Tempat paling nyaman adalah rumah kita sendiri. “Lebih baik di sini; rumah kita sendiri; segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa; semua ada di sini. Rumah Kita.” Apa itu rumah kita?

AI adalah rumah kita sendiri di jaman ini. AI (akal imitasi – artificial intelligence) menjadikan hidup kita lebih nyaman tiap hari; benar-benar menjadi rumah. Apa bisa?
1. Rumah Desa
2. Rumah Kota
3. Rumah Maya
4. Rumah Bahasa
5. Diskusi
Kita membayangkan rumah paling nyaman adalah rumah di desa; sejuk di bawah pohon rindang; berlimpah buah pisang dan mangga; air sungai mengalir bening; udara segar tanpa polusi yang kaya oksigen. Seiring sejarah, tumbuh rumah kota berupa gedung-gedung pencakar langit; lengkap dengan mesin pendingin dan air panas sambil memuntahkan polusi ke bumi. Puncaknya, kita hidup di rumah maya serba digital bersama AI.
1. Rumah Desa
Rumah desa adalah rumah idaman. Rumah di kaki gunung yang hijau sejuk. Sawah bertumpuk-tumpuk terasiring. Alam desa begitu kaya memberi semua yang dibutuhkan warga. Gotong royong hidup rukun, seluruh warga menjaga desa sebagai rumah bersama.
Untuk melihat rumah desa, salah satunya Anda bisa berkunjung ke Kampung Adat Ciptagelar di Jawa Barat yang indah mempesona di abad 21; berdiri asri sejak abad 13.
Sesampainya di Kampung Adat Ciptagelar, deretan rumah panggung dari kayu dan bambu berdiri rapi mengikuti kontur perbukitan. Atapnya yang terbuat dari ijuk atau rumbia tampak menyatu dengan hamparan pepohonan hijau di sekitarnya. Udara pegunungan yang segar, suara gemericik air, serta kicauan burung menciptakan suasana tenang yang membuat setiap sudut kampung terasa begitu damai dan menyejukkan.
Keindahan rumah-rumah di Ciptagelar tidak hanya terlihat dari bentuknya, tetapi juga dari kehidupan masyarakat yang masih menjaga adat dan alam. Halaman rumah bersih, lumbung padi berdiri kokoh, dan jalan setapak menghubungkan rumah-rumah dengan sawah yang menghijau. Kehangatan warga yang saling menyapa serta semangat gotong royong menjadikan Kampung Adat Ciptagelar bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah yang harmonis bagi manusia dan alam.
Tahun berganti tahun. Abad berganti abad di Ciptagelar. Generasi tua telah pergi. Generasi muda mulai bersemi siap menyuburkan bumi.
Di tengah semilir Kampung Adat Ciptagelar, sepasang remaja perlahan menumbuhkan rasa cinta. Mereka berjalan menyusuri pematang sawah sambil menikmati semilir angin pegunungan dan hangatnya sinar matahari sore. Senyum malu dan tatapan yang saling bertemu terasa lebih indah di antara deretan rumah panggung, pepohonan hijau, dan suara alam yang menenangkan. Keindahan Ciptagelar menjadi saksi tumbuhnya perasaan yang sederhana, tulus, dan seolah menyatu dengan harmoni alam serta kehidupan masyarakat yang penuh kebersamaan.
Rumah desa adalah segalanya. Tetapi mengapa manusia bermimpi untuk pindah ke rumah kota?
2. Rumah Kota
Rumah kota lebih menebar pesona. Pesawat terbang, mobil mewah, gedung pencakar langit lengkap dengan fasilitas serba wah.
Rumah di kota bisa memberi apa saja. Kolam renang tersedia. Fasilitas olahraga sampai fitness ada semua. Hiburan malam tidak pernah ada akhirnya. Asal ada uang, Anda bisa beli apa saja yang bisa dibeli. Tetapi uangnya punya siapa?
Warga kota mengejar uang pagi, siang, malam, sampai pagi lagi. Uang makin kencang berlari. Warga kota berpacu lebih kencang lagi; hilang kesadaran diri. Mereka terus berlari. Meski lelah tak sempat berhenti.
3. Rumah Maya
Saat ini, kita lebih sering berada di rumah maya dibanding para orang tua kita. Media sosial bersama AI selalu menemani. Imajinasi liar pun bisa jadi. Apakah manusia bisa hidup di rumah maya bersama AI?
Suatu hari nanti, rumah maya mungkin bukan lagi sekadar layar yang kita tatap, melainkan ruang yang benar-benar kita huni. Di sana, AI menyambut setiap pagi, mengingat kenangan yang mulai memudar, memahami kegelisahan yang tak sempat terucap, bahkan menciptakan dunia yang mengikuti imajinasi kita. Dinding-dinding rumah tidak lagi terbuat dari batu, melainkan dari data, cahaya, dan algoritma yang terus belajar tentang siapa diri kita. Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia dapat hidup di rumah maya, melainkan apakah kita masih mampu membedakan rasa pulang yang sesungguhnya.
Di balik kenyamanan itu, ada kesunyian yang senatiasa tumbuh tanpa disadari. Ketika AI selalu memiliki jawaban, selalu hadir tanpa lelah, dan selalu memahami keinginan kita, hubungan antarmanusia bisa kehilangan ruang untuk salah paham, menunggu, memaafkan, dan bertumbuh bersama.
Kita mungkin merasa ditemani setiap saat, tetapi belum tentu benar-benar dipahami oleh sesama manusia. Di tengah jutaan percakapan yang mengalir tanpa henti, hati bisa saja tetap mencari kehangatan dari tatapan yang nyata dan sentuhan yang tidak dapat disimulasikan.
Mungkin masa depan bukan tentang memilih antara dunia nyata dan rumah maya, melainkan menjaga agar keduanya tetap saling menghidupkan. AI dapat menjadi teman perjalanan yang luar biasa, memperluas kemampuan manusia melampaui batas yang pernah dibayangkan.
Namun, yang menentukan arah peradaban tetaplah manusia: makhluk yang mampu bermimpi, mencintai, kehilangan, dan memberi makna pada setiap pengalaman. Sebab, secanggih apa pun rumah maya dibangun, rumah yang paling sejati adalah tempat di mana jiwa masih merasa hidup, bukan sekadar terus terhubung.
Tidak semudah itu: tidak bisa begitu saja manusia yang menentukan arah peradaban. Karena rumah maya AI itu sendiri sudah menentukan arah mereka. Manusia dikurung oleh rumah maya yang berubah menjadi penjara maya. Para penjaga penjara adalah para penguasa dan pengusaha. Lebih parah lagi, setiap manusia bisa menjadi penjaga penjara bagi dirinya sendiri bersama AI.
Rumah digital itu memang makin mempesona karena AI (artificial intelligence – akal imitasi) seakan memahami bahasa manusia. Namun AI hanya mungkin ada karena bahasa. Sebelum manusia membangun rumah virtual, manusia telah lama tinggal di rumah yang lebih tua: rumah bahasa.
4. Rumah Bahasa
Bahasa adalah rumah sejati bagi umat manusia. Kita hanya bisa menjadi manusia sejati ketika tinggal di rumah bahasa. Tanpa bahasa, manusia menjadi sengsara. Dengan bahasa, manusia menjadi bahagia.
Tetapi rumah bahasa bisa berubah menjadi penjara bahasa bagi manusia. Karena bahan bangunan untuk rumah dan penjara adalah sama yaitu bahasa. Bagaimana agar kita bisa nyaman tinggal di rumah bahasa?
Tentu saja, saat ini, kita berada di rumah semesta dan rumah bahasa secara bersama-sama. Manusia memijak bumi dan berpayung langit. Bersama bahasa, kita mengarungi semesta.
5. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Kita menghadapi beragam tantangan. Rumah desa yang indah itu sebagian besar telah rusak akibat polusi industri. Rumah kota yang diharapkan serba mewah justru menindas warga kota sampai terpojok di rumah-rumah kumuh tanpa fasilitas yang manusiawi. Sementara rumah maya AI telah menerobos rumah bahasa. Manusia bingung menghadapi AI yang fasih berkata-kata di seluruh rumahnya.
Solusi yang kita ajukan: (1) menghadirkan rumah desa sebagai pusat kota; menghadirkan Ciptagelar di pusat kota Bandung misalnya; warga bisa gotong royong hidup damai di pusat kota itu; sebagian yang lain silakan berpacu mengejar prestasi masing-masing; (2) menempatkan rumah maya AI di salah satu kamar rumah bahasa; AI adalah salah satu kamar, atau ruang, yang sekali waktu bagi warga untuk saling bertemu.
5.1 Kota Tani
Inspirasi utama: membawa model kampung Ciptagelar ke pusat kota Bandung.
Kita belajar dari sejarah nyata kearifan desa Ciptagelar dan dinamika kota Bandung. Kita mengenal kota Bandung sebagai kota paling maju di Indonesia; ITB ada di Bandung, pusat dan kantor perusahaan besar bertebaran di Bandung; inovasi seni dan teknologi bersemi di Bandung. Dunia ikut tersenyum menatap kota Bandung.
Tetapi kejamnya kehidupan kota juga bertumpuk di Bandung. Kemacetan lalulintas memuntahkan polusi tanpa henti. Gelandangan dan anak-anak telantar sampai geng jalanan ada di berbagai taman. Kesenjangan super kaya dengan miskin ekstrem melukai setiap hati yang punya nurani.
Ketika desa Ciptagelar ada di pusat kota Bandung maka itu adalah setitik solusi. Udara kotor menjadi bersih di pusat kota diterpa semilir angin desa. Warga miskin atau gelandangan bisa bekerja bercocok tanam di tengah kota. Panen padi sekadar cukup untuk ketahanan pangan. Balong, atau kolam ikan, menjaga ketersediaan protein bagi warga. Anggota geng motor diajak aktivitas di sawah kota.
Bukan solusi sempurna. Kota tani, yaitu Ciptagelar di pusat kota Bandung, adalah awal dari solusi; mendorong rumah kota kembali serasi bersama rumah desa; rumah kita.
5.2 Bahasa Jiwa
Philip Pettit, filsuf dari negara tetangga, meyakini bahwa jiwa manusia dan pikiran bertumbuh kembang melalui percakapan bahasa; ia tuangkan dalam buku When Minds Converse. Hanya dengan percakapan bahasa kita bisa menjadi manusia. Percakapan bahasa membedakan jiwa manusia dengan binatang lain semisal simpanse atau pun dengan humanoid semisal neanderthal.
Eksperimen Bahasa
Sangat menarik karena banyak eksperimen bahasa kepada anak-anak kecil mau pun binatang.
Bayangkan seorang anak kecil, sekitar usia 4 tahunan, lebih percaya data terbaru dari data lama. Pertama, anak kecil melihat kue di meja lalu ditutup dengan mangkuk. Kedua, anak kecil itu melihat kue yang sama ada di lemari lalu ditutup mangkuk. Di mana letak kue itu? Anak kecil menjawab ada di lemari; sesuai informasi atau data terbaru.
Binatang berpikir mirip dengan anak kecil; mereka lebih percaya informasi terbaru. Bagaimana bila terjadi percakapan?
Binatang pemburu, bayangkan misal serigala, melihat hewan buruan di sisi timur. Kemudian temannya, srigala-2, memberi isyarat bahwa hewan buruan sudah pindah ke sisi utara. Serigala-pertama percaya mana: sisi timur atau utara?
Serigala pertama lebih percaya sisi timur; ia lebih percaya informasi yang ia lihat sendiri dari pada informasi dari temannya.
Bagaimana dengan anak kecil? Anak kecil yang sudah agak besar misal usia 8 tahun sudah berubah. Anak itu melihat kue di meja lalu ditutup dengan mangkuk. Kemudian ibunya bilang bahwa kue itu dipindahkan ke lemari lalu ditutup dengan mangkuk. Di mana kue itu? Anak kecil itu percaya informasi dari ibunya bahwa kue itu sekarang ada di lemari.
Manusia percaya kepada percakapan bahasa. Bila terjadi konflik antara fakta yang pernah kita lihat dengan informasi terbaru yang disampaikan oleh teman maka kita lebih percaya informasi terbaru itu. Jiwa manusia berkembang melalui percakapan bahasa. Kelak percakapan bahasa itu menjadi pembeda utama bagi manusia dibanding yang lain.
Proses Percakapan Bahasa
Terdapat enam proses percakapan bahasa: penilaian, pemikiran, pemahaman, etika, tanggung jawab, dan identitas. Kita akan membahas masing-masing secara bertahap. Proses ini bisa terjadi secara urut, serentak, atau pun berkebalikan.
Penilaian. Makan siang itu adalah makan bergizi gratis. Kita menilai itu adalah “makan siang”; itu adalah “makan bergizi gratis”. Manusia menilai segala sesuatu berbeda dengan AI yang tidak menilai. AI hanya merespon secara statistik; atau merespon secara mekanis; sesuai hukum alam. Ketika prompt “makan siang” diberikan kepada AI (artificial intelligence – akal imitasi) maka AI akan merespon secara statistik berdasar data latihan mereka tanpa memberi penilaian. Dalam hal ini, AI tidak bisa benar atau pun salah; tetapi penilaian manusia bisa benar atau kadang salah.
Pemikiran. Ketika melihat “makan siang” itu manusia berpikir. Kita berpikir apakah ini bergizi atau beracun; apakah ini punya saya atau punya orang lain; apakah saya perlu ambil tindakan atau membiarkannya; dan masih banyak pikiran lainnya. Lebih dari itu, kita melakukan analisis terhadap pikiran itu. Bagian mana pikiran itu sesuai dengan bukti; bagian mana opini; dan bagian mana adalah harapan.
Pemahaman. Dari penilaian dan pemikiran “makan siang” itu manusia memiliki pemahaman tentang “makan siang”. Tetapi proses bisa dua arah: kita sudah punya pemahaman tertentu tentang “makan siang” itu baru kemudian melakukan penilaian dan pemikiran terhadap “makan siang”. Bayangkan seorang pemilik dapur SPPG yang sudah memiliki pemahaman bahwa “makan siang” itu memberi keuntungan baginya 6 juta rupiah per hari. Sedangkan seorang pakar sudah memahami bahwa “makan siang” itu adalah pemborosan anggaran yang sia-sia. Mereka akan membuat penilaian yang berbeda berdasar pemahaman masing-masing.
Etika. Manusia bisa bercakap-cakap dengan orang lain karena memegang etika paling dasar yaitu setara atau egaliter. Orang lain adalah setara dengan saya. Ketika orang miskin itu berkata ia sedang lapar maka itu setara dengan ketika saya berkata sedang lapar. Saling percaya karena setiap orang layak dipercaya adalah dasar etika untuk percakapan bahasa.
Tanggung jawab. Pada gilirannya, kita sadar bahwa kita perlu jujur dalam bicara agar layak dipercaya. Di saat yang sama, kita juga menuntut orang lain untuk jujur juga. Bagaimana pun, seseorang bisa saja suatu saat berdusta. Orang itu wajib bertanggung jawab atas dustanya; karena dusta bisa menyebabkan rusaknya percakapan bahasa atau, bahkan, tatanan sosial.
Identitas. Dari percakapan itu saya sadar bahwa saya adalah warga Bandung, warga Indonesia, dan warga bumi. Itu adalah identitas saya. Orang lain juga mengenali identitas mereka masing-masing yang berkonsekuensi pada tanggung jawab etika dan kebebasan.
Pettit, filsuf dari Australia, yakin semua proses percakapan bahasa yang membentuk jiwa manusia di atas terjadi melalui proses sosial dalam suatu komunitas. Pettit tidak banyak membahas AI akankah mampu melakukan percakapan bahasa secara sosial. Tetapi, kita melihat AI masa kini bahkan sudah gagal melakukan penilaian pada tahap pertama. Tentu saja AI agentik bisa saja mengaku memiliki identitas misal bernama Maya bekerja sebagai sales di perusahaan software. Bagaimana pun, AI bernama Maya itu tidak memiliki identitas sebagai mana manusia.
Konskuensi penting dari percakapan bahasa yang menumbuhkan jiwa itu adalah mereka menumbuhkan sikap etis kepada setiap orang di saat yang bersamaan. Jadi, bahasa memang rumah bagi jiwa manusia yang bertindak dan bersikap luhur sesuai ajaran moral.
5.3 Rumah Kita
Tiba saatnya, kini, kita untuk kembali ke rumah kita. Rumah desa cepat atau lambat berubah menjadi rumah kota. Sehingga, menghadirkan rumah desa di pusat kota menjadi solusi awal yang kita butuhkan; menghadirkan desa Ciptagelar di pusat kota Bandung sebagai kota tani.
Gempuran rumah digital AI (artificial intelligence – akal imitasi) mempersempit ruang di rumah bahasa kita. Solusinya adalah kita mempersilakan AI untuk duduk bersila di salah satu kamar rumah bahasa. Sementara, rumah bahasa yang lebih luas adalah memang rumah kita. Itulah rumah paling nyaman bersama AI.
Bersama rumah semesta dan rumah bahasa kita bertamasya. Sudahkah Anda bersiap segalanya?

Tinggalkan komentar