History of Philosophy: Perspektif Dinamis

Akhir dari sejarah ada tiga. Pertama, Fukuyama (1952 – ) menyatakan akhir dari sejarah adalah demokrasi kapitalis. Pada tahun 1990an, tembok Berlin runtuh, dan Uni Soviet juga sudah runtuh. Maka, secara efektif, komunisme sudah hancur di bumi ini. Sehingga, hanya ada satu tatanan sejarah dunia: demokrasi-kapitalis. Tampaknya, Fukuyama sudah menganggap tiada tatanan monarki, teokrasi, dan lain-lain. Akhir dari sejarah adalah demokrasi-kapitalis.

The End of History | Wookieepedia | Fandom

Kedua, Vattimo (1936 – ) menyatakan sejarah sudah berakhir dengan hadirnya media digital. Masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu kejadian. Begitu juga, masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu sejarah. Jadinya, sejarah sudah berakhir. Dulu, sebelum era digital, penguasa bisa menulis satu jenis sejarah. Kemudian memaksakan satu sejarah itu diterima oleh masyarakat luas. Saat ini, meski ada satu jenis sejarah seperti itu, masing-masing orang bebas menciptakan sejarah dengan versi berbeda-beda.

Ketiga, setiap akhir sejarah adalah awal dari sejarah. Sehingga, sejarah memang berakhir, di saat yang sama, sejarah baru dimulai. Sebut saja Fukuyama benar. Semua sejarah selain demokrasi telah runtuh. Maka, demokrasi sebagai akhir sejarah, memulai babak baru sebagai penuntun sejarah tunggal. Nyatanya, demokrasi terpecah belah tidak tunggal lagi. Demokrasi kiri, tengah, kanan, dan variasi di antara mereka. Benar-benar sejarah demokrasi yang baru.

Anggap saja Vattimo juga benar. Era digital mengakhiri sejarah tunggal. Jalannya sejarah terpecah belah sesuai perspektif subyek di era digital. Benarkah, di era digital, sejarah selalu terpecah belah? Saat ini saja, korporasi raksasa mulai mengendalikan dunia digital. Arah sejarah tampak mulai diarahkan ke satu arah tertentu. Dengan berkembangnya artificial intelligence bisakah arah sejarah manusia ditentukan oleh AI tersebut? Bila demikian, terbentuk sejarah baru, lagi. Sejarah umat manusia yang didominasi oleh AI.

Sejarah dan Filsafat

Sejarah dan filsafat membentuk satu kesatuan yang saling mengikat.

KAJIFI: KAJIan FILSAFAT MEMATIKANMU

Aksiologi: Filsafat Mematikan Anda

Mengkaji filsafat menjadikan Anda mati. Mati dari kehidupan sehari-hari. Untuk berbalik menghidupkan hari demi hari. Anda hidup dengan pertanyaan. Sejak lahir, bayi, Anda selalu bertanya tentang apa saja. Anda terlahir sebagai filsuf. Dan, mati sebagai filsuf. Serta, menjalani hidup sebagai filsuf. Mati sebelum mati.

Being & Freedom: Content – Trik 7 Detik PamanAPiQ.com

Ontologi: Ada-ada Saja

Epistemologi: Anda Tahu bahwa Anda Tahu Apa

Berikut beberapa video tentang kajian filsafat.

Filsafat Cinta

Filsafat Matematika

Filsafat Kritik

Filsafat Dinamis

Filsafat Terbaru

Realitas Kebenaran Sejati Terbukti

Apa realitas kebenaran sejati? Tuhan adalah kebenaran sejati. Begitu, kira-kira, jawaban dari perspektif agama. Sementara, orang-orang yang materialis, orang yang memandang realitas adalah materi, maka realitas kebenaran sejati adalah partikel-partikel fundamental pembentuk materi alam raya. Benarkah begitu? Masih ada banyak alternatif jawaban.

Whizolosophy | The Illusion Of Time; Does Time Exist In Fundamental Reality?

Realitas sejati hanyalah ilusi. Di dunia ini tidak ada apa-apa. Yang tampak di luar seperti meja, pohon, mobil, dan lain-lain adalah ilusi dari pikiran kita. Realitas adalah ilusi pikiran manusia. Dan, manusia, kita sendiri, juga merupakan ilusi. Demikian, kira-kira, pandangan skeptis-idealis.

Realitas sejati di alam raya adalah simulasi komputer super canggih. Kita adalah karakter-karakter pelaku dalam game simulasi kehidupan. Karakter dalam game berjuang untuk memenangkan petualangan. Demikian juga, kita, merasa berjuang untuk meraih mimpi, cita-cita tertinggi. Kita tidak sadar bahwa, sebenarnya, kita hanya ada dalam simulasi game belaka. Begitu, kira-kira, pandangan skeptis-simulasi.

Dunia adalah cinta. Dunia hanya milik kita berdua. Begitu kata mereka yang sedang jatuh cinta. Realitas sejati adalah cinta. Cinta yang menerangi seluruh semesta. Cinta yang membahagiakan, menarik, dan mendorong setiap gerak dunia. Begitu, kira-kira, pandangan romantis.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas satu demi satu pandangan di atas. Saya, justru, akan fokus dengan satu solusi untuk menjawab pertanyaan realitas fundamental sejati. Realitas sejati adalah dinamis.

1. Karakter Dinamis
1.1 Pancajati
1.2 Hana Maga Bataga
2. Realitas Cinta
2.1 Konten Cinta
2.2 Bentuk Cinta Tridaya
3. Daya Manusia
3.1 Daya Imajinasi
3.2 Daya Faham
3.3 Daya Akal
3.4 Daya Rasa
4. Bukti Kebenaran
4.1 Bukti Imajinasi
4.1.1 Imajinasi Obyektif
4.1.2 Imajinasi Subyektif
4.1.3 Imajinasi Intuitif
4.2 Bukti Pemahaman Konsep
4.2.1 Bukti Aposteriori Empiris
4.2.2 Bukti Apriori Rasionalis
4.2.3 Bukti Enframing Engineering
4.3 Bukti Idea Akal
4.3.1 Bukti Contoh
4.3.2 Bukti Ilustrasi
4.3.3 Bukti Realisasi
4.4 Bukti Rasa
4.4.1 Bukti Konsensus
4.4.2 Bukti Eksperimen
4.4.3 Bukti Sublim
5. Bukti Diri
5.1 Bukti Obyektif Positivis
5.2 Bukti Subyektif Eksistensialis
5.3 Bukti Cukup Diri

1. Karakter Dinamis

Karakter realitas sejati adalah dinamis. Setiap kita membuat konsep tentang realitas kebenaran maka realitas itu sendiri sudah bergerak dengan dinamis. Umumnya, kita memandang gerak dinamis sebagai perpindahan suatu substansi dalam ruang dan waktu. Gerak semacam itu adalah gerak aksidental, gerak permukaan belaka. Sejatinya, kita bisa lebih dalam melacak gerak sampai kepada gerak substansial dan gerak eksistensial.

1.1 Pancajati

Kita bisa menggunakan rumusan “pancajati” untuk mempelajari realitas yang dinamis ini. 1) realitas kebenaran selalu dinamis, 2&3) kebenaran adalah hasil verifikasi berdasar cakrawala tertentu, 4&5) kebenaran cakrawala dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi. Lebih lengkap tentang formula pancajati silakan merujuk ke tulisan saya terdahulu. (Kebenaran Sejati Ada Di Sini)

1.2 Hana Maga Bataga

Realitas fundamental kebenaran sejati adalah hana. Karakter kebenaran yang terus-menerus dinamis adalah: maga. Dan, gerak dinamis dari hana ini menghasilkan kebenaran akhir: bataga.

Karena hana adalah realitas paling fundamental maka kita tidak bisa mendefinisikan hana. Justru setiap definisi membutuhkan dukungan dari hana. Maka kita akan memaknai hana – menginterpretasikan hana. Agar hana menjadi lebih nyata, bagi kita, maka kita bisa memandang hana sebagai manusia sejati. Hana adalah manusia sejati yang senantiasa bergerak dinamis.

Kita tahu bahwa manusia sejati, sebagai hana, selalu bergerak maju. Manusia selalu punya cita-cita. Setelah, satu cita-cita berhasil diraih, maka hana menetapkan cita-cita baru. Bahkan, sebelum cita-cita diraih, hana bisa saja menciptakan cita-cita yang lebih banyak. Manusia sejati tidak pernah berhenti. Mengejar cita-cita yang makin tinggi.

Gerak manusia sejati itu adalah maga. Maga adalah gerak sejati, gerak eksistensial, gerak substansial. Maga menggerakkan, mengubah, manusia kanak-kanak menjadi manusia remaja lalu dewasa. Maga mengubah manusia cengeng menjadi manusia gagah perkasa. Maga mengantarkan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa menjadi sarjana bijaksana. Maga bergerak dalam jangka waktu bertahun-tahun. Maga juga bergerak tiap detik, tiap saat. Maga menciptakan ruang untuk bergerak. Maga menciptakan waktu untuk bergerak.

Bataga adalah hasil akhir dari hana yang bergerak sebagai maga. Bataga menampung hana dan seluruh hasil gerak maga. Seorang sarjana bijaksana menampung seluruh memori perjalanan dia dari kanak-kanak, remaja, sampai dewasa saat ini. Bataga ini unik. Setiap orang memiliki bataga yang berbeda-beda. Karena masing-masing orang memiliki kisah hidup yang beragam maka totalitas kisah hidupnya itu berkumpul menjadi bataga yang beragam, unik bagi masing-masing individu.

Apa sejatinya bataga itu? Bataga adalah hana yang baru. Yaitu, hana yang sudah melakukan gerak maga maka menjadi bataga. Karena bataga, sejatinya adalah hana, maka bataga itu juga selalu dinamis tidak pernah berhenti. Bataga memiliki karakter yang sama dengan hana. Sehingga, ketika kita membahas hana, sejatinya, kita juga sedang membahas bataga.

2. Realitas Cinta

Hana adalah cinta. Realitas adalah cinta. Realitas dibentuk oleh string-string cinta yang memenuhi jagat raya. Hanya ada hana. Hanya ada cinta.

2.1 Konten Cinta

Terdiri dari apakah realitas fundamental hana itu?

Kita bisa menginterpretasikan pertanyaan ini seperti seorang ilmuwan hendak menjawab pertanyaan terdiri dari apakah benda-benda, materi, di dunia ini. Dalton menjawab setiap materi terdiri dari bagian terkecil berupa atom. Kelak, ilmuwan menemukan bahwa atom bukanlah partikel terkecil. Atom tersusun oleh proton, neutron, dan elektron yang lebih sederhana. Selanjutnya, fisika quantum menemukan bahwa proton itu juga tersusun oleh partikel elementer seperti quark, boson, lepton, dan lain-lain. Apakah partikel elementer ini akan terus bisa digali, dianalisis, menghasilkan partikel yang lebih elementer lagi?

Teori string, lanjutan dari fisika quantum, menetapkan titik henti. Semua partikel elementer tersusun oleh string – partikel yang paling elementer, mirip-titik. Quark dan kawan-kawan itu, pada analisis akhir, tersusun oleh string. Tersusun oleh apakah string itu? String adalah tersusun oleh string itu sendiri. String adalah titik henti. Dalam dirinya sendiri, string tidak punya kekuatan apa-apa. Tetapi ketika beberapa string berkumpul, berinteraksi, maka akan menghasilkan beragam partikel fundamental elementer.

Jadi, tersusun oleh apakah hana itu? Hana tersusun oleh string. Tentu saja, string yang berbeda dengan fisika elementer. String dari hana adalah string cinta.

Hana adalah cinta. Hana selalu jatuh cinta. Hana bergerak karena cinta menuju cinta. Hana memang cinta. Manusia sejati, hana, adalah cinta.

Ketika Anda jatuh cinta, Anda sedang jadi hana, manusia sejati. Memang, Anda adalah hana. Jatuh cinta kepada kekasih adalah manifestasi hana. Cinta kepada anak adalah hana. Cinta kepada tumbuhan adalah hana. Cinta kepada karya sastra adalah hana. Alam raya adalah hana.

Bagaimana dengan orang yang tidak pernah jatuh cinta? Mereka sedang tidak beruntung. Mereka sedang berhenti menjadi hana. Mereka sedang berhenti jadi diri sejati. Maka kita perlu terus untuk jatuh cinta, merawat cinta. Cinta kepada sesama dan cinta kepada seluruh yang ada.

Bagaimana dengan orang yang mengumbar cinta di mana-mana? Apakah mereka adalah hana yang lebih jaya? Cinta sejati adalah suci. Tetapi, manusia bisa membelokkan cinta menjadi nafsu semata. Mengumbar nafsu adalah membelokkan cinta menjadi derita. Kita perlu kembali meluruskan cinta. Meniti jalannya yang suci.

Kita bisa berimajinasi, membayangkan, bahwa hana terdiri dari titik-titik kecil. Di mana, titik-titik kecil itu adalah string cinta. String cinta dalam jumlah yang banyak membentuk kekuatan-kekuatan cinta pada diri manusia. Masing-masing orang, meski terdiri dari string cinta yang sama, berbeda dalam jumlah dan susunan string cinta. Sehingga, kekuatan cinta bisa berbeda-beda. Bagaimana pun, meski berbeda, tetap sama-sama cinta yang mempesona.

Apa saja bentuk kekuatan cinta?

2.2 Bentuk Cinta Tridaya

Ada dua bentuk cinta sejati dan satu bentuk yang tidak imbang. Total menjadi tiga bentuk maka kita sebut sebagai tridaya: tiga kekuatan cinta.

Kita, juga, bisa kembali ke konsep hana. Manusia sejati, hana, terdiri dari string-string cinta dalam jumlah yang sangat besar dan terus bertambah, terus bergerak, maga. String-string cinta ini membentuk 3 kekuatan utama: 1)adil, 2)baik/apik, dan 3)derita.

Sesuai namanya, bentuk cinta sejati hanya dua: adil dan baik/apik. Sedangkan derita adalah pembelokan dari cinta, pembelokan dari hana.

Hana, dengan cinta, bebas bergerak. Hanya ada dua pilihan bentuk gerak cinta. Pertama, adil adalah manifestasi cinta yang sesuai dengan ukuran. Anda memberikan cinta kepada anak pertama sesuai dengan haknya adalah adil. Anda memberikan cinta kepada anak kedua sesuai haknya adalah adil. Begitu juga, Anda membantu tetangga sesuai haknya maka itu adalah adil.

Kedua, apik adalah manifestasi cinta yang lebih dari ukurannya. Apik adalah lanjutan dari adil. Jika adil adalah memberi sesuai haknya maka apik adalah memberi lebih dari haknya. Memberikan pendidikan kepada anak pertama adalah manifestasi cinta sesuai haknya, itu adalah adil. Memberikan pendidikan dengan kualitas tinggi, penuh perhatian, kepada anak pertama adalah lebih tinggi dari hak, itu adalah apik. Manifestasi cinta dari hana.

Menyelesaikan tugas sebagai kepala negara selama lima tahun sesuai tugas dan kewajiban adalah adil, manifestasi cinta dari seorang kepala negara. Membangun negeri selama 5 tahun, kebijakan-kebijakan strategis yang menyejahterakan rakyat kecil, menetapkan undang-undang yang memajukan seluruh masyarakat adalah lebih tinggi dari hak rakyat. Kepala negara seperti itu sudah berbuat baik, sebagai manifestasi cinta.

Ketiga, derita adalah bukan bentuk pilihan cinta. Derita terjadi ketika cinta berbelok arah, atau berbelok ukuran. Manusia bisa salah mengambil langkah sehingga mengakibatkan derita bagi dirinya atau pun orang lain.

Sejatinya, bentuk dari hana, bentuk dari string-string cinta hanya ada dua: adil dan baik/apik. Mari kita terus merawat cinta, hidup bahagia, dengan manifestasi nyata adil dan baik/apik.

3. Daya Manusia

Hana, yang terdiri dari string-string cinta itu, bisa membentuk kekuatan dalam jumlah tak terbatas. Sebagai manusia sejati, kita memiliki daya intelektual utama: imajinasi, daya pemahaman, dan akal. Ki Hajar Dewantara menyebut dengan istilah daya cipta, daya rasa, dan daya karsa. Semua daya kekuatan itu adalah bentukan dari string-string cinta, secara langsung atau tidak.

3.1 Daya imajinasi, daya citra, adalah kemampuan manusia untuk menciptakan citra dalam pikirannya. Citra inilah yang kita lihat, dalam kasus penglihatan. Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka cahaya-cahaya dari pohon mengenai mata kita. Kemudian, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran kita, yang bisa kita lihat.

Imajinasi juga bisa menciptakan citra tanpa melihat obyek pohon. Imajinasi bisa saja menciptakan citra dengan mengacu memori atau daya kreativitasnya.

3.2 Daya pemahaman, faham, adalah kemampuan manusia memahami suatu konsep. Ketika, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran, imajinasi tidak paham bahwa itu pohon. Imajinasi hanya menciptakan citra. Kemudian tugas daya-pemahaman untuk memahami bahwa citra itu adalah pohon. Daya-pemahaman pula yang memutuskan sesuatu sebagai benar atau salah berdasar konsep pemahaman.

Imajinasi menciptakan citra berdasarkan pengalaman data-data indera dan kombinasi-kombinasi darinya. Sementara, daya-pemahaman mampu menciptakan konsep-konsep melampaui pengalaman indera. Misal, imajinasi dapat menciptakan citra-citra gambar kreatif sejauh dalam ruang dimensi 3. Tetapi, daya pemahaman bisa menciptakan konsep gambar dalam ruang dimensi 5. Tak bisa dibayangkan oleh imajinasi, bisa dibuatkan konsep oleh daya-faham.

Dalam fisika quantum, misalnya, ada konsep multiverse yang menyatakan bahwa ada banyak alam paralel. Ada Indonesia di alam kita, di sini. Dan, ada Indonesia di alam paralel yang lain. Ada Anda di alam ini, dan ada Anda versi lain di alam paralel yang lain. Daya-faham bisa memahami konsep multiverse. Tapi, imajinasi kita tidak bisa membayangkannya. Jika ada alam paralel lain, kata imajinasi, pasti alam paralel itu ada di ruang sekitar sini juga, hanya saja, bisa jauh atau dekat.

Daya-faham mampu memahami konsep lebih luas dari imajinasi. Sementara, imajinasi bisa menggambarkan citra lebih jelas dari daya-faham. Imajinasi bekerja sama dengan daya-faham dalam diri manusia.

3.3 Daya-nalar, akal, adalah kemampuan kita menciptakan idea-idea baru. Akal mengolah citra dari imajinasi dan konsep dari daya-faham untuk kemudian menghasilkan gagasan-gagasan segar. Apa yang tak terbayangkan oleh imajinasi, dan apa yang tak terpikirkan oleh daya-faham, bisa menjadi ide segar bagi akal.

Akal bisa meng-akali setiap kesulitan untuk kemudian menemukan inovasi baru. Akal, juga, bisa meng-akali pihak lain sampai rugi, demi kepentingan pribadi. Akal memang banyak akal. Akal adalah daya aktif manusia yang bernilai tinggi. Manusia wajib menjaga akalnya demi kebaikan bersama.

Uniknya dari akal adalah kemampuannya bernalar secara asosiasi bebas. Akal mampu membaca suatu obyek sebagai simbol untuk kemudian menciptakan idea segar dari obyek, yang tidak nyambung dengan obyek itu sendiri. Misal, ketika saya melihat anak kecil senang bermain dengan kubus-kubus kecil maka akal saya memunculkan idea bagaimana menciptakan media permainan untuk belajar matematika. Dan, kemudian, akal bekerja sama dengan daya-faham menciptakan konsep, meminta bantuan imajinasi untuk membuat gambaran jelas maka terwujudlah game “dadu milenium.” Sebuah game matematika yang memudahkan anak-anak belajar matematika. Asyik…!

Ketika melihat kebun teh hijau membentang, akal memunculkan ide bahwa itu adalah simbol dari kebahagiaan manusia. Manusia bahagia dengan pemandangan yang begitu sejuk. Kebun teh dan bahagia, sejatinya tidak ada hubungan pasti. Akal kita menciptakan hubungan itu, menghubungkan sesuatu yang, tampaknya, tidak ada hubungan.

Ketiga daya di atas (imajinasi, daya-faham, dan akal) adalah daya aktif. Kombinasi dari string cinta memungkinkan terbentuknya daya-daya lain yang unik. Termasuk di antaranya daya pasif yaitu daya-data, daya-hasrat, dan daya-rasa.

Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka mata mengirimkan sinyal-sinyal cahaya ke mata, dan sistem syaraf. Kemudian, secara reflek, daya-data akan memunculkan intuisi pohon masih samar-samar berdasar data yang diterimanya. Selanjutnya, daya-aktif mengambil alih tugas. Imajinasi menciptakan citra yang lebih jelas dari intuisi pohon dan daya-faham menerapkan konsep-konsep sampai bisa memutuskan bahwa citra dari obyek itu adalah pohon.

Di saat daya-data menerima sinyal dari pohon, daya-hasrat secara intuitif (reflek) memberi respon awal apakah berminat atau tidak terhadap pohon tersebut. Selanjutnya, daya-aktif mengolah sinyal minat itu. Dari imajinasi dan daya-faham, kita sudah tahu bahwa obyek tersebut adalah pohon. Akal, kemudian, mengembangkan idea: perlu direspon bagaimanakah pohon itu? Barangkali, respon akal adalah: biarkan saja pohon seperti itu, apa adanya.

Jika obyek pohon kita ganti dengan makanan-lezat, apa respon akal? Apakah makanan-lezat itu dibiarkan saja? Atau disantap lebih nikmat? Atau jika obyek itu adalah gadis cantik, maka apa respon akal? Untuk menjawabnya, kita perlu membahas daya-rasa.

3.4 Daya-rasa, merasakan berbagai macam realitas. Daya-rasa mempunyai karakter pasif dan aktif. Daya-rasa pasif bersifat refleks intuitif, secara langsung, meneruskan sinyal yang diterimanya kepada subyek, kepada kita. Sedangkan, daya-rasa aktif menjadi sangat penting bagi kita. Daya-rasa aktif bisa memberikan rasa yang lebih kuat kepada kita.

Obyek di depan kita, misalkan, makanan lezat. Daya-rasa pasif menerima sinyal makanan-lezat, secara langsung, meneruskan ke daya-aktif. Imajinasi dan daya-faham dengan cepat memastikan bahwa obyek itu adalah makanan-lezat. Dilihat dari tampilan dan aromanya, makanan itu tampaknya benar-benar lezat. Tugas akal, pada akhirnya, harus memutuskan sikap selanjutnya, apakah makanan perlu disantap?

Akal berulang kali berkomunikasi dengan imajinasi dan daya-faham untuk mengambil keputusan. Imajinasi memunculkan citra diri bahwa kita pada kondisi sedang lapar atau kenyang. Daya-faham memastikan sekarang adalah waktu makan yang tepat atau tidak. Dan seterusnya. Akhirnya, akal memutuskan: makan saja itu makanan lezat, misalnya.

Yang menarik, di sini, daya-rasa aktif sebenarnya tidak ada. Akal, bukan daya-rasa, yang memutuskan makan saja. Sementara, daya-rasa pasif memang ada secara mandiri. Daya-rasa pasif ini dibentuk oleh string-string cinta dalam jumlah tertentu. Sedangkan, daya-rasa aktif dibentuk oleh interaksi harmonis imajinasi, daya-faham, dan akal. Meski pun mereka (imajinasi, faham, dan akal) dibentuk oleh string-string cinta, daya-rasa aktif tidak demikian. Akibatnya, daya-rasa aktif memang besifat estetik, bukan logika linear. Interaksi harmonis berbagai macam daya-aktif menghasilkan rasa estetik.

4. Bukti Kebenaran

Sampai di sini, kita bisa menyusun bukti kebenaran dan bukti realitas. Masalah muncul ketika seseorang salah memberi bukti, atau salah menuntut bukti, karena tidak sesuai dengan daya manusia. Kita perlu menyesuaikan bukti dengan daya manusia. Imajinasi, misalnya, menuntut bukti obyektif atau subyektif. Bukti rasional tidak diperlukan di sini. Pernyataan matematika perlu bukti rasional berdasar sistem matematika yang disepakati. Imajinasi tidak diperlukan di sini – meski bisa membantu pemahaman.

4.1 Bukti Imajinasi

Daya-imajinasi menerima umpan dari intuisi-indera untuk kemudian diperkuat menghasilkan citra yang lebih jelas. Daya-imajinasi juga bisa memproduksi citra secara mandiri tanpa umpan dari indera, dengan memanfaatkan memori, akal, dan lainnya.

4.1.1 Imajinasi Obyektif

Ketika Anda melihat meja di depan Anda maka muncul citra meja dalam pikiran. Citra ini adalah hasil imajinasi Anda. Bagaimana cara membuktikan memang ada meja sesuai dengan citra imajinasi Anda? Kita bisa membuktikannya secara empiris-obyektif.

Kita bisa memperhatikan meja berulang kali, menyentuh, bahkan menimbangnya. Setelah hasil pengamatan ini konsisten beberapa kali maka kita berhasil memberikan bukti obyektif terhadap imajinasi kita. Alternatifnya bisa dengan mengundang orang lain untuk mengamati meja tersebut. Bila ada beberapa orang melihat meja yang sama, sambil diskusi sesama pengamat, maka kita berhasil membuktikan secara obyektif-empiris meja yang dimaksud. Sains dan teknologi mempunyai beragam metode untuk bukti obyektif-empiris semacam ini.

Tentu saja, ada kemungkinan kita salah menilai imajinasi. Kita melihat bola voli di depan kita. Setelah kita amati lebih dekat, ternyata, itu bukan bola voli tetapi bola sepak. Bisa juga, orang dengan mata rabun melihat kambing di depannya, ternyata, adalah anjing. Meski kesalahan menilai ini berhubungan dengan imajinasi, sebenarnya, bukan kesalahan imajinasi. Di bagian bawah, kita akan membahas bahwa kesalahan penilaian ini adalah kesalahan daya-faham atau salah paham.

4.1.2 Imajinasi Subyektif

Kita bisa membuat citra imajinasi tanpa berhubungan langsung dengan obyek luar. Ketika melamun, atau bermimpi, kita menciptakan citra tanpa berhubungan langsung dengan obyek luar. Bagaimana cara membuktikan imajinasi subyektif?

Bisa dengan beragam cara – dan umumnya tidak ada masalah dengan cara-cara ini.

“Bayangkan foto presiden Soekarno dengan mengenakan peci di kepalanya. Apa warna peci beliau?”
“Warna hitam.”

Tepat. Anda sudah menciptakan citra presiden Soekarno di imajinasi Anda. Dalam kasus imajinasi-subyektif ini, bisa saja seseorang berbohong. Dia mengatakan membayangkan presiden Soekarno, ternyata tidak. Kita juga bisa membuat citra dengan cara yang lebih kreatif, bebas. Bayangkan seorang pejabat mengenakan peci warna-warni pelangi. Tentu saja, saat ini tidak ada peci warna-warni pelangi tapi kita bisa membuat citranya.

4.1.3 Imajinasi-Intuitif

Imajinasi-intuitif terjadi seketika, refleks. Anda tidak sengaja menginjak duri. Terbentuk imajinasi-intuitif rasa sakit. Bisa juga, tiba-tiba Anda terkenang wajah orang yang Anda cintai, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Muncul imajinasi-intuitif berupa rasa rindu teriring citra wajahnya.

Bukti imajinasi-intuitif, umumnya, tidak masalah. Karena, kita cenderung menerima pengakuan dari orang yang mengatakannya.

August Kekule (1829 – 1896) waktu itu sedang melakukan penelitian ilmiah struktur kimia. Sampai larut malam, sudah berhari-hari, Kekule tidak menemukan kemajuan. Semua rumusan kimia yang ada tidak berhasil menjelaskan hasil risetnya.

Dalam kondisi mengantuk, atau tertidur, Kekule melihat ada beberapa ular yang melata. Di antara ular-ular itu, ada yang menarik perhatian Kekule, ada ular yang menggigit ekornya sendiri. Dengan menggigit ekornya sendiri maka tubuhnya membentuk lingkaran.

Kekule terjaga, merasa aneh dengan ular yang menggigit ekornya sendiri. Muncul dalam imajinasinya, bagaimana jika struktur molekul membentuk lingkaran? Struktur molekul melingkar ini, pada masanya, menjadi inovasi ilmiah terbesar dalam bidang kimia.

Dari beragam imajinasi di atas, kita bisa membentuk imajinasi kompleks – obyektif, subyektif, dan intuitif. Anda bisa bereksperimen. Menjelang tidur putarlah lagu kesayangan Anda. Kemudian, ketika Anda tidur, bermimpi menonton konser musik yang memainkan lagu kesayangan Anda tersebut. Mimpi tersebut adalah imajinasi kompleks. Obyektif karena Anda mendengarkan lagu. Subyektif karena Anda menciptakan sendiri berbagai citra dalam mimpi. Dan, intuitif karena merespon lagu secara refleks.

4.2 Bukti Pemahaman Konsep

Bukti pemahaman-konsep atau konsep-pemahaman adalah bukti yang paling penting dalam dunia sains dan kehidupan sosial. Sementara, bukti imajinasi bisa kita pandang sebagai ilustrasi dan penguat bagi pemahaman konsep.

4.2.1 Bukti Konsep Aposteriori

Bukti aposteriori adalah bukti yang bisa diuji setelah pengamatan tertentu. “Paman APIQ tinggal di Bandung” adalah pernyataan yang bisa dibuktikan secara aposteriori. Caranya mudah: kunjungi Bandung dan temukan tempat tinggal paman APIQ. Jika berhasil maka pernyataan di atas bernilai benar “setelah” dilakukan verifikasi.

Pernyataan sains, sebagian besar, adalah pemahaman konsep aposteriori. Seperti kita lihat di atas, aposteriori bisa saja positif mengkonfirmasi, tetapi bisa juga, ternyata negatif, atau menolak. Setelah diverifikasi, misalnya ternyata, Paman APIQ tidak tinggal di Bandung sehingga pernyataan ditolak.

Sains dan teknologi modern berkembang pesat dengan mengembangkan pengetahuan aposteriori.

Tetapi, sejatinya, masih ada masalah filosofis di sini. “Paman APIQ tinggal di Bandung.” Orang masih bisa beda pendapat definisi “Paman APIQ.” Begitu juga pengertian “tinggal di Bandung.” Apakah maksudnya kota Bandung? Atau Bandung Barat? Sebagian Bandung atau seluruh Bandung?

Perbedaan pendapat di atas, secara filosofis, bisa saja tidak ada titik temu sehingga dissensus. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mencapai konsensus. Apakah kebenaran empiris aposteriori itu, pada analisis akhir, berlandaskan konsensus?

Mari kita cermati dengan contoh yang lebih nyata, “Tinggi meja ini 135 cm.”

Kita, dengan mudah, bisa mengukur tinggi meja itu beberapa kali dan terbukti benar bahwa tingginya 135 cm. Bukti kebenaran empiris berupa fakta yang nyata. Hasil pengukuran aposteriori bisa diterima.

4.2.1.1 Bukti Sains Vs Konsensus

Sains teknologi terbukti benar secara empiris, efisien, dan menguntungkan. Lagi-lagi, kebenaran sains tidak sekuat yang diklaim banyak orang. Kebenaran sains, pada analisis akhir, harus mempertimbangkan konsensus. Sehingga, sains yang selama ini kita anggap sebagai fakta ilmiah perlu kita tinjau kembali. Kita, perlu, berpikir-terbuka.

Tinggi meja 135 cm kita peroleh dari beberapa pengukuran: 135,1; 135,0; dan 134,9. Maka rata-rata tinggi meja = 135 cm.

Berapa tinggi meja sebenarnya, yang bukan rata-rata? Tidak ada hasil pengukuran akurat mutlak. Setiap pengukuran menyertakan suatu margin error – suatu ketidakpastian. Hasil pengukuran sains memberikan hasil estimasi yang bisa diterima oleh komunitas sains. Bukankah itu suatu konsensus di antara para ilmuwan? Dan, jika ada konsensus di komunitas ilmuwan, bukankah pasti sudah mempertimbangkan banyak hal? Sehingga, konsensus pasti bernilai ilmiah?

4.2.1.2 Falsifikasi vs Konsensus

Falsifikasi adalah “metode ilmiah” untuk menguji suatu pernyataan ilmiah dengan menemukan titik kesalahannya.

“Semua angsa berwarna putih.” Hasil dari pengamatan ratusan sampai ribuan angsa menunjukkan bahwa setiap angsa, memang, berwarna putih.

Falsifikasi akan menguji, “Apakah ada angsa yang tidak berwarna putih?” Jika setiap pengamatan menunjukkan bahwa setiap angsa berwarna putih maka pernyataan bisa diterima sebagai benar – sampai saat itu.

Kesimpulan bisa berubah bila ada hasil pengamatan lain.

Ilmuwan A mengamati ada angsa berwarna hitam. Maka pernyataan semua angsa berwarna putih “tidak lolos” di-falsifikasi. Pernyataan tersebut tidak valid sehingga perlu revisi.

Secara filosofis, falsifikasi, tetap perlu mempertimbangkan konsensus. Ketika ilmuwan A mengamati ada angsa berwarna hitam, maka, apakah itu suatu fakta? Kita bisa meminta 5 ilmuwan lain untuk menguji apakah angsa yang diamati A benar-benar hitam. Mereka, misalnya, sepakat warnanya hitam.

Apakah ada jaminan ilmuwan ke-6 akan sepakat bahwa angsa itu berwarna hitam? Tidak ada jaminan. Bisa jadi, ilmuwan ke-6 menyatakan bahwa angsa yang dimaksud adalah berwarna putih. Sehingga, hasil pengamatan ilmuwan A “tidak lolos” di-falsifikasi oleh ilmuwan ke-6.

Lagi-lagi, para ilmuwan perlu mempertimbangkan konsensus di antara komunitas mereka. Konsensus bukanlah suatu aib. Justru, konsensus adalah keunggulan umat manusia.

4.2.1.3 Bukti Konsensus

Meski beberapa orang tidak nyaman bahwa konsensus berperan penting dalam kebenaran sains empiris, sejatinya, konsensus justru menunjukkan kemajuan peradaban manusia. Masyarakat yang berhasil menyepakati konsensus, dan menghormatinya, menjadi masyarakat yang beradab.

Demikian juga, komunitas saintis yang berhasil menghormati konsensus mampu mendorong kemajuan sains teknologi dengan dinamis.

Apakah ada kebenaran ilmiah yang bersifat pasti dan universal? Konsep matematika dan teknologi akan mampu menjawab dengan afirmatif.

4.2.2 Bukti Konsep Apriori Rasionalis

Konsep apriori terbukti benar secara pasti dan universal. Pernyataan matematika, misal 12 + 1 = 13, adalah konsep apriori yang bernilai benar secara pasti dan universal.

Kita bisa mengambil contoh 12 jeruk ditambah 1 jeruk maka akan menghasilkan 13 jeruk. Contoh jeruk tersebut adalah sekedar contoh belaka. Bukan karena contoh maka matematika menjadi benar. Tetapi karena matematika terbukti benar maka contoh jeruk itu bisa menjadi ilustrasi. Displin matematika mengembangkan beragam cara yang canggih untuk membuktikan kebenaran beragam pernyataan matematika dengan pendekatan rasionalis.

Mengapa pernyataan matematika bisa benar secara universal, bahkan apriori? Tanpa pengujian empiris matematika selalu benar – apriori. Di setiap ruang dan waktu bernilai benar – universal.

Matematika bernilai benar secara apriori karena konsep matematika adalah ideal. Jika ada obyek tidak ideal maka obyeknya ditolak. Sementara, konsep matematika tetap diterima secara apriori.

12 + 1 tidak = 13 terjadi pada bilangan jam dinding. Pada jam dinding terjadi 12 + 1 = 1 karena tidak ada angka 13.

Dalam kasus jam dinding, obyek jam dindingnya yang ditolak. Sementara, 12 + 1 = 13 tetap benar karena yang dimaksud adalah bilangan asli seperti umumnya kita pahami. Dengan cara ini, memilih yang ideal, konsep matematika akan selalu benar.

Bukankah itu merupakan suatu konsensus? Sehingga, kebenaran matematika yang universal itu, pada analisis akhir, mengandalkan konsensus?

Meski, barangkali, kita bisa menganggap matematika mengandalkan konsensus, istilah yang lebih tepat adalah aksioma. Pernyataan 12 + 1 = 13 selalu benar dalam sistem aksiomatik bilangan asli. Dan, pernyataan 12 + 1 = 1 selalu benar dalam sistem aksiomatik bilangan jam dinding. Kita perlu memahami konsep sistem aksiomatik yang dimaksud, bukan, kita diharapkan sepakat dengan suatu konsensus.

Dengan demikian, kita secara sah dapat mengatakan bahwa konsep matematika bernilai benar secara apriori.

Dengan keunggulan matematika yang apriori itu maka, wajar, sains menggabungkan pendekatan empiris dan matematis. Sehingga, sains memiliki aspek apriori dan aposteriori.

4.2.3 Bukti Enframing Engineering

Bukti kebenaran makin berkembang dengan bukti enframing engineering. Jika matematika mengembangkan sistem aksiomatik maka teknologi, lebih maju, dengan sistem enframing.

Produsen memproduksi batere mobil listrik yang mampu menempuh jarak 500 km. Janji produsen itu akan terbukti benar dengan enframing. Semua batere, terbukti, benar-benar mampu menempuh jarak 500 km – bahkan bisa lebih. Jika ditemukan batere yang tidak mampu menempuh jarak 500 km maka batere tersebut dianggap cacat. Batere tersebut dicoret dari sistem. Begitulah cara kerja enframing, agar terbukti benar.

Bukti kebenaran enframing akan ditentukan oleh penjamin – produsen batere dalam contoh ini. Ketika produsen berhasil konsisten memproduksi batere dengan daya tempuh lebih dari 500 km maka pernyataan tersebut terbukti benar. Bila ada batere yang cacat, segera diganti dengan batere yang baru, maka kebenaran enframing makin kuat. Dalam dunia engineering, kebenaran enframing bisa menjadi yang paling penting.

Layanan yotube bisa diakses di Indonesia. Jika suatu saat, layanan youtube, tidak bisa diakses di Indonesia maka para ahli, dan teknisi, dari youtube akan memperbaikinya. Sedemikian hingga, youtube benar-benar bisa diakses di Indonesia. Era digital bertabur realitas dengan bukti kebenaran enframing.

Dalam politik sering kita mendengar: kami butuh bukti bukan janji. Politikus bisa memberi bukti dengan memenuhi janji-janjinya selama kampanye. Dengan demikian, politikus dan pejabat, termasuk yang perlu mahir dalam memberikan bukti enframing.

Tetapi, apakah bukti enframing bisa dipertanggungjawabkan? Bukankah enframing adalah sejenis rekayasa? Sejenis manajemen? Atau sejenis manipulasi?

Catatan: Bukti pemahaman konsep, apriori mau pun aposteriori, adalah sejenis bukti yang paling mudah untuk ditunjukkan. Bukti pemahaman konsep ini bisa kita sebut sebagai bukti obyektif. Meski, dalam analisis akhir, bukti pemahaman konsep melibatkan suatu jenis konsensus, hal tersebut, tetap bisa kita anggap sebagai bukti ilmiah. Bahkan, konsensus adalah tanda kemajuan peradaban manusia.

4.3 Bukti Idea Akal

Karakter dari akal adalah kreatif. Akal tertarik untuk berpikir spekulatif memperluas konsep-konsep, bahkan, menciptakan konsep-konsep baru. Akal, dengan kemampuannya yang kreatif, mengembangkan beragam idea-idea orisinal. Ide-ide ini, barangkali, tidak pernah ada. Imajinasi kadang tidak mampu menggambarkan ide dari akal. Begitu juga, daya-faham, kadang tidak mampu memahami ide dari akal. Akal membebaskan pemikiran.

Akal mampu berpikir secara simbolis, perlambang. Ide-ide simbolis ini bisa menembus batas-batas konsep. Sehingga, bukti dari suatu ide tidak bisa dibatasi dengan konsep. Di sini, kita akan menunjukkan bukti dari ide melalui: contoh, ilustrasi, dan realisasi.

4.3.1 Bukti Contoh

“Kebun teh nan hijau adalah sumber kedamaian.”

Pernyataan di atas adalah idea, di mana, akal membaca kebun teh sebagai sumber kedamaian. Bagaimana cara membuktikannya? Kita bisa membuktikannya dengan contoh. Mari kita jalan-jalan santai di kebun teh. Kemudian, rasakan kedamaian dalam diri kita.

“Setiap kebaikan berbalas kebaikan.”

“Kebaikan” adalah idea. “Berbalas” juga idea. Maka kita bisa memberi bukti dengan contoh misal ketika suatu hari saya berbuat baik menolong anak yatim, 3 hari kemudian, saya mendapat kebaikan berupa mendapat rejeki dalam jumlah sangat besar.

Kita bisa saja mendefinisikan “kebaikan” dengan beragam konsep. Dengan cara ini, kita mengubah “idea” menjadi “konsep”. Sehingga, kita bisa membuktikan konsep tersebut dengan cara obyektif. Meski begitu, definisi “kebaikan” akan terbuka dengan definisi yang berbeda. Sebagai akibatnya, terbuka pembuktian yang berbeda pula.

4.3.2 Bukti Ilustrasi

Kadang-kadang idea benar-benar abstrak. Sehingga, tidak mudah bagi kita untuk memberi contoh. Maka, kita bisa memberi bukti berupa ilustrasi.

Saya punya idea “menjadikan seluruh seluruh siswa SD Indonesia jago matematika.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika kelas 1 SD, siswa belajar matematika dengan metode APIQ misal dengan game kartu milenium. Kemudian, siswa belajar perkalian cepat metode Bintang APIQ. Dengan demikian, siswa kelas 3 SD berhasil menjadi jago matematika.

Tentu saja, “jago matematika” adalah sebuah ide. Kita bisa mengubah ide “jago matematika” menjadi suatu konsep dengan definisi yang lebih terukur. Dengan cara ini, kita bisa memberi bukti konsep “jago matematika” dengan obyektif. Bagaimana pun bukti terhadap konsep beda dengan bukti terhadap idea.

“Setiap orang punya kehendak bebas.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika Anda akan makan, maka, bebas bagi Anda hendak makan atau tidak. Begitu juga ketika Anda membaca tulisan ini, maka, bebas bagi Anda hendak lanjut membaca atau tidak. Anda, dan setiap orang, punya kehendak bebas. Setiap orang bebas berkehendak.

Tetapi, idea sebaliknya bisa juga terjadi.

“Kehendak bebas adalah ilusi.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika Anda akan makan, kemudian, Anda benar-benar makan. Anda mengira bahwa itu kehendak bebas – dengan memilih makan. Sejatinya, itu ilusi. Anda memilih makan karena Anda sedang lapar. Kehendak Anda ditentukan oleh rasa lapar – tidak bebas. Jadi, kehendak bebas adalah ilusi belaka.

Kesimpulannya, kehendak bebas memang nyata atau ilusi?

Untuk bisa menarik kesimpulan seperti itu, kita perlu mengubah idea “kehendak bebas” menjadi konsep “kehendak bebas.” Kemudian, konsep ini bisa kita ukur dan kita tentukan kesimpulan akhirnya. Bagaimana pun, kesimpulan tersebut adalah tentang konsep “kehendak bebas” – bukan idea “kehendak bebas.”

Sikap apa yang perlu kita lakukan ketika menghadapi idea yang saling kontradiksi? Kita perlu bersikap dengan berpikiran-terbuka. Ijinkan idea itu berkembang apa adanya. Ijinkan idea itu membuka diri di depan akal Anda. Kemudian, akal Anda akan memberikan idea-idea lanjutan. Bisakah kehendak bebas benar-benar nyata dari suatu sudut pandang? Sementara, dari sudut pandang lain, adalah ilusi?

4.3.3 Bukti Realisasi

Pertimbangkan idea, “Berdoa menjadikan hidup lebih damai.”

Apa buktinya? Kita bisa membuktikannya dengan realisasi. Mari kita coba untuk berdoa. Kemudian, coba kita rasakan, hidup memang lebih damai. Jika hidup masih terasa hambar, belum merasa damai, maka tambahkan lebih banyak doa sampai terasa hidup lebih damai.

Catatan: Bukti idea beda dengan bukti konsep. Kita perlu cermat di sini. Tertukar menyikapi idea dengan konsep akan menyebabkan kebingungan. Konsep bisa dibuktikan secara empiris dan matematis. Bagaimana pun bukti ini tetap mempertimbangkan konsensus dan definisi – sehingga tidak universal. Sementara, idea bisa dibuktikan dengan beragam cara, dengan sikap berpikiran-terbuka terhadap kebenaran yang ada. Pilih dan dukung idea yang mengantarkan ke kondisi adil dan apik.

Bisakah segala realitas dibuatkan konsepnya sehingga bisa dibuktikan secara obyektif? Bisakah semua realitas dibuatkan ideanya sehingga kita bebas berpikir-terbuka? Kita, manusia, memang memiliki daya-faham yang bertugas memahami konsep. Dan, kita juga punya akal yang mendorong munculnya idea-idea. Tentu saja, kita juga punya daya imajinasi yang menjadi dasar semua itu.

4.4 Bukti Rasa

Daya-rasa memegang peran sangat penting dalam diri manusia. Beda dengan daya-daya yang lain, daya-rasa setiap orang, pasti berkembang sampai tahap kematangan tertentu. Untuk memahami konsep, daya-faham perlu belajar kemampuan khusus. Untuk menghasilkan idea-idea kreatif, akal perlu belajar kemampuan khusus. Sementara, untuk merasakan sesuatu, daya-rasa mampu merasakannya secara langsung – tanpa harus belajar dulu.

Kita sering menyebut pusat daya-rasa adalah hati secara metaforis. Sehingga benar adanya ungkapan, “Lihatlah dengan mata hati!” Atau, “Dengarkan baik-baik, suara hatimu!”

Perlu hati-hati karena daya-rasa yang berpusat di hati, sejatinya, tidak ada. Daya-rasa ini merupakan interaksi harmonis dari semua daya-daya lain terutama imajinasi, daya-faham, dan akal. Sehingga, daya-rasa mudah berbalik arah dari satu rasa ke bentuk rasa yang berbeda. Dalam bidang-bidang tertentu, daya-rasa bisa dilatih misal daya rasa terhadap sastra.

4.4.1 Bukti Konsensus

Bukti kebenaran daya-rasa, yang paling mudah, adalah dengan konsensus. “Udara di bandung terasa sejuk.” Untuk membuktikan “terasa sejuk” kita bisa melakukan survey ke beberapa orang di Bandung. Menanyakan apakah mereka merasa sejuk di Bandung, terutama di Lembang?

Barangkali, akan tercapai konsensus bahwa di Bandung memang sejuk – dari hasil survey itu. Ada kemungkinan juga bahwa tidak terjadi konsensus. Tidak ada masalah bila terjadi dissensus. Kita bisa maklum terhadap perbedaan itu.

4.4.2 Bukti Eksperimen

Dalam banyak hal, kita bisa melakukan eksperimen untuk mengumpulkan bukti daya-rasa. “Kopi racikan saya ini rasanya nikmat.” Bagaimana membuktikannya? Kita bisa melakukan eksperimen.

Kita meminta beberapa orang untuk mencicipi kopi racikan saya. Lalu kita minta pendapat mereka, apakah nikmat? Lagi, hasil eksperimen ini bisa mencapai konsensus dari banyak responden atau tidak tercapainya konsensus. Kita bisa memaklumi kondisi itu.

4.4.3 Bukti Sublim

Bukti daya-rasa sublim, indah, dan cantik berlaku universal. Beda dengan konsensus, sublim meski melibatkan peran penting subyek, hasil penilaiannya bersifat obyektif.

“Pemandangan gunung ini begitu indah.” Penilaian daya-rasa ini berlaku universal. Siapa saja yang memandang gunung itu maka akan merasakan keindahannya.

“Wajah Miss Universe itu cantik sekali.” “Deburan ombak laut bebas terasa agung, sublim.” Setiap orang yang memandang wajah Miss Universe akan merasakan kecantikannya. Setiap orang yang memandang deburan ombak akan merasakan keagungannya.

Catatan: Apa artinya bukti daya-rasa bila terjadi banyak hasil penilaian berbeda-beda? Bukti ini sangat berarti. Daya-rasa, memang, punya kemampuan toleran terhadap perbedaan hasil penilaian.

Apakah bisa dibuat konsep rasa sehingga bisa diukur secara obyektif? Kita bisa membuat konsep rasa sejuk, misalnya, adalah suhu di bawah 20 derajat celcius. Ketika kita mengukur suhu di Bandung, hasilnya di bawah 20 derajat, maka Bandung adalah sejuk. Bagaimana pun, yang diukur di bawah 20 derajat itu adalah konsep rasa sejuk. Bukan rasa sejuk itu sendiri.

Sampai di sini, kita mengenal bukti yang beragam oleh daya yang berbeda pada manusia. Pertama, konsep pemahaman bisa dibuktikan secara empiris matematis. Kedua, idea dari akal bisa dibuktikan dengan kreativitasnya menembus batas. Dan, ketiga, rasa dari dalam hati bisa dibuktikan dengan langsung mengalami.

5. Bukti Diri

Dari semua bukti, barangkali, kita bisa mengatakan bahwa bukti diri adalah yang paling utama. Bukan karena bukti diri merupakan bukti yang paling kuat, tetapi, karena semua bukti membutuhkan bukti diri dalam satu atau lain cara.

5.1 Bukti Obyektif Positivis

Pandangan positivisme meyakini adanya kebenaran obyektif yang terbebas dari subyek. Seperti sudah kita bahas bahwa konsep pemahaman bisa dibuktikan obyektif secara empiris matematis. Meski demikian, bukti obyektif ini tetap memerlukan peran diri kita sebagai manusia.

Mari kita perhatikan salah satu hukum Newton (1643 – 1727), yang terbukti obyektif,

“Benda yang yang begerak dengan kecepatan tetap akan bergerak dengan kecepatan tetap bila tidak ada gaya yang mengenainya.”

Mengapa hukum Newton terbukti benar? Karena saya, atau siapa pun yang mempelajari hukum Newton, menyepakati definisi benda, gerak, kecepatan, dan lain-lain. Dari konsensus tersebut berimplikasi hukum Newton benar secara obyektif.

Jika ada orang yang tidak sepakat dengan definisi “kecepatan,” misalnya, maka hukum Newton tidak bisa dibuktikan secara obyektif empiris. Bagaimana kita tahu suatu benda gerak dengan kecepatan tetap? Jika ruang ini tidak selurus yang dikira, misal melengkung karena massa, kecepatan yang dikira tetap itu sejatinya sudah berubah (arah vektornya). Dengan demikian, barangkali, tidak pernah ada kecepatan tetap?

Menurut saya, sebaiknya, kita menyepakati definisi-definisi Newton. Sehingga, kita berhasil membuktikan kebenaran hukum Newton dengan obyektif. Jika ada yang tidak sepakat, misal karena menganggap ruang melengkung akibat massa, maka bisa mengajukan revisi atau hukum alam yang baru. Einstein (1879 – 1955) berhasil melakukan revisi hukum Newton dengan teori Relativitas Umum, dengan asumsi bahwa ruang melengkung akibat massa.

Kita meyakini konsep sains tentang hukum alam adalah obyektif. Di saat yang sama, kita mengakui ada peran diri kita, sebagai manusia, untuk menerima sains benar secara obyektif.

5.2 Bukti Subyektif Eksistensialis

Para eksistensialis mengakui peran penting subyek dalam seluruh realitas. Tampaknya, mudah bagi kita untuk meyakinkan bahwa bukti subyektif eksistensialis didasarkan pada peran diri kita sebagai manusia.

Kita, manusia, terlempar pada situasi tertentu di dalam dunia sebagai fakta yang harus kita hadapi. Di saat yang sama, kita bebas untuk memaknai situasi yang ada. Bahkan, kita bebas untuk mengubah setiap situasi. Untuk kemudian, kita berada dalam situasi yang baru lagi. Kita bebas untuk memaknai atau mengubahnya lagi. Dan seterusnya. Begitulah eksistensi kita – dan alam raya.

Bagaimana kita tahu bahwa eksistensi kita memang seperti itu? Eksistensialis menjawab situasi seperti itu sudah hadir begitu saja. Tugas kita, sebagai manusia, adalah memaknai semua eksistensi yang ada dan (atau) mengubahnya menjadi lebih bermakna.

Lalu, mengapa kita harus percaya dengan pandangan para eksistensialis itu? Lagi-lagi, karena diri kita mau menyepakatinya. Jika kita tidak sepakat maka kita bisa mendebat mereka, terus-menerus dengan berbagai macam argumen tanpa henti. Di sisi lain, jika kita sepakat, maka kita bisa memahami berbagai macam konsep dan ide-ide eksistensialis.

Sampai di sini, kita menyadari bahwa bukti subyektif pun memerlukan diri kita sebagai landasan bukti. Bukti obyektif juga sama, memerlukan bukti diri sebagai landasan. Jika diri kita begitu penting, kemudian pertanyaan kritikalnya, siapakah diri kita? Apa buktinya diri kita ada? Bagaimana kita tahu diri kita seperti itu?

5.3 Bukti Cukup Diri

Kali ini, kita sampai kepada pertanyaan paling sulit untuk menjawabnya: apa bukti bahwa diri kita memang ada?

Bukti Cogito. Descartes (1596 – 1650) pernah meragukan segala sesuatu. Sampai pada suatu titik, Descartes, tidak bisa ragu lagi.

“Saya bisa meragukan segalanya. Tetapi, saya tidak bisa meragukan diri saya sendiri. Saya berpikir maka saya ada.”

Argumen ini, akhirnya, dikenal sebagai dalil cogito, “Cogito ergo sum.” Setelah Descartes berhasil membuktikan bahwa dirinya memang ada maka, selanjutnya, Descartes membuktikan eksistensi alam raya (dan Tuhan). Argumen cogito ini, termasuk, yang menjadi landasan perkembangan sains modern di antaranya oleh Newton.

Bukti Cinta. Realitas paling fundamental adalah manifestasi cinta dari Maha Cinta. Diri kita, sejatinya, juga manifestasi dari cinta. Mereka yang tidak punya cinta tersisih dari realitas. Mereka yang jatuh cinta, benar-benar eksis.

“Aku jatuh cinta maka aku ada. Bahkan, hanya cinta yang ada.”

Selama diri kita jatuh cinta maka di situlah kita ada. Cinta kepada wanita, wewangian, dan doa. Wanita adalah simbol cantiknya semesta. Wewangian adalah simbol daya tarik cinta yang penuh dinamika. Dan, doa adalah cinta tanpa batas.

“Apakah Anda sedang jatuh cinta?”

Bukti Tanpa Bukti. Kita memang harus menghadapinya. Kita harus memberikan bukti ketika tidak ada bukti sama sekali. Kita harus membuktikan diri kita sendiri, ketika, setiap bukti membutuhkan eksistensi diri kita. Bagaimana pun, itu adalah tugas kita, sebagai manusia.

Berpikir-terbuka adalah solusi bagi kita. Berpikir-terbuka mengijinkan segala sesuatu membuka diri, menunjukkan diri apa adanya. Berpikir-terbuka membuka diri terhadap segala. Berpikir-terbuka, termasuk, terbuka terhadap diri sendiri, terbuka terhadap Diri tanpa batas.

Berpikir-terbuka meski menggunakan istilah berpikir, bermakna, membuka segalanya. Berpikir-terbuka bermakna membuka daya-imajinasi, membuka daya-faham, membuka daya-akal, membuka daya-rasa, membuka daya-karsa, dan membuka daya-karya.

Berpikir-terbuka siap menerima cinta, siap memberi cinta. Berpikir-terbuka siap berjumpa dengan cinta Sang Maha Cinta.

Bagaimana menurut Anda?

Bukti Nyata Tuhan ADA

Membuktikan bahwa Tuhan ada adalah tugas paling mudah, di saat yang sama, paling sulit. Paling mudah karena bukti Tuhan sudah ada secara apriori, secara fitri, dalam setiap diri manusia. Sehingga, sejatinya, setiap manusia punya keyakinan akan eksistensi Tuhan. Kita, sebagai orang tua misalnya, cukup mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka anak kita akan meyakininya.

Tidak Ada Bukti bahwa Tuhan Ada atau Tidak – danioyo

Pembuktian ini menjadi tugas yang paling sulit juga. Lantaran, semua bukti bukanlah murni bukti rasional. Sehingga, ketika seseorang menolak bukti tersebut secara rasional maka penolakan tersebut mempunyai argumen tersendiri. Sedangkan, bukti argumen rasional tetap bisa membuktikan bahwa Tuhan memang ada, bagi orang yang bersedia membuka akal dan hatinya.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saya tentang bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti-bukti ini meliputi argumen rasional, argumen moral, sampai argumen spesial. Bila kita pelajari dengan cermat dan secara utuh maka bukti-bukti ini bernilai sangat kuat.

Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1 Ada wujud.
2 Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3 Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4 Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5 Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6 Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7 Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti.

Critical Philosophy: Berpikir Kritis Produktif

Immanuel Kant (1720 – 1804) menulis trilogi kritik dengan sukses luar biasa. Saya ingin membuat catatan tentang trilogi kritik itu. Untungnya, Deleuze (1920 – 1995) sudah membuatkan catatan itu untuk kita.

Kant's Critical Philosophy: The Doctrine of the Faculties by Gilles Deleuze

Berpikir kritis tentu berbeda dengan berpikir praktis. Jika dengan berpikir praktis kita berharap mendapat hasil terbaik dari suatu “pemikiran” maka berpikir kritis, justru, kita fokus mencermati batas-batas dari suatu “pemikiran”. Kita menegaskan keterbatasan suatu sistem filsafat dan, di saat yang sama, memastikan cakupannya. Meski filsafat kritis, atau kritik filsafat, tampak seperti melemahkan kekuatan filsafat, sejatinya, kritik filsafat justru mendorong inovasi dan kreativitas.

Dengan sadar sepenuhnya tentang cakupan dan batas-batas dari suatu konsep maka kita dengan sengaja mengembangkan konsep baru yang lebih luas, tajam, dan tepat. Sehingga, Deleuze mendefinisikan filsafat sebagai penciptaan konsep-konsep baru – yang kreatif dan inovatif. Dengan berpikir kritis, kita makin produktif.

Prolog: Realitas Kebenaran Sejati

1 Kritik Akal Murni
1.1 Kebenaran Universal
1.2 Sintesa Dialektik
1.3 Sains, Teknologi, Bisnis, Moral, Agama

2 Kritik Akal Praktis
2.1 Kehendak Bebas
2.2 Manusia Moral
2.3 Tuhan

3 Kritik Daya Nilai
3.1 Cantik Sublim
3.2 Teleologi
3.3 Akhir Semesta

4 Kritik Ekonomi Digital
4.1 Manusia Satu Dimensi
4.2 Ekonomi Serakah
4.3 Manusia Digital

5 Kritik Agama Sekular
5.1 Agama Pencerah
5.2 Sekularisasi
5.3 Dinamika

Tidak Ada Metode

Kritik tidak memiliki metode. Karena, justru metode itu yang hendak kita kritisi. Lalu, bagaimana cara meng-kritisi? Tidak ada cara baku. Tidak ada metode baku apa pun. Bagaimana pun, kita bisa saja belajar dari banyak pengalaman orang terdahulu dalam melakukan kritik. Untuk kemudian kita pakai, dan tentu, kita kritisi juga. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita pertimbangkan.

Dekonstruksi Derrida melihat segala sesuatu dari sisi berbeda. Kita bisa mencoba dekonstruksi untuk menerapkan kritik filsafat. Dekonstruksi mencoba mencermati oposisi biner kemudian memunculkan sisi berbeda. Misalnya, Kant memberi posisi begitu kuat kepada akal manusia (reason). Bagaimana jika tidak begitu? Bagaimana jika akal, ternyata, tidak mempunyai kekuatan? Bagaimana jika makhluk-tidak-berakal mendominasi dunia?

Hermeneutika Gadamer menguatkan pandangan Heidegger bahwa pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi yang terikat pada budaya dan sejarah masing-masing. Karena itu, akan selalu ada interpretasi baru, sesuai budaya, menghasilkan pengetahuan baru. Misalnya, Kant menguatkan pentingnya sintesa pengetahuan dari data-indera dengan konsep apriori pemahaman akal. Bisakah interpretasi sintesa seperti itu diterapkan pada mesin cerdas, semisal artificial intelligent? Jika AI mampu melakukan sintesa seperti itu, atau bahkan mampu ber-interpretasi, apa konsekuensinya?

Konsep Baru Deleuze mendorong kita untuk memunculkan konsep filosofis yang orisinal. Saya amati, Deleuze melahirkan ide baru dengan membalik atau modifikasi terhadap konsep-konsep yang sudah ada. Misalnya, Deleuze membalik keutamaan prinsip-identitas dari Aristoteles, sehingga, menjadi yang paling utama adalah prinsip-different. Deleuze menerima konsep monisme dari Spinoza kemudian memodifikasi dengan membuang substansinya. Deleuze meyakini adanya realitas aktual dan realitas virtual. Bagaimana jika kita modifikasi dengan adanya realitas super-aktual dan realitas super-virtual?

Sekali lagi, tidak ada metode kritik. Contoh-contoh di atas bukanlah metode, sekedar pembanding dan pemicu ide bagi kita untuk melakukan kritik. Karena itu, kita bebas berkreasi!

Kritik Digital

Tidak sulit untuk melakukan kritik kepada Kant (dan Deleuze) yaitu dengan kritik digital. Ketika Kant menulis trilogi kritik, dunia digital belum berkembang sehebat sekarang. Apakah filsafat Kant tetap berlaku di era digital? Apa saja yang perlu dimodifikasi? Apakah pengetahuan apriori yang bernilai universal tetap ada di era digital? Bisa kita duga bahwa akan ada sintesa baru dengan dunia digital.

Kritik Sejarah

Peluang kritik terbuka luas dengan meluaskan perspektif sejarah filsafat. Di jaman Kant, tidak mudah menemukan tulisan-tulisan asli dari sumber pertama. Misal, Kant meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Sementara, beberapa sarjana meragukan, apakah Kant pernah membaca tulisan Berkeley secara langsung? Saat itu, tidak tersedia buku Berkeley dalam bahasa Jerman. Kant sendiri tidak menunjukkan bahwa dirinya fasih dalam bahasa Inggris.

Kita bisa meng-kritik pandangan Kant terhadap Berkeley dengan cara menyandingkan sudut pandang Berkeley yang asli, atau sudut pandang para pendukung Berkeley pasca-Kant.

Lebih jauh, saya tidak menemukan tanda-tanda bahwa Kant merujuk ke pemikir-pemikir Timur. Sehingga, menyandingkan Kant dengan pemikir Timur akan menghasilkan ide-ide yang segar. Misal, Iqbal memandang bahwa Kant berhasil mengantarkan filsafat dari bumi menembus pintu langit. Kemudian, Kant mondar-mandir dari bumi ke pintu langit. Berbeda dengan pemikir Timur, misal Ghazali, yang berhasil menembus pintu langit untuk kemudian mengajak umat manusia tamasya di taman langit.

Saya kira akan menarik bila kita sandingkan secara dialektis Kant dengan Sadra. Kant respek terhadap antinomi, paradox. Sementara, Sadra mengusulkan konsep “tasykik” atau ambiguitas. Realitas itu bersifat ambigu. Di saat yang sama hanya ada satu realitas dan banyak realitas. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia adalah penampakan dari dunia fenomena. Sedangkan, Sadra merumuskan konsep identitas antara yang-mengetahui dan yang-diketahui.

Menarik lagi, menyandingkan Kant dengan Ibn Arabi. Kant menyatakan pentingnya penilaian-estetik untuk kecantikan, sublim, dan teleologis. Sedangkan Ibn Arabi mengembangkan konsep manusia sempurna, insan kamil, yang kemampuan estetikanya berkembang sempurna. Misal, Kant membedakan antara cantik dan sublim. Sementara, bagi Ibn Arabi, kedua hal di atas, cantik dan sublim, adalah sama-sama cantik. Sedangkan sublim sejati, tetap, tersembunyi dari alam raya ini. Cantik adalah cantik-dari-sang-cantik. Dan sublim adalah sublim-dari-sang-cantik. Pertanyaan tentang sublim-dari-sang-sublim, akan selalu, menjadi misteri abadi.

Berbagai macam kritik filsafat ini akan kita bahas bertahap. Semoga berkah!

Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik

Bagian 2 ini hanya terdiri dari 3 bab. Namun, tiap-tiap bab secara lebih mendalam membahas masing-masing tema dengan tajam. Bab “14. Batas-batas” merupakan batas sekaligus penghubung antara epistemologi cinta dengan ontologi cinta. Kita bertanya di manakah batas-batas dari kajian filsafat.

Russell berargumen bahwa batas dari filsafat adalah sains. Maksudnya, ketika sains membahas suatu masalah secara ilmiah maka filsafat berhenti membahasnya. Kajian kita menunjukkan bahwa sains itu sendiri tanpa batas. Setiap kajian sains yang mendalam, misal teori quantum, membutuhkan filsafat. Dengan demikian, pada akhirnya, filsafat jadi tidak punya batas – dengan menyandarkan batas kepada sains.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

14. Batas-Batas
15. Manfaat Filsafat Cinta
16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Selanjutnya, kita mempertimbangkan ide destruksi metafisika dari Heidegger. Sekilas, destruksi ini tampak meruntuhkan bangunan filsafat. Nyatanya, keping-keping reruntuhan filsafat menjadi bertebaran di mana-mana. Masing-masing kepingan itu, sewaktu-waktu, bisa runtuh lagi dan lagi. Sehingga, filsafat makin tidak punya batas. Batas-batas dari filsafat adalah tidak ada batas.

Bab “15. Manfaat Filsafat Cinta” sesuai judulnya membahas manfaat filsafat. Salah satunya, manfaat filsafat, adalah akrab dengan ketidakpastian. Ketika banyak orang mencari kepastian yang makin sulit ditemukan, di sisi berbeda, para pengkaji filsafat justru mencari ketidakpastian. Ketidakpastian adalah yang membuat alam raya menjadi penuh warna. Ketidakpastian – dan ketidakterbatasan – adalah yang membuat hidup dan mati lebih bermakna.

Manfaat filsafat, berikutnya, adalah dengan tidak memberi jawaban. Filsafat menjadi lebih bermanfaat karena memberikan pertanyaan kepada kita – dan tanpa jawaban. Bukan pertanyaan yang biasa-biasa. Pertanyaan filsafat adalah pertanyaan besar – dan biasanya sulit dijawab. Umat manusia menjadi besar, jiwa dan spiritualnya, dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar itu.

Masih di bab yang sama, Manfaat Filsafat Cinta, kita mengkaji secara mendalam ontologi cinta. Kita bisa memandang bahwa semua kajian kita sebelum ini adalah pengantar untuk membahas ontologi cinta. Sehingga, ontologi cinta adalah inti dari buku ini.

Kita meminjam analisis rasional dari Immanuel Kant untuk membahas ontologi cinta. Kemudian, kita melangkah dengan konsep keyakinan dari Kierkegaard. Dan puncaknya, kita membahas cinta suci dari Ibnu Arabi.

Cinta adalah realitas paling fundamental. Akibatnya, kita tidak bisa menjawab pertanyaan apa itu cinta. Karena semua jawaban justru membutuhkan sinar cinta. Meski demikian, kita bisa mengungkapkan cinta, merasakan cinta, memaknai cinta, dan berpartisipasi menjadi sinar cinta.

Bab “16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan” merupakan bab terakhir dari bagian 2 ini. Sesuai judulnya, bab ini membahas pembelokan cinta dari jalur sucinya. Akibatnya, cinta suci berbelok menjadi nafsu hitam yang kejam. Di saat yang sama, cinta mendominasi dunia dengan kekuatannya yang luar biasa: bit-power.

Bagaimana pun, kita optimis bisa kembali meluruskan cinta ke jalan suci. Saya mengusulkan solusinya secara sirkular yaitu pendekatan personal dan pendekatan sosial. Di mana, solusi personal membutuhkan solusi sosial, dan sebaliknya. Sehingga membentuk lingkaran masalah yang, diharapkan, berubah menjadi lingkaran solusi.

Di bab ini juga kita masuk ke ontologi kecantikan. Wajah cantik, yang sejatinya, adalah anugerah bisa berubah menjadi sumber masalah penggugah hasrat serakah. Tidak ada yang salah dengan menjadi cantik. Maka, di bagian ini, kita membahas secara mendalam ontologi cantik. Pembahasan ini mengantar kita kepada pembuktian eksistensi Tuhan yang Maha Cantik.

Cantik adalah manifestasi dari Sang Maha Cinta. Cantik adalah realitas paling nyata. Kita, umat manusia, perlu menjadi cantik. Baik cantik jasmani mau pun cantik ruhani, sampai, cantik dalam hidup dan mati.

Lanjut ke Dinamika Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

Anthrocosmos Ethic & Politic Philosophy

Kita bisa membedakan filsafat menjadi dua: mengutamakan metafisika atau mengutamakan moral. Filsafat Barat, misal Yunani Kuno – Aristoteles, Plato, dan Socrates – tampak lebih mengutamakan metafisika. Sementara filsafat Timur lebih dominan mengutamakan moral semisal Gautama, Konghucu, Empu Gandring, dan para Nabi.

Filsafat Timur vs Filsafat Barat - YouTube

Moral dan metafisika, pada akhirnya, bertemu juga. Timur dan Barat sama-sama alam semesta. Mereka adalah kita juga. Mereka saling berjumpa. Di Barat, filsafat moral menjadi utama. Di Timur, filsafat metafisika menjadi dominan juga.

1. Paradigma Etika Kosmos
1.1 Etika Makrokosmos
1.2 Etika Mikrokosmos
1.3 Etika Antrokosmos

2. Ukuran Moral
2.1 Suara Hati
2.2 Kewajiban
2.3 Manfaat
2.4 Tertawa Mati
2.5 Profit

3. Prioritas Etika
3.1 Kebebasan
3.2 Kebenaran
3.3 Keadilan
3.4 Kemakmuran
3.5 Keagungan

1. Paradigma Etika Kosmos

Kali ini, saya akan mencatat filsafat moral dalam istilah anthrocosmos, macrocosmos, dan microcosmos. Di jaman sekarang yang tengah dihantam pandemi, kita benar-benar membutuhkan filsafat moral atau etik. Di berbagai negara terjadi korupsi dana bantuan untuk korban dampak covid. Sementara, distribusi vaksin di dunia sulit untuk dikatakan adil merata.

1.1 Etika Makrokosmos – Macrocosmos Ethics

Mudah bagi kita untuk melihat bahwa di luar sana ada roti, ada daging, ada anggur, ada uang, ada sapi, dan ada orang lain. Kebiasaan kita melihat ada sesuatu di luar sana adalah hasil bentukan etika makrokosmos. Kita meyakini ada obyek yang obyektif di luar sana.

1.2 Etika Mikrokosmos – Microcosmos Ethics

Etika mikrokosmos mengajarkan ke kita bahwa semua yang ada di luar sana, sejatinya, ada dalam diri kita sendiri. Pisang yang ada di kebun itu, sejatinya, pisang yang ada dalam diri kita. Orang miskin yang ada di pinggir jalan itu, sejatinya, adalah orang miskin yang ada dalam diri kita. Pencuri yang membobol bank itu, sejatinya, pencuri yang ada dalam diri kita. Semua yang terjadi di luar sana, sejatinya, terjadi dalam diri kita sendiri.

1.3 Etika Antrokosmos – Anthrocosmos Ethics

Etika antrokosmos merupakan perpaduan. Sepiring nasi yang ada di luar sana, benar-benar nyata, ada di luar sana. Di saat yang sama, sepiring nasi itu memang ada di dalam diri kita. Seorang pahlawan yang harum namanya itu, benar-benar, ada di luar sana. Di saat yang sama, pahlawan yang harum namanya itu memang ada dalam diri kita. Koruptor yang merusak negeri ini ada di luar sana. Di saat yang sama, koruptor yang merusak negeri ini memang ada dalam diri kita. Mereka ada dalam diri kita. Dan diri kita ada dalam diri mereka.

2. Ukuran Moral

Apa ukuran sesuatu disebut sebagai bermoral atau tidak? Siapa yang berhak menentukan? Bagaimana jika ada perbedaan penilaian?

Berikut ini ringkasan beragam sudut pandang tentang ukuran atau rujukan moral.

2.1 Suara Hati

Para pemikir besar sepanjang jaman tampak memberi porsi besar kepada suara hati untuk menentukan moral. Kita, umat manusia, sejatinya sudah mengetahui suatu tindakan itu bermoral atau tidak. Suara hati kecil kita, dengan jelas, memberi tahu kebenaran moral itu. Sebagian orang mendengarkan suara hati dan mematuhinya. Mereka adalah orang yang bermoral.

Sebagian orang yang lain, justru, menolak suara hati. Mereka menolak suara hati. Atau, mereka membelokkan suara hati dan lebih mengutamakan nafsunya. Mereka adalah orang-orang tidak bermoral.

Bagaimana cara mendengarkan suara hati? Berpikir-terbuka adalah salah satu cara kita untuk mendengarkan suara hati. Buka mata hati, buka telinga hati, dan buka hati diri sendiri. Kemudian, ikuti petunjuk suara hati. Melakukan tindakan moral sesuai suara hati akan membentuk karakter seseorang: menjadi orang baik hati, orang adil, orang bijak, orang dermawan, dan lain-lain.

Karakter orang-orang bermoral, selanjutnya, membisikkan suara hati dengan lebih jernih.

Dari mana sumber suara hati? Ada yang bersumber dari bumi. Ada pula yang bersumber dari langit. Sehingga, kita mengenal ada kearifan manusiawi dan ada pula wahyu ilahi.

2.2 Kewajiban

Ukuran moral adalah kewajiban. Suatu tindakan menjadi bermoral karena tindakan itu wajib untuk kita lakukan.

Orang bermoral wajib memenuhi janji. Orang bermoral wajib menghormati ibunya – dan seluruh umat manusia. Orang bermoral wajib menjaga perdamaian. Orang bermoral wajib berbuat adil.

Bagaiamana kita bisa mengetahui suatu kewajiban? Berpikir-terbuka adalah salah satu caranya. Mengetahui suatu kewajiban, tampak, menuntut pemikiran lebih panjang dari mendengarkan suara hati – yang sering terdengar jelas seketika.

Sesuatu menjadi wajib, sehingga bermoral, jika setiap orang akan menyetujui perilaku itu. Atau, tidak ada orang yang keberatan dengan perilaku itu. Semua orang akan setuju untuk bersikap adil. Sementara, semua orang, yang waras, akan menolak tindakan korupsi. Korupsi adalah tidak bermoral. Sedangkan adil adalah bermoral.

Tentu saja ada, bahkan banyak, tindakan yang ada di antara persetujuan dan penolakan banyak orang. Tugas kita, sebagai manusia, untuk memutuskannya.

2.3 Manfaat

Barangkali, asas manfaat adalah ukuran moral paling jelas. Tindakan yang bermanfaat adalah tindakan yang bermoral. Sementara, tindakan yang tidak bermanfaat, atau merugikan pihak tertentu, adalah tidak bermoral.

Manfaat itu jelas, bisa dilihat dengan mata kepala, bahkan bisa kita ukur. Dengan demikian, ukuran moral berupa manfaat adalah yang paling kuat. Benarkah begitu?

Pertanyaan masih bisa berlanjut. Manfaat untuk siapa? Manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat, bagi seluruh alam semesta. Manfaat bagi pejabat, bisa saja merugikan rakyat. Manfaat bagi bos, bisa saja merugikan bagi pekerja. Manfaat bagi industri, bisa saja merugikan lingkungan sampai krisis iklim. Atau sebaliknya: manfaat bagi rakyat tapi merugikan bagi pejabat.

Menentukan moral berdasar manfaat, ternyata, adalah tugas berat. Kita perlu memikirkan lebih dalam. Bahkan, perlu lebih cermat dibanding dengan ukuran kewajiban mau pun suara hati.

2.4 Tertawa Mati

Memang absurd. Bermoral adalah ketika kamu bisa tertawa sampai mati. Begitulah pandangan absurdisme.

Tidak ada nilai moral. Tidak ada pula tindakan tidak bermoral. Moral adalah nilai yang diciptakan oleh manusia. Manusia bebas melakukan apa saja. Tetapi, tentu saja, alam semesta akan memberikan konsekuensi bagi pelakunya.

Abusrdisme memang absurd, tetapi, tidak absurd-absurd banget. Mereka masih masuk akal. Bahkan bisa saja masuk ke hati. Meski pun mereka menganggap nilai moral adalah ciptaan manusia sendiri, tetapi, konsekuensi dari perilaku manusia adalah fakta yang harus dihadapi. Karena itu, menurut mereka, apa pun yang terjadi mari terus tertawa. Tertawa sampai mati.

2.5 Profit

Apa saja yang menghasilkan uang maka itu bermoral. Apa saja yang memberikan cuan, profit, maka layak dikejar.

Dalam teori, mengejar profit, tampak, seperti tidak bermoral. Kenyataannya, bukankah hampir setiap manusia mengejar uang? Mengejar profit? Mengejar cuan?

Sejatinya, mengejar profit bisa dibenarkan sejauh tidak melanggar aturan lainnya. Dan, hal ini banyak terjadi. Bahkan, sebagian besar orang sudah menyadari ini. Sehingga, manusia mengejar profit adalah manusiawi – bahkan bisa tetap bermoral.

Masalah menjadi muncul, ketika, profit menjadi satu-satunya ukuran moral. Akibatnya, manusia berubah menjadi manusia satu dimensi: manusia ekonomi. Dalam jangka pendek, seperti menguntungkan. Dalam jangka panjang, bisa sangat merugikan misal perusakan alam dan krisis iklim.

Menjadi sangat penting bahwa profit harus bersanding dengan ukuran moral lain, jika hendak dijadikan acuan. Dalam banyak hal, bahkan profit bisa menjadi indikator keseriusan suatu tindakan. Jika tidak profit maka perlu diwaspadai apakah ada yang salah. Jika profit masih tetap perlu dipertimbangkan aspek lainnya.

3. Prioritas Etika
3.1 Kebebasan
3.2 Kebenaran
3.3 Keadilan
3.4 Kemakmuran
3.5 Keagungan

(Bersambung)

Bagian 1: Epistemologi Cinta

Di bagian ini, kita akan menyelidiki apa itu cinta sejati. Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

Penyelidikan lebih lanjut, menunjukkan bahwa kita juga perlu mengetahui apa saja penyusun dari suatu obyek cantik, misal wajah yang cantik. Mata bening, pipi lembut, dan alis hitam adalah beberapa materi penyusun wajah cantik. Maka kita perlu menyelidiki pula espistemologi materi, sebagai penyusun obyek cantik, di alam semesta ini.

Pendekatan kita kepada epistemologi cinta, mengantarkan kita untuk meyelidiki epistemologi cantik. Pada gilirannya, mengantar kita ke epistemologi materi alam semesta.

Dengan pertimbangan bahwa materi tampak lebih jelas dari cinta yang lembut maka kita akan membahas espistemologi dengan fokus awal kepada epistemologi materi alam raya, disusul epistemologi cantik, dan terakhir epistemologi cinta. Dalam penyelidikan ini, kita mempertimbangkan perkembangan sains terkini (dan teknologi), filsafat masa lalu (dan masa kini), serta karya seni atau pun pendekatan spiritual.

Pembahasan epistemologi menjadi bagian terbesar dari tulisan ini – dibanding dengan ontologi cinta dan dinamika cinta. Hal ini bersesuaian dengan pandangan Bertrand Russell bahwa problem terbesar dari filsafat adalah epistemologi. Solusi yang memadai untuk epistemologi akan memudahkan kita membahas metafisika (ontologi) dan aksiologi.

Pendekatan kritik filsafat, misal trilogi kritik dari Immanuel Kant, juga memberi porsi besar kepada tema epistemologi. Meski merujuk ke kritik filsafat, saya sendiri lebih cenderung menggunakan pendekatan eklektik, di mana, saya menampilkan berbagai macam sudut pandang para filosof, untuk kemudian, menyusunnya menjadi argumen yang padu. Saya jarang meng-kritik pandangan para filosof secara langsung. Anda bisa memahaminya secara tidak langsung dengan alur tulisan secara utuh.

  1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
  2. Eksistensi Cinta
  3. Cantik Alami
  4. Idealisme
  5. Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi (+Lampiran Hoax)
  6. Induksi: Cantik Keturunan
  7. Pengetahuan Prinsip Umum
  8. Pengetahuan A Priori
  9. Dunia Universal
  10. Pengetahuan Tentang Universal
  11. Pengetahuan dan Intuisi Cinta
  12. Kebenaran dan Kesesatan
  13. Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Di bagian awal kita langsung mencoba untuk mengetahui apa itu cinta sejati. Tidak mudah untuk melakukan itu. Kita berhadapan dengan dua jenis cinta yaitu cinta sejati dan cinta penampakan. Bahkan untuk mengetahui cinta-penampakan saja, kita perlu penyelidikan yang mendalam tentang cantik-penampakan dan materi-penampakan.

Dengan “halangan” dunia-penampakan maka kita tidak berhasil mengakses cinta-sejati. Begitu juga cantik-sejati dan materi-sejati masih tersembunyi. Di sisi lain, kita berhasil membuktikan bahwa cinta itu ada, cinta sejati itu ada. Hanya saja, kita tidak bisa langsung mengetahuinya.

Semua pengetahuan kita tentang dunia adalah, sekedar, pengetahuan tentang dunia penampakan. Russell membagi dunia menjadi dunia penampakan dan dunia sejati, tampaknya, mengikuti Immanuel Kant yang membagi dunia menjadi dunia fenomena dan dunia noumena. Dunia fenomena hadir dalam pengetahuan kita sebagai penampakan. Sedangkan dunia noumena tatap tersembunyi dalam dirinya sendiri.

Di bab 4, kita membahas tema idealisme. Menurut Russell, idealisme adalah pandangan yang diremehkan oleh kebanyakan orang. Karena idealisme memandang bahwa alam di dunia luar adalah tidak nyata. Semua yang ada di dunia luar, sejatinya, hanya pikiran kita belaka. Sementara, bagi pengkaji filsafat, idealisme perlu dibahas dengan tuntas. Russell meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Bagaimana pun, Russell mengakui bahwa idealisme dogmatis tidak mudah dibantah.

Bab 5, 6, dan 7 membahas karakter dari pengetahuan manusia. Kita mempertimbangkan pengetahuan pengenalan langsung dan pengetahuan deskripsi. Di jaman digital ini, pegetahuan deskripsi berkembang begitu cepat. Sayangnya, pengetahuan deskripsi mudah disusupi oleh informasi hoax. Sehingga kita perlu membekali diri, dan masyarakat, untuk lebih bijak menyikapi hoax.

Dengan beragam keterbatasannya, perkembangan pengetahuan melalui induksi tetap menjadi metode paling utama. Kita perlu mempertimbangkan konsep falsifikasi dari Popper sehingga tetap waspada dengan ragam batas-batas ilmu pengetahuan. Pengembangan pengetahuan melalui induksi menjadi lebih kuat dengan pendekatan matematis sehingga konsisten dengan beragam prinsip umum: identitas, non-kontradiksi, kausalitas, dan lain-lain.

Bab 8, 9, dan 10 membahas pengetahuan apriori dan pengetahuan universal. Russell membela para filosof rasionalis yang meyakini validitas pengetahuan apriori. Bahkan, setiap pengetahuan empiris induktif, agar valid secara universal, perlu bersandar kepada pengetahuan apriori. Pengetahuan universal memberi priotitas lebih utama kepada pengetahuan tentang cinta dan cantik dibanding pengetahuan materi obyektif. Sehingga, pada bab-bab ini, kita mulai kembali mengutamakan epistemologi cinta.

Bagian akhir dari epistemologi cinta, kita membahas nilai kebenaran dari suatu pengetahuan pada bab 11, 12, dan 13. Tentu saja, pengetahuan bisa saja bernilai benar, dan pengetahuan lain bisa bernilai salah. Menariknya, pengetahuan atau intuisi cinta justru selalu bernilai benar. Sementara, bila dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, implikasi dari cinta bisa saja bernilai salah.

Pembahasan secara epistemologis selesai sampai di sini. Tetapi masih tersisa banyak pertanyaan tentang cinta, cantik, dan materi alam raya. Kita akan membahasnya lebih mendalam ke tema ontologis: ontologi cinta dan cantik.

Lanjut ke Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik
Kembali ke Philosophy of Love

Ekonomi Cinta

Setiap sisi kehidupan manusia adalah cinta. Setiap butir debu adalah debu cinta. Setiap hembusan nafas adalah nafas cinta. Ekonomi adalah ekonomi cinta.

Saya memberi uang kepada Rara yang cantik adalah ungkapan cinta. Saya mengasuh Rara sejak bayi adalah manifestasi cinta. Saya cinta Rara adalah ungkapan cinta. Rara telah menyemai cinta di hatiku bahkan ketika dia masih dalam kandungan istriku. Rara telah memberiku cinta dan aku membalasnya dengan cinta pula.

Semua transaksi adalah transaksi cinta.

Kita bisa menduga ekonomi cinta, bisa berbelok, menjadi ekonomi dusta. Menjadi ekonomi nafsu semata. Menjadi ekonomi serakah. Menjadi ekonomi mewah. Pada bagian ini, kita akan membahas ekonomi cinta yang dibelokkan menjadi ekonomi nafsu. Untuk kemudian, kita mencoba merumuskan beberapa solusi meluruskan kembali agar menjadi ekonomi cinta.

Ekonomi Libido Serakah

Lanjut ke Politisasi Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

The Death of God other than God: Nietzsche Philosophy

Anakku bertanya tentang Nietzsche. Lalu aku jawab, “Dia adalah pemikir jenius yang sulit dipahami tapi mudah disalahpahami.” Saya setuju dengan Iqbal (1877 – 1938) yang menempatkan Nietzsche sebagai pemikir tingkat tinggi. Iqbal mengetahui itu dari pembimbingnya yaitu Rumi.

“This is the German genius whose place is between these two worlds…his words are fearless, his thoughts sublime,
the Westerners are struck asunder by the sword of his speech.”

Kita akan membahas lima ide penting dari Nietzsche (1844 – 1900). Pertama, “the death of god other than God.” Tentu saja, ide kematian-tuhan mengguncang dunia. Umat beragama merespon dengan menolak ide itu. Kita akan mengkaji lebih dalam dari sekedar potongan kalimat kematian-tuhan. Umat beragama juga ada yang menggunakan term mirip itu seribu tahun sebelumnya. “There is no god but God.”

Kedua, konsep nihilisme dan penciptaan nilai. Nietzsche sering dikenal sebagai tokoh nihilisme. Memang, dia sendiri memprediksi dalam dua abad ke depan adalah jaman yang dipenuhi oleh nihilisme. Lalu apa jika memang nihilisme? Pertanyaan ini yang perlu kita bahas. Setelah hampanya segala nilai maka selanjutnya manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai secara kreatif.

Ketiga, overman. Manusia sempurna adalah overman atau sering disebut juga sebagai superman. Dia adalah manusia sempurna yang punya kekuatan mengatasi segala kesulitan. Dia adalah manusia yang tidak pernah menyerah. Dia adalah manusia yang berani berbeda dari sekawanan orang biasa.

Keempat, will-to-power. Kehendak untuk berkuasa, will-to-power adalah realitas fundamental dari alam semesta. Dari butiran debu, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, sampai seluruh galaksi memiliki will-to-power untuk menampilkan diri secara gagah berani.

Kelima, pengulangan-abadi-yang -sama. Nietzsche sendiri menekankan bahwa konsep pengulangan-abadi adalah ide paling sentral dari filsafatnya. Sementara, kita sulit memahami dengan pasti apa maksud dari pengulangan-abadi. Beberapa sarjana membacanya sebagai konsep kosmologi bahwa alam semesta akan terus-menerus berulang dengan cara yang sama. Saya sendiri membacanya, konsep pengulangan-abadi, sebagai proses kreatif yang berlangsung terus-menerus secara abadi.

Ragam Interpretasi

Seperti kita sebut di awal, Nietzsche mudah disalahpahami dan sulit dipahami. Maka interpretasi kita, di sini, bisa jadi bertentangan dengan interpretasi orang lain. Wajar saja itu terjadi. Karya Nietzsche tampak seperti gabungan antara tulisan filosofis dengan puisi. Sehingga banyak pesan yang tersurat dan tersirat.

Vattimo (1936 – ) adalah pemikir Itali yang mengapresiasi Nietzsce. Menurutnya, Nietzsche telah membuka jalan kebebasan manusia dan menyiapkan landasan masyarakat demokratis. Deleuze (1920 – 1995) adalah pemikir Prancis yang menilai karya Nietzsche sebagai sangat kreatif dan menghormati beragam macam perbedaan. Heidegger (1989 – 1974) adalah pemikir Jerman yang menyatakan bahwa Nietzsche berhasil memotret dengan tepat kondisi mutakhir dari masyarakat modern lengkap dengan beragam masalah yang dihadapi. Russell (1872 – 1970) adalah pemikir Inggris yang mengkritik keras Nietzsche. Menurutnya, Nietzsche mengijinkan perilaku kekerasan. Dan banyak tokoh agama yang mengutuk Nietzsche lantaran dinilai sebagai menyebarkan ajaran atheisme.

Tulisan ini akan membaca Nietzsche dari sudut pandang filsafat dinamis. Maka kita akan menemukan sisi-sisi dinamis dari pemikiran Nietzsche. Karena dinamis maka tidak ada titik akhir dari suatu ide. Selamanya, ide bisa terus berkembang secara dinamis.

A. The Death of God other than God

Tentu saja, ide kematian-tuhan adalah ide yang provokatif dan sensitif. Barangkali, Nietzsche sengaja melontarkan ide kematian-tuhan untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjangnya. Umat beragama kaget. “Ajaran macam apa yang menyatakan kematian-tuhan?” Mereka, umat beragama, menolak konsep kematian-tuhan.

Di pihak lain, pada masa akhir abad 19 sampai sekarang, orang-orang atheis merasa mendapat dukungan segar. Mereka penuh semangat mendukung ide kematian-tuhan. Bila kita menakar keberhasilan konsep kematian-tuhan dari banyaknya respon, maka kita bisa sepakat, Nietzsche sudah berhasil mendapat respon dari dua kubu – dan masih banyak kubu lainnya.

”Well! Take heart! ye higher men! Now only travaileth the mountain of the human future. God hath died: now do we desire – the Superman to live.” (Study.com)

Lebih dari sekedar respon, ide kematian-tuhan memang menyimpan konsep kreatif yang bisa kita gali terus-menerus. Untuk memahaminya, saya berharap, kita memotong frasenya sedikit lebih panjang. Menjadi seperti berikut ini,

the-death-of-god-other-than-God = kematian-tuhan-selain-Tuhan

Dengan frasa yang lebih panjang di atas, kita bisa memahami bahwa hanya tuhan-tuhan tertentu yang mati. Untuk selanjutnya, hadir Tuhan-sejati. Tugas kita menjadi lebih menantang: Tuhan-sejati itu seperti apa? Nietzsche sendiri mengambil tokoh Zaratusta untuk menjelaskan itu. Zaratusta harus turun gunung untuk mejelaskan kepada masyarakat yang sibuk bisnis di pasar. Hasilnya, orang-orang yang sibuk di pasar itu, memang tetap, tidak paham kata-kata Zarastuta – yang penuh dengan kebenaran itu. Nasib yang sama menimpa Nietzsche sendiri – orang-orang tidak memahaminya.

Kepada umat beragama, seakan-akan, Nietzsche menyerukan, “Dogma-dogma ketuhanan kalian sudah mati. Ayo, menghidupkan ketuhanan yang sejati.”

Agama, pada awalnya, bersifat kreatif dinamis. Agama membersihkan dogma-dogma yang menjerat masyarakat. Dogma itu sudah menjadi berhala. Dogma itu sudah menjadi tuhan-tuhan bagi mereka. Dan tentu saja, ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari dogma-dogma itu. Di saat yang sama, dengan dogma itu, penguasa meng-eksploitasi orang-orang miskin yang lemah. Agama, sejatinya, datang untuk menghancurkan dogma-dogma itu.

Agama berhasil membawa manusia menuju pencerahan. Tidak lama dari itu, ada pihak-pihak tertentu yang mengubah agama menjadi dogma baru. Dogma yang sama seperti dulu yang pernah ada. Dan dogma dari agama itu menjadi tuhan mereka. Dogma yang menjadi tuhan itulah yang harus mati. Umat manusia perlu kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang atheist, sama saja, mereka terjebak dalam dogmanya. Atheisme, yang awalnya, mengaku sebagai pembebasan, nyatanya, menjadi dogma juga. Tanpa bukti kuat, mereka menolak Tuhan. Tanpa nalar yang konsisten, orang atheis menolak berbagai macam hal yang tidak sanggup mereka pahami. Dogma atheisme telah menjadi tuhan bagi mereka. Tuhan semacam itu sudah mati. Sudah tiba waktunya, umat manusia kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang agnostik juga terjebak dalam dogma ketidaktahuannya. Orang agnostik menganggap eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan. Di saat yang sama, orang agnostik, meyakini bahwa pernyataan yang menolak eksistensi Tuhan juga tidak bisa dibuktikan. Orang agnostik berimbang antara tidak bisa membuktikan adanya Tuhan dan tidak ada bukti menolak eksistensi Tuhan. Dogma agnostik seperti itu juga menjad dogma yang dipertuhankan. Tuhan dogma agnostik sudah mati. Saatnya kembali ke Tuhan-sejati.

B. Nihilisme dan Penciptaan Nilai

“What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. . . . ” (IEP)

Nietzsche memprediksi, dalam 2 abad ke depan, yaitu abad 20 dan 21, nihilisme akan mendominasi dunia. Prediksi ini menunjukkan banyak tanda-tanda kebenarannya, terutama, di Barat. Tetapi apa yang dimaksud dengan nihilisme?

“affirmation of life, even in its strangest and sternest problems, the will to life rejoicing in its own inexhaustibility through the sacrifice of its highest types—that is what I called Dionysian….beyond [Aristotelian] pity and terror, to realize in oneself the eternal joy of becoming—that joy which also encompasses joy in destruction (“What I Owe the Ancients” 5).” (IEP)

Pertama, nihilisme adalah runtuhnya nilai tertinggi. Dalam filsafat, nilai tertinggi adalah klaim kebenaran metafisika yang dijamin kebenarannya. Misalnya alam ideal Plato dianggap paling bernilai tinggi. Atau kesempurnaan intelektual Aristoteles dianggap sebagai paling bernilai. Semua runtuh di hadapan nihilisme. Semua nihil. Semua setara. Semua horisontal. Seseorang, justru, harus menikmati proses menjadi diri sendiri terbebas dari ikatan metafisika.

Bagi umat beragama, nihilisme ini seakan konsekuensi dari kematian-tuhan. Sejatinya, nihilisme adalah kematian dogma-dogma agama yang dipertuhankan itu. Umat beragama, seharusnya, bisa menikmati proses menjalankan agama sebagai manusia-sejati. Terbebas dari dogma-dogma yang mengaku sebagai tuhan.

Bagi manusia modern, manusia ekonomi, nihilisme mengatakan bahwa profit itu hampa. Keuntungan ekonomi, yang dulu dikejar sebagai paling bernilai, itu tidak berguna. Itu semua sia-sia. Manusia ekonomi, seharusnya, menikmati proses dalam menjalankan roda ekonominya.

Kedua, nihilisme adalah runtuhnya tujuan. Nihilisme menghapus tujuan. Orang bisa saja menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Saat ini, dengan nihilisme, tujuan sudah sirna. Karena tidak ada tujuan maka tugas manusia adalah menciptakan tujuannya sendiri. Tugas manusia adalah menciptakan nilainya sendiri.

Dengan runtuhnya tujuan dan runtuhnya nilai tertinggi maka manusia benar-benar menjadi bebas. Manusia bebas terbang, menikmati hidupnya, menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Untuk menikmati kebebasan ini, manusia rela mengorbankan segala yang perlu dikorbankan. Manusia tidak pernah berhenti menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai tertingginya sendiri. Semua proses penciptaan ini berlangsung dengan penuh bahagia.

Ketiga, nihilisme adalah tidak adanya jawaban untuk pertanyaan “mengapa.” Orang bisa saja mengaku sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa.” Itu hanya klaim belaka. Nihilisme meruntuhkan jawaban yang bersifat pasti seperti itu. Tidak pernah ada jawaban sekuat itu. Manusia, justru, yang harus menjawab pertanyaan “mengapa.” Pada gilirannya, setiap jawaban akan berhadapan dengan pertanyaan “mengapa” yang lebih baru. Proses ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. Manusia, lagi-lagi, menikmati penuh bahagia semua proses ini.

Dengan makna konsep nihilisme seperti di atas maka tidak ada sikap pesimis dalam manusia. Nihilisme, justru, mengajak manusia untuk bersikap aktif dan menikmati seluruh proses menghancurkan dogma-dogma yang ada, kemudian, menciptakan nilai-nilai baru yang paling tinggi.

Siapa orang yang sanggup melakukan itu? Bukan orang biasa-biasa saja. Bukan sekedar gerombolan. Dia memang orang yang luar biasa. Dia adalah overman.

C. Overman

Konsep ketiga paling penting, yang kita bahas, adalah overman atau superman atau superhuman yaitu manusia teladan. Overman adalah manusia yang tidak pernah kehabisan energi terus berkreasi. Mampu mengatasi segala rintangan. Rela mengorbankan apa saja. Dan, menikmati penuh bahagia semua proses yang ada.

“1. the higher species is lacking, i.e., those whose inexhaustible fertility and power keep up the faith in man….[and] 2. the lower species (‘herd,’ ‘mass,’ ‘society,’) unlearns modesty and blows up its needs into cosmic and metaphysical values.” (IEP)

Overman adalah spesies langka. Hanya segelintir orang yang berhasil menjadi overman. Sebagian besar orang menyerah, untuk kemudian, menjadi manusia biasa-biasa saja. Mereka tenggelam dalam hembusan debu kosmik. Mereka lahir, kemudian tertiup angin, akhirnya menuju kuburannya sendiri. Overman berbeda dari itu semua. Overman berani menantang semua rintangan. Overman menguasai dunia.

Siapakah contoh nyata overman? Tampaknya, Nietzsche hanya samar-samar memberi contoh. Kita bisa memahaminya. Karena overman tidak bisa dicontoh. Justru, overman adalah dia yang menciptakan contoh. Overman adalah contoh original yang kreatif. Tidak ada dua orang overman yang identik. Setiap overman adalah unik. Seseorang tidak bisa menjadi overman dengan cara meniru overman.

Dalam samar-samar contoh nyata, kita bisa mendekati beberapa tokoh sebagai kandidat overman. Pertama, Zaratusta, adalah pemikir orisinal yang berani tampil beda. Zaratusta sudah hidup nyaman di pertapaan lengkap dengan petualangan intelektual – dan spiritual. Zaratusta meninggalkan kenyamanannya, turun ke pasar, mengajak masyarakat untuk melepaskan diri dari jeratan hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang perlu menjadi manusia kuat, overman. Resiko sudah jelas. Orang-orang biasa itu tidak paham kata-kata dari Zaratusta. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang paham.

Kedua, Napoleon adalah jenderal perang yang cerdik dan kuat. Napoleon tampak cocok sebagai contoh overman. Napoleon berhasil menaklukkan hampir seluruh daratan Eropa. Napoleon memimpin pasukan perang melewati medan perang yang sangat berbahaya. Napoleon, dengan pasukannya, gagah perkasa mengalahkan semua halangan.

Ketiga, Mr Nietzsche adalah pemikir orisinal yang berbeda dengan semua pemikir lainnya. Semua pemikiran, masa itu, terjerat oleh metafisika Plato-Aristoteles. Mr Nietzsche adalah overman yang mengatasi jeratan metafisika. Dia meruntuhkan pemikiran rasional gaya Apollo. Untuk kemudian membangkitkan gaya berpikir kreatif ala Dionysian. Mr Nietzsche membebaskan pemikiran manusia untuk terbang tinggi mencapai overman.

Bila kita mempertimbangkan tiga contoh overman di atas – Zaratusta, Napoleon, dan Mr Nietzsche – maka kita bisa menambahkan lebih banyak contoh lagi. Barangkali orang-orang jenius di bidang masing-masing bisa kita masukkan sebagai overman. Di antaranya jenius sains, seni, olahraga, bisnis, politik, spiritual, dan lain-lain. Overman, meskipun sulit dicapai, bukanlah sosok ideal yang fantastis. Overman adalah manusia nyata yang hidup di dunia nyata ini. Yang menjadi istimewa pada overman, tidak dimiliki orang biasa, adalah overman mengembangkan will-to-power terus-menerus.

D. Will-to-Power

Will-to-power adalah realitas fundamental semesta. Orang mengira will-to-power adalah kehendak yang ada pada manusia saja. Sejatinya, will-to-power ada pada semua alam raya dari elektron, atom, molekul, debu, angin, pasir, air, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, dan seluruh galaksi. Mereka semua adalah will-to-power yang saling bertabrakan untuk menjadi pemenang.

“What is good?—All that heightens the feeling of power, the will to power, power itself in man. What is bad?—All that proceeds from weakness.  What is happiness?—The feeling that power increases—that a resistance is overcome.” (IEP)

Pertama, memang benar, bahwa will-to-power ada dalam diri manusia. Will-to-power adalah yang menentukan sesuatu menjadi baik atau buruk. Sesuatu yang baik adalah yang meningkatkan perasaan berkuasa, will-to-power. Sementara, sesuatu yang buruk adalah sesuatu yang melemah. Sedangkan bahagia adalah perasaan berkembangnya will-to-power.

Kedua, will-to-power adalah seluruh realitas alam semesta. Maka alam semesta, juga, ingin mengembangkan kekuatannya. Misal, virus covid mempunyai will-to-power untuk berkembang ke seluruh dunia. Debu-debu kosmik, juga, ingin memenuhi alam raya dengan kekuatannya. Will-to-power ingin eksis di alam raya dan alam raya itu sendiri adalah will-to-power.

Ketiga, mengembangkan will-to-power adalah mengembangkan alam semesta, itulah, kebaikan. Meruntuhkan will-to-power adalah meruntuhkan alam semesta, itulah, keburukan. Apakah manusia ingin bahagia? Maka kembangkanlah will-to-power, kembangkanlah alam semesta. Perasaan berkembangnya will-to-power, berkembangnya alam semesta, itulah kebahagiaan.

Manusia paling bahagia adalah overman. Dia menaklukkan semua halangan. Dia mengembangkan will-to-power terus menerus tanpa henti. Dia mengembangkan alam semesta tiada henti. Overman berbahagia tanpa henti.

Apa yang terjadi jika seseorang tidak mau jadi overman? Dia hanya menjadi manusia biasa-biasa saja. Dia tidak mengembangkan will-to-power. Dia tidak mengembangkan alam semesta. Maka orang biasa-biasa saja seperti itu terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Manusia hanya bisa selamat dari jebakan itu dengan menjadi overman yang melampaui pengulangan-abadi.

E. Pengulangan-Abadi-yang-Sama

Nietzsche sendiri menekankan konsep pengulangan-abadi adalah konsep paling penting dalam filsafatnya. Sekilas, konsep pengulangan-abadi adalah tema kosmologi. Sementara, konsep will-to-power adalah konsep psikologi. Tampaknya, pembacaan lebih lanjut menunjukkan tidak adanya pembatasan sempit seperti itu. Pengulangan-abadi bukan hanya kosmologi. Begitu juga, will-to-power bukan hanya psikologi.

“… and everything unutterably small or great in your life will have to return to you, all in the same succession and sequence—even this spider and this moonlight between the trees, and even this moment and I myself. The eternal hourglass of existence is turned upside down again and again, and you with it, speck of dust!” (IEP)

Pertama, secara kosmologi, pengulangan-abadi adalah sejenis reinkarnasi dari alam semesta beserta isinya. Barangkali kita bisa meminjam teori kosmologi dari sains fisika. Alam semesta berawal dari big-bang beberapa milyard tahun yang lalu. Kemudian alam mengembang. Tercipta tata surya, salah satunya ada planet bumi. Muncul kehidupan di bumi sampai lahir umat manusia. Beberapa milyard tahun ke depan, alam semesta berhenti mengembang. Justru, berbalik arah, alam semesta mengecil. Makin lama, alam semesta makin kecil, lebih kecil dari kelereng. Tentu saja, seluruh gedung-gedung sudah runtuh dalam himpitan alam seukuran kelereng. Umat manusia juga ikut hancur. Hancur lebur semua menjadi satu titik saja, lalu, hilang dalam kehampaan.

Setelah kehampaan alam semesta, terjadi big-bang lagi sebagai pengulangan-abadi. Alam semesta mengembang, muncul manusia yang sama persis dengan manusia-manusia masa lalu. Lalu alam menyempit lagi sampai jadi satu titik. Hancur, lenyap dalam kehampaan. Dan, terus berulang secara abadi seperti itu.

Kedua, pengulangan-abadi adalah terjadi di sini, saat ini, termasuk secara psikologis. Orang-orang gerombolan yang biasa-biasa saja berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap menjadi orang-orang biasa. Orang yang malas dan lemah berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap jadi orang malas dan lemah.

Sementara, overman, orang yang kuat, terlepas dari jebakan pengulangan-abadi. Ketika overman akan diulang dengan cara yang sama, overman itu sudah berubah, overman sudah lebih berkembang will-to-power-nya. Lagi, ketika akan diulang dengan cara yang sama, overman sudah berubah juga. Will-to-power sudah jauh berkembang.

Sehingga tidak ada pengulangan-abadi-yang-sama terhadap overman. Yang terjadi adalah pengulangan-perbedaan terhadap overman. Ketika diulang, overman sudah jauh berkembang. Bukan eternal-recurrence-of-the-same terhadap overman. Melainkan, eternal-recurrence-of-the-difference dari overman.

Ketiga, pilihan ada di tangan Anda sebagai manusia. Seseorang bisa menyerah kalah menjadi orang biasa-biasa saja. Untuk kemudian, dia terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Tetap menjadi orang yang kalah. Atau Anda bisa memilih menjadi overman. Menjadi orang yang pantang menyerah. Rela menghadapi berbagai kesulitan. Mampu mengatasi segala rintangan. Anda lolos dari jebakan. Anda masuk ke pengulangan-perbedaan yang abadi. Will-to-power Anda selalu berbeda, selalu berkembang.

Demokrasi Nihilisme

Bagaimana overman menghadapi demokrasi?

Tampaknya, Nietzsche tidak banyak membahas filsafat politik. Dia lebih fokus ke filsafat fundamental metafisika atau ontologi. Hasil sampingannya berupa filsafat kemanusiaan sebagai individu, overman. Sehingga, untuk membahas demokrasi overman, kita perlu mengembangkan beragam alternatif pemikiran.

Pertama, demokrasi otoriter. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa overman akan mendorong demokrasi otoriter. Atau, bahkan tidak ada demokrasi. Otoritas politik hanya ada di tangan satu orang yaitu overman, satu manusia kuat.

Apa masalahnya dengan demokrasi otoriter?

Tidak ada masalah dengan demokrasi otoriter, sejauh pemegang kekuasaan adalah overman, manusia sempurna. Overman memimpin masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur. Tidak ada korupsi, tidak ada kejahatan, tidak ada penindasan. Masalah justru muncul ketika penguasa politik, yang otoriter itu, ternyata, bukan overman. Dia memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Demokrasi otoriter, dalam hal ini, benar-benar bermasalah.

Kedua, demokrasi aristokrasi. Apa masalah dari aristokrasi? Tidak ada masalah dengan aristokrasi sejauh para aristokratnya, bangsawan, adalah overman. Para aristokrat, yang overman itu, memanfaatkan seluruh kekuatan politik untuk kebaikan bersama. Masalah muncul, mirip sebelumnya, bila para aristokrat itu, ternyata, bukan overman. Mereka hanya bangsawan yang memanfaatkan gelar bangsawan untuk kepentingan pribadi dan kaumnya belaka. Demokrasi aristokrasi, dalam kasus ini, benar-benar bermasalah.

Ketiga, demokrasi overman. Barangkali cita-cita politik ideal masa kini adalah demokrasi overman. Demokrasi, di mana rakyat adalah pemegang kekuasaan politik, di saat yang sama, rakyat adalah para overman. Atau, sebagian besar dari rakyat adalah overman, manusia sempurna. Dengan demikian rakyat overman itu saling bersaing dan bekerja sama dalam kehidupan politik yang adil dan makmur.

Masalah tetap bisa muncul. Ketika rakyat bukan overman. Maka suara rakyat bisa dibeli oleh partai politik. Untuk kemudian, partai politik dan penguasa politik mengeksploitasi sumber daya dan rakyat untuk kepentingan segelintir orang. Sehingga, tugas terpenting bagi kemanusiaan adalah mendorong rakyat untuk menjadi overman, manusia sempurna.

Dengan kemajuan teknologi digital yang makin melejit, terbuka peluang besar bagi kita untuk menciptakan demokrasi sejati. Demokrasi oleh rakyat overman, dari rakyat overman, dan untuk rakyat overman. Selalu ada dinamika dalam diri overman. Selalu ada dinamika dalam demokrasi.

Nihilisme membuka jalan untuk overman, untuk kemudian, membangun demokrasi overman.