Generasi Osilasi: Dari Lelah Menuju Penuh Arti

Sudah banyak yang menunjukkan abad 21 ini terjadi kekacauan: chaos. Sementara pemimpin adidaya (arko) mendikte dunia; Trump mendikte BoP; Putin mendikte perbatasan Rusia-Ukraina; Xi mendikte Cina. Banyak orang melawan. Warga Palestina pantang menyerah; warga dunia juga pantang menyerah untuk terus membela. Situasi anarkis (anarko) ada di banyak tempat. Putaran sejarah chaos-arko-anarko yang berulang seperti itu melelahkan umat manusia. Adakah jalan keluar?

Solusinya adalah umat manusia melompat ke osilasi dinamis panarko-kopanarko. Dinamika ini mengantarkan sejarah menjadi penuh arti; generasi masa kini punya arti; generasi masa depan punya arti dalam rangkulan irama ayunan panarko-kopanarko yang harmonis.

Panarko (pan-arko) adalah serba-pemimpin. Setiap orang adalah pemimpin; menghormati setiap orang lain sebagai pemimpin juga. Para panarko itu bekerja sama membentuk kopanarko maka terjadilah ayunan irama panarko-kopanarko tanpa henti.

Mari kita ikuti kisah untuk inspirasi.

Bagian 1 — Siklus Lelah: Chaos, Arko, Anarko

Di Lembah Aruna, sebuah pasar tenun pernah menjadi kebanggaan tujuh dusun. Namun ketika hasil panen kapas menyusut satu musim, para penenun mulai saling menuduh: dusun hulu dituduh menahan air irigasi, dusun hilir dituduh menimbun benang murah. Seorang anak muda dusun hilir sempat memasang sensor debit air sederhana di sungai — hasil belajar otodidak dari video-video teknologi pertanian — berharap data itu bisa menjernihkan siapa yang benar. Tapi data itu sendiri jadi bahan tuduhan baru: dusun hulu menuduh sensor itu sengaja dipasang untuk memfitnah mereka. Teknologi yang seharusnya menjernihkan malah menambah kecurigaan, karena dipakai untuk saling membuktikan siapa yang salah, bukan untuk mencari solusi bersama.

Di tengah kekacauan itu, muncul Ki Wirya, saudagar kain paling kaya, yang berjanji akan “menertibkan” pasar dengan cara modern. Ia mendatangkan sebuah program kecerdasan buatan dari kota untuk menghitung harga benang dan kapas secara “objektif” — tapi hanya ia yang memegang alat itu, hanya ia yang bisa membaca hasilnya, dan angka yang keluar selalu kebetulan menguntungkan gudangnya sendiri. Ia melarang dusun-dusun berdagang langsung satu sama lain kecuali lewat dirinya dan mesin pintarnya itu. Untuk sesaat, pasar tenang — bukan karena damai, tapi karena semua takut pada angka-angka yang tidak bisa mereka pahami sendiri. Ketenangan itu adalah ketenangan orang yang menahan napas di depan mesin yang lebih mereka takuti daripada mereka mengerti.

Ketenangan paksa itu tidak bertahan. Para penenun muda diam-diam menyalin sendiri cara kerja program itu dari internet desa, membangun jalur dagang gelap dengan kalkulasi harga versi mereka sendiri. Ketika ketahuan, kemarahan yang tertahan bertahun-tahun meledak sekaligus — gudang dan perangkat komputer Ki Wirya dirusak, dan ia sendiri diusir dari pasar oleh massa yang tadinya taat kepadanya. Pasar jatuh ke kekosongan; tak ada aturan, tak ada kepercayaan, dan alat-alat pintar yang sempat dibanggakan kini teronggok rusak di gudang yang terbakar. Setelah kekosongan itu mereda, kekacauan lama (chaos) perlahan kembali — dusun-dusun saling curiga lagi soal air dan benang, seakan semuanya harus diulang dari awal. Generasi demi generasi Lembah Aruna hidup dalam putaran yang sama: kacau, dikuasai (arko) — kadang lewat otot, kadang lewat mesin canggih yang hanya dipegang segelintir orang — direbut (anarko), kacau lagi, tanpa seorang pun benar-benar belajar sesuatu yang bertahan.

Bagian 2 — Ayunan Harmonis: Panarko-Kopanarko

Perubahan dimulai bukan dari seorang penguasa baru atau mesin baru, melainkan dari seorang perempuan penenun bernama Mira, yang lelah melihat anaknya tumbuh mewarisi kecurigaan yang sama seperti dulu ia warisi dari ibunya. Suatu sore, alih-alih menunggu “pemimpin baru” atau “alat canggih baru” yang akan menyelesaikan segalanya, Mira mengumpulkan tiga penenun lain dari dusun berbeda — bukan untuk memilih ketua, tapi untuk sekadar duduk bersama di bawah pohon beringin dekat sungai dan mengakui satu hal sederhana: masing-masing dari mereka sebenarnya sudah menjadi pemimpin di bidangnya sendiri (panarko) — Mira memimpin soal pewarnaan alami dari akar dan daun hutan, Broto memimpin soal irigasi, Sari memimpin soal tata pola tenun, dan Yudo, si anak muda yang dulu memasang sensor air, ternyata paling paham cara memakai alat digital sederhana untuk mencatat cuaca dan hasil panen.

Mereka menyebut diri mereka bukan “pengganti Ki Wirya”, tetapi sekadar orang-orang yang menghormati kepemimpinan satu sama lain di bidang masing-masing tanpa perlu ada satu penguasa tunggal — dan tanpa perlu ada satu mesin yang dikuasai satu orang (kopanarko).

Broto tidak perlu tahu-menahu soal pewarnaan, tapi ia menghormati keputusan Mira soal itu sepenuhnya. Yudo tidak memaksakan alat digitalnya sebagai penentu segalanya; ia hanya menawarkannya sebagai bantu-hitung yang bisa dipakai siapa saja yang mau belajar, bukan alat rahasia yang hanya ia pahami. Setiap orang adalah pusat sementara di ranahnya sendiri, dan mengakui pusat-pusat lain di ranah yang berbeda — termasuk mengakui bahwa teknologi hanyalah satu ranah kecil di antara banyak ranah, bukan penguasa atas semuanya.

Pelan-pelan, pola ini menular. Anak-anak muda yang dulu terlibat penyelundupan gelap kini diajak duduk bukan sebagai pihak bersalah yang harus dihukum, melainkan sebagai calon pemimpin di bidang distribusi dan pencatatan digital — karena merekalah yang paling terbiasa dengan jalur-jalur tersembunyi dan alat-alat baru menuju pasar-pasar tetangga. Tak ada yang dijadikan kambing hitam atas kekacauan lama, baik manusia maupun mesin; yang ada hanya pengakuan bahwa setiap orang, termasuk yang dulu dianggap biang onar, dan setiap alat, termasuk yang dulu disalahgunakan, punya potensi dipakai untuk memimpin sesuatu ke arah baik.

Ketika tujuh dusun mulai memiliki pemimpin-pemimpin kecil di bidang masing-masing, mereka membentuk sebuah forum longgar — bukan pemerintahan, bukan hierarki — tempat para pemimpin kecil ini bertemu sebulan sekali di balai bambu tepi sawah untuk menyelaraskan jadwal air, harga benang, dan jalur dagang. Forum ini mereka sebut “Simpul Aruna”.

Yudo membawa catatan cuaca dan hasil panen dari alat digitalnya sebagai bahan pertimbangan bersama — bukan sebagai vonis final — dan siapa pun boleh bertanya atau meragukan angka itu secara terbuka. Tidak ada satu orang, dan tidak ada satu program pintar, yang memegang kendali penuh; keputusan lahir dari kesepakatan bersama yang dijiwai satu nilai yang mereka sepakati bersama: tidak ada dusun yang boleh untung dengan merugikan dusun lain, dan tidak ada alat yang boleh dipakai untuk mengunci pengetahuan hanya bagi segelintir orang.

Pasar Lembah Aruna berangsur hidup kembali, tapi dengan wajah berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi bergantung pada satu saudagar kuat atau satu mesin canggih yang bisa jatuh dan menyeret semuanya jatuh bersamanya. Sawah dan sungai tetap sama seperti dulu, kerbau tetap membajak seperti dulu, tapi kini di pematang sawah ada anak-anak muda yang memeriksa layar kecil bersama para tetua yang memeriksa tanda-tanda alam — dua cara membaca dunia yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Pasar makin kokoh karena tersebar di banyak pusat kecil — jika satu pemimpin dusun sedang lengah atau keliru, atau satu alat sedang rusak, dusun lain tidak ikut ambruk, karena kekuatan pasar tidak lagi bertumpu pada satu titik atau satu perangkat.

Bukan berarti Lembah Aruna sudah bebas dari godaan lama. Sesekali muncul lagi bisikan-bisikan: “kenapa tidak kita serahkan saja semua keputusan ke satu program pintar yang paling canggih supaya lebih cepat beres?” Setiap kali bisikan itu muncul, para pemimpin kecil di Simpul Aruna saling mengingatkan pelan-pelan — bukan dengan amarah, tapi dengan kesabaran, sambil menunjuk ke arah gudang lama bekas terbakar yang sengaja tidak pernah dibangun ulang, dibiarkan sebagai penanda — bahwa jalan cepat semacam itu pernah dicoba, dan berakhir di reruntuhan yang sama. Kemajuan teknologi tetap disambut dan dipelajari bersama, tapi tidak pernah lagi dibiarkan menjadi satu titik kendali tunggal. Godaan itu tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya makin mudah dikenali dan makin cepat diredam bersama.

Bertahun-tahun kemudian, ketika cucu Mira — yang tumbuh besar dengan sawah di satu tangan dan layar kecil di tangan lain — bertanya mengapa Lembah Aruna tidak pernah lagi jatuh ke kekacauan besar seperti cerita neneknya dulu, jawabannya bukan karena ada satu pahlawan atau satu mesin yang menyelamatkan lembah itu selamanya, melainkan karena setiap generasi memilih terus mengayun — sesekali goyah, sesekali tergoda kembali menyerahkan segalanya pada satu kekuatan atau satu alat, tapi selalu memilih kembali duduk bersama di bawah pohon beringin sebagai sesama pemimpin, bukan sebagai penguasa dan yang dikuasai, atau sebagai manusia dan mesin yang memerintah.

Ayunan itu tidak pernah berhenti, dan justru karena tidak pernah berhenti itulah lembah itu — sungai, sawah, dan layar-layar kecil di tangan anak mudanya — tidak pernah benar-benar lelah lagi, karena setiap orang, di setiap masa, tahu dirinya punya bagian yang berarti dalam irama yang terus berlanjut.

Bagian 3 — Masalah dan Solusi

Bagaimana agar solusi ayunan panarko-kopanarko itu menjadi solusi nyata pada situasi kita?

Jawabannya jelas: jadilah panarko; ajak lebih banyak orang untuk menjadi panarko.

Melompat ke panarko adalah langkah awal. Panarko mampu menerobos segala rintangan; mampu menolak beragam godaan. Rintangan dan godaan itu bisa bersifat personal mau pun struktural.

Ketika generasi kita berhasil melompat menjadi panarko maka di sanalah masa depan terbuka cerah; gerak sejarah penuh arti nan indah; siap menyongsong segala anugerah.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar