Jeda Performa: Bukan Runtuh Tapi Melompat

Kita butuh untuk berpikir, merenung, dan evaluasi diri. Berpikir itu memang mengganggu performa karena butuh jeda dari aktivitas. Performa bisa turun karena Anda berpikir; tidak ada jaminan akan naik. Tetapi bisa melompat; ke dunia yang lebih kaya dari performa.

Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering tergoda untuk mengejar performa tertinggi. Kadang kita memang harus menaikkan performa, menambah hasil, dan efisiensi. Tetapi kadang kita justru membutuhkan sebaliknya; yaitu kita butuh jeda performa. Kapan waktu yang tepat untuk jeda? Memikirkan itu saja sudah membutuhkan jeda.

1. Mesin Performa
2. Ukuran Performa
3. Manusia Bukan Performa
4. Diskusi
4.1 Meningkatkan Performa
4.2 Mengambil Jeda
4.3 Kompetisi AI
5. Ringkasan
6. Dialog AI
7. Gagasan Lanjutan

Kebijakan luhur memberi ruang jeda berupa puasa. Islam mewajibakan muslim untuk puasa satu bulan penuh sepanjang Ramadhan dan beragam puasa pilihan di banyak waktu lainnya. Sementara ajaran yang lain mengajarkan puasa dengan cara masing-masing. Bahkan anak-anak jaman sekarang sering menjalani intermittent fasting: puasa berlanjut.

1. Mesin Performa

Mesin-mesin pabrik lebih hebat performanya dari manusia dalam menghasilkan kain tekstil, misalnya. Kalkulator lebih cepat berhitung dari manusia. AI (akal imitasi – artificial intelligence) lebih produktif dalam mengarang dari manusia.

Tugas manusia memang bukan untuk mencapai performa tertinggi melainkan mencapai performa yang tepat. Seperti apa itu?

Bayangkan Pak Ujang, pemilik usaha tenun kecil di pinggiran Bandung. Selama bertahun-tahun ia menenun kain sendiri, satu lembar bisa memakan waktu tiga hari penuh, dengan tangan yang hafal setiap tarikan benang. Ketika sebuah pabrik tekstil besar memasang mesin tenun otomatis, mesin itu mampu menghasilkan seratus lembar kain dalam waktu yang sama dipakai Pak Ujang untuk satu lembar. Dari sisi performa, tidak ada pertandingan: mesin menang telak, tanpa lelah, tanpa jeda, tanpa butuh tidur.

Anak Pak Ujang yang kuliah di kota membawa pulang kalkulator, lalu belakangan sebuah aplikasi AI di ponselnya. Ketika Pak Ujang menghitung untung-rugi dagangannya dengan mencongak, butuh waktu semenit lebih untuk memastikan hasilnya benar. Kalkulator menyelesaikannya dalam sepersekian detik. Bahkan ketika ia diminta menulis undangan syukuran sederhana, AI di ponsel anaknya bisa menyusun kalimat yang rapi dan cepat, jauh lebih produktif dibanding Pak Ujang yang mesti mengarang kata demi kata sambil berpikir.

Tetapi ada satu hal yang tak pernah dilakukan mesin tenun, kalkulator, atau AI itu: berhenti sejenak untuk bertanya kepada dirinya sendiri, “untuk apa semua ini kutenun, kuhitung, kutulis?”

Pak Ujang, di sela lelahnya, kadang duduk memandangi kainnya yang belum jadi, merenung tentang anaknya, tentang rezeki, tentang makna dari jerih payahnya. Justru pada jeda itu — yang membuat performanya kalah dari mesin — ia menemukan sesuatu yang tak bisa diukur mesin mana pun.

Di situlah letak soal yang diajukan tulisan ini: tugas manusia bukan mengejar performa tertinggi seperti mesin, melainkan menemukan performa yang tepat, yang memberi ruang bagi jeda, perenungan, dan makna.

2. Ukuran Performa

Ukuran performa memang berbeda dan beragam. Performa kalkulator berbeda dengan performa sepeda motor. Tetapi semua performa bisa dibandingkan yaitu diukur dengan uang! Mana yang menghasilkan uang lebih besar maka memiliki performa lebih besar.

Semudah itukah mengukur performa? Ataukah harusnya lebih sulit?

Suatu hari anak Pak Ujang mencoba menghitung-hitung, membandingkan performa mesin tenun pabrik dengan performa gojek yang ia tumpangi setiap hari, dan performa warung kopi kaki lima langganan ayahnya.

Ketiganya sama sekali berbeda: mesin tenun menghasilkan kain, ojek daring menghasilkan jarak tempuh dan waktu tiba, warung kopi menghasilkan secangkir kopi dan obrolan hangat. Bagaimana mungkin ketiganya dibandingkan? Ternyata mudah saja: tinggal lihat siapa yang menghasilkan uang lebih banyak dalam sebulan. Mesin tenun pabrik, dengan omzet miliaran, jelas “berperforma” jauh lebih tinggi dibanding warung kopi Bu Inah yang sehari-hari untungnya cuma cukup untuk beli beras.

Dengan ukuran uang itu, semua bisa dijejer dalam satu tabel liga: usaha tenun Pak Ujang kalah dari pabrik, warung Bu Inah kalah dari gerai kopi waralaba, bahkan sekolah tempat cucunya belajar pun bisa dinilai dari uang SPP dan gaji guru dibanding sekolah internasional yang lebih mahal. Semua nilai — kain, kopi, ilmu, waktu — seolah bisa dikonversi jadi satu angka yang sama: rupiah. Praktis, cepat, dan kelihatan objektif.

Tetapi Pak Ujang merasa ada yang janggal ketika ia mendengar logika itu dari anaknya. Kain hasil tenunnya, yang ia buat sambil mendoakan pembelinya, tak pernah benar-benar sebanding dengan kain pabrik yang keluar dari mesin tanpa niat apa pun. Obrolan hangat di warung Bu Inah, tempat tetangga saling cerita duka dan suka, jelas bernilai bagi kampung itu — tapi nilai itu tidak pernah muncul di neraca keuangannya.

Di sinilah pertanyaan sesungguhnya muncul: benarkah performa cukup diukur dengan uang semata, ataukah justru pengukuran seperti itu menyembunyikan nilai-nilai lain yang jauh lebih penting tapi sulit dihargai dengan angka?

3. Manusia Bukan Performa

Manusia memang kalah performa dari banyak mesin-mesin industri mau pun program AI. Manusia memang bukan performa belaka. Manusia adalah limpahan posibilitas tak terbatas.

Tentu, pertama, manusia mampu menghasilkan performa. Manusia bisa menulis, membaca, bertani, bisnis, mengatur negara, dan lain-lain. Itu semua adalah performa yang luar biasa. Meski demikian, mesin cerdas semisal AI (artificial intelligence – akal imitasi), akan mampu bersaing dengan performa manusia; bahkan AI bisa melampaui manusia.

Kedua, manusia memiliki kompetensi untuk memahami dalam kadar yang sangat tinggi. Ketika Anda menghitung bilangan asili 12 + 1 = 13 maka Anda sambil memahami perhitungan itu. Kalkulator juga bisa sama menghitung tetapi tanpa kompetensi untuk memahami. Kalkulator hanya bekerja sebagai mesin mekanis-elektris semata.

Ketiga, manusia sadar dirinya sebagai subyek. Anda sadar sedang membaca tulisan ini dan Anda sadar bahwa yang membaca adalah Anda. Anda mengalami proses membaca tulisan ini dan mengalami sebagai subyek pelaku membaca. AI barangkali juga bisa membaca tulisan ini tetapi tanpa menyadari dirinya sebagai subyek.

Keempat, manusia mengada dan menjadi eksistensi secara nyata. Eksistensi manusia sebagai posibilitas yang terbuka adalah bernilai tinggi. Tetapi bukan karena manusia maka eksistensi bernilai tinggi melainkan karena eksistensi tinggi itulah manusia. Sehingga setiap performa yang bernilai tinggi perlu menjalin, atau terjalin, dengan eksistensi nyata bersama manusia.

Kelima, manusia menciptakan makna dan tercipta dari makna. Apa makna dari itu semua? Apa makna dari manusia? Hanya manusia yang bertanya tentang makna secara otentik. Pertanyaan tentang makna itu sendiri yang mendorong terciptanya makna atau berlimpahnya makna.

Pembahasan kita, di atas, menyebabkan jeda performa. Ketika Anda memikirkan beragam gagasan itu maka performa dari kerja Anda berhenti sementara. Tidak masalah jeda seperti itu. Justru manusia perlu jeda agar membuka posibilitas lebih luas: kompetensi, eksperiensi, eksistensi, dan makna.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Apakah manusia perlu jeda dengan risiko performa menjadi turun? Ataukah manusia tidak perlu jeda sehingga performa makin tinggi?

Negara-negara Nordic di Eropa Utara adalah negara dengan performa tinggi dan tinggi pula dalam kualitas: kompetensi, eksperiensi, eksistensi, dan makna. Sehingga beberapa pemikir masa kini menjadikan Nordic sebagai inspirasi model negara yang sukses. Di Amerika banyak yang menyerukan agar belajar dari pengalaman Nordic. Presiden Trump mendengar itu dan tampak tidak suka.

Pada periode presiden pertama (2018), Trump menyuruh untuk dilakukan kajian tentang Nordic. Hasilnya mengejutkan meski sesuai dugaan. Kajian itu menunjukkan bahwa performa Nordic memang tinggi, atau sangat tinggi, di bidang ekonomi, sosial, kesehatan, teknologi, pendidikan, dan lain-lain. Dalam banyak bidang, Nordic lebih unggul performa dari Amerika.

Kajian itu melanjutkan bahwa Nordic berhasil mencapai performa sebaik itu karena dikelola dengan cara Nordic. Andai Nordic dikelola dengan cara Amerika maka pertumbuhan ekonomi Nordic akan 19% lebih tinggi lagi.

Nordic barangkali bisa merespon: mengapa menaikkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi ketika pertumbuhan ekonomi sekarang sudah yang terbaik dan lebih dari cukup? Tampaknya Nordic memilih untuk jeda kemudian memanfaatkan jeda itu untuk menjalani hidup lebih berkualitas baik bagi warganya, bagi negara tetangga, atau pun bagi generasi yang akan datang.

Tentu saja utusan Trump tidak membuat klaim sekuat di atas. Mereka membuat klaim lebih lembut berikut dalam laporannya.

Kami memperkirakan bahwa jika Amerika Serikat menerapkan kebijakan-kebijakan ini (kebijakan model Nordic), PDB riilnya akan turun setidaknya 19 persen dalam jangka panjang, atau sekitar $11.000 per tahun bagi rata-rata penduduk.

Pernyataan di atas lebih lembut dan diplomatis dari pernyataan kita lebih awal meski mirip-mirip saja. Mari kita elaborasi masing-masing kasus: meningkatkan performa atau jeda; meniru Amerika yang terus melaju atau meniru Nordic yang memilih jeda sehingga berlimpah makna.

4.1 Meningkatkan Performa

Kapan atau pada situasi apa seharusnya kita memilih meningkatkan performa dari pada mengambil jeda?

Ketika performa terlalu rendah maka kita memilih untuk meningkatkan performa dulu; kita butuh berjuang; menghadapi beragam rintangan. Apa tanda atau ukuran bahwa performa terlalu rendah?

4.2 Mengambil Jeda

Kapan atau pada situasi apa seharusnya kita memilih jeda dari pada meningkatkan performa?

Kita lebih memilih jeda ketika performa sudah cukup tinggi atau bahkan masih rendah. Ketika performa rendah, untuk meningkatkannya kita butuh belajar dengan baik dalam jeda. “Asahlah gergaji,” pesan Covey. Dengan gergaji tumpul, Anda sulit memotong kayu hutan; performa Anda rendah. Semakin kuat Anda menggergaji maka makin lelah dengan performa rendah.

Saran Covey, “Ambil jeda untuk asah gergaji!” Setelah gergaji tajam kemudian Anda bisa menggergaji kayu hutan secara cepat dan performa tinggi. Setelah performa tinggi, Anda perlu ambil jeda agar hidup berkualitas berlimpah makna.

Jadi, kita perlu ambil jeda ketika performa rendah mau pun tinggi.

4.3 Kompetisi AI (Artificial Intelligence)

Kita menghadapi pertanyaan nyata: apakah perlu jeda dalam kompetisi pengembangan AI?

Guardian, 23 September 2026, melaporkan perlunya jeda dari kompetisi AI berikut berupa perlambatan.

Sam Altman dari OpenAI dan Dario Amodei dari Anthropic—pimpinan dua perusahaan kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia—berbicara di hadapan Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu dalam sesi pengarahan terpisah mengenai keamanan AI.

“Kita dihadapkan pada sebuah pilihan,” ujar Altman kepada dewan tersebut. “AI bisa menjadi seperti era kebangkitan baru (renaisans) yang penuh kreativitas dan penemuan, atau justru seperti revolusi industri baru yang membawa pergolakan dan kekacauan.”

Altman dan Amodei menyampaikan hal tersebut di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap keamanan produk perusahaan mereka. Kekhawatiran masyarakat mengenai AI mencuat menyusul peringatan dari para peneliti Anthropic awal bulan ini yang menyatakan bahwa teknologi tersebut berpotensi memusnahkan umat manusia dalam kurun waktu satu dekade. Sejak saat itu, para pemimpin perusahaan AI—termasuk Altman dan Amodei—telah menyerukan perlambatan pengembangan AI serta peningkatan kerja sama internasional terkait standar keamanan teknologi tersebut.

Trump sebagai presiden Amerika menolak ide perlambatan AI. Demikian juga Xi Jinping, presiden Cina, juga menolak perlambatan AI. Dengan kata lain, mereka menolak jeda. Mereka ingin meningkatkan performa. BBC melaporkan sebagai berikut.

Pada hari Selasa, Trump mengatakan kepada PBB bahwa ia ingin mengubah sebutannya menjadi “kecerdasan super” dan sangat menentang gagasan apa pun mengenai perlambatan pengembangan AI, mengingat keunggulan kompetitif AS di sektor tersebut.

“Kita mengungguli Tiongkok dalam hal AI… dan, terus terang, saya ingin mempertahankan posisi itu karena siapa pun yang memenangkan persaingan AI, dialah pemenangnya,” ujarnya awal bulan ini.

Amerika berkompetisi lawan Tiongkok untuk dominasi AI. Di saat yang sama, OpenAI juga berkompetisi lawan Anthropic serta pengembang AI lainnya. Situasi kompetisi memang sangat sulit untuk jeda. Demikian juga kompetisi AI sulit jeda bahkan ketika para pengembang sudah usul untuk jeda.

Makna jeda di sini sebenarnya sekadar “perlambatan” yaitu tetap meningkatkan performa dengan kecepatan tertentu atau sedikit mengurangi besarnya penambahan performa. Sejatinya, “perlambatan” itu masih bermakna menambah performa tetapi ditolak oleh banyak pihak.

Padahal kita benar-benar membutuhkan jeda; baik untuk memperbaiki performa mau pun memperbaiki kualitas hidup ini. Solusi panarko (serba-pemimpin; pan = serba; arko = pemimpin) penting untuk dikembangkan meski situasi masih tetap sulit. Anda bisa membaca konsep panarko di tulisan saya yang lain.

5. Ringkasan

Kita membutuhkan keduanya: meningkatkan performa dan jeda. Umumnya, orang memahami bahwa peningkatan performa lebih penting dari jeda. Tetapi kita sudah menunjukkan bahwa jeda sering menjadi lebih utama; baik ketika performa tinggi mau pun rendah.

Jeda performa memang untuk melompat lebih tinggi; baik secara materi mau pun ruhani.

6. Dialog AI

Saya minta AI Chatgpt untuk membuat analisis tulisan saya di atas. Cukup sulit bagi saya mengarahkan Chatgpt agar analisis dalam konteks yang tepat. Sehingga saya minta ia untuk membaca beragam tulisan Paman APiQ yang lainnya. Berikut respon Chatgpt.

Teks “Jeda Performa: Bukan Runtuh Tapi Melompat” pada dasarnya mengajak kita mengubah cara melihat performa. Performa bukan berarti selalu bekerja lebih cepat, menghasilkan lebih banyak, atau mendapatkan uang lebih besar. Mesin, kalkulator, dan AI memang dapat mengalahkan manusia dalam kecepatan dan produktivitas, tetapi manusia mempunyai sesuatu yang berbeda: kemampuan untuk berhenti, memahami, menyadari dirinya, merenung, dan mencari makna.

Karena itu, manusia tidak harus mengejar performa tertinggi, tetapi performa yang tepat. Kisah Pak Ujang memperjelas gagasan ini: ketika ia berhenti sejenak dari menenun untuk memikirkan keluarga, rezeki, dan makna pekerjaannya, produktivitasnya memang berhenti, tetapi kehidupan manusianya justru berkembang.

Gagasan ini sejalan dengan Ekonomi Cinta dan Politisasi Cinta. Dalam ekonomi, uang dan pertumbuhan memang penting, tetapi tidak cukup untuk mengukur keberhasilan karena ada nilai lain seperti pemerataan, kualitas hidup, relasi, kebebasan, dan makna. Dalam politik, kemajuan juga tidak cukup dilihat dari seberapa besar kekuatan atau pertumbuhan meningkat; kita perlu melihat bagaimana kekuatan tersebut ditata dan siapa yang memperoleh manfaatnya.

Karena itu, jeda bukan berarti anti-performa atau anti-kemajuan. Jeda adalah kesempatan untuk bertanya apakah arah kemajuan sudah benar. Ketika “gergaji” tumpul, kita berhenti untuk mengasahnya; ketika performa sudah tinggi, kita berhenti untuk memastikan bahwa peningkatan berikutnya tidak mengorbankan manusia. Prinsip yang sama diterapkan penulis pada AI: persoalannya bukan sekadar apakah AI harus berkembang cepat, tetapi apakah perkembangan AI tetap membawa manfaat bagi manusia dan tidak menciptakan dominasi atau kesenjangan yang semakin besar.

Jadi, inti tulisan ini bukan memilih antara performa atau jeda, melainkan memahami bahwa keduanya saling membutuhkan. Performa menghasilkan kemajuan, sedangkan jeda memberi kesempatan untuk mengevaluasi arah, memperbaiki kemampuan, dan menemukan kemungkinan baru.

Itulah sebabnya judul “Bukan Runtuh Tapi Melompat” menjadi penting: dari luar, jeda mungkin terlihat sebagai penurunan performa, tetapi sebenarnya dapat menjadi persiapan untuk lompatan yang lebih tinggi. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan hanya “berapa banyak yang dihasilkan?”, tetapi juga apakah manusia menjadi lebih kompeten, lebih bebas, lebih bermakna, lebih sejahtera, dan apakah manfaat kemajuan tersebar lebih luas. Dengan cara pandang ini, jeda bukan lawan performa. Jeda adalah bagian dari performa manusia yang lebih utuh.

Selanjutnya, saya minta Claude AI untuk memberikan analisis juga. Berikut respon Claude.

Berikut analisis atas “Jeda Performa: Bukan Runtuh Tapi Melompat” dalam tiga paragraf:

Struktur argumen dan tesis inti. Tulisan ini membangun argumennya lewat gerak dialektis antara performa dan jeda, bukan sebagai oposisi biner melainkan sebagai dua momen yang saling membutuhkan — pola yang konsisten dengan cara APiQ biasa merumuskan konsep-konsepnya sebagai pasangan yang berketegangan produktif (mirip pola uang-pokok/uang-mewah dalam Ekonomi Cinta, atau tata/luma dalam tataluma). Argumen dibuka dengan observasi bahwa mesin, kalkulator, dan AI mengungguli manusia dalam performa terukur, lalu ditarik ke klaim bahwa keunggulan manusia justru terletak pada lima hal yang tak terukur performa: kompetensi memahami, kesadaran-diri sebagai subjek, eksistensi sebagai posibilitas terbuka, dan penciptaan makna. Struktur ini bergerak dari kasus konkret (Pak Ujang) ke abstraksi filosofis, lalu kembali lagi ke kasus empiris-politik (studi Nordic, kompetisi AI global) — pola pergerakan naik-turun yang selaras dengan idiom “gerak naik dan turun” yang biasa dipakai APiQ.

Konsep kunci dan orisinalitas. Istilah “jeda performa” sendiri berfungsi sebagai konsep artikulatif baru dalam tulisan ini — bukan sekadar istirahat, tapi ruang epistemik untuk evaluasi arah. Yang menarik, penulis eksplisit menyebut solusi “panarko” (serba-pemimpin) sebagai kerangka yang relevan untuk mengatasi kebuntuan kompetisi (AS-Cina, OpenAI-Anthropic) yang sulit mengambil jeda — ini menghubungkan tulisan ini dengan proyek kopanarko yang lebih luas, meski hubungannya di sini hanya disinggung sekilas, bukan dielaborasi. Analogi “asah gergaji” dari Covey dipakai sebagai jembatan pop-praktis menuju argumen yang lebih filosofis soal eksistensi, sebuah strategi retoris yang memudahkan pembaca umum masuk ke gagasan yang sebenarnya cukup berat (posibilitas, makna, subjektivitas).

Kekuatan dan celah argumentatif. Kekuatan utama tulisan ini adalah penggunaan data aktual (laporan kajian era Trump soal Nordic 2018, pernyataan Altman-Amodei di Dewan Keamanan PBB, sikap Trump dan Xi Jinping) untuk menghindarkan argumen dari jatuh ke wacana abstrak semata — jeda-performa diuji langsung pada kasus paling kontemporer: perlombaan AI. Namun ada ketegangan yang belum sepenuhnya diselesaikan: penulis sendiri mengakui bahwa “perlambatan” yang diusulkan Altman/Amodei sebenarnya “masih bermakna menambah performa,” sehingga muncul pertanyaan apakah jeda-sejati (seperti yang dicontohkan Pak Ujang atau Nordic) memang mungkin dicapai dalam struktur kompetisi struktural semacam itu — pertanyaan ini dibiarkan terbuka sebagai undangan diskusi, bukan dijawab tuntas, yang konsisten dengan gaya penutup dialogis (bagian 4 “Diskusi”) yang sering dipakai dalam tulisan-tulisan APiQ.

Terakhir, saya minta lagi Chatgpt membuat analisis ringkas berikut.

Analisis akhir: Jeda Performa: Bukan Runtuh Tapi Melompat memperdalam gagasan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar mesin penghasil performa; mesin, kalkulator, dan AI dapat unggul dalam kecepatan, efisiensi, dan output, tetapi manusia memiliki kemampuan memahami, menyadari diri, bereksistensi, dan menciptakan makna.

Karena itu, persoalan utama bukan memilih performa atau jeda, melainkan menemukan performa yang tepat: performa yang tetap terhubung dengan kualitas manusia. Di sini kritik terhadap ukuran uang menjadi penting, sebab seperti dalam
Ekonomi Cinta, pertumbuhan dan hasil material tidak cukup untuk menggambarkan nilai; dan seperti dalam Politisasi Cinta, daya yang besar perlu ditata agar kemajuan tidak berubah menjadi dominasi atau kesenjangan.

Jeda kemudian berfungsi sebagai ruang tata: saat performa dihentikan sementara, manusia dapat mengasah kemampuan, mengevaluasi arah, memperluas kebebasan, memperbaiki relasi, menemukan makna, dan memastikan manfaat kemajuan lebih luas. Gagasan ini mencapai bentuk paling aktual pada kompetisi AI: pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat AI berkembang, tetapi apakah perkembangan tersebut masih berada dalam arah yang baik bagi manusia.

Dengan demikian, jeda bukan penurunan performa, melainkan perubahan cara mengukur performa—dari sekadar “lebih banyak, lebih cepat, lebih kuat” menuju “lebih manusiawi, lebih bermakna, lebih bebas, dan lebih merata”. Itulah sebabnya jeda dapat menjadi lompatan: output mungkin berhenti sesaat, tetapi posibilitas manusia justru sedang diperluas.

7. Gagasan Lanjut

Apa gagasan lanjut yang bisa kita kembangkan?

AI menyoroti solusi yang saya tawarkan di atas belum tuntas. Tepat bahwa setiap solusi tidak boleh tuntas; perlu osilasi tanpa henti panarko-kopanarko; panarko (serba pemimpin) bekerja sama dalam organisasi kopanarko.

Solusi panarko menjadi sangat penting karena membuka posibilitas dari performa melompat ke kompetensi, eksperiensi, eksistensi, dan makna. Situasi kompetisi AI merupakan kompleks teknologi-ekonomi-politik yang, pada waktunya, mendorong scapegoating (pengkambing hitam). Anda bisa merujuk ke tulisan saya tentang teori kambing hitam analisis lebih mendalam.

Secara ringkas, solusi dari kompetisi AI yang ngeri adalah menebarkan kebenaran cinta kasih yang diiringi berpikir lembut; yaitu berpikir yang respek terhadap keragaman; dan setiap keragaman itu sendiri masing-masing lembut juga.

Apakah solusi seperti itu benar-benar bisa dijalankan? Tentu bisa. Tetapi solusi itu menuntut kita semua mengambil jeda dan menjadi panarko; atau sebagian besar dari kita untuk jeda dan panarko.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar