Realitas memang kompleks. Wajar saja, kita ingin membuatnya sederhana agar mudah dicerna. Penyederhanaan ini tentu saja berbeda dengan kompleksitas realitas. Matematika adalah sebentuk penyederhanaan paling hebat. AI (akal imitasi – artificial intelligence) adalah penyederhanaan berupa teknologi yang paling bisa memikat hati. Semua penyederhanaan itu tampak masih jauh beda dengan kompleksitas realitas.
Adakah yang paling dekat dengan kompleksitas realitas? Ada!
1. Gradasi Eksistensi
2. Evolusi Ruang
3. Tantangan Kompleksitas
4. Diskusi
5. Kesimpulan
Paling dekat dengan kompleksitas realitas adalah teori gradasi eksistensi dari Sadra. Kemudian, kita akan menambahkan evolusi ruang (sphere) dari Sloterdijk dan tantangan kompleksitas dari Morin.

1. Gradasi Eksistensi
Realitas paling utama adalah eksistensi menurut Sadra (1570 – 1640). Eksistensi bergradasi dari intensitas lemah sampai intensitas kuat. Eksistensi lemah tidak terpisah dari eksistensi kuat tetapi eksistensi kuat meliputi eksistensi lemah; eksistensi kuat merangkul eksistensi lemah.
Eksistensi kuat lebih kompleks dari eksistensi lemah tetapi juga lebih sederhana.
Wawan tumbuh di sebuah desa yang jauh dari rumah sakit besar. Sejak kecil ia gemar membaca buku tentang kesehatan. Ia mengetahui banyak hal: pentingnya makanan bergizi, cara menjaga kebersihan, fungsi organ tubuh, hingga berbagai penyakit yang umum menyerang masyarakat. Orang-orang di kampung sering datang bertanya kepadanya karena ia dianggap paling berpengetahuan. Namun, ketika ayahnya tiba-tiba jatuh sakit karena gangguan jantung, semua pengetahuan yang dimilikinya terasa tidak cukup. Ia tahu tubuh manusia memiliki jantung, tetapi ia tidak benar-benar memahami mengapa jantung bisa melemah, bagaimana kerusakannya terjadi, atau bagaimana cara menolongnya.
Peristiwa itu mengubah hidup Wawan. Ia memutuskan belajar lebih serius tentang dunia kedokteran. Tahun demi tahun ia mempelajari berbagai cabang ilmu kesehatan. Ia memahami tubuh manusia secara umum: tulang, paru-paru, ginjal, otak, dan berbagai sistem yang bekerja di dalamnya. Pengetahuannya semakin luas. Namun setiap kali mengingat ayahnya, hatinya selalu tertarik pada satu pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya: bagaimana sebenarnya jantung bekerja dan mengapa ia bisa gagal menjalankan tugasnya?
Dengan tekad yang kuat, Wawan kemudian mendalami ilmu jantung secara khusus. Ia mempelajari aliran darah, denyut jantung, penyumbatan pembuluh koroner, gagal jantung, hingga berbagai teknologi untuk mendeteksi dan mengobati penyakit jantung. Banyak malam yang ia habiskan di ruang belajar dan laboratorium. Apa yang dahulu hanya berupa gambaran umum kini menjadi pengetahuan yang rinci dan jelas. Ia tidak lagi sekadar tahu bahwa jantung memompa darah; ia memahami bagaimana setiap ruang jantung bekerja, bagaimana setiap katup membuka dan menutup, serta bagaimana gangguan kecil dapat mengancam kehidupan seseorang.
Bertahun-tahun kemudian, Wawan menjadi seorang ahli jantung yang dihormati. Pengetahuannya kini jauh lebih konkret, kuat, dan nyata dibanding saat ia hanya memiliki pengetahuan umum tentang kesehatan. Namun yang menarik, pengetahuan umumnya tidak hilang. Di dalam pemahamannya tentang jantung tetap tersimpan pengetahuan tentang paru-paru, ginjal, sistem saraf, gizi, dan seluruh tubuh manusia. Sebab ia sadar bahwa jantung tidak bekerja sendirian. Untuk memahami jantung secara mendalam, ia juga harus memahami hubungan jantung dengan seluruh tubuh.
Suatu hari, seorang mahasiswa bertanya mengapa ia memilih mendalami jantung. Wawan tersenyum sambil memandangi foto ayahnya yang terpajang di meja kerja. “Dulu aku tahu banyak hal tentang kesehatan,” katanya pelan, “tetapi pengetahuanku masih seperti peta yang dilihat dari kejauhan. Ketika aku mendalami ilmu jantung, aku mulai berjalan di jalan-jalan yang tergambar di peta itu. Aku melihatnya lebih jelas, lebih nyata. Dan justru ketika aku memahami jantung secara mendalam, aku semakin mengerti tubuh manusia secara utuh.” Mahasiswa itu terdiam. Saat itulah ia memahami bahwa ilmu bergerak dari yang umum menuju yang khusus, dari yang samar menuju yang konkret, tanpa meninggalkan pengetahuan umum yang menjadi fondasinya.
Gradasi pengetahuan seorang dokter spesialis jantung lebih kuat dari pengetahuan dokter umum; pengetahuan dokter spesialis lebih konkret dari dokter umum; pengetahuan spesialis adalah lanjutan dari pengetahuan umum; eksistensi kuat sedang merangkul eksistensi lemah.
2. Evolusi Ruang
Sloterdijk (lahir 1947) merumuskan evolusi ruang (sphere) pada akhir abad 20. Awalnya adalah bubbles (gelembung); manusia hidup dalam janin ibu sebagai gelembung; hidup di taman surga; segala kebutuhannya dipenuhi. Evolusi berikutnya adalah globes (bumi atau bola semesta); manusia terlahir hidup di bumi. Manusia menjelajah wilayah lebih luas tetapi harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Akhirnya, foams (buih, busa); manusia hidup dalam buih-buih ruang digital, dan teknologi secara umum, yang mudah lenyap begitu saja.
Kirana sering bertanya mengapa hidup terasa begitu berbeda dari waktu ke waktu. Suatu malam, ketika memandangi foto masa kecilnya, ia teringat cerita ibunya tentang saat ia masih berada di dalam kandungan. Di sana, ia hidup dalam kehangatan yang sempurna. Ia tidak perlu mencari makanan, tidak perlu takut pada hujan, tidak perlu memikirkan hari esok. Segala kebutuhannya dipenuhi tanpa usaha. Hidupnya bagaikan sebuah gelembung yang melindungi dan memeluknya sepenuhnya.
Namun, ketika Kirana lahir ke dunia, semuanya berubah. Ia tidak lagi hidup dalam gelembung yang aman. Dunia ternyata jauh lebih luas dan menantang. Ia harus belajar berjalan setelah berkali-kali terjatuh, belajar berbicara setelah berkali-kali salah mengucapkan kata, dan belajar menghadapi kegagalan serta kekecewaan. Seiring bertambah usia, ia menyadari bahwa bumi adalah ruang yang besar, tempat manusia harus berjuang untuk menemukan tempatnya. Tidak ada lagi kenyamanan sempurna seperti saat berada dalam pelukan ibunya.
Ketika dewasa, Kirana mulai menjelajahi dunia. Ia bertemu banyak orang, mengunjungi berbagai tempat, dan membangun mimpi-mimpi besar. Dunia terasa seperti bola semesta yang luas tanpa batas. Setiap langkah membuka kemungkinan baru, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Ia belajar bahwa kehidupan tidak memberi segala sesuatu dengan cuma-cuma. Persahabatan harus dirawat, pengetahuan harus dicari, dan cita-cita harus diperjuangkan dengan kerja keras.
Lalu zaman berubah. Kehidupan Kirana perlahan berpindah ke layar-layar digital. Ia memiliki ratusan teman di media sosial, bergabung dalam berbagai komunitas daring, dan menghabiskan banyak waktu berpindah dari satu ruang digital ke ruang digital lainnya. Setiap hari muncul percakapan baru, tren baru, dan hubungan baru. Namun sering kali, semuanya menghilang secepat kemunculannya. Teman yang kemarin terasa dekat hari ini tak lagi bertegur sapa. Topik yang ramai dibicarakan pagi hari sudah dilupakan pada malamnya. Kirana merasa hidup di tengah buih-buih yang terus muncul dan pecah tanpa meninggalkan jejak.
Pada suatu senja, Kirana menutup telepon genggamnya dan duduk diam di beranda rumah. Ia merenungkan perjalanan hidup manusia. Dari gelembung yang memberi rasa aman, menuju dunia luas yang menuntut perjuangan, hingga buih-buih digital yang rapuh dan mudah lenyap. Saat itu ia memahami bahwa setiap ruang memiliki maknanya sendiri. Namun di tengah dunia yang semakin penuh buih, ia ingin tetap menjaga hal-hal yang nyata: keluarga yang bisa dipeluk, sahabat yang bisa ditemui, dan kasih sayang yang tidak hilang hanya karena layar dimatikan.
Buih-buih digital (foams) itu hanya kecil bisa digenggam dalam tangan. Tetapi foams menembus dunia tanpa batas. Anda di Indonesia bisa terhubung dengan teman yang di Eropa Utara melalui buih digital. Buih bersandar kepada buih lain tanpa benar-benar bisa diandalkan. Mereka saling mengandalkan meski tanpa jaminan keandalan.
Buih-buih lebih kompleks dari gelembung mau pun bola. Buih itu sendiri adalah gelembung dan bola yang saling bertumpuk secara horisontal dan vertikal. Gelembung dalam buih tidak lagi hangat, bahkan, kadang jadi gelembung ganas. Bola bumi dalam buih tidak lagi menghembuskan udara segar dari hutan tropis, bahkan, kadang membakar seluruh yang ia sentuh. Kompleksitas dari segala arah.
3. Tantangan Kompleksitas
Kompleksitas, bagi Morin (1921 – 2026), ditandai oleh ketidakpastian (uncertainty) dan ketidaklengkapan (incompleteness). Kita perlu mengkaji kompleksitas realitas dari perspektif yang luas dan mendalam. Bagaimana pun, kajian itu tetap tidak pasti dan tidak lengkap.
Dari satu sisi, kompleksitas memang jalinan dari beragam unsur sehingga rumit. Dari lain sisi, ketika kita hanya mengkaji satu unsur saja maka kajian itu tetap tidak pasti dan tidak lengkap. Sehingga, satu unsur pun tetap kompleks. Kompleksitas realitas menolak pendekatan reduksionis murni. Realitas mengajak kita untuk mengkaji realitas dalam konteks lingkungan dan histori serta memasukkan peran pengamat itu sendiri.
Dadi adalah seorang kepala desa yang dikenal bijaksana. Suatu tahun, desanya mengalami krisis air yang berkepanjangan. Sebagian warga menyalahkan kemarau yang semakin panjang, sebagian lagi menyalahkan penebangan hutan di perbukitan, sementara yang lain menuding pemerintah yang kurang membangun saluran irigasi. Dadi berusaha mencari penyebabnya. Namun semakin banyak data yang ia kumpulkan, semakin ia menyadari bahwa masalah itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semuanya.
Awalnya Dadi mencoba mengkajinya dari satu sisi saja, yaitu cuaca. Ia mempelajari curah hujan dan musim kemarau. Hasilnya memang menjelaskan sebagian persoalan, tetapi tidak menjelaskan mengapa beberapa wilayah desa masih memiliki cukup air. Kemudian ia mempelajari kondisi hutan, ekonomi warga, pola tanam, dan kebijakan pemerintah. Setiap unsur memberikan penjelasan yang penting, tetapi tidak pernah lengkap. Setiap jawaban selalu memunculkan pertanyaan baru. Dadi mulai memahami bahwa realitas adalah jalinan banyak unsur yang saling terkait.
Semakin dalam ia mengamati, semakin ia menyadari bahwa bahkan satu unsur pun ternyata kompleks. Ketika ia mempelajari kebiasaan petani menggunakan air, ia menemukan pengaruh harga pupuk, tradisi turun-temurun, kondisi keluarga, pendidikan, hingga harapan mereka terhadap masa depan. Apa yang tampak sebagai satu masalah ternyata terhubung dengan banyak faktor lain. Dadi merasa seperti sedang menarik satu benang, tetapi seluruh jaring ikut bergerak.
Suatu malam, saat menuliskan hasil pengamatannya, Dadi tersadar bahwa dirinya sendiri juga bagian dari persoalan yang sedang dikajinya. Cara ia memandang masalah dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sebagai anak petani, pendidikannya, dan posisinya sebagai kepala desa. Ia bukan pengamat yang berdiri di luar kenyataan, melainkan bagian dari kenyataan itu sendiri. Karena itu, kesimpulan yang dibuatnya tidak pernah sepenuhnya pasti dan tidak pernah benar-benar lengkap.
Pada rapat desa berikutnya, Dadi tidak datang membawa jawaban mutlak. Ia justru mengajak warga melihat persoalan dari berbagai sudut: alam, ekonomi, budaya, sejarah, dan perilaku manusia. “Kita mungkin tidak akan pernah memahami seluruh kenyataan secara sempurna,” katanya pelan. “Tetapi kita bisa terus mendekatinya dengan memahami hubungan di antara banyak hal.” Warga terdiam mendengarkan. Saat itu Dadi menyadari bahwa kebijaksanaan bukanlah memiliki semua jawaban, melainkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa realitas selalu lebih kompleks daripada apa yang dapat dipahami oleh satu pikiran manusia.
Meski menyadari bahwa pemahamannya tidak pernah sepenuhnya pasti dan lengkap, Dadi tidak tinggal diam. Ia mengusulkan beberapa langkah konkret kepada warga: menanam kembali pohon di daerah resapan air, membangun penampungan air hujan di setiap dusun, mengatur jadwal penggunaan air untuk pertanian secara bergiliran, serta membentuk kelompok pemantau lingkungan yang melibatkan para petani, pemuda, dan tokoh masyarakat.
Menurutnya, solusi yang baik bukanlah solusi yang mengandalkan satu faktor saja, melainkan solusi yang menghubungkan alam, teknologi, kebiasaan manusia, dan kerja sama sosial. Namun di akhir usulannya, Dadi tetap berkata dengan rendah hati, “Saya tidak menjamin semua ini akan berhasil sempurna. Realitas sering kali lebih rumit daripada rencana kita. Tetapi jika kita memahami lebih banyak hubungan di antara berbagai masalah dan mau belajar dari hasilnya, kita memiliki peluang yang lebih baik untuk memperbaiki keadaan bersama.”
Respon yang tepat terhadap kompleksitas realitas adalah bersedia belajar kapan pun di mana pun. Kapan? Itu adalah pertanyaan temporal tentang waktu yang menambah kompleksitas gradasi realitas semula.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Secara vertikal, gradasi realitas terdiri: (1) performa; (2) kompetensi; (3) eksperiens; (4) eksistensi; (5) makna. Secara horisontal: (1) chaos; (2) arko; (3) anarko; (4) panarko; (5) kopanarko. Bahasa dalam paragraf ini bisa kita pahami secara analisis; tetapi akan lebih kaya makna (dan kompleks) ketika kita pahami secara puitis.
Secara temporal, gradasi realitas: (1) sebagai ukuran gerak; (2) kini bergulir; (3) kini dan masa lalu nyata; masa depan belum nyata; blok berkembang; (4) abadi membentang tersorot terbatas; masa lalu, masa kini, dan masa depan nyata tetapi terbatas yang dialami sorotan;(5) bentangan utuh dinamis dari masa depan sampai masa lalu yang nyata; lebih awal dari masa lalu dan lebih akhir dari masa depan; makin membentang utuh.
Ketika masih muda, Damar mengira hidup hanya soal performa. Nilai rapornya, jumlah pengikut media sosialnya, dan pujian yang diterimanya menjadi ukuran keberhasilan. Ia hidup di tengah chaos, seperti daun yang berputar-putar diterpa angin. Kadang berhasil, kadang gagal. Ketika gagal, ia merasa masa lalunya penuh kesalahan yang memalukan. Ketika berhasil, ia merasa masa lalunya tidak penting lagi. Hidupnya bergerak di permukaan, seperti riak air yang mudah berubah oleh cuaca.
Suatu hari, seorang guru tua bertanya, “Apakah kamu hanya ingin terlihat mampu, atau sungguh menjadi mampu?” Pertanyaan itu mengguncang Damar. Ia mulai menempuh jalan kompetensi. Ia belajar lebih tekun, memahami alasan di balik setiap tindakan, dan menemukan keteraturan dalam hidupnya. Dari chaos ia melangkah menuju arko, menemukan fondasi yang membuat hidup tidak lagi sekadar kumpulan peristiwa acak. Namun semakin banyak ia memahami, semakin ia sadar bahwa pengetahuan saja belum cukup.
Tahun-tahun berikutnya membawanya pada eksperiens. Ia tidak hanya memahami kehidupan, tetapi mengalaminya secara langsung: kehilangan ibunya, merawat ayahnya yang sakit, jatuh cinta, lalu patah hati. Pengalaman-pengalaman itu mengubah dirinya lebih dalam daripada semua buku yang pernah dibacanya. Di saat yang sama, ia melihat bahwa dunia tidak hanya berisi keteraturan. Ada kebebasan, kejutan, dan ketidakpastian. Ia memasuki wilayah anarko, tempat kehidupan tidak selalu tunduk pada rencana manusia.
Pada usia yang lebih matang, Damar mulai menyadari dirinya sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ia bukan sekadar individu yang mengejar sukses, melainkan bagian dari keluarga, masyarakat, sejarah, bahkan alam semesta. Kesadaran eksistensial itu membawanya menuju panarko, sebuah cara pandang yang mampu melihat keteraturan dan kebebasan sekaligus. Ia mulai berdamai dengan masa lalunya. Kesalahan-kesalahan yang dulu ingin dihapus ternyata telah membentuk keberanian, kerendahan hati, dan kasih sayang yang dimilikinya hari ini.
Pada suatu senja, sambil memandangi langit yang berubah warna, Damar akhirnya mencapai lapisan terdalam: makna. Ia memahami bahwa ia tidak dapat mengubah fakta masa lalu, tetapi ia dapat mengubah makna masa lalu itu. Luka menjadi pelajaran. Kegagalan menjadi pijakan. Kehilangan menjadi sumber empati. Dari kesadaran itu lahir rasa peduli kepada sesama. Dan ketika kepedulian itu tumbuh, ia memasuki kopanarko—ruang di mana manusia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan saling menguatkan dalam perjalanan bersama. Saat itulah Damar mengerti bahwa perjalanan vertikal bukanlah perjalanan naik menuju langit, melainkan perjalanan semakin dalam memahami makna kehidupan.
Seseorang bisa mendaki tangga gradasi realitas, lurus diagonal, dari chaos-performa sampai kopanarko-makna; seperti contoh kisah Damar di atas. Tetapi, realitas memang kompleks sehingga perjalanan kita mendaki realitas bisa saja berputar, naik, turun, terhenti, termenung, melompat, lalu lari.
Ketika masih muda, Damar hidup dalam chaos-performa. Nilai rapor, jumlah pengikut media sosial, dan pujian orang lain menjadi ukuran keberhasilannya. Namun setelah bertemu seorang guru tua, ia mulai menempuh jalan kompetensi dan menemukan sedikit keteraturan (arko) dalam hidupnya. Ia belajar dengan tekun dan meraih berbagai prestasi. Akan tetapi, keberhasilan itu justru membuatnya kembali terjebak pada performa. Kini ia bukan lagi remaja yang kacau, melainkan seorang profesional yang teratur tetapi diam-diam masih haus pengakuan. Ia telah naik dalam satu sisi, tetapi turun pada sisi yang lain.
Ketika ibunya meninggal dunia, seluruh fondasi yang selama ini dibangunnya terguncang. Ia memasuki wilayah eksperiens dan anarko sekaligus. Banyak rencananya gagal. Karier yang disusunnya rapi mendadak terasa tidak penting.
Ada hari-hari ketika ia termenung tanpa arah, seolah kembali ke chaos yang pernah ditinggalkannya. Namun dari pengalaman kehilangan itu, ia mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tak tampak. Ia menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Sesekali ia merasakan makna yang mendalam ketika membantu seseorang, tetapi pada kesempatan lain ia kembali tenggelam dalam ambisi dan kesibukan. Perjalanannya tidak lurus; ia melompat dari kompetensi ke eksperiens, dari makna kembali ke performa, lalu naik lagi menuju pemahaman yang lebih dalam.
Bertahun-tahun kemudian, Damar menyadari bahwa hidup bukanlah tangga yang dinaiki anak demi anak secara berurutan. Kadang ia berada pada eksistensi-panarko ketika merasakan dirinya bagian dari keluarga, masyarakat, dan alam semesta. Namun di hari lain ia masih bisa terjebak dalam performa-chaos karena takut gagal atau kehilangan penghargaan.
Pada suatu senja ia tersenyum memahami semua itu. Yang penting bukan berada selamanya di puncak makna-kopanarko, melainkan terus bergerak ke arahnya. Realitas terlalu kompleks untuk ditempuh dengan garis lurus. Ada saatnya berjalan, berhenti, tersesat, bahkan mundur. Tetapi selama ia tetap belajar, peduli, dan membuka diri, setiap putaran hidup membawanya sedikit lebih dekat kepada makna yang lebih luas dan lebih dalam.
4.1 Ontologi Fundamental
Apa itu realitas sebenarnya?
4.2 Solusi Praktis
Bagaimana kita bisa menerapkannya dalam tataran praktis?
4.3 Kompleksitas Futuristik
Apakah waktu berjalan linier menuju masa depan? Ataukah ada konsep waktu yang berbeda? Atau apa makna waktu?
5. Kesimpulan
Kesimpulan sederhana: yang sederhana adalah kompleks. Kita berada dalam paradoks: yang paling kompleks adalah paling sederhana; dan yang paling sederhana adalah paling kompleks.
Paradoks dan kompleksitas adalah undangan agar kita bersikap rendah hati dengan pikiran terbuka. Kompleksitas bukan alasan: semua serba boleh, semua serba gelap, atau semua serba acak. Kompleksitas adalah pengingat bahwa ada gradasi realitas. Kita diajak mendaki dari realitas chaos (semua serga gelap), menuju arko, anarko, panarko, dan panarko. Kita menuju alunan indah para panarko: Anda, saya, dan kita semua; manusia, alam, dan menuju Tuhan. Anda sudah siap?
