Presiden Jokowi Merombak Kurikulum (3) dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Kita perlu melakukan beragam percobaan untuk menghasilkan perbaikan. Tapi jadi kelinci percobaan siapa yang mau? Apa lagi siswa jadi kelinci percobaan?

Tampaknya kita akan menghadapi perombakan kurikulum besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan. Presiden Jokowi telah memberi perintah perombakan kepada mendikbud Nadiem. Maka kita berharap perombakan ini benar-benar menjadikan siswa-siswa dan guru-guru di Indonesia menjadi lebih baik.

Siswa jangan sampai jadi kelinci percobaan.

Istilah percobaan sendiri berkonotasi positif untuk kemajuan. Bahkan kita juga punya sekolah percobaan di berbagai daerah dengan hasil yang baik dan konotasi positif. Ada juga beberapa sekolah percontohan.

Tetapi itu tidak cukup untuk perombakan kurikulum besar-besaran. Perlu tapi tidak mencukupi.

Di kelas kuliah, saya sering meminta mahasiswa untuk melakukan percobaan dengan user ekstrem – ekstrem mahir dan ekstrem tidak mahir.

Kali ini saya juga megusulkan agar mendikbud melakukan percobaan kurikulum kepada pengguna ekstrem. Baik guru ekstrem mau pun siswa ekstrem.

Kita membutuhkan siswa ekstrem.

Sebagai contoh, mendikbud bisa saja memilih materi kurikulum matematika untuk diujicobakan kepada siswa ekstrem. Siswa ekstrem mahir misalnya dipilih dari 30 siswa pemenang olimpiade matematika OSN. Sedangkan siswa ekstrem lawan dipilih 30 siswa dari daerah terpencil di Jatim. Kita meminta bantuan guru untuk memilih siswa yang paling sulit menguasai matematika selama ini.

Dua kelompok siswa ekstrem itu akan diajarkan materi soal cerita, “Geo ke perpustakaan 8 hari sekali dan Meti ke perpustakaan 6 hari sekali. Jika pada 20 Desember mereka bersama-sama ke perpustakaan maka tanggal berapa mereka akan bersama-sama ke perpustakaan lagi?”

Tebakan saya akan terjadi hal berikut.

Siswa ekstrem mahir tanpa diajar pun bisa menguasai materi berkunjung perpustakaan di atas. Bahkan kita bisa memberi soal tambahan yang jauh lebih rumit mereka langsung bisa menguasai dengan baik. Siswa ekstrem mahir bahkan dapat menjawab soal seperti di atas kurang dari 7 detik. Proses pembelajaran pun berlangsung dengan lancar.

Apa yang akan terjadi kepada kelompok siswa ekstrem lawan? Mereka akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud soal. Mereka berpikir rumus apa yang perlu digunakan. Tapi tidak menemukan rumus itu. Bahkan jika mereka diberi tahu rumusnya maka mereka tidak bisa menggunakan rumus itu.

Guru berusaha membantu dengan mengajar mereka bertahap. Tapi mereka sulit memahami maksud gurunya. Guru mengulangi materinya agar siswa paham. Hasilnya siswa makin tidak paham.

Guru dengan penuh sabar dan ikhlas mendampingi siswa ekstrem lawan ini. Setelah beberapa hari ada 5 siswa yang mulai paham maksud soalnya. Dua hari kemudian 5 siswa ini lupa lagi yang sudah mereka pelajari.

Dua kelompok siswa ekstrem di atas hanya khayalan saya. Bukan sekedar khayalan kosong. Saya keliling Indonesia sering berhadapan dengan siswa ekstrem saling berlawanan. Juga guru ekstrem.

Perombakan kurikulum perlu mempertimbangkan siswa ekstrem, guru ekstrem, dan seluruh pengguna ekstrem.

Semoga Indonesia makin maju.

Bagaimana menurut Anda?

3 Aplikasi Wajib Youtuber Pemula Tapi Penghasilan Ribuan Dolar

Wow senang sekali dapat dolar dari youtube langsung masuk rekening kamu.

Bagaimana caranya?

Upload video ke youtube, monetize, dan biarkan dolar mengalir ke rekening.

Berikut ini adalah 3 aplikasi gratis yang wajib untuk membuat video mudah hanya pakai hp saja.

Jika ingin aplikasi tambahan jadi 5 aplikasi silakan saksikan video gratis berikut ini.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Jokowi Merombak Kurikulum (2) dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Siapa yang mau jadi kelinci percobaan?

Tidak mau. Tentu saja tidak ada siswa yang mau jadi kelinci percobaan. Saya berpikir tidak akan ada siswa yang akan jadi kelinci percobaan. Tapi saya terhenyak dengar cerita seorang siswa yang mengalaminya.

Tahun tahun 2007 saya masuk SD saat itu baru diberlakukan kurikulum 2006. Guru hiruk pikuk dengan kurikulum baru. Tahun 2013 saya masuk SMP dan ramai lagi kurikulum baru 2013. Pada tahun 2019 saya lulus SMA dan mau masuk universitas bertepatan saat itu baru petama kali perubahan dari SBMPTN menjadi UTBK dengan nilai UTBK diumumkan sebelum SBMPTN.

“Seluruh tingkat sekolah aku jadi kelinci percobaan”.
“Itu bukan kelinci percobaan. Semua perubahan adalah untuk kebaikan,” saya menghibur.
“Tapi mengapa di semua tingkat sekolahku? Dan aku tidak bisa memutar waktu kembali.”

Bagaimana pun presiden Jokowi telah memerintahkan ke mendikbud untuk merombak kurikulum besar-besaran. Merombak kurikulum saja dampaknya pasti sudah besar. Apalagi kali ini merombak besar-besaran!

Saya mengusulkan beberapa ide agar perombakan kurikulum ini menjadi lebih baik.

1) Utamakan siswa. Subyek pendidikan adalah siswa. Pendidikan ingin mencetak siswa yang ideal: berilmu, takwa, dan patriotis. Maka jangan jadikan siswa sebagai kelinci percobaan. Mendikbud (dan presiden) perlu mendalami dengan sedalam-dalamnya tentang siswa: bagaimana siswa milenial, apa yang siswa pedulikan, apa yang siswa butuhkan, dan lain-lain.

2) Pengaman siswa. Ketika kurikulum berubah maka perubahan ini bisa membawa kebaikan tapi bisa juga berdampak buruk – meski tidak diinginkan buruk. Maka perlu program pengaman bagi siswa jika terjadi keburukan dari perubahan ini misal: program penyelamat berupa program khusus atau kembali ke kurikulum sebelumnya. Saya pikir kita paham bahwa asuransi diperlukan untuk beberapa hal penting – demikian juga siswa adalah paling penting untuk masa depan bangsa.

3) Guru adalah kurikulum. Apa pun bentuk kurikulumnya maka guru adalah yang lansung bersentuhan kepada siswa untuk menjalankan kurikulum. Maka tidak berlebihan bila Profesor saya menyatakan,” Guru adalah kurikulum”. Bila pemerintah menetapkan kurikulum A sedangkan guru punya kurikulum B maka siswa akan menerima kurikulum B. Perlu perhatian khusus kepada seluruh guru yang memang pahlawan tanpa tanda jasa.

Apa yang saya sampaikan di atas adalah hal-hal yang telah biasa dilakukan oleh presiden di peride I dan oleh mendikbud ketika membangun gojek. Jadi besar harapan saya Indonesia makin maju. Ide-ide lanjutan akan saya tuliskan di kesempatan berikutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Jokowi Merombak Kurikulum dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Apa yang akan terjadi jika Presiden Jokowi merubah kurikulum secara besar-besaran? Dan mendikbud termuda, Nadiem, akan memimpin perombakan ini?

Telah diberitakan di berbagai media.

“Selain kurikulum, Presiden juga ingin agar ada perbaikan kualitas guru melalui sebuah aplikasi atau sistem yang cepat sehingga peningkatan pemerataan kualitas pendidikan benar-benar bisa dirasakan para pelajar di tanah air.”

Saya sepakat kita perlu kurikulum yang tepat dan kualitas guru yang hebat.

Tapi di sisi siswa atau orang tua apakah sepakat kurikulum dirombak? Apakah siswa dan guru tidak bingung dengan kurikulum yang berubah?

Siswa dijadikan kelinci percobaan dalam perubahan kurikulum. Itu celoteh yang sering kita dengar.

Kita bisa maklum dari sudut siswa. Kurikulum 2013 belum terasa matang sudah mau diganti. Bahkan dulu kurikulum 2006 pun hanya berlaku sebentar lalu diganti. Siswa yang tes masuk perguruan tinggi tahun 2017 pakai sistem minus, tahun 2018 pakai toeri respon butir, tahun 2019 pakai UTBK dengan nilai diumumkan awal.

Jadi, apakah saat ini adalah tepat merombak kurikulum? Seperti apa kurikulum yang tepat? Bagaimana membantu siswa dan orang tua agar memperoleh manfaat terbaik dengan kurikulum baru?

Bagaimana menurut Anda?

Tamparan Keras Jokowi ke Dunia Pendidikan Indonesia

Apa enaknya ditampar?

Tidak ada!

Yang ada adalah sakit. Begitulah barangkali yang dirasakan oleh sebagian dunia pendidikan Indonesia. Presiden Jokowi telah memilih Nadiem Makarim menjadi menteri pendidikan. Nadiem tidak punya latar belakang pendidikan Indonesia – SD SMP SMA Singapura dan MBA Harvard. Pun Nadiem tidak tampak serius berkecimpung di dunia pendidikan. Ini adalah tamparan keras!

A. Tamparan yang menyakitkan. Memperhatikan latar belakang Nadiem banyak orang pesimis sebagai mendikbud. Nadiem berprestasi dengan cepat melalui bisnis Gojek nya. Ngebut jadi unicorn lalu menjadi decacorn – valuasi melebihi 10 milyard dolar atau sekitar 140 trilyun rupiah. Gofood telah membuka lapangan kerja dan wirausaha baru ribuan tempat tersebar di seluruh Indonesia.

Nadiem memiliki track record “hanya” di dunia bisnis digital. Tapi itu pun masih banyak kritik tajam. Gojek diketahui umum terus membakar uang. Meski besar, Gojek tidak untung – barangkali malah merugi dengan bisnis transportasinya. Menciptakan persaingan tidak sehat kepada ojek pangkalan karena gojek banting harga. Gojek pun pernah dilarang melalui peraturan menteri karena melanggar aturan transportasi umum(tapi dianulir atas petunjuk presiden).

Masih banyak lagi catatan “hitam”. Maka tamparan keras dunia pendidikan macam ini dikhawatirkan akan makin parah merusak dunia pendidikan. Urusan penting dunia pendidikan Indonesia diserahkan bukan kepada ahlinya. Hanya ada kehancuran di depan mata.

B. Tamparan yang membangun. Tamparan bisa membangunkan kita dari lelap tidur panjang. Kita tahu prestasi pendidikan Indonesia telah puluhan tahun tenggelam dalam urutan terakhir masuk ke kelompok negara terburuk dalam kualitas pendidikan.

Prakkk… tamparan keras, ayo bangun! Jangan hanya berselimut birokrasi. Apalagi dibuai korupsi bagi-bagi kursi. Waktunya untuk berdiri.

Ya, Nadiem orang luar dunia pendidikan Indonesia telah menampar kita. Membangunkan kita!

Nadiem menteri termuda, usia 35 tahun, siap mendobrak pendidikan Indonesia. Berbekal sukses bisnis di dunia digital telah mengubah ribuan sopir ojek, yang semula gagap teknologi, menjadi sopir gojek yang mahir memanfaat teknologi tinggi untuk keperluan kerja. Bersiaplah! Mendikbud Nadiem akan “mengubah” guru yang semula gagap kualitas akan menjadi guru paling berkualitas di dunia.

Gofood telah mencetak ribuan wirausaha baru yang memenuhi kebutuhan makan masyarakat dengan cara praktis efisien. Menteri Nadiem akan mengubah birokrasi kementerian yang digerogoti korupsi menjadi birokrasi efisien memberikan layanan terbaik untuk pendidikan Indonesia. Majulah Indonesia!

Apakah tamparan keras ini hanya menyakitkan atau berhasil membangunkan dunia pendidikan kita?

Hanya waktu yang akan menjawab. Presiden baru dilantik. Kabinet baru dibentuk. Tidak cukup data bagi kita untuk memberi penilaian saat ini. Belum terjadi apa-apa di dunia pendidikan kita – kecuali tamparan keras itu semata.

Bagaimana menurut Anda?

Jabatan Menteri itu Kecil, Apalagi Kursi Presiden

Benar begitu?

Jarang-jarang guru membahas politik. Sekali membahas politik, guru malah memberi pernyataan yang mengejutkan saya.

“Apa maksudnya itu guru?” tanya saya.
“Jabatan menteri itu memang urusan kecil,” jawab guru.
“Yang urusan besar apa guru?”

Yang urusan besar adalah mengabdi kepada tuhan dengan jalan berbuat baik kepada seluruh alam semesta – ikhlas hanya untuk Dia.

Maka bersihkan niatmu hanya untuk mempersembahkan yang terbaik kepadaNya. Pantang menyerah memberikan yang terbaik kepada seluruh manusia. Kuasai ilmu untuk membangun masyarakat. Berikan kontribusi unikmu untuk negeri.

Rela berkorban untuk kebaikan bersama.

Jabatan menteri tidak perlu diperebutkan. Itu hal kecil. Jika kamu tidak jadi menteri maka ada orang lain yang bisa jadi menteri. Bila kamu tidak jadi presiden maka ada orang lain yang siap antri untuk jadi presiden.

Tetapi jati dirimu adalah unik. Maka jadilah dirimu sendiri menjadi diri terbaik. Tidak ada orang lain yang bisa menjadi dirimu. Hanya kamu yang bisa menjadi dirimu. Jadilah dirimu yang terbaik di hadapan tuhan dan di hadapan nuranimu sendiri.

“Tetapi bagaimana bila seseorang terpilih jadi pejabat, guru?” tanya saya.

“Jabatan itu hal kecil tapi tanggung jawabnya sangat besar. Kamu perlu menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu.”

Mengapa Karir Kedua Lebih Penting dari Karir Pertama Anda?

Menjadi yang kedua lebih penting dari yang pertama! Kok bisa?

Ini berlaku untuk karir. Anda lebih baik memiliki dua karir dari hanya satu karir dalam hidup Anda. Jelas karena dengan karir kedua maka Anda jadi memiliki dua karir tidak hanya satu karir – khususnya karir profesional di sini.

“Jangankan dua karir, satu pekerjaan saja saya tidak punya!” celetuk seorang pengangguran.

Karir berbeda dengan perkerjaan. Di sini letak masalahnya. Banyak orang mengira bahwa karir adalah memperoleh pekerjaan. Tapi lapangan kerja terbatas. Maka sebagian angkatan kerja menganggur. Akibatnya mereka tidak punya karir sama sekali.

Karir menunjukkan suatau perkembangan atau kemajuan kehidupan profesional Anda. Orang yang punya pekerjaan mungkin saja tidak punya karir karena pekerjaannya mandeg. Tapi orang yang punya karir maka ia pasti punya pekerjaan yang makin maju berkembang. Bahkan jika tidak ada pekerjaan, orang yang punya karir, justru bisa menciptakan pekerjaan baru.

Kabar baiknya, di jaman digital ini, kita lebih mudah untuk mendapatkan dua karir: karir dunia nyata dan karir dunia digital.

  1. Karir dunia nyata. Saya misalnya berkarir untuk menjadi guru matematika plus (lain-lain). Dari awal saya menyusun rencana untuk menjadi guru terbaik tingkat RT atau kampung. Karir selanjutnya adalah saya menciptakan beragam metode belajar matematika yang kreatif dengan balutan nama paman APIQ. Karir bertumbuh meluas lebih dari guru kelas kampung saja.
  2. Karir dunia digital. Karir kedua ini mudah tapi membutuhkan konsistensi. Saya tetap berkarir menjadi guru tetapi di dunia digital. Awalnya saya mengajar melalui tulisan-tulisan yang saya buat di blog gratisan. Internet makin berkembang maka saya menjadi guru matematika digital sebagai youtuber. Karir digital ini tampaknya terus makin berkembang, semoga.

    Bila saya mengajar di dunia nyata biasanya hanya bisa mengajar siswa puluhan orang saja dalam satu hari. Sedangkan melalui dunia digital saya bisa mengajar ratusan ribu siswa setiap harinya. Wow…dampak kemajuan teknologi.

Jadi, apa karir kedua Anda?

Apa Manfaat Matematika dalam Kehidupan Sehari-Hari?

Tidak ada!

Saya sering mendapat pertanyaan seperti itu, “Apa guna matematika dalam kehidupan nyata?”

“Tidak ada,” saya jawab singkat,”kecuali Anda ingin jadi orang sukses luar biasa!”

Dari sudut yang lain, sebagai guru matematika saya juga dapat pertanyaan,” Bagaimana rumus matematika untuk memenangkan undian togel?”

Saya menjawab dengan mudah, “Wani piro?”

Ironis memang. Beberapa orang yang terlibat dengan dunia pendidikan meragukan apa manfaat matematika. Sementara beberapa orang yang jauh dari dunia pendidikan, pemain judi, justru yakin ada solusi matematika untuk memenangkan judi.

Saya beruntung karena bisa berhubungan dengan banyak orang melalui internet. Misal salah seorang mengirimi saya pertanyaan. Saya adalah seorang tukang. Mendapat pekerjaan membuat kuda-kuda bangunan dengan ukuran alas 12 meter dan tinggi 5 meter maka berapa meter yang harus saya siapkan untuk bagian sisi miringnya?

Tentu saja dengan matematika mudah sekali menghitung sisi miringnya adalah 13 meter.

Bila tukang tersebut membuat 1 kuda-kuda maka tidak masalah dia sedikit salah hitung. Tetapi bila dia dapat pesanan 100 kuda-kuda? Salah hitung bisa menyebabkan dia buntung. Tepat berhitung membuat dia jadi untung.

Masih banyak kiriman pertanyaan dari warga ke saya untuk menyelesaikan masalah sehari-hari dengan matematika.

Mari bangun jiwa raga dengan matematika.

Bagaimana menurut Anda?

Cara Kreatif Mendikbud Nadiem Meningkatkan Kualitas Guru

Kualitas guru paling penting untuk meningkatkan pendidikan Indonesia. Bisakah Mendikbud Nadiem meningkatkan kualitas guru? Berkaca dari masa-masa sebelumnya sudah dilakukan beragam program peningkatkan kualitas guru. Tapi kita tidak melihat ada peningkatan kualitas guru yang signifikan.

Cara sederhana adalah meningkatkan kualitas sejak rekrutmen awal guru. Hanya mereka yang berkualitas tinggi yang bisa lolos sebagai calon guru. Ideini bagus tetapi terdapat tantangan yang cukup besar. Apakah mereka yang bertalenta terbaik berminat memilih jadi guru? Mereka punya alternatif karir yang banyak, yang bahkan secara finasial barangkali lebih mengagumkan. Beruntunglah kita bila memiliki guru-guru berkualitas yang idealis, yang tetap memilih jadi guru meski mereka punya pilihan karir lebih cemerlang di tempat lain.

Berikut ini beberapa ide kreatif agar kita dapat meningkatkan kualistas guru.

  1. Menaikkan gaji merupakan cara mudah untuk meningkatkan kualitas guru. Tapi juga tidak terlalu mudah karena perlu tepat sasaran agar kenaikan kesejahteraan efektif.

    a) Menawarkan gaji tinggi kepada calon guru baru yang memiliki kualitas tinggi. Hal ini bisa menarik talenta-talenta terbaik sesuai ide mendikbud. Tetapi kualitas guru tidak bisa hanya dilihat dari catatan masa lalu. Maka perlu program berkelanjutan agar talenta terbaik menjadi pelopor kualitas guru.
    b) Memberikan insentif bagi guru yang berprestasi. Saat ini kita sudah punya program sertifikasi. Kita perlu lebih fokus bahwa insentif “gaji” ini mengarah pada peningkatan kualitas guru bukan pada bukti administrasi berupa punya sertifikat dan memenuhi beban administrasi.
    c) Menambah “gaji” bagi prestasi “un-structured”. Berbeda dengan sertifikasi yang cenderung terstruktur maka kita perlu mengapresiasi guru-guru yang berkualitas tinggi secara tidak terstruktur. Guru-guru dapat mengembangkan kreativitas mereka tanpa batas. Teknologi digital memudahkan kita untuk mengukur yang tidak terstruktur ini. Dan kabar baiknya mendikbud, yang bos gojek, sangat mahir dalam hal data “structured” dan “un-structured”.

  2. Beri pelatihan atau training yang tepat. Pelatihan sudah sejak dulu kala kita lakukan tetapi bagaimana hasilnya? Maka kita perlu merumuskan pelatihan yang efektif.

    a) Berikan pelatihan praktis ilmu-ilmu yang bisa diterapkan oleh para guru dalam proses belajar mengajar. Saya berpengalaman memberikan pelatihan guru-guru di penjuru negeri ini. Masalah utama pelatihan adalah konten pelatihan bersifat normatif tidak berdampak meningkatkan kualitas guru. Begitu saya berikan konten praktis maka guru-guru menjadi semangat untuk menerapkan di kelas.
    b) Pelatihan guru yang terus-menerus memotivasi memberikan pengabdian terbaik untuk generasi Indonesia. Perlu dijaga bahwa menjadi guru bukan untuk mengumpulkan kekayaan tetapi untuk mengabdi di saat yang sama mendapat penghidupan selayaknya.
    c) Pelatihan secara online digital yang menarik dan dapat diakses oleh guru kapan saja di mana saja.

  3. Memberikan teknologi digital pendidikan yang tepat sasaran. Saya sendiri membuat apk free myapiq. Beberapa guru memanfaatkan myapiq untuk belajar di kelas. Maka kualitas guru meningkat sesuai standar myapiq. Potensi teknologi digital untuk pendidikan sangat besar. Dan lagi kita beruntung mendikbud Nadiem sangat mahir dalam hal teknologi digital.

Bagaimana menurut Anda?

Mendikbud Nadiem Perlu (Tidak) Mengubah Kurikulum

Ganti menteri maka ganti kurikulum. Orang-orang sering berkelakar begitu. Apakah mendikbud Nadiem juga perlu mengubah kurikulum yang berlaku 2019 ini?

Bila kita meninjau kurikulum yang berlaku saat ini adalah dibuat pada tahun 2013. Baru 6 tahun yang lalu. Dari sisi waktu kurikulum baru berumur 6 tahun maka tidak perlu diubah, tidak perlu membuat kurikulum baru. Bahkan kurikulum 2013 juga sudah direvisi beberapa kali mengikuti perubahan jaman.

Namun bila kita mengamati kurikulum saat ini dari sisi konten maka kita menemukan banyak hal yang perlu pembaharuan. Tahun 2013 teknologi digital belum berkembang seperti saat ini. Barangkali kita perlu kurikulum yang mengajarkan “cerdas digital”. Siswa perlu mendapat pendampingan bagaimana menyikapi internet yang selalu ada di mana saja.

Melek data atau literasi data tentu harus menjadi perhatian setiap pendidik. Bagaimana para siswa bisa menjaga diri dari berita hoax? Bagaimana siswa tidak jadi korban hoax? Bagaimana agar siswa tidak menciptakan hoax? Dan lain-lain. Dari sisi positif siswa juga perlu mahir bagaimana menggunakan data dan media digital untuk belajar? Bagaimana siswa memanfaatkan internet untuk meraih prestasi? Bagaimana siswa memanfaatkan media digital untuk berbagi?

Kesimpulannya: perlukah mendikbud Nadiem mengubah kurikulum?

  1. Sebaiknya TIDAK mengubah kurikulum yang berlaku untuk menghindari kompleksitas yang tidak perlu. Sehingga mendikbud bisa lebih fokus memperbaiki pendidikan Indonesia.
  2. Karena kurikulum 2013 tidak mengakomodasi perkembangan digital yang begitu pesat di tahun 2019 maka kiranya cukup dilakukan revisi substansial. Rekomendasi saya adalah menyusun beberapa paket pilihan dari kurikulum 2013 sehingga sekolah dapat memilih paket yang paling sesuai dengan situasi sekolah dan sekitarnya. Paket paling penting adalah paket kurikulum dalam bentuk paling sederhana agar siswa masih punya waktu untuk berkreasi.
  3. Bila perlu menambahkan pelajaran baru misal “pendidikan literasi data” maka bisa langsung disisipkan tanpa harus mengubah kurikulum. Kita pernah mengalami penyisipan pelajaran semacam ini tahun 80an berupa PSPB: Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.

Semoga pendidikan Indonesia makin maju. Bagaimana menurut Anda?