Pak Iwan (sudah tua): Dusta mana lagi yang kamu nikmati?
Damar (anak muda): Maaf, saya tidak mengerti maksudnya Pak Iwan.
Pak Iwan: Dusta besar adalah dusta bahasa.
Damar (berpikir lama): Dusta tentang fakta adalah dusta biasa.
Pak Iwan: Coba temukan contohnya.
Damar: Londo ireng, bajingan, ndasmu, antek-antek asing.
Pak Iwan: Mengapa bisa begitu?
Damar: Tidak jelas apa faktanya tetapi dustanya memutar bahasa.
Pak Iwan (senyum): Dusta mana lagi yang kamu nikmati?
Damar (ikut senyum): Begitu banyak dusta bagai kecanduan narkoba.

1. Narasi Dusta
2. Analisis Dusta Bahasa
3. Diskusi
Manusia berada dalam ancaman dusta. Bukan dusta biasa yang berbohong tentang fakta melainkan dusta besar yang memutar bahasa.
1. Narasi Dusta
Berikut kita kembangkan menjadi narasi lebih panjang.
Dusta yang Kita Nikmati
Sore itu beranda rumah Pak Iwan masih basah oleh hujan yang baru reda. Bau tanah naik pelan-pelan, bercampur asap kopi yang mengepul dari dua cangkir di atas meja bambu. Pak Iwan duduk di kursi rotan yang sudah melengkung mengikuti bentuk punggungnya selama bertahun-tahun, matanya menatap jalan setapak yang mulai gelap.
Damar datang seperti biasa, membawa map berisi tugas kuliah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dibahas. Yang selalu terjadi hanyalah percakapan—dan percakapan itu, entah kenapa, selalu terasa lebih berat daripada tugas apa pun.
“Dusta mana lagi yang kamu nikmati?” tanya Pak Iwan, tanpa basa-basi, seperti biasa.
Damar mengernyit. Ia sudah kenal Pak Iwan cukup lama untuk tahu bahwa pertanyaan seperti ini bukan basa-basi orang tua yang iseng. Ini adalah pintu. Dan di baliknya selalu ada ruangan yang lebih gelap dari yang ia kira.
“Maaf, saya tidak mengerti maksudnya, Pak Iwan.”
Pak Iwan menyeruput kopinya, membiarkan uap hangat menyentuh wajahnya yang penuh garis waktu. “Dusta besar,” katanya pelan, “adalah dusta bahasa.”
Damar diam. Ia menunduk, memutar-mutar cangkirnya yang belum disentuh. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang mengganggu—bukan karena rumit, tapi karena terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini ia anggap remeh.
Lama ia berpikir, sampai magrib nyaris turun dan suara azan samar-samar terdengar dari kejauhan. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Dusta tentang fakta adalah dusta biasa,” katanya, seperti sedang menguji kalimatnya sendiri di udara.
“Coba temukan contohnya,” kata Pak Iwan, tanpa memberi ruang bagi Damar untuk merasa selesai.
Damar menghela napas panjang. Kata-kata itu keluar satu per satu, seperti batu yang ia lempar ke dalam sumur, mendengarkan gemanya sendiri.
“Londo ireng. Bajingan. Ndasmu. Antek-antek asing.”
Ia berhenti sejenak, seolah kata-kata itu meninggalkan rasa pahit di lidahnya sendiri—kata-kata yang pernah ia dengar, mungkin pernah ia ucapkan, tanpa pernah benar-benar menimbangnya.
“Mengapa bisa begitu?” tanya Pak Iwan. Suaranya tidak menuduh. Ia hanya menunggu, seperti seorang guru yang tahu jawabannya sudah ada di dalam diri muridnya, hanya perlu waktu untuk keluar.
Damar menatap jauh ke arah pepohonan yang mulai kehilangan bentuknya dalam remang senja. “Tidak jelas apa faktanya,” lanjut Damar, “tetapi dustanya memutar bahasa.”
Ada jeda panjang. Bukan jeda kosong, tapi jeda yang penuh—seperti ruangan yang baru saja diterangi lilin, dan keduanya sedang membiarkan mata menyesuaikan diri dengan cahaya baru itu.
Pak Iwan tersenyum, senyum yang jarang muncul, senyum yang menyimpan sesuatu antara bangga dan pilu. “Dusta mana lagi,” ulangnya, “yang kamu nikmati?”
Kali ini Damar tidak menunduk. Ia balas tersenyum, meski senyumnya getir, senyum orang yang baru saja melihat wajahnya sendiri di cermin yang selama ini ia hindari.
“Begitu banyak dusta,” katanya, “bagai kecanduan narkoba.”
Angin malam mulai bertiup, membawa dingin yang menembus jaket tipis Damar. Tapi ia tidak beranjak. Ia duduk di sana, di antara dua cangkir kopi yang sudah dingin, menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya mendengar dusta—ia telah memakainya, mengulanginya, membiarkannya menjadi bagian dari cara ia melihat orang lain dan dirinya sendiri.
Bukan fakta yang berbahaya, pikirnya. Fakta bisa diperiksa, dibantah, dibuktikan salah. Yang berbahaya adalah kata yang sudah dibengkokkan sejak awal—kata yang tidak lagi menunjuk kepada dunia, tapi menunjuk kepada kebencian yang mencari alasan untuk ada.
Dan yang paling menakutkan, ia sadar, adalah betapa nikmatnya mengucapkan kata-kata itu. Ada kelegaan aneh dalam mencaci, ada rasa berkuasa dalam merendahkan, ada candu dalam kemudahan menghakimi tanpa harus membuktikan apa pun.
Pak Iwan tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan malam dan keheningan melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan kata-kata. Karena beberapa pelajaran, ia tahu, hanya bisa sampai ke dalam diri seseorang lewat jalan yang sunyi—lewat jeda, lewat rasa malu yang jujur, lewat pengakuan yang tidak diminta siapa pun kecuali diri sendiri.
Damar pulang malam itu tanpa membawa jawaban baru. Yang ia bawa pulang hanyalah sebuah pertanyaan yang kini menetap di dadanya, tidak lagi milik Pak Iwan, tapi miliknya sendiri: berapa banyak lagi dusta bahasa yang selama ini kunikmati, tanpa pernah kusadari bahwa aku sedang kecanduan?
2. Analisis Dusta Bahasa
Sedikit analisis dusta bahasa dengan mengambil studi kasus presiden Amerika dan Indonesia.
Dari Beranda Fiksi ke Gedung Putih dan Istana Merdeka
“Dusta mana lagi yang kamu nikmati?”
Pertanyaan itu diajukan seorang tua kepada anak muda di sebuah beranda, sore selepas hujan. Bukan pertanyaan tentang kebohongan yang biasa kita kenal—bukan soal angka yang dipalsukan, atau kejadian yang diputarbalikkan. Pak Iwan, tokoh dalam dialog itu, mengajukan sesuatu yang lebih halus dan justru karena itu lebih berbahaya: dusta bahasa.
Dua Jenis Dusta
Ada dusta yang bisa diperiksa: seseorang mengatakan hujan padahal cerah, mengatakan hadir padahal tidak. Dusta semacam ini bisa dibantah dengan fakta. Tapi ada dusta lain yang jauh lebih licin, karena ia tidak lagi berpura-pura menunjuk fakta. Ia langsung menghakimi.
“Londo ireng.” “Bajingan.” “Antek-antek asing.” Damar, anak muda dalam dialog itu, butuh waktu lama untuk menemukan sendiri apa yang salah dari kata-kata ini. Jawabannya sederhana tapi menusuk: tidak jelas apa faktanya, tetapi dustanya memutar bahasa. Kata-kata itu tidak lagi berfungsi menggambarkan dunia—ia berfungsi memutuskan siapa lawan, sebelum ada yang sempat diperiksa.
Yang menarik, dan agak mengejutkan ketika ditelusuri: contoh-contoh dalam dialog fiksi ini bukan sekadar rekaan acak. Kata “londo ireng” adalah label yang benar-benar dilontarkan seorang kepala negara terhadap jurnalis, hanya beberapa minggu sebelum tulisan ini dibuat. Fiksi dan realitas ternyata berjalan sangat berdekatan.
Studi Kasus Pertama: Gedung Putih
Presiden Amerika Serikat Donald Trump punya rekam jejak panjang dan konsisten dalam melabeli lawan politiknya. Ia pernah menyebut lawan domestiknya sebagai “fasis” yang bersalah atas “pengkhianatan,” juga “musuh rakyat,” “musuh dari dalam,” “sampah,” dan “ancaman bagi demokrasi.” Ia bahkan pernah menyebut Partai Demokrat sebagai “partai Setan.”
Menjelang pemilu sela 2026, pola ini berlanjut dengan sasaran baru: kandidat sosialis-demokrat dilabeli “komunis,” dengan klaim bahwa kebangkitan mereka adalah ancaman lebih besar bagi Amerika dibanding Perang Dunia I, Perang Dunia II, Pearl Harbor, dan serangan 11 September sekaligus.
Sama seperti pola yang ditemukan Damar: tidak jelas definisi “komunis” macam apa yang berlaku untuk politisi arus utama, tapi labelnya langsung memutuskan siapa musuh—tanpa perlu argumen kebijakan yang bisa diperiksa dan dibantah.
Studi Kasus Kedua: Istana Merdeka
Di Indonesia, pola yang hampir identik terjadi dalam rentang waktu yang lebih pendek namun tak kalah runtut. Sejak awal 2025, ada rangkaian label yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto terhadap pihak-pihak yang mengkritiknya:
- “Antek asing” (Februari 2025)
- Pertanyaan apakah massa penolak UU TNI “murni atau ada yang bayar” (April 2025)
- “Kekuatan asing” yang disebut memecah belah bangsa (Juni 2025)
- Tudingan “makar dan terorisme” terhadap demonstran (Agustus 2025)
- “Siapa yang bayar demo, saya tahu” (Juni 2026)
- Dan yang paling baru, “londo ireng” kepada jurnalis (Juli 2026)
Sejumlah pengamat komunikasi politik menilai pola labeling ini berfungsi mengalihkan perhatian publik dari substansi kritik menjadi sekadar mempertanyakan motif pihak yang mengkritik. Labeling, dalam kajian komunikasi politik, memang dikenal sebagai cara penguasa membentuk persepsi publik terhadap kelompok tertentu—bukan sekadar gaya bicara yang lepas dari konsekuensi.
Bukan Gejala Satu Orang, Bukan Milik Satu Ideologi
Yang penting untuk kejujuran analisis: pola ini bukan patologi personal satu tokoh, dan bukan monopoli satu kutub politik. Riset lintas negara menemukan pola serupa pada pemimpin dengan haluan ideologi yang sangat berbeda—dari Modi di India yang memecah bangsa lewat sentimen agama, hingga tokoh sayap kanan Eropa yang memusatkan wacana pada label terhadap “yang lain.” Pemimpin populis, di mana pun spektrum ideologinya, cenderung merepresentasikan “rakyat” sebagai pihak yang terancam, dan siapa pun yang menentangnya dilabeli musuh rakyat.
Dusta bahasa, dengan kata lain, bukan milik kanan atau kiri. Ia adalah mekanisme kekuasaan: cara tercepat mengonsolidasikan “kita” melawan “mereka,” tanpa harus melalui proses argumentasi yang lebih lambat dan lebih rapuh secara politik.
Sisi yang Perlu Diakui
Untuk adil, ada pembacaan lain yang beredar di kedua kasus. Sebagian pengamat membingkai pernyataan tajam para pemimpin ini sebagai pandangan strategis yang lahir dari pengalaman panjang di bidang keamanan dan pengamatan geopolitik, bukan retorika kosong. Yang lain menunjuk bahwa istilah semacam “sosialis” atau “antek asing” punya rujukan ideologis yang bisa diperdebatkan—berbeda dari makian tanpa rujukan sama sekali. Ada pula yang melihatnya sebagai bagian tak terhindarkan dari komunikasi politik massa di era mana pun.
Titik Ujinya: Apakah Kita Menikmatinya?
Tapi di sinilah kejelian dialog Pak Iwan teruji: ia tidak bertanya apakah dusta bahasa ini efektif secara politik. Ia bertanya apakah kita menikmatinya.
Kasus Prabowo memberi data yang jarang tersedia untuk menjawab ini secara empiris. Tingkat kepuasan publik terhadapnya merosot tajam dan linier dalam sembilan bulan terakhir—dari mayoritas mutlak di atas 80 persen, turun ke angka 51 persen belakangan ini—dan sejumlah analisis secara eksplisit mengaitkan penurunan ini dengan gaya retorika, bukan semata kebijakan. Di Amerika, pengamat mencatat publik justru berangsur terbiasa dengan “kegilaan rutin” yang dulunya akan menjadi berita besar—tanda candu yang sudah mengendap menjadi kenormalan baru.
Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting: kenikmatan dari dusta bahasa mungkin nyata dan instan—rasa berkuasa, rasa berada di pihak yang benar, kelegaan karena kritik berhasil dialihkan. Tapi ia punya biaya yang terakumulasi, baik bagi yang mengucapkan maupun yang menyoraki. Publik yang mula-mula larut dalam kelegaan emosional label-label itu, cepat atau lambat tampak mulai lelah—dan kelegaan itu bisa berbalik menjadi kejenuhan, bahkan penolakan.
Kembali ke Diri Sendiri
Yang membuat dialog fiksi ini tetap relevan bukan karena ia meramalkan retorika dua kepala negara di dua benua berbeda. Yang membuatnya relevan adalah caranya kembali. Pak Iwan tidak memberi Damar sebuah definisi untuk dihafalkan. Ia bertanya dua kali, dengan kalimat yang sama persis: “Dusta mana lagi yang kamu nikmati?”
Pertanyaan itu bukan hanya untuk Trump atau Prabowo. Ia untuk kita yang membaca berita mereka, yang ikut membagikan potongan pidato yang paling tajam, yang diam-diam merasa lega setiap kali tokoh yang kita dukung berhasil “menghajar” lawan dengan satu label yang pas. Kata-kata apa yang selama ini kita pakai untuk menghakimi cepat—kelompok politik tertentu, agama tertentu, generasi tertentu, daerah tertentu—tanpa pernah kita periksa fakta di baliknya, dan yang diam-diam kita nikmati karena rasa lega yang ditawarkannya?
Barangkali di situlah letak jalan keluarnya: bukan dengan berhenti berbicara, tapi dengan berhenti sejenak sebelum kata keluar, dan bertanya jujur kepada diri sendiri—apakah kata ini menunjuk fakta, atau hanya memutar bahasa untuk memuaskan sesuatu di dalam diri yang lebih suka menghakimi daripada memahami.
3. Diskusi
Manusia memang berbeda dengan makhluk lainnya misal serigala. Manusia lebih percaya kepada bahasa sedangkan serigala lebih percaya kepada fakta. Anda percaya bahwa pekan depan akan turun hujan berdasar ramalan cuaca dari ahli astronomi yang menjelaskannya melalui kata-kata. Tetapi serigala tidak perlu percaya dengan ramalan pekan depan akan turun hujan; serigala lebih percaya bila ia melihat fakta secara nyata.
Justru percaya kepada bahasa adalah keunggulan dan keunikan umat manusia. Dengan bahasa, manusia bisa saling memahami, kerja sama, dan belajar. Tetapi jika bahasa telah bercampur dusta maka masih pantaskah untuk saling percaya? Sebagai wacana lanjutan saya rekomendasikan artikel saya terdahulu tentang: (a) rumah kita; (b) filosofi bahasa; dan (c) rumah bahasa.
Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan komentar