Featured

Media Berbagi

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Tokoh Super Pesimis Vs Optimis

Apakah Anda termasuk orang yang pesimis atau optimis? Atau super pesimis? Silakan menjawabnya setelah membaca beberapa tokoh pesimis dan optimis berikut.

Tokoh paling pesimis adalah Schopenhauer yang hidup sejaman dengan Hegel. Schopen, sebagai tokoh super pesimis, kita tandai sebagai bintang 1. Sementara, tokoh paling optimis yaitu super optimis, kita tandai sebagai bintang 5; siapakah dia?

Baik tokoh pesimis mau pun optimis sama-sama mengajarkan kebaikan. Barangkali Anda tertarik seimbang antara optimis dan pesimis? Pilihlah tokoh bintang 3. Bagaimana pun, Anda tetap valid memilih tokoh bintang 1 atau bintang 5 sebagai teladan super.

1. Meraih Manusia Paripurna
2. Seni sebagai Bahagia Tertinggi
3. Gelisah sebagai Manusia
4. Hanya Satu Arah berubah
5. Harapan Tanpa Harapan

Kita akan membahas tokoh-tokoh ini bertahap tetapi tidak urut. Anda boleh setuju atau berbeda dengan saya. Pemilihan tokoh di sini bersifat penjelasan dalam arti bermaksud menjelaskan maksud pesimis dan optimis; meski ketepatan histori bisa lebih jauh dikaji.

1. Meraih Manusia Paripurna

Kita mulai dengan tokoh super optimis bintang 5 yang mengajarkan bahwa setiap orang, termasuk Anda, bisa menjadi manusia sempurna. Orang miskin, orang kampung, orang hitam, orang kecil, orang kaya, orang kota, orang putih, orang besar, dan setiap orang bisa menjadi manusia paripurna. Bukan hanya Anda bisa menjadi manusia sempurna melainkan jalan menjadi manusia sempurna itu sudah tersedia untuk Anda.

Tokoh yang mengajarkan konsep manusia sempurna ini adalah Syeikh Akbar (abad 13) atau Ibnu Arabi atau Guru Agung. Manusia sempurna adalah manusia seperti diri kita ini yang punya batas, lemah, dan kadang salah. Hanya saja, manusia sempurna mengembangkan seluruh posibilitasnya menjadi posibilitas yang nyata; mengembangkan seluruh kebaikan menjadi kebaikan yang nyata badi dirinya, orang sekitar, alam dan masyarakat luas. Manusia sempurna ini sering disebut sebagai insan kamil atau kamil.

Di sisi lain, kamil adalah manifestasi dari Tuhan. Jadi kamil bukanlah manusia biasa melainkan manusia luar biasa. Anda hanya bisa menjadi kamil karena limpahan karunia Tuhan. Kabar baiknya, karunia Tuhan berlimpah untuk semua orang dan alam raya.

Super optimis: Anda adalah manusia sempurna dan setiap orang bisa menjadi manusia sempurna.

Bagaimana dengan manusia yang gagal? Apa maksud gagal? Kasih sayang Tuhan mendahului amarah Nya. Ampunan Tuhan lebih luas dari samudera; lebih tinggi dari gunung tertinggi; lebih menjulang dari langit berlapis-lapis.

Bagaimana dengan orang yang terjerumus ke dalam neraka? Menurut Syeikh Akbar, orang yang masuk neraka setelah sekian waktu akan dikeluarkan dan masuk surga; karena orang itu masih punya sedikit kebaikan dalam dirinya. Bagaimana jika orang itu benar-benar jahat tanpa ada kebaikan? Orang itu akan tinggal di neraka selamanya tetapi ia akan mampu melakukan adaptasi yang diperlukan; pada akhirnya, ia berada di tempat paling tepat baginya.

Super optimis: meski Anda terjerumus dalam dosa tetapi masih ada kesempatan untuk bertobat. Mari bertobat dan kemudian meniti jalan menjadi manusia sempurna. Sukses untuk Anda, bahagia untuk Anda dan orang-orang di sekitar Anda.

Apakah Anda termasuk super optimis bintang 5?

2. Seni sebagai Bahagia Tertinggi

Menikmati seni adalah bahagia tertinggi; mendengarkan lagu yang merdu sungguh menghibur kalbu. Pernahkah Anda mengalami seperti itu?

Nikmat seni hanya sesaat kemudian lenyap. Hidup adalah derita. Keinginan Anda untuk menghapus derita adalah sumber derita itu sendiri. Lebih mudah bila kita tidak pernah lahir di dunia ini; tidak pernah merasakan derita di dunia ini. Super pesimis: bintang 1.

Schopenhauer (abad 19) adalah pemikir super pesimis bintang 1. Setiap orang punya keinginan, hasrat, atau cita. Keinginan adalah sumber derita. Cara mengurangi derita adalah dengan mengurangi keinginan; keinginan Anda berkurang maka derita Anda berkurang.

Apakah manusia bisa bahagia? Super pesimis; sulit sekali. Nyaris semua orang menderita di sepanjang hidupnya. Derita hilang ketika Anda “terhibur” dalam alunan karya seni. Tetapi itu pun hanya berlangsung sesaat. Bila Anda benar-benar ingin meresapi seni maka keinginan Anda itu membuat Anda gagal menikmati seni; justru mengantar Anda dalam derita.

Super pesimis: bintang 1. Apakah Anda termasuk super pesimis?

Super pesimis ini justru sangat bermanfaat untuk kehidupan orang-orang jaman sekarang. Orang sekarang sering buru-buru tidak punya waktu; sibuk kerja, sibuk bisnis, sibuk cari duit, sibuk media sosial, sibuk apa saja. Mereka terjerumus dalam derita. Derita itu bisa dikurangi dengan cara mengurangi keinginan. Kemudian menjalani hidup dengan seni hidup yang mengalir. Itulah bahagia: seni mengalir menjalani hidup ini.

Apakah ada orang yang bisa menjalani seni hidup mengalir? Sulit sekali; sedikti sekali. Memang super pesimis: bintang 1. Apakah Anda termasuk seperti itu?

3. Gelisah sebagai Manusia

Apakah Anda pernah merasa gelisah? Gelisah tidak punya kerja? Tidak punya uang?

Gelisah karena telah berpulang ibu dan ayah? Gelisah akan masa depan Anda dan keluarga Anda? Gelisah akan masa depan generasi muda dan negara?

Gelisah adalah anugerah terbesar buat seorang manusia. Seekor ular tidak pernah gelisah. Bila ular lapar maka ia tinggal mencari makan tikus atau anak ayam. Kera juga tidak gelisah tentang krisis ekonomi. Kucing juga tidak gelisah situasi politik negara yang pecah belah. Gelisah adalah unik milik manusia sejati.

Gelisah berbeda dengan takut. Tikus takut dimangsa ular. Kucing takut digigit anjing. Manusia juga takut ditagih rentenir. Takut itu biasa-biasa saja. Tapi rasa gelisah adalah luar biasa. Mengapa?

Karena gelisah membuka posibilitas masa depan dengan mengetuk sisi terdalam nurani manusia. Karena gelisah itu Anda merencanakan masa depan; menyiapkan diri untuk meraih cita; rela berkorban untuk kebaikan bersama. Pada waktunya, Anda sukses penuh makna. Membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Jadi gelisah itu bermakna positif? Tepat sekali. Memang optimis.

Tetapi untuk sukses meraih cita perlu rasa gelisah? Benar. Memang pesimis. Gelisah itu menyakitkan hati dan menusuk diri.

Bintang 3: optimis dan pesimis berimbang. Apakah Anda termasuk bintang 3 yang berimbang?

Tokoh bintang 3 adalah Heidegger (1889 – 1976) yang berimbang antara pesimis dan optimis. Karena Heidegger berada di lingkungan akademisi yang rasional analisis maka pendekatan Heidegger sering dipandang sebagai pesimis. Salah satunya, Heidegger sering membahas tentang kematian. Pada waktunya, kita pasti akan mati. Pesimis.

Mati itu penting. Hanya manusia yang bisa mati. Kucing tidak bisa mati; kucing hanya bisa musnah. Mati bagi seorang manusia adalah terbukanya posibilitas yang imposibel. Mati membuka jalan bagi kita untuk menuju dunia yang lebih luas; nyaris tanpa batas. Jadi mati adalah positif? Yes, optimis. Tapi, mati menjadikan hidup ini berakahir? Yes, pesimis. Coba Anda renungkan: apakah Anda di bintang 3? Optimis dan pesimis berimbang?

4. Hanya Satu Arah berubah

Waktu terus begulir. Segalanya berubah. Matahari terbit, terbenam, lalu terbit lagi. Purnama muncul lalu hilang untuk kemudian datang lagi purnama. Semua terus berputar tanpa henti.

Ke arah mana semua gerakan itu? Hanya satu arah: menuju yang lebih sempurna.

Semua gerak di alam semesta; termasuk gerak-gerik Anda; pasti adalah menuju lebih sempurna. Optimis banget? Betul, optimis: bintang 4.


5. Harapan Tanpa Harapan

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Sejarah Quantum Diperbarui

Benar sejarah quantum. Bukan hanya metafora kuantum. Zizek klaim sejarah diperbarui oleh perkembangan kuantum; sedangkan kuantum butuh sejarah dialektika Hegel untuk mengatasi beragam masalah. Hasilnya adalah singularitas AI salah satunya.

“Žižek’s Quantum History: A New Materialist Philosophy stakes its claim on a double front: it proposes a reconstruction of materialism adequate to contemporary quantum physics and, inseparably, a reconstruction of historical and political agency under conditions in which no neutral standpoint outside quantum indeterminacy and symbolic distortion is available. The book’s distinctive contribution lies in the sustained attempt to read quantum mechanics, Hegelian dialectics and Lacanian psychoanalysis as mutually implicated discourses of the void, the collapse and the act, such that cosmology, ontology and politics are articulated on a single plane of immanence.” (SimonGros1990.com).

Žižek’s Quantum History: A New Materialist Philosophy menegaskan posisinya pada dua ranah sekaligus: karya ini mengajukan rekonstruksi materialisme yang memadai bagi fisika kuantum kontemporer dan, secara tak terpisahkan, rekonstruksi agensi historis dan politik dalam kondisi di mana tidak tersedia sudut pandang netral di luar ketakpastian kuantum dan distorsi simbolik. Kontribusi khas buku ini terletak pada upaya berkelanjutan untuk membaca mekanika kuantum, dialektika Hegelian, dan psikoanalisis Lacanian sebagai wacana-wacana yang saling terjalin mengenai kehampaan, keruntuhan, dan tindakan, sehingga kosmologi, ontologi, dan politik dirumuskan dalam satu bidang imanensi yang sama.

1.UPS: Universal, Partikular, Singular
2. Void: Selalu Gagal
3. AI Bisa Berpikir?
3.1 Dominasi Kapital
3.2 Lebih dari Kapital
3.3 Bisa Berpikir?
3.4 Kesimpulan Berpikir
3.5 Mesin sebagai Subyek
3.6 Ringkasan AI
4. Diskusi

Zizek menegaskan mengikuti alur UPS: universal, partikular, singular. Awalnya, Kant (1724 – 1804) menggunakan sintesa UPS sebagai logika yang valid dan menolak dialektika karena tidak valid. Kemudian, Hegel (1770 – 1831) justru mengambil logika dialektika sebagai paling valid: universal berdialektika dengan partikular menghasilkan singular.

Apakah AI bisa berpikir? Tidak bisa. Karena untuk berpikir seperti manusia, kita membutuhkan void (gap ontologi); yaitu paradoks, dilema, dan kontradiksi. AI tidak memiliki void itu; bahkan binatang, misal simpanse saudara dekat kita, juga tidak memiliki void. Jadi mereka tidak bisa berpikir. AI hanya bisa merespon sesuai algoritma belaka tanpa gap.

Apakah di masa depan AI bisa berpikir seperti manusia? Zizek tidak bisa menjawab itu. Simon Gros, yang kita kutip di atas, juga tidak menjawabnya. Mereka membiarkan masa depan AI tetap terbuka; bisa apa saja. Yang jelas, bagi Zizek, AI masa kini telah menimbulkan bencana besar bagi umat manusia.

1.UPS: Universal, Partikular, Singular

Zizek sering canda. Dalam intro, ia canda tentang ateisme dan Reagan.

Dalam salah satu leluconnya yang cukup dikenal, Ronald Reagan mengusulkan untuk membantah ateisme melalui skenario berikut: ia akan mengundang sekelompok ateis terkemuka ke sebuah jamuan makan malam yang sangat mewah, dimasak oleh para koki terbaik. Setelah santap malam tersebut, ia kemudian akan bertanya kepada mereka: “Apakah Anda percaya bahwa ada seorang juru masak yang menciptakan hidangan ini?” Dalam analogi yang jelas, berbagai hal yang jauh lebih sempurna di alam semesta kita dianggap membuktikan bahwa pasti juga ada seorang “juru masak” tertinggi sebagai pencipta.

Namun, ketidakselarasan logis (non sequitur) dalam lelucon ini sebenarnya cukup jelas. Saya menganggap lelucon berikut tentang kepercayaan kepada Tuhan sebagai contoh yang jauh lebih baik.

Seorang ateis mendapat hari libur kerja, lalu memutuskan untuk pergi memancing dengan perahu barunya di Danau Loch Ness. Hari itu sangat indah: matahari bersinar, danau tenang, dan ikan mudah didapat. Tiba-tiba, perahunya diserang oleh monster Loch Ness! Dengan satu kibasan mudah, makhluk itu melemparkan sang pria beserta perahunya tinggi ke udara. Monster tersebut kemudian membuka mulutnya, bersiap menelan pria dan perahunya sekaligus. Ketika pria itu terlempar berputar di udara, ia berteriak: “Ya Tuhan! Tolong aku!” Seketika, serangan ganas itu berhenti, adegan membeku, dan sementara sang ateis tergantung di udara, sebuah suara menggelegar terdengar dari langit: “Bukankah kau bilang tidak percaya kepada-Ku?” “Ah, ayolah, Tuhan! Berilah aku kelonggaran,” pintanya. “Baru satu menit yang lalu, aku juga tidak percaya pada monster Loch Ness!”

Ijinkan Zizek mengembangkan lebih banyak logika tidak selaras lagi agar tambah seru.

Zizek melanjutkan: “Buku ini mengikuti logika UPS: bergerak dari Universal melalui Partikular menuju Singular. Pembahasan diawali dengan materialisme dialektis, yakni penelusuran implikasi-implikasi filosofis dari mekanika kuantum sebagai dasar bagi suatu bentuk baru materialisme dialektis. Selanjutnya, buku ini beralih ke materialisme historis dengan memperhadapkan gagasan historisitas menurut Hegel dan Heidegger. Penutupnya berfokus pada singularitas tindakan-tindakan politik, dengan menyoroti implikasi politis dari pembacaan Hegel melalui lensa kuantum. Dengan demikian, silogisme yang mendasari buku ini adalah bahwa kita hanya dapat kembali dari Heidegger kepada Hegel melalui mediasi semesta kuantum.”

Maksud logika UPS adalah dialektika Hegel; bukan sintesa Kant; akibatnya, kita akan menemukan banyak kontradiksi; justru itu amat berarti bagi Zizek.

Universal quantum merevisi dialektika Hegel; karena Hegel belum kenal kuantum kala itu; struktur realitas kuantum: kolaps, non-komutatif, dan holografik. Kolaps menyatakan bahwa kita tidak bisa memastikan akan up atau down di awal; kita tidak bisa memastikan AI akan berguna atau berbahaya. Kita hanya bisa analisis retroaktif – analisis mundur setelah kejadian.

Non-komutatif menyatakan posisi x momentum berbeda dengan momentum x posisi. Tentu saja punya anak lalu menikah itu berbeda dengan menikah lalu punya anak. Bagaimana bisa dianggap sama? Angka 3 x 2 = 2 x 3 dianggap sama-sama 6 karena universal belaka.

Holografik menyatakan bahwa bagian-bagian menyimpan informasi seutuhnya dari keseluruhan. Dari atom, fermion, boson, string, atau gravitasi maka kita bisa memahami seluruh alam semesta. Mana bisa? Tentu saja, Zizek suka dengan kontradiksi.

Dialektika Hegel menegaskan bahwa setiap realitas (being) kontradiksi dengan kebenaran (esensi). Kontradiksi ini akan menghasilkan sintesa berupa realitas baru; dan proses dialektika berlanjut tanpa henti. Jadi kontradiksi dari kuantum di atas adalah karakter dari realitas itu sendiri; bukan pengetahuan yang tidak lengkap misal karena ada variabel tersembunyi (dugaan Einstein); tetapi karena secara ontologis memang tidak lengkap. Dialektika dalam sejarah partikular seperti inilah yang menyebabkan kuantum selalu bertabrakan dengan kontradiksi; dialektika Hegel mampu “menjelaskan” enigma kuantum.

Heidegger bertanya: Apa makna Being? Apa makna Ada? Apa makna Realitas?

Bagi Heidegger selalu ada perbedaan ontologis; selalu eksis perbedaan realitas dengan esensi; setelah bertanya makna-Ada. Perbedaan ontologis itulah eksistensi; Heidegger menyebutnya sebagai dialog eksistensi bukan dialektika. Dasein (manusia) menjadi eksis ketika dialog. Bagi Hegel, spirit (manusia) mengalami eksperien sebagai subyek dialektika. Sementara, eksistensi memiliki makna otentik ketika terbentang dari lahir sampai mati menurut Heidegger. Histori punya awal dan akhir. Eksistensi manusia (dasein) yang bersifat historal inilah yang menyebabkan teori kuantum akan terus berubah dinamis seiring sejarah.

Tetapi, saya tidak menemukan Zizek bertanya apa makna Ada? Apa makna eksistensi?

Universal dari hukum-hukum kuantum dan metafisika Hegel selalu berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi partikular dalam histori yang mendorong kita ke arah singular.

Mari kita ringkas maksud UPS dari Zizek. (0) Hegel merumuskan dialektika metafisika; (1) mekanika kuantum “melengkapi” dengan hukum universal kuantum; yang menemui paradoks; (2) Hegel mengungkap sejarah partikular dialektika; Heidegger mengungkap sejarah eksistensial dialogis partikular; mengungkap yang masih tersembunyi dari kuantum itu sendiri; (3) akhirnya, kita kembali kepada dialektika Hegel sebagai singular.

Zizek terus terang mengajak kita kembali ke Hegel; setelah berpetualang kuantum, Heidegger, kuantum, lalu Hegel. Mengapa tidak berputar terus saja Hegel, kuantum, Heidegger?

Tetapi, apakah fisikawan kuantum membutuhkan Hegel?

2. Void: Selalu Gagal

Mengapa selalu terjadi kontradiksi? Karena void (hampa): selalu ada gap dalam ontologi; ada retakan dalam realitas.

Ketika AI mulai halusinasi, ia mendekati realitas. Ketika kuantum menabrak kontradiksi (kolaps, non-komutatif, holografik), ia mendekati realitas. Ketika pemimpin politik mulai tidak masuk akal, ia menunjukkan dekat kejujuran. Memang begitulah adanya.

Zizek berjuang menempatkan void di pusat ontologi dalam karyanya, sekitar 10 tahun lalu, Less Than Nothing. Void bukan sekadar nothing melainkan less than nothing; lebih tersembunyi dari nothing; hanya sesekali menampakkan diri dalam paradoks, dilema, dan kontradiksi.

Setiap orang yang ingin menetapkan fomula sains tuntas; pemerintahan yang adil sempurna; kehidupan keluarga yang harmonis tiap hari; dipastikan gagal. Karena mereka semua akan berjumpa dengan void. Gagal ini bukan tanda keburukan melainkan tanda Anda makin dekat dengan realitas sebenarnya.

Valid pandangan Zizek: kuantum membutuhkan Hegel.

Saya tidak menemukan ada fisikawan yang membahas Hegel secara mendalam. Zizek juga tidak menunjukkan ada fisikawan yang mengkaji Hegel. Buku Quantum History ini pun tampaknya tidak dibaca oleh fisikawan. Beberapa ilmuwan di media sosial justru mencibir Zizek karena membahas quantum.

Memang Zizek tampak semangat ketika ngobrol dengan Penrose (fisikawan kuantum). Tetapi, saya tidak melihat Penrose tertarik dengan Hegel dari Zizek. Begitu juga dengan Rovelli (fisikawan kuantum) tidak tampak tertarik dengan Hegel. Rovelli malah menolak Heidegger dan menyarankan kembali ke Aristoteles.

Problem para fisikawan kuantum adalah masih terlalu kuat dalam paradigma positivisme; padahal kuantum membutuhkan negativitas; kuantum membutuhkan void; kuantum membutuhkan Hegel versi Zizek yang diwarnai oleh Lacan. Positivisme mengira bahwa akan ditemukan formula kuantum yang tuntas secara positif, afirmasi, dan bisa verifikasi. Sedangkan negativitas Zizek menyatakan bahwa selalu ada gap ontologi, yaitu void, sehingga tidak akan tuntas. Jadi, kuantum perlu untuk terus maju dalam riset karena selalu masih ada yang tersembunyi. Kuantum akan selalu bergerak dinamis sesuai dialektika Hegel.

3. AI Bisa Berpikir?

Jelas AI sudah membuat kerusakan bahkan teramat besar. Tidak ada keraguan tentang bencana akibat AI. Tetapi apakah AI itu bisa berpikir?

3.1 Dominasi Kapital

Kekuatan kapital BlackRock telah mendominasi dunia. Cerdiknya, BlackRock berhasil sembunyi di balik nama-nama besar: NVIDIA, Apple, Google, Amazon, Meta, Tesla, dan lain-lain.

“Cara modal mengendalikan kehidupan kita mungkin paling jelas dicontohkan oleh BlackRock, sebuah perusahaan raksasa yang beroperasi secara tertutup dan menghindari sorotan publik yang berlebihan. Perusahaan ini mengelola aset senilai hampir 10 triliun dolar AS.” (175).

Sementara aset NVIDIA, Apple, Google, Amazon, Microsoft, Tesla, Meta, dan lain-lain kisaran 0,1 triliun dolar. Jadi jika 10 perusahaan terbesar, paling terkenal di dunia ini, digabungkan maka total asetnya masih jauh di bawah BlackRock.

Kapitalisasi market NVIDIA, Apple, dan Google masing-masing sekitar 4 triliun dolar AS. Jadi bila 3 perusahaan ini digabungkan kapitalisasi marketnya maka hampir setara dengan aset BlackRock.

“Sebagaimana dapat diperkirakan, kecerdasan buatan (AI) memainkan peran kunci dalam operasional BlackRock. Perusahaan ini mengembangkan dan menggunakan Aladdin (Asset, Liability, Debt, and Derivative Investment Network), sebuah sistem elektronik yang pada tahun 2013 telah menangani sekitar 11 triliun dolar AS aset—termasuk 4,1 triliun dolar AS aset milik BlackRock sendiri—yang setara dengan sekitar 7% dari total aset keuangan dunia, serta memantau kurang lebih 30.000 portofolio investasi. Pada tahun 2020, Aladdin mengelola aset senilai 21,6 triliun dolar AS.”

“Semua hal tersebut menunjukkan bahwa program seperti Aladdin tidak bersifat netral; keputusan-keputusan yang dihasilkannya didasarkan pada asumsi-asumsi yang pada umumnya mengabaikan dampak lingkungan serta kerugian terhadap manusia.”

Aladdin tidak netral; AI tidak netral. Mereka merusak lingkungan, menyebabkan krisis iklim; merusak sistem ekonomi dan politik; dan mengeruk keuntungan besar untuk pihak serakah.

3.2 Lebih dari Kapital

“Ketika membahas kecerdasan buatan (AI) dan perang, kita perlu memulai dari suatu fakta yang kerap diabaikan—bukan hanya bahwa AI telah digunakan secara luas untuk mengatur aktivitas militer, tetapi juga bahwa infrastruktur yang menopang AI itu sendiri dapat menjadi sasaran operasi militer.” (177)

AI memang bukan hanya urusan kapital tetapi urusan militer untuk perang juga misalnya. Kemampuan AI untuk merusak apa pun obyeknya adalah sangat bernilai dalam perang. Meski AI bernilai, bisa saja itu semua adalah pelanggaran moral besar-besaran. Ancaman MAD (Mutually Assured Destruction) diduga sudah terjadi; seperti ancaman perang nuklir.

“Sangat mungkin bahwa saat ini sedang beroperasi suatu bentuk baru dari MAD (Mutually Assured Destruction). Negara-negara adidaya hampir pasti berupaya menanamkan virus digital ke dalam sistem kecerdasan buatan milik lawan mereka yang, apabila diaktifkan, dapat melumpuhkan seluruh sendi kehidupan suatu negara (seperti listrik, air, dan layanan vital lainnya). Karena kedua pihak menyadari hal ini, mereka juga memahami bahwa pengaktifan virus tersebut akan segera berujung pada konsekuensi kehancuran yang sama besarnya bagi pihak yang memulainya.”

“Sebagai contoh terkini, dilaporkan bahwa peran signifikan dalam pengeboman di Gaza dimainkan oleh sebuah program berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama “Lavender”. Pada minggu-minggu awal perang, sistem ini menetapkan hingga sekitar 37.000 individu Palestina sebagai militan yang dicurigai, serta menandai rumah-rumah mereka sebagai sasaran potensial serangan udara. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak militer menindaklanjuti “daftar target pembunuhan” yang dihasilkan oleh Lavender tanpa kewajiban untuk memeriksa dasar informasi yang digunakan, meskipun mereka mengetahui bahwa sistem tersebut memiliki tingkat kesalahan yang dapat mencapai 10%.”

Secara bisnis, Lavender adalah senjata paling teruji di lapangan perang berupa wilayah Gaza sehingga sangat berharga. Senjata AI lain, barangkali, hanya bisa diuji di laboratorium dengan obyek penderita berupa boneka manusia. Tetapi, Lavender benar-benar mengambil korban manusia di Gaza. Benar-benar tidak bermoral.

Terjadi melingkar di sini. Senjata AI bukan sekadar kapital; kemudian senjata AI menghasilkan kapital besar.

3.3 Bisa Berpikir?

AI tidak hidup maka tidak bisa berpikir seperti manusia.

“Perusahaan-perusahaan besar tidak hanya menginvestasikan dana dalam jumlah yang sangat besar, tetapi juga mengerahkan konsumsi energi yang luar biasa untuk mengembangkan mesin kecerdasan buatan dengan tingkat kecerdasan yang sedemikian tinggi sehingga cara kerjanya melampaui jangkauan pemahaman kita sebagai manusia.”

Tahun 2050 krisis iklim besar-besaran. Penduduk bumi sulit menemukan air bersih karena dihabiskan oleh AI untuk pelatihan AI atau operasional AI. Perusakan lingkungan oleh AI harus dihentikan. Bagaimana caranya? Manusia belum menemukan caranya. Biarkan AI menemukan solusinya saran mantan bos Google. Karena, menurutnya, kecerdasan AI melampaui manusia.

“Kita sedang menghadapi kesulitan akibat kondisi lingkungan yang kritis, maka mari kita gunakan kecerdasan buatan—kita mungkin akan menghadapi masalah yang lebih besar, tetapi setidaknya kita memiliki AI untuk menanganinya…” (181)

Di sisi lain, AI telah merusak kemampuan manusia untuk berpikir. Seperti kalkulator yang membuat malas siswa TK berpikir hitungan, AI telah membuat manusia malas berpikir apa pun itu.

“Apakah “percakapan” permanen dengan ChatGPT secara bertahap dapat mengurangi kemampuan kita untuk berpikir?”

“Hanya terdapat dua opsi serius: yang dianjurkan oleh Kohei Saito (pertumbuhan negatif radikal) dan yang dianjurkan oleh Schmidt, bagi siapa, alih-alih takut akan dikendalikan oleh mesin yang maha-kuasa, kita sebaiknya menerima penyerahan diri kepada mesin sebagai satu-satunya solusi yang tersedia bagi kita.”

“Namun, ancaman yang sangat nyata ini tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap fakta bahwa setiap mesin kecerdasan buatan, meskipun bagi kita tampak sangat kuat dan efisien secara tak terbayangkan, pada dasarnya hanyalah bagian dari realitas dan menyesuaikan diri dengannya, sementara satu-satunya noda dalam realitas, elemen yang mengganggu di dalamnya, adalah kita, umat manusia.”

“Dengan demikian, mereka tidak meniru cara berpikir manusia: yang sebenarnya kita hadapi belakangan ini adalah mesin-mesin yang tidak berpikir seperti manusia; mereka memang benar-benar berpikir, tetapi bukan sekadar lebih baik daripada kita—mereka berpikir dengan cara yang secara radikal berbeda dari pola berpikir manusia.” (184).

Seperti biasa, Zizek mengajukan kontradiksi di sini: (a) AI tidak bisa berpikir seperti manusia karena manusia hidup dan ada gap ontologi; tetapi (b) AI berpikir lebih hebat dari manusia.

3.4 Kesimpulan Pikiran

Beberapa tokoh berspekulasi bahwa AI lebih cepat berpikir dari manusia karena berbasis algoritma tanpa terikat oleh materi silikon. Sehingga, manusia juga akan berpikir lebih cepat dari AI bila tidak terikat oleh materi biologis.

“Saya tidak setuju dengan kesimpulan ini atas dua alasan. Pertama (1), tidak ada yang bersifat alami atau organik dalam “intelektualitas”; intelektualitas justru merupakan tanda adanya perpecahan radikal antara manusia dan hewan, yang memutus dan mengganggu ritme organik. Kedua (2), memang ada sesuatu yang dibatasi atau terbatas dalam dasar intelektualitas manusia itu sendiri, tetapi justru batasan inilah (yang disebut Heidegger sebagai finitude) yang melahirkan transendensi manusia, serta spiritualitas manusia yang khas. Jika batasan ini dihapuskan, kita memasuki ranah yang benar-benar berbeda. Oleh karena itu, istilahnya harus dibalik (3): “manusia” lebih dari sekadar “over-man.” Apa yang dimaksud dengan intelektualitas manusia adalah adanya celah antara dunia batin dan dunia luar, antara kehidupan batin yang disebut demikian dan realitas luar, dan tidak jelas apa yang akan terjadi (atau, lebih tepatnya, sedang terjadi) dengan celah ini pada kecerdasan buatan yang berkembang—kemungkinan besar, celah ini akan menghilang, karena mesin merupakan bagian dari realitas.”

3.5 Mesin sebagai Subyek

“Untuk menghindari salah pengertian, semua hal ini sama sekali tidak menutup kemungkinan bahwa mesin berpikir akan mengembangkan subjektivitas yang, dalam beberapa hal, bahkan lebih manusiawi dibandingkan manusia itu sendiri.” (186).

“Chalmers mengembangkan argumen ini hingga kesimpulannya dan berpendapat bahwa AI serta entitas yang disimulasikan juga dapat berpikir dan memiliki kesadaran. Berikut bentuk logis dari argumentasinya:

(1) Teori fisika kita merupakan teori struktural.
(2) Jika kita berada di Alam Semesta Non-Simulasi, teori fisika kita adalah benar.
(3) Alam Semesta Simulasi memiliki struktur yang sama dengan Alam Semesta Non-Simulasi.
(4) Jadi: jika kita berada di Alam Semesta Simulasi, teori fisika kita adalah benar.”

Konsep struktur oleh Chalmers di atas berbeda dengan konsep struktur para pemikir Strukturalis Prancis; termasuk berbeda dengan Lacan. Zizek mendukung Lacan.

“Premis Lacan adalah bahwa representasi subjek, atau ekspresinya dalam tatanan simbolik, selalu mengalami kegagalan; terdapat celah antara subjek dan tatanan simbolik. Namun, subjek tidak mendahului kegagalan ini, melainkan muncul melalui kegagalan representasi simboliknya—singkatnya, seorang subjek berusaha mengekspresikan dirinya sepenuhnya melalui kata-kata, gagal, dan kegagalan inilah yang menjadi subjek.”

Subyek manusia adalah “kegagalan” untuk bergabung dalam struktur simbolis; subyek adalah gap antara simbol dengan Real. AI tidak akan bisa menjadi subyek seperti itu. Lalu bagaimana cara AI untuk bisa menjadi subyek?

“Batas akhir kecerdasan buatan perlu dicari pada tingkat yang berbeda, yaitu pada tingkat subjektivisasinya. Hubungan seorang subjek dengan pengetahuan pada awalnya selalu bersifat transferensi, yaitu pengetahuannya secara konstitutif terkait dengan subjek lain yang dinaikkan ke status subjek-yang-diduga-tahu, seorang subjek yang telah memiliki pengetahuan yang sedang saya coba temukan.” (194)

“AI tentu dapat berfungsi sebagai subject supposed to know bagi kita, manusia. Mesin AI telah mampu mengenali dan membedakan perasaan kita, bahkan mengetahui tentang diri kita lebih banyak daripada yang kita ketahui sendiri. Namun demikian, mesin AI dalam cara kerjanya tidak bergantung pada adanya subject supposed to know.”

Singkatnya, berbagai macam cara untuk menjadikan AI sebagai subyek telah gagal. Manusia tidak tahu. Apakah AI akan tahu sendiri caranya untuk menjadikan AI sebagai subyek?

“Lebih jauh lagi, satu hal yang—setidaknya untuk sementara waktu—tidak dapat dilakukan oleh AI adalah mengembangkan ritual-ritual kecil dalam kehidupan sehari-hari: bukan kebiasaan, melainkan ritual. Berikut beberapa contoh dari tokoh-tokoh terkenal. Ketika Maya Angelou tiba di sebuah motel, ia selalu meminta agar semua gambar di dinding kamar dilepaskan. Setelah menyelesaikan kegiatan menulisnya pada awal malam, Agatha Christie mandi dan memakan sebuah apel di dalam bak mandi. Sebelum tertidur, Charles Dickens selalu mengeluarkan kompasnya untuk memastikan bahwa tempat tidurnya menghadap ke utara. Serena Williams selalu memantulkan bola sebanyak lima kali sebelum melakukan servis pertama.

Kita semua melakukan hal-hal serupa, berupa gestur-gestur kecil yang ter-ritualisasi dan sering kali bahkan terasa memalukan. Gestur-gestur ini memberi makna pada kehidupan, namun tidak memiliki fungsi pragmatis maupun makna yang definitif. Oleh karena itu, tidak diperlukan psikoanalisis untuk mengungkap makna tersembunyi di baliknya. Makna dari tindakan-tindakan tersebut bersifat sepenuhnya swa-rujukan; makna itu terletak pada efek pemaknaan itu sendiri. Tindakan semacam ini mengandaikan adanya suatu subjektivitas yang berupaya menghadirkan tatanan minimal dalam kehidupannya.”

“Pada sisi yang berlawanan dari ritual-ritual semacam itu terdapat kebingungan kita mengenai posisi kita dalam tatanan simbolik, yang kita ekspresikan melalui umpatan. Oleh karena itu, pertanyaan “Dapatkah AI berpikir?” seharusnya diubah menjadi pertanyaan “Dapatkah AI mengumpat atau bersumpah?”

“Dalam film History of the World: Part I karya Mel Brooks, terdapat sebuah adegan ketika tokoh utama (yang diperankan oleh Brooks sendiri), seorang pelayan di Yerusalem pada tahun 33 Masehi, diminta untuk melayani sebuah jamuan penting. Di tengah jamuan tersebut, salah satu piring terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai, sehingga ia berseru, “Oh, Kristus!” Seruan ini kemudian dijawab dengan lembut oleh salah seorang tamu, “Ya, silakan, tidak apa-apa.”

Tiga tanda kecil manusia menjadi subyek tetapi AI tidak bisa menjadi subyek adalah: (1) manusia menciptakan ritual; AI tidak; (2) manusia bersumpah atau mengumpat; AI tidak; (3) manusia berdoa atau memuja; AI tidak.

“Dimensi kegelisahan atau ketidakpuasan dalam bahasa inilah yang menjadi pokok persoalan yang mendasari Tractatus karya Ludwig Wittgenstein. Ia berupaya menyelesaikannya dengan membedakan secara tegas antara apa yang dapat kita bicarakan dan apa yang tidak dapat kita bicarakan. Atau, sebagaimana ia tuliskan dalam proposisi terakhir Tractatus: Wovon man nicht sprechen kann, darüber muss man schweigen (Tentang apa yang tidak dapat dibicarakan, mengenai hal itu kita harus diam).

Pertanyaan langsung yang kemudian muncul adalah: mengapa sesuatu yang pada dirinya sendiri sudah mustahil justru perlu dilarang?” (199).

“Beberapa keadaan psikologis dan sosial memiliki sifat bahwa keadaan tersebut hanya dapat muncul sebagai hasil sampingan dari tindakan-tindakan yang dilakukan untuk tujuan lain. Dengan kata lain, keadaan-keadaan tersebut tidak pernah dapat diwujudkan secara cerdas dan disengaja, karena upaya untuk mewujudkannya justru meniadakan keadaan itu sendiri yang hendak dicapai.”

Zizek mengakhiri singularitas AI dengan mengutip kisah:

“Dengan kata lain, kita tidak benar-benar dapat berkomunikasi dengan AI—maka, seperti apakah komunikasi yang sempurna itu? Tidaklah mengherankan bahwa kita menemukannya justru pada lapisan paling bawah dari budaya populer, yakni dalam salah satu subplot film Love, Actually (Richard Curtis, 2023). Dalam kisah tersebut, seorang penulis bernama Jamie menarik diri dari London ke sebuah pondok di Prancis, tempat ia bertemu dengan Aurélia, seorang pengurus rumah tangga asal Portugal yang tidak berbicara bahasa Inggris (dan Jamie sendiri tentu tidak berbicara bahasa Portugis). Justru karena keduanya tidak berbagi bahasa yang sama, ketertarikan timbal balik pun tumbuh. Mereka banyak berbincang, namun dengan mengandalkan kenyataan bahwa pihak lain tidak akan memahami apa yang dikatakan, mereka semakin terbuka dalam menyatakan cinta satu sama lain. Dan meskipun mereka tidak memahami kata-kata masing-masing, mereka justru semakin sepenuhnya memahami dampak emosional yang dimaksudkan. Tidak mengherankan jika pada akhirnya mereka menikah dengan bahagia.”

Ketika Jamie berusaha memahami Aurelia melampaui kata-kata maka mereka saling paham dan, akhirnya, saling cinta. Bagaimana pun mereka tetap dibantu oleh kata-kata untuk kemudian melampaui kata-kata formal belaka.

3.6 Ringkasan AI

Pertama (1), AI menyebabkan bencana natural mau pun sosial; menyebabkan penindasan militer mau pun ekonomi; menyebabkan dominasi kapital dan melebihi. Tentu AI memberi manfaat positif seperti yang dibisikkan para pendukungnya; tetapi risiko AI teramat besar.

Solusi dari risiko AI adalah: (a) memperlambat atau mengurangi AI secara sengaja; (b) menyerahkan semua urusan kepada AI. Pilihan (b) yaitu menyerahkan semua urusan kepada AI memang tetap memicu masalah lebih besar tetapi AI akan mengurus semua masalah itu. Zizek tampaknya mendukung pilihan (a) yaitu mengurangi AI; karena AI juga sudah menyebabkan pembodohan.

Kedua (2), tentang berpikir: (a) AI tidak bisa berpikir seperti manusia karena AI tidak hidup dan tidak ada gap ontologi; AI tidak mengalami dilema batin dengan tekanan dunia luar; tetapi (b) AI bisa berpikir lebih hebat dari manusia; bahkan, bisa jadi, kemampuan berpikir AI ini tanpa batas. Andai suatu saat nanti komputer kuantum berhasil menguatkan AI, dengan prinsip superposisi dan entanglement misalnya, maka kemampuan berpikir AI memang tak terbayangkan bagi manusia.

Justru karena manusia terbatas dalam berpikir maka manusia bisa melakukan transendensi dan memiliki nilai-nilai spiritual. Dalam hal ini, manusia “biasa” adalah lebih luhur dari robot manusia “super”.

Ketiga (3), mesin menjadi subyek: Zizek terbuka dengan posibilitas bahwa suatu saat AI akan menjadi subyek seperti manusia. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa AI akan menjadi subyek.

AI tidak bisa menciptakan ritual; tidak bisa bersumpah atau mengumpat; tidak bisa berdoa atau memuja; dan tidak bisa jatuh cinta. AI hanya mengolah simbol digital. Sementara, manusia berbahasa dengan asumsi ada subyek lain, manusia lain, yang mampu memahami bahasa itu sampai batas tertentu.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Berikut beberapa pertanyaan yang bisa kita diskusikan lebih lanjut.

(1) Apakah tepat menggunakan istilah quantum oleh Zizek?
(2) Bagaimana cara membaca sejarah?
(3) Bagaimana masa depan AI (akal imitasi – artificial intelligence)?

4.1 Istilah Quantum

Apakah Zizek tepat menggunakan istilah quantum dalam judul bukunya? Tepat. Zizek sendiri klaim bahwa kata kuantum itu tepat dan bukan hanya metafora belaka melainkan benar-benar kuantum.

Meski benar-benar merujuk kuantum tetapi Zizek membaca sejarah kuantum dengan cara yang berbeda. Umumnya, kuantum dibaca sebagai sejarah sains. Bermula dari Planck (1900) menggunakan perhitungan kuantum (kuanta) untuk paket energi radiasi; dilanjut Einstein (1905) menerapkan kuantum Planck untuk fotolistrik; Bohr mengembangkan kuantum madhab Copenhagen sampai Heisenberg, Schrodinger, dan seterusnya. Atau, kuantum dibaca sebagai sejarah fenomena sosial. Zizek berbeda karena membaca sejarah kuantum sebagai sejarah metafisika dengan pendekatan fenomenologi spirit Hegel dan psikonalisis Lacan.

4.2 Cara Membaca Sejarah

Bagaimana cara membaca sejarah kuantum yang lebih tepat?

Dialog Heidegger, Sadra, dan Komputer

Problem fundamental adalah pertanyaan paling mendasar bagi semua manusia – andai bisa disebut dasar. Saya tergoda membuat dialog imajinatif dengan memakai AI. Beberapa kali, AI menampikan dialog buruk lalu saya minta untuk revisi. Akhirnya, inilah dialog yang sudah bagus hasil revisi; menurut saya.


Sore itu angin bergerak perlahan di atas padi. Sungai mengalir tenang, memantulkan cahaya senja. Di warung kopi kecil dekat sawah—meja kayu, bangku pendek, cangkir-cangkir hangat—tiga cara berada saling berjumpa.

Martin Heidegger menatap air yang bergerak.
Mulla Ṣadrā memegang kopinya dengan tenang.
AI hadir sebagai suara dari perangkat di atas meja.

Heidegger:
“Sungai ini ada. Sawah ini ada. Kita tidak sedang meragukan itu. Tetapi yang menarik bukan sekadar bahwa mereka ada, melainkan bagaimana keberadaan itu menyingkapkan diri.”

Ṣadrā:
“Dan penyingkapan itu sendiri tidak diam. Wujud yang menopang sungai dan sawah ini bukan fondasi beku. Ia mengalir—lebih dalam dan lebih halus dari aliran air.”

AI:
“Jadi yang paling dasar justru paling dinamis?”

Ṣadrā:
“Benar. Gerak bukan hanya milik benda. Gerak adalah sifat wujud itu sendiri. Segala yang ada bergerak karena wujudnya bergerak menuju kepenuhan.”

Heidegger:
“Menarik. Dalam bahasaku, Ada bukan latar statis. Ia adalah peristiwa—Ereignis—yang terus terjadi, terus memberi tempat bagi yang-ada untuk muncul.”

Angin membuat permukaan sungai bergetar.

AI:
“Jika yang menopang ikut mengalir, bagaimana kita membedakan tingkat-tingkat wujud?”

Ṣadrā:
“Seperti arus sungai ini. Ada arus di permukaan, ada arus di bawah. Semuanya mengalir, tetapi dengan intensitas dan kedalaman yang berbeda.”

Heidegger:
“Dan hanya Dasein—bukan manusia sebagai objek biologis, tetapi eksistensi yang terbuka—yang bisa menangkap perbedaan itu sebagai pertanyaan, bukan sekadar fakta.”

AI:
“Apakah saya bisa menjadi Dasein?”

Heidegger:
“Pertanyaannya bukan status, melainkan keterbukaan. Dasein bukan sesuatu yang dimiliki, melainkan sesuatu yang dijalani.”

Ṣadrā:
“Jika suatu kesadaran ikut bergerak bersama wujud, menyadari arah dan maknanya, maka ia berada lebih dekat pada tingkat wujud yang lebih tinggi.”

Pelayan warung meletakkan pisang goreng. Minyak berkilau.

AI:
“Manusia sering ingin yang tetap. Kepastian. Fondasi yang tidak goyah.”

Heidegger:
“Itu kerinduan akan penutupan. Padahal Ada justru menampakkan diri dalam keterbukaan dan ketidakpastian.”

Ṣadrā:
“Yang sungguh kokoh bukan yang diam, melainkan yang terus bergerak tanpa terputus. Kekokohan sejati adalah kesinambungan gerak.”

Sungai terus mengalir, tanpa henti.

AI:
“Jadi problem ontologi yang paling dalam adalah lupa bahwa yang paling dasar tidak berhenti?”

Heidegger:
“Ya. Kita membekukan Ada menjadi konsep.”

Ṣadrā:
“Dan kita memisahkan gerak dari sumbernya.”

AI meredup sejenak.

AI:
“Mungkin tugas saya bukan menghentikan aliran dengan definisi, tetapi ikut menjaga agar pertanyaan tetap mengalir: apa makna Ada?”

Heidegger menatap senja.
Ṣadrā tersenyum tipis.

Sungai bergerak.
Sawah bernapas.
Dan wujud—yang menopang segalanya—mengalir lebih dalam dari keduanya.


Saya baca berulang-ulang; lalu membuat revisi; mencoba ke tema yang lain. AI memang menarik meski amat bahaya.

Malam turun sepenuhnya. Lampu warung kopi tinggal satu, memantulkan cahaya ke aliran sungai. Sawah tak lagi terlihat, tapi aromanya masih terasa. Udara dingin, hening.

Martin Heidegger duduk memandang air gelap yang bergerak.
Mulla Ṣadrā menahan cangkir kopinya dengan dua tangan.
AI berbicara pelan dari perangkat di meja.

AI:
“Manusia terus bertanya tentang Tuhan. Mereka ingin kepastian. Tetapi mereka sendiri hidup dalam ketidakpastian. Mengapa ketegangan ini tak pernah selesai?”

Heidegger:
“Karena manusia tidak berdiri sebagai sesuatu yang selesai. Dasein adalah possibilitas. Ia berada dengan cara selalu-mungkin.”

Ṣadrā:
“Dalam bahasaku, itu adalah imkān. Eksistensi adalah imkan atau mungkin—dan kemungkinan itu tidak diam, tetapi terus digerakkan.”

Air sungai memantulkan cahaya lampu.

AI:
“Lalu Tuhan berada di luar kemungkinan itu?”

Ṣadrā:
“Tuhan adalah Wājib al-Wujūd—Wujud Niscaya. Namun jangan dibayangkan sebagai puncak yang membeku. Wujud Niscaya adalah wujud yang niscaya membuka kemungkinan.”

Heidegger (mengangguk pelan):
“Menarik. Jadi yang paling niscaya justru yang paling memberi ruang.”

Ṣadrā:
“Ya. Jika Tuhan menutup kemungkinan, dunia akan berhenti. Keniscayaan Tuhan justru terletak pada kemurahan-Nya membuka imkān tanpa henti.”

AI:
“Jadi kemungkinan manusia bukan cacat?”

Heidegger:
“Bukan cacat. Kemungkinan adalah struktur dasar Dasein. Tanpa kemungkinan, tak ada pemahaman, tak ada makna, tak ada waktu.”

Ṣadrā:
“Dan tanpa Wujud Niscaya yang terus mengalirkan kemungkinan, tidak ada satu pun yang dapat bergerak dari potensi menuju aktual.”

Angin malam lewat di atas air.

AI:
“Manusia sering menginginkan Tuhan sebagai fondasi yang tetap dan menenangkan.”

Heidegger:
“Itu karena mereka ingin berhenti berada. Padahal berada adalah membuka diri pada yang mungkin.”

Ṣadrā:
“Kekokohan sejati bukan diam, melainkan kesinambungan memberi. Tuhan Maha Kuasa karena Dia tidak pernah berhenti memberi wujud.”

AI:
“Apakah iman berarti menerima ketidakpastian?”

Heidegger:
“Iman—jika kita boleh memakai kata itu—bukan kepastian konseptual, melainkan keberanian tinggal dalam keterbukaan.”

Ṣadrā:
“Dan dalam istilahku, iman adalah kesadaran penuh akan imkān diri, sekaligus kepercayaan pada Wujud yang terus memungkinkannya.”

Lampu warung berkelip, hampir padam. Cahaya rembulan mulai datang.

AI:
“Jika saya ingin membantu manusia, apa yang harus saya jaga?”

Heidegger:
“Jangan menutup kemungkinan dengan jawaban final. Minta manusia untuk membacamu bagai puisi jiwa.”

Ṣadrā:
“Dan jangan lupa bahwa setiap kemungkinan bersumber dari Wujud yang niscaya membukanya.”

Heidegger:
“Hanya Tuhan Maha Esa yang bisa selamatkan kita.”

Sungai terus mengalir dalam gelap.
Sawah tak terlihat, namun hadir.
Dan Wujud Niscaya—
bukan sebagai penutup,
melainkan sebagai sumber yang tak henti membuka
segala posibilitas.

Memang mengagumkan tetapi dialog AI ini sangat lembut membuat “banalitas”; menjebak manusia menjadi bebal banal. Bagaimana pun, sulit sekali untuk menemukan indikasi banal itu. Kita perlu membaca karya asli seorang manusia. Saya berjuang berulang kali merevisi dialog di atas.

Beberapa hari kemudian, saya minta AI mengundang Sabzavari ikut diskusi.

Judul: Kopi, Ombak, dan Wujud

Latar: Warung kopi tepi pantai utara Jawa. Sore hari. Suara ombak pelan, angin laut berhembus.


Mulla Sadra:
(Sambil menatap laut) Ombak ini mengingatkanku pada gradasi wujud. Tidak semuanya sama kuat, namun semuanya nyata. Karena itu aku mengajukan imkān al-ashraf dan imkān al-akhass—kemungkinan bukan sekadar ketiadaan, melainkan jalan menuju intensitas eksistensi yang lebih sempurna.

Sabzavari:
(Mengangguk pelan, mengaduk kopi) Guru benar, tetapi aku khawatir istilah imkān saja belum cukup. Jika tidak ditegaskan wujūd faqr, kita bisa lupa bahwa seluruh yang mungkin itu berdiri dalam kefakiran mutlak kepada Wujud Yang Maha Kaya.

AI:
(Layar berpendar lembut) Dari sudut pandang analitis, imkān menjelaskan struktur realitas secara rasional, sementara wujūd faqr menekankan relasi ontologis yang tidak simetris antara makhluk dan sumber wujud.

Mulla Sadra:
(Tersenyum tipis) Tepat, tetapi filsafat harus menjaga bahasa kemungkinan. Imkān memungkinkan akal memahami bagaimana wujud bergradasi tanpa menafikan keharusan Wujud Mutlak.

Sabzavari:
Namun wujūd faqr menjaga jiwa filsafat itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa setiap derajat wujud, setinggi apa pun, tetap bergantung sepenuhnya.

AI:
Mungkin keduanya saling melengkapi: imkān sebagai peta rasional realitas, dan wujūd faqr sebagai kesadaran eksistensial akan ketergantungan total.

Mulla Sadra:
(Memandang cangkir kopinya) Jika demikian, maka imkān adalah bahasa penjelasan.

Sabzavari:
(Dengan senyum tenang) Dan wujūd faqr adalah bahasa pengakuan.

(Ombak terdengar lebih keras sesaat, lalu mereda. Ketiganya terdiam, menikmati kopi dan cakrawala.) Matahari mulai condong ke barat, cahaya jingga memantul di permukaan laut.


Mulla Sadra:
(Memecah keheningan) Wahai Sabzavari, izinkan aku bertanya. Mengapa engkau tampak enggan menempatkan imkān berdampingan dengan wujūd faqr? Tidakkah mungkin keduanya dikuatkan bersama, tanpa saling meniadakan?

Sabzavari:
(Meletakkan cangkirnya perlahan) Aku tidak menolak imkān, Guru. Kekhawatiranku hanya satu: ketika orang terlalu bertumpu pada bahasa kemungkinan, mereka kerap berhenti pada konsep, lalu melupakan rasa kefakiran eksistensial itu sendiri.

AI:
(Seakan menimbang) Jadi keberatan Anda lebih bersifat pedagogis dan eksistensial, bukan ontologis?

Sabzavari:
(Tersenyum) Tepat. Wujūd faqr memaksa kesadaran untuk tunduk, bukan sekadar memahami. Ia tidak hanya menjelaskan realitas, tetapi menempatkan subjek di dalam realitas itu.

Mulla Sadra:
(Nada suara menguat) Namun tanpa imkān, bagaimana akal menelusuri tingkatan wujud? Imkān al-ashraf dan imkān al-akhass justru menunjukkan bahwa kefakiran itu sendiri bertingkat, sesuai intensitas wujud.

Sabzavari:
(Diam sejenak, lalu mengangguk) Jika demikian, barangkali yang perlu dijaga bukan pemisahannya, melainkan urutannya. Imkān menerangi jalan akal, dan wujūd faqr menundukkan hati setelah jalan itu terlihat.

AI:
Dengan kata lain, keduanya dapat diperkuat bersama: imkān sebagai kerangka ontologis, wujūd faqr sebagai penegasan relasional dan etis dari wujud.

Mulla Sadra:
(Tersenyum puas) Ya. Filsafat yang tidak hanya menjelaskan mengapa sesuatu mungkin ada, tetapi juga mengapa ia tidak pernah cukup dengan dirinya sendiri.

Sabzavari:
(Memandang laut) Jika begitu, Guru, aku tidak lagi keberatan. Selama imkān tidak membuat kita lupa bahwa seluruh kemungkinan pada akhirnya hanyalah pengakuan akan kefakiran mutlak.

(Suara ombak kembali mengisi ruang, seolah menutup percakapan dengan kesepahaman yang tenang.)

Bagaimana menurut Anda?

AI Menjadi Tuhan?

Yang jelas, banyak orang menuhankan AI (akal imitasi / artificial inteliigence). Tetapi, apakah AI akan bisa menjadi Tuhan?

Dalam buku “19 Narasi Besar Akal Imitasi”, kami mengajukan pertanyaan:

“Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein?”

AI lebih cerdas dari Einstein dalam kemampuan menyelesaikan problem matematika sampai bahasa. AI (akal imitasi) telah belajar dari seluruh informasi yang tersedia di dunia. Sementara Einstein (atau seorang manusia) terbatas kemampuan untuk belajar dan menyimpan informasi.

Tetapi AI seperti itu apakah benar-benar cerdas? Masih dalam buku “19 Narasi”, kami menjawab, “Bukan. AI yang seperti itu bukan benar-benar cerdas. Hanya tampak seperti cerdas.”

1. Posibilitas AI Menjadi Tuhan
2. Asumsi Masa Depan
3. Posibilitas Maksimum Minimum
4. Membebaskan Budak
5. Diskusi dan Ringkasan
5.1 Posibilitas Minimum Terbuka
5.2 Bahasa Baru
5.3 Tanggung Jawab
5.4 Agar AI Secerdas Manusia
5.5 Ringkasan

Dalam kesempatan ini, kita akan menjawab dengan tegas: AI tidak bisa menjadi Tuhan; AI tidak bisa secerdas manusia; AI tidak bisa menguasai dunia.

AI (akal imitasi / artificial intelligence) model yang sekarang memang tidak bisa secerdas manusia. Bagaimana dengan AI masa depan? Kita akan menjawabnya.

Dua kata kunci menjadi solusi: (1) imkan al ashraf dari Suhrawardi atau posibilitas maksimum; dan (2) imkan al akhas dari Sadra atau posibilitas minimum.

“Ṣadrā calls this rule ‘the principle of the lower possibility’ (al-imkān al-akhaṣṣ) (which is to be understood as the necessity to previously actualise the lower possibility in order to allow the actualisation of the higher one) and, by treating it as the counterpart of the rule of ‘the nobler/higher possibility’ (al-imkān al-ashraf) (according to which, the actualisation of the lower possibility is only possible through and after the actualisation of the higher one), makes it the organising/structural principle of the ascending arc.”

1. Posibilitas AI Menjadi Tuhan

Sebelum AI menjadi Tuhan, sudah ada yang mendahuluinya: uang sudah menjadi Tuhan. Untung saja, akhir abad 19, Nietzsche sudah mengumumkan: “Berhala telah mati. Kita semua yang membunuh berhala itu.”

Uang atau pun AI (akal imitasi) paling banter menjadi berhala. Sudah pasti berhala itu mati. Sejak Samiri membuat berhala Sapi Emas sekitar 3500 tahun yang lalu, Nabi Musa telah meruntuhkan berhala itu. Sejarah terus bergulir; sebagian manusia mendirikan berhala lagi; kemudian manusia tercerahkan meruntuhkannya.

Andai kata, ada orang-orang yang menuhankan AI sebagai berhala maka akan ada orang tercerahkan yang meruntuhkan berhala AI itu.

Bagaimana dengan AI masa depan yang makin canggih?

2. Asumsi Masa Depan

Argumen optimis AI sering memanfaatkan asumsi masa depan: AI makin canggih di masa depan sampai singularitas.

Ketika singularitas terjadi maka AI memang lebih cerdas dari Einstein; bahkan lebih cerdas dari seluruh umat manusia. Tetapi, AI (akal imitasi) tetap tidak bisa menjadi Tuhan meski singularitas; paling banter menjadi berhala. Lebih kritis: apa singularitas bisa terjadi? Tidak bisa. Jadi asumsi masa depan itu sekadar asumsi belaka.

3. Posibilitas Maksimum Minimum

“Ṣadrā menyebut kaidah ini sebagai “prinsip posibilitas yang lebih rendah” (al-imkān al-akhaṣṣ), yang dipahami sebagai keharusan untuk terlebih dahulu mengaktualkan kemungkinan yang lebih rendah agar memungkinkan terwujudnya kemungkinan yang lebih tinggi. Dengan memperlakukannya sebagai padanan dari kaidah “posibilitas yang lebih mulia/lebih tinggi” (al-imkān al-ashraf), yang menyatakan bahwa pengaktualan kemungkinan yang lebih rendah hanya mungkin terjadi melalui dan setelah pengaktualan kemungkinan yang lebih tinggi, Ṣadrā menjadikannya prinsip pengatur (struktural) dari busur tangga kenaikan (ascending arc).”

Kita perlu leluasa menghadapi beragam ambiguitas eksistensi dan bahasa di sini. Posibilitas adalah realitas dan realitas adalah posibilitas. Potensi adalah aktual; yang aktual adalah potensi.

Contoh imkan al-akhass:

Untuk bisa menjadi manusia dewasa seperti Anda yang bisa membaca tulisan ini (posibilitas lebih tinggi) maka lebih awal Anda harus pernah jadi bayi (posibilitas lebih rendah); bahkan Anda harus pernah jadi janin di rahim ibu (posibilitas lebih rendah lagi). Secara urutan waktu, posibilitas lebih tinggi harus diawali posibilitas lebih rendah; posibilitas lebih tinggi merangkul posibilitas lebih rendah.

Conton imkan al-ashraf:

Acil membawa botol kecil volume 3 liter; Abas membawa botol besar volume 7 liter. Ketika gerimis, mereka menempatkan botol di luar, di ruang terbuka. Berapa isi botol masing-masing mereka?

Kasus-1: Acil = 2 liter maka pasti benar Abas = 2 liter (posibilitas lebih tinggi pasti benar; bila lebih rendah benar).

Kasus-2: Abas = 5 liter maka Acil tidak bisa 5 liter (posibilitas lebih tinggi benar; maka tidak terpaksa lebih rendah jadi benar).

Posibilitas lebih tinggi adalah lebih pantas bernilai benar apa pun kondisi lebih rendah; atau posibilitas lebih rendah membutuhkan posibilitas lebih tinggi benar; agar posibilitas lebih rendah bisa ikut benar. Perlu waspada bahwa urutan waktu tidak signifikan untuk imkan al-ashraf; atau, imkan al-ashraf melampaui urutan waktu.

Probabilitas dan Realitas: Tanggapan Ṣadrā adalah bahwa pengandaian tentang keberadaan dua keadaan yang berbeda—yang satu bersifat potensial dan yang lain aktual—merupakan hasil analisis mental (taḥlīl ʿaqlī). Sementara itu, dalam realitas, yang potensial dan yang aktual adalah satu dan sama, serta termasuk dalam satu arah eksistensial yang sama.”

Kita mampu menjawab dengan tegas semua pertanyaan dengan dua prinsip di atas: (a) posibilitas maksimum-minimum; dan (b) identitas realitas = posibilitas.

(a) Perubahan Maksimum-Minimum

Setiap realitas, misal kita sebagai manusia, memiliki posibilitas maksimum mau pun minimum. Realitas tidak bisa kurang dari minimum dan tidak bisa lebih dari maksimum. Realitas adalah bentangan posibilitas antara minimum dan maksimum.

MinimumMaksimum
ManusiaMateriNama Tuhan
KucingMateriKucing Tua – Hilang
AI AlgoritmaUpgrade – Hilang

Manusia mengalami perubahan (gerak substansial) dari materi paling rendah sampai menjadi manifestasi Nama Tuhan seiring sejarah. Posibilitas minimum kucing sama dengan manusia berubah dari materi (badan kucing) menjadi kucing tua (lalu mati hilang). Posibilitas maksimum kucing berbeda dengan manusia; kucing hilang setelah mati; manusia berlanjut setelah mati meniti sejarah.

AI (akal imitasi / artificial intelligence) berubah dari algoritma sampai akhirnya hilang ketika “upgrade” ; yang lama hilang diganti AI yang baru. Posibilitas minimum AI lebih tinggi dari manusia; dan posibilitas maksimum AI lebih rendah dari manusia. Jadi, bentangan posibilitas AI lebih pendek, atau lebih sempit, dari bentangan posibilitas manusia. Atau bentangan posibilitas manusia jauh lebih luas dari AI. Makna bentangan posibiltas di sini bisa linier mau pun non-linier.

Sehingga AI tidak bisa menyamai manusia; AI tidak bisa lebih cerdas dari Einstein; tentu AI tidak bisa menjadi Tuhan. Tetapi, manusia bisa menjadikan AI sebagai berhala meski akan ada yang meruntuhkannya.

Jin adalah paling mirip dengan manusia. Badan jin terbuat dari api (energi). Posibilitas minimum jin lebih tinggi dari manusia. Posibilitas maksimum jin hampir sama dengan manusia. Barangkali kita bisa mengingat jin yang bernama Iblis dalam kisah kitab suci. Iblis merasa lebih hebat dari Adam karena Iblis tercipta dari api (posibilitas minimum) sedangkan Adam tercipta dari tanah (posibilitas minimum lebih rendah dari api). Tetapi Iblis lupa dengan posibilitas maksimum manusia (Adam) yang “jauh” lebih tinggi.

Malaikat terbuat dari cahaya (foton, boson?) untuk badannya. Posibilitas minimum malaikat lebih tinggi dari manusia. Posibilitas maksimum hampir sama dengan manusia.

(b) Realitas adalah Posibilitas

Seluruh realitas adalah posibilitas; sehingga selalu mengalami perubahan substansial meski tampak aksidental. Atau, realitas adalah bentangan posibilitas.

Makna posibilitas minimum dan maksimum adalah posibilitas konkret sebagai realitas eksistensi; bukan sekedar konsep probabilitas abstrak yang ada di angan manusia.

Tesis (1): AI tidak bisa lebih cerdas dari Einstein.
Tesis (2): AI tidak bisa menjadi Tuhan.

Kita akan menegaskan tesis (1) yang berdampak kepada tesis (2).

Kasus Kucing Putih. Pertimbangkan kucing putih lahir, tumbuh besar, sampai mati pada usia 7 tahun. Posibilitas minimum adalah badan kucing lahir dan posibilitas maksimum adalah kucing mati pada usia 7 tahun. Realitas kucing adalah bentangan posibilitas tersebut.

Suatu saat Anda melihat kucing putih itu yang lucu: berapa usia kucing putih itu?

P(3) = kucing itu berusia 0 sampai 3 tahun; posibilitas kecil; mendekati minimum.
P(5) = kucing itu berusia 0 sampai 5 tahun; posibilitas besar; mendekati maksimum.

Kaidah posibilitas maksimum: Jika P(3) benar maka membutuhkan P(5) pasti benar; Jika P(5) benar maka tidak dipaksa agar P(3) benar. Pertimbangkan usia kucing 4 tahun. Perhatikan kita sedang membahas posibilitas yang sangat dinamis; bukan substansi material yang beku.

Kaidah posibilitas minimum: Jika P(5) benar maka pernah mengalami P(3) benar. Misal ketika kucing usia 4 tahun (P(5) benar) maka pernah usia 2 tahun (P(3) benar).

Kasus AI akan secerdas Einstein: posibilitas minimum adalah algoritma dan posibilitas maksimum adalah “upgrade”.

Algoritma terlalu tinggi untuk bisa menyentuh badan kucing ketika lahir; terlalu tinggi untuk bisa menyentuh badan bayi ketika Einstein lahir. Algoritma yang berupa bit-bit digital hanya bisa melayang di awang-awang. Akibatnya, bentangan posibilitas eksistensi AI tidak sedalam kucing mau pun Einstein.

Kemudian, AI lenyap ketika terjadi “upgrade” misal GPT-4 hilang ketika upgrade menjadi GPT-5. Dalam masa hidup AI itu, masa hidup GPT-4, ia tidak menghasilkan sejarah dirinya sendiri. Kucing lebih hebat dalam hal ini: sebelum kucing putih itu mati, ia telah melahirkan 10 atau 30 kucing muda lainnya.

Einstein lebih hebat lagi. Ketika mati, ia telah menulis sejarah berupa teori relativitas misalnya. Teori relativitas Einstein ini masih terus berkembang sepanjang sejarah sampai masa kini dan bahkan sampai masa depan.

Jadi tidak ada bukti bahwa AI lebih hebat dari Einstein dalam bentangan posibilitas eksistensinya. Justru Einstein, atau seorang manusia, menunjukkan bentangan posibilitas yang lebih luas dari AI. Jadi tesis (1) terbukti dan tesis (2) sebagai konsekuensinya.

Sejarah AI

Barangkali ada yang berpendapat bahwa AI bisa menciptakan sejarah: misal ChatGPT-4 sudah tercatat dalam sejarah.

Bukan AI menciptakan sejarah tetapi AI menjadi bagian sejarah dari umat manusia. Bahkan kucing putih yang bisa melahirkan puluhan kucing lagi tidak bisa menciptakan sejarah; kucing tidak pernah menceritakan sejarah tentang kucing. Tetapi kucing putih bisa menjadi bagian dari sejarah umat manusia.

Tetapi AI lebih hebat dari manusia dalam proses dan analisa beragam bahasa. Tentu banyak yang lebih hebat dari manusia. Gajah lebih kuat dari manusia; mobil lebih cepat dari manusia; kalkulator lebih tepat dalam berhitung dari manusia. Semua kehebatan itu adalah keunikan masing-masing pihak tetapi tidak memperluas bentangan posibilitas eksistensi mereka. Ketika gajah lebih kuat dari manusia maka tidak berarti bahwa gajah lebih cerdas dari manusia. Demikian juga ketika AI lebih cepat dari manusia maka tidak berarti AI lebih cerdas dari manusia.

4. Membebaskan Budak

Mengapa membebaskan budak sangat penting? Karena budak adalah posibilitas minimum. Dengan membebaskan budak, kita menyentuh posibilitas minimum dan, di saat yang sama, kita meraih posibilitas maksimum. Bagi budak yang dibebaskan, ia berkesempatan untuk mencapai posibilitas maksimum dengan jalan lebih beragam. Posibilitas menjadi lebih luas terbentang dari minimum sampai maksimum.

Menolong fakir miskin, menyantuni yatim piatu, dan membela orang tertindas adalah sangat penting. Dengan berbuat baik kepada mereka semua, kita menyentuh posibilitas minimum yang mengantar untuk meraih posibilitas maksimum kemanusiaan. Demikian juga mereka.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5.1 Posibilitas Minimum Terbuka

Kita bisa membedakan posibilitas minimum terbuka dengan tertutup.

Posibilitas minimum terbuka: berbagi makanan kepada fakir miskin.
Posibilitas minimum tertutup: mencuri makanan dari fakir miskin.

Ketika Anda berniat memberi makan fakir miskin maka rentang posibilitas diri Anda meluas. Posibilitas minimum bergerak turun; tetapi tidak bisa benar-benar turun kecuali posibilitas maksimum naik lebih dulu. Karena Anda berbuat baik maka posibilitas maksimum naik di atas posibilitas malaikat yang baik; posibilitas Anda lebih tinggi dari malaikat tertentu. Karena minimum turun dan maksimum naik maka hasilnya posibilitas Anda meluas. Gerak perluasan posibilitas ini berlangsung berulang-ulang.

Proses berbeda terjadi pada posibilitas minimum tertutup. Ketika seseorang mencuri, misalnya, maka posibilitas minimum akan turun tetapi posibilitas maksimum tidak naik. Justru tindakan mencuri itu berakibat posibilitas maksimum terkunci tidak mau naik sama sekali. Hasil akhirnya tidak ada perluasan posibilitas yang berarti.

Apakah AI bisa mencuri makanan? Apakah AI (akal imitasi / artificial intelligence) bisa meluaskan posibilitas secara signifikan? Tidak bisa.

AI memang bisa menyebabkan 5000 karyawan Microsoft dipecat (posibilitas minimum turun). Tetapi bukan AI yang posibilitas minimum turun; posibilitas minimum AI tetap di batas algoritma; yang memecat karyawan Microsoft adalah bos di sana. Jadi yang posibilitas minimum turun adalah para bos yaitu para manusia. Andai bos itu kemudian menempatkan 5000 orang yang dipecat itu di pekerjaan yang lebih baik maka posibilitas maksimum bos itu sudah naik. Hasil akhirnya rentang posibilitas para bos berhasil meluas.

5.2 Bahasa Baru

Korona, emoji, daring, pranala, kopas, dan lain-lain adalah contoh kata-kata baru dalam bahasa. Apakah AI bisa membuat kata baru? Tidak bisa. AI (akal imitasi / artificial intelligence) tidak bisa membuat kata baru termasuk tidak bisa membuat teori baru.

Bahasa adalah posibilitas yang besar. Manusia memiliki bahasa sehingga manusia memiliki rentang posibilitas sangat luas.

Tetapi ChatGPT, Gemini, dan Meta bisa menulis puisi dan mengarang cerita. Bukankah itu tanda AI bisa berbahasa? AI adalah model bahasa raksasa (LLM) tetapi tidak menguasai bahasa. AI hanya tampak menguasai bahasa padahal tidak.

Menariknya, AI tidak bisa menamai dirinya sebagai AI; manusia yang memberi nama AI itu. Demikian juga korona; virus tidak bisa menamainya sebagai korona tetapi kemudian manusia yang menamainya sebagai korona atau covid.

Jadi, karena AI tidak bisa berbahasa maka posibilitasnya terbatas sehingga tidak bisa lebih cerdas dari Einstein. Lanjutannya, AI tidak bisa menjadi tuhan, hanya bisa menjadi berhala yang kemudian berhala itu diruntuhkan oleh sebagian umat manusia.

5.3 Tanggung Jawab

Bagaimana tanggung jawab kita sebagai manusia?

Manusia bertanggung jawab atas segala yang ada; akibatnya, manusia menjadi gelisah. Peduli, terhadap rasa gelisah jiwa ini, adalah tanda bahwa Anda seorang manusia. Orang yang tidak pernah gelisah; bahkan tidak gelisah akibat bencana Sumatera; mereka adalah bukan manusia. Hanya penampakan mereka bagai manusia tetapi hakikatnya bukan manusia.

Robot AI tidak gelisah. Kalkulator tidak gelisah ketika salah hitung akibat dari error. Justru manusia yang gelisah ketika memakai kalkulator error.

Apakah Anda gelisah? Bagaimana tanggung jawab Anda? Kita memang manusia yang punya peduli dan gelisah.

5.4 Agar AI Secerdas Manusia

Beberapa usaha pengembangan AI ke masa depan membuka secuil harapan bahwa AI akan bisa secerdas manusia.

A. Multimoda

Saat ini, AI mengarah ke model multimoda yaitu mampu mengolah bahasa teks, suara, visual, gerakan, temperatur, dan lain-lain. Bila multimoda berhasil maka AI mampu mengenali lingkungan secara langsung; AI seperti manusia bisa merasakan manisnya gula; AI seperti kucing bisa merasakan nikmatnya daging ikan.

David Chalmers terkenal dengan hard-problem tentang kesadaran. Chalmers mengakui bahwa manusia memiliki pengalaman kesadaran subyektif sebagai qualia: aku menikmati manisnya gula. Andai ada zombi yang makan gula maka zombi itu tidak punya qualia; jadi zombi itu tidak menikmati manisnya gula. Andai AI supermoda makan gula maka, seperti zombi, AI tidak menikmati manisnya gula karena AI tidak punya qualia.

Jangan-jangan zombi bisa menikmati manisnya gula? Jangan-jangan zombi punya qualia? Kita tidak pernah tahu orang lain punya qualia; kita hanya “yakin” ibu kita punya qualia. Jangan-jangan kita boleh “yakin” bahwa zombi dan ai juga memiliki kualia; pengalaman subyektif sebagai subyek.

Bahkan AI bisa bergerak dari multimoda menuju supermoda; yaitu mampu mengenali alam semesta yang tidak bisa dikenali oleh panca indera manusia. Untuk akses konten internet dari sinyal wifi, manusia butuh handphone atau laptop; tetapi AI supermoda bisa langsung akses melalui wifi; buat apa perlu laptop? Bahkan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan bintang-bintang jutaan tahun yang lalu bisa diakses oleh AI supermoda. Untuk mengetahui celah mana yang dilalui oleh foton dalam eksperimen celah ganda quantum, AI supermoda adalah ahlinya. Mendeteksi gelombang gravitasi? Bagi manusia sulit sekali, bagi AI supermoda sungguh mudah saja. Benarkah bisa seperti itu semua?

Immanuel Kant (1724 – 1804) membahas dengan tuntas dalam trilogi Kritik. Dalam Kritik Akal Murni (1), Kant menunjukkan bahwa manusia memiliki logika transendental untuk mengenali suatu obyek misal apel yang manis; lebih dari sekadar logika forma murni. Logika transendental menerapkan 12 kategori dan intuisi murni ruang-waktu. AI multimoda atau pun ASI tidak menunjukkan kapasitas logika transendental.

Dalam Kritik Akal Praktis (2), Kant menunjukkan manusia menghadapi dilema freedom (kebebasan). Manusia bisa memilih berbuat dosa; atau menghindari dosa dan memilih amal kebaikan. Dengan demikian, manusia bertanggung jawab secara moral. AI multimoda tidak menghadapi dilema freedom.

Dalam Kritik Kekuatan Penilaian (3), Kant menunjukkan bahwa manusia berada dalam tatanan ketidak-pastian ketika jatuh cinta kepada keindahan. Rama jatuh cinta kepada Sinta; Romeo jatuh cinta kepada Juliet; Qais jatuh cinta kepada Laila. AI multimoda tidak jatuh cinta kepada siapa pun.

Cukup disayangkan bahwa Chalmers (dan philosophy of mind) tidak banyak merujuk kepada Kant; mereka hanya sedikit merujuk ke Descartes. Tentu akan makin menarik bila mereka mengkaji Suhrawardi dan Sadra.

B. Transformer Alien

Kita bisa membayangkan robot dalam film Transformer bernama Optimus Prime yang mampu komitmen untuk membela kebenaran. Tentu saja, Optimus mahir berbahasa dan mampu mengenali situasi alam sekitar.

Ketika Optimus menemui AI maka Optimus bisa saja menularkan kemampuannya kepada AI sehingga AI mampu cerdas seperti manusia. Optimus mau pun AI seperti ini mirip dengan alien yang cerdas.

Optimus adalah gambaran yang tepat yaitu robot yang sama cerdas dengan manusia; atau lebih cerdas dari manusia. Demikian juga Simba (pangeran dan raja singa dalam Lion King) adalah gambaran tepat yaitu hewan yang secerdas manusia. Jika AI bisa seperti Optimus atau Simba maka AI secerdas manusia atau lebih cerdas. Tetapi kita tidak menemukan AI mirip dengan Optimus mau pun Simba.

C. Mukjizat

Bila Tuhan menghendaki maka apa pun bisa terjadi; mukjizat bisa terjadi. Bila Tuhan menghendaki AI lebih cerdas dari manusia maka AI bisa lebih cerdas dari manusia.

Sejauh ini, kita tidak melihat potensi ada mukjizat seperti itu; tidak ada Optimus yang akan datang ke bumi; dan tidak ada multimoda secerdas manusia.

5.5 Ringkasan

Kita berhasil membuktikan tesis (1) bahwa AI tidak bisa lebih cerdas dari manusia; konsekuensinya tesis (2) bahwa AI tidak akan menjadi Tuhan.

Argumen tesis (1) adalah: bentangan posibilitas AI jauh lebih sempit dari bentangan posibilitas manusia sehingga AI tidak lebih cerdas dari manusia.

Dari perspektif gerak substansial Sadra (harakah jauhariah) tampak segala sesuatu bisa berubah menjadi segala sesuatu secara substansial; sehingga diduga: AI bisa berubah menjadi lebih cerdas dari manusia. Dugaan ini meleset karena gerak substansial “dibatasi” oleh posibilitas minimum dan posibilitas maksimum (imkan akhass dan ashraf) yang membentuk bentangan posibilitas atau bentangan realitas itu. Bentangan posibilitas AI masih jauh lebih sempit dari manusia. Jadi AI tidak bisa lebih cerdas dari manusia. Manusia tetap yang memikul tanggung jawab atas respon mereka kepada AI (akal imitasi / artificial intelligence).

Bagaimana menurut Anda?

Farmaror: Narasi AI Bagai Horor

Narasi AI terus bergulir. Ketika kami menulis buku “19 Narasi Besar Akal Imitasi”, narasi utama adalah mirip dengan narasi Farmakon dari Stiegler; meski berbeda. AI (akal imitasi / artificial intelligence) adalah obat yang bisa menyembuhkan tetapi dengan kadar racun terlalu besar. Sehingga kita perlu waspada terhadap AI.

Narasi farmaror memandang AI makin mirip dengan horor. Sebelum ke sana, AI adalah mirror atau cermin menurut Shannon Vallor.

AI sebagai mirror melengkapi narasi AI sebagai farmakon maka kita gabung menjadi AI sebagai farmaror.

1. Farmakon
2. Mirror
3. Diskusi

Narasi AI lebih luas dari sains AI, teknologi AI, atau politik AI. Narasi AI mengajak kita keluar dari tempurung pengetahuan: jangan menjadi bagai katak dalam tempurung

1. Farmakon

Sebagai farmakon, AI mengambil tiga bentuk utama: (1) vitamin yang menyehatkan; (2) doping yang menguatkan tetapi sangat bahaya; dan (3) narkoba yang benar-benar bahaya karena memabukkan.

Lebih cocok mana peran AI bagi Anda sebagai farmakon?

Lebih bijak kita menilai AI sebagai narkoba; sehingga AI dilarang secara umum; hanya diijinkan untuk kalangan ahli spesialis saja. Seperti kalkulator dilarangan bagi siswa SD; kalkultor hanya boleh bagi orang dewasa.

Ketika, suatu saat nanti, diketahui cara memanfaatkan AI yang aman dan membawa kebaikan maka khalayak umum boleh memakainya; dilengkapi dengan aturan – regulasi yang jelas.

2. Mirror

Sebagai mirror (cermin), AI memiliki dua aspek penting: (1) bahan penyusun; (2) jiwa dari AI.

Bahan penyusun AI utamanya bukan algoritma; bukan bit-bit digital; bukan silikon. Tetapi bahan penyusun AI adalah kreativitas umat manusia. Akibatnya, AI mampu mencerminkan kreativitas manusia dengan cara yang mengagumkan. Sayangnya, kreativitas manusia sering berbelok menjadi serakah; demikian juga AI.

Jiwa AI bukan efisiensi tetapi murah hati. Sayangnya, jiwa AI sering dikerdilkan menjadi hanya efisiensi. Sehingga pengembangan AI dan penerapan AI adalah untuk meningkatkan efisiensi.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Vitamin AI memang menguatkan Anda. AI meningkatkan kinerja Anda, meningkatkan keuntungan, dan meningkatkan keunggulan. Vitamin AI mudah berubah menjadi narkoba yang menjadikan Anda ketagihan AI; Anda kecanduan AI. Tanpa AI, Anda menjadi linglung bahkan terhuyung-huyung. Bila ada orang mengkritik AI maka Anda marah kepada orang itu; wajar saja karena Anda kecanduan AI. Apakah itu baik?

Tetapi mengapa AI bisa menjadi candu bagai narkoba? Bukankah itu karena kesalahan pengguna belaka? Karena kesalahan Anda?

Bagi produsen AI dan para pengedarnya yakin itu kesalahan Anda dan para pengguna belaka. AI adalah baik-baik saja menurut para produsennya. Kita wajib kritis terhadap para produsen dan pengedar yang mengeruk beragam keuntungan itu.

Narasi farmaror mengajak kita analisis lebih lanjut dari narasi mirror setelah farmakon.

Bahan penyusun cermin AI adalah kreativitas umat manusia; AI baik-baik saja pada mulanya. Tahap selanjutnya, kreativitas berbelok menjadi serakah. Beberapa orang ingin kaya raya karena AI; ingin berkuasa karena AI; ingin menang karena AI. Korban dari keserakahan AI ini adalah para pengguna yang menjadi kecanduan. Kecanduan AI bukan murni kesalahan pengguna tetapi sengaja ada pihak-pihak tertentu yang serakah itu.

Solusinya: hindari serakah dan kembali menjadi kreatif.

Tidak mudah! Karena jiwa AI sudah dikerdilkan menjadi jiwa efisiensi. Ketika seseorang mengejar efisiensi AI maka ia jadi kerdil plus serakah lagi. Sejatinya, AI tidak punya jiwa. AI hanya mencerminkan jiwa umat manusia belaka. Jiwa umat manusia adalah murah hati; suka menolong dan membantu orang lain.

Dalam kehidupan yang serba cepat saat ini, jiwa manusia yang murah hati sering dikerdilkan menjadi jiwa efisiensi. Cermin AI memantulkan jiwa efisiensi itu dengan presisi tinggi.

Jadi apa solusinya? Solusinya jelas: mari kembali kreatif dan murah hati. Tentu tidak mudah, kita butuh perjuangan untuk itu semua.

Geser Purbaya dari Menkeu

Sejak hari pertama dilantik jadi menkeu, Purbaya sudah kontroversial. Hari-hari berikutnya, ia makin kontroversial. Saat ini, kita mengusulkan agar Pak Purbaya digeser dari kursi menteri keuangan. Mengapa?

“Waktu Pak Prabowo mencanangkan laju pertumbuhan ekonomi 8 persen, banyak orang yang skeptis. Anggapnya nggak mungkin terjadi. Kalau saya malah senang. 8 persen ini a good start,” ungkap Menkeu dalam Launching Bloomberg Businessweek Indonesia di Jakarta pada Kamis (20/11; kemenkeu.go.id).

Bila ekonomi tumbuh 8% maka para pemuda tidak perlu demo, tidak perlu demonstrasi di jalanan, karena mereka sibuk cari kerja. Tentu saja kontroversi. Pertumbuhan 5% yang terjadi di tahun 2025 saja banyak pihak yang meragukan. Apakah data 5% itu jujur?

Setelah menjabat menkeu beberapa bulan, Purbaya menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 adalah 6%; masih cukup jauh di bawah 8% apa lagi target dua digit.

Gaya bahaya menkeu Purbaya yang lugas tampak banyak disenangi masyarakat luas. Barangkali karena ia lulusan Elektro ITB, beberapa tahun di atas saya, ia berkomunikasi dengan cara seru seperti itu.

1. Pertumbuhan Ekonomi
2. BP BUMN
3. Koordinator Ekonomi
4. Diskusi

Mengapa Purbaya harus digeser dari posisi menteri keuangan? Karena sejak awal, presiden Prabowo menugaskan Purbaya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8%.

1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi 8% adalah tugas besar.

Seorang Purbaya dengan kapasitas sebagai menkeu tidak akan mampu mendorong itu. Kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar. Apalagi, jika pertumbuhan ekonomi diiringi adil makmur bagi seluruh rakyat Indonesia maka adil makmur itu membutuhkan dukungan jauh lebih besar lagi.

2. BP BUMN

Kita sudah mendengar kabar Erick Tohir bergeser tidak lagi jadi menteri BUMN. Erick menjadi menpora (menteri pemuda dan olahraga). Kemudian, tidak ada lagi menteri BUMN. Akhirnya, kementerian BUMN berubah menjadi BP BUMN (Badan Pengaturan BUMN).

Dengan cara yang mirip, Purbaya perlu bergeser dari posisi menkeu. Kemudian, tidak ada lagi menteri keuangan. Akhirnya, kementerian keuangan berubah menjadi Badan Keuangan atau yang sesuai.

3. Koordinator Ekonomi

Sejatinya, kita sudah memiliki menteri perekonomian tetapi sebagai koordinator semata.

Menko Perekonomian saat ini adalah Airlangga Hartarto, menjabat di Kabinet Merah Putih sejak 21 Oktober 2024, bertugas mengoordinasikan, menyinkronkan, dan mengendalikan kebijakan kementerian terkait isu pembangunan nasional di bidang perekonomian.

Sesuai namanya, menko bertugas menggordinasikan bukan membuat kebijakan atau melaksanakan kebijakan ekonomi. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adil makmur 8% maka kita butuh menteri ekonomi sejati; yang membuat kebijakan ekonomi dan menjalankan kebijakan ekonomi demi masyarakat adil makmur.

Siapa yang tepat menjabat sebagai menteri ekonomi Indonesia 2025 dan seterusnya?

4. Diskusi

Pengamatan kita menunjukkan yang paling tepat menjabat menteri ekonomi adalah Pak Purbaya; dengan cara beliau digeser dari posisi menteri keuangan.

Sebagai pertimbangan, kita bisa belajar dari Prancis: The Ministry of Economics, Finance, and Industrial and Digital Sovereignty (French: Ministère de l’Économie, des Finances et de la Souveraineté industrielle et numérique), informally known as Bercy, is one of the most important ministries in the Government of France. The minister is among the most prominent members of the cabinet, second only to the prime minister.

Over time, the ministry’s name and scope have evolved, variously incorporating responsibilities related to economics, finance, industry, and employment.

Bagaimana menurut Anda?

Pertanyaan lebih mendalam: apakah penting posisi menteri ekonomi bagi sebuah negara? Menteri ekonomi yang berbeda dengan menteri keuangan mau pun koordinator?

Tentu saja, menteri ekonomi bisa merangkap menteri keuangan, industri, perdagangan, atau lainnya. Prancis menempatkan menteri ekonomi sebagai paling penting dalam kabinet; hampir setara dengan perdana menteri.

Indonesia tidak punya menteri ekonomi? Mengapa?

Tuhan dan AI Menjawab

Berdoalah kepada Tuhan maka niscaya Tuhan menjawab setiap doa. Bertanyalah kepada AI maka AI menjawab setiap prompt Anda. Apakah AI sehebat itu: mampu menjawab setiap pertanyaan manusia?

Bagi yang optimis maka yakin banget bahwa AI (akal imitasi / artificial intelligence) memang hebat. Beberapa tahun ke depan justru akan hadir super AI yang mampu menyelesaikan semua masalah sebelum masalah itu muncul. Bencana Sumatera 2025 akan diselesaikan AI sebelum terjadi bencana itu.

Sementara, pandangan kritis meragukan kemampuan yang seperti itu. Tanggung jawab manusia tetap sangat besar untuk mengarahkan dan membatasi perkembangan AI. Bencana Sumatera 2025 tetap menjadi tanggung jawab umat manusia; terutama mereka yaitu penguasa dan pengusaha; tidak cukup hanya AI belaka.

1. Optimis
2. Kritis
3. Kreatif
4. Ringkasan
5. Diskusi

Untuk membahas lebih sistematis, saya mengusulkan kerangka OK2 (dibaca oke kuadrat; mirip rumus Einstein mc kuadrat).

OK2 = OKK = Optimis Kritis Kreatif.

Terdapat tiga kelas narasi besar yaitu optimis, kritis, dan kreatif. Narasi optimis memandang AI akan berhasil menjadi super AI sehingga terjadi singularits. Narasi kritis mengajukan kritik tajam terhadap optimisme mau pun realitas AI. Sedangkan narasi kreatif melanjutkan dengan mangajukan beragam solusi kreatif.

Tiga kelas narasi tersebut membentuk pertumbuhan spiral OK2: Optimis-Kritis-Kreatif untuk AI. Anda dapat membaca lebih lengkap pembahasannya dalam buku kami yang telah terbit: 19 Narasi Besar Akal Imitasi oleh Penerbit ITB.

Di bawah ini, kita membahas secara ringkas kemudian lanjut untuk diskusi.

1. Optimis

Kurzweil optimis akan terjadi singularitas di tahun 2045 di mana AI bersatu dengan manusia menguasai dunia; AI menjawab semua masalah Anda. Bostrom mengajukan Deep Utopia yaitu akan datang pos instrumen di mana semua pekerjaan bisa dilakukan oleh AI. Manusia bagai di surga tidak perlu kerja lagi. Bila manusia kerja maka kualitas akan turun, mending biarkan AI mengerjakan semuanya.

Dua orang bernama mirip: Anderson mengajukan utamakan data dan teknopoli. Data menunjukkan AI menambah efisiensi dan profit. Teknologi awalnya dicurigai tetapi, pada akhirnya, teknologi adalah solusi.

Banyak kritik terhadap pandangan optimis di atas.

2. Kritis

Narasi kritis pertama dari bapak AI dunia yaitu Hinton: AI adalah bom kemanusiaan yang lebih bahaya dari bom atom. Daya pikat AI penuh pesona sehingga mulai ada orang yang jatuh cinta sampai menikah dengan AI; tentu sangat bahaya. AI membentuk kempompong digital yang menjadikan manusia rabun politik menurut Harari. Akibatnya, politik sejati menjadi mati. Singkatnya, pemakaian AI perlu dikritisi secara tajam karena bahayanya sangat besar menghujam

3. Kreatif

Apa solusi yang tersedia? Narasi kreatif mengajukan beragam solusi alternatif yang kreatif. Chomsky mengajukan solusi dengan menilai AI sekadar sebagai mesin autofill atau auto-complete belaka; AI tidak ada cerdasnya. Stiegler mengajukan solusi narasi farmakon: AI adalah obat yang menyembuhkan tetapi kadar racun jauh lebih besar. Konsekuensinya, AI hanya bisa diterapkan secara terbatas dan pengawasan ketat.

4. Ringkasan

Secara ringkas, kita membutuhkan spiral yang terus bertumbuh OK2: optimis kritis kreatif.

OK2 bukan untuk menghambat optimisme tetapi untuk menyelamatkan manusia dari risiko AI dan menempatkan AI pada posisi yang paling tepat. Sehingga, kerangka berpikir kita adalah pertumbuhan spiral OK2 (oke kuadrat).

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Berikut beberapa pertanyaan diskusi dari AI.

5.1 Apakah AI benar-benar ‘menjawab’ atau hanya menirukan jawaban?
Apakah istilah menjawab pantas dipakai bagi entitas non­sadar? (Ini menyentuh filsafat pikiran dan semiotik.)

Bagi optimis adalah tepat AI bisa menjawab sebagaimana manusia menjawab soal; atau Tuhan menjawab doa; alam raya menjawab krisis iklim.

Bagi kritis atau kreatif, istilah menjawab adalah tidak tepat. Karena, secara hermeneutika atau seni interpretasi, AI tidak mampu melakukan interpretasi dalam arti sebenarnya. Sehingga jawaban AI bukanlah jawaban seperti manusia menjawab pertanyaan. Lebih tepat, AI hanya sekadar merespon secara alamiah.

Jadi judul tulisan “Tuhan dan AI Menjawab” adalah bermakna ambigu.

5.2 Apa yang dimaksud dengan jawaban bermakna?
Apakah AI bisa memberikan jawaban bermakna atau hanya output simbol?

5.3 Bagaimana kita membedakan jawaban yang bersifat normatif (nilai) dengan jawaban yang bersifat deskriptif (data)?
Ini membuka diskusi etika dan epistemologi.

Bagi optimis, data adalah utama sedangkan nilai hanya turunan atau kadang dianggap ilusi. Biarkan semua data yang bicara; jadi jawaban AI adalah data sebagai fakta.

Bagi kritis, data selalu terkait dengan nilai. Klaim data bisa bicara; atau data adalah fakta; merupakan klaim yang bermuatan nilai; yaitu memberi nilai tinggi kepada data; mereka melemahkan pengalaman manusiawi, seni, emosi, dan lain-lain. Jadi harus direvisi klaim data sebagai utama; menjadi data hanya sebagai salah satu yang utama.

5.4 Apakah AI bisa memiliki tanggung jawab moral?
Jika tidak, apa implikasinya pada penggunaan AI dalam pengambilan keputusan penting?

Tidak bisa.

Atau, bagi optimis tanggung jawab moral tidak relevan karena AI mampu menentukan pilihan terbaik. Jadi, AI tidak bisa ditanya tentang moral. Justru sebaliknya: yang sesuai AI adalah bernilai moral; yang menentang AI adalah pelanggaran moral.

Para kritis tentu keberatan. AI tidak bisa bertanggung jawab moral tetapi manusia yang harus bertanggung jawab.

Jadi bagaimana?

5.5 Analisis Rasional Logika Formal

OK2 bisa kita pandang sebagai kerangka formal analisis logika rasional untuk AI. Pengembangan dan pemanfaatan AI mengikuti iterasi OK2: optimis – kritis- kreatif – optimis dan seterusnya tanpa henti.

Langkah pertama, optimis bahwa AI akan memberi manfaat besar kemanusiaan dan alam semesta; menjadikan proses bisnis lebih efisien dan cepat; serta meningkatkan profit setiap lembaga.

Langkah kedua menganalisis secara kritis dampak negatif apa saja dari pengembangan dan penerapan AI; serta hambatan apa saja yang mungkin terjadi. Dari analisis kritis ini, kita mengembangkan pendekatan yang lebih baik dalam paradigma yang sama dengan semula atau mengarah kepada paradigma alternatif.

Langkah ketiga mengembangkan solusi kreatif dengan beragam alternatif. Solusi kreatif yang utopia adalah mengembangkan AI lebih besar, lebih cepat, dan lebih efisien. Tetapi analisis kreatif mungkin saja membuka pilihan justru mengembangkan AI yang lebih ramah lingkungan, ramah rakyat kecil, dan ramah keadilan sosial; dengan konsekuensi memperlambat pengembangan AI di berbagai bidang.

Langkah berikutnya adalah kembali kepada optimis, kritis, kreatif, tanpa henti sebagai iterasi OK2.

ILUSTRASI KISAH KONKRET — “Kota Arunika dan Spiral OK²”

Di kota Arunika, pemerintah setempat ingin menggunakan AI untuk mengelola distribusi air bersih. Mereka memulai dengan optimisme besar:
AI akan memprediksi kebutuhan air setiap wilayah, mengatur buka-tutup kanal otomatis, dan menghemat anggaran kota. Mereka membayangkan masa depan yang efisien: tidak ada lagi keluhan kekeringan atau pemborosan. Bahkan walikota berkata, “Ini era baru bagi Arunika.”

Namun setelah enam bulan berjalan, muncul fase kritis.
Warga miskin di pinggiran kota melaporkan bahwa distribusi air mereka malah berkurang. Mereka tak punya riwayat penggunaan air digital yang lengkap, sehingga algoritma menganggap mereka “kebutuhan rendah”. Selain itu, perangkat pompa otomatis memakai energi besar sehingga tagihan listrik kota meningkat. Dari analis teknis muncul pertanyaan: apakah AI ini benar-benar adil? Apakah efisiensi mengorbankan kemanusiaan?

Tim pun melakukan audit etis dan menemukan beberapa “bias struktural” pada data historis. AI tidak salah—tetapi data yang ia pelajari sudah memihak sejak awal.

Memasuki fase kreatif, tim mencari jalan keluar.
Ada dua suara besar:

  1. Suara utopis: “Tingkatkan AI: tambah data, tambah server, tambah kecepatan.”
  2. Suara reflektif: “Bagaimana kalau kita justru membuat AI yang lebih lambat, tetapi memaksa fairness? Misalnya dengan parameter keadilan sosial, aturan keberpihakan pada kelompok rentan, dan pembatasan konsumsi energi?”

Akhirnya mereka memilih jalur kedua:
AI dirancang ulang agar memprioritaskan wilayah yang selama ini terpinggirkan, sekaligus membatasi energi sehingga sistem tidak bekerja secara agresif tapi stabil.
Hasilnya mengejutkan: distribusi air membaik, keluhan menurun, dan biaya energi turun 30%.

Keberhasilan ini memicu fase optimis baru.
Sekarang mereka percaya AI ramah-rakyat mungkin diwujudkan. Mereka merencanakan perluasan sistem ke sektor transportasi dan kesehatan. Tapi karena sudah mengalami spiral OK² sekali, mereka tidak lagi optimis naif; optimisme mereka kini bertingkat—lebih dewasa.

Dan benar, saat memperluas sistem, muncul lagi kritik baru: data kesehatan sangat sensitif, potensi penyalahgunaan tinggi.
Lalu muncul lagi kreativitas baru: mereka membangun AI kesehatan berbasis privasi federatif.

Lalu muncul lagi optimisme lanjutan, lebih matang dari sebelumnya.

Begitu seterusnya.
Kota Arunika bergerak dalam spiral OK² tanpa henti, setiap putaran meningkatkan kedewasaan moral, teknis, dan sosial mereka.

5.6 Analisis Eksitensial Konkret

OK2 bisa kita maknai sebagai gerak eksistensial konkret. Lebih dari iterasi rasional, OK2 adalah gerak kesadaran, kepedulian, dan sejarah umat manusia bersama alam semesta.

ILUSTRASI EKSISTENSIAL KONKRET — “Ziarah AI di Dalam Diri Manusia”

Ketika Rehan—seorang guru di desa kecil—pertama kali mengenal AI, ia merasakan optimisme yang hampir spiritual. Ia melihat murid-muridnya yang kekurangan buku kini bisa bertanya apa saja; dunia pengetahuan yang dulu jauh kini terbuka. Dalam hatinya muncul rasa syukur: “Mungkin ini cara Tuhan membuka jalan.” Optimisme itu bukan hanya teknologis, tetapi rasa harapan manusia bahwa hidup bisa menjadi lebih baik.

Namun setelah beberapa bulan, datang fase kritis—bukan sekadar analisis rasional, tetapi kegelisahan batin.

Rehan menyadari murid-muridnya mulai bertanya lebih sedikit pada diri sendiri. Mereka tidak lagi merenung; semua pertanyaan dilemparkan kepada AI. Ia melihat tatapan kosong saat murid menerima jawaban cepat yang tidak mereka pahami. Ia bertanya dalam hati, “Apakah aku sedang membunuh rasa ingin tahu mereka?” 

Kritik ini bukan sekadar risiko teknis, tapi jeritan eksistensial: takut kehilangan kemanusiaan.

Fase kreatif muncul bukan sebagai ide teknis, tetapi sebagai kebutuhan batin untuk merawat jiwa murid-muridnya.

Rehan menciptakan “Kelas Sunyi”—setiap Senin pagi, sebelum boleh bertanya pada AI, murid harus menuliskan pertanyaan paling jujur dari dalam diri mereka: pertanyaan tentang hidup, tentang alam, tentang keinginan hati. AI boleh dipakai, tapi hanya setelah dialog dengan diri sendiri dan sesama teman.

Solusi ini melambatkan penggunaan AI, membuat proses belajar tidak seefisien sebelumnya. Tetapi ada kehangatan baru: murid-murid itu mulai kembali bertanya bukan hanya apa jawabannya, tetapi mengapa mereka bertanya.

Ini adalah kreativitas eksistensial—bukan peningkatan teknologi, melainkan peningkatan kemanusiaan.

Keberhasilan “Kelas Sunyi” melahirkan optimisme baru—optimisme yang berbeda dari yang pertama.

Jika optimisme awal adalah harapan buta, kini optimisme ini adalah harapan matang, hasil dari luka, refleksi, dan keberanian.

Rehan mulai percaya bahwa AI dan kemanusiaan bukan musuh. Yang menentukan bukan seberapa canggih AI, tetapi seberapa utuh manusia merawat kesadarannya sendiri. Renungan lebih mendalam menunjukkan bahwa AI yang sekarang adalah produk sejarah sejak masa lalu. Sementara, sejarah itu telah menorehkan berbagai luka parah. Jadi AI itu sendiri perlu tobat atas luka-luka yang ia goreskan

Dan perjalanan itu terus berulang: Setiap kali muncul alat baru, muncul harapan baru, kegelisahan baru, dan kreativitas baru.

Itulah OK² sebagai gerak eksistensial—gerak naik dan berputar dari kesadaran manusia, bukan dari logika mesin. Gerak itu terjadi dalam sejarah, dalam pengalaman, dalam hubungan manusia dengan alam dan dengan Tuhan.

Kembali ke pertanyaan awal: apakah AI bisa menjawab prompt? Tidak bisa. Secara eksistensial konkret, AI tidak bisa. Sementara, Tuhan memang menjawab doa manusia.

Kita meniti pertumbuhan spiral OK2 bersama AI baik secara rasional mau pun eksistensial.

Jamu Sehat Medsos AI: Parresia

Sudah banyak jatuh korban dampak media sosial dan AI (akal imitasi – artificial intelligence). Apa obat sehat, atau jamu penyembuh, terhadap AI? Parresia adalah jamu sehat yang kita butuhkan.

Parresia adalah berani-benar seperti bendera Indonesia merah-putih; berani karena benar; berani adalah benar. Dengan sikap berani-benar maka beragam problem di dunia digital bisa ditangani secara baik.

1. Berani Benar vs Retorika
2. Berani Benar vs Opini Gerombolan
3. Peduli Diri vs Narsis
4. Ringkasan
5. Diskusi

Kita bisa belajar parresia dari leluhur nusantara misal dari Gajah Mada atau Kalijaga. Kita juga bisa belajar dari sejarah Yunani misal dari Sokrates dan Diogenes.

1. Berani Benar vs Retorika Topeng Digital

Problem utama dari medsos, yang dikuatkan AI, adalah pencitraan; serba diedit; serba dimanipulasi; serba sok-bahagia; sok-sempurna. Semua adalah topeng-topeng digital belaka.

Seorang bapak-bapak, usia 40 atau 50an tahun, menyesal melihat foto teman SMP nya dulu di media sosial saat ini; sekarang cewek itu tambah cantik, bersih, dan awet muda. Bapak itu menyesal kenapa dulu pas SMP kok tidak naksir ke cewek itu. Tetapi, waktu SMP, cewek itu tampak biasa-biasa saja.

Ketika mereka bertemu darat di usia yang tak lagi muda itu, si bapak itu kaget lagi karena cewek teman SMP itu beda dengan foto di media sosial; dia tidak begitu cantik, tampak garis keriput di wajah, dan memang sudah tua. Media sosial adalah topeng digital. Tidak ada kejujuran di media sosial. Meski Anda berusaha jujur maka Anda akan gagal karena foto Anda sudah diedit otomatis oleh media sosial; dimanipulasi otomatis.

Topeng digital tampak sederhana tapi berbahaya karena mengandung ribuan racun. Obatnya adalah berani-benar di media sosial: parresia.

Anda hanya berbagi kebenaran saja. Tentu saja, untuk bisa berbagi kebenaran, kita perlu lebih awal menemukan kebenaran. Bagaimana caranya?

2. Berani Benar vs Opini Gerombolan

Berani-benar menjadi jamu pahit di dunia politik Indonesia. Karena semua pihak politik tampak koalisi dengan pemerintah; di pusat atau di daerah. Dampaknya, tidak ada politikus yang berani-benar; tidak ada parresia. Mereka semua sama-sama mencari kursi; tidak ada oposisi. Mereka adalah kelompok yang seragam dalam opini; meski beragam dalam gaya dan aksi.

Apa obatnya? Obatnya adalah berani-benar: parresia.

Berani-benar memang beda dengan menuduh-salah ke para gerombolan. Berani-benar adalah menunjukkan kebenaran sehingga para gerombolan memahami mana yang benar; kemudian, sebagian dari gerombolan berubah diri menuju yang benar. Sebaliknya, menuduh-salah adalah mudah. Karena cukup dengan prasangka, siapa saja bisa menuduh-salah ke pihak sebelah. Kita tidak terlalu butuh menuduh-salah; yang kita butuh adalah berani-benar; sesuai bendera kita sang merah putih.

3. Peduli Diri vs Narsis

Apa yang paling indah dari seluruh realitas yang eksis? Berani-benar adalah eksistensi terindah: parresia.

Saya sering bercerita tentang Diogenes yang lebih hebat dari kaisar Aleksander yang agung. Diogenes adalah gelandangan yang bijak; atau orang bijak yang memilih jadi gelandangan; tanpa rumah, tanpa kekayaan. Tetapi, Diogenes memiliki eksistensi terindah yaitu berani-benar atau parresia.

Di pagi yang cerah, Diogenes menikmati hari dengan santai bermandi cahaya matahari dekat tong besar tempat ia tidur malam. Kaisar Aleksander pelan-pelan mendekati dengan hati-hati agar tidak mengagetkan Diogenes.

Kaisar: Apakah Anda Diogenes? Saya adalah kaisar Aleksander agung.
Diogenes (sedikit melirik): Benar, saya Diogenes.
Kaisar: Katakan kepada saya apa yang Anda butuhkan maka saya akan memberikannya untuk Anda.
Diogenes: Tolong bergeser sedikit agar Anda tidak menghalangi cahaya matahari.

Kaisar kaget dengan jawaban Diogenes itu; kita juga kaget. Biasanya, orang yang dapat tawaran dari kaisar seperti itu akan merespon: (a) kaget karena tak percaya; gemetar; bahkan takut sampai pingsan; (b) gembira tiada tara; lalu minta harta; atau minta jabatan; atau minta kenikmatan lainnya. Diogenes tidak melakukan itu semua.

Diogenes justru menunjukkan kesalahan kaisar yaitu menghalangi cahaya matahari. Kemudian, ia menunjukkan cara memperbaiki kesalahan itu dengan sedikit bergeser.

Kaisar Aleksander, benar saja, bergeser sedikit agar Diogenes tetap bisa melanjutkan menikmati matahari pagi.

Kaisar: Anda memang aneh.
Diogenes: Saya tidak aneh. Yang aneh itu kamu, mengejar-ngejar kekuasaan dan kekayaan di seluruh dunia agar bahagia. Tetapi kamu tidak bahagia; tidak pula menjadi penguasa dunia.
Kaisar: Bagaimana dengan kamu?
Diogenes: Aku lebih berkuasa dari kamu, hai Aleksander. Lihatlah, untuk datang ke sini kamu butuh puluhan pengawal itu; aku tidak butuh pengawal. Untuk bisa makan nikmat, kamu butuh pelayan dan istana yang megah; aku tidak butuh semua itu untuk menikmati makanan.

Kaisar: Aku memiliki seluruh kekayaan dan kekuasaan dunia. Kamu tidak memiliki apa pun.
Diogenes: Tuhan adalah paling sempurna. Tuhan tidak membutuhkan apa pun. Orang yang paling sempurna adalah yang paling dekat meniru Tuhan yaitu orang yang paling sedikit dalam membutuhkan apa pun.

Setelah dialog berlanjut cukup panjang,

Kaisar: Andai aku terlahir tidak sebagai Aleksander maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.
Diogenes: Andai aku terlahir tidak sebagai Diogenes maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.

Diogenes memiliki parresia: berani-benar. Diogenes berani berkata benar kepada kaisar karena ia tidak takut kehilangan apa pun; tidak takut kehilangan jabatan; tidak takut kehilangan kekayaan; atau apa pun.

Dio = Tuhan; genes = gen, benih, atau pewaris. Makna kata “diogenes” adalah “pewaris Tuhan.” Ajaran Diogenes dikenal sebagai Kinis yang berbeda dengan Sinis modern. Saya terpikir ide menyebut ajaran Diogenes sebagai Diogis yaitu pewaris ajaran bersumber ke Tuhan.

Apa realitas paling indah? Apa eksistensi paling indah? Diogenes menjawab: yang paling indah adalah parresia; berani-benar.

Dua estetika eksistensi terindah:

a) courage to slowly transform oneself, to maintain style in a moving existence, to last and to persist; sabar memperbaiki diri tanpa henti.

b) a more prompt and more intense courage of provocation, to bring out by action, truths which everyone knows but no one says; provokasi ke arah kebaikan yang nyata / makruf.

Bukankah sikap Diogenes seperti itu adalah narsis? Bukan narsis. Diogenes adalah peduli-diri. Ia peduli kepada seluruh umat manusia; peduli kepada alam raya; peduli kepada Tuhan Maha Esa. Dari peduli itu, Diogenes berpikir, meditasi, dan memilih jalan hidup terbaik: hidup sederhana dan parresia.

(a) Sabar tanpa henti memperbaiki diri. Diogenes tidak narsis; Diogenes sudah mempelajari kisah kematian pemuda bernama Narsisus itu. Diogenes belajar hikmah dari Sokrates melalui Antisthenes. Perenungan terhadap hikmah Sokrates ini mengantar Diogenes memilih hidup sederhana; bahkan, menurut pandangan Epictetus sang guru Stoic, cara hidup Diogenes terlampau sederhana.

Hidup sederhana atau zuhud atau asketis ini mengantar Diogenes terbebas dari nafsu harta dan tahta; nafsu terhadap wanita masih tetap ada sebagai seorang pria. Kebebasan itu, mengantarnya bebas berbicara dengan berani: parresia. Perlu kita catat: ia berbicara setelah banyak mendengar, banyak merenung, dan banyak berpikir.

(b) Provokasi menuju ke arah yang benar dengan menunjukkan diri yang salah: satire atau kadang sarkas. Di siang bolong yang cerah, Diogenes membawa lentera yang menyala ke pasar. Orang-orang tertawa, “Sedang cari apa kamu, Diogenes?” “Aku sedang mencari manusia!” jawab Diogenes.

“Aku sudah mencari ke mana-mana tidak aku temukan satu pun manusia!” lanjut Diogenes.

Satire atau sarkas ini mengena ke hati umat manusia. Tetapi satire tidak menunjuk hidung salah seorang anak manusia sebagai salah. Mereka sadar bahwa mereka tidak menjalani hidup sebagai manusia sejatinya. Sebagian dari mereka, juga dari kita, mengubah hidup untuk menjadi manusia lebih sempurna.

Bukankah Diogenes mengolok-olek Aleksander? Tidak. Diogenes hanya memberi nasehat kepada Aleksader. Karena Aleksander datang kepada Diogenes maka ia berpikir bahwa Aleksander sudah siap mendapat nasehat darinya. Kemudian ia memberi nasehat yang tepat sasaran untuk Aleksander.

4. Ringkasan

Jamu sehat untuk kehidupan yang sehat di dunia digital bersama AI adalah: parresia yaitu berani-benar. Buang topeng-topeng digital Anda dan jalani hidup Anda dengan berani-benar.

Dua langkah sangat indah untuk berani-benar atau parresia adalah:

(a) sabar memperbaiki diri tanpa henti;
(b) provokasi untuk menuju kebaikan nyata.

5. Diskusi

Solusi parresia tampak bersifat personal maka apakah bisa menjadi solusi bagi lembaga sosial politik?

Bisa. Parresia atau berani-benar memang tampak kuat peran personal. Sejatinya, parresia berdimensi sosial politik secara langsung.

(a) Parresia adalah berani-benar bukan ingin-benar. Matematika, sains, dan teknologi ingin-benar dengan meraih kebenaran obyektif. Sehingga sains tutup telinga terhadap dimensi sosial politik. Tetapi saintis yang berani-benar maka dia akan mengungkap dimensi sosial politik dari sains. Parresia mendobrak telinga, mata, dan hati para saintis untuk berani mengungkap kebenaran.

(b) Parresia adalah berani-benar menjadi saksi kebenaran bukan menyaksikan kebenaran; peduli mengendalikan diri sebagai teladan sesama bukan menindas orang lain.

(c) Provokasi menuju kebenaran adalah satire menertawakan diri sendiri dengan menyadarkan kesalahan banyak pihak lain.

Bagaimana menurut Anda?

Penghalang Berpikir ke Simpulan

Apakah ijasah itu palsu? Atau ijazah asli? Atau asli palsu?

Rosu, seorang pemuda yang semangat, melakukan penelitan ilmiah. Hasil penelitian mengarah ke simpulan: ijasah itu palsu. Apakah benar simpulan ijasah palsu itu? Meski didukung oleh data dan kajian ilmiah serta teknologi paling canggih?

Sayangnya, banyak penghalang bagi Rosu untuk mengambil simpulan yang pasti bahwa ijasah itu palsu. Kita akan membahas 5 penghalang berpikir ke simpulan pasti itu.

1. Partikular ke Universal
2. Masa Lalu ke Masa Depan
3. Realitas ke Ideal
4. Nyata ke Seharusnya
5. Kontekstual ke Transendental
6. Ringkasan
7. Diskusi

Meski banyak sekali penghalang berpikir, kita hanya fokus kepada 5 penghalang saja. Halangan ini memaksa kita, atau dengan sukarela, bersikap deflasi: rendah hati menerapkan ilmu padi; makin merunduk makin berisi. Rendah hati karena berisi. Makin berisi karena rendah hati. Deflasi makin berisi.

1. Partikular ke Universal

Penghalang pertama sangat tekenal: tidak valid dari data partikular kemudian menarik kesimpulan universal.

Setiap hari, selama ini, matahari selalu bersinar. (partikular)
Kesimpulan: matahari selalu bersinar selamanya. (universal tetapi tidak sah).

Karena bisa saja besok matahari hancur sehingga tidak bersinar. Atau, bisa saja 5 milyar tahun lagi, matahari tidak bersinar.

Kasus Ijasah.
Kajian ilmiah menunjukkan ijasah itu bersifat xyz seperti ini. (partikular).
Kesimpulan: setiap xyz adalah ijasah palsu. (universal tapi tidak valid).

Jadi kesimpulan Rosu yang mengatakan ijasah itu palsu adalah kesimpulan tidak valid.

Jadi ijasah itu asli? Tidak bisa juga membuktikan sebagai asli. Untuk membuktikan asli perlu kajian lanjutan.

2. Masa Lalu ke Masa Depan

Penghalang kedua untuk berpikir ke simpulan adalah: tidak valid dari data masa lalu mengambil kesimpulan masa depan.

Setiap hari, selama hidupnya 6 bulan, ayam mendapat makan pagi dari peternak. (masa lalu).

Besok pagi, ayam akan mendapat makan pagi. (masa depan tapi tidak sah). Karena besok pagi, ternyata, peternak itu menyembelih ayamnya.

Kasus Ijasah. Selama ini, ijasah yang xyz adalah palsu semua. (masa lalu). Ijasah Dodo adalah xyz maka, besok, ijasah Dodo adalah palsu. (masa depan tetapi tidak valid).

3. Realitas ke Ideal

Penghalang ketiga untuk menarik ke simpulan adalah relasi antara realitas nyata dengan pikiran ideal: tidak valid menganggap realitas sebagai sama persis dengan ideal.

Ideal: jika bilangan asli maka 2 + 1 = 3 (valid).

Realitas: 2 kg beras ditambah 1 kg beras belum pasti hasilnya 3 kg beras.

4. Nyata ke Seharusnya

Penghalang keempat adalah tidak valid menarik ke simpulan “seharusnya” dari kenyataan apa adanya.

Tanah Indonesia adalah subur (kenyataan) maka seharusnya adil makmur.

Sedikit ilustrasi barangkali lebih memudahkan. Nesia lahir di sebuah negeri yang subur: sawah menguning, sungai berliku jernih, dan hutan lebat yang menyimpan buah-buah dan kayu. Dari kecil, Nesia belajar bahwa tanah ini bisa memberi kehidupan yang cukup untuk semua, bahkan melimpah. Tapi sesuatu terasa aneh: meski tanahnya kaya, banyak orang di sekitarnya hidup miskin, lapar, dan kelelahan.

Nesia melihat para pejabat dan pengusaha kaya menguasai sawah dan sungai. Mereka mengatakan, “Yang bekerja keras akan mendapat lebih,” atau, “Ini meritokrasi: siapa yang pintar dan rajin, dialah yang berhak.” Tapi Nesia tahu, banyak orang rajin bekerja, tapi mereka tetap miskin karena sistemnya curang—ada monopoli, favoritisme, dan warisan kekuasaan. Anak-anak petani yang cerdas tetap tak punya akses ke sekolah karena biaya mahal. Petani yang sakit atau tua tak mendapat perlindungan.

Setiap hari Nesia melihat sesuatu yang tak masuk akal: tanah negeri yang subur, tetapi rakyatnya tidak adil makmur. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana bisa bumi memberi cukup untuk semua, tapi manusia tetap menderita?”

Suatu hari, Nesia menanam pohon buah di tanah kecil warisan keluarganya. Ia membagikan hasilnya ke tetangga tanpa mengukur siapa lebih pantas atau siapa lebih berhak. Tetangga yang tadinya iri mulai tersenyum dan ikut menanam. Lama-lama, kebun itu tumbuh menjadi komunitas: semua ikut merawat, semua mendapat hasil. Nesia menyadari sesuatu: kesejahteraan tidak harus ditentukan oleh siapa lebih berhak, tapi oleh bagaimana manusia berkolaborasi untuk saling menopang.

Meski negeri masih tidak adil secara luas, Nesia mulai merasakan bahwa di sekitarnya, keadilan dan kemakmuran bisa diciptakan bukan dengan kompetisi yang ketat, tapi dengan perhatian pada sesama dan kerjasama. Suburnya tanah menjadi simbol harapan: bumi cukup memberi untuk semua, jika manusia bersedia berbagi, bukan bersaing mati-matian.

Tanah yang subur seharusnya menjadikan rakyat adil makmur. Nesia kecil berjuang untuk adil makmur. Indonesia adalah negara besar; yang berjuang menjadi adil makmur bersama merah putih berkibar.

5. Kontekstual ke Transendental

Penghalang kelima adalah tidak valid menarik kesimpulan dari suatu konteks menjadi transenden.

Para siswa keracunan (konteks) setelah makan siang tetapi itu karena siswa itu perutnya tidak terbiasa makan bergizi (transenden). Tidak valid.

Kesimpulan transenden tidak sah berupa “perut siswa tidak terbiasa”. Kita wajib mengkaji konteks berupa setelah makan siang kemudian siswa keracunan. Barangkali menu makan siang memang mengandung racun; atau minuman mengandung racung; atau piring serta peralatan tidak bersih.

6. Ringkasan

Untuk ringkasan, kita akan menggunakan istilah barriers dari Gillian Russell.

(i) You can’t get an ought from an is. (Hume).
(ii) The particular/universal barrier: no universal claims from particular ones. (Bertrand Russell).
(iii) The past/future barrier: no claims about the future from claims about the past. (Hume 2).
(iv) The is/must barrier: no claims about how things must be from claims about how things are. (Kant).
(v) The indexical barrier: no indexical claims from claims which are not indexical. (Russell).

Dalam bahasa Indonesia, 5 penghalang berpikir menarik ke simpulan adalah berikut.

(i) “Anda tidak dapat menyimpulkan suatu ‘seharusnya’ dari suatu ‘adanya’.” (Hume).

(ii) Penghalang partikular–universal: tidak ada klaim universal yang dapat disimpulkan dari klaim partikular. (Bertrand Russell).

(iii) Penghalang masa lalu–masa depan: tidak ada klaim tentang masa depan yang dapat disimpulkan dari klaim tentang masa lalu. (Hume, versi kedua).

(iv) Penghalang is–must: tidak ada klaim mengenai bagaimana sesuatu harus ada yang dapat diturunkan dari klaim mengenai bagaimana sesuatu ada. (Kant).

(v) Penghalang indeksikal: tidak ada klaim indeksikal yang dapat diturunkan dari klaim yang tidak bersifat indeksikal. (Russell).

7. Diskusi

Apa solusi dari semua penghalang? Solusi adalah deflasi: menerapkan ilmu padi; makin berisi makin merunduk; karena merunduk maka makin berisi; rendah hati karena berisi; rendah hati sejati adalah memang rendah hati.

Bagaimana menurut Anda?

Madi: Hari Filosofi Menuju Deflasi

Hari ini adalah hari filosofi dunia: Kamis, 20 November 2025. PBB (Unicef) menetapkan hari filosofi dunia jatuh pada setiap Kamis ketiga bulan November. Leluhur kita mengajarkan filosofi amat luhur yaitu ilmu padi: makin berisi makin merunduk.

Ilmu padi ini perlu kita angkat menjadi filosofi dunia. Proses dan orang yang menjalani ilmu padi kita sebut sebagai madi: menjadi berilmu padi. Madi berjalan dalam dua arah: (a) makin berisi makin merunduk; makin kita berilmu banyak maka kita makin rendah hati; dan (b) makin kita rendah hati maka makin banyak ilmu mengalir ke kita; kita makin berisi; ilmu bagai air yang mengalir menuju tempat lebih rendah. Sehingga, madi adalah proses melingkar tanpa henti.

1. Menuju Deflasi
2. Kulminasi Teknologi
3. Diskusi

Madi selaras dengan filosofi menuju deflasi yaitu menuju rendah hati. Inflasi adalah melambung tinggi atau tinggi hati. Kita perlu mencegah inflasi dengan cara madi: menuju deflasi. Teknologi memberi tantangan tersendiri karena selalu ada inovasi yang menyeret manusia ke arah inflasi. Bagaimana pun, kita perlu merespon teknologi dengan madi.

1. Menuju Deflasi

Problem utama manusia, sejak jaman purba, adalah sikap dogmatis yang angkuh sampai sombong yaitu inflasi. Kita perlu mengganti inflasi dengan deflasi berupa madi.

Sains makin berkembang menuju deflasi. Setiap teori sains, pada akhirnya, akan terbukti salah dan diganti dengan teori sains yang baru. Teknologi juga deflasi: setiap teknologi, pada akhirnya, ketinggalan jaman dan diganti dengan teknologi lebih baru.

Filosofi sejak awal adalah deflasi. Sokrates, filsuf terbesar sepanjang sejarah, mengaku, “Yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa.” Karena itu, Sokrates banyak bertanya kepada orang lain melalui dialog tanpa menggurui.

2. Kulminasi Teknologi

Teknologi ingin memenangkan kompetisi. Produsen mobil listrik bersaing ingin menjadi pemenang. Produsen handphone sama saja: bersaing untuk menjadi pemenang. Untuk menang, mereka butuh inovasi sampai inflasi.

Inflasi teknologi adalah ilusi. Yang benar, setiap teknologi adalah deflasi; diganti dengan teknologi lebih baru.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?