Manusia Neosadrian

Menjadi Manusia Sempurna dengan Filsafat Mulla Sadra

Kita sedang dalam perjalanan. Termasuk Anda, saat ini, pasti sedang dalam perjalanan. Apakah Anda punya modal? Apakah Anda cukup kapital? Apakah Anda sudah siap dengan beragam situasi?

Tetapi, perjalanan apa yang sedang Anda lakukan? Anda pasti sedang berjalan menuju masa depan. Anda akan menyongsong bulan depan. Menyongsong tahun depan. Menyongsong 10 tahun atau 20 tahun ke depan. Kita pasti akan mati pada suatu saat. Itu masa depan yang pasti. Kapital paling penting adalah kapital jiwa.

Tulisan ini, berjudul Manusia Neosadrian, akan membahas kapital jiwa dalam tiga bagian utama melalui perspektif Neosadrian. (1) Prinsip-prinsip realitas. Kita perlu memahami dengan baik apa realitas sebenarnya yang sedang kita hadapi. Dengan demikian, jiwa bisa mempersiapkan diri.

(2) Prinsip-prinsip jiwa. Psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Seharusnya, kita bisa memanfaatkan sains psikologi untuk kapital jiwa. Kita membutuhkan kapital lebih dari itu.

(3) Masa depan jiwa. Bayi, anak-anak, remaja, lalu tua. Kemudian apa? Kita perlu mengkaji masa tua dan nasib jiwa setelah tidak berada di dunia.

Bagian 1: Prinsip-Prinsip Realitas
Wacana 1.1: Realitas adalah Eksistensi
Wacana 1.2: Individuasi adalah Eksistensi
Wacana 1.3: Gradasi Realitas
Wacana 1.4: Intensitas Realitas dan Gerak Substansi
Wacana 1.5: Forma adalah Prinsip Realitas

Bagian 2: Prinsip-Prinsip Jiwa
Wacana 2.1: Jiwa adalah Penentu
Wacana 2.2: Kekuatan Imajinasi Melebihi Materi
Wacana 2.3: Imajinasi sebagai Dinamika Jiwa
Wacana 2.4: Visi adalah Kreativitas
Wacana 2.5: Perubahan Status Jiwa

Bagian 3: Masa Depan Jiwa
Wacana 3.1: Keragaman Dunia
Wacana 3.2: Mati adalah Sempurna
Wacana 3.3: Kreativitas Tersembunyi
Wacana 3.4: Karakter adalah Masa Depan
Wacana 3.5: Masa Depan Terbuka

Penjelasan lebih lengkap silakan klik tautan masing-masing di atas.

Wacana 1.1 sampai wacana 3.2 bersumber dari karya Mulla Sadra berjudul “Zaad Musafir” atau “Bekal Pengembara” yang menjadi judul tulisan ini juga yaitu “Kapital Jiwa.” Wacana 3.3 dan wacana 3.4 bersumber dari Hikmah Arsyiah. Dan wacana 3.5 bersumber dari Maha Karya Mulla Sadra yaitu “Asfar.”

Dalam setiap wacana, saya sengaja membiarkan Sadra berbicara langsung kepada Anda. Yaitu, saya hanya mengutipkan tulisan Sadra dalam [terjemahan] bahasa Inggris, kemudian, saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya sedikit menambahkan pengantar atau penghubung antara beberapa kalimat. Dalam kalimat yang panjang, saya menambahkan angka [1] atau [2] dan seterusnya dengan tujuan memudahkan mendapat poin-poin penting. Di bagian awal setiap kutipan, saya menambahkan angka dalam kurung, misal (314), menunjukkan halaman, misal halaman 314, dari terjemahan karya Mulla Sadra oleh Al Kutubi.

Saya mengelompokkan setiap lima wacana menjadi satu bagian. Sehingga, kita peroleh tiga bagian: Bagian [1]: Prinsip-Prinsip Realitas; Bagian [2]: Prinsip-Prinsip Jiwa; Bagian [3]: Masa Depan Jiwa. Pada setiap akhir bagian, saya menambahkan wacana analisa. Anda boleh melewatkan wacana analisa ini dan tetap memperoleh “Mutiara Kehidupan dari Filsafat Mulla Sadra.” Tetapi, bila Anda berminat mengkaji “wacana analisa” maka Anda akan menikmati petualangan yang seru. Saya menganalisa filsafat Sadra dengan membandingkan dengan filsafat Yunani-Romawi Kuno, filsafat Islam, filsafat Barat, dan filsafat masa kini.

Saya berharap, dan saya yakin, generasi masa kini akan memperoleh banyak mutiara kehidupan dengan mengkaji karya-karya filsafat Mulla Sadra.

Mutiara Filsafat Sadra

Mengkaji filsafat Sadra, kita bagaikan memperoleh berlian berkilau. Bahkan, kita memperoleh bongkahan-bongkahan berlian. Makin dalam kita kaji, maka makin banyak berlian kita temui.

Kajian kita hanya memilih 15 wacana yang berhubungan dengan tema jiwa. Kutipan yang bersumber asli dari Sadra, barangkali, hanya terdiri dari 10 halaman. Tetapi, makna yang dikandungnya bagai menyelami samudera.

Bagian 1
Bagian 2 Bagian 3

Note: Untuk versi pdf silakan berikut ini.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.