Apakah MBG bermanfaat? Bermanfaat! Apakah perlu dilanjutkan? Perlu lanjut. Apakah MBG sukses? Sukses.
Itu semua adalah jawaban dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh MBG (makan bergizi gratis). Bagi mereka telah terbukti bahwa MBG bermanfaat, perlu dilanjutkan, dan sukses. Banyak bukti untuk menunjukkan itu.
Apakah MBG bermanfaat? Tidak. MBG telah meracuni anak saya. MBG merampas masa depan anak saya. Anak saya adalah bukti nyata untuk itu semua. MBG harus dihentikan. Itu adalah jawaban orang yang anaknya keracunan MBG.

1. Perlu Bukti
2. Empiris Sederhana
3. OCL
4. Empiris Lanjut
5. Diskusi
Jadi, bukti mana yang perlu kita percaya? Buku Beyond Belief menjawab pertanyaan itu. Pearson, penulis buku, menyatakan bahwa kita perlu berpegang pada bukti yang kokoh sesuai sains terutama RCT (randomized controlled trial); uji coba jujur terkendali.
1. Perlu Bukti
Melanggar pendekatan sains RCT yaitu orang yang bertanya apakah MBG bermanfaat kepada pemilik dapur atau pihak yang diuntungkan. RCT mensyaratkan pertanyaan harus jujur dan adil kepada responden yang tepat. Jadi jawaban bahwa MBG “harus dilanjutkan” adalah ditolak berdasar sains RCT.
Apakah MBG harus dihentikan? Sama juga: perlu bukti untuk menyimpulkan seperti itu.
Bukan sekadar data, informasi, pengalaman, anekdot, katanya, ceritanya; melainkan kita butuh bukti yang merupakan sintesis sistematis. Sejak awal, Pearson menolak jawaban berdasar otoritas atau pun lembaga.
“Program ini harus dilanjutkan karena ditetapkan oleh pihak yang berwenang” ditolak oleh Pearson. Karena argumen seperti itu berdasar otoritas bukan bukti (evidence) sehingga harus ditolak. “Program ini harus dilanjutkan karena bulan lalu sudah dijalankan bahkan belasan bulan yang lalu sudah dijalan terus” juga ditolak oleh Pearson. Karena argumen ini didasarkan pada kebiasaan atau kelembagaan bukan bukti.
2. Empiris Sederhana
Diterima atau ditolak harus didasarkan pada bukti sains terutama RCT.
Contoh paling jelas adalah pengujian vaksin misal di masa pandemi covid yang lalu. Vaksin diujikan kepada dua kelompok secara jujur adil: kelompok vaksin dan kelompok plasebo. Kelompok responden itu sendiri tidak tahu apakah ia termasuk vaksin atau plasebo (obat palsu; obat netral).
Kemudian data pengujian itu diolah. Misal hasilnya adalah efektivitas (efikasi) penggunaan vaksin adalah 95% maka vaksin diterima. Yaitu vaksin terbukti, memiliki cukup evidence, untuk digunakan oleh masyarakat.
Sebaliknya, misal, hasil pengujian efikasi vaksin 55% (di bawah batas yang dipersyaratkan) maka vaksin ditolak. Karena tidak ada bukti, tidak ada evidence yang cukup, untuk menerima vaksin. Sehingga vaksin dilarang untuk diproduksi mau pun disebarkan ke masyarakat.
3. OCL
Bukti memang penting tetapi tidak cukup. Pearson tampak over-confindent, atau terlalu percaya diri, terhadap bukti sains terutama RCT. Kita perlu waspada.
“Bukti jarang memberikan kepastian. Seringkali buktinya tidak ada, atau sulit ditemukan, atau rumit dan kontradiktif—dan penelitian baru bisa menemukannya ikut serta yang menjungkirbalikkan ide-ide yang sudah ada.
Namun hal ini dapat mengurangi ketidakpastian dan
meningkatkan keputusan—dan itu bisa mengubah hidup. Saya harap buku ini membantu Anda mencari tahu klaim apa yang diyakini, tindakan apa yang berhasil dan, terkadang, apa yang harus dilakukan.”
Kalimat akhir dari Pearson di atas bagus dan tepat sasaran. Tetapi kalimat pertama adalah terlalu percaya diri kepada sains.
4. Empiris Lanjut
5. Diskusi
