak menghancurkan mobilnya. Sawah dan mobil, adalah bagian dari alam, merupakan milik umat manusia. Untuk digunakan, secara kolaborasi, memajukan manusia dan alam raya.

Makna seseorang memiliki mobil bukanlah memiliki, eksklusif, seperti yang umumnya dibayangkan. Memiliki, di sini, bermakna mendapat kepercayaan untuk memanfaatkan demi kepentingan bersama. Saya memiliki mobil bermakna bahwa umat manusia, dengan proses sosial tertentu, mempercayakan mobil itu kepada saya untuk saya kelola dengan sebaik-baiknya. Jika ada rumah yang bukan milik saya maka saya, dengan proses sosial tertentu, tidak mendapat kepercayaan untuk mengelola rumah itu. Ada orang lain yang lebih berhak mengelola rumah itu, yaitu pemilik sah rumah itu, untuk memberikan kebaikan bersama.

Pertanyaan muncul, bagaimana proses sosial yang bisa menentukan saya berhak mengelola mobil ini tapi tidak berhak mengelola rumah itu? Proses sosial ini adalah proses kolaborasi, melampaui sekedar kompetisi semata. Proses sosial, tentu, harus bersifat adil bagi semua umat manusia dan alam semesta.

Pemimpin memimpin manusia dan alam mencapai cita-cita tertinggi.

Menjadi pemimpin adalah tugas yang amat berat. Karena itu, pemimpin, wajar saja, mendapat fasilitas dan wewenang agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik demi kebaikan umat manusia dan alam raya. Jebakannya adalah, bila orang ingin menjadi pemimpin agar memperoleh fasilitas luas, dan wewenang yang terbentang, sementara, dia lupa menjalankan tugas kepemimpinan. Lebih parah lagi, pemimpin semacam itu, mempunyai banyak pembenaran. Termasuk pembenaran mempertahankan jabatan kepemimpinannya itu.

Seorang pemimpin, mewakili seluruh umat manusia dan alam raya, mengarahkan gerak menuju cita-cita tertinggi. Pemimpin perlu mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengetahui cita-cita paling luhur itu. Menentukan strategi terbaik untuk meraihnya. Lengkap dengan beragam sumber daya yang diperlukan serta waktu yang diperlukan.

Di saat yang sama, pemimpin perlu mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin menghalangi gerak maju peradaban. Kemudian pemimpin menyiapkan beragam strategi alternatif untuk bisa mengatasi kendala itu. Tugas pemimpin menjamin tercapainya cita-cita tertinggi itu. Bukan melaksanakan pekerjaan untuk mencapai cita-cita itu. Dalam melaksanakan pekerjaan itu, pemimpin sesuai wewenangnya, dapat memerintahkan anggota tim secara kolaborasi.

Jika tugas pemimpim adalah menjamin tercapainya cita-cita maka bukankah itu tugas yang berat? Benar. Bahkan tugas yang berat sekali. Karena itu, pemimpin mendapat fasilitas besar untuk bisa memastikan tecapainya cita-cita tertinggi.

Bukankah setiap manusia adalah pemimpin? Maka tugas setiap manusia adalah berat? Benar, karena itu manusia mendapat fasilitas alam raya ini.

Tujuan seluruh manusia adalah untuk kebaikan manusia dan alam raya.

Masing-masing dari kita, setiap manusia, punya peran untuk menjadikan alam semesta menjadi lebih baik. Termasuk menjadikan orang di sekitar kita, menjadi lebih baik pula. Untuk dapat menjalankan peran itu, kadang, kita bekerja secara mandiri. Dan, lebih banyak, kita bekerja sama dengan orang lain. Nyatanya, kita selalu bekerja sama dengan beragam pihak. Manusia dan alam adalah satu kesatuan utuh.

Kita pasti jadi pemimpin – setidaknya memimpin diri sendiri. Dan, di saat yang sama, kita juga anggota dari suatu komunitas. Maka kita perlu bisa menempatkan diri siap memimpin dan siap dipimpin.

Presiden US, misal Biden, jelas adalah seorang pemimpin. Bahkan dia pemimpin negara terbesar di dunia. Apakah Biden juga anggota yang harus siap dipimpin? Tentu saja. Dia anggota PBB. Maka dia, presiden US, harus patuh kepada ketua PBB. Dalam kehidupan pribadi, Biden, barangkali sebagai anggota komunitas. Maka Biden harus patuh terhadap ketua komunitas tersebut. Siapa pun diri kita, pasti merupakan anggota yang harus siap dipimpin.

Baik sebagai pemimpin mau pun anggota, tujuan kita adalah untuk berperan menjadikan alam semesta dan manusia lebih baik.

Kompetisi Kolaborasi

Kompetisi yang banyak berperan dalam meritokrasi tetap terjadi dalam kolaborasi. Hanya saja, kompetisi kali ini, ada dalam naungan prinsip kolaborasi. Kita perlu merumuskan kompetisi yang sejalan dengan kolaborasi. Gagal dalam merumuskan ini, kita dalam resiko terjatuh ke nepotisme – lebih buruk dari meritokrasi.

Kompetisi perlu dijamin bersifat adil – secara luas. Hasil dari kompetisi adalah untuk menjalankan prinsip-prinsip kolaborasi – menjadikan alam dan manusia lebih baik.

  1. Setara dalam peluang
  2. Proses yang terbuka
  3. Hasil: Prinsip Perbedaan

Setara dalam Peluang (Equal of Opportunity)

Aturan setara dalam peluang tampaknya mudah kita terima. Semua orang yang bersaing mempunyai peluang sama besar untuk menang. Mereka yang berbakat dan komitmen berjuang maka yang paling besar peluang untuk sukses. Tanpa kesetaraan ini, tampaknya sulit bagi kita untuk mengatakan suatu kompetisi sebagai adil.

(1) Proses penerimaan mahasiswa baru di universitas
(2) Pemilihan presiden di suatu negara
(3) Pemilihan ketua kelas di suatu sekolah menengah

Kita akan mencoba menganalisis tiga contoh kasus di atas. Kasus (1) tentang penerimaan mahasiswa baru, tampaknya, dengan mudah bisa dilakukan dengan seleksi semisal UTBK – Ujian Tulis Berbasis Komputer. Mereka yang dapat nilai tinggi dalam UTBK berhak diterima di universitas. Dan setiap siswa yang lulus SMA, dalam 3 tahun terakhir, mempunyai peluang yang sama besar untuk bersaing dalam UTBK. Jadi, UTBK bisa kita nyatakan sebagai kompetisi yang adil. Nyatanya, tidak sesederhana itu.

UTBK tidak bisa, dengan mudah, menjamin suatu kompetisi yang setara. Perhatikan kualitas SMA di kota jauh lebih menguntungkan dibanding dengan SMA di daerah terpencil. Meski siswa di kota dan di daerah terpencil sama-sama boleh berkompetisi di UTBK, namun, bekal kemampuan mereka beda jauh. Siswa di kota akan berpeluang besar untuk menang.

Sehingga, untuk menjamin kesetaraan dalam peluang, kementrian pendidikan perlu menjamin kualitas SMA di seluruh Indonesia setara. Kualitas SMA di daerah terpencil sama dengan kualitas SMA di kota. Sulit untuk dipenuhi. Dan jika kualitas SMA, misalnya, sama-sama setara di seluruh negara, maka masih ada yang bisa mengubah kesetaraan itu. Keluarga kaya akan membekali anak-anaknya dengan belajar tambahan, bimbingan belajar, buku penunjang, gizi, akses internet, dan lain-lain. Akibatnya, anak orang kaya akan berpeluang lebih besar untuk menang dalam kompetisi UTBK. Tentu saja, ada cara untuk mengatasi kesulitan ini. Saya akan membahasnya di tempat lain.

Kasus (2) pemilihan presiden maka semua warga negara berhak mengajukan diri sebagai calon presiden. Tampaknya, kompetisi pilpres ini, sesuai dengan aturan setara dalam peluang.