Habermas pemikir Jerman kelas dunia wafat Maret 2026 lalu di usia hampir satu abad. Karya teoritisnya mengagumkan dunia membentang hampir satu abad juga. Karya praktisnya memengaruhi publik juga sama luas. Tetapi ia bikin cemas karena, salah satunya, ia dinilai salah langkah dalam menyikapi Palestina-Israel.

Secara pribadi, saya terbantu oleh karya-karya Habermas. Ia sering berdebat dengan pemikir-pemikir kontemporer semisal dengan Lyotard, Derrida, atau Gadamer. Awalnya, saya sulit sekali memahami Lyotard; sebagai satu contoh. Setelah membaca Habermas yang berdebat lawan Lyotard maka saya terbantu untuk memahami Lyotard itu melalui kritik Habermas. Kemudian saya membaca ulang Lyotard menjadi lebih mudah untuk memahaminya.
1. Ruang Publik dan Komunikasi
2. Sejarah Bikin Cemas
3. Diskusi
Saya umumnya setuju dengan kritik dan diagnosis oleh Habermas tetapi saya sering tidak setuju dengan solusinya. Khusus untuk kritik Habermas muda kepada Heidegger saya tidak setuju. Saya menilai Habermas salah memahami maksud Heidegger kemudian ia mengkritik karikaturnya. Sementara analisisnya terhadap Marx sangat bagus.
1. Ruang Publik dan Komunikasi
Kontribusi utama Habermas adalah tentang pentingnya ruang publik dan tindakan komunikasi dalam kehidupan demokrasi.
2. Sejarah Bikin Cemas
Di usia sekitar 90 tahun, Habermas menulis tentang sejarah filosofi. Sebuah karya luar biasa dengan tebal sekitar 2000 halaman buku. Salah satu yang bikin cemas dari sejarah itu adalah ia tidak merasa bahwa Eropa telah berdosa di masa penjajahan terhadap Asia, Afrika, dan Amerika.
Kemudian lebih bikin cemas lagi adalah dukungan Habermas kepada Israel yang menyerang Palestina dengan dalih mempertahankan diri. Review di NDPR menulis dengan tegas sebagai berikut.
“Kesan tersebut semakin diperkuat secara signifikan oleh salah satu intervensi publik terakhirnya, yakni keputusannya untuk turut menandatangani pernyataan publik dari pusat penelitian Normative Orders di Universitas Frankfurt yang menyatakan solidaritas terhadap Israel pascaserangan Hamas pada 7 Oktober dan respons Israel yang mematikan serta bersifat genosidal.
Bahkan bagi banyak rekannya, pernyataan tersebut—yang tidak menunjukkan solidaritas terhadap korban sipil Palestina dan menegaskan bahwa “Terlepas dari segala keprihatinan terhadap nasib penduduk Palestina […] standar penilaian menjadi kacau balau ketika niat genosidal dituduhkan pada tindakan Israel” (sebuah pernyataan yang secara luas ditafsirkan sebagai dukungan terhadap serangan Israel yang terus berlanjut)—menimbulkan kontroversi.
Pada minggu-minggu dan bulan-bulan setelah wafatnya Habermas, berbagai serangan dari akademisi dengan beragam motivasi dan tingkat kompetensi melontarkan tuduhan terhadap Habermas atas sejumlah pelanggaran intelektual, termasuk keterlibatan dalam pembunuhan massal.”
Yang lebih mencemaskan, Habermas punya waktu lebih dari 2 tahun sebelum ia wafat untuk mempelajari banyak kritik terhadapnya, kemudian ia seharusnya bisa mengubah sikap kepada Palestina-Israel. Tetapi ia tidak berubah sikap.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Problem utama dari Habermas adalah ia terlalu percaya kepada rasionalitas, komunikasi, dan konsensus. Seharusnya, ia lebih menghormati bahwa setiap warga memiliki hak veto, untuk membatalkan suatu keputusan, secara substansial mau pun prosedural.
