Cahaya Kitab Suci untuk Hidup Ini

Didi menemukan ide sangat menarik untuk hidup sukses, bahagia, dan penuh arti. Ia ingin segera menceritakan itu kepada guru ruhaninya yang sudah tua untuk mendapat persetujuan.

Didi: “Guru, aku menemukan ide sangat penting untuk menjalani hidup berdasar ayat-ayat kitab suci.”
Guru: “Bagaimana itu?”
Didi: “Bagaimana kalau kita setiap pagi membaca kitab suci. Kemudian memilih satu atau beberapa ayat untuk mendalami maknanya. Selanjutnya, kita hidup berdasar ayat-ayat itu dalam satu hari penuh.”
Guru: “Tidak begitu, Didi.”

Didi kaget karena gurunya tidak setuju. Bukankah hidup berdasar kitab suci adalah hidup yang terbaik?

1. Pilihan Mudah
2. Pilihan Sulit
3. Diskusi

Guru sadar bahwa Didi bingung dengan jawaban itu. Didi sendiri tampak berpikir keras. Ia tidak membantah jawaban gurunya tapi tampak sulit sekali menerima jawaban seperti itu.

1. Pilihan Mudah

“Kitab suci itu ibarat cahaya dari lampu sorot, atau cahaya dari lampu mobil atau lampu motor kamu,” Guru menambahkan.

“Kamu jangan berjalan mengikuti cahaya lampu sorot itu. Tidak seperti itu cara menggunakan lampu sorot. Ambillah lampu sorot, bawalah ke mana kamu akan melangkah, agar cahaya dari lampu sorot menerangi jalanmu.”

“Bagaimana cara menentukan ke mana arah berjalan bila tidak mengikuti lampu sorot?” tanya Didi.

“Gunakan lampu sorot untuk menerangi jauh ke depan jalanmu. Arahkan lampu ke jalan yang lain juga bila diperlukan. Pikirkan, renungkan, dan putuskan jalan mana yang akan kamu tempuh. Kemudian gunakan lampu sorot untuk menerangi jalanmu.”

Hanya mengikuti cahaya lampu sorot adalah tugas terlalu mudah bagi manusia. Justru, kita sebagai manusia yang harus mengarahkan cahaya lampu sorot itu.

Mengambil makna dari suatu kitab suci kemudian menjalani hidup berdasar itu adalah tugas yang relatif mudah. Mudah karena kita semangat menjalani hidup berdasar kitab suci; plus kita merasa berada di jalan yang benar. Bila ada kesulitan maka kita bisa menafsirkan itu sebagai ujian yang ada makna di baliknya. Bila ada sukses maka kita bersukur bahwa itu anugerah dari Tuhan.

Bukankah itu cara hidup yang baik? Yang ideal? Yang jadi idaman?

2. Pilihan Sulit

Manusia membutuhkan kesulitan meski kemudian mendapat kemudahan. Hanya karena ada kesulitan maka kemudahan menjadi bermakna.

“Apakah kamu berani menghadapi kesulitan?”

Menentukan arah adalah tugas sulit. Mengikuti cahaya lampu adalah mudah. Memilih arah itu bisa salah, tentu bisa juga benar; kita perlu bertanggung jawab tentang arah itu. Kita membutuhkan pertolongan teman, bantuan saudara, dan dukungan alam semesta. Tentu kita membutuhkan petunjuk dari Tuhan baik melalu kitab suci mau pun kitab alami. Kita membutuhkan teladan-teladan manusia bijak dari masa lalu sampai masa kini.

Sedangkan sekadar mengikuti cahaya lampu bisa melupakan tanggung jawab. Kita bisa sombong merasa paling benar karena didasarkan pada klaim tafsir kitab suci. Bahkan ketika kita salah maka masih bisa membuat dalih pembenaran berdasar kitab suci. Kita merasa berada di sisi Tuhan yang selalu benar.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Menurut saya, gagasan ini menarik karena mengajak kita membedakan antara beriman dan sekadar mengikuti. Kitab suci seharusnya menjadi cahaya yang menerangi perjalanan, bukan rel yang membatasi ke mana manusia boleh melangkah. Manusia tetap memiliki tanggung jawab menggunakan akal budi, keberanian, dan kebijaksanaan untuk menentukan arah hidupnya.

Namun, kebebasan memilih bukan berarti merasa paling tahu atau paling benar. Justru semakin kuat iman seseorang, semestinya semakin besar kerendahan hatinya untuk berdialog, menerima koreksi, dan belajar dari pengalaman orang lain. Iman yang dewasa bukan iman yang membuat manusia berhenti berpikir, melainkan iman yang membuat manusia semakin bijaksana dalam berpikir dan bertindak. (Ini jawaban Chatgpt).

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar