Pengetahuan dan Intuisi Cinta

Cinta hadir begitu saja. Kita tidak sadar mengapa cinta hadir. Tiba-tiba saja ada cinta. Barangkali cinta ke pasangan hidup, sedikit banyak, bisa kita cari alasannya. Karena dia cantik, baik hati, pengertian, lalu muncul cinta di antara mereka.

Tapi cinta saya kepada Rara, muncul begitu saja. Ketika Rara tumbuh jadi gadis remaja, aku cinta dia. Ketika Rara masih kanak-kanak, lucu dan imut, saya sudah cinta. Bahkan ketika Rara, masih berada dalam kandungan istriku, aku sudah cinta kepada Rara. Misteri cinta akan menjadi lebih jelas setelah kita bahas di bagian ini, atau malah makin misterius.

Kita membahas, di bagian ini, dengan kerangka pengetahuan intuitif, termasuk pengetahuan cinta.

Sumber Pengetahuan

Sampai di sini, sudah tepat kiranya bila kita membahas sumber pengetahuan manusia. Pengetahuan bisa kita bagi menjadi dua: pengetahuan tentang realitas dan pengetahuan tentang kebenaran. Mengikuti cara Russell dan beberapa modifikasi, saya tampilkan seperti tabel di bawah.

RealitasPengetahuan LangsungPengetahuan InderaPengetahuan Partikular
Pengetahuan universalia
Pengetahuan DeskripsiPengetahuan PrinsipPengetahuan yang Benar
Pengetahuan yang Sesat
KebenaranPengetahuan LangsungPengetahuan IntuitifPenilaian Indera
Penilaian Transendental
Pengetahuan DerivatifPrinsip DeduksiPenilaian Aksiomatik
Induksi – FalsifikasiPenilaian Probabilistik

Untuk mudahnya kita bisa memperhatikan 8 kelompok pengetahuan di bagian paling kanan tabel. Meskipun di antaranya bisa saja saling berbaur tapi kita akan membahasnya masing-masing terpisah.

Pertama, pengetahuan partikular dari indera manusia dianggap selalu benar, sejauh data indera yang diperhatikan. Misalnya, saya sedang melihat sesuatu mirip bola, adalah pasti benar. Meski pun ternyata yang dilihat itu adalah telur tetapi “melihat sesuatu mirip bola” adalah bernilai benar. Yang ada kemungkinan salah adalah “penilaian” dari data-indera. Sementara pengalaman melihat sesuatu selalu dianggap benar.

Kedua, pengetahuan universal dari indera manusia dianggap benar. Misal,”saya melihat persegi” selalu dianggap benar. Pengalaman saya melihat universalia persegi bernilai benar. Meskipun bisa saja ternyata bentuknya tidak persegi, agak melengkung. Penilaian saya di atas bisa salah tetapi pengalaman saya selalu benar.

Dua jenis pengetahuan di atas bersifat segera, atau langsung dari pengalaman kita. Sehingga dijamin benar.

Ketiga, pengetahuan yang benar. Misal, “Paman APIQ adalah guru matematika,” adalah pengetahuan yang benar. Pernyataan di atas sesuai dengan realitas bahwa Paman APIQ memang guru matematika. Kita bisa verifikasi melalui canel youtube paman APIQ yang mengajarkan matematika. Atau kita bisa saja berkunjung ke Bandung untuk melihat langsung Paman APIQ mengajar matematika.

Keempat, pengetahuan yang salah. Misal, “Paman APIQ adalah bukan guru matematika,” adalah salah. Tentu saja dengan mudah kita tahu itu pernyataan salah. Dengan melihat canel youtube paman APIQ kita tahu bahwa Paman APIQ mengajar matematika. Paman APIQ adalah guru matematika.

Jenis pengetahuan ketiga dan keempat di atas adalah pengetahuan derivatif melalui deskripsi maka mungkin saja bernilai salah, dan mungkin bernilai benar. Seluruhnya, pengetahuan pertama sampai keempat, adalah pengetahuan tentang realitas. Sedangkan jenis pengetahuan kelima sampai kedelapan adalah pengetahuan tentang kebenaran.

Kelima, penilaian indera yang bersifat langsung. Penilaian ini bisa saja salah, dan bisa benar. Maka di sini saya menggunakan istilah “penilaian”. Misal, “Saya melihat mobil warna biru.” Bisa bernilai salah bila ternyata warna mobil tersebut adalah hijau. Dan tentu bernilai benar bila warna mobil tersebut adalah, ternyata biru.

Keenam, penilaian transendental yang bersifat langsung. Misal rasa cinta, rindu, takut, cemas, gelisah, dan lain-lain. Penilaian intuitif langsung ini yang akan kita bahas lebih detil di bab ini, baik penilaian transendental mau pun penilaian indera.

Ketujuh, pengetahuan aksiomatik, seharusnya selalu benar. Misal, “setiap persegi memiliki 4 sisi.” Ada kemungkinan salah ketika kita mengambil kesimpulan dengan proses yang salah. Namun dengan ketelitian, kesalahan dapat ditemukan untuk kemudian dikoreksi.

Kedelapan, pengetahuan probabilistik, yang kemungkinan besar bernilai benar. Sebagian besar pengetahuan kita tentang kehidupan praktis adalah masuk kelompok pengetahuan probabilistik. Pengetahuan ketujuh dan kedelapan ini akan menjadi bahasan utama pada bab selanjutnya.

Penilaian Pengetahuan Intuitif

Proses penilaian intuitif kita tampaknya terjadi seketika begitu saja. “Saya melihat pohon.” “Saya melihat pohon lebat.” “Saya melihat pohon lebat dan tinggi.”

Ketika saya mengarahkan pandangan ke pohon di siang hari maka saya dengan segera melihat pohon itu. “Saya melihat pohon.” Proses melihat pohon ini sudah dijelaskan oleh sains – fisika, biologi, dan lain-lain – secara tuntas.

Pohon menerima sinar dari berbagai arah. Sebagian sinar diserap dan sebagian yang lain dipantulkan dengan cara tertentu. Sinar yang dipantulkan pohon ini mengenai mata saya, lalu sinar ini diolah oleh mata menjadi sinyal-sinyal yang bersesuain dikirim ke otak saya melalui sistem syaraf yang komplek. Otak mengolah sinyal-sinyal dan akhirnya pikiran saya memahami bahwa yang di depan saya adalah pohon. Dalam kata-kata, bisa saya katakan, “Saya melihat pohon.”

Mudah kita cermati bahwa penilaian saya tentang “pohon” bisa saja salah. Jika kita ingin lebih yakin barangkali kita bisa mendekati pohon, melihatnya, merabanya, dan menggoyang-goyankan untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar pohon sesuai penilaian kita. Bisa saja setelah didekati ternyata itu bukan pohon melainkan cuma hiasan yang mirip pohon.

Pertanyaan yang bersifat filosofis adalah bagaimana gambaran pohon itu bisa muncul secara intuitif di pikiran saya?

Sains menjawab, itu adalah proses refleks sistem tubuh manusia yang dilengkapi dengan sistem indera, sistem syaraf, dan sistem otak. Jawaban ini sudah jelas bagi sains. Bahkan sains bergerak lebih maju dengan menciptakan teknologi tiruan semisal kamera. Dengan prinsip-prinsip yang sama dengan mata, kamera, bisa melihat seperti mata manusia. Kamera bisa melihat dalam bentuk gambar mau pun video bergerak.

Meski sains dan teknologi sudah punya jawaban yang memuaskan, filsafat masih bertanya lebih jauh. Bagaimana proses refleks pada pikiran manusia itu bisa memunculkan gambaran pohon?

Menurut Russell, proses munculnya gambar pohon di otak atau pikiran manusia itu berlangsung secara intuitif dengan seketika. Proses intuitif terbentuk berdasar pengalaman manusia. Tanpa pengalaman maka manusia tidak akan bisa melakukan penilaian apa pun. Sejak kecil manusia belajar melihat alam sekitar. Melakukan penilaian secara intuitif atas berbagai hal. Dan pada masa tertentu kita memiliki kemampuan intuitif ini secara matang. Tidak ada yang misterius dalam kasus ini. Pengalaman empiris sudah menjelaskan semuanya.

Di sisi lain, masih banyak filsuf yang penasaran. Mereka ingin tahu lebih detil bagaimana proses intuitif munculnya gambar pohon dalam pikiran manusia. Salah satunya, pada akhir abad 20, filsuf David Chalmers memunculkan “Hard problem of consciousness.” Salah satu dari problem ini bisa kita nyatakan, “Bagaimana beberapa organisme, misal manusia, menjadi subyek dari suatu pengalaman?” Dalam versi ringannya, adalah seperti yang sedang kita bicarakan, “Bagaimana gambar pohon muncul dalam pikiran manusia?”

Hard problem sudah muncul lebih dari 20 tahunan, sampai kini, belum ada solusi yang memuaskan. Bahkan problem yang ringanpun juga belum ada solusi memuaskan yang disepakati para filsuf dan saintis. John Searle, filsuf abad 21, ikut aktif untuk memecahkan hard problem sejak akhir abad 20. Sampai sekarang juga belum menemukan solusinya.

Imajinasi Transendental Kant

Barangkali kita bisa merujuk Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang menjelaskan penilaian intuitif manusia melalui skema. Pikiran manusia memiliki pengetahuan a priori murni, kategori, yang terbebas dari kebutuhan pengalaman empiris. Pengetahuan a priori ini sudah tertanam dalam pikiran manusia sejak awal. Sedangkan data-indera diperoleh manusia sesuai pengalaman empiris manusia.

Data-indera, yang berupa sinar-sinar dari pohon, tidak punya arti apa-apa bila menyentuh dinding. Data-indera ini berpeluang dipahami bila menyentuh mata manusia, lalu diolah dikirim ke otak. Terjadi proses dialektika antara data-indera dengan pengetahuan a priori manusia. Sehingga terbentuk sintesa berupa pemahaman oleh pikiran tentang “pohon” melalui kekuatan imajinasi intuitif.

Proses terbentuk sintesa ini dikenal sebagai skema. Lebih lengkap kita bahas di bagian lampiran, di bawah. Pengetahuan a priori murni manusia terdiri dari 4 kelompok: kuantitas, kualitas, relasi, dan modus. Masing-masing 4 kelompok tersebut mempunyai 3 jenis. Sehingga total 4 x 3 = 12 kategori, menurut Immanuel Kant.

Mari kita ambil contoh lagi proses munculnya gambar pohon di pikiran manusia. Ketika data-indera diterima maka secara intuitif pengetahuan a priori bekerja. Pertama, menentukan kuantitas data indera berupa ukuran, panjang, lebar, tinggi, dan lain-lain. Kedua, menentukan kualitas misal daun hijau, batang coklat, kayu padat, dan lain-lain. Ketiga, menentukan relasi, apakah data-indra tersebut substansi-aksiden, sebab-akibat, dan kain-lain. Keempat, menentukan apakah pasti, mustahil, atau mungkin. Ditambah lagi sensasi murni berupa waktu dan ruang maka terbentuklah imajinasi gambar “pohon” sesuai fenomena di alam eksternal.

Menuru saya, uraian Kant ini cukup jelas. Masih ada satu pertanyaan, bagaimana imajinasi gambar “pohon” itu terbentuk? Kant menjawab bahwa gambar pohon itu terbentuk dengan kekuatan imajinasi transendental pikiran manusia.

Proses yang cukup panjang bila diuraikan dengan kata-kata di atas, sejatinya, berlangsung seketika dan intuitif. Kant memastikan kita bisa mengetahui kebenaran penilaian intuitif ini, yang merupakan sintesa data empiris (pengetahuan a posteriori) dan pengetahuan a priori. Maksudnya, dengan cara-cara tertentu, manusia mampu menentukan bahwa apakah yang dilihat itu benar atau salah, berupa pohon. Dengan cara ini sains yang mengandalkan penelitian empiris mendapatkan justifikasi filosofis.

Pengetahuan yang tidak dilengkapi data empiris masih bisa sah dengan mengandalkan sintesa analitik. Misal pengetahuan matematika bahwa 2 + 1 = 3 adalah sintesa analitik yang dapat diakui nilai kebenarannya. Yaitu melibatkan proses pengetahuan a prioi “2” dan “1” serta definisi penjumlahan maka menghasilkan sintesa bernilai “3”.

Tetapi pada kasus pengetahuan umum yang tidak dilengkapi dengan data empiris maka tidak akan bisa dibuat sintesa yang memuaskan. Situasi seperti ini menghasilkan paradoks atau yang disebut dengan antinomy. Misalnya,

tesis: terdapat hukum alam yang pasti sehingga segala yang ada di alam sudah ditentukan, determinisme.

anti tesis: setiap manusia memiliki kehendak bebas, free will.

Antara tesis dan anti tesis di atas saling bertentangan. Dan tidak ada sintesa untuk mempertemukan keduanya. Secara empiris kita tidak bisa menjamin kebenaran tesis mau pun anti tesis. Secara apriori kita juga tidak bisa membuktikannya. Maka Kant membiarkan eksistensi keduanya, sebagai antinomy. Beberapa usulan solusi untuk ini saya sertakan di lampiran, di bawah. Di antaranya dialektika Hegel, keutamaan kehendak Schopenhauer, keutamaan emosi Kierkeegaard, fenomenologi Husserl, keutamaan being Heidegger, dan keutamaan wujud Sadra. Serta dissensus dari Lyotard. Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan psikoanalisa Freud, strukturalisme Saussure, alam al-mitsal Al Ghazali, dan jalan cinta Rumi dan Ibnu Arabi.

Kita bisa meringkas, untuk penilaian intuitif indera, sebagai berikut. Proses ini terjadi intuitif dari pikiran manusia. Penilaian makin matang sesuai dengan pengalaman empiris kita, mengacu pendapat Russell. Sedangkan Kant menjelaskan bahwa penilaian intuitif ini melibatkan sintesa data empiris dan pengetahuan a priori manusia. Dalam proses sintesa ini melibatkan kekuatan imajinasi transendental.

Cantik dan Cinta Transendental

Mari kembali memikirkan cantik dan cinta. Saya bisa membayangkan cantiknya Rara. Anda membayangkan cantiknya siapa saja. Sudah kita bahas bahwa cantik adalah universal. Cantik ada di dunia unversalia yang sempurna. Meski demikian, di sini, kita perlu membahas bagaimana penilaian cantik dan cinta.

Kant memberikan ide yang menarik berkaitan dengan penilaian estetika – berhubungan dengan rasa. Saya akan meminjam ide-ide dari Kant di bagian ini. Proses penilaian ini melibatkan data empiris (pengetahuan a posteriori), pengetahuan a priori, dan imajinasi transendental.

Pertama, penilaian yang diharapkan ada persetujuan. Contoh, saya menilai bahwa rambut Rara adalah lebat. Penilaian saya ini, bisa diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Artinya, orang-orang yang mencermati rambut Rara akan setuju bahwa lebat. Bila ada orang yang tidak setuju maka bisa didiskusikan dan diharapkan akan sepakat pada akhirnya.

Hari ini, sinar matahari terasa panas. Penilaian panas ini juga diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Bahkan, sains dan teknologi, menciptakan alat ukur untuk mengukur panas misal termometer. Dari pada saya menilai “panas” maka bisa saya ukur temperatur hari ini misalnya 32 derajat celcius. Penilaian termometer ini lebih terjamin obyektivitasnya. Dengan resiko mengurangi peran saya sebagai subyek yang merasa panas itu.

Rara adalah gadis cantik, adalah penilaian yang diharapkan akan disetujui orang. Saya belum tahu apakah sains dan teknologi sudah membuat alat untuk mengukur kecantikan. Misal ada derajat kecantikan seperti termometer. Barangkali seru juga?

Kedua, penilaian yang bisa tidak ada persetujuan. Misal, sayur masakan ibu adalah yang paling nikmat. Ketika pernyataan ini saya sampaikan ke kakak-kakak dan adik-adik saya, mereka setuju. Sementara bila saya sampaikan kepada orang luar kota yang tidak saya kenal, mereka bisa saja tidak setuju. Dan saya sendiri tidak bisa berharap bahwa orang luar kota itu akan selalu setuju dengan saya.

Iwan Fals adalah penyanyi dengan suara paling merdu. Saya kira penggemar Bang Iwan akan setuju dengan saya. Tapi akan banyak orang yang tidak setuju. Mereka, barangkali, punya pilihan berbeda untuk penyanyi yang memiliki suara paling merdu. Kita tidak perlu berharap kata sepakat untuk jenis penilaian intuitif semacam ini.

Ilmu statistik mempunyai cara tertentu untuk mengukur penilaian ini misal dengan sensus atau survey. Dari seribu orang yang disurvey memilih Iwan Fals sebanyak 45%. Sedangkan 4 penyanyi lain rata-rata dapat dukungan sekitar 10% – 20%. Maka kita bisa menobatkan Iwan Fals sebagai penyanyi dengan suara paling merdu. Sah. Dengan resiko suara mayoritas bisa mendominasi suara minoritas.

Ketiga, penilaian yang bersifat sublim atau suci. Saya terharu melihat perjuangan seorang guru ngaji di kampung. Guru ngaji mengajar dengan tulus setiap sore sampai malam. Dilanjutkan pagi hari setelah subuh. Siswa-siswa tidak membayar apa pun kepada guru ngaji. Bahkan guru ngaji sering memberi buku dan alat tulis kepada siswa-siswanya. Guru ngaji itu juga bukan orang kaya. Dia hidup sederhana dengan bertani di sawahnya yang hanya sepetak.

Saya terharu adalah jenis penilaian intuitif bersifat sublim. Rasa cinta saya kepada Rara adalah sublim, suci. Anda barangkali terpesona oleh indahnya alam pegunungan, adalah perasaan sublim intuitif. Ada juga yang mengagumi deburan ombak menghantam tepian pantai tiada henti.

Banyak sekali momen intuitif sublim, suci, dalam hidup ini. Anda mendengar rintihan bocah kecil dipinggir jalan, hati Anda tersentuh adalah sublim. Lantunan lagu sedih yang menyayat hati Anda adalah sublim. Lukisan tangan seniman yang dipamerkan, meggoreskan rasa mendalam ke hati Anda, adalah sublim. Bacaan kitab suci yang menembus ke dalam hati sanubari, mengajak insyaf diri, adalah sublim. Anda jatuh cinta adalah sublim.

Keempat, penilaian yang bersifat spesial. Pada situasi-situasi tertentu dimungkinkan munculnya penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Saya pernah membaca buku yang bercerita tentang pengalaman hidup Bertrand Russell. Waktu masih remaja, Russell mengalami kebosanan dalam hidup. Lalu ia memanfaatkan waktu bosan itu untuk mempelajari matematika. Tiba-tiba muncul dalam pikiran Russell bahwa dia punya tugas untuk menyebarkan ilmu dan matematika ke seluruh alam semesta. Rasa bosan dalam hidup berubah menjadi rasa bahagia sepanjang hayat. Munculnya pesan khusus bagi Russell adalah proses penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Fuller, diceritakan, menjalani hidup yang datar-datar saja. Tidak ada semangat dalam hidup ini. Kemudian Fuller pergi ke pantai menyusun strategi cerdik berenang ke laut. Meski dengan resiko dia bisa saja tidak akan selamat. Ketika akan menjalankan rencananya, muncul suara di dalam diri Fuller yang mengatakan, “Kamu diciptakan di dunia ini bukan untuk dirimu.” Fuller memahami pesan itu sebagai adanya tugas khusus dia di dunia ini. Jalan hidup Fuller berubah total sejak itu menjadi lebih semangat mengabdikan diri untuk sesama.

Seorang pemuda sedang jalan menuju rumahnya pulang dari kampus. Dalam perjalanan santai itu, dia memikirkan sebuah ungkapan, “Tidak pantas bila setiap orang terjun ke dunia praktis. Harus ada sebagian kecil yang mendalami ilmu, teoritis dan praktis, untuk kemudian mengajarkan kepada sesama.” Pemuda itu tersentuh bahwa pesan itu ditujukan khusus untuknya. Kemudian ia lebih semangat mendalami ilmu dan menyebarkan ke seluruh penjuru. Baik melalui media pengajaran langsung tatap muka, menerbitkan buku, mau pun media digital. Momen tersentuhnya jiwa pemuda dengan pesan khusus merupakan penilaian intuitif transendental.

Saat ini, banyak dikembangkan metode-metode khusus untuk mendapatkan momen intuitif transendental. Misalnya dengan berdoa di malam hari ketika sepi. Ada juga dengan menyendiri di goa. Ada lagi dengan cara meditasi.

Mari kembali kita cermati empat macam penilaian intuitif transendental di atas. Meski kita membedakan ada empat macam, sejatinya, pembedaan ini hanya bersifat memudahkan meski pun nyata juga. Karena beberapa penilaian bisa saja masuk ke seluruh empat kelompok di atas. Misalnya penilaian bahwa alam pegunungan Tangkuban Parahu adalah indah. Penilaian ini bisa diharapkan untuk disepakati, mungkin saja tidak ada kata sepakat, bisa juga keindahan pegunungan bersifat sublim. Bagi orang-orang tertentu, indahnya pegunungan Tangkuban Parahu bisa saja memberikan momen transendental yang spesial.

Kebenaran Intuitif

Tiba saatnya kita menyelidiki nilai kebenaran dari pengetahuan intuitif. Di satu sisi kita berharap menemukan nilai kebenaran pengetahuan, di sisi lain, penilaian ini berdampak secara moral. Bahkan dalam arti luas berdampak terhadap nasib peradaban manusia.

Pertama, penilaian intuitif selalu benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ungkapan “saya melihat pohon” selalu bernilai benar. Dalam arti “saya melihat sesuatu”. Bahwa sesuatu itu bisa benar-benar pohon bisa juga bukan pohon masih perlu kita cek dengan langkah selanjutnya.

“Rara adalah cantik” selalu bernilai benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ketika saya melihat Rara dan menilainya sebagai cantik maka itu selalu benar. Dalam ungkapan sehari-hari, persepsi saya selalu dianggap benar. Persepsi saya tentang cantik dan pohon sama-sama bernilai benar. Apakah oranglain akan sepakat bahwa Rara memang cantik? Maka hal itu perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

“Saya cinta Rara” juga selalu benar sejauh data-terdekat yang diperhatikan. Artinya saya merasakan cinta untuk Rara adalah benar adanya. Fakta bahwa saya adalah ayahnya Rara makin menguatkan kebenaran cinta saya kepada Rara. Persepsi saya tentang cinta saya selalu benar. Sementara orang lain ada cinta yang penuh dusta maka perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

Bisa kita ringkas, penilaian intuitif kita selalu bersifat benar sejauh data-terdekat yang kita perhatikan. Bahkan ketikan kita mengalami mimpi atau halusinasi maka persepsi kita tetap bernilai benar. Tetapi persepsi intuitif ini bisa bernilai salah ketika dibandingkan dengan realitas yang lebih jauh, kita bahas di bagian kedua berikut.

Kedua, penilaian intuitif bisa bernilai benar atau salah ketika dibandingkan dengan realitas luar. “Saya melihat pohon” bernilai benar bila, setelah dicek dengan berbagai macam cara, ternyata benar-benar pohon. Tetapi bernilai salah bila ternyata yang saya lihat itu bukan pohon, misalnya gambar pohon. Cara cek kebenaran intuisi indera ini relatif mudah misal dengan mengamati lebih dekat pohon itu, memegangnya, menggoyang-goyangkannya dan lain-lain.

“Hari ini panas” bisa bernilai benar atau salah. Karena persepsi orang-orang terhadap panas bisa saja berbeda-beda maka perlu dicari titik temu. Sains dan teknologi menciptakan termometer untuk memudahkan kita menyepakati. Misal pernyataan diubah menjadi “Hari ini temperatur 32 derajat celcius.” Dengan melihat termometer maka kita bisa memastikan bahwa penyataan itu benar (atau salah).

Bisa kita lihat di kasus ini, sains membantu untuk memudahkan kesepakatan 32 derajat celcius. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa 32 derajat celcius itu bisa dipersepsi panas bagi orang tertentu dan dipersepsi tidak panas oleh orang lain. Maka di sini perlu sikap untuk saling respek kepada perbedaan yang mungkin.

“Rara adalah cantik” bisa bernilai benar atau salah. Karena pengertian “cantik” masing-masing orang bisa berbeda maka kesimpulan akhir bisa beda. Sekali lagi kita perlu respek terhadap perbedaan ini.

Sedangkan penilaian intuitif tentang cinta selalu benar. “Saya cinta Rara” adalah selalu benar. Karena, cinta saya, tidak perlu dibandingkan dengan realitas luar. Justru, cinta saya adalah realitas diri saya. Sehingga, selama saya jujur, cinta saya kepada Rara adalah selalu benar. Tetapi orang bisa berbohong tentang cinta. Karena tidak ada realitas obyektif untuk menentukan cinta maka dusta dengan cinta mudah dilakukan. Misal ungkapan “Saya cinta Sasa” bisa salah jika saya berbohong. Sejatinya saya tidak cinta tapi hanya di bibir saja bilang cinta.

Mirip dengan intuisi cinta, intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu bernilai benar.

Penutup

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa intuisi cinta selalu bernilai benar. Demikian juga intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu benar. Sedangkan intuisi indera selalu benar sejauh data-indera yang diperrhatikan. Penilaian intuisi indera bisa salah (atau benar) bila dibanding dengan realitas luar. Penilaian intuisi estetika, yang melibatkan rasa, bisa saja disepakati dan di kasus lain tidak ada kesepakatan. Perlu sikap saling respek dalam perbedaan.

Lanjut ke Kebenaran dan Kesesatan
Kembali ke Philosophy of Love

Lampiran

Bagian lampiran ini akan membahas lebih detil tentang pengetahuan intuitif. Anda yang berminat dapat mendalami lampiran ini. Sementara yang berminat melompati dan langsung ke bab berikutnya tidak masalah.

Jokowi: Semua Memburuk

Tidak semperti biasa. Presiden Jokowi menyatakan bahwa semua memburuk. Biasanya, presiden memandang situasi selalu dari sisi positif. Kali ini, presiden menyatakan kondisi memburuk, semua. Tentunya dalam kaitan pandemi corona covid-19 yang tidak mereda.

Apa artinya?

  1. Angka Reproduksi R

Saya rutin sepanjang pandemi di Indonesia menghitung angka reproduksi R dari covid di Indonesia, dan beberapa negara, provinsi, serta kabupaten kota. Hasil perhitungan ini menunjukkan R “selalu” di atas 1 yang bermakna pandemi terus menyebar di Indonesia. Orang boleh mengatakan kondisi Indonesia memang memburuk, sejak Maret sampai Desember 2020.

2. Kasus Aktif

Kasus aktif minggu ini memburuk, kata Presiden. Menurut hitungan saya, memang memburuk sepanjang pandemi. Presiden membandingkan kasus aktif dengan periode minggu lalu dan rata-rata dunia. Saya tidak yakin perbandingan semacam itu adalah fair. Perbandingan dengan model angka reproduksi R akan menghasilkan analisa lebih terpercaya. Demikian juga untuk angka kematian Indonesia yang memburuk.

Kita coba cermati jebakan rata-rata penghasilan 5 keluarga di kampung dengan data: 2 juta + 2 juta + 2 juta + 2 juta + 102 juta.

Rata-rata = (2 + 2 + 2 + 2 + 102)/5 = 110/5 = 20 juta per keluarga

Maka Pak RW bergembira karena rata-rata penghasilan warga kampung meningkat bahkan selama kondisi pandemi. Tahun ini rata-rata 20 juta per bulan tiap keluarga. Sedangkan tahun 2019 lalu penghasilan rata-rata hanya 4 juta per bulan tiap keluarga.

Tentu saja kesimpulan Pak RW tidak tepat. Rata-rata naik karena ada warga baru pindahan dari ibu kota yang penghasilannya 102 juta itu.

3) Jokowi Optimis

Seperti saya sebut di awal, Presiden Jokowi cenderung bersikap optimis dalam berbagai kesempatan. Maka ketika Presiden menyebut buruk tampaknya benar-benar ada sesuatu di balik pernyataan itu. Tentu saja spekulasi bisa liar ke arah mana saja.

Kita masih bisa optimis bahwa dalam waktu dekat vaksin akan menjadi solusi efektif mengatasi pandemi. Bila ini terjadi maka seluruh warga dunia patut bersyukur. Tetapi bila vaksin ternyata tidak efektif, pandemi tidak mereda, kasus terus melonjak, maka apa yang bisa dilakukan kemudian?

Kita bisa memperbaiki, tidak harus menunggu nanti. Saya mengembangkan model mengatasi pandemi dengan fokus kepada manajemen perilaku dan percepatan penyembuhan pasien. Dengan tambahan vaksin maka lebih manjur lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Tentang Universal

Cinta itu universal, tidak membedakan kasta. Cinta itu universal, tidak membedakan usia. Cinta itu universal, tidak memandang apa-apa. Cinta itu buta. Buta terhadap materi dunia. Cinta itu menuntun manusia menguak cakrawala.

Saya cinta Rara. Sudah berulang kali saya menyatakan cinta itu. Cinta saya kepada Rara adalah cinta sejati, cinta seorang ayah kepada anaknya. Demi cinta, rela berkorban untuk kebahagiaan anaknya. Tapi bagaimana saya tahu cinta itu? Bagaimana kita bisa tahu cinta universal? Bagaimana kita mengetahui beragam universalia?

Russell mengelompokkan tiga jenis pengetahuan universalia. Pertama, pengetahuan melalui pengenalan. Kedua pengetahuan melalui deskripsi. Dan ketiga pengetahuan tidak melalui pengenalan mau pun deskripsi.

Pengetahuan Pengenalan Universalia

Dalam sehari-hari kita mengenali universalia secara langsung. Misal kita melihat piring bentuk lingkaran, topi bentuk lingkaran, koin bentuk lingkaran, dan benda-benda lain berbentuk lingkaran. Kita langsung mengenali mereka sebagai berbentuk lingkaran. Itu adalah contoh sederhana pengetahuan universalia “lingkaran” melalui pengenalan.

Tetapi ketika kita diminta untuk menjelaskan apa itu lingkaran kadang-kadang tidak mudah. Perlu keterampilan khusus dalam bahasa, geometri, atau bahkan matematika untuk dapat mendeskripsikan universalia “lingkaran”. Padahal kita mengenali bentuk lingkaran secara langsung begitu melihat benda partikular berbentuk lingkaran.

Contoh lain bisa kita pertimbangkan. Kita melihat lampu hijau, pisang hijau, daun hijau, baju hijau, dan benda-benda lain yang berwarna hijau. Lagi, kita langsung mengenali universalia warna “hijau”. Jika kita diminta mendeskripsikan warna hijau, bagaimana caranya? Tidak mudah juga.

Barangkali satu contoh lagi universalia lebih menarik. Kita sering melihat sepeda roda 2, ayam berkaki 2, tangan ada 2, telinga ada 2, dan berbagai macam hal yang menunjukkan kuantitas 2. Dengan mudah kita mengenali kuantitas “2” yang merupakan suatu universalia.

Kita bisa melanjutkan ke contoh pengetahuan melalui pengenalan kepada yang lebih kompleks, misal, “2 + 1 = 3”. Sebagai orang dewasa, kita dengan mudah mengenali bahwa 2 + 1 = 3. Tetapi bayangkan masa kanak-kanak kita, apakah kita bisa mengenali langsung 2 + 1 = 3? Begitu juga anak-anak yang saat ini berusia di bawah 5 tahun barangkali tidak bisa mengenali langsung penjumlahan angka-angka tersebut.

Dari sini, kita menyadari ada proses pengenalan yang sederhana, langsung, dan ada pula yang proses pengenalannya perlu pemahaman. Tentu saja kita bisa mengambil contoh univesalia yang lebih kompleks misal 6 x 7 = 42. Meski, sejatinya, kita bisa mengenali universalia 6 x 7 = 42 secara langsung, namun beberapa orang akan memerlukan proses tambahan yang lebih lama. Teori matematika yang lebih tinggi, misal rumus deret, juga merupakan universalia di mana beberapa orang mampu mengenalinya sedangkan orang yang lain tidak mampu memahaminya.

Pengetahuan Universalia Melalui Deskripsi

Bayangkan ada orang luar negeri yang sudah mahir berbahasa Indonesia, sebut saja namanya Manca. Dia lupa istilah bentuk dalam bahasa Indonesia. Manca memberikan deskripsi, “Apa ya, namanya? Bidang dimensi dua. Terdiri dari 4 garis yang saling berpotongan membentuk 4 sudut yang sama besar.”

Kita ingin membantu Manca. Tapi kita harus memikirkan bentuk apa yang tepat untuk deskripsi dari Manca itu. Beberapa orang akan berhasil mengetahui deskripsi yang dimaksud Manca adalah persegi. Ya, tepat, universalia persegi. Di atas adalah contoh pengetahuan universalia melalui deskripsi.

Pada kesempatan lain, Manca lupa tentang angka, bilangan bulat, “Berapa sih angka setelah 8?” Tentu saja kita mudah menjawab angka yang dimaksud Manca adalah 9. Yang menarik juga bahwa universal “9” merupakan relasi dari beragam universalia dengan cara yang berbeda-beda. Misal 8 + 1, 10 – 1, 3 x 3, 18/2, dan lain-lain semuanya adalah universalia 9.

Dalam contoh di atas kita berhasil mengetahui universalia melalui deksripsi bahasa (dan angka). Dalam banyak hal, bahasa tidak mampu mendeskripsikan universalia. Misalnya bagaimana kita mendeskripsikan “hijau”?

Tentu saja, para ilmuwan dapat mendeskripsikan warna hijau adalah gelombang elektromagnetik pada spektrum panjang gelombang 495 – 570 nm. Dan ilmuwan lain yang tersebar di seluruh dunia memahami yang dimaksud gelombang 495 – 570 nm adalah warna hijau.

Kita punya cara yang lebih mudah dari para ilmuwan dunia itu. Warna hijau adalah warna lampu lalu lintas yang bukan merah dan bukan kuning. Dan semua orang, bukan hanya ilmuwan saja, paham bahwa bukan merah, bukan kuning adalah hijau.

Bisa kita lihat bahwa penjelasan warna hijau di atas akan sulit dipahami oleh orang yang buta sejak lahir. Meski ilmuwan memberi penjelasan terukur bahwa hijau adalah panjang gelombang antara 495 – 570 nm namun orang buta tidak merasakan sensasi seperti orang normal melihat warna hijau. Apa lagi penjelasan warna hijau sebagai warna lampu lalu lintas makin membingungkan orang buta yang tidak pernah melihat lampu lalu lintas sepanjang hidupnya.

Deskripsi bahasa, angka, kode, simbol, atau lainnya tampaknya baru bermanfaat bila dua pihak yang berkomunikasi saling mengenal maknanya melalui pengetahuan pengenalan.

Proses Pengetahuan Universalia

Klaim universal adalah benar, selalu berlaku secara umum. Beda dengan partikular. Beda dengan klaim induksi yang didasarkan pada penelitian empiris, bersifat terbatas.

Pertimbangkan pengetahuan universalia, “Keliling suatu persegi besarnya adalah 4 kali panjang sisinya.”

Selalu benar sejak sebelum masa Pythagoras, sampai masa sekarang, bahkan sampai masa yang akan datang. Bagaimana kita bisa mengetahui sebanyak itu? Tidak mungkin kita melakukan penelitian satu demi satu, mengukur setiap sisi persegi, lalu menghitung keliling persegi tersebut. Jumlah persegi yang, di dunia ini, banyaknya tak terhingga tidak bisa kita amati dengan cara apa pun. Maka kita perlu penjelasannya bagaimana kita bisa memperoleh pengetahuan universalia dengan meyakinkan seperti itu.

Russell, pertama-tama, menegaskan bahwa kita mendapat pengetahuan unversalia melalui pengalaman empiris. Awalnya kita menyelidiki beberapa persegi. Mencoba mencari hubungan antara panjang sisi dan keliling persegi. Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa keliling sama dengan 4 kali panjang sisi.

Pengamatan lebih mendalam, keliling sama dengan 4 panjang sisi, adalah berlaku umum. Kita bisa mengelilingi persegi, misal, dengan bergerak ke kanan, atas, kiri, dan bawah. Tepat 4 kali maka kembali ke titik awal. Cara ini berlaku untuk semua persegi. Maka kita menyimpulkan bahwa kesimpulan ini berlaku secara umum, universal. Dan memang selalu benar.

Saya ingin menegaskan lagi bahwa Russell memberi status yang kuat terhadap pengalaman, pengamatan empiris. Tanpa pengalaman tidak akan terbentuk pengetahuan universalia.

Kedua, kita melakukan idealisasi. Bahwa semua persegi berlaku, kelilingnya sama dengan 4 kali panjang sisi. Bila ada suatu bangun yang kelilingnya tidak sama dengan 4 kali panjang sisi maka dipastikan bangun tersebut bukanlah persegi. Maka kita bisa melihat di sini, pengetahuan universalia, merupakan sistem aksiomatik. Sehingga wajar berlaku umum di mana pun, kapan pun.

Proses idealisasi ini eksklusif milik pengetahuan universal. Sementara, pengetahuan empiris melalui induksi, tidak bisa melakukan idealisasi dengan cara yang sama. Misal pernyataan, “Setiap manusia mati pada waktunya,” tetap tidak universal. Meski pun sepanjang sejarah menunjukkan semua manusia pada akhirnya mati tetapi di jaman ini masih ada manusia yang tidak mati. Pikiran kita masih terbuka terhadap kemungkinan ditemukannya suatu obat atau teknologi yang menjadikan manusia tidak mati. Walau peluangnya kecil tapi mungkin saja.

Pengetahuan empiris, misalnya sains, menemukan cara untuk “mengidealisasikan” diri. Caranya adalah dengan mengubah proposisi sains menjadi proposisi matematika. Contoh paling sukses adalah hukum Newton tentang gerak. Misalnya gerak lurus beraturan didefinisikan sebagai gerak lurus yang kecepatannnya konstan. Jika ada gerak yang kecepatannya tidak konstan maka itu bukan gerak lurus beraturan.

Dengan cara idealisasi di atas maka proposisi sain menjadi berlaku universal, karena sejatinya adalah proposisi matematika.

Teori Newton ini berdampak radikal. Mengoreksi pandangan Aristoteles dan pandangan masyarakat awam. Bila ada bola bergerak dengan kecepatan 10 km/jam di jalan yang licin tanpa gangguan maka bola tersebut akan terus bergerak dengan kecepatan tetap selamanya, tidak pernah berhenti.

Aristoteles, dan pandangan masyarakat umum, menduga bola tersebut akan melambat. Dan pada akhirnya bola akan berhenti. Karena, pada bola, tidak ada lagi yang mendorong. Tidak ada lagi sebab yang menyebabkan bola terdorong. Lagi pula, berbagai pengamatan menunjukkan bahwa bola berhenti pada akhirnya. Tidak pernah kita melihat bola terus-menerus bergerak.

Tampaknya, Aristoteles dan masyarakat umum, harus menerima kekalahan. Teori Newton yang benar. Berbagai macam percobaan membuktikan. Bola tidak akan pernah berhenti bila tidak ada gangguan. Misal bola pertama akan berhenti dalam 1 menit. Bola kedua, jalan dibuat lebih licin, berhenti setelah 2 menit. Bola ketiga, jalan dibuat sangat licin, maka bola baru berhenti setelah 10 menit. Dan seterusnya, ketika jalan dibuat licin sempurna, maka bola tidak akan pernah berhenti.

Tetapi bagaimana dengan kenyataan sehari-hari bahwa bola pada akhirnya memang berhenti? Bola berhenti disebabkan adanya gangguan dari luar, berupa jalan tidak licin dan gesekan udara. Jika tidak ada gangguan maka teori Newton tentang gerak lurus beraturan yang benar dan selalu benar secara universal. Namun karena kehidupan sehari-hari ada gangguan, semisal gesekan udara, maka berlaku teori Newton tentang gerak lurus berubah beraturan. Teori Newton ini juga berupa proposisi matematika sehingga berlaku universal. Singkatnya, sains, dengan menggunakan proposisi matematika, maka selalu benar bersifat universal.

Sains Universal

Mudah kita pahami, saat ini, bahwa sains (dan teknologi) benarnya bersifat universal. Dan tentu kita boleh meragukannya. Resiko, meragukan sains, adalah dianggap sebagai tidak ilmiah.

Selama sains berhasil membatasi diri dalam proposisi matematika maka terjamin nilai kebenarannya, semisal teori Newton. Tetapi, ketika sains melangkah lebih luas dari proposisi matematika maka tidak ada jaminan berlaku universal. Paradoksnya, bila sains hanya sah secara matematis maka fenomena empiris tidak bisa dijelaskan oleh sains. Sains tidak punya hak lagi untuk klaim universal.

Karl Popper, filsuf sains abad 20, memberikan ide cerdik untuk falsifikasi kebenaran sains empiris. Kebenaran proposisi sains tidak bisa dibuktikan benar. Hanya bisa dibuktikan salah. Lalu disusun proposisi sains yang lebih bagus. Begitulah perkembangan sains. Kesalahan demi kesalahan membersihkan sains dari dugaan yang salah maka sains makin kuat.

Yang paling terkenal adalah proposisi, “Semua angsa berwarna putih.”

Pengamatan dari ratusan sampai ribuan angsa, semua berwarna putih. Dilanjutkaan pengamatan bertahun-tahun berlalu, semua angsa berwarna putih. Maka wajar bagi kita menyimpulkan bahwa semua angsa berwarna putih. Mudah kita cermati, proposisi ini tidak bersifat universal. Artinya sewaktu-waktu bisa saja kita menemukan angsa tidak berwarna putih.

Maka proposisi di atas tidak bisa kita buktikan kebenarannya. Berjuta-juta angsa yang kita periksa, misalnya, semua berwarna putih maka tetap tidak menjamin kebenarannya. Cara paling tepat adalah menganggap proposisi ini hanya berlaku untuk sementara. Sampai suatu saat ada bukti sebaliknya. Dan benar saja, ditemukan ada satu angsa berwarna hitam. Maka terbukti proposisi di atas salah. Berhasil difalsifikasi.

Pada bagian berikutnya kita akan mendiskusikan ide falsifikasi ini dibandingkan dengan ide induksi untuk mengembangkan sains.

Kritik lebih keras, terhadap sains, berasal dari Lyotard, sang tokoh posmodern. Nilai kebenaran sains hanya berbasis konsensus belaka. Lyotard tidak percaya kepada metanarasi yang “dipaksakan” oleh sains – modern. Lyotard merujuk dasar kritiknya ini kepada Immanuel Kant. Berbeda dengan Popper yang kritiknya justru menguatkan sains, kritik posmodern seakan-akan meruntuhkan sains dari landasan paling dasarnya. Kita juga akan membahas kritik ini pada bagian khusus berikutnya.

Cinta Cantik Universal

Pembahasan kita tampaknya mengarah kepada legitimasi sains. Yang selama ini, masyarakat modern menganggap sains selalu benar, nyatanya masih bisa kita pertanyakan keabsahannya. Sementara cantik dan cinta, yang sering dianggap sekedar subyektif dan tidak ilmiah, justru menguat status ontologisnya.

Cantik itu universal. Maka cantik itu abadi, seperti sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Eksistensi cantik tidak di dunia materi dan tidak di dunia alam mental manusia tapi cantik ada di dunia universalia. Sementara kita perlu mempertimbangkan bahwa cantik hanyalah sebuah kata untuk menunjukkan cantik sejati yang kuantitasnya tak terbatas. Barangkali kita bisa mempertimbangkan beberapa istilah cantik, ayu, manis, anggun, menawan, dan sebagainya. Masing-masing mewakili realitas cantik dalam komposisi yang berbeda. Ada komposisi cantik tak terbatas di dunia universalia. Betapa indahnya hidup di dunia yang penuh kecantikan itu.

Tentang cinta, tidak ada keraguan bahwa cinta lebih utama dari dunia dan isinya. Cinta seperti apa yang dimaksud? Kita masih perlu membahas dulu pengetahuan intuitif agar lebih memudahkan diskusinya.

Pengetahuan Universal Intuitif

Sudah kita bahas ada beberapa cara memperoleh pengetahuan universal yaitu melalui pengenalan dan deskripsi. Kita akan melengkapi lagi cara memperoleh pengetahuan universal melalui pengetahuan intuisi, pengetahuan transenden, pengetahuan inseptual, dan lain-lain. Khususnya pengetahuan intuitif, adalah pokok bahasan kita selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan dan Intuisi Cinta
Kembali ke Philosphy of Love

Dunia Universalia

Pemahaman kita tentang dunia universalia sangat penting, akan mampu menyelesaikan beragam persoalan sulit. Kita juga akan mampu membahas cantiknya Rara yang sejatinya cantik itu ada di dunia universalia. Begitu juga tentang cinta suci juga ada di dunia universalia.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar dunia sudah berusaha membahas panjang lebar tentang dunia unversalia. Tapi, tampaknya, tidak ada kata sepakat di antara mereka. Russell lebih memilih pendekatan Plato dalam membahas alam idea untuk menjelaskan dunia universalia.

Pemikir terdekat Plato, yakni Aristoteles yang juga murid Plato, sudah membantah beragam klaim Plato. Misalnya yang paling terkenal adalah argumen orang ketiga dari Aristoteles, ditulis 2000 tahun yang lalu. Begitu juga Heidegger, filsuf abad 20, menduga bahwa Plato tidak membahas tema ini dengan tuntas. Karl Popper, filsuf sains abad 20, mencurigai Plato sebagai mendukung pemerintahan totaliter. Tetapi Sadra, filsuf abad 17, membela Plato dengan memberikan status modus wujud yang lebih tinggi kepada dunia universal.

Di pembahasan kita, di sini, akan mencoba mengikuti alur argumen Bertrand Russell yang ditulis pada abad 20.

Melampaui Descartes

Barangkali kita sepakat bahwa filsut terbesar sejak jaman modern adalah Descartes. Sukses Descartes membangun sistem filsafat dualisme mendorong kemajuan sains, teknologi, bisnis, politik, dan kemanusiaan mencapai puncaknya. Descartes membagi alam menjadi dua yaitu alam materi dan alam jiwa. Kedua alam ini saling bebas di atur dengan aturan yang berbeda dan tidak terhubung. Alam materi diatur oleh hukum materi, sains, dan rasionalitas. Sedangkan alam jiwa diatur oleh hukum agama dan spiritualisme.

Filsuf setelah Descartes mencoba mencari titik temu jiwa dan materi tetapi tidak berhasil. Salah satu filsuf terbesar berikutnya adalah Immanuel Kant, yang berhasil membuat sintesa antara tesis dan antitesis. Sintesa ini hanya berhasil untuk pengetahuan manusia yaitu sintesa antara pengetahuan empiris dengan pengetahuan a priori, seperti sudah kita bahas pada bab terdahulu. Bahkan, Kant menyisakan beberapa paradoks atau antinomy, yang menantang filsuf selanjutnya untuk mencari solusi.

Russell, filsuf abad 20, menghadirkan kembali dunia universal, yang tidak menyatukan dunia materi dan jiwa, justru menjadikan ada dunia yang ketiga. Maka di sini, kita menegaskan kembali, bahwa dunia universal bukan bagian dari dunia materi, juga bukan bagian dari dunia mental jiwa, tetapi realitas yang mandiri. Bahkan Plato menyarankan agar manusia bergerak dari dunia materi menuju dunia universal yang murni, melalui perenungan.

Bukti Dunia Universalia

Cara paling mudah membuktikan dunia universalia adalah dengan memperhatikan relasi spasial, menurut Russell. Maka mari kita perhatikan lagi wajah Rara yang cantik itu. Alis di atas mata. Mata di atas pipi. Kita juga bisa memperhatikan fenomena alam yang lain. Pohon di atas tanah. Buku di atas meja. Sepatu di atas lantai.

Relasi “di atas” benar-benar ada, nyata. Tetapi relasi ini bukan materi. Ketika kita mengatakan mata Rara di atas pipi Rara maka yang materi adalah mata Rara dan pipi Rara. Sementara relasi “di atas” itu sendiri bukan materi. Perhatikan juga “sepatu di atas lantai.” Sepatu dan lantai bersifat materi. Sementara relasi “di atas” juga bukan materi.

Apakah relasi di atas adalah bersifat mental, dalam pikiran manusia? Dugaan yang masuk akal. Kita perlu memeriksanya.

Sepatu di atas lantai tetap di atas lantai meski saya tidak sedang memikirkannya. Alis Rara tetap di atas mata Rara meski tidak ada orang yang sedang memikirkan itu. Buku tetap di atas meja meski tidak ada seorang pun yang sedang memikirkannya. Maka relasi “di atas” tidak bersifat mental, tidak hanya ada di pikiran manusia.

Karena relasi “di atas” tidak ada di dunia materi, dan tidak ada di dunia alam mental, tetapi benar-benar ada, maka relasi “di atas” ada di dunia tersendiri yaitu di dunia universalia. Dunia universalia ini bersifat universal, kokoh, dan murni. Universal dalam arti bahwa relasi mata dan pipi Rara mengambil relasi dari dunia universalia. Sebagaimana sepatu dan lantai mengambil relasi dari dunia universalia. Alam material yang partikular mengambil relasi dari dunia universalia.

Termasuk dalam dunia universalia adalah relasi waktu, kualitas, kuantitas, dan lain-lain.

Perhatikan, misalnya, display detik pada jam digital. Display itu menunjuk angka 1, 2, 3, 4, … .Kita sadar bahwa 1 muncul sebelum 2, dan 2 sebelum 3, dan seterusnya. Relasi “sebelum” yang merupakan relasi waktu juga ada di dunia universalia.

Contoh kualitas barangkali kita bisa memperhatikan lampu merah, bola merah, baju merah, dan lain-lain. Kualitas warna “merah” bersifat universal dan ada di dunia universal. Tentang kuantitas, misalnya, dua kaki, dua mata, dua mobil, dua orang, dua rumah, dan lain-lain. Kuantitas “dua” adalah universal dan ada di dunia universalia. Ada banyak universalia di dunia universalia, bahkan tak terbatas.

Rara cantik, Rini cantik, Ina cantik, Siti cantik, dan banyak wanita lainnya cantik. Kualitas cantik adalah universal dan ada di dunia universalia yang murni dan sejati.

Penolakan Universalia

Kita perlu mempertimbangkan bahwa beberapa pemikir besar menolak adanya universalia. Kita coba analisis dari Immanuel Kant tentang waktu. Menurut Immanuel Kant, “waktu” adalah sensasi dasar dari pikiran manusia. Jadi, “waktu” hanya bersifat mental dari pikiran manusia. “Waktu” sejatinya tidak ada di alam nyata. Namun konsep “waktu” sangat diperlukan oleh manusia untuk memahami segala fenomena.

Bukti bahwa “waktu” tidak ada bisa kita ringkas sebagai berikut. Bayangkan kita bisa meniti waktu terus-menerus ke masa depan. Maka kita maju terus, dan tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan menemukan ujung akhir dari waktu di masa depan. Kita juga bisa meniti waktu dengan arah sebaliknya, kita meniti waktu mundur ke masa lalu. Berjalan terus-menerus ke masa lalu. Dan kita tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan pernah menemukan ujung awal pada waktu. Sesuatu yang tidak punya awal dan tidak punya akhir mustahil mewujud di dunia ini. Maka terbukti “waktu” tidak ada di dunia ini.

Dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa menganalisis “waktu” dengan membaginya. Perhatikan, misalnya, selang waktu 1 jam dari jam 2 sampai dengan jam 3. Kita bisa membagi selang 1 jam ini menjadi 2 masing-masing 1/2 jam. Kemudian, selang yang 1/2 jam ini bisa kita bagi menjadi 2 lagi. Dan seterusnya kita bisa membagi-bagi sampai tak terhingga. Proses pembagian sampai tak terhingga tanpa akhir ini mustahil terjadi di dunia ini. Jadi terbukti “waktu” adalah tidak ada.

Tentu saja benar bahwa “waktu” memang tidak ada di alam materi mau pun alam mental manusia seperti kita tunjukkan di bagian sebelumnya. Karena “waktu” ada di dunia universal. Jadi, waktu ada di dunia universal.

Menariknya, Russell melangkah lebih jauh. Bukan hanya ruang dimensi tiga dan waktu, yang total menjadi 4 dimensi, matematika dan sains saat ini berhasil menunjukkan realitas 5 dimensi atau yang lebih tinggi. Barangkali, Russell bermaksud merujuk ke Hilbert-space, yang secara matematika berhasil membangun ruang dimensi n, berapa pun. Jadi bukan hanya ruang waktu yang kita pahami ini ada tetapi masih ada lebih banyak ruang waktu yang lainnya.

Heidegger, filsuf abad 20, menempatkan “waktu” pada status realitas yang kuat. Dalam magnum opusnya, “Being and Time” Heidegger justru mengklaim “waktu” adalah hakikat wujud manusia. Namun, Heidegger membahas waktu sebagai bersatunya masa depan, masa lalu, dan masa kini dalam eksistensi manusia. Kata Heidegger, eksistensi manusia berada dalam rangkulan waktu, dari lahir sampai mati. Di masa tua, Heidegger ingin meralat “Being and Time” menjadi “Time and Being” yang barangkali, maksud Heidegger, “waktu” berada dalam rangkulan eksistensi manusia. Terbalik dari ide awal dia.

Cara pandang berbeda, ide paling cemerlang datang dari Sadra, filsuf besar abad 17. Dia memandang eksistensi atau wujud bersifat gradasi dalam intensitasnya. Bayangkan cahaya matahari sebagai satu kesatuan. Tetapi di saat yang sama intensitas cahaya matahari berbeda-beda sesuai lokasi. Di dasar laut, ada cahaya matahari dengan intensitas rendah, hampir gelap. Di bawah permukaan laut ada cahaya matahari intesitas rendah tapi lebih kuat dari yang di dasar laut. Sedangkan di atas permukaan laut intensitas lebih kuat. Dan barangkali di angkasa dekat matahari, intensitas paling kuat. Mereka semua sejatinya tetap cahaya matahari yang sama namun dengan intensitas yang berbeda. Ada yang lemah dan ada yang kuat.

Dengan cara pandang yang mirip cahaya, kita bisa memandang wujud bergradasi intensitasnya. Sehingga modus penampakan wujud bisa beragam. Misal, paling tegas, kita bisa memandang modus wujud alam realitas menjadi tiga: alam materi, alam imajinasi, dan alam akal.

Mengenai universalia, misalnya waktu, memang tidak kita temukan di alam materi. Tetapi universalia waktu ada di modus alam imajinasi. Di alam materi, yang kita temukan sekedar tanda waktu yang ditunjukkan oleh jam atau gerak semu matahari. Di alam imajinasi terdapat universalia waktu di antara unversalia-universalia lainnya semisal universalia ruang.

Namun universalia waktu bila kita analisis lebih mendalam, eksistensinya juga tidak bisa mandiri. Waktu hanya ada karena ada gerak substansial. Yaitu gerak suatu substansi dari satu modus wujud ke modus wujud lain yang lebih tinggi. Gerak ini yang menghasilkan efek universalia waktu.

Maka di sini, saya akan mencoba meringkas pergerakan pemahaman “waktu” dari Heidegger. Bagaimana pun Heidegger mengakui “waktu” sebagai realitas yang kuat, berbeda dengan pandangan Kant. Heidegger muda menyatakan bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan waktu. Manusia eksis dalam “waktu” sejak lahir sampai mati. Dengan demikian, eksistensi “waktu” lebih kuat dari eksistensi manusia. “Waktu” melingkupi manusia.

Tampaknya, Heidegger muda bermaksud merujuk eksistensi manusia yang ada di alam materi dan alam mental. Sehingga benar bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan eksistensi waktu. Namun Heidegger dewasa merubah pandangan itu. Dalam surat kepada temannya, Heidegger dewasa bermaksud mengubah “Being and Time” menjadi “Time and Being”.

Heidegger dewasa mengklaim bahwa “waktu” berada dalam dekapan eksistensi manusia. Tampaknya, Heidegger dewasa kali ini, merujuk eksistensi manusia yang berada di alam materi, alam imajinasi, dan alam akal. Dengan sudut pandang ini, benar adanya bahwa “waktu” ada dalam genggaman manusia.

Mengetahui Universalia

Wajar bila kita bertanya, “Bagaimana cara mengetahui universalia?”

Atau kita bisa bertanya lebih radikal bagaimana manusia bisa mengetahui wujud. Dalam pandangan Sadra, wujud lebih prior dari universalia. Sementara dalam pandangan manusia sehari-hari, bahkan unversalia itu sendiri sudah terlalu tinggi dibanding dengan alam materi dan alam mental manusia.

Wujud, menurut Sadra, hanya bisa diketahui dengan pengetahuan kehadiran. Yaitu ketika wujud hadir dalam jiwa manusia yang dilimpahi cahaya kebenaran. Kita akan membahas pengetahuan kehadiran ini (knowledge by present, ilmu huduri) pada bagian lebih akhir.

Eksistensi, menurut Heidegger, bisa ketahui melalui “sense”. Dan sense yang paling penting adalah rasa gelisah. Perlu kita catat, rasa gelisah yang dimaksud Heidegger adalah dalam arti positif. Misal kita gelisah memikirkan apa arti hidup ini. Kita gelisah memikirkan, mencari solusi, untuk memperbaiki peradaban manusia. Kita gelisah ketika merenung malam hari. Rasa gelisah ini adalah pintu kita mengenal eksistensi sejati.

Eksistensi yang lebih tinggi dari pengamatan sehari-hari, menurut Russell, bisa diketahui melalui intuisi. Universalia dan kebenaran sejati bisa diketahui melalui intuisi. Namun, intuisi manusia apakah selalu benar? Atau sesekali benar, di waktu yang lain salah? Kita akan membahas pengetahuan intuisi, yang diawali dengan pengetahuan universalia, pada bab-bab selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan Tentang Universal
Kembali ke Philosopy of Love

Tolak Relativisme, Terima Pluralisme

Einstein merumuskan teori relativitas, sukses luar biasa. Bahkan ada dua teori ralativitas: khusus dan umum. Relativitas ini sudah menghancurkan teori Newton yang sudah menguasai jagad raya sekitar 200 tahun. Fisika Newton terasa kuno, hanya cocok bagi pemula. Bagi yang mahir harus ke fisika Einstein: relativitas.

Einstein's 'impossible' hope: Light bending theory directly observed in  distant stars for first time - ABC News

Jika segala sesuatu relatif maka apa yang bisa kita sepakati? Apa yang bisa jadi pegangan? Apa yang bisa jadi ukuran?

Tidak perlu khawatir. Karena relativitas Einstein itu tidak relatif tetapi mutlak. Nilainya pasti. Bisa diukur. Jadi aman-aman saja. Jadi relativitas Einstein itu tidak mendukung relativisme. Justru menolak relativisme tapi memang mendukung pluralisme. Wah, apa pula itu?

Pluralisme adalah mengakui adanya keragaman yang hidup saling respek, koeksistensi. Kita perlu saling hormat. Ini adalah realitas kehidupan. Maka kita perlu menerima pluralisme. Dalam contoh yang sederhana, ada manusia, ada hewan, ada tumbuhan, ada batu, dan lain-lain.

Relativisme, dalam sebuah pandangan, adalah menganggap tidak adanya ukuran pasti. Semua serba relatif. Semua serba boleh. Maka ini perlu kita tolak. (Sementara paham relativisme yang lain bisa kita terima, semisal relativitas dalam sains fisika).

Relativitas Sains

Seperti saya sebut di atas, relativitas sains itu tidak relatif. Istilah relativitas digunakan untuk menyatakan kecepatan relatif. Karena konsep kecepatan memang harus diukur kepada suatu acuan tertentu. Hubungan suatu benda dengan benda lain yang bergerak disebut sebagai “relasi” maka bersifat “relatif”.

Contoh, mobil Joko bergerak dengan kecepatan 60 km/jam. Mobil Bowo, 40 km/jam. Maka kecepatan relatif Joko terhadap Bowo adalah 60 – 40 = 20 km/jam. Tetapi hal itu tidak relatif, namun mutlak. Jika Joko diganti Agus, dan Bowo diganti Budi maka kecepatan relatif mereka tetap 20 km/jam.

Joko diganti siapa pun, Bowo diganti siapa pun, maka hasilnya tetap pasti 20 km/jam. Tidak ada yang relatif. Hasilnya eksak.

Relativitas tidak mengajarkan relativisme tapi menunjukkan pluralisme.

Pluralisme Selalu

Plural, beragam, jamak, berbeda-beda, tidak seragam, tidak sama, dan lain-lain adalah realitas alam. Sains, filsafat, dan agama mengakui adanya keragaman. Maka kita perlu respek terhadap pluralisme ini.

Kembali kepada contoh Joko kecepatan 60 km/jam, Bowo 40 km/jam, dan tambahkan Citra kecepatan 30 km/jam. Sudah jelas mereka berbeda dalam hal kecepatan mengemudi mobil. Lagi-lagi menunjukkan realitas pluralisme. Dan bila kita mencoba menerapkan teori relativitas Einstein, Newton, mau pun Galileo maka kita hanya mendapat pluralisme bukan relativisme.

Kecepatan Joko terhadap Bowo = 60 – 40 = 20 km/jam
Kecepatan Joko terhadap Citra = 60 – 30 = 30 km/jam
Kecepatan Bowo terhadap Citra = 40 – 30 = 10 km/jam

Perhitungan sains di atas tidak menunjukkan relativisme sama sekali. Tetapi menunjukkan pluralisme belaka. Nama-nama mereka bisa kita ganti dengan Agus, Budi, dan Cinta. Hasilnya akan tetap eksak sama.

Politik Relatif atau Plural

Dalam realitas yang lebih luas, misal politik, bisnis, agama, olah raga, dan lain-lain hanya akan menunjukkan pluralisme tapi bukan relativisme.

Misal partai republik setuju untuk menambah anggaran, di sisi lain, partai demokrat tidak setuju untuk menambah anggaran. Perbedaan kedua partai tersebut adalah pluralisme. Masing-masing punya cara analisis, ukuran, dan pertimbangan tersendiri.

Memang bila kita memperhatikan tokoh posmo misal Lyotard, apa lagi Derrida, tampak memanfaatkan language game tanpa batas. Akibatnya segala sesuatu seperti relatif padahal sekedar plural. Karena masing-masing language game punya rule berbeda yang tidak bisa saling dipertukarkan. Justru, rule ini, menurut Wittgenstein sang penemu language game, untuk memudahkan memahami bahasa yang beragam itu.

Mari kita coba ambil contoh game dalam olah raga: sepak bola versus basket (bola). Di mana sepak bola, aturan utamanya, memainkan bola dengan kaki. Mereka yang menggunakan tangan dianggap melanggar rule. Sementara basket, aturan utamanya, justru memainkan bola dengan tangan. Mereka yang menggiring bola pakai kaki dianggap melanggar rule.

Sepak bola menjadi seru, berjalan dengan baik, meriah karena menerapkan aturan main pakai kaki. Bayangkan apa yang terjadi jika wasit menghakimi sepat bola pakai aturan basket. Ketika pemain menendang bola maka ditegur oleh wasit, dikenai sanksi kartu kuning. Sepak bola tidak bisa jalan dengan aturan basket. Begitu juga basket tidak bisa jalan dengan aturan sepak bola. Masing-masing hanya valid dengan aturan mereka sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah aturan sepak bola tidak pernah berubah? Tentu saja peraturan sepak bola terus-menerus direvisi, berubah agar permainan sepak boleh lebih seru, fair, dan berkembang.

Kembali ke dunia politik, apakah aturan politik perlu direvisi? Tentu saja perlu terus direvisi demi kebaikan bersama.

Tolak relativisme, terima pluralisme.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan A Priori

Sikap apriori sering dianggap negatif. Sikap yang keras kepala tidak mau berubah apa pun yang terjadi. Saya menilai setiap gadis yang bernama Rara pasti gadis cantik. Saya terpengaruh oleh anak saya yang bernama Rara dan cantik itu. Ketika saya mendengar orang menyebut nama Rara maka lansung terbayang cantiknya Rara.

Padahal ada 100 Rara yang lain di luar sana. Saya belum pernah bertemu dengan 100 gadis yang semua bernama Rara itu. Tapi saya yakin semua gadis itu cantik-cantik. Sikap keras kepala saya ini didasarkan pada sikap apriori bahwa setiap yang bernama Rara pasti cantik tanpa melihat bukti-bukti lebih dulu.

Sikap apriori saya, tentu saja, bisa salah. Dan barangkali akan sering salah. Karena di antara 100 orang bernama Rara mungkin saja ada yang tidak cantik.

Pengetahuan a priori beda dengan sikap apriori. Pengetahuan a priori justru selalu benar bahkan tanpa melihat bukti-bukti dari pengamatan sekali pun. Namun keduanya, pengetahuan dan sikap, sama-sama apriori. Dalam arti sama-sama sudah mengambil keputusan dulu tanpa melihat bukti pengamatan.

Tampak hebat sekali pengetahuan a priori: selalu benar tanpa harus melakukan pengamatan. Bahkan kebenarannya berlaku umum, universal. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

A Priori vs A Posteriori

David Hume, filsuf abad 17, meyakini bahwa setiap pengetahuan memerlukan pengamatan atau pengalaman lebih dulu. Misalnya, pernyataan, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah mangga di depan rumah benar sudah matang. Setelah itu kita baru dapat menilai benar atau salahnya pernyataan buah mangga di depan rumah sudah matang.

Pernyataan di atas adalah contoh pengetahuan a posteriori, pengetahuan belakangan, pengetahuan yang didahului oleh pengamatan. David Hume dan rekan-rekannya meyakini bahwa semua pengetahuan bersifat a posteriori.

Immanuel Kant, di sisi lain, meyakini ada sebagian pengetahuan yang tidak a posteriori. Ada pengetahuan a priori. Yaitu pengetahuan yang mendahului, pengetahuan yang lebih dulu dari pengamatan. Contoh pengetahuan a priori adalah pengetahuan matematika misalnya, 2 + 1 = 3.

Kita tidak perlu melakukan pengamatan lebih dulu tapi bisa menyimpulkan bahwa pengetahuan a priori itu benar, bulan depan, 2 orang penduduk Bandung ditambah 1 orang penduduk Bandung lainnya maka jumlahnya adalah 3 orang penduduk Bandung. Tentu saja, saat ini, kita tidak bisa mengamati kejadian di bulan depan. Tetapi kita bisa mengantisipasi pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah benar di bulan depan. Dan bisa kita lihat nilai kebenarannya pun berlaku umum. Berlaku di masa depan, di masa sekarang, dan di masa lalu. Berlaku di sini, di sana, atau di tempat mana pun.

Di abad 20, Bertrand Russell memutuskan bahwa yang benar adalah pandangan Immanuel Kant. Yakni ada sebagian dari pengetahuan kita bersifat a priori. Dan tentu saja tetap ada pengetahuan a posteriori.

Proses Pengamatan

Meski pengetahuan kita tentang persamaan matematika, 2 + 1 = 3, bersifat apriori tetapi untuk memahaminya kita perlu pengamatan. Maksudnya ketika kita masih bayi belum paham perhitungan. Lalu usia kanak-kanak mulai belajar, mengamati beragam fenomena alam. Baru kemudian kita memahami bahwa 2 + 1 = 3.

Proses belajar berupa pengamatan ini penting. Pengalaman saya dalam mengajar anak bermatematika bahkan kita perlu mengenalkan konsep berhitung dengan media-media yang konkret. Misal saya membuat permainan yang berupa bola-bola kecil. Saya tunjukkan 2 bola, ditambah lagi 1 bola, total seluruhnya terkumpul 3 bola. Anak-anak sebagian langsung paham 2 + 1 = 3. Sementara siswa yang lain perlu mengulang-ulang proses itu baru paham. Minggu depannya, ada yang lupa 2 + 1 = 3. Perlu diulang lagi.

Setelah seorang anak memahami bahwa 2 + 1 = 3 maka anak tersebut tidak perlu pengamatan lagi. Dia bisa meyakini bahwa 2 + 1 = 3 benar, berlaku universal. Di mana saja dan kapan saja, berlaku 2 + 1 = 3. Sifatnya yang umum ini lah yang menyebabkan menjadi pengetahuan a priori. Kita tidak perlu melakukan pengamatan di bulan, misalnya, bahwa 2 bongkah batu di tambah 1 bongkah batu maka terkumpul 3 bongkah batu. Kita yakin, di bulan tetap berlaku benar.

Dalam bidang matematika banyak sekali pengetahuan a priori. “Setiap segiempat dapat dibagi menjadi 2 bagian masing-masing berupa segitiga mengikuti garis diagonal segiempat tersebut.” Awalnya, barangkali kita tidak memahami pernyataan itu. Kita bisa mengambil beberapa contoh agar lebih paham. Misal layar smartphone Anda berbentuk segiempat. Maka bisa dibagi mengikuti garis diagonal, miring, terbentuk dua buah segitiga. Kita juga bisa mengamati ubin di lantai. Lalu membayangkan beberapa ubin yang berbentuk segiempat. Dan selalu bisa membagi ubin segiempat itu menjadi dua buah segitiga. Selanjutnya, pengetahuan kita tentang segiempat ini bersifat universal, pengetahuan a priori.

Proses memahami pengetahuan a priori, barangkali, perlu proses pengamatan. Namun sifat pengetahuan a priori berlaku umum melampaui dari sekedar pengamatan partikular itu sendiri.

Mari kita bandingkan lagi dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah benar buah mangga sudah matang. Kesimpulannya misal salah, ternyata, buah mangga belum matang. Untuk besok, apakah buah mangga sudah matang? Kita akan perlu pengamatan di waktu yang seusai. Hasil pengamatan bisa memutuskan bahwa mangga benar sudah matang atau belum.

Sejatinya, tujuan sains adalah mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum. Berlaku dalam segala situasi. Pengetahuan yang hanya berlaku khusus pada satu kejadian tidak banyak berguna. Hal ini bisa kita kembangkan dengan metode induksi, yang dibahas pada bagian sebelumnya, dilengkapi dengan penelitian yang memadai. Misal untuk kasus matangnya buah mangga di depan rumah diperoleh pengetahuan,

“Buah mangga akan matang setelah 30 hari.”

Dari pengetahuan itu kita tidak perlu tiap hari mengamati apakah buah mangga sudah matang. Kita hanya perlu mengetahui sudah berumur berapa hari buah mangga itu. Kemudian memperkirakan kapan berumur 30 hari. Dan setelah itu kita berharap buah mangga benar-benar matang.

Jika pengetahuan induksi itu diperoleh dengan metode yang memadai maka akan dijamin benar. Maksudnya mangga benar-benar sudah matang setelah 30 hari. Meski demikian, pengetahuan ini tetap bersifat a posteriori. Di mana kita perlu pengamatan untuk memastikan kebenarannya.

Sehingga jelas perbedaan pengetahuan a priori terhadap a posteriori. Pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah pengetahuan a priori, pasti benar.

Pengetahuan Analytik vs Sintetik

Meski pengetahuan a priori berlaku universal namun bisa diragukan apakah ada gunanya? Misal, 2 + 1 = 3, memang selalu benar. Lalu buat apa? Bukankah memang selalu begitu?

Bandingkan dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga matang setelah 30 hari. Maka kita dapat merencakan kapan waktu yang tepat untuk panen. Jadi pengetahuan a posteriori bermanfaat besar. Meski mungkin saja kadang-kadang pengetahuan ini bernilai salah. Justru karena bisa bernilai salah maka pengetahuan a posteriori yang bersifat benar menjadi berguna.

Selanjutnya, orang bisa saja meremehkan pengetahuan a priori hanya bersifat analitis belaka. Tidak ada pengetahuan baru di situ. Hanya pengetahuan yang sudah ada lalu dipahami.

“Segitiga memiliki 3 sudut.”

Pengetahuan di atas adalah a apriori, selalu benar, berlaku umum. Bersifat analitik. Yaitu ketika kita menyebut segitiga, sejatinya, di situ kita sudah tahu pasti memiliki 3 sudut. Sehingga pengetahuan di atas tidak menambah informasi apa pun, selain hanya menyatakan ulang yang sejatinya sudah diketahui.

Di sini kita perlu membedakan pengetahuan analitik dengan pengetahuan sintetik.

Pengetahuan sintetik diakui semua orang sebagai bermanfaat. Pengetahuan ini gabungan antara pengamatan, data dari alam luar, dengan pengetahuan a priori yang sudah ada dalam diri manusia. Misalnya pengetahuan sintetik bahwa mangga akan matang setelah 30 hari. Pertama kita mengamati buah mangga berhari-hari. Apakah sudah matang atau masih mentah. Kedua, secara serentak kita memanfaatkan pengetahuan a priori misal prinsip non-kontradiksi. Bahwa mangga yang matang berbeda dengan mangga yang tidak matang, sebut saja masih mentah. Ketiga, proses sintesa antara pengamatan dan prinsip apriori. Maka menghasilkan kesimpulan baru, pengetahuan baru yang bersifat sintetik.

Dalam contoh di atas kita melakukan sintesa antara pengetahuan a posteriori dengan pengetahuan a priori. Berikutnya kita akan menunjukkan bahwa memungkinkan dilakukan sintesa antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan a priori lainnya.

Perhatikan pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, yang akan kita tunjukkan sebagai sintesa a apriori (dengan a priori). Dalam pengetahuan ini, awalnya, kita tidak tahu bilangan 3. Di mana kita tidak bisa secara analisis menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 2. Pun kita tidak bisa menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 1. Angka 3 kita peroleh dengan sintesa angka 2 dengan angka 1 sesuai hukum penjumlahan.

Kita bisa bereksperimen dengan merubah operasi penjumlahan menjadi pembagian, misalnya, 1 : 2 = 0,5. Makin jelas, hasil akhir 0,5 adalah sintesa dari 1 dan 2 dengan aturan pembagian. Bukan sekedar analisis belaka. Jadi sampai di sini kita menunjukkan adanya dua macam sintesa: sintesa a posteriori dengan a priori, dan yang kedua, sinstesa a priori dengan a priori. Sebelum masa Immanuel Kant, semua pengetahuan a priori dianggap sebagai analytic belaka.

Pengetahuan analytic tetap berguna meski tidak menambah informasi baru. Misal segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki 3 sudut sama besar. Jelas bahwa “memiliki 3 sudut sama besar” sejatinya sudah tersedia ketika kita menyebut “segitiga sama sisi”. Namun demikian, pengetahuan analitik ini tetap berguna misalnya untuk pendidikan kepada pemula. Siswa yang baru mempelajari tentang segitiga barangkali tidak “mengetahui” tentang sudut yang sama besar. Siswa itu hanya tahu segitiga sama sisi memiliki sisi sama panjang. Dengan demikian ketika dia tahu bahwa sudutnya sama besar maka itu menjadi pengetahuan baru, a priori. Dan berguna baginya dalam banyak hal.

Abad 21 ini, bisa dianggap sebagai abad big data. Di mana para ilmuwan terkemuka menaruh hormat kepada istilah analytic. Dengan menggunungnya data yang berlimpah di mana-mana maka kemampuan analytic yang cepat, akurat, dan efisien sangat penting. Menggali data, menambang data, dan menganalisis data bisa lebih penting dari data itu sendiri. Dengan demikian pengetahuan analytic, di abad 21 ini, mendapat tempat yang paling terhormat.

Saya sendiri mengelola canel youtuber paman APIQ merasa sangat terbantu dengan disediakannya analytic oleh youtube. Saya memperoleh wawasan apa saja yang dibutuhkan oleh para penonton saya yang jumlahnya jutaan itu. Saya jadi tahu berapa menit rata-rata video saya yang ditonton ribuan kali itu. Saya juga paham dari kata kunci apa saja penonton bisa tiba ke canel paman APIQ. Semua saya peroleh dari analytic. Sekali lagi, pengetahuan analytic memegang peran amat penting di masa digital ini.

Matematika Sehari-hari

Matematika adalah gudangnya pengetahuan a priori. Sehingga kebenaran matematika bersifat universal. Namun banyak yang meragukan guna matematika dalam kehidupan sehari-hari. Memang untuk hitung dagang kita perlu matematika tapi hanya yang dasar. Itu pun sudah cukup dilakukan oleh kalkulator. Apa guna matematika untuk kehidupan sehari-hari?

Saya sudah sering membahas masalah ini tetapi saya ingin membahas dengan pengalaman kasus terbaru. Matematika benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. Rara, yang cantik itu, tentu gemar memanfaatkan matematika. Di jaman serba digital, Rara berpikir memanfaatkan matematika untuk belanja di pasar digital agar mendapatkan harga terbaik. Pengalaman Rara dan kawan-kawan mengagetkan saya.

Belanja digital, online, sudah terbiasa menawarkan diskon dengan syarat tertentu. Misal diskon 10 ribu untuk pembelian minimal 30 ribu. Berlaku lagi diskon 20 ribu untuk pembelian minimal 50 ribu. Tersedia pula vocer belanja mau pun vocer ongkos kirim.

Umumnya, orang akan belanja 60 ribu dapat diskon 20 ribu sehingga cukup membayar 40 ribu. Lumayan, cukup meringankan program diskon itu. Rara tidak puas dengan diskon seperti itu. Rara berpikir cepat, menggunakan matematika, untuk mencari diskon optimal.

Hasil perhitungan Rara, dalam hari tertentu, belanja 110 ribu cukup hanya bayar 5 ribu rupiah saja. Itu diskon optimal.

Jika Rara belanja 120 ribu diskon berubah ia harus membayar 50 ribu. Begitu juga jika Rara belanja 100 ribu ia harus membayar 45 ribu. Titik optimal adalah belanja 110 ribu cukup membayar 5 ribu rupiah saja.

Di hari yang lain, Rara menemukan bila belanja 80 ribu maka gratis. Belanjaan dikirim ke alamat. Bila belanja 70 ribu masih harus bayar 30 ribu. Dan bila belanja 90 ribu harus bayar 40 ribu. Maka Rara mengatur agar belanjaan seharga 80 ribu dan gratis. Hari itu, Rara belanja berkali-kali dengan harga masing-masing 80 ribuan yang berarti gratis. Kemudian tumpukan belanjaan itu dibagi-bagikan ke tetangga yang membutuhkan.

Siapa bilang matematika tidak berguna untuk kehidupan sehari-hari?

Pengetahuan A Priori Kokoh

Pengetahuan a priori berhak mengklaim berlaku universal, tanpa kecuali. Berbeda dengan pengetahuan dari induksi, dari pengamatan yang terbatas, meski berusaha mengklaim berlaku universal, tetapi tetap terbatas. Sewaktu-waktu dapat difalsifikasi, sesuai saran Popper.

Pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, berlaku universal. Dan secara logika matematika kita bisa membuktikan benar. Tanpa harus menguji kasus demi kasus yang jumlahnya tak hingga.

Sementara pengetahuan a posteriori, “Semua orang mati pada waktunya,” meski tampaknya berlaku universal tetapi tidak demikian. Bila masih ada satu orang saja yang tidak mati saat ini, maka pernyataan di atas masih bisa diragukan. Masih mungkin ada orang yang tidak mati, sejauh sampai saat ini. Meski semua orang yakin, tampaknya akan benar, setiap orang akan mati pada waktunya.

Bagaimana pengetahuan a priori bisa klaim berlaku universal, bahkan tanpa menguji kasus demi kasus, akan kita bahas pada bagian selanjutnya: dunia universalia.

Lanjut ke Dunia Universalia
Kembali ke Philosphy of Love

Indonesia Urutan 106 vs US 173: Indeks Covid

Kita berharap pandemi segera berlalu. Umat manusia di seluruh dunia, semoga tetap sabar menghadapi dan mencari jalan keluar dari wabah covid-19.

Saya, bersama tim, mencoba merumuskan formula Indeks Covid dari negara-negara di dunia. Hasil perhitungan rumus ini saya tampilkan di bagian bawah, untuk beberapa negara terpilih.

Negara tetangga kita, Brunei, Singapura, dan Timor berhasil meraih nilai tertinggi dari Indeks Covid. Formula ini mempertimbangkan penambahan kasus harian, jumlah penduduk suatu negara, dan luas wilayah negara tersebut.

Sementara negara kita, Indonesia ada pada urutan 106. Tetapi jangan berkecil hati karena Amerika berada di urutan yang paling bawah yaitu 173.

Formula Indeks

Indeks Awal = Jumlah penduduk / (Kasus harian * Luas daratan)

Indek Akhir = 7 + log (Indeks Awal)

Interpretasi

Sesuai formula indeks di atas kita akan menghasilkan angka-angka dalam rentang sangat besar. Agar mudah kita memahaminya maka saya menghitung nilai logaritma dari indeks tersebut. Kemudian menambahkan angka 7 sebagai acuan agar mirip seperti PH larutan asam atau basa. Di mana nilai 7 disepakati sebagai nilai normal.

Berikut ini interpretasi masing-masing kelompok indeks.

IndeksMakna
9 – ke atasBagus sekali, pertahankan
7 – 9Bagus, tingkatkan
6 – 7Perlu aksi perbaikan khusus
6 – ke bawahPerlu ekstra aksi

Juara: Brunei, Singapura, Timor

Seperti pada tabel di atas, negara tetangga kita berhasil menduduki posisi juara dengan indeks di atas 9. Barangkali kita bisa berkilah mereka kan negara kecil. Meski kecil, Singapura memiliki kepadatan penduduk lebih dari 7 ribu orang per km persegi. Lebih besar 50 kali lipat dari Indonesia.

Vietnam, dengan indeks hampir 9, adalah negara besar berpenduduk sekitar 100 juta orang. Di mana dinamika penduduk sebesar itu tidak beda jauh dengan penduduk Indonesia.

Batas: Qatar, Ghana, Srilanka

Nila di perbatasan 7 diduduki oleh Qatar dan Srilanka seperti tabel berikut ini. Batas warna hijau berubah menjadi kuning.

Indonesia Urutan 106 Merah

Seperti sudah kita sebut di atas, Indonesia pada posisi ke 106, warna merah, dengan indeks = 5,47. Maka kita perlu kompak untuk memperbaiki situasi.

Amerika Paling Bawah Urutan 173

USA yang baru saja menyelenggarakan pemilu, menempati posisi paling akhir urutan 173 dengan indeks = 3,29. Tentu menjadi tugas berat bagi presiden terpilih untuk membawa Amerika keluar dari pandemi.

Penutup

Untuk informasi lebih detil silakan mengunjungi pamanapiq.com/covid . Tersedia data lebih lengkap meliputi angka kematian, kasus aktif dirawat, angka reproduksi R, analisis tiap provinsi atau kabupaten, dan lain-lain.

Semoga analisis ini bermanfaat untuk kita semua.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Prinsip Umum

Rara cantik. Rara memang cantik. Karena cantik maka Rara pasti tidak jelek. Karena kita tahu bahwa Rara tidak jelek maka Rara pasti cantik. Mengapa kata-kata sejelas itu harus diulang berkali-kali?

Cantik itu tidak jelek. Jelas itu. Itulah pengetahuan prinsip umum yang sudah jelas. Tetapi karena jelasnya kita bisa saja melupakannya. Seharusnya kita bisa membahasnya, pengetahuan prinsip umum, dengan mudah saja.

Prinsip umum sudah dirumuskan dengan baik oleh Aristoteles sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Russell menegaskan kembali prinsip umum ini pada abad ke 20 sampai menjelang abad 21. Tetapi para filsuf posmodernis, dianggap, sering melanggar prinsip umum pikiran ini. Maka kita menjadi sulit sekali memahami teori posmodern, menurut saya salah satunya, karena melanggar prinsip umum di beberapa bagiannya.

Bagaimana mungkin tokoh posmo yang menguasai filsafat kuno sampai filsafat modern bisa melanggar prinsip umum? Saya kira sulit menjelaskan ini. Karena teori posmodern sendiri tidak satu suara. Mereka berbeda-beda. Saya sendiri ragu-ragu apakah filsuf posmo benar-benar melanggar prinsip umum pikiran. Karena sejatinya prinsip umum pikiran tidak bisa dilanggar.

Tiga Prinsip Umum

Menurut Russell, mengacu kepada Aristoteles, hanya ada tiga prinsip umum. Pertama, hukum identitas. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu benar. Wah, apa maksudnya? Bukankah itu jelas sekali?

Kedua, hukum non-kontradiksi. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu tidak salah. Atau, jika sesuatu itu salah maka sesuatu itu tidak benar. Atau, tidak mungkin sesuatu itu benar dan salah, bersamaan. Itu kontradiksi. Tidak mungkin terjadi kontradiksi.

Ketiga, hukum antara. Sesuatu pasti salah satu antara benar atau salah. Tidak bisa serentak kedua-duanya. Tidak bisa juga jika tidak kedua-duanya. Tidak ada pilihan lain selain salah satu dari dua itu: benar atau salah saja.

Ketiga prinsip umum di atas benar, jelas dengan sendirinya. Tidak perlu pembuktian untuk prinsip umum. Justru segala bukti perlu memenuhi ketiga prinsip umum di atas. Prinsip umum ini, menurut Russell, sejatinya bukan hukum pikiran. Tetapi hukum realitas. Artinya, seluruh realitas memenuhi prinsip umum itu. Jika kita berpikir sesuai prinsip umum ini maka kita berpikir benar sesuai realitas.

