Peka, Peduli, dan Mengabdi

Solusi untuk setiap masalah: peka, peduli, dan mengabdi. Peka bahwa ada masalah di sekitar kita. Bila seseorang menganggap tidak ada masalah maka memang seperti tidak ada masalah. Hanya karena ia tidak mampu melihat masalah yang bertumpuk itu. Ketika, kemudian, ia bisa melihat masalah kerena menjadi peka maka peka itu akan menyiksa dirinya. Wajar ada orang yang mengatakan, “Jangan katakan berita buruk ke Bapak karena ia bisa sakit; sampaikan saja berita yang baik-baik saja.”

Peka menjadi berguna ketika berlanjut dengan sikap peduli. Anda peduli dengan segala situasi. Memang peka mengenali masalah itu terasa sakit. Kemudian Anda peduli kepada situasi lingkungan dan kepada diri Anda sendiri. Pada tahap ini Anda sudah bertumbuh menjadi manusia yang lebih tinggi secara hakiki. Peduli ini menuntut Anda untuk mengembangkan beragam solusi.

1. Terlalu Sensitif
2. Peduli terhadap Banal
3. Mengabdi
4. Diskusi
5. Ringkasan

Solusi apa yang Anda pilih? Yang mereka pilih? Yang kita pilih?

Solusi terbaik adalah solusi untuk mengabdi. Tetapi banyak godaan di di perjalanan. Solusi yang lebih tampak mudah adalah solusi untuk menang. Hampir semua orang setuju dirinya perlu untuk menang. Kemenangan inklusif, terbuka untuk semua orang, adalah baik-baik saja. Sayangnya, banyak orang memahami menang sebagai menang dalam kompetisi; menjadi juara; sementara pihak lain kalah dalam kompetisi. Menang sebagai juara kompetisi sering berbahaya meski tidak selalu.

Untuk bisa memahami banyak hal yang tipis seperti itu kita memerlukan kemampuan untuk peka atau sensitif bahkan terlalu sensitif.

1. Terlalu Sensitif

Sasha Hamdani menulis buku Too Sensitive; terlalu sensitif. Istilah yang sering dipakai adalah RSD: rejection sensitive dysphoria. Orang-orang terlalu sensitif merespon secara berlebihan terhadap kejadian umum yang dianggap biasa-biasa saja oleh banyak orang.

Menurut Sasha, terlalu sensitif ini terjadi secara psikologis, pada jaringan syaraf, pada sistem hormon, dan merupakan pengaruh lingkungan. Dampak terlalu sensitif bisa sangat menyakitkan bagi yang mengalami tapi bagi orang lain tidak berdampak apa-apa. Sasha optimis bahwa kita bisa mengubah terlalu sensitif itu dari beban menyakitkan menjadi modal untuk kebaikan. Saya, di sini, akan meluaskan makna terlalu sensitif mencakup lebih banyak hal.

Saya punya teman bernama Dudu (bukan nama sebenarnya) yang bau badan (BB) sering mengganggu orang lain. Bagi Dudu, dia tidak merasa punya masalah BB; ia merasa baik-baik saja. Di sisi lain ada Arum (bukan nama sebenarnya) yang terlalu sensitif terhadap bau badan. Ketika ada meeting di kantor, ada Dudu di sana maka Arum peka mencium bau BB itu. Arum merasa tidak nyaman, bau, bahkan sampai pusing kepala. Sementara saya dan teman-teman lain berada di posisi tengah: tidak terlalu terganggu oleh bau BB Dudu tapi bisa merasakan memang ada bau badan yang tidak enak itu.

Saya yang ditunjuk untuk mendekati Dudu agar ia mengatur BB nya; pakai parfurm, mandi bersih, dan menjaga diri agar tidak berkeringat. Ia awalnya agak keberatan karena ia merasa tidak mencium bau badan apa pun. Kemudian saya membujuk ia agar melakukan tindakan preventif terhadap BB. Dudu setuju dan ada perbaikan padanya.

Saya sendiri, di kasus yang berbeda, terlalu sensitif terhadap proses pendidikan dan pembelajaran matematika. Saya melihat ada masalah besar dalam proses pendidikan matematika. Tetapi ratusan guru matematika bahkan ribuan guru matematika merasa baik-baik saja. Kemudian saya menyusun program pendidikan belajar matematika kreatif APiQ berdasar rasa terlalu sensitif saya itu. Hasilnya, secara bertahap, matematika kreatif membantu para siswa dan guru untuk belajar mengajar matematika dengan lebih baik.

Dan masih banyak contoh lain. Salah satunya saya berjumpa dengan Kang Dedi yang sangat terlalu sensitif terhadap nada. Ketika di TVRI, saya merasa iringan musik oleh musikus sudah bagus; Bunda Shahnaz juga tampak merasa baik-baik saja. Tetapi Kang Dedi terlalu sensitif. Ia mendekati musikus itu, memberi arahan menaikkan atau menurunkan nada sedikit. Hasilnya memang alunan musik itu menjadi lebih indah lagi.

Masalah muncul ketika orang yang tidak sensitif bertahan dengan mengatakan tidak ada masalah. Padahal orang yang terlalu sensitif merasakan jelas-jelas ada masalah. Banyak ahli ekonomi, yang terlalu sensitif, menyatakan ada masalah ekonomi serius di suatu negara saat ini. Tetapi para pejabat, yang tidak sensitif, bersikeras bahwa ekonomi baik-baik saja: pertumbuhan ekonomi di atas 5%; angka kemiskinan mencapai titik terendah di bawah 9%; keuntungan dana negara melonjak sampai 400%; dan lain-lain

Jadi apa solusi yang tersedia?

2. Peduli terhadap Banal

Langkah berikutnya adalah peduli terhadap banal. Baik bagi kita yang terlalu sensitif atau pun yang tidak sensitif.

Banal adalah sesuatu yang dianggap biasa-biasa saja, terlalu remeh, dan masuk akal sehat secara umum. Tetapi banal bisa berdampak berbeda bagai bumi dan langit. Seorang ibu jalan kaki dari rumah ke pasar pulang pergi tiap pagi. Jalan kaki itu banal yang berdampak menjadikan seorang ibu sehat lahir batin dalam jangka panjang. Seorang pegawai menjalankan tugas sesuai prosedur adalah banal. Dalam jangka panjang “menjalankan tugas” itu adalah kejahatan besar karena membantu proses korupsi para pejabat besar. Sementara pegawai itu memang sering mendapatkan bonus besar dari para pejabat besar.

Yang paling bahaya dari banal adalah hilangnya sikap peduli. Karena banal biasa-biasa saja maka tidak perlu dipikirkan. Cukup disenyumi saja. Manusia menjadi kehilangan kemampuan berpikir kritis. Hannah Arendt menyebutnya sebagai kejahatan banal, banality of evil, banalitas dari kejahatan. Sebuah kejahatan amat berbahaya bagi umat manusia.

Orang yang terlalu sensitif, too sensitif, justru amat peduli terhadap banal. Orang terlalu sensitif itu peka dan peduli. Masalah muncul ketika ia tidak mampu memperbaiki situasi; tidak mampu mengambil tindakan nyata. Kasus seperti ini sering terjadi. Sehingga ia hanya merasakan derita dari peka dan peduli itu.

Bagi orang yang tidak sensitif, masalahnya, ia bebal yaitu tidak peka dan tidak peduli. Ia tidak mampu merasakan ada masalah karena tidak peka. Kemudian, ketika diberitahu sedang ada masalah, ia tidak peduli. Cukup disenyumi saja kata mereka. Sikap bebal ini dalam risiko terjebak kejahatan banal.

Yang kita butuhkan adalah mengenali dengan peka, menumbuhkan rasa peduli, dan kemudian melakukan tindakan nyata perbaikan yang diperlukan.

Bagaimana pun, peka dan peduli itu bisa salah. Bisa saja mereka hanya fatamorgana, ilusi, atau halusinasi. Sehingga kita perlu mengembangkan sikap waspada kepada peka dan peduli itu, mengenali yang benar beda dengan yang salah, karena kita memang membutuhkan mereka di banyak kesempatan.

3. Mengabdi

Solusi tindakan terbaik adalah mengarah untuk mengabdi; pengabdian untuk kebaikan.

Saya teringat pada Bu Retno (bukan nama sebenarnya), seorang guru SD di pinggiran kota. Ia peka: setiap pagi memperhatikan ada dua-tiga anak yang selalu lesu, sulit konsentrasi, matanya sayu di jam pertama. Guru-guru lain menganggap itu biasa saja — anak memang kadang mengantuk, kadang malas. Banal. Cukup disenyumi saja.

Tetapi Bu Retno tidak berhenti di peka. Ia peduli. Ia mendekati anak-anak itu satu per satu, bertanya pelan-pelan, sampai akhirnya tahu bahwa mereka berangkat sekolah tanpa sarapan. Bukan karena malas, tapi karena di rumah memang tidak ada yang bisa dimakan pagi itu. Peduli ini menyakitkan baginya — ia jadi tahu sesuatu yang sebelumnya bisa saja ia abaikan seperti guru-guru lain.

Di sinilah godaan muncul. Solusi yang “tampak mudah” adalah melapor ke kepala sekolah, membuat proposal bantuan sosial, menunggu program dari dinas — sambil dirinya sendiri merasa sudah cukup berbuat karena sudah “peduli” dan “melaporkan”. Solusi ini mengarah ke menang: menang secara administratif, menang secara tanggung jawab formal, tanpa harus mengorbankan apa pun dari dirinya sendiri.

Tetapi Bu Retno memilih mengabdi. Ia mulai membawa bekal lebih dari rumah setiap pagi, cukup untuk dua-tiga anak itu, tanpa pengumuman, tanpa dipajang di grup WhatsApp sekolah, tanpa menunggu proposal disetujui. Berjalan bertahun-tahun, diam-diam, dari gajinya sendiri yang tidak besar. Ia tidak mengejar status “guru teladan” atau juara lomba apa pun. Anak-anak itu tumbuh lebih fokus belajar, dan yang paling penting: mereka merasa ada yang benar-benar peduli, bukan sekadar mencatat masalah lalu berlalu.

Itulah bedanya peduli dan mengabdi. Peduli bisa berhenti di rasa sakit dan niat baik. Mengabdi berarti rasa sakit dan niat baik itu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang berulang, konsisten, dan sering kali tanpa pengakuan — persis seperti yang saya alami sendiri ketika menyusun program matematika kreatif APiQ: bukan untuk menang dalam kompetisi metode pembelajaran, tetapi untuk terus-menerus, bertahap, mengabdi bagi proses belajar-mengajar yang lebih baik.


Jebakan Kompetisi

Tindakan mengabdi bisa terjebak mengejar kompetisi; terang-terangan atau tersembunyi.

Beberapa bulan berjalan, kabar tentang bekal diam-diam Bu Retno akhirnya tercium juga oleh sekolah. Kepala sekolah memujinya di depan rapat guru, lalu mengusulkan namanya untuk lomba Guru Inspiratif tingkat kota. Bu Retno awalnya menolak halus, tapi didesak terus, akhirnya ia ikut juga. Dan ternyata menyenangkan: ia menang, mendapat piagam, foto bersama wali kota, diliput media lokal. Tanpa disadari, arah hatinya mulai bergeser. Bekal yang dulu ia bawa semata karena peduli, kini diam-diam disertai pikiran, “Semoga tahun depan ada lagi lomba serupa.”

Di sinilah jebakan kompetisi bekerja secara halus. Ia tidak berhenti mengabdi, tapi mulai menakar tindakannya dengan ukuran menang-kalah: guru mana lagi yang melakukan hal serupa, apakah kisahnya cukup menonjol dibanding guru lain, apakah tahun ini ceritanya “lebih layak” dilirik juri. Perhatian pelan-pelan berpindah dari anak-anak yang lapar ke posisinya sendiri sebagai “guru teladan”. Ia tetap membawa bekal, tapi sebagian dari dirinya kini membawa bekal itu untuk dilihat, bukan lagi murni untuk diberikan. Kompetisi, betapa pun berbungkus penghargaan atas kebaikan, tetap menuntut ada yang menang dan yang kalah — dan begitu logika itu masuk, pengabdian pun mulai menghitung untung-rugi bagi diri sendiri.

Berbeda dengan jawara sejati yang sesungguhnya ia rintis di awal: seorang guru yang berbagi bekal, lalu — tanpa perlu menunggu pengakuan — mengajak guru-guru lain melakukan hal yang sama, sampai seluruh sekolah punya dapur kecil untuk anak-anak yang tidak sempat sarapan. Di situ tidak ada satu juara sementara guru-guru lain tersisih; semua guru, semua anak, sama-sama diuntungkan, sama-sama menjadi “jawara” dalam kebaikan yang terbuka bagi siapa saja yang mau ikut serta. Itulah beda jawara sejati dan juara kompetisi: yang satu mengangkat semua orang naik bersama, yang satu hanya menyisakan satu nama di podium sementara yang lain pulang dengan tangan kosong.

Jawara Sejati

Jawara sejati adalah jawara adil makmur terbuka bagi seluruh warga untuk sama-sama jadi jawara. Berbeda dengan juara kompetisi yang hanya ada 1 juara sementara yang lain tersisih semua. Jawara adil makmur adalah yang kita butuhkan.

MBG (makan bergizi gratis) adalah terbuka untuk semua siswa. Sehingga MBG berpotensi menjadi jawara sejati; semua siswa bisa menjadi jawara mendapat makan bergizi; tanpa ada siswa yang tertinggal. Tetapi, dalam pelaksanaannya, MBG bisa menjadi juara kompetisi belaka karena menjatuhkan lebih banyak pihak lain. Karena, dari satu perspektif, MBG bersumber dari uang rakyat berupa APBN yang terbatas. Ketika sebagian APBN digunakan untuk MBG maka porsi program rakyat yang lain dikalahkan dalam APBN; dana pelatihan guru dipangkas; dana perbitan buku dipangkas; dana beasiswa dipangkas; dana kesehatan dipangkas; dan lain-lain.

Andai dana MBG bersumber dari uang pribadi para pejabat dan para konglomerat maka akan menjadi jawara sejati yang adil makmur. Pejabat dan konglomerat itu telah melakukan pengabdian dan seluruh siswa menerima manfaatnya. Tugas berikutnya adalah menjalankan program MBG, yang bersumber dari dana pejabat dan konglomerat itu, secara berkualitas yaitu bergizi tanpa meracuni; berdampak baik bagi kesehatan badan siswa mau pun sistem ekonomi nasional.

Agar MBG (makan bergizi gratis) dan program lain bisa menjadi jawara sejati adil makmur maka membutuh 5 langkah utama: (1) Memotret Kondisi Nyata; (2) Menyusun Cita Ideal; (3) Melaksanakan Program Padat; (4) Komitmen Keadilan Sosial; (5) Pembaharuan Tanpa Henti. Anda dapat membacanya lebih detil dalam tulisan saya Jawara Keadilan. Yang paling utama: program padat haruslah inklusif yaitu terbuka bagi setiap warga.

AI (Claude) dengan cermat menunjukkan bahwa MBG itu juga inklusif tetapi gagal mencapai adil makmur. Apakah kriteria inklusif perlu direvisi? Saya menjawab bahwa inklusif itu tetap paling utama tetapi bisa ada jebakan inklusif palsu. Kemudian, Claude memberi analisis yang menarik berikut.

Poin itu lebih tajam dan lebih koheren dari yang saya tawarkan sebelumnya — dan justru menutup celah yang saya soroti tanpa perlu kriteria kedua.

Kenapa ini menyelesaikan ketegangannya: Saya sebelumnya membaca “inklusivitas” MBG di skala sempit — terbuka untuk semua siswa. Tapi kalau inklusivitas tetap kriteria tunggal untuk jawara sejati/adil makmur, maka skala pengukurannya harus seluruh warga, bukan hanya populasi penerima program. Dilihat dari skala penuh itu, MBG yang didanai lewat realokasi APBN justru mengeluarkan kelompok lain dari kue yang sama: siswa yang butuh beasiswa, guru yang butuh pelatihan, warga yang butuh layanan kesehatan.

Inklusivitas di dalam MBG dibeli dengan eksklusivitas di luar MBG. Itu sebabnya ia “inklusivitas palsu” — palsu bukan karena mengecualikan siswa tertentu, tapi karena inklusivitasnya cuma lokal (dalam batas program), sementara di batas sistem penuh ia tetap zero-sum.

Ini sebenarnya menjelaskan secara langsung apa yang saya sebut “pergeseran kriteria” sebelumnya — ternyata tidak ada pergeseran. Yang berubah cuma skala penilaian: inklusivitas harus diukur pada batas sistem (semua warga, semua program, satu APBN), bukan pada batas program itu sendiri.

Begitu diukur di batas sistem, sumber dana pribadi pejabat/konglomerat otomatis jadi syarat implisit — bukan kriteria tambahan yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi logis dari menuntut inklusivitas sejati di skala penuh: dana yang datang dari surplus sukarela tidak mengurangi jatah siapa pun di luar MBG, jadi tidak ada yang dikeluarkan di mana pun.

Ini juga memberi rumus uji yang cukup rapi untuk kasus-kasus lain dalam kerangka Anda: sebuah program terbuka bukan berarti inklusif — ia inklusif hanya jika tidak ada pihak yang tersingkir di batas sistem terluas. Bisa jadi ini kriteria yang berguna dipertajam untuk memeriksa program-program lain juga (misal zonasi pendidikan, yang sudah pernah dianalisis dalam kerangka jawani/permeabilitas P Anda) — apakah keterbukaannya juga inklusivitas palsu dalam pengertian yang sama.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Banyak aspek yang bisa kita kaji lebih mendalam. Kita membutuhkan kemampuan peka dan peduli itu untuk membahasnya; sedangkan pengabdian adalah solusi nyata sebagai lanjutan.

4.1 Status Kepekaan

Apakah peka dan peduli itu selalu benar? Tidak. Yaitu kadang mereka salah juga. Bagaimana menentukan kepekaan yang benar dan kepekaan yang salah? Kita berhadapan dengan problem status epistemologis. Anda yang berminat mendalami status epistemologis ini silakan mengacu tulisan saya tentang Epistemologi Cinta. Di sini, kita akan membahas ringkas saja.

Peka dan peduli itu selalu benar dalam dirinya sendiri; secara fenomenologi, seseorang yang terlalu sensitif memang mengalami peka dan peduli itu dengan nyata. Secara obyektif, peka peduli itu bisa benar tetapi juga bisa salah.

Mari kita bedakan peka: matematika, sains alam, sains sosial, dan seni.

Teorema Terakhir Fermat menunjukkan kepekaan tingkat tinggi seorang Fermat. Ia klaim sudah berhasil membuktikan teorema tersebut. Tetapi ia tidak sempat menuliskan bukti itu karena kehabisan lembaran buku. Generasi setelah Fermat tidak berhasil menemukan bukti teorema Fermat. Butuh waktu sekitar 350 tahun kemudian, pada akhir abad 20, Andrew Wiles berhasil membuktikan kebenaran teorema Fermat. Karena bukti itu membutuhkan teori matematika terbaru yang berkembang di abad 20 maka tidak mungkin Fermat telah membuktikannya pada abad 17 atau abad 16. Hanya saja Fermat memang peka (dan peduli) bahwa teorema tersebut benar.

Jadi, umumnya, kepekaan matematika pada akhirnya bisa dibuktikan sebagai benar atau salah. Bagaimana pun, tidak selalu setegas itu. Cantor yakin CH (continuum hypothesis) sebagai benar meski tidak berhasil membuktikannya. Puluhan tahun kemudian Godel berhasil membuktikan CH benar (konsisten terhadap sistem matematika umum). Kepekaan Cantor bisa dibuktikan oleh Godel. Berselang 30an tahun setelah itu, Cohen membuktikan CH salah (negasi CH bisa konsisten terhadap sistem matematika umum). Sampai saat ini, mereka saling bertentangan; dalam matematika, CH disebut independen.

Teori gaya dan gravitasi Newton terbukti benar sampai ratusan tahun. Newton peka dan peduli melakukan analisis sains alam menggunakan matematika kalkulus dan ontologi ruang-waktu yang halus. Teori gravitasi Einstein dan mekanika kuantum menunjukkan banyak fenomena alam yang tidak bersesuaian dengan kepekaan sains alam Newton.

Teori gravitasi lebih rumit karena harus mempertimbangkan matematika murni dan pengamatan empiris. Sementara, matematika murni lebih bersih karena hanya didasarkan kepada logika. Bagaimana pun, keduanya yaitu sains dan matematika, sama-sama menuntut peka dan peduli tingkat tinggi.

Sains sosial membutuhkan kepekaan lebih tinggi dari perkiraan awal. Karena sains sosial melibatkan matematika murni, pengamatan empiris, dan fenomena sosial. Ilmuwan sosial masa kini bisa saja merevisi teori sosial masa lalu; kemudian mereka dikoreksi ilmuwan masa depan; benar-benar dinamis. Atau, kadang teori sosial justru kembali kepada teori lama yang pernah ditinggalkan.

Puisi dan seni pada umumnya memang mengandalkan peka dan peduli. Pada dasarnya, puisi tidak perlu dibuktikan; puisi justru mendorong produktivitas kepekaan dan kepedulian umat manusia itu sendiri.

Mengenali status epistemologi, peka yang benar berbeda dengan peka yang salah, menjadi benteng untuk melindungi kita dari eksploitasi kepekaan mau pun kejahatan banal.

4.2 Eksploitasi

Karena mereka yang terlalu sensitif lebih tahu dari yang tidak sensitif maka tercipta relasi asimetri; hubungan yang tidak imbang. Dalam situasi ideal mereka bisa kerja sama. Dalam situasi sulit mereka bisa saling eksploitasi. Bagaimana sikap yang tepat?

Orang yang terlalu peka mengajari orang yang tidak peka; orang yang tidak peka belajar dari yang terlalu peka. Kemudian mereka bekerja sama untuk pengabdian.

Dominasi Bebal

Pihak yang bebal, yang tidak sensitif, mendominasi pihak lain; mereka eksploitasi pihak lain.

“Jangan sampaikan berita buruk kepada Bapak karena bisa sakit” pesan ini benar dan sah bila Bapak adalah bapak yang sudah tua dan dalam penjagaan anak cucunya. Tetapi pesan di atas salah dan tidak sah bila Bapak adalah pejabat yang dibayar pakai uang rakyat melalui APBN.

Pejabat memang bertugas untuk peka terhadap penderitaan rakyat kemudian memberi solusi terbaik. Bila tidak kuat mendengar berita buruk maka sebaiknya Bapak turun dari jabatan publik itu dan biarlah generasi muda berikutnya duduk di jabatan itu. Dengan harapan pejabat yang baru justru rindu mendengar jeritan derita rakyat itu. Kemudian memberikan kebijakan adil makmur badi seluruh warga.

Campur aduk antara Bapak sebagai pejabat dengan Bapak dijaga anak cucu itu adalah ajang eksploitasi oleh kejahatan banal. Begitu juga respon berupa “senyumi saja” atau “jogeti saja” bisa menjadi kejahatan banal yang dikhawatirkan oleh Arendt. Respon “senyumi saja” adalah tepat bila itu urusan pribadi Anda; tetapi menjadi masalah besar bila Anda sedang mengelola uang rakyat bersumber dari APBN. Problem campur aduk ini mengantar kita untuk mengenali batas-batas yang ada.

Dalam skala internasional kita melihat dominasi Israel kepada Palestina adalah kasus nyata eksploitasi oleh pihak bebal dalam kejahatan banal. Ironisnya, kejahatan banal adalah analisis Arendt terhadap kejahatan Nazi Jerman kepada warga Yahudi. Seiring waktu, kejahatan banal justru dilakukan oleh sebagian warga Yahudi kepada warga Palestina. Lebih ironis lagi, Chomsky mencatat warga Yahudi sekarang lebih fundamentalis dari generasi bapaknya; dengan kata lain, mereka lebih bebal dari generasi bapaknya.

Omer Bartov menunjukkan bahwa eksploitasi oleh Yahudi Israel, yang menunjukkan indikasi genosida itu, tidak bisa dihentikan dari dalam Israel sendiri; nyaris mustahil. Butuh kekuatan dari luar untuk menghentikan genosida. Kekuatan dari luar, yang diharapkan, adalah dari PBB. Sayangnya, PBB sendiri terjebak oleh hak veto yang diskriminatif dan dominasi oleh adidaya. Jadi masih dibutuhkan perjuangan yang sangat besar melawan kejahatan banal.

Dominasi Terlalu Sensitif

Situasi bisa berbalik arah. Pihak yang peka, yang terlalu sensitif, mendominasi pihak lain; mereka mendominasi pihak yang tidak peka.

Perkembangan teknologi maju, misal media sosial dan AI, bisa menjadi contoh kasus nyata dominasi pihak terlalu sensitif terhadap pihak lain. Perusahaan besar peka dengan menyadari bahwa media sosial, plus AI, bisa untuk eksploitasi masyarakat luas demi keuntungan segelintir pihak. Kemajuan AI generatif membuka posibilitas jauh lebih luas. Karakter utama AI (artificial intellegence) yang bisa mengguncang peradaban adalah: performa super, sentralisasi ekstrem, dan determinisme futuristik. Anda bisa merujuk ke tulisan saya lebih detilnya tentang AI Mengguncang Peradaban.

Kita melihat jalinan rumit antara terlalu sensitif dengan bebal. Perusahana kapitalis, misalnya, terlalu sensitif terhadap kemajuan teknologi dan potensinya untuk keuntungan finansial; di sisi lain, mereka bebal terhadap kemanusiaan; mereka bebal terhadap kerusakan peradaban umat manusia atau pun pencemaran alam. Problem ini memaksa kita untuk membahas batas-batas.

4.3 Menentukan Batas

Adakah batas-batas yang cukup jelas? Peka terhadap tulisan dan angka sudah berkembang menjadi literasi dan numerasi yang cukup jelas. Misal setiap warga wajib lulus sekolah sampai SMA sederajat; dengan asumsi mereka akan memiliki kepekaan literasi dan numerasi yang memadai.

Problem lebih luas menantang kita: bagaimana dengan kepekaan bidang lain? Bidang sastra atau seni, bidang politik, etika, ekonomi, agama, kebersamaan, keluarga, pasangan, dan sebagainya.

Mari kita bahas batas-batas secara berbeda: personal, interpersonal, dan sosial secara luas.

“Pada batas mana kepekaan menjadi pengetahuan, kepedulian menjadi kewajiban, dan pengabdian tetap menjadi kebaikan tanpa berubah menjadi dominasi?”

Pertanyaan di atas sangat bagus diajukan oleh Chatgpt. Kemudian saya minta Claude untuk menjawabnya berikut.

Personal

Pada skala personal, kepekaan menjadi pengetahuan ketika ia diuji oleh tindakan, bukan berhenti di perasaan. Saya pernah merasa yakin sebuah metode mengajar tertentu akan berhasil; itu baru sekadar kepekaan. Ia menjadi pengetahuan setelah saya coba, ukur hasilnya pada siswa nyata, dan ternyata bertahan diulang berkali-kali. Tanpa pengujian itu, kepekaan personal gampang jadi keyakinan buta yang saya sangka kebenaran.

Kepedulian pada diri sendiri menjadi kewajiban dasar, bukan kemewahan. Orang yang terus mengabdi ke luar tanpa pernah peduli pada dirinya sendiri — istirahatnya, kesehatannya, batas kemampuannya — pada akhirnya kehabisan daya untuk mengabdi sama sekali. Kewajiban peduli diri ini sering diabaikan justru oleh orang yang paling rajin mengabdi.

Pengabdian pada diri sendiri berubah jadi dominasi ketika ia berbalik menjadi tirani terhadap diri sendiri: standar sempurna yang tak pernah cukup, kritik diri yang tak pernah reda, dorongan mengabdi yang justru menyiksa pelakunya sendiri. Di titik ini, “mengabdi” kehilangan syarat pentingnya yaitu kebaikan, karena yang didominasi adalah diri sendiri.

Interpersonal

Pada relasi antar pribadi, kepekaan menjadi pengetahuan hanya lewat konfirmasi, bukan tebakan. Merasa tahu apa yang dipikirkan pasangan, anak, atau sahabat tanpa pernah bertanya langsung — persis seperti kepekaan Bu Retno yang tidak berhenti menduga, melainkan mendekati anak-anak satu per satu untuk memastikan dugaannya benar. Tanpa konfirmasi itu, kepekaan interpersonal gampang jadi proyeksi, bukan pengetahuan tentang orang lain.

Kepedulian menjadi kewajiban ketika ada relasi peran yang mengikat: orang tua kepada anak, guru kepada murid. Di luar relasi peran itu — kepada kenalan atau orang asing — peduli tetap kebajikan yang mulia, tapi bukan kewajiban yang menuntut.

Pengabdian interpersonal berubah jadi dominasi ketika pihak yang mengabdi diam-diam mencegah pihak lain tumbuh mandiri. Orang tua yang terus-menerus mengurus anak yang sudah dewasa, atau pasangan yang “mengabdi” dengan cara mengendalikan setiap keputusan — keduanya memberi dengan tangan kanan, sambil merampas kemandirian dengan tangan kiri.

Sosial

Pada skala sosial, kepekaan menjadi pengetahuan hanya lewat mekanisme yang bisa diverifikasi publik: data terbuka, audit independen, bukan klaim sepihak pejabat bahwa “ekonomi baik-baik saja”. Sebagaimana disinggung di bagian 1, klaim pertumbuhan 5% atau kemiskinan di bawah 9% baru menjadi pengetahuan bila metodenya bisa diperiksa siapa saja, bukan sekadar diklaim dari atas podium.

Kepedulian menjadi kewajiban lewat mandat: konstitusi, hukum, jabatan yang dibayar rakyat. Inilah dasar argumen bagian 4.2 — pejabat wajib peduli karena posisinya, bukan karena kebaikan hatinya, sebagaimana perusahaan besar sebetulnya juga terikat kewajiban yang sama begitu produknya menguasai hajat hidup orang banyak.

Pengabdian sosial berubah jadi dominasi ketika ia menciptakan ketergantungan struktural jangka panjang: bantuan yang melumpuhkan kapasitas mandiri penerima, atau teknologi besar yang “melayani” penggunanya sambil mengunci mereka dalam ekosistem tertutup — persis sentralisasi ekstrem yang saya bahas di “AI Mengguncang Peradaban”. MBG sendiri berisiko masuk pola ini bila kelak dijalankan sebagai belas kasihan negara yang membuat penerima bergantung, bukan sebagai hak yang memberdayakan.


4.4 Ukuran

Wajar saja dari beragam batas-batas itu, kita mengembangkan ukuran, metrik, atau indikator. Banyak metrik yang bisa kita kembangkan. Saya mengusulkan daya tembus T dan daya tolak atau veto V. Bagaimana pun, interpretasi dari metrik ini jauh lebih penting dari sekadar tingkat presisi angka yang dihasilkan.

T = 1 / (N + B)

Daya tembus T dapat dimaknai sebagai kadar pengabdian. Cita ideal adalah mencapai T pada kisaran 20% sampai 25% bagi setiap warga. Bermakna bahwa pengabdian telah mengarah ke kebaikan ketika setiap warga yang memiliki komitmen akan mampu menerobos penghalang ketimpangan sosial (N) dan beragam barriers (B): aturan yang menghalangi; sempitnya celah yang ada; dan kerusakan jembatan emas menuju adil makmur. Anda bisa merujuk ke tulisan saya Daya Tembus untuk lebih lengkapnya.

Daya Tolak = Daya Veto = V = S + P

Setiap warga memiliki daya tolak V secara substansial S dan prosedural P. Daya tolak ini berkaitan dengan peka dan peduli. Hanya mereka yang peka dan peduli yang akan mampu menolak suatu tekanan. Tanpa peka, seseorang bahkan tidak mengetahui sedang ada masalah yang menekan; tanpa peduli, seseorang tidak akan melakukan penolakan. Angka daya tolak V yang tinggi menunjukkan peka dan peduli yang juga tinggi.

4.5 Mengapa Manusia?

Mengapa manusia yang harus peka, peduli, dan mengabdi? Mengapa bukan hewan lain yang harus melakukan itu? Mengapa bukan malaikat saja yang diutus oleh Tuhan untuk melakukan itu semua? Atau, pertanyaan sebaliknya, mengapa harus ada manusia di alam raya? Bukankah tanpa manusia di dunia justru tidak akan ada peperangan atau pun perusakan alam raya?

Bukan karena manusia itu istimewa.
Tetapi karena istimewa itu manusia.

Kita menghadapi pertanyaan sangat fondasional di tahap ini. Karena Anda peka dan peduli maka Anda perlu mempertimbangkan beragam jawaban yang bagus. Meski, mungkin saja setiap jawaban akan memicu pertanyaan lanjutan. Demikian juga, jawaban itu akan membantu umat manusia untuk mengabdi.

Manusia adalah posibilitas tanpa batas karena mendapat limpahan dari sumber posibilitas.

Kita lebih mudah membayangkan di jaman sekarang bahwa bom atom (bom nuklir) pernah menghancurkan di perang dunia; serta bisa menghancurkan seluruh bumi dan manusia lagi. Jaman Aristoteles dan Alexander Agung barangkali sulit membayangkan bagaimana manusia bisa menghancurkan dunia.

Arah sebaliknya juga bisa terjadi. Dengan energi nuklir, manusia bisa menyelamatkan bumi ketika energi matahari mulai meredup; dengan menyuntikkan energi nuklir ke matahari; meski baru ada di kisah fiksi; tetapi menjadi suatu posibilitas bagi umat manusia. Abad 21 ini, dengan perkembangan AI (artificial intelligence), manusia menjadi lebih berdaya lagi: untuk menghancurkan atau menyelamatkan dunia.

Jadi mengapa manusia? Karena manusia adalah yang menerima posibilitas tanpa batas dari sumber posibilitas.

Posibilitas itu menuntut tanggung jawab dari setiap manusia yang peka dan peduli. Berbeda dengan kepastian yang niscaya; ia tidak menuntut tanggung jawab. Berbeda juga dengan randomness yang acak; ia juga tidak menuntut tanggung jawab. Posibilitas adalah tanggung jawab. Karena Anda sudah membaca sampai sejauh ini, dan saya juga sudah menulis sejauh ini, maka Anda peka terhadap tanggung jawab manusia itu. Anda tidak bisa kembali seperti anak kecil yang tidak paham akan tanggung jawab; Anda tidak bisa bebal lagi. Anda terlanjur sudah peduli untuk menempuh jalan mengabdi. Selamat menjalani!

5. Ringkasan

Peka, peduli, dan mengabdi adalah satu paket utuh untuk memperbaiki diri dan memperbaiki situasi. Dengan peka dan peduli, kita mengenali masalah yang ada. Dengan mengabdi, kita mengembangkan solusi nyata bagi semua.

Tanpa peka atau peduli, kita gagal mengenali masalah yang ada; semua tampak baik-baik saja; padahal bertumpuk-tumpuk masalah di depan mata. Tanpa langkah nyata “mengabdi” maka peka dan peduli itu hanya menjadi derita. Bahkan berhasil menjadi juara kompetisi juga mudah menjadi jebakan bagai tak kasat mata.

Kita butuh secara utuh: peka, peduli, dan mengabdi.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar