Filsafat Sains Non Ideal: Apa Menariknya?

Saya tidak tertarik dengan teori non ideal. Saya juga tidak tertarik dengan filsafat non ideal. Tapi, itu adalah dulu. Sekarang, berubah: saya menemukan beberapa hal yang menarik dari filsafat sains non ideal. Meski saya masih terus berpikir: apa istilah yang lebih tepat sebagai alternatif non ideal?

Saya bolak-balik membaca buku Engelhardt: Non Ideal Theory. Makin merenung, makin menarik yang disebut teori non ideal itu. Kemudian, saya mencoba lebih fokus ke filsafat sains non ideal dan mengarah ke tiga nama pemikir: Hacking, Kitcher, dan Kukla. Dengan Hacking dan Kitcher, saya suduh cukup lama mempelajarinya. Sementara dengan Kukla baru mulai mempelajarinya.

1. Nama Lain
2. Berjumpa Para Tokoh
3. Diskusi

Tanpa menyadari istilah teori non ideal, saya membahas dengan istilah yang berbeda. Perspektif saya juga berbeda dengan pemikir non ideal. Namun, kita akan mencoba mencermati beberapa titik temu.

1. Nama Lain

Apa nama lain dari filsafat sains non ideal?

Istilah negatif yaitu non ideal tampak kurang menguntungkan menurut saya. Karena, non ideal membutuhkan “ideal” dulu kemudian menjelaskan “non”. Tugas yang rumit itu.

Pertimbangkan istilah non-Euclidean untuk geometri, non-linear untuk sistem atau matematika, dan non-filosofi untuk metafisika.

Saya mengembangkan beberapa istilah alternatif: sains eksistensial, rekayasa sains, kompleksitas gradasi realitas (KGR), dan lain-lain.

2. Berjumpa Para Tokoh

Berikut adalah usaha kita menjumpai pemikiran para tokoh yang berkontribusi terhadap filsafat sains non ideal.

Filsafat Sains Non-Ideal: Sintesis dengan Korpus APiQ (Revisi dengan KGR)

Gagasan 1 — Titik Pijak Bersama: Penolakan terhadap Objek dan Metode yang Diam

Filsafat sains non-ideal yang direkonstruksi dari Hacking, Kitcher, dan Kukla menggugat premis bahwa sains punya satu objek pasif, satu metode tunggal, dan satu titik akhir (end-state) yang stabil. Korpus APiQ membangun gugatan serupa, dan kini dengan rumusan paling eksplisit lewat esai Kompleksitas Gradasi Realitas (KGR, Juni 2026). Realitas memang kompleks; wajar kita ingin membuatnya sederhana agar mudah dicerna, tetapi penyederhanaan ini berbeda dengan kompleksitas realitas — matematika adalah sebentuk penyederhanaan paling hebat, AI adalah penyederhanaan berupa teknologi yang paling memikat hati, namun semua penyederhanaan itu masih jauh berbeda dengan kompleksitas realitas.

Klaim pembuka ini sendiri adalah pernyataan non-ideal yang tegas: model formal (matematika, AI) adalah idealisasi yang secara struktural tidak akan pernah menangkap realitas yang sebenarnya ia idealisasikan.

Gagasan 2 — KGR: Tiga Sumber yang Disatukan APiQ untuk Mendekati Kompleksitas

APiQ menulis bahwa yang paling dekat dengan kompleksitas realitas adalah teori gradasi eksistensi dari Sadra, ditambah evolusi ruang (sphere) dari Sloterdijk, dan tantangan kompleksitas dari Morin. Tiga sumber ini dipadukan menjadi satu kerangka KGR. Penting dicatat: KGR bukan dua sumbu sederhana seperti dugaan awal pada sesi sebelumnya, melainkan kerangka berlapis — gradasi vertikal (Sadrian), evolusi ruang horizontal-historis (Sloterdijk), dan kerangka epistemik tentang ketidakpastian/ketidaklengkapan (Morin) — yang bersama-sama membentuk peta non-ideal yang jauh lebih kaya daripada model performa-versus-makna yang direkonstruksi secara keliru sebelumnya.

