Teori Agama: Dari 7 Menjadi 10 Macam

Daniel Pals menulis 7 Teori Agama pada tahun 1996. Buku Pals ini mendapat sambutan meriah dari beragam kalangan. Tahun 2006, Pals merevisi menjadi 8 teori; tahun 2015 menjadi 9 teori; dan tahun 2019, menjadi 10 teori. Apakah jumlah teori ini akan terus bertambah? Tentu, terbuka peluang untuk terus bertambah.

Kita akan membahas prinsip-prinsip penting dari teori agama menurut Pals.

1, Teori dan Definisi
2. Jenis Teori
3. Cakupan Teori
4. Bukti Acuan
5. Keyakinan Pribadi
6. Ringkasan
7. Diskusi

“Berdasarkan prinsip (dari teori) tersebut, berikut adalah serangkaian lima pertanyaan terakhir yang dapat diajukan kepada semua ahli teori, yang memungkinkan kita untuk memilah persetujuan dari perbedaan seiring berjalannya waktu: (1) Bagaimana teori tersebut mendefinisikan subjek? Dari konsep agama apa teori tersebut bermula? (2) Jenis teori apakah teori tersebut? Karena penjelasan dapat beragam, jenis penjelasan apakah yang ditawarkan oleh ahli teori, dan mengapa? (3) Seberapa luas jangkauannya? Seberapa banyak perilaku keagamaan manusia yang diklaim dapat dijelaskan oleh teori tersebut? Semuanya? Atau hanya sebagian? Dan dalam hal tersebut, apakah teori tersebut benar-benar melakukan apa yang diklaimnya? (4) Bukti apa yang menjadi acuannya? Apakah teori tersebut mencoba menyelidiki secara mendalam beberapa fakta, ide, dan adat istiadat, atau apakah teori tersebut menyebar luas hingga mencakup banyak hal? Apakah jangkauan bukti cukup luas untuk mendukung jangkauan teori tersebut? (5) Apa hubungan antara keyakinan pribadi (atau ketidakpercayaan) seorang ahli teori dan penjelasan yang diajukan? Ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada teori-teori klasik, hubungan jawaban-jawaban tersebut pada teori kontemporer akan segera menjadi jelas.”

1, Teori dan Definisi

“Sering dikatakan bahwa agama begitu individual, begitu sulit dipahami dan beragam, sehingga tidak dapat didefinisikan; agama dapat berarti apa saja bagi siapa saja. Itu bukanlah pandangan para ahli teori yang dibahas di sini. Meskipun mereka sangat tidak setuju dalam menjelaskan agama, perbedaan pendapat mereka tidak sebanyak yang mungkin kita duga dalam hal mendefinisikannya. Jika kita mencermati—dan dalam beberapa kasus membaca yang tersirat—tampak jelas bahwa mereka semua mendekati pandangan bahwa agama terdiri dari kepercayaan dan perilaku yang terkait dengan alam supernatural makhluk ilahi atau spiritual. Ini adalah poin yang layak untuk ditunjukkan.”

Terdapat keragaman definisi agama dari para ahli. Bagaimana pun para ahli tetap membuat definisi tentang agama. Kita layak bertanya apa-itu-agama? Apa makna-agama?

Tylor, Frazer, (1) dan Eliade (7) mendefinisikan agama sebagai “percaya kepada realitas spiritual” di antaranya percaya Tuhan, malaikat, mukjizat, dan lain-lain. Durkheim (3) mendefinisikan agama sebagai “percaya kepada yang suci”; pada gilirannya yang suci atau sakral itu adalah masyarakat. Ibadah ritual yang dilakukan oleh masyarakat adalah sakral; nilai-nilai suci yang dihormati masyarakat adalah sakral.

Freud (2) dan Marx (4) mendefinisikan agama sebagai kepercayaan kepada Tuhan; khususnya Tuhan Maha Esa dari agama Ibrahimiah Islam, Kristen, dan Yahudi. Meskipun Freud, Marx, dan Durkheim sadar bahwa definisi itu hanya permukaan. “Underneath the appearances lies humanity’s obsessional neurosis or the pain of injustice that requires the opium of belief.” Di balik permukaan, menurut mereka, ada obsesi neurosis atau kepedihan penindasan yang membutuhkan candu keyakinan.

“Weber (5), James (6), Evans-Pritchard (8), dan Geertz (9) juga dapat dilihat mengikuti konvensi, meskipun masing-masing memiliki masalah tertentu dengan istilah “supranatural”. Evans-Pritchard lebih menyukai istilah “mistik” karena tidak seperti budaya Barat modern, masyarakat suku yang ditelusurinya tidak memiliki konsep yang jelas tentang pertentangan antara dunia alami dan dunia supranatural.”

Bagi Geertz, yang paling utama dari agama adalah etos dan motivasi dari penganutnya secara nyata. “Dan minat utamanya, harus diakui, adalah pada etos, “suasana hati dan motivasi” orang-orang beragama, bukan pada makhluk-makhluk gaib yang mereka takuti atau cintai. Namun, ketika kita beralih ke catatan aktual yang ia berikan dalam etnografinya tentang Jawa, Bali, dan Maroko, jelas bahwa ciri utama agama sebagaimana dipraktikkan terletak pada respons emosional dan sosial yang dibuat orang terhadap pandangan dunia mereka: yaitu, terhadap makhluk-makhluk gaib yang mereka percayai, entah itu Tuhan, malaikat, dan Setan dalam Islam atau roh, dewa, dan setan dalam kultus tradisional Jawa dan Bali.”

Pals menganggap definisi agama dari 9 teori, atau 10 teori versi terbaru, adalah sama. Perbedaan hanya pada istilah belaka. “Jadi, meskipun para ahli teori yang telah kita bahas mungkin tidak sependapat tentang sejumlah hal, definisi agama secara umum bukanlah salah satunya (yang mereka tidak sepakat). Meskipun beberapa orang mengatakannya secara kurang langsung daripada yang lain, semua orang berpendapat bahwa agama berpusat, setidaknya pada awalnya, pada kepercayaan dan praktik yang terkait dengan makhluk spiritual atau supranatural.”

Pals tampak terlalu optimis mampu mendefiniskan agama secara tuntas. Bahkan, Pals mengira bila teori agama didekati dengan metode sains ilmiah, seperti sains fisika, maka akan menghasilkan teori agama yang “tuntas.” Optimisme Pals ini perlu untuk dikritisi atau bahkan ditolak. Teori agama tidak akan tuntas; definisi agama juga tidak pernah tuntas. Sains fisika sendiri juga tidak tuntas; terutama setelah hadir ketidak-pastian kuantum oleh Heisenberg.

Sedikit catatan untuk Pals bahwa yang dimaksud 10 teori agama adalah teori agama yang dikaji oleh 10 pemikir: Tylor-Frazer, Freud, Durkheim, Mark, Weber, James, Eliade, Pritchard, Geertz, Daly (10). Sesuai daftar isi adalah sebagai berikut.

2. Jenis Teori

Pals langsung sadar bahwa 10 teori agama berbeda tajam dalam penjelasan teori mereka. “Pencarian asal-usul agama dalam pengertian pertama kata tersebut dilakukan terutama oleh Max Miiller, Tylor dan Frazer, Freud, dan bahkan (sampai tingkat tertentu) Durkheim. Hal ini biasanya dikaitkan dengan doktrin evolusi sosial manusia dan berpendapat bahwa agama adalah hasil dari proses panjang yang dimulai dengan peristiwa yang tertanam jauh di masa lalu manusia, seperti “pembunuhan ayah pertama” menurut Freud.”

Bagaimana posibilitas menyusun teori agama yang tuntas? Jenis teori agama yang fokus kepada asal-usul agama membutuhkan kajian histori yang mendalam dan interpretasi yang kaya. Teori agama yang fokus ke masa kini akan membutuhkan kajian dinamika tanpa henti. Dan teori agama yang fokus ke masa depan akan membuka posibilitas luas tak terbatas. Pada ada analisis akhir, kita membutuhkan teori agama yang terbuka akan makna agama yang sangat kaya.

3. Cakupan Teori

Seluruh 10 ahli teori mengklaim bahwa mereka mengkaji agama secara tuntas; mencakup seluruh realitas agama; meski mereka ragu-ragu.

“Tylor dan Frazer pun tidak sendirian. Dari perspektif mereka yang berbeda, tiga reduksionis utama—Freud, Durkheim, dan Marx—menunjukkan ambisi umum yang sama. Ketika mereka menjelaskan agama, mereka bermaksud menjelaskan semua agama. Mereka memilih satu sistem agama sebagai semacam kasus paradigma, contoh tertinggi dari suatu upaya yang muncul dalam banyak bentuk lain yang “lebih kecil” atau lebih baru.”

Tetapi Pritchard dan Geertz tidak setuju dengan mereka. “Berbeda dengan para ahli lainnya, Evans—Pritchard dan Geertz menilai ada kesalahpahaman serius terhadap teori apapun yang bercita-cita untuk mengklaim secara universal “semua” agama.” Geertz sadar bahwa agama kaya akan muatan lokal yang konkret.

4. Bukti Acuan

Bagaimana bisa membuktikan secara tuntas?

“Penjelasan adalah satu hal; cara kita mencoba membuktikannya adalah hal lain. Jika kita melihat kesembilan (atau 10) teori tersebut berdasarkan pendekatan mereka terhadap bukti, perbedaan tertentu yang jelas tidak sulit untuk diperhatikan. Karena mereka percaya bahwa teori agama yang benar-benar global memerlukan serangkaian bukti yang sama globalnya, Tylor, Frazer, Weber, dan Eliade semuanya berangkat dengan tekad yang kuat untuk mengumpulkan informasi seluas mungkin. Kekuatan pendekatan ini terletak pada upaya jujurnya untuk membuat kesesuaian yang lengkap antara teori dan bukti.”

Tidak akan pernah ada bukti yang lengkap. Bahkan bukti dalam bidang matematika yang eksak saja adalah antara tidak lengkap atau tidak konsisten; sesuai teorema ketidak-lengkapan Godel. Apalagi bukti tentang teori agama yang konkrit, tentu, akan banyak yang tidak lengkap.

5. Keyakinan Pribadi

Pals mengakui terjadi bias subyektif dari para ahli teori agama.

“Tak satu pun dari para ahli teori yang kita temui dalam buku ini yang dapat dianggap sebagai sarjana yang benar-benar tidak memihak, yang menulis tentang subjek yang tidak menarik bagi dirinya atau zamannya; masing-masing adalah manusia yang, selain teorinya, dapat dianggap memiliki keyakinan pribadi tentang agama juga. Hubungan antara keyakinan pribadi tersebut dan penjelasan yang diajukan dalam beberapa hal jelas, seperti halnya dengan Marx, tetapi dalam hal lain itu adalah masalah yang lebih halus dan rumit, yang tidak dapat kita jelajahi secara lengkap di sini.”

6. Ringkasan

Secara ringkas, Pals berhasil menyusun teori agama yang universal; dalam arti bisa diterapkan untuk agama secara umum; lengkap dengan kelebihan dan kelemahan setiap teori. Argumen Pals tampak ambigu. Di satu, sisi Pals yakin teori agama akan tuntas pada waktunya. Di sisi lain, Pals melihat kesulitan besar untuk menyusun teori agama yang tuntas.

Sikap ambigu dari Pals makin jelas di bagian akhir bukunya. Kajian agama yang detil, yang dekat dengan praktek agama konkret, menunjukkan bahwa agama kaya akan makna. Tidak ada konsep universal yang sanggup mengungkap makna agama yang kaya ini. Kajian teori agama perlu kembali lebih dalam mengkaji aspek kemanusiaan, bersifat humanis, tidak cukup hanya sains sosial.

Bila benar dugaan Pals di atas, yaitu perlu mendalami aspek kemanusiaan, maka Pals seperti bunuh diri intelektual; yaitu Pals akan gagal menyusun teori agama yang tuntas. Dengan cerdik, Pals melirik pendekatan sains ilmiah berupa teori evolusi Darwin. Sains biologi akan berhasil mengungkap teori agama secara tuntas berupa keyakinan-biologis yang tertanam di otak manusia. Benarkah klaim yang demikian itu?

Pals menutup bukunya dengan optimisme yang indah, “At present, any such theory is a quite distant prospect, to be sure, but if more progress were to be made along the lines now in place, then at the very least, this book would likely need a new and different final chapter.”

Memang sains biologi masih jauh untuk bisa membahas agama. Tapi, menurut Pals, bila perkembangan makin pesat, biologi akan menuntaskan teori agama dan menjadi bab baru yang terakhir bagi buku Pals. Apakah Anda setuju dengan Pals? Saya mengagumi kemampuan retorika Pals yang hebat itu. Meski saya ragu dengan klaim yang dia buat itu.

7. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tentang perkembangan teori agama terbaru, Pals mengatakan, “Kita dapat membedakan sejumlah pola utama, atau agenda dominan: (1) humanistik, (2) psikologis, (3) sosiologis, (4) politik-ekonomi, dan (5) antropologis.”

Tampaknya, Pals ingin mengunggulkan (3) sosiologis dan (5) antropologis. Hanya saja, kajian Pals justru mengarah pada keunggulan (1) humanistik. Kemudian, Pals berandai-andai bahwa di masa depan yang paling unggul untuk mengkaji teori agama adalah (6) sains biologi; melebihi pendekatan humanistik. Sulit dipercaya kan?

Barangkali Pals perlu meluaskan kajian teori agama ke pendekatan (7) filosofis. Pals bisa mengkaji Charles Taylor, Kierkegaard, Ibnu Arabi, atau Ghazali. Bisa juga mendalami ungkapan Heidegger, “Hanya Tuhan Maha Esa yang bisa selamatkan kita.” Lebih menarik lagi, Pals bisa mengkaji teori agama secara (8) agamis yaitu dengan mengkaji para tokoh agama; bukan sekadar masyarakat awam yang beragama. Kita bisa mengkaji misal Paus, Rahbar, Romo, Wali, Biksu, dan lain-lain. Kajian semacam ini, filosofis dan agamis, akan menghasilkan teori agama yang lebih kaya makna.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar