Suhrawardi (1154 – 1191) menulis maha karya “Hikmah Al Isyraq” sekitar 9 abad yang lalu. Konsep filosofi visi dari Suhrawardi tetap bersinar sampai masa kini. Berikut, kita akan membahas intro dari Hossein Ziai yang ditulis menjelang abad 21.
0) Pendahuluan
1) Bagian 1: Logika
Wacana 1.1: Semantik
Wacana 1.2: Bukti
Wacana 1.3: Falasi dan Solusi
Wacana 1.3.1: Wujud Mental
Wacana 1.3.2: Kategori
Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi
Wacana 1.3.6: Jiwa
Wacana 1.3.7: Bentuk Plato
Wacana 1.3.8(9-10): Huduri
2) Bagian 2: Ontologi Cahaya
Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati
Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Hikmah Al Isyraq (kita singkat HI) terdiri dari sebuah pendahuluan dan dua bagian: logika (dalam 3 wacana) dan ontologi cahaya (5 wacana). Bandingkan dengan Ibnu Sina, umumnya, terdiri empat bagian: logika, fisika, matematika, dan metafisika. Suhrawardi meninggalkan fisika dan matematika, tetapi membahasnya sekilas dalam logika.
0) Pendahuluan
Suhrawardi menulis HI berdasar pengalaman langsung, kemudian, menyusun argumen rasional. Bukan hanya berangkat dari argumen rasional belaka. Akibatnya, HI menerapkan beberapa istilah simbolis sebagaimana Plato. Sampai taraf tertentu, pembaca perlu memiliki pengalaman langsung juga terhadap tema HI. Tanpa pengalaman langsung, HI akan berubah menjadi mode rasional sebagaimana karya Ibnu Sina. Seorang filsuf, pengkaji filosofi, bisa mengkaji filosofi diskursif rasional saja, atau filosofi intuisi langsung saja, atau kedua-duanya. Pengkaji diskursif dan intuisi adalah penguasa alamiah dari dunia ini. Baik mereka penguasa politik formal atau pun tidak.
Jika harus memilih salah satu antara rasional dan intuisi maka pengkaji filosofi intuisi lebih superior.



1) Bagian 1: Logika
HI membahas logika dengan cara sederhana, singkat, dan ringan saja. Logika yang singkat ini, menurut Suhrawardi, sudah memadai bagi para pengkaji yang cerdas dan pencari pencerahan.
Bahkan, Suhrawardi sering menggunakan makna-umum yang terbebas dari makna teknis logika. Hal ini semacam parodi bagi logika tradisional, yang sejatinya, adalah logika umum hanya diperumit dengan istilah teknis. Bagian logika ini terdiri tiga wacana: (1) konsep dan definisi, (2) bukti, dan (3) falasi. Sebagai hasilnya, HI menghadirkan sistem logika baru yang menyegarkan.

Wacana 1.1: Semantik
Dalam wacana pertama, secara semantik, Suhrawardi menolak definisi esensial Aristo. Definisi esensial berasumsi mampu mengungkap semua esensi universal alamiah dengan menggabungkan genus dan diferensia. Tetapi, kita tidak pernah yakin bahwa semua esensi sudah terungkap.
Anggap definisi berhasil mengungkap semua aspek esensial. Untuk memahami definisi maka kita perlu memahami genus dan diferensia tersebut. Orang yang tidak paham genus atau diferensia maka tetap tidak akan paham definisi. Sementara, orang yang sudah paham genus dan diferensia maka tidak perlu definisi tersebut karena memang dia sudah paham. Jadi, definisi esensial gagal untuk menjadi pengetahuan. Suhrawardi mengingatkan bahwa fungsi definisi adalah sekedar menunjukkan. Sedangkan untuk mendapatkan pengetahuan, kita perlu pengalaman langsung, kelak dikenal sebagai ilmu huduri.

Wacana 1.2: Bukti
Dalam wacana kedua, tentang bukti, silogisme dan pembuktian, Suhrawardi mengkritik keras struktur silogisme Peripatetik yang terlalu kompleks. Untuk kajian ilmiah, seluruh silogisme bisa direduksi menjadi satu bentuk universal, niscaya, dan afirmasi. Sebagai contoh, “Mungkin saja seseorang adalah terdidik,” menjadi, “Niscaya semua orang bisa terdidik.” Dengan demikian, semua silogisme bisa menjadi bentuk Barbara, “Niscaya semua A adalah B. Niscaya semua B adalah C. Maka niscaya semua A adalah C.” Kita bisa melangkah lebih jauh, menurut saya, ke silogisme implikasi. “A maka B. Dan B maka C. Kesimpulannya A maka C.” Bentuk implikasi di atas terbebas dari syarat bahwa A harus berhubungan dengan C secara alamiah. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan rekayasa, misal teknologi digital, dari kesimpulan jika A maka C karena tidak bersifat alamiah.

Wacana 1.3: Falasi dan Solusi
Wacana ketiga membahas falasi dalam tiga seksi. Seksi pertama dan kedua membahas falasi umum dan cara mengatasinya. Seksi tiga adalah paling penting karena menjadi bangunan utama bagi filosofi visi dari Suhrawardi. Suhrawardi menolak sepuluh doktrin Peripatetik dan menggantinya dengan yang baru. Suhrawardi menyebut seksi ini sebagai “judgement” atau “hukumat.” Secara tidak langsung, HI membahas fisika, metafisika (ontologi), dan matematika. Sehingga, wacana “judgment” ini menjadi fondasi penting bagi seluruh HI.

Bahkan, Suhrawardi merasa perlu untuk menambahkan intro guna “memastikan istilah teknis.” Lebih dari sekedar definisi, Suhrawardi membahas secara mendalam substansi dan aksiden, niscaya dan kontingen, sebab, mungkin dan tidak mungkinnya infinity. Pembahasan ini mengkritisi Peripatetik sekaligus membuka jalan HI untuk mengembangkan sistem ontologi baru – ontologi cahaya. Beberapa ide penting adalah: (1) kontingen adalah bermakna niscaya oleh adanya sebab, (2) sebab adalah lebih prior dari akibat secara ontologi tetapi tidak harus secara temporal, (3) sebab bisa saja majemuk meliputi kondisi dan hilangnya halangan, (4) infinity yang tersusun, simultan, dan aktual adalah tidak mungkin tetapi bila tidak memenuhi syarat di atas maka mungkin saja.
Wacana 1.3.1: Wujud Mental
Suhrawardi mengkritik Peripatetik karena tidak tegas membedakan wujud alam eksternal dengan wujud mental, “being of reasons”, “wujud dzihni”, “itibarat aqliyah”. Termasuk wujud mental adalah eksistensi, keniscayaan, kontingensi, unity, duality, warna umum, privatisasi, relasi, dan substansialitas. Warna hitam, misalnya, adalah “hitam” yang nyata di alam eksternal. Berbeda dengan “warna” yang hanya konsep, produk pikiran, belaka tanpa ada di dunia eksternal. Meskipun, konsep pikiran tentang warna adalah hasil dari memikirkan obyek alam eksternal. Tanpa pembedaan tegas akan mengakibatkan “problem orang ketiga.”
Kita perlu mencatat bahwa istilah “eksistensi” sangat kontroversial. Bagi Suhrawardi, eksistensi hanya mental. Tetapi, bagi Sadra, eksistensi adalah realitas paling konkret di alam eksternal dan seluruh alam. Heidegger, di abad 20, menyadari kesulitan ini sehingga menggunakan istilah dasein (being-there), tidak cukup dengan istilah sein (being). Saya yakin Suhrawardi menggunakan istilah cahaya, sengaja, untuk mengatasi kesulitan yang sama.

Wacana 1.3.2: Kategori
Judgement selanjutnya menegaskan kelemahan dari definisi esensial. Definisi hanya berhasil sebagai petunjuk. Kemudian HI menyederhanakan jumlah kategori dari 10 menjadi hanya 5 saja: substansi, kualitas, kuantitas, gerak, dan relasi. Di masa sebelumnya, Stoic juga menyederhanakan kategori menjadi 4 saja: substansi, relasi, disposisi, dan disposisi relasi. Sedangkan, Immanuel Kant justru menambah kategori menjadi 12 di era modern. Jumlah kategori menjadi diskusi seru termasuk oleh filsuf besar Mulla Sadra.

Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi
Suhrawardi mengkritik konsep hilomorfisme yang memandang bodi sebagai kombinasi materi dan bentuk. Pemisahan materi dari bodi adalah tidak perlu. Suhrawardi memandang bodi adalah besaran mandiri saja. (Doktrin ini barangkali terinspirasi Timeaus, “receptacle” Plato sering dipahami sebagai “ruang” oleh pemikir kuno dan pertengahan. Barangkali, lebih tepat sebagai arena, gelanggang, media, atau medan.) Termasuk, Suhrawardi mengkritik “form” Aristo dan substansi kedua.
Selanjutnya, Suhrawardi membahas fisika dan metafisika. Tentu saja, pembahasan akan berbeda dengan fisika modern: quantum dan relativitas. Tetapi banyak ide menarik di sini. Di antaranya: kompresi, pemuaian, panas, unsur, dan spesies alamiah. Dilanjutkan penolakan terhadap atomisme dan posibilitas vacum.

Wacana 1.3.6: Jiwa
Jiwa tetap hidup setelah kematian badan. Suhrawardi setuju dengan immortalitas jiwa. Hanya saja, Suhrawardi mengkritik argumentasi Peripatetik sebagai tidak memadai berkenaan dengan kausalitas dan kontingensi. Jiwa tetap abadi setelah kematian karena jiwa adalah cahaya incorporeal – yang dibahas di bagian 2 buku HI.
Wacana 1.3.7: Bentuk Plato
Bentuk atau form Platonis sering disalahpahami sebagai abstraksi. Suhrawardi merevisi, dengan mengembangkan konsep, bahwa sebab majemuk mungkin saja menghasilkan akibat sederhana. Konsep ini berkembang lebih matang di bagian 2 buku HI sebagai teori form versi Suhrawardi.

Wacana 1.3.8(9-10): Huduri
Huduri atau ilmu huduri adalah pengetahuan langsung. Pengetahuan adalah pengalaman langsung.
Suhrawardi mengkritik teori visi: sinar masuk atau sinar keluar. Sinar masuk, teori sains, menyatakan bahwa penglihatan adalah karena ada sinar dari obyek yang masuk ke mata. Kemudian, sinar ini diolah mata dan otak sehingga menghasilkan citra obyek pada pikiran. Sinar keluar, teori matematika, menyatakan bahwa mata memancarkan sinar ke obyek sehingga obyek terlihat oleh pikiran. Huduri menyatakan bahwa penglihatan terjadi ketika obyek bercahaya hadir di depan mata yang sehat sehingga terjadi kesatuan antara obyek dan subyek. Penglihatan adalah pengalaman langsung.
Judgement kesepuluh memperluas huduri untuk kasus pendengaran. Suhrawardi menolak bahwa pendengaran terhadap suara bisa direduksi ke getaran atau gelombang. Pendengaran adalah pengalaman langsung. Kita memang mendengar suara dan kata-kata secara langsung. Bagian 1 diakhiri dengan pertanyaan apa realitas sebenarnya dari bayangan dalam cermin?
2) Bagian 2: Ontologi Cahaya
Solusi utama dari HI adalah di bagian 2 ini. Wacana 1.3 memberi kritik tajam terhadap filosofi yang ada dan membuka ruang untuk solusi baru. Kemudian, bagian 2 adalah solusi yang diberikan oleh HI. Saya memilih istilah ontologi cahaya. Sementara, Ziai memilih istilah metafisika.


Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati
HI menetapkan konsep ontologi penting yang saling berhubungan: cahaya, gelap, mandiri, dan tergantung. Cahaya adalah yang jelas dengan sendirinya. Cahaya menjadikan yang lain lebih jelas. Cahaya terbukti dengan dirinya sendiri. Cahaya menampakkan diri, manifestasi, sebagai cahaya. Terdapat 4 kelas dari being atau wujud: (1) cahaya mandiri yang sadar diri dan menjadi sebab bagi kelas wujud yang lain; (2) cahaya aksidental meliputi beberapa cahaya immaterial yang aksidental dan cahaya fisik; (3) substansi buram yaitu bodi material; (4) gelap aksidental yang meliputi aksiden di dunia materi dan immateri.
Cahaya immaterial tidak bisa dilihat oleh mata. Semua wujud yang sadar diri adalah cahaya immaterial yang sadar diri secara langsung. Cahaya immaterial, atau cahaya sejati, berbeda dalam kadar intensitas bukan berdasar spesies. Cahaya sejati menjadi sebab bagi wujud lain, yang pada gilirannya, disebabkan oleh cahaya sejati lain yang intensitasnya lebih kuat. Urutan ini berujung pada Cahaya Maha Cahaya yang menjadi sebab bagi seluruhnya, berpadanan dengan Wujud Wajib dari Ibnu Sina, atau Tuhan.

Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.2 membahas kosmogini menjelaskan bagaimana seluruh eksistensi hadir berkat Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya adalah wujud sederhana sempurna sehingga hanya ada akibat tunggal: “Cahaya Terdekat” atau “Cahaya Pertama”. Cahaya Terdekat ini sama persis dengan Cahaya Maha Cahaya hanya beda sedikit kadar intensitasnya. Demikian halnya, materi pertama harus tunggal sebagai medan segala sesuatu secara homogen. Gerak putaran benda-benda langit tentu saja digerakkan oleh wujud yang hidup. Jadi, benda-benda langit pasti digerakkan oleh cahaya immaterial.
Bagian terluar dari semesta pasti bukan akibat langsung dari Cahaya Maha Cahaya. Mereka eksis karena dark-accident (gelap-aksidental) dari Cahaya Pertama atau cahaya yang lebih rendah. Sebab, cahaya yang memiliki dua relasi dengan Cahaya Maha Cahaya, relasi langsung dan tidak langsung, bisa menghadirkan cahaya lain dan bodi, yaitu, media atau arena atau medan. Karena setiap cahaya saling relasi, saling manifestasi, maka cahaya pada hirarki paling rendah memiliki keragaman aksidental paling banyak. Pancaran sinar cahaya tidak berarti terpisahnya sesuatu dari cahaya. Tetapi, merupakan penciptaan suatu aksiden pada sesuatu yang disinari. Kompleksitas sistem cahaya itu tercermin dalam kompleksitas bintang-bintang di langit dan kompleksitas segala sesuatu di bumi ini.


Berbeda dengan Ibnu Sina, yang menetapkan hirarki akal hanya terdiri 10 intelek, masing-masing dengan tingkat ontologi yang berbeda, Suhrawardi mengijinkan posibilitas cahaya pada tingkat intensitas yang sama tetapi berbeda dalam aksiden. Cahaya dalam “tatanan horisontal” ini adalah sebab dari spesies dan keragaman alamiah dunia sublunar – form Platonis, atau arketip talisman. Terdapat cahaya pengatur bodi, secara langsung, yaitu: jiwa.
Tuhan mengetahui segalanya, partikular mau pun universal, karena segala sesuatu hadir kepada Cahaya Maha Cahaya. Sebuah contoh ilmu huduri paling tinggi, menurut Suhrawardi, adalah ilmu Tuhan. Prinsip umum yang menyatakan segala sesuatu pada bidang ontologi lebih rendah harus memiliki sebab pada bidang ontologi yang lebih tinggi di sebut “the most nobel contigency” dan menjadi prinsip fundamental bagi HI. Cahaya yang lebih rendah mungkin saja memiliki sebab majemuk.
Pengetahuan tentang kompleksitas cahaya sejati yang tak terhitung ini adalah hasil pengalaman langsung dari Suhrawardi dan bisa diverifikasi langsung melalui testimoni para pemikir besar masa lalu, baik dari Yunani mau pun dari Timur. Form Platonis bukanlah universal logis tetapi cahaya sejati, immaterial mind, yang menjadi sebab bagi spesies yaitu arketip. Seiring menuruni tangga ontologis, cahaya sejati makin redup dan lebih kompleks. Salah satunya, cahaya sejati menjadi jiwa manusia yang kekuatannya terbatas.

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Dinamika cahaya membahas aktivitas cahaya dan, khususnya, relasi antara cahaya sejati, gerak semesta, dan kejadian temporal di dunia sublunar. Sederhananya, gerak perputaran abadi semesta, arena bola-bola langit, adalah penghubung antara kompleksitas cahaya sejati yang abadi dengan dunia yang terungkap secara fisik.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Realisasi cahaya membahas tentang topik fisik. Pertama, Suhrawardi menyusun ulang 4 unsur dengan menolak api sebagai unsur mandiri. Tiga unsur adalah: (1) buram, opaque; (2) tembus pandang, translucent, dan (3) lembut, subtle. Selanjutnya, Suhrawardi menunjukkan bahwa setiap gerak, pada analisis akhir, bersumber dari cahaya. Akhirnya, Suhrawardi membahas tema psikologi tradisional: asal mula jiwa, indera, relasi antara jiwa rasional dengan animal, jumlah indera dalam secara alami, yang semuanya mengarah kepada teori ilmu huduri.
Saya melihat Suhrawardi dengan cermat, dan tepat, menolak api untuk dianggap sebagai unsur. Kita mempertimbangkan maksud unsur adalah materi atau benda maka ada keselarasan opaque = benda padat, translucent = benda cair, dan subtle = benda gas. Sedangkan api adalah kalor atau energi panas. Fisika modern menunjukkan hukum kesetaraan massa energi yaitu formula Einstein E = mc^2. Sehingga benar bahwa energi tidak mandiri terhadap materi. Jadi, Suhrawardi benar bahwa api tidak mandiri dari unsur-unsur lain.

Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan
Cahaya masa depan membahas tema etika, agama, dan nasib masa depan. Pertama, Suhrawardi membahas konsep reinkarnasi dan menolaknya sebagai tidak meyakinkan. Jiwa manusia lahir pada badan manusia, kemudian, lahir kembali pada badan binatang untuk dibersihkan. Bagaimana pun, reinkarnasi bermaksud menyatakan bahwa jiwa manusia immortal dan akan mampu menuju dunia cahaya yang abadi.
Selanjutnya, HI menunjukkan bahwa jiwa manusia yang tidak berkembang mendapat pahala dan hukuman di “dunia image”. Kejahatan, di dunia ini, bukan diciptakan langsung oleh Cahaya Maha Cahaya, tetapi, merupakan dampak sampingan dari gerak semesta. Dunia ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mungkin serta jauh lebih sedikit kejahatan dari kebaikan. Kenabian, mimpi sejati, dan yang sejenisnya adalah mungkin di dunia ini karena form dari kejadian dituliskan, dengan suatu cara, di semesta. Dan bisa diakses oleh manusia dengan kondisi tertentu. Terdapat beragam pengalaman, di antaranya: irama semesta; nabi, orang suci, dan para kreator mampu membawa form dari “dunia image” menjadi wujud nyata di dunia ini. Pada titik ini, Suhrawardi menggambarkan dua pengalaman ekstase dari mistikus dan nabi serta memastikan bahwa Tuhan mengabulkan doa-doa mereka. Selanjutnya, dia mendaftar beberapa contoh pengalaman mistis yang melibatkan cahaya. Kemudian, dia menutup HI dengan wasiat agar para murid mengkaji kitab ini dengan hati-hati.
Kembali ke: Filosofi Visi

Tinggalkan komentar