0. Psikologi Agama: Pengantar 4 Bagian
a, Relasi Psikologi Agama
b. Pengalaman Beragama
c. Kedewasaan Beragama
d. Patologi dan Agama
1. Makna Agama
Penampakan vs Hakekat
Perspektif Psikologi kepada Agama
2. Substansi dan Psikografi Agama
Konsep dan Fungsi Agama
Dimensi idelogi, ritual, eksperensial, intelektual, konsekuensial
3. Agama dan Sains
Pandangan Einstein
Pandangan Teilhard de Chardin
4. Potensi Konflik Agama Sains
Galileo dan Bellarmine
Huxley dan Wilburforce
Sains Modern
5. Independensi Agama dan Sains
Perbedaan Metode
Perbedaan Bahasa
Belajar dari Sejarah
6. Psikologi dan Agama
Freud dan Pfister
Konflik kembali Integrasi
7. Interaksi Psikologi dan Agama
Psikologi Agama
Psikologi untuk Agama
Reinterpretasi Agama
Rekonstruksi Psikologi
8. Psikologi Versus Agama
Ateisme
Mengapa Psikologi Memusuhi Agama
9. Pandangan Psikologi Sekuler
James Leuba
Skinner
George Vetter
Freud
10. Teori Freud tentang Agama
Doktrin Ilusi
Hakekat Keinginan
Kegagalan Agama
Sikap Dewasa
Masa Depan Agama
Freud Dewasa
11. Psikologi Pro Agama
Psikologi Mendekat ke Agama
William James dan Jung
12. Efek Agama ke Kesehatan
Konklusi dan Reanalisis
Kesehatan Mental
Kesehatan Fisik
Berikut sedikit catatan uraian.
0. Psikologi Agama: Pengantar 4 Bagian
“Proses penyucian itu terbilang lancar. Tidak ada korban terbakar. Sebagian ada yang bibirnya jontor; itu karena dosa yang mereka lakukan. Bahwa api itu tidak membakar badan mereka adalah karena kehendak Tuhan yang melembutkan api.” (sumber: Gatra, 12 Mei 2001)
“Bukankah Al Quran menjelaskan: Sesungguhnya, setan memberikan wahyu kepada para kekasihnya (Al anam [6]: 121). Kemampuan mendatangkan keajaiban bukan tanda kebenaran. Ukuran kebenaran agama tentu saja adalah teks-teks suci agama. Ini penjelasan agama!” (PA: 05)
“Bab satu akan menjelajah makna agama sepanjang literatur psikologi (dan filsafat). Kita akan mendefinisikan agama dari sudut pandang yang berbeda.” (PA: 09)
“… ilmu dan agama tidak henti-hentinya berinteraksi satu sama lain sepanjang sejarah umat manusia. Bab Dua akan mengulas pola-pola interaksi agama dan sains. ” (PA: 09)
“Atau kita bisa bersikap moderat seperti Freeman Dyson: “Ilmu dan agama adalah dua jendela untuk melihat ke luar, untuk memahami semesta luas di luar,… Keduanya perlu dihormati.” (PA: 10)
“Dalam psikoanalisis, psikologi kehilangan kesadarannya. Dalam behaviorisme, psikologi kehilangan jiwanya sama sekali. Psikologi menjadi ilmu perilaku.” (PA: 11)
a, Relasi Psikologi Agama
b. Pengalaman Beragama
c. Kedewasaan Beragama
d. Patologi dan Agama
1. Makna Agama
Penampakan vs Hakekat
Perspektif Psikologi kepada Agama
“Dalam definisi Nabi Muhammad SAW, agama adalah perilaku yang baik. Dalam kejadian asyura, agama menjadi inspirasi untuk kegiatan revolusioner. Pada ilustrasi ketiga, agama sebagai perjalanan spiritual, untuk mencapai kesadaran yang tinggi.
Pada ilustrasi keempat, agama tampak sebagai bentuk pengkhidmatan kepada sesama manusia. Pada acara Ngaben, agama mengikatkan pengikutnya dengan kekuatan supranatural, melalui upacara yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk kasus Serbia, agama dijadikan pembenaran untuk tindakan kekerasan dan kekejaman. Pada akhirnya, atas nama agama, Pat Robertson mengecam agama-agama lain (termasuk pengikut denominasi agama Kristen lainnya yang tidak sejalan dengan pendapatnya).” (PA: 19 – 20).
“Etnosenstrisme. Agama selalu diterima dan dialami secara subyektif. Oleh karena itu, orang sering mendefinisikan agama sesuai pengalaman dan penghayatan agama yang dianutnya.
“Mukti Ali, mantan menag, menuliskan, “Agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utausanNya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.” ” (PA: 20).
“Pendeta itu menjawab, “Kami tidak memiliki teologi; kami menari.” (h xix). Para pengikut Shinto tidak mau membicarakan Tuhan, dan apa saja namanya, karena semuanya tidak dapat digambarkan, tidak dapat diceritakan, tidak dapat diuraikan. Mereka tidak ingin membahas agama, mereka ingin mengamalkannya.” (PA: 22).
“Selain sifatnya yang sangat teistis, mengakui adanya Tuhan atau Yang Ilahi, agama-agama Barat ditandai dengan pandangan hidupnya yang dikotomis: memisahkan antara yang sakral dengan yang profan; antara Wujud transendental dengan yang lainnya; antara langit dan bumi, antara duniawi dan ukhrawi, antara Tuhan dan manusia.” (PA: 24).
Kompleksitas definisi agama:
“1) Kepercayaan pada wujud supranatural (Tuhan).
2) Pembedaan antara obyek sakral dan profan.
3) Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral.
4) Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.
5) Perasaan yang khas agama… yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan.
6) Sembahyang dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan.
7) Pandangan dunia atau gambaran umum tentang dunia yang menyeluruh dan tempat individu di dalamnya…
8) Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh yang didasarkan pandangan dunia tersebut.
9) Kelompok sosial yang diikat oleh hal-hal di atas.” (PA: 28)
“Ada ribuan agama di dunia… kita melihat keragaman yang luar biasa. Apalagi bila kita melihat cara masing-masing orang menjalankan agamanya.” (PA: 29).
Definisi Agama secara Psikologi
“Saya dengan sengaja tidak membuat definisi agama secara formal… definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.” (PA: 30).
“Agama muncul di tengah-tengah kita sebagai pengalaman personal dan lembaga sosial… Pada tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan. Mereka bisa saja berafiliasi dengan agama-agama dunia atau sekedar berkaitan dengan sekte atau kelompok sempalan tertentu.” (PA: 33).

Lanjut:

Dan,

Sampai,,,


Tinggalkan komentar