Nabi Ibrahim adalah teladan cinta: cinta kepada manusia, cinta kepada keluarga, cinta kepada alam raya, dan tentu cinta kepada Tuhan Yang Esa.
Kita mengenang kisah Nabi Ibrahim satu kali dalam setahun; atau lebih sering lagi. Di musim haji di kota suci, umat manusia napak tilas meneladani perjalanan tokoh suci Sang Nabi. Di seluruh belahan dunia, orang-orang beribadah puasa, sholat, dan berkurban memberikan yang terbaik kepada rakyat jelata dan sesama.

*Kisah Ibrahim*
A. Ujian Meningkat
B. Utamakan Tuhan
C. Tidak Mungkin
D. Interpretasi
E. Tanpa Interpretasi
F. Interpretasi Demokrasi
Berikut saya kutipkan tulisan saya yang sudah saya tulis dalam tema Agama Cinta.
*Kisah Ibrahim*
Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai bapaknya para nabi. Karena, kedua putranya, Ismail dan Isaac, sama-sama menjadi nabi. Ibrahim juga sebagai bapak para agama karena semua agama – Islam, Kristen, dan Yahudi – bertemu kepada ajaran Ibrahim. Ditambah lagi, kisah Ibrahim diwarnai paradoks tragedi kemanusiaan.
Ibrahim adalah pejuang kemanusiaan. Ibrahim menghabiskan seluruh umurnya untuk membela kemanusiaan. Tentu saja, Ibrahim pejuang agama. Dia mengajak umat manusia untuk taat mengabdi kepada Tuhan.
Dengan seluruh kebaikan Ibrahim itu, Tuhan tidak memanjakannya. Justru, Tuhan memberi ujian berat kepada Ibrahim. Kelak, ujian berat ini justru mengungkap sosok hebat Ibrahim sepanjang sejarah. Pertama, Ibrahim ingin memiliki anak. Tetapi, Tuhan tidak mengaruniai anak kepada Ibrahim dan istrinya. Bahkan, sampai usia mereka lebih dari 80 tahun, mereka tetap tidak memiliki keturunan.
Kedua, pada usia Ibrahim yang sangat tua, Tuhan baru menganugerahkan seorang putra kepada Ibrahim. Apakah mudah bagi seorang bapak usia di atas 80 tahun mengasuh bayi? Putra Ibrahim tumbuh sebagai anak yang sehat, lucu, dan cerdas. Putra sebagai harapan untuk melanjutkan perjuangan masa depan. Putra adalah yang paling berharga dan paling dicinta oleh Ibrahim.
Ketiga, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengorbankan yang paling dicintainya. Di dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Putranya. Apakah, di dunia nyata, Ibrahim akan mengorbankan Putranya? Atau Ibrahim menolak perintah Tuhan, dengan cara, tidak mengorbankan Putra tercinta?
Kisah selanjutnya, Ibrahim memilih untuk mengorbankan Putra tercintanya. Ibrahim, kemudian, bersama Putranya, berjalan ke tempat yang jauh dari orang untuk melakukan pengorbanan. Ibrahim siap menghunuskan pedang ke leher Putranya. Saat itu, Tuhan mencegah Ibrahim. Ibrahim diperintahkan untuk menjaga Putranya. Tuhan menyuruh Ibrahim untuk berkorban berupa domba sebagai gantinya.
Apa pelajaran yang bisa kita peroleh?
A. Ujian Meningkat
Untuk bertumbuh, kita perlu ujian. Dan, ketika makin tinggi pertumbuhan maka makin tinggi pula ujiannya. Ibrahim muda diuji dengan hidup bersama masyarakat yang sulit. Ibrahim lulus. Ujian ditambah. Ibrahim tidak punya anak sampai tua. Ditambah lagi, harus mengorbankan putranya ketika putranya remaja.
Demikian juga dalam hidup kita. Ujian akan terus bertambah seiring dengan kehidupan kita yang makin maju. Sehingga, jika kita mendapatkan ujian yang berat, maka, itu tandanya hidup kita sedang meningkat. Karena itu, kita perlu bersiap dengan segala ujian. Serta, makin mendekatkan diri dengan Tuhan.
B. Utamakan Tuhan
Mengutamakan perintah Tuhan atau menjaga nyawa anak Anda?
Dalam kisahnya, Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan. Yaitu, Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya. Meski demikian, pada akhirnya, Tuhan tidak mengijinkan perngorbanan Putra Ibrahim. Tuhan menyuruh untuk berkorban domba. Jadi, ketika kita mengutamakan perintah Tuhan maka Tuhan akan menjaga kita sebagai umat manusia.
Kerena Tuhan Maha Benar maka setiap perintah Tuhan pasti juga benar. Sehingga, umat manusia perlu terus berusaha memahami ajaran Tuhan melalui kitab suci. Ketika terjadi dilema, “Bagaimana cara kita memilih keputusan?”
C. Tidak Mungkin
Tidak mungkin. Kita tidak mungkin mengambil kesimpulan dengan pasti benar. Segala pilihan kita, mungkin saja salah. Bahkan salah besar.
Salah satu interpretasi mengatakan bahwa kisah Ibrahim adalah situasi yang tidak mungkin untuk mengambil keputusan secara pasti benar.
Pertama, Ibrahim tidak mungkin membunuh putranya. Maksudnya, sebagai pejuang kemanusiaan, Ibrahim tidak sah membunuh putranya dengan alasan apa pun. Pihak lain, bisa saja, tidak setuju dengan Ibrahim. Istri Ibrahim dan masyarakat luas bisa menolak keputusan Ibrahim.
Kedua, Ibrahim tidak mungkin menolak perintah Tuhan. Sebagai kesatria ruhani, Ibrahim selalu mengikuti perintah Tuhan.
Dua pilihan di atas, sama-sama tidak mungkin dipilih. Bagaimana cara kita untuk memilihnya? Untuk memilihnya, kita benar-benar perlu mengkaji situasi detil di tempat dan waktu yang tepat. Tidak ada hukum yang berlaku universal dalam situasi dilema seperti itu. Perlu kajian mendalam dengan memanfaatkan seluruh sumber daya, termasuk suara hati dan suara mereka yang jauh di sana, kemudian seseorang mengambil keputusan. Bagaimana pun, keputusan tersebut tetap mengandung resiko besar. Kita, sebagai manusia, sering dalam dilema.
D. Interpretasi
Dalam dilema, kita melibatkan suatu interpretasi dalam satu dan lain bentuk.
Salah satu interpretasi menyatakan bahwa Ibrahim memiliki beragam pilihan dalam interpretasi terhadap mimpinya. Mimpi itu sendiri tidak secara langsung memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya. Sedangkan interpretasi dari mimpi, pertama, merupakan perintah untuk mengorbankan putranya. Atau, interpretasi kedua, mimpi itu merupakan perintah untuk mengorbankan sesuatu paling berharga demi Tuhan.
Bagaimana jika Anda pada posisi Ibrahim? Apakah Anda akan memilih interpretasi pertama atau kedua? Sama-sama beratnya.
Ibrahim memilih interpretasi pertama, dan kemudian, Tuhan menyelamatkan Sang Putra. Jika Anda yang melakukannya, apakah Tuhan akan menyelamatkan putra Anda? Atau, ketika Tuhan memerintahkan Anda untuk membatalkan pengorbanan itu, apakah Anda mendengar perintah Tuhan?
Barangkali, sebagai manusia jaman ini, kita lebih aman memilih interpretasi kedua, yaitu, mengorbankan yang paling berharga demi Tuhan. Interpretasi jenis kedua ini saja sudah sangat berat.
Sekali lagi, kita memiliki sumber inspirasi yang tiada batas dengan mendalami ajaran-ajaran agama sebagai pencerahan.
E. Tanpa Interpretasi
Bisakah kita menjalankan perintah agama tanpa interpretasi? Bisakah kita menjalankan perintah sesuai perintah itu saja, murni, tanpa interpretasi sama sekali? Bukankah kita harus menghindari interpretasi pribadi yang bisa salah?
Tidak bisa. Anda tidak bisa menghindar dari interpretasi. Sebagai manusia, kita pasti terlibat interpretasi dalam satu dan lain cara. Klaim bahwa saya tanpa interpretasi adalah bermakna: hanya interpretasi saya saja yang sah, sementara interpretasi pihak lain salah. Tentu saja, resiko sombong bisa menjebak seseorang.
Mari kita cermati kisah Nabi Ibrahim lagi. Dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Sang Putra kepada Tuhan. Pertimbangkan dua alternatif respon.
A. Tanpa-interpretasi: Ibrahim perlu mengorbankan Sang Putra.
B. Dengan-interpretasi: Ibrahim perlu mengorbankan yang paling berharga.
Orang bisa klaim bahwa pilihan A (tanpa-interpretasi) adalah lebih benar dari pilihan B (dengan-interpretasi). Atau, lebih tegas A benar dan B salah. Bagaimana pun, A itu sendiri sudah merupakan interpretasi; yaitu, megambil interpretasi sesuai yang terlihat dalam mimpi. Dengan demikian, pilihan A dan B adalah seimbang karena sama-sama melibatkan interpretasi pada analisis akhir.
Lebih menarik lagi, bukankah setiap mimpi selalu membutuhkan interpretasi? Bukankah mimpi adalah perlambang? Bukankah mimpi adalah petunjuk yang selalu perlu interpretasi?
Karena Anda melakukan interpretasi maka Anda wajib tanggung jawab terhadap interpretasi Anda. Realitasnya, Anda selalu melakukan interpretasi. Sehingga, Anda selalu memikul tanggung jawab. Bagaimana cara Anda mempelajari agama? Dengan cara membaca kitab suci. Membaca adalah sebentuk interpretasi; mendengarkan adalah sebentuk interpretasi; bahasa adalah sebentuk interpretasi. Konsekuensinya, manusia memang punya tanggung jawab.
F. Interpretasi Demokrasi
Tentu saja, kita bisa menduga bahwa Nabi Ibrahim sadar sedang menghadapi dilema: mengorbankan Sang Putra atau, alternatifnya, “meng-interpretasi” perintah Tuhan.
Kita analisis, sejatinya, akan lebih ringan bila membuat “interpretasi” bahwa Ibrahim perlu mengorbankan sesuatu yang paling berharga; misal domba, sapi, unta, atau lainnya. Tidak akan terjadi dilema pada situasi seperti ini; Sang Putra akan sejutu; ibunya pun akan setuju. Dilema selesai.
Tetapi, Ibrahim memilih interpretasi yang lebih sulit: Ibrahim perlu mengorbankan Sang Putra. Kemudian, Ibrahim mengambil langkah demokrasi yaitu mendengarkan suara pihak-pihak lain. Ibrahim bertanya kepada Sang Putra: bagaimana pendapat Sang Putra? Sang Putra setuju dengan ayahanda Ibrahim yang akan mengorbankan Sang Putra. Bagaimana pendapat sang ibu? Ibu setuju juga.
Bagaimana pendapat Tuhan? Ibrahim menunggu pendapat Tuhan. Sampai saat itu, Tuhan tidak mengirim pesan kepada Ibrahim. Bahkan, Tuhan mengirim pesan berupa mimpi dengan isi yang sama berulang beberapa malam. Ibrahim, dengan berat hati, berniat mengorbankan Sang Putra. Ketika pisau tajam siap menghunus leher Sang Putra, Tuhan tidak setuju; Tuhan melarang Ibrahim; Tuhan memerintahkan agar Ibrahim menggantinya dengan domba.
Tuhan menggunakan hak veto, hak untuk membatalkan, terhadap interpretasi Ibrahim.
Apakah Sang Putra juga bisa menggunakan hak veto? Apakah Sang Ibu juga bisa menggunakan hak veto? Ataukah, masyarakat luas juga bisa menggunakan hak veto? Dalam situasi kritis yang potensial merugikan pihak korban, kita bisa menggunakan hak veto. Demokrasi tidak hanya berurusan dengan suara mayoritas; demokrasi juga perlu peduli dengan hak veto pihak-pihak lemah; peduli dengan suara yang sayup tak terdengar.
Hikmah tambahan dari pilihan Nabi Ibrahim adalah Tuhan melarang manusia mengorbankan manusia lain. Manusia perlu untuk saling menjaga, saling melindungi, dan saling peduli. Sebelum era Nabi Ibrahim, banyak kepala suku yang mengorbankan seorang pemuda demi dewa mereka. Setelah era Nabi Ibrahim, pengorbanan anak manusia adalah dilarang; secara simbolik mau pun literal. Justru kita perlu menebar cinta kepada seluruh umat manusia.
Bagaimana pun, Anda masih bisa mengembangkan inspirasi dari kisah Nabi Ibrahim tanpa henti. Berikutnya, kita akan belajar hikmah dari kisah Nabi Yusuf.
Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Banyak yang bisa kita diskusikan lebih lanjut. Misal ada yang bilang bahwa Nabi Ibrahim tidak perlu bingung. Banyak orang menjual anak gadisnya untuk mendapat uang; banyak orang mengeksploitasi anaknya; banyak orang membunuh anaknya. Bagi orang-orang seperti itu, tidak ada masalah untuk mengorbankan seorang anak kan?
Benar juga situasi seperti itu. Dilema muncul karena kita peduli terhadap kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Kita yang peduli dengan anak maka akan dilema jika harus menyakiti anak. Kita yang peduli keadilan maka akan dilema bila disodorkan tumpukan uang korupsi di tempat yang sunyi. Sementara, bagi koruptor banal, uang korupsi ambil saja; tidak ada dilema.
Jadi problemnya adalah karena ada rasa peduli?
