Filsafat Teknologi Usia Dini

Anak-anak sudah akrab dengan teknologi sejak kanak-kanak. Mereka sudah main hp sejak dalam gendongan; mereka sudah terhubung dengan internet bahkan ketika belum pernah bertemu kakek atau neneknya.

Karena itu, kita perlu mengenalkan filsafat teknologi sejak usia dini.

Philosophy for Kids — Filsafat Teknologi (10 Pertanyaan)

Mengacu pada tulisan “Makna Filsafat Teknologi” (pamanapiq.com) — mengangkat gagasan Heidegger (enframing/poesis), Stiegler (farmakon), Derrida (organ memori), Ellul (masyarakat-teknik), dan diskusi etika AI di sekolah.


1. Ilustrasi: Kamu memakai kacamata untuk membaca buku. Setelah beberapa menit, kamu lupa bahwa kamu sedang memakai kacamata — rasanya seperti matamu sendiri yang melihat langsung. Tapi ketika kamu memakai jam tangan pintar yang terus memberi tahu berapa langkah dan detak jantungmu, kamu malah jadi lebih sadar akan tubuhmu sendiri, bukan lupa.

Apakah semua teknologi membuat kita lupa bahwa kita sedang menggunakannya, atau ada teknologi yang justru membuat kita semakin sadar?

a) Semua teknologi yang baik seharusnya membuat kita lupa bahwa itu ada, seperti kacamata
b) Ada teknologi yang memang dirancang untuk terus terlihat dan disadari, seperti jam pintar atau peta
c) Tergantung tujuannya — sebagian teknologi memang harus “menghilang”, sebagian harus tetap terasa
d) Aku tidak yakin ada aturan pasti tentang kapan teknologi seharusnya terasa dan kapan tidak

2. Ilustrasi: Seorang anak diberi kalkulator sejak TK dan tidak pernah belajar berhitung manual. Ia bisa menjawab soal matematika dengan sangat cepat, tapi ketika kalkulatornya rusak, ia bingung menghitung 7 tambah 8 dengan tangannya sendiri.

Apakah alat yang membuat sesuatu jadi mudah selalu merupakan hal yang baik bagi orang yang menggunakannya?

a) Ya, kemudahan selalu lebih baik — untuk apa bersusah payah kalau ada cara yang lebih cepat
b) Tidak, kemudahan yang datang terlalu cepat bisa membuat kemampuan asli kita malah melemah
c) Tergantung pada apa yang sedang dipelajari — sebagian hal butuh susah payah dulu, sebagian tidak
d) Aku yakin ada cara pasti menentukan kapan kemudahan itu membantu dan kapan justru melemahkan

3. Ilustrasi: Sebuah perusahaan AI mengatakan suatu hari nanti AI bisa menyatu dengan otak manusia sehingga kita menjadi jutaan kali lebih pintar. Seorang ilmuwan lain yang justru ikut menciptakan AI tersebut malah keluar dari perusahaannya dan mulai memperingatkan semua orang tentang bahaya besar dari AI yang ia bantu ciptakan sendiri.

Kalau orang yang paling paham tentang sebuah teknologi saja bisa berbeda pendapat — satu sangat optimis, satu sangat khawatir — kepada siapa sebaiknya kita lebih percaya?

a) Kepada yang optimis, karena merekalah yang berani membawa kemajuan bagi dunia
b) Kepada yang khawatir, karena mereka lebih berhati-hati dan memikirkan risikonya
c) Tidak kepada siapa pun sepenuhnya — lebih baik mendengar keduanya dan berpikir sendiri
d) Aku tidak yakin ada cara memutuskan siapa yang lebih benar di antara dua ahli yang sama-sama pintar

4. Ilustrasi: Dulu, kalau kamu ingin menonton video, kamu harus mencari-cari sendiri apa yang ingin kamu tonton. Sekarang, begitu satu video selesai, video berikutnya sudah otomatis muncul dan diputar tanpa kamu memilih apa pun — seolah aplikasi itu sudah tahu apa yang “kamu inginkan” sebelum kamu sendiri memikirkannya.

Jika sebuah aplikasi sudah memilihkan apa yang kita tonton berikutnya, apakah kita masih benar-benar “berimajinasi” dan memilih sendiri?
a) Ya, karena pada akhirnya akulah yang memutuskan untuk terus menonton atau berhenti
b) Tidak, karena kemampuan untuk membayangkan dan mencari sendiri itu perlahan tidak lagi kupakai
c) Sebagian masih milikku, sebagian sudah diambil alih oleh aplikasi itu
d) Aku tidak yakin bisa menyadari kapan tepatnya pilihanku berhenti menjadi pilihanku sendiri

5. Ilustrasi: Di sebuah desa, harga satu porsi nasi untuk membeli pulsa internet jauh lebih mahal dibanding di kota besar — warga desa harus bekerja lebih keras untuk bisa “online” dibanding orang kota, padahal keduanya sama-sama menggunakan aplikasi yang sama.

Apakah adil jika sebuah teknologi yang sama harganya terasa jauh lebih berat bagi sebagian orang dibanding orang lain?

a) Adil saja, karena harga ditentukan pasar dan setiap orang bebas memilih untuk membeli atau tidak
b) Tidak adil, karena teknologi seharusnya membantu semua orang secara setara, bukan membebani yang sudah kesulitan
c) Ini bukan soal adil atau tidak adil, tapi soal bagaimana caranya membuat harga menjadi lebih setara
d) Aku yakin ada cara untuk membuat sebuah teknologi benar-benar adil bagi semua orang

6. Ilustrasi: Kamu menulis semua jadwal, tugas, dan hal penting di ponselmu. Suatu hari ponselmu hilang, dan kamu sadar kamu tidak ingat lagi kapan ulangan matematika, nomor telepon sahabatmu, bahkan tanggal ulang tahun ibumu sendiri — semua “ingatan” itu ternyata bukan lagi ada di kepalamu, melainkan di dalam ponsel.

Jika ingatan kita banyak “dititipkan” pada teknologi, apakah itu membuat kita menjadi lebih pintar, atau justru lebih lemah?

a) Lebih pintar, karena otak kita jadi bebas dipakai untuk memikirkan hal lain yang lebih penting
b) Lebih lemah, karena kemampuan mengingat kita sendiri jadi jarang dilatih dan makin memudar
c) Bisa keduanya sekaligus — teknologi menolong sekaligus membuat kita bergantung
d) Aku tidak yakin bisa memastikan mana yang lebih besar: bantuannya atau kelemahan yang ditimbulkannya

7. Ilustrasi: Dulu orang menerangi rumah dengan lampu minyak, lalu berganti lampu listrik biasa, sekarang berganti lampu pintar yang bisa dinyalakan lewat suara. Suatu hari nanti, lampu pintar ini pun akan dianggap kuno dan digantikan teknologi lain yang belum pernah kita bayangkan.

Jika setiap teknologi pada akhirnya akan digantikan dan “mati”, apakah itu berarti kita tidak perlu terlalu terikat pada teknologi yang kita pakai sekarang?

a) Ya, karena semua teknologi bersifat sementara, jadi lebih baik tidak terlalu bergantung padanya
b) Tidak, karena selama masih dipakai, sebuah teknologi tetap penting bagi kehidupan kita saat ini
c) Kita tetap boleh memanfaatkannya penuh sekarang, sambil tetap sadar bahwa itu tidak akan abadi
d) Aku tidak yakin cara terbaik untuk bersikap terhadap sesuatu yang kita tahu pasti akan berakhir

8. Ilustrasi: Sebuah toko memasang kamera CCTV yang berhasil membuat pencuri urung mencuri karena takut terekam. Tapi di toko lain, rekaman CCTV yang sama malah dipakai oleh orang jahat untuk mengintai dan memeras pemilik toko.

Apakah baik-buruknya sebuah teknologi ditentukan oleh teknologi itu sendiri, atau oleh siapa yang menggunakannya?

a) Ditentukan oleh teknologinya sendiri — CCTV pada dasarnya baik karena mencegah kejahatan
b) Ditentukan sepenuhnya oleh orang yang memakainya — teknologi sendiri netral tanpa nilai baik-buruk
c) Ditentukan oleh keduanya — desain teknologi dan niat penggunanya sama-sama berpengaruh
d) Aku yakin bisa memisahkan dengan jelas mana pengaruh dari teknologinya dan mana dari penggunanya

9. Ilustrasi: Seorang guru berpikir apakah AI itu seperti secangkir kopi (menyegarkan, boleh dipakai bebas), seperti rokok (berbahaya, sebaiknya sangat dibatasi), atau seperti candu berbahaya lain (harus dilarang keras) — bagi murid-muridnya di sekolah.

Sebelum melarang atau mengizinkan sebuah teknologi baru untuk anak-anak, apa yang paling penting untuk dipikirkan lebih dulu?

a) Seberapa besar manfaatnya untuk belajar — kalau manfaatnya besar, risikonya bisa diabaikan
b) Seberapa besar risiko kecanduan atau bahayanya — kalau ada risiko besar, sebaiknya dilarang dulu
c) Menimbang manfaat dan risikonya bersama-sama, karena keduanya sama pentingnya untuk diperhatikan
d) Aku tidak yakin ada cara pasti untuk mengukur manfaat dan bahaya teknologi baru sebelum benar-benar mencobanya

10. Ilustrasi: Sebuah masyarakat mulai menilai semua orang dari seberapa “efisien” mereka — anak yang bermain dianggap membuang waktu, sementara anak yang terus belajar dan bekerja dianggap paling baik. Bahkan bercanda dengan keluarga mulai dianggap “tidak produktif”.

Jika sebuah masyarakat mulai menilai segala sesuatu hanya dari seberapa efisien dan cepat hasilnya, apa yang mungkin hilang dari kehidupan mereka?

a) Tidak banyak yang hilang — efisiensi justru membuat hidup lebih baik dan teratur
b) Hal-hal yang tidak bisa diukur seperti bercanda, persahabatan, dan waktu santai bisa perlahan hilang
c) Sebagian hilang, sebagian lagi tetap bisa dijaga asal masyarakat sadar dan sengaja menjaganya
d) Aku yakin masyarakat akan menyadari apa yang hilang ketika benar-benar sudah kehilangannya


Sepuluh soal ini menyentuh gagasan-gagasan kunci dari artikel: teknologi sebagai enframing vs poesis (#1), teknologi sebagai farmakon/obat-racun (#2, #6), perdebatan optimis-waspada-skeptis soal AI (#3), otonomi imajinasi (#4), keadilan akses teknologi (#5), fourfold/kefanaan teknologi (#7), etika utilitarianisme (#8), narasi “kopi-rokok-ganja” untuk AI di sekolah (#9), dan kritik masyarakat-teknik Ellul soal efisiensi (#10).

Philosophy for Kids — Fokus AI/LLM (5 Pertanyaan Lanjutan)

Melanjutkan seri filsafat teknologi, mengacu pada kritik Chomsky terhadap AI (statistik vs kreativitas), gagasan Simondon tentang individuasi, dan konsep “memori kolektif” dalam artikel.


11. Ilustrasi: Seorang ahli bahasa terkenal berkata bahwa AI seperti ChatGPT tidak pernah benar-benar berpikir kreatif — AI hanya menyusun kata berdasarkan pola statistik dari jutaan tulisan manusia yang pernah dibacanya, mirip seperti menjiplak secara tersembunyi, bukan benar-benar menciptakan sesuatu yang baru.

Jika AI menyusun jawabannya berdasarkan pola dari tulisan-tulisan yang sudah ada, apakah itu berarti AI tidak pernah benar-benar “berkreasi”, hanya meniru dengan cara yang rumit?

a) Ya, karena tanpa data dari manusia, AI tidak akan punya apa pun untuk disusun ulang
b) Tidak, karena manusia sendiri juga belajar dan berkreasi dengan meniru serta menggabungkan apa yang pernah dipelajari
c) Keduanya ada benarnya — meniru dan mencipta mungkin bukan dua hal yang benar-benar terpisah
d) Aku tidak yakin ada cara pasti membedakan “meniru dengan rumit” dari “benar-benar mencipta”

12. Ilustrasi: Seorang peraih hadiah Nobel di bidang ekonomi berpendapat bahwa AI itu sebenarnya “bodoh” karena tidak benar-benar memahami dunia, hanya menebak kata berikutnya yang paling mungkin muncul. Tapi banyak orang lain terpukau karena jawaban AI sering terdengar sangat cerdas dan meyakinkan.

Bisakah sesuatu terdengar sangat cerdas tanpa benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakannya?

a) Tidak bisa — kalau jawabannya terdengar cerdas dan benar, pasti ada pemahaman di baliknya
b) Bisa — menebak kata yang tepat berulang kali bisa terdengar meyakinkan tanpa ada pemahaman sungguhan
c) Bisa, tapi sulit dibedakan dari luar — kita hanya bisa menilai dari hasilnya, bukan dari “isi kepalanya”
d) Aku tidak yakin manusia sudah punya cara pasti untuk menguji apakah sesuatu benar-benar “memahami” atau tidak

13. Ilustrasi: Sebelum ChatGPT diciptakan, jutaan orang di seluruh dunia sudah menulis buku, artikel, dan diskusi di internet selama puluhan tahun — semua tulisan itulah yang kemudian dipakai untuk “mengajari” AI. Tapi begitu AI itu selesai dibuat, hanya satu perusahaan saja yang memilikinya dan bisa mengambil keuntungan besar darinya.

Jika sebuah AI dibangun dari jutaan tulisan milik banyak orang di seluruh dunia, apakah adil jika AI itu akhirnya hanya menjadi milik satu perusahaan saja?
a) Adil, karena perusahaan itulah yang mengeluarkan biaya dan usaha besar untuk membangun AI-nya
b) Tidak adil, karena tanpa tulisan-tulisan dari jutaan orang tadi, AI itu tidak akan pernah bisa ada
c) Sebagian adil — usaha perusahaan tetap berharga, tapi seharusnya ada cara berbagi manfaat kembali ke masyarakat
d) Aku yakin ada cara yang benar-benar adil untuk membagi kepemilikan sesuatu yang dibangun dari karya banyak orang

14. Ilustrasi: Kamu bertanya kepada AI tentang sebuah topik, dan ia menjawab dengan sangat yakin dan detail. Besoknya kamu bertanya hal yang mirip dengan cara berbeda, dan AI itu memberi jawaban yang agak bertentangan dengan jawaban sebelumnya — tapi sama-sama terdengar yakin dan meyakinkan.

Jika sesuatu bisa memberi dua jawaban yang saling bertentangan dengan tingkat keyakinan yang sama-sama tinggi, apa yang itu katakan tentang sifat “keyakinan” yang ditunjukkannya?

a) Itu menunjukkan bahwa keyakinannya hanya gaya bicara, bukan cerminan dari seberapa “benar” jawabannya
b) Itu wajar, karena manusia pun kadang berubah pendapat tergantung cara pertanyaan diajukan
c) Itu mengajarkan kita untuk tidak langsung percaya penuh hanya karena sesuatu terdengar yakin
d) Aku tidak yakin bisa menyimpulkan banyak dari satu contoh kejadian semacam ini saja

15. Ilustrasi: Seorang anak menggunakan AI untuk mengerjakan semua PR-nya, dari matematika sampai mengarang cerita, selama bertahun-tahun. Ia selalu mendapat nilai bagus, tapi ketika diminta menulis atau berhitung tanpa AI di depan kelas, ia merasa sangat kesulitan dan tidak yakin dengan kemampuannya sendiri.

Jika seseorang selalu terlihat “pintar” karena dibantu AI, tapi kesulitan ketika harus berpikir sendiri, apakah kepintaran itu benar-benar miliknya?

a) Tetap miliknya, karena ia yang memilih menggunakan AI dan tahu cara memakainya dengan baik
b) Bukan sepenuhnya miliknya, karena kemampuan berpikir sendiri itulah yang sebenarnya diukur sebagai “pintar”
c) Sebagian miliknya — kemampuan menggunakan alat juga sejenis keterampilan tersendiri
d) Aku yakin ada batas jelas antara “kepintaran sendiri” dan “kepintaran yang dibantu alat”


Lima soal ini mengangkat tema: kritik Chomsky soal AI dan kreativitas/plagiarisme tersembunyi (#11), kritik Acemoglu soal AI yang “bodoh” tapi terdengar meyakinkan (#12), keadilan kepemilikan atas memori kolektif yang dipakai melatih AI (#13), sifat “keyakinan” AI yang tidak stabil (#14), dan ketergantungan pada AI vs kemampuan asli (#15) — melengkapi diskusi utilitarianisme/deontologi/karakter dan narasi “kopi-rokok-ganja” dari lima soal sebelumnya.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar