Sekularisasi Negara Islam

Tuhan sudah mati kata Nietzsche, pemikir paling fenomenal sepanjang sejarah. Tugas manusia untuk menanggung beban derita. Manusia terlempar ke dunia penuh nestapa. Hanya manusia yang kuat dialah manusia sebenarnya. Manusia perlu bangkit menaklukkan semesta.

Tapi akhir abad 20, Foucault bilang manusia pun menuju kematian. Manusia, sebagai subyek, akan segera mati dalam waktu dekat. Manusia tidak bisa lagi menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Tidak bisa segala sesuatu diukur berdasar nilai kemanusiaan.

Michel Foucault - Wikipedia
Foucault

Manusia telantar. Harus bangkit mengatasi derita. Mencari peruntungan membangun sekitarnya. Berharap bisa ikut serta memakmurkan alam semesta. Apa bisa?

Negara adalah salah satu lembaga yang dibentuk manusia untuk mencapai cita-cita mulia bersama-sama. Kita melihat beragam model negara dari jaman ke jaman. Negara sekular salah satu ide yang di jaman akhir-akhir ini menguasai dunia. Tetapi negara agama juga pernah jaya di masanya.

Negara Agama

Barangkali bentuk paling ideal adalah negara agama. Urusan dunia tertata. Dan masuk surga pada waktunya. Meski bentuk negara agama sering dikritik habis-habisan sebagai ketinggalan jaman tetapi kita bisa melihat beberapa negara agama yang sukses sampai sekarang.

Brunei, sebagai contoh negara agama, dengan ukuran pada umumnya, termasuk negara yang maju. Semboyan Brunei, “Sentiasa membuat kebajikan dengan petunjuk Allah.” Begitu islami. Indeks pembangunan manusia tertinggi kedua di Asia. Produk domestik bruto per kapita terbesar kelima di dunia. Dan jadi negara terkaya kelima di dunia.

Dengan demikian kita punya contoh nyata bahwa negara agama bisa menjadi negara maju.

Di sisi lain, negara agama yang tidak maju juga ada. Bahkan terjadi resiko perang tiada henti-henti atas pembenaran paham agama mereka. Bisa terjadi juga negara korup bersembunyi di balik dalil-dalil agama. Negara bisa menghukum warga karena dianggap menyalahi aturan agama.

Partai politik tampak lebih mudah menggerakkan massa dengan membakar isu agama. Pejabat bisa korupsi kemudian beramal dengan dalih agama. Sesama warga bisa saling menuduh, menyesatkan, memusuhi dengan dalih agama pula.

Bagaimana dengan negara Indonesia? Indonesia bukan negara agama tapi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila pertama.

Sekularisasi

Negara Barat, umumnya, mengambil langkah sekular yaitu memisahkan urusan negara dengan urusan agama. Mereka berhasil menjadi negara maju. Lepas dari bayang-bayang negara agama di jaman kegelapan.

Di Indonesia pernah muncul ide sekularisasi dari Cak Nur yang berbeda dengan negara sekular atau sekularisme.

Cak Nur mengusulkan, untuk memajukan Indonesia melalui pemikiran, pembaharuan, pembagunan, dengan membedakan urusan dunia dengan urusan suci. Itulah sekularisasi: membedakan bukan memisahkan.

Dalam urusan dunia, manusia bertanggung jawab penuh terhadap logika dunia. Menjalankan negara adalah urusan dunia maka harus ditegakkan dengan hukum-hukum dunia yang ketat. Partai politik perlu saling memamerkan program-program memajukan negara. Tidak perlu pamer klaim menjadi partai politik yang paling direstui Tuhan. Pun mengkritik pihak lain juga berdasar hukum logika dunia – bukan klaim agama.

Sementara dalam urusan bidang suci, bidang agama, bidang ibadah maka tugas agama untuk mendorong pemeluknya beribadah sepenuh hati.

Dengan pembedaan, bukan pemisahan, maka warga bebas melakukan inovasi-inovasi baru membangun negeri. Tidak perlu takut melanggar aturan agama. Tidak perlu takut dengan ancaman penistaan. Warga bebas berinovasi pada bidang yang memang berbeda. Inovasi pada bidang yang memajukan negara.

Tentu saja, ide Cak Nur banyak ditentang sejak dahulu tahun 1970-an. Apakah di jaman sekarang perlu dicoba di Indonesia?

Sakralisasi

Dari sudut yang berlawanan, dilaporkan bahwa banyak warga negara sekular hidup tidak bahagia. Meski mereka kaya, misalnya, tetap hidupnya penuh derita. Mereka merasa hidup ini hampa. Nihilisme memang inti ajaran Nietzsche – semua tiada makna.

Maka ide sakralisasi dari Nasr menjadi menarik untuk kita bahas. Hidup di dunia ini, manusia punya misi suci, misi yang sakral. Ketika kita makan siang karena perut lapar, itu ada misi suci di sana. Anda punya tugas sakral untuk menjaga kesehatan diri. Anda juga sedang menjalankan tugas dengan membeli makanan dari warung. Mendorong ekonomi umat adalah tugas sakral.

Hidup bernegara, sekolah, bekerja, dan lainnya adalah tugas sakral manusia di dunia. Semua kehidupan manusia penuh makna. Hubungan badan Anda dengan pasangan adalah tugas suci, yang tentunya harus sambil dinikmati.

Manusia menatap seluruh semesta penuh makna, terpancar rasa bahagia bertabur cinta.

Sakralisasi terbalik 180 derajat dari nihilis. Ketika nihilis memandang dunia hampa, sakralis memandang dunia berlimpah makna.

Sakralisasi bisa bersanding dengan sekularisasi. Partai politik, misalnya, adalah bidang sekular. Kita berjuang melalui partai dengan logika dunia alam semesta tanpa klaim agama. Di saat yang sama perjuangan di partai dijiwai oleh misi sakral membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Utamakan Dissensus dari Konsensus

Utamakan beda pendapat dari pada mufakat. Salah satu ajaran utama posmodern, khususnya Lyotard, menyatakan dissensus lebih penting dari konsensus.

Tentu saja banyak yang tidak sepakat dengan dissensus. Tapi itu contoh dissensus itu sendiri kan? Jika Anda tidak sepakat dengan saya maka itu contoh dissensus. Jika Anda sepakat dengan saya maka itu contoh konsensus. Menurut saya sulit sekali bisa memahami bahwa kita harus mengutamakan dissensus. Maka Habermas, tokoh posmo madzhab Frankfurt, menolak dissensus. Habermas mengusulkan konsensus dengan proses komunikasi aktif.

Habermas

Pentingnya Dissensus Posmodern

Saya kira Lyotard adalah tokoh posmo paling penting mengusulkan dissensus. Ide ini selaras dengan paralogi yaitu bertumbuhnya banyak ide-ide yang saling berbeda. Tidak hanya ada satu ide saja. Juga selaras dengan mikrologi yaitu narasi-narasi kecil yang menolak metanarasi.

Lyotard menilai konsensus sering dipakai untuk mendominasi pihak-pihak kecil. Misal orang-orang kaya, berdasarkan konsensus, mengeruk keuntungan besar dengan menyisihkan orang-orang miskin. Penguasa, berdasarkan konsensus, bisa memaksakan suatu keputusan kepada yang tidak punya kuasa. Produsen sepatu memaksakan model sepatu yang seragam untuk seluruh konsumen.

Konsensus adalah ajaran modernitas yang perlu di-dekonstruksi. Dihancurkan menjadi dissensus. Sehingga orang-orang kecil berhak meraih haknya. Orang-orang miskin bisa berjuang menjadi sejahtera. Konsumen bisa memilih produk sesuai keunikan selera masing-masing.

Konsensus Komunikasi Aktif

Mudah kita bayangkan betapa kacaunya tatanan dunia tanpa konsensus. Masing-masing orang bebas berselisih. Setiap orang bebas bertindak berbeda. Mereka boleh melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tabrakan di mana-mana. Perselisihan tidak pernah reda. Pertengkaran muncul setiap saat.

Habermas mengusulkan tetap melanjutkan konsensus dengan melengkapi proses komunikasi aktif. Semua rakyat, semua pihak, berhak berpartisipasi dengan bebas untuk mengusulkan ide. Proses dialog yang terbuka, adil, mengantar terbentuknya konsensus terbaik yang menguntungkan seluruh pihak.

Modernitas, bagi Habermas, adalah proyek yang belum tuntas. Modernitas berhasil mengantarkan umat manusia meraih kemajuan. Tetapi ada cacat di beberapa tempat yang perlu terus diperbaiki dengan komunikasi aktif dan emansipasi semua pihak. Modernitas tidak perlu dihancurkan. Hanya perlu disempurnakan.

Lyotard, tentu saja, tidak setuju dengan Habermas. Sebaliknya juga, Habermas tidak setuju dengan Lyotard. Maka tidak ada konsensus di antara mereka. Yang ada adalah dissensus. Dalam hal ini posmo terbukti.

Lyotard menyatakan bahwa konsensus tidak mungkin terjadi dengan adil. Pihak-pihak yang kuat selalu punya cara untuk memenangkan konsensus. Misal kita sering mendengar kasus suap di pengadilan, politik uang, diskon besar-besaran dan lain sebagainya.

Habermas mengembangkan model komunikasi aktif yang memungkinkan semua orang bisa berpartisipasi membentuk konsensus terbaik.

Solusi Prosensus

Beberapa ahli mencoba mencari jalan tengah dissensus dan konsensus. Salah satunya, John Rawls mengusulkan “overlapping consensus”. Di mana berbagai pihak yang ber-dissensus bersepakat menyusun konsensus dalam beberapa hal yang saling tumpang tindih, yang saling bertemu.

Saya rasa ide overlapping consensus ini bisa dijalankan dengan cara penuh respek terhadap semua perbedaan dissensus-dissensus yang beragam. Di saat yang sama menjalankan komunikasi aktif sesuai saran Habermas. Sehingga terbentuk konsensus terbatas hanya pada wilayah yang overlapping.

Saya sendiri mengusulkan solusi “progressive consensus” atau disingkat prosensus. Yaitu konsensus yang bersifat progresif, terus berkembang, terus disempurnakan. Menambah yang diperlukan. Dan yang lebih penting membuang yang tidak diperlukan. Dan tentu saja dalam prosesnya tetap mengikuti saran Habermas: komunikasi aktif.

Prosensus terbatas dalam cakupan, waktu, wilayah, dan lain-lain.

Terbatas dalam cakupan bermaksud membatasi konsensus hanya pada bidang-bidang yang terpaksa harus ada kesepakatan. Tanpa kesepakatan, misalnya, berpotensi konflik tak kendali. Jika, misalnya, tanpa konsensus ada konflik tapi masih bisa ditanggung maka sebaiknya tetap dipilih dissensus bukan konsensus.

Pembatasan cakupan ini bermaksud menjamin agar tetap tumbuh subur dissensus positif yang mendukung kreativitas dan keadilan.

Terbatas dalam waktu. Sebentar saja. Prosensus hanya berlaku untuk waktu terbatas dan segera digantikan oleh dissensus lagi. Mudah kita lihat, konsensus yang awalnya bersifat progresif, dengan berjalan waktu menjadi represif. Kita perlu menjamin agar segera kembali ke dissensus yang penuh kreativitas.

Terbatas dalam wilayah. Di mana wilayah yang tidak memerlukan konsensus tetap dijamin untuk menyuburkan dissensus.

Prosensus menjamin tatanan sosial yang diharapkan Habermas. Di saat yang sama menjamin kreativitas tumbuh subur seperti diangankan oleh Lyotard.

Bagaimana menurut Anda?

Eksistensi Cinta

Apakah gadis cantik Rara itu benar-benar ada di hadapan kita?

Kita sudah menjawab positif bahwa Rara, obyek eksternal alam, ada di hadapan kita. Ada pohon, ada rumah, meja, kursi, dan berbagai obyek alam lainnya. Obyek-obyek alam ini ada secara obyektif. Dalam arti, misal meja, tetap ada baik kita sedang memikirkannya atau tidak memikirkannya.

Tetapi orang masih bisa meragukan bahwa Rara yang kita lihat itu, atau meja yang kita lihat itu, tidak benar-benar ada. Jangan-jangan Rara itu hanya imajinasi kita. Meja itu hanya pikiran kita. Seluruh alam semesta hanya ide kita.

Menurut Bertrand Russell, mungkin saja seseorang berpandangan bahwa seluruh alam semesta hanyalah ide saja. Yang ada hanya dirinya sendiri, sensasi-sensasi pribadi dan ide-ide pribadi. Tidak ada absurditas dalam hal ini. Bahkan kita tidak bisa membantah pandangan seperti itu. Karena setiap bantahan kita, termasuk diri kita, masuk sebagai bagian dari ide-ide mereka juga.

Filsafat harus mampu menjawab keraguan seperti di atas dengan meyakinkan. Dan terbukti filsafat mampu menjawabnya dengan baik. Dalam bab ini kita akan mencoba membahasnya dengan tuntas. Kita akan mulai dengan menjawab eksistensi materi dengan mengambil contoh eksistensi pipi Rara. Lalu melangkah kepada eksistensi cantik dan cinta.

Tampaknya, eksistensi cantik dan cinta lebih mudah kita tangani dalam kasus ini. Karena, misalnya cinta, mengandung kualitas subyektif. Sehingga orang mudah menerima bahwa cinta itu adalah perasaan subyektif. Tetapi kita tidak akan berhenti sampai di situ. Kita akan melangkah membahas kekuatan cinta yang jauh lebih besar dari istilah subyektif itu.

Keraguan Descartes

Saya setuju dengan Russell yang mengambil contoh Descartes untuk membahas eksistensi materi. Descartes adalah Bapak Filsuf terbesar jaman modern. Yang berhasil membangun sistem filsafat kokoh dan jelas. Di sisi lain, Descartes juga ahli matematika dan sains. Misalnya sampai sekarang kita mengenal diagram Descartes atau diagram Cartesius itu. Meski pun ahli matematika lain, Fermat, juga menemukan diagram yang mirip dan lebih awal dari Descartes.

Landasan filsafat Descartes adalah “cogito ergo sum” yaitu “aku berpikir maka ada” dan lebih dikenal sebagai cogito.

Dalam perjalanan mencari kebenaran yang hakiki, Descartes meragukan segala sesuatu. Descartes menolak filsuf-filsuf yang sudah ada sebelumnya. Ia menolak Socrates, Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Bacon, dan semuanya. Dia menolak, atau meragukan, semua pengetahuan dari inderanya. Semua pengetahuan bisa salah. Patut dicurigai.

Tapi ada satu hal yang tidak dapat diragukan, “Aku sedang berpikir.”

Aku yakin aku sedang berpikir. Meski aku bisa saja berpikir dengan benar dan bisa juga aku berpikir dengan salah. Apa yang aku pikirkan bisa saja salah. Tetapi bisa dipastikan bahwa aku berpikir. Sehingga, “Aku berpikir maka aku ada.”

Orang lain bisa saja ragu dengan keberadaanku. Tapi Descartes yakin bahwa dia ada karena dia berpikir. Descartes tidak bisa meragukan pikirannya sendiri. Maka dia yakin 100%, “Aku berpikir maka aku ada.”

Dari landasan itu Descartes bergerak dari keraguan menuju keyakinan. Descartes, kemudian, berhasil menyusun sistem filsafat yang kokoh dan rasional. Dia berhasil membuktikan adanya alam semesta secara obyektif dan eksistensi jiwa yang mandiri dari alam fisik. Descartes pun mengkaji ulang pemikiran-pemikiran filsuf-filsuf jaman sebelumnya. Tidak diterima begitu saja sebagai doktrin. Sebagian disetujui dan sebagian lainnya ia tolak. Dan terbentuklah sistem filsafat Descartes.

Keberhasilan filsafat rasional Descartes ini disusul dengan filsafat alam Newton yang lengkap dengan perhitungan matematika. Mengungkap fenomena alam semesta raya dan hukum gerak benda bola, peluru, kereta, sampai partikel terkecil. Manusia berhasil menguasai alam semesta dengan menggunakan rasionya. Catatan sejarah menunjukkan kemajuan luar biasa di bidang sains dan teknologi sejak itu.

Eksistensi Materi

Mari kembali memandang wajah Rara yang cantik. Fokus kepada pipi Rara. Kita bisa ragu apakah kita benar-benar tahu bahwa di depan kita itu adalah Rara. Tapi saya yakin bahwa saya sedang berpikir. Saya sedang berpikir tentang pipi Rara. Tidak ada keraguan sedikit pun tentang pikiran itu.

Di sini, saya berhasil membuktikan bahwa saya ada karena sedang berpikir. Sementara pikiran saya tentang pipi Rara masih perlu penjelasan lebih jauh apakah itu benar atau salah. Seperti pada bab sebelumnya, saya bisa menguji pikiran saya dengan berbagai macam cara.

Saya bisa saja mengundang sepuluh teman saya untuk bersama-sama menatap pipi Rara. Mereka, semua, melihat pipi Rara. Mereka semua berpikir tentang Rara. Di antara sebelas orang itu, termasuk saya, bisa saja bergantian meninggalkan ruangan. Yang meninggalkan ruangan tidak lagi berpikir tentang pipi Rara. Tetapi pipi Rara tetap ada, secara obyektif. Jadi saya yakin tentang pikiran saya bahwa ada pipi Rara.

Selanjutnya, penyelidikan tentang pipi Rara menunjukkan tersusun dari daging, kulit, dan sebagainya. Penelitian lebih lanjut memberi tahu kita bahwa pipi manusia tersusun oleh sel-sel tubuh manusia, tersusun oleh senyawa bio-kimia. Di antaranya terdiri dari hidrokarbon. Gabungan atom hidrogen dan atom karbon.

Lebih detil, kita fokus ke atom hidrogen – penyusun pipi Rara. Terdiri dari satu inti atom, proton bermuatan listrik positif, dan satu elektron bermuatan listrik negatif. Elektron ini mengelilingi inti yang berjarak tertentu dengan kecepatan tinggi. Elektron, sejauh ini, dianggap partikel paling sederhana. Artinya elektron tersusun oleh dirinya sendiri, tidak tersusun oleh bahan lain. Inti atom, proton misalnya, dianggap sebagai partikel sederhana awalnya. Tetapi sains, kemudian, menemukan penyusun inti atom berupa quark, lepton, dan sebagainya.

Jadi, pipi Rara tersusun oleh beragam atom. Masing-masing atom ada muatan listrik positif, negatif, atau nol. Dan muatan negatif yang berupa elektron senantiasa bergerak dengan kecepatan tinggi mengelilingi inti atom.

Sampai di sini, kita menyimpulkan diri kita ada. Rara juga ada secara obyektif di depan kita yang pipinya tersusun oleh atom-atom. Obyek eksternal alam lainnya, misal meja, kursi, pohon, dan lainnya dapat kita analisis dengan cara yang sama. Maka obyek eksternal tersusun oleh atom-atom. Termasuk badan kita, otak kita, dan mata kita juga tersusun dari atom-atom.

Kesimpulan di atas kita peroleh dengan analisis filsafat dibantu sain fisika. Alternatif analisis lainnya akan kita diskusikan di bawah.

Eksistensi Cantik

Jika pipi Rara tersusun oleh atom-atom bermuatan listrik maka apakah cantiknya Rara juga tersusun oleh atom yang sama?

Tentu tidak.

Cantik tidak berhubungan dengan atom-atom bermuatan listrik, sejauh pengalaman sehari-hari yang kita perhatikan. Cantiknya Rara itu karena ada struktur yang seimbang, ada susunan yang indah dari mata dan alis. Ada proposi wajah yang tepat. Demikianlah kira-kira rumusan cantik dari sang filsuf Aristoteles.

Sementara, Plato, menyatakan bahwa Rara cantik karena terhubung dengan cantik universal yang berada di alam idea. Begitu juga obyek-obyek cantik yang lain – bunga, burung, taman, lukisan, rumus, program – juga terhubung dengan cantik universal yang sama.

Kedua rumusan cantik, Aristoteles dan Plato, dapat kita gabungkan untuk analisis cantiknya Rara.

Cantiknya Rara yang karena ada perpaduan pipi, di atasnya ada mata bening, di atasnya lagi ada alis, lalu rambut hitam lebat menunjukkan adanya simetri yang indah – cantik versi Aristoteles. Sedangkan relasi pipi dengan mata yang tepat itu tidak hanya ada di alam materi. Relasi yang sempurna itu sejatinya ada di alam idea yang universal – cantik versi Plato.

Jadi, cantiknya Rara benar-benar ada. Bahkan tidak relatif seperti dugaan orang-orang selama ini. Bahkan cantik ini lebih kuat dari materi daging, kulit, dan rambut Rara karena cantik berada di alam idea yang universal. Eksistensi cantiknya Rara benar adanya.

Bagaimana bila ada orang yang tidak cantik? Apakah tidak cantik itu juga universal? Atau relatif?

Bila mengacu definisi cantik adalah adanya komposisi simetri yang indah maka, barangkali, tidak cantik adalah tidak adanya komposisi itu. Dengan demikian tidak ada juga di alam universalia. Di bagian berikutnya kita akan membahas lebih detil tentang dunia universalia dan hakikat keburukan, kejahatan, penderitaan, dan lain-lain. Untuk saat ini kita masih fokus menunjukkan bahwa eksistensi cantik itu benar adanya.

Mengacu kepada Ibnu Arabi, cantik adalah manifestasi dari sifat-sifat Tuhan yang cantik: indah, lembut, pengasih, pemurah, bersinar, dan lain-lain.

Eksistensi Cinta

Cinta, barangkali, dianggap oleh banyak orang sebagai tidak ilmiah. Hanya fenomena subyektif. Anggapan ini akan kita balik total. Cinta adalah segalanya.

Cinta untuk Rara, gadis cantik itu benar-benar ada, nyata. Saya, sebagai ayahnya Rara, memberikan cinta yang tulus untuk Rara. Saya mencintai Rara apa adanya. Saya berikan semua yang terbaik untuk Rara. Saya rela berkorban apa pun demi kebahagiaan Rara. Bagi saya, cinta kepada Rara adalah yang paling berharga. Melampaui segalanya.

Rara cantik tentu saya cinta. Seandainya Rara dalam kondisi yang berbeda maka saya tetap cinta. Cinta saya kepada Rara melebihi daging dan kulit yang membentuk pipi Rara itu.

Terbentuk dari apakah cinta itu? Di mana “letak” cinta itu? Apa hakikat cinta?

Kita akan menjawab pertanyaan penting tentang cinta itu di bagian lebih akhir. Kita masih perlu merumuskan berbagai pendahuluan untuk membahas cinta ini. Memang benar cinta bersifat subyektif, dalam arti tergantung subyek. Cinta saya kepada Rara bergantung kepada saya. Jika saya pergi dari ruangan ini meninggalkan Rara maka di dalam ruangan ini tidak ada lagi cinta saya kepada Rara. Tetapi cinta saya kepada Rara tetap ada dalam diri saya, dalam jiwa saya. Ke mana pun saya pergi selalu ada cinta untuk Rara.

Meski saya pergi meninggalkan ruangan tetap ada cinta di sana. Yaitu cinta Rara kepada saya. Cinta seorang anak kepada ayahnya. Dunia tidak pernah hampa dari cinta. Bahkan dunia selalu dipenuhi oleh cinta. Sampai meluber. Cinta melampaui dunia dan semesta.

Rumi, sang sufi penyair, menjalani hidup penuh cinta. Hidup adalah cinta itu sendiri. Agama adalah cinta. Eksistensi adalah cinta.

Diskusi

Sampai di sini kita berhasil membuktikan eksistensi cinta, cantik, dan materi. Di mana materi adalah realitas obyektif, terbebas dari subyek pengamat. Sedangkan cantik adalah realitas obyektif universal – tidak relatif seperti perkiraan banyak orang. Sementara cinta merupakan realitas subyektif tetapi justru lebih kuat dari materi penyusun badan manusia.

Realitas subyektif cinta memunculkan tanda tanya apakah pengetahuan kita tentang materi, misal pipi Rara, juga subyektif? Meski pun realitas pipi Rara adalah obyektif. Karena sejauh ini kita belum bisa mengetahui, secara meyakinkan, apa hakikat materi itu. Sementara, kita menerima hasil penyelidikan sains fisika yang menyatakan materi tersusun oleh atom-atom dan partikel quantum. Pada bagian berikutnya kita akan menyelidiki hakikat materi ini lebih detil dan mempertimbangkan berbagai macam alternatif berbeda. Dan berusaha menjawab subyektivitas dan obyektivitas pengetahuan manusia.

###

Lanjut ke Cantik Alami
Kembali ke Philosophy of Love

Cantik Penampakan dan Cinta Sejati

Apakah ada pengetahuan sejati? Yang dengan pengetahuan itu kita jadi yakin 100% benar. Maka kita bisa menilai segala sesuatu berdasar pengetahuan itu dengan keyakinan tinggi.

Pertanyaan mudah di atas, ternyata, jawabnya susah. Apa, yang semula, kita kira yakin 100%, bila diselidiki lebih mendalam maka tidak meyakinkan. Misal ketika kita hendak minum air di gelas di depan kita. Apakah Anda yakin 100% bahwa air tersebut tidak beracun? Tidak membahayakan diri Anda? Tidak kotor?

Barangkali kita mencoba menyelidiki asal-usul air di gelas itu. Air berasal dari botol air mineral. Diproduksi oleh produsen luar kota. Kabarnya sumber air itu dari pegunungan di Jawa Barat. Proses air sampai ke depan kita, dalam gelas, begitu panjang. Apakah kita yakin air tersebut tidak beracun dari tiap tahap prosesnya?

Tetapi kenyataannya kita sering percaya begitu saja, bahwa air di gelas itu aman. Kita minum air itu dengan santai. Tanpa menyelidiki apakah beracun. Akibatnya kita sehat sampai hari ini. Kesimpulan pertama yang bisa kita ambil adalah: hidup kita bisa menerima hal-hal meskipun tidak 100% meyakinkan. Dalam istilah keren, sains atau teknologi, manusia itu fault tolerant. Manusia itu bisa toleransi terhadap kesalahan.

Berbeda dengan mesin atau komputer. Mereka tidak toleran terhadap kesalahan. Jika kita salah memasukkan data ke komputer maka komputer akan mem-proses data dan memberikan hasil yang salah. Manusia tidak demikian. Meski ada data salah, tidak lengkap, atau tidak akurat, manusia masih bisa melakukan proses berpikir dan lain-lain untuk menghasilkan kesimpulan tepat guna. Komputer masa kini ingin meniru kehebatan manusia yang fault tolerant itu.

Nike Ardila only kosmetik - Posts | Facebook

Berikutnya mari kita ambil contoh yang lebih menantang. Misalnya di hadapan saya, atau di hadapan Anda, ada seorang gadis remaja usia mendekati 20 tahun. Wajahnya bersih. Matanya bening. Berambut hitam. Nama gadis itu adalah Rara. Rara adalah seorang gadis yang cantik, yang membuat banyak pria jatuh cinta padanya.

Kita akan menyelidiki, pertama, apakah cinta untuk Rara benar-benar ada? Atau hanya imajinasi saja? Kedua, apakah cantiknya Rara itu benar-benar ada? Bukankah cantik itu relatif? Dan ketiga, apakah Rara benar-benar ada atau hanya ilusi belaka?

Keberadaan Gadis Rara

Kita akan menjawab pertanyaan pertama. Ketika Rara ada di hadapan kita, apakah benar-benar ada Rara di depan kita?

Coba kita fokus ke wajah Rara. Perhatikan pipinya yang putih, lembut. Dihiasi warna tipis kemerah-merahan. Di atas pipi ada mata yang bening dengan bulu mata lentik. Di samping pipi ada hidung dan bibir. Benarkah itu semua ada? Atau hanya rekaan pikiran kita sendiri.

Jawabnya: Rara benar-benar ada.

Kita bisa eksperimen memejamkan mata. Rara benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan kita bisa saja pingsan, hilang kesadaran, Rara benar-benar ada. Bukan hanya ilusi pikiran kita.

Eksperimen bisa juga menggunakan kamera. Kita pergi meninggalkan Rara. Kita cek kamera, dari jarak jauh misalnya, tetap ada Rara. Jadi Rara benar-benar ada secara obyektif tidak tergantung pikiran kita. Bandingkan dengan realitas subyektif misalnya kita bisa membayangkan ada gadis pakai topi warna merah. Gadis bertopi merah itu ada dalam pikiran kita. Bayangkan pikiran orang lain yang memikirkan ada gajah berkaki tiga. Apa yang terjadi?

Ketika kita memikirkan “gajah berkaki tiga” maka gadis bertopi merah hilang dari pikiran kita. Hal itu menunjukkan bahwa keberadaan gadis bertopi merah tergantung kepada pikiran subyektif kita. Gadis bertopi merah tidak obyektif. Hanya ada bila dipikirkan.

Berbeda dengan Rara yang benar-benar ada. Baik ketika kita memikirkan Rara atau tidak.

Tetapi apakah kita benar-benar mengetahui hakikat Rara?

Nah, itu pertanyaan yang berbeda. Pertama kita bisa menyimpulkan bahwa Rara benar-benar ada. Jadi, kita berhasil meng-konfirmasi eksistensi Rara dengan positif. Kedua, kita perlu menyelidiki apakah kita bisa mengetahui hakikat Rara. Untuk menjawab pertanyaan kedua kita dapat meminjam teori dari sains terbaru.

Fisika memberi tahu kita bahwa kita bisa melihat Rara karena ada cahaya yang bersinar dari Rara mengenai indera mata kita. Bila ruangan benar-benar gelap maka kita tidak bisa melihat Rara meski Rara ada di hadapan kita. Karena tidak ada cahaya yang masuk ke mata kita.

Mari fokus bagaimana kita bisa melihat pipinya Rara. Ada cahaya yang menimpa pipi Rara dengan susunan tertentu. Pipi Rara memantulkan beragam cahaya itu, yang sebagiannya, menimpa ke mata kita. Mata kita memproses, sebagai indera penglihatan, cahaya yang diterima lalu mengirim ke otak untuk diolah lebih lanjut. Sebagai hasilnya kita tahu ada pipi di sana. Dan selengkapnya kita tahu ada Rara seutuhnya.

Di sini kita perlu melakukan beberapa pembedaan penting. Cahaya yang diterima oleh mata bisa kita sebut sebagai data-indera. Data-indera ini bersesuaian dengan pipi Rara. Tapi jelas data-indera bukanlah pipi Rara itu sendiri. Data-indera ini kemudian diolah oleh sistem indera kita menghasikan “citra” dari pipi Rara yang kita pahami. Citra ini bisa kita sebut sebagai sensasi-indera, yang berbeda dengan data-indera, dan berbeda dengan pipi Rara.

Dengan adanya pembedaan di atas maka kita lebih mudah memahami beberapa kemungkinan kesalahan yang terjadi. Kesalahan pertama yang bisa terjadi adalah data-indera tidak bersesuaian dengan pipi Rara. Misal di antara mata kita dan pipi Rara yang berjarak sekitar 2 meter dipasang kaca tembus pandang melengkung. Maka data-indera berupa gelombang cahaya yang dibiaskan oleh kaca berbeda dengan gelombang cahaya yang dipancarkan oleh pipi Rara. Sebagai akibatnya kita akan melihat pipi Rara yang melengkung. Padahal aslinya pipi Rara lurus. Fenomena semacam ini terjadi juga pada fatamorgana atau pensil yang dimasukkan ke air tampak seperti patah.

Kesalahan kedua bisa terjadi pada sensasi-indera. Misalkan data-indera yang diterima sudah bersesuaian dengan pipi Rara. Tetapi mata yang melihat dalam kondisi minus dua (-2) tanpa memakai kaca mata. Maka mata minus tersebut menghasilkan sensasi-indera yang buram tentang pipi Rara. Padahal pipi Rara cerah mempesona. Kesalahan serupa bisa terjadi kepada orang yang menderita vertigo. Dia melihat pipi Rara berputar-putar padahal aslinya pipi Rara tetap di depan kita.

Sampai di sini, kita tidak berhasil mengetahui hakikat Rara dengan meyakinkan. Pengetahuan kita tentang Rara, melalui indera, mungkin saja salah. Meski demikian kita tetap bisa yakin bahwa Rara benar-benar ada secara obyektif. Bukan sekedar ilusi. Rara benar-benar ada di depan kita.

Pada bagian selanjutnya, bab-bab selanjutnya, kita akan mendiskusikan lebih detil bagaimana sensasi-indera, pemahaman, kesadaran, dan lain-lain bisa muncul dalam diri kita. Melalui indera, kita berhasil memahami penampakan luar Rara tetapi masih gagal mengenali hakikat Rara.

Rara Gadis Cantik

Mari bergeser lebih fokus kepada kecantikan Rara. Kita telah berhasil membuktikan bahwa Rara ada di depan kita tapi apakah Rara benar-benar cantik? Atau cantik itu subyektif, relatif?

Ketika saya menatap Rara, saya yakin Rara adalah cantik. Benar-benar kualitas cantik itu ada pada Rara. Matanya yang bening, lentik bulu matanya, rambutnya hitam lebat memastikan Rara cantik. Saya yakin orang lain setuju bahwa Rara memang cantik. Tapi mungkin saja ada orang tertentu yang mengatakan bahwa Rara tidak cantik. Sehingga cantiknya Rara ini subyektif tergantung siapa yang menilainya.

Bahkan ketika saya mengatakan bahwa Rara cantik, bisa saja Eko mengatakan bahwa Rara bukan cantik tetapi Rara adalah cantik sekali. Sehingga cantik itu relatif – dan subyektif.

Tidak demikian pandangan para filsuf tingkat dunia. Ketika orang awam menilai bahwa cantik itu relatif dan subyektif, sebaliknya, para filsuf justru menyatakan bahwa cantik itu nyata, obyektif, dan jelas. Baik dari Plato, Aristoteles, Ibnu Arabi, dan lain-lain.

Aristoteles mengatakan bahwa cantik itu ada pada obyeknya (pada diri Rara). Di mana obyek cantik bernilai artistik menunjukkan karakter simetri, harmoni, tertata, seimbang, dan sebagainya. Sebagaimana kita bisa menemukan itu semua dengan menatap langsung wajah Rara.

Plato, gurunya Aristoteles, melangkah lebih jauh dengan mendefiniskan cantik itu bersifat universal – meminjam istilah Bertrand Russell. Cantik adalah “idea” atau “form” yang menyebabkan sesuatu jadi cantik. Cantik berada dalam domain obyek intelligible.

Ibnu Arabi, filsuf sufi Timur, mendefinisikan cantik dengan membandingkan dengan sifat perkasa. Cantik, sejatinya, adalah sifat Tuhan yaitu jamal yang saling melengkapi dengan sifat Tuhan yang Perkasa yaitu Jalal. Cantik itu sendiri manifestasi dari nama-nama Tuhan yang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Baik, dan lain-lain.

Kiranya cukup, untuk sementara ini, kita katakan bahwa cantiknya Rara itu bernilai penting – tidak hanya sesuatu yang relatif. Bahkan cantiknya Rara ini bisa lebih kuat dari pipinya Rara itu sendiri. Kita akan mendiskusikan lebih jauh tentang cantik ini dari bab demi bab pada bagian selanjutnya.

Cinta untuk Rara

Tiba waktunya kita membahas cinta Rara. Saya jelas cinta kepada Rara. Cinta yang suci dari seorang ayah kepada putrinya. Cinta yang tulus. Hanya memberi tak pernah mengharap kembali.

Beda dengan Joko, yang juga mencintai Rara dengan tulus. Joko adalah calon suami Rara. Hidup Joko menjadi begitu berbunga-bunga sejak jatuh cinta kepada Rara. Bahkan Rara juga mencintai Joko. Mereka hidup bahagia penuh cinta.

Mari kita eksperimen pikiran. Waktu berlalu, maju seputuh tahun ke depan. Wawan, bocah umur 5 tahun, juga cinta kepada Rara sebagai ibunya. Cinta sejati.

Teman-teman Rara juga cinta ke Rara sebagai sahabat. Dan masih banyak cinta lagi untuk Rara.

Sampai di sini kita merasakan besarnya peran cinta. Meski awalnya, kita menduga cinta itu hanya subyektif, relatif, dan tidak ilmiah ternyata kita tidak bisa mengecilkan arti penting cinta. Bahkan cinta itu bisa lebih penting dari segalanya. Kita bisa mempertimbangkan pandangan Rumi yang menyatakan segala yang ada adalah manifestasi cinta.

Sartre, filsuf continental eksistensialis, mengatakan bahwa cinta itu adalah prestasi tertinggi dari subyek yang sadar. Adorno, pendiri “critical theory”, menegaskan pentingnya karya seni tinggi yang merupakan ekspresi dari cinta itu sendiri.

Lagi, kita akan menunda sementara, membahas cinta lebih detil pada bab-bab selanjutnya.

Ringkasan

Pada bagian ini kita berhasil meyakinkan bahwa obyek eksternal, semisal Rara yang cantik, memang ada secara obyektif. Namun kita hanya mampu mengenali penampakan Rara. Apa hakikat sejati dari Rara belum kita ketahui. Pada bab selanjutnya kita akan mencoba memahami hakikat Rara.

Masih pada bagian ini, kita juga berhasil menunjukkan posisi penting dari cantik dan cinta. Bukan sekedar sesuatu yang relatif dan tidak ilmiah, tetapi cantik dan cinta, adalah tema penting dalam filsafat yang perlu kita bahas tuntas di seluruh sisa tulisan ini.

Kembali ke pengantar dan daftar isi.
Lanjut ke Eksistensi Cinta

Covid Indonesia (Tidak) Membaik

Ketika kasus dunia melonjak kemarin, 600 ribu kasus baru di dunia dalam 1 hari, covid di Indonesia justru tampak membaik. Penambahan kasus harian di Indonesia cenderung kecil dibanding pekan-pekan lalu. Hitungan R juga berhasil di bahwa 1 sekitar 0,95 yang menunjukkan pandemi mulai mereda di Indonesia. Apakah bisa dipercaya?

Beberapa orang berhak mempertanyakan dan meragukan data covid di Indonesia.

Angka kematian harian dunia juga memuncak di 8 717 orang satu hari kemarin. Tertinggi sepanjang masa pandemi korona ini.

Di sisi lain, menkes Indonesia diundang WHO untuk berbagi pengalaman sukses menangani pandemi. Kita, sekali lagi, patut bersyukur. Semoga jadi berkah untuk kita semua.

Analisis saya sederhana saja. Jika Indonesia bisa bertahan R di bawah 1 dalam 2 pekan atau lebih maka itu benar-benar membaik. Kita perlu konsisten untuk bersama-sama menjaganya.

Tetapi pengalaman sejauh ini, sering terjadi lonjakan lagi. Apakah akan ada lonjakan dalam beberapa hari ke depan? Semoga tidak.

Bagaimana menurut Anda?

Krisis Islam vs Macron

Presiden Prancis Macron melangkah begitu jauh dengan menyatakan Islam adalah agama dalam kiris di seluruh dunia. “Islam is a religion that is in crisis all over the world today, we are not just seeing this in our country,” Mr.  Macron said.

Pernyataan Macron dapat respon keras dari berbagai kalangan. Salah satunya seruan boikot produk Prancis. Tentu saja bahaya bagi Prancis.

Saya melihat pernyataan Macron di atas, Islam dalam krisis di seluruh dunia, tidak bisa dibuktikan validitasnya. Tetapi justru mudah dibuktikan kesalahan pernyataan Macron itu.

Ini Pernyataan Kontroversi Emmanuel Macron, Presiden Prancis Hina Agama  Islam dan Nabi Muhammad SAW - Warta Kota

Tetapi editorial The Print memuat analisis yang lembut berbahaya menyesatkan pikiran.

Berjudul, “5 Alasan yang menunjukkan crisis di Islam Global.” Paragraf awal sudah menguatkan pendapat Macron bahwa Islam dalam krisis di dunia.

Menyesatkan Pikiran

Editorial The Print tidak salah tapi menyesatkan. Mari kita perhatikan tiga pernyataan berbeda berikut.

A. Islam dalam krisis di seluruh dunia (Pernyatan Macron)
B. Ada 5 alasan menunjukkan krisis di Islam (Judul The Print)
C. Islam TIDAK dalam krisis di sebagian dunia

Sesuai judulnya, The Print, menguraikan 5 alasan yang mereka maksud, dengan lembut. Pertama, Islam adalah agama yang paling dipolitisir. Kedua, adanya ketegangan antara nasionalisme dan pan-nasionalisme di negara-negara berpenduduk muslim. Ketiga, ironi munculnya teroris pan-islami semisal Al Qaeda dan ISIS. Keempat, ada kontradiksi parah di mana negara muslim kaya tidak mau berbagi dengan negara muslim miskin. Kelima, terjadi defisit demokrasi.

5 alasan di atas tampak masuk akal dan, sementara, asumsikan benar. Maka terbukti pernyataan B, judul editorial, adalah benar: Ada 5 alasan menunjukkan krisis di Islam.

Dan secara halus, pembaca menyimpulkan bahwa pernyataan Macron juga benar. Tentu saja tidak sah. Cara berpikir yang sesat itu. Pernyataan Macron beda dengan judul editorial. (Pernyataan A beda dengan B).

Pernyataan Macron, pernyataan A, tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Kita tidak mungkin bisa, sulit sekali bisa, menunjukkan bahwa semua dunia Islam sedang dalam krisis. Bagaimana kita bisa menguji keadaan dunia islam satu demi satu?

Tetapi pernyataan Macron ini justru lebih mudah diuji dengan falsifikasi gaya Karl Popper. Misalnya dalam bentuk pernyataan C: Islam TIDAK dalam krisis di sebagian dunia.

Ambil contoh negara Brunei tidak dalam keadaan krisis. Maka pernyataan C benar, ada wilayah Islam yang tidak krisis. Dengan demikian pernyataan Macron salah.

Meski dengan asumsi judul editorial benar, kita tetap bisa menunjukkan bahwa pernyataan Macron salah.

Apakah media sengaja membangun cara berpikir yang menyesatkan? Tampaknya The Print yang harus menjawabnya.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Prancis Macron: Sudah Mati Makna

Orang sedang ramai membicarakan presiden Prancis Macron. Benar saja dia sudah mati begitu selesai berucap. Pembaca bebas menafsirkan semua kata-kata Macron.

Jauh hari sebelumnya, posmodernis Prancis, semisal Derrida dan Lyotard, sudah mengatakan kita masuk pada era matinya makna. Pembicara, semisal Macron, langsung mati begitu selesai bicara. Pendengar, pembaca, langsung hidup bebas berimajinasi sesuai masing-masing individu. Yang ada hanya mikrologi, kata Lyotard. Imajinasi-imajinasi kecil.

Presiden Prancis Emmanuel Macron: Hari-Hari Lebih Baik Akan Datang

Dari pidato Macron, teks, yang panjang itu banyak tafsir bisa dikembangkan.

  1. Macron ingin menangani kekerasan di Prancis
  2. Macron ingin mencegah kericuhan
  3. Macron membedakan Islam radikal dengan lainnya
  4. Macron membiarkan karikatur itu
  5. Macron menghina Nabi
  6. Macron menyakiti 1,5 milyard umat muslim
  7. Macron punya agenda tersembunyi

Meski Macron, barangkali, bermaksud fokus menangani dan mencegah kekerasan di Prancis tapi pembaca punya fokus yang berbeda. Bisa jadi pembaca lebih fokus ke tafsir 4, 5, 6, dan 7 di atas.

Apalagi dalam wawancara selanjutnya, Macron menegaskan tetap membela kebebasan ber-ekspresi di Prancis. Hal ini dapat menguatkan mikrologi: Macron menghina Nabi. Mikrologi bisa salah. Tapi bisa saja benar. Yang jelas mikrologi itu nyata.

Derrida, pelopor posmo Prancis, yakin tidak mungkin ada konsensus. Justru yang muncul dissensus. Dan paralogi. Logika-logika yang berbeda dari yang diharapkan pembicara, Macron itu sendiri.

Selanjutnya, kita tahu, simulacra menyebarkan mikrologi-mikrologi melalui beragam media sosial. Baudrillard, posmo Prancis juga, sudah mengantisipasi peran simulacra yang hebat ini.

Benar-benar semua harus jadi pelajaran bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Rate Card Tik Tok Youtube

APIQ membuka kesempatan kerja sama untuk saling memajukan. Khususnya melalui canel youtube paman APIQ (hampir 500 ribu subscriber), youtube edujiwa (lebih dari 200 ribu subscriber), tik tok paman APIQ (hampir 115 ribu follower), dan media sosial lain.

Rate card berkisar Rp 100 – 1000 cost per view

Rate card termurah, Rp 100 per view adalah dengan menampilkan logo Anda di 10 detik pertama video multimedia APIQ.

Rate card maksimal, RP 1000 per view adalah menampilkan logo Anda selama 120 detik di video multimedia APIQ.

Bentuk kerja sama khusus dapat kita kembangkan dengan diskusi lebih detil melalui WA APIQ 0818 22 0898.

Sukses selalu untuk kita semua.

Philosophy of Love & Beauty

Sudah banyak pandangan negatif. Saatnya kita membahas dari sisi positif, berguna, dan jelas. Masalah-masalah filsafat akan kita tinjau dengan fokus ke cinta, kecantikan, dan tentu saja materi. Tidak ada cara sederhana untuk membahasnya. Kita berusaha untuk memilih cara-cara paling sederhana.

Masalah paling dasar manusia adalah pengetahuan tentang materi alam sekitar. Pembahasan ini bisa menarik tapi bisa terlalu teknis. Maka saya akan mengambil contoh fenomena kecantikan yang tentunya lebih hidup. Meski lebih kompleks dari materi, kecantikan, tetap punya daya tarik. Kemudian kita melangkah lebih jauh ke tema cinta. Banyak orang yang menilai cinta sebagai subyektif, tapi kita akan melihat peran besar cinta dalam membimbing manusia menuju hakikat kebenaran.

Secara garis besar tulisan ini mengadaptasi karya Bertrand Russel, The Problems of Philosophy. Kita akan menemukan bagian yang diringkas. Namun banyak bagian yang diperluas karena kemajuan jaman. Dan tentu saja karena cinta dan kecantikan itu sendiri.

Kemajuan sains dengan mekanika quantum, relativitas Einstein, dan masyarakat digital tentu akan mengubah banyak hal yang kita hadapi. Kebenaran filosofis, yang dulu berhadapan dengan fenomena nyata, kini harus menghadapi fenomena maya belantara tanpa lentera.

Bagaimana menurut Anda?

  1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
  2. Eksistensi Cinta
  3. Cantik Alami
  4. Idealisme
  5. Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi
  6. Induksi: Cantik Keturunan
  7. Pengetahuan Prinsip Umum
  8. Pengetahuan A Priori
  9. Dunia Universal
  10. Pengetahuan Tentang Universal
  11. Pengetahuan dan Intuisi Cinta
  12. Kebenaran dan Kesesatan
  13. Pengetahuan, Kesalahan, dan Opini
  14. Batas-Batas
  15. Manfaat Filsafat
  16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan
  17. Ekonomi Cinta
  18. Politisasi Cinta
  19. Agama Cinta

Iman Dulu atau Ilmu

Jokowi adalah presiden terbaik Indonesia? Donald Trump adalah presiden yang baik?

Coba kita fokus ke Trump apakah presiden yang baik atau buruk. Data dari media tersebar luas di seluruh dunia. Bahkan saat ini Trump sedang bertarung lawan Biden untuk kursi presiden baru. Inilah kesimpulan dari banyak data itu,

Trump adalah presiden yang buruk.

Jokowi Undang Donald Trump ke Indonesia

Analisis nytimes, washingtonpos, nbc, dan lain-lain menunjukkan Trump adalah presiden yang buruk. Tapi tidak selalu begitu!

Bagi pendukung Trump, justru Trump adalah presiden yang baik. Mereka juga membaca nytimes, washingtpos, nbc, dan lain-lain itu. Kesimpulannya jelas: Trump adalah presiden yang baik.

Survey baru-baru ini dilakukan setelah Trump debat melawan Biden dalam kampanye calon presiden Amerika. Siapa pemenang debat itu?

Pemenangnya adalah Trump, menurut pendukung Trump. Pemenangnya adalah Biden, menurut pendukung Biden. Mereka jelas-jelas menonton debat capres yang sama. Data sama tapi kesimpulan berbeda. Kejadian yang mirip adalah ketika debat capres Jokowi lawan Prabowo. Pemenangnya adalah sesuai masing-masing pendukung.

Kesimpulan lebih besar dipengaruhi oleh keyakinan dari pengetahuan.

Jadi, iman lebih menentukan dari ilmu.

Meski kita perlu kedua-duanya, iman dan ilmu, pengalaman menguatkan hipotesis bahwa iman lebih besar pengaruhnya. Keyakinan lebih besar pengaruhnya dari pengetahuan.

Kita bisa menganalisis lebih jauh bahwa setiap data, atau pengetahuan, membutuhkan data pendukung. Pada gilirannya data pendukung akan membutuhkan pendukung yang lebih awal lagi. Yang pada akhirnya, kita akan berhenti pada data tertentu. Data paling dasar tersebut tidak lagi didukung oleh data pendukung. Data paling dasar tersebut hanya didukung oleh keyakinan saja.

Dengan asumsi tidak ada bias setiap menganalisis data, kita pasti sampai kepada data dasar terakhir yang tanpa didukung data lagi. Bila ditambah ada kemungkinan bias dalam menganalisis dan memilih data maka makin sulit lagi mempertahankan keabsahan suatu kesimpulan.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah Jokowi presiden terbaik Indonesia?

Maka keyakinan kita akan lebih banyak menentukan jawaban di atas dibanding data-data yang ada.

Apakah ini bermakna segala sesuatu adalah relatif? Seperti yang terus didengung-dengungkan para posmodernis? Dari Derrida, Lyotard, Baudrillard, dan lain-lainnya yang sudah mengumandangkan kematian makna?

Saya kira bukan relatif. Tetapi ada keterbatasan kita untuk mengetahui sesuatu secara hakiki. Kita hanya mengetahui beberapa persen. Dan seharusnya kita yakin tidak sampai seratus persen. Masih menyediakan ruang kemungkinan untuk pengetahuan yang berbeda.

Saya lebih setuju menggunakan istilah ketidakpastian. Pengetahuan kita tidak 100% pasti. Sesuai konsep ketidakpastian Heisenberg dan gelombang Schrodinger. Meskipun, Einstein yakin bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu tapi kita tidak tahu pasti apa yang sedang dimainkan.

Kita wajib terus belajar. Menambah ilmu. Agar makin dekat dengan kepastian – yang selalu terselip ketidakpastian. Dan iman akan menguatkan ilmu dan saat yang sama ilmu menerangi iman.

Bagaimana menurut Anda?