Hukum Identitas

Jika Rara cantik maka kesimpulannya Rara memang cantik. Hukum identitas yang jelas. Dalam rumus matematika lebih jelas.

A = A
B = B
5 = 5

Meski ini prinsip umum yang jelas dengan sendirinya, tampaknya, untuk bisa memahaminya perlu proses pengamatan, perlu pengalaman. Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat sebuah mobil maka kita tahu itu adalah mobil. Ketika kita melihat meja maka itu adalah meja. Dari pengalaman ini kita menyadari prinsip identitas.

Kita bisa mengantisipasi jauh ke depan. Jika 10 tahun ke depan ada batu di Bandung maka itu pasti batu di Bandung. Jika ada makhluk hidup di Mars maka itu adalah makhluk hidup di Mars. Kita yakin itu semua benar. Berlaku umum. Tanpa kita harus mengalaminya secara langsung.

Namun demikian, kita tidak bisa yakin bahwa bayi yang baru lahir memahami prinsip umum ini. Bayi akan mengamati alam sekitarnya untuk kemudian memahami prinsip umum ini – meski tidak harus diformulasikan dalam bentuk bahasa. Ketika bayi melihat ibunya maka itu adalah ibunya. Ketika bayi melihat susu itu adalah susu.

Meski prinsip umum ini selalu benar tetapi penerapan pada kasus yang kompleks bisa lebih menantang. Rara cantik maka tidak jelek. Dari sudut pandang lain, cantik adalah jelek.

Misal hanya ada dua jenis penilaian: cantik atau jelek. Atau S = {cantik, jelek}.

Jika Rara cantik maka Rara memang cantik, dan pasti Rara tidak jelek. Jelas dan pasti itu. Tetapi orang dapat mengatakan bahwa Rara cantik dilihat dari wajahnya. Tapi Rara jelek dilihat dari warna bajunya. Maka, cantik = jelek = tidak cantik. Tentu saja kita mudah melihat kesalahan berpikir dengan cara ini. Perbedaan sudut pandang bisa menghasilkan penilaian yang berbeda.

“Harga komputer ini mahal, dan tidak mahal.”

Maka, mahal = tidak mahal. Lagi kita akan mudah meneliti ini terjadi karena beda sudut pandang. Komputer mahal karena dilihat dari uang yang dimiliki pembeli tidak cukup untuk membelinya. Komputer tidak mahal karena kinerjanya menghasilkan uang lebih besar dari harga belinya.

Jika konsisten maka, mahal = mahal. Dan, tidak mahal = tidak mahal. Semua jelas dengan sendirinya. Realitas alam semesta seperti itu.

Hukum Non-Kontradiksi

Saling melengkapi antara hukum kontradiksi dan hukum identitas. Rara yang cantik dipanggil polisi gara-gara melanggar lampu merah lalu lintas di jalan Setiabudi. Polisi melihat rekaman kamera cctv bahwa ada wanita cantik, mirip Rara, melanggar lampu merah tepat pukul 10 pagi. Tapi Rara menolaknya. Rara mengatakan tidak melanggar. Itu bukan Rara.

Memang rekaman video itu mirip Rara. Sama cantiknya. Sama warna bajunya. Sama warna motornya. Dan sama dari berbagai sudut pandang. Rara tidak bisa menyangkal begitu saja. Rara butuh argumen yang lebih kuat dari sekedar sangkalan belaka. (Contoh kasus ini tentu beda dengan kasus video panas mirip artis yang heboh itu).

Untungnya Rara ingat bahwa di waktu yang sama dengan dalam video dimaksud, Rara sedang belajar matematika bersama teman-teman di APIQ. Lalu Rara menunjukkan rekaman video, yang jelas tanpa ragu, bahwa hari itu dari pukul 9 sampai dengan pukul 11, ia sedang belajar matematika di APIQ.

Polisi mempelajari video para siswa sedang belajar di APIQ. Lalu polisi yakin bahwa di waktu itu Rara benar-benar sedang belajar di APIQ. Maka video yang melanggar lalu lintas itu pasti bukan Rara. Video itu hanya mirip Rara tapi bukan Rara.

Polisi sudah tepat menerapkan prinsip umum non-kontradiksi. Dalam sidang pengadilan sering menerapkan prinsip non-kontradiksi berupa alibi.

A: Rara belajar di APIQ.
B: Rara TIDAK belajar di APIQ

Pernyataan A dan B saling ber-kontradiksi maka tidak mungkin bisa benar serentak kedua-duanya. Jika A benar maka B pasti salah. Karena terbukti A benar, Rara sedang belajar di APIQ maka B salah. Jadi, Rara melanggar lalu lintas adalah bernilai SALAH. Pernyataan A di atas bisa disebut sebagai alibi bagi Rara.

Prinsip non-kontradiksi memastikan “ketiadaan sesuatu” sedangkan prinsip identitas memastikan “keberadaan sesuatu”.

“Apakah ada bilangan positif terbesar?”

Misalkan ada bilangan terbesar yaitu P. Tetapi kita bisa membuat bilangan Q = P + 1. Di mana Q lebih besar dari P karena Q = P + 1.

A: P adalah bilangan positif terbesar
B: P BUKAN bilangan positif terbesar

Pernyataan B adalah ber-kontradiksi dengan pernyataan A. Karena pernyataan A masih meragukan, sementara pernyataan B lebih meyakinkan, maka kesimpulannya adalah tidak ada bilangan positif terbesar. Terbukti. Pembuktian dengan prinsip kontradiksi ini sering dikenal dengan reductio ad absurdum, membuang yang absurd.

Lagi, prinsip umum non-kontradiksi ini berlaku umum dan jelas. Tetapi penerapan pada situasi kompleks bisa lebih menantang. Harga komputer ini mahal, dan tidak mahal. Seperti kontradiksi. Solusinya adalah karena ada beda sudut pandang yang sudah kita bahas di bagian prinsip umum identitas.

Hukum Antara

Tegas. Hanya pilih satu saja.

Tidak ada tengah-tengah. Tidak ada campuran. Tidak ada keraguan. Tidak ada abu-abu. Hitam, atau bukan hitam saja. Putih, atau bukan putih saja.

Perhatikan bendera Indonesia yang hanya berwarna merah putih. Bila Rara hanya bisa mengintip satu titik dari bagian bendera Indonesia maka warna yang dilihat Rara pasti merah atau putih, salah satunya saja. Jika titik yang terlihat bukan merah maka pasti putih.

Tetapi hidup ini tidak hanya merah putih, tidak hanya hitam putih. Hidup ini adalah warna-warni. Hidup ini bagai pelangi. Tepat. Itu benar sekali. Realitas hidup memang beragam. Maka kita perlu sudut pandang yang luas.

Dalam keluasan realitas, yang penuh aneka ragam, tetap berlaku “hukum antara” bersifat umum. Bila tidak hati-hati hukum ini bisa jadi jebakan. Maka kita perlu membahasnya di sini.

Pandangan hitam putih sering disebut sebagai oposisi biner. Dua hal yang saling bertentangan. Sejatinya hitam putih tidak oposisi biner dalam banyak hal. Syarat oposisi biner adalah afirmasi lawan negasinya.

Hitam vs Bukan Hitam
Putih vs Bukan Putih
Merah vs Bukan Merah
Benar vs Bukan Benar
Besar vs Bukan Besar

Warna pelangi bisa kita buat hanya dua kelompok yaitu merah atau bukan merah. Jingga, kuning, hijau, biru, lembayung, dan ungu masuk pada kelompok bukan merah. Sehingga ketika Rara memandang satu titik pada pelangi bisa dipastikan berwarna merah atau bukan merah, seperti di atas.

Apakah berdasar hukum antara ini orang harus mengambil sikap tegas hitam putih?

Sikap tegas hitam putih adalah sikap yang salah dalam menerapkan hukum antara. Seharusnya hitam vs bukan hitam. Karena bukan hitam bisa jadi merah, kuning, biru, putih, atau lainnya. Sehingga, dengan hukum antara, kita sadar ada banyak pilihan warna. Meskipun awalnya tampak hanya ada dua pilihan saja.

Penutup

Tiga prinsip umum di atas dapat saja kita formulasikan dengan bentuk yang berbeda-beda tetapi intinya akan mirip seperti di atas. Secara alamiah, ketika kita berpikir, pasti menerapkan tiga prinsip umum di atas. Hanya saja pada kondisi-kondisi tertentu kita dapat memanfaatkan prinsip umum untuk mendapatkan bukti yang kuat.

Prinsip non-kotradiksi berguna untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada. Karena tidak ada maka kita tidak bisa memberi contoh. Berpikir induksi tidak akan bisa diterapkan dalam hal ini. Eksperimen juga tidak bisa menunjukkan sesuatu yang tidak ada. Solusinya adalah gunakan prinsip non-kontradiksi. Caranya, pertama misalkan sesuatu itu ada. Kedua, tunjukkan bahwa terjadi kontradiksi. Ketiga, kesimpulannya sesuatu itu tidak ada. Terbukti.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas pengetahuan a priori yang berlaku umum dan selalu benar.

Lanjut ke Pengetahuan A Priori
Kembali ke Philosophy of Love

Induksi: Cantik Keturunan

Rara memang cantik. Ibunya Rara juga cantik. Bahkan neneknya pun cantik. Maka bila Rara nanti punya anak perempuan maka pasti cantik juga. Dilanjutkan lagi, bila punya cucu perempuan pasti juga cantik. Apakah bisa kita berpikir seperti itu?

Tentu saja bisa. Cara berpikir yang lebih luas seperti di atas dikenal sebagai metode berpikir induktif yang mendorong pengetahuan berkembang maju pesat. Kita akan membahas lebih detil berpikir induktif pada bagian ini.

Kita mudah menduga bahwa berpikir induktif bisa benar, bisa juga salah. Tepat sekali. Dengan metode yang hati-hati, kita bisa menjamin bahwa berpikir induksi mendekati kebenaran 100%. Russell menunjukkan caranya, dengan mengungkap suatu hubungan sebab-akibat yang mendukung berpikir induksi tersebut. Misal, asumsikan, bahwa penyebab cantik adalah sutau “gen c” yang selalu diturunkan dari ibu ke anak perempuannya. Dan kita menemukan terdapat gen c pada Rara maka kita sah menyimpulkan bahwa anak perempuan Rara pasti cantik juga.

Sementara, Karl Popper mengingatkan bahwa, kebenaran berpikir induksi ini, perlu difalsifikasi. Sehingga kita menemukan letak kesalahan yang mungkin dan mengembangkan pengetahuan yang lebih kokoh.

Terbit Matahari

Apakah besok matahari akan bersinar? Apakah besok matahari akan terbit lagi? Apakah besok masih ada air di bumi?

Jawabannya positif. Ya, benar semua!

Kita tahu bahwa besok matahari akan bersinar. Tetapi tidak ada jaminan itu benar. Bisa saja nanti malam berpendar. Dan besok tidak lagi matahari bersinar.

Berpikir induksi akan menjawab ini semua dengan jelas.

Pertama, kemarin matahari bersinar. Kemarin lusa matahari bersinar. Pekan lalu matahari bersinar. Bulan lalu matahari bersinar. Dan sepanjang sejarah manusia, matahari tetap bersinar. Maka kita menyimpulkan bahwa besok matahari bersinar.

Meski kesimpulan di atas benar tetapi tidak meyakinkan.

Kedua, kita bisa menyelidiki mengapa matahari bersinar. Di matahari terjadi reaksi nuklir yang menghasil energi, salah satunya, berupa cahaya matahari. Sinar matahari, sebagai gelombang elektromagnetik, merambat sampai ke bumi, yang kita amati. Dari penelitian, diperkirakan umur matahari, masih sampai lebih dari 5 milyard tahun ke depan. Masih ada reaksi nuklir terus-menerus sepanjang milyardan tahun di matahari. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda istimewa akan terjadi perubahan mendadak reaksi nuklir matahari di atas. Maka kita menyimpulkan matahari akan bersinar esok hari.

Dengan cara analisis yang kedua maka kita makin yakin validitas berpikir induktif. Kita tidak hanya mengamati kasus permukaan bahwa matahari bersinar atau tidak. Tetapi kita melangkah lebih jauh dengan mencermati hukum sebab akibat yang terkait pada proses sinar matahari.

Bandingkan dengan berpikir induksi pada kasus yang berbeda. Di pagi hari Senin, Rara membuka pintu rumahnya. Pagi hari Selasa, Rara juga membuka pintu rumahnya. Begitu seterusnya kejadian sampai 99 kali. Pertanyaannya: apakah besok pagi Rara akan membuka pintu rumahnya? Sehingga lengkap sampai 100 kali?

Analisis sederhana menunjukkan bahwa penyebab Rara membuka pintu adalah keputusan Rara itu sendiri. Jika Rara mengambil keputusan untuk membuka pintu maka besok pagi ia akan membuka pintu. Jika Rara memutuskan sebaliknya maka yang terjadi bisa sebaliknya. Berpikir induksi dalam kasus Rara membuka pintu hanya berupa dugaan semata. Meski sudah pernah terjadi peristiwa membuka pintu 99 kali atau seribu kali, atau bahkan sejuta kali maka tetap tidak ada jaminan besok akan terjadi lagi.

Ketiga, dalam kasus apakah matahari besok bersinar, kita dapat meneliti gerak-gerak benda di langit. Termasuk gerak matahari, planet-planet, dan bintang-bintang lain. Gerak jagad raya dapat dihitung dengan hukum gravitasi dan mekanika Newton. Dari perhitungan itu kita peroleh bahwa bumi akan tetap berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari. Dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hukum gravitasi akan berhenti bekerja. Sehingga kita, sah, menyimpulkan bahwa besok matahari akan bersinar.

Memang bisa saja, misalnya, nanti malam bumi bertabrakan dengan planet Mars. Di saat yang sama, malam nanti, matahari bertabrakan dengan bintang yang lebih besar sampai hancur lebur. Atau orang menyebut sebagai terjadi kehancuran alam semesta. Maka besok matahari TIDAK bersinar. Meski hal ini bisa terjadi tetapi kita tidak melihat ada tanda-tanda yang menunjukkan hal itu bisa terjadi.

Perkembangan Pengetahuan

Induksi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan konsep generalisasi, yang dipakai dalam berpikir induksi, dari pengetahuan yang sedikit kita bisa menyimpulkan yang lebih luas. Dilengkapi dengan metode ilmiah maka kita bisa melakukan banyak eksperimen, hanya di laboratorium, tetapi hasil kesimpulan berlaku luas ke seluruh alam semesta.

Di laboratorium, penelitian menemukan bahwa arus listrik (I) yang mengalir berbanding terbalik dengan nilai hambatan (R). Meski hanya ditemukan di laboratorium tetapi para insinyur yakin bahwa perilaku arus listrik seperti di atas berlaku umum. Maka insinyur dapat mendesain teknologi berdasar perilaku arus listrik di atas (dan aturan-aturan lain yang ditemukan di lab). Dan hasil desain teknologi itu berupa smartphone yang kita pakai, layar monitor yang kita lihat, dan komputer yang memudahkan kerja manusia.

Tentu saja, para peneliti tidak perlu tahu bahwa smartphone akan bisa beroperasi di rumah masing-masing pengguna. Peneliti hanya perlu sudah menguji di lab. Lalu berpikir induksi. Dan benar saja smartphone bisa kita pakai di mana saja. Kadang-kadang kita menemukan cacat pada produk baru smartphone, misal layar yang pecah. Sehingga smartphone tidak beroperasi. Dengan mudah kita bisa mengatakan bahwa itu hanya kejadian khusus saja. Mungkin karena smartphone jatuh atau lainnya. Yang jelas, secara umum, berpikir induktif adalah valid.

Induksi Paling Kuat

Berpikir induksi yang paling meyakinkan adalah induksi matematika untuk bilangan bulat. Barangkali dengan contoh akan lebih mudah. Perhatikan deret bilangan ganjil positif berikut ini.

1 + 3 + 5 + 7 + … … …

Kita mudah menebak bahwa jumlah dari deret di atas adalah kuadrat atau perkalian banyaknya angka (bilangan).

1 + 3 = 2 x 2 = 4

1 + 3 + 5 = 3 x 3 = 9

Apakah kita bisa berpikir induksi? Apakah bila ada 100 angka maka jumlahnya adalah 100 x 100? Yaitu 10 000. Ternyata benar. (Saya menyebut angka meski yang dimaksud bilangan).

Apakah juga berlaku bila ada 1000 angka maka jumlahnya 1 000 x 1 000 = 1 000 000. Ternyata benar juga.

Matematika punya cara untuk membuktikan validnya berpikir induktif ini dengan keyakinan 100% benar.

Asumsikan bahwa itu berlaku untuk banyak angka n maka jumlah seluruhnya,

S = n x n

Maka kita perlu menunjukkan bila ditambah 1 angka lagi tetap benar. Maksudnya bila 2 angka benar bahwa 2 x 2 = 4 maka harus benar juga,

2 x 2 + (5) = 4 + (5) = 9 = 3 x 3 (Benar)

Bilangan ganjil berikutnya dibentuk dengan rumus (2n + 1).

Maka

n x n + (2n + 1) harus sama dengan (n + 1) x (n + 1)

Dan memang benar,

(n + 1) x (n + 1) = n x n + 2n + 1 (Terbukti).

Kesimpulan bahwa jumlahnya adalah kuadrat selalu benar 100% secara matematika. Tidak ada keraguan dalam induksi matematika ini. Beda dengan induksi alam semesta yang masih menyisakan sedikit banyak keraguan. Dengan falsifikasi Karl Popper kita bisa menyisihkan keraguan, yang tersisa itu, guna membentuk pengetahuan yang lebih kokoh.

Barangkali ada yang penasaran bagaimana induksi matematika di atas terbukti dengan kuat tanpa keraguan?

Pertama, kita menduga bahwa kuadrat itu berlaku untuk n angka. Dan ini bisa kita coba untuk n yang kecil misal n = 2 ternyata benar. Kedua, kita membuktikan bahwa kuadrat itu berlaku untuk (n + 1) maka berlaku semua n berapa pun.

Misal mengapa berlaku untuk n = 100? Karena berlaku untuk 2 angka maka berlaku juga untuk 3 angka. Dan seterusnya maka berlaku untuk 99 angka, sampai berlaku juga untuk 100 angka. Jadi berapa pun nilai n yang kita pilih maka kesimpulan kita akan dijamin benar berdasar induksi matematika.

Mengapa Induksi Pasti Benar

Mengapai induksi matematika pasti benar? Sedangkan mengapa induksi sains alam dan sosial masih ada kemungkinan salah, meski umumnya benar?

Matematika selalu benar karena didasarkan pada pengetahuan a priori. Sedangkan sains ada kemungkinan salah karena mempertimbangkan pengetahuan a posteriori. Lebih lengkap tentang a priori dan a posteriori kita bahas lengkap di bab khusus tulisan ini. Kita akan membahas bagian terpentingnya di saat ini.

Untuk induksi matematika kita punya kemewahan mendefinisikan kasus demi kasus sesuai keingingan kita, a priori. Misal deret bilangan ganjil,

1 + 3 + 5 … … …

Kita bisa memastikan hanya terdiri dari bilangan ganjil yang urut. Bila ada angka 6 akan dimasukkan ke deret maka kita boleh menolaknya. Bahkan bila semua bilangan ganjil tapi susunan acak-acakan maka kita boleh menyusun ulang sesuai aturan yang kita pakai.

Dengan kemewahan ini, kita kemudian berpikir induktif sesuai logika matematika. Maka hasil induksi matematika ini terjamin benar 100%.

Sains bernasib beda. Sains tidak punya kemewahan untuk mendefinisikan fenomena alam. Meski sains sudah berusaha membatasi kajian dengan definisi yang ketat masih ada peluang ada hal-hal yang di luar dugaan.

Lagi pula induksi matematika hanya merupakan satu cara menemukan bukti kebenaran. Ada cara lain, yang lebih pasti, yaitu berpikir deduktif dalam matematika. Tampaknya sains juga tidak memiliki kemewahan menerapkan berpikir deduktif sekuat matematika.

Berpikir Deduktif Lebih Pasti

Berpikir induktif matematika bernilai pasti benar. Berpikir deduktif juga selalu benar. Baik untuk bidang matematika atau bidang lainnya. Tetap selalu benar.

“Setiap presiden Amerika adalah orang pilihan.”
“Biden adalah presiden Amerika.”
Kesimpulan:
“Biden adalah orang pilihan”

Cara berpikir di atas adalah deduktif. Dijamin pasti bernilai benar, kesimpulannya. Dalam matematika kita akan menemukan banyak cara berpikir deduktif ini.

“Setiap segitiga memiliki 3 sudut.”
“ABC adalah segitiga.”
Kesimpulan: “ABC memiliki 3 sudut.”

Yang menarik adalah, induksi matematika seperti contoh kita di atas dapat kita buktikan secara deduksi sehingga bernilai benar 100%. Mari kita perhatikan kembali deret bilangan ganjil positif.

1 + 3 + 5 + … … … + (2n -1)

Jumlah deret aritmetika di atas bisa kita hitung dengan menjumlah suku pertama dengan suku terakhir lalu dikalikan banyaknya pasangan yaitu n/2. Kita peroleh,

S = (1 + (2n – 1)) x (n/2)
= 2n x (n/2)
= n x n

Jadi terbukti, secara deduktif, bahwa jumlahnya adalah n x n. Sama persis dengan pembuktian induksi. Maka dengan cara ini, kita makin yakin, bahwa induksi matematika bernilai benar 100% karena sepadan dengan deduksi.

Untuk sains – eksak dan sosial – tidak seberuntung matematika. Sains hanya bisa deduksi dengan batasan yang lebih ketat. Misalnya kita bisa bertanya, “Apakah matahari bersinar pada tahun 2010?”

“Matahari bersinar dari tahun 2000 sampai 2020”
“Tahun 2010 terletak di antara 2000 dampai 2020”
Kesimpulan: “Matahari bersinar pada tahun 2010.”

Kesimpulan deduksi kita di atas sah dan bernilai benar 100%, meski pun ini sains bukan matematika. Mudah kita lihat bahwa deduksi ini hanya berlaku untuk periode masa lalu, terbatas. Bila kita dihadapkan pada pertanyaan apakah matahari bersinar pada tahun 2050 maka sains akan menggunakan cara induksi lagi.

Sedikit kembali, kepada induksi matematika yang terjamin benar 100% di atas. Sejatinya, ketika kita memisalkan bilangan bulat positif n maka bilangan n ini bersifat universal. Berlaku untuk seluruh bilangan bulat. Tidak sekedar partikular. Maka masuk akal bila kesimpulan induksi matematika juga bersifat universal, selalu benar.

Anomali adalah Pengetahuan

Dalam mengembangkan pengetahuan, anomali bisa menjadi petunjuk arah baru pengetahuan. Anak-anak tidak suka belajar matematika, misalnya. Seharusnya, mendapat ilmu anak pasti suka. Anomali ini menjadi petunjuk bagi saya mengembangkan metode belajar matematika APIQ yang disukai oleh banyak anak-anak.

Einstein berhasil mengembangkan teori fisika modern karena ada anomali dari fisika klasik Newton. Teori mekanika quantum juga berkembang dari anomali mekanika klasik.

Karl Popper menyatakan bahwa teori sains tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Hanya bisa dibuktikan kesalahannya atau falsifikasi. Dengan cara ini kita bisa memilih teori sains yang lebih bagus atau memodifikasi teori sains yang ada menjadi lebih tepat.

Mari kita ambil contoh sains fisika Newton. Misal kita naik kereta api dengan kecepatan tetap 40 km/jam. Lalu di dalam kereta api saya berjalan ke depan dengan kecepatan 1 km/jam. Maka kecepatan total saya,

k = 40 + 1 = 41 km/jam.

Rumusan mekanika klasik ini terbukti benar untuk semua eksperimen yang pernah dikaji. Bila ada anomali bahkan dicari-cari ada salahnya di mana. Lalu dikoreksi. Sehingga mekanika klasik tetap benar.

Einstein melihat suatu anomali. Misal kita naik kereta dengan kecepatan 0,7 c. Lalu di atas kereta saya lari ke depan dengan kecepatan 0,5 c. Maka kecepatan total saya adalah,

k = 0,7 + 0,5 = 1,2 c

Anomali…!!! Tidak mungkin bisa lebih besar dari c, kecepatan cahaya. Dari anomali ini, Einstein berhasil menyusun teori relativitas khusus, yang sangat berguna untuk pengembangan teknologi nuklir.

Cantik Turunan

Nah, kita kembali membahas cantiknya Rara akankah diwariskan kepada anak-anak perempuan Rara? Artinya apakah bisa dipastikan bahwa anak-anak perempuan Rara akan cantik semua?

Pertama, jika kita hanya memperhatikan fenomena cantiknya Rara, ibunya, dan nenek moyangnya maka kita hanya bisa menduga bahwa anak perempuan Rara akan cantik. Dugaan ini tidak bernilai ilmu pengetahuan, hanya sebatas dugaan.

Kedua, jika kita mengkaji lebih dalam hukum sebab-akibat bagaimana seorang ibu menurunkan sifat cantik kepada putrinya maka ini bernilai ilmu pengetahuan. Misalnya benar, setelah kajian mendalam, bahwa cantiknya Rara akan diturunkan kepada putri-putrinya maka tetap ada batasan kebenarannya. Artinya, putri Rara akan cantik selama hukum-hukum sains terpenuhi. Dan dalam banyak kejadian hukum-hukum sains berlaku sehingga putri-putri Rara memang cantik. Namun adakalanya anomali. Tidak masalah dengan anomali karena menunjukkan arah teori baru atau memperbaiki teori yang sudah ada.

Ketiga, kita berharap bisa menemukan pengetahuan yang bernilai mutlak benar. Dalam pembahasan di atas kita sudah menemukan kebenaran mutlak pada pernyataan matematis. Sedangkan pengetahuan yang melibatkan materi di alam semesta ada juga yang mendekati mutlak benar. Misalnya, “Setiap orang mati pada waktunya.” Kita akan menyelidiki pengetahuan yang berlaku mutlak seperti ini pada bab selanjutnya.

Diskusi

Cara berpikir induktif merupakan cara berpikir yang alamiah. Bila kita mengembangkan metode yang tepat maka berpikir induktif ini memudahkan pengembangan ilmu pengetahuan. Eksperimen-eksperimen ilmiah banyak memanfaatkan berpikir induktif. Dengan mengamati fenomena-fenomena terbatas berhasil membuat kesimpulan yang berlaku luas.

Lanjut ke Pengetahuan Prinsip Umum
Kembali ke Philosophy of Love

Megawati Minta Nadiem Luruskan Sejarah

Tugas yang berat. Meluruskan sejarah merupakan suatu tugas yang tampaknya tidak mudah dilakukan oleh pendiri Gojek, Mas Menteri Nadiem Makarim. Meski berat Mas Nadiem, saya kira, akan bisa menyelesaikan dengan baik. Diberitakan, Megawati meminta agar Mas Menteri meluruskan sejarah 1965.

Maka bisa muncul pertanyaan: apakah sejarah Indonesia saat ini tidak lurus sehingga perlu diluruskan?

Saya setuju dengan Lyotard yang mengatakan bahwa kita tidak akan memperoleh pengetahuan definitif tentang sejarah dan politik. Di mana perbedaan pandangan akan selalu ada. Lyotard menyebutnya sebagai dissensus. Maka perlu respek kepada pihak lain. Sementara Habermas lebih bersikap positif dengan menyatakan bahwa sejarah adalah catatan “learning process” kolektif dari peradaban manusia.

Harapan saya, dan barangkali kita bersama, semoga proses meluruskan sejarah ini menjadi pembelajaran agar kita lebih bagus lagi. Bukan mencari siapa yang menang, siapa yang kalah. Bukan mencari pembenaran dengan mencari kesalahan yang lain. Kita mencari pembelajaran terbaik apa yang bisa kita peroleh dari sejarah 1965 dan sepanjang waktu.

Sedikit mengingatkan bahwa kejadian yang baru terjadi saja kita bisa beda pendapat misal penurunan baliho HRS oleh TNI, banyak pro dan kontra. Pemenang pilpres 2014 apakah Jokowi atau Prabowo pun beda pendapat di mana-mana. Di Amerika beda pendapat pemenangnya Biden atau Trump beberapa waktu lalu.

Sikap positif dalam memandang sejarah perlu kita tekankan di sini. Tentu saja sikap kritis bisa dikembangkan di kalangan terbatas yang sudah menyiapkan segala sesuatu.

Semoga kita mampu membaca sejarah sebagai proses belajar untuk lebih maju memperbaiki negeri ini.

Bagaimana menurut Anda?