Pengakuan di media sosial problematis; lebih tepatnya memang bermasalah. AI (artificial intelligence – akal imitasi) lebih bermasalah lagi. Masalah dari pengakuan ini adalah serius karena nyata, bias, dan melanggar etika.

Lepold dalam paragraf terakhir Ambivalent Recognition menyatakan:
“Namun, dengan menunjukkan bahwa pengakuan dapat berkontribusi pada pelanggengan tatanan sosial yang bermasalah, hal ini memberikan dasar penting untuk memahami bagaimana tatanan tersebut dilanggengkan dari waktu ke waktu, dan dengan demikian pada akhirnya, untuk mengkritiknya.”
1. Identitas
2. Pengakuan
3. Diskusi
Tatanan sosial yang bermasalah ini berkaitan dengan identitas dan pengakuan. Solusi dari masalah ini, langkah awalnya, mengidentifikasi sumber masalah, kemudian mengenali masalah lebih tegas, dan akhirnya merumuskan solusi.
1. Identitas
Identitas tidak jelas di media sosial; seseorang bisa mengaku sebagai laki atau perempuan; sebagai pengusaha, pejabat, polisi, tentara, atau siapa saja. Dengan bantuan AI, identitas makin tidak jelas. Ketika identitas di alam nyata yang cukup jelas saja berdampak melanggengkan masalah tatanan sosial; maka bagaimana dampak media sosial?
- Tatanan sosial terbentuk berakar pada identitas dalam konteks partisipasi dalam praktik sosial. (Dengan demikian, terdapat hubungan faktual antara identitas dan tatanan sosial yang lebih besar.)
Seorang selebgram atau youtuber dengan follower 5 juta orang mengunggah 1 video langsung ditonton 100 ribu tayangan dalam 1 jam. Apa yang ia katakan didengar ribuan orang lalu ditiru. Lebih dari itu, ia mengeruk keuntungan rupiah dari medsos itu dan dari iklan.
Ketika Anda orang biasa, identitas Anda bukan selebgram, mengunggah video maka tidak ada orang orang yang menonton. Tidakkah itu bermasalah?
Beda identitas maka beda perlakuan; termasuk Anda sendiri berbeda perilaku dibanding selebgram. Masalah ini bukan sekedar masalah pribadi melainkan masalah tatanan sosial.
2. Identitas mengarahkan tindakan orang ke arah tertentu. Hal ini terutama berlaku ketika identitas dinaturalisasi. (Dengan demikian, terdapat hubungan sebab-akibat antara identitas dan tindakan.)
Masalah makin rumit karena dianggap natural, alamiah, memang seperti itu: alamiah selegram dapat uang banyak dan ditiru; wajar juga orang yang bukan selegram tidak ditonton videonya.
3. Oleh karena itu, identitas dapat terlibat secara tidak sengaja dalam pelestarian tatanan sosial.
4. Tatanan sosial berskala besar lebih mungkin bermasalah.
Makin besar skala tatanan sosial maka makin besar pula masalahnya. Indonesia dengan penduduk hampir 300 juta jiwa lebih rumit masalahnya dibanding Singapura yang hanya sekitar 6 juta jiwa.
5. Oleh karena itu, identitas dapat terlibat dalam melestarikan tatanan sosial yang bermasalah (Thesis_Identity).
Terbukti identitas menjadi terlibat dalam melestarikan tatanan sosial yang bermasalah. Apa solusi yang tersedia? Bagaimana dengan identitas politik? Identitas agama?
2. Pengakuan
Dari problem identitas kita bergeser ke masalah pengakuan (rekognisi); yang sama-sama terlibat melestarikan tatanan sosial bermasalah.
Seorang pejabat membeli buzzer sebanyak 10 ribu akun agar ia diakui sebagai pejabat yang memahami kemajuan teknologi.
6. Dengan demikian, pengakuan dapat memberikan kontribusi spesifik—yaitu, motivasional dan epistemik—pada pelestarian tatanan sosial yang bermasalah (Thesis_Recognition).
Selanjutnya, pejabat itu merasa dirinya sebagai selebgram. Karena ia memiliki anggaran besar maka ia membeli buzzer lebih besar lagi.
7. Pengakuan dapat memotivasi pembentukan identitas dalam konteks praktik sosial.
8. Identitas sering kali dinaturalisasi, dan pengakuan secara aktif berkontribusi pada naturalisasi identitas.
Lagi-lagi, itu semua dianggap alamiah – natural: memang begitulah pejabat. Jika Anda jadi pejabat maka Anda akan seperti itu juga.
Seorang pejabat mengatakan, “Kalian jangan terlalu mengkritik orang kaya! Saya pernah miskin seperti kalian; waktu itu, saya berpikir seperti kalian. Sekarang saya jadi orang kaya. Memang beginilah cara hidup orang kaya. Jika kalian jadi orang kaya maka kalian akan seperti saya juga perilakunya.”
Anda tidak korupsi karena Anda bukan pejabat. Mereka korupsi karena mereka pejabat. Jika Anda jadi pejabat maka Anda akan korupsi juga. Benarkah seperti itu? Tatanan sosial, di kita, memang sedang bermasalah dengan adanya korupsi di mana-mana. Pengakuan, dan identitas, terlibat dalam melestarikan masalah tatanan sosial ini.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Lepold mengenali masalahnya: pengakuan ==> identitas ==> tatanan.
Masalah awal adalah pengakuan yang kemudian membentuk identitas seseorang; akhirnya berdampak tatanan sosial bermasalah. Bagaimana pun, proses ini dua arah timbal balik; tidak linear; tatanan menguatkan identitas; akhirnya menguatkan tuntutan pengakuan.
Sehingga solusi yang kita butuhkan adalah dari seluruh arah.