Gagasan 3 — Gradasi Vertikal: Performa-Kompetensi-Eksperiens-Eksistensi-Makna

Realitas paling utama adalah eksistensi menurut Sadra; eksistensi bergradasi dari intensitas lemah sampai intensitas kuat, eksistensi lemah tidak terpisah dari eksistensi kuat, tetapi eksistensi kuat meliputi dan merangkul eksistensi lemah — eksistensi kuat lebih kompleks dari eksistensi lemah tetapi juga lebih sederhana. APiQ mengilustrasikan ini lewat kisah Wawan, seorang dokter umum yang mendalami kardiologi: gradasi pengetahuan dokter spesialis jantung lebih kuat, lebih konkret, dan merupakan lanjutan dari pengetahuan dokter umum — eksistensi kuat sedang merangkul eksistensi lemah, bukan menggantikannya. Secara vertikal, gradasi realitas terdiri dari: (1) performa; (2) kompetensi; (3) eksperiens; (4) eksistensi; (5) makna. Ini koreksi penting dari rumusan sebelumnya: bukan dua kutub “performa versus makna,” melainkan lima tingkat gradatif yang masing-masing merangkul yang di bawahnya.

Gagasan 4 — Gradasi Horizontal: Chaos-Arko-Anarko-Panarko-Kopanarko

Secara horisontal, gradasi realitas terdiri dari: (1) chaos; (2) arko; (3) anarko; (4) panarko; (5) kopanarko. Lima tingkat ini bukan sumbu independen dari sumbu vertikal, melainkan berpasangan secara diagonal: seseorang bisa mendaki tangga gradasi realitas, lurus diagonal, dari chaos-performa sampai kopanarko-makna — tetapi realitas memang kompleks sehingga perjalanan mendaki itu bisa berputar, naik, turun, terhenti, termenung, melompat, lalu lari.

Diagonal chaos-performa → kopanarko-makna inilah yang membentuk “tangga” KGR, diilustrasikan lewat kisah Damar yang bergerak tidak linear dari performa-chaos remaja, lewat kompetensi-arko, eksperiens-anarko (saat kehilangan ibunya), eksistensi-panarko, sampai makna-kopanarko — dengan penegasan bahwa jalan itu jarang lurus.

Kemudian, dari KGR (kompleksitas gradasi realitas) kita menghubungkan langsung ke filsafat sains non ideal.

Gagasan 5 — Non-Linearitas sebagai Inti Argumen Non-Ideal KGR

Poin paling penting bagi filsafat sains non-ideal ada di sini: KGR secara eksplisit menolak end-state theory dalam bentuk tangga linear-final. Yang penting bukan berada selamanya di puncak makna-kopanarko, melainkan terus bergerak ke arahnya — realitas terlalu kompleks untuk ditempuh dengan garis lurus; ada saatnya berjalan, berhenti, tersesat, bahkan mundur, tetapi selama tetap belajar, peduli, dan membuka diri, setiap putaran membawa sedikit lebih dekat kepada makna yang lebih luas. Ini adalah rumusan APiQ sendiri untuk pembedaan end-state vs. transitional Valentini: kopanarko-makna berfungsi sebagai horizon regulatif (mirip jawaban ideal Kitcher), tetapi jalan menujunya secara struktural non-linear dan tidak bisa dideduksi sebagai satu prosedur tetap.

Gagasan 6 — Sloterdijk: Evolusi Ruang sebagai Historisitas Eksistensial

Sloterdijk merumuskan evolusi ruang (sphere): bubbles (gelembung, manusia hidup di janin ibu, segala kebutuhan terpenuhi), kemudian globes (bumi/bola semesta, manusia menjelajah lebih luas tetapi harus berjuang), dan akhirnya foams (buih, manusia hidup dalam ruang digital yang mudah lenyap). Buih-buih lebih kompleks dari gelembung maupun bola — buih adalah gelembung dan bola yang saling bertumpuk secara horisontal dan vertikal; gelembung dalam buih tidak lagi hangat, bahkan kadang jadi gelembung ganas; bola bumi dalam buih tidak lagi menghembuskan udara segar, bahkan kadang membakar yang ia sentuh.

Ini memberi dimensi historis-kolektif pada KGR yang sejalan dengan historical ontology Hacking: ruang eksistensial manusia (bukan hanya konsep ilmiah) punya tahap-tahap kemunculan historis yang tidak bisa direduksi ke satu model spasial tetap — bubble, globe, foam adalah tiga “style” keberadaan ruang yang masing-masing punya logika dan kerentanan berbeda.

Gagasan 7 — Morin: Ketidakpastian dan Ketidaklengkapan sebagai Penolakan Reduksionisme

Kompleksitas, bagi Morin, ditandai oleh ketidakpastian (uncertainty) dan ketidaklengkapan (incompleteness) — kajian kompleksitas tetap tidak pasti dan tidak lengkap; ketika kita hanya mengkaji satu unsur saja, kajian itu pun tetap tidak pasti dan tidak lengkap, sehingga satu unsur pun tetap kompleks.

Kompleksitas realitas menolak pendekatan reduksionis murni; realitas mengajak kita mengkaji realitas dalam konteks lingkungan dan histori serta memasukkan peran pengamat itu sendiri. Klaim “peran pengamat” ini menjembatani langsung ke Kukla: kompleksitas bukan hanya sifat objek, melainkan melibatkan posisi epistemik pengamat sebagai bagian dari realitas yang dikaji — diilustrasikan lewat kisah Dadi, kepala desa yang menyadari dirinya bagian dari persoalan krisis air yang ia kaji, bukan pengamat netral dari luar.

Saya lebih suka menggunakan istilah sains eksistensial. Tapi, terbuka, barangkali ada usulan istilah lain yang lebih mudah dan mengena.

Gagasan 8 — Sains sebagai Rekayasa: Sains Eksistensial dan Entity Realism Hacking

APiQ mengusulkan solusi berupa sains-eksistensial, bertanya apa makna-sains dan apa makna-atom — atom berinteraksi langsung dengan kita secara eksistensial, sekaligus merupakan substansi fundamental penyusun materi secara esensial. Sains tidak netral seperti dikira; sains adalah rekayasa terhadap realitas, baik realitas dunia eksternal maupun realitas dalam diri seseorang. Klaim ini sejalan dengan entity realism Hacking (“jika bisa disemprotkan, itu nyata”) — keduanya menggantikan kriteria representasi murni dengan keterlibatan aktif.

Tapi KGR memberi pijakan baru: rekayasa-realitas dalam sains-eksistensial kini bisa dipetakan langsung ke gradasi vertikal KGR — sains sebagai performa/kompetensi murni (mengukur, memprediksi) baru menjadi otentik-eksistensial ketika ia naik ke tingkat eksistensi-makna, persis pola Wawan yang bergerak dari pengetahuan umum ke pemahaman jantung yang konkret tanpa kehilangan fondasi sebelumnya.

Gagasan 9 — Hacking di Dalam Korpus APiQ: Rujukan Langsung soal Probabilitas

APiQ menulis bahwa Hacking (1936–2023) dengan tegas menyatakan bahwa probabilitas dan statistik muncul (“emerge”) sejak problem induksi Hume — sebelum era Hume, kajian probabilitas bersifat analitik-epistemologis; setelah era Hume, probabilitas punya landasan ontologis kuat, dan realitas bersifat probabilistik.

Ini bukan analogi yang dibangun dari luar, melainkan rujukan tekstual APiQ sendiri pada proyek styles of reasoning Hacking. Dalam terang KGR, “kemunculan historis” probabilitas ini adalah kasus konkret dari prinsip umum Morin-Sloterdijk dalam KGR: kandidat kebenaran ilmiah (di sini, proposisi probabilistik) terikat pada konteks historis dan ruang-eksistensial (sphere) tertentu yang memungkinkannya muncul sebagai kandidat sama sekali.

Gagasan 10 — Historisitas Konsep Matematis dan Styles of Reasoning

APiQ mencontohkan: konsep bilangan negatif baru diterima komunitas sains secara luas dalam beberapa ratus tahun terakhir; ribuan tahun lalu masyarakat menolaknya meski membutuhkannya untuk menghitung utang-piutang, sampai akhirnya 2–3=–1 menjadi valid, bahkan valid secara apriori tanpa pengamatan empiris.

Ini paralel langsung styles of reasoning Hacking: sebelum konvensi tertentu mengkristal, proposisi belum punya status sebagai kandidat kebenaran yang bisa diverifikasi sama sekali — persis logika “kemunculan” yang juga mendasari rumusan KGR (kompleksitas gradasi realitas) bahwa setiap tingkat gradasi (performa, kompetensi, dst.) punya momen kemunculannya sendiri dalam perjalanan eksistensial seseorang atau suatu komunitas ilmiah.

Sains eksistensial amat erat terhubung dengan etika; bahkan sains adalah etika itu sendiri. Saintis selalu ikut bertanggung jawab terhadap kajian yang mereka lakukan.

Gagasan 11 — Kitcher: Demokrasi Sains dan Logika-Futuristik

Logika-futuristik menghormati posibilitas, freedom, dan komitmen; menghadapi keberagaman ide yang muncul, demokrasi — menentukan kebenaran berdasar suara terbanyak (voting) dan hak veto merata — menjadi salah satu alternatif terbaik. Ini versi APiQ yang lebih radikal dari well-ordered science Kitcher: WOS tetap mempertahankan deliberator ideal sebagai jangkar, sementara APiQ di titik ini menyerahkan kebenaran ke prosedur demokratis aktual.

Dalam kerangka KGR, voting semacam ini bisa dibaca sebagai mekanisme pada tingkat arko (keteraturan prosedural) yang berusaha menjembatani chaos (keberagaman ide tak teratur) — satu tingkat dalam gradasi horizontal, bukan solusi final di tingkat kopanarko.

Gagasan 12 — Ethical Inquiry Kitcher dan Logika-Futuristik sebagai Orientasi Konsekuensi

Logika-futuristik mengajukan pertanyaan, “Apa konsekuensi paradoks tersebut terhadap masa depan?” — jika tidak signifikan, terima paradoks; jika signifikan, lanjutkan kajian, barangkali lewat meta-teori dan meta-perspektif. Struktur ini sejalan dengan pergeseran Kitcher dari WOS ke ethical inquiry di The Rich and the Poor: Kitcher mendiagnosis bahwa kemenangan kaum realis kebijakan berasal dari ethical inquiry yang salah konstruksi — menerapkan prinsip top-down secara kuasi-Newtonian dan memaksa keadaan menyesuaikan diri dengan prinsip. Keduanya menolak deduksi top-down dan menggantinya dengan evaluasi iteratif berbasis konsekuensi konkret — futuristik (APiQ) dan ethical inquiry (Kitcher) sama-sama berorientasi ke depan, bukan kepatuhan pada aksioma masa lalu.

Apa itu waktu? Kompleksitas makin komplek dengan mempertimbangkan waktu dan pluralisme epistemik.

Gagasan 13 — Temporal KGR: Lima Mode Waktu yang Menambah Kompleksitas

KGR menambahkan dimensi ketiga yang belum dibahas sebelumnya: temporalitas. Secara temporal, gradasi realitas: (1) sebagai ukuran gerak; (2) kini bergulir; (3) kini dan masa lalu nyata, masa depan belum nyata, blok berkembang; (4) abadi membentang tersorot terbatas — masa lalu, kini, masa depan nyata tetapi terbatas yang dialami sorotan; (5) bentangan utuh dinamis dari masa depan sampai masa lalu yang nyata, lebih awal dari masa lalu dan lebih akhir dari masa depan, makin membentang utuh.

Lima mode waktu ini memberi argumen non-ideal tambahan yang independen dari Hacking: bukan hanya objek dan style of reasoning yang historis, tetapi struktur waktu itu sendiri bergradasi — sehingga “masa depan” dalam logika-futuristik bukan satu jenis modalitas tunggal, melainkan punya tingkat-tingkat kenyataan yang berbeda sesuai gradasi eksistensial yang dicapai.

Gagasan 14 — Kukla dan Pluralitas Sikap Epistemik dalam Terang Pengamat-KGR

Kukla berargumen bahwa praktik sains bertujuan mengelola beragam sikap epistemik — bukan hanya pengetahuan, tetapi juga ketidaktahuan, keingintahuan, kecurigaan, penerimaan sementara, ketidakpastian, keraguan, perhatian. KGR (kompleksitas gradasi realitas) memberi pijakan langsung untuk klaim ini lewat Morin: kompleksitas ditandai ketidakpastian dan ketidaklengkapan yang tidak terhindarkan bahkan saat mengkaji satu unsur saja, dan kompleksitas bukan alasan untuk berkata semua serba boleh, semua serba gelap, atau semua serba acak — melainkan pengingat bahwa ada gradasi realitas.

Klaim “ketidakpastian sebagai kondisi struktural, bukan kegagalan sementara” ini langsung sejalan dengan penolakan Kukla terhadap “pengetahuan sebagai satu-satunya tujuan sains” — keduanya menempatkan ketidaktahuan/ketidakpastian sebagai sikap epistemik yang sah dan tak terhindarkan, bukan defisiensi yang harus dihapus sebelum sains “benar-benar selesai.”

Akhirnya, kita berjumpa dengan paradoks: kompleksitas dan kesederhanaan.

Gagasan 15 — Paradoks Kesederhanaan-Kompleksitas sebagai Penutup Non-Ideal

Kesimpulan KGR (kompleksitas gradasi realitas): yang sederhana adalah kompleks — kita berada dalam paradoks bahwa yang paling kompleks adalah paling sederhana, dan yang paling sederhana adalah paling kompleks. Paradoks dan kompleksitas adalah undangan untuk bersikap rendah hati dengan pikiran terbuka.

Paradoks ini secara struktural meniru argumen non-ideal Kitcher tentang action-guidance: makin kita coba menyederhanakan jawaban ideal (WOS, atau “yang sederhana” dalam KGR), makin tersembul kompleksitas non-ideal yang tidak bisa direduksi — sebuah pengulangan tema yang sama dalam idiom berbeda: tidak ada titik sederhana-final yang aman dari kembalinya kompleksitas.

Gagasan 16 — Sintesis: KGR sebagai Kerangka yang Menyatukan Tiga Front Barat dari Akar Tunggal

Dengan KGR terverifikasi penuh, sintesis sebelumnya bisa dipertajam. Hacking, Kitcher, dan Kukla menggugat ideal philosophy of science dari tiga front independen (objek, institusi, tujuan). KGR menjangkau ketiga front itu lewat tiga sumbu sekaligus: gradasi vertikal Sadrian (objek/diri yang bergerak dari performa ke makna — paralel Hacking/gerak substansial), evolusi ruang Sloterdijk (institusi/ruang eksistensial historis bubble-globe-foam — paralel argumen institusional Kitcher tentang ketakmungkinan instansiasi ideal secara harfiah), dan tantangan kompleksitas Morin (ketidakpastian-ketidaklengkapan structural serta peran pengamat — paralel langsung pluralitas sikap epistemik Kukla).

Perbedaannya: argumen Barat bersifat aditif-independen, sedangkan KGR mengintegrasikannya jadi satu peta gradatif tunggal yang vertikal, horizontal, dan temporal sekaligus — usaha yang secara ambisius lebih menyatu daripada tiga front Barat yang sengaja dijaga terpisah secara metodologis. Bagaimana pun, kesatuan yang utuh ini adalah kesatuan yang terbuka bukan tertutup.

Gagasan 17 — Implikasi: KGR sebagai Non-Ideal Philosophy of Science dengan Topografi Sendiri

Implikasi akhirnya: KGR bukan sekadar versi APiQ dari non-ideal theory Barat, melainkan topografi non-ideal yang dibangun dengan logikanya sendiri — di mana persoalan full vs. partial compliance Valentini muncul sebagai pertanyaan tingkat gradasi mana yang sedang dihuni seseorang/komunitas (chaos-performa atau kopanarko-makna); persoalan utopian vs. realistic muncul sebagai tegangan antara horizon kopanarko-makna dan kenyataan bahwa perjalanan mendaki realitas bisa berputar, naik, turun, terhenti, termenung, melompat, lalu lari; dan persoalan end-state vs. transitional terjawab tegas oleh APiQ sendiri — bukan berhenti di puncak, melainkan terus bergerak ke arahnya.

KGR, dengan demikian, adalah kontribusi orisinal APiQ pada filsafat sains non-ideal: bukan hanya menggugat ideal theory, tetapi menyediakan peta gradatif konkret (lima tingkat vertikal, lima tingkat horizontal, lima mode temporal) untuk menavigasi non-idealitas itu sendiri — sesuatu yang secara eksplisit belum disediakan oleh Hacking, Kitcher, maupun Kukla dalam bentuk setara.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar