Presiden mengandalkan tangan kanan yang ia percaya. Tapi tangan kanan tidak pernah cukup. Tangan kanan hanya memberi kesan seakan-akan semua sudah tuntas.
Tangan kanan Prabowo barangkali adalah Teddy; tangan kanan Trump adalah Hegseth (menteri perang); tangan kanan Jokowi adalah Luhut (pengamatan Dahlan Iskan). Mereka tidak pernah cukup.

Kita perlu tangan kiri. Mengapa?
1. Suka Forhen
2. Zuhanden
3. Diskusi
Tangan kanan adalah tuntas; tangan kiri adalah proses berlanjut. Banyak orang ingin cepat tuntas. Sementara, realitas sering mengajak proses terus berlanjut.
1. Suka Forhen
Dalam permainan badminton, kita suka fore hand (forhen) atau tangan kanan. Ketika kita mendapat umpan bola posisi forhen, posisi tangan kanan, maka kita suka banget karena bisa segera menuntaskan bola itu: smes, dropsot, atau lainnya. Kita memang suka forhen atau tangan kanan itu.
Sebaliknya, kita sering merasa kesulitan bila dapat posisi tangan kiri; back hand; bekhen; balik tangan. Justru karena sulit, posisi bekhen ini, membuat kita lebih siap dan waspada.
2. Zuhanden
Dalam kehidupan nyata, kita mirip dengan permainan badiminton itu dalam hal suka forhen (vorhandenheit); sementara kita sering kesulitan dengan bekhen (zuhandenheit).
Vorhanden bermakna tuntas di tangan. Selesai sudah semua urusan kita di tangan. Sebaliknya, zuhanden adalah siap di tangan. Kita siap menangani tugas di tangan; kita siap melanjutkan tugas itu karena memang belum tuntas.
Pendidikan kita, umumnya mengutamakan vorhanden yaitu tuntas di tangan. Padahal, kita lebih banyak membutuhkan zuhanden yaitu siap di tangan. Presiden Prabowo atau Trump tampaknya mengalami pendidikan seperti umumnya.
Matematika atau uang sering disebut paling vorhanden; paling tuntas di tangan. Jika Anda bisa menjawab soal matematika bilangan asli 1 + 2 = K maka tuntas tugas Anda. Jawaban K = 3 adalah tuntas karena memang 1 + 2 memang hasilnya 3.
Berbeda halnya dengan zuhanden 1 + 2. Anda bahagia punya 1 istri yang cantik dan setia. Punya 1 istri saja, Anda bahagia. Kemudian Anda menambah 2 istri maka apakah Anda bertambah bahagia dengan tambahan 2 istri? Anda menjadi lebih bahagia 3 kali lipat? Pertengkaran justru lebih sering terjadi.
Dari perspektif vorhanden 1 + 2 = 3 adalah tuntas. Dari perspektif zuhanden 1 + 2 kita perlu siap-siap lanjutan apa yang akan terjadi.
Uang adalah vorhanden; sering dianggap tuntas. Tiba-tiba Anda hari ini mendapat hadiah uang 90 juta rupiah gratis maka tuntas semua urusan. Anda bisa beli makan enak paling Anda sukai; tuntas. Anda bisa beli baju paling keren idaman; tuntas. Anda bisa traktir gadis cantik itu.
Tetapi bayangan tuntas itu hanya semu; vorhanden itu semu. Kenyataannya adalah zuhanden; siap di tangan. Urusan uang atau matematika itu masih berlanjut; bukan vorhanden tetapi zuhanden.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
MBG (makan bergizi gratis) bisa dianggap sebagai vorhanden; tuntas di tangan. Sehingga MBG hanya perlu dijalankan saja karena sudah tuntas. Tetapi banyak pihak menilai MBG adalah zuhanden; siap di tangan. Masih banyak aspek yang siap diperbaiki dalam program MBG; yang harus diperbaiki; bahkan perbaikan total.
Bom ke Teheran (Iran) dianggap vorhanden atau tuntas oleh Trump. Dengan bom tuntas semua urusan, rezim ambruk, lalu Iran tunduk ke us. Bom itu bukan vorhanden tetapi zuhanden; dampak dari bom terus berlanjut; Iran siap berlanjut berjuang membela negara dan rakyatnya. Sampai sekarang tidak tuntas. Memang zuhanden.
Realitas adalah zuhanden; siap di tangan. Vorhanden, tuntas di tangan, hanyalah sebuah cara memudahkan untuk memahami realitas. Kita perlu terbuka kepada zuhanden yang terus melanjutkan proses.
Tangan kanan presiden dikiranya tuntas sebagai vorhanden; mereka salah kira. Realitasnya, presiden menghadapi zuhanden yang terus-menerus menuntut tanggung jawab.
