Problem Mind Body Terselesaikan

Bagaimana pikiran berhubungan dengan badan kita? Problem mind-body ini sudah berlangsung ratusan tahun. Tetapi belum ada solusi yang memadai sampai hari ini. Pada tulisan ini, kita akan memberikan solusi secara tuntas.

Problem mind-body ini mencuat ketika Descartes merumuskan dualisme pikiran dan badan. Pikiran adalah res cogitan yang terpisah dengan badan yang res extensa. Jika terpisah lalu bagaimana pikiran bisa memengaruhi badan dan badan memengaruhi pikiran?

1. Tidak Ada Masalah di Era Kuno
2. Masalah Tak Selesai
3. Solusi Etihad
3.1 Ittisal-Etihad
3.2 Vorhanden-Zuhanden
3.3 Fermion_Boson
3.4 Solusi Mind Body
3.5 Problem Etihad
4. Diskusi
4.1 Mengkaji Etihad
4.2 Mengkaji Makna
4.3 Makna Mind Body
5. Ringkasan

Sains modern dan filsafat modern memang menghadapi problem itu secara serius. Tetapi, sains filsafat kuno tidak menghadapi problem seperti itu.

1. Tidak Ada Masalah di Era Kuno

Plato dan Aristo tidak ada masalah dengan pikiran dan badan. Bagi mereka, pikiran dan badan adalah satu kesatuan yang utuh. Ajaran agama-agama besar di dunia juga tidak ada masalah. Bagi agama, pikiran dan badan adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Pemikir besar Timur semisal Aljabar, Ibnu Sina, Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnu Khaldun, dan lain-lain juga tidak menghadapi masalah mind-bodi itu. Masalah baru muncul di era Descartes sekitar abad 17an.

2. Masalah Tak Selesai

Descartes menyelesaikan satu masalah tetapi memunculkan masalah baru yang tidak bisa diselesaikannya. Waktu itu, kekuatan gereja sangat besar. Karena setiap materi (badan) bersatu dengan pikiran (jiwa) maka semua sains harus sejalan dengan ajaran gereja. Padahal penemuan sains banyak yang berbeda dengan ajaran agama, misal heliosentris dari sains yang meyakini bumi berputar mengelilingi matahari.

Descartes berhasil memisahkan badan dengan jiwa melalui teori dualisme. Konsekuensinya, ilmuwan bebas mengkaji badan, materi, dan lain-lain; sedangkan, nasib jiwa tetap ada di ajaran agama. Descartes berhasil membebaskan kajian sains; menyelesaikan satu masalah. Gereja tidak perlu lagi “menghakimi” teori sains.

Masalah baru muncul: bagaimana jiwa terhubung dengan badan? Jika jiwa dan badan saling terpisah maka bagaimana mereka bisa saling memengaruhi?

Banyak solusi yang ditawarkan tetapi masih gagal. (1) materialis yang menganggap yang ada hanya badan; jiwa sekadar ilusi; (2) idealisme yang menganggap segalanya adalah pikiran; materi adalah sekadar endapan pikiran; (3) dualisme paralel; jiwa dan badan sama-sama nyata terpisah tetapi paralel; apa yang terjadi pada badan paralel dengan yang terjadi pada jiwa; dan sebaliknya. Serta masih banyak solusi lain lebih beragam; umumnya variasi dari 3 solusi di atas. Masalah tak selesai.

3. Solusi Etihad

Etihad adalah solusi yang kita butuhkan.

Kita mengajukan solusi melalui 3 pendekatan: (1) ittisal-etihad; (2) vorhanden-zuhanden; (3) fermion-boson.

3.1 Ittisal – Etihad

Mulla Sadra (1572 – 1640) mengenalkan konsep ittisal dan etihad sebagai mode wujud atau mode eksistensi yang berbeda.

Ittisal adalah mode eksistensi yang merupakan gabungan dari bagian-bagian secara tersambung. Misal telinga kanan Anda terhubung dengan mata kanan Anda oleh pelipis; sementara telinga terhubung dengan pelipis melalui tulang dan daging; dan seterusnya.

Karakter dari ittisal adalah saling terhubung tetapi selalu bisa dipisahkan. Telinga dan mata dipisahkan oleh pelipis; peran pelipis adalah pemisah sekaligus penghubung.

Etihad adalah mode eksistensi yang merupakan satu kesatuan utuh tanpa ada penyambung; tanpa ada pemisah; berbeda dengan mode ittisal. Anda mendengar suara Ebiet bernyanyi dan melihat Ebiet yang memetik gitar; dan sambil Anda menikmati kopi. Anda, yaitu diri Anda, adalah satu kesatuan utuh sebagai etihad. Diri Anda bukan merupakan gabungan suara, penglihatan, dan perasa itu; melainkan diri Anda adalah yang mendengar, melihat, dan merasa itu sebagai Anda yang utuh tak terpisahkan.

Karakter etihad adalah satu kesatuan utuh; tanpa bagian; tanpa penghubung; tanpa pemisah. Etihad ini yang akan menjadi solusi dualisme badan dan jiwa.

3.2 Vorhanden-Zuhanden

Heidegger (1889 -1976) mengenalkan analisis vorhanden-zuhanden. Heidegger memang menolak dualisme jiwa dan badan versi Descartes. Vorhanden atau present-at-hand adalah mode analisis sebagai konsep abstrak; sedangkan zuhanden atau ready-at-hand adalah mode analisis sebagai eksistensi yang ada dalam dunia.

Vorhanden menganalisis konsep bagian demi bagian kemudian menyambungkan mereka. “Anda melihat pohon jambu itu.” Ada konsep “Anda” sebagai subyek pengamat dan ada konsep “pohon” sebagai obyek pengamatan. Melalui prosedur terntentu, misal melalui gelombang cahaya dan mata, konsep “Anda” terhubung dengan konsep “pohon”. Meski mode vorhanden ini valid tetapi tidak otentik. Sementara, zuhanden adalah otentik.

Zuhanden adalah mode eksistensi yang berada dalam dunia. “Anda melihat pohon jambu itu” adalah sebuah proyek dalam eksistensi Anda-dalam-dunia. Barangkali karena Anda ingin merawat pohon jambu itu; atau karena pohon jambu itu ada yang aneh sehingga menarik perhatian Anda. Proyek Anda-dalam-dunia adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan; tanpa perlu dihubungkan karena sudah utuh. Mode zuhanden ini adalah otentik; berbeda dengan vorhanden yang hanya derivatif.

3.3 Fermion-Boson

Paul Dirac (1902 – 1984) merumuskan konsep fermion dan boson di waktu hampir bersamaan ketika Heidegger merumuskan vorhanden-zuhanden. Fermion adalah partikel elementer yang selalu bisa dibedakan dengan fermion lainnya. Sedangkan boson adalah pembawa gaya interaksi yang merupakan satu kesatuan utuh. Mereka, yaitu fermion dan boson, adalah eksitasi dari medan kuantum.

Fermion adalah partikel terkecil yang bisa kita pikirkan semisal elektron atau quark. Elektron A selalu bisa dihubungkan dengan elektron B tetapi, di saat yang sama, juga selalu bisa dipisahkan.

Boson, misal gravitasi bulan yang menyebabkan pasang naik di pantai utara Jawa, selalu terhubung meski “tampak terpisah” jarak ribuan kilometer dari rembulan sampai bumi. Gravitasi, sebagai contoh boson, adalah satu kesatuan utuh yang tidak perlu disambungkan dan tidak perlu dipisahkan.

3.4 Solusi Mind Body

Kini, kita pada posisi untuk menyelesaikan problem mind-body secara tuntas. Mode eksistensi etihad adalah solusi tuntas bagi problem mind-body.

Sains modern, neurosains, dan filsafat pikiran hanya fokus ke mode ittisal yang berakibat mereka gagal menghadapi mind-body problem. Andai mereka bersedia menambah perspektif mode etihad maka problem mind-bodi selesai; dan mereka menghadapi problem baru yang lebih bernilai.

“Saya mendengar lagu Ebiet itu.”

Sains membuat konsep-saya yang terhubung dengan konsep-lagu melalui proses konsep mendengar; ini adalah mode ittisal; selalu bisa dipisahkan.

Bagaimana konsep-saya terhubung dengan konsep-mendengar? Konsep-saya terhubung melalui konsep-syaraf. Bagaimana konsep-saya terhubung dengan konsep-syaraf? Pertanyaan ini mengantar kita kepada hard-problem dari Chalmers: bagaimana dari syaraf itu bisa muncul kesadaran saya sebagai subyek yang mendengar?

Seperti diketahui, sampai 2026 ini tidak ada solusi bagi hard-problem; karena mereka memakai mode ittisal.

Misal, dari syaraf melalui A maka muncul kesadaran subyek saya. Pertanyaan berikutnya: bagaimana dari A bisa muncul kesadaran? Jawab dari B, misalnya. Tetapi, kita bisa mengajukan pertanyaan lanjutan tanpa henti sehingga tidak ada solusi dari mode ittisal.

Solusinya adalah menambah perspektif etihad maka selesai dengan tuntas.

3.5 Problem Etihad

Mode etihad menyelesaikan problem mind-bodi dengan tuntas tetapi memunculkan problem baru yang tidak pernah tuntas.

“Saya mendengar lagu Ebiet itu” adalah mode etihad sebagai realitas nyata yang utuh; tidak bisa dipisah-pisahkan; tidak bisa disambungkan; karena memang sudah utuh sebagai realitas konkret. Mengapa?

Jika Anda bertanya “mengapa” maka itu adalah pertanyaan yang bagus dalam mode etihad.

Mengapa? Karena lagu Ebiet menyentuh hati Anda sehingga Anda menghargai alam semesta dan menghargai setiap orang. Pada gilirannya, Anda berbuat baik kepada mereka.

Tetapi, mengapa saya bisa mendengar lagu Ebiet? Mengapa lagu Ebiet itu bisa terdengar oleh saya? Mengapa lagu Ebiet itu terhubung dengan saya? Karena Anda menerima anugerah pendengaran dari Sang Pemberi Anugerah. Mengapa saya menerima anugerah pendengaran? Mengapa Dia memberi anugerah ke saya?

Pertanyaan demi pertanyaan makin menarik dan berbobot. Tetapi tidakkah itu menggeser dari pertanyaan sains menjadi pertanyaan etika? Dari pertanyaan obyektif menjadi subyektif?

Tentu saja mode ittisal akan memisahkan sains dengan etika; memisahkan obyek dengan subyek. Kemudian, mode ittisal kesulitan untuk menghubungkan sains dengan etika maupun obyek dengan subyek. Justru mode etihad adalah solusi yang menyatukan sains dengan etika; menyatukan obyek dengan subyek; sebagai kesatuan utuh tanpa penghubung; tanpa pemisah.

Kita perlu mencatat bahwa mode ittisal tetap valid sesuai kapasitasnya; kajian sains tetap valid sesuai porsinya. Bagaimana pun, mode ittisal adalah tidak cukup; sains adalah tidak memadai. Kita perlu meluaskan dan memperdalam dengan mode etihad.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Apa manfaat etihad? Apa kontribusi nyata dari mode etihad?

Kontribusi nyata etihad adalah sangat besar dan sangat banyak.

4.1 Mengkaji Etihad

Bagaimana cara mengkaji etihad?

Cara mengkaji etihad adalah melalui pemaknaan; membuka makna terhadap seluruh posibilitas yang luas; menyelidiki makna setiap posibilitas.

Mengkaji sains obyektif saja, dalam mode ittisal, sangat sulit. Bila ditambah dengan kajian makna, mode etihad, bukankah sains menjadi lebih rumit? Benar, sains menjadi rumit bila perspektifnya seperti itu. Tetapi, jika perspektifnya dimulai dari mode etihad maka kajian sains bisa lebih bermakna. Awalnya, saintis menyadari tugasnya untuk mengkaji sains dalam mode etihad; kesadaran diri yang utuh bersama masyarakat dan alam raya. Kemudian, saintis itu mendalami sains secara spesialisasi sesuai keahliannya; mode ittisal. Sehingga, seorang saintis dalam situasi dinamis etihad dan ittisal.

4.2 Mengkaji Makna

Apa makna-eksistensi? Apa makna-realitas? Apa makna-being?

Beberapa istilah kunci untuk mengkaji makna, dan mengkaji etihad, di antaranya adalah: tafsir, takwil, semantik, hermeneutik, puisi, narasi, histori, dan lain-lain. Sains memang jarang mengkaji makna melainkan lebih sering mengkaji definisi. Kita membutuhkan keduanya: definisi dan makna.

4.3 Makna Mind Body

Apa makna mind? Makna body?

Dalam konteks manusia, body adalah badan kita sebagai manusia; badan adalah posibilitas paling dasar bagi manusia. Mind atau pikiran atau jiwa adalah diferensia dari badan; jiwa adalah forma kesempurnaan dari badan.

5. Ringkasan

Kita berhasil menyelesaikan problem mind-body dengan pendekatan mode etihad: pikiran dan badan adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan; dan tidak bisa dihubungkan karena sudah utuh. Kemudian, dari mode etihad ini kita bisa mengembangkan kajian lebih luas dan mendalam.

Sementara, solusi dari perspektif mode ittisal akan selalu gagal menghadapi problem mind-body atau pun variasinya berupa hard-problem tentang kesadaran. Meski kajian mode ittisal adalah valid, dan berpotensi untuk terus berkembang secara saintifik, tetapi kita membutuhkan kajian mode etihad lebih kuat.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar