Memperbaiki Indonesia Era Parabowo-Gibran

Terdapat 5 cara memperbaiki Indonesia. Anda tinggal memilihnya: (1) revisi; (2) reformasi; (3) revolusi; (4) demokrasi; (5) kokreasi.

Proses itu tidak selalu mudah karena bisa saja penguasa menilai semua baik-baik saja. Buat apa diperbaiki?

“Pada waktu saya ditanya, mengapa MBG penting? Apakah MBG (makan bergizi gratis) itu penting? Penting sekali. Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” ujarnya dalam acara Prasasti Economic Forum di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).” Dia adalah menteri PPN/Bappenas. (detik.com)

1. Revisi
2. Reformasi
3. Revolusi
4. Demokrasi
5. Kokreasi

Nasib rakyat beda dengan penguasa; nasib warga miskin beda dengan kaya raya; manusia perlu memperbaiki diri sepanjang masa.

1. Revisi

Paling mudah adalah revisi; memperbaiki apa yang ada. Setiap manusia yang sehat tentu ingin revisi diri; memperbaiki diri dan alam sekitar.

MBG telah berjalan di beberapa tempat mengakibatkan keracunan; maka perlu revisi agar MBG tidak meracuni siswa.

Jika ada orang yang tidak mau revisi; dia tetap bersikukuh klaim sebagai sudah benar, sudah baik, sudah tepat; maka wajar orang itu dikira sebagai tidak sehat.

2. Reformasi

Reformasi adalah perubahan besar-besaran; atau perubahan akibat peristiwa besar-besaran. Bisa saja akibat dari krisis ekonomi misal 1998; pemerintahan Soeharto (mertua Prabowo) lengser, diganti Habibie sebagai transisi, dan terpilih Gusdur sebagai presiden pasca reformasi.

Reformasi berdampak kepada pergantian pemerintahan; pergantian presiden sampai perbaikan konstitusi misal amandemen UUD. Apakah era sekarang ini akan terjadi reformasi?

3. Revolusi

Revolusi adalah perubahan besar-besaran dalam waktu singkat akibat dari persaingan kekuatan.

Tahun 1965-1966 terjadi revolusi di Indonesia. Presiden Soekarno bersaing dengan Jederal Soeharto yang menguasai militer dan beberapa pendukungnya. Akhirnya, Soeharto menang menduduki kursi presiden sampai 32 tahun masa orde baru.

Apakah jaman sekarang bisa terjadi revolusi di Indonesia? Mungkin saja. Tapi siapa yang bisa tahu?

Jabar memiliki gubernur seru yaitu KDM (Kang Dedi Mulyadi); Jogja memiliki gubernur yang melindungi rakyat yaitu Sultan Hamengkubuwono.

Rakyat bisa saja berbondong-bondong mendukung seorang gubernur yang mereka cintai; hanya misalnya. Kemudian, tokoh masyarakat mendukung gubernur itu juga; pejabat sipil mendukung gubernur itu; militer mendukung gubernur itu; mahasiswa mendukung gubernur itu. Maka revolusi bisa saja terjadi.

Revolusi bisa saja berbahaya; reformasi bisa sama berbahaya; revisi barangkali tidak berbahaya. Tetapi, revolusi bisa saja berlangsung damai. Beberapa analis menilai tahun 2001 terjadi revolusi damai di Indonesia; bahkan revolusi senyap. Pemerintahan Gusdur disaingi oleh kekuatan Mega. Lalu, MPR meninggalkan Gusdur justru mendukung Mega. Akhirnya, Mega menjadi presiden menggantikan Gusdur.

4. Demokrasi

Masalah dari tiga perubahan di atas (revisi, reformasi, revolusi) adalah tidak ada jaminan bahwa hasil akhir lebih baik dari yang awal. Kadang hasil reformasi bisa lebih buruk dari yang semula.

Demokrasi adalah pilihan yang lebih baik.

Proses demokrasi, musyawarah hikmah kebijaksanaan, adalah lebih baik dari revisi, reformasi, mau pun revolusi.

Dari riset internasional, demokrasi Indonesia adalah cacat. Solusi terbaik adalah memperbaiki proses demokrasi itu. Meski proses demokrasi adalah lebih baik tetapi hasil demokrasi bisa saja tidak lebih baik.

Proses demokrasi Indonesia lebih baik dari Singapura yang lebih cacat. Tetapi pembangunan Singapura, termasuk pendidikan, lebih baik dari Indonesia. Bagaimana pun, dalam jangka panjang, proses demokrasi yang baik akan mengarah kepada hasil yang lebih baik. Bagaimana agar demokrasi Indonesia saat ini menjadi lebih baik?

Proses demokrasi ini bisa saja seiring, atau bersamaan, dengan revolusi mau pun reformasi

5. Kokreasi

Kokreasi adalah perbaikan yang lebih baik dari sisi proses mau pun hasilnya. Panarko adalah salah satu contoh proses kokreasi yang sudah saya bahas di banyak tulisan saya.

Bagaimana menurut Anda? Proses perbaikan mana yang lebih Anda dukung untuk Indonesia saat ini? Untuk situasi dunia saat ini?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar