Filosofi Bahasa

Hanya manusia, satu-satunya makhluk di seluruh bumi, yang berkomunikasi melalui bahasa. Khususnya, bahasa tingkat tinggi. Dengan bahasa, manusia bisa bekerja sama menciptakan gedung pencakar langit, candi megah nan tinggi, sampai pesawat penjelajah angkasa luar.

Masih dengan bahasa, manusia bisa menciptakan puisi, novel, dan karya ilmiah. Dengan bahasa pula, kita mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Tetapi, tetap dengan bahasa, manusia bisa saling menyakiti. Manusia bisa menindas satu sama lain dengan menggunakan bahasa. Penipuan kelas kakap, termasuk korupsi, memanfaatkan bahasa juga.

Sejak jaman kuno, era Aristoteles-Plato-Sokrates dan sebelumnya, orang berpikir bahwa manusia yang menciptakan bahasa. Kita menyebut batu sebagai batu, pohon sebagai pohon, dan lain-lain sehingga terciptalah bahasa Indonesia. Sementara, orang Cina, Arab, Inggris, mereka menciptakan bahasa mereka sendiri.

Sekarang, justru terbalik. Bukan manusia menciptakan bahasa. Tetapi, bahasa menciptakan manusia. Memasuki abad 20, pemikiran “strukturalisme” menunjukkan bahwa bahasa mengikat manusia, menyusun manusia, dan menciptakan manusia.

1. Bahasa Sehari-hari
2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Kita akan memulai diskusi dengan membahas “bahasa sehari-hari” atau “ordinary language philosophy” (OLP). Memang ada, bahasa, yang bukan bahasa sehari-hari? Tentu saja ada! Bahasa filosofis, misalnya, hanya bisa dipahami oleh para filosof. Bahkan, filosof pun, kadang kesulitan memahami bahasa filosofis dari madzhab yang berbeda. Filosof Timur bisa saja kesulitan memahami bahasa filosof Barat, dan sebaliknya. Sering terjadi, filosof analytic kesulitan memahami bahasa filosof continental – padahal sama-sama filosof Barat.

Wittgenstein (1889 – 1951) menengarai bahwa problem filsafat muncul karena kesalahan memahami bahasa belaka. Filosof sering memakai bahasa sehari-hari dalam konteks yang tidak sesuai. Akibatnya, sering terjadi salah paham terhadap filosofi. Solusinya sederhana, menurut Wittgenstein, kembalilah ke bahasa sehari-hari (OLP).

Bahasa komputer berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa komputer lebih tegas dan bermakna tunggal. Sehingga, bahasa komputer tidak memerlukan keragaman interpretasi konotasi makna. Dengan demikian, tidak ada salah paham dalam bahasa komputer. Tidak semanis itu bahasa komputer!? Nyatanya, bahasa komputer beragam juga. Bahasa C, misalnya, beda dengan Java. Kadang, ada bagian tertentu yang sama sekali tidak bisa dikomunikasikan.

OLP terbukti tidak memadai, dengan makin pentingya bahasa komputer. Ditambah lagi, kita tetap mengenal bahasa sastra yang berbeda dengan OLP. Seperti kita tahu, sastra mempunyai kekuatan yang sangat kreatif dalam bahasa. Kita akan lihat, OLP juga memiliki daya kreatif lebih besar dari yang umumnya dikira.

Awal abad 20 mulai muncul trend strukturalisme dalam bahasa dan matematika. Bahasa adalah problem dan kekuatan struktur. Kita hanya bisa memahami bahasa dalam konteks struktur – demikian juga matematika. Lebih dari itu, struktur bahasa menentukan struktur pikiran umat manusia. Sehingga, perilaku manusia dan peradaban ditentukan oleh struktur bahasa.

Tahun 1960an adalah puncak strukturalisme bahasa sekaligus titik keruntuhannya. Apa yang dibayangkan sebagai struktur, nyatanya, bersifat cair dan dinamis. Setiap struktur memiliki titik kelemahan. Derrida (1930 – 2004) berhasil mengembangkan konsep dekonstruksi yang mengungkap beragam “lubang” struktur. Dan, Gadamer (1900 – 2002) berhasil mengembangkan hermeneutik yang menunjukkan bahwa bahasa sangat dinamis. Jadi, ayo kita nikmati dinamika bahasa…!

1. Bahasa Sehari-hari

Kita merasa biasa-biasa saja menggunakan bahasa sehari-hari (OLP). Nyatanya, ketika kita mengkaji bahasa sehari-hari, banyak hal-hal di luar dugaan. Bagaimana seorang anak manusia bisa memahami bahasa? Berbagai macam teori dikembangkan, tak satu pun yang berhasil menjawab dengan memuaskan. Singkatnya, mustahil seorang anak bisa memahami bahasa, tapi, nyatanya setiap anak berhasil memahami bahasa.

Noam Chomsky (lahir 1928), barangkali, paling berhasil memberikan jawaban meyakinkan. Seorang anak mampu menguasai bahasa karena ada kemampuan bawaan (innate) pada manusia. Hanya manusia yang memiliki kemampuan bawaan seperti itu. Kita tidak bisa mengajari singa bahasa manusia karena singa tidak memiliki kemampuan bawaan. Kita juga tidak bisa mengajari komputer bahasa manusia karena kamputer tidak memiliki kemampuan bawaan. Bahkan, ketika komputer dilengkapi dengan “operating system” tetap saja komputer tidak bisa berbahasa manusia.

Tentu saja, kita masih boleh bertanya, “Bagaimana dan mengapa manusia bisa memiliki kemampuan bawaan dalam berbahasa?”

Chomsky menjawabnya bahwa kemampuan bawaan itu merupakan hasil perkembangan evolusi spesies manusia. Sayangnya, bukti-bukti empiris kajian evolusi tidak mendukung, belum mendukung, klaim ini. Sementara, kajian rasional masih membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Evolusi seperti apa saja, secara rasional, yang dapat membentuk kemampuan bawaan tersebut.

Di sisi lain, ada yang menolak konsep kemampuan bawaan itu. Mereka mengatakan bahwa kemampuan berbahasa diperoleh dari hasil interaksi sosial, nurture. Memang lebih mudah bagi kita meyakini bahwa kemampuan bahasa adalah hasil kombinasi kemampuan bawaan dan interaksi sosial – nature plus nurture. Pertanyaannya, “Sejauh apa batas masing-masing nature dan nurture itu?”

Sementara, Chomsky dan teman-teman terus mengkaji batas-batas kemampuan bawaan sampai hari ini, di lain pihak, sejak pertengahan abad 20, OLP makin terus berkembang. OLP, ordinary language philosophy, secara prinsip mendasarkan kajiannya pada buku “Philosophy Investigation” karya Wittgenstein dewasa. Dan, secara implisit, menganut positivis-logis. Berikut ini, kita akan membahas beberapa konsep penting dari Wittgenstein dewasa.

1.1 Language Game

Bahasa hanya bisa dipahami dalam konteks yang tepat. Tanpa konteks, kita tidak bisa memahami bahasa. Wittgenstein menyebutnya sebagai language-game.

Kata “air” bisa bermakna memberi tahu informasi bahwa ada air. Bisa juga bermakna permintaan tolong untuk diambilkan air. Boleh jadi merupakan peringatan harus hati-hati dengan air. Komplotan penjahat bisa saja menggunakan air sebagai kode untuk melakukan serangan. Kata “air” hanya bisa dipahami sesuai konteks language-game.

Apakah dengan language-game menjadikan bahasa bersifat relatif? Relatif terhadap konteks, benar adanya. Tetapi, bukan relatif sebarang relatif. Justru, language-game memberi tahu kita cara memahami suatu bahasa dengan tepat. Bukan untuk mengaburkan bahasa.

Di era digital ini, kita sering mendengar hoax – berita bohong. Hoax, biasanya, mengandung informasi yang benar, mengandung bahasa dan kalimat yang benar. Tetapi, mereka menerapkan pada konteks yang berbeda, pada language-game yang berbeda. Hasilnya, memberikan makna yang berbeda dan terciptalah hoax berdasar informasi yang benar. Perubahan language-game ini, kita kenal sebagai “framing”.

Untuk melindungi diri dari hoax, salah satunya, dengan cara mewaspadai “framing.” Ujilah berbagai macam language-game yang mungkin.

1.2 Meaning as Use

Dari berbagai macam language-game yang beragam itu, bagaimana kita bisa mengambil satu makna tertentu?

Tidak bisa. Kita tidak bisa mengambil satu makna tertentu. Kita tidak bisa menyimpulkan suatu makna tertentu dari bahasa. Karena makna dari bahasa adalah tidak ada makna. Bahasa tidak punya makna. Kita hanya menggunakan bahasa. Wittgenstein menyebut penggunaan bahasa ini sebagai “meaning as use.”

Problem filosofis yang serius muncul pada tahap ini: gabungan language-game dan “meaning as use.” Cara pandang ini, menempatkan Wittgenstein sebagai anti-realis. Padahal, selama ini, Wittgenstein muda berpandangan realis sejalan dengan tradisi filsafat analytic.

Para realis menilai bahwa bahasa merujuk realitas tertentu. Kata “air” misalnya merujuk realitas air di alam nyata. Meski pun makna air beragam, tetapi, mereka tetap sama-sama masuk dalam kategori air. Demikian juga kata “pedih” merujuk kepada realitas tertentu yang diberi nama pedih. Meski jenis “pedih” adalah beragam, mereka semua tetap masuk dalam kategori pedih.

“Meaning as use” menolak pandangan realis seperti di atas. Bahasa hanya “bermakna” sesuai penggunaannya saja. Tidak ada realitas yang dirujuk oleh bahasa.

Bagaimana pun, kita masih bisa membaca Wittgenstein sebagai realis dengan menganggapnya sebagai dobel anti-realis.

“Meaning as use” adalah anti-realis pada tahap pertama. Tetapi, tahap kedua, karena “use” adalah realitas konkrit penggunaan bahasa maka “meaning as use” adalah realis. Jadi dobel anti-realis adalah anti-anti-realis yang sama artinya dengan realis.

1.3 Form of Life

Bagaimana kata “air” bisa merujuk ke realitas air?

Bagi bahasa sehari-hari (OLP), hal seperti itu sudah terjadi begitu saja secara alamiah. Lagi-lagi, kasus ini tidak semudah penampakannya. Bagi Wittgenstein, kita menggunakan kata “air” untuk merujuk air. Bukan karena ada suatu “rujukan” lalu kita memahami kata “air”. Tetapi, karena kita “menggunakan” kata “air” seperti itu maka kita memahaminya. Wittgenstein menyebut penggunaan kata dasar seperti itu sebagai “form of life.”

“Form of life” yang menolak rujukan terhadap realitas mengantarkan kita pada posisi anti-realis. Tahap selanjutnya, “form of life” mengakui realitas “penggunaan” bahasa maka kembali realis.

Apa sulitnya, bagi Wittgenstein untuk mengakui “realitas rujukan” yang sejalan dengan teori korespondensi? Apa lagi, Wittgenstein muda sudah mengakui “realitas rujukan” dalam bukunya Tractatus? Mengapa Wittgenstein dewasa harus merevisi Wittgenstein muda?

Teori korespondensi tidak bisa dipertahankan secara filosofis, demikian juga, “realitas rujukan”.

Pertama, bagaimana kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air”. Tidak mungkin. Kita tidak bisa membuat suatu hubungan nyata antara kata dengan realitas fisik. Kita hanya bisa membayangkan ada hubungan antara kata dan realitas fisik, tetapi, sejatinya tidak ada hubungan.

Kedua, kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air” menggunakan alam-imajinasi. Kata “air” berhubungan dengan imajinasi “air” dan, kemudian, imajinasi “air” berhubungan dengan realitas fisik “air”. Dengan demikian tercipta hubungan kata dengan realitas melalui jembatan imajinasi.

Pandangan seperti itu, ada penghubung tertentu antara kata dan realitas, bisa kita telusuri sepanjang sejarah filsafat. Plato mengembangkan teori form. Al Ghazali mengembangkan al-mitsal. Bahkan, Wittgenstein muda mengembangkan picture-theory.

Jika kata terhubung dengan imajinasi maka dengan cara apakah mereka terhubung? Misal mereka terhubung melalui A. Pertanyaan selanjutnya, dengan cara apakah A terhubung dengan kata? Misal terhubung melaui B. Maka pertanyaan bisa terus kita lanjutkan tanpa henti. Kesimpulannya, kita tidak bisa membangun hubungan antara kata dan realitas. Kita memahami kata karena penggunaannya – form of life.

Ketiga, ada realitas yang lebih fundamental dari realitas “kata” mau pun realitas “fisik”. Realitas fundamental ini yang menghubungkan kata dan realitas fisik. Ibnu Arabi menyebut realitas fundamental sebagai wujud, Sadra menyebutnya eksistensi, dan Heidegger menyebutnya being.

Russell, mentor dari Wittgenstein, berharap menemukan realitas fundamental seperti itu yang dia sebut sebagai “monisme neutral”. Sayangnya, Russell tidak mengkaji pemikiran Heidegger dengan serius. Sehingga, diharapkan, Russell bisa menemukan “monisme neutral” itu dari Heidegger. Sebaliknya, Heidegger juga tidak tampak serius mengkaji Russell. Padahal, mereka hidup sejaman sekitar 80 tahun.

Rule

Private


2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Idealisme vs Genealogi

Wayang kulit perlu dimusnahkan. Mengapa? Karena budaya wayang bukanlah ajaran agama. Setiap yang bukan ajaran agama maka perlu dibuang. Orang yang berpikir dengan cara seperti itu adalah idealisme. Dia berpikir berdasar ideal-ideal yang diyakininya benar.

Wayang kulit adalah budaya bangsa yang perlu terus dirawat bahkan dikembangkan. Mengapa? Karena agama mengajarkan indahnya perbedaan, pentingnya kreativitas, dan lembutnya hati. Orang yang berpikir seperti itu, juga, berpikir idealis berdasar ideal-ideal yang diyakininya. Dalam tulisan ini, kita akan memandang idealisme sebagai cara berpikir ideal, global, dan universal. Sehingga, idealisme mirip dengan ideologi.

Filosofi dan Makna Wayang Kulit di Jawa - Portal Kudus

Sebaliknya, genealogi justru berpikir dari partikular-partikular yang unik. Mengapa wayang kulit perlu dimusnahkan? Karena ada orang yang bertanya tentang haram atau tidaknya wayang. Lalu, narasumber terdorong untuk memberi penilaian antara haram atau tidak. Melihat situasi yang ada, bagi narasumber, lebih menguntungkan menjawab bahwa wayang adalah haram. Sehingga, wayang perlu dimusnahkan.

Kita bisa mempertimbangkan genealogi yang berbeda. Narasumber melihat ada anak muda yang sangat pandai membuat cerita. Dengan media wayang, cerita anak muda itu makin menarik. Dan, dari cerita-cerita yang menarik itu menjadikan banyak generasi muda terinspirasi untuk berbuat kebajikan. Narasumber menyimpulkan, dari manfaat wayang itu, bahwa wayang sangat penting dan tidak haram. Karena itu wayang harus terus dikembangkan.

1. Idealisme dan Atom Kuno
2. Ideologi Kapitalis Komunis
3. Genealogi Problematis

Dari contoh wayang di atas, kita melihat bahwa seseorang bisa menerapkan cara pikir idealisme atau genealogi terhadap obyek yang sama. Bahkan, ketika kita sama-sama menerapkan idealisme, hasil penilaian bisa berbeda. Demikian juga, ketika kita sama-sama menerapkan genealogi, juga, hasilnya bisa berbeda-beda.

Muncul pertanyaan: kapan kita harus idealis dan kapan kita harus genealogis?

Secara umum, lebih banyak pemikir yang dominan idealis. Dan, hanya sedikit yang genealogis. Karena itu, wajar bagi kita, untuk menambah lebih banyak porsi genealogis dalam beragam kesempatan.

1. Idealisme dan Atom Kuno


2. Ideologi Kapitalis Komunis


3. Genealogi Problematis

3.1 Genealogi Subversif
3.2 Genealogi Problematis
3.3 Genealogi Sakina
3.3.1 Keseimbangan Dinamis
3.3.2 Dinamika Seimbang

Kosmopolitan

Keluarga menyatukan manusia, di saat yang sama, memecah belah. Jelas, kita adalah anak dari ibu dan bapak kita. Kita adalah anggota keluarga, berbeda dengan keluarga lain. Cara hidup masing-masing keluarga banyak perbedaan. Keluarga menyatukan semua anggota itu. Di saat yang sama, keluarga membedakan diri dengan keluarga lain.

Kepentingan keluarga A bisa saja bertentangan dengan kepentingan keluarga B. Mereka bisa saja bermusuhan. Maka dibentuklah rukun warga untuk menyatukan semua. Lebih besar lagi, dibentuklah pemerintah daerah sampai satu negara. Dengan konstitusi, satu negara bersatu padu.

Bagaimana hubungan satu negara dengan negara lain? Bisa terjadi peperangan di antara mereka. Bisa terjadi invasi atau dominasi. Kita perlu cara pandang yang lebih luas: kosmopolitanisme.

1. Keluarga versus Komunitas
2. Antar Negara
3. Kosmopolitanisme

Cicero (106 – 43 SM) menyadari dilema itu. Di satu sisi, kita butuh kekuatan untuk meyakinkan bahwa setiap warga harus saling menghormati. Di sisi lain, kekuatan itu sendiri menjadi sarana menindas pihak lain. Kita butuh negara untuk menjamin tatanan sosial yang tertib. Tidak jarang, negara sendiri adalah yang paling besar melanggar tatanan sosial itu.

Kontradiksi sosial selalu terjadi. Tugas kita sebagai manusia tidak pernah berhenti. Kita adalah anggota alam raya: kosmopolitan. Kita perlu berperan serta dalam perjalanan alam raya.

1. Keluarga versus Komunitas

Plato (428 – 348 SM) pernah mengusulkan agar lembaga keluarga dihapus saja diganti dengan komunitas. Karena, keluarga menjadi sumber ketimpangan sosial. Bertrand Russell, di abad 20, kembali mendukung usulan Plato ini. Meski usulan tersebut menarik, tampaknya, tidak mendapat respon memadai dari masyarakat luas. Sehingga, ikatan keluarga tetap kokoh sampai saat ini, di seluruh dunia.

Anak yang terlahir dari keluarga kaya akan tetap menjadi kaya karena mendapat warisan, pendidikan mahal, dan berbagai fasilitas spesial. Sementara, anak yang terlahir dari keluarga miskin akan tetap menjadi miskin. Ketika kejadian ini berlangsung berabad-abad maka terbentuklah kesenjangan sosial. Suatu ketimpangan yang membahayakan seluruh umat manusia.

John Rawls (1921 – 2002) mengusulkan prinsip keadilan untuk mengatasi beragam ketimpangan. Prinsip kesetaraan bahwa setiap orang setara dalam kebebasan-kebebasan dasar. Dan, prinsip perbedaan bahwa perbedaan hanya sah bila memberi keuntungan terbesar kepada pihak lemah. Saya menambahkan dengan prinsip dinamis bahwa setiap pihak perlu untuk terus bergerak maju. Kemajuan kelas kaya perlu berkontribusi memajukan pihak lemah.

2. Antar Negara

Cicero menghadapi dilema secara langsung. Di satu sisi, Roma adalah negara terbaik saat itu. Roma menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan. Roma menyebarkan nilai-nilai kebajikan ini ke seluruh dunia. Di sisi lain, Roma memiliki kekuatan besar untuk menaklukkan negara lain, untuk kemudian, mendominasinya. Roma menyebarkan nilai-nilai kebajikan dengan cara melanggar nilai-nilai kebajikan itu sendiri.

Dilema semacam itu, apakah ada solusinya? Di jaman sekarang, apakah kita mengalami dilema yang sama? Benar. Kita tetap mengalami dilema yang sama. Menyebarkan nilai-nilai kebajikan dengan cara melanggarnya.

3. Kosmopolitanisme

Kosmopolitanisme memandang bahwa setiap manusia adalah warga dari dunia (kosmos) yang sama. Sehingga, setiap manusia memiliki kedudukan yang setara. Bahkan binatang, tumbuhan, dan bebatuan juga merupakan anggota kosmos yang sama. Sehingga, semua mendapat kedudukan yang setara – meski berbeda.

Siapa Manusia?

Jawabannya harusnya mudah. Karena masing-masing diri kita adalah manusia. Siapa manusia? Jawabannya, manusia adalah saya. Pertanyaan bisa berlanjut, “Siapa saya?”

Bahan Antropologi – Who Am I – Persekutuan Oikumene

Ada berbagai macam cara untuk menjawabnya. Bisa dari sisi sains, agama, moral, dan lain-lain.

1. Makhluk Pilihan Tuhan
2. Teori Evolusi
3. Manusia Sosial
4. Manusia Robot
5. Manusia Filosofis

Manusia adalah makhluk Tuhan paling istimewa. Jawaban dari sisi religius ini bisa kita terima – meski ada beragam pemahaman. Sementara, dari sisi lain, sains tampak mengajukan teori evolusi. Manusia adalah hasil evolusi alam raya sejak jutaan tahun yang lalu. Proses evolusi ini terjadi secara spontan, acak, dan berkelanjutan. Dua jawaban di atas, manusia adalah makhluk Tuhan versus manusia adalah hasil evolusi, tampak saling bertentangan. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya dengan melengkapi beberapa alternatif lainnya.

1. Makhluk Pilihan Tuhan

Agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah yang menciptakan segala alam semesta, termasuk menciptakan manusia. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di alam raya ini. Bahkan, Tuhan menciptakan seluruh alam raya untuk keperluan manusia menjalankan tugasnya menjadi pemimpin mengelola alam raya.

Di saat yang sama, manusia adalah abdi Tuhan. Sehingga, dalam mengelola alam raya, manusia sekaligus menjalankan tugas pengabdian kepada Tuhan semesta alam. Tampaknya, tugas manusia hanya sederhana: menguasai alam raya dan, di saat yang sama, itu adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Benarkah tugas seperti itu adalah mudah?

Tidak mudah! Nyatanya, di alam ini, manusia justru sering melakukan peperangan. Perhatikan perang di berbagai negara Afrika, pendudukan Israel di Palestina, resiko ketegangan Rusia dengan Ukraina, dan lain-lain.

Di belahan bumi yang damai pun, banyak orang kaya mendominasi orang miskin. Banyak orang yang berkuasa mengeksploitasi orang lemah. Dan, kejahatan mau pun kekerasan sosial ada di mana-mana.

Jadi, benarkah manusia adalah makhluk pilihan Tuhan?

2. Teori Evolusi

Darwin (1809 – 1882) menggemparkan dunia dengan memunculkan teori evolusi ilmiah. Meski sudah banyak peneliti sebelumnya yang mengajukan teori evolusi, tetapi, hanya Darwin yang mampu melengkapi teori evolusi dengan pengamatan ilmiah dan logika sains. Sehingga, dampak teori evolusi Darwin begitu besar.

Interpretasi terhadap teori evolusi, tentu saja, beragam. Ditambah lagi, tidak semua bagian dari teori evolusi didukung oleh data ilmiah. Sehingga, sebagian dari teori evolusi bersifat spekulatif. Wajar saja, karena manusia memang sering berpikir seperti itu.

Evolusi dimulai sejak sekitar 14 milyard tahun yang lampau ketika terjadi big bang – ledakan besar. Sebelum big bang, tidak ada apa pun di alam raya ini. Bahkan, belum ada ruang dan waktu. Sebelum big bang, hanya ada kehampaan quantum. Saat big bang, mulailah terbentuk alam semesta. Dan, di saat itu pula, terbentuk konstanta, ketetapan, fisika semisal konstanta gravitasi, konstanta gaya listrik, konstanta kecepatan cahaya, dan lain-lain. Dengan konstanta-konstanta yang tepat itu, kemudian, alam raya evolusi sehingga terbentuk galaksi bima sakti, sistem tata surya, dan termasuk bumi.

Di bumi, kemudian, muncul makhluk hidup dari sel satu (sederhana). Terus evolusi terbentuk makhluk hidup ber-sel banyak. Lanjutan evolusi menghasilkan beragam tumbuhan dan beragam binatang. Puncak dari evolusi itu, pada akhirnya, menghadirkan manusia purba. Lanjut evolusi, kemudian, menghasilkan manusia modern, kontemporer, yang ada saat ini.

Menariknya, konstanta yang muncul ketika big bang itu benar-benar tepat sehingga evolusi terjadi dengan cantik. Misal, konstanta gravitasi menjadi lebih besar maka gaya tarik antara benda-benda langit terlalu besar. Akibatnya, setelah big bang, alam tidak sempat mengembang sudah terikat kembali dan hancur – gagal evolusi. Begitu juga, misal, ketetapan gravitasi itu sedikit lebih kecil maka gaya tarik benda-benda langit terlalu longgar. Akibatnya, setelah big bang, alam raya terlalu cepat mengembang dan hancur juga – gagal evolusi.

Lalu, siapa yang menetapkan konstanta-konstanta itu begitu tepat dan cantik? Tidak ada. Semua terjadi secara spontan dan random.

Jika manusia adalah puncak dari evolusi maka apa tujuan manusia hadir di alam raya ini? Tujuan manusia adalah menetapkan tujuan itu sendiri. Manusia memiliki kebebasan untuk menetapkan standar moral, mengembangkan peradaban, sains, dan sebagainya.

Bagaimana pun, teori evolusi masih menyisakan banyak pertanyaan besar. Bagaimana dari benda mati bisa muncul mahkluk hidup? Bagaimana manusia bisa memiliki akal dan kesadaran? Dan, mengapa hampa quantum bisa menghasilkan big bang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tersebut kita perlu kajian filosofis.

Lebih spesifik tentang evolusi manusia, mengapa muncul ide-ide kreatif dari manusia? Mengapa Aljabar merumuskan solusi persamaan aljabar? Mengapa Einstein memunculkan teori relativitas? Mengapa teori mekanika quantum tidak menemukan solusi unik? Mengapa matematika tidak pernah berhenti berkembang sebagai ilmu pasti? Dan, mengapa dari setiap solusi, manusia memunculkan pertanyaan baru lagi?

Ringkasnya, teori evolusi tidak berhasil menjawab banyak pertanyaan. Tetapi, teori evolusi itu sendiri juga ber-evolusi. Sehingga, terjadi revisi di berbagai sisi. Akibatnya, teori evolusi terus berkembang dan mampu menjawab lebih banyak pertanyaan dengan meyakinkan. Apakah, dengan demikian, teori evolusi sudah sempurna? Tidak! Karena teori evolusi memang ber-evolusi.

3. Manusia Sosial

Kita mudah menyadari bahwa manusia adalah dumadi sosial, makhluk sosial. Manusia hanya bisa menjalani hidup secara sosial. Kita hidup bersama manusia yang lain. Lebih dari itu, kita hadir karena ada orang lain. Kita hadir karena ada ibu dan bapak kita. Kita punya hutang budi, hutang eksistensi, kepada ibu kita. Kita berbulan-bulan hidup dalam rahim ibu. Begitu lahir, kita hidup dalam pelukan kasih sayang ibu. Hutang eksistensi kita kepada ibu tidak pernah bisa kita lunasi. Meski demikian, kita tetap perlu membayar hutang eksistensi itu dengan amal kebaikan dan doa tulus.

Lebih jauh, manusia hadir selalu dalam situasi, being-in-the-world. Kita tidak bisa lepas dari situasi dunia. Jika kita bisa lepas dari dunia ini, maka, kita akan hadir ke dunia yang lain lagi. Kita hanya bisa lepas dari dunia, untuk kemudian, berada dalam dunia yang lain.

Kita menyatu dengan dunia alam raya. Atau, dunia alam raya menyatu dengan diri kita. Manusia adalah alam raya. Dan, alam raya adalah manusia. Karena itu, kita perlu berbuat baik kepada alam raya, di mana pun, kapan pun. Semua perilaku baik kepada alam raya, sejatinya, adalah perilaku baik kepada diri kita sendiri.

4. Manusia Robot

Robat makin cerdas mirip manusia – lengkap dengan teknologi artificial intelligence AI. Sementara, manusia makin mirip dengan robot – lengkap dengan kungkungan nafsu ekonomi dan penjara media digital. Titik temu mereka adalah manusia robot: manusia mirip robot dan robot mirip manusia. Meski tampak ironi yang ngeri, barangkali situasi seperti ini bisa saja terjadi.

Manusia merdeka akan menolak bila bergerak, berubah, menjadi mirip robot. Tetapi manusia pada umumnya, bukankah mereka mulai mirip robot? Mereka dikendalikan oleh media digital. Mereka dikendalikan oleh kebutuhan ekonomi. Mereka dikendalikan oleh keserakahan politik. Mereka dikendalikan oleh mesin-mesin raksasa dunia maya. Mereka lupa suara hati. Mereka lupa diri.

5. Manusia Filosofis

Definisi manusia secara filosofis mencoba membuka pandangan kita secara luas dan mendalam.

Manusia adalah binatang berakal. Definisi ini jelas dan berguna. Akal manusia itu sendiri punya banyak makna. Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama yang memberi definisi esensialis manusia sebagai binatang berakal. Kemudian, kita menemukan banyak definisi berbeda tentang manusia.

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya, Heidegger (1889 – 1976). Manusia adalah kebebasan menentukan jati dirinya, Sartre (1905 – 1980). Manusia adalah jiwa yang bersinar dan disinari, Suhrawardi (1154 – 1191). Manusia adalah mode wujud yang berpotensi meraih sempurna sejati, Sadra (1572 – 1640). Manusia adalah citra paripurna Tuhan, Ibnu Arabi (1165 – 1240). Dan masih banyak definisi lainnya: manusia adalah binatang yang tertawa, binatang politik, binatang interpretasi, evolusi kontemporer, dan lain-lain.

Manusia adalah dumadi yang menyelaraskan diri. Sebagai dumadi, makhluk ciptaan, kita adalah anggota alam semesta. Uniknya, kita senantiasa berusaha selaras dengan seluruh yang ada. Berbeda dengan dumadi yang lain. Pada umumnya, selain manusia, menjalani proses dengan merespon alam sekitar misal tumbuhan dan binatang. Sedangkan, manusia tidak sekedar merespon. Manusia menciptakan selarasnya diri dengan seluruh dumadi – dan Tuhan alam raya ini.

5.1 Binatang Berakal

Binatang sebagai genus. Secara umum, kita memiliki badan, daging, tulang, dan darah mirip dengan binatang. Akal sebagai diferensia-pembeda. Secara khusus, manusia berbeda dengan setiap binatang karena manusia memiliki akal. Akal adalah pembeda esensial antara manusia dengan binatang. Dengan demikian, spesies manusia adalah spesies binatang berakal. Definisi manusia adalah sebagai binatang yang berakal.

Definisi ini menyelesaikan banyak masalah. Pertama, kita mengasumsikan bahwa definisi “binatang” sudah jelas. Kita sudah paham binatang semisal kucing, harimau, kera dan lain-lain. Kedua, kita mengasumsikan bahwa definisi “akal” sudah jelas. Akal adalah kemampuan manusia berpikir. Khususnya berpikir tingkat tinggi semisal berpikir bahasa dan berpikir matematika. Ketiga, sebagai hasilnya, definisi manusia sebagai binatang berakal bisa kita pahami dengan mudah.

Wittgenstein (1889 – 1951) memudahkan kita memahami definisi dengan “language game”. Kita hanya bisa memahami suatu bahasa dalam konteks pemakaiannya atau aturan “game”. Bahasa selalu saling terkait satu dengan lainnya. Sehingga, konsep manusia sebagai “binatang berakal” bisa kita pahami dengan jelas dalam penggunaan “language game.” Kita sudah terbiasa dengan kata “binatang” dan kata “akal”. Dengan demikian, kita bisa memahami konsep manusia sebagai “binatang berakal” dalam konteks “language game.”

Secara ilmiah, definisi dari yang sederhana menjadi kompleks, dari genus menuju spesies dengan menambahkan diferensia, tampak masuk akal. Awalnya, kita bisa meneliti tumbuhan. Kemudian, binatang adalah semacam tumbuhan yang memiliki kemampuan tambahan, misal, leluasa bergerak. Akhirnya, manusia adalah sejenis binatang yang memiliki kemampuan tambahan berakal.

Jadi, sampai di sini, sudah tuntaskah bahwa manusia adalah binatang berakal?

Tentu saja, tidak tuntas. Bahkan, barangkali, tidak akan pernah tuntas. Manusia selalu menyimpan suatu misteri.

Akal

Apa yang dimaksud dengan “akal” itu sendiri?

Mengikuti “language game” dari Wittgenstein, kita bisa mengatakan bahwa makna “akal” sudah jelas sebagai mana kata “akal” itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita hanya perlu sedikit menegaskan, barangkali, dengan contoh-contoh. Kita, agar lebih jelas, bisa juga menyandingkan konsep “binatang berakal” dengan “binatang rasional” atau “binatang berpikir”.

Dengan akal, manusia mampu berpikir matematika tingkat tinggi. Meski, beberapa binatang mampu berhitung, tetapi, kemampuannya masih pada tingkat dasar. Misal, induk ayam yang memiliki 3 anak akan gelisah mencari anak-anaknya ketika 3 anak ayam itu tidak ada di dekatnya. Sementara, jika masih ada 2 anak ayam di dekatnya maka induk ayam itu tidak merasa gelisah. Dia merasa bahwa anak-anaknya baik-baik saja.

Induk ayam bisa membedakan antara 0 atau 3 anak ayam – mampu berhitung dasar. Dia bisa membedakan antara ADA anak ayam dengan TIDAK ADA ada anak ayam. Tetapi, induk ayam tidak bisa membedakan antara 2 dengan 3. Dia tidak mampu berhitung tingkat tinggi. Ayam memang bukan manusia. Sementara, manusia mampu berhitung lebih tinggi lagi. Misal 3 + 2 = 5, lanjut 5 x 4 = 20.

Dalam tataran praktis, manusia mampu berhitung jangka panjang. Misal, investasi setiap bulan menghasilkan profit 5 juta rupiah maka dikalikan 3 bulan akan menghasilkan 15 juta rupiah. Dan, kita masih bisa mengembangkan konsep matematika yang lebih canggih lagi.

Berpikir dalam bidang bahasa merupakan contoh, lagi, kemampuan akal manusia. Tentu saja, beberapa jenis binatang berkomunikasi dengan bahasa tingkat dasar. Misal, sekelompok anjing hutan berburu sambil berkomunikasi mengatur strategi untuk mengintai korban. Bagaimana pun, kemampuan berbahasa manusia jauh lebih tinggi dari itu. Dengan bahasa, kita bisa menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak. Kita bisa membuat cerita pendek bahkan sampai novel berseri-seri dengan menggunakan bahasa. Dan, tentu saja kita bisa membuat puisi yang lembut menyentuh hati. Tidak ada binatang yang memiliki kemampuan bahasa secanggih manusia. Bahasa tingkat tinggi merupakan kemampuan khusus bagi manusia.

Moral

Immanuel Kant (1720 – 1804) membedakan akal dengan pemahaman (understanding). Pembedaan ini bernilai sangat penting. Apa saja yang kita bahas di atas, yang melibatkan kecerdasan matematika dan bahasa misalnya, masih termasuk dalam kategori “pemahaman”. Kita memahami suatu pernyataan matematika bernilai benar atau salah. Kita memahami suatu pernyataan bahasa menarik atau tidak. Itu semua tugas “pemahaman” (understanding).

Sementara, tugas akal adalah memutuskan suatu sikap, misal sikap kreatif atau sikap moral. Ketika “pemahaman” memahami formula aljabar, misalnya, akal berpikir: Apakah ada cara yang lebih mudah dari aljabar ini? Apakah aljabar ini berguna untuk kehidupan nyata? Apakah aljabar perlu saya pelajari lebih mendalam?

Akal makin penting perannya dalam menentukan sikap moral. Dengan “pemahaman” kita tahu bahwa “mencuri” atau “korupsi” adalah tindakan jahat. Akal bertanya: Apakah kita perlu korupsi dengan keuntungan harta yang tinggi? Ataukah kita perlu menghindari korupsi meski ada peluang begitu menggoda? Akal bertanya. Dan, akal pula yang memutuskan jawabannya: korupsi atau tidak.

Akal memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memilih sikap bermoral atau tidak bermoral. Meskipun dalam prakteknya, manusia perlu beragam fasilitas pendukung untuk menjalankan sikap dari akal. Tetapi, keputusan oleh akal itu sendiri bersifat bebas.

Kant melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa tujuan alam raya adalah untuk menghadirkan manusia-manusia bermoral. Mereka memilih untuk bertindak bermoral meskipun, sejatinya, mereka bisa memilih untuk berbuat jahat. Mengapa mereka memilih tindakan bermoral? Karena dirinya, memang, orang bermoral.

Hal ini berbeda dengan reproduksi, misalnya. Mengapa manusia punya nafsu hasrat? Karena agar manusia bisa reproduksi berkembang biak. Mengapa manusia perlu reproduksi? Karena untuk melestarikan spesies manusia. Mengapa perlu melestarikan spesies manusia? Dan seterusnya, pertanyaan bisa tanpa akhir.

Sementara, pertanyaan tentang moral akan berhenti kepada diri manusia bermoral. Manusia menjadi bermoral karena tindakannya yang bermoral. Tindakan bermoral ini disebabkan oleh manusia yang bermoral – memilih bermoral. Jadi, manusia bermoral adalah proses dan tujuan dalam dirinya sendiri.

Dengan konsep moral seperti itu, “Siapakah manusia?”

Manusia adalah dumadi bermoral.

Dumadi adalah kejadian, ciptaan, sesuatu, mahkluk, eksistensi, atau being. Manusia adalah “dumadi bermoral” bermakna manusia adalah sesuatu yang esensinya mampu memilih sikap moral, meski pun, mereka bisa juga memilih sikap jahat. Dengan konsep “dumadi bermoral”, tampaknya, banyak manusia yang tidak masuk dalam klasifikasi ini. Karena, seperti kita tahu, beberapa manusia gagal memilih sikap moral.

Binatang

Keberatan utama dari konsep “binatang berakal” adalah kesan kata “binatang” seakan-akan makhluk tak bermoral. Singa terkenal buas, ular terkenal licik, dan anjing sebagai penjilat. Manusia sering mengumpat, menjelekkan pihak lain, dengan menyebut nama binatang. Nama binatang begitu rendah dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Padahal, sebagai mana kita maklum, binatang tidak ada yang jahat. Binatang, justru, tidak pernah melakukan dosa. Perhatikan, misalnya, seekor ular yang memangsa tikus hidup-hidup di sawah. Tidak ada perilaku jahat dalam kejadian itu. Ular tidak menjadi jahat karena membunuh tikus. Begitu juga tikus tidak menjadi jahat karena memicu ular untuk membunuh dirinya. Ular tidak pernah memangsa tikus jika dirinya tidak lapar. Meski ada tikus di depannya, ular tidak akan memangsanya bila dirinya sedang kenyang. Ular juga tidak pernah menimbun banyak tikus, sedemikian hingga, agar ular bisa makan tikus dalam jumlah berlebihan. Dan, jelas sekali, ular tidak pernah berternak tikus dengan tujuan untuk kebutuhan konsumsi atau keuntungan lainnya.

Ular, dan binatang lainya, tidak jahat. Bahkan binatang, sampai kapan pun, tidak akan pernah menjadi jahat. Hanya manusia yang bisa menjadi manusia jahat. Meski pun, manusia bisa juga menjadi manusia bermoral.

Seharusnya, kata “binatang” berkonotasi netral. Tidak jahat, pun, tidak harus bermoral. Dalam beberapa kesempatan, nama binatang berkonotasi positif. Jago gitar, Sang Rajawali, Maung Bandung, Kepala Naga, dan lain-lain.

Kita menemukan beberapa perilaku manusia jahat, lalu, melabeli mereka bagai binatang. Pegawai korup licik bagai ular. Pedagang serakah buas bagai srigala. Penipu bingung bagai cacing kepanasan. Lagi-lagi, perilaku jahat pada manusia, lalu, menggambarkan kejahatan yang sama kepada binatang. Tentu saja, penilaian seperti ini tidak fair. Meski demikian, karena sudah menjadi ungkapan dalam kehidupan sehari-hari, maka, sudah menjadi “language game” yang ada.

Bisa jadi, orang-orang tertentu, dengan sengaja, mengambil konsep “binatang berakal” menjadi inspirasi untuk suatu kejahatan mereka.

Keberatan kedua terhadap konsep “binatang berakal” adalah keberatan filosofis. Kita tidak bisa membentuk substansi “manusia” dengan cara menambahkan substansi “berakal” kepada substansi “binatang”. Substansi “manusia” adalah substansi tunggal yang unik, merupakan satu kesatuan. Kita hanya bisa menganalisis secara konseptual bahwa dalam konsep manusia terkandung konsep “binatang” dan konsep “berakal”. Hanya analisis, bukan realitas sejatinya.

Spesies manusia adalah realitas konkret yang lebih nyata dari genus binatang.

Pengalaman kita di dunia mekanika memang tampak beda. Mobil atau sepeda, misalnya, kita desain dengan cara merangkai unsur-unsurnya. Untuk merancang sepeda maka kita “menggabungkan” roda depan, roda belakang, sadel, rantai, dan lain-lain. Masing-masing unsur ini sudah eksis secara nyata mendahului sepeda. Pengalaman kita di dunia mekanika ini tidak bisa kita terapkan untuk manusia. Kita, tidak bisa membentuk manusia dengan cara menyusun kaki, tangan, badan, dan lain-lainnya. Tetapi, sekali lagi, kita punya intuisi bahwa kita bisa menyusun robot manusia dengan cara merangkai komponen-komponennya.

Keberatan filosofis ini memerlukan solusi yang tidak bersifat mekanis. Solusi itu harus berupa suatu konsep manusia yang utuh dengan sedikit tambahan deskripsi.

Beberapa konsep alternatif akan kita bahas di bagian bawah. Barangkali, kita bisa mempertimbangkan konsep,

“Manusia adalah dumadi berakal.”

Lebih spesifik lagi konsep,

“Manusia adalah dumadi bermoral.”

5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi

“Siapakah manusia?”

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia peduli dengan masa depan eksistensinya, masa lalu, dan masa kini. Manusia bertanya-tanya, “Bagamana keadaanku, eksistensiku, esok hari?” “Apa yang akan terjadi di masa depan?” “Saya pasti akan mati, tetapi, apa yang akan terjadi saat itu dan setelahnya?”

Heidegger (1989 – 1976) mengusulkan konsep bahwa manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia adalah eksistensi yang senantiasa mempertanyakan eksistensi. Manusia adalah eksistensi yang menyelidiki “makna dari eksistensi.” Heidegger menggunakan istilah “dasein” (being-there) untuk maksud manusia sejati. Manusia, benar-benar nyata, ada di sana dan di sini. Dasein.

Kita bisa membandingkan dasein ini dengan “binatang berakal” dan cogito (dari Descartes).

Kita sampai ke konsep “binatang berakal” melalui analisis evolusi, taksonomi, dan mekanis. Sementara, kita sampai kepada dasein dari analisis filosofis terhadap realitas nyata seutuhnya – being as a whole.

Ontologi Moral

Mengapa dunia Barat lebih maju dari dunia Timur?

Karena Barat menguasai sains dan teknologi. Sehingga, Barat menguasai bidang ekonomi, militer, dan politik. Dengan demikian, Barat mendominasi segala bidang. Benarkah seperti itu?

Pantai Timur Versus Pantai Barat, Yang Mana Lebih Indah?

Barangkali, bila kita melihat situasi akhir-akhir ini, memang benar Barat lebih maju dari Timur – secara umum. Bila kita membaca sejarah lebih panjang sampai ribuan tahun yang silam maka kita menemukan bahwa Timur pernah jauh lebih maju dari Barat. Pertimbangkan sejarah besar bangsa-bangsa Timur: Mesir, Persia, Cina, Arab, Baghdad, India, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri, kita punya sejarah besar Sriwijaya, Majapahit, Demak, dan lain-lain.

Dalam rentang sejarah yang panjang, Timur dan Barat saling silih berganti memimpin peradaban. Hal seperti itu tampak wajar. Pada tulisan ini, kita akan membahas perbedaan prioritas filsafat Timur dan Barat – dengan asumsi filsafat berkorelasi dengan peradaban. Meski ada titik temu, bahkan sinergi, antara filosofi Timur dan Barat, kali ini kita sengaja akan mencari perbedaannya. Di sini, kita tidak bermaksud mengkaji sejarah. Kita hanya fokus membahas sedikit tema tentang ontologi dan moral.

1. Ontologi Barat

2. Moral Timur

3. Manusia Skepo
3.1 Moral Barat
3.1.1 Stoic
3.1.2 Epicurus
3.1.3 Plotinus

3.2 Ontologi Timur
3.2.1 Ibnu Sina
3.2.2 Suhrawardi
3.2.3 Sadra

3.3 Skepo
3.3.1 Penasaran
3.3.2 Membuka Judgment
3.3.3 Positif Partisipasi

Secara filosofi, Barat lebih mengedepankan ontologi (metafisika). Sedangkan, Timur lebih mengedepankan moral (etika). Sebagai manusia, kita membutuhkan keduanya. Sehingga, tantangannya adalah bagaimana mengambil porsi yang tepat, antara metafisika dan etika. Untuk kemudian, menciptakan alunan harmonis keduanya.

Saya mengusulkan sikap skepo untuk mengakomodasi ontologi dan moral dengan baik.

1. Ontologi Barat

Pertanyaan ontologi (metafisika) begitu kuat di Barat sejak masa-masa pra-Sokrates. Misal, Thales (624 – 548 SM), yang ahli matematika begitu bersemangat menjawab pertanyaan: tersusun oleh apakah alam semesta ini? Secara ringkas, para pemikir kuno menemukan jawaban bahwa alam raya ini tersusun oleh unsur-unsur dasar: api, air, tanah, dan udara. Tampak, unsur-unsur dasar tersebut bersifat materi. Sementara, para pemikir kuno tidak bermaksud membatasi hanya dunia materi. Sehingga, unsur-unsur dasar di atas juga bisa bersifat unsur spiritual.

Russell (1872 – 1970) memuji Demokritus (460 – 370 SM) karena menjawab bahwa penyusun alam raya adalah atom. Bagi Russell, jawaban atom ini adalah jawaban paling ilmiah di jamannya, dan bahkan, tetap relevan sampai saat ini.

Plato (428 – 348 SM) membahas dengan tuntas tema ontologi. Alam raya tercipta dari Idea yang ada di alam ideal dan bayang-bayang dari alam ideal itu membentuk alam nyata kita, yang tidak ideal ini. Kemudian, Aristoteles melengkapi dengan beragam teori termasuk teori bentuk dan materi.

Descartes (1596 – 1650) berhasil memisahkan dengan tegas substansi materi dengan substansi jiwa. Substansi materi, dunia materi, merupakan dunia independent yang dapat kita kaji dengan sains. Isaac Newton (1642 – 1726) berhasil dengan cemerlang menerapkan matematika di dunia sains. Konsekuensinya, kekuatan ilmu pengetahuan menjadi bersifat eksak – bukan sekedar coba-coba. Selanjutnya, perkembangan sains dengan teknologi makin erat. Ditambah dengan kepentingan ekonomi dan politik maka dunia Barat menyebarkan kolonialisme ke penjuru dunia.

Kemajuan sains dan teknologi di Barat begitu luar biasa. Lengkap dengan beragam dampak negatif yang sulit ditangani.

2. Moral Timur

Nabi Ibrahim atau Abraham (2000 SM) adalah tokoh moral agama terbesar di dunia. Ajaran Ibrahim yang berkomitmen tinggi kepada kebenaran sejati, kemudian, berkembang menjadi dasar-dasar moral dan agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Buddha (abad 6 SM) mengajarkan cara hidup bermoral tinggi untuk kebahagiaan seluruh umat manusia. Konghucu (551 SM) mengajarkan umat manusia, baik rakyat atau bangsawan, untuk konsisten dalam amal kebajikan.

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) adalah tokoh moral paling terkenal dari Walisongo. Kalijaga dikagumi masyarakat luas lantaran begitu fleksibel mengajarkan prinsip moral ke seluruh kalangan. Bahkan, Kalijaga berkreasi dalam ragam bentuk seni, misal cerita wayang, untuk menanamkan prinsip-prinsip moral: membela kebenaran, sabar, dan pantang menyerah.

Sangkan paraning dumadi” adalah ajaran moral yang mengajak kita untuk merenungi dari mana kita berasal dan ke arah mana kita menuju akhir. Kita berasal dari Tuhan dan kita pasti akan kembali menuju Tuhan pula. Maka dalam hidup ini, kita perlu konsisten hidup dengan moral tinggi sesuai ajaran Tuhan.

Kita perhatikan, fokus moral ini berbeda dengan ontologi. Ketika ontologi bertanya tersusun dari apakah alam raya ini, moral langsung bertanya dari mana dan ke arah mana alam raya ini. Ontologi sibuk merumuskan unsur-unsur dasar api atau atom. Moral sibuk memperbaiki perilaku manusia agar sejalan dengan moral tuntunan Tuhan.

Mamayu hayuning bawana” adalah ajaran moral agar kita ikut serta menciptakan kebaikan alam raya. Kita perlu berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan, membantu orang-orang yang perlu pertolongan, dan berbagi kebaikan.

Lagi, kita perhatikan, ketika ontologi sains menyelidiki hukum gravitasi, moral justru mengajak umat manusia untuk saling berbagi. Mengalahkan nafsu diri yang ingin menikmati fasilitas dunia berlebihan. Membaginya, sumber daya dan fasilitas yang ada, untuk kebaikan umat manusia.

Urip kudu urup” ajaran moral yang mengajak kita hidup penuh semangat. Apakah Anda seorang petani? Maka jadilah petani yang semangat. Apakah Anda seorang pedagang, karyawan, atau seniman? Maka hiduplah dengan semangat dalam segala situasi.

Ontologi teknologi menyelidiki cara meng-eksplorasi alam raya, sementara moral, mengajak kita hidup penuh semangat dengan segala yang alam raya ada.

Tentu, perbandingan berlawanan antara ontologi dan moral, di atas, kita buat agar tajam perbedaannya. Kita masih bisa membuatnya lebih ekstrem lagi perlawanan keduanya. Atau sebaliknya, kita bisa mencari alunan harmonis antara ontologi dan moral.

3. Manusia Skepo

Sebagai manusia, kita membutuhkan keduanya: ontologi dan moral. Sejatinya, para pemikir Timur dan Barat, juga membahas kedua-duanya. Tugas kita adalah menciptakan alunan serasi antara ontologi dan moral. Sebuah tugas yang tidak pernah ada titik hentinya. Mengajak manusia untuk bahagia dari suatu alunan ke alunan berikutnya. Sikap manusia skepo kita perlukan di sini.

3.1 Moral Barat

Agar alunan alam raya ini terasa lebih serasi, kita akan membahas moral Barat dan ontologi Timur. Sehingga, kita mendapat gambaran lebih kuat bahwa alunan indah ontologi moral ini memang ada di mana-mana. Meski moral di Barat sudah berkembang sejak awal-awal peradaban, tetapi, dominasi moral tampak sangat jelas sekitar abad ke-3 SM. Lahirlah tiga madzhab moral filosofis: Stoic, Epicurus, dan Plotinus.

3.1.1 Stoic

Zeno (334 – 262 SM) adalah pendiri Stoic (Filosofi Teras) yang terus berkembang sampai saat ini. Silicon Valley, Hollywood, dan Eropa, dikabarkan saat ini, tengah jatuh cinta lagi dengan filosofi Stoic. Bahkan di Indonesia, saat ini, juga berkembang filosofi Teras.

Stoic mengajarkan bahwa tujuan utama filosofi adalah mengajak manusia hidup bahagia sempurna melalui penyempurnaan empat karakter kebajikan utama: bijak, apik, adil, dan berani. Cara mengembangkan empat kebajikan ini adalah dengan fokus kepada hal-hal yang bisa kita kendalikan, untuk kemudian, berkembang makin meluas.

Sementara, kajian filsafat lainnya, semisal ontologi dan epistemologi, diarahkan untuk membantu manusia mengembangkan empat karakter kebijakan utama di atas.

3.1.2 Epicurus

Epicurus (341 – 270 SM) mengembangkan aliran filsafat yang berpengaruh besar, di jaman, bersamaan munculnya Stoic. Mereka, Epicu dan Stoic, bersaing mengajak umat manusia hidup bahagia melalui jalan filosofi moral.

Secara konsep, filosofi Epicu ini sangat kuat. Tetapi, bagi masyarakat awam, butuh perjuangan lebih besar untuk bisa memahami filosofi Epicu. Jefferson, presiden US, mengaku menggunakan filosofi Epicu untuk mendorong kemajuan US. Karl Marx mengkaji filosofi Epicu dalam disertasi doktoralnya, yang kelak, menjadi rujukan utama sosialisme. Deleuze (1920 – 1995) mengkaji teori atom Epicu untuk menjelaskan beragam sumber perbedaan.

Filosofi Epicu dengan tegas menyatakan bahwa tujuan filsafat adalah mengantar manusia bahagia sempurna dengan cara menikmati alam raya secara lahir dan batin. Tentu saja, kita setuju diajak menikmati alam raya secara lahir dan batin. Tetapi, Epicu mengajarkan caranya dengan tepat. Dan, banyak orang berpikir ulang dengan cara Epicu itu.

Pertama, untuk bisa menikmati alam raya, kita perlu membatasi diri – bukan mengumbar nafsu. Anda bisa menikmati makanan dengan cara membatasi jumlah makan. Anda hanya bisa menikmati olahraga dengan cara membatasi kadar olahraga. Anda hanya bisa menikmati musik dengan cara membatasi bermusik. Kedua, untuk menikmati alam raya, kita menjalani hidup berdasar persahabatan. Sahabat adalah orang yang merasa bahagia karena membantu sahabatnya. Hidup ini bukan transaksi dagang, bukan pula transaksi politik. Hidup ini adalah persahabatan. Ketiga, untuk menikmati alam raya, kita perlu mengembangkan pengetahuan seluas-luasnya. Pengetahuan fisik dan pengetahuan ruhani. Kita mendalami ilmu agar mampu membatasi diri tidak mengumbar birahi. Kita mendalami ilmu agar politik penuh arti tidak hanya mengumbar janji. Kita mendalami ilmu sejati adalah bahagia sejati.

3.1.3 Plotinus

Plotinus (204 – 270) adalah pendiri neo-platonisme. Di akhir hayat, Plotinus menegaskan bahwa tugas kita sebagai filosof adalah “membawa cahaya ke dalam diri manusia” atau “membawa diri manusia ke dalam cahaya.” Dan, Plotinus berhasil menjalankan tugas itu dengan baik. Dibimbing oleh gurunya: Ammonius. Dibukukan oleh muridnya: Porphyry.

Pengaruh Plotinus, secara ontologi dan moral, terhadap generasi berikutnya sangat besar baik di Barat mau pun Timur. Tetapi, karena Plotinus berulangkali menyebut ajarannya sebagai Platonisme, maka orang-orang menganggap semua yang diajarkan Plotinus bersumber dari Plato. Meski benar, Plotinus sangat kuat merujuk ke Plato – dan Aristoteles, di saat yang sama, banyak ajaran orisinil dari Plotinus.

Pertama, Plotinus menolak ontologi yang menyatakan hanya ada realitas fisik belaka. Plotinus menegaskan adanya realitas spirit ideal yang lebih tinggi. Kita berasal dari Yang Maha Baik dan kebahagiaan hakiki adalah kita kembali kepada Yang Maha Baik. Kedua, untuk mencapai kebaikan hakiki maka kita perlu menjalani hidup dengan baik secara moral dan profesional. Bertahap, setiap saat, menapaki tangga yang lebih tinggi. Ketiga, jiwa manusia adalah cahaya. Maka hadirkan cahaya dalam jiwa. Atau, hadirkan jiwa dalam cahaya. Hakikat manusia adalah jiwa memancarkan cahaya bahagia.

3.2 Ontologi Timur

Berikutnya, kita akan membahas beberapa tokoh penting dari Timur yang mengembangkan ontologi dengan cemerlang. Dengan demikian, meski di Timur dominan moral, tetap saja kajian ontologi terus berkembang. Ontologi dan moral mengalun serasi dengan seimbang.

3.2.1 Ibnu Sina

Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir besar yang terkenal di Timur dan Barat – dikenal sebagai Avicenna. Ibnu Sina mendalami ontologi Plato, Aristoteles, dan Plotinus yang dilengkapi sudut pandang Al Kindi dan Al Farabi. Ketika Ibnu Sina mengalami kesulitan memahami maksud Aristoteles maka dia membaca tulisan Al Farabi. Dengan memahami Al Farabi, Ibnu Sina berhasil memahami Aristoteles.

Pertama, Ibnu Sina berhasil membuktikan eksistensi jiwa manusia yang mandiri dari badan manusia – secara ontologis. Ibnu Sina mengenalkan eksperimen pikiran “manusia terbang”. Ketika Anda di dalam ruangan, pejamkan mata Anda. Lalu bayangkan bahwa diri Anda terbang melayang-layang. Kita berhasil melakukan eksperimen pikiran itu. Jiwa kita, diri kita, tidak terikat pada badan untuk eksis. Kelak, Descartes (1596 – 1650) mengembangkan lebih jauh konsep ini dengan dualisme subtansi: jiwa dan materi.

Kedua, Ibnu Sina membedakan keniscayaan sebagai wajibul-wujud-bidzati dan wajibul-wujud-bighoirihi. Segala sesuatu perlu sebab untuk bisa eksis di alam raya ini. “Sebab” itu sendiri perlu “sebab lain” dan demikian seterusnya. Mereka, yang perlu sebab lain, adalah wajibul-wujud-bighoirihi. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya keharusan sebab yang mandiri yaitu wajibul-wujud-bidzati. Kelak, Leibniz (1646 – 1716) mengembangkan lebih jauh konsep ini menjadi konsep “keniscayaan” dan “kontingensi”.

Ketiga, konsep wajibul-wujud melangkah maju berhasil membuktikan eksistensi Tuhan sebagai Tuhan Yang Maha Ada, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Saat ini, metode pembuktian dengan cara Ibnu Sina kita kenal sebagai bukti ontologis eksistensi Tuhan.

3.2.2 Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) fokus kepada kajian ontologis paling fundamental: logika. Semua pengetahuan manusia, yang valid, didasarkan pada sistem logika yang harus valid juga. Sayangnya, sistem logika sejak Aristoteles sampai Ibnu Sina, justru, rapuh di bagian fondasi.

Apa itu manusia? Bagaimana manusia bisa mengetahui sesuatu? Seberapa meyakinkan kebenaran suatu pengetahuan?

(A): Setiap manusia bisa mati. (B): Suhrawardi adalah manusia. Maka kesimpulan yang sah adalah (C): Suhrawardi bisa mati.

Proses berpikir dari (A) dan (B) untuk menghasilkan kesimpulan (C) adalah silogisme logika yang wajar. Masalahnya, justru, bagaimana kita bisa mengetahui premis, pernyataan (A), bernilai benar? Karena, ketika, pernyataan (A) tidak meyakinkan maka semua kesimpulan logika juga tidak meyakinkan.

Suhrawardi memberi solusi dengan pendekatan logika visi-iluminasi. Pertama, realitas paling nyata adalah “cahaya” sehingga segala sesuatu perlu cahaya untuk bisa dijelaskan. Sementara, cahaya sendiri tidak memerlukan yang lain sebagai penjelas baginya. Tentu, yang dimaksud cahaya di sini bukan cahaya fisik tetapi cahaya ontologis.

Kedua, realitas cahaya berbeda-beda dalam kadar intensitas dan bentuknya. Sehingga, kita bisa menyaksikan keragaman di alam raya. Mereka, manusia dan alam raya, sama-sama cahaya, di saat yang sama, mereka berbeda-beda sesuai kadar intensitas.

Ketiga, untuk bisa mendapatkan pengetahuan (sejati), manusia perlu memiliki kemampuan melihat (visi). Kemudian menghadapkan visi ke obyek yang bercahaya, iluminasi. Di antara subyek (visi) dan obyek (iluminasi) tidak ada penghalang. Sehingga, visi dan iluminasi saling hadir membentuk satu kesatuan utuh pengetahuan sejati, knowledge by presence atau ilmu hudhuri. Pengetahuan visi-iluminasi ini bersifat pasti dan non-proposional.

Langkah selanjutnya, kita bisa mengungkapkan pengetahuan visi-iluminasi melalui simbol-simbol (perlambang) atau pernyataan proposisional (subyek – predikat). Dengan demikian, logika berhasil memperoleh fondasi pengetahuan yang kokoh.

3.2.3 Sadra

Mulla Sadra (1571 – 1635) mengembangkan sistem metafisika (ontologi) dengan canggih.

3.3 Skepo

3.3.1 Penasaran

3.3.2 Membuka Judgment

3.3.3 Positif Partisipasi

Adil Permata Tiada Tara

Adil adalah cita-cita paling utama seluruh umat manusia. Bahkan, adil adalah cita-cita untuk seluruh alam semesta. Adil mendorong terwujudnya masyarakat sejahtera. Adil menjaga alam semesta harmoni berkelanjutan. Adil adalah permata tiada tara.

Menariknya lagi, kita semua paham apa itu adil. Meski pun, kita kadang sulit untuk mengungkapkan adil dengan kata-kata. Sementara, kita bisa merasakan bahwa sesuatu itu adil atau tidak – misal adanya kejanggalan.

Dalam kehidupan sosial, adil adalah kriteria paling utama. Menjadi landasan segala kriteria lainnya. Ketika kriteria adil dihapus maka segala kriteria positif di masyarakat menjadi kehilangan arti. Misal kehidupan masyarakat makmur tetapi tidak adil. Maka makmur menjadi tidak berarti karena di masyarakat terjadi ketidak-adilan: penindasan, pembungkaman, perkosaan, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga tidak berarti bila tanpa keadilan. Ketimpangan yang kaya dan miskin makin menganga. Kecemburuan sosial mengancam kehidupan sosial.

Sehingga, kita harus membahas tema adil dengan adil.

1. Konsep Umum Adil
2. Adil sebagai Fairnes
3. Adil sebagai Dinamika

Secara umum, adil adalah memberikan sesuatu sesuai haknya, sesuai ukurannya. Apa itu hak? Apa itu ukuran?

Adil adalah “fairness”, suatu kewajaran. Apa itu fairnes? Untungnya, Rawls sudah mengusulkan ukuran-ukuran fairness.

Adil adalah dinamis. Apa itu dinamis? Untungnya, kita bisa menghitung dinamika sosial dengan beragam cara.

1. Konsep Umum Adil

Sejak jaman Socrates, Plato, dan Aristoteles (abad 4 SM) adil merupakan konsep paling penting bagi manusia sebagai pribadi, masyarakat, alam raya, dan makhluk Tuhan. Demikian juga, filosofi Timur menempatkan adil pada posisi sangat tinggi misal Farabi, Ibnu Sina, Ghazali, Ibnu Arabi, dan Sadra. Di tanah air, kita mengenal konsep Ratu Adil yang menegakkan keadilan untuk seluruh warga semesta.

Adil adalah memberikan sesuatu sesuai haknya, sesuai ukurannya, demikian konsep umum adil. Plato menekankan penting harmoni ideal sebagai ukuran adil. Sementara, Aristoteles memperkuat konsep adil distributif. Segala sumber daya alam perlu disalurkan ke masyarakat secara adil merata.

Tentu saja, adil retributif menjadi dasar. Seorang pencuri wajib mengembalikan barang yang dia curi. Seorang koruptor wajib mengembalikan seluruh kekayaan korupsinya. Seorang pengusaha, dan penguasa, perlu memperbaiki kerusakan lingkungan.

Pemikir Timur, meluaskan konsep adil kepada Tuhan. Setiap manusia perlu mengabdi kepada Tuhan dengan memakmurkan bumi dan memajukan peradaban.

Secara pribadi, kita perlu adil kepada badan kita. Badan perlu istirahat dari beban kerja tiap hari. Olahraga rutin barangkali bisa memenuhi hak badan Anda. Otak perlu asupan vitamin berupa ilmu-ilmu yang luas. Hati meminta gizi hati berkualitas tinggi.

Anak Anda, istri Anda dan keluarga besar Anda, juga perlu mendapat perhatian secara adil.

Meski pun, tugas berbuat adil, tampak, begitu banyak jika kita lakukan semua justru hasilnya lebih baik bagi diri kita. Komitmen kita kepada adil menjamin kebaikan hidup bersama. Pertanyaannya, justru, bagaimana jika ada orang yang melanggar keadilan? Tentu, pelanggaran itu berdampak negatif bagi banyak orang.

Jika pelanggaran itu bersifat kriminal, misal pencurian, maka pengadilan pidana bisa menjadi solusi. Tetapi, jika pelanggaran itu berupa pelanggaran strategis, atau policy, maka apa solusinya?

Apakah pemindahan ibu kota negara (IKN) adalah adil di saat ini?
Apakah proyek kereta api cepat adalah adil bagi rakyat?
Apakah jutaan orang hidup miskin adalah adil?

Untuk menjawab pertanyaan sejenis itu kita perlu membahas konsep adil sebagai “fairness”.

2. Adil sebagai Fairnes

John Rawls (1921 – 2002) berhasil dengan gemilang merumuskan konsep adil yang nyata dalam kancah sosial politik. Sehingga, konsep adil tidak hanya pada tataran normatif. Adil sebagai “fairness” bisa dinyatakan dalam undang-undang atau konstitusi dan bisa diverifikasi secara obyektif.

Rawls menyusun dua prinsip paling mendasar – landasan adil sebagai fairness. Pertama adalah prinsip kesetaraan yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan yang sama, yang setara.

“Each person is to have an equal right to the most extensive total system of equal basic liberties compatible with a similar system of liberty for all”.

Kedua, prinsip tentang perbedaan. Tampak, Rawls mengakui realitas alam semesta ini dipenuhi dengan beragam perbedaan – meskipun prinsip pertama merupakan prinsip kesamaan. Untuk itu, Rawls menyusun dua prinsip perbedaan, prinsip 2a dan prinsip 2b.

 “Social and economic inequalities are to be arranged so that they are both:

(a) to the greatest benefit of the least advantaged, consistent with the just savings principle, and
(b) attached to offices and positions open to all under conditions of fair equality of opportunity.”

Termasuk kebebasan yang setara, prinsip 1 tentang kesamaan, adalah negara menjamin kebebasan setiap warga untuk bebas berpikir, bebas menentukan pilihan politik, bebas berpendapat, bebas berserikat, bebas memilih pekerjaan, dan kebebasan lain yang ditetapkan oleh negara.

Di sini, tampak jelas, prinsip dari Rawls bisa kita terapkan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga filsafat moral dan filsafat politik tidak hanya berhenti sebagai normatif. Filsafat politik bisa menjadi pegangan nyata dalam kehidupan politik.

Bercermin ke situasi Indonesia saat ini, barangkali, kita bisa menilai bahwa warga negara Indonesia sudah memiliki kebebasan dalam berpolitik, berserikat, memilih pekerjaan, dan lain-lain. Tentu itu adalah kabar baik. Khusus untuk kebebasan berpendapat, tampaknya, menjadi masalah besar bagi Indonesia dan dunia.

Kebebasan berpendapat menjadi masalah dunia dengan sering terjadinya “penghapusan” akun media sosial yang menyatakan pendapat berbeda dengan kekuatan politik tertentu. Misal akun medsos yang mengkritik presiden atau perdana menteri lalu dihapus oleh medsos. Atau akun medsos yang menyuarakan penderitaan orang-orang tertindas semisal Palestina, Kulit Hitam, Suku Asli, dan lain-lain juga terancam untuk diblokir.

Di Indonesia, ancaman pencemaran nama baik bisa lebih besar lagi. Bukan hanya akun medsos yang dihapus, tetapi sampai kepada kurungan pidana bertahun-tahun. Ancaman bagi kebebasan umat manusia. Ancaman bagi keadilan – adil makmur.

3. Adil sebagai Dinamika

Masyarakat perlu terus untuk bergerak maju. Negara perlu menjaga dinamika. Saya menambahkan prinsip dinamika, adil sebagai dinamika, prinsip ke 3 dari keadilan.

(3a) Masyarakat kelompok bawah perlu dijamin untuk terus dinamis menjadi lebih baik. Ukuran dinamika pertumbuhan, bagi kelompok bawah, dipastikan mencapai target tertentu.

(3b) Ukuran dinamika, minimal, mencakup dua parameter yang saling bertentangan.

(3c) Pertumbuhan kelas atas perlu berkontribusi kepada pertumbuhan kelas bawah.

Kita ambil contoh kasus di Indonesia. Berdasar SDG Report 2021, ada sekitar 50 juta orang Indonesia di bawah garis kemiskinan (Rp 450 ribu per bulan setara $ 3,2 US – PPP). Berdasar prinsip dinamika 3a, kelompok 50 juta orang paling miskin ini perlu kita jamin bertumbuh dinamis. Ukuran pertumbuhan bisa banyak hal. Misal dari pendapatan atau pengeluaran mereka meningkat jadi 600 ribu rupiah per bulan pada tahun berikutnya. Bisa juga, jumlah penduduk miskin yang berkurang menjadi di bawah 40 juta orang.

Dalam waktu lima tahun ke depan, diharapkan, 50 juta orang miskin di atas, berpenghasilan lebih dari 2 juta rupiah per bulan per kapita (setara 8 juta rupiah per bulan per keluarga tediri 4 orang). Atau, dalam 5 tahun ke depan, dari 50 juta orang miskin itu, tidak ada lagi yang berada di bawah garis kemiskinan.

Prinsip 3b memastikan ukuran dinamika lebih dari dua dimensi – yang bertentangan. Misal ukuran kerja yang layak. Orang miskin di atas, meski penghasilan menjadi 8 juta rupiah per bulan, menjadi tidak berarti bila mereka wajib bekerja 20 jam sehari. Jam kerja sebanyak itu tidak layak, tidak manusiawi. Sehingga ukuran kerja yang layak, dalam hal ini batasan jam kerja, menjadi kontrol terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini, kita berharap pertumbuhan ini bersifat harmonis.

Tentu saja, banyak alternatif parameter bisa kita kembangkan. Di antaranya kesehatan lingkungan, persepsi kebahagiaan, keanekaragaman hayati, konservasi lingkungan, dan sebagainya. Dari beragam parameteri ini, prinsip 3b, menyarankan agar kita fokus kepada dua parameter – bertentangan – yang paling penting.

Kelompok kelas atas, kelas kaya, mendapat dukungan untuk dinamis dengan prinsip 3c. Secara umum, kelas kaya mampu bertumbuh lebih dinamis dari kelas lainnya. Dan pertumbuhan kelas kaya ini, diharapkan, mendorong pertumbuhan ekonomi sosial secara umum. Dinamika pertumbuhan kelas kaya, harus, dipastikan berdampak positif terhadap dinamika kelas miskin.

Tahun 2021 ini, kita melihat pertumbuhan kekayaan orang kaya Indonesia yang luar biasa. Misal, Mas Nadiem, sebagai founder Gojek, kekayaannya bertumbuh 400 kali lipat dari semula menjadi lebih dari 4 trilyun rupiah. Demikian juga dengan William, founder Tokopedia. Yang terbaru, Zaki, founder Bukalapak, melejit kekayaannya dengan suksesnya IPO Bukalapak. Semua pertumbuhan orang-orang kaya itu sah dan baik, sejauh berdampak positif kepada orang-orang kelas bawah. Driver gojek penghasilan naik. Penjual di Tokopedia makin laris. Dan pelapak di Bukalapak makin untung.

Dinamika pertumbuhan adil makmur seperti itulah yang kita harapkan. Apakah itu yang terjadi di Indonesia?

IKN: Ibu Kota Negara

Kembali ke contoh pertanyaan awal: apakah pemindahan ibu kota negara (IKN) adalah adil?

Jawaban dari berbagai macam kajian adalah adil. Karena DKI memang sudah terlalu penuh sesak maka pemindahan IKN adalah adil. Apakah adil jika dilakukan saat ini, antara 2022 – 2024, ketika pandemi?

Pertanyaan, memang, bergeser kepada jadwal. Pandemi menyebabkan kemunduran di berbagai bidang: ekonomi, kesehatan, industri, pendidikan, dan lain-lain. Sehingga, ada yang mengusulkan, sebaiknya, Indonesia lebih fokus kepada pemulihan kondisi Indonesia saat dan setelah pandemi ini. Apakah IKN urgen?

Kita bisa menyusun beragam pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut:

  1. Apakah IKN menjamin kesetaraan setiap warga? Apakah setiap warga bebas menyampaikan pendapat tentang IKN dan dipertimbangkan?
  2. Apakah IKN memberi keuntungan terbesar bagi masyarakat lapisan bawah? Atau hanya menguntungkan lapisan atas?
  3. Apakah IKN menghormati ragam perbedaan?
  4. Apakah IKN mendorong pertumbuhan lapisan bawah lebih dinamis?
  5. Apakah IKN memberikan pertumbuhan berimbang, mengurangi ketimpangan sosial?

Bagaimana pun sulitnya bersikap adil, memang itu tugas manusia sejati. Kita perlu komitmen kuat untuk bersikap adil secara sosial mau pun personal. Adil adalah permata tiada tara.

Cinta Pertama

Cinta pertama begitu mempesona. Cinta pertama memberi bahagia kepada kita semua. Cinta adalah yang paling utama dan pertama. Kita datang dari cinta dan pulang kembali kepada cinta. Menelusuri jalan cinta.

Jalan Cinta Masa Depan - Foto gratis di Pixabay

Setiap menghela nafas adalah nafas cinta. Setiap mata memandang adalah pandangan cinta. Setiap hati berbisik adalah bisikan cinta.

Ketika cinta begitu mempesona, mengapa banyak orang melupakannya?

1. Pertama dan Utama
2. Filosofi Cinta Mendua
3. Tanpa Cinta untuk Apa

Cinta tidak pernah sirna. Cinta tak pernah musnah. Cinta tak akan retak. Tapi, cinta bisa meredup, bisa melemah, dan bisa salah arah. Pada tulisan ini, kita akan membahas cinta secara filosofi, dengan harapan, bisa lebih mencerahkan cinta di setiap detik hidup kita.

1. Pertama dan Utama

Pertama, kita hadir di dunia karena cinta kedua orang tua kita. Ayah cinta kepada ibu. Ibu cinta kepada ayah. Hadirlah buah cinta mereka yaitu diri kita. Ayah-ibu penuh cinta menyambut hadirnya si kecil kita. Kita, sejak lahir itu, juga cinta kepada ayah-ibu. Segalanya, hanya ada cinta.

2. Filosofi Cinta Mendua

Cinta tidak bisa dibagi dua. Cinta hanya bisa berlipat menjadi dua. Dengan adanya dua cinta ini maka kita menemukan tak terhingga banyaknya cinta. Perhatikan ketika ada dua lambang bilangan 0 dan 1, misalnya, maka kita bisa menyusun banyak bilangan hanya dengan angka 0 dan 1 itu. Teknologi digital adalah teknologi yang hanya menggunakan angka 0 dan 1.

Demikian juga dengan filosofi cinta, berlipat menjadi dua: falsafah dan hikmah. Falsafah memberi cinta sayap rasional penuh ketelitian. Sedangkan, hikmah memberi cinta sayap spiritual penuh keluasan. Kombinasi falsafah dan hikmah melahirkan lebih banyak filosofi cinta tak terbatas.

3. Tanpa Cinta untuk Apa

Hanya cinta yang memberi makna. Bahkan, di surga, juga berlimpah cinta. Atau, cinta mencipta dunia menjadi surga. Tanpa ada cinta, untuk apa semua yang ada?

Pada bagian akhir tulisan ini, saya akan merumuskan filsafat dari yang abstrak sampai yang kongkrit dengan meminjam konsep 3P: Perempuan, Parfum, Pengeran.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengakhiri karya filsafat terbaiknya, The Bezel of Wisdom, dengan konsep metafisika cinta yang jelas. Berfilsafat adalah jatuh cinta. Hidup yang penuh cinta adalah hidup dalam hikmah filsafat. Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan Pengeran.

3.1 Perempuan

Ingatkah ketika Anda jatuh cinta? Hidup terasa berbunga-bunga. Hanya ada bahagia. Hanya ada cinta.

Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan Anda. Filsafat adalah mencintai istri Anda sepenuh hati. Bukan hanya jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu, tetapi, jatuh cinta dalam abadi. Filsafat adalah hidup, dari cinta menuju cinta, bersama cinta.

Istri Anda adalah perempuan. Ibu Anda adalah perempuan. Barangkali, anak Anda juga perempuan. Filsafat mengajak Anda mencintai mereka. Di saat yang sama, mereka mencintai Anda. Cantiknya perempuan adalah simbol cantiknya semesta. Mencintai perempuan adalah mencintai semesta. Memberikan yang terbaik untuk semesta. Dan, menerima yang terbaik dari semesta.

Apa pun mazhab filsafat yang Anda pegang, harus mengajak Anda mencintai, dan dicintai, perempuan. Jika tidak, barangkali, Anda perlu melakukan kritik tajam terhadap filsafat Anda atau silakan berganti madzhab filsafat.

Perempuan bisa bermakna pasangan. Jika Anda seorang istri, maka filsafat mengajak Anda untuk jatuh cinta kepada suami abadi. Filsafat adalah cinta suci yang abadi. Filsafat ada di sini.

3.2 Parfum

Harum semerbak mewangi. Tak terlihat. Tak tersentuh. Tak terduga. Parfum menebarkan aroma wangi ke alam sekitar.

Filsafat, barangkali, tak terlihat, tak tersentuh, dan tak terpikirkan. Tetapi, aroma harum filsafat harus semerbak memenuhi semesta. Jika Anda mengkaji filsafat tapi tidak menebarkan aroma wangi maka Anda perlu kritik filsafat yang tajam. Atau, Anda bisa mempertimbangkan pindah madzhab filsafat. Karena, filsafat sejati senantiasa menebarkan aroma wangi.

Filsafat mengarahkan sains untuk terus tumbuh berkembang. Filsafat mengarahkan teknologi menyuburkan bumi. Filsafat mengarahkan ekonomi lebih manusiawi. Filsafat bersahabat dengan agama. Filsafat berteman dengan logika. Filsafat menebarkan aroma cinta bagi seluruh semesta.

Parfum adalah benda padat atau cair yang kasat mata. Aroma wanginya menyeruak tanpa terlihat mata. Filsafat mengkaji segala sesuatu yang ada di depan mata. Di saat yang sama, filsafat terbang tinggi melebihi penglihatan dua bola mata.

3.3 Pengeran

Dalam bahasa Jawa, Pengeran bermakna sebagai Tuhan. Filsafat mengajak kita jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan yang sangat pentig, kepada Pengeran, Tuhan.

Pengeran, adalah Sang Maha Cinta, yang bermanifestasi di seluruh penjuru semesta. Perempuan adalah manifestasi cinta. Parfum adalah manifestasi cinta. Pengeran adalah Maha Cinta.

Bagaimana dengan orang ateis yang tidak percaya Tuhan? Misal, Richard Dawkins tidak percaya Tuhan. Dia lebih percaya kepada probabilitas. Maka, tugas dia untuk merumuskan probabilitas agar layak, dia, jatuh cinta padanya.

Jika filsafat tidak mengantar Anda jatuh cinta kepada Pengeran maka Anda boleh melakukan kritik tajam terhadap filsafat. Atau, seperti sebelumnya, Anda bisa pindah ke filsafat madzhab cinta.

Filsafat mengantar kita jatuh cinta kepada Pengeran. Sejatinya, Pengeran senantiasa mencintai kita. Pengeran mencintai alam raya. Kita, selamanya, ada dalam naungan cinta Sang Maha Cinta.

Free Will Berhadapan Super Determinisme

Bukan hanya determinisme, kita berhadapan dengan super determinisme. Suatu kepastian yang bersifat super pasti. Semua alam raya, sejatinya, nasibnya sudah dipastikan. Bahkan pilihan bebas kita, sebagai manusia, juga sudah dipastikan. Tidak bisa berubah, semua yang ada. Tidak ada alternatif, dari semua yang ada. Semua sudah dipastikan dengan super pasti. Kita dan alam raya berada dalam super determinisme.

Paham super determinisme hidup sampai sekarang sejak ribuan tahun yang lalu. Beberapa pendukung, di antaranya, adalah Amy Karofsky dengan menerbitkan bukunya di tahun 2021. Leibniz dan Spinoza adalah pemikir besar abad 17 dan 18 pendukung super determinisme. Imam Al Ghazali merumuskan super determinisme pada abad 12. Dan kita bisa merunut ke Zeno pendiri Stoic abad 3 SM sampai ke Parmenides di sekitar abad ke 6 SM.

Fisika Quantum, di luar dugaan, mendukung super determinisme. Ketika awal muncul, quantum mendukung indeterminisme – tidak deterministik. Akhir abad 20, Bell berhasil menyelesaikan paradox EPR (Einstein Podolsky Rosen). Menurut Bell, solusi tersebut menunjukkan super determinisme quantum.

Apakah semua manusia tidak punya free will, tidak punya kehendak bebas? Semua dalam cengkeraman super determinisme?

1. Konsep Super Determinisme
2. Super Determinisme Barat: Karofsky – Leibniz
3. Super Determinisme Timur: Ghazali
4. Super Determinisme Quantum
5. Nasib Free Will

Dalam tulisan ini, kita fokus membahas super determinisme. Meski pun di berbagai tempat, kita perlu membahas determinisme dan free will. Pembahasan lebih lengkap mengenai determinisme dan free will silakan merujuk ke tulisan saya: Misteri Free Will vs Determinisme.

1. Konsep Super Determinisme

Paham determinisme mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini, dan di sini, adalah niscaya akibat dari kejadian-kejadian sebelumnya – di sini dan di sana. Pasti dan tidak bisa dicegah. Pandemi covid di Indonesia adalah akibat dari terjadinya penularan-penularan sebelumnya. Mengapa penularan itu terjadi? Karena perilaku manusia yang berkerumun menyebarkan droplet.

Perilaku manusia itu sendiri merupakan akibat dari kejadian-kejadian di sekitarnya – dan sebelumnya. Pikiran manusia merupakan respon “pasti” dari segala yang ada. Pikiran manusia, dan perilaku manusia, tidak bebas tetapi deterministik secara pasti seperti mesin.

Super determinisme melangkah lebih jauh dari determinisme, dalam ruang dan waktu. Bahkan, super determinis bisa melampaui ruang dan waktu. Pandemi covid di Indonesia, saat ini, memang ditentukan oleh penularan-penularan yang terjadi kemarin. Penularan kemarin ini ditentukan oleh penularan tahun lalu bahkan ditentukan oleh penularan pertama yang terjadi 2019. Dan, kejadian 2019 itu, sejatinya, merupakan akibat pasti dari situasi tahun 1019. Masih bisa kita lanjutkan, kejadian tahun 1019 itu ditentukan oleh kejadian di saat big bang, ledakan besar, sekitar 13 milyard tahun yang lalu.

Sehingga, semua kejadian yang terjadi saat ini sudah dipastikan sejak awal. Tidak bisa berubah. Tidak ada alternatif. Bahkan, jika sebelum big bang sudah ada waktu dan ruang maka peristiwa big bang itu sendiri sudah ditentukan oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya. Karena, pertimbangkan beberapa pengamatan ilmiah yang menunjukkan adanya jejak sebelum era big bang, misalnya, teori conformal cyclic cosmology oleh Roger Penrose. (Data dan interpretasi terhadap “jejak” masih menjadi perdebatan hangat sampai saat ini.)

Super determinisme ilmiah mengatakan bahwa semua kejadian saat ini, termasuk pandemi covid dan perilaku Anda membaca tulisan ini, sudah ditentukan dan dipastikan sejak milyardan tahun yang lalu oleh alam raya. Tidak bisa berubah. Tidak ada alternatif.

Super determinisme teologis melibatkan peran Tuhan dengan lebih tegas. Semua yang ada saat ini sudah ditentukan oleh Tuhan sejak jaman pertama, jaman azali. Tidak bisa berubah. Tidak ada alternatif.

Free will atau kehendak bebas, di sisi lain, mengakui adanya peran manusia dalam menentukan jalannya sejarah. Kehendak bebas Anda ikut menentukan bahwa Anda membaca tulisan ini. Free will juga akan ikut menentukan apakah Anda akan melanjutkan membaca tulisan ini atau tidak.

Immanuel Kant (1720 – 1804) meyakini adanya antinomi atau paradox yang tidak bisa diselesaikan. Keyakinan adanya free will tidak bisa membatalkan determinisme. Dan, keyakinan adanya determinisme tidak bisa membatalkan free will. Mereka, determinisme dan free will, sama-sama ada dengan saling kontradiksi.

2. Super Determinisme Barat: Karofsky – Leibniz

Amy Karofsky berhasil menerbitkan buku pada Desember 2021 yang mendukung super determinisme. Karofsky perlu berjuang keras untuk bisa menerbitkan buku. Karena, di Barat, paham super determinisme sulit diterima masyarakat. Ide-ide Karofsky menghadapi beragam perlawanan, termasuk penolakan oleh para editor.

Super determinisme, tentu saja, bukan ide baru. Leibniz, pada abad 18, telah merumuskan super determinisme dengan solid. Dan, Parmenides, pada abad 6 SM, sudah menyatakan hanya ada satu realitas tunggal, tidak pernah berubah, super determinisme. Semua perubahan di alam raya ini, hanya ilusi. Dan, opini manusia mudah tertipu oleh ilusi.

Necessitarianism is the view that absolutely nothing about the world could have been otherwise in any way, whatsoever.” (Amy Karofsky

Karofsky menggunakan term “necessitarianism” yang sepadan dengan super determinisme menyatakan bahwa alam raya pasti seperti ini tidak ada peluang berubah menjadi yang lain. Kepastian ini sudah dipastikan sejak masa lampau – milyaran tahun yang lalu. Karofsky mengakui bahwa dia meyakini kebenaran fatalisme – implikasi logis dari super determinisme.

Yang menarik, Karofsky meyakini peran penting perilaku manusia. Jika Karofsky memutuskan untuk tidak menulis buku maka tidak akan ada buku yang terbit. Sebaliknya, jika Karofsky berkomitmen untuk menulis buku dan menemukan penerbit maka bukunya jadi terbit. Memang benar, buku Karofsky terbit Desember 2021.

Keyakinan super determinisme, menurut Karofsky, tidak bertentangan dengan pilihan perilaku manusia. Bagaimana bisa begitu? Mari kita mencoba mencermati ide-ide dari Leibniz. Dengan cerdik, Leibniz membagi beragam jenis keniscayaan (determinisme).

Determinisme mutlak adalah determinisme yang pasti benar dan negasinya pasti salah. Operasi bilangan bulat, misal 1 + 2 = 3, adalah pasti benar. Dan tidak bisa terjadi sebaliknya. Dalam operasi bilangan bulat, tidak bisa 1 + 2 selain menghasilkan 3. Jika menghasilkan yang lain, pada analisis akhir, adalah tautologi. Misal, 1 + 2 = 4 – 1.

Determinisme hipotesis adalah determinisme yang pasti benar tetapi negasinya bisa juga benar. Misal, jika Jokowi menang pemilu maka dia jadi presiden. Tetapi negasinya, bisa saja terjadi. Presiden bisa saja orang lain. Cerita fiksi bisa saja terjadi di dunia nyata – bisa juga tidak terjadi. Tidak ada kontradiksi terhadap cerita fiksi. Determinisme hipotesis ini bisa kita pandang sebagai kontingen – ada peluang.

Determinisme instrinsik adalah determinisme yang terjadi secara pasti karena dirinya sendiri – tidak memerlukan faktor luar. Lagi, beragam kebenaran matematika adalah determinisme instrinsik.

Determinisme ekstrinsik adalah determinisme yang terjadi karena ada pengaruh dari luar dirinya. Matahari bersinar hari ini adalah pasti. Tetapi, untuk bisa bersinar, matahari perlu faktor-faktor eksternal misal tersedianya reaksi nuklir pada matahari. Jika faktor-faktor luar ini tidak ada maka matahari tidak bersinar.

Dengan mengikuti cara Leibniz, kita masih bisa membagi determinisme lebih beragam lagi: determinisme logis, determinisme metafisis, dan lain-lain. Tetapi, dengan pembagian di atas, kiranya sudah cukup bagi kita untuk analisis super determinisme.

Tuhan adalah determinisme mutlak dan instrinsik. Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan itu semua karena Dirinya sendiri. Karena Maha Bijak maka Tuhan menciptakan alam raya ini dalam pilihan terbaik di antara pilihan-pilihan lain. Akibatnya, alam raya eksis dalam keadaan terbaik, pasti, tidak bisa yang lain. Super determinisme berlaku untuk seluruh jagad raya.

Tentu saja, sejatinya, alam raya hanya determinis hipotesis. Bisa saja alam yang lain yang ada. Alam raya juga hanya determinisme ekstrinsik, perlu faktor lain untuk mengada. Karena Tuhan memilih alternatif yang terbaik dari beragam alam raya yang mungkin maka alam raya menjadi pasti terbaik. Alam raya adalah super determinisme.

Super determinisme ilmiah barangkali mengganti kata Tuhan dengan yang mereka inginkan. Misal, kehampaan quantum, enigma quantum, atau lainnya.

Dalam alam raya yang super determinisme seperti itu bagaimana nasib free will, kehendak bebas, manusia? Sulit untuk menyelamatkan free will. Memang, para pemikir super determinis, cenderung, menolak adanya free will tetapi mengakui adanya peran usaha manusia mempengaruhi nasib mereka. Tampaknya, mereka berada dalam paradox super determinisme lawan usaha manusia.

Nietzsche (1844 – 1900), barangkali, paling berhasil menyelesaikan paradox itu. Nietzsche mengakui super determinisme dan menolak free will. Manusia memang tidak memiliki free will. Manusia hanya memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Untuk itu manusia memiliki otonomi menyelaraskan diri dengan alam raya. Nietzsche menyebutnya dengan “will to power.”

Awalnya, otonomi manusia ini lemah, hanya merespon sekedarnya terhadap lingkungan sekitar. Dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman, maka otonomi makin kuat. Bahkan, otonomi yang kuat ini memuncak kepada seorang superhuman. Orang yang mampu menaklukkan segala hambatan, mampu menahan pedihnya kehidupan, dan mampu menikmati alam raya.

Bagi Nietzsche, manusia tidak memiliki free will karena alam raya super determinisme. Manusia hanya memiliki sebutir otonomi. Tetapi, orang lain bisa saja menilai Nietzsche hanya mengganti term free will dengan term otonomi. Sejatinya, manusia punya free will juga, cuma ganti nama jadi otonomi.

3. Super Determinisme Timur: Ghazali

Imam Al Ghazali (1058 – 1111) adalah pemikir paling kreatif di jamannya – barangkali sampai sekarang. Konsep super determinisme Ghazali, kita kenal sebagai sistem atomis. Berbeda dengan atom Demokritus dan atom ilmiah. Atom Ghazali ini lebih selaras dengan teori quantum (Bell Theorem). Memang, Bell juga super determinis.

Ghazali menyatakan bahwa seluruh alam semesta, termasuk perilaku manusia, diciptakan langsung oleh Tuhan secara atomis. Sehingga super determinis. Tentu saja, Ghazali dan para ahli kalam, membedakan determinisme sebagaimana Leibniz. Ghazali, tampaknya merujuk ke Avicena.

Ibnu Sina (980 – 1037), atau Avicena, membedakan determinisme menjadi dua. Pertama, wajibul wujud bidzati adalah keniscayaan atau determinisme yang pasti benar karena dirinya sendiri. Tuhan adalah wajibul wujud bidzati. Bandingkan dengan determinisme instrinsik dari Leibniz.

Kedua, wajibul wujud bighoirihi, adalah determinisme yang pasti benar karena faktor lain. Bandingkan dengan determinisme ekstrinsik dari Leibniz. Alam raya adalah determenisme karena faktor luar – karena diciptakan langsung oleh Tuhan.

Bayangkan seluruh alam semesta ini terdiri dari atom-atom yang kecil. Teori atom ini mirip dengan atom Demokritus. Kemudian, kita memotret alam raya menjadi satu gambar, sebut saja frame1. Pada detik kedua, detik berikutnya, alam raya sudah bergerak berubah. Kita, memotretnya lagi, sebut saja jadi frame2. Dan, seterusnya, kita bisa memotret alam raya sampai terbentuk frame tak terhingga. Jeda waktu pemotretan bisa dipersingkat misal tiap mili detik, mikro detik, atau lebih singkat lagi. Di antara frame-frame itu terpisah secara atomis. Inilah teori atom Ghazali yang kreatif.

Anda melihat kopi (frame1). Tangan Anda memegang cangkir kopi (frame2). Cangkir kopi Anda dekatkan ke bibir (frame3). Anda minum kopi, nikmat (frame4).

Tidak ada hubungan sebab akibat antara frame1 dan frame lainnya. Semua frame, Tuhan menciptakannya langsung. Bisa saja, jika Tuhan menghendaki, setelah frame1 langsung frame4. Jadinya, begitu Anda melihat kopi maka langsung kopi itu bergerak ke bibir Anda untuk diminum. Semua super determinisme.

Analogi frame ini terjadi pada teknologi film movie – gambar bergerak. Pada frame1, misalnya, seorang bayi lahir. Pada frame7, bayi itu berumur 5 tahun. Bisa saja, urutan frame itu kita balik. Bayi berumur 5 tahun, setelah itu, bayi dilahirkan. Karena semua frame kita yang membuat. Dan kita bebas menaruh urutan. Tidak ada hubungan sebab akibat dalam seluruh frame gambar bergerak. Super determinisme.

Jika semua frame, Tuhan langsung yang menciptakannya, mengapa orang harus berbuat baik? Mengapa manusia harus menghindari maksiat? Bukankah tindakan manusia tidak berpengaruh apa-apa?

Kasab adalah solusi dari Ghazali. Manusia memiliki kemampuan untuk berusaha, kasab. Manusia yang lapar berusaha makan kemudian kenyang – tidak lapar lagi. Manusia berusaha berbuat baik kemudian hidupnya bahagia di dunia – dan akhirat. Meski manusia “berusaha makan” (frame1) tidak akan menyebabkannya “kenyang” (frame2). Yang menyebabkan “kenyang” (frame2) adalah karena Tuhan menciptakan frame2 – kenyang itu.

Begitu juga ketika manusia “berbuat baik” (frame5). Kemudian orang itu “masuk surga” (frame6). Bukan “berbuat baik” itu yang menyebabkan manusia “masuk surga”. Tidak ada hubungan sebab akibat antara “berbuat baik” dan “masuk surga”. Orang itu bisa “masuk surga” karena Tuhan langsung yang menciptakannya.

Jika Tuhan bebas menciptakan apa saja, buat apa manusia berusaha berbuat baik?

Karena Tuhan Maha Baik, Tuhan Maha Memenuhi Janji. Barangsiapa berbuat baik maka masuk surga. Sehingga, usaha manusia dijamin manjur oleh Tuhan. Bagaimana pun, bukan usaha manusia yang menyebabkannya masuk surga. Tetapi Tuhan Yang Maha Baik, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menyebabkan manusia masuk surga.

Ghazali bisa saja berpikir manusia tidak punya free will – atau freedom dalam bentuk apa pun. Manusia hanya bisa berusaha, kasab, semata. Orang lain, bisa menilai Ghazali sebagai mengganti term free will dengan kasab. Maknanya, sama saja dengan free will.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) melangkah lebih maju dari Ghazali. Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Bebas. Tuhan menciptakan manusia sesuai nama dan sifatNya. Maka, manusia juga bersifat bebas. Manusia memiliki free will. Manusia tidak hanya bisa berusaha, kasab, tetapi manusia bisa berpartisipasi – ishtirak.

Sadra (1572 – 1640) mengembangkan lebih jauh ide Ibnu Arabi. Dengan eksplorasi lebih mendalam gradasi wujud, kita bisa merumuskan pastisipasi aktif manusia dan Tuhan dalam alam raya. Untuk menciptakan teknologi komputer, misalnya, manusia berpartisipasi aktif dengan membuat desain komputer dan eksekusi. Tuhan menciptakan beragam bahan yang diperlukan manusia untuk menciptakan komputer, lengkap dengan hukum-hukum alam dan prinsip sains. Bahkan, Tuhan juga yang menciptakan otak manusia, mata, dan tangan manusia. Sehingga, manusia mampu merakit komputer.

Siapa yang menciptakan komputer? Manusia. Anda sudah menjawab dengan benar. Siapa yang menciptakan komputer? Tuhan. Anda menjawab dengan benar juga. Manusia ikut berpartisipasi dalam alam raya.

Dengan beragam modifikasi ini, apakah pandangan Ghazali tidak super determinisme lagi? Tetap. Ghazali tetap super determinisme. Ketika manusia berpartisipasi dengan free will, berapa porsi manusia dalam partisipasi itu? Berapa porsi manusia dibanding alam raya, bumi, dan seluruh galaksi? Berapa porsi manusia dibanding rentang waktu jutaan tahun masa lalu, dan barangkali, ribuan tahun di masa depan? Porsi partisipasi manusia adalah bagaikan satu titik di samudera. Atau, manusia lebih kecil dari satu titik itu. Meski kecil, partisipasi manusia begitu menentukan.

4. Super Determinisme Quantum

Teori quantum mengawali kemunculannya sebagai teori indeterministik – tidak deterministik. Tetapi di era kontemporer ini, di balik indeterminisme quantum, tersimpan konsep super determinisme.

Heisenberg (1901 – 1976) merumuskan ketidakpastian quantum, yang kelak, dikenal sebagai ketidakpastian Heisenberg. Selalu ada ketidakpastian dalam setiap pengamatan sains. Selalu ada ketidakpastian dalam setiap pengukuran sains. Sehingga, kita tidak akan pernah mengetahui suatu obyek secara pasti. Hanya bisa estimasi. Selalu ada kesalahan.

Hasil kali pengukuran posisi dengan pengukuran momentum suatu partikel, misal elektron, nilai keyakinannya selalu di bawah konstanta tertentu. Sehingga, ketika kita ingin mengetahui posisi elektron dengan pasti maka kita menjadi tidak tahu momentum elektron. Begitu juga sebaliknya. Jika ingin lebih pasti momentumnya maka kita menjadi tidak tahu pasti posisinya.

Dengan demikian, Heisenberg menetapkan ketidakpastian epistemologis quantum.

Berbeda dengan fisika klasik Newton, atau Laplace. Mereka meyakini mampu mengukur posisi atau momentum suatu obyek dengan pasti. Laplace pernah mengatakan, “Jika kita mengetahui semua informasi alam raya maka kita bisa memastikan nasib alam raya di masa depan – atau masa kapan pun.”

Pertama, Laplace mengasumsikan bahwa kita akan mampu mengetahui obyek dengan pasti. Determinisme epistemologis. Kedua, dari pengetahuan itu kita bisa meramalkan masa depan alam dengan pasti. Determinisme ontologis. Determinisme epistemologis sudah dibantah dengan tegas oleh Heisenberg. Sedangkan determinisme ontologis dibantah oleh “kucing Schrodinger”.

Teori quantum adalah tidak deterministik. Sehingga, ada peluang untuk hadirnya free will.

Schrodinger (1887 – 1961) merumuskan persamaan gelombang quantum, yang kelak, dikenal sebagai gelombang Schrodinger menjadi dasar hampir semua teori fisika quantum. Gelombang Schrodinger ini, tampaknya, lebih liar dari Schrodinger itu sendiri. Gelombang Schrodinger menyatakan peluang terjadinya situasi quantum tertentu – hanya probabilitas bukan kepastian.

Agar lebih mudah, mari kita ikuti eksperimen pikiran “kucing Schrodinger.” Seekor kucing ditempatkan di suatu kotak, di ruangan tertutup. Di samping kucing itu ada partikel radioaktif (quantum) yang peluang meluruhnya adalah 50% dalam waktu 5 menit ke depan. Jika partikel itu meluruh maka akan memecahkan botol racun di dekatnya dan mengakibatkan kucing mati keracunan. Sebaliknya, jika partikel tidak meluruh maka aman dan kucing tetap hidup.

Setelah 5 menit, apakah kucing hidup atau mati?

Berdasar fisika klasik, ada dua kemungkinan. Pertama, kucing itu pasti sudah mati. Hanya saja kita belum mengetahui. Dengan membuka kotak maka kita yakin kucing memang sudah mati. Kedua, kucing itu pasti masih hidup. Dengan membuka kotak kita menjadi tahu.

Teori quantum tidak begitu. Menurut quantum, saat ini, kucing itu setengah hidup dan setengah mati. Perpaduan antara keduanya. Ketika kita membuka kotak maka situasi kucing akan roboh ke salah satunya, misal, kucing telah mati. Selama kita tidak membuka kotak maka kucing akan tetap berimbang setengah hidup dan setengah mati, bersamaan.

Dan yang lebih menarik, kita benar-benar tidak bisa meramalkan apakah partikel quantum itu akan meluruh atau tidak. Kita tidak bisa meramalkan apakah kucing itu akan hidup atau mati.

Tidak ada determinisme dalam teori quantum. Secara ontologi, quantum memang tidak deterministik.

Einstein (1879 – 1955) termasuk yang tidak setuju dengan interpretasi quantum yang dipenuhi banyak ketidakpastian itu. Einstein melontarkan, “Tuhan tidak sedang main dadu.” Tidak bisa diterima jika prinsip alam bersifat tidak pasti. Tentu, karena ada sesuatu yang belum kita ketahui (hidden variable) sehingga sains bersifat tidak pasti.

Awalnya, Schrodinger mengajukan “kucing Schrodinger” untuk menunjukkan bahwa teori quantum semacam itu, yang tidak pasti, tidak bisa diterima akal sehat. Akhirnya, “kucing Schrodinger” justru menjadi ilustrasi paling jelas dari tidak deterministiknya teori quantum. Ironis!

Sampai di sini, teori quantum memantapkan landasan sebagai teori yang tidak determinisitik. Sedangkan fisika klasik bersifat deterministik.

EPR Paradox merupakan paradox yang menyatakan bahwa teori quantum adalah teori yang tidak lengkap – sehingga bersifat tidak pasti. Einstein, Podolsky, dan Rosen merumuskan paradox ini dengan menunjukkan adanya “hidden variable” atau “variabel tersembunyi” yang belum dimasukkan ke teori quantum. Jika “variabel tersembunyi” ini bisa dimasukkan maka teori quantum menjadi teori yang lengkap dan bersifat pasti – bersifat deterministik.

Bell (1928 – 1990) menyusun formula untuk menyelesaikan EPR Paradox. Di satu sisi, EPR menunjukkan teori quantum sebagai “non-lokal” sehingga bersifat tidak pasti. Kedua, EPR menunjukkan cara menyelesaikan masalah teori quantum itu dengan menemukan “variabel tersembunyi” dan teori quantum menjadi teori yang lengkap. Segala fenomena quantum akan bisa dipastikan secara lokal. Teori quantum tidak akan perlu lagi “non-lokal”.

Formula Bell menunjukkan syarat-syarat yang diperlukan agar “variabel tersembunyi” itu memang ada.

Beberapa tahun kemudian, dirancang alat untuk menguji formula Bell. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa “variabel tersembunyi” memang tidak ada. Sehingga, teorema Bell membuktikan bahwa dugaan Einstein ternyata salah. EPR terbukti ditolak. Jadi, tidak ada “variabel tersembunyi”. Kalau pun ada “varibel tersembunyi” maka itu bersifat non-lokal juga.

Usaha EPR untuk menarik kembali teori quantum ke arah determinisme terbukti gagal. Jadi, berdasar teorema Bell, teori quantum memang tidak deterministik. Benarkah demikian?

Super Determinisme

Bell mengagetkan masyarakat dengan mengatakan bahwa teori quantum tidak deterministik secara lokal. Tetapi, teori quantum adalah super deterministik secara non-lokal.

Wajar bagi kita mencari suatu penjelasan dari fenomena. Segala akibat pasti ada sebabnya. Ketika, semua sebab-sebab lokal gagal menjelaskan fenomena quantum maka apa alternatif sebabnya?

Benar, pasti ada sebab non-lokal. Karena non-lokal, mungkin saja, sebab ini sangat jauh. Tetapi, sebab ini begitu kuat dan begitu cepat. Di saat yang sama, sebab non-lokal ini tidak kita ketahui secara pasti. Penuh misteri. Sebab non-lokal itu adalah sebab super determinism. Sehingga, teori quantum bergerak dari determinisme fisika klasik menuju indeterminisme quantum, untuk kemudian masuk super determinisme quantum.

Jadi, apa sejatinya sebab super determinisme quantum itu? Misteri. Tidak ada yang tahu. Itu merupakan enigma quantum, tanda tanya quantum.

Seandainya, suatu saat nanti, enigma quantum ini terpecahkan dengan solusi meyakinkan, maka, akan muncul enigma baru yang lebih misterius. Hipotesis ini sejalan dengan teorema Emak Godel. Setiap sistem aksiomatik yang konsisten pasti tidak lengkap. Teori quantum bisa kita pandang sebagai sistem aksiomatik maka pasti tidak lengkap – terbukti dengan adanya enigma quantum.

Barangkali ada yang keberatan jika teori quantum masuk sebagai sistem aksiomatik. Sehingga, teori quantum tidak bisa dianalisis dengan teorema Godel. Kita bisa memanfaatkan teorema Emak Godel yang menyatakan bahwa setiap sistem konsep yang konsisten pasti tidak lengkap. Dan, teori quantum memang termasuk sebagai sistem konsep. Karena itu, teori quantum pasti tidak lengkap – dengan adanya enigma-enigma baru.

Teori quantum, saat ini, dalam genggaman super determinisme. Ada tiga enigma quantum saat ini. Pertama, runtuhnya prinsip lokal, yang baru kita bahas. Kedua, runtuhnya realisme oleh kucing Schrodinger. Ketiga, runtuhnya freedom para peneliti. Peneliti mengira dirinya bebas memilih apa saja obyek kajiannya, ternyata, pilihan mereka sudah dipastikan oleh super determinisme.

5. Nasib Free Will

Determinisme berkontradiksi dengan free will. Wajar, kita menduga bahwa super determinisme akan menolak free will dengan lebih ekstrem lagi. Tidak seperti itu yang terjadi. Semakin keras, super determinisme menolak free will, maka, free will akan muncul dengan satu dan lain cara.

Nasib free will tetap dinamis bersama super determinisme – atau pun determinisme. Hanya saja, kita perlu mengakui bahwa peran free will memang hanya kecil. Dengan optimis, kita bisa menyatakan,

“Meski kecil, peran free will, sangat menentukan.”

Sebaliknya, juga harus kita sadari,

“Meski free will punya peran, perannya sangat kecil.”

Dari Barat, super determinisme mencapai formulasi sistematis oleh Leibniz. Tuhan menciptakan alam raya dengan kondisi terbaik. Tidak ada yang berbeda dari itu. Berbeda dengan itu, menjadi bukan yang terbaik. Tidak mungkin bagi Tuhan memilih bukan yang terbaik. Karena Tuhan memilih yang terbaik bagi alam semesta maka super determinisme.

Tidak ada tempat bagi free will di alam raya yang super determinis seperti itu. Paling, yang bisa dilakukan manusia hanya sekedar merespon alam sekitar. Menurut Nietzsche, awalnya, respon manusia ini hanya lemah, meski otonom. Bagi orang-orang tertentu, superhuman, kekuatan otonomi ini membesar. Kekuatan otonom yang besar, bagi manusia, adalah semakna dengan free will itu sendiri. Free will hadir berdampingan dengan super determinisme. Free will tidak bisa disingkirkan.

Dari Timur, Ghazali merumuskan super determinisme, dengan kreatif, menggunakan pendekatan atomis. Atom-atom alam raya, layaknya frame-frame dalam movie, langsung diciptakan oleh Tuhan. Sehingga, alam raya super determinisme. Meski begitu, menurut Ghazali, manusia memiliki kemampuan kasab, kemampuan berusaha. Manusia berusaha dan Tuhan yang menciptakan.

Dalam perkembangannya, Ibnu Arabi dan Sadra, mengembangkan lebih jauh kemampuan usaha manusia itu. Meski Tuhan Maha Kuasa menetapkan dan menciptakan segala sesuatu, manusia bisa berusaha ikut berpartisipasi. Kemampuan partisipasi oleh manusia ini memang kecil tapi sangat menentukan. Karena Tuhan Maha Baik berjanji membalas kebaikan sekecil apa pun dengan kebaikan yang lebih besar. Jadi, memang Tuhan yang menciptakan segala kebaikan. Manusia hanya ikut berpartisipasi dengan free will. Lagi, free will hadir berdampingan dengan super determinisme.

Dari sains, teori quantum, Bell mengusulkan interpretasi teoremanya sebagai super determinisme. Bagaimana pun, interpretasi dari Bell adalah sebuah interpretasi – bukan kesimpulan sains empiris. Sehingga, terbuka peluang bagi kita untuk mengembangkan interpretasi-interpretasi lain yang menguatkan peran kesadaran subyek pengamat dalam fenomena quantum – membuka pintu bagi free will. Subyek pengamat sains, para peneliti, merespon lingkungan kemudian memilih melakukan penelitian sains. Pilihan tersebut, melakukan penelitian sains, adalah free will. Dengan demikian, dalam teori quantum, super determinisme bersanding dengan free will.

Apa manfaat membahas super determinisme dan free will?

Pertama, karena Tuhan Maha Baik menciptakan alam semesta menjadi yang terbaik maka kita tinggal menjalani hidup dengan bahagia. Kedua, kita kapan pun dan di mana pun, selalu bisa berpartisipasi dalam kebaikan. Semangat dan optimis! Karena Tuhan berjanji melipatgandakan partisipasi kita yang kecil itu. Ketiga, bila terjadi kesalahan alami atau perilaku orang maka kita lebih terbuka untuk memaafkan. Karena orang berbuat salah itu, tidak 100% kesalahan dirinya. Banyak faktor lain yang terlibat.

Pada akhirnya, dan setiap saat, kita bisa hidup bahagia dengan segala karunia terbaik Tuhan, adanya kesempatan berpartisipasi, dan terbuka saling memaafkan kepada semua.

Batas-Batas Hukuman Berat

Apa batas-batas dari suatu hukuman? Ketika ada seseorang mencuri ayam milik tetangga, apa hukuman paling tepat untuknya? Apakah penjara 30 hari? Atau cukup penjara 5 hari? Barangkali, pencuri itu hanya perlu mengembalikan ayam yang dia curi ditambah harus minta maaf dan berjanji tidak akan mencuri lagi. Atau, justru, hukuman yang setimpal bagi pencuri ayam adalah potong tangan kirinya? Atau potong pergelangan kiri? Atau cukup potong jari saja?

Maling Ayam Pemuda Dijatuhi Hukuman 10 Bulan – Sumsel Update

Scanlon (1940 – ) menyatakan bahwa tidak ada cara, yang pasti, untuk menentukan ukuran dari suatu hukuman secara logis. Artinya, ketika kita menetapkan hukuman bagi maling ayam adalah 30 hari penjara maka itu adalah suatu ketetapan belaka. Tidak ada realitas alami yang mendukung bahwa hukumannya harus 30 hari penjara. Demikian juga, jika pengadilan menetapkan bahwa hukuman maling ayam adalah, misalnya, potong pergelangan tangan maka itu juga hanya sebuah ketetapan belaka tanpa ada realitas alami mendukungnya.

Kali ini, kita akan membahas batas-batas hukuman secara filosofis. Dengan demikian, kita tidak akan masuk ke detil-detil menentukan batas-batas hukuman. Sebaliknya, kita akan mendiskusikan ide besar dan konsep dasar batas-batas hukuman – secara filosofis.

1. Dinamika Hukum
2. Prinsip Moral
3. Prinsip Melukai
4. “Public Reason”
5. Hukuman Hate Speech

Sinar Kapitalisme Memudar

Sinar kapitalisme memudar saat ini, di sini, dan di berbagai belahan bumi. Kapitalisme, yang awalnya, menjanjikan bahagia sejati bagi umat bumi, pada akhirnya, menjebak diri sendiri. Fokus kapitalisme kepada harta pribadi, atau kapital, tampak begitu menggoda. Sebagaimana umumnya godaan, kapitalisme adalah kenikmatan sesaat.

Tetapi, apa alternatif dari kapitalisme? Adakah yang lebih dari dari kapitalisme? Apakah feasible?

Arti Kapitalis dan Kapitalisme: Definisi, Sistem Ekonomi, dan Contoh  Halaman all - Kompas.com

Karl Marx (1818 – 1883), barangkali, adalah pemikir pertama yang mengkritisi kapitalisme dengan tajam. Kapitalisme akan membentuk kontradiksi diri sehingga hancur. Awalnya, kapitalisme mengantar segelintir orang, para kapitalis, menjadi kaya raya. Sementara, sebagian besar orang tetap miskin, atau makin miskin, proletar. Tiba saatnya, kaum proletar ini sadar diri, bersatu, untuk kemudian, menggulingkan para kapitalis dan membentuk sistem yang adil.

Analisis Marx banyak benarnya dalam hal kritik terhadap kapitalisme. Tetapi banyak salahnya dalam hal akan terbentuknya sistem yang adil. Uni Soviet, yang menerapkan Marxisme, hancur menjelang akhir abad lalu. Cina melakukan banyak perombakan terhadap ide Marx untuk bisa bertahan sampai sekarang, dan berkembang.

1. Kekuatan Kapitalisme
2. Alternatif Kapitalisme
3. Sosialisme
4. Transisi Sosialisme
5. Sofialisme ke Porsialisme

Pada tulisan ini, kita akan membahas beragam alternatif terhadap kapitalisme. Kemudian mencoba mengkaji prospek dari beberapa alternatif. Di antaranya sosialisme, sofialisme, dan porsionalisme.

1. Kekuatan Kapitalisme

Kapitalisme berkembang pesat bukan karena kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme mendapat dukungan kuat dari demokrasi liberal, di saat yang sama, sains dan teknologi sedang meroket. Dengan lingkungan yang tepat itu, kapitalisme menguasai dunia.

Pertama, kapitalisme memberi insentif terbesar kepada setiap orang. Anda yang berhasil mengembangkan bisnis maka keuntungan bisnis itu menjadi milik Anda 100%. Anda juga bisa tidak perlu bekerja tetapi menghasilkan keuntungan yang besar: biarkan uang Anda yang berkerja untuk diri Anda. Bahkan hasil dari “uang bekerja untuk Anda” itu bisa lebih besar dari hasil kerja keras Anda 24 jam per hari. Dengan demikian, memungkinkan terjadinya penumpukan kekayaan dalam jumlah besar pada individu melalui “uang bekerja menghasilkan uang.”

Larry Page suka mencari informasi di internet pada tahun 1990an. Tetapi mencari informasi di internet bisa membuat frustasi. Terlalu banyak informasi, tidak ada jaminan informasi tersebut adalah yang dia butuhkan. Kemudian, Page mencoba membuat mesin pencari yang dia beri nama Google. Terbukti, Google bisa mencari informasi di internet dengan cepat dan efektif. Cerita selanjutnya, seperti kita tahu, Google menjadi raksasa bisnis di dunia. Page berhak 100% memiliki kekayaan dari Google secara individu. (Tentu saja, Page membentuk tim bersama individu-individu lain).

Kedua, kapitalisme, dengan pasar bebasnya, menghasilkan informasi dengan sangat cepat. Anda menjual sepatu harga 50 ribu rupiah tidak laku. Kemudian, Anda menurunkan harga menjad 40 ribu rupiah, ternyata, sepatu laku keras. Selanjutnya, Anda tinggal melakukan inovasi untuk menjamin bahwa harga jual 40 ribu itu masih bisa memberi keuntungan. Dan, Anda berhasil melakukannya. Anda menjadi kaya raya sebagai produsen sepatu.

Bandingkan, misalnya, pemerintah mewajibkan setiap remaja membeli sepatu dengan harga 50 ribu rupiah. Harga ini, sebenarnya, terlalu mahal. Penduduk remaja tidak berminat membeli sepatu itu. Kemudian, pemerintah “memaksa” dengan beragam cara, termasuk ancaman bagi yang tidak beli sepatu. Memang pabrik sepatu berhasil meraup keuntungan. Tetapi, bayangkan pemborosan yang terjadi di mana-mana, termasuk, potensi korupsi di birokrasi. Akibatnya, bisnis sepatu tidak berkembang.

Ketiga, lompatan kemajuan tak terduga. Mas Nadiem, yang sekarang menteri pendidikan, adalah pebisnis digital yang sukses. Awalnya, Nadiem tidak punya rencana mendirikan bisnis Gojek. Nadiem bekerja di Jakarta sekitar tahun 2000an. Seperti kita tahu, Jakarta adalah salah satu kota termacet di dunia, waktu itu, sebelum pandemi. Ketika Nadiem hendak bepergian dari satu tempat ke tempat lain pakai mobil maka pasti terjebak macet bisa lebih 3 jam. Nadiem memilih naik ojek, angkutan umum berupa motor roda dua, sehingga tidak terjebak macet.

Masalah dari ojek adalah “freedom”. Tukang ojek bebas sesuka hatinya mau masuk kerja atau tidak. Nadiem menghadapi kesulitan: ojek terlihat ada banyak di jalanan ketika tidak dibutuhkan, tetapi, menjadi tidak ada ketika ojek dibutuhkan. Nadiem terbesit membuat bisnis ojek yang profesional: selalu ada ketika dibutuhkan. Bisnis ini bernama Gojek, seperti kita tahu, menjadi kisah sukses bisnis digital yang luar biasa. Kekayaan Nadiem melebihi 4 trilyun rupiah ketika gabung dengan Tokopedia. Dan, berhasil mengantarkan Nadiem menjadi menteri di kabinet Jokowi.

Masih banyak, keunggulan kapitalisme yang bisa kita bahas. Dengan tiga keunggulan di atas saja, kita memang perlu mempertimbangkan kapitalisme dengan serius. Di sisi lain, kapitalisme menimbulkan masalah yang lebih serius: ketimpangan sosial, keserakahan, perusakan lingkungan, perang memperebutkan keuntungan, dan lain-lain. Kapitalisme tidak akan mampu mengatasi masalah yang ditimbulkannya. Karena, kapitalisme hanya sistem ekonomi atau sistem bisnis. Sinar kapitalisme mulai memudar. Kita perlu alternatif lain untuk terus bersinar.

2. Alternatif Kapitalisme

Apa alternatif dari kapitalisme? Dan, apakah alternatif itu lebih baik? Apakah alternatif itu sudah pernah diterapkan?

Terdapat banyak alternatif. Kita akan membahas beberapa di antaranya.

3. Sosialisme
4. Transisi Sosialisme
5. Sofialisme ke Porsialisme