Memilih Falsafah Hidup

Saya kagum kepada Prof Jalal yang menginspirasi melalui tulisan dan ceramah-ceramahnya. “Untuk melakukan perbaikan, “kata Prof Jalal, “kita perlu memperbaiki pola berpikir di tahap awal.” Yang paling awal dari perbaikan pola pikir adalah mengenali kerancuan berpikir; atau kekeliruan berpikir; atau falasi.

“Di sebuah kampung, menjelang tahun 2000, seorang pemuda membeli sepeda motor. Kemudian, pemuda itu memanfaatkan motornya menjadi ojeg; angkutan umum. Penduduk kampung sangat terbantu oleh kemudahan angkutan umum berupa ojeg itu. Setahap demi setahap, pemuda itu menjadi sukses sebagai pengusaha ojeg. Pemuda itu menjadi kaya melalui usahanya sebagai seorang ojeg.

“Melihat suksesnya pemuda itu maka pemuda lain di kampung ingin menirunya. Mereka menjual sawah warisan untuk kemudian membeli motor sebagai ojeg. Bukan hanya para pemuda, banyak orang tua, atau orang dewasa, yang ikutan menjadi tukang ojeg. Siapa penumpang dari ojeg-ojeg itu? Karena semua keluarga sudah menjadi tukang ojeg maka tidak ada penumpang lagi. Tukang-tukang ojeg itu merugi. Termasuk pemuda pertama yang awalnya sukses, kini, ikut rugi sebagai tukang ojeg.”

Prof Jalal memberi contoh falasi berpikir, kerancuan berpikir, tentang “jumlah komposisi” seperti tukang ojeg di atas. Ketika satu atau dua orang ingin menjadi pegawai, PNS atau swasta, maka dia akan sukses. Negara atau perusahaan makin maju. Tetapi bila semua pemuda ingin menjadi pegawai maka apa yang akan terjadi? Kebangkrutan negara atau perusahaan ada di depan mata.

Saya sempat heran mengapa Prof Jalal sering menyebut saya sebagai Mas Nggermanto. Dalam berbagai seminar, Prof Jalal sering mengenalkan,

“Mas Nggermanto ini guru saya.”

1. Filsafat Analitik
2. Fenomenologi
3. Way of Life

“Mengapa?” saya bertanya dalam hati. Barangkali, nama saya Nggermanto memang unik. Saya setuju. Tetapi, mengapa Prof Jalal menyebut saya sebagai guru?

Saya lebih yakin sebaliknya. Saya berguru kepada Prof Jalal; baik melalui kajian-kajian Prof Jalal mau pun melalui buku-buku karya Prof Jalal. Dan, lebih-lebih, berguru melalui kehidupan nyata.

1. Filsafat Analitik

Filsafat analitik berkembang pesat awal abad 20 di negara-negara yang berbahasa Inggris. Kemudian, menyebar ke seluruh penjuru dunia. Termasuk berkembang ke Indonesia.

Analitik mengkaji apakah suatu proposisi bernilai benar atau salah; apakah proposisi sesuai dengan relalitas obyektif eksternal.

Prof Jalal sering bercerita tentang Russell (guru) dan Wittgenstein (murid). Mereka dikenal sebagai pendiri filsafat analitik. Lebih awal lagi, Frege adalah pendiri proto-analitik.

Awal abad 20, Wittgenstein muda ingin belajar filsafat ke Frege di Jerman. Frege menolaknya, justru menyarankan agar Wittgenstein belajar ke Russell di Inggris. Bagi Frege, masa depan filsafat ada di tangan Russell. Wittgenstein mengikuti saran Frege.

Tiba di Inggris, Wittgenstein menemui Russell. Tentu saja, Russell heran mengapa anak muda ini mencari kesulitan dengan ingin belajar filsafat? Wittgenstein sadar situasi itu. “Saya membuat makalah ini,” kata Wittgenstein kepada Russell. “Tolong dibaca kemudian nilailah apakah saya ini orang bodoh atau jenius. Jika saya jenius maka saya akan belajar filsafat. Jika saya bodoh maka saya akan belajar jadi insinyur pesawat terbang.”

Kisah selanjutnya, barangkali Anda sudah tahu. Russell meyakini bahwa Wittgenstein adalah jenius. Kemudian, beberapa tahun setelah kejadian itu, Wittgenstein menulis buku yang menjadi rujukan dunia dalam filsafat bahasa yaitu Tractatus. Bagaimana pun, di berbagai kesempatan, Wittgenstein menyatakan bahwa cita-cita dia bukan jadi filsuf bahasa. Tetapi, Wittgenstein bercita-cita ingin jadi filsuf matematika. Filsafat bahasa dan filsafat matematika adalah dasar dari filsafat analitik.

Prof Jalal mengingatkan kita bahwa mengkaji filsafat analitik yang logis rasional ini bisa saja sangat sulit. Karena terdapat banyak istilah teknis yang berkembang terus-menerus. Beberapa orang merasa kajian analitik sebagai kering, abstrak, dan tidak praktis. Bagaimana pun, kita tetap perlu mempertimbangkan kajian analitik.

2. Fenomenologi

Seiring Frege mengembangkan analitik, di Jerman, berkembang fenomenologi dengan tokoh utama Husserl.

Fenomenologi mengkaji realitas yang hadir apa adanya pada struktur kesadaran manusia; realitas obyektif terhubung dengan realitas subyektif. Analitik fokus kepada kajian obyektif. Sedangkan fenomenologi mengkaji realitas obyektif dan subyektif secara bersamaan. Fenomenologi dan analitik saling melempar kritik. Asumsi bahwa realitas bersifat obyektif yang independen terhadap pengamat adalah prasangka yang perlu dikaji.

Meski fenomenologi lebih kompleks karena menambahkan kajian subyektif terhadap realitas obyektif, tetapi, kajian fenomenologi menjadi lebih segar. Di banyak tempat, fenomenologi membahas sudut pandang manusiawi, peran penting emosi dan cinta, serta pengalaman hidup sehari-hari secara konkret.

Fenomenologi makin berkembang menjadi fenomenologi wujud dan fenomenologi waktu oleh Heidegger, eksistensialisme oleh Sartre, dan posfenomenologi terhadap teknologi di era saat ini.

Prasangka menentukan realitas yang ada. Kita perlu waspada terhadap prasangka. Hanya saja, sikap waspada itu selalu ditemani oleh prasangka.

A. Prof Jalal menunjukkan gambar seorang pria kulit putih berjalan membawa tas. Tanpa diketahui, dari tas jatuh beberapa lembar uang dolar. Pria itu terus berjalan saja menjauh. Di belakangnya, seorang bocah kulit hitam memungut lembaran uang dolar yang tertinggal itu. Apa yang dilakukan oleh bocah kulit hitam ini?

“Bocah kulit hitam itu sedang mencuri uang yang bukan miliknya.” Para hadirin, peserta seminar, sepakat dengan pandangan ini.

B. Prof Jalal menunjukkan gambar seorang pria kulit hitam berjalan membawa tas. Tanpa diketahui, dari tas jatuh beberapa lembar uang dolar. Pria itu terus berjalan saja menjauh. Di belakangnya, seorang bocah kulit putih memungut lembaran uang dolar yang tertinggal itu. Apa yang dilakukan oleh bocah kulit putih ini?

“Bocah kulit putih itu sedang mengumpulkan uang tercecer untuk kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.” Para hadirin sepakat.

Mengapa warna kulit menjadi penentu prasangka? Kulit hitam jahat? Kulit putih baik? Kita perlu waspada terhadap setiap prasangka. Terutama, prasangka oleh diri kita.

3. Way of Life

Kita mengenal tokoh besar Sunan Kalijaga. Kanjeng Sunan mengajarkan falsafah hidup sederhana, berbuat baik kepada sesama, dan mamayu hayuning bawana. Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh filsuf sebagai way-of-life. Filsafat adalah hikmah.

Way of life mengkaji kearifan dalam seluruh aspek kehidupan, kematian, dan alam raya; filosofi adalah konkret dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Mengkaji filsafat sebagai hikmah adalah sangat indah. Istri saya pernah merasa kasihan ke saya, “Berat sekali ya, ayah, tiap hari memikirkan filsafat!” Saya menjawab, “Dengan hikmah filsafat, hidup yang berat terasa nikmat. Kematian, yang makin mendekat, menjadi rindu kekasih untuk bertemu.”

Awal perkembangan filsafat di Barat berbentuk hikmah melalui ajaran Sokrates era Yunani Kuno. Pierre Hadot (1922 – 2010) menghidupkan kembali ajaran hikmah di universitas Prancis.

Umat manusia memang perlu mengkaji filsafat sebagai hikmah, fenomenologi, dan analitik rasional.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar