Narasumber Literasi Numerasi 20 Tahun

Saya menekuni literasi numerasi lebih dari 20 tahun ini. Banyak hal menarik. Dan makin menarik dengan hadirnya literasi digital. Kuatnya generasi milenial.

Awal tahun 2000an saya menulis buku literasi numerasi yang saya beri judul: Kecerdasan Quantum.

Terbit tahun 2001. Terima kasih kepada seluruh warga Indonesia yang telah menjadikan buku Kecerdasan Quantum saya sebagai best seller. Sampai tahun 2020 ini pun masih cetak ulang.

Beberapa hari lalu saya memberikan pelatihan literasi numerasi dengan tema workshop Guru Youtuber. Salah seorang peserta, kepala sekolah, menceritakan betapa ia memperoleh banyak inspirasi dari buku Kecerdasan Quantum. Pak Kepala Sekolah merekomendasikan agar semua orang membaca buku Kecerdasan Quantum untuk kemajuan pendidikan kita.

Sejalan dengan fokus Mas Menteri pendidikan, kompetensi literasi numerasi, maka kita perlu lebih banyak lagi mengembangkan program-program khusus.

Saya, di era digital ini, mengembangkan literasi numerasi melalui media online. Saya menciptakan lebih dari 7000 judul video literasi numerasi melalui canel matematika kreatif youtube.com/pamanapiq .

Semoga generasi Indonesia makin tinggi dalam kompetensi literasi numerasi. Dan Indonesia makin maju.

Bagaimana menurut Anda?

Asesmen Kompetensi Minimal: AMK

Saya senang Mas Menteri Nadiem menggunakan istilah asesmen. Bukan ujian. Apalagi ujian nasional.

Asesmen lebih mirip survei. Mencari data. Untuk kemudian diolah. Agar memperoleh wawasan. Gunakan melangkah ke depan dengan lebih baik.

Beda dengan ujian yang bersifat menguji. Di mana peserta bisa saja lulus atau tidak lulus dalam ujian. Yang lulus pun bisa saja mendapat peringkat berbeda-beda. Dalam asesmen tidak ada urusan lulus tidak lulus. Hasil asesmen tidak berpengaruh pada siswa secara langsung.

Lalu kompetensi minimal apa yang perlu diases? Mas Menteri sudah menyatakan literasi dan numerasi. Bagus. Fokus. Semoga kurikulum yang baru juga lebih fokus.

Saya mencatat beberapa kompetensi minimal untuk numerasi sebagai berikut ini. Saya mulai dari SD. Sedangkan SMP dan SMA pada tulisan berikutnya.

  1. Menghitung
    Matematika adalah raja ilmu pengetahuan. Raja dari matematika adalah aritmerika. Jadi aritmetika atau ilmu hitung adalah raja diraja dari ilmu pengetahuan.

    Siswa perlu memiliki kompetensi yang mahir untuk ilmu hitung. Siswa mampu memahami dengan baik definisi penjumlahan, perkalian, pengurangan, dan pembagian. Kemudian siswa mampu mengerjakan proses berhitung dengan mahir.

    Tapi kita pernah tersentak bahwa para profesor pun bisa silang pendapat tentang konsep perkalian. Mana yang benar A atau B?

    A. 6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 ; di mana bilangan 4 dijumlahkan sebanyak 6 kali.

    B. 6 x 4 = 6 + 6 + 6 + 6; di mana bilangan 6 dijumlahkan sebanyak 4 kali.

    Untuk menentukan yang benar, saya yakin, kita perlu berpikir terbuka, kreatif, dan inovatif.

    Untuk siswa kelas 4, 5, dan 6 perlu ditambahkan kompetensi berhitung kuadrat, kubik, dan akar.

    Soal cerita yang berhubungan dengan berhitung dapat kita kembangkan secara kreatif. Tetapi kita perlu membatasi apa saja soal cerita yang boleh dan apa saja yang tidak boleh.

(Bersambung)

Penetapan Awal 1 Ramadhan: Pemerintah Vs Muhammadiyah

Tinggal di Indonesia memang seru. Awal Ramadhan seru. Apalagi awal Syawal lebih seru lagi. Idul Fitri plus mudik yang luar biasa.

Kebiasaan sidang isbat jelang Ramadhan menambah kemeriahan menyambut bulan suci. Tapi mengapa kadang ada perbedaan penetapan awal Ramadhan atau idul fitri?

Secara prinsip tidak ada perbedaan. Ilmu hisab atau rukyat sudah berkembang dengan matang termasuk dengan teknologi yang makin canggih. Jadi semua pendekatan meberikan hasil yang sama – secara ilmiah.

Tetapi menyikapi hasil bisa berbeda.

Misal 1 Ramadhan 2020 bisa bertepatan dengan 24 April 2020 (1441 H). Tapi bisa juga bergeser menjadi 25 April 2020.

Baik Muhammadiyah, NU, Kemenag, dan organisasi lain menggunakan metode hisab yang sama. Secara ilmiah bisa dipertanggunjawabkan. Meskipun, Kemenag dan NU menambahkan rukyat – melihat penampakan hilal (bulan) – untuk menambah konfirmasi. Tetapi hisabnya sama.

Saya sendiri menghitung dengan aplikasi android untuk awal Ramadhan 2020. Dengan lokasi di Bandung, senja 23 April 2020, mendapatkan data berikut.

Tinggi hilal = 1,5 derajat.

Apa kesimpulannya? Dengan asumsi syarat lainnya sudah terpenuhi. Sudah terjadi konjungsi sebelum maghrib. Sudut elongasi juga anggap sudah konsisten.

Wujudul Hilal – Pendekatan Muhammadiyah.

Karena tinggi hilal (bulan) sudah positif maka sudah masuk bulan baru Ramadhan. Sehingga 1 Ramadhan 1441 H bertepatan dengan 24 April 2020 M.

Wujudul Hilal hanya fokus pada tinggi hilal di atas ufuk sudah positif. Berapa pun kecil positifnya itu maka sudah wujud bulan baru. Apalagi senja 23 April ini sudah 1,5 derajat maka sangat tinggi.

Imkanur Rukyat – Pendekatan NU, Kemenag, dan lain-lain.

Sama, imkanur rukyat juga menghitung tinggi hilal 1,5 derajat. Tapi ini masih terlalu rendah agar hilal dapat teramati. Syarat agar bisa teramati adalah tinggi hilal di atas 4 derajat.

Kesimpulan Imkanur Rukyat bahwa senja itu belum bulan baru. Sehingga esok hari masih 30 Syaban. Dan 1 Ramadhan akan jatuh pada 25 April 2020.

Kesimpulan Beda

Dengan demikian pendekatan wujudul hilal beda hasil dengan pendekatan imkanur rukyat. Apakah Muhammadiyah akan berpuasa lebih awal dari kemenag? Belum tentu. Pengalaman tahun 2019 menunjukkan bahwa Muhammadiyah mengambil langkah berpuasa dan idul fitri serentak dengan pemerintah. Meski pun tahun 2019 ada peluang berbeda hari.

Apa pun kesimpulan dan keputusan Anda mari tetap kita jaga Indonesia damai, rukun, dan penuh toleransi.

Bagaimana menurut Anda?

Menjual Ilmu: Berapa Harga yang Pantas

Menjual ilmu? Apa boleh? Mengapa?

Menjual balon. Boleh. Balon menghibur anak-anak. Suka cita. Menjual balon itu bermanfaat.

Lebih bagus mana balon atau ilmu?

Bila menjual balon adalah bagus maka menjual ilmu lebih bagus lagi. Menjual apa lagi yang lebih bagus dari menjual ilmu?

Tidak menjual ilmu, yang bisa berarti menyembunyikan ilmu, justru bisa berbahaya. Ilmu yang disembunyikan bisa dimonopoli. Hanya dimiliki segelintir orang. Menguntungkan orang tertentu. Merugikan orang banyak.

Saya sendiri menyebarkan ilmu – tidak menyembunyikan ilmu. Saya menyebarkan ilmu melalui web, youtube. dan mengajar secara langsung. Saya sudah menulis ribuan artikel keilmuan di weblog saya. Di youtube saya sudah menyebarkan ilmu melalui lebih dari 7000 judul video. Ratusan kelas, seminar, dan workshop sudah saya ikuti. Bahkan 10 judul buku dan ebook sudah saya terbitkan.

Meski saya menyebar ilmu saya tidak menjual ilmu.

Ketika orang membeli franchise apiq bukankah itu jual beli ilmu?

Tidak. Saya tidak menjual ilmu matematika apiq. Tapi saya menjual sistem franchise apiq. Saya menjual brand apiq. Saya menjual pengalaman bisnis apiq.

Ketika orang membeli buku Quantum Quotient karya saya maka itu jual beli ilmu?

Tidak. Ilmu dalam buku Quantum Quotient saya adalah gratis. Tapi saya menjual buku cetaknya, jasa menulisnya, jasa editor buku, dan lain-lain.

Ketika orang membayar les online melalui WA bukankah itu jual beli ilmu?

Tidak. Ilmu dalam WA saya gratis. Saya menjual jasa saya, atau tim saya, memilihkan jawaban yang tepat melalui WA.

Tentu saja argumen saya bisa terus saya tambahkan. Saya tidak menjual ilmu. Tapi benar saya menjual “layanan” yang berhubungan dengan ilmu. Sedangkan ilmu tetap gratis.

Bagaimana pun menjual ilmu tetap boleh, bagus, dan sah. Menyebarkan ilmu lebih bagus lagi.

Kasus menyebar ilmu di youtube lebih jelas lagi. Saya membuat video. Saya menyebar ilmu. Dan siapa pun bisa belajar ilmu gratis melalui canel youtube saya. Webblog saya juga demikian gratis. Barangkali ada yang minat apk android? Gratis saya persembahkan untuk Anda.

Maka berapa harga yang pantas untuk menjual ilmu? Saya tidak tahu.

Bagaimana menurut Anda?

Mahalnya Biaya Sekolah Kuliah di Indonesia

Banyak orang mengeluhkan mahalnya biaya sekolah. Apalagi biaya kuliah.

“Tidak mahal. Memang sebesar itu biayanya,” menurut saya.

“Memang mahal,” kata seorang dosen senior UI waktu itu. “Tapi biaya sekolah tidak harus ditanggung oleh siswa. Pemerintah, swasta, dan pihak-pihak lain perlu membantu biaya sekolah tersebut. Sehingga yang ditanggung siswa atau orang tua jadi murah.”

Tahun 2020 sekolah gratis. Kabar baik. Dari SD, SMP, SMA (sederajat) semua gratis. Untuk kuliah juga tersedia beasiswa resmi KIP kuliah, beasiswa unggulan, LPDP, dan lain-lain.

Saya mengapresiasi program beasiswa pemerintah ini. Jumlahnya cukup besar. Meski masih bisa ditambah lebih besar lagi.

Satu saja catatan saya. Belum ada sosialisasi yang masif tentang program pemerintah yang bagus ini. Banyak orang belum tahu bahwa sekolah gratis sampai SMA. Akibatnya orang miskin mengira bahwa sekolah itu mahal. Pungutan liar dianggap biasa saja sebagai biaya sekolah.

Dengan sosilaisasi yang masif dilengkapi tindakan tegas terhadap pungutan liar maka saya yakin pendidikan Indonesia akan melompat jauh ke depan.

Tapi bukankah gratis itu berbpengaruh hanya kepada penduduk miskin? Benar. Berpengaruh besar kepada penduduk miskin. Mereka akan terangkat lebih maju pada generasi kini dan masa depan. Sementara penduduk kaya selalu menemukan cara untuk meningkatkan pendidikan anak-anak mereka. Secara total pendidikan Indonesia maju pesat.

Beasiswa untuk kuliah bukankah mempersayaratkan mahasiswa harus berprestasi? Benar bila itu beasiswa unggulan. Tapi beasiswa KIP kuliah terbuka untuk mahasiswa miskin dengan prestasi biasa, tidak harus unggul.

Masalah juga terjadi ketika penduduk miskin tidak memiliki kartu keluarga, surat keterangan tidak mampu, kartu Indonesia pintar, atau dokumen-dokumen yang diperlukan. Maka anak-anak mereka jadi tidak berhak dapat beasiswa. Sementara mereka mengalami kesulitan ketika mengurus pembuatan surat keterangan tidak mampu tersebut.

Di sini kita membutuhkan peran aktif birokrasi untuk membantu melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan agar mahasiswa dari keluarga miskin dapat memperoleh hak beasiswa.

Jadi sekolah atau kuliah mahal bisa kita hadapi dengan tersedianya beasiswa. Baik beasiswa dari pemerintah atau pun pihak swasta.

Bagaimana menurut Anda?

Belajar Matematika 1 Menit Tapi 2 Juta Kali

Kecil tapi berulang jutaan maka total menjadi sangat besar. Saya mengembangkan teknik berhitung cepat yang menghemat waktu 1 menit. Tapi digunakan oleh jutaan siswa. Maka menghemat jutaan menit. Tiap hari, tiap bulan, tiap tahun.

Generasi milenial lebih dahsyat lagi.

Saya membuat video matematika yang panjangnya hanya 1 menit atau kurang. Saya upload di tiktok. Dalam 4 hari ditonton siswa sebanyak 2 juta kali.

Wow… saya sudah mengajar 2 juta menit hanya dalam waktu 4 hari luar biasa! Pengikut saya pun mencapai lebih dari 30 ribu siswa – dalam 4 hari juga dan terus bertambah.

Apa yang bisa dipelajari oleh siswa dalam 1 menit itu? Banyak. Banyak sekali ilmu dalam 1 menit itu. Tapi pertanyaan yang lebih tepat bukan itu.

“Apa yang bisa saya ajarkan secara efektif dalam waktu hanya 1 menit?”

Itu adalah pertanyaan paling penting. Bila kita mampu menjawab dengan baik maka jutaan siswa siap menyerap ilmu dari kita setiap saat.

Jawaban pertanyaan itu pun tidak bisa diraba-raba. Kita perlu praktek. Uji coba. Hasil yang buruk diperbaiki. Hasil yang bagus dilanjutkan dan ditingkatkan.

Jaman makin melaju. Waktunya kita menyebar ilmu ke seluruh penjuru. Penjuru kampung. Termasuk penjuru kampung digital.

Bagaimana menurut Anda?

Computational Thinking Nadiem Vs Procedural Knowledge

Mas Menteri Nadiem mencanangkan computational thinking (dan compassion) masuk kurikulum. Ide bagus. Tapi apa bisa?

Pertanyaan ini mirip, “Bagaimana cara memasukkan jerapah ke dalam kulkas?”
“Buka kulkas lalu masukkan jerapahnya,” jawaban singkat.
“Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas?” pertanyaan berikutnya.
“Buka kulkas lalu masukkan gajahnya,” adalah jawaban yang salah.

Jawaban yang benar adalah, “Buka kulkas keluarkan jerapahnya lalu masukkan gajahnya.”

Kurikulum kita saat ini bagaikan kulkas yang berisi jerapah. Bahkan banyak jerapah. Maka sebelum memasukkan computational thinking pastikan Anda sudah mengeluarkan semua jerapahnya.

Menurut saya, Mas Nadiem sudah berniat mengeluarkan semua jerapah itu dengan fokus kepada numerasi dan literasi. Bila benar ini terjadi maka saya setuju. Berharap banyak pendidikan Indonesia segera maju.

Apa itu berpikir komputasi?

Berpikir komputasi (Computational Thinking) adalah sebuah metoda pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program.

Tapi harapan saya akan ada jerapah dikeluarkan dari kulkas buru-buru pupus.

“Ketua Bebras Indonesia, Inggriani Liem, menyebutkan bahwa Computational Thinking merupakan aktivitas ekstra kulikuler yang mengedukasi anak untuk memiliki kemampuan problem solving dalam era digital.”

Menempatkan berpikri komputasi sebagai ekstra bermakna memasukkan gajah ke dalam kulkas yang sudah penuh sesak oleh jerapah.

Kita bisa membanding komputasi dengan ide procedural knowlegde yang diusung OECD sebagai salah satu pengetahuan wajib 2030.

“Procedural knowledge is the
understanding of how a task is performed,
and how to work and learn through
structured processes. It is particularly
useful for solving complex problems.”

Menurut saya konsep procedural knowledge lebih tepat dan komprehensif. Sementara komputasi lebih menarik dan fokus. Saya mendukung keduanya dengan satu syarat: keluarkan dulu jerapahnya dari kulkas.

Bagaimana menurut Anda?