Puncak Prestasi: Daya Tembus dan Daya Tolak

Keduanya sama penting untuk mencapai puncak prestasi Anda: daya tembus dan daya tolak. Dalam perjalanan hidup Anda, tampak, daya tembus terhadap semua penghalang adalah penentu sukses. Anda mampu menembus universitas idaman; Anda mampu menembus persaingan dunia kerja, persaingan CPNS, atau persaingan politik untuk menjadi pejabat.

Tetapi daya tolak lebih penting di tahap awal dan tahap akhir. Anda menolak mati kelaparan ketika bayi sehingga menangis keras untuk minta disusui. Anda menolak gratifikasi korupsi ketika berada di puncak jabatan. Sejatinya, keduanya memang seiring sejalan: daya tembus dan daya tolak.

1. Inspirasi Jokowi Gibran
2. Formula Daya Tembus – Daya Tolak
3. Diskusi

Kita akan belajar dengan mengambil inspirasi Jokowi-Gibran. Jokowi adalah orang yang memiliki daya tembus sangat besar pada akhirnya. Awalnya, ia anak orang miskin hidup di pinggiran sungai yang digusur. Kemudian ia berhasil menembus kuliah UGM sampai jadi presiden RI dua periode.

Tetapi di tahap akhir, Jokowi menunjukkan daya tolak yang lemah terhadap beberapa pilihan. Ia tidak menolak untuk dipilih menjadi presiden 3 periode; ia hanya sesuai konstitusi; jika konstitusi diubah mengijinkan 3 periode maka ia tidak menunjukkan mampu menolaknya. Kemudian, lebih jelas, ia gagal menolak Gibran untuk menjadi cawapres padahal usianya masih di bawah 40 tahun kala itu.

1. Inspirasi Jokowi Gibran

Anak muda perlu belajar meneladani Jokowi dalam daya tembus terhadap semua penghalang. Jokowi muda adalah teladan panarko (serba-pemimpin) yang sukses. Kemudian ia menghadapi tantangan osilasi panarko-kopanarko dan ancaman jatuh kembali ke arko (pemimpin dominan).

Tentu pada tahap awal Jokowi kecil memiliki daya tolak (hak veto V) yang kuat. Ia menolak terkurung di pinggiran kali; ia menolak terikat menjadi pegawai negeri sipil (PNS); ia menolak menjadi pengusaha biasa. Bersamaan dengan itu, ia memiliki daya tembus (T) yang sama kuat. Ia menembus tembok persaingan masuk UGM; ia mengenali celah sempit untuk lulus tes CPNS; ia berhasil membangun jembatan politik ke Megawati yang mengantarkan Jokowi jadi presiden RI dua periode.

Dalam perspektif inspirasi ini, Jokowi adalah teladan panarko yang mengembangkan daya tembus dan daya tolak sama kuat.

Tetapi Gibran putra Jokowi adalah berbeda. Gibran memang berhasil menjadi walikota Solo kemudian menjadi wakil presiden mendampingi Prabowo. Gibran tidak menunjukkan daya tembus yang tinggi karena ia sudah memiliki jalan yang terbuka lebar sebagai anak presiden tinggal melangkah. Ia juga tidak menunjukkan daya tolak yang tinggi; karena ia tidak menolak dicalonkan sebagai walikota Solo padahal ia sudah merintis wirausaha. Ia juga tidak menunjukkan daya tolak yang kuat ketika dipinang untuk jadi calon wapres dengan peraturan MK yang baru terbit bahkan tanpa penguatan DPR.

Daya tolak yang lemah juga terjadi kepada Jokowi tua. Agar Jokowi tua memiliki daya tolak yang kuat terhadap usulan presiden 3 periode maka ia bisa menyatakan: “Saya menolak untuk dicalonkan sebagai 3 periode. Andai konstitusi diubah sehingga mengijinkan; andai pimpinan partai mendukung; andai suara rakyat mendukung; saya tetap menolak untuk dicalonkan 3 periode.” Pernyataan seperti ini menunjukkan daya tolak yang sangat kuat.

Untuk kasus Gibran, presiden Jokowi juga bisa memiliki daya tolak yang kuat. “Saya menolak Gibran untuk dicalonkan sebagai walikota Solo; saya menolak Gibran untuk dicalonkan sebagai wakil presiden; meski konstitusi mengijinkan itu; meski para pimpinan partai meminang itu. Tetapi Gibran adalah manusia dewasa seutuhnya sehingga ia bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Saya menghormati setiap keputusan itu. Apa pun keputusan yang ia ambil, saya sebagai ayahnya menolak pencalonannya sebagai calon wakil presiden.”

Pembahasan kita tentang Jokowi Gibran adalah sekadar inspirasi untuk keperluan pedagogis; untuk memahami pentingnya konsep daya tembus dan daya tolak. Realitas dari Jokowi Gibran tentu lebih kompleks dan bernuansa. Sehingga wajar saja akan lebih banyak pro dan kontra. Konsep daya tembus dan daya tolak tetap valid sebagai konsep andai interpretasi kisah Jokowi Gibran berubah arah.

Orang sering mengira yang terpenting adalah daya tembus untuk meraih cita. Tetapi kita melihat bahwa daya tolak adalah sama pentingnya; apa lagi menolak godaan korupsi!

2. Formula Daya Tembus – Daya Tolak

Setiap orang, termasuk kita, membutuhkan daya tembus dan daya tolak yang sama-sama kuat.

Formula daya tembus adalah,

T = 1/(N + B)

Daya tolak adalah kemampuan menerapkan hak veto secara substansial (S) dan prosedural (P).

V = S + P

Makna Daya Tembus

Daya tembus adalah kemampuan menembus beragam penghalang: ketimpangan sosial ekonomi (N); tembok penghalang hukum mau pun tradisi (Bt); keterbatasan celah untuk meraih tujuan (Bc); kerusakan jembatan untuk mengantar sampai tujuan (Bj).

Makna Daya Tolak

Daya tolak adalah kemampuan membatalkan; atau menerapkan hak veto: secara substansial membatalkan suatu “kekuatan” dan secara prosedural tersedia jalur formal untuk membatalkan.

Daya tolak (hak veto V) adalah hakikat demokrasi. Ketika setiap warga memiliki daya tolak kuat maka demokrasi tegak berdiri; penindasan bisa ditolak; pembungkaman bisa ditolak; dan sogokan korupsi bisa ditolak.

Tetapi daya tembus (T) bisa menjadi kamuflase demokrasi; tipuan atas nama demokrasi. Lihatlah orang miskin, misal Jokowi, bisa jadi presiden RI. Lihatlah kulit hitam, misal Obama, bisa jadi presiden usa. Lihatlah Zuckerberg yang tidak lulus kuliah bisa kaya raya menjadi bos Meta Facebook. Contoh segelintir orang yang sukses seperti itu menjadi kamuflase belaka.

Sementara daya tolak bertanya: apakah Anda mampu menolak upah minimum yang tidak layak? apakah Anda bisa menolak gubernur yang tidak mengurus provinsi? apakah Anda bisa menolak syarat dan ketentuan dari penyedia jasa online?

Menguatkan Daya Tolak

Bagaimana cara menguatkan daya tolak bagi setiap warga?

Menguatkan daya tolak seiring sejalan dengan menguatkan daya tembus; dan sama artinya dengan menguatkan panarko bagi setiap warga. Puncak prestasi adalah ketika setiap warga berhasil menjadi panarko pada waktunya. Kemudian setiap panarko bekerja sama dengan panarko (serba-pemimpin) lain membentuk kopanarko. Terjadi osilasi panarko-kopanarko yang dinamis tanpa henti.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

3.1 Solusi Personal

Solusi mudah adalah bersifat personal. Setiap orang belajar dan berjuang menjadi panarko seperti Jokowi muda. Maka mereka akan meraih sukses. Solusi personal ini baru langkah awal karena kita membutuhkan solusi sosial politik sama kuatnya.

Ada banyak cara menjadi panarko; bisa jadi sangat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya: menolak pembatasan penjara pikiran; menyelesaikan pendidikan SMA sederajat dengan baik; mampu berkomunikasi dengan didukung nalar dan kecerdasan emosi; bertanggung jawab menemukan cara menerobos penghalang; komitmen kuat ke arah kebaikan; dan menolak godaan.

Namanya Ratna, anak seorang penjual gorengan di pinggir rel kereta Cikini. Sejak kecil ia sering mendengar tetangganya berbisik, “Anak penjual gorengan mah paling jadi buruh cuci juga.” Kalimat itu bisa saja menjadi penjara pikiran yang mengunci cita-citanya seumur hidup. Tetapi setiap malam, sambil membantu ibunya menggoreng pisang, Ratna diam-diam menghafal rumus matematika dari buku bekas yang dibelinya seharga dua ribu rupiah di lapak loak. Ia menolak untuk percaya bahwa nasibnya sudah ditentukan oleh alamat rumahnya.

Ketika teman-teman sebayanya berhenti sekolah untuk membantu orang tua penuh waktu, Ratna bersikeras menyelesaikan SMA meski harus berjalan kaki satu jam setiap pagi karena tak ada ongkos angkot.

Tamat SMA, Ratna melamar jadi pramuniaga di toko kosmetik dekat rumahnya. Suatu hari, atasannya menawarkan bonus besar jika ia bersedia menjual produk kedaluwarsa dengan mengganti label tanggalnya. Uang sebesar itu bisa membayar utang ibunya yang menumpuk karena gerobak gorengan rusak. Sesaat Ratna tergoda, tapi ia teringat wajah pelanggan setia yang mempercayai tokonya selama bertahun-tahun. Ia menolak tawaran itu dengan sopan, meski tahu risikonya bisa dipecat.

Kejujurannya justru sampai ke telinga pemilik toko yang lain, yang kemudian memberinya kesempatan mengelola cabang kecil — bukan karena ia pandai bicara meyakinkan, melainkan karena dalam setiap perundingan dengan pemasok yang sering meremehkan usia dan penampilannya, Ratna selalu tenang menjelaskan alasan di balik setiap keputusannya, tanpa perlu meninggikan suara atau merendahkan diri.

Bertahun-tahun kemudian, Ratna sudah punya tiga toko kosmetik sendiri. Ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal — setiap bulan ia menyisihkan sebagian keuntungan untuk membiayai sekolah anak-anak pedagang kaki lima di sekitar rel kereta tempat ia dulu tumbuh besar, termasuk membelikan buku-buku bekas yang dulu jadi satu-satunya jendela dunianya.

Ketika ditanya wartawan lokal apa rahasia suksesnya, Ratna hanya tersenyum dan berkata, “Saya cuma menolak untuk berhenti, dan menolak untuk menjadi curang.” Ia mungkin tidak pernah mendengar istilah panarko, tetapi setiap keputusan kecilnya — menolak label takdir, menyelesaikan sekolah, menolak uang haram, membangun kepercayaan lewat kejujuran, dan kini menebar kebaikan ke generasi berikutnya — adalah bukti hidup bahwa daya tembus dan daya tolak, ketika tumbuh bersamaan dalam satu jiwa sederhana, bisa mengubah nasib bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi orang-orang di sekelilingnya.

Mengapa Ratna bisa tetap gigih meski situasi sangat sulit? Kegigihan Ratna berakar dari satu momen kecil yang tidak sengaja terselip dalam ceritanya: setiap malam sambil membantu ibunya menggoreng pisang, ia mendengar sendiri suara napas ibunya yang makin berat karena asap arang bertahun-tahun, sementara tangan ibunya tetap cekatan membungkus gorengan demi menyekolahkannya. Bisikan tetangga bahwa “anak penjual gorengan paling jadi buruh cuci juga” bukan cuma menyakiti Ratna secara pribadi — ia merasa kalimat itu turut merendahkan seluruh pengorbanan ibunya, seolah kerja keras ibunya bertahun-tahun tidak akan pernah cukup mengubah apa pun. Justru dari situlah tumbuh tekadnya: bukan sekadar ingin sukses untuk dirinya sendiri, melainkan ingin membuktikan bahwa keringat ibunya di depan wajan panas itu bukan sia-sia.

Ada juga sisi yang lebih pribadi dan sunyi: Ratna tahu betul bahwa satu-satunya modal yang benar-benar ia miliki adalah waktu dan kemauannya sendiri — dua hal yang tidak bisa direbut siapa pun darinya, berbeda dengan uang atau koneksi yang memang tidak pernah ia punya.

Setiap kali lelah berjalan kaki satu jam ke sekolah, ia mengingatkan dirinya bahwa berhenti sekarang berarti mengembalikan dirinya ke titik yang sama seperti sebelum ia mulai berjuang — sementara maju setapak, sekecil apa pun, tetap sesuatu yang tidak bisa direbut kembali darinya. Kegigihan Ratna, dengan kata lain, bukan lahir dari optimisme naif bahwa segalanya akan mudah, melainkan dari kesadaran bahwa menyerah adalah satu-satunya pilihan yang benar-benar pasti membuatnya tetap di tempat yang sama. Kegigihan itu adalah anugerah.

3.2 Solusi Sosial

Lebih sulit tetapi harus ditempuh solusi sosial: membangun sistem demokrasi sejati. Demokrasi yang terbuka: menghormati seluruh manusia sebagai bermartabat sama tinggi antara pedagang, petani, pejabat, sopir, penyanyi, ustadz, orang miskin, orang kaya, orang pendidikan tinggi, orang tanpa pendidikan formal, dan semuanya.

Lebih dari itu, demokrasi membuka pintu bagi setiap orang untuk meraih sukses cita-cita mereka; keadilan sosial bagi seluruh warga. Orang yang berbuat baik maka didukung oleh sistem sosial. Orang yang berbuat buruk maka dicegah, dipersulit, atau dibantu untuk menghindarinya. Orang yang tidak beruntung misal korban kecelakaan, kebutuhan khusus, atau sudah tua maka mereka mendapat pertolongan dengan tetap menjaga martabat yang tinggi sebagai manusia seutuhnya.

Di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah, ada seorang bupati bernama Pak Slamet yang setiap Jumat pagi mengadakan “audiensi terbuka” di pendopo kabupaten. Bukan audiensi biasa yang hanya menerima tokoh-tokoh berdasi, melainkan benar-benar terbuka: tukang becak, buruh pabrik, pedagang pasar, hingga kernet angkot bisa duduk di kursi yang sama, berbicara dengan durasi yang sama, tanpa perlu melalui staf protokol berlapis-lapis.

Suatu hari, seorang pemulung tua bernama Mbah Karto datang mengeluhkan tempat pemulungan yang digusur tanpa ganti tempat. Alih-alih diusir petugas karena dianggap “bukan urusan penting”, Mbah Karto justru dipersilakan duduk di kursi paling depan, sejajar dengan direktur pabrik yang datang mengurus izin usaha di hari yang sama. Bagi Pak Slamet, martabat Mbah Karto sebagai warga tidak berkurang sedikit pun hanya karena pekerjaannya memulung sampah.

Sistem yang dibangun Pak Slamet tidak berhenti di simbol kesetaraan semata. Ia merancang agar setiap warga yang berbuat baik benar-benar merasakan dukungan nyata: pedagang kecil yang jujur membayar pajak mendapat akses kredit tanpa agunan rumit, sementara pejabat yang ketahuan menerima gratifikasi langsung diproses tanpa pandang bulu, termasuk keponakannya sendiri yang menjabat kepala dinas.

Ketika seorang buruh pabrik kehilangan kaki akibat kecelakaan kerja, pemerintah kabupaten tidak hanya memberi santunan sekali bayar lalu melupakannya, melainkan memastikan ia mendapat pelatihan keterampilan baru yang sesuai kondisinya, sehingga ia tetap bisa mencari nafkah dengan kepala tegak, bukan sekadar hidup dari belas kasihan yang merendahkan.

Bertahun-tahun kemudian, kabupaten itu tidak tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di provinsi, tetapi survei independen mencatatnya sebagai salah satu daerah dengan tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah paling tinggi. Ketika Pak Slamet ditanya mengapa ia repot-repot menerima siapa saja di pendoponya, ia hanya menjawab sederhana, “Kalau Mbah Karto saja saya persilakan duduk sejajar dengan direktur, warga lain yang lebih mampu bicara pasti akan lebih mudah percaya bahwa sistem ini memang bekerja untuk semua orang, bukan cuma orang yang berdasi.”

Solusi personal seperti Ratna bisa lahir di mana saja, kapan saja, karena kegigihan satu jiwa; sesuai kisah sebelumnya di atas. Tetapi solusi sosial seperti yang dibangun Pak Slamet membutuhkan sesuatu yang jauh lebih langka: kesediaan mereka yang berkuasa untuk membagi ruang duduk, ruang bicara, dan ruang keadilan itu sendiri kepada mereka yang selama ini terbiasa berdiri di pinggir.

Mengapa Pak Slamet bersedia melakukan itu semua? Pak Slamet dulu adalah anak kuli angkut pasar yang berkali-kali menyaksikan ayahnya pulang kecewa karena keluhannya tidak pernah sampai ke telinga yang berwenang — hanya berhenti di mandor yang berhak memutuskan sendiri mana suara yang layak didengar. Pengalaman itu menanamkan keyakinan bahwa martabat seseorang tidak boleh bergantung pada akses untuk didengar, sehingga ketika ia sendiri duduk sebagai bupati, ia memaknai kursi itu bukan sebagai hadiah untuk dinikmati sendiri, melainkan titipan untuk membuka pintu yang dulu tertutup rapat bagi orang seperti ayahnya.

Setiap kali datang godaan untuk menutup pintu itu kembali – proyek empuk dari pengusaha, saran protokol yang lebih ketat demi “wibawa jabatan” – ia cukup mengingat wajah ayahnya untuk tetap menolak itu, bukan karena ia sempurna tanpa godaan, melainkan karena ia tahu persis rasanya tidak pernah didengar. Komitmen untuk menolak godaan itu adalah anugerah.

3.3 Warisan Sejarah

Daron Acemoglu, peraih Nobel ekonomi 2024, membedakan negara gagal dengan negara sukses. Negara gagal adalah negara lintah darat (ekstraktif): kekuatan negara mengeruk keuntungan dari rakyatnya. Negara sukses adalah negara inklusif yang terbuka bagi setiap warga untuk meraih sukses.

Faktor sejarah panjang masa lalu berpengaruh besar apakah suatu negara menjadi lintah darat yang gagal mencapai adil makmur; ataukah menjadi inklusif yang mengantar setiap warga menjadi adil makmur. Sayangnya, Indonesia mewarisi sejarah panjang penjajahan kolonial di mana pemerintah kolonial adalah lintah darat yang memeras sumber daya rakyat sampai rakyat menderita. Akibatnya, Indonesia maka kini ada kecenderungan untuk menjadi lintah darat. Tentu, itu harus kita lawan.

Berbeda dengan sejarah Brunei misalnya. Brunei tidak pernah dijajah oleh kolonial. Meski Brunei pernah menjadi protektorat Inggris dan diduduki Jepang 1941 – 1945. Tetapi itu bukan penjajahan. Sehingga kesultanan Brunei, sejak ratusan tahun yang lalu berdiri, adalah untuk mengabdi kepada warga. Brunei saat ini menjadi negara adil makmur meski dalam sistem monarki absolut.

Indonesia perlu belajar dari Brunei dan dari banyak negara lain. Mengambil inspirasi dari Brunei bisa jadi kontroversial karena meski Brunei makmur banyak yang meragukan kebebasan demokrasi di sana. Tetapi, dari Brunei, kita bisa menyadari peran sangat penting dari sejarah.

Barangkali perbandingan yang lebih tepat adalah negara Bostwana dengan DR Kongo. Dua negara itu bertetangga di Afrika tetapi nasib rakyat mereka berbeda bagai bumi dan langit. Karena sejarah Bostwana berbeda dengan sejarah Kongo.

Sejarah Botswana justru sejak awal bercorak sangat berbeda dengan penjajahan brutal yang dialami Kongo. Ketika kekuatan kolonial Eropa mulai memasuki Afrika, para pemimpin suku Tswana justru berinisiatif meminta perlindungan Inggris agar tidak dicaplok oleh kerajaan-kerajaan tetangga yang lebih agresif, sehingga Botswana berstatus protektorat yang minim eksploitasi, bukan koloni yang dikeruk habis-habisan sumber dayanya. Struktur kelembagaan adat Tswana yang sudah lama menekankan musyawarah terbuka (kgotla) juga tetap dipertahankan dan justru diperkuat menjadi fondasi demokrasi modern setelah kemerdekaan tahun 1966.

Kontras total terjadi di Kongo: raja Leopold II dari Belgia menjadikan wilayah itu milik pribadinya, memaksa penduduk mengumpulkan karet dengan kekerasan luar biasa — memotong tangan siapa saja yang gagal memenuhi kuota — hingga jutaan nyawa melayang, dan pola ekstraktif itu tidak pernah benar-benar hilang bahkan setelah kemerdekaan, hanya berpindah tangan dari penjajah asing ke elite lokal yang mewarisi cara kerja yang sama.

Akibatnya, ketika Botswana menemukan berlian di tanahnya, kelembagaan yang sudah inklusif sejak awal memungkinkan kekayaan itu dikelola untuk membangun pendidikan dan infrastruktur bagi seluruh rakyat; sementara ketika Kongo menemukan kekayaan tambang serupa (bahkan lebih besar: kobalt, tembaga, emas), kelembagaan yang sejak awal ekstraktif justru menjadikan kekayaan itu sebagai bahan bakar perang saudara dan korupsi berkepanjangan, membuktikan bahwa bukan kekayaan alam yang menentukan nasib sebuah bangsa, melainkan warisan sejarah kelembagaan yang menaunginya sejak jauh sebelum kekayaan itu ditemukan.

Bagaimana dengan sejarah penjajahan kolonial di Indonesia? Apa yang bisa kita perbaiki demi Indonesia tercinta? Apa tanggung jawab seluruh warga negara?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar