Penilaian Apriori

Presiden Jokowi adalah presiden terbaik. Karena itu, semua program presiden adalah program terbaik. Pemindahan IKN (ibu kota negara) adalah program terbaik. Para ahli sudah mengkaji secara ilmiah, terbukti pemindahan IKN adalah program terbaik. Pembangunan kereta api cepat, pembangunan jalan tol, pembangunan bendungan, dan lain-lain, semuanya, adalah program terbaik.

Bagaimana jika masa jabatan 3 periode? Tentu saja itu yang terbaik. Jika jadi 3 periode maka itu adalah yang terbaik. Dan, jika tidak jadi 3 periode maka tetap yang terbaik.

Cara penilaian seperti itu adalah penilaian apriori.

Penilaian apriori juga bisa ke arah sebaliknya. Dia adalah presiden terburuk. Karena itu, program apa pun yang dilakukannya pasti buruk. Program IKN, kereta cepat, pembangunan tol, dan lain-lain semuanya adalah buruk. Banyak tersedia data, terutama berita, membuktikan itu.

Pro dan kontra, sama-sama, bersifat apriori. Bukankah apriori itu buruk? Apriori banyak bermanfaat dan banyak mudharat juga. Kita akan membahasnya di bawah ini.

1. Analisis Apriori Posteriori
2. Data Empiris
3. Konsep Ideal
4. Apriori vs Posteriori
5. Solusi Sakina

Aristoteles (386 – 322 SM) adalah pemikir awal yang memperhatikan pentingnya analisis apriori dan posteriori. Penilaian apriori menjamin logika silogisme menjadi benar. Sementara, jika tidak ada apriori maka logika silogisme tidak dijamin bernilai benar. Dengan kata lain, tanpa apriori, semua logika manusia adalah ragu-ragu.

1. Analisis Apriori Posteriori

Suhrawardi (1154 – 1191) meragukan validitas konsep apriori dari Aristoteles dan murid-muridnya. Konsep apriori yang dikembangkan sampai jaman itu tidak berhasil mengungkapkan pengetahuan sejati. Suhrawardi memberi solusi dengan epistemologi “ilmu hudhuri” atau “knowledge by presence.”

Immanuel Kant (1720 – 1804) berhasil menempatkan penilaian apriori dan posteriori dengan baik. Apriori berlaku dengan tepat untuk konsep-konsep ideal semisal matematika. Sedangkan, posteriori berlaku untuk kasus-kasus empiris semisal sains, kehidupan sosial, dan bisnis sehari-hari.

Apriori adalah penilaian yang sudah ditetapkan kebenarannya secara universal lebih awal dari pengamatan. Misal, “persegi adalah bangun datar yang memiliki empat sisi.” Lingkaran pasti bukan persegi karena tidak punya empat sisi. Segitiga pasti bukan persegi karena tidak memiliki empat sisi. Kita tidak harus mengamati lingkaran dan segitiga tersebut.

Posteriori adalah penilaian yang hanya bisa ditetapkan kebenarannya setelah ada pengamatan. “Milen, kemarin, ikut sholat Jumat,” adalah posteriori. Kita perlu melakukan pengamatan kepada Milen apakah dia ikut sholat Jumat. Setelah itu, kita baru bisa mengambil kesimpulan. (Bandingkan dengan lingkaran. Tanpa pengamatan, kita sudah tahu lingkaran pasti bukan persegi.)

Tantangan tetap ada di depan kita: semua analisis posteriori, pada langkah akhir, harus didasarkan pada analisis apriori. Di sinilah, tugas kita untuk menjaga dinamika antara apriori dan posteriori. Sehingga, terbentuk alunan serasi dalam hidup ini.

Tantangan kedua, lebih serius, adalah masalah praktis. Kapan kita harus menerapkan analisis apriori dan kapan kita harus menerapkan analisis posteriori. Seperti contoh di atas tentang presiden terbaik, atau sebaliknya, tidak tepat dengan menggunakan analisis apriori. Menentukan presiden terbaik seharusnya dengan menggunakan analisis posteriori. Demikian juga, penilaian program kerja presiden didasarkan pada analisis posteriori.

2. Data Empiris

Kehidupan sehari-hari, pengalaman empiris, menuntut kita untuk menerapkan analisis posteriori. Bagaimana pun, analisis posteriori terhadap data empiris selalu bersifat kontingen, hanya kemungkinan bukan kepastian.

P: “Pawang berhasil mengusir hujan.”

Pernyataan P di atas bisa benar. Meski benar, misalnya, tetap saja kontingen – tidak mutlak. Hasil pengamatan menunjukkan memang benar bahwa pawang berhasil mengusir hujan. Tetapi, pengamatan itu bisa saja salah mengamati. Di mana-mana, era media sosial, bisa terjadi setingan belaka.

S: “Soekarno adalah proklamator RI.”

Pernyataan S jelas benar tetapi kontingen. Catatan sejarah, cerita rakyat, dan bukti-bukti di museum mendukung bahwa S memang benar. Apakah S jadi benar 100%? Tetap kontingen, tidak bisa 100%. Tidak ada masalah dengan kontingen ini. Dalam hidup, kita sering menghadapi kontingensi ini.

Apakah air yang Anda minum 100% sehat? Tidak juga. Tetapi kita berani minum air itu dengan keyakinan yang memadai. Dan hidup kita sehat. Jika ada orang yang menunggu 100% air sehat maka dia tidak akan pernah menemukan itu. Bisa jadi, dia tidak akan pernah minum air sampai membahayakan kesehatannya.

Bahkan hukum sains, misal hukum kekekalan massa, juga bersifat kontingen. Massa, atau materi, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Materi hanya bisa berubah bentuk. Es padat berubah jadi air cair, dan bisa berubah lagi jadi uap gas. Reaksi kimia bisa mengubah air menjadi hidrogen dan oksigen. Bagaimana pun, massa tetap sama. Materi hanya berubah bentuk.

Hukum sains kekekalan massa itu menjadi salah, ketika ditemukan, bahwa massa bisa hilang, musnah, berubah menjadi energi. Sehingga, perlu revisi menjadi hukum kekekalan massa-energi. Apakah, dengan demikian, hukum kekekalan massa-energi menjadi benar 100%? Tidak juga. Hukum sains tetap kontingen. Hanya saja, sampai saat ini, hukum sains tersebut masih benar.

Sekali lagi, tidak ada masalah dengan kontingensi. Alam raya empiris ini memang kontingen. Kita perlu bersikap bijak terhadap kontigensi. Kita perlu sikap terbuka, barangkali, pengetahuan kita salah. Barangkali pengetahuan orang lain lebih benar. Barangkali sudut pandang yang berbeda adalah lebih baik. Dan, tentu saja, barangkali pengetahuan kita memang lebih benar.

Hidup menjadi lebih bahagia dengan sikap berpikir terbuka.

3. Konsep Ideal

Kita memiliki konsep ideal dalam matematika dan moral yang benar secara universal – apriori. “Korupsi adalah kriminal,” merupakan penilaian apriori yang benar secara universal. Akibatnya, setiap tindakan korupsi perlu dihukum, atau dicegah.

Persoalan menjadi beda bila, “Mr Fulan melakukan korupsi.” Kali ini, penilaian terhadap Mr Fulan adalah partikular sehingga posteriori. Sehingga kita perlu mengamati bukti apakah Mr Fulan benar-benar melakukan korupsi. Jika terbukti, maka Mr Fulan layak dihukum. Jika tidak terbukti maka Mr Fulan bebas.

Tugas menghakimi adalah tugas kita sebagai manusia. Mau tidak mau, kita harus menghakimi banyak hal. Apakah Anda akan melanjutkan membaca tulisan ini? Anda adalah hakimnya dan harus menghakimi. Apakah Anda akan minum saat ini? Tugas Anda untuk menghakimi. Contoh “membaca” atau “minum” merupakan tugas hakim yang sederhana. Tugas yang lebih kompleks menuntut kita menghakimi sesuatu yang “partikular” masuk dalam kelompok “universal”.

“KC: Pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat.”

Apakah pernyataan KC di atas adalah benar? Kita dihadapkan pada penilaian partikular “P: Pengembangan kereta api cepat,” dan penilaian universal “M: Manfaat bagi rakyat.”

Setiap program pembangunan pemerintah harus masuk “M: bermanfaat bagi rakyat.” Penilaian apriori ini benar dan dapat diterima oleh semua rakyat dan semua politikus – bisa dicek ketika janji kampanye.

Tetapi, “P: Pengembangan kereta api cepat” adalah partikular. Ketika P dimasukkan ke M maka penilaian akhir kita adalah partikular atau posteriori. Pengujian empiris perlu dilakukan untuk “menghakimi.” Hasilnya, bisa saja benar (B) pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat. Bagaimana pun B ini tetap partikular. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi salah. Sehingga perlu konsistensi untuk menjaga selama perencanaan, pelaksanaan, dan pasca-pelaksanaan.

Bisa juga hasilnya salah (S), ternyata, pengembangan kereta api cepat TIDAK bermanfaat bagi rakyat. Tentu saja S ini, juga, bersifat partikular. Sehingga bisa dilakukan beragam langkah perbaikan agar bisa jadi bermanfaat bagi rakyat atau memperkecil kerugian rakyat.

4. Apriori vs Posteriori

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan dengan menjawab pertanyaan: mana yang kita pilih penilaian apriori atau posteriori?

4.1 Pilih Posteriori

Secara umum, kita perlu memilih analisis posteriori dengan kesimpulan akhir bersifat kontingen – bisa berubah. Kita tidak bisa sombong. Kita tidak bisa memaksa orang lain. Kita tidak bisa sewenang-wenang. Karena, penilaian kita adalah kontingen, bisa saja salah meski sudah hati-hati.

Sebaliknya, justru kita harus melakukan pengujian data – empiris mau pun rasional. Untuk konsisten, memperbaiki ilmu kita. Kita juga bersifat terbuka dengan beragam pandangan yang berbeda. Barangkali, kita perlu mencari titik temu untuk mencapai konsensus-konsensus.

Tapi, bukankah hidup dengan cara seperti itu menjadi goyah? Tidak stabil? Mudah tertiup angin?

4.2 Pilih Apriori

Pilihlah apriori secara universal. Perlu hati-hati terhadap kasus partikular.

K: “Komitmen mengantar orang jadi sukses.”

Penilaian apriori terhadap K adalah valid. Orang-orang perlu komitmen tinggi agar menjadi sukses. Dengan demikian, menjadi penuh semangat untuk berjuang.

4.3 Pilih Sintesa


5. Solusi Sakina

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: