Palestina Israel: Konflik (Tidak) Berakhir

Kita berduka. Umat manusia menderita. Palestina terluka. Israel juga terluka.

Kapan konflik Palestina Israel akan berakhir? Seperti apa bentuk akhir itu? Bisa jadi konflik ini tidak akan pernah berakhir. Konflik hanya bisa berakhir bila umat manusia berkomitmen untuk mengakhirinya. Komitmen umat manusia ini tidak mudah dipastikan. Namun demikian, tetap ada cara-cara bermartabat untuk mengakhiri konflik atau minimal meredam konflik. Kita perlu meraihnya.

Begini peta palestina dari jaman ke jaman

Matinya Sejarah

Kita mengenal teori “matinya sejarah.” Yang intinya adalah sejarah itu tidak tunggal. Sejarah, bisa kita baca dari ragam sudut pandang. Yang bahkan di antara sudut pandang yang berbeda itu, benar-benar, menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang.

Sanggupkah kita menghargai keragaman sejarah? Perbedaan sejarah? Kontradiksi dalam sejarah?

Misalnya, dari sudut pandang sejarah Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat – bahkan Tel Aviv dan seluruh wilayah Israel – adalah tanah air milik warga Palestina. Hanya saja, sejak 1948, Israel menjajah wilayah itu dengan paksa tanpa sah. Perhatikan sejarah sebelum 1948 atau bahkan sebelum abad 20 maka tidak ada negara Israel sama sekali di sana. Hanya ada Palestina yang sudah turun-temurun hidup damai di negeri Palestina ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu.

Sementara, dari sudut pandang sejarah Israel tentu beda. Israel yakin bahwa mereka secara legal, dan de facto, mendirikan negara Israel pada tahun 1948. Kemudian disusul perang pada tahun yang sama, menguatkan eksistensi negara Israel. Lebih-lebih perang pada tahun 1967 makin meluaskan wilayah dan eksistensi negara Israel. Banyak negara di dunia mengakui negara Israel secara sah.

Dua sudut pandang sejarah menghasilkan konflik yang nyata. Masing-masing meng-klaim kebenaran. Wajar saja, mereka klaim sesuai sejarah masing-masing.

Mengintip Masa Lalu Songsong Masa Depan

Kita perlu mempelajari sejarah dunia, termasuk sejarah Palestina dan Israel. Di saat yang sama, mengkaji sejarah, sambil menyiapkan diri menyongsong masa depan demi kebaikan bersama, seluruh umat manusia. Klaim sejarah masa lalu adalah, sekedar, modal untuk menata kehidupan bersama di masa depan sejak masa kini.

Solusi Kemanusiaan dan Agama

Banyak mata menyaksikan pelanggaran kemanusiaan pada konflik Palestina Israel di Mei 2021. Ratusan jiwa warga Palestina, yang tidak berdosa, melayang. Begitu juga puluhan jiwa warga Israel juga menjadi korban.

Dalam banyak kasus, warga Palestina adalah sebagai korban. Sementara Israel adalah penguasa.

Konflik ini melanggar nilai universal kemanusiaan dan bercampur dengan konflik agama. Tokoh agama dari masing-masing kubu perlu merumuskan solusi yang elegan bagi semua. Sementara konflik kemanusiaan menuntut seluruh warga dunia untuk ikut menemukan solusi terbaik sesuai kapasitas masing-masing.

PBB tampak berniat untuk memberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang berkonflik. Karena Amerika mempunyai hak veto, rencana teguran keras ini batal oleh veto Amerika. Tampaknya Amerika lebih mengandalkan diplomasi bilateral. Sulit bagi banyak orang memahami sikap Amerika ini. Bukankah teguran dari PBB sejalan dengan diplomasi bilateral?

Berikut ini beberapa solusi yang berkembang untuk menyelesaikan konflik Palestina Israel.

Dua-Negara atau Two-States

Biden, presiden USA, meyakini bahwa dua-negara adalah solusi terbaik untuk Palestina dan Israel. Dan tampaknya, saat ini, solusi dua-negara adalah yang sedang terjadi. Solusi dua-negara mengakui adanya dua negara yang sama-sama berdaulat: Palestina dan Israel.

Biden berjanji akan membantu membangun kembali Gaza karena kerusakan serangan udara oleh Israel. Dengan syarat Palestina mengakui secara resmi eksistensi Israel. Di sisi lain, orang bisa saja bertanya apakah USA dan Israel juga mengakui kedaulatan Palestina? Atau hanya sekedar membangun Gaza?

Meski solusi dua-negara tampak bagus, banyak orang meragukan akan berhasil. Israel adalah negara dengan kekuatan militer yang besar, lobi politik dunia yang luas, serta dukungan dana yang kuat. Sementara, Palestina adalah negara yang masih dalam “perjuangan.” Sehingga mengakui dua-negara terkesan hanya ungkapan semata. Yang terjadi bisa hanya ada satu negara kuat, yaitu Israel, yang berperilaku tidak adil terhadap negara kedua, yang masih lemah, yaitu Palestina.

Agar solusi dua-negara ini bisa berjalan dengan baik maka perlu diciptakan dua-negara yang sama-sama berdaulat. Untuk Israel sudah jelas berdaulat. Selanjutnya, masyarakat internasional, melalui PBB, perlu dengan segera mendorong agar Palestina benar-benar menjadi negara berdaulat dengan wilayah yang pasti. Dua-negara berdaulat ini diharapkan kemudian bisa menciptakan perdamaian bersama.

Tampaknya tidak mudahkan? Lebih rumit lagi bila masing-masing pihak meng-klaim dirinya paling benar.

Satu-Negara atau One-State

Solusi satu-negara tampak ideal meski tidak mudah juga. Solusi satu-negara kembali menjadi pertimbangan karena banyak yang melihat solusi dua-negara menemui jalan buntu, sejauh ini.

Solusi satu-negara adalah melebur Palestina dan Israel menjadi satu negara, misal negara serikat bernama UPI – United of Palestine Israel. UPI sebagai pusat, federal, memiliki beberapa negara bagian, state, misal Tel Aviv, Yerussalem, Gaza, Tepi Barat, dan lain-lain. Semua warga Palestina dan Israel adalah setara, tidak ada pembedaan. Mereka adalah sama-sama warga negara UPI yang adil dan makmur. Dengan demikian, tercapailah perdamaian untuk Palestina dan Israel.

Tidak semudah itu. Banyak persoalan yang muncul. Salah satu keberatan adalah dari sayap kanan Israel. Tujuan utama mendirikan negara Israel adalah agar warga Yahudi memiliki negara sendiri yang aman dari ancaman luar. Bila terbentuk UPI maka terjadi pencampuran Yahudi dan Palestina (Arab-Islam). Meski saat ini populasi Israel sekitar 10 juta jiwa sedangkan populasi Palestina sekitar 5 juta jiwa, tapi pertumbuhan penduduk Palestina lebih cepat. Sehingga dalam beberapa tahun ke depan, penduduk UPI akan didominasi oleh keturunan Palestina. Dan warga Yahudi kembali menjadi minoritas. Hal semacam itu tidak boleh terjadi, menurut sayap kanan Israel.

Barangkali solusi dari keberatan itu bisa dengan menciptakan 1 negara bagian, state, yang khusus untuk warga Yahudi saja – yang bisa jadi penduduknya. Selain Yahudi hanya bisa sebagai tamu. Atau bisa juga lebih kecil dari state. Misal menetapkan satu kawasan adalah kota suci khusus bagi warga Yahudi.

Meski solusi satu-negara kembali hangat, tampaknya dukungan ke arah solusi ini masih relatif kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, mayoritas penduduk Palestina dan Israel adalah bayi-bayi yang terlahir di sana, lahir setelah tahun 1948, bukan imigran, maka solusi satu-negara akan menjadi makin mudah diwujudkan.

Tiga-Negara atau 3-States

Solusi tiga-negara barangkali mudah diterima oleh Israel tapi sulit diterima bagi Palestina. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan solusi ini.

Solusi tiga-negara mengakui negara Israel saat ini, dan menggabungkan Gaza ke Mesir, serta menggabungkan Tepi Barat ke Jordan.

Bagi warga Gaza, bergabung ke Mesir barangkali bagus. Mereka sama-sama muslim. Begitu juga warga Tepi Barat bergabung ke Jordan juga sama-sama muslim. Secara geografis juga menguntungkan. Bagi Israel, menjalin diplomasi dengan Mesir dan Jordan tentunya lebih memudahkan untuk menciptakan perdamaian.

Tentu saja tidak semudah itu. Solusi tiga-negara berdampak menghilangnya negara Palestina dari dunia ini. Tentu tidak mudah bagi pejuang Palestina untuk menerima kepunahan ini. Mereka telah berjuang puluhan tahun demi Palestina.

Sejauh ini, solusi tiga-negara juga tidak banyak mendapat dukungan.

Solusi Perdamaian

Bagaimana pun tugas kita sebagai manusia adalah untuk menciptakan perdamaian yang dilandasi keadilan. Maka menciptakan perdamaian di Palestina dan Israel adalah tugas kemanusiaan. Memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan keikhlasan dari berbagai pihak.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Awal dan Akhir

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS 3 : 190-191)

Takwa menjadikan kita cerdas, banyak akal, selalu kreatif. Semua yang ada di alam semesta penuh makna, penuh nilai guna. Orang bertakwa selalu menemukan jalan keluar dari setiap masalah. Selesai dari satu masalah bersegera ke masalah berikutnya. Dan setiap masalah, lengkap dengan jalan keluarnya itu, menambah kebahagian orang bertakwa. Masalah dan jalan keluar adalah anugerah dari Allah.

Bernas.id | Cara Menemukan Jalan Keluar, Saat Anda Sedang Diterpa Masalah

Sebaliknya, orang yang tidak bertakwa memandang masalah sebagai beban. Mereka hanya ingin nikmatnya dunia, berfoya-foya, dan pesta-pora. Hanya derita yang menghadang mereka. Penyakit fisik dan hati senantiasa mengintai. Jangan salah memanjat pohon. Masih ada waktu untuk bertobat. Mari menjadi orang yang bertakwa. Mulai dari awal lagi, saat ini, sampai akhir hayat kita.

Pencerahan Kitab Suci

Keuntungan terbesar orang bertakwa adalah selalu mendapat pencerahan dari kitab suci – dan dari kitab alam raya. “Ini adalah kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” “Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Betapa indah hidupnya orang bertakwa. Melihat realitas alam semesta, hati mereka tersentuh oleh kebesaran Sang Pencipta. Muncul banyak masalah dari kehidupan ini, bencana alam dan – lebih-lebih – bencana kemanusiaan. Mereka memandang bahwa masalah-masalah itu adalah sapaan dari Tuhan Yang Maha Kasih.

Tuhan menyapa orang yang bertakwa melalui beragam masalah. Masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, sampai hubungan luar negeri. Mereka menggunakan seluruh kekuatan kecerdasan, rasa, karsa, dan cipta untuk menemukan solusi. Mereka berhasil menemukan titik terang solusi. Ternyata solusi itu tidak mudah dijalani. Mereka membaca kitab suci. Lebih banyak lagi solusi. Mereka memohon pertolongan kepada Allah. Semangat merencanakan solusi, menjalani solusi, dengan bimbingan ilahi.

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah maka Allah karuniakan kepadanya jalan keluar. Dan Allah melimpahkan rejeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah mencukupkan segala sesuatunya.”

Meraih Prestasi

Karakter penting orang bertakwa adalah: beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, berinfak dan zakat, beriman kepada kitab suci terdahulu, beriman kepada hari akhir. Dan mereka adalah orang-orang yang beruntung, orang-orang yang berprestasi di jalan ilahi.

Makna takwa, yang paling penting, adalah meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi. Dengan cara menjalani perintah dan menjauhi larangan. Makna takwa ini mencakup makna makna takwa secara umum: taat kepada Allah, takut kepada Allah, iklas, tobat, menjaga diri, berbuat baik, dan sebagainya.

Tidak ada orang takwa yang gagal. Orang takwa pasti berhasil. Bahkan berhasil sejak awal. Ketika seseorang mulai berbuat takwa maka pada saat itu dia sukses, di dunia dan akhirat. Ditambah dengan sikap istiqomah maka prestasi takwa makin tampak nyata.

Kebahagiaan Iman

Orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa maka mereka menjadi muslim sejati dan mukmin sejati. Dan orang mukmin, yang beriman sejati, sunggung memperoleh kebahagiaan yang tiada tara.

Karakter orang beriman sejati, di antaranya, adalah: khusuk dalam sholatnya; menjauhi hal sia-sia; berzakat; menjaga kehormatan; memenuhi amanah dan janji; menjaga sholat. Mereka adalah penghuni surga firdaus di akhirat – dan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang paling bahagia.

Masa Lalu dan Masa Depan

Perintah puasa bertujuan untuk menjadikan kita sebagai orang-orang bertakwa sejati – dan beriman sejati. Perintah puasa sudah berlangsung sejak jaman orang-orang sebelum kita, sebelum jaman Nabi. Puasa adalah ibadah penting yang berdimensi lintas waktu. Dalam berpuasa, kita belajar dari sejarah masa lalu dan menyiapkan alam semesta untuk generasi masa depan.

Bertakwa dari awal sampai akhir.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Manusia Bebas

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS 55 : 33)

Gantungkan cita-cita setinggi langit. Kalau pun kamu meleset meraihnya, kamu setidaknya berhasil meraih rembulan. Kamu memang luar biasa.

Ini alasan kenapa langit berwarna biru | FEED - MERDEKA.COM

Manusia beriman yang bertakwa mempunyai cita-cita tinggi. Cita-cita yang sulit untuk diraih. Tapi kita bisa meraihnya karena pertolongan Allah semata. Karena Allah Maha Kuasa atas segalanya.

Di sisi manusia, kita sudah menerima tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di bumi ini. Maka kita mengembangkan segala kekuatan untuk menembus langit dan bumi. Melalui pengembangan sains, teknologi, imajinasi, dan tentu, ruhani.

Kekuatan Kehendak

Demokrasi

Jaminan Institusi

Mengejar Mimpi

Hubungan Luar Negeri

Takwa Virtual dan Aktual

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kita hidup di jaman digital. Kita akrab dengan dunia virtual. Bahkan bisnis virtual, saat ini, bisa lebih menguntungkan dari bisnis riil. Dalam hal takwa, kita juga perlu mempertimbangkan pentingnya takwa virtual, sebagai pasangan dari takwa aktual.

Ketika berbagi makanan untuk fakir miskin, misalnya, maka makanan tersebut adalah bentuk takwa aktual. Bentuk takwa yang benar-benar nyata. Makanan ini, bersifat aktual, penuh manfaat bagi fakir miskin. Tetapi bukan makanan ini yang bernilai tinggi. Yang bernilai tinggi adalah ketakwaan kita dalam proses berbagi itu. Dengan kata lain, takwa virtualnya adalah yang paling bernilai tinggi. Baik berupa niat, tulus, ikhlas, atau pun hanya mengharap ridha Allah semata.

Pada tulisan ini, kita akan mendiskusikan pasangan-pasangan takwa: personal-sosial, pemerintahan-legal, dan virtual-aktual.

Pasangan Tak Hingga

Analisis berpasangan membantu kita melihat realitas dengan lebih mudah – dibanding hanya satu sudut pandang saja. Kita perlu mempertimbangkan pro dan kontranya. “Segala sesuatu diciptakan dalam bentuk berpasang-pasangan.” Saya kira, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menganalisis pasangan “the others” untuk menemukan keadilan.

Di sini, kita memasangkan takwa virtual dengan takwa aktual dengan maksud yang sama, agar lebih mudah memahami. Meskipun, kenyataannya, takwa itu tunggal. Misalnya, kita berbagi zakat adalah aktivitas takwa yang tunggal. Kita dapat menganalisis bahwa zakat itu, misal berupa uang, adalah aspek takwa aktual. Sementara niat tulus sang pemberi zakat adalah aspek takwa virtual.

Dengan adanya pasangan virtual dan aktual maka kita bisa menghasilkan sudut pandang dalam jumlah tak terbatas.

Dampak Sosial

Kita bisa melihat dampak tindakan takwa secara personal dan sosial. Membaca buku, mengkaji kitab suci, berdzikir, dan lain-lain berdampak positif secara personal. Menjadikan pikiran lebih cerdas, damai di hati, secara pribadi. Sementara takwa berupa berbagi makanan, menciptakan lapangan kerja, dan berkreasi berdampak positif secara sosial. Orang lain merasakan manfaat nyata dari tindakan takwa kita.

Kedua jenis takwa ini, personal dan sosial, sama-sama kita perlukan. Takwa personal, misal mengkaji kitab suci, menguatkan kita untuk bisa bertakwa secara sosial. Kita jadi punya ide untuk menciptakan lapangan kerja setelah membaca kitab suci yang menekankan nilai penting dalam tolong-menolong. Sementara, pengalaman nyata kita menciptakan lapangan kerja, memberikan kita pengalaman penuh makna. Ketika kita membaca kitab suci menjadi lebih tersentuh karena banyak pengalaman nyata di lapangan. Takwa sosial menguatkan takwa personal, dan sebaliknya.

Problem muncul bila hanya satu jenis takwa saja yang dominan. Hanya rajin membaca kitab suci tapi tidak pernah beraksi. Atau hanya rajin menciptakan lapangan kerja tanpa pernah mengkaji kitab suci. Sekali lagi, kita memerlukan kedua-duanya.

Pemerintah Legal

Bentuk takwa sosial yang penting, di antaranya, adalah bidang pemerintahan dan hukum legal. Kita perlu, bersama-sama, menciptakan pemerintahan yang adil, transparan, dan membela rakyat. Dari sisi hukum, kita perlu menciptakan sistem hukum yang adil untuk semua warga dan pelaku hukum yang berkomitmen tinggi menegakkan keadilan.

Dengan demikian, pejabat pemerintah dan segenap aparatur negara yang menjalankan tugas dengan baik, maka, mereka adalah orang-orang yang bertakwa – mendapat pahala berlimpah di sisi Tuhan. Kita perlu mendukung program-program pemerintah guna memajukan kehidupan bersama.

Sementara pejabat yang korupsi adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Hukuman yang berat pantas bagi pelaku korupsi. Mereka sudah makan anggaran APBN tetapi malah merugikan rakyat dengan perilaku korupsi yang merusak.

Sistem hukum, di satu sisi, sangat penting untuk bersifat adil. Sementara pelaku hukum, yudikatif, perlu komitmen tinggi untuk membela keadilan. Bagaimana pun idealnya aturan hukum, pada tataran implementasi, tetap bergantung sikap para pelaku hukumnya. Membaca hukum adalah tugas kritikal yang rawan akan penyelewengan. Maka pelaku hukum yang adil sudah bertindak takwa dan mendapat pahala di sisi Tuhan yang berlimpah. Sementara, mafia hukum adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Perlu ditumpas dari muka bumi.

Takwa Virtual

Kita, saat ini, menjadi lebih mudah untuk bertindak takwa. Dengan kemajuan media digital, kita bisa berbuat takwa kapan saja, di mana saja, dalam bentuk takwa digital – takwa virtual.

Membuat konten digital yang bermanfaat melalui handphone, misal konten edukasi, adalah termasuk tindakan takwa virtual. Jika setiap orang, tiap hari membuat satu konten positif bermanfaat saja, maka kita akan mempunyai lebih dari 100 juta konten positif tiap hari. Pemilik hanphone di Indonesia lebih dari 100 juta jiwa. Luar biasa…!

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Ekonomi Manusia

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS 3 : 130)

Bertakwa di bidang ekonomi menjamin kita beruntung. Beruntung secara pribadi dan sosial. Masyarakat yang bertakwa saling menolong untuk mengembangkan ekonomi dan kebaikan. Dan tidak bekerja sama dalam keburukan. Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Keberuntungan orang yang bertakwa adalah berlimpah rejeki dari jalan yang tak disangka, selalu mendapat jalan keluar dengan cara yang kreatif. Pertumbuhan yang matang jasman dan ruhani.

Wakaf untuk Kebangkitan Ekonomi Rakyat | Tarbawia

Memang ekonomi orang yang bertakwa lebih kreatif dengan adanya beberapa batasan. Berbeda dengan ekonomi liberal, misalnya, mereka boleh usaha dalam bidang apa saja asalkan legal. Ekonomi liberal bisa saja usaha di bidang judi, minuman keras, riba, atau lainnya. Sementara, ekonomi takwa tidak akan melakukan bisnis haram seperti itu. Bahkan makanan haram pun tidak boleh dikembangkan, misal jualan babi panggang, bipang. Meskipun, dalam situasi darurat, masih dibolehkan, misal untuk keperluan vaksin atau obat.

Batasan ekonomi takwa, yang tidak liberal, seperti menyulitkan pada tahap awal. Sejatinya, batasan itu justru menguntungkan dalam jangka panjang. Misalnya larangan bisnis judi. Awalnya seperti menyusahkan. Dalam jangka panjang judi merusak masyarakat. Bagi yang menang judi, mereka, berpesta-pora, melampaui batas, dan akhirnya kalah taruhan juga. Bagi yang kalah, hampir 100% penjudi adalah kalah, maka mereka bangkrut. Mereka frustasi. Mengambil jalan pintas penuh ilusi. Masyarakat menjadi lebih sehat tanpa bisnis judi. Batasan ekonomi takwa, benar-benar, untuk kebaikan bersama.

Ragam Bidang Takwa

Luasnya cakupan takwa tanpa batas. Sehingga setiap orang tidak pernah menganggur. Selalu ada pekerjaan untuk memperbaiki diri dan lingkungan. “Maka ketika selesai dengan satu pekerjaan bersegeralah ke pekerjaan berikutnya.”

Takwa merupakan tanggung jawab setiap pribadi untuk meraih prestasi dan memberi kontribusi. Sedangkan medan kerja takwa bisa bersifat pribadi dan sosial. Membaca buku adalah tanggung jawab pribadi sedangkan menaati aturan lalulintas merupakan contoh tanggung jawab sosial. Karena itu, diperlukan suatu aturan hukum dan lembaga agar proses takwa dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Takwa Virtual sampai Aktual

Kita bisa mengelompokkan takwa dalam kelompok virtual dan aktual. Di era digital ini kita sudah akrab dengan istilah virtual. Benar saja kita bisa bertakwa di dunia virtual. Bahkan ide-ide kita, inovasi-inovasi yang masih berada dalam pikiran kita, untuk membangun negeri bisa kita masukkan sebagai takwa virtual. Sedangkan takwa aktual seperti bisa kita lihat sehari-hari misalnya membantu fakir miskin, berzakat, dan berjamaah.

Kerja Menciptakan Lapangan Kerja

Bekerja, barangkali, adalah tindakan takwa paling penting. Setiap orang harus bekerja. Setiap orang harus berpartisipasi positif untuk kemajuan alam semesta ini. Dan bekerja adalah bentuk partisipasi setiap warga.

Bisa kita bayangkan betapa besar nilai takwa bagi orang-orang yang menciptakan lapangan kerja. Maka para pengusaha yang takwa benar-benar meraih nilai keutamaan yang berlimpah.

Takwa Pendidikan

Untuk bisa bertakwa, kita memerlukan ilmu. Maka program pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh seluruh rakyat menjadi suatu keharusan. Inovasi pendidikan, pendidikan digital, tersedianya beasiswa perlu terus dikembangkan.

Takwa Kesehatan

Kesehatan adalah dasar bagi setiap manusia agar bisa bertakwa dengan optimal. Maka menjaga kesehatan menjadi jalan takwa yang penuh makna. Riset dan inovasi di dunia kedokteran, teknologi medis, farmasi, dan lain-lain benar-benar bernilai penting.

Dan masih banyak medan takwa yang bisa kita ulas pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Candu Agama Ortodoks

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS 12 : 38)

Wajar saja, kita mengikuti agama orang tua kita. Dan itu realitas yang sering kita jumpai. Ayah dan ibu adalah orang yang mencintai dan meyayangi kita. Maka secara naluriah, kita juga menyayangi ayah dan ibu kita. Salah satu bentuknya berupa mengikuti ajaran dan agama ayah ibu kita. Nabi Yusuf adalah contoh sempurna, bagi manusia, yang mengikuti ajaran nenek moyang dengan baik. Dan Nabi Yusuf mengambil sikap penuh tanggung jawab menjaga ajaran agama yang lurus.

Misteri Struktur Kuno Miniatur Alam Semesta

Meski demikian, ada hal-hal yang tidak pantas kita lakukan. Misalnya, melanggar ajaran agama. Itu merupakan pelanggaran individu. Maka orang tersebut harus bertanggung jawab terhadap sikap yang dia pilih. Dia tidak sah bila berdalih, “Kami mengikuti ajaran bapak-bapak kami.”

Dalih-dalih itu, secara bertahap, berubah menjadi candu. Dalih yang menimbulkan kecanduan. Marx, tampaknya, menyerang cara berpikir agama seperti itu. Agama adalah candu, kata Marx. Barangkali, Nietzsche, yang paling keras menyerang agama, “Tuhan telah mati.” Apakah serangan-serangan semacam itu tepat sasaran?

Rujukan Masa Lalu

Saya mendefinisikan cara berpikir yang hanya mengikuti masa lalu, tanpa mengambil tanggung jawab, adalah cara berpikir ortodoks. Pemikiran semacam ini bisa terjadi di bidang ekonomi, politik, budaya, dan termasuk agama. Sehingga pengertian ini bergantung kepada perilaku pemikiran orang per orang bukan harus merupakan ajaran suatu madzab tertentu.

Marx mengkritik agama sebagai candu dengan alasan pemeluk agama, waktu itu, tidak bertanggung jawab terhadap api revolusi. Mereka hanya mengikuti ajaran nenek moyang. Seharusnya, menurut Marx, mereka sadar dan bangkit untuk berjuang. Yang terjadi, mereka justru sudah nikmat dengan candu-candu itu.

Kita, di Indonesia, perlu membangkitkan semangat agama yang dinamis.

Baru-baru ini, Gus Miftah menjadi sorotan lantaran mendapat tuduhan sebagai kafir. Saya lihat, Gus Miftah berhasil menunjukkan sikap dinamis dalam beragama. Dia menunjukkan bahwa banyak tokoh agama di masa lalu, dan masa sekarang, yang juga berkunjung ke gereja. Dan Gus Miftah mengambil tanggung jawab atas tindakannya bahwa itu untuk membangun kesatuan hidup berbangsa.

Sementara, pihak yang mengkritisi juga bisa mengambil sikap yang dinamis. Mereka menunjukkan bahwa para tokoh agama terdahulu melarang kita, muslim, untuk masuk gereja. Maka mereka menyimpulkan bahwa tindakan Gus Miftah adalah salah.

Dua pandangan beragama di atas, Gus Miftah dan pengkritik, sama-sama dinamis. Maka bisa terjadi dialog yang juga dinamis. Hasil dialog itu bisa saja sepakat untuk tetap berbeda atau bisa juga ada titik temu. Tidak ada masalah dengan hasil akhir. Yang penting justru proses dialog yang berlangsung dengan damai dan saling respek.

Yang bisa menjadi masalah adalah klaim berdasar masa lalu, itu adalah candu.

Misal pihak pengkritik bisa menyatakan, “Nabi melarang muslim masuk gereja. Bukan saya yang melarang. Tapi Nabi yang melarang. Jelas-jelas itu larangan Nabi. Saya, dan kita semua, harus mematuhi Nabi.”

Klaim bahwa Nabi melarang muslim masuk gereja bisa jadi benar adanya – dalam konteks yang tepat. Tetapi klaim bahwa Nabi menyatakan Gus Miftah bersalah tentu sulit dibuktikan. Di sini, kita perlu mengambil sikap dinamis sehingga secara sosial kita bisa tumbuh hidup bersama. Bermasyarakat dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Paling Benar

Lanjutan dari cara berpikir ortodoks adalah sikap merasa paling benar. Sebuah konsekuensi yang wajar karena mereka mendasarkan pikiran kepada kebenaran masa lalu, puluhan bahkan ribuan tahun yang lalu. Ajaran nenek moyang yang dianggap sudah benar 100% – tanpa harus mengkaji konsteks.

Sikap merasa paling benar, sejatinya, sah-sah saja. Bahkan itu sikap yang diperlukan. Yang menjadi masalah adalah efeknya: menganggap yang lain salah. Karena ajaran saya yang paling benar maka ajaran orang lain adalah salah. Sikap ini bahaya dalam bermasyarakat. Lebih bahaya lagi ketika membalik logika berpikirnya. Karena orang lain salah maka saya adalah benar. Akibatnya, anggota masyarakat terpancing untuk mencari-cari kesalahan pihak lain agar diri mereka merasa benar. Kita perlu mencegah perilaku semacam itu.

Jaminan Masa Depan

Kekuatan berpikir ortodoks berikutnya adalah adanya jaminan masa depan yang indah. Jika masa depan indah itu tidak terjadi di alam dunia ini maka akan terjadi di alam akhirat nanti.

Kita memang harus mencari masa depan yang lebih baik. Kita investasi di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan untuk mempersiapkan masa depan yang cerah. Kita perlu semacam jaminan agar berhasil meraih masa depan yang lebih baik. Karena “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia.”

Masalah baru timbul, ketika jaminan masa depan ini menyebabkan kita melupakan tanggung jawab masa kini. Biarlah orang kafir menguasai ekonomi tapi mereka nanti akan masuk neraka, sedangkan kita akan masuk surga. Biarlah orang kafir menguasai teknologi, politik, budaya, dan semuanya. Mereka akan masuk neraka. Hanya kita yang masuk surga. Pandangan semacam ini benar-benar jadi masalah yang nyata.

Kehidupan ekonomi, politik, budaya, dan lainnya adalah tanggung jawab kita. Kita bertugas untuk berpartisipasi memperbaiki situasi untuk menjadikannya lebih baik. Memang sulit tetapi, bersama-sama, kita bisa.

Solusi

Di bagian ini, kita melihat ada masalah dengan cara berpikir ortodoks. Sebelumnya, kita juga mengenal resiko cara berpikir sekular. Selanjutnya, kita perlu merumuskan solusinya yaitu: takwaisasi.

Kita perlu memaknai ulang takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Meraih prestasi adalah tanggung jawab kita. Baik sebagai seorang pribadi ataupun secara bersama-sama secara sosial. Dalam prosesnya, kita perlu mengembangkan sikap saling membantu dalam kebaikan, saling mencegah dalam keburukan, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Bagaimana menurut Anda?

Petaka Sekularisasi

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216)

Hal unik dalam diri kita adalah kemampuan menciptakan makna. Manusia mampu berimajinasi. Kita mampu menjadikan kejadian biasa, terasa, lebih bermakna. Lebih membahagiakan. Kedipan mata seorang kekasih terasa lebih membahagiakan dari bumi seisinya.

Interpretasi bisa berjalan dua arah: positif atau negatif. Pandemi boleh jadi membuat orang makin menderita, kehilangan pekerjaan, sampai kehilangan anggota keluarganya. Di saat yang sama, pandemi bisa menjadi medan inovasi. Berlomba-lomba melahirkan inovasi bidang kesehatan, bisnis, dan edukasi.

Bilangan posotf (+) dan negatif (-) | Samudra Kehidupan

Sekularisasi, tentu saja, bermakna positif dan negatif. Makna positif sekularisasi adalah keberhasilannya mendorong peradaban Barat makin maju. Makna negatif sekularisasi, di antaranya, menjadikan manusia lepas kendali. Pada tulisan ini, saya akan mencoba membahas beberapa sisi negatif dari sekularisasi. Sementara bagi yang tertarik diskusi sisi positif sekularisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan saya lainnya.

Manusia Hermeneutik

Filsafat kontemporer, awal abad 21 ini, sebagian besar membahas hermeneutik. Filsafat tentang seni menafsirkan. Segala pengetahuan manusia berkaitan, bahkan berdasarkan, interpretasi. Pengetahuan subyektif, misal Anda suka rasa pedas, tentu merupakan intepretasi. Bahkan pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, juga berdasarkan suatu interpretasi. Dengan demikian, filsafat mengajak kita untuk lebih terbuka dengan beragam interpretasi dan saling menghormati.

Barangkali ada yang bertanya, bagaimana pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Pernyataan 12 + 1 = 13 bernilai benar bila kita interpretasikan linear seperti bilangan asli pada umumnya. Tetapi bila kita menginterpretasikan sistem bilangan pada jam dinding maka tidak ada angka 13. Sehingga, pada interpretasi jam dinding, yang benar adalah 12 + 1 = 1. Dalam disiplin matematika, aljabar abstrak, kita mengenal teori seperti di atas adalah sebagai sistem aksiomatik.

Vattimo menyarankan kita lebih terbuka dengan pandangan banyak pihak. Kita hanya bisa menafsirkan sesuatu secara lemah belaka, “weak thought.” Penafsiran kita pun erat kaitannya dengan pengalaman kita sebagai individu. Maka orang lain juga menafsirkan berdasarkan pengalaman mereka. Sehingga nilai kebenaran terkait dengan cakrawala pikiran masing-masing subyek. Meski demikian, kita tetap harus bertanggung jawab terhadap semua penafsiran kita. Bertanggung jawab adalah hak setiap manusia – dan kewajiban pula.

Kitab suci, sejak ribuan tahun yang lalu, mengingatkan kita agar lebih hati-hati. Boleh jadi apa yang kita sangka buruk, sejatinya, adalah baik. Dan mungkin saja yang kita sangka baik, sejatinya, adalah buruk. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Manusia sekedar mengintrepretasikan belaka. Bisa benar bisa salah. Sekularisasi adalah sebentuk penafsiran manusia.

Melampaui Batas

Kelemahan sekularisasi adalah tidak ada batas yang jelas. Batas-batas hanya hasil pikiran, tepatnya hasil interpretasi, mereka belaka. Padahal melampaui batas adalah sumber petaka kemanusiaan: petaka sekularisasi.

Berapa batas konsumsi makan seseorang tiap hari? Paham sekular tidak bisa menetapkan batas yang pasti. Sebagai akibatnya banyak orang sekular bisa kelebihan berat badan. Kesehatan memburuk. Penyakit darah tinggi, jantung, kanker, dan lain-lain bisa mengancam. Di belahan dunia lain, banyak orang kelaparan. Tidak cukup tersedia makanan untuk sehari-hari.

Hubungan cinta antar anak manusia, paham sekular juga tidak bisa menentukan batas dengan jelas. Asal mereka suka sama suka, silakan saja. Pandangan semacam itu tampak sulit dibantah. Sampai akhirnya ada lonjakan penyakit kelamin berbahaya. Apalagi HIV AIDS pernah melanda. Semua itu sekedar teguran bagi umat manusia.

Waktu kerja pun tanpa batas. Ketika seseorang terpesona dalam berkarya maka ia bisa bekerja tanpa henti 24 jam, 48 jam, dan seterusnya. Baru sadar ketika kesehatan menegurnya. Sudah terlambat untuk memperbaikinya.

“Berlebih-lebihan membuat kalian jadi lalai. Sampai kalian masuk ke liang kubur.”

Taruhan Peradaban

Paham sekular juga tidak bisa memastikan masa depan peradaban manusia. Jangankan masa depan dalam jangka panjang, manusia juga tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi 1 hari besok.

Taruhan dan judi adalah hal yang biasa dalam pandangan sekular.

Pertumbuhan ekonomi sekular di berbagai tempat, salah satunya, ditopang oleh bisnis judi semisal kasino. Sejauh bisnis tersebut adalah legal maka sah-sah saja dijalankan. Padahal judi bisa memorak-porandakan generasi masa depan. Dalam jangka pendek, bisnis judi bagai katalisator pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang, tidak ada kepastian. Lebih banyak keraguan.

Bagi kebanyakan masyarakat, judi berbahaya, misal togel. Masyarakat hanya berangan-angan menang judi, yang tidak pernah terjadi, secara statistik kecil sekali kemungkinannya. Malas kerja, apalagi berkarya. Mereka frustasi. Kembali tenggelam dalam jurang judi.

Bagi bandar, yang mengambil keuntungan dari judi, adalah prospek bisnis. Bandar sadar betul, judi adalah “zero sum game”. Kemenangan segelintir orang dalam judi menyebabkan kerugian lebih banyak pada pihak lain. Totalnya adalah nol, tidak ada penambahan nilai. Bila kita memperhitungkan biaya operasional judi maka totalnya justru negatif.

Dunia sekular berjalan dalam taruhan besar – yang sudah terbukti lebih banyak kalah.

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS 5 : 91)

Gelap Masa Depan dan Masa Lalu

Kita, manusia, tidak tahu masa lalu dan masa depan. Kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun yang lalu. Pun kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun ke depan. Bahkan pengetahuan kita tentang obyek di depan kita adalah sekedar interpretasi, dari sudut pandang hermeneutik.

Istri cantik yang ada di depan mata kita “hanyalah” interpretasi. Pertama, cantik itu persepsi subyektif. Bagi kita cantik. Bagi orang lain bisa beda. Bagi anak-anak saya, misalnya, istri saya itu bukan cantik tapi super cantik, karena ibu mereka.

Kedua, apa yang saya lihat dari istri saya adalah interpretasi dari kombinasi jutaan cahaya yang menimpa mata saya, lalu dikirim ke sistem syaraf. Dari itu semua, saya mempersepsi ada istri saya di depan saya. Meski, secara obyektif, ada istri saya di depan mata, tetapi pengetahuan saya terdiri dari beragam interpretasi.

Bila kita meluaskan prespektif mengarah pada kejadian sejuta tahun yang lalu maka gelap. Gelap gulita. Kita memang bisa menyusun pengetahuan spekulatif tentang masa lalu itu. Jelas pengetahuan itu akan tersusun interpretasi di atas interpretasi, tanpa batas yang pasti. Padahal sejuta tahun lalu “pasti” ada sesuatu secara obyektif, konsekuensi logika.

Pengetahuan kita tentang masa depan lebih tidak pasti lagi, karena berupa prediksi. Suatu prediksi yang didasarkan atas interpretasi, makin tidak pasti. Sehingga pengetahuan kita tentang kejadian sejuta tahun di masa depan adalah gelap. Pengetahuan yang merupakan campuran interpretasi dan prediksi, pasti tidak pasti.

Orang-orang sekular benar-benar berada dalam kegelapan masa lalu dan masa depan.

Evolusi

Perubahan adalah karakter sejati alam semesta. Juga karakter manusia. Kita perlu terus evolusi. Sekularisasi juga perlu evolusi.

Maka saya mengusulkan program takwa sebagai alternatif membangun peradaban manusia.

Program takwa atau takwaisasi adalah memaknai takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Lebih lengkap konsep takwaisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan dan video-video saya.

Bagaimana menurut Anda?

Gelombang Sekularisasi

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).” (QS 47 : 38)

Tegas sekali: tugas kita adalah berinfak, menolong orang-orang yang kesulitan. Dan, nyatanya, tidak sedikit orang yang kikir. Termasuk yang manakah diri kita?

Amal Spesial Hanya untuk Orang Kaya, Amal Apakah Itu? - Hadila

Menjelang idul fitri kita pasti berbagi kekayaan dengan membayar zakat fitrah. Ditambah lagi dengan berbagi zakat harta dan infak sedekah lainnya. Bahkan, kadang, kita membaca berita ada orang kaya yang berbagi sedekah dengan mengumpulkan ribuan orang miskin datang ke rumah orang kaya itu. Saya sendiri mengusulkan agar orang kaya itu yang datang ke rumah orang miskin untuk membagikan sedekahnya. Atau orang kaya itu bisa membentuk panitia atau membayar orang untuk membagikan sedekahnya. Bukan mengumpulkan calon penerima sedekah.

Mendatangi rumah orang miskin banyak manfaatnya. Kita jadi tahu potret realitas kehidupan orang miskin sebenarnya. Kita bisa lebih mudah memahami kesulitan orang miskin. Dan, di masa pandemi ini, kita mencegah terjadinya kerumunan.

Amal Sekular

Untuk menjadi dermawan tidak ada syarat orang tersebut beragama atau sekular atau atheis. Setiap orang bisa jadi dermawan. Setiap orang bisa berinfak untuk menolong orang miskin. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Biden, presiden USA, negara sekular terbesar di dunia, menetapkan tambahan pajak bagi orang kaya. Orang USA yang berpenghasilan di atas 1 juta dollar kena pajak tambahan, dampak pandemi. Trilyunan dolar yang terkumpul dari pajak ini digunakan untuk membantu orang “miskin” di USA. Barangkali trilyunan dolar ini termasuk “infak” terbesar di dunia.

Sebaik-baiknya amal Biden, dia kan hidup sekular di negara sekular. Maka amalnya tidak akan diterima, beberapa orang bisa berpandangan begitu. Meski pemimpin dari negara sekular, Biden sendiri adalah orang yang beragama. Maka dia yakin, beriman, terhadap kehidupan yang transenden nan suci. Dengan demikian kita tidak bisa menghakimi Biden dengan sudut pandang yang salah. Sebaliknya, kita bisa melihat seberapa baik kebijakan Biden bagi rakyat “miskin” yang tengah kena dampak pandemi. Apalagi, bila dilihat dari kacamata sekular, pembelaan Biden kepada orang “miskin” adalah baik.

Dalam catatan sejarah, kita punya banyak contoh-contoh pemimpin yang luar biasa. Misalnya, Umar bin Abdul Azis adalah raja yang adil. Dia, Umar, malam itu sedang menganalisis laporan keuangan kerajaan. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk dari luar oleh anaknya. Umar mematikan lampu lalu membuka pintu.

“Mengapa ayah mematikan lampunya?” tanya anaknya.
“Kamu akan berbicara dengan ayah tentang urusan apa?” jawab Umar.
“Apa hubungannya dengan lampu?”
“Lampu ini dibiayai oleh uang negara. Jika kamu berbicara urusan keluarga kita maka tidak berhak menggunakan fasilitas negara.”

Umar, tercatat dalam sejarah, sebagai raja atau khalifah terbaik. Umar berhasil membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat. Umar membela hak-hak orang-orang miskin. Umar berhasil menyatukan umat yang sebelumnya banyak silang pendapat. Umar menjabat sebagai raja bukan karena warisan dari ayahnya. Umar dipilih oleh mayoritas wakil rakyat waktu itu. Dan Umar berpesan agar jabatan raja berikutnya jangan diwariskan ke anaknya. Benar saja, raja berikutnya bukanlah anak Umar. Padahal, waktu itu, sistem monarki turun-temurun banyak terjadi.

Di era kontemporer, kita punya contoh M Yunus dengan program Grameen Bank. Yunus berhasil meraih Nobel perdamaian atas prestasinya mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Terbukti membela orang-orang miskin, bahkan yang paling miskin.

Amal kebaikan, apalagi yang berdampak sosial, menjadi medan kompetisi bagi kemanusiaan. Siapa pun berhak beramal demi kemanusiaan yang adil beradab. Orang beragama boleh beramal. Orang ateis juga boleh. Tentu saja, orang sekular juga boleh beramal.

Lonjakan Sekularisasi

Membaca sejarah sekularisasi tentu banyak versi. Comte meyakini bahwa masyarakat sekular yang mendasarkan keyakinan kepada sains adalah bentuk masyarakat paling matang. Sehingga masyarakat akan bergerak menuju masyarakat sekular di seluruh belahan dunia.

Sementara Marx, tokoh sosialis yang dekat dengan ateis, menyatakan bahwa masyarakat akan menuju ke masyarakat kapitalis. Kemudian, kapitalis ini, secara alami, membangkitkan kesadaran proletar untuk menuntut revolusi. Pada akhirnya, masyarakat akan matang sebagai masyarakat komunis.

Tampaknya, gelombang sekularisasi ini tak bisa dibentung lagi. Masyarakat akan bergerak menjadi masyarakat sekular di seluruh dunia. Benarkah demikian?

Taylor mencatat fenomena yang berbeda dalam bukunya “A Secular Age” yang terbit pada tahun 2007 lalu. Meski terjadi penambahan sekularisasi di berbagai wilayah, di saat yang sama, terjadi re-konversi besar-besaran di tempat berbeda. Banyak orang, atau masyarakat, yang kembali menjadi pemeluk agama yang taat. Yang dulu tidak beragama menjadi beragama. Yang dulu tidak rajin ibadah menjadi taat ibadah. Dari pandangan Taylor ini, kita justru bisa optimis bahwa masyarakat kontemporer, bisa jadi, makin religius.

Membaca sejarah masa lalu saja kita bisa banyak versi yang berbeda. Maka, wajar saja, bila memprediksi masa depan akan memberikan hasil lebih beragam. Apalagi kita hendak memprediksi sesuatu yang erat kaitannya dengan perilaku manusia, makin sulit diprediksi. Sejauh ini, kita tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran determinisme sejarah. Ada banyak kemungkinan berkembangnya arah sejarah.

Masyarakat Takwa

Saya mengusulkan revisi makna konsep takwa. Yang pada gilirannya, dengan makna baru takwa ini, kita berjuang membentuk masyarakat takwa.

Takwa bermakna sebagai proses meraih prestasi dan memberi kontribusi di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.

Pengendalian diri, melalui puasa misalnya, adalah salah satu cara untuk menjadi takwa. Buah takwa paling sederhana adalah berbagi untuk sesama. Dimulai dengan takwa pribadi berlanjut menjadi takwa secara sosial bersama-sama.

Bagaimana menurutu Anda?

Prospek Sekularisasi

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” (QS 56 : 63 – 68)

Manusia mudah terkecoh, mudah tertipu, oleh ilusi yang diciptakan sendiri. Ketika kita menanam benih, lalu tumbuh. Kita terbiasa berpikir bahwa diri kita yang menanam yang membuat benih itu tumbuh. Benarkah kita yang membuat tumbuh? Bukan. Benih itu sendiri yang punya kekuatan untuk tumbuh. Tuhan yang telah menciptakan benih itu lengkap dengan hukum alamnya.

Siapa Menanam Kejujuran Ia akan Menuai Kepercayaan - Semua Halaman -  Intisari

Ketika sepasang kekasih menikah, bisakah mereka membuat anak? Tidak. Meski pun banyak orang yang mengatakan bisa membuat anak. Yang mereka lakukan hanya itu-itu saja. Tuhan yang menciptakan sel telur, menciptakan sel sperma, dan mempertemukan mereka. Lalu Tuhan pula yang menciptakan janin sampai menjadi bayi dan dewasa.

Manusia, benar-benar mudah, menipu diri sendiri.

Sepatutnyalah kita lebih banyak memuji keagungan Tuhan.

Sukses Sekularisasi

Negara-negara Barat berhasil meraih kemajuan besar dengan program sekularisasi, memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Sebelum ada program sekularisasi, di Barat, sering terjadi pertikaian atas nama agama. Karena masing-masing pihak mengaku punya pembenaran berdasar agamanya maka pertikaian ini sering memakan korban. Penderitaan besar menimpa masyarakat Barat dalam rentang ratusan tahun.

Benarkah sekularisasi menyebabkan negara-negara menjadi lebih maju?

Beberapa negara Islam mencoba menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, mereka tidak berhasil maju. Kita bisa mencoba mengkaji kasus negara Mesir dan Turki. Masa lalu Mesir dan Turki lebih gemilang dibanding dengan masa sekularisasi.

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa sekularisasi akan berbuah sukses. Khusus di negara dengan penduduk mayoritas muslim, beragama Islam, sekularisasi mengalami banyak kesulitan. Barangkali karena Islam tidak mengenal pemisahan kehidupan dunia dan akhirat, fisikal dan spiritual. Islam memandang kehidupan dunia demikian penting sebagai medan beramal yang bernilai spiritual dan ukhrawi.

Definisi Sekularisasi

Para ahli berbeda pendapat tentang definisi sekularisasi. Charles Taylor mencoba mendefinisikan sekularisasi dengan beberapa pendekatan. Pertama, sekularisasi adalah pemisahan agama dari urusan negara. Semua kepentingan umum, terbebas dari simbol-simbol dan klaim agama apapun. Urusan negara, urusan umum, adalah urusan manusia dengan manusia.

Kedua, sekularisasi adalah pembatasan ritual-ritual agama. Apalagi di tempat umum, dilarang pelaksanaan ritual agama apapun. Tentu saja simbol-simbol agama juga disembunyikan dari ruang publik.

Ketiga, sekularisasi adalah alternatif keyakinan dari beragam keyakinan. Sekularisasi adalah pilihan hidup di antara beragam pilihan hidup lainnya. Orang sekular meyakini kehidupan ini bersifat imanen, hanya ada alam ini saja. Sementara orang yang tidak sekular, orang beragama, meyakini kehidupan imanen dan transenden. Ada alam lain, yang bersifat transenden, bukan hanya alam materi kasat mata ini.

Dengan ragam pemahaman sekularisasi seperti di atas, memang, ada konsekuensi wajar bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas hidupnya. Sehingga masyarakat berpikir cerdas untuk menemukan solusi terbaik memajukan kehidupan sosial. Masyarakat menyelesaikan berbagai macam masalah dengan prosedur demokrasi. Tidak ada orang yang berhak mengklaim paling benar. Semua ide diuji oleh akal sehat dan hukum positif. Konsekuensi sekularisasi ini, secara logis, mendorong kemajuan kemanusiaan.

Sekular vs Agama

Paham sekular dalam bentuk paling kuat barangkali berupa ateis, tidak mengakui adanya Tuhan. Tetapi, secara umum, sekularisasi tidak bertentangan dengan agama. Contoh nyata bisa kita lihat di berbagai tempat. Di mana, di negara-negara sekular, terdapat banyak penduduk yang beragama. Di USA banyak orang beragama. Bahkan di Prancis, yang begitu kuat sekularisasinya, berlimpah orang beragama. Dan di negara komunis, yang sering bersifat ateis, misal di Rusia dan Cina, pemeluk agama makin berkembang terus.

Tentu saja banyak perbedaan antara pemeluk agama dan penganut sekularisme. Bahkan sering terjadi benturan wacana.

Kaum sekular dengan mudah menuduh kaum beragama sebagai kekanak-kanakan. Tidak berani mengahadapi realitas dunia. Bersembunyi di balik nama Tuhan. Sedangkan kaum sekular adalah manusia dewasa matang yang berani menghadapi dunia atas nama dirinya sendiri.

Sebaliknya, kaum beragama bisa menuduh kaum sekular adalah kaum yang tersesat. Mereka, kaum sekular, tidak memahami kebenaran sejati. Mereka terperosok di pojok dunia. Rugi di dunia, juga rugi di akhirat.

Di era digital, yang makin mudah berkomunikasi, tiba saatnya untuk menjalin dialog yang lebih produktif bagi kedua pihak. Bagaimana pun, apapun posisi kita, kita sama-sama hidup di bumi yang sama. Yang perlu kita jaga bersama-sama.

Program Takwa

Solusi terbaik, menurut saya, adalah program takwa. Dalam makna, yang sering saya tuliskan. Takwa adalah proses memberi kontribusi, meraih prestasi, di jalur ilahi dengan cara melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan.

Indonesia bukan negara sekular, pun bukan negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila, negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Program sekularisasi Indonesia, bila hendak dijalankan, akan terlalu mahal ongkos sosialnya. Cak Nur pernah mengkaji pengalaman ini pada tahun 1970an. Sedangkan program negara agama, bila hendak dijalankan, juga akan menuntut ongkos sosial yang tidak kalah mahal. Berbagai komponen masyarakat akan terus berjuang untuk mengembalikan Indonesia menjadi negara Pancasila.

Program takwa menjadi pilihan terbaik dan bersesuaian dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagaimana menurut Anda?

Struktur Takwa

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 64 : 16)

Derajat takwa adalah derajat yang sangat mulia. Orang yang bertakwa adalah orang yang mendapat petunjuk setiap membaca AlQuran. Orang islam sejati bertujuan mencapai husnul khatimah, akhir yang baik, dengan cara melaksanakan takwa dengan sebenar-benarnya takwa. Orang beriman mendapat perintah wajib melaksanakan puasa dengan tujuan akhir agar menjadi orang-orang yang bertakwa.

5 Tingkatan Struktur dan Ruang Lingkup dalam Alam Semesta

Kata takwa, atau taqwa, kaya akan makna. Maka sudah benar kita menyerap langsung istilah takwa tersebut sehingga tetap menyimpan kekayaan akan makna sejatinya itu. Makin kita mengkaji makna takwa maka makin takjublah kita dengan keluasan dan kedalamannya.

Dalam tulisan ini, saya akan membahas lagi makna takwa dengan cara menyandingkan dengan makna tawakkal. Pendekatan ini tetap selaras dengan makna takwa secara umum: taat kepada Allah, takut kepada Allah, menjaga diri, tobat, ikhlas, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, dan lain-lain.

Pasangan Tawakkal

Takwa bermakna manusia menerima amanah dari Allah untuk menjadi wakil, khalifah, di bumi guna mengelola alam semesta sesuai perintah dan menjauhi laranganNya. Dalam makna ini, takwa berkonsekuensi agar manusia mengukir prestasi nyata di alama semesta. Sementara tawakkal bermakna berserah diri, mewakilkan, mempercayakan sepenuhnya urusan segala sesuatu kepada Allah semata. Proses tawakkal berupa pengabdian tulus ikhlas hanya untuk mendapat ridha Allah. Apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi seluruh alam semesta.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar berusaha merumuskan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Dengan mempertimbangkan makna takwa maka kita dapat menjelaskan hubungan segitiga ini.

Tuhan, berhubungan dengan alam, sebagai rabb – pencipta, pengelola, dan pemelihara. Sementara itu, Tuhan berhubungan dengan manusia, dengan menunjuk manusia sebagai wakilNya guna mengelola alam semesta. Manusia menerima penunjukkan ini dengan jalan takwa dalam mengelola alam semesta. Nyatanya, manusia itu lemah dan bodoh. Maka manusia perlu mendapat bimbingan dan pertolongan Allah untuk menjalankan semua tugas di bumi. Manusia mengaku di hadapan Tuhan, dirinya banyalah seorang abdi. Manusia mempercayakan kembali segala urusan hanya milik Allah semata. Manusia berserah diri, tawakkal.

Dalam struktur ini, kita melihat konsep takwa dan tawakkal berbeda tataran. Meski dua hal itu bertemu dalam diri manusia menjadi satu. Sehingga manusia adalah satu kesatuan utuh: dalam diri manusia ada takwa sekaligus ada tawakkal. Setiap kata takwa mengandung makna tawakkal dan setiap kata tawakkal mengandung makna takwa. Meski demikian, manusia juga harus mampu membedakan tataran takwa dan tawakkal itu.

Tataran Takwa

Takwa berada dalam tataran hubungan manusia dengan alam semesta, termasuk dengan manusia lainnya. Sementara, tawakkal berada dalam tataran hubungan manusia, seorang diri, di hadapan Tuhan. Meski demikian, manusia perlu bimbingan guru, dan Nabi, untuk menghadap Tuhan.

Di mana manusia bisa menemui Tuhan? Mudah saja. Manusia bisa menemui Tuhan dengan cara memberi makan kepada orang miskin, memberi ilmu kepada orang yang tidak mengerti, memberi obat kepada orang yang sakit. Ini adalah jalan menemui Tuhan melalui jalur takwa. Manusia berperan sebagai wakil Tuhan mengabulkan dora orang yang lapar, orang yang kurang ilmu, dan orang yang sedang sakit.

Dengan demikian, untuk menjalankan tugas bertakwa, manusia membutuhkan sains dan teknologi – termasuk manajemen dan bisinis dalam arti luas. Kita perlu mengkaji bagaimana cara mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan menjaga kesehatan seluruh masyarakat. Bagaimana jika tugas sebesar itu kita serahkan kembali kepada Allah? Bukankah Allah Maha Kuasa? Tentu bisa saja begitu. Tetapi dengan cara itu kita sudah gagal menjalani proses takwa, sebagai wakil Tuhan, dan mengambil jalan pintas menempuh proses tawakkal.

Di sinilah, sering terjadi rancu berpikirnya manusia. Yang seharusnya bertakwa malah bertawakkal. Mari tetap semangat menjalani proses takwa. Tuhan menjamin memberi jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Bahkan menjanjikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Untuk mengatasi kemiskinan kita perlu mengembangkan sains ekonomi termasuk teknologi bisnis yang inovatif. Kita menyaksikan perkembangan teknologi digital sudah membuka banyak lapangan kerja. Kita perlu mengarahkan kekuatan digital ini untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi ketimpangan ekonomi.

Tentu saja kita perlu menciptakan struktur ekonomi yang adil bagi seluruh rakyat. Perlindungan anti monopoli, sistem pajak progresif dinamis, dan perlindungan konsumen. Tampak jelas untuk menjalankan itu semua kita perlu pemerintahan yang kuat, efektif, dan adil. Makin jelas pentingnya sistem demokrasi agar masyarakat dapat berpartisipasi dengan baik.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka kita perlu mengembangkan ilmu pendidikan dalam arti luas. Teknologi digital bisa kita optimalkan untuk menyebarkan konten edukasi secara cepat dan luas. Untuk menjaga kesehatan masyarakat kita perlu mengembangkan ilmu kedokteran dalam arti luas. Benar-benar banyak tugas manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan alam semesta. Tentu saja. Kita tidak sendiri. Kita hidup bermasyarakat. Maka kita perlu membangun sistem sosial sedemikian hingga masing-masing dari kita mampu melaksanakan takwa, peran sebagai wakil Tuhan, dengan sebaik-baiknya.

Setelah kita melakukan proses takwa dengan sungguh-sungguh maka pantaslah kita bertawakkal. Atau ketika kita menjalani proses takwa dengan sungguh-sungguh, bersamaan itu, di dalam hati terdalam, kita bertawakkal kepada Allah.

Karya Nyata

Takwa adalah karya nyata. Bukan sekedar klaim bahwa saya sudah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Hasil takwa bisa kita verifikasi dengan beragam cara. Misal ketika kita bertakwa dalam bentuk memperbaiki ekonomi umat maka kita bisa mengukur bagaimana kenaikan pendapatan orang-orang miskin. Kita bisa memanfaatkan beragam metode statistik untuk mengukurnya. Bila berhasil maka bisa kita lanjutkan. Bila, ternyata, gagal maka kita perlu melakukan koreksi untuk perbaikan ke depan. Gagal atau berhasil tetap merupakan suatu proses menjalankan program takwa.

Diskusi rasional antara banyak pihak bisa dilakukan. Baik pihak-pihak tersebut beragama sama atau beda agama. Bahkan mungkin saja diskusi, dalam memperbaiki ekonomi, dengan orang sekular. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tantangan Sekular

Masyarakat sekular berkembang akhir-akhir ini. Mereka meng-klaim bahwa kemajuan peradaban manusia adalah hasil dari sekularisasi. Beberapa orang sekular masing beragama. Sementara bentuk sekular ekstrem sampai ke bentuk atheis yang tidak mengakui Tuhan.

Dalam analisis kita, sekular bisa kita pandang sebagai program menjalankan takwa tanpa bertanggung jawab kepada Tuhan. Sehingga makna takwa menjadi tidak tepat lagi bagi aktvitas orang-orang sekular dalam mengelola alam. Barangkali istilah yang lebih cocok adalah eksplorasi alam, atau yang lebih keras, eksploitasi alam.

Dalam eskplorasi alam, orang sekular tidak mengklaim sedang menjalankan tugas ketuhanan. Maka paling banter mereka bisa mengklaim sedang menjalankan tugas kemanusiaan – demi kemakmuran bersama. Sehingga tanggung jawab mereka adalah tanggung jawab kemanusiaan.

Tantangan sekularisasi ini akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?