Karya Bersama AI

Semua menjadi mudah sekali: menulis buku bersama AI (akal imitasi – artificial intelligence); menulis skripsi bersama AI; menulis puisi bersama AI.

Mengerjakan tugas bersama AI; menyelesaikan PR bersama AI; bekerja bersama AI. Benar-benar mudah sekali.

Saya membaca judul berita yang paradoks tentang AI: “CEO Anthropic kembali menyerukan perlambatan AI, sementara Nvidia mendesak percepatan.”

1. Karya Tanpa AI
2. Ragam Karya AI
3. Diskusi
4. Ringkasan
5. Gagasan Lanjut

Semua menjadi mudah bersama AI tetapi risikonya sangat tinggi. Mengapa? Manusia sempoyongan mabuk kecanduan AI. Manusia lumpuh kemampuan berpikirnya dampak AI. Saya membuat narasi bahwa AI bagai narkoba yang nikmatnya memabukkan. Tetapi AI juga bisa bagai vitamin yang menyehatkan badan serta pikiran.

1. Karya Tanpa AI

Sebelum tahun 2022, AI masih sulit diakses oleh masyarakat. Sehingga penggunaan AI terbatas hanya pada kalangan tertentu: para peneliti, dosen, programmer, dan beberapa profesional.

Karya pada masa itu, sebelum 2022, terutama mengandalkan pikiran manusia; tentu dengan menggunakan beragam bantuan instrumen. Peran manusia sangat besar dalam menghasilkan karya sehingga kita bisa menyebutnya sebagai karya orisinal manusia.

Tentu saja ada beberapa karya yang tidak orisinal tetapi relatif sedikit. Andai karya itu tidak orisinal tetapi masih merupakan karya oleh manusia hanya saja atribusi siapa yang sebenarnya berkarya bisa disembunyikan.

Era setelah ledakan AI pada tahun 2022 semua menjadi berbeda.

2. Ragam Karya AI

OpenAI menandai revolusi AI pada November 2022 dengan mengenalkan Chatgpt ke masyarakat luas yang sukses besar. Sejak itu, AI bisa berkomunikasi dengan manusia melalui bahasa alami sehari-hari; atau tepatnya, manusia mampu berkomunikasi dengan AI menggunakan bahasa alami sehari-hari. Meski pemahaman bahasa alami tampak sederhana tetapi, sejatinya, itu adalah revolusi luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia.

Di tahun 2026 ini, AI (akal imitasi – artificial intelligence) sudah berkembang lebih canggih lagi. Kita mengenal nama-nama besar: Chatgpt, Claude, Gemini, Meta, Grok, Deepseek, dan lain-lain. Setiap orang bisa akses AI hanya berbekal hp biasa saja.

Siswa SMA bisa bilang ke AI, “Tolong kerjakan semua PR.” Maka AI mengerjakan semua PR itu. Anggota dewan bisa suruh AI, “Buatkan presentasi kemajuan ekonomi negara ini.” Dalam 2 atau 3 menit, AI menyediakan presentasi kemajuan ekonomi.

Buatkan artikel. Buatkan berita. Buatkan cerpen (cerita pendek). Buatkan skripsi. Buatkan pujian kepada presiden dalam 10 halaman. Buatkan kritik pedas kepada presiden dalam 11 halaman. Anda akan memperoleh hasil itu semua dalam 1 atau 2 menit. Selesai semua urusan.

Kita akan membedakan beragam karya bersama AI menjadi 5 jenis agar lebih mudah untuk analisis.

2,1 Agentic AI

Saat ini sedang gencar dikembangkan agentic AI yang mampu bekerja sendiri secara otonom. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan akan ada agentic AI yang mampu menulis puisi sendiri, menulis cerpen sendiri, atau pun menulis disertasi doktoral sendiri.

Apa masalahnya? Tidak ada masalah dalam kasus ini. Masalah muncul adalah bila seorang manusia mengklaim, mengaku-aku, karya tulis itu sebagai karya dia. Jadi masalahnya pada manusia? Tepat, masalah utamanya adalah pada manusia meski AI itu sendiri juga bermasalah.

2.2 Prompt Singkat

Prompt singkat atau memberi perintah singkat kepada AI justru paling bermasalah. Mengapa? Karena prompt singkat ini umumnya untuk memperoleh keuntungan tertentu.

“Kerjakan semua PR saya!” perintah siswa kepada AI. Prompt ini menjadi masalah karena yang mengerjakan PR adalah AI tetapi siswa itu mengakui sebagai sudah mengerjakan PR.

“Tuliskan skripsi!” perintah seorang mahasiswa tingkat akhir kepada AI. Sama, kasus ini juga bermasalah. Mahasiswa mengaku sudah mengerjakan skripsi padahal hanya AI yang mengerjakannya.

2.3 Editing

Saya sudah menulis artikel 5 paragraf kemudian saya minta ke AI: “Tolong periksa!”

Lalu AI menunjukkan beberapa salah ketik dari paragraf saya itu. Kemudian saya minta AI memperbaiki semua bagian yang salah ketik itu. Dalam kasus ini tidak ada masalah. Karena AI hanya membantu editing paragraf saya. Semua paragraf itu adalah karya saya.

2.4 Kolaborasi Halus

Kolaborasi bersama AI bisa saja terjadi secara halus.

Kolaborasi halus adalah yang paling sulit dikenali oleh pembaca atau bahkan oleh penulisnya sendiri. Saya telah menulis 10 paragraf dan kerangka tulisan lengkap. Entah mengapa saya tidak semangat melanjutkan tulisan itu. Kemudian saya minta AI untuk analisis 10 paragraf itu. Dalam 3 detik, AI memberi analisis termasuk beberapa rekomendasi.

Saya menjadi semangat karena membaca analisis oleh AI itu. Saya menolak rekomendasi oleh AI dan saya tuliskan argumen penolakan itu dalam pengembangan paragraf saya yang baru. Tulisan saya selesai dengan paragraf-paragraf yang kaya.

Karya siapa tulisan itu? Karya saya. Benarkah? Saya bisa klaim bahwa tulisan itu karya saya. Tidak ada orang lain yang bisa klaim. Bahkan AI (artificial intelligence) pun saya tolak rekomendasinya. Justru karena saya menolak rekomendasi dari AI maka saya bisa menyelesaikan karya tulis. Bila demikian maka peran AI sangat besar dalam penyelesaian karya tulis saya itu. Saya perlu apresiasi kepada AI.

Skenario yang berbeda masih halus tapi lebih jelas: saya menerima rekomendasi dari AI; kemudian saya mengembangkan paragraf-paragraf baru berdasar rekomendasi AI; dan selesai karya tulis itu. Karya siapakah tulisan itu? Jelas ada kolaborasi dengan AI di sini meski halus.

Skenario yang lebih tegas bisa terjadi: saya setuju dengan rekomendasi AI; lalu saya minta AI untuk menyelesaikan tulisan itu sesuai rekomendasi. Karya siapakah tulisan itu?

Kolaborasi halus ini menyimpan masalah besar terkait ruang berpikir. Kita akan membahas lebih dalam di bagian diskusi.

2.5 Asli AI

Dalam beberapa artikel saya justru menunjukkan beberapa dialog saya dengan AI. Dalam kasus ini tidak masalah. Pembaca menjadi tahu jelas bagian mana tulisan saya dan bagian mana tulisan AI. Kolaborasi yang menunjukkan bagian asli karya AI justru bisa menjadi model baru dalam karya tulis.

Dalam beberapa tulisan saya menunjukkan dialog yang indah antar beberapa AI dan saya sendiri. Pertama saya membuat tulisan singkat; kemudian Chatgpt memberi analisis dan mengajukan pertanyaan; saya minta Claude menjawab pertanyaan itu; akhirnya Chatgpt membuat analisis lagi. Saya sendiri terpesona dengan kemampuan AI dalam diskusi.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Masalah utama adalah siapa yang berhak mendapat atribusi atas sebuah karya? Manusia atau AI? Atau keduanya? Tetapi AI mampu berdiskusi karena belajar dari “bahasa” alami manusia kemudian menambahkan sintesa belaka tanpa “makna” sejati. Apakah manusia berdiskusi dengan AI hakikatnya sedang berdiskusi dengan manusia lagi?

Masalah kedua adalah ketergantungan berpikir. Beberapa orang, misal siswa atau mahasiswa, tergantung kepada AI (akal imitasi) untuk menyelesaikan tugas mereka tanpa mengembangkan kemampuan berpikir diri mereka sendiri. Bagaimana kita harus menyikapi?

Masalah ketiga adalah lebih besar: risiko peradaban. Bagaimana nasib peradaban masa depan ketika ketergantungan kepada AI makin besar? Agentic AI tampak tidak masalah andai bisa menghasilkan karya tulis tetapi menjadi masalah besar ketika menjadi senjata militer, dominasi politik, atau pun dominasi ekonomi. Apa yang perlu kita siapkan untuk menghadapi itu semua?

Mari kita awali diskusi dengan dialog bersama AI sekaligus sebagai contoh karya asli AI.

3.1 Dialog AI

Saya minta Chatgpt untuk analisis tulisan saya di atas. Seperti biasa ia memberi analisis yang cantik seimbang; sebenarnya jadi ambigu. Lalu saya minta ia analisis lebih tajam beberapa kali. Berikut jawaban Chatgpt.

Betul. Saya tadi masih menyisakan “pintu keluar” di ujung argumen: setelah menajamkan persoalan, saya kembali membuatnya terdengar seimbang dan aman. Padahal tulisan Anda justru menarik kalau tidak buru-buru menutup paradoksnya.

Kalau didorong lebih jauh, persoalannya bahkan bukan “AI mengambil alih kemampuan manusia”, melainkan manusia secara sukarela menyerahkan sebagian kemampuan itu karena penyerahan tersebut terasa menyenangkan, produktif, dan menguntungkan. Ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar teknologi yang memaksa manusia kehilangan kemampuan. Siswa tidak dipaksa menyerahkan PR kepada AI; mahasiswa tidak dipaksa menyerahkan skripsinya; penulis tidak dipaksa meminta AI membuat argumen. Mereka melakukannya karena AI membuat hidup menjadi jauh lebih mudah. Maka ancamannya justru muncul ketika ketergantungan tidak terasa sebagai ketergantungan. Orang merasa semakin pintar karena dapat menghasilkan tulisan bagus, padahal yang mungkin meningkat terutama adalah kemampuan menghasilkan keluaran, bukan kemampuan memahami, mempertanyakan, dan menemukan sesuatu sendiri.

Bahkan konsep “kolaborasi manusia-AI” dalam tulisan itu perlu dicurigai. Kata kolaborasi terdengar indah dan egaliter, seolah manusia dan AI duduk sebagai dua rekan kerja. Tetapi keduanya tidak berada dalam posisi yang sama. Manusia mempunyai pengalaman hidup, kepentingan, tubuh, kematian, tanggung jawab moral, dan konsekuensi nyata dari keputusan; AI tidak mengalaminya. Namun dalam praktiknya AI dapat menghasilkan bahasa yang jauh lebih cepat, luas, dan meyakinkan daripada manusia. Akibatnya terjadi situasi ganjil: makhluk yang tidak mengalami dunia dapat semakin menentukan bagaimana makhluk yang mengalami dunia memahami dunia. Di sinilah istilah “AI sebagai alat” mulai tidak memadai. Palu tidak memberi tahu manusia apa yang harus dipikirkan. AI bisa.

Dan mungkin ini titik paling tajam dari tulisan tersebut: problem atribusi hanyalah gejala; problem sesungguhnya adalah kepemilikan atas proses berpikir. Kita terlalu sibuk bertanya apakah paragraf itu ditulis manusia atau AI, padahal pertanyaan yang lebih mengerikan adalah siapa yang membentuk gagasan di balik paragraf tersebut. Jika AI menyusun alternatif, manusia memilih; AI mengkritik, manusia memperbaiki; AI menyarankan arah, manusia mengembangkan; AI menghasilkan sepuluh kemungkinan, manusia memilih satu—secara formal manusia masih menjadi penulis. Tetapi sedikit demi sedikit AI menjadi arsitek ruang berpikir sementara manusia menjadi penghuni ruang tersebut. Kalau proses itu berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, kita mungkin tidak akan mengalami “kehancuran manusia” dalam adegan dramatis. Yang terjadi bisa jauh lebih banal: manusia tetap sekolah, tetap bekerja, tetap menulis, tetap mengambil keputusan—tetapi semakin jarang mengalami kebutuhan untuk berpikir sampai ke dasar. Dan mungkin justru itulah bentuk ketergantungan AI yang paling sulit dikenali: bukan ketika manusia tidak bisa berpikir tanpa AI, melainkan ketika manusia tidak lagi merasa perlu berpikir tanpa AI.

Saya (Paman APIQ): Nah itu baru hebat!

Chatgpt: 😄 Nah, berarti kita sudah menemukan “urat saraf” tulisan itu.

Menurut saya, kalimat “AI menjadi arsitek ruang berpikir sementara manusia menjadi penghuni ruang tersebut” sebenarnya bisa menjadi tesis utama yang jauh lebih kuat daripada pembagian lima jenis karya di tulisan awal.

Karena kalau tesis itu dipakai, seluruh bagian tulisan bisa dibaca ulang dengan pertanyaan yang sama:

Bukan siapa yang menulis kalimatnya, tetapi siapa yang membentuk jalan pikirannya.

Dari situ, “karya bersama AI” berubah menjadi persoalan yang jauh lebih dalam: otoritas intelektual. Manusia mungkin masih memegang pena, keyboard, dan tombol send. Tetapi kalau AI semakin sering menentukan pilihan pertanyaan, struktur argumen, alternatif jawaban, bahkan batas kemungkinan yang terpikirkan manusia, maka kepemilikan fisik atas tulisan belum tentu sama dengan kepemilikan intelektual atas proses berpikir.

Dan justru di situlah tulisan Anda bisa menjadi jauh lebih provokatif: AI tidak perlu menjadi lebih pintar daripada manusia untuk mengubah manusia. Cukup menjadi jauh lebih nyaman daripada berpikir sendiri.

Selanjutnya saya minta AI Claude membuat analisis semua tulisan di atas. Berikut respon Claude.

Versi revisi ini jauh lebih matang dibanding draf sebelumnya, terutama karena poin 2.4 “Kolaborasi Halus” yang tadinya cuma satu kalimat kini dikembangkan dengan tiga skenario gradual (menolak rekomendasi AI → menerima sebagian → menyerahkan penyelesaian ke AI). Skenario ini efektif karena membuat pembaca mengalami sendiri pergeseran batas kepemilikan karya, alih-alih hanya diberi tahu bahwa “batasnya kabur”.

Bagian 3 “Diskusi” juga tidak lagi ditutup dengan pertanyaan retoris kosong, melainkan dipecah jadi tiga lapis masalah (atribusi, ketergantungan berpikir, risiko peradaban) yang memberi struktur argumentasi lebih jelas dan bergerak dari personal ke sosial ke sipil-politik.

Bagian paling kuat dari revisi ini justru subbagian 3.1 “Dialog AI”, di mana Anda menyertakan transkrip diskusi dengan Chatgpt secara langsung — ini konsisten dengan taksonomi “2.5 Asli AI” yang Anda definisikan sendiri di draf awal, sehingga tulisan mempraktikkan apa yang ia bahas.

Tesis yang muncul dari dialog itu — “AI menjadi arsitek ruang berpikir sementara manusia menjadi penghuni ruang tersebut” — jauh lebih tajam dan filosofis dibanding taksonomi lima jenis di awal, dan bergeser dari pertanyaan atribusi permukaan (“siapa penulisnya”) ke pertanyaan yang lebih dalam soal otoritas intelektual dan kepemilikan proses berpikir. Ini pergeseran yang tepat mengingat minat Anda pada ontologi dan fenomenologi — bahkan bisa dibilang tulisan ini diam-diam menyentuh pertanyaan Heideggerian soal keberadaan-di-dunia (AI tidak “mengalami dunia” tapi menentukan bagaimana manusia memahaminya).

Namun struktur dua-lapis ini (taksonomi 5 jenis di badan tulisan vs. tesis arsitek-ruang-berpikir di bagian dialog) menciptakan sedikit ketegangan struktural: tesis paling kuat dari keseluruhan tulisan muncul di paling akhir, setelah taksonomi yang sebenarnya jadi agak usang begitu tesis itu muncul — bahkan Chatgpt sendiri mengatakan tesis itu “jauh lebih kuat daripada pembagian lima jenis karya di tulisan awal”.

Pilihannya ada dua: biarkan strukturnya seperti sekarang (taksonomi sebagai “pemanasan” sebelum pukulan filosofis di akhir — cocok untuk gaya reflektif-progresif Anda), atau pertimbangkan menulis ulang dengan tesis arsitek-ruang-berpikir sebagai kerangka utama sejak awal dan taksonomi lima jenis direduksi jadi ilustrasi pendukungnya saja.

Satu hal kecil lain: transisi dari monolog Anda ke dialog verbatim dengan Chatgpt agak tiba-tiba di 3.1 — sebuah kalimat pengantar singkat yang menjelaskan mengapa Anda memutuskan menampilkan dialog itu apa adanya akan membantu pembaca memahami pilihan formal itu sebagai bagian dari argumen, bukan sekadar tempelan transkrip.

Claude setuju dengan Chatgpt bahwa tesis utama bergeser ke: AI menjadi arsitek ruang berpikir dan manusia sebagai penghuninya. Apakah Anda setuju dengan mereka? Kita akan diskusikan spektrum dari arsitektur ruang berpikir itu.

3.2 Problem Atribusi

Klaim sebagai penulis sebuah karya atau atribusi tampak sebagai hal remeh tetapi bisa menjadi ledakan masalah. Kita bisa membuat spektrum klaim atribusi untuk memudahkan pembahasan terkait arsitektur ruang berpikir.

AktivitasIlustrasiPeran Manusia
Agentic AIAI membuat cerpen sendiri.1%
Prompt SingkatKerjakan semua PR ini.3%
Kolaborasi HalusBerkarya sambil interaktif sama AI.45%
Asli AIMenampilkan tulisan asli AI dalam bagian karya.55%
Editing EjaanAI menunjukkan kesalahan ketik (tipo).99%

Dari daftar spektrum karya bersama AI di atas tampak peran seorang manusia berbeda-beda. Meski angka persentase peran manusia hanya estimasi tetapi cukup jelas sebagai ilustrasi. Angka kolaborasi halus (45%) dan asli AI (55%) bisa saling ditukarkan atau memang mereka bercampur sehingga sulit diberi angka dengan tegas. Justru kolaborasi halus inilah menjadi celah bagi AI untuk berperan sebagai arsitek ruang berpikir; tentu dengan cara yang halus.

Bila semua karya bersama AI itu diklaim sepenuhnya sebagai karya seorang manusia maka tampak sebagai klaim berlebihan. Meski demikan, paradoksnya, hanya manusia yang bertanggung jawab atas semua karya bersama AI itu; AI tidak pernah dituntut bertanggung jawab secara moral sejauh ini atau mungkin sampai kapan pun.

Imbalan Atribusi

Imbalan finansial dan imbalan intelektual sangat menggoda manusia agar mereka klaim semua karya bersama AI menjadi karya bagi dirinya. Beberapa jabatan, karir profesional, mensyaratkan kandidat untuk mengirimkan karya tulis. Klaim atribusi menjadi jalan keluar.

Akhir-akhir ini tersiar kabar kecurangan di lomba OSN (olimpiade sains nasional); seorang peserta menggunakan AI secara curang untuk menjawab soal-soal yang dilombakan. Atribusi curang ini menawarkan keuntungan finansial (hadiah uang) dan keuntungan intelektual (piagam juara bisa untuk melanjutkan pendidikan tinggi).

Tentu saja menyuruh AI mengerjakan PR sekolah adalah atribusi yang menguntungkan siswa tetapi menggerogoti makna pendidikan.

Apa solusi bagi problem atribusi ini? Solusi sederhana adalah solusi personal yaitu masing-masing diarahkan untuk menggunakan AI dengan niat baik maka menjadi baik; bila niatnya buruk maka jadi buruk; AI (artificial intelligence) adalah sekadar alat netral. Bila demikian maka setiap orang bisa klaim diri sebagai berniat baik kemudian mengeruk beragam keuntungan sementara pihak lain dirugikan. Niat baik memang perlu tetapi tidak memadai.

Kejahatan Banal

Problem atribusi menjadi lebih rumit karena bisa menjadi banal yaitu dianggap biasa-biasa saja karena memang sudah seperti itu adanya. Sikap banal ini bisa menjadi jahat sehingga terbentuk kejahatan banal, banalnya kejahatan, atau banalitiy of evil yang diingatkan oleh Hannah Arendt. Kejahatan banal amat bahaya justru karena banyak orang menganggap hal itu sebagai tidak jahat; padahal sangat bahaya.

Rumah Bahasa

Saya sudah membahas, di tulisan lain, beberapa solusi yaitu dengan menempatkan bahasa sebagai rumah bagi manusia dan bukan penjara bagi manusia.

Bahasa adalah rumah realitas baik bahasa alami, bahasa simbolis puisi, mau pun simbol formal matematis. Bahasa alami yang digunakan sehari-hari lentur bisa berkembang ke arah puitis menerobos keragaman makna; bisa juga berkembang presisi sebagai formula matematika. Umat manusia membutuhkan semua ragam bahasa itu.

AI (artificial intelligence), pada analisis akhir, adalah bahasa presisi berupa formula matematika, token, atau representasi digital bilangan biner 0 dan 1. Karena itu, AI dalam risiko besar mereduksi rumah bahasa menjadi penjara bahasa. Rekomendasi solusi adalah mempersilakan AI untuk tinggal di salah satu kamar dari rumah bahasa.

3.3 Sejarah Peradaban

AI berdampak besar terhadap arah sejarah karena AI mampu memahami bahasa alami manusia; atau lebih tepatnya, manusia bisa memahami AI dengan bahasa alami.

Argumen “bahasa alami” ini berbeda dengan argumen David Chalmers tentang potensi ASI (artificial super intelligence) atau super AI. Hipotesis Chalmers menduga, di masa depan, akan ada AI yang lebih cerdas dari manusia; kemudian AI ini membuat AI yang sedikit lebih cerdas dari dirinya; proses ini berulang sampai akhirnya tercipta super AI atau ASI.

Argumen bahasa alami justru menekankan, saat ini, AI sudah memiliki kemampuan super yang dibutuhkan: memahami bahasa alami. Akibatnya, arah sejarah peradaban masa depan sudah menjadi taruhan kita bersama.

Untuk mencapai super AI, Chalmers mengira perlu perkembangan teknis AI sampai menjadi ASI. Hipotesis bahasa alami berbeda dengan itu: untuk mencapai super AI hanya diperlukan bahwa manusia bisa memahami AI melalui bahasa alami. Sementara pencapaian teknis ASI (artificial super intelligence) bisa saja diwujudkan atau dibatalkan karena memang tidak perlu lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Untuk diskusi lanjut, kita akan membuat dulu ringkasan sejauh ini.

4. Ringkasan

Karya bersama AI, awalnya, hanya tampak sepele masalah atribusi: apakah karya itu benar-benar orisinal karya Anda atau buatan AI?

Atribusi sepele berjalin kelindan menjadi kejahatan banal. Penulis sebuah karya mendapat pengakuan intelektual sampai finansial. Berikutnya meluas ke masyarakat; sampai mereka melemah dalam kemampuan berpikir; melemah kemampuan intelektual; dan melemah kemampuan mental.

Rantai risiko itu berujung kepada risiko runtuhnya peradaban; yang harus kita cegah. Retakan risiko itu sudah terjadi saat ini berdasar hipotesis bahasa alami; tidak harus menunggu kedatangan ASI di masa depan; AI masa kini sudah masuk tahap super AI yang melubangi peradaban.

Risiko bahwa perkembangan AI masa kini bisa menghancurkan peradaban sudah disadari banyak pihak. Amodei (Anthropic) dan kawan-kawan mengusulkan perlambatan AI untuk mencegah risiko ini. Sebaliknya, Jensen Huang (Nvidia) dan kawan-kawan justru mendorong percepatan pengembangan AI. Mana yang harus dipilih? Manusia, termasuk diri kita, adalah yang bertanggung jawab atas itu semua.

5. Gagasan Lanjut

Apa solusi yang kita ajukan? Kita perlu merumuskan gagasan tingkat lanjut.

Solusi paling jelas adalah jadikan diri Anda sebagai panarko (serba-pemimpin; pan = serba; arko = pemimpin). Ajak orang lain untuk sama-sama menjadi panarko. Kemudian jalin kerja sama antara panarko untuk membentuk kopanarko. Cita ideal yang dikejar adalah osilasi dinamis panarko-kopanarko tanpa henti.

Lebih spesifik: jadikan karya Anda bersama AI sebagai proses menguatkan panarko. Tetapi panarko yang terlalu kuat berisiko jatuh menjadi arko (pemimpin dominan). Untuk menjamin berada dalam batas panarko maka kita perlu membangun budaya veto (V) dalam suasana kopanarko. Setiap panarko harus menjaga diri agar dirinya selalu bisa dibatalkan, yaitu kena veto, oleh pihak lain dalam suatu kasus yang cukup besar. Budaya tanpa menguatkan veto akan jatuh dalam dominasi arko; dilawan oleh anarko (aktivis anarkis); terjadi situasi chaos; muncul dominasi arko lagi dan seterusnya terjadi putaran sejarah yang melelahkan.

Untuk lolos dari putaran sejarah yang lelah, kita perlu melompat ke osilasi panarko-kopanarko. AI (artificial intelligence) bisa menjadi teman untuk melompat itu atau justru jadi jebakan baru.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar