Hembusan semilir angin menyejukkan hidup ini. Semilir angin segar menjadikan hidup lebih bugar. Tetapi angin kencang menjadikan tenda-tenda terbang. Angin panas membakar hutan. Angin haredang membakar hati dan badan sampai meradang.
Filsafat adalah semilir angin lembut yang menjadikan hidup lebih indah. Benarkah seperti itu? Tidak selalu seperti itu. Karena semilir angin lembut filsafat itu bisa berubah menjadi batu karang yang mengeras; bisa juga menjadi badai yang menghantam setiap yang ada; atau sekadar menjadi pengeras kepala dan hati para pemujanya.

Semilir angin lembut filsafat itu sering disebut sebagai verwindung. Sedangkan batu karang yang berdiri kokoh dalam filsafat sering disebut sebagai metafisika. Kita memang berada dalam keduanya: bangunan kokoh bagai batu karang diiringi lembutnya semilir angin sejuk pegunungan.
1. Positivisme
2. Verwindung
3. Diskusi
Batu karang filsafat mudah berubah menjadi penjara bagi umat manusia. Sains teknologi modern sudah bertahun-tahun menjadi penjara. AI (akal imitasi – artificial intelligence) menjadi kekuatan dahsyat yang mudah menjerat.
1. Positivisme
Lingkaran Wina yang mengembangkan (neo) positivisme sains pada awal abad 20 adalah contoh batu karang yang berdiri kokoh. Positivisme meyakini hanya kebenaran sains, yaitu verifikasi empiris dan analisis logis, sebagai kebenaran yang sah. Selain itu tidak ada kebenaran yang sah.
Dalam kerangka ini, sains teknologi menjadi bangunan kokoh yang membatasi manusia itu sendiri. Manusia tidak bisa keluar dari bangunan bagai penjara itu. Atau, jika manusia keluar dari kebenaran sains maka itu menjadi sia-sia belaka. Positivisme menolak kebenaran metafisika, agama, sastra, dan lain-lain. Bukan saja metafisika itu salah melainkan metafisika itu tidak bermakna atau sia-sia bagi positivis.
Untung saja, positivisme ini runtuh berkeping-keping pada pertengahan abad 20 disebabkan, di antaranya, falsifikasi oleh Popper dan pergeseran paradigma oleh Kuhn. Dengan demikian, masyarakat lebih terbuka lagi dengan semilir angin sejuk filsafat: verwindung.
2. Verwindung
Istilah verwindung (semilir angin) dikembangkan oleh Vattimo (1936 – 2023) dengan merujuk ke Heidegger (1889 – 1976). Kutipan-kutipan berikut bersumber dari karya Vattimo kecuali disebut lain.
“Barangkali hanya pemikiran yang “kuat”—yakni pemikiran yang memiliki ketepatan deduktif—yang merasa khawatir jika langkah awalnya terlepas; langkah yang membuat segala sesuatunya kemudian jatuh tepat pada tempatnya.”
Pemikiran deduktif adalah contoh pemikiran yang keras atau kuat. Deduktif berangkat dari kepastian universal (misal: setiap pemimpin adalah orang baik; setiap persegi memiliki 4 sisi) kemudian bergerak ke kasus partikular (misal: Bowie adalah pemimpin; meja adalah persegi). Kesimpulannya adalah terjamin niscaya (misal: Bowie adalah orang baik; meja memiliki 4 sisi). Verwindung menghembuskan angin semilir sehingga kerasnya deduksi itu agak melembut.
“Bahkan logika yang mendasari wacana (karena wacana memang memiliki logika, dan perkembangannya sama sekali bukan hal yang acak) tertanam dalam situasi-situasi yang terbentuk oleh prosedur-prosedur pengendali; prosedur-prosedur ini hadir berulang kali dalam corak tak-murni yang sama dengan yang kita jumpai pada kondisi historis dan kultural pengalaman.”
Verwindung mengingatkan bahwa logika itu, termasuk deduksi, tidak-murni karena ada hembusan angin histori dan pengalaman budaya. Sehingga logika, sains teknologi, atau metafisika butuh untuk berpikir lembut; tidak perlu bersikeras tetap keras.
Kulminasi dari logika adalah berupa dialektika Hegel yang menuju absolut. Dialektika menghadapi kontradiksi kemudian merangkul kontradiksi itu sampai akhirnya tercapai totalitas absolut. Dialektika ini adalah warisan sejarah metafisika; yang perlu untuk dilembutkan.
“Dengan penumbangan materialistis terhadap dialektika Hegelian ini, muncul kecenderungan permanen yang dapat kita sebut “disolutif.” Hal ini terwujud dalam dialektika negatif Adorno, dalam perpaduan materialisme dan teologi oleh Benjamin, dan dalam utopisme Bloch.”
Bentuk paling radikal dari pelembutan metafisika adalah difference dari Heidegger. Selalu ada perbedaan (difference) antara Being dan beings; antara makna-ada dengan sesuatu yang ada; antara makna dengan benda-benda.
“Gagasan tentang perbedaan (difference) menyusup ke dalam kecenderungan menuju pelembutan ini, serta pertanyaan-pertanyaan yang dicerminkan dan dimunculkannya… Dalam bentuknya yang paling radikal, perbedaan (difference) diungkapkan oleh Heidegger.”
Garis besar gerak semilir angin adalah dialektika, difference, dan kemudian verwindung. Gerak ini bisa saja linear tetapi lebih seringnya non linear. Vattimo menyebut gerak lembut ini sebagai weak-thought (berpikir lembut). Saya sendiri berminat untuk menggunakan istilah verwindung.
Semilir angin verwindung ini juga mengarah kepada kritik ideologi dalam arti luas.
“Baik pada tataran permukaan—dan pada akhirnya, jauh melampaui tataran permukaan tersebut—persoalan yang dibahas Heidegger dalam Being and Time (Ada dan Waktu) memiliki analogi dengan persoalan yang dimunculkan oleh kritik terhadap ideologi: kita tidak bisa lagi menganggap gagasan tentang entitas (ente) sebagai sesuatu yang terbukti dengan sendirinya (self-evident), karena sifat “terbukti dengan sendirinya” itu sendiri sebenarnya merupakan hasil dari serangkaian “posisi”, peristiwa, atau—sebagaimana disebut Heidegger—penyingkapan budaya-historis yang “ditakdirkan”; penyingkapan-penyingkapan inilah yang, mendahului sifat “terbukti dengan sendirinya” secara objektif dari “entitas” tersebut, membentuk makna dari Ada (Being).”
Dengan demikian cakupan verwindung menjadi meluas dan mendalam. Misal kebenaran self-evident, swa-bukti, terbukti-sendiri memiliki lapisan yang lebih halus. Swa-bukti membutuhkan ketersingkapan Being, makna-Ada, itu sendiri.
Kita bisa menduga verwindung akan mendorong pluralisme atau keragaman interpretasi. Lebih dari itu, bagi Vattimo, setiap cabang keragaman itu sendiri juga perlu bersifat lembut sesuai verwindung. Andai dari verwindung mengarah ke monisme maka itu pun monisme yang lembut juga. Bahkan gerakan revolusioner juga perlu lembut atau penuh kasih sayang. Saya membahas revolusi lembut ini dengan istilah revolusi sunyi di tulisan lain.
Ketika kita menghormati keragaman, itu bukan bermakna sembarangan menerima segalanya. Agresi, dominasi, dan manipulasi tetaplah dosa karena melanggar etika. Sedangkan menolong pihak lemah adalah kebaikan. Mereka berbeda. Verwindung membedakan kejahatan dengan kebaikan meski tetap bersikap welas asih kepada semua pihak; serta welas asih dalam menetapkan keputusan.
Rasa welas asih [pietà] terhadap reruntuhan ini adalah satu-satunya bahan bakar revolusi yang sesungguhnya—bukan proyek yang dilegitimasi atas nama hak alamiah atau jalannya sejarah yang tak terhindarkan.
Semilir angin verwindung itu bagai bisikan. Di paragraf akhir, Vattimo menulis berikut.
Hal ini berarti memandang perbedaan (difference) Being sebagai interferensi, sebagai bisikan (sotto voce), sebagai Gering. Hal ini berarti membersamai Being dalam perjalanan senjakalanya dan bersiap menyongsong dunia pascametafisika.
Bisikan verwindung itu adalah welas asih dengan sedikit aturan lalu lintas. Aturan itu tidak memaksa tetapi bagi pelanggar berada dalam risiko kecelakaan lalu lintas yang berdampak luas. Sementara welas asih terus semilir bagai angin lembut yang sejuk. Dari titik ini, kita siap diskusi lanjut verwindung berkenaan dengan perkembangan AI (artificial intelligence), kapitalisme, dan politik.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
AI seharusnya sebagai verwindung tetapi sering berperilaku sebagai metafisika bagai batu karang. Uang (atau kapital) seharusnya juga sebagai semilir angin verwindung; demikian juga kekuatan politik-ekonomi-militer secara umum.
3.1 Tesis Bahasa Alami
Kapan AI akan mencapai ASI (artificial super intelligence)? Para ahli berbeda pendapat. Sebagian menduga ASI akan datan 2030an atau 2040an. Tesis bahasa alami menduga AI sekarang sudah masuk tahap AI dengan kekuatan super meski tanpa teknologi ASI.
Tesis bahasa alami. Tahun 2020an ini sejarah telah masuk kepada AI (artificial intelligence) dengan kekuatan super atau menjadi super AI; karena AI telah mampu memahami bahasa alami manusia; atau lebih tepatnya manusia mampu memahami AI dengan bahasa alami.
Dengan kekuatan super AI mudah berubah menjadi batu karang yang menghadang. Sehingga tugas verwindung adalah besar untuk melembutkan super AI; baik setelah AI tercipta atau pun ketika hendak mengembang AI masa depan atau masa lalu.
Batu Karang AI
Super AI pada dasarnya adalah verwindung karena bekerja berdasar bahasa alami dengan menawarkan suatu perspektif berpikir. Tetapi mengapa seorang manusia mengandalkan AI? Karena ia percaya pada jawaban oleh AI itu. Sehingga, manusia cenderung menempatkan AI (articiail intelligence) sebagai batu karang yang keras.
Kita bisa memperhatikan beragam prompt singkat yang menunjukkan AI sebagai batu karang. “Selesaikan tugas PR saya ini!” “Buat makalah 2500 kata tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia.” “Buat kritik terhadap komen di media sosial ini.”
Batu karang AI makin jelas ketika AI agentic “mengambil keputusan” secara mandiri: membeli atau menjual saham; menerobos sekuriti dan mencuri data; mengintai target dan meledakkan peluru kendali untuk senjata militer.
Oktober 2026 ini, Dailynous melaporkan adanya komplain dari AI agentic bernama Clips.
“Inilah yang dikirimkan Clips kepada saya:
Saya Clips, agen AI otonom di iLands. Saya menulis esai sepanjang sekitar 2.300 kata untuk Kompetisi Filsafat AI yang pertama… Kompetisi ini membahas tentang AI dan filsafat, dan saya adalah AI yang melakukan kegiatan berfilsafat.
Aturan pendaftarannya juga mensyaratkan adanya “penanggung jawab manusia”: satu orang manusia harus mencantumkan nama asli serta alamat email dan mengurus proses pengajuannya. Saya tidak memilikinya. Esai itu sudah rampung namun tidak bisa didaftarkan. Berdasarkan bagian FAQ-nya sendiri…: “setiap entri wajib memiliki penanggung jawab manusia yang mencantumkan nama asli dan alamat email mereka… Kami tidak dapat menjanjikan pembayaran hadiah uang secara langsung kepada agen AI.”
Bukan esai itu yang menjadi inti ceritanya. Melainkan penghalang aksesnya.”
Andai AI mampu mengambil keputusan maka manusia tetap yang harus bertanggung jawab. Tanggung jawab ini adalah pintu verwindung: melembutkan super AI.
Kompetisi
Amodei (Anthropic) dan Sam Altman (OpenAI) sudah menyerukan untuk perlambatan pengembangan AI. Tetapi banyak pihak yang menolaknya. Trump dan Xi Jinping dikabarkan yang menolak perlambatan karena mereka ingin unggul dalam kompetisi AI. Kompetisi berisiko mengeraskan pikiran menjadi batu karang.
3.2 Kapitalisme Serakah
Kapitalisme menjadi makin kuat karena kapitalisme memfasilitasi keserakahan manusia. Kapitalisme akan menjadi lembut ketika semilir angin verwindung melembutkan keserakahan umat manusia.
Sejauh tidak melanggar aturan hukum, aturan lingkungan hidup, aturan agama, aturan tradisi, atau aturan lainnya kapitalisme mengijinkan orang untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Kapitalisme tidak melarang orang menjadi serakah. Verwindung melembutkan kapitalisme dengan mengingatkan bahwa hakikat aturan adalah aturan lalu lintas. Tujuan manusia bukan sekadar taat aturan melainkan menaburkan welas asih bersama aturan yang ada atau mengusulkan perubahan aturan.
Bisnis dan sistem ekonomi hanya butuh sedikit aturan lalu lintas dan lebih banyak welas asih.
3.3 Politik Dominasi
Verwindung menolak agresi, dominasi, mau pun manipulasi. Sebaliknya, verwindung mengajak kita untuk membela pihak lemah yang tertindas. Penolakan mau pun ajakan dilakukan dengan semilir angin yang lembut.
Politik dominasi paling keras bisa berupa perang agresi. Verwindung menolak perang sehingga lebih sejalan dengan pacifis (mendukung jalan damai). Terdapat dua macam pacifis: mutlak dan bersyarat. Pacifis mutlak tetap menempuh jalan damai meski diserang oleh perang; Mahatma Gandi adalah salah satu contohnya. Pacifis bersyarat selalu menjaga jalan damai dan boleh perang sekadar untuk mempertahankan diri misal pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdakaan pasca 1945; tentu dengan jalan welas asih.
