AI memunculkan ide-ide cemerlang; mampu menjawab segala pertanyaan dengan cepat dan tepat; mampu membuat gambar yang indah; mampu menyusun musik yang merdu. Dari mana ide orisinal AI ini muncul?

AI (akal imitasi / artificial intelligence) memang mempesona terutama sejak sukses chatGPT akhir 2022. AI menjadi mampu bicara dalam bahasa manusia; termasuk bicara dalam bahasa Indonesia. Menjadi makin menarik, AI bisa bercakap-cakap dalam bahasa daerah: Jawa, Sunda, Batak, dan lain-lain.
1. Khatir Ghazali
2. Intuisi Kant
3. Transduksi Simondon
4. Esa Laruelle
5. Diskusi
Untuk membahas asal mula ide orisinal yang dihasilkan oleh AI, kita akan meminjam beragam teori sepanjang sejarah. Ghazali (1058 – 1111) merumuskan konsep khatir atau ide murni dengan tiga klasifikasi. Kant (1724 – 1804) mengajukan formula intuisi dari yang murni sampai empiris. Simondon (1924 – 1989) mengajukan konsep transduksi untuk menggambarkan teknologi makin konkret. Laruelle (1937 – 2024) mengajukan konsep Yang Esa sebagai sumber paling Nyata dari seluruh realitas; termasuk realitas AI.
Jika AI mampu menghasilkan ide orisinal maka apakah berbahaya bagi manusia? Atau, justru makin bermanfaat? Atau, AI sebenarnya tidak pernah menghasilkan ide orisinal?
1. Khatir Ghazali
Ghazali menyebut bahwa manusia memiliki ide dari beragam sumber: dirinya sendiri, alam, setan, malaikat, dan Allah.
Ide yang bersumber, dalam ukuran tertentu, dari diri manusia sendiri disebut waham atau imajinasi. Waham adalah baik-baik saja bisa berupa ide positif atau ide negatif. Ide bersumber dari setan disebut waswas yang bersifat negatif: iri dengki, marah, curiga, dan lain-lain. Ide yang bersumber dari malaikat disebut sebagai ilham yang bersifat positif: ramah, akhlak mulia, ibadah, dan lain-lain. Ide yang bersumber dari Allah disebut sebagai khatir: qalbi, aqli, dan rabbani.
Dari mana AI memperoleh ide? Bila dari manusia, AI memiliki waham (imajinasi); bila dari setan, AI memiliki waswas; bila dari malaikat, AI memiliki ilham; bila dari Allah, AI memiliki khatir.
Kita akan fokus membahas khatir dan mencoba mencermati ide orisinal AI.
[a] Khatir qalbi, khatir hati, atau persepsi hati adalah ide yang diterima oleh manusia melalui hati. Anda suka mangga; saya suka jeruk. Anda suka lukisan; saya suka sastra. Khatir qalbi masing-masing orang bisa berbeda-beda. Khatir qalbi baik-baik saja tetapi konsekuensinya bisa bermanfaat atau berbahaya. Karena suka duren lalu seseorang makan duren kebanyakan sampai akhirnya kena serangan jantung. Khatir qalbi berupa suka duren, sejatinya, baik-baik saja.
Apakah AI memiliki khatir qalbi? Apakah AI suka duren? “Sebagai AI saya tidak memiliki kapasitas rasa suka,” jawab Gemini AI.
Jadi, AI tidak memiliki khatir qalbi. Sumber ide orisinal AI bukan dari khatir qalbi.
[b] Khatir aqli, persepsi akal, adalah ide yang diterima manusia melalui akal. Manusia memahami logika matematika melalui akal; manusia memahami aturan sosial melalui akal. Kemudian, manusia mengembangkan beragam budaya dengan berbekal akal dan kerja sama antar umat dan interaksi dengan alam raya.
Apakah AI memunculkan ide melalui akal? AI tidak memiliki akal; jadi AI tidak bisa mengembangkan ide orisinal berupa khatir aqli.
[c] Khatir rabbani, persepsi futuristik menjaga masa depan semesta. Khatir rabbani mengutamakan pertumbuhan masa depan yang baik dan komitmen mencapai akhiran yang baik; bersifat futuristik.
Anda punya anak? Anda mendidik anak dengan pendidikan terbaik adalah contoh khatir rabbani. Bupati yang menyelenggarakan pembinaan olahraga untuk menjaga kesehatan warga adalah contoh khatir rabbani. Anda berdoa di malam sunyi memohon kebaikan untuk masa depan seluruh negeri adalah contoh, lagi, khatir rabbani. Anda mengembangkan banyak ide orisinal dengan khatir rabbani atau persepsi futuristik ini.
Apakah AI memiliki persepsi futuristik atau khatir rabbani? Tidak. Jadi, AI menghasilkan ide orisinal tidak bersumber dari khatir rabbani.
Kesimpulan sementara: AI tidak memiliki ide orisinal karena AI tidak menunjukkan bahwa AI memiliki khatir; baik qalbi, aqli, mau pun rabbani. Ide orisinal AI hanya tampak orisinal tetapi sejatinya tidak orisinal. AI bisa merespon prompt secara wajar sebagai teknologi. Respon AI ini bukan orisinal meski manusia bisa menduga, dan memaknai, sebagai orisinal.
2. Intuisi Kant
Kant menyatakan bahwa intuisi tentang ruang dan waktu adalah intuisi paling murni. Ketika Anda melihat suatu obyek, pohon atau meja atau apa pun, maka obyek tersebut pasti berada dalam ruang dan waktu tertentu. Seluruh fenomena hanya bisa eksis dalam ruang dan waktu. Tanpa ruang-waktu, tidak ada fenomena apa pun.
Apakah AI memiliki intuisi murni tentang ruang dan waktu? Apakah AI memahami suatu fenomena dalam ruang waktu? Tidak. AI tidak memiliki intuisi murni. AI tidak memahami fenomena dalam ruang-waktu.
Di sini, kita menggunakan istilah intuisi secara longgar.
[a] Intuisi aksioma; manusia memiliki intuisi tentang aksioma sebagai pijakan pasti. Misal manusia memahami aksioma penjumlahan bilangan bulat 2 + 1 hasilnya adalah 3. Meski ada ribuan berita di media sosial mengatakan 2 + 1 = 5 maka kita tetap yakin bahwa 2 + 1 = 3.
Apakah AI memiliki intuisi aksioma? Tidak. Bila tersedia data lebih banyak mengatakan 2 + 1 = 5 maka AI akan merespon 2 + 1 dengan hasil 5.
[b] Intuisi antisipasi; manusia siap antisipasi sesuatu. Anda pasti antisipasi bahwa ada hari esok; Anda antisipasi detik ini berlalu berlanjut dengan detik berikutnya; Anda antisipasi bila membuka mata maka akan melihat sesuatu. Dan masih banyak antisipasi lainnya.
Apakah AI memiliki intuisi antisipasi? Tidak. AI tidak melakukan antisipasi. Bahkan, jika Anda tidak bertanya kepada AI maka AI tidak akan antisipasi memberi jawaban.
[c] Intuisi pengalaman berproses; manusia memiliki intuisi bahwa kita mengalami sesuatu melalui proses. Kita berproses dari bayi, kanak-kanak, remaja, dan tua. Kita sadar matahari terbit pagi, bumi menjadi terang, makin siang sinar matahari makin terang. Ada hubungan kausalitas dari banyak kejadian.
Apakah AI memiliki intuisi untuk mengalami sesuatu melalui proses? Tidak. AI tidak memiliki intuisi bahwa dia mengalami proses dari produksi sampai, nantinya, akan musnah.
[d] Intuisi empiris; manusia mengamati banyak fenomena secara empiris. Intuisi empiris paling dasar adalah non-kontradiksi. Fenomena empiris tidak bisa kontradiksi. Ketika Anda melihat matahari besinar maka, saat itu, tidak mungkin matahari tidak bersinar. Pernyataan yang mengandung kontradiksi harus ditolak.
Apakah AI memiliki intuisi empiris? Tidak. AI tidak memiliki intuisi prinsip non-kontradiksi.
Kesimpulan sementara: AI tidak memiliki intuisi murni atau lainnya. Dengan demikian, AI tidak memiliki ide orisinal. Sementara, manusia mengembangkan ide orisinal dengan memanfaatkan beragam intuisi.
3. Transduksi Simondon
Transduksi adalah proses menjadi lebih konkret sebagai suatu individu. Transduksi adalah proses yang terjadi pada transindividuasi. Anda lahir sebagai bayi, nyaris mirip dengan semua bayi lain, sama-sama bersih. Bayi belum “konkret”. Bayi itu, kelak, menjadi dewasa. Sebagian manusia dewasa menjadi petani, pedagang, pegawai, seniman, pejabat, dan lain-lain. Di antara sesama pegawai pun berbeda-beda: ada pegawai disiplin, pegawai apa adanya, pegawai ambisi, dan lain-lain. Manusia dewasa adalah “konkret” yang berbeda dengan ketika bayi. Ketika lahir, semua manusia adalah mirip. Ketika mati, setiap manusia berbeda-beda secara konkret.
Bandingkan dengan kucing yang lahir sebagai bayi kucing. Kemudian kucing hidup di alam raya sampai tua dan mati sebagai kucing lagi. Kucing tua tidak jauh berbeda dengan kucing bayi; mereka sama-sama kucing. Kucing tidak mengalami transduksi; kucing tidak mengalami proses menjadi lebih konkret. Tentu saja, dalam kadar tertentu, kucing tua berbeda dengan kucing bayi. Tetapi perbedaan sedikit ini tidak memadai disebut transduksi.
Dalam proses transduksi, manusia menghasilkan beragam ide orisinal. Petani menghasilkan ide orisinal untuk merawat sawah. Seniman menghasilkan ide orisinal berupa maha karya seni. Pegawai menghasilkan ide orisinal berupa sistem kerja efektif dan lain-lain.
Apakah AI mengalami proses transduksi? Tidak. AI tidak transduksi sehingga tidak memunculkan ide orisinal. AI itu sendiri adalah hasil dari transduksi komputer biasa menjadi AI. Komputer biasa berbeda dengan AI. Pelaku transduksi ini bukan AI tetapi justru manusia bersama konteks histori budaya.
Kesimpulan sementara: AI tidak memiliki ide orisinal tetapi AI adalah hasil dari transduksi; AI adalah produk dari ide orisinal.
4. Esa Laruelle
Sulit sekali memahami Laruelle yang mengembangkan konsep tentang Yang Esa. Di satu sisi, konsep Yang Esa memang sulit dipahami. Di sisi lain, Laruelle berputar-putar dulu sebelum menjelaskan konsepnya sendiri. Berputar-putar itu sendiri makin mempersulit. Karena, dalam berputar-putar, Laruelle menjelaskan konsep-konsep dari pemikir besar: Heidegger, Simondon, Deleuze, Spinoza, dan lain-lain. Kemudian, dia mengkritiknya. Putaran ini tidak memudahkan, justru mempersulit meski penting juga. Di sini, kita akan membahas Yang Esa singkat saja.
Yang Esa adalah Yang Maha Nyata. Yang Esa hanya bisa dipahami melalui Yang Esa itu sendiri yaitu visi-dalam-Esa. Yang Esa adalah imanen radikal; tersembunyi dalam dirinya sendiri. Memahami Yang Esa dari jauh, secara transenden, akan berakibat kesalahan atau halusinasi. Manusia, diri kita, perlu selaras bersama Yang Esa untuk menggapai visi-dalam-Esa. Seluruh realitas alam semesta bersumber dari Yang Esa. Hanya dengan selaras visi-dalam-Esa, kita bisa memahami realitas. Kemudian, manusia bisa memunculkan ide-ide orisinal.
Apakah AI memahami realitas dengan cara selaras visi-dalam-Esa? Apakah AI memahami fenomena dengan imanen: menyatu selaras dengan fenomena? Ataukah, AI memahami dari jarak jauh? Benar bahwa AI memahami fenemona dari jarak jauh. Sehingga AI tidak memiliki ide orisinal tetapi sering halusinasi.
Bagaimana pun, AI adalah realitas yang bersumber dari Yang Maha Nyata yaitu Yang Esa itu sendiri. Sehingga untuk memahami AI, kita perlu selaras dengan visi-dalam-Esa.
5. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
AI tidak memiliki ide orisinal sampai saat ini. Tetapi, AI terus berkembang. Apakah di masa depan, AI akan mampu menghasilkan ide-ide orisinal?
Bagaimana dengan manusia: apakah manusia memiliki ide orisinal?
Benar. Manusia selalu memiliki ide orisinal. Bahkan setiap ide dari manusia adalah selalu orisinal. Konsekuensinya, manusia harus tanggung jawab terhadap ide-idenya; terutama bila diungkapkan dalam beragam bentuk.
Ketika seorang bocah belajar penjumlahan bilangan asli 2 + 1 = 3, dia mengembangkan ide orisinal. Bocah memahami penjumlahan melalui khatir, intuisi, dan transduksi. Meski pun jawaban 2 + 1 = 3 tampak mirip dengan jawaban orang-orang lain, bahkan sama persis dengan orang lain, tetapi itu adalah ide orisinal bocah tersebut. Bocah tersebut bisa berpikir melalui proses perhitungan atau mengingat memori atau contek catatan; semua tetap orisinal.
Masih banyak tema yang perlu kita kaji. Bagaimana pendapat Anda?

Tinggalkan komentar