Saya bersyukur, alhamdulillah, telah tuntas cita-cita besar: menulis trilogi Futuristik yang terbit Rajab 1446 bertepatan Januari 2025 ini. Terima kasih kepada seluruh teman-teman dan saudara-saudara yang telah banyak membantu saya.

“Ketika tuntas maka bergegas.” Apa tugas berikutnya? Apa cita-cita besar selanjutnya? Apa impian besar yang terbayang?
Masih banyak tugas besar menanti: tugas futuristik.
Saya berencana melanjutkan menulis, mengajar, dan produksi konten. Terpikir tentang konten-konten yang ringan saja. Karena konten berat sudah dibahas dalam trilogi Futuristik.
[a] Konten Ringan
Berupa pengalaman hidup sehari-hari; kadang-kadang bahkan fiksi. Konten ringan berupa fiksi menjadi menarik karena kita bebas mengembangkan imajinasi. Misal Anda ingin kritik bupati, gubernur, atau presiden. Anda bisa pidana pencemaran nama baik. Tetapi bila berupa fiksi: raja muda sang penguasa dasa muka (sepuluh wajah) sangat licik; dia berjanji lalu ingkar; comot sana-sini. Karena fiksi bebas-bebas saja. Pembaca sadar bahwa fiksi itu adalah nyata.
[b] Konten Berat
Saya sudah menulis Principia Realita sekitar 300an halaman. Konten Principia ini sangat berat. Tampaknya, saya akan melanjutkan Principia sebagai background (atau foreground) petualangan pemikiran.
[c] Filsafat Teknologi
Saya ingin membahas filsafat teknologi secara ringan. Apa bisa? Indonesia terlambat dalam membahas filsafat teknologi. Dunia Barat, Inggris dan Amerika Serikat, juga terlambat. Jerman dan Prancis adalah negara yang terdepan membahas filsafat teknologi. Tetapi, mereka membahas dengan kadar yang berat. Bisakah kita membahas dengan ringan saja?
[d] Tuhan Futuristik
Pembahasan tentang Tuhan akan selalu menarik; apalagi Tuhan Futuristik. Nietzsche mengumumkan “Death of God” tetapi Niet adalah God-Thinker; Niet memikirkan Tuhan terus-menerus sepanjang hayat. Heidegger merahasiakan pembahasan Tuhan Maha Akhir; Heidegger adalah God-Seeker; sang pencari Tuhan selama hidupnya, menurut Gadamer, sang murid. Ghazali dengan tegas menyatakan kita perlu membersihkan diri untuk dekat dengan Tuhan. Ibnu Arabi mengungkap Tuhan dengan karakter paradoks yang bertabur pesona.
[e] Pendidikan Matematika
Matematika menjadi penting karena dasar dari semua pendidikan. Ketika pendidikan matematika bagus maka pendidikan secara umum akan bagus; harapan kita. Sebaliknya sering terjadi: ketika pendidikan matematika buruk maka kualitas seluruh pendidikan memang buruk. Tugas kita, dan tugas Paman APIQ, meningkatkan kualitas pendidikan.
Di depan mata, masih banyak tugas. Ketika tuntas maka bergegas.
Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan komentar