Sains Tidak Seberguna Itu

Carlo Rovelli (lahir 1956) adalah saru dari saintis terbesar dunia yang masih hidup saat ini. Ia menguasai sains fisika sebagai keahliannya; ia mahir teori mekanika quantum dan relativitas Einstein. Ketika quantum dan relativitas, saat ini, masih terpisah sebagai dua dunia sains, Rovelli mengembangkan teori baru untuk menyatukannya yaitu Loop Quantum Gravity yang menjadi bidang kajian sains terdepan di banyak universitas dunia.

Pada usianya yang 70 tahun ini, ia menulis satu buku sangat menarik, yaitu On Equality, membahas sains, filsafat, dan pengetahuan sehari-hari. Ia menuliskan dengan tegas pernyataan: “Sains fisika tidak seberguna seperti dikira. Sains fisika terlalu tinggi dinilai.”

Andai yang menulis kritik di atas adalah seorang seniman atau budayawan, barangkali, diduga itu karena iri. Tetapi Rovelli adalah satu dari ilmuwan terbesar dunia. Jadi kritik itu adalah kritik dari dalam; dari seorang saintis tentang sains.

1. Equality: Kesetaraan
2. Pertanyaan Terpenting
3. Diskusi

Membaca buku On Equality karya Rovelli itu sangat asyik. Ia sengaja menulis untuk pembaca kalangan umum, saintis, dan filsuf. Setiap paragraf terasa mudah untuk dipahami. Bahkan ia menambahkan dengan kisah-kisah kuno dan pengalaman sehari-hari.

1. Equality: Kesetaraan

Rovelli menetapkan tugas amat besar bagi dirinya membahas equality: kesetaraan dari segala sesuatu.

Kesetaraan itu bagai utopia karena dalam realitas kita melihat keragaman: miskin-kaya; kecil-besar; rakyat-pejabat; awam-cendekiawan; dan lain-lain.

Lalu, apa itu “segala sesuatu”? Lebih sulit lagi menjawab pertanyaan itu. Bahkan orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu adalah termasuk segelintir yang pemberani.

2. Pertanyaan Terpenting

Pada pelajaran 5, Rovelli mengajukan pertanyaan paling penting:

“What is Exist?”
“Apa itu eksitensi?”
“Apa itu wujud?”
“Apa makna ada?”

Dengan piawai ia memulai pembahasan dengan mengkaji fenomena sehari-hari yang mudah dipahami. Baru di bagian akhir bab, ia kembali membahas pertanyaan utama: What is Exist?

Menanyakan apa yang ada di dunia ini tidaklah bermakna. Ada pengertian tertentu di mana kucing itu ada, ada pula pengertian di mana atom itu ada, begitu pula dengan bilangan, kuanta ruang, ataupun mimpi—semuanya memiliki pengertian keberadaannya masing-masing.

Memperdebatkan apakah bilangan itu ada atau tidak adalah diskusi yang menurut saya selalu sia-sia. Ada pengertian yang sangat jelas bahwa bilangan itu memang ada (bukankah ada bilangan bulat yang lebih besar dari dua dan lebih kecil dari empat?), namun ada pula pengertian yang sangat jelas bahwa bilangan itu tidak ada (di manakah letak bilangan tersebut dalam ruang fisik?).

Para matematikawan tidak merasa bingung saat mereka bertanya apakah bilangan prima yang sangat besar itu ada, dan para fisikawan pun tidak merasa bingung saat mereka bertanya apakah partikel supersimetris ada pada tingkat energi rendah. Keduanya tahu persis apa yang sedang mereka bicarakan, dalam pengertian apa hal tersebut dibahas, dan bagaimana cara menemukan jawaban yang tepat.

Di paragraf akhir, Rovelli menawarkan solusinya.

Menurut hemat saya, pertanyaan yang patut diajukan adalah: mengingat kondisi pengetahuan kita saat ini—termasuk pengetahuan ilmiah—konsep apa sajakah yang efektif untuk memikirkan dunia, menjelaskannya, serta menavigasinya? Entitas mana yang dapat kita sertakan sebagai unsur dalam deskripsi kita tentang dunia—deskripsi yang bersifat aproksimatif dan tidak lengkap—dan entitas mana yang masih bisa terus kita gunakan dalam konteks tertentu? Gagasan apa saja yang tidak lagi efektif seiring dengan munculnya pengetahuan baru?

Segala sesuatu ada secara setara, dalam relasinya dengan hal lain, masing-masing dengan caranya sendiri—cara yang terus berkembang seiring dengan bertambahnya pemahaman kita.

Pertanyaan paling penting itu, akhirnya, diganti pertanyaan baru oleh Rovelli. Kemudian ia menjawab hanya dengan satu kalimat: “Segala sesuatu ada secara setara…” Meski kalimat ini bermakna bahwa kita harus membaca buku secara utuh tetapi kita berharap ia menjawab pertanyaan lebih eksplisit dan lebih panjang.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Kita akan mendiskusikan beberapa tema penting lebih lanjut. Pernyataan tegas dan singkat dari Rovelli berikut sangat menarik.

“Physics is less useful than it is sometimes said to be. Physics is overrated.” – Rovelli –

Fisika tidak seberguna seperti yang sering dikatakan orang. Fisika dinilai terlalu tinggi. – Rovelli –

Ia membuat penjelasan versi lebih panjangnya.

“Menurut saya, sains tidaklah sesubversif seperti yang sering digambarkan. Memang benar sains itu mengejutkan: Bumi berotasi; kita memiliki nenek moyang yang sama dengan kunang-kunang. Namun, seluruh hidup kita pun penuh dengan kejutan dan penemuan. Sains tidak berbeda dari proses lumrah dalam menemukan, mempelajari, dan menata ulang apa yang telah kita pelajari—sesuatu yang senantiasa menjadi bagian dari perilaku spesies kita.

Revolusi ilmiah merupakan pergolakan penting, baik di masa lalu maupun sekarang. Namun, demikian pula halnya dengan masa remaja. Begitu pula dengan pergolakan di bidang politik, budaya, seni, agama, dan militer yang mewarnai sejarah spesies kita. Belajar—dan mengubah cara pandang kita—adalah bagian dari jati diri kita.

Di antara hal-hal yang kita pelajari, terdapat pula berbagai alat dan metode baru untuk belajar. Sains adalah seperangkat alat dan metode untuk belajar.”

Kemudian ia mengaitkan dengan istilah mitos. Mengingatkan kita istilah mitos given dari Sellars (The Myth of Given).

Antusiasme era Pencerahan abad ke-18 terhadap Rasio, positivisme terhadap keberhasilan sains abad ke-19, serta filsafat analitik abad ke-20 terhadap keandalan metode ilmiah, telah melahirkan mitos seputar pengetahuan ilmiah. Hal ini juga memunculkan gagasan bahwa pengetahuan tersebut secara struktural berbeda dari bentuk pengetahuan lainnya dan merupakan satu-satunya jenis pengetahuan yang kokoh. Saya meyakini hal ini sebagai sebuah mitos.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar