Dinamika Cinta

Bagian Dinamika Cinta membahas aksiologi cinta yang penuh dinamika. Kita fokus dengan mengambil tiga tema paling dinamis: ekonomi, politik, dan agama.

17. Ekonomi Cinta

Ekonomi cinta menyadari bahwa ekonomi adalah aspek kehidupan paling melekat dalam kehidupan manusia masa kini. Segala sisi kehidupan dihitung nilai ekonominya. Dari satu sisi, kita bisa melihat angka-angka ekonomi yang menggambarkan kemajuan manusia – atau kemunduran. Di sisi lain, angka-angka ekonomi ini, justru, menjebak manusia dalam penjara ekonomi.

Ekonomi cinta menyadarkan kita bahwa sistem ekonomi adalah barza, yaitu, ruang temu antara cahaya cinta dengan void kegelapan. Sehingga, ekonomi bisa mengurung manusia dalam gelap. Di saat yang sama, ekonomi bisa menjadi sarana berlatih bagi umat manusia untuk melompat jauh lebih tinggi mencapai cahaya suci abadi. Ekonomi cinta membahas itu semua dan melengkapi dengan beragam rekomendasi untuk mengubah ekonomi dari penjara menjadi sasana cinta.

18. Politisasi Cinta

Politik cinta menegaskan kembali peran penting dari politik. Sistem politik menembus dan mengoyak seluruh realitas alam raya. Secara alamiah, politik memiliki karakter luma yaitu selalu memberi. Hanya saja, manusia kadang berlebihan dalam pemberian politik ini, sehingga, membahayakan umat manusia dan alam raya. Untuk itu, kita perlu menata politik pada ukuran yang tepat. Dan, terciptalah politik tataluma yaitu politik yang selalu memberi dan menata.

Dalam membahas politik tataluma, kita melakukan studi kasus beberapa negara sebagai ilustrasi alternatif jalur pengembangan sistem politik. Dari beragam alternatif jalur ini, kita bisa memilih jalur yang paling tepat sesuai ruang dan waktu. Kesimpulannya adalah ada beragam jalur untuk meraih sistem politik yang adil. Di saat yang sama, ada lebih banyak jalur untuk terperosok ke sistem politik yang bangkrut. Selalu ada dinamika dalam politik.

19. Agama Cinta

Agama cinta, tentu, lebih luas dari semua yang kita bahas. Agama membahas kehidupan masa kini, masa lalu, dan masa depan. Bahkan, agama membahas kehidupan di akhirat kelak.

Beberapa kaum modernis menduga bahwa agama tidak penting lagi bagi kaum modern. Kajian kita menunjukkan sebaliknya. Agama, justru, makin dibutuhkan umat manusia di era modern dan setelahnya. Umat manusia membutuhkan bimbingan agama dalam menghadapi realitas yang makin panas.

Tentu saja, ada pembelokan agama menjadi kedok. Kita perlu kembali meluruskan dan diluruskan oleh agama yang membuka mata, hati, dan diri manusia. Agama selalu terbuka dan membuka kebenaran. Kita berada di waktu dan tempat yang tepat.

POWER: Bicara Efektif

Saya mendapat silver play button dari Youtube Amerika, beberapa tahun lalu, sebagai tanda canel youtube saya sudah meraih 100 ribu subscriber lebih. Ketika anak-anak muda berebut menjadi youtuber terkenal, di saat yang sama, saya menerapkan jurus “trik 7 detik” sebagai youtuber. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat silver button dari youtube untuk canel yang kedua. Lengkap, saat ini, saya mendapat dua silver play button youtube. Dengan total subscriber lebih dari 700 ribu orang.

Bagaimana caranya untuk sukses di youtube? Kunci paling penting adalah “POWER: Bicara Efektif.”

POWER adalah Punch, Oneness, Window, Ear, Retention. Dengan fokus hanya ke POWER, kita menjadi mudah untuk berbicara efektif. Tentu saja, kita bisa memanfaatkan POWER secara luas: untuk mengajar, berbicara di seminar, atau untuk konsultasi.

1. Punch

Awali pembicaraan Anda dengan punch, sesuatu yang paling menarik, sesuatu yang paling mengagetkan pendengar. Waktu 8 sampai 32 detik pertama, pendengar sedang memperhatikan Anda sebagai pembicara. Begitu Anda memulai dengan punch, sesuatu yang menarik, maka pendengar akan sepenuhnya memberi perhatian kepada Anda.

Sebaliknya, jika dalam 30 detik pertama tidak ada suatu pembicaraan yang menarik, maka, pendengar akan pesimis atau malas untuk mendengarkan. Tidak mudah bagi pembicara untuk menarik perhatian setelah terjadi kebosanan beberapa menit. Langkah lebih efektif adalah berikan punch, sejak awal, untuk menarik perhatian pendengar. Kemudian kita bisa melakukan beragam improvisasi di waktu selanjutnya.

Contoh punch adalah: pengalaman pribadi yang menarik, pengalaman membaca buku spesial, kutipan dari orang terkenal, kisah singkat, atau kadang humor ringan. Tentu saja, konten dari punch perlu punya hubungan relevan dengan tema pembicaran, baik secara langsung atau tidak.

2. Oneness

Kesatuan tema, atau oneness, menjadi penting agar pesan kita dipahami secara utuh. Oneness memberi pendengar panduan memahami alur pembicaraan kita secara bertahap. Selesai berbicara dengan kita, pendengar dengan mudah bisa mengingat tema utama pembicaraan kita melalui oneness. Meski, untuk data lebih detil, barangkali, kita perlu melihat data dan catatan.

Contoh onenes: jembatan keledai POWER, bagan, mind map, pembagian 3 babak, dan sebagainya.

3. Window

Beri kesempatan pendengar untuk memahami tema dengan membuka beragam jendela pemahaman: window. Barangkali inti pembicaraan kita sudah lengkap dengan oneness. Tetapi, pendengar perlu informasi lebih detil agar mampu memahami tema yang kita sampaikan. Window adalah beragam jendela pemahaman yang memudahkan bagi pendengar kita.

Beberapa window yang bisa kita manfaatkan: contoh nyata, studi kasus, ilustrasi, simulasi, cerita, humor, grafik, tabel, wawancara, dialog, praktikum, dan lain-lain.

Secara umum, window adalah yang menjadikan suatu pembicaraan lebih menarik dan mudah dipahami. Sementara, oneness mengikat erat seluruh tema pembicaraan menjadi satu kesatuan. Kita perlu menghabiskan waktu lebih banyak membahas window dan hanya sedikit untuk oneness.

4. Ear

Kita perlu sadar bahwa kita sedang berbicara kepada orang-orang bukan kepada mesin. Maka, kita perlu menggunakan bahasa yang mudah didengar oleh telinga pendegar: ear. Secara umum, gunakan bahasa sehari-hari. Dan, batasi penggunaan istilah-istilah kompleks yang membingungkan pendengar.

Cara mudah menggunakan bahasa sehari-hari, atau ear, adalah mengungkapkan ide dalam bentuk percakapan.

“Berapa diskon belanja online yang pernah kamu dapatkan?” tanya Ani.
“Diskon 100%,” jawab Budi.
“Gratis dong kalau begitu?”
“Benar. Aku beli bakso online 200 ribu rupiah diskon 100%, gratis. Lalu, baksonya aku bagi-bagi ke teman kos.”
“Lha, kamu kok tidak kasih aku baksonya?”
“Untuk kamu, tidak cukup bakso. Untuk kamu adalah hatiku 100%.”

5. Retention

Pesan kita perlu menempel di pikiran, dan ingatan, pendengar sampai dalam waktu yang lama: retention. Dengan demikian, kita berhasil memastikan pembicaraan kita berhasil sebagai efektif karena pesan diingat terus dalam jangka panjang.

Beberapa cara retention bisa kita kembangkan. Saran saya adalah kombinasi oneness disusul dengan punch yang baru sebagai penutup. Oneness mengingatkan pendengar kesatuan tema terpenting. Dan punch versi baru memberi kesan akhir yang kuat bagi pendengar.

6. Bonus STIKER

Berikut adalah tips bonus yang akan menjadikan pembicaraan kita menarik dan menempel kuat di benak para pendengar bagai stiker: STIKER.

STIKER adalah: Sederhana, Tak terduga, Ilmu, Konkret, Emosi, Roman.

Sederhana

Pilih bahasa yang sederhana. Cara mudah memilih bahasa sederhana adalah dengan cara mengungkapkan ide dalam bahasa percakapan atau cerita.

Tak Terduga

Pastikan ada unsur tak terduga dalam ide anda. Jika semua ide Anda sesuai dugaan, maka, buat apa didengarkan? Siapkan beberapa kejutan yang membuat penasaran.

Ilmu

Kita mempercayai suatu pesan bila pesan tersebut dijamin benar. Hasil penelitan ilmiah, rujukan narasumber, atau analisis keilmuan memberi kekuatan kepada setiap orang untuk percaya.

Emosi

Libatkan emosi, atau suatu perasaan, dalam pesan Anda. Maka, pesan menjadi lebih hidup dan mudah melekat erat ke pikiran dan hati.

Roman

Siapa yang tidak suka kisah roman? Semua orang suka terhadap kisah-kisah inspiratif. Bumbui, atau rangkailah, ide-ide Anda dalam bentuk kisah. Tentu saja, kisah cinta adalah abadi.

Bagaimana menurut Anda?

Epilog: Wacana Cinta

Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta menembus setiap batas. Cinta mengetuk hati-hati yang gelisah, monoton, mau pun yang berbunga-bunga. Cinta datang pada pandangan pertama. Datang lagi pada pandangan kedua atau datang sampai mata tak bisa memandang.

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan cinta. Tapi, cinta memang perlu kata-kata. Tak ada kisah yang bisa menuturkan cinta. Tapi, cinta memang perlu dikisahkan. Tak ada ilmu yang cukup untuk mengkaji cinta. Tapi, cinta memang perlu dikaji.

Pada epilog ini, kita akan mengkaji cinta dalam lima wacana.

A. Wacana Eksistensi.

B. Wacana Pengetahuan

C. Wacana Kebenaran

D. Wacana Ontologi

E. Wacana Aksiologi

Apa lagi yang diperlukan? Kamu, ya kamu! Kamu adalah cinta. Kamu adalah cahaya cinta. Saatnya telah tiba, lebih bersinar bersama cinta. Saatnya, lebih dalam mendalami cahaya cinta dalam relung hati. Saatnya, untuk beraksi menebarkan cahaya cinta ke seluruh penjuru semesta.

Agama Cinta

Agama berpengaruh besar dalam kehidupan umat manusia. Bahkan, agama makin berpengaruh besar saat manusia sudah mati. Agama, memang, berpengaruh dalam hidup dan mati.

Agama sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lampau. Sehingga wajar, bila saat ini, sudah terbentuk sistem agama yang baku dalam satu dan lain bentuk. Beberapa orang memandang agama sebagai sistem formal yang mengatur tata cara ibadah, menjalani hidup, dan hidup bermasyarakat. Agama berisi, dengan, beragam aturan baku demi kebaikan umat manusia.

Di sisi lain, beberapa orang memandang agama sebagai spirit kemajuan manusia. Agama, terus-menerus, memercikkan inspirasi kepada umat manusia dengan ide-ide segar. Agama selalu hidup. Agama bertabur cinta. Agama adalah dinamika.

1. Agama Formal
1.1 Identitas
1.2 Ritual
1.3 Legal
2. Spirit Agama
2.1 Cinta
2.2 Pencerahan
2.3 Sekular
3. Masa Depan Agama
3.1 Haus Dogma
3.2 Pembebasan
3.3 Simbol Dinamika
4. Diskusi
4.1 Ringkasan
4.2 Filosofi Roda Tiga
4.3 Agama Cinta Absolut

Kita akan membahas dua sudut pandang di atas, agama formal vs spirit agama, yang saling melengkapi. Tentu saja, kita akan menambahkan peran cinta dalam beragama. Pada bagian akhir, kita akan mengembangkan hipotesis tentang masa depan agama atau agama masa depan. Agama masa depan adalah agama yang bernuansa dinamika. Sehingga, agama selaras dengan filosofi roda tiga yang senantiasa berputar.

1. Agama Formal

Yang paling jelas dari agama adalah jaminan hidup yang sempurna. Hidup sempurna di masa kini dan di masa depan, misal kehidupan bahagia di akhirat berupa surga. Karena itu, komitmen seseorang terhadap agama, umumnya, adalah komitmen yang sangat kuat. Ketika seseorang meyakini agama A maka dia akan menjalani hidup sepenuhnya sesuai tuntunan agama A. Bahkan, orang tersebut rela berkorban apa saja demi agama A, sampai korban jiwa raga. Bagi mereka, agama adalah agama formal yang paling sempurna.

1.1 Identitas

Sistem agama formal makin kuat dengan klaim identitas. Saya adalah orang beragama A. Karena itu, saya berbeda dengan orang yang bukan beragama A. Saya identik dengan orang-orang yang beragama A. Semua ajaran agama A adalah kebenaran. Yang berbeda dengan ajaran agama A adalah kesesatan atau, minimal, sia-sia.

Keunggulan identitas adalah mengacu pada diri sendiri. Ketika saya mengatakan agama A sebagai yang terbaik, itu karena, agama A mengatakan bahwa agama A adalah yang terbaik. Bukan karena ada panitia netral yang membandingkan agama A dengan agama B atau lainnya, lalu, kesimpulannya adalah agama A yang terbaik. Yang lebih menarik, agama A bisa membanding-bandingkan agama A dengan agama lain, dan tentu saja, hasilnya adalah agama A yang terbaik. Identitas A makin menguatkan klaim bahwa dirinya adalah yang terbaik.

Apakah perlu membandingkan agama A dengan agama B? Perlu dan tidak perlu. Tetapi, perbandingan semacam itu tidak akan pernah memadai.

Perlu Perbandingan

Perbandingan adalah cara paling mudah untuk memahami sesuatu. Dengan membandingkan agama A terhadap agama B, maka, kita lebih mudah memahami kedua agama. Sehingga, kita perlu membandingkan beragam agama untuk memudahkan pemahaman. Bagaimana pun, perbandingan ini tidak akan pernah memadai.

Lebih penting lagi adalah perbandingan di dalam agama itu sendiri antara aliran P dengan aliran Q, misalnya. Seperti kita tahu, dalam setiap agama, berkembang aliran-aliran pemikiran yang beragam. Membandingkan aliran P terhadap aliran Q dapat memudahkan kita memahami identitas agama dengan lebih baik. Bila proses perbandingan ini dilakukan dengan respek maka akan menghasilkan banyak ide-ide kemajuan.

Tentu saja terdapat resiko dalam membandingkan agama. Aliran P menjelekkan aliran Q masih lebih ringan dari agama A menjelekkan agama B. Konflik di dalam satu agama cenderung lebih ringan. Sementara, konflik antar agama cenderung resiko besar. Karena itu, penting untuk terus menjunjung rasa hormat di antara seluruh umat.

Alternatif lebih baik adalah dialog antar agama atau antar aliran. Dialog ini bertujuan untuk mengembangkan kebersamaan di antara keragaman. Sehingga, suasana respek dalam dialog selalu terjaga. Bagaimana pun, ada pihak-pihak tertentu yang tidak sepakat dengan pendekatan dialog. Karena menurut pihak itu, sudah jelas bahwa agama A dengan aliran P, yang diyakininya, adalah yang terbaik. Dengan demikian, kita hanya bisa menempatkan dialog sebagai salah satu alternatif untuk memahami agama di antara beragam cara lainnya.

Tidak Perlu Perbandingan

Seseorang tidak perlu membandingkan agama-agama ketika sudah yakin dengan agamanya sendiri. Apalagi, dia sudah mendalami agamanya itu dengan sangat mendalam. Sehingga, tidak ada kepentingan baginya untuk membandingkan dengan agama lain.

Bagi yang tidak siap dengan keragaman, juga, tidak perlu membandingkan agama. Karena, dengan membandingkan agama, justru akan muncul beragam pilihan. Hal semacam ini bisa membingungkan mereka.

Bagi yang hanya ingin menghina agama orang lain, juga, tidak perlu membandingkan agama. Karena, apa pun proses perbandingan agama, hasilnya sudah jelas: agama lain adalah jelek.

Masih ada beberapa resiko buruk ketika membandingkan antara agama, atau antar aliran. Sebaiknya, resiko-resiko ini dihindari.

Tidak Memadai

Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa perbandingan agama tidak pernah tuntas. Baik untuk kepentingan saling memahami, kita tidak akan pernah sempurna dalam saling memahami. Apalagi untuk kepentingan menghina agama orang lain, kita tidak pernah memiliki argumen sempurna untuk menyesatkan agama lain. Sehingga, kita perlu menyadari bahwa setiap klaim selalu tidak sempurna.

Tidak sempurnanya klaim bukanlah cacat. Justru, tidak sempurna adalah hakikat dari setiap klaim.

Karena setiap klaim adalah tidak sempurna, maka, terdapat banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik, lebih sempurna. Dinamika agama lebih terjaga sepanjang masa. Di satu sisi, dinamika menjamin kemajuan alam semesta termasuk manusia. Di sisi lain, identitas agama menjaga pijakan fundamental yang kokoh bagi umat manusia. Tentu saja, agama seiring sejalan dengan cinta.

1.2 Ritual

Kehidupan di era digital, kita membutuhkan lebih banyak ritual. Sayangnya, banyak orang kurang ritual. Mereka terjebak dalam kehidupan ekonomi yang menuntut efisiensi. Karena teknologi digital makin canggih, maka, mereka bisa bekerja kapan saja, di mana saja. Hidup makin hampa saja. Mereka butuh “healing” tapi tidak memadai. Solusinya: kita perlu ritual. Dan, agama memberi tuntunan ritual yang terbaik.

Manusia adalah manusia – tidak bisa direduksi menjadi mesin ekonomi belaka. Ritual agama adalah sarana bagi manusia untuk, benar-benar, menjadi manusia.

Kepastian Transenden

Ibadah ritual bisa berupa doa kepada Tuhan, memuja Tuhan, dan menyembah Tuhan. Tuhan adalah pencipta segala alam semesta. Tuhan Maha Baik, Tuhan Maha Tinggi. Tuhan transenden melebihi segala yang ada.

Dengan berdoa, manusia membangkitkan diri yang transenden terhubung dengan Tuhan Maha Suci yang transenden. Hidup ini lebih dari sekedar kesibukan sehari-hari. Hidup ini adalah anugerah dari Yang Maha Suci. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas, waktu yang terbatas, terhubung dengan Tuhan Maha Perkasa tanpa batas.

Agama menjamin kehidupan yang transenden melintasi ruang dan waktu dengan penuh kepastian.

Ibadah ritual menjadikan manusia terjaga dari komersialisasi kapitalisme. Segala sesuatu bisa dihitung dengan uang. Tetapi ibadah ritual adalah kehidupan transenden yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pemandangan alam bisa dibeli dengan wisata. Kecantikan wanita bisa dibeli melalui beragam media. Nikmatnya makanan mewah bisa dibeli kapan saja. Ibadah ritual berbeda. Ibadah ritual transenden dari itu semua. Ibadah adalah bahagia sempurna tiada tara.

Tentu saja, orang bisa menjual ibadah ritual. Orang bisa menipu dengan kedok ritual. Bahkan, orang bisa berbuat jahat atas nama ritual. Tetapi itu semua bukan ibadah ritual. Itu semua hanya pembohongan atas nama ibadah ritual. Karena, ibadah ritual adalah sisi kehidupan spiritual yang transenden.

Kita membutuhkan ibadah ritual. Bahkan lebih banyak lagi di era digital.

Beban Meringankan

Manusia memang unik. Orang yang paling bisa bahagia adalah orang paling menderita. Orang yang paling bisa menikmati makanan adalah orang yang paling tidak memiliki makanan. Orang paling bebas adalah orang yang tidak punya apa-apa. Saling berkebalikan.

Apakah Anda pernah berpuasa? Atau, mengamati orang berpuasa? Ketika magrib, waktu berbuka tiba, Anda makan begitu nikmat. Minum begitu nikmat. Bahkan, makan hanya beberapa suap nasi dengan sayuran seadanya, semua terasa sedap. Makanan menjadi nikmat karena Anda lapar, seharian tidak makan tidak minum.

Orang miskin, yang tidak punya makanan apa pun, makan sebungkus nasi di pinggir jalan begitu nikmat. Orang kaya, berlimpah harta, tidak bisa menikmati makanan di restoran mewahnya. Orang kaya itu merasa hambar meski semua jenis makanan lezat terhampar. Perutnya besar. Di pikirannya terbayang bagaimana urusan hutang yang sampai ratusan milyar. Bagaimana jika petugas KPK – Komisi Pemberantasan Korupsi – tiba-tiba menggeledah seluruh kamar.

Begitu juga fasilitas hidup rumah megah, mobil mewah, dan perhiasan berlimpah semua tidak menjadikan hidup cerah. Di tempat lain, orang miskin berdesakan di angkutan umum tetap tersenyum.

Bukan berarti kita harus miskin. Bukan berarti kita tidak boleh kaya. Kita harus belajar dari orang miskin dan kaya agar bisa bahagia dengan sempurna.

Ibadah ritual adalah beban. Ibadah ritual adalah kewajiban. Di saat yang sama, ibadah ritual adalah beban yang meringankan. Baik, meringankan hidup atau pun mati Anda. Ambil contoh beban kewajiban berupa doa tiap pagi, atau solat subuh bagi orang Islam. Orang lain, jam 4 subuh bebas untuk tidur mendengkur. Orang Islam wajib bangun dari tidur. Lalu, ambil air untuk cuci muka (berwudu) lanjut harus berdoa (solat subuh).

Jadi, beban ritual itu membebani atau meringankan? Meringankan. Nyatanya, dengan kewajiban solat subuh orang justru ringan untuk bangun pagi. Mereka yang tidak solat subuh, justru, terbebani oleh badannya sendiri tidak kuat bangun pagi. Perempuan muslimah, di saat tertentu, tidak ada kewajiban untuk solat subuh. Mereka jadi malas bangun pagi. Padahal, ketika ada kewajiban solat subuh mereka rajin bangun pagi.

Bukankah kesan meringankan seperti itu hanya persepsi belaka? Bisa jadi memang persepsi. Tetapi, persepsi yang penuh arti. Dan, persepsi yang memberi arti kepada hidup ini.

Kita tahu bahwa mengerjakan ritual yang bertujuan untuk sekedar menunaikan kewajiban, atau menggugurkan kewajiban, adalah tingkat ritual dengan kualitas paling rendah. Meski rendah, tetap bermanfaat. Tingkat yang lebih tinggi adalah mengerjakan ritual dengan khusuk, konsentrasi penuh, sehingga terhubung kepada Tuhan Yang Maha Suci. Ibadah ritual, yang khusuk, menghadirkan rasa cinta kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan kepada seluruh alam semesta.

Keragaman

Agama yang berbeda menetapkan jenis ritual yang berbeda. Sehingga, jenis ritual menjadi beragam. Umumnya, orang bisa memahami keragaman ritual seperti itu. Masalah justru, kadang, muncul bila terjadi keragaman dalam satu agama yang sama. Jenis ritual mana yang benar?

Masyarakat bisa menyelesaikan keragaman itu, misalnya, dengan menetapkan madzhab atau aliran-aliran dalam satu agama yang sama. Atau, mendirikan organisasi masing-masing. Di Indonesia, sebagai contoh, ada NU dan MU. Mereka sama-sama Islam tetapi sering berbeda dalam aturan ritual. Karena NU dan MU memang berbeda organisasi, maka, perbedaan ritual tidak menjadi masalah.

Bagaimana pun, meski NU dan MU adalah organisasi berbeda, kadang mereka berkonflik dalam suatu ritual yang sama, misal, penetapan hari Raya Idul Fitri. MU cenderung lebih awal dari NU dalam menetapkan hari raya. Perbedaan hari raya ini tidak masalah sejauh masing-masing pihak bisa saling respek. Di Indonesia yang sering memberi hari cuti bersama yang cukup panjang, tidak ada masalah dengan perbedaan hari raya. Tetapi, negara lain yang cuti hanya 1 hari, perbedaan hari raya bisa jadi masalah. Karena libur cuti bisa berbeda dengan hari raya itu sendiri. Sehingga beberapa orang kesulitan untuk melaksanakan ibadah ritual hari raya.

Barangkali NU dan MU, sebagai contoh, bisa melakukan dialog untuk mencari titik temu ibadah ritual yang berkonsekuensi ke masyarakat luas.

Etika Ritual

Dahulukan etika di atas ritual atau dahulukan ritual di atas etika? Bukankah bisa dilaksanakan secara serentak?

Ketika bisa dilaksanakan serentak maka lebih baik dilaksanakan serentak. Jika harus memilih salah satu maka utamakan yang lebih penting dengan meninggalkan yang resiko tidak berbahaya – antara ritual dan etika. Dengan kata lain, utamakan etika ketika meninggalkan ritual adalah tidak berbahaya. Sebaliknya juga benar. Utamakan ritual ketika meninggalkan etika adalah tidak berbahaya.

Situasi lebih pelik ketika keduanya, ritual dan etika, sama-sama penting dan sama-sama berbahaya bila ditinggalkan. Situasi ekstrem semacam ini jarang terjadi, meski, bisa terjadi.

(A) Sama-sama penting dan resiko tinggi. Anda dalam perjalanan menuju bandara untuk terbang ke luar negeri ziarah spiritual (misal umrah). Anda diantar sopir taksi. Di tengah jalan, sopir taksi sesak nafas serangan jantung. Apa yang Anda lakukan?

A1: Anda mengantar sopir taksi ke rumah sakit (Anda mampu mengendarai taksi itu) sehingga sopir taksi selamat. Dengan resiko, Anda ditinggal pesawat dan gagal ibadah ritual. Alternatif ini mengutamakan etika di atas ritual.

A2: Anda minta bantuan orang lain agar sopir taksi di antar ke rumah sakit. Karena kritis, sopir taksi meninggal di rumah sakit. Tetapi, Anda bisa pakai taksi lain menuju bandara dan kemudian naik pesawat melaksanakan ibadah ritual. Alternatif ini mengutamakan ritual di atas etika.

Apakah Anda memilih A1 atau A2, sama-sama, dalam situasi sulit. Anda perlu benar-benar mencermati situasi yang terjadi, mendengarkan suara hati, berpikir dengan gesit, dan kemudian mengambil keputusan yang paling tepat untuk Anda. Secara umum, kita tidak bisa mengambil keputusan global. Kita benar-benar perlu informasi detil ketika kejadian itu terjadi.

Situasi yang sering terjadi justru lebih ringan. Bagaimana Anda mengambil sikap?

(B) Sama-sama penting dengan resiko ringan atau sedang. Anda sedang dalam siatuasi sibuk sepanjang sore itu sampai tidak bisa solat asar (ibadah ritual) di waktu awal. Pukul 17.55, waktu asar 5 menit lagi habis, Anda menyempatkan diri akan solat asar. Di saat yang sama, datang tamu memerlukan bantuan Anda hanya 5 menit karena tamu itu buru-buru hendak ke Bandara. Tamu itu hendak memberikan sumbangan ke yatim piatu dengan bantuan Anda selama 5 menit. Apa yang akan Anda lakukan?

B1: Anda bisa menolak tamu itu karena Anda perlu solat asar di waktu yang hanya 5 menit. Pilihan ini, Anda mengutamakan ritual di atas etika. Tetapi resiko etika cukup ringan. Toh, tamu itu bisa transfer nantinya – bisa tidak transfer juga.

B2: Anda membantu tamu itu selama 5 menit sehingga berhasil transfer dana untuk yatim piatu tetapi Anda gagal solat asar pada waktunya. Pilihan ini, Anda mengutamakan etika di atas ritual.

B1 atau B2 sama-sama ada resiko. Kedua resiko sama-sama ringan atau sedang, dalam arti, barangkali ada alternatif cara untuk mengatasi resiko itu. Ketika Anda memilih B1, barangkali, di lain waktu, Anda bisa menghubungi tamu itu membantunya untuk transfer dana bagi yatim piatu. Jika Anda memilih B2, barangkali, setelah waktu asar terlambat, Anda bisa melakukan solat pengganti.

Jadi, apakah Anda memilih B1 atau B2? Mengutamakan ritual atau etika?

Jawabannya adalah utamakan etika di atas ritual.

Mengapa? Karena etika bersifat sosial pada umumnya. Sehingga, manfaat etika dirasakan oleh banyak orang. Jika terjadi masalah etika, dampaknya, juga lebih ke banyak orang. Sementara, ritual umumnya bersifat pribadi. Dalam kondisi tertentu bisa saja terbalik. Yaitu, etika bersifat pribadi dan ritual bersifat sosial. Dalam kasus ini, Anda harus benar-benar cermat mengambil keputusan.

Seorang cendekiawan dari Bandung menulis buku, “Dahulukan Akhlak di Atas Fikih.” Senada dengan kesimpulan kita di atas, “Dahulukan Etika di Atas Ritual.”

1.3 Legal

Agama mengatur sistem legal sebagai suatu sistem yang sakral. Dengan demikian, orang-orang yang mengikuti sistem legal agama merasa hidup lebih tenteram. Berbeda dengan sistem legal manusiawi, yang, masih ada cacat di sana sini.

Hampir setiap agama mengembangkan sistem legal. Salah satu yang paling utama adalah legalitas pernikahan secara agama. Umat beragama meyakini bahwa keabsahan suatu pernikahan adalah hak hukum agama. Misal di Indonesia, pernikahan diatur oleh kementrian agama. Dengan cara ini, pernikahan di Indonesia memiliki aspek legal ganda: agama dan negara.

Dalam menyikapi bunga bank, masing-masing agama, dan aliran, bisa berbeda sikap. Negara memandang bunga bank sebagai sah – legal. Sementara, mengenai lintah darat, negara dan agama sepakat bahwa lintah darat adalah kriminal. Melanggar aturan agama dan negara.

Fokus tentang bunga bank, kita akan menemukan banyak hal menarik. Semua pihak sepakat bahwa riba adalah haram. Tetapi terjadi perbedaan pendapat apakah bunga bank termasuk riba? Bagi yang meyakini bunga bank sebagai riba maka mereka mengharamkan bunga bank. Sementara, bagi pihak yang tidak menganggap sebagai riba maka bunga bank sah-sah saja. Tidak ada pihak yang menghalalkan riba.

Fenomena yang lebih menarik adalah tidak imbangnya penilaian riba terhadap bank. Pihak yang mengaharamkan bunga tidak mau pinjam uang karena ada beban bunga yang dinilai sebagai haram. Sementara, pihak yang sama itu, tidak menawarkan ke masyarakat bahwa dia menawarkan pinjaman tanpa bunga. Seandainya, mereka menawarkan pinjaman tanpa bunga, hal itu akan menjadi tantangan menarik bagi industri bank.

Memang benar, ada pihak yang mengklaim menawarkan pinjaman tanpa bunga. Tetapi dikenai biaya administrasi dan lain-lain, misal bagi hasil, yang jumlahnya lebih besar dari bunga bank. Wajar saja, masyarakat tidak tertarik dengan pinjaman yang lebih mahal dari bunga bank.

Lalu, sebenarnya, bunga bank itu haram atau tidak?

Pertama, anggap agama mengharamkan bunga bank. Tetapi pengharaman itu dilakukan oleh tokoh agama seribu tahun yang lalu atau lebih. Maka bank jaman dulu pasti beda dengan bank jaman sekarang. Kesimpulannya, pengharaman bunga bank itu terbuka dengan interpretasi baru.

Kedua, anggap agama mengharamkan bunga bank adalah akhir-akhir ini. Sehingga, bank yang dimaksud adalah sama dengan bank masa kini. Tetapi, pihak yang mengharamkan tentu bukan pendiri agama melainkan tokoh agama. Dengan alasan yang sama, tokoh agama masa kini juga berhak melakukan interpretasi ulang terhadap pengharaman bunga bank.

Ketiga, tidak ada konflik dalam pengharaman bunga bank. Sejatinya tidak ada masalah dengan haramnya bunga bank. Bagi yang meyakini haram maka sebaiknya tidak hutang ke bank. Bagi yang meyakini halal silakan hutang ke bank asal dilunasi beserta bunga dan biaya lainnya.

Aspek legal hukum agama memiliki daya tarik tersendiri. Orang merasa lebih nyaman ketika bisa mematuhi hukum agama. Orang merasakan nilai suci, nilai sakral, dalam hukum agama. Hal ini menunjukkan prospek yang cerah bagi hukum agama. Apakah para ahli agama akan menyambut dengan baik prospek itu?

2. Spirit Agama

2.1 Cinta

Cinta selalu hadir dalam setiap agama, meski, tidak selalu hadir dalam hati umat beragama. Cinta, dalam agama, menyinari hati-hati umat manusia dalam rangkulan Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Cinta dari Tuhan tidak pernah ada habisnya. Cinta kepada Tuhan juga tidak pernah ada habisnya. Agama adalah sumber cinta bagi seluruh semesta.

Maha Kasih

Tuhan adalah Maha Kasih. Dengan demikian, agama memiliki karakter yang sama. Agama, membimbing umat manusia untuk saling memberi sebagai pengasih. Tuhan memberi, mengasihi, kita tanpa batas. Pada gilirannya, kita memberi kepada sesama dan alam raya.

Hanya anugerah Tuhan yang menjadikan kita sehat dan bahagia. Selanjutnya, tugas kita menyalurkan anugerah itu kepada tetangga, kepada teman, dan kepada semuanya. Dengan anugerah itu, dari Tuhan melalui diri kita, menjadikan alam sekitar lebih berwarna. Dan, Tuhan akan menambah anugerah kepada kita dan alam raya.

Makin banyak memberi maka makin banyak aliran anugerah. Yaitu aliran anugerah kepada mereka, dan di saat yang sama, aliran anugerah dari Tuhan kepada kita.

Bagaimana jika diri kita berposisi sebagai penerima? Tidak masalah sebagai penerima. Anda sebagai pemberi adalah lebih baik. Orang yang sebagai penerima tidak lebih buruk. Menerima anugerah Tuhan melalui orang lain adalah baik-baik saja.

Problem muncul ketika ada pihak tertentu yang mendominasi penerimaan. Misal, dengan mendirikan lembaga pengumpul donasi. Kemudian, rencananya, mereka menyalurkan donasi kepada fakir miskin. Proses pengumpulan donasi benar terjadi. Sementara, penyaluran donasi kepada fakir miskin belum tentu terjadi. Justru, beberapa panitia pengumpulan donasi itu memanfaatkan uang donasi untuk kemewahan hidup.

Panitia pengumpulan donasi adalah resiko tinggi. Sementara, panitia penyaluran donasi adalah baik-baik saja. Apa bedanya?

Panitia pengumpulan, biasanya, merangkap penyaluran. Di tahun 2022 ini, ada lembaga pengumpulan donasi, sebut saja LPD, berhasil mengumpulkan dana umat sampai ratusan milyard rupiah tiap tahunnya. Tetapi, hanya sebagian saja yang berhasil disalurkan ke fakir miskin. Sebagian yang cukup besar malah digunakan untuk keperluan operasional mewah para pejabatnya. Penyalahgunaan donasi ini berdampak dua orang pejabat tinggi LPD ditahan polisi dalam kasus kriminal. Sungguh menyedihkan. Dana umat yang sejatinya untuk tanda kasih sayang sesama umat justru diselewengkan oleh oknum LPD.

Sementara, panitia penyaluran donasi tidak akan jadi masalah. Misal, Tuan Haji hendak membagikan donasi sejumlah 200 juta rupiah kepada fakir miskin. Kemudian, Tuan Haji membentuk panitia penyaluran donasi dengan biaya, misal 15 juta. Panitia ini bekerja dalam waktu 5 hari. Setelah selesai, panitia memberi laporan pertanggungjawaban kepada Tuan Haji. Beres semua, panitia dibubarkan.

Karena dana berasal dari Tuan Haji maka Tuan Haji dengan mudah mempelajari laporan panitia penyaluran. Sementara, kasus LPD berbeda. Ada, misal, 2 juta orang donatur, masing-masing donasi 1 juta rupiah, maka terkumpul donasi 2 trilyun. Jika LPD membuat laporan bahwa 200 milyar rupiah disalurkan ke fakir miskin dan 300 milyar rupiah untuk membangun sekolah dan ada bukti nyata, maka donatur yang hanya menyumbang 1 juta rupiah tentu saja bangga. Padahal ada donasi 1 trilyun 500 milyar yang belum jelas. Ada godaan besar untuk terjadi penyelewengan dana di LPD.

Godaan media digital lebih menantang lagi. LPD bisa memasang iklan pengumpulan donasi di media digital. Tanpa iklan digital, misal, tidak ada donasi yang terkumpul. Dengan iklan digital, terkumpul donasi dari 500 orang x masing-masing 1 juta rupiah, total 500 juta. Biaya untuk bintang iklan, misal influencer, sebesar 200 juta. Biaya untuk media sosial 100 juta. Biaya untuk pejabat LPD 100 juta. Sisanya 100 juta disalurkan untuk fakir-miskin. Apakah model iklan digital semacam itu adil dan baik?

Pilihannya, jika tidak pasang iklan digital maka tidak ada donasi sama sekali bagi fakir miskin. Sedangkan, bila pasang iklan digital maka ada donasi untuk fakir fiskin 100 juta dan donasi 400 juta dari umat untuk membayar biaya iklan dan pejabat LPD.

Kita memerlukan solusi yang tepat untuk LPD. Bagaimana pun, fenomena yang terjadi, saat ini, menunjukkan bahwa masyarakat berminat untuk saling membantu dan saling berbagi. Memang demikianlah ajaran agama yang baik: siap untuk berbagi.

Tentu saja, bentuk berbagi bisa beragam: berbagi ide, berbagi tenaga, berbagi kesempatan, dan berbagi kebaikan lainnya.

Maha Sayang

Kasih dan sayang selalu menyatu dalam hidup. Kasih dan sayang adalah satu kesatuan. Untuk keperluan analisis, kita bisa membedakan antara kasih dan sayang. Bahkan, dalam batas tertentu, kita bisa mempertentangkan antara kasih dan sayang.

Agama adalah sumber kasih sayang. Karena, agama memang bersumber kepada Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Sehingga, agama senantiasa memancarkan kasih sayang. Umat beragama, senantiasa berusaha untuk, menjadi karakter yang penuh kasih dan sayang.

Anda memberi makan kepada setiap anak yatim di sekitar rumah. Karakter ini adalah karakter pengasih. Selanjutnya, Anda melihat, di antara beberapa anak yatim itu ada yang berbakat matematika. Kemudian, Anda memberinya keistimewaan berupa buku-buku matematika menunjang bangkatnya untuk terus berkembang. Karakter Anda ini adalah karakter penyayang.

Seorang pengasih berbagi kebaikan kepada setiap orang secara umum. Sementara, seorang penyayang berbagi kebaikan secara selektif. Mereka, memilih hanya orang-orang tertentu yang menerima kebaikan.

Dengan dukungan sikap sayang, maka, terbuka peluang anak-anak berbakat untuk menjadi orang sukses. Kebaikan Anda menjadi tepat sasaran. Kebaikan atas nama karakter sayang bisa memiliki rentang waktu cukup lama, bersifat spesifik, dan bahkan kadang menuntut tanggung jawab dari penerima. Program beasiswa adalah contoh program karakter penyayang yang selektif. Di saat yang sama, pemberi beasiswa bisa menuntut tanggung jawab berupa prestasi tertentu dari siswa penerima beasiswa.

Jadi, lebih penting kasih atau sayang?

Cinta Semua

“Jangan pilih kasih!” adalah ungkapan yang benar. Karakter kasih adalah memberi kebaikan kepada semua orang. Tanpa pilih-pilih, semua berhak mendapat kebaikan dari Anda.

“Bantuan harus tepat sasaran!” benar juga. Karakter sayang harus mengarahkan kebaikan Anda tepat sasaran sehingga memberi kebaikan maksimal.

Cinta adalah untuk semua. Kasih sayang adalah untuk semua. Agama mengajarkan agar kita menebar kasih sayang kepada semua. Kita adalah anugerah cinta yang menebar cinta ke seluruh semesta.

Dinamika harmonis antara kasih dan sayang mengantar kita untuk menapaki cinta.

Dengan cinta, kita sadar bahwa kita perlu menebar kebaikan kasih kepada semua. Kebutuhan pokok, pendidikan berkualitas, kebebasan berpendapat, kebebasan memilih kerja, kebebasan berkarya adalah untuk semua orang. Sebagai individu, kita terpanggil untuk berbagi kebaikan sesuai kemampuan. Sementara, pejabat publik memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin kebaikan bagi seluruh rakyat.

Dengan cinta, kita sadar bahwa kita perlu menebar kebaikan lebih hanya kepada orang-orang tertentu. Kita menyekolahkan anak yang berbakat sastra ke jurusan sastra, yang berbakat matematika ke jurusan matematika. Mereka adalah anak-anak yang berbeda. Mereka memperoleh kebaikan dari kita dalam ukuran yang berbeda dan dalam bentuk yang berbeda. Pemimpin masyarakat perlu menjamin putra-putri terbaik berhasil mengembangkan bakat-bakat mereka menjadi yang terbaik. Dan, setiap anak memiliki bakat unik dalam dirinya. Sehingga, setiap anak berhak menjadi yang terbaik sebagai jati dirinya.

Agama cinta merangkul kita dalam kasih dan sayang. Agama cinta merangkul kita dan alam raya bersatu dalam keragaman yang nyata penuh cinta.

2.2 Pencerahan

Agama memberi pencerahan menyinari bumi dan seluruh alam semesta ini. Agama adalah sumber inspirasi. Setiap orang berhak memuaskan dahaga hati, melalui pencerahan agama.

Agama adalah sumber pencerahan tiada henti. Ajaran agama, misal sejarah dan kitab suci. mengajarkan prinsip hidup yang baik melalui lambang-lambang tingkat tinggi. Karena itu, terbuka luas ruang interpretasi bagi setiap nurani.

Kisah Adam Hawa

Rangkaian kisah adalah sumber pencerahan untuk setiap orang, di setiap tempat, dan di setiap jaman. Anak kecil bisa mengambil inspirasi dari suatu kisah. Begitu juga anak muda dan orang dewasa. Tentu saja, inspirasi dari suatu kisah bisa beragam. Bagaimana pun tetap mencerahkan.

Kisah Adam dan Hawa termasuk kisah paling terkenal di kalangan umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Bahkan, orang dari beda agama juga banyak yang mengenal kisah penuh makna ini.

Adam dan Hawa, tinggal di surga, bebas menikmati apa saja. Kecuali hanya satu, dilarang mendekati pohon terlarang. Kisah detil bisa saja beragam sesuai rujukan masing-masing. Meski, Adam dan Hawa bebas menikmati apa saja di surga hanya dengan satu pantangan, nyatanya, akhirnya, Adam dan Hawa melanggar pantangan itu. Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu. Apa hikmah dari kisah ini?

A. Dosa

Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Meski, hanya ada satu larangan saja, pada akhirnya, manusia akan melanggarnya dan berbuat dosa. Pelajaran buat kita adalah kita perlu untuk senantiasa waspada dari berbagai kesalahan. Sekecil apa pun peluang kesalahan itu, manusia tetap mudah tergelincir. Bagaimana dengan kehidupan kita di dunia ini? Bukan hanya satu godaan, tetapi, sampai puluhan dan ratusan godaan?

Ketika makan buah terlarang, Adam dan Hawa sadar bahwa telah berbuat dosa. Langsung, Adam dan Hawa mengaku dosa dan mohon ampun kepada Tuhan. Tuhan, justru, memberi Adam dan Hawa untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Mengapa?

Beberapa orang menafsirkan bahwa Tuhan menghukum Adam dengan menyuruh Adam pindah ke bumi. Padahal, sebelumnya, Adam hidup nikmat di surga. Hal yang mirip sudah terjadi sebelumnya terhadap Iblis. Karena Iblis berbuat dosa maka diusir dari surga. Tetapi, kasusnya berbeda. Iblis justru makin sombong dengan dosanya. Wajar, Iblis menerima konsekuensi berat. Sementara, Adam langsung sadar akan dosa dan langsung bertaubat.

Interpretasi alternatif menyatakan, justru, sadar akan dosa itulah yang menjadikan manusia sebagai manusia sejati. Ketika seorang anak kecil bebas berbuat apa saja tanpa merasa dosa apa pun, maka, mereka adalah memang anak-anak. Sementara, jika anak mulai sadar bahwa ada suatu perbuatan yang merupakan dosa, maka, anak itu mulai jadi manusia sejati. Konsekuensi dari dosa itu menjadi tanggung jawab dirinya.

Lebih hebat lagi, setelah sadar akan dosa, anak itu langsung bertobat dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan. Sikap ini menunjukkan bahwa anak itu sudah layak menjadi pemimpin di muka bumi.

“Apakah Anda berdosa?”

Jika jawabannya “tidak” maka barangkali Anda adalah anak-anak. Jika jawabannya “ya” maka saatnya untuk bertobat dan memperbaiki diri.

B. Freedom

Apa itu freedom? Apa itu kebebasan? Apa itu kehendak bebas?

Freedom adalah bebas memilih sikap. Bebas memilih bekerja sebagai petani atau pegawai. Bebas menekuni sastra atau matematika. Bebas mengungkapkan pendapat atau diam seribu bahasa. Bebas adalah bebas memilih apa pun.

Bukan! Semua itu bukan bebas-sejati. Meski contoh-contoh di atas adalah contoh freedom, tetapi, tidak berhasil sebagai bebas-sejati. Mereka hanya bebas-biasa. Bebas-sejati atau freedom-sejati adalah bebas untuk memilih berbuat dosa atau memilih berbuat baik. Bebas.

Jika semua pilihan bebas adalah pilihan yang baik-baik, maka, kucing juga memiliki freedom jenis itu. Kucing bebas untuk tidur, melompat, lari, kawin, makan, dan sebagainya. Memang, kucing tidak bebas untuk berbuat dosa. Kucing, bahkan, tidak bisa berbuat dosa. Semua perilaku kucing adalah biasa-biasa saja.

Manusia memang bebas-sejati, freedom-sejati. Manusia bebas untuk berbuat dosa. Manusia bebas untuk mencuri sampai korupsi. Manusia bebas bebuat dosa sebesar-besarnya. Dan, itulah kebebasan sejati, khas milik manusia.

Tetapi, berbuat dosa bukanlah prestasi. Berbuat dosa tetap saja beresiko dengan ragam konsekuensi. Prestasi adalah, ketika, Anda bebas untuk berbuat dosa, tetapi, Anda memilih berbuat moral, etis, dan akhlaki. Anda memang berprestasi. Anda manusia sejati. Semua penduduk langit dan bumi bangga kepada Anda.

C. Deskripsi

Beberapa orang menafsirkan bahwa Tuhan mengancam Adam bila berbuat dosa maka akan ada hukuman dari Tuhan. Bila demikian, maka, aturan bersifat preskriptif. Maksudnya, bila benar sesuai aturan maka mendapat pahala. Sedangkan, bila melanggar aturan maka mendapat hukuman.

Interpretasi alternatif menyatakan bahwa aturan Tuhan adalah deskriptif. Maksudnya, bila Adam makan buah terlarang maka akan muncul “rasa berdosa” dalam dirinya. Benar saja. Adam merasa berdosa kemudian langsung bertobat. Berikutnya, Adam berhak menjadi pemimpin di bumi.

Iblis berbeda. Dia berbuat salah. Tapi Iblis tidak merasa bersalah. Bahkan, ketika Iblis mendapat hukuman pun, dia tetap tidak mengakui kesalahan. Tentu, Iblis sadar dirinya salah. Dia hanya tidak mau mengakui salah. Selanjutnya, tidak mau bertobat.

Apa pelajaran buat diri kita?

Sebagai manusia, kita terikat hukum moral secara deskriptif – dan tentu preskriptif juga. Perbuatan dosa atau amal kebaikan secara langsung berdampak kepada diri kita secara imanen. Karena deskriptif, maka ada ancaman atau tidak ada, dosa tetaplah dosa. Korupsi, meski tidak tertangkap KPK, tetaplah korupsi yang merusak diri dan seluruh bumi. Dan sewaktu-waktu, tetap bisa ditangkap KPK atau polisi.

Demikian juga, amal kebaikan tetap amal kebaikan meski ada orang lain yang melihat atau tidak. Baik dan dosa tetap terpampang di depan kita. Pilihan ada di tangan kita. Berbuat baik, meski bisa memilih berbuat dosa, adalah prestasi umat manusia.

Tentu saja, masih banyak interpretasi dinamis yang bisa terus berkembang. Agama adalah sumber inspirasi tiada henti.

Kisah Ibrahim

Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai bapaknya para nabi. Karena, kedua putranya, Ismail dan Isaac, sama-sama menjadi nabi. Ibrahim juga sebagai bapak para agama karena semua agama – Islam, Kristen, dan Yahudi – bertemu kepada ajaran Ibrahim. Ditambah lagi, kisah Ibrahim diwarnai paradoks tragedi kemanusiaan.

Ibrahim adalah pejuang kemanusiaan. Ibrahim menghabiskan seluruh umurnya untuk membela kemanusiaan. Tentu saja, Ibrahim pejuang agama. Dia mengajak umat manusia untuk taat mengabdi kepada Tuhan.

Dengan seluruh kebaikan Ibrahim itu, Tuhan tidak memanjakannya. Justru, Tuhan memberi ujian berat kepada Ibrahim. Kelak, ujian berat ini justru mengungkap sosok hebat Ibrahim sepanjang sejarah. Pertama, Ibrahim ingin memiliki anak. Tetapi, Tuhan tidak mengaruniai anak kepada Ibrahim dan istrinya. Bahkan, sampai usia mereka lebih dari 80 tahun, mereka tetap tidak memiliki keturunan.

Kedua, pada usia Ibrahim yang sangat tua, Tuhan baru menganugerahkan seorang putra kepada Ibrahim. Apakah mudah bagi seorang bapak usia di atas 80 tahun mengasuh bayi? Putra Ibrahim tumbuh sebagai anak yang sehat, lucu, dan cerdas. Putra sebagai harapan untuk melanjutkan perjuangan masa depan. Putra adalah yang paling berharga dan paling dicinta oleh Ibrahim.

Ketiga, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengorbankan yang paling dicintainya. Di dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Putranya. Apakah, di dunia nyata, Ibrahim akan mengorbankan Putranya? Atau Ibrahim menolak perintah Tuhan, dengan cara, tidak mengorbankan Putra tercinta?

Kisah selanjutnya, Ibrahim memilih untuk mengorbankan Putra tercintanya. Ibrahim, kemudian, bersama Putranya, berjalan ke tempat yang jauh dari orang untuk melakukan pengorbanan. Ibrahim siap menghunuskan pedang ke leher Putranya. Saat itu, Tuhan mencegah Ibrahim. Ibrahim diperintahkan untuk menjaga Putranya. Tuhan menyuruh Ibrahim untuk berkorban berupa domba sebagai gantinya.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh?

A. Ujian Meningkat

Untuk bertumbuh, kita perlu ujian. Dan, ketika makin tinggi pertumbuhan maka makin tinggi pula ujiannya. Ibrahim muda diuji dengan hidup bersama masyarakat yang sulit. Ibrahim lulus. Ujian ditambah. Ibrahim tidak punya anak sampai tua. Ditambah lagi, harus mengorbankan putranya ketika putranya remaja.

Demikian juga dalam hidup kita. Ujian akan terus bertambah seiring dengan kehidupan kita yang makin maju. Sehingga, jika kita mendapatkan ujian yang berat, maka, itu tandanya hidup kita sedang meningkat. Karena itu, kita perlu bersiap dengan segala ujian. Serta, makin mendekatkan diri dengan Tuhan.

B. Utamakan Tuhan

Mengutamakan perintah Tuhan atau menjaga nyawa anak Anda?

Dalam kisahnya, Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan. Yaitu, Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya. Meski demikian, pada akhirnya, Tuhan tidak mengijinkan perngorbanan Putra Ibrahim. Tuhan menyuruh untuk berkorban domba. Jadi, ketika kita mengutamakan perintah Tuhan maka Tuhan akan menjaga kita sebagai umat manusia.

Kerena Tuhan Maha Benar maka setiap perintah Tuhan pasti juga benar. Sehingga, umat manusia perlu terus berusaha memahami ajaran Tuhan melalui kitab suci. Ketika terjadi dilema, “Bagaimana cara kita memilih keputusan?”

C. Tidak Mungkin

Tidak mungkin. Kita tidak mungkin mengambil kesimpulan dengan pasti benar. Segala pilihan kita, mungkin saja salah. Bahkan salah besar.

Salah satu interpretasi mengatakan bahwa kisah Ibrahim adalah situasi yang tidak mungkin untuk mengambil keputusan secara pasti benar.

Pertama, Ibrahim tidak mungkin membunuh putranya. Maksudnya, sebagai pejuang kemanusiaan, Ibrahim tidak sah membunuh putranya dengan alasan apa pun. Pihak lain, bisa saja, tidak setuju dengan Ibrahim. Istri Ibrahim dan masyarakat luas bisa menolak keputusan Ibrahim.

Kedua, Ibrahim tidak mungkin menolak perintah Tuhan. Sebagai kesatria ruhani, Ibrahim selalu mengikuti perintah Tuhan.

Dua pilihan di atas, sama-sama tidak mungkin dipilih. Bagaimana cara kita untuk memilihnya? Untuk memilihnya, kita benar-benar perlu mengkaji situasi detil di tempat dan waktu yang tepat. Tidak ada hukum yang berlaku universal dalam situasi dilema seperti itu. Perlu kajian mendalam dengan memanfaatkan seluruh sumber daya, termasuk suara hati dan suara mereka yang jauh di sana, kemudian seseorang mengambil keputusan. Bagaimana pun, keputusan tersebut tetap mengandung resiko besar. Kita, sebagai manusia, sering dalam dilema.

D. Interpretasi

Dalam dilema, kita melibatkan suatu interpretasi dalam satu dan lain bentuk.

Salah satu interpretasi menyatakan bahwa Ibrahim memiliki beragam pilihan dalam interpretasi terhadap mimpinya. Mimpi itu sendiri tidak secara langsung memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya. Sedangkan interpretasi dari mimpi, pertama, merupakan perintah untuk mengorbankan putranya. Atau, interpretasi kedua, mimpi itu merupakan perintah untuk mengorbankan sesuatu paling berharga demi Tuhan.

Bagaimana jika Anda pada posisi Ibrahim? Apakah Anda akan memilih interpretasi pertama atau kedua? Sama-sama beratnya.

Ibrahim memilih interpretasi pertama, dan kemudian, Tuhan menyelamatkan Sang Putra. Jika Anda yang melakukannya, apakah Tuhan akan menyelamatkan putra Anda? Atau, ketika Tuhan memerintahkan Anda untuk membatalkan pengorbanan itu, apakah Anda mendengar perintah Tuhan?

Barangkali, sebagai manusia jaman ini, kita lebih aman memilih interpretasi kedua, yaitu, mengorbankan yang paling berharga demi Tuhan. Interpretasi jenis kedua ini saja sudah sangat berat.

Sekali lagi, kita memiliki sumber inspirasi yang tiada batas dengan mendalami ajaran-ajaran agama sebagai pencerahan.

Kisah Yusuf

Kisah Nabi Yusuf, cucu buyut dari Ibrahim, sangat inspiratif dan kaya akan sumber pencerahan. Kita akan mendiskusikannya sebagian saja.

Yusuf kecil bermimpi, kemudian, menceritakan kepada ayahnya, Nabi Yakub. Ayahnya mengatakan bahwa interpretasi dari mimpi itu adalah kelak Yusuf akan menjadi orang yang sukses dan terpandang. Ayahnya menasehati Yusuf untuk waspada karena akan banyak ujian kepadanya.

Benar saja. Ujian demi ujian menimpa Yusuf kecil, remaja, sampai dewasa. Masih anak-anak, Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur. Yusuf bertahan dalam gelapnya sumur tanpa bantuan apa pun seorang diri. Yusuf sadar bahwa dirinya akan menjadi orang terpandang di masa depan. Yusuf tetap sabar dalam dingin sumur gelap tanpa makanan berhari-hari.

Sampai suatu ketika, rombongan pedagang dari Mesir melintas dekat kawasan sumur itu. Mereka bermaksud mengambil air dari sumur. Mereka melihat ada anak kecil, yaitu Yusuf, dalam sumur. Kemudian mereka membawa Yusuf ke atas dan berniat menjual Yusuf sebagai budak. Singkat cerita, Yusuf dijual ke bangsawan Mesir.

Hidup sebagai budak, atau pelayan, di Mesir, adalah kehidupan yang berat bagi Yusuf. Berkali-kali, Yusuf menghadapi fitnah. Termasuk, Yusuf terpaksa harus dijebloskan ke dalam penjara, padahal, Yusuf tidak salah. Bagaimana pun, Yusuf sadar bahwa, di masa depan, dirinya akan menjadi orang terpandang. Atas berbagai macam cobaan, Yusuf tetap sabar dan terus berbuat kebaikan meski berbulan-bulan terkurung dalam penjara.

Suatu ketika, raja Mesir bermimpi dan tak satu pun ahli tafsir mampu menafsirkan makna mimpi raja. Salah seorang pengawal raja mengabarkan bahwa Yusuf memiliki kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Yusuf dipanggil raja untuk keluar dari pernjara dan menafsirkan mimpi, “Tujuh musim ke depan, Mesir akan panen raya dengan kekayaan berlimpah. Sedangkan, tujuh musim kemudian akan terjadi paceklik sehingga tidak ada panen sama sekali.”

Rekomendasi Yusuf kepada Raja sangat jelas. Yaitu, melakukan manajemen yang rapi selama 7 tahun panen raya agar bersiap menghadapi masa paceklik 7 tahun kemudian. Karena ini adalah skala dalam satu negara, tentu, bukan tugas yang ringan. Raja mengangkat Yusuf menjadi menteri untuk menangani masalah tersebut. Serta dilakukan kajian ulang terhadap kasus yang menyebabkan Yusuf masuk penjara. Terbukti, Yusuf bersih dari segala fitnah.

Masa panen 7 tahun datang dan disusul 7 tahun masa paceklik. Yusuf menunjukkan disiplin tinggi dan profesionalisme menghadapi beragam kesulitan. Memang benar, pada akhirnya, Yusuf menjadi orang yang sukses dan terpandang sesuai tafsir mimpinya ketika masih anak kecil.

Pencerahan apa yang kita peroleh dari kisah Yusuf?

A. Antisipasi

Makna mimpi mengantisipasi masa depan. Yusuf mengantisipasi masa depan bahwa dirinya akan menjadi orang yang sukses, baik, dan terpandang. Antisipasi masa depan ini yang menarik masa lalu dan masa kini bergerak menuju masa depan. Setiap kejadian masa kini, misal Yusuf dijatuhkan ke sumur, adalah langkah yang makin mendekatkan ke masa depan. Tentu saja, Yusuf bersikap dengan sikap yang sesuai layaknya orang sukses, baik, dan terhormat dalam setiap kesempatan.

Antisipasi beda dengan berharap atau angan-angan. Antisipasi adalah sikap aktif menyongsong masa depan sejak masa kini dan berbekal masa lalu. Sementara, angan-angan hanya berharap masa depan sesuai harapan yang tak kunjung datang.

Dulu, Yusuf mengantisipasi masa depan melalui mimpi. Jaman kita sekarang, barangkali, bisa menyongsong masa depan melalui kajian ilmu – atau juga melalui mimpi. Kita bisa menetapkan masa depan yang kita inginkan dengan ilmu dan cita-cita, misalnya. Kemudian, langkah antisipasi adalah menyiapkan segala yang diperlukan untuk meraih masa depan itu. Dan, bersikap dalam setiap kesempatan sesuai dengan cita-cita masa depan itu.

Apa masa depan paling pasti bagi Anda? Kematian adalah masa depan Anda paling pasti. Bagaimana Anda mengantisipasi kematian dengan cara terbaik?

B. Konsistensi

Yusuf sangat konsisten bersikap positif. Dalam situasi sulit, Yusuf konsisten berpegang pada prinsip moral yang tinggi. Dalam situasi sukses, Yusuf tetap konsisten dan disiplin. Pada tahun ke-10 sudah tampak jelas Yusuf sukses menangani paceklik. Dalam 7 tahun masa panen, bahan makanan disimpan di gudang dengan baik. Beberapa tahun kemudian, masa paceklik tiba, Yusuf dan tim berhasil menyalurkan bahan makanan dengan baik. Pada saat itu, Yusuf sudah menjadi menteri dan kepercayaan raja yang sukses.

Tetapi, Yusuf memiliki masalah yang masih dia pendam. Yusuf rindu dengan ayah ibunya yang sudah puluhan tahun dia tinggalkan di kampung. Di sisi lain, ayahnya juga menanggung derita yang sangat berat karena terpisah dari Yusuf, putra tercinta. Bahkan, ayah mendapat kabar sejak awal bahwa Yusuf sudah mati dimakan srigala. Meski ayah tidak percaya berita itu, tetap saja perpisahan itu sangat berat. Kali ini, mudah bagi Yusuf untuk mengunjungi ayahnya di kampung karena Yusuf adalah pejabat tinggi. Atau, Yusuf bisa saja mengirim pasukan untuk menjemput ayahnya di kampung, kemudian, memboyongnya ayahnya ke pusat kerajaan.

Mengapa Yusuf tidak melakukan itu?

Karena, Yusuf ingin tetap konsisten menyelesaikan tugasnya selama 14 tahun. Yusuf perlu konsistensi dan disiplin tinggi untuk menjamin rakyat tetap cukup pangan di masa paceklik 7 tahun penuh itu. Karena rasa cinta Yusuf ke ayah begitu besar, Yusuf khawatir akan berkurang konsentrasinya kepada urusan rakyat di sisa waktu beberapa tahun ke depan. Biarlah Yusuf dan ayah sama-sama menahan rindu yang begitu menggebu.

Bisakah Anda sekonsisten Yusuf?

Jika Anda disiplin dan konsisten maka pantas bagi Anda untuk sukses dan menjadi orang terhormat.

C. Profesional

Yusuf sangat profesional. Orang, umumnya, mengira menyimpan bahan makanan dalam 7 tahun masa panen dan 7 tahun masa paceklik sebagai tugas yang mudah. Tidak mudah. Itu tugas yang sangat sulit. Apalagi untuk ukuran satu negara sebesar Mesir.

Jika salah tumpuk bahan makan di gudang maka bisa busuk. Makanan tahun pertama, ditambah tahun kedua, dan seterusnya sampai tahun ke-7. Tahun ke-8, masih aman karena makan panen tahun ke-7. Tetapi tahun ke-12 bisa saja makan hasil panen tahun ke-3 yang sudah tersimpan selama 9 tahun. Bahan makanan seperti itu bisa sudah busuk dan rakyat satu negara jatuh kelaparan.

Yusuf bekerja secara profesional dengan perhitungan yang teliti dan matang. Salah satu alternatif penyimpanan adalah dengan FIFO – first in first out. Bahan makan panen tahun ke-1 dikonsumsi pada tahun ke-8, panen tahun ke-2 dikonsumsi tahun ke-9, dan seterusnya. Sehingga, setiap makanan disimpan dalam waktu 7 tahun, tidak lebih. Beberapa jenis bahan makanan daya tahan bisa saja beda-beda. Sehingga metode penyimpanan dan pengolahan perlu beragam.

Alternatif lainnya sebagai berikut. Panen tahun ke-1 dikonsumsi tahun ke-2, panen tahun ke-2 dikonsumsi tahun ke-3, sampai panen tahun ke-7 dikonsumsi tahun ke-8. Semua bahan makanan hanya disimpan dalam 1 tahun saja. Bagaimana dengan tahun ke-9? Tahun ke-9 dan seterusnya tetap konsumsi hasil panen tahun ke-7. Dengan cara ini, panen tahun-7 perlu menghasilkan panen dalam jumlah yang besar. Apakah mungkin?

Benar-benar perlu keahlian dengan profesionalisme tingkat tinggi. Yusuf bersama timnya berhasil menunjukkan profesionalisme yang tinggi itu.

Bagaimana dengan profesionalisme Anda? Dengan profesionalisme yang tinggi, Anda akan menjadi orang yang sukses dan terhormat.

Beberapa contoh kajian di atas adalah sekedar cuplikan bahwa ajaran agama adalah sumber pencerahan yang senantiasa terus bersinar. Tentu, masing-masing orang bisa saja mengembangkan interpretasi yang beragam. Demikianlah, agama memang kaya akan pengajaran.

2.3 Sekular

Agama dan sekular adalah sesuatu yang berbeda. Mereka bisa saling bertentangan. Pun mereka, agama dan sekular, bisa seiring sejalan. Sekular bisa menerima pandangan agama sejauh bisa dikomunikasikan dengan baik. Sekular juga menghormati kebebasan umat agama untuk ibadah.

Tentu saja, pandangan sekular terhadap agama tidak seragam. Mungkin saja ada sekular yang memusuhi agama. Maka, perlu sikap saling memahami dari berbagai pihak.

Dari sisi agama pun, agama memberi kebebasan kepada umat manusia. Agama membebaskan umat manusia untuk memilih jalan kebaikan masing-masing. Tentu, agama memberi petunjuk cara hidup yang benar bagi umat manusia. Dan, agama tetap menghormati perbedaan sikap masing-masing individu.

Kita bisa mengelompokkan pandangan sekular menjadi tiga: netral, keras, dan halus.

Sekular netral adalah pandangan sekular yang bersikap netral terhadap agama. Maksudnya, dalil agama bisa dipakai sebagai argumen sejauh dalil tersebut bisa dikomunikasikan secara publik dan dapat diterima. Dalil agama dan non-agama sama-sama memiliki kedudukan netral untuk dikaji secara kritis demi kebaikan umat manusia dan semesta.

Sekular keras adalah pandangan sekular yang menolak dalil agama. Argumen berdasar dalil agama ditolak. Jika seseorang berniat menggunakan dalil agama maka perlu mengubahnya menjadi “bahasa-sekular”, sedemikian hingga, bida dikritisi masyarakat luas. Sekular keras bisa saja lebih dekat ke ateis atau, bahkan, anti terhadap agama. Tentu saja, masing-masing orang memiliki keragaman pengalaman dalam menghadapi agama.

Sekular halus adalah pandangan sekular yang menerima dalil agama sebagai sumber inspirasi bagi kebaikan umat manusia dan semesta. Umat manusia perlu mendalami kehidupan beragama, kemudian, mengambil inspirasi dari ajaran agama untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan pandangan ini, agama tumbuh selaras seiring dengan perkembangan kemanusiaan.

Singkatnya, agama tetap kokoh meski ada pandangan sekular di beberapa tempat. Bahkan, agama terus berkembang dinamis.

3. Masa Depan Agama

Agama masa depan adalah agama pembebasan, bernuansa dinamika, dan senantiasa berputar.

3.1 Haus Dogma

Agama tetap diperlukan sampai hari ini. Agama tetap berperan penting di masa depan. Agama tetap menjadi harapan di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Beberapa pemikir mengira bahwa orang-orang akan meninggalkan agama karena ilmu pengetahuan dan teknologi makin maju. Dengan sains, semua misteri alam raya bisa diungkap. Akibatnya, manusia tidak perlu lagi mitologi. Dan, manusia juga tidak perlu lagi agama. Tetapi, benarkah seperti itu yang ada?

Di beberapa tempat, ada orang yang meninggalkan agama atau dari kecil memang tidak beragama. Di beberapa tempat lainnya, justru, orang berbondong-bondong memeluk agama. Agama, masih, terus tumbuh.

Kita adalah subyek. Saya adalah kulo. Anda adalah subyek. Subyek kulo tidak pernah puas hanya dengan sains dan teknologi. Kulo membutuhkan yang lebih tinggi. Kulo butuh doktrin atau dogma. Barangkali, bentuk dogma bisa berbeda-beda seiring waktu berjalan. Bagaimana pun, manusia membutuhkannya, dalam satu dan lain variasi. Manusia haus dogma. Singkatnya, di masa depan, manusia tetap butuh agama.

3.2 Pembebasan

Agama, di awal kehadirannya, adalah gerakan pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari kebohongan, dan pembebasan dari penindasan. Dalam perkembangannya, agama bisa menempuh jalan aneka ragam. Di masa kini dan masa depan, agama tetap bisa menjadi gerakan pembebasan bagi umat manusia.

A. Kodifikasi Politik

Agama membebaskan umat manusia dari kebodohan. Agama memberi percik pencerahan setiap saat. Seiring waktu, ajaran-ajaran agama berkembang. Langkah wajar adalah membukukan ajaran agama tersebut. Di satu sisi, kodifikasi ajaran agama dalam bentuk buku, memberi kemudahan bagi umat untuk memperoleh pencerahan dari agama. Di sisi lain, kodifikasi dapat melumpuhkan ajaran agama menjadi hanya sekedar konsep yang tertulis.

Kemudian, kodifikasi ajaran agama menjadi pedoman menentukan benar atau salah. Segala sesuatu yang melanggar kodifikasi dianggap salah. Sementara, pihak-pihak tertentu memanfaatkan kodifikasi sebagai dalil untuk mengeruk beragam keuntungan materi. Agama berubah menjadi alat kepentingan tertentu bagi pihak tertentu.

Lebih parah lagi, ketika, kepentingan politik ikut bermain. Penguasa menetapkan aliran kodifikasi tertentu saja yang sah. Kodifikasi yang lain dianggap sesat. Dengan cara ini, penguasa memperoleh dukungan politik untuk mencengkeramkan kekuasaan. Penguasa korup bisa mengenakan topeng agama untuk menutupi dosa mereka.

Bagaimana pun, kodifikasi ajaran agama tetap mengandung ajaran agama. Dari kodifikasi itu, tetap, muncul percik-percik cahaya cinta. Suatu cahaya yang membebaskan umat manusia. Cahaya yang menjadikan kodifikasi itu kembali menjadi salah satu sumber ajaran agama terbaik.

B. Kebebasan

Jelas. Bebas. Agama membebaskan umat manusia. Agama adalah kebebasan. Agama adalah pembebasan. Dengan kebebasan, manusia berkonsekuensi menerima tanggung jawab. Tanpa kebebasan, maka, tidak ada tanggung jawab. Tanggung jawab memastikan adanya kebebasan.

Pertama, agama membebaskan umat manusia untuk memeluk suatu agama. Jika seseorang memeluk agama A maka dia bertanggung jawab sesuai ajaran A. Jika seseorang memeluk agama lain maka dia bertanggung jawab terhadap agama lain tersebut. Jika, seandainya, seseorang tidak beragama maka tetap saja dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Perjalanan sejarah, tentu saja, bisa berbeda. Seorang penguasa bisa saja memaksa penduduk untuk memeluk agama A. Mereka yang tidak memeluk agama A diusir dari negara tersebut. Atau, minimal mereka kena diskriminasi sebagai minoritas, misalnya. Aliran tertentu menafsirkan ajaran A sebagai diskriminatif seperti itu. Tetapi, kita bisa mengkaji lebih mendalam tentang ajaran agama A dengan interpretasi lebih kuat: ajaran agama A adalah agama pembebasan. Agama A memberi kebebasan kepada umat manusia.

Beberapa agama bersifat ekspansif, yaitu, ada ajaran untuk mengajak orang lain memeluk agama tersebut. Hal seperti itu wajar. Karena, ketika kita yakin dengan kebenaran dan kebaikan agama A, maka, kita mengajak teman-teman kita memilih yang benar dan baik. Tentu saja, tetap dalam koridor kebebasan. Sementara, agama yang lain ada yang bersifat eksklusif, dalam arti, agama tersebut hanya diperuntukkan kelompok tertentu. Dengan demikian, mereka mencukupkan diri kepada kelompoknya sendiri. Bahkan, kelompok lain tidak boleh masuk dengan memeluk agama khusus tersebut. Kedua jenis agama di atas, sama-sama, menjaga kebebasan beragama.

Kedua, agama memberi kebebasan di dalam agama. Bahkan, ketika seseorang sudah masuk agama A, misalnya, dia tetap bebas memilih banyak hal berdasar agama A. Dia bebas memilih madzhab X atau Y atau Z. Kemudian, di dalam madzhab itu, dia masih bebas menjalani ibadah sesuai aturan atau melanggarnya. Tentu saja, dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya. Beribadah memperoleh pahala, sementara, melanggar bisa mendapat dosa.

Bagaimana dengan tindakan mencuri, menipu, atau korupsi? Tentu saja, agama melarang umat manusia untuk mencuri atau korupsi. Tetapi, manusia bebas saja mau mencuri atau tidak. Kemudian, dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi kebebasan itu di dunia dan akhirat. Agama memberi petunjuk kepada umat manusia agar memilih hidup yang benar, memilih jalan yang lurus. Bagaimana pun, pilihan bebas ada di tangan Anda.

Yang menarik, agama sering memberi beban kepada manusia, justru, tujuannya agar manusia menjadi bebas. Manusia wajib puasa agar dia terbebas dari nafsunya. Manusia wajib sedekah agar dia terbebas dari serakah. Manusia wajib berdoa agar dia terbebas dari beban tiada tara. Anda memang manusia bebas.

C. Sumber Ruhani

Pancaran spirit terus menerus bersinar. Air mancur ruhani terus mengalir. Sisi ruhani terdalam umat manusia menembus setiap batas. Manusia adalah bebas.

(1) Alam fenomena. Adalah alam yang kita alami biasa setiap hari. Pagi, bangun tidur, mandi, makan, lalu kegiatan. Malam hari, tidur lagi. Terjadi seperti itu berulang kali. Di dunia fenomena bercampur antara pengetahuan dan kebodohan. Bercampur antara kepastian dan keraguan. Bercampur antara kebaikan dan kejahatan. Segala yang ada di dunia fenomena adalah sarana bagi manusia untuk bertumbuh menjadi lebih baik secara dinamis. Tetapi, justru banyak manusia yang terjebak pada kenikmatan sesaat di dunia fenomena. Agama membebaskan umat dari jeratan fenomena dan memastikan agar dunia fenomena menjadi bekal yang sempurna bagi umat manusia.

(2) Alam noumena, finitude, kepastian, hakikat. Kebaikan pasti berbuah kebaikan dan dibalas kebaikan. Kejahatan pasti dibalas dengan setimpal. Alam noumena ini pasti dan ada di sini, saat ini. Serta kekal sampai jaman abadi. Hanya saja, orang pada umumnya tidak bisa melihat noumena dengan jelas. Yang tampak bagi mereka adalah fenomena, ketidakpastian. Perlu ilmu yang tinggi agar kita bisa melihat noumena – yang benar adalah benar. Agama memastikan bahwa hukum hakikat berlaku secara benar, adil, dan baik. Ketika manusia bebas menentukan sikap, maka, dunia noumena memastikan hasilnya.

(3) Infinity, tak-terbatas, tak-hingga, chaos, anarki, bebas. Mengapa manusia bebas? Karena manusia adalah infinity, tak-terbatas. Anda bebas memilih apa saja. Anda bebas berpikir apa saja. Anda bebas sebebas-bebasnya. Bahkan chaos atau anarki. Tetapi, mengapa manusia tidak bebas terbang tinggi? Karena, selain infinity, manusia berada dalam alam fenomena dan noumena. Bagaimana pun, manusia tetap bebas menyikapi fenomena dan noumena. Agama menyadarkan manusia akan sikap bebasnya dan mengingatkan manusia agar menerapkan kebebasan dengan baik.

(4) Absolut, Mutlak, Tak-Terperi. Tuhan adalah Sang Maha Mutlak, Sang Maha Bebas, Sang Absolut. Bahasa tidak bisa membahas Absolut. Angka tidak bisa menghitung Absolut. Kita tidak mampu menggambarkan Sang Absolut. Agama membimbing umat manusia untuk lebih dekat kepada Absolut.

Dengan empat prinsip di atas, agama mendorong umat manusia untuk menjadi bebas dan mebebaskan.

Beberapa orang bisa saja fokus ke prinsip (2) noumena yang bersifat pasti atas nama agama. Dengan cara itu, mereka bisa mengklaim sebagai pasti paling benar dan pihak lain sebagai salah. Tetapi, prinsip (2) tetap berhubungan dengan prinsip (1) fenomena sehingga selalu ada dinamika dan ketidakpastian. Serta, terhubung dengan prinsip (3) infinity sehingga ada kebebasan melintasi batas. Dan, apalagi jika kita sadar bahwa segalanya bersumber dari prinsip (4) Absolut, maka, wajar bagi kita untuk senantiasa memohon bimbingan melalui ajaran agama.

(5) Nothing, void, hampa, ketiadaan. Prinsip ini menyatakan, “Tiada yang nyata kecuali Sang Maha Nyata.” Manusia bebas memilih apakah akan menghadapkan wajah kepada Sang Maha Nyata atau malah ke arah kehampaan. Bagaimana pun, menatap kehampaan bisa menyadarkan manusia akan betapa pentingnya kenyataan.

3.3 Simbol Dinamika

Agama kaya akan simbol, atau perlambang. Karenanya, masing-masing orang bisa memperoleh inspirasi tiada henti dari ajaran agama. Tentu saja, agama juga mengajarkan tentang fakta. Bagaimana pun, fakta-fakta di masa lalu yang penuh makna itu, menjadi sumber inspirasi dinamis di masa kini.

Makna Tak-Terbatas

Apa makna dari simbol? Makna dari simbol atau perlambang adalah makna yang tak-terbatas. Ketika kita memaknai simbol agama, misal ajaran kitab suci, maka kita akan memukan makna vertikal dan horisontal yang sama-sama infinity.

“Perhatikan biji yang tumbuh jadi benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Tiba saatnya, menjadi pohon yang menjulang tinggi, lebat, dan akhirnya berbuah. Apakah kamu yang menciptakan itu?”

Makna vertikal mengajak kita mengkaji benih tumbuhan sampai mengembangkan rekayasa genetika. Sehingga, kita bisa mengembangkan bibit unggul yang kualitas dan kuantitas benih sangat bermanfaat bagi umat manusia. Pada saatnya, benih itu menghasilkan buah yang meningkatkan taraf hidup umat manusia. Apakah kamu yang menciptakan itu? Tidak. Manusia tidak bisa menciptakan apa-apa. Manusia hanya bisa mempelajari dan rekayasa. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta.

Makna horisontal lebih leluasa. Benih adalah simbol diri kita yang masih janin kemudian menjadi bayi. Lalu, tumbuh besar menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa. Sebagai manusia, kita perlu berbuah, memberi manfaat nyata bagi sesama umat manusia dan semesta. Bisa juga, makna horisontal benih adalah proses kita mengembangkan suatu usaha bisnis digital. Awalnya hanya ide sebagai benih. Kemudian, melakukan beberapa eksperimen di media sosial. Dan akhirnya, berkembang menjadi bisnis digital yang berbuah memberi manfaat kepada masyarakat luas. Apakah kamu yang menciptakan itu semua? Tidak. Manusia tidak bisa menciptakan apa-apa. Manusia hanya mempelajari, mencoba-coba, dan rekayasa. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta.

Makna vertikal dan horisontal yang tak terbatas, seperti di atas, mendorong umat manusia untuk terus bergerak dinamis.

Simbol Konkret

Meski bahasa simbol atau perlambang, bisa saja berupa ungkapan konkret. Benih adalah simbol konkret. Perahu Nabi Nuh juga simbol konkret. Tongkat Nabi Musa sama konkretnya.

Di satu sisi, simbol konkret, misal perahu, bisa kita pahami dengan mudah. Bahkan, anak-anak bisa memahami perahu Nabi Nuh dalam ukuran besar untuk menyelamatkan umat manusia pilihan dan berbagai macam binatang dari bencana banjir. Di sisi lain, simbol konkret tetap saja bisa bermakna dinamis.

Perahu bisa saja simbol dari perjalanan hidup kita. Atau, perjalanan umat manusia. Atau, simbol bagi perjalanan bumi yang terapung-apung di lautan galaksi semesta raya. Ajaran agama penuh dinamika.

Dinamika Individu

Masing-masing individu bisa memaknai simbol sesuai kapasitas dan kebutuhannya. Yang menarik adalah makna individu itu beragam dan tidak bisa diseragamkan. Ketika seorang guru menceritakan tentang perahu Nabi Nuh, maka, para siswa memaknai perahu dengan imajinasi yang berbeda-beda. Keragaman makna ini justru menunjukkan kekayaan khasanah umat.

Di satu sisi, kita perlu belajar untuk memaknai secara tepat, presisi, dan akurat. Di sisi lain, makna itu sendiri terus bergerak seiring waktu dan tempat. Sehingga, segalanya penuh warna dinamika. Terhadap keragaman makna, kita perlu saling menghargai dan mengembangkan sikap saling hormat.

4. Diskusi

Menimbang begitu penting peran agama bagi umat manusia, sepantasnya, kita membahas agama cinta dengan diskusi yang lebih mendalam di bagian ini.

4.1 Ringkasan

Kita bisa memandang agama sebagai urutan 123: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan. Sebaliknya, kita bisa juga memandang agama sebagai urutan 321: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal. Kedua urutan di atas sama baiknya, tetapi, berbeda dalam kadar resiko.

(1) agama formal(2) spirit agama(3) pembebasan

Urutan 123 atau 321 sama baik karena sama-sama bergerak lengkap. Resiko muncul ketika gerakan hanya berhenti di langkah tertentu saja. Misal ketika 123 hanya berhenti di (1) saja, maka, agama berubah menjadi formalisme belaka. Agama menjadi sekedar identitas diri, di mana, orang yang beragama lain bisa dianggap sebagai orang berbeda atau bahkan sebagai orang yang sesat. Cara pandang seperti ini, beresiko, memunculkan kerusuhan dalam masyarakat.

Agama bisa juga direduksi menjadi hanya ritual ibadah dan legalitas dalam beberapa aspek. Bahkan, dalam identitas satu agama yang sama, bisa saja terjadi pertikaian saling menyesatkan karena perbedaan sudut pandang terhadap ritual, misal penetapan kalender hari raya. Bisa juga, aspek legal agama digunakan untuk mengeruk keuntungan bagi pihak tertentu dan menindas pihak yang lemah.

Padahal, urutan 123 tetap sempurna ketika kita berlanjut sampai (2) spirit agama dan (3) pembebasan.

Resiko urutan 321 juga sama besar ketika, misal, berhenti hanya di (3) pembebasan. Agama direduksi hanya urusan pemahaman dan hati belaka. Mereka bebas menjalani agama, yang penting, bersumber dari suatu penafsiran tertentu. Mereka, bebas, tidak harus melakukan ritual-ritual ibadah. Mereka, bebas, tidak harus menghormati situs-situs agama masa lalu. Apa yang terjadi kemudian?

Mereka menemukan hidup yang hampa. Kebebasan tanpa pijakan yang kuat menjadikan mereka hanya melayang-layang di semesta. Mereka terlunta-lunta dalam kembara belantara pikirannya. Kebebasan tetap membutuhkan spirit agama dan ritual agama.

Kita, umat manusia, membutuhkan agama cinta. Agama yang sempurna formal, spirit, dan pembebasan.

4.2 Filosofi Roda Tiga

Kita akan mengingat kembali konsep filosofi siklis roda tiga. Pemahaman kita bersifat siklis. Bagai roda berputar 123, lanjut 123, dan seterusnya 123. Arah putaran bisa saja sebaliknya, 321 lanjut 321, dan seterusnya.

Agama masa depan adalah agama cinta, agama pembebasan, dan agama dinamika.

Kehidupan agama kita berputar dinamis: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan, (1) agama formal, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Alternatif arah putaran sebaliknya, sama-sama sah: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal, (3) pembebasan, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Sejak awal, agama adalah pembebasan. Di masa kini, agama adalah pembebasan. Di masa depan, agama adalah pembebasan. Agama adalah pembebasan dinamis yang berputar sempurna.

4.3 Agama Cinta Absolut

Nilai kebenaran agama adalah benar absolut, sudah kita bahas di bagian sebelumnya, karena merupakan kebenaran aksiomatik. Dengan konsisten mengikuti aturan logika, maka nilai kebenaran ajaran-ajaran agama adalah benar absolut. Ketika agama Islam, misalnya, mengajarkan pemeluknya untuk sholat tiap hari maka itu adalah ajaran yang benar absolut.

Yang unik dari kebenaran absolut agama adalah, di saat yang sama, bersifat dinamis. Jadi, ajaran agama bernilai benar mutlak dan dinamis. Karakter seperti ini selaras dengan karakter cinta yang kreatif. Cinta selalu benar dan dinamis. Agama memang agama cinta.

Pertama, agama benar absolut atau benar mutlak karena agama sebagai sistem aksiomatik. Perintah sholat tiap hari, misalnya, didasarkan pada kitab suci dan riwayat. Dari teks kitab suci, dan sejarah, para ahli agama menyimpulkan bahwa sholat adalah kewajiban tiap hari. Demikian juga, misalnya, menolong orang lemah adalah kewajiban bagi setiap orang beragama berdasar teks kitab suci. Dalam sistem aksiomatik seperti itu, perintah sholat dan perintah menolong orang lemah adalah selalu sah.

Kedua, agama selalu dinamis karena sistem aksiomatik agama dibangun berdasar “interpretasi” terhadap teks kitab suci dan sejarah. Kita tahu bahwa karakter interpretasi selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Dengan demikian, agama selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Ditambah lagi, ajaran agama bisa saja bersifat umum, sehingga pada tataran praktis, perlu penyesuaian di sana-sini yang dinamis.

Usaha untuk membuat interpretasi yang baku terhadap ajaran agama, tentu saja, bisa dilakukan. Standarisasi ajaran baku ini, jika berhasil, akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang, relatif, pendek. Sebaliknya, dalam jangka panjang, pasti, kita perlu melakukan beragam revisi karena situasi dan kondisi yang sudah berubah. Kita perlu revisi terhadap setiap standar yang ada.

Ketiga, agama selalu dinamis karena agama mampu mengantisipasi masa depan dengan bahasa lambang. Agama mampu meramalkan masa depan umat manusia. Agama mampu meramalkan masa depan alam semesta. Tentu saja, semua ramalan ini berupa bahasa-bahasa lambang atau simbol. Meski, kadang menggunakan ungkapan konkret, tetap saja, ungkapan tersebut bisa dipandang sebagai lambang.

Dengan bahasa lambang, umat manusia mampu mereguk aliran air inspirasi tiada henti dari teks kitab suci dan ajaran agama secara umum. Inspirasi demi inspirasi mendorong agama bergerak lebih dinamis lagi.

Saatnya, umat manusia untuk jatuh cinta, lagi, kepada agama yang suci. Agama yang selalu dinamis. Agama yang menebarkan cinta untuk seluruh semesta raya.

Politisasi Cinta

Politik adalah segalanya. Tidak ada sisi kehidupan yang terlepas dari politik. Kehidupan pribadi perlu politik. Kehidupan rumah tangga, kantor, negara, dan bahkan internasional, semuanya melibatkan politik. Politik adalah universal.

Tetapi, cinta adalah segalanya. Hanya cinta, yang menjadikan segala menjadi bermakna. Seluruh alam raya, termasuk jiwa terdalam manusia, adalah manifestasi cinta. Apakah dengan demikian, politik sama dengan cinta? Setidaknya, politik mengikat erat cinta? Kita akan membahas politisasi cinta di bagian ini.

1. Politik Universal
1.1 Luma
1.2 Tata
2. Subyek
3. Politik Cinta
3.1 Pandemi Cinta
3.2 Ledakan Kesenjangan
3.3 Solusi Tataluma
4. Sistem Kekuasaan
4.1 Kerajaan
4.2 Demokrasi
4.3 Digitalisasi
5. Transformasi
5.1 Konservatif
5.2 Progresif
5.3 Median
6. Ideologi
6.1 Teokrasi
6.2 Sosial
6.3 Liberal
7. Keadilan
7.1 Kebebasan
7.2 Kesenjangan
7.3 Kemajuan
8. Diskusi
8.1 Selalu Meledak
8.2 Alternatif Jalur
8.3 Parameter Keadilan

Politik itu kejam. Bahkan, lebih kejam dari perang. Karena, perang bisa selesai dengan damai. Politik tidak bisa selesai dengan damai: harus ada yang kalah agar ada yang menang. Dalam politik, ketika terjadi koalisi pun, semua pihak harus kalah kecuali yang terpilih jadi presiden, sebagai pemenang tunggal.

Politik adalah kompetisi menang-kalah. Agar seseorang bisa jadi bupati, maka orang lain harus kalah, orang lain tidak boleh jadi bupati. Jika ada bupati tandingan maka masuk kategori makar yang harus ditumpas, harus dikalahkan. Politik adalah merebut kekuasaan untuk mengalahkan semua lawan. Cara pandang politik seperti itu hanyalah satu sudut pandang belaka. Ada banyak sudut pandang yang berbeda.

Politik adalah cahaya. Bahkan, politik adalah cahaya yang sangat kuat menerangi alam raya. Politik mengajak umat manusia menuju cahaya, secara bersama-sama mau pun personal. Cahaya politik menembus setiap lubang semesta, menebarkan percik-percik sinar harapan. Politik adalah matahari kehidupan, yang menghangatkan hati-hati yang beku, meruntuhkan setiap belenggu. Politik adalah kudu.

Kita akan mengawali kajian dengan membahas ontologi politik universal, di mana, politik memang ada di mana-mana. Sambil jalan, pembahasan kita akan bertabur dengan tema cinta. Di bagian akhir, kita membahas yang paling penting dari politik: keadilan. Meski, hampir setiap orang paham bahwa adil adalah yang paling penting, nyatanya, keadilan bagai hanya sebuah impian di kancah politik. Kita merumuskan beberapa solusi untuk meraih politik yang adil.

1. Politik Universal

Politik bersifat universal, dalam arti, politik ada di mana-mana dan kapan saja. Karena politik, sejatinya, adalah tataluma: bersatunya antara karakter luma dan tata. Karakter “luma ” selalu bersifat “meledak” memenuhi segala yang ada. Sementara, karakter “tata” selalu bersifat menata segala yang ada.

1.1 Luma

Realitas ontologi paling fundamental adalah “luma” yang karakter utamanya adalah “selalu memberi.” Tentu saja, kita tidak bisa mendefinisikan luma dengan kata-kata. Kita hanya bisa memaknai “luma.” Luma selalu memberi tanpa henti. Jika luma berhenti memberi maka runtuhlah alam raya ini, runtuhlah segalanya. Segala yang ada bersandar kepada luma. Logika tidak bisa membatasi luma, sebaliknya, logika justru perlu bersandar kepada luma.

Politik adalah pancaran utama dari luma. Tanpa politik, umat manusia hancur. Tanpa politik, peradaban luluh lantak. Seperti dalam luma, dalam politik, logika bisa lumpuh. Logika justru perlu bersandar kepada politik. Politik seperti apakah, yang bisa, menjadi sandaran logika? Politik yang luma.

Dalam realitas politik, luma nyaris tidak pernah terbentuk dengan sempurna. Politik membelokkan luma sehingga politik menjadi bahaya. Secara ontologis, luma bersatu dengan tata, sedemikian hingga, sinaran politik selalu menabur cinta untuk seluruh semesta. Ketika politik memisahkan tata dari luma, maka, politik, yang sejatinya adalah cahaya bening, berubah menjadi hitam atau merah atau kuning.

Hitam adalah politik yang mendominasi pihak lain, menindas pihak lemah, dan mengksploitasi alam raya sampai hancur. Merah adalah politik hitam hanya saja sedikit tampak lebih lembut, yaitu, menindas pihak lain tetapi tidak sampai menghancurkannya. Pihak lemah tidak perlu hancur agar, bisa terus, diperas tenaganya. Sementara, kuning adalah politik tingkat tinggi paling licik. Mereka sejatinya hitam dan merah tetapi punya cara menutupi politik kejamnya dengan satu dan lain cara. Sehingga, kuning mengaku dirinya adalah politik yang suci nan bening bersinar. Bahkan, kuning mampu menipu diri, merasa dirinya adalah yang paling benar.

Kita perlu menyatukan kembali tata dan luma agar politik kembali menjadi bening – tidak hitam, merah, atau kuning. Sarana untuk menyatukan tata dan luma adalah politik itu sendiri. Mana mungkin politik bisa memperbaiki politik? Apakah mungkin manusia bisa memperbaiki manusia? Apakah mungkin kejahatan bisa memperbaiki kejahatan? Dunia ini adalah dunia kemungkinan. Bahkan, melebihi segala kemungkinan.

1.2 Tata

Tata adalah realitas ontologis paling fundamental. Tata adalah luma yang kita kaji dari sudut pandang berbeda. Karakter tata adalah selalu menata untuk mencapai sakina – keseimbangan dinamis. Dalam realitas fundamental, luma dan tata adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Luma selalu memberi dan tata selalu menata.

Dalam politik, luma dan tata sering terpisah. Tanpa tata, politik menjadi kacau karena kebanyakan luma, atau kekurangan luma. Politik menjadi hanya mendominasi pihak lain. Politik menjadi lupa bahwa dia harus meraih sakina bersama tata. Sehingga, tugas kita dalam politik adalah untuk kembali menyatukan luma dan tata sehingga tercipta politik sakina. Tentu, itu adalah tugas yang sulit. Barangkali, mustahil untuk berhasil?

Karena poliik adalah luma, politik adalah tata, maka politik selalu ada di mana saja.

2. Subyek

Siapa saya? Saya adalah subyek yang bertanya. Saya adalah kulo. Dalam politik, kulo hanya sekedar sumber daya yang memberi suara dalam pemilu, kemudian, dilupakan oleh pejabat pemenang. Kulo yang seharusnya jadi subyek berubah menjadi obyek, bahkan obyek penderita.

Bagaimana pun, kulo adalah subyek. Sehingga, ketika kulo dijadikan obyek, dalam beberapa kesempatan, pasti ada perlawanan. Kulo adalah perlawanan politik. Bahkan, ketika kulo dipastikan menjadi subyek, tetap saja, kulo akan melakukan perlawanan. Kulo adalah kulo. Kulo bukan subyek seperti itu. Lebih-lebih, kulo bukanlah obyek.

Hanya saja, kadang kulo terlalu kuat karakter luma. Sehingga kulo mendominasi pihak lain. Atau, sebaliknya, kulo justru sembunyi dari hiruk-pikuk politik. Kulo perlu tata agar sakina dalam semesta politik. Kulo perlu luma dan tata.

3. Politik Cinta

Politik adalah manifestasi cinta. Politik adalah bersatunya kembali luma dan tata. Sehingga, politik adalah tataluma.

3.1 Pandemi Cinta

Saat ini, kita memasuki era pasca pandemi. Politik cinta, sebagai tataluma, menjadi lebih penting lagi. Jika tidak, politik bisa menghancurkan bumi lebih ngeri dari sekedar pandemi. Kita berada pada era pandemi cinta yang akan disusul dengan kemakmuran cinta.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah krisis, misal setelah pandemi, akan disusul masa-masa kemakmuran umat manusia. Akan lahir inovasi-inovasi baru. Akan lahir kekuatan-kekuatan politik baru. Akan lahir kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kabar buruknya, ketimpangan sosial makin menganga. Kaum miskin makin tertindas. Wong cilik makin terpinggirkan.

Bagaimana bisa begitu? Kemakmuran meningkat tapi kemiskinan meluas? Mengapa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin?

Sistem politik dan ekonomi, saat ini, mendukung situasi seperti itu. Maka, kita perlu mengarahkan kembali politik cinta ke jalur tataluma.

3.2 Ledakan Kesenjangan

Dengan sedikit ilustrasi, kita lebih mudah memahami situasi. Sebelum pandemi, atau sebelum krisis, misal rakyat miskin menguasai 20% kekayaan dan rakyat kaya menguasai 80% kekayaan sisanya. Tentu saja, rakyat miskin dipenuhi oleh jutaan jiwa. Sementara, rakyat kaya hanya terdiri segelintir orang saja. Ketika terjadi pandemi, semua tatanan kacau. Kemudian, akan terbentuk tatanan baru, politik dan ekonomi.

Yang jelas terjadi, harga-harga melambung tinggi. Angka inflasi ikut melambung tinggi. Bagaimana pun, angka inflasi akan terkendali pada akhirnya. Pertama, angka inflasi dihitung berdasar berbagai macam parameter kompkles. Sehigga, rakyat tidak mudah menguji keandalan angka inflasi. Kedua, angka inflasi adalah pertumbuhan. Akibatnya, pikiran rakyat, dan politikus, mudah tertipu. Ketiga, ada pihak yang diuntungkan dengan kompleksitas angka inflasi.

20202021Inflasi
50100100%

Harga-harga di tahun 2020 adalah 50 rupiah. Kemudian naik menjadi 100 rupiah di tahun 2021. Maka angka inflasi adalah (100 – 50)/50 = 100%. Angka inflasi setinggi itu tentu bahaya. Semua pihak akan mencari cara untuk menanganinya. Tapi, perhatikan apa yang terjadi di tahun 2022? Semua solusi sudah tersedia.

20212022Inflasi
1001022%

Tahun 2022, harga naik lagi menjadi 102 rupiah dari, yang tahun 2021 adalah, 100 rupiah. Angka inflasi (102 – 100)/100 = 2%. Wow… angka inflasi sudah selesai. Inflasi 2% adalah angka inflasi terbaik untuk sistem ekonomi.

Di sisi rakyat kecil, menjerit penuh derita. Harga-harga melonjak tinggi dari 50 menjadi 102. Ongkos buruh kerja, bagi rakyat kecil, sulit sekali untuk naik. Penghasilan bahkan turun drastis akibat pandemi. Bukankah total uang beredar tetap sama? Bahkan, uang beredar bisa bertambah karena mencetak uang baru? Di mana mereka – uang yang berlimpah itu?

Tentu saja, ilustrasi di atas adalah sangat sederhana. Realitasnya, akan berupa angka-angka yang kompleks. Tetapi, kiranya cukup, memberi ilustrasi bagi kita bagaimana sistem politik dan ekonomi mengarahkan pemahaman kita ke arah yang salah. Tidak selalu salah, kadang benar, bahkan sejatinya memang benar, parameter-parameter yang ada itu. Justru, karena ada campur aduk antara benar dan salah, maka, tugas kita memang tidak mudah.

Mari kita lanjut skenario pasca pandemi. Sebelum pandemi, rakyat miskin menguasai 20% kekayaan, dan rakyat kaya menguasai 80% kekayaan. Setelah pandemi, gaji rakyat miskin, dan penghasilan petani peternak, naik dari 20 menjadi 30 rupiah. Rakyat miskin gembira, penghasilan mereka naik. Tetapi rakyat miskin menangis karena harga-harga naik lebih tinggi.

Ukuran ekonomi melonjak pasca pandemi dari 100 menjadi 200. Sementara, rakyat miskin ikut naik penghasilan mereka dari 20 menjadi 30. Dengan proporsi yang sama, aset juga bisa kita estimasi. Bagaimana dengan penghasilan rakyat kaya? Penghasilan rakyat kaya hanya meningkat sisanya. Yaitu, 200 dikurangi porsi rakyat miskin 30 maka sisa 170. Penghasilan rakyat kaya berlipat dari 80 sebelum pandemi menjadi 170 setelah pandemi. Kabar gembira!

Porsi EkonomiSebelumPasca Pandemi
Miskin2030
Kaya80170

Secara absolut, pertumbuhan ekonomi memang bagus dari 100 menjadi 200, pasca pandemi. Secara nyata, bisa berbeda.

Rakyat miskin, nilai ekonomi, tumbuh dari 20 menjadi 30. Secara proporsi turun dari 20% = 20/100 menjadi 15% = 30/200. Lebih rumit lagi daya beli orang miskin. Karena harga-harga naik berlipat 2 kali, meski inflasi terkendali pada akhir pandemi, daya beli juga turun dari 20% menjadi sekitar hanya 15%.

Rakyat kaya tumbuh dari 80 menjadi 170, pasca pandemi. Secara proporsi juga naik menjadi 85%. Lebih bagus lagi, daya beli juga naik dari 80% menjadi 85%.

3.3 Solusi Tataluma

Solusi apa yang kita perlukan? Solusi politik cinta yaitu tataluma. Tidak ada yang salah dari parameter ekonomi dan politik seperti ilustrasi di atas. Hanya saja, kita perlu melangkah lebih jauh agar, pasca pandemi, poilitik ekonomi tumbuh lebih adil makmur. Yang miskin tambah kaya, dan yang kaya boleh makin kaya. Yang lemah makin berdaya, dan yang kuat boleh lebih berdaya.

Luma, karakter politik yang terus meledak, memang akan mendorong umat manusia bergerak maju. Di saat yang sama, tata perlu menjadi lebih kuat menata sistem politik agar merata seluruh daya.

Langkah pertama paling penting adalah menguatkan posisi politik rakyat kecil. Mereka perlu sadar bahwa mereka adalah umat manusia yang berharga. Setiap jiwa rakyat miskin sama berharganya dengan jiwa orang kaya. Pendidikan bagi rakyat kecil menjadi utama. Mereka, rakyat kecil, mampu berkontribusi tinggi bagi umat manusia sebagai mana rakyat kaya juga bisa berkontribusi nyata. Rakyat kecil memiliki daya tawar yang kuat sebagai mana rakyat kaya. Rakyat kecil adalah orang merdeka, begitu juga orang kaya. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas beragam solusi yang terbuka. Solusi kita akan bergerak di sekitar ide politik tataluma.

4. Sistem Kekuasaan

Banyak sistem kekuasaan, baik secara teori mau pun realitas yang beragam. Kita akan mendiskusikan tiga sistem kekuasaan yang paling penting. Sistem kekuasaan ini, bisa saja saling terkait.

4.1 Kerajaan

Sistem kekuasaan kerajaan, barangkali, paling sederhana. Di mana, seorang raja berkuasa dan orang lainnya adalah rakyat atau pegawai kerajaan. Orang, pada umumnya, menganggap sistem kerajaan adalah alamiah. Raja, yang paling berkuasa, mendapat hak sebagai raja karena warisan dari leluhur. Dan, warisan kekuasaan turun-temurun sudah berlangsung ratusan tahun. Hal yang sama berlaku kepada rakyat. Seorang anak mewarisi rumah dari orang tuanya.

Kekuasaan raja bisa jatuh akibat diserang oleh raja lain yang lebih kuat atau dikudeta oleh pihak-pihak tertentu dalam kerajaan itu sendiri. Perpindahan kekuasaan semacam itu kadang diwarnai pertumpahan darah yang mengerikan. Meski demikian, banyak orang memandang kudeta atau perang sebagai hal yang wajar.

Dalam banyak hal, raja perlu menguatkan klaim kekuasaannya. Meski tahta warisan atau kudeta, sudah sah, menjadikan raja sebagai pemegang kekuasaan penuh, tetapi raja perlu respek rakyat yang lebih dari itu. Raja bisa meng-klaim diri sebagai keturunan dewa atau sudah dipilih oleh tuhan untuk menjadi raja.

Dengan klaim transenden seperti itu, menjadikan raja sebagai pribadi istimewa. Kemudian, para cendekiawan bisa mencipta legenda tentang raja. Sehingga, rakyat makin hormat kepada raja sebagai manusia luar biasa.

Bagaimana pun, saat ini, berkembang sistem kerajaan modern yang bisa sejalan dengan demokrasi dan konstistusi. Sistem kerajaan mengalami evolusi menjadi lebih canggih.

Dari analisis politik tataluma, raja yang berkuasa penuh memiliki resiko besar terlalu berkuasa. Sehingga, ada peluang penyelewengan kekuasaan. Kerajaan perlu menguatkan sistem tata, sedemikian hingga, kekuasan penuh oleh raja itu bisa diarahkan untuk kebaikan rakyat semesta. Di sisi lain, raja dengan otoritas penuh bisa memobilasi seluruh kekuatan negara untuk membangun negeri. Ketika raja adalah orang yang bijaksana, maka, sistem kerajaan barangkali menjadi sistem paling efisien. Jika raja adalah seorang manusia yang berjiwa cinta, maka, seluruh kerajaan bertabur cahaya cinta bagi umat semesta.

4.2 Demokrasi

Saat ini, hampir seluruh umat manusia lebih percaya kepada demokrasi dibanding sistem lainnya. Demokrasi menempatkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Biasanya, melalui pemilihan umum, referendum, konsultasi publik, dan, tentu saja, penyusunan konstitusi.

Ide dasar demokrasi sederhana saja. Setiap orang adalah manusia bebas dan mampu menentukan jalan terbaik bagi dirinya dan sekitarnya. Karena itu, demokrasi memberi kesempatan kepada setiap orang berpartisipasi dalam kekuasaan politik. Kabar baiknya, di berbagai belahan dunia, demokrasi berhasil menjadi sistem kekuasaan yang terbaik. Di belahan dunia lain, sistem demokrasi bisa saja berlumuran korupsi.

Seiring kemajuan pendidikan umat manusia di seluruh dunia, ide demokrasi memang pantas menjadi pilihan utama. Karena setiap orang makin terdidik maka mereka mampu menentukan sikap terbaik. Salah satunya, rakyat mampu memilih pemimpin negara terbaik melalui pemilihan umum. Dengan proses pemilu, jabatan penguasa, misal presiden atau perdana menteri, terbatas pada periode tertentu. Untuk kemudian, akan dilakukan pemilihan kembali oleh rakyat. Dan, setiap rakyat berhak mencalonkan diri sebagai presiden atau jabatan penting lainnya.

Keunggulan demokrasi adalah mulusnya suksesi kekuasaan. Presiden mundur dari jabatannya secara otomatis karena masa jabatannya sudah habis. Tidak perlu upaya khusus untuk melengserkan presiden. Waktu, yang berjalan, akan melengserkan setiap presiden. Bandingkan dengan raja, misalnya. Bagaimana jika raja tidak mati sampai tua? Apa yang bisa melengserkan jabatan raja? Haruskah terjadi pembunuhan atau kudeta? Bukankah itu resiko yang ngeri?

Di sisi demokrasi, suksesi adalah wajar. Tidak perlu pertumpahan darah atau kudeta untuk suksesi. Banyak nyawa selamat dari resiko tragedi. Dalam kondisi khusus, demokrasi menyediakan kesempatan referendum atau impeachment untuk melengserkan pejabat, lebih awal dari periode yang seharusnya, karena terlibat korupsi atau kejahatan tertentu. Bila kita melihat keunggulan demokrasi dari sisi ini saja, mencegah pertumpahan darah dalam suksesi, maka wajar bagi kita untuk mengunggulkan demokrasi dari sistem lainnya.

Mari kita ringkas keunggulan utama demokrasi dari perspektif politik tataluma. Pertama, demokrasi mencegah pertumpahan darah dalam suksesi kekuasaan. Karakter ini sesuai dengan karakter tata dalam politik tataluma.

Kedua, demokrasi menghormati setiap individu sebagai subyek yang bebas. Hal ini juga selaras dengan politik tataluma yang menempatkan setiap manusia pada posisi terhormat.

Ketiga, demokrasi menyepakati konstitusi untuk pegangan bersama dalam kehidupan politik. Karakter ini juga selaras dengan penguatan karakter tata dalam politik tataluma.

Dengan demikian, apakah demokrasi pasti menjadi pilihan yang terbaik?

Hampir pasti. Tetapi tidak bisa 100%. Karena, pada kondisi tertentu, demokrasi bisa menjebak diri sendiri dalam korupsi. Maka, selamanya, kita perlu mempertimbangkan alternatif-alternatif politik yang lebih baik. Di era digital seperti sekarang, demokrasi bisa saja terjebak dalam penjara keserakahan segelintir orang.

4.3 Digitalisasi

Satu abad yang lalu, tidak ada orang yang berpikir bahwa kekuatan digital akan menguasai dunia. Lebih dari itu, kekuatan digital, atau digitalisasi, berhasil menguasai dunia sampai menembus ke pikiran terdalam umat manusia. Media digital mengendalikan pikiran dan hasrat manusia. Pada gilirannya, kekuatan digital mengendalikan sistem politik dunia.

Kita akan menggunakan term big power, bio power, dan bit power – untuk menjelaskan kekuatan politik dari digitalisasi.

Big power adalah kekuatan besar yang mendominasi banyak pihak. Kekuatan politik mengerahkan militer untuk menyerang pihak lain kemudian menindas pihak lemah dengan satu dan lain cara. Dalam makna positif, big power adalah kekuatan yang membantu manusia untuk mengelola alam raya. Pisau membantu manusia untuk memotong pohon misalnya.

Bio power adalah kekuatan yang lebih kuat dari big power dengan cara mengendalikan big power, bukan melawan big power. Big power menindas manusia dari luar, misal melalui mesin atau senjata. Sementara, bio power menguasai manusia dari dalam dirinya. Orang-orang berlomba mengejar uang. Kemudian, berlomba-lomba menghabiskan uang. Tidak ada pihak luar yang menyuruh orang untuk mengejar uang dan berfoya-foya. Mereka berhasrat dari dalam dirinya. Pada gilirannya, mereka, orang-orang itu, adalah onderdil kecil dari sistem politik ekonomi kapitalisme yang lebih besar.

Bit power melangkah lebih jauh dengan mengendalikan big power dan bio power. Bayangkan kekuatan internet dengan mesin digital yang sangat besar. Orang mengira punya freedom untuk memilih calon presiden nomor 1. Nyatanya, dia memilih nomor 1 karena dikendalikan oleh media sosial yang super cerdas. Orang, mengira, berhasrat membeli mobil mewah sebagai ekspresi jiwanya. Nyatanya, hasrat itu muncul karena kekuatan bit power internet. Semua kehidupan manusia, politik mau pun ekonomi, dalam genggaman bit power.

Hentakan besar terjadi di awal abad 21 ini. Teknologi blockchain yang canggih bermanifestasi dalam bentuk crypto currency misal bitcoin. Awal kehadirannya, bitcoin sepeti produk digital lainnya. Bahkan banyak orang pesimis terhadap bitcoin. Tetapi di tahun 2020an ini, bitcoin melonjak menjadi aset yang sangat berharga. Kekayaan Anda bisa saja berlipat 1000 kali dibanding 8 tahun lalu bila dalam bentuk bitcoin. Selanjutnya, berkembang pesaing bitcoin. Saat ini, ada sekitar 10 ribu uang kripto di pasaran dengan trend jumlah yang terus bertambah.

Kita perlu lebih waspada mencermati bitcoin dan dobrakan bit power, secara umum, karena beberapa alasan. Pertama, jelas kehidupan manusia makin besar bergantung kepada bit power. Keperluan belanja makanan sehari-hari sampai komunikasi pejabat tinggi, semuanya, melalui bit power. Sehingga, bit power mendominasi bentuk sistem politik ekonomi masa kini.

Kedua, bit power bekerja dari dalam pikiran manusia, lebih lembut dari bio power. Kita tidak sadar bahwa bacaan, tontonan, dan jadwal kita, setiap hari, didiktekan oleh bit power. Kita bisa saja merasa sebagai manusia bebas – freedom. Nyatanya, otak kita sudah dicuci oleh bit power. Lebih kompleks lagi, kekuatan bit power yang mencuci otak itu bukan murni bit power. Di balik bit power, di ujung yang jauh, memang ada orang-orang tertentu yang berhasrat memperoleh keuntungan. Mereka adalah orang yang cerdas dengan dukungan bit power yang besar. Bisakah Anda membayangkan, betapa besar, kekuatan yang dihasilkan oleh kombinasi orang-orang cerdas dengan bit power?

Ketiga, fenomena bitcoin bisa menjadi pelajaran penting. Revolusi teknologi yang canggih ini melompat maju jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Jika dulu, diasumsikan hanya orang-orang berpendidikan tinggi yang mampu mengadopsi teknologi canggih, maka, hari ini, siapa pun orangnya mampu mengadopsinya. Siapa pun bisa transaksi dengan bitcoin. Dan, bahkan contoh kasus di Indonesia, banyak orang yang awalnya tidak pernah akses komputer, langsung mahir sebagai driver gojek atau pun pedagang di marketplace dengan memanfaatkan teknologi digital versi terbaru.

Khusus untuk bitcoin, dan blockchain, memiliki karakter freedom, nyaris, tanpa batas. Bitcoin bisa diproduksi tanpa bank sentral, tanpa penjamin, dan tanpa mediator. Sehingga, pemilik bitcoin bebas menggunakan bitcoin sesuai freedom tanpa dibatasi atau diawasi siapa pun. Bebas tanpa batas ini, tentu, bisa membalikkan sistem politik dan ekonomi yang sudah ada.

Analisis kita, sejauh ini, tentang digitalisasi menunjukkan bahwa banyak resiko yang akan dihadapi oleh sistem politik ekonomi. Di bagian bawah, kita akan membahas beberapa solusi untuk antisipasi terhadap resiko digitalisasi, sekaligus, kita akan mencermati beragam prospek yang ada.

5. Transformasi

Sistem politik, secara dinamis, terus bertransformasi. Karena, luma selalu mendorong perubahan bahkan secara radikal. Sementara, tata akan melengkapi perubahan itu menjadi tertata.

5.1 Konservatif

Pendekatan konservatif melakukan perubahan dengan lebih fokus pada keamanan, stabilitas, dan tertata. Konservatif menjalankan perubahan secara bertahap dan berencana. Sehingga, pendekatan konservatif adalah pendekatan yang cocok bagi pihak yang besar atau berkuasa.

5.2 Progresif

Progresif melakukan pendekatan perubahan yang revoluioner. Untuk melakukan transformasi yang efektif, sistem politik perlu berubah secara signifikan dengan kecepatan tinggi. Sehingga, pendekatan progresif cenderung cocok untuk para pembaharu.

5.3 Median

Poros tengah atau median mengambil jalan tengah untuk melakukan perubahan politik. Posisi median bisa sangat mudah, di saat yang sama, bisa sangat susah. Posisi median bisa saja menerima segala yang ada sebagai jalan tengah. Tetapi, menerima segala yang ada, bisa berkonsekuensi kepada konflik yang mengakibatkan kemunduran bagi semua.

6. Ideologi

Ideologi adalah kerangka berpikir atau sudut pandang yang diyakini sebagai benar. Dengan ideologi, kita menafsirkan segala sesuatu. Fakta obyektif, bisa saja, tidak bermakna. Ideologi yang akan memberi makna kepada fakta.

6.1 Teokrasi

Teokrasi adalah ideologi atau pandangan yang meyakini kekuasaan politik tertinggi adalah di tangan tuhan. Karena itu, pemegang kekuasaan tertinggi adalah dia yang dipilih oleh tuhan, bisa seorang raja, presiden, imam, ketua, atau lainnya.

Teokrasi melengkapi konstitusi yang juga bersumber kepada tuhan. Baik firman tuhan secara langsung atau fatwa dari pemimpin yang sudah ditunjuk oleh tuhan.

Dengan pandangan bahwa segala kekuasaan politik bersumber dari tuhan, maka, politik teokrasi cenderung memiliki kekuatan yang besar untuk menerapkan power kepada masyarakat. Rakyat perlu mematuhi, atau setidaknya menyesuaikan, terhadap keputusan penguasa atau konstitusi.

6.2 Sosial

Ideologi sosial memandang bahwa seluruh manusia adalah sama, atau setara. Sehingga, idealnya, setiap orang memiliki posisi politik ekonomi yang sama. Ideologi sosial sangat menarik bagi pihak-pihak yang tinggi kesadaran sosialnya. Karena saat ini, terjadi banyak kesenjangan sosial di dunia, maka, ideologi sosial cenderung dekat dengan karakter progresif.

6.3 Liberal

Pandangan liberal memberi kebebasan yang tinggi kepada masing-masing individu. Liberal percaya bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri. Di saat yang sama, manusia memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kebebasannya demi kebaikan dirinya. Dengan demikian, manusia bebas memilih apa pun dengan syarat tidak melanggar kebebebasan pihak lain. Atau, setiap manusia punya hak, bebas, melakukan apa pun dengan kewajiban tidak melanggar hak pihak lain.

7. Keadilan
7.1 Kebebasan

Politik adalah kebebasan dan kebebasan adalah politik. Subyek kulo ada subyek yang selalu bebas. Kulo tidak bisa diikat. Setiap yang terikat adalah bukan kulo. Atau, setidaknya bukan kulo sejati. Pantas bagi kita menetapkan bahwa kebebasan adalah parameter utama dari politik yang adil.

Beberapa parameter bisa kita kembangkan: kebebasan berpartisipasi dalam politik, kebebasan berpartisipasi melalui jalur politik “tidak-normal”, kebebasan berpendapat, kebebasan ekonomi, kebebasan agama, dan lain-lain.

7.2 Kesenjangan

Kesenjangan politik ada di mana-mana. Perbedaan ideologi ada di mana-mana. Perbedaan, memang, realitas alam raya ini. Kita perlu menghormati beragam perbedaan. Sementara, kesenjangan merupakan perbedaan yang terlalu tajam, sehingga, perlu ditolak. Lebih-lebih kesenjangan politik, perlu ditangani dengan serius.

Kita bisa mengembangkan parameter untuk mengukur tingkat kesenjangan politik, kemudian, mengurangi kadar kesenjangan tersebut. Parameter kesenjangan ekonomi, yang kita kembangkan di bagian sebelumnya, bisa kita adaptasi untuk mengukur kesenjangan politik: rasion Gini, rasio Palma, dan rasio Paman.

7.3 Kemajuan

Belajar dari sejarah, kita menemukan bahwa pihak-pihak lemah adalah yang paling sulit untuk bergerak maju secara politik. Secara khusus, kita perlu mengembangkan strategi agar kelompok lemah mampu bergerak maju secara politik. Pada gilirannya, gerak maju kelompok lemah ini akan mendorong kelompok menengah dan kelompok atas untuk lebih maju. Secara keseluruhan, masyarakat bergerak maju.

Aspek paling mendasar adalah membangunkan kesadaran masyarakat. Siapa pun mereka, lebih-lebih kelompok lemah, memiliki hak untuk menjadi orang maju, sukses, dan berkuasa. Mereka perlu memanfaatkan beragam hak yang mereka miliki untuk membela diri dan bahkan melejitkan diri. Beberapa hak paling penting adalah hak untuk berpendapat, hak memperoleh fasilitas kesehatan, hak memperoleh pendidikan berkualitas, dan hak berpartisipasi dalam sistem politik ekonomi. Tentu saja, masyarakat perlu sadar akan kewajiban mereka – demikian juga para pejabat.

Beberapa parameter bisa kita kembangkan. Berapa banyak dari kelompok lemah, absolut dan relatif, yang berhasil menjadi pejabat publik – bupati, gubernur, presiden? Berapa banyak yang menjadi pejabat partai politik? Berapa banyak yang menjadi anggota dewan? Berapa banyak yang menjadi pegawai sipil atau militer? Berapa banyak yang jadi pengusaha menengah dan besar?

8. Diskusi

Di bagian ini, kita akan meringkas seluruh pembahasan kita, kemudian, melakukan diskusi lebih jauh serta merumuskan beberapa prospek dan solusi politik tataluma.

8.1 Politik Tataluma Selalu Meledak

Secara ontologis, politik adalah perpaduan dan perpisahan antara tata dan luma, maka, akan selalu ada ledakan politik sewaktu-waktu sampai kapan pun.

Politik CintaLuma = Selalu MemberiTata = Selalu Menata

Masalah utama politik adalah terlalu kuatnya karakter luma dan lemahnya karakter tata, sehingga terjadi ketidakadilan di mana-mana. Tugas utama politik adalah menyatukan kembali luma dan tata sehingga menjadi politik cinta dengan sarana politik itu sendiri.

8.2 Alternatif Jalur Politik

Berdasar sistem kekuasaan, transformasi, dan ideologi, kita bisa menyusun beragam alternatif solusi politik tataluma.

1. Kerajaan1. Konservatif1. Teokrasi
2. Demokrasi2. Progresif2. Sosial
3. Digitalisasi3. Median3. Liberal

Total, kita memiliki 27 alternatif jalur dari 3 x 3 x 3 = 27. Dengan mempertimbangkan keragaman gradasi di antara mereka, maka, tersedia lebih banyak lagi alternatif jalur politik. Tentu saja, kita bisa menambah kategori lebih dari tiga.

Jalur 111 = kerajaan – konservatif – teokrasi adalah jalur politik paling efisien dan stabil. Sedangkan, jalur 323 = digitalisasi – progresif – liberal adalah alternatif paling dinamis bahkan chaos. Jalur yang lain, tampaknya, berada di antara mereka. Antara stabil dan chaos.

Studi Kasus

Berikut, kita akan mengambil studi kasus beberapa negara secara umum. Kita mulai dengan gambaran umum, lanjut beberapa problem, dan kita akhiri dengan ide alternatif solusi.

8.2.1 Indonesia 233

Indonesia adalah negara demokrasi relijius berdasar Pancasila. Saya membaca situasi politik Indonesia saat ini sebagai 233 = demokrasi-median-liberal. Indonesia melaksanakan pemilu langsung demokratis periodik 5 tahunan, kecuali ada pandemi. Indonesia mengambil jalan tengah, median, di antara transformasi progresif dan konservatif. Tentu saja, tarik ulur beragam kepentingan untuk mengarahkan jalannya reformasi. Secara ideologi, berdasar Pancasila, Indonesia terbuka dengan ragam ideologi. Gotong royong, koperasi, dan kekeluargaan ada di berbagai belahan Indonesia yang menunjukkan dekat dengan sosial. Di saat yang sama, lembaga keagamaan – misal lembaga syariah – tumbuh subur yang menunjukkan Indonesia dekat dengan teokrasi. Dan, perusahaan swasta bebas tumbuh subur secara privat mau pun publik. Secara total, lebih dekat ke liberal.

Problem serius yang dihadapi dunia politik Indonesia, di antaranya, pertama, demokrasi cacat. Hasil kajian lembaga internasional menunjukkan demokrasi cacat. Meski tersedia konstitusi demokratis, proses demokratis, dan lembaga demokratis, tetapi karena cacat, maka ada lubang di sana-sini.

Kedua, kebebasan kalah bersaing. Indonesia adalah negara bebas tetapi sering kalah oleh yang lain. Kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi. Ketika bertabrakan dengan pencemaran nama baik atau penodaan agama, maka, kebebasan sering kalah.

Ketiga, mobilitas politik relatif rendah. Di era orde baru, KKN memastikan hanya kroni saja yang bisa menjabat jabatan politik penting. Di era reformasi, sudah ada kemajuan. Bahkan, Jokowi dari orang biasa berhasil menjadi walikota, gubernur, dan presiden dua periode. Sebuah tanda mobilitas yang baik. Kemudian, anak dan menantu menjadi pejabat politik – bukan tanda memperbaiki mobilitas politik orang biasa.

Apa solusi yang kita usulkan? Untuk memperbaiki demokrasi yang cacat perlu komitmen serius secara demokrasi memperbaiki demokrasi. Mana mungkin? Memang buntu. Memang sikular. Memang macet. Tetapi, bukankah itu satu-satunya jalan?

Tentu saja ada alternatif: memperbaiki demokrasi dengan cara non-demokrasi. Meski ada peluang, tampaknya, lebih sulit lagi, bagaimana bisa dari non-demokrasi berubah menjadi demokrasi.

Solusi demokratis pertama adalah menguatkan posisi rakyat sebagai agen demokrasi yang aktif. Rakyat Indonesia, yang hampir 300 juta jiwa itu, perlu memiliki edukasi, kesehatan, dan daya ekonomi yang memadai. Kemudian, sebagian “besar” dari mereka aktif secara politis. Maka, tersedia kader-kader politik yang berkualitas tinggi. Di saat yang sama, rakyat yang cerdas adalah kontrol bagi penguasa untuk menjalankan amanah demokrasi. Tentu saja, ini bukan tugas yang mudah.

Solusi kedua, untuk mengatasi “kebebasan” yang sering kalah bertarung adalah dengan menetapkan prioritas konstitusi. Saat ini, prioritas mereka tampak berimbang atau sama penting: kebebasan, pencemaran, dan penodaan. Konstitusi perlu menegaskan bahwa “kebebasan” adalah yang paling utama. Ketika terjadi benturan, maka, “kebebasan” yang dimenangkan. Sementara, pencemaran dan penodaan menyesuaikan – bila masih dianggap perlu.

Ketika saya menulis ini, saya membaca bahwa presiden sedang membahas kebebasan berbicara. Dari detik,

“Apa benar kita kurang bebas berbicara?” cuit Jokowi.

Dalam wawancara itu, Jokowi ditanya soal anggapan yang menyebut kebebasan berbicara masih kurang. Jokowi menepis anggapan itu sambil mencontohkan adanya orang yang menghina presiden.

Dan, di bagian akhir,

“Ya tapi kalau sudah masuk ke menghina orang kemudian orangnya itu marah dan melaporkan ke polisi ya itu sudah wilayah yang lain, itu wilayah hukum yang bekerja,” sambung Jokowi.

Dalam wawancara itu, Jokowi ditanya soal anggapan yang menyebut kebebasan berbicara masih kurang. Jokowi menepis anggapan itu sambil mencontohkan adanya orang yang menghina presiden.

Jika benar bahwa Indonesia sudah bebas maka tidak perlu memperjuangkan kebebasan lagi. Prespektif orang bisa berbeda-beda.

Solusi ketiga, untuk meningkatkan mobilitas politik rakyat, kita dengan mudah menggunakan pengukuran statistik. Persentase, dan data absolut, tentang jabatan politik perlu terus dikaji. Berapa banyak rakyat jelata yang akhirnya jadi pejabat publik? Berapa persen dari total rakyat jelata? Tentu persentasenya kecil. Berapa persen orang kaya yang jadi pejabat? Tentu persentasenya jauh lebih besar dari rakyat jelata. Berbagai macam ukuran mobilitas politik ini, kemudian, menjadi panduan memperbaiki demokrasi masa depan.

Tampaknya, Indonesia perlu bersiap bergerak dari 233 menjadi 333 = digitalisasi-median-liberal. Kemajuan tekonologi digital perlu dipastikan menjamin kemajuan demokrasi dan rakyat banyak. Teknologi digital bagai pedang bermata dua bagi demokrasi: bisa menguatkan atau menghancurkan.

8.2.2 Amerika 333

Amerika berada pada 333 = digitalisasi-median-liberal. Untuk liberal, barangkali sudah cukup jelas bagi US. Meski pun, akhir-akhir ini mulai terasa ada ancaman kebebasan. Demokrasi sudah relatif maju meski ada jebakan sistem dua partai dan korporatokrasi. Teknologi digital dan kemajuan ekonomi sudah berkembang maju.

US menghadapi beragam problem politik dan demokrasi: korporatokrasi, dominasi digital, dan diskriminasi. Seperti Chomsky amati: siapa pun pemenang pemilu presiden US, maka, pemenang sejati adalah korporasi raksasa. Baik pemenangnya Demokrat atau Republik, tetap saja, mereka didukung korporasi. Dana kampanye dan lain-lain mendapat dukungan dari korporasi – langsung atau tidak. Sehingga, setelah presiden terpilih, dia akan menetapkan kebijakan yang menguntungkan korporasi – langsung atau tidak. Dengan resiko, mengorbankan kepentingan orang banyak.

Kedua, dominasi digital. Kemajuan media digital yang begitu besar di US dan dunia mengerucut hanya dikuasai oleh segelintir orang kaya. Media digital berbeda dengan teknologi yang lainnya. Media digital memiliki kekuatan untuk mengendalikan opini publik sehingga mampu menentukan pilihan politik masyarakat luas. Dengan media digital, politik tidak lagi bebas, tapi dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu. Kasus Cambridge Analytic, misalnya, adalah contoh nyata bagaimana media digital mengendalikan pilihan warga.

Problem ketiga adalah kesenjangan sampai diskriminasi. Perempuan dan kulit hitam adalah beberapa minoritas yang sering menjadi korban perilaku rasis. Kesenjangan politik dan ekonomi tercermin dari beragam data statistik yang menunjukkan bahwa US tidak sedang baik-baik saja.

Solusi politik untuk problem di US tampaknya sulit ditemukan. Karena, US mengalami problem di mana hanya sedikit negara, atau bahkan tidak ada, yang pernah menghadapinya. Problem korporatokrasi di US tampak jauh lebih besar dari negara-negara lain. Bahkan korporatokrasi berimbas sampai ke manca negara. Solusi terhadap korporatokrasi adalah membatasi power dari korporasi. Ketika pembatasan diterapkan, korporasi selalu punya cara untuk mengatasinya. Atau, politikus justru yang mampu menanganinya. Di sisi lain, pembatasan itu sendiri bertentangan dengan prinsip freedom. Saya mengusulkan solusi berupa solusi sistem dan personal.

Kabar menarik, di US saat ini, sedang berkembang filosofi Stoic. Perkembangan Stoic bagus untuk solusi personal. Lebih dari itu, US perlu lebih kuat mengembangkan filosofi Epicurean yang mengandalkan pembatasan diri untuk meraih bahagia sejati. Bisa juga, US mengembangkan filosofi sufi sebagai solusi.

Solusi untuk masalah kedua, dominasi digital, sama peliknya. Teknologi digital berkembang dari “different” bukan dari suatu standar. Sehingga, sangat sulit untuk mengatur teknologi digital. Bandingkan, misal, dengan teknologi jembatan. Untuk membangun jembatan, seorang insinyur wajib memenuhi beragam standar keamanan, kelayakan, dan sebagainya. Sedangkan, teknologi digital adalah freedom. Siapa saja berhak mengembangkan perusahaan start-up, nyaris, bebas tanpa batas. Bagaimana pun, freedom memang keunggulan dari teknologi digital itu sendiri.

Di sini, para pemikir, perlu berpikir ulang tentang aturan anti-monopoli misalnya. Raksasa digital mendominasi semesta digital, di saat yang sama, mereka aman dari aturan anti-monopoli. Karena, aturan anti-monopoli dirancang untuk bisnis pra-digital. Kita perlu mengembangkan konsep baru anti-dominasi digital, misalnya. Demikian juga perlu revisi konsep hak intelektual, hak siar, hak ekonomi, hak politik, dan lain-lain agar mencegah terjadinya dominasi digital. Tentu saja, ini adalah pekerjaan besar yang pelik.

Solusi untuk problem ketiga, kesenjangan sampai diskriminasi, adalah konsep konsumsi sehat yang berupa batas atas dan batas bawah – yang kita bahas di “Ekonomi-Cinta.” Kesenjangan dapat diselesaikan dengan konsep konsumsi sehat karena rakyat termiskin tetap terjamin bisa konsumsi dengan sehat. Sementara, kelas kaya berhak konsumsi sampai batas maksimal yang masih sehat. Jika kelas kaya berniat untuk konsumsi lebih dari batas maksimal maka perlu kompensasi dengan melakukan beberapa “amal” untuk masyarakat.

Dengan cara yang sama, kita bisa merumuskan konsumsi-sehat-politik. Kelas paling lemah, terjamin, memiliki hak politik dalam jumlah yang sehat. Kelas paling kuat memiliki hak politik sampai maksimal sejauh terjaga sehat politik.

Sementara, solusi terhadap diskriminasi jelas berupa penegakan hukum. Karena, diskriminasi termasuk sebagai kriminal. Tanggung jawab berikutnya adalah revisi dan update sistem hukum serta komitmen personal untuk taat hukum.

Secara umum, US menghadapi problem serius dalam sistem politik – dalam dan luar negeri. Problem personal, memang, tidak akan pernah ada solusi tuntas. Karena subyek kulo adalah bebas, tidak bisa tunduk begitu saja kepada sistem politik. Fokus paling penting adalah mencermati pergeseran dari demokrasi ke digitalisasi. Sebagaimana negara lain mengalami juga, US perlu menjamin bahwa digitalisasi bisa memperkuat demokrasi, bukan melemahkan demokrasi. Hanya saja, di US, proses digitalisasi sudah dan sedang terjadi.

8.2.3 Cina 212

Cina mengalami revolusi politik sekitar satu abad yang lalu. Sistem pemerintahan kerajaan diganti menjadi komunis, atau kita sebut sosialis di sini. Sehingga saat ini, Cina berada pada 212 = demokrasi-konservatif-sosial. Di satu sisi, sebelum pandemi, Cina adalah negara paling pesat dalam pertumbuhan ekonomi, budaya, teknologi, dan lain-lain. Di sisi lain, Cina menghadapi masalah besar: lokal dan global.

Problem pertama adalah sistem demokrasi di Cina. Banyak pihak menilai sistem sosialis di Cina mengekang kebebasan para warga. Kekuatan penuh ada pada partai penguasa. Sementara, rakyat banyak cenderung hanya bisa mengikuti aturan yang ada. Misal, dalam menghadapi pandemi, Cina menetapkan kebijakan zero-covid. Meski situasi pandemi Cina sudah membaik, kebebasan masyarakat dibatasi dengan ketat di beberapa tempat.

Problem kedua adalah keterbukaan. Ketika warga dunia menikmati keterbukaan informasi, di Cina, terjadi banyak pembatasan informasi. Akses internet, misalnya, hanya situs-situs tertentu yang boleh diakses.

Problem ketiga adalah krisis global. Cina sering mendapat kritikan keras karena tidak menjaga kelestarian lingkungan. Banyak pihak menuding Cina, sebagai, merusak lingkungan demi pertumbuhan ekonomi. Tentu saja, tudingan semacam itu perlu dikaji dari segala sisi.

Negara, dan warga, Cina tampak sadar dengan masalah yang mereka hadapi. Berbagai macam solusi telah mereka kembangkan. Misalnya, dijinkannya beberapa perusahan berkembang dengan sistem mirip kapitalis. Sehingga, kita mengenal beberapa perusahaan swasta kelas dunia dari Cina semisal Huawei dan Alibaba.

Sementara, solusi untuk menciptakan keterbukaan dan kebebasan, tampaknya, masih belum menemukan jalan terang. Cina perlu terus mengembangkan komitmen yang lebih besar untuk itu.

8.2.4 Palestina 123

Palestina adalah negara yang menanggung banyak beban derita. Wilayah Palestina diduduki oleh Israel, maka, makin mempersulit situasi. Palestina berada pada situasi 123 = kerajaan – progresif – liberal.

Problem pertama adalah kedaulatan negara. Saat ini, Palestina tidak memiliki kedaulatan politik yang mandiri. Untuk melakukan pemilihan umum harus mendapat ijin dari Israel. Anggaran ditentukan oleh Israel. Kegiatan politik, ekonomi, dan budaya diawasi secara ketat oleh militer Israel. Saya menyebut Palestina sebagai kerajaan dalam arti ada kekuatan dari luar bagai raja, yaitu Israel, yang mengendalikan Palestina.

Problem kedua adalah stabilitas yang tidak terjamin. Di Palestina, sewaktu-waktu bisa pecah perang. Warga Palestina bisa saja ditangkap, atau dilumpuhkan, oleh pasukan keamanan Israel dengan hak hukum yang tidak berimbang.

Problem ketiga adalah komplikasi problem itu sendiri. Dengan situasi yang begitu sulit, Palestina terjerat dalam campur aduknya beragam masalah.

Solusi bagi Palestina adalah memastikan kedaulatan negara yang merdeka dari Israel. Di satu sisi, warga Palestina perlu berjuang untuk itu. Di sisi lain, warga dunia perlu membantu. Khususnya, Israel dan US, perlu melepas dominasi mereka terhadap Palestina. Rakyat Palestina adalah manusia seutuhnya yang berhak hidup merdeka sepenuhnya.

Yang cukup aneh juga, dalam situasi yang sulit seperti itu, terjadi korupsi di pemerintahan Palestina – berdasar info beberapa media. Sehingga, Palestina perlu memastikan sistem pemerintahan yang mencegah korupsi. Di sisi lain, solusi personal tetap dibutuhkan. Masing-masing warga Palestina perlu terus berjuang untuk membangun negeri.

8.2.5 Brunei 111

Brunei adalah negara paling unik di masa kini. Brunei berada dalam situasi 111 = kerajaan – konservatif – teokrasi. Dengan situasi seperti itu, kebebasan warga Brunei nyaris terbatas. Menariknya, warga Brunei bisa menjalani hidup dengan baik di bidang sosial, ekonomi, dan lainnya. Sehingga, kita boleh bertanya, “Seberapa pentingkah kebebasan?”

Problem pertama adalah terbatasnya kebebasan. Tentu kita, sebagai pengamat dari luar, menilai bahwa pembatasan di Brunei mengerikan. Sultan dan pejabat adalah turun-menurun dari keluarga Sultan. Rakyat biasa tidak akan bisa menjadi sultan atau pejabat tinggi. Anda perlu lahir dari keluarga bangsawan untuk bisa menjadi sultan.

Problem kedua adalah kesenjangan ekonomi. Tidak banyak data tentang kesenjangan ekonomi di Brunei. Salah satunya menyebutkan bahwa rasio Gini kekayaan adalah di atas 0,7 yang menunjukkan ketimpangan tajam.

Problem ketiga adalah kualitas pendidikan di Brunei masih di bawah rata-rata dunia (OECD). Meski dibanding negara tetangga terdekat, kualitas pendidikan Brunei tidak teralalu buruk, tetapi, tidak memadai untuk menyongsong masa depan yang lebih menantang.

Solusi untuk Brunei adalah meningkatkan kebebasan warga untuk berpartisipasi aktif secara politik. Tetapi kondisi ekonomi warga Brunei, saat ini, sesuai income perkapita adalah baik atau sangat baik. Jadi, mengapa warga harus berpolitik jika kondisi ekonomi baik-baik saja? Bukankah perubahan politik bisa saja, justru, memperburuk situasi ekonomi? Status quo memiliki beragam dalih penguat. Bagaimana pun, setiap negara perlu untuk bergerak menjadi lebih baik. Termasuk Brunei.

Solusi untuk bidang pendidikan, tampaknya, menjadi keharusan bagi Brunei. Dengan kekayaan yang berlimpah, sepatutnya, Brunei meningkatkan kualitas pendidikan menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Masa depan Brunei menjadi makin cerah dengan meningkatnya kualitas pendidik bagi seluruh warga.

Ringkasan Alternatif

Dari yang paling demokratis sampai tidak demokratis, dari yang paling stabil Brunei 111 sampai paling chaos US 333, semuanya bisa sukses dalam politik. Pun, semuanya bisa runtuh dalam politik. Dengan demikian, tersedia jalur politik yang beragam bagi umat manusia. Saat ini, sistem demokrasi termasuk yang paling besar mendapat dukungan. Dengan harapan setiap warga dunia mampu menerapkan hak politiknya dengan baik, demokrasi memang paling menjanjikan.

Dari sisi teknologi, berkembang media digital yang mendorong digitalisasi. Umat manusia masih gagap merespon media digital untuk kepentingan politik. Sementara, media digital memiliki kekuatan politik yang sangat besar, bit power, maka semua sistem politik perlu waspada penuh terhadap teknologi digital.

8.3 Parameter Keadilan

Politik tataluma perlu menyusun parameter keadilan yang komprehensif, di saat yang sama, layak untuk dicapai di masa kini.

KebebasanKesetaraanKemajuan

Indikator utama dari keadilan adalah: kebebasan, kesetaraan, dan kemajuan. Selanjutnya, kita perlu menyusun parameter dari masing-masing indikator di atas agar sistem politik berada pada arah yang benar.

Kebebasan: positif, negatif, modal

Kebebasan positif adalah setiap warga bebas menggunakan hak politiknya – tentu saja bebas juga tidak menggunakannya. Ukuran minimal adalah setiap warga bebas, dengan aman, menyuarakan isi pikirannya dan bebas menentukan pilihan politik.

Misal dalam menentukan suara pemilihan presiden, setiap warga bebas melakukan pemilihan meski belum terdaftar. Syarat wajib terdaftar, dan lain-lain, adalah hanya aspek administrasi, yang, bisa diatur sedemikian hingga proses pemilihan berjalan lancar. Bukan sebaliknya. Bukan syarat administrasi membatalkan hak pilih warga.

Ukuran maksimal, barangkali, setiap warga berhak mendaftarkan diri sebagai calon kontestan pemilihan presiden. Pendaftaran bisa melalui media digital, misalnya. Untuk menjamin keluasan akses warga, maka, media pendaftaran bisa beragam, lebih dari satu platform. Selanjutnya, dengan teknologi digital, kita bisa melakukan seleksi awal.

Tentu saja, kebebasan ada batasnya dan perlu modal. Kebebasan menjadi terbatas, atau dilarang, bila kebebasan tersebut mengganggu kebebasan pihak lain. Kita perlu mengaturnya dengan konstitusi. Bagaimana pun, pengaturan ini hanya berjumlah sedikit karena setiap warga memiliki “simpati” yaitu intuisi bahwa sesuatu melanggar kebebasan orang lain atau tidak.

Kebebasan negatif adalah setiap warga terbebas, terlepas, dari setiap ancaman. Setiap warga terbebas dari beban yang tidak wajar. Negara perlu menjamin setiap warga terbebas dari kebodohan misal dengan menyediakan sekolah sampai lulus SMA atau setara D1 dengan gratis sepenuhnya.

Setiap warga negara terbebas dari penyakit. Misal, negara menjamin tersedianya fasilitas kesehatan dasar yang tersebar di seluruh daerah dengan gratis sepenuhnya dan mudah diakses.

Modal awal menjadi penting untuk kebebasan dan kesetaraan. Setiap warga perlu memiliki modal awal yang memadai agar dapat menerapkan kebebasan politiknya. Negara menjamin ketersediaan modal awal ini bagi setiap warga. Tampaknya, belum ada negara di dunia yang menerapkan ini.

Kita bisa mengembangkan ide, contoh kasus di Indonesia, bahwa setiap pemuda mendapat hibah uang 500 juta rupiah ketika berusia 20 tahun. Pemuda itu bebas memanfaatkan sebagai modal awal. Barangkali, dia bisa mulai wirausaha, bertani, menabung, atau lainnya. Pemuda itu memiliki kebebasan – baik dia pemuda kaya atau miskin sama-sama bebas.

Penerapan modal-awal ini bisa bertahap agar lebih stabil.

UsiaModal Awal
20200 juta
21100 juta
22100 juta
2350 juta
2450 juta

Angka 500 juta hanyalah asumsi, bisa diganti dengan angka yang lebih tepat. Kita memerlukan yang tepat, sedemikian hingga, angka itu memberi kebebasan kepada pemuda untuk mengejar cita-citanya. Di saat yang sama, angka itu tidak akan cukup untuk bertahan hidup dalam beberapa tahun ke depan jika pemuda itu malas.

Kesetaraan: hak, modal, kecelakaan

Setiap warga memiliki kedudukan yang setara. Ukuran kesetaraan adalah konstitusi menyatakan dengan jelas kesetaraan politik dan menjamin kebebasan untuk menerapkan hak.

Ukuran hak adalah setiap perkumpulan perlu menyatakan hak dan kewajiban dengan memberi prioritas kepada hak. Atau, pernyataan hak dipisahkan dengan kewajiban. Sehingga, pernyataan hak merupakan pernyataan eksplisit. Sementara, pernyataan kewajiban adalah konsekuensi logis dari pernyataan hak. Pernyataan kewajiban adalah penjelas dari pernyataan hak.

Modal awal adalah modal kesetaraan, seperti di bahas di atas. Setiap warga setara, setidaknya, dalam modal awal: pendidikan minimal lulus SMA, sehat jasmani rohani, dan hibah modal ekonomi 500 juta per orang. Dengan posisi setara, setiap warga siap bersaing dengan bebas dan adil secara politik.

Bagaimana pun, kecelakaan bisa terjadi sewaktu-waktu akibat bencana alam atau ulah manusia. Kecelakaan merubah situasi menjadi tidak setara. Maka, kita perlu menjamin pengaman bagi korban kecelakaan misal dengan sistem asuransi yang dinamis.

Ukuran kesenjangan sudah tersedia di antaranya: rasio Gini, rasio Palma, dan rasio power Paman. Perbedaan adalah realitas fundamental sebagaimana kesetaraan. Tetapi, perbedaan yang terlalu tajam mengakibatkan kesenjangan yang perlu dicegah. Kita perlu menetapkan batas-batas dari kesenjangan. Kemudian memberi koreksi-koreksi yang diperlukan.

Kemajuan: minimal, kecepatan

SDG menetapkan batas garis kemiskinan, misal konsumsi di bawah 2 dolar per hari. Dengan cara yang sama, kita bisa menetapkan batas minimal politik. Misal, minimal 90% penduduk dewasa terdaftar sebagai pemilih. Maksimal 0,01% warga yang tidak bisa, atau tertunda, memberikan suara.

Ukuran kecepatan menjadi penting untuk mengetahui seberapa besar dan cepat perubahan menuju sistem politik yang lebih sehat.

Sistem politik adalah sistem empiris – bukan sistem aksiomatik murni layaknya sistem matematika. Sistem politik lebih mirip dengan sistem statistik. Karena itu, dalam politik, tidak ada klaim kebenaran universal akibat dari karakter empirisnya. Sehingga, setiap ukuran yang kita kembangkan selalu berupa interval – bukan satu titik angka. Kita perlu menetapkan batas atas dan batas bawah bagi setiap ukuran.

Demikian juga tingkat keyakinan, atau kebenaran, dari suatu ukuran selalu dinamis – tidak bisa benar mutlak 100%. Kita perlu mengkaji ulang dan mengukur ulang untuk mendapatkan klaim kebenaran yang diharapkan.

Dengan lengkapnya ukuran yang dinamis, kita berharap sistem politik menjadi manifestasi cinta umat manusia dan alam semesta. Politik adalah perpaduan serasi antara luma dan tata membentuk politik tataluma.

Lanjut ke Agama Cinta
Kembali ke Philosphy of Love

Prolog: Filosofi Cinta

Filosofi adalah cinta kebenaran. Cinta pengetahuan. Cinta kebijaksanaan. Hikmah adalah kebijaksanaan luhur. Hikmah adalah bijaksana dalam pengetahuan, bijaksana dalam hidup, dan bahkan, bijaksana dalam kematian. Filosofi dan hikmah selangkah seirama. Saling melengkapi. Kadang, kita menganggap sama antara filosofi dan hikmah itu sendiri. Boleh-boleh saja.

Di sisi lain, filosofi sering disalah-pahami. Filsafat sempat dituduh sesat. Sudah banyak pandangan negatif. Saatnya kita membahas dari sisi positif, berguna, dan jelas. Masalah-masalah filsafat akan kita tinjau dengan fokus ke cinta, kecantikan, dan tentu saja materi. Tidak ada cara sederhana untuk membahasnya. Kita berusaha untuk memilih cara-cara paling sederhana.

Masalah paling dasar manusia adalah pengetahuan tentang materi alam sekitar. Pembahasan ini bisa menarik tapi bisa terlalu teknis. Maka saya akan mengambil contoh fenomena kecantikan yang tentunya lebih hidup. Meski lebih kompleks dari materi, kecantikan, tetap punya daya tarik. Kemudian kita melangkah lebih jauh ke tema cinta. Banyak orang yang menilai cinta sebagai subyektif, tapi kita akan melihat peran besar cinta dalam membimbing manusia menuju hakikat kebenaran.

Secara garis besar tulisan ini mengadaptasi karya Bertrand Russel, The Problems of Philosophy. Kita akan menemukan bagian yang diringkas. Namun banyak bagian yang diperluas karena kemajuan jaman. Dan tentu saja karena cinta dan kecantikan itu sendiri.

Kemajuan sains dengan mekanika quantum, relativitas Einstein, dan masyarakat digital tentu akan mengubah banyak hal yang kita hadapi. Kebenaran filosofis, yang dulu berhadapan dengan fenomena nyata, kini harus menghadapi fenomena maya belantara tanpa lentera.

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian: epistemologi cinta, ontologi cinta, dan dinamika cinta.

Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik. Tentu, juga membahas epistemologi materi.

Ontologi cinta hanya terdiri dari tiga bab. Bab awal akan membahas “batas-batas filsafat,” yang sekaligus, menjadi penghubung antara epistemologi cinta dan ontologi cinta. Kita menyelidiki apa saja yang menjadi batas kajian filsafat. Meskipun, kita bisa membuat batas bagi filsafat, tetapi, batas tersebut selalu dinamis berubah-ubah. Pembahasan kita lanjut ke “manfaat filsafat” dan diakhiri dengan pembahasan “materialisasi cinta dan kecantikan.”

Dinamika cinta membahas aksiologi dan realitas alam raya yang dinamis. Kita hanya fokus kepada tiga tema: ekonomi cinta, politisasi cinta, dan agama cinta. Dari tema-tema yang kita pilih di atas, sudah terbayang betapa dinamisnya pembahasan cinta di bagian ini.

Sepanjang pembahasan, saya merujuk ke beberapa pemikir masa lalu dan masa kini. Barangkali, nama-nama pemikir ini akan bisa memudahkan kita memahami aliran pemikiran filosofi cinta.

Bertrand Russell (1872 – 1870) adalah filsuf besar Inggris yang ikut membidani lahirnya filsafat analytic di awal abad 20. Seperti disebut di atas, saya memakai kerangka berpikir Russell di bagian epistemologi. Sebagian besar, saya setuju dengan pemikiran Russell. Di bagian yang lain, saya tidak setuju. Saya melengkapinya dengan pemikiran yang berbeda atau pemikiran baru. Keunggulan Russell adalah pembahasannya jelas, logis, rasional, dan terbuka terhadap beragam sudut pandang. Termasuk, Russell terbuka terhadap kajian metafisika.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) adalah pemikir dan penyair besar dari masa kejayaan Arab beberapa abad yang lalu. Pemikiran Ibnu Arabi sangat indah. Tetapi, terkenal sangat sulit dipahami. Kadang-kadang terasa tidak logis dari perspektif umum. Dengan karakter seperti itu, saya sering menempatkan pemikiran Ibnu Arabi di akhir suatu pembahasan.

Immanuel Kant (1720 – 1804) adalah pemikir terbesar Jerman yang mengawali konsep idealisme transendental. Kant, dengan gemilang, membuat sintesa terhadap aliran filsafat-filsafat besar sampai pada jamannya. Sehingga wajar, bagi banyak orang membagi era filosofis sebagai pre-Kant dan pasca-Kant. Trilogi kritik dari Kant berhasil menggeser karakter filsafat yang dulunya dogmatis menjadi lebih kritis, terbuka, dan dinamis. Tetapi, Kant tidak mengakhiri sistem filsafatnya dengan kesimpulan yang kokoh. Justru, Kant mengakhiri dengan paradoks: antinomi.

Living-philosopher adalah pemikir yang masih hidup di masa kini. Membaca pemikiran para living-philosopher tentu menarik. Karena, mereka ikut hidup di jaman digital yang sangat dinamis ini. Habermas (lahir 1929) merupakan pemikir yang aktif berdialog dengan pemikir besar kontemporer. Konsep komunikasi aktif untuk meraih konsensus di kalangan masyarakat menjadi tema utama Habermas.

Vattimo (lahir 1936) terkenal dengan konsep weak-thought dalam hermeneutika. Weak-thougt menyadarkan kita bahwa setiap pemikiran adalah lemah, tidak sempurna. Kita memerlukan proses terbuka untuk terus memperbaiki pemikiran kita dengan respek terhadap pemikiran pihak-pihak lain. Zabala (lahir 1975) adalah murid dari Vattimo yang mengembangkan pemikiran gurunya lebih luas dan mendalam.

Chalmers (lahir 1966) adalah pemikir analytic terbesar yang mengenalkan konsep “hard problem of consciousnes.” Meski sudah 20 tahun lebih, hard-problem ini belum mendapatkan solusi yang memuaskan. Barangkali memang tidak akan pernah ada solusi memuaskan. Chalmers cenderung berpandangan optimis terhadap perkembangan sains dan teknologi. Termasuk, dia mendukung perkembangan virtual reality.

Taylor (lahir 1931) adalah pemikir unik asal Kanada. Di era yang tampaknya makin kuat pertumbuhan sekularisme, Taylor membahas sekularisme dengan nada mendukung peran penting agama. Bagi Taylor, sikap sekular hanyalah sebuah pilihan sikap yang wajar di masa kini. Sementara, peran agama tetap besar di sepanjang masa.

Zizek (lahir 1949) adalah pemikir paling kontroversial. Sebagai pendukung kontradiksi Hegelian, dia, Zizek kerap melontarkan pernyataan kontradiktif. Meski banyak kritikus yang menilai Zizek sebagai tidak konsisten, tetapi, Zizek mengembangkan filosofi politik yang sangat dinamis dan kajian ontologi yang mendalam serta pemberani.

Soroush (lahir 1945) adalah pemikir Iran yang mencetuskan banyak ide progresif dalam filosofi sosial. Soroush banyak menghabiskan masa tuanya di luar negeri dengan berbagi pikiran yang berakar pada situasi kontemporer di Timur. Dengan latar pemikiran Timur yang kuat dan penguasaan pemikiran Barat mutakhir, menjadikan Soroush sebagai pemikir unik.

Di dalam negeri, saya kerap berdiskusi dengan Armahedi Mazhar (filosofi sains), Dimitri Mahayana (filosofi wujud), dan Muhammad Zuhri (filosofi sufi). Sunan Kalijaga merupakan tokoh dalam negeri paling mempesona sepanjang masa. Melalui karya “Serat Dewa Ruci,” Kalijaga berhasil menunjukkan peran penting karya filosofi fiksi yang sangat dinamis – karena berkembang melalui media oral. Sedangkan “Serat Linglung” menunjukkan peran penting karya filosofi sastra.

Meski masih banyak pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dalam filosofi cinta ini, kiranya, beberapa nama pemikir di atas sudah cukup menunjukkan karakter dinamis dari filosofi cinta. Selamat membaca! Selamat jatuh cinta! Selamat terpesona oleh cinta!

Lanjut ke Bagian 1: Epistemologi Cinta.
Kembali ke Philosophy of Love

Wacana 2.2: STRUKTUR CAHAYA

Filosofi Visi Iluminasi

Wacana 2.2: Struktur Cahaya. Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas.

(C0) adalah Cahaya Segala Cahaya.

(C1) adalah Cahaya Pertama memancar langsung dari (C0) Cahaya Segala Cahaya.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan.

Prospek Usaha Ketika Pandemi Sirna

Kita patut bersyukur pandemi sirna. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah terjadi pandemi akan diikuti lompatan kemajuan peradaban manusia. Kita segera bangkit lebih maju dari yang sebelum-sebelumnya.

Apakah Anda siap?

Siap tidak siap kita harus siap. Menyongsong masa depan cerah mulai saat ini, berbekal pengalaman – termasuk pengalaman pandemi. Berikut ini beberapa solusi dan prospek masa depan yang bisa kita kembangkan.

1. Meningkatkan Konsumsi

Teori ekonomi, yang saat ini banyak dipakai, menyarankan untuk meningkatkan konsumsi. Ketika konsumsi meningkat maka produksi didorong untuk meningkat pula. Barang-barang produksi dan jasa laris manis. Selanjutnya, roda ekonomi berputar.

Barangkali solusi meningkatkan konsumsi lebih tepat dijalankan oleh pemerintah dengan anggaran belanjanya dan perusahaan-perusahaan besar untuk mendorong dinamika.

2. Produksi Strategis

Prospek yang lebih terbuka lebar adalah produk strategis. Di mana, kita bisa mem-produksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, di saat yang sama, aman dari ancaman covid. Misal warung atau restoran yang menerapkan jaga jarak dan prokes. Berdagang secara online membuka banyak prospek baru. Dan masih banyak prospek lainnya.

3. Pendidikan Kreatif

Selama pandemi, barangkali, bidang pendidikan adalah yang paling banyak dikalahkan. Hal semacam itu wajar saja. Karena, kita paham bahwa pendidikan itu penting tetapi tidak kritis. Maksudnya, pendidikan bisa ditunda untuk sekian waktu. Dan, ketika saat ini pandemi usai, maka pendidikan perlu bangkit kembali dengan cara yang kreatif.

Apakah pandemi benar-benar sudah usai? Benar, pandemi telah selesai. Bukan karena tidak ada ancaman covid lagi, tetapi, karena kita sudah 2 tahun lebih hidup bersama covid. Karena itu, kita sudah sanggup hidup bersama covid atau tanpa covid, termasuk adaptasi dengan prosedur kesehatan. Jadi, secara efektif, pandemi telah usai.

Kebangkitan pendidikan kreatif mengambil beragam bentuk: pendidikan formal, informal, dan non-formal.

3.1 Prospek Kursus Matematika

Kursus bahasa, kursus matematika, dan beragam bentuk kursus lainnya menjadi bidang penting untuk kemajuan generasi masa kini. Saya sendiri menyediakan program kerja sama afiliasi APIQ yang membantu Anda membuka kursus matematika dengan mudah. APIQ sudah menyediakan bahan ajar matematika kreatif dengan standar APIQ. Selanjutnya, Anda bisa membuka kursus matematika APIQ di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: program afiliasi APIQ.

3.2 Prospek Pelatihan Guru Kreatif

Para guru memerlukan keahlian baru karena tuntutan jaman, berupa kemajuan teknologi, dan perubahan kurikulum yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Guru perlu membekali diri dengan kemampuan kreatif dan memanfaatkan teknologi dengan canggih. APIQ menyelenggarakan program pelatihan kreatif secara rutin bulanan dan bisa diselenggarakan di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: training kreatif APIQ.

3.3 Edukasi Konten Digital

Kita sudah memasuki era digital. Dunia pendidikan juga masuk dunia digital. Tetapi, masa pandemi sudah menunjukkan bahwa program pendidikan melalui media digital online murni adalah gagal. Siswa tidak bisa belajar hanya melalui media online (kelas daring). Siswa tetap membutuhkan kelas tatap muka (kelas luring).

Kita perlu bersikap bijak terhadap media digital. Cukup sekedarnya saja, memanfaat media digital, untuk pendidikan. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Dengan ukuran yang tepat dan metode yang tepat, edukasi konten digital akan memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda. Saya membuat beragam konten edukasi matematika melalui canel Paman APIQ.

Sukses selalu untuk kita semua. Bagaimana menurut Anda?

Matematika Ceria: Bahagia Sempurna

Cita adalah siswa kelas 3 SD di kota Bandung. Senyumnya lebar bahagia dengan belajar matematika. Kok bisa?

Di sekolah Cita, disediakan program ekskul, siang, setelah jam sekolah. Anak-anak bebas memilih program olah raga, robotika, menggambar, matematika, dan lain-lainnya. Pilihan siswa paling banyak adalah program matematika bersama APIQ.

“Mengapa kamu memilih matematika?”
“Karena matematika itu seru! Belajarnya lebih asyik dari robotika,” jawab Cita dan teman-temannya.

Matematika APIQ mengajak anak-anak gembira belajar matematika dengan game permainan orisinal (game ori). Mengapa namanya game ori? Karena game ini memang asli matematika bukan selingan belaka. Berbeda dengan game lainnya. Umumnya, game lain adalah selingan ketika anak-anak capek belajar matematika maka main game dulu. Sementara, game ori adalah asli. Dengan anak-anak bermain game ori maka, di saat yang sama, anak-anak jadi mahir matematika. Dalam game ori, sudah terselip petualangan matematika.

Anda bisa bergabung dengan program APIQ, saat ini, melalui WA 0818 22 0898 atau pelatihan terdekat silakan klik: Pelatihan APIQ.

Kita membutuhkan inovasi-inovasi yang menghadirkan matematika dengan riang gembira. Karena, matematika itu sendiri memang mengantarkan umat manusia untuk meraih bahagia sempurna. Disayangkan, saat ini, matematika sering menyulitkan para siswa, guru, dan orang tua.

Siapa pun, usia berapa pun, bisa belajar matematika kreatif APIQ yang asyik. Kakek Badar, saat itu usia 60 tahun, ikut program pelatihan matematika APIQ.

“Apa pertimbangan Pak Badar ikut training matematika APIQ?”
“Saya ini sudah tua,” lanjut Pak Badar,” maka perlu menjaga kesehatan. Dengan belajar matematika asyik, pikiran saya jadi terus aktif sehingga menjadi lebih sehat. Lagi pula, saya bisa mengajarkan matematika APIQ ini ke cucu-cucu saya. Jadi lebih akrab dengan semua keluarga besar.”

Program Matematika APIQ berguna untuk anak usia dini, TK, SD, SMP, SMA, guru, profesional, dan masyarakat luas.

Mari bergembira bersama-sama, membangun generasi muda dengan matematika!

Bagaimana menurut Anda?



Pendahuluan Oleh Suhrawardi

Suhrawardi mengaku menuliskan buku ini bukan dari hasil pemikiran diskursif, tetapi, dari pengalaman langsung. Baru, kemudian, dia mencari cari pembuktian rasional. Seandainya, tidak ditemukan bukti rasional pun, hal tersebut, tidak mengubah kesahihan buku ini. Nyatanya, buku ini menghadirkan bukti rasional yang kreatif.