Psikologi Agama Era Sekular

Kita berada di era sekular. Meski proses sekularisasi hanya terjadi di Barat; itu pun hanya sebagian dari Barat; tetapi, dampak sekularisasi kita rasakan sampai di sini; di Timur. Secara psikologis, kehidupan agama di masa kini menjadi berbeda dengan masa lalu; karena agama berproses, di era sekular, menjadi makin kompleks. Bagaimana perkembangan, atau kemunduran, agama di era sekular?

1. Psikologi Agama
1.1 Kawan Tanding
1.2 Pengalaman Psikologis Agama
1.3 Batasan Sains Empiris
1.4 Problem
1.5 Solusi
2. Era Sekular
2.1 Makna Sekular
2.2 Kebenaran Imanen
2.3 Peran Transendensi
3. Agama Futuristik
3.1 Agama Akal
3.2 Agama Ekologis
3.3 Agama Absolut

Orang menduga bahwa perkembangan sains mendorong terjadinya sekularisasi; bahkan mendorong ateisme. Dugaan ini tidak tepat. Dengan mudah, kita bisa melihat banyak ilmuwan adalah penganut agama yang saleh. Jadi, sains bukan sebab bagi terjadinya sekularisasi mau pun ateisme. Kita perlu mengkaji fenomena ini lebih mendalam.

1. Psikologi Agama

Mengkaji agama secara psikologis sangat menarik karena agama menjadi pengalaman personal masing-masing orang. Berbeda dengan mengkaji agama secara teologi, filosofi, hukum, ilmiah, atau lainnya. Bagaimana pun kajian agama secara psikologi tetap terbuka dengan perpespektif kajian lainnya.

1.1 Kawan Tanding

Psikologi membahas jiwa, atau ruhani, manusia. Konsekuensinya, banyak titik temu antara psikologi dan agama. Kadang psikologi berlawanan dengan agama; di kesempatan lain, psikologi selaras dengan agama. Psikologi adalah kawan tanding bagi agama.

1.2 Pengalaman Psikologis Agama

Pengalaman beragama bisa beda-beda. Seorang ibu menangis tersedu-sedu dalam khusuknya doa; dia menangis bahagia. Seorang ayah bekerja pantang menyerah demi memberi keluarga nafkah; bekerja adalah ajaran agama bagi dia seorang ayah. Seorang bocah melantunkan bacaan kitab suci menyentuh hati. Apakah pengalaman beragama seperti itu perlu dikaji secara psikologis? Ataukah, pengalaman psikologis perlu dibimbing ajaran agama?

1.3 Batasan Sains Empiris

Sukses sains, di masa kini, diakui hampir oleh seluruh umat manusia. Wajar, bagi manusia, memberi nilai tinggi kepada sains. Ketika sains mengatakan bahwa bulan depan akan terjadi gerhana matahari, maka terbukti benar. Psikologi adalah sains itu sendiri; sains tentang jiwa manusia. Bila sains psikologi berbeda pandangan dengan agama maka mana yang benar?

1.4 Problem

Problem lebih tajam bisa terjadi: psikologi menganggap agama hanya sebagai mitos kanak-kanak dan agama menganggap sains psikologi hanya sebagai opini manusia tersesat. Benturan ini memaksa banyak orang harus memilih salah satunya saja antara psikologi atau agama.

1.5 Solusi

Baik psikologi mau pun agama adalah sama-sama beragam; mereka tidak tunggal. Sehingga, bisa jadi, psikologi dan agama saling bermusuhan dalam versi tertentu. Tetapi, dalam versi yang lain, psikologi dan agama selaras.

2. Era Sekular

Era sekular memunculkan pertanyaan besar: apakah sekularisasi adalah suatu kemajuan? atau, justru suatu kemunduran peradaban? Di satu sisi, era sekular menunjukkan kemajuan di bidang ekonomi, sains, dan teknologi. Di sisi lain, era sekular berdampak pada krisis kemanusiaan, krisis lingkungan, dan krisis keamanan.

2.1 Makna Sekular

Apa makna-sekular? Ada beragam makna. Umumnya, orang memaknai sekular adalah pemisahan agama terhadap negara. Kita memilih makna-sekular yang lebih luas: sekular adalah suatu situasi di mana warga mendapat tantangan dilema untuk memilih sebagai orang beriman atau tidak. Era abad 21 ini adalah contoh era sekular; warga bebas, dalam dilema, untuk memilih menjadi beriman. Bandingkan dengan abad 15, misalnya, semua warga nyaris adalah warga yang beriman. Hanya sebagian kecil warga saja yang dalam dilema untuk memilih sikap iman atau tidak. Abad 15 adalah bukan era sekular.

Masyarakat sekular bisa menjadi masyarakat religius; bisa juga menjadi ateis; atau, kombinasi antara keduanya. Bagaimana pun, dilema akan tetap eksis di era sekular.

2.2 Kebenaran Imanen

Semua orang mengakui validitas kebenaran imanen. Saya menghirup udara adalah kebenaran imanen. Anda membaca tulisan ini adalah kebenaran imanen. Anda sedang sadar adalah kebenaran imanen. Kebenaran imanen adalah kebenaran yang dekat dengan diri kita; kebenaran yang melekat dengan diri kita; kebenaran yang konkret bisa kita rasa. Orang beriman atau tidak, semua, meyakini eksistensi kebenaran imanen dengan beragam sudut pandang.

2.3 Peran Transendensi

Kebenaran transenden melengkapi kebenaran imanen; kebenaran transenden adalah kebenaran yang melampaui segala sesuatu; kebenaran yang tak terlukiskan dengan kata-kata; kebenaran yang tak terbayangkan oleh imajinasi biasa. Kebenaran yang eksis 500 tahun di masa lalu, atau di masa depan, adalah kebenaran transenden dari diri kita sekarang. Tuhan adalah transenden dan imanen. Orang beriman dan orang tak-iman bisa berbeda pandangan tentang peran kebenaran transenden ini. Meskipun, mereka bisa sepakat tentang kebenaran imanen.

3. Agama Futuristik

Lalu, bagaimana dengan nasib agama di masa depan? Apakah agama masih eksis, punah, atau makin berkembang? Dugaan awal saya adalah agama berkembang menjadi agama futuristik. Secara konkret, agama futuristik bisa saja tetap berupa agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan lain-lain. Hanya saja, masing-masing agama mengalami transformasi sesuai zaman. Kita akan mencermati model-model hasil transformasi agama: [1] agama akal; [2] agama ekologis; [3] agama absolut.

3.1 Agama Akal

Agama akal adalah agama yang mengutamakan kekuatan akal; baik akan rasional mau pun akal pencerahan yang terbuka dengan logika simbolis. Agama akan menjadi makin menarik karena akal manusia makin berkembang seiring zaman. Ditambah lagi, sains teknologi bertumpu kepada akal. Dengan demikian, agama akal selaras dengan sains teknologi. Semua agama, termasuk Islam dan Kristen, bisa bertransformasi menjadi agama akal; agama dengan kadar akal yang tinggi.

3.2 Agama Ekologis

Agama ekologis mengutamakan kekuatan bersama secara ekologis. Berbeda dengan agama akal; agama ekologis menempatkan akal sebagai satu poin penting secara ekologis. Lingkungan, tumbuhan, hewan, bumi, langit, budaya, sejarah, dan lain-lain memiliki peran penting bagi agama ekologis; mereka sama penting dengan akal; meski masing-masing memiliki peran yang berbeda; mereka saling melengkapi.

3.3 Agama Absolut

Agama absolut melanjutkan seluruh kajian dan pengalaman agama sampai absolut. Tetapi, agama tidak bisa absolut; agama hanya bisa hampir absolut. Sehingga, maksud agama absolut adalah agama hampir absolut; hampir mutlak. Justru konsep hampir-absolut adalah keunggulan dari agama absolut. Karena hampir-absolut maka agama absolut selalu bergerak maju tanpa henti menuju kebaikan absolut; menuju Tuhan Maha Absolut; menuju Tuhan Maha Sempurna.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar