Benar sejarah quantum. Bukan hanya metafora kuantum. Zizek klaim sejarah diperbarui oleh perkembangan kuantum; sedangkan kuantum butuh sejarah dialektika Hegel untuk mengatasi beragam masalah. Hasilnya adalah singularitas AI salah satunya.
“Žižek’s Quantum History: A New Materialist Philosophy stakes its claim on a double front: it proposes a reconstruction of materialism adequate to contemporary quantum physics and, inseparably, a reconstruction of historical and political agency under conditions in which no neutral standpoint outside quantum indeterminacy and symbolic distortion is available. The book’s distinctive contribution lies in the sustained attempt to read quantum mechanics, Hegelian dialectics and Lacanian psychoanalysis as mutually implicated discourses of the void, the collapse and the act, such that cosmology, ontology and politics are articulated on a single plane of immanence.” (SimonGros1990.com).
“Žižek’s Quantum History: A New Materialist Philosophy menegaskan posisinya pada dua ranah sekaligus: karya ini mengajukan rekonstruksi materialisme yang memadai bagi fisika kuantum kontemporer dan, secara tak terpisahkan, rekonstruksi agensi historis dan politik dalam kondisi di mana tidak tersedia sudut pandang netral di luar ketakpastian kuantum dan distorsi simbolik. Kontribusi khas buku ini terletak pada upaya berkelanjutan untuk membaca mekanika kuantum, dialektika Hegelian, dan psikoanalisis Lacanian sebagai wacana-wacana yang saling terjalin mengenai kehampaan, keruntuhan, dan tindakan, sehingga kosmologi, ontologi, dan politik dirumuskan dalam satu bidang imanensi yang sama.“
1.UPS: Universal, Partikular, Singular
2. Void: Selalu Gagal
3. AI Bisa Berpikir?
3.1 Dominasi Kapital
3.2 Lebih dari Kapital
3.3 Bisa Berpikir?
3.4 Kesimpulan Berpikir
3.5 Mesin sebagai Subyek
3.6 Ringkasan AI
4. Diskusi
Zizek menegaskan mengikuti alur UPS: universal, partikular, singular. Awalnya, Kant (1724 – 1804) menggunakan sintesa UPS sebagai logika yang valid dan menolak dialektika karena tidak valid. Kemudian, Hegel (1770 – 1831) justru mengambil logika dialektika sebagai paling valid: universal berdialektika dengan partikular menghasilkan singular.
Apakah AI bisa berpikir? Tidak bisa. Karena untuk berpikir seperti manusia, kita membutuhkan void (gap ontologi); yaitu paradoks, dilema, dan kontradiksi. AI tidak memiliki void itu; bahkan binatang, misal simpanse saudara dekat kita, juga tidak memiliki void. Jadi mereka tidak bisa berpikir. AI hanya bisa merespon sesuai algoritma belaka tanpa gap.
Apakah di masa depan AI bisa berpikir seperti manusia? Zizek tidak bisa menjawab itu. Simon Gros, yang kita kutip di atas, juga tidak menjawabnya. Mereka membiarkan masa depan AI tetap terbuka; bisa apa saja. Yang jelas, bagi Zizek, AI masa kini telah menimbulkan bencana besar bagi umat manusia.
1.UPS: Universal, Partikular, Singular
Zizek sering canda. Dalam intro, ia canda tentang ateisme dan Reagan.
“Dalam salah satu leluconnya yang cukup dikenal, Ronald Reagan mengusulkan untuk membantah ateisme melalui skenario berikut: ia akan mengundang sekelompok ateis terkemuka ke sebuah jamuan makan malam yang sangat mewah, dimasak oleh para koki terbaik. Setelah santap malam tersebut, ia kemudian akan bertanya kepada mereka: “Apakah Anda percaya bahwa ada seorang juru masak yang menciptakan hidangan ini?” Dalam analogi yang jelas, berbagai hal yang jauh lebih sempurna di alam semesta kita dianggap membuktikan bahwa pasti juga ada seorang “juru masak” tertinggi sebagai pencipta.
Namun, ketidakselarasan logis (non sequitur) dalam lelucon ini sebenarnya cukup jelas. Saya menganggap lelucon berikut tentang kepercayaan kepada Tuhan sebagai contoh yang jauh lebih baik.
Seorang ateis mendapat hari libur kerja, lalu memutuskan untuk pergi memancing dengan perahu barunya di Danau Loch Ness. Hari itu sangat indah: matahari bersinar, danau tenang, dan ikan mudah didapat. Tiba-tiba, perahunya diserang oleh monster Loch Ness! Dengan satu kibasan mudah, makhluk itu melemparkan sang pria beserta perahunya tinggi ke udara. Monster tersebut kemudian membuka mulutnya, bersiap menelan pria dan perahunya sekaligus. Ketika pria itu terlempar berputar di udara, ia berteriak: “Ya Tuhan! Tolong aku!” Seketika, serangan ganas itu berhenti, adegan membeku, dan sementara sang ateis tergantung di udara, sebuah suara menggelegar terdengar dari langit: “Bukankah kau bilang tidak percaya kepada-Ku?” “Ah, ayolah, Tuhan! Berilah aku kelonggaran,” pintanya. “Baru satu menit yang lalu, aku juga tidak percaya pada monster Loch Ness!” “
Ijinkan Zizek mengembangkan lebih banyak logika tidak selaras lagi agar tambah seru.
Zizek melanjutkan: “Buku ini mengikuti logika UPS: bergerak dari Universal melalui Partikular menuju Singular. Pembahasan diawali dengan materialisme dialektis, yakni penelusuran implikasi-implikasi filosofis dari mekanika kuantum sebagai dasar bagi suatu bentuk baru materialisme dialektis. Selanjutnya, buku ini beralih ke materialisme historis dengan memperhadapkan gagasan historisitas menurut Hegel dan Heidegger. Penutupnya berfokus pada singularitas tindakan-tindakan politik, dengan menyoroti implikasi politis dari pembacaan Hegel melalui lensa kuantum. Dengan demikian, silogisme yang mendasari buku ini adalah bahwa kita hanya dapat kembali dari Heidegger kepada Hegel melalui mediasi semesta kuantum.”
Maksud logika UPS adalah dialektika Hegel; bukan sintesa Kant; akibatnya, kita akan menemukan banyak kontradiksi; justru itu amat berarti bagi Zizek.
Universal quantum merevisi dialektika Hegel; karena Hegel belum kenal kuantum kala itu; struktur realitas kuantum: kolaps, non-komutatif, dan holografik. Kolaps menyatakan bahwa kita tidak bisa memastikan akan up atau down di awal; kita tidak bisa memastikan AI akan berguna atau berbahaya. Kita hanya bisa analisis retroaktif – analisis mundur setelah kejadian.
Non-komutatif menyatakan posisi x momentum berbeda dengan momentum x posisi. Tentu saja punya anak lalu menikah itu berbeda dengan menikah lalu punya anak. Bagaimana bisa dianggap sama? Angka 3 x 2 = 2 x 3 dianggap sama-sama 6 karena universal belaka.
Holografik menyatakan bahwa bagian-bagian menyimpan informasi seutuhnya dari keseluruhan. Dari atom, fermion, boson, string, atau gravitasi maka kita bisa memahami seluruh alam semesta. Mana bisa? Tentu saja, Zizek suka dengan kontradiksi.
Dialektika Hegel menegaskan bahwa setiap realitas (being) kontradiksi dengan kebenaran (esensi). Kontradiksi ini akan menghasilkan sintesa berupa realitas baru; dan proses dialektika berlanjut tanpa henti. Jadi kontradiksi dari kuantum di atas adalah karakter dari realitas itu sendiri; bukan pengetahuan yang tidak lengkap misal karena ada variabel tersembunyi (dugaan Einstein); tetapi karena secara ontologis memang tidak lengkap. Dialektika dalam sejarah partikular seperti inilah yang menyebabkan kuantum selalu bertabrakan dengan kontradiksi; dialektika Hegel mampu “menjelaskan” enigma kuantum.
Heidegger bertanya: Apa makna Being? Apa makna Ada? Apa makna Realitas?
Bagi Heidegger selalu ada perbedaan ontologis; selalu eksis perbedaan realitas dengan esensi; setelah bertanya makna-Ada. Perbedaan ontologis itulah eksistensi; Heidegger menyebutnya sebagai dialog eksistensi bukan dialektika. Dasein (manusia) menjadi eksis ketika dialog. Bagi Hegel, spirit (manusia) mengalami eksperien sebagai subyek dialektika. Sementara, eksistensi memiliki makna otentik ketika terbentang dari lahir sampai mati menurut Heidegger. Histori punya awal dan akhir. Eksistensi manusia (dasein) yang bersifat historal inilah yang menyebabkan teori kuantum akan terus berubah dinamis seiring sejarah.
Tetapi, saya tidak menemukan Zizek bertanya apa makna Ada? Apa makna eksistensi?
Universal dari hukum-hukum kuantum dan metafisika Hegel selalu berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi partikular dalam histori yang mendorong kita ke arah singular.
Mari kita ringkas maksud UPS dari Zizek. (0) Hegel merumuskan dialektika metafisika; (1) mekanika kuantum “melengkapi” dengan hukum universal kuantum; yang menemui paradoks; (2) Hegel mengungkap sejarah partikular dialektika; Heidegger mengungkap sejarah eksistensial dialogis partikular; mengungkap yang masih tersembunyi dari kuantum itu sendiri; (3) akhirnya, kita kembali kepada dialektika Hegel sebagai singular.
Zizek terus terang mengajak kita kembali ke Hegel; setelah berpetualang kuantum, Heidegger, kuantum, lalu Hegel. Mengapa tidak berputar terus saja Hegel, kuantum, Heidegger?
Tetapi, apakah fisikawan kuantum membutuhkan Hegel?
2. Void: Selalu Gagal
Mengapa selalu terjadi kontradiksi? Karena void (hampa): selalu ada gap dalam ontologi; ada retakan dalam realitas.
Ketika AI mulai halusinasi, ia mendekati realitas. Ketika kuantum menabrak kontradiksi (kolaps, non-komutatif, holografik), ia mendekati realitas. Ketika pemimpin politik mulai tidak masuk akal, ia menunjukkan dekat kejujuran. Memang begitulah adanya.
Zizek berjuang menempatkan void di pusat ontologi dalam karyanya, sekitar 10 tahun lalu, Less Than Nothing. Void bukan sekadar nothing melainkan less than nothing; lebih tersembunyi dari nothing; hanya sesekali menampakkan diri dalam paradoks, dilema, dan kontradiksi.
Setiap orang yang ingin menetapkan fomula sains tuntas; pemerintahan yang adil sempurna; kehidupan keluarga yang harmonis tiap hari; dipastikan gagal. Karena mereka semua akan berjumpa dengan void. Gagal ini bukan tanda keburukan melainkan tanda Anda makin dekat dengan realitas sebenarnya.
Valid pandangan Zizek: kuantum membutuhkan Hegel.
Saya tidak menemukan ada fisikawan yang membahas Hegel secara mendalam. Zizek juga tidak menunjukkan ada fisikawan yang mengkaji Hegel. Buku Quantum History ini pun tampaknya tidak dibaca oleh fisikawan. Beberapa ilmuwan di media sosial justru mencibir Zizek karena membahas quantum.
Memang Zizek tampak semangat ketika ngobrol dengan Penrose (fisikawan kuantum). Tetapi, saya tidak melihat Penrose tertarik dengan Hegel dari Zizek. Begitu juga dengan Rovelli (fisikawan kuantum) tidak tampak tertarik dengan Hegel. Rovelli malah menolak Heidegger dan menyarankan kembali ke Aristoteles.
Problem para fisikawan kuantum adalah masih terlalu kuat dalam paradigma positivisme; padahal kuantum membutuhkan negativitas; kuantum membutuhkan void; kuantum membutuhkan Hegel versi Zizek yang diwarnai oleh Lacan. Positivisme mengira bahwa akan ditemukan formula kuantum yang tuntas secara positif, afirmasi, dan bisa verifikasi. Sedangkan negativitas Zizek menyatakan bahwa selalu ada gap ontologi, yaitu void, sehingga tidak akan tuntas. Jadi, kuantum perlu untuk terus maju dalam riset karena selalu masih ada yang tersembunyi. Kuantum akan selalu bergerak dinamis sesuai dialektika Hegel.
3. AI Bisa Berpikir?
Jelas AI sudah membuat kerusakan bahkan teramat besar. Tidak ada keraguan tentang bencana akibat AI. Tetapi apakah AI itu bisa berpikir?
3.1 Dominasi Kapital
Kekuatan kapital BlackRock telah mendominasi dunia. Cerdiknya, BlackRock berhasil sembunyi di balik nama-nama besar: NVIDIA, Apple, Google, Amazon, Meta, Tesla, dan lain-lain.
“Cara modal mengendalikan kehidupan kita mungkin paling jelas dicontohkan oleh BlackRock, sebuah perusahaan raksasa yang beroperasi secara tertutup dan menghindari sorotan publik yang berlebihan. Perusahaan ini mengelola aset senilai hampir 10 triliun dolar AS.” (175).
Sementara aset NVIDIA, Apple, Google, Amazon, Microsoft, Tesla, Meta, dan lain-lain kisaran 0,1 triliun dolar. Jadi jika 10 perusahaan terbesar, paling terkenal di dunia ini, digabungkan maka total asetnya masih jauh di bawah BlackRock.
Kapitalisasi market NVIDIA, Apple, dan Google masing-masing sekitar 4 triliun dolar AS. Jadi bila 3 perusahaan ini digabungkan kapitalisasi marketnya maka hampir setara dengan aset BlackRock.
“Sebagaimana dapat diperkirakan, kecerdasan buatan (AI) memainkan peran kunci dalam operasional BlackRock. Perusahaan ini mengembangkan dan menggunakan Aladdin (Asset, Liability, Debt, and Derivative Investment Network), sebuah sistem elektronik yang pada tahun 2013 telah menangani sekitar 11 triliun dolar AS aset—termasuk 4,1 triliun dolar AS aset milik BlackRock sendiri—yang setara dengan sekitar 7% dari total aset keuangan dunia, serta memantau kurang lebih 30.000 portofolio investasi. Pada tahun 2020, Aladdin mengelola aset senilai 21,6 triliun dolar AS.”
“Semua hal tersebut menunjukkan bahwa program seperti Aladdin tidak bersifat netral; keputusan-keputusan yang dihasilkannya didasarkan pada asumsi-asumsi yang pada umumnya mengabaikan dampak lingkungan serta kerugian terhadap manusia.”
Aladdin tidak netral; AI tidak netral. Mereka merusak lingkungan, menyebabkan krisis iklim; merusak sistem ekonomi dan politik; dan mengeruk keuntungan besar untuk pihak serakah.
3.2 Lebih dari Kapital
“Ketika membahas kecerdasan buatan (AI) dan perang, kita perlu memulai dari suatu fakta yang kerap diabaikan—bukan hanya bahwa AI telah digunakan secara luas untuk mengatur aktivitas militer, tetapi juga bahwa infrastruktur yang menopang AI itu sendiri dapat menjadi sasaran operasi militer.” (177)
AI memang bukan hanya urusan kapital tetapi urusan militer untuk perang juga misalnya. Kemampuan AI untuk merusak apa pun obyeknya adalah sangat bernilai dalam perang. Meski AI bernilai, bisa saja itu semua adalah pelanggaran moral besar-besaran. Ancaman MAD (Mutually Assured Destruction) diduga sudah terjadi; seperti ancaman perang nuklir.
“Sangat mungkin bahwa saat ini sedang beroperasi suatu bentuk baru dari MAD (Mutually Assured Destruction). Negara-negara adidaya hampir pasti berupaya menanamkan virus digital ke dalam sistem kecerdasan buatan milik lawan mereka yang, apabila diaktifkan, dapat melumpuhkan seluruh sendi kehidupan suatu negara (seperti listrik, air, dan layanan vital lainnya). Karena kedua pihak menyadari hal ini, mereka juga memahami bahwa pengaktifan virus tersebut akan segera berujung pada konsekuensi kehancuran yang sama besarnya bagi pihak yang memulainya.”
“Sebagai contoh terkini, dilaporkan bahwa peran signifikan dalam pengeboman di Gaza dimainkan oleh sebuah program berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama “Lavender”. Pada minggu-minggu awal perang, sistem ini menetapkan hingga sekitar 37.000 individu Palestina sebagai militan yang dicurigai, serta menandai rumah-rumah mereka sebagai sasaran potensial serangan udara. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak militer menindaklanjuti “daftar target pembunuhan” yang dihasilkan oleh Lavender tanpa kewajiban untuk memeriksa dasar informasi yang digunakan, meskipun mereka mengetahui bahwa sistem tersebut memiliki tingkat kesalahan yang dapat mencapai 10%.”
Secara bisnis, Lavender adalah senjata paling teruji di lapangan perang berupa wilayah Gaza sehingga sangat berharga. Senjata AI lain, barangkali, hanya bisa diuji di laboratorium dengan obyek penderita berupa boneka manusia. Tetapi, Lavender benar-benar mengambil korban manusia di Gaza. Benar-benar tidak bermoral.
Terjadi melingkar di sini. Senjata AI bukan sekadar kapital; kemudian senjata AI menghasilkan kapital besar.
3.3 Bisa Berpikir?
AI tidak hidup maka tidak bisa berpikir seperti manusia.
“Perusahaan-perusahaan besar tidak hanya menginvestasikan dana dalam jumlah yang sangat besar, tetapi juga mengerahkan konsumsi energi yang luar biasa untuk mengembangkan mesin kecerdasan buatan dengan tingkat kecerdasan yang sedemikian tinggi sehingga cara kerjanya melampaui jangkauan pemahaman kita sebagai manusia.”
Tahun 2050 krisis iklim besar-besaran. Penduduk bumi sulit menemukan air bersih karena dihabiskan oleh AI untuk pelatihan AI atau operasional AI. Perusakan lingkungan oleh AI harus dihentikan. Bagaimana caranya? Manusia belum menemukan caranya. Biarkan AI menemukan solusinya saran mantan bos Google. Karena, menurutnya, kecerdasan AI melampaui manusia.
“Kita sedang menghadapi kesulitan akibat kondisi lingkungan yang kritis, maka mari kita gunakan kecerdasan buatan—kita mungkin akan menghadapi masalah yang lebih besar, tetapi setidaknya kita memiliki AI untuk menanganinya…” (181)
Di sisi lain, AI telah merusak kemampuan manusia untuk berpikir. Seperti kalkulator yang membuat malas siswa TK berpikir hitungan, AI telah membuat manusia malas berpikir apa pun itu.
“Apakah “percakapan” permanen dengan ChatGPT secara bertahap dapat mengurangi kemampuan kita untuk berpikir?”
“Hanya terdapat dua opsi serius: yang dianjurkan oleh Kohei Saito (pertumbuhan negatif radikal) dan yang dianjurkan oleh Schmidt, bagi siapa, alih-alih takut akan dikendalikan oleh mesin yang maha-kuasa, kita sebaiknya menerima penyerahan diri kepada mesin sebagai satu-satunya solusi yang tersedia bagi kita.”
“Namun, ancaman yang sangat nyata ini tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap fakta bahwa setiap mesin kecerdasan buatan, meskipun bagi kita tampak sangat kuat dan efisien secara tak terbayangkan, pada dasarnya hanyalah bagian dari realitas dan menyesuaikan diri dengannya, sementara satu-satunya noda dalam realitas, elemen yang mengganggu di dalamnya, adalah kita, umat manusia.”
“Dengan demikian, mereka tidak meniru cara berpikir manusia: yang sebenarnya kita hadapi belakangan ini adalah mesin-mesin yang tidak berpikir seperti manusia; mereka memang benar-benar berpikir, tetapi bukan sekadar lebih baik daripada kita—mereka berpikir dengan cara yang secara radikal berbeda dari pola berpikir manusia.” (184).
Seperti biasa, Zizek mengajukan kontradiksi di sini: (a) AI tidak bisa berpikir seperti manusia karena manusia hidup dan ada gap ontologi; tetapi (b) AI berpikir lebih hebat dari manusia.
3.4 Kesimpulan Pikiran
Beberapa tokoh berspekulasi bahwa AI lebih cepat berpikir dari manusia karena berbasis algoritma tanpa terikat oleh materi silikon. Sehingga, manusia juga akan berpikir lebih cepat dari AI bila tidak terikat oleh materi biologis.
“Saya tidak setuju dengan kesimpulan ini atas dua alasan. Pertama (1), tidak ada yang bersifat alami atau organik dalam “intelektualitas”; intelektualitas justru merupakan tanda adanya perpecahan radikal antara manusia dan hewan, yang memutus dan mengganggu ritme organik. Kedua (2), memang ada sesuatu yang dibatasi atau terbatas dalam dasar intelektualitas manusia itu sendiri, tetapi justru batasan inilah (yang disebut Heidegger sebagai finitude) yang melahirkan transendensi manusia, serta spiritualitas manusia yang khas. Jika batasan ini dihapuskan, kita memasuki ranah yang benar-benar berbeda. Oleh karena itu, istilahnya harus dibalik (3): “manusia” lebih dari sekadar “over-man.” Apa yang dimaksud dengan intelektualitas manusia adalah adanya celah antara dunia batin dan dunia luar, antara kehidupan batin yang disebut demikian dan realitas luar, dan tidak jelas apa yang akan terjadi (atau, lebih tepatnya, sedang terjadi) dengan celah ini pada kecerdasan buatan yang berkembang—kemungkinan besar, celah ini akan menghilang, karena mesin merupakan bagian dari realitas.”
3.5 Mesin sebagai Subyek
“Untuk menghindari salah pengertian, semua hal ini sama sekali tidak menutup kemungkinan bahwa mesin berpikir akan mengembangkan subjektivitas yang, dalam beberapa hal, bahkan lebih manusiawi dibandingkan manusia itu sendiri.” (186).
“Chalmers mengembangkan argumen ini hingga kesimpulannya dan berpendapat bahwa AI serta entitas yang disimulasikan juga dapat berpikir dan memiliki kesadaran. Berikut bentuk logis dari argumentasinya:
(1) Teori fisika kita merupakan teori struktural.
(2) Jika kita berada di Alam Semesta Non-Simulasi, teori fisika kita adalah benar.
(3) Alam Semesta Simulasi memiliki struktur yang sama dengan Alam Semesta Non-Simulasi.
(4) Jadi: jika kita berada di Alam Semesta Simulasi, teori fisika kita adalah benar.”
Konsep struktur oleh Chalmers di atas berbeda dengan konsep struktur para pemikir Strukturalis Prancis; termasuk berbeda dengan Lacan. Zizek mendukung Lacan.
“Premis Lacan adalah bahwa representasi subjek, atau ekspresinya dalam tatanan simbolik, selalu mengalami kegagalan; terdapat celah antara subjek dan tatanan simbolik. Namun, subjek tidak mendahului kegagalan ini, melainkan muncul melalui kegagalan representasi simboliknya—singkatnya, seorang subjek berusaha mengekspresikan dirinya sepenuhnya melalui kata-kata, gagal, dan kegagalan inilah yang menjadi subjek.”
Subyek manusia adalah “kegagalan” untuk bergabung dalam struktur simbolis; subyek adalah gap antara simbol dengan Real. AI tidak akan bisa menjadi subyek seperti itu. Lalu bagaimana cara AI untuk bisa menjadi subyek?
“Batas akhir kecerdasan buatan perlu dicari pada tingkat yang berbeda, yaitu pada tingkat subjektivisasinya. Hubungan seorang subjek dengan pengetahuan pada awalnya selalu bersifat transferensi, yaitu pengetahuannya secara konstitutif terkait dengan subjek lain yang dinaikkan ke status subjek-yang-diduga-tahu, seorang subjek yang telah memiliki pengetahuan yang sedang saya coba temukan.” (194)
“AI tentu dapat berfungsi sebagai subject supposed to know bagi kita, manusia. Mesin AI telah mampu mengenali dan membedakan perasaan kita, bahkan mengetahui tentang diri kita lebih banyak daripada yang kita ketahui sendiri. Namun demikian, mesin AI dalam cara kerjanya tidak bergantung pada adanya subject supposed to know.”
Singkatnya, berbagai macam cara untuk menjadikan AI sebagai subyek telah gagal. Manusia tidak tahu. Apakah AI akan tahu sendiri caranya untuk menjadikan AI sebagai subyek?
“Lebih jauh lagi, satu hal yang—setidaknya untuk sementara waktu—tidak dapat dilakukan oleh AI adalah mengembangkan ritual-ritual kecil dalam kehidupan sehari-hari: bukan kebiasaan, melainkan ritual. Berikut beberapa contoh dari tokoh-tokoh terkenal. Ketika Maya Angelou tiba di sebuah motel, ia selalu meminta agar semua gambar di dinding kamar dilepaskan. Setelah menyelesaikan kegiatan menulisnya pada awal malam, Agatha Christie mandi dan memakan sebuah apel di dalam bak mandi. Sebelum tertidur, Charles Dickens selalu mengeluarkan kompasnya untuk memastikan bahwa tempat tidurnya menghadap ke utara. Serena Williams selalu memantulkan bola sebanyak lima kali sebelum melakukan servis pertama.
Kita semua melakukan hal-hal serupa, berupa gestur-gestur kecil yang ter-ritualisasi dan sering kali bahkan terasa memalukan. Gestur-gestur ini memberi makna pada kehidupan, namun tidak memiliki fungsi pragmatis maupun makna yang definitif. Oleh karena itu, tidak diperlukan psikoanalisis untuk mengungkap makna tersembunyi di baliknya. Makna dari tindakan-tindakan tersebut bersifat sepenuhnya swa-rujukan; makna itu terletak pada efek pemaknaan itu sendiri. Tindakan semacam ini mengandaikan adanya suatu subjektivitas yang berupaya menghadirkan tatanan minimal dalam kehidupannya.”
“Pada sisi yang berlawanan dari ritual-ritual semacam itu terdapat kebingungan kita mengenai posisi kita dalam tatanan simbolik, yang kita ekspresikan melalui umpatan. Oleh karena itu, pertanyaan “Dapatkah AI berpikir?” seharusnya diubah menjadi pertanyaan “Dapatkah AI mengumpat atau bersumpah?”
“Dalam film History of the World: Part I karya Mel Brooks, terdapat sebuah adegan ketika tokoh utama (yang diperankan oleh Brooks sendiri), seorang pelayan di Yerusalem pada tahun 33 Masehi, diminta untuk melayani sebuah jamuan penting. Di tengah jamuan tersebut, salah satu piring terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai, sehingga ia berseru, “Oh, Kristus!” Seruan ini kemudian dijawab dengan lembut oleh salah seorang tamu, “Ya, silakan, tidak apa-apa.”
Tiga tanda kecil manusia menjadi subyek tetapi AI tidak bisa menjadi subyek adalah: (1) manusia menciptakan ritual; AI tidak; (2) manusia bersumpah atau mengumpat; AI tidak; (3) manusia berdoa atau memuja; AI tidak.
“Dimensi kegelisahan atau ketidakpuasan dalam bahasa inilah yang menjadi pokok persoalan yang mendasari Tractatus karya Ludwig Wittgenstein. Ia berupaya menyelesaikannya dengan membedakan secara tegas antara apa yang dapat kita bicarakan dan apa yang tidak dapat kita bicarakan. Atau, sebagaimana ia tuliskan dalam proposisi terakhir Tractatus: Wovon man nicht sprechen kann, darüber muss man schweigen (Tentang apa yang tidak dapat dibicarakan, mengenai hal itu kita harus diam).
Pertanyaan langsung yang kemudian muncul adalah: mengapa sesuatu yang pada dirinya sendiri sudah mustahil justru perlu dilarang?” (199).
“Beberapa keadaan psikologis dan sosial memiliki sifat bahwa keadaan tersebut hanya dapat muncul sebagai hasil sampingan dari tindakan-tindakan yang dilakukan untuk tujuan lain. Dengan kata lain, keadaan-keadaan tersebut tidak pernah dapat diwujudkan secara cerdas dan disengaja, karena upaya untuk mewujudkannya justru meniadakan keadaan itu sendiri yang hendak dicapai.”
Zizek mengakhiri singularitas AI dengan mengutip kisah:
“Dengan kata lain, kita tidak benar-benar dapat berkomunikasi dengan AI—maka, seperti apakah komunikasi yang sempurna itu? Tidaklah mengherankan bahwa kita menemukannya justru pada lapisan paling bawah dari budaya populer, yakni dalam salah satu subplot film Love, Actually (Richard Curtis, 2023). Dalam kisah tersebut, seorang penulis bernama Jamie menarik diri dari London ke sebuah pondok di Prancis, tempat ia bertemu dengan Aurélia, seorang pengurus rumah tangga asal Portugal yang tidak berbicara bahasa Inggris (dan Jamie sendiri tentu tidak berbicara bahasa Portugis). Justru karena keduanya tidak berbagi bahasa yang sama, ketertarikan timbal balik pun tumbuh. Mereka banyak berbincang, namun dengan mengandalkan kenyataan bahwa pihak lain tidak akan memahami apa yang dikatakan, mereka semakin terbuka dalam menyatakan cinta satu sama lain. Dan meskipun mereka tidak memahami kata-kata masing-masing, mereka justru semakin sepenuhnya memahami dampak emosional yang dimaksudkan. Tidak mengherankan jika pada akhirnya mereka menikah dengan bahagia.”
Ketika Jamie berusaha memahami Aurelia melampaui kata-kata maka mereka saling paham dan, akhirnya, saling cinta. Bagaimana pun mereka tetap dibantu oleh kata-kata untuk kemudian melampaui kata-kata formal belaka.
3.6 Ringkasan AI
Pertama (1), AI menyebabkan bencana natural mau pun sosial; menyebabkan penindasan militer mau pun ekonomi; menyebabkan dominasi kapital dan melebihi. Tentu AI memberi manfaat positif seperti yang dibisikkan para pendukungnya; tetapi risiko AI teramat besar.
Solusi dari risiko AI adalah: (a) memperlambat atau mengurangi AI secara sengaja; (b) menyerahkan semua urusan kepada AI. Pilihan (b) yaitu menyerahkan semua urusan kepada AI memang tetap memicu masalah lebih besar tetapi AI akan mengurus semua masalah itu. Zizek tampaknya mendukung pilihan (a) yaitu mengurangi AI; karena AI juga sudah menyebabkan pembodohan.
Kedua (2), tentang berpikir: (a) AI tidak bisa berpikir seperti manusia karena AI tidak hidup dan tidak ada gap ontologi; AI tidak mengalami dilema batin dengan tekanan dunia luar; tetapi (b) AI bisa berpikir lebih hebat dari manusia; bahkan, bisa jadi, kemampuan berpikir AI ini tanpa batas. Andai suatu saat nanti komputer kuantum berhasil menguatkan AI, dengan prinsip superposisi dan entanglement misalnya, maka kemampuan berpikir AI memang tak terbayangkan bagi manusia.
Justru karena manusia terbatas dalam berpikir maka manusia bisa melakukan transendensi dan memiliki nilai-nilai spiritual. Dalam hal ini, manusia “biasa” adalah lebih luhur dari robot manusia “super”.
Ketiga (3), mesin menjadi subyek: Zizek terbuka dengan posibilitas bahwa suatu saat AI akan menjadi subyek seperti manusia. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa AI akan menjadi subyek.
AI tidak bisa menciptakan ritual; tidak bisa bersumpah atau mengumpat; tidak bisa berdoa atau memuja; dan tidak bisa jatuh cinta. AI hanya mengolah simbol digital. Sementara, manusia berbahasa dengan asumsi ada subyek lain, manusia lain, yang mampu memahami bahasa itu sampai batas tertentu.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Berikut beberapa pertanyaan yang bisa kita diskusikan lebih lanjut.
(1) Apakah tepat menggunakan istilah quantum oleh Zizek?
(2) Bagaimana cara membaca sejarah?
(3) Bagaimana masa depan AI (akal imitasi – artificial intelligence)?
4.1 Istilah Quantum
Apakah Zizek tepat menggunakan istilah quantum dalam judul bukunya? Tepat. Zizek sendiri klaim bahwa kata kuantum itu tepat dan bukan hanya metafora belaka melainkan benar-benar kuantum.
Meski benar-benar merujuk kuantum tetapi Zizek membaca sejarah kuantum dengan cara yang berbeda. Umumnya, kuantum dibaca sebagai sejarah sains. Bermula dari Planck (1900) menggunakan perhitungan kuantum (kuanta) untuk paket energi radiasi; dilanjut Einstein (1905) menerapkan kuantum Planck untuk fotolistrik; Bohr mengembangkan kuantum madhab Copenhagen sampai Heisenberg, Schrodinger, dan seterusnya. Atau, kuantum dibaca sebagai sejarah fenomena sosial. Zizek berbeda karena membaca sejarah kuantum sebagai sejarah metafisika dengan pendekatan fenomenologi spirit Hegel dan psikonalisis Lacan.
4.2 Cara Membaca Sejarah
Bagaimana cara membaca sejarah kuantum yang lebih tepat?