Kompleksitas Gradasi Realitas

Realitas memang kompleks. Wajar saja, kita ingin membuatnya sederhana agar mudah dicerna. Penyederhanaan ini tentu saja berbeda dengan kompleksitas realitas. Matematika adalah sebentuk penyederhanaan paling hebat. AI (akal imitasi – artificial intelligence) adalah penyederhanaan berupa teknologi yang paling bisa memikat hati. Semua penyederhanaan itu tampak masih jauh beda dengan kompleksitas realitas.

Adakah yang paling dekat dengan kompleksitas realitas? Ada!

1. Gradasi Eksistensi
2. Evolusi Ruang
3. Tantangan Kompleksitas
4. Diskusi
5. Kesimpulan

Paling dekat dengan kompleksitas realitas adalah teori gradasi eksistensi dari Sadra. Kemudian, kita akan menambahkan evolusi ruang (sphere) dari Sloterdijk dan tantangan kompleksitas dari Morin.

1. Gradasi Eksistensi

Realitas paling utama adalah eksistensi menurut Sadra (1570 – 1640). Eksistensi bergradasi dari intensitas lemah sampai intensitas kuat. Eksistensi lemah tidak terpisah dari eksistensi kuat tetapi eksistensi kuat meliputi eksistensi lemah; eksistensi kuat merangkul eksistensi lemah.


2. Evolusi Ruang

Sloterdijk (lahir 1947) merumuskan evolusi ruang (sphere) pada akhir abad 20. Awalnya adalah bubble (gelembung); manusia hidup dalam janin ibu sebagai gelembung; hidup di taman surga; segala kebutuhannya dipenuhi. Evolusi berikutnya adalah globe (bumi atau semesta); manusia terlahir hidup di bumi. Manusia menjelajah wilayah lebih luas tetapi harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Akhirnya, foam (buih); manusia hidup dalam buih-buih ruang digital yang mudah lenyap begitu saja.


3. Tantangan Kompleksitas

Kompleksitas, bagi Morin (1921 – 2026), ditandai oleh ketidakpastian (uncertainty) dan ketidaklengkapan (incompleteness). Kita perlu mengkaji kompleksitas realitas dari perspektif yang luas dan mendalam. Bagaimana pun, kajian itu tetap tidak pasti dan tidak lengkap.


4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5. Kesimpulan

Kesimpulan sederhana: yang sederhana adalah kompleks.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar