Baru terbit buku kami AI dan Peran Pendidik: Substitusi atau Sinergi? Buku penting ini menegaskan pertanyaan sangat mendalam: terjadi substitusi atau sinergi?

Apakah AI (akal imitasi – artificial intelligence) akan menggantikan peran guru? Akankah terjadi pemecatan besar-besaran terhadap guru di seluruh dunia? Para siswa cukup belajar melalui AI? Ataukah justru peran guru makin penting ketika AI muncul? Kami menjawab pertanyaan ini dengan mengajukan 27 peran pendidik di era AI.
Akal Imitasi (AI) telah memasuki ruang kelas, perpustakaan, pesantren, dan meja belajar jutaan pelajar di seluruh dunia. Di tengah gegap-gempita transformasi ini, satu pertanyaan terus menghantui: apa sesungguhnya peran pendidik saat ini?
Buku ini menawarkan solusi berupa peta yang menjadi bekal bagi para pendidik untuk menemukan posisi, menegaskan pilihan, dan bergerak dengan kesadaran penuh di tengah lautan disrupsi yang terus bergolak dampak AI (Akal Imitasi—artificial intelligence). Peta ini berisi 27 peran pendidik di era AI.
Gelombang AI akan terus datang. Ia memasuki kelas, meja belajar, dan dialog antara guru dan siswa. Tetapi ombak tidak pernah menentukan pelayaran. Yang menentukannya adalah nakhoda yaitu para guru dan siswa. Pendidik yang bijak bukan penolak gelombang, melainkan pelaut yang memahami laut, membaca angin, dan tetap memegang arah. Selamat berlayar para pendidik!
(Sinopsis dari halaman belakang buku).
Tiga kelas narasi besar AI (optimis, kritis, alternatif kreatif) kami pertemukan dengan sembilan filosofi pendidikan dunia (termasuk filosofi Indonesia) menghasilkan 27 peran pendidik.
Tiga kelas narasi AI bersumber dari buku kami 19 Narasi Besar Akal Imitasi (2025). Sedangkan sembilan filosofi pendidikan bersumber dari kajian terhadap pendidikan di dunia termasuk filosofi Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara, filosofi pendidikan Pesantren, dan filosofi pendidikan Probabilitas et Realitas yang bersumber dari buku kami juga.
Saya sendiri merasa filosofi Taman Siswa atau Among menjadi sangat penting di era AI ini. Ing Ngarso Sung Tuladha (di depan menjadi teladan); Ing Madyo Mangun Karsa (bersama-sama mengembangkan kekuatan); Tut Wuri Handayani (dari belakang mendorong kemajuan).
Selamat membaca para pembaca budiman…!
