Dalam buku yang sedang proses penerbitan, saya menemukan dua kisah terindah yaitu Tarzan dan Arka. Buku ini rencana akan terbit awal atau tengah 2026 dengan tema tentang Tuhan, AI, dan manusia.

Dari Tarzan, kita akan belajar membedakan antara mendengar dengan mendengarkan. Sementara dari Arka, kita akan belajar menjadi serba pemimpin atau panarko. Kemudian, kita akan diskusi beberapa ide lanjutan.
1. Tarzan Mendengar Alam
2. Arka Memandang Senja
3. Diskusi
Cerita itu berjuta makna. Demikianlah adanya. Ada satu makna yang perlu diikat bersama. Meski ribuan makna lainnya akan selalu bermunculan di sana.
1. Tarzan Mendengar Alam
Pertama Tarzan mendengar suara itu. Kedua, Tarzan mendengarkan.
Mari kita perjelas dengan ilustrasi Tarzan. Bayangkan Tarzan berada di tengah hutan lebat. Suara-suara hutan mengelilinginya: ranting patah, burung berkicau, aliran sungai, dan suara langkah hewan lain.
Mendengar – Hearing (entendre):
Tarzan mendengar suara-suara itu dengan cepat mengenali maknanya. Ia mendengar ranting patah dan langsung memahami bahwa mungkin ada hewan atau manusia yang lewat. Ia mendengar kicauan burung dan tahu arah datangnya hujan atau waktu siang. Dalam hal ini, Tarzan “memahami” suara-suara itu sebagai tanda atau objek yang sudah dikenalnya. Mendengar di sini adalah upaya Tarzan menafsirkan dunia secepat mungkin agar bisa bertindak—mendengar untuk mengetahui, mengantisipasi, dan mengendalikan situasi.
Mendengarkan – Listening (écouter):
Sekarang bayangkan Tarzan duduk diam di atas pohon, menutup sebagian pikirannya terhadap penilaian cepat, dan membiarkan telinganya terbuka sepenuhnya. Ia mendengar suara hutan, tapi tidak langsung mencoba menafsirkan atau mengklasifikasikannya. Ia mendengarkan arus kehidupan hutan, ritme daun jatuh, suara angin, dan bahkan keheningan di antara suara-suara itu. Tarzan merasakan “makna” yang lebih dalam dari suara-suara itu—arah, pergerakan, suasana hutan—tanpa terburu-buru menamai atau mengendalikannya. Mendengarkan di sini adalah terbuka terhadap ketidakpastian dan menerima sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dipahami.
…
Cukup jelas perbedaan mendengar dengan mendengarkan; perbedaan hearing dengan listening. Seberapa sering kita mendengar suara hati yang merintih? Seberapa sering kita mendengarkan? Seberapa sering kita mendengarkan suara mereka yang tak bersuara dalam derita?
2. Arka Memandang Senja
Kisah Arka bertemu denga Pak Daru menawarkan solusi sederhana dari gagasan panarko: serba-pemimpin.
Kita adalah Panarko. Di tengah hiruk pikuk kota yang pucat, Arka melangkah menyusuri trotoar seperti seseorang yang kehilangan bayangannya sendiri. Media sosial di ponselnya terus memuntahkan kabar bencana, perpecahan, adu opini yang saling memangsa—semuanya memekakkan hati. Di dunia nyata dan maya, chaos merayap seperti kabut pekat yang menutup harapan. Ia sering berdoa dalam hening: “Semoga ada arko, seorang pemimpin kuat yang datang merapikan semuanya…”
Namun ia tahu betul, zaman telah berkali-kali menunjukkan bahwa arko—pemimpin tunggal yang diagung-agungkan—sering berubah menjadi pusat kekuasaan yang menekan. Terlalu banyak orang yang buta oleh pesona pemimpin, lalu kecewa oleh kenyataan. Dan media sosial dengan akal imitasi-nya (termasuk AI: artificial intelligence) terus menyalakan ilusi: semua orang mengikuti figur yang sedang populer, menirukan amarah, menelan opini tanpa periksa. Arka pulang kampung, berharap kampungnya lebih tenang, tapi di sana pun kegelisahan berakar dalam.
Di sudut-sudut desa, sekumpulan pemuda berkumpul sambil membicarakan anarko, terpesona oleh kebebasan mutlak yang sering viral di platform mereka. Tanpa menyaring, mereka meniru gaya bicara dan keberanian palsu para influencer. Gagasan itu terdengar gagah, namun dalam kenyataan tanpa kompas, kebebasan tak membawa cahaya—melainkan bayang-bayang baru yang menakutkan. Warga makin renggang, percakapan makin dingin.
Suatu pagi yang sederhana, Arka melihat Pak Daru memaku pagar mushola sendirian. Cahaya matahari jatuh lembut di punggung lelaki tua itu, seolah mengingatkan Arka bahwa selalu ada orang yang bekerja diam-diam tanpa perlu disorot kamera. Dengan spontan ia ikut membantu. Dalam denting palu, Arka mencurahkan kerinduannya pada pemimpin besar yang tak kunjung datang. Pak Daru menatapnya lembut: “Nak, menunggu arko hanya memperpanjang masa suram. Cobalah memimpin langkahmu sendiri.”
Kata itu tak menggema keras, namun jatuh ke dalam hati Arka seperti tetes embun pada tanah tandus. Memimpin langkah sendiri. Mengapa itu terdengar lebih jujur daripada semua slogan di media sosial? Malam itu Arka merenung, dan perlahan ia mulai memahami makna panarko—bahwa setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum memimpin orang lain.
Keesokan hari, Arka memulai sesuatu yang kecil. Ia mengajar anak-anak berhitung, membersihkan selokan yang berbau, membantu tetangga memperbaiki atap bocor. Tindakannya tak masuk trending, tak ada yang menekan tombol “like”, tapi dalam keheningan itu Arka justru merasa lebih hidup. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah panggung, melainkan kerja hati yang tak perlu ditonton.
Perlahan, tindakannya yang sederhana menarik perhatian pemuda lain. Dio—yang selama ini hanya meniru gaya influencer desain di media sosial—menemukan jati diri lewat menggambar poster kegiatan kampung. Rani memanfaatkan ilmunya untuk membuat program makanan sehat. Bima membangun aplikasi kecil untuk koordinasi warga, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang viral. Tanpa arko, tanpa perintah, mereka mulai memimpin sebisa mereka masing-masing.
Dari sinergi itu, lahirlah kopanarko—sebuah suara lembut yang tumbuh dari banyak panarko yang bekerja bersama. Kepemimpinan seakan terurai menjadi butiran cahaya yang jatuh ke setiap tangan yang mau mengambil peran. Pasar sayur hidup kembali, anak-anak tertawa lebih nyaring, jalan-jalan disapu dengan cinta yang ringan. Kampung berubah seperti lukisan lama yang kembali dipulihkan warnanya.
Media sosial masih gaduh, dunia luar masih sering dipenuhi provokasi dan imitasi buta, namun kampung kecil itu telah menemukan ritme baru. Di sini, orang-orang lebih mempercayai tindakan nyata daripada unggahan. Arka menyadari bahwa untuk melawan chaos, manusia tidak membutuhkan satu arko, dan tidak pula perlu melompat ke jurang anarko. Mereka butuh keberanian untuk berhenti meniru—untuk kembali mendengarkan hati sendiri.
Sore itu, di bawah langit jingga yang meneteskan cahaya lembut, Arka duduk di tepi lapangan bersama Pak Daru. Anak-anak berlari sambil tertawa, seperti puisi yang hidup. “Pak,” kata Arka, “ternyata keselamatan bukan datang dari satu arko, atau dari bebas tanpa batas seperti anarko. Ia lahir ketika panarko saling menggenggam, berubah menjadi kopanarko.” Pak Daru tersenyum bangga. Dan Arka pun tahu, dunia yang pernah terasa gelap kini perlahan disinari oleh langkah-langkah kecil yang tak lagi meniru siapa pun—kecuali kebaikan yang tumbuh tulus dari hati.
Renungan Panarko: Arka menyadari bahwa perubahan sejati tidak lahir dari sorotan media sosial atau ketenaran sesaat. Dunia maya menawarkan kepalsuan yang manis—like, komentar, dan tren yang menyesatkan, membuat banyak orang terjebak dalam akal imitasi, meniru tanpa memahami. Namun di kampungnya, Arka belajar bahwa kepemimpinan lahir dari tindakan nyata, dari keberanian untuk memulai langkah kecil, dan dari konsistensi yang diam-diam menyalakan inspirasi.
Panarko adalah pilihan sadar, bukan sekadar reaksi terhadap hiruk-pikuk eksternal. Ia juga memahami bahwa meski arko tampak menggoda dan anarko terdengar merdeka, keduanya tidak menjawab kebutuhan hakiki manusia: keterhubungan dan tanggung jawab. Kekacauan (chaos) tidak akan lenyap dengan satu tokoh tunggal atau dengan menolak kepemimpinan sama sekali. Yang menyembuhkan adalah keberanian banyak panarko untuk memimpin diri sendiri, lalu merangkai tindakan mereka menjadi gerakan kolektif, menciptakan kopanarko—jaringan kepemimpinan yang nyata, organik, dan berkelanjutan.
Akhirnya, Arka menutup matanya sejenak, merasakan denyut kampung yang kini bernafas dengan ritme baru. Ia menyadari bahwa setiap langkah kecilnya, setiap keputusan yang ia ambil dengan hati, telah menumbuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Perubahan bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana banyak orang memilih untuk memimpin, menolak imitasi kosong, dan memilih untuk menyinari dunia yang pernah tenggelam dalam chaos. Di situlah kekuatan sejati kopanarko—perlahan, diam-diam, namun tak terbendung.
3. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
