Kita butuh untuk berpikir, merenung, dan evaluasi diri. Berpikir itu memang mengganggu performa karena butuh jeda dari aktivitas. Performa bisa turun karena Anda berpikir; tidak ada jaminan akan naik. Tetapi bisa melompat; ke dunia yang lebih kaya dari performa.

Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering tergoda untuk mengejar performa tertinggi. Kadang kita memang harus menaikkan performa, menambah hasil, dan efisiensi. Tetapi kadang kita justru membutuhkan sebaliknya; yaitu kita butuh jeda performa. Kapan waktu yang tepat untuk jeda? Memikirkan itu saja sudah membutuhkan jeda.
1. Mesin Performa
2. Ukuran Performa
3. Manusia Bukan Performa
4. Diskusi
5. Ringkasan
Kebijakan luhur memberi ruang jeda berupa puasa. Islam mewajibakan muslim untuk puasa satu bulan penuh sepanjang Ramadhan dan beragam puasa pilihan di banyak waktu lainnya. Sementara ajaran yang lain mengajarkan puasa dengan cara masing-masing. Bahkan anak-anak jaman sekarang sering menjalani intermittent fasting: puasa berlanjut.
1. Mesin Performa
Mesin-mesin pabrik lebih hebat performanya dari manusia dalam menghasilkan kain tekstil, misalnya. Kalkulator lebih cepat berhitung dari manusia. AI (akal imitasi – artificial intelligence) lebih produktif dalam mengarang dari manusia.
Tugas manusia memang bukan untuk mencapai performa tertinggi melainkan mencapai performa yang tepat. Seperti apa itu?
2. Ukuran Performa
Ukuran performa memang berbeda dan beragam. Performa kalkulator berbeda dengan performa sepeda motor. Tetapi semua performa bisa dibandingkan yaitu diukur dengan uang! Mana yang menghasilkan uang lebih besar maka memiliki performa lebih besar.
Semudah itukah mengukur performa? Ataukah harusnya lebih sulit?
3. Manusia Bukan Performa
Manusia memang kalah performa dari banyak mesin-mesin industri mau pun program AI.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
5. Ringkasan
