Revolusi Sunyi Indonesia dan Dunia

Harus diganti: pandangan bahwa revolusi itu ngeri. Karena revolusi itu bisa saja sangat berarti dan menyenangkan hati yaitu revolusi sunyi. Kita, di Indonesia, pernah mengalami revolusi yang indah di hati; pun Indonesia pernah revolusi pertumpahan darah; berjatuhan korban yang sangat ngeri. Solusi bagi Indonesia dan dunia yang sedang mabuk, saat ini, adalah revolusi sunyi.

Saya baru membaca 2 buku yang sangat menarik: Escape from Capitalism dan The Doom Loop. Kedua buku meyakini bahwa sistem sosial kita saat ini sedang mabuk sempoyongan dan akan jatuh berkeping-keping.

Jika Anda saat ini merasa hidup adalah sulit maka beberapa tahun ke depan, diramalkan, hidup akan lebih sulit. Saat ini, dunia masih mabuk sempoyongan. Beberapa waktu ke depan, tidak lama lagi, dunia akan ambruk tanpa kasur empuk.

Apa solusi yang tersedia? Revolusi sunyi.

1. Makna Revolusi
2. Proses Revolusi
3. Diskusi

Kita akan mencoba memahami secara bertahap. Batas antara revolusi sunyi dengan revolusi ngeri itu adalah amat tipis. Sehingga, ada risiko ketika berniat revolusi sunyi tetapi terpeleset menjadi revolusi ngeri; perlu ekstra hati-hati.

1. Makna Revolusi

Secara umum, ada dua makna revolusi: (1) luas; (2) sempit.

“Pertama, pengertian yang luas, yang mencakup “setiap dan semua peristiwa di mana suatu negara atau rezim politik digulingkan dan dengan demikian diubah oleh sebuah gerakan rakyat melalui cara-cara yang tidak teratur, di luar konstitusi, atau dengan kekerasan.”

Kedua, pengertian yang sempit, di mana “revolusi tidak hanya mencakup mobilisasi massa dan perubahan rezim, tetapi juga perubahan sosial, ekonomi, atau budaya yang bersifat cepat dan mendasar, yang terjadi selama atau segera setelah perjuangan untuk merebut kekuasaan negara.” (Wikipedia).

Sementara, menurut Thomas S. Kuhn, revolusi bermakna (3) perubahan paradigma yang bersifat mendasar dalam ilmu pengetahuan.

Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions, Kuhn menjelaskan bahwa revolusi terjadi ketika paradigma lama tidak lagi mampu menjelaskan berbagai anomali, lalu digantikan oleh paradigma baru yang menawarkan cara pandang berbeda dan lebih mampu menjelaskan kenyataan.

Kita akan modifikasi menjadi makna revolusi (4) adalah perubahan dari tatanan sosial lama menjadi tatanan sosial baru karena ada persaingan tatanan sosial itu. Persaingan ini bisa berlangsung sunyi meski bisa juga ngeri. Revolusi sunyi terjadi ketika persaingan tatanan sosial berlangsung secara sunyi karena lebih mendalam terjadi transformasi ruhani. Revolusi sunyi ini yang perlu kita sirami sejak pagi sampai malam turun ke bumi.

“Langkah pertama menuju perubahan adalah mengungkap dengan jelas bahwa apa yang dianggap sebagai kegagalan sosial sama sekali bukan kegagalan menurut logika kapital. Untuk melawan logika yang tidak manusiawi ini—yang mengorganisasi masyarakat kita—kita harus meninggalkan bahasa ekonomi neoklasik yang mengaburkan, dan beralih ke penjelasan sederhana namun mendalam tentang sistem ekonomi kita, yang mampu mengguncang keyakinan kita dan mendorong kita untuk bertindak.” (Escape from Capitalism).

Tatanan dunia sekarang ini menjadi brutal. Orde lama telah sirna, orde baru telah berlalu, orde reformasi bagai bayangan mimpi. Yang tersisa adalah orde kapital: segala sesuatu dihitung berdasar angka kapital, angka uang, baik uang kertas atau pun digital.

Kemiskinan yang makin menjadi-jadi, penindasan di sana-sini, mau pun korupsi tiap hari; itu semua bukan kegagalan orde kapital; itu semua adalah sikap nyata orde kapital.

Justru karena ada kemiskinan di mana-mana maka tercipta segelintir orang yang super kaya; baik pengusaha atau pun penguasa. Jika tidak ada orang miskin; maksudnya jutaan orang miskin itu andai naik kekuatan menjadi kelas menengah secara ekonomi; maka tidak ada orang super kaya. Tetapi hanya ada orang kaya dan orang menengah yang hidup bersama dengan baik dan adil; saling peduli dan membantu. Bagaimana untuk mencapai itu? Revolusi sunyi.

2. Proses Revolusi

Perubahan revolusi tampak mendadak dan besar-besaran dalam waktu singkat; tetapi perubahan yang nyata terjadi perlahan-lahan butuh waktu yang lama. Ketika tiba waktunya, barulah, terjadi ledakan revolusi sunyi itu.

2.1 Kekuatan politik.

Di tahap awal, kita perlu membangunkan kepedulian bahwa setiap orang memiliki kekuatan politik. Satu orang diri kita berpengaruh secara politik. Jika masing-masing satu orang mendukung Trump maka Trump menjadi kuat. Sebaliknya, jika masing-masing satu orang menolak Trump maka Trump turun tahta tanpa kuasa. Demikian halnya seluruh penguasa di dunia bisa turun tahta pada waktunya.

“Setiap dari kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mempolitisasi kehidupan kita. Dan yang saya maksud dengan “mempolitisasi” adalah berpartisipasi dalam transformasi realitas material dan sosial di sekitar kita. Langkah-langkah itu bisa sesederhana menjalin hubungan dengan para tetangga untuk membangun komunitas. Bagaimanapun, saling mengenal dengan tetangga biasanya merupakan langkah pertama dalam memulai inisiatif untuk memperjuangkan sumber daya dasar, seperti organisasi penyewa untuk melindungi hak-hak penyewa atau program pangan berbasis komunitas.” (Kutipan di bagian ini bersumber dari Escape from Capitalism kecuali disebut lain).

(a) setiap manusia adalah bios yaitu makhluk politik lebih dari sekadar zoe atau badan hewan; Anda memiliki kekuatan politik meski seorang diri; tetangga Anda juga memiliki kekuatan politik. Kekuatan politik ini adalah kepedulian yang perlu untuk terus kita jaga. (b) mulailah mengenal tetangga Anda dan rekan kerja Anda secara konkret; berusahalah membantu mereka. Revolusi sunyi dimulai dengan membantu orang terdekat Anda secara nyata; kemudian, di saat yang sama, meluas ke ukuran negara. (c) membantu tetangga itu bisa berupa materi, moral, gagasan, atau lainnya.

2.2 Hindari Jebakan Cetak Biru.

Hindari anggapan bahwa sudah ada solusi jelas yang kemudian hanya perlu dijalani; solusi cetak biru seperti itu tidak pernah ada. Yang sebenarnya ada adalah solusi itu harus kita ciptakan bersama, kita jalani bersama, dan kita revisi bersama. Tentu saja, kita harus terbuka untuk belajar dari seluruh sejarah yang ada.

“Mari kita membebaskan diri dari jebakan-jebakan mental ini.

Perubahan historis tidak terjadi berdasarkan cetak biru; alternatif berkembang (1) melalui partisipasi aktif masyarakat, dan hanya jika kita (2) memiliki perangkat konseptual untuk memahami dunia secara berbeda, kita dapat (3) bertindak secara berbeda pula. Saya menghargai intuisi Antonio Gramsci bahwa perpaduan pengetahuan yang sekaligus bersifat teoretis dan praktis dapat menuntun kita menuju cakrawala baru, asalkan kita terlibat secara personal dan konkret.

Seperti dikatakan sejarawan radikal Robin Kelley, “Mimpi-mimpi revolusioner meletus dari (4) keterlibatan politik; (5) gerakan sosial kolektif adalah (6) inkubator bagi pengetahuan baru.” Pengetahuan baru meniscayakan transformasi diri secara kolektif.”

(1) Partisipasi aktif masyarakat. Langkah awal adalah setiap diri kita mengambil tindakan konkret membantu masyarakat terdekat; membantu tetangga; membantu teman kerja; dan membantu saudara. Partisipasi aktif ini seiring dengan kesadaran politik: kita sedang memupuk tatanan sosial yang lebih baik melalui revolusi sunyi; bagaimana pun, revolusi sunyi ini sudah terjadi, dan sedang terjadi, ketika Anda berpartisipasi aktif menolong tetangga Anda. Untuk bisa menolong orang terdekat, tentu, kita perlu mampu menolong diri sendiri; yaitu, diri kita harus menjadi orang kuat; kita bukan menjadi beban masyarakat. Realitas adalah timbal balik: dengan menolong tetangga dekat maka akan menjadikan Anda lebih kuat.

Kita perlu menolak candu: janji kehidupan yang lebih nikmat tetapi jauh di masa depan. Kita menolak candu: “Kerja keras hari ini, peras keringat hari ini, dari pagi sampai malam; gaji bulanan tak seberapa; tagihan listrik dan kuota makin menggila; harga beras dan tabung gas bikin emosi ikut ngegas. Sementara, para bos besar tertawa terbahak-bahak; mereka para penguasa atau pengusaha besar; hanya omong-omong dan tanda tangan kontrak, mereka meraup untung besar; mereka tinggal di hotel mewah; pesiar tamasya ke luar negeri dengan pesawat pribadi. Apalagi korupsi; mereka makin ngeri.” Tolak candu-candu dan janji-janji palsu itu.

Candu itu memberi janji: dengan kerja keras, nanti setelah bertahun-tahun, Anda akan menjadi orang sukses; Anda akan menjadi penguasa atau pengusaha besar itu; Anda menikmati seluruh kenikmatan hidup; sewaktu-waktu, Anda bisa korupsi apa yang dimau. Tolak keras janji palsu itu! Hidup mewah seperti itu hanya candu.

Kembali ke masa kini: mengapa ketimpangan itu bisa terjadi? Anda yang kerja keras malah menderita. Bos yang hanya bicara malah hidup mewah tiada tara. Ketimpangan terjadi karena sistem sosial yang bejat; sistem politik yang tidak adil. Perlu revolusi sebagai solusi. Tetapi ingat: bukan revolusi keras; bukan revolusi ngeri; kita butuh revolusi sunyi.

(2) Memiliki perangkat konseptual yang berbeda. Kita bisa hidup sebagai masyarakat yang adil makmur; saling tolong-menolong; saling hormat penuh martabat.

Orde kapital yang sedang berkuasa, saat ini, bisa diganti dengan tatanan sosial yang berbeda berupa tatanan adil makmur. Perangkat konseptual yang adil makmur bisa kita kembangkan, misal, dengan mengambil inspirasi dari kampung Ciptagelar (Jawa Barat) dan Nordic (Eropa Utara).

“Di Kampung Adat Ciptagelar, hidup berjalan lebih pelan – mengikuti musim, tanah, dan suara angin dari hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tidak melihat alam sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai ibu yang harus dihormati. Di bawah tuntunan Abah Ugi, mereka menjaga adat seperti menjaga napas sendiri. Padi ditanam dengan doa, dipanen dengan syukur, lalu disimpan di leuit sebagai persiapan hari esok. Bahkan ketika gagal panen datang, mereka tidak panik – karena lumbung telah lebih dulu mengajarkan arti sabar dan berjaga-jaga.

Setiap tahun, melalui ritual Seren Taun, ribuan orang berkumpul, membawa hasil bumi dan harapan. Tangis haru dan doa menyatu dengan suara alam. Di sana, makna hidup tidak dicari di layar, tetapi dirasakan di tanah yang diinjak dan di padi yang digenggam. Mereka memang mengenal listrik dari turbin air dan secukupnya teknologi, tetapi tidak membiarkannya menguasai hidup. Ciptagelar mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: ketika manusia berhenti serakah dan kembali mendengar alam, hidup terasa cukup – dan dalam kecukupan itu, ada ketenangan yang jarang ditemukan di dunia yang berisik.”

Kampung Ciptagelar dibangun dan berkembang sejak tahun 1368 dan makin sejahtera di abad 21 ini. Berikutnya, kita akan belajar dari Nordik Eropa Utara.

“Masyarakat Nordik – di Denmark, Sweden, Norway, Finland, dan Iceland – menjalani kehidupan dengan filosofi slow living, yaitu hidup yang dijalani secara sadar, sederhana, dan seimbang. Bagi mereka, hidup lambat bukan berarti malas atau tidak produktif, tetapi memberi ruang lebih besar bagi hal-hal yang benar-benar bermakna. Mereka menghargai momen kecil: jeda minum kopi, berjalan di alam terbuka, duduk bersama keluarga, atau menikmati keheningan tanpa gangguan. Kualitas lebih penting daripada kuantitas, dan keseimbangan lebih utama daripada ambisi berlebihan.

Nilai friluftsliv, yang berarti “hidup di ruang terbuka,” membentuk kedekatan mereka dengan alam. Berjalan di hutan, mendaki gunung, atau sekadar menghirup udara segar menjadi cara menjaga kesehatan mental dan kejernihan pikiran. Konsep hygge dari Denmark menekankan kenyamanan dalam kesederhanaan – menyalakan lilin, membaca buku, menikmati kopi hangat, dan menciptakan suasana akrab tanpa tekanan. Sementara itu, prinsip lagom dari Swedia mengajarkan moderasi: tidak berlebihan, tidak kekurangan, cukup dan seimbang dalam bekerja, mengonsumsi, maupun bersosialisasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai ini membuat masyarakat Nordik cenderung tidak terjebak dalam budaya serba cepat dan kompetisi tanpa henti. Mereka mengatur ritme hidup dengan sadar, memberi waktu untuk istirahat, refleksi, dan relasi yang bermakna. Di tengah dunia yang sibuk dan bising, filosofi ini menjadi cara untuk tetap waras, hadir sepenuhnya, dan menikmati hidup apa adanya – perlahan, tetapi penuh makna.”

Kehebatan Nordik di kancah internasional sangat mengagumkan. Nokia perusahaan teknologi telekomunikasi terbesar dunia sejak abad 20 sampai abad 21 ini berasal dari Finland. Denmark menjadi juara Euro pada 1990an. Anda pernah berkunjung ke toko besar IKEA? IKEA berkembang dari Swedia. Survey kehidupan paling bahagia di dunia dimenangkan oleh Nordik bertahun-tahun. Pendidikan literasi dan numerasi? Nordik adalah papan atas.

(3) Bertindak secara berbeda. Selanjutnya, kita bertindak berbeda secara nyata. Kita bekerja adalah untuk memberi manfaat kebaikan; bukan untuk mengumpulkan uang. Bekerja adalah untuk membantu orang lain, misal tetangga atau kawan, agar mereka makin tumbuh berkembang; bukan untuk mempersulit mereka.

(4) Keterlibatan politik. Setiap sisi hidup kita selalu melibatkan politik. Kita bisa memilih terlibat politik praktis melalui partai politik dan jabatan politik; kita juga bisa memilh politik non-praktis dengan mendukung gerakan kemajuan sistem politik; memberi kritik terhadap politik; memberi suara kepada politikus yang membela masyarakat kecil untuk adil dan makmur.

(5) Gerakan sosial. Aktif di bidang ekonomi atau gerakan sosial yang lebih luas.

(6) Inkubator pengetahuan.

2.3 Strategi Ruhani Radikal

“Karena itulah strategi-strategi radikal juga dibutuhkan. Kita harus merebut kembali kemampuan untuk secara kolektif menentukan apa dan berapa banyak yang ingin kita produksi, sumber energi apa yang akan kita andalkan, serta bagaimana relasi kekuasaan di tempat kerja harus diatur. Kita harus mengambil kembali kendali atas proses produksi dan hubungan kita dengan alam, serta membuat keputusan dengan mempertimbangkan kesejahteraan generasi mendatang.”

Dalam Boston Review, Asef Bayat menyatakan:

“Yang saya uraikan di sini hanyalah sebuah strategi besar yang masih perlu diperinci—mengidentifikasi hambatan dan menemukan solusi yang praktis. Namun, izinkan saya menjawab satu pertanyaan yang sering muncul. Orang-orang kerap bertanya mengapa sebuah pemerintahan mau terlibat dalam perundingan yang bisa berujung pada kehancuran pemerintah itu sendiri. Itu pertanyaan yang wajar: tidak ada rezim yang dengan sukarela menyerahkan kekuasaan, kecuali jika dipaksa.

Para penguasa apartheid di Afrika Selatan, rezim komunis di Polandia, atau pemerintahan Pinochet di Cile juga tidak ingin melepaskan kekuasaan, tetapi pada akhirnya mereka tidak punya pilihan. Revolusi yang dinegosiasikan berarti mempersiapkan momen semacam itu—sebuah momen yang dimulai dengan kerja intelektual, membangun wacana yang bermakna dan dipahami secara luas tentang transisi demokrasi, dan berpuncak pada gerakan massal ketika sistem yang mapan mulai runtuh.”

Pengalaman Indonesia tahun 1998 menunjukkan rezim Orde Baru bersedia berunding dengan gerakan rakyat. Presiden Soeharto bersedia turun dari kursi presiden dan berakhir masa Orba itu. Sayangnya tidak terjadi revolusi sunyi di Indonesia; hanya terjadi reformasi yang tampak setengah hati.

2.4 Menantang Penindasan Kapitalisme

“Menantang himpitan kapitalisme berarti memilih menentang dan memprotes pemotongan program kesehatan publik dan sekolah, serta penggunaan uang pajak kita untuk membiayai perang yang tak berkesudahan. Ini juga berarti bersikap ofensif: menekan para politisi agar mengenakan pajak pada kaum kaya dan memberlakukan program-program publik yang radikal—seperti perumahan sosial dan dukungan pemerintah bagi koperasi pekerja—yang menantang logika laba dan pertumbuhan.”

2.5 Alernatif Investasi

“Alternatif terhadap investasi swasta memang ada, mulai dari kepemilikan kolektif oleh pekerja hingga investasi publik. Faktanya, investasi publik secara historis telah menjadi inti dari kemajuan teknologi besar, dan investasi publik dapat dibuat agar bertanggung jawab di bawah kontrol demokratis. Pemerintah yang berani keluar dari logika kapitalisme dapat memberdayakan inisiatif-inisiatif pekerja.”

2.6 Menentang Genosida

“Di Palestina, tindakan kekerasan untuk menekan upaya paling dasar dalam melindungi hak asasi manusia—termasuk penahanan dan penyiksaan terhadap para peserta aksi damai yang berharap membuka blokade pangan di Gaza, serta serangan terhadap Freedom Flotilla yang dipimpin Greta Thunberg yang membawa bantuan kemanusiaan—menunjukkan kekuatan gerakan internasional yang semakin besar untuk pembebasan Palestina. Gerakan ini mengancam justru karena menghubungkan titik-titik penting: untuk terlepas dari genosida, kita juga harus terlepas dari kapitalisme. Kita semua hanya bisa merasakan kebebasan ketika mereka yang paling tertekan telah bebas.” (Escape from Capitalism).

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar