Siapa nakhoda perahu negara Indonesia? Presiden Prabowo? Orang tertentu di balik presiden?

Pertanyaan lebih penting: siapa pemiliki perahu negara Indonesia itu? Lebih penting pemiliknya karena nakhoda wajib mengikuti arahan pemilik perahu. Seperti sopir mobil yang mengendalikan mobil bisa bebas belok kiri atau kanan tetapi sopir harus menurut arah yang ditentukan oleh pemilik mobil. Bila pemilik menyuruh ke arah Jakarta maka sopir harus mengarahkan mobil ke Jakarta; bila pemilik menyuruh ke Surabaya maka sopir harus menurut ke arah Surabaya.
Pemilik perahu Indonesia adalah kita semua, seluruh warga Indonesia, serta warga tetangga. Sehingga siapa pun nakhodanya, presiden Prabowo, atau penggantinya, atau orang yang tersembunyi maka harus menurut kepada warga Indonesia.
1. Perahu Fichte
2. Buku Belanda
3. Diskusi
Lebih dalam lagi, perahu Indonesia itu bukan milik kita saja. Indonesia adalah milik generasi masa depan anak cucu tetangga mau pun generasi masa lalu sepanjang sejarah.
1. Perahu Fichte
Kisah tentang perahu Indonesia itu mengingatkan kita tentang perahu Fichte (tahun 1800). Fichte mengisahkan perahu Belanda yang bermuatan penuh rempah-rempah dari tanam paksa di wilayah penjajahan Indonesia.
Untuk kemudahan mari kita susun ulang kisah perahu ini dengan bahasa yang mudah dipahami abad 21.
Belanda memiliki 5 armada perahu berisi rempah-rempah berkualitas dari Indonesia untuk dijual ke Eropa. Pembeli dari Eropa sudah siap membeli rempah 1 trilyun rupiah untuk tiap perahu; total 5 trilyun. Untung besar bagi Belanda.
Tetapi Belanda ingin untung lebih besar lagi. Rempah 5 perahu atau 5 kapal itu memang cukup untuk Eropa. Warga Eropa merasa senang. Penguasa dan pengusaha Belanda terpikir untuk memperbesar untung dengan membuang rempah-rempah 2 kapal ke tengah laut. Tersisa 3 kapal yang tidak cukup untuk kebutuhan Eropa. Negara-negara Eropa menjadi berebut untuk mendapatkan rempah-rempah dari kapat yang tersisa.
Belanda menaikkan harga rempah 1 kapal menjadi 2 trilyun rupiah. Karena persediaan memang tidak cukup maka pembeli Eropa bersedia bahkan berebut adu cepat. Total Belanda mendapat uang 2 trilyun kali 3 perahu menjadi 6 trilyun; lebih besar dari 5 perahu semula yang hanya 5 trilyun.
Masuk akal dari pandangan bisnis kan?
Terbayang begitu canggih cara berpikir penjajah Belanda di tahun 1800. Betapa sulit para pejuang Indonesia menghadapi penjajahan yang cerdik atau licik seperti itu. Fichte sendiri adalah pemikir Jerman yang merumuskan suatu gagasan untuk menciptakan perdamaian dunia. Ia merespon pemikiran seniornya yaitu Imanuel Kant dan menjadi inspirasi bagi yuniornya: Hegel dan Scheelling.
Argumen Fichte adalah perdagangan tidak cukup untuk menjaga perdamaian dunia. Ia mencontohkan kapal Belanda itu. Ia berpikir menemukan solusi yang lebih dari sekadar perdagangan. Lebih lengkap pandangan Fichte adalah berikut.
“Maka, di samping kecenderungan bermusuhan yang memang telah dimiliki semua negara terhadap semua negara lain karena batas-batas wilayah mereka, muncul pula kecenderungan baru yang berkaitan dengan kepentingan perdagangan; dan terjadilah suatu perang dagang rahasia yang bersifat umum. Kepentingan untuk memperoleh keuntungan sendiri kini disertai kepentingan untuk menyebabkan kerugian bagi pihak lain: kadang-kadang orang bahkan merasa puas dapat memenuhi kepentingan terakhir itu tanpa memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri, dan dengan demikian menimbulkan kerugian murni.
Demikianlah orang-orang Belanda mencabut semua tanaman rempah di luar pulau-pulau yang telah ditentukan untuk penanamannya, dan membakar sebagian rempah yang telah dipanen; sebagaimana dalam perang orang membakar gudang-gudang persediaan yang tidak dapat mereka bawa untuk digunakan sendiri.”
Kapal atau perahu Belanda itu bermuatan rempah-rempah orang Indonesia sehingga bisa juga disebut sebagai perahu Indonesia. Perahu Indonesia itu, sayangnya, kini sudah retak. Emha dan Franky menuangkan dalam syair lagu terkenal: Perahu Retak.
Perahu neg’riku, perahu bangsaku
Menyusuri gelombang
Semangat rakyatku, kibar benderaku
Menyeruak lautanLangit membentang, cakrawala di depan
Melambaikan tantanganDi atas tanahku, dari dalam airku
Tumbuh kebahagiaan
Di sawah kampungku, di jalan kotaku
Terbit kesejaht’raanTapi ku heran, di tengah perjalanan
Muncullah ketimpanganAku heran, aku heran
Yang salah dipertahankan
Aku heran, aku heran
Yang benar disingkirkanPerahu neg’riku, perahu bangsaku
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batuTanah Pertiwi, anugerah Ilahi
Jangan ambil sendiri
Tanah Pertiwi, anugerah Ilahi
Jangan makan sendiriAku heran, aku heran
Satu kenyang, seribu kelaparan
Aku heran, aku heran
Keserakahan diagungkanAku heran, aku heran
Yang salah dipertahankan
Aku heran, aku heran
Yang benar disingkirkan
Tugas kita sebagai pemilik perahu Indonesia sangat besar: memilih nakhoda yang tepat atau menggantinya, mengarahkan nakhoda, menambal perahu retak, menjaga perahu agar tidak menabrak batu, dan menjaga perahu agar tetap melaju.
2. Buku Belanda
Belanda memang luar biasa untuk urusan perahu, rempah, dan bahkan pembukuan. Sehingga terkenal Argumen Buku Belanda atau Dutch Book Argument.
Kesimpulan dari Dutch Book Argument (DBA) dasar adalah bahwa derajat keyakinan, atau credences, yang diberikan oleh seorang agen terhadap anggota-anggota suatu himpunan X yang terdiri dari proposisi—atau, dalam beberapa konteks, pernyataan atau kalimat—seharusnya memenuhi aksioma-aksioma probabilitas.
DBA itu sendiri berangkat dari apa yang disebut teorema Dutch Book, yang membahas kondisi-kondisi di mana sekumpulan taruhan menjamin kerugian bersih bagi salah satu pihak, atau menghasilkan apa yang disebut Dutch Book. (SEP).
DBA ini semacam pembukuan akuntasi yang sesuai dengan semua aturan mau pun aksioma. Tetapi hasilnya, pihak Belanda selalu untung sementara pihak lain selalu kalah, misal tanah jajahan di Indonesia, sebagai akibatnya.
Kita buat ilustrasi pertandingan final sepak bola Persib melawan Persija. Belanda menjual emas senilai 100 ribu rupiah hanya dengan harga 60 ribu bila Persib menang kepada warga Bandung. Tetapi bila Persib kalah maka 60 ribu itu hilang sebagai taruhan. Warga Bandung banyak yang membeli emas murah itu.
Kepada warga Jakarta, Belanda menjual emas dengan cara yang sama yaitu 60 ribu saja bila Persija menang. Warga Jakarta sebagai pendukung Persija banyak yang membeli emas murah itu.
Belanda menerima uang untuk setiap pasangan taruhan
= 60 + 60 = 120 ribu
Belanda mengeluarkan uang berupa emas
= 100 ribu.
Belanda selalu untung, siapa pun yang menang antara Persib atau Persija, sebesar:
= 120 – 100 = 20 ribu;
dikalikan dengan banyaknya pasangan taruhan.
Dalam dunia nyata, Buku Belanda lebih rumit dari itu. Sehingga sulit untuk melakukan analisis. Prinsipnya Belanda selalu untung tidak peduli yang menang Eropa atau Indonesia. Atau, Eropa dan Indonesia bisa rugi bergantian terus-meneru tetapi Belanda tetap untung.
Buku Belanda menjadi istilah yang saat ini dipakai secara luas. Sementara pihak yang menerapkan Buku Belanda tidak harus Belanda saja; bisa saja perusahaan Amerika, Eropa, Cina, Jepang, atau pun Indonesia sendiri. Bahkan Buku Belanda bisa diterapkan di dalam negeri: pemerintah bekerja sama dengan pengusaha agar mereka selalu untung sementara rakyatnya yang selalu buntung.
Demikian juga Perahu Belanda bisa menjadi istilah atau nama. Sementara pelakunya bisa siapa saja. Bisa juga Belanda sendiri tidak menjadi pelaku di masa kini.
3. Diskusi
Perahu Belanda dan Buku Belanda menyadarkan kita betapa besar tugas untuk membawa negara menuju adil makmur.
Bagaimana menurut Anda?
(a) Melindungi korban potensial dengan daya veto; (b) membangun sistem daya formal berupa Mahkamah Konstitusi Daerah (MKD) di setiap kota atau kabupaten; (c) menciptakan pendidikan gratis berkualitas bagi setiap warga; bukan sekadar gratis bagi sekolah universitas negeri.
