Filosofi Bahasa

Hanya manusia, satu-satunya makhluk di seluruh bumi, yang berkomunikasi melalui bahasa. Khususnya, bahasa tingkat tinggi. Dengan bahasa, manusia bisa bekerja sama menciptakan gedung pencakar langit, candi megah nan tinggi, sampai pesawat penjelajah angkasa luar.

Masih dengan bahasa, manusia bisa menciptakan puisi, novel, dan karya ilmiah. Dengan bahasa pula, kita mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Tetapi, tetap dengan bahasa, manusia bisa saling menyakiti. Manusia bisa menindas satu sama lain dengan menggunakan bahasa. Penipuan kelas kakap, termasuk korupsi, memanfaatkan bahasa juga.

Sejak jaman kuno, era Aristoteles-Plato-Sokrates dan sebelumnya, orang berpikir bahwa manusia yang menciptakan bahasa. Kita menyebut batu sebagai batu, pohon sebagai pohon, dan lain-lain sehingga terciptalah bahasa Indonesia. Sementara, orang Cina, Arab, Inggris, mereka menciptakan bahasa mereka sendiri.

Sekarang, justru terbalik. Bukan manusia menciptakan bahasa. Tetapi, bahasa menciptakan manusia. Memasuki abad 20, pemikiran “strukturalisme” menunjukkan bahwa bahasa mengikat manusia, menyusun manusia, dan menciptakan manusia.

1. Bahasa Sehari-hari
2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Kita akan memulai diskusi dengan membahas “bahasa sehari-hari” atau “ordinary language philosophy” (OLP). Memang ada, bahasa, yang bukan bahasa sehari-hari? Tentu saja ada! Bahasa filosofis, misalnya, hanya bisa dipahami oleh para filosof. Bahkan, filosof pun, kadang kesulitan memahami bahasa filosofis dari madzhab yang berbeda. Filosof Timur bisa saja kesulitan memahami bahasa filosof Barat, dan sebaliknya. Sering terjadi, filosof analytic kesulitan memahami bahasa filosof continental – padahal sama-sama filosof Barat.

Wittgenstein (1889 – 1951) menengarai bahwa problem filsafat muncul karena kesalahan memahami bahasa belaka. Filosof sering memakai bahasa sehari-hari dalam konteks yang tidak sesuai. Akibatnya, sering terjadi salah paham terhadap filosofi. Solusinya sederhana, menurut Wittgenstein, kembalilah ke bahasa sehari-hari (OLP).

Bahasa komputer berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa komputer lebih tegas dan bermakna tunggal. Sehingga, bahasa komputer tidak memerlukan keragaman interpretasi konotasi makna. Dengan demikian, tidak ada salah paham dalam bahasa komputer. Tidak semanis itu bahasa komputer!? Nyatanya, bahasa komputer beragam juga. Bahasa C, misalnya, beda dengan Java. Kadang, ada bagian tertentu yang sama sekali tidak bisa dikomunikasikan.

OLP terbukti tidak memadai, dengan makin pentingya bahasa komputer. Ditambah lagi, kita tetap mengenal bahasa sastra yang berbeda dengan OLP. Seperti kita tahu, sastra mempunyai kekuatan yang sangat kreatif dalam bahasa. Kita akan lihat, OLP juga memiliki daya kreatif lebih besar dari yang umumnya dikira.

Awal abad 20 mulai muncul trend strukturalisme dalam bahasa dan matematika. Bahasa adalah problem dan kekuatan struktur. Kita hanya bisa memahami bahasa dalam konteks struktur – demikian juga matematika. Lebih dari itu, struktur bahasa menentukan struktur pikiran umat manusia. Sehingga, perilaku manusia dan peradaban ditentukan oleh struktur bahasa.

Tahun 1960an adalah puncak strukturalisme bahasa sekaligus titik keruntuhannya. Apa yang dibayangkan sebagai struktur, nyatanya, bersifat cair dan dinamis. Setiap struktur memiliki titik kelemahan. Derrida (1930 – 2004) berhasil mengembangkan konsep dekonstruksi yang mengungkap beragam “lubang” struktur. Dan, Gadamer (1900 – 2002) berhasil mengembangkan hermeneutik yang menunjukkan bahwa bahasa sangat dinamis. Jadi, ayo kita nikmati dinamika bahasa…!

1. Bahasa Sehari-hari

Kita merasa biasa-biasa saja menggunakan bahasa sehari-hari (OLP). Nyatanya, ketika kita mengkaji bahasa sehari-hari, banyak hal-hal di luar dugaan. Bagaimana seorang anak manusia bisa memahami bahasa? Berbagai macam teori dikembangkan, tak satu pun yang berhasil menjawab dengan memuaskan. Singkatnya, mustahil seorang anak bisa memahami bahasa, tapi, nyatanya setiap anak berhasil memahami bahasa.

Noam Chomsky (lahir 1928), barangkali, paling berhasil memberikan jawaban meyakinkan. Seorang anak mampu menguasai bahasa karena ada kemampuan bawaan (innate) pada manusia. Hanya manusia yang memiliki kemampuan bawaan seperti itu. Kita tidak bisa mengajari singa bahasa manusia karena singa tidak memiliki kemampuan bawaan. Kita juga tidak bisa mengajari komputer bahasa manusia karena kamputer tidak memiliki kemampuan bawaan. Bahkan, ketika komputer dilengkapi dengan “operating system” tetap saja komputer tidak bisa berbahasa manusia.

Tentu saja, kita masih boleh bertanya, “Bagaimana dan mengapa manusia bisa memiliki kemampuan bawaan dalam berbahasa?”

Chomsky menjawabnya bahwa kemampuan bawaan itu merupakan hasil perkembangan evolusi spesies manusia. Sayangnya, bukti-bukti empiris kajian evolusi tidak mendukung, belum mendukung, klaim ini. Sementara, kajian rasional masih membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Evolusi seperti apa saja, secara rasional, yang dapat membentuk kemampuan bawaan tersebut.

Di sisi lain, ada yang menolak konsep kemampuan bawaan itu. Mereka mengatakan bahwa kemampuan berbahasa diperoleh dari hasil interaksi sosial, nurture. Memang lebih mudah bagi kita meyakini bahwa kemampuan bahasa adalah hasil kombinasi kemampuan bawaan dan interaksi sosial – nature plus nurture. Pertanyaannya, “Sejauh apa batas masing-masing nature dan nurture itu?”

Sementara, Chomsky dan teman-teman terus mengkaji batas-batas kemampuan bawaan sampai hari ini, di lain pihak, sejak pertengahan abad 20, OLP makin terus berkembang. OLP, ordinary language philosophy, secara prinsip mendasarkan kajiannya pada buku “Philosophy Investigation” karya Wittgenstein dewasa. Dan, secara implisit, menganut positivis-logis. Berikut ini, kita akan membahas beberapa konsep penting dari Wittgenstein dewasa.

1.1 Language Game

Bahasa hanya bisa dipahami dalam konteks yang tepat. Tanpa konteks, kita tidak bisa memahami bahasa. Wittgenstein menyebutnya sebagai language-game.

Kata “air” bisa bermakna memberi tahu informasi bahwa ada air. Bisa juga bermakna permintaan tolong untuk diambilkan air. Boleh jadi merupakan peringatan harus hati-hati dengan air. Komplotan penjahat bisa saja menggunakan air sebagai kode untuk melakukan serangan. Kata “air” hanya bisa dipahami sesuai konteks language-game.

Apakah dengan language-game menjadikan bahasa bersifat relatif? Relatif terhadap konteks, benar adanya. Tetapi, bukan relatif sebarang relatif. Justru, language-game memberi tahu kita cara memahami suatu bahasa dengan tepat. Bukan untuk mengaburkan bahasa.

Di era digital ini, kita sering mendengar hoax – berita bohong. Hoax, biasanya, mengandung informasi yang benar, mengandung bahasa dan kalimat yang benar. Tetapi, mereka menerapkan pada konteks yang berbeda, pada language-game yang berbeda. Hasilnya, memberikan makna yang berbeda dan terciptalah hoax berdasar informasi yang benar. Perubahan language-game ini, kita kenal sebagai “framing”.

Untuk melindungi diri dari hoax, salah satunya, dengan cara mewaspadai “framing.” Ujilah berbagai macam language-game yang mungkin.

1.2 Meaning as Use

Dari berbagai macam language-game yang beragam itu, bagaimana kita bisa mengambil satu makna tertentu?

Tidak bisa. Kita tidak bisa mengambil satu makna tertentu. Kita tidak bisa menyimpulkan suatu makna tertentu dari bahasa. Karena makna dari bahasa adalah tidak ada makna. Bahasa tidak punya makna. Kita hanya menggunakan bahasa. Wittgenstein menyebut penggunaan bahasa ini sebagai “meaning as use.”

Problem filosofis yang serius muncul pada tahap ini: gabungan language-game dan “meaning as use.” Cara pandang ini, menempatkan Wittgenstein sebagai anti-realis. Padahal, selama ini, Wittgenstein muda berpandangan realis sejalan dengan tradisi filsafat analytic.

Para realis menilai bahwa bahasa merujuk realitas tertentu. Kata “air” misalnya merujuk realitas air di alam nyata. Meski pun makna air beragam, tetapi, mereka tetap sama-sama masuk dalam kategori air. Demikian juga kata “pedih” merujuk kepada realitas tertentu yang diberi nama pedih. Meski jenis “pedih” adalah beragam, mereka semua tetap masuk dalam kategori pedih.

“Meaning as use” menolak pandangan realis seperti di atas. Bahasa hanya “bermakna” sesuai penggunaannya saja. Tidak ada realitas yang dirujuk oleh bahasa.

Bagaimana pun, kita masih bisa membaca Wittgenstein sebagai realis dengan menganggapnya sebagai dobel anti-realis.

“Meaning as use” adalah anti-realis pada tahap pertama. Tetapi, tahap kedua, karena “use” adalah realitas konkrit penggunaan bahasa maka “meaning as use” adalah realis. Jadi dobel anti-realis adalah anti-anti-realis yang sama artinya dengan realis.

1.3 Form of Life

Bagaimana kata “air” bisa merujuk ke realitas air?

Bagi bahasa sehari-hari (OLP), hal seperti itu sudah terjadi begitu saja secara alamiah. Lagi-lagi, kasus ini tidak semudah penampakannya. Bagi Wittgenstein, kita menggunakan kata “air” untuk merujuk air. Bukan karena ada suatu “rujukan” lalu kita memahami kata “air”. Tetapi, karena kita “menggunakan” kata “air” seperti itu maka kita memahaminya. Wittgenstein menyebut penggunaan kata dasar seperti itu sebagai “form of life.”

“Form of life” yang menolak rujukan terhadap realitas mengantarkan kita pada posisi anti-realis. Tahap selanjutnya, “form of life” mengakui realitas “penggunaan” bahasa maka kembali realis.

Apa sulitnya, bagi Wittgenstein untuk mengakui “realitas rujukan” yang sejalan dengan teori korespondensi? Apa lagi, Wittgenstein muda sudah mengakui “realitas rujukan” dalam bukunya Tractatus? Mengapa Wittgenstein dewasa harus merevisi Wittgenstein muda?

Teori korespondensi tidak bisa dipertahankan secara filosofis, demikian juga, “realitas rujukan”.

Pertama, bagaimana kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air”. Tidak mungkin. Kita tidak bisa membuat suatu hubungan nyata antara kata dengan realitas fisik. Kita hanya bisa membayangkan ada hubungan antara kata dan realitas fisik, tetapi, sejatinya tidak ada hubungan.

Kedua, kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air” menggunakan alam-imajinasi. Kata “air” berhubungan dengan imajinasi “air” dan, kemudian, imajinasi “air” berhubungan dengan realitas fisik “air”. Dengan demikian tercipta hubungan kata dengan realitas melalui jembatan imajinasi.

Pandangan seperti itu, ada penghubung tertentu antara kata dan realitas, bisa kita telusuri sepanjang sejarah filsafat. Plato mengembangkan teori form. Al Ghazali mengembangkan al-mitsal. Bahkan, Wittgenstein muda mengembangkan picture-theory.

Jika kata terhubung dengan imajinasi maka dengan cara apakah mereka terhubung? Misal mereka terhubung melalui A. Pertanyaan selanjutnya, dengan cara apakah A terhubung dengan kata? Misal terhubung melaui B. Maka pertanyaan bisa terus kita lanjutkan tanpa henti. Kesimpulannya, kita tidak bisa membangun hubungan antara kata dan realitas. Kita memahami kata karena penggunaannya – form of life.

Ketiga, ada realitas yang lebih fundamental dari realitas “kata” mau pun realitas “fisik”. Realitas fundamental ini yang menghubungkan kata dan realitas fisik. Ibnu Arabi menyebut realitas fundamental sebagai wujud, Sadra menyebutnya eksistensi, dan Heidegger menyebutnya being.

Russell, mentor dari Wittgenstein, berharap menemukan realitas fundamental seperti itu yang dia sebut sebagai “monisme neutral”. Sayangnya, Russell tidak mengkaji pemikiran Heidegger dengan serius. Seandainya dikaji, Russell bisa menemukan “monisme neutral” itu dari Heidegger. Sebaliknya, Heidegger juga tidak tampak serius mengkaji Russell. Padahal, mereka hidup sejaman sekitar 80 tahun.

Kata adalah mode-of-being (mode dari wujud). Begitu juga, realitas fisik adalah mode-of-being. Being bermanifestasi (disclosedness, tersingkap, opening, membuka diri) dalam mode kata. Demikian juga, realitas fisik adalah manifestasi dari being. Sehingga, kata dan realitas fisik adalah sama-sama mode-of-being. Mereka adalah satu kesatuan dalam rangkulan being.

Dengan cara pandang tersebut, kata dan realitas fisik terhubung melalui being. Tetapi, dalam kasus ini, kita sudah bergeser dari teori korespondensi ke teori “disclosedness of being” (ketersingkapan wujud). Sebuah pergeseran teori yang radikal.

Apakah maksud “form of life” dari Wittgenstein adalah ketersingkapan wujud?

Bisa jadi, jawabannya positif. Kita perlu mempertimbangkan bahwa Wittgenstein lahir di tahun yang sama dengan Heidegger, yaitu 1889. Mereka sama-sama menekuni filsafat. Dan, keduanya sama-sama mahir bahasa Jerman. Bahkan mereka menulis karya filosofisnya, sama-sama, dalam bahasa Jerman. Pada tahun 1930an, Wittgenstein mengaku bisa memahami konsep “nothingness” dari Heidegger yang dikritisi oleh Carnap. Wittgenstein bisa membaca debat itu langsung dalam edisi bahasa Jerman. Sementara, orang lain misal Russell, harus menunggu edisi terjemahan ke bahasa Inggris. Sehingga, kita bisa menduga maksud dari “form of life” adalah “disclosedness of being” atau ketersingkapan wujud.

1.4 Following The Rule

“Apakah seseorang bisa mengikuti suatu aturan?”
“Tidak bisa!” jawab Wittgenstein.

Atau, bahkan selalu bisa mengikuti aturan. Karena aturan baru selalu bisa dibuat-buat.

Saul Kripke (lahir 1940) menulis buku khusus untuk membahas “mengikuti aturan” dan “bahasa privat”. Kripke memberi contoh tentang aturan matematika. Padahal, Wittgenstein sedang membahas aturan bahasa. Di sini, saya akan memberi contoh matematika, mirip Kripke meski beda.

“Berapakah nilai A dari barisan: 1, 2, 3, 4, A, … ?”

A = 5. Sudah jelas benar. Ya, itu jawaban yang benar mengikuti aturan yang dipikirkan orang pada umumnya. Tetapi jawaban yang lain juga benar karena bisa jadi aturan berbeda.

A = 6, adalah jawaban benar sesuai aturan berikut ini:
(1, 2, 3, 4), (6, 7, 8. 9), (11, 12, 13, 14).

A = 50, adalah benar sesuai aturan:
(1, 2, 3, 4), (50, 60, 70, 80).

Jawaban yang benar menurut suatu aturan bisa saja salah menurut aturan yang lain. Sebaliknya bisa juga terjadi. Bahkan, terhadap sesuatu yang belum ada aturan, kita bisa membuat suatu aturan tertentu. Untuk kemudian, berdasar aturan itu, kita menghakimi suatu kasus sebagai benar atau salah. Apakah aturan yang kita buat itu memang benar? Atau, aturan orang lain barangkali yang lebih benar? Atau bahkan, aturan yang benar tidak kita ketahui?

Jean-Luc Nancy (1940 – 2021) menyatakan bahwa tugas filosofi adalah menentukan penilaian di mana tidak ada aturan, tidak ada ukuran, tidak ada pembanding, dan tidak tersedia suatu kepastian. Mudah saja mengukur tinggi badan ketika sudah tersedia mistar pengukur. Mudah saja mengukur berat badan ketika sudah ada timbangan. Tugas kita, sebagai manusia, adalah menentukan ukuran ketika tidak tersedia ukuran.

“Apa itu aturan?”
“Siapa yang menetapkan aturan?”
“Mengapa dia berhak menetapkan aturan?”
“Atas dasar apa, dia mendapat hak itu?”
“Apakah kita harus mengikuti aturan itu?”

Lagi, problem mengikuti aturan dari Wittgenstein ini mengantar kita kepada problem filsafat yang lebih serius. Apakah dengan problem ini menjadikan Wittgenstein relativis dan anti-realis? Saya kira, Wittgenstein tetap realis dengan jalan dobel anti-realis, seperti sudah kita bahas di atas.

Saya justru tertarik debat Wittgenstein versus Godel. Saya kira problem “mengikuti aturan” ini adalah titik temu antara mereka. Wittgenstein meremehkan “teorema incompleteness Godel” karena paradoks semacam itu sudah dibahas oleh Russell pada tahun 1900an dan sudah tersedia solusinya melalui buku “Principia” karya Whitehead dan Russell. Masalah paradoks muncul akibat ada pernyataan yang merujuk ke diri sendiri, pernyataan impredikatif. Sehingga, Godel terlambat 30 tahun.

Wajar saja, Godel marah dengan pernyataan Wittgenstein. Godel menjawab dengan tidak kurang pedas. Wittgenstein ini bisa saja pura-pura tidak paham teorema Godel atau memang tidak mampu lagi memahami teorema Godel. Godel menegaskan, “Tidak ada pernyataan impredikatif sama sekali dalam teorema Godel.”

Secara prinsip, Wittgenstein setuju dengan teorema Godel. Menganggap teorema Godel sebagai akibat dari pernyataan impredikatif memang tidak tepat, seperti sudah dibantah oleh Godel. Tetapi, kita bisa mengatakan bahwa paradoks Godel adalah setara dengan paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein. Atau sebaliknya, paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein setara dengan paradoks Godel. Karena paradoks Godel lebih awal publikasi, yaitu tahun 1930an. Sementara, paradoks Wittgenstein terbit pada tahun 1950an setelah Wittgenstein wafat.

Paradoks Godel, sederhananya, menyatakan, “Setiap sistem formal, misal sistem matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Dalam sistem formal akan selalu ada pernyataan G yang terbukti sah, di saat yang sama, negasi pernyataan G, misal (-G), juga terbukti sah. Dengan demikian, sistem formal tersebut tidak lengkap karena tidak bisa memutuskan apakah G yang benar-benar terbukti sah atau (-G) yang terbukti sah. Karena dua pernyataan di atas, G dan (-G), saling kontradiksi maka salah satunya harus bernilai salah.

Kita umumnya, sebagai manusia, mengetahui bahwa G yang bernilai benar terbukti sah. Karena itu, kita bisa menambahkan aksioma baru pada sistem formal tersebut,

aksioma baru: G bernilai benar.

Dengan demikian paradoks Godel selesai. G bernilai benar dan (-G) bernilai salah. Tetapi, nyatanya tidak begitu, akan ada paradoks baru. Secara mekanis, akibat ada tambahan aksioma baru, kita bisa menemukan pernyataan H yang terbukti sah dan negasi pernyataan H, misal (-H), yang juga terbukti sah.

Dan, begitu seterusnya. Setiap paradoks bisa diselesaikan dengan menambah aksioma baru. Pada gilirannya, aksioma baru ini memunculkan paradoks baru lainnya. Jadi, teorema Godel memang paradoks.

Di sisi lain, paradoks Wittgenstein terjadi pada sistem bahasa. Seperti kita tahu, sistem bahasa lebih dinamis dan fleksibel dari sistem formal matematika. Karena itu, penambahan “rule” atau aturan atau aksioma pada sistem bahasa lebih mudah terjadi dalam interaksi sosial.

Paradoks Wittgenstein bisa kita nyatakan, “Sistem bahasa tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Dalam sistem bahasa akan ada suatu kata yang bermakna K dan, di saat yang sama, bermakna negasi K, misal (-K). Sistem bahasa itu tidak bisa memutuskan apakah K yang terbukti sah atau (-K) yang terbukti sah. Jadi, sistem bahasa memang tidak lengkap atau tidak konsisten.

Tentu saja, kita bisa menambahkan “rule baru” yang menyatakan bahwa K adalah yang sah. Paradoks selesai untuk sementara. Pada gilirannya, akibat “rule baru” akan muncul kata baru yang bermakna L dan, di saat yang sama, bermakna negasi L, misal (-L). Begitu seterusnya, akan selalu muncul paradoks dalam bahasa.

Dengan demikian, mereka selaras. Sama-sama paradoks.

Barangkali, lebih menarik lagi, bila kita membahas paradoks “mengikuti aturan” dikaitkan dengan kebebasan (freedom). Baik freedom pada manusia atau freedom secara umum. Demikian juga, kita bisa mengaitkan paradoks “mengikuti aturan” dengan paradoks interpretasi hermeneutik, yang akan kita bahas di bagian bawah.

Rekomendasi akhir dari Wittgenstein sendiri juga paradoks. Dia menyarankan kita untuk kembali ke bahasa sehari-hari (OLP), ke bahasa biasa. Sementara, dia mengajukan konsep-konsep bahasa yang tidak biasa. Saya melihatnya, hal ini menunjukkan sikap realis Wittgenstein melalui jalur dobel anti-realis. Anti-anti-realis sama artinya dengan realis dalam tingkat yang lebih tinggi.

1.5 Bahasa Private

Konsep bahasa private, barangkali, konsep paling sulit dipahami, khususnya pada tahap awal.

“Apakah bisa, seseorang menciptakan bahasa private, bahasa yang hanya dipahami oleh diri sendiri?”
“Tidak bisa,” jawab Wittgenstein tegas.

Jika seseorang bertekad membuat bahasa private maka hasilnya tidak akan pernah menjadi bahasa. Setiap bahasa bersifat publik. Yang tidak publik, tidak akan menjadi bahasa. Seorang agen rahasia tidak akan pernah berhasil membuat bahasa rahasia dalam bentuk bahasa private. Diperlukan, minimal, dua orang agen rahasia untuk membuat bahasa rahasia, akibatnya, tidak lagi jadi bahasa private meski tetap rahasia.

“Apa sulitnya menciptakan bahasa private?”

Kita, atau seseorang, bisa membuat catatan rahasia tiap hari. Catatan ini, sengaja kita susun, terdiri dari kata-kata dan istilah-istilah yang kita ciptakan sendiri. Sehingga, hanya diri kita sendiri yang bisa memahami catatan rahasia tersebut. Setelah catatan itu terkumpul menjadi satu buah buku, bukankah itu adalah bahasa private? Tetapi, kita tidak akan berhasil membuat catatan seperti itu.

Kita coba dengan eksperimen pikiran: tikus dalam kotak.

Bayangkan ada 5 orang, masing-masing membawa kotak tertutup. Di antara mereka tidak ada yang bisa melihat isi kotak orang lain. Mereka hanya bisa melihat isi kotaknya sendiri. Masing-masing dari 5 orang itu menyebut bahwa isi kotak tersebut adalah tikus.

Apa maksud dari tikus itu?

Mungkin saja maksud tikus adalah benar-benar tikus, bisa saja kelinci, atau bahkan bisa kosong, kotak itu tidak ada isi apa pun. Selama, mereka hanya bicara pada diri sendiri maka “tikus” tidak bermakna apa pun atau bisa bermakna apa saja. Bila mereka saling komunikasi, secara publik, maka “tikus” menjadi bermakna. Ada konfirmasi, penolakan, dan koreksi dalam komunikasi.

Bukankah kita bisa konsisten mengatakan “tikus” bahwa yang dimaksud adalah kelinci? Setiap saya melihat kelinci dalam kotak maka saya mencatat dalam buku harian sebagai “tikus”. Dengan demikian, saya punya bahasa private berupa kata “tikus” dengan maksud adalah kelinci. Tidak bisa terjadi. Bahasa private semacam itu tidak akan tercipta.

Saya bisa mengenali bahwa “tikus” yang saya lihat hari ini sama persis dengan ingatan saya tentang “tikus” yang kemarin. Pengenalan saya hari ini bisa benar. Tetapi ingatan saya tentang hari kemarin bisa salah atau, hampir, pasti salah. Hanya komunikasi publik, penggunaan bersama, yang bisa melakukan koreksi terhadap kesalahan bahasa ini.

Saya sering menciptakan istilah-istilah baru dalam matematika: jurus bintang, kutabali, onde milenium, kurva gendut, segitiga ganjil, trik 7 detik, dan lain-lain. Istilah-istilah baru itu sering saya kumunikasikan melalui kelas belajar, training, workshop, youtube, dan sebagainya. Benar saja, istilah-istilah itu menjadi terkenal secara umum. Mereka menjadi bahasa publik, yang bermanfaat, bukan lagi bahasa private.

Yang menarik, ternyata, saya punya buku catatan yang berisi istilah-istilah tertentu dan belum sempat saya komunikasikan kepada banyak orang. Dan, saya sendiri lupa akan arti istilah-istilah yang saya ciptakan beberapa tahun lalu. Saya lupa akan maksud “bahasa private” yang saya buat sendiri. Beruntung, beberapa istilah itu saya tulis lengkap dengan penjelasannya. Sehingga saya bisa segera komunikasikan ke banyak orang, dan, menjadi bahasa publik yang bermakna. Saya gagal membuat “bahasa private” tetapi kita bisa berpartisipasi dalam bahasa publik.

“Apakah manusia yang menciptakan bahasa atau bahasa yang menciptakan manusia?”

1.6 Bahasa Praktis

Kajian di bidang bahasa telah menghasilkan banyak inovasi yang bermanfaat. Di bagian ini, kita akan membahas beberapa manfaat praktis dari bahasa.


2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: