Mencurigai Uang Damai sampai AI

Paul Ricoeur (1913 – 2005) terkenal dengan teori hermeneutika kecurigaan; interpretasi dengan curiga; hermeneutics of suspicion. Kesadaran manusia, termasuk kesadaran kita, perlu dicurigai karena ia sering berbohong; kesadaran itu menampilkan suatu makna tetapi menyembunyikan makna lain yang lebih penting.

Kita sadar uang itu penting tapi sebenarnya tidak terlalu penting; uang itu justru penyebab mala petaka. Kita sadar AI (akal imitasi – artificial intelligence) itu teknologi hebat tapi sebenarnya AI membuat pikiran manusia lumpuh. Kita sadar damai untuk Gaza (dan Palestina) itu indah tetapi perdamaian yang diusulkan, misal oleh BoP, justru menggusur warga Gaza Palestina. Kita perlu curiga terhadap kesadaran kita; bahkan curiga kepada kecurigaan itu sendiri.

1. Ekonomi Palsu
2. Kasih Sayang Palsu
3. Kesadaran Palsu
4. Sains Teknologi Palsu
5. Kemandirian Palsu
6. Diskusi
7. Gagasan Lanjut

Mari kita baca kutipan dari Ricoeur dalam Freud and Philosophy.

Freud memasuki persoalan kesadaran palsu melalui dua jalan, yaitu mimpi dan gejala neurotik; hipotesis kerjanya memiliki batas-batas yang sama dengan sudut serangnya, yang—sebagaimana akan kita jelaskan secara lengkap kemudian—merupakan suatu ekonomi dorongan-dorongan naluriah (economics of instincts).

Marx menyerang persoalan ideologi dari dalam batas-batas alienasi ekonomi, dalam pengertian ekonomi-politik.

Nietzsche, dengan berfokus pada persoalan “nilai”—yakni penilaian dan transvaluasi—mencari kunci bagi kebohongan dan topeng pada sisi “kekuatan” dan “kelemahan” kehendak untuk berkuasa.

Selanjutnya, kita akan membahas ragam kepalsuan yang menjangkiti sampai abad 21 ini. Ricouer sendiri mengenalkan tiga master hermeneutika curiga. Kita akan menambahkan menjadi 5 master hermenutika.

1. Ekonomi Palsu

Kita sadar bekerja tiap hari untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tetapi itu kesadaran palsu. Justru karena Anda kerja maka kebutuhan ekonomi Anda tidak pernah terpenuhi. Mengapa?

Karena ada pihak lain, yaitu investor, kapitalis, dan penguasa, yang tidak perlu kerja tetapi mereka memperoleh uang lebih besar dari Anda yang bekerja. Upah kerja yang Anda terima itu adalah sekadar uang damai; uang yang menciptakan ilusi damai di hati; padahal menyembunyikan ideologi ekonomi. Hasil kerja Anda dihisap, disedot, diekstrak, oleh mereka. Kesadaran bahwa Anda harus kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi adalah kesadaran ekonomi palsu.

Bayangkan Dudu, karyawan pabrik di pinggiran Bandung yang berangkat pukul enam pagi dan pulang menjelang malam. Ia yakin bahwa bekerja adalah jalan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Setiap akhir bulan ia menerima gaji, lalu langsung habis untuk cicilan, sekolah anak, dan ongkos hidup.

Bulan berikutnya ia bekerja lagi dengan keyakinan yang sama. Inilah kesadaran yang perlu dicurigai: justru karena Dudu terus bekerja, kebutuhan ekonominya tidak pernah benar-benar terpenuhi. Kesadarannya menampilkan satu makna (bekerja berarti tercukupi), tetapi menyembunyikan makna lain yang lebih penting.

Di sisi lain ada pemilik pabrik dan para investornya. Mereka jarang berdiri di lini produksi, tetapi keuntungan yang mereka terima jauh lebih besar daripada seluruh upah Dudu dan rekan-rekannya. Hasil kerja Dudu dihisap, disedot, dan diekstrak oleh pihak yang tidak perlu bekerja itu. Gaji bulanan Dudu hanyalah uang damai, uang yang menciptakan ilusi damai di hati sehingga ia merasa “sudah dibayar adil” dan tidak menggugat.

Padahal, di balik gaji itu tersembunyi ideologi ekonomi yang membuat orang kerja keras tanpa pernah keluar dari kekurangan. Di sinilah hermeneutika kecurigaan bekerja, sejalan dengan cara Marx membongkar alienasi ekonomi dalam pengertian ekonomi-politik.

Kesadaran yang benar tidak menolak kerja, tetapi meluruskan tujuannya: kerja adalah untuk berbagi kebaikan. Misalkan Dudu mulai memandang pekerjaannya sebagai cara menghadirkan manfaat bagi orang lain, misalnya produk yang dibuatnya benar-benar berguna, rekan kerjanya saling menolong, dan sebagian hasil dibagikan kepada lingkungan sekitar.

Maka kerja tidak lagi sekadar ditukar dengan uang damai, melainkan menjadi ruang berbagi kebaikan. Dengan begitu kerja terbebas dari ilusi ekonomi palsu, dan sesuai semangat kajian, kecurigaan itu sendiri pun tetap perlu dicurigai agar tidak berhenti menjadi kepalsuan baru.

Apa kesadaran yang benar? Kerja adalah untuk berbagi kebaikan.

2. Kasih Sayang Palsu

Kasih sayang mereka palsu. Mereka berbagi makan siang gratis. Ada yang di hari tertentu saja. Ada pula yang tiap hari. Mereka tampak memberi Anda kasih sayang tetapi mereka, di balik itu, sedang mengumpulkan kekuasasan politik dan ekonomi. Mereka menguasai anggaran, misal APBN; mereka menguasai sumber daya misal melalui badan usaha atau holdingnya.

Ada juga di antara mereka menumpuk kekuasaan dengan mengumpulkan dana secara online, menyewa selebgram, memasang iklan, atau pun janji surga dan ancaman neraka. Kemudian mereka menebar kasih sayang palsu dengan laporan keuangan yang juga palsu.

Lalu, bagaimana kasih sayang sejati yang tidak palsu? Ia adalah kasih sayang yang mengurbankan diri demi kebaikan orang lain.

Bayangkan sebuah yayasan atau lembaga yang setiap Jumat membagikan makan siang gratis di depan sebuah sekolah di pinggiran kota. Ibu Sari, seorang pedagang kecil, ikut mengantre bersama anaknya dan pulang dengan rasa terima kasih. Spanduk besar terpasang, foto-foto dibagikan, dan warga merasa diperhatikan.

Di permukaan, inilah kasih sayang: ada yang memberi, ada yang menerima, dan semua tampak hangat. Namun, kita perlu curiga, karena mereka yang tampak memberi kasih sayang itu, di balik pemberiannya, sedang mengumpulkan kekuasaan politik dan ekonomi.

Di balik makan siang itu, lembaga tadi mengendalikan anggaran, misalnya dana dari APBN, dan menguasai sumber daya melalui badan usaha atau holdingnya. Setiap piring yang dibagikan menjadi modal citra yang menaikkan pengaruh mereka.

Ada pula versi daring: sebuah gerakan menggalang dana lewat internet, menyewa selebgram, memasang iklan, dan menebar janji surga serta ancaman neraka agar orang tergerak menyumbang. Lalu mereka menyodorkan laporan keuangan yang juga palsu, sehingga donatur merasa dana tersalurkan dengan baik padahal kekuasaan yang menumpuk. Inilah yang oleh Nietzsche disingkap: belas kasih di depan umum, kehendak untuk berkuasa di baliknya. Ibu Sari hanya melihat piring nasi, tidak melihat siapa yang sedang membesar karena piring itu.

Sebagai kontras, bayangkan Pak Anwar, seorang tetangga yang setiap pagi diam-diam menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu keluarga di gangnya, tanpa spanduk, tanpa foto, tanpa laporan. Ia bahkan rela menunda membeli sepatu baru demi biaya berobat tetangga. Inilah kasih sayang sejati: kasih sayang yang mengurbankan diri demi kebaikan orang lain.

Ukurannya bukan seberapa terlihat pemberiannya, melainkan apakah pemberi bersedia rugi tanpa mengambil keuntungan kuasa. Dan sesuai semangat hermeneutika curiga, kita tetap perlu mencurigai kecurigaan kita sendiri, agar tidak menuduh setiap pemberian sebagai palsu tanpa memeriksanya.

3. Kesadaran Palsu

Kesadaran Anda tentang apa saja adalah palsu karena kesadaran Anda bersumber dari ketidak-sadaran. Insting tidak sadar mendorong kesadaran, menarik kesadaran, dan menggoyang kesadaran. Pengetahuan Anda tentang kesadaran seperti itu adalah palsu; karena hanya digoyang-goyang oleh insting bawah sadar yang tersembunyi; dan tentu tidak sadar.

Apa kesadaran yang tidak palsu? Palsukan kesadaran palsu Anda. Mimpi adalah kesadaran palsu. Karena kesadaran sendiri adalah palsu maka mimpi adalah palsunya kepalsuan yang mengungkap kesadaran sejati. Apa makna dari mimpi-mimpi Anda?

Bayangkan Rina, seorang karyawan muda yang yakin bahwa keputusannya membeli ponsel terbaru adalah pilihan bebasnya sendiri. Ia sudah menimbang fitur, membandingkan harga, dan merasa mengambil keputusan dengan sadar. Namun jika ditelusuri, dorongan itu datang dari hal yang tidak ia sadari: rasa cemas tertinggal dari teman-temannya, keinginan diakui, dan dorongan-dorongan tersembunyi yang bekerja di bawah permukaan.

Kesadaran Rina tampak bersumber dari dirinya, tetapi sebenarnya ia digoyang, ditarik, dan didorong oleh insting bawah sadar. Karena itu, pengetahuannya tentang alasan pilihannya sendiri adalah palsu.

Ambil contoh lain: Pak Hadi selalu marah setiap kali anaknya memilih jurusan seni. Ia yakin kemarahannya berasal dari pertimbangan rasional tentang masa depan anak. Padahal, tanpa ia sadari, ada bekas tekanan sosial, ekonomi, dan politik yang membentuk cara berpikirnya: ketakutan miskin yang ia warisi, tuntutan lingkungan agar anak “jadi orang”, dan gengsi di mata keluarga besar.

Sebagaimana Freud mencurigai kesadaran, Pak Hadi mengira dirinya sedang berpikir bebas, padahal ia sedang dijalankan oleh sesuatu yang tersembunyi dan tidak ia sadari.

Lalu, bagaimana jalan keluarnya? Kita perlu memalsukan kesadaran palsu itu. Misalkan Rina pada suatu malam bermimpi berlari di lorong panjang, mengejar sesuatu yang selalu menjauh, lalu terbangun dengan gelisah. Ia mulai bertanya: apa makna mimpi ini?

Mungkinkah yang selama ini ia kejar, seperti ponsel dan pengakuan, adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia inginkan? Karena mimpi adalah kesadaran palsu, maka mimpi adalah palsunya kepalsuan yang justru mengungkap kesadaran sejati. Dari situ Rina belajar membaca dirinya dengan lebih jujur, meski tetap perlu mencurigai tafsirnya sendiri.

Sampai di sini, kita menghadapi kepalsuan yang berlipat ganda. Kita bisa melakukan beragam cara untuk mengatasi kepalsuan itu yang tetap perlu kita curigai juga. Di era digital abad 21, kepalsuan sains teknologi dan over confidence bisa lebih berbahaya lagi.

4. Sains Teknologi Palsu

Sains mengungkap pengetahuan obyektif yang sebenarnya tidak murni obyektif karena dibatasi oleh hasrat keuntungan, kebijakan lembaga, dan kepentingan politik. Sains menjadi sains palsu.

Teknologi mengaku memperbaiki kehidupan tetapi palsu. Benar teknologi meningkatkan kehidupan bagi orang-orang super kaya saja. Bagi para pekerja, justru mereka didominasi oleh teknologi. Para pekerja diperas agar melayani mesin. Mereka harus menjaga teknologi mesin bekerja dengan performa tinggi siang malam tanpa henti.

Apa solusi bagi sains teknologi yang palsu itu?

Naomi Klein dalam End Time Fascism mengusulkan pembatasan kekayaan bagi super kaya.

Satu-satunya respons yang rasional adalah melucuti kekuatan mereka—dengan mengatur teknologi mereka secara ketat dan mendistribusikan kembali sebagian besar kekayaan yang mereka peroleh secara tidak wajar.

Dalam banyak hal, langkah-langkah ini pada dasarnya merupakan satu kesatuan. Di saat konsentrasi kekayaan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, revolusi kecerdasan buatan (AI) justru semakin mengalirkan sumber daya dalam jumlah besar ke puncak piramida ekonomi. Hal ini menambah urgensi untuk membatasi kekuasaan para miliarder; sebab jika tidak, kita akan segera menghadapi masalah yang jauh lebih besar: perlunya menindak para triliuner.

Setiap gerakan pelucutan kekuatan teknologi yang efektif harus dimulai dengan upaya membawa kembali “cloud” (komputasi awan) ke ranah nyata dan menyadarkan para pendukung akselerasi AI agar kembali berpijak pada kenyataan. AI adalah ciptaan manusia yang dapat—dan harus—berada di bawah pengawasan manusia. Sebagaimana kita ketahui, itulah yang diinginkan oleh sebagian besar masyarakat.

Delapan puluh persen warga Amerika mendukung langkah-langkah keamanan AI meskipun hal itu memperlambat laju pengembangan, dan hampir tidak ada orang yang memercayai kemampuan perusahaan teknologi untuk mengatur diri mereka sendiri. Inilah sebabnya gerakan moratorium pusat data kian menguat di Amerika Serikat maupun wilayah lain, serta mengapa aturan hukum yang mengendalikan AI mendapat dukungan luas, bahkan di kalangan kelompok konservatif.

Teknologi adalah gestell atau enframing menurut Heidegger. Demikian juga sains modern. Sebagai framing, teknologi mengekang realitas; hanya mengijinkan realitas tertentu berkembang; dan menindas realitas lain.

Teknologi menjadi kerangka, kerangkeng, atau penjara bagi manusia dan realitas lainnya. Awalnya, tampak orang-orang lemah ditindas oleh kemajuan teknologi. Pada gilirannya, orang-orang super kaya itu sama juga: mereka juga ditindas oleh teknologi. Terjadilah penindasan oleh teknologi; tentu bersama manusia. Dengan berkembangnya teknologi AI (artificial intelligence), risiko penindasan oleh teknologi palsu makin membesar.

Bagaimana agar terhindar dari sains teknologi palsu? Kita perlu mengembangkan teknologi sejati yaitu teknologi futuristik yang lembut: membuka posibilitas luas bagi realitas; menumbuhkan freedom bagi setiap manusia, dan menuntut komitmen bersama.

5. Kemandirian Palsu

Manusia merasa dirinya sebagai mandiri tetapi palsu. Manusia selalu membutuhkan orang lain, membutuhkan dunia raya, dan membutuhkan anugerah.

SEP menjelaskan pandangan Ibnu Arabi tentang manusia sebagai berikut.

Dengan kata lain, Manusia Sempurna adalah ruh yang menghidupkan kosmos. Inilah tema yang mengawali bab pertama dari karya Ibn ‘Arabī, Ringstones (Fushūsh al-Hikam), yang menjelaskan bagaimana Adam—sang manusia—memanifestasikan hikmah dari nama yang mencakup segalanya (al-ism al-jāmi‘).

Secara paralel, ia menulis dalam Openings (al-Futūhāt al-Makkiyyah):

Seluruh kosmos adalah perincian dari Adam, dan Adam adalah Kitab yang Mencakup Segalanya. Dalam hubungannya dengan kosmos, ia ibarat ruh terhadap tubuh. Oleh karena itu, manusia adalah ruh bagi kosmos, sedangkan kosmos adalah tubuhnya. Jika semua ini disatukan, kosmos menjadi sosok manusia agung, selama manusia berada di dalamnya. Namun, jika Anda memandang kosmos semata—tanpa manusia—Anda akan mendapatinya bagaikan tubuh yang proporsional namun tanpa ruh. (Ibn ‘Arabī 1911, 2:67.28)

Kita, sebagai manusia, membutuhkan tubuh berupa kosmos. Manusia tidak bisa mandiri apalagi sombong.

Bagaimana agar manusia tidak sombong penuh kepalsuan seperti itu? Manusia perlu sadar diri bahwa dirinya selalu ditopang oleh yang lain dan memang selalu membutuhkan topangan yang lain. Tidak perlu ada kesombongan dalam diri manusia. Benar, manusia memang realitas eksistensi terpilih untuk menjadi pemimpin; dalam arti pemimpin untuk berbagi kebaikan.

6. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Selanjutnya kita akan diskusi lebih lanjut tentang kata “curiga” itu sendiri dibanding dengan skeptisme dan sinisme. Diskusi ini sedikit lebih teknis dan lebih dalam dari bagian tulisan di atas. Barangkali Anda perlu membacanya lebih perlahan. Kemudian lanjut diskusi tentang mencurigai teknologi dan uang serta kita mengajukan solusi.

6.1 Skeptisme

Istilah “curiga” dalam hermeneutika kecurigaan itu sangat menarik. Tampaknya konotasi dari curiga terlalu pedas sehingga sedikit orang yang nyaman membahasnya sampai sekarang. Skeptisme (skeptisisme) dan sinisme juga sering dianggap terlalu keras ke arah negatif.

Menariknya, Ricouer sendiri tampak menolak skeptisme.

“Namun, ketiga tokoh (master) yang menguasai seni kecurigaan ini tidak boleh disalahpahami sebagai tiga tokoh (master) yang menguasai skeptisisme.

Ketika kita memahami skeptisme sebagai sikap menerima kesimpulan sementara; menangguhkan kesimpulan terakhir; terbuka dengan revisi; maka sebutan sebagai master skeptisme adalah sebuah pujian. Sementara anggapan skeptisme sebagai tidak mampu melihat realitas eksternal; tidak mampu mengambil kesimpulan; atau selalu ragu-ragu; maka itu memang bisa menjadi hinaan yang perlu dihindari.

Kata sinisme bernasib mirip dengan skeptisme; dianggap negatif. Awalnya, sinisme adalah filsafat way of life yang dikembangkan oleh Diogenes sebagai kelanjutan ajaran Sokrates. Jadi sinisme bermakna positif atau sangat positif. Muse meringkas kontirbusi Diogenes versi Foucault sebagai berikut.

Dalam kehidupan nyata Diogenes, Foucault melihat sebuah kehidupan konkret yang mampu membebaskan setiap individu dari kungkungan kehidupan konvensional mereka dengan cara menekankan kondisi material tubuh manusia. Dengan demikian, kehidupan Diogenes dapat menjadi bentuk emansipasi diri, karena hal itu tidak hanya memperlihatkan betapa tidak autentiknya kehidupan konvensional, tetapi juga membebaskan setiap individu dari berbagai konvensi yang mengasingkan diri mereka.

Sebuat video di Reddit menggambarkan sinisme Diogenes dari perspektif Sloterdijk.

Sinisme modern menampilkan dirinya sebagai realisme yang jernih, namun sebenarnya berfungsi sebagai apa yang disebut Sloterdijk sebagai “kesadaran palsu yang tercerahkan”—kita memahami hakikat sistem yang sebenarnya, namun tetap bertindak seolah-olah kita tidak memahaminya.

Video ini menelusuri bagaimana aliran Sinisme kuno—yang pada mulanya merupakan praktik radikal untuk menantang kekuasaan—berubah (di jaman modern) menjadi pembenaran untuk menerima kemunafikan. Video ini menggunakan diagnosis Sloterdijk, argumen Fisher mengenai pihak-pihak yang diuntungkan secara politis oleh sikap acuh tak acuh, serta analisis Han tentang kondisi struktural yang membuat ketulusan terasa mustahil, untuk menunjukkan bahwa sinisme beroperasi sebagai sebuah ideologi utuh.

Argumen yang dikemukakan adalah bahwa sinisme, sebagai sebuah ideologi, menetapkan makna, mengikat konsep, menentukan peran, dan memobilisasi emosi kita—sebagaimana halnya semua ideologi—sembari berusaha meyakinkan kita bahwa ia bukanlah sebuah ideologi.

Dengan cara yang sama seperti skeptisme, kata sinisme di era modern bermakna cemoohan. Sementara sinisme kuno, yang asli, adalah pujian kepada orang-orang yang menerapkan sinisme. Saya curiga andai Ricoeur membaca dengan cara di atas maka ia tidak akan keberatan master hermeneutika disebut juga sebagai master skeptisme mau pun master sinisme.

Bagaimana pun, kita bisa setuju dengan Ricoeur bahwa yang paling esensial adalah para master hermeneutika membantu kita menemukan makna otentik.

Hal yang esensial adalah bahwa ketiganya—
dengan memanfaatkan sarana yang tersedia serta bergelut bersama maupun melawan prasangka pada
zamannya—menciptakan suatu ilmu tentang makna yang bersifat mediatif, yang tidak dapat direduksi menjadi kesadaran langsung akan makna.

Upaya ketiganya, dengan cara yang berbeda-beda, adalah menyelaraskan metode penafsiran yang “sadar” dengan proses penyandian “tak sadar”—yang mereka kaitkan dengan kehendak untuk berkuasa, eksistensi sosial, ataupun psike bawah sadar. Tipu daya akan dibalas dengan tipu daya berlapis.

Berikutnya kita akan memanfaatkan lensa Ricoeur untuk mencurigai yang paling pantas dicurigai: teknologi dan uang.

6.2 Teknologi Uang

Mana yang lebih perlu dicurigai; teknologi atau uang? Hermeneutika curiga perlu menjawab itu. Researchgate meringkas kontribusi penting Ricoeur berikut.

Terdapat lima aspek dalam karya Ricoeur yang relevan dengan filsafat teknologi: filsafat hermeneutik, metodologi pasca-Hegelian-Kantian, teori naratif, filsafat diri, dan filsafat politik-moral.

Teknologi tampak yang menindas manusia secara nyata dengan janji memudahkan hidup manusia yang ternyata hanya memudahkan segelintir orang. Uang hanya mediator bagi teknologi yang nyata itu. Bila demikian maka kita perlu lebih curiga kepada teknologi.

Interpretasi sebaliknya bisa juga sah: uang adalah yang menentukan apakah teknologi akan dikembangkan atau dibuang. Uang yang bergerak cepat dan paling memaksa. Teknologi sekadar akibat dari aliran uang itu. Bila demikian maka kita perlu lebih curiga kepada uang.

Mengikuti Ricoeur membaca Marx tampak bahwa uang lebih berpengaruh dari teknologi. Tetapi bila kita mengikuti pembacaan Heidegger bahwa teknologi sebagai gestell maka teknologi lebih menentukan. Barangkali situasi konkret masing-masing orang yang akan menentukan mana lebih prior. Yang jelas, teknologi dan uang memang pantas untuk terus dicurigai baik itu uang damai mau pun AI.

Kapan kita harus berhenti dari curiga? Kita perlu mempertimbangkan suatu solusi untuk itu.

6.3 Solusi Panarko

Hermeneutika curiga berawal dari memahami situasi atau teks; kemudian mencurigai ada yang tersembunyi; akhirnya, mencurigai kecurigaan itu sendiri. Proses interpretasi ini membentuk lingkaran atau spiral tanpa henti. Bagaimana cara berhentinya?

Salah satu titik henti yang menarik adalah mempertemukan hermeneutika curiga dengan panarko (serba-pemimpin; pan = serba; arko = pemimpin). Pertemuan ini menghasilkan titik osilasi; menjadi bukan titik lagi tetapi ayunan menyusuri dua titik atau lebih.

Dengan kerangka ini, panarko adalah solusi bagi hermeneutika curiga atau, sebaliknya, hermeneutika curiga adalah solusi bagi panarko.

Sebelum melompat ke panarko, sejarah berputar-putar lelah dalam lingkaran: chaos, arko, anarko, chaos, dan seterusnya. Chaos adalah situasi kacau tanpa aturan. Seseorang curiga bahwa chaos disebabkan tidak adanya pemimpin. Kemudian ia dengan berbagai cara mengangkat dirinya jadi pemimpin (arko). Orang-orang mulai mengikuti perintahnya. Masyarakat menjadi tertata oleh aturan baru itu.

Lambat laun, ia (arko) makin dominan. Warga merasa tertindas tanpa keadilan. Beberapa orang curiga penyebabnya adalah arko yang dominan. Mereka mulai melakukan pemberontakan disusul oleh lebih banyak orang (anarko). Pemimpin itu (arko) bisa digulingkan. Semua orang menjadi bebas dari dominasi dalam situasi anarkis. Tidak terlalu sulit bergeser dari anarkis kembali menjadi chaos. Sejarah berputar kembali makin lelah.

Sejarah bisa selamat dari lelah dengan cara melompat ke panarko (serba pemimpin). Seorang panarko adalah pemimpin yang meyakini orang lain sebagai pemimpin juga. Di antara para panarko ini membentuk kerja sama berupa kopanarko (bersama-sama serba-pemimpin). Kopanarko bukanlah suatu titik puncak melainkan terjadi osilasi dinamis panarko-kopanarko.

Jika kopanarko terlalu kuat maka kita curiga akan membeku menjadi arko yang dominan; kembali terjebak lingkaran sejarah yang lelah. Jika panarko yang dominan maka kita curiga akan terjadi anarko; kembali terjebak lingkaran sejarah yang lelah. Sehingga situasi yang diharapkan adalah ayunan harmonis dari osilasi panarko-kopanarko tanpa henti.

Tetapi kita bisa curiga lagi: osilasi itu bukannya suatu chaos?

7. Gagasan Lanjut

Ricoeur memilih tiga tokoh master hermeneutika: (a) Marx mencurigai ideologi sebagai palsu; para kapitalis dan politikus berjanji membangun negeri tetapi palsu; mereka hanya menindas rakyat melalui politik-ekonomi; (b) Nietzsche mencurigai penampilan etika kasih sayang palsu; mereka menunjukkan belas kasih di depan umum tetapi, di balik itu, mereka rakus untuk berkuasa; (c) Freud mencurigai kesadaran sebagai palsu; kesadaran Anda seperti bersumber dari diri Anda tetapi palsu; kesadaran Anda dibentuk oleh penindasan sosial, ekonomi, mau pun politik.

Kemudian kita menambah lebih banyak master hermeneutika: (d) Heidegger mencurigai sains teknologi modern sebagai palsu; mereka mengaku memberi kemajuan tetapi malah mengeruk keuntungan; (e) Ibnu Arabi mencurigai kesombongan manusia sebagai kemandirian palsu; manusia merasa bebas menentukan nasib sendiri padahal mereka saling membutuhkan.

Kita perlu memahami mereka kemudian mencurigai mereka. Mereka adalah palsu. Kecurigaan kita itu sendiri bisa jadi juga palsu. Kita perlu mencurigai kecurigaan kita sendiri. Itulah hermeneutika curiga. Dari curiga, kita menuju osilasi dinamis panarko-kopanarko.

Apa tindak lanjut yang kita perlukan?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar