Pak Iwan (sudah tua): Dusta mana lagi yang kamu nikmati?
Damar (anak muda): Maaf, saya tidak mengerti maksudnya Pak Iwan.
Pak Iwan: Dusta besar adalah dusta bahasa.
Damar (berpikir lama): Dusta tentang fakta adalah dusta biasa.
Pak Iwan: Coba temukan contohnya.
Damar: Londo ireng, bajingan, ndasmu, antek-antek asing.
Pak Iwan: Mengapa bisa begitu?
Damar: Tidak jelas apa faktanya tetapi dustanya memutar bahasa.
Pak Iwan (senyum): Dusta mana lagi yang kamu nikmati?
Damar (ikut senyum): Begitu banyak dusta bagai kecanduan narkoba.
Dusta yang Kita Nikmati
Sore itu beranda rumah Pak Iwan masih basah oleh hujan yang baru reda. Bau tanah naik pelan-pelan, bercampur asap kopi yang mengepul dari dua cangkir di atas meja bambu. Pak Iwan duduk di kursi rotan yang sudah melengkung mengikuti bentuk punggungnya selama bertahun-tahun, matanya menatap jalan setapak yang mulai gelap.
Damar datang seperti biasa, membawa map berisi tugas kuliah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dibahas. Yang selalu terjadi hanyalah percakapan—dan percakapan itu, entah kenapa, selalu terasa lebih berat daripada tugas apa pun.
“Dusta mana lagi yang kamu nikmati?” tanya Pak Iwan, tanpa basa-basi, seperti biasa.
Damar mengernyit. Ia sudah kenal Pak Iwan cukup lama untuk tahu bahwa pertanyaan seperti ini bukan basa-basi orang tua yang iseng. Ini adalah pintu. Dan di baliknya selalu ada ruangan yang lebih gelap dari yang ia kira.
“Maaf, saya tidak mengerti maksudnya, Pak Iwan.”
Pak Iwan menyeruput kopinya, membiarkan uap hangat menyentuh wajahnya yang penuh garis waktu. “Dusta besar,” katanya pelan, “adalah dusta bahasa.”
Damar diam. Ia menunduk, memutar-mutar cangkirnya yang belum disentuh. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang mengganggu—bukan karena rumit, tapi karena terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini ia anggap remeh.
Lama ia berpikir, sampai magrib nyaris turun dan suara azan samar-samar terdengar dari kejauhan. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Dusta tentang fakta adalah dusta biasa,” katanya, seperti sedang menguji kalimatnya sendiri di udara.
“Coba temukan contohnya,” kata Pak Iwan, tanpa memberi ruang bagi Damar untuk merasa selesai.
Damar menghela napas panjang. Kata-kata itu keluar satu per satu, seperti batu yang ia lempar ke dalam sumur, mendengarkan gemanya sendiri.
“Londo ireng. Bajingan. Ndasmu. Antek-antek asing.”
Ia berhenti sejenak, seolah kata-kata itu meninggalkan rasa pahit di lidahnya sendiri—kata-kata yang pernah ia dengar, mungkin pernah ia ucapkan, tanpa pernah benar-benar menimbangnya.
“Mengapa bisa begitu?” tanya Pak Iwan. Suaranya tidak menuduh. Ia hanya menunggu, seperti seorang guru yang tahu jawabannya sudah ada di dalam diri muridnya, hanya perlu waktu untuk keluar.
Damar menatap jauh ke arah pepohonan yang mulai kehilangan bentuknya dalam remang senja. “Tidak jelas apa faktanya,” lanjut Damar, “tetapi dustanya memutar bahasa.”
Ada jeda panjang. Bukan jeda kosong, tapi jeda yang penuh—seperti ruangan yang baru saja diterangi lilin, dan keduanya sedang membiarkan mata menyesuaikan diri dengan cahaya baru itu.
Pak Iwan tersenyum, senyum yang jarang muncul, senyum yang menyimpan sesuatu antara bangga dan pilu. “Dusta mana lagi,” ulangnya, “yang kamu nikmati?”
Kali ini Damar tidak menunduk. Ia balas tersenyum, meski senyumnya getir, senyum orang yang baru saja melihat wajahnya sendiri di cermin yang selama ini ia hindari.
“Begitu banyak dusta,” katanya, “bagai kecanduan narkoba.”
Angin malam mulai bertiup, membawa dingin yang menembus jaket tipis Damar. Tapi ia tidak beranjak. Ia duduk di sana, di antara dua cangkir kopi yang sudah dingin, menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya mendengar dusta—ia telah memakainya, mengulanginya, membiarkannya menjadi bagian dari cara ia melihat orang lain dan dirinya sendiri.
Bukan fakta yang berbahaya, pikirnya. Fakta bisa diperiksa, dibantah, dibuktikan salah. Yang berbahaya adalah kata yang sudah dibengkokkan sejak awal—kata yang tidak lagi menunjuk kepada dunia, tapi menunjuk kepada kebencian yang mencari alasan untuk ada.
Dan yang paling menakutkan, ia sadar, adalah betapa nikmatnya mengucapkan kata-kata itu. Ada kelegaan aneh dalam mencaci, ada rasa berkuasa dalam merendahkan, ada candu dalam kemudahan menghakimi tanpa harus membuktikan apa pun.
Pak Iwan tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan malam dan keheningan melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan kata-kata. Karena beberapa pelajaran, ia tahu, hanya bisa sampai ke dalam diri seseorang lewat jalan yang sunyi—lewat jeda, lewat rasa malu yang jujur, lewat pengakuan yang tidak diminta siapa pun kecuali diri sendiri.
Damar pulang malam itu tanpa membawa jawaban baru. Yang ia bawa pulang hanyalah sebuah pertanyaan yang kini menetap di dadanya, tidak lagi milik Pak Iwan, tapi miliknya sendiri: berapa banyak lagi dusta bahasa yang selama ini kunikmati, tanpa pernah kusadari bahwa aku sedang kecanduan?

