Paul Ricoeur (1913 – 2005) terkenal dengan teori hermeneutika kecurigaan; interpretasi dengan curiga; hermeneutics of suspicion. Kesadaran manusia, termasuk kesadaran kita, perlu dicurigai karena ia sering berbohong; kesadaran itu menampilkan suatu makna tetapi menyembunyikan makna lain yang lebih penting.

Kita sadar uang itu penting tapi sebenarnya tidak terlalu penting; uang itu justru penyebab mala petaka. Kita sadar AI (akal imitasi – artificial intelligence) itu teknologi hebat tapi sebenarnya AI membuat pikiran manusia lumpuh. Kita sadar damai untuk Gaza (dan Palestina) itu indah tetapi perdamaian yang diusulkan justru menggusur warga Gaza Palestina. Kita perlu curiga terhadap kesadaran kita; bahkan curiga kepada kecurigaan itu sendiri.
1. Ekonomi Palsu
2. Kasih Sayang Palsu
3. Kesadaran Palsu
4. Sains Teknologi Palsu
5. Kemandirian Palsu
6. Diskusi
7. Gagasan Lanjut
Mari kita baca kutipan dari Ricoeur dalam Freud and Philosophy.
Freud memasuki persoalan kesadaran palsu melalui dua jalan, yaitu mimpi dan gejala neurotik; hipotesis kerjanya memiliki batas-batas yang sama dengan sudut serangnya, yang—sebagaimana akan kita jelaskan secara lengkap kemudian—merupakan suatu ekonomi dorongan-dorongan naluriah (economics of instincts).
Marx menyerang persoalan ideologi dari dalam batas-batas alienasi ekonomi, dalam pengertian ekonomi-politik.
Nietzsche, dengan berfokus pada persoalan “nilai”—yakni penilaian dan transvaluasi—mencari kunci bagi kebohongan dan topeng pada sisi “kekuatan” dan “kelemahan” kehendak untuk berkuasa.
1. Ekonomi Palsu
Kita sadar bekerja tiap hari untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tetapi itu kesadaran palsu. Justru karena Anda kerja maka kebutuhan ekonomi Anda tidak pernah terpenuhi. Mengapa?
Karena ada pihak lain, yaitu investor, kapitalis, dan penguasa, yang tidak perlu kerja tetapi mereka memperoleh uang lebih besar dari Anda yang bekerja. Hasil kerja Anda dihisap, disedot, diekstrak, oleh mereka. Kesadaran bahwa Anda harus kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi adalah kesadaran ekonomi palsu.
Apa kesadaran yang benar? Kerja adalah untuk berbagi kebaikan.
2. Kasih Sayang Palsu
3. Kesadaran Palsu
4. Sains Teknologi Palsu
Naomi Klein dalam End Time Fascism mengusulkan pembatasan kekayaan bagi super kaya.
Satu-satunya respons yang rasional adalah melucuti kekuatan mereka—dengan mengatur teknologi mereka secara ketat dan mendistribusikan kembali sebagian besar kekayaan yang mereka peroleh secara tidak wajar.
Dalam banyak hal, langkah-langkah ini pada dasarnya merupakan satu kesatuan. Di saat konsentrasi kekayaan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, revolusi kecerdasan buatan (AI) justru semakin mengalirkan sumber daya dalam jumlah besar ke puncak piramida ekonomi. Hal ini menambah urgensi untuk membatasi kekuasaan para miliarder; sebab jika tidak, kita akan segera menghadapi masalah yang jauh lebih besar: perlunya menindak para triliuner.
Setiap gerakan pelucutan kekuatan teknologi yang efektif harus dimulai dengan upaya membawa kembali “cloud” (komputasi awan) ke ranah nyata dan menyadarkan para pendukung akselerasi AI agar kembali berpijak pada kenyataan. AI adalah ciptaan manusia yang dapat—dan harus—berada di bawah pengawasan manusia. Sebagaimana kita ketahui, itulah yang diinginkan oleh sebagian besar masyarakat.
Delapan puluh persen warga Amerika mendukung langkah-langkah keamanan AI meskipun hal itu memperlambat laju pengembangan, dan hampir tidak ada orang yang memercayai kemampuan perusahaan teknologi untuk mengatur diri mereka sendiri. Inilah sebabnya gerakan moratorium pusat data kian menguat di Amerika Serikat maupun wilayah lain, serta mengapa aturan hukum yang mengendalikan AI mendapat dukungan luas, bahkan di kalangan kelompok konservatif.
5. Kemandirian Palsu
6. Diskusi
7. Gagasan Lanjut
