Pintu 4: Modifikasi Teknologi Media

Teknologi lebih dari sekedar alat bagi manusia. Teknologi adalah anugerah bagi manusia untuk meraih masa depan lebih bahagia. Tetapi, memang benar, teknologi bisa menjadi penjara bagi seluruh umat manusia.

Kita perlu berpikir terbuka untuk modifikasi teknologi agar membantu umat manusia untuk berpikir terbuka.

1. Alat sampai Tujuan
2. Teknologi Indera
3. Teknologi Pikiran
4. Teknologi Diri
5. Badan sebagai Teknologi
6. Teknologi Mencipta Teknologi
7. Membuka Masa Depan

Sekilas, teknologi tampak seperti alat bagi manusia untuk mencapai tujuan. Pengamatan lebih jauh, justru menunjukkan, teknologi yang memperalat manusia. Teknologi mesin pabrik makin megah. Teknologi transportasi mobil, kapal, dan pesawat makin besar. Teknologi komputer dengan internetnya makin mendunia. Manusia menjadi hanya bagian kecil dari pertumbuhan teknologi itu. Manusia bekerja untuk teknologi. Bukan lagi, teknologi bekerja untuk manusia. Manusia diperalat oleh teknologi. Benarkah seperti itu?

1. Alat sampai Tujuan

Dokter dan ahli medis menciptakan suntik agar memudahkan dokter memasukkan obat ke tubuh pasien. Suntik adalah alat bagi dokter untuk mencapai tujuan yaitu memasukkan obat ke pasien. Tahap berikutnya, terjadi pembalikan. Suntik yang ada pada dokter mengendalikan pikiran dokter, sedemikian hingga, dokter berpikir siapa saja orang yang akan dijadikan sasaran suntik.

Perhatikan kasus vaksin covid-19. Awalnya, vaksin adalah alat bagi manusia untuk menyehatkan badan manusia terhadap ancaman covid. Pada tahun 2022 – 2023, pandemi mulai mereda tetapi persediaan vaksin masih ada. Teknologi yang berupa vaksin itu mengendalikan pikiran manusia. Bagaimana agar vaksin-vaksin itu masuk ke tubuh manusia?

Pertama, mengganti istilah vaksin menjadi booster. Karena orang-orang sudah vaksin dua kali, tampak, tidak wajar jika harus vaksin tiga kali. Sehingga, lebih natural, bila booster satu kali atau dua kali. Padahal, sama saja dengan vaksin empat kali. Kedua, memberikan vaksin gratis ke masyarakat dan lain-lain. Vaksin bukan lagi alat bagi manusia. Tetapi, vaksin memperalat manusia melalui manusia lain. Perlu kita cermati bahwa gratis bermakna ada biaya tersembunyi dalam satu dan lain bentuk.

“Jika Anda punya palu, maka, segala sesuatu tampak seperti paku,” adalah ungkapan yang bisa kita mengerti.

Awalnya, kita punya palu, paku, gergaji, mistar, dan lain-lain adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan membuat meja, misalnya. Tahap selanjutnya, alat-alat pertukangan itu membentuk pikiran kita sebagai seorang tukang. Kita menolak pekerjaan selain tukang. Kita membatasi diri mencari pekerjaan sebagai tukang. Padahal, kita adalah manusia seutuhnya. Kita bisa menjadi tukang, pedagang, pengusaha, penyair, penyanyi, atau lainnya. Tetapi, alat-alat pertukangan sudah mengendalikan pikiran manusia.

Bagaimana produsen teknologi perang? Bagaimana produsen senapan otomatis? Bagaimana produsen panser? Bagaimana produsen senjata nuklir?

Awalnya, mereka berpikir memproduksi teknologi perang adalah untuk menjaga keamanan. Setelah senjata-senjata canggih itu ada di tangan mereka, maka, senjata canggih itu mengendalikan pikiran mereka. Senjata-senjata itu mendorong orang untuk berpikir potensi perang. Semoga orang-orang yang pegang senjata tetap komitmen untuk menjaga perdamaian.

Sampai di sini, kita perlu waspada. Pada tahap awal, teknologi adalah alat bagi manusia untuk mencapai tujuan. Pada tahap akhir, bisa berbalik. Ada resiko bahwa teknologi memperalat pikiran manusia.

Bagaimana pun, teknologi adalah anugerah bagi kita, anugerah bagi manusia. Teknologi membantu kita untuk menyongsong masa depan yang indah. Dengan berpikir-terbuka, umat manusia bisa tumbuh harmonis bersama teknologi. Teknologi memudahkan manusia membuka posibilitas lebih luas. Teknologi membantu manusia mencapai freedom: bebas dan membebaskan. Tentu saja, teknologi menuntut manusia untuk tetap komitmen di jalan kebaikan. Komitmen untuk menjaga interaksi dengan teknologi yang manusiawi.

2. Teknologi Indera

Mata kita adalah teknologi. Mata adalah teknologi bagi jiwa untuk melihat dunia luar. Ketika masa tua tiba, mata jadi kabur, maka, jiwa perlu teknologi tambahan berupa kaca mata agar bisa melihat dunia luar dengan jelas. Baik mata, mau pun kaca mata, adalah teknologi bagi jiwa untuk melihat obyek di alam eksternal.

Sehingga, mata dan kaca mata adalah anugerah bagi manusia untuk bisa berinteraksi dengan alam luar. Karena itu, kita perlu bersyukur atas anugerah dan komitmen untuk memanfaatkannya guna membuka posibilitas luas bagi masa depan.

Dengan cara yang sama, kaki adalah teknologi untuk gerak, hidung adalah teknologi untuk aroma, gigi adalah teknologi untuk mengunyah dan lain-lain. Bahkan, hasrat adalah teknologi bagi jiwa untuk reproduksi meneruskan kelangsungan spesies manusia. Begitu besar anugerah teknologi bagi kita. Rasa syukur akan memperbesar nilai setiap anugerah.

Jika mata adalah anugerah sebagai teknologi, kaki adalah anugerah sebagai teknologi, dan seluruh indera adalah anugerah sebagai teknologi, maka, siapakah diri kita ini? Siapakah manusia? Apa sejatinya jiwa? Siapa yang merasakan, menerima, anugerah itu? Atau, justru, siapa yang memberi semua anugerah itu? Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Kita perlu menjawabnya dengan seksama dan penuh perenungan. Meski pun, kita tahu, setiap jawaban yang kita temukan akan mengantarkan kepada pertanyaan baru lagi. Tetapi, memang begitulah manusia. Pertanyaan adalah anugerah. Jawaban adalah anugerah. Bertanya lebih lanjut, juga anugerah.

Mari kembali membahas teknologi indera. Kaca mata adalah teknologi yang membantu teknologi mata. Pisau adalah teknologi yang membantu teknologi tangan. Manusia bisa memotong sayur memakai tangan. Lama-lama, memotong sayur dengan tangan dapat mengakibatkan tangan menjadi sakit. Pisau adalah teknologi yang membantu kerja tangan. Memotong sayur menjadi mudah dengan teknologi pisau.

Mobil adalah teknologi untuk memudahkan manusia memindahkan barang. Awalnya, manusia bisa memindahkan barang dengan mengangkatnya, kemudian, membawanya ke tempat tujuan yang jauh. Tugas seperti itu berat. Mobil adalah teknologi untuk memindahkan suatu beban dengan mudah.

Telepon, internet, dan media sosial adalah teknologi untuk membantu manusia komunikasi. Awalnya, manusia bisa komunikasi ketika bertemu langsung, tatap muka. Ketika terpisah oleh jarak yang jauh, orang-orang perlu berteriak agar suara bisa terdengar. Ketika terpisah di dua kota, maka, tidak ada teriakan yang bisa didengar untuk komunikasi. Media sosial adalah teknologi yang memudahkan manusia untuk bisa terus berkomunikasi meski terpisah jarak ratusan kilo meter.

Kita masih bisa terus menambahkan contoh bahwa indera adalah teknologi dan teknologi adalah alat bantu bagi indera.

Lalu, untuk apa semua teknologi itu? Untak apa semua kemampuan indera itu?

Berpikir-terbuka dengan logika-futuristik membantu kita untuk menjawab pertanyaan penting ini. Teknologi indera adalah anugerah bagi kita untuk membuka masa depan dengan posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

Realitas bisa saja terbalik dari logika. Teknologi justru digunakan pihak tertentu untuk menindas pihak lain. Bukan membuka posibilitas, tetapi, menindas posibilitas jadi terbatas bagi pihak lain. Secara personal, teknologi indera menjebak banyak orang. Indera mata seharusnya untuk memandang masa depan yang cemerlang. Yang terjadi, mata digunakan untuk melihat banyak hal yang tidak benar. Menjadikan mereka terpikat oleh jebakan iklan, konsumsi buruk tiada henti. Akhirnya, kesehatan menurun dan dirundung utang menggunung.

Hasrat makan sama saja. Nikmatnya makanan membuat mereka berlebih-lebihan. Akibatnya, perut buncit, darah tinggi, kencing manis, dan serangan jantung. Padahal hasrat makanan adalah agar kita makan sehat dan berkarya dengan semangat. Serta, empati kepada orang-orang yang sulit mendapat makanan, kemudian, berbagi makanan sehat kepada mereka.

Nafsu birahi bisa lebih parah lagi. Nafsu kepada lawan jenis sampai melampaui batas. Sebaliknya, nafsu sesama jenis sampai melampaui batas-batas nalar. Birahi ekonomi sulit berhenti. Birahi politik, apa lagi. Padahal nafsu adalah agar kita bisa saling mengasihi. Kita bisa meneruskan eksistensi spesies manusiawi bersama suara hati.

Sekali lagi, kita perlu komitmen untuk memandang teknologi indera sebagai anugerah untuk freedom yang bebas dan membebaskan. Tugas kita adalah untuk modifikasi teknologi demi kebaikan bersama.

3. Teknologi Pikiran

Pikiran kita juga sebuah teknologi. Kita berpikir dengan pikiran, hati, dan otak. Sehingga, pikiran adalah teknologi bagi manusia. Karena teknologi adalah anugerah, maka, pikiran juga anugerah. Sebaliknya juga sama valid. Karena pikiran adalah anugerah, maka, teknologi adalah anugerah.

Teknologi pikiran paling primitif, barangkali, adalah kalkulator sebagai mesin hitung. Lebih kuno lagi adalah teknologi sempoa. Seperti biasa, teknologi pikiran mengungkung manusia pada waktunya. Sempoa menjadikan orang malas berpikir hitungan dasar. Kalkulator lebih parah lagi. Menjadikan orang malas berhitung dan memberi ide untuk melakukan beragam kecurangan dalam ujian dan lainnya.

Teknologi pikiran paling canggih, saat ini, adalah teknologi digital dengan media sosial lengkap dengan artificial intelligence (AI) serta dukungan kapital besar.

Tentu, media sosial bermanfaat besar dengan membuka posibilitas luas. Orang-orang bisa komunikasi di seluruh dunia secara online nyaris tanpa jeda waktu. Orang-orang bisa berdagang di seluruh penjuru dunia dengan harga terbaik. Berita terbaru tersedia dari mana saja di mana saja.

Saya, pengalaman personal, bisa membaca beragam artikel ilmiah dan filosofis dari seluruh dunia. Saya bisa membaca ensklopedia online lengkap dengan multimedia. Lebih dari itu, buku-buku tebal berkualitas sepanjang sejarah bisa kita akses online.

Dari arah sebaliknya, saya berbagi tulisan melalui internet yang bisa dibaca oleh siapa saja di mana saja. Melalui video di youtube, saya berbagi lebih dari 7000 video matematika kreatif secara gratis. Saya berbagi pikiran melalui beragam teknologi pikiran.

Bukankah teknologi pikiran adalah kabar baik? Tentu. Dan, seperti biasa, ada resiko kebalikannya.

Teknologi pikiran, seperti contoh di atas, berhasil membuka posibilitas luas dan memberi freedom ke banyak orang. Di saat yang sama, ada pihak-pihak tertentu yang memanipulasi teknologi untuk kepentingan ekonomis menguntungkan segelintir orang kaya – atau super kaya. Teknologi digital, saat ini, banyak menunjukkan bahwa media sosial mendorong yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Ketika kepentingan ekonomis ini berpadu dengan kepentingan politis, maka, lengkap sudah menjadikan media sosial sebagai penjara pikiran. Hoax bertebaran di jagat maya, sampai-sampai, sulit membedakan dengan kebenaran. Tetapi, ujungnya jelas: media sosial menguatkan kepenting ekonomi dan kepentingan politik pihak tertentu.

Tugas bagi kita jelas: berpikir-terbuka dengan logika-futuristik, sedemikian hingga, membuka posibilitas luas teknologi yang bebas dan membebaskan. Tentu, perlu komitmen kuat untuk menjalankan tugas berpikir-terbuka. Kemudian, kita modifikasi teknologi untuk kebaikan bersama.

Karena pikiran adalah teknologi, maka, bisakah pikiran menjadi penjara bagi manusia itu sendiri? Tentu bisa. Pikiran memang bertugas membuka posibilitas luas yang bebas. Tetapi, pikiran bisa menjadi penjara yang menindas manusia. Pikiran yang menyatakan bahwa diri kita memiliki pikiran terbaik sehingga setiap orang harus menurut kepada kita adalah penjara sangat bahaya. Pikiran bahwa aliran pemikiran kita paling benar sedangkan pihak lain sebagai salah adalah pikiran jahat yang menjadi penjara banyak orang. Pikiran adalah penjara yang lembut namun membawa maut. Kita perlu waspada untuk membebaskan diri dari penjara pikiran sebagai teknologi. Pikiran kita perlu terbuka terhadap ragam posibilitas kebaikan, dengan menerapkan logika-futuristik misalnya.

Buku adalah teknologi pikiran paling baik, buku cetak. Buku memberi informasi, pengetahuan, dan pikiran-pikiran segar. Di saat yang sama, buku memberi waktu bagi kita untuk berpikir bebas. Buku membebaskan kita untuk membacanya secara urut mau pun acak. Buku membebaskan kita membaca secara utuh atau sebagian saja. Buku adalah sumber pikiran yang bebas dan membebaskan. Tentu saja, buku bisa diinterpretasikan dan digunakan secara salah. Bagaimana pun, secara umum, buku bisa diinterpretasikan dan digunakan secara baik dan benar. Dengan demikian, membaca buku merupakan salah satu cara terbaik untuk berpikir-terbuka.

4. Teknologi Diri

Dikabarkan, orang terkaya di dunia, misal namanya Bejo, ingin hidup abadi. Bejo ingin tidak mati. Dengan tersedianya teknologi, Bejo berharap bisa hidup selamanya. Teknologi kedokteran dan medis memungkinkan manusia merawat badannya secara sehat lebih lama. Terbuka posibilitas bagi manusia berumur lebih panjang dengan badan tetap kuat. Teknologi informasi memungkinkan kita menyimpan pikiran ke dalam jaringan komputer. Dengan kata lain, pikiran manusia menjadi abadi secara digital. Kemampuan berpikir tetap segar meski usia sudah tua. Tidak pikun, tidak lambat, dan tidak bingung.

Bejo ingin hidup abadi. Bisakah terjadi? Secara teoritis, sampai saat ini, mungkin saja manusia bisa hidup abadi. Sementara, secara empiris praktis, menunjukkan bahwa setiap manusia pasti akan mati. Kemajuan teknologi medis tidak bisa menolak kematian, hanya bisa menunda kematian, andai bisa. Bejo, barangkali, bisa hidup sampai usia 200 tahun dengan badan sehat. Apakah badan Bejo akan tetap sehat setelah berumur 500 tahun? Kemungkinan besar, badan Bejo akan rusak dan mati.

Alternatifnya adalah menggunakan teknologi informasi. Semua pengetahuan Bejo disimpan di jaringan komputer secara digital. Termasuk memori, perasaan, dan seluruh pengalaman Bejo, atau seluruh diri Bejo, disimpan di jaringan komputer. Sehingga, ketika usia 300 tahun, badan Bejo mulai melemah, seluruh diri Bejo pindah ke jaringan komputer. Badan Bejo memang jadi rusak. Kemudian, diri Bejo yang ada di jaringan komputer itu, dibuatkan badan misal avatar. Dengan demikian, Bejo hidup lagi dengan badan avatar dan diri berupa jiwa Bejo seutuhnya. Badan avatar itu sendiri dibuat sama persis dengan badan Bejo yang sehat. Avatar itu benar-benar adalah Bejo. Keunggulannya, badan avatar terbuat dari bahan sintetis sehingga bisa dirawat secara abadi tanpa ada penuaan dengan disediakannya beragam suku cadang.

Lebih menarik lagi, kita bisa membuat duplikat avatar Bejo lebih dari satu buah. Sehingga, kita bisa menciptakan lebih banyak Bejo dari avatar yang sama. Misal, kita memproduksi dua avatar dari Bejo yaitu P dan R. Pada awalnya, avatar P identik dengan avatar R dan mereka identik dengan Bejo itu sendiri. Seiring dengan waktu, P dan R menjadi berbeda dan unik sesuai pengalaman hidup masing-masing. Kita, sebagai pihak luar, memandang P dan R sebagai kembar identik dengan Bejo. Dalam dirinya sendiri, P dan R adalah pribadi yang berbeda seperti saudara kembar.

Bisa jadi, Bejo keberatan bila avatar dirinya diproduksi dalam jumlah banyak. Bejo ingin spesial, yaitu, hanya ada satu avatar unik. Teori quantum dan teknologi quantum memungkinkan untuk menciptakan avatar yang unik semacam itu. Dalam teori quantum terdapat teorema yang menyatakan tidak ada duplikasi. Dengan demikian, avatar Bejo benar-benar unik sebagai diri Bejo. Bila skenario ini benar bisa terjadi, maka, kita berhasil menciptakan teknologi diri. Tapi, apakah benar-benar bisa?

(a) Analisis esensial. Secara esensial, avatar Bejo bisa diproduksi. Artinya, Bejo bisa hidup abadi sebagai avatar dirinya. Teknologi diri berhasil memproduksi diri manusia. Manusia, secara analisis esensial, adalah badan manusia yang dipadukan dengan informasi yang tersimpan dalam otak manusia. Ketika badan manusia bisa digantikan oleh badan avatar, dan informasi otak manusia bisa diubah menjadi bentuk digital, kemudian, mereka digabungkankan, maka tercipta manusia yang abadi.

(b) Analisis eksistensial. Tidak mungkin manusia abadi di dunia ini. Secara eksistensial, manusia adalah unik tidak bisa digantikan oleh apa pun. Ketika manusia mati, maka, avatar tidak bisa menggantikannya. Avatar Bejo bukanlah Bejo. Mereka adalah dua eksistensi konkret yang berbeda. Avatar, barangkali, mengalami seluruh memori Bejo. Maksudnya, avatar ingat kenangan dirinya waktu kecil hidup bersama ibunya, sekolah dasar, dan sampai dewasa sebagai Bejo. Dan, barangkali, avatar bisa memahami bahwa dirinya adalah produksi dari teknologi. Tetapi, dengan kondisi seperti itu, avatar sadar bahwa dirinya adalah avatar dan bukan Bejo.

Dari perspektif Bejo lebih rumit lagi. Ketika avatar bisa merasakan memori sebagai Bejo, maka, apakah Bejo merasakan dirinya hidup sebagai avatar? Tidak. Bejo tidak merasakan eksistensi avatar adalah eksistensi Bejo. Jadi, secara eksistensial, kita gagal memproduksi teknologi diri. Kita gagal menjadikan manusia hidup abadi di dunia ini, meski, dibantu oleh teknologi. Siapa pun Anda harus bersiap-siap menghadapi mati, pasti.

(c) Makna-eksistensial. Logika-futuristik mengacu masa depan sebagai dasar utama makna. Karena itu, titik akhir di masa depan adalah penting. Sebagai individu, titik akhir di masa depan adalah kematian kita. Mati adalah akhir dari hidup kita. Dengan mati, maka seluruh hidup kita menjadi bermakna. Seluruh hidup kita adalah proses untuk mencapai kematian dengan baik.

Asumsikan kita bisa hidup abadi. Atau, seperti main game, kita bisa mati, lalu, mulai hidup lagi dengan game baru lagi dan begitu seterusnya. Dengan asumsi ini, maka semua makna jadi kehilangan makna. Karena tidak ada titik akhir di masa depan, maka, semua makna bisa direvisi, semua makna bisa dianulir oleh kehidupan baru Anda yang bangkit, di dunia ini, setelah Anda mati. Jadi, teknologi diri yang menjadikan manusia abadi di dunia ini adalah mustahil. Jika manusia ingin abadi, maka, dia perlu hidup lagi di dunia lain yang tidak berhubungan langsung dengan dunia ini.

Singkat kata, teknologi untuk menciptakan manusia hidup abadi adalah mustahil. Meski pun, analisis esensial memberikan secercah harapan bahwa kita bisa membuat teknologi diri sehingga abadi. Ada beberapa asumsi esensial. Pertama, esensi pikiran manusia bisa diubah menjadi bentuk digital. Demikian juga esensi jiwa manusia. Kedua, esensi badan manusia bisa digantikan oleh badan avatar. Kedua esensi di atas hanya dari perspektif esensial. Sedangkan, bila kita mencermati realitas, misal secara eksistensial, jiwa dan badan manusia adalah unik tak tegantikan. Ketika sebagian badan manusia diganti oleh badan lain, maka, ada proses tertentu untuk penyesuaian. Bagian berikutnya akan membahas tentang badan manusia.

5. Badan sebagai Teknologi

Badan adalah teknologi yang selalu melekat dekat dengan diri kita. Badan adalah titik temu, atau ruang temu, antara diri kita dengan alam eksternal. Sementara, diri kita hanya bisa eksis di dalam dunia. Maksudnya, kita tidak bisa eksis di ruang hampa. Kita tidak bisa eksis hanya seorang diri sendiri tanpa ada alam apa pun. Dengan demikian, badan adalah teknologi unik yang menghubungkan diri kita dengan alam eksternal secara niscaya.

Diri kita eksis di dalam badan kita, tetapi, tidak terbatas oleh badan itu sendiri. Diri kita imanen, menempel, di badan tetapi transenden, melampaui, dari badan itu sendiri. Badan bukanlah diri. Dan, diri kita bukanlah badan. Demikian juga, badan bukanlah alam eksternal dan alam eksternal bukanlah badan. Meski demikian, karena badan adalah titik temu, maka badan bisa meluas sampai ke diri kita mau pun sampai ke alam eksternal. Atau, diri kita bisa menyentuh dunia eksternal melalui badan dan dunia eksternal bisa menyentuh diri kita melalui badan juga.

Penting bagi setiap orang merawat badan dengan baik. Secara umum, badan perlu dijaga agar tetap sehat, pada gilirannya, badan sehat mendukung jiwa menjadi sehat. Badan menjadi sehat berkat memperoleh asupan yang tepat dari alam, pada gilirannya, badan sehat ikut menjaga kelestarian alam. Jiwa, badan, dan alam saling terhubung dengan erat.

Dalam perkembangannya, badan sebagai teknologi penghubung itu bisa terasa menghilang. Kita mengambil minuman di depan kita dengan tangan kanan, misalnya. Kita hanya merasa mengambil minuman tersebut. Kita tidak merasa, kita tidak sadar, menggerakkan tangan kanan. Karena tangan kanan itu sudah menyatu dengan jiwa kita. Seakan-akan tangan kanan itu adalah diri kita sendiri. Tangan kanan, sebagai teknologi penghubung, seakan-akan telah hilang.

Apakah Anda pernah membaca buku dengan memakai kaca mata? Apakah Anda merasa memakai kaca mata? Apakah Anda melihat kaca mata? Anda asyik saja membaca buku. Teknologi kaca mata, yang menghubungkan jiwa dengan buku, seakan-akan hilang begitu saja. Kaca mata sudah menyatu dengan jiwa kita.

Awalnya, badan terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Kemudian kaca mata, sepatu, baju, celana, dan topi terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Lebih lanjut alam se-desa, se-provinsi, se-bumi dan se-dunia terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Sehingga, merawat badan juga bermakna merawat kaca mata, serta, bermakna merawat bumi. Ketika tangan sakit, maka, diri kita terasa sakit karena tangan adalah bagian dari jiwa kita. Demikian juga, ketika bumi sakit, maka, diri kita juga terasa sakit karena bumi adalah bagian dari jiwa kita.

Seluruh dunia adalah badan bagi manusia. Dan, manusia adalah jiwa bagi dunia.

Bagaimana pun, batas antara jiwa dengan alam eksternal senantiasa dinamis. Badan kita selalu dinamis. Badan ambigu: badan bukan bagian dari jiwa, di saat yang sama, badan adalah bagian dari jiwa. Alam semesta juga sama. Alam terasa bukan bagian dari jiwa, dan di saat yang sama, terasa bagian dari jiwa. Karakter ambigu yang dinamis ini bukan suatu cacat, tetapi, memang begitulah realitas yang kita hadapi.

Kembali ke tema teknologi, maka, kita menemukan teknologi senantiasa ambigu dinamis. Sama juga, karakter ambigu dinamis bukanlah cacat bagi teknologi. Tetapi, memang demikianlah, ambigu dinamis, karakter sejati dari teknologi. Karena itu, kita perlu berpikir terbuka terhadap teknologi. Kita perlu fokus menatap posibilitas luas dari teknologi yang bebas dan membebaskan.

Sampai di sini, kita bisa mengajukan ulang pertanyaan awal. Apakah teknologi merupakan suatu alat atau tujuan? Alat dan tujuan bagi siapa? Bagi manusia? Siapa itu manusia? Apa itu tujuan?

Jawaban singkat dari semua pertanyaan itu adalah: ambigu dinamis. Kita akan melanjutkan kajian di bawah ini.

6. Teknologi Mencipta Teknologi

Khawatir bercampur harapan, “Bagaimana jika teknologi mampu memproduksi teknologi lagi?”

Kita bisa berharap, atau berkhayal, andai teknologi bisa mencipta teknologi. Kita, misal, punya sepasang mobil: mobil jantan dan mobil betina. Dari pasangan mobil ini lahir beberapa anak mobil. Kemudian, mereka beranak-pinak menghasilkan puluhan mobil. Bukankah itu harapan yang indah?

Lebih menarik lagi, bila kita menempatkan mobil itu di hutan seperti sepasang kijang. Kijang hidup di hutan secara mandiri – tanpa bantuan manusia. Kemudian, kijang berkembang biak menjadi banyak. Demikian juga, sepasang mobil di hutan berkembang biak menjadi banyak. Tiba saatnya panen, kita mengambil puluhan mobil itu, untuk kemudian, menjualnya dengan memperoleh keuntungan besar. Bukankah itu harapan yang menarik?

Mobil memproduksi mobil tidak pernah terjadi. Sehingga, cerita kita di atas hanya khayalan belaka. Bagaimana dengan teknologi lain? Misal, artificial intelligence (AI)?

Program AI, saat ini, mampu menulis program coding. Memang program yang dihasilkan oleh AI masih sederhana. Tetapi, kita bisa berkhayal juga bahwa, suatu saat, AI akan mampu membuat program yang canggih. Saat itu, AI mampu memproduksi AI. Teknologi berhasil memproduksi teknologi.

Mari kita lanjutkan skenario bahwa AI mampu memproduksi AI. Saat ini, industri produksi mobil menerapkan AI untuk menentukan jenis mobil, kuantitas modil, dan kualitas mobil. Sehingga, pada gilirannya, AI bisa memproduksi mobil. Demikian juga, produksi iklan digital memanfaatkan AI untuk analisis iklan yang paling laris. Iklan digital ini menentukan perilaku konsumen, manusia, secara luas. Sehingga, AI berhasil mengendalikan perilaku konsumen, produsen, dan masyarakat secara umum. Dalam politik, para politikus menggunakan AI untuk mengambil keputusan yang berpengaruh ke masyarakat luas. Kita bisa melihat bahwa pengaruh AI menembus beragam sisi kehidupan. Pengaruh ini makin meluas dan membesar. Singkatnya, seluruh sisi kehidupan manusia memanfaatkan AI. Dengan kata lain, AI mengendalikan kehidupan manusia.

Bagaimana jika AI melakukan kejahatan kepada manusia? Karena AI adalah produk dari AI, atau produk dari jaringan AI, maka manusia tidak bisa mengendalikan AI. Akibatnya, AI bisa berbuat jahat dan menindas manusia. Harapan terhadap teknologi berubah menjadi kekhawatiran terhadap teknologi.

Pertanyaan bisa kita ganti, “Memang, apa masalahnya jika AI berbuat jahat dan menindas manusia?”

Bukankah, selama ini, manusia sudah berbuat jahat dan menindas manusia lain?

Pertanyaan terakhir, di atas, mengingatkan kita bahwa kejahatan dan penindasan itu sudah terjadi selama ini. Baik kejahatan itu memakai teknologi sederhana mau pun teknologi canggih. Dengan demikian, ketika AI melakukan kejahatan dengan menindas manusia, maka, umat manusia sudah terbiasa mengalami hal seperti itu. Sehingga, hal itu bukan masalah besar bagi kemanusiaan. Tugas manusia memang harus menangani masalah-masalah seperti itu, menghadapi kejahatan dan penindasan.

Jadi, siapa pun pelaku kejahatan itu, manusia tetap bertanggung jawab untuk menghadapinya. Pelaku kejahatan bisa saja AI, manusia, jin, kerusakan alam, atau lainnya. Semua sama saja. Manusia tetap bertanggung jawab atas kejadian yang ada.

Apakah akan berhasil “teknologi bisa memproduksi teknologi” atau “AI bisa memperoduksi AI,” itu, bukan masalah utama bagi manusia. Masalah utama manusia adalah apakah mereka mampu berpikir-terbuka sehingga membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan, serta, penuh komitmen. Tema ini akan kita bahas lebih detil di bagian bawah. Tetapi, apakah benar, pada saatnya nanti, AI akan mampu meproduksi AI?

Saya memperkirakan, pada suatu saat nanti, AI akan berhasil memproduksi AI. Artinya, teknologi mampu memproduksi teknologi. Akankah AI bisa inisiatif untuk berbuat jahat? Saya ragu itu. Jika AI memang mampu inisiatif berbuat jahat maka AI bertanggung jawab atas kejahatannya itu, sebagai mana, manusia bertanggung jawab atas kejahatannya. Saya menduga, AI bisa berbuat jahat karena ada campur tangan manusia secara langsung atau tidak.

7. Membuka Masa Depan

Teknologi adalah anugerah untuk membuka masa depan. Banyak sisi positif dan negatif dari teknologi. Bagaimana pun, teknologi tetap merupakan anugerah bagi manusia. Begitu juga, seluruh alam raya adalah anugerah bagi umat manusia. Di bagian akhir ini, kita akan membahas rekomendasi praktis terhadap teknologi, makna teknologi, dan rekayasa lanjutan.

a) Rekomendasi Praktis

(1) Gunakan teknologi secara praktis untuk membuka posibilitas baru secara luas. Gunakan teknologi untuk memasarkan produk-produk Anda atau gagasan-gagasan Anda. Gunakan teknologi untuk berbagi, untuk saling membantu di antara banyak pihak. Perhatikan bahwa teknologi bukan sekedar alat. Hati-hati karena teknologi bisa meperalat Anda sampai Anda rugi besar. Pastikan bahwa Anda memanfaatkan teknologi untuk membuka lebih banyak peluang baru yang cemerlang.

(2) Gunakan teknologi agar Anda makin bebas dan membebaskan lebih banyak orang. Dengan teknologi, Anda makin cepat, efisien, dan efektif untuk mencapai target. Sehingga, Anda lebih bebas memanfaatkan waktu yang tersedia. Atau, dengan teknologi, Anda menjadi lebih mudah menyelesaikan sutau pekerjaan sehingga Anda lebih bebas dalam menikmati pekerjaan tersebut. Hati-hati, jangan sampai Anda kecanduan teknologi sehingga Anda bergantung kepada teknologi. Pun, jangan mejadikan orang lain jadi tergantung kepada teknologi sampai tidak bebas. Pastikan untuk memanfaatkan teknologi guna membuat Anda lebih bebas dan membebaskan.

(3) Gunakan teknologi untuk mengembangkan komitmen Anda terhadap kebaikan. Dengan teknologi, kita mampu mempelajari suatu tugas dari beragam perspektif. Pilih tugas paling baik, kemudian, beri komitmen terkuat pada tugas itu. Jangan terjadi sebaliknya, karena teknologi menampilkan banyak pilihan, lalu, seseorang berubah-ubah pilihan tanpa komitmen. Teknologi, justru, perlu untuk menguatkan komitmen kepada kebaikan.

(4) Gunakan teknologi secara bijak, seimbang, dan tepat guna. Untuk menyelesaikan suatu tugas memerlukan 20 liter bahan bakar jika menggunakan mobil standar. Tetapi, memerlukan 40 liter bahan bakar jika menggunakan mobil mewah. Tentu saja, banyak alasan untuk memilih mobil mewah. Sementara, mobil standar lebih ramah lingkungan dan hemat. Gunakan teknologi secara bijak dan gunakan teknologi untuk membantu Anda mengambil keputusan secara bijak.

(5) Gunakan teknologi secara dinamis. Siap berubah dan fleksibel. Jangan terjebak oleh satu jenis teknologi. Bersiaplah untuk menatap masa depan yang dinamis. Teknologi itu sendiri terus berubah, maka, kita juga perlu untuk terus berubah dinamis dengan komitmen di jalan kebaikan.

Lima rekomendasi praktis, di atas, adalah yang paling dasar. Anda bisa mengembangkan lebih banyak tips memanfaatkan teknologi sesuai situasi yang ada. Manfaatkan teknologi untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

b) Makna Teknologi

Tiba waktunya, bagi kita, mengajukan pertanyaan dan merumuskan jawaban, “Apa sejatinya teknologi itu?”

Jawaban berupa definisi teknologi banyak tersedia online dan offline. Wikipedia mendefinisikan teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk mencapai suatu tujuan praktis dengan cara yang dapat diulang.

Technology is the application of knowledge for achieving practical goals in a reproducible way.” (Wiki).

Kita akan melangkah lebih jauh dengan memahami apa makna teknologi secara esensial, eksistensial, dan futuristik.

(1) Makna Esensial Teknologi

Secara esensial, teknologi adalah enframing, teknologi adalah kemasan. Teknologi adalah mengemas suatu esensi untuk menghasilkan esensi tertentu. Media sosial adalah teknologi yang mengemas esensi sosial, misal gaya foto selfi, menjadi esensi tertentu, misal menjadi bit-bit digital. Tetapi, kemasan berupa bit-bit digital ini belum selesai. Media sosial akan mengemas lebih lanjut, misal menerapkan AI, agar bit-bit digital itu menjadi suatu gosip viral (esensi sosial lagi), sedemikian hingga memberi keuntungan finansial bagi pihak-pihak tertentu.

Bagaimana pun, proses kemasan dari teknologi tidak akan pernah berhenti karena teknologi memiliki aspek futural, aspek masa depan. Keuntungan finansial bagi pihak tertentu itu akan dikemas ulang, misal, menjadi keuntungan politis, dan seterusnya.

Dengan memahami bahwa esensi teknologi adalah enframing, atau kemasan, maka kita perlu lebih waspada. Pihak mana saja yang diuntungkan dari enframing? Pihak mana saja yang dirugikan? Tugas kita untuk mengambil keputusan dengan bijak. Memanfaatkan teknologi untuk kebaikan umat dan semesta.

(2) Makna Eksistensial Teknologi

Secara eksistensial, teknologi adalah anugerah untuk membuka posibilitas masa depan yang luas dan bebas serta membebaskan. Teknologi adalah niscaya. Teknologi adalah pasti. Badan kita adalah teknologi yang menghubung jiwa dengan alam eksternal. Kita hidup, eksis, selalu bersama teknologi. Eksistensi kita tidak bisa terpisah dari teknologi. Sehingga, pilihan kita adalah untuk memilih teknologi mana yang paling baik bagi manusia dan alam.

(3) Makna Futuristik Teknologi

Teknologi adalah masa depan – futuristik. Teknologi adalah modifikasi masa kini untuk meraih masa depan dengan arahan masa depan. Masa depan adalah kreativitas untuk membuka beragam posibilitas. Teknologi adalah freedom untuk memilih masa depan, kemudian, membawanya ke masa kini agar bisa dimodifikasi. Masa kini adalah repetisi dari masa depan yang dipilih dengan penuh komitmen. Teknologi adalah merajut masa depan cemerlang.

c) Rekayasa Lanjutan

Teknologi dekat dengan konsep rekayasa. Modifikasi tingkat tinggi adalah rekayasa (engineering). Para insinyur me-rekayasa semesta berdasar sains, teknologi, dan harapan masa depan. Tetapi, masing-masing diri kita adalah insinyur dalam makna tertentu. Sehingga, kita juga bisa me-rekayasa alam raya.

(1) Rekayasa natural. Awalnya, jaman kuno, teknologi adalah rekayasa terhadap alam (natural) demi kebaikan bersama. Manusia menciptakan cangkul, merekayasa alam, agar mudah bertani. Manusia menciptakan kereta tenaga kuda untuk transportasi. Keuntungan rekayasa natural adalah lebih aman terhadap alam. Tidak ada pencemaran lingkungan, yang signifikan, akibat rekayasa alam. Tetapi, hasil rekayasa alam dipandang hanya “sedikit” bagi pihak tertentu. Sehingga, manusia terus berjuang untuk rekayasa lebih canggih.

(2) Rekayasa mekanikal. Awal jaman modern, barangkali, ditandai dengan berkembangnya rekayasa mekanikal. Lebih canggih dari rekayasa natural, rekayasa mekanikal menerapkan matematika untuk rekayasa. Hasil rekayasa menjadi bersifat pasti dan mudah untuk diperbesar. Manusia mengembangkan mesin uap untuk kereta api, mobil, kapal, dan lain-lain. Manusia menjadi lebih mudah untuk menguasai alam semesta dengan rekayasa mekanikal. Dampak buruknya adalah pencemaran lingkungan dan penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah. Saat ini, kita perlu menemukan solusi atas ancaman krisis iklim.

(3) Rekayasa elektrikal. Kemajuan teknologi makin pesat dengan berkembangnya rekayasa elektrikal, sehingga, dihasilkan tenaga listrik di penjuru dunia dan komunikasi gelombang elektromagnetik. Handphone Anda dan internet bekerja dengan prinsip elektromagnetik. Anda bayangkan kejadian di Eropa bisa ditonton secara langsung dari Asia, nyaris, tanpa jeda waktu. Rekayasa elektrikal ini tampak lebih halus, dan mencakup, rekayasa mekanikal mau pun natural. Dampak kemajuan sangat besar, salah satunya, terciptalah orang-orang kaya baru dan perusahaan raksasa. Sayangnya, dampak negatif sama besar juga. Kesenjangan ekonomi dan penindasan ada di banyak tempat. Tugas kita adalah mengarahkan kembali rekayasa elektrikal untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

(4) Rekayasa nuklir. Kita sudah mengetahui dampak mengerikan bom nuklir. Rekayasa nuklir memang berbahaya. Dalam dirinya sendiri, rekayasa nuklir membuka banyak posibilitas luas, misal, menghasilkan listrik tenaga nuklir. Ada dua jenis rekayasa yaitu nuklir kuat dan nuklir lemah. Contoh di atas adalah rekayasa nuklir kuat. Sementara, rekayasa nuklir lemah, misalnya, untuk rekayasa genetika menghasilkan bibit unggul tanaman pangan. Saat ini, dunia sedang dalam ancaman perang nuklir yang bisa menghancurkan seluruh bumi. Karena itu, kita perlu mencari solusi untuk mencegah perang nuklir. Apakah bisa?

(5) Rekayasa gravitasi atau ruang-waktu. Rekayasa ini belum berhasil dilakukan tetapi baru sebagai ide yang menarik. Teori Relativitas menyatakan bahwa gravitasi yang sangat kuat, massa materi yang sangat besar, bisa membelokkan ruang-waktu. Gerhana matahari tahun 1919 menunjukkan bahwa cahaya yang melintas dekat matahari dibelokkan oleh matahari, sebagai, benda dengan massa sangat besar. Jika rekayasa ruang-waktu berhasil, maka, kita bisa membelokkan ruang dan waktu. Dengan demikian akan ada banyak posibilitas baru yang luas. Salah satu idenya adalah untuk menangani sampah nuklir yang berbahaya menjadi ramah lingkungan. Rekayasa ruang-waktu juga mengarah ke penerapan wormhole untuk menyelesaikan problem quantum entanglement. Dengan demikian, terbuka peluang adanya kecepatan seakan-akan melebihi kecepatan cahaya.

(6) Rekayasa sosial. Semua rekayasa melibatkan peran rekayasa sosial. Teknologi yang tidak diterima masyarakat, akhirnya, akan musnah. Sementara, teknologi yang diterima oleh masyarakat luas makin berkembang. Rekayasa sosial bisa saja terjadi secara wajar, tetapi, bisa benar-benar melibatkan rekayasa tingkat tinggi. Karena itu, kita perlu mencermati rekayasa sosial dengan teliti.

(7) Rekayasa digital atau rekayasa informasi atau rekayasa pengetahuan. Kita tahu, rekayasa pengetahuan sudah berlangsung lama sejak awal peradaban manusia. Hanya saja, di era digital, rekayasa pengetahuan menjadi makin dahsyat lagi. Karena, pengetahuan itu sendiri, atau informasi itu sendiri, yang memiliki nilai paling tinggi. Jika Anda tahu bahwa harga saham perusahaan XYZ akan melonjak dalam beberapa bulan ke depan, maka, informasi semacam itu sangat bernilai tinggi. Lebih parah lagi, jika seseorang bisa memperoleh informasi digital tentang rekening dan password dari nasabah bank, maka, informasi itu bernilai tinggi. Dengan rekening dan password, seseorang bisa memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain. Menariknya, yang berpindah bukan uangnya, tetapi, cukup informasi digital tentang uang yang berubah. Lagi, kita perlu waspada dengan perkembangan rekayasa digital ini.

Seluruh rekayaya di atas, dan rekayasa lain, selalu merupakan rekayasa futural. Yaitu, rekayasa masa depan dengan modifikasi apa yang ada di masa kini. Rekayasa masa depan dengan arahan masa depan agar terjadi repetisi masa depan di masa kini.

Catatan Penutup

Saya mencatat tiga poin penting sebagai penutup bagian teknologi ini. Pertama, teknologi adalah realitas eksistensial yang perlu kita terima sebagai anugerah. Kemudian, kita merespon teknologi untuk menghasilkan anugerah lagi lebih berlimpah.

Kedua, teknologi adalah buah dari perkembangan pengetahuan dan sains. Karena itu, kita perlu terus mengembangkan teknologi, termasuk, dengan mengkritisinya.

Ketiga, tugas kita adalah modifikasi teknologi untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan. Untuk itu, umat manusia perlu komitmen yang kuat.

Iklan

Pintu 2: Peka Menjadi Fakta

Rasa peduli kita menentukan mana fakta obyektif dan mana fakta subyektif. Ketika kita peka terhadap semua anugerah yang ada, maka, semua anugerah itu menjadi fakta bagi kita.

Anda membaca tulisan ini, barangkali, melalui internet. Atau, Anda sering akses internet untuk membaca atau menonton video melalui handphone atau laptop. Ketika Anda mematikan handphone, apakah, saat itu, tetap ada sinyal internet? Sinyal internet tetap ada karena ada wifi atau ada paket data. Tetapi apakah Anda bisa membaca atau menonton video jika handphone dimatikan?

Anda peka terhadap gambar dan tulisan di handphone. Sehingga, Anda bisa membaca tulisan di handphone. Tulisan di handphone itu nyata, benar-benar, ada. Tetapi, tulisan yang sama, sebenarnya ada juga di sinyal wifi Anda. Ketika handphone dimatikan, Anda tidak bisa membaca tulisan dari sinyal wifi. Anda tidak peka terhadap sinyal wifi. Sinyal wifi menjadi “tidak ada” karena kita tidak peka.

Peka menentukan sesuatu menjadi nyata atau sirna. Manusia perlu mengembangkan pendidikan setinggi-tingginya agar makin peka. Dengan peka yang tinggi, kita lebih mampu memahami lebih banyak realita dan kita bisa menciptakan realita baru melalui sains dan teknologi, misalnya.

1. Mata Semut Quantum
2. Mata Elang Gravitasi
3. Mata Manusia Dewasa
4. Anugerah di Dunia
5. Mengembangkan Makna dan Masa

Apakah Anda pernah main olah raga yang seru? Misal sepak bola atau badminton? Kadang, ketika asyik main badminton, kaki lecet hanya terasa sedikit panas. Selesai main badminton, lecet itu terasa panas sekali. Ketika asyik badminton, perhatian kita sepenuhnya dalam permainan itu. Hanya badminton yang nyata. Kaki lecet tidak nyata. Tetapi, selesai badminton, kita menjadi peka terhadap lecet di kaki. Lecet itu menjadi nyata. Bukankah itu karena perasaan subyektif? Atau, bisakah kita menunjukkan sesuatu yang benar-benar obyektif? Kita perlu mengkajinya.

1. Mata Semut Quantum

Sains fisika mengaku sebagai kajian obyektif. Sebagian besar orang, barangkali termasuk diri kita, juga berharap sains bisa benar-benar obyektif. Sains mengkaji obyek-obyek di alam semisal batu, kayu, gerak benda jatuh, benda-benda langit, molekul, atom, dan lain-lain. Termasuk mengkaji asal mula alam semesta, big bang, pergerakan alam semesta, sampai prediksi alam semesta akan hancur pada waktunya.


2. Mata Elang Gravitasi
3. Mata Manusia Dewasa
4. Anugerah di Dunia
5. Mengembangkan Makna dan Masa

Pintu 3: Logika Masa

Masa depan, future, adalah yang paling utama. Future memberi makna terhadap masa kini dan masa lalu. Karena future adalah bebas, maka, Anda bebas untuk memilih hidup Anda bahagia. Pilihan hidup Anda untuk masa depan, future, akan memberi makna kepada masa lalu, past. Kemudian, arahan future dan bekal past, mendorong Anda untuk memodifikasi masa kini menuju masa depan. Bahagia adalah hak kita. Sukses adalah hak kita. Masa depan bahagia adalah anugerah untuk kita semua.

Yang menarik, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, saya tidak menemukan pembagian masa menjadi menjadi past (masa-lalu), present (masa-kini), dan future (masa-depan). Bahasa kita, juga, tidak mengenal tenses (pembedaan waktu). Barangkali, leluhur kita memandang masa sebagai satu kesatuan. Saya menyebutnya sebagai bentangan waktu: future-past-present. Sehingga, ketika saya menyebut future (masa-depan), maka, bisa berarti kesatuan bentangan waktu. Konteks penggunaan kata akan menjadikannya lebih jelas.

Kita penting, bahkan sangat penting, untuk membahas logika masa. Karena berdampak ganda: teoritis dan praktis. Secara teoritis, filosofis, logika masa adalah yang membentuk semua logika berpikir manusia. Secara praktis, logika masa menentukan konsep dan penerapan manajemen waktu.

1. Masa Membentuk Logika
2. Manajemen Waktu Kerja
3. Kuadran Waktu
4. Pronam Waktu
5. Waktu adalah Segala

Dalam logika umum, logika klasik, seakan-akan logika terpisah oleh waktu. Sehingga, nilai kebenaran logika tampak tidak lekang oleh waktu. Misal, pernyataan matematika (M): 12 + 1 = 13, dianggap, selalu benar kapan pun dan di mana pun. Pembahasan logika masa, kali ini, akan menunjukkan peran kuat dari waktu, aspek temporal, termasuk dalam pernyataan matematika (M).

Manajemen kerja atau manajemen waktu? Umumnya, orang mengira bahwa waktu mengalir dengan konsisten. Sehingga, tidak perlu manajemen waktu. Mereka mengira yang lebih tepat adalah manajemen kerja. Tujuannya, agar semua perkerjaan bisa dikerjakan dengan baik. Sayangnya, sering terjadi, bukan seseorang mengerjakan perkerjaan, tetapi, seseorang dikerjai oleh pekerjaan. Manusia menjadi hanya bagian kecil dari suatu pekerjaan besar. Manusia menjadi sekedar sebuah komponen. Bagaimana solusinya?

Kuadran waktu. Barangkali Anda sudah mengenal 4 kuadran waktu. Kriteria kepentingan (penting dan tidak penting) dipasangkan dengan kriteria urgensi (mendesak dan tidak mendesak) sehingga terbentuk kuadran. Umumnya, bagian kuadran tidak penting menjadi benar-benar tidak penting. Sehingga, mana lebih utama, antara penting-dan-mendesak dengan penting-dan-tidak-mendesak? Kuadran kedua adalah paling utama. Bagaimana bisa begitu?

Pronam waktu. Kita bisa membagi wilayah kerja menjadi 6 pronam. Tiga karakter future (posibilitas, freedom, dan komitmen) dipasangkan dengan derajat kepekaan (peka atau tidak peka) maka menghasilkan 6 macam pronam. Sejatinya, kita bisa menghasilkan wilayah kerja lebih banyak lagi karena derajat kepekaan bisa dibagi lebih banyak lagi. Bila kuadran bermakna per-empat-an, maka, pronam bermakna per-enam-an.

Waktu adalah segalanya. Jangan pernah mencela waktu karena waktu adalah Tuhan. Ungkapan orang bijak di atas sering ditambahkan menjadi “waktu adalah ciptaan Tuhan.” Bagaimana pun, kita menjadi sadar bahwa waktu adalah tema yang harus kita bahas dengan tuntas – andai bisa tuntas. Konsep waktu sebagai ukuran gerak matahari, atau gerak eksistensial, perlu kita bahas. Alternatifnya, kita bisa memahami waktu sebagai yang “menggerakkan” matahari. Waktu memberi waktu kepada matahari untuk bergerak. Sehingga, matahari memiliki waktu untuk eksis. Matahari bersedia menerima pemberian waktu, sehingga, waktu terdeteksi melalui gerak matahari. Waktu menjadi eksis. Jadi apa itu waktu sejati?

1. Masa Membentuk Logika
2. Manajemen Waktu Kerja
3. Kuadran Waktu
4. Pronam Waktu
5. Waktu adalah Segala

Pintu 1: Anugerah Semua

Paling penting dari semua pikiran adalah berpikir terbuka bahwa semua adalah anugerah. Anda sedang membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda sedang berpikir untuk memperbaiki kehidupan adalah anugerah. Bahkan, bencana dan kesulitan adalah anugerah bagi kita untuk lebih kuat berpikir terbuka. Kehidupan sehari-hari adalah anugerah. Mengejar impian adalah anugerah. Waktu senggang tanpa kegiatan adalah anugerah.

Anugerah semua dan semua memang anugerah.

Tetapi, bukankah itu cara berpikir yang terlalu optimis? Benar, berpikir optimis itu sendiri adalah anugerah. Ketika Anda berpikir pesimis, sama saja, itu juga anugerah. Memang, meski semua yang ada adalah anugerah, tidak boleh menjadikan kita bermalas-malasan. Karena kita sudah mendapat banyak anugerah, maka, kita bertanggung jawab untuk mendaya-gunakan semua yang ada. Anugerah menuntut kita untuk berpikir terbuka.

1. Hidup Adalah Anugerah
2. Anugerah Ibu
3. Anugerah Kerja
4. Anugerah Ilmu
5. Anugerah Sulit
6. Anugerah Terbesar: fqr gls
7. Anugerah Sempurna: mti

Pertama, hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Kedua, ibu adalah anugerah bagi setiap orang. Kita menjadi hidup karena ada ibu dan bapak. Ibu mencurahkan cinta, seluruh cinta, kepada kita. Cinta ibu adalah anugerah yang menghidupi kita – dalam makna harfiah dan simbolis. Cinta dari ibu terlalu besar bagi kita. Tidak pernah bisa, kita membalas cinta ibu. Ibu telah mengandung kita selama 9 bulan dengan susah payah. Kemudian, ibu merawat kita ketika masih kecil dan nakal itu. Ibu bukan hanya mengandung dan merawat kita saja. Tetapi, ibu melakukan itu semua dengan penuh cinta. Ibu adalah anugerah utama buat kita, buat seluruh manusia. Tiba waktunya, bagi kita, untuk membalas cinta ibu.

Ketiga, kerja adalah anugerah. Setiap orang harus kerja. Setiap orang berhak kerja. Dan, setiap orang, memang bisa bekerja. Karena, kerja adalah anugerah. Maksud kerja, di sini, adalah kerja sejati. Bukan kerja sekedar mencari uang. Kerja adalah kita menebarkan kebaikan, kita berbagi anugerah. Pada gilirannya, anugerah justru berlimpah bagi kita karena kita berbagi anugerah itu. Memang, dengan bekerja, kita bisa mendapatkan uang. Dengan berkarya, kita bisa memperoleh jabatan. Tetapi poin utamanya adalah berbagi kebaikan kepada sesama. Uang dan jabatan adalah konsekuensi. Meski demikian, kita tetap perlu memikirkan mereka, uang dan jabatan itu, agar menjadi anugerah bagi seluruh semesta. Fokus utama kita adalah bekerja untuk berbagi anugerah. Karena itu, setiap orang selalu bisa bekerja, kapan saja di mana saja.

Keempat, ilmu adalah anugerah. Mencari ilmu adalah anugerah. Berbagi ilmu adalah anugerah. Dan, tentu, ilmu itu sendiri memang anugerah. Ilmu adalah anugerah yang sangat mulia, luhur. Ilmu menjadi mulia karena memuliakan ilmu dan memuliakan semua sumber ilmu.

Kelima, anugerah kesulitan. Sekilas, kesulitan bagai bencana. Tetapi, kesulitan adalah anugerah yang menjadikan kita lebih kuat. Kesulitan memicu kita untuk berpikir menemukan solusi. Kesulitan adalah anugerah yang menunjukkan arah tepat agar kita memusatkan segala perhatian, dan sumber daya, pada situasi itu. Pada akhirnya, di setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Dari anugerah kesulitan menuju anugerah kemudahan. Bagaimana pun, kesulitan itu sendiri tetap anugerah.

Keenam, anugerah terbesar. Semua orang berhak mendapat anugerah terbesar, anugerah paling agung ini. Tetapi, tidak semua orang berhasil meraih anugerah terbesar ini. Anugerah terbesar adalah hampa. Benar, hampa adalah anugerah terbesar. Ketika Anda merasa hidup ini hampa, tak berdaya, tak punya makna, tidak bisa berbuat apa-apa, itu adalah anugerah terbesar. Ketika kita sadar bahwa kita bukan apa-apa itu adalah anugerah terbesar. Karena itu, kita membutuhkan Dia yang Maha Segalanya.

Ketujuh, anugerah sempurna. Kabar baiknya, semua orang akan menerima anugerah paling sempurna ini: mati. Pada saatnya, kita semua akan mati. Kematian adalah anugerah paling sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menerima anugerah paling sempurna yaitu datangnya kematian?

Kita akan fokus membahas tujuh anugerah di atas. Meski pun, sejatinya, ada lebih banyak lagi anugerah. Karena, semua adalah anugerah. Saya berharap kita bisa mengkaji tujuh anugerah di atas sampai tataran praktis. Untuk kemudian, anugerah bisa berkembang lebih luas dan lebih mendalam.

1. Hidup Adalah Anugerah

Hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Hidup adalah anugerah yang bernilai sangat besar. Meski, nilai hidup sangat besar, tetapi, kita memperoleh hidup ini secara gratis. Kita tidak perlu membeli hidup. Kita tidak perlu membayar hidup. Kita perlu senantiasa bersyukur atas anugerah hidup ini.

Memang benar kita memperoleh hidup secara gratis. Tetapi, orang di sekitar kita sudah banyak berkorban demi kita hidup. Ibu mengandung kita selama 9 bulan. Bapak memenuhi seluruh kebutuhan hidup kita sejak dalam kandungan ibu. Alam raya menyediakan seluruh yang kita butuhkan untuk hidup: makanan, minuman, udara, tempat tinggal, dan kehidupan sosial. Sekarang, giliran kita untuk membalas pengorbanan mereka dengan bakti terbaik.

1.1 Terbuka Menerima Hidup

Anugerah hidup menjadikan kita bahagia. Mengapa? Mengapa hidup adalah kebahagiaan? Mengapa derita adalah hanya ilusi semata?

Hidup menjadi anugerah penuh bahagia ketika kita bersikap terbuka. Waktu masih kecil, kanak-kanak, kita sangat bahagia dengan kue buatan ibu. Kita sangat bahagia dengan gendongan ayah yang mengguncang-guncang badan. Kita bahagia dengan saudara-saudara yang mengajak main bersama. Mengapa? Karena, kita selalu berpikir terbuka kepada mereka.

Saat ini, detik ini, pun Anda menjadi bahagia dengan berpikir terbuka. Anda bahagia karena membaca tulisan ini. Anda bahagia karena muncul percik-percik semangat dalam diri. Anda bahagia karena Anda terbuka menerima anugerah hidup ini.

Sebaliknya juga bisa. Pilihan ada di tangan Anda. Mungkin, Anda bisa jengkel saat ini karena masalah tertentu. Kejengkelan bisa makin meluas ke masalah-masalah lain. Hidup, saat ini, memang menjengkelkan. Tetapi, Anda tetap punya pilihan membalik kejengkelan itu menjadi anugerah. Sebuah anugerah yang menunjukkan sedang ada masalah untuk bisa dihadapi. Kita bersyukur karena rasa jengkel itu menunjukkan masalah, yang semula, tersembunyi. Langkah berikutnya, kita mencoba beberapa solusi.

Rasa jengkel bisa saja berubah menjadi amarah atau frustasi. Penderitaan-penderitaan seperti itu hanya ilusi. Kita perlu mengubah frustasi menjadi inspirasi dengan cara berpikir terbuka menerima anugerah hidup ini.

Semua adalah anugerah. Menerima hidup adalah anugerah.

Secara profesional, posisi Anda saat ini adalah anugerah. Barangkali Anda seorang karyawan, guru, direktur, pengusaha, seniman, ustad, petani, pedagang, atau lainnya adalah anugerah. Secara personal, semua hidup Anda adalah anugerah. Anda terlahir dari ibu dan ayah Anda adalah anugerah. Pasangan Anda, istri atau suami, adalah anugerah. Anak-anak Anda adalah anugerah. Tetangga-tetangga Anda dan teman-teman Anda adalah anugerah.

1.2 Menjalani Hidup

Anugerah berikutnya adalah menjalani hidup. Setelah kita berpikir terbuka dengan menerima hidup sebagai anugerah, selanjutnya adalah, menjalani hidup sebagai anugerah. Hidup itu sendiri adalah menjalani proses. Hidup adalah masa depan yang dinamis. Masa depan, future, terus-menerus memercikkan harapan agar masa kini bergerak maju menuju masa depan cemerlang. Ketika kita sampai ke masa depan itu, di saat yang sama, masa depan sudah bergerak maju lagi. Sehingga, hidup kita, terus-menerus, bergerak maju menuju masa depan cemerlang sebagai anugerah.

Tentu saja, seseorang bisa memandang masa depan sebagai masa depan yang suram. Akibatnya, dia menjalani hidup penuh derita. Tetapi, masa depan adalah posibilitas, peluang luas, untuk meraih cita-cita. Lagi pula, kita, sebagai manusia, bebas memilih masa depan yang cemerlang. Kemudian, kita penuh komitmen untuk meraih masa depan cemerlang itu. Menjalani hidup adalah anugerah yang disinari cahaya cemerlang masa depan.

Masa depan cemerlang, dalam menjalani hidup, terbuka dalam semua bidang: personal, profesional, sosial, bahkan internasional. Jelas, Anda bisa memilih masa depan pribadi Anda yang cemerlang, kemudian, Anda menjalaninya dengan penuh komitmen. Secara profesional, masa depan Anda juga cemerlang. Apa saja masa depan karir Anda? Masa depan selalu membuka kesempatan-kesempatan baru bagi Anda untuk lebih maju secara profesional. Tentu saja, ada rintangan di sana-sini sebagai bumbu agar perjuangan Anda meraih masa depan menjadi lebih bermakna.

Secara internasional, kita bisa memikirkan tatanan masa depan dunia yang lebih adil makmur. Misal, saya pikir, kita perlu menggulirkan ide bahwa hak veto yang dimiliki 5 negara di PBB perlu direvisi. Dalam beberapa kasus, veto digunakan untuk menghentikan suatu usulan bagus karena diduga bertentangan dengan kepentingan pemilik veto. PBB mengusulkan beberapa solusi untuk Palestina, misalnya. Tetapi, solusi ini berulang kali kena veto. Usulan revisi adalah hak veto yang aktif dibatasi hanya 3 negara secara bergilir. Tahun ini, yang aktif negara A, B, dan C. Sementara, negara D dan E tidak aktif. Tahun berikutnya, yang aktif misal B, C, dan D, dan seterusnya. Bagaimana pun, usulan revisi hak veto ini sendiri bisa kena veto. Memang begitulah anugerah kehidupan. Selalu ada dinamika di mana-mana.

Secara singkat, kita selalu bisa menjalani hidup sebagai anugerah. Apalagi, proses menjalani hidup selalu berada dalam sinaran cemerlang masa depan, maka, kita bisa benar-benar bahagia menjalani anugerah hidup. Bagaimana pun, semua itu bergantung kepada komitmen kita. Di mana, komitmen itu sendiri juga anugerah.

Hidup mengalir bagai air adalah cara hidup paling membahagiakan. Benarkah demikian? Benar bahwa air selalu mengalir menuju tempat yang rendah. Bila ada halangan, air bisa berhenti sejenak. Kemudian, mengalir melalui lubang-lubang kecil yang ada. Atau, air cukup diam, menunggu teman-temannya datang, agar tinggi air cukup untuk melewati penghalang itu. Akhirnya, air tiba sampai tujuan dengan selamat dengan cara mengalir.

Mengapa mengalir bagai air bisa berhasil? Karena, air selalu komitmen untuk meraih masa depan, yaitu, mencapai tujuan akhir. Anda juga bisa mengalir untuk meraih tujuan akhir. Memang, pada akhirnya, kita sampai ke hari akhir. “Sungguh, akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.”

1.3 Memberi Hidup ke Semua

Tiba waktunya, bagi kita, untuk memberi kehidupan. Kita berbagi makanan kepada fakir miskin. Kita berbagi ilmu kepada yang memerlukan. Kita berbagi obat kepada yang sakit. Berbagi kehidupan kepada sesama adalah anugerah. Anugerah bagi yang menerima dan anugerah bagi yang memberi. Orang bijak mengatakan, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.”

Tangan di atas atau dermawan adalah dasar dari semua anugerah. Kita menerima kedermawanan alam raya, orang tua, dan tentu kedermawanan Tuhan yang Maha Dermawan. Kita sendiri perlu bersikap dermawan. Meski, memberi uang kepada orang lain seperti mengurangi saldo uang kita, sejatinya, justru, hal itu membuka ruang bebas untuk datangnya uang lebih banyak lagi kepada kita. Jadi, sikap dermawan bukan berpotensi mengurangi uang milik kita, tetapi, justru membuka potensi penambahan uang itu sendiri. Apalagi, uang tersebut dipakai dengan baik, maka, uang adalah anugerah bagi kita.

Tangan di atas lebih baik, tetapi, sebaliknya tidak boleh terjadi. Tidak benar bahwa tangan di bawah lebih buruk. Tidak benar bahwa penerima sumbangan adalah lebih buruk. Mereka bisa saja sama baik. Tidak ada hak bagi kita menilai siapa pun sebagai lebih buruk. Justru, kita perlu berterima kasih kepada mereka yang bersedia merima bantuan kita. Mereka memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi tangan di atas. Sehingga, sesekali, kita perlu bersedia menjadi tangan di bawah. Agar saudara-saudara kita bisa berperan sebagai tangan di atas dengan satu dan lain cara.

Bagaimana saya bisa memberi uang karena saya tidak punya uang sama sekali? Tangan di atas tidak hanya terbatas dalam bentuk uang. Anda bisa dermawan melalui tenaga Anda, melalui doa Anda, atau melalui senyum Anda. Siapa pun Anda, selalu bisa memberi, memberi yang terbaik dari diri Anda untuk semua. Anda bisa memberi kehidupan kepada semua.

Kita menerima anugerah kehidupan, lalu, menjalani hidup, pada gilirannya, kita perlu memberi kehidupan.

Menolong anak yatim adalah memberi kehidupan kepadanya. Menolong anak yatim peradaban, yang terpojok dalam sejarah, adalah memberi kehidupan kepada kemanusiaan. Kita adalah anak yatim peradaban yang bertanggung jawab untuk menolong anak yatim lainnya. Kita adalah anak yatim yang perlu saling tolong-menolong. Anak yatim menolong anak yatim.

Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan dan hewan? Atau, bagaimana dengan nasib alam raya di masa depan?

Kita perlu makan untuk hidup. Yang kita makan adalah tumbuhan dan hewan – ayam, sapi, ikan, telor, dan lain-lain. Bukannya kita memberi kehidupan, tetapi, kita merenggut kehidupan pihak lain demi hidup diri kita.


2. Anugerah Ibu
3. Anugerah Kerja
4. Anugerah Ilmu
5. Anugerah Sulit
6. Anugerah Terbesar: fqr gls
7. Anugerah Sempurna: mti

Mengapa Semua Bisa Jadi Anugerah?

Memang benar, ketika kita memandang semua yang ada adalah anugerah, maka, hidup kita makin bahagia dengan limpahan anugerah. Barangkali, Anda bertanya, “Bukankah itu sekedar cara pandang saja yang bersifat subyektif?” Realitas, dalam hidup ini, ada bencana yang pasti bukan anugerah. Hanya saja, secara subyektif, kita bisa memandang bencana dari perspektif positif sebagai anugerah. Dengan demikian, anugerah hanya bersifat subyektif dan tidak obyektif? Bukan, anugerah bukan sekedar subyektif. Semua yang ada adalah anugerah secara obyektif dan subyektif. Anugerah itu lebih tinggi dari kategori obyektif dan subyektif. Mari kita kaji lebih mendalam.

Semua realitas yang ada kita sebut sebagai eksistensi. Ada meja maksudnya meja adalah eksistensi. Ada pohon, ada bumi, ada manusia, dan lain-lain mereka adalah eksistensi. Agar eksistensi ini benar-benar ada maka mereka perlu anugerah waktu. Tanpa waktu, eksistensi tidak akan punya waktu untuk eksis. Karena waktu menganugerahkan waktu kepada eksistensi, maka, eksistensi punya waktu untuk eksis.

Pada gilirannya, eksistensi menerima anugerah waktu sehingga eksis. Penerimaan anugerah itu sendiri merupakan anugerah. Jika eksistensi tidak mau menerima anugerah waktu, maka, waktu menjadi tidak eksis. Waktu menjadi tidak ada. Karena eksistensi menerima anugerah waktu sebagai anugerah, maka mereka, eksistensi dan waktu, saling memberi dan menerima anugerah. Mereka menjadi eksis secara nyata. Kesimpulannya, seluruh realitas adalah anugerah itu sendiri.

Ketika seseorang menilai suatu bencana sebagai bukan anugerah, maka, orang tersebut menilai secara subyektif belaka. Secara obyektif, bencana itu sendiri tetap anugerah. Secara subyektif, memang, masing-masing orang perlu berlatih bagaimana agar bisa melihat anugerah sebagai anugerah yang nyata. Semua adalah anugerah.

Anugerah makin terbuka luas karena anugerah waktu sejati, paling utama, adalah anugerah masa depan. Setiap orang punya masa depan yang cemerlang. Masa depan adalah anugerah yang besar. Mari kita rajut masa depan cemerlang dengan mensyukuri anugerah masa kini dan berbekal masa lalu.

Pembahasan lebih lanjut tentang anugerah waktu sejati, kita bahas di bagian tersendiri.

Agama atau Tuhan: Dilema Manusia Futuristik

Ketika Anda harus memilih satu saja, apa pilihan Anda, “Mengutamakan agama atau Tuhan?”

Sulit untuk menentukannya. Problematis. Bahkan dilematis. Setiap pilihan akan paradoks.

Tetapi, orang bisa berdalih untuk memilih keduanya: agama dan sekaligus Tuhan. Ketika kita memilih Tuhan, maka, sekaligus kita mengikuti ajaran agama. Sebaliknya juga berlaku. Ketika kita mengutamakan agama, maka, kita sekaligus mengutamakan Tuhan. Klaim seperti ini sah-sah saja.

Kali ini, kita memang sedang dalam dilema yaitu harus memilih satu saja: agama atau Tuhan? Apa pilihan Anda?

1. Mengenal Agama
2. Mengenal Tuhan
3. Memilihan Pilihan

Falasi Logika

Logika yang keliru. Orang mengira argumennya benar, tetapi, keliru. Orang awam sering keliru. Bahkan, seorang pakar juga mudah keliru. Kekeliruan logika, kesalahan logika, sering disebut sebagai falasi logika – logical fallacy.

Falasi logika sangat bahaya, apalagi, di era digital. Penipuan di media sosial sampai rugi jutaan rupiah. Berita hoax menyebar luas bikin resah. Bahkan, karena falasi logika, sampai ada orang tega mengorbankan jiwa orang lain dan jiwa dirinya sendiri. Kita perlu waspada terhadap falasi logika.

Hanya ada dua jenis falasi: formal dan informal. Masing-masing jenis bisa berkembang menjadi banyak. Falasi formal adalah kesalahan karena bentuk, struktur, untuk mengambil kesimpulan salah atau tidak valid. Sementara, falasi informal, atau sering disebut falasi materi, adalah karena bahan-bahannya berupa premis bernilai salah.

Saya mengusulkan hanya ada satu bentuk logika, yaitu implikasi, untuk memudahkan mengatasi falasi formal. Sementara, falasi informal akan tetap menjadi kajian yang kaya akan perkembangan. Dengan bentuk implikasi, kita mudah mengenali setiap falasi.

1. Logika Valid: Implikasi
2. Ragam Falasi
3. Solusi Falasi
4. Logika Futuristik
5. Berpikir Terbuka

Bagian awal, kita akan membahas implikasi. Lanjut, beragam bentuk falasi. Bagian terpenting adalah solusi terhadap falasi. Sebagai pengembangan, saya mengusulkan logika-futuristik dan berpikir-terbuka.

1. Logika Valid: Implikasi

Implikasi adalah bentuk logika “Jika P maka R.” Implikasi mudah kita pahami, mudah kita cari contoh, dan mudah untuk mendeteksi falasi.

“Jika (P) kuda maka (R) berkaki 4.”

Kita melihat (P) kuda. Kesimpulan (R) berkaki 4. Benar dan sah.

Kita melihat (-R) yaitu tidak berkaki 4. Kesimpulan (-P) yaitu pasti bukan kuda.

Hanya ada dua bentuk kesimpulan yang benar dan sah seperti di atas. Kesimpulan yang tidak mengikuti bentuk di atas maka tidak sah dan konsekuensinya ditolak.

2. Ragam Falasi

Meski, aslinya hanya ada dua falasi, formal dan informal, tetapi variasinya sangat banyak. Di antaranya, 15 falasi kita bahas di sini.

(1) Ad Hominem adalah kesalahan karena menyerang orangnya bukan argumennya.

Orang gila itu bilang, “3 + 2 = 5.”

Ad hominem menolak pernyataan, di atas, karena yang berbicara adalah orang gila. Padahal, kita perlu menguji materinya, yaitu, apakah benar “3 + 2 = 5.” Dalam banyak kasus falasi, pihak yang berbicara bisa saja anak kecil, lawan politik, pemeluk agama yang berbeda, atau orang yang beda aliran.

Dalam bentuk implikasi, falasi dari ad hominem adalah,

“Jika pihak lain bicara maka salah.”

Tentu saja, tidak ada hubungan kuat antara “pihak lain” dan “salah”. Sehingga falasi ad hominem harus ditolak.

(2) Strawmen Argument adalah variasi dari ad hominem, yaitu, menyalahkan pembawa pesan. Di era digital, pembawa pesan bisa saja media sosial. “Jika media XYZ yang menyiarkan maka salah.” Kita perlu menolak falasi ini.

(3) Appeal to Ignorance adalah falasi karena berdalih tidak tahu. “Karena saya tidak tahu maka saya tidak boleh disalahkan.” Orang yang tidak tahu tetap bisa salah, meski, bisa juga benar.

(4) False Dillema adalah falasi karena ekstrem. “Jika dia tidak jadi presiden maka negara hancur.”

(5) Slippery Slope Fallacy adalah kesalahan karena terlalu maju dalam kesimpulan. “Jika 3 bulan profit terus maka akan selalu profit.” Falasi ini bahaya karena penipuan investasi sering terjadi. Kita perlu menolaknya.

(6) Circular Argument adalah falasi karena argumen melingkar. “Jika junjunganku maka benar.” Mengapa? Karena, junjunganku selalu benar. Atau, seluruh kebenaran adalah milik junjunganku. Falasi ini kadang disebut sebagai petitio principii atau beg question.

(7) Hasty Generalization adalah falasi karena ceroboh generalisasi. Saya menemui 5 mahasiswa ITB, yang, semuanya cerdas. “Jika mahasiswa ITB maka cerdas.”

(8) Red Herring Fallacy adalah falasi karena pengalihan isu. “Jika kita bahas secara relijius maka problem politik selesai.”

(9) Appeal to Hypocrisy adalah falasi karena curiga ke sumber. “Jika dia bicara dengan ragu maka dia salah.” Sebaliknya juga falasi yang bahaya. “Jika dia bicara ayat suci berapi-api maka dia pasti benar.” Falasi ini perlu ditolak.

(10) Causal Fallacy adalah kesalahan menempatkan kausalitas, hubungan sebab akibat. “Karena setelah dia dilantik rakyat jadi makmur, maka, dia pemimpin sukses.” Hanya urutan waktu tidak menjamin kausalitas. Falasi perlu ditolak.

(11) Fallacy of Sunk Cost adalah kesalahan karena terlanjur basah. “Karena saya sudah banyak biaya kampanye dukung dia, maka, terus dukung dia meski korupsi.”

(12) Appeal to Authority adalah kesalahan karena terpengaruh otoritas. “Karena dia orang suci maka pasti benar.”

(13) Equivocation adalah kesalahan karena ambigu, karena rancu. “Karena boleh ambil profit maka saya ambil seluruh keuntungan.”

(14) Appeal to Pity adalah kesalahan karena belas kasihan. “Karena sudah 2 hari tidak tidur, maka, dia tidak bisa disalahkan.”

(15) Bandwagon Fallacy adalah kesalahan karena banyak dukungan. “Karena banyak anak muda menyukainya, maka, dia pasti benar.”

Seluruh falasi di atas perlu ditolak. Saya sengaja menggunakan bentuk implikasi dengan kata “maka.” Dengan berpikir dalam bentuk implikasi, maka, menjadi jelas bagian mana yang falasi, yang menyebabkan keliru.

Kita perlu ingat bahwa falasi perlu ditolak. Tetapi, falasi tidak membuktikan bahwa pernyataan salah. Falasi hanya menunjukkan salah logika, salah berpikir, sesat berpikir. Kesimpulan dari pernyataan bisa saja benar dengan melengkapi data yang tepat. Secara umum, falasi ditolak dan dianggap salah. Atau, minimal tidak bisa dianggap sebagai benar.

Berikut, saya ingin menambahkan beberapa falasi lagi agar lebih variasi.

(16) Fallacy of Dramatic Instance adalah falasi karena hasil yang dramatis. “Karena ketika dia dilantik sambutan sangat meriah, maka, dia pemimpin yang benar.”

(17) Fallacy of Retrospective Determinism adalah falasi akibat determinisme mundur. “Dia terpilih jadi bupati, maka, itu sudah takdirnya.”

(18) Post Hoc Ergo Propter Hoc adalah falasi karena justifikasi dari fakta itu sendiri. “Dia terpilih menjabat periode dua, maka, terbukti dia sukses periode pertama.”

(19) Fallacy of Misplaced Concreteness falasi akibat salah menempatkan kenyataan. “Karena tidak menjaga budaya Timur, maka, ekonomi mundur.”

(20) Fallacy of Composition falasi karena salah memperhitungkan susunan atau jumlah. “Karena jadi driver hidup makmur, maka, semua orang perlu jadi driver.”

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak lagi falasi. Yang jelas, dengan menyusun proposisi dalam bentuk implikasi, maka, menjadi mudah bagi kita mengenali falasi. Langkah berikutnya, kita perlu menyusun solusi.

Saya ingin menambahkan, satu lagi, falasi terakhir.

(21) Fallacy of Fallacy adalah falasi karena menganggap falasi sebagai salah. “Karena falasi, maka, kesimpulan bernilai salah.” Kita sudah bahas, di atas, bahwa falasi mungkin bernilai salah dan, di saat yang sama, mungkin bernilai benar. Tetapi, falasi memang harus ditolak karena tidak sah, bukan karena salah. Perlu kajian lebih lanjut terhadap falasi.

3. Solusi Falasi

Langkah awal menemukan solusi terhadap falasi adalah susun ulang proposisi dalam bentuk implikasi. Kemudian, kaji implikasi tersebut secara teliti dari sisi formal dan material. Terakhir, pertimbangkan beragam solusi alternatif.

Untuk memudahkan pembahasan, kita membagi menjadi 3 kasus: fiksi, fisika, dan realitas.

3.1 Fiksi

Fiksi memudahkan analisis karena batasannya jelas, misal, novel atau cerpen. Dalam fiksi, kita tidak harus menguji realitas. Fiksi bernilai benar atau salah, cukup, dinilai dalam fiksi itu sendiri.

“Jika (P) dia Superman maka (R) dia pembela kebenaran.”

Berdasar fiksi, implikasi di atas adalah benar. Maka, kita mengenali kesimpulan yang sah – berbeda dengan falasi.

(P) Dia Superman
Kesimpulan sah (R) Dia pembela kebenaran.

(-R) Dia bukan pembela kebenaran.
Kesimpulan sah (-P) Dia bukan Superman.

Hati-hati dengan falasi berikut.

(-P) Dia bukan Superman.
Kesimpulan tidak sah (-R) Dia bukan pembela kebenaran. Karena, bisa saja Batman adalah pembela kebenaran. Tetapi, Joker mungkin bukan pembela kebenaran.

(R) Dia pembela kebenaran.
Kesimpulan tidak sah (P) Dia Superman. Karena mungkin saja Batman.

Pengetahuan matematika, dalam perspektif tertentu, bisa dianggap sebagai fiksi. Sehingga, nilai kebenaran matematika bersifat pasti. Coding atau program komputer bisa juga dipandang sebagai fiksi. Yang menarik adalah media sosial. Dalam dirinya sendiri, media sosial bisa menjadi fiksi. Tetapi, karena media sosial terkait dengan realitas, maka, kita perlu pertimbangan lebih luas.

3.2 Fisika

Sains fisika mengkaji esensi materi dalam ruang dan waktu. Dengan asumsi fisika seperti itu, kita bisa membuat pernyataan implikasi dengan tegas.

“Jika (P) panjang kayu awal 6 meter dipotong dua sama panjang, maka, (R) masing-masing 3 meter.”

Kesimpulah sah ada dua:
(P) maka kesimpulan sah (R)
(-R) maka kesimpulan sah (-P).

Falasi atau kesimpulan tidak sah juga ada dua macam:
(R) maka kesimpulan tidak sah adalah (P)
(-P) maka kesimpulan tidak saha adalah (-R).

Tantangan lebih menarik adalah ketika kita menghadapi realitas. Bukan hanya fisika, dan, bukan hanya fiksi.

3.3 Realitas

Mengkaji realitas menjadi menarik karena kita mempertimbangkan karakter temporal dari realitas. Di mana, realitas bisa berubah seiring waktu. Akibatnya, setiap klaim kebenaran realitas perlu mempertimbangkan, dengan serius, aspek temporalitas.

Di sisi lain, realitas menuntut kita untuk membuat relasi yang sah antara proposisi dengan realitas itu sendiri. Maksudnya, ketika ada proposisi “Panjang kayu adalah 3 meter”, kita perlu menguji apakah ada realitas tepat seperti itu.

Kita tahu bahwa kita lebih banyak hidup di dunia realitas ketimbang dunia fiksi mau pun dunia fisika. Karena itu, problem falasi akan lebih banyak kita hadapi di dunia realitas.

3.3.1 Validitas Implikasi

Tugas pertama kita adalah untuk menyusun implikasi yang valid. Seperti kita lihat di atas, contoh-contoh falasi adalah gagal dalam membentuk implikasi.

“Jika (P) kuda maka (R) berkaki 4.”

Dalam dunia fiksi dan fisika, implikasi di atas valid dan benar. Tetapi, dalam dunia realitas, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab.

Bagaimana kita mengetahui bahwa semua kuda berkaki 4? Bagaimana jika ada kuda aneh berkaki 3 atau berkaki 5? Apakah kuda di masa depan tetap berkaki 4? Bagaimana jika ada mutasi gen? Bagaimana kita bisa menghitung 4 kaki, padahal, kaki kiri beda dengan kaki kanan dan kaki depan beda dengan kaki belakang?

Kita sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara positif. Tetapi, kita bisa membuat batasan agar pernyataan implikasi di atas menjadi valid. Kita bisa membatasi, misal, pernyataan di atas berlaku untuk wilayah Kebon Binatang Bandung selama bulan Januari 2023. Pengertian masing-masing kata adalah sewajarnya, misal, kaki kanan dianggap sama dengan kaki kiri dalam hitungan. Dengan batasan di atas, implikasi menjadi valid dan kita bisa menarik kesimpulan dengan valid juga.

Pembatasan adalah hal wajar dalam kajian ilmiah. Kita terbiasa membatasi kajian dalam laboratorium, misalnya. Untuk kajian sosial, kita juga bisa membatasi pada ruang waktu tertentu. Dengan teknologi, kita juga bisa membuat simulasi terbatas. Problem muncul, ketika, sains mengklaim bahwa kesimpulan kajian sains sebagai berlaku universal. Bagaimana kajian yang terbatas bisa menghasilkan kesimpulan universal?

Kita bisa terjebak dalam falasi ketika melakukan generalisasi. Ada banyak cara untuk menghindari falasi, misal, dengan induksi, statistik, falsifikasi, enframing, dan lain-lain.

3.3.2 Validitas Formal

Menarik kesimpulan melalui silogisme implikasi adalah valid. Ketika, pernyataan implikasi valid dari sisi material, maka selanjutnya valid, menarik kesimpulan secara formal.

(P) Kuda
Kesimpulan sah,
(R) Berkaki 4.

Kita tahu, kesimpulan (R) valid untuk wilayah Kebon Binatang Bandung pada bulan Januari 2023. Bagaimana untuk ruang dan waktu yang berbeda? Apa gunanya kesimpulan yang hanya berlaku terbatas? Bukankah kita perlu kesimpulan yang berlaku universal? Logika-futuristik menyelesaikan masalah ini dengan baik.

“Jika (A) dia presiden maka (B) adil makmur.”

(A) Dia presiden
Kesimpulan sah,
(B) Adil makmur.

Untuk menguji validitas (A) cukup mudah. Dia menang pilpres dan sudah dilantik. Beres. Tetapi, validitas (B) tidak mudah dibuktikan. Bagi pendukung presiden, tampak jelas bahwa (B) adil makmur adalah benar adanya. Sementara, bagi oposisi melihat (B) sebagai tidak valid. Kita akan menyelesaikan paradoks ini dengan logika-futuristik.

Mari sedikit kita ringkas pembahasan sampai sejauh ini. Falasi adalah logika berpikir yang keliru. Untuk mencermati falasi, kita bisa menyusun proposisi dalam bentuk implikasi. Bagaimana pun, dalam realitas, klaim terhadap kebenaran masih tetap bisa paradoks. Kita perlu berpikir-terbuka.

4. Logika Futuristik

Sesuai namanya, logika-futuristik adalah logika yang memberi bobot penting terhadap aspek futural – masa depan. Logika-klasik lebih menekankan aspek past dan present.

Kita cermati lagi klaim,

(B) Adil makmur.

Bagi penguasa, (B) terbukti dengan jelas. Sebaliknya, bagi oposisi, (B) tidak terbukti. Justru kondisi tidak sedang adil makmur.

Semua data statistik, dari masa lalu (past) sampai yang terbaru (present), menunjukkan bahwa negara memang adil makmur. Demikian, interpretasi penguasa. Oposisi menginterpretasikan data statistik yang sama sebagai negara tidak adil makmur. Paradoks. Logika-futuristik akan memberi solusi.

Bagaimana konsekuensi masa depan – future? Apa ukuran statistik masa depan yang membedakan adil makmur dengan tidak adil makmur? Masa depan adalah posibilitas luas, freedom, dan komitmen.

Misal, pada akhirnya, bisa disepakati indeks adil makmur saat ini adalah IAM = 75. Bagi penguasa, IAM = 75 bermakna adil makmur, sebaliknya, bagi oposisi tidak adil makmur. Logika-futuristik menawarkan IAM = 75 adalah sebagai batas pembeda. Bila tahun depan IAM di atas 75 maka terbukti adil makmur. Tetapi bila IAM tetap 75 atau turun maka terbukti tidak adil makmur. Paradoks selesai oleh logika-futuristik.

Tetapi, mengapa lama sekali? Harus menunggu 1 tahun ke depan. Kita perlu keputusan saat ini.

Kajian waktu matematis bisa diatur. Misal target adil makmur adalah IAM = 75,12 dalam 12 bulan ke depan. Maka 1 bulan ke depan target IAM = 75,01. Dan target pekan depan IAM = 75,0025. Penguasa dan oposisi bisa bersepakat dengan logika-futuristik demi menciptakan adil makmur seluruh negeri. Kedua belah pihak terbebas dari falasi logika. Tetapi, kedua pihak terikat komitmen untuk membangun negeri meningkatkan IAM. Penguasa berjuang melalui beragam program pembangunan. Sementara, oposisi berjuang dengan kritik-kritik tajam tepat sasaran.

Logika-futuristik melangkah lebih jauh dengan menekankan bahwa waktu adalah bentangan future-past-present. Artinya, kita tidak bisa tinggal diam di masa kini – present. Karena, future selalu datang. Apa yang kita maksud present, otomatis, berubah menjadi past. Justru, kita perlu selalu mengantisipasi future. Karena future adalah posibilitas yang luas maka kita perlu berpikir-terbuka.

5. Berpikir Terbuka

Logika-futuristik memang mengajak kita untuk berpikir-terbuka. Kita, bersama-sama, merajut masa depan yang cemerlang bagi umat manusia. Masa depan yang indah dan damai berkelanjutan. Masa depan untuk diri kita, untuk anak cucu kita, untuk seluruh semesta.

Seseorang bisa berpikir bahwa masa depan adalah masa depan di dunia ini. Bagaimana pun, di masa depan, seseorang akan mati. Apa yang kita berikan untuk semesta ini sejak kita lahir sampai mati? Bagi umat beragama, apa persiapan kita untuk menghadapi masa abadi?

Siapa pun Anda pasti sedang menyongsong masa depan. Mari bersiap dengan berpikir-terbuka menatap masa depan, berbekal masa lalu, dan menyusuri hidup di masa kini.

Logika Era Digital

Logika sebagai ilmu berpikir benar menjadi sangat penting di era digital. Hoax, sampai penipuan, terjadi di mana-mana. Logika akan membantu kita menyelesaikan beragam kesulitan itu. Dengan logika, Anda bisa berselancar di dunia maya, di dunia ekonomi, dan dunia politik lebih waspada. Di saat yang sama, logika era digital membuat Anda lebih bahagia.

Saya menulis tema logika dari beragam sudut pandang.

Prolog
Bagian 1: Logika dalam Perspektif Histori

1. Logika Seberapa Logis

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika

2. Logika Futuristik
3. Problem Filsafat Sains
4. Matematika Itu Paradoks
5. Filsafat Sains Einstein
6. Quantum Entanglement
7. Wacana Quantum
8. Berpikir Terbuka: Meta Filosofi

Bagian 3: Sesat Pikir

9. Falasi Logika

Epilog

Sejak masa awal lahirnya, logika mencerahkan peradaban umat manusia. Aristoteles berhasil merumuskan logika-bahasa (proposisional), perkembangan dari logika-cahaya Plato, yang mampu membedakan kebenaran dengan kesesatan. Pengetahuan manusia berkembang pesat dengan landasan logika yang kokoh.

Hanya berselang beberapa tahun dari Aristo, logika menghadapi paradoks teramat berat: paradoks Pyrrho. Paradoks berpuncak pada abad 20, yaitu, paradoks Godel. Paradoks-paradoks ini menjadi tantangan bagi logika dan tidak terpecahkan. Saya mengusulkan logika-futuristik sebagai solusi yang tuntas dan terbuka terhadap dinamika.

Dalam pembahasannya, logika-futuristik menyelesaikan paradoks dalam kelompok meta-teori dan meta-perspektif dengan solusi yang membuka posibilitas luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen. Kita mengambil kasus, untuk diselesaikan, paradoks demokrasi (kasus sosial), paradoks Godel (kasus eksak matematis), dan paradoks quantum (kasus sains teoritis empiris).

Logika-futuristik mengusulkan kajian logika formal fokus kepada implikasi. Di satu sisi, implikasi memudahkan kita membuat kesimpulan. Di sisi lain, implikasi memudahkan kita mengenali falasi logika yang perlu dihindari.

Dalam perspektif sejarah, kita mengkaji logika obyektif dan logika subyektif. Logika obyektif terbentang sejak Aristo, Boole, Frege, sampai logika kategori di abad 21 ini. Sementara, logika subyektif, kita mengambil contoh logika-visi-iluminasi (Suhrawardi), logika-dialektika (Hegel), dan logika-destruksi (Heidegger). Bagaimana pun, logika-subyektif tetap membahas logika-obyektif dengan kritis. Pada gilirannya, logika-futuristik mengambil alih logika-obyektif dan logika-subyektif sampai titik terjauhnya.

Reduksi logika menjadi hanya logika-formal tampak tidak memadai menurut kajian kita. Logika tetap perlu mengkaji logika-informal atau logika-material. Konsekuensinya, kita perlu membahas konsep kebenaran secara filosofis. Kebenaran korespondensi dan koherensi perlu dilengkapi dengan kebenaran futuristik yang dinamis.

Logika-futuristik masih terlalu muda. Sehingga, banyak bidang yang luput dari kajian. Juga, tentu saja, ada kekurangan dan kelemahan di beberapa tempat. Karena itu, saya mengajak ke semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan logika-futuristik. Saya yakin, logika-futuristik akan memberi kontribusi besar bagi kemanusiaan dan alam raya.

Catatan

Logika, sebagai ilmu berpikir benar, bermakna luas. Berpikir bukan hanya terbatas logika matematika dan bahasa. Berpikir lebih dari itu. Anda mengendarai sepeda adalah contoh berpikir praktis. Karena itu, logika juga berguna untuk berpikir praktis.

Hati Anda merasa tersentuh sahdu oleh alunan irama merdu. Dalam contoh ini, Anda sedang berpikir dengan hati Anda. Logika bermanfaat besar ketika Anda berpikir dengan hati. Melihat seorang bocah kelaparan di pinggir jalan, tersentuh ruhani Anda, lalu, Anda berikan nasi bungkus yang sedianya untuk makan malam anak di rumah. Kemudian, Anda harus pontang-panting cari uang agar bisa beli nasi bungkus untuk anak Anda yang menunggu di rumah. Ruhani Anda tersentuh meski Anda hanya punya uang pas-pasan. Logika berguna mendampingi Anda berpikir dengan ruhani.

Atau, contoh lebih nyata. Anda memilih capres X atau capres Y. Kata pendukung X, capres X adalah yang terbaik, sedangkan capres Y adalah penjahat. Sebaliknya, kata pendukung Y, capres Y adalah yang terbaik, sedangkan capres X adalah penjahat. Logika berguna bagi Anda ketika berpikir politis. Singkatnya, logika berguna bagi Anda untuk berpikir. Dan, Anda sebagai manusia memang dituntut untuk berpikir.

Saya yakin, atau berharap, logika-futuristik akan membantu Anda menjadi sukses, bahagia, dan bermakna. Apa pun profesi Anda, atau situasi Anda, gunakan logika-futuristik untuk menaiki tangga sukses. Lebih dari itu, logika-futuristik sangat lincah. Sehingga, logika-futuristik menjamin Anda untuk hidup bahagia. Barangkali paling penting, logika-futuristik mengarahkan Anda menjalani hidup penuh makna.

Sayangnya, saya tidak bisa yakin bahwa konsep logika-futuristik ini bisa dipahami dengan mudah. Hanya saja, dengan beberapa butir ketekunan tambahan, saya yakin Anda akan mampu memahami logika-futuristik dengan bertahap. Untuk kemudian, Anda meraih manfaat terbesar.

Logika-futuristik terdiri dari tiga bagian.

Bagian 1: Logika dalam Perspektif Histori membahas logika dalam kerangka sejarah. Kita akan berkenalan dengan konsep dasar logika yang dikembangkan Aristoteles hampir 2500 tahun yang lalu. Lanjut, kita menelusuri perkembangan logika sampai awal abad 21 ini, misal, dengan berkembangnya logika kategori.

Masih dalam perspektif sejarah, kita membedakan logika obyektif dengan logika subyektif. Umumnya, logika adalah logika obyektif. Sehingga, terasa formal dan kaku. Tetapi, berbeda dengan logika obyektif, logika subyektif bersifat lebih kreatif sehingga menjadikan hidup lebih bahagia dan lebih bermakna.

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika membahas beragam isu fundamental dari logika. Kita akan membahas logika-futuristik di bagian 2 ini. Di bagian awal, kita menunjukkan problem-problem logika berupa paradoks yang tidak bisa diselesaikan oleh logika klasik. Kita berhasil menyelesaikan paradoks dengan pendekatan logika-futuristik.

Bagian 2 ini, barangkali, bagian terpanjang dari logika-futuristik. Pembahasan selanjutnya, kita mencermati problem filsafat sains, matematika, sampai problem sosial. Masing-masing bidang memiliki problem fundamental yang sulit diselesaikan. Dengan memanfaatkan logika-futuristik, kita berhasil menangani problem-problem tersebut.

Pembahasan sains mendapat porsi cukup besar. Filsafat sains versi Einstein kita bahas dengan mendalam. Kita mengenal Einstein sebagai saintis sekaligus filsuf terbesar abad lalu. Kemudian perdebatan teori quantum juga kita bahas panjang lebar, termasuk, problem dan solusinya.

Ketika, saya mengatakan bahwa logika-futuristik berhasil menyelesaikan problem sains, maka, tidak berarti semua selesai. Karena, penyelesaian logika-futuristik senantiasa membuka posibilitas luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen.

Bagian 3: Sesat Pikir membahas tentang falasi logika. Barangkali bagian terakhir ini paling mudah dibaca dan paling mudah dipahami. Saya mendaftar 21 tipe falasi logika yang sering terjadi. Dengan fokus kepada bentuk implikasi, kita mudah mengenali terjadinya falasi. Kemudian, kita bisa berusaha mencari solusi.

Buku logika-futuristik bisa kita baca secara urut dari awal sampai akhir. Tetapi saya menyarankan cara membaca yang lebih mudah, barangkali, dengan mulai prolog, lalu epilog, kemudian bagian 3. Dengan cara ini, Anda mendapat gambaran besar dari problem logika dan, di saat yang sama, Anda sudah mendapatkan solusi logika-futuristik secara umum.

Untuk mendapat wawasan yang lebih luas, Anda bisa membaca bagian satu yang membahas logika perspektif histori. Dan, lanjutkan, pembahasan lebih mendalam di bagian dua. Setelah itu, Anda bebas membaca bagian mana saja yang menarik bagi Anda.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa konsep logika-futuristik masih sangat muda. Sehingga, terdapat banyak kelemahan di berbagai tempat. Karena itu, saya mengajak semua kalangan untuk ikut serta mengembangkan logika-futuristik baik melalui kritik mau pun konstruktif.

Saya perlu menekankan kembali bahwa makna logika, dan berpikir, adalah luas. Meliputi berpikir teoritis, praktis, politis, spiritualis, dan sebagainya. Karena itu, kita perlu mengembangkan logika juga secara luas. Semoga logika-futuristik ini memberi manfaat yang besar bagi kita semua dan bagi masa depan seluruh alam semesta.

Sinopsis

Saya yakin, penuh harap, logika-futuristik akan membantu Anda menjadi sukses, bahagia, dan bermakna. Apa pun profesi Anda, atau situasi Anda, gunakan logika-futuristik untuk menaiki tangga sukses. Lebih dari itu, logika-futuristik sangat lincah. Sehingga, logika-futuristik menjamin Anda untuk hidup bahagia. Barangkali paling penting, logika-futuristik mengarahkan Anda menjalani hidup penuh makna.

Sejak masa awal lahirnya, logika mencerahkan peradaban umat manusia. Aristoteles berhasil merumuskan logika-bahasa (proposisional), perkembangan dari logika-cahaya Plato, yang mampu membedakan kebenaran dengan kesesatan. Pengetahuan manusia berkembang pesat dengan landasan logika yang kokoh.

Hanya berselang beberapa tahun dari Aristo, logika menghadapi paradoks teramat berat: paradoks Pyrrho. Paradoks berpuncak pada abad 20, yaitu, paradoks Godel. Paradoks-paradoks ini menjadi tantangan bagi logika dan tidak terpecahkan. Saya mengusulkan logika-futuristik sebagai solusi yang tuntas dan terbuka terhadap dinamika.

Dalam perspektif sejarah, kita mengkaji logika obyektif dan logika subyektif. Logika obyektif terbentang sejak Aristo, Boole, Frege, sampai logika kategori di abad 21 ini. Sementara, logika subyektif, kita mengambil contoh logika-visi-iluminasi (Suhrawardi), logika-dialektika (Hegel), dan logika-destruksi (Heidegger). Bagaimana pun, logika-subyektif tetap membahas logika-obyektif dengan kritis. Pada gilirannya, logika-futuristik mengambil alih logika-obyektif dan logika-subyektif sampai titik terjauhnya.

Logika-futuristik masih terlalu muda. Karena itu, saya mengajak ke semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan logika-futuristik. Saya yakin, logika-futuristik akan memberi kontribusi besar bagi kemanusiaan dan alam raya.

1. Logika Seberapa Logis

Membahas logika dari perspektif sejarah logika. Aristoteles adalah bapak logika yang berhasil meletakkan fondasi logika, termasuk, silogisme. Saya menggeser kekuatan silogisme menjadi implikasi Boolean (digital) yang kreatif. Logika Frege adalah inovasi logika relasional, kausalitas aritmetika, di awal abad 20. Dari akhir abad 20 sampai awal abad 21 ini, berkembang logika kategori yang sangat kokoh. Saya mengusulkan logika penuh sebagai perkembangan mutakhir.

Dari arah yang berbeda, Hegel mengembangkan logika dialektika sebagai sistem metafisika. Dari sudut pandang dialektika, logika itu sendiri berkembang dinamis sebagaimana dinamika metafisika. Sementara, Suhrawardi mengembangkan logika visi iluminasi yang mendasarkan kebenaran logika kepada bersatunya cahaya subyek dengan cahaya obyek. Suhrawardi, dengan sangat mengagumkan, berhasil menyederhanakan seluruh sistem silogisme manjadi satu bentuk saja.

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika

2. Logika Futuristik
3. Problem Filsafat Sains
4. Matematika Itu Paradoks
5. Filsafat Sains Einstein
6. Quantum Entanglement
7. Wacana Quantum

Bagian 3: Sesat Pikir

8. Falasi Logika

Epilog

Berpikir Terbuka: Masa-Masa Cinta

Anugerah Semesta Bersama Cinta
Hidup Bahagia Bersama Cinta
Logika Cinta di Seluruh Semesta

Wajar, Anda ingin hidup bahagia. Wajar, Anda ingin sukses di dunia, di berbagai belahan dunia. Wajar, Anda berhasil meraih itu semua. Tetapi, bagaimana caranya?

Berikut ini adalah tips ringan untuk membantu Anda meraihnya. Atau, tips ringan ini sebenarnya adalah pemikiran yang mendalam dan meluas menembus seluruh semesta. Yang jelas, tips ringan ini membantu Anda untuk sukses bahagia di mana saja dan kapan saja.

1. Anugerah Semua
2. Peka Menjadi Fakta
3. Logika Masa
4. Modifikasi Teknologi Media
5. Pakar Demokrasi
6. Urip Iku Urup
7. Warisan Sejarah Cinta

Ide utama untuk hidup bahagia adalah hidup dengan berpikir terbuka. Ingatkah Anda ketika jatuh cinta? Hidup begitu bahagia bersama kekasih Anda. Setiap gerak-gerik kekasih menambah bahagia. Kekasih tersenyum, Anda bahagia. Kekasih cemberut, membuat Anda bahagia. Mengapa? Karena Anda berpikir terbuka bersama cinta kepada kekasih Anda.

Barangkali Anda bisa mengingat-ingat masa kecil bahagia bersama ibu Anda? Sebagai bocah, kita berpikir terbuka mencintai dan menerima cinta dari ibu. Ketika ibu ke pasar, kita menunggu-nunggu kapan ibu datang. Ibu datang, kita sangat bahagia. Ditambah, ibu membawa kue kesukaan kita. Makin bahagia. Itulah diri kita yang bahagia.

Hidup memang bahagia bersama cinta. Tetapi, realitas tak seindah yang dibayangkan pikiran. Karena, realitas lebih indah dari sekedar bayangan pikiran. Kita hidup sebagai seorang anak manusia, di saat yang sama, kita adalah warga negara, warga dunia, bahkan warga semesta. Kita berhadapan dengan urusan ekonomi bahkan sampai urusan politik negara atau dunia. Semua itu adalah masalah bagi kita. Sekaligus, medan bagi kita meraih bahagia menjadi manusia dengan cara berpikir terbuka.

1. Anugerah Semua

Paling penting dari semua pikiran adalah berpikir terbuka bahwa semua adalah anugerah. Anda sedang membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda sedang berpikir untuk memperbaiki kehidupan adalah anugerah. Bahkan, bencana dan kesulitan adalah anugerah bagi kita untuk lebih kuat berpikir terbuka. Kehidupan sehari-hari adalah anugerah. Mengejar impian adalah anugerah. Waktu senggang tanpa kegiatan adalah anugerah.

Anugerah semua dan semua memang anugerah.

Tetapi, bukankah itu cara berpikir yang terlalu optimis? Benar, berpikir optimis itu sendiri adalah anugerah. Ketika Anda berpikir pesimis, sama saja, itu juga anugerah. Memang, meski semua yang ada adalah anugerah, tidak boleh menjadikan kita bermalas-malasan. Karena kita sudah mendapat banyak anugerah, maka, kita bertanggung jawab untuk mendaya-gunakan semua yang ada. Anugerah menuntut kita untuk berpikir terbuka.

2. Peka Menjadi Fakta

Rasa peduli kita menentukan mana fakta obyektif dan mana fakta subyektif. Ketika kita peka terhadap semua anugerah yang ada, maka, semua anugerah itu menjadi fakta bagi kita.

3. Logika Masa

Masa depan, future, adalah yang paling utama. Future memberi makna terhadap masa kini dan masa lalu. Karena future adalah bebas, maka, Anda bebas untuk memilih hidup Anda bahagia. Pilihan hidup Anda untuk masa depan, future, akan memberi makna kepada masa lalu, past. Kemudian, arahan future dan bekal past, mendorong Anda untuk memodifikasi masa kini menuju masa depan. Bahagia adalah hak kita. Sukses adalah hak kita. Masa depan bahagia adalah anugerah untuk kita semua.

4. Modifikasi Teknologi Media

Teknologi lebih dari sekedar alat bagi manusia. Teknologi adalah anugerah bagi manusia untuk meraih masa depan lebih bahagia. Tetapi, memang benar, teknologi bisa menjadi penjara bagi seluruh umat manusia.

Kita perlu berpikir terbuka untuk modifikasi teknologi agar membantu umat manusia untuk berpikir terbuka.

5. Pakar Demokrasi

Pada tahap tertentu, kita akan berhadapan dengan banyak orang yang berbeda-beda kepentingan. Mereka bisa saja mengaku membela kebenaran, membela keadilan, dan berjuang mewujudan kebaikan bersama. Tetapi mengapa bisa berbeda-beda? Bahkan, mengapa bisa saling berlawanan?

Demokrasi menjadi salah satu alternatif terbaik. Memberi kebebasan kepada setiap orang mengungkapkan pendapat. Mendengarkan semua pendapat yang ada. Kemudian, mengambil keputusan secara demokratis.

Di sisi lain, kita mengetahui bahwa setiap manusia adalah unik. Masing-masing orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Sehingga, ada orang yang pakar di bidang tertentu, misal, pakar kedokteran, teknologi, pendidikan, agama, seni, dan lain-lain. Suara seorang pakar, tentu, berbeda bobot dengan yang bukan pakar. Akibatnya, kita perlu menempatkan suara pakar dengan tepat dalam suasana demokratis.

6. Urip Iku Urup

Konsep sederhana dan praktis,”Urip Iku Urup.” Hidup itu menyala. Satu konsep penting ini bisa mengantarkan setiap orang meraih sukses dengan berpikir terbuka.

Urip. Hidup. Yang paling utama bagi kita adalah hidup dan menjaga hidup. Kita bertanggung jawab menjaga hidup diri sendiri dan orang-orang terdekat. Kemudian, menjaga hidup setiap orang bahkan ikut berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kita bisa memandang bahwa alam semesta ini juga hidup, sehingga, kita ikut menjaga alam semesta dan alam semesta menjaga kita. Takdir kita untuk hidup dan saling menghidupi.

Iku. Itu. Yaitu. Konkret. Hidup itu konkret. Kita hidup perlu makan, pakaian, dan tempat tinggal. Sederhana saja. Berfoya-foya justru tidak konkret. Berfoya-foya hanya akan menipu diri sendiri. Hidup konkret bisa kita jalani dengan cara hidup sederhana. Kemudian, membantu orang lain untuk bisa hidup konkret, yang layak, meski sederhana.

Urup. Menyala. Hidup itu menyala. Memberi cahaya kepada orang lain. Memberi penerangan kepada alam sekitar. Berbagi kepada sesama. Hidup menyala juga bermakna hidup yang penuh semangat, penuh gairah, dan penuh cahaya kebaikan.

7. Warisan Sejarah Cinta

Kita pasti akan pergi. Kita pasti akan mati. Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan? Warisan cinta adalah yang utama.

Catatan: Berpikir Terbuka dengan Membuka Pintu

Saya terpikirkan untuk menggunakan istilah “pintu” sebagai cara untuk berpikir terbuka. Saya menyusun tujuh “pintu” untuk membuka pikiran. Meski pun, sejatinya, ada lebih banyak pintu untuk membuka pikiran agar berpikir terbuka. Saya kira istilah “pintu” selaras dengan tujuan membuka pikiran.

Menariknya, istilah “pintu” adalah terjemahan harfiah dari “bab”. Sehingga, bab 1 bisa kita sebut sebagai pintu 1. Umumnya, kita memahami “bab” sebagai “chapter” yang bermakna bagian utama dari suatu buku. Pada kesempatan ini, saya mengembalikan makna “bab” ke terjemahan harfiahnya yaitu “pintu.”

Logika Futuristik

Logika adalah ilmu berpikir benar. Logika futuristik adalah logika yang memberi nilai penting futuristik, aspek futural, aspek masa depan. Beda dengan logika klasik yang menetapkan nilai kebenaran berdasar masa lalu dan masa kini, logika futuristik melangkah maju dengan mengkaji masa depan.

1. Paradoks Logika Klasik
2. Implikasi Proposisi dan Boolean
3. Logika Modal dan Temporal
4. Konsep Kebenaran
4.1 Korespondensi
(a. Positivisme; b. Platonisme; c. Visi-iluminasi)
4.2 Koherensi
(a. Matematika; b. Bahasa; c. Simbol)
4.3 Pemahaman
(a. Kognisi; b. Praktis; c. Berpikir; d. Konseptual
4.4 Definisi
4.5 Interpretasi
4.6 Peran Futuristik
(a. Pemahaman; b. Definisi; c. Interpretasi
4.7 Esensi dan Eksistensi
(a. Konstruksi dan Proyeksi; b. Relasi dan Transmisi; c. Realisme Minimal: Epistemologi Ontologi; d. Bentangan Waktu; e. Prioritas Future; f. Sketsa Solusi)
5. Solusi Logika Futuristik
5.1 Posibilitas, Freedom, dan Komitmen
5.2 Demokrasi
5.3 Expert
6. Ekonomi Futuristik
6.1 Tujuan Ekonomi
6.2 Personal dan Sosial
6.3 Peran Lembaga
7. Politik Futuristik
7.1 Tujuan Politik
7.2 Freedom
7.3 Keadilan dan Kebaikan

Masa depan, future, adalah acuan bagi setiap proposisi dan makna. Logika klasik perlu argumen atau teori untuk mendukung suatu teori, yaitu, meta-teori. Pada gilirannya, meta-teori ini perlu dukungan teori lagi tanpa berhenti. Logika klasik menghadapi paradoks. Alternatif solusi paradoks adalah dengan meluaskan, atau menambah, perspektif. Pada gilirannya, penambahan perspektif memerlukan perspektif baru tanpa henti. Paradoks tidak selesai. Logika futuristik memberi solusi terhadap paradoks meta-teori dan meta-perspektif tersebut.

1. Paradoks Logika Klasik

Paradoks logika sudah terjadi sejak 2000 tahun yang lalu atau lebih. Paradoks Zeno, barangkali, paradoks klasik paling terkenal. Demi membela konsep gurunya, yaitu Parmenides, Zeno mengajukan paradoks tentang balapan Achiles lawan kuran-kura. Dimana, Achiles, yang pelari cepat itu, tidak pernah sanggup memenangkan balapan lari melawan kura-kura yang posisi awal kura-kura sedikit di depan Achiles. Pada abad 20, Russell menambahkan paradoks Parmenides.

Saya mencatat tiga paradoks paling signifikan: paradoks Pyrrho, paradoks Godel, paradoks meta-bahasa.

Paradoks Pyrrho

Pyrrho (360 -270 SM) hidup hampir sejaman dengan Aristo. Hanya selang beberapa tahun, setelah Aristo mengenalkan konsep logika dengan cemerlang, muncul paradoks Pyrrho yang tidak pernah bisa diselesaikan.

Paradoks Pyrrho menyatakan bahwa setiap argumen akan memerlukan argumen lain sebagai landasan. Pada gilirannya, argumen lain itu akan memerlukan argumen lain lagi tanpa henti. Argumen hanya bisa berhenti pada (a) argumen akhir tanpa landasan, bisa disebut sebagai aksioma atau postulat dan (b) argumen akhir yang menyebabkan sirkular.

Paradoks Godel

Godel (1906 – 1978) adalah matematikawan sangat cemerlang. Paradoks Godel menyatakan bahwa setiap sistem formal, misal matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Yang menarik dari paradoks Godel adalah murni matematis tanpa menggunakan bahasa. Sehingga, validitas paradoks Godel ini kokoh, terbebas dari pengaruh interpretasi dan problem semantik mau pun gramatikal bahasa.

Paradoks Meta-Bahasa

Pada tahun 2021, Zach Weber mengusulkan paradoks meta-bahasa. Setiap bahasa, termasuk bahasa matematika, perlu membuktikan validitasnya. Untuk membuktikan itu, kita memerlukan meta-bahasa. Tetapi, meta-bahasa adalah bahasa itu sendiri. Dengan kata lain, meta-bahasa adalah tidak eksis. Yang eksis hanya bahasa. Karena itu, validitas bahasa tidak bisa dibuktikan. Paradoks meta-bahasa.

Paradoks Meta Teori

Saya menyebut kelompok paradoks seperti di atas sebagai paradoks meta-teori. Setiap teori memerlukan teori lainnya sebagai landasan, yaitu, meta-teori. Tetapi, meta-teori itu sendiri membutuhkan landasan berupa teori lain tanpa henti.

Paradoks meta-teori ini tidak bisa diselesaikan berdasar logika klasik. Dalam hali ini, logika klasik menerapkan konsep waktu masa lalu (past) sebagai landasan. Kita akan mempertimbangkan logika-futuristik untuk menyelesaikan paradoks meta-teori.

Paradoks Meta Perspektif

Alternatif solusi bagi paradoks adalah dengan meluaskan perspektif.

(P): 12 + 1 = 1

Pernyataan (P) di atas adalah benar. Tetapi, menjadi paradoks terhadap operasi bilangan bulat yang seharusnya 12 + 1 adalah 13. Bila kita meluaskan perspektif bahwa (P) bernilai benar pada operasi bilangan jam dinding maka paradoks selesai.

Contoh lain adalah Rusia lawan Ukraina. Bagi Rusia, mereka berhak untuk menyerang Ukraina. Tetapi paradoks, bagi Ukraina, Rusia tidak dibenarkan menyerang Ukraina. Bila kita meluaskan perspektif yang lebih luas untuk memandang kasus Rusia lawan Ukraina, diharapkan, paradoks terselesaikan.

Tetapi, paradoks tidak selesai dengan menambahkan perspektif. Untuk kasus jam dinding versus bilangan bulat, maka, perspektif mana yang bisa menentukan lebih valid. Jika ada perspektif yang lebih valid, maka, akan menuntut eksistensi perspektif baru lagi untuk validasinya. Jadi tetap ada paradoks yaitu paradoks meta-perspektif.

Setiap perspektif adalah terbatas sehingga paradoks. Paradoks bisa diselesaikan dengan menambah perspektif yang lebih luas, yaitu, meta-perspektif. Pada gilirannya, meta-perspektif memerlukan tambahan perspektif lagi tanpa henti. Tetap terjadi paradoks meta-perspektif. Saya menyebut paradoks muncul karena meta perspektif fokus kepada masa kini (present). Logika futuristik mengajukan solusi untuk menyelesaikan paradoks.

Kita bisa ringkas bahwa hanya ada dua kelompok paradoks: meta-teori dan meta-perspektif.

Meski, logika menghadapi paradoks, kita tetap perlu mengapresiasi bahwa paradoks tersebut adalah kemajuan dari logika umat manusia itu sendiri. Di bagian berikutnya, kita akan membahas secara singkat kontribusi penting logika-bahasa dari Aristoteles dan Boolean.

2. Implikasi Proposisi dan Boolean

Logika memberi banyak manfaat kepada perkembangan pemikiran manusia. Silogisme merupakan proses mengambil kesimpulan yang valid. Saya merumuskan ulang dalam bentuk implikasi: proposisional dan Boolean.

Sedikit catatan, sebelum era Aristoteles, logika bersifat pengetahuan langsung semisal logika-cahaya dari Plato. Jadi, logika proposisional adalah kemajuan besar.

(A): Setiap persegi adalah memiliki 4 sisi.
(B): Meja adalah persegi.
Kesimpulan,
(C) Meja adalah memiliki 4 sisi.

Berpikir silogisme, seperti di atas, adalah benar dan sah. Silogisme memasukkan partikular (meja) sebagai anggota dari universal (persegi). Sehingga, sifat universal juga menjadi sifat dari partikular bersangkutan.

Kita bisa mengubah silogisme di atas menjadi implikasi.

(A) Jika persegi maka memiliki 4 sisi.
(B) Meja adalah persegi.
Kesimpulan,
(C) Memiliki 4 sisi.

Implikasi di atas adalah transisi dari proposisonal (Aristo) menuju Boolean.

(K): P maka Q
(L): Q maka R
Kesimpulan,
(M): P maka R

Contoh:

(K): Tombol kanan “maka” listrik nyala.
(L): Listrik nyala “maka” pintu terbuka.
Kesimpulan,
(M): Tombol kanan “maka” pintu terbuka.

Perhatikan bahwa kesimpulan akhir menghubungkan sesuatu, yang asalnya, tidak berhubungan. Tombol kanan tidak berhubungan dengan pintu terbuka. Dengan implikasi Boolean, mereka menjadi terhubung secara otomatis. Logika Boolean makin berkembang dan menjadi tulang punggung perkembangan teknologi informasi, termasuk, media sosial.

3. Logika Modal dan Temporal

Aristo, tampaknya, sudah mengantisipasi perlunya logika-modal dan temporal. Pernyataan (H): “Besok, tinggi hilal adalah 5 derajat” merupakan salah satu contoh. Pernyataan (H) mungkin saja benar, dan, mungkin salah, logika-modal. Saat itu, Aristo meyakini hanya ada satu kemungkinan saja antara benar atau salah. Sehingga, logika-modal belum bisa berkembang. Pernyataan (H) juga merupakan logika-temporal dengan mempertimbangkan “besok.” Masih perlu waktu ratusan tahun kemudian, sampai akhirnya, logika-modal dan temporal bisa berkembang.

Ibnu Sina (970 – 1037) mengembangkan logika-modal dengan konsep wujud-wajib dan wujud-mumkin. Wujud-wajib adalah pasti benar (logika Aristo dan Boolean). Sedangkan, wujud-mumkin bisa benar dan bisa saja salah (logika-modal). Wujud-mumkin menjadi benar (eksis) ketika terhubung dengan wujud-wajib. Jika tidak terhubung dengan wujud-wajib, maka, akan tetap menjadi wujud-mumkin, yang bisa diputuskan sebagai salah (tidak eksis).

Selanjutnya, logika-modal makin berkembang sebagai logika-modal kontemporer, probabilistik, statistik, dan logika quantum.

Sementara, logika temporal berkembang pesat sejak era Newton. Di mana, hampir semua rumusan sains Newton sebagai fungsi waktu. Menariknya, dengan kalkulus, Newton (dan Leibniz) bisa mengembangkan dimensi waktu dengan selang waktu mendekati 0. Meski demikian, logika Newton bersifat eksak, yaitu, logika-temporal tetapi bukan logika-modal.

Logika Quantum

Mekanika quantum, sejatinya, melanjutkan logika sains Newton untuk obyek sub-atomik. Di luar dugaan, quantum menghadapi paradoks-paradoks baru yang memaksa kita mempertimbangkan logika-modal dan logika-temporal.

Ketidakpastian Epistemologi

Heisenberg (1901 – 1976) menunjukkan bahwa tidak mungkin kita bisa mengetahui secara pasti posisi dan kecepatan dari suatu partikel. Jika kita mengukur posisi dengan pasti maka kecepatan menjadi tidak bisa diketahui. Sebaliknya, juga terjadi. Jika kita mengukur kecepatan dengan pasti maka posisi menjadi tidak bisa diketahui. Secara epistemologi, kita terbatas.

Ketidakpastian Ontologi

Schrodinger (1887 – 1961) berhasil merumuskan fungsi gelombang quantum. Di mana, eksistensi suatu partikel bersifat probabilistik. Di dalam suatu kotak, mungkin ada elektron dan mungkin tidak ada elektron. Sehingga, status ontologis suatu partikel, misal elektron, bersifat probabilistik. Pandangan ini berbeda dengan intuisi kita terhadap eksistensi obyek alami, misal, ada pohon, ada meja, dan aka kursi secara pasti.

Ketidakpastian Relasi

Quantum entanglement memunculkan paradoks lebih jauh lagi. Dengan cara seperti apakah obyek-obyek alam eksternal saling terhubung?

Einstein (1879 – 1955) mem-postulatkan bahwa kecepatan maksimum adalah cahaya. Postulat ini terbukti benar di semua kasus yang ada dan efektif. Tetapi quantum entanglement, seakan-akan, menunjukkan ada kecepatan yang lebih cepat dari cahaya. Jadi, seperti apakah realitas alam raya ini saling terhubung? Paradoks ini, sampai sekarang, belum terpecahkan.

Perkembangan logika quantum, yang menguatkan logika-modal dan logika-temporal, mengantarkan kita untuk mengkaji logika-futuristik.

4. Konsep Kebenaran

Konsep kebenaran menentukan apa yang dimaksud dengan benar dan salah. Saya menyebut konsep kebenaran ini sebagai fondasi logika atau logika-informal. Beberapa pemikir membatasi kajian logika hanya kepada logika-formal, sehingga, mereka menolak kajian tentang konsep kebenaran. Mereka mempercayakan kajian konsep kebenaran kepada filsafat, misal, metafisika.

Bagi logika-futuristik, konsep kebenaran justru konsep yang paling fundamental. Kita, justru, perlu mengkaji konsep kebenaran sampai tuntas, andai bisa tuntas. Setelah kita mengkaji fondasi logika ini, maka, logika-formal menjadi memiliki justifikasi yang valid.

Konsep kebenaran paling umum dikenal adalah korespondensi dan koherensi. Kita akan membahas lebih luas dari kedua konsep tersebut.

4.1 Korespondensi

Suatu kebenaran adalah korespondensi yang tepat. Berdasar teori korespondensi, proposisi yang benar adalah proposisi yang berkorespondensi dengan suatu acuan, realitas. Lalu, wajar bagi kita, bertanya, “Apa atau bagaimana korespondensi yang benar?” Teori korespondensi menghadapi resiko paradoks di sini. Kita pertimbangkan beberapa solusi: positivisme, Platonisme, dan visi-iluminasi.

a. Positivisme

Perspektif positivisme berkembang, sejak awal abad 20, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi. Proposisi yang benar adalah proposisi yang berkorespondensi dengan realitas fisik empiris.

Proposisi sains bernilai benar jika bisa dilakukan verifikasi empiris fisik dengan hasil korespondensi positif.

Perspektif positivisme ini tampak membatasi hanya kepada verifikasi empiris fisik materialisme. Jelas, muncul banyak paradoks dari positivisme yang tidak bisa dislesaikan. Bagaimana bisa muncul kesadaran pada manusia? Bagaimana manusia bisa mengetahui obyek alam eksternal? Mengapa manusia bisa jatuh cinta?

Husserl (1859 – 1938) menolak positivisme dan menggantinya dengan fenomenologi. Kebenaran adalah fenomena yang hadir apa adanya pada kesadaran subyek, kesadaran manusia. Agar fenomena itu bisa hadir apa adanya, maka, manusia perlu menunda dulu prasangka dan penilaian yang buru-buru.

Jika fenomenologi itu benar, maka, mengapa kita percaya terhadap kesadaran manusia? Kita berhadapan dengan paradoks.

b. Platonisme

Plato adalah filsuf besar yang merupakan guru dari Aristoteles dan, sekaligus, murid dari Socrates. Plato mengembangkan logika-cahaya. Seluruh alam eksternal adalah hanya bayangan dari realitas sejati, yaitu, cahaya. Meja persegi adalah bayangan dari “persegi” ideal yang merupakan cahaya di alam idea. Realitas ideal ini sering kita kenal sebagai realitas platonis. Jadi, proposisi yang benar adalah yang berkorespondensi dengan realitas ideal platonis.

Dari perspektif Platonisme, kita memperoleh korespondensi ideal. Tetapi, bagaimana mereka, persegi ideal dan proposisi, berkorespondensi dengan alam eksternal berupa meja persegi? Kita berhadapan dengan paradoks lagi.

c. Visi-iluminasi

Suhrawardi (1154 – 1191) merumuskan logika visi-iluminasi. Pengetahuan yang benar, proposisi yang benar, adalah korespondensi cahaya-obyek dengan cahaya-subyek menjadi satu kesatuan cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya-obyek hadir pada cahaya-subyek.

Korespondensi visi-iluminasi ini, dengan kreatif, memodifikasi banyak hal. Penggunaan simbol cahaya memudahkan kita untuk memahami. Manusia adalah cahaya-subyek. Meja persegi adalah cahaya-obyek atau cahaya-meja. Mereka saling berhadapan. Cahaya-subyek berhadapan dengan cahaya-meja. Lalu, mereka bersatu membentuk cahaya-baru yang merupakan satu kesatuan.

Korespondensi-visi ini menyelesaikan paradoks. Tidak ada lagi paradoks korespondensi. Kita tidak perlu lagi bertanya apa yang menghubungkan cahaya-subyek dengan cahaya-meja karena mereka satu kesatuan dalam cahaya-baru. Problem yang muncul adalah bagaimana kita mengkomunikasikan cahaya-baru ini dalam bentuk proposisi? Bagaimana cahaya-subyek bisa berhasil membentuk cahaya-baru? Logika-futuristik akan memberi solusi terhadap beragam pertanyaan ini di bagian bawah.

4.2 Koherensi

Kebenaran adalah proposisi, atau pengetahuan, yang koheren dengan kebenaran yang sudah terbukti benar. Matematika paling sering memanfaatkan teori koherensi dengan metode deduksi. Sementara, sains banyak memanfaatkan induksi. Ketika, matematika memanfaatkan metode induksi, maka, tetap saja koheren.

Seperti sudah kita sebut di atas, teori koherensi ini berhadapan dengan paradoks.

a. Matematika

Matematika berangkat dari aksioma, yang kebenarannya sudah diterima, kemudian mengembangkan sistem yang koheren. Sehingga, nilai kebenaran matematika bersifat pasti, eksak.

Mari kita coba membuat contoh sederhana. Hampa = 0. Ada sesuatu = 1. Dan, operasi penjumlahan (+) adalah repetisi dari sesuatu.

(A): 3 + 1 = 4,
(B): 3 + 2 = 6.

Pernyataan (A) sudah pasti benar karena koheren dengan aksioma. Sementara, pernyataan (B) sudah pasti salah karena tidak koheren dengan aksioma.

Paradoks muncul, “Mengapa kita memilih aksioma di atas?” Kita bisa menjawabnya dengan suatu argumen yang, pada gilirannya, butuh argumen lanjutan tanpa henti. Atau, orang bisa mengatakan, “Tidak perlu membahas alasan mengapa memilih aksioma, karena, aksioma sudah pasti diterima kebenarannya.”

Tetapi, teorema Godel menunjukkan bahwa sistem formal, atau sistem matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten. Jadi, paradoks. Godel tidak bertanya apa pun. Godel hanya menunjukkan paradoks tersebut adalah inheren dalam sistem formal, sistem matematika. Logika-futuristik perlu memberi solusi terhadap paradoks ini.

b. Bahasa

Kebenaran bahasa bisa ditentukan berdasar koherensi dalam sistem bahasa tersebut. Aturan gramatikal, semantik, interpretasi, dan lain-lain menjaga sistem bahasa untuk koheren.

Paradoks muncul, “Dengan cara apa bahasa membuktikan koherensi bahasa?” Tidak mungkin jawabannya adalah dengan bahasa. Jawabannya adalah membuktikan dengan meta-bahasa. Tetapi, meta-bahasa itu juga perlu dibuktikan koherensinya, dan seterusnya, tanpa berhenti.

Barangkali, orang berpikir, kita bisa membuktikan koherensi bahasa dengan cara membandingkan terhadap realitas. Cara seperti ini adalah korespondensi yang sudah kita bahas paradoks di bagian atas. Logika-futuristik perlu mengajukan solusi terhadap paradoks ini.

c. Simbol

Kita bisa mengembangkan sistem simbol yang koheren. Barangkali simbol berupa warna, gambar, gerakan, nada, atau kode-kode tertentu. Kode-kode komputer adalah contoh coding yang luar biasa hebat.

Kita sering mendengar dalam kode komputer, sistem informasi, sering ditemukan “bug” sebagai sebuah paradoks. Setiap programmer handal tidak akan berani memastikan bahwa dalam suatu coding tidak ada bug. Atau, dengan kata lain, dalam setiap coding berpotensi menyimpan bug, menyimpan paradoks.

Karena fundamental dari kode komputer digital, sistem informasi, adalah matematika maka kita bisa menerapkan paradoks Godel terhadap kode komputer. Akibatnya, dalam kode komputer selalu tersimpan paradoks. Jadi, memang besar, tugas logika-futuristik untuk menyelesaikan paradoks.

Dalam tataran praktis, paradoks-paradoks akibat korespondensi dan koherensi menuntut solusi segera. Beberapa solusi yang sering dipakai adalah konsensus, dissensus, pragmatisme, voting, demokrasi, dan lain-lain.

4.3 Pemahaman

Kita perlu mencoba melangkah mundur untuk memahami apa itu pemahaman.

a. Kognisi

Kognisi adalah kemampuan, atau proses, mengenali sesuatu secara umum. Kognisi adalah respon kita, sebagai subyek, terhadap stimulus alam semesta. Kognisi ini bermakna luas mencakup kemampuan panca indera, pikiran, teoritis, dan praktis.

b. Praktis

Keterampilan praktis adalah termasuk dalam kognisi dan pemahaman. Anda mampu mengendarai sepeda adalah keterampilan praktis. Sangat sulit bagi kita untuk mengungkapkan cara mengendarai sepeda melalui bahasa proposisi.

c. Berpikir

Berpikir merupakan jenis kognisi tingkat tinggi. Berpikir mencakup bidang yang luas, tidak hanya terbatas pada bidang formal proposisional saja. Berpikir tentang sastra, berpikir tentang alunan nada, berpikir tentang keindahan alam dan lain-lain. Pada tingkat sangat tinggi, berpikir akan mencapai berpikir-terbuka.

d. Konseptual

Secara umum, berpikir konseptual adalah berpikir tingkat tinggi dalam bentuk konsep-konsep. Dengan kemahiran yang memadai, setiap konsep bisa dibuatkan kode atau simbol. Sehingga, konsep-konsep ini bisa diolah oleh komputer. Artificial intelligence (AI) mampu “berpikir” mengolah konsep-konsep dengan cepat dan canggih, kemudian, mengambil kesimpulan.

Bagaimana pun, kemampuan berpikir konseptual manusia masih jauh di atas AI masa kini.

4.4 Definisi

Definisi adalah batasan pengertian. Sehingga, definisi memang bersifat membatasi suatu maksud agar tidak ambigu dengan maksud lainnya. Bagaimana pun, definisi bisa saja beragam.

4.5 Interpretasi

Interpretasi memberi makna pada suatu konsep. Dengan demikian, interpretasi terbuka terhadap banyak pilihan akan makna.

4.6 Peran Futuristik

Banyak orang menduga bahwa masa lalu, dan masa kini, adalah yang paling menentukan cara berpikir. Di bagian ini, kita akan menunjukkan bahwa peran terbesar ada pada aspek masa depan, futural, sesuai logika-futuristik.

a. Pemahaman

Mengapa Anda paham bahwa benda di depan Anda adalah meja? Karena beberapa waktu lalu (past), kita mengetahui benda semacam itu adalah meja. Dan saat ini (present), kita sedang melihat benda semacam itu. Jadi, saya memahami benda itu adalah meja.

Di mana peran future, masa depan, dalam membentuk pemahaman?

Peran future lebih besar dari past mau pun present. Past dan present adalah persiapan bagi, melengkapi, future untuk memahami obyek, misal meja.

Saya paham benda di depan saya adalah meja karena bila nanti, future, saya menemuinya saya tahu itu adalah meja. Saya paham itu meja karena bila nanti, future, ada orang bertanya saya bisa jawab itu meja. Saya paham itu meja karena bila nanti, future, saya memerlukan meja maka bisa menemukannya.

Jika saya tidak peduli bahwa di masa depan, future, akan ada urusan dengan benda itu, maka, saya tidak peduli apakah benda itu meja, kursi, lemari, atau apa pun. Bahkan, saya tidak perlu tahu sesuatu itu benda, energi, atau sekedar ilusi. Jadi, pemahaman manusia ditentukan oleh aspek future, di mana, past dan present membantu future.

b. Definisi

Definisi juga ditentukan oleh future. Sementara, past dan present adalah persiapan.

Definisi meja, misal, adalah perkakas persegi dengan 4 kaki.

Mengapa definisi meja seperti itu? Karena, bila suatu saat nanti, future, kita perlu definisi meja maka kita bisa menggunakan definisi tersebut.

Definisi bilangan genap, misal, adalah bilangan bulat kelipatan 2.

Mengapa begitu? Karena bila, di masa depan, saya memerlukan definisi misal ditanya dalam ujian, maka, saya menjawab dengan definisi tersebut.

Karena masa depan, future, terbuka luas maka definisi juga terbuka luas terhadap keragaman. Tentu saja, ada definisi yang bagus, buruk, atau bahkan salah. Meski demikian, tetap tersedia posibilitas untuk melakukan koreksi.

c. Interpretasi

Interpretasi lebih jelas lagi dipengaruhi masa depan, future. Sementara, past dan present adalah pendukung.

4.7 Esensi dan Eksistensi

Perdebatan interpretasi antara esensi lawan eksistensi tersebar sepanjang sejarah. Di sini, kita tidak akan ikut terjun dalam perdebatan itu. Kita hanya akan memanfaatkan konsep esensi dan eksistensi untuk lebih memahami logika-futuristik.

a. Konstruksi dan Proyeksi

Realitas, misal meja, terdiri dari esensi dan eksistensi. Esensi adalah realitas terdalam dari meja. Sementara, eksistensi adalah ada-meja itu apa adanya atau realitas meja apa adanya.

Yang benar-benar ada adalah eksistensi meja apa adanya. Termasuk eksistensi kursi, eksistensi saya, eksistensi Anda, dan eksistensi alam raya. Tetapi pikiran kita, pemahaman kita, bergerak lebih maju dengan membuat konstruksi esensi meja. Kemudian, kita mem-proyeksikan konstruksi esensi meja ini terhadap realitas meja di alam eksternal.

Bagaimana pikiran kita mengkonstruksi esensi meja? Pikiran kita memanfaatkan kepentingan future, masa depan, terhadap meja itu. Demikian juga, ketika pikiran mem-proyeksikan esensi meja ke realitas meja juga dipengaruhi oleh kepentingan masa depan kita. Jadi, logika-esensi adalah logika-futuristik. Dan, tentu saja, pikiran tetap memanfaatkan pengalaman masa lalu dan masa kini.

Bagaimana dengan eksistensi meja itu sendiri? Eksistensi meja juga menuju masa depan sesuai logika-futuristik. Di bagian bawah, kita akan membahas lebih detil.

b. Relasi dan Transmisi

Relasi antara pikiran kita dengan meja di alam eksternal menjadi paradoks tak terselesaikan berdasar teori korespondensi dan koherensi. Paradoks muncul karena kita memandang dari perspektif esensi: esensi pikiran berkorespondensi dengan esensi meja. Kita tidak akan berhasil membuat relasi antara dua esensi yang terpisah ini. Karena, relasi antara dua esensi ini hanya berupa proyeksi. Ada kesesuaian tetapi selalu ada perbedaan.

Kita bisa mengatasi paradoks ini dengan perspektif eksistensial. Secara eksistensial, meja itu sudah ada di hadapan kita lengkap dengan lantai, dinding, atap, dan lain-lain. Kita, kesadaran kita, selalu berada dalam dunia secara eksistensial. Tidak bisa, kita eksis di ruang hampa, tanpa ada apa-apa. Jadi, relasi pikiran kita dengan dunia sudah niscaya secara eksistensial. Tugas kita adalah meng-interpretasikan relasi eksistensial ini dengan lebih baik. Bukan tugas kita untuk membuktikan eksistensi dari relasi itu. Karena, relasi eksistensial itu justru sudah terbukti sebelum kita mempertanyakannya.

Pertanyaan yang sama penting, “Bagaimana relasi antara past, present, dan future?”

Relasi mereka – past, present, dan future – sangat kuat. Bahkan terjadi transmisi antara mereka. Future adalah yang paling utama. Future membentang ke past, menarik past menuju future dengan menyusuri bentangan present. Lebih detil pembahasan transmisi ini, kita bahas di bagian bawah.

c. Realisme Minimal: Epistemologi Ontologi

Pandangan umum adalah realisme: alam eksternal benar-benar nyata. Tetapi, untuk membuktikan eksistensi alam eksternal, secara filosofis, tidak mudah. Di bagian atas, kita berhasil membuktikan eksistensi alam eksternal melalui analisis eksistensial. Alternatif realisme minimal merupakan solusi yang menarik.

Secara epistemologi, kita yakin bahwa pengetahuan manusia terbatas. Maksudnya, ada suatu obyek yang tidak diketahui oleh seorang manusia. Saya tinggal di Indonesia, Asia, maka saya tidak tahu berbagai macam obyek yang ada di kutub utara. Saya sedang melihat kutub utara atau tidak, kutub utara tetap eksis. Jadi, eksistensi kutub utara independent dari pengetahuan saya.

Kita bisa berandai-andai tidak ada seorang manusia pun di dunia ini. Atau, bahkan tidak ada makhluk hidup satu pun di dunia ini. Sehingga, tidak ada kognisi sama sekali. Apakah kutub utara tetap eksis?

Ya, positif. Kutub utara tetap eksis. Dunia ini tetap eksis meski tidak ada satu orang manusia pun yang sedang melihatnya. Pandangan realisme seperti ini disebut sebagai realisme minimal. Memang tidak ada mobil, tidak ada gedung, tidak ada jembatan, dan tidak ada komputer.

Mari kita bergeser dari epistemologi ke ontologi.

Secara epistemologi, saya tidak bisa mengetahui obyek-obyek yang ada di kutub utara karena posisi saya terpisah jauh di Indonesia, Asia. Sehingga, kutub utara independent dari pengetahuan saya. Tetapi, secara ontologis, apakah eksistensi kutub utara independent terhadap eksistensi saya? Atau, sebaliknya, apakah eksistensi saya independent terhadap eksistensi kutub utara?

Tentu saja, analisis secara esensial, esensi saya dengan esensi kutub utara saling independent. Sehingga, tidak saling mempengaruhi. Bagaimana secara analisis eksistensial? Bukankah eksistensi saya selalu terhubung dengan eksistensi kutub utara melalui bumi, atmosfir, dan lain-lain?

Benar. Seluruh eksistensi saling terhubung membentuk satu kesatuan eksistensial. Keragaman terjadi karena eksistensi termodulasi dan gradasi. Dengan demikian, realisme minimal akan tetap terdorong menuju realisme normal dari perspektif eksistensial.

d. Bentangan Waktu

Analisis eksistensial akan membawa kita ke analisis waktu, time. Justru itu yang kita perlukan untuk menuju logika-futuristik.

Secara esensial, kita bisa memisahkan suatu obyek dengan waktu. Secara eksistensial, kita memandang obyek dan waktu merupakan satu kesatuan. Waktu memang eksis.

Apa itu waktu? Apa itu time?

Waktu adalah temporalisasi past, present, dan future. Konsep umum dari waktu adalah living-now, yaitu, present yang terus bergulir. Atau, masa-kini yang terus bergulir. Dengan konsep ini, kita bisa menghitung waktu sebagai efek dari gerak aksidental mau pun substansial. Hasil dari gerak jarum jam menunjukkan waktu pada arloji. Gerak matahari menunjukkan waktu satu hari dan lain sebagainya.

Dengan konsep living-now, kita terkungkung dalam waktu now, present. Kita tidak bisa lepas dari present, masa kini. Karena masa lalu, past, adalah present yang sudah tidak ada. Dan, masa depan, future, adalah present yang tidak pernah hadir. Yang ada hanya masa kini. Kita perlu alternatif pandangan, atau revisi pandangan, yang seperti ini.

Time bukan sesuatu. Waktu bukan suatu obyek semacam meja atau batu. Waktu bukan hasil hitungan, bukan hanya konstruksi pikiran. Waktu ada secara nyata.

Waktu pernah di masa lalu dan meraih masa depan dan, di saat yang sama, menjalani masa kini. Sehingga, past-present-future saling terhubung. Kita bisa menyebut sebagai bentangan-waktu yaitu waktu yang membentang.

Waktu selalu mengalir. Sehingga kekuatan waktu bukan present. Karena, jika present maka waktu akan berhenti bagai suatu potret. Mengalir hanya bisa terjadi jika kekuatan utama waktu adalah future.

Future mendorong diri ke belakang maka tercipta past, yang kemudian, ditarik menuju future tercipta present. Lengkaplah bentangan waktu berupa future-past-present.

e. Prioritas Future

Time adalah bentangan waktu future-past-present. Sehingga, waktu adalah ekstase, kesatuan. Tetapi, untuk menekankan bahwa future adalah paling prior maka kita menyebutnya dengan logika-futuristik. Meskipun, istilah yang lebih tepat adalah logika-ekstatik.

Time adalah satu kesatuan. Eksistensi adalah satu kesatuan. Time dan eksistensi saling menghormati. Time memberi waktu kepada eksistensi. Dan, eksistensi menerima anugerah sehingga eksis: time dan eksistensi. Time dan eksistensi saling berkhidmat. Saling memberi dan menerima. Mereka adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Time menjadi tidak eksis jika terpisah dari eksistensi. Demikian juga sebaliknya, tanpa time, eksistensi tidak punya waktu untuk eksis. Jadi, mereka saling berkhidmat. Mereka adalah pengkhidmatan itu sendiri.

Demi kepentingan analisis, kita akan fokus kepada aspek futuristik sebagai paling prior. Logika-futuristik menempatkan aspek futural sebagai paling utama dalam menentukan kebenaran. Kita tahu, karakter future berbeda dengan past. Future adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.

Posibilitas luas tanpa batas. Future membuka beragam peluang untuk menjadi nyata. Kemudian, future ini repetisi, mengulang diri, menjadi masa kini.

Freedom untuk berkembang. Future adalah kebebasan menentukan arah. Tidak ada yang membatasi future. Future adalah yang paling depan menerobos kebebasan.

Komitmen untuk repetisi dan transmisi. Future menuntut komitmen untuk repetisi ke present dan past. Sejatinya, future secara otomatis bertransmisi ke masa lalu dan masa kini. Tetapi, perlu komitmen agar repetisi menjadi penuh arti.

f. Sketsa Solusi

Kita akan membuat sketsa solusi terhadap meta-teori dan meta-perspektif.

Meta-teori menghadapi paradoks karena setiap teori perlu dukungan teori lain. Pada gilirannya, teori lain ini juga perlu dukungan teori lagi tanpa henti. Akhirnya, kita akan berhenti pada suatu teori yang disebut sebagai aksioma atau postulat. Mengapa kita menerima aksioma itu? Di sini muncul paradoks.

Logika-futuristik memberi solusi dengan mengkaji aksioma. Basis dari aksioma adalah future, bukan past, dan bukan present. Aksioma ditetapkan agar konsisten terhadap kajian masa depan. Selama aksioma bisa diterima dengan kriteria future, maka, aksioma bisa diterima. Paradoks dianggap selesai. Tetapi, karena future adalah posibilitas maka aksioma tetap terbuka dengan posibilitas dinamis.

Meta-perspektif terjadi karena setiap perspektif terbatas, tidak pernah sempurna. Sementara, tidak mungkin kita mengkaji sesuatu tanpa perspektif. Setiap perspektif berpotensi paradoks terhadap perspektif yang berbeda. Ketika dua, atau lebih, perspektif disatukan maka akan membutuhkan perspektif baru tanpa henti. Meta-perspektif menghadapi paradoks.

Solusi logika-futuristik adalah dengan mengkaji perspektif terbaik. Basis dari perspektif adalah future, bukan past, dan bukan present. Sehingga, ketika perspektif terbaik itu bisa diterima oleh kriteria future, maka, perspektif terbaik bisa diterima. Paradoks selesai. Bagaimana pun, future adalah posibilitas, sehingga, perspektif terbaik tetap terbuka untuk dinamis sesuai beragam posibilitas yang luas.

Dalam pembahasan, secara implisit, kita menyelesaikan paradoks klaim logika sebagai ilmu berpikir benar. Mengapa logika bisa benar? Mengapa logika-futuristik bisa benar? Mengapa benar itu benar?

Bagian selanjutnya akan membahas lebih detil dari solusi logika-futuristik.

5. Solusi Logika Futuristik

Logika-futuristik menuntut karakter kebenaran sebagai posibilitas, freedom, dan komitmen. Karakter-karakter ini adalah karakter utama logika-futuristik yang berhasil memberi solusi terhadap setiap paradoks. Bukan berarti paradoks menjadi hilang total. Tetapi, paradoks bisa diselesaikan dengan baik, meski pun, sulit.

Demokrasi menjadi penting sebagai konsekuensi freedom.

Bagaimana pun, terdapat expert-expert yang mahir sebagai spesialis di bidang tertentu. Wajar bagi kita memberi respek lebih besar kepada para spesialis ini. Bagaimana menciptakan kompromi antara konsep demokrasi dan eksistensi para expert?

Solusi logika-futuristik adalah tiga langkah:

(1) Pelajari logika klasik lengkap dengan meta-teori dan meta-perspektif.
(2) Lakukan modifikasi terhadap logika-klasik.
(3) Terapkan karakter futuristik.

Sekali lagi, logika futuristik senantiasa menerima past dan present. Karena, past dan present adalah repetisi dari future. Dengan kata lain, past dan present adalah anggota dari future. Hanya saja, kita perlu menekankan peran penting dari future.

5.1 Posibilitas, Freedom, dan Komitmen

Posibilitas adalah kemungkinan, peluang, yang terbuka luas di masa depan, future. Logika-futuristik menuntut kebenaran sebagai posibilitas. Kebenaran adalah membuka beragam peluang secara luas. Peluang luas bagi banyak pihak. Peluang umat manusia untuk berkembang, peluang makhluk hidup untuk lestari, dan peluang bagi alam raya untuk terus gerak maju.

Freedom adalah bebas dan membebaskan. Logika-futuristik menuntut kebenaran sebagai freedom. Seluruh umat manusia bebas bersuara. Mereka bebas mengungkapkan ide mereka. Mereka bebas mengejar mimpi-mimpi terbaik mereka. Di saat yang sama, menerapkan freedom adalah sambil menjaga freedom pihak lain. Membebaskan wong cilik dari beragam himpitan. Wong cilik berhak menjadi bebas. Alam raya berhak menjadi bebas.

Komitmen adalah keteguhan diri meraih tujuan. Logika-futuristik menuntut kebenaran sebagai manifestasi komitmen. Komitmen untuk membuka posibilitas luas. Komitmen untuk bebas dan membebaskan. Dan, komitmen untuk mewujudkan beragam manifestasi kebenaran.

Problem Sosial

Mari kita coba cermati dengan beberapa contoh untuk analisis, misal, tentang upah minimum (UM) dan biaya penunjang operasional (BPO). Upah minimum (UM) di Indonesia berada di kisaran 2 juta sampai 5 juta rupiah per bulan. Barangkali istilah UM bisa beragam, misal, UMR, UMK, atau UMP. Sementara, BPO di Indonesia berada di kisaran ratusan juta rupiah sampai beberapa milyar rupiah per bulan untuk seorang pejabat.

“Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Kediri Bambang Priyambodo, Kamis mengemukakan besaran UMK yang ditetapkan di Kota Kediri untuk 2023 adalah Rp2.318.116.”

Di kota Kediri, Jawa Timur, UM adalah 2 juta rupiah lebih sedikit. Sementara di Jakarta, UM adalah hampir 5 juta rupiah. Apakah angka-angka UM sebesar itu bernilai benar?

Logika-past menjawab angka UM sudah benar. Karena, nilai UM sudah ditetapkan oleh pihak berwenang melalui prosedur formal.

Logika-present menjawab angka UM sudah benar. Karena, berdasar peraturan yang berlaku saat ini, memang, angka-angka UM seperti itu.

Bagaimana jawaban logika-futuristik? Logika-futuristik menerima bahwa angka UM memang sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, past dan present. Hanya saja, kita bisa bertanya lanjut, “Apakah angka UM sebesar, atau sekecil, itu adil bagi buruh untuk menyongsong masa depan?”

Ambil contoh UM Kediri yang sekitar 2 juta per bulan, atau setara 70 ribu per hari. Seorang suami hidup bersama seorang istri dan 2 orang anak akankah bisa hidup layak dengan angka sebesar itu? Dibagi oleh 4 orang, maka, rata-rata per orang Rp 17.500,- per hari. Untuk keperluan makan, rumah, pakaian, sabun cuci, sekolah, bensin, dan lain-lain. Akankah mereka bisa menyongsong masa depan yang cerah?

Sulit untuk menjawab positif terhadap pertanyaan di atas. Dengan cara yang sama, untuk Jakarta, setara 40 ribu rupiah per hari. Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Akankah buruh di Jakarta mampu menyongsong masa depan yang cerah?

Sejenak, mari beralih ke analisis BPO, biaya penunjang operasional. Capres Prabowo, waktu debat 2019, pernah berniat hendak menaikkan gaji gubernur yang waktu itu sekitar 8 juta rupiah per bulan. Terlalu kecil kan? Untuk ukuran pejabat gubernur, angka 8 juta rupiah tentu terasa kecil. Tetapi, kita perlu mengkaji BPO yang jarang diulas.

“Artinya, jika tahun ini PAD Jakarta mencapai target sebesar Rp 51 triliun (sesuai Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah 2019), Anies berhak atas BPO sebesar Rp 3,15 miliar setiap bulan. Sementara Wakil Gubernur dapat Rp 2,21 miliar/bulan.”

Dengan BPO sebesar 3 milyar lebih per bulan, maka, angka gaji gubernur yang 8 juta itu memang tidak ada arti apa-apa. Apakah BPO sebesar itu adil dan benar bagi rakyat dan negara?

Jawaban logika-past dan logika-present adalah positif. Angka BPO sebesar itu sudah benar berdasar peraturan yang sudah ditetapkan dan berlaku sampai saat ini, past dan present.

Apa jawaban logika-futuristik? Kita bisa mengajukan pertanyaan lanjutan, “Bagaimana manfaat BPO itu bagi rakyat?” Barangkali ada beberapa aturan yang mengatur penggunaan BPO. Tetapi, secara prinsip, gubernur memiliki kebebasan menggunakan BPO untuk kepentingan bersama. Sehingga, ada baiknya, dilakukan kajian mendalam tentang BPO dan efeknya untuk masa depan.

Problem Eksak

Kali ini, kita akan melanjutkan analisis terhadap paradoks yang bersifat eksak, yaitu matematika. Contoh kasus sebelumnya, tentang UM dan BPO, adalah problem sosial. Sehingga, kita lebih fleksibel menghadapi beberapa paradoks sosial. Bagaimana dengan paradoks eksak?

Paradoks Godel adalah contoh paradoks eksak yang diakui secara luas. Paradoks Godel terbukti valid dan tahan uji hampir 1 abad berlalu. Setiap sistem formal, termasuk matematika, pasti tidak konsisten atau tidak lengkap. Terdapat pernyataan G dan negari G, yaitu (-G), dalam sistem formal. Sistem tidak bisa memastikan apakah G atau (-G) yang benar. Paradoks. Bagaimana solusinya?

Logika-past dan logika-present mengkaji ulang paradoks Godel. Mereka menemukan paradoks memang valid. Lalu, bagaimana? Tidak bisa melakukan apa-apa. Faktanya, memang paradoks.

Apa solusi logika-futuristik?

Logika-futuristik menerima kajian paradoks Godel. Lanjut bertanya, “Apa konsekuensi dari paradoks tersebut?”

Jika konsekuensi dari paradoks adalah signifikan maka selesaikan paradoks dengan menambah teorema, atau aksioma, bahwa G bernilai benar. Paradoks memang selesai. Tetapi, muncul paradoks baru antara H dan (-H) akibat dari penambahan aksioma. Solusi bisa diulang. Jika paradoks signifikan maka tambahkan aksioma sampai paradoks tidak signifikan. Situasi terbaik, lebih ringan, bila paradoks sejak awal sudah tidak signifikan. Paradoks selesai.

Dengan logika-futuristik, paradoks bisa ditangani dengan baik, eksak mau pun sosial. Bagaimana pun, logika-futuristik tetap terbuka dengan dinamika masa depan.

Problem sains

Paradoks sains adalah tengah-tengah antara eksak dan sosial, ada aspek pengujian empiris. Kita akan mengkaji paradoks dari logika quantum.

Paradoks ketidakpastian meliputi epistemologi dan ontologi. Quantum tidak bisa mengetahui, secara pasti, posisi dan kecepatan elektron bersamaan. Quantum juga tidak bisa memastikan eksistensi elektron dalam kotak apakah eksis atau tidak. Bagaimana solusi logika-past dan logika-present?

Paradoks. Terpaksa menerima paradoks apa adanya. Logika-past dan present hanya bisa menerima paradoks itu.

Apa solusi logika-futuristik?

Logika-futuristik mengajukan pertanyaan, “Apa konsekuensi paradoks tersebut terhadap masa depan?” Jika tidak ada konsekuensi signifikan di masa depan, maka, terima paradoks tersebut. Jika ada konsekuensi signifikan di masa depan, maka, lanjutkan kajian berdasar logika-futuristik. Barangkali, paradoks bisa diselesaikan dengan meta-teori dan meta-perspektif. Bagaimana pun, kita tetap terbuka dengan posibilitas baru.

Bagaimana dengan paradoks quantum entanglement (QE)? Seakan-akan ada informasi yang dikirimkan dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

Logika-past dan logika-present bisa memilih solusi yang diajukan oleh Einstein dan kawan-kawan dalam makalah EPR. Paradoks terjadi akibat ada sesuatu yang belum diketahui oleh teori quantum, yaitu, hidden variable (HV). Jika HV ditemukan, diperhitungkan oleh quantum, maka tidak ada paradoks. Paradoks selesai. Tidak ada kecepatan melebihi cahaya.

Pada tahun 1964, Bell membuktikan bahwa HV tidak eksis. Beberapa eksperimen, di masa berikutnya, menguatkan teorema Bell bahwa HV tidak eksis- tepatnya HV lokal. Jadi, paradoks QE tetap eksis sampai sekarang.

Apa solusi logika-futuristik terhadap QE?

Konsekuensi QE di masa depan adalah besar. Komputer quantum dan telekomunikasi quantum memanfaatkan QE. Justru, karena ada kecepatan “seakan-akan” melebihi cahaya maka menjadi keunggulan tersendiri. Tetapi, terjadi paradoks dengan postulat relativitas.

Menariknya, perkembangan teknologi quantum, ke masa depan, tidak terhambat oleh paradoks QE. Karena, teknologi senantiasa melihat posibilitas dari masa depan. Dengan memanfaatkan probabilitas dan statistik, teknologi tetap bisa berkembang bedasar quantum yang probabilistik dan temporal.

Tetapi, akankah ada solusi secara teoritis terhadap paradoks QE?

Berikut beberapa alternatif solusi berdasar logika-futuristik.

(1) Kita perlu membuka posibilitas bahwa kecepatan maksimum lebih dari kecepatan cahaya c. Mekanika Newton tetap valid untuk fenomena sehari-hari, meski, teori Relativitas lebih valid untuk fenomena dengan kecepatan tinggi. Di masa depan, mungkin saja dikembangkan teori baru dengan postulat kecepatan maksimum yang lebih dari cahaya.

(2) Tetapan energi minimal e = hf juga perlu dikaji ulang dengan pertimbangan mirip di atas.

(3) Penemuan medan-Higgs membangkitkan kembali interpretasi eksistensi mirip eter. Perlu kajian serius terhadap fenomena mirip-eter yang, barangkali, menjadi media komunikasi QE.

(4) Bohm (dan Broglie) mengembangkan solusi pilot-wave yang menyelesaikan paradoks QE. Tetapi, pilot-wave memerlukan eksistensi mirip-eter, sehingga, perlu kajian lebih jauh lagi.

(5) Secara eksistensial, paradoks QE sudah selesai. Karena, seluruh eksistensi adalah satu kesatuan, sehingga, kecepatan melebihi cahaya adalah mungkin. Tetapi, sains adalah kajian esensial – sebagai fokus utama. Ketika kita hendak menggabungkan kajian eksistensial dan esensial, maka, perlu jembatan. Dan, jembatan itu harus berupa kajian esensial. Sementara, kajian eksistensial sebagai sumber inspirasi. Dengan demikian, kajian esensial sains akan terus dinamis karena terhubung dengan kajian eksistensial.

Masih banyak, ide-ide yang bisa kita kembangkan dengan logika-futuristik.

5.2 Demokrasi

Logika-futuristik menghormati posibilitas, freedom, dan komitmen. Konsekuensinya, akan bermunculan banyak ide yang beragam. Bagaimana kita menyikapi perbedaan? Demokrasi menjadi salah satu alternatif terbaik.

Demokrasi, dalam konteks kali ini, adalah menentukan kebenaran berdasar suara terbanyak: voting. Tentu saja, sebelum voting dilakukan komunikasi, dialog, diskusi, debat, dan sebagainya. Seandainya diperoleh mufakat, satu suara, dalam proses komunikasi, maka, tercapai konsensus atau konvensi. Pada situasi ini, penilaian kebenaran didasarkan pada konsensus.

Dalam banyak kasus, tetap terjadi perbedaan maka dissensus. Masing-masing pihak berpegang pada kebenarannya sendiri yang beragam. Situasi dissensus bisa diterima ketika masing-masing pihak saling terpisah, saling independen. Problem muncul ketika masing-masing pihak memiliki kepentingan bersama, misal pemilihan gubernur. Hanya boleh eksis satu gubernur dalam satu provinsi. Tidak diijinkan dissensus.

Voting berdasar suara terbanyak menjadi pilihan dalam demokrasi. Berbagai wilayah menyelenggarakan pemilihan umum untuk menentukan suara terbanyak.

Apa saja yang perlu jadi pertimbangan agar demokrasi berjalan baik?

Substansi

(1) Obyek pilihan – presiden, kepala daerah, undang-undang, program – perlu dipastikan memiliki karakter kebenaran logika-futuristik: posibilitas, freedom, dan komitmen.

(2) Setiap pilihan perlu dipastikan sebagai pilihan yang baik. Pilihan hanya berbeda dalam prioritas. Sehingga, pilihan mana pun yang menang suara terbanyak, maka, tetap berdampak baik.

(3) Bagaimana pun, hasil pilihan tetap futural, sehingga perlu komitmen untuk menjalankan kebaikan. Bisa juga, ternyata salah pilihan, maka, perlu dilakukan revisi seiring waktu.

Proses

(1) Freedom. Setiap orang, setiap pihak, bebas menentukan pilihan sesuai dirinya. Tidak ada paksaan. Tidak ada intimidasi. Tidak ada hipnotis. Bebas dan membebaskan.

(2) Transparant. Berbagai macam informasi yang signifikan dibuka untuk publik, sehingga, setiap orang bisa menentukan pilihan dengan pertimbangan yang baik.

(3) Tidak curang. Semua proses demokrasi perlu dijamin berlangsung adil tanpa kecurangan.

Bila kita mempertimbangkan substansi demokrasi, maka, demokrasi memang baik. Karena, pihak mana pun yang menang suara terbanyak, tetap berdampak baik bagi masa depan. Tetapi, substansi demokrasi ini sulit diverifikasi karena perbedaan perspektif, misalnya. Sehingga, verifikasi kualitas demokrasi akan bergerak ke proses atau prosedur. Proses yang baik akan menghasilkan substansi demokrasi yang baik.

Problem muncul, ketika, pihak tertentu memanipulasi proses, sedemikian hingga, proses demokrasi berjalan baik, tetapi substansinya buruk. Demokrasi hanya menguntungkan pihak tertentu saja dan merugikan pihak lain. Tentu saja, manipulasi demokrasi perlu diberantas. Tidak mudah melakukan itu. Beberapa lembaga melakukan survey demokrasi yang menunjukkan banyaknya demokrasi cacat di dunia, termasuk di Indonesia.

Dengan demikian, demokrasi itu sendiri bersifat futural. Demokrasi perlu terbuka untuk revisi. Dan, kita sendiri perlu terbuka untuk beragam alternatif solusi futuristik.

5.3 Expert

Penilaian oleh satu orang expert, pakar, bisa lebih bagus dari penilaian puluhan orang awam. Diagnosis oleh seorang dokter spesialis bisa lebih bagus dari penilaian oleh sepuluh orang awam. Apakah expertise, kepakaran, bertentangan dengan demokrasi?

Pakar, ahlinya ahli, tersebar di berbagai bidang. Pakar kedokteran, pakar hukum, pakar teknologi, pakar seni, pakar agama, pakar olah raga, pakar bisnis, dan lain-lain. Dalam masing-masing kepakaran bercabang lagi, misal, pakar hukum bisnis, pakar hukum tata negara, pakar hukum pidana, dan lain-lain. Singkat kata, jumlah pakar banyak sekali.

Lebih menantang lagi, ada banyak cara menentukan kepakaran seseorang. Bisa dari tingkat pendidikan formal dan non-formal. Bisa juga dari pengakuan masyarakat luas. Atau, bisa juga dari karya mereka.

(1) Penilaian oleh satu orang pakar lebih baik dari satu orang yang bukan pakar.

(2) Terdapat banyak jumlah pakar, tak tentu.

(3) Dalam demokrasi: satu orang satu suara. Suara pakar sama saja dengan suara orang biasa.

Menerapkan demokrasi murni, kita akan rugi karena kehilangan manfaat pakar. Memberi keistimewaan kepada pakar, kita juga bisa rugi karena kepakaran tidak menjamin kebaikan. Sehingga, logika-futuristik memang harus analisis ke masa depan untuk menemukan kompromi terbaik antara demokrasi dan pakar.

Solusi sederhana yang bisa kita pertimbangkan adalah dengan demokrasi berjenjang. Ada pemilu yaitu pemilihan umum di mana setiap orang dewasa berhak memberikan suara. Ada pemilihan terbatas di mana hanya pakar-pakar tertentu yang berhak ikut serta. Pemilihan presiden adalah pemilu. Pemilihan ketua organisasi masyarakat, ormas, hanya diikuti oleh pakar ormas. Yang terjadi bukan demokrasi antar para pakar, tetapi, demokrasi antar para pihak yang berkepentingan. Lagi pula, menentukan kepakaran tidak mudah, sehingga, dampak demokrasi pakar sulit diakui. Misal di Indonesia ada ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, sebuah demokrasi para pakar, tetapi, dampaknya tidak semua rakyat mengakuinya.

Saya terpikir solusi demokrasi pakar adalah teknologi futuristik, yaitu, demokrasi artificial intelligence (AI). Pertama, di dalam AI sendiri berkembang sistem pakar. AI sistem pakar perlu untuk terus dikembangkan makin canggih, lebih terbuka, agar AI mampu mencerminkan kepakaran dari para pakar. Kedua, sistem pakar yang beragam ini membentuk asosiasi pakar, di mana, para sistem pakar berdebat dan berdiskusi sesuai kepakaran mereka. Asosiasi pakar ini memberi kesimpulan akhir yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ketiga, masyarakat luas bisa mengakses sistem pakar dan asosiasi pakar secara terbuka. Masyarakat luas bisa berdiskusi dengan sistem pakar dan asosiasi pakar sampai mendapat rekomendasi akhir. Setelah melewati tahap-tahap di atas, masyarakat memberikan suara melalui pemilu atau referendum. Karena, teknologi futuristik makin canggih, maka, referendum bisa lebih sering dilaksanakan.

Dalam kasus tertentu, bahkan asosiasi pakar adalah yang memberi keputusan akhir dari pilihan-pilihan yang sudah diseleksi secara demokratis. Ilustrasi penggunaan VAR dalam menghakimi perbedaan penilaian wasit dan atlet merupakan contoh menarik. Wasit dan atlet sepakat, dalam kondisi tertentu, VAR yang memberi keputusan akhir. Tentu saja, masih banyak tantangan di masa depan. Demikianlah logika-futuristik.

6. Ekonomi Futuristik

Di bagian akhir ini, kita akan membahas contoh solusi logika-futuristik terhadap problem ekonomi dan politik. Kita bisa mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

Apa tujuan ekonomi? Apakah bersifat personal atau sosial? Bagaimana peran lembaga – swasta mau pun negara?

6.1 Tujuan Ekonomi

Mengapa orang berkerja? Cari uang.

Apa tujuan ekonomi? Mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya. Tujuan kapitalisme adalah mengumpulkan kapital, agar kemudian, kapital bekerja untuk memperbesar kapital lagi. Tujuan sosialisme adalah mengumpulkan kapital (sumber produksi) agar menjadi milik negara, untuk kemudian, menghasilkan kapital (sumber produksi) lagi sebagai milik sosial.

Mengapa begitu? Karena, sejak sekolah dasar kita diajarkan seperti itu (logika-past). Sampai sekarang pun, diajarkan seperti itu (logika-present).

Apa solusi logika-futuristik? Seperti biasa, kita menerima logika klasik dan melanjutkan bertanya, “Apa konsekuensi bagi masa depan?” Jika orang bekerja untuk mencari uang, maka, resiko akan kesehatan pekerja, keselamatan pekerja, kehidupan pekerja, keseimbangan hidup, keadilan, etika, agama, dan lain-lain.

Jika ekonomi untuk menambah kapital, maka, resiko krisis iklim, perusakan lingkungan, perbudakan, penipuan, dan lain-lain. Jika ekonomi untuk mengumpulkan sumber produksi atas nama sosial, maka, resiko yang sama bisa muncul.

Logika-futuristik mengajak kita untuk memikirkan ulang tujuan ekonomi. Tujuan ekonomi adalah untuk membuka posibilitas baru guna membebaskan manusia, diri sendiri dan masyarakat, dari kekangan kebutuhan dasar – makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak untuk semua. Untuk mencapai tujuan itu, umat manusia perlu mengembangkan komitmen yang tinggi, saling kerja sama, serta mengembangkan filosofi, sains, seni, dan teknologi. Setelah kebutuhan dasar, manusia bisa bergerak lebih jauh lagi. Silakan kembangkan terus ide-ide Anda tentang ekonomi masa depan.

6.2 Personal dan Sosial

Pasar bebas menunjukkan bahwa ekonomi adalah tanggung jawab individu, personal. Para sosialis meyakini bahwa ekonomi adalah tanggung jawab sosial maka perlu perencanaan terpusat oleh negara, misalnya. Realitas ekonomi saat ini, tampaknya, sedang dimenangkan oleh pasar bebas kapitalisme liberal.

Apa solusi logika-futuristik? Pasar bebas berhasil memunculkan inovasi-inovasi baru dalam bisnis sampai melahirkan milyuner-milyuner baru. Dengan resiko kesenjangan sosial, kemiskinan massal, dan kehampaan hidup. Sosialis berhasil mengendalikan pasar dengan resiko tersendatnya pertumbuhan ekonomi. Apa yang perlu diubah di masa depan? Apa yang perlu dipertahankan di masa depan? Apakah urusan ekonomi menjadi paling utama atau ada yang lebih utama? Apakah ukuran ekonomi atau pertumbuhan ekonomi memang paling penting di masa depan? Bukankah, ukuran bumi relatif konstan? Kita, benar-benar, perlu merumuskan ulang ekonomi dengan pendekatan logika-futuristik.

6.3 Peran Lembaga

Lembaga, negara, berperan penting untuk mendukung ekonomi yang sehat. Di saat yang sama, lembaga negara termasuk yang paling sering terlibat kasus korupsi, tidak efisien, dan kualitas rendah. Bagaimana peran lembaga dan negara bagi ekonomi masa depan?

7. Politik Futuristik

Politik merupakan tantangan paling sulit bagi manusia sepanjang sejarah.

Apa tujuan politik? Siapa harus berpolitik? Sistem politik apa yang terbaik?

7.1 Tujuan Politik

Apa tujuan politik? Tujuan politik adalah mempolitisasi segalanya, politik atau non-politik. Lebih jauh, tujuannya adalah memenangkan pertarungan politik.

Mengapa bisa begitu? Karena, begitulah realitas yang tampak di masa lalu sampai masa kini. Tentu saja, realitas politik beragam. Ada yang seperti penampakannya, ada yang lebih parah, dan ada yang sangat mulia dalam politik.

Apakah realitas politik di masa depan bisa berubah? Tentu saja. Logika-futuristik menunjukkan bahwa politik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen itu sendiri. Secara sederhana, tujuan politik adalah memanfaatkan seluruh sumber politik untuk mewujudkan masa depan yang posibilitas terbuka luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menumbuhkan dan menuntut komitmen semua pihak. Politik memanfaatkan seluruh modal fakta masa lalu dengan modifikasi aktif masa kini.

7.2 Freedom

Politik menjadi sangat sulit dibahas karena politik adalah manifestasi freedom dalam arti harfiahnya. Politik adalah kebebasan itu sendiri. Politik menjadi terbatas karena politik menetapkan batasan bagi dirinya sendiri. Sewaktu-waktu, politik bisa membubarkan batasan itu.

Tentu saja, fakta alamiah tetap inheren dalam politik. Maksudnya, jika semua manusia mati maka politik juga mati. Atau, jika alam raya hancur maka politik juga hancur. Tetapi, dalam pengertian kegiatan manusia yang wajar, politik adalah freedom itu sendiri. Karena itu, pemain politik haruslah orang-orang yang benar-benar baik.

7.3 Keadilan dan Kebaikan

Dalam politik, keadilan adalah yang paling utama. Sedangkan kebaikan, bisa menjadi jalan lurus atau jalan menyimpang dalam politik. Adil adalah memberikan sesuai haknya. Sedangkan, kebaikan adalah memberikan lebih dari haknya, sehingga ada kesan baik pada kebaikan.

Capres 2024

Nama capres 2024 makin hangat menjadi perbincangan politik Indonesia. Prabowo adalah politikus senior yang bertanding penuh stamina sejak 2009, 2014, 2019, dan barangkali 2024.

Kita akan mencermati peran logika-futuristik capres 2024 khususnya belajar dari pengalaman Prabowo.

Pada tahun 2009, Prabowo berpasangan sebagai cawapres dari Mega. Koalisi Gerindra dan PDIP menebarkan optimisme kemenangan, meski, SBY-Budiono yang menang. Saat itu, Prabowo sepakat sebagai cawapres dengan harapan tahun 2014 akan jadi capres dengan koalisi yang sama. Prabowo dengan baik menerapkan logika-futuristik di sini.

Pilpres 2014 tiba. PDIP mencalonkan Jokowi-JK sebagai capres. Pihak Prabowo berharap, seharusnya, PDIP mendukung Prabowo sebagai capres 2014 berdasar pengalaman 2009.

Logika-past, mengacu pembicaraan 2009, tidak berhasil di sini. Mega tidak bisa dipaksa untuk memenuhi interpretasi terhadap kesepakatan 2009 – bila seandainya ada. PDIP menerapkan logika-futuristik bahwa Jokowi-JK akan menang dan membawa kebaikan bagi PDIP dan Indonesia umumnya di masa depan.

Tahun 2019, Prabowo merapat ke kabinet Jokowi dengan harapan lebih dekat dengan PDIP. Dengan kedekatan ini, Prabowo bisa berharap koalisi PDIP dan Gerindra akan mencalonkan Prabowo sebagai capres 2024.

Tetapi, sampai di sini, kita tahu bahwa tidak ada logika-past, tidak ada fakta masa lalu, yang bisa menjadi argumen untuk memastikan capres 2024 di masa depan ini. Siapa capres 2024 dari PDIP? Hanya logika-futuristik yang dominan di dunia politik. Apakah capresnya adalah Prabowo, Ganjar, Puan, Gibran, atau lainnya, pertimbangannya adalah siapa yang akan memberikan dampak terbaik bagi masa depan PDIP dan Indonesia.

Karena logika-politik adalah logika-futuristik maka politik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.

Dalam kehidupan sehari-hari beragama, kita juga sering memanfaatkan logika-futuristik. Mengapa beramal soleh dan tidak mencuri? Bukan karena sekedar ayat suci telah memerintahkan dan melarang itu. Tetapi, terutama, karena di masa depan ada pahala dan siksaan. Masa depan di sini bisa mencakup surga dan neraka, dan bisa juga, masa depan di kehidupan ini.

Perppu Ciptaker

Kita akan mencoba mencermati kasus UU Ciptaker dan Perppu Ciptaker yang menjadi hadiah jelang tahun baru 2023 ini.

Secara ringkas, UU Ciptaker diajukan presiden dan disetujui DPR pada tahun 2020. Sehingga, secara formal legal konstitusional UU Ciptaker adalah UU yang sudah sah. Terjadi demo besar-besaran, saat itu puncak pandemi covid, menentang UU Ciptaker.

Pada akhir 2020, MK menganulir UU Ciptaker dengan menyatakan bahwa UU Ciptaker inkonstitusional bersyarat. Menariknya, media (dan massa) tampak berbeda dengan pemerintah dalam membaca putusan MK.

(1) Media membaca putusan MK yang menyatakan bahwa UU Ciptaker inkonstitusional karena pemerintah tidak melakukan partisipasi publik yang bermakna. MK tidak perlu uji materi karena, bila pemerintah melaksanakan partisipasi bermakna, maka, niscaya publik bersama pemerintah dan dewan melakukan uji materi dengan baik. Sehingga, fokus utama adalah partisipasi bermakna.

(2) Pemerintah membaca putusan MK sebagai menyoroti cacat formal dari UU Ciptaker, sementara, uji materi sama sekali tidak dibahas. Artinya, UU Ciptaker secara materi baik-baik saja. Cacat formal itu sendiri lantaran belum ada dasar omnibus law. Tidak lama berselang, pemerintah menerbitkan peraturan omnibus law.

Dengan posisi itu, pemerintah sudah yakin di jalur yang benar. Sisi formal berupa omnibus law sudah beres. Sisi materi sudah sejak awal baik-baik saja. Tidak diperlukan apa-apa lagi untuk Ciptaker. Agar efisien dan hemat, pemerintah menetapkan Perppu Ciptaker pada 30 Desember 2022.

Bagaimana pun, di dalam kabinet sendiri terjadi perdebatan seru apakah perlu untuk menerbitkan Perppu Ciptaker.

“Pada akhirnya, kata Mahfud, Presiden memilih tetap menerbitkan Perppu Ciptaker. Aturan baru ini sekaligus menganulir putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020, yang sebelumnya menyatakan UU Ciptaker inkonstitusional bersyarat.”

“Langkah strategis diperlukan karena ada keperluan mendesak, yang secara subjektif dianggap oleh Presiden mendesak. Apa itu? Yaitu geopolitik di beberapa kawasan panas, perang Rusia-Ukraina menurut Presiden jadi alasan genting untuk segera mengantisipasi dengan membuat langkah strategis. Langkah strategisnya nggak boleh dibuat kalau belum ada undang-undang atau perppu. Itu tafsir Presiden.”

Pemerintah mengakui bahwa penerbitan Perppu Ciptaker berdasar interpretasi subyektif Presiden atas banyak hal. Tentu saja, proses tersebut adalah sah.

Bagaimana tanggapan media dan massa?

Media massa mengkritik penerbitan Perppu Ciptaker. Sebagian ahli merasa bahwa pemerintah justru menghindari saran MK, yang seharusnya, pemerintah menyelenggarakan partisipasi bermakna. Kita bisa mencermati lebih banyak ragam kritik terhadap penerbitan perppu di media sosial.

Bagaimana solusinya? Saya kira sudah jelas, solusinya adalah logika-futuristik. Jika mengandalkan past dan present hanya akan mempertajam perbedaan. Meski penting analisis tersebut, kita perlu untuk menatap future.

Tetapi, bukankah proses yang panjang membutuhkan biaya? Bukankah uang negara, yang digunakan itu, sejatinya adalah uang rakyat? Bukankah uang rakyat itu lebih baik digunakan untuk kepentingan rakyat? Bukankah Perppu Ciptaker adalah demi rakyat?

Kita akan menemukan solusi bila fokus terhadap logika-futuristik. Kita akan berhasil membangun negeri dan membela wong cilik ketika kita sadar bahwa semua klaim politik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Kita punya masa depan cerah dengan berpikir terbuka.

Mari kita cermati kembali problem keadilan dan kebaikan. Capres 2024 menurut saya adil dan baik. Adil karena sesuai konstitusi yang sudah dibahas dengan teliti oleh para ahli. Baik karena akan terjadi penyegaran kepemimpinan nasional.

UU dan Perppu Ciptaker ada resiko tidak adil dan tidak baik. Tidak adil karena, menurut MK, prosesnya tidak melibatkan partisipasi bermakna. Lebih tidak adil lagi bila over time dan over budget. Karena, semua dibiayai oleh uang negara yang sejatinya uang rakyat. Jutaan rakyat kita adalah wong cilik yang sulit untuk makan layak, sulit sekolah layak, sulit kesehatan layak, apalagi kemewahan. Tetapi, UU dan Perppu Ciptaker bisa menjadi adil dan baik bila semua pihak berjuang untuk mewujudkan masa depan adil makmur untuk rakyat Indonesia, khususnya, adil makmur bagi wong cilik.

Masa depan cerah ada di hadapan kita. Tantangan kita adalah untuk eksplorasi logika-futurustik guna membuka posibilitas luas, freedom bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen bersama.

Catatan Penutup

Logika-futuristik berhasil menyelesaikan paradoks-paradoks yang berkembang dari logika-klasik. Paradoks-paradoks bisa kita kelompokkan menjadi dua macam: meta-teori dan meta-perspektif. Dalam pembahasan, logika-futuristik berhasil menyelesaikan paradoks Godel (matematika), paradoks quantum (sains), dan paradoks demokrasi (sosial). Secara implisit, logika-futuristik dapat kita gunakan untuk menyelesaikan setiap paradoks karena karakter kebenaran bersifat posibilitas, freedom, dan komitmen. Termasuk, kita perlu menjawab, “Mengapa logika benar?” Dan, “Mengapa benar itu benar?”

Dari beragam logika formal, saya merekomendasikan bentuk implikasi sebagai paling fundamental. Implikasi bisa berupa silogisme partikular-universal (Aristotelian) mau pun kreatif-tidak-berhubungan (Boolean). Bagaimana pun, klaim kebenaran implikasi tersebut hanya bisa dibuktikan melalui logika-futuristik. Bahkan pemahaman, definisi, dan interpretasi juga bersumber dari logika-futuristik.

Saya perlu menambahkan bahwa implikasi “Jika teori (T) maka verifikasi empiris (E)” tidak pernah bisa membuktikan validitas (T). Yang bisa terjadi hanya falsifikasi, yaitu, ketika (E) salah maka kita bisa menolak (T). Dari perspektif logika-futuristik, verifikasi atau pun falsifikasi melalui data empiris (E) sama-sama bernilai penting. Logika-futuristik tidak menolak logika-klasik, atau logika mana pun, tetapi, merangkul semua dalam bentangan future-past-present.

Dalam pembahasan demokrasi vs pakar, saya mengusulkan demokrasi AI, yaitu, demokrasi yang terdiri dari sistem pakar yang membentuk asosiasi pakar. Dalam situasi umum, rakyat luas terbuka untuk akses asosiasi pakar, untuk kemudian, rakyat bisa menentukan suara pemilu atau referendum dengan lebih bijak. Dalam situasi tertentu, kita bisa menyepakati asosiasi pakar sebagai juri terakhir menetapkan keputusan, mirip penerapan VAR dalam olah raga. Tentu saja, usulan di atas adalah usulan futuristik dari logika-futuristik.

Di bagian akhir, kita membahas ekonomi dan politik futuristik. Politik adalah freedom sejati. Karena itu, politik dipenuhi oleh logika-futuristik. Semua klaim politik berdasar data past dan present perlu dikaji ulang dengan perspektif logika-futuristik. Dengan demikian, semua pihak perlu terbuka terhadap klaim politik demi mewujudkan kebaikan bersama.

Logika-futuristik masih terlalu muda. Sehingga masih banyak kelemahan dan kekurangan di berbagai tempat. Saya mengajak semua pihak untuk ikut mengkritisi dan mengembangkan logika-futuristik. Dari pembahasan di atas, saya yakin, logika-futuristik mampu berkontribusi besar terhadap kemajuan umat manusia dan semesta.


Bawa Kebaikan ke Manusia

Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat ke sesama manusia – dan semesta. Bawa kebaikan ke manusia dan bawa manusia ke kebaikan adalah judul web saya di pamanapiq.com. Dua tugas, di atas, sama-sama penting.

Sudah cukup jelas maksud pesan di atas: bawa kebaikan ke manusia. Tetapi, kita masih bisa bertanya apa makna-kebaikan? Apa makna-manusia? Apa makna-bawa?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita ke kebaikan lebih mendalam lagi. Kita akan mencoba membahasnya.

1. Kebaikan vs Keadilan
2. Kebaikan vs Kebenaran
3. Makna-Manusia
4. Makna-Bawa
5. Kebaikan Digital

Kita akan membahas kebaikan dari sisi makna dan definisi. Makna adalah pemahaman yang kita pikirkan secara sederhana dan terbuka dengan beragam posibilitas baru. Sedangkan, definisi adalah pengertian yang membatasi dengan maksud tertentu. Definisi bersifat ketat, sementara, makna bersifat fleksibel. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memanfaatkan makna. Dalam kajian ilmiah, sering dipersyaratkan menerapkan definisi.

1. Kebaikan vs Keadilan

Kebaikan adalah memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat, lebih baik, dari harapan. Keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan haknya. Dengan makna ini, kebaikan adalah tindak lanjut dari keadilan.

Harus mengutamakan kebaikan atau keadilan?

Utamakan kebaikan dalam konteks personal. Tetapi, utamakan keadilan dalam konteks sosial.

Ketika Anda berurusan dengan teman maka utamakan untuk berbuat baik. Anda traktir teman minum kopi adalah kebaikan. Anda pinjamkan uang ke teman yang membutuhkannya, adalah, kebaikan. Anda bersedekah ke tetangga dan saudara adalah kebaikan.

Ketika Anda berurusan dengan struktur sosial maka utamakan keadilan di atas kebaikan.

Seorang pejabat menjanjikan gaji ke buruh adalah 3 juta rupiah. Saatnya gajian, pejabat itu membayar 4 juta rupiah. Maka yang 1 juta, kelebihannya, adalah kebaikan. Sementara, yang 3 juta, sesuai hak buruh adalah keadilan.

Tetapi, kebaikan sosial seperti di atas bisa berdampak buruk. Mengapa?

Karena kebaikan sosial, seperti di atas, bisa menjadi topeng pencitraan untuk menutupi borok pejabat melanggar keadilan. Apakah gaji buruh 3 juta itu sudah adil? Berapa gaji pejabat? Besar gaji pejabat total bisa 30 juta atau sampai ratusan juta? Apakah adil gaji buruh adalah 3 juta?

Misal, setelah dikaji ulang, gaji buruh yang adil adalah 5 juta. Maka, tindakan kebaikan sosial oleh pejabat, memberi tambahan 1 juta terhadap gaji 3 juta adalah topeng pencitraan. Dengan kebaikan sosial itu, buruh dan rakyat jadi sungkan untuk menuntut keadilan. Padahal mereka, buruh dan rakyat, berhak mendapat keadilan.

Jadi, dalam koteks sosial, tegakkan keadilan sebagai paling utama. Kebaikan sosial hanya bisa dilakukan setelah keadilan ditegakkan.

Apakah kita bisa mengetahui sistem sosial sudah adil atau belum? Bisa jadi, jawabannya adalah negatif. Atau, lebih tepatnya, jawabannya adalah dinamis. Sebagai pejabat, Anda harus konsisten berjuang menegakkan keadilan untuk seluruh rakyat. Makna pejabat di sini bisa saja pejabat perusahaan swasta atau pun yayasan dan sejenisnya.

Bagaimana pun, kita berinteraksi sosial secara personal. Sehingga, dalam situasi apa pun, kita “wajib” berbuat baik. Hanya saja, kebaikan itu kadang kala harus disembunyikan agar tidak menjadi topeng pencitraan.

Dalam ungkapan ringkas, “Bawa kebaikan ke manusia dan bawa manusia ke kebaikan.”

Apa yang kita bahas di atas adalah makna kebaikan dan keadilan. Sedangkan, definisi kebaikan dan keadilan, silakan Anda bisa mendefinisikan sesuai kebutuhan.

2. Kebaikan vs Kebenaran

Dahulukan kebaikan dari kebenaran. Mengapa? Karena keduanya, kebaikan dan kebenaran, adalah sama-sama klaim semata.

Saran di atas berlaku secara general belaka. Secara spesifik, kita perlu mengkaji konteks. Dalam matematika, klaim kebenaran menjadi paling utama.

Mengapa secara umum kita lebih penting mengutamakan kebaikan di atas kebenaran? Karena, konsekuensi kebaikan adalah baik. Sementara, konsekuensi kebenaran bisa saja buruk. Padahal, kedua klaim bisa saja sama-sama salah klaim.

Tentu saja, kondisi ideal adalah terpenuhi baik dan benar – plus adil pula. Dalam kajian teoritis, bisa saja kita mengklaim XYZ adalah baik, benar, dan adil. Sehingga, kita perlu mendukung XYZ. Kita memang harus memperjuangkan XYZ dalam contoh kasus ini.

Dalam realitas, apakah kita bisa klaim XYZ sebagai baik, benar, dan adil? Sulit sekali!

Pertama, setiap klaim XYZ perlu landasan yang berupa klaim juga. Selanjutnya, landasan itu butuh klaim lagi tanpa henti. Kita berhadapan dengan paradoks meta-klaim.

Kedua, klaim XYZ bisa saja mengaku sudah paling lengkap. Tetapi, syarat lengkap ini tidak bisa dipenuhi. Setiap klaim pasti menerapkan perspektif. Tidak mungkin kita bisa klaim dari seluruh perpektif. Dan, tidak mungkin juga kita bisa klaim tanpa perspektif. Kita berhadapan dengan paradoks meta-perspektif di sini.

Ketiga, klaim XYZ adalah yang paling bermanfaat bagi masa depan. Kita bisa memahami mungkin saja XYZ memang paling bermanfaat di masa depan – dan baik, benar, adil. Bagaimana pun, kita sadar bahwa klaim masa depan bersifat kontingen. Sehingga, akan lebih baik ketika terjadi respek antara banyak pihak.

Dengan demikian, secara umum, dahulukan kebaikan dari kebenaran. “Bawa kebaikan ke manusia dan manusia ke kebaikan.”

3. Makna-Manusia

Selanjutnya, kita perlu menyelidiki makna-manusia? Siapa manusia? Siapa saya?

Manusia adalah yang paling dekat dengan kita, sekaligus, memiliki makna yang paling jauh dari kita.

4. Makna-Bawa

Makna “membawa” sepiring nasi sudah jelas begitu saja bagi kita. Makna “membawa” kebaikan juga sama, sudah jelas. Ketika dipikir lebih jauh, “Bagaimana kita bisa membawa kebaikan?”


5. Kebaikan Digital