Kecanduan minuman keras ke mana-mana makin meluas. Kecanduan judi online (judol) makin tak bisa dikontrol. Kecanduan AI (artificial intelligence – akal imitasi) makin menjadi-jadi. Adakah solusi?

Kali ini kita akan membahas cara mudah mengobati kecanduan. Benar cara mudah! Sebagian memang mudah tetapi tidak selalu mudah.
1. Penemuan Ilmiah
2. Paradigma Kecanduan
3. Solusi
Pertama, kita akan membahas perkembangan sains berkaitan dengan kecanduan. Sains kognitif sering memanfaatkan eksperimen kepada tikus-tikus untuk mempelajari kecanduan. Kedua, kita akan membahas paradigma dari kecanduan. Salah paradigma maka akan sulit sekali untuk mengobati kecanduan. Ketiga, kita akan mengajukan beberapa solusi mudah mengatasi kecanduan meski tidak selalu mudah.
1. Penemuan Ilmiah
Hanna Pickard menuliskan beragam penemuan ilmiah tentang kecanduan dalam bukunya: What Would You Do Alone in a Cage with Nothing but Cocaine?: A Philosophy of Addiction.
Eksperimen pada tikus-tikus membuka inspirasi. Pickard mengawali bukunya dengan eksperimen tikus.
“APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN sendirian di dalam sangkar tanpa apa pun kecuali kokain? Dalam sebuah studi penting yang diterbitkan pada tahun 1985, para peneliti eksperimen hewan Michael Bozarth dan Roy Wise mengajukan pertanyaan ini kepada tikus.
Tikus-tikus tersebut belajar menekan tuas untuk mendapatkan dosis kokain, yang diberikan segera dan secara intravena (suntik urat). Mereka kemudian ditempatkan secara permanen di ruang eksperimen yang hanya berisi makanan, air, dan tuas, yang dapat mereka tekan untuk mendapatkan kokain sebanyak yang mereka inginkan.
Anda tidak akan terkejut dengan jawaban atas pertanyaan tersebut. Tikus-tikus dalam eksperimen ini mengonsumsi banyak kokain. Mereka juga berhenti makan dan minum. Dalam waktu satu bulan, 90 persen telah mati, karena kelelahan, kelaparan, dan dehidrasi.
Gambaran seekor tikus di dalam sangkar yang menekan tuas berulang kali— menyerahkan diri pada kokain dengan mengorbankan makanan dan air—sangat mengingatkan pada deskripsi mengerikan penulis abad ke-19 Oscar Wilde tentang kecanduan manusia: “Pria dan wanita pada saat-saat seperti itu kehilangan kebebasan kehendak mereka. Mereka bergerak menuju akhir yang mengerikan seperti robot.””
Dalam kecanduan, tikus dan manusia kehilangan kehendak bebas. Manusia tertekan oleh ketagihan kokain itu. Kokain itu nikmat meski ia tahu kokain itu bahaya. Manusia kecanduan tidak tahan dan ingin kokain lagi. Pada waktunya, ia makin tenggelam dalam kecanduan hingga banyak yang berakhir dalam kematian.
Kita bisa saja memperluas pada kecanduan game, judol, dan AI. Orang kecanduan ingin lebih banyak lagi. Meski mereka dalam risiko bisa mati.
Benarkan seperti itu? Adakah solusi?
2. Paradigma Kecanduan
Pergeseran paradigma adalah utama.
Terdapat dua paradigma umum. Pertama (a), kecanduan adalah akibat dari kerusakan bagian dari otak. Kedua (b), kecanduan adalah akibat dari kesalahan perilaku moral. Dua paradigma di atas saling melengkapi tetapi tidak saling menghapus. Kita perlu bergeser ke paradigma baru yang lebih akurat.
Pertama (a), kecanduan adalah bersifat manusiawi. Setiap manusia mengalami kecanduan. Termasuk Anda: mungkin kecanduan rokok, kencaduan kopi, kecanduan tiktok, kecanduan sophee, kecanduan olah raga, kecanduan gowes, atau kencanduan membaca puisi.
Kecanduan, adalah ukuran kekuatan. Dalam kadar rendah, atau sedang-sedang saja, kecanduan kopi adalah baik-baik saja. Dalam kadar amat tinggi, kecanduan kopi bisa mengancam jantung Anda atau hidup Anda.
Karena candu adalah manusiawi maka kita perlu merespon orang yang kecanduan secara manusiawi pula. Dari respon manusiawi ini, kita mengajukan beragam solusi.
Ada jenis kecanduan yang dalam jumlah sedikit pun terlarang. Kecanduan mencuri, kecanduan memaki, kecanduan korupsi, kecanduan selingkuh, kecanduan melukai diri, dan lain-lain. Kasus seperti ini adalah kasus pelanggaran moral.
Paradigma (b), kecanduan adalah beragam. Tidak ada satu-cocok-semua. Tidak ada teori besar tentang kecanduan. Fenomena kecanduan dipengaruhi masing-masing individu, lingkungan sekitar yang unik, budaya yang berkembang, dan sejarah yang berjalan panjang.
Konsekuensinya, kita perlu berpikir terbuka untuk memahami kasus kecanduan yang beragam; dan merancang solusi yang beragam pula.
3. Solusi
Solusi paling tepat adalah spektrum dalam memilih sahabat sampai minum obat.
Kita masih perlu melanjutkan mengkaji beberapa eksperimen sains yang lebih canggih.
“Pada tahun 2005, eksperimen hewan Serge H. Ahmed menerbitkan hasil pertama dari paradigma studi hewan pengerat dengan pilihan paksa. Ahmed mempelopori inovasi sederhana namun cerdik. Ia memperkenalkan tuas kedua ke dalam ruang eksperimen, sehingga memungkinkan untuk memberi tikus pilihan antara kokain dan hadiah alternatif.
Melalui serangkaian studi, ia dan rekan-rekannya menemukan bahwa, dalam kondisi terkontrol, ketika diberi pilihan antara menekan tuas untuk kokain atau menekan tuas untuk air yang dimaniskan dengan sakarin, 90 persen tikus—termasuk mereka yang menunjukkan setiap indikasi perilaku seperti kecanduan dan tidak satu pun yang kekurangan air atau makanan—memilih air sakarin, mengabaikan kokain.”
Eksperimen oleh Ahmed di 2005 itu merevisi eksperimen sebelumnya di tahun 1985. Tikus memilih minuman manis ketimbang kokain. Orang yang kecanduan bisa memilih yang lain. Orang yang kecanduan game online bisa memilih olahraga, misalnya, jika tersedia pilihan olahraga itu dan olahraga lebih bernilai baginya.
Tetapi jika pilihan yang tersedia, paling menarik, adalah hanya game online maka orang kecanduan itu akan memilih game online; makin tenggelam ia dalam kecanduan.
“Kemudian, pada tahun 2018, para peneliti eksperimen hewan Marco Venniro, Yavin Shaham, dan rekan-rekan mereka menerbitkan temuan dari serangkaian studi yang memperluas paradigma Ahmed dengan mengganti alternatif dari air sakarin menjadi imbalan sosial.
Mereka menemukan bahwa, ketika diberi pilihan antara menekan tuas untuk mendapatkan metamfetamin atau heroin atau menekan tuas untuk mendapatkan satu menit waktu bermain dengan tikus lain, hampir 100 persen tikus—termasuk tikus yang menunjukkan setiap indikasi perilaku seperti kecanduan dan tidak satu pun yang mengalami kekurangan sosial—memilih untuk menekan tuas untuk mendapatkan waktu bermain dengan tikus lain, sehingga mengabaikan obat tersebut.
Bahkan, dalam studi lanjutan, terungkap bahwa tikus bahkan akan mengabaikan kokain demi aroma tikus lain yang masih tercium di ruang eksperimen yang kosong.
Begitu banyak anggapan bahwa tikus dipaksa oleh otak mereka yang rusak akibat kokain untuk terus menekan tuas demi mendapatkan lebih banyak, padahal yang dibutuhkan hanyalah seteguk air sakarin, satu menit waktu bermain, atau aroma teman untuk memikat mereka.”
Bagi tikus, yang bisa menyembuhkan kecanduan narkoba adalah memilih bermain bersama sahabat; atau bahkan cukup mencium aroma kedatangan seorang teman. Bagi manusia, sahabat paling tepat adalah paling mujarab menjadi obat.
Jadi, apa obat mujarab untuk menyembuhkan kecanduan narkoba, judi, dan AI? (a) Hormati secara manusiawi; (b) Minum obat; (c) Memilih sahabat yang tepat.
(a) Hormati mereka sebagai manusia seutuhnya. Orang yang kecanduan adalah manusia seperti kita yang memiliki martabat. Sehingga perlakukan mereka dengan penuh hormat.
(b) Kecanduan bisa sembuh dengan minum obat sampai kadar tertentu. Kita perlu waspada dengan obat ini. Karena obat itu sendiri bisa menjadi candu.
(c) Memilih sahabat yang tepat adalah obat paling mujarab. Leluhur kita sering mengajarkan: wong kang soleh kumpulono; bersahabatlah dengan orang-orang yang baik.
“Why choose to adopt a responsibility without blame stance within
personal relationships? I have not tried to argue that we must, but only suggested why we might. The reason is that we care about the other person (and they us) and in consequence we want to support them to change their relationship with drugs as well as address and repair the damage done to their relationship with us.”
“Mengapa memilih untuk mengadopsi sikap bertanggung jawab tanpa menyalahkan dalam hubungan pribadi? Saya tidak mencoba untuk berargumen bahwa kita harus melakukannya, tetapi hanya menyarankan mengapa kita mungkin melakukannya. Alasannya adalah karena kita peduli pada orang lain (dan mereka peduli pada kita) dan sebagai konsekuensinya kita ingin mendukung mereka untuk mengubah hubungan mereka dengan narkoba serta mengatasi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi pada hubungan mereka dengan kita.”
Bagaimana menurut Anda?
