Habermas: Pemikir Dunia Berkelas Bikin Cemas

Habermas pemikir Jerman kelas dunia wafat Maret 2026 lalu di usia hampir satu abad. Karya teoritisnya mengagumkan dunia membentang hampir satu abad juga. Karya praktisnya memengaruhi publik juga sama luas. Tetapi ia bikin cemas karena, salah satunya, ia dinilai salah langkah dalam menyikapi Palestina-Israel.

Secara pribadi, saya terbantu oleh karya-karya Habermas. Ia sering berdebat dengan pemikir-pemikir kontemporer semisal dengan Lyotard, Derrida, atau Gadamer. Awalnya, saya sulit sekali memahami Lyotard; sebagai satu contoh. Setelah membaca Habermas yang berdebat lawan Lyotard maka saya terbantu untuk memahami Lyotard itu melalui kritik Habermas. Kemudian saya membaca ulang Lyotard menjadi lebih mudah untuk memahaminya.

1. Ruang Publik dan Komunikasi
2. Sejarah Bikin Cemas
3. Diskusi

Saya umumnya setuju dengan kritik dan diagnosis oleh Habermas tetapi saya sering tidak setuju dengan solusinya. Khusus untuk kritik Habermas muda kepada Heidegger saya tidak setuju. Saya menilai Habermas salah memahami maksud Heidegger kemudian ia mengkritik karikaturnya. Sementara analisisnya terhadap Marx sangat bagus.

1. Ruang Publik dan Komunikasi

Kontribusi utama Habermas adalah tentang pentingnya ruang publik dan tindakan komunikasi dalam kehidupan demokrasi. SEP menjelaskan tentang ruang publik sebagai berikut.

“Ruang publik adalah salah satu konsep Habermas yang paling terkenal, diperkenalkan dalam tesis habilitasinya, yang diterbitkan pada tahun 1962 dengan judul The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Borjuis Society. Ruang publik bukan milik negara, perekonomian, atau keluarga, melainkan tempat individu-individu berkumpul untuk berkomunikasi mengenai hal-hal yang menjadi perhatian umum.

Ini adalah tempat penggunaan akal sehat oleh masyarakat dan tempat terbentuknya “opini publik”. Transformasi Struktural adalah sejarah yang direkonstruksi naik turunnya ruang publik yang berfokus di Inggris, Perancis, dan Jerman dari awal era modern hingga pertengahan abad ke-20.”

Habermas memang sangat mahir dalam rekonstruksi sejarah misal tentang ruang publik itu. Awalnya, di jaman dahulu kala, tidak ada ruang publik; monarki atau raja berkuasa penuh. Kemudian sejarah bergerak, misal di Inggris, ruang publik adalah milik publik yaitu para bangsawan. Mereka berdiskusi menentukan masa depan negara bersama. Revolusi terus bergulir, sampai akhirnya, ruang publik adalah milik semua warga sebagai publik secara demokratis.

Dalam sistem demokrasi, setiap warga bebas bertanya, menjawab, dan berdebat di ruang publik secara rasional. Ide yang buruk ditolak atau diperbaiki sampai menemukan konsensus bagi seluruh warga. Misal kasus MBG (makan bergizi gratis) bisa dibahas di ruang publik secara terbuka. Bila MBG buruk maka dibatalkan. Bila MBG bagus bisa dilanjutkan. Argumen rasional mendapat posisi terhormat di ruang publik ini.

Demokrasi bukan urusan pemilu semisal pilihan presiden; bukan setelah presiden terpilih lalu bebas menggunakan mandat rakyat. Presiden justru bertanggung jawab menjamin perdebatan di ruang publik agar berjalan lancar. Hasil musyawarah di ruang publik itulah yang kemudian dijalankan oleh presiden; tentu melibatkan parlemen juga sesuai prosedur kelembagaan demokrasi. Dalam menjalankan program, presiden tetap membuka diskusi di ruang publik.

Agar berjalan secara efektif maka ruang publik membutuhkan kapasitas komunikasi dari setiap warga termasuk para pejabatnya. Tentang komunikasi, kita baca SEP lagi.

“Meskipun teori tindakan komunikatif dirancang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam teori sosial, Habermas juga memandangnya sebagai kontribusi terhadap teori makna (1984b: 604). Terdapat tiga pilar dalam teori ini:

Pilar pertama berasal dari Model Organon bahasa karya Karl Bühler, yang memandang bahasa sebagai entitas triadik dengan tiga fungsi yang masing-masing berkaitan dengan dunia objektif, pendengar, dan pembicara (atau orang ketiga, kedua, dan pertama): fungsi kognitif, fungsi imbauan, dan fungsi ekspresif.

Pilar kedua adalah teori tindak tutur, khususnya gagasan mengenai daya atau makna ilokusioner, yang dikembangkan oleh J. L. Austin dan John Searle.

Pilar ketiga adalah “semantik formal”—yakni teori makna yang didasarkan pada kondisi kebenaran—serta kritik “verifikasionis” Michael Dummett terhadap teori tersebut.”

Tiga pilar di atas menjadi fondasi teori komunikasi Habermas yang sangat kuat. Sayangnya, Habermas melewatkan perspektif amat penting dalam komunikasi misal dekonstruksi Derrida, horison hermeneutika Gadamer, dan rumah bahasa Heidegger. Padahal Habermas sudah berdebat keras dengan mereka kecuali Heidegger. Tampaknya, Heidegger tidak berminat debat dengan pemikir yang lebih muda 40 tahun, yaitu Habermas, dan pemikir muda itu salah memahami buku Being and Time karya Heidegger. Kita akan membahas konsekuensinya di bagian diskusi di bawah.

2. Sejarah Bikin Cemas

Di usia sekitar 90 tahun, Habermas menulis tentang sejarah filosofi. Sebuah karya luar biasa dengan tebal sekitar 2000 halaman buku. Salah satu yang bikin cemas dari sejarah itu adalah ia tidak merasa bahwa Eropa telah berdosa di masa penjajahan terhadap Asia, Afrika, dan Amerika.

Kemudian lebih bikin cemas lagi adalah dukungan Habermas kepada Israel yang menyerang Palestina dengan dalih mempertahankan diri. Review di NDPR menulis dengan tegas sebagai berikut.

“Kesan tersebut semakin diperkuat secara signifikan oleh salah satu intervensi publik terakhirnya, yakni keputusannya untuk turut menandatangani pernyataan publik dari pusat penelitian Normative Orders di Universitas Frankfurt yang menyatakan solidaritas terhadap Israel pascaserangan Hamas pada 7 Oktober dan respons Israel yang mematikan serta bersifat genosidal.

Bahkan bagi banyak rekannya, pernyataan tersebut—yang tidak menunjukkan solidaritas terhadap korban sipil Palestina dan menegaskan bahwa “Terlepas dari segala keprihatinan terhadap nasib penduduk Palestina […] standar penilaian menjadi kacau balau ketika niat genosidal dituduhkan pada tindakan Israel” (sebuah pernyataan yang secara luas ditafsirkan sebagai dukungan terhadap serangan Israel yang terus berlanjut)—menimbulkan kontroversi.

Pada minggu-minggu dan bulan-bulan setelah wafatnya Habermas, berbagai serangan dari akademisi dengan beragam motivasi dan tingkat kompetensi melontarkan tuduhan terhadap Habermas atas sejumlah pelanggaran intelektual, termasuk keterlibatan dalam pembunuhan massal.”

Yang lebih mencemaskan sebagai lanjutannya, Habermas punya waktu lebih dari 2 tahun sebelum ia wafat untuk mempelajari banyak kritik terhadapnya, kemudian ia seharusnya bisa mengubah sikap kepada Palestina-Israel. Tetapi ia tidak berubah sikap. Sangat disayangkan.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Problem utama dari Habermas adalah ia terlalu percaya kepada rasionalitas, komunikasi, dan konsensus. Seharusnya, ia lebih menghormati bahwa setiap warga memiliki hak veto, untuk membatalkan suatu keputusan, secara substansial mau pun prosedural. Kita, pada posisi ini, juga perlu untuk menghormati Habermas.

3.1 Rasionalitas

Rasionalitas memang penting. Kita sepakat itu. Hanya saja, kita tidak bijak bila memberi posisi rasionalitas yang terlalu tinggi dari seharusnya.

Dalam kajian internal sains, teknologi, dan matematika memang rasionalitas menjadi paling penting. Ketika kita meluaskan kajian sesuai konteks sejarah maka rasionalitas bukan lagi paling utama untuk sains, teknologi, mau pun matematika. Ada banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan secara serius.

Kembali ke rasionalitas, yang paling bersih, misal dalam matematika, adalah tidak tuntas seperti yang diduga. Teorema Godel, misalnya, menyatakan bahwa sistem formal matematika tidak mampu membuktikan bahwa dirinya konsisten; ia selalu tidak lengkap yaitu ada pernyataan (rasional) yang tidak bisa diputuskan sebagai benar atau salah.

Lebih jauh, CH (continuum hypothesis) tidak bisa diputuskan secara rasional sebagai benar atau salah dalam matematika. Godel membuktikan CH benar (yaitu konsisten dengan ZFC); Cohen membuktikan kebalikan CH yang benar (yaitu negasi CH konsisten terhadap ZFC melalui forcing). Akhirnya, CH adalah independen yaitu tidak bisa diputuskan secara rasional benar atau salah.

Rasionalitas memang sangat dekat dengan sistem formal terutama pragmatis formal menurut Habermas. SEP menyatakan sebagai berikut.

Bagi Habermas, rasionalitas tidaklah terletak pada penguasaan pengetahuan tertentu, melainkan pada “bagaimana subjek yang berbicara dan bertindak memperoleh serta menggunakan pengetahuan” (TCA, 1: 11). … Rekonstruksi Habermas berupaya mengartikulasikan struktur komunikasi yang invarian, sehingga dapat dikategorikan sebagai “pragmatik formal.”

Godel dan Cohen membahas sistem formal matematika. Habermas membahas pragmatis formal yang invarian. Sama-sama formal tetapi berbeda jenis obyek. Meski pun dengan metode tertentu mungkin saja bisa saling konversi apa lagi dengan kemajuan teknologi AI (artificial intelligence) semisal LLM. Konsekuensinya adalah sebagai berikut.

Gödel dan Cohen tidak mengatakan secara langsung bahwa rasionalitas terbatas. Mereka menunjukkan hasil-hasil matematis tertentu yang terbatas; sebagai sistem formal rasional. Dari hasil-hasil itu, kita menarik kesimpulan filosofis bahwa rasionalitas memang sangat terbatas.

Kemudian bila kita kembali ke sistem politik dan sejarah, yang tidak sebersih matematika, maka mengharapkan rasionalitas menjadi hakim tertinggi adalah absurd. Rasionalitas adalah penting tetapi tidak terlalu penting. Banyak hal lain yang lebih penting. Konflik Palestina – Israel, dominasi oleh kapitalis, dan pelindungan hak-hak warga lemah membutuhkan lebih dari sekadar rasionalitas.

Sekarang kita juga bisa berimajinasi: andai Habermas memahami bahwa dalam matematika saja rasionalitas tidak memadai menjadi hakim tertinggi maka pantaskah rasionalitas menjadi hakim tertinggi dalam sejarah politik? Kita berharap Habermas menjawab: tidak pantas rasionalitas sebagai hakim tertinggi; tetapi semua itu bisa dikomunikasikan. Tentu, kita setuju perlu komunikasi.

3.2 Komunikasi

Komunikasi juga sangat penting untuk kehidupan sosial, politik, dan bahkan personal. Kita juga setuju bahwa komunikasi adalah untuk saling memahami. Tetapi komunikasi lebih dari sekadar memahami simbol bahasa atau representasi. Komunikasi juga bermaksud untuk memahami situasi konkret, harapan tak terucap, trauma tak terbayangkan, dan sejarah panjang tak berkesudahan.

Pada titik ini kita perlu mengajak Habermas untuk merenungkan perspektif kunci dari dekonstruksi Derrida, hermeneutika Gadamer, dissensus Lyotard, dan rumah bahasa Heidegger. Tentu Habermas boleh tidak setuju dengan mereka. Tetapi sebaiknya, kita tidak salah paham terhadap mereka.

Dekonstruksi mengingatkan bahwa makna setiap bahasa, termasuk bahasa dalam komunikasi, bisa di-dekonstrukti tanpa henti. Akibatnya, tidak ada titik henti permanen. Karena titik henti itu bisa dikenai dekonstruksi setiap saat. Kita mengambil sikap dalam komunikasi, misal sepakat untuk konsensus atau sepakat untuk tidak sepakat, adalah sikap hormat yang bisa kita pegang meski tidak permanen.

Hermeneutika menunjukkan bahwa dalam komunikasi perlu terjadi fusi horison, penyatuan cakrawala, dari banyak pihak. Horison ini di antaranya meliputi situasi, pengalaman, konteks, budaya, tradisi, dan sejarah. Dengan demikian, komunikasi tidak pernah steril hanya rasional belaka; komunikasi melibatkan cakrawala yang lebih luas. Komunikasi rasional hanyalah salah satu perspektif komunikasi yang penting; bukan satu-satunya.

Habermas telah merespon Derrida mau pun Gadamer. Jadi pembahasan kita di atas, tentu saja, bisa dibantah oleh Habermas secara rasional. Kemudian, kita bisa dekonstruksi bantahan oleh Habermas itu; atau melakukan interpretasi hermeneutik terhadap bantahan itu. Bila demikian, proses ini justru menunjukkan proses dekonstruksi atau hermeneutika itu sendiri.

Apakah dengan demikian tidak akan bisa dicapai konsensus? Dalam banyak hal, misal untuk pengaturan lalu lintas, kita bisa mencapai konsensus. Dalam kasus lainnya, kita perlu mencermati konsensus lebih hati-hati.

3.3 Konsensus

Situasi ideal untuk mencapai konsensus tidak selalu terpenuhi maka dissensus adalah pilihan awal untuk saling menghormati. Bahkan menguatkan hak veto bagi setiap warga menjadi landasan utama untuk hidup bersama. Hak veto sebagai hakikat demokrasi sudah saya bahas di tulisan yang lain, silakan merujuknya. Hak veto ini yang bisa menjadi solusi merespon situasi demokrasi yang cemas.

Debat paling tajam barangkali adalah Habermas mendukung konsensus meski melalui proses yang kompleks; sedangkan Lyotard mendukung dissensus terutama melalui kajian language game dari Wittgenstein yang selalu menunjukkan ada difference (perbedaan).

Menurut Lyotard, language game dari warga berbahasa Inggris (misal Kanada atau Inggris) berbeda dengan language game warga Aborigin (misal suku asli Kanada atau Papua). Konsekuensinya, meski bahasa Inggris bisa diterjemahkan ke bahasa Aborigin, atau sebaliknya, tetapi selalu ada difference itu. Hasil terjemahan selalu menyisakan perbedaan dengan bahasa asli. Menuntut agar terjadi konsensus antara bahasa Inggris dan bahasa Aborigin adalah sulit terjadi kecuali melalui dominasi. Sehingga posisi awal yang perlu diterima adalah dissensus, menghormati keragaman, dan menghormati perbedaan. Konsensus hanya terjadi pada situasi khusus belaka.

Tentu, Habermas sudah membantah argumen Lyotard yang panjang lebar. Habermas tetap mendukung konsensus; Lyotard tetap mendukung dissensus. Terbukti telah terjadi dissensus bahkan hanya melibatkan dua pemikir itu saja. Andai Habermas bisa mengalah kemudian setuju dengan Lyotard maka tercapai konsensus: yaitu mereka sepakat yang utama adalah dissensus. Tetapi kenyataannya mereka tidak sepakat sehingga memang dissensus. Kita bisa menduga bahwa language game Habermas berbeda dengan Lyotard.

Diskusi sejauh ini menyediakan bahan bagi kita untuk menyusun tesis pragmatik formal.

Tesis pragmatik formal. Pada analisis akhir, pragmatik formal bisa dikonversi ke sistem formal. Sehingga ia menghadapi teorema ketidak-lengkapan, independensi, atau yang sejenisnya.

Ada dua skenario untuk tesis di atas: (a) optimis; (b) tidak optimis. Skenario optimis menerima tesis pragmatik formal. Konsekuensinya, pragmatik formal menghadapi problem ketidak-lengkapan (Godel). Problem ini menunjukkan adanya semacam residu yang membuka posibilitas disensus, diperlukan intepretasi hermeneutik, dan dekonstruksi terus-menerus.

Skenario tidak optimis menyatakan bahwa tesis itu tidak terjadi; atau pragmatik formal tidak pernah selesai dikonversi ke sistem formal. Hal ini menunjukkan adanya residu di pragmatik formal yang membuka posibilitas dissensus, hermeneutika, dan dekonstruksi.

Dengan demikian, pragmatik formal itu lebih kaya dari dugaan awal secara umum. Wajar bila ia membuat cemas. Hal ini menuntut kita untuk merumuskan beragam posibilitas solusi yang kita bahas di atas. Melangkah lebih jauh, saya mengusulkan penguatkan hak veto bagi seluruh warga adalah menjadi hakikat demokrasi. Penguatan ini bisa melalui bildung, penguatan budaya pendidikan, dan melalui struktur politik misal dengan membangun MKK (mahkamah konstitusi kota) yang saya bahas di tulisan lain.

Diskusi kita di atas hanya membahas bagian kecil dari pemikiran besar Habermas. Tentu masih banyak ide cemerlang dari Habermas yang tidak kita bahas yang terbentang sekitar satu abad itu. Orang bisa mengatakan bahwa Habermas lebih bernuansa. Kita setuju itu. Bahkan Habermas menerima falibilisme bahwa setiap klaim selalu bisa saja salah sehingga terbuka untuk revisi. Pandangan seperti itu bisa kita terima. Bagaimana pun, dari pemikiran yang bernuansa itu kita juga bisa membuat kesimpulan tegas meski falibilis.

Akhirnya, diskusi kita menunjukkan bahwa kita tidak bermaksud “Bersama Habermas Menolak Habermas” tetapi kita mengakui kontribusi Habermas dan menguatkannya; dengan cara memperkaya perspektif yang saling terjalin.

Pengayaan gagasan Habermas ini makin penting di masa kini. Sejak awal 2000an, media sosial mulai memenuhi ruang publik. Akibatnya, menjadi sangat sulit untuk secara bertanggung jawab mencapai konsensus, komunikasi bermakna, mau pun berpikir rasional. Lebih-lebih sejak 2020an, AI (artificial intelligence) telah memenuhi beragam ruang publik sehingga sulit membedakan tulisan manusia atau mesin. Makin meluas rasa cemas maka makin besar kebutuhan untuk pengayaan gagasan-gagasan Habermas.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar